Uji Toksisitas Akut Ekstrak Etil Asetat Daun Garcinia benthami Pierre dengan Metode Braine Shrimp Lethality Test (BSLT)

Gratis

0
28
67
2 years ago
Preview
Full text

UJI TOKSISITAS AKUT EKSTRAK ETIL ASETAT DAUN Garcinia benthami Pierre DENGAN METODE

UJI TOKSISITAS AKUT EKSTRAK ETIL ASETAT DAUN Garcinia benthami Pierre DENGAN METODE Laporan Penelitian ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelarSARJANA KEDOKTERAN OLEH : Nurraisya MutiyaniNIM: 1110103000088 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

BRINE SHRIMP LETHALITY TEST (BSLT)

Laporan Penelitian ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelarSARJANA KEDOKTERAN OLEH : Nurraisya MutiyaniNIM: 1110103000088 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

KATA PENGANTAR

  Staf laboratorium PNA, Biologi, dan Farmako, Mas Rahmadi, Mba Rani, dan Mba Suryani yang selalu siap direpotkan dan dimintai pertolongan danselama pengerjaan skripsi ini. Hasil uji ini dapat dilanjutkan dengan penelitian terhadap hewan trofis yang lebih tinggi dan penelitian berikutnya, yaitu ujitoksisitas subakut dan kronik sebagai obat anti kanker dimasa depan.

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Sesuai dengan Permenkes No.760/Menkes/per/IX/1992 mengenai regulasi obat herbal yang berisi: sebelum obat tradisional atau fitofarmaka dikatakan amandikonsumsi, maka setiap bahan alam harus melewati beberapa tahapan meliputi uji toksisitas akut, uji toksisitas subakut, uji toksisitas kronik, uji farmakologi 5 eksperimental, uji klinis, uji kualitas, dan uji lainnya. Berdasarkan hal tersebut, karena belum ada penelitian mengenai aktivitas toksik didalam Garcinia benthamiPierre, maka dilakukanlah penelitian mengenai kemananan dan toksisitas ekstrak etil asetat daun Garcinia bentami Pierre menggunakan metode Brine Shrimp benthami Pierre akan menghambat suplai nutrisi kedalam tubuh larva dan akan menimbulkan kematian.

1.3.1 Tujuan umum

  Membuktikan ada tidaknya potensi toksisitas pada ekstrak etil asetat daun Garcinia benthami Pierre menurut metode BSLT. 1.3 Tujuan Khusus dari ekstrak etil asetat daun Garcinia benthami Pierre 50 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Pembaca dan Masyarakat Menambah informasi tentang tanaman keluarga manggis atau genus Garcinia yang berpotensi sebagai tanaman obat.

1.4.3 Bagi Penulis

BAB 2 TINJAUN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Tanaman Obat

  Pada dasarnya, Allah SWT memang sudah menerangkan bahwa setiap jenis tanaman memiliki manfaat masing-masing dan memberikan perintah kepadaumatnya untuk dapat memanfaatkan segala jenis tanaman secara maksimal, dalamAl Quran surat Ar-Rad ayat 4"Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan dan kebun-kebun anggur, tanam-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Hal ini juga didukung dengan hasil survey nasional di Amerika Serikat yang menyatakan bahwa orang dewasa yang melakukan terapi dengan obat herbaldan mereka yang telah berkonsultasi dengan herbalis meningkat secara signifikan selama periode 1990 - 1997.

2.1.2 Genus Garcinia

  Garciniamerupakan salah satu kelompok flora yang hidup di wilayah tropis dan pohon lapisan kedua (second storey) berdasarkan tingginya. Olehkarena itu, biasa ditemukan dibawah naungan pohon-pohon yang lebih besar dan sebagian besar Garcinia berbentuk pohon.

3 Hook. Tanaman ini tersebar di beberapa negara Asia Tenggarayaitu di Thailand

  Garcinia lebih banyak hidup di daerah Kalimantan karena disana terdapat curah hujan yang merata serta iklimyang memiliki kelembapan dan panas dan diperkirakan jumlahnya mencapai 100 8 spesies. Tanaman ini adalah tanaman perdu yang terdiri dari akar, batang, daun dan bunga dapat mencapai ketinggian 30-35 meter, tetapi secara umum dapat tumbuh7-25 meter.

2.1.3 Garcinia Benthami Pierre

  Subdivisi : Gngiospermae (berbiji tertutup)Kelas : Dicotyledonae( biji berkeping dua)Ordo : GuttifernalesFamili : GuttiferaeGenus : GarciniaSpesies : Garcinia benthami Pierre Gambar 2.1 Daun Garcinia benthami pierre (Sumber: data pribadi) Gacinia benthami Pierre memiliki ciri: batang berbentuk lurus mengecil kearah ujung dan berdiameter kurang lebih 10 meter. Bunga jantan memiliki benang sari dengan jumlah bervariasi, dan tangkai bersatumenjadi satu tiang tengah atau membentuk 4-5 berkas, sedangkan ukurannya yang 9 lebih kecil dari betina.

2.1.4 Kandungan Kimia GenusGarcinia

  Senyawa xanton yang diisolasi dari genus Garcinia berasal dari kulit batang kayu Garciniatertrandra Pierre, kulit batang Garcinialancilimba,Garciniarigida, kulit buah Garciniamangostana, Garciniaparvifolia, dan buah dariGarciniaScortechinii. Senyawa flavonoidmerupakan senyawa yang larut dalam air, dapat diekstraksi dengan etanol 70% dan tetap ada dalam lapisan air setelah ekstrak ini dikocok dengan eter minyak 10 khasiat sebagai senyawa toksik.

5 Staphylococcus aureus

2.1.5 Ekstraksi dan Maserasi

  Definisi ekstrak sendiri adalah bahan hasil pengekstrakkan senyawa aktif dari simplisia sesuai dengan pelarutnya lalu diuapkan dan serbuk yang sisadiperlakukan hal yang sama sampai memenuhi standar yang telah ditetapkan. Karena itulah ekstrak hanya mengandung sebagian besar senyawa kandungan yang diinginkan karena senyawa tersebut dapat terpisahkan dari bahan 10 dan dari senyawa kandungan lainnya.

2.1.6 Efek Toksik Suatu Zat

  Dari beberapa literaturdidapat mengenai definisi dari toksikologi, yaitu ilmu yang mempelajari jejas atau kerusakan/cedera pada organisme (hewan, tumbuhan, manusia), yang diakibatkanoleh suatu materi, subtansi, dan atau alergi. Namun efek toksik yang ditimbulkan suatu zat dipengaruhi oleh banyak faktor, yaitu faktor endogen dan faktor eksogen tergantung dari zat target, 15 mekanisme reaksi, dan besarnya dosis.

2.1.7 Uji Toksisitas

2.1.7.1 Tingkatan Uji Toksisitas

  Uji toksisitas adalah uji yang bertujuan untuk mencari dosis aman bagi manusia, dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara kualitatif dan kuantitatif. Uji kualitatif dilakukan akibat dari tidak spesifiknya gejala atau penyakit akibat suatu keracunan sehingga didasarkan kepada penyakit yang timbul.

16 Nagasaki), dan sebagainya

  Uji akut dilakukan dalam tahun pertama terhadap organisme berderajat rendah ataukecil, dan dilanjutkan terhadap hewan yang berderajat lebih tinggi, dengan meningkatnya waktu dan uji toksisitas lengkap akan memerlukan waktu selama 14&15 enam tahun. Uji toksisitas level II dilakukan selama 2,5 tahun berikutnya dan Uji toksisitas level III atau level terakhir 18 biasanya dilakukan untuk menilai kemungkinan dampak pada manusia.

2.1.7.2 Uji Toksisitas Akut

  /LC BSLT merupakan suatu bioassay yang pertama untuk penelitian bahan alam dan salah satu metode menguji bahan-bahan yang bersifat toksik. Untuk keperluan evaluasi bahaya suatu zat melalui data yang diperoleh seperti nilai slope dari grafik hubungan antara log dosis versus respon kurang dari 100 mg/KgBB atau konsentrasi 1000 µg/mL zat ini dianggap potensial sebagai sitotoksik 50 50 Menentukan interval dosis untuk uji berikutnya, yaitu uji farmakologi, toksistas subakut, subkronik, dan toksiistas jangka panjang 7.

2.1.7.3 Metode BSLT

  akut karena efek toksik dari suatu senyawa ditentukan dalam waktu singkat(selama 24 jam) setelah pemberian dosis uji tunggal. Caranya, yaitu dengan menentukan nilai LC 50 (letal concentration) dari aktivitas komponen aktif tanaman terhadap larva Artemia Salina Leach.

19 Sumber: Meyer et al. (82)

  Senyawa yang aktif akan menghasilkan mortalitas yang tinggi dan sesuai acuan literatur tersebut dapat dilakukan uji berikutnya, seperti uji toksisitassubakut, subkronis, atau toksisitas jangka panjang untuk dikembangkan sebagai bahan baku obat, contohnya mencari zat-zat potensial sebagai antikanker. Tetapi bila tidak bersifat toksik, dapat diteliti kembali khasiat lainnya dengan menggunakan hewan coba lain yang lebih besar dari larva Artemia salinaLeach, contonya mencit atau tikus secara in vivodan dapat dikembangkan untuk tujuan yang luas, seperti bahan baku kosmetika 20 atau suplemen makanan.

2.1.8 Hewan Uji

2.1.8.1 Pemilihan Hewan Uji

  Telur Artemia: memiliki daya tahan yang lama (dapat tetap hidup dalam kondisi kering, selama beberapa tahun), lebih cepat dan mudah menetasdalam waktu 48 jam sehingga dapat dihasilkan dalam jumlah besar yang siap 21 untuk di uji. 4.larva udang juga memiliki toleransi yang tinggi terhadap selang salinitas yang 22 luas, mulai dari air tawar hingga air yang bersifat jenuh garam.

2.1.8.2 Artemia salina Leach (Brine Shrimp)

  Artemia salina Leach (Brine Shrimp) (sumber: aquafisher.org.ua)Artemia merupakan hewan yang hidup di danau-danau garam (berair asin) dan termasuk kelompok udang-udangan dari filum arthrophoda.hewan ini dapattoleran hidup pada salinitas yang sangat luas, mulai dari nyaris tawar hingga jenuh garam hal ini dikarenakan biasanya danau tempat Artemia hidup salinitasnyasangat bervariasi tergantung pada jumlah hujan dan penguapan yang terjadi. TelurArtemia lebih baik ditetaskan pada kadar garam lebih dari 25% karena dalam kondisi tersebut telur berada dalam kondisi tersuspensi sedangkan kondisi telur 23 tidak bisa menetas dan tenggelam jika kadar garam kurang dari 6%.

2.1.8.3 Morfologi

  Nama lain untuk telur larva artemia adalah siste, merupakan perkembangan lanjut dari embrio yang diselubungi cangkang yangtebal dan kuat sehingga embrio lebih terlindungi dari pengaruh kekeringan, 23 Gambar 2.3 : Larva artemia 24 (sumber: Panjaitan bontomi, R. 2011) 24 antena I dan antena besar atau antena II yang terdapat sepasang rahang. Gambar 2.4 Artemia dewasa jantan dan betina 24 (sumberPanjaitan bontomi, R. 2011)Artemia digunakan sebagai hewan uji karena memiliki kesamaan tanggapan dengan dengan manusia, yaitu tipe DNA-dependent RNA polimeraseartemia serupa dengan yang terdapat pada mamalia dan organisme yang memiliki ouabaine-sensitive Na dan K dependent ATPase.

2.1.7.4 Siklus Hidup

  Selanjutnya akan menetas menjadi embrio (pada suhu 25 C setelah 15-20 jam), tetapi masih dalam bentuk yang tidak sempurna karena embrio ini masih menempel pada kulit kista, namun setelah beberapa jamkemudian memasuki fase selanjutnya yaitu berubah menjadi nauplius yang bewarna orange kecoklatan yang sudah dapat berenang bebas. Pada awalnyanauplius masih tidak memiliki anus dan mulut sehingga pada tahap ini tidak dapat makan.

2.1.8.5 Penetasan Kista

  Cara dekapsulasi memang bukan cara yang umum,namun memiliki keunggulan yaitu dapat meningkatkan daya tetas dan menghilangkan penyakit yang dibawa oleh cystae artemia. Beberapa syarat yang diperlukan agar kista Artemia salina dapat ditetaskan secara optimal: Aerasi pada uji BSLT bertujuan untuk terjadinya perpindahan senyawa sehingga terjadi kontak atara air dan udara.

2.2. Kerangka Konsep

Ekstrak Daun Garcinia benthamiPierreMemiliki senyawa bioaktif Menghambat aktivitas radikal bebasBerperan sebagai antioksidanBerpotensi sebagai obat herbal antikankerBerkolerasi dengan tingginya kandungan toksik Metode meyer:Didapatkan data: Uji toksisitas melihat tingkattingkat I (uji berderajat rendahBSLT (<24 jam) larva Artemia salina Leach setelahPersamaan linear:penambahan Y =a+bxekstrak Nilai LC 50 < 1000 ppm

2.3. Definis Operasional

No Variabel Definisi Cara ukur Alatukur Skalaukur Hasilukur

1. Konsentras

  V1M1=V2M2 Numerik 50 ppm, - Konsentrasilarut i ekstrak anujidalam ppm100 ppm, (perbandinganμetil asetat gekstrakdengan 200ppm, (1 μg/mL)daun mL etil asetat) 500ppm,Garcinia 1000 ppm 2.50 Nilai yang Persamaanregre Kategorik Sangat - LC menunjukankon si linier toksik <30sentrasiekstrak dengananalisa ppm, toksik: (ppm) yang probit. 30-1000mampuppm, dan mematikantidak toksik larva sebanyak>1000 ppm 50%Akan 3.

BAB 3 METODE PENELITIAN

3.1Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan post test only control group design di laboratorium, yaitu pemberian ekstrak etil asetat daun Garcinia benthami Pierre terhadap larva Artemia salina Leach melalui metode BSLT. 3.2 Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan kurang lebih selama lima bulan, yaitu dimulai dariJanuari 3.3Populasi dan sampel

3.3.1 Populasi

  Populasi penelitian ini adalah larva Artemia Salina Leach yang berasal dari laboratorium kimia LIPI, Bogor dan didapatkan pada bulan Maret 2013. Sebelum menjadi larva, telur Artemia salina Leach direndam dengan air laut.

3.3.2 Besar Populasi

  penelitian ini juga melakukan penilaian kontrol negatif tanpa penambahan sampel dengan jumlah replikasi yang sama sebanyak 3 kali sehingga membutuhkan 30ekor. Larva ini merupakan anggota populasi yang memiliki kesempatan yang sama untuk diseleksi sebagai sampel karena telah bersifat homogen, yaitu sampel ini dengan jenis dan cara penyediaanya yang sama.

3.3.6 Sampel

Sampel pada penelitian ini adalah daun Garcinia benthami Pierre yang dikumpulkan pada bulan Februari 2013 dari Kebun raya Bogor dan identitasbiologi tumbuhan ini ditentukan oleh ahli botani Hebarium Bogoriense, LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), Bogor. Pembuatan ekstrak daunGarcinia benthami Pierre yang digunakan dimaserasi secara berjenjang (pelarut n- heksan, etil asetat, dan metanol) dan dibuat konsentrasinya sebanyak lima yaitu 5

3.4 Alat dan bahan

  3.4.1 Alat Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah blender, tabung hitam, gelas ukur, pisau, tabung reaksi, mikro pipiet 2-20 μL, mikro pipet 20-200 μL, mikro pipet 100-1000 μL, cawan penguap, batang pengaduk kaca, neraca analitik, pipet, kaca pembesar, vial atau botol kaca, kotak penetasan larva udang,alumunium foil, pengatur udara, dan lampu. 3.4.2Bahan Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun Garcinia benthami Pierre yang diperoleh dari Kebun Raya Bogor pada bulan Maret 2013, etil asetat, aquadest, larva Artemia salina Leach, dan air laut.

3.5 Cara Kerja Penelitian

3.5.1 Penyiapan Bahan

  Karena pada penelitian ini menggunakan metode maserasi berjenjang, yaitu menggunakan beberapa pelarut yang memiliki sifat kepolaran yang berbeda,maka proses diatas dilakukan dengan tiga pelarut yang berbeda. Setelahnya, dihitung dan menentukan larva udang yang mati dengan menggunakan kacapembesar, yaitu bila larva udang tidak menunjukkan pergerakan selama observasi, 5 maka masukkan kedalam kriteria udang yang mati.

3.5.7 Alur Penelitian

Daun basah Garcinia benthami Pierre (6 kilogram)Dikeringkan dengan oven di LIPI Bogor ( 3 kilogram)Disortasi, dirajang, dikeringkan, dihaluskan dengan blender dan disaringSimplisia Garcinia benthami Pierre(800 gr)(maserasi dengan n-heksan, disaring, dievaporasi) Ekstrak n-heksan ampasEkstraksi dengan metode Maserasi bertingkat maserasi selama 48 jamke-1 (uji toksisitas) akut) dengan pelarut etil asetatsebanyak 5 L disaringevaporasi Ekstrak etil asetat (9, 63 gr) ampas Maserasi denganUji toksisitas akut metanol,disaring Ditutupi alumunium foil (tempatDiberi penerangan dimasukkannya telur udang)sinar lampu Larva berumur 48 jam  uji toksisitas akut Gambar 3.2 : Bagan Penyiapan larva Artemia salina Leach Gambar 3.3: Pelaksanaan Uji ToksisitasEktrak daun Garcinia benthami Pierre ditimbang 250 mg Ambil 12,5 ml ke labuukur 25 ml Sisa konsentrasi100 ppm Konsentrasi 5 ppmBeri aquades Ambil 1,25 ml ke labuukur 25 ml Ambil 2,5 ml ke labuukur 25 ml Ambil 5 ml ke labu ukur25 mlBeri aquades Beri aquades Konsentrasi 20 ppmKonsentrasi 10 ppm Beri aquadesKonsentrasi 5 ppm Kelompok A Kelompok CKelompok D Kelompok BKelompok E

3.6 Managemen Data

  Data hasil penelitian akan diolah dan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Data dari uji toksisitas tersebut akan dianalisis dengan analisis probitmenggunakan Microsoft Excel 2010 for windows untuk mengetahui harga LC 50, perumusan probit sederhana untuk membandingkan hasil LC dengan perhitungan 50 analisis probit, dan menggunakan SPSS 16.0 for windows untuk menentukan 5 normalitas distribusi data.

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Ekstraksi

  Namun metode ini memiliki kekurangan dimana membutukan waktu yang lebih lama, pelarut yang lebih banyak, dan penyaringan 25 yang tidak sempurna. Setelahnya, hasil maserasi disaring dan filtrat dipekatkan o dengan rotary evaporator pada suhu rata-rata 41 C sehingga didapatkan ekstrak etil asetat daun Garcinia benthami Pierre sebesar 9,63 gram.

4.2 Penentuan Nilai LC

50 Ekstrak yang digunakan adalah ekstrak daun Garcinia benthami Pierre

  yang dibuat larutan dengan konsentrasi yang berbeda-beda yaitu mulai dari 1000 ppm, 500 ppm, 200 ppm, 100 ppm, dan 50 ppm. Selanjutnya, larutan ekstrak dari masing-masing konsentrasi dimasukkan dalam tabung reaksi yang berisi 10 buah larva dengan 9 mL air laut dan percobaan Pada penelitian ini, ekstrak 1 mL yang diberikan kedalam tabung berisi 10 larva ditambahkan kembali air laut sebanyak 9 mL sehingga didalam tabungberisi 10 mL larutan dan larva.

3 Total kematian

  Apabila pada kontrol ada larva yang mati, maka persen kematian ditentukan dengan rumus Abbot:% kematian: T - K x 100% 10 Dimana T merupakan jumlah larva uji yang mati, K adalah jumlah larva kontrol yang mati, dan 10 adalah jumlah larva uji. Hasilnya tidak terdapat kematian larva dan hal ini menunjukkan didalam konsentrasi tertinggi tidak ada yang mati dan untukkonsentrasi yang lebih rendah dari 4000 ppm pun seharusnya juga tidak ada yang mati.

2 Intersep (b) = ∑(x)∑(xy) - ∑(x )∑y

  2 2 )( ∑ (x)) n∑ (x 50 Hal ini membuktikan bahwa dengan memakai cara analisis probit dengan persamaan regresi linear maupun menggunakan rumus analisis probit sederhana, didapatkan hasil yang sama yaitu LC 50 adalah 99,78 ppm. Walaupun didapatkan data mengenai aktivitas toksik didalam esktrak etil asetat daun Garcinia benthami Pierre dengan nilai LC 50 adalah 99,78 ppm, namun belum ditemukan penelitian sebelumnya yang menguji senyawa apa saja yang terdapat pada ekstrak etil asetat daun Garcinia benthami Pierre.

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

  Selain itu, untuk menilai LC 50 pada penelitian ini juga digunakan perhitungan dengan menggunakan rumus metode probit sederhana dan didapatkan hasil yang sama. Dapat dilakukan uji-ujiberikutnya untuk membuktikan toksisitas esktrak etil asetat daun Garcinia benthami Pierre, yaitu uji toksisitas subakut, uji toksisitas kronik, uji farmakologi, dan uji lainnya.

DAFTAR PUSTAKA 1

  Isolasi, elusidasi struktur dan uji aktivitas antioksidan senyawa kimia dari daun Garcinia benthami Pierre. Uji toksisitas akut ekstrak etanol daun kemangi (Ocimum sanctumLinn.) terhadap larva Artemia salina Leach dengan metode Brine ShrimpLethality Test (BSLT).

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Uji Toksisitas Ekstrak Tinta Cumi-Cumi (Photololigo Duvaucelii) Dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (Bslt)
20
171
104
Karakterisasi Simplisia, Skrining Fitokimia, dan Uji Toksisitas dari Ekstrak Umbi Keladi Tikus (tuber Typhonii) dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BST)
8
80
57
Uji Toksisitas Akut Ekstrak Metanol Buah Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl Terhadap Larva Artemia salina Leach dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). 2014
1
11
70
Uji Toksisitas Akut Ekstrak Metanol Daun Garcinia benthami Pierre Terhadap Larva Artemia salina Leach dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)
2
28
75
Uji Toksisitas Akut Ekstrak Etil Asetat Daun Garcinia benthami Pierre dengan Metode Braine Shrimp Lethality Test (BSLT)
0
28
67
Uji aktivitas Antimikroba Ekstrak Daun Garcinia benthami Pierre dengan Metode Dilusi
5
28
75
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Garcinia benthami Pierre terhadap Beberapa Bakteri Patogen dengan Metode Bioautografi
5
28
92
Uji Toksisitas Akut Ekstrak Etanol 96% Biji Buah Alpukat (Persea americana Mill.) Terhadap Larva Artemia salina Leach dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). 2014
1
30
64
Uji Toksisitas Akut Ekstrak Metanol Daun Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa [Scheff.] Boerl.) Terhadap Larva Artemia salina Leach Dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)
3
23
78
Uji Toksisitas Akut Ekstrak Metanol Daun Laban Abang (Aglaia elliptica Blume) Terhadap Larva (Artemia salina Leach) dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). 2014
0
24
58
Uji Toksisitas Akut Ekstrak Etanol Daun Kemangi (Ocimum canum Sims) Terhadap Larva Artemia salina Leach dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)
1
14
64
Uji Toksisitas Akut Ekstrak nheksan Daun Garcinia benthami Pierre Terhadap Larva Artemia salina Leach dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)
0
5
63
Uji Toksisitas Akut Ekstrak Metanol Daun Laban Abang (Aglaia elliptica Blume) Terhadap Larva (Artemia salina Leach) dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). 2014
0
4
58
Uji Toksisitas Ekstrak Tinta Cumi-Cumi (Photololigo Duvaucelii) Dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (Bslt)
0
0
41
Uji Toksisitas Ekstrak Tinta Cumi-Cumi (Photololigo Duvaucelii) Dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (Bslt)
0
2
13
Show more