Spatial Analysis of Land Use Change in Relation with The Use of Zoning Area at Gunung Halimun Salak National Park

Gratis

16
64
105
2 years ago
Preview
Full text
ANALISIS SPASIAL PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DALAM KAITANNYA DENGAN PEMANFAATAN ZONASI KAWASAN TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SALAK MUHAMAD ILYAS SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA* Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Analisis Spasial Perubahan Penggunaan Lahan dalam Kaitannya dengan Pemanfaatan Zonasi Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak adalah benar karya saya dengan arahan dan komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dan karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dan penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka dibagian akhir tesis ini. Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor. Bogor, Maret 2014 Muhamad Ilyas NIM A156120304 RINGKASAN MUHAMAD ILYAS. Analisis Spasial Perubahan Penggunaan Lahan dalam Kaitannya dengan Pemanfaatan Zonasi Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Dibimbing oleh KHURSATUL MUNIBAH dan OMO RUSDIANA. Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) merupakan salah satu taman nasional yang memiliki ekosistem hutan hujan tropis terluas di pulau Jawa (Balai TNGHS 2006). ekosistem TNGHS berperan penting sebagai pengatur tata air dan ikim mikro, konservasi hidupan liar, tempat penelitian, pendidikan lingkungan, kegiatan ekowisata dan pelestarian budaya setempat. Berbagai kegiatan pemanfaatan lahan oleh masyarakat di dalam wilayah kelola TNGHS yang tidak sesuai dengan rencana zonasi TNGHS akan menyebabkan terganggunya ekosistem hutan. Akan tetapi, perubahan penggunaan lahan tersebut harus dimonitor dalam rangka mengendalikan kerusakan hutan. Tujuan penelitian ini adalah : (1) menganalisis perubahan penggunaan lahan periode tahun 20002010, (2) menganalisis faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan, (3) memprediksi penggunaan lahan tahun 2026 menggunakan model spasial perubahan penggunaan lahan, dan (4) merumuskan arahan penggunaan lahan kawasan TNGHS. Pemodelan perubahan penggunaan lahan di perkenalkan untuk memprediksi pola perubahan penggunaan lahan di masa yang akan datang. Metode CLUE-S digunakan untuk mensimulasikan perubahan penggunaan lahan berdasarkan pada faktor yang mempengaruhinya. Hasil analisis menunjukkan bahwa, (1) selama periode 2000-2010, penggunaan lahan hutan mengalami pengurangan sebesar 5,55%. Penurunan luasan hutan diikuti oleh kenaikan luasan ladang sebesar 2,21 %, sawah sebesar 1,46%, semak sebesar 0,63%, kebun campuran sebesar 0,60 %, lahan terbangun sebesar 0,63% dan kebun teh sebesar 0,32 %. Pola perubahan lahan di kawasan TNGHS yang paling utama adalah lahan hutan menjadi kebun campuran, ladang dan semak. (2). Berdasarkan analisis regresi logistik biner, faktor yang mempengaruhi perubahan hutan menjadi lahan non-hutan adalah kepadatan penduduk. (3). Hasil prediksi menunjukkan terjadinya peningkatan luas penggunaan lahan hutan terjadi pada skenario 2 dan 3. Penggunaan lahan kebun campuran, ladang, sawah dan semak meningkat untuk skenario pada kondisi saat ini dan dan skenario 1. Model CLUE-S yang disimulasikan dalam penelitian ini memiliki ketelitian sebesar 88,53%. Arahan penggunaan lahan dikawasan TNGHS adalah kebijakan restorasi hutan pada zona inti, zona rimba dan zona rehabilitasi, yaitu dengan melakukan upaya restorasi hutan dari penggunaan lahan kebun campuran, ladang, sawah, dan semak. Kebijakan ini dapat mengurangi ketidaksesuaian penggunaan lahan dengan zonasi pada tahun 2026 menjadi 9,23%. Kata Kunci : CLUE-S, model spasial, perubahan penggunaan lahan, sistem informasi geografis, Taman Nasional Gunung Halimun Salak. SUMMARY MUHAMAD ILYAS Spatial Analysis of Land Use Change in Relation with The Use of Zoning Area at Gunung Halimun Salak National Park. Under direction of KHURSATUL MUNIBAH and OMO RUSDIANA. Gunung Halimun Salak National Park (GHSNP) is the largest tropical rain forest ecosystem in Java. GHSNP ecosystems play an important role as watersheds protection, microclimate, wildlife conservation, research, environmental education, ecotourism and preservation of local culture. A variety of land use activities by communities that does not comply with the zoning plan of GHSNP will cause degradation of the forest ecosystem. However, its change should be monitored to control forest degradation. This study aims to: (1) analyze land use changes in the period 2000-2010, (2) analyze the factors that drive the land use changes from forest to Non-forest, (3) predict the use of land in 2026 using spatial models of land use change, (4) formulate directives refinement for land use planning GHSNP. Land use change modelling has been introduced to predict future pattern of change. CLUE-S was used to simulate land-use change based on the driving factors. The results of the analysis showed there is changes in land use in the 2000-2010 period. The most extensive land use decline is forest that decreased by 5,5%. On the other hand, the land use that extensively increase is field that rise 2,21%, rice field that rise to 1,46% and bush that increased 3,4%. The main pattern in land use change is from forest into mixed garden, field and bush. (2) According to the regression analysis, the factors that drive the land use changes from forest to Non-forest is density population. (3). Prediction result show forest landuse increased occurs in scenario 2 and 3. The landuse of a mix garden, field, paddy field and shrubs increased in the scenarios currrent conditions and scenario 1. CLUE-S model is simulated in this study has an accuracy of 88.53%. Alternatives of policy that selected based on the study for the refinement of landuse planning is forest restoration policy on core zones, jungle zones and rehabilitation zones, namely the restoration efforts of forest from mixed garden, fields, paddy field and shrubs. This policy can reduce 9.23% of the incompatibility between land use and zoning plan. Keywords : CLUE-S, geographical information system, Gunung Halimun Salak National Park, land use change, spatial model, © Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2014 Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB ANALISIS SPASIAL PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DALAM KAITANNYA DENGAN PEMANFAATAN ZONASI KAWASAN TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SALAK MUHAMAD ILYAS Tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014 Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis : Dr Boedi Tjahjono, MSc Judul Tesis : Analisis Spasial Perubahan Penggunaan Lahan dalam Kaitannya dengan Pemanfaatan Zonasi Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak Nama : Muhamad Ilyas NIM : A 156120304 Disetujui oleh Komisi Pembimbing Dr Khursatul Munibah, MSc Ketua Dr Omo Rusdiana, M Sc F Trop Anggota Diketahui oleh Ketua Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah Dekan Sekolah Pascasarjana Prof Dr Ir Santun R P Sitorus Dr Ir Dahrul Syah MSc Agr Tanggal Ujian : 25 Februari 2014 Tanggal Lulus : PRAKATA Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga karya tulis ilmiah yang berjudul Analisis Spasial Perubahan Penggunaan Lahan dalam Kaitannya dengan Pemanfaatan Zonasi Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak ini telah diselesaikan dengan baik. Dalam penulisan karya tulis ilmiah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada : 1. Dr Khursatul Munibah, MSc dan Dr Omo Rusdiana, MSc FTrop selaku Ketua dan Anggota komisi pembimbing atas segala motivasi, arahan dan bimbingan yang diberikan mulai dari tahap awal hingga penyelesaian tesis ini. 2. Dr Boedi Tjahjono, MSc selaku penguji luar komisi yang telah memberikan koreksi dan masukan bagi penyempurnaan tesis ini. 3. Segenap dosen pengajar, asisten dan staf manajemen Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah IPB. 4. Kepala Pusbindiklatren Bappenas beserta jajarannya atas kesempatan beasiswa yang diberikan kepada penulis. 5. Kementerian Kehutanan cq Balai Taman Nasional Danau Sentarum yang telah memberikan izin kepada penulis untuk mengikuti program tugas belajar ini. 6. Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk melakukan penelitian di tempat ini. 7. Rekan-rekan PWL kelas BAPPENAS maupun Reguler angkatan 2012 dan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tesis ini. Penulis menyadari adanya keterbatasan ilmu dan kemampuan, sehingga dalam penelitian ini masih banyak terdapat kekurangan. Akhirnya semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Terimakasih. Bogor, Maret 2014 Muhamad Ilyas i DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN ii iii iii 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Perumusan Masalah 1.3 Tujuan Penelitian 1.4 Manfaat Penelitian 1.5 Kerangka Pemikiran 1 1 2 3 4 4 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Taman Nasional Gunung Halimun Salak 2.2 Zonasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak 2.3 Penggunaan dan Penutupan Lahan 2.4 Sistem Informasi Geografis 2.5 Penginderaan Jauh 5 5 7 8 14 14 3 METODE 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2 Bahan dan Alat 3.3 Jenis dan Sumber Data 3.4 Metode Pengumpulan Data 3.5 Rancangan Penelitian 3.6 Metode dan Teknik Analisis Data 15 15 15 16 16 16 17 4 KEADAAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1 Sejarah Kawasan 4.2 Letak Kawasan 4.3 Kondisi Biotik 4.4 Karakteristik Wilayah 4.5 Kependudukan 4.6 Zonasi TNGHS 26 26 27 28 28 35 37 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Analisis Perubahan Penggunaan Lahan 5.2 Faktor Yang Mempengaruhi Perubahan Penggunaan Lahan 5.3 Model Spasial Perubahan Penggunaan Lahan 5.4 Skenario Penggunaan Lahan Hasil Prediksi Tahun 2026 5.5 Arahan Penggunaan Lahan di Kawasan TNGHS 40 40 51 52 68 74 6 SIMPULAN DAN SARAN 6.1 Simpulan 6.2 Saran 76 76 76 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP 77 81 93 ii DAFTAR TABEL 1 Matriks hubungan antara tujuan, jenis data, sumber data, teknik analisis dan keluaran 2 Matriks perubahan penggunaan lahan tahun t 0 -t 1 3 Matriks Kesalahan (Error Matrixs) 4 Luas perubahan penggunaan lahan per tahun 5 Kemiringan lereng kawasan TNGHS 6 Kelas ketinggian kawasan TNGHS 7 Formasi geologi kawasan TNGHS 8 Sebaran jenis tanah kawasan TNGHS 9 Jumlah penduduk didalam dan disekitar kawasan TNGHS tahun 20002010 10 Sebaran zonasi kawasan TNGHS 11 Matrik Kesalahan, Akurasi dan Nilai Kappa Citra Landsat Kawasan TNGHS 12 Luas perubahan penggunaan lahan di kawasan TNGHS tahun 20002010 13 Matriks perubahan penggunaan lahan kawasan TNGHS periode tahun 2000-2010 pada berbagai zona 14 Faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan hutan menjadi non-hutan 15 Skenario untuk prediksi perubahan penggunaan lahan Tahun 2026 16 Kebutuhan penggunaan lahan periode tahun 2000-2010 (demand.in0) 17 Luas penggunaan lahan tahun 2010-2026 (demand.inl) 18 Luas penggunaan lahan tahun 2010-2026 skenario 1 (demand.in2) 19 Luas penggunaan lahan tahun 2010-2026 skenario 2 (demand.in3) 20 Luas penggunaan lahan tahun 2010-2026 skenario 3 (demand.in4) 21 Presentase luas kebutuhan penggunaan lahan prediksi Tahun 2026 berdasarkan skenario 22 Faktor yang berpengaruh terhadap keberadaan tiap penggunaan lahan tahun 2000 23 Nilai exp (β) untuk tiap penggunaan tahun 2000 24 Faktor yang berpengaruh terhadap keberadaan tiap penggunaan lahan tahun 2010 25 Nilai exp (β) untuk tiap penggunaan tahun 2010 26 Nilai elastisitas konversi tiap jenis penggunaan lahan 27 Matriks konversi tiap jenis penggunaan lahan 28 Data yang digunakan pada pemodelan tahap 1 dan tahap 2 29 Perubahan penggunaan lahan periode tahun 2010-2026 hasil prediksi pada berbagai zona 30 Perubahan penggunaan lahan periode tahun 2010-2026 hasil prediksi skenario 1 pada berbagai zona 31 Perubahan penggunaan lahan periode tahun 2010-2026 hasil prediksi skenario 2 pada berbagai zona 32 Perubahan penggunaan lahan periode tahun 2010-2026 hasil prediksi skenario 3 pada berbagai zona 33 Perbandingan hasil kesesuaian lahan hasil prediksi dengan zonasi 19 20 21 24 29 30 31 32 37 38 43 44 46 51 53 52 54 55 56 57 57 58 60 60 62 63 63 64 66 68 70 72 74 iii DAFTAR GAMBAR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Bagan alir kerangka pemikiran Peta lokasi penelitian kawasan TNGHS Bagan alir penelitian Struktur penyusunan model spasial Peta batas administrasi kecamatan kawasan TNGHS Peta kemiringan lereng kawasan TNGHS Peta kelas ketinggian kawasan TNGHS Peta geologi kawasan TNGHS Peta jenis tanah kawasan TNGHS Sebaran curah hujan kawasan TNGHS Peta jarak ke jalan kawasan TNGHS Peta jarak ke pusat kota kawasan TNGHS Peta jarak ke kota terdekat kawasan TNGHS Peta jarak ke sungai kawasan TNGHS Peta kepadatan penduduk kawasan TNGHS Peta kepadatan tenaga kerja pertanian kawasan TNGHS Peta zonasi kawasan TNGHS Kenampakan penggunaan dan penutupan lahan skala 1: 25.000 dari citra Landsat Grafik perubahan penggunaan lahan kawasan TNGHS Periode tahun 2000-2010 Perbandingan peta penggunaan lahan di kawasan TNGHS tahun 2000 dan 2010 Grafik perubahan penggunaan lahan kawasan TNGHS Periode tahun 2000-2010 pada berbagai zona Perbandingan peta penggunaan lahan prediksi dan aktual tahun 2010 Penggunaan lahan hasil prediksi tahun 2026 Penggunaan lahan hasil prediksi tahun 2026 dengan skenario 1 Penggunaan lahan hasil prediksi tahun 2026 dengan skenario 2 Penggunaan lahan hasil prediksi tahun 2026 dengan skenario 3 5 15 18 23 27 29 30 31 32 33 34 34 35 35 36 37 39 40 44 45 50 65 67 69 71 73 DAFTAR LAMPIRAN 1 2 3 4 5 Citra landsat kawasan TNGHS tahun 2000 Citra landsat kawasan TNGHS tahun 2010 Variabel yang mempengaruhi perubahan hutan menjadi non-hutan Titik hasil referensi cek lapangan dan Google Earth Kriteria zonasi berdasarkan Permenhut No.P.56/Menhut-II/2006a tentang Pedoman Zonasi Taman Nasional 6 Luas tiap penggunaan lahan pada berbagai zona hasil prediksi tahun 2026 tanpa skenario 7 Kriteria kondisi kesesuaian penutupan lahan dan zonasi pada berbagai zona 81 82 83 85 89 90 91 1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) yang memiliki luas 113.357 ha berdasarkan Surat Penunjukan Menteri Kehutanan No.175/KptsII/2003. Saat ini TNGHS merupakan salah satu taman nasional yang memiliki ekosistem hutan hujan tropis terluas di pulau Jawa (Balai TNGHS 2006). Kawasan TNGHS memiliki peranan penting dalam perlindungan hutan hujan dataran rendah dan sebagai wilayah tangkapan air bagi kabupatenkabupaten di sekelilingnya. Selain itu, ekosistem TNGHS berperan penting sebagai pengatur tata air dan ikim mikro, konservasi hidupan liar, tempat penelitian, pendidikan lingkungan, kegiatan ekowisata dan pelestarian budaya setempat. Berdasarkan Surat Keputusan Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Nomor SK.128/IV-Sek/HO/2006 tanggal 25 Juli 2006, TNGHS ditunjuk sebagai salah satu model taman nasional dari 21 taman nasional yang ditetapkan. Pembentukan ini ditujukan untuk mempersiapkan infrastruktur dan kelembagaan pengelola taman nasional agar mampu lebih berdaya guna dan mampu menggalang pendanaan secara mandiri. Selain itu, Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No 776/Menhut-II/2009 tanggal 7 Desember 2009 ditetapkan lahan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) sebagai wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Konservasi. Kawasan TNGHS secara administratif berada di tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Lebak di Provinsi Banten, Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor di Provinsi Jawa Barat. Pola dan struktur ruang di dalam RTRW Kabupaten idealnya sama dengan sistem zonasi TNGHS yang telah ditetapkan oleh Pemerintah, dalam hal ini kewenangannya berada di bawah Kementerian Kehutanan. Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan No P.56 Tahun 2006a tentang pedoman zonasi taman nasional, zonasi taman nasional didasarkan pada potensi dan fungsi kawasan dengan memperhatikan aspek ekologi, sosial, ekonomi dan budaya. Dalam pengelolaannya agar dapat mengakomodir kebutuhan masyarakat di dalam dan di sekitar hutan TNGHS, maka ditetapkan pembagian zonasi. TNGHS dibagi menjadi zona inti, zona rimba, zona pemanfaatan, dan zona lainnya meliputi : zona rehabilitasi, zona budaya, enclave, dan zona khusus, sedangkan di luar kawasan ditetapkan sebagai zona peyangga. Berbagai bentuk pemanfaatan sumberdaya alam di dalam kawasan TNGHS umumnya telah berlangsung sejak sebelum ditetapkannya kawasan tersebut sebagai taman nasional. Beberapa kegiatan pemanfaatan sumberdaya alam di TNGHS yang penting, antara lain: penggunaan lahan untuk permukiman, budidaya pertanian, penambangan (emas dan galena), pembangunan infrastruktur (jaringan listrik, jalan kabupaten dan provinsi, serta pusat pemerintahan desa) dan pemanfaatan hasil hutan di dalam kawasan TNGHS (Balai TNGHS, 2006). Berbagai kegiatan pemanfaatan lahan oleh masyarakat di dalam wilayah kelola TNGHS yang tidak sesuai dengan rencana zonasi TNGHS akan 2 menyebabkan terganggunya ekosistem hutan. Berdasarkan hasil studi yang dilakukan Prasetyo dan Setiawan (2006) diperkirakan terjadi deforestasi kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak seluas 21.586,1 ha (25,68 %) pada periode 1989 – 2004. Balai TNGHS (2006) menyebutkan bahwa kerusakan ekosistem di TNGHS disebabkan oleh berbagai kegiatan antara lain kegiatan illegal dan bencana alam. Kegiatan illegal yang terjadi adalah penambangan emas tanpa ijin, penebangan liar, perburuan satwa liar dan eksploitasi flora yang bernilai ekonomi tinggi, serta perambahan hutan terkait perluasan penggunaan lahan untuk permukiman, lahan pertanian, dan kebutuhan lainnya. Data dan informasi mengenai permodelan spasial kondisi kawasan hutan, terutama perubahan penutupan lahannya merupakan hal yang penting karena diperlukan dalam pertimbangan pengambilan keputusan pengelolaan kawasan hutan. Perubahan penggunaan lahan di kawasan hutan sebagai interaksi masyarakat dengan hutan dan faktor pendorongnya harus diketahui. Perubahan penggunaan lahan dapat diprediksi secara kuantitatif dengan memasukkan faktorfaktor fisik, sosial, ekonomi dan kebijakan (Munibah et al. 2010). Prediksi perubahan penggunaan lahan dapat dianalisis melalui berbagai pendekatan model, salah satunya adalah CLUE-S. Model CLUE-S ini merupakan gabungan dari pemodelan empiris, analisis spasial, dan model dinamis, serta merupakan model terpadu, secara spasial nyata, dinamis dan berdasarkan pada sosial ekonomi dan lingkungan. 1.2 Perumusan Masalah Penunjukkan kawasan TNGHS telah menimbulkan beberapa permasalahan mendasar terkait pemanfaatan sumberdaya alam. Permasalahan ini erat kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat yang berada di dalam dan di sekitar kawasan TNGHS, dengan sumber mata pencaharian utama dari bidang pertanian. Dari Hasil studi yang dilakukan Galudra et al. (2005), didapatkan bahwa beberapa kawasan hutan yang ditunjuk sesungguhnya telah lama digunakan oleh masyarakat sebagai lahan pertanian. Masih terjadinya aktivitas ilegal pada kawasan TNGHS lebih disebabkan oleh luas kepemilikan lahan dan tingkat pendapatan masyarakat yang relatif sangat kecil. Menurut Sudarmadji (2000) dalam Widada (2004), dan hasil penelitian Suhaeri (1994), menunjukkan bahwa masih banyak perilaku masyarakat desa yang berada di dalam dan di sekitar kawasan TNGHS yang tidak sesuai dengan prinsip pengelolaan taman nasional, yaitu : (1). kegiatan Penambangan Emas Tanpa Ijin (PETI); (2). kegiatan ladang berpindah dan perambahan kawasan; (3). perburuan satwa; dan (4). penebangan pohon dan pengambilan kayu bakar. Penelitian terhadap trend perubahan penggunaan lahan dan penutupan lahan yang terjadi dari tahun ke tahun telah dilakukan Cahyadi (2003), dimana didapatkan bahwa dalam kurun waktu 11 tahun (1999 – 2001), telah terjadi degradasi hutan pada koridor Gunung Halimun dan Gunung Salak seluas 347.523 Ha. Lebih lanjut dari studi yang dilakukan Prasetyo dan Setiawan (2006), menunjukkan bahwa periode tahun 1989 -2004, telah terjadi deforestasi kawasan TNGHS seluas 22 ribu hektar (± 25%). Deforestasi tersebut diikuti dengan 3 kenaikan secara konsisten semak belukar, ladang dan lahan terbangun. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat aktivitas sosial ekonomi masyarakat desa yang berada di dalam dan di sekitar kawasan TNGHS berupa kegiatan pemanenan kayu, perluasan lahan pertanian dan pembangunan perumahan. Proses kehilangan hutan pada kawasan TNGHS terbanyak terjadi pada periode tahun 2001-2003, seluas 4.367,79 hektar (Prasetyo dan Setiawan 2006). Hal yang cukup memprihatinkan adalah terdapatnya laju deforestasi yang tinggi pada desadesa yang merupakan tempat bermukim masyarakat tradisional warga kasepuhan. Berdasarkan hasil analisis, didapatkan bahwa telah terjadi penurunan luas hutan secara tajam pada Desa Sirnarasa pada periode tahun 2001-2004, dan pada desa Citorek secara konsisten sejak tahun 1989. Kemungkinan hal ini berhubungan dengan adanya implementasi otonomi daerah, dimana dengan otonomi daerah tersebut tidak terdapat kepastian hukum. Disamping itu, terdapat juga anggapan bahwa budaya masyarakat tradisional tidak berpengaruh terhadap kelestarian sumberdaya alam. Berdasarkan studi literatur yang dilakukan oleh Yatap (2008) didapatkan bahwa peubah sosial ekonomi yang berpengaruh dominan terhadap perubahan penggunaan lahan dan penutupan lahan di TNGHS adalah : kepadatan penduduk, laju pertumbuhan penduduk, luas kepemilikan lahan, perluasan permukiman dan perluasan lahan pertanian Sesuai dengan rumusan masalah di atas pertanyaan penelitian pada perubahan penggunaan lahan di TNGHS adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana kondisi perubahan penggunaan lahan di TNGHS pada berbagai zona (inti, rimba, pemanfaatan dan lainnya) tahun 2000 - 2010 2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan di TNGHS 3. Bagaimana kondisi penggunaan lahan pada berbagai zona (inti, rimba, pemanfaatan dan lainnya) di TNGHS di masa yang akan datang 4. Bagaimana arahan rencana penggunaan lahan di kawasan TNGHS tahun 2010 – 2026. 1.3 Tujuan Penelitian 1. Menganalisis perubahan penggunaan lahan kawasan TNGHS pada berbagai zona (inti, rimba, pemanfaatan, dan lainnya) untuk periode tahun 2000 -2010 2. Menganalisis faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan dan penutupan lahan di kawasan TNGHS 3. Memprediksi penggunaan lahan pada berbagai zona (inti, rimba, pemanfaatan, dan lainnya) untuk tahun 2026 dengan menggunakan model spasial perubahan penggunaan lahan 4. Merumuskan arahan rencana penggunaan lahan di TNGHS lahan terkait dengan pemanfaatan zonasi kawasan TNGHS 4 1.4 Manfaat Penelitian Hasil kajian dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1. Memberikan bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah dan UPT Balai TNGHS untuk dapat mengendalikan perubahan penggunaan lahan dalam kaitannya dengan pemanfaatan zonasi di TNGHS 2. Untuk pengembangan ilmu pengetahuan, terutama terkait dengan perubahan penggunaan lahan melalui pemodelan spasial dinamik 1.5 Kerangka Pemikiran Khusus pada Taman Nasional, prinsip pengelolaannya didasarkan pada konsep konservasi, yang dijabarkan dalam bentuk pelestarian, perlindungan dan pemanfaatan. Sistem zonasi yang diatur pada pengelolaan taman nasional, telah membagi kawasan Taman Nasional menjadi zona-zona (inti, rimba dan pemanfaatan) sesuai dengan bentuk pemanfaatan yang diperbolehkan. Hal ini seringkali berbenturan dengan berbagai aktivitas dari kelompok masyarakat yang sudah lama mendiami kawasan pelestarian alam, dimana dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya kelompok masyarakat masih bergantung pada pemanfaatan langsung terhadap sumberdaya alam. Kegiatan pemanfaatan sumberdaya alam pada wilayah TNGHS terutama dilakukan oleh masyarakat adat kasepuhan yang sebagian besar bermukim di sekitarnya. Pola Pemanfaatan didasarkan pada pandangan masyarakat terhadap hutan, yaitu : Hutan tutupan (leuweung tutupan), Hutan titipan (leuweung titipan) dan Hutan Sampalan (leuweung bukaan). Selain itu terdapat anggapan pada masyarakat kasepuhan, bahwa kegiatan ladang berpindah merupakan budaya (tatali paranti karuhun), (Suheri 1994). Tingkat degradasi hutan pada berbagai zona (inti, rimba, pemanfaatan dan khusus) berbeda-beda sesuai dengan karakteristik zona dan faktor penyebabnya. Faktor Sosial ekonomi seringkali dijadikan alasan untuk melakukan berbagai kegiatan pemanfaatan sumber daya alam dalam kawasan TNGHS yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip pengelolaan taman nasional. Di dalam perkembangannya terjadi perubahan penggunaan lahan yang mengancam fungsi dari ekosistem TNGHS. Perubahan penggunaan lahan di TNGHS yang tidak sesuai mengakibatkan degradasi hutan sehingga fungsi ekosistem TNGHS semakin menurun. Analisis spasial terhadap perubahan penggunaan lahan di kawasan TNGHS akan menghasilkan pola perubahan penggunaan lahan dari waktu ke waktu. Untuk mengetahui penyebab perubahan tersebut, perlu di ketahui peubah-peubah biofisik dan sosial ekonomi yang menyebabkan terjadinya perubahan penggunaan lahan yang berdampak pada degradasi hutan. Selain itu prediksi perubahan penggunaan lahan di masa yang akan datang sangat bermanfaat bagi perencanaan kawasan TNGHS. Hasil yang di harapkan dari penelitian ini adalah tersedianya data dan informasi spasial (keruangan) kondisi perubahan penggunaan lahan kawasan TNGHS pada tiap zona (inti, rimba dan pemanfaatan) yang dapat dijadikan 5 sebagai dasar di dalam penentuan rencana pengelolaan kawasan TNGHS di masa yang akan datang. Bagan kerangka pemikiran dapat dilihat pada Gambar 1. • Konservasi keanekaragaman hayati • Pengatur tata air • Iklim mikro • Pendidikan • Ilmu Pengetahuan • Wisata TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SLAK Biofisik Wilayah Sosial Ekonomi Perubahan penggunaan Lahan Kesejahteraan Masyarakat Zonasi TNGHS 1. Zona Inti 2. Zona Rimba 3. Zona Pemanfaatan 4. Lainnya Analisis dan Model Spasial Penggunaan Lahan Prediksi dan Skenario Penggunaan Lahan Arahan Rencana Penggunaan Lahan di Kawasan TNGHS Gambar 1. Bagan Alir Kerangka Pemikiran 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Taman Nasional Gunung Halimun Salak Taman Nasional (TN) merupakan salah satu bentuk kawasan pelestarian alam (KPA) selain Taman Wisata Alam (TWA) dan Taman Hutan Raya (TAHURA). Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi (Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya). Kriteria suatu wilayah dapat ditunjuk dan ditetapkan sebagai kawasan Taman Nasional meliputi: 1. memiliki sumber daya alam hayati dan ekosistem yang khas dan unik yang masih utuh dan alami serta gejala alam yang unik; 2. memiliki satu atau beberapa ekosistem yang masih utuh; 3. mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelangsungan proses ekologis secara alami; dan 4. merupakan wilayah yang dapat dibagi kedalam zona inti, zona pemanfaatan, zona rimba, dan/atau zona lainnya sesuai dengan keperluan. Tujuan pengelolaan Taman Nasional adalah untuk melindungi kawasan alami dan berpemandangan indah, secara nasional atau internasional serta 6 memiliki nilai penting bagi pemanfaatan ilmiah, pendidikan dan rekreasi (MacKinnon et al. 1993). Fungsi Taman Nasional adalah sebagai : 1. kawasan perlindungan sistem penyangga kehidupan, 2. kawasan pengawetan keragaman jenis tumbuhan dan satwa, dan 3. Kawasan pemanfaatan secara lestari potensi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya (Ditjen PHKA 2004). TNGHS terletak pada dua provinsi yaitu Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten, meliputi dua kabupaten di Provinsi Jawa Barat yaitu Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Lebak di Provinsi Banten. TNGHS ditetapkan melauli Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.175/KptsII/2003 tanggal 10 Juni 2003 dengan luas 113.357 hektar (GHSNPMP-JICA 2007a). Widada (2004) menyebutkan bahwa Taman Nasional secara umum memiliki peranan sebagai wahana pengembangan ilmu pengetahuan, wahana pendidikan lingkungan, mendukung pengembangan budidaya tumbuhan dan penangkaran satwa, wahana kegiatan wisata alam, sumber plasma nutfah dan perlindungan keanekaragaman hayati tumbuhan dan satwa, serta pelestarian ekosistem hutan sebagai pengatur tata air, iklim mikro dan sumber air bagi masyarakat di sekitar kawasan. TNGHS sebagai kawasan taman nasional memiliki fungsi utama sebagai sistem penyangga kehidupan, tempat perlindungan terhadap satwa langka dan hampir punah, sebagai tempat perlindungan terhadap sumberdaya alam yang mengandung kekayaan genetis, sebagai tempat perlindungan terhadap sumber daya air, sebagai tempat pendidikan dan penelitian, dan sebagai tempat rekreasi alam (GHSNPMP-JICA 2007a). Taman nasional memberikan manfaat secara langsung dan tidak langsung. Kelompok yang menerima manfaat langsung dari keberadaan taman nasional adalah petani, nelayan, pelancong, dan sebagainya. Adapun kelompok yang mengambil manfaat dari keberadaan taman nasional umumnya berupa manfaatmanfaat pilihan (option benefits) di masa mendatang (Effendi, 1998). Lebih lanjut Effendi (1998) menyebutkan bahwa nilai ekonomi taman nasional sangat bergantung pada preferensi, kebudayaan dan nilai etika yang sangat bervariasi tergantung dari distribusi pendapatan dan aset yang ada di masyarakat. Misalnya, masyarakat kaya akan bersedia membayar lebih besar daripada masyarakat miskin untuk kelestarian suatu taman nasional. Widada (2004) menyebutkan bahwa nilai manfaat ekonomi Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) berdasarkan analisis nilai ekonomi total (NET) mencapai Rp 439,75 milyar per tahun, terdiri dari nilai penyerap karbon Rp 429,77 milyar (97,73%), nilai ekowisata Rp 1.27 milyar (0,29%), nilai air (domestik dan pertanian) Rp 6,64 rnilyar (1,5%), nilai pelestarian Rp 0,67 rnilyar (0,15%), nilai pilihan Rp 0,76 milyar (0,17%), dan nilai keberadaan sebesar Rp 0,64 milyar (0,15%). Apabila nilai penyerap karbon tidak diperhitungkan, maka NET TNGHS sebesar Rp 9,57 milyar, dengan nilai ekonomi air (domestik dan pertanian) menunjukkan proporsi yang tertinggi (66,58%), kemudian nilai ekowisata (12,70%), nilai pilihan (7,63%), nilai pelestarian (6,70%), dan nilai keberadaan (6,40%). Nilai manfaat dari taman nasional tersebut tentunya tidak akan memberikan hasil yang optimal dan 7 berkelanjutan apabila di dalam pengelolaannya masih terdapat permasalahan, terutama terkait dengan degradasi hutan akibat perubahan penggunaan lahan. 2.2 Zonasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak Dalam Permenhut No. 56 tahun 2006a tentang pedoman zonasi taman nasional, diatur suatu sistem zonasi dalam pengelolaan taman nasional yang membagi kawasan taman nasional menjadi beberapa zona sesuai dengan peruntukannya. Pengaturan sistem zonasi tersebut meliputi : a). Zona inti; b) zona rimba; c) zona pemanfaatan dan atau zona lain yang ditetapkan Menteri Kehutanan berdasarkan kebutuhan pelestarian sumberdaya alam dan ekosistemnya. Zonasi taman nasional adalah suatu proses pengaturan ruang dalam taman nasional menjadi zona-zona, yang mencakup kegiatan tahap persiapan, pengumpulan dan analisis data, penyusunan draft rancangan zonasi, konsultasi publik, perancangan, tata batas dan penetapan, dengan mempertimbangkan kajiankajian dari aspek-aspek ekologis, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat. Kriteria penetapan zonasi dilakukan berdasarkan derajat tingkat kepekaan ekologis (sensitivitas ekologi), urutan spektrum sensitivitas ekologi dari yang paling peka sampai yang tidak peka terhadap intervensi pemanfaatan, berturutturut adalah zona: inti, perlindungan, rimba, pemanfaatan, koleksi, dan lain-lain. Selain hal tersebut juga mempertimbangkan faktor-faktor: keterwakilan (representation), keaslian (originality) atau kealamian (naturalness), keunikan (uniqueness), kelangkaan (raretiness), laju kepunahan (rate of extinction), keutuhan satuan ekosistem (ecosystem integrity), keutuhan sumberdaya/kawasan (resource/region integrity), luasan kawasan (area/size), keindahan alam (natural beauty), kenyamanan (amenity), kemudahan pencapaian (accessibility), nilai sejarah/arkeologi/ keagamaan (historical/ archeological/religious value), dan ancaman manusia (threat of human interference), sehingga memerlukan upaya perlindungan dan pelestarian secara ketat atas populasi flora fauna serta habitat terpenting. Zona taman nasional adalah wilayah di dalam kawasan taman nasional yang dibedakan menurut fungsi dan kondisi ekologis, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat. Penetapan zonasi yang ada pada suatu taman nasional didasarkan pada berbagai kriteria yang ditetapkan pemerintah. Pembagian kawasan TNGHS sangat penting, setiap bagian kawasan memiliki peranan yang cukup berarti, sehingga masing-masing perlu dipertahankan atau dilestarikan. Pembagian ini antara lain adalah: (1) kawasan hutan pegunungan bawah dan atas yang merupakan hutan primer, harus dipertahankan untuk menjadi areal inti sebagai preservasi hewan dan tumbuhan liar, (2) kawasan hutan pegunungan atas (> 1800 m dpl) yang tidak terlalu luas di Gunung Salak mempunyai vegetasi yang sangat spesifik, sehingga keberadaan kawasan ini menjadi sangat penting bagi TNGHS, (3) kawasan hutan pegunungan rendah yang berfungsi sebagai habitat hidupan liar seperti leopard dan gibbon, (4) hutan tanaman, areal ini dapat digunakan sebagai daerah penyangga (buffer zone) antara TNGHS dan daerah di luarnya (Mirmanto et al. 2008). Suryanti (2007) menyatakan bahwa terdapat tiga macam ekosistem yang memiliki zona berbeda di TNGHS, yaitu zona hutan kaki pegunungan, zona hutan 8 sub pegunungan, dan zona hutan pegunungan. Pengaruh elemen-elemen lansekap buatan manusia seperti patch areal pertanian, patch areal perkebunan teh, patch areal pertambangan, dan patch permukiman, akan menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati pada kawasan TNGHS. Berdasarkan Rencana Pengelolaan TNGHS tahun 2007-2026, kawasan TNGHS dibagi menjadi 8 zona antara lain : 1.Zona inti, 2.Zona rimba, 3.Zona Pemanfaatan, 4. Zona rehabilitasi, 5.Zona khusus, 6. Zona Tradisional, 7. Zona Budaya dan 8. Enclave. (GHSNPMP-JICA 2007a). Zona inti dan zona rimba pada kawasan TNGHS diidentifikasi melalui pendekatan ilmiah dengan mengkaji ekosistem dan habitat spesies penting, daerah-daerah yang secara sosial budaya memiliki nilai serta pengaruhnya terhadap pengelolaan ekosistem TNGHS secara keseluruhan. Zona ini meliputi ekositem hutan alam yang masih tersisa. Penetapan zona pemanfaatan pada kawasan TNGHS berkaitan dengan areal yang akan dikembangkan untuk memenuhi fungsi-fungsi pemanfaatan antara lain untuk kegiatan wisata alam, pembangunan sarana dan prasarana pengunjung dan lokasi penelitian intensif. Selain itu zona pemanfaatan kawasan TNGHS berupa jalur-jalur pendakian dan wilayah-wilayah rawan gangguan pengunjung . Wilayah yang menjadi zona rehabilitasi pada kawasan TNGHS merupakan ekosistem penting serta menjadi habitat spesies penting yang telah terdegradasi seperti hutan hujan dataran rendah, areal yang rusak akibat PETI, koridor Gunung Halimun Salak dan sebagainya. Dimasa depan, setelah ekosistem dinilai pulih kembali, zona rehabilitasi dapat ditetapkan sebagai zona inti, zona rimba ataupun zona pemanfaatan. Wilayah zona khusus di kawasan TNGHS merupakan wilayah-wilayah yang telah ada sarana SUTET (Saluran Umum Tegangan Ekstra Tinggi) serta wilayah kuasa pengelolaan PT.Chevron Geothermal Salak di kawasan Gunung Salak dan PT.Antam di daerah Cikidang- Gunung Sibentang Gading yang terletak di Kabupaten Lebak. Demikian pula dengan jalan provinsi dan kabupaten yang melitas di kawasan TNGHS yaitu di daerah Model Kampung Konservasi (MKK) di Desa Cipeuteuy dan Desa Gunung Malang. Zona tradisional merupakan wilayah dimana penduduk secara tradisional memanfaatkan hasil hutan non kayu. Selain itu, zona tradisional merupakan wilayah kasepuhan (permukiman tradisional) yang berada di kawasan TNGHS. Identifikasi zona budaya dilakukan dengan penelusuran sejarah berupa areal yang penting bagi kegiatan religi dan budaya seperti makam dipuncak Gunung Salak, situs Cibedug dan situs Kosala di Kabupaten Lebak. Kawasan Enclave merupakan kawasan yang bukan merupakan bagian dari pengelolaan TNGHS akan tetapi secara geografis berada di dalam kawasan TNGHS. Kawasan ini berupa kawasan permukiman/kasepuhan, kawasan perkebunan teh swasta (PTPN VIII Cianten dan PT. Nirmala Agung) dan areal penggunaan lainnya. 2.3 Penggunaan dan Penutupan Lahan Penggunaan lahan (land use) mengandung aspek aktifitas penggunaan lahan oleh manusia sedangkan penutupan lahan (land cover) lebih bernuansa fisik 9 (Rustiadi et al. 2009). Penutupan lahan memiliki keterkaitan dengan keadaan penampakan permukaan bumi atau apa yang ada di atas sebuah lahan, sedangkan penggunaan lahan berhubungan dengan suatu aktivitas yang dilakukan oleh manusia pada suatu bidang lahan tertentu. (Lillesand dan Kiefer 1990). 2.3.1 Perubahan Penggunaan dan Penutupan Lahan Perubahan penggunaan lahan merupakan perubahan aktivitas pemanfaatan lahan yang dilakukan pada suatu wilayah dari satu bentuk ke bentuk kegiatan lainnya sebagai akibat dari adanya pertumbuhan dan transformasi struktural sosial ekonomi masyarakat yang berkembang. Perubahan penutupan lahan dapat terbagi menjadi 2 bentuk yaitu perubahan peutupan lahan menjadi kategori lain yaitu dari hutan menjadi non hutan dan perubahan penutupan lahan yang mengalami modifikasi yaitu dari hutan rapat menjadi hutan jarang (FAO, 2000 dalam Phong, 2004). Perubahan penutupan lahan terdiri dari perubahan yang bersifat tetap (land use) dan bersifat sementara (land cover). Perubahan yang bersifat tetap artinya perubahan dari satu jenis penggunaan menjadi penggunaan lahan jenis lain, sedangkan perubahan sementara artinya yang berubah hanya tutupan lahannya, jenis penggunaan lahannya tetap (Lo, 1995). Verbrug et al. (2006) melakukan penelitian di kawasan lindung wilayah Filipina dan mendapatkan bahwa perubahan penggunaan lahan pada kawasan lindung merupakan ancaman utama bagi keberadaan keanekaragaman hayati. Hal ini disebabkan oleh kerusakan vegetasi didalamnya dan kegiatan peningkatan lahan pertanian diwilayah batas kawasan lindung. Penelitian terhadap trend perubahan penggunaan lahan dan penutupan lahan yang terjadi dari tahun ke tahun dilakukan oleh Cahyadi (2003), dimana didapatkan bahwa dalam kurun waktu 11 tahun (tahun 1990-2001), telah terjadi degradasi hutan pada koridor Gunung Halimun dan Gunung Salak seluas 347. 523 hektar. Lebih lanjut, dari hasil studi yang dilakukan Prasetyo dan Setiawan (2006), diperkirakan bahwa pada periode tahun 1989-2004, telah terjadi deforestasi kawasan TNGHS seluas 22 ribu hektar (± 25%). Deforestasi tersebut diikuti dengan kenaikan secara konsisten semak belukar, ladang dan lahan terbangun. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat aktivitas sosial ekonomi masyarakat desa yang berada di dalam dan di sekitar kawasan TNGHS berupa kegiatan pemanenan kayu, perluasan lahan pertanian dan pembangunan perumahan. 2.3.2 Faktor Penyebab Perubahan Penggunaan Lahan Kurniawan (2012) menyatakan faktor yang mempengaruhi perubahan penutupan lahan hutan menjadi lahan pertanian di Kabupaten Sukabumi adalah kepadatan tenaga kerja pertanian, jenis tanah, formasi geologi, elevasi, lereng, curah hujan, jarak ke jalan, jarak ke pusat kota, jarak ke kota terdekat dan jarak ke sungai. Hadi (2012) melakukan penelitian tentang perubahan penggunaan lahan di Kabupaten Bogor. Faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan hutan menjadi pertanian adalah formasi geologi, kemiringan lereng, jarak dari pusat kota, jarak dari jalan, jumlah sekolah dasar, jumlah rumah sakit dan jumlah puskesmas. 10 Yatap (2008) menyatakan bahwa perubahan penutupan lahan yang terjadi di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dipengaruhi oleh beberapa peubah sosial ekonomi yang pengaruhnya sangat dominan yaitu kepadatan penduduk, laju pertumbuhan penduduk, luas kepemilikan lahan, perluasan permukiman dan perluasan lahan pertanian. Munibah (2008) menyatakan bahwa beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan lahan hutan menjadi lahan pertanian adalah bentuklahan, kemiringan lereng, jenis tanah, curah hujan, jarak dari jalan raya dan mata pencaharian masyarakat. Hal senada juga disampaikan oleh Hesaki (2012), faktor penyebab perubahan penggunaan/penutupan lahan di area cagar biosfer Cibodas disebabkan oleh pertambahan jumlah penduduk, selanjutnya sumber pendapatan, kemiringan lereng, ketinggian dan jenis tanah. Faktor-faktor yang secara nyata menentukan perubahan penggunaan lahan menurut Saefulhakim et al. (1999) dengan menggunakan alat analisis multinominal logit model adalah tipe penggunaan lahan pada masa sebelumnya, status kawasan dalam kebijakan tata ruang, hak penguasaan dan kepemilikan lahan, karakteristik fisik lahan, karakteristik sosial ekonomi wilayah dan karakteristik interaksi spasial antara aktivitas sosial ekonomi internal dan eksternal suatu wilayah. 2.3.3 Analisis Dinamika Spasial Perubahan Penggunaan Lahan Menurut Rustiadi et al. (2002) pemahaman dinamika pembangunan lahan dan analisis pemanfaatan ruang suatu wilayah membutuhkan syarat perlu (necessary condition) pemahaman yang lengkap tentang berbagai aspek dinamis di wilayah tersebut seperti aspek perkembangan wilayah, perubahan aktifitas perekonomian dan kondisi sosial masyarakat. Oleh karena itu diperlukan tolak ukur objektif dalam bentuk peubah-peubah yang akan dikaji untuk mengevaluasi keseluruhan dari aspek tersebut. Melalui kajian empirik, Saefulhakim et al. (1999) melakukan pengembangaan model sistem interaksi antar aktivitas sosial ekonomi dengan perubahan penggunaan lahan dengan menggunakan database Taman Nasional Kerinci Seblat, Provinsi Sumatera Barat menyimpulkan bahwa elastisitas dinamika perubahan penggunaan lahan di kawasan tersebut sangat dipengaruhi oleh karakteristik lahan, dinamika karakteristik sosial ekonomi internal dan karakteristik interaksi spasial kegiatan sosasial ekonomi. Winoto et al. (1996) menyatakan bahwa dinamika struktur penggunaan lahan dapat mengarah kepada peningkatan kesejahteraan rakyat. Arah perubahan penggunaan lahan khususnya dari penggunaan pertanian ke non pertanian secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi kesejahteraan rakyat, perekonomian wilayah, dan tata ruang wilayah. Oleh karena itu perubahan penggunaan lahan akan memperlihatkan kecenderungan meningkat atau menurun dalam tata ruang dengan arah mendekati atau menjauhi pusat aktivitas manusia, sehingga membentuk suatu pola yang dapat dipelajari dan diprediksi. Dengan demikian mempelajari dan memprediksi dinamika struktur penggunaan lahan dan perubahannya terkait dengan analisis spasial sangat penting, karena penggunaan lahan mempunyai lokasi yang melekat pada posisi geografisnya. 11 2.3.4 Pemodelan Perubahan Penggunaan Lahan Secara umum model didefinisikan sebagai suatu perwakilan atau abstrak dari sebuah obyek atau situasi aktual. Model memperlihatkan hubungan-hubungan langsung maupun tidak langsung serta kaitan timbal balik (sebab-akibat). Model merupakan abstraksi dari suatu realitas, sehingga wujudnya kurang kompleks daripada realitas itu sendiri. Model dapat dikatakan lengkap bila dapat mewakili berbagai aspek dari realitas itu sendiri (Marimin 2005). Pemodelan perubahan penggunaan lahan merupakan salah satu cara untuk memahami dan menjelaskan dinamika perubahan penggunaan lahan. Analisis aspek biofisik, sosial, dapat di integrasikan dengan perkembangan model. (Veldkamp dan Verburg, 2004). Secara umum Briassoulis (2000) menggambarkan klasifikasi pemodelan untuk analisis penggunaan lahan dan perubahannya. Model perubahan penggunaan lahan dikategorikan menjadi empat jenis, yaitu model statistik dan ekonometrik (statistical and econometric models), model interaksi spasial (spatial interaction model), model optimasi (optimation model), dan model terintegrasi (integrated model). Terdapat berbagai metode yang dapat digunakan pada deteksi perubahan penggunaan dan penutupan lahan, salah satunya adalah CLUE-S. Conversion of Land Use and its Effect atau (CLUE) merupakan pendekatan empiris yang dilakukan dengan studi kasus antara lain di Atlantic Zone (Costa Rica), China, Ekuador, Honduras, dan Pulau Jawa (Veldkamp et al. 2001). Model ini merupakan model terpadu, secara spasial nyata, dinamis dan berdasarkan pada sosial ekonomi dan lingkungan. Pemodelan dengan CLUE terdiri atas dua tahap, yaitu (1) analisis pola perubahan penggunaan lahan yang berasal dari penggunaan lahan lampau dan saat ini, sehingga dapat diketahui variabel penentu (driving factors) yang paling mempengaruhi baik dari aspek biofisik, sosial ekonomi maupun kebijakan, (2) menggunakan hasil analisis tersebut untuk menetapkan skenario yang memungkinkan untuk dilakukan. Model CLUE ini terdiri dari modul permintaan (demand module) dan modul Alokasi (allocation module). Verbrug et al. (1999) mengaplikasikan model CLUE untuk mensimulasikan kondisi tekanan penduduk terhadap perubahan penggunaan lahan di Pulau Jawa. Penggunaan lahannya diklasifikasikan menjadi enam kelas, yaitu : ladang berpindah, sawah, kebun dan tegalan, permukiman dan industri, perkebunan, dan lainnya. Hasil dan penelitian ini menunjukkan bahwa penurunan ladang berpindah terdapat di bagian barat Pulau Jawa, areal persawahan mengalami penurunan di bagian utara Pulau Jawa dan penggunaan permukiman meningkat di sebagian wilayah pulau terutama di bagian barat. Conversion of Land Use and its Effect at Small regional extent (CLUES). Verburg et al. (2002) mengembangkan pemodelan spasial untuk perubahan penggunaan lahan pada areal lebih kecil dari nasional atau provinsi. Model ini dinamakan Conversion of Land Use and Its Effect at Small regional extent atau CLUE-S. Pada pemodelan dengan CLUE-S ini beberapa konsep digunakan berkaitan dengan perubahan penggunaan lahan yaitu konektivitas, stabilitas dan resilience. Konektivitas merupakan suatu istilah yang menentukan/ menjelaskan bahwa lokasi-lokasi mempunyai hubungan spasial, misalnya suatu jarak tertentu satu sama lain. Stabilitas merupakan karakter suatu jenis penggunaan lahan 12 tertentu untuk terkonversi. Resilience atau daya lenting merupakan kapasitas menyangga dari suatu ekosistem atau masyarakat dalam menerima gangguan. Model CLUE-S ini telah diterapkan di DAS Selangor (Malaysia), Pulau Sibuyan (Filipina), dan Provinsi Bac Kan (Vietnam), Kabupaten San Mariano (Filipina), Kabupaten Bandung, Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor (Indonesia). Selain itu juga model ini telah dilakukan untuk menggambarkan faktor aksesibilitas sebagai driver dari perubahan penggunaan lahan di Kabupaten San Mariano (Filipina). Keuntungan penggunaan model ini adalah pertimbangan secara eksplisit untuk memfungsikan sistem land use secara keseluruhan. Aplikasi CLUE-S di DAS Selangor. Engelsman (2002) melakukan pemodelan spasial peruhahan penggunaan lahan dengan model CLUE-S untuk wilayah perkotaan di DAS Selangor, Malaysia. Penggunaan lahan yang digunakan terdiri atas delapan kelas, yaitu hutan, perkebunan kelapa sawit, perkebunan karet, perkebunan campuran, semak dan padang rumput, lahan pertambangan, lahan urban dan wilayah perairan. Driving factors-nya adalah ketinggian wilayah jarak ke jalan, jarak ke laut, jarak ke pusat permukiman, jarak ke pusat hutan, jenis tanah (alluvial dan fluvisol), lapisan tanah (tanah dangkal), kelas kesesuaian lahan, kepadatan penduduk dan tenaga kerja sektor pertanian. Hasil dan perhitungan regresi logistik dapat diketahui bahwa variabel yang paling mempengaruhi adalah jarak terhadap pusat permukiman dan jarak terhadap jalan. Hasil dan pemodelan ini menunjukkan bahwa kebutuhan penggunaan lahan untuk wilayah perkotaan meningkat selama periode 1999-2014 dan hasil simulasinya menunjukkan bahwa persebaran wilayah perkotaan menyebar dari selatan ke utara sampai perbatasan Kuala Lumpur. Perkembangan ini seperti suatu koridor yang membentang sepanjang jalan utama sampai ke bagian barat Semenanjung Malaysia. Aplikasi CLUE-S di Pulau Sibuyan (Filipina). Pemodelan perubahan penggunaan lahan di Pulau Sibuyan (Filipina) dilakukan oleh Verburg et al. (2002). Tujuan dilakukan pemodelan spasial ini adalah untuk membangun model spasial dinamik perubahan penggunaan lahan pada skala regional. Penggunaan lahan dikiasifikasikan menjadi 5 kelas, yaitu : hutan, perkebunan kelapa sawit, padang rumput, sawah dan lainnya (mangrove dan permukiman). Driving factorsnya adalah ketinggian, kemiringan lereng, jarak ke kota, jarak ke sungai, jarak ke jalan, jarak ke pantai, geologi, bahaya erosi dan kepadatan penduduk. Model ini mengintegrasikan modul kebutuhan lahan (non spasial) dan modul pengalokasian penggunaan lahan (spasial). Unit analisisnya adalah berupa piksel ukuran (1 .000x 1.000) m. analisis non spasial berupa laju perubahan penggunaan lahan periode sebelumnya yang diperoleh dari data penginderaan jauh multi waktu yang digunakan untuk memprediksi kebutuhan penggunaan lahan masa datang. Analisis spasial menggunakan pendekatan cellular automata (CA) dengan regresi logistik sebagai transition rule-nya. Hasil pemodelan ini adalah model yang mudah diterapkan pada situasi perubahan penggunaan lahan dan daerah studi yang tidak ada pembatasan area. Soepbroer (2001) mengaplikasikan model CLUE-S di Pulau Sibuyan (Filipina). Tujuan penelitiannya adalah untuk mengaplikasikan program ini secara realistis dan untuk menganalisis kinerjanya. Data dengan menggunakan ukuran sel 250 m2, pada periode 15 tahun yaitu 1997-2012. Penggunaan lahannya diklasifikasikan menjadi lima kelas,

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

Translation Techniques In The Translation Of Lauren Kate’s Novel “Torment” Into Bahasa Indonesia “Tersiksa” By Fanny Yuanita
4
94
71
Analysis of Land Use and Land Cover Change in 2006 and 2011 and Critical Land Identification at Karang Gading and Langkat Timur Laut Wildlife Reserve
2
45
56
Evaluation of WHO Criteria to Determine Degree of Dehydration in Children with Acute Diarrhea
0
38
5
Detection method of forest degradation using landsat satelite image at dry land forest in Gunung Halimun Salak National Park
1
10
167
History of Land Use Policies and Desihnation of Mount Halimun-Salak National Park
0
9
23
Analysis of land use land cover change in Cibodas biosphere reserve area in supporting the existence of Mount Gede Pangrango national park
0
10
134
Moth Diversity at Gunung Halimun-Salak National Park, West Java
0
9
7
Association among the Economic Factors, Social and Cultural and Physical Factor of the Land Area with the Optional Land use in the Buffer Zone of National Park
0
6
219
Concept of community empowerment as land conflict resolution at The National Park of Mount of Halimun Salak
2
42
310
Vegetation classification of mount endut, Gunung Halimun Salak National Park, Banten
3
17
349
Concept of community empowerment as land conflict resolution at The National Park of Mount of Halimun-Salak
0
9
291
Spatial modeling of land use change in relation to spatial planning in Sukabumi Regency
2
14
136
Detection method of forest degradation using landsat satelite image at dry land forest in Gunung Halimun Salak National Park
0
2
319
Analysis of Spatial Use Pattern and Demographic Parameters of Javan Leopard at Gunung Ciremai National Park.
0
6
89
Land Use Change Analysis and Land Use Direction in Mount Merbabu National Park and its Buffer Zone
2
15
110
Show more