Perlindungan Hukum Terhadap Anak Korban (Tindak)Kekerasan Yang Dilakukan Keluarga Dalam Upaya Pembentukan Hukum Pidana Nasional

 19  263  162  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK KORBAN (TINDAK) KEKERASAN YANG DILAKUKAN KELUARGA DALAM UPAYA

  K e t u a Prof. Anggota AnggotaKetua Program Studi DirektrisIlmu Hukum Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Prof.

PEMBENTUKAN HUKUM PIDANA NASIONAL

  (Studi Kasus Di Kota Medan)TESIS Oleh:uhammad Ansori Lubis M017005025/HK SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N2 0 0 7 HALAMAN PENGESAHAN JUDUL TESIS : PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAKKORBAN (TINDAK) KEKERASAN YANG DILAKUKANKELUARGA DALAM UPAYA PEMBENTUKAN HUKUMPIDANA NASIONAL (Studi Kasus di Kota Medan) NAMA MAHASISWA : MUHAMMAD ANSORI LUBISNOMOR POKOK : 017005025PROGRAM STUDI : Magister Ilmu Hukum Menyetujui :Komisi Pembimbing Prof. Anggota AnggotaKetua Program Studi DirektrisIlmu Hukum Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Prof.

KATA PENGANTAR

  Para responden khususnya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mempunyai perhatian di bidang perlindungan anak yang tidak dapat disebutkannamanya satu persatu yang telah memberikan bantuan berupa data dan informasi yang penulis butuhkan dalam rangka penulisan tesis ini. 3 Tahun 1999, sehingga dari berbagai peraturan perundangan tersebut tidak dijumpai keseragamandefenisi tentang anak dan batas usia siapa yang disebut dengan anak tersebut, untuk itu dalam pembentukan KUHP Nasional perlu ditegaskan batasan umur anak yang dapatdijadikan acuan bagi hukum positif khususnya dibidang perlindungan anak.

DAFTAR ISI

  Kekerasan pada Anak di dalam keluarga (Domestic ChildAbuse) ……………………………………………………… 60 C. Kekerasan pada Anak di dalam keluarga (Domestic ChildAbuse)……………………………………..………………….

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak merupakan makhluk ciptaan Allah SWT yang berkedudukan mulia. Keberadaannya, melalui proses penciptaan yang dimensinya sesuai dengan kehendak Allah SWT. Secara rasional, seorang anak terbentuk dari unsur gaib yang transedental

  Kami berirezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna (2) atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”Penjelasan Surah Al-Qur’an tersebut diikuti dengan Hadist Nabi Muhammad SAW yang artinya “Semua anak dilahirkan atas kesucian, sehingga ia jelas bicaranya, maka kedua orang tuanyalah yang menyebabkan menjadi Yahudi atau Nasrani atau (3) Madjusi (1)Maulana Hassan Wadong, 2000, Pengantar Advokasi Dan Hukum perlindungan Anak, PT. Sehubungan dengan hal ini, Pasal 27ayat (1) UUD 1945 menentukan bahwa “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum danpemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya” Pernyataan dari pasal tersebut, menunjukkan tidak ada perbedaan kedudukan di dalam hukum dan pemerintahan bagi semua warga negara, baik wanita, pria, dewasadan anak-anak dalam mendapat perlindungan hukum.

D. Manfaat Penelitian

  Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan dan dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam mendalami pengetahuantentang perlindungan anak dan peradilan pidana anak. Bagi Pemerintah/Penegak Hukum Hasil penelitian ini diharapkan akan menjadi masukan dan menjadi salah satu alternatif bagi pemerintah/penegak hukum dalam membenahi/penegakan hukumdalam rangka perlindungan anak di Indonesia, terutama dalam pembentukan hukum pidana nasional.

3. Bagi Masyarakat

  Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipublikasikan, sehingga masyarakat mendapatkan informasi tentang perlindungan anak korban kekerasan dalam keluargadalam kaitannya dengan pembentukan hukum pidana nasional Indonesia. Penelitian untuk menemukan hukum bagi suatu perkara in concreto merupakan usaha untuk menemukan apakah hukumnya yang sesuai untuk diterapkan in concretoguna menyelesaikan suatu perkara tertentu dan dimanakah bunyi peraturan hukum itu dapat diketemukan.

12 Perkara tertentu dalam penelitian ini adalah perkara tindak

  Metode kajian normatif analitis yaitu melihat hukum sebagai suatu peraturan yang abstrak atau sebagai lembaga yang benar-benar otonom, terlepas darikaitannya dengan hal-hal di luar peraturan-peraturan tersebut. 13 Metode kajian normatif analitis dilakukan dengan meneliti data sekunder atau bahan-bahan kepustakaan yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti.

a. Deskriptif ialah menuturkan dan menafsirkan data yang ada, misalnya tentang situasi yang dialami, pandangan, sikap yang nampak dan sebagainy

  14 Data yang diaturkan dan ditafsirkan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Ditetapkan Kota Medan sebagai tempat penelitian berdasarkan pertimbangan bahwa Kota Medan merupakansalah satu kota besar di Indonesia yang memiliki tingkat kejahatan kekerasan terhadap anak yang tinggi.

6. Pengolahan, Analisis dan Konstruksi Data

  Analisis data secara logis berarti cara berfikir yang digunakan runtut,tetap dan tidak ada pertentangan di dalamnya, sehingga kesimpulan yang ditarik dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Metode induktif maksudnya adalah dari data yang khususditarik kesimpulan yang umum setelah dibandingkan dengan studi kepustakaan mengenai perlindungan hukum anak dalam peradilan pidana anak.

BAB II PERLIDUNGAN HUKUM TERHADAP ANAK DARI TINDAK KEKERASAN A. Anak

1. Pengertian Anak

  Faktor keterbatasan kemampuan dikarenakan anak berada pada proses pertumbuhan, proses belajar dan prosessosialisasi dari akibat usia yang belum dewasa, disebabkan kemampuan daya nalar (akal) dan kondisi fisik pertumbuhan mental spiritual yang berada di 21 bawah kelompok usia orang dewasa.”Pengertian anak dari aspek sosiologis juga dapat dilihat melalui pendapat Zakiah Darajat yang menyebutkan anak sebagai generasi muda . Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa pengertian anak sangat banyak, namun yang dipergunakan dalam hal ini adalah pengertian anak menurut Undang-Undang Perlindungan Anak, dimana pengertian anak adalah seorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan”.

2. Sejarah Lahirnya Hukum Anak di Indonesia

  Sebagai contoh dahulu terdapat paham yang mengatakan bahwa banyak anak banyak rejeki, tetapi hal tersebut terjadi padazaman feodal dimana pekerjaan manusia masih sangat homogen dan kebutuhan yang Inilah yang menyebabkan semakin menjamurnya lembaga pendidikan-pendidikan untuk mendidik anak supaya nantinya menjadi orang yang berguna dan berkualitas. Dalam rangka untuk menghasilkan anak-anak yang berkualitas itu juga yang salah satu alasan adanya hukum perlindungan anak.

3. Convention on the Rights of the Child/Konvensi Hak Anak

  Prinsip ini merupakan pencerminan dari prinsip universalitas HAM.2) Yang terbaik bagi anak (best interest of the Child), artinya bahwa dalam setiap tindakan yang menyangkut anak, maka yang terbaik bagi anak harus menjadipertimbangan yang utama (prioritas ).3) Kelangsungan hidup dan perkembangan anak (Survival and development), artinya bahwa hak hidup yang melekat pada diri setiap anak harus diakui dan bahwa hakanak atas kelangsungan hidup dan perkembangannya harus dijamin. Artinya: Negara-negara peserta akan mengambil langkah-langkah legeslatif, administratif, sosial dan pendidikan yang layak guna melindungi anak dari semua bentuk kekerasan fisik atau mental, ataupenyalahgunaan, penalaran atau perlakuan salah, luka (injury) atau eksploitasi, termasuk penyalahgunaan seksual, sementara mereka dalam pemeliharaan orangtua, wali yang sah atau setiap orang lain yang memelihara anak.

3. Hak untuk bertumbuh dan berkembang (Development Rights). Rumusan Pasal-

  pasal yang mengatur tentang hak untuk bertumbuh dan berkembang berusaha menjamin setiap anak untuk mendapatkan kehidupan yang memadai agar dapatberkembang dengan baik secara fisik, mental, spiritual, moral dan sosial anak(Rights to Standart Living). Pasal 12: Hak untuk menyampaikan pendapat secara bebas dalam segala hal yang berpengaruh terhadap anak yang bersangkutan serta hak didengar.

B. Child Abuse/ Kekerasan pada anak

  23 Tahun 2004 yang dimaksud dengan Kekerasan dalamRumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis,dan atau penelantaraan rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, Kekerasan dalam rumah tangga merupakan salah satu bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan yang sangat sulit terungkap kepermukaan. Child abuse yang terjadi dalamlingkungan keluarga diatur dalam Pasal 19 ayat (1), dan untuk Child Abuse yang terjadi dalam lingkungan publik diatur dalam Pasal 24 ayat (3) perlindungan darikebiasaan-kebiasaan tradisional yang merugikan kesehatan anak, Pasal 34 yang mengatur eksploitasi seksual dan penganiayaan seksual pada anak, Pasal 35 yang Pasal 19 ayat (1) mengatur segala macam bentuk kekerasan fisik dan mental pada seorang anak yaitu:a.

c. Maltreatment or Exploitation Including Seksual Abuse

  31 Dalam bahasa Inggris, kekerasan diistilahkan dengan violence Secaraetimology atau ilmu asal kata, violence merupakan gabungan dari “Vis” yang berarti daya atau kekuatan dan “Latus“ yang berasal dari kata “Ferre” yang berarti membawa. Dalam pengertian yang sempit, kekerasan mengandung makna sebagai serangan ataupenyalahgunaan fisik terhadap seseorang atau serangan penghancuran perasaan yang 32 sangat keras, kejam dan ganas atas diri.

I. Marsana Windhu, 1999, Kekerasan Terhadap Anak, Dalam Wacana dan Realita, Pusat Kajian dan

  Selain pengertian korban yang dikemukakan dalam resolusi PBB, tersebut ada juga pengertian yang sama dari korban, yaitu yang menderita jasmaniah dan rohaniah 34 United Nation, A Compilation of International Instruments, dalam Barda Nawawi Arief, 1998,Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan Hukum Pidana, Citra Aditya Bakti,35 Bandung, hal. 23 Tahun 2002, menyatakan bahwa: “Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri darisuami istri atau suami istri dan anaknya atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya, atau keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampaiderajat ke tiga” keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas atau ke bawa sampai derajat ke tiga”.

37 Ibid

  Perdagangan orang (trafficking in person) terutama perempuan dan anak semakin meningkat akhir-akhir ini sebagai perbuatan illegal terhadap hak-hak asasi manusia(HAM) dan dapat menimbulkan gangguan fisik, mental mengakibatkan kerentanan terhadap tindak kekerasan, kehamilan yang tidak dikehendaki serta infeksipenyakit seksual termasuk HIV/AIDS. Dari beberapa peristiwa di atas dapat dilihat bahwa :Bentuk-bentuk kekerasan yang dialami anak, yaitu dalam bentuk pelecehan seksual berupa pencabulan, atau perkosaan, trafficking atau perdagangan anak,pembunuhan, pembacokan atau pemukulan.

1. Psikologi Perkembangan Anak

  Berbicara tentang hukum yang tidak bisa lepas dari aturan-aturan, dan aturan yang diharapkan adalah aturan yang efektif dan komprehensif, yang mampumenghasilkan, hasil yang sedapat mungkin mendekati cita-cita pembuatannya. Perawatan dan pemeliharaan orang tua yang penuh dengan kasih sayangdan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan, agama maupun budaya merupakan faktor yang kondusif dan positif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggotamasyarakat yang sehat.

2. Viktimologi/Ilmu Pengetahuan mengenai Korban

  Menurut Arif Gosita, seorang dosen Viktimologi dan Kriminologi UniversitasIndonesia, yang dimaksud dengan korban adalah mereka yang menderita jasmani dan rohani sebagai akibat tindakan orang lain yang mencari pemenuhan kepentingan dirisendiri atau orang lain yang bertentangan dengan kepentingan dan hak asasi yang menderita (dalam hal ini dapat berarti individu atau kelompok). Harapan idealnya jika energi yang dimiliki si korban akibat pengalaman yang pernah dialaminya disalurkan kepada hal-hal/kegiatan yang bisa membantumengurangi kejahatan yang serupa atau membantu merehabilitasi korban dengan jenis kejahatan yang serupa dengan yang pernah dialaminya.

3. Kekerasan pada Anak di Dalam Keluarga ( Domestic child abuse)

  Bisa kita lihat bersama dari berbagaicerita yang tumbuh di dalam masyarakat mengenai dua bersaudara Kain dan Habel,Remus dan Romulus yang saling membunuh satu dengan yang lainnya atau Agrippina ibu dari kaisar Nero yang meracuni suaminya sendiri atau Raja Henry VIII dari Inggrisyang memancung istrinya sendiri. Ancaman hukum yang diberikan pada pelakunyapun akan berbeda karena kekerasan didalam keluargadilakukan oleh orang yang menjaga/merawat anak tersebut sehingga ada tanggung jawab dan kepercayaan yang dibebankan baginya untuk memastikan anak tersebutterjaga dan terawat dengan baik.

C. Perlindungan Hukum Terhadap Anak Dari Tindak Kekerasan

  Simorangkir, hukum adalah peraturan yang bersifat memaksa yang menentukan tingkah laku manusia dalam lingkungan masyarakat yang dibuat 52 oleh badan-badan resmi yang berwajib. Bismar Siregar mengatakan bahwa aspek hukum perlindungan, lebih dipusatkan kepada hak-hak anak yang diatur dalam hukum dan bukan kewajiban, mengingat 55 secara (yuridis) anak belum dibebani kewajiban.

1. Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

  Pasal 341 KUHP menentukan: Seorang ibu yang dengan sengaja menghilangkan jiwa anaknya pada ketika dilahirkan atau tidak berapa lama sesudah dilahirkan, karena takut ketahuan bahwa ia sudah melahirkan anak dihukum, karena makar mati terhadap anak(kinderdoodslag), dengan hukuman penjara selama-lamanya tujuh tahun. Pasal 342 KUHP menentukan: Seorang ibu yang dengan sengaja akan menjalankan keputusan yang diambilnya sebab takut ketahuan bahwa ia tidak lama lagi akan melahirkan anak, menghilangkan jiwa anaknya itu pada ketika dilahirkan atau tidak lama kemudiandari pada itu, dihukum karena pembunuhan anak (kindermoor), yang direncanakan dengan hukuman penjara selama-lamanya sembilan tahun.

56 Era Hukum Jurnal Ilmiah Hukum No. 4/ Th V/April 1999, Perlindungan Hukum Terhadap Korban

  Pasal 331 KUHP menentukan : Barangsiapa dengan sengaja menyembunyikan orang yang belum dewasa yang dicabut atau yang mencabut dirinya dari kuasa yang sah atasnya atau dari penjagaan orang yang dengan sah menjaga dia, atau barangsiapa sengajamenyembunyikan anak itu dari penyelidikan pegawai kehakiman atau polisi, dihukum penjara selama-lamanya empat tahun, atau, jika anak itu umurnya di bawah 12 (duabelas) tahun, dengan hukuman penjara selama-lamanya tujuh tahun. dengan hukuman penjara selama-lamanya lima tahun, barangsiapa yang dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan perbuatan cabul yang dikerjakan olehanaknya, anak tirinya atau anak angkatnya yang belum dewasa, oleh anak yang diserahkan kepadanya, supaya dipeliharanya, didiknya atau dijaganya ataubujangnya yang dibawah umur atau orang yang dibawah umur atau orang yang dibawahnya dengan orang lain.

Pasal 30 8 KUHP menentukan: Kalau Ibu menaruh anaknya disuatu tempat supaya dipungut oleh orang lain tidak

beberapa lama sesudah anak itu dilahirkan oleh karena takut akan diketahui orang ia melahirkan anak atau dengan maksud akan terbebas dari pemeliharaan anak itu,meninggalkannya, maka hukuman maksimum yang tersebut dalam Pasal 305 dan 306 dikurangi sehingga seperduanya.

2. Menurut UU No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak

  134 Perlindungan khusus bagi anak yang berhadapan dengan hukum sebagaimana dimaksud dalam pasal 59 meliputi anak yang konflik dengan hukum dan anakkorban tindak pidana, merupakan kewajiban dan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat. 23 Tahun 2002 menentukan : Setiap seorang yang mengetahui dan sengaja membiarkan anak dalam situasi darurat sebagaimana dimaksud dalam pasal 60, anak yang berhadapan denganhukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak yang terekspoloitasi secara ekonomi dan/atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadikorban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, zat adiktif lainnya(napza), anak yang korban penculikan, anak korban perdagangan, atau anak korban 7.

3. Menurut Undang-undang No. 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga

  Mendampingi korban di tingkat penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan dalam sidang pengadilan dan membantu korban untuk secara lengkapmemaparkan kekerasan dalam rumah tangga yang dialaminya; atau c. 23 Tahun 2004 menentukan : Dalam hal korban adalah seorang anak, laporan dapat dilakukan oleh orang tua, wali, pengasuh, atau anak yang bersangkutan yang dilaksanakan sesuai denganketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

BAB II I KAJIAN TERHADAP KEKERASAN ANAK A. Kajian Empiris Kebanyakan data empiris mengenai kekerasan kepada anak di Indonesia, yang

  Adapun tujuannya untuk mendapatkan penggambaran dari situasi aktual kekerasan pada anakdi Indonesia, dan situ dapat kita teliti kendala-kendala yang dihadapi, karakteristik yang dimiliki kasus DCA di Indonesia (pelakunya, jenis kekerasan) pengaruh budayamasyarakat dan sebagainya yang tentu saja dapat mempengaruhi secara positif maupun negatif terhadap penegakan hukum perlindungan anak di Indonesia. “Hubungan suami istri yang kurang harmonis”Hubungan yang kurang harmonis antar suami istri (karena suami main perempuan atau alasan lain) menyebabkan perselisihan dan dalam perselisihansi anak cenderung berpihak terhadap ibu dan ini juga menyebabkan si anak mengalami kekerasan.

2. Kondisi Ekonomi

  Berbagai pandang tradisional yang masih dipegang oleh sebagian masyarakat diIndonesia juga menyebabkan anak seringkali mengalami kekerasan budaya-budaya tertentu yang masih melegitimasi perlakuan kekerasan pada anak yang sangatmerugikan anak. Kondisi-kondisi tertentu yang dihadapi keluarga (ekonomi, keharmonisan dan lain- lain) juga memungkinkan anak mengalami kekerasan, baik sebagai pelampiasanstress ataupun melalui memperkerjakan anak secara paksa dan pemberian hukuman terhadap anak yang terlampau keras karena emosi.

B. Hasil Penelitian Pemerintah Indonesia

  Sebuah laporan yang dibuat oleh pemerintah Indonesia bekerjasama dengan organisasi-organisasi non pemerintah yang bergerak di bidang perlindungan anak,sebagai pelaksanaan kewajiban negara meratifikasi Konvensi Hak Anak, untuk memberikan laporan kemajuan implementasi dari KHA pada situasi terkini mengenaiperlindungan anak di Indonesia yang ditandatangani oleh Menteri Koordinator Bidang 1. Dalam kasus kekerasan pada anak di rumah, pola pikir tradisional yang kuat, yang masih terus berlangsung menyatakan bahwa masalah yang berhubungan denganseorang anak adalah urusan internal keluarga, dan jika orang tua atau orang lain dalam keluarga melakukan kekerasan, intervensi dirasakan tidak dibutuhkan.

B. Kajian Normatif

  Child Abuse dapat terjadi didalam rumah (domestik) atau diluar rumah (public) namun Child Abuse dapat disepakati melalui Convention of the Right of The Child Pasal 19 ayat (1), adalah Child Abuse yang terjadi dalam pemeliharaan orang tua, wali yang sah atau setiap orang lain yang memelihara anak yang isinya adalah : 1. Artinya: Negara-negara peserta akan mengambil langkah-langkah legislatif atau administratif, sosial dan pendidikan yang layak guna melindungi anak dari semuabentuk kekerasan fisik, mental atau penyalahgunaan, penelantaran atau perlakuan salah, luka (injury) atau eksploitasi, termasuk penyalahgunaan seksual, sementaramereka dalam pemeliharaan orang tua, wali yang sah atau setiap orang lain yang memelihara anak.

2. Disiplin Orang Tua dan Kekerasan pada Anak

  Tokoh orang tua, sekalipun ia adalah orang yang melahirkan anak tersebut, yang merawat anak tersebut, yang menyusui, yang menyekolahkan, membiayai sejak sianaklahir, atau apapun yang telah dilakukannya terhadap seorang anak tetap tidak bisa memiliki tubuh, jiwa, roh anak itu. Pengangguran yang semakin meningkat, karena banyak perusahaan yang bangkrut atau terpaksamengurangi pegawai, investasi asing yang semakin menurun dan menekan kehidupan keluarga Indonesia karena kesulitan untuk mencukupi kebutuhan hidup, atau orang tua Ad.2 Identification and reporting (identifikasi dan pelaporan)Prosedur yang efektif dalam identifikasi dan pelaporan, kekerasan pada anak merupakan suatu yang krusial/sangat dibutuhkan dalam perlindungan anak.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Perlindungan Anak dalam Keluarga Guna mewujudkan tingkat kesejahteraan sosial yang memadai, diperlukan

  Orangtua yang memandang anak sebagai obyek, cenderung menggunakan pendekatan authoritarian dalam mengasuh anak; dan orangtua yang memandang anak sebagaisubyek, cenderung mengunakan pendekatan permissive atau laissez-faire dalam mengasuh anak; sedangkan orangtua yang memandang anak sebagai obyek sekaligussubyek, cenderung menggunakan pendekatan authoritative dalam mengasuh anak. Misalnya, penerapan pendekatan authoritarian dengan teknik hukuman yang digunakan untuk menghilangkan penyimpangan tingkah laku tertentu pada anak, maka untuk menghilangkan penyimpangan tingkah laku yang sama pada anak yang sama dalam waktuyang berbeda, sebaiknya menggunakan pendekatan yang sama yaitu pendekatan authoritarian dengan teknik hukuman.

B. Perlindungan Anak Dalam Masyarakat

  Patut dicatat bahwa kelompok masyarakat sensitif (dalam hal ini : orang cacat, masyarakat terasing, keluarga dan kepala keluarga kurang pendidikan, anak-anak danlanjut usia yang terpaksa harus bekerja) dapat memberikan indikasi adanya ketidak mampuan atau kurangnya kemampuan penduduk untuk mengatasi tuntutan hidupnya. Namun demikian, disadari ternyata masih terdapat sejumlah warga masyarakat yang menyandang permasalahan kemiskinan, ketelantaran, kecacatanketunaan sosial, keterasingan, korban bencana dan masalah sosial lainnya yang belum sepenuhnya terjangkau oleh proses pembinaan dan pelayanan sosial.

C. Kasus-kasus Kekerasan Terhadap Anak

  Kecelakaan 18 21 21 Anak yang berkonflik dengan 14.28 34 41 hukum Total Kasus 245 259 272 Sumber data : Lembaga Advokasi Anak Indonesia (LAAI)Data dalam tabel di atas konteksnya masih luas yaitu kasus kekerasan terhadap anak secara umum, namun penulis akan berusaha mengkaji secara khusus yaitu kasus-kasus kekerasan terhadap anak yang dapat terjadi dalam lingkup rumah tangga. Kesibukan orang tua dalam bekerja untuk menghidupi keluarganya sehingga tanpa disadarinya anaknyasendiri ditelantarkan, dan tidak adanya perhatian dari orang tua mengakibatkan anak- Berdasarkan data dari LAAI kasus kekerasan terhadap anak dari tahun ke tahun semakin meningkat, dimana secara total dalam tahun 2002 terdapat 245 kasus,meningkat menjadi 259 kasus pada tahun 2003 dan kembali meningkat menjadi 272 kasus pada tahun 2004.

D. Usaha-usaha Perlindungan Terhadap Anak Korban Kekerasan

  Melihat situasi dan kondisi anak sebagai korban kekerasan secara umum dan kekerasan dalam rumah tangga secara khusus, sangat diperlukan perhatian dantanggung jawab yang penuh bagi orang tua, masyarakat dan pemerintah agar hak-hak anak tersebut dapat dirasakan secara langsung oleh anak dalam perkembangananya. Usaha-usaha untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman para hakim, jaksa, pengacara, polisi dan aparat penegak hukum lainnya terhadap anak danhak-hak anak yang dimilikinya, dengan demikian penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan terhadap anak dapat dilakukan dengan memberikan rasakeadilan dan hukuman yang mendidik masyarakat serta pelaku.

E. Kekerasan Dikaitkan Dengan Pembentukan KUHP Nasional

  Dalam pembentukan KUHP Nasional, yang perlu diperhatikan adalah bahwa perkembangan dewasa ini yang menunjukkan bahwa tindak kekerasan dalam rumahtangga khususnya terhadap anak pada kenyataannya sering terjadi dalam kehidupan masyarakat, baik dalam bentuk kekerasan fisik, psikis, seksual maupun penelantaran Dalam pembentukan KUHP Nasional perlu diperhatikan juga bahwa kekerasan adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit atau luka berat. Perlindungan hukum terhadap anak korban kekerasan menurut Konsep KUHPBaru Tahun 2000 hanya bersifat pemberatan hukuman kepada si pelaku apabila Dari kedua Konsep KUHP Baru di atas, jelas terlihat tidak adanya perlindungan yang bersifat langsung kepada anak korban kekerasan baik bersifat materi maupunimmaterial, hal ini mengakibatkan anak menjadi korban kedua kalinya disamping dia harus dituntut untuk membantu aparat penegak hukum untuk mengungkap kasustersebut.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

  Kewajiban Negara secara yuridis dalam perlindungan anak akan bergantung pada hukum positif yang ada di dalam Negara tersebut untukdapat memberikan perlindungan yang memadai terhadap seorang anak, dan usaha perlindungan terhadap anak harus didukung oleh adanya hukum perlindungan anakyang efektif dan komprehensif. Perlindungan hukum terhadap anak korban kekerasan yang dilakukan keluarga dikaitkan dengan pembentukan KUHP Nasional harus diatur secara tegas tentanghak-haknya, yang dalam hal ini harus diatur tentang pertanggungjawaban perdata pelaku tindak kekerasan terhadap anak disamping pertanggungjawaban pidana.

B. Saran

  Mengingat kekerasan terhadap anak setiap tahunnya meningkat, maka perlu diperhatikan secara serius baik itu Pemerintah, Masyarakat dan Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang konsen terhadap masalah anak dan untuk itu diperlukan usaha-usaha antara lain :a) Memasyarakatkan Konvensi Hak Anak dan Hak Asasi Manusia pada seluruh lapisan masyarakat, terutama pada pihak yang selama ini seringmelakukan kekerasan terhadap anak. Dalam kaitannya dengan pembentukan KUHP Nasional, perlu diatur perlindungan hukum yang bersifat langsung terhadap anak korban kekerasanbaik yang bersifat publik maupun yang dilakukan keluarga dengan memberikan ganti rugi kepada si korban dan terhadap pelaku kekerasansebaiknya hakim lebih berani untuk menjatuhkan pidana maksimal sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, sehingga mereka tidakmengulangi perbuatannya kembali.

DAFTAR PUSTAKA

  Ninik Widiyanti, Yulius Waskita, 1987, Kejahatan Dalam Masyarakat dan Pencegahannya, Bina Aksara, Jakarta Ronny Hanitijo Soemantro, 1994, Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri, Ghalia Indonesia, Jakarta. Soeroso, 1996, Pengantar Ilmu Hukum, Sinar Grafika, JakartaShanty Dellyana, 1984, Wanita dan Anak di Mata Hukum, Liberty, YogyakartaSoejono Soekanto, 1986, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia, Jakarta _____________________, 1990, Sosiologi Suatu Pengantar, Raja Grafindo Persada,Jakarta _____________________, 1990, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, Raja GrafindoPersada, Jakarta _____________________, dan Sri Mamudji, 1995, Penelitian Hukum Normatif, Raja Grafindo, Jakarta.

Informasi dokumen
Perlindungan Hukum Terhadap Anak Korban (Tindak)Kekerasan Yang Dilakukan Keluarga Dalam Upaya Pembentukan Hukum Pidana Nasional Aspek Sosiologi Anak 1. Pengertian Anak Bocah berumur 5 tahun bernama Ayu, korban pencabulan oleh orang yang tidak Convention on the Rights of the ChildKonvensi Hak Anak Disiplin Orang Tua dan Kekerasan pada Anak Hasil Penelitian Pemerintah Indonesia Kasus-kasus Kekerasan Terhadap Anak Kekerasan Dikaitkan Dengan Pembentukan KUHP Nasional Kekerasan pada Anak di Dalam Keluarga Domestic child abuse Kesimpulan Saran KESIMPULAN DAN SARAN Keterbatasan Kerja Hukum Perbedaan Dalam Mengartikan “ child abuse” di Indonesia. Kondisi budaya. Kajian Empiris Kondisi Ekonomi Kajian Empiris Menurut Undang-undang No. 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Pasal 15 UU No. 23 Tahun 2004 menentukan: Pasal 16 UU No. 23 Tahun 2004 menentukan: Pasal 18 UU No. 23 Tahun 2004 menentukan: Pasal 19 UU No.23 Tahun 2004 menentukan: Menurut UU No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Metode Kajian Pendekatan. Sifat dan Bentuk Penelitian . Lokasi Penelitian Alat Pengumpulan Data Pasal 26 UU No. 23 Tahun 2004 menentukan : Pasal 27 UU No. 23 Tahun 2004 menentukan : Pasal 44 UU No. 23 Tahun 2004 menentukan : Pasal 45 UU No. 23 Tahun 2004 menentukan : Pasal 288 KUHP menentukan : Pasal 290 ayat 2 KUHP menentukan : Pasal 292 KUHP menentukan : Pasal 294 ayat 1 KUHP menentukan : Pasal 295 KUHP menentukan : Pasal 330 KUHP menentukan: Pasal 331 KUHP menentukan : Pasal 332 KUHP menentukan: Pasal 287 KUHP menentukan: Pasal 342 KUHP menentukan: Pasal 346 KUHP menentukan: Pasal 347 KUHP menentukan: Pasal 348 KUHP menentukan: Pasal 349 KUHP menentukan: Pasal 326 KUHP menentukan : Pasal 59 UU No. 23 Tahun 2002 menentukan : Pasal 64 UU No. 23 Tahun 2002 menentukan : Pasal 66 UU No. 23 Tahun 2002 menentukan : Pasal 69 UU No. 23 Tahun 2002 menentukan: Pasal 77 UU No. 23 Tahun 2002 menentukan : Pasal 78 UU No. 23 Tahun 2002 menentukan : Pasal 80 UU No. 23 Tahun 2002 menentukan : Pasal 81 UU No. 23 Tahun 2002 menentukan : Pengolahan, Analisis dan Konstruksi Data Perlindungan Anak dalam Keluarga Perlindungan Anak Dalam Masyarakat Perlindungan Yang Dapat Diberikan Hukum Psikologi Perkembangan Anak Child Abuse Kekerasan pada anak Sejarah Lahirnya Hukum Anak di Indonesia Usaha-usaha Perlindungan Terhadap Anak Korban Kekerasan ViktimologiIlmu Pengetahuan mengenai Korban
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Perlindungan Hukum Terhadap Anak Korban (Tind..

Gratis

Feedback