Feedback

Analisis Risiko Produksi Tomat Cherry pada PD Pacet Segar Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat

Informasi dokumen
I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertanian merupakan salah satu sektor kehidupan yang bidang pekerjaannya berhubungan dengan pemanfaatan alam sekitar dengan menghasilkan produk pertanian yang diperlukan oleh seluruh kalangan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan jasmaninya. Salah satu sektor pertanian yang menjadi pusat perhatian adalah sub sektor hortikultura. Hal ini disebabkan komoditi hortikultura satu-satunya yang volume impornya meningkat dari tahun 2008 ke tahun 2009. Tabel 1. No 1 2 3 Perkembangan Ekspor Impor Komoditas Pertanian Indonesia Tahun 2008 – 2009 Sub Sektor Ekspor Tanaman Pangan Impor Hortikultura Perkebunan 2008 (US$000) 348.883 2009 Perkembangan (US$000) (%) 321.261 -8,60 3.526.957 2.737.862 -28,82 Ekspor 433.921 379.739 -14,27 Impor 926.045 1.077.463 14,05 Ekspor 27.369.363 21.581.669 -26,82 Impor 4.535.918 3.949.191 -14,86 Sumber : Departemen Pertanian, 2011 (diolah) Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa laju pertumbuhan nilai impor dari tahun 2008 sampai tahun 2009 untuk setiap sub sektor pertanian cenderung menurun, hal ini juga diikuti oleh penurunan nilai ekspor. Berbeda dengan sub sektor hortikultura mengalami peningkatan nilai impor sebesar 14,05 persen. Peningkatan impor di sub sektor hortikultura ini perlu dilakukan analisis, untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan peningkatan impor tersebut. Peningkatan impor tersebut selain disebabkan karena permintaan konsumen domestik yang lebih menyukai produk luar negeri, juga disebabkan ketidakmampuan dalam memproduksi produk-produk hortikultura, seperti produksi menurun dan terjadinya gagal panen. Sub sektor hortikultura terbagi atas sayuran, buah-buahan, tanaman hias dan tanaman biofarmaka. Beberapa produk hortikultura seperti sayuran, buah- buahan, dan tanaman biofarmaka sangat berguna bagi kebutuhan tubuh seperti sumber vitamin, mineral, penyegar, pemenuhan kebutuhan akan serat dan kesehatan. Oleh karena itu produk-produk hortikultura perlu ditingkatkan maupun dikembangkan selain untuk memenuhi permintaan konsumen yang semakin meningkat juga karena berpotensi dalam meningkatkan penghasilan. Sayuran adalah salah satu produk hortikultura. Sayuran memiliki karakteristik yang berbeda dengan komoditi lainnya. Komoditi ini memiliki risiko yang cukup besar yang menyebabkan ketergantungan antara pasar dengan konsumen dan produsen. Sayuran merupakan salah satu bahan makanan penting serta relatif murah dan cukup tersedia di Indonesia, yang memiliki kondisi agroklimat sesuai untuk tumbuh dan berproduksi dengan baik. Kandungan vitamin dan mineral yang lengkap serta bervariasi juga banyak mengandung serat menyebabkan sayuran dapat dijadikan sebagai bahan makanan bergizi yang dapat menunjang kesehatan (Rahardi et al. 2001). Propinsi Jawa Barat merupakan salah satu daerah penghasil komoditi sayuran di Indonesia. Dengan dukungan kondisi alamnya, Jawa Barat menjadi salah satu sentra produksi sayuran di Indonesia. Daerah Jawa Barat memproduksi beberapa jenis sayuran diantaranya adalah tomat, wortel, kentang, kol, bawang merah, dan bawang putih. Berdasarakn data yang diperoleh dari Departemen Pertanian, dari keenam komoditi diatas, hanya komoditi tomat yang produksinya relatif meningkat setiap tahun, yaitu 1,31 persen per tahun. Peningkatan produksi ini disebabkan oleh dua faktor, yaitu peningkatan luas lahan yang dipanen dan peningkatan produktivitas tanaman. Berdasarkan data statistik Departemen Pertanian, peningkatan produksi tomat di daerah Jawa Barat disebabkan oleh produktivitas tomat dari tahun 2000 – 2010, yaitu dari 21,5 ton/ha pada tahun 2000 menjadi 30,5 ton/ha pada tahun 2010. Data produksi keenam jenis sayuran tersebut dari tahun 2000 – 2010 dapat dilihat pada Tabel 2. 2 Tabel 2. Produksi Sayuran di Jawa Barat Tahun 2000 – 2010 (satuan ton) Kol (Kubis) Bawang Merah Bawang Putih 462.800 501.381 122.389 1.374 153.854 385.618 490.449 103.326 177 313.926 144.703 363.327 431.208 96.619 1.311 2003 261.493 182.683 375.167 438.091 120.219 1.415 2004 240.605 203.591 418.230 454.815 121.194 1.331 2005 286.285 215.177 359.891 434.576 118.795 579 2006 241.091 192.964 349.158 351.092 112.964 751 2007 267.220 130.659 337.368 369.517 116.142 549 2008 269.404 136.378 292.253 280.362 116.929 460 2009 309.653 128.253 320.542 298.332 123.587 10 2010 304.774 113.576 275.101 286.647 116.396 73 2011 354.832 115.296 220.155 270.780 101.273 892 1,31 - 2,07 - 4,59 - 4,89 - 0,04 101,78 Tahun Tomat Wortel 2000 291.036 157.830 2001 264.894 2002 % rata-rata pertumbuhan Kentang Sumber : Deptan, 2012 (diolah) Data pada Tabel 2 merupakan data produksi tomat secara keseluruhan. Berdasarkan bentuknya, tomat dibedakan menjadi lima, yaitu : 1. Tomat biasa (Lycopersicum esculentum Mill, var. Commune Bailey). Berbentuk bulat pipih tidak teratur, sedikit beralur terutama di dekat tangkai. Tomat jenis ini banyak ditemui di pasar-pasar lokal. 2. Tomat apel/pir (Lycopersicum esculentum Mill, var. Pyriforme Alef). Berbentuk bulat seperti buah apel atau pir. 3. Tomat kentang atau tomat daun lebar (Lycopersicum esculentum Mill, var. Grandifolium Bailey). Berbentuk bulat besar, padat dan kompak. Ukuran buahnya lebih besar dibandingkan tomat apel. 4. Tomat tegak (Lycopersicum esculentum Mill, var. Validum Bailey). Buahnya berbentuk agak lonjong dan teksturnya keras. Sementara itu, daunnya rimbun, berbentuk keriting, berwarna kelam. Pertumbuhan tanaman agak tegak dengan percabangan mengarah ke atas 3 5. Tomat cherry (lycopersicum esculentum Mill, var. Cerasiforme Alef). Buahnya berukuran kecil berbentuk bulat atau bulat memanjang. Warnanya merah atau kuning. Tomat mungil ini berasal dari Ekuador atau Peru. Diantara kelima jenis tomat di atas, tomat cherry memiliki keunggulan ekonomis dibandingkan tomat jenis lain. Keunggulan terletak pada harga jual yang tinggi dan relatif stabil. Perusahaan/petani yang membudidayakan tomat cherry sedikit, karena benihnya tidak dijual umum dipasaran, sehingga harga jual tomat cherry relatif stabil, karena tidak pernah terjadi panen raya atau panen secara besar-besaran seperti tomat sayur. Harga jual tomat cherry dalam periode 2 tahun terakhir berkisar antara Rp 7.500,00 – Rp 8.500,00 per kg (PD Pacet Segar 2012). Teknologi budidaya yang digunakan dalam membudidayakan tomat cherry yaitu secara konvensial dan greenhouse. Tomat cherry merupakan salah satu jenis tomat yang lebih banyak dibudidayakan dengan sistim hidroponik di greenhouse karena hama dan penyakit tanaman dapat dikendalikan sehingga dapat meminimalisir tanaman terserang hama dan penyakit. Namun untuk membudidayakan secara hidroponik itu harus memiliki keahlian khusus dan membutuhkan investasi yang sangat besar, sehingga beberapa perusahaan/petani yang memiliki modal yang tidak terlalu besar lebih memilih membudidayakan tomat cherry dengan sistim konvensional. PD Pacet Segar yang berlokasi di Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur Propinsi Jawa Barat merupakan salah satu perusahaan yang membudidayakan tomat cherry. Selain PD Pacet Segar, PT Saung Mirwan juga membudidayakan tomat cherry di kawasan Cipanas. Namun kedua perusahaan ini membudidayakan tomat cherry dengan sistim yang berbeda. PT Saung Mirwan membudidayakan tomat cherry dengan sistim hidroponik menggunakan greenhouse, sedangkan PD Pacet Segar membudidayakannya dengan sistim konvensional. Membudidayakan tomat cherry dengan sistim konvensional tidak berbeda dengan membudidayakan tomat jenis lain. Budidaya tomat cherry secara konvensional ini sangat bergantung dengan alam sehingga menyebabkan fluktuasi produktivitas tomat cherry. Adanya 4 fluktuasi tersebut, maka diidentifikasi perusahaan menghadapi risiko produksi dalam membudidayakan tomat cherry. 1.2. Perumusan Masalah PD Pacet Segar yang berlokasi di Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat merupakan satu-satunya perusahaan yang membudidayakan tomat cherry dengan sistim konvensional. Dalam satu siklus produksi, tomat cherry yang dibudidayakan adalah 2000 tanaman. Dalam melakukan budidaya, perusahaan menghadapi risiko produksi. Berdasarkan informasi dari pihak manajemen perusahaan, risiko produksi berpengaruh signifikan terhadap penerimaan perusahaan, namun penanganan terhadap risiko belum dilaksanakan dengan baik, hal ini terbukti dari produksi yang masih berfluktuasi. Data produksi dan produktifitas tomat cherry 10 periode terakhir dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 3. Produksi dan Produktivitas Tomat Cherry pada PD Pacet Segar dari Mei 2010 – Februari 2012 Periode Waktu 1 Mei - Agustus 2010 2 Juli - Oktober 2010 3 September - Desember 2010 4 November 2010 - Februari 2011 5 Januari - April 2011 6 Maret - Juni 2011 7 Mei - Agustus 2011 8 Juli - Oktober 2011 9 September - Desember 2011 10 November 2011 - Februari 2012 Sumber : PD Pacet Segar, Februari 2012 Produksi 2000 tanaman (kg) 3184 4538 2095 1268 540 2168 3520 5304 2360 626 Produktivitas (kg/tanaman) 1,59 2,27 1,05 0,63 0,27 1,08 1,76 1,66 1,18 0,31 Berdasarkan data pada Tabel 4, produksi dan produktivitas tomat cherry pada PD Pacet Segar mengalami fluktuasi dalam 10 periode terakhir (Mei 2010 – Februari 2012). Namun pada kenyataannya produktivitas tomat cherry pada PD Pacet Segar mengalami penurunan pada musim tanam tertentu. Budidaya tomat cherry dilakukan dengan sistim pola tanam dengan tujuan panen dapat kontinu setiap tiga hari sekali. Pengaturan pola tanam ini dilakukan setiap selang dua bulan sekali karena proses budidaya tomat cherry sebelum dimulai proses tanam 5 adalah dua bulan. Selanjutnya proses pemanenan juga dilakukan selama dua bulan dengan jangka waktu pemanenan tiga hari sekali atau dua kali dalam satu minggu. Pemanenan pada kondisi normal dilakukan sebanyak 15 kali penen. Produktivitas normal untuk tomat cherry yang dibudidayakan secara konvensional adalah 1,5 – 2,5 kg/tanaman (kasie produksi PD Pacet Segar). Fluktuasi ini menunjukkan adanya risiko produksi yang dihadapi oleh perusahaan. Risiko produksi yang dihadapi memiliki dampak bagi perusahaan. Dampak tersebut bisa berdampak positif maupun negatif. Untuk itu maka perlu dilakukan analisis terhadap peluang dan dampak dari sumber risiko tersebut terhadap pendapatan perusahaan. Besarnya peluang dan dampak sumber risiko terhadap pendapatan menuntut perusahaan untuk lebih bijaksana dalam mengambil keputusan untuk mengatasi risiko agar perusahaan dapat berproduksi optimal dan memperoleh keuntungan. Dengan mempertimbangkan kondisi yang telah diuraikan di atas, maka permasalahan yang dapat dirumuskan dalam penelitian adalah sebagai berikut : 1. Apa saja sumber-sumber risiko produksi tomat cherry pada PD Pacet Segar? 2. Berapa besar probabilitas dan dampak dari sumber-sumber risiko produksi tomat cherry terhadap penerimaan PD Pacet Segar? 3. Bagaimana alternatif strategi yang diterapkan dalam mengatasi risiko produksi tomat cherry yang dihadapi oleh PD Pacet Segar? 1.3. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk : 1. Mengidentifikasi sumber-sumber risiko produksi tomat cherry pada PD Pacet Segar. 2. Menganalisis probabilitas dan dampak sumber-sumber risiko produksi tomat cherry terhadap penerimaan PD Pacet Segar. 3. Menganalisis alternatif strategi yang diterapkan untuk mengatasi risiko produksi yang dihadapi oleh usaha budidaya tomat cherry pada PD Pacet Segar. 6 1.4. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat, diantaranya : 1. Sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi perusahaan dalam mengambil keputusan bisnis, sehingga perusahaan dapat mengambil keputusan yang tepat. 2. Sebagai bahan rujukan untuk penelitian selanjutnya, sehingga penelitian selanjutnya dapat menganalisis lebih baik lagi khususnya penulisan ilmiah tentang risiko produksi tomat cherry. 3. Menambah wawasan dan pengalaman peneliti. 7 II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Umum Tomat Cherry Tomat (Lycopersicon esculentum) termasuk dalam famili Solanaceae. Tomat varietas cerasiforme (Dun) Alef sering disebut tomat cherry yang didapati tumbuh liar di Ekuador dan Peru, dan telah menyebar luas di seluruh dunia, dan di beberapa negara tropis menjadi berkembang secara alami (Harjadi 1989). Tomat cherry memiliki beberapa varietas diantaranya adalah Royal Red Cherry yang berdiameter 3.1 - 3.5 cm dan Short Red Cherry yang berdiameter 2 - 2.5 cm, Oregon Cherry yang diameternya 2.5 - 3.5 cm dengan bobot 10 - 20 g, serta Golden Pearl yang bobotnya 8 - 10 g dan Season Red yang bobotnya 25 g diproduksi oleh Known You Seed di Taiwan (Cahyono 2008) Tomat merupakan tanaman perdu semusim, berbatang lemah dan basah. Daunnya berbentuk segitiga. Bunganya berwarna kuning. Buahnya buah buni, hijau waktu muda dan kuning atau merah waktu tua. Berbiji banyak, berbentuk bulat pipih, putih atau krem, kulit biji berbulu. Perbanyakan dengan biji kadangkadang dengan setek batang cabang yang telah tua. Tomat secara umum dapat ditanam di dataran rendah, medium, dan tinggi, tergantung varietasnya. Namun, kebanyakan varietas tomat hasilnya lebih memuaskan apabila ditanam di dataran tinggi yang sejuk dan kering sebab tomat tidak tahan panas terik dan hujan. Suhu optimal untuk pertumbuhannya adalah 23° C pada siang hari dan 17° C pada malam hari. Tanah yang cocok untuk tanaman ini adalah tanah itu banyak mengandung humus, gembur, sarang, dan berdrainase baik. Sedangkan keasaman tanah yang ideal untuknya adalah netral, yaitu sekitar 6-7. Proses budidaya tomat cherry tidak berbeda dengan budidaya tomat jenis lain, yaitu dimulai dari persiapan media tanam, pemeliharaan pembibitan/ penyemaian, pemindahan bibit / transplanting, persiapan media tanam, teknik penanaman dan penentuan pola tanam, pemeliharaan tanaman, hama dan penyakit tanaman dan panen. 2.2 Penelitian Terdahulu Risiko merupakan kemungkinan kejadian yang akan menimbulkan dampak kerugian. Dalam menjalankan suatu bisnis, setiap keputusan selalu mengandung risiko. Oleh sebab itu kejelian menanggapi dan meminimalisir risiko merupakan sesuatu yang harus dilakukan setiap perusahaan. Terutama agribisnis yang merupakan usaha dengan makhluk hidup sebagai objek usaha yang sangat membutuhkan penanganan risiko yang efektif. Sumber-sumber risiko pada usaha produksi pertanian sebagian besar berasal dari faktor-faktor teknis seperti perubahan suhu, hama dan penyakit, penggunaan input serta kesalahan teknis dari tenaga kerja. Terdapat beberapa penelitian yang menganalisis risiko pada komoditi hortikultura seperti Purwanti (2011), Situmeang (2011), Cher (2011), Parengkuan (2011), Ginting (2009), Tarigan (2009), dan Wisdya (2009) yang masing masing menemukan sumber risiko pada produksi sayuran hidroponik, cabai merah keriting, sayuran organik, jamur putih, jamur tiram, dan Anggrek Phaleonopsis. Risiko produksi pada umumnya meliputi teknik budidaya, human error, serangan hama dan penyakit tanaman, gangguan teknologi irigasi (hidroponik) dan cuaca/iklim yang tidak pasti. Hasil penilaian risiko dengan menggunakan ukuran coeffisient variation (Purwanti 2011) adalah 0,28 yang artinya untuk setiap satu kilogram hasil yang diperoleh akan mengalami risiko sebesar 0,28 kg. Perhitungan expected return sebesar 4,67 yang artinya perolehan hasil sebanyak 4,67 kg/m2. Situmeang (2011) memperoleh perhitungan coefficient variation besaran risiko yang dihadapi oleh petani Pondok Menteng dalam usahatani cabai merah keriting yaitu 0,5, artinya untuk setiap satu kilogram cabai merah keriting yang dihasilkan akan mengalami risiko sebesar 0,5 kg pada saat terjadi risiko produksi. Oleh karena itu dalam manajemen risiko, setelah mengidentifikasi sumber risiko dan melakukan pengukuran risiko maka dilakukan penanganan terhadap risiko. Strategi pengelolaan risiko tanaman cabai merah keriting yang dilakukan meliputi dua hal yaitu strategi preventif dan strategi mitigasi. Strategi preventif yaitu dengan melakukan perawatan secara rutin dan terencana mulai dari penyemaian sampai panen. Strategi mitigasi yakni diversifikasi tidak begitu menguntungkan karena dari hasil perhitungan portofolio besaran risiko yang dihasilkan sama yaitu sebesar 0,5. 9 Berdasarkan hasil perbandingan risiko yang telah dilakukan (Cher 2011) dapat dikatakan bahwa dari seluruh kegiatan usahatani, tingkat risiko paling tinggi berdasarkan produktivitas adalah komoditi brokoli pada kegiatan spesialisasi dengan perolehan nilai coefficient variation sebesar 0,564. Selain itu, juga dapat dilihat bahwa tingkat risiko paling rendah dari keseluruhan kegiatan usaha adalah komoditi wortel pada kegiatan spesialisasi dengan perolehan nilai coefficient variation sebesar 0,241. Tanaman wortel merupakan tanaman yang paling tahan terhadap ancaman kondisi cuaca yang buruk maupun ancaman serangan hama dan penyakit. Selain itu, wortel paling mudah dibudidayakan dibandingkan dengan komoditi sayuran organik lainnya seperti bayam hijau, caisin, dan brokoli. Tingkat risiko yang paling kecil berdasarkan produktivitas pada komoditi wortel, pada kenyataannya tidak membuat perusahaan hanya mengusahakan sayuran wortel saja. Hal tersebut karena permintaan konsumen terhadap sayuran organik sangat beragam. Oleh sebab itu, perusahaan melakukan kegiatan portofolio dalam usahataninya. Tingkat risiko produksi yang paling kecil pada kegiatan portofolio berdasarkan produktivitas adalah pada kombinasi komoditi wortel dan caisin dengan perolehan coefficient variation sebesar 0,273. Dari hasil analisis portofolio tersebut menunjukkan bahwa diversifikasi dapat meminimalkan risiko produksi. Hasil analisis probabilitas dan dampak risiko jamur putih (Parengkuan 2011) menunjukkan bahwa probabilitas dan dampak risiko terbesar ada pada sumber risiko kesalahan penanganan pada saat proses sterilisasi log dengan nilai sebesar 45,2 persen, sedangkan perubahan suhu udara merupakan merupakan sumber risiko yang memberikan dampak terbesar dengan nilai Rp 17.053.516,00 Berdasarkan status risiko diperoleh hasil bahwa kesalahan pada saat proses sterilisasi yang paling berisiko dan kemudian secara berurutan diikuti oleh akibat gangguan hama, perubahan suhu udara, dan penyakit. Penilaian risiko pada jamur tiram (Ginting 2009) diperoleh nilai coefficient variation sebesar 0,32. Artinya, untuk setiap satu satuan hasil produksi yang diperoleh Cempaka Baru, maka risiko (kerugian) yang dihadapi adalah sebesar 0,32 satuan. Nilai expected return sebesar 0,25. Artinya, usaha Cempaka Baru dapat mengharapkan perolehan hasil sebanyak 0,25 kg per baglog untuk setiap kondisi dalam proses budidaya yang telah diakomodasi oleh perusahaan. Hal 10 tersebut menunjukkan bahwa kegiatan budidaya jamur tiram putih memberi harapan perolehan hasil produksi sebesar 0,25 kg untuk setiap baglog jamur tiram putih. Analisis spesialisasi risiko produksi (Tarigan 2009) berdasarkan produktivitas pada brokoli, bayam hijau, tomat dan cabai keriting diperoleh risiko yang paling tinggi dari keempat komoditas adalah bayam hijau yaitu 0.225 yang artinya setiap satu satuan yang dihasilkan maka risiko yang dihadapi akan sebesar 0,225. Sedangkan yang paling rendah adalah cabai keriting yakni 0.048 yang artinya setiap satu satuan yang dihasilkan maka risiko yang dihadapi akan sebesar 0,048. Hal ini dikarena bayam hijau sangat rentan terhadap penyakit terutama pada musim penghujan. Berdasarkan pendapatan bersih diperoleh risiko yang paling tinggi dari keempat komoditas adalah cabai keriting yaitu 0.80 yang artinya setiap satu rupiah yang dihasilkan maka risiko yang dihadapi akan sebesar 0.80. Sedangkan yang paling rendah adalah brokoli yakni 0.16 yang artinya setiap satu rupiah yang dihasilkan maka risiko yang dihadapi akan sebesar 0.16. Hal ini dikarena penerimaan yang diterima lebih kecil sedangkan biaya yang dikeluarkan tinggi. Analisis risiko produksi yang dilakukan pada kegiatan portofolio menunjukkan bahwa kegiatan diversifikasi dapat meminimalkan risiko. Analisis spesialisasi risiko produksi berdasarkan produktivitas (Wisdya 2009) pada tanaman anggrek menggunakan bibit teknik seedling dan mericlone diperoleh risiko yang paling tinggi adalah tanaman anggrek teknik seedling yaitu sebesar 0,078 yang artinya setiap satu satuan yang dihasilkan maka risiko yang dihadapi akan sebesar 0,078. Pembahasan beberapa penelitian di atas, diperoleh variabel yang menjadi sumber risiko produksi pada komoditas agribisnis khususnya pada produk-produk hortikultura meliputi faktor cuaca, hama dan penyakit tanaman, teknologi budidaya, dan human error. variabel sumber risiko tersebut diduga menjadi sumber risiko pada budidaya tomat cherry pada PD Pacet Segar. Pengukuran terhadap risiko dilakukan untuk mengukur pengaruh sumbersumber risiko terhadap suatu kegiatan bisnis melalui penggunaan suatu alat analisis tertentu. Salah satu alat analisis yang digunakan dalam pengukuran risiko adalah koefisien variasi (coefficient variation), ragam (variance) dan simpangan 11 baku (standard deviation). Ketiga ukuran tersebut berkaitan satu sama lain, jika nilai ketiga indikator tersebut semakin kecil maka risiko yang dihadapi kecil. Ketiga alat analisis ini digunakan oleh Purwanti (2011), Cher (2011), Situmeang (2011), Tarigan (2009), Wisdya (2009) dan Ginting (2009) dalam penelitiannya. Berbeda dengan Pinto (2011), Dewiaji (2011), dan Parengkuan (2011) menggunakan perhitungan rata-rata kejadian berisiko, standart deviation, z-score, probabilitas, dan VaR. Setelah dilakukan perhitungan VaR, selanjutnya dilakukan pemetaan terhadap sumber-sumber risiko yang akhirnya muncul strategi penanganan terhadap risiko yang dihadapi. Silaban (2011), Widsya (2009), dan Tarigan (2009) menggunakan perhitungan tambahan terhadap nilai coefficient variation, variance dan standard deviation untuk spesialisasi dan diversifikasi. Beberapa penelitian terdahulu yang telah dijabarkan di atas merupakan referensi bagi peneliti dalam melakukan penelitian. Secara umum sumber risiko produksi yang dihadapi oleh perusahaan/petani untuk komoditas hortikultura adalah pengaruh perubahan cuaca, serangan hama, penyakit tanaman, kesalahan teknologi budidaya, dan sumber daya manusia. Dalam pengukuran risiko, alat analisis yang banyak digunakan adalah coefficient variation, variance dan standard deviation. Namun dalam pengukuran probabilitas dan dampak dari sumber risiko digunakan alat analisis Z-score dan VaR. Berdasarkan referensi penelitian terdahulu, peneliti akan menggunakan alat analisis z-score dan VaR. Setelah diperoleh nilai z-score dan VaR, maka selanjutnya akan dilakukan pemetaan sumber-sumber risiko pada peta risiko dan dilanjutkan dengan perumusan alternatif strategi untuk menangani risiko sehingga tujuan penelitian dapat terjawab. 12 III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Konsep Risiko Risiko menunjukkan situasi, dimana terdapat lebih dari satu kemungkinan dari suatu keputusan dan peluang dari kemungkinan-kemungkinan tersebut diketahui atau dapat diestimasi. Risiko mengharuskan manajer sebagai pengambil keputusan untuk mengetahui segala kemungkinan hasil dari suatu keputusan dan juga peluang dari kemungkinan-kemungkinan tersebut. Risiko berhubungan dengan ketidakpastian, hal ini sesuai dengan pendapat Kountur (2008), yaitu ketidakpastian itu sendiri terjadi akibat kurangnya atau tidak tersedianya informasi menyangkut apa yang akan terjadi. Selanjutnya dijelaskan ketidakpastian yang dihadapi perusahaan dapat berdampak merugikan atau menguntungkan. Robinson dan Barry (1987), risiko menunjukkan peluang terhadap suatu kejadian yang dapat diketahui oleh pelaku bisnis sebagai pembuat keputusan dalam bisnis. Secara umum peluang suatu kejadian dalam kegiatan bisnis dapat ditentukan oleh pembuat keputusan berdasarkan data historis atau pengalaman selama mengelola kegiatan usahanya. Risiko pada umumnya berdampak negatif terhadap pelaku bisnis. Sedangkan menurut Harwood, et al. (1999), risiko menunjukkan kemungkinan kejadian yang menimbulkan kerugian bagi pelaku bisnis yang mengalaminya. Basyib (2007) mendefinisikan risiko itu sendiri sebagai peluang terjadinya hasil yang tidak diinginkan, sehingga risiko hanya terkait dengan situasi yang memungkinkan munculnya hasil yang negatif serta berkaitan dengan kemampuan memperkirakan terjadinya hasil negatif tersebut. Kejadian risiko merupakan kejadian yang memunculkan kerugian atau peluang terjadinya hasil yang tidak diinginkan. Sementara itu kerugian oleh risiko memiliki arti kerugian yang diakibatkan kejadian risiko, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kerugian itu sendiri dapat berupa kerugian finansial maupun kerugian nonfinansial. 3.1.2. Jenis dan Sumber Risiko Menurut Harwood et al (1999), terdapat beberapa sumber risiko yang dapat dihadapi oleh petani, yaitu : 1. Risiko produksi Sumber risiko yang berasal dari kegiatan produksi diantaranya adalah gagal panen, rendahnya produktivitas, kerusakan barang yang ditimbulkan oleh serangan hama dan penyakit, perbedaan iklim dan cuaca, kesalahan sumberdaya manusia, dan masih banyak lagi. 2. Risiko Pasar atau Harga Risiko yang ditimbulkan oleh pasar diantaranya adalah barang tidak dapat dijual yang diakibatkan ketidakpastian mutu, permintaan rendah, ketidakpastian harga output, inflasi, daya beli masyarakat, persaingan, dan lain-lain. Sementara itu risiko yang ditimbulkan oleh harga antara lain harga dapat naik akibat dari inflasi. 3. Risiko Kebijakan Risiko yang ditimbulkan oleh kebijakan-kebijakan antara lain adanya kebijakan-kebijakan tertentu yang keluar dari dalam hal ini sebagai pemegang kekuasaan pemerintah yang dapat menghambat kemajuan suatu usaha. Dalam artian kebijakan tersebut membatasi gerak dari usaha tersebut. Contohnya adalah kebijakan tarif ekspor. 4. Risiko Finansial Risiko yang ditimbulkan oleh risiko finansial antara lain adalah adanya piutang tak tertagih, likuiditas yang rendah sehingga perputaran usaha terhambat, perputaran barang rendah, laba yang menurun akibat dari krisis ekonomi dan sebagainya. Kountur (2006) mengelompokkan jenis risiko berdasarkan sundut pandang. Risiko berdasarkan sudut pandangnya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu risiko berdasarkan akibat yang ditimbulkan dan berdasarkan penyebab timbulnya risiko tersebut. 14 Risiko yang dilihat dari akibat yang ditimbulkan dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu : 1. Risiko spekulatif adalah jenis risiko yang berakibat merugikan atau sebaliknya memberikan keuntungan. 2. Risiko murni adalah jenis risiko yang akibatnya tidak memungkinkan untuk memperoleh keuntungan dan yang ada hanyalah kerugian. Pengelompokan risiko berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu : 1. Risiko Keuangan merupakan jenis risiko yang disebabkan oleh faktorfaktor keuangan seperti perubahan harga, perubahan mata uang, dan perubahan tingkat suku bunga. 2. Risiko Operasional merupakan jenis risiko yang disebabkan oleh faktorfaktor operasional seperti faktor manusia, teknologi, dan alam. 3.1.3 Analisis Risiko Analisis risiko berhubungan dengan teori pengambilan keputusan (decision theory). Individu diasumsikan untuk bertindak rasional dalam mengambil keputusan bisnis. Alat analisis yang umumnya digunakan dalam menganalisis mengenai pengambilan keputusan yang berhubungan dengan risiko yaitu expected utility model. Analisis mengenai pengambilan keputusan yang berhubungan dengan risiko dapat menggunakan expected utility model. Model ini digunakan karena adanya kelemahan yang terdapat pada expected return model, yaitu bahwa yang ingin dicapai oleh seseorang bukan nilai (return) melainkan kepuasan (utility). Hubungan fungsi kepuasan dengan pendapatan dan expected return dengan varian return menggambarkan bagaimana perilaku seorang pelaku bisnis dalam mengambil keputusan terhadap risiko yang dihadapi. Hubungan tersebut dapat dilihat pada Gambar 1. 15 Utility(U) Expected Return U(y)3 U(y)2 U1 U(y)1 U2 U3 Y VaRian Return Gambar 1. Hubungan Antara varian Return dengan Expected Return dan Utilitas dengan Marginal Utility. Sumber : Debertin 1986 Berdasarkan pada Gambar 1, perilaku seseorang pelaku bisnis dalam menghadapi risiko dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori yaitu sebagai berikut: 1. Pembuat keputusan yang takut terhadap risiko (risk averter) menunjukkan jika U1 diasumsikan kurva isouliti pembuat keputusan maka adanya varian return yangmerupakan ukuran tingkat risiko akan diimbangi dengan kenaikan retur yang diharapkan. Pada kurva U(y)1 menunjukkan kepuasan marginal utiliti yang semakin menurun dari pendapatan. Meskipun tambahan pendapatan selalu meningkatkan kepuasan, namun demikian kenaikan kepuasan yang dihasilkan karena kenaikan pendapatan yang mendekati titik original akan lebih besar dari kenaikan kepuasan karena kenaikan pendapatan berikutnya. 2. Pembuat kuputusan yang netral terhadap risiko (risk neutral) menunjukkan jika U2 diasumsikan kurva isoulatiliti pembuat keputusan maka adanya kenaikan varian return yang merupakan ukuran tingkat risiko tidak akan diimbangi dengan menaikkan returnyang diharapkan. Pada kurva U(y)2 menunjukkan kepuasan marginal utiliti yang tetap terhadap penigkatan pendapatan. 3. Pembuat keputusan yang berani terhadap risiko (risk taker) menunjukkan jika U3 diasumsikan kurva isoutiliti pembuat keputusan maka adanya kenaikan varian return yang merupakan ukuran tingkat risiko akan 16 diimbangi oleh pembuat keputusan dengan kesediannya menerima return yang diharapkan lebih rendah. Sedangkan pada kurva U(y)3 menunjukkan kepuasan marginal utiliti yang semakin meningkat dari pendapatan. Fluktuasi harga dan hasil produksi akan menyebabkan fluktuasi pendapatan. Ukuran yang dapat digunakan untuk melihat besarnya risiko yang dihadapi suatu usaha adalah dengan mengetahui terlebih dahulu besar ragamnya (variance) atau simpangan baku (standard deviation) dari pendapatan bersih per periode atau return. Dimana jika risiko tinggi maka return juga akan meningkat ataupun sebaliknya. Hubungan risiko dan return dapat dilihat pada Gambar 2 Return Expected Return Risiko Gambar 2. Hubungan Risiko dengan Return Sumber : Hanafi 2006 Beberapa ukuran risiko yang dapat digunakan adalah nilai variance, standard deviation, dan coefficient variation. Nilai variance diperoleh dari hasil pendugaan fungsi produksi. Standard deviation diperoleh dari akar kuadrat nilai variance sedangkan coefficient variation diperoleh dari rasio antara standard deviation dengan expected return (Hanafi 2006). 3.1.4 Manajemen Risiko Manajemen risiko adalah suatu usaha untuk mengetahui, menganalisis serta mengendalikan risiko dalam setiap kegiatan perusahaan dengan tujuan untuk efektifitas dan efisiensi yang lebih tinggi. Karena itu perlu terlebih dahulu memahami tentang konsep-konsep yang dapat memberi makna, cakupan yang luas dalam rangka memahami proses manajemen tersebut. Hal ini sesuai dengan defenisi yang ditetapkan oleh (Darmawi 2005). 17 Cara-cara yang digunakan manajemen untuk menangani berbagai permasalahan yang disebabkan oleh adanya risiko merupakan defenisi manajemen risiko menurut (Kountur 2008). Keberhasilan perusahaan ditentukan oleh kemampuan manajemen menggunakan berbagai sumberdaya yang ada untuk mencapai tujuan perusahaan. Dengan adanya penanganan risiko yang baik, segala kemungkinan kerugian yang dapat menimpa perusahaan dapat diminimalkan sehingga biaya menjadi lebih kecil dan pada akhirnya perusahaan mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Selanjutnya Kountur mengatakan dalam menangani risiko yang ada dalam perusahaan diperlukan suatu proses yang dikenal dengan istilah proses pengelolaan risiko. Proses manajemen atau pengelolaan risiko dapat dilakukan dengan mengidentifikasi risiko-risiko apa saja yang dihadapi perusahaan, kemudian mengukur risiko-risiko yang telah teridentifikasi untuk mengetahui seberapa besar kemungkunan terjadinya risiko dan seberapa besar konsekuensi dari risiko tersebut. Tahap berikutnya yaitu dengan menangani risiko-risiko tersebut yang selanjutnya dilakukan evaluasi untuk mengetahui sejauh mana manajemen risiko telah diterapkan. Proses pengelolaan risiko perusahaan dapat dilihat pada Gambar 3. Identifikasi Risiko Pengukuran Risiko Penanganan Risiko Evaluasi Gambar 3. Proses Pengelolaan Risiko Perusahaan Sumber : Kountur 2008 Ada empat cara menangani risiko menurut (Kountur 2008), yaitu dengan cara menerima atau menghadapi risiko, menghindari risiko, mengendalikan risiko dan mengalihkan risiko. Mengendalikan risiko yaitu mengelola risiko dengan meminimalkan risiko melalui pencegahan, sedangkan mengalihkan risiko dapat dilakukan dengan mengalihkan kepada pihak lain seperti asuransi, hedging, leasing, outsourcing dan kontrak. 18 Melalui asuransi, asset perusahaan yang memiliki dampak risiko yang besar dapat terhindar dari kerugian apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan oleh perusahaan sehingga kerugian tersebut ditanggung oleh pihak asuransi sesuai dengan kontrak perjanjian yang telah disepakati oleh kedua pihak. Sedangkan leasing merupakan cara dimana asset digunakan oleh perusahaan namun kepemilikannya merupakan milik pihak lain sehingga bila terjadi sesuatu pada asset tersebut maka pemiliknya yang akan menanggung kerugian atas asset tersebut. Outsourcing merupakan suatu cara dimana pekerjaan diberikan kepada pihak lain untuk mengerjakannya sehingga bila terjadi kerugian maka pihak tersebut yang menanggung kerugiannya. Pengertian hedging menurut kamus yaitu menutup transaksi jual beli komoditas, sekuritas atau valuta yang sejenis untuk menghindari kemungkinan kerugian karena perubahan harga sedangkan hedging menurut pasar komoditas adalah proteksi dari risiko kerugian akibat fluktuasi harga Alternatif penanganan risiko pada produk pertanian dilakukan dengan berbagai cara yaitu dengan diversifikasi usaha, integrasi vertikal, kontrak produksi, kontrak pemasaran, perlindungan nilai dan asuransi. 3.2 Teknik Pemetaan Pemetaan risiko terkait dengan dua dimensi yaitu probabilitas terjadinya risiko dan dampaknya bila risiko tersebut terjadi. Probabilitas yang merupakan dimensi pertama menyatakan tingkat kemungkinan suatu risiko terjadi. Semakin tinggi tingkat kemungkinan risiko terjadi, semakin perlu mendapat perhatian. Sebaliknya, semakin rendah kemungkikan risiko terjadi, semakin rendah pula kepentingan manajemen untuk memberi perhatian kepada risiko yang bersangkutan. Umumnya probabilitas dibagi menjadi tiga kategori yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Dimensi kedua yaitu dampak, merupakan tingkat kegawatan atau biaya yang terjadi jika risiko yang bersangkutan benar-benar menjadi kenyataan. Semakin tinggi dampak suatu risiko, maka semakin perlu mendapat perhatian khusus. Sebaliknya, semakin rendah dampak yang terjadi dari suatu risiko maka semakin rendah pula kepentingan manajemen untuk mengalokasikan sumber daya untuk menangani risiko yang bersangkutan. Umumnya dimensi dampak dibagi 19 menjadi tiga tingkat yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Pembagian matriks pada pemetaan risiko dapat dilihat pada Gambar 4 . Probabilitas (%) Tinggi Kuadran 1 Kuadran 2 Kuadran 3 Kuadran 4 Sedang Rendah Rendah Sedang Tinggi Dampak (Rp) Gambar 4. Peta Risiko Sumber : Kountur 2008 Berdasarkan pada Gambar 4, ada empat kuadran utama pada peta risiko. Kuadran I merupakan area dengan tingkat probabilitas kejadian yang tinggi, namun dengan dampak yang rendah. Risiko yang secara rutin terjadi ini tidak terlalu mengganggu pencapaian tujuan dan target perusahaan. Kadangkadang terasa mengganggu bila risiko yang bersangkutan muncul sebagai kenyataan. Biasanya, perusahaan mampu dengan cepat mengatasi dampak yang muncul. Kuadran II merupakan area dengan tingkat probabilitas sedang sampai tinggi dan tingkat dampak sedang sampai tinggi. Pada kuadran II merupakan kategori risiko yang masuk ke dalam prioritas utama. Bila risiko-risiko pada kuadran II terjadi akan menyebabkan terancamnya pencapaian tujuan perusahaan. Kuadran III merupakan risiko dengan tingkat probabilitas kejadian yang rendah dan mengandung dampak yang rendah pula. Risiko-risiko yang muncul pada kuadran III cenderung diabaikan sehingga perusahaan tidak perlu mengalokasikan sumberdayanya untuk menangani risiko tersebut. Walaupun demikian, manajemen tetap perlu untuk memonitor risiko yang masuk dalam kuadran III karena suatu risiko bersifat dinamis. Risiko yang saat ini masuk dalam 20 kuadran III dapat pindah ke kuadran lain bila ada perubahan ekternal maupun internal yang signifikan. Kuadran IV merupakan area dengan tingkat probabilitas kejadian antara rendah sampai sedang, namun dengan dampak yang tinggi. Artinya, risiko-risiko dalam kuadran IV cukup jarang terjadi tetapi apabila sampai terjadi maka akan mengakibatkan tidak tercapainya tujuan dan target perusahaan. 3.3 Kerangka Pemikiran Operasional Tomat cherry merupakan salah satu komoditas pertanian yang potensial untuk dikembangkan, khususnya bagi PD Pacet Segar karena memilki nilai eknomis dan tinggi. Namun dalam pelaksanaan proses produksinya menghadapi risiko, salah satunya adalah risiko produksi. Untuk mengetahui tingkat risiko prduksi yang dihadapi oleh perusahaan, maka dilakukan analisis risiko dengan mengkaji faktor penyebab atau sumber risiko produksi. Untuk meminimalkan risiko produksi yang ada, maka dilakukan analisis risiko produksi dengan menggunakan analisis deskriptif yaitu berupa wawancara dan diskusi dengan pihak perusahaan. Selanjutnya dilakukan analisis strategi yang dilakukan untuk mengatasi risiko produksi yang baik dan efektif bagi perusahan PD Pacet Segar. Alur kerangka pemikiran operasional dapat dilihat pada Gambar 5. Fluktuasi produktivitas tomat cherry pada PD Pacet Segar Risiko produksi tomat cherry Analisis Risiko 1. Z-score 2. VaR 1. 2. 3. 4. 5. Analisis Deskriptif (sumber risiko) pengaruh cuaca hama penyakit pemupukan kualitas bibit Pemetaan Risiko Alternatif strategi pengelolaan risiko produksi tomat cherry pada Pacet Segar Gambar 5. Kerangka Pemikiran Operasional Analisis Risiko Produksi Tomat Cherry 21 IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan waktu Penelitian ini dilakukan di PD Pacet Segar milik Alm Bapak H. Mastur Fuad yang beralamat di Jalan Raya Ciherang no 48 Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan PD Pacet Segar ini merupakan satusatunya produsen tomat cherry di Kecamatan Cipanas. Pengumpulan data ini dilakukan pada PD Pacet Segar mulai dari bulan Maret sampai dengan April 2012. 4.2. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder, kedua data ini bersifat kuantitatif dan kualitatif. Data pimer diperoleh dari hasil pengamatan langsung dan wawancara dengan pihak perusahaan. Untuk memperoleh informasi tentang perusahaan dan alternatif strategi yang diambil untuk menangani risiko adalah pemimpin perusahaan, sedangkan untuk memperoleh informasi tentang budidaya tomat cherry, wawancara dilakukan dengan bagian produksi. Data primer berisikan tentang teknik pengelolaan risiko atau manajemen risiko yang dilakukan oleh perusahaan. Data sekunder diperoleh dari buku, artikel, skripsi, jurnal, serta data-data instansi terkait yang mendukung penelitian seperti Badan Pusat Statistik, Dirjen Hortikultura, Departemen Pertanian, internet, dan literatur yang relevan dengan penelitian. 4.3 Metode Pengumpulan Data Sumber data yang digunakan dalam penelitan ini adalah data primer yang diperoleh dengan cara observasi, wawancara, diskusi, dan kuisioner dengan phak perusahaan. Observasi dilakukan langsung oleh peneliti dengan pencatatan secara langsung tentang aktifitas produksi dan risiko yang dihadapi dalam produksi tomat cherry. Wawancara akan dilakukan dengan pihak perusahaan yaitu bagian produksi tentang risiko yang biasa muncul/dihadapi oleh perusahaan dalam proses budidaya tomat cherry. Proses pengambilan data dan penentuan responden dilakukan dengan metode judgement/purposive sampling dengan pertimbangan responden memiliki kapabilitas dalam memberikan data-data yang akurat. Responden merupakan pihak yang berhubungan dan mengetahui dengan jelas tentang produksi tomat cherry dan risiko yang dihadapi perusahaan. 4.4 Metode Analisis Data Data primer dan data sekunder yang diperoleh akan dijadikan sebagai acuan pada penelitian ini. Kedua data ini akan diolah dan dianalisis melalui beberapa metode analisis yang digunakan. Metode analisis yang digunakan untuk menjawab tujuan penelitian disajikan dalam Tabel 5. Tabel 4. Jenis, Sumber Data dan Metode Analisis yang Digunakan Dalam Penelitian No Tujuan Penelitian 1 2 3 Jenis Data Mengidentifikasi sumberKualitatif sumber risiko budidaya tomat cherry Menganalisis seberapa besar Kuantitatif probabilitas dan dampak risiko produksi pada budidaya tomat cherry Menganalisis alternatif manajemen risiko yang diterapkan untuk mengatasi risiko yang dihadapi Kualitatif Sumber Data Wawancara, kuesioner, diskusi Laporan keuangan dan produksi tomat cherry PD Pacet Segar Wawancara, kuesioner, diskusi Metode Analisis Analisis Deskriptif Analisis Risiko Analisis Deskriptif Berdasarkan informasi pada Tabel 5, metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis risiko. Analisis risiko digunakan untuk menjawab tujuan penelitian yang kedua, yaitu menganalisis seberapa besar probability dan dampak risiko produksi pada usaha budidaya tomat cherry, data untuk analisis ini menggunakan data kuantitatif. Sumber data kuantitatif adalah laporan keuangan perusahaan dan produksi tomat cherry pada PD Pacet Segar.. Laporan ini dapat memberikan informasi mengenai data yang dicari, karena penilaian risiko digunakan dengan mengukur nilai penyimpangan terhadap return dari suatu asset. Analisis deskriptif digunakan untuk menjawab tujuan penelitian yang pertama dan ketiga, yaitu menganalisis sumber-sumber risiko yang ada pada budidaya tomat cherry dan alternatif manajemen risiko yang diterapkan untuk mengatasi risiko 23 yang dihadapi. Adapun data yang digunakan untuk analisis ini adalah data kualitatif. Sumber data kualitatif diperoleh melalui kuesioner dan wawancara dengan pihak perusahaan 4.4.1 Analisis Deskriptif Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis sumber-sumber risiko dan alternatif manajemen risiko yang diterapkan oleh perusahaan untuk meminimalkan risiko dan ketidakpastian yang dihadapi. Manajemen risiko yang diterapkan berdasarkan pada penilaian perusahaan sebagai pengambil keputusan secara subjektif. Identifikasi ini dilakukan untuk melihat apakah manajemen risiko yang diterapkan efektif untuk meminimalkan risiko. Hal tersebut didasarkan pada tingkat risiko yang dihadapi oleh perusahaan. 4.4.2 Analisis Kemungkinan Terjadinya Risiko Risiko dapat diukur jika diketahui kemungkinan terjadinya risiko dan besarnya dampak risiko terhadap perusahaan. Ukuran pertama dari risiko adalah besarnya kemungkinan terjadinya yang mengacu pada seberapa besar probabilitas risiko akan terjadi. Metode yang digunakan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya risiko adalah metode nilai standar atau z-score. Metode ini dapat digunakan apabila ada data historis dan berbentuk kontinus (desimal). Pada penelitian ini, yang akan dihitung adalah kemungkinan terjadinya risiko pada kegiatan produksi adalah data produksi tomat cherry pada 10 periode terakhir. Menurut (Kountur 2006), langkah yang perlu dilakukan untuk melakukan perhitungan kemungkinan terjadinya risiko menggunakan metode ini dan aplikasinya pada budidaya tomat cherry ini adalah: 1. Menghitung rata-rata kejadian berisiko (penurunan produksi tomat cherry) Rumus yang digunakan untuk menghitung rata-rata penururnan produksi tomat adalah: x= Dimana: xi n n i=1 xi n = Nilai rata-rata dari kejadian berisiko = Nilai per periode kejadian berisiko = Jumlah data 24 2. Menghitung nilai standar deviasi dari kejadian berisiko �= Dimana: 3. � �=1 �� − � �−1 s = Standar deviasi dari kejadian berisiko xi = nilai per periode dari kejadian berisiko = Nilai rata-rata dari kejadian berisiko n = Jumlah data Menghitung z-score Dimana: �= �−� � z = Nilai z-score dari kejadian berisiko x = Batas risiko yang dianggap masih dalam taraf normal = Nilai rata-rata dari kejadian berisiko s = Standar deviasi dari kejadian berisiko Jika hasil z-score yang diperoleh bernilai negatif, maka nilai tersebut berada di sebelah kiri nilai rata-rata pada kurva distribusi normal dan sebaliknya jika nilai z=score positif, maka nilai tersebut berada di sebelah kanan kurva distribusi z (normal). 4. Mencari probabilitas terjadinya risiko produksi Setelah nilai z-score dari budidaya tomat cherry diketahui, maka selanjutnya dapat dicari probabilitas terjadinya risiko produksi yang diperoleh dari Tabel distribusi z (normal) sehingga dapat diketahui berapa persen kemungkinan terjadinya keadaan dimana produksi tomat cherry yang mendatangkan kerugian. 4.4.3 Analisis Dampak Risiko Metode yang paling efektif digunakan dalam mengukur dampak risiko adalah VaR (Value at Risk). VaR adalah kerugian terbesar yang mungkin terjadi dalam rentang waktu tertentu yang diprediksikan dengan tingkat kepercayaan tertentu. Penggunaan VaR dalam mengukur dampak risiko hanya dapat dilakukan apabila terdapat data historis sebelumnya. Analisis ini dilakukan untuk mengukur dampak dari risiko pada kegiatan budidaya tomat cherry. kejadian yang dianggap merugikan berupa penurunan produksi sebagai akibat dari terjadinya sumbersumber risiko. Dalam menghitung VaR terlebih dahulu dihitung jumlah penurunan 25 produksi tomat cherry setiap periode. Jumlah penurunan tersebut (dari batas normal) kemudian dikalikan dengan harga yang terjadi pada periode yang sama dan dikali berat rata-rata yang terjadi pada periode yang sama. Setelah didapat angka kerugian dari masing-masing periode kemudian dijumlahkan dan dihitung rata-ratanya, setelah itu dicarai berapa besar nilai standar deviasi atau penyimpangan. Proses terakhir menetapkan batas toleransi kevalidan dan mencari nilai VaR. Nilai VaR dapat dihitung dengan rumus berikut : (Kountur 2006). ��� = � + � � � Dimana: VaR = Dampak kerugian yang ditimbulkan oleh kejadian berisiko = Nilai rata-rata kerugian akibat kejadian berisiko z = Nilai z yang diambil dari tabel distribusi normal dengan alfa 5% s = Standar deviasi kerugian akibat kejadian berisiko n = Banyaknya kejadian berisiko 4.4.4 Pemetaan Risiko Menurut Kountur 2006, sebelum dapat menangani risiko, hal yang terlebih dahulu perlu dilakukan adalah membuat peta risiko. Peta risiko adalah gambaran mengenai posisi risiko pada suatu peta dari dua sumbu, yaitu sumbu vertikal yang menggambarkan probabilitas dan sumbu horizontal yang menggambarkan dampak, ataupun sebaliknya. Contoh layout peta risiko dapat dilihat pada Gambar 6. Probabilitas (%) Besar Kuadran 1 Kuadran 2 Kuadran 3 Kuadran 4 Kecil Kecil Besar Dampak (Rp) Gambar 6. Peta Risiko Sumber : (Kountur 2006) 26 Probabilitas atau kemungkinan terjadinya risiko dibagi menjadi dua bagian, yaitu besar dan kecil. Dampak risiko juga dibagi menjadi dua bagian, yaitu besar dan kecil. Batas antara probabilitas atau kemungkinan besar dan kecil ditentukan oleh manajemen, tetapi pada umumnya risiko yang probabilitasnya 20 persen atau lebih dianggap sebagai kemungkinan besar, sedangkan kurang dari 20 persen dianggap sebagai kemungkinan kecil (Kountur 2006). 4.4.5 Penanganan Risiko Berdasarkan hasil pemetaan risiko, maka selanjutnya dapat ditetapkan strategi penanganan risiko yang sesuai. Terdapat dua strategi yang dapat dilakukan untuk menangani risiko, yaitu: 1. Penghindaran Risiko (Preventif) Strategi preventif dilakukan untuk risiko yang tergolong dalam probabilitas risiko yang besar. Strategi preventif akan menangani risiko yang berada pada kuadran 1 dan 2. Penanganan risiko dengan menggunakan strategi preventif, maka risiko yang ada pada kuadran 1 akan bergeser menuju kuadran 3 dan risiko yang berada pada kuadran 2 akan bergeser menuju kuadran 4 (Kountur 2006). Penanganan risiko menggunakan strategi preventif dapat dilihat pada Gambar 7. Probabilitas (%) Besar Kuadran 1 Kuadran 2 Kuadran 3 Kuadran 4 Kecil Kecil Besar Dampak (Rp) Gambar 7. Preventif Risiko Sumber : (Kountur 2006) 27 2. Mitigasi Risiko Strategi mitigasi digunakan untuk meminimalkan dampak risiko yang terjadi. Risiko yang berada pada kuadran dengan dampak yang besar diusahakan dengan menggunakan strategi mitigasi dapat bergeser ke kuadran yang memiliki dampak risiko yang kecil. Strategi mitigasi akan menangani risiko sedemikian rupa sehingga risiko yang berada pada kuadran 2 bergeser ke kuadran 1 dan risiko yang berada pada kuadran 4 bergeser ke kuadran 3. Strategi mitigasi dapat dilakukan dengan metode diversifikasi, penggabungan, dan pengalihan risiko (Kountur 2006). Mitigasi risiko dapat dilihat pada Gambar 8. Probabilitas (%) Besar Kuadran 1 Kuadran 2 Kuadran 3 Kuadran 4 Kecil Kecil Besar Dampak (Rp) Gambar 8. Mitigasi Risiko Sumber : (Kountur 2006) 28 V KERAGAAN PERUSAHAAN 5.1 Sejarah dan Perkembangan Perusahaan Perusahaan Dagang (PD) Pacet Segar, merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang budidaya dan pemasaran komoditas holtikultura, khususnya sayuran segar. PD Pacet Segar didirikan oleh Alm. Bapak H. Mastur Fuad pada tahun 1970. Pada awalnya PD Pacet Segar merupakan suatu usaha dengan skala kecil yang dilakukan pada sebidang lahan seluas 400 m2 dan merupakan suatu usaha produksi pertanian yang dikelola secara kekeluargaan. Seiring dengan perjalanan waktu, pada waktu 1975 PD Pacet Segar bergabung dengan petani-petani daerah sekitar dan membentuk sutu kelompok tani bersama yang beranggotakan 20 orang, kelompok bersama tersebut di bentuk atas anjuran dan binaan Dinas Pertanian Pangan Dati II Cianjur. Tujuan dengan bergabungnya PD Pacet Segar dengan petani-petani tersebut adalah untuk menjalin kerjasama diantara sesama petani sayuran, baik dalam aspek budidaya, pasca panen, maupun pemasaran sebagai upaya peningkatan produksi dan mutu sayuran yang dihasilkan agar lebih menguntungkan. PD Pacet Segar memiliki visi yaitu, menjangkau kesejahteraan khalayak banyak, meningkatkan kesejahteraan petani dan konsumen, meningkatkan pendapatan para petani. Selain itu, PD Pacet Segar juga memiliki misi untuk mencapai visinya, yaitu memberi pelayanan yang terbaik untuk konsumen, mengutamakan kualitas produk yang optimal dan menjadikan karyawan sebagai aset (bagian) dari perusahaan. Modal awal yang digunakan untuk mendirikan PD Pacet Segar berjumlah Rp. 5.000.000,00 yang berasal dari dalam keluarga. Aset awal yang dimiliki perusahaan berupa lahan kebun milik pribadi seluas 400 m², yang digunakan untuk menanami jenis sayuran lokal. Seiring dengan perkembangan perusahaan, lahan kebun yang dimiliki meningkat seluas 4 hektar, dengan jenis sayuran yang diusahakan adalah jenis sayuran lokal, seperti wortel, buncis, baby buncis, tomat cherry, selada, selada air, timun Jepang dan brokoli. Mulai Tahun 1980, PD Pacet Segar mulai menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan, diantaranya dengan PT Brassica dan CV Mekar. Kerjasama yang terjalin tersebut, mempermudah PD Pacet Segar dalam memasarkan sayurannya ke sebagian daerah yang ada di Jakarta, seperti Pasar Mayestik, Pasar Blok M, Pasar Cikini, dan lain-lain. Pada tahun 1983, PD Pacet Segar dapat menembus Pasar Swalayan yaitu PT.HERO Supermarket di Jakarta. Pada saat itu PD Pacet Segar ditetapkan sebagai pemasok tetap sampai dengan tahun 2008. Saat itu belum banyak pengusaha lokal yang dapat memasukan produknya ke pasar swalayan, sehingga PD Pacet Segar selain memasok sayuran segar, juga memasok sayuran olahan seperti timun asinan. Pada tanggal 1 September 1991 dalam acara yang di prakarsai oleh Dapertemen Perdagangan dan AP3I (Asosiasi Pusat Pertokoan dan Pembelanjaan Indonesia ) di Jakarta, PD Pacet Segar menandatangani kontrak kerjasama dengan PT Fine Food Corporation (PT FFCo), dalam pembuatan sayuran acar. Selain itu PD Pacet Segar melakukan kerjasama lebih lanjut dengan HIPPI dan HERO Supermarket itu dikukuhkan dengan ditandatanganinya pada tanggal 5 September 1991 di JDC (Jakarta Desaign Center), kerjasama ini ditandai dengan penyerahan dua buah traktor oleh PT. HERO Supermarket kepada PD Pacet Segar. Seiring dengan peningkatan penjualan produk sayuran, PD Pacet Segar sering mengikuti kegiatan-kegiatan pameran, untuk lebih memperkenalkan produk sayuran yang dihasilkannya. Melalui kegiatan pameran tersebut, akhirnya PD Pacet Segar menjadi ” Tenant of Incubator of Agribusiness ” IPB pada tahun 1995. Selama kurang lebih 4 tahun, PD Pacet Segar berada dalam pengawasan PIAA-IPB untuk memperoleh bimbingan manajemen, pemasaran, adiministrasi dan keuangan. Melalui PIAA-IPB inilah Pacet Segar mendapat perhatian dari lembaga keuangan seperti BNI dan Telkom. Pada tanggal 31 Januari 1995 PD Pacet Segar mendaftarkan usahanya pada Dinas Perdagangan Kabupaten Cianjur, sehingga badan hukum yang dimilki perusahaan berupa PD Pacet Segar dengan nomor : SIUP 003/10.7/PM/B/I/1995. Hal ini ditujukan untuk mengantisipasi perusahaan dengan harapan memperoleh kemajuan usaha yang lebih baik. Pada tanggal 28 Januari 1995 PD Pacet Segar tercatat dalam sertifikat keanggotaan pada Inkubator Agribisnis dan Agroindustri Institut Pertanian Bogor. 30 Adanya kontrak kerjasama PD Pacet Segar dengan beberapa perusahaan, membawa pengaruh yang baik, hal ini terbukti dengan banyaknya tawaran bekerjasama dengan pihak-pihak perusahaan besar yang diterima oleh PD Pacet Segar. Sehingga perusahaan mendapatkan peningkatan omset penjualan mencapai 7 ton per minggu. PD Pacet Segar terus melakukan pengembangan pemasaran, selain HERO yang menjadi pasar utama, pada saat ini perusahaan juga bekerjasama dengan Makro yang ditandai dengan adanya penandatangan kontrak kerjasama pada tanggal 27 November 1997. Selain itu, pada tahun 2002 PD Pacet Segar juga menjalin kerjasama dengan PT. Wiguna Makmur dan PT. Simplot Agritama (Mc Donalds), serta pada bulan Desember 2003 perusahaan bekerjasama dengan Wendy’s akhir tahun 2009. Pada akhir tahun 2009, PD Pacet Segar memutuskan penjualannya dengan swalayan dan Mc Donald karena adanya pelanggaran kesepakatan oleh pihak tersebut. Diantara pelanggaran tersebut adalah adanya keterlambatan jangka waktu pembayaran tagihan. Pada awalnya jangka waktu pembayan yang disepakati adalah dua minggu setelah barang dikirim, namun pada kenyataannya pembayaran diundur sampai 3 bulan. Hal ini menyebabkan perputaran uang dalam bisnis sedikit tersendat, sehingga PD Pacet Segar memutuskan untuk menghentikan kerjasama dengan Swalayan dan Mc Donald. Pada tahun ini (2012) PD Pacet Segar hanya mendistribusikan sayuran segar yang dihasilkan ke ICDF (International Cooperation Development Fund) Bogor, industri pengolahan (PD. Pusaka Tani) dan pasar tradisional. 5.2 Lokasi Perusahaan Lokasi PD Pacet Segar berada di Desa Ciherang No. 48, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur. Wilayah ini merupakan daerah dataran tinggi yang termasuk ke dalam kawasan Gunung Gede Pangrango. Desa Ciherang terletak pada ketinggian 1.100 m dpl, dengan topografi berbukit 82 persen, landai 18 persen dan tingkat kemiringan 50-60 persen. Wilayah dataran tinggi Kecamatan Pacet merupakan daerah bersuhu antara 16,30-24,20C, serta kelembaban udara 66 persen. Curah hujan 3.402 mm/tahun dengan hari hujan 263 hari/thn. Jenis tanah adalah Andosol dengan pH 5,5-6,2 sehingga daerah ini merupakan daerah sentra produksi pertanian khususnya sayuran. 31 5.3 Struktur Organisasi Perusahaan PD Pacet Segar merupakan perusahaan keluarga yang pengelolaannya pun dilakukan secara kekeluargaan, sehingga manajemen perusahaan dikendalikan oleh anggota keluarga. Struktur organisasi yang diterapkan oleh masih sederhana, dimana pembagian kerja yang ada dalam struktur organisasi PD Pacet Segar, terdiri dari pimpinan, sekretaris, bendahara, dan 4 kepala seksi, yaitu kepala seksi pengadaan dan produksi, kepala seksi pasca panen, kepala seksi pemasaran dan kepala seksi transportasi. PD Pacet Segar merupakan perusahaan dengan skala kecil dan pembagian kerjanya masih sederhana, sehingga PD Pacet Segar menggunakan tipe organisasi garis atau tipe organisasi lini (line organization). Tipe organisasi lini memiliki ciri-ciri, antara lain organisasi masih berskala kecil dan spesialisasi kerja masih terbatas. Struktur organisasi PD Pacet Segar dapat dilihat pada Gambar 9. Pimpinan (H. Abdul Halim) Sekretaris (Lilis Sumiati) Kasie Pengadaan dan Budidaya (H. Abdul Halim) Bendahara (Hj. Wawa Wapiroh) Kasie Pasca Panen (H.Abdul Halim) Kasie Transportasi (H. Dadang) Kasie Pemasaran (H.Unang) Karyawan Harian Gambar 9. Struktur Organisasi PD Pacet Segar Tahun 2012 Tugas dari masing-masing jabatan tersebut adalah : 1. Pimpinan Bertanggung jawab atas seluruh aktifitas dan kegiatan operasional perusahaan, mengawasi seluruh kegiatan di perusahaan, baik itu di kebun 32 tempat budidaya, di gudang tempat pengemasan maupun pada kegiatan pemasaran. 2. Sekretaris Bertugas mencatat semua pesanan sayuran yang masuk dan yang akan dikirim. Di samping itu, sekretaris juga bertugas mencatat pembukuan dan penyampaian informasi yang diterima dari luar perusahaan, serta sebagai wakil pimpinan apabila pimpinan tidak berada di tempat. 3. Bendahara Bertugas mencatat laporan keuangan secara teratur dan berkala sehingga posisi keuangan perusahaan dapat diketahui, menerima hasil pembayaran dari penjualan, mengurus upah dan gaji pegawai, menyimpan uang yang diterima perusahaan serta mencatat administrasi dari seluruh kegiatan yang ada di perusahaan. 4. Kepala Seksi Pengadaan dan Budidaya Bertugas menangani pengadaan input, mulai dari kegiatan produksi tanaman seperti, persiapan lahan, pengolahan lahan, penyediaan saprotan, pengendalian hama dan penyakit tanaman, serta pemeliharaan sampai siap untuk dipanen. 5. Kepala Seksi Pasca Panen Bertugas menangani hasil produksi sampai pemasaran, mengendalikan seluruh kegiatan yang terkait dengan ketersediaan pasokan di gudang pengemasan dan penyimpanan. 6. Kepala Seksi Transportasi Bertugas menangani pengiriman barang hingga sampai ke tangan konsumen dan bertanggung jawab atas ketepatan pengiriman barang ke konsumen. 7. Kepala seksi Pemasaran Bertugas memasarkan produk yang dihasilkan, menjajaki dan mencari kemungkinan untuk memperluas jangkauan pemasaran serta bertugas menangani penerimaan permintaan dan pemenuhan sayuran sesuai dengan permintaan konsumen. 33 5.4 Deskripsi Kegiatan Bisnis PD Pacet Segar merupakan salah satu perusahaan agribisnis yang memiliki unit bisnis yang lengkap, mulai dari kegiatan budidaya, penanganan pasca panen hingga pemasaran komoditas holtikultura khususnya sayuran. Seiring dengan perkembangan usaha di bidang budidaya sayuran dan semakin ketatnya persaingan diantara perusahaan yang bergerak dalam usaha yang sejenis, maka PD Pacet Segar bekerja sama dengan anak perusahaan yaitu Pusaka Tani untuk menambah unit bisnis yaitu bisnis pengolahan sayuran. 5.4.1 Pengadaan Input Dalam hal pengadaan sarana produksi seperti bibit, pupuk, peralatan pertanian seperti cangkul, bambu, mulsa, ajir, hand sprayer, serta obat-obatan, PD Pacet Segar memperolehnya dari berbagai pemasok di daerah sekitar Cipanas dan Cianjur. Sedangkan dalam hal pengadaan pupuk kandang yang terbuat dari kotoran ayam, diperoleh dari peternak di Daerah Ciherang dan Cugenang. Kegiatan pengadaan sarana produksi dilakukan ketika akan memulai kegiatan budidaya sayuran. Dalam mendistribusikan sayuran, PD Pacet Segar tidak hanya memperoleh hasil budidaya dari kebun sendiri, melainkan juga mendapatkan tambahan pasokan sayuran segar dari petani yang berasal dari sekitar Daerah Cipanas dan Cianjur. Hal ini dikarenakan PD Pacet Segar yang hanya membudidayakan beberapa jenis sayuran saja seperti baby buncis, buncis, tomat cherry, brokoli, timun jepang dan selada air, serta faktor luas lahan yang digunakan dalam proses budidaya yang tidak terlalu besar dan belum terpenuhinya permintaan dari konsumen Dikarenakan PD Pacet Segar hanya bisa menghasilkan dan menyediakan sebagian dari jumlah permintaan konsumen, maka dalam hal pemenhuhan kebutuhan konsumen tehadap sayuran, PD Pacet Segar juga mempunyai pemasok utama yang disebut mitra tani yang memiliki peranan dalam hal pengadaan dan penambahan bahan baku. Pada Tahun 2012 jumlah mitra tani bahan baku sayuran ke PD Pacet Segar berjumlah 20 orang. Kemitraan yang dilakukan PD Pacet Segar terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu : 34 1. Mitra Tani Tetap, terdiri dari sekumpulan petani yang merupakan pemasok tetap dan terikat, yang tergabung secara resmi pada kelompok tani Pusaka Tani, dengan jumlah sebanyak 20 orang. Kewajiban yang yang harus dipenuhi oleh mitra tani tetap ini adalah senantiasa harus memenuhi pasokan sayuran secara kontinyu yang dibutuhkan oleh PD Pacet Segar untuk memenuhi permintaan pasar. Selain kewajiban yang harus dipertanggungjawabkan, mitra tani tetap berhak mendapatkan hak nya yaitu mendapatkan pembayaran setiap 1 minggu, atas hasil panen yang diberikan kepada PD Pacet Segar. 2. Mitra Tani Lepas, terdiri dari sekumpulan petani diluar anggota kelompok tani Pusaka Tani. Kewajiban yang harus dipenuhi oleh mitra tani lepas ini adalah menyediakan sayuran yang dibutuhkan oleh PD Pacet Segar apabila pasokan dari mitra tani tetap kurang mencukupi, sehingga pengiriman yang dilakukan oleh mitra tani lepas bersifat tidak kontinyu. Hak dari kelompok mitra tani lepas ini adalah hasil panen yang diperoleh, bukan hanya untuk PD Pacet Segar saja, mereka berhak untuk memasok ke perusahaan lain atau tempat pemasaran lain, dan juga transaksi pembayaran dilakukan langsung pada hari dimana sayuran selesai dipasok. 5.4.2. Proses Produksi PD Pacet Segar menggunakan teknik budidaya semi tradisional, dimana perusahaan tidak menggunakan greenhouse dalam membudidayakan sayurannya. Peralatan yang digunakan dalam kegiatan budidaya juga tergolong masih sederhana seperti cangkul, golok dan garpu tanah. Dalam kegiatan budidaya sayuran, PD Pacet Segar meggunakan lahan seluas 4 hektar untuk kegiatan budidaya, dengan perincian 5000 m2 berlokasi di Desa Mekar Sari, 15.000 m2 berlokasi di Desa Cugenang dan 20.000 m2 berlokasi di Desa Ciherang. Jenis sayuran yang dibudidayakan pada tahun 2012, antara lain wortel, buncis, baby buncis, tomat cherry, selada, selada air, timun jepang dan brokoli. Tomat cherry ditanam di Desa Cugenang karena lokasi yang dekat dengan perusahaan, sehingga kegiatan budidayanya dapat dengan mudah dikontrol. Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam kegiatan budidaya tomat cherry adalah : 35 1. Persiapan Lahan Dalam hal persiapan lahan untuk ditanami, diperlukan adanya kesesuaian pemakaian lahan dengan syarat tumbuh tanaman. Beberapa langkah dalam persiapan lahan antara lain penentuan lokasi, pengolahan lahan (pencangkulan, penggemburan dan pembuatan bedengan). 2. Penanaman Setelah dilakukannya persiapan lahan, maka langkah selanjutnya adalah penanaman. Siklus satu kali produksi tomat cherry adalah empat bulan, tanaman baru bisa dipanen pada bulan ke-3. Masa panen normal tomat cherry adalah dua bulan atau 15 kali panen. Pemanenan dilakukan setiap tiga hari sekali. 3. Pemeliharaan Pemeliharaan meliputi pemupukan, penyulaman, pengairan, penyiangan serta pengendalian hama dan penyakit. 4. Panen Sebelum melakukan pemanenan, hal yang perlu diperhatikan adalah waktu dan cara pemanenan. Waktu pemanenan harus disesuaikan dengan keadaan dan sifat hasil panen yang diinginkan, harus mempertimbangkan apabila pemanenan dilakukan lebih awal, atau melewati waktu seharusnya, apakah berdampak pada mutu sayuran yang dipanen. Pemanenan terhadap tomat cherry dilakukan setiap 2-3 hari sekali. 5.4.3 Pemasaran Pemasaran merupakan proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan kebutuhan dan keinginan mereka dengan menciptakan, menawarkan dan menukarkan produk yang bernilai satu sama lain. PD Pacet Segar menjalin kerjasama dengan ICDF (International Cooperation Development Fund) Bogor. Bibit tomat cherry yang dibudidayakan didapatkan langsung dari ICDF dan tomat hasil budidaya dipasarkan langsung ke ICDF. Harga ditetapkan berdasarkan persetujuan kedua belah pihak, apabila ada kenaikan biaya produksi atau perubahan harga pasar, maka kedua pihak ini akan mendiskusikan dan menetapkan harga tomat sesuai kesepakatan. 36 5.4.5 Deskripsi Keuangan Perusahaan PD Pacet Segar, masih menggunakan sistem pencatatan keuangan yang masih sederhana, pemasukan dan pengeluaran tidak dicatat secara terperinci, hanya secara garis besarnya saja. Sehingga dalam pencatatan keuangan yang ada di perusahaan, masih terlihat ketidakjelasan dan terlihat seperti kekurangan data yang diperoleh dalam mengalokasikan anggaran dana dan pemasukan perusahaan. PD Pacet Segar, seharusnya menggunakan informasi akuntansi dalam menyusun laporan keuangan, sehingga dapat bermanfaat dalam pengajuan kredit pada lembaga keuangan, guna mengembangkan usaha yang ada di PD Pacet Segar. 5.5. Deskripsi Sumber Daya Perusahaan Sumber daya perusahaan adalah semua kekayaan atau asset yang dimiliki perusahaan dan dipergunakan dalam setiap kegiatan perusahaan, mulai dari kegiatan produksi hingga kegiatan pemasaran. Sumber daya yang dimiliki oleh PD Pacet Segar terdiri dari sumber daya fisik, sumber daya modal dan sumber daya manusia. 5.5.1 Sumber Daya Fisik PD Pacet Segar selain melakukan kegiatan sebagai petani atau penghasil komoditas sayuran, juga bertindak sebagai pedagang pengumpul yang membeli sayuran dari petani lain, atau kelompok tani yang kemudian perusahaan memasarkan langsung kepada konsumen, baik kepada lembaga konsumen, maupun konsumen perseorangan. Oleh karena itu, sumber daya fisik yang dimiliki oleh PD Pacet Segar terdiri dari seluruh asset/ kekayaan perusahaan yang digunakan dalam kegiatan budidaya hingga kegiatan pemasaran. Sumber daya fisik yang dimiliki oleh PD Pacet Segar, dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 5. Sumber Daya Fisik PD Pacet Segar Tahun 2012 No 1 Jenis Sumber Daya Fisik Jumlah Tanah 4 ha 2 Bangunan ± 600 m 3 Kendaraan Operasional 3 unit 4 Peralatan Budidaya Keterangan Lahan Budidaya 2 Packing house dan tempat penyimpanan sayuran/ ruang pendingin 1 mobil pick up dan 2 mobil yang dilengkapi dengan box pendingin. 37 Dalam kegiatan budidaya, PD Pacet Segar menggunakan berbagai macam peralatan untuk menunjang setiap proses budidaya yang dilakukan. Peralatan budidaya yang digunakan oleh perusahaan dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 6 Peralatan Budidaya yang digunakan oleh PD Pacet Segar 1 Sprayer Gendong 2 Umur ekonomis ( tahun) 5 2 Generator 2 10 3 Pompa air 2 5 4 Cangkul, Golok 6 5 5 Ember 2 2 6 Mulsa Plastik - 1 No Jenis Peralatan Jumlah ( unit ) Sumber : PD Pacet Segar, 2012 5.5.2. Sumber Daya Modal PD Pacet Segar memiliki sumber daya modal yang digunakan dalam menjalankan dan memperlancar seluruh kegiatan usahanya. Sumber daya modal yang dimiliki perusahaan, dikatagorikan menjadi 2 jenis yaitu sumber daya modal fisik dan sumber daya modal kerja. Sumber daya modal fisik yang dimiliki oleh PD Pacet Segar berupa tenaga kerja yang terampil, tekun dan cekatan. Sedangkan sumber daya modal kerja yang dimiliki perusahaan berupa modal awal perusahaan yang berasal dari keluarga sendiri sebesar Rp 5.000.000,00. Pada Tahun 2007, PD Pacet Segar memiliki asset/ kekayaan sebesar Rp 6 milyar. Asset tersebut dialokasikan oleh perusahaan untuk mengembangkan usahanya, yaitu dengan melakukan pembelian sejumlah tanah untuk lahan budidaya, mendirikan bangunan packing house, pembelian mesin-mesin produksi dan pembelian transportasi untuk pemasaran. 5.5.3. Sumber Daya Manusia PD Pacet Segar memiliki tenaga kerja sebanyak 20 orang yang terbagi menjadi 15 orang tenaga kerja tidak tetap dan 5 orang tenaga kerja khusus atau tenaga kerja inti yang tergabung dalam struktur organisasi. Tenaga kerja harian terlibat dalam seluruh kegiatan budidaya, sedangkan tenaga kerja khusus atau tenaga kerja inti mempengaruhi jalannya perusahaan yang masing-masing 38 bertindak sebagai pimpinan yang merangkap sebagai kasie pasca panen, pengadaan dan budidaya, bendahara, sekretaris, kasie transportasi, dan kasie pemasaran. Tenaga kerja inti tersebut berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan dan bertanggungjawab untuk melaksanakan fungsi manajemen. Karena PD Pacet Segar merupakan perusahaan keluarga, maka tenaga kerja inti yang ada di perusahaan berasal dari anggota keluarga. Sedangkan tenaga kerja harian direkrut dari warga sekitar perusahaan, dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan warga sekitar. 39 VI ANALISIS RISIKO PRODUKSI TOMAT CHERRY 6.1 Identifikasi Sumber-Sumber Risiko PD Pacet Segar melakukan budidaya tomat cherry segara kontinu dari musim ke musim. Dalam satu kali musim tanam atau periode tanam, PD Pacet Segar menanam sebanyak 2000 tanaman. Pada kegiatan usaha budidaya tomat cherry pada PD Pacet Segar terdapat beberapa risiko produksi yang dapat menghambat jalannya usaha budidaya ini. Langkah awal yang dilakukan dalam menganalisis risiko produksi adalah dengan mengidentifikasi sumber-sumber risiko produksi. Proses identifikasi sumber-sumber risiko ini dilakukan dengan cara pengamatan langsung dilapangan, wawancara dengan pihak terkait, dan laporan produksi tomat cherry pada PD Pacet Segar. Identifikasi dengan cara pengamatan langsung dilakukan dengan mengikuti secara langsung alur produksi tomat cherry, yaitu mulai dari penanaman bibit tomat, penyiangan, penyulaman, perempelan, pemupukan, pencegahan dan pemberantasan hama penyakit, panen, penyortiran, pengepakan, dan pengiriman. Secara umum risiko produksi tomat cherry yang dihadapi oleh PD Pacet Segar adalah matinya tanaman tomat pada masa produktifnya dan tomat busuk atau rusak. Berdasarkan hasil pengamatan secara langsung dilapangan, wawancara, dan analisis laporan produksi tomat cherry pada PD Pacet Segar, ditemukan beberapa hal yang teridentifikasi sebagai sumber risiko produksi tomat cherry. Sumber-sumber risiko produksi tersebut adalah rendahnya produksi tomat cherry yang disebabkan oleh perubahan cuaca, serangan hama yang mengganggu produksi tomat cherry, penyakit tanaman, sumer daya manusia, dan kualitas bibit. Perhitungan besarnya risiko produksi yang ditimbulkan dilihat dari produksi normal tanaman tomat cherry per tanaman. Pada kondisi normal produktivitas tomat cherry 2 kg/tanaman, namun dengan adanya sumber-sumber risiko yang menyebabkan terjadinya risiko produksi, maka produktivitas tomat berfluktuasi. Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan, produktivitas tomat cherry pada PD Pacet Segar dari Mei 2010 – Februari 2012 berkisar antara 0,27 – 2,27kg/tanaman. Proses identifikasi terhadap sumber risiko dilakukan dengan cara melihat urutan kejadian beberapa sumber risiko yang terjadi, kejadian tersebut bisa saling berhubungan dan terpisah satu sama lainnya. Sebagai contoh sumber risiko yang terjadi pada satu waktu adalah perubahan cuaca, penyakit, dan hama. Perubahan cuaca merupakan salah satu sumber risiko yang menyebabkan tanaman tomat terjangkit penyakit dan terserang hama. Perubahan cuaca juga berpengaruh terhadap kematian tanaman tersebut, namun dengan adanya perubahan cuaca yang tidak stabil menyebabkan tanaman tersebut terjangkit penyakit dan akhirnya mati. Selain itu perubahan cuaca juga menyebabkan tanaman tomat terserang hama dan menyebabkan tanaman tersebut mati atau buahnya rusak. Berdasarkan contoh dan pemaparan diatas maka dibutuhkan kejelian dan ketelitian dalam proses mengidentifikasi sumber risiko dan pengaruh sumber risiko terebut terhadap kematian tomat dan kerusakan buah tomat. Penentuan sumber risiko produksi dalam budidaya tomat cherry dilakukan dengan cara melihat urutan kejadian sumber risiko, sumber risiko yang terdekat dengan kematian atau kerusakan buah, maka sumber risiko tersebut yang berpengaruh terhadap munculnya risiko produksi. Penjelasan dari kelima sumber risiko yang telah teridentifikasi pada budidaya tomat cherry pada PD Pacet Segar akan dijelasakan dibawah ini. 1. Perubahan cuaca Cuaca yang tidak menentu, khususnya untuk wilayah Cipanas dan sekitarnya berpengaruh negatif kepada budidaya tomat cherry. Dengan adanya perubahan cuaca yang sangat signifikan menjadi salah satu sumber risiko produksi yang sangat dirasakan dampaknya oleh pelaku usaha yaitu PD Pacet Segar. Hal tersebut disebabkan karena produktifitas tomat cherry akan mengalami gangguan apabila dihadapkan pada kondisi cuaca yang ekstrim. Selain itu juga menyebabkan banyaknya tanaman yang mati dan rentan terserang hama dan penyakit. 2. Hama Hama merupakan salah satu sumber risiko produksi pada budidaya tomat cherry. Hama yang sering menyerang tomat cherry adalah White fly (Bemesia tobaci), Leafminer (Liriomyza trifolli), thrips, dan ulat buah (Heliotis armigera). a. White fly menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan daun dan menghasilkan empedu madu yang menyebabkan daun menjadi keriput kecoklatan. 41 Gambar 10 White Fly Pada Daun Tomat Kutu ini termasuk famili Aleyrodidae dari ordo Hemiptera. Kutu ini bila terganggu akan berhamburan seperti kabut atau kepul putih. Ciri-ciri dari kutu ini adalah memiliki panjang ± 1 mm berwarna putih kekuning-kuningan, tertutup tepung seperti lilin putih, memiliki 2 pasang sayap berwarna putih dengan bentangan ± 2 mm, dan bermata merah. Lalat putih betina berukuran lebih besar dari pada lalat jantan. Telur berbentuk elips sepanjang antara 0,2-0,3 mm. Panjang pulpa ± 0,7 mm, berbentuk oval serta datar dan badannya seperti sisik pada daun. Gejala yang ditimbulkan bagi tanaman yang terserang hama ini adalah tanaman tomat yang terserang seperti diselimuti tepung putih yang bila dipegang akan berterbangan. Serangan mengakibatkan pertumbuhan tanaman terhambat/kerdil, daun mengecil, dan menggulung ke atas. b. Hama Leafminer menyerang tanaman pada stadium larva dan dewasa dengan cara membuat alur gerakan pada bawah epidermis daun yang menyebabkan daun menjadi kuning kekeringan. Gambar 11 Serangan Leafminer pada Daun Tomat c. Thrips menyerang tanaman pada bagian daun muda, bunga dan buah. Hama ini biasanya menetap di bagian bawah daun. 42 Kutu daun thrips termasuk famili Thripidae dari ordo Thysanoptera. Kutu daun ini memiliki ciri dengan panjang thrips antara 1-1,2 mm, berwarna hitam, bergaris merah atau tidak bercak merah. Nimfa (thrips muda) berwarna putih atau putih kekuningan, tidak bersayap dan kadang-kadang berbercak merah. Thrips dewasa bersayap dan berambut berumbai-rumbai. Telur thrips berbentuk seperti ginjal atau oval. Tanaman yang terserang hama ini akan mengisap cairan pada permukaan daun dimana daun yang telah diisap menjadi berwarna putih seperti perak karena udara masuk ke dalamnya. Bila terjadi serangan hebat, daun menjadi kering dan mati. Tanaman muda yang terserang akan layu dan mati. d. Ulat buah menyerang tanaman dengan cara memakan buah sehingga berbentuk lubang. Ulat buah memiliki Ciri-ciri dengan panjang ulat ± 4 cm dan akan makin panjang pada temperatur rendah. Warna ulat bervariasi dari hijau, hijau kekuningkuningan, hijau kecoklat-coklatan, kecoklat-coklatan sampai hitam. Pada badan ulat bagian samping ada garis bergelombang memanjang, berwarna lebih muda. Pada tubuhnya kelihatan banyak kutil dan berbulu. Telur berbentuk bulat berwarna kekuning-kuningan mengkilap dan sesudah 2-4 hari berubah warna menjadi coklat. Panjang sayap ngengat bila dibentangkan ± 4 cm dan panjang badan antara 1,5-2,0 cm. Sayap bagian muka berwarna coklat dan sayap belakang berwarna putih dengan tepi coklat. Hama ulat ini menyerang daun, bunga dan buah tomat. Ulat ini sering membuat lobang pada buah tomat secara berpindah-pindah. Buah yang dilubangi pada umumnya terkena infeksi sehingga buah menjadi busuk lunak. 3. Penyakit Penyakit yang menyerang tanaman tomat cherry merupakan salah satu sumber risiko produksi. Penyakit pada tomat ini dapat disebabkan oleh cendawan dan bakteri. Penyakit yang disebabkan oleh cendawan terdiri atas penyakit layu (Fusarium oxysporum), embun tepung (Peronospora parasitica), bercak daun (Cercospora sp.), dan busuk daun (Phytophthora infestans). Penyakit layu yang disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporium menyerang bibit di persemaian 43 dan tanaman dewasa dengan gejala tanaman tampak layu. Bagian yang terserang akan lunak dan berair, tetapi tidak mengeluarkan cairan lendir berwarna putih dari bagian yang busuk tersebut. Gejala yang ditimbulkan oleh penyakit embun tepung adalah pada permukaan daun atas tampak bercak nekrotik berwarna kekuningan dan jika daun dibalik tampak tepung berwarna putih keabuabuan. Penyakit bercak daun memiliki gejala terjadi bercak klorosis berbentuk lingkaran, berwarna kuning dan terdapat bintik hitam pada bagian tengah lingkaran. Penyakit busuk daun menyerang semua tahap perkembangan tanaman. Gejala yang ditimbulkan yaitu adanya bercak hitam kecoklatan yang pada kondisi lingkungan mendukung seperti kelembaban tinggi, dapat meluas dengan cepat sehingga menyebabkan kematian. Penyakit pada tanaman tomat yang disebabkan oleh bakteri adalah penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Pseudomonas solanacearum. Patogen dari penyakit ini menyerang jaringan pengangkut air sehingga translokasi air dan hara terganggu. Akibatnya tanaman menjadi layu, kuning, kerdil, dan akhirnya mati. Bagian tanaman yang busuk karena patogen ini mengeluarkan cairan berwarna putih seperti lendir. 4. Sumber daya manusia Sumberdaya manusia merupakan faktor penting dalam kegiatan produksi di perusahaan, karena sumber daya manusia menentukan baik buruknya proses produksi. Pada budidaya tomat cherry, sumber risiko berasal dari kesalahan tenaga kerja dalam melakukan pemupukan tanaman, sehingga tanaman mati karena jarak antara pupuk terlalu dekat dengan tanaman tomat. Walaupun sudah diingatkan oleh pihak penanggung jawab produksi, tapi pada setiap periode tanam masih ada tanaman yang mati karena kesalahan pemupukan. Oleh karena itu kesalahan pemupukan ini termasuk salah satu sumber risiko produksi pada budidaya tomat cherry. 5. Kualitas Bibit Kualitas bibit merupakan salah satu sumber risiko yang berpengaruh besar pada proses budidaya tomat cherry pada PD Pacet Segar. Bibit yang digunakan dalam budidaya diperoleh dari mitra yaitu ICDF (International Cooperation Development Fund) Bogor. Kualitas bibit yang diberikan oleh ICDF tidak selalu 44 bagus, hal ini dikemukakan oleh H. Halim selaku penanggung jawab produksi. Produktivitas normal tomat cherry adalah 1,5 – 2,5 kg/tanaman. apabila produktifitas tanaman kurang dari batas normal tersebut, maka produksi tomat cherry pada periode tersebut dipengaruhi oleh kualitas bibit. Mengenai bibit yang memeiliki kualitas rendah, perusahaan sudah pernah melakukan komplain terhadap kualitas bibit kepada ICDF, namun sampai saat ini kualitas bibit yang dikirimkan masih ada yang kualitasnya buruk. Perusahaan masih menerima bibit yang dikirimkan oleh ICDF karena bibit tomat cherry tidak dijual di pasaran. 6.2 Analisis Probabilitas Risiko Produksi Hasil identifikasi terhadap sumber-sumber risiko produksi pada PD Pacet Segar memberikan informasi bahwa ada lima jenis sumber risiko produksi. Kelima risiko produksi tersebut adalah perubahan cuaca, hama, penyakit, sumber daya manusia, dan kualitas bibit. Setelah ssmua sumber-sumber risiko teridentifikasi, maka selanjutnya dilakukan analisis probabilitas terhadap masingmasing sumber risiko. Analisis probabilitas ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui besar kecilnya kemungkinan terjadinya sumber risiko tersebut sehingga dapat diambil keputusan nantinya mana sumber risiko yang akan dipriorotaskan terlebih dahulu penanganannya. Dalam melakukan analisis ini, data yang digunakan adalah data produksi tomat cherry (2000 tanaman/periode produksi) pada 10 periode terakhir (Mei 2010 – Februari 2012) dan hasil wawancara dengan pihak perusahaan. Penentuan kondisi, batas, dan jumlah yang digunakan dalam perhitungan analisis probabilitas dilakukan oleh perusahaan yang mengacu pada kejadian sebenarnya pada periode sebelumnya. Perhitungan probabilitas ini dilakukan dengan cara mengidentifikasi banyaknya kehilangan produksi tomat yang disebabkan oleh satu sumber risiko. Setelah itu dilakukan perhitungan nilai rata-rata dan nilai standar deviasi kejadian beresiko. Sebelum didapatkan nilai z-score, maka perlu ditentukan nilai batas normal yang telah ditentukan oleh perusahaan. Penentuan angka ini sangat penting karena nilai probabilitas ini merupakan perhitungan seberapa besar penyimpangan kehilangan produksi tomat yang disebabkan oleh satu sumber risiko dari batas normal. 45 Hasil analisis probabilitas terhadap masing-masing sumber risiko produksi dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 7 Hasil Perhitungan Probabilitas Sumber-Sumber Risiko Produksi Budidaya Tomat Cherry pada PD Pacet Segar No 1 2 3 4 5 Sumber Risiko Produksi Perubahan cuaca Hama Penyakit Sumber daya manusia Kualitas Bibit Probabilitas (%) 44,00 25,80 38,20 6,80 42,50 Berdasarkan data pada Tabel 8, dapat dilihat probabilitas dari masingmasing sumber risiko. Probabilitas sumber risiko dari yang terbesar adalah perubahan cuca (44,00%), kualitas bibit (42,50%), penyakit (38,20%), hama (25,80%), dan sumber daya manusia (6,80%). Probabilitas besarnya kehilangan produksi yang disebabkan oleh perubahan cuaca menempati urutan pertama yaitu 44,00 persen. Hasil perhitungan probabilitas untuk sumber risiko perubahan cuaca dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 8 Analisis Probabilitas Sumber Risiko Perubahan Cuaca Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu Mei - Agustus 2010 Juli - Oktober 2010 September - Desember 2010 November 2010 - Februari 2011 Januari - April 2011 Maret - Juni 2011 Mei - Agustus 2011 Juli - Oktober 2011 September - Desember 2011 November 2011 - Februari 2012 TOTAL Rata - Rata Standar Deviasi X (batas normal) Z Nilai Pada Tabel Z Probabilitas Risiko Kehilangan Produksi Tomat (kg) 718 132 1.066 1.756 1.762 1.027 399 61 740 1.425 9085 909 614 1000 0,15 0,44 44,00% 46 Berdasarkan Tabel 9, batas normal kehilangan produksi tomat cherry yang ditetapkan oleh PD Pacet Segar adalah 1000 kg. Angka ini ditetapkan oleh perusahaan berdasarkan rata-rata kehilangan produksi sebesar 25 persen pada setiap periode. Berdasarkan hasil perhitungan, nilai Z sebesar 0,15 menunjukkan bahwa nilai tersebut berada pada sebelah kanan kurva distribusi normal. Apabila nilai Z ini dipetakan pada Tabel distribusi Z, maka akan menunjukkan nilai 0,44. Angka ini menunjukkan probababilitas sumber risiko yang disebabkan iklim adalah 44 persen. Angka ini memiliki arti bahwa kemungkinan kehilangan produksi tomat yang melebihi 1000 kg adalah 44 persen. Besarnya probabilitas yang disebabkan oleh perubahan cuaca yang signifikan sehingga menyebabkan tanaman rusak dan mati. Besarnya kehilangan produksi yang disebabkan oleh sumber risiko perubahan cuaca pada periode-periode tertentu jumlahnya lebih sedikit dibandingkan periode yang lainnya. Sebagai contoh pada periode 1, 2, 7, dan 8. Pada periode ini besarnya kehilangan produksi relatif sedikit daripada periode lainnya. Hal ini disebabkan oleh cuaca pada periode tersebut relatif stabil, karena intensitas hujan dan pananya seimbang, sehingga risiko produksi yang disebabkan oleh perubahan cuaca relatif sedikit. Pada periode 4 dan 5 merupakan periode yang jumlah kehilangan produksi tomat yang paling besar, hal ini disebabkan oleh cuaca yang ekstrim dan angin kencang, sehingga tanaman tomat banyak yang mati. Probabilitas kehilangan produksi tomat cherry yang disebabkan oleh kualitas bibit menempati urutan kedua, yaitu sebesar 42,50 persen. Batas normal kehilangan tomat yang ditetapkan oleh perusahaan adalah 400 kg per periode. Penetapan angka batas normal ini berdasarkan rata-rata kehilangan produksi sebesar 10 persen pada setiap periode produksi. Berdasarkan Tabel 10 hasil perhitungan probabilitas sumber risiko yang disebabkan oleh kualitas bibit, nilai Z sebesar 0,19 menunjukkan bahwa nilai tersebut berada pada sebelah kanan kurva distribusi normal. Apabila nilai Z ini dipetakan pada Tabel distribusi Z, maka akan menunjukkan nilai 0,425. Angka ini menunjukkan probababilitas sumber risiko yang disebabkan kualitas adalah 42,50 persen. Angka ini memiliki arti bahwa kemungkinan kehilangan produksi tomat 47 yang melebihi 400 kg adalah 42,50 persen. Sumber risiko produksi yang disebabkan oleh kualitas bibit dipengaruhi oleh keempat sumber risiko produksi lainnya. Tabel 9 Analisis Probabilitas Sumber Risiko Kualitas Bibit Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu Mei - Agustus 2010 Juli - Oktober 2010 September - Desember 2010 November 2010 - Februari 2011 Januari - April 2011 Maret - Juni 2011 Mei - Agustus 2011 Juli - Oktober 2011 September - Desember 2011 November 2011 - Februari 2012 TOTAL Rata - Rata Standar Deviasi X (batas normal) Z Nilai Pada Tabel Z Probabilitas Risiko Kehilangan Produksi Tomat (kg) 235 380 979 115 413 1.099 3.220 322 410 400 0,19 0,425 42,50% Besarnya risiko yang dihadapi diperoleh dari hasil pengurangan besarnya kehilangan produksi dikurangi dengan besarnya risiko yang disebabkan perubahan cuaca, hama, penyakit, dan sumber daya manusia. Sebagai contoh pada periode satu, dua, tujuh, dan delapan, risiko produksi yang disebabkan oleh kualitas bibit adalah 0. Hal ini disebabkan karena produktivitas tanaman tomat berada pada batas normal, yitu antara 1,5 – 2,5 kg/tanaman, sehingga pada periode ini tanaman tomat tidak terkena risiko produksi yang disebabkan oleh kualitas bibit. Berbeda dengan periode 10. Kehilangan produksi pada periode ini adalah sebesar 3.374 kg. Dari 3.374 kg, kehilangan produksi yang disebabkan oleh kualitas bibit adalah 1,099 kg. Pada periode ini kehilangan risiko yang disebabkan oleh kualitas bibit sangat tinggi. Hal ini juga dipengaruhi oleh faktor perubahan cuaca yang tidak menentu, sehingga produktivitas tanaman menurun. Selain itu, kualitas bibit yang 48 diperoleh dari ICDF tidak sebagus biasanya (Halim)1. Secara umum kualitas bibit ini dipengaruhi oleh perubahan cuaca, sehingga produktivitas menurun. Probabilitas kehilangan produksi tomat cherry yang disebabkan oleh penyakit menempati urutan ketiga yaitu sebesar 38,20 persen. Batas normal kehilangan tomat yang ditetapkan oleh perusahaan adalah 320 kg per periode. Penetapan angka batas normal ini berdasarkan rata-rata kehilangan produksi sebesar 8 persen pada setiap periode produksi. Hasil perhitungan probabilitas sumber risiko yang disebabkan oleh penyakit dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel 10 Analisis Probabilitas Sumber Risiko Penyakit Periode Waktu Mei - Agustus 2010 Juli - Oktober 2010 September - Desember 2010 November 2010 - Februari 2011 Januari - April 2011 Maret - Juni 2011 Mei - Agustus 2011 Juli - Oktober 2011 September - Desember 2011 November 2011 - Februari 2012 TOTAL Rata - Rata Standar Deviasi X (batas normal) Z Nilai Pada Tabel Z Probabilitas Risiko 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kehilangan Produksi Tomat (kg) 376 109 322 333 363 313 169 15 299 482 2.781 278 139 320 0,30 0,382 38,20% Berdasarkan data pada Tabel 11, nilai Z sebesar 0,30 menunjukkan bahwa nilai tersebut berada pada sebelah kanan kurva distribusi normal. Apabila nilai Z ini dipetakan pada Tabel distribusi Z, maka akan menunjukkan nilai 0,382. Angka ini menunjukkan probababilitas sumber risiko yang disebabkan penyakit adalah 38,20 persen. Angka ini memiliki arti bahwa kemungkinan kehilangan produksi tomat yang melebihi 320 kg adalah 38,20 persen. Besarnya probabilitas yang disebabkan oleh penyakit yang juga dipicu oleh iklim yang ekstrim sehingga 1 Penanggungjawab Produksi PD Pacet Segar 49 tanaman terserang penyakit, khususnya penyakit layu fusarium, busuk buah. Sumber risiko produksi yang disebabkan oleh penyakit dipengaruhi oleh perubahan cuaca. Apabila curah hujan tinggi, maka tanaman akan rentan terserang penyakit. Berdasarkan pada Tabel 15, besarnya kehilangan produksi yang disebabkan oleh penyakit pada periode 8 sangat rendah, yaitu 15 kg. Hal ini pada periode ini (Juli – Oktober 2011) curah hujan sangat rendah, sehingga tanaman sedikit yang terserang oleh penyakit. Sedangkan pada periode 10, besarnya kehilangan produksi yang disebabkan oleh penyakit sangat tinggi, yaitu sebesar 482 kg. Hal ini disebabkan pada periode ini curah hujan sangat tinggi, sehingga banyak tanaman yang terserang penyakit dan akhirnya mati. Probabilitas kehilangan produksi tomat cherry yang disebabkan oleh hama menempati urutan keempat yaitu sebesar 25,80 persen. Batas normal kehilangan tomat yang ditetapkan oleh perusahaan adalah 300 kg per periode. Penetapan angka batas normal ini berdasarkan rata-rata kehilangan produksi sebesar 7,5 persen pada setiap periode produksi. Hasil perhitungan probabilitas sumber risiko yang disebabkan oleh hama dapat dilihat pada Tabel 12. Tabel 11 Analisis Probabilitas Sumber Risiko Hama Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu Mei - Agustus 2010 Juli - Oktober 2010 September - Desember 2010 November 2010 - Februari 2011 Januari - April 2011 Maret - Juni 2011 Mei - Agustus 2011 Juli - Oktober 2011 September - Desember 2011 November 2011 - Februari 2012 TOTAL Rata - Rata Standar Deviasi X (batas normal) Z Nilai Pada Tabel Z Probabilitas Risiko Kehilangan Produksi Tomat (kg) 254 96 258 236 334 353 223 26 164 350 2.294 229 108 300 0,65 0,258 25,80% 50 Berdasarkan data pada Tabel 12, nilai Z sebesar 0,65 menunjukkan bahwa nilai tersebut berada pada sebelah kanan kurva distribusi normal. Apabila nilai Z ini dipetakan pada Tabel distribusi Z, maka akan menunjukkan nilai 0,258. Angka ini menunjukkan probababilitas sumber risiko yang disebabkan hama adalah 25,80 persen. Angka ini memiliki arti bahwa kemungkinan kehilangan produksi tomat yang melebihi 300 kg adalah 25,80 persen. Kehilangan produksi yang disebabkan oleh serangan hama dipengaruhi oleh perubahan cuaca. Cuaca yang buruk, menyebabkan tanaman mudah terserang hama. Berdasarkan Tabel 17, dapat dilihat pada periode 2 dan 8, kehilangan produksi lebih sedikit dibandingkan periode lainnya. hal ini disebabkan karena pada periode ini curah hujan relatih sedikit, sehingga hama tidak menyerang tanaman. berbeda halnya pada periode laiinnya, kehilangan produksi lebih banyak. Rata-rata kehilangan produksi disebabkan oleh hama busuk buah, sehingga banyak buah yang tidak bisa dipanen. Probabilitas kehilangan produksi tomat cherry yang paling rendah disebabkan oleh sumber daya manusia yaitu 6,80 persen. Hasil perhitungan probabilitas sumber risiko dapat dilihat pada Tabel 13. Tabel 12 Analisis Probabilitas Sumber Risiko Sumber Daya Manusia Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu Mei - Agustus 2010 Juli - Oktober 2010 September - Desember 2010 November 2010 - Februari 2011 Januari - April 2011 Maret - Juni 2011 Mei - Agustus 2011 Juli - Oktober 2011 September - Desember 2011 November 2011 - Februari 2012 TOTAL Rata - Rata Standar Deviasi X Z Nilai Pada Tabel Z Probabilitas Risiko Kehilangan Produksi Tomat (kg) 22 26 24 28 22 24 28 12 24 18 228 23 5 30 1,49 0,068 6,80% 51 Berdasarkan data pada Tabel 13, batas normal kehilangan tomat yang ditetapkan oleh perusahaan adalah 30 kg per periode. Penetapan angka batas normal ini berdasarkan rata-rata kehilangan produksi sebesar 0,75 persen pada setiap periode produksi. Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh nilai Z sebesar 1,49. Angka menunjukkan bahwa nilai tersebut berada pada sebelah kanan kurva distribusi normal. Apabila nilai Z ini dipetakan pada Tabel distribusi Z, maka akan menunjukkan nilai 0,068. Angka ini menunjukkan probababilitas sumber risiko yang disebabkan human error adalah 6,80 persen. Angka ini memiliki arti bahwa kemungkinan kehilangan produksi tomat yang melebihi 30 kg adalah 6,80 persen. Kehilangan produksi yang disebabkan oleh sumberdaya manusia ini disebabkan kesalahan pada saat pemupukan. Pemupukan yang dekat dengan tanaman menyebakan kematian pada tanaman. Penanggungjawab produksi selalu mengingatkan tenaga kerjanya bagaimana pemupukan yang benar, tapi pada kenyataannya masih ada yang tidak melaksanakan dengan baik. Ciri-ciri tanaman yang mati karena kesalahan pemupukan adalah pangkal tanaman tersebut akan lunak dan menyebabkan tanaman mati. 6.3 Analisis Dampak Risiko Produksi Sumber-sumber risiko produksi tomat cherry yang sudah teridentifikasi pada PD Pacet Segar memiliki dampak negatif bagi perusahaan. Dampak negatif yang dirasakan oleh perusahaan adalah berupa kerugian finansial yang disebabkan oleh sumber-sumber risiko yang dapat dihitung berdasarkan nilai rupiah sebagai mata uang negara Indonesia. Apablia terjadi risiko produksi yang diakibakan oleh sumber-sumber risiko tersebut, maka dapat dilakukan perkiraan kerugian. Perkiraan kerugian tersebut tidak 100 persen sesuai dengan kejadian di lapangan. Oleh karena ini dibutuhkan penetapan besarnya kerugian dengan suatu tingkat keyakinan. Perhitungan dampak risiko produksi tomat cherry dilakukan dengan metode Value at Risk (VaR). Perhitungan yang dilakukan menggunakan tingkat keyakinan 95 persen dan sisanya 5 persen adalah error. Proses perhitungannya dapat dilihat pada Lampiran. Tujuan dilakukan perhitungan dampak dari masingmasing sumber risiko ini adalah untuk mengetahui perkiraan kerugian yang diderita oleh pihak perusahaan. Data yang digunakan dalam perhitungan ini 52 adalah data produksi 10 periode terakhir (Mei 2010 – Februari 2012) dan hasil pengamatan langsung dan wawancara dengan pihak perusahaan. Pihak perusahaan yang saya wawancara adalah pimpinan perusahaan selaku pembuat keputusan dan penanggung jawab produksi. Urutan hasil perhitungan analisis dampak risiko produksi tomat cherry pada PD Pacet Segar berdasarkan masing-masing sumber risiko dari urutan terbesar adalah perubahan cuaca, kualitas bibit, penyakit, hama, dan sumber daya manusia. Berikut pemaparan dari hasil perhitungan tersebut. Analisis dampak risiko produksi (VaR) yang disebabkan oleh perubahan cuaca dalam 10 periode terakhir adalah Rp 9.722.492,00 dengan tingkat keyakinan 95 persen. Hasil analisis perhitungan dampak risiko produksi yang disebabkan oleh perubahan cuaca dapat dilihat pada Tabel 14. Tabel 13 Analisis Dampak Sumber Risiko Perubahan Cuaca No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu Mei - Agustus 2010 Juli - Oktober 2010 September - Desember 2010 November 2010 - Februari 2011 Januari - April 2011 Maret - Juni 2011 Mei - Agustus 2011 Juli - Oktober 2011 September - Desember 2011 November 2011 - Februari 2012 TOTAL Rata - Rata Standar Deviasi Nilai Z (α = 5%) VaR Kehilangan Produksi Tomat (kg) 718 132 1.066 1.756 1.762 1.027 399 61 740 1.425 Harga Jual (Rp) 7.500 7.500 7.500 7.500 8.000 8.000 8.000 8.000 8.500 8.500 Kerugian (Rp) 5.385.000 992.000 7.998.000 13.167.000 14.096.000 8.215.467 3.188.267 484.267 6.287.733 12.114.200 71.927.933 7.192.793 4.862.984 1,645 9.722.492 Berdasarkan data pada Tabel 14, dapat dilihat besarnya nilai VaR adalah Rp 9.722.492,00. Nilai VaR ini berarti kerugian maksimal yang diderita oleh perusahaan akibat adanya pengaruh perubahan cuaca. Namun ada kemungkinan sebesar 5 persen perusahaan menderita kerugian lebih besar dari Rp 9.722.492,00. Pada periode empat, lima, dan sepuluh, dampak kerugian yang disebabkan oleh 53 perubahan cuaca relatif tinggi dibandingkan periode lainnya, hal ini disebabkan pada periode ini curah hujan sangat tinggi dan tidak menentu, sehingga banyak tanaman tomat yang rusak diakibatkan hujan dan angin kencang. Sebaliknya pada periode dua dan delapan (Juli – Oktober), dampak risiko yang disebabkan oleh perubahan iklim relatif kecil dibandingkan dengan periode lainnya. Hal ini disebabkan karena pada periode ini kondisi cuaca relatif stabil, sehingga risiko yang disebabkan oleh perubahan cuaca sangat kecil. Analisis dampak risiko produksi (VaR) yang disebabkan oleh kualitas bibit dalam 10 periode terakhir adalah Rp 4.391.618,00 dengan tingkat keyakinan 95 persen. Hasil analisis perhitungan dampak risiko produksi yang disebabkan oleh kualitas bibit dapat dilihat pada Tabel 15. Tabel 14 Analsis Dampak Sumber Risiko Kualitas Bibit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu Mei - Agustus 2010 Juli - Oktober 2010 September - Desember 2010 November 2010 - Februari 2011 Januari - April 2011 Maret - Juni 2011 Mei - Agustus 2011 Juli - Oktober 2011 September - Desember 2011 November 2011 - Februari 2012 TOTAL Rata - Rata Standar Deviasi Nilai Z (α = 5%) VaR Kehilangan Produksi Tomat (kg) 235 380 979 115 413 1.099 Harga Jual (Rp) 7.500 7.500 7.500 7.500 8.000 8.000 8.000 8.000 8.500 8.500 Kerugian (Rp) 1.762.500 2.847.000 7.829.333 917.867 3.509.933 9.343.200 26.209.833 2.620.983 3.403.793 1,645 4.391.618 Berdasarkan data pada Tabel 15, dapat dilihat besarnya nilai VaR adalah Rp 4.391.618,00. Nilai VaR ini berarti kerugian maksimal yang diderita oleh perusahaan akibat danya pengaruh kualitas bibit. Namun ada kemungkinan sebesar 5 persen perusahaan menderita kerugian lebih besar dari Rp 4.391.618,00. Pada periode satu, dua, tujuh, dan delapan perusahaan tidak mengalami dampak kerugian yang disebabkan oleh kualitas bibit, karena pada musim ini produktivitas 54 tanaman tomat berkisar dibatas ambang normal, yaitu antara 1,5 – 2,5 kg/tanaman. Metode perhitungan dampak kerugian yang disebabkan oleh kualitas bibit adalah total risiko produksi dikurangi risiko yang disebabkan perubahan cuaca, penyakit, hama, dan sumber daya manusia. Setelah didapatkan maka dikaliakan dengan harga yang berlaku pada saat itu. Analisis dampak risiko produksi (VaR) yang disebabkan oleh penyakit dalam 10 periode terakhir adalah Rp 2.801.957,00 dengan tingkat keyakinan 95 persen. Hasil analisis perhitungan dampak risiko produksi yang disebabkan oleh penyakit dapat dilihat pada Tabel 16. Tabel 15 Analisis Dampak Sumber Risiko Penyakit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu Mei - Agustus 2010 Juli - Oktober 2010 September - Desember 2010 November 2010 - Februari 2011 Januari - April 2011 Maret - Juni 2011 Mei - Agustus 2011 Juli - Oktober 2011 September - Desember 2011 November 2011 - Februari 2012 TOTAL Rata - Rata Standar Deviasi Nilai Z (α = 5%) VaR Kehilangan Produksi Tomat (kg) 376 109 322 333 363 313 169 15 299 482 Harga Jual (Rp) 7.500 7.500 7.500 7.500 8.000 8.000 8.000 8.000 8.500 8.500 Kerugian (Rp) 2.823.000 815.000 2.412.000 2.496.000 2.906.667 2.506.667 1.349.333 119.467 2.544.333 4.093.600 22.066.067 2.206.607 1.144.477 1,645 2.801.957 Berdasarkan data pada Tabel 16, dapat dilihat besarnya nilai VaR adalah Rp 2.801.957,00. Nilai VaR ini berarti kerugian maksimal yang diderita oleh perusahaan akibat adanya pengaruh penyakit yang menyerang tanaman tomat. Namun ada kemungkinan sebesar 5 persen perusahaan menderita kerugian lebih besar dari Rp 2.801.957,00. Pada periode dua dan delapan, dampak risiko yang disebababkan oleh penyakit relatif lebih kecil dibandingkan periode lainnya. Hal ini disebabkan pada musim ini curah hujan relatif stabil, sehingga tanaman yang terjangkit penyakit juga sedikit, karena salah satu faktor penyebab tanaman 55 terserang penyakit adalah perubahan cuaca. Namun pada periode sepuluh (November 2011 – Februari 2012) dampak risiko yang disebabkan oleh penyakit sangat besar, yaitu sebesar Rp 4.093.600,00 , hal ini disebabkan karena pada periode ini curah hujan sangat tinggi, sehingga menyebabkan lahan menjadi lembab dan tanaman mudah terserang penyakit, khususnya penyakit layu fusarium. Analisis dampak risiko produksi (VaR) yang disebabkan oleh hama dalam 10 periode terakhir adalah Rp 2.280.154,00 dengan tingkat keyakinan 95 persen. Hasil analisis perhitungan dampak risiko produksi yang disebabkan oleh hama dapat dilihat pada Tabel 17. Tabel 16 Analisis Dampak Sumber Risiko Hama No Waktu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Mei - Agustus 2010 Juli - Oktober 2010 September - Desember 2010 November 2010 - Februari 2011 Januari - April 2011 Maret - Juni 2011 Mei - Agustus 2011 Juli - Oktober 2011 September - Desember 2011 November 2011 - Februari 2012 TOTAL Rata - Rata Standar Deviasi Nilai Z (α = 5%) VaR Kehilangan Produksi Tomat (kg) 254 96 258 236 334 353 223 26 164 350 Harga Jual (Rp) 7.500 7.500 7.500 7.500 8.000 8.000 8.000 8.000 8.500 8.500 Kerugian (Rp) 1.905.000 720.000 1.935.000 1.770.000 2.672.000 2.824.000 1.784.000 208.000 1.394.000 2.975.000 18.187.000 1.818.700 887.080 1,645 2.280.154 Berdasarkan data pada Tabel 17, dapat dilihat besarnya nilai VaR adalah Rp 2.280.154,00. Nilai VaR ini berarti kerugian maksimal yang diderita oleh perusahaan akibat adanya pengaruh hama yang menyerang tanaman tomat. Namun ada kemungkinan sebesar 5 persen perusahaan menderita kerugian lebih besar dari Rp 2.280.154,00. Sama seperti dampak risiko yang disebabkan oleh perubahan cuaca dan penyakit, dampak risiko yang disebabkan oleh hama pada periode dua dan delapan memiliki dampak yang relatif kecil, karena cuaca relatif 56 stabil. Perubahan cuaca merupakan salah satu penyebab tanaman terserang hama, karena hama tanaman tomat suka terhadap kondisi lembab. Beda halnya dengan periode sepuluh, curah hujan pada periode sangat tinggi, sehingga tanaman tomat banyak yang terserang hama seperti hama busuk daun dan busuk buah. Analisis dampak risiko produksi (VaR) yang disebabkan oleh sumber daya manusia dalam 10 periode terakhir adalah Rp 198.339,00 dengan tingkat keyakinan 95 persen. Hasil analisis perhitungan dampak risiko produksi yang disebabkan oleh sumber daya manusia dapat dilihat pada Tabel 18. Tabel 17. Analisis Dampak Sumber Risiko Sumber Daya Manusia No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu Mei - Agustus 2010 Juli - Oktober 2010 September - Desember 2010 November 2010 - Februari 2011 Januari - April 2011 Maret - Juni 2011 Mei - Agustus 2011 Juli - Oktober 2011 September - Desember 2011 November 2011 - Februari 2012 TOTAL Rata - Rata Standar Deviasi Nilai Z (α = 5%) VaR Kehilangan Produksi Tomat (kg) 22 26 24 28 22 24 28 12 24 18 Harga Jual (Rp) 7.500 7.500 7.500 7.500 8.000 8.000 8.000 8.000 8.500 8.500 Kerugian (Rp) 165.000 195.000 180.000 210.000 176.000 192.000 224.000 96.000 204.000 153.000 1.795.000 179.500 36.216 1,645 198.339 Berdasarkan data pada Tabel 18, dapat dilihat besarnya nilai VaR adalah Rp 198.339,00. Nilai VaR ini berarti kerugian maksimal yang diderita oleh perusahaan akibat adanya kesalahan sumber daya manusia dalam melaksanakan budidaya tomat cherry. Namun ada kemungkinan sebesar 5 persen perusahaan menderita kerugian lebih besar dari Rp 198.339,00. Dampak kerugian yang disebabkan oleh sumber risiko sumber daya manusia jauh lebih kecil dibandingkan sumber risiko yang lainnya. Walaupun dampak kerugiannya kecil, namun selalu ada disetiap periode, sehingga berdasarkan hasil diskusi dengan 57 pihak perusahaan, sumber daya manusia termasuk salah satu sumber risiko produksi. Setelah dampak masing-masing sumber risiko diperoleh, maka nilai VaR akan lebih memiliki makna apabila diplotkan ke dalam peta risiko. Hal ini bertujuan untuk mempermudah pihak manajemen perusahaan dalam mengambil keputusan dalam penanganan risiko produksi. Perbandingan nilai VaR untuk masing-masing sumber risiko produksi dapat dilihat pada Tabel 19. Tabel 18. Dampak dari Masing-Masing Sumber Risiko Produksi No 1 2 3 4 5 Sumber Risiko Perubahan cuaca Kualitas bibit Penyakit Hama Sumber daya manusia Nilai VaR (dampak Rp) 9.722.492 4.391.618 2.801.957 2.280.154 198.339 Berdasarkan data pada Tabel 19, dapat dilihat besarnya dampak dari masing-masing sumber risiko produksi. Setelah diketahui nilai VaR untuk masing-masing sumber risiko, maka sebelum dilakukan penanganan terhadap masing-masing risiko produksi dilakukanlah pembuatan peta risiko. Pembuatan peta risiko ini bertujuan untuk menunjukkan posisi dari sumber risiko sehingga strategi penanganan lebih efektif. 6.4 Pemetaan Risiko Produksi Pemetaan risiko dilakukan dengan cara memplotkan dampak dan probabilitas dari masing-masing sumber risiko ke dalam peta risiko. Penggabungan antara dampak dan probabilitas tersebut akan diketahui status dari risiko tersebut. Status risiko menunjukkan urutan kejadian-kejadian berisiko. Status risiko yang besar menunjukkan risiko yang besar dan sebaliknya status risiko yang kecil menunjukkan risiko yang kecil. Status risiko merupakan perkalian antara probabiliti dan dampak. Status risiko tidak memiliki satuan. Angka yang dihasilkan dari status risiko hanya menunjukkan urutan risiko saja. Status risiko dari masing-masing sumber risiko produksi tomat cherry pada PD Pacet Segar dapat dilihat pada Tabel 20. 58 Tabel 19. Status Risiko untuk Setiap Sumber Risiko Produksi No Sumber Risiko 1 2 3 4 5 Perubahan cuaca Kualitas Bibit Penyakit Hama Sumber daya manusia Dampak (Rp) 9.722.492 4.391.618 2.801.957 2.280.154 198.339 Probabilitas (%) 44,00 42,50 38,20 25,80 6,80 Status Risiko 4.277.896 1.866.438 1.070.348 588.280 13.487 Berdasarkan data pada Tabel 20 dapat terlihat jelas urutan tingkatan status sumber dari masing-masing risiko. Perubahan cuaca merupakan sumber risiko yang memiliki dampak dan status risiko terbesar. Selanjutnya diikuti oleh sumber risiko kualitas bibit, penyakit, hama, dan terakhir adalah sumber daya manusia. Setelah status risiko diketahui, maka selanjutnya dilakukannlah pemetaan risiko. Pembuatan peta risiko ini untuk mengetahui posisi risiko yang berguna dalam penentuan alternantif strategi penaganan risiko. Peta risiko merupakan gambaran tentang posisi risiko pada suatu peta. Peta risiko memilik dua sumbu vertikal dan horizontal. Sumbu vertikal menggambarkan probabilitas dan sumbu horizontal merupakan dampak. Kedua sumbu tersebut dibagi menjadi dua bagian yaitu besar dan kecil. Batas antara dampak dan probabilitas bernilai besar dan kecil ditentukan oleh pihak manajemen PD Pacet Segar. Untuk penentuan batas tengah dari probabilitas dilakukan dengan menghitung rata-rata dari ke-5 probabilitas masing-masing sumber risiko dan diperoleh nilai 31,46 persen. Setelah didiskusikan lebih lanjut dengan pihak perusahaan, maka ditetapkan batas tengah dari probabilitas adalah 30 persen. Nilai batas tengah untuk dampak ditentukan oleh perusahaan yaitu Rp 3.000.000,00. Jadi sumber risiko yang memiliki dampak lebih dari Rp 3.000.000,00 akan masuk kedalam kategori dampak yang besar dan sebaliknya. Penggolongan risiko berdasarkan peta risiko dapat dilihat pada Gambar 12. 59 Probabilitas (%) Besar Penyakit Kualitas Bibit Perubahan cuaca 30 Hama Kecil SDM Kecil Rp 3.000.000 Besar Dampak (Rp) Gambar 12 Hasil Pemetaan Sumber-Sumber Risiko Produksi Berdasarkan pada Gambar 12, dapat dilihat posisi dari hasil pemetaan masing-masing sumber risiko. Pada kuadran I terdapat sumber risiko Penyakit. Sumber risiko penyakit dianggap oleh perusahaan sebagai sumber risiko yang memiliki peluang yang besar tetapi berdampak yang kecil bagi perusahaan. Sumber risiko perubahan cuaca dan kualitas bibit terdapat pada kuadran II yang merupakan sumber risiko yang dianggap oleh perusahaan yang memiliki kemungkinan terjadinya dan dampaknya yang besar. Pada kuadran III ditempati dua sumber risiko yaitu hama dan sumber daya manusia. Sumber risiko ini dianggap oleh perusahaan sebagai sumber risiko yang memiliki peluang terjadi dan dampaknya yang kecil. Sumber risiko produksi budidaya tomat cherry pada PD Pacet segar tidak ada yang menempati kuadran ke IV, karena perusahaan menganggap tidak ada sumber risiko yang mempunyai probabilitas kecil sedangkan memiliki dampak yang besar. Hasil dari pemetaan risiko ini dilakukan untuk menentukan strategi yang tepat untuk penanganan risiko produksi budidaya tomat cherry yang dihadapi oleh PD Pacet Segar. 60 6.5 Strategi Penanganan Risiko Produksi Tahap akhir yang dilakukan dalam menganalisis risiko produksi tomat cherry pada PD Pacet Segar adalah penentuan strategi penanganan terhadap risiko produksi yang dihadapi. Alternaif strategi yang dilakukan erat kaitannya dengan pemetaan risiko yang telah dihasilkan. Dalam penanganan risiko ini ada 2 strategi, yaitu strategi preventif dan strategi mitigasi. Sumber risiko yang berada pada kuadran I dan II ditangani dengan strategi preventif, sedangkan risiko yang berada pada kuadran II dan IV ditangani dengan strategi mitigasi. Sumber risiko yang disebabkan oleh perubahan cuaca dan kualitas bibit berapa pada kuadran II. Berdasarkan teori, sumber risiko yang berada pada kuadran II, dilakukan penanganan dengan strategi preventif dan mitigasi. Sedangakan untuk sumber risiko penyakit berada pada kuadran I, strategi penanganannya dilakukan dengan strategi preventif. Berdasarkan hasil diskusi dengan manajemen perusahaan, usulan strategi untuk menangani risiko produksi yang dihadapi perusahaan adalah sebagai berikut : 1. Sumber risiko penyakit Penyakit yang menyerang tanaman tomat cherry yang menyebabkan terjadinya kehilangan produksi adalah layu fusarium. Layu fusarium ini disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, sehingga kandungan air di dalam tanah meningkat. Untuk menghindari tanaman terserang penyakit layu fusarium, maka dilakukan penyemprotan fungisida secara ganda, terutama pada saat musim hujan. Pemberian fungisida ganda ini dilakukan dengan cara manambah frekuensi penyemprotan, yang biasanya dilakukan hanya sekali, sekarang dilakukan sebanyak dua kali dengan jarak waktu satu minggu. Pemberian fungisisda ganda ini diharapkan daya tahan tanaman lebih kuat terhadap serangan penyakit. Selain itu, untuk mengurangi kelembaban tanah, dilakukan pembuatan bedengan dengan ukuran lebih tinggi dari ukuran biasa. Tinggi bedengan biasanya dibuat 10 – 15 cm dari permukaan tanah. Namun untuk mengurangi kelembaban, dibuatlah bedengan dengan tinggi 25 – 30 cm dari permukaan danah dan dibuat drainase yang bagus, sehingga saluran air lebih lancar. Usulan kedua strategi diatas diharapkan dapat mengurangi probabilitas terjadinya sumber risiko yang disebabkan oleh penyakit. Sumber risiko penyakit yang disebabkan oleh penyakit 61 diharapkan bergeser kebawah, sehingga peluang terjadinya sumber risiko ini dapat berkurang. 2. Sumber risiko perubahan cuaca Sumber risiko yang disebabkan oleh perubahan cuaca terletak pada kuadran II pada peta risiko. Strategi penanganan terhadap sumber risiko ini dilakukan dengan preventif dan mitigasi. Perubahan cuaca yang tidak menentu menyebabkan tanaman tomat cherry banyak yang mati dan produktivitasnya menurun. Stategi penanganan terhadap sumber risiko perubahan cuaca dilakukan dengan menggunakan teknologi baru, yaitu budidaya dengan menggunakan greenhouse. Budidaya dengan menggunakan greenhouse dapat dilakukaan dengan sistim hidroponik irigasi tetas dan sistim manual. Sistim hidoponik irigasi tetes membutuhkan investasi yang sangat besar, namun kelebihannya adalah meningkatkan produktivitas tomat dan memperpanjang umur siklus budidaya. Budidaya tomat cherry menggunakan greenhouse dengan sistim irigasi manual tidak membutuhkan investasi yang besar, hanya membutuhkan investasi greenhouse saja. Namun budidaya dengan sistim irigasi manual ini produktivitasnya relatif lebih rendah dibanding dengan sistim irigasi tetes, karena sistim irigasi tetes pemberian nutrisinya lebih intensif dan langsung ke daerah akar tanaman, sehingga nutrisinya lebih banyak terserat oleh tanaman. Media tanam yang digunakan untuk budidaya tomat cherry menggunakan greenhouse adalah arang sekam. Penggunaan media tanam ini bertujuan untuk mengurangi probabilitas tanaman terserang penyakit fusarium. Usulan strategi penanganan risiko dengan menggunakan teknologi budidaya dengan menggunakan greenhouse diharapkan dapat mengurangi dampak dan probabilitas dari sumber risiko tersebut, sehingga posisi sumber risiko pada peta risiko bergeser ke arah bawah dan kiri dari peta risiko. 3. Sumber risiko kualitas bibit Bibit tomat cherry yang digunakan oleh PD Pacet Segar berasal dari ICDF Bogor. Sebagai informasi, benih/bibit tomat cherry tidak ada dijual di pasaran. Sehingga PD Pacet Segar bergantung pad ICDF dalam mendapatkan bibit. Berdasarkan hasil diskusi dengan pihak manajemen, penanganan risiko produksi yang disebabkan oleh kualitas bibit harus dilakukan evaluasi dari pihak pemberi 62 bibit (ICDF). Sebagai mitranya, PD Pacet Segar diundang oleh pihak ICDF untuk melakukan evaluasi terhadap kerja samanya. Dalam pertemuan dengan pihak ICDF, PD Pacet Segar mengutarakan keluhan terhadap kualitas bibit tomat cherry yang diberikan. Pihak ICDF memberikan tanggapan dan akan berusaha untuk memperbaiki kualitas bibit sehingga bibit yang diberikan kualitasnya sesuai dengan yang diharapkan. Dilain sisi, pihak manajemen perusahaan PD Pacet Segar sedang berusaha melakukan pembenihan sendiri. Pembenihan dilakukan dengan cara mengeringkan biji tomat yang matang. Setelah biji kering, lalu disemaikan di pesemaian. Namun benih yang disemaikan memiliki tingkat mortalitas yang tinggi. Berdasarkan data dilapangan, persentasi benih yang dibuat sendiri hanya tumbuh 50 persen. Pihak perusahaan sangat tertarik untuk melakukan pembenihan sendiri agar tidak terikat pada ICDF. Untuk bisa melakukan pembenihan yang sesuai standar, penanggung jawab produksi (Halim) sebaiknya melakukan pelatihan bagaimana cara mendapatkan benih yang berkualitas. Pelatihan ini bisa juga dilakukan di ICDF yang melakukan pembenihan sendiri maupun di tempat lain yang melakukan pembenihan, khususnya pembenihan sayur-sayuran yang menggunakan biji seperti cabe, keylan, brokoli, wortel, dan sebagainya. Usulan strategi untuk sumber risiko ini akan bisa dilaksanakan secara bertahap, karena pada saat ini perusahaan masih bergantung pada ICDF. Pihak perusahaan harus mempelajari bagaimana cara melakukan pembenihan tomat cherry yang baik, sehingga dihasilkan benih yang memiliki kualitas yang bagus, produktivitas tinggi dan tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Sehingga sumber risiko produksi ini dapat bergeser ke bawah dan kiri dari peta risiko. Berdasarkan pemaparan dari usulan strategi penganan terhadap sumber risiko penyakit, pengaruh cuaca, dan kualitas bibit diatas, diharapkan probabilitas dan dampak yang dirasakan oleh perusahaan dapat berkurang, sehingga keuntungan yang diperoleh perusahaan dapat meningkat. Usulan strategi penanganan risiko dengan strategi preventif dapat dilihat pada Gambar 13. 63 Probabilitas (%) Besar 30 1. Pemberian fungisida 1. Budidaya menggunakan ganda greenhouse 2. Pembuatan bedengan 2. Pelatihan cara dengan tinggi 25-30 cm pembenihan yang baik dari permukaan tanah dan 3. Bekerjasama dengan drainase yang baik ICDF untuk mendapatkan bibit berkualitas Kecil Kecil 3.000.000 Besar Dampak (Rp) Gambar 13 Penangaan Risiko dengan Strategi Preventif Berdasarkan pada Gambar 13, diharapkan usulan strategi yang telah dimusyawarahkan dengan pihak manajemen perusahaan dapat mengurangi probabilitas dari masing-masing sumber risiko, sehingga sumber risiko tersebut bergerak dari atas kebawah. Berdasarkan Gambar 14, dapat dilihat ada tiga usul yang diberikan kepada perusahaan yang diharapkan dapat meminimalkan dampak kerugian yang diderita oleh perusahaan akibat risiko produksi. Penerapan usulan strategi ini sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan dimulai dari sumber risiko yang mempunyai status risiko yang paling tinggi, yaitu perubahan cuaca. Dilanjutkan dengan penanganan sumber risiko kualitas bibit, penyakit, hama, dan sumber daya manusia. Usulan penanganan risiko dengan strategi mitigasi dilakukan untuk mengurangi dampak dari sumber risiko dapat dilihat pada Gambar 14. 64 Probabilitas (%) 1. Budidaya menggunakan greenhouse 2. Pelatihan cara pembenihan yang baik 3. Bekerjasama dengan ICDF untuk mendapatkan bibit berkualitas Besar 30 Kecil - Kecil 3.000.000 Besar Dampak (Rp) Gambar 14 Penanganan Risiko dengan Strategi Mitigasi Sumber risiko lainnya hama dan sumber daya manusia juga dilakukan penanganan agar risiko tersebut dapat diminimalisir. Sumber risiko hama dalan dilakukan dengan penyemprotan insektisida secara teratur khususnya pada musim hujan sehingga tanaman tidak terserang hama. Penanganan risiko terhadap hama ini relatif lebih mudah dilakukan. Kenyataannya di lapangan pada saat ini, penanganan terhadap hama dilakukan setelah ditemukan indikasi risiko yang disebabkan oleh hama baru dilakukan penyemprotan sehingga masih banyak ditemukan kehilangan produksi yang disebabkan oleh hama. Untuk sumber risiko sumber daya manusia dilakukan dengan pengawasan yang insentif sehingga kehilangan produksi yang disebabkan oleh sumber daya manusia dapat dikurangi. 65 VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan Hasil penelitian kajian analisis risiko produksi budidaya tomat cherry pada PD Pacet Segar adalah sebagai berikut : 1. Berdasarkan pengamatan di lapangan terdapat lima sumber risiko produksi pada budidaya tomat cherry yaitu perubahan cuaca, serangan hama, penyakit, kualitas bibit, dan sumber daya manusia. 2. Sumber risiko yang disebabkan perubahan cuaca memiliki probabilitas dan dampak yang paling besar, yaitu 44 persen dan Rp 9.722.492 dan sumber risiko sumber daya manusia memiliki probabilitas dan dampak paling kecil, yaitu 6,8 persen dan Rp 198.339. 3. Alternatif strategi yang diusulkan kepada pihak perusahaan terhadap penanganan ketiga jenis sumber risiko penyakit, pengaruh cuaca, dan kualitas bibit adalah : a. Pemberian fungisida ganda pada tanaman tomat agar tidak mudah terserang penyakit, khususnya pada musim hujan. Selanjutnya pembuatan bedengan yang memiliki tinggi 25-30 cm dari permukaan tanah dan drainase yang baik agar kelembaban tanah berkurang. b. Melakukan budidaya dengan menggunakan greenhouse agar tanaman dapat dikontrol terhadap penyakit, hama, dan perubahan cuaca. c. Melakukan kerja sama dengan ICDF untuk menghasilkan bibit yang berkualitas. Melakukan pelatihan bagaimana menghasilkan benih yang berkualitas guna mengurangi ketergantungan pasokan bibit dari ICDF. 7.2 Saran Manajemen perusahaan sebaiknya segera melakukan penanganan terhadap risiko produksi. Penerapan usulan strategi yang telah dimusyawarahkan dengan pihak perusahaan sebaiknya dilaksanakan secara bertahap. Penanganan risiko sebaiknya dilakukan dari sumber risiko yang mempunyai status risiko paling tinggi sampai paling rendah. Penanganan risiko dimulai dari sumber risiko perubahan cuaca, kualitas bibit, penyakit, hama, dan sumber daya manusia. ANALISIS RISIKO PRODUKSI TOMAT CHERRY PADA PD PACET SEGAR, KECAMATAN CIPANAS, KABUPATEN CIANJUR, PROVINSI JAWA BARAT SKRIPSI ASHABUL YAMIN H34104022 DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 DAFTAR PUSTAKA [BPS] Badan Pusat Statistik. 2011. Produksi Sayuran Di Indonesia. Statistik Indonesia : BPS Indonesia. [Deptan] Departemen Pertanian. 2012. Produksi Sayuran di Propinsi Jawa Barat. Statistik Departemen Pertanian : Deptan Indonesia. Agromedia, Redaksi. 2007. Panduan Lengkap Budidaya Tomat. Agromedia. Jakarta : Basyib F. 2007. Manajemen Risiko. Jakarta: Pt. Grasindo. Cahyono, B. 2008. Tomat : Usaha Tani, dan Penanganan Pascapanen. Kanisius. Yogyakarta. 136 hal Cher P. 2011. Analisis Risiko Produksi Sayuran Organik Pada Pt Masada Organik Indonesia Di Bogor Jawa Barat. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Darmawi H. 2005. Manajemen Risiko. Jakarta : Bumi Aksara. Dewiaji T. 2011. Analisis Risiko Produksi Pembesaran Ikan Lele Dumbo (Clarias Gariepinus) Di Cv Jumbo Bintang Lestari Gunungsindur Kabupaten Bogor. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Fariyanti A, Sarianti T, Tinaprila N. Konsep Risiko dan Ketidakpastian. Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Ginting L. 2009. Risiko Produksi Jamur Tiram Putih Pada Usaha Cempaka Baru Di Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi Dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Harjadi S. 1989. Dasar-Dasar Hortikultura. Bogor : Jurusan Budidaya Tanaman, Institut Pertanian Bogor. Harwood, J, R. Heifner and K. Coble, J, Perry and A, Somwaru. 1999. Market and Trade Economics Division and Resource Economic Division, Economic Research Service. US Department of agriculture. Agricultural economic report no. 774. Hanafi M. 2006. Manajemen Risiko. Yogyakarta: Unit Penerbit Dan Percetakan Sekolah Tinggi Manajemen Ykpn. Kountur R. 2006. Manajemen Risiko Operasional (Memahami Cara Mengelola Risiko Operasional Perusahaan). Jakarta : Ppm. Kountur R. 2008. Mudah Memahami Manajemen Risiko Perusahaan. Jakarta : Ppm. Mujiburrahmad. 2011. Analisis Produktivitas Usahatani Tomat Berbasis Agroklimat, (Kasus Dataran Medium dan Dataran Tinggi). Sains Riset Volume 1 - No. 2. Parengkuan H. 2011. Analisis Risiko Produksi Jamur Tira Putih Pada Yayasan Paguyuban Ikhlas Di Desa Cibening Kecamatan Pamijahan Kabupaten Bogor. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Pinto B. 2011. Analisis Risiko Produksi Pada Peternakan Ayam Broiler Milik Bapak Restu Di Desa Cijayanti, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Puryanti Y. 2011. Analisis Risiko Produksi Sayuran Hidroponik Pada Pt Momenta Agrikultura (Amiazing Farm) Lembang, Jawa Barat. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi Dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Rahardi, F., R. Palungkun, dan A. Budiarti. 2001. Agribisnis Tanaman Sayur. Jakarta : Penebar Swadaya. Robinson, L.J. and P.J Berry. 1987. The Competitive Firm’s response to risk. New York. Macmillan Publising Company Silaban F. 2011. Analisis Risiko Produksi Ikan Hias Pada Pt Taufan Fish Farm Di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi Dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Situmeang H. 2011. Analisis Risiko Produksi Cabai Merah Keriting Pada Kelompoktani Pondok Menteng, Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Bogor. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Suarni S. 2006. Aplikasi Nitrobenzen Pada Tomat Cherry (Lycopersicon Esculentum VaR. Cerasiforme) Dalam Sistem Hidroponik. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Tarigan P. 2009. Analisis Risiko Produksi Sayuran Organikpada Permata Hati Organic Farm di Bogor, Jawa Barat. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Wisdya S. 2009. Analisis Risiko Produksi Anggrek Phalaenopsis Pada Pt Ekakarya Graha Flora Di Cikampek Jawa Barat [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. 68 ANALISIS RISIKO PRODUKSI TOMAT CHERRY PADA PD PACET SEGAR, KECAMATAN CIPANAS, KABUPATEN CIANJUR, PROVINSI JAWA BARAT SKRIPSI ASHABUL YAMIN H34104022 DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 RINGKASAN ASHABUL YAMIN. Analisis Risiko Produksi Tomat Cherry Pada PD Pacet Segar , Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan NARNI FARMAYANTI) Pertanian merupakan salah satu sektor kehidupan yang bidang pekerjaannya berhubungan dengan pemanfaatan alam sekitar dengan menghasilkan produk pertanian yang diperlukan oleh seluruh kalangan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan jasmaninya. Pertanian terbagi atas tiga sub sektor yaitu perkebunan, tanaman pangan, dan hortikultura. Holtikultura menjadi salah satu pusat perhatian karena berdasarkan data ekspor impor tahun 2008 dan 2009 menunjukkan bahwa sub sektor hortikultura mengalami peningkatan dalam hal impor. Hal ini disebabkan oleh rendahnya pasokan hortikultura dari dalam negeri dan tingginya minat masyarakat dalam mengkonsumsi produk impor. Sayuran adalah salah satu produk hortikultura. Sayuran memiliki karakteristik yang berbeda dengan komoditi lainnya. Komoditi ini memiliki risiko yang cukup besar yang menyebabkan ketergantungan antara pasar dengan konsumen dan produsen. Sayuran merupakan salah satu bahan makanan penting serta relatif murah dan cukup tersedia di Indonesia, yang memiliki kondisi agroklimat sesuai untuk tumbuh dan berproduksi dengan baik. Kandungan vitamin dan mineral yang lengkap serta bervariasi juga banyak mengandung serat menyebabkan sayuran dapat dijadikan sebagai bahan makanan bergizi yang dapat menunjang kesehatan (Rahardi et al. 2001). Pengelolaan usaha pertanian khususnya budidaya sayuran dihadapkan pada risiko produksi. Salah satu jenis sayurannya adalah tomat cherry. Budidaya tomat cherry dihadapkan pada risiko produksi. Risiko produksi ini disebabkan oleh beberapa faktor sehingga terjadinya fluktuasi produksi setiap periodenya. Oleh karena itu, pelaku bisnis diharapkan dapat meminimalisir risiko tersebut agar dapat memperoleh keuntungan sesuai yang diharapkan. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengidentifikasi sumber-sumber risiko produksi tomat cherry pada PD Pacet Segar, (2) Menganalisis probabilitas dan dampak sumber-sumber risiko produksi tomat cherry terhadap pendapatan PD Pacet Segar, (3) Menganalisis alternatif strategi yang diterapkan untuk mengatasi risiko produksi yang dihadapi oleh usaha budidaya tomat cherry pada PD Pacet Segar. Penelitian ini dilaksanakan di PD Pacet Segar Cianjur. Penelitian ini dilakukan dari bulan Maret – Mei 2012. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder, kedua data ini bersifat kuantitatif dan kualitatif. Data primer diperoleh melalui wawancara dan pengisian kuesioner. Proses wawancara dan pengisian kuisioner dilakukan terhadap pimpinan yang sekaligus penanggung jawab produksi. Sedangkan data sekunder diperoleh dari skripsi, jurnal, Departemen Pertanian, Biro Pusat Statistik, buku-buku pendukung dalam penyusunan skripsi. Hasil analisis risiko produksi tomat cherry pada PD Pacet Segar ditemukan lima sumber risiko produksi yaitu pengaruh cuaca, hama, penyakit, kualitas bibit, dan sumber daya manusia. Sumber risiko pengaruh cuaca memiliki probabilitas dan dampak paling besar diantara sumber-sumber risiko lainnya. Probabilitas dari sumber risiko ini adalah 44 persen dan nilai dampaknya yang dihitung dengan metode VaR dengan tingkat kepercayaan 95 persen adalah Rp 9.722.492,00. Nilai probabilitas dan dampaknya berurutan setelah sumber risiko perubahan cuaca adalah kualitas bibit, penyakit, hama, dan sumber daya manusia. Setelah dilakukan identifikasi terhadap sumber-sumber risiko, maka dilakukan pemetaan risiko yang akhirnya didapatkan alternatif strategi penanganan terhadap sumber risiko tersebut. Sumber risiko yang penanganannya dengan strategi preventif adalah penyakit, pengaruh cuaca, dan kualitas bibit. Sumber risiko ini berada pada kuadran I dan II yang mana memiliki probabilitas yang tinggi. Sumber risiko yang dilakukan penanganan dengan strategi mitigasi adalah kualitas bibit dan perubahan cuaca. Sumber risiko tersebut memiliki probabilitas dan dampak yang besar. Strategi penanganan risiko yang diusulkan untuk sumber risiko pengaruh cuaca adalah melakukan budidaya dengan menggunakan greenhouse, sehingga probabilitas dan dampak risiko dapat diminimalkan. Budidaya dengan meggunakan greenhouse dapat meminimalkan kematian tanaman yang disebabkan oleh perubahan cuaca dan juga meminimalkan sumber risiko lainnya seperti serangan hama dan penyakit dan meningkatkan produktivitas tanaman tomat. Berdasarkan hasil diskusi dengan pihak manajemen perusahaan, strategi penanganan terhadap sumber risiko kualitas bibit dilakukan dengan melakukan kerja sama dengan ICDF dalam menghasilkan bibit yang berkualitas dan juga pihak perusahaan khususnya penanggung jawab prosuksi ikut mempelajari bagaimana melakukan pembenihan tomat cherry yang baik. Hal ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap bibit dari ICDF, karena bibit tomat cherry tidak dijual di pasaran. Penanganan terhadap sumber risiko yang disebabkan oleh penyakit dilakukan dengan melakukan penyemprotan fungisida ganda, khususnya pada musim hujan. Penyemprotan ini bertujuan agar tanaman tidak mudah terserang penyakit, khususnya penyakit layu fusarium. Selain itu, penanganan juga dilakukan dengan pembuatan drainase yang bagus dan bedengan dengan tinggi 25–30 cm dari permukaan tanah. Pembuatan bedengan yang tinggi ini bertujuan untuk mengurangi kelembaban tanah sehingga tanaman tidak terjangkit penyakit layu fusarium. iii ANALISIS RISIKO PRODUKSI TOMAT CHERRY PADA PD PACET SEGAR, KECAMATAN CIPANAS, KABUPATEN CIANJUR, PROVINSI JAWA BARAT ASHABUL YAMIN H34104022 Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk Memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Agribisnis DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 Judul Skripsi : Analisis Risiko Produksi Tomat Cherry pada PD Pacet Segar Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat Nama : Ashabul Yamin Nrp : H34104022 Menyetujui, Pembimbing Ir. Narni Farmayanti, M.Sc. NIP. 19630228 199003 2 001 Mengetahui : Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS NIP. 19580908 198403 1 002 Tanggal Lulus: PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Analisis Risiko Produksi Tomat Cherry pada PD Pacet Segar, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat” adalah karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini. Bogor, Juli 2012 Ashabul Yamin H34104022 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Provinsi Sumatera Barat tepatnya di Kota Payakumbuh pada tanggal 18 November 1988 sebagai putera dari Bapak Syahrial dan Ibu Nelia Irawati. Penulis adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Penulis memulai pendidikan di Taman Kanak-Kanak Islam Raudhatul Jannah, kota Payakumbuh dan lulus pada tahun 1995. Melanjutkan pendidikan sekolah dasar (SD Islam Raudhatul Jannah, kota Payakumbuh) dan selesai pada tahun 2001. Penulis menyelesaikan pendidikan tingkat menengah pada tahun 2004 di MTsN Limbanang, Kecamatan Suliki Gunung Mas, Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat. Pada tahun 2007 penulis dapat menyelesaikan pendidikan tingkat atas pada SMAN 1 Kota Payakumbuh, Sumatera Barat. Pada tahun yang sama (2007) penulis kemudian melanjutkan pendidikannya di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan terdaftar sebagai mahasiswa Program Keahlian Manajemen Agribisnis Direktorat Program Diploma IPB melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB) dan lulus pada tahun 2010. Tahun 2010 penulis melanjutkan studi ke jenjang strata satu dan diterima sebagai mahasiswa Alih Jenis Agribisnis Institut Pertanian Bogor. KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Allah SWT atas segala berkat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Risiko Produksi Tomat Cherry pada PD Pacet Segar, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat”. Penelitian ini bertujuan menganalisis risiko produksi tomat cherry yang dihadapi oleh PD Pacet Segar. Penulis menyadari masih terdapat kekurangan karena keterbatasan dan kendala yang dihadapi. Namun demikian penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Bogor, Juli 2012 Ashabul Yamin UCAPAN TERIMA KASIH Penyelesaian skripsi ini juga tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Sebagai bentuk rasa syukur kapada Allah, penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada : 1. Ir. Narni Farmayanti, M.Sc sebagai dosen pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktunya untuk meberikan nasehat, masukan dan ilmunya selama penulisan skripsi. 2. Eva Yolynda Aviny, SP. MM dan Dr. Ir. Anna Fariyanti, M.Si sebagai dosen pembimbing akademik yang telah memberikan waktu, bimbingan selama perkuliahan pada Program Alih Jenis Agribisnis Institut Pertanian Bogor. 3. Dr. Ir. Anna Fariyanti, M.Si sebagai dosen penguji utama yang telah memberikan ilmu, kritik, masukan, dan saran untuk perbaikan penulisan skripsi ini. 4. Dra. Yusalina, MS sebagai dosen penguji komisi pendidikan yang telah memberikan ilmu, kritik, masukan, dan saran untuk perbaikan penulisan skripsi ini. 5. Tintin Sarianti, SP. MM sebagai dosen evaluator yang telah memberikan saran, kritik, dan masukan untuk perbaikan penulisan proposal penelitian. 6. Ayahanda Syahrial dan Ibunda Nelia Irawati serta keluarga besar atas perhatian, kasih sayang, doa, dan semangat yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. 7. Friska J Kembaren sebagai pembahas yang teelah memberikan masukan kepada penulis. 8. Seluruh pihak PD Pacet Segar atas waktu, kesempatan, informasi, dan dukungan yang diberikan. 9. Leo J.E. Nugroho, Ak., CFE. sebagai Pimpinan LPP Pengadaan Intens dan seluruh keluarga besar LPP Pengadaan Intens yang telah memberikan semangat, dukungan, dan doa sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi. 10. Bona Pinto, SE. terima atas waktu dan bimbingannya selama penulisan skripsi ini. 11. Teman-teman seperjuangan program Alih Jenis Agribisnis angkatan 1 atas semangat dan sharing selama penelitian hingga penulisan skripsi dan seluruh pihak terkait yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang ikut andil membantu penulis dalam penulisan skripsi ini. Bogor, Juli 2012 Ashabul Yamin DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ..................................................................................... xiii DAFTAR GAMBAR ................................................................................. xiv DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................. xv I PENDAHULUAN ............................................................................. 1 1.1. Latar Belakang ....................................................................... 1 1.2. Perumusan Masalah................................................................ 5 1.3. Tujuan Penelitian.................................................................... 6 1.4. Manfaat Penelitian.................................................................. 7 II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 8 2.1 Gambaran Umum Tomat Cherry............................................ 8 2.2 Penelitian Terdahulu .............................................................. 8 III KERANGKA PEMIKIRAN.......................................................... 13 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis ............................................... 13 3.1.1 Konsep Risiko .......................................................... 13 3.1.2. Jenis dan Sumber Risiko .......................................... 14 3.1.3 Analisis Risiko.......................................................... 15 3.1.4 Manajemen Risiko .................................................... 17 3.2 Teknik Pemetaan ................................................................... 19 3.3 Kerangka Pemikiran Operasional ......................................... 21 IV METODE PENELITIAN .............................................................. 22 4.1 Lokasi dan waktu ................................................................. 22 4.2. Jenis dan Sumber Data ......................................................... 22 4.3 Metode Pengumpulan Data .................................................. 22 4.4 Metode Analisis Data ........................................................... 23 4.4.1 Analisis Deskriptif .................................................... 24 4.4.2 Analisis Kemungkinan Terjadinya Risiko ................ 24 4.4.3 Analisis Dampak Risiko ........................................... 25 4.4.4 Pemetaan Risiko ....................................................... 26 4.4.5 Penanganan Risiko ................................................... 27 V KERAGAAN PERUSAHAAN ...................................................... 29 5.1 Sejarah dan Perkembangan Perusahaan ............................... 29 5.2 Lokasi Perusahaan ................................................................ 31 5.3 Struktur Organisasi Perusahaan ............................................ 32 5.4 Deskripsi Kegiatan Bisnis .................................................... 34 5.4.1 Pengadaan Input ....................................................... 34 5.4.2. Proses Produksi ........................................................ 35 5.4.3 Pemasaran .................................................................. 36 5.4.5 Deskripsi Keuangan Perusahaan ................................. 37 5.5. Deskripsi Sumber Daya Perusahaan..................................... 37 5.5.1 Sumber Daya Fisik ................................................... 37 5.5.2. Sumber Daya Modal ................................................. 38 5.5.3. Sumber Daya Manusia ............................................. 38 VI ANALISIS RISIKO PRODUKSI TOMAT CHERRY ............... 40 6.1 Identifikasi Sumber-Sumber Risiko ........................................... 40 6.2 Analisis Probabilitas Risiko Produksi ........................................ 45 6.3 Analisis Dampak Risiko Produksi.............................................. 52 6.4 Pemetaan Risiko Produksi .......................................................... 58 6.5 Strategi Penanganan Risiko Produksi .................................. 61 VII KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................... 66 7.1 Kesimpulan ........................................................................... 66 7.2 Saran ..................................................................................... 66 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 67 LAMPIRAN ................................................................................................ 69 xii DAFTAR TABEL Nomor 1. Halaman Perkembangan Ekspor Impor Komoditas Pertanian Indonesia Tahun 2008 – 2009 ...................................................................... 1 Produksi Sayuran di Jawa Barat Tahun 2000 – 2010 (satuan ton) ................................................................................................ 3 Produksi dan Produktivitas Tomat Cherry pada PD Pacet Segar dari Mei 2010 – Februari 2012 ..................................................... 5 Jenis, Sumber Data dan Metode Analisis yang Digunakan Dalam Penelitian .......................................................................... 23 6. Sumber Daya Fisik PD Pacet Segar Tahun 2012 .......................... 37 7. Peralatan Budidaya yang digunakan oleh PD Pacet Segar ........... 38 8. Hasil Perhitungan Probabilitas Sumber-Sumber Risiko Produksi Budidaya Tomat Cherry pada PD Pacet Segar ............. 46 Analisis Probabilitas Sumber Risiko Perubahan Cuaca................ 46 10. Analisis Probabilitas Sumber Risiko Kualitas Bibit ..................... 48 11. Analisis Probabilitas Sumber Risiko Penyakit ............................. 49 12. Analisis Probabilitas Sumber Risiko Hama .................................. 50 13. Analisis Probabilitas Sumber Risiko Sumber Daya Manusia ....... 51 14. Analisis Dampak Sumber Risiko Perubahan Cuaca ..................... 53 15. Analasis Dampak Sumber Risiko Kualitas Bibit .......................... 54 16. Analisis Dampak Sumber Risiko Penyakit .................................... 55 17. Analisis Dampak Sumber Risiko Hama......................................... 56 18. Analisis Sumber Risiko Sumber Daya Manusia ............................ 57 19. Dampak dari Masing-Masing Sumber Risiko Produksi ................ 58 20. Status Risiko untuk Setiap Sumber Risiko Produksi ..................... 59 2. 4. 5. 9. DAFTAR GAMBAR Nomor 1. Halaman Hubungan Antara Varian Return dengan Expected Return dan Utilitas dengan Marginal Utility. ................................................. 16 2. Hubungan Risiko dengan Return .................................................. 17 3. Proses Pengelolaan Risiko Perusahaan ......................................... 18 4. Peta Risiko .................................................................................... 20 5. Alur Kerangka Pemikiran Operasional ......................................... 21 6. Peta Risiko .................................................................................... 26 7. Preventif Risiko ............................................................................ 27 8. Mitigasi Risiko .............................................................................. 28 9. Struktur Organisasi PD Pacet Segar Tahun 2012 ......................... 32 10. White Fly pada Daun Tomat ......................................................... 42 11. Serangan Leafminer pada Daun Tomat ......................................... 42 12. Hasil Pemetaan Sumber-Sumber Risiko Produksi ........................ 60 13. Penangaan Risisko dengan Strategi Preventif ............................... 64 14. Penanganan Risiko dengan Strategi Mitigasi................................ 65 DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1. Halaman Produksi Tomat Cherry (2000 tanaman/periode) selama 10 Periode Terakhir (satuan kg) ..................................................... 70 Besarnya Kehilangan Produksi yang Disebabkan oleh Masing- Masing Sumber Risiko ................................................ 71 Kehilangan Produksi Tomat Cherry yang Disebabkan Perubahan Cuaca ....................................................................... 72 4. Kehilangan Produksi yang disebabkan Penyakit ....................... 73 5. Kehilangan Produksi yang Disebabkan Sumber Risiko Hama .. 74 6. Proses Budidaya Tomat Cherry pada PD Pacet Segar ............... 75 2. 3. I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertanian merupakan salah satu sektor kehidupan yang bidang pekerjaannya berhubungan dengan pemanfaatan alam sekitar dengan menghasilkan produk pertanian yang diperlukan oleh seluruh kalangan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan jasmaninya. Salah satu sektor pertanian yang menjadi pusat perhatian adalah sub sektor hortikultura. Hal ini disebabkan komoditi hortikultura satu-satunya yang volume impornya meningkat dari tahun 2008 ke tahun 2009. Tabel 1. No 1 2 3 Perkembangan Ekspor Impor Komoditas Pertanian Indonesia Tahun 2008 – 2009 Sub Sektor Ekspor Tanaman Pangan Impor Hortikultura Perkebunan 2008 (US$000) 348.883 2009 Perkembangan (US$000) (%) 321.261 -8,60 3.526.957 2.737.862 -28,82 Ekspor 433.921 379.739 -14,27 Impor 926.045 1.077.463 14,05 Ekspor 27.369.363 21.581.669 -26,82 Impor 4.535.918 3.949.191 -14,86 Sumber : Departemen Pertanian, 2011 (diolah) Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa laju pertumbuhan nilai impor dari tahun 2008 sampai tahun 2009 untuk setiap sub sektor pertanian cenderung menurun, hal ini juga diikuti oleh penurunan nilai ekspor. Berbeda dengan sub sektor hortikultura mengalami peningkatan nilai impor sebesar 14,05 persen. Peningkatan impor di sub sektor hortikultura ini perlu dilakukan analisis, untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan peningkatan impor tersebut. Peningkatan impor tersebut selain disebabkan karena permintaan konsumen domestik yang lebih menyukai produk luar negeri, juga disebabkan ketidakmampuan dalam memproduksi produk-produk hortikultura, seperti produksi menurun dan terjadinya gagal panen. Sub sektor hortikultura terbagi atas sayuran, buah-buahan, tanaman hias dan tanaman biofarmaka. Beberapa produk hortikultura seperti sayuran, buah- buahan, dan tanaman biofarmaka sangat berguna bagi kebutuhan tubuh seperti sumber vitamin, mineral, penyegar, pemenuhan kebutuhan akan serat dan kesehatan. Oleh karena itu produk-produk hortikultura perlu ditingkatkan maupun dikembangkan selain untuk memenuhi permintaan konsumen yang semakin meningkat juga karena berpotensi dalam meningkatkan penghasilan. Sayuran adalah salah satu produk hortikultura. Sayuran memiliki karakteristik yang berbeda dengan komoditi lainnya. Komoditi ini memiliki risiko yang cukup besar yang menyebabkan ketergantungan antara pasar dengan konsumen dan produsen. Sayuran merupakan salah satu bahan makanan penting serta relatif murah dan cukup tersedia di Indonesia, yang memiliki kondisi agroklimat sesuai untuk tumbuh dan berproduksi dengan baik. Kandungan vitamin dan mineral yang lengkap serta bervariasi juga banyak mengandung serat menyebabkan sayuran dapat dijadikan sebagai bahan makanan bergizi yang dapat menunjang kesehatan (Rahardi et al. 2001). Propinsi Jawa Barat merupakan salah satu daerah penghasil komoditi sayuran di Indonesia. Dengan dukungan kondisi alamnya, Jawa Barat menjadi salah satu sentra produksi sayuran di Indonesia. Daerah Jawa Barat memproduksi beberapa jenis sayuran diantaranya adalah tomat, wortel, kentang, kol, bawang merah, dan bawang putih. Berdasarakn data yang diperoleh dari Departemen Pertanian, dari keenam komoditi diatas, hanya komoditi tomat yang produksinya relatif meningkat setiap tahun, yaitu 1,31 persen per tahun. Peningkatan produksi ini disebabkan oleh dua faktor, yaitu peningkatan luas lahan yang dipanen dan peningkatan produktivitas tanaman. Berdasarkan data statistik Departemen Pertanian, peningkatan produksi tomat di daerah Jawa Barat disebabkan oleh produktivitas tomat dari tahun 2000 – 2010, yaitu dari 21,5 ton/ha pada tahun 2000 menjadi 30,5 ton/ha pada tahun 2010. Data produksi keenam jenis sayuran tersebut dari tahun 2000 – 2010 dapat dilihat pada Tabel 2. 2 Tabel 2. Produksi Sayuran di Jawa Barat Tahun 2000 – 2010 (satuan ton) Kol (Kubis) Bawang Merah Bawang Putih 462.800 501.381 122.389 1.374 153.854 385.618 490.449 103.326 177 313.926 144.703 363.327 431.208 96.619 1.311 2003 261.493 182.683 375.167 438.091 120.219 1.415 2004 240.605 203.591 418.230 454.815 121.194 1.331 2005 286.285 215.177 359.891 434.576 118.795 579 2006 241.091 192.964 349.158 351.092 112.964 751 2007 267.220 130.659 337.368 369.517 116.142 549 2008 269.404 136.378 292.253 280.362 116.929 460 2009 309.653 128.253 320.542 298.332 123.587 10 2010 304.774 113.576 275.101 286.647 116.396 73 2011 354.832 115.296 220.155 270.780 101.273 892 1,31 - 2,07 - 4,59 - 4,89 - 0,04 101,78 Tahun Tomat Wortel 2000 291.036 157.830 2001 264.894 2002 % rata-rata pertumbuhan Kentang Sumber : Deptan, 2012 (diolah) Data pada Tabel 2 merupakan data produksi tomat secara keseluruhan. Berdasarkan bentuknya, tomat dibedakan menjadi lima, yaitu : 1. Tomat biasa (Lycopersicum esculentum Mill, var. Commune Bailey). Berbentuk bulat pipih tidak teratur, sedikit beralur terutama di dekat tangkai. Tomat jenis ini banyak ditemui di pasar-pasar lokal. 2. Tomat apel/pir (Lycopersicum esculentum Mill, var. Pyriforme Alef). Berbentuk bulat seperti buah apel atau pir. 3. Tomat kentang atau tomat daun lebar (Lycopersicum esculentum Mill, var. Grandifolium Bailey). Berbentuk bulat besar, padat dan kompak. Ukuran buahnya lebih besar dibandingkan tomat apel. 4. Tomat tegak (Lycopersicum esculentum Mill, var. Validum Bailey). Buahnya berbentuk agak lonjong dan teksturnya keras. Sementara itu, daunnya rimbun, berbentuk keriting, berwarna kelam. Pertumbuhan tanaman agak tegak dengan percabangan mengarah ke atas 3 5. Tomat cherry (lycopersicum esculentum Mill, var. Cerasiforme Alef). Buahnya berukuran kecil berbentuk bulat atau bulat memanjang. Warnanya merah atau kuning. Tomat mungil ini berasal dari Ekuador atau Peru. Diantara kelima jenis tomat di atas, tomat cherry memiliki keunggulan ekonomis dibandingkan tomat jenis lain. Keunggulan terletak pada harga jual yang tinggi dan relatif stabil. Perusahaan/petani yang membudidayakan tomat cherry sedikit, karena benihnya tidak dijual umum dipasaran, sehingga harga jual tomat cherry relatif stabil, karena tidak pernah terjadi panen raya atau panen secara besar-besaran seperti tomat sayur. Harga jual tomat cherry dalam periode 2 tahun terakhir berkisar antara Rp 7.500,00 – Rp 8.500,00 per kg (PD Pacet Segar 2012). Teknologi budidaya yang digunakan dalam membudidayakan tomat cherry yaitu secara konvensial dan greenhouse. Tomat cherry merupakan salah satu jenis tomat yang lebih banyak dibudidayakan dengan sistim hidroponik di greenhouse karena hama dan penyakit tanaman dapat dikendalikan sehingga dapat meminimalisir tanaman terserang hama dan penyakit. Namun untuk membudidayakan secara hidroponik itu harus memiliki keahlian khusus dan membutuhkan investasi yang sangat besar, sehingga beberapa perusahaan/petani yang memiliki modal yang tidak terlalu besar lebih memilih membudidayakan tomat cherry dengan sistim konvensional. PD Pacet Segar yang berlokasi di Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur Propinsi Jawa Barat merupakan salah satu perusahaan yang membudidayakan tomat cherry. Selain PD Pacet Segar, PT Saung Mirwan juga membudidayakan tomat cherry di kawasan Cipanas. Namun kedua perusahaan ini membudidayakan tomat cherry dengan sistim yang berbeda. PT Saung Mirwan membudidayakan tomat cherry dengan sistim hidroponik menggunakan greenhouse, sedangkan PD Pacet Segar membudidayakannya dengan sistim konvensional. Membudidayakan tomat cherry dengan sistim konvensional tidak berbeda dengan membudidayakan tomat jenis lain. Budidaya tomat cherry secara konvensional ini sangat bergantung dengan alam sehingga menyebabkan fluktuasi produktivitas tomat cherry. Adanya 4 fluktuasi tersebut, maka diidentifikasi perusahaan menghadapi risiko produksi dalam membudidayakan tomat cherry. 1.2. Perumusan Masalah PD Pacet Segar yang berlokasi di Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat merupakan satu-satunya perusahaan yang membudidayakan tomat cherry dengan sistim konvensional. Dalam satu siklus produksi, tomat cherry yang dibudidayakan adalah 2000 tanaman. Dalam melakukan budidaya, perusahaan menghadapi risiko produksi. Berdasarkan informasi dari pihak manajemen perusahaan, risiko produksi berpengaruh signifikan terhadap penerimaan perusahaan, namun penanganan terhadap risiko belum dilaksanakan dengan baik, hal ini terbukti dari produksi yang masih berfluktuasi. Data produksi dan produktifitas tomat cherry 10 periode terakhir dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 3. Produksi dan Produktivitas Tomat Cherry pada PD Pacet Segar dari Mei 2010 – Februari 2012 Periode Waktu 1 Mei - Agustus 2010 2 Juli - Oktober 2010 3 September - Desember 2010 4 November 2010 - Februari 2011 5 Januari - April 2011 6 Maret - Juni 2011 7 Mei - Agustus 2011 8 Juli - Oktober 2011 9 September - Desember 2011 10 November 2011 - Februari 2012 Sumber : PD Pacet Segar, Februari 2012 Produksi 2000 tanaman (kg) 3184 4538 2095 1268 540 2168 3520 5304 2360 626 Produktivitas (kg/tanaman) 1,59 2,27 1,05 0,63 0,27 1,08 1,76 1,66 1,18 0,31 Berdasarkan data pada Tabel 4, produksi dan produktivitas tomat cherry pada PD Pacet Segar mengalami fluktuasi dalam 10 periode terakhir (Mei 2010 – Februari 2012). Namun pada kenyataannya produktivitas tomat cherry pada PD Pacet Segar mengalami penurunan pada musim tanam tertentu. Budidaya tomat cherry dilakukan dengan sistim pola tanam dengan tujuan panen dapat kontinu setiap tiga hari sekali. Pengaturan pola tanam ini dilakukan setiap selang dua bulan sekali karena proses budidaya tomat cherry sebelum dimulai proses tanam 5 adalah dua bulan. Selanjutnya proses pemanenan juga dilakukan selama dua bulan dengan jangka waktu pemanenan tiga hari sekali atau dua kali dalam satu minggu. Pemanenan pada kondisi normal dilakukan sebanyak 15 kali penen. Produktivitas normal untuk tomat cherry yang dibudidayakan secara konvensional adalah 1,5 – 2,5 kg/tanaman (kasie produksi PD Pacet Segar). Fluktuasi ini menunjukkan adanya risiko produksi yang dihadapi oleh perusahaan. Risiko produksi yang dihadapi memiliki dampak bagi perusahaan. Dampak tersebut bisa berdampak positif maupun negatif. Untuk itu maka perlu dilakukan analisis terhadap peluang dan dampak dari sumber risiko tersebut terhadap pendapatan perusahaan. Besarnya peluang dan dampak sumber risiko terhadap pendapatan menuntut perusahaan untuk lebih bijaksana dalam mengambil keputusan untuk mengatasi risiko agar perusahaan dapat berproduksi optimal dan memperoleh keuntungan. Dengan mempertimbangkan kondisi yang telah diuraikan di atas, maka permasalahan yang dapat dirumuskan dalam penelitian adalah sebagai berikut : 1. Apa saja sumber-sumber risiko produksi tomat cherry pada PD Pacet Segar? 2. Berapa besar probabilitas dan dampak dari sumber-sumber risiko produksi tomat cherry terhadap penerimaan PD Pacet Segar? 3. Bagaimana alternatif strategi yang diterapkan dalam mengatasi risiko produksi tomat cherry yang dihadapi oleh PD Pacet Segar? 1.3. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk : 1. Mengidentifikasi sumber-sumber risiko produksi tomat cherry pada PD Pacet Segar. 2. Menganalisis probabilitas dan dampak sumber-sumber risiko produksi tomat cherry terhadap penerimaan PD Pacet Segar. 3. Menganalisis alternatif strategi yang diterapkan untuk mengatasi risiko produksi yang dihadapi oleh usaha budidaya tomat cherry pada PD Pacet Segar. 6 1.4. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat, diantaranya : 1. Sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi perusahaan dalam mengambil keputusan bisnis, sehingga perusahaan dapat mengambil keputusan yang tepat. 2. Sebagai bahan rujukan untuk penelitian selanjutnya, sehingga penelitian selanjutnya dapat menganalisis lebih baik lagi khususnya penulisan ilmiah tentang risiko produksi tomat cherry. 3. Menambah wawasan dan pengalaman peneliti. 7 II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Umum Tomat Cherry Tomat (Lycopersicon esculentum) termasuk dalam famili Solanaceae. Tomat varietas cerasiforme (Dun) Alef sering disebut tomat cherry yang didapati tumbuh liar di Ekuador dan Peru, dan telah menyebar luas di seluruh dunia, dan di beberapa negara tropis menjadi berkembang secara alami (Harjadi 1989). Tomat cherry memiliki beberapa varietas diantaranya adalah Royal Red Cherry yang berdiameter 3.1 - 3.5 cm dan Short Red Cherry yang berdiameter 2 - 2.5 cm, Oregon Cherry yang diameternya 2.5 - 3.5 cm dengan bobot 10 - 20 g, serta Golden Pearl yang bobotnya 8 - 10 g dan Season Red yang bobotnya 25 g diproduksi oleh Known You Seed di Taiwan (Cahyono 2008) Tomat merupakan tanaman perdu semusim, berbatang lemah dan basah. Daunnya berbentuk segitiga. Bunganya berwarna kuning. Buahnya buah buni, hijau waktu muda dan kuning atau merah waktu tua. Berbiji banyak, berbentuk bulat pipih, putih atau krem, kulit biji berbulu. Perbanyakan dengan biji kadangkadang dengan setek batang cabang yang telah tua. Tomat secara umum dapat ditanam di dataran rendah, medium, dan tinggi, tergantung varietasnya. Namun, kebanyakan varietas tomat hasilnya lebih memuaskan apabila ditanam di dataran tinggi yang sejuk dan kering sebab tomat tidak tahan panas terik dan hujan. Suhu optimal untuk pertumbuhannya adalah 23° C pada siang hari dan 17° C pada malam hari. Tanah yang cocok untuk tanaman ini adalah tanah itu banyak mengandung humus, gembur, sarang, dan berdrainase baik. Sedangkan keasaman tanah yang ideal untuknya adalah netral, yaitu sekitar 6-7. Proses budidaya tomat cherry tidak berbeda dengan budidaya tomat jenis lain, yaitu dimulai dari persiapan media tanam, pemeliharaan pembibitan/ penyemaian, pemindahan bibit / transplanting, persiapan media tanam, teknik penanaman dan penentuan pola tanam, pemeliharaan tanaman, hama dan penyakit tanaman dan panen. 2.2 Penelitian Terdahulu Risiko merupakan kemungkinan kejadian yang akan menimbulkan dampak kerugian. Dalam menjalankan suatu bisnis, setiap keputusan selalu mengandung risiko. Oleh sebab itu kejelian menanggapi dan meminimalisir risiko merupakan sesuatu yang harus dilakukan setiap perusahaan. Terutama agribisnis yang merupakan usaha dengan makhluk hidup sebagai objek usaha yang sangat membutuhkan penanganan risiko yang efektif. Sumber-sumber risiko pada usaha produksi pertanian sebagian besar berasal dari faktor-faktor teknis seperti perubahan suhu, hama dan penyakit, penggunaan input serta kesalahan teknis dari tenaga kerja. Terdapat beberapa penelitian yang menganalisis risiko pada komoditi hortikultura seperti Purwanti (2011), Situmeang (2011), Cher (2011), Parengkuan (2011), Ginting (2009), Tarigan (2009), dan Wisdya (2009) yang masing masing menemukan sumber risiko pada produksi sayuran hidroponik, cabai merah keriting, sayuran organik, jamur putih, jamur tiram, dan Anggrek Phaleonopsis. Risiko produksi pada umumnya meliputi teknik budidaya, human error, serangan hama dan penyakit tanaman, gangguan teknologi irigasi (hidroponik) dan cuaca/iklim yang tidak pasti. Hasil penilaian risiko dengan menggunakan ukuran coeffisient variation (Purwanti 2011) adalah 0,28 yang artinya untuk setiap satu kilogram hasil yang diperoleh akan mengalami risiko sebesar 0,28 kg. Perhitungan expected return sebesar 4,67 yang artinya perolehan hasil sebanyak 4,67 kg/m2. Situmeang (2011) memperoleh perhitungan coefficient variation besaran risiko yang dihadapi oleh petani Pondok Menteng dalam usahatani cabai merah keriting yaitu 0,5, artinya untuk setiap satu kilogram cabai merah keriting yang dihasilkan akan mengalami risiko sebesar 0,5 kg pada saat terjadi risiko produksi. Oleh karena itu dalam manajemen risiko, setelah mengidentifikasi sumber risiko dan melakukan pengukuran risiko maka dilakukan penanganan terhadap risiko. Strategi pengelolaan risiko tanaman cabai merah keriting yang dilakukan meliputi dua hal yaitu strategi preventif dan strategi mitigasi. Strategi preventif yaitu dengan melakukan perawatan secara rutin dan terencana mulai dari penyemaian sampai panen. Strategi mitigasi yakni diversifikasi tidak begitu menguntungkan karena dari hasil perhitungan portofolio besaran risiko yang dihasilkan sama yaitu sebesar 0,5. 9 Berdasarkan hasil perbandingan risiko yang telah dilakukan (Cher 2011) dapat dikatakan bahwa dari seluruh kegiatan usahatani, tingkat risiko paling tinggi berdasarkan produktivitas adalah komoditi brokoli pada kegiatan spesialisasi dengan perolehan nilai coefficient variation sebesar 0,564. Selain itu, juga dapat dilihat bahwa tingkat risiko paling rendah dari keseluruhan kegiatan usaha adalah komoditi wortel pada kegiatan spesialisasi dengan perolehan nilai coefficient variation sebesar 0,241. Tanaman wortel merupakan tanaman yang paling tahan terhadap ancaman kondisi cuaca yang buruk maupun ancaman serangan hama dan penyakit. Selain itu, wortel paling mudah dibudidayakan dibandingkan dengan komoditi sayuran organik lainnya seperti bayam hijau, caisin, dan brokoli. Tingkat risiko yang paling kecil berdasarkan produktivitas pada komoditi wortel, pada kenyataannya tidak membuat perusahaan hanya mengusahakan sayuran wortel saja. Hal tersebut karena permintaan konsumen terhadap sayuran organik sangat beragam. Oleh sebab itu, perusahaan melakukan kegiatan portofolio dalam usahataninya. Tingkat risiko produksi yang paling kecil pada kegiatan portofolio berdasarkan produktivitas adalah pada kombinasi komoditi wortel dan caisin dengan perolehan coefficient variation sebesar 0,273. Dari hasil analisis portofolio tersebut menunjukkan bahwa diversifikasi dapat meminimalkan risiko produksi. Hasil analisis probabilitas dan dampak risiko jamur putih (Parengkuan 2011) menunjukkan bahwa probabilitas dan dampak risiko terbesar ada pada sumber risiko kesalahan penanganan pada saat proses sterilisasi log dengan nilai sebesar 45,2 persen, sedangkan perubahan suhu udara merupakan merupakan sumber risiko yang memberikan dampak terbesar dengan nilai Rp 17.053.516,00 Berdasarkan status risiko diperoleh hasil bahwa kesalahan pada saat proses sterilisasi yang paling berisiko dan kemudian secara berurutan diikuti oleh akibat gangguan hama, perubahan suhu udara, dan penyakit. Penilaian risiko pada jamur tiram (Ginting 2009) diperoleh nilai coefficient variation sebesar 0,32. Artinya, untuk setiap satu satuan hasil produksi yang diperoleh Cempaka Baru, maka risiko (kerugian) yang dihadapi adalah sebesar 0,32 satuan. Nilai expected return sebesar 0,25. Artinya, usaha Cempaka Baru dapat mengharapkan perolehan hasil sebanyak 0,25 kg per baglog untuk setiap kondisi dalam proses budidaya yang telah diakomodasi oleh perusahaan. Hal 10 tersebut menunjukkan bahwa kegiatan budidaya jamur tiram putih memberi harapan perolehan hasil produksi sebesar 0,25 kg untuk setiap baglog jamur tiram putih. Analisis spesialisasi risiko produksi (Tarigan 2009) berdasarkan produktivitas pada brokoli, bayam hijau, tomat dan cabai keriting diperoleh risiko yang paling tinggi dari keempat komoditas adalah bayam hijau yaitu 0.225 yang artinya setiap satu satuan yang dihasilkan maka risiko yang dihadapi akan sebesar 0,225. Sedangkan yang paling rendah adalah cabai keriting yakni 0.048 yang artinya setiap satu satuan yang dihasilkan maka risiko yang dihadapi akan sebesar 0,048. Hal ini dikarena bayam hijau sangat rentan terhadap penyakit terutama pada musim penghujan. Berdasarkan pendapatan bersih diperoleh risiko yang paling tinggi dari keempat komoditas adalah cabai keriting yaitu 0.80 yang artinya setiap satu rupiah yang dihasilkan maka risiko yang dihadapi akan sebesar 0.80. Sedangkan yang paling rendah adalah brokoli yakni 0.16 yang artinya setiap satu rupiah yang dihasilkan maka risiko yang dihadapi akan sebesar 0.16. Hal ini dikarena penerimaan yang diterima lebih kecil sedangkan biaya yang dikeluarkan tinggi. Analisis risiko produksi yang dilakukan pada kegiatan portofolio menunjukkan bahwa kegiatan diversifikasi dapat meminimalkan risiko. Analisis spesialisasi risiko produksi berdasarkan produktivitas (Wisdya 2009) pada tanaman anggrek menggunakan bibit teknik seedling dan mericlone diperoleh risiko yang paling tinggi adalah tanaman anggrek teknik seedling yaitu sebesar 0,078 yang artinya setiap satu satuan yang dihasilkan maka risiko yang dihadapi akan sebesar 0,078. Pembahasan beberapa penelitian di atas, diperoleh variabel yang menjadi sumber risiko produksi pada komoditas agribisnis khususnya pada produk-produk hortikultura meliputi faktor cuaca, hama dan penyakit tanaman, teknologi budidaya, dan human error. variabel sumber risiko tersebut diduga menjadi sumber risiko pada budidaya tomat cherry pada PD Pacet Segar. Pengukuran terhadap risiko dilakukan untuk mengukur pengaruh sumbersumber risiko terhadap suatu kegiatan bisnis melalui penggunaan suatu alat analisis tertentu. Salah satu alat analisis yang digunakan dalam pengukuran risiko adalah koefisien variasi (coefficient variation), ragam (variance) dan simpangan 11 baku (standard deviation). Ketiga ukuran tersebut berkaitan satu sama lain, jika nilai ketiga indikator tersebut semakin kecil maka risiko yang dihadapi kecil. Ketiga alat analisis ini digunakan oleh Purwanti (2011), Cher (2011), Situmeang (2011), Tarigan (2009), Wisdya (2009) dan Ginting (2009) dalam penelitiannya. Berbeda dengan Pinto (2011), Dewiaji (2011), dan Parengkuan (2011) menggunakan perhitungan rata-rata kejadian berisiko, standart deviation, z-score, probabilitas, dan VaR. Setelah dilakukan perhitungan VaR, selanjutnya dilakukan pemetaan terhadap sumber-sumber risiko yang akhirnya muncul strategi penanganan terhadap risiko yang dihadapi. Silaban (2011), Widsya (2009), dan Tarigan (2009) menggunakan perhitungan tambahan terhadap nilai coefficient variation, variance dan standard deviation untuk spesialisasi dan diversifikasi. Beberapa penelitian terdahulu yang telah dijabarkan di atas merupakan referensi bagi peneliti dalam melakukan penelitian. Secara umum sumber risiko produksi yang dihadapi oleh perusahaan/petani untuk komoditas hortikultura adalah pengaruh perubahan cuaca, serangan hama, penyakit tanaman, kesalahan teknologi budidaya, dan sumber daya manusia. Dalam pengukuran risiko, alat analisis yang banyak digunakan adalah coefficient variation, variance dan standard deviation. Namun dalam pengukuran probabilitas dan dampak dari sumber risiko digunakan alat analisis Z-score dan VaR. Berdasarkan referensi penelitian terdahulu, peneliti akan menggunakan alat analisis z-score dan VaR. Setelah diperoleh nilai z-score dan VaR, maka selanjutnya akan dilakukan pemetaan sumber-sumber risiko pada peta risiko dan dilanjutkan dengan perumusan alternatif strategi untuk menangani risiko sehingga tujuan penelitian dapat terjawab. 12 III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Konsep Risiko Risiko menunjukkan situasi, dimana terdapat lebih dari satu kemungkinan dari suatu keputusan dan peluang dari kemungkinan-kemungkinan tersebut diketahui atau dapat diestimasi. Risiko mengharuskan manajer sebagai pengambil keputusan untuk mengetahui segala kemungkinan hasil dari suatu keputusan dan juga peluang dari kemungkinan-kemungkinan tersebut. Risiko berhubungan dengan ketidakpastian, hal ini sesuai dengan pendapat Kountur (2008), yaitu ketidakpastian itu sendiri terjadi akibat kurangnya atau tidak tersedianya informasi menyangkut apa yang akan terjadi. Selanjutnya dijelaskan ketidakpastian yang dihadapi perusahaan dapat berdampak merugikan atau menguntungkan. Robinson dan Barry (1987), risiko menunjukkan peluang terhadap suatu kejadian yang dapat diketahui oleh pelaku bisnis sebagai pembuat keputusan dalam bisnis. Secara umum peluang suatu kejadian dalam kegiatan bisnis dapat ditentukan oleh pembuat keputusan berdasarkan data historis atau pengalaman selama mengelola kegiatan usahanya. Risiko pada umumnya berdampak negatif terhadap pelaku bisnis. Sedangkan menurut Harwood, et al. (1999), risiko menunjukkan kemungkinan kejadian yang menimbulkan kerugian bagi pelaku bisnis yang mengalaminya. Basyib (2007) mendefinisikan risiko itu sendiri sebagai peluang terjadinya hasil yang tidak diinginkan, sehingga risiko hanya terkait dengan situasi yang memungkinkan munculnya hasil yang negatif serta berkaitan dengan kemampuan memperkirakan terjadinya hasil negatif tersebut. Kejadian risiko merupakan kejadian yang memunculkan kerugian atau peluang terjadinya hasil yang tidak diinginkan. Sementara itu kerugian oleh risiko memiliki arti kerugian yang diakibatkan kejadian risiko, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kerugian itu sendiri dapat berupa kerugian finansial maupun kerugian nonfinansial. 3.1.2. Jenis dan Sumber Risiko Menurut Harwood et al (1999), terdapat beberapa sumber risiko yang dapat dihadapi oleh petani, yaitu : 1. Risiko produksi Sumber risiko yang berasal dari kegiatan produksi diantaranya adalah gagal panen, rendahnya produktivitas, kerusakan barang yang ditimbulkan oleh serangan hama dan penyakit, perbedaan iklim dan cuaca, kesalahan sumberdaya manusia, dan masih banyak lagi. 2. Risiko Pasar atau Harga Risiko yang ditimbulkan oleh pasar diantaranya adalah barang tidak dapat dijual yang diakibatkan ketidakpastian mutu, permintaan rendah, ketidakpastian harga output, inflasi, daya beli masyarakat, persaingan, dan lain-lain. Sementara itu risiko yang ditimbulkan oleh harga antara lain harga dapat naik akibat dari inflasi. 3. Risiko Kebijakan Risiko yang ditimbulkan oleh kebijakan-kebijakan antara lain adanya kebijakan-kebijakan tertentu yang keluar dari dalam hal ini sebagai pemegang kekuasaan pemerintah yang dapat menghambat kemajuan suatu usaha. Dalam artian kebijakan tersebut membatasi gerak dari usaha tersebut. Contohnya adalah kebijakan tarif ekspor. 4. Risiko Finansial Risiko yang ditimbulkan oleh risiko finansial antara lain adalah adanya piutang tak tertagih, likuiditas yang rendah sehingga perputaran usaha terhambat, perputaran barang rendah, laba yang menurun akibat dari krisis ekonomi dan sebagainya. Kountur (2006) mengelompokkan jenis risiko berdasarkan sundut pandang. Risiko berdasarkan sudut pandangnya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu risiko berdasarkan akibat yang ditimbulkan dan berdasarkan penyebab timbulnya risiko tersebut. 14 Risiko yang dilihat dari akibat yang ditimbulkan dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu : 1. Risiko spekulatif adalah jenis risiko yang berakibat merugikan atau sebaliknya memberikan keuntungan. 2. Risiko murni adalah jenis risiko yang akibatnya tidak memungkinkan untuk memperoleh keuntungan dan yang ada hanyalah kerugian. Pengelompokan risiko berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu : 1. Risiko Keuangan merupakan jenis risiko yang disebabkan oleh faktorfaktor keuangan seperti perubahan harga, perubahan mata uang, dan perubahan tingkat suku bunga. 2. Risiko Operasional merupakan jenis risiko yang disebabkan oleh faktorfaktor operasional seperti faktor manusia, teknologi, dan alam. 3.1.3 Analisis Risiko Analisis risiko berhubungan dengan teori pengambilan keputusan (decision theory). Individu diasumsikan untuk bertindak rasional dalam mengambil keputusan bisnis. Alat analisis yang umumnya digunakan dalam menganalisis mengenai pengambilan keputusan yang berhubungan dengan risiko yaitu expected utility model. Analisis mengenai pengambilan keputusan yang berhubungan dengan risiko dapat menggunakan expected utility model. Model ini digunakan karena adanya kelemahan yang terdapat pada expected return model, yaitu bahwa yang ingin dicapai oleh seseorang bukan nilai (return) melainkan kepuasan (utility). Hubungan fungsi kepuasan dengan pendapatan dan expected return dengan varian return menggambarkan bagaimana perilaku seorang pelaku bisnis dalam mengambil keputusan terhadap risiko yang dihadapi. Hubungan tersebut dapat dilihat pada Gambar 1. 15 Utility(U) Expected Return U(y)3 U(y)2 U1 U(y)1 U2 U3 Y VaRian Return Gambar 1. Hubungan Antara varian Return dengan Expected Return dan Utilitas dengan Marginal Utility. Sumber : Debertin 1986 Berdasarkan pada Gambar 1, perilaku seseorang pelaku bisnis dalam menghadapi risiko dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori yaitu sebagai berikut: 1. Pembuat keputusan yang takut terhadap risiko (risk averter) menunjukkan jika U1 diasumsikan kurva isouliti pembuat keputusan maka adanya varian return yangmerupakan ukuran tingkat risiko akan diimbangi dengan kenaikan retur yang diharapkan. Pada kurva U(y)1 menunjukkan kepuasan marginal utiliti yang semakin menurun dari pendapatan. Meskipun tambahan pendapatan selalu meningkatkan kepuasan, namun demikian kenaikan kepuasan yang dihasilkan karena kenaikan pendapatan yang mendekati titik original akan lebih besar dari kenaikan kepuasan karena kenaikan pendapatan berikutnya. 2. Pembuat kuputusan yang netral terhadap risiko (risk neutral) menunjukkan jika U2 diasumsikan kurva isoulatiliti pembuat keputusan maka adanya kenaikan varian return yang merupakan ukuran tingkat risiko tidak akan diimbangi dengan menaikkan returnyang diharapkan. Pada kurva U(y)2 menunjukkan kepuasan marginal utiliti yang tetap terhadap penigkatan pendapatan. 3. Pembuat keputusan yang berani terhadap risiko (risk taker) menunjukkan jika U3 diasumsikan kurva isoutiliti pembuat keputusan maka adanya kenaikan varian return yang merupakan ukuran tingkat risiko akan 16 diimbangi oleh pembuat keputusan dengan kesediannya menerima return yang diharapkan lebih rendah. Sedangkan pada kurva U(y)3 menunjukkan kepuasan marginal utiliti yang semakin meningkat dari pendapatan. Fluktuasi harga dan hasil produksi akan menyebabkan fluktuasi pendapatan. Ukuran yang dapat digunakan untuk melihat besarnya risiko yang dihadapi suatu usaha adalah dengan mengetahui terlebih dahulu besar ragamnya (variance) atau simpangan baku (standard deviation) dari pendapatan bersih per periode atau return. Dimana jika risiko tinggi maka return juga akan meningkat ataupun sebaliknya. Hubungan risiko dan return dapat dilihat pada Gambar 2 Return Expected Return Risiko Gambar 2. Hubungan Risiko dengan Return Sumber : Hanafi 2006 Beberapa ukuran risiko yang dapat digunakan adalah nilai variance, standard deviation, dan coefficient variation. Nilai variance diperoleh dari hasil pendugaan fungsi produksi. Standard deviation diperoleh dari akar kuadrat nilai variance sedangkan coefficient variation diperoleh dari rasio antara standard deviation dengan expected return (Hanafi 2006). 3.1.4 Manajemen Risiko Manajemen risiko adalah suatu usaha untuk mengetahui, menganalisis serta mengendalikan risiko dalam setiap kegiatan perusahaan dengan tujuan untuk efektifitas dan efisiensi yang lebih tinggi. Karena itu perlu terlebih dahulu memahami tentang konsep-konsep yang dapat memberi makna, cakupan yang luas dalam rangka memahami proses manajemen tersebut. Hal ini sesuai dengan defenisi yang ditetapkan oleh (Darmawi 2005). 17 Cara-cara yang digunakan manajemen untuk menangani berbagai permasalahan yang disebabkan oleh adanya risiko merupakan defenisi manajemen risiko menurut (Kountur 2008). Keberhasilan perusahaan ditentukan oleh kemampuan manajemen menggunakan berbagai sumberdaya yang ada untuk mencapai tujuan perusahaan. Dengan adanya penanganan risiko yang baik, segala kemungkinan kerugian yang dapat menimpa perusahaan dapat diminimalkan sehingga biaya menjadi lebih kecil dan pada akhirnya perusahaan mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Selanjutnya Kountur mengatakan dalam menangani risiko yang ada dalam perusahaan diperlukan suatu proses yang dikenal dengan istilah proses pengelolaan risiko. Proses manajemen atau pengelolaan risiko dapat dilakukan dengan mengidentifikasi risiko-risiko apa saja yang dihadapi perusahaan, kemudian mengukur risiko-risiko yang telah teridentifikasi untuk mengetahui seberapa besar kemungkunan terjadinya risiko dan seberapa besar konsekuensi dari risiko tersebut. Tahap berikutnya yaitu dengan menangani risiko-risiko tersebut yang selanjutnya dilakukan evaluasi untuk mengetahui sejauh mana manajemen risiko telah diterapkan. Proses pengelolaan risiko perusahaan dapat dilihat pada Gambar 3. Identifikasi Risiko Pengukuran Risiko Penanganan Risiko Evaluasi Gambar 3. Proses Pengelolaan Risiko Perusahaan Sumber : Kountur 2008 Ada empat cara menangani risiko menurut (Kountur 2008), yaitu dengan cara menerima atau menghadapi risiko, menghindari risiko, mengendalikan risiko dan mengalihkan risiko. Mengendalikan risiko yaitu mengelola risiko dengan meminimalkan risiko melalui pencegahan, sedangkan mengalihkan risiko dapat dilakukan dengan mengalihkan kepada pihak lain seperti asuransi, hedging, leasing, outsourcing dan kontrak. 18 Melalui asuransi, asset perusahaan yang memiliki dampak risiko yang besar dapat terhindar dari kerugian apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan oleh perusahaan sehingga kerugian tersebut ditanggung oleh pihak asuransi sesuai dengan kontrak perjanjian yang telah disepakati oleh kedua pihak. Sedangkan leasing merupakan cara dimana asset digunakan oleh perusahaan namun kepemilikannya merupakan milik pihak lain sehingga bila terjadi sesuatu pada asset tersebut maka pemiliknya yang akan menanggung kerugian atas asset tersebut. Outsourcing merupakan suatu cara dimana pekerjaan diberikan kepada pihak lain untuk mengerjakannya sehingga bila terjadi kerugian maka pihak tersebut yang menanggung kerugiannya. Pengertian hedging menurut kamus yaitu menutup transaksi jual beli komoditas, sekuritas atau valuta yang sejenis untuk menghindari kemungkinan kerugian karena perubahan harga sedangkan hedging menurut pasar komoditas adalah proteksi dari risiko kerugian akibat fluktuasi harga Alternatif penanganan risiko pada produk pertanian dilakukan dengan berbagai cara yaitu dengan diversifikasi usaha, integrasi vertikal, kontrak produksi, kontrak pemasaran, perlindungan nilai dan asuransi. 3.2 Teknik Pemetaan Pemetaan risiko terkait dengan dua dimensi yaitu probabilitas terjadinya risiko dan dampaknya bila risiko tersebut terjadi. Probabilitas yang merupakan dimensi pertama menyatakan tingkat kemungkinan suatu risiko terjadi. Semakin tinggi tingkat kemungkinan risiko terjadi, semakin perlu mendapat perhatian. Sebaliknya, semakin rendah kemungkikan risiko terjadi, semakin rendah pula kepentingan manajemen untuk memberi perhatian kepada risiko yang bersangkutan. Umumnya probabilitas dibagi menjadi tiga kategori yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Dimensi kedua yaitu dampak, merupakan tingkat kegawatan atau biaya yang terjadi jika risiko yang bersangkutan benar-benar menjadi kenyataan. Semakin tinggi dampak suatu risiko, maka semakin perlu mendapat perhatian khusus. Sebaliknya, semakin rendah dampak yang terjadi dari suatu risiko maka semakin rendah pula kepentingan manajemen untuk mengalokasikan sumber daya untuk menangani risiko yang bersangkutan. Umumnya dimensi dampak dibagi 19 menjadi tiga tingkat yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Pembagian matriks pada pemetaan risiko dapat dilihat pada Gambar 4 . Probabilitas (%) Tinggi Kuadran 1 Kuadran 2 Kuadran 3 Kuadran 4 Sedang Rendah Rendah Sedang Tinggi Dampak (Rp) Gambar 4. Peta Risiko Sumber : Kountur 2008 Berdasarkan pada Gambar 4, ada empat kuadran utama pada peta risiko. Kuadran I merupakan area dengan tingkat probabilitas kejadian yang tinggi, namun dengan dampak yang rendah. Risiko yang secara rutin terjadi ini tidak terlalu mengganggu pencapaian tujuan dan target perusahaan. Kadangkadang terasa mengganggu bila risiko yang bersangkutan muncul sebagai kenyataan. Biasanya, perusahaan mampu dengan cepat mengatasi dampak yang muncul. Kuadran II merupakan area dengan tingkat probabilitas sedang sampai tinggi dan tingkat dampak sedang sampai tinggi. Pada kuadran II merupakan kategori risiko yang masuk ke dalam prioritas utama. Bila risiko-risiko pada kuadran II terjadi akan menyebabkan terancamnya pencapaian tujuan perusahaan. Kuadran III merupakan risiko dengan tingkat probabilitas kejadian yang rendah dan mengandung dampak yang rendah pula. Risiko-risiko yang muncul pada kuadran III cenderung diabaikan sehingga perusahaan tidak perlu mengalokasikan sumberdayanya untuk menangani risiko tersebut. Walaupun demikian, manajemen tetap perlu untuk memonitor risiko yang masuk dalam kuadran III karena suatu risiko bersifat dinamis. Risiko yang saat ini masuk dalam 20 kuadran III dapat pindah ke kuadran lain bila ada perubahan ekternal maupun internal yang signifikan. Kuadran IV merupakan area dengan tingkat probabilitas kejadian antara rendah sampai sedang, namun dengan dampak yang tinggi. Artinya, risiko-risiko dalam kuadran IV cukup jarang terjadi tetapi apabila sampai terjadi maka akan mengakibatkan tidak tercapainya tujuan dan target perusahaan. 3.3 Kerangka Pemikiran Operasional Tomat cherry merupakan salah satu komoditas pertanian yang potensial untuk dikembangkan, khususnya bagi PD Pacet Segar karena memilki nilai eknomis dan tinggi. Namun dalam pelaksanaan proses produksinya menghadapi risiko, salah satunya adalah risiko produksi. Untuk mengetahui tingkat risiko prduksi yang dihadapi oleh perusahaan, maka dilakukan analisis risiko dengan mengkaji faktor penyebab atau sumber risiko produksi. Untuk meminimalkan risiko produksi yang ada, maka dilakukan analisis risiko produksi dengan menggunakan analisis deskriptif yaitu berupa wawancara dan diskusi dengan pihak perusahaan. Selanjutnya dilakukan analisis strategi yang dilakukan untuk mengatasi risiko produksi yang baik dan efektif bagi perusahan PD Pacet Segar. Alur kerangka pemikiran operasional dapat dilihat pada Gambar 5. Fluktuasi produktivitas tomat cherry pada PD Pacet Segar Risiko produksi tomat cherry Analisis Risiko 1. Z-score 2. VaR 1. 2. 3. 4. 5. Analisis Deskriptif (sumber risiko) pengaruh cuaca hama penyakit pemupukan kualitas bibit Pemetaan Risiko Alternatif strategi pengelolaan risiko produksi tomat cherry pada Pacet Segar Gambar 5. Kerangka Pemikiran Operasional Analisis Risiko Produksi Tomat Cherry 21 IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan waktu Penelitian ini dilakukan di PD Pacet Segar milik Alm Bapak H. Mastur Fuad yang beralamat di Jalan Raya Ciherang no 48 Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Propinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan PD Pacet Segar ini merupakan satusatunya produsen tomat cherry di Kecamatan Cipanas. Pengumpulan data ini dilakukan pada PD Pacet Segar mulai dari bulan Maret sampai dengan April 2012. 4.2. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder, kedua data ini bersifat kuantitatif dan kualitatif. Data pimer diperoleh dari hasil pengamatan langsung dan wawancara dengan pihak perusahaan. Untuk memperoleh informasi tentang perusahaan dan alternatif strategi yang diambil untuk menangani risiko adalah pemimpin perusahaan, sedangkan untuk memperoleh informasi tentang budidaya tomat cherry, wawancara dilakukan dengan bagian produksi. Data primer berisikan tentang teknik pengelolaan risiko atau manajemen risiko yang dilakukan oleh perusahaan. Data sekunder diperoleh dari buku, artikel, skripsi, jurnal, serta data-data instansi terkait yang mendukung penelitian seperti Badan Pusat Statistik, Dirjen Hortikultura, Departemen Pertanian, internet, dan literatur yang relevan dengan penelitian. 4.3 Metode Pengumpulan Data Sumber data yang digunakan dalam penelitan ini adalah data primer yang diperoleh dengan cara observasi, wawancara, diskusi, dan kuisioner dengan phak perusahaan. Observasi dilakukan langsung oleh peneliti dengan pencatatan secara langsung tentang aktifitas produksi dan risiko yang dihadapi dalam produksi tomat cherry. Wawancara akan dilakukan dengan pihak perusahaan yaitu bagian produksi tentang risiko yang biasa muncul/dihadapi oleh perusahaan dalam proses budidaya tomat cherry. Proses pengambilan data dan penentuan responden dilakukan dengan metode judgement/purposive sampling dengan pertimbangan responden memiliki kapabilitas dalam memberikan data-data yang akurat. Responden merupakan pihak yang berhubungan dan mengetahui dengan jelas tentang produksi tomat cherry dan risiko yang dihadapi perusahaan. 4.4 Metode Analisis Data Data primer dan data sekunder yang diperoleh akan dijadikan sebagai acuan pada penelitian ini. Kedua data ini akan diolah dan dianalisis melalui beberapa metode analisis yang digunakan. Metode analisis yang digunakan untuk menjawab tujuan penelitian disajikan dalam Tabel 5. Tabel 4. Jenis, Sumber Data dan Metode Analisis yang Digunakan Dalam Penelitian No Tujuan Penelitian 1 2 3 Jenis Data Mengidentifikasi sumberKualitatif sumber risiko budidaya tomat cherry Menganalisis seberapa besar Kuantitatif probabilitas dan dampak risiko produksi pada budidaya tomat cherry Menganalisis alternatif manajemen risiko yang diterapkan untuk mengatasi risiko yang dihadapi Kualitatif Sumber Data Wawancara, kuesioner, diskusi Laporan keuangan dan produksi tomat cherry PD Pacet Segar Wawancara, kuesioner, diskusi Metode Analisis Analisis Deskriptif Analisis Risiko Analisis Deskriptif Berdasarkan informasi pada Tabel 5, metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis risiko. Analisis risiko digunakan untuk menjawab tujuan penelitian yang kedua, yaitu menganalisis seberapa besar probability dan dampak risiko produksi pada usaha budidaya tomat cherry, data untuk analisis ini menggunakan data kuantitatif. Sumber data kuantitatif adalah laporan keuangan perusahaan dan produksi tomat cherry pada PD Pacet Segar.. Laporan ini dapat memberikan informasi mengenai data yang dicari, karena penilaian risiko digunakan dengan mengukur nilai penyimpangan terhadap return dari suatu asset. Analisis deskriptif digunakan untuk menjawab tujuan penelitian yang pertama dan ketiga, yaitu menganalisis sumber-sumber risiko yang ada pada budidaya tomat cherry dan alternatif manajemen risiko yang diterapkan untuk mengatasi risiko 23 yang dihadapi. Adapun data yang digunakan untuk analisis ini adalah data kualitatif. Sumber data kualitatif diperoleh melalui kuesioner dan wawancara dengan pihak perusahaan 4.4.1 Analisis Deskriptif Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis sumber-sumber risiko dan alternatif manajemen risiko yang diterapkan oleh perusahaan untuk meminimalkan risiko dan ketidakpastian yang dihadapi. Manajemen risiko yang diterapkan berdasarkan pada penilaian perusahaan sebagai pengambil keputusan secara subjektif. Identifikasi ini dilakukan untuk melihat apakah manajemen risiko yang diterapkan efektif untuk meminimalkan risiko. Hal tersebut didasarkan pada tingkat risiko yang dihadapi oleh perusahaan. 4.4.2 Analisis Kemungkinan Terjadinya Risiko Risiko dapat diukur jika diketahui kemungkinan terjadinya risiko dan besarnya dampak risiko terhadap perusahaan. Ukuran pertama dari risiko adalah besarnya kemungkinan terjadinya yang mengacu pada seberapa besar probabilitas risiko akan terjadi. Metode yang digunakan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya risiko adalah metode nilai standar atau z-score. Metode ini dapat digunakan apabila ada data historis dan berbentuk kontinus (desimal). Pada penelitian ini, yang akan dihitung adalah kemungkinan terjadinya risiko pada kegiatan produksi adalah data produksi tomat cherry pada 10 periode terakhir. Menurut (Kountur 2006), langkah yang perlu dilakukan untuk melakukan perhitungan kemungkinan terjadinya risiko menggunakan metode ini dan aplikasinya pada budidaya tomat cherry ini adalah: 1. Menghitung rata-rata kejadian berisiko (penurunan produksi tomat cherry) Rumus yang digunakan untuk menghitung rata-rata penururnan produksi tomat adalah: x= Dimana: xi n n i=1 xi n = Nilai rata-rata dari kejadian berisiko = Nilai per periode kejadian berisiko = Jumlah data 24 2. Menghitung nilai standar deviasi dari kejadian berisiko �= Dimana: 3. � �=1 �� − � �−1 s = Standar deviasi dari kejadian berisiko xi = nilai per periode dari kejadian berisiko = Nilai rata-rata dari kejadian berisiko n = Jumlah data Menghitung z-score Dimana: �= �−� � z = Nilai z-score dari kejadian berisiko x = Batas risiko yang dianggap masih dalam taraf normal = Nilai rata-rata dari kejadian berisiko s = Standar deviasi dari kejadian berisiko Jika hasil z-score yang diperoleh bernilai negatif, maka nilai tersebut berada di sebelah kiri nilai rata-rata pada kurva distribusi normal dan sebaliknya jika nilai z=score positif, maka nilai tersebut berada di sebelah kanan kurva distribusi z (normal). 4. Mencari probabilitas terjadinya risiko produksi Setelah nilai z-score dari budidaya tomat cherry diketahui, maka selanjutnya dapat dicari probabilitas terjadinya risiko produksi yang diperoleh dari Tabel distribusi z (normal) sehingga dapat diketahui berapa persen kemungkinan terjadinya keadaan dimana produksi tomat cherry yang mendatangkan kerugian. 4.4.3 Analisis Dampak Risiko Metode yang paling efektif digunakan dalam mengukur dampak risiko adalah VaR (Value at Risk). VaR adalah kerugian terbesar yang mungkin terjadi dalam rentang waktu tertentu yang diprediksikan dengan tingkat kepercayaan tertentu. Penggunaan VaR dalam mengukur dampak risiko hanya dapat dilakukan apabila terdapat data historis sebelumnya. Analisis ini dilakukan untuk mengukur dampak dari risiko pada kegiatan budidaya tomat cherry. kejadian yang dianggap merugikan berupa penurunan produksi sebagai akibat dari terjadinya sumbersumber risiko. Dalam menghitung VaR terlebih dahulu dihitung jumlah penurunan 25 produksi tomat cherry setiap periode. Jumlah penurunan tersebut (dari batas normal) kemudian dikalikan dengan harga yang terjadi pada periode yang sama dan dikali berat rata-rata yang terjadi pada periode yang sama. Setelah didapat angka kerugian dari masing-masing periode kemudian dijumlahkan dan dihitung rata-ratanya, setelah itu dicarai berapa besar nilai standar deviasi atau penyimpangan. Proses terakhir menetapkan batas toleransi kevalidan dan mencari nilai VaR. Nilai VaR dapat dihitung dengan rumus berikut : (Kountur 2006). ��� = � + � � � Dimana: VaR = Dampak kerugian yang ditimbulkan oleh kejadian berisiko = Nilai rata-rata kerugian akibat kejadian berisiko z = Nilai z yang diambil dari tabel distribusi normal dengan alfa 5% s = Standar deviasi kerugian akibat kejadian berisiko n = Banyaknya kejadian berisiko 4.4.4 Pemetaan Risiko Menurut Kountur 2006, sebelum dapat menangani risiko, hal yang terlebih dahulu perlu dilakukan adalah membuat peta risiko. Peta risiko adalah gambaran mengenai posisi risiko pada suatu peta dari dua sumbu, yaitu sumbu vertikal yang menggambarkan probabilitas dan sumbu horizontal yang menggambarkan dampak, ataupun sebaliknya. Contoh layout peta risiko dapat dilihat pada Gambar 6. Probabilitas (%) Besar Kuadran 1 Kuadran 2 Kuadran 3 Kuadran 4 Kecil Kecil Besar Dampak (Rp) Gambar 6. Peta Risiko Sumber : (Kountur 2006) 26 Probabilitas atau kemungkinan terjadinya risiko dibagi menjadi dua bagian, yaitu besar dan kecil. Dampak risiko juga dibagi menjadi dua bagian, yaitu besar dan kecil. Batas antara probabilitas atau kemungkinan besar dan kecil ditentukan oleh manajemen, tetapi pada umumnya risiko yang probabilitasnya 20 persen atau lebih dianggap sebagai kemungkinan besar, sedangkan kurang dari 20 persen dianggap sebagai kemungkinan kecil (Kountur 2006). 4.4.5 Penanganan Risiko Berdasarkan hasil pemetaan risiko, maka selanjutnya dapat ditetapkan strategi penanganan risiko yang sesuai. Terdapat dua strategi yang dapat dilakukan untuk menangani risiko, yaitu: 1. Penghindaran Risiko (Preventif) Strategi preventif dilakukan untuk risiko yang tergolong dalam probabilitas risiko yang besar. Strategi preventif akan menangani risiko yang berada pada kuadran 1 dan 2. Penanganan risiko dengan menggunakan strategi preventif, maka risiko yang ada pada kuadran 1 akan bergeser menuju kuadran 3 dan risiko yang berada pada kuadran 2 akan bergeser menuju kuadran 4 (Kountur 2006). Penanganan risiko menggunakan strategi preventif dapat dilihat pada Gambar 7. Probabilitas (%) Besar Kuadran 1 Kuadran 2 Kuadran 3 Kuadran 4 Kecil Kecil Besar Dampak (Rp) Gambar 7. Preventif Risiko Sumber : (Kountur 2006) 27 2. Mitigasi Risiko Strategi mitigasi digunakan untuk meminimalkan dampak risiko yang terjadi. Risiko yang berada pada kuadran dengan dampak yang besar diusahakan dengan menggunakan strategi mitigasi dapat bergeser ke kuadran yang memiliki dampak risiko yang kecil. Strategi mitigasi akan menangani risiko sedemikian rupa sehingga risiko yang berada pada kuadran 2 bergeser ke kuadran 1 dan risiko yang berada pada kuadran 4 bergeser ke kuadran 3. Strategi mitigasi dapat dilakukan dengan metode diversifikasi, penggabungan, dan pengalihan risiko (Kountur 2006). Mitigasi risiko dapat dilihat pada Gambar 8. Probabilitas (%) Besar Kuadran 1 Kuadran 2 Kuadran 3 Kuadran 4 Kecil Kecil Besar Dampak (Rp) Gambar 8. Mitigasi Risiko Sumber : (Kountur 2006) 28 V KERAGAAN PERUSAHAAN 5.1 Sejarah dan Perkembangan Perusahaan Perusahaan Dagang (PD) Pacet Segar, merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang budidaya dan pemasaran komoditas holtikultura, khususnya sayuran segar. PD Pacet Segar didirikan oleh Alm. Bapak H. Mastur Fuad pada tahun 1970. Pada awalnya PD Pacet Segar merupakan suatu usaha dengan skala kecil yang dilakukan pada sebidang lahan seluas 400 m2 dan merupakan suatu usaha produksi pertanian yang dikelola secara kekeluargaan. Seiring dengan perjalanan waktu, pada waktu 1975 PD Pacet Segar bergabung dengan petani-petani daerah sekitar dan membentuk sutu kelompok tani bersama yang beranggotakan 20 orang, kelompok bersama tersebut di bentuk atas anjuran dan binaan Dinas Pertanian Pangan Dati II Cianjur. Tujuan dengan bergabungnya PD Pacet Segar dengan petani-petani tersebut adalah untuk menjalin kerjasama diantara sesama petani sayuran, baik dalam aspek budidaya, pasca panen, maupun pemasaran sebagai upaya peningkatan produksi dan mutu sayuran yang dihasilkan agar lebih menguntungkan. PD Pacet Segar memiliki visi yaitu, menjangkau kesejahteraan khalayak banyak, meningkatkan kesejahteraan petani dan konsumen, meningkatkan pendapatan para petani. Selain itu, PD Pacet Segar juga memiliki misi untuk mencapai visinya, yaitu memberi pelayanan yang terbaik untuk konsumen, mengutamakan kualitas produk yang optimal dan menjadikan karyawan sebagai aset (bagian) dari perusahaan. Modal awal yang digunakan untuk mendirikan PD Pacet Segar berjumlah Rp. 5.000.000,00 yang berasal dari dalam keluarga. Aset awal yang dimiliki perusahaan berupa lahan kebun milik pribadi seluas 400 m², yang digunakan untuk menanami jenis sayuran lokal. Seiring dengan perkembangan perusahaan, lahan kebun yang dimiliki meningkat seluas 4 hektar, dengan jenis sayuran yang diusahakan adalah jenis sayuran lokal, seperti wortel, buncis, baby buncis, tomat cherry, selada, selada air, timun Jepang dan brokoli. Mulai Tahun 1980, PD Pacet Segar mulai menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan, diantaranya dengan PT Brassica dan CV Mekar. Kerjasama yang terjalin tersebut, mempermudah PD Pacet Segar dalam memasarkan sayurannya ke sebagian daerah yang ada di Jakarta, seperti Pasar Mayestik, Pasar Blok M, Pasar Cikini, dan lain-lain. Pada tahun 1983, PD Pacet Segar dapat menembus Pasar Swalayan yaitu PT.HERO Supermarket di Jakarta. Pada saat itu PD Pacet Segar ditetapkan sebagai pemasok tetap sampai dengan tahun 2008. Saat itu belum banyak pengusaha lokal yang dapat memasukan produknya ke pasar swalayan, sehingga PD Pacet Segar selain memasok sayuran segar, juga memasok sayuran olahan seperti timun asinan. Pada tanggal 1 September 1991 dalam acara yang di prakarsai oleh Dapertemen Perdagangan dan AP3I (Asosiasi Pusat Pertokoan dan Pembelanjaan Indonesia ) di Jakarta, PD Pacet Segar menandatangani kontrak kerjasama dengan PT Fine Food Corporation (PT FFCo), dalam pembuatan sayuran acar. Selain itu PD Pacet Segar melakukan kerjasama lebih lanjut dengan HIPPI dan HERO Supermarket itu dikukuhkan dengan ditandatanganinya pada tanggal 5 September 1991 di JDC (Jakarta Desaign Center), kerjasama ini ditandai dengan penyerahan dua buah traktor oleh PT. HERO Supermarket kepada PD Pacet Segar. Seiring dengan peningkatan penjualan produk sayuran, PD Pacet Segar sering mengikuti kegiatan-kegiatan pameran, untuk lebih memperkenalkan produk sayuran yang dihasilkannya. Melalui kegiatan pameran tersebut, akhirnya PD Pacet Segar menjadi ” Tenant of Incubator of Agribusiness ” IPB pada tahun 1995. Selama kurang lebih 4 tahun, PD Pacet Segar berada dalam pengawasan PIAA-IPB untuk memperoleh bimbingan manajemen, pemasaran, adiministrasi dan keuangan. Melalui PIAA-IPB inilah Pacet Segar mendapat perhatian dari lembaga keuangan seperti BNI dan Telkom. Pada tanggal 31 Januari 1995 PD Pacet Segar mendaftarkan usahanya pada Dinas Perdagangan Kabupaten Cianjur, sehingga badan hukum yang dimilki perusahaan berupa PD Pacet Segar dengan nomor : SIUP 003/10.7/PM/B/I/1995. Hal ini ditujukan untuk mengantisipasi perusahaan dengan harapan memperoleh kemajuan usaha yang lebih baik. Pada tanggal 28 Januari 1995 PD Pacet Segar tercatat dalam sertifikat keanggotaan pada Inkubator Agribisnis dan Agroindustri Institut Pertanian Bogor. 30 Adanya kontrak kerjasama PD Pacet Segar dengan beberapa perusahaan, membawa pengaruh yang baik, hal ini terbukti dengan banyaknya tawaran bekerjasama dengan pihak-pihak perusahaan besar yang diterima oleh PD Pacet Segar. Sehingga perusahaan mendapatkan peningkatan omset penjualan mencapai 7 ton per minggu. PD Pacet Segar terus melakukan pengembangan pemasaran, selain HERO yang menjadi pasar utama, pada saat ini perusahaan juga bekerjasama dengan Makro yang ditandai dengan adanya penandatangan kontrak kerjasama pada tanggal 27 November 1997. Selain itu, pada tahun 2002 PD Pacet Segar juga menjalin kerjasama dengan PT. Wiguna Makmur dan PT. Simplot Agritama (Mc Donalds), serta pada bulan Desember 2003 perusahaan bekerjasama dengan Wendy’s akhir tahun 2009. Pada akhir tahun 2009, PD Pacet Segar memutuskan penjualannya dengan swalayan dan Mc Donald karena adanya pelanggaran kesepakatan oleh pihak tersebut. Diantara pelanggaran tersebut adalah adanya keterlambatan jangka waktu pembayaran tagihan. Pada awalnya jangka waktu pembayan yang disepakati adalah dua minggu setelah barang dikirim, namun pada kenyataannya pembayaran diundur sampai 3 bulan. Hal ini menyebabkan perputaran uang dalam bisnis sedikit tersendat, sehingga PD Pacet Segar memutuskan untuk menghentikan kerjasama dengan Swalayan dan Mc Donald. Pada tahun ini (2012) PD Pacet Segar hanya mendistribusikan sayuran segar yang dihasilkan ke ICDF (International Cooperation Development Fund) Bogor, industri pengolahan (PD. Pusaka Tani) dan pasar tradisional. 5.2 Lokasi Perusahaan Lokasi PD Pacet Segar berada di Desa Ciherang No. 48, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur. Wilayah ini merupakan daerah dataran tinggi yang termasuk ke dalam kawasan Gunung Gede Pangrango. Desa Ciherang terletak pada ketinggian 1.100 m dpl, dengan topografi berbukit 82 persen, landai 18 persen dan tingkat kemiringan 50-60 persen. Wilayah dataran tinggi Kecamatan Pacet merupakan daerah bersuhu antara 16,30-24,20C, serta kelembaban udara 66 persen. Curah hujan 3.402 mm/tahun dengan hari hujan 263 hari/thn. Jenis tanah adalah Andosol dengan pH 5,5-6,2 sehingga daerah ini merupakan daerah sentra produksi pertanian khususnya sayuran. 31 5.3 Struktur Organisasi Perusahaan PD Pacet Segar merupakan perusahaan keluarga yang pengelolaannya pun dilakukan secara kekeluargaan, sehingga manajemen perusahaan dikendalikan oleh anggota keluarga. Struktur organisasi yang diterapkan oleh masih sederhana, dimana pembagian kerja yang ada dalam struktur organisasi PD Pacet Segar, terdiri dari pimpinan, sekretaris, bendahara, dan 4 kepala seksi, yaitu kepala seksi pengadaan dan produksi, kepala seksi pasca panen, kepala seksi pemasaran dan kepala seksi transportasi. PD Pacet Segar merupakan perusahaan dengan skala kecil dan pembagian kerjanya masih sederhana, sehingga PD Pacet Segar menggunakan tipe organisasi garis atau tipe organisasi lini (line organization). Tipe organisasi lini memiliki ciri-ciri, antara lain organisasi masih berskala kecil dan spesialisasi kerja masih terbatas. Struktur organisasi PD Pacet Segar dapat dilihat pada Gambar 9. Pimpinan (H. Abdul Halim) Sekretaris (Lilis Sumiati) Kasie Pengadaan dan Budidaya (H. Abdul Halim) Bendahara (Hj. Wawa Wapiroh) Kasie Pasca Panen (H.Abdul Halim) Kasie Transportasi (H. Dadang) Kasie Pemasaran (H.Unang) Karyawan Harian Gambar 9. Struktur Organisasi PD Pacet Segar Tahun 2012 Tugas dari masing-masing jabatan tersebut adalah : 1. Pimpinan Bertanggung jawab atas seluruh aktifitas dan kegiatan operasional perusahaan, mengawasi seluruh kegiatan di perusahaan, baik itu di kebun 32 tempat budidaya, di gudang tempat pengemasan maupun pada kegiatan pemasaran. 2. Sekretaris Bertugas mencatat semua pesanan sayuran yang masuk dan yang akan dikirim. Di samping itu, sekretaris juga bertugas mencatat pembukuan dan penyampaian informasi yang diterima dari luar perusahaan, serta sebagai wakil pimpinan apabila pimpinan tidak berada di tempat. 3. Bendahara Bertugas mencatat laporan keuangan secara teratur dan berkala sehingga posisi keuangan perusahaan dapat diketahui, menerima hasil pembayaran dari penjualan, mengurus upah dan gaji pegawai, menyimpan uang yang diterima perusahaan serta mencatat administrasi dari seluruh kegiatan yang ada di perusahaan. 4. Kepala Seksi Pengadaan dan Budidaya Bertugas menangani pengadaan input, mulai dari kegiatan produksi tanaman seperti, persiapan lahan, pengolahan lahan, penyediaan saprotan, pengendalian hama dan penyakit tanaman, serta pemeliharaan sampai siap untuk dipanen. 5. Kepala Seksi Pasca Panen Bertugas menangani hasil produksi sampai pemasaran, mengendalikan seluruh kegiatan yang terkait dengan ketersediaan pasokan di gudang pengemasan dan penyimpanan. 6. Kepala Seksi Transportasi Bertugas menangani pengiriman barang hingga sampai ke tangan konsumen dan bertanggung jawab atas ketepatan pengiriman barang ke konsumen. 7. Kepala seksi Pemasaran Bertugas memasarkan produk yang dihasilkan, menjajaki dan mencari kemungkinan untuk memperluas jangkauan pemasaran serta bertugas menangani penerimaan permintaan dan pemenuhan sayuran sesuai dengan permintaan konsumen. 33 5.4 Deskripsi Kegiatan Bisnis PD Pacet Segar merupakan salah satu perusahaan agribisnis yang memiliki unit bisnis yang lengkap, mulai dari kegiatan budidaya, penanganan pasca panen hingga pemasaran komoditas holtikultura khususnya sayuran. Seiring dengan perkembangan usaha di bidang budidaya sayuran dan semakin ketatnya persaingan diantara perusahaan yang bergerak dalam usaha yang sejenis, maka PD Pacet Segar bekerja sama dengan anak perusahaan yaitu Pusaka Tani untuk menambah unit bisnis yaitu bisnis pengolahan sayuran. 5.4.1 Pengadaan Input Dalam hal pengadaan sarana produksi seperti bibit, pupuk, peralatan pertanian seperti cangkul, bambu, mulsa, ajir, hand sprayer, serta obat-obatan, PD Pacet Segar memperolehnya dari berbagai pemasok di daerah sekitar Cipanas dan Cianjur. Sedangkan dalam hal pengadaan pupuk kandang yang terbuat dari kotoran ayam, diperoleh dari peternak di Daerah Ciherang dan Cugenang. Kegiatan pengadaan sarana produksi dilakukan ketika akan memulai kegiatan budidaya sayuran. Dalam mendistribusikan sayuran, PD Pacet Segar tidak hanya memperoleh hasil budidaya dari kebun sendiri, melainkan juga mendapatkan tambahan pasokan sayuran segar dari petani yang berasal dari sekitar Daerah Cipanas dan Cianjur. Hal ini dikarenakan PD Pacet Segar yang hanya membudidayakan beberapa jenis sayuran saja seperti baby buncis, buncis, tomat cherry, brokoli, timun jepang dan selada air, serta faktor luas lahan yang digunakan dalam proses budidaya yang tidak terlalu besar dan belum terpenuhinya permintaan dari konsumen Dikarenakan PD Pacet Segar hanya bisa menghasilkan dan menyediakan sebagian dari jumlah permintaan konsumen, maka dalam hal pemenhuhan kebutuhan konsumen tehadap sayuran, PD Pacet Segar juga mempunyai pemasok utama yang disebut mitra tani yang memiliki peranan dalam hal pengadaan dan penambahan bahan baku. Pada Tahun 2012 jumlah mitra tani bahan baku sayuran ke PD Pacet Segar berjumlah 20 orang. Kemitraan yang dilakukan PD Pacet Segar terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu : 34 1. Mitra Tani Tetap, terdiri dari sekumpulan petani yang merupakan pemasok tetap dan terikat, yang tergabung secara resmi pada kelompok tani Pusaka Tani, dengan jumlah sebanyak 20 orang. Kewajiban yang yang harus dipenuhi oleh mitra tani tetap ini adalah senantiasa harus memenuhi pasokan sayuran secara kontinyu yang dibutuhkan oleh PD Pacet Segar untuk memenuhi permintaan pasar. Selain kewajiban yang harus dipertanggungjawabkan, mitra tani tetap berhak mendapatkan hak nya yaitu mendapatkan pembayaran setiap 1 minggu, atas hasil panen yang diberikan kepada PD Pacet Segar. 2. Mitra Tani Lepas, terdiri dari sekumpulan petani diluar anggota kelompok tani Pusaka Tani. Kewajiban yang harus dipenuhi oleh mitra tani lepas ini adalah menyediakan sayuran yang dibutuhkan oleh PD Pacet Segar apabila pasokan dari mitra tani tetap kurang mencukupi, sehingga pengiriman yang dilakukan oleh mitra tani lepas bersifat tidak kontinyu. Hak dari kelompok mitra tani lepas ini adalah hasil panen yang diperoleh, bukan hanya untuk PD Pacet Segar saja, mereka berhak untuk memasok ke perusahaan lain atau tempat pemasaran lain, dan juga transaksi pembayaran dilakukan langsung pada hari dimana sayuran selesai dipasok. 5.4.2. Proses Produksi PD Pacet Segar menggunakan teknik budidaya semi tradisional, dimana perusahaan tidak menggunakan greenhouse dalam membudidayakan sayurannya. Peralatan yang digunakan dalam kegiatan budidaya juga tergolong masih sederhana seperti cangkul, golok dan garpu tanah. Dalam kegiatan budidaya sayuran, PD Pacet Segar meggunakan lahan seluas 4 hektar untuk kegiatan budidaya, dengan perincian 5000 m2 berlokasi di Desa Mekar Sari, 15.000 m2 berlokasi di Desa Cugenang dan 20.000 m2 berlokasi di Desa Ciherang. Jenis sayuran yang dibudidayakan pada tahun 2012, antara lain wortel, buncis, baby buncis, tomat cherry, selada, selada air, timun jepang dan brokoli. Tomat cherry ditanam di Desa Cugenang karena lokasi yang dekat dengan perusahaan, sehingga kegiatan budidayanya dapat dengan mudah dikontrol. Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam kegiatan budidaya tomat cherry adalah : 35 1. Persiapan Lahan Dalam hal persiapan lahan untuk ditanami, diperlukan adanya kesesuaian pemakaian lahan dengan syarat tumbuh tanaman. Beberapa langkah dalam persiapan lahan antara lain penentuan lokasi, pengolahan lahan (pencangkulan, penggemburan dan pembuatan bedengan). 2. Penanaman Setelah dilakukannya persiapan lahan, maka langkah selanjutnya adalah penanaman. Siklus satu kali produksi tomat cherry adalah empat bulan, tanaman baru bisa dipanen pada bulan ke-3. Masa panen normal tomat cherry adalah dua bulan atau 15 kali panen. Pemanenan dilakukan setiap tiga hari sekali. 3. Pemeliharaan Pemeliharaan meliputi pemupukan, penyulaman, pengairan, penyiangan serta pengendalian hama dan penyakit. 4. Panen Sebelum melakukan pemanenan, hal yang perlu diperhatikan adalah waktu dan cara pemanenan. Waktu pemanenan harus disesuaikan dengan keadaan dan sifat hasil panen yang diinginkan, harus mempertimbangkan apabila pemanenan dilakukan lebih awal, atau melewati waktu seharusnya, apakah berdampak pada mutu sayuran yang dipanen. Pemanenan terhadap tomat cherry dilakukan setiap 2-3 hari sekali. 5.4.3 Pemasaran Pemasaran merupakan proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan kebutuhan dan keinginan mereka dengan menciptakan, menawarkan dan menukarkan produk yang bernilai satu sama lain. PD Pacet Segar menjalin kerjasama dengan ICDF (International Cooperation Development Fund) Bogor. Bibit tomat cherry yang dibudidayakan didapatkan langsung dari ICDF dan tomat hasil budidaya dipasarkan langsung ke ICDF. Harga ditetapkan berdasarkan persetujuan kedua belah pihak, apabila ada kenaikan biaya produksi atau perubahan harga pasar, maka kedua pihak ini akan mendiskusikan dan menetapkan harga tomat sesuai kesepakatan. 36 5.4.5 Deskripsi Keuangan Perusahaan PD Pacet Segar, masih menggunakan sistem pencatatan keuangan yang masih sederhana, pemasukan dan pengeluaran tidak dicatat secara terperinci, hanya secara garis besarnya saja. Sehingga dalam pencatatan keuangan yang ada di perusahaan, masih terlihat ketidakjelasan dan terlihat seperti kekurangan data yang diperoleh dalam mengalokasikan anggaran dana dan pemasukan perusahaan. PD Pacet Segar, seharusnya menggunakan informasi akuntansi dalam menyusun laporan keuangan, sehingga dapat bermanfaat dalam pengajuan kredit pada lembaga keuangan, guna mengembangkan usaha yang ada di PD Pacet Segar. 5.5. Deskripsi Sumber Daya Perusahaan Sumber daya perusahaan adalah semua kekayaan atau asset yang dimiliki perusahaan dan dipergunakan dalam setiap kegiatan perusahaan, mulai dari kegiatan produksi hingga kegiatan pemasaran. Sumber daya yang dimiliki oleh PD Pacet Segar terdiri dari sumber daya fisik, sumber daya modal dan sumber daya manusia. 5.5.1 Sumber Daya Fisik PD Pacet Segar selain melakukan kegiatan sebagai petani atau penghasil komoditas sayuran, juga bertindak sebagai pedagang pengumpul yang membeli sayuran dari petani lain, atau kelompok tani yang kemudian perusahaan memasarkan langsung kepada konsumen, baik kepada lembaga konsumen, maupun konsumen perseorangan. Oleh karena itu, sumber daya fisik yang dimiliki oleh PD Pacet Segar terdiri dari seluruh asset/ kekayaan perusahaan yang digunakan dalam kegiatan budidaya hingga kegiatan pemasaran. Sumber daya fisik yang dimiliki oleh PD Pacet Segar, dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 5. Sumber Daya Fisik PD Pacet Segar Tahun 2012 No 1 Jenis Sumber Daya Fisik Jumlah Tanah 4 ha 2 Bangunan ± 600 m 3 Kendaraan Operasional 3 unit 4 Peralatan Budidaya Keterangan Lahan Budidaya 2 Packing house dan tempat penyimpanan sayuran/ ruang pendingin 1 mobil pick up dan 2 mobil yang dilengkapi dengan box pendingin. 37 Dalam kegiatan budidaya, PD Pacet Segar menggunakan berbagai macam peralatan untuk menunjang setiap proses budidaya yang dilakukan. Peralatan budidaya yang digunakan oleh perusahaan dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 6 Peralatan Budidaya yang digunakan oleh PD Pacet Segar 1 Sprayer Gendong 2 Umur ekonomis ( tahun) 5 2 Generator 2 10 3 Pompa air 2 5 4 Cangkul, Golok 6 5 5 Ember 2 2 6 Mulsa Plastik - 1 No Jenis Peralatan Jumlah ( unit ) Sumber : PD Pacet Segar, 2012 5.5.2. Sumber Daya Modal PD Pacet Segar memiliki sumber daya modal yang digunakan dalam menjalankan dan memperlancar seluruh kegiatan usahanya. Sumber daya modal yang dimiliki perusahaan, dikatagorikan menjadi 2 jenis yaitu sumber daya modal fisik dan sumber daya modal kerja. Sumber daya modal fisik yang dimiliki oleh PD Pacet Segar berupa tenaga kerja yang terampil, tekun dan cekatan. Sedangkan sumber daya modal kerja yang dimiliki perusahaan berupa modal awal perusahaan yang berasal dari keluarga sendiri sebesar Rp 5.000.000,00. Pada Tahun 2007, PD Pacet Segar memiliki asset/ kekayaan sebesar Rp 6 milyar. Asset tersebut dialokasikan oleh perusahaan untuk mengembangkan usahanya, yaitu dengan melakukan pembelian sejumlah tanah untuk lahan budidaya, mendirikan bangunan packing house, pembelian mesin-mesin produksi dan pembelian transportasi untuk pemasaran. 5.5.3. Sumber Daya Manusia PD Pacet Segar memiliki tenaga kerja sebanyak 20 orang yang terbagi menjadi 15 orang tenaga kerja tidak tetap dan 5 orang tenaga kerja khusus atau tenaga kerja inti yang tergabung dalam struktur organisasi. Tenaga kerja harian terlibat dalam seluruh kegiatan budidaya, sedangkan tenaga kerja khusus atau tenaga kerja inti mempengaruhi jalannya perusahaan yang masing-masing 38 bertindak sebagai pimpinan yang merangkap sebagai kasie pasca panen, pengadaan dan budidaya, bendahara, sekretaris, kasie transportasi, dan kasie pemasaran. Tenaga kerja inti tersebut berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan dan bertanggungjawab untuk melaksanakan fungsi manajemen. Karena PD Pacet Segar merupakan perusahaan keluarga, maka tenaga kerja inti yang ada di perusahaan berasal dari anggota keluarga. Sedangkan tenaga kerja harian direkrut dari warga sekitar perusahaan, dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan warga sekitar. 39 VI ANALISIS RISIKO PRODUKSI TOMAT CHERRY 6.1 Identifikasi Sumber-Sumber Risiko PD Pacet Segar melakukan budidaya tomat cherry segara kontinu dari musim ke musim. Dalam satu kali musim tanam atau periode tanam, PD Pacet Segar menanam sebanyak 2000 tanaman. Pada kegiatan usaha budidaya tomat cherry pada PD Pacet Segar terdapat beberapa risiko produksi yang dapat menghambat jalannya usaha budidaya ini. Langkah awal yang dilakukan dalam menganalisis risiko produksi adalah dengan mengidentifikasi sumber-sumber risiko produksi. Proses identifikasi sumber-sumber risiko ini dilakukan dengan cara pengamatan langsung dilapangan, wawancara dengan pihak terkait, dan laporan produksi tomat cherry pada PD Pacet Segar. Identifikasi dengan cara pengamatan langsung dilakukan dengan mengikuti secara langsung alur produksi tomat cherry, yaitu mulai dari penanaman bibit tomat, penyiangan, penyulaman, perempelan, pemupukan, pencegahan dan pemberantasan hama penyakit, panen, penyortiran, pengepakan, dan pengiriman. Secara umum risiko produksi tomat cherry yang dihadapi oleh PD Pacet Segar adalah matinya tanaman tomat pada masa produktifnya dan tomat busuk atau rusak. Berdasarkan hasil pengamatan secara langsung dilapangan, wawancara, dan analisis laporan produksi tomat cherry pada PD Pacet Segar, ditemukan beberapa hal yang teridentifikasi sebagai sumber risiko produksi tomat cherry. Sumber-sumber risiko produksi tersebut adalah rendahnya produksi tomat cherry yang disebabkan oleh perubahan cuaca, serangan hama yang mengganggu produksi tomat cherry, penyakit tanaman, sumer daya manusia, dan kualitas bibit. Perhitungan besarnya risiko produksi yang ditimbulkan dilihat dari produksi normal tanaman tomat cherry per tanaman. Pada kondisi normal produktivitas tomat cherry 2 kg/tanaman, namun dengan adanya sumber-sumber risiko yang menyebabkan terjadinya risiko produksi, maka produktivitas tomat berfluktuasi. Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan, produktivitas tomat cherry pada PD Pacet Segar dari Mei 2010 – Februari 2012 berkisar antara 0,27 – 2,27kg/tanaman. Proses identifikasi terhadap sumber risiko dilakukan dengan cara melihat urutan kejadian beberapa sumber risiko yang terjadi, kejadian tersebut bisa saling berhubungan dan terpisah satu sama lainnya. Sebagai contoh sumber risiko yang terjadi pada satu waktu adalah perubahan cuaca, penyakit, dan hama. Perubahan cuaca merupakan salah satu sumber risiko yang menyebabkan tanaman tomat terjangkit penyakit dan terserang hama. Perubahan cuaca juga berpengaruh terhadap kematian tanaman tersebut, namun dengan adanya perubahan cuaca yang tidak stabil menyebabkan tanaman tersebut terjangkit penyakit dan akhirnya mati. Selain itu perubahan cuaca juga menyebabkan tanaman tomat terserang hama dan menyebabkan tanaman tersebut mati atau buahnya rusak. Berdasarkan contoh dan pemaparan diatas maka dibutuhkan kejelian dan ketelitian dalam proses mengidentifikasi sumber risiko dan pengaruh sumber risiko terebut terhadap kematian tomat dan kerusakan buah tomat. Penentuan sumber risiko produksi dalam budidaya tomat cherry dilakukan dengan cara melihat urutan kejadian sumber risiko, sumber risiko yang terdekat dengan kematian atau kerusakan buah, maka sumber risiko tersebut yang berpengaruh terhadap munculnya risiko produksi. Penjelasan dari kelima sumber risiko yang telah teridentifikasi pada budidaya tomat cherry pada PD Pacet Segar akan dijelasakan dibawah ini. 1. Perubahan cuaca Cuaca yang tidak menentu, khususnya untuk wilayah Cipanas dan sekitarnya berpengaruh negatif kepada budidaya tomat cherry. Dengan adanya perubahan cuaca yang sangat signifikan menjadi salah satu sumber risiko produksi yang sangat dirasakan dampaknya oleh pelaku usaha yaitu PD Pacet Segar. Hal tersebut disebabkan karena produktifitas tomat cherry akan mengalami gangguan apabila dihadapkan pada kondisi cuaca yang ekstrim. Selain itu juga menyebabkan banyaknya tanaman yang mati dan rentan terserang hama dan penyakit. 2. Hama Hama merupakan salah satu sumber risiko produksi pada budidaya tomat cherry. Hama yang sering menyerang tomat cherry adalah White fly (Bemesia tobaci), Leafminer (Liriomyza trifolli), thrips, dan ulat buah (Heliotis armigera). a. White fly menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan daun dan menghasilkan empedu madu yang menyebabkan daun menjadi keriput kecoklatan. 41 Gambar 10 White Fly Pada Daun Tomat Kutu ini termasuk famili Aleyrodidae dari ordo Hemiptera. Kutu ini bila terganggu akan berhamburan seperti kabut atau kepul putih. Ciri-ciri dari kutu ini adalah memiliki panjang ± 1 mm berwarna putih kekuning-kuningan, tertutup tepung seperti lilin putih, memiliki 2 pasang sayap berwarna putih dengan bentangan ± 2 mm, dan bermata merah. Lalat putih betina berukuran lebih besar dari pada lalat jantan. Telur berbentuk elips sepanjang antara 0,2-0,3 mm. Panjang pulpa ± 0,7 mm, berbentuk oval serta datar dan badannya seperti sisik pada daun. Gejala yang ditimbulkan bagi tanaman yang terserang hama ini adalah tanaman tomat yang terserang seperti diselimuti tepung putih yang bila dipegang akan berterbangan. Serangan mengakibatkan pertumbuhan tanaman terhambat/kerdil, daun mengecil, dan menggulung ke atas. b. Hama Leafminer menyerang tanaman pada stadium larva dan dewasa dengan cara membuat alur gerakan pada bawah epidermis daun yang menyebabkan daun menjadi kuning kekeringan. Gambar 11 Serangan Leafminer pada Daun Tomat c. Thrips menyerang tanaman pada bagian daun muda, bunga dan buah. Hama ini biasanya menetap di bagian bawah daun. 42 Kutu daun thrips termasuk famili Thripidae dari ordo Thysanoptera. Kutu daun ini memiliki ciri dengan panjang thrips antara 1-1,2 mm, berwarna hitam, bergaris merah atau tidak bercak merah. Nimfa (thrips muda) berwarna putih atau putih kekuningan, tidak bersayap dan kadang-kadang berbercak merah. Thrips dewasa bersayap dan berambut berumbai-rumbai. Telur thrips berbentuk seperti ginjal atau oval. Tanaman yang terserang hama ini akan mengisap cairan pada permukaan daun dimana daun yang telah diisap menjadi berwarna putih seperti perak karena udara masuk ke dalamnya. Bila terjadi serangan hebat, daun menjadi kering dan mati. Tanaman muda yang terserang akan layu dan mati. d. Ulat buah menyerang tanaman dengan cara memakan buah sehingga berbentuk lubang. Ulat buah memiliki Ciri-ciri dengan panjang ulat ± 4 cm dan akan makin panjang pada temperatur rendah. Warna ulat bervariasi dari hijau, hijau kekuningkuningan, hijau kecoklat-coklatan, kecoklat-coklatan sampai hitam. Pada badan ulat bagian samping ada garis bergelombang memanjang, berwarna lebih muda. Pada tubuhnya kelihatan banyak kutil dan berbulu. Telur berbentuk bulat berwarna kekuning-kuningan mengkilap dan sesudah 2-4 hari berubah warna menjadi coklat. Panjang sayap ngengat bila dibentangkan ± 4 cm dan panjang badan antara 1,5-2,0 cm. Sayap bagian muka berwarna coklat dan sayap belakang berwarna putih dengan tepi coklat. Hama ulat ini menyerang daun, bunga dan buah tomat. Ulat ini sering membuat lobang pada buah tomat secara berpindah-pindah. Buah yang dilubangi pada umumnya terkena infeksi sehingga buah menjadi busuk lunak. 3. Penyakit Penyakit yang menyerang tanaman tomat cherry merupakan salah satu sumber risiko produksi. Penyakit pada tomat ini dapat disebabkan oleh cendawan dan bakteri. Penyakit yang disebabkan oleh cendawan terdiri atas penyakit layu (Fusarium oxysporum), embun tepung (Peronospora parasitica), bercak daun (Cercospora sp.), dan busuk daun (Phytophthora infestans). Penyakit layu yang disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporium menyerang bibit di persemaian 43 dan tanaman dewasa dengan gejala tanaman tampak layu. Bagian yang terserang akan lunak dan berair, tetapi tidak mengeluarkan cairan lendir berwarna putih dari bagian yang busuk tersebut. Gejala yang ditimbulkan oleh penyakit embun tepung adalah pada permukaan daun atas tampak bercak nekrotik berwarna kekuningan dan jika daun dibalik tampak tepung berwarna putih keabuabuan. Penyakit bercak daun memiliki gejala terjadi bercak klorosis berbentuk lingkaran, berwarna kuning dan terdapat bintik hitam pada bagian tengah lingkaran. Penyakit busuk daun menyerang semua tahap perkembangan tanaman. Gejala yang ditimbulkan yaitu adanya bercak hitam kecoklatan yang pada kondisi lingkungan mendukung seperti kelembaban tinggi, dapat meluas dengan cepat sehingga menyebabkan kematian. Penyakit pada tanaman tomat yang disebabkan oleh bakteri adalah penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Pseudomonas solanacearum. Patogen dari penyakit ini menyerang jaringan pengangkut air sehingga translokasi air dan hara terganggu. Akibatnya tanaman menjadi layu, kuning, kerdil, dan akhirnya mati. Bagian tanaman yang busuk karena patogen ini mengeluarkan cairan berwarna putih seperti lendir. 4. Sumber daya manusia Sumberdaya manusia merupakan faktor penting dalam kegiatan produksi di perusahaan, karena sumber daya manusia menentukan baik buruknya proses produksi. Pada budidaya tomat cherry, sumber risiko berasal dari kesalahan tenaga kerja dalam melakukan pemupukan tanaman, sehingga tanaman mati karena jarak antara pupuk terlalu dekat dengan tanaman tomat. Walaupun sudah diingatkan oleh pihak penanggung jawab produksi, tapi pada setiap periode tanam masih ada tanaman yang mati karena kesalahan pemupukan. Oleh karena itu kesalahan pemupukan ini termasuk salah satu sumber risiko produksi pada budidaya tomat cherry. 5. Kualitas Bibit Kualitas bibit merupakan salah satu sumber risiko yang berpengaruh besar pada proses budidaya tomat cherry pada PD Pacet Segar. Bibit yang digunakan dalam budidaya diperoleh dari mitra yaitu ICDF (International Cooperation Development Fund) Bogor. Kualitas bibit yang diberikan oleh ICDF tidak selalu 44 bagus, hal ini dikemukakan oleh H. Halim selaku penanggung jawab produksi. Produktivitas normal tomat cherry adalah 1,5 – 2,5 kg/tanaman. apabila produktifitas tanaman kurang dari batas normal tersebut, maka produksi tomat cherry pada periode tersebut dipengaruhi oleh kualitas bibit. Mengenai bibit yang memeiliki kualitas rendah, perusahaan sudah pernah melakukan komplain terhadap kualitas bibit kepada ICDF, namun sampai saat ini kualitas bibit yang dikirimkan masih ada yang kualitasnya buruk. Perusahaan masih menerima bibit yang dikirimkan oleh ICDF karena bibit tomat cherry tidak dijual di pasaran. 6.2 Analisis Probabilitas Risiko Produksi Hasil identifikasi terhadap sumber-sumber risiko produksi pada PD Pacet Segar memberikan informasi bahwa ada lima jenis sumber risiko produksi. Kelima risiko produksi tersebut adalah perubahan cuaca, hama, penyakit, sumber daya manusia, dan kualitas bibit. Setelah ssmua sumber-sumber risiko teridentifikasi, maka selanjutnya dilakukan analisis probabilitas terhadap masingmasing sumber risiko. Analisis probabilitas ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui besar kecilnya kemungkinan terjadinya sumber risiko tersebut sehingga dapat diambil keputusan nantinya mana sumber risiko yang akan dipriorotaskan terlebih dahulu penanganannya. Dalam melakukan analisis ini, data yang digunakan adalah data produksi tomat cherry (2000 tanaman/periode produksi) pada 10 periode terakhir (Mei 2010 – Februari 2012) dan hasil wawancara dengan pihak perusahaan. Penentuan kondisi, batas, dan jumlah yang digunakan dalam perhitungan analisis probabilitas dilakukan oleh perusahaan yang mengacu pada kejadian sebenarnya pada periode sebelumnya. Perhitungan probabilitas ini dilakukan dengan cara mengidentifikasi banyaknya kehilangan produksi tomat yang disebabkan oleh satu sumber risiko. Setelah itu dilakukan perhitungan nilai rata-rata dan nilai standar deviasi kejadian beresiko. Sebelum didapatkan nilai z-score, maka perlu ditentukan nilai batas normal yang telah ditentukan oleh perusahaan. Penentuan angka ini sangat penting karena nilai probabilitas ini merupakan perhitungan seberapa besar penyimpangan kehilangan produksi tomat yang disebabkan oleh satu sumber risiko dari batas normal. 45 Hasil analisis probabilitas terhadap masing-masing sumber risiko produksi dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 7 Hasil Perhitungan Probabilitas Sumber-Sumber Risiko Produksi Budidaya Tomat Cherry pada PD Pacet Segar No 1 2 3 4 5 Sumber Risiko Produksi Perubahan cuaca Hama Penyakit Sumber daya manusia Kualitas Bibit Probabilitas (%) 44,00 25,80 38,20 6,80 42,50 Berdasarkan data pada Tabel 8, dapat dilihat probabilitas dari masingmasing sumber risiko. Probabilitas sumber risiko dari yang terbesar adalah perubahan cuca (44,00%), kualitas bibit (42,50%), penyakit (38,20%), hama (25,80%), dan sumber daya manusia (6,80%). Probabilitas besarnya kehilangan produksi yang disebabkan oleh perubahan cuaca menempati urutan pertama yaitu 44,00 persen. Hasil perhitungan probabilitas untuk sumber risiko perubahan cuaca dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 8 Analisis Probabilitas Sumber Risiko Perubahan Cuaca Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu Mei - Agustus 2010 Juli - Oktober 2010 September - Desember 2010 November 2010 - Februari 2011 Januari - April 2011 Maret - Juni 2011 Mei - Agustus 2011 Juli - Oktober 2011 September - Desember 2011 November 2011 - Februari 2012 TOTAL Rata - Rata Standar Deviasi X (batas normal) Z Nilai Pada Tabel Z Probabilitas Risiko Kehilangan Produksi Tomat (kg) 718 132 1.066 1.756 1.762 1.027 399 61 740 1.425 9085 909 614 1000 0,15 0,44 44,00% 46 Berdasarkan Tabel 9, batas normal kehilangan produksi tomat cherry yang ditetapkan oleh PD Pacet Segar adalah 1000 kg. Angka ini ditetapkan oleh perusahaan berdasarkan rata-rata kehilangan produksi sebesar 25 persen pada setiap periode. Berdasarkan hasil perhitungan, nilai Z sebesar 0,15 menunjukkan bahwa nilai tersebut berada pada sebelah kanan kurva distribusi normal. Apabila nilai Z ini dipetakan pada Tabel distribusi Z, maka akan menunjukkan nilai 0,44. Angka ini menunjukkan probababilitas sumber risiko yang disebabkan iklim adalah 44 persen. Angka ini memiliki arti bahwa kemungkinan kehilangan produksi tomat yang melebihi 1000 kg adalah 44 persen. Besarnya probabilitas yang disebabkan oleh perubahan cuaca yang signifikan sehingga menyebabkan tanaman rusak dan mati. Besarnya kehilangan produksi yang disebabkan oleh sumber risiko perubahan cuaca pada periode-periode tertentu jumlahnya lebih sedikit dibandingkan periode yang lainnya. Sebagai contoh pada periode 1, 2, 7, dan 8. Pada periode ini besarnya kehilangan produksi relatif sedikit daripada periode lainnya. Hal ini disebabkan oleh cuaca pada periode tersebut relatif stabil, karena intensitas hujan dan pananya seimbang, sehingga risiko produksi yang disebabkan oleh perubahan cuaca relatif sedikit. Pada periode 4 dan 5 merupakan periode yang jumlah kehilangan produksi tomat yang paling besar, hal ini disebabkan oleh cuaca yang ekstrim dan angin kencang, sehingga tanaman tomat banyak yang mati. Probabilitas kehilangan produksi tomat cherry yang disebabkan oleh kualitas bibit menempati urutan kedua, yaitu sebesar 42,50 persen. Batas normal kehilangan tomat yang ditetapkan oleh perusahaan adalah 400 kg per periode. Penetapan angka batas normal ini berdasarkan rata-rata kehilangan produksi sebesar 10 persen pada setiap periode produksi. Berdasarkan Tabel 10 hasil perhitungan probabilitas sumber risiko yang disebabkan oleh kualitas bibit, nilai Z sebesar 0,19 menunjukkan bahwa nilai tersebut berada pada sebelah kanan kurva distribusi normal. Apabila nilai Z ini dipetakan pada Tabel distribusi Z, maka akan menunjukkan nilai 0,425. Angka ini menunjukkan probababilitas sumber risiko yang disebabkan kualitas adalah 42,50 persen. Angka ini memiliki arti bahwa kemungkinan kehilangan produksi tomat 47 yang melebihi 400 kg adalah 42,50 persen. Sumber risiko produksi yang disebabkan oleh kualitas bibit dipengaruhi oleh keempat sumber risiko produksi lainnya. Tabel 9 Analisis Probabilitas Sumber Risiko Kualitas Bibit Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu Mei - Agustus 2010 Juli - Oktober 2010 September - Desember 2010 November 2010 - Februari 2011 Januari - April 2011 Maret - Juni 2011 Mei - Agustus 2011 Juli - Oktober 2011 September - Desember 2011 November 2011 - Februari 2012 TOTAL Rata - Rata Standar Deviasi X (batas normal) Z Nilai Pada Tabel Z Probabilitas Risiko Kehilangan Produksi Tomat (kg) 235 380 979 115 413 1.099 3.220 322 410 400 0,19 0,425 42,50% Besarnya risiko yang dihadapi diperoleh dari hasil pengurangan besarnya kehilangan produksi dikurangi dengan besarnya risiko yang disebabkan perubahan cuaca, hama, penyakit, dan sumber daya manusia. Sebagai contoh pada periode satu, dua, tujuh, dan delapan, risiko produksi yang disebabkan oleh kualitas bibit adalah 0. Hal ini disebabkan karena produktivitas tanaman tomat berada pada batas normal, yitu antara 1,5 – 2,5 kg/tanaman, sehingga pada periode ini tanaman tomat tidak terkena risiko produksi yang disebabkan oleh kualitas bibit. Berbeda dengan periode 10. Kehilangan produksi pada periode ini adalah sebesar 3.374 kg. Dari 3.374 kg, kehilangan produksi yang disebabkan oleh kualitas bibit adalah 1,099 kg. Pada periode ini kehilangan risiko yang disebabkan oleh kualitas bibit sangat tinggi. Hal ini juga dipengaruhi oleh faktor perubahan cuaca yang tidak menentu, sehingga produktivitas tanaman menurun. Selain itu, kualitas bibit yang 48 diperoleh dari ICDF tidak sebagus biasanya (Halim)1. Secara umum kualitas bibit ini dipengaruhi oleh perubahan cuaca, sehingga produktivitas menurun. Probabilitas kehilangan produksi tomat cherry yang disebabkan oleh penyakit menempati urutan ketiga yaitu sebesar 38,20 persen. Batas normal kehilangan tomat yang ditetapkan oleh perusahaan adalah 320 kg per periode. Penetapan angka batas normal ini berdasarkan rata-rata kehilangan produksi sebesar 8 persen pada setiap periode produksi. Hasil perhitungan probabilitas sumber risiko yang disebabkan oleh penyakit dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel 10 Analisis Probabilitas Sumber Risiko Penyakit Periode Waktu Mei - Agustus 2010 Juli - Oktober 2010 September - Desember 2010 November 2010 - Februari 2011 Januari - April 2011 Maret - Juni 2011 Mei - Agustus 2011 Juli - Oktober 2011 September - Desember 2011 November 2011 - Februari 2012 TOTAL Rata - Rata Standar Deviasi X (batas normal) Z Nilai Pada Tabel Z Probabilitas Risiko 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kehilangan Produksi Tomat (kg) 376 109 322 333 363 313 169 15 299 482 2.781 278 139 320 0,30 0,382 38,20% Berdasarkan data pada Tabel 11, nilai Z sebesar 0,30 menunjukkan bahwa nilai tersebut berada pada sebelah kanan kurva distribusi normal. Apabila nilai Z ini dipetakan pada Tabel distribusi Z, maka akan menunjukkan nilai 0,382. Angka ini menunjukkan probababilitas sumber risiko yang disebabkan penyakit adalah 38,20 persen. Angka ini memiliki arti bahwa kemungkinan kehilangan produksi tomat yang melebihi 320 kg adalah 38,20 persen. Besarnya probabilitas yang disebabkan oleh penyakit yang juga dipicu oleh iklim yang ekstrim sehingga 1 Penanggungjawab Produksi PD Pacet Segar 49 tanaman terserang penyakit, khususnya penyakit layu fusarium, busuk buah. Sumber risiko produksi yang disebabkan oleh penyakit dipengaruhi oleh perubahan cuaca. Apabila curah hujan tinggi, maka tanaman akan rentan terserang penyakit. Berdasarkan pada Tabel 15, besarnya kehilangan produksi yang disebabkan oleh penyakit pada periode 8 sangat rendah, yaitu 15 kg. Hal ini pada periode ini (Juli – Oktober 2011) curah hujan sangat rendah, sehingga tanaman sedikit yang terserang oleh penyakit. Sedangkan pada periode 10, besarnya kehilangan produksi yang disebabkan oleh penyakit sangat tinggi, yaitu sebesar 482 kg. Hal ini disebabkan pada periode ini curah hujan sangat tinggi, sehingga banyak tanaman yang terserang penyakit dan akhirnya mati. Probabilitas kehilangan produksi tomat cherry yang disebabkan oleh hama menempati urutan keempat yaitu sebesar 25,80 persen. Batas normal kehilangan tomat yang ditetapkan oleh perusahaan adalah 300 kg per periode. Penetapan angka batas normal ini berdasarkan rata-rata kehilangan produksi sebesar 7,5 persen pada setiap periode produksi. Hasil perhitungan probabilitas sumber risiko yang disebabkan oleh hama dapat dilihat pada Tabel 12. Tabel 11 Analisis Probabilitas Sumber Risiko Hama Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu Mei - Agustus 2010 Juli - Oktober 2010 September - Desember 2010 November 2010 - Februari 2011 Januari - April 2011 Maret - Juni 2011 Mei - Agustus 2011 Juli - Oktober 2011 September - Desember 2011 November 2011 - Februari 2012 TOTAL Rata - Rata Standar Deviasi X (batas normal) Z Nilai Pada Tabel Z Probabilitas Risiko Kehilangan Produksi Tomat (kg) 254 96 258 236 334 353 223 26 164 350 2.294 229 108 300 0,65 0,258 25,80% 50 Berdasarkan data pada Tabel 12, nilai Z sebesar 0,65 menunjukkan bahwa nilai tersebut berada pada sebelah kanan kurva distribusi normal. Apabila nilai Z ini dipetakan pada Tabel distribusi Z, maka akan menunjukkan nilai 0,258. Angka ini menunjukkan probababilitas sumber risiko yang disebabkan hama adalah 25,80 persen. Angka ini memiliki arti bahwa kemungkinan kehilangan produksi tomat yang melebihi 300 kg adalah 25,80 persen. Kehilangan produksi yang disebabkan oleh serangan hama dipengaruhi oleh perubahan cuaca. Cuaca yang buruk, menyebabkan tanaman mudah terserang hama. Berdasarkan Tabel 17, dapat dilihat pada periode 2 dan 8, kehilangan produksi lebih sedikit dibandingkan periode lainnya. hal ini disebabkan karena pada periode ini curah hujan relatih sedikit, sehingga hama tidak menyerang tanaman. berbeda halnya pada periode laiinnya, kehilangan produksi lebih banyak. Rata-rata kehilangan produksi disebabkan oleh hama busuk buah, sehingga banyak buah yang tidak bisa dipanen. Probabilitas kehilangan produksi tomat cherry yang paling rendah disebabkan oleh sumber daya manusia yaitu 6,80 persen. Hasil perhitungan probabilitas sumber risiko dapat dilihat pada Tabel 13. Tabel 12 Analisis Probabilitas Sumber Risiko Sumber Daya Manusia Periode 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu Mei - Agustus 2010 Juli - Oktober 2010 September - Desember 2010 November 2010 - Februari 2011 Januari - April 2011 Maret - Juni 2011 Mei - Agustus 2011 Juli - Oktober 2011 September - Desember 2011 November 2011 - Februari 2012 TOTAL Rata - Rata Standar Deviasi X Z Nilai Pada Tabel Z Probabilitas Risiko Kehilangan Produksi Tomat (kg) 22 26 24 28 22 24 28 12 24 18 228 23 5 30 1,49 0,068 6,80% 51 Berdasarkan data pada Tabel 13, batas normal kehilangan tomat yang ditetapkan oleh perusahaan adalah 30 kg per periode. Penetapan angka batas normal ini berdasarkan rata-rata kehilangan produksi sebesar 0,75 persen pada setiap periode produksi. Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh nilai Z sebesar 1,49. Angka menunjukkan bahwa nilai tersebut berada pada sebelah kanan kurva distribusi normal. Apabila nilai Z ini dipetakan pada Tabel distribusi Z, maka akan menunjukkan nilai 0,068. Angka ini menunjukkan probababilitas sumber risiko yang disebabkan human error adalah 6,80 persen. Angka ini memiliki arti bahwa kemungkinan kehilangan produksi tomat yang melebihi 30 kg adalah 6,80 persen. Kehilangan produksi yang disebabkan oleh sumberdaya manusia ini disebabkan kesalahan pada saat pemupukan. Pemupukan yang dekat dengan tanaman menyebakan kematian pada tanaman. Penanggungjawab produksi selalu mengingatkan tenaga kerjanya bagaimana pemupukan yang benar, tapi pada kenyataannya masih ada yang tidak melaksanakan dengan baik. Ciri-ciri tanaman yang mati karena kesalahan pemupukan adalah pangkal tanaman tersebut akan lunak dan menyebabkan tanaman mati. 6.3 Analisis Dampak Risiko Produksi Sumber-sumber risiko produksi tomat cherry yang sudah teridentifikasi pada PD Pacet Segar memiliki dampak negatif bagi perusahaan. Dampak negatif yang dirasakan oleh perusahaan adalah berupa kerugian finansial yang disebabkan oleh sumber-sumber risiko yang dapat dihitung berdasarkan nilai rupiah sebagai mata uang negara Indonesia. Apablia terjadi risiko produksi yang diakibakan oleh sumber-sumber risiko tersebut, maka dapat dilakukan perkiraan kerugian. Perkiraan kerugian tersebut tidak 100 persen sesuai dengan kejadian di lapangan. Oleh karena ini dibutuhkan penetapan besarnya kerugian dengan suatu tingkat keyakinan. Perhitungan dampak risiko produksi tomat cherry dilakukan dengan metode Value at Risk (VaR). Perhitungan yang dilakukan menggunakan tingkat keyakinan 95 persen dan sisanya 5 persen adalah error. Proses perhitungannya dapat dilihat pada Lampiran. Tujuan dilakukan perhitungan dampak dari masingmasing sumber risiko ini adalah untuk mengetahui perkiraan kerugian yang diderita oleh pihak perusahaan. Data yang digunakan dalam perhitungan ini 52 adalah data produksi 10 periode terakhir (Mei 2010 – Februari 2012) dan hasil pengamatan langsung dan wawancara dengan pihak perusahaan. Pihak perusahaan yang saya wawancara adalah pimpinan perusahaan selaku pembuat keputusan dan penanggung jawab produksi. Urutan hasil perhitungan analisis dampak risiko produksi tomat cherry pada PD Pacet Segar berdasarkan masing-masing sumber risiko dari urutan terbesar adalah perubahan cuaca, kualitas bibit, penyakit, hama, dan sumber daya manusia. Berikut pemaparan dari hasil perhitungan tersebut. Analisis dampak risiko produksi (VaR) yang disebabkan oleh perubahan cuaca dalam 10 periode terakhir adalah Rp 9.722.492,00 dengan tingkat keyakinan 95 persen. Hasil analisis perhitungan dampak risiko produksi yang disebabkan oleh perubahan cuaca dapat dilihat pada Tabel 14. Tabel 13 Analisis Dampak Sumber Risiko Perubahan Cuaca No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu Mei - Agustus 2010 Juli - Oktober 2010 September - Desember 2010 November 2010 - Februari 2011 Januari - April 2011 Maret - Juni 2011 Mei - Agustus 2011 Juli - Oktober 2011 September - Desember 2011 November 2011 - Februari 2012 TOTAL Rata - Rata Standar Deviasi Nilai Z (α = 5%) VaR Kehilangan Produksi Tomat (kg) 718 132 1.066 1.756 1.762 1.027 399 61 740 1.425 Harga Jual (Rp) 7.500 7.500 7.500 7.500 8.000 8.000 8.000 8.000 8.500 8.500 Kerugian (Rp) 5.385.000 992.000 7.998.000 13.167.000 14.096.000 8.215.467 3.188.267 484.267 6.287.733 12.114.200 71.927.933 7.192.793 4.862.984 1,645 9.722.492 Berdasarkan data pada Tabel 14, dapat dilihat besarnya nilai VaR adalah Rp 9.722.492,00. Nilai VaR ini berarti kerugian maksimal yang diderita oleh perusahaan akibat adanya pengaruh perubahan cuaca. Namun ada kemungkinan sebesar 5 persen perusahaan menderita kerugian lebih besar dari Rp 9.722.492,00. Pada periode empat, lima, dan sepuluh, dampak kerugian yang disebabkan oleh 53 perubahan cuaca relatif tinggi dibandingkan periode lainnya, hal ini disebabkan pada periode ini curah hujan sangat tinggi dan tidak menentu, sehingga banyak tanaman tomat yang rusak diakibatkan hujan dan angin kencang. Sebaliknya pada periode dua dan delapan (Juli – Oktober), dampak risiko yang disebabkan oleh perubahan iklim relatif kecil dibandingkan dengan periode lainnya. Hal ini disebabkan karena pada periode ini kondisi cuaca relatif stabil, sehingga risiko yang disebabkan oleh perubahan cuaca sangat kecil. Analisis dampak risiko produksi (VaR) yang disebabkan oleh kualitas bibit dalam 10 periode terakhir adalah Rp 4.391.618,00 dengan tingkat keyakinan 95 persen. Hasil analisis perhitungan dampak risiko produksi yang disebabkan oleh kualitas bibit dapat dilihat pada Tabel 15. Tabel 14 Analsis Dampak Sumber Risiko Kualitas Bibit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu Mei - Agustus 2010 Juli - Oktober 2010 September - Desember 2010 November 2010 - Februari 2011 Januari - April 2011 Maret - Juni 2011 Mei - Agustus 2011 Juli - Oktober 2011 September - Desember 2011 November 2011 - Februari 2012 TOTAL Rata - Rata Standar Deviasi Nilai Z (α = 5%) VaR Kehilangan Produksi Tomat (kg) 235 380 979 115 413 1.099 Harga Jual (Rp) 7.500 7.500 7.500 7.500 8.000 8.000 8.000 8.000 8.500 8.500 Kerugian (Rp) 1.762.500 2.847.000 7.829.333 917.867 3.509.933 9.343.200 26.209.833 2.620.983 3.403.793 1,645 4.391.618 Berdasarkan data pada Tabel 15, dapat dilihat besarnya nilai VaR adalah Rp 4.391.618,00. Nilai VaR ini berarti kerugian maksimal yang diderita oleh perusahaan akibat danya pengaruh kualitas bibit. Namun ada kemungkinan sebesar 5 persen perusahaan menderita kerugian lebih besar dari Rp 4.391.618,00. Pada periode satu, dua, tujuh, dan delapan perusahaan tidak mengalami dampak kerugian yang disebabkan oleh kualitas bibit, karena pada musim ini produktivitas 54 tanaman tomat berkisar dibatas ambang normal, yaitu antara 1,5 – 2,5 kg/tanaman. Metode perhitungan dampak kerugian yang disebabkan oleh kualitas bibit adalah total risiko produksi dikurangi risiko yang disebabkan perubahan cuaca, penyakit, hama, dan sumber daya manusia. Setelah didapatkan maka dikaliakan dengan harga yang berlaku pada saat itu. Analisis dampak risiko produksi (VaR) yang disebabkan oleh penyakit dalam 10 periode terakhir adalah Rp 2.801.957,00 dengan tingkat keyakinan 95 persen. Hasil analisis perhitungan dampak risiko produksi yang disebabkan oleh penyakit dapat dilihat pada Tabel 16. Tabel 15 Analisis Dampak Sumber Risiko Penyakit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu Mei - Agustus 2010 Juli - Oktober 2010 September - Desember 2010 November 2010 - Februari 2011 Januari - April 2011 Maret - Juni 2011 Mei - Agustus 2011 Juli - Oktober 2011 September - Desember 2011 November 2011 - Februari 2012 TOTAL Rata - Rata Standar Deviasi Nilai Z (α = 5%) VaR Kehilangan Produksi Tomat (kg) 376 109 322 333 363 313 169 15 299 482 Harga Jual (Rp) 7.500 7.500 7.500 7.500 8.000 8.000 8.000 8.000 8.500 8.500 Kerugian (Rp) 2.823.000 815.000 2.412.000 2.496.000 2.906.667 2.506.667 1.349.333 119.467 2.544.333 4.093.600 22.066.067 2.206.607 1.144.477 1,645 2.801.957 Berdasarkan data pada Tabel 16, dapat dilihat besarnya nilai VaR adalah Rp 2.801.957,00. Nilai VaR ini berarti kerugian maksimal yang diderita oleh perusahaan akibat adanya pengaruh penyakit yang menyerang tanaman tomat. Namun ada kemungkinan sebesar 5 persen perusahaan menderita kerugian lebih besar dari Rp 2.801.957,00. Pada periode dua dan delapan, dampak risiko yang disebababkan oleh penyakit relatif lebih kecil dibandingkan periode lainnya. Hal ini disebabkan pada musim ini curah hujan relatif stabil, sehingga tanaman yang terjangkit penyakit juga sedikit, karena salah satu faktor penyebab tanaman 55 terserang penyakit adalah perubahan cuaca. Namun pada periode sepuluh (November 2011 – Februari 2012) dampak risiko yang disebabkan oleh penyakit sangat besar, yaitu sebesar Rp 4.093.600,00 , hal ini disebabkan karena pada periode ini curah hujan sangat tinggi, sehingga menyebabkan lahan menjadi lembab dan tanaman mudah terserang penyakit, khususnya penyakit layu fusarium. Analisis dampak risiko produksi (VaR) yang disebabkan oleh hama dalam 10 periode terakhir adalah Rp 2.280.154,00 dengan tingkat keyakinan 95 persen. Hasil analisis perhitungan dampak risiko produksi yang disebabkan oleh hama dapat dilihat pada Tabel 17. Tabel 16 Analisis Dampak Sumber Risiko Hama No Waktu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Mei - Agustus 2010 Juli - Oktober 2010 September - Desember 2010 November 2010 - Februari 2011 Januari - April 2011 Maret - Juni 2011 Mei - Agustus 2011 Juli - Oktober 2011 September - Desember 2011 November 2011 - Februari 2012 TOTAL Rata - Rata Standar Deviasi Nilai Z (α = 5%) VaR Kehilangan Produksi Tomat (kg) 254 96 258 236 334 353 223 26 164 350 Harga Jual (Rp) 7.500 7.500 7.500 7.500 8.000 8.000 8.000 8.000 8.500 8.500 Kerugian (Rp) 1.905.000 720.000 1.935.000 1.770.000 2.672.000 2.824.000 1.784.000 208.000 1.394.000 2.975.000 18.187.000 1.818.700 887.080 1,645 2.280.154 Berdasarkan data pada Tabel 17, dapat dilihat besarnya nilai VaR adalah Rp 2.280.154,00. Nilai VaR ini berarti kerugian maksimal yang diderita oleh perusahaan akibat adanya pengaruh hama yang menyerang tanaman tomat. Namun ada kemungkinan sebesar 5 persen perusahaan menderita kerugian lebih besar dari Rp 2.280.154,00. Sama seperti dampak risiko yang disebabkan oleh perubahan cuaca dan penyakit, dampak risiko yang disebabkan oleh hama pada periode dua dan delapan memiliki dampak yang relatif kecil, karena cuaca relatif 56 stabil. Perubahan cuaca merupakan salah satu penyebab tanaman terserang hama, karena hama tanaman tomat suka terhadap kondisi lembab. Beda halnya dengan periode sepuluh, curah hujan pada periode sangat tinggi, sehingga tanaman tomat banyak yang terserang hama seperti hama busuk daun dan busuk buah. Analisis dampak risiko produksi (VaR) yang disebabkan oleh sumber daya manusia dalam 10 periode terakhir adalah Rp 198.339,00 dengan tingkat keyakinan 95 persen. Hasil analisis perhitungan dampak risiko produksi yang disebabkan oleh sumber daya manusia dapat dilihat pada Tabel 18. Tabel 17. Analisis Dampak Sumber Risiko Sumber Daya Manusia No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu Mei - Agustus 2010 Juli - Oktober 2010 September - Desember 2010 November 2010 - Februari 2011 Januari - April 2011 Maret - Juni 2011 Mei - Agustus 2011 Juli - Oktober 2011 September - Desember 2011 November 2011 - Februari 2012 TOTAL Rata - Rata Standar Deviasi Nilai Z (α = 5%) VaR Kehilangan Produksi Tomat (kg) 22 26 24 28 22 24 28 12 24 18 Harga Jual (Rp) 7.500 7.500 7.500 7.500 8.000 8.000 8.000 8.000 8.500 8.500 Kerugian (Rp) 165.000 195.000 180.000 210.000 176.000 192.000 224.000 96.000 204.000 153.000 1.795.000 179.500 36.216 1,645 198.339 Berdasarkan data pada Tabel 18, dapat dilihat besarnya nilai VaR adalah Rp 198.339,00. Nilai VaR ini berarti kerugian maksimal yang diderita oleh perusahaan akibat adanya kesalahan sumber daya manusia dalam melaksanakan budidaya tomat cherry. Namun ada kemungkinan sebesar 5 persen perusahaan menderita kerugian lebih besar dari Rp 198.339,00. Dampak kerugian yang disebabkan oleh sumber risiko sumber daya manusia jauh lebih kecil dibandingkan sumber risiko yang lainnya. Walaupun dampak kerugiannya kecil, namun selalu ada disetiap periode, sehingga berdasarkan hasil diskusi dengan 57 pihak perusahaan, sumber daya manusia termasuk salah satu sumber risiko produksi. Setelah dampak masing-masing sumber risiko diperoleh, maka nilai VaR akan lebih memiliki makna apabila diplotkan ke dalam peta risiko. Hal ini bertujuan untuk mempermudah pihak manajemen perusahaan dalam mengambil keputusan dalam penanganan risiko produksi. Perbandingan nilai VaR untuk masing-masing sumber risiko produksi dapat dilihat pada Tabel 19. Tabel 18. Dampak dari Masing-Masing Sumber Risiko Produksi No 1 2 3 4 5 Sumber Risiko Perubahan cuaca Kualitas bibit Penyakit Hama Sumber daya manusia Nilai VaR (dampak Rp) 9.722.492 4.391.618 2.801.957 2.280.154 198.339 Berdasarkan data pada Tabel 19, dapat dilihat besarnya dampak dari masing-masing sumber risiko produksi. Setelah diketahui nilai VaR untuk masing-masing sumber risiko, maka sebelum dilakukan penanganan terhadap masing-masing risiko produksi dilakukanlah pembuatan peta risiko. Pembuatan peta risiko ini bertujuan untuk menunjukkan posisi dari sumber risiko sehingga strategi penanganan lebih efektif. 6.4 Pemetaan Risiko Produksi Pemetaan risiko dilakukan dengan cara memplotkan dampak dan probabilitas dari masing-masing sumber risiko ke dalam peta risiko. Penggabungan antara dampak dan probabilitas tersebut akan diketahui status dari risiko tersebut. Status risiko menunjukkan urutan kejadian-kejadian berisiko. Status risiko yang besar menunjukkan risiko yang besar dan sebaliknya status risiko yang kecil menunjukkan risiko yang kecil. Status risiko merupakan perkalian antara probabiliti dan dampak. Status risiko tidak memiliki satuan. Angka yang dihasilkan dari status risiko hanya menunjukkan urutan risiko saja. Status risiko dari masing-masing sumber risiko produksi tomat cherry pada PD Pacet Segar dapat dilihat pada Tabel 20. 58 Tabel 19. Status Risiko untuk Setiap Sumber Risiko Produksi No Sumber Risiko 1 2 3 4 5 Perubahan cuaca Kualitas Bibit Penyakit Hama Sumber daya manusia Dampak (Rp) 9.722.492 4.391.618 2.801.957 2.280.154 198.339 Probabilitas (%) 44,00 42,50 38,20 25,80 6,80 Status Risiko 4.277.896 1.866.438 1.070.348 588.280 13.487 Berdasarkan data pada Tabel 20 dapat terlihat jelas urutan tingkatan status sumber dari masing-masing risiko. Perubahan cuaca merupakan sumber risiko yang memiliki dampak dan status risiko terbesar. Selanjutnya diikuti oleh sumber risiko kualitas bibit, penyakit, hama, dan terakhir adalah sumber daya manusia. Setelah status risiko diketahui, maka selanjutnya dilakukannlah pemetaan risiko. Pembuatan peta risiko ini untuk mengetahui posisi risiko yang berguna dalam penentuan alternantif strategi penaganan risiko. Peta risiko merupakan gambaran tentang posisi risiko pada suatu peta. Peta risiko memilik dua sumbu vertikal dan horizontal. Sumbu vertikal menggambarkan probabilitas dan sumbu horizontal merupakan dampak. Kedua sumbu tersebut dibagi menjadi dua bagian yaitu besar dan kecil. Batas antara dampak dan probabilitas bernilai besar dan kecil ditentukan oleh pihak manajemen PD Pacet Segar. Untuk penentuan batas tengah dari probabilitas dilakukan dengan menghitung rata-rata dari ke-5 probabilitas masing-masing sumber risiko dan diperoleh nilai 31,46 persen. Setelah didiskusikan lebih lanjut dengan pihak perusahaan, maka ditetapkan batas tengah dari probabilitas adalah 30 persen. Nilai batas tengah untuk dampak ditentukan oleh perusahaan yaitu Rp 3.000.000,00. Jadi sumber risiko yang memiliki dampak lebih dari Rp 3.000.000,00 akan masuk kedalam kategori dampak yang besar dan sebaliknya. Penggolongan risiko berdasarkan peta risiko dapat dilihat pada Gambar 12. 59 Probabilitas (%) Besar Penyakit Kualitas Bibit Perubahan cuaca 30 Hama Kecil SDM Kecil Rp 3.000.000 Besar Dampak (Rp) Gambar 12 Hasil Pemetaan Sumber-Sumber Risiko Produksi Berdasarkan pada Gambar 12, dapat dilihat posisi dari hasil pemetaan masing-masing sumber risiko. Pada kuadran I terdapat sumber risiko Penyakit. Sumber risiko penyakit dianggap oleh perusahaan sebagai sumber risiko yang memiliki peluang yang besar tetapi berdampak yang kecil bagi perusahaan. Sumber risiko perubahan cuaca dan kualitas bibit terdapat pada kuadran II yang merupakan sumber risiko yang dianggap oleh perusahaan yang memiliki kemungkinan terjadinya dan dampaknya yang besar. Pada kuadran III ditempati dua sumber risiko yaitu hama dan sumber daya manusia. Sumber risiko ini dianggap oleh perusahaan sebagai sumber risiko yang memiliki peluang terjadi dan dampaknya yang kecil. Sumber risiko produksi budidaya tomat cherry pada PD Pacet segar tidak ada yang menempati kuadran ke IV, karena perusahaan menganggap tidak ada sumber risiko yang mempunyai probabilitas kecil sedangkan memiliki dampak yang besar. Hasil dari pemetaan risiko ini dilakukan untuk menentukan strategi yang tepat untuk penanganan risiko produksi budidaya tomat cherry yang dihadapi oleh PD Pacet Segar. 60 6.5 Strategi Penanganan Risiko Produksi Tahap akhir yang dilakukan dalam menganalisis risiko produksi tomat cherry pada PD Pacet Segar adalah penentuan strategi penanganan terhadap risiko produksi yang dihadapi. Alternaif strategi yang dilakukan erat kaitannya dengan pemetaan risiko yang telah dihasilkan. Dalam penanganan risiko ini ada 2 strategi, yaitu strategi preventif dan strategi mitigasi. Sumber risiko yang berada pada kuadran I dan II ditangani dengan strategi preventif, sedangkan risiko yang berada pada kuadran II dan IV ditangani dengan strategi mitigasi. Sumber risiko yang disebabkan oleh perubahan cuaca dan kualitas bibit berapa pada kuadran II. Berdasarkan teori, sumber risiko yang berada pada kuadran II, dilakukan penanganan dengan strategi preventif dan mitigasi. Sedangakan untuk sumber risiko penyakit berada pada kuadran I, strategi penanganannya dilakukan dengan strategi preventif. Berdasarkan hasil diskusi dengan manajemen perusahaan, usulan strategi untuk menangani risiko produksi yang dihadapi perusahaan adalah sebagai berikut : 1. Sumber risiko penyakit Penyakit yang menyerang tanaman tomat cherry yang menyebabkan terjadinya kehilangan produksi adalah layu fusarium. Layu fusarium ini disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, sehingga kandungan air di dalam tanah meningkat. Untuk menghindari tanaman terserang penyakit layu fusarium, maka dilakukan penyemprotan fungisida secara ganda, terutama pada saat musim hujan. Pemberian fungisida ganda ini dilakukan dengan cara manambah frekuensi penyemprotan, yang biasanya dilakukan hanya sekali, sekarang dilakukan sebanyak dua kali dengan jarak waktu satu minggu. Pemberian fungisisda ganda ini diharapkan daya tahan tanaman lebih kuat terhadap serangan penyakit. Selain itu, untuk mengurangi kelembaban tanah, dilakukan pembuatan bedengan dengan ukuran lebih tinggi dari ukuran biasa. Tinggi bedengan biasanya dibuat 10 – 15 cm dari permukaan tanah. Namun untuk mengurangi kelembaban, dibuatlah bedengan dengan tinggi 25 – 30 cm dari permukaan danah dan dibuat drainase yang bagus, sehingga saluran air lebih lancar. Usulan kedua strategi diatas diharapkan dapat mengurangi probabilitas terjadinya sumber risiko yang disebabkan oleh penyakit. Sumber risiko penyakit yang disebabkan oleh penyakit 61 diharapkan bergeser kebawah, sehingga peluang terjadinya sumber risiko ini dapat berkurang. 2. Sumber risiko perubahan cuaca Sumber risiko yang disebabkan oleh perubahan cuaca terletak pada kuadran II pada peta risiko. Strategi penanganan terhadap sumber risiko ini dilakukan dengan preventif dan mitigasi. Perubahan cuaca yang tidak menentu menyebabkan tanaman tomat cherry banyak yang mati dan produktivitasnya menurun. Stategi penanganan terhadap sumber risiko perubahan cuaca dilakukan dengan menggunakan teknologi baru, yaitu budidaya dengan menggunakan greenhouse. Budidaya dengan menggunakan greenhouse dapat dilakukaan dengan sistim hidroponik irigasi tetas dan sistim manual. Sistim hidoponik irigasi tetes membutuhkan investasi yang sangat besar, namun kelebihannya adalah meningkatkan produktivitas tomat dan memperpanjang umur siklus budidaya. Budidaya tomat cherry menggunakan greenhouse dengan sistim irigasi manual tidak membutuhkan investasi yang besar, hanya membutuhkan investasi greenhouse saja. Namun budidaya dengan sistim irigasi manual ini produktivitasnya relatif lebih rendah dibanding dengan sistim irigasi tetes, karena sistim irigasi tetes pemberian nutrisinya lebih intensif dan langsung ke daerah akar tanaman, sehingga nutrisinya lebih banyak terserat oleh tanaman. Media tanam yang digunakan untuk budidaya tomat cherry menggunakan greenhouse adalah arang sekam. Penggunaan media tanam ini bertujuan untuk mengurangi probabilitas tanaman terserang penyakit fusarium. Usulan strategi penanganan risiko dengan menggunakan teknologi budidaya dengan menggunakan greenhouse diharapkan dapat mengurangi dampak dan probabilitas dari sumber risiko tersebut, sehingga posisi sumber risiko pada peta risiko bergeser ke arah bawah dan kiri dari peta risiko. 3. Sumber risiko kualitas bibit Bibit tomat cherry yang digunakan oleh PD Pacet Segar berasal dari ICDF Bogor. Sebagai informasi, benih/bibit tomat cherry tidak ada dijual di pasaran. Sehingga PD Pacet Segar bergantung pad ICDF dalam mendapatkan bibit. Berdasarkan hasil diskusi dengan pihak manajemen, penanganan risiko produksi yang disebabkan oleh kualitas bibit harus dilakukan evaluasi dari pihak pemberi 62 bibit (ICDF). Sebagai mitranya, PD Pacet Segar diundang oleh pihak ICDF untuk melakukan evaluasi terhadap kerja samanya. Dalam pertemuan dengan pihak ICDF, PD Pacet Segar mengutarakan keluhan terhadap kualitas bibit tomat cherry yang diberikan. Pihak ICDF memberikan tanggapan dan akan berusaha untuk memperbaiki kualitas bibit sehingga bibit yang diberikan kualitasnya sesuai dengan yang diharapkan. Dilain sisi, pihak manajemen perusahaan PD Pacet Segar sedang berusaha melakukan pembenihan sendiri. Pembenihan dilakukan dengan cara mengeringkan biji tomat yang matang. Setelah biji kering, lalu disemaikan di pesemaian. Namun benih yang disemaikan memiliki tingkat mortalitas yang tinggi. Berdasarkan data dilapangan, persentasi benih yang dibuat sendiri hanya tumbuh 50 persen. Pihak perusahaan sangat tertarik untuk melakukan pembenihan sendiri agar tidak terikat pada ICDF. Untuk bisa melakukan pembenihan yang sesuai standar, penanggung jawab produksi (Halim) sebaiknya melakukan pelatihan bagaimana cara mendapatkan benih yang berkualitas. Pelatihan ini bisa juga dilakukan di ICDF yang melakukan pembenihan sendiri maupun di tempat lain yang melakukan pembenihan, khususnya pembenihan sayur-sayuran yang menggunakan biji seperti cabe, keylan, brokoli, wortel, dan sebagainya. Usulan strategi untuk sumber risiko ini akan bisa dilaksanakan secara bertahap, karena pada saat ini perusahaan masih bergantung pada ICDF. Pihak perusahaan harus mempelajari bagaimana cara melakukan pembenihan tomat cherry yang baik, sehingga dihasilkan benih yang memiliki kualitas yang bagus, produktivitas tinggi dan tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Sehingga sumber risiko produksi ini dapat bergeser ke bawah dan kiri dari peta risiko. Berdasarkan pemaparan dari usulan strategi penganan terhadap sumber risiko penyakit, pengaruh cuaca, dan kualitas bibit diatas, diharapkan probabilitas dan dampak yang dirasakan oleh perusahaan dapat berkurang, sehingga keuntungan yang diperoleh perusahaan dapat meningkat. Usulan strategi penanganan risiko dengan strategi preventif dapat dilihat pada Gambar 13. 63 Probabilitas (%) Besar 30 1. Pemberian fungisida 1. Budidaya menggunakan ganda greenhouse 2. Pembuatan bedengan 2. Pelatihan cara dengan tinggi 25-30 cm pembenihan yang baik dari permukaan tanah dan 3. Bekerjasama dengan drainase yang baik ICDF untuk mendapatkan bibit berkualitas Kecil Kecil 3.000.000 Besar Dampak (Rp) Gambar 13 Penangaan Risiko dengan Strategi Preventif Berdasarkan pada Gambar 13, diharapkan usulan strategi yang telah dimusyawarahkan dengan pihak manajemen perusahaan dapat mengurangi probabilitas dari masing-masing sumber risiko, sehingga sumber risiko tersebut bergerak dari atas kebawah. Berdasarkan Gambar 14, dapat dilihat ada tiga usul yang diberikan kepada perusahaan yang diharapkan dapat meminimalkan dampak kerugian yang diderita oleh perusahaan akibat risiko produksi. Penerapan usulan strategi ini sebaiknya dilakukan oleh pihak perusahaan dimulai dari sumber risiko yang mempunyai status risiko yang paling tinggi, yaitu perubahan cuaca. Dilanjutkan dengan penanganan sumber risiko kualitas bibit, penyakit, hama, dan sumber daya manusia. Usulan penanganan risiko dengan strategi mitigasi dilakukan untuk mengurangi dampak dari sumber risiko dapat dilihat pada Gambar 14. 64 Probabilitas (%) 1. Budidaya menggunakan greenhouse 2. Pelatihan cara pembenihan yang baik 3. Bekerjasama dengan ICDF untuk mendapatkan bibit berkualitas Besar 30 Kecil - Kecil 3.000.000 Besar Dampak (Rp) Gambar 14 Penanganan Risiko dengan Strategi Mitigasi Sumber risiko lainnya hama dan sumber daya manusia juga dilakukan penanganan agar risiko tersebut dapat diminimalisir. Sumber risiko hama dalan dilakukan dengan penyemprotan insektisida secara teratur khususnya pada musim hujan sehingga tanaman tidak terserang hama. Penanganan risiko terhadap hama ini relatif lebih mudah dilakukan. Kenyataannya di lapangan pada saat ini, penanganan terhadap hama dilakukan setelah ditemukan indikasi risiko yang disebabkan oleh hama baru dilakukan penyemprotan sehingga masih banyak ditemukan kehilangan produksi yang disebabkan oleh hama. Untuk sumber risiko sumber daya manusia dilakukan dengan pengawasan yang insentif sehingga kehilangan produksi yang disebabkan oleh sumber daya manusia dapat dikurangi. 65 VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan Hasil penelitian kajian analisis risiko produksi budidaya tomat cherry pada PD Pacet Segar adalah sebagai berikut : 1. Berdasarkan pengamatan di lapangan terdapat lima sumber risiko produksi pada budidaya tomat cherry yaitu perubahan cuaca, serangan hama, penyakit, kualitas bibit, dan sumber daya manusia. 2. Sumber risiko yang disebabkan perubahan cuaca memiliki probabilitas dan dampak yang paling besar, yaitu 44 persen dan Rp 9.722.492 dan sumber risiko sumber daya manusia memiliki probabilitas dan dampak paling kecil, yaitu 6,8 persen dan Rp 198.339. 3. Alternatif strategi yang diusulkan kepada pihak perusahaan terhadap penanganan ketiga jenis sumber risiko penyakit, pengaruh cuaca, dan kualitas bibit adalah : a. Pemberian fungisida ganda pada tanaman tomat agar tidak mudah terserang penyakit, khususnya pada musim hujan. Selanjutnya pembuatan bedengan yang memiliki tinggi 25-30 cm dari permukaan tanah dan drainase yang baik agar kelembaban tanah berkurang. b. Melakukan budidaya dengan menggunakan greenhouse agar tanaman dapat dikontrol terhadap penyakit, hama, dan perubahan cuaca. c. Melakukan kerja sama dengan ICDF untuk menghasilkan bibit yang berkualitas. Melakukan pelatihan bagaimana menghasilkan benih yang berkualitas guna mengurangi ketergantungan pasokan bibit dari ICDF. 7.2 Saran Manajemen perusahaan sebaiknya segera melakukan penanganan terhadap risiko produksi. Penerapan usulan strategi yang telah dimusyawarahkan dengan pihak perusahaan sebaiknya dilaksanakan secara bertahap. Penanganan risiko sebaiknya dilakukan dari sumber risiko yang mempunyai status risiko paling tinggi sampai paling rendah. Penanganan risiko dimulai dari sumber risiko perubahan cuaca, kualitas bibit, penyakit, hama, dan sumber daya manusia. DAFTAR PUSTAKA [BPS] Badan Pusat Statistik. 2011. Produksi Sayuran Di Indonesia. Statistik Indonesia : BPS Indonesia. [Deptan] Departemen Pertanian. 2012. Produksi Sayuran di Propinsi Jawa Barat. Statistik Departemen Pertanian : Deptan Indonesia. Agromedia, Redaksi. 2007. Panduan Lengkap Budidaya Tomat. Agromedia. Jakarta : Basyib F. 2007. Manajemen Risiko. Jakarta: Pt. Grasindo. Cahyono, B. 2008. Tomat : Usaha Tani, dan Penanganan Pascapanen. Kanisius. Yogyakarta. 136 hal Cher P. 2011. Analisis Risiko Produksi Sayuran Organik Pada Pt Masada Organik Indonesia Di Bogor Jawa Barat. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Darmawi H. 2005. Manajemen Risiko. Jakarta : Bumi Aksara. Dewiaji T. 2011. Analisis Risiko Produksi Pembesaran Ikan Lele Dumbo (Clarias Gariepinus) Di Cv Jumbo Bintang Lestari Gunungsindur Kabupaten Bogor. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Fariyanti A, Sarianti T, Tinaprila N. Konsep Risiko dan Ketidakpastian. Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Ginting L. 2009. Risiko Produksi Jamur Tiram Putih Pada Usaha Cempaka Baru Di Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi Dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Harjadi S. 1989. Dasar-Dasar Hortikultura. Bogor : Jurusan Budidaya Tanaman, Institut Pertanian Bogor. Harwood, J, R. Heifner and K. Coble, J, Perry and A, Somwaru. 1999. Market and Trade Economics Division and Resource Economic Division, Economic Research Service. US Department of agriculture. Agricultural economic report no. 774. Hanafi M. 2006. Manajemen Risiko. Yogyakarta: Unit Penerbit Dan Percetakan Sekolah Tinggi Manajemen Ykpn. Kountur R. 2006. Manajemen Risiko Operasional (Memahami Cara Mengelola Risiko Operasional Perusahaan). Jakarta : Ppm. Kountur R. 2008. Mudah Memahami Manajemen Risiko Perusahaan. Jakarta : Ppm. Mujiburrahmad. 2011. Analisis Produktivitas Usahatani Tomat Berbasis Agroklimat, (Kasus Dataran Medium dan Dataran Tinggi). Sains Riset Volume 1 - No. 2. Parengkuan H. 2011. Analisis Risiko Produksi Jamur Tira Putih Pada Yayasan Paguyuban Ikhlas Di Desa Cibening Kecamatan Pamijahan Kabupaten Bogor. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Pinto B. 2011. Analisis Risiko Produksi Pada Peternakan Ayam Broiler Milik Bapak Restu Di Desa Cijayanti, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Puryanti Y. 2011. Analisis Risiko Produksi Sayuran Hidroponik Pada Pt Momenta Agrikultura (Amiazing Farm) Lembang, Jawa Barat. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi Dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Rahardi, F., R. Palungkun, dan A. Budiarti. 2001. Agribisnis Tanaman Sayur. Jakarta : Penebar Swadaya. Robinson, L.J. and P.J Berry. 1987. The Competitive Firm’s response to risk. New York. Macmillan Publising Company Silaban F. 2011. Analisis Risiko Produksi Ikan Hias Pada Pt Taufan Fish Farm Di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi Dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Situmeang H. 2011. Analisis Risiko Produksi Cabai Merah Keriting Pada Kelompoktani Pondok Menteng, Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Bogor. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Suarni S. 2006. Aplikasi Nitrobenzen Pada Tomat Cherry (Lycopersicon Esculentum VaR. Cerasiforme) Dalam Sistem Hidroponik. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Tarigan P. 2009. Analisis Risiko Produksi Sayuran Organikpada Permata Hati Organic Farm di Bogor, Jawa Barat. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Wisdya S. 2009. Analisis Risiko Produksi Anggrek Phalaenopsis Pada Pt Ekakarya Graha Flora Di Cikampek Jawa Barat [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. 68 LAMPIRAN Lampiran 1. Produksi Tomat Cherry (2000 tanaman/periode) Terakhir (satuan kg) Panen ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Total 1 231 201 278 197 296 386 337 235 276 201 214 103 131 67 31 2 196 267 333 312 448 351 467 384 302 364 397 279 205 166 67 3 121 97 136 267 305 211 275 204 199 92 43 55 24 35 31 4 70 56 151 124 189 178 152 78 47 98 52 11 24 20 18 3184 4538 2095 1268 Periode ke5 6 74 67 41 98 78 190 133 382 37 256 57 125 19 178 34 201 11 159 9 134 4 151 6 89 9 38 13 27 15 73 7 116 203 198 365 312 339 254 287 367 296 216 105 201 164 97 540 2168 3520 4 Lampiran 2. Besarnya Kehilangan Produksi yang Disebab Masing Sumber Risiko Sumber Risiko Periode Mei - Agustus 2010 Juli - Oktober 2010 September Desember 2010 November 2010 Februari 2011 Januari - April 2011 Maret - Juni 2011 Mei - Agustus 2011 Juli - Oktober 2011 September Desember 2011 November 2011 Februari 2012 TOTAL Perubahan Cuaca Hama Penyakit SDM 718 254 376 22 132 96 109 26 1.066 258 322 24 1.756 236 333 28 1.762 334 363 22 1.027 353 313 24 399 223 169 28 61 26 15 12 740 164 299 24 1.425 350 482 18 9.085 2.294 2.781 228 Lampiran 3 Kehilangan Produksi Tomat Cherry yang Disebabkan Perubahan Cuaca No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu Mei - Agustus 2010 Juli - Oktober 2010 September - Desember 2010 November 2010 - Februari 2011 Januari - April 2011 Maret - Juni 2011 Mei - Agustus 2011 Juli - Oktober 2011 September - Desember 2011 November 2011 - Februari 2012 Kehilangan Produksi yang disebabkan Perubahan C (kg) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 176 121 54 85 62 31 37 44 27 26 42 15 5 27 0 0 11 0 0 0 174 138 113 142 66 73 44 78 40 30 512 287 300 134 69 103 83 67 40 30 462 245 189 184 138 105 119 79 79 44 334 183 175 90 51 39 41 12 19 44 106 88 38 62 4 32 0 27 8 0 6 2 5 6 3 4 6 1 3 6 190 82 62 72 107 68 44 28 18 23 154 110 64 74 98 95 76 546 55 35 Lampiran 4 Kehilangan Produksi yang disebabkan Penyakit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu Mei - Agustus 2010 Juli - Oktober 2010 September - Desember 2010 November 2010 - Februari 2011 Januari - April 2011 Maret - Juni 2011 Mei - Agustus 2011 Juli - Oktober 2011 September - Desember 2011 November 2011 - Februari 2012 Kehilangan Produksi yang disebabkan Penyakit pa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 68 39 47 21 60 37 13 7 28 30 18 9 10 3 9 13 8 10 1 6 38 22 29 34 48 28 13 21 12 33 68 49 31 35 23 37 16 15 20 12 56 60 59 42 18 36 20 20 7 16 82 43 19 43 21 19 12 25 17 10 22 17 9 22 13 8 16 18 18 4 2 0 2 3 1 0 1 0 0 2 50 39 40 19 32 13 22 29 4 7 82 62 33 53 32 37 19 60 30 35 Lampiran 5 Kehilangan Produksi yang Disebabkan Sumber Risiko Hama No Waktu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Mei - Agustus 2010 Juli - Oktober 2010 September - Desember 2010 November 2010 - Februari 2011 Januari - April 2011 Maret - Juni 2011 Mei - Agustus 2011 Juli - Oktober 2011 September - Desember 2011 November 2011 - Februari 2012 1 19 13 13 9 27 6 12 3 9 21 Kehilangan Produksi yang disebabkan Hama pada P 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 9 7 14 1 3 6 23 31 26 42 8 10 9 7 3 2 8 6 4 1 10 7 9 6 20 14 19 26 16 21 6 5 12 11 18 9 21 30 16 23 22 15 31 13 17 8 24 43 23 12 21 33 27 15 38 22 43 27 17 21 4 22 9 16 11 10 23 13 12 9 2 1 1 2 3 1 3 1 2 2 7 6 11 15 10 9 8 14 11 9 17 33 12 18 19 21 13 47 35 19 Lampiran 6. Proses Budidaya Tomat Cherry pada PD Pacet Segar Lahan Budidaya Tomat Cherry Tomat Cherry yang Dibudidayakan Bibit Tomat Cherry Tomat Cherry yang Terserang Penyakit Hasil Budidaya Tomat Cherry di PD Pacet Segar 75 LAMPIRAN Lampiran 1. Produksi Tomat Cherry (2000 tanaman/periode) Terakhir (satuan kg) Panen ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Total 1 231 201 278 197 296 386 337 235 276 201 214 103 131 67 31 2 196 267 333 312 448 351 467 384 302 364 397 279 205 166 67 3 121 97 136 267 305 211 275 204 199 92 43 55 24 35 31 4 70 56 151 124 189 178 152 78 47 98 52 11 24 20 18 3184 4538 2095 1268 Periode ke5 6 74 67 41 98 78 190 133 382 37 256 57 125 19 178 34 201 11 159 9 134 4 151 6 89 9 38 13 27 15 73 7 116 203 198 365 312 339 254 287 367 296 216 105 201 164 97 540 2168 3520 4 Lampiran 2. Besarnya Kehilangan Produksi yang Disebab Masing Sumber Risiko Sumber Risiko Periode Mei - Agustus 2010 Juli - Oktober 2010 September Desember 2010 November 2010 Februari 2011 Januari - April 2011 Maret - Juni 2011 Mei - Agustus 2011 Juli - Oktober 2011 September Desember 2011 November 2011 Februari 2012 TOTAL Perubahan Cuaca Hama Penyakit SDM 718 254 376 22 132 96 109 26 1.066 258 322 24 1.756 236 333 28 1.762 334 363 22 1.027 353 313 24 399 223 169 28 61 26 15 12 740 164 299 24 1.425 350 482 18 9.085 2.294 2.781 228 Lampiran 3 Kehilangan Produksi Tomat Cherry yang Disebabkan Perubahan Cuaca No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu Mei - Agustus 2010 Juli - Oktober 2010 September - Desember 2010 November 2010 - Februari 2011 Januari - April 2011 Maret - Juni 2011 Mei - Agustus 2011 Juli - Oktober 2011 September - Desember 2011 November 2011 - Februari 2012 Kehilangan Produksi yang disebabkan Perubahan C (kg) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 176 121 54 85 62 31 37 44 27 26 42 15 5 27 0 0 11 0 0 0 174 138 113 142 66 73 44 78 40 30 512 287 300 134 69 103 83 67 40 30 462 245 189 184 138 105 119 79 79 44 334 183 175 90 51 39 41 12 19 44 106 88 38 62 4 32 0 27 8 0 6 2 5 6 3 4 6 1 3 6 190 82 62 72 107 68 44 28 18 23 154 110 64 74 98 95 76 546 55 35 Lampiran 4 Kehilangan Produksi yang disebabkan Penyakit No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu Mei - Agustus 2010 Juli - Oktober 2010 September - Desember 2010 November 2010 - Februari 2011 Januari - April 2011 Maret - Juni 2011 Mei - Agustus 2011 Juli - Oktober 2011 September - Desember 2011 November 2011 - Februari 2012 Kehilangan Produksi yang disebabkan Penyakit pa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 68 39 47 21 60 37 13 7 28 30 18 9 10 3 9 13 8 10 1 6 38 22 29 34 48 28 13 21 12 33 68 49 31 35 23 37 16 15 20 12 56 60 59 42 18 36 20 20 7 16 82 43 19 43 21 19 12 25 17 10 22 17 9 22 13 8 16 18 18 4 2 0 2 3 1 0 1 0 0 2 50 39 40 19 32 13 22 29 4 7 82 62 33 53 32 37 19 60 30 35 Lampiran 5 Kehilangan Produksi yang Disebabkan Sumber Risiko Hama No Waktu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Mei - Agustus 2010 Juli - Oktober 2010 September - Desember 2010 November 2010 - Februari 2011 Januari - April 2011 Maret - Juni 2011 Mei - Agustus 2011 Juli - Oktober 2011 September - Desember 2011 November 2011 - Februari 2012 1 19 13 13 9 27 6 12 3 9 21 Kehilangan Produksi yang disebabkan Hama pada P 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 9 7 14 1 3 6 23 31 26 42 8 10 9 7 3 2 8 6 4 1 10 7 9 6 20 14 19 26 16 21 6 5 12 11 18 9 21 30 16 23 22 15 31 13 17 8 24 43 23 12 21 33 27 15 38 22 43 27 17 21 4 22 9 16 11 10 23 13 12 9 2 1 1 2 3 1 3 1 2 2 7 6 11 15 10 9 8 14 11 9 17 33 12 18 19 21 13 47 35 19 Lampiran 6. Proses Budidaya Tomat Cherry pada PD Pacet Segar Lahan Budidaya Tomat Cherry Tomat Cherry yang Dibudidayakan Bibit Tomat Cherry Tomat Cherry yang Terserang Penyakit Hasil Budidaya Tomat Cherry di PD Pacet Segar 75 RINGKASAN ASHABUL YAMIN. Analisis Risiko Produksi Tomat Cherry Pada PD Pacet Segar , Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan NARNI FARMAYANTI) Pertanian merupakan salah satu sektor kehidupan yang bidang pekerjaannya berhubungan dengan pemanfaatan alam sekitar dengan menghasilkan produk pertanian yang diperlukan oleh seluruh kalangan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan jasmaninya. Pertanian terbagi atas tiga sub sektor yaitu perkebunan, tanaman pangan, dan hortikultura. Holtikultura menjadi salah satu pusat perhatian karena berdasarkan data ekspor impor tahun 2008 dan 2009 menunjukkan bahwa sub sektor hortikultura mengalami peningkatan dalam hal impor. Hal ini disebabkan oleh rendahnya pasokan hortikultura dari dalam negeri dan tingginya minat masyarakat dalam mengkonsumsi produk impor. Sayuran adalah salah satu produk hortikultura. Sayuran memiliki karakteristik yang berbeda dengan komoditi lainnya. Komoditi ini memiliki risiko yang cukup besar yang menyebabkan ketergantungan antara pasar dengan konsumen dan produsen. Sayuran merupakan salah satu bahan makanan penting serta relatif murah dan cukup tersedia di Indonesia, yang memiliki kondisi agroklimat sesuai untuk tumbuh dan berproduksi dengan baik. Kandungan vitamin dan mineral yang lengkap serta bervariasi juga banyak mengandung serat menyebabkan sayuran dapat dijadikan sebagai bahan makanan bergizi yang dapat menunjang kesehatan (Rahardi et al. 2001). Pengelolaan usaha pertanian khususnya budidaya sayuran dihadapkan pada risiko produksi. Salah satu jenis sayurannya adalah tomat cherry. Budidaya tomat cherry dihadapkan pada risiko produksi. Risiko produksi ini disebabkan oleh beberapa faktor sehingga terjadinya fluktuasi produksi setiap periodenya. Oleh karena itu, pelaku bisnis diharapkan dapat meminimalisir risiko tersebut agar dapat memperoleh keuntungan sesuai yang diharapkan. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Mengidentifikasi sumber-sumber risiko produksi tomat cherry pada PD Pacet Segar, (2) Menganalisis probabilitas dan dampak sumber-sumber risiko produksi tomat cherry terhadap pendapatan PD Pacet Segar, (3) Menganalisis alternatif strategi yang diterapkan untuk mengatasi risiko produksi yang dihadapi oleh usaha budidaya tomat cherry pada PD Pacet Segar. Penelitian ini dilaksanakan di PD Pacet Segar Cianjur. Penelitian ini dilakukan dari bulan Maret – Mei 2012. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder, kedua data ini bersifat kuantitatif dan kualitatif. Data primer diperoleh melalui wawancara dan pengisian kuesioner. Proses wawancara dan pengisian kuisioner dilakukan terhadap pimpinan yang sekaligus penanggung jawab produksi. Sedangkan data sekunder diperoleh dari skripsi, jurnal, Departemen Pertanian, Biro Pusat Statistik, buku-buku pendukung dalam penyusunan skripsi. Hasil analisis risiko produksi tomat cherry pada PD Pacet Segar ditemukan lima sumber risiko produksi yaitu pengaruh cuaca, hama, penyakit, kualitas bibit, dan sumber daya manusia. Sumber risiko pengaruh cuaca memiliki probabilitas dan dampak paling besar diantara sumber-sumber risiko lainnya. Probabilitas dari sumber risiko ini adalah 44 persen dan nilai dampaknya yang dihitung dengan metode VaR dengan tingkat kepercayaan 95 persen adalah Rp 9.722.492,00. Nilai probabilitas dan dampaknya berurutan setelah sumber risiko perubahan cuaca adalah kualitas bibit, penyakit, hama, dan sumber daya manusia. Setelah dilakukan identifikasi terhadap sumber-sumber risiko, maka dilakukan pemetaan risiko yang akhirnya didapatkan alternatif strategi penanganan terhadap sumber risiko tersebut. Sumber risiko yang penanganannya dengan strategi preventif adalah penyakit, pengaruh cuaca, dan kualitas bibit. Sumber risiko ini berada pada kuadran I dan II yang mana memiliki probabilitas yang tinggi. Sumber risiko yang dilakukan penanganan dengan strategi mitigasi adalah kualitas bibit dan perubahan cuaca. Sumber risiko tersebut memiliki probabilitas dan dampak yang besar. Strategi penanganan risiko yang diusulkan untuk sumber risiko pengaruh cuaca adalah melakukan budidaya dengan menggunakan greenhouse, sehingga probabilitas dan dampak risiko dapat diminimalkan. Budidaya dengan meggunakan greenhouse dapat meminimalkan kematian tanaman yang disebabkan oleh perubahan cuaca dan juga meminimalkan sumber risiko lainnya seperti serangan hama dan penyakit dan meningkatkan produktivitas tanaman tomat. Berdasarkan hasil diskusi dengan pihak manajemen perusahaan, strategi penanganan terhadap sumber risiko kualitas bibit dilakukan dengan melakukan kerja sama dengan ICDF dalam menghasilkan bibit yang berkualitas dan juga pihak perusahaan khususnya penanggung jawab prosuksi ikut mempelajari bagaimana melakukan pembenihan tomat cherry yang baik. Hal ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap bibit dari ICDF, karena bibit tomat cherry tidak dijual di pasaran. Penanganan terhadap sumber risiko yang disebabkan oleh penyakit dilakukan dengan melakukan penyemprotan fungisida ganda, khususnya pada musim hujan. Penyemprotan ini bertujuan agar tanaman tidak mudah terserang penyakit, khususnya penyakit layu fusarium. Selain itu, penanganan juga dilakukan dengan pembuatan drainase yang bagus dan bedengan dengan tinggi 25–30 cm dari permukaan tanah. Pembuatan bedengan yang tinggi ini bertujuan untuk mengurangi kelembaban tanah sehingga tanaman tidak terjangkit penyakit layu fusarium. iii
Analisis Risiko Produksi Tomat Cherry pada PD Pacet Segar Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat Analisis Dampak Risiko Pemetaan Risiko Analisis Dampak Risiko Produksi Analisis Risiko Kerangka Pemikiran Teoritis .1 Konsep Risiko Identifikasi Sumber-Sumber Risiko Analisis Risiko Produksi Tomat Cherry pada PD Pacet Segar Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat Jenis dan Sumber Risiko Kerangka Pemikiran Operasional Lokasi dan waktu Sejarah dan Perkembangan Perusahaan Latar Belakang Analisis Risiko Produksi Tomat Cherry pada PD Pacet Segar Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat Lokasi Perusahaan Struktur Organisasi Perusahaan Manajemen Risiko Kerangka Pemikiran Teoritis .1 Konsep Risiko Manfaat Penelitian Gambaran Umum Tomat Cherry Pemetaan Risiko Produksi Analisis Risiko Produksi Tomat Cherry pada PD Pacet Segar Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat Penanganan Risiko Jenis dan Sumber Data Penelitian Terdahulu Analisis Risiko Produksi Tomat Cherry pada PD Pacet Segar Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat Pengadaan Input Deskripsi Kegiatan Bisnis Proses Produksi Deskripsi Kegiatan Bisnis Strategi Penanganan Risiko Produksi Sumber Daya Fisik Sumber Daya Modal Teknik Pemetaan Analisis Risiko Produksi Tomat Cherry pada PD Pacet Segar Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Analisis Risiko Produksi Tomat Cherry pada PD Pacet Segar Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat

Gratis