Upaya mengurangi kecemasan belajar matematika siswa dengan penerapan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya: sebuah studi penelitian tindakan di SMP Negeri 21 Tangerang

 17  160  88  2017-02-28 17:58:59 Report infringing document
Informasi dokumen

BAB II KAJIAN TEORITIK DAN PENGAJUAN KERANGKA KONSEPTUAL PERENCANAAN TINDAKAN A. Kajian Teoritik 1. Kecemasan a. Pengertian Kecemasan Secara leksikal kata cemas atau

  “Anxiety” diambil dari Bahasa Inggris, berpadanan dengan kata

  “fear”, yang memiliki arti “kecemasan

  atau ketakutan”. Menurut DepKes RI, 1990, kecemasan adalah “ketegangan, rasa tidak aman dan kekhawatiran yang timbul karena dirasakan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan tetapi sumbernya sebagian besar tidak

  1

  d iketahui dan berasal dari dalam.“ Menurut Kaplan, Sadock, dan Grebb kecemasan adalah “respon terhadap situasi tertentu yang mengancam, dan merupakan hal normal yang terjadi menyertai perkembangan, perubahan, pengalaman baru, atau yang

2 Stuart & Sundeen, berpendapat bahwa kecemasan

  pernah dilakukan.“ berbeda dengan rasa takut. Kecemasan adalah respon emosional terhadap penilaian yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan emosional ini tidak memiliki objek yang spesifik yang merupakan penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya. Sedangkan menurut Cluster kecemasan merupakan reaksi individu yang tertekan dalam

  3 menghadapi kesulitan sebelum kesulitan itu terjadi.

  Menurut para ahli psikologi, kecemasan (anxiety) seringkali juga digambarkan sebagai perpaduan empat komponen , yaitu kognitif, somatik, emosi, dan tingkah laku. Komponen kognitif, kecemasan (anxiety) menyebabkan seseorang mengalami kehilangan kontrol konsentrasinya, yang ditandai oleh keinginan untuk menghilangkan perasaan yang tidak 1

  http://www.scribd.com/doc/19546358/kecemasan “Kecemasan” dalam menentu atau perasaan yang membahayakan bagi dirinya. Secara somatik,

  

anxiety menyebabkan seseorang yang mengalami kehilangan kontrol

  fisiknya, yang ditandai dengan “kecepatan detak jantung yang meningkat, keringat bertambah, aliran darah meningkat, dan fungsi sistem kekebalan

  4 Secara

  dan pencernaan tersumbat, kulit pucat, keringat, dan gemetar.” emosi, kecemasan (anxiety) menyebabkan perasaan seseorang takut atau panik, yang ditandai dengan perasaan muak atau sikap dingin. Secara tingkah laku, kecemasan (anxiety) menyebabkan sikap keterpaksaan seseorang melakukan sesuatu dan ingin melepaskan diri dari sumber kecemasan (anxiety), yang ditandai dengan sikap yang tidak terkendali dalam melakukan sesuatu.

  Masih banyak lagi pendapat-pendapat tentang kecemasan dari para ahli psikologi, namun dari beberapa uraian di atas penulis dapat menarik kesimpulan bahwa kecemasan adalah suatu perasaan subjektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai reaksi umum dari ketidakmampuan mengatasi suatu masalah atau tidak adanya rasa aman. Seperti suasana yang dihadapi siswa saat harus menghadapi ujian, merasa tidak sanggup mencapai target kurikulum yang ditetapkan sebagai standar kelulusan dan sebagainya. Perasaan yang tidak menentu tersebut pada umumnya tidak menyenangkan yang nantinya akan menimbulkan atau disertai disertasi perubahan fisiologis (seperti gemetar, berkeringat, detak jantung meningkat) dan psikologis (seperti perasaan panik, tegang, bingung,

  5 dan perasaan tidak atau sulit berkonsentrasi).

  Mesikupun demikian, menurut penulis kecemasan (anxiety) bukanlah sesuatu masalah yang tidak dapat dikendalikan, karena kecemasan (anxiety) merupakan perubahan emosi yang biasa terjadi pada diri seseorang dalam perjalanan hidupnya, seperti rasa khawatir, takut, sedih, dan senang.

b. Tipe atau Macam Bentuk Kecemasan

  Para ahli psikologi membagi kecemasan (anxiety) pada beberapa tipe/macam, tergantung jenis pengelompokannya. Freud, seorang pakar psikoanalitik pertama mengungkapkan bahwa ada 3 macam kecemasan,

  6

  yaitu: 1.

  Kecemasan realistik, yaitu kecemasan akan adanya ancaman dari luar.

  Adapun taraf kecemasannya tergantung/ sesuai dari besarnya ancaman tersebut. Kecemasan inilah yang persis dikatakan oleh Freud sebagai rasa takut.

  2. Kecemasan moral, yaitu kecemasan yang bukan datang dari dunia luar atau dunia fisik tapi dari dunia super ego yang telah diinternalisasikan ke dalam diri kita. Kecemasan bentuk ini merupakan kecemasan terhadap hati nurani sendiri.

  3. Kecemasan neorotik, yaitu kecemasan yang muncul akibat rangsangan- rangsangan id. Contohnya adalah munculnya perasaan gugup, kehilangan ide, tidak mampu mengendalikan diri, perilaku bahkan pikiran. Kecemasan neurotik inilah yang biasa disebut dengan kecemasan yang sehari-hari sering dialami oleh setiap orang.

  Sementara itu, Lahey dan Ciminero mengelompokkan tipe/ macam kecemasan berdasarkan sifatnya ke dalam 3 tipe, yaitu:

  1. Kecemasan yang bersifat afersif, kecemasan ini merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan, sehingga seseorang yang mengalaminya berusaha untuk menghindari kecemasan dengan cara menghindarkan diri dari berbagai stimulus yang dapat menghasilkan kecemasan.

2. Kecemasan yang bersifat mengganggu, kecemasan ini merupakan kecemasan yang dapat mengganggu kemampuan kognitif dan motorik.

  3. Kecemasan yang bersifat psikofisiologis. Kecemasan ini berkaitan dengan pengalaman yang melibatkan aspek psikologis dan biologis yang mengalaminya. Dengan kata lain, seseorang yang sedang mengalami kecemasan ini akan mengalami perubahan-perubahan. Perubahan dalam pola perilaku psikologinya dan gejala-gejala fisiologisnya.

c. Kecemasan Siswa Dalam Pembelajaran Matematika

  Pada dasarnya belajar adalah memberikan bekal hidup kepada peserta didik agar mampu menghadapi hidup pada masa depan. Untuk itu, selama berlangsungnya proses belajar seorang guru harus dapat melihat potensi yang dimiliki peserta didiknya (siswa) sehingga keberhasilan belajar dapat tercapai, yang tercermin dari performan belajar siswa. Menurut Gagne “belajar telah terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga performannya berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia

  7

  mengalami situasi tadi.” Sebagai pengajar, guru harus sadar akan situasi dan berhati-hati mengamati lingkungan sekolah, sehingga peristiwa-peristiwa traumatik yang dapat merendahkan konsep diri siswa dapat dikurangi. Karena selain mempengaruhi tingkat aspirasi dan konsep diri siswa, situasi pembelajaran

  8 yang menekan juga cenderung menimbulkan kecemasan pada diri siswa.

  Beberapa hasil penelitian atau kajian menunjukkan bahwa kecemasan (anxiety) dalam belajar matematika berkaitan dengan performan belajar

  9 matematika siswa.

  Misalnya, penelitian Bessant (1995) menyatakan anxiety matematika berkorelasi dengan sikap terhadap matematika.

  Eccles dan Jacob (Wisenbaker, 2001) menyatakan bahwa

  kualitas belajar matematika siswa sangat dipengaruhi oleh konsep diri siswa dan anxiety matematika siswa. Kualitas belajar yang dimaksud adalah kualitas pada proses belajar dan hasil belajar matematika siswa. Barlow (2003) anxiety matematika mempengaruhi efektivitas belajar, semakin rendah anxiety 7 matematika maka efektivitas belajar tinggi dan demikian

  M.Ngalim Purwanto,Psikologi Pendidikan,(Bandung: PT.Remaja Rosda Karya, 2004),Cet.XVIII,h.84. 8 Slameto,Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya,(Jakarta:Remaja PT Rineka

  sebaliknya. Pendapat yang lain, Tapia dan Marsh (2004) menyatakan anxiety matematika memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keyakinan diri dan motivasi matematika.

  Nasser (2004) menyatakan bahwa anxiety mempengaruhi

  kemampuan dasar matematika. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, nampaklah bahwa anxiety matematika secara signifikan berkaitan dengan performan belajar matematika siswa, seperti efektivitas belajar matematika dan kemampuan dasar matematika (aspek kognitif, serta sikap terhadap matematika, motivasi berprestasi matematika, dan konsep diri matematika (aspek afektif). Dari penelitian Sarason dan kawan kawanpun didapati kenyataan bahwa “siswa dengan tingkat kecemasan yang tinggi tidak berprestasi sebaik siswa yang tingkat kecemasannya lebih rendah pada beberapa jenis

  10

  tugas.” Padahal „ambisi‟ berprestasi sangat diperlukan dalam belajar, karena dengan „ambisi‟ itu akan memberikan motivasi belajar yang kuat dan kemampuan untuk berlama-lama dalam belajar. Pendapat ini memberikan pengertian bahwa kecemasan (anxiety) sangat diperlukan dalam belajar matematika, namun kecemasan (anxiety) yang terjadi tidak boleh terlalu lama atau dengan kata lain kecemasan (anxiety) harus dikendalikan.

  Guru sebagai pengajar yang efektif hendaknya harus dapat menciptakan minat dan motivasi yang cukup pada siswa untuk berprestasi, tanpa menciptakan keadaan-keadaan yang menekan. Karena sebenarnya, kecemasan (anxiety) dalam matematika merupakan hal yang wajar pada diri siswa karena orang pasti memiliki kecemasan (anxiety). Namun yang perlu diperhatikan adalah kecemasan (anxiety) matematika siswa tidak boleh dibiarkan terlalu lama mengendap pada diri siswa karena hal itu akan menyebabkan turunnya semangat berprestasi.

  Pada kadar yang rendah, kecemasan mambantu individu untuk bersiaga mengambil langkah

  • –langkah mencegah bahaya atau untuk memperkecil dampak bahaya tersebut. Kecemasan pada taraf tertentu dapat mendorong meningkatnya performa misalnya karena cemas mendapatka IP/ nilai yang buruk maka mahasiswa/ siswa berusaha belajar keras dan

  11

  mempersiapkan diri saat akan menghadapi ujian. Oleh karena itu, kecemasan (anxiety) yang pada diri siswa tidak mungkin dapat dihilangkan namun hanya dapat dikurangi atau dikendalikan, kemudian kecemasan (anxiety) ini diarahkan pada pengembangan potensi diri siswa. Slameto dalam bukunya memberikan beberapa saran yang mungkin dapat membantu memotivasi siswa untuk menyiapkan diri dan melaksanakan tes tanpa

  12

  merasa cemas, yaitu: 1.

  Tes harus dimaksudkan untuk diagnosa, bukan untuk menghukum siswa yang gagal mencapai harapan-harapan guru dan orang tua.

  2. Hindari menentukan berhasil atau tidaknya siswa hanya dari hasil satu tes.

  3. Buatlah catatan pribadi pada setiap lembar jawaban tes yang menyarankan siswa untuk tetap berusaha dengan baik atau harus meningkatkan usahanya.

  4. Yakinkan bahwa setiap pertanyaan mengukur hal yang penting yang telah diajarkan kepada siswa.

  5. Hindari pelaksanaan ujian tanpa adanya pemberitahuan.

  6. Jadwalkan pertemuan-pertemuan pribadi dengan siswa sesering mungkin untuk untuk mengurangi kecemasan dan untuk mengarahkan belajar apabila perlu.

  7. Hindari membanding-bandingkan siswa, yang dapat menyinggung perasaan.

  8. Tekankan kelebihan-kelebihan siswa bukan kelemahan-kelemahannya.

  9. Kurangi peranan-peranan ujian yang bersifat kompetitif bila siswa tidak sanggup bersaing.

  10. Rahasiakan taraf dan nilai-nilai siswa dari siswa-siswa lainnya.

  11. Beri siswa kemungkinan untuk memilih aktivitas-aktivitas yang mempunyai nilai pengajaran yang sebanding.

2. Belajar dan Pembelajaran Matematika a. Pengertian Belajar

  Banyak orang menganggap bahwa belajar adalah semata-mata mengumpulkan/ menghafal fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi/materi pelajaran. Biasanya orang yang beranggapan demikian akan merasa bangga ketika anak-anaknya telah mampu menyebutkan kembali secara lisan sebagai informasi yang terdapat dalam buku teks atau yang telah diajarkan oleh guru. Ada juga sebagian orang yang menganggap bahwa belajar itu sebagai latihan belaka, seperti tampak ketika anak-anak belajar menulis atau membaca saat di sekolah. Hal demikian memang benar, tapi pada hakikatnya belajar tidak semudah seperti persepsi yang telah disebutkan.

  Pengertian belajar tidak hanya sekedar mengumpulkan ilmu pengetahuan, menghafal, menghadapi buku-buku atau menyelesaikan soa- soal suatu mata pelajaran tetapi lebih daripada itu, belajar adalah suatu proses yang dapat membawa perubahan pada diri individu yang belajar.

  Hilgard dalam buku Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar

  mengatakan bahwa “Belajar adalah suatu proses dimana ditimbulkan atau

  13 Oleh karena itu

  diubahnya suatu kegiatan karena mereaksi suatu keadaan.” berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa. Menurut Witherington

  “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian, yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respon yang baru yang berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan,

14 Morgan mengemukakan belajar adalah

  pengetahuan dan kecakapan.” setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi

  15

  sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Menurut Whittaker belajar dapat didefinisikan sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan 13 Moh.Uzer Usman dan Lili Setiawati(eds),Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar,(Bandung:Remaja Rosda Karya,2005),h.5. 14 Nana Syaodih Sukmadinata(ed),Landasan Psikologi Proses Pendidikan, ( Bandung:

  16

  atau diubah melalui suatu pengalaman. Belajar dapat pula diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku pada diri individu dikarenakan adanya interaksi antara individu dengan individu, atau individu dengan lingkungannya, seperti yang dikatakan oleh W.H Burton

  “learning is a

  change in the individual due to instruction of that individual and his environment, wich fells a need and makes him more capable of dealing

17

adequately with his environment.

  ” Banyak sekali pendapat para ahli pendidikan tentang pengertian belajar, seperti yang telah disebutkan di atas. Timbulnya keanekaragaman pendapat para ahli adalah wajar adanya dikarenakan adanya perbedaan titik pandang serta perbedaan situasi belajar yang satu dengan situasi belajar yang lainnya. “Namun demikian, dalam beberapa hal tertentu yang mendasar mereka sepakat, seperti dalam penggunaan kata “berubah” dan

  18

  “tingkah laku”.” Telah kita ketahui bahwa belajar adalah suatu proses yang menimbulkan terjadinya suatu perubahan atau pembaharuan dalam tingkah laku atau kecakapan, maka berhasil atau tidaknya sorang siswa dalam belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor.

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar

  Adapun faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar, menurut Ngalim Purwanto dalam bukunya yang berjudul Psikologi

19 Pendidikan adalah: 1.

  Faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri yang kita sebut faktor individual, seperti kematangan/ pertumbuhan individu, 16 kecerdasan, latihan, motivasi, dan faktor pribadi.

  Abu Ahmadi dan Widodo Supriono “Psikologi belajar” (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003), Cet. II, h.126. 17 Moh. Uzer Usman(ed), Menjadi Guru Profesional, (Bandung:Remaja Rosda Karya, 2003), Cet.XV,h.5. 18 Muhibbin Syah(ed), Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung:

2. Faktor yang ada diluar individu yang kita sebut faktor sosial.

  Adapun yang termasuk kedalam faktor sosial antara lain: faktor keluarga/ keadaan rumah tangga, guru dan cara mengajarnya, alat- alat yang dipergunakan dalam belajar-mengajar, lingkungan dan kesempatan belajar serta motivasi sosial. Selain faktor internal dan faktor eksternal, Muhibbin menambahkan pendekatan belajar sebagai salah satu faktor yang dapat mempengaruhi

  20 pembelajaran.

c. Pengertian Matematika

  Secara etimologi, kata matematika berasal dari bahasa latin

  mathematica, yang mula-mula berasal dari kata Yunani

  “mathematike”, akar kata mathema yang berarti pengetahuan atau ilmu, kata mathematike berkaitan pula dengan kata mathenain yang berarti berfikir atau belajar yang

  21

  lebih jauhnya berarti matematis. Somardyono mengatakan bahwa

  22 Menurut “Matematika adalah produk dari pemikiran intelektual manusia”.

  Jujun matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna

  23 dari pernyataan yang ingin kita sampaikan.

  Masih banyak lagi pengertian matematika, namun sampai saat ini belum ada kesepakatan yang bulat diantara matematikawan. Hal ini disebabkan penelaahan matematika yang begitu kompleks dan banyak yang bersifat abstrak. Banyak muncul definisi/ pengertian tentang matematika yang beraneka ragam, hal itu disebabkan adanya perbedaan sudut pandang dari para ahli / tokoh matematika. Dengan kata lain, tidak terdapat satu definisi tentang matematika yang tunggal dan disepakati oleh semua tokoh/

  20 Muhibbin Syah, 21 Psikologi Belajar… h.132 Matematika dalam pukul 13:56

  22 Sumardyono, “Karakteristik Matematika Dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran

Matematika”, Disertasi, (Yogyakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal pakar matematika. Berikut beberapa pendapat tentang definisi matematika yang dikutip oleh Maman dalam buku Erman:

  24 1.

  James and James dalam kamus matematikanya mengatakan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan besaran, dan konsep-konsep berhubungan lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi kedalam tiga bidang yaitu aljabar, analisis, dan geometri.

  2. Menurut Johnson and Rising bahwa matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logik, atau matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah didefinisikan dengan cermat, jelas dan akurat, merefleksikannya dengan simbol-simbol dan padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai ide daripada mengenai bunyinya.

  3. Menurut Reyes adalah bahwa matematika merupakan telaah tentang pola hubungan sesuatu atau pola berpikir, suatu seni, suatu bahasa dan suatu alat.

  4. Menurut Kline, matematika itu bukanlah pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena adanya sendiri, tetapi adanya matematika itu terutama untuk manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam.

d. Pengertian Pembelajaran Matematika

  Pembela jaran dalam arti luas diartikan “suatu konsep yang bisa berkembang seirama dengan tuntunan kebutuhan hasil pendidikan yang berkaitan dengan kemajuan teknologi yang melekat pada wujud perkembangan kualitas sumber daya manusia.”

  25 Sedangkan pengertian

  pembela jaran yang berkaitan dengan sekolah diartikan “kemampuan dalam mengelola secara operasional dan efisien terhadap komponen-komponen yang berkaitan dengan pembelajaran, sehingga menghasilkan nilai tambah 24 Erman Suherman dkk, Pembelajaran Matematika Kontemporer, (Bandung: JICA,

  26

  terhadap komponen tersebut menurut norma/standar yang berlaku.” Disebutkan pula oleh Sumiati bahwa

  “pembelajaran merupakan proses memberi pengalaman belajar kepada siswa sesuai dengan tujuan yang

  27

  hendak dicapai dengan berbagai cara Karena pembelajaran merupakan .” proses yang dilakukan untuk membantu para siswa untuk mengoptimalkan belajarnya. “Pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar

28 Sedangkan tanda umum telah terjadinya proses

  dapat belajar dengan baik.” pembelajaran didapatnya perubahan tingkah laku siswa yang lebih maju, lebih tinggi, dan lebih baik dari tingkah laku sebelum terjadinya proses pembelajaran. Pengertian pembelajaran ini menyebutkan bahwa pembelajaran adalah perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku melalui pembelajaran yaitu perubahan yang lebih maju, lebih tinggi dan lebih baik daripada tingkah laku yang sedia ada sebelum aktifitas pembelajaran. Secara luas dapat dibedakan bahwa belajar adalah proses yang dilakukan oleh siswa secara individu dan pembelajaran adalah proses yang sengaja dilakukan agar kegiatan belajar siswa lebih optimal. Menurut Usman, “...proses pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik

  29

  yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.” Sedangkan matematika sendiri sebenarnya cukup sulit untuk didefinisikan secara konkret, namun menurut sebagian pendapat ada yang mencoba mendefinisikan arti dari matematika. Seperti Johnson dan Rising (1972) yang mengatakan bahwa “matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logik, matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat, representasinya dengan simbol dan padat, lebih berupa bahasa

  30 simbol mengenai ide daripada mengenai bunyi. 26

  ” 27 Martinis Yamin dan Bansu I. Ansari, Taktik Mengembangkan...., h.22 28 Sumiati dan Asra, “Metode Pembelajaran” (Bandung: Wacana Prima, 2009), h.3.

  Pembelajaran, dalam0 April 2008, 23:12.

  Dengan demikian pembelajaran matematika merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan guru terhadap siswa untuk membantu siswa dalam belajar matematika ke arah perubahan tingkah laku dan pola pikir yang lebih maju, lebih tinggi, dan lebih baik dari sebelumnya.

  e. Karakteristik Pembelajaran Matematika

  Pembelajaran matematika di sekolah tidak bisa terlepas dari sifat- sifat matematika yang abstrak dan sifat perkembangan intelektual siswa yang diajar. Ada beberapa sifat atau karakteristik pembelajaran matematika.

  31 Menurut Erman. dalam bukunya mengungkapkan bahwa:

  a) Pembelajaran matematika adalah berjenjang (bertahap).

  Bahan kajian matematika yang diajarkan dimulai dari hal yang kongkrit dan dilanjutkan ke hal yang abstrak atau dari konsep yang mudah atau sederhana kepada konsep yang sukar atau kompleks. Contohnya adalah pengenalan luas bangun datar sebelum pengenalan luas bangun ruang.

  b) Pembelajaran matematika mengikuti metoda spiral

  Metoda spiral yang dimaksud adalah spiral naik. Artinya setiap memperkenalkan konsep atau bahan yang baru perlu memperhatikan konsep atau bahan yang telah dipelajari siswa sebelumnya. Bahan yang baru selalu dikaitkan dengan bahan yang telah dipelajari. Pengulangan konsep dalam bahan ajar dengan cara memperluas dan memperdalam adalah perlu dalam pembelajaran matematika. Contohnya adalah pengulangan atau pendalaman konsep rumus phytagoras ketika konsep penghitungan luas segitiga siku-siku diajarkan.

  c) Pembelajaran matematika menekankan pola pikir deduktif.

  Matematika adalah ilmu deduktif yang tersusun secara deduktif aksiomatik. Namun demikian kita harus dapat memilih pendekatan yang keseluruhan matematika adalah ilmu deduktif tetapi belum seluruhnya cocok menggunakan pendekatan deduktif. Sebagai contoh dalam pengenalan fungsi, tidak diawali oleh definisi fungsi, tetapi diawali dengan memberikan contoh-contoh relasi yang diantaranya ada yang merupakan fungsi. Sehingga dari pengamatan terhadap contoh-contoh tersebut kelihatan bedanya antara relasi biasa dengan relasi yang khusus yaitu fungsi. Namun secara umum pembelajaran matematika akan lebih baik bila menekanankan pada pola pikir deduktif.

d) Pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi.

  Kebenaran dalam matematika sesuai dengan struktur deduktif aksiomatiknya. Kebenaran-kebenaran dalam matematika pada dasarnya merupakan kebenaran konsistensi, tidak ada pertentangan antara kebenaran suatu konsep dengan yang lainnya. Suatu pernyataan dianggap benar bila didasarkan atas pernyataan-pernyataan terdahulu yang telah diterima kebenarannya.

  Sedangkan menurut Sumardyono karakteristik pembelajaran

  32

  matematika sekolah antara lain:

  a) Penyajian

  Penyajian matematika tidak harus diawali dengan teorema maupun definisi, tetapi haruslah disesuaikan dengan perkembangan intelektual siswa.

  b) Pola Pikir

  Pembelajaran matematika sekolah dapat menggunakan pola pikir deduktif maupun pola pikir induktif. Hal ini harus disesuaikan dengan topik bahasan dan tingkat intelektual siswa. Sebagai kriteria umum, biasanya di SD menggunakan pendekatan induktif lebih dulu karena hal ini lebih memungkinkan siswa menangkap pengertian yang dimaksud.

  Sementara untuk tingkat SMP dan SMA, pola pikir deduktif sudah semakin ditekankan.

  c) Semesta Pembicaraan

  Sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual siswa, maka matematika yang disajikan dalam jenjang pendidikan juga dalam kekomplekan semestanya.

  d) Tingkat Keabstrakan

  Seperti pada poin sebelumnya, tingkat keabstrakan matematika juga harus menyesuaikan perkembangan intelektual siswa.

3. Metode Diskusi Kelompok Teknik Tutor Sebaya a. Pengertian Metode Diskusi Kelompok

  Diskusi kelompok merupakan gabungan dari dua kata, diskusi dan kelompok. Secara harfiah diskusi diartikan sebagai “kegiatan yang melibatkan individu yang terlibat didalamnya untuk saling tukar menukar

  33

  sedangkan pengalaman, informasi dalam rangka memecahkan masalah;” kelompok adalah kumpulan dua orang atau lebih untuk suatu kerja atau suatu tujuan. Jadi diskusi kelompok erat kaitannya dengan belajar dapat diartikan sebagai sekelompok siswa yang mengerjakan pelajaran secara

  34

  bersama-sama dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Menurut Sumi ati dalam buku metode pembelajaran adalah “satu metode pembelajaran agar siswa dapat berbagi pengetahuan, pandangan, dan

35 Dari beberapa pengertian tersebut, dapat ditarik

  keterampilannya.” kesimpulan bahwa metode dikusi kelompok adalah: metode atau cara penyajian suatu pelajaran, dimana siswa dihadapkan pada suatu masalah yang berupa pernyataan atau pertanyaan bersifat problematis untuk dibahas atau dipecahkan secara bersama. 33 Roestiyah N.K, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2008), Cet.VII, h.5.

  Diskusi Kelompok pada dasarnya memecahkan persoalan secara bersama, artinya setiap orang turut memberikan sumbangan pikiran dalam memecahkan persoalan tersebut, sehingga diperoleh hasil yang lebih baik sebab cara belajar sendiri di rumah sering menimbulkan kebosanan dan kejenuhan. Untuk mengatasinya divariasikan dengan cara belajar bersama dengan teman yang paling dekat (belajar kelompok).

  Pengorganisasian murid-murid menjadi kelompok, memainkan peranan penting agar hasil belajar dapat mencapai hasil yang memuaskan. Maka dalam membentuk kelompok kita dapat menggunakan berbagai argumentasi; Ditinjau dari lamanya suatu kelompok berfungsi, kita

  36

  membedakan adanya:

  a) Kelompok Permanen (Long Term Group); misalnya kelompok yang dibentuk untuk selama satu tahun.

  b) Kelompok Temporer (Short Term Group); misalnya kelompok yang dibentuk hanya untuk selama satu atau dua jam pelajaran dan lain sebagainnya.

  Ditinjau dari komposisi anggota kelompok, kita membedakannya menjadi kelompok heterogen dan kelompok homogen. Kemudian kelompok heterogen dan kelompok homogen dapat pula dilanjutkan pembagiannya ke dalam bentuk sebagai berikut: Kelompok heterogen menurut jenis kelamin, kelompok heterogen menurut taraf kecerdasan, kelompok homogen jenis kelamin, dan kelompok homogen menurut taraf kecerdasan.

  Membentuk suatu kelompok murid, yang terbaik adalah setelah kelompok terbentuk, semua anggota kelompok itu dapat bekerja sama secara harmonis. Trianto dalam bukunya memberikan langkah-langkah

  37

  penyelenggaraan metode diskusi yaitu sebagai berikut:

  Tabel 2.1 Langkah-langkah Penyelenggaraan Diskusi

  Tahap Kegiatan Guru a.

  Menyampaikan Pendahuluan

  1.Menyampaikan tujuan dan (a).Motivasi (b).menyampaikan tujuan dasar mengatur siswa diskusi (c).apersepsi b.

  Menjelaskan tujuan diskusi 2. Mengarahkan Diskusi Memberikan petanyaan awal (topik/ materi).

  3.Menyelenggarakan Membimbing/ mengarahkan diskusi.

  Diskusi 4.Mengakhiri Diskusi Menutup diskusi.

  5. Melakukan tanya jawab Membantu siswa membuat rangkuman singkat diskusi dan tanya jawab singkat.

  Belajar kelompok ini diperlukan sekali bagi siswa yang mendapat tugas untuk mengatasi kesulitan belajar yang dihadapi siswa.

b. Kriteria Diskusi Kelompok yang Baik

  Agar penerapan diskusi dalam kelompok menjadi lebih aktif, maka ada beberapa yang perlu diperhatikan diantaranya adalah: a)

  Tujuan Tujuan harus jelas bagi setiap anggota kelompok, agar diperoleh hasil kerja yang baik. Tiap anggota harus tahu apa yang harus dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakannya. Itulah sebabnya dalam setiap kerja kelompok perlu didahului dengan kegiatan diskusi untuk menentukan kerja apa dan oleh siapa.

  b) Interaksi

  Dalam diksusi kelompok ada tugas yang harus diselasaikan bersama sehingga perlu dilakukan pembagian kerja. Salah satu persyaratan utama bagi terjadinya kerjasama adalah komunikasi yang efektif, perlu adanya interaksi antar anggota kelompok.

  c) Kepemimpinan

  Tugas yang jelas, komunikasi yang efektif, kepemimpinan yang baik akan berpengaruh terhadap suasana kerja, dan pada gilirannya suasana akan mempengaruhi proses penyelesaian tugas. Oleh karena itu maka produktivitas dan iklim emosional kelompok merupakan dua aspek yang saling terkait dalam proses kelompok.

  Sebagai metode pembelajaran, diskusi tidak lepas dari kekurangan. Namun demikian guru dapat menggunakan kelebihanya untuk dapat mengoptimalkan siswa dalam belajar. Agar diskusi kelompok dapat berjalan optimal, maka perlu diketahui ciri-ciri diskusi yang baik sehingga memungkinkan kelompok untuk mencapai tujuan belajar yang efektif. Suatu kelompok diskusi dikatakan baik apabila :

  a) Semua anggota terlibat secara maksimal dalam menjalankan tugas yang telah ditetapkan.

  b) Interaksi yang terjadi antara siswa secara spontan terus dirangsang dan senantiasa dikembangkan.

  c) Antar anggota terjadi saling membimbing dan membantu dalam usaha- usaha kelompok sewaktu diperlukan.

  d) Komunikasi antar anggota terjadi secara interaksional.

  e) Diskusi dilakukan atas dasar rasional dan penalaran. Bukan atas dasar sentimen dan emosi.

  f) Anggota diskusi dapat bersikap demokratis.

  c. Pengertian Teknik Tutor Sebaya

  Salah satu masalah dalam pembelajaran di sekolah adalah rendahnya hasil belajar siswa. Hasil belajar dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor dari dalam (individual) maupun faktor dari luar (sosial). dalam belajar, akan tetapi aspek psikis atau rohanipun tidak kalah pentingnya dengan aspek jasmani. Untuk menunjang kelancaran belajar, bukan hanya dituntut kesehatan jasmani saja, akan tetapi kesehatan rohanipun diperlukan. Siswa yang sehat rohaninya adalah siswa yang terbebas dari tekanan-tekanan batin yang mendalam, gangguan-gangguan perasaan seperti kecemasan, frustasi dan depresi serta terbebas dari konflik psikis.

  Sering ditemukan di lapangan bahwa guru dalam membelajarkan siswa hanya memperhatikan sisi kognitifnya tanpa memperhatikan sisi psikologis siswa, sehingga sampai saat ini mengakarlah dogma bahwa siswa yang mampu mendapat nilai sesuai standar yang ditentukan dapat dinyatakan telah berhasil mengikuti proses pembelajaran. Sehingga siswa dipaksa untuk belajar dan melatih kemampuannya untuk menyelesaikan soal sebanyak mungkin tanpa memperhatikan apakah siswa merasa nyaman, tidak terbebani dengan metode atau model belajar yang berorientasi pada pencapaian nilai akhir setinggi mungkin yang tanpa disadari dapat menimbulkan kecemasan siswa jika pada saatnya mengikuti tes akhir mereka tidak mampu mendapatkan nilai sesuai yang telah ditentukan. Timbul pertanyaan apakah mungkin dikembangkan suatu model pembelajaran yang sederhana, sistematik, bermakna dan dapat digunakan oleh guru sebagai dasar untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik yang tidak hanya menekankan pada pencapaian nilai akhir saja, akan tetapi mampu membantu siswa dalam mengeksplorasi kemampuannya serta dapat membantu siswa untuk memahami pelajaran dengan nyaman, tidak terbebani serta tidak merasakan kecemasan dengan intensitas tinggi selama kegiatan belajar berlangsung yang pada akhirnya mampu meningkatkan hasil belajar siswa.

  Seiring berkembangnya media dan metodologi pembelajaran, makin banyak perhatian terhadap pengajaran tutor sebaya yang pada dasarnya karena sumber daya pengajar tidak harus selalu guru. Sumber daya pengajar dapat dari orang lain yang bukan guru, melainkan teman sekelas.

  Pembelajaran menggunakan metode tutor sebaya/ sistem tutor ini telah banyak digunakan di Inggris dan di negara-negara yang mengikuti

  38

  sistem pendidikan Inggris Menurut Harsunarko “Sumber daya pengajar yang bukan guru berasal dari orang yang lebih pandai disebut sebagai

  39 tutor.

  ” Seperti yang diungkapkan Supriyadi “Tutor sebaya adalah seorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk dan ditugaskan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Tutor tersebut diambil dari

  40

  kelompok yang prestasinya lebih tinggi. menurut Martinis Yamin model “ tutorial merupakan cara penyampaian bahan pelajaran yang telah dikembangkan dalam bentuk modul untuk dipelajari siswa secara mandiri.

  Dari penjelasan di atas, peneliti menyimpulkan defenisi teknik tutor sebaya adalah teknik yang diterapkan dalam proses pembelajaran, dengan menunjuk siswa sebagai tutor yang bertugas memberikan pemahaman kepada siswa lainya dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain tutor adalah salah seorang atau beberapa orang siswa yang pantas ditunjuk, dan ditegaskan membantu siswa lain yang mengalami kesulitan dalam belajar. Dalam hal ini fungsi tutor hanyalah membantu guru dan bekerja sesuai dengan petunjuk yang diberikan, ia bukanlah guru atau pengganti guru

  .

  Pembelajaran tutor sebaya ini dapat dipandang sebagai reaksi terhadap pembelajaran klasikal dengan kelas yang terlampau besar dan padat sehingga guru atau tenaga pengajar tak dapat memberikan bantuan individual, bahkan sering tidak mengenal pelajar seorang demi seorang. Selain itu para pendidik mengetahui bahwa beberapa siswa menunjukkan perbedaan dalam cara-cara belajar. Pengajaran klasikal yang menggunakan proses belajar-mengajar yang sama bagi semua siswa tidak akan sesuai bagi kebutuhan dan kepribadian setiap siswa. Maka karena itu perlu dicari sistem 38 S.Nasution, berbagai pendekatan dalam proses belajar dan mengajar, (Jakarta:PT pembelajaran yang membuka kemungkinan memberikan pengajaran bagi sejumlah besar siswa dan di samping itu memberi kesempatan bagi pengajaran tutor sebaya.

  Jadi, dalam pembelajaran dengan tutor sebaya, tutor hendaknya adalah siswa yang mempunyai kemampuan lebih dibandingkan dengan teman-temannya, sehingga pada saat ia membimbing teman-temannya ia sudah menguasai bahan yang akan disampaikan kepada teman-teman lainnya. Sebenarnya tutor sebaya merupakan modifikasi dari cara belajar kelompok. Perbedaannya, pada cara berkelompok belum ada penekanan secara khusus tentang siapa yang menjadi tutor bagi temannya. Masalah ini dapat dilihat dari hasil evaluasi belajar yang menunjukkan siswa berhasil dalam kelompok, namun tidak berhasil pada saat evaluasi belajar secara individu. Karena dalam belajar kelompok, siswa yang lebih pandai tidak berusaha memberikan penjelasan kepada siswa yang kurang, dan begitu sebaliknya, siswa yang kurang pandai tidak diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan bertanya kepada teman yang lebih pandai. Akhirnya yang bekerja dalam kelompok adalah mereka yang pandai.

  Kelebihan tutor sebaya dalam pendidikan yaitu dalam penerapan tutor sebaya siswa diajar untuk mandiri, dewasa, dan punya rasa setia kawan yang tinggi. Artinya dalam penerapan tutor sebaya itu, siswa yang dianggap pintar bisa mengajari atau menjadi tutor temannya yang kurang pandai atau ketinggalan. Di sini peran guru hanya sebagai fasilitator atau pembimbing saja. Dengan kata lain, guru dapat menugaskan siswa pandai untuk memberikan penjelasan (menjadi tutor sebaya) kepada siswa kurang pandai, dengan demikian siswa yang bertanya tidak akan takut karena yang mejelaskannya adalah tak lain kawan mereka sendiri.

  Tutor dikatakan berhasil jika dapat menjelaskan dan yang dijelaskan dapat membuktikan bahwa dia telah mengerti atau memahami dengan cara hasil pekerjaannya. Adapun tahap-tahap kegiatan pembelajaran di kelas dengan menggunakan pendekatan tutor sebaya menurut Hamalik dalam

  41

  skripsi Syaripudin adalah sebagai berikut: 1.

  Tahap persiapan

  a) Guru membuat program pengajaran satu pokok bahasan yang dirancang dalam bentuk penggalan-penggalan sub pokok bahasan.

  Setiap penggalan satu pertemuan yang didalamnya mencakup judul penggalan tujuan pembelajaran, khususnya petunjuk pelaksanaan tugas-tugas yang harus diselesaikan.

  b) Menentukan beberapa orang siswa yang memenuhi kriteria sebagai tutor sebaya. Jumlah tutor sebaya yang di tunjuk disesuaikan dengan jumlah kelompok yang dibentuk.

  c) Mengadakan latihan bagi para tutor. Dalam pelaksanaan tutorial atau bimbingan ini, siswa yang menjadi tutor bertindak sebagai guru.

  Sehingga latihan yang diadakan oleh guru merupakan semacam pendidikan guru atau siswa itu. Latihan diadakan dengan dua cara yaitu melalui latihan kelompok kecil dimana dalam hal ini yang mendapatkan latihan hanya siswa yang akan menjadi tutor, dan melalui latihan klasikal, dimana siswa seluruh kelas dilatih bagaimana proses pembimbingan ini berlangsung.

  d) Pengelompokan siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang yang terdiri atas 4-6 orang. Kelompok ini disusun berdasarkan variasi tingkat kecerdasan siswa. Kemudian tutor sebaya yang telah ditunjuk di sebar pada masing-masing kelompok yang telah ditentukan.

2. Tahap pelaksanaan

  a) Setiap pertemuan guru memberikan penjelasan terlebih dahulu tentang materi yang di ajarkan.

  b) Siswa belajar dalam kelompoknya sendiri. Tutor sebaya menanyai anggota kelompoknya secara bergantian akan hal-hal yang belum dimengerti, demikian pula halnya dengan menyelesaikan tugas. Jika ada masalah yang tidak diselesaikan barulah tutor meminta bantuan guru.

  c) Guru mengawasi jalannya proses belajar, guru berpindah-pindah dari satu kelompok ke kelompok yang lain untuk memberikan bantuan jika ada masalah yang tidak dapat diselesaikan dalam kelompoknya.

3. Tahap evaluasi

  a) Sebelum kegiatan pembelajaran berakhir, guru memberikan soal-soal latihan kepada anggota kelompok (selain tutor) untuk mengetahui apakah tutor sudah menjelaskan tugasnya atau belum

  b) Mengingatkan siswa untuk mempelajari sub pokok bahasan sebelumnya di rumah.

  Dengan menggunakan pendekatan tutor sebaya, diharapkan mampu mengatasi masalah kelemahan dalam belajar kelompok. Namun demikian, perlu diketahui bahwa teknik tutor sebaya memiliki kelebihan dan kekurangan. Berdasarkan beberapa sumber, dapat diambil kesimpulan tentang kelebihan pendekatan tutor sebaya antara lain:

  a) Hasilnya lebih baik, bagi beberapa siswa yang mempunyai perasaan takut atau enggan kepada guru.

  b) Bagi tutor, pekerjaan tutoring akan memperkuat konsep yang dibahas dan memberikan kesempatan untuk melatih diri memegang/ memberikan tanggung jawab suatu tugas serta melatih kesabaran.

  Adapun kelemahan, dapat disimpulkan sebagai berikut:

  a) Siswa yang dibantu seringkali belajar kurang serius, dan beberapa siswa takut rahasianya diketahui teman.

  b) Pada kelas-kelas tertentu, kegiatan tutoring ini sulit dilaksanakan karena ada perbedaaan jenis kelamin antara tutor dan yang diberi tutor.

  c)

  B. Penelitian yang Relevan

  Sebagai bahan pertimbangan peneliti mengangkat masalah upaya mengurangi kecemasan dengan penerapan model pembelajaran tutor sebaya metode diskusi kelompok adalah kesimpulan dari penelitian yang dilakukan oleh saudara Syarifuddin. Beliau menuliskan pada poin empat di halaman 76 s/d 77 bahwa:

  “tutor sebaya memberikan lingkungan yang nyaman bagi siswa untuk bertanya tanpa merasa takut atau malu ditertawakan. Siswa dapat bertanya sebebas-bebasnya kepada tutor dalam kelompoknya. Para siswa menjadi lebih senang dan bersemangat belajar matematika karena soal-soalnya tidak lagi menjadi momok yang menakutkan bagi mereka. Siswa dapat dengan mudah menyelasaikan soal-soal yang dihadapi melalui diskusi dalam kelomponya serta bimbingan dari tutor yang

  42 cukup membantu mereka dalam belajar matematika.

  ” Hanya saja penelitian sebelumnya mempunyai variabel motivasi. Oleh karena itu, penelitian kali ini mengambil variabel yang berbeda, yaitu kecemasan.

  Dari pernyataan tersebut peneliti berasumsi, jika dengan penerapan tutor sebaya mampu membuat siswa merasa nyaman dan mampu meningkatkan motivasi siswa dalam belajar matematika, maka tidak menutup kemungkinan dengan penerapan teknik tutor sebaya dalam diskusi kelompokpun akan mampu mengurangi tingkat kecemasan siswa dalam belajar matematika dikarenakan berbagai hal, mulai dari masalah pribadi, seperti selalu gugup untuk menjawab soal karena takut kepada guru bidang studi, sampai dengan kecemasan yang dirasakan siswa oleh karena adanya ketetapan standar nilai kelulusan yang dibuat oleh pemerintah yang selalu bertambah dari tahun ke tahun tanpa mempertimbangkan sisi psikologis siswa.

  C. Pengajuan Kerangka Konseptual dan Intervensi/ Perencanaan Tindakan

  Pada hakekatnya, hasil belajar ditentukan oleh banyak faktor, yaitu faktor guru, lingkungan sekolah, lingkungan tempat tinggal, cara belajar siswa, fasilitas belajar yang digunakan, faktor internal siswa, dan lain sebagainya. Akan tetapi seorang siswa yang telah menyadari tugasnya sebagai seorang pembelajar seharusnya dapat menggunakan faktor-faktor yang ada untuk memaksimalkan hasil belajarnya.

  Ada banyak sekali pekerjaan, tantangan, dan tuntutan yang dihadapi dan harus di jalankan oleh siswa. jika siswa dapat mengendalikan ketegangan saat menghadapi pekerjaan, tantangan dan tuntutan, dan tetap tenang, maka tidak ada hal yang menghambatnya, setidaknya dari dalam dirinya ia sudah dapat menguasai kondisinya sendiri. Tapi jika siswa memiliki perasaan takut/ cemas akan kegagalan atau merasa panik dalam menghadapi ujian, walaupun ia memiliki motivasi untuk berprestasi, tetap saja siswa akan mengalami kesulitan untuk dapat meraih prestasi yang maksimal.

  Kecemasan akan timbul jika individu menghadapi situasi yang dianggapnya mengancam dan menekan. Misalnya saja, apabila seseorang ingin melaksanakan atau melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan yang baru, maka tentu orang tersebut akan merasa cemas dalam menghadapi pekerjaannya tersebut, apakah orang itu dapat melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan hasil yang baik atau bahkan sebaliknya.

  Ada beberapa model atau metode pembelajaran modern yang bisa digunakan untuk mengurangi kecemasan belajar siswa, Salah satunya adalah metode diskusi kelompok dengan teknik tutor sebaya. Dengan menerapkan metode diskusi kelompok maka siswa akan merasa nyaman dalam belajar, beban yang awalnya ditanggung sendiri, kini mereka tanggung secara kelompok, siswapun merasa lebih nyaman karena ketika menemui kendala atau materi yang dianggap susah, dapat didiskusikan langsung bersama anggota kelompoknya.

  Dengan menerapkan teknik tutor sebaya dalam metode diskusi kelompok pula, maka yang semula siswa merasa takut atau panik saat belajar akan menjadi lebih nyaman, karena pada saat melakukan proses pembelajaran, mereka dapat bertanya langsung kepada temanya yang menjadi tutor apabila menemui kesulitan. Oleh karena itu penulis mengangkat penelitian pembelajaran dengan metode diskusi kelompok menggunakan teknik tutor sebaya untuk mengurangi

  Kerangka konseptual perencanaan tindakan yang akan digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah pytagoras dan lingkaran yang mencakup pada pokok bahasan: mengenal bagian-bagian lingkaran, menghitung besaran-besaran pada lingkaran dan garis singgung pada lingkaran.. Pokok bahasan ini diajarkan pada kelas VIII SLTP pada semester genap.

  Sedangkan bentuk penerapan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya yang akan dilakukan pada siklus pertama adalah penerapan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya dengan menambahkan hand-out dalam mempelajari bahasan pytagoras. Dengan pemberian hand-out ini diharapkan akan membantu siswa dalam memahami materi dan lebih memberi waktu untuk mendiskusikan materi juga menumbuhkan daya tarik siswa terhadap pelajaran matematika karena siswa tidak lagi mencatat materi yang akan diajarkan.

  Kemudian pada siklus kedua dilaksananakan penerapan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya dengan mengacak siswa yang meriview materi dengan bantuan tutor, pengacakan siswa yang meriview materi ini diterapkan dengan harapan dapat mengurangi sikap acuh setiap anggota kelompok saat diskusi berlangsung, atau dengan kata lain dapat membuat siswa yang menjadi peserta diskusi dalam kelompok ikut berperan aktif pada kelompoknya masing- masing juga menumbuhkan rasa tanggung jawab siswa, karena dengan pengacakan ini, maka siswa yang mendapat tugas meriview materi akan merasakan bagaimana rasanya saat meriview materi seperti yang telah tutor lakukan selama siklus satu.

  Sedangkan pada siklus ketiga akan diterapkan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya dengan penambahan hadiah (reword) bagi kelompok terbaik berdasarkan polling dari seluruh kelompok dan masukan dari guru kolaborator. Intervensi ini diharapakan akan membuat siswa merasa tertantang untuk memperhatikan setiap materi diskusi, tanpa menimbulkan tekanan yang menimbulkan kecemasan, karena dengan penambahan hadiah (reword) ini, kelompok siswa yang dianggap terbaik pada akhir siklus III akan mendapatkan sebaya metode diskusi kelompok pada penelitian ini, diharapakan dapat mengurangi tingkat kecemasan yang dialami siswa saat belajar matematika, namun tidak menghilangkan kecemasan yang sifatnya seb agai “(facilitating

  

anxiety) yaitu bentuk kecemasan dengan taraf rendah yang berfungsi sebagai

  pemicu/ pendorong siswa untuk bersiaga mengambil langkah-langkah mencegah

  43

  , seperti atau memperkecil kemungkinan terjadinya hal yang tidak diinginkan” karena tidak ingin mendapatkan nilai yang rendah maka siswa mempersiapkan diri dengan cara belajar lebih giat.

  Jika digambarkan, maka bagan desain kerangka konseptual dan intervensi tindakan yang diharapkan sebagai berikut:

Bagan 2.1 Desain kerangka konseptual & Intervensi Tindakan yang diharapkan

  Intervensi tindakan Masalah siswa

  Penerapan metode diskusi Merasa cemas saat belajar kelompok teknik tutor sebaya matematika pada bahasan pytagoras dan lingkaran

  Hasil intervensi yang diharapkan

  Intensitas kecemasan siswa saat belajar matematika bahasan lingkaran menurun

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Setting Tempat dan Waktu Penelitian

  a) Tempat Penelitian

  Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 21 Tangerang yang berada di Jl: Halim Perdana Kusuma, komplek alam raya, Kel.Jurumudi Baru, Kec. Benda, Kota Tangerang 15124

  b) Waktu Penelitian

  Penelitian ini dimulai dari tanggal 23 Desember 2010 – 02 Februari 2011.

B. Metode Penelitian dan Rancangan Siklus Penelitian

  Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang biasa disingkat menjadi PTK, atau dikenal juga dengan nama Classroom action research method. Metode penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam proses pembelajaran matematika pokok bahasan pytagoras dan lingkaran dengan menerapkan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya.

  Alasan penulis menerapkan metode pembelajaran diskusi kelompok teknik tutor sebaya ini adalah karena peneliti menemukan permasalahan yaitu tingginya intensitas kecemasan siswa saat belajar matematika, beberapa penyebabnya adalah masih ada rasa takut pada diri siswa saat dimintai pendapat, diminta untuk mengerjakan soal di depan kelas, maupun ketika siswa diminta untuk bertanya kepada guru tentang materi yang belum mereka pahami saat pembelajaran berlangsung. Hal ini tergambar dari hasil wawancara yang yang dilakukan oleh penulis saat melakukan kegiatan survei pendahuluan.

  Dengan menerapkan metode pembelajaran ini, penulis mengupayakan untuk dapat memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapi siswa, yakni mengurangi tingkat kecemasan (anxiety) dalam belajar matematika. Dengan guru adalah temannya sendiri. Dengan demikian siswa diharapkan dapat mengurangi tingkat kecemasannya dalam belajar matematika.

  Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari beberapa siklus. Dalam penelitian ini digunakan tiga siklus yang pada tiap siklusnya terdiri dari empat tahap, yaitu: 1)

  Perencanaan (Planning) Peneliti merencanakan tindakan berdasarkan tujuan penelitian. Peneliti menyiapkan skenario pembelajaran dan instrumen penelitian yang terdiri atas lembar soal-soal akhir siklus, lembar angket kecemasan siswa, lembar observasi untuk siswa dan guru juga lembar wawancara.

  2) Tindakan/Pelaksanaan (Acting) Tahap ke-2 dari penelitian ini adalah pelaksanaan yang merupakan implementasi rancangan, yaitu melaksanakan tindakan kelas menggunakan metode yang telah direncanakan.

  3) Pengamatan (Observasi) Pada tahap ini peneliti melakukan pengamatan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan agar memperoleh data yang akurat untuk perbaikan pada siklus berikutnya. Observasi dimaksudkan sebagai kegiatan mengamati, menggali, dan mendokumentasikan semua gejala atau indikator yang terjadi selama proses penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti dibantu oleh guru kelas yang bertugas sebagai kolaborator, yaitu membantu peneliti untuk mengamati aktivitas siswa selama proses pembelajaran. Selain itu, kolaboratorpun mengamati peneliti dalam menyampaikan materi pelajaran.

  4) Refleksi (Reflecting) Pada tahap ini, hasil yang didapat dari observasi dikumpulkan dan direncanakan. Hasil analisis tersebut akan dibandingkan dengan instrumen penelitian lainnya untuk kemudian digunakan sebagai acuan merencakan tindakan selanjutnya.

  Berdasarkan hasil reflektif yang bersumber dari angket kecemasan serta lembar observasi tim peneliti, maka akan ditentukan perlu atau tidaknya dilaksanakan siklus selanjutnya. Siklus berikutnya akan dilaksanakan jika tujuan penelitian dan indikator keberhasilan yang direncanakan belum tercapai. Namun siklus akan dihentikan ketika tujuan penelitian dan indikator keberhasilan yang direncanakan telah tercapai dengan baik. Pada penelitian ini, disain intervensi tindakan menggunakan disain atau model spiral dari

  1 Kemmis dan Taggart yang digambarkan sebagai berikut:

Tabel 3.1 Diagram Desain Penelitian

  PROBLEM (Masalah) Tingginya intensitas kecemasan siswa saat mengikuti kegiatan belajar matematika

  Siklus

   1 PLAN (Perencanaan) REFLECT

  (Refleksi) ACTION (Tindakan) Penerapan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya menggunakan handout

  OBSERVE REVISED PLAN (Pengamatan)

  (Perubahan Perencanaan) REFLECT (Refleksi)

  Siklus

  2 ACTION (Tindakan)

  Penerapan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya dengan merandom siswa yang mendapat tugas untuk meriview materi OBSERVE

  REVISED PLAN (Pengamatan) (Perubahan Perencanaan) REFLECT

  (Refleksi) ACTION (Tindakan)

  Siklus

  Penerapan metode diskusi kelompok teknik tutor

  3

  sebaya dengan penambahan Reword (hadiah) OBSERVE (Pengamatan)

  C. Subjek Penelitian Penelitian dilaksanakan di kelas VIII-D SMP Negeri 21 Tangerang.

  Jumlah siswa dikelas penelitian ini sebanyak 40 siswa yang terdiri dari 22 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan. Seluruh siswa di kelas ini dijadikan sebagai subjek penelitian.

  Peneliti melakukan tindakan sekaligus mengamati setiap aktivitas siswa ketika proses pembelajaran berlangsung. Guru kelas terlibat dalam penelitian ini sebagai kolaborator. Guru kelas membantu peneliti mulai dari menyiapkan RPP, mengamati kegiatan/ aktivitas siswa selama proses pembelajaran di kelas, hingga melakukan refleksi akhir siklus. Selain itu, kolaborator juga mengamati, menilai, dan memberikan arahan kepada peneliti dalam menyampaikan materi pelajaran kelas.

  D. Peran dan Posisi Peneliti dalam Penelitian

  Peneliti bertindak sebagai perancang dan pelaksana kegiatan. Peneliti membuat perencanaan kegiatan, melaksanakan kegiatan, melakukan pengamatan, mengumpulkan dan menganalisis data serta melaporkan hasil penelitian. Dalam penelitian peneliti dibantu oleh seorang guru, guru ini adalah guru mata pelajaran matematika kelas VIII yang bertindak sebagai kolaborator.

  E. Tahapan Intervensi Tindakan

  Tahapan penelitian ini diawali dengan dilakukannya survei pendahuluan (tahapan pra penelitian) dan akan dilanjutkan dengan tindakan pertama berupa siklus yang terdiri dari perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, serta analisis dan refleksi. Setelah melakukan analisis dan refleksi pada tindakan I (Siklus 1), penelitian akan dilanjutkan dengan tindakan II (Siklus 2), jika data yang diperoleh masih memerlukan penyempurnaan akan dilanjutkan kembali pada tindakan III (Siklus 3), dan

  Adapun tahapan penelitian tindakan kelas yang akan dilaksanakan digambarkan sebagai berikut:

  f.

  Mendiskusikan rancangan proses pembelajaran (RPP) dan model pembelajaran yang akan digunakan dalam kelas penelitian dengan guru bidang studi matematika. 3) Menyiapkan materi pengajaran untuk tiap pertemuan. 4) Membuat rencana pengajaran. 5) Menyiapkan tugas untuk di kelas dan PR. 6)

  Tahap Perencanaan 1) Membuat rancangan proses pembelajaran (RPP). 2)

  2. Tahap Penelitian Siklus 1 a.

  Melakukan proses penilaian terhadap angket yang telah disebarkan.

  h.

  Memberi angket pengukur kecemasan belajar matematika kepada kelas subjek penelitian.

  g.

  Menentukan kelas sebagai subjek penelitian.

  Melaksanakan wawancara dengan guru bidang studi matematika.

  1. Tahap Survei Pendahuluan (Tahap Pra Penelitian) a.

  e.

  Memberi dan menjelaskan proposal penelitian kepada guru bidang studi matematika.

  d.

  Menghubungi guru bidang studi matematika kelas VIII.

  c.

  Menghubungi kepala sekolah SMP Negeri 21 Tangerang.

  b.

  Mengurus surat izin observasi dan surat izin pelaksanaan penelitian untuk SMP Negeri 21 Tangerang.

  Menyiapkan lembar observasi siswa dan guru, serta lembar wawancara. 7) Menyiapkan alat dokumentasi.

  2) Membentuk kelompok diskusi dan menetukan tutor kelompok sesuai arahan dari guru bidang studi.

  3) Menjelaskan materi yang telah ditentukan dan direncanakan dalam RPP.

  4) Membimbing pelaksanaan tugas yang telah diberikan, yaitu mempelajari materi pytagoras (dengan kompetensi dasar menggunakan teorema pytagoras dalam pemecahan masalah) dan memberikan handout kepada siswa.

  5) Mengerjakan tugas dan membahasnya. 6) Memberikan soal latihan dan PR. 7) Penilaian hasil siklus 1. 8) Mewawancarai guru dan beberapa siswa. 9) Dokumentasi.

  c.

  Tahap Observasi/ Pengamatan 1)

  Melakukan pengisian lembar observasi untuk siswa dan guru selama proses belajar mengajar berlangsung. 2)

  Mencatat, Memproses, dan menilai hasil obesevasi yang terjadi selama proses belajar mengajar berlangsung pada tiap pertemuan.

  d.

  Refleksi Menilai keberhasilan dan kekurangan dari pelaksanaan kegiatan penelitian pada siklus 1 untuk dijadikan dasar pelaksanaan kegiatan penelitian pada siklus 2.

3. Tahap Penelitian Siklus 2 a.

  Tahap Perencanaan

1) Membuat rancangan proses pembelajaran (RPP).

  2) Mendiskusikan rancangan proses pembelajaran (RPP) dan

  3) Menyiapkan materi pengajaran untuk tiap pertemuan. 4) Membuat rencana pengajaran. 5) Menyiapkan tugas untuk di kelas dan PR. 6)

  Menyiapkan lembar observasi siswa dan guru, serta lembar wawancara. 7) Menyiapkan alat dokumentasi.

  b.

  Tahap Pelaksanaan 1)

  Menjelaskan tentang pengacakan siswa yang meriview materi selama pembelajaran siklus II berlangsung serta tujuannya. 2) Menjelaskan materi yang telah direncanakan dalam RPP. 3)

  Membimbing pelaksanaan tugas yang telah diberikan, yaitu mempelajari materi lingkaran (dengan kompetensi dasar menentukan unsur dan bagian-bagian lingkaran, dan menghitung keliling dan luas lingkaran). 4) Mengerjakan tugas dan membahasnya. 5) Penilaian hasil siklus 2. 6) Mewawancarai guru dan siswa. 7) Dokumentasi.

  c.

  Tahap Pengamatan 1)

  Melakukan pengisian lembar observasi untuk siswa dan guru ketika proses belajar mengajar berlangsung. 2) Memproses dan menilai hasil obesevasi pada tiap pertemuan.

  d.

  Refleksi Menilai keberhasilan dan kekurangan dari pelaksanaan kegiatan siklus 3 untuk dijadikan dasar pelaksanaan kegiatan siklus berikutnya

  (jika diperlukan).

4. Tahap Penelitian Siklus 3 a.

  Tahap Perencanaan 1)

  Mendiskusikan rancangan proses pembelajaran (RPP) dengan guru bidang studi matematika. 2) Menyiapkan materi pengajaran. 3) Membuat rencana pengajaran. 4) Menyiapkan tugas untuk di kelas dan PR. 5)

  Menyiapkan (reword) hadiah untuk kelompok 6)

  Menyiapkan lembar observasi siswa dan guru, dan lembar wawancara. 7) Menyiapkan alat dokumentasi.

  b.

  Tahap Pelaksanaan 1)

  Menjelaskan (reword) hadiah yang akan didapat bagi kelompok yang aktif dalam mengikuti pembelajaran sesuai polling seluruh kelompok dan penilaian guru bidang studi (Kolaborator). 2)

  Menjelaskan materi lingkaran (dengan kompetensi dasar Menggunakan hubungan sudut pusat, panjang busur, luas juring dalam pemecahan masalah).

  3) Menerapkan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya, dengan menggunakan (reword) hadiah dan menjelaskan tujuannya.

  4) Mengawasi dan membimbing pelaksanaan tugas yang telah diberikan. Yaitu mempelajari materi menghitung panjang garis singgung persekutuan dua lingkaran.

  5) Mewawancarai guru dan beberapa siswa. 6) Dokumentasi.

  c.

  Tahap Pengamatan 1)

  Melakukan pengisian lembar observasi untuk siswa dan guru ketika d.

  Refleksi Menilai keberhasilan dan kekurangan dari pelaksanaan kegiatan siklus 3 untuk dijadikan dasar pelaksanaan kegiatan siklus berikutnya

  (jika diperlukan).

  F. Hasil Intervensi Tindakan yang Diharapkan

  Hasil penelitian yang diharapkan adalah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh peneliti yaitu mengurangi intensitas kecemasan belajar matematika siswa kelas VIII-D semester II dengan menerapkan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya.

  G. Jenis dan Sumber Data

  Jenis data dalam penelitian ini ada dua macam, yaitu data kuantitatif dan data kualitatif.

  a.

  Data kuantitatif 1)

  Lembar tes tertulis yang digunakan untuk memperoleh gambaran hasil belajar setelah ada perubahan aktivitas siswa saat proses pembelajaran. 2)

  Skor skala kecemasan belajar siswa yang berupa angket yang disebar kepada siswa b.

  Data Kualitatif 1)

  Format pertanyaan dan wawancara mengenai hal-hal yang perlu diperbaiki dalam proses belajar mengajar di kelas, baik berupa kritik ataupun saran yang akan dipertimbangkan kemudian sebagai langkah perbaikan. 2)

  Catatan lapangan, yaitu mencatat seluruh perubahan dalam proses kegiatan belajar mengajar yang terjadi di dalam kelas, baik itu perubahan perilaku siswa ataupun guru. 3)

  Angket yang berisikan pertanyaan tentang metode diskusi kelompok

  4) Foto yang dibuat untuk melengkapi kejadian-kejadian yang penting di dalam kelas, seperti pada saat diskusi, tutor dalam membimbing kelompok diskusi, kegiatan kolaborator saat mengobservasi siswa, saat diberlakukannya (reword) hadiah, juga pada saat siswa menjawab pertanyaan didepan kelas baik dari guru maupun dari kelompok lain.

  Foto ini digunakan agar penelitian lebih obyektif karena ada fakta yang menunjang. Sedangkan sumber data dalam penelitian kaji tindak ini adalah guru, siswa dan peneliti.

H. Instrumen-instrumen Pengumpul Data yang Digunakan

  Instrumen-instrumen pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan dua buah instrumen, yaitu instrumen tes dan non tes. Instrumen tes diberikan setiap akhir siklus untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa dan berfungsi sebagai data tambahan. Adapun instrumen non tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1)

  Panduan Observasi Siswa Terstruktur/ Tertutup Lembar observasi terstruktur/ tertutup digunakan untuk mengetahui tingkat aktivitas siswa dalam proses pembelajaran yang menitikberatkan pada indikator kecemasan yang diteliti. 2)

  Panduan Observasi Siswa Terbuka Lembar observasi terbuka digunakan untuk mengetahui kejadian-kejadian dalam proses pembelajaran yang tidak terdapat pada lembar observasi tertutup. 3)

  Format Wawancara Format wawancara adalah format yang dibuat oleh peneliti sebagai pedoman untuk melakukan wawancara kepada guru bidang studi. Pada saat awal penelitian hasil wawancara bertujuan untuk mengetahui kelas yang siswanya memiliki intensitas kecemasan tinggi untuk kemudian bidang studi saat proses pembelajaran. Sedangkan format wawancara terhadap siswa sebagai subjek penelitian dilakukan setiap akhir siklus untuk mengetahui tanggapan siswa tehadap intervensi tindakan penelitian yang telah dilakukan. 4)

  Angket Kecemasan Siswa Instrumen ini diberikan kepada subjek penelitian sebelum dilakukannya intervensi tindakan yang hasilnya dijadikan sebagai nilai awal kecemasan siswa dan diakhir siklus selama dilakukannya intervensi tindakan sampai penelitian di kelas selesai dilaksanakan.

  5) Dokumentasi

  Dokeumentasi digunakan untuk bukti visualisasi proses pembelajaran selama penelitian dilaksanakan.

I. Teknik Pengumpulan Data

  Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan beberapa kegiatan, diantaranya melakukan wawancara dengan guru bidang studi dan siswa sebagai objek penelitian, melakukan pengamatan lembar observasi selama proses belajar mengajar berlangsung, dan memberikan angket pengukur tingkat kecemasan (anxiety) siswa dalam belajar matematika ditiap akhir siklus untuk kemudian dibandingkan dengan siklus sebelumnya.

  Angket persepsi kecemasan belajar matematika siswa dalam penelitian ini menggunakan teknik Sala berjenjang (Rating Scale) yang

  2

  mengadopsi model likert dengan skala lima angka. Skala 5 (lima) berarti sangat negatif dan skala 1 (satu ) berarti sangat positif”. Kategori jawaban pernyataan angket adalah: selalu, sering, kadang-kadang, jarang, dan tidak pernah. Agar jawaban siswa tidak menyimpang dari tujuan penelitian, maka peneliti melakukan keseragaman mengenai waktu terhadap variabel yang ingin diteliti dengan cara menentukan rentang waktu siswa saat mengalami kecemasan. Adapun nilai untuk pernyataan pada ketegori jawaban selalu diberi kode dengan skor 5, nilai sering diberi skor 4, nilai kadang-kadang diberi skor 3, nilai jarang diberi skor 2, dan nilai sangat tidak pernah diberi skor 1. Untuk melengkapi hasil penelitian pengumpulan data juga dilakukan wawancara mengenai persepsi siswa terhadap pembelajaran matematika dengan penerapan model pembelajaran tutor sebaya metode diskusi kelompok. Hasil setiap pengamatan didiskusikan oleh peneliti bersama guru bidang studi (kolaborator) pada saat menganalisis data untuk membuat tindakan pada siklus berikutnya.

  J. Validitas dan Teknik Pemeriksaan Keterpercayaan (Trusworthiness) Studi

  Keabsahan hasil temuan dari penelitian tindakan ini, menggunakan teknik triangulasi. Teknik triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan

  3 pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.

  Untuk pengecekan keabsahan data ini digunakan teknik triangulasi sumber, penyidik, dan teori. Triangulasi sumber yaitu teknik membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat dalam metode kualitatif. Sedangkan triangulasi penyidik yaitu dengan jalan memanfaatkan peneliti atau pengamat lainnya untuk keperluan pengecekkan kembali derajat kepercayaan data. Untuk triangulasi teori yaitu digunakan sebagai penjelasan banding (rival explanation).

  Agar dapat diperoleh data yang valid, instrumen atau alat mengevaluasi harus valid. Oleh karena itu, sebelum digunakan dalam penelitian, instrumen angket kecemasan belajar siswa terlebih dahulu diujicobakan untuk mengetahui dan mengukur validitas dan reabilitasnya.

  a.

  Validitas Angket

  Untuk mengetahui validitas instrumen angket maka digunakan

  4

  rumus Product Moment sebagai berikut:

  N ∑ X Y − ( ∑ X )( ∑ Y ) r = xy

  2

  2

  2

  2 �∑X − ∑X �∑Y − ∑Y

  Keterangan :

  xy

  = Validitas instrumen

  r

  N = Jumlah responden X = Skor item (butir) total Y = Skor total b.

  Reliabilitas Untuk mengetahui reliabilitas instrument angket digunakan rumus

  

5

Alpha Cronbach sebagai berikut: 2 ∑ � 1 � r 11 = 2

  1 − 1

  �−1 �

  Keterangan: 11 = reliabilitas instrumen

  r

  n = banyaknya butir pertanyaan atau soal 2 = jumlah varians butir

   b2

  = varians total

   1 K.

   Analisis Data dan Interpretasi Hasil Analisis

  Proses analisis data terdiri atas analisis data pada saat di lapangan yaitu pada saat pelaksanaan kegiatan dan analisis data yang sudah terkumpul. Data yang sudah terkumpul berupa hasil tes siswa, hasil wawancara, hasil angket kecemasan siswa, hasil observasi, dan catatan lapangan.

  Tahap analisis data dimulai dengan membaca keseluruhan data yang ada dari berbagai sumber, kemudian mengadakan reduksi data, menyusunnya dalam satuan-satuan, dan mengkategorikannya. Data yang diperoleh berupa kalimat-kalimat dan aktivitas-aktivitas siswa diubah menjadi kalimat yang bermakna dan alamiah L.

   Tindak Lanjut/ Pengembangan Perencanaan Tindakan

  Setelah tindakan pertama (siklus I) selesai dilakukan dan hasil yang diharapkan adalah belum tercapainya kriteria keberhasilan yaitu penurunan intensitas kecemasan belajar matematika siswa maka akan ditindak lanjuti untuk melakukan tindakan selanjutnya sebagai rencana perbaikan pembelajaran.

  Penelitian ini akan berakhir apabila peneliti menyadari bahwa penelitian ini dinyatakan telah berhasil dalam pencapaian indikator keberhasilan berdasarkan lembar observasi dan angket kecemasan siswa yang disebarkan diakhir siklus. Lembar observasi dinyatakan berhasil apabila rata- rata nilai observasi siswa mencapai nilai kurang dari atau sama dengan 17 dengan kriteria skala kecemasan belajar rendah. Sedangkan angket kecemasan siswa dikatakan berhasil apabila siswa sudah mencapai rata-rata skor sebesar 75 atau kurang dari 75 dengan skala kecemasan belajar rendah dan frekuensi siswa yang berada pada skala kategori kecemasan tinggi tidak lebih dari 10 %. Tiga indikator tersebut menjadi acuan berhasil atau tidaknya penerapan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya dalam mengurangi intensitas kecemasan siswa belajar matematika pada penelitian ini.

  Namun demikian masih banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi kecemasan belajar matematika siswa, juga masih banyak model, metode, dan teknik pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengurangi intensitas kecemasan siswa dalam belajar matematika. Untuk itu masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menemukan faktor-faktor lain tersebut.

BAB IV DESKRIPSI, ANALISIS DATA INTERPRETASI HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data Intervesi Tindakan dan Hasil Pengamatan 1. Survei Pendahuluan Survei pendahuluan dimulai dengan melakukan wawancara kepada

  guru bidang studi, kemudian dilanjutkan dengan menyebarkan angket kecemasan belajar siswa pada kelas VIII-D sesuai dengan saran guru bidang studi. Setelah penyebaran angket, kegiatan penelitian dilanjutkan dengan observasi ke kelas penelitian. Observasi ini mencakup beberapa pengamatan, diantaranya pengamatan terhadap kegiatan pembalajaran yang dilakukan oleh guru bidang studi, penggunaan bahan dan media pembelajaran dalam kelas, serta kecemasan siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran. Dari hasil wawancara didapat, a)

  Kelas yang akan dijadikan kelas penelitian adalah kelas VIII-D, karena menurut guru bidang studi, siswa dalam kelas ini tingkat kecemasannya relatif tinggi.

  b) Kadang ada siswa yang tidak masuk kelas tanpa keterangan, atau ada juga siswa yang membolos jika pada pertemuan sebelumnya guru memberikan pekerjaan rumah (PR).

  c) Saat melakukan diskusi ada beberapa siswa yang terlihat pucat, gugup dan malu ketika mendapat tugas mewakili kelompoknya untuk menjawab soal dari kelompok lain.

  Adapun hasil observasi yang telah dilakukan pada kelas penelitian selama satu minggu didapat disimpulkan sebagai berikut: a.

  Kegiatan pembelajaran yang berlangsung di kelas cukup teratur, siswa umumnya memperhatikan penjelasan guru. Namun ada beberapa siswa masih terlihat tegang. observasi, guru selalu menggunakan metode ekspositori di tiap pertemuannya.

  c.

  Saat belajar menggunakan metode ekspositori yang selama ini dilakukan oleh guru bidang studi, siswa banyak yang mengalami kecemasan, hal ini tergambar diantaranya dari raut wajah siswa yang tegang saat diminta untuk menjawab soal latihan di depan kelas, terbata-batanya beberapa siswa saat diberi pertanyaan oleh guru bidang studi.

  d.

  Adanya beberapa siswa yang tidak mau maju ketika dipersilahkan untuk menjawab soal didepan kelas karena malu dan takut jika jawabannya salah lalu diejek oleh teman-temannya.

  e.

  Rasa percaya diri dan keberanian siswa dalam menanyakan materi yang belum dipahami dan dalam menjawab soal didepan kelas masih relatif rendah. Hal ini terlihat ketika guru mempersilahkan siswa untuk menanyakan materi yang belum dipahami saat pembelajaran berlangsung, tidak ada satupun siswa yang berani mengacungkan tangan untuk bertanya. Setelah melakukan wawancara dan observasi selama satu minggu, selanjutnya peneliti berdiskusi dengan guru kolaborator untuk melakukan intervensi tindakan berupa penerapan metode diskusi kelompok dengan teknik tutor sebaya dengan tujuan mengurangi tingkat kecemasan saat pembelajaran matematika.

2. Siklus I a.

  Tahap perencanaan Adapun kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan ini adalah mendiskusikan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan hand-out yang telah dibuat dengan guru bidang studi yang bertindak sebagai kolaborator. Adapun RPP yang digunakan saat penelitian dapat dilihat pada lampiran 2. juga agar rencana pembelajaran yang dibuat tidak menyimpang dengan kurikulum yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah SMP Negeri 21 Tangerang, setelah itu peneliti menyiapkan lembar observasi, dan mendesain lembar evaluasi.

  Pada kegiatan ini juga peneliti berdiskusi dan berbagi tugas dengan guru kolaborator pada saat penelitian berlangsung, kegiatan ini dimaksudkan agar peneliti dan guru dapat bekerjasama mengamati jalannya penelitian. Berdasarkan diskusi dengan guru kolaborator, diperoleh kesepakatan sebagai berikut:

  1) Pembentukan kelompok beserta penentuan tutor berdasarkan hasil belajar selama semester satu, kemudian kolaborator dapat melakukan perombakan anggota kelompok agar didapat kelompok yang heterogen.

  Dalam kelas penelitian, siswa dikelompokkan menjadi 10 kelompok dimana tiap-tiap kelompok terdiri dari 4 siswa. Masing-masing kelompok terdiri dari satu orang tutor dan empat orang lainnya sebagai anggota. Pembagian kelompok dalam siklus I ini, dapat dilihat dalam lampiran 3

  2) Pada siklus I pembelajaran matematika menggunakan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya, disertai pemberian hand-out kepada seluruh siswa. Selain menyiasati keterlambatan datangnya buku LKS yang telah dipesan oleh pihak sekolah kepada supplier, pemberian hand- out juga diharapankan dapat mengurangi kecemasan siswa karena takut ketinggalan mencatat materi yang telah dijelaskan saat pembelajaran juga memberikan waktu lebih kepada siswa untuk memahami materi yang sedang diajarkan.

  3) Peneliti membuatkan desain kelas/ pengaturan tempat duduk siswa secara kelompok sebelum siklus I dimulai, kemudian mengcopy sebanyak 10 lembar dan tiap lembarnya dibagikan kepada tutor, hal ini dilakukan agar pembentukan kelompok tidak banyak menghabiskan waktu belajar.

  Desain posisi duduk siswa dalam kelas selama diskusi kelompok dapat b.

  Tahap Pelaksanaan Tahap pelaksanaan siklus I ini terdiri dari empat kali pertemuan. Pertemuan pertama membahas pokok bahasan teorema pytagoras, pertemuan yang kedua membahas pokok bahasan mencari sisi-sisi segitiga siku-siku yang sudutnya merupakan sudut istimewa, pertemuan yang ketiga membahas pokok bahasan menghitung panjang diagonal sisi pada bidang datar, dan pertemuan yang keempat adalah pelaksanaan tes akhir siklus satu.

  Rencana pelaksanaan pembelajaran pada siklus satu ini disesuaikan dengan pertemuan tiap minggunya. Dalam satu minggu pelajaran matematika di kelas VIII-D ada tiga pertemuan, yaitu hari senin jam 10.10

  • – 10.50 (1 jam pelajaran), selasa jam 09.10
  • – 10.50 (2 jam pelajaran), dan rabu jam 08.20 – 09.00 (1 jam pelajaran). Untuk lebih lengkapnya proses pembelajaran pada siklus satu diuraikan sebagai berikut:

  1) Pertemuan pertama (Senin, 10 Januari 2011)

  Kegiatan belajar matematika di kelas VIII-D pada pertemuan pertama ini jumlah siswa yang hadir ada 40 orang. Guru matematika hadir untuk memberikan bantuan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Karena guru bidang studi telah memberitahukan kepada siswa akan ada mahasiswa yang melakukan penelitian, maka pada pertemuan kali ini, guru bidang studi langsung mempersilahkan peneliti untuk memperkenalkan diri kepada siswa dan menjelaskan maksud mengadakan penelitian dikelas ini. Selain itu, siswa juga diberikan penjelasan tentang metode belajar diskusi kelompok menggunakan teknik tutor sebaya sekaligus melakukan pembagian kelompok dan menyebutkan tutor anggota kelompok. Setelah itu peneliti membagikan lembar desain kelas/ pengaturan tempat duduk siswa secara kelompok kepada masing-masing siswa yang terpilih sebagai tutor dan memberikan hand-out materi kepada masing-masing tutor untuk kemudian dibagikan kepada seluruh siswa. Kegiatan pembelajaran dimulai dengan mempesilahkan siswa untuk melakukan diskusi materi pertemuan

  Peneliti dan kolaborator berkeliling kelas untuk membimbing siswa dalam melakukan diskusi, peneliti juga mengarahkan siswa yang terpilih sebagai tutor pada setiap kelompok untuk menjelaskan materi dan contoh soal yang telah dibuat dalam hand-out kepada kepada anggota kelompoknya.

  Pada pertemuan pertama ini, kendala yang dihadapi antara lain lamanya siswa dalam mengatur posisi duduk sesuai anggota dan belum terbiasanya tutor menjelaskan materi kepada anggota kelompok karena merasa malu dan takut. Hal ini mengakibatkan banyak waktu belajar yang terbuang. Hal ini dapat dimaklumi karena ini merupakan pertemuan pertama dan siswa membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Akan tetapi dengan bimbingan dan arahan dari peneliti dan guru bidang studi yang bertindak sebagai kolaborator kendala tersebut dapat diminimalisir. Diakhir pembelajaran, peneliti kembali mengarahkan siswa untuk menyelesaikan latihan soal yang belum diselesaikan dan dijadikan tugas pekerjaan rumah (PR). Siswa juga diarahkan untuk mempelajari pokok bahasan membandingan sisi-sisi segitiga siku-siku istimewa di rumah baik secara kelompok maupun individu.

  Setelah pembelajaran selesai, peneliti pun meminta kepada seluruh siswa untuk merapikan kembali meja dan kursi seperti keadaan semula. 2)

  Pertemuan kedua (Selasa, 11 Januari 2011) Pertemuan kali ini terpotong waktu istirahat selama 20 menit, tepatnya pukul 09.50

  • – 10.10. Materi yang diajarkan pada pertemuan kedua ini adalah pokok bahasan mencari sisi-sisi segitiga siku-siku yang sudutnya merupakan sudut istimewa. Pada pertemuan kali ini jumlah siswa yang hadir 40 siswa. Siswa pun langsung berkumpul sesuai dengan kelompok masing- masing. Peneliti meminta bantuan kepada tutor masing-masing kelompok untuk mengumpulkan PR yang telah dikerjakan. Ternyata masih banyak siswa yang belum selesai mengerjakan PR dirumah. Setelah tutor
dengan membahas latihan soal yang ditugaskan menjadi pekerjaan rumah (PR).

  Pada saat kegiatan membahas PR, seluruh siswa dalam kelompok dipersilahkan untuk menanyakan soal materi yang dianggap sulit. Pada pertemuan kedua ini hanya ada beberapa siswa yang berani menanyakan kesulitan yang dihadapi saat mengerjakan PR, selanjutnya peneliti memanggil sekaligus beberapa siswa dari kelompok untuk menyelesaikan PR tersebut di depan kelas. Tiba-tiba kelas jadi sunyi, siswa dalam kelompok mulai membuka hand-out dan mulai menanyakan soal-soal yang telah dikerjakan kepada tutornya masing-masing, hal ini menandakan kecemasan siswa begitu terasa saat mereka diminta untuk mengerjakan latihan soal di depan kelas. Namun demikian jawaban soal latihan yang telah dikerjakan oleh beberapa siswa relatif banyak yang benar.

  Setelah selesai membahas soal selesai kurang lebih selama 20 menit, tutor diarahkan untuk memulai dan memimpin kelompoknya masing-masing dalam mendiskusikan materi pertemuan kedua pada hand-out yaitu mencari sisi-sisi segitiga siku-siku yang sudutnya merupakan sudut istimewa.

  Seperti pada pertemuan sebelumnya, peneliti berkeliling kelas untuk membimbing siswa dalam berdiskusi dan memberikan arahan untuk kelompok yang menemui kesulitan dalam memahami pokok bahasan diskusi. Kali ini kolaborator pun ikut berkeliling sambil membawa lembar observasi dengan tujuan membimbing siswa dalam berdiskusi dan mengamati siswa tiap kelompok, sesekali waktu kolaborator menceklis lembar observasi untuk menilai sikap siswa selama pertemuan kedua. Adapun lembar panduan observasi kecemasan siswa dalam belajar matematika dapat dilihat pada lampiran 5

  Kolaborator datang ke kelas penelitian 5 menit sebelum bel masuk berbunyi. Ketika bel masuk berbunyi siswa memasuki kelas, ada beberapa siswa yang masuk kelas sambil membawa makanannya, beberapa siswa pun

  Setelah selesai meriview materi, peneliti mempersilahkan beberapa tutor baik untuk menjelaskan kembali materi atau membahas contoh soal kepada seluruh siswa di depan kelas. Pada pertemuan kedua ini beberapa tutor terlihat gugup saat menjelaskan materi kepada anggotanya. Setelah tutor meriview materi, selanjutnya siswa dipersilahkan untuk mengerjakan latihan soal secara individu, peneliti kembali berkeliling kelas untuk membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan latihan soal. sebelum bel pergantian pelajaran berbunyi, peneliti meminta bantuan tutor untuk mengumpulkan latihan soal yang telah dikerjakan. Selanjutnya peneliti menutup pelajaran dan menugaskan siswa untuk mempelajari materi menghitung panjang diagonal sisi pada bidang datar. 3)

  Pertemuan ketiga (Rabu, 12 Januari 2011) Pertemuan pada hari rabu ini materi yang diajarkan adalah pokok bahasan menghitung panjang diagonal sisi pada bidang datar. Seperti pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, siswa langsung berkumpul sesuai kelompoknya masing-masing. Kali ini siswa terlihat lebih cepat dalam berkelompok, sehingga waktu untuk belajar dapat dimaksimalkan. Peneliti langsung mempersilahkan tutor untuk membuka dan memimpin jalannya diskusi pokok bahasan pertemuan ketiga pada hand-out. Sementara siswa melakukan diskusi dengan masing-masing kelompok, peneliti dan kolaborator berkeliling kelas untuk memimbing dan memberikan bantuan bagi kelompok yang menemui kesulitan saat mendiskusikan materi dan membahas contoh soal.

  Pada pertemuan ketiga ini, kegiatan diskusi yang dilakukan siswa terasa lebih baik. Hal ini ditunjukkan dengan aktifnya seluruh anggota dalam beberapa kelompok, beberapa tutor yang sebelumya terlihat gerogi sudah mulai berani dan terlihat percaya diri saat menjelaskan materi kepada anggotanya meski sesekali terbata-bata saat menjelaskan materi. Setelah waktu diskusi berlalu 20 menit, seluruh siswa diminta untuk memperhatikan menawarkan siswa untuk menjelaskan contoh soal tersebut di papan tulis, ada 2 siswa yang mengacungkan tangan, yaitu siswa B5 dan siswa A2. Hal ini menandakan mulai adanya rasa percaya diri pada diri siswa untuk maju dan menjelaskan contoh soal didepan kelas. Saat siswa B5 memberikan penjelasan di depan kelas, peneliti berkeliling dengan tujuan mengamati seluruh siswa dalam memperhatikan penjelasan dan mengamati siswa B5 dalam memberikan penjelasan.

  Setelah kedua siswa selesai memberikan penjelasan bahasan contoh soal, peneliti mempersilahkan seluruh siswa untuk menanyakan hal-hal yang belum dipahami. Siswa A1 mengacungkan tangan untuk bertanya, lalu peneliti mempersilahkan tutor atau anggota kelompok lain untuk menanggapi pertanyaan siswa A1. Lalu siswa B4 mengacungkan tangan untuk menawab.

  Setelah jam pelajaran habis, seluruh siswa ditugaskan untuk membaca kembali pelajaran yang telah diberikan pada pertemuan- pertemuan sebelumnya dirumah, karena pada pertemuan berikutnya. 4)

  Pertemuan keempat (Senin, 17 Januari 2011) Pada pertemuan keempat ini siswa yang hadir sebanyak 40 siswa, dengan kata lain tidak ada siswa yang absen untuk mengikuti tes akhir siklus I. Tes akhir siklus ini mencakup pembahasan teorema pytagoras, mencari sisi-sisi segitiga siku-siku yang sudutnya merupakan sudut istimewa, dan menghitung panjang diagonal sisi pada bidang datar yang telah diberikan kepada seluruh siswa dalam pertemuan sebelumnya.

  Tes ini berbentuk essay dan berjumlah 5 soal. Tes ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang telah diajarkan pada pertemuan kesatu, kedua dan ketiga. Tes akhir siklus ini dilaksanakan dalam waktu 1 x 40 menit (satu jam pelajaran). Adapun kisi- kisi dan soal tes dapat dilihat pada lampiran 6.

  Setelah siswa menyelesaikan tes akhir siklus I, angket kecemasan siklus I. adapun angket kecemasan siswa sebelum dan setelah validitas dapat dilihat pada lampiran 7.

  c.

  Tahap Observasi Tahapan ini pada dasarnya berlangsung bersamaan dengan pelaksanaan tindakan. Namun demikian, tahapan ini merupakan rangkuman dari pengamatan yang telah dilakukan oleh kolaborator dalam mencatat seluruh aktifitas siswa dan hal-hal yang terjadi dalam proses pembelajaran selama siklus satu berlangsung.

Gambar 4.1 Aktifitas Kolaborator Saat Mencatat Aktifitas yang Berhubungan Dengan

  

Kecemasan Siswa

  Berdasarkan hasil pengamatan kolaborator menggunakan lembar observasi terhadap sikap siswa yang berkaitan dengan kecemasan selama mengikuti kegiatan pembelajaran matematika saat dilaksanakannya kegiatan pelaksanaan intervensi tindakan di siklus pertama dapat dilihat pada tabel

Tabel 4.1 Skor Rata-rata Kecemasan Siswa kelas VIII-D SMP Negeri 21 Tangerang dalam Pembelajaran Matematika Selama Siklus I Rata-rata Rata-rata Rata-rata pertemuan pertemuan pertemuan Rata-rata No Aktivitas yang dilakukan ke-1 ke-2 ke-3 Total

  Tidak tenang saat mengikuti

  1 2,45 2,15 2,05 2,22 kegiatan pembelajaran.

  Tidak berani bertanya kepada guru

  2 3,63 3,48 3,05 3,39 jika ada materi yang kurang jelas.

  Malu saat menjelaskan materi

  3 3,18 3,05 3,05 3,09 diskusi.

  Terbata-bata saat mengeluarkan ide/

  4 gagasan ketika diskusi kelompok 3,35 3,18 3 3,18 berlangsung.

  Tidak berani menanggapi pertanyaan

  5 2,93 2,8 2,63 2,79 dari kelompok lain di depan kelas.

  Pucat ketika mendapat tugas untuk

  6 menjawab pertanyaan dari guru atau 1,5 1,45 1,23 1,39 kelompok lain.

  Gerogi/ gugup ketika mendapat

  7 tugas untuk menjawab pertanyaan 3,08 2,75 2,5 2,78 dari guru atau kelompok lain.

  Tidak percaya diri saat menjelaskan/

  8 3,13 3,08 3 3,07 mengerjakan soal di papan tulis.

  Gerogi saat mengerjakan soal

  9 2,95 - - 2,95 latihan/ ulangan harian.

  Jumlah 24,85 Keterangan : Skala penilaian rata-rata setiap aspek: Skala penilaian jumlah rata-rata: 1 : dilakukan sangat baik

  9

  • – 17 : Kecemasan belajar rendah 2 : dilakukan dengan baik

  18

  • – 26 : Kecemasan belajar sedang 3 : dilakukan cukup baik

  27

  • – 36 : Kecemasan belajar tinggi 4 : dilakukan kurang baik

  Pada Tabel 4.1 terlihat bahwa dari 9 aktifitas yang diamati pada pertemuan 1, kecemasan belajar siswa pada tingkat sedang dengan adanya intervensi tindakan berupa penerapan metode diskusi kelompok dengan teknik tutor sebaya pada proses belajar matematika siklus I. rata-rata skor yang didapat siswa ini belum menunjukkan kecemasan belajar rendah dalam belajar matematika.

  Dari hasil lembar observasi siswa, terlihat siswa mulai tenang mengikuti kegiatan pembelajaran pada tiap pertemuannya. Nilai rata-rata aktifitas siswa yang diamati juga mengalami peningkatan pada tiap pertemuannya. Hanya saja dari 9 aktivitas yang diamati, ada beberapa aktifitas yang dilkukan belum maksimal oleh siswa sehingga kategori penilaiannya masih berada dalam skala cukup baik. Tepatnya pada aktifitas siswa dalam menjelaskan materi masih banyak yang terbata-bata, kebanyakan siswa juga terlihat belum berani untuk menanyakan materi yang belum dipahami kepada guru bidang studi. Rasa malu beberapa tutor saat menjelaskan materi pun masih terbilang besar. Hal ini terlihat dari adanya beberapa tutor yang mukanya memerah saat menjelaskan materi kepada kelompoknya, begitu juga sikap gugup / gerogi tutor saat mengeluarkan kata-kata pada waktu kegiatan diskusi berlangsung. Namun demikian sikap gerogi/gugup yang siswa alami ketika mengikuti kegiatan sudah relatif stabil hanya saja kebanyakan siswa masih mengalami gerogi/ gugup pada saat tertentu saja, misalnya ketika dipersilahkan untuk menjawab soal atau menjelaskan kembali pembahasan contoh soal di depan kelas. Dokumentasi siswa saat meminta penjelasan hasil latihan kepada tutor karena cemas/ khawatir dipanggil untuk mengerjakan soal di depan kelas dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4.2 Aktifitas Siswa Ketika Meminta Penjelasan Kepada Tutor

  Pada pertemuan keempat dilaksanakan penyebaran angket kecemasan untuk mengetahui apakah skor kecemasan siswa mengalami penurunan jika dibandingkan dengan skor kecemasan yang didapat siswa sebelum diberikan intervensi tindakan berupa penerapan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya, rangkuman hasil angket siswa disajikan sebagai berikut:

Tabel 4.2 Skala Rata-rata Skor Kecemasan Belajar Matematika Siswa

  

SLTP Negeri 21 Tangerang Kelas VIII-D Siklus I

  Kategori Kecemasan Skala kecemasan

  f f

  Belajar

  relatif

  Tinggi 7 17,5% x ≥ 90,49 Sedang 63,81 < x < 90,49 26 65% Rendah 7 17,5% x ≤ 63,81

  Dari tabel 4.2 didapat keterangan bahwa jumlah siswa yang berada mengalami peningkatan (semula jumlahnya 22 siswa menjadi 26 siswa) dan jumlah siswa yang berada pada kategori kecemasan belajar tinggi mengalami pengurangan (jumlah sebelum intervensi tindakan 11 siswa berkurang menjadi 7 siswa) jika dibandingkan dengan hasil sebaran angket sebelum dilakukannya intervensi tindakan. Penurunan skor juga terjadi pada rata-rata skor angket yang diperoleh siswa dari 98,43 menjadi 77,15. Menurut kolaborator, terjadinya perubahan frekuensi kecemasan siswa pada siklus I ini adalah wajar, karena pada siklus I ini siswa mendapat nuansa baru dalam belajar. Siswa juga merasa senang karena dapat mengekplorasi kemampuannya dalam belajar. (rangkuman skor kecemasan siswa dapat dilihat pada lampiran 8) Pada akhir siklus pertama juga siswa diberikan tes akhir siklus I. Hasil tes tersebut bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang telah diberikan. Adapun nilai tes yang di dapat siswa di akhir siklus, disajikan dalam bentuk Tabel sebagai berikut:

Tabel 4.3 Nilai Tes Akhir Siklus I

  Frekuensi Frekuensi Frekuensi Interval

  Absolut Relatif Kumulatif

  42 3 0,075 100 %

  • – 50

  51 5 0,125 87,5 %

  • – 59

  60 12 0,30 57,5 %

  • – 68

  69 10 0,25 32,5 %

  • – 77

  78 7 0,175 15 %

  • – 86

  87 3 0,075 7,5 %

  • – 95

  Jumlah

  40 1 100 %

  Keterangan: Nilai tertinggi = 95 Rata-rata = 68,21 Nilai terendah = 45 SD = 11,87 yang diperoleh sebesar 68,21 (terlampir di lampiran 9). Meskipun nilai rata- rata kelas yang diperoleh > 60,0 akan tetapi masih ada 3 siswa (7,5 %) berada dalam rentang nilai 42-50, 5 siswa (12,5 %) berada dalam rentang nilai 51-59 dan 12 siswa (30 %) berada dalam rentang nilai 60-68, sehingga skor rata-rata keseluruhan siswa belum mencapai SKBM yang ditetapkan sekolah.

  d.

  Tahap Refleksi Setelah melihat hasil penilaian lembar observasi tertutup, catatan penemuan lembar observasi terbuka, hasil diskusi dengan guru kolaborator, dan angket skala kecemasan siswa. Masih banyak hal yang perlu diperbaiki dalam kegiatan belajar yang telah dilakukan pada siklus I ini. Diantaranya adalah persiapan guru ketika akan mengajar serta pelaksanaannya pada siklus selanjutnya perlu ditingkatkan, dalam hal ini kolaborator mencatat bahwa tulisan peneliti saat mengajar masih terlalu kecil, sehingga kelompok siswa yang posisi duduknya berada di belakang agak samar ketika melihat tulisan di papan tulis. Ketika akan menghapus materi dan contoh soal yang dicatat di papan tulis hendaknya mengkonfirmasi siswa terlebih dahulu agar siswa yang belum selesai mencatat bisa bergegas untuk menyelesaikan catatannya. Penggunaan nada bicara ketika mengajar dikelas agar lebih keras lagi dan disesuaikan, karena pada dua pertemuan pertama suara peneliti kalah dengan suara siswa.

  Adapun penyampaian tujuan pembelajaran (apersepsi) yang dilakukan oleh peneliti juga cara menjawab pertanyaan yang diajukan oleh siswa sudah terbilang baik. Namun demikian, peneliti masih terlihat kaku ketika menyampaikan materi dan saat melakukan monitoring siswa pada waktu diskusi. Oleh karena itu kolaboratorpun menyarankan kepada peneliti agar pada siklus selanjutnya tidak terlalu sering berkeliling kelas untuk memonitoring siswa ketika melakukan kegiatan diskusi, hal ini bisa saja kolaborator memberikan arahan kepada peneliti, yaitu kolaborator meminta agar kegiatan menjelaskan materi yang telah dilaksanakan pada siklus pertama hendaknya dirubah, jika pada siklus pertama guru menjelaskan materi setelah kegiatan diskusi, maka pada siklus kedua nanti guru menjelaskan materi terlebih dahulu, baru kemudian siswa mendiskusikan materi.

  Dari cacatan observasi tertutup kolaborator, didapat bahwa dalam berdiskusi kebanyakan siswa yang menjadi tutor belum terbiasa untuk menjelaskan materi kepada anggota kelompoknya, anggota kelompokpun masih terbata-bata ketika menyampaikan pendapat dan menanggapi jawaban kelompok lain dalam berdiskusi. Dalam hal bertanya kepada guru mengenai materi yang belum dimengerti, siswa lebih memilih bertanya kepada temannya yang terdekat. Jadi penggunaan teknik tutor dalam kegiatan diskusi pada siklus satu ini dapat dikatakan berjalan dengan baik seperti ungkapan seorang siswa yang diwawancarai oleh peneliti diakhir siklus satu “saya merasa senang dengan adanya tutor dalam berdiskusi, karena

  bertanyanya bisa langsung ke temen. Ga usah nanya guru jadi ga malu ”.

  (Panduan wawancara dapat dilihat pada lampiran 10 ).

  Namun demikian, terlihat dengan adanya tutor juga mengakibatkan keberanian siswa untuk bertanya kepada guru menjadi tidak maksimal dan rasa malu siswa menanyakan materi yang belum dipahami menjadi besar. Dari hasil wawancara juga didapat bahwa pembelajaran pada siklus pertama ini, tanggung jawab dan orientasi siswa terlalu berfokus pada tutor sehingga kebanyakan siswa yang menjadi anggota kelompok jarang mendapatkan tugas untuk menjelaskan materi. Hal ini terlihat dari ungkapan beberapa siswa yang menjadi tutor saat wawancara mengenai persepsi siswa terhadap penerapan diskusi kelompok teknik tutor sebaya di akhir siklus pertama sebagai berikut: menurut siswa E2 “saya sangat senang dengan

  

diadakannya diskusi saat belajar matematika, tetapi saya merasa tugas

  meskipun berat dan agak gerogi waktu jelasin sama anggota saya, saya merasa terdorong untuk untuk membaca materi sebelum berangkat sekolah kalo ada pelajaran matematika ”.

  Jika melihat hasil observasi secara keseluruhan, Jumlah skor total skala kecemasan yang di peroleh siswa dengan nilai 19,26%, dengan skala nilai kecemasan siswa berada pada kecemasan belajar sedang. Maka kolaborator dan peneliti menyimpulkan perlunya untuk melakukan siklus selanjutnya dengan tujuan mencapai indikator keberhasilan penelitian.

  Untuk menyelesaikan beberapa permasalahan siswa yang diungkapkan kolaborator, maka intervensi yang diterapkan pada siklus selanjutnya adalah penerapan diskusi teknik tutor sebaya dengan cara mengacak siswa yang meriview materi dengan bantuan tutor pada setiap pertemuannya. hal ini bertujuan membiasakan siswa dalam meyiapkan diri, karena dengan mengacak siswa yang meriview materi dengan dibantu tutornya, diharapkan siswa dapat membiasakan diri untuk menjelaskan materi pada anggotanya sehingga rasa malu siswa dapat berkurang, keberanian siswa menjadi bertambah dan gugup yang dialami siswa saat menjelaskan materi dan menanggapi pertanyaan dari kelompok lain dapat dikurangi. Dengan kata lain, tugas untuk memimpin diskusi dan menjelaskan materi tidak lagi menjadi tugas tutor semata seperti yang terjadi pada siklus pertama. Dengan mengacak tutor pada tiap pertemuannya diharapkan beberapa indikator kecemasan siswa dalam belajar matematika yang pada saat siklus pertama dirasa masih kurang, pada siklus II nanti akan meningkat.

3. Siklus II a.

  Tahap perencanaan Tahap perencanaan siklus II ini dimulai dengan menyiapkan rencana pembelajaran yang telah dibuat, kemudian disesuaikan dengan siklus II serta menyiapkan angket persepsi siswa tentang penggunaan teknik tutor sebaya dalam diskusi kelompok.

  Berdasarkan hasil refleksi yang dilakukan oleh peneliti dan kolaborator selama siklus I, maka dipersiapkan suatu intervensi tindakan yang diharapkan dapat meningkatkan beberapa aktifitas siswa yang masih kurang, diantaranya adalah meningkatkan rasa percaya diri siswa agar siswa tidak merasa malu saat menjelaskan materi kepada temannya, tidak terbata-bata saat menjelaskan materi dan membahas soal di depan kelas. Serta meningkatkan rasa percaya diri siswa saat mengerjakan ulangan harian.

  Berdasarkan kesepakatan antara peneliti dengan kolaborator, diperoleh hasil sebagai berikut: a)

  Pada penelitian siklus II ini akan digunakan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya, dengan cara mengacak siswa yang meriview materi dalam kelompok dengan bantuan tutornya ditiap pertemuannya.

  b) Untuk setiap pertemuan di siklus kedua ini, siswa yang menjadi tutor adalah siswa yang menjadi tutor pada siklus satu. Namun kali ini tutor tidak lagi bertaggung jawab sepenuhnya untuk meriview materi, melainkan siswa yang mendapat tugas untuk melakukannya.

  c) Siswa yang mendapat tugas meriview materi untuk tiap pertemuan diberitahukan pada pertemuan sebelumnya. Hal ini dilakukan agar siswa yang terpilih untuk meriview materi dapat menyiapkan diri sebelum pembelajaran dilakukan.

  d) Kelompok yang digunakan dalam Siklus II tidak ada perubahan, yaitu terbagi menjadi sepuluh kelompok yang heterogen.

  e) Pada siklus II ini, posisi kelompok dalam kelas tidak berubah, sama pada saat kegiatan pembelajaran siklus I.

  f) Sebelum siklus II dimulai, terlebih dahulu diadakan sosialisasi tentang pemilihan siswa yang bertugas meriview materi secara acak ini kepada b.

  Tahap Pelaksanaan 1)

  Pertemuan kelima (Selasa, 18 januari 2011) Pada pertemuan pertama dalam siklus II ini, siswa sudah mulai terbiasa duduk dengan kelompoknya masing-masing sebelum kegiatan belajar dimulai. Namun demikian, pada pertemuan kali ini ada dua siswa yang tidak masuk kelas tanpa keterangan, yaitu siswa D3 dan siswa G5.

  Kegiatan belajar mengajar dimulai pada pukul 09.10

  • – 10.50 WIB dengan diawali pemberitahuan adanya pengacakan tutor ditiap pertemuan dan pemberian apersepsi selama 2 menit, setelah itu siswa dipersilahkan untuk duduk sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Materi yang diberikan adalah mengenali unsur-unsur lingkaran serta menghitung besaran keliling lingkaran. Ditengah pembelajaran guru mempersilahkan beberapa siswa untuk mengerjakan soal latihan dan menjelaskannya kepada siswa. Adapun beberapa latihan soal yang belum diselesaikan oleh siswa dijadikan tugas rumah (PR). Setelah kegiatan belajar berakhir, guru memberitahukan nama-nama siswa yang akan menjadi tutor pada pertemuan selanjutnya 2)

  Pertemuan keenam (Rabu, 19 Januari 2011) Pada pertemuan ini, sebelum masuk materi siswa terlebih dahulu mengumpulkan PR yang telah dikerjakan dirumah. materi yang diajarkan pada pertemuan kali ini adalah menghitung luas lingkaran. Pembelajaran diawali dengan penjelasan materi secara umum dari guru, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan kembali oleh tutor sebaya dalam kelompoknya masing-masing.

  Setelah semua tutor sebaya selesai menjelaskan 10 menit selanjutnya siswa dipersilahkan mengerjakan latihan soal dalam buku LKS. Setelah beberapa menit mengerjakan soal latihan, beberapa siswa dipersilahkan mengerjakan latihan soal di depan kelas dan menjelaskan pembahasannya. Seperti pada pertemuan selanjutnya, sebelum

  3) Pertemuan ketujuh (Senin, 24 Januari 2011)

  Pada pertemuan ketujuh ini, siswa telah terbiasa langsung menyiapkan diri untuk duduk dalam kelompok, namun pada pertemuan kali ini ada tiga siswa yang tidak masuk kelas tanpa keterangan, yaitu siswa A3, A4, dan G5. Dengan tidak masuknya siswa A3 dan G5 ini membuat kelompok tujuh hanya ada dua anggota dan tidak mempunyai tutor. Untuk menyiasati kejadian ini guru menggabungkan kelompok tiga dengan kelompok tujuh.

  Setelah itu, maka peneliti langsung memulai kegiatan belajar. Materi yang dibahas adalah besar perubahan luas jika ukuran jari-jarinya berubah dan menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan perhitungan keliling dan luas lingkaran.

  Seperti pada pertemuan terdahulu, setelah guru menjelaskan materi, siswa yang menjadi tutor dipersilahkan untuk meriview materi pada anggota kelompoknya yang dilanjutkan dengan kegiatan mengerjakan soal latihan dan memanggil beberapa siswa untuk menyelesaikan latihan soal di depan kelas. setelah kegiatan belajar selesai, siswa diminta untuk membaca materi yang telah disampaikan selama siklus II karena pada pertemuan selanjutnya akan diadakan ulangan harian. 4)

  Pertemuan kedelapan (Selasa, 25 Januari 2011) Pada pertemuan kalai ini ada satu siswa yang tidak masuk karena sakit, yaitu siswa B2. Pertemuan kali ini adalah untuk melaksanakan tes akhir siklus II dengan pokok bahasan lingkaran. Soal tes berbentuk essay berjumlah 5 soal dengan indikator pembelajaran yang ingin dicapai untuk pokok bahasan tersebut.

  Tes dilaksanakan selama 60 menit. Tes ini dilaksanakan untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi materi yang telah diajarkan selama tiga pertemuan pada siklus kedua dan untuk mengetahui Setelah kegiatan tes akhir siklus beakhir, siswa ditugaskan untuk membawa busur pada pertemuan selanjutnya.

  c.

  Tahap Observasi Pembelajaran pada siklus II ini secara umum dapat dikatakan sudah baik. Pada pertemuan pertama dalam siklus II ini proses belajar berjalan agak sedikit gaduh dikarenakan keaktifan siswa, namun demikian kegiatan diskusi berjalan cukup tertib dan lancar. Siswa mulai berani menanyakan materi kepada guru dan tutor kelompok. Pada saat membahas hasil penyelesaian latihan soal yang telah dikerjakan oleh beberapa siswa di depan kelas, ada beberapa anggota kelompok yang berani menyanggah bahkan memberi saran kepada siswa yang dirasa jawabannya kurang lengkap. Hal ini berbeda dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya.

  Pada pertemuan kedua saat meriview materi, terlihat siswa yang bukan tutorpun ikut memberikan penjelasan kepada teman dalam satu anggotanya yang belum mengerti. Pada pertemuan kedua ini, siswa sudah bisa meminimalisir rasa malu mereka ketika belajar. Saat mengerjakan latihan soal terlihat ada beberapa anggota kelompok yang berpindah tempat duduk hanya untuk memberikan penjelasan bagi temannya yang ada di kelompok lain. Dokumentasi ketika siswa sedang menjelaskan materi kepada anggota kelompoknya dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4.3 Aktifitas Siswa (Tutor) Ketika Memberikan Penjelasan Kepada

  

Anggota Kelompok

  Pada pertemuan ketiga, gerogi yang dialami siswa dalam menjelaskan materi di depan kelas mulai berkurang, ini terbukti dari siswa yang pada saat mendapat tugas mengerjakan latihan soal di depan kelas dan membahas hasil pengerjaannya, siswa mulai terbiasa dan rileks ketika menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh beberapa temannya. Bahkan kadang diselingi dengan bercanda sehingga kegiatan belajar tidak lagi terasa tegang. Pada saat mengikuti tes akhir siklus II, siswa yang menyontek pada saat ulangan harian di siklus pertama sudah mulai percaya diri, mereka tidak lagi mencontek.

  Hasil rangkuman pengamatan tentang aktivitas yang berkaitan dengan kecemasan siswa melalui lembar observasi yang dilakukan oleh kolaborator pada siklus II, dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.4 Skor Rata-rata Kecemasan Siswa kelas VIII-D SMP Negeri 21 Tangerang dalam Pembelajaran Matematika Selama Siklus II Rata-rata Rata-rata Rata-rata pertemuan pertemuan pertemuan Rata-rata No Aktivitas yang dilakukan ke-1 ke-2 ke-3 Total

  Tidak tenang saat mengikuti

  1 2 1,63 1,33 1,65 kegiatan pembelajaran.

  Tidak berani bertanya kepada guru

  2 3,03 2,63 2,18 2,61 jika ada materi yang kurang jelas.

  Malu saat menjelaskan materi

  3 3 2,58 2,43 2,67 diskusi.

  Terbata-bata saat mengeluarkan

  4 ide/ gagasan ketika diskusi 2,73 2,33 2,03 2,36 kelompok berlangsung.

  Tidak berani menanggapi

  5 pertanyaan dari kelompok lain di 2,45 2,18 2,05 2,23 depan kelas.

  Pucat ketika mendapat tugas untuk

  6 menjawab pertanyaan dari guru 1,13 1,08 1,03 1,08 atau kelompok lain.

  Gerogi/ gugup ketika mendapat

  7 tugas untuk menjawab pertanyaan 2,65 2,33 2,05 2,34 dari guru atau kelompok lain.

  Tidak percaya diri saat

  8 menjelaskan/ mengerjakan soal di 3,08 2,55 2,38 2,67 papan tulis.

  Gerogi saat mengerjakan soal

  9 0,98 0,98 - - latihan/ ulangan harian.

  Jumlah 18,60 Keterangan : Skala penilaian rata-rata setiap aspek: Skala penilaian jumlah rata-rata: 1 : dilakukan sangat baik

  9

  • – 17 : Kecemasan belajar rendah 2 : dilakukan dengan baik

  18

  • – 26 : Kecemasan belajar sedang 3 : dilakukan cukup baik

  27

  • – 36 : Kecemasan belajar tinggi 4 : dilakukan kurang baik

  Pada Tabel 4.4 terlihat bahwa dari 9 aktifitas yang diamati pada dengan kategori kecemasan belajar siswa masih berada pada tingkat sedang dengan adanya intervensi tindakan berupa penerapan metode diskusi kelompok dengan teknik tutor sebaya dengan mengacak siswa yang meriview materi ditiap pertemuannya saat belajar matematika siklus II. Dalam hal ini siswa yang pada siklus pertama mengalami ketegangan sudah bisa membiasakan diri dengan diskusi kelompok dan rileks dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

  Dari hasil observasi kolaborator, ketenangan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran tetap terjaga, dengan kata lain meski terjadi kegaduhan pada saat pelaksanaan pertemuan kelima, namun secara keseluruhan ketenangan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran cenderung dapat dikendalikan. Pada tiap pertemuannya, nilai rata-rata aktifitas siswa yang berkaitan dengan kecemasan siswa secara keseluruhan relatif mengalami penurunan jika dibandingkan dengan skor yang didapat pada saat siklus pertama.

  Menurunnya skor kecemasan siswa pada akhir siklus II pun dapat dilihat berdasarkan hasil sebaran angket kecemasan siswa yang dilakukan pada pertemuan kedelapan. Rangkuman hasil sebaran angket tersebut disajikan sebagai berikut:

  Tabel 4.5

  

Skala Rata-rata Skor Kecemasan Belajar Matematika Siswa

SLTP Negeri 21 Tangerang Kelas VIII-D Siklus II

  Kategori Kecemasan Skala kecemasan

  f f

  Belajar

  relatif

  Tinggi 7 17,5% x ≥ 86,83 Sedang 62,77 < x < 86,83 25 62,5% Rendah 8 20% x ≤ 62,77

  Dari tabel 4.5 diperoleh informasi bahwa frekuensi siswa yang berada pada kategori kecemasan belajar rendah meningkat, dari 7 siswa skor rata-rata angket kecemasan belajar siswa sebesar 2,35. Yaitu dari 77,15 menjadi 74,80.

  Pada pertemuan kedelapan dilaksanakan juga tes akhir siklus II, rasa percaya diri siswa secara keseluruhan mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan siklus pertama. Untuk hasil tes siswa secara keseluruhan tersebut disajikan dalam Tabel sebagai berikut:

Tabel 4.6 Nilai Tes Akhir Siklus II

  Frekuensi Frekuensi Frekuensi Interval

  Absolut Relatif Kumulatif

  45 2 0,05 100 %

  • – 53

  54 6 0,15 95 %

  • – 62

  63 9 0,225 80 %

  • – 71

  72 14 0,35 57,5 %

  • – 80

  81 7 0,175 22,5 %

  • – 89

  90 2 0,05 5 %

  • – 98

  Jumlah

  40 1 100 %

  Keterangan: Nilai tertinggi = 95 Rata-rata = 73 Nilai terendah = 45 SD = 11,28 d.

  Tahap Refleksi Berdasakan hasil observasi pada siklus II yang terdiri dari empat pertemuan, diperoleh informasi bahwa skor kecemasan belajar siswa dari hasil lembar observasi siswa mengalami penurunan yang cukup baik dibanding siklus I. Poin-poin aktifitas yang pada saat siklus I dirasa masih tinggi, pada siklus II ini mengalami penurunan. Skor rata-rata total yang didapat pada pelaksanaan siklus II ini adalah 18,60 dengan skala kecemasan

  Skor hasil belajar yang didapat siswa secara keseluruhan pada siklus

  II mengalami peningkatan. Setelah melakukan tes akhir siklus II tersisa 12 siswa yang belum mencapai hasil belajar (SKBM) yang telah ditetapkan oleh sekolah untuk tahun ajaran 2010-2011, yaitu siswa harus mendapat nilai 70. Namun demikian, perolehan nilai siswa secara keseluruhan sudah dapat dikategorikan mencapai SKBM yang telah ditetapkan sekolah.

  Setelah melakukan diskusi dengan guru kolaborator mengenai lembar observasi dan angket kecemasan belajar, maka kegiatan penelitian diputuskan untuk dilanjutkan. Karena indikator keberhasilan penelitian belum tercapai.

  Berdasarkan saran guru kolaborator maka siklus III akan dilaksanakan dengan intervensi tindakan berupa pemberian hadiah (reword) bagi anggota kelompok yang berprestasi pada akhir siklus III. Penerapan pemberian hadiah (reword) ini diharapkan dapat mengurangi kecemasan siswa dalam belajar matematika serta merangsang siswa untuk termotivasi dan lebih aktif dalam berdiskusi, sehingga kerjasama siswa dalam berdiskusi terbangun, dengan diterapkannya pemberian hadiah ini diharapkan siswa lebih rileks dalam mengikuti kegiatan belajar pada siklus

  III. Dengan kata lain, intervensi tindakan berupa penerapan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya dengan pemberian hadiah diharapkan dapat mendorong siswa untuk mencapai indikator keberhasilan penelitian.

4. Siklus III a.

  Tahap perencanaan Tahap perencanaan siklus III dimulai dengan mendiskusikan RPP dengan guru kolaborator, menyiapkan lembar observasi yang akan digunakan oleh guru kolaborator, menyiapkan jawaban soal untuk sebaran angket akhir siklus dan menyiapkan soal tes akhir siklus III.

  Selanjutnya peneliti mendiskusikan beberapa hal yang dirasa perlu siklus III. Berdasarkan kesepakatan dengan kolaborator, diperoleh hasil sebagai berikut: 1)

  Pada siklus III ini kegiatan pembelajaran masih menggunakan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya disertai pemberian hadiah (reword). Hal ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi berprestasi siswa juga dapat meningkatkan pencapaian skors kecemasan yang dirasa sudah cukup baik pada pertemuan sebelumnya. 2)

  Hadiah akan diberikan kepada kelompok yang sangat aktif dalam berdiskusi menurut penilaian kolaborator. Adapun hadiahnya adalah: piagam untuk kelompok serta hadiah untuk anggotanya berupa calculator science merek karce KC-109

  3) Kelompok yang dibeentuk pada siklus III, sebaiknya menggunakan kelompok yang telah dibentuk pada siklus-siklus terdahulu. Dengan kata lain, kelompok siswa tidak usah dirombak. Karena menurut guru kolaborator, kelompokk siswa yang telah berjalan selama dua siklus ini sudah cukup homogen.

  4) Hadiah (reword) yang akan diberikan kepada siswa akan diberikan pada akhir siklus, adapun bentuk hadiahnya diusahakan yang bisa bermanfaat untuk kebutuhan siswa dalam kegiatan belajar.

  b.

  Tahap Pelaksanaan 1)

  Pertemuan kesembilan (Rabu, 26 Januari 2011) Pada pertemuan kali ini, ada siswa yangg tidak masuk karena sakit, yaitu siswa A4. Setelah mengabsen siswa proses pembelajaran dimulai dengan mengatur bangku untuk diskusi kelompok seperti pada pertemuan sebelumnya. Pada pertemuan kali ini siswa dibimbing dan diarahkan untuk mempelajari materi menghitung panjang busur dan luas juring. Awalnya sebagian besar siswa merasa sulit memahami materi ini, karena siswa harus mengingat dan menghubungkan keliling lingkaran pemahaman kembali secara perlahan, siswa dapat memahami materi dengan baik.

  Pada pertemuan kali ini pembelajaran berjalan dengan tertib dan kondusif, siswa terlihat santai dalam mempelajari materi dan mengerjakan latihan soal bahkan saat membahas latihan soalpun mulai ada beberapa siswa yang menawarkan diri untuk menyelesaikan di depan kelas. 2)

  Pertemuan kesepuluh ( Senin, 31 Januari 2011) Pada pertemuan kesepuluh ini siswa hadir semua. Sebelum masuk materi, guru memberikan apersepsi kepada siswa mengenai perhitungan luas segitiga. Pemberian apersepsi ini dirasa sangat perlu untuk menunjang keberhasilan memahami materi yang akan diajarkan pada pertemuan kali ini.

  Adapun materi yang dibahas pada pertemuan kali ini adalah menghitung luas tembereng. Sama pada pertemuan sebelumnya, awalnya siswa merasa sulit dalam memahami materi. Lalu siswa dipersilahkan kembali untuk membuka hand-out yang telah diberikan ketika pembelajaran siklus I. Selanjutnya siswa dipersilahkan untuk membahas beberapa latihan soal pada buku LKS.

  Pertemuan kali ini terasa jauh berbeda dengan pertemuan- pertemuan sebelumnya. Saat kegiatan membahas soal latihan, persaingan antar kelompok siswa mulai terasa. Setelah waktu habis, maka latihan soal yang belum selesai dijadikan tugas rumah untuk siswa. 3)

  Pertemuan kesebelas (Selasa 01 Februari 2011) Pada pertemuan kali ini sebelum memulai kegiatan belajar, siswa meminta kepada guru untuk membahas PR yang telah dikerjakan oleh siswa. beberapa siswa menawarkan diri untuk menyelesaikan PR di depan kelas tanpa diminta oleh guru. Kompetisi antar kelompok yang terjadi pada pertemuan kesepuluh, kembali terjadi dipertemuan kesebelas

  Setelah kegiatan membahas PR selesai, maka kegiatan pembelajaran mulai memasuki pembahasan materi, yaitu membahas materi mengenal hubungan sudut pusat dan sudut keliling jika menghadap busur yang sama. Kegiatan belajar pada pertemuan kali ini terasa makin baik dan lebih mudah dalam mengkondisikan siswa ketika akan memberikan penjelasan. Diskusi yang dilakukan oleh siswapun mulai membaik, siswa yang menjadi tutorpun tidak menunggu instruksi dari guru untuk menjelaskan kepada anggota kelompoknya. Setelah kegiatan belajar selesai, siswa ditugaskan untuk mempelajari materi yang telah disampaikan selama siklus II berlangsung. Karena pada pertemuan selanjutnya akan diadakan ulangan harian. 4)

  Pertemuan kedua belas (Rabu, 02 Februari 2011) Pertemuan kedua belas ini merupakann pertemuan yang terakhir. Pada pertemuan kali ini dilaksanakan tes akhir siklus III untuk materi menghitung panjang busur, luas juring dan luas tembereng dan materi mengenal hubungan sudut pusat dan sudut keliling jika menghadap busur yang sama. Soal tes berbentuk essay berjumlah 5 soal yang disesuaikan dengan indikator pembelajaran yang ingin dicapai untuk pokok bahasan tersebut.

  Tes ini dilaksanakan untuk mengetahui tingkat penguasaan materi yang telah diajarkan dan untuk mengetahui apakah ada peningkatan hasil belajar antara siklus II dengan siklus III. Diakhir pembelajaran peneliti membagikan angket pengukur kecemasan siswa dalam belajar matematika siswa.

  c.

  TahapTahap Observasi Pembelajaran pada siklus III ini berjalan dengan baik, kondisi kelas lebih kondusif dibandingkan siklus II. Siswa lebih santai dalam mengikuti kegiatan diskusi kelompok dan dalam mengerjakan latihan-latihan soal yang sebaya dalam kelompok masing-masing. Hasil pengamatan terhadap pengajaran guru oleh observer sudah baik dan lembar pengamatan guru dapat dilihat pada lampiran 11.

  Berdasarkan lembar observasi guru kolaborator, beberapa skor sikap siswa yang berkaitan dengan kecemasan mengalami peningkatan. Hasil observasi yang dilakukan oleh kolaborator pada kegiatan siklus III ini, dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.7 Skor Rata-rata Kecemasan Siswa kelas VIII-D SMP Negeri 21 Tangerang dalam Pembelajaran Matematika Selama Siklus III Rata-rata Rata-rata Rata-rata pertemuan pertemuan pertemuan Rata-rata No Aktivitas yang dilakukan ke-9 ke-10 ke-11 Total

  Tidak tenang saat mengikuti

  1 1,65 1,33 0,75 1,24 kegiatan pembelajaran.

  Tidak berani bertanya kepada guru

  2 2,58 2,18 2 2,25 jika ada materi yang kurang jelas.

  Malu saat menjelaskan materi

  3 2,73 2,38 2,25 2,45 diskusi.

  Terbata-bata saat mengeluarkan ide/

  4 gagasan ketika diskusi kelompok 2,73 2,33 2,03 2,36 berlangsung.

  Tidak berani menanggapi pertanyaan

  5 2,18 2,05 1,78

  2 dari kelompok lain di depan kelas. Pucat ketika mendapat tugas untuk

  6 menjawab pertanyaan dari guru atau 1,33 1,03 0,88 1,08 kelompok lain.

  Gerogi/ gugup ketika mendapat

  7 tugas untuk menjawab pertanyaan 2,53 2,33 2,03 2,3 dari guru atau kelompok lain.

  Tidak percaya diri saat menjelaskan/

  8 2,38 2,18 1,73 2,1 mengerjakan soal di papan tulis.

  Gerogi saat mengerjakan soal

  9 1,09 1,09 - - latihan/ ulangan harian.

  Jumlah 16,88 Keterangan : Skala penilaian rata-rata setiap aspek: Skala penilaian jumlah rata-rata: 1 : dilakukan sangat baik

  9

  • – 17 : Kecemasan belajar rendah 2 : dilakukan dengan baik

  18

  • – 26 : Kecemasan belajar sedang 3 : dilakukan cukup baik

  27

  • – 36 : Kecemasan belajar tinggi 4 : dilakukan kurang baik

  Pada Tabel 4.5 terlihat bahwa dari 9 aspek yang diamati melalui lembar observasi pada pertemuan 9, 10 dan 11 didapatkan rata-rata 16,88 kategori kecemasan siswa dalam belajar matematika berada dalam rentang skala kecemasan belajar rendah dengan adanya penerapan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya dengan menyertakan pemberian hadiah (reword) dalam belajar matematika. Dengan pencapaian skor hasil observasi sebesar 16,88, maka indikator keberhasilan telah tercapai. Hal ini dibarengi pula dengan berkurangnya frekuensi siswa yang berada pada skala kecemasan belajar tinggi. Jika pada siklus II frekuensi siswa yang berada pada kategori kecemasan tinggiHal ini dapat dilihat dari tabel berikut:

Tabel 4.8 Skala Rata-rata Skor Kecemasan Belajar Matematika Siswa SLTP Negeri 21 Tangerang Kelas VIII-D Siklus III

  Kategori Kecemasan Skala kecemasan

  f f

  Belajar

  relatif

  Tinggi 4 10% x ≥ 82,42 Sedang 60,78 < x < 82,42 28 70% Rendah 8 20% x ≤ 60,78

  Ketika pelaksanaan tes akhir siklus III pada pertemuan keduabelas, seluruh siswa mengerjakan soal yang diberikan dan menurut hasil pengamatan peneliti dan kolaborator, ada beberapa siswa yang mencontek dan jumlahnya lebih banyak jika dibandingkan ketika siswa melakukan tes diakhir siklus II.

  Hasil belajar siswa yang diperoleh dari tes akhir siklus III pada

  40 1 100 % bergabung dalam satu kelompok, sehingga pembelajaran berjalan lebih kondusif dibandingkan dengan pembelajaran pada siklus II. Kerja sama dalam kelompok diskusipun begitu terlihat ketika siswa mengerjakan soal yang sulit terpecahkan.

  Frekuensi Kumulatif

  Jumlah

  90

  81

  72

  63

  54

  45

  Frekuensi Relatif

  Frekuensi Absolut

  • – 62 4 0,100 95 %

  Dipertahankankannya anggota kelompok selama kegiatan hingga saat pelaksanaan siklus III membuat tutor sebaya lebih optimal dalam Interval

  Tahap Refleksi Pada saat melaksanakan siklus III ini, kemampuan siswa dalam memahami materi yang disampaikan sudah sangat baik.

  d.

  Pada siklus II siswa yang berada di bawah SKBM berjumlah 12, namun pada siklus III jumlahnya berkurang menjadi 10 orang. Jadi meskipun nilai rata-rata siswa mengalami penurunan, akan tetapi siswa yang mencapai SKBM jumlahnya bertambah. Hasil belajar yang diperoleh siswa yang diadakan pada tiap akhir siklus.

  Berdasarkan Tabel 4.9 dapat diperoleh informasi bahwa pada siklus III rata-rata hasil belajar yang diperoleh oleh siswa mengalami penurunan. Namun demikian rata-rata hasil belajar yang diperoleh siswa masih berada diatas SKBM yang telah ditetapkan.

  Keterangan: Nilai tertinggi = 90 Rata-rata = 71,5 Nilai terendah = 50 SD = 9,30

Tabel 4.9 Nilai Tes Akhir Siklus III

  • – 53 2 0,050 100 %
  • – 71 18 0,450 85 %
  • – 80 9 0,225 40 %
  • – 89 6 0,150 17,5 %
  • – 98 1 0,025 2,5 %

  Berdasarkan pengamatan melalui lembar observasi, ternyata hasil perolehan skor kecemasan siswa pada siklus III telah mencapai indikator keberhasilan penelitian. Dengan adanya pemberian hadiah (reword) ketika menerapkan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya, hasil belajar tes akhir siklus III sudah menunjukkan hasil yang baik. Meskipun rata-rata nilai tes siswa mengalami penurunan dari 73 menjadi 71,5. Kolaborator menganggap hal ini wajar mengingat materi yang disampaikan pada siklus III lebih sulit dari materi siklus II dan penurunan nilai siswa masih berada diatas SKBM yang telah ditetapkan.

  Selain menggunakan lembar observasi untuk mengukur kecemasan yang dialami siswa dalam belajar matematika. Pada hari rabu, 02 februari 2011 siswa kelas VIII-D diberikan angket pengukur skala kecemasan dalam belajar matematika untuk melihat kategori kecemasan belajar siswa pada siklus III. Hasil yang didapat adalah berkurangnya frekuensi siswa yang berada pada kategori kecemasan belajar tinggi menjadi empat siswa

B. Pemeriksaan Keabsahan Data

  Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya angket kecemasan siswa dalam belajar matematika. Instrumen ini disebarkan ke siswa kelas penelitian pada hari rabu, 05 januari 2011 untuk mengetahui tingkat kecemasan yang dialami siswa, kemudian skor hasil sebaran angket tersebut diuji validitas dan reliabilitasnya. Dari 50 pernyataan, setelah diujikan ke siswa didapat jumlah pernyataan yang valid sebanyak 32 pernyataan. Dengan tingkat reliabilitas 0,926 (reliabilitas tinggi). (hasil dan contoh perhitungan validitas dan reliabilitas dapat dilihat pada lampiran 12) Selanjutnya peneliti mengkasifikasikan

  32 pernyataan angket yang telah didapat validitas dan reliabilitasnya. kemudian angket dengan jumlah 32 pernyataan disebarkan kembali untuk mengetahui apakah ada peningkatan skor kecemasan siswa dalam belajar matematika setelah dilakukan intervensi tindakan berupa penerapan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya dalam belajar matematika.

  Selain menggunakan angket untuk mengetahui peningkatan skors kecemasan siswa, digunakan pula lembar observasi tertutup dan terbuka, dan wawancara untuk mengetahui aktivitas yang berkaitan dengan kecemasan siswa setiap pertemuan pada siklus I, II dan III. Untuk mengetahui apakah data yang diperoleh valid dan memiliki keterpercayaan yang tinggi, dilakukan member chek. Kegiatan ini meliputi memeriksa kembali keterangan atau informasi yang diperoleh selama observasi dari narasumber, memeriksa apakah informasi tersebut tetap sifatnya atau tidak berubah sehingga dapat dipastikan keajegannya, dan memastikan kebenaran data. Untuk mendapatkan data yang absah dilakukan pula teknik triangulasi melalui pengamatan terhadap aktivitas yang berkaitan dengan kecemasan siswa apakah menunjukkan peningkatan skor yang didapat dengan dilakukannya intervensi tindakan berupa penerapan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya dalam belajar matematika. Hal ini bertujuan untuk menggali data dari sumber yang sama dengan menggunakan cara yang berbeda.

  Lembar catatan hasil diskusi dengan guru kolaborator mengenai hasil observasi yang diperoleh diakhir siklus dibaca berulang-ulang kemudian dilakukan reduksi data yaitu menghilangkan data yang tidak relevan dengan fokus penelitian. Hal ini bertujuan agar data atau informasi yang diperoleh sesuai dengan tujuan penelitian dan menjaga kesesuaian dengan keadaan yang sebenarnya.

  Untuk mengetahui apakah hasil wawancara dengan siswa tentang persepsi siswa terhadap penerapan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya serta dampaknya bagi peningkatan siswa didapat informasi yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, wawancara dilakukan berulang kali disetiap akhir pertemuan. rendah, sedang dan tinggi. Hal ini agar informasi yang diperoleh dapat mewakili siswa-siswa dalam kelas secara keseluruhan.

  Untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa dilakukan dengan memeriksa hasil tes akhir siklus siswa. Soal yang dibuat disesuaikan dengan kurikulum sekolah mengenai kompetensi dasar dan indikator pembelajaran yang ingin dicapai. Soal tersebut sebelumnya dikonsultasikan dengan guru kolaborator yang merupakan guru mata pelajaran matematika di SMP Negeri 21 Tangerang.

C. Analisis Data

  Hasil pengamatan siklus I siklus pertama secara keseluruhan belum mencapai keberhasilan. Merujuk nilai rata-rata angket kecemasan siswa yang disebarkan setelah kegiatan siklus I berlangsung Intensitas kecemasan siswa mengalami penurunan yang cukup signifikan. Dari frekuensi siswa sebanyak 11 siswa yang memiliki kecemasan tinggi pada survei pendahuluan, jumlahnya berkurang menjadi 4 siswa. Meskipun tidak terjadi peningkatan pada frekuensi siswa dengan kategori kecemasan belajar rendah setelah dilakukannya intervensi tindakan pada siklus I. Akan tetapi hal ini tidak dibarengi dengan pencapaian nilai pada hasil lembar observasi yang dilakukan oleh kolaborator.

  Dari hasil observasi tersebut terlihat bahwa masih banyak siswa yang mengalami kecemasan. Meskipun diperoleh data bahwa siswa cukup tenang ketika mengikuti kegiatan belajar dengan menggunakan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya. Ada beberapa sikap siswa yang berkaitan dengan kecemasan siswa belum dilakukan cukup baik diantaranya: masih banyaknya siswa yang merasa malu ketika dipersilahkan mengerjakan soal di depan kelas, keberanian siswa baik untuk bertanya kepada guru maupun menaggapi pertanyaan dari kelompok lain belum terlihat. Disamping itu, beberapa tutor masih terlihat gugup saat meriview materi dan membuat mereka terbata-bata saat menjelaskannya kepada anggota kelompok. Beberapa siswa juga terlihat panik saat melaksanakan ulangan harian diakhir siklus I. observasi guru dan lembar observasi terbuka yang didiskusikan dengan guru kolaborator dengan tujuan memperbaiki kekurangan yang terjadi selama pelaksanaan siklus I. Setelah mengolah data hasil lembar angket kecemasan yang disebarkan setelah siklus II berlangsung, secara umum intervensi tindakan yang dilakukan pada siklus II ini mengalami peningkatan. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa siswa dapat meningkatkan ferforman belajar mereka selama siklus II. Hal ini terlihat dari berkurangnya skor rata-rata angket kecemasan mereka. Jika pada siklus sebelumnya rata-rata yang dicapai adalah 77,15 pada siklus II ini berkurang sebesar 2,35 menjadi 74,80. Kali ini berkurangnya skor rata-rata angket kecemasan siswa dibarengi dengan menurunnyanya pencapaian nilai rata-rata hasil lembar observasi yang dilakukan oleh kolaborator.

  Beberapa aktifitas yang berkaitan dengan kecemasan siswa yang dirasa masih tinggi pada siklus I, maka pada siklus II ini mengalami penurunan. Seperti rasa malu yang dirasakan siswa saat dipersilahkan mengerjakan soal di depan kelas sudah hampir tidak terlihat. Ketidakberanian siswa dalam menjawab pertanyaan dari guru dan menanggapi pertanyaan dari kelompok lain semakin menurun. Saat melakukan diskusi kelompok pada siklus II, tutor sudah tidak terlihat gerogi, hal ini dikarenakan siswa yang diberitahukan menjadi tutor pada pertemuan selanjutnya sudah mempersiapkan diri dengan cara membaca buku yang berkaitan dengan materi yang akan dibahas, sehingga dalam meriview materipun tutor terlihat santai dan tidak begitu terbata-bata dalam menjelaskan materi seperti pada pertemuan di siklus pertama. Pada saat mengerjakan tes akhir siklus yang merupakan ulangan harianpun siswa terlihat mulai percaya diri dengan kemampuannya. Hal ini terlihat dari pencapaian nilai siswa mengenai aktifitas “Tenang pada saat melaksanakan latihan soal/ ujian harian” pada lembar observasi mengalami peningkatan.

  Secara keseluruhan pencapaian siswa pada siklus II ini mengalami peningkatan. Akan tetapi pencapaian yang mereka raih belum mencapai standar keberhasilan penelitian. Maka berdasarkan hasil refleksi bersama guru intensitas kecemasan tinggi hingga 10 % dibarengi pencapaian nilai rata-rata observasi sebesar 27 dan pencapaian rata-rata nilai angket sebesar 75 yang telah ditentukan oleh peneliti dengan kategori kecemasan belajar rendah.

  Pada siklus III proses pembelajaran sudah berjalan dengan baik dan tertib. Suasana kelas yang kondusif, dikarenakan semakin kompaknya siswa karena lamanya anggota dalam satu kelompok sangat membantu tutor dalam mengenali karakter teman dalam kelompoknya. Dengan demikian bimbingan tutor sebaya cukup membantu proses pembelajaran menjadi lebih efektif dibandingkan pertemuan-pertemuan sebelumnya.

  Berdasarkan hasil angket yang disebarkan diakhir siklus III dapat dilihat bahwa siswa dapat mempertahankan performan belajar mereka, bahkan pada siklus kali ini terjadi penurunan frekuensi siswa yang berada pada kategori kecemasan belajar tinggi. Jika pada siklus II terdapat 7 siswa yang memiliki kecemasan tinggi, kali ini jumlahnya menjadi 4 siswa. Pada siklus III ini, sebagian besar siswa sudah memiliki kecemasan dengan kategori belajar rendah.

  Rendahnya kebanyakan siswa setelah dilakukan intervensi tindakan yang dilakukan pada siklus III ini dapat terlihat dari pencapaian siswa terhadap indikator keberhasilan penelitian. Diantaranya adalah: Jika pada lembar observasi nilai rata-rata standar indikator keberhasilan yang ditentukan adalah sebesar 17. Siswa berhasil mencapai nilai rata-rata sebesar 16,88. Adapun nilai rata-rata angket kecemasan yang dicapai siswa setelah intervensi siklus III dilaksanakan sebesar 71,60. Skornya lebih rendah 3,40 dari standar rata-rata yang ditetapkan peneliti, yaitu sebesar 75. yang terakhir adalah frekuensi siswa yang berada pada kategori tingkat kecemasan tinggi berkurang menjadi 4 orang (10%).

  Merujuk pada beberapa hasil yang telah dicapai oleh siswa, yaitu hasil nilai rata-rata angket kecemasan siswa dan lembar observasi maka peneliti dan kolaborator menghentikan penelitian ini pada siklus III dengan alasan telah tercapainya indikator keberhasilan penelitian.

D. Interpretasi Hasil Analisis

  Pada siklus I, II, dan III dari hasil pengamatan menunjukkan siswa mulai merasa nyaman dan tidak tegang saat mengikuti kegiatan belajar matematika dengan adanya penerapan teknik tutor sebaya. Meskipun, akan tetapi rata-rata skor yang dicapai mengalami peningkatan dari pada sebelum dilakukan intervensi yang dilakukan saat survei pendahuluan. Selanjutnya pada siklus II kegiatan pembelajaran semakin membaik, siswa yang pada pertemuan siklus pertama masih terbata-bata saat menjelaskan materi, disiklus II mengalami peningkatan, hal ini dibarengi juga dengan keberanian siswa untuk menanyakan dan menanggapi materi saat berdiskusi. Nilai kecemasan siswa mulai dari kegiatan survei pendahuluan sampai kegiatan siklus tiga berakhir, dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 4.10 Rekapitulasi Skor Kecemasan Siswa Dalam Belajar Matematika Berdasarkan Angket Kecemasan Belajar Matematika

  Kategori Pra intervensi Siklus I Siklus II Siklus III Kecemasan belajar rendah 17,5% 17,5% 20% 20% Kecemasan belajar sedang 55% 65% 62,5% 70% Kecemasan belajar tinggi 27,5% 17,5% 17,5% 10% Rata-rata Skor 98,43 77,15 74,80 71,60*

  Indikator keberhasilan tercapai *

  Berdasarkan hasil observasi tentang aktivitas siswa melalui lembar observasi menunjukkan bahwa kecemasan siswa dalam belajar matematika dapat dikurangi dengan adanya penerapan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya. Pada siklus I hasil pengamatan melalui lembar observasi mendapatkan skor rata-rata 24,85 dengan kategori kecemasan belajar siswa sedang, pada siklus

  II skor rata-rata hasil observasi berkurang menjadi 18,60 dengan kategori kecemasan belajar siswa sedang. Dari aspek yang diamati skor kecemasan belajar siswa mengalami penurunan yang cukup baik. Siswa yang keberanian siswa pencapaian skor yang diamati mengalami peningkatan, namun indikator keberhasilan belum tercapai maka dilaksanakan siklus III. Hasil pengamatan pada siklus III diperoleh rata-rata skor kecemasan siswa sebesar 16,88 dengan kategori kecemasan belajar siswa rendah. Skor tersebut menunjukkan bahwa indikator keberhasilan tercapai. Siswa terlihat santai dalam belajar dan suasana kelas saat belajarpun tidak tegang, keberanian siswa dalam menyampaikan materi, memberikan ide saat diskusi dan menanyakan materi yang belum dipahami makin membaik. Untuk melihat peningkaatan skor rata-rata yang didapat siswa setiap siklus, dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.11 Rekapitulasi Rata-rata Skor kecemasan Siswa

  

Berdasarkan Lembar Observasi Siswa

  Siklus Rata-rata Skor Kategori I 24,85 Kecemasan belajar sedang

  II 18,60 Kecemasan belajar sedang

  III 16,88* Kecemasan belajar rendah

  • Indikator keberhasilan tercapai

  Berdasarkan hasil wawancara terhadap beberapa siswa yang diperoleh informasi bahwa penerapan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya memberikan nuansa belajar yang baru bagi siswa. Belajar dengan adanya tutor membuat siswa tidak khawatir saat menemui kesulitan, karena ada tutor sebagai tempat bertanya. Saat menanyakan materi yang belum dipahamipun siswa merasa tidak malu karena yang mereka tanya merupakan teman mereka sendiri.

  Siswa yang kemampuan matematikanya rendah, dengan belajar menggunakan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya memberikan pengaruh positif terhadap pola belajar siswa tersebut. Seperti pernyataan yang dikatakan seorang siswa bahwa dia senang belajar dengan kelompok tutor sebaya karena ketika ada materi yang belum jelas, siswa tersebut bisa

  Adapun hasil belajar matematika yang diperoleh dari siklus 1, 2 dan 3 terlihat mengalami peningkatan yang cukup baik. rata-rata tes akhir siklus I sebesar 62 dan mengalami peningkatan di siklus II menjadi 73. Meskipun pada siklus III mengalami penurunan menjadi 71,5. Namun rata-rata yang tersebut masih memenuhi SKBM yang ditetapkan sekolah. Perolehan skor rata-rata siswa tiap siklus disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 4.12 Rekapitulasi Tes Hasil Belajar Siklus I, II, dan III

  Siklus I Nilai siswa lebih dari rata-rata Nilai siswa kurang dari rata-rata

  Jumlah Persentasi Jumlah Persentasi 20 50% 20 50%

  

Siklus II

  Nilai siswa lebih dari rata-rata Nilai siswa kurang dari rata-rata Jumlah Persentasi Jumlah Persentasi 23 57,5%

  17 42,5%

  

Siklus III

  Nilai siswa lebih dari rata-rata Nilai siswa kurang dari rata-rata Jumlah Persentasi Jumlah Persentasi 16 40%

  24 60% Dari Tabel 4.12 terlihat jumlah siswa yang mendapatkan nilai lebih dari rata-rata nilai tes keseluruhan meningkat dari mulai siklus I ke siklus II dan menurun lagi pada siklus III. Meskipun terjadi penurunan rata-rata tes hasil belajar siswa pada siklus III, hal ini dianggap wajar karena materi pada pertemuan ketiga dianggap memiliki kesukaran yang lebih bila dibandingkan dengan materi pada siklus II

E. Pembahasan Hasil Temuan Penelitian

  Dari hasil pengamatan selama kegiatan intervensi tindakan didapat beberapa

1. Penerapan teknik tutor sebaya dalam proses belajar dapat mengurangi kecemasan siswa belajar matematika.

  Survei pendahuluan yang telah dilakukan memberikan gambaran kondisi pembelajaran di kelas VIII-D yang agak monoton dan terjadi ketegangan dalam mengikuti pelajaran matematika. Oleh karena itu diperlukan upaya dari guru matematika untuk mengatasi hal tersebut sehingga dapat mengurangi kecemasan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran matematika di sekolah. Guru diharapkan mampu membangkitkan semangat belajar siswa dengan menyajikan menu belajar yang menggugah selera serta memberikan lingkungan yang kondusif untuk belajar.

  Salah satu upaya yang dilakukan guru untuk mengurangi intensitas kecemasan yang dialami siswa saat belajar matematika di kelas VIII-D adalah dengan menerapkan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya. Penerapan tutor sebaya ini memberikan nuansa yang berbeda di kelas VIII-

  D, karena sebelumnya guru terlalu sering menggunakan metode ekspositori yang dianggap menjenuhkan oleh siswa. Metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya memberikan lingkungan yang nyaman bagi siswa untuk bertanya tanpa merasa takut dan malu ditertawakan. Siswa dapat bertanya sebebas-bebasnya kepada tutor dalam kelompoknya. Siswa menjadi santai dan bersemangat belajar matematika karena soal-soalnya tidak lagi menjadi momok yang menakutkan bagi mereka. Siswa dapat dengan mudah menyelesaikan soal-soal yang dihadapi melalui diskusi dalam kelompoknya serta bimbingan dari tutor yang cukup membantu mereka dalam belajar matematika.

  Dalam penelitian ini indikasi penurunan kecemasan siswa dalam belajar matematika telah tercapai sebagaimana nampak kenyamanan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar, keberanian siswa menanyakan materi yang belum dipahami, juga berkurangnya rasa malu siswa untuk senang terhadap pelajaran, tidak terbata-bata dan gugup saat menjelaskan materi.

  2. Penerapan metode tutor sebaya dapat mendorong tiap-tiap kelompok siswa untuk berani bertanya tentang hal-hal yang tidak dimengerti dalam pelajaran matematika

  Siswa membutuhkan lingkungan yang nyaman untuk belajar baik secara fisik, sosial, dan emosional. Pada penelitian yang telah dilakukan guru mengkondisikan siswa dalam kelompok tutor sebaya agar terjadi interaksi belajar antar siswa. Kelompok tutor sebaya juga dimaksudkan untuk meminimalisir kesenjangan antara siswa pandai dan siswa yang kurang pandai. Senada dengan ungkapan Erman Suherman yang menyatakan bahwa “menonjolkan interaksi dalam kelompok, membuat siswa menerima siswa lain yang berkemampuan dan berlatar belakang berbeda”.

  Dalam kelompok tutor sebaya, anggota bebas bertanya kepada tutornya dengan bahasa pertemanan sehingga tidak tegang. Siswa tidak lagi cemas menghadapi soal-soal yang sulit karena dapat bertanya kepada tutornya tanpa rasa malu dan takut ditertawakan oleh temannya yang lain. Tidak nampak lagi siswa yang hanya terdiam, menunggu jawaban dari temannya.

  Pada saat pelaksanaan metode tutor sebaya, suasana kelas terkesan ramai. Akan tetapi keramaian itu lebih disebabkan karena suara-suara diskusi dalam kelompoknya masing-masing. Pada situasi ini peranan guru sangat penting untuk mengawasi siswa agar keaktifan dan interaksi yang terjadi pada siswa tetap sesuai dengan tujuan pembelajaran. Guru diharapkan dapat memandu pelaksanaan diskusi kelompok agar berjalan dengan baik, meminimalisir sikap mengajar yang dapat membuat siswa merasa takut sehingga dapat menumbuhkan rasa berani siswa dalam bertanya agar memperoleh hasil belajar yang optimal.

3. Belajar dengan teman sebaya lebih mudah dipahami siswa

  Banyak faktor yang menyebabkan siswa menjadi cemas dalam belajar, diantaranya adalah metode belajar yang monoton dan pelajaran yang dianggap sulit oleh siswa misalnya matematika. Adakalanya siswa merasa kesulitan memahami pembahasan yang disampaikan oleh guru, namun malu atau takut bertanya kembali untuk memperjelas materi yang sudah disampaikan. Oleh karena itu guru merasa perlu menerapkan metode tutor sebaya dimana siswa dikondisikan nyaman untuk bertanya dan meminta penjelasan kembali kepada tutornya tanpa takut dan malu ditertawakan. Para tutee merasa penjelasan ulang oleh para tutor lebih mudah dipahami yang disampaikan dengan menggunakan bahasa pertemanan, lebih ringan dan lebih akrab. Belajar dalam kelompok tutor sebaya membuat siswa berada dalam lingkungan nyaman, tidak tegang membuat siswa lebih mudah untuk belajar.

  Interaksi yang baik dalam kelompok tutor sebaya akan membuat belajar menjadi lebih menyenangkan. Siswa dari kelompok nilai bawah tidak lagi takut menghadapi soal-soal yang mereka anggap sulit. Semangat untuk mencoba mengerjakan soal-soal tersebut muncul dengan adanya bantuan dari tutor.

  

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan deskripsi data dan pembahasan pada bab IV, dapat disimpulkan hal-

  hal sebagai berikut: 1.

  Penerapan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya dalam pembelajaran matematika dapat membantu siswa dalam mengurangi kecemasan yang dialami siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran.

  2. Penerapan metode diskusi kelompok dalam belajar dapat mengurangi jumlah siswa yang berada pada kategori kecemasan tinggi. Hal ini terlihat dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Jika sebelum dilakukannya intervensi tindakan berupa penerapan metode diskusi kelompok jumlah siswa yang kecemasannya tinggi berjumlah 11 siswa. setelah dilakukannya intervensi jumlahnya berkurang menjadi hanya 4 siswa.

  3. Penerapan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya dalam belajar menciptakan suasana belajar yang nyaman bagi siswa untuk bertanya tanpa merasa takut atau malu ditertawakan. Siswa dapat bertanya sebebas-bebasnya kepada tutor dalam kelompoknya. Siswapun menjadi lebih senang, rileks, dan bersemangat belajar matematika karena pada saat menemui kesulitan dalam menjawab soal yang dianggap rumit, siswa dapat mendiskusikannya dan langsung menannyakannya kepada tutor kelompok. Secara keseluruhan, siswa merasa lebih senang dengan dilakukannya variasi metode belajar, salah satunya dengan menerapkan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya dalam belajar matematika.

  4. Kegiatan belajar siswa menggunakan metode belajar diskusi kelompok ternyata membuat siswa lebih aktif. Hal ini dapat terlihat ketika penelitian di siklus III. Setiap kelompok terlihat begitu aktif dalam belajar, saling tanya pun mengalir tanpa harus diminta oleh guru.

B. Saran 1.

  Dalam menyampaikan materi, hendaknya guru tidak hanya berorientasi pada kemampuan kognitifnya saja, melainkan perlu mempertimbangkan berbagai aspek yang dimiliki siswa. Karena keberhasilan belajar siswa tidak hanya dinilai dari satu aspek saja, melainkan dari tiga aspek, yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotorik siswa.

  2. Guru hendaknya mempersiapkan rencana atau skenario pembelajaran yang tepat, dalam upaya meningkatkan prestasi belajar matematika siswa sehingga siswa merasa santai saat mengikuti kegiatan pembelajaran.

  3. Dalam menerapkan diskusi sebagai suatu metode pembelajaran, hendaknya guru mengetahui kemampuan masing-masing siswa, sehingga dalam pembagian kelompok dapat tersebar secara heterogen.

  4. Guru hendaknya mampu menggabungkan metode diskusi dengan teknik- teknik belajar yang lain, jangan hanya berorientasi pada satu metode saja, karena hal tersebut dapat membuat siswa merasakan kejenuhan dalam belajar.

  5. Berdasarkan hasil penelitian ini, hendaknya guru dapat dan mau menerapkan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya sebagai salah satu metode belajar bagi siswanya. Karena metode tersebut terbukti dapat menmengurangi intensitas kecemasan yang dialami siswa dalam belajar.

  6. Pihak sekolah hendaknya mendukung upaya guru untuk menmengurangi kecemasan siswa dalam belajar, dengan jalan tidak terlalu tinggi dalam menetapkan standar ketuntasan belajar mengajar (SKBM). Karena apabila penetapan SKBM yang terlalu tinggi dikhawatirkan memicu kecemasan siswa.

  7. Bagi peneliti yang ingin melanjutkan penelitian tentang kecemasan ini hendaknya melakukan penelitian pada aspek kematangan remaja sehingga sikap yang berkaitan dengan kecemasan siswa dapat diteliti secara lengkap.

  Mengingat masih adanya kelemahan-kelemahan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya, maka dalam penggunaan metode tersebut selanjutnya, hendaknya diperhatikan kondisi dan karakter sebagian besar siswa terlebih

DAFTAR PUSTAKA

  Ahmadi, Abu dan Joko Tri Prasetya, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: Pustaka Setia, 2005)

  Ahmadi, Abu dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: PT.Rineka Cipta, 2001)

  Ahmadi, Abu dan Widodo Supriono, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT.Rineka Cipta, 2003)

  Arifin, Anwar, Memahami Paradigma Baru Pendidikan Nasional dalam Undang-

  Undang Sisdiknas, (Jakarta: Ditjen kelembagaan Agama Islam Depag,

  2003) Arikunto, Suharsimi, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara,

  2001) Atmadja , Rochiati Wiria, Metode Penelitian Tindakan Kelas, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007)

  Depag R.I. ,Alquran dan Terjemahnya, (Surabaya: CV Jaya Sakti, 2005) Fausiah, Fitri dan Julianti Widuri, Psikologi Abnormal Klinis Dewasa, (Jakarta:UI

  Press, 2008) Hamalik, Oemar, Psikologi Belajar & Mengajar, (Bandung: Sinar Baru

  Algesindo, 2009)

  http://dossuwanda. wordpress.com http:// Psikologi.or.id. http//www.Anan‟s Blogs.ac.id.

  Paimin, Joula Eka Ningsih, Agar Anak Pinta Matematika, (Jakarta: Puspa Swara, 1998)

  Purwanto, M.Ngalim, Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung: PT.Remaja Rosda Karya, 2004)

  • , Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2004) . Roestiyah N.K, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2008) S. Nasution, Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar dan Mengajar,

  (Jakarta: PT.Bumi Aksara, 2008) Sarifuddin, Penerapan Teknik Tutor Sebaya dan Pemberian Kartu Skor

  Partisipasi Siswa Untuk Meningkaatkan Motivasi Belajar Matematika Siswa, Skripsi Jurusan Matematika Universitas Islam Negeri Jakarta,

  (Jakarta: Perpustakaan Utama, 2008).t.d Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta:Remaja

  PT.Rineka Cipta, 2010) Suherman, Erman, Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, (Bandung:

  JICA, 2003) Sukmadinata, Nana Syaodih, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, ( Bandung:

  PT.RemajaRosdakarya, 2003)

  • , Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: PT.Remaja Rosda Karya,

  2007) Sumardyono, Karakteristik Matematika dan Implikasinya Terhadap

  Pembelajaran Matematika, Paket Pembinaan penataran, (Yogyakarta:

  Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, 2004), t.d. Syah, Muhibbin, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung:

  PT.Remaja Rosdakarya, 2004) Sumiati dan Asra, Metode Pembelajaran, (Bandung: Wacana Prima, 2009) Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstuktivistik, Usman, Moh.Ujer dan Lili Setiawati, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar

  Mengajar, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005)

  Yamin, Martinis, Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Gaung persada Press, 2004) Yamin, Martinis dan Bansu I. Ansari, Taktik Mengembangkan Kemampuan

  Individual Siswa, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2008)

Upaya mengurangi kecemasan belajar matematika siswa dengan penerapan metode diskusi kelompok teknik tutor sebaya: sebuah studi penelitian tindakan di SMP Negeri 21 Tangerang Analisis Data DESKRIPSI, ANALISIS DATA INTERPRETASI HASIL ANALISIS Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar Pengertian Matematika Instrumen-instrumen Pengumpul Data yang Digunakan Interpretasi Hasil Analisis DESKRIPSI, ANALISIS DATA INTERPRETASI HASIL ANALISIS Karakteristik Pembelajaran Matematika Belajar dan Pembelajaran Matematika Kecemasan Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Kriteria Diskusi Kelompok yang Baik Pembahasan Hasil Temuan Penelitian Pemeriksaan Keabsahan Data DESKRIPSI, ANALISIS DATA INTERPRETASI HASIL ANALISIS Penelitian yang Relevan Pengajuan Kerangka Konseptual dan Intervensi Perencanaan Tindakan Pengertian Belajar Belajar dan Pembelajaran Matematika Pengertian Metode Diskusi Kelompok Pengertian Pembelajaran Matematika Belajar dan Pembelajaran Matematika Pengertian Teknik Tutor Sebaya Setting Tempat dan Waktu Penelitian Metode Penelitian dan Rancangan Siklus Penelitian Subjek Penelitian Peran dan Posisi Peneliti dalam Penelitian Hasil Intervensi Tindakan yang Diharapkan Jenis dan Sumber Data Tahap Penelitian Siklus 2 Tahap Penelitian Siklus 3 Tahap Survei Pendahuluan Tahap Pra Penelitian Tahap Penelitian Siklus 1 Tindak Lanjut Pengembangan Perencanaan Tindakan Tipe atau Macam Bentuk Kecemasan Validitas dan Teknik Pemeriksaan Keterpercayaan Trusworthiness Analisis Data dan Interpretasi Hasil Analisis
Dokumen baru

Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait

Upaya mengurangi kecemasan belajar matematika..

Gratis

Feedback