Feedback

Community Development In Productive Village Through Entrepreneurship Of Rosary

Informasi dokumen
Anandhita Eka Pertiwi, Pengembangan Masyarakat Pada Desa Produktif Melalui Kewirausahaan Handicraft Tasbih dan Aksesoris 1 Community Development In Productive Village Through Entrepreneurship Of Rosary And Accessories Handicraft (A Case Study In Tutul Village, District Of Balung, Jember Regency) Anandhita Eka Pertiwi, Syech Hariyono, Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Jember Jln. Kalimantan 37, Jember 68121 E-mail: rahmadilli@gmail.com ABSTRACT The problem of unemployment and poverty is still a major problem faced by Indonesia. Unemployment and poverty is a multidimensional issue, not only just a mere economic problem but also social issues, culture and politics. In an effort to overcome the problem of poverty and unemployment that occurred in Indonesia, the government, in this case KEMENAKERTRAN (Ministry of Manpower) of the Republic of Indonesia has launched the program of developing 132 productive villages in all 33 provinces in Indonesia, with the objective of creating job opportunities and employment in rural areas, as well as developing the villages through the products that have been produced. In the course of development of the 132 productive rural, Tutul Village, Balung District, Jember Regency, is one of the villages that has been successfully launched and formalized as a productive village in the national level by KEMENAKERTRAN on January 19, 2013. Tutul Village is an example of a productive village where there are efforts to develop community from the people to manage and develop the potential of the local economy which is owned by Village Tutul. The potential of the entrepreneurship possessed is in the form of rosary and accessories handicraft that are managed by most people of Tutul. With the independence, creativity, expertise and joint efforts of the communities to manage the potential that exists in Tutul Village, it finally affects the increase of its productivity and social welfare. Keywords: Community Development, Productive Village, Entrepreneurship of Rosary and Accessories Handicraft presentase 11,37%, sedangkan pada September PENDAHULUAN Fakta di Indonesia menunjukkan bahwa 2013 tercatat jumlah penduduk miskin di masyarakat masih dihadapkan dengan berbagai Indonesia mencapai 28,55 juta orang atau persoalan 11,47% atau permasalahan, seperti (www.bps.go.id). Data tersebut kemiskinan dan pengangguran yang hingga saat menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin ini jumlahnya kian meningkat. Berdasarkan di Indonesia mengalami peningkatan. Demikian data Badan Pusat Statistik (BPS) September juga tahun 2012 mencatat jumlah penduduk miskin Indonesia, kepala BPS Suryamin menjelaskan di Indonesia mencapai 28,07 juta orang dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di JURNAL KESEJAHTERAAN SOSIAL UNEJ 2015, I (1): 1-15 dengan tingkat pengangguran di Anandhita Eka Pertiwi, Pengembangan Masyarakat Pada Desa Produktif Melalui Kewirausahaan Handicraft Tasbih dan Aksesoris 2 Indonesia pada Agustus 2013 mencapai 6,25%, memenuhi kebutuhan mereka sendiri, serta angka tersebut mengalami peningkatan di saling bekerja sama dan memberdayakan antar banding TPT Februari 2013 yang jumlahnya anggota hanya mencapai 5,92%. kesejahteraan bersama. Melalui pengembangan masyarakat demi mewujudkan Dari data di atas dapat dilihat bahwa masyarakat diharapkan masyarakat dapat lebih kemiskinan dan pengangguran masih menjadi peka dan mandiri dalam menangani setiap polemik yang bertahan di Indonesia. Persoalan permasalahan yang terjadi di sekitar mereka, kemiskinan dan pengangguran di Indonesia termasuk harus dapat diupayakan penangananya, jika pengangguran. masalah kemiskinan dan tidak akan berdampak pada timbulnya masalah- Di tengah-tengah persoalan kemiskinan dan masalah sosial yang lain. Diperlukan perhatian pengangguran yang menjadi problem kompleks dan usaha bersama dari masyarakat serta dari di Indonesia selama ini. Di sisi lain ada satu pihak menanggulangi desa tepatnya di Kabupaten Jember yang ataupun mengurangi tingkat kemiskinan dan berhasil mendapatkan prestasi istimewa, yakni pengangguran yang ada di Indonesia tersebut. dinobatkan sebagai desa nol pengangguran pemerintah, guna tingkat atau desa terproduktif tingakat nasional yang kemiskinan dan pengangguran dapat dilakukan dicanangkan dan diresmikan oleh Kementrian dengan pengembangan masyarakat. Secara Tenaga umum dalam Transmigrasi(KEMENAKERTRAN) Republik bidang ilmu kesejahteraan sosial diterapkan Indonesia pada tanggal 19 januari 2013. Desa sebagai untuk tersebut adalah Desa Tutul Kecamatan Balung membantu masyarakat dalam meningkatkan Kabupaten Jember, yang masyarakatnya telah kesejahteraan melakukan upaya pengembangan masyarakat Upaya dalam mengurangi pengembangan sebuah masyarakat masyarakat metode sosialnya. sebagai intervensi Pengembangan metode intervensi komunitas bertujuan untuk mengembangkan kapasitas dan kemandirian masyarakat. Dalam prosesnya, pengembangan masyarakat Kerja dan melalui potensi lokal yang dimiliki oleh Desa Tutul. Desa Tutul dinilai telah berhasil memenuhi kriteria untuk menjadi desa produktif. Selain melibatkan berbagai kelompok warga untuk adanya komitmen dari masyarakat dan aparat ikut berpartisipasi dan berperan aktif dalam desa yang ingin memajukan Desa Tutul, serta menentukan dan memecahkan masalah mereka tersedianya infrastruktur jalan, air dan listrik di sendiri, mendefinisikan dan mencoba untuk Desa Tutul. Yang utama adalah, karena Desa JURNAL KESEJAHTERAAN SOSIAL UNEJ 2015, I (1): 1-15 Anandhita Eka Pertiwi, Pengembangan Masyarakat Pada Desa Produktif Melalui Kewirausahaan Handicraft Tasbih dan Aksesoris 3 Tutul memiliki sumber daya ekonomi berupa Sehingga jelas hal ini juga berpengaruh dalam kewirausahaan dan mengurangi kemiskinan dan pengangguran Aksesoris), yang hingga saat ini pemasaran terutama ditingkat desa, mencegah terjadinya produknya sudah sampai ke berbagai negara. urbanisasi masyarakat desa ke kota, dan tentu Dengan adanya segala bentuk aktivitas di dalam saja dapat membantu masyarakat setempat kewirausahaan sehingga dalam meningkatkan kesejahteraan sosialnya. membuat masyarakat tutul menjadi masyarakat Tujuan dari penelitian ini adalah untuk yang produktif (Maksum,4 Desember 2014). mendeskripsikan handicraft handicraft (Tasbih inilah, Desa Tutul adalah contoh desa produktif dan menganalisis proses pengembangan masyarakat pada desa produktif kemandirian, melalui kewirausahaan handicraft tasbih dan kreativitas, keahlian dan usaha bersama dari aksesoris di Desa Tutul Kecamatan Balung masyarakatnya untuk mengelola potensi yang Kabupaten Jember. ada di Desa Tutul menjadi sesuatu yang TINJUAN PUSTAKA memiliki nilai lebih dan bermanfaat bagi Kesejahteraan Sosial yang di dalamnya terdapat kehidupan bersama masyarakat Tutul. Potensi Menurut Suharto (2005:2) kesejahteraan tersebut adalah potensi ekonomi lokal berupa sosial pada intinya mencakup tiga konsepsi kewirausahaan handicraft tasbih dan aksesoris yaitu: yang hampir dikelola oleh sebagian besar 1. Kondisi kehidupan atau keadaan sejahtera, masyarakat Tutul. Melalui pengembangan potensi ekonomi lokal inilah sehingga sebagian besar masyarakat Tutul dapat merasakan yakni terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan jasmaniah, rohaniah dan sosial. 2. Institusi, area atau bidang kegiatan yang melibatkan lembaga kesejahteraan sosial dan manfaatnya. Kewirausahaan dibidang handicraft tasbih berbagai profesi kemanusiaan yang dan aksesoris tersebut dapat memberikan menyelenggarakan usaha kesejahteraan pengaruh-pengaruh positif pada kehidupan sosial dan pelayanan sosial. masyarakat menyerap Tutul, tenaga seperti kerja diantaranya; dari setempat, memberdayakan setempat, serta dapat 3. Aktivitas, yakni suatu kegiatan-kegiatan masyarakat atau usaha yang terorganisir untuk mencapai masyarakat kondisi sejahtera. meningkatkan Dari definisi mengenai kesejahteraan sosial produktivitas di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa penghasilan ekonomi dan masyarakat setempat. Dengan demikian kesejahteraan JURNAL KESEJAHTERAAN SOSIAL UNEJ 2015, I (1): 1-15 sosial pada intinya adalah Anandhita Eka Pertiwi, Pengembangan Masyarakat Pada Desa Produktif Melalui Kewirausahaan Handicraft Tasbih dan Aksesoris 4 merupakan suatu kondisi sejahtera, merupakan kategori. Pertama, pendekatan yang lebih sesuatu institusi konservatif berupaya mengembangkan aktifitas ataupun disiplin ilmu pengetahuan, serta ekonomi masyarakat sebagaian besar dalam merupakan bentuk usaha yang terorganisir parameter konvensinal. Sedangkan kategori untuk sejahtera. kedua, pendekatan yang lebih radikal, yakni Terkait dengan penulisan artikel ilmiah ini berupaya mengembangkan ekonomi berbasis upaya pengembangan masyarakat pada desa masyarakat alternatif (Ife dan Tesoriero 2008: produktif melalui kewirausahaan handicraft 424). yang berkaitan mencapai dengan kondisi yang tasbih dan aksesoris merupakan kesejahteraan Pengembangan industri lokal masyarakat sosial yang berarti bentuk usaha terorganisir termasuk dalam pengembangan ekonomi yang untuk mencapai kondisi yang sejahtera. konservatif. Pendekatan yang lebih konservatif Pengembangan Masyarakat terhadap pengembangan ekonomi masyarakat masyarakat adalah berupaya menemukan cara-cara baru (community development) telah digunakan yang membuat masyarakat tersebut dapat lebih secara internasional dalam arti sebagai proses, partisipasi dalam ekonomi mainstream dengan yakni semua usaha swadaya masyarakat di cara menghimpun inisiatif. (Ife dan Tesoriero gabungkan dengan usaha-usaha pemerintah 2008: 424) Istilah setempat pengembangan guna kondisi Menurut Ife dan Tesoriero (2008:425) masyarakat di bidang ekonomi, sosial, dan menyatakan: Terdapat potensi yang lebih besar kultural mengintegrasikan dalam menggunakan sumber daya, inisiatif, dan masyarakat yang ada ke dalam kehidupan tenaga ahli lokal untuk membangun industri berbangsa memberi lokal yang akan dimiliki dan di jalankan oleh kesempatan yang memungkinkan masyarakat orang-orang yang ada di masyarakat lokal. tersebut Banyak serta dan meningkatkan untuk bernegara, membantu secara dan penuh pada program pengembangan ekonomi kemajuan dan kemakmuran bangsa (Conyers, masyarakat lokal menggunakan bentuk ini dan dalam Nasdian 2014:32). program a. Pengembangan Ekonomi mengembangkan Pengembangan ekonomi masyarakat dapat memiliki bentuk-bentuk yang berbeda, tetapi tersebut dapat aktivitas berhasil dalam ekonomi serta menjadi kebanggaan dalam prestasi lokal, Hal ini melibatkan ; bentuk ini dapat dikelompokkan menjadi dua JURNAL KESEJAHTERAAN SOSIAL UNEJ 2015, I (1): 1-15 Anandhita Eka Pertiwi, Pengembangan Masyarakat Pada Desa Produktif Melalui Kewirausahaan Handicraft Tasbih dan Aksesoris 1. Pemanfaatan kekayaan sumber daya masyarakat menjadi kuat, seimbang 5 dan harmonis, serta concern terhadap keselamatan lokal, 2. Bakat, minat dan keahlian masyarakat, lingkungan (Zubaedi 2014:42). 3. Penaksiran c. Modal atau Aset Komunitas keuntungan-keuntungan alam dari lokalitas tertentu, dan Dalam pengembangan masyarakat selain 4. Dukungan Dari pemerintah setempat. Jika dilihat dan dikaitkan dengan penulisan artikel ini, upaya pengembangan industri lokal handicrfat tasbih dan aksesoris di Desa Tutul merupakan bentuk dari pendekatan yang konservatif, di mana masyarakat Tutul berupaya mengembangakan aktivitas ekonomi masyarakatnya dalam parameter konvensional untuk meningkatkan produktifitas dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat, harus juga dikaitkan dengan potensi masyarakat. Komunitas ditingkat lokal dalam perjalanan waktu telah mengembangkan suatu asset yang menjadi sumber daya ataupun potensi bagi komunitas tersebut guna menghadapi perubahan yang terjadi (Adi, 2013:237). Kretzman dan dan McKnight dalam Adi (2013:238) mendefinisikan asset sebagai bakat, kesejahteraan bersama masyarakatnya. b. Pengembangan Masyarakat Berkelanjutan keterampilan, dan kapasitas dari individu, asosiasi maupun institusi dalam komunitas Pengembangan masyarakat merupakan tersebut (gifts, skills and capacities of bagian dari upaya untuk membangun tatanan individuals, sosial, within community). ekonomi dan prosesnya dan politik baru, strukturnya yang secara associations and institutions Partisipasi dan Pemberdyaan Masyarakat berkelanjuatan. Setiap kegiatan pengembangan Partisipasi masyarakat harus berjalan dalam kerangka keberlanjutan, bila tidak ia tidak akan bertahan dalam waktu yang lama. Keistimewaan dari prinsip keberlanjutan adalah ia dapat membangun struktur, organisasi, bisnis, dan industri yang dapat tumbuh dan berkembang dalam berbagai tantangan. Jika pengembangan masyarakat berjalan dalam pola keberlanjutan diyakini akan dapat membawa berkaitan dan dan pengembangan merupakan pemberdayaan berhubungan di masyarakat. komponen pembangkitan dalam Partisipasi penting kemandirian saling dan dalam proses pemberdayaan (Craig dan Mayo dalam Nasdian 2011:51). a. Partisipasi dalam pengembangan sebuah JURNAL KESEJAHTERAAN SOSIAL UNEJ 2015, I (1): 1-15 masyarakat Anandhita Eka Pertiwi, Pengembangan Masyarakat Pada Desa Produktif Melalui Kewirausahaan Handicraft Tasbih dan Aksesoris Secara harfiah, partisipasi berarti “turut 6 Istilah kewirausahaan merupakan padanan berperan serta dalam suatu kegiatan, peran kata serta aktif atau proaktif dalam suatu kegiatan”. inggris. Partisipasi dapat didefinisikan secara luas sebenarnya berawal dari bahasa prancis yaitu sebagai “bentuk keteribatan dan keikutsertaan ‘entreprende’ yang berarti petualang, pencipta, masyarakat secara aktif dan sukarela, baik dan pengelola usaha. Istilah ini diperkenalkan karena dirinya pertama kali oleh Rihard Cantillon (1755). (intrinsik) maupun dari luar dirinya (ekstrinsik) Istilah ini makin populer setelah digunakan oleh dalam keseluruhan proses kegiatan yang pakar bersangkutan”. daam menggambarakan para pengusaha yang mampu alasan-alasan dari dalam (Moeliono Farudin dari entrepreneurship dalam bahasa Kata ekonomi entrepreneurship J.B. Say (1803) sendiri untuk 2011:36). memindahkan sumber daya ekonomis dari b. Pemberdayaan dalam pengembangan tingkat produktivitas rendah ke tingkat yang lebih tinggi serta menghasilkan lebih banyak masyarakat lagi (Suryana dan Bayu, 2011:24) Payne dalam mengemukakan Fahrudin bahwa (2011:47-48) suatu proses b. Usaha Kecil Menengah (UKM) pemberdayaan pada intinya bertujuan untuk Berdasarkan UU No. 9/1995 tentang membantu masyarakat memperoleh daya untuk Usaha Kecil, yang dimaksud dengan usaha mengambil kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang keputusan dan menentukan tindakanya yang dilakukan masyarakat melalui berskala peningkatan kemampuan dan rasa percaya diri kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan untuk dimiliki seperti kepemilikan sebagaimana diatur dalam masyarakat, antara lain melaui transfer daya Undang-undang ini. Usaha kecil yang dimaksud dari lingkungannya. disini meliputi juga usaha kecil informal dan menggunakan daya yang kecil dalam memenuhi kriteria usaha kecil tradisional. Adapun usaha kecil informal adalah; berbagai usaha yang belum terdaftar, belu tercatat, dan belum berbadan Kewirausahaan dan Usaha Kecil Menengah hukum, antara lain petani penggarap, industri Handicraft Tasbih dan Aksesoris rumah tangga, pedagang asongan, pedagang a. Kewirausahaan keliling, pedagang kaki lima, dan pemulung. Sedangkan usaha kecil tradisional adalah usaha JURNAL KESEJAHTERAAN SOSIAL UNEJ 2015, I (1): 1-15 Anandhita Eka Pertiwi, Pengembangan Masyarakat Pada Desa Produktif Melalui Kewirausahaan Handicraft Tasbih dan Aksesoris 7 yang menggunakan alat produksi sederhana menghilangkan unsur keindahannya. Misalkan yang telah digunakan secara turun temurun, senjata, furnitur, aksesoris, keramik, dan lain dan atau berkaitan dengan seni dan budaya. sebagainya. Jika di kaitkan dengan penulisan artikel ini, c. Seni Kriya (handicraft) Tasbih & Aksesoris Seni kriya adalah cabang seni yang menekankan pada ketrampilan tangan yang tinggi dalam proses pengerjaannya. Kata Kriya sendiri berasal dari bahasa Sansakerta yakni produk handycraft khas desa tutul yaitu tasbih dan aksesoris tergolong dalam seni kerajinan tangan benda terapan (produk siap pakai) yang memiliki unsur keindahan. “Kr” yang artinya “mengerjakan” yang mana Peran Pelaku Perubahan Dalam Komunitas dari kata tersebut kemudian menjadi kata a. Peran pemercepat perubahan (Enabler) karya, kriya, kerja. Dalam arti khusus Peran pengertian seni kriya adalah mengerjakan sesuatu untuk menghasilkan benda atau objek yang bernilai seni (Timbul Haryono: 2002). masyarakat enabler agar adalah dapat membantu mengartikulasikan kebutuhan mereka, megidentifikasikan masalah mereka, dan mengembangkan kapasitas mereka Fungsi dari seni kriya adalah sebagai salah agar dapat menangani masalah yang mereka satu karya seni rupa yang secara garis besar hadapi secara lebih efektif. Peranan sebagai dibagi atas tiga golongan diantaranya; enabler ini adalah peranan klasik atau peranan 1. Hiasan (dekorasi) tradisional dari seorang community worker. Banyak hasil atau produk seni kriya yang Fokusnya adalah menolong masyarakat agar digunakan sebagai benda pajangan. Seni kriya dapat menolong dirinya jenis ini lebih mengutamakan segi rupa dari 2012:101) pada segi fungsinya, oleh sebab itu beberapa b. Peran perantara (Broker) sendiri. (Adi, bentuknya juga mengalami pengembangan. Peran Misalkan hiasan dinding, karya seni ukir, patung, cinderamata, dan lain sebagainya. broker (perantara) adalah menghubungkan individu ataupun kelompok dalam masyarakat yang lain isi, ketepatan waktu, pemanfaatan teknologi dan user support (Verawaty, 2014). Penelitian ini dihipotesiskan adanya perbedaan kualitas pengungkapan laporan keuangan antara pemerintah kabupaten dan kota dikarenakan pemerintah kota lebih disorot dibandingkan kabupaten. Metode Penelitian Jenis dan Sumber Data Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah pemerintah daerah di Jawa Timur dengan membagi menjadi dua sampel yaitu pemerintah kabupaten dan kota yang terdiri dari 29 kabupaten dan 9 kota. Metode Analisis Data Penelitian ini dilakukan dengan berdasarkan pada hypothetic-deductive methode yaitu cara analisis dari kesimpulan umum yang diuraikan menjadi contoh-contoh kongkrit atau fakta-fakta untuk menjelaskan kesimpulan. Menurut Sekaran (2006), penelitian dengan menggunakan metode ini melibatkan tujuh tahap, yaitu observasi, pengumpulan data awal, perumusan teori, perumusan hipotesis, pengumpulan data statistik, analisis data, dan deduksi. Menggunakan operasional variabel menggunakan indeks aksesibilitas yang dikembangkan oleh Cheng et al. Tabel 1 Indeks Aksesibilitas Po Kompo in nen Keterangan Variab Keteran el gan aksesib ilitas A Isi/ Komponen Financ Conten informasi ial t keuangan Highli seperti ghts Menyaji kan summar y Mita, Analisis Komparasi Internet Financial Local Government. laporan B financia dan neraca, rugi l cepat laba, arus stateme diakses kas, nts perubahan dalam an posisi bentuk waktu keuangan tabel serta laporan ringkas keberlanjutan atau yang perusahaan. uraian waktu, maka Prior sebelum Informasi ringkas semakin Years) nya keuangan dan tinggi sebagai yang mudah indeksnya. pemban diungkapkan diakses dalam bentuk html Financ ial memiliki skor Menyaji Ketepat ketika Data IFLGR website tahun juga perusahaan sebelu menyaji menyajikan mnya kan informasi (Data laporan tepat for ding E kan Up IFLGR Date untuk tahun en dibandingkan berjalan Laporan dalam format (misal Keuang pdf, disajika an yang informasi n lengkap dalam bentuk perseme dan html ster biar kompre selalu hensif update Hyper Bentuk dan Text HTML tepat Marku memilik waktu) tinggi ent karena lebih memudahkan penggunaan C tahun kompon yang Statem D informasi untuk mengakses informasi keuangan tersebut menjadi lebih cepat. p i skor Pemanf komponen ini Analys yang aatan terkait is age tinggi Teknol dengan Tools Menyed iakan analysis (HTM dibandi pemanfaatan tools L) ngkan teknologi (contoh Forma dalam yang nya, t format dapat Excel pdf disediakan Tabel karena oleh Sumbu informa laporan cetak Putar si lebih serta (Excel’s mudah Artikel Ilmiah Mahasiswa 2016 F Langu ogi tidak media Mita, Analisis Komparasi Internet Financial Local Government. penggunaan Pivot media Table)). teknologi XBRL) User Indeks Mesin Mesin Pivot Suppor website Pencari pencari multimedia, Table t perusahaan di analysis tools yaitu semakin dalam (contohnya salah tinggi Excel’s Pivot satu perusahaan bisa Table), fitur- fitur mengimplem digunak fitur lanjutan Micros entasikan an seperti oft secara untuk implementasi Excel optimal mencari Agen Cerdas yang semua sarana laporan (Intelligent mampu dalam keuanga Agent) mencipt website n atau eXtensible akan Business sebuah Reporting H I jika perusahaan situs Halam Menyed seperti: media tabel an iakan pencarian dan Language interakti Tautan tautan navigasi (XBRL). f (search yang Fitur navigation menam di tools) (seperti pilkan dalam FAQ, tautan ringkasa situsnya ke data J halaman beranda, peta dalam website, dan jumlah mesin besar. pencari). Menyed Lanjut iakan an fiturfitur lanjutan (seperti implem entasi Intellig ent Agent atau Artikel Ilmiah Mahasiswa 2016 IFLGR dapat n G ke and Freque ntly Menyed iakan Asked fasilitas Questi tanya on jawab (FAQ) atau dan email/ Inform telepon asi pengelo Kontak la Uji hipotesis pada penelitian ini menggunakan Mann Whitney Test untuk membandingkan komponen isi/konten, ketepatan waktu, pemanfaatan teknologi, dan user support antara pemerintah kota dan kabupaten setelah dilakukan observasi pada setiap website resmi pemerintah kota maupun kabupaten berdasarkan poin variabel indeks aksesibilitas. Perincian terpapar di bawah ini: Mita, Analisis Komparasi Internet Financial Local Government. Poin A. 1 poin jika website resmi pemerintah daerah atau kota muncul di halaman pertama pencarian Google atau Yahoo dengan mengetikkan nama kota atau daerah. Poin B. +1 poin jika website menyediakan lebih dari satu berkas lengkap dengan dokumen dari laporan keuangan. Poin C. +1 poin jika laporan keuangan berupa HyperText Markup Language (HTML). Poin D. +1 poin jika website resmi menyediakan informasi keuangan tahun sebelumnya. Poin E. +1 jika website tidak sampai memperkenankan kita mengklik lebih dari tiga kali klik untuk sampai pada laporan sebelumnya sebagai pembanding. Ini menandakan bahwa pengunjung website dipermudah untuk mengakses. Poin F. +1 poin jika website resmi menyediakan informasi untuk mendapatkan atau mengakses salinan dari laporan keuangan pemerintah kota atau kabupaten. Poin G. +1 poin jika berkas individu yang menyediakan laporan cetak ukurannya kurang dari 3MB. Poin H. +1 poin jika mempunyai mesin pencari untuk menemukan konten yang dibutuhkan ataupun laporan keuangan pemerintah daerah. Poin I. +1 poin jika website resmi pemerintah daerah atau kota memiliki link laporan keuangan pada beranda situs. Poin J. +1 poin jika website resmi menyediakan detail kontak yang bisa dihubungi baik itu alamat, nomor telepon dan ataupun alamat email. Hasil Penelitian Berdasarkan observasi e-government pemerintah daerah di Jawa Timur maka didapatlah hasil: Tabel 2 Rekapitulasi Objek Penelitian Artikel Ilmiah Mahasiswa 2016 Keterangan Jumlah Kabupaten 29 Kota 9 Jumlah Sampel 38 Kabupaten 19 Kota 9 Menerapkan IFLGR 28 Kabupaten 10 Kota 0 Tidak menerapkan IFLGR 10 Kabupaten 10 Kota 0 Mempunyai website tetapi 10 tidak menerapkan IFLGR Kabupaten 13 Kota 3 Mempunyai website tetapi 16 tidak update Kabupaten 0 Kota 0 Tidak mempunyai website 0 Sumber: Data Sekunder yang telah diolah, 2015 Berdasarkan analisis statistik deskriptif didapat hasil: Tabel 3 Analisis Statistik Deskriptif Variabel Isi/Konten Ketepatan Waktu Teknologi User Support Total a. Kelompok Sampel Kabupaten Kota Kabupaten Kota Kabupaten Kota Kabupaten Kota Kabupaten Kota N Mean 29 9 1,72 2,11 29 0,62 9 29 9 1,11 0,45 0,67 29 1,97 9 29 29 2,33 4,76 6,22 Uji Mann Whitney Dalam penelitian ini ada satu hipotesis yang akan diuji. Pengujian hipotesis ini menggunakan Program SPSS Versi 22. Pada penelitian ini menggunakan statistik non parametik. Hipotesis akan diuji dengan menggunakan Uji Mann Whitney. Uji Mann Whitney adalah uji data nonparametik yang digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan respon dari dua kelompok data yang saling independen yaitu dalam penelitian ini Kabupaten dan Kota (Mann and Whitney, 1947). Berikut hasil pengujian statistik uji Mann Mita, Analisis Komparasi Internet Financial Local Government. Whitney untuk membandingkan komponen isi/konten, ketepatan waktu, teknologi, dan user support antar kedua kelompok sampel yaitu Kabupaten dan Pemerintah kota yang kemudian ditarik kesimpulan untuk pengujian hasil hipotesis. Tingkat probabilitas signifikansi variabel independen 0,05 (5%). Hasil uji Mann Whitney untuk keempat komponen berdasarkan indeks aksesibilitas yang dikembangkan oleh Cheng et al.: Tabel 4 Ranks Conten t Kelompok _Sampel Kabupaten Kota Total Timeli ness Kabupaten Kota Total Techno logy Kabupaten Kota Total User_S upport Kabupaten Kota Total N 2 9 9 3 8 2 9 9 3 8 2 9 9 3 8 2 9 9 3 8 Mean Rank Sum of Ranks 18,10 525,00 24,00 216,00 18,36 532,50 23,17 208,50 18,52 537,00 22,67 204,00 18,81 545,50 21,72 195,50 Pembahasan Berdasarkan output rank untuk komponen isi/konten, dihasilkan nilai mean untuk Pemerintah kota lebih besar dari Kabupaten yaitu 24,00 lebih besar daripada 18,10. Pengujian Mann Whitney untuk output Test Statisticsa, nilai statistik uji Z yaitu -1,525 dan nilai Sig.2-tailed adalah 0,127 lebih besar daripada 0,05. Hal ini menunjukkan hasil uji tidak mencolok secara statistik atau dengan demikian tidak ada perbedaan pengungkapan informasi pada website yang dimiliki antara Kabupaten dengan format dan kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan Pemerintah kota untuk komponen isi/konten. Output rank untuk komponen ketepatan waktu yang dijelaskan dalam pencapaian struktur modal optimum. Berdasarkan hasil penelitian ini menjelaskan bahwa ada sepuluh garis dimana pada titik perpotongan antara sepuluh garis alternatif struktur modal terdapat lima garis yang mempunyai titik penting dalam menentukan struktur modal optimum yaitu terdapat pada lima rasio yaitu 20%, 30%, 50%, 80% dan 95%. Struktur modal optimum untuk periode yang akan datang bergantung dengan besarnya tingkat EBBWT dan EPS, sehingga EBBWT dan EPS yang diperoleh pada periode yang akan datang menentukan struktur modal optimum yang akan datang . Hasil yang diperoleh menjelaskan bahwa apabila EBBWT yang akan datang terjadi pada saat EBBWT Rp 0,- sampai dengan sebelum titik potong pada EBBWT Rp 1.154.633.074.465,- maka perusahaan lebih baik menggunakan struktur modal dengan rasio wadiah 20%, karena pada rasio ini dengan tingkat EBBWT di bawah titik potong pada EBBWT Rp 1.154.633.074.465,penggunaan rasio wadiah 20% yang dapat menaikkan EPS. Apabila EBBWT yang akan datang terjadi pada setelah titik potong EBBWT Rp 1.154.633.074.465,- sampai pada titik potong EBBWT Rp 1.201.109.320.508,- maka perusahaan lebih baik menggunakan struktur modal optimum dengan rasio wadiah 30%, karena apabila perusahaan memaksakan untuk menggunakan rasio wadiah 20% pada tingkat EBBWT ini maka kemungkinan EPS yang diperoleh semakin kecil sehingga tidak dapat menaikkan EPS, dan hal Artikel Ilmiah Mahasiswa 2016 5 ini akan berakibat pada EPS yang diperoleh pada tingkat EBBWT ini menjadi tidak maksimum. Apabila EBBWT yang akan datang setelah titik potong pada EBBWT Rp 1.201.109.320.508,- hingga pada titik potong Rp 1.410.124.451.818,- maka perusahaan lebih baik menggunakan struktur modal optimum pada rasio wadiah 50%karena pada rasio wadiah 50% ini memiliki potensi untuk menaikkan EPS pada tingkat EBBWT ini, sehingga apabila perusahaan memilih untuk menggunakan rasio wadiah lain atau rasio wadiah selain tingkat rasio wadiah 50% maka akan berdampak pada EPS yang diperoleh semakin kecil. Apabila EBBWT yang akan datang terjadi setelah titik potong pada EBBWT Rp 1.410.124.451.818,hingga pada titik potong EBBWT Rp 1.432.911.399.091,maka perusahaan lebih baik menggunakan struktur modal pada rasio wadiah 80%, apabila perusahaan memaksakan menggunakan rasio wadiah 95% dengan tingkat EBBWT Rp 1.410.124.451.818,- hingga pada titik potong EBBWT Rp 1.432.911.399.091,- maka penggunaan utang lebih tinggi sehingga hal ini akan berdampak pada EPS yang diperoleh pada tingkat EBBWT ini menjadi tidak maksimum. Apabila EBBWT yang akan datang terjadi setelah titik potong EBBWT Rp 1.432.911.399.091,- maka perusahaan lebih baik menggunakan struktur modal pada rasio wadiah 95%, karena apabila perusahaan memaksakan untuk menggunakan wadiah diatas 95% pada tingkat EBBWT ini maka penggunaan utang akan melebihi batas maksimum, sehingga perusahaan memiliki potensi tidak memiliki kemampuan memberikan bonus wadiah dan tentunya akan menurunkan nilai EPS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada rasio wadiah 20%, 30%, 50%, 80% dan 95% memiliki potensi untuk menaikkan EPS, tetapi apabila penggunaan wadiah dilakukan melebihi sampai batas maksimum rasio wadiah 95% maka perusahaan tidak mampu memberikan bonus wadiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur modal yang akan datang berubah-ubah karena struktur modal yang akan datang tergantung dengan kondisi EBBWT dan EPS. Secara teoritis hasil ini dapat diterima karena pada prinsipnya tingkat profitabilitas mencerminkan keadaan EBBWT, semakin tinggi EBBWT yang diperoleh maka profitabilitas yang diperoleh juga tinggi, begitu pula dengan rasio wadiah yang tinggi dapat mencerminkan tingkat EPS yang diperoleh juga akan semakin tinggi. Secara praktikal dari hasil perhitungan menunjukkan bahwa hasil penentuan struktur modal optimum ini cukup masuk akal karena pada dasarnya kondisi EBBWT dan EPS dapat menentukan keoptimalan struktur modal untuk masa yang akan datang, dimana apabila kondisi EBBWT yang akan datang semakin tinggi maka nilai EPS yang diharapkan juga akan semakin tinggi, begitu pula dengan rasio wadiah yang semakin tinggi. Tingkat EBBWT menentukan seberapa besar bonus wadiah yang akan diberikan yang tentunya mempertimbangkan rasio wadiah yang digunakan. Sehingga kemungkinan tingkat EBBWT untuk masa yang akan datang menjadi acuan dalam menentukan struktur modal optimum. Berdasarkan hasil yang diperoleh, maka PT. Bank Syariah Mandiri dapat mengambil tindakan keputusan struktur modal untuk masa yang akan datang dengan mempertimbangkan Alfiah et al., Analisis Komposisi Struktur Modal Pada PT Bank Syariah Mandiri tingkat EBBWT yang dicapai oleh perusahaan untuk menentukan struktur modal optimum, karena dengan pertimbangan tingkat EBBWT perusahaan dapat memperkirakan akan menggunakan rasio wadiah yang dapat menaikkan EPS sehingga dapat menguntungkan perusahaan. Kesimpulan dan Keterbatasan 6 EBBWT ini struktur modal yang paling baik digunakan adalah struktur modal dengan rasio 95% karena apabila perusahaan memaksakan mengunakan rasio wadiah diatas 95% maka perusahaan tidak mampu memberikan bonus wadiah disebabkan karena tingginya rasio wadiah dan kemampuan kondisi EBBWT. Karena pada penelitian ini rasio wadiah maksimal berada pada rasio wadiah 95%. Kesimpulan Keterbatasan Struktur modal yang optimum bergantung pada besarnya prediksi tingkat EBBWT (Earnings Before Bonus Wadiah and Taxes) untuk masa yang akan datang. Apabila EBBWT yang akan datang berada pada rentang EBBWT Rp 0,hingga sampai dengan titik potong EBBWT Rp 1.154.633.074.465,- maka struktur modal yang optimum adalah rasio wadiah 20%, karena struktur modal pada rasio 20% dapat menghasilkan EPS (Earnings Per Share) yang paling tinggi daripada alternatif rasio wadiah yang lain. Apabila perusahaan menggunakan rasio wadiah lebih dari 20% maka akan menyebabkan menurunnya tingkat EPS sehingga EPS yang diterima akan semakin kecil. Terdapat beberapa keterbatasan dalam penelitian ini yaitu penelitian ini menggunakan pendekatan EBBWT-EPS dan juga penentuan tingkat bonus wadiah. Penelitian ini menunjukkan bahwa EBBWT merupakan fungsi dari EPS. Untuk memproyeksikan EBBWT dengan menghitung ratarata tingkat pertumbuhan EBBWT, sehingga apabila EBBWT berubah maka nilai EPS juga akan berubah dan akan menyebabkan perubahan pada struktur modal optimum. Pada penentuan tingkat bonus wadiah dalam penelitian ini menggunakan perhitungan rata-rata tingkat bonus wadiah. Hal ini dikhawatirkan dapat mempengaruhi penentuan beban bonus wadiah dan perolehan EPS karena penentuan tingkat bonus wadiah didasarkan oleh kebijakan perusahaan. Apabila EBBWT yang akan datang berada di atas Rp 1.154.633.074.465,- hingga sampai pada titik potong Rp 1.201.109.320.508 struktur modal yang optimum berada pada struktur modal dengan rasio wadiah 30%, karena pada rasio wadiah 30% dapat menghasilkan nilai EPS yang lebih tinggi daripada rasio wadiah lainnya. Namun apabila perusahaan menggunakan rasio wadiah lebih dari 30% maka akan menurunkan nilai EPS atau EPS yang diterima akan semakin kecil, dan perusahaan tidak mampu untuk memberikan bonus wadiah karena laba sebelum pajak semakin menurun sehingga perusahaan berisiko untuk tidak mampu memberikan bonus wadiah. Apabila EBBWT yang akan datang rentang pada titik potong antara EBBWT Rp Rp 1.201.109.320.508,- hingga EBBWT dibawah titik potong pada tingkat EBBWT Rp 1.410.124.451.818,- maka struktur modal yang optimum berada pada struktur modal dengan rasio wadiah 50%, karena pada rasio wadiah 50% dapat menghasilkan nilai EPS yang lebih tinggi daripada rasio wadiah lainnya. Namun apabila perusahaan memaksakan untuk menggunakan rasio wadiah diatas 50% pada tingkat EBBWT ini maka kemungkinan besar akan menurunkan nilai EPS dan laba sebelum pajak akan semakin menurun. Apabila EBBWT yang akan datang terjadi setelah titik potong pada EBBWT Rp 1.410.124.451.818,- hingga pada titik potong EBBWT Rp 1.432.911.399.091,- maka struktur modal optimum berada pada rasio wadiah 80%, karena pada rasio ini nilai EPS yang diperoleh lebih tinggi dari EPS yang diperoleh dari rasio lainnya. Apabila pada tingkat EBBWT ini perusahaan memaksakan untuk menggunakan rasio wadiah selain 80% maka akan berisiko pada menurunnya tingkat EPS . EBBWT yang akan datang terjadi setelah titik potong EBBWT Rp 1.432.911.399.091,- maka struktur modal optimum pada rasio 95%, karena pada kondisi EBBWT ini EPS yang diperoleh pada rasio ini lebih besar dari EPS yang diperoleh rasio wadiah lainnya, sehingga pada tingkat Artikel Ilmiah Mahasiswa 2016 Daftar Pustaka Brigham dan Weston. 2006. Manajemen Keuangan. Buku 2.Jakarta : Salemba Empat. Darmawan Sjahrial. 2007. Manajemen Keuangan. Edisi Pertama. Jakarta : Mitra Wacana Media. Moeljadi. 2006. Manajemen Keuangan. Jilid 1. Malang, Jawa Timur : Bayumedia Publishing . Ridwan Sundjaja dan Inge Barlian. 2003. Manajemen Keuangan. Edisi 4. Jilid 2. Jakarta : Literata Lintas Media. Weston dan Copeland. 1997. Manajemen Keuangan. Jilid 2.Jakarta : Binarupa Aksara.
Community Development In Productive Village Through Entrepreneurship Of Rosary Peran Perantara Broker Peran pendidik Educator Community Development In Productive Village Through Entrepreneurship Of Rosary
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Community Development In Productive Village Through Entrepreneurship Of Rosary

Gratis