Feedback

Kekerasan rumah tangga terhadap anak dalam prespektif islam

 6  62  74  2017-02-28 16:53:59 Report infringing document
Informasi dokumen
KEKERASAN RUMAH TANGGA TERHADAP ANAK DALAM PRESPEKTIF ISLAM STUDI KASUS DESA GANDARIA KECAMATAN MEKAR BARU TANGERANG BANTEN Oleh: Lia Yuliana NIM:203033202176 JURUSAN SOSIOLOGI AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1427 H - 2008 M KEKERASAN RUMAH TANGGA TERHADAP ANAK DALAM PRESPEKTIF ISLAM STUDI KASUS DESA GANDARIA KECAMATAN MEKAR BARU TANGERANG BANTEN SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana S.Sos Oleh: Lia Yuliana NIM:203033202176 Di Bawah Bimbingan Dra. Hj. Hermawati. MA NIP: 150227408 JURUSAN SOSIOLOGI AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1427H / 2008 M i LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN Skripsi ini berjudul “KEKERASAN RUMAH TANGGA TERHADAP ANAK DALAM PRESPEKTIF ISLAM” telah diujikan dalam sidang munaqasah FakultasUshuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 17 Juni 2008, Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana program strata satu (S1) pada jurusan Sosiologi Agama. Jakarta 17 Juni 2008 SIDANG MUNAQASYAH Ketua Merangkap Anggota Ketua Merangkap Anggota Drs. Harun Rasyid, M.Ag NIP. 19600902 198703 1 001 Drs. Rofqi Mukhtar, MA NIP. 19690822 199703 1 002 Penguji I Penguji II Dr. Masri Mansor, MA NIP. 19621006 199903 1 002 Dra. Ida Rosyidah, MA NIP. 19630616 199003 2 002 Pembimbing Dra. Hermawati, MA NIP. 19541226 198603 2 002 ii KАТА PENGANTAR Вismillahirrahmanirrahim Syukur alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT., atas selesainya skripsi ini, tak ada alasan untuk penulis kecuali mengucapkan syukur atas ridho dan rahmat-Nya. Berkat-Nya lah skripsi ini ada. Skripsi ini hanya merupakan coretan kecil dalam setiap bagian kehidupanpun merupakan tantangan bagi penulis, di saat pengajuan judul hingga selesainya skripsi ini selalu saja banyak yang menyepelekan dan mengganjal. Penulis tertarik kepada seputar masalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga Terhadap Anak. Di samping merupakan bidang bahasan sesuai jurusan, juga merupakan bahasan yang tak kunjung selesai di negara kita ini. Berbagai kasus timbul tenggelam hanya karena permainan segelintir 'Orang Yang Tidak Berprikemanusiaan'. Ketidakadilan penguasa inilah yang menggelitik nalar penulis untuk mengambil Studi Kasus Kekerasan Anak Dalam Rumah Tangga dalam pelanggaran HAM di Indonesia. Penulis merasa sedih ketika anak di bawah umur ataupun pada saat mereka lahir selalu tertindas dan selalu terlantarkan akibat banyak yang terjadi kekerasan dalam rumah tangga, oleh karena itu pemerintahan yang selalu mementingkan perut mereka sendiri. Penyelesaian itu belum juga muncul sampai saat ini, meskipun, Susilo Bambang Yudhoyono dan Yusuf Kalla berkuasa 3 tahun. Bahkan, malah memperburuk Indonesia setelah kebijakannya menaikkan harga BBM, adanya penggusuran, korupsi merajalela padahal KPK sudah diberikan gaji dari rakyat selangit, pengangguran merata. Intinya tidak ada mengalami perubahan yang signifikan dari semua usaha yang di lakukan oleh negara untuk rakyatnya hingga saat ini.sehingga banyak sekali terjadi kekerasan dalam rumah tangga di Indonesia dan semakin berkepanjangan dan terus menerus ada disetiap rumah tangga. Keberadaan penulis sebagai bagian dari mahasiswa adalah menjadi tujuan utama penyusunan skripsi ini. Terus terang skripsi ini belum lengkap memuat data dan informasi mutakhir, oleh karena itu karya yang sederhana dan belum sempurna ini iii semoga menjadi wadah inspirasi, khususnya bagi penulis dan umumnya kepada semua mahasiswa Sosiologi Agama. Semoga siapapun yang membacanya tidak pernah rnerasa puas sehingga terus-menerus membaca dan membaca untuk memperdalam mengenai pergulatan Kekerasan Anak Dalam Rumah Tangga melalui karya-karya lain. Namun, bukan juga dengan karya ini penulis tidak bisa melanjutkan pertualangan pendidikan setelah 10 semester penulis merenung. Masih ada hari ini dan hari esok untuk sergera-berjuang-bersama Melalui coretan ini penulis banyak mengucapkan terima kasih kepada: 1. Orang tua kami yang tercinta Bарак Antajaya (Alm) dan Ibu Aminah terima kasih atas segala pengorbanan yang ibu dan bapak berikan, semoga Allah selalu memberikan rahmat dan karunianya serta senantiasa Melimpahkan kasih sayang ditengah-tengah keluarga kita, ibu skripsi ini Lia Persembahkan Sebagai Sembah Baktiku. 2. Kakak Lia tersayang Kang Dudun, Kang Mahfud, Kang Juli, Teh Aan, dan buat kakak ipar lia teh Salsah, bang Faisal Khalid Tarigan, terimaksih atas dukungan moril dan materil, semangat dan doa sampai saat ini. alhamdulilah masili diberikan kesehatan dan tegar dalam menyelesikan skripsi ini., dan Keponakan Lia, Dara Abdilah, Faqih Tadarus Dan Bintang Muharnad Faan Tariqan, keluguan dan kelucuan kalianlah yang menghilangkan dahaga dan penatnya tugas-tugas kuliah. 3. Drs.H.Harun Rasyid M.A., selaku Dekan Program Ekstensi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat. Makasih раk motivasinya. 4. Jamilah M.Ag., Selaku Sekjur yang tidak pernah bosan menerima keluhan kami. 5. Drs. Ramlan A.Gani. M.Ag., Selaku Dosen Penasehat Program Ekstensi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat. 6. Dra.Hj. Hermawati MA selaku pembimbing skripsi, terimakasih untuk setiap keramahan dan kesabaran selama proses penyusunan skripsi ini, yang selalu memberikan semangat buat penulis juga untuk kritik dan sarannya, tanpa itu semua skripsi tidak akan pernah selesai, penulis ucapkan banyak (10 kali) terima kasih. iv 7. Seluruh Civitas Akademik Ushuluddin, dosen-dosen yang telah mengajar kami, tunduk hormat kami sampaikan atas perjuanganya dalam mengajar kami. 8. Kepada Ka Seto Mulyadi, Ifdal Kasim serta kawan-kawan di Komnas HAM, YLBHI dan LBHI, terima kasih sedalam-dalamnya, Tanpa semuanya skripsi ini pasti ditolak terus oleh dosenku. Teman-teman lia, Pada Waktu SMU Nur El Falah, Yang teras memberikan semangat, Umi, Yani, gembul, Gendut, Irey Afri, Ridwan, Ambon, danbuat si manis Nurul Cute, pesannya jangan putusin silaturahmi, sama lia. terima kasih semuanya 10. Kepada Kawan-Kawan Sosiologi Agama, Pemikiran Politik Islam:Hajami, Eva, Canda, Nur Ajijah, Yayah, Farida Warid, Suhadi, Ajat, Syukur, Margono, Engkos Markos tak lupa pula anak-anak Tafsir Hadis yang terus berjuang memberikan semangat kepada penulis Kepada semua pihak yang membantu penulis, namun tidak tercantum di sini, khususnya kepada semua teman-teman, untaian maaf dan terima kasih tidak lupa penulis sampaikan.Terakhir, semoga skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan ini bermanfaat (amiin) dan segala masukan, kritik dan saran terhadap skripsi ini penulis nantikan dan harapkan Ciputat, Semanggi 11/25 21 Maret 2008 Lia Yuliana v DAFTAR ISI KATA PENGANTAR . ii DAFTAR ISI . v BAB I BAB II PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah . 1 B. Pembatasan dan Perumusan Masalah. 5 C. Tujuan Penelitian . 6 D. Metodologi Penelitian . 7 TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Kekerasan Rumah Tangga Terhadap Anak . 16 B. Bentuk-bentuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga . 22 C. Sebab-sebab Timbulnya Kekerasan Dalam Rumah Tangga . 25 BAB III PANDANGAN ISLAM MENYIKAPI KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA A. Tuntunan Islam Bagi Orang Tua Dalam Mendidik Anak . 30 1. Menanamkan Ketauhidan . 30 2. Mengajarkan Agama . 31 3. Mendidik Anak. 31 4. Mendidik Kejujuran dan Keadilan . 33 5. Memberi Contoh keteladaban yang Baik . 33 6. Perhatian Terhadap Anak-anak di Rumah . 34 B. Anak dan harta Adalah Ujian . 34 C. Perlakukan Kekerasan Terhadap Anak di Dalam Islam . 36 1. Membunuh Anak . 36 2. Perbedaan Pemberian Kepada Anak-anak . 37 vi BAB IV GAMBARAN UMUM PELAKU DAN KORBAN KEKERASAN TERHADAP ANAK DALAM RUMAH TANGGA BAB V A. Identitas Keluarga Korban . 39 B. Identitas Pelaku Tindak Kekerasan Terhadap Anak . 43 C. Identitas Korban Kekerasan Terhadap Anak . 45 ANALISA KEKERASAN RUMAH TANGGA TERHADAP ANAK A. Faktor yang Menyebabkan Kekerasan di dalam Rumah Tangga Terhadap Anak . 48 B. Respon Masyarakat dan Keluarga Yang Ada di Desa Gandaria Mengenai Kekerasan Rumah Tangga Terhadap Anak . 51 C. Kondisi Anak yang Terkena Kekerasan Dalam Rumah Tangga 54 D. Solusi-solusi Memeecahkan Masalah Kekerasan yang Terjadi Dalam Keluarga . 57 BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan . 62 B. Saran . 63 DAFTAR PUSTAKA vii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ketegangan maupun konflik yang terjadi dalam lingkup domestik atau rumah tangga merupakan suatu hal yang biasa dan lumrah terjadi. Seperti adanya perbedaan pendapat, pertengkaran dan perdebatan dalam rumah tangga. Akan tetapi jika konflik tersebut berlanjut dan terus berlangsung maka akan berkembang menjadi tindakan kekerasan yang selanjutnya akan terjadi sebuah kekerasan domestik. Jika dirunut dalam sejarah kekerasan dalam keluarga sejak manusia sudah ada di bumi seiring dengan pertumbuhan peradaban manusia. Akan tetapi bentuk-bentuk KDRT berjalan sesuai dengan dinamika dalam rumah tangga. Bentuk KDRT pada masyarakat tradisional berbeda dengan KDRT pada masyarakat modem dewasa ini. Begitu juga dengan bentuk KDRT pada masyarakat desa berbeda, walaupun ada persamaan . Oleh karena itu, kasus-kasus KDRT dalam masyarakat tentu berbeda-beda dan bersifatnya unik. Tayangan kekerasan dalam lingkup rumah tangga dengan mudah dapat ditemukan baik pada media elektronik, misalnya televisi dan radio maupun media cetak, misalnya koran, tabloid dan majalah. Dengan rajin media masa memberitakan kepada publik kejadian-kejadian seputar kekerasan dalam lingkup keluarga, yang kadang-kadang mengabaikan etikajumalistik. Akan tetapi terlepas dan itu semua (etika jurnalistik), kekerasaan khususnya dalam lingkup keluarga dapat terjadi di 1 1 mana saja dan kapan saja serta terhadap siapa saja. Bahkan KDRT tidak mengenal usia, pendidikan dan status sosial. Konsep kekerasan menurut Maggie Human adalah bentuk dari pemerkosaan, pemukulan, insect, pelecehan seks dan pornografi1. Secara lebih gamblang deklarasi PBB tahun 1993, mendefinisikan kekerasan terhadap anak sebagai bentuk tindakan kekerasan gender yang bisa berakibat kesengsaraan atau penderitaan anak secara fisik, seksual dan psikologis termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan dan perampasan kernerdekan secara sewenang-wenang baik yang terjadi di ranah domestik maupun publik. Sementara itu, menurut John Galtung2, kekerasan adalah suatu kelakuan yang menyebabkan realitas aktual seseorang ada di bawah realitas potensialnya. Artinya, ada sebuah situasi yang menyebabkan segi kemampuan atau potensi individu menjadi tidak muncul. 3 Mengacu kepada definisi di atas, kekerasan merupakan perbuatan di luar batas-batas kemanusiaan. Hak-hak kemerdekaan baik secara fisik maupun psikis (perasaan superioritas yang dimanivestasikan dalam sikap suka memaksa keangkuhan) terenggut oleh arogansi hegemoni pihak lain (pengaruh kekuasaan suatu negara terhadap negara lain). Kekerasan hanya akan melahirkan kesengsaraan, bahkan tidak jarang menimbulkan kematian. Sudah banyak temuan penelitian yang 1 Maggie Human, The Didictionary Of Faminist Theory, Exekter: BPCC, 1989 dalam laporan penelitian “Kekerasan Terhadapa Perempuan Daiam Keluarga”: analisa kasus pada beberapa keluarga di wilayah ciputat. Kerjasama PSW lAIN Syarif Hidayatullah dengan Mc Gill Proiect (Jakarta: PSW dan Mc Gill Project, 2007, ) h.7 2 Windu, Marsana, Kekuasaan dan Kekerasan Menuru John Galtung (Yogyakarta: 1992), h.8 3 Elli Nur Yayati, Kekerasan Terhadap Istri Dalam Ruamah Tangga, (Yogyakarta: Rifka Annisa Womwens Crisis Center, 1999) h.27 2 dilakukan oleh masyarakat, misalnya kelompok akademis, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan investigasi media yang mengungkapkan kekerasan dalam lingkup keluarga khususnya kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh orang tuanya. Kekerasan pada dasamya bisa terjadi sudah ada kapan saja dan oleh siapa saja. Kekerasan ini bisa saja terjadi di tengah keramaian, baik itu di pasar maupun di tempat yang sunyi. Akan tetapi, sangat mengherankan apabila kekerasan itu terjadi dalam sebuah rumah tangga yang seharusnya di dalam rumah tersebut sebagai tempat curahan kasih sayang antara anak dan orang tuanya. Dan kebanyakan kekerasan ini dilakukan oleh orang yang terdekat dan sudah dikenal baik oleh korbannya. Banyak faktor yang menyebebkan terjadinya kekerasan dalam lingkup keluarga. Di samping faktor penyebabnya sangat beragam bentuk kekerasanpun berbeda-beda. Bahkan pada kasus-kasus tertentu sangat unik. Walaupun secara umum kekerasan dalarn lingkup keluarga mempunyai kesamaan. Faktor penyebab kekerasan dalam keluarga, misalnya dalam sebuah keluarga sering terjadi pertengkaran yang akhirnya meningkat pada kekerasan fisik maupun psikis biasanya faktor yang paling dominan sebagal pemicu tindakan kekerasan tersebut adalah karena faktor ekonomi, di mana faktor ini sangat rentan fungsinya dalam keluarga. Kekerasan dalarn rumah tangga adalah perbuatan yang dilakukan seseorang atau beberapa orang terhadap orang lain, mungkin berakibat kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual dan psikologis, termasuk pula ancaman perbuatan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan seseorang secara sewenang- 3 wenang atau adanya penekanan secara ekonomis, yang terjadi di dalam rumah tangga. Kekerasan dalam rumah tangga atau dalam istilah lainnya kekerasan domestik adalah kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga. Secara spesifik kekerasan terhadap anak berarti segala bentuk kekerasan yang berdasarkan akibatnya berupa kerusakan, penderitaan fisik, non fisik, seksual, psikologis pada anak termasuk disini tindakan pemukulan dan ancaman, dan perbuatan semacam itu, seperti pemaksaan atau perampasan yang semena-mena atas kemerdekaan, baik yang terjadinya di tempat umum atau bahkan dalam kehidupan pribadi seseorang. 4 Sangat jelas bahwa kekerasan dalam lingkup keluarga dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya dimana proses konstruksi gender dalam struktur sosial sangat mempengaruhinya. Kalau memang kekerasan terhadap anak diakibatkan oleh faktorfaktor yang mendorong terjadi kekerasan tersebut dapat dihilangkan karena posisi laki-laki dan perempuan adalah setara dalam struktur sosial. Kekerasan dalam rumah tangga dapat menimpa siapa saja, ibu, bapak, suami, istri, anak, bahkan pembantu rumah tangga, akan tetapi korban kekerasan dalam rumah tangga adalah anak. Biasanya hal mi terjadi jika hubungan antara korban dan pelaku tidak setara. Lazimnya si pealaku kekerasan mempunyai status kekuasan yang lebih besar, baik dan segi ekonomi, kekuasaan fisik maupun status sioal dalam 4 Laporan Penelitian, Kekerasan Terhadap Perempuan Dalam Keluarga: Analisis kasus pada beberapa keluaraga di wilayah ciputat, kerjasama PSW lAIN Syarif Hidayatullah dengan Mc Gill Project (Jakarta: PSW dan Mc Gill Project, 2000) h.12 4 keluarga. Karena posisi khusus yang dimilikinya tersebut, maka pelaku kerap kali memaksakan kehendaknya untuk diikuti oleh orang lain. Dan demi mencapai keinginannyá tersebut, pelaku kekerasan akan menggunakan segala cara bahkan tidak segan-segân untuk melukai korban.5 Kekerasan terhadap anak dalam keluarga tidak berdiri sendri. Pola alokasi dan hubungan kekuasaan suami istri mempengaruhi tindakan kekuasan. Kekuasaan yag dimaksud adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar sesuai dengan tindakan yang dikehendakinya. 6 Sehubungan dengan uraian di atas maka kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh ibu dan bapak kepada anaknya menarik untuk diteliti meskipun sudah banyak penelitian dengan tema-tema yang serupa, namun penelitian ini bertujuan untuk memperolah atau mendapatkan informasi mengenai KDRT sebagai refleksi perbedaan antara laki-laki terhadap perempuan sehingga mendorong pembentukan kekerasan terhadap anak dalam keluarga. B. Pembatasan Dan Perumusan Masalah Mengingat dan melihatan permasalahan yang dihadapi dalam penelitian, serta waktu yang sangat terbatas maka penelitian yang perlu dilakukan secara spesifik adalah untuk menjelaskaan, bagaimana kekerasan terhadap anak yang dilakukan o!eh 5 Farha, Ciciek, Ihtiar Mengatasi Kekerasan Dalam Rumah Tangga: Be/ajar Dan Kehidupan Rasululah Smv (Jakarta: Lembaga Kajian Agama dan Gender, 1999) h. 34 6 Soerjono Soekanto, Sosiologi suatu penganlar, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persadan: 2003) h. 1 5 orang tuanya secara spesifik. Analisa tersebut akan kami uraikan sebagai berikut: 1. Faktor-Faktor apa yang menyebabkan kekerasan terhadap anak dalam rumah tangga? 2. Bagaimana bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak dalam rumah tangga. 3. Bagaimana kekerasan dalam rumah tangga menurut agama Islam? 4. Bagaimanakah dampak terhadap anak (korban) kekerasan dalam rumah tangga? C. Tujuan Penelitian Atas dasar latar belakang kekuasaan melaui media komunikasi dan lain sebagainya. 2.3 Definisi Relasi Kerja Relasi adalah kata yang diartikan sebagai hubungan sedangkan kerja dalam kamus besar bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau mata pencaharian. Jadi relasi kerja adalah hubungan yang terjalin antara individu maupun kelompok dengan individuindividu yang lain dalam melakukan sesuatu hal yang dilakukan untuk mencari nafkah. Relasi kerja identik dengan pekerja yang melakukan interaksi dengan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 12 pekerja-pekerja lain di dalam wilayah kerja dan membentuk suatu ikatan emosional antar sesamanya dan memiliki satu tujuan yang sama yaitu ingin mencapai kesejahteraan. Di dalam perusahaan ataupun di dalam perkebunan pekerja atau karyawan diklasifikasikan berdasarkan jabatan sesuai dengan pekerjaannya masing-masing, mulai dari karyawan tetap, lepas dan kontrak. Beberapa jenis karyawan tersebut berbaur menjadi satu kesatuan di dalam wilayah kerja dan melakukan interaksi di setiap hari kerjanya dan saling menunjukkan loyalitas dan etos kerja kepada pihak perusahaan ataupun perkebunan. Relasi kerja dibangun atas kesadaran diri dan kebutuhan masing-masing individu. Dalam perkebunan relasi kerja awalnya terbangun antar sesama divisi kerja dan biasanya dijalin antar sesama jabatan. Contohnya, relasi kerja karyawan dimulai dari interaksi yang dilakukan pada penempatan divisi kerja seperti relasi yang terbentuk antar sesama pekerja petik cengkih, pekerja petik kopi ataupun pekerja penyadap getah karet. Untuk perkembangannya akan berurutan ke atas sampai relasi kerja yang terbangun antara karyawan dengan pimpinan divisi atau mandor sehingga di dalam setiap divisi kerja akan tercipta relasi kerja yang berlevel mikro, dan begitu seterusnya sehingga relasi kerja terbentuk dalam cakupan makro atau di seluruh divisi kerja di dalam perkebunan. Relasi kerja merupakan relasi kuasa yang sengaja dibangun oleh pihak perkebunan atau pemegang faktor produksi untuk mengatur dan mengontrol sistem kerja. Sistem kerja yang dimaksud adalah semua aturan yang dibentuk dan dibangun sedemikian rupa oleh pihak perkebunan guna membatasi ruang gerak para karyawan dan imbasnya adalah kepatuhan dan rasa takut. Tujuan inilah yang hendak dicapai dalam relasi kuasa dimana hubungan yang terjalin antar anggota di dalam wilayah kerja mempengaruhi satu sama lain dan mayoritas dari dampak yang dihasilkan adalah berkuasanya pemimpin dan terkuasanya karyawan. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 13 2.4 Kebijakan Perkebunan Sebagai Produksi Kekuasaan Apabila membicarakan tentang produksi kekuasaan di dalam wilayah perkebunan maka kekuasaan akan terlihat dari kebijakan yang diambil. Kebijakan sendiri memiliki pengertian sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tata pemerintahan, organisasi, dan lain sebagainya) atau dapat juga didefinisikan sebagai pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran. Untuk mengetahi lebih jauh tentang produk dari kekuasaan di dalam perkebunan yang dihasilkan oleh berbagai macam kebijakan, patut diketahui beberapa macam kebijakan yang membawa dampak negatif dan positif produksi dari kekuasaan itu sendiri. Kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya: 2.4.1 ฀abour Market Flexibility Labour market flexibility atau dalam bahasa Indonesia dapat kita sebut sebagai pasar kerja fleksibel merupakan salah satu kebijakan yang tercipta untuk mengatur urusan ketatatenagakerjaan dalam suatu perusahaan. Sedangkan definisi umum dari labour market flexibility atau pasar kerja fleksibel itu sendiri adalah kebjakan yang memberikan keleluasaan merekrut dan memecat buruh sesuai dengan situasi usaha untuk menghindarkan kerugian. Labour market flexibility atau bisa kita singkat dengan LMF merupakan suatu inovasi kebijakan yang diambil bukan hanya oleh Negara melainkan oleh dunia dengan tujuan meluweskan pengaturan tatatenaga kerja yang harus dihadapi oleh suatu perusahaan atau dengan kata lain memudahkan dalam mengatur tenaga kerja ataupun buruh di dalam suatu lembaga kerja. Kebijakan LMF sendiri terbentuk untuk dijadikan sebagai suatu strategi baru untuk menekan pengeluaran perusahaan dan memaksimalkan keuntungan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 14 dari hasil produksi yang didapat dengan memanfaatkan peraturan tenaga kerja kontrak. Pengaturan yang dimaksud adalah mengatur keluar masuknya tenaga kerja kontrak disesuaikan dengan peraturan yang dibentuk oleh perusahaan itu sendiri. Fleksibilitas dalam pasar kerja inilah yang memberikan keleluasaan untuk perusahaan menerapkan sebuah aturan tenaga kerja yang berlaku tidak untuk buruh tetap melainkan untuk karyawan kontrak. Terdapat 4 dimensi fleksibilitas yakni: 1. Perlindungan kesempatan kerja 2. Fleksibilitas upah : pembatasan variasi tingkat upah melalui berbagai institusi dan regulasi termasuk upah minimum, aktivitas serikat buruh dan negosiasi upah 3. Fleksibilitas internal atau fungsional yang merupakan kemampuan perusahaan untuk mengatur kembali proses produksi dan penggunaan tenaga kerja demi produktivitas dan efisiensi yang mencakup fleksibilitas numerikal dan fungsional. 4. Fleksibilitas di sisi permintaan dari pekerja dalam keleluasaan waktu kerja dan mobilitas antar pekerjaan Mengapa membahas kebijakan LMF, alasannya adalah karena kebijakan ini adalah kebijakan yang merupakan awal dari adanya produksi kekuasaan yang akhirnya berdampak pada relasi kerja karyawan perkebunan. Kebijakan ini erat kaitannya dengan strategi karena strategi ada untuk menciptakan suatu kebijakan yang tepat sasaran. Tujuan dan fungsi dari adanya kebijakan maupun strategi adalah yang utama untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi orang-orang yang diberikan kebijakan. Akan tetapi terkadang keberadaan strategi dan kebijakan tidak sesuai dengan fungsi utamanya bahkan melenceng begitu jauh. Seperti yang dikatakan Haryanto (2011) bahwa muara berbagai kebijakan dan strategi adalah meningkatnya indeks ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 15 Ketimpangan seperti ini selanjutnya menimbulkan dampak saring (filtering effect) yang menghambat peluang kaum miskin dalam memperoleh berbagai pelayanan dan buah pembangunan. Melencengnya kebijakan yang diambil adalah salah satu hasil dari produksi kekuasaan yang memberikan dampak negatif kepada para karyawan sebagai penggerak roda produksi di dalam perkebunan. Apabila ada salah satu produksi kekuasaan yang tidak tepat sasaran dan imbasnya langsung kepada para karyawan akan menimbulkan suatu bentuk kritik dan perlawanan yang tidak langsung dilakukan oleh para karyawan melainkan mereka akan membendungnya dalam sikap-sikap individu yang tidak taat pada aturan atau sikap anti kekuasaan. 2.4.2 Outsourcing/ Kontrak Kerja Di dalam wilayah kerja sendiri akan banyak kita temukan sistem kerja yang ada khususnya sistem kerja yang berhubungan dengan ketengakerjaan. Salah satunya adalah sistem kerja outsourcing, sistem kerja ini dapat didefinisikan sebagai sebuah sebuah upaya mengalihkan pekerjaan atau jasa ke pihak ketiga. Tujuan utama outsourcing pada dasarnya adalah untuk: ฀ menekan biaya ฀ berfokus pada kompetensi pokok ฀ melengkapi fungsi yang tak dimiliki ฀ melakukan usaha secara lebih efisien dan efektif ฀ meningkatkan fleksibilitas sesuai dengan perubahan situasi usaha ฀ mengontrol anggaran secara lebih ketat dengan biaya yang sudah diperkirakan ฀ menekan biaya investasi untuk infrastruktur internal Sebenarnya Praktek PKWT dan outsourcing merupakan wujud dari kebijakan Pasar Kerja Fleksibel yang dimintakan kepada pemerintah Indonesia Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 1฀ oleh IMF dan World Bank sebagai syarat pemberian bantuan untuk menangani krisis ekonomi 1997. Kebijakan Pasar Kerja Fleksibel merupakan salah satu konsep kunci dari kebijakan perbaikan iklim investasi yang juga disyaratkan oleh IMF dan dicantumkan dalam Letter of Intent atau nota kesepakatan ke-21 antara Indonesia dan IMF butir 37 dan 42. Kesepakatan dengan IMF tersebut menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan dan peraturan perbaikan iklim investasi dan fleksibilitas tenagakerja. Kontrak kerja merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak dimana di dalam dunia kerja diwakili oleh pihak pertama pekerja dan pihak kedua adalah pihak perusahaan. Keduanya saling membuat suatu kesepakatan akan sistem kerja yang akan dijalani ketika pekerja telah masuk di dalam perusahaan, pihak perusahaan memiliki kekuasaan dalam menentukan kebijakan seperti apa yang akan dibuat sehingga pihak pekerja haruslah mengikuti kebijakan tersebut. Meskipun kontrak penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa SMP negeri 2 Jember kelas VIII E dengan 31 siswa. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes berupa tiga soal PISA konten Space and Shape unit Shape yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Soal PISA dan pendoman penskoran yang digunakan adalah sebagai berikut : AMATI GAMBAR BERIKUT 1. Mana diantara gambar-gambar diatas yang memiliki daerah terluas. Apa alasanmu? 2. Jelaskan cara untuk memperkirakan luas gambar C 3. Jelaskan cara untuk memperkirakan keliling gambar C Pedoman Penskoran: Soal 1 Skor Penuh (1) : Bentuk B, didukung dengan penalaran yang masuk akal. B merupakan daerah terluas karena dua bangun yang lain akan dimuat di dalamnya. B. karena tidak memiliki lekukan di dalamnya yang mengurangi luas daerahnya. Sedangkan A dan C memiliki Gap/celah. B, karena merupakan lingkaran penuh, sedangkan bangun yang lain seperti lingkaran dengan beberapa bagian yang hilang, sehingga mengurangi luasnya. B, karena tidak memiliki daerah terbuka Dll. Tidak ada Skor (0): B, tanpa disertai alasan yang masuk akal Jawaban lain yang kurang masuk akal. Soal 2: Skor Penuh (2): Dengan cara yang masuk akal. Menggambar petak-petak yang memuat bangun tersebut dan menghitung petak yang menutupi bangun tersebut. Jika lebih dari setengahnya, maka petak tersebut dihitung satu petak Memotong bentuk tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan mengatur potongan-potongan tersebut menjadi bentuk persegi/persegi panjang kemudian menhitung sisi-sisinya lalu menentukan luasnya. Membangun bentuk 3D dengan alas berdasarkan bentuk tersebut, dan mengisinya dengan air. Hitung volume air yang digunakan dan kedalaman air pada model. Luas dapat ditentukan dengan volume air dibagi kedalaman air pada model Dengan membagi bangun ke dalam beberapa bentuk bangun datar beraturan. Kemudian dihitung luasnya dan dijumlahkan. Dan alasan-alasan lain yang masuk akal Skor sebagian (1) : Membuat lingkaran yang memuat bentuk tersebut, kemudian mengurangkan luas lingkaran dengan luas diluar bentuk tersebut dalam lingkaran. Namun siswa tidak menyebutkan bagaimana untuk mengetahui luas daerah diluar bentuk tersebut dalam lingkaran. Alasan-alasan lain yang masuk akal, namun kurang detail atau kurang jelas. Tidak ada Skor (0): Jawaban lain yang kurang masuk akal. Soal 3: Skor Penuh (1): Dengan cara yang masuk akal. Rentangkan seutas tali pada pinggir bentuk tersebut, kemudian mengukur panjang tali yang digunakan. Potong bentuk tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, gabungkan bagian-bagian tersebut hingga membentuk garis, lalu tentukan panjangnya. Dan alasan-alasan lain yang masuk akal Tidak ada Skor (0): Jawaban lain yang kurang masuk akal. Sumber : diadaptasi dari Take The Test Sample Questions From OECD’s PISA Assesment. Selanjutnya, skor siswa yang didapat akan dimasukkan dan diolah dengan program komputer Ministep (Winstep Rasch) untuk mengestimasi kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal PISA konten Shape and Space yang diberikan berdasarkan analisis model Rasch. Soal 1 dan 3 menggunakan penskoran model dikotomus (Benar/Salah), sedangkan soal 2 menggunakan penskoran model politomus (Partial Credit Model). Skor mentah tersebut dikonversi menjadi nilai logit. Semakin tinggi nilai logit siswa dan lebih dari 0.0 logit mengindikasikan kemampuan siswa yang semakin tinggi. Semakin tinggi nilai logit soal dan lebih dari 0.0 logit mengindikasikan semakin tinggi tingkat kesulitan soal. HASIL DAN PEMBAHASAN Secara keseluruhan skor siswa dalam menyelesaikan soal PISA konten Shape and Space berbeda-beda Pada tabel 1 menampilkan skor mentah yang diperoleh siswa. Soal 1 mampu dijawab dengan benar oleh 17 siswa, soal 2 terdapat 2 siswa yang mampu menjawab dengan skor penuh, dan 6 siswa mampu menjawab dengan skor 1, sedangkan soal 3 terdapat 5 siswa yang mampu menjawab dengan benar Tabel 1. Skor Siswa dalam Menyelesaikan Soal PISA Konten Shape and Space NAMA SOAL NAMA NO SOAL NO (KODE SISWA) 1 2 3 (KODE SISWA) 1 2 3 1 01AT 1 0 1 17 17MW 1 0 0 2 02AO 0 0 0 18 18NA 0 0 0 3 03AN 0 0 0 19 19NR 1 0 0 NAMA SOAL NAMA NO SOAL NO (KODE SISWA) 1 2 3 (KODE SISWA) 1 2 3 4 04CA 0 0 0 20 20NA 1 2 0 5 05EA 1 0 0 21 21NS 0 0 0 6 06FY 1 1 1 22 22RR 0 0 1 7 07IN 1 1 0 23 23RF 0 0 0 8 08IE 1 0 0 24 24RA 0 0 0 9 09JN 1 1 0 25 25RW 0 0 0 10 10KH 1 1 1 26 26RL 0 0 0 11 11KT 1 0 0 27 27SA 0 0 0 12 12MI 1 1 0 28 28TA 1 2 0 13 13MA 0 0 0 29 29VT 0 0 1 14 14MR 1 1 0 30 30ZN 1 0 0 15 15MR 1 0 0 31 31PA 1 0 0 16 16MS 0 0 0 Selanjutnya skor siswa dengan pemodelan Rasch diolah dengan menggunakan program komputer ministep (Winstep Rasch). Berikut ditampilkan hasil statistic dari analisis model Rasch: Gambar 1. Tampilan Summary Statistics hasil pengolahan data ministep. Tampilan summary statistics diatas memberikan info tentang kualitas responden/siswa secara keseluruhan dalam menyelesaikan soal yang diberikan. Dari tampilan hasil pengolahan diatas diperoleh Person measure = – 0.10 logit dengan tidak mengikutsertakan Extrem Person (Responden/siswa yang mempuyai skor 0) yang kurang dari logit 0,0. Hal ini menunjukkan kemampuan siswa kurang dalam menyelesaikan soal PISA konten shape and space yang diberikan. Dengan mengikutsertakan siswa dengan ekstrem skor tentunya nilai person measure akan semakin kecil yaitu – 1.52 logit. Semakin tinggi nilai logit diatas 0.0 logit, semakin tinggi kemampuan siswa. Gambar 2. Tampilan Item Measure hasil pengolahan data ministep. Dari gambar 2, soal no 2 mempunyai nilai logit tertinggi yaitu +1.47 logit ini menunjukkan soal no 2 merupakan soal yang paling sulit dijawab oleh siswa, soal no 3 mempunyai nilai logit = 1.40 logit, dan soal no 1 mempunyai nilai logit = -2.87 logit. Soal 2 dan 3, nilai logit keduanya lebih dari 0.0 logit menunjukkan kedua soal ini merupakan kategori soal sulit. Dari tabel 1 menunjukkan untuk soal no 2 hanya terdapat 2 siswa yang mampu menjawab dengan skor penuh, dan 6 siswa mampu menjawab dengan skor 1. Untuk soal no 3 hanya 5 siswa yang mampu menjawab dengan benar. Sedangkan soal 1 mempunyai nilai -2.87 logit yang kurang dari 0.0 logit menunjukkan soal yang relatif mudah dikerjakan siswa, dari 31 siswa terdapat 17 siswa yang mampu menjawab dengan benar. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan analisis data dan pembahasan diperoleh simpulan sebagai berikut : (1) Kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal PISA konten shape and space berdasarkan analisis model Rasch masih kurang. Rata-rata nilai logit siswa - 1,52 logit yang kurang dari 0.0 logit. (2) Dari ketiga soal yang diujikan, dua soal dikategorikan sebagai soal sulit, dan 1 soal relatif mudah dikerjakan siswa. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti mengemukakan saran-saran sebagai berikut : (1) Bagi pendidik, siswa hendaknya sering diberikan soal-soal non rutin atau soal-soal pemecahan masalah seperti soal-soal PISA dalam pembelajaran matematika dikelas, baik sebagai tugas maupun ulangan harian. Hal ini bertujuan untuk melatih dan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa. (2) Bagi peneliti lain, penggunaan Item Respon Theory (IRT) dalam hal ini Rasch Model dapat dijadikan alternatif dalam pengolahan data penelitian kuantitatif untuk mengatasi kelamahan teori tes klasik, karena Rasch Model telah memenuhi lima prinsip model pengukuran. DAFTAR PUSTAKA Aini, R.N. & Siswono, T.Y.E. 2014. Analisis Pemahaman Siswa SMP Dalam Menyelesaikan Masalah Aljabar Pada PISA. Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika MATHEdunesa, vol 2, no 3, hal.158-164 BSNP Depdiknas.2006. Standar Isi Mata Pelajaran Matematika SD/MI dan SMP/MTs (Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006). Jakarta: BSNP Depdiknas OECD. 2013. PISA 2012 Results in Focus. www.oecd.org OECD.2009. Take The Test Sample Questions From OECD’s PISA Assesment. www.oecd.org OECD.2015. PISA 2015 Draft Mathematics Framework. www.oecd.org Setiawan, H.,Dafik., dan Lestari, S.D.N. 2014. Soal Matematika Dalam PISA Kaitannya Dengan Literasi Matematika Dan Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi. Prosiding Seminar Nasional Matematika, Universitas Jember, 19 November 2014, hal.244-251. Shiel, G et al.2007. PISA mathematics: a teacher’s guide. Dublin :Department of Education and Science. Sulastri, R., et al.2014. Kemampuan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Unsyiah Menyelesaikan Soal PISA Most Difficult Level. Jurnal Didaktik Matematika, Vol. 1, No. 2, September 2014, hal.13-21. Sumintono, B. & Widhiarso, W.2014. Aplikasi Model Rasch Untuk Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial. Cimahi:Trim Komunikata Publishing House Wardhani, Sri dan Rumiyati. 2011. Instrumen Penilaian Hasil Belajar Matematika SMP: Belajar dari PISA dan TIMSS. Yogyakarta : Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Matematika.
Kekerasan rumah tangga terhadap anak dalam prespektif islam Anak Dan Harta Adalah Ujian Faktor Yang Menyebabakan Kekerasan Didalam Rumah Tangga Terhadap Anak Identitas Keluarga Korban PANDANGAN ISLAM MENYIKAPI KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA Identitas Korban Kekerasan Terhadap Anak Identitas Pelaku Tindak Kekerasan Terhadap Anak Indepth Interview. Metode Penelitian a. Kondisi Anak yang Terkena Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Pembatasan Dan Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Pengertian Kekerasan Rumah Tangga Terhadap Anak Perlakuan Kekerasan Terhadap Anak Di dalam Islam Respon Masyarakat Dan Keluarga Yang Ada Di Desa Gandaria Mengenai Sebab-Sebab Timbulnya Kekerasan Dalam Rumah Tangga Solusi-Solusi Memecahkan Masalah Kekerasan Yang Terjadi Dalam Keluarga. Teknik Pengumpulan Data Metode Penelitian a. Tuntunan Islam Bagi Orang Tua Dalam Mendidik Anak Wawancara Teknik Analisa Data Kekerasan Rumah Tangga Terhadap Anak Dalam Prespektif Islam
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Kekerasan rumah tangga terhadap anak dalam prespektif islam

Gratis