PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP PRAKTIK KEDOKTERAN ILEGAL YANG DILAKUKAN OLEH DOKTER PALSU

 3  10  60  2017-04-20 20:33:35 Report infringing document
ABSTRAK PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP PRAKTIK KEDOKTERAN ILEGAL YANG DILAKUKAN OLEH DOKTER PALSU Oleh ABDOEL HARIS NGABEHI Praktik kedokteran ilegal yang dilakukan oleh dokter palsu merupakan salah satu tindak pidana yang merugikan seluruh masyarakat, terlebih kebutuhan masyarakat akan kesehatan membuat resiko keberadaan dokter palsu ini akan semakin membahayakan keselamatan masyarakat. Memasuki era global yang terjadi seperti saat ini, profesi kedokteran merupakan salah satu profesi yang mendapatkan sorotan masyarakat. Namun, terlepas dari sorotan-sorotan tersebut, sebagian masyarakat nampaknya tidak mengetahui siapa yang dapat dikatakan sebagai dokter. Oleh karena itu diperlukan suatu sikap dari aparat penegak hukum dan instansi pemerintah berwenang untung menanggulanginya. Adapun permasalahan dalam skripsi ini adalah bagaimanakah penegakan hukum pidana terhadap praktik kedokteran ilegal yang dilakukan oleh dokter palsu dan apakah yang menjadi faktor-faktor penghambat dalam rangka penegakan hukum pidana terhadap praktik kedokteran ilegal yang dilakukan oleh dokter palsu. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dan pendekatan yuridis empiris dengan data primer dan sekunder dimana masing-masing data diperoleh dari penelitian kepustakaan dan lapangan. Analisis data dideskripsikan dalam bentuk uraian kalimat yang kemudian berdasarkan fakta-fakta yang bersifat khusus dan dapat ditarik kesimpulan, yang bersifat umum. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, paya penegakan hukum terhadap praktik kedokteran ilegal yang dilakukan oleh dokter palsu ini adalah menggunakan hukum pidana (penal) dan non penal. Non penal artinya secara preventif yaitu lebih ditekankan dengan mengadakan sosialisasi atau pelatihan di praktik kedokteran dan dokter palsu terhadap masyarakat. Sedangkan penal artinya secara represif yaitu setiap proses peradilan hukum pidana mulai dari tahap formulasi, tahap aplikasi, hingga tahap eksekusi. Faktor-faktor penghambat penegakan hukum terhadap praktik kedokteran ilegal yang dilakukan oleh dokter ABDOEL HARIS NGABEHI palsu adalah faktor hukumnya sendiri (perundang-undangan), dimana belum menjelaskan definisi dari praktik kedokteran dengan jelas. Faktor penegak hukum, yaitu aparat penegak hukum yang kurang profesional, faktor sarana atau fasilitas, tanpa adanya sarana dan prasarana proses penegakan hukum akan menghambat proses penegakan hukumnya. Selanjutnya masyarakat dianggap masih kurang memiliki kesadaran hukum terhadap kasus dokter palsu ini. Berdasarkan hasil penelitian saran yang dapat diberikan penulis adalah Pihak berwenang diharapkan dapat bersifat proaktif dalam menyikapi maraknya kasus dokter palsu yang menjalankan praktik kedokteran, juga aparat penegak hukum diharapkan dapat bekerjasama dengan Dinas Kesehatan selaku instansi yang memiliki wewenang pengawasan dan IDI (Ikatan Dokter Indonesia), dan melakukan pengawasan dan pembinaan. Kata kunci: Penegakan Hukum, Praktik Kedokteran Ilegal, Dokter Palsu. PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP PRAKTIK KEDOKTERAN ILEGAL YANG DILAKUKAN OLEH DOKTER PALSU (Skripsi) Oleh: ABDOEL HARIS NGABEHI NPM : 11120111003 FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2015 PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP PRAKTIK KEDOKTERAN ILEGAL YANG DILAKUKAN OLEH DOKTER PALSU Oleh ABDOEL HARIS NGABEHI Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar SARJANA HUKUM Pada Bagian Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Lampung FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2014 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Bandar Lampung pada tanggal 7 Desember 1993. Penulis adalah anak kedua dari empat bersaudara. Penulis merupakan putra dari pasangan berbahagia ayahanda Hi. Rosman, Bc.,Ak. Dan ibunda Hj. Asnawati, S.E. Riwayat pendidikan penulis adalah TK Al-Azhar II diselesaikan pada tahun 1999, lalu penulis melanjutkan sekolah di SD Al-Azhar I dan diselesaikan pada tahun 2005. Kemudian pendidikan dilanjutkan pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 9 Bandar Lampung pada tahun 2008, selanjutnya menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Atas Yayasan Pembina (YP) UNILA yang diselesaikan pada tahun 2011. Pada tahun 2011 penulis terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung melalui SNMPTN jalur Tertulis dan mengambil minat bagian Hukum Pidana. Penulis mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada tahun 2014 di Tanjung Kesuma, Kecamatan Purbolinggo, Kabupaten Lampung Timur. PERSEMBAHAN Dengan lafadz hamdallah, ku persembahkan karya kecilku ini untuk : Allah Rabbil Izzati atas limpahan rahamat dan karunia-Nya serta kasih saying dan pertolongan yang diberikan-Nya padaku. Kedua orang tua tercinta, Ayahanda Rosman dan Ibunda Asnawati yang telah memberikan bekal hidup dan selalu mencurahkan cinta dan kasih sayangnya di setiap hari-hariku Serta kakak dan adik-adiku, M. Raiza Ronaldo, Fadhiil Abdurahman R., dan Dhia Fahmi Ghufron yang selalu menjadi penyemangat dalam setiap perjalanan hidupku Wanita Spesial, Dea Octaviana Putri yang selalu memberikan doa dan dukungan di setiap waktu Sahabat-sahabtku yang telah memberikan dorongan, saran serta doanya sehingga skripsi ini dapat terselsaikan. Alamamaterku Tercinta. Universitas Lampung MOTTO Pendidikan mempunyai akar yang pahit, tapi buahnya manis -AristotelesKepuasan terletak pada usaha, bukan pada hasil. Berusaha dengan keras adalah kemenangan yang hakiki -Mahatma Gandhi- Hanya mereka yang berani gagal yang dapat meraih KEBERHASILAN -John F. Kenedy- SANWACANA Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkah rahmat dan karunia-Nya skripsi ini dapat diselesaikan. Skripsi dengan judul “ Penegakan Hukum Pidana Terhadap Praktik Kedokteran Ilegal yang Dilakukan oleh Dokter Palsu “ adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum di Universitas Lampung. Terimakasih yang sebesar-besarnya penulis ucapkan kepada pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah memberiakan bantuan, bimbingan dan dorongan yang sangat berguna hingga terselesaikannya penulisan skripsi ini, yaitu: 1. Bapak Prof. Dr. Heryandi, S.H.,M.S. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Lampung; 2. Ibu Diah Gustiniati, S.H.,M.H. selaku Ketua Bagian Hukum Pidana dan selaku Dosen Pembimbing II yang telah memberikan masukan serta berbagi ilmu kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini; 3. Bapak Tri Andrisman, S.H.,M.H. selaku Dosen Pembimbing I atas kesediannya untuk memberikan bantuan, dorongan dan bimbingan dalam proses penyelsaian skripsi ini; 4. Bapak Dr. Maroni, S.H.,M.H. selaku Dosen Pembahas I atas segala saran, masukan dan arahan membangun yang diberikan selama proses penulisan skripsi ini; 5. Ibu Dona Raisa Monica, S.H.,M.H. selaku Dosen Pembahas II yang telah memberikan kritik dan saran serta masukannya dalam penulisan skripsi ini; 6. Bapak Charles Jackson, S.H,.M.H. selaku Pembimbing Akademik; 7. Para Dosen Pengajar di Fakultas Hukum Universitas Lampung, terimakasih banyak atas bimbingan dan ilmu yang telah diberikan kepada penulis selama dalam pendidikan; 8. Para staff administrasi di Fakultas Hukum Universitas Lampung yang telah banyak membantu; 9. Bapak Rinaldi Sucipno (Poltabes Bandar Lampung), Bapak Tri Wahyu A. Prateka, S.H. (Kejaksaan Negeri Bandar Lampung), Bapak Ahmad Suhel, S.H. (Pengadilan Negeri Kelas 1A Tanjung Karang), Bapak dr. Boy Zaghlul Z. (IDI), atas bantuannya saat penelitian dan pencarian data dalam proses penulisan skripsi ini. 10. Yang terhormat kedua orang tuaku, ayahanda Rosman dan Ibunda Asnawati tercinta yang selalu mendukung dan mendoakan untuk keberhasilan penulis meraih cita-cita, terimakasih atas doa dan dukungannya; 11. Saudara-saudaraku tersayang : Muhammad Raiza Ronaldo, Fadhiil Abdurrahman Rabbani, dan Dhia Fahmi Ghufron, terimakasih atas dukungan dan bantuan doanya. 12. Wanita spesial yang selalu menemani, memberikan dukungan dan doa untukku agar menjadi orang yang lebih baik dan berhasil: Dea Octaviana Putri. You are the other half that makes me feel whole I want you for always.. days, years, and eternities; 13. Sahabat-sahabatku : Andri, Aldino, Lukito, Nelwan, Septi, Debby, Nadya, Nisa, dan Ririn atas persahabatan dalam suka dan duka serta bantuan pemikirannya sehingga skripsi ini terselesaikan; 14. Teman-teman dan sahabat seangkatan yang selalu memberi cerita menyenangkan dan momen tak terlupakan selama perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Lampung: Alfinicko, Afrian, Asa, Beni, Asep, Shintya, Mia, Sarah, Tiffany, Astari, Fajar, Deswandi, Dopdon, Fahmi, Mutiara, Fitri, Ninis, Chelsea, Clara, Aik, Almira, Anca, Murni, Aga, Gede, Mamed, Ferdiyan, Odi, Zahra, Dopdon, Grace, Indah, Bayu, Sueng, Abung, Algeria serta yang tidak bisa disebutkan satu-persatu namanya penulis ucapkan terimakasih. 15. Keluarga Besar HIMA PIDANA’11 yang tidak bisa kusebut satu-satu, terimakasih atas kisah yang telah terlewati selama masa-masa kuliah; 16. Teman-teman sekaligus keluarga baru KKN Desa Tanjung Kesuma, Kecamatan Purbolinggo, Lampung Timur, Agung, Mario, Aan, Aji, Andreas, Adit, Ulum, Wayan, Ade, Alif atas pengalaman yang paling berkesan yang kita lewati siang dan malam. 17. Semua pihak-pihak yang belum tertulis namanya yang saya yakin telah banyak membantu dan berpartisipasi dalam penulisan skripsi ini. Penulis berharap semoga Allah SWT melimpahkan taufik dan hidayah-Nya pada kita semua dan membalas semua kebaikan yang telah diberikan. Penulis juga berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan. Bandar Lampung, 2015 Penulis Abdoel Haris Ngabehi DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL DAFTAR ISI I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah............................................................... B. Permasalahan dan Ruang Lingkup............................................... 1. Permasalahan ........................................................................ 2. Ruang Lingkup ..................................................................... C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian.................................................. 1. Tujuan Penelitian .................................................................. 2. Kegunaan Penelitian ............................................................. D. Kerangka Teoritis dan Konseptual .............................................. 1. Kerangka Teoritis ................................................................. 2. Konseptual ............................................................................ E. Sistematika Penulisan .................................................................. 1 6 6 6 7 7 7 8 8 12 14 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tindak Pidana .............................................................................. 1. Pengertian Tindak Pidana ..................................................... 2. Unsur-Unsur Tindak Pidana ................................................. 3. Jenis-Jenis Tindak Pidana .................................................... B. Praktik Kedokteran Ilegal dan Dokter Palsu .............................. 1. Praktik Kedokteran Ilegal .................................................... 2. Dokter Palsu ......................................................................... C. Penegakan Hukum Pidana ........................................................... 1. Kebijakan Secara Penal (Hukum Pidana).............................. 2. Kebijakan Non-Penal (Luar Jalur Hukum)............................ 16 16 17 19 21 21 23 25 26 27 III. METODE PENELITIAN A. Pendekatan Masalah .................................................................... 1. Pendeketan Yuridis Normatif ............................................... 2. Pendeketan Yuridis Empiris ................................................. B. Sumber dan Jenis Data ................................................................ 1. Data Primer ........................................................................... 33 33 34 34 34 2. Data Sekunder ...................................................................... C. Penentuan Narasumber ................................................................ D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data ............................ 1. Prosedur Pengumpulan Data ................................................. 2. Prosedur Pengolahan Data .................................................... E. Analisis Data ................................................................................ 34 36 36 36 37 38 IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Karakter Responden .................................................................... 39 B. Penegakan Hukum Pidana Terhadap Praktik Kedokteran Ilegal yang Dilakukan oleh Dokter Palsu................................................ 40 C. Faktor Penghambat dalam Penegakan Hukum Terhadap Praktik Kedokteran Ilegal yang Dilakukan oleh Dokter Palsu.................. 57 V. PENUTUP A. Simpulan ...................................................................................... 64 B. Saran ............................................................................................ 65 DAFTAR PUSTAKA 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini dapat dilihat semua bidang kehidupan masyarakat sudah terjamah aspek hukum. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya manusia mempunyai hasrat untuk hidup teratur. Akan tetapi keteraturan bagi seseorang belum tentu sama dengan keteraturan bagi orang lain, oleh karena itu diperlukan kaidah-kaidah yang mengatur hubungan antar manusia melalui keserasian antara ketertiban dan landasan hukum. Negara hukum seperti Indonesia, sudah selayaknya jika hukum dijadikan pangkuan dimana semua orang diharapkan tunduk dan patuh kepadanya tanpa kecuali. Untuk mewujudkan cita-cita yang demikian itu maka perlu diciptakan perangkat-perangkat hukum yang mengatur seluruh sektor kehidupan; meliputi bidang ekuin, polkam dan kesra. Masing-masing sektor tersebut masih perlu dirinci lagi ke dalam subsektor-subsektor, dan salah satu subsektor yang terpenting di dalam kehidupan di suatu negara adalah subsektor kedokteran, sebab subsektor ini ikut menentukan keberhasilan dari sektor kesra. Oleh karena itu pada subsektor tersebut perlu diciptakan perangkat hukum yang akan menentukan pola 2 kehidupan di dalam sub sektor yang bersangkutan. Perangkat hukum tersebut dinamakan hukum kesehatan atau health law.1 Hukum kesehatan merupakan suatu bidang spesialisasi ilmu hukum yang relatif masih baru di Indonesia. Hukum kesehatan mencakup segala peraturan dan aturan yang secara langsung berkaitan dengan pemeliharaan dan perawatan kesehatan yang terancam atau kesehatan yang rusak. Hukum kesehatan mencakup penerapan hukum perdata dan hukum pidana yang berkaitan dengan hubungan hukum dalam pelayanan kesehatan. Subyek-subyek hukum dalam sistem hukum kesehatan adalah: 1. Tenaga kesehatan sarjana yaitu: dokter, dokter gigi, apoteker dan sarjana lain di bidang kesehatan. 2. Tenaga kesehatan sarjana muda, menengah dan rendah; a. Bidang farmasi b. Bidang kebidanan c. Bidang perawatan d. Bidang kesehatan masyarakat, dll. Salah satu unsur penting dalam sistem pelayanan kesehatan yang berhasil guna adalah tersedianya asuhan klinis dan asuhan medis oleh dokter dan dokter gigi yang dalam sistem tersebut untuk melindungi masyarakat dengan memberikan asuhan medis yang aman. Makna diterbitkannya Undang- Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran adalah untuk mengatur praktik dokter dan dokter gigi agar kualitasnya terpelihara. Pengendalian kualitas dilakukan sejak 1 Sofyan Dahlan, Eko Soponyono, Hukum Kedokteran, Fakultas Hukum Universitas Diponeogoro Semarang, hlm. 1. 3 dari pendidikan, memberi kewenangan dokter dan dokter gigi untuk berpraktik dengan prasyarat terregistrasi dan melakukan pembinaan lebih lanjut setelah berpraktik.2 Memasuki era global yang terjadi seperti saat ini, profesi kedokteran merupakan salah satu profesi yang mendapatkan sorotan masyarakat. Sorotan masyarakat terhadap profesi dokter merupakan satu pertanda bahwa saat ini sebagian masyarakat belum puas terhadap pelayanan medis dan pengabdian profesi dokter di masyarakat. Pada umumnya ketidakpuasan para pasien dan keluarga pasien terhadap pelayanan dokter karena harapannya yang tidak dapat dipenuhi oleh para dokter atau dengan kata lain terdapat kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang didapatkan oleh pasien. Masyarakat banyak yang menyoroti profesi dokter, baik sorotan yang disampaikan secara langsung ke Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai induk organisasi para dokter, maupun yang disiarkan melalui media cetak maupun media elektronik. Namun terlepas dari sorotan-sorotan tersebut, sebagian masyarakat nampaknya tidak mengetahui siapa yang dapat dikatakan sebagai dokter, dan masyarakat pun seperti tidak terlalu memusingkan hal itu, bila penyakit yang dideritanya bisa disembuhkan maka hal tersebut bukan jadi masalah. Oleh karena itu, tidak heran apabila ada orang-orang yang memanfaatkan hal tersebut, dengan hanya bermodal pengetahuan dasar tentang kesehatan orang-orang tersebut membuka praktik kedokteran secara ilegal, seperti yang terjadi di Surabaya, sepasang suami istri menggelar praktik kedokteran 2 Konsil Kedokteran Indonesia, Penyelenggaraan Praktik Kedokteran Yang Baik di Indonesia, Jakarta, 2006, hlm. 3. 4 dimana keduanya tak memiliki latar belakang pendidikan kedokteran dan selain itu juga praktik keduanya tidak memiliki izin dari dinas berwewenang. Untuk perbuatannya tersebut pasutri tersebut dijerat Pasal 77 dan Pasal 78 UU No. 29 Tahun 2001 tentang Praktik Kedokteran dengan vonis 1 Tahun 6 Bulan.3 Kasus lainnya juga yang baru saja terungkap yaitu adanya praktik kedokteran ilegal di Jalan Ikan Sepat, Gang Ekajaya, Kelurahan Kangkung, Telukbetung Selatan. Praktik ilegal yang sudah berlangsung satu tahun tersebut terungkap berkat laporan warga setempat. Diketahui bahwa tersangka yang bernama Yanto ini mengaku sebagai dokter dan membuka praktik kedokteran di rumahnya. Menurut Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Bandar Lampung, petugas menyita seperangkat alat kedokteran di rumah tersangka. Alat-alat medis itu seperti pengukur tekanan darah dan stetoskop dipakai tersangka untuk mengelabui korbannya. Tersangka yang merupakan lulusan Diploma 1 Asisten Kesehatan di salah satu tempat pendidikan kesehatan di Tanjung Karang diketahui dalam mengobati pasiennya terkadang memberikan cairan infus serta beberapa tindakan kedokteran sesuai kebutuhan pasien. Perbuatan Tersangka Yanto ini dijerat dengan Pasal 78 jo Pasal 73 ayat (2) Undang-undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dengan ancaman hukuman pidana penjara paling lama lima tahun.4 Terkait kasus-kasus di atas maka dari itu sudah seharusnya di zaman sekarang ini masyarakat bisa lebih paham dengan arti sebenarnya profesi kedokteran itu dan 3 http://www.tribunnews.com/regional/2014/02/26/dokter-gadungan-divonis-15-tahun diakses pada tanggal 27 Agustus pada pukul 20. 15 WIB. 4 http://www.tribunnews.com/regional/2014/06/12/meski-gadungan-dokter-ini-telah-menangani200-pasien, diakses pada tanggal 27 Agustus pada pukul 20. 08 WIB. 5 seseorang yang dapat dikatakan sebagai dokter, hal ini untuk menghindari adanya perbuatan-perbuatan yang justrunya akan merugikan masyarakat itu sendiri. Karena pada dasarnya para dokter-dokter gadungan ini melakukan praktik kedokterannya hanya dengan ilmu-ilmu dasar kesehatan, jelas berbeda dengan dokter-dokter yang telah menyelesaikan pendidikan kedokterannya, jadi bukan tidak mungkin apabila tindakan medis dari para dokter gadungan ini dapat membahayakan si pasien. 3 Peraturan Daerah Nomor 20 Tahun 2012 tentang Perizinan Bidang Kesehatan. Dampak yang dapat ditimbulkan apabila praktik kedokteran tanpa STR atau SIP tersebut menimbulkan akibat yang merugikan kesehatan fisik atau 10 mental atau nyawa pasien maka terjadi malpraktik kedokteran, walaupun praktik kedokteran tersebut tidak bertentangan dengan standar profesi dan prosedur dan dilakukan atas informed consent.5 Informed Consent adalah suatu izin atau pernyataan setuju dari pasien yang diberikan sebagai suatu izin atau pernyataan setuju dari pasien yang diberikan secara bebas, sadar dan rasional, setelah ia mendapat informasi yang dipahaminya dari dokter tentang penyakitnya.6 Berdasarkan uraian latar belakang diatas, penulis ingin lebih banyak mengetahui tentang praktik-praktik kedokteran yang dilakukan oleh dokter-dokter paslsu dan bagaimanakah penegakan hukum pidana berdasarkan hukum postitif yang berlaku di Indonesia. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk menulis skripsi dengan judul : “Penegakan Hukum Pidana Terhadap Praktik Kedokteran Ilegal yang Dilakukan Oleh Dokter Palsu”. 5 Adami Chazawi, Malpraktik Kedokteran, Malang: Bayumedia, 2007, hal. 154 Guwandi J., 137 Tanya Jawab Persetujuan Tindakan Medik ( Informed Consent ), FKUI, Jakarta, 1990, hal. 1. 6 6 B. Permasalahan dan Ruang Lingkup 1. Permasalahan Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dalam penelitian ini permasalahan yang akan dibahas dirumuskan sebagai berikut: a.) Bagaiamanakah penegakan hukum pidana terhadap praktik kedokteran ilegal yang dilakukan oleh dokter palsu? b.) Apakah faktor-faktor penghambat dalam penegakan hukum pidana praktik kedokteran ilegal yang dilakukan oleh dokter palsu? 2. Ruang Lingkup Guna menjaga agar penulisan skripsi ini tidak meluas, maka penulis pun membatasi ruang lingkup penulisan pada pembahasan substansi Hukum Pidana , baik Hukum Pidana materil, hukum Pidana formil maupun hukum pelaksanaan pidana mengenai objek kajian terkait upaya aparat penegak hukum dan pihakpihak tertentu tentang penegakan hukum pidana terhadap Praktik Kedokteran ilegal yang dilakukan oleh dokter palsu ini sesuai Kitab Undang – Undang Hukum Pidana dan Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran. Lokasi penelitian akan dilakukan di wilayah hukum Polresta Bandar Lampung, Dokter di Bandar Lampung, dan Fakultas Hukum Universitas Lampung pada tahun 2014. 7 C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini berkaitan dengan permasalahan yang telah dirumuskan diatas, antara lain adalah untuk berikut: a) Mengetahui penegakan hukum pidana terhadap praktik kedokteran ilegal oleh seorang dokter palsu. b) Mengetahui faktor-faktor penghambat yang dalam penegakan hukum pidana terhadap praktik kedokteran ilegal oleh seorang dokter palsu. 2. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis, yaitu: a) Secara teoritis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi atau masukan untuk mengembangkan dan menambah kajian ilmu hukum, khususnya ilmu hukum pidana, serta untuk mengetahui bagaimana penegakan hukum pidana terhadap kasus praktik kedokteran ilegal oleh seorang dokter palsu. b) Secara praktis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan jawaban dan masukan bagi pihak yang terkait dalam masalah yang diteliti sehingga dapat berguna dalam pemecahannya. 8 D. Kerangka Teoritis dan Konseptual 1. Kerangka Teoritis Penulisan skripsi ataupun penelitian sangatlah membutuhkan suatu teori sebagai dasar pemikiran. Kerangka teoritis adalah konsep-konsep yang sebenarnya merupakan acuan dari hasil penelitian yang pada dasarnya bertujuan untuk mengidentifikasikan terhadap dimensi sosial yang dianggap relevan oleh peneliti.7 Teori yang digunakan di dalam penulisan skripsi ini adalah teori-teori yang berhubungan dengan pengaturan tentang penegakan hukum pidana terhadap praktik ilegal yang dilakukan oleh dokter palsu dan faktor-faktor apa saja yang menghambatnya. a) Teori Penegakan Hukum Penegakan hukum pada hakekatnya merupakan upaya menyelaraskan nilai-nilai hukum dengan merefleksikan di dalam bersikap dan bertindak di dalam pergaulan, demi terwujudnya keadilan, kepastian hukum dan kemanfaatan keadilan dengan menerapkan sanksi-sanksi.8 Penegakan hukum bukanlah semata-mata berarti pelaksanaan perundangundangan, walaupun di dalam kenyataannya di Indonesia kecenderungannya adalah demikian, sehingga pengertian law enforcement begitu populer. Selain itu ada kecenderungan yang kuat untuk mengartikan penegakan hukum sebagai pelaksana keputusan-keputusan hakim. Pendapat yang agak sempit tersebut mempunyai kelemahan-kelemahan, sebab pelaksanaan perundang-undangan atau 7 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: UI Press, 1986, hlm.125. Ibid, hlm. 25 8 9 keputusan-keputusan hakim tersebut malah mengganggu kedamaian di dalam pergaulan hidup.9 Dalam kerangka penegakan hukum, khusus penegakan hukum pidana terdiri dari tiga tahap, yaitu: 1) Tahap formulasi, adalah tahap penegakan hukum pidana in abstacto oleh badan pembentuk undang-undang. Dalam tahap ini pembentuk undangundang melakukan kegiatan memilih nilai-nilai yang sesuai dengan keadaan dan situasi masa kini dan masa yang akan datang, kemudian merumuskan dalam bentuk peraturan perundang-undangan pidana untuk mencapai hasil perundang-undangn pidana yang baik. Tahap ini dapat juga disebut dengan tahap kebijakan legislasi. 2) Tahap aplikasi, tahap penegakan hukum pidana oleh aparat-aparat penegak hukum mulai dari kepolisisan, kejaksaan, hingga pengadilan. Dalam tahap ini aparat penegak hukum menegakkan serta menerapkan peraturan perundangan pidana yang dibuat oleh badan pembentuk undang-undang. Dalam melaksanakan tugas aparat penegak hukum harus memegang teguh nilai-nilai keadilan dan manfaat. Tahap kedua ini disebut tahap kebijakan yudikatif. 3) Tahap eksekusi, yaitu tahap penegakan hukum pidana secara konkret oleh aparat pelaksana pidana bertugas menegakkan aturan yang telah dibuat oleh pembentuk undang-undang melalui penerapan pidana yang telah ditetapkan oleh pengadilan.10 b) Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum Sehubungan dengan pandangan diatas menurut Soerjono Soekanto ada beberapa faktor yang mempengaruhi penegakan hukum yaitu: a. b. c. d. e. 9 faktor hukumnya sendiri faktor penegak hukum faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum faktor masyarakat faktor kebudayaan11 Titik Triwulan Tutik, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta: Prestasi Pustaka, 2006, hlm. 226 Muladi, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, Semarang: Undip, 1995, hlm 45. 11 Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Jakarta: Rajawali Press,1983, hlm. 4-5. 10 10 1) Faktor Perundang-Undangan Substansi hukum, hukum diciptakan oleh lembaga-lembaga yang berwenang, sebagai contoh Undang-undang di buat oleh DPR, dalam menciptakan substansi atau isi hukum tersebut DPR sebagai lembaga yang diberi wewenang harus memperhatikan apakah isi undang-undang itu betul-betul akan memberikan keadilan,kepastian hukum dan kemanfaatan bagi masyarakat atau justru di buatnya hukum akan semakin membuat ketidak adilan dan ketidakpastian dan malah merugikan masyarakat. Salah satu asas dalam hukum pidana menentukan, bahwa tiada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana jikalau hal itu terlebih dahulu belum dinyatakan dalam suatu aturan perundang-undangan (asas legalitas). Maka untuk itu substansi hukum sangat penting sekali. Menurut Muladi bahwa secara operasional perundang-undangan pidana mempunyai kedudukan strategis terhadap sistem peradilan pidana. Sebab hal tersebut memberikan defenisi tentang perbuatan-perbuatan apa yang dirumuskan sebagai tindak pidana. 2) Faktor Penegak Hukum Struktur hukum dimaknai para pelaku penegak hukum, sebagaimana yang di sampaikan oleh bagirmanan bahwa penegak hukum ada dua yaitu penegak hukum yang pro yustitia dan penegak hukum yang non pro yustitia, penegakan hukum pro yustisia adalah Hakim, Jaksa, Polisi dan advokat, sedangkan yang non pro yustisia dilingkungan bea cukai, perpajakan,lembaga pemasyarakat. Para penegak hukum ini memegang peranan yang sangat 11 penting di tangan merekalah hukum di tegakkan, mereka harus memiliki komitmen moral yang kuat dalam penegakan hukum. Aparat penegak hukum harus memiliki kemampuan lebih di dalam melakukan penyidikan, pembuktian baik pada pemeriksaan pendahuluan maupun dalam proses peradilan. Pengetahuan dan wawasan yang luas atas delik materiel maupun peristiwa hukumnya serta kedisiplinan dan dedikasi yang tinggi dalam melaksanakan pemidanaannya. 3) Faktor Infrastruktur Pendukung Sarana dan Prasarana Faktor sarana dan prasarana, penegakan hukum membutuhkan saranaprasarana seperti bagi polisi peralatan yang memadai dan tentunya bisa digunakan, apa jadinya jika dalam penegakan lalu lintas motor yang digunakan untuk patroli motor yang sudah usang, atau dalam penyusunan berkas masih menggunakan mesin ketik manual, sarana dan prasarana ini tentu berkaitan dengan anggaran, maka anggaran untuk penunjang benarbenar dimanfaatkan untuk itu. 4) Faktor Masyarakat Penegakan hukum berasal dari masyarakat dan bertujuan untuk mencapai kedamaian di dalam masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat dapat mempengaruhi penegakan hukum di mana peraturan hukum berlaku atau diterapkan. Bagian terpenting dari masyarakat yang menentukan penegakan hukum adalah kesadaran hukum masyarakat. 12 5) Faktor Kebudayaan Budaya hukum masyarakat tidak kalah penting dengan faktor-faktor yang lain, faktor budaya hukum masyarakat ini juga memiliki pengaruh dan memainkan peranan yang penting dalam proses penegakan hukum terhadap tindak pidana Penegakan hukum bukanlah diruang hampa, penegakan hukum dilakukan di tengah-tengah masyarakat, maka untuk itu penegakan hukum tidak akan dapat berjalan dengan baik jika masyarakat tidak mendukung, partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan, partisipasi itu dapat dilakukan dengan aktif untuk mematuhi hukum dan juga jika ada pelanggaran hukum dapat melaporkan kepada yang berwenang. Masyarakat juga harus aktif melakukan pengawasan terhadap penegak hukum agar tidak terjadi penyimpangan dalam penegakan hukum. 2. Konseptual Kerangka konseptual adalah kerangka yang menggambarkan hubungan natara konsep-konsep khusus yang merupakan kumpulan arti-arti yang berkaitan dengan istilah-istilah yang ingin diteliti atau ingin diketahui.12 a. Penegakan Hukum Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya untuk tegaknya atau berfungsinya norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman prilaku dalam lalu lintas atau hubungan-hubungan hukum yang berhubungan dengan 12 Ibid, hlm.132. 13 masyarakat dan bernegara. Penegakan hukum dalam negara dilakukan secara preventif dan represif.13 b. Tindak Pidana Tindak pidana adalah perbuatan melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang oleh Peraturan Perundang-undangan dinyatakan sebagai perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana.14 c. Praktik Kedokteran Penyelenggaraan praktik kedokteran merupakan inti dari berbagai kegiatan dalam penyelenggaraan upaya kesehatan, untuk itu harus dilakukan oleh dokter dan dokter gigi yang memiliki etik dan moral yang tinggi, keahlian kewenangan yang secara terus menerus harus ditingkatkan mutunya melalui pendidikan dan pelatihan berkelanjtuan, sertifikasi, registrasi, lisensi, serta pembinaan pengawasan, dan pemantauan agar penyelenggaraan praktik kedokteran sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.15 Berdasarkan Pasal 1 Angka 1 Praktik kedokteran adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh dokter dan dokter gigi terhadap pasien dalam melaksanakan upaya kesehatan. d. Ilegal Ilegal menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya tidak legal, tidak menurut hukum, tidak sah.16 13 Barda Nawawi Arief, Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan Hukum dan Pengembangan Hukum Pidana,” Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2005, hlm. 30. 14 Barda Nawawi Arief, Kebijakan Hukum Pidana, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2002, hlm.23. 15 http://www.ilunifk83.com/t253-praktik-kedokteran 16 http://kbbi.web.id 14 e. Dokter Palsu Dokter palsu yang dimaksudkan dalam Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran adalah mereka yang sengaja menggunakan identitas berupa gelar atau bentuk lain yang menimbulkan kesan bagi masyarakat seolah-olah yang bersangkutan adalah dokter atau dokter gigi ataupun mereka yang dengan sengaja menggunakan alat, metode atau cara lain dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang menimbulkan kesan seolah-olah yang bersangkutan adalah dokter atau dokter gigi.17 E. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan disusun untuk mempermudah pemahaman mengenai penulisan secara keseluruhan yang dirinci sebagai berikut: I. PENDAHULUAN Bab ini menguraikan tentang latar belakang dari permasalahan yang diselidiki, perumusan masalah dan ruang lingkup, tujuan dan kegunaan penelitian, kerangka teoritis dan konseptual yang dipergunakan, serta sistematika penulisan. II. TINJAUAN PUSTAKA Bab ini berisi pemahaman mengenai penanggulangan hukum, tindak pidana praktik kedokteran ilegal, pengaturan tentang praktik kedokteran ilegal dan dokter palsu. 17 Pasal 73 ayat (1) dan (2) Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran 15 III. METODE PENELITIAN Bab ini memuat tentang metode yang digunakan di dalam penulisan skripsi ini yaitu langkah-langkah atau cara-cara yang dipakai di dalam penelitian antara lain memuat pendekatan masalah, sumber dan jenis data, penentuan narasumber, metode pengumpulan data, metode pengolahan data dan analisis data. IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini menguraikan jawaban mengenai permasalahan yang penulis teliti yaitu mengenai upaya penanggulangan praktik kedokteran ilegal oleh seorang dokter palsu. V. PENUTUP Bab ini merupakan bab terakhir dan menguraikan kesimpulan dan saran-saran penulis dalam kaitannya dengan permasalahan yang dibahas. 16 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tindak Pidana 1. Pengertian Tindak Pidana Istilah delik atau het straafbaarfeit dalam ilmu hukum memiliki banyak pengertian maupun terjemahan-terjemahan yang bermakna serupa. Terjemahan atau tafsiran tersebut diantaranya ada yang menyebutkan delik sebagai perbuatan yang dapat atau boleh dihukum, peristiwa pidana, perbuatan pidana dan tindak pidana.18 Perbedaan-perbedaan istilah seperti ini hanya menyangkut terminologi bahasa yang ada serta untuk menunjukkan tindakan hukum apa saja yang terkandung didalamnya.19 Tindak pidana merupakan pengertian dasar dalam hukum pidana (yuridis normatif). Kejahatan atau perbuatan jahat dapat diartikan secara yuridis atau kriminologis. Kejahatan atau perbuatan jahat dalam arti yuridis normatif adalah perbuatan seperti terwujud in-abstracto dalam peraturan pidana. Sedangkan kejahatan dalam arti kriminologis adalah perbuatan manusia yang menyalahi norma yang hidup dalam masyarakat secara konkrit.20 18 SR Sianturi, Azas-Azas Hukum Pidana dan Penerapannya, Jakarta: Storia Grafika, 2002, hlm. 60. 19 Ibid, hlm. 204 20 Tri Andrisman, Asas- Asas Dasar Aturan Umum Hukum Pidana Indonesia, Bandar Lampung: Penerbit Universitas Lampung, 2011, hlm. 69-70. 17 Andi Zainal Abidin Farid mengemukakan pengertian delik, sebagai berikut : Pengertian delik berasal dari bahasa latin delic dan delicte sebagai suatu perbuatan yang dilarang dan diancam pidana barang siapa yang melanggar larangan tersebut. Alasan penggunaan istilah delik karena : a. Istilah tersebut singkat, jadi bersifat wets economisch. b. Istilah tersebut dikenal diseluruh dunia, jadi bersifat universal. c. Istilah delik dapat memenuhi keperluan pemidanaan badan hukum, organisasi, sesuai dengan perkembangan hukum pidana.21 Jonkers menjelaskan arti strafbaarfeit adalah : ”suatu perbuatan atau pengabaian yang melawan hukum yang dilakukan dengan sengaja atau kelalaian seseorang yang dapat dipertanggung jawabkan”. 22 Sedangkan Pompe memberikan pengertian tindak pidana menjadi 2 (dua) definisi, yaitu: 1) Definisi menurut teori adalah suatu pelanggaran terhadap norma, yang dilakukan karena kesalahan si pelanggar dan diancam dengan pidana untuk mempertahankan tata hukum dan menyelamatkan kesejahteraan umum. 2) Definisi menurut hukum positif adalah suatu kejadian/ feit yang oleh peraturan undang-undang dirumuskan sebagai perbuatan yang dapat dihukum.23 2. Unsur-Unsur Tindak Pidana Istilah tindak pidana sebagai terjemahan dari strafbaarfeit yang telah dibahas sebelumnya tentunya mempunyai kriteria tersendiri sehingga dapat digolongkan kedalam tindak pidana. Oleh karena itu setelah mengetahui definisi dan pengertian yang lebih mendalam tentang tindak pidana itu sendiri, maka dalam tindak pidana itu terdapat beberapa unsur-unsur tindak pidana, yaitu : 21 Andi Hamzah, Asas-Asas Hukum Pidana, Jakarta: Rineka Cipta, 1994, hlm. 88. Chazawi Adami, Pelajaran Hukum Pidana, Bagian 1; Stelsel Pidana, Teori-Teori Pemidanaan & Batas Berlakunya Hukum Pidana, Jakarta: PT Raja Grafindo, 2002, hlm. 72. 23 Lamintang, P.A.F, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Bandung: Citra Aditya Bakti, 1997, hlm. 34. 22 18 1) Unsur subjektif dari suatu tindak pidana : a) Kesengajaan dan ketidaksengajaan atau dolus dan culpa; b) Maksud atau voornamen pada suatu percobaan atau poging seperti yang dimaksud di dalam Pasal 53 atat (1) KUH Pidana; c) Macam-macam maksud seperti terdapat dalam kejahatan-kejahatan pencurian, penipuan, pemerasan, dan sebagainya; d) Merencanakan terlebih dahulu atau voortedachteraad seperti yang terdapat dalam kejahatan pembunuhan menurut Pasal 340 KUHPidana; e) Perasaan takut seperti terdapat dalam Pasal 308 KUHPidana. 2) Unsur-unsur objektif dari suatu tindak pidana itu sendiri antara lain adalah: a) Sifat melanggar hukum atau wederrechttelijkheid; b) Kausalitas dari si pelaku, misalnya keadaan sebagai pegawai negeri dalam kejahatan menurut pasal 415 KUHP atau keadaan sebagai pengurus atau komisaris dari suatu perseroan terbatas dalam kejahatan menurut pasal 298 KUHP. c) Kausalitas, yakni hubungan antara suatu tindakan sebagai suatu kenyatan dan menimbulkan akibat. Perlu diketahui juga bahwa unsur wederrechtelijk itu selalu harus dianggap sebagai syarat di dalam setiap rumusan delik, walaupun unsur tersebut oleh pembentuk undang-undang tidak dinyatakan secara tegas sebagai salah satu unsur dari delik yang bersangkutan. Walaupun suatu tindakan itu telah memenuhi semua unsur dari sesuatu delik dan unsur wederrechtelijk itu telah dicantumkan sebagai salah satu unsur dari delik, akan tetapi tindakan tersebut dapat hilang sifatnya 19 sebagai suatu tindakan yang bersifat wederrechtelijk, bilamana hakim dapat menemukan sesuatu dasar yang meniadakan sifat wederrechtelijk dari tindakan tersebut, baik berdasarkan sesuatu ketentuan yang terdapat di dalam undangundang maupun berdasarkan asas-asas hukum yang bersifat umum dari hukum yang tidak tertulis. 3. Jenis-Jenis Tindak Pidana jenis-jenis tindak pidana dibedakan atas dasar-dasar tertentu, sebagai berikut: 1) Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dibedakan antara lain kejahatan yang dimuat dalam Buku II dan Pelanggaran yang dimuat dalam Buku III. Pembagian tindak pidana menjadi “kejahatan” dan “pelanggaran“ itu bukan hanya merupakan dasar bagi pembagian KUHP kita menjadi Buku ke II dan Buku ke III melainkan juga merupakan dasar bagi seluruh sistem hukum pidana di dalam perundang-undangan secara keseluruhan. 2) Menurut cara merumuskannya, dibedakan dalam tindak pidana formil (formeel Delicten) dan tindak pidana materil (Materiil Delicten). Tindak pidana formil adalah tindak pidana yang dirumuskan bahwa larangan yang dirumuskan itu adalah melakukan perbuatan tertentu. Misalnya Pasal 362 KUHP yaitu tentang pencurian. Tindak Pidana materil inti larangannya adalah pada menimbulkan akibat yang dilarang, karena itu siapa yang menimbulkan akibat yang dilarang itulah yang dipertanggungjawabkan dan dipidana. 20 3) Menurut bentuk kesalahan, tindak pidana dibedakan menjadi tindak pidana sengaja (dolus delicten) dan tindak pidana tidak sengaja (culpose delicten). Contoh tindak pidana kesengajaan (dolus) yang diatur di dalam KUHP antara lain sebagai berikut: Pasal 338 KUHP (pembunuhan) yaitu dengan sengaja menyebabkan hilangnya nyawa orang lain, Pasal 354 KUHP yang dengan sengaja melukai orang lain. Pada delik kelalaian (culpa) orang juga dapat dipidana jika ada kesalahan, misalnya Pasal 359 KUHP yang menyebabkan matinya seseorang, contoh lainnya seperti yang diatur dalam Pasal 188 dan Pasal 360 KUHP. 4) Menurut macam perbuatannya, tindak pidana aktif (positif), perbuatan aktif juga disebut perbuatan materil adalah perbuatan untuk mewujudkannya diisyaratkan dengan adanya gerakan tubuh orang yang berbuat, misalnya Pencurian (Pasal 362 KUHP) dan Penipuan (Pasal 378 KUHP). Tindak Pidana pasif dibedakan menjadi tindak pidana murni dan tidak murni. Tindak pidana murni, yaitu tindak pidana yang dirumuskan secara formil atau tindak pidana yang pada dasarnya unsur perbuatannya berupa perbuatan pasif, misalnya diatur dalam Pasal 224,304 dan 552 KUHP. Tindak Pidana tidak murni adalah tindak pidana yang pada dasarnya berupa tindak pidana positif, tetapi dapat dilakukan secara tidak aktif atau tindak pidana yang mengandung unsur terlarang tetapi dilakukan dengan tidak berbuat, misalnya diatur dalam Pasal 338 KUHP, ibu tidak menyusui bayinya sehingga anak tersebut meninggal24 24 Andi Hamzah, Bunga Rampai Hukum Pidana dan Acara Pidana, Jakarta : Ghalia Indonesia, 2001, hlm. 25-27. 21 Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa jenis-jenis tindak pidana terdiri dari tindak pidana kejahatan dan tindak pidana pelanggaran, tindak pidana formil dan tindak pidana materil, tindak pidana sengaja dan tindak pidana tidak sengaja serta tindak pidana aktif dan pasif. B. Praktik Kedokteran Ilegal dan Dokter Palsu 1. Praktik Kedokteran Ilegal Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran menyebutkan bahwa praktik kedokteran adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh dokter dan dokter gigi terhadap pasien dalam melaksanakan upaya kesehatan. Praktik kedokteran bukanlah suatu pekerjaan yang dapat dilakukan oleh siapa saja, melainkan hanya boleh dilakukan oleh kelompok profesional kedokteran tertentu yang memiliki kompetensi yang memenuhi standar tertentu, diberi kewenangan oleh institusi yang berwenang di bidang itu dan bekerja sesuai dengan standar dan profesionalisme yang ditetapkan oleh organisasi profesinya. Secara teoritis-konseptual, antara masyarakat profesi dengan masyarakat umum terjadi suatu kontrak (mengacu kepada doktrin social-contract), yang memberi masyarakat profesi hak untuk melakukan self-regulating (otonomi profesi) dengan kewajiban memberikan jaminan bahwa profesional yang berpraktek hanyalah profesional yang kompeten dan yang melaksanakan praktek profesinya sesuai dengan standar. 22 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran diundangkan untuk mengatur praktik kedokteran dengan tujuan agar dapat memberikan perlindungan kepada pasien, mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan medis dan memberikan kepastian hukum kepada masyarakat, dokter dan dokter gigi.25 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran mengatur tentang penyelenggaraan praktik kedokteran. Dalam bagian ini diatur tentang perijinan praktik kedokteran, yang antara lain mengatur syarat memperoleh SIP (memiliki STR, tempat praktik dan rekomendasi organisasi profesi), batas maksimal 3 tempat praktik, dan keharusan memasang papan praktik atau mencantumkan namanya di daftar dokter bila di rumah sakit. Dalam aturan tentang pelaksanaan praktik diatur agar dokter memberitahu apabila berhalangan atau memperoleh pengganti yang juga memiliki SIP, keharusan memenuhi standar pelayanan, memenuhi aturan tentang persetujuan tindakan medis, memenuhi ketentuan tentang pembuatan rekam medis, menjaga rahasia kedokteran, serta mengendalikan mutu dan biaya. Praktik kedokteran yang dapat dikatakan ilegal yaitu apabila dalam menjalankan praktik kedokteran tersebut tidak memenuhi persyaratan-persyaratan seperti yang ada di atas. Praktik kedokteran ilegal juga dengan kata lain dapat dikatakan sebagai sebuah perbuatan Malpraktik, karena dalam pelaksanaannya tenaga medis berpraktik dengan tidak mengindahkan standar-standar dalam aturan yang ada, 25 http://albert-xi-a1.blogspot.com/2011/08/praktik-kedokteran.html, diakses pada 25 Oktober, pukul 18.54 WIB. 23 seperti melalaikan syarat-syarat yang diperlukan dalam menjalankan praktik kedokteran tersebut. 2. Dokter Palsu Dokter dan dokter gigi adalah dokter, dokter spesialis, dokter gigi, dan dokter gigi spesialis lulusan pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan.26 Setiap dokter dan dokter gigi yang melakukan praktik kedokteran di Indonesia wajib memiliki surat tanda registrasi dokter dan surat tanda registrasi dokter gigi. Surat tanda registrasi dokter dan surat tanda registrasi dokter gigi diterbitkan oleh Konsil Kcdokteran Indonesia. Setiap dokter yang berpraktik wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan kedokteran berkelanjutan yang diselenggarakan oleh organisasi profesi dan lembaga lain yang diakreditasi oleh organisasi profesi dalam rangka penyerapan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran. Pendidikan dan pelatihan kedokteran berkelanjutan dilaksanakan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh organisasi profesi kedokteran. Melihat ke dalam hubungan perjanjian dokter dengan pasien, dokter haruslah bertindak berdasarkan: 1) Adanya indikasi medis 2) Bertindak secara hati-hati dan teliti 3) Bekerja sesuai standar profesi 4) Sudah ada informed consent. 26 Pasal 1 Angka 2 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran. 24 Keempat tindakan di atas adalah sesuai dengan Undang-Undang Praktek Kedokteran No. 29 tahun 2004 Bab IV tentang Penyelenggaraan Praktik Kedokteran, yang menyebutkan pada bagian kesatu pasal 36, 37 dan 38 bahwa sorang dokter harus memiliki surat izin praktek, dan bagian kedua tentang pelaksanaan praktek yang diatur dalam Pasal 39-43. Pada bagian ketiga menegaskan tentang pemberian pelayanan, dimana paragraf 1 membahas tentang standar pelayanan yang diatur dengan Peraturan Menteri. Standar Pelayanan adalah pedoman yang harus diikuti oleh dokter atau dokter gigi dalam menyelenggarakan praktik kedokteran. Dokter dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai kewajiban: a. memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien; b. merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan; c. merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia; d. melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila Ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya; dan e. menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran atau kedokteran gigi. Sedangkan dokter palsu adalah mereka yang tidak memenuhi standar-standar profesi sebagai dokter sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 25 Hal ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, yaitu: Pasal 73: (1) Setiap orang dilarang menggunakan identitas berupa gelar atau bentuk lain yang menimbulkan kesan bagi masyarakat seolah-olah yang bersangkutan adalah dokter atau dokter gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi dan/atau surat izin praktik. (2) Setiap orang dilarang menggunakan alat, metode atau cara lain dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang menimbulkan kesan seolah-olah yang bersangkutan adalah dokter atau dokter gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi dan/atau surat izin praktik. Pengawasan terhadap praktik kedokteran dokter dan dokter gigi sudah diatur dalam UUPK, baik atas norma-norma disiplin maupun norma-norma dalam lembaga–lembaga penegakan terhadap penyelenggaraan praktik kedokteran.27 Dalam pelaksanaan pembinaan dan pengawasannya praktik kedokteran ini dilakukan oleh pemerintah pusat, Konsil Kedokteran Indonesia, pemerintah daerah, dan organisasi profesi. C. Penegakan Hukum Pidana Penegakan hukum disebut dalam bahasa Inggris law enforcement, bahasa Belanda rechtshandhaving.28 Penegakan hukum adalah kegiatan menyerasikan hubunganhubungan nilai-nilai yang terjabarkan dalam kaidah-kaidah atau pandangan menilai yang mantap dan sikap tidak sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap 27 http://www.hukor.depkes.go.id/?art=12&set=0, diakses pada tanggal 25 Oktober pada pukul 19.01 WIB. 28 Andi Hamzah, Penegakan Hukum Lingkungan, Jakarta: Sinar Grafika, 2008, hlm. 48. 26 akhir untuk menciptakan social engineering, memelihara dan mempertahankan social control kedamaian pergaulan hidup.29 Penegakan hukum pidana yang merupakan kebijakan penanggulangan kejahatan mempunyai tujuan akhir yaitu perlindungan masyarakat guna mencapai kesejahteraan masyarakat, dengan demikian penegakan hukum pidana merupakan bagian integral dari kebijakan untuk mencapai kesejahteraan, maka wajar jika dikatakan dikatakan bahwa usaha penanggulangan kejahatan merupakan penegakan hukum pidana yang menjadi bagian penting dari pembangunan nasional. 30 Seperti yang dikatakan Sudarto bahwa penegakan hukum pidana dapat diartikan sebagai upaya untuk membuat hukum pidana itu berfungsi, beroperasi atau bekerjanya dan terwujud secara konkrit. Menurut Prof. Sudarto, kebijakan hukum pidana dibagi menjadi dua jenis kebijakan, yaitu: 1. Kebijakan Secara Penal (Hukum Pidana) Kebijakan hukum pidana melalui jalur penal lebih menitikberatkan pada sifat “represif” (penindasan/ pemberantasan/ penumpasan) setelah kejadian tersebut terjadi. Menurut Sudarto, yang dimaksud dengan upaya represif adalah segala tindakan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum sesudah terjadinya kejahatan atau tindak pidana, termasuk upaya represif adalah penyelidikan, penyidikan, penuntutan sampai dilakukannya pidana. 29 30 Soejono Soekanto, Kejahatan dan Penegakan Hukum, Jakarta: Rineka Cipta, 1995, hlm. 5. Sudarto, Kapita Selekta Hukum Pidana, Bandung: Alumni, 1986, hlm. 111. 27 Penegakan hukum pidana pada hakikatnya merupakan penegakan kebijakan melalui beberapa tujuan:31 a. Tahap Formulasi Yaitu tahapan penegakan hukum “in abstracto” oleh pembuat undang-undang, tahap ini dapat pula disebut sebagai tahap kebijakan legislatif. b. Tahap Aplikasi Yaitu tahapan penerapan hukum pidana oleh aparat-aparat penegak hukum mulai dari kepolisian, sampai dengan pengadilan, tahap ini dapat disebut pula tahap kebijakan. c. Tahap Eksekusi Yaitu tahap pelaksanaan hukum pidana secara konkret oleh aparat-aparat pelaksana hukum pidana, tahap ini dapat pula disebut dengan tahap kebijakan eksekutif dan administratif. 2. Kebijakan Non-Penal (Luar Jalur Hukum) Kebijakan hukum pidana melalui jalur non-penal lebih menitikberatkan pada sifat “preventif” (pencegahan/ penangkalan/ pengendalian) yang dilakukan sebelum kejahatan tersebut terjadi. Sarana non-penal biasa disebut sebagai upaya preventif, yaitu upaya-upaya yang dilakukan untuk menjaga kemungkinan akan terjadinya kejahatan, merupakan upaya pencegahan, penangkalan, dan pengendalian sebelum kejahatan terjadi,maka sasaran utamanya adalah mengenai faktor-faktor kondusif penyebab 31 Ibid, hlm. 157 28 terjadinya kejahatan. Faktor-faktor kondusif itu antara lain berpusat pada masalahmasalah atau kondisi-kondisi sosial secara langsung atau tidak langsung menimbulkan kejahatan. Usaha-usaha non-penal misalnya penyantunan dan pendidikan sosial dalam rangka mengembangkan tanggung jawab sosial warga masyarakat; penggarapan kesehatan jiwa masyarakat melalui pendidikan moral,agama; peningkatan usahausaha kesejahteraan anak dan remaja; kegiatan patroli dan pengawasan lainnya secara berlanjut oleh polisi dan aparat kemanan lainnya. Usaha-usaha non-penal memperbaiki kondisi-kondisi sosial tertentu. Dengan demikian, dilihat dari politik kriminal keseluruhan kegiatan preventif yang non-penal itu sebenarnya mempunyai kedudukan yang sangat strategis, memegang posisi kunci diintensifkan dan diefektifkan. Kegagalan dalam menggarap posisi strategis ini justru akan berakibat sangat fatal bagi usaha penanggulangan kejahatan.oleh karena itu suatu kebijakan kriminal harus dapat mengintegrasikan dan mengharmonisasikan seluruh kegiatan preventif yang non-penal itu ke dalam suatu sistem-sistem kegiatan negara yang teratur. Tujuan utama dari sarana nonpenal sendiri adalah memperbaiki kondisi-kondisi sosial tertentu. Penggunaan sarana non-penal adalah merupakan upaya-upaya yang dapat dilakukan meliputi bidang yang sangat luas sekali di seluruh sektor kebijakan sosial. Apa yang diartikan orang selama ini sebagai penegak hukum (law enforcement) seperti halnya tertuju pada adanya tindakan represif dari aparat penegak hukum dalam melakukan reaksi tugas terhadap penindakan pelaku kriminal. Pemaknaan penegakan hukum secara demikian itu sangatlah sempit, oleh karena kewenangan 29 penegakan hukum seakan menjadi tanggungjawab aparat hukum semata, padahal tidak demikian halnya, oleh karena penegakan hukum konteksnya luas termasuk tanggung jawab setiap orang dewasa yang cakap sebagai pribadi hukum (perzoonlijk) melekat kewajiban untuk menegakkan hukum. Bagi orang awam, penegakan hukum semata hanya dilihat sebagai tindakan represif dari aparat hukum, tindakan di luar aparat hukum hanya dipandangnya sebagai partisan hukum, misalnya tindakan informative terhadap aparat hukum adanya peristiwa hukum atau gejala akan terjadinya peristiwa hukum. Sebenarnya penegakan hukum dalam konteks yang luas berada pada ranah tindakan, perbuatan atau prilaku nyata atau faktual yang bersesuaian dengan kaidah atau norma yang mengikat, Namun demikian dalam upaya menjaga dan memulihkan ketertiban dalam kehidupan sosial maka pemerintahlah actor security. Pelaksanaan hukum sangat penting dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, karena tujuan hukum terletak pada pelaksanaan hukum tersebut. Ketertiban dan ketentraman hanya dapat diwujudkan jika hukum dilaksanakan, dan sebaliknya jika hukum tidak dilaksanakan maka peraturan hukum itu hanya menjadi susunan kata-kata yang tidak bermakna dalam kehidupan masyarakat. Penegakan hukum sebagai usaha semua kekuatan bangsa, menjadi kewajiban kolektif semua komponen bangsa, dan merupakan ralat bahwa hukum hanya boleh ditegakkan oleh golongan-golongan tertentu saja, antara lain:32 32 Ilhami Bisri, Sistem Hukum Indonesia: Prinsip-Prinsip & Implementasi Hukum di Indonesia, Jakarta: Rajawali Pers, 2012, hlm. 128. 30 1) Aparatur negara yang memang ditugaskan dan diarahkan untuk itu seperti polisi, hakim, dan jaksa, yang dalam dunia hukum disebut secara ideal sebagai the three musketers atau tiga pendekar hukum, yang mempunyai fungsi penegakan dengan sifat yang berbeda-beda akan tetapi bermuara pada terciptanya hukum yang adil, tertib, dan bermanfaat bagi semua manusia. Polisi menjadi pengatur dan pelaksana penegakan hukum didalam masyarakat, hakim sebagai pemutus hukum yang adil sedangkan jaksa adalah institusi penuntutan negara bagi para pelanggar hukum yang diajukan polisi. 2) Pengacara yang memiliki fungsi advokasi dan mediasi bagi masyarakat baik yang bekerja secara individual ataupun yang bergabung secara kolektif melalui lembaga-lembaga bantuan hukum, yang menjadi penuntun masyarakat yang awam hukum, agar dalam proses peradilan tetap diperlakukan sebagai manusia yang memiliki kehormatan, hak, dan kewajiban, sehingga putusan hakim akan mengacu pada kebenaran, keadilan yang dilandasi penghormatan manusia atas manusia. 3) Para eksekutif yang bertebaran di berbagai lahan pengabdian sejak dari pegawai pemerintah yang memiliki beraneka fungsi dan tugas kewajiban sampai kepada para penyelenggara yang memiliki kekuasaan politik (legislatif). 4) Masyarakat pengguna jasa hukum yang kadang-kadang secara ironi menjadi masyarakat pencari keadilan. Aparatur penegak hukum mencakup pengertian mengenai institusi penegak hukum dan aparat penegak hukum. Dalam arti sempit, aparatur penegak hukum yang terlibat dalam proses tegaknya hukum itu, dimulai dari saksi, polisi, 31 penasehat hukum, jaksa, hakim, dan petugas sipir pemasyarakatan. Setiap aparat dan aparatur terkait mencakup pula pihak-pihak yang bersangkutan dengan tugas atau perannya yaitu terkait dengan kegiatan pelaporan atau pengaduan, penyelidikan, penyidikan, penuntutan, pembuktian, penjatuhan vonis dan pemberian sanksi, serta upaya pemasyarakatan kembali (resosialisasi) terpidana. Dalam pelaksanaan penegakan hukum terdapat kendala-kendala yang menyebabkan terhambatnya pelaksanaan penegakan hukum, diantaranya faktorfaktor yang mempengaruhi penegakan hukum adalah:33 1) Faktor hukumnya sendiri (Perundang-Undangan) Praktek penyelenggara hukum di lapangan sering kali terjadi kontradiksi antara hukum dan keadilan, hal ini dikarenakan konsepsi keadilan merupakan rumusan yang bersifat abstrak, sedangkan kepastian keadilan merupakan prosedur yang telah ditentukan secara normatif. Oleh karena itu, suatu kebijakan atau tindakan yang tidak sepenuhnya berdasar hukum merupakan suatu yang dapat dibenarkan sepanjang kebijakan atau tindakan itu tidak bertentangan dengan hukum. 2) Faktor Penegak Hukum Penegak hukum adalah mereka yang secara langsung dan secara tidak langsung berkecimpung dibidang penegakan hukum yang tidak hanya mencakup law enforcement, akan tetapi juga peace maintenance. 33 Soerjono Soekanto, Op.cit., 1983, hlm. 8 32 3) Faktor Sarana atau Fasilitas Sarana atau fasilitas mempunyai peranan yang sangat penting di dalam penegakan hukum. Tanpa adanya sarana atau fasilitas tersebut, maka tidak mungkin penegakan hukum akan berlangsung dengan lancar dan menyerasikan peranan yang seharusnya dengan peran yang aktual. 4) Faktor Masyarakat Penegakan hukum berasal dari masyarakat dan bertujuan untuk mencapai kedamaian di dalam masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat dapat mempengaruhi penegakan hukum di mana peraturan hukum berlaku atau diterapkan. Bagian terpenting dari masyarakat yang menentukan penegakan hukum adalah kesadaran hukum masyarakat. 5) Faktor Kebudayaan Faktor kebudayaan yang sebenarnya bersatu padu dengan faktor masyarakat sengaja dibedakan, karena di dalam pembahasannya diketengahkan masalah sistem nilai-nilai yang menjadi inti dari kebudayaan spiritual atau nonmaterial. Beragam kebudayaan yang demikian banyak menimbulkan persepsi-persepsi tertentu terhadap penegakan hukum. dapat 33 III. METODE PENELITIAN Metode adalah cara yang dipakai untuk mencapai tujuan. Metode penelitian merupakan suatu cara yang digunakan dalam mengumpulkan data penelitian dan membandingkan dengan standar ukuran yang telah ditentukan.34 Menurut Soerjono Soekanto, penelitian merupakan suatu usaha untuk menganalisa serta mengadakan konstruksi secara metodologis, sistematis dan konsisten. Penelitian merupakan sarana yang digunakan untuk memperkuat, membina serta mengembangkan ilmu pengetahuan.35 A. Pendekatan Masalah Pembahasan terhadap masalah penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan masalah secara yuridis normatif. Di dalam penulisan skripsi terdapat 2 macam pendekatan masalah yang di kenal dengan yuridis normatif dan yuridis empiris: 1. Pendekatan Yuridis Normatif Pendekatan yuridis normatif yaitu pendekatan dengan cara menelaah kaidahkaidah , norma-norma, aturan-aturan, yang berhubungan dengan maslah yang akan diteliti. Pendekatan tersebut dimaksud untuk mengumpulkan berbagai 34 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta:Rineka Cipta, 2002, hlm. 126. 35 Soerjono Soekanto, Op.cit., hlm. 3 34 macam peraturan perundang-undangan,toeri-teori dan literatur- literatur yang erat hubungannya dengan permasalahan yang akan dibahas. Dalam hal ini adalah yang berkaitan dengan proses penegakan hukum pidana praktik kedokteran ilegal oleh dokter palsu. 2. Pendekatan Yuridis Empiris Pendekatan yuridis empiris yaitu pendekatan penelitian dengan cara meneliti dan mengumpulkan data primer yang diperoleh secara langsung melalui penelitian dengan cara observasi terhadap permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini B. Sumber dan Jenis Data 1. Data Primer Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari masyarakat. Data ini didapat dari sumber pertama dari individu dan perseorangan. Misalnya hasil wawancara atau hasil pengisian kuisioner.36 mengenai penegakan hukum pidana terhadap praktik kedokteran ilegal yang dilakukan oleh dokter palsu. 2. Data Sekunder Data sekunder yaitu data yang diperoleh dengan menelusuri literatur-literatur maupun peraturan-peraturan dan norma-norma yang berhubungan dengan 36 Husein Umar, Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005, hlm. 42. 35 masalah yang akan dibahas dalam skripsi ini. Pada umunya data sekunder dalam keadaan siap terbuat dan dapat dipergunakan dengan segera37, yaitu: a. Bahan Hukum Primer adalah bahan hukum yang mempunyai otoritas (autoritatif). 38 Dalam penelitian ini bahan hukum primier terdiri dari : 1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 jo. Undang-Undang Nomor 1973 Tahun 1958 tentang Pemberlakuan KUHP. (Kitab UndangUndang Hukum Pidana) 2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran. b. Bahan Hukum Sekunder adalah bahan hukum yang meliputi peraturan pelaksana keppres, peraturan pemerintah, dan putusan pengadilan yang memberikan keterangan terhadap bahan hukum primer secara tidak langsung dari sumbernya.39 c. Bahan Hukum Tersier adalah semua publikasi tentang hukum yang merupakan dokumen yang tidak resmi. Publikasi tersebut terdiri atas :buku-buku teks yang membicarakan suatu atau beberapa permasalahan hukum, termasuk skripsi, tesis, dan disertasi hukum; kamus-kamus hukum; jurnal-jurnal hukum dan komentar-komentar atau putusan hakim.40 37 Soerjono Soekanto, Op.cit., hlm. 12. Zainudiin Ali, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Sinar Grafita, 2009, hlm.47. 39 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Jakarta: Kencana Prenada Group, 2005, hlm.142. 40 Soerjono Soekanto & Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat, Jakarta: Rajawali Pers, 2003, hlm.33-37. 38 36 C. Penentuan Narasumber Narasumber adalah seseorang yang memberikan informasi yang diinginkan dan dapat memberikan tanggapan terhadap informasi yang diberikan. Pada penelitian ini penentuan Narasumber hanya dibatasi pada: 1. Hakim di Pengadilan Negeri Tanjung Karang : 1 Orang 2. Jaksa di Kejaksaan Negeri Bandar Lampung : 1 Orang 3. Polisi Polresta Bandar Lampung : 1 Orang 4. Ikatan Dokter Indonesia cabang Bandar Lampung : 1 Orang + Jumlah : 4 Orang D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data 1. Prosedur Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara studi kepustakaan dan studi lapangan. a. Studi Kepustakaan (Library reseach) Studi pustaka merupakan metode pengumpulan data yang diarahkan kepada pencarian data sekunder dan informasi melalui dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, foto-foto, gambar, maupun dokumen elektronik yang dapat mendukung dalam proses penulisan. Dalam hal ini penulis melakukan serangkaian kegiatan studi dokumenter dengan cara membaca, mencatat, menyadur, mengutip buku-buku atau referensi dan menelaah perundang- 37 undangan, dokumen dan informasi lain yang ada hubungannya dengan permasalahan. b. Studi Lapangan (field research) Studi ini dilakukan dengan maksud untuk memperoleh data primer yang dilakukan dengan menggunakan metode wawancara (interview), dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan permasalahan yang ada dalam penelitian ini. Pertanyaan yang telah dipersiapkan diajukan kepada pihak-pihak yang bersangkutan dengan maksud untuk mendapatkan data, tanggapan, dan juga jawaban dari responden. 2. Prosedur Pengolahan Data Pengolahan data dilakukan untuk memperoleh analisis data yang telah diperoleh sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Adapun pengolahan data yang dimaksud meliputi tahapan sebagai berikut: a. Seleksi data, yaitu data yang didapatkan dari penelitian diperiksa dan diteiti kembali untuk mengetahui apakah data yang didapat itu sudah sesuai dengan pokok bahasan penelitian ini. Sehingga dapat terhindar dari adanya kesalahan data. b. Klasifikasi data, menghubungkan data-data yang diperoleh sehingga menghasilkan suatu uraian yang kemudian dapat ditarik kesimpulan. c. Sistematisasi data, yaitu proses penyusunan dan penenmpatan sesuai dengan pokok permasalahan secara sistematis sehingga memudahkan analisis data. 38 E. Analisis Data Setelah data sudah terkumpul data yang diperoleh dari penelitian selanjutnya adalah dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif, yaitu dengan mendeskripsikan data dan fakta yang dihasikan atau dengan kata lain yaitu dengan menguraikan data dengan kalimat-kalimat yang tersusun secara terperinci, sistematis dan analisis, sehingga akan mempermudah dalam membuat kesimpulan dari penelitian dilapangan dengan suatu interpretasi, evaluasi dan pengetahuan umum. Setelah data dianalisis maka kesimpulan terakhir dilakukan dengan metode induktif yaitu menguraikan hal-hal yang bersifat khusus, kemudian menarik kesimpulan yang bersifat umum. 64 V. PENUTUP a. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan sebagaimana diuraikan dalam babbab terdahulu maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Upaya penegakan hukum terhadap praktik kedokteran ilegal yang dilakukan oleh dokter palsu ini adalah menggunakan hukum pidana (penal) dan non penal. Non penal artinya secara preventif yaitu pencegahan sebelum terjadinya kejahatan yang lebih ditekankan dengan mengadakan sosialisasi atau pelatihan di bidang kesehatan khususnya praktik kedokteran dan dokter palsu terhadap masyarakat. Sedangkan penal artinya secara represif yaitu pemberantasan setelah terjadinya kejahatan yaitu dengan memproses laporan yang masuk, tindakan represif yang dimaksudkan dalam kasus praktik kedokteran ilegal oleh dokter palsu ini adalah setiap proses peradilan hukum pidana mulai dari tahap formulasi, tahap aplikasi, hingga tahap eksekusi. Namun dalam hal ini belum maksimal karena adanya keterbatasan yang dialami oleh aparat penegak hukum. Hal ini dibuktikan dengan sulitnya pembuktian karena dampak yang ditimbulkan dari praktik kedokteran dokter palsu terhadap pasien tidak secara langsung. Akibatnya aparat penegak hukum tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik sehingga dalam 65 melaksanakan tugasnya bersifat pasif yaitu menunggu laporan dari masyarakat yang dirugikan secara langsung. 2. Penegakan hukum dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, adapun faktorfaktor penghambat penegakan hukum terhadap praktik kedokteran ilegal yang dilakukan oleh dokter palsu adalah, faktor hukumnya sendiri (perundangundangan), Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran ini belum menjelaskan definisi dari praktik kedokteran dengan jelas. Faktor penegak hukum, aparat penegak hukum yang kurang profesional dan kurang memiliki pengetahuan tentang hal-hal yang berkaitan dengan praktik kedokteran, selain itu juga beberapa instansi berwenang juga masih belum bisa bertindak kooperatif dengan para aparat penegak hukum. Faktor lainnya juga yaitu faktor sarana atau fasilitas, tanpa adanya sarana dan prasarana proses penegakan hukum akan menghambat proses penegakan hukumnya. Selanjutnya faktor yang paling mempengaruhi dalam kasus dokter palsu ini yaitu faktor masyarakat. Masyarakat dianggap masih kurang memiliki kesadaran hukum terhadap kasus dokter palsu ini. b. Saran Selain kesimpulan yang telah dirumuskan di atas, penulis akan memberikan beberapa saran berkaitan dengan penelitian ini, yaitu sebagai berikut: 1. Pihak berwenang diharapkan dapat bersifat proaktif dalam menyikapi maraknya kasus dokter palsu yang menjalankan praktik kedokteran serta meningkatkan pemahaman dan kinerja dalam mencegah pendirian praktik kedokteran ilegal oleh dokter palsu. Peran pengawasan pemerintah terkait 66 praktik kedokteran ilegal tersebut harus terlebih dahulu ditingkatkan untuk menghindari terjadinya pelanggaran-pelanggaran. 2. Aparat penegak hukum diharapkan dapat bekerjasama dengan Dinas Kesehatan selaku instansi yang memiliki wewenang pengawasan dan IDI (Ikatan Dokter Indonesia) sebagai organisasi profesi. Hal ini diharapkan dapat menutupi kelemahan aparat penegak hukum yang kurang memahami wawasan terkait hal-hal yang berhubungan dengan kedokteran. Selain itu juga Dinas Kesehatan dan IDI (Ikatan Dokter Indonesia) diharapkan untuk lebih efektif dalam melakukan pengawasan dan pembinaan dalam bentuk sosialisasi kepada masyarakat terkait pengetahuan tentang dokter palsu dan bahaya dari mengunjungi praktik kedokteran ilegal yang dijalankan oleh dokter palsu, sehingga kesadaran hukum masyarakat juga dapat lebih baik. Sehingga masyarakat juga dapat menjadi pasien yang lebih pintar dan dapat memahami betul akan masalah kesehatan serta memiliki pengetahuan dasar tentang kesehatan yang memadai agar dapat terjamin keselamatannya. 67 DAFTAR PUSTAKA Buku/ Literatur Adami, Chazawi , 2002, Pelajaran Hukum Pidana, Bagian 1; Stelsel Pidana, Teori-Teori Pemidanaan & Batas Berlakunya Hukum Pidana, PT Raja Grafindo: Jakarta. Ali, Zainuddin, 2009, Metode Penelitian Hukum, Sinar Grafika: Jakarta. Andrisman, Tri, 2011, Hukum Pidana: Asas- Asas Dasar Aturan Umum Hukum Pidana Indonesia Penerbit Universitas Lampung: Bandar Lampung. Arief, Barda Nawawi, 2002, Kebijakan Hukum Pidana, PT. Citra Aditya Bakti: Bandung. ----------, 2005, Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan Hukum dan Pengembangan Hukum Pidana, PT. Citra Aditya Bakti: Bandung Arikunto, Suharsimi, 2002, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Rineka Cipta: Jakarta. Atmasasmita, Romli, 1992, Teori dan Kapita Selekta Kriminologi, PT. Eresco: Bandung. Baharuddin Lopa, Moch Yamin, 2001, Undang-Undang Pemberantasan Tipikor, Penerbit Alumni: Bandung. Bisri, Ilhami, 2012, Sistem Hukum Indonesia: Prinsip-Prinsip & Implementasi Hukum di Indonesia, Rajawali Pers: Jakarta. Chazawi, Adami, 2007, Malpraktik Kedokteran, Bayumedia: Malang. Hamzah, Andi, 1994, Asas-Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta: Jakarta. ----------, 2001, Bunga Rampai Hukum Pidana dan Acara Pidana, Ghalia Indonesia: Jakarta. ----------, 2008, Penegakan Hukum Lingkungan, Sinar Grafika: Jakarta. 68 Konsil Kedokteran Indonesia, 2006, Penyelenggaraan Praktik Kedokteran Yang Baik di Indonesia, Jakarta. Lamintang, P.A.F, 1997, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Citra Aditya Bakti: Bandung. Marzuki, Peter Mahmud, 2005, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Group: Jakarta. Muladi, 1995, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, Undip: Semarang. Sianturi, S.R, 2002, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya, Storia Grafika: Jakarta. Soekanto, Soerjono, 1983, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Rajawali Press: Jakarta. ----------, 1986, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press: Jakarta. Soekanto, Soerjono dan Sri Mamudji, 2003, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat, Rajawali Pers: Jakarta. Soekanto, Soerjono, 1995, Kejahatan dan Penegakan Hukum, Rineka Cipta: Jakarta. Sofyan Dahlan, Eko Soponyono, Hukum Kedokteran, Fakultas Hukum Universitas Diponeogoro Semarang. Sudarto, 1986, Kapita Selekta Hukum Pidana, Alumni: Bandung. Syani, Abdul, 1987, Sosiologi Kriminologi, Pustaka Refleksi: Makassar. Tutik,Titik Triwulan, 2006 Pengantar Ilmu Hukum, Prestasi Pustaka: Jakarta. Umar, Husein, 2005, Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis, PT Raja Grafindo Persada: Jakarta. Undang-Undang Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 jo. Undang-Undang Nomor 1973 Tahun 1958 tentang Pemberlakuan KUHP. (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) 69 Lain-Lain http://albert-xi-a1.blogspot.com/2011/08/praktik-kedokteran.html. http://kbbi.web.id http://www.ilunifk83.com/t253-praktik-kedokteran http://www.tribunnews.com/regional/2014/02/26/dokter-gadungan-divonis-15tahun http://www.tribunnews.com/regional/2014/06/12/meski-gadungan-dokter-initelah-menangani-200-pasien. Sabir Alwy, http://www.hukor.depkes.go.id.
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait
Tags

PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP PRAKTIK KEDOK..

Gratis

Feedback