Pengaruh Hutan Mangrove Terhadap Produksi Udang Windu (Penaeus monodon) Pada Tambak Silvofishery Di Desa Tanjung Ibus Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat

 3  75  76  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

KATA PENGANTAR

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hutan mangrove dengan kerapatan yang berbeda di dalam tambak terhadap produksi udang windudan untuk mengetahui kualitas air pada tambak silvofishery udang windu. Pengambilan sampel kualitas air dan plankton pada setiap tambak dilakukan pada 2 stasiun yaitu pada bagian inlet dan bagian tengah tambaksebanyak 4 kali ulangan yaitu pada saat benur akan ditebar, dua bulan masa pemeliharaan, empat bulan masa pemeliharaan, dan lima bulan masapemeliharaan.

2. Bagaimana kualitas air pada tambak silvofshery udang windu?

  Tempat asuhan Tambak Silvofishery Tambak denganKerapatan Mangrove Jarang Tambak dengan Kerapatan MangroveSedang Pengaruh Hutan Mangrove TerhadapProduksi Udang Windu Pengaruh Hutan Mangrove TerhadapProduksi Udang Windu Kualitas Air ProduksiUdang Windu TINJAUAN PUSTAKA Hutan Mangrove Hutan mangrove adalah komunitas vegetasi pantai tropis, dan merupakan komunitas yang hidup di dalam kawasan yang lembab dan berlumpur sertadipengaruhi oleh pasang surut air laut. Hutan mangrove merupakan suatu ekosistem perpaduan antara ekosistem lautan dan daratan dan berkembang terutama di daerah tropika dan sub tropikayaitu pada pantai-pantai yang landai, muara sungai dan teluk yang berlindung dari hempasan gelombang air laut.

3. Penghasil bibit ikan, nener, udang, kerang, kepiting, telur dan madu, 4

  Menurut Odum (1971, diacu oleh Nur, 2002) hutan mangrove dengan vegetasinya yang khas, memiliki mata rantai makanan yang mendukungkehidupan berbagai jenis makhluk dari tingkat yang paling sederhana hingga ke tingkat yang paling kompleks. Kontruksi pematang tambak akan menjadi kuat karena akan terpegang akar- akar mangrove dari pohon mangrove yang ditanam di sepanjang pematangtambak dan pematang akan nyaman dipakai para pejalan kaki karena akan ditutupi oleh tajuk tanaman mangrove.

1. Kondisi pasang surut, yakni kisaran pasang surut air laut yang dianggap memenuhi syarat untuk dipilih sebagai lokasi adalah 1,7 – 2,5 m

  Sedangkan kepiting yang bersifat karnivor-scavanger (pemakanhewan dan bangkai) dan udang windu yang bersifat omnivora dapat dipelihara dengan bandeng, beronang dan nila, karena udang dan kepiting sangat sulitmenangkap ikan-ikan tersebut, sebaliknya ikan-ikan tersebut juga tidak memangsa udang dan kepiting (Kordi, 2012). Proses fotosintesis pada ekosistem air yang dilakukan oleh fitoplankton (produsen), merupakan sumber nutrisi utama bagi kelompokorganisma air lainnya yang berperan sebagai konsumen, dimulai dengan zooplankton dan diikuti oleh kelompok organisma air lainnya yang membentukrantai makanan.

1. Jenis Data

  Deskripsi Area Tambak 1, yaitu tambak dengan kerapatan mangrove sedang dengan luas 2 2.000 m , terletak pada 03°55’43.886″ LU dan 098°31’34.345″ BT. Tambak 1 yaitu tambak dengan kerapatan mangrove sedangTambak 2, yaitu tambak dengan kerapatan mangrove jarang dengan luas 2 2.000 m , terletak pada 03 55’38.630” LU dan 098 31’44.837” BT.

4. Pengambilan Data

  Pengambilan sampelkualitas air dilakukan pada setiap tambak sebanyak 2 stasiun yaitu pada bagian inlet dan bagian tengah tambak. Sampel yang akan diamati terlebih dahulu dikocoksampai homogen, kemudian dengan menggunakan pipet tetes diambil sebanyak 1 ml dan diletakkan di Sedgewick Rafter, kemudian ditutup dengan cover glass dandiletakkan di atas preparat lalu diamati di bawah mikroskop sebanyak tiga kali ulangan untuk menghitung kelimpahan plankton.

5. Analisis Data

  Data Kualitas Air Analisis data untuk mengetahui kelayakan kondisi kualitas air untuk budidaya udang windu adalah dengan membandingkan parameter fisika dan kimiapada setiap petak tambak berdasarkan kriteria pada Tabel 3. Data Kelimpahan Plankton Penentuan kelimpahan plankton dihitung dengan menggunakan rumusSachlan dan Effendie (1972, diacu oleh Dianthani, 2003), sebagai berikut : Vr 1 Data tentang teknik budidaya udang windu yang didapat dengan pengamatan secara langsung di lokasi penelitian kemudian dianalisis secaradeskriptif.

HASIL DAN PEMBAHASAN

  Kelimpahan plankton pada masing-masing tambak pengamatanBentuk fitoplankton dari kelas Bacillariophyceae dapat dilihat pada Gambar 12, bentuk fitoplankton dari kelas Chlorophyceae dapat dilihat pada Coscinodiscophyceae Gambar 13, bentuk fitoplankton dari kelas dapat dilihat padaGambar 14, bentuk fitoplankton dari kelas Cyanophyceae dan Fragilariophyceae dapat dilihat pada Gambar 15, bentuk fitoplankton dari kelas Zygnemophyceaedapat dilihat pada Gambar 16. Pergantian air ketika pemeliharaan udang di hapa maupun di petak tambak dilakukakan sebanyak empat kali dalam sebulan, yaitu pada saat akhir bulanketika kondisi air pasang tinggi dengan rentang waktu pergantian air dua hari Pergantian air dilakukan dengan cara membuka pintu air yang ada di tambak, kemudian air yang ada di dalam tambak dikeluarkan melalui pintu airpada saat kondisi air surut yaitu sekitar pukul 19.00 WIB.

KESIMPULAN DAN SARAN

  Produksi udang windu pada tambak 1 lebih tinggi dari pada tambak 2 disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu kualitas air pada tambak 1lebih sesuai untuk pemeliharaan udang windu dibandingkan dengan tambak 2. Selain itu, klekap yang tumbuh pada tambak 1 yang merupakan pakan alami bagi udang windu lebih baik pertumbuhannya, sedangkan pada tambak 2terdapat banyak lumut yang tumbuh di dasar tambak sehingga pakan alami udang windu seperti mollusca (cacing Annelida), udang-udang kecil, benthos,dan klekap menjadi sedikit.

DAFTAR PUSTAKA

  Analisis Sosial Ekonomi Pemanfaatan Kawasan Hutan Lindung Mangrove dengan Sistem Tambak Tumpangsari yang Berkelangsungan. Keterkaitan Lingkungan Mangrove Terhadap ProduksiUdang dan Ikan Bandeng di Kawasan Silvofishery Blanakan Subang,Jawa Barat.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Pengaruh Hutan Mangrove Terhadap Produksi Uda..

Gratis

Feedback