Komposisi jenis dan struktur tegakan hutan di Cagar Alam Sibolangit, Sumatera Utara

Gratis

0
17
278
2 years ago
Preview
Full text
KOMPOSISI JENIS DAN N STRUKT TUR TEG GAKAN HU UTAN DI CA AGAR AL LAM SIBO OLANGIT T, SUMAT TERA UTA ARA KRIISTIAN EME MUL LA GINTIN NG DE EPARTEM MEN SILV VIKULTU UR F FAKULTA AS KEHU UTANAN INS STITUT P PERTANIA AN BOGO OR 2011 RINGKASAN KRISTIAN EME MULA GINTING (E44053270). Komposisi Jenis dan Struktur Tegakan Hutan di Cagar Alam Sibolangit, Sumatra Utara. Dibawah bimbingan CECEP KUSMANA. Hutan merupakan suatu ekosistem yang merupakan hasil interaksi dari faktor-faktor biotik dan abiotik. Secara ekologis terbentuknya masyarakat suatu hutan adalah berangsur-angsur melalui pergantian vegetasi dan habitatnya. Masyarakat hutan adalah suatu sistem yang dinamik dan berubah hingga mencapai keadaan setabil. Tumbuhnya suatu jenis pohon di dalam suatu masyarakat hutan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain faktor klimatis, edafis, fisiologis dan faktor biotis. Terjadinya perubahan pada faktor-faktor tersebut diatas akan membawa pengaruh terhadap keadaan struktur maupun komposisi tumbuhan. Hutan dengan berbagai fungsi dan manfaatnya memberikan pengaruh yang sangat besar baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap aspek ekologi, ekonomi, dan sosial. Pemanfaatan hutan dapat berjalan dengan lestari apabila informasi mengenai keadaan hutan diketahui dengan baik. Cagar Alam Sibolangit terletak di Kabupaten Deli Serdang. Keberadaan dari Cagar Alam Sibolangit dengan informasi keanekaragaman hayati yang masih sedikit, maka perlu dipelajari dan diketahui sehingga segala manfaat dan potensi yang ada di dalamnya dapat dirasakan oleh masyarakat tanpa menganggu keberadaan dan kelesterian hutan itu sendiri. Oleh karena itu diperlukan suatu studi guna mengetahui seberapa besar keanekaragaman hayati dan potensi khususnya jenis pohon yang ada di Cagar Alam Sibolangit salah satunya dengan menkaji komposisi, struktur dan penyebaran pada kawasan tersebut. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2008 sampai dengan Januari 2009 dengan menggunakan teknik analisis vegetasi dengan metode jalur. Untuk mempermudah perisalahan, jalur dibagi ke dalam petak-petak 20m x 20m untuk risalah tingkat pohon, 10m x 10m untuk risalah tingkat tiang, 5m x 5m untuk risalah tingkat pancang, dan 2m x 2m untuk risalah tingkat semai. Untuk Unit contoh diletakkan dengan menggunakan desain sampling berupa systematic sampling with random start. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan menunjukkan bahwa komposisi vegetasi di lokasi penelitian terdiri dari 36 spesies. Jenis tumbuhan untuk tingkat semai dan pancang didominasi oleh jenis Sono keling (Dalbergia latifolia). Untuk tingkat tiang dan pohon didominasi oleh jenis Angsana (Pterocarpus indicus). Nilai keanekaragaman pada CA Sibolangit tergolong sedang. Indeks Similarity di CA Sibolangit, berdasarkan perbandingan arah lereng pada keempat lokasi nilai IS tertinggi didapati pada lereng utara-selatan dan nilai yang paling rendah didapati pada lereng utara-timur. Vegetasi hutan Cagar Alam Sibolangit secara vertikal terdiri dari tiga strata, yaitu stratum A (tinggi pohon diatas 30 meter), stratum B (tinggi pohon 20-30 meter), stratum C (tinggi pohon 4-20 meter) dan sebagian besar populasi pohon terkonsentrasi pada kanopi dengan kelas tinggi tajuk 11-20 meter. Semua individu pada hutan tersebut tumbuh secara mengelompok baik pada tingkat pohon maupun tingkat permudaan hutan. Kata Kunci: Cagar Alam Sibolangit, Dataran Rendah, Komposisi Jenis, Struktur Tegakan ABSTRACT KRISTIAN EME MULA GINTING (E44053270). Species Composition and Forest Stands Stucture of Sibolangit Nature Reserve, North Sumatra. Under supervisior of CECEP KUSMANA. Forest is an ecosystem that combines the interaction between biotic and abiotic factors. Ecologically, the formation of forest community formed gradually through the changing of the vegetation and habitat. Community of forest is a dynamic and always changing until it reaches a optimum stage. The growth of a tree species in a forest community is influenced by several factors, including climatic factors, edaphic, physiological and biotic factors. The changing in the factors mentioned previously will take effect on the vegetation structure and composition. Forest with a variety functions and benefits provide a tremendous influence both directly and indirectly to several aspects such as ecology, economic, and social. Utilization of forests can be well manage and reach the sustainably if the information about the forest condition are available. Sibolangit Nature Reserve which is located in Deli Serdang regency. The existence of the Sibolangit Nature Reserve with high biodiversity information still limited, therefore it is necessary needed to have a study of nature reserve in order to explore the benefits and potency of the nature reserve without disturbing the presence and preservation of the forest. Hence, we need a study to in the Nature Reserve Sibolangit of the forest, analyze species the composition, and structure. This research conducted from December 2008 until January 2009 using vegetation analysis techniques with the transeet methods. As preliminary, the transeet divided into plots of 20m x 20m to inventory the trees, 10m x 10m to analyze the pole, 5m x 5m to inventory the saplings, and the 2m x 2m to inventory the seedling. For the sampling unit it uses a sampling design in the form of systematic sampling with random start. Based on the results of observation, the seedlings and saplings dominated by Sono keling (Dalbergia latifolia). While for the poles and trees dominated by Angsana (Pterocarpus indicus). The diversity value in Sibolangit Nature Reserve classified as medium diversity. In Sibolangit Nature Reserve, the highest Similarity Index values was found in the north-south slope and the lowest one found in north-eastern slopes. Forest vegetation Sibolangit Nature Reserve in vertical point of view consists of three strata, namely the stratum A (tree height over 30 meters), stratum B (tree 20-30 meters high), and stratum C (tree height 420 meters), where most of the tree population is distributed in the canopy stratum from 11 until 20 meters. All individuals in the forest show clustered distributed at both the tree and forest regeneration level. Keywords: Sibolangit Nature Reserve, Spesies Composition ,Stand Structure KOMPOSISI JENIS DAN STRUKTUR TEGAKAN HUTAN DI CAGAR ALAM SIBOLANGIT, SUMATERA UTARA KRISTIAN EME MULA GINTING Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor DEPARTEMEN SILVIKULTUR FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011 PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul “Komposisi Jenis dan Struktur Tegakan Hutan di Cagar Alam Sibolangit, Sumatera Utara” adalah benarbenar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi atau kutipan yang berasal dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini. Bogor, Februari 2011 Kristian Eme Mula Ginting E44053270 Judul Skripsi Nama Mahasiswa Nomor Pokok Departemen : Komposisi Jenis dan Struktur Tegakan Hutan di Cagar Alam Sibolangit, Sumatera Utara : Kristian Eme Mula Ginting : E44053270 : Silvikultur Menyetujui: Pembimbing Skripsi Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, M.S NIP 19610212 198501 1 001 Mengetahui: Plh. Ketua Departemen Silvikultur Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda M.S NIP 19660921 199003 2 001 Tanggal Lulus: KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yesus Kristus atas semua berkat dan kasih-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Komposisi Jenis dan Struktur Tegakan Hutandi Cagar Alam Sibolangit, Sumatera Utara”. Kegiatan penelitian dilakukan di Cagar Alam Sibolangit, Sumatera Utara. Hasil penelitian yang diperoleh diharapkan dapat menambah informasi tentang keanekaragaman jenis yang ada di Cagar Alam Sibolangit, Sumatera Utara. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Torison Ginting dan Mamak Sri Apulina Sebayang serta Adik-adikku (Sonya, Eci, dan Elma) yang tercinta yang selalu memberikan semangat, motivasi dan dukungan serta doa. 2. Bapak Prof. Dr. Ir. Bambang Hero Saharjo, M.Agr. selaku Dekan Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor 3. Ibu Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda, MS selaku Plh Ketua Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor 4. Bapak Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, MS selaku dosen pembimbing skripsi dan sekaligus memberikan arahan dan bimbingan, baik dalam pelaksanaan maupun penyusunan skripsi ini 5. Kepala BKSDA Sumatra Utara berserta jajarannya yang telah memfasilitasi dan membantu dalam peroses penelitian. 6. Staf Departeman Silvikultur dan Laboratorium Ekologi Hutan atas semua bantuannya. 7. Teman-teman Silvikultur Angkatan 42 (Sambang, Decil, fai, Ghina, dll) dan teman-teman satu bimbingan (Deviyanti, Fajar, Benny). 8. Adik-adikku angkatan 43 (Nunu, Emon, Dessy, Nichi, Amed), 44 (Rizky, Batara), 45 (Adi, Yudi, Nando, Rocky, Berto), 46 (Gita, Arvin, Dede) serta adik-adikku yang lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah memberikan semangat serta doa. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis memohon maaf apabila terdapat kekurangan. Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak yang memerlukan. Bogor, Februari 2011 Penulis RIWAYAT HIDUP Kristian Eme Mula Ginting dilahirkan di Berastagi Kab.Karo pada tanggal 26 Februari 1988 sebagai anak pertama dari empat bersaudara dari pasangan Bpk. Torison Ginting dan Ibu Sri Apulina Sebayang. Jenjang pendidikan formal pertama ditempuh di SD Methodist Berastagi pada tahun 1993-1999. Pada tahun 1999 penulis kemudian melanjutkan pendidikan di SLTP Negeri 2 Berastagi hingga tamat tahun 2002. Di tahun 2002 penulis melanjutkan pendidikannya di SMA 1 Berastagi dan lulus tahun 2005. Pada tahun 2005penulis melanjutkan pendidikan program sarjana di Fakultas Kehutanan, Departemen Silvikultur program studi Silvikultur, Institut Pertanian Bogor melalui jalur BUD (Beasiswa Utusan Daerah) dan menekuni bidang ekologi hutan dibawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, MS. Selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi, penulis aktif di organisasi kemahasiswaan seperti Tree Grower Community (TGC), Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) IPB serta Organisasi Mahasiswa Daerah. Pada tahun 2007 penulis mengikuti Praktek Pengenalan Ekosistem Hutan (P2EH) di Indramayu-Linggarjati dan Praktek Pembinaan Hutan (P2H) di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) pada tahun 2008. Pada tahun 2009, penulis melaksanakan Praktek Kerja Profesi di IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur Kalimantan Barat. Untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan IPB, penulis menyelesaikan skripsi dengan judul “Komposisi Jenis dan Struktur Tegakan Hutan di Cagar Alam Sibolangit, Sumatera Utara” dibawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, MS. Bogor, Februari 2011 Penulis DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI ......................................................................................... i DAFTAR TABEL .................................................................................. iii DAFTAR GAMBAR ............................................................................. iv DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................... v BAB I PENDAHULUAN ..................................................................... 1 1.1 Latar Belakang ............................................................................ 1 1.2 Tujuan ........................................................................................ 2 1.3 Manfaat ...................................................................................... 2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................... 3 2.1 Hutan Hujan Tropika ........................................................... 3 2.2 Klasifikasi Hutan .................................................................. 5 2.3 Stratifikasi Tajuk .................................................................. 7 2.4 Biodiversitas (Biodiversity ) ................................................. 8 2.5 Komposisi Jenis dan Struktur Tegakan ................................ 9 2.6 Kerapatan Pohon .................................................................. 12 2.7 Pola Penyebaran ................................................................... 13 2.8 Analisis Vegetasi .................................................................. 14 BAB III METODE PENELITIAN ........................................................ 16 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ............................................... 16 3.2 Bahan dan Alat Penelitian ...................................................... 17 3.3 Metode Penelitian .................................................................. 17 3.3.1 Analisis Vegetasi .......................................................... 17 3.3.2 Stratifikasi Tajuk .......................................................... 18 3.3.3 Analisis Data ................................................................. 19 Indeks Nilai Penting ..................................................... 19 Indeks Dominansi ......................................................... 20 Indeks Keanekaragaman Jenis ..................................... 20 Koefisien Kesamaan Komunitas …………..………… 21 Indeks Kekayaan Jenis ................................................. 21 Indeks Kemerataan Jenis .............................................. 22 i Pola Penyebaran Individu Jenis ................................... 22 BAB IV KONDISI UMUM PENELITIAN .......................................... 24 4.1 Sejarah Kawasan .................................................................... 24 4.2 Kondisi Fisik .......................................................................... 25 4.3 Kondisi Biologis..................................................................... 26 4.4 Aksesibilitas .......................................................................... 27 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN.................................................. 28 5.1 Hasil .............................................................................................. 28 5.1.1Komposisi Jenis ............................................................ 28 5.1.1.1 Jumlah Jenis ................................................... 28 5.1.1.2 Jenis Dominan ................................................ 28 5.1.1.3 Indeks Keanekaragaman Jenis ....................... 31 5.1.1.4 Indeks Kekayaan Jenis .................................. 32 5.1.1.5 Indeks Kemerataan Jenis ............................... 32 5.1.1.6 Indeks DominansiJenis............................................................... 33 5.1.1.7Indeks KesamaanKomunitas ........................................................ 33 5.1.2 Struktur Tegakan ........................................................ 34 5.1.3 Stratifikasi Tajuk ........................................................ 35 5.1.4 Pola Distribusi Individu Jenis ..................................... 37 5.2 Pembahasan .......................................................................... 37 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN .............................................. 41 6.1 Kesimpulan .......................................................................... 41 6.2 Saran ..................................................................................... 41 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 42 LAMPIRAN ............................................................................................ 44 ii DAFTAR TABEL No. Halaman 1. Jumlah jenis yang ditemukan pada setiap tingkat pertumbuhan di setiaparahlerengdi Cagar Alam Sibolangit ....... 28 2. Jenis-jenis tumbuhan dominan dan kodominan pada setiap tingkat pertumbuhan di setiap arah lereng di Cagar Alam Sibolangit ............................................................ 29 3. Indeks keanekaragaman jenis pada setiap tingkat pertumbuhan di setiap arah lereng Cagar Alam Sibolangit............................... 31 4. Indeks kekayaan jenis pada setiap tingkat pertumbuhan pada setiap arah lereng di Cagar Alam Sibolangit ...................... 32 5. Indeks kemerataan jenis pada setiap tingkat pertumbuhan di setiap arah lereng di Cagar Alam Sibolangit............................... 32 6. Indeks dominansi jenis pada setiap tingkat pertumbuhan di setiap arah lerengdi CagarAlamSibolangit ............................................ 33 7. Indeks kesamaan komunitas pada setiap tingkat pertumbuhan pada setiap arah lereng di CagarAlamSibolangit ........................ 33 8. Nilai kerapatan pada setiap tingkat pertumbuhan di Cagar Alam sibolangit ........................................................................... 34 9. Nilai Variance to Mean Ratio pada setiap tingkat pertumbuhan di Cagar Alam Sibolangit..................................................... 37 iii DAFTAR GAMBAR No Halaman 1 Peta Cagar Alam Sibolangit, Sumatera Utara ……………………….... 16 2 Desain unit contoh vegetasi di lapangan……………………………… 18 3 Desain unit contoh stratifikasi tajuk…………………………………... 19 4 Kerapatan pohon pada setiap tingkat pertumbuhan di lokasi Penelitian…………………………………………………………….... 5 34 Sebaran jumlah individu pohon berdiameter 7 cm up berdasarkan kelas tinggi kanopi di Cagar Alam Sibolangit, Sumatera Utara............. 35 6 Diagram profil hutan arah lereng Barat Cagar Alam Sibolangit, Sumatera Utara....................................................................................... 7 Diagram profil hutan arah lereng Selatan Cagar Alam Sibolangit, Sumatera Utara....................................................................................... 8 36 Diagram profil hutan arah lereng Timur Cagar Alam Sibolangit, Sumatera Utara....................................................................................... 9 35 Diagram profil hutan 36 arah lereng Utara Cagar Alam Sibolangit, Sumatera Utara....................................................................................... 36 iv DAFTAR LAMPIRAN No. Halaman 1. Nama jenis tumbuhan di CagarAlamSibolangit, Sumatera Utara .......................................................................... 44 2. Tabel INP tingkat semai .............................................................. 46 3. Tabel INP tingkat pancang .......................................................... 50 4. Tabel INP tingkatt iang ............................................................... 54 5. Tabel INP tingkat pohon ............................................................. 58 v BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hutan adalah masyarakat tumbuh-tumbuhan yang dikuasai pohon dan mempunyai keadaan lingkungan yang berbeda dengan keadaan di luar hutan (Soerianegara dan Indrawan 1988). Hubungan antara masyarakat tumbuhtumbuhan hutan, margasatwa dan lingkungannya begitu erat sehingga hutan dapat dipandang suatu sistem ekologi atau ekosistem. Hutan merupakan suatu ekosistem yang merupakan hasil interaksi dari faktor-faktor biotik dan abiotik. Secara ekologis terbentuknya masyarakat suatu hutan adalah berangsur-angsur melalui pergantian vegetasi dan habitatnya. Masyarakat hutan adalah suatu sistem yang dinamik dan berubah hingga mencapai keadaan stabil. Tumbuhnya suatu jenis pohon di dalam suatu masyarakat hutan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain faktor klimatis, edafis, fisiologis dan faktor biotis. Terjadinya perubahan pada faktor-faktor tersebut di atas akan membawa pengaruh terhadap keadaan struktur dan komposisi tumbuhan. Hutan dengan berbagai fungsi dan manfaatnya memberikan pengaruh yang sangat besar, baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap aspek ekologi, ekonomi, dan sosial. Pemanfaatan hutan dapat berjalan dengan lestari apabila informasi mengenai keadaan hutan diketahui dengan baik. Cagar Alam (CA) Sibolangit merupakan kawasan hutan yang terletak di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Selain memiliki potensi keanekaragaman hayati yang tinggi, kawasan ini juga merupakan daerah resapan air bagi kawasan di sekitarnya dan beberapa sungai penting di Kabupaten Karo dan Deli Serdang serta sumber beberapa mata air yang dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat, pertanian, perikanan, suplai air rumah tangga dan industri. CA Sibolangit memiliki potensi ekowisata, hasil hutan non kayu seperti tumbuhan obat, potensi penelitian dan pendidikan. Pentingnya peranan CA Sibolangit bagi keberlanjutan ekosistem kawasan Sibolangit dan sekitarnya belum banyak dieksplorasi dan dikaji secara mendalam. Sehubungan dengan hal tersebut, studi ini dilakukan dalam rangka menyediakan 2   salah satu data/informasi berupa komposisi jenis dan struktur hutan yang sangat bermanfaat untuk pengelolaan CA Sibolangit secara berkelanjutan. 1.2 Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji komposisi jenis dan struktur tegakan hutan di Cagar Alam Sibolangit, Sumatera Utara. 1.3 Manfaat Hasil penelitan ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu data dasar bagi pihak pengelola Cagar Alam Sibolangit dalam mengelola kawasan hutannya secara berkelanjutan.   BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hutan Hujan Tropika Hutan adalah masyarakat tumbuh-tumbuhan yang dikuasai pohon-pohon dan mempunyai keadaan lingkungan yang berbeda dengan keadaan di luar hutan (Soerianegara dan Indrawan 1988), sedangkan menurut Departemen Kehutanan (1992), hutan adalah suatu lapangan bertumbuhan pohon-pohon yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya atau ekosistem. Hutan hujan tropika tumbuhannya bersifat selalu hijau, kondisinya selalu basah dengan pohon-pohon yang tinggi tajuknya sekurang-kurangnya 30 m serta mengandung spesies-spesies efipit berkayu dan herba yang bersifat efipit (Mabberley 1992). Richard (1966) juga menjelaskan bahwa salah satu ciri penting dari hutan hujan tropika adalah adanya tumbuhan berkayu, tumbuhan pemanjat dan efipit berkayu dalam berbagai ukuran. Hutan hujan tropika merupakan zona wilayah yang paling subur. Tipe hutan ini terdapat di wilayah tropika atau di dekat wilayah tropika di bumi ini, yang menerima curah hujan berlimpah sekitar 2000-4000 mm per tahun. Suhunya tinggi sekitar 25-260C, dengan kelembaban rata-rata sekitar 80%. Komponen dasar hutan itu adalah pohon-pohon yang tinggi tajuknya sekurang-kurangnya 30 m. Salah satu corak yang menonjol adalah sebagian besar tumbuhannya mengandung kayu (Ewusie 1990). Richard (1966) memberikan beberapa ciri hutan hujan tropika, sebagai berikut: a. Hutan hujan tropika terdiri dari berjenis-jenis tumbuhan berkayu dan umumnya kaya akan jenis-jenis dengan ukuran tinggi dan diameter yang besar. b. Mempunyai banyak jenis kodominan, tetapi dapat juga hanya terdiri dari beberapa jenis saja. Jenis-jenis pohon memperlihatkan gambaran umum yang sama, yaitu batangnya berbanir, lurus dan dekat tajuknya tidak bercabang. 4   c. Pada umumnya susunan tajuknya terdiri dari dua sampai tiga lapisan, sedangkan tumbuhan bawah terdiri dari perdu dan permudaan atau tunas-tunas dari jenis-jenis pohon lapisan bawah. d. Selain jenis pokok, pada umumnya mempunyai banyak jenis efipit, tumbuhan pemanjat, palma dan pandan. e. Merupakan susunan vegetasi klimaks di daerah khatulistiwa, masing-masing jenis tunbuh-tumbuhan di dalamya mempunyai sifat-sifat hidup yang berbeda, tetapi dengan kondisi edafis dan klimatologis tertentu mereka membentuk suatu masyarakat tumbuh-tumbuhan yang seimbang. Sedangkan menurut Soerianegara dan Indrawan (1988), hutan hujan tropika memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1. Iklim selalu basah 2. Tanah kering dan bermacam-macam jenis tanah 3. Di pedalaman, pada tanah rendah rata atau berbukit (< 1000 m dpl) dan pada tanah yang tinggi (s/d 4000 m dml) 4. Dapat dibedakan menjadi 3 zona menurut ketinggiannya: a. Hutan hujan bawah < 1000 m dpl b. Hutan hujan tengah 1000 – 3000 m dpl c. Hutan hujan atas 3000 – 4000 m dpl 5. Hutan hujan bawah, jenis kayu yang penting antara lain: dari suku Dipterocarpaceae adalah: Shorea, Hopea, Dipterocarpus, Vatica, dan Dryobalanops. Genus-genus lain, antara lain: Agathis, Altingia, Dialium, Duabanga, Dyera, Gossanepinus, Koompassia, dan Octomeles. Hutan hujan tengah, jenis kayu yang umum terdiri dari suku-suku Lauraceae, Fagaceae (Quercus), Castanea, Nothofagus, Cunoniaceae, Magnoliaceae, Hammamelidaceae, Ericaceae, dan lain-lain. Hutan hujan atas, jenis kayu utama: Coniferae (Araucaria, Dacrydium, Podocarpus), Ericaceae, Laptospermum, Clearia, Quercus, dan lain-lain. 6. Terdapat terutama di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Maluku dan Irian. 5   Di pegunungan tropika, hutan hujan bisa membentuk hutan hujan pegunungan yang barangkali karena tanah yang lebih dangkal dan kelerengan yang lebih tajam, tidak begitu lebat dan besar dibandingkan dengan hutan hujan dataran rendah (Daniel dan Baker 1995). Apabila suatu hutan hujan pegunungan ditelusuri, makin ke atas maka fisiognomi jenis-jenis dominan dan struktur vegetasinya akan berubah. Perubahan ini akan jelas terlihat pada daerah tropik dibandingkan pada daerah temperate. Selanjutnya dikatakan pula bahwa semakin tinggi suatu tempat, sifat-sifat hutan tropika akan berubah menjadi hutan hujan montana yang vegetasinya mirip dengan hutan pada daerah dingin. Di zona ini terdapat dua tipe formasi hutan, yaitu hutan hujan sub montana dan hutan hujan montana. Di atas hutan hujan montana terdapat suatu batas dimana pepohonan tidak dapat tumbuh, komunitas yang ada hanya berupa vegetasi yang tumbuh kerdil (vegetasi alpin) dengan batuan cadas dan salju (Tandju 1988). 2.2 Klasifikasi Hutan Menurut Departemen Kehutanan (1992), hutan dapat digolongkan bagi tujuan pengelolaan hutan menurut hal-hal berikut: a. Susunan jenis. Hutan murni adalah hutan yang hampir semua atau seluruhnya dari jenis yang sama. Hutan campuran ialah hutan yang terdiri dari dua atau lebih jenis pohon. Baik hutan murni atau campuran dapat berupa seumur, tidak seumur atau segala umur. b. Kerapatan tegakan Pada umumnya, hutan berbeda-beda dalam hal jumlah pohon dan volume per hektar, luas bidang dasar dan kriteria lain. Perbedaaan antara sebuah tegakan yang rapat dan jarang, mudah dilihat dari kriteria pembukaan tajuknya. Sedangkan kerapatan berdasarkan volume, luas bidang dasar dan jumlah batang per hektar, dapat diketahui melalui pengukuran. Untuk keperluan praktis, tiga kelas kerapatan telah dibuat, yaitu:  Rapat, bila terdapat lebih dari 70 % penutupan tajuk.  Cukup, bila terdapat 40-70 % penutupan tajuk.  Jarang, bila terdapat kurang dari 40 % penutupan tajuk. 6   Hutan yang terlalu rapat, pertumbuhannya akan lambat karena persaingan yang keras terhadap sinar matahari, air dan zat mineral. Kemacetan pertumbuhan akan terjadi, tetapi tidak lama, karena persaingan diantara pohon-pohon yang ada akan mematikan yang lemah dan penguasaan oleh yang kuat. Sebaliknya, hutan yang terlalu jarang, terbuka atau rawang menghasilkan pohon-pohon dengan tajuk besar dan bercabang banyak dan pendek. Suatu hutan yang dikelola baik ialah hutan yang kerapatannya dipelihara pada tingkat optimum, sehingga pohon-pohonnya dapat dengan penuh memanfaatkan sinar matahari dan zat hara mineral dalam tanah. Dengan demikian hutan yang tajuknya kurang rapat berfungsi kurang efisien kecuali bila daerah terbuka yang ada, diisi dengan permudaan hutan atau pohonpohon muda. Tempat-tempat terbuka tersebut biasanya ditumbuhi gulma yang menganggu pertumbuhan jenis pohon utama atau tanaman pokok. c. Komposisi umur. Suatu lahan disebut seumur, bila ditanam pada waktu bersamaan. Meskipun demikian, ukurannya dapat berlainan, karena laju pertumbuhan yang berbeda. Hutan segala umur terdiri dari pohon-pohon berukuran besar hingga tingkat semai. Jadi meliputi berbagai umur maupun ukuran. Sedangkan hutan tidak seumur ialah hutan yang mempunyai dua atau lebih kelompok umur atau ukuran. Misalnya hutan yang terdiri atas pohon-pohon yang sudah masak tebang, miskin riap dan ukuran pancang saja. Hutan segala umur biasanya penyebaran ukurannya lebih beragam dan jenisnya umumnya lebih toleran terhadap naungan. Sementara hutan seumur umumnya terdiri dari jenis intoleran. Angin topan, penebangan berlebihan, kebakaran dan bencana lain, menciptakan kelompok-kelompok yang tidak seumur. d. Tipe hutan. Tipe hutan ialah istilah yang digunakan bagi kelompok tegakan yang mempunyai ciri-ciri yang sama dalam susunan jenis pohon yang dominan. 7   2.3 Stratifikasi Tajuk Dalam suatu masyarakat tumbuhan akan terjadi suatu persaingan antara individu-individu dari suatu jenis atau beberapa jenis, jika tumbuh-tumbuhan tersebut mempunyai kebutuhan yang sama alam hal hara mineral, air, cahaya dan ruangan. Sebagai akibat adanya persaingan ini, mengakibatkan jenis-jenis tertentu akan lebih menguasai (dominan) daripada yang lain, maka akan terjadi stratifikasi tumbuhan di dalam hutan. Pohon-pohon yang tinggi dari stratum teratas menguasai pohon-pohon yang lebih rendah dan merupakan jenis-jenis yang mencirikan masyarakat hutan yang bersangkutan (Soerianegara dan Indrawan 1988). Richard (1966), menyatakan bahwa struktur hutan hujan tropika paling jelas dinyatakan dengan penampakan arsitekturnya, stratifikasi tajuk pohon-pohonnya, semak dan tumbuhan bawah. Soerianegara dan Indrawan (1988), menyatakan stratifikasi dalam hutan tropis adalah sebagai berikut : a. Stratum A : lapisan teratur, terdiri dari pohon-pohon dengan tinggi total lebih dari 30 meter, biasanya tajuk diskontinyu, batang pohon tinggi dan lurus dengan batang bebas cabang tinggi b. Stratum B : terdiri dari pohon-pohon dengan tinggi antara 20 meter sampai 30 meter, tajuk umumnya kontinyu c. Stratum C : pohon dengan tinggi 4 – 20 meter, tajuk kontinyu, pohon rendah dan banyak cabangnya. Disamping itu, masih terdapat pula strata perdu, semak dan tumbuhan penutup tanah, yaitu : stratum D untuk lapisan perdu dan semak dengan tinggi 14 meter, sedangkan stratum E untuk tumbuh-tumbuhan penutup tanah (ground cover) dengan tinggi 0-1 meter. Dikatakan pula bahwa tidak semua hutan tropika memiliki ketiga strata tersebut diatas (Soerianegara dan Indrawan 1988). Selanjutnya Soerianegara dan Indrawan (1988) menyatakan bahwa stratifikasi terjadi akibat persaingan dalam waktu yang relatif lama setelah melalui proses adaptasi dan stabilisasi. Jenis-jenis tertentu akan lebih berkuasa (dominan) daripada jenis-jenis yang lain. Pohon-pohon yang tinggi dari stratum teratas 8   mengalahkan atau menguasai pohon-pohon yang lebih rendah dan merupakan jenis-jenis pohon yang mencirikan masyarakat hutan yang bersangkutan. 2.4 Biodiversitas (Biodiversity) Biodiversitas atau keanekaragaman hayati merupakan istilah yang menyatakan terdapatnya berbagai macam variasi bentuk, penampilan, jumlah dan sifat dari derajat keanekaragaman alam, yang mencakup jumlah maupun frekuensi ekosistem dan spesies maupun gen yang ada di dalam wilayah tertentu. Menurut Undang-Undang No. 5 Tahun 1994 tentang konvensi PBB mengenai keanekaragaman hayati, pengertian biodiversitas adalah keanekaragaman di antara daratan, lautan dan ekosistem akuatik lainnya serta kompleks-kompleks ekologi yang merupakan bagian dari keanekaragaman di dalam spesies, antara spesies dan ekosistem (Soemarwoto 2001). Selain itu keanekaragaman hayati merupakan jumlah jenis yang dapat ditinjau dari tiga tingkat keragaman alamiah, termasuk jumlah dan frekuensi ekosistem, spesies atau gen dalam suatu kumpulan. Adapun tingkatan keanekaragaman hayati adalah sebagai berikut: 1). Keanekaragaman genetik; 2). Keanekaragaman spesies; dan 3). Keanekaragaman ekosistem (Mc Neely 1992). Kekayaan floristik merupakan bagian dari keanekaragaman hayati yang sangat erat kaitannya dengan kondisi lingkungan, seperti iklim, tanah, cahaya, dimana faktor tersebut membentuk tegakan hutan yang klimaks (MuellerDombois dan Ellenberg 1974). Keanekaragaman mengarah ke keanekaragaman jenis yang dapat diukur melalui jumlah jenis di dalam suatu komunitas dan melalui kelimpahan relatif jenis tersebut. Aspek yang terdapat di dalam keanekaragaman jenis adalah jumlah jenis yang akan menuju ke kekayaan jenis (richness) sedangkan kelimpahan relatif akan menuju ke kesamaan jenis (eveness atau equitability) Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau sekitar 17.508 terdiri dari pulau-pulau besar dan pulau-pulau kecil. Dengan jumlah pulau yang banyak, ukuran pulau, umur dan karateristik ekologis yang bervariasi menyebabkan tingginya tingkat keanekaragaman hayati di Indonesia. Selain itu, Indonesia juga dicirikan oleh tingginya tingkat endemisme untuk 9   seluruh tingkat organisme (Haryanto 1995). Saat ini telah terjadi pengurangan keanekaragaman hayati yang sangat besar. Hal ini dapat terjadi dalam bentuk kepunahan jenis maupun variasi jenis hewan dan tumbuhan tertentu. Penyebab kepunahan ini bermacam-macam antara lain karena berkurangnya luas habitat, rusaknya habitat, eksploitasi yang berlebihan, dan penggunaan teknologi yang tidak bijaksana. Kepunahan dapat juga terjadi karena kerusakan habitat walaupun luasnya tidak berkurang, seperti berubahnya hutan menjadi alang-alang (Soemarwoto 2001). 2.5 Komposisi dan Struktur Tegakan Richard (1966) menggunakan istilah komposisi jenis untuk menyatakan keberadaan jenis-jenis pohon di dalam hutan. Selanjutnya dinyatakan juga bahwa ciri hutan hujan tropika yang menyolok adalah mayoritas penutupnya terdiri dari tumbuhan berkayu berbentuk pohon. Sebagian besar tanaman pemanjat dan beberapa jenis epifit yang berkayu, tanaman bawah terdiri dari tanaman berkayu, semai dan pancang, belukar dan liana muda. Tumbuhan herba yang ada adalah beberapa epifit sebagai bagian dari tanaman bawah dalam proporsi yang relatif kecil. Mueller Dumbois dan Ellenberg (1974), memakai istilah komposisi untuk menyatakan kekayaan floristik hutan tropika yang sangat erat kaitannya dengan kondisi lingkungan seperti iklim, tanah dan cahaya, dimana faktor tersebut membentuk suatu tegakan yang klimaks. Lebih lanjut dikatakan bahwa sebagian besar hutan hujan tropika mempunyai komposisi jenis campuran walaupun tidak selalu demikian. Pengetahuan komposisi jenis dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam pengelolaan hutan. Samingan (1976) mengemukakan pentingnya mengetahui komposisi jenis pada tingkat tiang, pancang dan pohon. Soerianegara dan Indrawan (1988) mengemukakan pentingnya mengetahui komposisi. Dikatakan komposisi hutan alam merupakan salah satu aspek ekologis yang penting bagi pengetahuan pengelolaan hutan. Menurut Sugden (1983) diacu dalam Rio (1996), untuk mengetahui komposisi suatu jenis di suatu daerah, maka perlu mengetahui sifat-sifat suatu 10   jenis seperti penyebaran, fisiologi dan bentuk reproduksi, dan selanjutnya dikemukakan bahwa komposisi suatu jenis komunitas hutan sangat beragam, tetapi setiap jenis dalam suatu habitat mempunyai sifat-sifat yang hampir sama Pada komunitas yang lebih stabil, keanekaragaman jenis lebih besar dari komunitas yang sederhana dan cenderung untuk memuncak pada tingkat permudaan dan pertengahan dari proses suksesi dan akan menurun lagi pada tingkat klimaks (Margalef, 1968 diacu Odum, 1971). Odum (1971) menyatakan bahwa keanekaragaman jenis cenderung lebih tinggi didalam komuitas yang lebih tua dan rendah didalam komunitas yang cenderung baru terbentuk. Kemantapan habitat merupakan faktor utama yang mengatur keanekaragaman jenis. Istilah struktur menerangkan sebaran individu tumbuhan dalam lapisan tajuk (Richard 1964), sedangkan Danserau (1957) diacu Dumbois dan Ellenberg (1974) mendefenisikan struktur sebagai organisasi dalam ruang dari individuindividu pembentuk tegakan. Kershaw (1964) diacu Mueller dan Ellenberg (1974) membedakan komponen struktur vegetasi menjadi tiga, yaitu: - Struktur vertikal (misalnya stratifikasi dalam beberapa lapis) - Struktur horizontal (menggambarkan distribusi ruang dari jenis-jenis dan individu-individu) - Struktur kuantitatif (menggambarkan kelimpahan masing-masing jenis dalam komunitas) Sedangkan dalam ekologi dikenal lima struktur vegetasi, yaitu: 1) fisiognami vegetasi; 2) struktur biomassa; 3) struktur bentuk hidup; 4) struktur floristik; dan 5) struktur tegakan (Mueller, Dumbois dan Ellenberg 1974). Defenisi lain strukur hutan dikemukakan oleh Suhendang (1985) yang menyatakan bahwa struktur tegakan hutan merupakan hubungan fungsionil antara kerapatan pohon dengan diameternya. Oleh karenanya, struktur tegakan akan dapat dipakai untuk menduga kerapatan pohon pada berbagai kelas diameternya apabila dugaan parameter struktur tegakan dan jumlah pohon secara total diketahui. Pengertian struktur vegetasi dapat berlainan tergantung pada tujuan penggunaan istilah tersebut, sehingga beberapa ahli memberi arti yang berbeda- 11   beda (Istomo 1994). Richard (1964) diacu dalam Armizon (1994) menerangkan istilah struktur digunakan untuk menerangkan sebaran individu tumbuhan dalam suatu lapisan tajuk. Sedangkan menurut Danserreau (1957) diacu dalam MuellerDumbois dan Ellenberg (1974) struktur vegetasi adalah organisasi dalam ruang dan individu-individu yang membentuk suatu tegakan. Elemen primer struktur vegetasi adalah bentuk tumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk. Hutan hujan tropika terkenal karena pelapisannya, ini berarti bahwa populasi campuran di dalamnya disusun pada arah vertikal dengan jarak teratur secara kontinu. Tampaknya pelapisan vertikal komunitas hutan itu mempunyai sebaran populasi hewan yang hidup dalam hutan itu. Sering terdapat suatu atau beberapa populasi yang dalam kehidupan dan pencarian makanannya tampak terbatas (Whitmore 1986). Kelimpahan jenis ditentukan berdasarkan besarnya frekuensi, kerapatan dan dominasi setiap jenis. Penguasaan suatu jenis pohon terhadap jenis-jenis lain ditentukan berdasarkan Indeks Nilai Penting (INP), volume, biomassa, persentase penutupan tajuk, luas bidang dasar atau banyaknya individu dan kerapatan (Soerianegara 1996). Frekuensi suatu jenis menunjukkan penyebaran suatu jenis dalam suatu areal. Jenis yang menyebar secara merata mempunyai nilai frekuensi yang besar, sebaliknya jenis-jenis yang mempunyai nilai frekuensi yang kecil mempunyai daerah sebaran yang kurang luas. Kerapatan dari suatu jenis merupakan nilai yang menunjukkan jumlah atau banyaknya suatu jenis per satuan luas. Makin besar kerapatan suatu jenis, makin banyak individu jenis tersebut per satuan luas. Dominasi suatu jenis merupakan nilai yang menunjukkan peguasaan suatu jenis terhadap komunitas. Suatu daerah yang didominasi oleh hanya jenis-jenis tertentu saja, maka daerah tersebut dikatakan memiliki keanekaragaman jenis yang rendah. Keanekaragaman jenis yang tinggi menunjukkan bahwa suatu komunitas memiliki kompleksitas yang tinggi, karena di dalam komunitas itu terjadi interaksi antara jenis yang tinggi. Lebih lanjut dikatakan, keanekaragaman merupakan ciri dari suatu komunitas terutama dikaitkan dengan jumlah jenis dan jumlah individu tiap jenis pada komunitas tersebut. Keanekaragaman 12   jenis menyatakan suatu ukuran yang menggambarkan variasi jenis tumbuhan dari suatu komunitas yang dipengaruhi oleh jumlah jenis dan kelimpahan relatif dari setiap jenis. 2.6 Kerapatan Pohon Kerapatan pohon adalah jumlah pohon yang terdapat pada satuan luas tertentu, biasanya dinyatakan dalam hektar, sehingga dikenal sebagai jumlah pohon per hektar (Suhendang 1985). Menurut Richard (1966), kerapatan pohon pada hutan alam tidak teratur sehingga sulit untuk mendapatkan kerapatan seperti yang diinginkan. Pada tegakan hutan alam biasanya kerapatan pohon akan tinggi pada kelas diameter kecil dan akan menurun pada kelas diameter yang makin besar. Hal tersebut terjadi karena adanya kompetisi yang tinggi, baik antar individu dalam satu jenis maupun antar berbagai jenis, sehingga tidak semua individu mendapatkan kesempatan untuk tumbuh secara wajar, walaupun tidak mati. Kecenderungan penurunan kerapatan pohon pada kelas diameter yang lebih tinggi ternyata tidak sama untuk semua jenis terutama sifat toleransinya terhadap naungan. Untuk pohon intoleran (tidak tahan naungan), kecenderungan penurunan kerapatan pada kelas diameter yang besar tidak akan berlangsung secara drastis. Sedangkan untuk toleran, kerapatan pohonnya akan berkurang secara drastis jika kelas diameter bertambah tinggi (UNESCO 1978). Meskipun terdapat beberapa tipe sebaran kerapatan pohon, ada dugaan yang kuat bahwa pada umumnya terdapat hubungan yang erat antara kerapatan pohon dengan diameter, baik pada jenis pohon toleran maupun pada jenis intoleran, sehingga akan terdapat hubungan fungsional antara kelas diameter dengan kerapatan pohonnya. Atas dasar tersebut maka struktur tegakan hutan akan dapat dipakai sebagai alat untuk menduga besarnya kerapatan pohon pada setiap kelas diameternya (Suhendang 1985). 13   2.7 Pola Penyebaran Penyebaran jenis bersifat unik dalam tingkat komunitas dan organisasi ekologi. Penyebaran dalam komposisi jenis berhubungan dengan derajat kestabilan komunitas. Komunitas vegetasi dengan penyebaran jenis yang lebih besar memiliki jaringan kerja yang lebih komplek daripada komunitas dengan penyebaran jenis yang rendah (Istomo 1994). Menurut Odum (1971), individu-individu dalam populasi dapat tersebar menurut tiga pola yaitu, 1). acak 2). seragam, dan 3). bergerombol (tidak teratur). Pola penyebaran acak hanya terjadi bila lingkungan sangat seragam dan tumbuhan tersebut tidak mempunyai kecenderungan untuk mengelompok. Penyebaran seragam terjadi bila komposisi antar individu tersebut terjadi tolak menolak positif, sehingga timbul ruang atau jarak yang teratur antar individu. Penyebaran mengelompok paling umum terjadi di alam. Apabila individuindividu menyebar secara mengelompok, masing-masing kelompok kecil dapat tersebar, baik secara acak maupun seragam. Ludwig dan Reynold (1988) diacu dalam Istomo (1994) mengidentifikasikan faktor-faktor penyebab pembentukan pola penyebaran individu sebagai berikut: a. Faktor vektorial adalah hasil dari pengaruh kekuatan lingkungan luar (seperti angin, air dan intensitas cahaya) b. Faktor reproduksi merupakan akibat dari cara-cara pembiakan dari organisme tersebut (seperti regenerasi klon dan progeni) c. Faktor sosial yang merupakan hasil dari perilaku bawaan (seperti perilaku daerah penyebaran/teritorial) d. Faktor coactive hasil dari interaksi intra spesifik (misalnya kompetisi) e. Faktor stokastik hasil pengaruh acak beberapa faktor utama. Jadi pola penyebaran dari suatu organisme disebabkan oleh pengaruh dari dalam (seperti pembiakan, sosial dan coactive) atau dari luar (seperti vektorial). Selain itu Leigh (1982) diacu dalam Rio (1996) memperkenalkan teori penyebaran pohon sebagai berikut; a. Suatu jenis dapat tumbuh dan berkembang di suatu daerah karena telah melalui persaingan 14   b. Suatu jenis dapat tumbuh karena jenis yang berbeda menempati habitat yang berbeda c. Suatu jenis dapat berkembang karena perbedaan tanggapan setiap jenis terhadap pembukaan tajuk d. Suatu jenis dapat tumbuh dan berkembang karena terjadi perbedaan tanggapan dari faktor-faktor reproduksi pohon terhadap perubahan lingkungan. 2.8 Analisis Vegetasi Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinamis. Vegetasi, tanah dan iklim berhubungan erat dan pada tiap-tiap tempat mempunyai keseimbangan yang spesifik. Vegetasi di suatu tempat akan berbeda dengan vegetasi di tempat 1ain karena berbeda pula faktor lingkungannya. Vegetasi hutan merupakan suatu sistem yang dinamis, selalu berkembang sesuai dengan keadaan habitatnya. Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan dan atau komposisi vegetasi serta bentuk (struktur) vegetasi dari masyarakat tumbuhtumbuhan. Unsur struktur vegetasi adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan penutupan tajuk. Untuk keperluan analisis vegetasi diperlukan data-data jenis, diameter dan tinggi untuk menentukan Indeks Nilai Penting dari penyusun komunitas hutan tersebut. Dengan analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan. Berdasarkan tujuan pendugaan kuantitatif, komunitas vegetasi dikelompokkan ke dalam 3 kategori yaitu : (1) Pendugaan komposisi vegetasi dalam suatu areal dengan batas-batas jenis dan membandingkan dengan areal lain atau areal yang sama namun waktu pengamatan berbeda; (2) Menduga tentang keragaman jenis dalam suatu areal; dan 15   (3) Melakukan korelasi antara perbedaan vegetasi dengan faktor lingkungan tertentu atau beberapa faktor lingkungan (Greig-Smith 1983) diacu dalam Irwan (2009). Untuk mempelajari komposisi vegetasi perlu dilakukan pembuatan petakpetak pengamatan yang sifatnya permanen atau sementara. Menurut Soerianegara (1996) petak-petak tersebut dapat berupa petak tunggal, petak ganda ataupun berbentuk jalur atau dengan metode tanpa petak.   BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan selama dua bulan yaitu pada bulan Desember 2008 sampai dengan Januari 2009 di Cagar Alam (CA) Sibolangit. Secara administratif pemerintahan, lokasi penelitian terletak di Desa Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Propinsi Sumatera Utara. Pada penelitian ini analisis vegetasi dilakukan di emapat arah lereng hutan hujan bawah berbukit dengan ketinggian sekitar 550 mdpl, yang secara lebih jelasnya disajikan pada Gambar 1. Gambar 1 Peta lokasi Cagar Alam Sibolangit, Sumatera Utara.   17   3.2 Bahan dan Alat Penelitian Bahan-bahan dan Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Kompas untuk menentukan arah rintisan. 2. Tambang atau tali rafia untuk mengukur dan membuat petak contoh 3. Haga meter untuk mengukur tinggi pohon. 4. Phiband untuk mengukur diameter pohon. 5. Pita ukur untuk mengukur petak contoh di lapangan. 6. Patok untuk menandai batas-batas plot dan petak pengamatan. 7. Alat bantu lainnya seperti tally sheet, alat tulis, kamera digital dan peralatan lapangan. 3.3 Metode Penelitian Penelitian dilaksanakan dengan melalui beberapa tahap, yaitu pengambilan data di lapangan berupa analisis vegetasi dan stratifikasi tajuk, serta analisis data. Variabel-variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah jumlah individu dari vegetasi tingkat semai dan pancang, serta diameter dan tinggi dari vegetasi tingkat tiang dan pohon. 3.3.1 Analisis vegetasi Pengambilan contoh vegetasi di lapangan dilakukan dengan teknik analisis vegetasi yang merupakan kombinasi antara metode jalur untuk risalah vegetasi tingkat pohon dengan metode garis berpetak untuk risalah pemudaan hutan. Untuk memudahkan perisalahan, setiap jalur dibagi kedalam beberapa petak 20 m x 20 m untuk risalah tingkat pohon, 10 m x 10 m untuk risalah tingkat tiang, 5 m x 5 m untuk risalah tingkat pancang dan 2 m x 2 m untuk risalah tingkat semai. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan pohon adalah semua tumbuhan berkayu dengan diameter batang ≥ 20 cm; tiang adalah permudaan pohon dengan diameter batang antara 10-20 cm; pancang adalah permudaan pohon dengan diameter batang < 10 cm dan tinggi di atas 1,5 m; semai adalah permudaan pohon mulai dari kecambah sampai dengan tinggi 1,5 m. Desain unit contoh vegetasi di lapangan secara detail dapat dilihat pada Gambar 2.   18   Keterangan: Ukuran petak contoh semai Ukuran petak contoh pancang Ukuran petak contoh tiang Ukuran petak contoh pohon = 2m = 5m = 10 m = 20 m x2m x5m x 10 m x 20 m Gambar 2 Desain unit contoh vegetasi di lapangan. Unit-unit contoh vegetasi diletakkan pada arah lereng sebelah utara,timur, barat, dan selatan. Pada masing-masing arah tersebut dibuat dua unit contoh dengan panjang jalur 200 m dan lebarnya 20 m sehingga terdapat 8 jalur untuk keempat arah lereng. Unit-unit contoh diletakkan menggunakan desain sampling berupa systematic sampling with random start. 3.3.2 Stratifikasi tajuk Stratifikasi tajuk dilakukan dengan menggunakan metode diagram profil tajuk dengan petak ukur diambil dari setengah bagian dari sisi rintisan, pada petak pengamatan yang sekiranya dapat mewakili (Gambar 3). Lebar jalur dianggap sebagai sumbu x dan panjang jalur sebagai sumbu y. Data diambil dengan mengukur proyeksi tajuk ke tanah. Data-data yang diperlukan untuk stratifikasi tajuk ialah: 1. Posisi pohon dalam jalur, yang diukur dari arah yang sama secara berurutan dan jarak awal pengukuran ke pohon. Kemudian pohon-pohon dalam jalur pengamatan dipetakan. 2. Tinggi total dan tinggi bebas cabang serta tinggi cabang kedua bila memungkinkan. 3. Proyeksi dari tajuk ke tanah (lebar tajuk tiap pohon). 4. Diameter setinggi dada (130 cm di atas permukaan tanah) atau diameter 20 cm di atas banir bila pohon berbanir. 5. Penggambaran di lapangan berupa sketsa dari bentuk percabangan utama, bentuk tajuk, arah condong dari batang dan sketsa dari masing-masing pohon.   19   60 m Keterangan: O = posisi pohon dalam jalur; 1,2, 3, ..., n = nomor pohon Gambar 3 Desain unit contoh stratifikasi tajuk. 3.3.3 Analisis data Untuk mengetahui gambaran tentang komposisi jenis dan struktur tegakan hutan, dilakukan perhitungan terhadap parameter yang meliputi indeks nilai penting,

Dokumen baru

Tags