Evaluation of Complete Ration Containing Mung Bean Sprouts Waste in Various Form of Feed on Sheep

 0  3  105  2017-05-18 15:13:05 Report infringing document
EVALUASI RANSUM KOMPLIT YANG MENGANDUNG LIMBAH TAOGE KACANG HIJAU DALAM BERBAGAI BENTUK PAKAN PADA TERNAK DOMBA NUR AFNI META FURNIATI SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 IPB 2012 NUR AFNI META FURNIATI D152080061 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Evaluasi Ransum Komplit yang Mengandung Limbah Taoge Kacang Hijau dalam Berbagai Bentuk Pakan pada Ternak Domba adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini. Bogor, Juni 2012 Nur Afni Meta Furniati D152080061 ABSTRACT NUR AFNI META FURNIATI. Evaluation of Complete Ration Containing Mung Bean Sprouts Waste in Various Form of Feed on Sheep. Under direction of YULI RETNANI and DWIERRA EVVYERNIE AMIRROENAS. Mung bean sprouts waste is a waste of vegetables that are available in traditional market everyday. Using of fresh mung bean sprouts waste had several problems i.e., perishable and bulky. Its couse mung bean sprouts waste could not be stored for long periods and had large space for storage. The aim of this study was to assess the mung bean sprouts waste utilized in sheep ration. This study used complete ration that consisted of nature grass, mung bean sprouts waste, pollard, copra meal, molasses and urea. The study was divided into two experiments, first experiment was to assessment the nutritional quality of complete rations in vivo used sheeps. A complete randomized design with four various form of complete ration and three sheeps as replication in each of treatment was used in this experiment. Complete rations were given in fresh condition (R1), mash form (R2), pellet form (R3) and wafer form (R4). The parameters observed were feed consumption, body weight gain, feed efficiency, digestibility of dry matter and organic matter. The result of this study showed that digestibility of dry matter and organic matter do not significant differences. Feed consumption of sheeps fed by complete ration in pellet form (R3) was higher (P<0,05) than sheeps fed by fresh condition (R1) and mash form(R2). Body weight gain and feed efficiency of sheeps fed by complete ration in pellet form (R3) was higher (P<0,05) than other form. Second experiment was studied the effect of storage time in various physical forms. A completely randomized factorial design with 3 form of complete ration (mash, pellet and wafer) and 3 long time storage (0, 1 and 2 month) with three replications was used in this experiment. The observed variables include observations of moisture content, water activity and insect attack. The result of this study showed that moisture content had interaction (P<0,05) between form of complete ration and time of storage. Complete ration that storage for two month had water activity higher (P<0,05) than 0 and 1 month of storage. Insect attack to complete ration in pellet form that storage in one month was higher than other form in two month and same long time storage. Complete ration containing mung bean sprouts waste in pellet form that stored in one month had water content, water activity and insect attack can be tolerance. Feed consumption, body weigh gain, feed efficiency of complete ration containing mung bean sprouts waste in pellet form was higest. Key word: mung bean sprouts waste, mash, pellet, wafer, sheep RINGKASAN NUR AFNI META FURNIATI. Evaluasi Ransum Komplit yang Mengandung Limbah Taoge Kacang Hijau dalam Berbagai Bentuk Pakan pada Ternak Domba. Dibimbing oleh YULI RETNANI dan DWIERRA EVVYERNIE AMIRROENAS Peningkatan permintaan daging domba konsumsi harus diikuti dengan peningkatan kualitas pakan yang diberikan pada ternak domba tersebut. Pakan yang memiliki nilai nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan domba akan membantu pencapaian hasil produksi yang optimal. Harga bahan pakan yang murah juga perlu diperhatikan agar biaya produksi dalam pemeliharaan domba dapat seminimal mungkin. Limbah taoge kacang hijau merupakan sampah pasar yang sudah tidak dimanfaatkan lagi oleh manusia untuk dikonsumsi. Limbah taoge kacang hijau ini bisa dimanfaatkan karena masih memiliki kandungan nutrisi yang berguna bagi ternak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji penggunaan ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau pada domba dan lama penyimpanannya dalam berbagai bentuk pakan yaitu mash, pelet dan wafer. Penelitian ini dibagi dalam dua tahap penelitian, yaitu tahap pertama mengkaji kualitas nutrisi ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau pada ternak domba dan tahap kedua mempelajari pengaruh lama penyimpanan ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau dalam berbagai bentuk pakan. Tahap pertama menggunakan 12 ekor domba jantan lokal yang sedang dalam masa pertumbuhan dengan bobot badan awal 10,10 -14,10 kg. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan bentuk pakan dan 3 ulangan berupa ternak. Ransum komplit yang diberikan mengandung limbah taoge kacang hijau dalam bentuk segar (R1), mash (R2), pelet (R3) dan wafer (R4). Peubah yang diamati adalah konsumsi bahan kering, kecernaan bahan kering dan bahan organik, pertambahan bobot badan dan efisiensi penggunaan ransum. Penelitian tahap kedua menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial dengan 3 bentuk pakan (mash, pelet dan wafer) dan 3 jenis lama penyimpanan (0,1 dan 2 bulan) dengan 3 ulangan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dan apabila terdapat perbedaan antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian tahap pertama menunjukkan bahwa konsumsi bahan kering tertinggi ditunjukkan oleh domba yang mengkonsumsi pelet (R3). Konsumsi bahan kering dalam bentuk segar (R1) lebih rendah (P<0,05) dibandingkan dengan konsumsi bahan kering pakan berbentuk pelet (R3) dan wafer (R4) namun tidak berbeda nyata dengan konsumsi bahan kering pakan berbentuk mash (R2). Ransum yang diberikan dalam bentuk segar (R1) memiliki nilai kecernaan bahan kering yang paling tinggi sedangkan yang terendah diperlihatkan oleh domba yang mendapatkan pakan berbentuk pelet (R3), tidak ada perbedaan yang nyata antar perlakuan. Setiap bentuk pakan memberikan respon yang sama terhadap kecernaan bahan kering. Kecernaan bahan organik juga tidak berbeda nyata antar perlakuan. Pertambahan bobot badan harian domba yang mengkonsumsi ransum komplit berbentuk pelet (R3) nyata lebih tinggi (p<0,05) dibandingkan dengan ransum segar (R1) dan ransum berbentuk mash (R2) namun tidak berbeda nyata dengan ransum berbentuk wafer (R4). Ransum berbentuk mash (R2) memiliki pertambahan bobot badan harian paling rendah namun tidak berbeda nyata dengan ransum berbentuk segar (R1). Efisiensi penggunaan ransum yang tertinggi dicapai oleh ternak yang mendapat ransum komplit berbentuk pelet (R3) dengan nilai sebesar 17,13% diikuti oleh ransum komplit berbentuk wafer (R4) yaitu 15,74% dan ransum komplit berbentuk segar (R1) yaitu 15,06% dan ketiganya tidak berbeda nyata. Ransum komplit berbentuk mash (R1) memiliki nilai efisiensi penggunaan ransum lebih rendah (P<0,05) dibandingkan bentuk lainnya. Ransum berbentuk pelet, wafer dan segar berturut-turut nyata lebih efisien (P<0,05) dalam memanfaatkan pakan menjadi daging dibandingkan dengan domba yang mengkonsumsi ransum komplit berbentuk mash (R2). Ransum komplit berbentuk pelet (R3) menunjukkan konsumsi bahan kering, pertambahan bobot badan harian dan efisiensi penggunaan pakan tertinggi dibandingkan dengan ransum komplit bentuk lain. Hasil penelitian tahap kedua menyatakan bahwa terjadi interaksi (P<0,01) antara bentuk pakan dan lama penyimpanan terhadap kadar air. Ransum komplit berbentuk wafer pada lama penyimpanan 0 bulan memiliki kadar air yang paling rendah namun tidak berbeda nyata dengan ransum komplit berbentuk mash pada lama penyimpanan 0 bulan. Ransum komplit berbentuk pelet pada lama penyimpanan 0 dan 1 bulan tidak mengalami peningkatan kadar air yang nyata. Nilai aktivitas air ransum komplit dua bulan mengalami peningkatan (P<0,05) dibandingkan dengan lama penyimpanan satu bulan. Jumlah serangga pada ransum komplit berbentuk mash pada lama penyimpanan dua bulan menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah serangga menjadi tingkat serangan berat (7 ekor per kg bahan). Ransum komplit berbentuk pelet dengan lama peyimpanan satu bulan memiliki tingkat serangan serangga kategori ringan, yaitu satu ekor per kg ransum. Semakin lama penyimpanan menyebabkan terjadinya peningkatan kadar air ransum penelitian, peningkatan aktivitas air yang tergambar dari pertumbuhan kapang dan peningkatan jumlah seranggga. Ransum komplit mengandung limbah taoge kacang hijau berbentuk pelet yang disimpan selama satu bulan memiliki kadar air, aktivitas air dan jumlah serangga yang masih dapat ditolerir. Kesimpulan dari kedua tahap penelitian adalah ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau berbentuk pelet memiliki tingkat konsumsi bahan kering, pertambahan bobot badan dan efisiensi penggunaan ransum yang lebih tinggi dibandingkan ransum komplit bentuk lainnya dan ransum komplit berbentuk pelet dengan lama penyimpanan satu bulan menunjukkan kualitas yang terbaik karena memiliki kadar air dan aktivitas air rendah (tidak menunjukkan terjadinya pertumbuhan kapang) dan jumlah serangga satu ekor per kilogram ransum (kategori serangan serangga ringan). Kata kunci : limbah taoge kacang hijau, mash, pelet, wafer, domba. © Hak Cipta milik IPB, tahun 2012 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik dan tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB EVALUASI RANSUM KOMPLIT YANG MENGANDUNG LIMBAH TAOGE KACANG HIJAU DALAM BERBAGAI BENTUK PAKAN PADA TERNAK DOMBA NUR AFNI META FURNIATI Tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Ilmu Nutrisi dan Pakan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis : Dr. Despal, S.Pt., M.Sc.Agr. HALAMAN PENGESAHAN Judul Tesis : Nama NRP : : Evaluasi Ransum Komplit yang Mengandung Limbah Taoge Kacang Hijau dalam Berbagai Bentuk Pakan pada Ternak Domba Nur Afni Meta Furniati D152080061 Disetujui Komisi Pembimbing Dr. Ir. Yuli Retnani, M.Sc Ketua Dr. Ir. Dwierra Evvyernie A., MS., M.Sc Anggota Diketahui Ketua Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Dekan Sekolah Pascasarjana IPB Dr. Ir. Idat Galih Permana, M.Sc.Agr Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr Tanggal Ujian: 12 Juni 2012 Tanggal Lulus: PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karuniaNya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian ini adalah Evaluasi Ransum Komplit yang Mengandung Limbah Taoge Kacang Hijau dalam Berbagai Bentuk Pakan pada Ternak Domba. Penelitian ini dilaksanakan sejak bulan Juni 2011 sampai Maret 2012 di Dramaga Bogor. Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr. Ir. Yuli Retnani, M.Sc dan Dr. Ir. Dwierra Evvyernie Amirroenas, MS., M.Sc selaku ketua dan anggota komisi pembimbing atas waktu dan kesabaran yang diberikan selama proses penyelesaian tugas akhir ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan untuk Dr. Despal, S.Pt., M.Sc.Agr selaku penguji luar komisi pada ujian sidang tesis atas segala saran yang diberikan demi kesempurnaan tesis ini. Ungkapan terima kasih penulis kepada Dr. Ir Idat Galih Permana, M.Sc.Agr selaku Ketua Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Dr. Ir. Dwierra Evvyernie Amirroenas, MS. M.Sc selaku Koordinator PS/mayor Ilmu Nutrisi dan Pakan (INP) dan seluruh staf dosen Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Ungkapan terima kasih yang tulus kepada Ayahanda H. Furzal dan Ibunda Hj. Hosniati, kedua adikku (Daud dan Fitri), suami tercinta Muhtar S.Pt dan jagoan kami Akhdan Lathif Assyuja’i, bapak dan ibu mertua, om dan tante di Depok atas segala doa, kasih sayang, dukungan, semangat dan kebersamaan yang diberikan selama ini. Terimakasih juga kepada Bu Suci, Bu Tiur, Mbak Lina dan Mbak Ruri atas kebersamaannya selama perkuliahan diprogram studi INP angkatan 2008. Kak Adelina, Uni Simel Sowmen, Kak Yenni, Uni Dwi Sisriyeni, Bu Irma, Mbak Anis, Sofi, Rovan, Febri serta rekan-rekan di Himpunan mahasiswa muslim pascasarjana (HIMMPAS) dan dewan mahasiswa pascasarjana IPB atas segala bantuan, kebersamaan dan motivasi yang selalu mengiringi dan mengantarkan penulis pada penyelesaian perkuliahan ini. Terima kasih juga penulis sampaikan untuk Mas Supri dan Bu ade atas segala kemurahan hati dan bantuan terkait administrasi selama masa studi. Terima kasih juga untuk sepupuku, Tia dan Putri, Pak Ateng, Pak Hadi, Mas Wardi, Mbak Anis dan Mbak Dian atas bantuan selama penelitian dan juga untuk seluruh keluarga besar di Bukittinggi, Depok dan Cirebon. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat. Bogor, Juni 2012 Nur Afni Meta Furniati RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Bukittinggi pada tanggal 3 Desember 1982 dari pasangan Bapak H. Furzal dan Ibu Hj. Hosniati. Penulis adalah putri pertama dari tiga bersaudara dan adik kandung bernama Daud Maulindo,S.Sos dan Fitri Wahyuni, S.Si. Penulis telah menikah dengan Muhtar, S.Pt pada tanggal 25 September 2010 dan diamanahi seorang anak yang berumur 9 bulan bernama Akhdan Lathif Assyuja’i. Pendidikan SD penulis tempuh di SDN 01 Benteng Pasar Atas, Bukittinggi. Tahun 1995 penulis melanjutkan sekolah ke MTsN 1 Bukittinggi dan lulus pada tahun 1998. Penulis kemudian melanjutkan pendidikan ke SMU Negeri 2 Bukittinggi. Tahun 2001 penulis menyelesaikan masa studi tingkat SMU dan pada tahun yang sama penulis diterima sebagai mahasiswa Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Pendidikan sarjana penulis selesaikan pada tahun 2006. Tahun 2008 penulis diterima di Sekolah Pascasarjana Program Studi Ilmu Nutrisi dan Pakan IPB. Selama mengikuti program S2, penulis aktif sebagai pengurus pada Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana (HIMMPAS) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa Pascasarjana IPB (DEMA PASCASARJANA) periode 2009-2010. DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ……………………………………………………………. xiii DAFTAR GAMBAR …………………………………………………………. xiv DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………………. xv PENDAHULUAN ……………………………………………………………. 1 Latar Belakang ……………………………………………………....... Tujuan .............................................................................................. ….. 1 2 TINJAUAN PUSTAKA………………………………………………..……. Limbah Taoge Kacang Hijau ................................................................. Bentuk-Bentuk Pakan ............................................................................ Mash ................................................................................................ Pelet ………………………………..……………………………. Wafer ............................................................................................... Penyimpanan Pakan ………………………………………………...... Evaluasi Kualitas Nutrisi Pakan pada Domba …………........................ Domba ……………………………………………....................... Konsumsi Ransum……………………………… ........................... Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik ………..……........ Pertambahan Bobot Badan Harian ……………………………..... Efisiensi Penggunaan Ransum ………………………………...... 3 3 4 4 5 7 8 11 11 12 12 13 13 MATERI DAN METODE .................................................................................. 14 Evaluasi Kualitas Nutrisi Ransum Komplit Mengandung Kulit Kecambah Kacang Hijau pada Ternak Domba ………………............. Waktu dan Lokasi Penelitian …………………………….........… Materi Penelitian ………………………………....……………… Rancangan Percobaan ……………………………… ..................... Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Sifat Fisik Ransum Komplit Mengandung Kulit Kecambah Kacang Hijau dalam Berbagai Bentuk Pakan ...………………………………...……………………………... Lokasi Penelitian …………………………………………….… .... Prosedur Pengerjaan ……………………………………….…….. Kadar Air ……………………………………......................... Aktivitas Air …………………………………........................ Serangan Serangga ................................................................... Rancangan Percobaan …………………………………………... .. 14 14 14 17 18 18 3.2.2 Materi Pe 19 20 20 20 21 HASIL PENELITIAN ………………………………………………………. 22 Evaluasi Kualitas Nutrisi Ransum Komplit Mengandung Kulit Kecambah Kacang Hijau pada Ternak Domba …..………….............. 22 Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Sifat Fisik Ransum Komplit Mengandung Kulit Kecambah Kacang Hijau dalam Berbagai Bentuk Pakan ………………………………………………. 24 PEMBAHASAN ………….………………………………………………..…. 29 Evaluasi Kualitas Nutrisi Ransum Komplit Mengandung Kulit Kecambah Kacang Hijau pada Ternak Domba …..…...………............ 29 Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Sifat Fisik Ransum Komplit Mengandung Kulit Kecambah Kacang Hijau dalam Berbagai Bentuk Pakan …………………………………………….… 32 KESIMPULAN DAN SARAN ………………………………………………. 35 DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………… 36 LAMPIRAN ……………………………………………..…………………... 39 xii DAFTAR TABEL Halaman 1 Komposisi nutrisi bahan pakan penyusun ransum komplit .................... 15 2 Susunan ransum komplit dan kandungan nutrisinya ............................. 16 3 Performa domba yang mengkonsumsi ransum komplit mengandung limbah taoge kacang hijau ..................................................................... 4 Kadar air ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau selama penyimpanan (%) ............................................................... 5 6 23 26 Aktivitas air (Aw) ransum komplit mengandung limbah taoge kacang hijau selama penyimpanan ..................................................................... 27 Jumlah serangan serangga selama penyimpanan (ekor) ........................ 27 DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Limbah taoge kacang hijau dari salah seorang pengrajin taoge di pasar raya bogor .............................................................................................. 4 2 Ternak dan kandang percobaan............................................................... 14 3 Penimbangan bobot badan domba dan Pengumpulan feses domba ....... 15 4 Diagram alur pengolahan bahan pakan penelitian. ................................ 29 5 Ransum komplit dalam berbagai bentuk pakan .................................... 25 DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Analisis sidik ragam konsumsi bahan kering.......................................... 40 2 Analisis sidik ragam pertambahan bobot badan harian .......................... 40 3 Analisis sidik ragam efisiensi penggunaan ransum ................................ 40 4 Analisis sidik ragam kecernaan bahan kering ......................................... 40 5 Analisis sidik ragam kecernaan bahan organik ....................................... 40 6 Analisis sidik ragam kadar air ransum komplit ..................................... 40 7 Uji lanjut Duncan kadar air ransum komplit .......................................... 41 8 Analisis sidik ragam aktivitas air ransum komplit ................................. 41 9 Limbah taoge kacang hijau ..................................................................... 41 10 Penyimpanan ransum komplit ................................................................ 42 11 Ransum komplit berbentuk pelet lama penyimpanan 2 bulan ................ 42 12 Ransum komplit berbentuk wafer lama penyimpanan 2 bulan ............... 42 PENDAHULUAN Latar Belakang Domba merupakan ternak yang banyak dipelihara oleh masyarakat Indonesia. Sistem pemeliharan domba masih dilakukan secara tradisional dengan pemberian pakan hanya berupa rumput lapang, dan sedikit sekali bahkan sama sekali tidak disediakan pakan penguat. Penggunaan rumput lapang ini karena ketersediaannya yang cukup mudah diperoleh disekitar peternakan. Ternak yang dipelihara hendaknya mendapatkan pakan dengan kualitas maupun kuantitas baik. Pakan berkualitas baik adalah pakan yang memiliki kandungan nutrisi sesuai dengan yang dibutuhkan oleh ternak untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok yang tekait dengan aktifitas tubuh, metabolisme, pengaturan suhu tubuh, pencernaan, dan bernafas serta untuk kebutuhan berproduksi. Pakan dengan kuantitas baik maksudnya adalah pakan dengan ketersediaan yang kontinyu sehingga dapat mencegah terjadinya fluktuasi produksi dan agar tidak terjadi kesulitan penyediaan pakan sepanjang tahun. Pemberian ransum yang berkualitas baik diharapkan dapat meningkatkan bobot badan ternak sehingga pertumbuhan ternak dapat berlangsung secara optimal. Indonesia merupakan negara tropis dimana ketersediaan hijauan termasuk rumput lapang sangat variatif. Ketersediaan hijauan akan sangat berlimpah pada musim hujan dan menipis pada musim kemarau. Pemberian konsentrat pada ternak dapat melengkapi kebutuhan nutrisi domba, namun harga konsentrat yang relatif mahal membuat peternak kesulitan untuk menyediakannya. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya mencari pakan alternatif yang potensial, murah dan mudah diperoleh. Limbah sayuran pasar merupakan salah satu alternatif yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Limbah pasar merupakan sisa sayuran yang tidak terjual ataupun hasil penyiangan sayuran yang tidak dimanfaatkan lagi oleh manusia. Limbah sayuran pasar dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak karena telah dibuang oleh pedagang sayuran. Salah satu limbah sayuran pasar yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak adalah limbah taoge kacang hijau. Limbah taoge kacang hijau ini merupakan bagian dari taoge kacang hijau yang berwarna 2 hijau dan tidak dimanfaatkan sebagai sayuran oleh manusia sehingga berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak mendapat penanganan yang tepat. Pemanfaatan limbah taoge kacang hijau dalam bentuk segar memiliki beberapa kendala antara lain sifat bahan yang mudah busuk yang membuat limbah ini tidak dapat disimpan dalam waktu lama. Sifat voluminous (bulky) pada limbah ini juga menjadi kendala karena membutuhkan ruang yang luas untuk penyimpanannya. Pengolahan limbah taoge diharapkan dapat lebih mendayagunakan dan meningkatkan nilai manfaat dari limbah tersebut sebagai pakan ternak serta memungkinkan untuk disimpan dalam beberapa waktu sebagai stok persediaan pakan ternak. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai pemanfaatan limbah taoge kacang hijau sebagai bahan pakan dan lama penyimpanannya dalam bentuk mash, pelet dan wafer sebagai bahan pakan dalam ransum domba. Diharapkan pula peternak dapat menggunakan ransum tersebut sebagai bahan pakan pengganti rumput pada pada masa paceklik (kemarau). Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji penggunaan ransum komplit mengandung limbah taoge kacang hijau dan lama penyimpanannya dalam berbagai bentuk pakan yaitu mash, pelet dan wafer pada ternak domba. 3 TINJAUAN PUSTAKA Limbah Taoge Kacang Hijau Taoge adalah hasil perkecambahan dari kacang-kacangan seperti kacang hijau dan kedelai. Limbah adalah sisa dari suatu produk yang sudah tidak dimanfaatkan lagi oleh manusia. Limbah taoge kacang hijau terdiri dari kulit taoge kacang hijau (berwarna hijau) dan pecahan-pecahan taoge kacang hijau (berwarna putih) yang dipisahkan oleh pengrajin taoge untuk mendapatkan taoge konsumsi yang akan dijual. Proses pemisahan taoge konsumsi dengan kulit taoge ini ada dua cara yaitu dengan cara pencucian dan pengayakan. Proses pencucian biasanya akan menyebabkan kulit taoge mengapung. Limbah taoge ini dapat kita jumpai disekitar pabrik taoge dan biasanya limbah taoge yang didapat memiliki kadar air yang relatif lebih tinggi. Cara kedua adalah dengan pengayakan, dan biasanya proses ini dilakukan di pasar. Pedagang akan melakukan pengayan untuk memisahkan taoge dengan kulitnya. Kulit taoge dan beberapa pecahan akar taoge akan dibuang pedagang karena tidak dijual sehingga menjadi sampah pasar. Limbah taoge yang dihasilkan pada proses ini cendrung memiliki kandungan air yang lebih rendah. Limbah taoge kacang hijau yang digunakan pada penelitian ini adalah yang diperoleh di pasar. Penanganan yang tepat perlu dilakukan pada limbah taoge ini. Apabila tidak ditangani dengan baik maka akan menjadi sampah pasar dan berpotensi mencemari lingkungan. Limbah taoge kacang hijau memiliki potensi yang bagus untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak mengingat produksi taoge kacang hijau sebagai sayuran yang tidak mengenal musim. Selama masyarakat masih mengkonsumsi taoge maka sepanjang itulah limbah taoge akan dihasilkan. Limbah taoge kacang hijau merupakan salah satu limbah organik pasar yang sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Pengeringan dengan menggunakan sinar matahari hanya membutuhkan waktu rata-rata 2 hari, dengan kadar air 65-70% (Saenab 2010). Retnani et al. (2010) menyatakan bahwa domba ekor gemuk jantan yang diberi wafer yang mengandung 50% rumput lapang dan 50% limbah sayuran pasar dapat meningkatkan konsumsi bahan kering sebesar 19 % dan pertambahan bobot badan harian sebesar 24 % (137,30 ± 6,92 gr/ekor/hari) dibandingkan 4 perlakuan yang tidak mengkonsumsi wafer limbah sayuran pasar. Hasil survey Rahayu et al. (2010) di Kotamadya Bogor menunjukkan bahwa potensi limbah taoge dari segi kuantitatif adalah sebesar 1,5 ton/hari. Hal ini mengindikasikan bahwa limbah sayuran pasar dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak. Gambar 1 Limbah Taoge Kacang Hijau dari salah seorang pengrajin taoge di Pasar Raya Bogor Bentuk-bentuk Pakan Limbah taoge kacang hijau dalam bentuk segar memiliki beberapa kendala untuk dimanfaatkan pada ternak. Kondisi segar yang memiliki kandungan air cukup tinggi membuat limbah taoge kacang hijau ini tidak dapat disimpan lama sehingga perlu dilakukan pengolahan agar dapat dimanfaatkan untuk ternak. Pengolahan menjadi berbagai macam bentuk pakan yang tepat perlu dilakukan untuk menjaga kandungan nutrisi dan dapat dimanfaatkan oleh ternak secara sempurna. Tujuan lainnya adalah agar ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijua dapat disimpan dalam jangka waktu tertentu sehingga dapat diberikan pada ternak pada musim paceklik rumput. Beberapa pengolahan bentuk ransum antara lain menjadi bentuk mash (tepung), pelet dan wafer. Mash Ransum komplit berbentuk mash yaitu ransum yang telah mengalami proses penggilingan sehingga menjadi ukuran partikel yang kecil (tepung). Ransum berbentuk mash harganya relatif lebih murah dibandingkan pakan bentuk olahan lainnya karena tidak ada penambahan biaya untuk proses produksi lebih lanjut, misalnya pencetakan pakan mash menjadi bentuk pelet atau wafer. Kelemahan pakan berbentuk mash adalah mudah tercecer dan berdebu. 5 Pelet Pelet adalah bentuk bahan makanan atau makanan yang dibentuk dengan menekan dan memadatkannya melalui lubang cetakan secara mekanis (Hartadi et al. 1997). Beberapa tahapan dalam pembuatan pelet diuraikan seperti berikut ini. a. Pengolahan Pendahuluan Ditujukan untuk pemecahan dan pemisahan bahan-bahan pencemar atau kotoran dari bahan yang akan digunakan. Bahan pakan digiling hingga menjadi bentuk tepung dan kemudian dilakukan pencampuran bahan pakan kedalam formulasi ransum yang diinginkan juga dilakukan pada tahap ini. b. Pencetakan. Setelah semua bahan baku tercampur secara homogen, langkah selanjutnya adalah mencetak campuran tadi menjadi bentuk pelet. Banyak jenis mesin yang dapat digunakan, mulai mesin sederhana hingga mesin yang biasa digunakan pada industri pakan. Mesin pencetakan sederhana bisa merupakan hasil modifikasi gillingan daging yang diberi penggerak berupa motor listrik atau motor bakar. Sistem kerja mesin cetak sederhana adalah dengan mendorong bahan pakan campuran didalam sebuah tabung besi atau baja dengan menggunakan ulir (screw) menuju cetakan (die) berupa pelat berbentuk lingkaran dengan lubang-lubang berdiameter 2-3 mm, sehingga pakan akan keluar dari cetakan tersebut dalam bentuk pelet. Kelemahan sistem ini adalah diperlukan tambahan air sebanyak 1020% kedalam campuran pakan, sehingga diperlukan pengeringan setelah pencetakan tersebut. Penambahan air dimaksudkan untuk membuat campuran atau adonan pakan menjadi lunak, sehingga bisa keluar melalui cetakan. Jika dipaksakan tanpa menambahkan air ke dalam campuran, mesin akan macet. Disamping itu, pelet yang keluar dari mesin pencetak biasanya kurang padat. Proses condisioning juga terjadi dalam proses pembuatan pelet, dimana campuran bahan pakan dipanaskan dengan air dengan tujuan untuk gelatinisasi. Tujuan gelatinisasi yaitu agar terjadi pencetakan antar partikel bahan penyusun sehingga penampakan pelet kompak, tekstur dan kekerasannya bagus. Gelatinisasi merupakan rangkaian proses yang dimulai dari imbibisi air, pembengkakan granula sampai granula pecah. Pecahnya granula pati disebabkan karena 6 pemanasan melebihi batas pengembangan granula. Penguapan dalam proses pembuatan pakan berbentuk pelet bertujuan agar pakan menjadi steril, terbebas dari kuman atau bibit penyakit serta menjadikan pati dari bahan baku yang ada sebagai perekat. Penguapan dilakukan dengan bantuan steam boiler yang uapnya diarahkan ke dalam campuran pakan. Penguapan dengan suhu terlalu tinggi dalam waktu yang lama akan merusak atau setidaknya mengurangi kandungan beberapa nutrisi dalam pakan, khususnya vitamin dan asam amino. Beberapa mesin cetak pelet berkapasitas sedang dan besar mempunyai fasilitas penguapan ini. Jadi, penguapan atau steaming tidak dilakukan pada saat pencampuran, tetapi pada saat pencetakan. c. Pengeringan Pengeringan pada intinya adalah mengeluarkan kandungan air di dalam pakan menjadi kurang dari 14%. Proses pengeringan perlu dilakukan apabila pencetakan dilakukan dengan mesin sederhana. Jika pencetakan dilakukan dengan mesin pelet sistem kering, cukup dikering-anginkan saja hingga uap panasnya hilang, sehingga pelet menjadi kering dan tidak mudah berubah kembali ke bentuk tepung. Proses pengeringan bisa dilakukan dengan penjemuran dibawah terik matahari atau menggunakan mesin. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Penjemuran secara alami tentu sangat tergantung kepada cuaca, higienitas atau kebersihan pakan harus dijaga dengan baik, jangan sampai tercemar debu, kotoran dan gangguan hewan atau unggas yang dikhawatirkan akan membawa bibit penyakit. Mesin pengering yang umum digunakan sangat beragam, diantaranya oven pengering. Dalam oven pengering, pelet basah disimpan dalam baki dan oven dipanaskan dengan bantuan kompor minyak tanah, batu bara atau bahan bakar lainnya. Penyimpanan pelet dalam baki tidak boleh terlalu tebal, supaya dihasilkan pengeringan yang merata dan harus sering dibalik supaya tidak gosong. Yang perlu diperhatikan apabila menggunakan alat pengering adalah suhu pemanasan tidak boleh lebih dari 800C. Pemanasan dengan suhu yang terlalu tinggi akan merusak kandungan nutrisi pakan, serta membuat pakan menjadi terlalu keras. 7 Wafer Wafer ransum komplit merupakan suatu bentuk pakan yang memiliki bentuk fisik kompak dan ringkas sehingga diharapkan dapat memudahkan dalam hal penanganan dan transportasi, disamping itu memiliki kandungan nutrisi yang lengkap dan menggunakan teknologi yang relatif sederhana sehingga mudah diterapkan dan ekonomis (Trisyulianti 2003). Prinsip pembuatan wafer mengikuti prinsip pembuatan papan partikel yang mengalami proses pemadatan dengan tekanan dan pemanasan dalam suhu tertentu selama waktu yang tertentu pula. Proses pembuatan wafer memerlukan perekat yang mempu mengikat partikel-partikel bahan sehingga akan menghasilkan wafer yang kompak dan padat sesuai dengan densitas yang diinginkan. Sutigno (1994) menyatakan bahwa perekat adalah suatu bahan yang dapat menahan dua buah benda berdasarkan ikatan permukaan. Ikatan permukaan tersebut bisa terjadi karena (a) masuknya cairan perekat kedalam pori benda yang direkat kemudian mengeras (perekatan mekanis) dan (b) gaya tarik menarik antar perekat dengan molekul benda yang direkat (perekatan spesifik). Keberhasilan proses perekatan dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu bahan yang direkat, perekat dan kondisi pengempaan. Bahan perekat yang biasa digunakan dalam pengolahan bahan makanan ternak yang biasa digunakan antara lain adalah pati, terigu, tepung gaplek dan molasses. Alat kempa panas merupakan alat yang digunakan dalam proses pembuatan wafer. Jayusmar (2002) melaporkan bahwa metode pembuatan wafer pada suhu pengempaan 120°C, tekanan 12 kg/cm2 dan dalam waktu pengempaan 10 menit akan menghasilkan wafer dengan penampilan menarik, susunan kompak dan padat tetapi mudah hancur jika terkena air atau mudah hancur saat terkena saliva ternak. Keuntungan wafer menurut Trisyulianti (1998) adalah : (1) kualitas nutrisi lengkap, (2) bahan baku bukan hanya dari hijauan makanan ternak seperti rumput dan legum, tetapi juga dapat memanfaatkan limbah pertanian, perkebunan, atau limbah pabrik pangan, (3) ketersediaannya berkesinambungan karena sifatnya yang awet dapat bertahan cukup lama sehingga dapat mengantisipasi ketersediaan pakan pada musim kemarau serta dapat dibuat pada saat musim hujan ketika hasil hijauan makanan ternak dan produk pertanian melimpah, dan (4) ransum berbetuk 8 wafer lebih menguntungkan karena dapat mempermudah dalam penanganan, pengawetan, transportasi, dapat disimpan lebih lama jika dibandingkan pakan berbentuk segar. Pembuatan wafer ransum komplit akan memberikan nilai tambah karena menggunakan teknologi yang sederhana dengan energi yang relatif sedikit. Verma et al. (1996) melaporkan bahwa Compressed Compete Feed Blocks (CCFB) mempunyai beberapa keunggulan yaitu dapat mengurangi bulk density, lebih palatabel, memudahkan dalam penanganan, penyimpanan dan distribusi. Selain itu pengolahan bahan makanan menjadi bentuk blok memungkinkan penyimpanan pakan yang akan digunakan pada musim kemarau. Kelebihan lainnya adalah teknologi pengolahannya mudah diadaptasi oleh negara-negara berkembang. Proses pembuatan wafer (Retnani 2010) adalah dengan beberapa langkah sebagai berikut: a. Bahan baku sumber serat dicacah dengan ukuran 2 - 5 cm, kemudian dijemur kering udara di bawah sinar matahari. b. Bahan baku konsentrat digiling menggunakan hammer mill hingga berukuran mash (tepung). c. Campur bahan-bahan sesuai susunan ransum komplit. d. Ransum komplit dimasukkan ke dalam cetakan berbentuk persegi berukuran 20 x 20 x 1 cm. e. Setelah itu dilakukan pengempaan panas pada suhu 150°C dengan tekanan 200 - 300 kg/cm2 selama 20 menit. f. Pendinginan lembaran wafer dilakukan dengan menempatkan wafer di udara terbuka selama minimal 24 jam sampai kadar air dan bobotnya konstan, kemudian dimasukkan ke dalam karung. Penyimpanan Pakan Penyimpanan pakan adalah salah satu bentuk tindakan pengamanan yang selalu terkait dengan waktu. Tujuan penyimpanan adalah untuk mempertahankan dan menjaga komoditi yang disimpan dengan cara menghindari dan menghilangkan berbagai faktor yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas komoditi tersebut. Penyimpanan yang telalu lama akan menurunkan kualitas pakan tersebut. 9 Selama proses penyimpanan sering terjadi kerusakan-kerusakan yang dapat menurunkan kualitas pakan. Kerusakan yang terjadi diantaranya adalah kerusakan kimiawi, biologis dan fisik. Kerusakan kimiawi merupakan akibat dari reaksireaksi kimia, kerusakan biologis adalah akibat serangan mikroorganisme dan kerusakan fisik biasanya terkait dengan proses penanganan. Pengamatan terhadap sifat fisik pakan bertujuan untuk mengetahui mutu bahan pakan yang ada. Keefisienan suatu proses penanganan, pengolahan dan penyimpanan dalam industri pakan tidak hanya membutuhkan informasi mengenai komposisi kimia dan nilai nutrisi bahan saja tetapi juga menyangkut sifat fisik, sehingga kerugian akibat kesalahan penanganan bahan pakan dapat dihindari. Penyimpanan pakan ditujukan untuk membantu penyediaan pakan pada musm paceklik. Beberapa sifat fisik yang diujikan pada penelitian ini adalah kadar air, aktivitas air dan serangan serangga. Kadar Air Kadar air merupakan jumlah air yang terkandung dalam bahan pakan yang dinyatakan dalam persen. Kadar air bahan pakan merupakan pengukuran jumlah air total yang terkandung dalam bahan pakan, tanpa memperlihatkan kondisi atau derajat keterikatan air (Syarief & Halid 1993). Hal ini akan berkaitan dengan proses penyimpanan maupun penanganan bahan pakan berikutnya. Bahan pakan dengan kadar air cukup tinggi tidak dapat disimpan lama di gudang karena akan cepat mengalami perubahan fisik dan biologi. Perubahan biologi yang terjadi diantaranya disebabkan oleh aktifitas mikroorganisme yang terdapat dalam bahan pakan tersebut. Kadar air dalam bahan pakan ikut menentukan kesegaran dan daya awet bahan pakan tersebut. Kadar air yang tinggi dapat mengakibatkan mudahnya bakteri, khamir (ragi) dan kapang (jamur) berkembang biak, sehingga akan terjadi perubahan pada bahan pakan tersebut (Winarno 1997). Kadar air dalam bahan pakan sangat mempengaruhi kualitas dan daya simpan bahan tersebut. Oleh karena itu, penentuan kadar air sangat penting agar dalam proses pengolahan maupun pendistribusian mendapat penanganan yang tepat. Kandungan air dalam bahan pangan akan berubah-ubah sesuai dengan lingkungannya, dan hal ini sangat erat hubungannya dengan daya awet bahan 10 pangan tersebut. Hal ini merupakan pertimbangan utama dalam pengolahan dan pengelolaan pasca olah bahan pangan (Purnomo 1995). Aktivitas Air Aktivitas air atau water activity (Aw) adalah jumlah air bebas yang terkandung dalam bahan pakan yang dapat digunakan oleh mikroba untuk pertumbuhannya, semakin tinggi nilai Aw suatu bahan maka akan semakin tinggi pula kemungkinan tumbuhnya jasad renik pada bahan tersebut (Syarif & Halid 1993). Istilah aktivitas air digunakan untuk menjabarkan air yang tidak terikat atau air bebas dalam suatu sistem yang dapat menunjang reaksi biologis dan kimiawi. Semakin tinggi aktivitas air suatu bahan maka semakin tinggi pula kemungkinan tumbuhnya mikroba dalam bahan tersebut. Aktivitas air merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam menentukan kualitas dan keamanan suatu bahan pakan. Aktivitas air mempengaruhi umur simpan, tekstur, rasa dan bau pakan. Aktivitas air mungkin menjadi faktor paling penting dalam mengendalikan pembusukan. Dengan mengukur aktivitas air, akan memungkinkan kita memprediksi mikroorganisme yang akan berpotensi menyebabkan pembusukan. Aw dinyatakan dalam angka 0,1-1 yang sebanding dengan kelembaban 0100%. Makin kecil angka Aw maka makin sedikit pula air bebas yang tersedia dan makin sulit pula suatu jasad renik untuk tumbuh kembang. Winarno (1997) menyatakan bahwa berbagai mikroorganisme mempunyai nilai A w minimum agar dapat tumbuh dengan baik. Purnomo (1995) melaporkan bahwa masing-masing jenis mikroorganisme membutuhkan jumlah air yang berbeda untuk pertumbuhannya. Bakteri umumnya dapat tumbuh dan berkembang biak pada nilai Aw tinggi (0,91), khamir (ragi) dapat tumbuh dan berkembang biak pada nilai Aw 0,87 – 0,91 sedangkan jamur (kapang) lebih rendah lagi yaitu pada nilai Aw 0,81-0,87. Serangan Serangga Serangga hama gudang merupakan salah satu penyebab kerusakan yang terbesar pada komoditas pakan yang disimpan. Serangga ini hidup dan berkembang biak di dalam gudang penyimpanan baik sebagai hama primer, 11 maupun hama sekunder pemakan kapang (jamur) pada berbagai jenis komoditas pakan dan bahkan ada yang hidup sebagai predator. Syarief dan Halid (1993) melaporkan bahwa serangga hama gudang yang penting tergolong kedalam 3 ordo yaitu 1) Coleoptera (kumbang) dengan cirri khas sayap depannya mengalami pengerasan seperti tanduk (disebut elytra). Serangga ini mengalami metamorphosis sempurna 2) Lepidoptera (moth=ngengat) mempunyai sayap depan dan belahan yang mempunyai cirri-ciri khas yang biasanya digunakan untuk membedakan spesies satu dengan yang lainnya. Serangga ini juga mengalami metamorphosis sempurna 3) Psocoptera (Psocid) dengan cirri khas sering tidak bersayap, antena panjang dengan ruas yang banyak, ukuran badan sangat kecil dan transparan. Seringkali salah diidentifikasikan sebagai tungau (mite) dan mengalami metamorphosis tidak sempurna. Serangga yang merupakan hama gudang ini akan menyebabkan kehilangan hasil selama produk dalam penyimpanan. Kehilangan hasil yang disebabkan oleh hama gudang dapat mencapai 10 – 15% dari isi gudang. Evaluasi Kualitas Nutrisi Pakan pada Domba Domba Ternak domba telah terdistribusi di berbagai pulau dan provinsi di seluruh wilayah Indonesia. Luasnya penyebaran populasi komoditas domba tersebut membuktikan bahwa berbagai wilayah di tanah air memiliki tingkat kecocokan yang baik untuk pengembangan, baik kecocokan dari segi vegetasi, topografi, klimat, dan bahkan dari sisi sosial-budaya daerah setempat. Direktorat Jendral Peternakan (2009) menyebutkan bahwa angka pemotongan domba di Indonesia pada tahun 2009 adalah sejumlah 1.643.830 ekor atau sekitar 15,61% dari total populasi yang ada (10.471.991 ekor), namun hal tersebut tidak ditunjang dengan peningkatan populasi domba dari tahun 2008 ke 2009 yang hanya sebesar 8,28%. Apabila keadaan ini dibiarkan terus menerus maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi kelangkaan ternak domba pada beberapa tahun mendatang. Tomaszewska et al. (1993) melaporkan bahwa terdapat tiga jenis domba yang dikenal di Indonesia: domba Jawa Ekor Kurus (JEK), domba Jawa Ekor Gemuk (JEG) dan domba Sumatera Ekor Kurus (SEK). Domba Jawa Ekor Tipis 12 merupakan domba yang banyak terdapat di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Domba ini termasuk golongan domba kecil, dengan berat potong sekitar 20 – 30 kg. Warna bulu putih dan biasanya memiliki bercak hitam di sekeliling matanya. Ekornya tidak menunjukkan adanya desposisi lemak. Domba jantan memiliki tanduk melingkar, sedangkan yang betina biasanya tidak bertanduk. Bulunya berupa wol yang kasar. Konsumsi Ransum Konsumsi adalah jumlah ransum yang dimakan oleh ternak yang akan digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup pokok dan produksi. Aktivitas konsumsi meliputi proses mencari pakan, mengenal dan mendekati pakan, proses bekerjanya indra ternak terhadap pakan, proses memilih pakan dan proses menghentikan makan (Tillman et al. 1999). Tingkat konsumsi (Voluntary Feed Intake/VFI) adalah jumlah makanan yang terkonsumsi oleh ternak bila bahan makanan tersebut diberikan secara ad libitum (Parakkasi 1999). Jumlah pakan yang dikonsumsi menentukan jumlah zat-zat makanan yang tersedia bagi ternak dan selanjutnya akan mempengaruhi tingkat produktivitas ternak tersebut. Namun yang menetukan konsumsi pakan pada ternak ruminansia sangatlah beragam, antara lain sifat pakan, kondisi fisiologis ternak (umur, bobot badan, jenis kelamin, dan faktor genetik) serta lingkungan tempat ternak tersebut dipelihara. Jumlah bahan kering pakan yang dapat dikonsumsi oleh seekor ternak selama satu hari perlu diketahui. Konsumsi bahan kering tergantung dari hijauan saja yang diberikan atau dicampur konsentrat. Konsumsi bahan kering berdasarkan bobot badan ternak pada ruminansia kecil menurut Devendra dan Burns (1994) 3-5%, NRC (1985) 3%. Peterson (2005) 3,5-5% namun pada umumnya adalah 3-4% dari berat badan. Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik Kecernaan adalah bagian zat makanan yang tidak dieksresikan dalam feses. Menurut Anggorodi (1990) bahwa pada dasarnya tingkat kecernaan adalah suatu upaya untuk mengetahui banyaknya zat makanan yang diserap oleh saluran pencernaan. Bagian yang dapat dicerna adalah selisih antara zat-zat makanan dikonsumsi dengan yang dikeluarkan bersama feses dan bila bagian tertentu 13 dinyatakan sebagai persentase terhadap konsumsi maka disebut koefisien cerna (McDowell 1992). Pengukuran kecernaan adalah suatu usaha untuk menentukan jumlah zat makanan dari suatu bahan pakan yang diserap oleh saluran pencernaan. Bagian yang dicerna adalah selisih antara zat makanan yang dikandung dalam bahan pakan yang dimakan dan zat yang terkandung dalam feses (Ella 1996). Peterson (2005) menyatakan bahwa tinggi rendahnya daya cerna dipengaruhi oleh jenis ternak, umur hewan, jenis bahan pakan, dan susunan kimianya. Banyak metode-metode yang digunakan dalam mengukur kecernaan suatu bahan pakan, diantaranya adalah collected method, marker method, in sacco, in vivo dan in vitro. Pertambahan Bobot Badan Harian Pertambahan bobot badan adalah salah satu kriteria yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kualitas bahan pakan ternak, karena pertumbuhan yang diperoleh dari suatu percobaan merupakan salah satu indikasi pemanfaatan zat-zat makanan dari pakan yang diberikan. Dari data pertambahan bobot badan harian akan diketahui nilai suatu bahan pakan ternak (Church & Pond 1995). Efisiensi Penggunaan Ransum Efisiensi penggunaan ransum erat kaitannya dengan konsumsi ransum dan produksi (pertambahan bobot badan). Efisiensi penggunaan ransum adalah rasio antara pertambahan bobot badan dengan jumlah ransum yang dikonsumsi. Efisiensi penggunaan ransum mengukur efisiensi hewan dalam mengubah bahan pakan menjadi produk, dalam hal ini adalah daging domba. 14 METODE PENELITIAN Penelitian ini dibagi menjadi dua percobaan yaitu 1) Percobaan mengenai evaluasi kualitas nutrisi ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau pada ternak domba dan 2) Percobaan mengenai pengaruh lama penyimpanan ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau dalam berbagai bentuk pakan. Tahap 1) Evaluasi Kualitas Nutrisi Ransum Komplit yang Mengandung Limbah Taoge Kacang Hijau pada Ternak Domba Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2011 - Maret 2012. Evaluasi kualitas nutrisi ransum komplit mengandung limbah taoge kacang hijau pada ternak domba ini dilakukan di laboratorium lapang blok A, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Materi Penelitian Ternak yang akan digunakan adalah domba jantan lokal berjumlah 12 ekor yang dalam masa pertumbuhan dengan bobot badan awal 10,0 – 14,10 kg. Peralatan yang digunakan adalah kandang individu yang memiliki tempat pakan dan tempat minum terpisah serta timbangan untuk mengukur berat domba dan ransum yang diberikan pada ternak. Gambar 2 Ternak dan Kandang Percobaan Konsumsi domba berdasarkan bahan kering adalah sebanyak 3 % dari bobot badan (NRC 1985), sehingga dalam penelitian ini ransum yang diberikan adalah sebanyak 5% dari bobot badan domba. Sebelum dilakukan pengumpulan data, ternak diberikan obat cacing dan diberi pakan perlakuan selama 7 hari untuk 15 adaptasi terhadap pakan baru. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian pakan perlakuan selama tiga minggu untuk mengetahui pertambahan bobot badan dan jumlah konsumsi pakan pada ternak domba. Diakhir penelitian, selama 7 hari dilakukan pengumpulan feses untuk memperoleh data kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik pakan. Gambar 3 Penimbangan bobot badab dan Pengumpulan feses domba Bahan pakan yang digunakan adalah rumput lapang, limbah taoge kacang hijau serta, molases, urea, bungkil kelapa dan pollar yang diolah menjadi bentuk berbagai bentuk pakan. Kandungan bahan pakan penyusun ransum komplit tersaji pada Tabel 1. Tabel 1 Komposisi nutrisi bahan pakan penyusun ransum komplit (berdasarkan 100% BK) Bahan Pakan Rumput Lapang 1) Limbah taoge kacang hijau 1) Pollard 2) Urea3) Bungkil Kelapa 2) Molasses 2) Abu PK SK LK 100 % BK 10,92 14,94 38,63 0,94 2,72 14,55 42,73 1,58 4,88 18,72 7,67 52,33 0,00 288,00 0,00 0,00 6,40 21,63 12,09 10,23 10,39 5,19 10,00 0,26 Keterangan : 1) Analisa Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan 2) Hartadi 1997 3) Tillman et.al 1990 4) Sutardi 1980 Hasil perhitungan (Hartadi 1997) 5) Beta-N 34,58 38,42 16,40 0,00 49,65 74,16 TDN 58.09 4) 75.32 5) 86,05 0,00 84,88 53,25 16 Ransum pada penelitian ini terdiri dari hijauan dan konsentrat dengan perbandingan 70:30. Susunan ransum komplit yang akan dipergunakan pada penelitian ini terlihat seperti pada Tabel 2. Tabel 2. Susunan ransum komplit dan kandungan nutrisinya Bahan Pakan Ransum Komplit Perlakuan % 1. Komposisi ransum Rumput lapang Limbah taoge kacang hijau Pollard Urea Bungkil kelapa Molases Total 2. Kandungan Nutrisi Ransum komplit ( 100% BK)*) Abu Protein kasar Serat kasar Lemak kasar Beta-N TDN *) 35,0 35,0 17,0 0,5 8,5 4,0 100 6,4 16,7 31,1 10,5 35,3 70,7 Berdasarkan perhitungan Tabel 1 Ransum yang diberikan adalah: R1: Ransum dalam bentuk segar R2: Ransum Komplit dalam bentuk mash R3: Ransum Komplit dalam bentuk pelet R4: Ransum Komplit dalam bentuk wafer Peubah yang diukur adalah: a. Konsumsi bahan kering ransum Rataan konsumsi bahan kering pakan per ekor/hari diperoleh dengan cara menimbang pakan segar yang diberikan dikalikan dengan kandungan bahan keringnya, kemudian dikurangi sisa pakan dan dikalikan dengan bahan kering pakan tersebut. Pengukuran dilakukan setiap 24 jam selama 30 hari. Rumus yang digunakan adalah: Konsumsi BK (g) = (pemberian x %BK) – (sisa x %BK) 17 b. Kecernaan ransum (Close dan Menke, 1986) Koleksi feses dilakukan setiap hari selama 7 hari dengan menimbang feses yang dihasilkan selama 24 jam, kemudian diambil 10% dari total feses sebagai sampel feses. Setelah hari ke 7 sampel dikomposit untuk setiap kelompot ternak (individu ternak). Dari gabungan sampel diambil sub sampel feses (A) untuk dianalisa, bahan kering dan bahan organic. Rumus yang digunakan yaitu: c. Pertambahan bobot badan Ditentukan dengan penghitungan selisih bobot badan akhir dengan bobot badan awal/ekor/lama periode penelitian (hari). Penimbangan bobot badan dilakukan pada pagi hari antara pukul 06.00 - 07.00 WIB (sebelum pemberian pakan). d. Efisiensi Penggunaan Ransum Efisiensi penggunaan ransum diukur dengan cara membagi pertambahan bobot badan dengan jumlah ransum yang dikonsumsi. Rancangan Percobaan Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan ransum dan 3 ulangan berupa ternak. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan sidik ragam (ANOVA) dan apabila terdapat pebedaan antar perlakuan maka akan dilanjutkan dengan uji Duncan menggunakan software SAS 9.1.3. Model linier analisis ragam pada penelitian ini adalah : 18 = Nilai pengamatan pada perlakuan ke-i, dan ulangan ke-k = rataan umum pengaruh perlakuan bentuk pakan (segar, mash, pelet, wafer) pengaruh ulangan ternak ke-j = pengaruh galat Tahap 2) Pengaruh Lama Penyimpanan Ransum Komplit yang Mengandung Limbah Taoge Kacang Hijau dalam Berbagai Bentuk Pakan Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Industri pakan dan Laboratorium Nutrisi Ternak Perah, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Ternak, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Materi Penelitian Bahan pakan yang yang akan diujikan terdiri dari rumput lapang, limbah taoge kacang hijau, molases, urea, bungkil kelapa dan pollard yang dicampur dan diolah menjadi bentuk berbagai bentuk pakan. Langkah-langkah yang ditempuh mulai dari mempersiapkan bahan baku pakan hingga tersusun menjadi ransum komplit terlihat pada Gambar 4. 19 Rumput lapang Pencacahan (3-5 cm) Limbah taoge kacang hijau Pengeringan Sinar matahari) penggilingan pencampuran Ransum komplit berbentuk mash Formula ransum komplit + konsentrat Pencetakan pelet Pencetakan wafer Diangin-anginkan Diangin-anginkan Ransum komplit berbentuk pelet Ransum komplit berbentuk wafer Gambar 4. Diagram alur pengolahan bahan pakan penelitian Prosedur Pengerjaan Kadar Air (AOAC 2005) Pengukuran kadar air dilakukan terhadap ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau dalam berbagai bentuk pakan (mash, pelet dan wafer) pada lama penyimpanan 0, 1 dan 2 bulan. Ransum komplit yang telah disimpan dalam karung plastik kemudian dibuka dan diambil sampel untuk dilakukan analisis kadar air. 20 Tahap pertama yang dilakukan untuk menganalisis kadar air adalah mengeringkan cawan porselen dalam oven pada suhu 105oC selama 1 jam. Cawan tersebut diletakkan ke dalam desikator (kurang lebih 15 menit) dan dibiarkan sampai dingin kemudian ditimbang Sebanyak 2 gram contoh dimasukkan ke dalam cawan tersebut (Ba), kemudian dikeringkan dengan oven pada suhu 105oC selama 5 jam atau hingga beratnya konstan. Setelah selesai, cawan tersebut kemudian dimasukkan kedalam desikator dan dibiarkan sampai dingin dan selanjutnya ditimbang kembali (BKo). Nilai kadar air dihitung menggunakan rumus: Keterangan: KA = kadar air sampel (%) Ba = berat awal sampel (g) BKo = berat kering oven sampel (g) Aktivitas Air (Syarief & Halid 1993) Nilai Aktivitas Air diperoleh dengan menggunakan alat yang disebut Aw meter. Aw meter sebelum digunakan terlebih dahulu dikalibrasi menggunakan larutan Barium Klorida (BaCl2). Larutan dibiarkan selama 3 jam, kemudian jarum Aw meter ditera sampai menunjukkan angka 0,9 (karena BaCl2 mempunyai kelembapan garam jenuh sebesar 90%). Pengukuran aktivitas air dilakukan dengan cara memasukkan bahan uji ke dalam Aw meter dan biarkan selama 3 jam, setelah itu pembacaan dilakukan (Skala Aw) dan kemudian dikoreksi dengan faktor suhu. Aw = Pembacaan skala Aw + ((pembacaan skala suhu – 20) x 0,002) Serangan Serangga (Bulog 1996) Untuk melihat seberapa banyak serangga yang terdapat di dalam ransum yang disimpan dilakukan dengan mengayak ransum sebanyak satu kilogram menggunakan saringan kemudian dihitung satu persatu jumlah serangga. Kemudian bahan yang diperiksa diberi kode: 21 C/A : Aman, yaitu tidak terlihat dan tidak ditemukannya adanya serangga C/R : Ringan, yaitu tidak terlihat adanya serangga ditumpukkan atau kurang sebelum pemeriksaan sampel, maksimum 1-2 ekor/kg. C/M : Medium, yaitu serangga terlihat ditumpukkan, sekitar 3-5 ekor/kg. C/B : Berat, yaitu serangga jelas banyak ditumpukkan, 6-10 ekor/kg C/SB : Sangat berat, yaitu > 10 ekor/kg. Rancangan Percobaan Ransum komplit yang sudah dibentuk menjadi berbagai bentuk pemberian pakan yaitu mash, pelet dan wafer kemudian diuji daya simpan selama 0, 1 dan 2 bulan. Peubah yang diamati meliputi pengamatan terhadap kadar air dan aktivitas air (Aw) dan serangan serangga. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial dengan 3 bentuk pakan (mash, pelet dan wafer) dan 3 lama penyimpanan (0,1 dan 2 bulan) dengan 3 ulangan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan sidik ragam (ANOVA) dan apabila terdapat pebedaan antar perlakuan maka akan dilanjutkan dengan uji Duncan menggunakan software SAS 9.1.3. Model matematik rancangan tersebut adalah: Yijk= µ + αi +βj + (αβ)ij + εijk Yijk : nilai pengamatan pada faktor A (mash, pelet dan wafer) taraf ke i, faktor B (0,1 dan 2 bulan) taraf ke-j dan ulangan ke k (µ, αi, βj) : komponen aditif dari rataan, pengaruh utama faktor A dan pengaruh utama faktor B (αβ)ij εij : komponen interaksi dari faktor A dan faktor B : pengaruh acak yang menyebar normal (0,σε2). 22 HASIL PENELITIAN Tahap 1) Evaluasi Kualitas Nutrisi Ransum Komplit yang Mengandung Limbah Taoge Kacang Hijau pada Ternak Domba Konsumsi bahan kering Rataan konsumsi bahan kering, pertambahan bobot badan harian dan efisiensi penggunaan ransum serta kecernaan bahan kering dan bahan organik disajikan pada Tabel 3. Konsumsi bahan kering pada penelitian ini berkisar antara 454,81-848,68 g/ekor/hari. Angka yang tertinggi ditunjukkan oleh domba yang mengkonsumsi pelet (R3). Berdasarkan hasil analisis sidik ragam, menunjukkan adanya perbedaan nyata (P<0,05) antar konsumsi bahan kering. Setelah dilakukan uji lanjut Duncan, maka diperoleh bahwa konsumsi tertinggi terjadi pada domba yang mendapat ransum komplit berbentuk pelet (R3). Konsumsi bahan kering dalam bentuk segar nyata lebih rendah dibandingkan dengan konsumsi bahan kering pakan berbentuk pelet (R3) dan wafer (R4) namun tidak berbeda nyata dengan konsumsi bahan kering pakan berbentuk mash. Tabel 3 Performa domba yang mengkonsumsi ransum komplit mengandung limbah taoge kacang hijau R1 R2 R3 R4 Konsumsi bahan 454,81±99,92c 589,34±93,21bc 848,68±65,08a 683,81±70,36b kering (g/ekor/hari) Kecernaan: Bahan Kering (%) 57,95±3,85 54,55±7,29 51,87±1,85 53,27±1,82 Bahan Organik (%) 60,02±3,61 59,29±7,15 54,76±1,10 58,35±4,14 PBBH (g/ekor/hari) 71,11±34,70bc 58,89±20,09c 145,37±12,30a 106,33±9,03b Efisiensi 15,06±4,02 a 9,82±1,93b 17,13±0,67 a 15,74±2,89 a Penggunaan Rakan (%) Keterangan: R1 = Ransum mengandung limbah taoge kacang hijau segar; R2 = Ransum komplit berbentuk mash; R3 = Ransum komplit berbentuk pelet; R4 = Ransum komplit berbentuk wafer; a,b,c pada baris yang sama menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata (P<0.05) Kecernaan bahan kering dan bahan organik Kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik pada penelitian ini disajikan pada Tabel 3. Ransum yang diberikan dalam bentuk segar memiliki nilai 23 kecernaan bahan kering yang paling tinggi sedangkan yang terendah diperlihatkan oleh domba yang mendapatkan pakan berbentuk pelet. Berdasarkan hasil analisis sidik ragam memperlihatkan bahwa tidak adanya perbedaan yang nyata antar perlakuan. Kecernaan bahan organik juga tidak berbeda nyata antar perlakuan. Berbagai bentuk pakan yang diujikan pada ternak domba memberikan pengaruh yang sama terhadap kecernaan bahan organik. Nilai kecernaan yang tidak berbeda mengindikasikan bahwa berbagai bentuk pakan sama baiknya dicerna oleh ternak. Pertambahan bobot badan Pertambahan bobot badan harian secara lengkap disajikan pada Tabel 3. Pertambahan bobot badan harian tertinggi terdapat pada domba yang mengkonsumsi ransum komplit berbentuk pelet (R3) yaitu sebesar 145,37 ± 12,30 g/ekor/hari. Berdasarkan analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pada percobaan ini terjadi perbedaan nyata (P<0,05) antar perlakuan. Setelah dilakukan uji lanjut Duncan, maka diperoleh bahwa pertambahan bobot badan harian domba yang mengkonsumsi ransum komplit berbentuk pelet (R3) nyata lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan ransum segar (R1) dan ransum berbentuk mash (R2) dan ransum berbentuk wafer (R4). Ransum berbentuk mash (R2) memiliki pertambahan bobot badan harian paling rendah namun tidak berbeda nyata dengan ransum berbentuk segar (R1). Efisiensi penggunaan ransum Efisiensi penggunaan ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau disajikan pada Tabel 3. Nilai efisiensi ransum sangat erat kaitannya dengan pertambahan bobot badan dan tingkat konsumsi ransum. Semakin tinggi nilai efisiensi pakan menunjukkan bahwa pakan yang diberikan memiliki kualitas yang baik sehingga dapat menghasilkan pertambahan bobot badan yang maksimal. Analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan pada ternak menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) terhadap efisiensi pakan. Setelah dilakukan uji lanjut Duncan, maka diperoleh hasil bahwa ransum berbentuk mash (R2) memiliki efisiensi penggunaan pakan paling rendah (P<0,05) dibandingkan dengan bentuk pakan lainnya yaitu sebesar 9,82% (Tabel 3). Efisiensi pakan yang tertinggi dicapai oleh ternak yang mendapat ransum komplit 24 berbentuk pelet (R3) dengan nilai sebesar 17,13% diikuti oleh ransum komplit berbentuk wafer (15,74%) dan ransum komplit berbentuk segar (15,06%) dan ketiganya tidak berbeda nyata. Tahap 2) Pengaruh Lama Penyimpanan Ransum Komplit yang Mengandung Limbah Taoge Kacang Hijau dalam Berbagai Bentuk Pakan Karakteristik Umum Ransum Komplit Penelitian Ransum komplit berbetuk mash (tepung) memiliki bentuk lebih halus dibandingkan dengan bentuk pakan lainnya dan tanpa proses setelahnya. Ransum komplit berbentuk mash pada lama penyimpanan 0 bulan memiliki warna hijau kecoklatan dan berbau segar hijauan (Gambar 5). Lama penyimpanan selama 1 bulan menyebabkan bau segar hijauan pada ransum komplit berbentuk mash hilang, namun tidak merubah warna ransum komplit tersebut. Bau tengik mulai muncul pada penyimpanan 2 bulan. Syarief dan Halid (1993) menyatakan bahwa ketengikan yang sering terjadi selama penyimpanan adalah ketengikan oksidatif, yaitu ketengikan yang terjadi karena adanya interaksi antara ransum dan temperature. Lama penyimpanan 1 bulan menyebabkan ransum komplit berbentuk mash mengalami penggumpalan dan bertambah banyak pada penyimpanan 2 bulan. Ransum komplit berbentuk pelet yang digunakan pada penelitian ini memiliki ukuran diameter 4 mm dengan panjang 1-1,5 cm. Mesin pelet yang digunakan adalah mesin pelet tipe basah dimana bahan pakan yang telah dicampur ditambahkan air terlebih dahulu sebelum dimasukkan kedalam mesin pelet. Pelet yang dicetak menggunakan mesin ini harus dikeringkan dengan cara dianginanginkan paling kurang 1 hari sebelum dikemas kedalam karung penyimpanan. Lama penyimpanan 2 bulan menyebabkan ransum komplit berbentuk pelet ditumbuhi kapang berwarna abu-abu. Wafer ransum komplit merupakan suatu bentuk pakan yang memiliki bentuk fisik kompak dan ringkas sehingga diharapkan dapat memudahkan dalam penanganan dan transportasi, disamping itu memiliki kandungan nutrisi yang langkap dan menggunakan teknologi yang relatif sederhana sehingga mudah diterapkan (Trisyulianti et al. 2003). Bentuk fisik wafer ransum komplit pada perlakuan ini adalah memiliki ukuran 20 x 20 x 1cm dan berwarna coklat tua. 25 (a) (b) (c) Gambar 5 (a) Ransum komplit berbentuk mash lama penyimpanan 0 bulan (b) Ransum komplit berbentuk pelet lama penyimpanan 0 bulan (c) Ransum komplit berbentuk wafer lama penyimpanan 0 bulan Ransum komplit berbentuk wafer memiliki wangi segar hijauan dan molases yang mendapat tekanan panas juga tercium. Lama penyimpanan 2 bulan menyebabkan bau segar pada wafer menjadi hilang. Penyimpanan ransum komplit selama dua bulan menyebabkan tumbuhnya kapang pada wafer yang terlihat dari adanya muncul cendawan berwarna abu-abu tua hingga kehitaman pada permukaan dan pinggiran wafer. Kapang pada bahan pakan meyebabkan ransum tidak aman untuk dikonsumsi ternak. Pengaruh lama penyimpanan terhadap kadar air Kadar air ransum komplit penelitian ini sebelum disimpan adalah 14,93% 15,79%. terhadap kadar air. Kadar air ransum komplit pada lama penyimpanan 0 bulan lebih tinggi dari standar dimana kadar air untuk pakan yang akan disimpan adalah dibawah 14 % (SNI 2006). Tingginya kadar air ransum komplit penelitian ini dibandingkan dengan nilai standar nasional Indonesia untuk ransum menyebabkan ransum komplit penelitian ini tidak dapat disimpan lama. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi antar lama penyimpanan dan bentuk pakan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap nilai kadar air ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau. Ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau berbentuk mash dan wafer pada lama penyimpanan 0 bulan memiliki kadar air yang paling rendah. Kadar air paling tinggi adalah pada ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau berbentuk pelet pada lama penyimpanan 2 bulan, namun tidak berbeda nyata 26 dengan ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau berbentuk mash dan wafer pada lama penyimpanan 2 bulan. Tabel 4 Rataan kadar air dan aktivitas air ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau dalam berbagai bentuk pakan Perlakuan Bentuk Pakan Mash Pelet Wafer Lama Penyimpanan (Bulan) 0 1 2 Pengaruh: Bentuk Pakan (B) Lama Penyimpanan (L) BxL SEM Peubah Kadar Air (%) Aktivitas Air 16,10 16,19 15,90 0,79 0,81 0,80 15,30 16,11 16,78 0,80a 0,80a 0,81b TN ** * 0,159 TN * TN 0,006 Hasil analisis uji lanjut ( Tabel 4) terlihat bahwa tidak terjadi peningkatan (P>0,05) kadar air pada ransum komplit berbentuk pelet pada lama penimpanan 0 dan 1 bulan. Sedangkan ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau berbentuk mash dan wafer pada lama penyimpanan 0 dan 1 bulan mengalami peningkatan kadar air. Pengaruh lama penyimpanan terhadap aktivitas air Aktivitas air (Aw) ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau dalam berbagai bentuk pakan pada lama penyimpanan hingga dua bulan ditunjukkan dalam Tabel 4. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas air yang paling tinggi terdapat pada ransum komplit berbentuk pelet setelah disimpan selama dua bulan (0,82 ±0,006) dan yang paling rendah terdapat pada ransum komplit berbentuk mash dengan lama penyimpanan 0 bulan (0,79±0,000). Semakin lama waktu penyimpanan akan menyebabkan peningkatan aktivitas air. Aktivitas air ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau pada 27 lama penyimpanan satu bulan lebih rendah (P<0,05) dibandingkan dengan ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau pada lama penyimpanan dua bulan. Tabel 5 Aktivitas air (Aw) ransum komplit mengandung limbah taoge kacang hijau selama penyimpanan Lama Penyimpanan (Bulan Ke-) Bentuk Pakan Rataan 0 1 2 Mash 0,79±0,000 0,79±0,005 0,81±0,006* 0,79±0,008 Pelet 0,80±0,012 0,79±0,020 0,82±0,006** 0,81±0,010 Wafer 0,80±0,012 0,80±0,006 0,81±0,000** 0,80±0,009 Rataan 0,80±0,007a 0,80±0,007a 0,81±0,005b Keterangan : * terlihat penggumpalan ** terlihat adanya kapang yang tumbuh dan berwarna abu-abu tua a,b,c pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05) Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa lama penyimpanan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap aktivitas air, artinya semakin lama disimpan maka nilai aktivitas air makin meningkat sehingga mikroba dapat tumbuh dan berkembang biak. Ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau pada lama penympanan 2 bulan memiliki nilai aktivitas air yang lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan yang disimpan pada lama penyimpanan 1 bulan. Ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau pada lama penyimpanan 0 dan 1 bulan tidak mengalami kenaikan nilai aktivitas air. Pengaruh lama penyimpanan terhadap serangan serangga Jumlah serangga pada ransum komplit dalam berbagai bentuk selama penelitian diperlihatkan pada Tabel 6. Serangan serangan mulai telihat pada penyimpanan pakan selama satu bulan. Ransum komplit berbentuk mash dan pelet memiliki jumlah serangga dengan tingkat serangan ringan, dimana terlihat serangga dengan jumlah 1-2 ekor dalam 1 kg bahan pakan pada lama penyimpanan 1 bulan. Jumlah serangan pada ransum komplit berbentuk wafer berada pada tingkat medium yaitu sebanyak 3 ekor per kg bahan pakan. 28 Tabel 6 Jumlah serangga selama penyimpanan (ekor) Bentuk Pakan Mash Pelet Wafer Rataan Lama Penyimpanan (Bulan Ke-) 0 1 2 0 2 7 0 1 2 0 3 4 0 2 4 Rataan 3 1 2 Lama penyimpanan 2 bulan menunjukkan terjadinya peningkatan jumlah serangga. Jumlah serangga pada ransum komplit berbentuk mash menjadi tingkat serangan berat (7 ekor per kg bahan). Ransum komplit berbentuk pelet relatif tidak terjadi peningkatan serangan serangga dimana jumlah serangga adalah 2 ekor per kg bahan dan ransum komplit berbentuk wafer mendapat serangan serangga medium (4 ekor per kg bahan). 29 PEMBAHASAN Tahap 1) Evaluasi Kualitas Nutrisi Ransum Komplit yang Mengandung Limbah Taoge Kacang Hijau pada Ternak Domba Konsumsi bahan kering dalam bentuk segar nyata lebih rendah dibandingkan dengan konsumsi bahan kering pakan berbentuk pelet (R3) dan wafer (R4) namun tidak berbeda nyata dengan konsumsi bahan kering pakan berbentuk mash. Hal ini sama seperti yang diungkapkan oleh Widiyanto et al. (2011) bahwa domba yang mengkonsumsi rumput lapang berbentuk pelet memiliki tingkat konsumsi yang lebih tinggi dibandingkan dengan domba yang mengkonsumsi rumput lapang segar. Peningkatan konsumsi dapat terjadi karena proses penggilingan menyebabkan terjadinya perubahan bentuk serat menjadi partikel berukuran kecil sehingga mengakibatkan terjadinya peningkatan laju aliran digesta (Zebeli et al. 2007). Fisher (2002); Heinrichs et al. (2002) menyatakan bahwa penggilingan terhadap bahan pakan sumber serat yang memiliki kualitas nutrisi rendah dapat meningkatkan konsumsi secara signifikan. Proses pencetakan ransum menjadi bentuk pelet membuat bahan pakan penyusun ransum komplit menjadi halus. Ransum yang halus akan menyebabkan laju alir digesta didalam rumen menjadi cepat sehingga waktu retensi dalam rumen menjadi pendek dan mempercepat proses pengosongan isi rumen dan akhirnya akan meningkatkan konsumsi ransum. Bahan pakan yang telah halus juga mudah masuk ke usus halus dan kemudian diserap oleh tubuh dan jika sulit dicerna oleh enzim di usus akan dibuang melalui feses. Van soest (1994) menyatakan bahwa peningkatan konsumsi bahan kering sebagai akibat dari proses penggilingan sebelum pelleting adalah disebabkan oleh meningkatnya kepadatan pakan karena penurunan ukuran partikel dan pecahnya struktur dinding sel. Konsumsi bahan kering pakan perlakuan R1-R4 terhadap bobot badan secara berturut adalah 3,3%, 4,6%, 6,1% dan 4,6%. Hal ini sudah sesuai dengan kebutuhan konsumsi domba sebesar 3% dari bobot badan NRC (1985). Ransum yang telah dicetak menjadi bentuk yang kompak akan mengurangi kemungkinan ternak hanya memakan pakan yang disukai saja. Ransum yang telah dicetak mengandung nutrisi yang lengkap dan menyebar secara rata sehingga yang 30 disajikan pada ternak dapat memenuhi kebutuhan ternak. Hijauan yang digiling akan meningkatkan luas permukaan pakan sehingga menyediakan media bagi mikroba rumen lebih banyak dan degradasi pakan akan meningkat (Rappet & Bava 2008). Ransum komplit berbentuk mash (R2), walaupun telah mengalami proses penggilingan terlebih dahulu namun memberikan nilai konsumsi yang tidak berbeda nyata dengan domba yang mengkonsumsi ransum segar (R1). Hal ini diduga karena pengaruh bentuk pakan yang mudah ditiup angin sehingga banyak pakan yang hilang bukan karena dikonsumsi. Kesulitan ternak dalam mengkonsumsi pakan berbentuk mash juga diindikasikan dengan bersin. Bentuk mash juga akan menyebabkan pakan yang dikonsumsi akan lebih cepat melewati dan meninggalkan saluran pencernaan sehingga menyebabkan banyak zat nutrisi yang terbuang melalui feses. Ternak yang mengkonsumsi ransum komplit dalam bentuk mash tidak menunjukkan peningkatan bobot badan harian seiring dengan penambahan ransum yang dikonsumsi. Pertambahan bobot badan harian domba pada penelitian ini umumnya sebanding dengan kenaikan konsumsi bahan kering ransum, kecuali pada ternak yang mendapat ransum komplit berbentuk mash (R2). Hal ini mungkin disebabkan karena bentuk mash yang terlalu halus sehingga menyebabkan banyak pakan tebuang tertiup angin ataupun yang tidak dapat diserap usus sehingga terbuang kembali melalui usus. Pertambahan bobot badan harian tertinggi terdapat pada domba yang mengkonsumsi ransum komplit berbentuk pelet. Ransum berbentuk mash (R2) memiliki pertambahan bobot badan harian paling rendah namun tidak berbeda nyata dengan ransum berbentuk segar (R1). Kondisi ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Widiyanto et al. (2011) bahwa domba yang mendapat ransum berupa rumput lapang berbentuk pelet memberikan pertambahan bobot badan harian yang lebih tinggi dibandingkan dengan domba yang mengkonsumsi rumput lapang segar. Pertambahan bobot badan yang paling tinggi pada domba yang mengkonsumsi ransum komplit berbentuk pelet (R3) diduga disebabkan oleh bentuk pelet memungkinkan semua bahan pakan penyusun ransum dapat dimakan ternak secara sempurna dan mengurangi resiko pakan ditiup angin. Curch dan 31 Pond (1988) juga menyatakan bahwa proses penggilingan bahan makanan biasanya memberikan peningkatan performa ternak yang relatif lebih besar untuk hijauan yang berkualitas rendah, karena partikel serat yang menjadi kecil. Kualitas pakan yang dikonsumsi tenak semakin baik maka akan diikuti oleh pertambahan bobot badan yang semakin tinggi. Efisiensi penggunaan pakan diperoleh dengan jalan membandingkan antara pertambahan berat badan dan konsumsi bahan kering ransum. Efisiensi penggunaan pakan yang baik ditentukan dari berapa besar pakan yang dikonsumsi dan dapat memberikan kontribusi terhadap pertambahan bobot badan yang terbaik. Efisiensi pakan yang tertinggi dicapai oleh ternak yang mendapat ransum komplit berbentuk pelet (R3) dengan nilai sebesar 17,13% diikuti oleh ransum komplit berbentuk wafer (15,74%) dan ransum komplit berbentuk segar (15,06%) dan ketiganya tidak berbeda nyata. Ransum komplit berbentuk mash (R2) memiliki nilai efisiensi penggunaan pakan paling rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa ransum berbentuk pelet, wafer dan segar berturut-turut nyata lebih efisien dimanfaatkan domba menjadi daging dibandingkan dengan ransum komplit berbentuk mash (R2). Pond et al 2005 menyatakan bahwa semakin baik kualitas pakan maka akan semakin baik pula efisiensi pembentukan energi dan produksi ternak. Efisiensi penggunaan pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya kemampuan ternak dalam mencerna bahan pakan, kecukupan zat pakan untuk hidup pokok, pertumbuhan dan fungsi tubuh serta jenis pakan yang digunakan (Campbell et al. 2006). Ransum komplit berbentuk mash memiliki ukuran partikel sangat kecil membuat ternak yang mengkonsumsinya terganggu. Butiran halus dari ransum komplit berbentuk mash menyebabkan ransum berbentuk mash ini mudah terbang dan tertiup angin sehingga apabila sampai di hidung ternak akan menyebabkan ternak bersin. Kondisi yang tidak nyaman ini lah yang mengakibatkan rendahnya konsumsi pakan dan mengakibatkan nilai efisiensi ransum yang juga rendah. Pengukuran daya cerna adalah suatu usaha untuk menentukan jumlah zat makanan dari bahan makanan yang diserap dalam saluran pencernaan (tractus gastrointestinalis). Pengukuran jumlah zat makanan yang dapat dicerna oleh 32 ternak dapat dilakukan dengan mengetahui kecernaan bahan kering dan bahan organik. Nilai kecernaan bahan kering dan bahan organik menunjukan derajat cerna pakan pada alat pencernaan dan besarnya sumbangan suatu pakan bagi ternak, serta merupakan indikator kesanggupan ternak untuk memanfaatkan suatu jenis pakan tertentu. Kecernaan bahan makanan yang tinggi menunjukkan sebagian besar dari zat-zat makanan yang terkandung di dalamnya dapat dimanfaatkan oleh hewan. Ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau berbentuk pelet memiliki nilai kecernaan bahan kering yang paling rendah dibandingkan bentuk pakan lainnya. Hal ini berkaitan dengan tingginya jumlah konsumsi ransum bentuk ini. Tingginya konsumsi ransum domba menyebabkan kontak antara zat makanan dengan mikroba rumen menjadi sedikit, hal ini lah yang menyebabkan kecernaannya menjadi rendah. Namun, berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata antar bentuk pakan dengan kecernaan bahan kering. Kecernaan adalah zat-zat makanan dari konsumsi pakan yang tidak diekskresikan ke dalam feses, selisih antara zat makanan yang dikonsumsi dengan yang dieksresikan dalam feses merupakan jumlah zat makanan yang dapat dicerna. Jadi kecernaan merupakan pencerminan dari kemampuan suatu bahan pakan yang dapat dimanfaatkan oleh ternak. Tinggi rendahnya kecernaan bahan pakan memberikan arti seberapa besar bahan pakan itu mengandung zat-zat makanan dalam bentuk yang dapat dicernakan ke dalam saluran pencernaan. Tahap 2) Pengaruh Lama Penyimpanan Ransum Komplit yang Mengandung Limbah Taoge Kacang Hijau dalam Berbagai Bentuk Pakan Perbedaan kadar air awal (lama penyimpanan 0 bulan) pada masing-masing bentuk pakan ini kemungkinan diakibatkan oleh proses pencetakan menjadi berbagai bentuk pakan. Ransum komplit berbentuk wafer mengalami proses pemanasan dan mendapat tekanan yang bertujuan untuk memadatkan bahan pakan penyusun ransum, hal ini menyebabkan kandungan air awal ransum komplit berbentuk wafer menjadi paling rendah. Sedangkan ransum komplit berbentuk pelet mengalami penambahan air dalam proses pembuatannya sesuai dengan 33 prosedur penggunaan alat sehingga menyebabkan kadar airnya lebih tinggi dibanding ransum komplit dalam bentuk lainnya. Tingginya kadar air pakan selama penyimpanan dapat mengakibatkan mudahnya mikroorganisme berkembang biak. Peningkatan kadar air selama penyimpanan juga merupakan indikator kerusakan ransum. Kadar air menentukan daya simpan ransum, pada ransum dengan kadar air tinggi maka daya simpannya lebih singkat dibanding ransum yang memiliki kadar air lebih rendah (Hall 1970). Ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau berbentuk pelet pada lama peyimpanan 0 dan 1 bulan tidak mengalami kenaikan kadar air (P<0,05).Hal ini memperlihatkan bahwa ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau berbentuk pelet dapat disimpan hingga satu bulan. Aktivitas air (Aw) bukan merupakan komponen kadar air bahan, namun keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari nilai air bahan tersebut. Aktivitas air digunakan untuk mengetahui seberapa besar kerusakan bahan yang disebabkan oleh jamur, khamir, bakteri, enzim dan kerusakan kimia lainnya. Ransum komplit pada penelitian ini masih baik jika langsung dikonsumsi ternak namun apabila disimpan dalam jangka waktu lebih lama, perlu dilakukan penanganan pengeringan terlebih dahulu serta menjaga kelembaban ruang penyimpanan (Winarno et al. 1980). Purnomo (1995) menyebutkan bahwa khamir dapat tumbuh dan berkembang biak pada nilai Aw 0,87-0,91, sedangkan kebanyakan kapang pada nilai Aw 0,80-0,87. Berdasarkan hasil pengamatan selama penelitian menunjukkan bahwa pakan kompilt berbentuk mash, pelet dan wafer dengan lama penyimpanan 2 bulan telah memperlihatkan adanya jamur berwarna abu-abu tua. Ransum komplit berbentuk mash terdapat beberapa gumpalan kecil dan pada ransum komplit bentuk pelet dan wafer terlihat perubahan warna pada permukaan ransum komplit menjadi warna abu-abu tua. Hal ini mengindikasikan bahwa ransum komplit tidak dapat disimpan hingga 2 bulan dan hanya dapat disimpan hingga satu bulan. Semakin tinggi nilai aktivitas air suatu bahan makan akan semakin tinggi pula kemungkinan tumbuh dan berkembangnya mikroba dalam bahan tersebut (Syarief & Halid 1993). Ransum komplit berbentuk mash, pelet, wafer masih 34 memungkinkan untuk disimpan dengan cara menjaga kondisi ruang (gudang penyimpanan) agar tidak mempercepat pertumbuhan kapang. Serangga menyebabkan kehilangan kandungan nutrisi bahan karena serangga menggunakan bahan pakan sebagai sumber makanannya dan merusak lapisan kulit pelindung bahan pakan tersebut. Aktivitas metabolik serangga dan kutu menyebabkan peningkatan kadar air dan suhu bahan pakan yang dirusak. Serangga juga dapat bertindak sebagai pembawa spora jamur dan kotorannya digunakan sebagai sumber makanan oleh jamur. Aktivitas makan yang dilakukan oleh serangga menyebabkan bahan pakan kehilangan berat. Kerusakan secara kimiawi menyebabkan penurunan kualitas bahan, merubah rasa dan nilai nutrisi. Kerusakan secara fisik terjadi akibat kontaminasi bahan pakan oleh kotoran, jaring, bagian tubuh dan bau kotoran. Serangga juga memicu pertumbuhan mikroorganisme lain. 35 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau berbentuk pelet memiliki tingkat konsumsi bahan kering, pertambahan bobot badan dan efisiensi penggunaan ransum yang lebih tinggi dibandingkan ransum komplit bentuk segar, mash dan wafer. Ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau berbentuk pelet dengan lama penyimpanan satu bulan menunjukkan kualitas terbaik karena memiliki kadar air dan aktivitas air rendah serta kategori serangan serangga ringan. Saran Limbah taoge kacang hijau segar dapat dimanfaatkan dalam ransum ternak domba, namun apabila peternak ingin menggunakannya pada musim paceklik maka dapat diolah terlebih dahulu menjadi bentuk pelet. Perlu dilakukan uji lama penyimpanan dengan interval waktu yang lebih pendek agar dapat mengetahui waktu aman penyimpanan yang lebih spesifik. 36 DAFTAR PUSTAKA Anggorodi R. 1990. Ilmu Makanan Ternak Umum. Cetakan ketiga. Jakarta: PT. Gramedia. [AOAC]. Association of Official Analytical Chemist. 2005. Official Methods of Analysis. The 4th Ed. Gaithersburg, Md: AOAC International. [Bulog]. Badan Urusan Logistik. 1996. Buku Panduan Perawatan Kualitas Komoditas Milik Bulog. Jakarta: Badan Urusan Logistik, Church DC, Pond WG. 1995. Basic Animal Nutrition and Feeding. 4 York: New York Pre. th Ed. New Close W, Menke KH. 1986. Selected Topics in Animal Nutrition. A Manual Prepared for The Third Hohenheim Course on Animal Nutrition in The Tropics and Semi-Tropics. 2nd Ed. Stuttgart: The Institute of Animal Nutrition, Hohenheim University. Devandra C, Burns M. 1994. Produksi kambing di daerah tropis. Terjemahan Harya Putra. ITB Bandung dan Universitas Udayana Direktorat Jendral Peternakan. 2009. Statistik Peternakan. http://www.ditjennak.go.id/bank%5CTabel_4_6.pdf (diakses tanggal 21 Mei 2011) Ella A. 1996. Produktivitas dan kualitas hujaian leguminosa pakan (flamegia congesta dan desmodium rensonii) pada pola tanam tumpang sari dengan tanaman jagung [disertasi]. Bogor:Program pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Fisher DS. 2002. A review of few key factors regulating voluntary feed intake in ruminant. Crop Sci 42:1651 Hall DW. 1970. Handling and Storagenof Food Grains in Tropical and Subtropical Areas. Rome: Food and Agriculture Organization of The United Nation. Haryanto B, Djajanegara A. 1993. Pemenuhan Kebutuhan Zat-Zat Makanan Ternak Ruminansia Kecil. Dalam Manika Wodzicka T, I. M. Mastika, A. Djajanegara, Susan G. dan T.R. Wiradarya (edt). Produksi Kambing dan Domba di Indonesia. UNS Press. Surakarta. Hartadi H, Reksohadiprodjo S, Tillman AD. 1997. Tabel Komposisi Pakan Untuk Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 37 Heinrichs AJ, Komonoff PJ . 2002. Evaluating particle size of forages and TMR, using the new penn state forage particle separator. Cooperative Extention College of Agric. Sci 42:1-15 Jayusmar. 2000. Pengaruh Suhu dan Tekanan Pengempaan terhadap sifat fisik wafer ransum komplit dari limbah pertanian sumber serat dan leguminosa untuk ternak ruminansia [skripsi]. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Kearl LC. 1982. Nutrient Requirement of Ruminant in Developing Countries. International Feedstuff. Utah Agric Exp Station. Utah State University, Logan. Utah.84332. USA McDowell. 1992. Mineral in Animal and Human Nutrition. Academic Press Inc [NRC]. 1985. Nutrient Requirements of Sheep. Ed. Rev ke-6. Washington DC: National Academy Press Parakkasi A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Peterson PR. 2005. Forage for Goat Production. Blacksburg: Dept. Virginia Tech University Purnomo H. 1995. Aktivitas Air dan Peranannya dalam Pengawetan Pangan. Jakarta:UI Press Rahayu S, Wandito DS, Ifafah WW. 2010. Survei Potensi Limbah Tauge di Kota Madya Bogor [laporan penelitian]. Bogor: Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Rappeti L, Bava L. 2008. Feeding Management of Dairy Goats in Intensive System. In: G. Pulina & A. Cannas (Eds.). Dairy Goats Feeding and Nurition. CAB International, Wallingford. Retnani Y, Kamesworo S, Khotidjah L, Saenab A. 2010. Pemanfaatan wafer limbah sayuran pasar untuk ternak domba. Pros. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. 503-510. Saenab A. 2010. Evaluasi pemanfaatan limbah sayuran pasar sebagai pakan ternak ruminansia di DKI Jakarta. Publikasi Budidaya Ternak Ruminansia. Edisi (1):1-6. [SNI]. Standar Nasional Indonesia. 2006. SNI Ransum Broiler Stater 01-39302006. Badan Standar Nasional Indonesia. Susangka I, Haetami K, Andriani Y. 2006. Evaluasi nilai gizi limbah sayuran dengan cara pengolahan berbeda dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan 38 ikan nila. Laporan Penelitian. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Padjadjaran, Bandung. Sutardi T. 1981. Sapi Perah dan Pemberian Makanannya. Bogor: Departemen Ilmu Makanan Ternak. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Sutigno P. 1994. Perekat dan Perekatan. Ahli Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pengujian kayu lapis dan kayu olahan angkatan III tahun 1994. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Hasil Hutan Dan Sosial Ekonomi Kehutanan. Balai Penelitian Dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Bogor. Syarief R, Halid H. 1993. Teknologi penyimpanan pangan. Bogor: Penerbit Arcan. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Institut Pertanian Bogor. Tillman A, Hartadi DH, Reksohadiprojo S, Prawirokusumo S, Lebdosoekojo S. 1991. Ilmu makanan ternak dasar. Yogyakarta: UGM Press. Trisyulianti E. 1998. Pembuatan wafer rumput gajah untuk pakan ruminansia besar. Seminar Hasil-Hasil Penelitian Institut Pertanian Bogor. Jurusan Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Trisyulianti E, Suryahadi, Rakhma VN. 2003. Pengaruh pengggunaan molasses dan tepung gaplek sebagai bahan perekat terhadap sifat fisik wafer ransum komplit. Media Peternakan 26(2):35-39 Van Soest PJ. 1994. Nutrition Ecology of The Ruminant. 2nd Ed. O and B Books, Inc. Corvalis. New York: Cornell University Press. Verma AK, Mehra UR, Daas RS, Sigh A. 1996. Nutrient utilization by murrah buffaloes (Bubalus bubalis) from compressed complete feed block (CCFB). Animal Feed Science and Technology 59: 255-263. Widiyanto, Surahmanto, Mulyono, Kusumanti E. 2011. Pelleted field grass to increases the java thin tail sheep productivity. J Indonesian Tropc. Anim. Agric. 36(4):273-280 Winarno FG, Fardiaz S. 1980. Pengantar teknologi pangan. Jakarta: PT. Gramedia. Winarno FG. 1997. Kimia pangan gizi. Edisi Kedua. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Zebeli Q et al. 2007. Effects of variying dietary forage particle size in two concentrate levels on chewing activity, ruminal mat characteristics and passage in dairy cows. J. Dairy Sci 90 (4):1929-1942 39 LAMPIRAN 40 Lampiran 1 Analisis sidik ragam konsumsi bahan kering Source Model Error Corrected Total DF 3 8 11 Sum of Squares Mean Square 246772.331 82257.4437 55716.252 6964.5315 302488.583 F Value Pr > F 11.81 0.0026 Lampiran 2 Analisis sidik ragam pertambahan bobot badan harian Source Model Error Corrected Total DF 3 8 11 Sum of Squares 13618.22942 3680.5832 17298.81262 Mean Square 4539.40981 460.0729 F Value 9.87 Pr > F 0.0046 F Value 4.29 Pr > F 0.0443 F Value 1.08 Pr > F 0.4093 F Value 0.58 Pr > F 0.6434 Lampiran 3 Analisis sidik ragam efisiensi peggunaan pakan Source Model Error Corrected Total DF 3 8 11 Sum of Squares 92.1097011 57.2983844 149.4080855 Mean Square 30.7032337 7.162298 Lampiran 4 Analisis sidik ragam kecernaan bahan kering Source Model Error Corrected Total DF 3 8 11 Sum of Squares 60.7628917 149.4076 210.1704917 Mean Square 20.2542972 18.67595 Lampiran 5 Analisis sidik ragam kecernaan bahan organik Source Model Error Corrected Total DF 3 8 11 Sum of Squares 30.8009011 141.1644606 171.9653617 Mean Square 10.266967 17.6455576 Lampiran 6 Analisis sidik ragam kadar air ransum komplit Source DF Type III SS Mean Square F Value Pr > F bentuk 2 0.40242222 0.20121111 2.65 0.1110 lamapenyimpanan 2 9.85662222 4.92831111 65.02 <.0001 bentuk*lamapenyimpan 4 1.25755556 0.31438889 4.15 0.0245 r(bentuk) 6 0.45111111 0.07518519 0.99 0.4726 41 Lampiran 7 Uji lanjut Duncan kadar air ransum komplit Means with the same letter are not significantly different. Duncan Grouping Mean N interaksi A 16.9133 3 Pelet2 B A 16.7333 3 Mash2 B A 16.6967 3 Wafer2 B C 16.3833 3 Mash1 D C 16.0800 3 Wafer1 D 15.8733 3 Pelet1 D 15.7933 3 Pelet0 E 15.1900 3 Mash0 E 14.9267 3 Wafer0 Lampiran 8 Analisis sidik ragam aktivitas air ransum komplit Source DF Type III SS Mean Square F Value Pr > F bentuk 2 0.00069030 0.00034515 3.40 0.0675 lamapenyimpanan 2 0.00122585 0.00061293 6.04 0.0153 bentuk*lamapenyimpan 4 0.00058926 0.00014731 1.45 0.2766 r(bentuk) 6 0.00030311 0.00005052 0.50 0.7982 Lampiran 9 Limbah taoge kacang hijau 42 Lampiran 10 Penyimpanan ransum komplit Lampiran 11 Ransum komplit berbentuk pelet penyimpanan 2 bulan Lampiran 12 Ransum komplit berbentuk wafer penyimpanan 2 bulan ABSTRACT NUR AFNI META FURNIATI. Evaluation of Complete Ration Containing Mung Bean Sprouts Waste in Various Form of Feed on Sheep. Under direction of YULI RETNANI and DWIERRA EVVYERNIE AMIRROENAS. Mung bean sprouts waste is a waste of vegetables that are available in traditional market everyday. Using of fresh mung bean sprouts waste had several problems i.e., perishable and bulky. Its couse mung bean sprouts waste could not be stored for long periods and had large space for storage. The aim of this study was to assess the mung bean sprouts waste utilized in sheep ration. This study used complete ration that consisted of nature grass, mung bean sprouts waste, pollard, copra meal, molasses and urea. The study was divided into two experiments, first experiment was to assessment the nutritional quality of complete rations in vivo used sheeps. A complete randomized design with four various form of complete ration and three sheeps as replication in each of treatment was used in this experiment. Complete rations were given in fresh condition (R1), mash form (R2), pellet form (R3) and wafer form (R4). The parameters observed were feed consumption, body weight gain, feed efficiency, digestibility of dry matter and organic matter. The result of this study showed that digestibility of dry matter and organic matter do not significant differences. Feed consumption of sheeps fed by complete ration in pellet form (R3) was higher (P<0,05) than sheeps fed by fresh condition (R1) and mash form(R2). Body weight gain and feed efficiency of sheeps fed by complete ration in pellet form (R3) was higher (P<0,05) than other form. Second experiment was studied the effect of storage time in various physical forms. A completely randomized factorial design with 3 form of complete ration (mash, pellet and wafer) and 3 long time storage (0, 1 and 2 month) with three replications was used in this experiment. The observed variables include observations of moisture content, water activity and insect attack. The result of this study showed that moisture content had interaction (P<0,05) between form of complete ration and time of storage. Complete ration that storage for two month had water activity higher (P<0,05) than 0 and 1 month of storage. Insect attack to complete ration in pellet form that storage in one month was higher than other form in two month and same long time storage. Complete ration containing mung bean sprouts waste in pellet form that stored in one month had water content, water activity and insect attack can be tolerance. Feed consumption, body weigh gain, feed efficiency of complete ration containing mung bean sprouts waste in pellet form was higest. Key word: mung bean sprouts waste, mash, pellet, wafer, sheep RINGKASAN NUR AFNI META FURNIATI. Evaluasi Ransum Komplit yang Mengandung Limbah Taoge Kacang Hijau dalam Berbagai Bentuk Pakan pada Ternak Domba. Dibimbing oleh YULI RETNANI dan DWIERRA EVVYERNIE AMIRROENAS Peningkatan permintaan daging domba konsumsi harus diikuti dengan peningkatan kualitas pakan yang diberikan pada ternak domba tersebut. Pakan yang memiliki nilai nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan domba akan membantu pencapaian hasil produksi yang optimal. Harga bahan pakan yang murah juga perlu diperhatikan agar biaya produksi dalam pemeliharaan domba dapat seminimal mungkin. Limbah taoge kacang hijau merupakan sampah pasar yang sudah tidak dimanfaatkan lagi oleh manusia untuk dikonsumsi. Limbah taoge kacang hijau ini bisa dimanfaatkan karena masih memiliki kandungan nutrisi yang berguna bagi ternak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji penggunaan ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau pada domba dan lama penyimpanannya dalam berbagai bentuk pakan yaitu mash, pelet dan wafer. Penelitian ini dibagi dalam dua tahap penelitian, yaitu tahap pertama mengkaji kualitas nutrisi ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau pada ternak domba dan tahap kedua mempelajari pengaruh lama penyimpanan ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau dalam berbagai bentuk pakan. Tahap pertama menggunakan 12 ekor domba jantan lokal yang sedang dalam masa pertumbuhan dengan bobot badan awal 10,10 -14,10 kg. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan bentuk pakan dan 3 ulangan berupa ternak. Ransum komplit yang diberikan mengandung limbah taoge kacang hijau dalam bentuk segar (R1), mash (R2), pelet (R3) dan wafer (R4). Peubah yang diamati adalah konsumsi bahan kering, kecernaan bahan kering dan bahan organik, pertambahan bobot badan dan efisiensi penggunaan ransum. Penelitian tahap kedua menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial dengan 3 bentuk pakan (mash, pelet dan wafer) dan 3 jenis lama penyimpanan (0,1 dan 2 bulan) dengan 3 ulangan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dan apabila terdapat perbedaan antar perlakuan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian tahap pertama menunjukkan bahwa konsumsi bahan kering tertinggi ditunjukkan oleh domba yang mengkonsumsi pelet (R3). Konsumsi bahan kering dalam bentuk segar (R1) lebih rendah (P<0,05) dibandingkan dengan konsumsi bahan kering pakan berbentuk pelet (R3) dan wafer (R4) namun tidak berbeda nyata dengan konsumsi bahan kering pakan berbentuk mash (R2). Ransum yang diberikan dalam bentuk segar (R1) memiliki nilai kecernaan bahan kering yang paling tinggi sedangkan yang terendah diperlihatkan oleh domba yang mendapatkan pakan berbentuk pelet (R3), tidak ada perbedaan yang nyata antar perlakuan. Setiap bentuk pakan memberikan respon yang sama terhadap kecernaan bahan kering. Kecernaan bahan organik juga tidak berbeda nyata antar perlakuan. Pertambahan bobot badan harian domba yang mengkonsumsi ransum komplit berbentuk pelet (R3) nyata lebih tinggi (p<0,05) dibandingkan dengan ransum segar (R1) dan ransum berbentuk mash (R2) namun tidak berbeda nyata dengan ransum berbentuk wafer (R4). Ransum berbentuk mash (R2) memiliki pertambahan bobot badan harian paling rendah namun tidak berbeda nyata dengan ransum berbentuk segar (R1). Efisiensi penggunaan ransum yang tertinggi dicapai oleh ternak yang mendapat ransum komplit berbentuk pelet (R3) dengan nilai sebesar 17,13% diikuti oleh ransum komplit berbentuk wafer (R4) yaitu 15,74% dan ransum komplit berbentuk segar (R1) yaitu 15,06% dan ketiganya tidak berbeda nyata. Ransum komplit berbentuk mash (R1) memiliki nilai efisiensi penggunaan ransum lebih rendah (P<0,05) dibandingkan bentuk lainnya. Ransum berbentuk pelet, wafer dan segar berturut-turut nyata lebih efisien (P<0,05) dalam memanfaatkan pakan menjadi daging dibandingkan dengan domba yang mengkonsumsi ransum komplit berbentuk mash (R2). Ransum komplit berbentuk pelet (R3) menunjukkan konsumsi bahan kering, pertambahan bobot badan harian dan efisiensi penggunaan pakan tertinggi dibandingkan dengan ransum komplit bentuk lain. Hasil penelitian tahap kedua menyatakan bahwa terjadi interaksi (P<0,01) antara bentuk pakan dan lama penyimpanan terhadap kadar air. Ransum komplit berbentuk wafer pada lama penyimpanan 0 bulan memiliki kadar air yang paling rendah namun tidak berbeda nyata dengan ransum komplit berbentuk mash pada lama penyimpanan 0 bulan. Ransum komplit berbentuk pelet pada lama penyimpanan 0 dan 1 bulan tidak mengalami peningkatan kadar air yang nyata. Nilai aktivitas air ransum komplit dua bulan mengalami peningkatan (P<0,05) dibandingkan dengan lama penyimpanan satu bulan. Jumlah serangga pada ransum komplit berbentuk mash pada lama penyimpanan dua bulan menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah serangga menjadi tingkat serangan berat (7 ekor per kg bahan). Ransum komplit berbentuk pelet dengan lama peyimpanan satu bulan memiliki tingkat serangan serangga kategori ringan, yaitu satu ekor per kg ransum. Semakin lama penyimpanan menyebabkan terjadinya peningkatan kadar air ransum penelitian, peningkatan aktivitas air yang tergambar dari pertumbuhan kapang dan peningkatan jumlah seranggga. Ransum komplit mengandung limbah taoge kacang hijau berbentuk pelet yang disimpan selama satu bulan memiliki kadar air, aktivitas air dan jumlah serangga yang masih dapat ditolerir. Kesimpulan dari kedua tahap penelitian adalah ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau berbentuk pelet memiliki tingkat konsumsi bahan kering, pertambahan bobot badan dan efisiensi penggunaan ransum yang lebih tinggi dibandingkan ransum komplit bentuk lainnya dan ransum komplit berbentuk pelet dengan lama penyimpanan satu bulan menunjukkan kualitas yang terbaik karena memiliki kadar air dan aktivitas air rendah (tidak menunjukkan terjadinya pertumbuhan kapang) dan jumlah serangga satu ekor per kilogram ransum (kategori serangan serangga ringan). Kata kunci : limbah taoge kacang hijau, mash, pelet, wafer, domba. PENDAHULUAN Latar Belakang Domba merupakan ternak yang banyak dipelihara oleh masyarakat Indonesia. Sistem pemeliharan domba masih dilakukan secara tradisional dengan pemberian pakan hanya berupa rumput lapang, dan sedikit sekali bahkan sama sekali tidak disediakan pakan penguat. Penggunaan rumput lapang ini karena ketersediaannya yang cukup mudah diperoleh disekitar peternakan. Ternak yang dipelihara hendaknya mendapatkan pakan dengan kualitas maupun kuantitas baik. Pakan berkualitas baik adalah pakan yang memiliki kandungan nutrisi sesuai dengan yang dibutuhkan oleh ternak untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok yang tekait dengan aktifitas tubuh, metabolisme, pengaturan suhu tubuh, pencernaan, dan bernafas serta untuk kebutuhan berproduksi. Pakan dengan kuantitas baik maksudnya adalah pakan dengan ketersediaan yang kontinyu sehingga dapat mencegah terjadinya fluktuasi produksi dan agar tidak terjadi kesulitan penyediaan pakan sepanjang tahun. Pemberian ransum yang berkualitas baik diharapkan dapat meningkatkan bobot badan ternak sehingga pertumbuhan ternak dapat berlangsung secara optimal. Indonesia merupakan negara tropis dimana ketersediaan hijauan termasuk rumput lapang sangat variatif. Ketersediaan hijauan akan sangat berlimpah pada musim hujan dan menipis pada musim kemarau. Pemberian konsentrat pada ternak dapat melengkapi kebutuhan nutrisi domba, namun harga konsentrat yang relatif mahal membuat peternak kesulitan untuk menyediakannya. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya mencari pakan alternatif yang potensial, murah dan mudah diperoleh. Limbah sayuran pasar merupakan salah satu alternatif yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Limbah pasar merupakan sisa sayuran yang tidak terjual ataupun hasil penyiangan sayuran yang tidak dimanfaatkan lagi oleh manusia. Limbah sayuran pasar dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak karena telah dibuang oleh pedagang sayuran. Salah satu limbah sayuran pasar yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak adalah limbah taoge kacang hijau. Limbah taoge kacang hijau ini merupakan bagian dari taoge kacang hijau yang berwarna 2 hijau dan tidak dimanfaatkan sebagai sayuran oleh manusia sehingga berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak mendapat penanganan yang tepat. Pemanfaatan limbah taoge kacang hijau dalam bentuk segar memiliki beberapa kendala antara lain sifat bahan yang mudah busuk yang membuat limbah ini tidak dapat disimpan dalam waktu lama. Sifat voluminous (bulky) pada limbah ini juga menjadi kendala karena membutuhkan ruang yang luas untuk penyimpanannya. Pengolahan limbah taoge diharapkan dapat lebih mendayagunakan dan meningkatkan nilai manfaat dari limbah tersebut sebagai pakan ternak serta memungkinkan untuk disimpan dalam beberapa waktu sebagai stok persediaan pakan ternak. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai pemanfaatan limbah taoge kacang hijau sebagai bahan pakan dan lama penyimpanannya dalam bentuk mash, pelet dan wafer sebagai bahan pakan dalam ransum domba. Diharapkan pula peternak dapat menggunakan ransum tersebut sebagai bahan pakan pengganti rumput pada pada masa paceklik (kemarau). Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji penggunaan ransum komplit mengandung limbah taoge kacang hijau dan lama penyimpanannya dalam berbagai bentuk pakan yaitu mash, pelet dan wafer pada ternak domba. 3 TINJAUAN PUSTAKA Limbah Taoge Kacang Hijau Taoge adalah hasil perkecambahan dari kacang-kacangan seperti kacang hijau dan kedelai. Limbah adalah sisa dari suatu produk yang sudah tidak dimanfaatkan lagi oleh manusia. Limbah taoge kacang hijau terdiri dari kulit taoge kacang hijau (berwarna hijau) dan pecahan-pecahan taoge kacang hijau (berwarna putih) yang dipisahkan oleh pengrajin taoge untuk mendapatkan taoge konsumsi yang akan dijual. Proses pemisahan taoge konsumsi dengan kulit taoge ini ada dua cara yaitu dengan cara pencucian dan pengayakan. Proses pencucian biasanya akan menyebabkan kulit taoge mengapung. Limbah taoge ini dapat kita jumpai disekitar pabrik taoge dan biasanya limbah taoge yang didapat memiliki kadar air yang relatif lebih tinggi. Cara kedua adalah dengan pengayakan, dan biasanya proses ini dilakukan di pasar. Pedagang akan melakukan pengayan untuk memisahkan taoge dengan kulitnya. Kulit taoge dan beberapa pecahan akar taoge akan dibuang pedagang karena tidak dijual sehingga menjadi sampah pasar. Limbah taoge yang dihasilkan pada proses ini cendrung memiliki kandungan air yang lebih rendah. Limbah taoge kacang hijau yang digunakan pada penelitian ini adalah yang diperoleh di pasar. Penanganan yang tepat perlu dilakukan pada limbah taoge ini. Apabila tidak ditangani dengan baik maka akan menjadi sampah pasar dan berpotensi mencemari lingkungan. Limbah taoge kacang hijau memiliki potensi yang bagus untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak mengingat produksi taoge kacang hijau sebagai sayuran yang tidak mengenal musim. Selama masyarakat masih mengkonsumsi taoge maka sepanjang itulah limbah taoge akan dihasilkan. Limbah taoge kacang hijau merupakan salah satu limbah organik pasar yang sangat potensial untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Pengeringan dengan menggunakan sinar matahari hanya membutuhkan waktu rata-rata 2 hari, dengan kadar air 65-70% (Saenab 2010). Retnani et al. (2010) menyatakan bahwa domba ekor gemuk jantan yang diberi wafer yang mengandung 50% rumput lapang dan 50% limbah sayuran pasar dapat meningkatkan konsumsi bahan kering sebesar 19 % dan pertambahan bobot badan harian sebesar 24 % (137,30 ± 6,92 gr/ekor/hari) dibandingkan 4 perlakuan yang tidak mengkonsumsi wafer limbah sayuran pasar. Hasil survey Rahayu et al. (2010) di Kotamadya Bogor menunjukkan bahwa potensi limbah taoge dari segi kuantitatif adalah sebesar 1,5 ton/hari. Hal ini mengindikasikan bahwa limbah sayuran pasar dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak. Gambar 1 Limbah Taoge Kacang Hijau dari salah seorang pengrajin taoge di Pasar Raya Bogor Bentuk-bentuk Pakan Limbah taoge kacang hijau dalam bentuk segar memiliki beberapa kendala untuk dimanfaatkan pada ternak. Kondisi segar yang memiliki kandungan air cukup tinggi membuat limbah taoge kacang hijau ini tidak dapat disimpan lama sehingga perlu dilakukan pengolahan agar dapat dimanfaatkan untuk ternak. Pengolahan menjadi berbagai macam bentuk pakan yang tepat perlu dilakukan untuk menjaga kandungan nutrisi dan dapat dimanfaatkan oleh ternak secara sempurna. Tujuan lainnya adalah agar ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijua dapat disimpan dalam jangka waktu tertentu sehingga dapat diberikan pada ternak pada musim paceklik rumput. Beberapa pengolahan bentuk ransum antara lain menjadi bentuk mash (tepung), pelet dan wafer. Mash Ransum komplit berbentuk mash yaitu ransum yang telah mengalami proses penggilingan sehingga menjadi ukuran partikel yang kecil (tepung). Ransum berbentuk mash harganya relatif lebih murah dibandingkan pakan bentuk olahan lainnya karena tidak ada penambahan biaya untuk proses produksi lebih lanjut, misalnya pencetakan pakan mash menjadi bentuk pelet atau wafer. Kelemahan pakan berbentuk mash adalah mudah tercecer dan berdebu. 5 Pelet Pelet adalah bentuk bahan makanan atau makanan yang dibentuk dengan menekan dan memadatkannya melalui lubang cetakan secara mekanis (Hartadi et al. 1997). Beberapa tahapan dalam pembuatan pelet diuraikan seperti berikut ini. a. Pengolahan Pendahuluan Ditujukan untuk pemecahan dan pemisahan bahan-bahan pencemar atau kotoran dari bahan yang akan digunakan. Bahan pakan digiling hingga menjadi bentuk tepung dan kemudian dilakukan pencampuran bahan pakan kedalam formulasi ransum yang diinginkan juga dilakukan pada tahap ini. b. Pencetakan. Setelah semua bahan baku tercampur secara homogen, langkah selanjutnya adalah mencetak campuran tadi menjadi bentuk pelet. Banyak jenis mesin yang dapat digunakan, mulai mesin sederhana hingga mesin yang biasa digunakan pada industri pakan. Mesin pencetakan sederhana bisa merupakan hasil modifikasi gillingan daging yang diberi penggerak berupa motor listrik atau motor bakar. Sistem kerja mesin cetak sederhana adalah dengan mendorong bahan pakan campuran didalam sebuah tabung besi atau baja dengan menggunakan ulir (screw) menuju cetakan (die) berupa pelat berbentuk lingkaran dengan lubang-lubang berdiameter 2-3 mm, sehingga pakan akan keluar dari cetakan tersebut dalam bentuk pelet. Kelemahan sistem ini adalah diperlukan tambahan air sebanyak 1020% kedalam campuran pakan, sehingga diperlukan pengeringan setelah pencetakan tersebut. Penambahan air dimaksudkan untuk membuat campuran atau adonan pakan menjadi lunak, sehingga bisa keluar melalui cetakan. Jika dipaksakan tanpa menambahkan air ke dalam campuran, mesin akan macet. Disamping itu, pelet yang keluar dari mesin pencetak biasanya kurang padat. Proses condisioning juga terjadi dalam proses pembuatan pelet, dimana campuran bahan pakan dipanaskan dengan air dengan tujuan untuk gelatinisasi. Tujuan gelatinisasi yaitu agar terjadi pencetakan antar partikel bahan penyusun sehingga penampakan pelet kompak, tekstur dan kekerasannya bagus. Gelatinisasi merupakan rangkaian proses yang dimulai dari imbibisi air, pembengkakan granula sampai granula pecah. Pecahnya granula pati disebabkan karena 6 pemanasan melebihi batas pengembangan granula. Penguapan dalam proses pembuatan pakan berbentuk pelet bertujuan agar pakan menjadi steril, terbebas dari kuman atau bibit penyakit serta menjadikan pati dari bahan baku yang ada sebagai perekat. Penguapan dilakukan dengan bantuan steam boiler yang uapnya diarahkan ke dalam campuran pakan. Penguapan dengan suhu terlalu tinggi dalam waktu yang lama akan merusak atau setidaknya mengurangi kandungan beberapa nutrisi dalam pakan, khususnya vitamin dan asam amino. Beberapa mesin cetak pelet berkapasitas sedang dan besar mempunyai fasilitas penguapan ini. Jadi, penguapan atau steaming tidak dilakukan pada saat pencampuran, tetapi pada saat pencetakan. c. Pengeringan Pengeringan pada intinya adalah mengeluarkan kandungan air di dalam pakan menjadi kurang dari 14%. Proses pengeringan perlu dilakukan apabila pencetakan dilakukan dengan mesin sederhana. Jika pencetakan dilakukan dengan mesin pelet sistem kering, cukup dikering-anginkan saja hingga uap panasnya hilang, sehingga pelet menjadi kering dan tidak mudah berubah kembali ke bentuk tepung. Proses pengeringan bisa dilakukan dengan penjemuran dibawah terik matahari atau menggunakan mesin. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Penjemuran secara alami tentu sangat tergantung kepada cuaca, higienitas atau kebersihan pakan harus dijaga dengan baik, jangan sampai tercemar debu, kotoran dan gangguan hewan atau unggas yang dikhawatirkan akan membawa bibit penyakit. Mesin pengering yang umum digunakan sangat beragam, diantaranya oven pengering. Dalam oven pengering, pelet basah disimpan dalam baki dan oven dipanaskan dengan bantuan kompor minyak tanah, batu bara atau bahan bakar lainnya. Penyimpanan pelet dalam baki tidak boleh terlalu tebal, supaya dihasilkan pengeringan yang merata dan harus sering dibalik supaya tidak gosong. Yang perlu diperhatikan apabila menggunakan alat pengering adalah suhu pemanasan tidak boleh lebih dari 800C. Pemanasan dengan suhu yang terlalu tinggi akan merusak kandungan nutrisi pakan, serta membuat pakan menjadi terlalu keras. 7 Wafer Wafer ransum komplit merupakan suatu bentuk pakan yang memiliki bentuk fisik kompak dan ringkas sehingga diharapkan dapat memudahkan dalam hal penanganan dan transportasi, disamping itu memiliki kandungan nutrisi yang lengkap dan menggunakan teknologi yang relatif sederhana sehingga mudah diterapkan dan ekonomis (Trisyulianti 2003). Prinsip pembuatan wafer mengikuti prinsip pembuatan papan partikel yang mengalami proses pemadatan dengan tekanan dan pemanasan dalam suhu tertentu selama waktu yang tertentu pula. Proses pembuatan wafer memerlukan perekat yang mempu mengikat partikel-partikel bahan sehingga akan menghasilkan wafer yang kompak dan padat sesuai dengan densitas yang diinginkan. Sutigno (1994) menyatakan bahwa perekat adalah suatu bahan yang dapat menahan dua buah benda berdasarkan ikatan permukaan. Ikatan permukaan tersebut bisa terjadi karena (a) masuknya cairan perekat kedalam pori benda yang direkat kemudian mengeras (perekatan mekanis) dan (b) gaya tarik menarik antar perekat dengan molekul benda yang direkat (perekatan spesifik). Keberhasilan proses perekatan dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu bahan yang direkat, perekat dan kondisi pengempaan. Bahan perekat yang biasa digunakan dalam pengolahan bahan makanan ternak yang biasa digunakan antara lain adalah pati, terigu, tepung gaplek dan molasses. Alat kempa panas merupakan alat yang digunakan dalam proses pembuatan wafer. Jayusmar (2002) melaporkan bahwa metode pembuatan wafer pada suhu pengempaan 120°C, tekanan 12 kg/cm2 dan dalam waktu pengempaan 10 menit akan menghasilkan wafer dengan penampilan menarik, susunan kompak dan padat tetapi mudah hancur jika terkena air atau mudah hancur saat terkena saliva ternak. Keuntungan wafer menurut Trisyulianti (1998) adalah : (1) kualitas nutrisi lengkap, (2) bahan baku bukan hanya dari hijauan makanan ternak seperti rumput dan legum, tetapi juga dapat memanfaatkan limbah pertanian, perkebunan, atau limbah pabrik pangan, (3) ketersediaannya berkesinambungan karena sifatnya yang awet dapat bertahan cukup lama sehingga dapat mengantisipasi ketersediaan pakan pada musim kemarau serta dapat dibuat pada saat musim hujan ketika hasil hijauan makanan ternak dan produk pertanian melimpah, dan (4) ransum berbetuk 8 wafer lebih menguntungkan karena dapat mempermudah dalam penanganan, pengawetan, transportasi, dapat disimpan lebih lama jika dibandingkan pakan berbentuk segar. Pembuatan wafer ransum komplit akan memberikan nilai tambah karena menggunakan teknologi yang sederhana dengan energi yang relatif sedikit. Verma et al. (1996) melaporkan bahwa Compressed Compete Feed Blocks (CCFB) mempunyai beberapa keunggulan yaitu dapat mengurangi bulk density, lebih palatabel, memudahkan dalam penanganan, penyimpanan dan distribusi. Selain itu pengolahan bahan makanan menjadi bentuk blok memungkinkan penyimpanan pakan yang akan digunakan pada musim kemarau. Kelebihan lainnya adalah teknologi pengolahannya mudah diadaptasi oleh negara-negara berkembang. Proses pembuatan wafer (Retnani 2010) adalah dengan beberapa langkah sebagai berikut: a. Bahan baku sumber serat dicacah dengan ukuran 2 - 5 cm, kemudian dijemur kering udara di bawah sinar matahari. b. Bahan baku konsentrat digiling menggunakan hammer mill hingga berukuran mash (tepung). c. Campur bahan-bahan sesuai susunan ransum komplit. d. Ransum komplit dimasukkan ke dalam cetakan berbentuk persegi berukuran 20 x 20 x 1 cm. e. Setelah itu dilakukan pengempaan panas pada suhu 150°C dengan tekanan 200 - 300 kg/cm2 selama 20 menit. f. Pendinginan lembaran wafer dilakukan dengan menempatkan wafer di udara terbuka selama minimal 24 jam sampai kadar air dan bobotnya konstan, kemudian dimasukkan ke dalam karung. Penyimpanan Pakan Penyimpanan pakan adalah salah satu bentuk tindakan pengamanan yang selalu terkait dengan waktu. Tujuan penyimpanan adalah untuk mempertahankan dan menjaga komoditi yang disimpan dengan cara menghindari dan menghilangkan berbagai faktor yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas komoditi tersebut. Penyimpanan yang telalu lama akan menurunkan kualitas pakan tersebut. 9 Selama proses penyimpanan sering terjadi kerusakan-kerusakan yang dapat menurunkan kualitas pakan. Kerusakan yang terjadi diantaranya adalah kerusakan kimiawi, biologis dan fisik. Kerusakan kimiawi merupakan akibat dari reaksireaksi kimia, kerusakan biologis adalah akibat serangan mikroorganisme dan kerusakan fisik biasanya terkait dengan proses penanganan. Pengamatan terhadap sifat fisik pakan bertujuan untuk mengetahui mutu bahan pakan yang ada. Keefisienan suatu proses penanganan, pengolahan dan penyimpanan dalam industri pakan tidak hanya membutuhkan informasi mengenai komposisi kimia dan nilai nutrisi bahan saja tetapi juga menyangkut sifat fisik, sehingga kerugian akibat kesalahan penanganan bahan pakan dapat dihindari. Penyimpanan pakan ditujukan untuk membantu penyediaan pakan pada musm paceklik. Beberapa sifat fisik yang diujikan pada penelitian ini adalah kadar air, aktivitas air dan serangan serangga. Kadar Air Kadar air merupakan jumlah air yang terkandung dalam bahan pakan yang dinyatakan dalam persen. Kadar air bahan pakan merupakan pengukuran jumlah air total yang terkandung dalam bahan pakan, tanpa memperlihatkan kondisi atau derajat keterikatan air (Syarief & Halid 1993). Hal ini akan berkaitan dengan proses penyimpanan maupun penanganan bahan pakan berikutnya. Bahan pakan dengan kadar air cukup tinggi tidak dapat disimpan lama di gudang karena akan cepat mengalami perubahan fisik dan biologi. Perubahan biologi yang terjadi diantaranya disebabkan oleh aktifitas mikroorganisme yang terdapat dalam bahan pakan tersebut. Kadar air dalam bahan pakan ikut menentukan kesegaran dan daya awet bahan pakan tersebut. Kadar air yang tinggi dapat mengakibatkan mudahnya bakteri, khamir (ragi) dan kapang (jamur) berkembang biak, sehingga akan terjadi perubahan pada bahan pakan tersebut (Winarno 1997). Kadar air dalam bahan pakan sangat mempengaruhi kualitas dan daya simpan bahan tersebut. Oleh karena itu, penentuan kadar air sangat penting agar dalam proses pengolahan maupun pendistribusian mendapat penanganan yang tepat. Kandungan air dalam bahan pangan akan berubah-ubah sesuai dengan lingkungannya, dan hal ini sangat erat hubungannya dengan daya awet bahan 10 pangan tersebut. Hal ini merupakan pertimbangan utama dalam pengolahan dan pengelolaan pasca olah bahan pangan (Purnomo 1995). Aktivitas Air Aktivitas air atau water activity (Aw) adalah jumlah air bebas yang terkandung dalam bahan pakan yang dapat digunakan oleh mikroba untuk pertumbuhannya, semakin tinggi nilai Aw suatu bahan maka akan semakin tinggi pula kemungkinan tumbuhnya jasad renik pada bahan tersebut (Syarif & Halid 1993). Istilah aktivitas air digunakan untuk menjabarkan air yang tidak terikat atau air bebas dalam suatu sistem yang dapat menunjang reaksi biologis dan kimiawi. Semakin tinggi aktivitas air suatu bahan maka semakin tinggi pula kemungkinan tumbuhnya mikroba dalam bahan tersebut. Aktivitas air merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam menentukan kualitas dan keamanan suatu bahan pakan. Aktivitas air mempengaruhi umur simpan, tekstur, rasa dan bau pakan. Aktivitas air mungkin menjadi faktor paling penting dalam mengendalikan pembusukan. Dengan mengukur aktivitas air, akan memungkinkan kita memprediksi mikroorganisme yang akan berpotensi menyebabkan pembusukan. Aw dinyatakan dalam angka 0,1-1 yang sebanding dengan kelembaban 0100%. Makin kecil angka Aw maka makin sedikit pula air bebas yang tersedia dan makin sulit pula suatu jasad renik untuk tumbuh kembang. Winarno (1997) menyatakan bahwa berbagai mikroorganisme mempunyai nilai A w minimum agar dapat tumbuh dengan baik. Purnomo (1995) melaporkan bahwa masing-masing jenis mikroorganisme membutuhkan jumlah air yang berbeda untuk pertumbuhannya. Bakteri umumnya dapat tumbuh dan berkembang biak pada nilai Aw tinggi (0,91), khamir (ragi) dapat tumbuh dan berkembang biak pada nilai Aw 0,87 – 0,91 sedangkan jamur (kapang) lebih rendah lagi yaitu pada nilai Aw 0,81-0,87. Serangan Serangga Serangga hama gudang merupakan salah satu penyebab kerusakan yang terbesar pada komoditas pakan yang disimpan. Serangga ini hidup dan berkembang biak di dalam gudang penyimpanan baik sebagai hama primer, 11 maupun hama sekunder pemakan kapang (jamur) pada berbagai jenis komoditas pakan dan bahkan ada yang hidup sebagai predator. Syarief dan Halid (1993) melaporkan bahwa serangga hama gudang yang penting tergolong kedalam 3 ordo yaitu 1) Coleoptera (kumbang) dengan cirri khas sayap depannya mengalami pengerasan seperti tanduk (disebut elytra). Serangga ini mengalami metamorphosis sempurna 2) Lepidoptera (moth=ngengat) mempunyai sayap depan dan belahan yang mempunyai cirri-ciri khas yang biasanya digunakan untuk membedakan spesies satu dengan yang lainnya. Serangga ini juga mengalami metamorphosis sempurna 3) Psocoptera (Psocid) dengan cirri khas sering tidak bersayap, antena panjang dengan ruas yang banyak, ukuran badan sangat kecil dan transparan. Seringkali salah diidentifikasikan sebagai tungau (mite) dan mengalami metamorphosis tidak sempurna. Serangga yang merupakan hama gudang ini akan menyebabkan kehilangan hasil selama produk dalam penyimpanan. Kehilangan hasil yang disebabkan oleh hama gudang dapat mencapai 10 – 15% dari isi gudang. Evaluasi Kualitas Nutrisi Pakan pada Domba Domba Ternak domba telah terdistribusi di berbagai pulau dan provinsi di seluruh wilayah Indonesia. Luasnya penyebaran populasi komoditas domba tersebut membuktikan bahwa berbagai wilayah di tanah air memiliki tingkat kecocokan yang baik untuk pengembangan, baik kecocokan dari segi vegetasi, topografi, klimat, dan bahkan dari sisi sosial-budaya daerah setempat. Direktorat Jendral Peternakan (2009) menyebutkan bahwa angka pemotongan domba di Indonesia pada tahun 2009 adalah sejumlah 1.643.830 ekor atau sekitar 15,61% dari total populasi yang ada (10.471.991 ekor), namun hal tersebut tidak ditunjang dengan peningkatan populasi domba dari tahun 2008 ke 2009 yang hanya sebesar 8,28%. Apabila keadaan ini dibiarkan terus menerus maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi kelangkaan ternak domba pada beberapa tahun mendatang. Tomaszewska et al. (1993) melaporkan bahwa terdapat tiga jenis domba yang dikenal di Indonesia: domba Jawa Ekor Kurus (JEK), domba Jawa Ekor Gemuk (JEG) dan domba Sumatera Ekor Kurus (SEK). Domba Jawa Ekor Tipis 12 merupakan domba yang banyak terdapat di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Domba ini termasuk golongan domba kecil, dengan berat potong sekitar 20 – 30 kg. Warna bulu putih dan biasanya memiliki bercak hitam di sekeliling matanya. Ekornya tidak menunjukkan adanya desposisi lemak. Domba jantan memiliki tanduk melingkar, sedangkan yang betina biasanya tidak bertanduk. Bulunya berupa wol yang kasar. Konsumsi Ransum Konsumsi adalah jumlah ransum yang dimakan oleh ternak yang akan digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup pokok dan produksi. Aktivitas konsumsi meliputi proses mencari pakan, mengenal dan mendekati pakan, proses bekerjanya indra ternak terhadap pakan, proses memilih pakan dan proses menghentikan makan (Tillman et al. 1999). Tingkat konsumsi (Voluntary Feed Intake/VFI) adalah jumlah makanan yang terkonsumsi oleh ternak bila bahan makanan tersebut diberikan secara ad libitum (Parakkasi 1999). Jumlah pakan yang dikonsumsi menentukan jumlah zat-zat makanan yang tersedia bagi ternak dan selanjutnya akan mempengaruhi tingkat produktivitas ternak tersebut. Namun yang menetukan konsumsi pakan pada ternak ruminansia sangatlah beragam, antara lain sifat pakan, kondisi fisiologis ternak (umur, bobot badan, jenis kelamin, dan faktor genetik) serta lingkungan tempat ternak tersebut dipelihara. Jumlah bahan kering pakan yang dapat dikonsumsi oleh seekor ternak selama satu hari perlu diketahui. Konsumsi bahan kering tergantung dari hijauan saja yang diberikan atau dicampur konsentrat. Konsumsi bahan kering berdasarkan bobot badan ternak pada ruminansia kecil menurut Devendra dan Burns (1994) 3-5%, NRC (1985) 3%. Peterson (2005) 3,5-5% namun pada umumnya adalah 3-4% dari berat badan. Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik Kecernaan adalah bagian zat makanan yang tidak dieksresikan dalam feses. Menurut Anggorodi (1990) bahwa pada dasarnya tingkat kecernaan adalah suatu upaya untuk mengetahui banyaknya zat makanan yang diserap oleh saluran pencernaan. Bagian yang dapat dicerna adalah selisih antara zat-zat makanan dikonsumsi dengan yang dikeluarkan bersama feses dan bila bagian tertentu 13 dinyatakan sebagai persentase terhadap konsumsi maka disebut koefisien cerna (McDowell 1992). Pengukuran kecernaan adalah suatu usaha untuk menentukan jumlah zat makanan dari suatu bahan pakan yang diserap oleh saluran pencernaan. Bagian yang dicerna adalah selisih antara zat makanan yang dikandung dalam bahan pakan yang dimakan dan zat yang terkandung dalam feses (Ella 1996). Peterson (2005) menyatakan bahwa tinggi rendahnya daya cerna dipengaruhi oleh jenis ternak, umur hewan, jenis bahan pakan, dan susunan kimianya. Banyak metode-metode yang digunakan dalam mengukur kecernaan suatu bahan pakan, diantaranya adalah collected method, marker method, in sacco, in vivo dan in vitro. Pertambahan Bobot Badan Harian Pertambahan bobot badan adalah salah satu kriteria yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kualitas bahan pakan ternak, karena pertumbuhan yang diperoleh dari suatu percobaan merupakan salah satu indikasi pemanfaatan zat-zat makanan dari pakan yang diberikan. Dari data pertambahan bobot badan harian akan diketahui nilai suatu bahan pakan ternak (Church & Pond 1995). Efisiensi Penggunaan Ransum Efisiensi penggunaan ransum erat kaitannya dengan konsumsi ransum dan produksi (pertambahan bobot badan). Efisiensi penggunaan ransum adalah rasio antara pertambahan bobot badan dengan jumlah ransum yang dikonsumsi. Efisiensi penggunaan ransum mengukur efisiensi hewan dalam mengubah bahan pakan menjadi produk, dalam hal ini adalah daging domba. 14 METODE PENELITIAN Penelitian ini dibagi menjadi dua percobaan yaitu 1) Percobaan mengenai evaluasi kualitas nutrisi ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau pada ternak domba dan 2) Percobaan mengenai pengaruh lama penyimpanan ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau dalam berbagai bentuk pakan. Tahap 1) Evaluasi Kualitas Nutrisi Ransum Komplit yang Mengandung Limbah Taoge Kacang Hijau pada Ternak Domba Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2011 - Maret 2012. Evaluasi kualitas nutrisi ransum komplit mengandung limbah taoge kacang hijau pada ternak domba ini dilakukan di laboratorium lapang blok A, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Materi Penelitian Ternak yang akan digunakan adalah domba jantan lokal berjumlah 12 ekor yang dalam masa pertumbuhan dengan bobot badan awal 10,0 – 14,10 kg. Peralatan yang digunakan adalah kandang individu yang memiliki tempat pakan dan tempat minum terpisah serta timbangan untuk mengukur berat domba dan ransum yang diberikan pada ternak. Gambar 2 Ternak dan Kandang Percobaan Konsumsi domba berdasarkan bahan kering adalah sebanyak 3 % dari bobot badan (NRC 1985), sehingga dalam penelitian ini ransum yang diberikan adalah sebanyak 5% dari bobot badan domba. Sebelum dilakukan pengumpulan data, ternak diberikan obat cacing dan diberi pakan perlakuan selama 7 hari untuk 15 adaptasi terhadap pakan baru. Kemudian dilanjutkan dengan pemberian pakan perlakuan selama tiga minggu untuk mengetahui pertambahan bobot badan dan jumlah konsumsi pakan pada ternak domba. Diakhir penelitian, selama 7 hari dilakukan pengumpulan feses untuk memperoleh data kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik pakan. Gambar 3 Penimbangan bobot badab dan Pengumpulan feses domba Bahan pakan yang digunakan adalah rumput lapang, limbah taoge kacang hijau serta, molases, urea, bungkil kelapa dan pollar yang diolah menjadi bentuk berbagai bentuk pakan. Kandungan bahan pakan penyusun ransum komplit tersaji pada Tabel 1. Tabel 1 Komposisi nutrisi bahan pakan penyusun ransum komplit (berdasarkan 100% BK) Bahan Pakan Rumput Lapang 1) Limbah taoge kacang hijau 1) Pollard 2) Urea3) Bungkil Kelapa 2) Molasses 2) Abu PK SK LK 100 % BK 10,92 14,94 38,63 0,94 2,72 14,55 42,73 1,58 4,88 18,72 7,67 52,33 0,00 288,00 0,00 0,00 6,40 21,63 12,09 10,23 10,39 5,19 10,00 0,26 Keterangan : 1) Analisa Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan 2) Hartadi 1997 3) Tillman et.al 1990 4) Sutardi 1980 Hasil perhitungan (Hartadi 1997) 5) Beta-N 34,58 38,42 16,40 0,00 49,65 74,16 TDN 58.09 4) 75.32 5) 86,05 0,00 84,88 53,25 16 Ransum pada penelitian ini terdiri dari hijauan dan konsentrat dengan perbandingan 70:30. Susunan ransum komplit yang akan dipergunakan pada penelitian ini terlihat seperti pada Tabel 2. Tabel 2. Susunan ransum komplit dan kandungan nutrisinya Bahan Pakan Ransum Komplit Perlakuan % 1. Komposisi ransum Rumput lapang Limbah taoge kacang hijau Pollard Urea Bungkil kelapa Molases Total 2. Kandungan Nutrisi Ransum komplit ( 100% BK)*) Abu Protein kasar Serat kasar Lemak kasar Beta-N TDN *) 35,0 35,0 17,0 0,5 8,5 4,0 100 6,4 16,7 31,1 10,5 35,3 70,7 Berdasarkan perhitungan Tabel 1 Ransum yang diberikan adalah: R1: Ransum dalam bentuk segar R2: Ransum Komplit dalam bentuk mash R3: Ransum Komplit dalam bentuk pelet R4: Ransum Komplit dalam bentuk wafer Peubah yang diukur adalah: a. Konsumsi bahan kering ransum Rataan konsumsi bahan kering pakan per ekor/hari diperoleh dengan cara menimbang pakan segar yang diberikan dikalikan dengan kandungan bahan keringnya, kemudian dikurangi sisa pakan dan dikalikan dengan bahan kering pakan tersebut. Pengukuran dilakukan setiap 24 jam selama 30 hari. Rumus yang digunakan adalah: Konsumsi BK (g) = (pemberian x %BK) – (sisa x %BK) 17 b. Kecernaan ransum (Close dan Menke, 1986) Koleksi feses dilakukan setiap hari selama 7 hari dengan menimbang feses yang dihasilkan selama 24 jam, kemudian diambil 10% dari total feses sebagai sampel feses. Setelah hari ke 7 sampel dikomposit untuk setiap kelompot ternak (individu ternak). Dari gabungan sampel diambil sub sampel feses (A) untuk dianalisa, bahan kering dan bahan organic. Rumus yang digunakan yaitu: c. Pertambahan bobot badan Ditentukan dengan penghitungan selisih bobot badan akhir dengan bobot badan awal/ekor/lama periode penelitian (hari). Penimbangan bobot badan dilakukan pada pagi hari antara pukul 06.00 - 07.00 WIB (sebelum pemberian pakan). d. Efisiensi Penggunaan Ransum Efisiensi penggunaan ransum diukur dengan cara membagi pertambahan bobot badan dengan jumlah ransum yang dikonsumsi. Rancangan Percobaan Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan ransum dan 3 ulangan berupa ternak. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan sidik ragam (ANOVA) dan apabila terdapat pebedaan antar perlakuan maka akan dilanjutkan dengan uji Duncan menggunakan software SAS 9.1.3. Model linier analisis ragam pada penelitian ini adalah : 18 = Nilai pengamatan pada perlakuan ke-i, dan ulangan ke-k = rataan umum pengaruh perlakuan bentuk pakan (segar, mash, pelet, wafer) pengaruh ulangan ternak ke-j = pengaruh galat Tahap 2) Pengaruh Lama Penyimpanan Ransum Komplit yang Mengandung Limbah Taoge Kacang Hijau dalam Berbagai Bentuk Pakan Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Industri pakan dan Laboratorium Nutrisi Ternak Perah, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Ternak, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Materi Penelitian Bahan pakan yang yang akan diujikan terdiri dari rumput lapang, limbah taoge kacang hijau, molases, urea, bungkil kelapa dan pollard yang dicampur dan diolah menjadi bentuk berbagai bentuk pakan. Langkah-langkah yang ditempuh mulai dari mempersiapkan bahan baku pakan hingga tersusun menjadi ransum komplit terlihat pada Gambar 4. 19 Rumput lapang Pencacahan (3-5 cm) Limbah taoge kacang hijau Pengeringan Sinar matahari) penggilingan pencampuran Ransum komplit berbentuk mash Formula ransum komplit + konsentrat Pencetakan pelet Pencetakan wafer Diangin-anginkan Diangin-anginkan Ransum komplit berbentuk pelet Ransum komplit berbentuk wafer Gambar 4. Diagram alur pengolahan bahan pakan penelitian Prosedur Pengerjaan Kadar Air (AOAC 2005) Pengukuran kadar air dilakukan terhadap ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau dalam berbagai bentuk pakan (mash, pelet dan wafer) pada lama penyimpanan 0, 1 dan 2 bulan. Ransum komplit yang telah disimpan dalam karung plastik kemudian dibuka dan diambil sampel untuk dilakukan analisis kadar air. 20 Tahap pertama yang dilakukan untuk menganalisis kadar air adalah mengeringkan cawan porselen dalam oven pada suhu 105oC selama 1 jam. Cawan tersebut diletakkan ke dalam desikator (kurang lebih 15 menit) dan dibiarkan sampai dingin kemudian ditimbang Sebanyak 2 gram contoh dimasukkan ke dalam cawan tersebut (Ba), kemudian dikeringkan dengan oven pada suhu 105oC selama 5 jam atau hingga beratnya konstan. Setelah selesai, cawan tersebut kemudian dimasukkan kedalam desikator dan dibiarkan sampai dingin dan selanjutnya ditimbang kembali (BKo). Nilai kadar air dihitung menggunakan rumus: Keterangan: KA = kadar air sampel (%) Ba = berat awal sampel (g) BKo = berat kering oven sampel (g) Aktivitas Air (Syarief & Halid 1993) Nilai Aktivitas Air diperoleh dengan menggunakan alat yang disebut Aw meter. Aw meter sebelum digunakan terlebih dahulu dikalibrasi menggunakan larutan Barium Klorida (BaCl2). Larutan dibiarkan selama 3 jam, kemudian jarum Aw meter ditera sampai menunjukkan angka 0,9 (karena BaCl2 mempunyai kelembapan garam jenuh sebesar 90%). Pengukuran aktivitas air dilakukan dengan cara memasukkan bahan uji ke dalam Aw meter dan biarkan selama 3 jam, setelah itu pembacaan dilakukan (Skala Aw) dan kemudian dikoreksi dengan faktor suhu. Aw = Pembacaan skala Aw + ((pembacaan skala suhu – 20) x 0,002) Serangan Serangga (Bulog 1996) Untuk melihat seberapa banyak serangga yang terdapat di dalam ransum yang disimpan dilakukan dengan mengayak ransum sebanyak satu kilogram menggunakan saringan kemudian dihitung satu persatu jumlah serangga. Kemudian bahan yang diperiksa diberi kode: 21 C/A : Aman, yaitu tidak terlihat dan tidak ditemukannya adanya serangga C/R : Ringan, yaitu tidak terlihat adanya serangga ditumpukkan atau kurang sebelum pemeriksaan sampel, maksimum 1-2 ekor/kg. C/M : Medium, yaitu serangga terlihat ditumpukkan, sekitar 3-5 ekor/kg. C/B : Berat, yaitu serangga jelas banyak ditumpukkan, 6-10 ekor/kg C/SB : Sangat berat, yaitu > 10 ekor/kg. Rancangan Percobaan Ransum komplit yang sudah dibentuk menjadi berbagai bentuk pemberian pakan yaitu mash, pelet dan wafer kemudian diuji daya simpan selama 0, 1 dan 2 bulan. Peubah yang diamati meliputi pengamatan terhadap kadar air dan aktivitas air (Aw) dan serangan serangga. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial dengan 3 bentuk pakan (mash, pelet dan wafer) dan 3 lama penyimpanan (0,1 dan 2 bulan) dengan 3 ulangan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan sidik ragam (ANOVA) dan apabila terdapat pebedaan antar perlakuan maka akan dilanjutkan dengan uji Duncan menggunakan software SAS 9.1.3. Model matematik rancangan tersebut adalah: Yijk= µ + αi +βj + (αβ)ij + εijk Yijk : nilai pengamatan pada faktor A (mash, pelet dan wafer) taraf ke i, faktor B (0,1 dan 2 bulan) taraf ke-j dan ulangan ke k (µ, αi, βj) : komponen aditif dari rataan, pengaruh utama faktor A dan pengaruh utama faktor B (αβ)ij εij : komponen interaksi dari faktor A dan faktor B : pengaruh acak yang menyebar normal (0,σε2). 22 HASIL PENELITIAN Tahap 1) Evaluasi Kualitas Nutrisi Ransum Komplit yang Mengandung Limbah Taoge Kacang Hijau pada Ternak Domba Konsumsi bahan kering Rataan konsumsi bahan kering, pertambahan bobot badan harian dan efisiensi penggunaan ransum serta kecernaan bahan kering dan bahan organik disajikan pada Tabel 3. Konsumsi bahan kering pada penelitian ini berkisar antara 454,81-848,68 g/ekor/hari. Angka yang tertinggi ditunjukkan oleh domba yang mengkonsumsi pelet (R3). Berdasarkan hasil analisis sidik ragam, menunjukkan adanya perbedaan nyata (P<0,05) antar konsumsi bahan kering. Setelah dilakukan uji lanjut Duncan, maka diperoleh bahwa konsumsi tertinggi terjadi pada domba yang mendapat ransum komplit berbentuk pelet (R3). Konsumsi bahan kering dalam bentuk segar nyata lebih rendah dibandingkan dengan konsumsi bahan kering pakan berbentuk pelet (R3) dan wafer (R4) namun tidak berbeda nyata dengan konsumsi bahan kering pakan berbentuk mash. Tabel 3 Performa domba yang mengkonsumsi ransum komplit mengandung limbah taoge kacang hijau R1 R2 R3 R4 Konsumsi bahan 454,81±99,92c 589,34±93,21bc 848,68±65,08a 683,81±70,36b kering (g/ekor/hari) Kecernaan: Bahan Kering (%) 57,95±3,85 54,55±7,29 51,87±1,85 53,27±1,82 Bahan Organik (%) 60,02±3,61 59,29±7,15 54,76±1,10 58,35±4,14 PBBH (g/ekor/hari) 71,11±34,70bc 58,89±20,09c 145,37±12,30a 106,33±9,03b Efisiensi 15,06±4,02 a 9,82±1,93b 17,13±0,67 a 15,74±2,89 a Penggunaan Rakan (%) Keterangan: R1 = Ransum mengandung limbah taoge kacang hijau segar; R2 = Ransum komplit berbentuk mash; R3 = Ransum komplit berbentuk pelet; R4 = Ransum komplit berbentuk wafer; a,b,c pada baris yang sama menunjukkan pengaruh yang berbeda nyata (P<0.05) Kecernaan bahan kering dan bahan organik Kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik pada penelitian ini disajikan pada Tabel 3. Ransum yang diberikan dalam bentuk segar memiliki nilai 23 kecernaan bahan kering yang paling tinggi sedangkan yang terendah diperlihatkan oleh domba yang mendapatkan pakan berbentuk pelet. Berdasarkan hasil analisis sidik ragam memperlihatkan bahwa tidak adanya perbedaan yang nyata antar perlakuan. Kecernaan bahan organik juga tidak berbeda nyata antar perlakuan. Berbagai bentuk pakan yang diujikan pada ternak domba memberikan pengaruh yang sama terhadap kecernaan bahan organik. Nilai kecernaan yang tidak berbeda mengindikasikan bahwa berbagai bentuk pakan sama baiknya dicerna oleh ternak. Pertambahan bobot badan Pertambahan bobot badan harian secara lengkap disajikan pada Tabel 3. Pertambahan bobot badan harian tertinggi terdapat pada domba yang mengkonsumsi ransum komplit berbentuk pelet (R3) yaitu sebesar 145,37 ± 12,30 g/ekor/hari. Berdasarkan analisis sidik ragam menunjukkan bahwa pada percobaan ini terjadi perbedaan nyata (P<0,05) antar perlakuan. Setelah dilakukan uji lanjut Duncan, maka diperoleh bahwa pertambahan bobot badan harian domba yang mengkonsumsi ransum komplit berbentuk pelet (R3) nyata lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan ransum segar (R1) dan ransum berbentuk mash (R2) dan ransum berbentuk wafer (R4). Ransum berbentuk mash (R2) memiliki pertambahan bobot badan harian paling rendah namun tidak berbeda nyata dengan ransum berbentuk segar (R1). Efisiensi penggunaan ransum Efisiensi penggunaan ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau disajikan pada Tabel 3. Nilai efisiensi ransum sangat erat kaitannya dengan pertambahan bobot badan dan tingkat konsumsi ransum. Semakin tinggi nilai efisiensi pakan menunjukkan bahwa pakan yang diberikan memiliki kualitas yang baik sehingga dapat menghasilkan pertambahan bobot badan yang maksimal. Analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan pada ternak menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) terhadap efisiensi pakan. Setelah dilakukan uji lanjut Duncan, maka diperoleh hasil bahwa ransum berbentuk mash (R2) memiliki efisiensi penggunaan pakan paling rendah (P<0,05) dibandingkan dengan bentuk pakan lainnya yaitu sebesar 9,82% (Tabel 3). Efisiensi pakan yang tertinggi dicapai oleh ternak yang mendapat ransum komplit 24 berbentuk pelet (R3) dengan nilai sebesar 17,13% diikuti oleh ransum komplit berbentuk wafer (15,74%) dan ransum komplit berbentuk segar (15,06%) dan ketiganya tidak berbeda nyata. Tahap 2) Pengaruh Lama Penyimpanan Ransum Komplit yang Mengandung Limbah Taoge Kacang Hijau dalam Berbagai Bentuk Pakan Karakteristik Umum Ransum Komplit Penelitian Ransum komplit berbetuk mash (tepung) memiliki bentuk lebih halus dibandingkan dengan bentuk pakan lainnya dan tanpa proses setelahnya. Ransum komplit berbentuk mash pada lama penyimpanan 0 bulan memiliki warna hijau kecoklatan dan berbau segar hijauan (Gambar 5). Lama penyimpanan selama 1 bulan menyebabkan bau segar hijauan pada ransum komplit berbentuk mash hilang, namun tidak merubah warna ransum komplit tersebut. Bau tengik mulai muncul pada penyimpanan 2 bulan. Syarief dan Halid (1993) menyatakan bahwa ketengikan yang sering terjadi selama penyimpanan adalah ketengikan oksidatif, yaitu ketengikan yang terjadi karena adanya interaksi antara ransum dan temperature. Lama penyimpanan 1 bulan menyebabkan ransum komplit berbentuk mash mengalami penggumpalan dan bertambah banyak pada penyimpanan 2 bulan. Ransum komplit berbentuk pelet yang digunakan pada penelitian ini memiliki ukuran diameter 4 mm dengan panjang 1-1,5 cm. Mesin pelet yang digunakan adalah mesin pelet tipe basah dimana bahan pakan yang telah dicampur ditambahkan air terlebih dahulu sebelum dimasukkan kedalam mesin pelet. Pelet yang dicetak menggunakan mesin ini harus dikeringkan dengan cara dianginanginkan paling kurang 1 hari sebelum dikemas kedalam karung penyimpanan. Lama penyimpanan 2 bulan menyebabkan ransum komplit berbentuk pelet ditumbuhi kapang berwarna abu-abu. Wafer ransum komplit merupakan suatu bentuk pakan yang memiliki bentuk fisik kompak dan ringkas sehingga diharapkan dapat memudahkan dalam penanganan dan transportasi, disamping itu memiliki kandungan nutrisi yang langkap dan menggunakan teknologi yang relatif sederhana sehingga mudah diterapkan (Trisyulianti et al. 2003). Bentuk fisik wafer ransum komplit pada perlakuan ini adalah memiliki ukuran 20 x 20 x 1cm dan berwarna coklat tua. 25 (a) (b) (c) Gambar 5 (a) Ransum komplit berbentuk mash lama penyimpanan 0 bulan (b) Ransum komplit berbentuk pelet lama penyimpanan 0 bulan (c) Ransum komplit berbentuk wafer lama penyimpanan 0 bulan Ransum komplit berbentuk wafer memiliki wangi segar hijauan dan molases yang mendapat tekanan panas juga tercium. Lama penyimpanan 2 bulan menyebabkan bau segar pada wafer menjadi hilang. Penyimpanan ransum komplit selama dua bulan menyebabkan tumbuhnya kapang pada wafer yang terlihat dari adanya muncul cendawan berwarna abu-abu tua hingga kehitaman pada permukaan dan pinggiran wafer. Kapang pada bahan pakan meyebabkan ransum tidak aman untuk dikonsumsi ternak. Pengaruh lama penyimpanan terhadap kadar air Kadar air ransum komplit penelitian ini sebelum disimpan adalah 14,93% 15,79%. terhadap kadar air. Kadar air ransum komplit pada lama penyimpanan 0 bulan lebih tinggi dari standar dimana kadar air untuk pakan yang akan disimpan adalah dibawah 14 % (SNI 2006). Tingginya kadar air ransum komplit penelitian ini dibandingkan dengan nilai standar nasional Indonesia untuk ransum menyebabkan ransum komplit penelitian ini tidak dapat disimpan lama. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi antar lama penyimpanan dan bentuk pakan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap nilai kadar air ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau. Ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau berbentuk mash dan wafer pada lama penyimpanan 0 bulan memiliki kadar air yang paling rendah. Kadar air paling tinggi adalah pada ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau berbentuk pelet pada lama penyimpanan 2 bulan, namun tidak berbeda nyata 26 dengan ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau berbentuk mash dan wafer pada lama penyimpanan 2 bulan. Tabel 4 Rataan kadar air dan aktivitas air ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau dalam berbagai bentuk pakan Perlakuan Bentuk Pakan Mash Pelet Wafer Lama Penyimpanan (Bulan) 0 1 2 Pengaruh: Bentuk Pakan (B) Lama Penyimpanan (L) BxL SEM Peubah Kadar Air (%) Aktivitas Air 16,10 16,19 15,90 0,79 0,81 0,80 15,30 16,11 16,78 0,80a 0,80a 0,81b TN ** * 0,159 TN * TN 0,006 Hasil analisis uji lanjut ( Tabel 4) terlihat bahwa tidak terjadi peningkatan (P>0,05) kadar air pada ransum komplit berbentuk pelet pada lama penimpanan 0 dan 1 bulan. Sedangkan ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau berbentuk mash dan wafer pada lama penyimpanan 0 dan 1 bulan mengalami peningkatan kadar air. Pengaruh lama penyimpanan terhadap aktivitas air Aktivitas air (Aw) ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau dalam berbagai bentuk pakan pada lama penyimpanan hingga dua bulan ditunjukkan dalam Tabel 4. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas air yang paling tinggi terdapat pada ransum komplit berbentuk pelet setelah disimpan selama dua bulan (0,82 ±0,006) dan yang paling rendah terdapat pada ransum komplit berbentuk mash dengan lama penyimpanan 0 bulan (0,79±0,000). Semakin lama waktu penyimpanan akan menyebabkan peningkatan aktivitas air. Aktivitas air ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau pada 27 lama penyimpanan satu bulan lebih rendah (P<0,05) dibandingkan dengan ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau pada lama penyimpanan dua bulan. Tabel 5 Aktivitas air (Aw) ransum komplit mengandung limbah taoge kacang hijau selama penyimpanan Lama Penyimpanan (Bulan Ke-) Bentuk Pakan Rataan 0 1 2 Mash 0,79±0,000 0,79±0,005 0,81±0,006* 0,79±0,008 Pelet 0,80±0,012 0,79±0,020 0,82±0,006** 0,81±0,010 Wafer 0,80±0,012 0,80±0,006 0,81±0,000** 0,80±0,009 Rataan 0,80±0,007a 0,80±0,007a 0,81±0,005b Keterangan : * terlihat penggumpalan ** terlihat adanya kapang yang tumbuh dan berwarna abu-abu tua a,b,c pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05) Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa lama penyimpanan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap aktivitas air, artinya semakin lama disimpan maka nilai aktivitas air makin meningkat sehingga mikroba dapat tumbuh dan berkembang biak. Ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau pada lama penympanan 2 bulan memiliki nilai aktivitas air yang lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan yang disimpan pada lama penyimpanan 1 bulan. Ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau pada lama penyimpanan 0 dan 1 bulan tidak mengalami kenaikan nilai aktivitas air. Pengaruh lama penyimpanan terhadap serangan serangga Jumlah serangga pada ransum komplit dalam berbagai bentuk selama penelitian diperlihatkan pada Tabel 6. Serangan serangan mulai telihat pada penyimpanan pakan selama satu bulan. Ransum komplit berbentuk mash dan pelet memiliki jumlah serangga dengan tingkat serangan ringan, dimana terlihat serangga dengan jumlah 1-2 ekor dalam 1 kg bahan pakan pada lama penyimpanan 1 bulan. Jumlah serangan pada ransum komplit berbentuk wafer berada pada tingkat medium yaitu sebanyak 3 ekor per kg bahan pakan. 28 Tabel 6 Jumlah serangga selama penyimpanan (ekor) Bentuk Pakan Mash Pelet Wafer Rataan Lama Penyimpanan (Bulan Ke-) 0 1 2 0 2 7 0 1 2 0 3 4 0 2 4 Rataan 3 1 2 Lama penyimpanan 2 bulan menunjukkan terjadinya peningkatan jumlah serangga. Jumlah serangga pada ransum komplit berbentuk mash menjadi tingkat serangan berat (7 ekor per kg bahan). Ransum komplit berbentuk pelet relatif tidak terjadi peningkatan serangan serangga dimana jumlah serangga adalah 2 ekor per kg bahan dan ransum komplit berbentuk wafer mendapat serangan serangga medium (4 ekor per kg bahan). 29 PEMBAHASAN Tahap 1) Evaluasi Kualitas Nutrisi Ransum Komplit yang Mengandung Limbah Taoge Kacang Hijau pada Ternak Domba Konsumsi bahan kering dalam bentuk segar nyata lebih rendah dibandingkan dengan konsumsi bahan kering pakan berbentuk pelet (R3) dan wafer (R4) namun tidak berbeda nyata dengan konsumsi bahan kering pakan berbentuk mash. Hal ini sama seperti yang diungkapkan oleh Widiyanto et al. (2011) bahwa domba yang mengkonsumsi rumput lapang berbentuk pelet memiliki tingkat konsumsi yang lebih tinggi dibandingkan dengan domba yang mengkonsumsi rumput lapang segar. Peningkatan konsumsi dapat terjadi karena proses penggilingan menyebabkan terjadinya perubahan bentuk serat menjadi partikel berukuran kecil sehingga mengakibatkan terjadinya peningkatan laju aliran digesta (Zebeli et al. 2007). Fisher (2002); Heinrichs et al. (2002) menyatakan bahwa penggilingan terhadap bahan pakan sumber serat yang memiliki kualitas nutrisi rendah dapat meningkatkan konsumsi secara signifikan. Proses pencetakan ransum menjadi bentuk pelet membuat bahan pakan penyusun ransum komplit menjadi halus. Ransum yang halus akan menyebabkan laju alir digesta didalam rumen menjadi cepat sehingga waktu retensi dalam rumen menjadi pendek dan mempercepat proses pengosongan isi rumen dan akhirnya akan meningkatkan konsumsi ransum. Bahan pakan yang telah halus juga mudah masuk ke usus halus dan kemudian diserap oleh tubuh dan jika sulit dicerna oleh enzim di usus akan dibuang melalui feses. Van soest (1994) menyatakan bahwa peningkatan konsumsi bahan kering sebagai akibat dari proses penggilingan sebelum pelleting adalah disebabkan oleh meningkatnya kepadatan pakan karena penurunan ukuran partikel dan pecahnya struktur dinding sel. Konsumsi bahan kering pakan perlakuan R1-R4 terhadap bobot badan secara berturut adalah 3,3%, 4,6%, 6,1% dan 4,6%. Hal ini sudah sesuai dengan kebutuhan konsumsi domba sebesar 3% dari bobot badan NRC (1985). Ransum yang telah dicetak menjadi bentuk yang kompak akan mengurangi kemungkinan ternak hanya memakan pakan yang disukai saja. Ransum yang telah dicetak mengandung nutrisi yang lengkap dan menyebar secara rata sehingga yang 30 disajikan pada ternak dapat memenuhi kebutuhan ternak. Hijauan yang digiling akan meningkatkan luas permukaan pakan sehingga menyediakan media bagi mikroba rumen lebih banyak dan degradasi pakan akan meningkat (Rappet & Bava 2008). Ransum komplit berbentuk mash (R2), walaupun telah mengalami proses penggilingan terlebih dahulu namun memberikan nilai konsumsi yang tidak berbeda nyata dengan domba yang mengkonsumsi ransum segar (R1). Hal ini diduga karena pengaruh bentuk pakan yang mudah ditiup angin sehingga banyak pakan yang hilang bukan karena dikonsumsi. Kesulitan ternak dalam mengkonsumsi pakan berbentuk mash juga diindikasikan dengan bersin. Bentuk mash juga akan menyebabkan pakan yang dikonsumsi akan lebih cepat melewati dan meninggalkan saluran pencernaan sehingga menyebabkan banyak zat nutrisi yang terbuang melalui feses. Ternak yang mengkonsumsi ransum komplit dalam bentuk mash tidak menunjukkan peningkatan bobot badan harian seiring dengan penambahan ransum yang dikonsumsi. Pertambahan bobot badan harian domba pada penelitian ini umumnya sebanding dengan kenaikan konsumsi bahan kering ransum, kecuali pada ternak yang mendapat ransum komplit berbentuk mash (R2). Hal ini mungkin disebabkan karena bentuk mash yang terlalu halus sehingga menyebabkan banyak pakan tebuang tertiup angin ataupun yang tidak dapat diserap usus sehingga terbuang kembali melalui usus. Pertambahan bobot badan harian tertinggi terdapat pada domba yang mengkonsumsi ransum komplit berbentuk pelet. Ransum berbentuk mash (R2) memiliki pertambahan bobot badan harian paling rendah namun tidak berbeda nyata dengan ransum berbentuk segar (R1). Kondisi ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Widiyanto et al. (2011) bahwa domba yang mendapat ransum berupa rumput lapang berbentuk pelet memberikan pertambahan bobot badan harian yang lebih tinggi dibandingkan dengan domba yang mengkonsumsi rumput lapang segar. Pertambahan bobot badan yang paling tinggi pada domba yang mengkonsumsi ransum komplit berbentuk pelet (R3) diduga disebabkan oleh bentuk pelet memungkinkan semua bahan pakan penyusun ransum dapat dimakan ternak secara sempurna dan mengurangi resiko pakan ditiup angin. Curch dan 31 Pond (1988) juga menyatakan bahwa proses penggilingan bahan makanan biasanya memberikan peningkatan performa ternak yang relatif lebih besar untuk hijauan yang berkualitas rendah, karena partikel serat yang menjadi kecil. Kualitas pakan yang dikonsumsi tenak semakin baik maka akan diikuti oleh pertambahan bobot badan yang semakin tinggi. Efisiensi penggunaan pakan diperoleh dengan jalan membandingkan antara pertambahan berat badan dan konsumsi bahan kering ransum. Efisiensi penggunaan pakan yang baik ditentukan dari berapa besar pakan yang dikonsumsi dan dapat memberikan kontribusi terhadap pertambahan bobot badan yang terbaik. Efisiensi pakan yang tertinggi dicapai oleh ternak yang mendapat ransum komplit berbentuk pelet (R3) dengan nilai sebesar 17,13% diikuti oleh ransum komplit berbentuk wafer (15,74%) dan ransum komplit berbentuk segar (15,06%) dan ketiganya tidak berbeda nyata. Ransum komplit berbentuk mash (R2) memiliki nilai efisiensi penggunaan pakan paling rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa ransum berbentuk pelet, wafer dan segar berturut-turut nyata lebih efisien dimanfaatkan domba menjadi daging dibandingkan dengan ransum komplit berbentuk mash (R2). Pond et al 2005 menyatakan bahwa semakin baik kualitas pakan maka akan semakin baik pula efisiensi pembentukan energi dan produksi ternak. Efisiensi penggunaan pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya kemampuan ternak dalam mencerna bahan pakan, kecukupan zat pakan untuk hidup pokok, pertumbuhan dan fungsi tubuh serta jenis pakan yang digunakan (Campbell et al. 2006). Ransum komplit berbentuk mash memiliki ukuran partikel sangat kecil membuat ternak yang mengkonsumsinya terganggu. Butiran halus dari ransum komplit berbentuk mash menyebabkan ransum berbentuk mash ini mudah terbang dan tertiup angin sehingga apabila sampai di hidung ternak akan menyebabkan ternak bersin. Kondisi yang tidak nyaman ini lah yang mengakibatkan rendahnya konsumsi pakan dan mengakibatkan nilai efisiensi ransum yang juga rendah. Pengukuran daya cerna adalah suatu usaha untuk menentukan jumlah zat makanan dari bahan makanan yang diserap dalam saluran pencernaan (tractus gastrointestinalis). Pengukuran jumlah zat makanan yang dapat dicerna oleh 32 ternak dapat dilakukan dengan mengetahui kecernaan bahan kering dan bahan organik. Nilai kecernaan bahan kering dan bahan organik menunjukan derajat cerna pakan pada alat pencernaan dan besarnya sumbangan suatu pakan bagi ternak, serta merupakan indikator kesanggupan ternak untuk memanfaatkan suatu jenis pakan tertentu. Kecernaan bahan makanan yang tinggi menunjukkan sebagian besar dari zat-zat makanan yang terkandung di dalamnya dapat dimanfaatkan oleh hewan. Ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau berbentuk pelet memiliki nilai kecernaan bahan kering yang paling rendah dibandingkan bentuk pakan lainnya. Hal ini berkaitan dengan tingginya jumlah konsumsi ransum bentuk ini. Tingginya konsumsi ransum domba menyebabkan kontak antara zat makanan dengan mikroba rumen menjadi sedikit, hal ini lah yang menyebabkan kecernaannya menjadi rendah. Namun, berdasarkan hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata antar bentuk pakan dengan kecernaan bahan kering. Kecernaan adalah zat-zat makanan dari konsumsi pakan yang tidak diekskresikan ke dalam feses, selisih antara zat makanan yang dikonsumsi dengan yang dieksresikan dalam feses merupakan jumlah zat makanan yang dapat dicerna. Jadi kecernaan merupakan pencerminan dari kemampuan suatu bahan pakan yang dapat dimanfaatkan oleh ternak. Tinggi rendahnya kecernaan bahan pakan memberikan arti seberapa besar bahan pakan itu mengandung zat-zat makanan dalam bentuk yang dapat dicernakan ke dalam saluran pencernaan. Tahap 2) Pengaruh Lama Penyimpanan Ransum Komplit yang Mengandung Limbah Taoge Kacang Hijau dalam Berbagai Bentuk Pakan Perbedaan kadar air awal (lama penyimpanan 0 bulan) pada masing-masing bentuk pakan ini kemungkinan diakibatkan oleh proses pencetakan menjadi berbagai bentuk pakan. Ransum komplit berbentuk wafer mengalami proses pemanasan dan mendapat tekanan yang bertujuan untuk memadatkan bahan pakan penyusun ransum, hal ini menyebabkan kandungan air awal ransum komplit berbentuk wafer menjadi paling rendah. Sedangkan ransum komplit berbentuk pelet mengalami penambahan air dalam proses pembuatannya sesuai dengan 33 prosedur penggunaan alat sehingga menyebabkan kadar airnya lebih tinggi dibanding ransum komplit dalam bentuk lainnya. Tingginya kadar air pakan selama penyimpanan dapat mengakibatkan mudahnya mikroorganisme berkembang biak. Peningkatan kadar air selama penyimpanan juga merupakan indikator kerusakan ransum. Kadar air menentukan daya simpan ransum, pada ransum dengan kadar air tinggi maka daya simpannya lebih singkat dibanding ransum yang memiliki kadar air lebih rendah (Hall 1970). Ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau berbentuk pelet pada lama peyimpanan 0 dan 1 bulan tidak mengalami kenaikan kadar air (P<0,05).Hal ini memperlihatkan bahwa ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau berbentuk pelet dapat disimpan hingga satu bulan. Aktivitas air (Aw) bukan merupakan komponen kadar air bahan, namun keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari nilai air bahan tersebut. Aktivitas air digunakan untuk mengetahui seberapa besar kerusakan bahan yang disebabkan oleh jamur, khamir, bakteri, enzim dan kerusakan kimia lainnya. Ransum komplit pada penelitian ini masih baik jika langsung dikonsumsi ternak namun apabila disimpan dalam jangka waktu lebih lama, perlu dilakukan penanganan pengeringan terlebih dahulu serta menjaga kelembaban ruang penyimpanan (Winarno et al. 1980). Purnomo (1995) menyebutkan bahwa khamir dapat tumbuh dan berkembang biak pada nilai Aw 0,87-0,91, sedangkan kebanyakan kapang pada nilai Aw 0,80-0,87. Berdasarkan hasil pengamatan selama penelitian menunjukkan bahwa pakan kompilt berbentuk mash, pelet dan wafer dengan lama penyimpanan 2 bulan telah memperlihatkan adanya jamur berwarna abu-abu tua. Ransum komplit berbentuk mash terdapat beberapa gumpalan kecil dan pada ransum komplit bentuk pelet dan wafer terlihat perubahan warna pada permukaan ransum komplit menjadi warna abu-abu tua. Hal ini mengindikasikan bahwa ransum komplit tidak dapat disimpan hingga 2 bulan dan hanya dapat disimpan hingga satu bulan. Semakin tinggi nilai aktivitas air suatu bahan makan akan semakin tinggi pula kemungkinan tumbuh dan berkembangnya mikroba dalam bahan tersebut (Syarief & Halid 1993). Ransum komplit berbentuk mash, pelet, wafer masih 34 memungkinkan untuk disimpan dengan cara menjaga kondisi ruang (gudang penyimpanan) agar tidak mempercepat pertumbuhan kapang. Serangga menyebabkan kehilangan kandungan nutrisi bahan karena serangga menggunakan bahan pakan sebagai sumber makanannya dan merusak lapisan kulit pelindung bahan pakan tersebut. Aktivitas metabolik serangga dan kutu menyebabkan peningkatan kadar air dan suhu bahan pakan yang dirusak. Serangga juga dapat bertindak sebagai pembawa spora jamur dan kotorannya digunakan sebagai sumber makanan oleh jamur. Aktivitas makan yang dilakukan oleh serangga menyebabkan bahan pakan kehilangan berat. Kerusakan secara kimiawi menyebabkan penurunan kualitas bahan, merubah rasa dan nilai nutrisi. Kerusakan secara fisik terjadi akibat kontaminasi bahan pakan oleh kotoran, jaring, bagian tubuh dan bau kotoran. Serangga juga memicu pertumbuhan mikroorganisme lain. 35 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau berbentuk pelet memiliki tingkat konsumsi bahan kering, pertambahan bobot badan dan efisiensi penggunaan ransum yang lebih tinggi dibandingkan ransum komplit bentuk segar, mash dan wafer. Ransum komplit yang mengandung limbah taoge kacang hijau berbentuk pelet dengan lama penyimpanan satu bulan menunjukkan kualitas terbaik karena memiliki kadar air dan aktivitas air rendah serta kategori serangan serangga ringan. Saran Limbah taoge kacang hijau segar dapat dimanfaatkan dalam ransum ternak domba, namun apabila peternak ingin menggunakannya pada musim paceklik maka dapat diolah terlebih dahulu menjadi bentuk pelet. Perlu dilakukan uji lama penyimpanan dengan interval waktu yang lebih pendek agar dapat mengetahui waktu aman penyimpanan yang lebih spesifik. EVALUASI RANSUM KOMPLIT YANG MENGANDUNG LIMBAH TAOGE KACANG HIJAU DALAM BERBAGAI BENTUK PAKAN PADA TERNAK DOMBA NUR AFNI META FURNIATI SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 36 DAFTAR PUSTAKA Anggorodi R. 1990. Ilmu Makanan Ternak Umum. Cetakan ketiga. Jakarta: PT. Gramedia. [AOAC]. Association of Official Analytical Chemist. 2005. Official Methods of Analysis. The 4th Ed. Gaithersburg, Md: AOAC International. [Bulog]. Badan Urusan Logistik. 1996. Buku Panduan Perawatan Kualitas Komoditas Milik Bulog. Jakarta: Badan Urusan Logistik, Church DC, Pond WG. 1995. Basic Animal Nutrition and Feeding. 4 York: New York Pre. th Ed. New Close W, Menke KH. 1986. Selected Topics in Animal Nutrition. A Manual Prepared for The Third Hohenheim Course on Animal Nutrition in The Tropics and Semi-Tropics. 2nd Ed. Stuttgart: The Institute of Animal Nutrition, Hohenheim University. Devandra C, Burns M. 1994. Produksi kambing di daerah tropis. Terjemahan Harya Putra. ITB Bandung dan Universitas Udayana Direktorat Jendral Peternakan. 2009. Statistik Peternakan. http://www.ditjennak.go.id/bank%5CTabel_4_6.pdf (diakses tanggal 21 Mei 2011) Ella A. 1996. Produktivitas dan kualitas hujaian leguminosa pakan (flamegia congesta dan desmodium rensonii) pada pola tanam tumpang sari dengan tanaman jagung [disertasi]. Bogor:Program pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Fisher DS. 2002. A review of few key factors regulating voluntary feed intake in ruminant. Crop Sci 42:1651 Hall DW. 1970. Handling and Storagenof Food Grains in Tropical and Subtropical Areas. Rome: Food and Agriculture Organization of The United Nation. Haryanto B, Djajanegara A. 1993. Pemenuhan Kebutuhan Zat-Zat Makanan Ternak Ruminansia Kecil. Dalam Manika Wodzicka T, I. M. Mastika, A. Djajanegara, Susan G. dan T.R. Wiradarya (edt). Produksi Kambing dan Domba di Indonesia. UNS Press. Surakarta. Hartadi H, Reksohadiprodjo S, Tillman AD. 1997. Tabel Komposisi Pakan Untuk Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 37 Heinrichs AJ, Komonoff PJ . 2002. Evaluating particle size of forages and TMR, using the new penn state forage particle separator. Cooperative Extention College of Agric. Sci 42:1-15 Jayusmar. 2000. Pengaruh Suhu dan Tekanan Pengempaan terhadap sifat fisik wafer ransum komplit dari limbah pertanian sumber serat dan leguminosa untuk ternak ruminansia [skripsi]. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Kearl LC. 1982. Nutrient Requirement of Ruminant in Developing Countries. International Feedstuff. Utah Agric Exp Station. Utah State University, Logan. Utah.84332. USA McDowell. 1992. Mineral in Animal and Human Nutrition. Academic Press Inc [NRC]. 1985. Nutrient Requirements of Sheep. Ed. Rev ke-6. Washington DC: National Academy Press Parakkasi A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Peterson PR. 2005. Forage for Goat Production. Blacksburg: Dept. Virginia Tech University Purnomo H. 1995. Aktivitas Air dan Peranannya dalam Pengawetan Pangan. Jakarta:UI Press Rahayu S, Wandito DS, Ifafah WW. 2010. Survei Potensi Limbah Tauge di Kota Madya Bogor [laporan penelitian]. Bogor: Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Rappeti L, Bava L. 2008. Feeding Management of Dairy Goats in Intensive System. In: G. Pulina & A. Cannas (Eds.). Dairy Goats Feeding and Nurition. CAB International, Wallingford. Retnani Y, Kamesworo S, Khotidjah L, Saenab A. 2010. Pemanfaatan wafer limbah sayuran pasar untuk ternak domba. Pros. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. 503-510. Saenab A. 2010. Evaluasi pemanfaatan limbah sayuran pasar sebagai pakan ternak ruminansia di DKI Jakarta. Publikasi Budidaya Ternak Ruminansia. Edisi (1):1-6. [SNI]. Standar Nasional Indonesia. 2006. SNI Ransum Broiler Stater 01-39302006. Badan Standar Nasional Indonesia. Susangka I, Haetami K, Andriani Y. 2006. Evaluasi nilai gizi limbah sayuran dengan cara pengolahan berbeda dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan 38 ikan nila. Laporan Penelitian. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Padjadjaran, Bandung. Sutardi T. 1981. Sapi Perah dan Pemberian Makanannya. Bogor: Departemen Ilmu Makanan Ternak. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Sutigno P. 1994. Perekat dan Perekatan. Ahli Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pengujian kayu lapis dan kayu olahan angkatan III tahun 1994. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Hasil Hutan Dan Sosial Ekonomi Kehutanan. Balai Penelitian Dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Bogor. Syarief R, Halid H. 1993. Teknologi penyimpanan pangan. Bogor: Penerbit Arcan. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Institut Pertanian Bogor. Tillman A, Hartadi DH, Reksohadiprojo S, Prawirokusumo S, Lebdosoekojo S. 1991. Ilmu makanan ternak dasar. Yogyakarta: UGM Press. Trisyulianti E. 1998. Pembuatan wafer rumput gajah untuk pakan ruminansia besar. Seminar Hasil-Hasil Penelitian Institut Pertanian Bogor. Jurusan Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Trisyulianti E, Suryahadi, Rakhma VN. 2003. Pengaruh pengggunaan molasses dan tepung gaplek sebagai bahan perekat terhadap sifat fisik wafer ransum komplit. Media Peternakan 26(2):35-39 Van Soest PJ. 1994. Nutrition Ecology of The Ruminant. 2nd Ed. O and B Books, Inc. Corvalis. New York: Cornell University Press. Verma AK, Mehra UR, Daas RS, Sigh A. 1996. Nutrient utilization by murrah buffaloes (Bubalus bubalis) from compressed complete feed block (CCFB). Animal Feed Science and Technology 59: 255-263. Widiyanto, Surahmanto, Mulyono, Kusumanti E. 2011. Pelleted field grass to increases the java thin tail sheep productivity. J Indonesian Tropc. Anim. Agric. 36(4):273-280 Winarno FG, Fardiaz S. 1980. Pengantar teknologi pangan. Jakarta: PT. Gramedia. Winarno FG. 1997. Kimia pangan gizi. Edisi Kedua. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Zebeli Q et al. 2007. Effects of variying dietary forage particle size in two concentrate levels on chewing activity, ruminal mat characteristics and passage in dairy cows. J. Dairy Sci 90 (4):1929-1942 39 LAMPIRAN 40 Lampiran 1 Analisis sidik ragam konsumsi bahan kering Source Model Error Corrected Total DF 3 8 11 Sum of Squares Mean Square 246772.331 82257.4437 55716.252 6964.5315 302488.583 F Value Pr > F 11.81 0.0026 Lampiran 2 Analisis sidik ragam pertambahan bobot badan harian Source Model Error Corrected Total DF 3 8 11 Sum of Squares 13618.22942 3680.5832 17298.81262 Mean Square 4539.40981 460.0729 F Value 9.87 Pr > F 0.0046 F Value 4.29 Pr > F 0.0443 F Value 1.08 Pr > F 0.4093 F Value 0.58 Pr > F 0.6434 Lampiran 3 Analisis sidik ragam efisiensi peggunaan pakan Source Model Error Corrected Total DF 3 8 11 Sum of Squares 92.1097011 57.2983844 149.4080855 Mean Square 30.7032337 7.162298 Lampiran 4 Analisis sidik ragam kecernaan bahan kering Source Model Error Corrected Total DF 3 8 11 Sum of Squares 60.7628917 149.4076 210.1704917 Mean Square 20.2542972 18.67595 Lampiran 5 Analisis sidik ragam kecernaan bahan organik Source Model Error Corrected Total DF 3 8 11 Sum of Squares 30.8009011 141.1644606 171.9653617 Mean Square 10.266967 17.6455576 Lampiran 6 Analisis sidik ragam kadar air ransum komplit Source DF Type III SS Mean Square F Value Pr > F bentuk 2 0.40242222 0.20121111 2.65 0.1110 lamapenyimpanan 2 9.85662222 4.92831111 65.02 <.0001 bentuk*lamapenyimpan 4 1.25755556 0.31438889 4.15 0.0245 r(bentuk) 6 0.45111111 0.07518519 0.99 0.4726 41 Lampiran 7 Uji lanjut Duncan kadar air ransum komplit Means with the same letter are not significantly different. Duncan Grouping Mean N interaksi A 16.9133 3 Pelet2 B A 16.7333 3 Mash2 B A 16.6967 3 Wafer2 B C 16.3833 3 Mash1 D C 16.0800 3 Wafer1 D 15.8733 3 Pelet1 D 15.7933 3 Pelet0 E 15.1900 3 Mash0 E 14.9267 3 Wafer0 Lampiran 8 Analisis sidik ragam aktivitas air ransum komplit Source DF Type III SS Mean Square F Value Pr > F bentuk 2 0.00069030 0.00034515 3.40 0.0675 lamapenyimpanan 2 0.00122585 0.00061293 6.04 0.0153 bentuk*lamapenyimpan 4 0.00058926 0.00014731 1.45 0.2766 r(bentuk) 6 0.00030311 0.00005052 0.50 0.7982 Lampiran 9 Limbah taoge kacang hijau 42 Lampiran 10 Penyimpanan ransum komplit Lampiran 11 Ransum komplit berbentuk pelet penyimpanan 2 bulan Lampiran 12 Ransum komplit berbentuk wafer penyimpanan 2 bulan
Dokumen baru
Dokumen yang terkait
Tags

Evaluation of Complete Ration Containing Mung..

Gratis

Feedback