Feedback

Analisis Pengaruh Pengangguran, Kemiskinan dan Fasilitas Kesehatan terhadap Kualitas Sumber Daya Manusia di Kabupaten Jember Tahun 2004-2013

 14  307  5  2017-02-11 14:59:06 Report infringing document
Informasi dokumen
Widya et al., Analisis Pengaruh Pengangguran, Kemiskinan dan Fasilitas Kesehatan. 1 Analisis Pengaruh Pengangguran, Kemiskinan dan Fasilitas Kesehatan terhadap Kualitas Sumber Daya Manusia di Kabupaten Jember Tahun 2004-2013 (Analysis of The Effect of Unemployment, Poverty and Health Facilities on The Quality of Human Resources in Jember 2004-2013 year) Widya Meiga Aningtyas, P. Edi Suswandi, Lilis Yuliati Jurusan IESP, Fakultas Ekonomi, Universitas Jember (UNEJ) Jln. Kalimantan 37, Jember 68121 E-mail: mega.kucrut@gmail.com Abstrak Kualitas sumber daya manusia sebagai subjek pembangunan disamping dapat menentukan tinggi rendahnya produktifitas juga akan menentukan keberhasilan pembangunan dan menjadi motor penggerak bagi pembangunan ekonomi di Kabupaten Jember. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pengangguran, kemiskinan dan fasilitas kesehatan terhadap kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Jember. Metode analisis yang digunakan adalah Analisis Linier Berganda. Dari hasil regresi linier berganda disimpulkan bahwa variabel pengangguran berpengaruh tidak signifikan, sedangkan variabel kemiskinan dan fasilitas kesehatan berpengaruh signifikan terhadap kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Jember. Kata Kunci: Kualitas sumber daya manusia, pengangguran, kemiskinan, fasilitas kesehatan. Abstract The qualities of human resources as a subject of development determine the high and low productivitylevel and also establish the success of the development and productivity is the activator way divide the economic development in Jember. The goal of this research is to know how the effect of unemployment, poverty, and health facilities son the quality of human resources in Jember. The analytical method used is multiple linier regression. The research concluded that the variable of unemployment have no significantly influece, while the variable of poverty and health facilities significanlyt influenced on the quality of Human Resources in Jember. Keywords: The quality of human resources, unemployment, poverty, health facility. Pendahuluan Pembangunan merupakan proses berkesinambungan dengan tujuan akhir untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat . Pengembangan kualitas sumber daya manusia harus dimulai sejak dini dalam masyarakat. Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perekonomian daerah selain sumber daya alam dan modal (Munawwaroh, 2013). Pembangunan manusia mempunyai empat unsur penting, seperti peningkatan produktifitas, pemeretaan kesempatan, kesinambungan pembangunan dan pemberdayaan manusia melalui perbaikan pendidikan dan kesehatan yang terdapat dalam Indeks Pembangunan Manusia (Munawwaroh, 2013). Indeks ini diukur dengan angka harapan hidup, pendidikan dan tingkat pendapatan yamg disesuaikan. Kualitas sumber daya manusia sebagai subjek pembangunan dan menentukan tinggi rendahnya produktifitas untuk keberhasilan pembangunan ekonomi. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pengangguran adalah orang yang tidak bekerja sama sekali, atau sedang mencari pekerjaan, atau seseorang yang bekerja kurang dari dua hari dalam seminggu. Pengangguran menyebabkan tingkat Artikel Ilmiah Mahasiswa 2015 kemakmuran masyarakat tidak maksimal sedangkan tujuan dari pembangunan yaitu untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Jika pengangguran tinggi, pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga daya beli masyarakat menurun, sedangkan pendidikan dan kesehatan yang merupakan kebutuhan dasar untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia juga tidak dapat tercukupi (Baeti, 2013). Menurut Biro Pusat Statistik (BPS, 2001:3), kemiskinan diartikan sebagai ketidakmampuan penduduk dalam memenuhi kebutuhan minimum makanan setara dengan 2100 kalori per kapita per hari ditambah dengan kebutuhan minimum non pangan. Kemiskinan akan menghambat individu untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan produktifitas rendah sehingga akan menghasilkan sumber daya manusia yang kurang berkualitas. Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia baik itu kesehatan jasmani dan rohani agar manusia dapat melakukan kegiatan dengan lancar. Tingkat kesehatan merupakan prioritas utama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dengan tingkat kesehatan yang tinggi, maka akan meningkatkan Widya et al., Analisis Pengaruh Pengangguran, Kemiskinan dan Fasilitas Kesehatan. kesejahteraan penduduk, hal ini berkaitan tersedianya fasilitas kesehatan yang memadai. dengan Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian explanatory dengan sumber data adalah data sekunder yang berupa data runtun waktu (time series) dengan periode dari tahun 2004 sampai tahun 2013 dengan objek penelitian Kabupaten Jember. Data-data yang dimaksud diatas meliputi data PDRB, jumlah pengangguran, jumlah kemiskinan, jumlah fasilitas kesehatan, dan IPM. Sumber data penelitian ini diperoleh dari BPS Kabupaten Jember, BPS Provinsi Jawa Timur, Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, dan literatur lainnya. Metode Analisis Data Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis regresi linier berganda. Analisis regresi linier berganda digunakan karena dalam penelitian ini mencakup dari dua variabel (termasuk variabel Y), dimana dalam regresi linier berganda variabel Y merupakan variabel terikat yang tergantung pada dua atau lebih variabel bebas (X) (Supranto, 1995:48). Model persamaan regresi linier berganda yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : KSDM = b0 + b1PT + b2KM + b3FS + e.(3.2) Dimana : KSDM = kualitas sumber daya manusia (indikator IPM); PT = pengangguran; KM = kemiskinan; FS = fasilitas kesehatan; b0 = besarnya kualitas sumber daya manusia pada b1 saat pengangguran, kemiskinan dan fasilitas kesehatan sama dengan nol atau konstanta; = besarnya pengaruh pengangguran terhadap b2 kualitas sumber daya manusia atau koefisien parameter; = besarnya pengaruh kemiskinan terhadap kualitas b3 sumber daya manusia atau koefisien parameter; = besarnya pengaruh fasilitas kesehatan terhadap e kualitas sumber daya manusia atau koefisien parameter;dan = variabel pengganggu. Uji Statistik Uji Koefisien Deteminasi (R2) Mengetahui erat tidaknya hubungan antara variabel pengangguran (x1), kemiskinan (x2), dan fasilitas kesehatan (x3) terhadap kualitas sumber daya manusia (Y) di Kabupaten Jember tahun 2004-2013, maka digunakan korelasi berganda yang merupakan akar dari koefisien determinasi. Uji F-Statistik Uji F ini digunakan untuk mengetahui hubungan secara simultan (serentak) antara variabel bebas dengan variabel terikat. Uji t-Statistik Uji t atau uji secara parsial, digunakan untuk mengetahui apakah secara individu variabel bebas mempunyai pengaruh Artikel Ilmiah Mahasiswa 2015 2 secara signifikan terhadap variabel terikat. Dasar pengambilan keputusan adalah Ho ditolak atau Ha diterima jika nilai signifikansi t atau P value < 5%. (Supranto, 2001:271). Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah masingmasing variabel mempunyai distribusi normal atau tidak. Model yang baik adalah data normal atau mendekati normal (Ghozali, 2007:110). Konsep pengujian uji normalitas menggunakan pendekatan Jarque-Bera test. Uji Multikolinearitas Menurut Gujarati (1997:169), uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independent variable). Jika koefisien korelasi antara masing-masing variabel bebas lebih besar dari 80%, berarti terjadi multikolinearitas dalam model regresi. Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pangamatan lain. Untuk mengetahui adanya heteroskedastisitas dilakukan dengan menggunakan uji white heteroschedasticity. Untuk mengatasi adanya heteroskedastisitas dengan cara membandingkan nilai Obs*Rsquared dengan α = 5% atau nilai probabilitas Chi-Square dengan α = 5% . Jika nilai Obs*Rsquared > α = 5% atau nilai probabilitas Chi-Square > α = 5% , maka model dapat dikatakan tidak terindikasi masalah heteroskedastisitas (Wardhono, 2012:57-58). Uji Autokorelasi Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Untuk mendeteksi adanya autokorelasi adalah dari besaran nilai Durbin Watson (Uji DW). Hasil dan Pembahasan Analisis data penelitian ini menggunakan metode OLS dengan software Eviews 7 dengan variabel bebas antara lain, pengangguran, kemiskinan dan fasilitas kesehatan terhadap variabel terikat yaitu, kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Jember tahun 2004-2013 dengan model regresi sebagai berikut : KSDM = 39.73582 – 0.011828PT – 0.335215KM + 0.275216FS Hasil estimasi model regresi diatas dapat dilihat bahwa nilai konstanta sebesar 39.73582 menunjukkan bahwa apabila variabel pengangguran, kemiskinan dan fasilitas kesehatan tidak ada perubahan (konstan), maka nilai kualitas sumber daya manusia sebesar 39.73582. Nilai koefisien pengangguran dan kemiskinan di Kabupaten Jember menunjukkan nilai negatif yang artinya apabila variabel pengangguran dan kemiskinan mengalami kenaikan, maka akan menurunkan kualitas sumber daya manusia (IPM) di Kabupaten Jember. Sedangkan, nilai koefisien fasilitas kesehatan menunjukkan nilai positif maka artinya apabila 3 Widya et al., Analisis Pengaruh Pengangguran, Kemiskinan dan Fasilitas Kesehatan. variabel fasilitas kesehatan mengalami kenaikan, maka akan menaikkan kualitas sumber daya manusia (IPM) di Kabupaten Jember. Hasil Regresi Uji Statistik Uji R2 (Koefisien Determinasi) Hasil perhitungan menunjukkan nilai R-squared = 0.981403, artinya total variasi kualitas sumber daya manusia (KSDM) di Kabupaten Jember mampu dijelaskan oleh variabel independen pengangguran (PT), kemiskinan (KM) dan fasilitas kesehatan (FS) sebesar 98,14% sedangkan sisanya 1,86% dipengaruhi oleh faktor lain diluar penelitian. Uji F – Statistik Dari hasil pengujian probabilitas F-statistik = 0,000014 ≤ nilai probabilitas α = 5%, berarti Ha diterima yang artinya semua variabel independen mampu menjelaskan variabel dependen atau secara bersama-sama variabel independen pengangguran, kemiskinan dan fasilitas kesehatan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen kualitas sumber daya manusia (KSDM). Uji t-Statistik Variabel Tabel 1. Hasil Uji t-Statistik Nilai α = 5% Probabilitas Keterangan PT 0,8393 0,05 Tidak signifikan KM 0,0007 0,05 Signifikan FS 0,0001 0,05 Signifikan Dari Tabel 1. menunjukkan bahwa variabel pengangguran tidak signifikan karena nilai probabilitas > α = 5%, sedangkan variabel kemiskinan dan fasilitas kesehatan signifikan karena nilai probabilitas < α = 5%. Hasil Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas Gambar 1. Uji Normalitas Berdasarkan Gambar 1. nilai probabilitas JB hitung sebesar 0,526280 ≥ nilai probabilitas α = 5%, maka model empiris tersebut terdistribusi normal karena nilai JB hitung lebih besar sama dibanding nilai probabilitas α = 5%. Artikel Ilmiah Mahasiswa 2015 Uji Multikolinieritas Tabel 2. Hasil Uji Multikolinearitas PT KM FS PT 1.000000 0.626511 -0.220106 KM 0.626511 1.000000 -0.545196 FS -0.220106 -0.545196 1.000000 Dari Tabel 2. diatas menunjukkan bahwa hubungan antara variabel independennya semua berada di bawah 80%, berarti tidak terdapat masalah multikolinearitas dalam model regresi. Uji Heteroskedastisitas Tabel 3. Hasil Uji White F-statistic 0.989529 Prob. F(3,6) 0.4587 Obs*RProb.Chi 3.309983 0.3463 squared Square(3) Dari Tabel 3. menunjukkan bahwa nilai Obs*R-Squared sebesar 3,309983 > α = 5%, berarti tidak terjadi heteroskedastisitas, yang artinya model tersebut bersifat homoskedastis. Uji Autokorelasi Hasil estimasi yang yang dilakukan menunjukkan bahwa nilai Durbin Watson sebesar 1,131013, artinya nilai DW diantara -2 sampai +2 berarti tidak ada autokorelasi dalam model regresi. Pembahasan Secara geografis Kabupaten Jember terletak pada posisi 6027’29” – 7014’35” BT dan 7059’6” – 8033’56” LS dengan luas wilayah 3.293,24 km2. Jumlah penduduk Kabupaten Jember pada tahun 2013 sebesar 2.529.967 jiwa dengan kepadatan rata-rata sebesar 787,47 jiwa/km2 (BPS, 2013). Pembangunan suatu daerah harus mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah tersebut. Kualitas sumber daya manusia dapat dilihat dari nilai Indeks Pembangunan manusia yang diukur dengan kesehatan, pendidikan dan pendapatan. Komponen kesehatan dapat dilihat berdasarkan Angka Harapan Hidup (AHH). Komponen pendidikan diukur dengan angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah. Komponen tingkat kehidupan layak diukur dengan pengeluaran per kapita yang telah disesuaikan (PPP rupiah). Indeks Pembangunan Manusia merupakan indikator untuk mencapai pembangunan manusia sehingga menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Rata-rata nilai IPM Kabupaten Jember tahun 2004-2013 menunjukkan bahwa kualitas penduduk di Kabupaten Jember dikategorikan dalam angka IPM menengah bawah berkisar antara 50 ≤ IPM < 66 menurut kategori UNDP. Pengangguran adalah jumlah tenaga kerja dalam perekonomian yang secara aktif mencari pekerjaan tetapi belum memperoleh pekerjaan (Sukirno, 2004). Indikator utama dalam ketenagakerjaan yang digunakan sebagai Widya et al., Analisis Pengaruh Pengangguran, Kemiskinan dan Fasilitas Kesehatan. indikasi untuk menangani masalah pengangguran adalah Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Jember berpengaruh negatif dan tidak signifikan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia. Menurut Sukirno (2004) (dalam Permana, 2012) bahwa efek buruk pengangguran adalah mengurangi pendapatan yang pada akhirnya akan mengurangi tingkat kemakmuran masyarakat. Jumlah pengangguran yang tinggi akan mengakibatkan kemakmuran masyarakat berkurang, hal ini akan berdampak pada tingkat pendapatan yang rendah, maka daya beli masyarakat juga rendah sehingga produktifitas juga menjadi rendah. Dalam hal ini, akan berdampak pada peningkatan pembangunan manusia, tetapi dalam penelitian ini menunjukkan hasil yang tidak signifikan yang berarti tidak menunjukkan keadaan yang sama dengan teori, hal tersebut dikarenakan kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan harga bahan pangan pokok. Angka kemiskinan di Jawa Timur masih cukup tinggi pada tahun 2013 mencapai 4.771.260 jiwa, hal ini disebabkan karena adanya distribusi hasil-hasil pembangunan yang tidak merata dan hanya berkumpul di pusat-pusat kota saja dan akhirnya terjadi kesenjangan antar kelas dan golongan. Kabupaten Jember merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Timur dengan angka kemiskinan yang tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemiskinan di Kabupaten Jember berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kualitas sumber daya manusia. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori dari Samuelson dan Nordhaus (1997) (dalam Kumalasari, 2011), bahwa penyebab dan terjadinya penduduk miskin di negara yang berpenghasilan rendah adalah karena dua hal pokok yaitu rendahnya tingkat kesehatan dan gizi serta lambatnya perbaikan mutu pendidikan, dimana hal tersebut merupakan komponen dari Indeks Pembangunan Manusia. Pada penelitian terdahulu, hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Mirza (2012) yang berjudul “Pengaruh Kemiskinan, Pertumbuhan Ekonomi dan Belanja Modal terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Jawa Tengah tahun 2006-2009”. Berdasarkan hasil penelitian, kemiskinan berkaitan erat dan ikut menentukan proses pembangunan yang mengedepankan partisipasi masyarakat. Semakin tinggi populasi penduduk miskin maka akan menekan tingkat pembangunan manusia sehingga tingkat pembangunan manusia menjadi rendah, karena penduduk miskin memiliki daya beli yang rendah, sehingga hal ini akan menghasilkan kualitas sumber daya manusia yang rendah pula. Kesehatan merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia. Menurut Todaro (2002), pada dasarnya kesehatan merupakan salah satu aspek yang menentukan tinggi rendahnya standar hidup seseorang. Tingkat pendidikan dan kesehatan individu penduduk merupakan faktor yang perlu mendapatkan prioritas utama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pembangunan kesehatan merupakan bagian terpenting dari pembangunan nasional, dimana terdapat berbagai fasilitas yang dapat menunjang kesehatan khususnya di Kabupaten Jember. Tersedianya fasilitas kesehatan yang memadai akan berdampak pada membaiknya tingkat kesehatan penduduk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fasilitas kesehatan berpengaruh positif dan signifikan Artikel Ilmiah Mahasiswa 2015 4 terhadap kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Jember. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Todaro (2002), pada dasarnya kesehatan merupakan salah satu aspek yang menentukan tinggi rendahnya standar hidup seseorang. Pada penelitian terdahulu, hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Juanita (2002) (dalam Permana, 2012). menyatakan bahwa salah satu modal dasar dalam pelaksanaan pembangunan ekonomi adalah kondisi kesehatan masyarakat yang baik sebagai investasi untuk membangun kualitas sumber daya manusia. Selain itu, penelitian ini sesuai dengan penelitian Baeti (2013), sarana kesehatan memegang peranan penting guna meningkatkan pelayanan di bidang kesehatan. Sejalan dengan peningkatan sarana dari kesehatan maka diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembangunan manusia. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis menggunakan Analisis Regresi Linier Berganda dengan metode OLS maka di dapat kesimpulan sebagai berikut : 1. Pengangguran berpengaruh negatif dan memiliki hubungan tidak signifikan terhadap kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Jember tahun 2004-2013 dengan nilai probabilitas sebesar 0.8393. hal ini dikarenakan kenaikan harga BBM. 2. Kemiskinan berpengaruh negatif dan memiliki hubungan yang signifikan terhadap kualitas sumber daya manusia di kekuasaan melaui media komunikasi dan lain sebagainya. 2.3 Definisi Relasi Kerja Relasi adalah kata yang diartikan sebagai hubungan sedangkan kerja dalam kamus besar bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau mata pencaharian. Jadi relasi kerja adalah hubungan yang terjalin antara individu maupun kelompok dengan individuindividu yang lain dalam melakukan sesuatu hal yang dilakukan untuk mencari nafkah. Relasi kerja identik dengan pekerja yang melakukan interaksi dengan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 12 pekerja-pekerja lain di dalam wilayah kerja dan membentuk suatu ikatan emosional antar sesamanya dan memiliki satu tujuan yang sama yaitu ingin mencapai kesejahteraan. Di dalam perusahaan ataupun di dalam perkebunan pekerja atau karyawan diklasifikasikan berdasarkan jabatan sesuai dengan pekerjaannya masing-masing, mulai dari karyawan tetap, lepas dan kontrak. Beberapa jenis karyawan tersebut berbaur menjadi satu kesatuan di dalam wilayah kerja dan melakukan interaksi di setiap hari kerjanya dan saling menunjukkan loyalitas dan etos kerja kepada pihak perusahaan ataupun perkebunan. Relasi kerja dibangun atas kesadaran diri dan kebutuhan masing-masing individu. Dalam perkebunan relasi kerja awalnya terbangun antar sesama divisi kerja dan biasanya dijalin antar sesama jabatan. Contohnya, relasi kerja karyawan dimulai dari interaksi yang dilakukan pada penempatan divisi kerja seperti relasi yang terbentuk antar sesama pekerja petik cengkih, pekerja petik kopi ataupun pekerja penyadap getah karet. Untuk perkembangannya akan berurutan ke atas sampai relasi kerja yang terbangun antara karyawan dengan pimpinan divisi atau mandor sehingga di dalam setiap divisi kerja akan tercipta relasi kerja yang berlevel mikro, dan begitu seterusnya sehingga relasi kerja terbentuk dalam cakupan makro atau di seluruh divisi kerja di dalam perkebunan. Relasi kerja merupakan relasi kuasa yang sengaja dibangun oleh pihak perkebunan atau pemegang faktor produksi untuk mengatur dan mengontrol sistem kerja. Sistem kerja yang dimaksud adalah semua aturan yang dibentuk dan dibangun sedemikian rupa oleh pihak perkebunan guna membatasi ruang gerak para karyawan dan imbasnya adalah kepatuhan dan rasa takut. Tujuan inilah yang hendak dicapai dalam relasi kuasa dimana hubungan yang terjalin antar anggota di dalam wilayah kerja mempengaruhi satu sama lain dan mayoritas dari dampak yang dihasilkan adalah berkuasanya pemimpin dan terkuasanya karyawan. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 13 2.4 Kebijakan Perkebunan Sebagai Produksi Kekuasaan Apabila membicarakan tentang produksi kekuasaan di dalam wilayah perkebunan maka kekuasaan akan terlihat dari kebijakan yang diambil. Kebijakan sendiri memiliki pengertian sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tata pemerintahan, organisasi, dan lain sebagainya) atau dapat juga didefinisikan sebagai pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran. Untuk mengetahi lebih jauh tentang produk dari kekuasaan di dalam perkebunan yang dihasilkan oleh berbagai macam kebijakan, patut diketahui beberapa macam kebijakan yang membawa dampak negatif dan positif produksi dari kekuasaan itu sendiri. Kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya: 2.4.1 ฀abour Market Flexibility Labour market flexibility atau dalam bahasa Indonesia dapat kita sebut sebagai pasar kerja fleksibel merupakan salah satu kebijakan yang tercipta untuk mengatur urusan ketatatenagakerjaan dalam suatu perusahaan. Sedangkan definisi umum dari labour market flexibility atau pasar kerja fleksibel itu sendiri adalah kebjakan yang memberikan keleluasaan merekrut dan memecat buruh sesuai dengan situasi usaha untuk menghindarkan kerugian. Labour market flexibility atau bisa kita singkat dengan LMF merupakan suatu inovasi kebijakan yang diambil bukan hanya oleh Negara melainkan oleh dunia dengan tujuan meluweskan pengaturan tatatenaga kerja yang harus dihadapi oleh suatu perusahaan atau dengan kata lain memudahkan dalam mengatur tenaga kerja ataupun buruh di dalam suatu lembaga kerja. Kebijakan LMF sendiri terbentuk untuk dijadikan sebagai suatu strategi baru untuk menekan pengeluaran perusahaan dan memaksimalkan keuntungan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 14 dari hasil produksi yang didapat dengan memanfaatkan peraturan tenaga kerja kontrak. Pengaturan yang dimaksud adalah mengatur keluar masuknya tenaga kerja kontrak disesuaikan dengan peraturan yang dibentuk oleh perusahaan itu sendiri. Fleksibilitas dalam pasar kerja inilah yang memberikan keleluasaan untuk perusahaan menerapkan sebuah aturan tenaga kerja yang berlaku tidak untuk buruh tetap melainkan untuk karyawan kontrak. Terdapat 4 dimensi fleksibilitas yakni: 1. Perlindungan kesempatan kerja 2. Fleksibilitas upah : pembatasan variasi tingkat upah melalui berbagai institusi dan regulasi termasuk upah minimum, aktivitas serikat buruh dan negosiasi upah 3. Fleksibilitas internal atau fungsional yang merupakan kemampuan perusahaan untuk mengatur kembali proses produksi dan penggunaan tenaga kerja demi produktivitas dan efisiensi yang mencakup fleksibilitas numerikal dan fungsional. 4. Fleksibilitas di sisi permintaan dari pekerja dalam keleluasaan waktu kerja dan mobilitas antar pekerjaan Mengapa membahas kebijakan LMF, alasannya adalah karena kebijakan ini adalah kebijakan yang merupakan awal dari adanya produksi kekuasaan yang akhirnya berdampak pada relasi kerja karyawan perkebunan. Kebijakan ini erat kaitannya dengan strategi karena strategi ada untuk menciptakan suatu kebijakan yang tepat sasaran. Tujuan dan fungsi dari adanya kebijakan maupun strategi adalah yang utama untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi orang-orang yang diberikan kebijakan. Akan tetapi terkadang keberadaan strategi dan kebijakan tidak sesuai dengan fungsi utamanya bahkan melenceng begitu jauh. Seperti yang dikatakan Haryanto (2011) bahwa muara berbagai kebijakan dan strategi adalah meningkatnya indeks ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 15 Ketimpangan seperti ini selanjutnya menimbulkan dampak saring (filtering effect) yang menghambat peluang kaum miskin dalam memperoleh berbagai pelayanan dan buah pembangunan. Melencengnya kebijakan yang diambil adalah salah satu hasil dari produksi kekuasaan yang memberikan dampak negatif kepada para karyawan sebagai penggerak roda produksi di dalam perkebunan. Apabila ada salah satu produksi kekuasaan yang tidak tepat sasaran dan imbasnya langsung kepada para karyawan akan menimbulkan suatu bentuk kritik dan perlawanan yang tidak langsung dilakukan oleh para karyawan melainkan mereka akan membendungnya dalam sikap-sikap individu yang tidak taat pada aturan atau sikap anti kekuasaan. 2.4.2 Outsourcing/ Kontrak Kerja Di dalam wilayah kerja sendiri akan banyak kita temukan sistem kerja yang ada khususnya sistem kerja yang berhubungan dengan ketengakerjaan. Salah satunya adalah sistem kerja outsourcing, sistem kerja ini dapat didefinisikan sebagai sebuah sebuah upaya mengalihkan pekerjaan atau jasa ke pihak ketiga. Tujuan utama outsourcing pada dasarnya adalah untuk: ฀ menekan biaya ฀ berfokus pada kompetensi pokok ฀ melengkapi fungsi yang tak dimiliki ฀ melakukan usaha secara lebih efisien dan efektif ฀ meningkatkan fleksibilitas sesuai dengan perubahan situasi usaha ฀ mengontrol anggaran secara lebih ketat dengan biaya yang sudah diperkirakan ฀ menekan biaya investasi untuk infrastruktur internal Sebenarnya Praktek PKWT dan outsourcing merupakan wujud dari kebijakan Pasar Kerja Fleksibel yang dimintakan kepada pemerintah Indonesia Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 1฀ oleh IMF dan World Bank sebagai syarat pemberian bantuan untuk menangani krisis ekonomi 1997. Kebijakan Pasar Kerja Fleksibel merupakan salah satu konsep kunci dari kebijakan perbaikan iklim investasi yang juga disyaratkan oleh IMF dan dicantumkan dalam Letter of Intent atau nota kesepakatan ke-21 antara Indonesia dan IMF butir 37 dan 42. Kesepakatan dengan IMF tersebut menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan dan peraturan perbaikan iklim investasi dan fleksibilitas tenagakerja. Kontrak kerja merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak dimana di dalam dunia kerja diwakili oleh pihak pertama pekerja dan pihak kedua adalah pihak perusahaan. Keduanya saling membuat suatu kesepakatan akan sistem kerja yang akan dijalani ketika pekerja telah masuk di dalam perusahaan, pihak perusahaan memiliki kekuasaan dalam menentukan kebijakan seperti apa yang akan dibuat sehingga pihak pekerja haruslah mengikuti kebijakan tersebut. Meskipun kontrak tersenyum dan seluruh teman-teman taklim di Al-Muslimun dan Nurrahman terima kasih atas dukungannya. 12. Pak Seno, Pak Jono dan Bu Nik yang mempunyai andil dalam membimbing saya. 13. Ucapan terimakasih kepada R.Novi Eka Vitriyana, seseorang yang akan menjadi istri yang saleh yang membantu dakwa penulis, terimakasih atas segala bantuan dan perhatiannya. 14. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Semoga Allah SWT selalu memberikan Hidayah dan Rahmat kepada semua pihak yang telah membantu dengan ikhlas sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Penulis sadar akan keterbatasan dan kurang sempurnanya penulisan skripsi ini, oleh karena itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun akan sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan tambahan pengetahuan bagi yang membacanya. Jember, 23 Mei 2008 Penulis x DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL . i HALAMAN PERNYATAAN. ii HALAMAN PENGESAHAN. iii HALAMAN PERSETUJUAN . iv HALAMAN PERSEMBAHAN . v HALAMAN MOTTO . vi ABSTRACT . vii ABSTRAK . viii KATA PENGANTAR. ix DAFTAR ISI. xi DAFTAR TABEL . xiii DAFTAR GAMBAR. xiv DAFTAR LAMPIRAN . xv I. PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar Belakang Masalah. 1 1.2 Perumusan Masalah . 7 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian . 7 1.3.1 Tujuan Penelitian . 7 1.3.2 Manfaat Penelitian . 7 II. TINJAUAN PUSTAKA. 8 2.1 Landasan Teori. 8 2.1.1 Pengertian Pendapatan Domestik. 8 a. Teori Keynes . 9 b. Teori Pertumbuhan Ekonomi. 10 2.1.2 Hubungan Investasi dengan Pendapatan Domestik Bruto . 11 a. Pengertian Investasi. 11 xi b. Teori Harrod dan Domar. 11 c. Teori Keynes . 13 2.1.3 Teori Tingkat Suku Bunga. 14 a. Sintesis Klasik dan Keynesian. 14 b. Teori Mark dan Hull. 15 c. Teori Hick . . 16 2.1.4 Hubungan Nilai Tukar Terhadap Produk Domestik Bruto. 17 a. Teori Pertukaran Kurs . . 17 b. Teori Messe dan Regolf . 19 2.2 Hasil Penelitian Sebelumnya . . 20 2.3 Kerangka Berpikir. 22 2.4 Hipotesis 23 III. METODE PENELITIAN. 24 3.1 Rancangan Penelitian. 24 3.1.1 Jenis Penelitian. 24 3.1.2 Unit Analisis. 24 3.2 Jenis dan sumber Data. 24 3.2.1 Metode Penelitian. 24 3.3 Metode Analisis Data . 25 3.3.1 Analisis Regresi Linier Berganda. 25 3.3.2 Uji t . 26 3.3.3 Uji F . 27 3.3.4 Koefisien Determinasi Berganda . 28 3.4 Uji Ekonometrika . . 28 3.4.1 Uji Multikolinearitas . 28 3.4.2 Uji Autokorelasi 29 3.4.3 Uji Heterokedastisitas 29 3.5 Definisi Operasional 30 xii IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 31 4.1 Gambaran Umum Pendapatan Domestik di Indonesia. 31 4.1.1 Investasi . . 33 4.1.1 Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia. 40 4.1.2 Kurs Dollar Amerika Serikat . 43 4.2 Analisis Data. . 47 4.2.1 Analisis Regresi Linier Berganda. 47 4.2.2 Uji Statistik. 48 4.2.3 Uji Ekonometrika. 48 4.3 Pembahasan . 49 V. KESIMPULAN DAN SARAN. 59 5.1 Kesimpulan. 60 5.2 Saran . 60 DAFTAR PUSTAKA. 61 LAMPIRAN. 65 xiii DAFTAR TABEL Halaman 4.1 Perkembangan Investasi di Indonesia. 4.2 Hasil Uji Multikolinieritas . 50 xiv 34 DAFTAR GAMBAR Halaman 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia . 3 1.2 Total Investasi Indonesia. . 5 2.1 Pengaruh Pendapatan Terhadap Investasi. 12 2.2 Teori Hick Suku Bunga Terhadap Pendapatan. 15 2.3 Hubungan Kurs dengan Produk Domestik Bruto.19 2.4 Kerangka Berfikir . . 22 4.1 Perkembangan Produk Domestik Bruto di Indonesia. 31 4.2 Perkembangan Investasi di Indonesia. 40 4.3 Perkembangan Tingkat Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia .40 4.4 Perkembangan Nilai Rupiah Terhadap Nilai Dollar Amerika. . 44 4.5 Analisis Data dan Uji Autokorelasi. 51 xv DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Data Variabel Penelitian. 66 2 Logaritma Natural . 68 3 Hasil Regresi Linier Berganda. 72 xvi
Analisis Pengaruh Pengangguran, Kemiskinan dan Fasilitas Kesehatan terhadap Kualitas Sumber Daya Manusia di Kabupaten Jember Tahun 2004-2013
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

Analisis Pengaruh Pengangguran, Kemiskinan dan Fasilitas Kesehatan terhadap Kualitas Sumber Daya Manusia di Kabupaten Jember Tahun 2004-2013

Gratis