Penetapan kadar boraks pada mie basah yang beredar di pasar Ciputat dengan metode spektrofotometri UV-VIS mengunakan pereaksi kurkumin

Gratis

6
63
93
2 years ago
Preview
Full text

PENETAPAN KADAR BORAKS PADA MIE BASAH YANG BEREDAR DI PASAR CIPUTAT

  Sc, Apt Zilhadia M. 150408672 Mengetahui, Ketua Program Studi Farmasi FKIKUIN Syarif Hidayatullah Jakarta Drs.

SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS MENGGUNAKAN PEREAKSI KURKUMIN

  150408672 Mengetahui, Ketua Program Studi Farmasi FKIKUIN Syarif Hidayatullah Jakarta Drs. Sc, Apt PENETAPAN KADAR BORAKS PADA MIE BASAH YANG BEREDAR DI PASAR CIPUTATDENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS MENGGUNAKAN PEREAKSI KURKUMIN Telah disetujui, diperiksa dan dipertahankan di hadapan penguji oleh RAISANI RUSLI NIM 105102003340Pembimbing Drs.

NIP. 1956010619851010001 NIP. 150408672

  Si, AptPenguji I Penguji II Penguji III Mengetahui, Ketua Program Studi FarmasiUIN Syarif Hidayatullah Jakarta Drs. Sc, Apt Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah JakartaProf.

LEMBAR PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR KARYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU PADA LAMBAGA PENDIDIKAN MANAPUN. Jakarta, Desember 2009Penulis

KATA PENGANTAR

  Alhamdulillah, puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya serta shalawat dan salam selalu tercurahkepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW karena dengan segala rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi denganjudul “PENETAPAN KADAR BORAKS PADA MIE BASAH YANG BEREDAR DI PASAR CIPUTAT DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS MENGGUNAKAN PEREAKSIKURKUMIN”. 73 ABSTRAK Judul : Penetapan Kadar Boraks pada Mie Basah yang Beredar di PasarCiputat Dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis Menggunakan Pereaksi Kurkumin Analisa boraks dalam mie basah dilakukan dengan menggunakan pereaksi kurkuin sebagai pereaksi warna yang menghasilkan kompleksrosocyanin dan diamati dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang maksimum 545,95 nm.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  (Dibble,1965) Berdasarkan hal tersebut, maka identifikasi dan penetapan kadar boraks dapat dilakukan dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Visdengan menggunakan pereaksi kurkumin dan perlu dilakukan penelitian terhadap beberapa mie basah yang dijual dipasar Ciputat, Karenakemungkinan mie tersebut juga menggunakan boraks pada pembuatannya. Mie Basah yang dijual di pasar Ciputat mengandung bahan tambahan makanan boraks sebagai pengenyal 1.4 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui adanya boraks pada mie basah dan mengetahui kadar boraks pada mie basah yang dijual di pasar Ciputat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bahan Tambahan Makanan

  Pengertian atau definisi bahan tambahan makanan (BTM) cukup bervariasi. Secara umum yang dimaksud dengan bahan tambahan makananadalah bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam makanan selama produksi, pengolahan, pengemasan atau penyimpanan untuk tujuan .

2.1.1 Peranan Bahan Tambahan Makanan

  Peranan BTM pada dasarnya sebagai senyawa yang ditambahkan dalam bahan pangan untuk memperbaiki penampilan, cita rasa, tekstur,atau sifat-sifat penyimpanannya serta untuk mempengaruhi kualitas yang dikehendaki. Mempertahankan mutu atau kestabilan makanan atau untuk memperbaiki sifat-sifat organoleptiknya hingga tidak menyimpang darisifat alamiahnya, dan dapat membantu mengurangi makanan yang dibuang.

2.1.2 Jenis dan Penggolongan Bahan Tambahan Makanan (BMT)

  Bahan ini dapat pula merupakan residu atau kontaminan dari bahan yang sengaja yangditambahkan untuk tujuan produksi bahan mentah atau penanganannya yang masih terus terbawa ke dalam makanan yang akan dikonsumsi. Contoh BTM dalam golongan ini adalah residu pestisida (termasuk insektisida, herbisida, dan fungisida), kontaminan radio aktif, logamberat, residu obat ternak (termasuk hormone dan antibiotic), serta migrasi komponen–komponen plastik dari pembungkus ke dalammakanan.

2.2 Boraks

2.2.1 Sifat Kimia Boraks

  2 Nama Kimia : Natrium Tetraborat Berat Molekul : 381,37Berat Jenis : 1,68 – 1,72Titik Leleh : 75 C Boraks merupakan senyawa kimia yang mengandung unsur boron(B). Beberapa 2 jenis boraks jarang ditemui, dan terjadi pada daerah tertentu saja, sebaliknya beberapa diantaranya, misalnya boraks, kernite(Na B O 4H O) dan colemanite (Ca B O 5H O) secara komersil 2 4 7 2 2 6 11.

2.2.2 Sifat Farmakologi

  Absorbsi Boraks diabsorpsi secara cepat oleh saluran cerna, kulit yang terbakar dan pada kulit yang terluka. Boraks didistribusikan ke seluruh tubuh dan memiliki afinitas yang besar terhadap hati, otak dan ginjal, sehinggadapat terakumulasi pada organ tersebut.

C. Toksisitas

  Keracunan boraks terjadi karena absorpsi yang berlangsung dengan segera dari saluran pencernaan makanan, kulit yang terluka, lecet, atauterbakar yang mendapat pengobatan secara berulang–ulang dengan serbuk atau larutan asam borat. Gejala keracunan boraks akut meliputi rasa mula, muntah-muntah, diare, kejang perut, bercak–bercak pada kulit, temperatur tubuh menurun,ruam eritema kulit yang menyerupai campak dan kerusakan pada ginjal, gelisah, dan lemah juga dapat terjadi, kematian terjadi akibat kolapspernapasan.

2.3 Spektrofotometer UV –Vis

  Besarnya kemampuan molekul-molekul zat terlarut untuk mengabsorbsi cahaya pada panjang gelombang tertentu dikenal dengan istilah absorbansi(A), yang setara dengan nilai konsentrasi larutan tersebut dan panjang berkas cahaya yang dilalui (biasanya 1 cm dalam spektrofotometri) kesuatu point dimana persentase jumlah cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbsi diukur dengan phototube. Bila suatu cahaya monokromatis atau bukan monokromatis jatuh pada medium homogen, maka sebagian dari cahaya ini akan dipantulkan,sebagian akan diabsorbsi dan sisanya akan diteruskan, sehingga dalam hal ini dapat dinyatakan sebagai berikut: ) = a x BM a 1 .cm- = Absorptivitas molekuler ( L.mol Dimana : A = SerapanIo = Intensitas sinar yang datangIt = Intensitas sinar yang diteruskan Rumus :A = log (Io/It) = .

2.4 Metode Validasi

Validasi metode analisis adalah suatu tindakan penilaian terhadap parameter tertentu, berdasarkan percobaan laboratorium, untukmembuktikan bahwa parameter tersebut memenuhi persyaratan untuk penggunaanya. Parameter tersebut adalah :

1. Kecermatan (Accuracy)

  Syarat akurasi yang baik : 98 – 102 %, untuk sampel hayati(biologis atau nabati) : ±10 %. Hal ini dikarenakan semakin kompleks penyiapan sampel dan semakin sulitmetode analisis yang digunakan, maka recovery yang diperbolehkan semakin rendah atau kisarannya semakin lebar.

2. Keseksamaan (precision)

  Keseksamaan adalah ukuran yang menunjukkan derajat kesesuaian antara hasil uji individual, diukur melalui penyebaran hasil individualdari rata – rata jika prosedur diterapkan secara berulang pada sampel – sampel yang diambil dari campuran yang homogen. Keseksamaan dapat dihitung dengan cara sebagai berikut : a.

2 SD = ( (x – x ) )

n – 1 b. Simpangan baku relatif atau koefisien variasi (KV) adalah :KV = SD x 100 % (Harmita, 2006) x

3. Selektivitas (specificity)

  Pada metode analisa yang melibatkan kromatografi, selektivitas ditentukan melalui perhitungan daya resolusinya (Rs). Pemisahan kromatogram yang baik diperoleh bila nilai resolusinya lebih besar dari 1,5 (Harmita, 2006).

4. Linearitas dan Rentang

  Linearitas adalah kemampuan metode analisis yang memberikan respon yang secara langsung atau dengan bantuan transformasi matematikyang baik, proporsional terhadap konsentrasi analit dalam sampel. Rentang metode adalah pernyataan batas terendah dan tertinggi analit yang sudah ditunjukkan dapat ditetapkan dengan kecermatan,keseksamaan, dan linearitas yang dapat diterima.

2 N ( xi ) – ( yi )

b = N( xi.yi) - ( xi) ( yi) 2

2 N ( xi ) – ( xi)

  Linieritas ditentukan berdasarkan nilai koefisien (r) r = N( xy) - ( x) ( y) 2 2 2 2 1/2 [ (N ( x ) – ( x) ) (N ( y ) ( y) ) ]Hubungan linear yang ideal dicapai jika nilai b = 0 dan r = +1 atau -1 bergantung pada arah garis. Parameter lain yang harus dihitung adalah simpangan baku residual (Sy).

5. Batas Deteksi dan Batas Kuantitasi

  Batas deteksi didefinisikan sebagai konsentrasi analit terendah dalam sampel yang masih dapat dideteksi, meskipun tidak selalu dapatdikuantitasi. Bataskuantitasi merupakan parameter pada analisis renik dan diartikan sebagai kuantitas terkecil analit dalam sampel yang masih dapatmemenuhi kriteria cermat dan seksama.

1 Keterangan :

  Q = LOD (batas deteksi) atau LOQ (batas kuantitasi) k = 3 untuk batas deteksi atau 10 untuk batas kuantitasiS = simpangan baku respon analitik dari blangko b S1 = arah garis linear (kepekaan arah) dari kurva antara respon terhadap konsentrasi = slope (b pada persamaan garis y = a+bx) Batas deteksi dan kuantitasi dapat dihitung secara statistik melalui garis regresi linier dari kurva kalibrasi. Nilai pengukuran akan sama dengannilai b pada persamaan garis linier y = a+bx, sedangkan simpangan baku blangko sama dengan simpangan baku residual(Sy/x)a.

2.5 Metoda Analisa Boraks

1. Kualitatif

  Dengan adanya senyawa poli-ol seperti gliserol dan manitol asam borat dapatmembentuk kompleks yang mempunyai keasaman yang lebih tinggi. Oleh karena itu, boraks dapat dititrasi dengan adanyagliserol atau manitol menggunakan fenolftalen sebagai Na B O + 10H 2NaBO + 2 H BO + 7 H O 2 4 7 2 2 3 3 2 2H BO + 2 NaOH 2NaBO + 4H O 3 3 2 2 2) Titrasi dengan asam.

2. Kuantitatif

  Pada metode asam-basa dapat dikerjakan dengan cepat namun terbatas untuk sampel dengan kadar yangrelatif cukup besar, pada metode AAS dapat digunakan untuk menetapkan sample dengan kadar yang sangat kecil namun jaranglaboratorium yang memiliki alat tersebut. Sedangkan pada metode spektrofotometri UV-Vis dapat digunakan untuk penetapan sampledengan kadar yang sangat kecil dan beberapa laboratorium banyak yang memiliki alat tersebut.

2.5.1 Kurkumin

  Nama Kimia : 1,7 – Bis – ( 4 – hydroxyl – 3 – methoxyphenyl ) –1,6 – diene – 3,5 dione Rumus molekul : C H O 21 20 6 Berat molekul : 368,39 Titik leleh : 179 C – 182 CRumus bangun : Gambar 5. Larut dalam etanol dan asamasetat glacial, tidak larut dalam air dan dietil eter.

2.6 Teknik Sampling

  Alasan perlunya pengambilan sampel adalah sebagai berikut : keterbatasan waktu, tenagadan biaya; lebih cepat dan lebih mudah; memberi informasi yang lebih banyak dan dalam; dapat ditangani lebih teliti (Nasution R, 2003). Keuntungan pengambilan sampel dengan probability sampling adalah sebagai berikut : Ada 5 cara pengambilan sampel yang termasuk secara random, yaitu sebagai berikut :a.

b. Accidental Sampling : Sampel diambil atas dasar seandainya saja, tanpa

c. Quota Sampling : Pengambilan sampel hanya berdasarkan pertimbangan peneliti saja, hanya disini besar dan kriteria sampel telah ditentukan lebih dahulu

  Juga jumlah sampel yang dikehenadaki tidak berdasarkan pertimbangan yang dapat dipertanggung jawabkan, Cara ini dipergunakan kalau peneliti mengenal betul daerah dan situasi daerah dimana penelitian akan dilakukan. Investigatif Sampel : pemilihan sampel diambil secara acak dan dilihat dari nomor registrasi yang berbeda untuk setiap sampel sertapeminatan masyakarakat yang cukup tinggi terhadap produk tersebut.

BAB II I KERANGKA KONSEP Boraks bukan merupakan senyawa yang digunakan

pada makanan atau sebagai bahan tambahanBoraks memilik efek akumulasi yang berbahaya jika dikonsumsi karena menimbulkan keracunan akut maupunkronis bahkan kematian Berdasarka penelitian-penelitian masih banyak ditemukan produk mie yang mengandung boraksBoraks tidak boleh digunakan sebagai BTM (Permenkes RI 1168/MENKES/PER/X/1999Pembuatan Kurva KalibrasiUji Linearitas Uji AkurasiUji Presisi Uji LOD dan LOQPerlu diteliti kandungan boraks pada mie yang beredardi pasar Ciputat Penyiapan Alat danBahan Pembuatan LarutanUji dan Pereaksi U ji Validasi Penetapan Kadar dengan Sampel UjiLarutan Kurkumin 0,125%Larutan Asam Sulfat Pekat Pembuatan Mie Basah dengan kadar boraks 6,25-50 µg/ml Uji Kualitatif Uji Kuantitatif dengan Kurkumin 3 3

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

  4.1 Pengambilan Sampel Sampel yang digunakan terdiri dari 5 Mie basah yang beredar di pasar Ciputat. Dari hasil investigasi seluruh pedagang mie basah yang berjumlah ± 20 pedagang didapatkan 5 pabrik utama yaitu pabrik di daerah Bandung, pabrik didaerah Parung, pabrik dari Tangerang, dan 2 sampel dari pabrik di Ciputat dengan bentuk dan warna yang berbeda.

4.3.1 Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu:Alat gelas yang umum terdapat dilaboratorium, timbangan listrik, mesin penggiling mie sederhana, oven, tanur, alat refluks, kertas saring, Bunsen,waterbath, hot plate dan instrument spektrofotometer UV-Vis. 34

4.3.2 Bahan

Bahan- bahan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu : Boraks proanalisa (Merck), Kurkumin proanalisa (Merck), tepung terigu merk cakra kembar, telur, garam dapur, soda kue (natrium karbonat), Alkohol 96%, asam asetatpekat, asam sulfat pekat, NaOH 10%, H O 30%, Ca(OH) , asam oksalat, mie basah,222 aquades,

4.4 Prosedur Penelitian

4.4.1 Penyiapan Bahan Baku dan Pereaksi

  Labu ditutup dengan alat 2 4 refluks sederhana dan dipanaskan selama 5 menit untuk meratakan larutan asam, sampai permukaan larutan mulai bergerak dan larutan akanmenjadi hitam dan licin kemudian labu tersebut didinginkan dalam air es dan bila terdapat asap dibiarkan terbuka beberapa saat. 4.4.3 Pembuatan kurva kalibrasi dan validasi metoda Dari larutan 6,25 µg/ml dipipet 1 ml kemudian dimasukkan ke dalam cawan porselin dan ditambahkan 1 ml larutan NaOH 10%, dipanaskan di ataspenangas air sampai kering, kemudian pemanasan dilanjutkan dengan oven pada suhu 100 ± 5 C selama 30 menit, kemudian didinginkan pada suhu ruangan.

4.4.4 Analisa sampel pasar secara kualitatif dan kuantitatif

a. Analisa kualitatif

  Uji nyala api Ditimbang 5gram sampel dan masukkan dalam cawan porselen ditambahkan 10 tetes asam sulfat pekat, kemudian ditambah 2 mlmethanol dan dibakar. Uapkan di atas penangas air, bila residu berwarna merah ceri dan berubah menjadi hijau kehitaman setelahdiberi ammonium/natrium hidroksida encer, boraks/asam borat positif .

b. Analisa Kuantitatif dengan Spektrofotometri Uv-Vis

  Labu ditutup dengan alat refluks sederhana dan 2 4 dipanaskan selama 5 menit untuk meratakan larutan asam, sampai permukaan larutan mulai bergerak dan larutan akan menjadi hitam danlicin kemudian labu tersebut didinginkan dalam air es dan bila terdapat asap dibiarkan terbuka beberapa saat. Kemudian larutan dengan cepat ditambahkan 20 ml H O 30 %, 2 2 larutan akan bergolak sehingga mie yang padat berubah menjadi cairan, dan akan keluar asap keunguan, dibiarkan hingga asap berkurang,kemudian di refluks kembali selama 15 detik, dinginkan didalam air es, didiamkan pada suhu ruangan.

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil

  Dari penelitian yang dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut : 1. Pada penentuan panjang gelombang didapatkan panjang gelombang serapan maksimum boraks sebesar 545,9 nm.

0.5 R² = 0.999

  Batas deteksi adalahjumlah terkecil analit dalam sampel yang dapat dideteksi yang masih memberikan respon signifikan, sedangkan batas kuantitasi merupakanparameter pada analisa sebagai kuantitas terkecil analit dalam sampel yang masih dapat memenuhi kriteria cermat dan seksama (Harmita,2006). Dari lima sampel yang diuji didapatkan empat sampel mengandung boraks sebesar3,76112±0,0451 pada sampel yang berasal dari produksi di Ciputat.1,108,592±0,02185 pada sampel yang berasal dari produksi di Ciputat 2,117,9461±0,01455 pada sampel yang berasal dari produksi di Parung, dan 6,275±0,0221 pada sampel yang berasal dari produksi di Tangerang.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

  Validasi metode yang telah dilakukan dapat memenuhi syarat dilihat dari hasil-hasil antara lain : hasil Uji linieritas pada rentang konsentrasi6,25-50 µ g/mL dengan nilai koefiesien korelasi (r) 0,9994. Berdsarkan hasil uji kualitatif pada lima sampel mie basah yang beredar di pasar Ciputat tidak ditemukan adanya boraks namun hasil ujikuantitatif positif empat sampel mengandung boraks dengan kadar boraks 3,76112 µ g/mL , 108,592 µg/mL, 117,9461 µ g/mL, dan 6,275µ g/mL 6.2 Saran Berdasarkan hasil-hasil penelitian dapat disarankan sebagai berikut: 1.

DAFTAR PUSTAKA

  Larutan UjiAsam Sulfat Pekat : Asam NaOH 10 % Kurkumin 0,125% asetat (1 : 1)Timbang 100 gr Siapkan 50 ml asam asetatTimbang 125 mg NaOHpekat dan 50 ml asam sulfat Kurkumin pekatLarutkan dengan Aquadest hingga larutMasukan 50 ml asam asetat Dilarutkan denganPekat ke dalam labu ukur 100 asam asetat pekat 100 Masukan ke labu ukur 100 ml dan adTambahkan 50 ml asam sulfat kan dengan Aquadestpekat sedikit demi sedikit sampai garis tanda Kocok pelan-pelan hingga homogenGambar 9. Skema pembuatan mie basah simulasi Masukkan ke dalam labu alas bulat kemudian tambahkan 20ml H 4 pekatKemudian di refluks agar tercampur selama 5 menitsampai larutan bergerak dan Labu didinginkan ke dalam air es ± 1 menit (jika ada asapdibiarkan sebentar) Tambahkan 20 ml H 2 O 2 30% Biarkan hingga bergulak dan timbul asap dan larutan menjadijernih Dinginkan dalam air es, diamkan pada suhu ruanganPindahkan ke dalam labu ukur 100 ml dan ditambahkan Aquadest sampai garis tandaGambar 11.

1.4 A

  S(y / x ) = 3 x 0,012453 = 3,1132 µg/mL b 0,012b. Sampel mie basah pasar Ciputat.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Penetapan kadar air dan kadar abu pada kopi arabika, robusta dan luwak yang berasal dari Dataran Tinggi Gayo
58
367
36
Penetapan Kadar Metformin HCl dengan metode Spektrofotometri Ultraviolet
17
149
39
Penetapan Kadar Ca Dalam Susu Kedelai Murni dan Kemasan yang beredar di Pasaran Secara Spektrofotometri Serapan Atom.
11
93
84
Optimasi dan Penetapan kadar pada Betametason dan Deksklorfeniramin maleat dengan Metode Spektrofotometri Derivatif dalam Campuran Tablet
8
48
142
Penetapan kadar formaldehid pada tahu yang dijual di pasar Ciputat dengan metode spektrofotometri uv-vis disertai kolorimetri menggunakan pereaksi nasih
3
15
97
Efektivitas metode demonstrasi pada pembelajaran PAI hubungan dengan motivasi belajar siswa di SMP PGRI i Ciputat Tengerang Selatan
0
8
115
Perbandingan hasil belajar matematika siswa yang diajar mengunakan pendekatan pembelajarn kooperatif dengan metode grop investigation dengan siswa yang diajar dengan metode ekspositori
1
3
105
Skrining Panjang Gelombang Serapan Maksimum Tablet DEKSAMETASON yang dijual di pasar Pramuka dengan SPEKTROFOTOMETER UV-VIS
2
24
58
Penetapan kadar boraks pada mie basah yang beredar di pasar Ciputat dengan metode spektrofotometri UV-VIS mengunakan pereaksi kurkumin
6
63
93
Penetapan kadar dan analisis profil protein dan asam amino ekstrak ampas biji jinten hitam (Nigella sativa Linn.) dengan metode SDS-Page dan KCKT
5
46
77
Analisis kadar Boraks pada Kurma yang beredar di pasar Tanah Abang dengan menggunakan Spektrofotometer UV-VIS
4
23
71
Perbandingan minat belajar matematika antara siswa yang mengunakan pendekatan pembelajaran kooperatif tehnik TPS Think pair share dengan siswa yang mengunakan metode pemberian tugas
0
14
200
Penerjemahan bahasa jepang-Indonesia mengunakan natural language processing dengan metode parser context free recursive descent
2
25
292
Strategi pembelanjaan matematika dengan mengunakan metode quantum learning
0
9
0
Penetapan kadar air dan kadar abu pada kopi arabika, robusta dan luwak yang berasal dari Dataran Tinggi Gayo
1
6
10
Show more