Analisis potensi pertumbuhan ekonomi sektor industri pengolahan non migas di provinsi Jawa barat periode 2005-2009

Gratis

0
5
134
2 years ago
Preview
Full text

ANALISIS POTENSI PERTUMBUHAN EKONOMI SEKTOR

INDUSTRI PENGOLAHAN NON MIGAS DI PROVINSI JAWA BARAT PERIODE 2005-2009Disusun Oleh Shofwatunnida 107084003185JURUSAN ILMU EKONOMI STUDI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2011 M / 1432 H

DAFTAR RIWAYAT HIDUP IIDENTITAS PRIBADI 1

  Keywords: GDRP non-oil and gas industry sector, location quotient, Shift Share, Typology of Sectoral ABSTRAK Penelitian ini merupakan salah satu upaya untuk mengetahui potensi dari subsektor industri pengolahan non migas yang berpengaruh besar terhadappertumbuhan ekonomi sektor industri pengolahan non migas di Provinsi JawaBarat selama tahun 2005-2009. Jawa Barat memiliki tiga industri pengolahan non migas basis yaitu industri barang lainnya (industri kreatif), industri tekstil, barang dari kulit dan alaskaki dan industri alat angkutan, mesin dan peralatannya.

KATA PENGANTAR

  WbAlhamdulillah puji dan syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Ilahi Rabbi, yang telah memberikan limpahan nikmat, rahmat dan kasih sayang-Nya kepada penulis selama ini sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Seluruh Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, yang telah memberikan motivasi dan pengetahuan yang bermanfaat bagi penulis selama penulisan skripsi danmasa perkuliahan.

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Keterangan Halaman I Produk Domestik Bruto Subsektor IndustriPengolahan Atas Dasar Harga Konstan 2000 MenurutLapangan Usaha Nasional Indonesia Tahun 2005-2009 102Produk Domestik Regional Bruto Subsektor IndustriPengolahan Non Migas Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha Provinsi Jawa BaratTahun 2005-2009 102 II Hasil Perhitungan Location Quotient Provinsi JawaBarat 103 III Hasil Perhitungan Komponen Shift Share ProvinsiJawa Barat 106 IV Hasil Perhitungan Komponen Pertambahan PDRBPer subsektor Industri Pengolahan Non MigasProvinsi Jawa Barat 107 V Hasil Perhitungan Share Komponen Nasional Share(N ) Provinsi Jawa Barat 108 j VI Hasil Perhitungan Share Komponen Nasional Share(N j ) Per Subsektor Industri Pengolahan Non Migas diProvinsi Jawa Barat 110 VII Hasil Perhitungan Komponen Net Shift Provinsi JawaBarat 112 VIII Hasil Perhitungan Komponen Differensial Shift (D j)Provinsi Jawa Barat 113 IX Hasil Perhitungan Komponen Proposional Shift(P j )Provinsi Jawa Barat 115 X Checking Perhitungan Shift Share Provinsi JawaBarat 119

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tujuan pembangunan di Indonesia adalah menciptakan masyarakat adil

  Sektor industri pengolahan non migas memiliki peranan yang penting dalam pembangunan ekonomi di Indonesia dan memberikan kontribusi yangcukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia Karena sektor industri .pengolahan non migas adalah penyumbang utama untuk PDB Indonesia yang paling besar. Alasan memilih Jawa Barat sebagai lokasi dari studi penelitian ini karena Jawa Barat adalah salah satu Provinsi di Pulau Jawa yang menyumbanguntuk sektor industri pengolahan non migas terbesar untuk PDB Indonesia.

9. Ind.barang lainnya 2,31 2,29 2,21 2,07 2,32

  Kegiatan pembangunan bidang ekonomi khususnya sektor industri pengolahan non migas yang perlu diperhatikan oleh seorang perencana wilayahadalah kemampuan untuk menganalisis potensi sektor industri apa yang potensial di wilayahnya. Berdasarkan uraian yang diatas, maka dapat diperoleh data yang menguatkan penulis untuk melakukan penelitian tentang analisis potensipertumbuhan sektor industri pengolahan non migas Jawa Barat.

B. Perumusan Masalah

  Sektor industri pengolahan non migas menurut komoditi terdiri dari industri makanan, minuman dan tembakau, industritekstil, barang kulit dan alas kaki, industri barang kayu dan hasil hutan lainnya, industri kertas dan cetakan, industri pupuk, kimia dan barang dari karet, industrisemen dan barang galian bukan logam, industri logam dasar besi dan baja, industri alat angkutan, mesin dan peralatannya, dan industri barang lainnya. Akan tetapi pertumbuhannya menurun pada tahun 2009, hal ini disebabkan adanyakrisis yang dialami oleh Indonesia dan berpengaruh juga pada perekonomian diJawa Barat, dan sektor yang paling terpengaruh karena krisis tersebut adalah sektor industri pengolahan non migas, dan krisis ini pun membawa adanyaperubahan struktur dalam industri-industri yang mendukung PDRB industri pengolahan non migas di Jawa Barat.

C. Tujuan Penelitian

  Untuk menganalisis industri basis dari subsektor industri pengolahan non migas di Jawa Barat. Untuk menganalisis industri yang memiliki potensi untuk dikembangkan dari subsektor industri pengolahan non migas di Jawa Barat.

D. Manfaat Penelitian

  Sebagai bahan masukan dan evaluasi bagi para pemerintah daerah untuk penetapan kebijakan yang akan datang yang akan berkaitandengan pembangunan regional. Bagi penulis untuk mendapatkan pengembangan dan melatih diri dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Teori Pembangunan Ekonomi Ada beberapa definisi tentang pembangunan ekonomi. Diantaranya

  Menurut Schumpeter pembangunan ekonomi bukan merupakan proses yang harmonis dan gradual, tetapi merupakan proses yang spontan dan tidakterputus-putus. Pendapatan perkapita yaitu pendapatan rata-rata penduduksuatu daerah sedangkan pendapatan nasional merupakan nilai produksi barang- barang dan jasa-jasa yang diciptakan dalam suatu perekonomian di dalam masasatu tahun.

2. Teori Pembangunan daerah

  Proses yang dimaksud adalah proses yang mencakup pembentukan institusi-institusi baru, pembangunan industri-industri alternatif, perbaikan kapasitas tenaga kerja yang ada untuk menghasilkan produk dan jasa yang lebihbaik, identifikasi pasar-pasar baru, alih ilmu pengetahuan, dan pengembangan perusahaan-perusahaan baru. Kedua, dari segi pembangunan wilayah yang meliputi perkotaan dan pedesaan sebagaipusat dan lokasi kegiatan sosial ekonomi dari wilayah tersebut.

3. Teori Pertumbuhan Ekonomi

  L Jhingan (2002:57) pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan kemampuan suatu negara (daerah) untukmenyediakan barang-barang ekonomi bagi penduduknya, yang terwujud dengan adanya kenaikan output nasional secara terus-menerus yang disertai dengan Pertumbuhan ekonomi dapat diketahui dengan membandingkan PDRB pada satu tahun tertentu (PDRBt) dengan PDRB tahun sebelumnya (PDRB t-1). Akumulasi Modal, termasuk investasi baru yang berwujud tanah (lahan), peralatan fiskal dan sumberdaya manusia (human resources), akan terjadi jikaada bagian dari pendapatan sekarang yang akan ditabung dan diinvestasikan untuk memperbesar output pada masa yang akan datang.

4. Teori Pertumbuhan Ekonomi Daerah

  Pendapatan daerah menggambarkan balas jasa bagi faktor-faktor produksi yang beroperasi di daerahtersebut (tanah, modal, tenaga kerja dan teknologi), yang berarti secara kasar dapat menggambarkan kemakmuran daerah tersebut. Kemakmuran suatu daerahselain ditentukan oleh besarnya nilai tambah yang tercipta di daerah tersebut oleh seberapa besar terjadinya transfer payment , yaitu bagian pendapatan yangmengalir keluar daerah atau mendapat aliran dari luar daerah.

d. Teori Pertumbuhan Jalur Cepat yang Disinergikan

  Artinya dengan kebutuhan modal yang sama sektor tersebut dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar, dapat berproduksi dalam waktu relatif singkat dan volume sumbangan untukperekonomian yang cukup besar. Mensinergikan sektor-sektor adalah membuat sektor-sektor saling terkait dan saling mendukung sehingga pertumbuhan sektor yang satu mendorong pertumbuhan sektor yang lain, begitu juga sebaliknya.

e. Teori Basis Ekonomi

  Teori ini membagi kegiatan produksi/jenis pekerjaan yang terdapat di dalam satuwilayah atas sektor basis dan sektor non basis. Bertambah banyaknya kegiatan basis dalam suatuwilayah akan menambah arus pendapatan ke dalam wilayah yang bersangkutan, yang selanjutnya menambah permintaan terhadap barang atau jasa di dalamwilayah tersebut, sehingga pada akhirnya akan menimbulkan kenaikan volume kegiatan non basis.

1) Model Pertumbuhan Interregional (perluasan dari teori basis)

  Teori basis merupakan bentuk model pendapatan yang paling sederhana dan dapat bermanfaat sebagai sarana untuk memperjelas struktur daerah yangbersangkutan, selain itu teori ini juga memberikan landasan yang kuat bagi studi pendapatan regional dan juga dapat digunakan untuk melihat faktor-faktor apasaja yang dapat mendorong pertumbuhan wilayah. Dasar pemikiran analisis ini adalah teori economic base yang intinya adalah karena industri basis menghasilkan barang barang dan jasa-jasa untukpasar di daerah maupun diluar daerah yang bersangkutan, maka penjualan keluar daerah akan menghasilkan pendapatan bagi daerah tersebut.

2. Ekstrapolasi. Nilai tambah masing-masing tahun atas dasar harga konstan

  Indeks produksi sebagai ekstrapolator dapat merupakanindeks dari masing-masing produksi yang dihasilkan atau indeks dari berbagai indikator produksi seperti tenaga kerja, jumlah perusahaan dan lainnya, yangdianggap dengan jenis kegiatan yang dihitung. Dalam deflasi berganda ini, yang di deflasi adalah output dan biaya antaranya, sedamgkan nilai tambah diperoleh dari selisih antara outputdan biaya antara hasil deflasi tersebut.

6. Konsep dan Definisi Sektor Industri Pengolahan Non Migas

  Dengan adanya pergeseran tahun dasar dari 1993 ke 2000, serta penyempurnaan yang berkaitan dengankelengkapan data pendukung, maka metode penghitungan output dan NTB untuk kegiatan subsektor ini juga diperbaiki dengan menggunakan pendekatan tenagakerja yang dihitung secara rinci menurut kegiatan industri yang dikelompokkan dalam tiga digit KLUI dan disesuaikan dengan hasil survey Usaha Terintegritas(SUSI), BPS. Data indeks produksi dari Sub-Direktorat Statistik Industri BPS, dan Sedangkan untuk keperluan pengembangan sektor industri itu sendiri berkaitan dengan administrasi departemen perindustrian dan perdagangan,digolongkan berdasarkan arus produk, yaitu industri hulu yang terdiri dari industri kimia dasar dan industri mesin, logam dasar dan elektronika.

B. Penelitian Terdahulu

  Sementara yang memiliki nilai multiplier besar terhadap perekonomian secara nasional sesuai dengan sektor unggulandiprovinsi Jawa Barat adalah subsektor perternakan, sedangkan hasil dari analisis IRIO sektor dan subsektor unggulan Provinsi Jawa Barat adalah sektor industri pengolahan, sektor bangunan dan sektor perdagangan, hotel dan restoran. Hal ini bisa dilihat dari nilai total efek alokasi yang Dilihat dari distribusi per sektor ternyata sektor industri pengolahan mendapatkan keuntungan yang paling tinggi yaitu sebesar Rp 12925941.97 ribu disusul sektorpenggalian dan pertambangan sebesar Rp 1916219.28 ribu, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan sebesar Rp 1679104.66 ribu dan sektor pertaniansebesar Rp 1404329.40 ribu.

C. Kerangka Pemikiran Teoritis

  Gambar 2.1 Kerangka berpikir Analisis Potensi Ekonomi Sektor Industri Pengolahan Non Migas Di Provinsi Jawa Barat tahun 2005 -2009 Hipotesis pada dasarnya merupakan proposisi atau anggapan yang mungkin benar dan sering digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan ataupemecahan persoalan ataupun untuk dasar penelitian lebih lanjut. Pertimbangan penelitian terhadap diperlukanya hipotesis untuk digunakan atau tidak tergantung pada jenis penelitian karena tidak semua penelitian dapatmenggunakan hipotesis bahkan desain hipotesis juga bisa berbeda-beda, PDB Indonesia Sektor Industri Pengolahan Non Migas PDRB Provinsi Jawa Barat Sektor Industri Pengolahan Non Migassubsektor industri pengolahan non migas: 1.

D. Hipotesis Penelitian

1. Location Quatient (LQ) 2

  Tipologi Sektoral Pertumbuhan Ekonomi keberadaan hipotesis tidak diperlukan karena pada penelitian termasuk dalam katagori penelitian yang menggunakan data ataupun variabel yang menunjukangejala-gejala rumit dan sukar dibangun secara kuantitatif, maka hipotesis yang dibangun hanya harus dalam berbentuk yang lebih verbal. Terdapat subsektor industri pengolahan non migas basis di Provinsi Jawa Barat.

2. Terdapat subsektor industri pengolahan non migas yang potensial yang mampu menunjang pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Barat

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN A. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dyang menggunakan data runtun waktu (time series). Penelitian dilaksanakan di Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi di Provinsi Jawa Barat dengan pertimbangan bahwa Industri

B. Metode Penentuan Sampel

  pengolahan non migas di Provinsi ini adalah salah satu penyumbang terbesar dalam kontribusi Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi JawaBarat itu sendiri. Ruang lingkup waktu yang dipakai 2005 hingga 2009 yang bertujuan untuk menganalisis potensi ekonomi di Provinsi Jawa Barat.

C. Metode Pengumpulan Data

  Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang merupakan data penelitian yang diperoleh dari sumber kedua atau sumbersekunder dari data yang kita butuhkan menurut Bungin (2010:122). PDRB Provinsi Jawa Barat Sektor industri pengolahan non migas atas dasar harga konstan 2000, data ini digunakan untuk mengetahui perkembanganpertumbuhan ekonomi sektor industri pengolahan non migas serta analisis sektor basis dan non basis ekonomi.

2. PDB Indonesia Sektor industri pengolahan non migas atas dasar harga konstan

  2000, data ini digunakan sebagai data perbandingan dari PDRB. Data ini diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) pusat.

D. Metode Analisis Data

  Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan format deskriptif bertujuan untukmenjelaskan, meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi, atau beberapa variabel yang timbul di masyarakat yang menjadi objek penelitian itu berdasarkanapa yang terjadi, kemudian mengangkat kepermukaan karakter atau gambaran tentang kondisi, situasi ataupun variabel tersebut dalam Bungin (2010:36). Untuk mengetahui industri-industri yang mendukung dari sektor industri pengolahan non migas apa yang menjadi basis dan non-basis terhadap PendapatanDomestik regional Bruto (PDRB) Provinsi Jawa Barat.

1. Location Quotient (LQ) A

  Rumusan LQ menurut Tarigan (2005:82), dalam penentuan sektor basis dan non basis, dinyatakan dalam persamaan berikut: JB i / JB LQ = N i / N Catatan : Simbol PDRB (PDRB Wilayah) dan PNB (PDB Indonesia) dalam buku asli, diganti dengan JB untuk PDRB Wilayah dan N untukPDB Nasional. Sektor basis/spesialisasi mengacu kepada sektor ekonomi disuatu wilayah, dimana suatu wilayah dikatakan memiliki spesialisasi jika wilayahtersebut mengembangkan suatu sektor ekonomi sehingga pertumbuhan maupun andil sektor tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan sektor yang sama padadaerah lainya, spesialisasi juga tercipta akibat potensi sumber daya alam yang besar maupun peranan permintaan pasar yang besar terhadap output-output lokal.

2. Metode LQ sederhana dan tidak mahal serta dapat diterapkan pada data historis untuk mengetahui trend

2. Shift Share

  Bila D j > 0, maka pertumbuhan sektor i di provinsi analisis lebih cepat dari pertumbuhan sektor yang sama di nasional dan bila D j < 0, makapertumbuhan sektor i di provinsi analisis relatif lebih lambat dari pertumbuhan sektor yang sama di nasional. Tipologi VI: Sektor tersebut adalah sektor non basis dengan LQ rata-rata< 1 dan pertumbuhan di provinsi analisis lebih cepat di banding pertumbuhan di tingkat Nasional (D j rata-rata > 0) meskipun di Nasionalsendiri pertumbuhannya lambat (P j rata-rata < 0).

1 Selatan dan 04

  Daratan Jawa Barat dibedakan atas wilayahpegunungan curam (9,5% dari total luas wilayah Jawa Barat) terletak di bagianSelatan dengan ketinggian lebih dari 1.500 meter diatas permukaan laut, wilayah lereng bukit landai (36,48%) terletak dibagian Tengah denganketinggian 10-1.500 m, dan wilayah daratan luas (54,03%) terletak dibagian utara dengan ketinggian 0-10 m. Dalampengumpulan data statistik, pengelompokan industri besar berdasarkan tenaga kerja 100 orang atau lebih, industri sedang yang mempekerjakan antara 20sampai 99 orang, adapun industri skala kecil antara 5 sampai 19 orang, usaha kerajinan rumah tangga yang kurang dari 5 orang.

B. Analisis Potensi Pertumbuhan Ekonomi

  Analisis Perkembangan PDB dan PDRB Struktur perekonomian menggambarkan peranan atau sumbangan dari masing-masing sektor dalam pembangunan PDRB yang dalam konteks lebih jauhakan memperhatikan bagaimana suatu sektor perekonomian mengalokasikan sumber-sumber ekonomi di berbagai sektor. Nilai PDRB kedua wilayah analisisselama periode penelitian cenderung fluktuatif, dimana ada sektor yang jumlah nominalnya mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya dan sebaliknya, adajuga sektor yang mengalami penurunan jumlah nominal dari tahun sebelumnya.

a. Indonesia

  Kemudian industri tekstil, barang dari kulit dan alas kaki, dan diikuti oleh industri makanan, minuman dan tembakau, lalu industri pupuk, kimia danbarang dari karet, industri barang pengolahan lainnya, industri kertas dan barang cetakan, industri semen dan barang galian bukan logam dan terakhir industrilogam dasar, besi dan baja. Ini terlihat dari penurunan nilai tambah industri alatangkutan, mesin dan peralatannya, industri logam dasar, besi dan baja, industri tekstil, barang dari kulit dan alas kaki, dan industri makanan, minuman dantembakau.

2. Analisis Location Quetiont (LQ)

  Location Quotient atau disingkat LQ, merupakan suatu pendekatan tidak langsung yang digunakan untuk mengukur kinerja basis ekonomi suatu daerah, artinya bahwa analisis itu digunakan untuk melakukan pengujian sektor-sektorekonomi yang termasuk dalam sektor unggulan. Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa subsektor industri pengolahan non migas di Jawa Barat memiliki tiga sektor basis, yaitu industri barang lainnya dengan besar nilai 2,78, industritekstil, barang kulit dan alas kaki dengan besar nilai 2,09, dan industri alat angkutan, mesin dan peralatannya dengan besar nilai 1,42.

3. Analisis Shift Share

  Di Provinsi Jawa Barat nilai rata-rata P j subsektor industri pengolahan non migas, ada yang positif dan negatif, hal ini berarti Provinsi Jawa Baratberspesialisasi pada sektor industri yang sama dengan industri yang tumbuh cepat di perekonomian Nasional apabila nilai Pj rata-rata positif. Subsektor industri barang lainnya dan industri tekstil, barang dari kulit dan alas kaki negatif meskipun pada nilai LQ termasuk dalam sektor basis dimanasektor industri barang lainnya dan industri tekstil, barang dari kulit dan alas kaki dapat memenuhi kebutuhan pasar diluar daerah Provinsi bahkan Nasional, akantetapi di provinsi sendiri berspesialisasi pada sektor yang sama namun pertumbuhanya lebih lambat.

SUBSEKTOR 2005- 2006 2006- 2007 2007- 2008 2008- 2009 RATA- RATA

1.ind.makanan,minuman, dan tembakau645,8 (C) (C) (C) 63,34(C) 4.industri kertas dan barang cetakan 182,08(C) (C) 67,47 (C)38,66 (C) 7.ind.logam dasar besi dan baja 181,9 (C)134,65 (C)

TOTAL 3648,08 3217,57 5989,43 -2430,04 2606,26

  Adaempat industri yang memiliki nilai Dj negatif, yaitu industri makanan, minuman dan tembakau dengan Dj rata-rata yaitu sebesar -285,75, industri kertas danbarang cetakan dengan Dj rata-rata -54,86, industri pupuk, kimia dan barang karet dengan nilai Dj rata-rata sebesar -286,53, industri logam dasar, besi dan bajadengan nilai Dj rata-rata sebesar -6,61. Kedua komponen shift ini memisahkan unsur-unsur pertumbuhan ProvinsiJawa Barat dan Indonesia yang bersifat intern dan ekstern, dimana proporsional shift dari pengaruh unsur-unsur luar (mix industri) yang bekerja dalam provinsi, dan differensial shift adalah akibat dari pengaruh faktor-faktor (lingkungan) yang bekerja di dalam daerah yang bersangkutan.

4. Tipologi Sektoral

  Industri Makanan, Minuman dan Tembakau Industri makanan, minuman dan tembakau pada Provinsi JawaBarat mempunyai peran cukup penting terlihat pada konstribusi industri makanan, minuman dan tembakau, menempati urutan ke tiga terbesar,dengan kontribusi sebesar 11,29 persen pada tahun 2009 untuk provinsiJawa Barat, setelah industri alat angkutan, mesin dan peralatannya dan industri tekstil, barang dari kulit dan alas kaki. Subsektor industri makanan, minuman dan tembakaumenunjukan nilai rata-rata LQ yang kecil yaitu sebesar 0,42 hal ini menunjukan bahwa sektor ini adalah sektor non basis, yang berarti subsektor ini hanya mampumencukupi kebutuhan di dalam provinsi Jawa Barat saja, tidak bisa memenuhi kebutuhan diluar provinsi Jawa Barat, bahkan sektor ini bisa berpotensi untukimpor dari daerah lain.

2. Industri Tekstil, Barang dari Kulit dan Alas Kaki

  Sedangkan nilai Dj nya positif, yaitusebesar 727,93 yaitu berarti industri ini memiliki pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan di tingkat nasional dan industri tekstil, barang dari kulit dan alaskaki memiliki daya saing yang meningkat. Berdasarkan perhitungan analisis tipologi sektoral industri tekstil, barang dari kulit dan alas kaki dan hasilnya memiliki LQ > 1, P j Negatif (<0)dan D Positif (>0) termasuk ke dalam tipologi II sehingga industri ini j merupakan industri yang memiliki tingkat kepotensialan yang baik sekali dan menunjukkan bahwa industri ini memiliki kinerja industri yang juga dapatdiandalkan dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

3. Industri Kayu dan Barang dari Kayu Lainnya

  Industri kayu dan barang dari kayu Masalah-masalah yang terjadi pada industri kayu diantaranya kelangkaan pasokan bahan kayu dan rotan dan masih adanya ekspor produkkayu/rotan asalan dan setengah jadi, masih maraknya illegal loging dan illegal trade, ketergantungan teknologi design dan engineering mesin/peralatan mebel kayu dan rotan dari luar negeri, lemahnya kemampuan desain dan finishing furniture. Perhitungan tipologi sektoral menunjukkan industri kayu dan barang dari kayu lainnya memiliki LQ < 1, P j Negatif (<0) dan D j Positif (>0) makatermasuk dalam tipologi VI, sehingga industri ini adalah industri yang kepotensialannya hampir dari cukup.

4. Industri Kertas dan Barang Cetakan

  Industri kertas dan barang cetakan pada Provinsi Jawa Barat mempunyai peran terlihat pada konstribusi industri kertas dan barang cetakan,dengan kontribusi sebesar 2,20 persen pada tahun 2009 untuk provinsi JawaBarat. Sedangkan hasil perhitungan Dj industri kertas dan barang cetakan menunjukkan nilai negatif, yaitu sebesar -286,53 yang Sementara hasil LQ < 1, P j negatif (<0) dan D j negatif (<0) termasuk ke dalam tipologi VIII sehingga industri kertas dan barang cetakan termasukdalam tipologi VIII, sehingga industri ini adalah industri yang memiliki kepotensialannya menunjukan kurang sekali untuk dikembangkan.

5. Industri Pupuk, Kimia dan Barang dari Karet

  Masalah yang ada pada industri pupuk, kimia dan barang dari karet ini diantaranya kontrak gas bumi untuk pabrik pupuk akan berakhir, gangguanpasokan gas untuk bahan baku/energi di beberapa wilayah, bahan baku industri lebih banyak di ekspor, ketergantungan ekspor naphtha dan condensate sebagaibahan baku petrokimia dalam negeri di ekspor. Sementara hasil LQ < 1, P j negatif (<0) dan D j negatif (<0) termasuk ke dalam tipologi VIII sehingga industri pupuk, kimia dan barang dari karettermasuk dalam tipologi VIII, sehingga industri ini adalah sektor yang memiliki kepotensialannya menunjukan kurang sekali untuk dikembangkan.

6. Industri Semen dan Barang Galian Bukan Logam

  Industri semen dan barang galian bukan logam mempunyai peran dalam pembentukan PDRB industri pengolahan non migas di Jawa Baratterlihat pada konstribusi industri semen dan barang galian bukan logam pada tahun 2009 sebesar 1,8 persen. Perhitungan hasil Shift Share selama tahun 2005-2009, untuk industri semen dan barang galian bukan logam menunjukkan nilai rata-rata komponenPj sebesar -82,86, karena menunjukkan nilai negatif maka subsektor ini merupakan industri yang tumbuh lambat di Nasional.

7. Industri Logam Dasar, Besi dan Baja

  Langkah yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah pengembanan industri logam non ferro(alumunium, tembaga dan nikel) dengan memanfaatkan sumber daya lokal untuk meningkatkan nilai tambah dan mendorong peningkatan utilitas padaindustri yang ada dan diikuti peningkatan kualitas produksi melalui penerapan standarisasi. Perhitungan analisis Shift Share selama periode penelitian (2005-2009) Sementara hasil LQ < 1, P j negatif (<0) dan D j negatif (<0) termasuk ke dalam tipologi VIII sehingga industri logam dasar, besi dan baja merupakanindustri yang tidak berpotensi untuk dikembangkan, karena bukan sektor basis dan pertumbuhannya lebih lambat di banding Nasional meskipun di tingkatNasional pertumbuhannya juga lambat.

8. Industri Alat Angkutan, Mesin dan Peralatannya

  Permasalahan yang biasanya muncul dari industri ini adalah industri bahan baku dan komponen lokal masih lemah, lemahnya kemampuan design dan engineering industri komponen/kendaraan bermotor, pendanaan dalam negeri yang masih terbatas. Perhitungan analisis Shift Share selama periode penelitian (2005-2009) untuk subsektor industri alat angkutan, mesin dan peralatannya, nilai rata-ratakomponen P j -nya adalah sebesar 645,00 yang menunjukan bahwa pertumbuhan sektor ini cepat di Nasional.

9. Industri Barang Lainnya

  Potensi Jawa Barat untuk industri kreatif misalnya karena generasi muda di Jawa Barat dikenal khususnya kota Bandung dan sekitarnya gemarmengikuti mode dan turut aktif sebagai pengguna produk-produk kreatif yang dihasilkan warga Jawa Barat, maka industri kreatif fesyen maju di ProvinsiJawa Barat. Jawa Barat merupakan tujuan wisata penduduk dari Jakarta dan Tantangan yang dihadapi oleh industri kreatif antara lain tidak ada penanganan yang sistematik untuk meningkatkan peluang bisnis kreatif di JawaBarat, tidak ada kebijakan yang mendukung iklim kreatif misalnya perijinan, investasi dan perlindungan hak cipta.

BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat ditarik

  Berdasarkan hasil penghitungan indeks location quotient pada ProvinsiJawa tiga industri pengolahan non migas basis, yaitu industri barang lainnya 2,78 persen, industri tekstil, barang dari kulit dan alas kaki 2,09persen dan industri alat angkutan, mesin dan peralatannya 1,42 persen. Subsektor industri pengolahan di Jawa Barat yang memiliki potensi untuk dikembangkan ada dua industri, yaitu industri kayu dan barang dari kayudan industri semen dan barang galian bukan logam.

B. Implikasi 1

  Berdasarkan pemahaman yang dimiliki terhadap potensi yang dimilikiProvinsi Jawa Barat, maka pemerintah Provinsi ini diharapkan merumuskan strategi pengembangan daerah yang paling menguntungkanuntuk diterapkan di masa mendatang, yakni dengan mengutamakan kegiatan unggulan berupa: industri kayu dan barang dari kayu dan industrisemen dan barang galian bukan logam. Adanya peran serta pemerintah daerah dan masyarakat daerah dalam membuat inisiatif untuk pengadaan kawasan terpadu guna pengembangansektor potensial yang dapat mendukung pengembangan Provinsi JawaBarat dan juga Kabupaten DAFTAR PUSTAKA Adisasmita, Rahardjo.

TOT 6748,0099 -3678,09 10426,12

2005-2006 Yijt Jabar SEKTOR 2006 Yit Yio Yijo 2005 DJ645,8025058 ind.makanan,minuman, dan tembakau 13.793,00 130.149,00 121.396,00 12.263,00ind.tekstil,brg kulit dan alas kaki 27.440,00 54.944,00 54.277,00 24.986,00 2146,951674 ind.barang kayu dan barang Dari kAyu 98,79388252 lainnya 1.572,00 20.006,00 20.139,00 1.483,00industri kertas dan brg cetakan 2.959,00 24.445,00 23.944,00 2.720,00 182,0872035 59.293,00 10.824,00ind.pupuk,kimia dan brg karet 1149,32693612.458,00 61.948,00 2.078,00 15.700,00 15.618,00 2.132,00ind.semen dan brg galian bkn logam 684,00 8.077,00 7.712,00 659,00 48.427,00 147.064,00 136.745,00 45.588,00ind.alat angkutan,mesin dan peralatannya 2.566,00 3.916,00 3.779,00 2.382,0097,64540884 ind.barang lainnya

IND PENGOLAHAN NON MIGAS 111.977,00 466.249,00 442.903,00 103.037,00 3.648,08

2006-2007 Yijt SEKTOR Jabar2007 Yit Yio Yijo 2006 DJ 63,34459662 lainnya 1.608,00 19.658,00 20.006,00 1.572,00industri kertas dan brg cetakan 2.905,00 25.861,00 24.445,00 2.959,00 -225,4029045 750,7111771ind.pupuk,kimia dan brg karet 13.917,00 65.470,00 61.948,00 12.458,00 2.207,00 16.233,00 15.700,00 2.078,00ind.semen dan brg galian bkn logam 58,45388535680,00 8.213,00 8.077,00 684,00 53.672,00 161.376,00 147.064,00 48.427,00ind.alat angkutan,mesin dan peralatannya 532,17276832.668,00 3.806,00 3.916,00 2.566,00 174,0786517 ind.barang lainnya

IND PENGOLAHAN NON MIGAS 120.458,00 490.262,00 466.249,00 111.977,00 3.218,57

113 2007-2008 Yijt jabar SEKTOR 2008 Yit Yio Yijo 2007 DJ139.922,00ind.makanan,minuman, dan tembakau 13.802,00 136.722,00 14.264,00 -795,8511725 50.994,00ind.tekstil,brg kulit dan alas kaki 27.421,00 52.923,00 28.537,00 -75,84972507 ind.barang kayu dan barang Dari kAyu 20.336,00lainnya 1.590,00 19.658,00 1.608,00 -73,45955845 25.477,00industri kertas dan brg cetakan 2.716,00 25.861,00 2.905,00 -145,8647771 68.390,00 2.268,00 15.991,00 16.233,00 2.207,00ind.semen dan brg galian bkn logam 93,90174336627,00 8.045,00 8.213,00 680,00ind.logam dasar besi dan baja 68.845,00 177.178,00 161.376,00 53.672,00ind.alat angkutan,mesin dan peralatannya 9917,4171132.727,00 3.769,00 3.806,00 2.668,00ind.barang lainnya 84,93694167

IND PENGOLAHAN NON MIGAS 131.557,00 510.102,00 490.262,00 120.458,00 5.989,43

2008-2009 Yijt jabar SEKTOR 2009 Yit Yio Yijo 2008 DJ139.922,00ind.makanan,minuman, dan tembakau 14.593,00 155.720,00 13.802,00 -767,3253241 26.301,0 50.994,00ind.tekstil,brg kulit dan alas kaki 51.265,00 27.421,00 -1265,724811 ind.barang kayu dan barang Dari kAyu 1.819,0 20.336,00lainnya 20.039,00 1.590,00 252,2213808 2.856,0 25.477,00industri kertas dan brg cetakan 27.074,00 2.716,00 -30,24971543 68.390,00 11.666,00ind.pupuk,kimia dan brg karet 69.422,00 11.561,00 -69,45462787 2.321,00 15.991,00 2.268,00ind.semen dan brg galian bkn logam 15.889,00 67,46663748 633,00 8.045,00 627,00ind.logam dasar besi dan baja 7.681,00 34,3689248 65.985,00 177.178,00 68.845,00ind.alat angkutan,mesin dan peralatannya 171.962,00 -833,249952 2.995,00 3.769,00 2.727,00ind.barang lainnya 3.888,00 181,8994428

IND PENGOLAHAN NON MIGAS 129.169,00 522.940,00 510.102,00 131.557,00 -2.430,05

114 115Lampiran IX KOMPONEN PROPORTIONAL SHIFT KOMPONEN PROPORTIONAL SHIFT (Pj) PROVINSI JAWA BARAT 2005-2006 (Yit/Yio)-(Yt/Yo) Yijo PJ 0,019393812 12.263,00 237,8263136 2006-2007 (Yit/Yio)-(Yt/Yo) Yijo PJ 0,006423433 2.959,00 19,006937950,005351612 12.458,00 66,67038724 0,045815651 48.427,00 2218,714534 116 2007-2008 (Yit/Yio)-(Yt/Yo) Yijo PJ 0,004132423 13.917,00 57,510925 0,057452227 53.672,00 3083,575919 2008-2009 (Yit/Yio)-(Yt/Yo) Yijo PJ 0,087738246 13.802,00 1210,963275 0,037516474 2.716,00 101,8947433 0,006405846 2.727,00 17,46874236 RATA - RATA PROPORTIONAL SHIFT (Pj) PROVINSI JAWA BARAT2005- 2006- 2007- 2008- SEKTOR 2006 2007 2008 2009 Rata-rata ind.makanan,minuman, dan 237,8 -13,78 -243,93 1210,96 297,76 tembakau ind.tekstil,brg kulit dan alas kaki ind.barang kayu dan barang dari kayu lainnya industri kertas dan brg cetakan ind.pupuk,kimia dan brg karet ind.semen dan brg galian bkn logam ind.logam dasar besi dan baja ind.alat angkutan,mesin dan 1037,14 2218,71 3083,58 -3759,41 645,00 peralatannya ind.barang lainnyaTOTAL -139,3 -504,67 234,85 -3268,91 -919,51 117 Komponen Pertumbuhan Differensial (D j ) Provinsi Jawa Barat2005- 2006- 2007- 2008- RATA- SUBSEKTOR 2006 2007 2008 2009 RATA645,8 -225,6 -795,85 -767,33 -285,75 ind.makanan,minuman, dan tembakau 2146,95 2106,32 -75,85 -1265,72 727,93 ind.tekstil,brg kulit dan alas kakiind.barang kayu dan barang Dari kAyu 98,79 63,34 -73,46 252,22 85,22 lainnya 182,08 -225,4 -145,86 -30,25 -54,86 industri kertas dan brg cetakan1149,33 750,71 -2976,71 -69,45 -286,53 ind.pupuk,kimia dan brg karet TOTAL 3648,08 3217,57 5989,43 -2430,04 2606,26118 119 Lampiran X

CHECKING PERHITUNGAN SHIFT SHARE

Total Pertambahan PDRB (Gj) = National Share (Nj) + Proporsional Shift (Pj) + DifferentialShift (Dj. Maka, hal ini akan sama dengan nilai rata-ratanya, sehingga Nilai rata-rata Gj = NilaiRata-rata Nj + Nilai Rata-rata Pj + Nilai Rata-rata Dj PROVINSI JAWA BARAT Y Gj NJ PJ DJ NJ+PJ+DJ 2005-2006 8.940,00 5431,2159 -139,4 3648,41 8.940,00 2006-2007 8.481,00 5767,0981 -504,38 3217,55 8.480,00 2007-2008 11.099,00 4874,7134 235,09 5989,46 11.099,00 2008-2009 -2.388,00 3310,9628 - 3.269,40 -2429,3 -2.388,00 TOT 26.132,00 19.383,99 - 3.678,09 10.426,12 26.132,00

Dokumen baru

Download (134 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

Analisis faktor faktor yang mempengaruhi pertumbuhan lapangan kerja sektor industri di Sumatera Uta
0
58
3
Analisis kausalitas antara ekspor dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia periode 1990.I-2004.II
1
33
58
Analisis pengaruh perkembangan industri manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah kabupaten Jember
0
4
67
Analisis pergeseran pertumbuhan sektor ekonomi di kabupaten Ponorogo
0
2
94
Elastisitas kesempatan kerja pada sub sektor industri pengolahan di Kabupaten Jember
0
4
63
Pengaruh perkembangan usaha kecil menengah terhadap pertumbuhan ekonomi pada sektor UKM di Indonesia
1
31
117
Analisis potensi pertumbuhan ekonomi di propinsi Lampung periode 2004-2009 (analisis location dan shift share)
1
13
134
Analisis potensi pertumbuhan ekonomi sektor industri pengolahan non migas di provinsi Jawa barat periode 2005-2009
0
5
134
Pengaruh pembiayaan Bank Riau Syariah (BPD Riau) terhadap pertumbuhan ekonomi provinsi Riau
1
9
110
Analisis pengaruh investasi dan tenaga kerja terhadap pertumbuhan sub sektor industri pengolahan di kabupaten Bekasi
1
26
122
Pengaruh variabel makro ekonomi terhadap pembiayaan bermasalah sektor industri manufaktur pada perbankan syariah periode
10
66
114
Kerjasama Indonesia-Afrika Selatan melaui joint trade committe (JTC) dalam meningkatkan perekenomian Indoensia di sektor non migas 2010-2012
1
25
135
Identifikasi karakteristik industri tas Ciampea sebagai potensi pengembangan ekonomi lokal (studi kasus industri tas di Kec.Ciampea Kab.Bogor)
1
11
128
Kerjasama Indonesia-Afrika Selatan melaui joint trade committe (JTC) dalam meningkatkan perekenomian Indoensia di sektor non migas 2010-2012
3
19
135
Analisis potensi sektor unggulan di kabupaten Karanganyar tahun 2005-2010
0
0
104
Show more