Feedback

Peningkatan Produktivitas Pada Aktivitas Reparasi Di Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta Menggunakan Model Objective Matrix (OMAX

Informasi dokumen
ABSTRAK PRAMUDYA PRATAMA PUTRA, C44070006. Peningkatan Produktivitas Pada Aktivitas Reparasi Di Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta Menggunakan Model Objective Matrix (OMAX). Dibimbing oleh VITA RUMANTI KURNIAWATI dan BUDHI HASCARYO ISKANDAR. Orientasi pembangunan nasional telah mengalami perubahan dari pembangunan daratan menjadi eksplorasi kelautan. Pasar bebas yang berlaku di wilayah ASEAN menyebabkan kegiatan perdagangan semakin meningkat khususnya Muara Angke. Kapal sebagai sarana pendukung kegiatan tersebut juga akan mengalami kenaikan. Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencanangkan program penambahan armada kapal perikanan pada tahun 2011 sebanyak 1000 unit kapal. Ketiga hal tersebut menyebabkan galangan kapal harus meningkatkan produktivitasnya. Dok Pembinaan Unit Pelaksana Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan (UPT BTPI) merupakan galangan kapal yang berperan sebagai industri penunjang perikanan tangkap di Muara Angke dan hanya melayani kegiatan reparasi kapal. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui kriteria produktivitas dan indikator kinerja galangan, mengukur tingkat produktivitas, mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan produktivitas, serta mengidentifikasi langkah awal peningkatan produktivitas Dok Pembinaan UPT BTPI Muara Angke. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus dengan pengukuran produktivitas menggunakan model OMAX. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa produktivitas Dok Pembinaan UPT BTPI secara keseluruhan cukup baik. Banyak indikator yang pencapaian nilainya stabil pada skor 3. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada 5 indikator yang juga termasuk faktor produktivitas Dok Pembinaan UPT BTPI yaitu tenaga kerja, pemakaian mesin, jam kerja aktual, jam kerja efektif, dan ketidakhadiran karyawan. Langkah awal dalam usaha peningkatan produktivitas adalah dengan memperhatikan prioritas utama faktor produksi dalam melakukan perbaikan. Langkah awal untuk peningkatan produktivitas didasarkan pada faktor yang paling berpengaruh yaitu jumlah ketidakhadiran karyawan dengan bobot sebesar 30% dengan cara diadakan pelatihan reparasi kapal untuk seluruh karyawan. Kata kunci: OMAX, pengukuran produktivitas, peningkatan produktivitas 1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Orientasi pembangunan nasional telah mengalami perubahan dari konsep pembangunan daratan mengarah ke eksplorasi kelautan. Sebagai negara bahari dan kepulauan terbesar di dunia, Dahuri (2005) menyatakan bahwa sedikitnya terdapat 10 sektor yang dapat dikembangkan untuk memajukan dan memakmurkan Indonesia, salah satunya adalah industri dan jasa maritim termasuk industri perkapalan (galangan kapal). Industri galangan kapal merupakan suatu industri yang menjadi salah satu faktor utama penunjang industri transportasi laut di Indonesia. Industri galangan kapal berperan dalam penyediaan kapal baik sebagai sarana transportasi untuk muatan barang ataupun orang. Selain itu, industri galangan juga berperan dalam pemeliharaan dan perbaikan kapal. Potensi galangan kapal di Indonesia saat ini tercatat ada sekitar 240 galangan kapal yang sebagian besar adalah galangan kapal dalam skala kecil. Windyandari (2008) menyatakan bahwa diantara 240 galangan tersebut terdapat 4 buah galangan kapal yang tergolong dalam skala besar yaitu: PT Dok & Perkapal Kodja Bahari, PT PAL Indonesia, PT Dok dan Perkapalan Surabaya, dan PT Industri Kapal Indonesia. Galangan-galangan dalam skala besar tersebut merupakan galangan kapal milik pemerintah Indonesia. Dengan diberlakukannya pasar bebas untuk wilayah ASEAN, maka volume perdagangan di Indonesia akan mengalami kenaikan. Penggunaan jasa kapal sebagai salah satu penunjang kegiatan tersebut akan ikut mengalami kenaikan, baik secara kuantitas, ukuran dan jenis kapal yang beroperasi, sehingga kapalkapal yang singgah dan berlabuh di Indonesia khususnya Jakarta akan mengalami peningkatan. Peningkatan volume kegiatan industri transportasi laut perlu didukung dengan peningkatan pelayanan galangan khususnya di Jakarta, baik untuk memenuhi kebutuhan akan bangunan baru maupun reparasi kapal. Peningkatan ini juga menuntut setiap dok dan galangan kapal untuk selalu meningkatkan produktivitasnya. Selain sebagai industri penunjang transportasi laut, galangan kapal juga berperan sebagai industri penunjang perikanan tangkap. Galangan kapal dalam hal 2 ini berperan sebagai industri penyediaan, pemeliharaan dan perbaikan kapal perikanan sehingga kegiatan operasi penangkapan ikan dapat berjalan dengan lancar. Dalam perikanan tangkap, kapal perikanan merupakan salah satu unit penangkapan ikan yang penting keberadaannya. Kapal perikanan berfungsi sebagai sarana transportasi nelayan menuju fishing ground, ataupun sebaliknya sebagai sarana transportasi untuk mengangkut ikan hasil tangkapan menuju fishing base. Selain sebagai sarana transportasi, di atas kapal perikanan, operasi penangkapan ikan juga dilakukan. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan membangun kapal perikanan sebanyak 1.000 buah hingga tahun 2014. Kapal tersebut berukuran di atas 30 Gross Tonnage (GT). Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad saat membuka Rapat Kerja Teknis Ditjen Perikanan Tangkap Tahun 2011, di Hotel Clarion, Makassar pada hari Senin tanggal 28 Februari 2011 (Ade, 2011). Berdasarkan hal tersebut, potensi pasar untuk reparasi kapal perikanan akan semakin besar, sehingga menuntut kesiapan galangan untuk menyerap potensi ada tersebut. Dok Pembinaan Unit Pelaksana Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan (UPT BTPI) merupakan salah satu galangan kapal yang berperan sebagai industri penunjang perikanan tangkap di Muara Angke, Jakarta. Dalam rangka menjalankan peranannya sebagai industri penunjang perikanan tangkap di Indonesia, serta ikut serta dalam program peningkatan armada kapal perikanan yang diungkapkan oleh Fadel Muhammad, Dok Pembinaan UPT BTPI harus meningkatkan produktivitasnya baik untuk pemenuhan kebutuhan bangunan kapal baru ataupun reparasi. Produktivitas adalah salah satu faktor yang penting dalam mempengaruhi proses kemajuan dan kemunduran suatu galangan. Oleh sebab itu, perlu dilakukan pengukuran produktivitas di galangan yang bertujuan untuk mengetahui produktivitas yang telah dicapai dan merupakan dasar dari perencanaan bagi peningkatan produktivitas di masa mendatang. Berdasarkan hal-hal yang telah diutarakan di atas, maka perlu dilakukan penelitian tentang peningkatan produktivitas pada aktivitas reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta. Model pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini adalah Objective Matrix (OMAX). Alasan penggunaan model 3 OMAX adalah karena model ini mudah digunakan, dalam pengoperasiannya melibatkan seluruh jajaran karyawan dari pekerja tingkat bawah sampai manajer tingkat atas, dan model ini menggabungkan seluruh faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas. 1.2 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah: 1) Mengidentifikasi kriteria produktivitas dan indikator kinerja pada aktivitas reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI; 2) Mengukur tingkat produktivitas pada aktivitas reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI berdasarkan model OMAX; 3) Menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan produktivitas pada aktivitas reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI berdasarkan model OMAX; dan 4) Mengidentifikasi langkah awal yang harus dilakukan dalam peningkatan produktivitas dengan menggunakan model OMAX sehingga dapat memperbaiki kinerja galangan Dok Pembinaan UPT BTPI. 1.3 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pihak perusahaan, untuk membantu mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap produktivitas dan langkah apa yang diambil untuk meningkatkan produktivitas melalui pengukuran kinerja. 2 2.1 TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Produktivitas Secara umum produktivitas mengandung pengertian perbandingan antara hasil yang dicapai (output) dengan keseluruhan atau sebagian sumberdaya (input) yang digunakan. Produktivitas dapat dirumuskan sebagai berikut (Soeharto,A & Summant, 1984 yang dikutip oleh Iryanto, 2008): Menurut jurnal Shipbuilding Productivity and competitiveness (Michigan University, 1998) yang dikutip oleh Iryanto (2008) secara umum produktivitas adalah sejumlah output yang dihasilkan dari sejumlah input yang diberikan. Input ini bisa bermacam-macam, misalnya manusia (man), bahan (material), modal (money), metode (method), dan peralatan (machine). Produktivitas merupakan isu strategis yang luas dan merupakan sesuatu yang harus diperhatikan baik oleh pemerintah, managemen, maupun para pekerja. 2.2 Manfaat Pengukuran Produktivitas 2.2.1 Manfaat pengukuran produktivitas pada organisasi level Internasional, Nasional, dan Industri Pengukuran produktivitas pada level internasional dan nasional mempunyai manfaat yang sangat banyak dan hampir sama. Manfaatnya antara lain adalah membantu mengevaluasi penampilan, perencanaan, kebijakan, pendapatan, upah dan harga melalui faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi pendapatan. Manfaat lainnya adalah membandingkan sektor-sektor ekonomi yang berbeda untuk menentukan prioritas kebijakan bantuan, membantu mengetahui pertumbuhan berbagai sektor ekonomi, dan mengetahui pengaruh perdagangan internasional terhadap perkembangan ekonomi suatu Negara (Summanth, 1984 yang dikutip oleh Sunarto, 1999). Menurut Sinungan (1997) yang dikutip oleh Sunarto (1999), pengukuran produktivitas pada level internasional juga menunjukkan indeks produktivitas masing-masing membandingkan negara yang dapat digunakan produktivitas antar negara untuk dan mengetahui tingkat dan pertumbuhan 5 pembangunan ekonomi dalam temporal waktu tertentu. Perbandingan- perbandingan semacam ini merupakan landasan pertimbangan untuk sektor-sektor pembangunan ekonomi yang selanjutnya dapat digunakan untuk menentukan kebijakan yang akan diambil pada waktu ke depan dan mendatang. Pengukuran produktivitas pada tingkat nasional mempunyai banyak manfaat antara lain adalah untuk menentukan perubahan pelayanan masyarakat dari waktu ke waktu, efisiensi, dan efektivitas yang relatif dari pemerintah daerah. Di samping itu pengukuran produktivitas level nasional digunakan oleh pemerintah pusat untuk menyelidiki lingkup persoalan dan mengevaluasi pengaruh dari program nasional yang telah dirancang, serta untuk melengkapi informasi pengerahan kembali sumber-sumber masyarakat. Pengukuran produktivitas pada level Industri digunakan untuk mengetahui indeks produktivitas pada masingmasing sektor industri. Indeks tersebut selanjutnya dapat dibandingkan untuk mengetahui perkembangan dan kinerja masing-masing industri. Pengetahuan tentang perkembangan dan kinerja tersebut dapat digunakan untuk membuat kebijakan-kebijakan yang kondusif pada sektor industri yang dirasa masih kurang, dan membuat prioritas yang seimbang sehingga industri dapat berkembang dan berjalan dengan baik dari industri hulu ke hilir. 2.2.2 Manfaat pengukuran produktivitas pada organisasi level perusahaan (company) Pengukuran produktivitas pada level perusahaan digunakan sebagai sarana manajemen untuk menganalisa dan mendorong efisiensi produksi. Artinya, pengukuran produktivitas akan meninggikan kesadaran dan minat pekerja atau pegawai pada tingkat dan rangkaian produktivitas. Bahkan, pengukuran produktivitas yang relatif kasar ataupun data yang kurang memenuhi syarat pun, ternyata memberikan dasar bagi penganalisaan proses yang konstruktif dan produktif (Sinungan, 1997 yang dikutip oleh Sunarto, 1999). Manfaat lain yang diperoleh dari pengukuran produktivitas mungkin terlihat pada penempatan perusahaan yang tetap dalam menentukan target atau sasaran tujuan yang nyata dan pertukaran informasi antara tenaga kerja dan manajemen secara periodik terhadap masalah-masalah yang sering berkaitan (Summanth, 1984 yang dikutip oleh Sunarto 1999). 6 2.3 Produktivitas Galangan 2.3.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas galangan Sesuatu yang sangat penting untuk diketahui dalam mempelajari produktivitas galangan adalah faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya. Diharapkan dengan mengetahui faktor-faktor ini, akan dapat mengetahui cara-cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan produktivitas. Faktor-faktor penting yang dapat mempengaruhi produktivitas galangan adalah karena adanya kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh galangan, kelemahan-kelemahan tersebut dikategorikan menjadi 4 (empat) kelompok (Al-Kattan, 1992 yang dikutip oleh Sunarto, 1999), yaitu: 1) Kelemahan desain. Kelemahan desain ini terlihat dari kesalahan desain kapal yang dibuat galangan atau desainer. Kesalahan tersebut mengakibatkan bangunan kapal baru tidak sesuai dengan yang diinginkan. Kesalahan desain ini diantaranya adalah: kesalahan sebagian atau keseluruhan dari gambar atau perhitungan mulai dari rencana garis, rencana umum, penampang melintang, gambar propeller, sampai gambar-gambar produksi dan perhitungan-perhitungan mulai dari perhitungan konstruksi, grafik bonjean, grafik stabilitas, hidrostatik, peluncuran, dan kekuatan. 2) Kelemahan produksi. Kelemahan produksi dapat disebabkan karena kelemahan penggunaan level teknologi, misalnya adalah penggunaan teknologi yang tidak tepat. Hal ini akan menghambat proses produksi, sehingga waktu penyelesaian produksi akan bertambah lama. Bertambah lamanya waktu penyelesaian produksi akan mengakibatkan biaya produksi bertambah, yang pada akhirnya akan mengurangi produktivitas. Kelemahan produksi juga dapat terjadi karena kesalahan produksi yang terjadi pada area bengkel-bengkel produksi mulai dari fabrikasi sampai dengan grand assembly. Kelemahan-kelemahan produksi yang lainnya dapat terjadi pada kelemahan automatisasi dan perawatan peralatan-peralatan produksi. Kelemahan perawatan peralatan-peralatan produksi dapat terjadi karena kesalahan penjadwalan perawatan. Hal ini dapat mengakibatkan kerusakan bertambah fatal, sehingga dapat menghambat proses produksi atau bahkan aktivitas produksi dapat berhenti 7 total. Proses produksi yang terhambat akan mengakibatkan waktu proses produksi akan bertambah lama, yang pada akhirnya akan dapat mengurangi produktivitas. 3) Kelemahan sistem manajemen. Kelemahan sistem manajemen diantaranya dapat berupa kelemahan training, kualitas, perencanaan, estimasi, kontrol dan sistem pengawasan. Sistem manajemen adalah salah satu faktor produksi yang tidak secara nyata langsung tampak pada proses produksi tetapi pengaruhnya sangat besar. Jika terjadi kelemahan sistem manajemen, maka seluruh proses produksi akan terhambat mulai dari desain hingga pekerjaan di bengkel-bengkel. Hal tersebut pada akhirnya akan menghambat proses produksi dan kemudian membuat biaya produksi membengkak, sehingga dapat mengurangi produktivitas. 4) Kelemahan tenaga kerja. Kelemahan tenaga kerja dapat disebabkan karena kelemahan motivasi, sehingga semangat untuk bekerja keras berkurang dan juga bisa memungkinkan terjadinya kesalahan-kesalahan saat proses produksi. Hal tersebut pada akhirnya akan dapat mengurangi produktivitas. Kelemahan tenaga kerja yang lain dapat disebabkan diantaranya karena kelemahan kemampuan, kelemahan kesehatan, kemalasan, absen, sakit. Pada akhirnya kelemahan-kelemahan tenaga kerja ini akan mengurangi produktivitas tenaga kerja (labor productivity) dan produktivitas perusahaan (company) secara keseluruhan. 2.3.2 Pengukuran produktivitas galangan Pengukuran produktivitas galangan yang biasa dilakukan adalah pengukuran produktivitas peralatan produksi dan pengukuran produktivitas tenaga kerja (labor productivity). Parameter-parameter pengukuran produktivitas produksi adalah ukuran utilitas, efisiensi, beban kerja (load faktor), dan rasio penggunaan berth (berth occupation ratio) (Anugrah, 1996). Parameter-parameter pengukuran produktivitas tenaga kerja adalah Jo/ton baja, JO/pipa, JO/m/kabel dan parameter yang lain yang sejenis (Al-Kattan, 1992 yang dikutip oleh Sunarto, 1999). Ukuran-ukuran produktivitas tersebut terbatas pada peralatan produksi dan tenaga kerja saja, sehingga tidak dapat menunjukkan produktivitas galangan yang menggambarkan kemampuan galangan (perusahaan) secara total dan keseluruhan. 8 2.3.3 Konsep efisiensi dan efektivitas Soeharto, A dan Soejitno (1996) yang dikutip oleh Mahendra (2007), menyatakan bahwa efektivitas berhubungan dengan output, dimana di dalam proses produksi dapat dipenuhi kebutuhan yang telah ditetapkan (ketepatan, kuantitas, kualitas, waktu). Jika prosentase target di atas semakin besar, maka efektivitas yang dicapai semakin tinggi. Walaupun tingkat efisiensi yang dihasilkan tinggi, bukan berarti terjadi peningkatan efektivitas. Diperlukan strategi yang paling menguntungkan untuk mencapai tingkat efektivitas dan efisiensi yang tinggi, sehingga produktivitas yang maksimal akan dicapai. Kualitas merupakan suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh telah terpenuhi berbagai persyaratan, spesifikasi atau harapan. Konsep ini hanya dapat berorientasi pada masukan, keluaran atau keduanya. Kualitas juga berhubungan dengan proses produksi, dimana proses produksi tersebut akan berpengaruh pada kualitas yang dicapai. Hubungan antara efisiensi, efektivitas, kualitas dan produktivitas dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1 Skema hubungan antara efisiensi, efektivitas dan produktivitas (Soeharto, A dan Soejitno, 1996 yang dikutip oleh Mahendra, 2007) Berdasarkan skema di atas dapat dilihat bahwa produktivitas mencakup efisiensi, efektivitas, dan kualitas. Jadi dapat dikatakan bahwa produktivitas adalah : 9 Efisiensi suatu peralatan menunjukkan kedayagunaan peralatan tersebut. Dengan kata lain efisiensi mengacu pada tingkat intensitas kerja dari peralatan tersebut. Suatu peralatan dikatakan memiliki efisiensi tinggi jika dalam suatu waktu tertentu rate produk aktual mendekati rate produk terpasang. Rate production adalah perbandingan antara produk dengan satuan waktu terkecil, dalam hal ini adalah jam, atau dapat ditunjukkan dengan rumus sebagai berikut (Groover, 1990 yang dikutip oleh Sunarto, 1999): Berdasarkan hal tersebut, bila dirumuskan efisiensi adalah perbandingan antara rate produk aktual terhadap rate produk terpasang (Dilworth, 1989 yang dikutip oleh Sunarto, 1999), dapat dituliskan sebagai berikut : 2.3.4 Konsep utilitas Utilitas bisa diartikan sebagai tingkat penggunaan suatu fasilitas produksi. Dengan kata lain utilitas adalah ukuran yang menunjukkan seberapa baik sumberdaya produksi (Groover, 1990 yang dikutip oleh Sunarto, 1999). Suatu peralatan dikatakan mempunyai utilitas tinggi, apabila peralatan tersebut dapat menghasilkan produk aktual mendekati produk terpasangnya atau dengan kata lain utilitas mendekati 100%. Sebaliknya utilitas dikatakan rendah apabila fasilitas tidak dioperasikan mendekati kapasitasnya. Hal ini biasanya akan mengakibatkan "financial penalty", karena perusahaan tersebut harus membiayai sarana produksi yang tidak dimanfaatkan secara penuh. Utilitas secara empiris bisa dirumuskan sebagai perbandingan antara output dari fasilitas produksi relatif terhadap kapasitas terpasangnya. Pada kasus-kasus tertentu, meningkatnya angka utilitas peralatan belum tentu diikuti dengan naiknya efisiensi peralatan. Hal ini bisa dimengerti, karena 10 jika penambahan jam produktif misalnya dengan mengeliminasi waktu yang siasia, jika tidak diikuti dengan intensitas produk yang relatif tinggi maka akan terjadi penurunan efisiensi. Tetapi biasanya yang terjadi adalah jika waktu produktif ditingkatkan biasanya diikuti dengan kenaikan produk, sehingga akan cukup meningkatkan rate of production, sehingga efisiensi akan naik juga. Menurut Anderson (1980) yang dikutip oleh Mahendra (2007) yang dimaksud dengan utilitas adalah hubungan antara waktu aktual yang digunakan untuk produksi dengan waktu mesin total yang tersedia. 2.3.5 Usaha-usaha untuk meningkatkan produktivitas galangan Ada banyak cara untuk meningkatkan produktivitas baik pada organisasi level internasional, nasional, industri dan perusahaan, namun dari berbagai macam cara tersebut pada dasarnya adalah sama. Metode untuk meningkatkan produktivitas perusahaan dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) kemungkinan (Crismianto, 1997): 1) Metode pemanfaatan sumberdaya yang lebih sedikit untuk mendapatkan jumlah produk yang sama; 2) Metode pemanfaatan sumberdaya yang lebih sedikit untuk mendapatkan jumlah produk yang lebih besar; 3) Metode pemanfaatan sumberdaya yang sama untuk mendapatkan jumlah produk yang lebih besar; dan 4) Metode pemanfaatan sumberdaya yang lebih banyak untuk mendapatkan jumlah produk yang jauh lebih besar. Di samping keempat metode tersebut, lazim juga digunakan empat metode lain yang dapat meningkatkan produktivitas perusahaan dengan efektif. Keempat metode tersebut adalah: 1) Metode peningkatan produktivitas dengan menghemat tenaga kerja; 2) Metode peningkatan produktivitas dengan menerapkan metode kerja yang paling tepat; 3) Metode peningkatan produktivitas dengan memanfaatkan sumberdaya manusia dengan lebih efektif, yaitu dengan menyempurnakan manjemen personalia; dan 11 4) Metode peningkatan produktivitas dengan melenyapkan praktek-praktek yang tidak produktif. Metode-metode di atas tidak selamanya menguntungkan, karena upaya memperkenalkan mesin, teknologi, dan metode baru seringkali berarti pengangguran bagi tenaga kerja. Oleh karena itu, kadang-kadang metode ini bertentangan dengan tanggung jawab perusahaan. Parameter-parameter yang mempengaruhi besar dan kecilnya pengukuran produktivitas galangan sangat komplek, yaitu mulai dari input produksi, proses produksi, dan output produksi. Hasil dari pengukuran produktivitas galangan kapal dapat menunjukkan performa perusahaan dan menggambarkan efisiensi dan efektivitas pemakaian sumberdaya, serta efisiensi dan efektivitas proses produksi dalam menghasilkan output. Oleh karena itu, proses produksi yang efektif dan efisien dapat dikatakan sebagai salah satu usaha yang dapat meningkatkan produktivitas. 2.4 Metode Pengukuran Produktivitas Model Objective Matrix (OMAX) Mayhoneys (2008) menyebutkan bahwa OMAX adalah suatu sistem pengukuran produktivitas parsial yang dikembangkan untuk memantau produktivitas dari tiap bagian perusahaan dengan kriteria produktivitas yang sesuai dengan keberadaan bagian tersebut. Tiap-tiap model pengukuran mempunyai manfaat sendiri-sendiri, akan tetapi secara umum dapat dikatakan bahwa manfaat pengukuran produktivitas bagi perusahaan dan organisasi adalah : 1) Dalam melakukan pengukuran produktivitas dapat diperoleh informasi keberhasilan yang dicapai oleh perusahaan secara menyeluruh; 2) Perusahaan dapat menilai efisiensi penggunaan sumberdaya dalam menghasilkan barang atau jasa; 3) Pengukuran produktivitas dapat berguna untuk perencanaan produksi dan sumberdaya, baik untuk jangka panjang atau pendek; dan 4) Berdasarkan hasil pengukuran produktivitas dapat ditentukan berdasarkan tingkat produktivitas yang direncanakan dengan tingkat yang diukur. Pengukuran produktivitas sangat penting bagi perusahaan untuk mengetahui keberhasilan yang telah dicapai oleh perusahaan tersebut. Selain itu dari hasil 12 pengukuran dapat diketahui sampai sejauh mana usaha peningkatan efisiensi dan efektivitas perusahaan telah mencapai sasaran. Mengingat pentingnya pengukuran produktivitas pada suatu perusahaan, maka Dok Pembinaan UPT BTPI sudah selayaknya melakukan pengukuran produktivitas pada setiap bidang unjuk kerja untuk dijadikan titik tolak peningkatan produktivitas. 2.4.1 Alasan pemilihan metode OMAX Mahendra (2007) menyebutkan bahwa, pengukuran produktivitas dapat menjadi suatu hal yang menyulitkan karena adanya beberapa hal yang harus dilibatkan, diantaranya: rasio-rasio, indeks-indeks, prosentase, dan angka-angka perkiraan. Banyak lagi masalah yang bersangkut paut dengan produktivitas perusahaan ataupun organisasi, baik yang berpengaruh secara langsung maupun secara tidak lagsung. Dengan demikian, tidaklah mengherankan bahwa pengukuran dan peningkatan produktivitas sulit untuk dilakukan karena banyak kriteria yang harus dipertimbangkan dan dilibatkan didalamnya. Model pengukuran produktivitas OMAX mengatasi masalah-masalah kerumitan dan kesulitan pengukuran produktivitas dengan mengkombinasikan seluruh kriteria produktivitas yang penting ke dalam suatu bentuk yang terpadu dan saling terkait satu sama lain serta mudah untuk dikomunikasikan. Selain itu, model ini mengandung kebaikan lainnya yaitu dengan mengikutsertakan seluruh jajaran pegawai yang terkait dalam operasi-operasi perusahaan, mulai pekerja tingkat bawah sampai kepada manajer tingkat menengah dan atas dalam proses pembentukan dan pelaksanaannya. Pengukuran produktivitas yang dilakukan dengan menggunakan model pengukuran produktivitas OMAX ini pada dasarnya merupakan pengukuran produktivitas total yang merupakan perpaduan dari beberapa ukuran keberhasilan atau kriteria produktivitas yang sudah dibobot sesuai dengan derajat kepentingan masing-masing kriteria itu di dalam perusahaan. Dengan demikian, model ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang sangat berpengaruh maupun yang kurang berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas. Hasil perpaduan beberapa ukuran keberhasilan atau produktivitas ini kemudian dinilai ke dalam satu indikator atau indeks yang berguna, antara lain: 13 1) Memperlihatkan sasaran atau target peningkatan produktivitas. 2) Mengetahui posisi dalam pencapaian target. 3) Alat peningkatan dalam pengambilan keputusan bagi peningkatan produktivitas. Hal lain yang dapat dilihat dengan menggunakan model OMAX ini, antara lain: 1) Model ini memungkinkan dijalankannya aktivitas-aktivitas pengukuran produktivitas, penilaian (evaluasi) produktivitas, peningkatan dan perencanaan produktivitas sekaligus; 2) Berbagai faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas dapat diidentifikasikan dengan baik dan dapat dikuantifikasikan; 3) Adanya sasaran produktivitas yang jelas dan mudah dimengerti yang akan memberikan motivasi bagi pekerja untuk mencapainya; 4) Adanya pengertian bobot yang mencerminkan pengaruh masing-masing faktor terhadap peningkatan produktivitas perusahaan yang penentuannya memerlukan persetujuan manajemen; dan 5) Model ini menggabungkan seluruh faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas (baik dalam satuan fisik maupun uang) dan nilai ke dalam suatu indikator atau indeks. 2.4.2 Bentuk dan susunan model OMAX Mahendra (2007) juga menyebutkan bahwa, objective matrix atau matriks sasaran merupakan suatu metode unjuk kerja yang menggunakan indikatorindikator produksi dan suatu prosedur pembobotan untuk memperoleh suatu indikator pencapaian total. Susunan model ini berupa matrik yang butir-butirnya disusun menurut kolom dan baris sehingga dibaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan. Susunan matrik ini akan memudahkan dalam pengoperasiannya. Didalamnya memuat bermacam-macam kombinasi angka-angka yang tidak terlalu terperinci akan tetapi cukup untuk menyatakan keadaan secara praktis dan garis besarnya saja. Susunan model ini terdiri atas beberapa bagian yaitu: 1) Kriteria produktivitas Kegiatan dan faktor-faktor yang mendukung produktivitas,dan satu unit kerja yang sedang diukur produktivitasnya dinyatakan dengan kriteria. 14 Kriteria-kriteria ini menyatakan ukuran efektivitas dari output, efisiensi dari input dan faktor-faktor lain yang secara tidak langsung berhubungan dengan tingkat produktivitas yang diukur. 2) Butir-butir matrik Kerangka badan matrik disusun oleh besaran-besaran pencapaian tiap-tiap kriteria. Didalamnya terdiri dari sebelas baris dan baris yang paling bawah merupakan pencapaian terendah atau terburuk yang dinyatakan dengan skor nol, sampai dengan baris paling atas yang merupakan sasaran atau target produktivitas yang realistis yang dinyatakan dengan skor sepuluh. Tingkat pencapaian mula-mula yaitu tingkat pencapaian yang diperoleh pada saat matrik ini mulai dioperasikan ditempatkan pada skor tiga (3). Setelah butirbutir skor nol, tiga dan sepuluh diisikan semuanya, sisa butir-butir lainnya untuk tiap-tiap kriteria dengan lengkap dicantumkan secara bertingkat. Butir-butir pada skor 1,2,4 sampai 9 merupakan tingkat pencapaian antara sehingga tingkat pencapaian akhir atau skor 10 dapat dicapai. 3) Bobot Tiap-tiap kriteria yang telah ditetapkan mempunyai pengaruh yang berbedabeda terhadap tingkat unit yang diukur. Oleh karena itu, perlu dicantumkan bobot yang menyatakan derajat kepentingan (dalam prosentase) yang menunjukkan pengaruh relatif kriteria tersebut terhadap produktivitas unit kerja yang diukur. Besarnya bobot ditentukan oleh suatu kelompok manajemen yang berada di atas yang mengepalai unit kerja yang diukur. Jumlah bobot seluruh kriteria adalah 100%. 4) Sasaran Merupakan tingkat kemajuan yang dapat dicapai oleh tiap-tiap kriteria produktivitas dalam periode waktu tertentu dengan melihat keadaan yang realistis yang dapat terjadi di masa yang akan datang. Besarnya nilai sasaran ini kemudian diletakkan pada skor tertinggi yaitu skor 10. 5) Tingkat pencapaian Keberhasilan yang dicapai oleh masing-masing kriteria atau rasio dalam periode waktu yang diukur ini kemudian diisikan pada baris pencapaian 15 yang tersedia untuk semua kriteria. Data untuk perhitungan kriteria atau rasio ini diperoleh dari tiap-tiap bagian yang diukur. 6) Skor Pada baris skor (bagian bawah badan matrik) besar pencapaian pada poin no 5 (bagian atas badan matrik) dirubah ke dalam skor yang sesuai, ini dilakukan dengan mencocokkan besaran realisasi pencapaian rasio (point no 5) dengan butir matrik yang ada dan ekivalen dengan skor tertentu. 7) Nilai Nilai daripada pencapaian yang berhasil diperoleh untuk setiap kriteria pada periode tertentu didapat dengan mengalikan skor pada kriteria tertentu dengan bobot kriteria tersebut. 8) Indikator pencapaian Pada periode tertentu, jumlah seluruh nilai dari tiap-tiap kriteria dicantumkan pada kotak indikator pencapaian. Besarnya indikator diisi sesuai dengan indikator mula-mula. Semua indikator berada pada skor 3 pada saat matrik mulai dioperasikan. 9) Indeks Peningkatan produktivitas ditentukan dari besarnya kenaikan indikator pencapaian yang terjadi antara yang baru dengan yang lama. Kesembilan susunan ini membentuk kerangka model. 2.4.3 Penyusunan matrik Penyusunan dan pelaksanaan matrik ini merupakan suatu proses yang jelas dan langsung yang membutuhkan sedikit keahlian. 1) Menentukan kriteria produktivitas Langkah pertama ini adalah mengidentifikasikan kriteria produktivitas yang sesuai bagi unit kerja dimana pengukuran ini akan dilaksanakan. Kriteria ini harus menyatakan kondisi atau kegiatan yang mendukung produktivitas unit kerja yang diukur dan dapat dikontrol oleh unit kerja tersebut. Kriteria ini menyatakan ukuran efisiensi dari masukan, efektivitas dari keluaran dan ukuran-ukuran lainnya yang secara tidak langsung mendukung proses kegiatan unjuk kerja yang akan diukur. 16 Supaya efektif, kriteria ini harus sudah dimengerti, mudah diukur, administrasinya dilakukan secara baik dan dapat diterima. Disinilah pentingnya untuk mengikutsertakan semua pihak di galangan dalam penyusunan dan pelaksanaan matrik ini. Selanjutnya kriteria ini sebaiknya berdiri sendiri tidak saling bergantung satu sama lain dan merupakan faktorfaktor yang terukur. 2) Menjelaskan data Setelah seluruh kriteria dapat diidentifikasikan dengan baik, langkah berikutnya adalah mendefinisikan kriteria tersebut secara terperinci. Tiaptiap kriteria memerlukan penjelasan lebih lanjut, misalnya tingkat ketidakhadiran, harus dijelaskan rasio-rasio yang membentuk kriteria ini. Demikian juga sumberdaya untuk setiap pengukuran tertentu harus pula diidentifikasikan dengan jelas, laporan yang akurat, orang-orang yang bertanggung jawab dan terlibat, atau sumberdaya lain, untuk setiap bilangan dalam perhitungan matrik harus dispesifikasikan dengan baik. Dalam setiap keadaan merupakan langkah terbaik untuk meninggalkan segala keraguan yang ada dalam mengoperasikan bilangan dan perhitungan matrik. 3) Penilaian pencapaian mula-mula Setelah menentukan kriteria yang akan diukur, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan dan pengumpulan data dari tiap-tiap kriteria, maka langkah berikutnya mengolah data tersebut sehingga layak untuk digunakan sebagai data pencapaian mula-mula dengan cara perhitungan rata-rata dari periode data yang diperoleh misalnya selama pengerjaan bangunan baru. Pencapaian mula-mula diletakkan pada skor 3 dari skala 0 sampai 10 untuk memberikan lebih banyak tempat bagi perbaikan daripada untuk terjadinya penurunan. Pencapaian ini juga biasanya tidak diletakkan pada tingkat yang lebih rendah lagi agar memberikan kemungkinan terjadinya pertukaran dan memberikan kelonggaran apabila sekali-kali terjadi kemunduran. 4) Menetapkan sasaran (skor 10) Apabila skala skor 3 merupakan pencapaian mula-mula, maka skor 10 merupakan pencapaian yang akan dituju nantinya. Skala skor 10 ini 17 berkenaan dengan sasaran-sasaran yang ingin dicapai dalam waktu mendatang, dan karenanya harus berkesan optimis. Sasaran yang diambil harus merupakan gambaran yang realistis, tetapi harus diperhitungkan pula faktor-faktor yang masuk akal, bahwa beberapa waktu mendatang telah terjadi perubahan atau kemungkinan telah ada peralatan baru, proses-proses yang lebih baik memungkinkan dapat mencapai sasaran yang dirasakan saat ini belum mungkin untuk dicapai. 5) Menetapkan sasaran jangka pendek Pengisian skor yang tersisa lainnya dari matrik dapat dilakukan langsung setelah butir skor 0 (yang merupakan rasio terburuk yang mungkin terjadi, merupakan level terbawah yang dapat pula ditentukan kemudian), skor 3 dan skor 10 telah ditetapkan. Butir-butir yang tersisa yaitu skor 1, 2, 4 sampai dengan 9 merupakan suatu sasaran antara sebelum tingkat pencapaian akhir dipenuhi. Biasanya skala linier digunakan untuk pengisisan antara pencapaian saat ini dengan sasaran yang ingin dicapai pada setiap kriteria produktivitas. Oleh sebab itu, jarak bilangan dari setiap tingkat skor 3 ke skor 0 juga dilakukan seperti pengskoran di atas. Jadi sekali lagi disini ditegaskan bahwa tidak ada syarat yang baku mengenai hal ini dan tergantung pada kesepakatan saja, karena pokok perhatian mengenai struktur skala ini tidaklah begitu penting dibandingkan dengan seberapa baik pengskoran ini dimengerti oleh orang-orang yang unjuk kerjanya diukur. Dengan demikian ada sebelas tingkat pencapaian untuk setiap kriteria. Satu kriteria menempati satu kolom dari atas ke bawah dari badan matrik. Penempatan dari hasil yang diharapkan pada setiap tingkat merupakan bagian yang penting dari pengskalaan, karena hasil-hasil tersebut membentuk suatu rintangan khusus yang harus diatasi untuk maju dari satu sasaran jangka pendek ke sasaran jangka pendek berikutnya. 6) Menentukan derajat kepentingan Semua kriteria tidaklah mempunyai pengaruh yang sama pada produktivitas unit kerja keseluruhan, sehingga untuk melihat berapa besar derajat kepentingannya tiap kriteria diberi bobot. Pembobotan memberikan suatu 18 kesempatan untuk memberikan perhatian secara langsung pada kegiatankegiatan yang berpotensi besar bagi peningkatan produktivitas. Pembobotan biasanya dilakukan oleh manajer puncak atau oleh dewan produksi yang dimiliki galangan. Total pembobotan untuk semua kriteria harus sama dengan 100%. Bila pembobotan telah selesai, maka matrik ini secara teknis dapat digunakan untuk mengukur tingkat produktivitas dan dapat diketahui bagaimana cara meningkatkan produktivitas (Mahendra, 2007). 2.4.4 Pengoperasian matrik Setelah seluruh badan matrik dan perlengkapannya terisi, maka matrik dapat dioperasikan. Pengoperasian matrik dilakukan dengan cara : 1) Pencapaian sekarang Pada tahap ini, hal yang dilakukan adalah mengumpulkan data dari tiap-tiap kriteria atau rasio selama periode pengukuran dilakukan dan menetapkan pencapaian sebenarnya untuk setiap kriteria atau rasio tersebut. Data yang didapat kemudian dimasukkan ke dalam kolom pencapaian pada bagian atas badan matrik. 2) Pemberian tanda pada bilangan pencapaian (No. 1) pada badan matrik Pada badan matrik, bilangan yang sesuai dengan bilangan “pencapaian” yang didapat diberi tanda atau dilingkari. Apabila tidak ada bilangan yang tepat sama dengan bilangan “pencapaian”, maka yang dilingkari adalah bilangan yang berada dibawahnya. Perlu diingat bahwa setiap kotak di dalam badan matrik merupakan suatu rintangan yang harus diatasi untuk mencapai skor tertentu. Apabila sasaran jangka pendek tersebut belum tercapai, maka kotak yang dibawahnyalah yang dilingkari. Setiap pencapaian yang lebih kecil dari tingkat pencapaian terburuk yang masih diperbolehkan (level terbawah) akan tetap menerima skor 0 untuk periode tersebut. 3) Penentuan skor Bilangan yang telah dilingkari, dapat ditentukan tingkat skor yang dicapai yang diletakkan pada kolom “skor” pada bagian bawah badan matrik. 19 4) Penentuan nilai Setiap skor yang didapat untuk setiap kriteria atau rasio, dikalikan dengan besarnya bobot masing-masing. Hasil perkalian ini diletakkan dalam kolom nilai yang berada pada bagian bawah badan metrik. 5) Indikator pencapaian saat ini Nilai-nilai yang didapat untuk setiap kriteria dijumlahkan sehingga diperoleh indikator pencapaian saat ini. 6) Indeks Sebuah indikator produktivitas hanya bermanfaat jika dibandingkan dengan nilai dan periode lain. Satu unit kerja tidak bisa dibandingkan dengan nilai unit kerja lainnya berdasarkan nilai skor, sebab kriteria masing-masing unit berbeda dan kondisi operasinya bervariasi. Nilai bobot total dapat diperlakukan sebagai indeks performansi dan digunakan untuk menilai perkembangan dari waktu ke waktu (Mahendra, 2007). Pada OMAX, pola pertumbuhan performansi ini ditunjukkan oleh dua indeks. Pertama Indeks Perubahan terhadap Performansi Standar/Base Level (300). Kedua, Indeks Perubahan terhadap Performansi periode sebelumnya (Mayhoneys, 2008). - Dimana : OPo = Nilai Performansi Standar / Base Level (300) OPi = Overall Performance ke-i OPi-1 = Overall Performance ke-i-1 20    3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada bulan Juli - September 2011 di Dok Pembinaan Unit Pelaksana Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan (UPT BTPI), Muara Angke, Jakarta. Objek penelitian dalam penelitian ini adalah galangan Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke. 3.2 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus dengan contoh kasus produktivitas pada galangan Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta yang belum dilakukan pengukuran secara matematis. Menurut Yin (2008) metode studi kasus merupakan metode yang mengacu pada penelitian yang mempunyai unsur how dan why pada pertanyaan utama penelitiannya dan meneliti masalah-masalah kontemporer (masa kini) serta sedikitnya peluang peneliti dalam mengontrol peristiwa (kasus) yang ditelitinya. Pengukuran produktivitas galangan sendiri dilakukan dengan menggunakan metode Objective Matrix (OMAX).  3.3 Pengumpulan Data Data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang sudah tersedia di galangan Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta. Data yang digunakan adalah: 1) Data hasil produksi bagian reparasi kapal di Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta 5 tahun terakhir; 2) Data jumlah tenaga kerja; 3) Data pemakaian mesin; 4) Data jam kerja aktual produksi; 5) Data jam kerja efektif; dan 6) Data jumlah ketidakhadiran. 21    3.4 Pengolahan dan Analisis Data Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan metode Objective Matrix (OMAX) dengan langkah-langkah: 1) Penetapan kriteria Pada tahap ini, ditentukan kriteria-kriteria yang akan ditetapkan untuk digunakan dalam menghitung produktivitas dengan menggunakan metode OMAX. Kriteria-kriteria yang akan diukur meliputi kriteria efisiensi, kriteria efektivitas, dan kriteria inferensial. Kriteria yang ditetapkan mengacu pada kriteria yang digunakan oleh Mahendra (2007) yang telah meneliti tentang “Peningkatan Produktivitas Galangan Kapal Menggunakan Model OMAX (Studi kasus: di PT. BEN SANTOSA Surabaya)”. Kriteria tersebut dapat dilihat pada Tabel 1: Tabel 1 Kriteria-kriteria dalam pengukuran produktivitas menggunakan model OMAX oleh Mahendra (2007) Man Hour (Kg/JO) Efisiensi Material (%) Pemakaian Mesin (%) Pemakaian Tenaga Kerja (%) Efektivitas Inferensial Jam Kerja Aktual (%) Jam Kerja Efektif (%) Jumlah Ketidakhadiran (%) Kriteria efisiensi menunjukkan bagaimana penggunaan sumberdaya perusahaan (galangan), seperti tenaga kerja, energi, material serta modal yang sehemat mungkin. Kriteria efektivitas menunjukkan bagaimana galangan mencapai hasil bila dilihat dari sudut akurasi dan kualitasnya. Kriteria inferensial menunjukkan suatu kriteria yang tidak secara langsung mempengaruhi produktivitas tetapi bila diikutsertakan dalam matriks dapat membantu memperhitungkan variabel yang mempengaruhi faktor-faktor yang mayor. Mahendra (2007) awalnya menetapkan sebanyak tiga belas indikator kinerja. Namun, setelah dilakukan wawancara dan pengisian kuesioner oleh tim manajemen diperoleh hasil bahwa indikator kinerja yang dapat digunakan hanya tujuh indikator seperti yang disebutkan pada Tabel 1 di atas. 22    2) Perhitungan rasio-rasio Perhitungan rasio dilakukan terhadap kriteria-kriteria yang sudah ditentukan yaitu: (1) Man hour (Kg/JO) Adalah performansi tenaga kerja per unit produk (Kg/JO) (2) Material (%) Rasio-rasio yang membentuk kriteria material : (3) Kriteria tenaga kerja (%) % Rasio-rasio yang membentuk kriteria tenaga kerja : % (4) Kriteria pemakaian mesin (%) Rasio yang membentuk kriteria pemakaian mesin : % (5) Kriteria jam kerja aktual produksi (%) Rasio yang membentuk kriteria jam kerja aktual produksi : % (6) Kriteria jam kerja efektif (%) Rasio yang membentuk kriteria jam kerja efektif : (7) Kriteria ketidakhadiran (%) % Rasio yang membentuk kriteria ketidakhadiran : 3) Pengukuran kinerja standar % Kinerja standar diperoleh dari rata-rata rasio masing-masing kriteria pada periode yang ditetapkan. Dalam hal ini, periode yang ditetapkan adalah lima tahun terakhir dari tahun 2006 sampai 2010. 23    4) Penetapan sasaran akhir Penetapan sasaran akhir ditentukan oleh pihak galangan Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke setelah memperoleh nilai kinerja standar. Pada penetapan sasaran ini, terdiri dari tiga skala skor yaitu skala skor 3 merupakan pencapaian mula-mula, skala skor 10 berupa sasaran yang ingin dicapai dalam waktu mendatang dan karenanya harus bersifat optimis, dan skala skor 0 merupakan level terbawah, rasio terburuk yang mungkin terjadi. Penetapan sasaran akhir ditentukan dengan menggunakan kuesioner (Lampiran 1). 5) Penetapan bobot rasio Penetapan bobot rasio diperoleh dari hasil kuesioner (Lampiran 2). Jumlah seluruh bobot dari masing-masing kriteria produktivitas berjumlah 100 %. Pembobotan ini dimulai dengan membagi 100 % untuk prosentase efisiensi, efektivitas, dan inferensial. Misalnya: Efisiensi :A % Efektifitas :B % Inferensial :C % Total : 100 % Berdasarkan prosentase di atas, kemudian dibagi pembobotannya sesuai dengan jumlah dan kepentingan kriteria yang termasuk didalamnya, misalnya: (1) Kriteria yang termasuk dalam efisiensi - Man hour : a1 % - Material : a2 % - Pemakaian Mesin : a3 % - Pemakaian Tenaga Kerja : a4 % Total : 100 % (2) Kriteria yang termasuk dalam efektivitas - Jam Kerja Aktual : b1 % - Jam Kerja Efektif : b2 % Total : 100 % 24    (3) Kriteria yang termasuk dalam inferensial - Jumlah Ketidakhadiran :c % Total : 100 % 6) Pembetukan matriks sasaran Setelah ditentukan skala skor 0, skor 3, dan skor 10 dari hasil kuesioner, selanjutnya ditentukan skala sisa yaitu skala skor 1, 2, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9 untuk membentuk suatu matriks sasaran dengan cara interpolasi. Kenaikan nilai pada skor 1 dan 2 dilakukan dengan cara interpolasi, yaitu: skor 3 – skor 0 3–0 Kenaikan nilai pada skor 4 sampai dengan 9 dilakukan dengan cara interpolasi, yaitu: skor 10 – skor 3 10 – 3 7) Penentuan skor aktual Skor aktual ditentukan berdasarkan hasil pengukuran rasio masing-masing kriteria pada periode tertentu yang diubah kedalam skor pada matriks sasaran yang sesuai. 8) Penentuan nilai aktual Nilai aktual ditentukan berdasarkan hasil perkalian antara skor aktual dengan bobot kriteria tersebut. 9) Penentuan performance indicator Performance indicator diperoleh dari penjumlahan nilai aktual dari semua kriteria pengukuran yang dilakukan. 10) Perhitungan index produktivitas (IP) Untuk menghitung Index Produktivitas (IP) dengan menggunakan rumus: % Peningkatan produktivitas bisa diketahui dari besarnya kenaikan performance indikator yang terjadi. 25    11) Bentuk tabel matriks Kriteria Rasio‐Rasio Nilai Aktual Efisiensi Rasio 1 Rasio 2 Rasio 3 Inferensial Rasio 5 Efektivitas Rasio 4 Target Skor Keterangan 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 Sangat Baik Baik Sedang Buruk Sangat Buruk Skor Aktual Bobot Nilai Produktivitas Keterangan Saat ini Periode Dasar Index Saat ini Periode Sebelum Index Indikator Performansi Indikator Performansi Gambar 2 Contoh bentuk tabel matriks Berdasarkan bentuk matriks di atas, rasio 1 adalah rasio pemakaian tenaga kerja; rasio 2 adalah rasio pemakaian mesin; rasio 3 adalah rasio jam kerja aktual; rasio 4 adalah rasio jam kerja efektif; dan rasio 5 adalah rasio ketidakhadiran karyawan. Hasil akhir dari matriks berupa nilai indeks dengan interpretasi bahwa semakin besar nilai indeks pada suatu periode tertentu maka produktivitas suatu perusahaan pada periode tersebut semakin tinggi juga. 26 4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Produktivitas Galangan Dok Pembinaan Unit Pelaksana Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan (UPT BTPI) memiliki fungsi sebagai tempat membangun, merawat, dan memperbaiki kapal. Saat ini aktivitas yang dilakukan Dok Pembinaan UPT BTPI hanyalah mereparasi kapal. Kegiatan pembuatan kapal sudah lama tidak dilakukan. Hal ini disebabkan karena sepinya order pembuatan kapal di Dok Pembinaan UPT BTPI. Sepinya order membangun kapal di Dok Pembinaan UPT BTPI diduga karena tingginya biaya produksi, dimana kayu sebagai bahan baku pembuatan kapal didatangkan dari luar Jakarta. Kondisi ini mengakibatkan harga kayu menjadi semakin mahal. Oleh karena itu, banyak pembeli yang beralih untuk membuat kapal di daerah yang memiliki sumber kayu sehingga harga kapal menjadi lebih murah. Kapal yang biasanya direparasi oleh Dok Pembinaan UPT BTPI adalah kapal yang terbuat dari kayu. Umumnya kapal yang direparasi merupakan kapal perikanan. Selain mereparasi kapal kayu, galangan juga mampu melayani reparasi kapal fiber atau kapal kayu yang dilaminasi menggunakan fiber. Galangan yang terdapat di lingkungan UPT BTPI ada empat galangan. Keempat galangan tersebut yaitu: Dok Pembinaan UPT BTPI, Fan Marine Shipyard (FMS), Karya Teknik Utama (KTU), dan Koperasi Pegawai Negeri Dinas Perikanan (KPNDP). Dok Pembinaan UPT BTPI adalah galangan yang resmi milik UPT BTPI, sedangkan tiga galangan lainnya adalah galangan yang dikelola oleh pihak yang menyewa lahan di UPT BTPI. Seluruh galangan tersebut juga hanya melayani kegiatan reparasi kapal. Dok Pembinaan UPT BTPI merupakan salah satu galangan yang memiliki tingkat produksi yang cukup tinggi di lingkungan UPT BTPI. Produksi di Dok Pembinaan UPT BTPI menyerap 20,74 % per tahun dari total produksi yang ada di UPT BTPI. Tingkat produksi tiga galangan lainnya adalah FMS sebesar 15,75 %, KTU sebesar 8,39 %, dan KPNDP sebesar 55,12 % per tahun dari total produksi yang ada di UPT BTPI. Data kapal yang melakukan reparasi dari tahun 2006 sampai 2010 di Dok Pembinaan UPT BTPI disajikan pada Lampiran 3 27 sampai dengan Lampiran 7. Jumlah kapal yang melakukan reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI dari tahun 2006 sampai 2010 disajikan pada Gambar 3 di bawah ini. 160 140 Jumlah Kapal 120 100 80 60 40 20 0 2006 2007 2008 2009 2010 Tahun Gambar 3 Jumlah kapal yang melakukan reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI Produktivitas Dok Pembinaan UPT BTPI dan produktivitas seluruh galangan yang ada di lingkungan UPT BTPI disajikan pada Gambar 4 di halaman 28. Setiap bulannya Dok Pembinaan UPT BTPI rata-rata dapat melayani 12 kapal dengan jumlah tertinggi pada bulan Mei 2006, Desember 2006, November 2008, Desember 2008, dan April 2009 sebanyak 15 kapal. Jumlah kapal terendah yang direparasi terdapat pada bulan Mei 2010, dan September 2010 sebanyak 6 kapal. Bulan Oktober, November, dan Desember pada tahun 2007 dan 2010 tidak ada kegiatan reparasi kapal. Hal tersebut dikarenakan pada bulan dan tahun tersebut sedang dilakukan pembangunan slipway (tahun 2007) dan peninggian dok galangan (tahun 2010). Jenis kapal yang diperbaiki adalah kapal perikanan dan kapal non perikanan. Kapal-kapal tersebut berasal dari PPI Muara Angke, PPS Muara Baru, dan daerah lainnya yang sedang bongkar muat atau singgah di PPI Muara Angke. Secara rata-rata, dalam satu tahun Dok Pembinaan UPT BTPI mendapat keluhan dari dua pemilik kapal yang kapalnya masih mengalami kebocoran setelah direparasi. 28 70 60 Jumlah Kapal 50 Seluruh Galangan 2006 Seluruh Galangan 2007 40 Seluruh Galangan 2008 Seluruh Galangan 2009 30 Seluruh Galangan 2010 Dok Pembinaan 2006 20 Dok Pembinaan 2007 Dok Pembinaan 2008 10 Dok Pembinaan 2009 Dok Pembinaan 2010 0 Gambar 4 Perbandingan fluktuasi produksi reparasi kapal Dok Pembinaan UPT BTPI dan produksi reparasi kapal seluruh galangan yang ada di lingkungan UPT BTPI dari tahun 2006 sampai 2010 29 Jenis reparasi yang dilakukan dibagi menjadi dua yaitu annual survey dan special survey. (1) Annual Survey Annual survey dilaksanakan setiap tahun, dimana pekerjaan yang dilakukan adalah pekerjaan-pekerjaan standar yang berhubungan dengan dok perawatan rutin setiap tahunnya. Adapun pekerjaan-pekerjaan pada annual survey pada Dok Pembinaan UPT BTPI diantaranya adalah: pengedokan, pembakaran teritip, penyekrapan, pengecatan, pembaharuan surat-surat kapal, balancing propeller dan kemudi. Annual survey biasanya menghabiskan waktu 2 (dua) sampai 5 (lima) hari pengerjaan. (2) Special Survey Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan pada special survey pada umumnya sama dengan pekerjaan-pekerjaan yang ada pada annual survey. Hanya ada beberapa tambahan pekerjaan yang berhubungan dengan pergantian peralatan ataupun perlengkapan kapal yang rusak dan yang terpenting pada pekerjaan special survey adalah pekerjaan penggantian pelat di beberapa tempat yang ketebalannya sudah tidak memenuhi syarat. Special survey biasanya menghabiskan waktu selama lebih dari 5 (lima) hari bahkan bisa sampai 1 (satu) bulan atau lebih tergantung kerusakan yang harus diperbaiki. Produksi Dok Pembinaan UPT BTPI berdasarkan jumlah kapal, jenis reparasi, dan ukuran kapal disajikan pada Tabel 2 sampai dengan Tabel 4 di bawah ini. Tabel 2 Produksi dok pembinaan UPT BTPI berdasarkan jenis kapal dalam periode 2006 sampai 2010 (satuan: unit) Jenis Kapal Kapal Perikanan Kapal Non Perikanan Jumlah 2006 131 16 147 2007 101 3 104 Tahun 2008 119 11 130 2009 122 18 140 2010 84 13 97 Jumlah 557 61 618 Rata-rata per Tahun 111,4 92 12,2 16 30 Tabel 3 Produksi dok pembinaan UPT BTPI berdasarkan jenis reparasi dalam periode 2006 sampai 2010 (satuan: unit) Jenis Reparasi Annual Survey (2-5 hari) Special Survey (> 5 hari) Jumlah 2006 117 30 147 2007 77 27 104 Tahun 2008 76 54 130 2009 54 86 140 2010 66 31 97 Jumlah 390 228 618 Rata-rata per Tahun 78,0 78 45,6 46 Tabel 4 Produksi Dok Pembinaan UPT BTPI berdasarkan ukuran kapal dalam periode 2006 sampai 2010 (satuan: unit) Ukuran Kapal 1-10 GT 11-20 GT 21-30 GT 31-50 GT >50 GT Jumlah 2006 40 18 84 4 1 147 2007 25 9 67 2 1 104 Tahun 2008 23 18 86 3 0 130 2009 30 14 93 1 2 140 2010 21 10 58 5 3 97 Jumlah 139 69 388 15 7 618 Rata-rata per Tahun 27,8 28 13,8 14 77,6 77 3,0 3 1,4 1 4.2 Tenaga Kerja dan Struktur Organisasi Tenaga kerja dibagi menjadi dua bagian, yaitu: tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tidak langsung. Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang secara langsung berhubungan dengan kegiatan reparasi kapal yang kemudian disebut staf lapang. Tenaga kerja tidak langsung adalah tenaga kerja yang tidak secara langsung berhubungan dengan kegiatan reparasi yang kemudian disebut staf administrasi. Selain dibagi menjadi tenaga kerja langsung dan tidak langsung, tenaga kerja juga dibagi menjadi tenaga kerja tetap dan tidak tetap. Tenaga kerja tetap adalah tenaga kerja yang berstatus sebagai pekerja tetap milik Dok Pembinaan UPT BTPI. Tenaga kerja tidak tetap adalah tenaga kerja yang berstatus sebagai pekerja dari luar yang bekerja di Dok Pembinaan UPT BTPI sebagai tenaga tambahan dalam reparasi kapal. Dok Pembinaan UPT BTPI merupakan satu dari empat galangan yang masih aktif melayani kegiatan reparasi kapal di Muara Angke. Galangan ini dipimpin oleh seorang manajer yang bertanggung jawab kepada kepala UPT BTPI. Sebagai dok pembina, pada tahun 2008 Dok Pembinaan UPT BTPI menjalankan tiga program kerja, yaitu: 1) Pembinaan petugas reparasi; 2) Pembinaan tukang pakal; dan 3) Pembinaan pelayanan reparasi khususnya untuk pengurus kapal. 31 Dok Pembinaan UPT BTPI saat ini memiliki 7 staf lapang. Staf lapang tersebut terdiri dari 1 orang koordinator lapangan, 1 orang juru mesin, 1 orang juru cat, 2 orang juru selam, 1 orang juru kasko, dan 1 orang juru alur. Staf administrasi UPT BTPI ada 13 orang yang terdiri dari 1 orang kepala pusat BTPI, 1 orang kepala sub bagian tata usaha, 1 orang kepala seksi pelayanan pemeliharaan dan perbaikan sarana penangkapan ikan, 1 orang kepala seksi teknologi alat tangkap dan mesin kapal perikanan, 1 orang staf seksi pelayanan pemeliharaan dan perbaikan sarana penangkapan ikan, 1 orang staf teknologi alat tangkap dan mesin kapal perikanan, dan 7 orang staf tata usaha. Struktur organisasi UPT BTPI disajikan pada Gambar 5. Kepala Pusat BTPI Kepala sub bagian tata usaha Kepala seksi pelayanan pemeliharaan dan perbaikan sarana penangkapan ikan Staf seksi pelayanan pemeliharaan dan perbaikan sarana penangkapan ikan Juru Alur Koordinator lapangan Juru Selam Juru Kasko Kepala seksi teknologi alat tangkap dan mesin kapal perikanan Staf seksi teknologi alat tangkap dan mesin kapal perikanan Juru Mesin Juru Cat Keterangan: alur dalam wilayah garis merah adalah struktur organisasi Dok Pembinaan UPT BTPI Gambar 5 Struktur organisasi UPT BTPI 32 4.3 Sarana dan Prasarana Slipway yang ada di Dok pembinaan UPT BTPI sebanyak tiga buah dengan panjang masing-masing 90 meter. Kapasitas masing-masing slipway dapat menampung dua buah kapal. Tetapi, saat ini kapasitas keseluruhan hanya mampu menampung lima buah kapal. Hal tersebut dikarenakan slipway pada bagian tengah kurang panjang sehingga hanya dapat menampung satu kapal. Dibutuhkan landasan tarik yang landai untuk memudahkan penarikan kapal ke atas slipway. Kemiringan yang layak untuk landasan tarik adalah 120. Kemiringan tersebut diperoleh dengan memasang rel yang lebih panjang. Tepi pantai di bagian depan galangan Dok Pembinaan UPT BTPI memiliki kemiringan yang curam, sehingga pada tahun 2007 dilakukan penimbunan agar kemiringan landasan tarik tidak lebih besar dari 120. Penimbunan tersebut menghabiskan waktu selama empat bulan yang mengakibatkan berhentinya kegiatan reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI selama waktu tersebut. Peralatan yang digunakan di Dok Pembinaan UPT BTPI umumnya menggunakan tenaga manual dan tenaga mesin. Penggunaan mesin pada proses reparasi bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi pekerja untuk melakukan kegiatan reparasi, sehingga kegiatan reparasi kapal dapat terselesaikan lebih cepat. Peralatan yang digunakan di Dok Pembinaan UPT BTPI disajikan pada Tabel 5. Tabel 5 Peralatan yang digunakan di Dok Pembinaan UPT BTPI No Peralatan yang digunakan Jenis peralatan (manual/tenaga penggerak/fasilitas serbaguna) 1 Palu Manual 2 Gergaji Manual 3 Sekrap Manual 4 Pahat Manual 5 Meteran Manual 6 Kuas cat Manual 7 Pahat besi Manual 8 Dongkrak hidrolik Tenaga penggerak 9 Mesin penarik Tenaga penggerak 10 Kapak Manual 11 Bor listrik Tenaga penggerak 12 Gerinda mesin Tenaga penggerak 13 Komputer Fasilitas serbaguna 14 Alat pertukangan lainnya Manual Sumber: Dok Pembinaan UPT BTPI Muara Angke, 2010 Perawatan peralatan dilakukan secara rutin dengan tujuan untuk menghindari kerusakan pada alat. Peralatan-peralatan mesin yang terdapat di Dok Pembinaan UPT BTPI dapat dioperasikan oleh seluruh pekerja karena tidak 33 dibutuhkan keahlian teknis khusus dalam pengoperasiannya. Namun, pada fasilitas serbaguna seperti komputer, tidak semua pekerja dapat mengoperasikannya. Hal tersebut dikarenakan dibutuhkan keahlian teknis tertentu untuk mengoperasikannya. Fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh Dok Pembinaan UPT BTPI antara lain fasilitas bengkel bubut, las dan bongkar pasang mesin (overhaul). Dok Pembinaan UPT BTPI terletak di tepi pantai luar komplek Pangkalan Pendaratan Ikan Muara Angke (PPI Muara Angke). Lahan yang digunakan UPT BTPI merupakan lahan milik Pemerintah Daerah DKI dengan luas area 4.500 m2. Layout galangan disajikan pada Gambar 6. Keterangan gambar: 1. Rumah mesin 2. Mesin penarik 3. Tali sling untuk menarik lori 4. Patok loper 5. 6. 7. 8. 9. Loper (pengatur sling) Landasan Tarik (slipway) Lori Rantai penghubung lori Bantalan kapal 10. 11. 12. 13. Kapal di atas lori Pelataran dok Kolam galangan Tembok pembatas galangan Sumber: Dok Pembinaan UPT BTPI Muara Angke, 2010 Gambar 6 Layout Dok Pembinaan UPT BTPI Muara Angke 4.4 Sumberdaya Manusia Sumberdaya manusia yang ada di Dok Pembinaan UPT BTPI terdiri atas berbagai macam latar belakang pendidikan. Pendidikan terendah ada pada tingkat 34 SD sebanyak tiga orang. Latar belakang pendidikan yang bervariasi, tidak mempengaruhi kemampuan seluruh karyawan untuk melakukan kerjasama dalam proses transformasi. Pelatihan-pelatihan soft skill yang diberikan oleh UPT BTPI sangat meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia yang ada di Dok Pembinaan UPT BTPI. Pelatihan tersebut diantaranya yaitu: management team work dan pelatihan mengenai tata cara reparasi. Alokasi tenaga kerja pada galangan yang diteliti disajikan pada Tabel 6 dan Tabel 7. Tabel 6 Alokasi staf lapang di Dok Pembinaan UPT BTPI No Nama Pekerjaan 1 Mujono Koordinator Lapangan 2 Suherman Juru Mesin 3 M. Yusuf Juru Cat 4 Nurudin Juru Selam 5 Abdurachman Juru Selam 6 Nursaman Juru Kasko 7 Apit Awaludin Juru Alur Sumber: Dok Pembinaan UPT BTPI Muara Angke, 2010 Pendidikan SMP SD SMA SD SMP SD SMA Tabel 7 Alokasi staf administrasi di Dok Pembinaan UPT BTPI No 1 2 3 Nama Ir. Sutrisno, M.Si Ir. Heriyanti, M.Si Abdul Malik Adnan, S.Sos, MM Agus Trihadi, SIP, M.Si Pekerjaan Kepala Pusat Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kepala Seksi Pelayanan Pemeliharaan dan Perbaikan Sarana Penangkapan Ikan 4 Kepala Seksi Teknologi Alat Tangkap dan Mesin Kapal Perikanan 5 H. Sapto Wahono, SE Staff Seksi Teknologi 6 Nur Ali Staff Subbag Tata Usaha 7 Tjasda Staff Subbag Tata Usaha 8 Sumarsana Staff Subbag Tata Usaha 9 Yuni Astuti, SE Staff Subbag Tata Usaha 10 A S. Tumungin, SE Staff Subbag Tata Usaha 11 Sulaeman, A.Md Staff Subbag Tata Usaha 12 Arief Prakoso, ST Staff Subbag Tata Usaha 13 Yuniwoko Staff Seksi Pelayanan Sumber: Dok Pembinaan UPT BTPI Muara Angke, 2010 Pendidikan S2 S2 S2 S2 S1 SLTA SLTA SLTA S1 S1 D.3 S1 SLTA 35 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Kriteria Produktivitas dan Indikator Kinerja Kriteria-kriteria yang akan diukur meliputi kriteria efisiensi, kriteria efektivitas, dan kriteria inferensial. Kriteria efisiensi menunjukkan bagaimana penggunaan sumberdaya perusahaan (galangan), seperti tenaga kerja, energi, material serta modal yang sehemat mungkin. Kriteria efektivitas menunjukkan bagaimana galangan mencapai hasil bila dilihat dari sudut akurasi dan kualitasnya. Kriteria inferensial menunjukkan suatu kriteria yang tidak secara langsung mempengaruhi produktivitas tetapi bila diikutsertakan dalam matriks dapat membantu memperhitungkan variabel yang mempengaruhi faktor-faktor yang mayor. Kriteria yang ditetapkan mengacu pada kriteria yang digunakan oleh Mahendra (2007) yang telah meneliti tentang “Peningkatan Produktivitas Galangan Kapal Menggunakan Model OMAX (Studi kasus: di PT. BEN SANTOSA Surabaya)”. Mahendra (2007) awalnya menetapkan sebanyak tiga belas indikator kinerja berdasarkan tiga kriteria tersebut. Namun, setelah dilakukan wawancara dan pengisian kuesioner oleh tim manajemen diperoleh hasil bahwa indikator kinerja yang dapat digunakan hanya tujuh indikator. Ketujuh indikator tersebut adalah man hour, material, tenaga kerja, pemakaian mesin, jam kerja aktual, jam kerja efektif, dan jumlah ketidakhadiran karyawan. Penetapan kriteria pada penelitian ini dilakukan dengan cara observasi lapang, wawancara dan kuesioner yang mengacu berdasarkan tujuh indikator yang dikemukakan oleh Mahendra (2007). Hasil observasi, wawancara dan kuesioner menunjukkan bahwa indikator kinerja yang dapat digunakan dalam penelitian ini ada lima indikator dari tujuh indikator yang diacu pada penelitian Mahendra (2007). Indikator-indikator tersebut yaitu: pemakaian mesin, pemakaian tenaga kerja, jam kerja aktual, jam kerja efektif, dan jumlah ketidakhadiran. Hal tersebut terjadi karena ketersediaan data yang ada di Dok Pembinaan Unit Pelaksana Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan (UPT BTPI) yang tidak memiliki data man hour dan material. 36 5.2 Model Objective Matrix (OMAX) 5.2.1 Penilaian indikator kinerja 1) Indikator kinerja yang termasuk dalam kriteria “Efisiensi” (1) Tenaga kerja Penentuan nilai indikator tenaga kerja dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 8 Nilai indikator tenaga kerja Periode 2006 2007 2008 2009 2010 Tenaga Kerja yg. Digunakan (orang) 16 16 16 16 16 Rata-rata Tenaga Kerja yg. Ada (orang) 30 30 30 30 30 Prosentase Tenaga Kerja (%) 53,33 53,33 53,33 53,33 53,33 53,33 Tenaga kerja yang ada di Dok Pembinaan UPT BTPI sebanyak 30 orang. Tenaga kerja tersebut terdiri dari 7 orang staf lapang tetap, 13 orang staf administrasi tetap, dan 10 orang staf lapang tidak tetap. Reparasi kapal dilakukan oleh staf lapang (tetap dan tidak tetap). Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk reparasi sebanyak 16 orang. Terdapat 1 orang yang tidak melakukan pekerjaan reparasi yaitu juru alur. Meskipun tidak terjun dalam proses reparasi kapal, namun juru alur termasuk ke dalam tenaga kerja langsung karena tugas juru alur yang berkaitan langsung dengan proses reparasi. Tugas juru alur yaitu untuk menentukan kapal yang dapat naik di atas galangan sesuai dengan standar ukuran alur yang dipakai dan kapasitas galangan serta bertanggung jawab penuh dalam mengatur kapal-kapal yang akan masuk maupun keluar galangan. Berdasarkan rumus rasio indikator tenaga kerja: Prosentase tenaga kerja yang digunakan di Dok Pembinaan UPT BTPI adalah 53,33 %. Hal tersebut dapat terjadi karena tenaga kerja yang ada di Dok Pembinaan UPT BTPI digunakan sama dari tahun 2006 sampai 2010 yaitu sebanyak 16 orang dari 30 orang tenaga kerja. Tenaga kerja yang tidak digunakan dalam kegiatan reparasi adalah 13 orang staf administrasi dan 1 orang staf lapang sebagai juru alur. Pembagian tugas yang dilakukan oleh staf lapang tetap pada saat melakukan reparasi kapal adalah 1 orang sebagai juru alur, 1 orang mengoperasikan mesin 37 dan sisa 5 orang lainnya melakukan persiapan kapal naik dok di dalam air. Persiapan yang dilakukan adalah persiapan dudukan lunas dan bantalan untuk lunas agar kapal dapat berdiri dengan posisi mantap yang dilakukan mulai dari kapal berada di dalam air hingga kapal naik dok. Setelah kapal naik dok dan sudah dalam posisi yang mantap, mesin dimatikan. Tugas selanjutnya adalah melakukan penyekrapan, pembakaran teritip, pengecatan dan penurunan kapal ke dalam air setelah reparasi kapal selesai dilakukan. Tugas-tugas yang dilakukan oleh staf lapang tidak tetap sebagian sama dengan yang dilakukan oleh staf lapang tetap. Perbedaannya adalah operasional mesin yang hanya dilakukan oleh staf lapang tetap (juru mesin), penaikan kapal ke dok, dan penurunan kapal dari dok. Selain itu, perbedaan lainnya adalah tugas tambahan yang hanya dilakukan oleh staf lapang tidak tetap. Tugas yang dimaksud seperti tenaga perbengkelan, listrik, dan pergantian kayu. (2) Pemakaian mesin Penentuan nilai indikator pemakaian mesin dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 9 Nilai indikator pemakaian mesin Periode 2006 2007 2008 2009 2010 Jam Pemakaian Mesin (jam) 882 624 780 840 582 Rata-rata Jumlah Jam Tersedia (jam) 2.400 2.400 2.400 2.400 2.400 Prosentase Pemakaian Mesin (%) 36,75 26 32,5 35 24,25 30,9 Mesin yang digunakan adalah mesin winch yang berfungsi untuk menarik kapal pada saat kapal akan naik dok dan memberikan tahanan pada saat kapal turun dok setelah kapal selesai direparasi. Lama waktu mesin stand by untuk digunakan dalam satu hari sama dengan waktu kerja kantor UPT BTPI yaitu selama delapan jam dalam satu hari, sehingga dalam satu tahun, jumlah jam tersedia untuk pemakaian mesin adalah 2.400 jam dengan asumsi dalam satu tahun periode kerja adalah 300 hari. Mesin digunakan hanya pada saat kapal naik dok dan turun dok. Lama waktu kapal naik dan turun dok masing-masing adalah tiga jam, sehingga lama operasional mesin untuk reparasi satu buah kapal adalah enam jam. Berdasarkan Tabel 10 di atas, dapat dilihat pada tahun 2006, jumlah kapal yang melakukan 38 reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI ada 147 kapal sehingga jam pemakaian mesin pada tahun tersebut adalah 147 kapal x 6 jam = 882 jam. Tahun 2007 ada 104 kapal, 130 kapal pada tahun 2008, 140 kapal pada tahun 2009, dan 97 kapal pada tahun 2010. Jam pemakaian mesin yang digunakan berturut-turut adalah 624, 780, 840, dan 582 jam. Tingkat utilitas Dok Pembinaan UPT BTPI dapat dikatakan masih rendah karena fasilitas dalam hal ini mesin winch tidak dioperasikan mendekati kapasitasnya. Prosentase pemakaian mesin diperoleh dengan cara jam pemakaian mesin dibagi jumlah jam tersedia dikalikan 100 %. Hasil prosentase pemakaian mesin berturut-turut dari tahun 2006 sampai 2010 adalah 36,75 %; 26 %; 32,5 %; 35 %; dan 24,25 %. Tahun 2006 prosentase pemakaian mesin bernilai 36,75 %. Hal tersebut menandakan bahwa pada tahun 2006, mesin hanya digunakan 36,75 % dari jumlah jam pemakaian yang tersedia sebesar 2400 jam. Waktu pemakaian mesin yang terpakai pada tahun 2006 hanya 882 jam. Nilai prosentase pada tahun 2007 sampai 2010 juga menandakan hal yang sama. Jumlah kapal yang melakukan reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI pada tahun 2006 sampai 2010 dapat dilihat pada Tabel 10 dan Gambar 6. Tabel 10 Jumlah kapal yang melakukan reparasi berdasarkan ukuran di Dok Pembinaan UPT BTPI. Ukuran Kapal 1-10 GT 11-20 GT 21-30 GT 31-50 GT >50 GT Jumlah 2006 40 18 84 4 1 147 2007 25 9 67 2 1 104 Tahun 2008 23 18 86 3 0 130 2009 30 14 93 1 2 140 2010 21 10 58 5 3 97 Jumlah 139 69 387 15 7 618 39 160 140 Jumlah Kapal 120 100 80 60 40 20 0 2006 2007 2008 2009 2010 Kapal Ukuran 1-10 GT 40 25 23 30 21 Kapal Ukuran 11-20 GT 18 9 18 14 10 Kapal Ukuran 21-30 GT 84 67 86 93 58 Kapal Ukuran 31-50 GT 4 2 3 1 5 Kapal Ukuran >50 GT 1 1 0 2 3 147 104 130 140 97 Jumlah total Gambar 7 Fluktuasi produksi reparasi kapal tahun 2006 sampai 2010 di Dok Pembinaan UPT BTPI Tahun 2007 dan 2010, jumlah kapal yang naik jauh lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2006, 2008, dan 2009 karena pada tahun 2007 bulan Oktober sampai Desember dilakukan perbaikan dan pembangunan slipway di galangan dan pada tahun 2010 bulan Oktober sampai Desember dilakukan peninggian dok galangan. 2) Indikator kinerja yang termasuk dalam kriteria “Efektivitas” (1) Jam kerja aktual Penentuan nilai indikator jam kerja aktual dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 11 Nilai indikator jam kerja aktual produksi Periode 2006 2007 2008 2009 2010 Jam Kerja Aktual Produksi (jam) 1470 1040 1300 1400 970 Rata-rata Working Time (jam) 2.100 2.100 2.100 2.100 2.100 Prosentase Jam Kerja Aktual (%) 70 49,524 61,905 66,667 46,19 58,86 40 Jam kerja aktual produksi adalah jam kerja yang benar-benar digunakan oleh staf lapang di Dok Pembinaan UPT BTPI dalam operasional reparasi kapal. Jam kerja aktual produksi diperoleh dengan mengalikan jumlah kapal dengan jam yang digunakan oleh pekerja dalam mereparasi satu kapal. Waktu yang dibutuhkan oleh staf lapang tetap untuk mereparasi satu kapal adalah 10 jam dengan pembagian waktu yaitu: penaikan kapal ke atas dok selama 3 jam, penyekrapan selama 1 jam, pembakaran teritip selama 2 jam, pengecatan selama 1 jam, dan penurunan kapal dari dok ke dalam air setelah selesai dilakukan reparasi selama 3 jam. Pengerjaan yang dilakukan oleh staf lapang tetap tersebut bukan keseluruhan pengerjaan pada proses reparasi kapal. Pengerjaan tersebut hanyalah tugas yang dilakukan oleh staf lapang tetap. Pengerjaan reparasi kapal lainnya dilakukan oleh staf lapang tidak tetap. Working time adalah jam kerja yang sudah ditetapkan oleh perusahaan kepada staf lapang di Dok Pembinaan UPT BTPI. Working time staf lapang Dok Pembinaan UPT BTPI yaitu selama 7 jam dari pukul 09.00 sampai pukul 16.00 dalam satu hari dan dalam satu tahun periode kerja diasumsikan selama 300 hari, sehingga working time staf lapang di Dok Pembinaan UPT BTPI adalah 2.100 jam dalam periode satu tahun (300 hari). Prosentase jam kerja aktual Dok Pembinaan UPT BTPI diperoleh dengan cara jam kerja aktual produksi dibagi dengan working time dikalikan 100 %. Berdasarkan tabel nilai indikator jam kerja aktual produksi di atas, jam kerja aktual produksi Dok Pembinaan UPT BTPI berturut-turut dari tahun 2006 sampai 2010 adalah 1470 jam dengan jumlah kapal yang direparasi sebanyak 147 kapal atau 70 % dari jam kerja sebesar 2.100 jam dalam satu tahun; 1.040 jam dengan jumlah kapal yang direparasi sebanyak 104 kapal atau 49,52 % dari jam kerja sebesar 2100 jam dalam satu tahun, 1300 jam dengan jumlah kapal yang direparasi sebanyak 130 kapal atau 61,91 % dari jam kerja sebesar 2100 jam dalam satu tahun, 1400 jam dengan jumlah kapal yang direparasi sebanyak 140 kapal atau 66,67 % dari jam kerja sebesar 2.100 jam dalam satu tahun, dan 970 jam dengan jumlah kapal yang direparasi sebanyak 97 kapal atau 46,19 % dari 41 jam kerja sebesar 2.100 jam dalam satu tahun. Jumlah kapal yang direparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI dapat dilihat pada Tabel 10. (2) Jam kerja efektif Penentuan nilai indikator jam kerja efektif dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 12 Nilai indikator jam kerja efektif Periode 2006 2007 2008 2009 2010 Operating Time (jam) 1800 1800 1800 1800 1800 Rata-rata Working Time (jam) 2.100 2.100 2.100 2.100 2.100 Prosentase Jam Kerja Efektif (%) 85,714 85,714 85,714 85,714 85,714 85,714 Jam kerja efektif (operating time) adalah jam kerja yang baku yang harus dilaksanakan di luar jam istirahat makan siang selama satu jam. Apabila dalam satu hari, working time di Dok Pembinaan UPT BTPI adalah 7 jam, maka setelah dikurangi waktu istirahat makan siang yang sudah ditentukan oleh perusahaan selama 1 jam diperoleh operating time selama 6 jam dalam satu hari. Dengan asumsi yang sama yaitu periode bekerja dalam satu tahun diasumsikan selama 300 hari, maka operating time Dok Pembinaan UPT BTPI dalam satu tahun adalah 1.800 jam. Operating time dari tahun 2006 sampai 2010 nilainya sama sehingga prosentasenya pun bernilai sama yaitu sebesar 85,714 %. Prosentase jam kerja efektif diperoleh dengan cara operating time dibagi working time dikali 100 %. 3) Indikator kinerja yang termasuk dalam kriteria “Inferensial” (1) Ketidakhadiran karyawan Nilai indikator ketidakhadiran karyawan dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 13 Nilai indikator jumlah ketidakhadiran Periode 2006 2007 2008 2009 2010 Jumlah karyawan (orang) 20 20 20 20 20 Rata-rata Jumlah Karyawan Absen (hari) 80 80 80 80 80 Prosentase Ketidakhadiran (%) 1,33 1,33 1,33 1,33 1,33 1,33 Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa jumlah karyawan yang tersedia di Dok Pembinaan UPT BTPI sebanyak 20 orang dengan rincian 7 orang staf lapang dan 13 orang staf administrasi. Nilai jumlah karyawan absen pada Tabel 14 di atas bernilai sama yaitu 80 hari. Nilai tersebut adalah nilai gabungan 42 jumlah ketidakhadiran karyawan staf lapang dan karyawan staf administrasi. Data ketidakhadiran karyawan staf lapang diperoleh dengan cara wawancara langsung salah seorang pekerja lapangan dan pegawai kantor UPT BTPI. Hal tersebut dikarenakan Dok Pembinaan UPT BTPI tidak memiliki data tertulis terkait absen staf lapang. Sedangkan data ketidakhadiran karyawan staf administrasi diperoleh dari rekapitulasi absen, namun data yang ada hanya dari Januari 2010 sampai November 2011. Berdasarkan hasil wawancara, untuk jumlah ketidakhadiran karyawan staf lapang diperoleh dari asumsi-asumsi. Ketidakhadiran karyawan diasumsikan dalam satu bulan rata-rata hanya satu orang yang absen dan hanya satu hari orang tersebut absen, sehingga diperoleh hasil jumlah ketidakhadiran karyawan sebesar 12 hari dalam satu tahun untuk staf lapang. Nilai jumlah ketidakhadiran karyawan staf administrasi diperoleh dari ratarata rekapitulasi data yang diperoleh yaitu Januari 2010 sampai November 2011. Penggunaan rata-rata dari rekapitulasi data dikarenakan data yang ada hanya data dari Januari 2010 sampai November 2011. Hal tersebut mengakibatkan nilai ratarata dari rekapitulasi data tersebut dibutuhkan untuk dijadikan asumsi jumlah ketidakhadiran karyawan staf administrasi dalam satu tahun. Berdasarkan hasil rekapitulasi data, untuk jumlah ketidakhadiran karyawan staf administrasi adalah 68 hari dalam satu tahun. Dengan demikian, diperoleh hasil dalam satu tahun jumlah hari karyawan absen adalah 80 hari. Prosentase ketidakhadiran karyawan memiliki nilai sebesar 1,33 % diperoleh dengan cara: 5.2.2 Pencapaian awal dari indikator kinerja (skor 3) Pencapaian setiap indikator kinerja pada saat matrik mulai dioperasionalkan dikategorikan ke dalam skor 3. Besarnya nilai pencapaian ini sama dengan ratarata nilai pencapaian indikator-indikator kinerja (tenaga kerja, pemakaian mesin, jam kerja aktual produksi, jam kerja efektif, ketidakhadiran karyawan) pada periode pengukuran dalam hal ini periode lima tahun terakhir dari tahun 2006 sampai 2010. Nilai pencapaian awal (skor 3) dapat dilihat pada Tabel 14. 43 Tabel 14 Nilai pencapaian awal (skor 3) Nomor Indikator 1 2 3 4 5 Indikator Kinerja Tenaga Kerja Pemakaian Mesin Jam Kerja Aktual Produksi Jam Kerja Efektif Jumlah Ketidakhadiran Satuan % % % % % Nilai Awal 53,33 30,90 58, 86 85,71 1,33 5.2.3 Target realistis dan terendah indikator kinerja (skor 10 dan 0) Target realistis yang ditetapkan berkenaan dengan target yang ingin dicapai perusahaan di masa mendatang untuk tiap-tiap prespektif kinerja yang diukur. Target yang ingin dicapai tersebut akan ditempatkan dalam skala skor 10 untuk setiap indikator kinerja. Target ditentukan oleh pihak manajemen perusahaan, karena pihak manajemen mengetahui keadaan perusahaan yang sebenarnya sehingga dapat menentukan kemajuan yang akan dicapai. Nilai target realistis ini diperoleh dari hasil wawancara dan kuesioner kepada pihak manajemen yang dapat dilihat pada Lampiran 8. Berdasarkan hasil wawancara dan kuesioner tersebut disebutkan bahwa untuk target realistis tertinggi yang ingin dicapai oleh perusahaan ditentukan berdasarkan target perusahaan yaitu dalam 3 slipway yang dimiliki mampu menampung masing-masing 2 kapal dan dalam satu bulan terjadi 4 kali frekuensi reparasi kapal dikalikan 12 bulan sehingga diperoleh target reparasi kapal dalam satu tahun sebanyak 288 kapal. Sementara itu, dilihat dari ketidakhadiran karyawan, diasumsikan bahwa dalam satu tahun, masing-masing karyawan hanya absen dua kali, sehingga jumlah ketidakhadiran karyawan dalam satu tahun adalah 40 hari absen. Berdasarkan hasil tersebut dapat diperoleh nilai tiap indikator kinerja yang diukur pada skor 10. Nilai tersebut dapat dilihat pada Tabel 15. Tabel 15 Nilai target realistis (skor 10) Nomor Indikator 1 2 3 4 5 Indikator Kinerja Tenaga Kerja Pemakaian Mesin Jam Kerja Aktual Produksi Jam Kerja Efektif Jumlah Ketidakhadiran Satuan % % % % % Nilai Awal 100,00 72,00 137,14 85,71 0,67 44 Penetapan skor 0 juga dilakukan dengan wawancara dan kuesioner. Berdasarkan wawancara dan kuesioner tersebut, nilai target terendah perusahaan adalah jika dalam 3 slipway yang dimiliki oleh perusahaan masing-masing hanya memuat 1 kapal dan dalam satu bulan hanya terjadi 3 kali frekuensi reparasi kapal dikalikan 12 bulan sehingga diperoleh target reparasi kapal terendah dalam satu tahun sebanyak 108 kapal. Apabila dilihat dari ketidakhadiran karyawan, diasumsikan bahwa masing-masing karyawan menggunakan jatah cuti mereka dalam setahun yaitu 12 hari, sehingga dalam satu tahun jumlah ketidakhadiran adalah 240 hari. Berdasarkan hal tersebut, nilai yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel 16. Tabel 16 Nilai terendah (skor 0) Nomor Indikator 1 2 3 4 5 Indikator Kinerja Tenaga Kerja Pemakaian Mesin Jam Kerja Aktual Produksi Jam Kerja Efektif Jumlah Ketidakhadiran Satuan % % % % % Nilai Awal 70,00 27,00 51,43 78,57 4,00 5.2.4 Bobot indikator kinerja Setiap indikator kinerja yang telah ditentukan memiliki pengaruh yang relatif berbeda terhadap peningkatan kinerja secara keseluruhan. Dibutuhkan suatu pembobotan untuk dapat mengetahui derajat kepentingan suatu indikator kinerja terhadap lainnya dalam menentukan kinerja perusahaan. Pembobotan dilakukan oleh pihak manajemen yang berkepentingan dengan kuesioner. Hasil kuesioner dihitung dengan matrik perbandingan berpasangan. Data matrik perbandingan berpasangan dapat dilihat pada Lampiran 9. Nilai pembobotan dapat dilihat pada Tabel 17. Tabel 17 Nilai pembobotan Nomor Indikator 1 2 3 4 5 Indikator Kinerja Tenaga Kerja Pemakaian Mesin Jam Kerja Aktual Produksi Jam Kerja Efektif Jumlah Ketidakhadiran Satuan % % % % % Bobot 21 14 14 21 30 45 5.2.5 Penyusunan tabel objective matrix (OMAX) Pada langkah ini data yang telah diperoleh disusun dalam tabel objective matrix untuk dilakukan analisa. Berikut adalah tabel pengukuran produktivitas model objective matrix pada tahun 2006 sampai 2010: Tabel 18 Matriks tahun 2006 Kriteria Rasio-Rasio Nilai Aktual Target Skor Aktual Bobot Nilai Produktivitas Keterangan Efisiensi Rasio 1 Rasio 2 53,33 36,75 100 72 93,33 66,12857 86,67 60,25714 80,00 54,38571 73,33 48,51429 66,66 42,64286 60,00 36,77143 53,33 30,9 48,89 29,6 44,44 28,3 40 27 3 3 21 14 63 42 Sedang Sedang Efektivitas Rasio 3 Rasio 4 70 85,714 137,143 85,714 125,9593 85,714 114,7756 85,714 103,5919 85,714 92,40814 85,714 81,22443 85,714 70,04071 85,714 58,857 85,714 56,381 83,333 53,905 80,952 51,429 78,571 3 10 14 21 42 210 Sedang Sangat Baik Inferensial Rasio 5 1,33 0,67 0,76428571 0,85857143 0,95285714 1,04714286 1,14142857 1,23571429 1,33 2,22 3,11 4 3 30 90 Sedang Indikator Performansi Saat ini Periode Dasar Index 447 300 49 Indikator Performansi Saat ini Periode Sebelum Index 447 0 0 Skor Keterangan 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 Sangat Baik Baik Sedang Buruk Sangat Buruk Tabel 19 Matriks tahun 2007 Kriteria Rasio-Rasio Nilai Aktual Target Skor Aktual Bobot Nilai Produktivitas Keterangan Efisiensi Rasio 1 Rasio 2 53,33 26 100 72 93,33 66,12857143 86,67 60,25714286 80,00 54,38571429 73,33 48,51428571 66,66 42,64285714 60,00 36,77142857 53,33 30,9 48,89 29,6 44,44 28,3 40 27 3 0 21 14 63 0 Sedang Sangat Buruk Efektivitas Rasio 3 Rasio 4 49,52380952 85,714 137,143 85,714 125,9592857 85,714 114,7755714 85,714 103,5918571 85,714 92,40814286 85,714 81,22442857 85,714 70,04071429 85,714 58,857 85,714 56,381 83,333 53,905 80,952 51,429 78,571 0 10 14 21 0 210 Sangat Buruk Sangat Baik Saat ini Indikator Performansi Periode Dasar Index 363 300 363 Periode Sebelum Index 447 -18,791946 Saat ini Indikator Performansi Inferensial Rasio 5 1,33 0,67 0,76428571 0,85857143 0,95285714 1,04714286 1,14142857 1,23571429 1,33 2,22 3,11 4 3 30 90 Sedang 21 Skor Keterangan 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 Sangat Baik Baik Sedang Buruk Sangat Buruk 46 Tabel 20 Matriks tahun 2008 Kriteria Rasio-Rasio Nilai Aktual Target Skor Aktual Bobot Nilai Produktivitas Keterangan Efisiensi Rasio 1 Rasio 2 53,33 32,5 100,00 72 93,33 66,12857 86,67 60,25714 80,00 54,38571 73,33 48,51429 66,66 42,64286 60,00 36,77143 53,33 30,9 48,89 29,6 44,44 28,3 40,00 27 3 3 21 14 63 42 Sedang Sedang Efektivitas Rasio 3 Rasio 4 61,90476 85,714 137,143 85,714 125,9593 85,714 114,7756 85,714 103,5919 85,714 92,40814 85,714 81,22443 85,714 70,04071 85,714 58,857 85,714 56,381 83,333 53,905 80,952 51,429 78,571 3 10 14 21 42 210 Sedang Sangat Baik Inferensial Rasio 5 1,33 0,67 0,76428571 0,85857143 0,95285714 1,04714286 1,14142857 1,23571429 1,33 2,22 3,11 4 3 30 90 Sedang Indikator Performansi Saat ini Periode Dasar Index 447 300 Indikator Performansi Saat ini Periode Dasar Index 447 363 23,1404959 Skor Keterangan 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 Sangat Baik Sangat Buruk Skor Keterangan 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 Sangat Baik Baik Sedang Buruk 49 Tabel 21 Matriks tahun 2009 Kriteria Rasio-Rasio Nilai Aktual Target Skor Aktual Bobot Nilai Produktivitas Keterangan Efisiensi Rasio 1 Rasio 2 53,33 35 100 72 93,3328571 66,12857 86,6657143 60,25714 79,9985714 54,38571 73,3314286 48,51429 66,6642857 42,64286 59,9971429 36,77143 53,33 30,9 48,8866667 29,6 44,4433333 28,3 40 27 3 3 21 14 63 42 Sedang Sedang Efektivitas Rasio 3 Rasio 4 66,66667 85,714 137,143 85,714 125,9593 85,714 114,7756 85,714 103,5919 85,714 92,40814 85,714 81,22443 85,714 70,04071 85,714 58,857 85,714 56,381 83,333 53,905 80,952 51,429 78,571 3 10 14 21 42 210 Sedang Sangat Baik Inferensial Rasio 5 1,33 0,67 0,76428571 0,85857143 0,95285714 1,04714286 1,14142857 1,23571429 1,33 2,22 3,11 4 3 30 90 Sedang Indikator Performansi Saat ini Periode Dasar Index 447 300 49 Indikator Performansi Saat ini Periode Dasar Index 447 447 0 Baik Sedang Buruk Sangat Buruk 47 Tabel 22 Matriks tahun 2010 Kriteria Rasio-Rasio Nilai Aktual Target Skor Aktual Bobot Nilai Produktivitas Keterangan Efisiensi Rasio 1 Rasio 2 53,33 24,25 100 72 93,3328571 66,12857143 86,6657143 60,25714286 79,9985714 54,38571429 73,3314286 48,51428571 66,6642857 42,64285714 59,9971429 36,77142857 53,33 30,9 48,8866667 29,6 44,4433333 28,3 40 27 3 0 21 14 63 0 Sedang Sangat Buruk Efektivitas Rasio 3 Rasio 4 46,19047619 85,714 137,143 85,714 125,9592857 85,714 114,7755714 85,714 103,5918571 85,714 92,40814286 85,714 81,22442857 85,714 70,04071429 85,714 58,857 85,714 56,381 83,333 53,905 80,952 51,429 78,571 0 10 14 21 0 210 Sangat Buruk Sangat Baik Saat ini Indikator Performansi 363 Periode Dasar Index 300 363 Periode Dasar Index 447 -18,791946 Saat ini Indikator Performansi Keterangan: Inferensial Rasio 5 1,33 0,67 0,76428571 0,85857143 0,95285714 1,04714286 1,14142857 1,23571429 1,33 2,22 3,11 4 3 30 90 Sedang Skor Keterangan 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 Sangat Baik Baik Sedang Buruk Sangat Buruk 21 1) Rasio 1: rasio indikator pemakaian tenaga kerja 2) Rasio 2: rasio indikator pemakaian mesin 3) Rasio 3: rasio indikator jam kerja aktual 4) Rasio 4: rasio indikator jam kerja efektif 5) Rasio 5: rasio indikator jumlah ketidakhadiran karyawan 5.3 Tingkat Produktivitas Pada Aktivitas Reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI Setelah dilakukan pengolahan data, langkah selanjutnya adalah melakukan analisa dan interpretasi terhadap hasil pengolahan data. Hal-hal yang akan dibahas meliputi analisa terhadap masing-masing indikator kinerja yang digunakan dalam pengukuran kinerja dengan menggunakan model OMAX, analisa terhadap indeks pencapaian kinerja tiap periode pengukuran, dan analisa keseluruhan nilai kinerja total pada unit produksi. Analisa terhadap indikator kinerja yang digunakan dalam pengukuran kinerja Dok Pembinaan UPT BTPI dilakukan untuk memberikan gambaran tentang pencapaian hasil dari setiap indikator kinerja sehingga galangan, dalam hal ini pihak manajemen, dapat mengukur kinerja yang telah dilakukan dan selanjutnya melakukan tindakan-tindakan yang dianggap perlu dalam memperbaiki dan meningkatkan kinerja galangan. Berikut ini akan dijelaskan 48 hasil yang dicapai masing-masing indikator kinerja galangan untuk setiap periode pengukuran. Analisa ini dibuat berdasarkan hasil pengolahan data berupa tabel pengukuran kinerja di setiap periode pengukuran. Tabel hasil pengolahan dapat dilihat pada Tabel 19 sampai Tabel 23 di atas. Nilai pencapaian untuk indikator tenaga kerja konstan pada skor 3 (tiga) dengan nilai sebesar 53,33 dengan bobot 21 %. Hal ini terjadi karena tenaga kerja yang digunakan dan tenaga kerja yang tersedia tidak mengalami perubahan. Berdasarkan hasil pengukuran 5 tahun menggunakan model OMAX tersebut tampak bahwa pencapaian kinerja untuk indikator tenaga kerja sudah cukup baik karena berada pada skor 3 (tiga) dan konstan selama 5 tahun. Jika dilihat berdasarkan pencapaian sasaran akhir (skor 10), indikator tenaga kerja ini perlu ditingkatkan dengan syarat seluruh tenaga kerja digunakan sepenuhnya untuk melakukan reparasi kapal. Hal tersebut dikarenakan perbedaan nilai yang cukup jauh antara pencapaian awal (skor 3) dengan pencapaian sasaran akhir (skor 10) dengan perbedaan mencapai 46,7 %. Nilai pencapaian skor tertinggi untuk indikator kinerja pemakaian mesin dicapai pada tahun 2006 dengan skor 3 dan nilai sebesar 36,75. Nilai indikator yang memiliki bobot 14 % tersebut lebih besar dari nilai pada tahun lainnya meskipun pada tahun 2008 dan 2009 mencapai skor yang sama yaitu skor 3 namun memiliki nilai lebih kecil yaitu 32,2 dan 35. Hal tersebut dapat terjadi karena pada tahun 2006 terjadi produksi yang lebih banyak daripada tahun-tahun lainnya sehingga pemakaian mesin juga lebih besar daripada tahun yang lainnya. Nilai indikator terendah dicapai pada tahun 2007 dan 2010 yaitu pada skor 0 dengan nilai masing-masing sebesar 26 dan 24,25. Penurunan yang terjadi pada tahun 2007 dan 2010 dari tahun sebelumnya dikarenakan pada tahun 2007 terjadi perbaikan dan pembangunan slipway pada bulan Oktober sampai dengan bulan Desember, sedangkan pada tahun 2010 terjadi peninggian dok galangan dari bulan Oktober sampai bulan Desember. Hal tersebut mengakibatkan pada tahun 2007 dan 2010 terjadi pemangkasan periode produksi menjadi 9 bulan dari 12 bulan. Pemangkasan periode produksi tersebut mengakibatkan produksi galangan juga menurun sehingga pemakaian mesin juga menurun. 49 Nilai pencapaian skor tertinggi untuk indikator kinerja jam kerja aktual produksi dicapai pada tahun pada skor 3 dengan nilai 70. Nilai indikator yang memiliki bobot 14 % tersebut lebih besar daripada nilai pada tahun yang lainnya meskipun pada tahun 2008 dan 2009 mencapai skor yang sama yaitu skor 3 dengan nilai masing-masing 61,9 dan 66,67. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya pengurangan pemakaian waktu setup produksi pada tahun 2007 sampai 2010 dibandingkan dengan waktu setup produksi pada tahun 2006. Nilai indikator terendah pada tahun 2007 dan 2010 yaitu pada skor 0 dengan nilai masing-masing sebesar 49,52 dan 46,19. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, penurunan terjadi karena pada tahun 2007 dan 2010 periode produksi hanya 9 bulan. Berdasarkan hasil pengukuran selama 5 tahun tampak bahwa kinerja untuk indikator jam kerja aktual produksi masih sangat rendah dan perlu diberi perhatian untuk lebih ditingkatkan karena nilai indikator tersebut masih jauh dibawah target realistis yang telah ditetapkan yang terdapat pada skor 10 yaitu sebesar 137,14. Solusi yang dapat digunakan agar target realistis dapat dicapai adalah dengan penambahan jumlah tenaga kerja langsung sehingga waktu yang digunakan untuk melakukan reparasi kapal sesuai dengan target realistis jumlah kapal yang direparasi lebih cepat terselesaikan. Nilai pencapaian untuk indikator kinerja jam kerja efektif konstan pada skor 10 (sepuluh) dengan nilai sebesar 85,71 dengan bobot 21 %. Hal ini terjadi karena jam kerja efektif (operating time) yang digunakan dan jam kerja yang ditetapkan tidak mengalami perubahan. Berdasarkan hasil pengukuran 5 tahun tersebut tampak bahwa pencapaian kinerja untuk indikator jam kerja efektif sudah sangat baik. Nilai pencapaian untuk indikator kinerja ketidakhadiran karyawan konstan pada skor 3 (tiga) dengan nilai sebesar 1,33 dengan bobot 30 %. Hal ini terjadi karena jumlah ketidakhadiran karyawan dengan jumlah karyawan tidak mengalami perubahan. Berdasarkan hasil pengukuran 5 tahun tersebut tampak bahwa pencapaian kinerja untuk indikator ketidakhadiran karyawan cukup baik (sedang). Indikator jumlah ketidakhadiran karyawan pada kasus ini sulit untuk ditingkatkan. Hal tersebut dikarenakan ketidakhadiran karyawan yang terjadi di Dok Pembinaan UPT BTPI masih termasuk dalam penggunaan jatah cuti dalam 50 satu tahun, yaitu masing-masing karyawan mendapatkan hak jatah cuti selama 12 hari dalam satu tahun. Nilai jumlah ketidakhadiran karyawan di Dok Pembinaan UPT BTPI yang didapat bernilai 80 hari dalam satu tahun, sedangkan jika karyawan menggunakan seluruh jatah cutinya dalam satu tahun maka nilai jumlah ketidakhadiran karyawan bernilai sebesar 240 hari. Selain itu, perolehan data jumlah ketidakhadiran karyawan pada kasus ini diperoleh berdasarkan asumsi-asumsi dan rekapitulasi data dua tahun terakhir yang dirata-ratakan. Hal tersebut terjadi karena tidak terdapatnya data tertulis jumlah ketidakhadiran karyawan staf lapang, sedangkan data jumlah ketidakhadiran karyawan staf administrasi hanya ada dari Januari 2010 sampai November 2011. Berdasarkan hasil pengukuran kinerja selama 5 (lima) periode dengan menggunakan model Objective Matrix (OMAX) dapat dibuat tabel pencapaian kinerja total dan tabel prosentase peningkatan kriteria sebagai berikut: Tabel 23 Pencapaian kinerja total dengan menggunakan periode dasar dan periode sebelum No Periode 1 2 3 4 5 2006 2007 2008 2009 2010 Pencapaian Kinerja Total Sekarang Dasar Sebelum 447 300 0 363 300 447 447 300 363 447 300 447 363 300 447 Indeks berdasarkan periode dasar (%) 49 21 49 49 21 Indeks berdasarkan periode sebelum (%) 0 -18,79 23,14 0 -18,79 Berdasarkan Tabel 23 di atas tampak bahwa Dok Pembinaan UPT BTPI mencapai nilai kinerja total tertinggi berdasarkan periode dasar terjadi pada tahun 2006, 2008 dan 2009, dimana peningkatan kinerja yang berhasil dicapai lebih tinggi dibandingkan dengan periode-periode yang lainnya. Pada tahun 2006, 2008 dan 2009 mencatat nilai indeks sebesar 49 %. Hal tersebut dapat terjadi karena jumlah produksi reparasi kapal yang terjadi pada tahun 2006, 2008 dan 2009 lebih besar daripada jumlah produksi yang terjadi pada tahun 2007 dan 2010. Nilai kinerja total tertinggi berdasarkan periode sebelum terjadi pada tahun 2008, dimana peningkatan kinerja yang berhasil dicapai dibandingkan periode sebelumnya sangat tinggi dibandingkan dengan peningkatan kinerja yang terjadi pada tahun-tahun yang lain. Pada tahun 2008 mencatat nilai indeks sebesar 23,14 % jauh meningkat dari tahun sebelumnya yaitu pada tahun 2007 yang mencatat indeks sebesar -18,79 %. Hal tersebut terjadi karena pada tahun 2008 terjadi 51 peningkatan jumlah produksi yang sangat signifikan dari tahun 2007, dimana pada tahun 2008 jumlah produksi reparasi kapal yang terjadi di Dok Pembinaan UPT BTPI mencapai angka 130 kapal sedangkan pada tahun 2007 sebesar 104 kapal. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa pada tahun 2007 terjadi perbaikan slipway sehingga bulan produksi dalam satu tahun pada tahun 2007 hanya sembilan bulan. Perbedaan hasil yang ditunjukkan pada Tabel 24 di atas karena pada nilai indeks terhadap periode dasar menunjukkan peningkatan kinerja yang terjadi dilihat dari jumlah produksi reparasi kapal yang dilakukan oleh Dok Pembinaan UPT BTPI pada masing-masing periode. Periode yang digunakan sebagai pembanding pada pencarian indeks menggunakan periode dasar yaitu 300. Lain halnya dengan nilai indeks terhadap periode sebelum menunjukkan peningkatan kinerja yang dilihat adalah peningkatan jumlah produksi reparasi antara tahun yang ditentukan dengan tahun sebelumnya, sehingga periode yang digunakan sebagai pembanding untuk mencari indeks menggunakan periode sebelumnya (tahun sebelumnya). Secara keseluruhan, kinerja yang dihasilkan oleh Dok Pembinaan UPT BTPI sudah tergolong cukup baik karena pada setiap periode pengukuran banyak indikator kinerja yang pencapaian nilainya stabil pada skor 3 bahkan ada yang stabil pada skor 10. Skor 3 merupakan skala nilai rata-rata dari seluruh periode pengukuran. Meskipun terdapat beberapa indikator kinerja yang pencapaian nilainya berada di bawah skor 3, bahkan mencapai skor 0 yaitu pada tahun 2007 dan 2010. Hal tersebut dikarenakan faktor perbaikan dan perawatan sarana dan prasarana Dok Pembinaan UPT BTPI. Tentunya diharapkan pencapaian kinerja untuk semua indikator dapat melebihi nilai rata-rata pengukuran karena hal itu menunjukkan adanya perbaikan atau peningkatan kerja yang lebih baik. Namun kecenderungan yang terjadi pada sebagian besar nilai indikator-indikator kinerja yang diukur setiap periode ini ada yang stabil dan ada juga yang fluktuatif, dimana tingkat perubahan nilai indikator antara satu periode dengan periode berikutnya bisa meningkat ataupun menurun secara tajam. Hal ini menunjukkan suatu indikasi bahwa upaya perusahaan untuk melakukan perbaikan kinerja masih belum menunjukkan hasil yang lebih baik. 52 Adapun indikator-indikator yang memiliki nilai tergolong rendah (tidak pernah melebihi skor 3) antara lain pemakaian mesin dan jam kerja aktual. Bahkan, indikator-indikator tersebut ada yang berubah secara menurun pada tahun 2007 dan 2010 hingga mencapai skor 0. 5.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dan Langkah Awal yang Dilakukan Dalam Upaya Peningkatan Produktivitas Pada Aktivitas Reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI Faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan produktivitas pada aktivitas reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI menggunakan model OMAX berturut-turut dari yang paling berpengaruh adalah jumlah ketidakhadiran karyawan, tenaga kerja, jam kerja efektif, pemakaian mesin, dan jam kerja aktual. Tingkat pengaruhnya ditentukan berdasarkan bobot kepentingan masing-masing indikator. Jumlah ketidakhadiran karyawan memiliki bobot kepentingan sebesar 30 %, tenaga kerja sebesar 21 %, jam kerja efektif sebesar 21 %, pemakaian mesin sebesar 14 %, dan jam kerja aktual sebesar 14 %. Jumlah ketidakhadiran karyawan memiliki bobot paling tinggi dikarenakan karyawan lapang yang dimiliki oleh Dok Pembinaan UPT BTPI hanya ada tujuh orang dan masing-masing orang sudah memiliki tugasnya sendiri yang tidak bisa digantikan oleh orang lain. Hal tersebut mengakibatkan jika ada satu orang yang tidak hadir, maka tugas orang yang tidak hadir tersebut tidak dapat berjalan yang mengakibatkan kegiatan reparasi kapal tertunda. Tenaga kerja yang terdapat di Dok Pembinaan UPT BTPI terdiri dari dua bagian yaitu tenaga kerja lapang dan tenaga kerja administrasi. Jumlah tenaga kerja lapang yang ada di Dok Pembinaan UPT BTPI lebih sedikit dibanding jumlah tenaga kerja administrasi. Tenaga kerja lapang terdiri dari tujuh orang, sedangkan tenaga kerja administrasi terdiri dari 13 orang. Jumlah tenaga kerja lapang yang lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah tenaga kerja administrasi tersebut mengakibatkan kurang efisiennya kegiatan reparasi kapal di Dok Pembinaan UPT BTPI. Jam kerja efektif antara tenaga kerja lapang dan administrasi di Dok Pembinaan UPT BTPI berbeda. Jam kerja efektif untuk tenaga kerja administrasi lebih lama dibanding tenaga kerja administrasi. Jam kerja efektif tenaga kerja 53 administrasi adalah tujuh jam, sedangkan jam kerja efektif untuk tenaga kerja lapang adalah enam jam. Perbedaan jam kerja efektif tersebut juga mengakibatkan kegiatan reparasi kapal jadi kurang efektif. Pemakaian mesin dan jam kerja aktual memiliki bobot kepentingan yang lebih kecil dibanding dengan indikator lainnya dikarenakan pengaruh kedua indikator ini juga tergantung dari indikator yang lain seperti tenaga kerja dan jumlah ketidakhadiran karyawan. Pemakaian mesin tergantung dari jumlah kapal yang direparasi dan kehadiran karyawan. Semakin banyak kapal yang direparasi dan semakin sering kehadiran karyawan khususnya karyawan yang bertanggung jawab terhadap pengoperasian mesin maka pemakaian mesin di Dok Pembinaan UPT BTPI akan semakin efisien dan kegiatan reparasi kapal di Dok Pembinaan UPT BTPI juga akan efisien. Jam kerja aktual di Dok Pembinaan UPT BTPI juga tergantung dari indikator yang lainnya seperti jumlah kapal yang direparasi, tenaga kerja dan kehadiran karyawan. Semakin banyak kapal yang direparasi, semakin banyak tenaga kerja yang terlibat dan semakin sedikit ketidakhadiran karyawan maka jam kerja aktual di Dok Pembinaan UPT BTPI akan lebih efektif. Hal tersebut mengakibatkan perbandingan antara working time dan jam kerja aktual akan semakin sedikit. Berdasarkan hal tersebut, maka langkah awal yang harus dilakukan dalam upaya peningkatan produktivitas pada aktivitas reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI adalah dengan memperhatikan nilai indikator yang memiliki bobot tertinggi yaitu jumlah ketidakhadiran karyawan dengan bobot kepentingan sebesar 30 %. Indikator ini mampu mencapai skor 3 bahkan secara stabil selama lima tahun berada di skor 3 dengan derajat kepentingan yang cukup tinggi dibandingkan dengan indikator lainnya. Langkah awal yang dapat dilakukan contohnya adalah memberikan pelatihan kepada seluruh karyawan lapang terkait kegiatan reparasi. Pelatihan yang diberikan bertujuan agar seluruh karyawan lapang yang ada di Dok Pembinaan UPT BTPI dapat saling mengisi dalam melakukan tugas reparasi yang ada sehingga jika terjadi absen pada satu atau beberapa orang karyawan tidak akan menyebabkan kegiatan reparasi tertunda. 54 Pencapaian kinerja keseluruhan dari Dok Pembinaan UPT BTPI dapat ditingkatkan bila pihak galangan memiliki komitmen untuk terus melakukan perbaikan pada indikator-indikator yang pencapaiannya masih rendah dan memperhatikan nilai indikator yang memiliki bobot cukup besar serta mempertahankan indikator yang pencapaiannya hampir atau sudah memenuhi target realistis yang ditentukan. Hasil pengukuran kinerja yang dilakukan selama 5 (lima) periode ini dapat memberikan gambaran tentang nilai pencapaian kinerja perusahaan yang sebenarnya sesuai dengan data yang dimiliki galangan. 55 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dan hasil pengolahan serta analisa yang telah diperoleh, maka dapat ditarik kesimpulan: 1) Kriteria produktivitas dan indikator kinerja yang terdapat di Dok Pembinaan Unit Pelaksana Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan (UPT BTPI) adalah kriteria efisiensi dengan indikator tenaga kerja, dan pemakaian mesin; kriteria efektivitas dengan indikator jam kerja aktual, dan jam kerja efektif; serta kriteria inferensial dengan indikator jumlah ketidakhadiran karyawan. 2) Produktivitas galangan Dok Pembinaan UPT BTPI secara garis besar sudah cukup baik karena pada setiap periode pengukuran banyak indikator kinerja yang pencapaian nilainya stabil pada skor 3 sebagai skala nilai rata-rata dari seluruh periode, bahkan ada yang stabil pada skor 10. Terdapat beberapa indikator kinerja dengan pencapaian nilai pada skor 0 disebabkan karena adanya perbaikan dan perawatan sarana dan prasarana Dok Pembinaan UPT BTPI yang menyebabkan terhentinya aktivitas reparasi selama 3 bulan pada tahun 2007 dan 3 bulan pada tahun 2010. 3) Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produktivitas galangan di Dok Pembinaan UPT BTPI dari yang paling berpengaruh adalah jumlah ketidakhadiran karyawan dengan nilai bobot kepentingan sebesar 30 %, pemakaian tenaga kerja dengan bobot kepentingan sebesar 21 %, jam kerja efektif dengan bobot kepentingan sebesar 21 %, pemakaian mesin dengan bobot kepentingan sebesar 14 %, dan jam kerja aktual produksi dengan bobot kepentingan sebesar 14 %. 4) Langkah awal yang dilakukan dalam upaya peningkatan produktivitas di Dok Pembinaan UPT BTPI adalah dengan memperhatikan faktor yang paling berpengaruh pada kasus pengukuran produktivitas Dok Pembinaan UPT BTPI ini adalah jumlah ketidakhadiran karyawan dengan bobot sebesar 30%. Salah satu langkah awal yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pelatihan kepada seluruh karyawan terkait kegiatan reparasi sehingga seluruh karyawan dapat saling mengisi dalam melakukan tugas reparasi yang ada. 56 6.2 Saran Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka saran-saran yang dapat disampaikan adalah: 1) Pencapaian kinerja seluruh indikator secara umum sudah cukup baik. Namun tetap memerlukan perhatian dari Dok Pembinaan UPT BTPI untuk dapat terus ditingkatkan agar target yang ingin dicapai dapat terpenuhi karena selisih antara target yang ingin dicapai dengan keadaan yang sebenarnya masih cukup jauh. 2) Melakukan evaluasi untuk mengetahui penyebab terjadinya penurunan kinerja yang dicapai dan menentukan langkah-langkah perbaikan yang tepat dan tidak mengganggu produksi yang dapat dilakukan untuk mendorong perusahaan untuk terus meningkatkan kinerja sehingga akhirnya mampu meningkatkan daya saing dengan galangan lain. 3) Perbaikan dan penambahan peralatan serta perlengkapan, meningkatkan kedisiplinan karyawan, memberikan pelatihan, dan mengoptimalkan pemakaian mesin dapat meningkatkan produktivitas pada Dok Pembinaan UPT BTPI. 4) Pengukuran produktivitas menggunakan model objective matrix (OMAX) dapat juga digunakan untuk mengukur produktivitas komponen lain seperti produktivitas alat tangkap, produktivitas kapal perikanan, dan lain-lain sehingga dapat diketahui upaya peningkatan produktivitasnya. PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PADA AKTIVITAS REPARASI DI DOK PEMBINAAN UPT BTPI, MUARA ANGKE, JAKARTA MENGGUNAKAN MODEL OBJECTIVE MATRIX (OMAX) PRAMUDYA PRATAMA PUTRA PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi Peningkatan Produktivitas Pada Aktivitas Reparasi Di Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta Menggunakan Model Objective Matrix (OMAX) adalah karya saya sendiri dengan arahan dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya ilmiah yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini. ABSTRAK PRAMUDYA PRATAMA PUTRA, C44070006. Peningkatan Produktivitas Pada Aktivitas Reparasi Di Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta Menggunakan Model Objective Matrix (OMAX). Dibimbing oleh VITA RUMANTI KURNIAWATI dan BUDHI HASCARYO ISKANDAR. Orientasi pembangunan nasional telah mengalami perubahan dari pembangunan daratan menjadi eksplorasi kelautan. Pasar bebas yang berlaku di wilayah ASEAN menyebabkan kegiatan perdagangan semakin meningkat khususnya Muara Angke. Kapal sebagai sarana pendukung kegiatan tersebut juga akan mengalami kenaikan. Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencanangkan program penambahan armada kapal perikanan pada tahun 2011 sebanyak 1000 unit kapal. Ketiga hal tersebut menyebabkan galangan kapal harus meningkatkan produktivitasnya. Dok Pembinaan Unit Pelaksana Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan (UPT BTPI) merupakan galangan kapal yang berperan sebagai industri penunjang perikanan tangkap di Muara Angke dan hanya melayani kegiatan reparasi kapal. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui kriteria produktivitas dan indikator kinerja galangan, mengukur tingkat produktivitas, mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan produktivitas, serta mengidentifikasi langkah awal peningkatan produktivitas Dok Pembinaan UPT BTPI Muara Angke. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus dengan pengukuran produktivitas menggunakan model OMAX. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa produktivitas Dok Pembinaan UPT BTPI secara keseluruhan cukup baik. Banyak indikator yang pencapaian nilainya stabil pada skor 3. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada 5 indikator yang juga termasuk faktor produktivitas Dok Pembinaan UPT BTPI yaitu tenaga kerja, pemakaian mesin, jam kerja aktual, jam kerja efektif, dan ketidakhadiran karyawan. Langkah awal dalam usaha peningkatan produktivitas adalah dengan memperhatikan prioritas utama faktor produksi dalam melakukan perbaikan. Langkah awal untuk peningkatan produktivitas didasarkan pada faktor yang paling berpengaruh yaitu jumlah ketidakhadiran karyawan dengan bobot sebesar 30% dengan cara diadakan pelatihan reparasi kapal untuk seluruh karyawan. Kata kunci: OMAX, pengukuran produktivitas, peningkatan produktivitas © Hak cipta IPB, Tahun 2012 Hak cipta dilindungi Undang-undang 1) Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber: a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah. b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB 2) Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa seizin IPB. PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PADA AKTIVITAS REPARASI DI DOK PEMBINAAN UPT BTPI, MUARA ANGKE, JAKARTA MENGGUNAKAN MODEL OBJECTIVE MATRIX (OMAX) PRAMUDYA PRATAMA PUTRA Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 Judul Skripsi : Peningkatan Produktivitas Pada Aktivitas Reparasi Di Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta Menggunakan Model Objective Matrix (OMAX) Nama Mahasiswa : Pramudya Pratama Putra Nomor Induk : C44070006 Program Studi : Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap Disetujui : Pembimbing I, Pembimbing II, Vita Rumanti Kurniawati, S.Pi, MT NIP. 19820911 200501 2 001 Dr. Ir. Budhi Hascaryo Iskandar, M.Si NIP. 19670215 199103 1 004 Diketahui: Ketua Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Dr. Ir. Budy Wiryawan, M.Sc NIP. 19621223 198703 1 001 Tanggal lulus: KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi ini ditujukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar sarjana pada Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan pada bulan Juli sampai September 2011 ini adalah produktivitas galangan kapal, dengan judul Peningkatan Produktivitas Pada Aktivitas Reparasi Di Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta Menggunakan Model Objective Matrix (OMAX). Penulis mengharapkan adanya saran dan kritik untuk penyempurnaan skripsi ini serta laporan penelitian yang akan datang. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi yang memerlukannya. Bogor, Januari 2012 Pramudya Pratama Putra UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada: 1. Vita Rumanti Kurniawati, S.Pi, MT dan Dr. Ir. Budhi Hascaryo Iskandar, M.Si atas arahan dan bimbingannya selama penyusunan skripsi ini; 2. Dr. Ir. Muhammad Imron, M.Si selaku Komisi Pendidikan Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan dan Dr. Yopi Novita, S.Pi, M.Si selaku penguji tamu; 3. Dosen Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan atas ilmu yang telah diberikan selama ini; 4. Ir. Sutrisno, M.Si selaku Kepala Pusat UPT BTPI, Ir. Heriyanti, M.Si selaku Kepala Sub Bagian Tata Usaha UPT BTPI, Abdul Malik Adnan, S.Sos, MM selaku Kepala Seksi Pelayanan Pemeliharaan dan Perbaikan Sarana Penangkapan Ikan UPT BTPI, Arief Prakoso, ST selaku staff UPT BTPI, dan Apit Awaludin selaku Juru Alur UPT BTPI, serta pihak pegawai dan pekerja lapang UPT BTPI lainnya; 5. Bapak, ibu, adik-adik, dan saudara sepupu saya semuanya yang selalu memberikan do’a, motivasi, inspirasi dan semangat kepada penulis; 6. Bayu Isra Liswardhana, Roisul Ma’arif, dan Veteriani Nova Milasari yang selalu memberikan semangat dan motivasi kepada penulis; 7. Teman-teman seperjuangan Khaerul Anwar, Nooke Nofryan, Ndalu Kristiono Adi, dan Anton atas segala dorongan, inspirasi, pengertian dan semangat kepada penulis; 8. Teman-teman PSP 44, serta adik-adik kelas PSP 45 dan PSP 46 atas segala dorongan, inspirasi dan semangat kepada penulis; 9. Pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca. RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Bukit Tinggi pada tanggal 6 Maret 1989 dari pasangan Bapak Jhon Hendri dan Ibu Sriyana. Penulis merupakan anak pertama dari lima bersaudara. Penulis lulus dari SMA plus Bina Bangsa Sejahtera Bogor pada tahun 2007 dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB. Penulis memilih Program Studi Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap, Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Selama mengikuti perkuliahan, penulis menjadi asisten mata kuliah Metode Observasi Bawah Air, Daerah Penangkapan Ikan, dan Rekayasa Tingkah Laku Ikan pada tahun ajaran 2009/2010. Tahun ajaran 2010/2011, penulis menjadi asisten mata kuliah Daerah Penangkapan Ikan, Rekayasa Tingkah Laku Ikan, Kepelautan, dan Eksplorasi Penangkapan Ikan. Penulis juga aktif berorganisasi diantaranya sebagai staff Divisi Penelitian dan Pengembangan Keprofesian (Litbangprof) Himpunan Mahasiswa Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (HIMAFARIN) FPIK periode 2000-2010, dan Ketua Divisi Pengembangan Minat dan Bakat (PMB) HIMAFARIN FPIK periode 2010-2011. Dalam rangka memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Program Studi Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap, Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, penulis melakukan penelitian dan menyusun skripsi dengan judul “Peningkatan Produktivitas pada Aktivitas Reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI Muara Angke, Jakarta Menggunakan Model Objective Matrix (OMAX)” dan dinyatakan lulus dalam sidang sarjana pada tanggal 26 Januari 2012. DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI...................................................................................................... x DAFTAR TABEL ............................................................................................. xii DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xiii DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xiv 1 PENDAHULUAN ......................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 1 1.2 Tujuan Penelitian .................................................................................... 3 1.3 Manfaat Penelitian .................................................................................. 3 2 TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................... 4 2.1 Pengertian Produktivitas ......................................................................... 4 2.2 Manfaat Pengukuran Produktivitas ......................................................... 4 2.2.1 Manfaat pengukuran produktivitas pada organisasi level Internasional, Nasional, dan Industri ............................................. 4 2.2.2 Manfaat pengukuran produktifitas pada organisasi level perusahaan (company) ................................................................... 5 2.3 Produktivitas Galangan ........................................................................... 6 2.3.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas galangan ........... 6 2.3.2 Pengukuran produktivitas galangan ............................................... 7 2.3.3 Konsep efisiensi dan efektivitas .................................................... 8 2.3.4 Konsep utilitas ............................................................................... 9 2.3.5 Usaha-usaha untuk meningkatkan produktivitas galangan............10 2.4 Metode Pengukuran Produktivitas Model Objective Matrix (OMAX) .. 11 2.4.1 Alasan pemilihan metode OMAX ................................................. 12 2.4.2 Bentuk dan susunan model OMAX ............................................... 13 2.4.3 Penyusunan matrik......................................................................... 15 2.4.4 Pengoperasian matrik..................................................................... 18 3 METODOLOGI ........................................................................................... 20 3.1 3.2 3.3 3.4 Tempat dan Waktu Penelitian ................................................................. 20 Metode Penelitian ....................................................................................20 Pengumpulan Data...................................................................................20 Pengolahan dan Analisis Data ................................................................. 21 4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN ......................................... 26 4.1 4.2 4.3 4.4 Produktivitas Galangan ...........................................................................26 Organisasi ................................................................................................ 30 Sarana dan Prasarana ...............................................................................32 Sumberdaya Manusia ..............................................................................33 x 5 HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................... 35 5.1 Kriteria Produktivitas dan Indikator Kinerja ..........................................35 5.2 Model Objective Matrix (OMAX) .......................................................... 36 5.2.1 Penilaian indikator kinerja ............................................................. 36 5.2.2 Pencapaian awal dari indikator kinerja (skor 3)............................. 42 5.2.3 Target realistis dan terendah indikator kinerja (skor 10 dan 0) ..... 43 5.2.4 Bobot indikator kinerja .................................................................. 44 5.2.5 Penyusunan tabel objective matrix (OMAX) ................................. 45 5.3 Tingkat Produktivitas Pada Aktivitas Reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI ........................................................................................................47 5.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dan Langkah Awal yang Dilakukan Dalam Upaya Peningkatan Produktivitas Pada Aktivitas Reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI ..................................................................... 52 6 KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................... 55 6.1 Kesimpulan ............................................................................................. 55 6.2 Saran ....................................................................................................... 56 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 57 LAMPIRAN ....................................................................................................... 59 xi DAFTAR TABEL Halaman 1 Kriteria-kriteria dalam pengukuran produktivitas menggunakan model OMAX oleh Mahendra (2007) ...................................................................... 21 2 Produksi Dok Pembinaan UPT BTPI berdasarkan jenis kapal dalam periode 2006 sampai 2010 ............................................................................29 3 Produksi Dok Pembinaan UPT BTPI berdasarkan jenis reparasi dalam periode 2006 sampai 2010 ............................................................................ 30 4 Produksi Dok Pembinaan UPT BTPI berdasarkan ukuran kapal dalam periode 2006 sampai 2010 ............................................................................ 30 5 Peralatan yang digunakan di Dok Pembinaan UPT BTPI ............................ 32 6 Alokasi tenaga kerja tetap langsung di Dok Pembinaan UPT BTPI.............34 7 Alokasi tenaga kerja tetap tidak langsung di Dok Pembinaan UPT BTPI.... 34 8 Nilai indikator tenaga kerja ...........................................................................36 9 Nilai indikator pemakaian mesin .................................................................. 37 10 Jumlah kapal yang melakukan reparasi berdasarkan ukuran di Dok Pembinaan UPT BTPI...................................................................................38 11 Nilai indikator jam kerja aktual produksi .....................................................39 12 Nilai indikator jam kerja efektif .................................................................... 41 13 Nilai indikator jumlah ketidakhadiran .......................................................... 41 14 Nilai pencapaian awal (skor 3) ..................................................................... 43 15 Nilai target realistis (skor 10) ....................................................................... 43 16 Nilai terendah (skor 0) ..................................................................................44 17 Nilai pembobotan .......................................................................................... 44 18 Matriks tahun 2006 .......................................................................................45 19 Matriks tahun 2007 .......................................................................................45 20 Matriks tahun 2008 .......................................................................................46 21 Matriks tahun 2009 .......................................................................................46 22 Matriks tahun 2010 .......................................................................................47 23 Pencapaian kinerja total dengan menggunakan periode dasar dan periode sebelum ........................................................................................................50 xii DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Skema hubungan antara efisiensi, efektivitas dan produktivitas. ................. 8 2 Contoh bentuk table matriks ......................................................................... 25 3 Jumlah kapal yang melakukan reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI ....... 27 4 Perbandingan fluktuasi produksi reparasi kapal Dok Pembinaan UPT BTPI dan produksi reparasi kapal seluruh galangan yang ada di lingkungan UPT BTPI dari tahun 2006 sampai 2010 .............................................................. 28 5 Struktur Organisasi UPT BTPI ..................................................................... 31 6 Layout Dok Pembinaan UPT BTPI Muara Angke........................................ 33 7 Fluktuasi produksi reparasi kapal tahun 2006 sampai 2010 di Dok Pembinaan UPT BTPI ..................................................................................................... 39 xiii DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Kuesioner Penentuan Sasaran......................................................................... 59 2 Kuesioner Penentuan Pembobotan ................................................................. 61 3 Kegiatan Pelayanan Docking Kapal BTPI Tahun 2006 ................................. 64 4 Kegiatan Pelayanan Docking Kapal BTPI Tahun 2007 ................................. 68 5 Kegiatan Pelayanan Docking Kapal BTPI Tahun 2008 ................................. 71 6 Kegiatan Pelayanan Docking Kapal BTPI Tahun 2009 ................................. 75 7 Kegiatan Pelayanan Docking Kapal BTPI Tahun 2010 ................................. 79 8 Hasil kuesioner penentuan besarnya sasaran (target yang dapat dicapai untuk tiap-tiap kriteria produktivitas ........................................................................ 82 9 Hasil kuesioner penentuan bobot ................................................................... 83 xiv 1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Orientasi pembangunan nasional telah mengalami perubahan dari konsep pembangunan daratan mengarah ke eksplorasi kelautan. Sebagai negara bahari dan kepulauan terbesar di dunia, Dahuri (2005) menyatakan bahwa sedikitnya terdapat 10 sektor yang dapat dikembangkan untuk memajukan dan memakmurkan Indonesia, salah satunya adalah industri dan jasa maritim termasuk industri perkapalan (galangan kapal). Industri galangan kapal merupakan suatu industri yang menjadi salah satu faktor utama penunjang industri transportasi laut di Indonesia. Industri galangan kapal berperan dalam penyediaan kapal baik sebagai sarana transportasi untuk muatan barang ataupun orang. Selain itu, industri galangan juga berperan dalam pemeliharaan dan perbaikan kapal. Potensi galangan kapal di Indonesia saat ini tercatat ada sekitar 240 galangan kapal yang sebagian besar adalah galangan kapal dalam skala kecil. Windyandari (2008) menyatakan bahwa diantara 240 galangan tersebut terdapat 4 buah galangan kapal yang tergolong dalam skala besar yaitu: PT Dok & Perkapal Kodja Bahari, PT PAL Indonesia, PT Dok dan Perkapalan Surabaya, dan PT Industri Kapal Indonesia. Galangan-galangan dalam skala besar tersebut merupakan galangan kapal milik pemerintah Indonesia. Dengan diberlakukannya pasar bebas untuk wilayah ASEAN, maka volume perdagangan di Indonesia akan mengalami kenaikan. Penggunaan jasa kapal sebagai salah satu penunjang kegiatan tersebut akan ikut mengalami kenaikan, baik secara kuantitas, ukuran dan jenis kapal yang beroperasi, sehingga kapalkapal yang singgah dan berlabuh di Indonesia khususnya Jakarta akan mengalami peningkatan. Peningkatan volume kegiatan industri transportasi laut perlu didukung dengan peningkatan pelayanan galangan khususnya di Jakarta, baik untuk memenuhi kebutuhan akan bangunan baru maupun reparasi kapal. Peningkatan ini juga menuntut setiap dok dan galangan kapal untuk selalu meningkatkan produktivitasnya. Selain sebagai industri penunjang transportasi laut, galangan kapal juga berperan sebagai industri penunjang perikanan tangkap. Galangan kapal dalam hal 2 ini berperan sebagai industri penyediaan, pemeliharaan dan perbaikan kapal perikanan sehingga kegiatan operasi penangkapan ikan dapat berjalan dengan lancar. Dalam perikanan tangkap, kapal perikanan merupakan salah satu unit penangkapan ikan yang penting keberadaannya. Kapal perikanan berfungsi sebagai sarana transportasi nelayan menuju fishing ground, ataupun sebaliknya sebagai sarana transportasi untuk mengangkut ikan hasil tangkapan menuju fishing base. Selain sebagai sarana transportasi, di atas kapal perikanan, operasi penangkapan ikan juga dilakukan. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan membangun kapal perikanan sebanyak 1.000 buah hingga tahun 2014. Kapal tersebut berukuran di atas 30 Gross Tonnage (GT). Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad saat membuka Rapat Kerja Teknis Ditjen Perikanan Tangkap Tahun 2011, di Hotel Clarion, Makassar pada hari Senin tanggal 28 Februari 2011 (Ade, 2011). Berdasarkan hal tersebut, potensi pasar untuk reparasi kapal perikanan akan semakin besar, sehingga menuntut kesiapan galangan untuk menyerap potensi ada tersebut. Dok Pembinaan Unit Pelaksana Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan (UPT BTPI) merupakan salah satu galangan kapal yang berperan sebagai industri penunjang perikanan tangkap di Muara Angke, Jakarta. Dalam rangka menjalankan peranannya sebagai industri penunjang perikanan tangkap di Indonesia, serta ikut serta dalam program peningkatan armada kapal perikanan yang diungkapkan oleh Fadel Muhammad, Dok Pembinaan UPT BTPI harus meningkatkan produktivitasnya baik untuk pemenuhan kebutuhan bangunan kapal baru ataupun reparasi. Produktivitas adalah salah satu faktor yang penting dalam mempengaruhi proses kemajuan dan kemunduran suatu galangan. Oleh sebab itu, perlu dilakukan pengukuran produktivitas di galangan yang bertujuan untuk mengetahui produktivitas yang telah dicapai dan merupakan dasar dari perencanaan bagi peningkatan produktivitas di masa mendatang. Berdasarkan hal-hal yang telah diutarakan di atas, maka perlu dilakukan penelitian tentang peningkatan produktivitas pada aktivitas reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta. Model pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini adalah Objective Matrix (OMAX). Alasan penggunaan model 3 OMAX adalah karena model ini mudah digunakan, dalam pengoperasiannya melibatkan seluruh jajaran karyawan dari pekerja tingkat bawah sampai manajer tingkat atas, dan model ini menggabungkan seluruh faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas. 1.2 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah: 1) Mengidentifikasi kriteria produktivitas dan indikator kinerja pada aktivitas reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI; 2) Mengukur tingkat produktivitas pada aktivitas reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI berdasarkan model OMAX; 3) Menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan produktivitas pada aktivitas reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI berdasarkan model OMAX; dan 4) Mengidentifikasi langkah awal yang harus dilakukan dalam peningkatan produktivitas dengan menggunakan model OMAX sehingga dapat memperbaiki kinerja galangan Dok Pembinaan UPT BTPI. 1.3 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pihak perusahaan, untuk membantu mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap produktivitas dan langkah apa yang diambil untuk meningkatkan produktivitas melalui pengukuran kinerja. 2 2.1 TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Produktivitas Secara umum produktivitas mengandung pengertian perbandingan antara hasil yang dicapai (output) dengan keseluruhan atau sebagian sumberdaya (input) yang digunakan. Produktivitas dapat dirumuskan sebagai berikut (Soeharto,A & Summant, 1984 yang dikutip oleh Iryanto, 2008): Menurut jurnal Shipbuilding Productivity and competitiveness (Michigan University, 1998) yang dikutip oleh Iryanto (2008) secara umum produktivitas adalah sejumlah output yang dihasilkan dari sejumlah input yang diberikan. Input ini bisa bermacam-macam, misalnya manusia (man), bahan (material), modal (money), metode (method), dan peralatan (machine). Produktivitas merupakan isu strategis yang luas dan merupakan sesuatu yang harus diperhatikan baik oleh pemerintah, managemen, maupun para pekerja. 2.2 Manfaat Pengukuran Produktivitas 2.2.1 Manfaat pengukuran produktivitas pada organisasi level Internasional, Nasional, dan Industri Pengukuran produktivitas pada level internasional dan nasional mempunyai manfaat yang sangat banyak dan hampir sama. Manfaatnya antara lain adalah membantu mengevaluasi penampilan, perencanaan, kebijakan, pendapatan, upah dan harga melalui faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi pendapatan. Manfaat lainnya adalah membandingkan sektor-sektor ekonomi yang berbeda untuk menentukan prioritas kebijakan bantuan, membantu mengetahui pertumbuhan berbagai sektor ekonomi, dan mengetahui pengaruh perdagangan internasional terhadap perkembangan ekonomi suatu Negara (Summanth, 1984 yang dikutip oleh Sunarto, 1999). Menurut Sinungan (1997) yang dikutip oleh Sunarto (1999), pengukuran produktivitas pada level internasional juga menunjukkan indeks produktivitas masing-masing membandingkan negara yang dapat digunakan produktivitas antar negara untuk dan mengetahui tingkat dan pertumbuhan 5 pembangunan ekonomi dalam temporal waktu tertentu. Perbandingan- perbandingan semacam ini merupakan landasan pertimbangan untuk sektor-sektor pembangunan ekonomi yang selanjutnya dapat digunakan untuk menentukan kebijakan yang akan diambil pada waktu ke depan dan mendatang. Pengukuran produktivitas pada tingkat nasional mempunyai banyak manfaat antara lain adalah untuk menentukan perubahan pelayanan masyarakat dari waktu ke waktu, efisiensi, dan efektivitas yang relatif dari pemerintah daerah. Di samping itu pengukuran produktivitas level nasional digunakan oleh pemerintah pusat untuk menyelidiki lingkup persoalan dan mengevaluasi pengaruh dari program nasional yang telah dirancang, serta untuk melengkapi informasi pengerahan kembali sumber-sumber masyarakat. Pengukuran produktivitas pada level Industri digunakan untuk mengetahui indeks produktivitas pada masingmasing sektor industri. Indeks tersebut selanjutnya dapat dibandingkan untuk mengetahui perkembangan dan kinerja masing-masing industri. Pengetahuan tentang perkembangan dan kinerja tersebut dapat digunakan untuk membuat kebijakan-kebijakan yang kondusif pada sektor industri yang dirasa masih kurang, dan membuat prioritas yang seimbang sehingga industri dapat berkembang dan berjalan dengan baik dari industri hulu ke hilir. 2.2.2 Manfaat pengukuran produktivitas pada organisasi level perusahaan (company) Pengukuran produktivitas pada level perusahaan digunakan sebagai sarana manajemen untuk menganalisa dan mendorong efisiensi produksi. Artinya, pengukuran produktivitas akan meninggikan kesadaran dan minat pekerja atau pegawai pada tingkat dan rangkaian produktivitas. Bahkan, pengukuran produktivitas yang relatif kasar ataupun data yang kurang memenuhi syarat pun, ternyata memberikan dasar bagi penganalisaan proses yang konstruktif dan produktif (Sinungan, 1997 yang dikutip oleh Sunarto, 1999). Manfaat lain yang diperoleh dari pengukuran produktivitas mungkin terlihat pada penempatan perusahaan yang tetap dalam menentukan target atau sasaran tujuan yang nyata dan pertukaran informasi antara tenaga kerja dan manajemen secara periodik terhadap masalah-masalah yang sering berkaitan (Summanth, 1984 yang dikutip oleh Sunarto 1999). 6 2.3 Produktivitas Galangan 2.3.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas galangan Sesuatu yang sangat penting untuk diketahui dalam mempelajari produktivitas galangan adalah faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya. Diharapkan dengan mengetahui faktor-faktor ini, akan dapat mengetahui cara-cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan produktivitas. Faktor-faktor penting yang dapat mempengaruhi produktivitas galangan adalah karena adanya kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh galangan, kelemahan-kelemahan tersebut dikategorikan menjadi 4 (empat) kelompok (Al-Kattan, 1992 yang dikutip oleh Sunarto, 1999), yaitu: 1) Kelemahan desain. Kelemahan desain ini terlihat dari kesalahan desain kapal yang dibuat galangan atau desainer. Kesalahan tersebut mengakibatkan bangunan kapal baru tidak sesuai dengan yang diinginkan. Kesalahan desain ini diantaranya adalah: kesalahan sebagian atau keseluruhan dari gambar atau perhitungan mulai dari rencana garis, rencana umum, penampang melintang, gambar propeller, sampai gambar-gambar produksi dan perhitungan-perhitungan mulai dari perhitungan konstruksi, grafik bonjean, grafik stabilitas, hidrostatik, peluncuran, dan kekuatan. 2) Kelemahan produksi. Kelemahan produksi dapat disebabkan karena kelemahan penggunaan level teknologi, misalnya adalah penggunaan teknologi yang tidak tepat. Hal ini akan menghambat proses produksi, sehingga waktu penyelesaian produksi akan bertambah lama. Bertambah lamanya waktu penyelesaian produksi akan mengakibatkan biaya produksi bertambah, yang pada akhirnya akan mengurangi produktivitas. Kelemahan produksi juga dapat terjadi karena kesalahan produksi yang terjadi pada area bengkel-bengkel produksi mulai dari fabrikasi sampai dengan grand assembly. Kelemahan-kelemahan produksi yang lainnya dapat terjadi pada kelemahan automatisasi dan perawatan peralatan-peralatan produksi. Kelemahan perawatan peralatan-peralatan produksi dapat terjadi karena kesalahan penjadwalan perawatan. Hal ini dapat mengakibatkan kerusakan bertambah fatal, sehingga dapat menghambat proses produksi atau bahkan aktivitas produksi dapat berhenti 7 total. Proses produksi yang terhambat akan mengakibatkan waktu proses produksi akan bertambah lama, yang pada akhirnya akan dapat mengurangi produktivitas. 3) Kelemahan sistem manajemen. Kelemahan sistem manajemen diantaranya dapat berupa kelemahan training, kualitas, perencanaan, estimasi, kontrol dan sistem pengawasan. Sistem manajemen adalah salah satu faktor produksi yang tidak secara nyata langsung tampak pada proses produksi tetapi pengaruhnya sangat besar. Jika terjadi kelemahan sistem manajemen, maka seluruh proses produksi akan terhambat mulai dari desain hingga pekerjaan di bengkel-bengkel. Hal tersebut pada akhirnya akan menghambat proses produksi dan kemudian membuat biaya produksi membengkak, sehingga dapat mengurangi produktivitas. 4) Kelemahan tenaga kerja. Kelemahan tenaga kerja dapat disebabkan karena kelemahan motivasi, sehingga semangat untuk bekerja keras berkurang dan juga bisa memungkinkan terjadinya kesalahan-kesalahan saat proses produksi. Hal tersebut pada akhirnya akan dapat mengurangi produktivitas. Kelemahan tenaga kerja yang lain dapat disebabkan diantaranya karena kelemahan kemampuan, kelemahan kesehatan, kemalasan, absen, sakit. Pada akhirnya kelemahan-kelemahan tenaga kerja ini akan mengurangi produktivitas tenaga kerja (labor productivity) dan produktivitas perusahaan (company) secara keseluruhan. 2.3.2 Pengukuran produktivitas galangan Pengukuran produktivitas galangan yang biasa dilakukan adalah pengukuran produktivitas peralatan produksi dan pengukuran produktivitas tenaga kerja (labor productivity). Parameter-parameter pengukuran produktivitas produksi adalah ukuran utilitas, efisiensi, beban kerja (load faktor), dan rasio penggunaan berth (berth occupation ratio) (Anugrah, 1996). Parameter-parameter pengukuran produktivitas tenaga kerja adalah Jo/ton baja, JO/pipa, JO/m/kabel dan parameter yang lain yang sejenis (Al-Kattan, 1992 yang dikutip oleh Sunarto, 1999). Ukuran-ukuran produktivitas tersebut terbatas pada peralatan produksi dan tenaga kerja saja, sehingga tidak dapat menunjukkan produktivitas galangan yang menggambarkan kemampuan galangan (perusahaan) secara total dan keseluruhan. 8 2.3.3 Konsep efisiensi dan efektivitas Soeharto, A dan Soejitno (1996) yang dikutip oleh Mahendra (2007), menyatakan bahwa efektivitas berhubungan dengan output, dimana di dalam proses produksi dapat dipenuhi kebutuhan yang telah ditetapkan (ketepatan, kuantitas, kualitas, waktu). Jika prosentase target di atas semakin besar, maka efektivitas yang dicapai semakin tinggi. Walaupun tingkat efisiensi yang dihasilkan tinggi, bukan berarti terjadi peningkatan efektivitas. Diperlukan strategi yang paling menguntungkan untuk mencapai tingkat efektivitas dan efisiensi yang tinggi, sehingga produktivitas yang maksimal akan dicapai. Kualitas merupakan suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh telah terpenuhi berbagai persyaratan, spesifikasi atau harapan. Konsep ini hanya dapat berorientasi pada masukan, keluaran atau keduanya. Kualitas juga berhubungan dengan proses produksi, dimana proses produksi tersebut akan berpengaruh pada kualitas yang dicapai. Hubungan antara efisiensi, efektivitas, kualitas dan produktivitas dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1 Skema hubungan antara efisiensi, efektivitas dan produktivitas (Soeharto, A dan Soejitno, 1996 yang dikutip oleh Mahendra, 2007) Berdasarkan skema di atas dapat dilihat bahwa produktivitas mencakup efisiensi, efektivitas, dan kualitas. Jadi dapat dikatakan bahwa produktivitas adalah : 9 Efisiensi suatu peralatan menunjukkan kedayagunaan peralatan tersebut. Dengan kata lain efisiensi mengacu pada tingkat intensitas kerja dari peralatan tersebut. Suatu peralatan dikatakan memiliki efisiensi tinggi jika dalam suatu waktu tertentu rate produk aktual mendekati rate produk terpasang. Rate production adalah perbandingan antara produk dengan satuan waktu terkecil, dalam hal ini adalah jam, atau dapat ditunjukkan dengan rumus sebagai berikut (Groover, 1990 yang dikutip oleh Sunarto, 1999): Berdasarkan hal tersebut, bila dirumuskan efisiensi adalah perbandingan antara rate produk aktual terhadap rate produk terpasang (Dilworth, 1989 yang dikutip oleh Sunarto, 1999), dapat dituliskan sebagai berikut : 2.3.4 Konsep utilitas Utilitas bisa diartikan sebagai tingkat penggunaan suatu fasilitas produksi. Dengan kata lain utilitas adalah ukuran yang menunjukkan seberapa baik sumberdaya produksi (Groover, 1990 yang dikutip oleh Sunarto, 1999). Suatu peralatan dikatakan mempunyai utilitas tinggi, apabila peralatan tersebut dapat menghasilkan produk aktual mendekati produk terpasangnya atau dengan kata lain utilitas mendekati 100%. Sebaliknya utilitas dikatakan rendah apabila fasilitas tidak dioperasikan mendekati kapasitasnya. Hal ini biasanya akan mengakibatkan "financial penalty", karena perusahaan tersebut harus membiayai sarana produksi yang tidak dimanfaatkan secara penuh. Utilitas secara empiris bisa dirumuskan sebagai perbandingan antara output dari fasilitas produksi relatif terhadap kapasitas terpasangnya. Pada kasus-kasus tertentu, meningkatnya angka utilitas peralatan belum tentu diikuti dengan naiknya efisiensi peralatan. Hal ini bisa dimengerti, karena 10 jika penambahan jam produktif misalnya dengan mengeliminasi waktu yang siasia, jika tidak diikuti dengan intensitas produk yang relatif tinggi maka akan terjadi penurunan efisiensi. Tetapi biasanya yang terjadi adalah jika waktu produktif ditingkatkan biasanya diikuti dengan kenaikan produk, sehingga akan cukup meningkatkan rate of production, sehingga efisiensi akan naik juga. Menurut Anderson (1980) yang dikutip oleh Mahendra (2007) yang dimaksud dengan utilitas adalah hubungan antara waktu aktual yang digunakan untuk produksi dengan waktu mesin total yang tersedia. 2.3.5 Usaha-usaha untuk meningkatkan produktivitas galangan Ada banyak cara untuk meningkatkan produktivitas baik pada organisasi level internasional, nasional, industri dan perusahaan, namun dari berbagai macam cara tersebut pada dasarnya adalah sama. Metode untuk meningkatkan produktivitas perusahaan dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) kemungkinan (Crismianto, 1997): 1) Metode pemanfaatan sumberdaya yang lebih sedikit untuk mendapatkan jumlah produk yang sama; 2) Metode pemanfaatan sumberdaya yang lebih sedikit untuk mendapatkan jumlah produk yang lebih besar; 3) Metode pemanfaatan sumberdaya yang sama untuk mendapatkan jumlah produk yang lebih besar; dan 4) Metode pemanfaatan sumberdaya yang lebih banyak untuk mendapatkan jumlah produk yang jauh lebih besar. Di samping keempat metode tersebut, lazim juga digunakan empat metode lain yang dapat meningkatkan produktivitas perusahaan dengan efektif. Keempat metode tersebut adalah: 1) Metode peningkatan produktivitas dengan menghemat tenaga kerja; 2) Metode peningkatan produktivitas dengan menerapkan metode kerja yang paling tepat; 3) Metode peningkatan produktivitas dengan memanfaatkan sumberdaya manusia dengan lebih efektif, yaitu dengan menyempurnakan manjemen personalia; dan 11 4) Metode peningkatan produktivitas dengan melenyapkan praktek-praktek yang tidak produktif. Metode-metode di atas tidak selamanya menguntungkan, karena upaya memperkenalkan mesin, teknologi, dan metode baru seringkali berarti pengangguran bagi tenaga kerja. Oleh karena itu, kadang-kadang metode ini bertentangan dengan tanggung jawab perusahaan. Parameter-parameter yang mempengaruhi besar dan kecilnya pengukuran produktivitas galangan sangat komplek, yaitu mulai dari input produksi, proses produksi, dan output produksi. Hasil dari pengukuran produktivitas galangan kapal dapat menunjukkan performa perusahaan dan menggambarkan efisiensi dan efektivitas pemakaian sumberdaya, serta efisiensi dan efektivitas proses produksi dalam menghasilkan output. Oleh karena itu, proses produksi yang efektif dan efisien dapat dikatakan sebagai salah satu usaha yang dapat meningkatkan produktivitas. 2.4 Metode Pengukuran Produktivitas Model Objective Matrix (OMAX) Mayhoneys (2008) menyebutkan bahwa OMAX adalah suatu sistem pengukuran produktivitas parsial yang dikembangkan untuk memantau produktivitas dari tiap bagian perusahaan dengan kriteria produktivitas yang sesuai dengan keberadaan bagian tersebut. Tiap-tiap model pengukuran mempunyai manfaat sendiri-sendiri, akan tetapi secara umum dapat dikatakan bahwa manfaat pengukuran produktivitas bagi perusahaan dan organisasi adalah : 1) Dalam melakukan pengukuran produktivitas dapat diperoleh informasi keberhasilan yang dicapai oleh perusahaan secara menyeluruh; 2) Perusahaan dapat menilai efisiensi penggunaan sumberdaya dalam menghasilkan barang atau jasa; 3) Pengukuran produktivitas dapat berguna untuk perencanaan produksi dan sumberdaya, baik untuk jangka panjang atau pendek; dan 4) Berdasarkan hasil pengukuran produktivitas dapat ditentukan berdasarkan tingkat produktivitas yang direncanakan dengan tingkat yang diukur. Pengukuran produktivitas sangat penting bagi perusahaan untuk mengetahui keberhasilan yang telah dicapai oleh perusahaan tersebut. Selain itu dari hasil 12 pengukuran dapat diketahui sampai sejauh mana usaha peningkatan efisiensi dan efektivitas perusahaan telah mencapai sasaran. Mengingat pentingnya pengukuran produktivitas pada suatu perusahaan, maka Dok Pembinaan UPT BTPI sudah selayaknya melakukan pengukuran produktivitas pada setiap bidang unjuk kerja untuk dijadikan titik tolak peningkatan produktivitas. 2.4.1 Alasan pemilihan metode OMAX Mahendra (2007) menyebutkan bahwa, pengukuran produktivitas dapat menjadi suatu hal yang menyulitkan karena adanya beberapa hal yang harus dilibatkan, diantaranya: rasio-rasio, indeks-indeks, prosentase, dan angka-angka perkiraan. Banyak lagi masalah yang bersangkut paut dengan produktivitas perusahaan ataupun organisasi, baik yang berpengaruh secara langsung maupun secara tidak lagsung. Dengan demikian, tidaklah mengherankan bahwa pengukuran dan peningkatan produktivitas sulit untuk dilakukan karena banyak kriteria yang harus dipertimbangkan dan dilibatkan didalamnya. Model pengukuran produktivitas OMAX mengatasi masalah-masalah kerumitan dan kesulitan pengukuran produktivitas dengan mengkombinasikan seluruh kriteria produktivitas yang penting ke dalam suatu bentuk yang terpadu dan saling terkait satu sama lain serta mudah untuk dikomunikasikan. Selain itu, model ini mengandung kebaikan lainnya yaitu dengan mengikutsertakan seluruh jajaran pegawai yang terkait dalam operasi-operasi perusahaan, mulai pekerja tingkat bawah sampai kepada manajer tingkat menengah dan atas dalam proses pembentukan dan pelaksanaannya. Pengukuran produktivitas yang dilakukan dengan menggunakan model pengukuran produktivitas OMAX ini pada dasarnya merupakan pengukuran produktivitas total yang merupakan perpaduan dari beberapa ukuran keberhasilan atau kriteria produktivitas yang sudah dibobot sesuai dengan derajat kepentingan masing-masing kriteria itu di dalam perusahaan. Dengan demikian, model ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang sangat berpengaruh maupun yang kurang berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas. Hasil perpaduan beberapa ukuran keberhasilan atau produktivitas ini kemudian dinilai ke dalam satu indikator atau indeks yang berguna, antara lain: 13 1) Memperlihatkan sasaran atau target peningkatan produktivitas. 2) Mengetahui posisi dalam pencapaian target. 3) Alat peningkatan dalam pengambilan keputusan bagi peningkatan produktivitas. Hal lain yang dapat dilihat dengan menggunakan model OMAX ini, antara lain: 1) Model ini memungkinkan dijalankannya aktivitas-aktivitas pengukuran produktivitas, penilaian (evaluasi) produktivitas, peningkatan dan perencanaan produktivitas sekaligus; 2) Berbagai faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas dapat diidentifikasikan dengan baik dan dapat dikuantifikasikan; 3) Adanya sasaran produktivitas yang jelas dan mudah dimengerti yang akan memberikan motivasi bagi pekerja untuk mencapainya; 4) Adanya pengertian bobot yang mencerminkan pengaruh masing-masing faktor terhadap peningkatan produktivitas perusahaan yang penentuannya memerlukan persetujuan manajemen; dan 5) Model ini menggabungkan seluruh faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas (baik dalam satuan fisik maupun uang) dan nilai ke dalam suatu indikator atau indeks. 2.4.2 Bentuk dan susunan model OMAX Mahendra (2007) juga menyebutkan bahwa, objective matrix atau matriks sasaran merupakan suatu metode unjuk kerja yang menggunakan indikatorindikator produksi dan suatu prosedur pembobotan untuk memperoleh suatu indikator pencapaian total. Susunan model ini berupa matrik yang butir-butirnya disusun menurut kolom dan baris sehingga dibaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan. Susunan matrik ini akan memudahkan dalam pengoperasiannya. Didalamnya memuat bermacam-macam kombinasi angka-angka yang tidak terlalu terperinci akan tetapi cukup untuk menyatakan keadaan secara praktis dan garis besarnya saja. Susunan model ini terdiri atas beberapa bagian yaitu: 1) Kriteria produktivitas Kegiatan dan faktor-faktor yang mendukung produktivitas,dan satu unit kerja yang sedang diukur produktivitasnya dinyatakan dengan kriteria. 14 Kriteria-kriteria ini menyatakan ukuran efektivitas dari output, efisiensi dari input dan faktor-faktor lain yang secara tidak langsung berhubungan dengan tingkat produktivitas yang diukur. 2) Butir-butir matrik Kerangka badan matrik disusun oleh besaran-besaran pencapaian tiap-tiap kriteria. Didalamnya terdiri dari sebelas baris dan baris yang paling bawah merupakan pencapaian terendah atau terburuk yang dinyatakan dengan skor nol, sampai dengan baris paling atas yang merupakan sasaran atau target produktivitas yang realistis yang dinyatakan dengan skor sepuluh. Tingkat pencapaian mula-mula yaitu tingkat pencapaian yang diperoleh pada saat matrik ini mulai dioperasikan ditempatkan pada skor tiga (3). Setelah butirbutir skor nol, tiga dan sepuluh diisikan semuanya, sisa butir-butir lainnya untuk tiap-tiap kriteria dengan lengkap dicantumkan secara bertingkat. Butir-butir pada skor 1,2,4 sampai 9 merupakan tingkat pencapaian antara sehingga tingkat pencapaian akhir atau skor 10 dapat dicapai. 3) Bobot Tiap-tiap kriteria yang telah ditetapkan mempunyai pengaruh yang berbedabeda terhadap tingkat unit yang diukur. Oleh karena itu, perlu dicantumkan bobot yang menyatakan derajat kepentingan (dalam prosentase) yang menunjukkan pengaruh relatif kriteria tersebut terhadap produktivitas unit kerja yang diukur. Besarnya bobot ditentukan oleh suatu kelompok manajemen yang berada di atas yang mengepalai unit kerja yang diukur. Jumlah bobot seluruh kriteria adalah 100%. 4) Sasaran Merupakan tingkat kemajuan yang dapat dicapai oleh tiap-tiap kriteria produktivitas dalam periode waktu tertentu dengan melihat keadaan yang realistis yang dapat terjadi di masa yang akan datang. Besarnya nilai sasaran ini kemudian diletakkan pada skor tertinggi yaitu skor 10. 5) Tingkat pencapaian Keberhasilan yang dicapai oleh masing-masing kriteria atau rasio dalam periode waktu yang diukur ini kemudian diisikan pada baris pencapaian 15 yang tersedia untuk semua kriteria. Data untuk perhitungan kriteria atau rasio ini diperoleh dari tiap-tiap bagian yang diukur. 6) Skor Pada baris skor (bagian bawah badan matrik) besar pencapaian pada poin no 5 (bagian atas badan matrik) dirubah ke dalam skor yang sesuai, ini dilakukan dengan mencocokkan besaran realisasi pencapaian rasio (point no 5) dengan butir matrik yang ada dan ekivalen dengan skor tertentu. 7) Nilai Nilai daripada pencapaian yang berhasil diperoleh untuk setiap kriteria pada periode tertentu didapat dengan mengalikan skor pada kriteria tertentu dengan bobot kriteria tersebut. 8) Indikator pencapaian Pada periode tertentu, jumlah seluruh nilai dari tiap-tiap kriteria dicantumkan pada kotak indikator pencapaian. Besarnya indikator diisi sesuai dengan indikator mula-mula. Semua indikator berada pada skor 3 pada saat matrik mulai dioperasikan. 9) Indeks Peningkatan produktivitas ditentukan dari besarnya kenaikan indikator pencapaian yang terjadi antara yang baru dengan yang lama. Kesembilan susunan ini membentuk kerangka model. 2.4.3 Penyusunan matrik Penyusunan dan pelaksanaan matrik ini merupakan suatu proses yang jelas dan langsung yang membutuhkan sedikit keahlian. 1) Menentukan kriteria produktivitas Langkah pertama ini adalah mengidentifikasikan kriteria produktivitas yang sesuai bagi unit kerja dimana pengukuran ini akan dilaksanakan. Kriteria ini harus menyatakan kondisi atau kegiatan yang mendukung produktivitas unit kerja yang diukur dan dapat dikontrol oleh unit kerja tersebut. Kriteria ini menyatakan ukuran efisiensi dari masukan, efektivitas dari keluaran dan ukuran-ukuran lainnya yang secara tidak langsung mendukung proses kegiatan unjuk kerja yang akan diukur. 16 Supaya efektif, kriteria ini harus sudah dimengerti, mudah diukur, administrasinya dilakukan secara baik dan dapat diterima. Disinilah pentingnya untuk mengikutsertakan semua pihak di galangan dalam penyusunan dan pelaksanaan matrik ini. Selanjutnya kriteria ini sebaiknya berdiri sendiri tidak saling bergantung satu sama lain dan merupakan faktorfaktor yang terukur. 2) Menjelaskan data Setelah seluruh kriteria dapat diidentifikasikan dengan baik, langkah berikutnya adalah mendefinisikan kriteria tersebut secara terperinci. Tiaptiap kriteria memerlukan penjelasan lebih lanjut, misalnya tingkat ketidakhadiran, harus dijelaskan rasio-rasio yang membentuk kriteria ini. Demikian juga sumberdaya untuk setiap pengukuran tertentu harus pula diidentifikasikan dengan jelas, laporan yang akurat, orang-orang yang bertanggung jawab dan terlibat, atau sumberdaya lain, untuk setiap bilangan dalam perhitungan matrik harus dispesifikasikan dengan baik. Dalam setiap keadaan merupakan langkah terbaik untuk meninggalkan segala keraguan yang ada dalam mengoperasikan bilangan dan perhitungan matrik. 3) Penilaian pencapaian mula-mula Setelah menentukan kriteria yang akan diukur, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan dan pengumpulan data dari tiap-tiap kriteria, maka langkah berikutnya mengolah data tersebut sehingga layak untuk digunakan sebagai data pencapaian mula-mula dengan cara perhitungan rata-rata dari periode data yang diperoleh misalnya selama pengerjaan bangunan baru. Pencapaian mula-mula diletakkan pada skor 3 dari skala 0 sampai 10 untuk memberikan lebih banyak tempat bagi perbaikan daripada untuk terjadinya penurunan. Pencapaian ini juga biasanya tidak diletakkan pada tingkat yang lebih rendah lagi agar memberikan kemungkinan terjadinya pertukaran dan memberikan kelonggaran apabila sekali-kali terjadi kemunduran. 4) Menetapkan sasaran (skor 10) Apabila skala skor 3 merupakan pencapaian mula-mula, maka skor 10 merupakan pencapaian yang akan dituju nantinya. Skala skor 10 ini 17 berkenaan dengan sasaran-sasaran yang ingin dicapai dalam waktu mendatang, dan karenanya harus berkesan optimis. Sasaran yang diambil harus merupakan gambaran yang realistis, tetapi harus diperhitungkan pula faktor-faktor yang masuk akal, bahwa beberapa waktu mendatang telah terjadi perubahan atau kemungkinan telah ada peralatan baru, proses-proses yang lebih baik memungkinkan dapat mencapai sasaran yang dirasakan saat ini belum mungkin untuk dicapai. 5) Menetapkan sasaran jangka pendek Pengisian skor yang tersisa lainnya dari matrik dapat dilakukan langsung setelah butir skor 0 (yang merupakan rasio terburuk yang mungkin terjadi, merupakan level terbawah yang dapat pula ditentukan kemudian), skor 3 dan skor 10 telah ditetapkan. Butir-butir yang tersisa yaitu skor 1, 2, 4 sampai dengan 9 merupakan suatu sasaran antara sebelum tingkat pencapaian akhir dipenuhi. Biasanya skala linier digunakan untuk pengisisan antara pencapaian saat ini dengan sasaran yang ingin dicapai pada setiap kriteria produktivitas. Oleh sebab itu, jarak bilangan dari setiap tingkat skor 3 ke skor 0 juga dilakukan seperti pengskoran di atas. Jadi sekali lagi disini ditegaskan bahwa tidak ada syarat yang baku mengenai hal ini dan tergantung pada kesepakatan saja, karena pokok perhatian mengenai struktur skala ini tidaklah begitu penting dibandingkan dengan seberapa baik pengskoran ini dimengerti oleh orang-orang yang unjuk kerjanya diukur. Dengan demikian ada sebelas tingkat pencapaian untuk setiap kriteria. Satu kriteria menempati satu kolom dari atas ke bawah dari badan matrik. Penempatan dari hasil yang diharapkan pada setiap tingkat merupakan bagian yang penting dari pengskalaan, karena hasil-hasil tersebut membentuk suatu rintangan khusus yang harus diatasi untuk maju dari satu sasaran jangka pendek ke sasaran jangka pendek berikutnya. 6) Menentukan derajat kepentingan Semua kriteria tidaklah mempunyai pengaruh yang sama pada produktivitas unit kerja keseluruhan, sehingga untuk melihat berapa besar derajat kepentingannya tiap kriteria diberi bobot. Pembobotan memberikan suatu 18 kesempatan untuk memberikan perhatian secara langsung pada kegiatankegiatan yang berpotensi besar bagi peningkatan produktivitas. Pembobotan biasanya dilakukan oleh manajer puncak atau oleh dewan produksi yang dimiliki galangan. Total pembobotan untuk semua kriteria harus sama dengan 100%. Bila pembobotan telah selesai, maka matrik ini secara teknis dapat digunakan untuk mengukur tingkat produktivitas dan dapat diketahui bagaimana cara meningkatkan produktivitas (Mahendra, 2007). 2.4.4 Pengoperasian matrik Setelah seluruh badan matrik dan perlengkapannya terisi, maka matrik dapat dioperasikan. Pengoperasian matrik dilakukan dengan cara : 1) Pencapaian sekarang Pada tahap ini, hal yang dilakukan adalah mengumpulkan data dari tiap-tiap kriteria atau rasio selama periode pengukuran dilakukan dan menetapkan pencapaian sebenarnya untuk setiap kriteria atau rasio tersebut. Data yang didapat kemudian dimasukkan ke dalam kolom pencapaian pada bagian atas badan matrik. 2) Pemberian tanda pada bilangan pencapaian (No. 1) pada badan matrik Pada badan matrik, bilangan yang sesuai dengan bilangan “pencapaian” yang didapat diberi tanda atau dilingkari. Apabila tidak ada bilangan yang tepat sama dengan bilangan “pencapaian”, maka yang dilingkari adalah bilangan yang berada dibawahnya. Perlu diingat bahwa setiap kotak di dalam badan matrik merupakan suatu rintangan yang harus diatasi untuk mencapai skor tertentu. Apabila sasaran jangka pendek tersebut belum tercapai, maka kotak yang dibawahnyalah yang dilingkari. Setiap pencapaian yang lebih kecil dari tingkat pencapaian terburuk yang masih diperbolehkan (level terbawah) akan tetap menerima skor 0 untuk periode tersebut. 3) Penentuan skor Bilangan yang telah dilingkari, dapat ditentukan tingkat skor yang dicapai yang diletakkan pada kolom “skor” pada bagian bawah badan matrik. 19 4) Penentuan nilai Setiap skor yang didapat untuk setiap kriteria atau rasio, dikalikan dengan besarnya bobot masing-masing. Hasil perkalian ini diletakkan dalam kolom nilai yang berada pada bagian bawah badan metrik. 5) Indikator pencapaian saat ini Nilai-nilai yang didapat untuk setiap kriteria dijumlahkan sehingga diperoleh indikator pencapaian saat ini. 6) Indeks Sebuah indikator produktivitas hanya bermanfaat jika dibandingkan dengan nilai dan periode lain. Satu unit kerja tidak bisa dibandingkan dengan nilai unit kerja lainnya berdasarkan nilai skor, sebab kriteria masing-masing unit berbeda dan kondisi operasinya bervariasi. Nilai bobot total dapat diperlakukan sebagai indeks performansi dan digunakan untuk menilai perkembangan dari waktu ke waktu (Mahendra, 2007). Pada OMAX, pola pertumbuhan performansi ini ditunjukkan oleh dua indeks. Pertama Indeks Perubahan terhadap Performansi Standar/Base Level (300). Kedua, Indeks Perubahan terhadap Performansi periode sebelumnya (Mayhoneys, 2008). - Dimana : OPo = Nilai Performansi Standar / Base Level (300) OPi = Overall Performance ke-i OPi-1 = Overall Performance ke-i-1 20    3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada bulan Juli - September 2011 di Dok Pembinaan Unit Pelaksana Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan (UPT BTPI), Muara Angke, Jakarta. Objek penelitian dalam penelitian ini adalah galangan Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke. 3.2 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus dengan contoh kasus produktivitas pada galangan Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta yang belum dilakukan pengukuran secara matematis. Menurut Yin (2008) metode studi kasus merupakan metode yang mengacu pada penelitian yang mempunyai unsur how dan why pada pertanyaan utama penelitiannya dan meneliti masalah-masalah kontemporer (masa kini) serta sedikitnya peluang peneliti dalam mengontrol peristiwa (kasus) yang ditelitinya. Pengukuran produktivitas galangan sendiri dilakukan dengan menggunakan metode Objective Matrix (OMAX).  3.3 Pengumpulan Data Data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang sudah tersedia di galangan Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta. Data yang digunakan adalah: 1) Data hasil produksi bagian reparasi kapal di Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta 5 tahun terakhir; 2) Data jumlah tenaga kerja; 3) Data pemakaian mesin; 4) Data jam kerja aktual produksi; 5) Data jam kerja efektif; dan 6) Data jumlah ketidakhadiran. 21    3.4 Pengolahan dan Analisis Data Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan metode Objective Matrix (OMAX) dengan langkah-langkah: 1) Penetapan kriteria Pada tahap ini, ditentukan kriteria-kriteria yang akan ditetapkan untuk digunakan dalam menghitung produktivitas dengan menggunakan metode OMAX. Kriteria-kriteria yang akan diukur meliputi kriteria efisiensi, kriteria efektivitas, dan kriteria inferensial. Kriteria yang ditetapkan mengacu pada kriteria yang digunakan oleh Mahendra (2007) yang telah meneliti tentang “Peningkatan Produktivitas Galangan Kapal Menggunakan Model OMAX (Studi kasus: di PT. BEN SANTOSA Surabaya)”. Kriteria tersebut dapat dilihat pada Tabel 1: Tabel 1 Kriteria-kriteria dalam pengukuran produktivitas menggunakan model OMAX oleh Mahendra (2007) Man Hour (Kg/JO) Efisiensi Material (%) Pemakaian Mesin (%) Pemakaian Tenaga Kerja (%) Efektivitas Inferensial Jam Kerja Aktual (%) Jam Kerja Efektif (%) Jumlah Ketidakhadiran (%) Kriteria efisiensi menunjukkan bagaimana penggunaan sumberdaya perusahaan (galangan), seperti tenaga kerja, energi, material serta modal yang sehemat mungkin. Kriteria efektivitas menunjukkan bagaimana galangan mencapai hasil bila dilihat dari sudut akurasi dan kualitasnya. Kriteria inferensial menunjukkan suatu kriteria yang tidak secara langsung mempengaruhi produktivitas tetapi bila diikutsertakan dalam matriks dapat membantu memperhitungkan variabel yang mempengaruhi faktor-faktor yang mayor. Mahendra (2007) awalnya menetapkan sebanyak tiga belas indikator kinerja. Namun, setelah dilakukan wawancara dan pengisian kuesioner oleh tim manajemen diperoleh hasil bahwa indikator kinerja yang dapat digunakan hanya tujuh indikator seperti yang disebutkan pada Tabel 1 di atas. 22    2) Perhitungan rasio-rasio Perhitungan rasio dilakukan terhadap kriteria-kriteria yang sudah ditentukan yaitu: (1) Man hour (Kg/JO) Adalah performansi tenaga kerja per unit produk (Kg/JO) (2) Material (%) Rasio-rasio yang membentuk kriteria material : (3) Kriteria tenaga kerja (%) % Rasio-rasio yang membentuk kriteria tenaga kerja : % (4) Kriteria pemakaian mesin (%) Rasio yang membentuk kriteria pemakaian mesin : % (5) Kriteria jam kerja aktual produksi (%) Rasio yang membentuk kriteria jam kerja aktual produksi : % (6) Kriteria jam kerja efektif (%) Rasio yang membentuk kriteria jam kerja efektif : (7) Kriteria ketidakhadiran (%) % Rasio yang membentuk kriteria ketidakhadiran : 3) Pengukuran kinerja standar % Kinerja standar diperoleh dari rata-rata rasio masing-masing kriteria pada periode yang ditetapkan. Dalam hal ini, periode yang ditetapkan adalah lima tahun terakhir dari tahun 2006 sampai 2010. 23    4) Penetapan sasaran akhir Penetapan sasaran akhir ditentukan oleh pihak galangan Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke setelah memperoleh nilai kinerja standar. Pada penetapan sasaran ini, terdiri dari tiga skala skor yaitu skala skor 3 merupakan pencapaian mula-mula, skala skor 10 berupa sasaran yang ingin dicapai dalam waktu mendatang dan karenanya harus bersifat optimis, dan skala skor 0 merupakan level terbawah, rasio terburuk yang mungkin terjadi. Penetapan sasaran akhir ditentukan dengan menggunakan kuesioner (Lampiran 1). 5) Penetapan bobot rasio Penetapan bobot rasio diperoleh dari hasil kuesioner (Lampiran 2). Jumlah seluruh bobot dari masing-masing kriteria produktivitas berjumlah 100 %. Pembobotan ini dimulai dengan membagi 100 % untuk prosentase efisiensi, efektivitas, dan inferensial. Misalnya: Efisiensi :A % Efektifitas :B % Inferensial :C % Total : 100 % Berdasarkan prosentase di atas, kemudian dibagi pembobotannya sesuai dengan jumlah dan kepentingan kriteria yang termasuk didalamnya, misalnya: (1) Kriteria yang termasuk dalam efisiensi - Man hour : a1 % - Material : a2 % - Pemakaian Mesin : a3 % - Pemakaian Tenaga Kerja : a4 % Total : 100 % (2) Kriteria yang termasuk dalam efektivitas - Jam Kerja Aktual : b1 % - Jam Kerja Efektif : b2 % Total : 100 % 24    (3) Kriteria yang termasuk dalam inferensial - Jumlah Ketidakhadiran :c % Total : 100 % 6) Pembetukan matriks sasaran Setelah ditentukan skala skor 0, skor 3, dan skor 10 dari hasil kuesioner, selanjutnya ditentukan skala sisa yaitu skala skor 1, 2, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9 untuk membentuk suatu matriks sasaran dengan cara interpolasi. Kenaikan nilai pada skor 1 dan 2 dilakukan dengan cara interpolasi, yaitu: skor 3 – skor 0 3–0 Kenaikan nilai pada skor 4 sampai dengan 9 dilakukan dengan cara interpolasi, yaitu: skor 10 – skor 3 10 – 3 7) Penentuan skor aktual Skor aktual ditentukan berdasarkan hasil pengukuran rasio masing-masing kriteria pada periode tertentu yang diubah kedalam skor pada matriks sasaran yang sesuai. 8) Penentuan nilai aktual Nilai aktual ditentukan berdasarkan hasil perkalian antara skor aktual dengan bobot kriteria tersebut. 9) Penentuan performance indicator Performance indicator diperoleh dari penjumlahan nilai aktual dari semua kriteria pengukuran yang dilakukan. 10) Perhitungan index produktivitas (IP) Untuk menghitung Index Produktivitas (IP) dengan menggunakan rumus: % Peningkatan produktivitas bisa diketahui dari besarnya kenaikan performance indikator yang terjadi. 25    11) Bentuk tabel matriks Kriteria Rasio‐Rasio Nilai Aktual Efisiensi Rasio 1 Rasio 2 Rasio 3 Inferensial Rasio 5 Efektivitas Rasio 4 Target Skor Keterangan 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 Sangat Baik Baik Sedang Buruk Sangat Buruk Skor Aktual Bobot Nilai Produktivitas Keterangan Saat ini Periode Dasar Index Saat ini Periode Sebelum Index Indikator Performansi Indikator Performansi Gambar 2 Contoh bentuk tabel matriks Berdasarkan bentuk matriks di atas, rasio 1 adalah rasio pemakaian tenaga kerja; rasio 2 adalah rasio pemakaian mesin; rasio 3 adalah rasio jam kerja aktual; rasio 4 adalah rasio jam kerja efektif; dan rasio 5 adalah rasio ketidakhadiran karyawan. Hasil akhir dari matriks berupa nilai indeks dengan interpretasi bahwa semakin besar nilai indeks pada suatu periode tertentu maka produktivitas suatu perusahaan pada periode tersebut semakin tinggi juga. 26 4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Produktivitas Galangan Dok Pembinaan Unit Pelaksana Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan (UPT BTPI) memiliki fungsi sebagai tempat membangun, merawat, dan memperbaiki kapal. Saat ini aktivitas yang dilakukan Dok Pembinaan UPT BTPI hanyalah mereparasi kapal. Kegiatan pembuatan kapal sudah lama tidak dilakukan. Hal ini disebabkan karena sepinya order pembuatan kapal di Dok Pembinaan UPT BTPI. Sepinya order membangun kapal di Dok Pembinaan UPT BTPI diduga karena tingginya biaya produksi, dimana kayu sebagai bahan baku pembuatan kapal didatangkan dari luar Jakarta. Kondisi ini mengakibatkan harga kayu menjadi semakin mahal. Oleh karena itu, banyak pembeli yang beralih untuk membuat kapal di daerah yang memiliki sumber kayu sehingga harga kapal menjadi lebih murah. Kapal yang biasanya direparasi oleh Dok Pembinaan UPT BTPI adalah kapal yang terbuat dari kayu. Umumnya kapal yang direparasi merupakan kapal perikanan. Selain mereparasi kapal kayu, galangan juga mampu melayani reparasi kapal fiber atau kapal kayu yang dilaminasi menggunakan fiber. Galangan yang terdapat di lingkungan UPT BTPI ada empat galangan. Keempat galangan tersebut yaitu: Dok Pembinaan UPT BTPI, Fan Marine Shipyard (FMS), Karya Teknik Utama (KTU), dan Koperasi Pegawai Negeri Dinas Perikanan (KPNDP). Dok Pembinaan UPT BTPI adalah galangan yang resmi milik UPT BTPI, sedangkan tiga galangan lainnya adalah galangan yang dikelola oleh pihak yang menyewa lahan di UPT BTPI. Seluruh galangan tersebut juga hanya melayani kegiatan reparasi kapal. Dok Pembinaan UPT BTPI merupakan salah satu galangan yang memiliki tingkat produksi yang cukup tinggi di lingkungan UPT BTPI. Produksi di Dok Pembinaan UPT BTPI menyerap 20,74 % per tahun dari total produksi yang ada di UPT BTPI. Tingkat produksi tiga galangan lainnya adalah FMS sebesar 15,75 %, KTU sebesar 8,39 %, dan KPNDP sebesar 55,12 % per tahun dari total produksi yang ada di UPT BTPI. Data kapal yang melakukan reparasi dari tahun 2006 sampai 2010 di Dok Pembinaan UPT BTPI disajikan pada Lampiran 3 27 sampai dengan Lampiran 7. Jumlah kapal yang melakukan reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI dari tahun 2006 sampai 2010 disajikan pada Gambar 3 di bawah ini. 160 140 Jumlah Kapal 120 100 80 60 40 20 0 2006 2007 2008 2009 2010 Tahun Gambar 3 Jumlah kapal yang melakukan reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI Produktivitas Dok Pembinaan UPT BTPI dan produktivitas seluruh galangan yang ada di lingkungan UPT BTPI disajikan pada Gambar 4 di halaman 28. Setiap bulannya Dok Pembinaan UPT BTPI rata-rata dapat melayani 12 kapal dengan jumlah tertinggi pada bulan Mei 2006, Desember 2006, November 2008, Desember 2008, dan April 2009 sebanyak 15 kapal. Jumlah kapal terendah yang direparasi terdapat pada bulan Mei 2010, dan September 2010 sebanyak 6 kapal. Bulan Oktober, November, dan Desember pada tahun 2007 dan 2010 tidak ada kegiatan reparasi kapal. Hal tersebut dikarenakan pada bulan dan tahun tersebut sedang dilakukan pembangunan slipway (tahun 2007) dan peninggian dok galangan (tahun 2010). Jenis kapal yang diperbaiki adalah kapal perikanan dan kapal non perikanan. Kapal-kapal tersebut berasal dari PPI Muara Angke, PPS Muara Baru, dan daerah lainnya yang sedang bongkar muat atau singgah di PPI Muara Angke. Secara rata-rata, dalam satu tahun Dok Pembinaan UPT BTPI mendapat keluhan dari dua pemilik kapal yang kapalnya masih mengalami kebocoran setelah direparasi. 28 70 60 Jumlah Kapal 50 Seluruh Galangan 2006 Seluruh Galangan 2007 40 Seluruh Galangan 2008 Seluruh Galangan 2009 30 Seluruh Galangan 2010 Dok Pembinaan 2006 20 Dok Pembinaan 2007 Dok Pembinaan 2008 10 Dok Pembinaan 2009 Dok Pembinaan 2010 0 Gambar 4 Perbandingan fluktuasi produksi reparasi kapal Dok Pembinaan UPT BTPI dan produksi reparasi kapal seluruh galangan yang ada di lingkungan UPT BTPI dari tahun 2006 sampai 2010 29 Jenis reparasi yang dilakukan dibagi menjadi dua yaitu annual survey dan special survey. (1) Annual Survey Annual survey dilaksanakan setiap tahun, dimana pekerjaan yang dilakukan adalah pekerjaan-pekerjaan standar yang berhubungan dengan dok perawatan rutin setiap tahunnya. Adapun pekerjaan-pekerjaan pada annual survey pada Dok Pembinaan UPT BTPI diantaranya adalah: pengedokan, pembakaran teritip, penyekrapan, pengecatan, pembaharuan surat-surat kapal, balancing propeller dan kemudi. Annual survey biasanya menghabiskan waktu 2 (dua) sampai 5 (lima) hari pengerjaan. (2) Special Survey Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan pada special survey pada umumnya sama dengan pekerjaan-pekerjaan yang ada pada annual survey. Hanya ada beberapa tambahan pekerjaan yang berhubungan dengan pergantian peralatan ataupun perlengkapan kapal yang rusak dan yang terpenting pada pekerjaan special survey adalah pekerjaan penggantian pelat di beberapa tempat yang ketebalannya sudah tidak memenuhi syarat. Special survey biasanya menghabiskan waktu selama lebih dari 5 (lima) hari bahkan bisa sampai 1 (satu) bulan atau lebih tergantung kerusakan yang harus diperbaiki. Produksi Dok Pembinaan UPT BTPI berdasarkan jumlah kapal, jenis reparasi, dan ukuran kapal disajikan pada Tabel 2 sampai dengan Tabel 4 di bawah ini. Tabel 2 Produksi dok pembinaan UPT BTPI berdasarkan jenis kapal dalam periode 2006 sampai 2010 (satuan: unit) Jenis Kapal Kapal Perikanan Kapal Non Perikanan Jumlah 2006 131 16 147 2007 101 3 104 Tahun 2008 119 11 130 2009 122 18 140 2010 84 13 97 Jumlah 557 61 618 Rata-rata per Tahun 111,4 92 12,2 16 30 Tabel 3 Produksi dok pembinaan UPT BTPI berdasarkan jenis reparasi dalam periode 2006 sampai 2010 (satuan: unit) Jenis Reparasi Annual Survey (2-5 hari) Special Survey (> 5 hari) Jumlah 2006 117 30 147 2007 77 27 104 Tahun 2008 76 54 130 2009 54 86 140 2010 66 31 97 Jumlah 390 228 618 Rata-rata per Tahun 78,0 78 45,6 46 Tabel 4 Produksi Dok Pembinaan UPT BTPI berdasarkan ukuran kapal dalam periode 2006 sampai 2010 (satuan: unit) Ukuran Kapal 1-10 GT 11-20 GT 21-30 GT 31-50 GT >50 GT Jumlah 2006 40 18 84 4 1 147 2007 25 9 67 2 1 104 Tahun 2008 23 18 86 3 0 130 2009 30 14 93 1 2 140 2010 21 10 58 5 3 97 Jumlah 139 69 388 15 7 618 Rata-rata per Tahun 27,8 28 13,8 14 77,6 77 3,0 3 1,4 1 4.2 Tenaga Kerja dan Struktur Organisasi Tenaga kerja dibagi menjadi dua bagian, yaitu: tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tidak langsung. Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang secara langsung berhubungan dengan kegiatan reparasi kapal yang kemudian disebut staf lapang. Tenaga kerja tidak langsung adalah tenaga kerja yang tidak secara langsung berhubungan dengan kegiatan reparasi yang kemudian disebut staf administrasi. Selain dibagi menjadi tenaga kerja langsung dan tidak langsung, tenaga kerja juga dibagi menjadi tenaga kerja tetap dan tidak tetap. Tenaga kerja tetap adalah tenaga kerja yang berstatus sebagai pekerja tetap milik Dok Pembinaan UPT BTPI. Tenaga kerja tidak tetap adalah tenaga kerja yang berstatus sebagai pekerja dari luar yang bekerja di Dok Pembinaan UPT BTPI sebagai tenaga tambahan dalam reparasi kapal. Dok Pembinaan UPT BTPI merupakan satu dari empat galangan yang masih aktif melayani kegiatan reparasi kapal di Muara Angke. Galangan ini dipimpin oleh seorang manajer yang bertanggung jawab kepada kepala UPT BTPI. Sebagai dok pembina, pada tahun 2008 Dok Pembinaan UPT BTPI menjalankan tiga program kerja, yaitu: 1) Pembinaan petugas reparasi; 2) Pembinaan tukang pakal; dan 3) Pembinaan pelayanan reparasi khususnya untuk pengurus kapal. 31 Dok Pembinaan UPT BTPI saat ini memiliki 7 staf lapang. Staf lapang tersebut terdiri dari 1 orang koordinator lapangan, 1 orang juru mesin, 1 orang juru cat, 2 orang juru selam, 1 orang juru kasko, dan 1 orang juru alur. Staf administrasi UPT BTPI ada 13 orang yang terdiri dari 1 orang kepala pusat BTPI, 1 orang kepala sub bagian tata usaha, 1 orang kepala seksi pelayanan pemeliharaan dan perbaikan sarana penangkapan ikan, 1 orang kepala seksi teknologi alat tangkap dan mesin kapal perikanan, 1 orang staf seksi pelayanan pemeliharaan dan perbaikan sarana penangkapan ikan, 1 orang staf teknologi alat tangkap dan mesin kapal perikanan, dan 7 orang staf tata usaha. Struktur organisasi UPT BTPI disajikan pada Gambar 5. Kepala Pusat BTPI Kepala sub bagian tata usaha Kepala seksi pelayanan pemeliharaan dan perbaikan sarana penangkapan ikan Staf seksi pelayanan pemeliharaan dan perbaikan sarana penangkapan ikan Juru Alur Koordinator lapangan Juru Selam Juru Kasko Kepala seksi teknologi alat tangkap dan mesin kapal perikanan Staf seksi teknologi alat tangkap dan mesin kapal perikanan Juru Mesin Juru Cat Keterangan: alur dalam wilayah garis merah adalah struktur organisasi Dok Pembinaan UPT BTPI Gambar 5 Struktur organisasi UPT BTPI 32 4.3 Sarana dan Prasarana Slipway yang ada di Dok pembinaan UPT BTPI sebanyak tiga buah dengan panjang masing-masing 90 meter. Kapasitas masing-masing slipway dapat menampung dua buah kapal. Tetapi, saat ini kapasitas keseluruhan hanya mampu menampung lima buah kapal. Hal tersebut dikarenakan slipway pada bagian tengah kurang panjang sehingga hanya dapat menampung satu kapal. Dibutuhkan landasan tarik yang landai untuk memudahkan penarikan kapal ke atas slipway. Kemiringan yang layak untuk landasan tarik adalah 120. Kemiringan tersebut diperoleh dengan memasang rel yang lebih panjang. Tepi pantai di bagian depan galangan Dok Pembinaan UPT BTPI memiliki kemiringan yang curam, sehingga pada tahun 2007 dilakukan penimbunan agar kemiringan landasan tarik tidak lebih besar dari 120. Penimbunan tersebut menghabiskan waktu selama empat bulan yang mengakibatkan berhentinya kegiatan reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI selama waktu tersebut. Peralatan yang digunakan di Dok Pembinaan UPT BTPI umumnya menggunakan tenaga manual dan tenaga mesin. Penggunaan mesin pada proses reparasi bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi pekerja untuk melakukan kegiatan reparasi, sehingga kegiatan reparasi kapal dapat terselesaikan lebih cepat. Peralatan yang digunakan di Dok Pembinaan UPT BTPI disajikan pada Tabel 5. Tabel 5 Peralatan yang digunakan di Dok Pembinaan UPT BTPI No Peralatan yang digunakan Jenis peralatan (manual/tenaga penggerak/fasilitas serbaguna) 1 Palu Manual 2 Gergaji Manual 3 Sekrap Manual 4 Pahat Manual 5 Meteran Manual 6 Kuas cat Manual 7 Pahat besi Manual 8 Dongkrak hidrolik Tenaga penggerak 9 Mesin penarik Tenaga penggerak 10 Kapak Manual 11 Bor listrik Tenaga penggerak 12 Gerinda mesin Tenaga penggerak 13 Komputer Fasilitas serbaguna 14 Alat pertukangan lainnya Manual Sumber: Dok Pembinaan UPT BTPI Muara Angke, 2010 Perawatan peralatan dilakukan secara rutin dengan tujuan untuk menghindari kerusakan pada alat. Peralatan-peralatan mesin yang terdapat di Dok Pembinaan UPT BTPI dapat dioperasikan oleh seluruh pekerja karena tidak 33 dibutuhkan keahlian teknis khusus dalam pengoperasiannya. Namun, pada fasilitas serbaguna seperti komputer, tidak semua pekerja dapat mengoperasikannya. Hal tersebut dikarenakan dibutuhkan keahlian teknis tertentu untuk mengoperasikannya. Fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh Dok Pembinaan UPT BTPI antara lain fasilitas bengkel bubut, las dan bongkar pasang mesin (overhaul). Dok Pembinaan UPT BTPI terletak di tepi pantai luar komplek Pangkalan Pendaratan Ikan Muara Angke (PPI Muara Angke). Lahan yang digunakan UPT BTPI merupakan lahan milik Pemerintah Daerah DKI dengan luas area 4.500 m2. Layout galangan disajikan pada Gambar 6. Keterangan gambar: 1. Rumah mesin 2. Mesin penarik 3. Tali sling untuk menarik lori 4. Patok loper 5. 6. 7. 8. 9. Loper (pengatur sling) Landasan Tarik (slipway) Lori Rantai penghubung lori Bantalan kapal 10. 11. 12. 13. Kapal di atas lori Pelataran dok Kolam galangan Tembok pembatas galangan Sumber: Dok Pembinaan UPT BTPI Muara Angke, 2010 Gambar 6 Layout Dok Pembinaan UPT BTPI Muara Angke 4.4 Sumberdaya Manusia Sumberdaya manusia yang ada di Dok Pembinaan UPT BTPI terdiri atas berbagai macam latar belakang pendidikan. Pendidikan terendah ada pada tingkat 34 SD sebanyak tiga orang. Latar belakang pendidikan yang bervariasi, tidak mempengaruhi kemampuan seluruh karyawan untuk melakukan kerjasama dalam proses transformasi. Pelatihan-pelatihan soft skill yang diberikan oleh UPT BTPI sangat meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia yang ada di Dok Pembinaan UPT BTPI. Pelatihan tersebut diantaranya yaitu: management team work dan pelatihan mengenai tata cara reparasi. Alokasi tenaga kerja pada galangan yang diteliti disajikan pada Tabel 6 dan Tabel 7. Tabel 6 Alokasi staf lapang di Dok Pembinaan UPT BTPI No Nama Pekerjaan 1 Mujono Koordinator Lapangan 2 Suherman Juru Mesin 3 M. Yusuf Juru Cat 4 Nurudin Juru Selam 5 Abdurachman Juru Selam 6 Nursaman Juru Kasko 7 Apit Awaludin Juru Alur Sumber: Dok Pembinaan UPT BTPI Muara Angke, 2010 Pendidikan SMP SD SMA SD SMP SD SMA Tabel 7 Alokasi staf administrasi di Dok Pembinaan UPT BTPI No 1 2 3 Nama Ir. Sutrisno, M.Si Ir. Heriyanti, M.Si Abdul Malik Adnan, S.Sos, MM Agus Trihadi, SIP, M.Si Pekerjaan Kepala Pusat Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kepala Seksi Pelayanan Pemeliharaan dan Perbaikan Sarana Penangkapan Ikan 4 Kepala Seksi Teknologi Alat Tangkap dan Mesin Kapal Perikanan 5 H. Sapto Wahono, SE Staff Seksi Teknologi 6 Nur Ali Staff Subbag Tata Usaha 7 Tjasda Staff Subbag Tata Usaha 8 Sumarsana Staff Subbag Tata Usaha 9 Yuni Astuti, SE Staff Subbag Tata Usaha 10 A S. Tumungin, SE Staff Subbag Tata Usaha 11 Sulaeman, A.Md Staff Subbag Tata Usaha 12 Arief Prakoso, ST Staff Subbag Tata Usaha 13 Yuniwoko Staff Seksi Pelayanan Sumber: Dok Pembinaan UPT BTPI Muara Angke, 2010 Pendidikan S2 S2 S2 S2 S1 SLTA SLTA SLTA S1 S1 D.3 S1 SLTA 35 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Kriteria Produktivitas dan Indikator Kinerja Kriteria-kriteria yang akan diukur meliputi kriteria efisiensi, kriteria efektivitas, dan kriteria inferensial. Kriteria efisiensi menunjukkan bagaimana penggunaan sumberdaya perusahaan (galangan), seperti tenaga kerja, energi, material serta modal yang sehemat mungkin. Kriteria efektivitas menunjukkan bagaimana galangan mencapai hasil bila dilihat dari sudut akurasi dan kualitasnya. Kriteria inferensial menunjukkan suatu kriteria yang tidak secara langsung mempengaruhi produktivitas tetapi bila diikutsertakan dalam matriks dapat membantu memperhitungkan variabel yang mempengaruhi faktor-faktor yang mayor. Kriteria yang ditetapkan mengacu pada kriteria yang digunakan oleh Mahendra (2007) yang telah meneliti tentang “Peningkatan Produktivitas Galangan Kapal Menggunakan Model OMAX (Studi kasus: di PT. BEN SANTOSA Surabaya)”. Mahendra (2007) awalnya menetapkan sebanyak tiga belas indikator kinerja berdasarkan tiga kriteria tersebut. Namun, setelah dilakukan wawancara dan pengisian kuesioner oleh tim manajemen diperoleh hasil bahwa indikator kinerja yang dapat digunakan hanya tujuh indikator. Ketujuh indikator tersebut adalah man hour, material, tenaga kerja, pemakaian mesin, jam kerja aktual, jam kerja efektif, dan jumlah ketidakhadiran karyawan. Penetapan kriteria pada penelitian ini dilakukan dengan cara observasi lapang, wawancara dan kuesioner yang mengacu berdasarkan tujuh indikator yang dikemukakan oleh Mahendra (2007). Hasil observasi, wawancara dan kuesioner menunjukkan bahwa indikator kinerja yang dapat digunakan dalam penelitian ini ada lima indikator dari tujuh indikator yang diacu pada penelitian Mahendra (2007). Indikator-indikator tersebut yaitu: pemakaian mesin, pemakaian tenaga kerja, jam kerja aktual, jam kerja efektif, dan jumlah ketidakhadiran. Hal tersebut terjadi karena ketersediaan data yang ada di Dok Pembinaan Unit Pelaksana Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan (UPT BTPI) yang tidak memiliki data man hour dan material. 36 5.2 Model Objective Matrix (OMAX) 5.2.1 Penilaian indikator kinerja 1) Indikator kinerja yang termasuk dalam kriteria “Efisiensi” (1) Tenaga kerja Penentuan nilai indikator tenaga kerja dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 8 Nilai indikator tenaga kerja Periode 2006 2007 2008 2009 2010 Tenaga Kerja yg. Digunakan (orang) 16 16 16 16 16 Rata-rata Tenaga Kerja yg. Ada (orang) 30 30 30 30 30 Prosentase Tenaga Kerja (%) 53,33 53,33 53,33 53,33 53,33 53,33 Tenaga kerja yang ada di Dok Pembinaan UPT BTPI sebanyak 30 orang. Tenaga kerja tersebut terdiri dari 7 orang staf lapang tetap, 13 orang staf administrasi tetap, dan 10 orang staf lapang tidak tetap. Reparasi kapal dilakukan oleh staf lapang (tetap dan tidak tetap). Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk reparasi sebanyak 16 orang. Terdapat 1 orang yang tidak melakukan pekerjaan reparasi yaitu juru alur. Meskipun tidak terjun dalam proses reparasi kapal, namun juru alur termasuk ke dalam tenaga kerja langsung karena tugas juru alur yang berkaitan langsung dengan proses reparasi. Tugas juru alur yaitu untuk menentukan kapal yang dapat naik di atas galangan sesuai dengan standar ukuran alur yang dipakai dan kapasitas galangan serta bertanggung jawab penuh dalam mengatur kapal-kapal yang akan masuk maupun keluar galangan. Berdasarkan rumus rasio indikator tenaga kerja: Prosentase tenaga kerja yang digunakan di Dok Pembinaan UPT BTPI adalah 53,33 %. Hal tersebut dapat terjadi karena tenaga kerja yang ada di Dok Pembinaan UPT BTPI digunakan sama dari tahun 2006 sampai 2010 yaitu sebanyak 16 orang dari 30 orang tenaga kerja. Tenaga kerja yang tidak digunakan dalam kegiatan reparasi adalah 13 orang staf administrasi dan 1 orang staf lapang sebagai juru alur. Pembagian tugas yang dilakukan oleh staf lapang tetap pada saat melakukan reparasi kapal adalah 1 orang sebagai juru alur, 1 orang mengoperasikan mesin 37 dan sisa 5 orang lainnya melakukan persiapan kapal naik dok di dalam air. Persiapan yang dilakukan adalah persiapan dudukan lunas dan bantalan untuk lunas agar kapal dapat berdiri dengan posisi mantap yang dilakukan mulai dari kapal berada di dalam air hingga kapal naik dok. Setelah kapal naik dok dan sudah dalam posisi yang mantap, mesin dimatikan. Tugas selanjutnya adalah melakukan penyekrapan, pembakaran teritip, pengecatan dan penurunan kapal ke dalam air setelah reparasi kapal selesai dilakukan. Tugas-tugas yang dilakukan oleh staf lapang tidak tetap sebagian sama dengan yang dilakukan oleh staf lapang tetap. Perbedaannya adalah operasional mesin yang hanya dilakukan oleh staf lapang tetap (juru mesin), penaikan kapal ke dok, dan penurunan kapal dari dok. Selain itu, perbedaan lainnya adalah tugas tambahan yang hanya dilakukan oleh staf lapang tidak tetap. Tugas yang dimaksud seperti tenaga perbengkelan, listrik, dan pergantian kayu. (2) Pemakaian mesin Penentuan nilai indikator pemakaian mesin dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 9 Nilai indikator pemakaian mesin Periode 2006 2007 2008 2009 2010 Jam Pemakaian Mesin (jam) 882 624 780 840 582 Rata-rata Jumlah Jam Tersedia (jam) 2.400 2.400 2.400 2.400 2.400 Prosentase Pemakaian Mesin (%) 36,75 26 32,5 35 24,25 30,9 Mesin yang digunakan adalah mesin winch yang berfungsi untuk menarik kapal pada saat kapal akan naik dok dan memberikan tahanan pada saat kapal turun dok setelah kapal selesai direparasi. Lama waktu mesin stand by untuk digunakan dalam satu hari sama dengan waktu kerja kantor UPT BTPI yaitu selama delapan jam dalam satu hari, sehingga dalam satu tahun, jumlah jam tersedia untuk pemakaian mesin adalah 2.400 jam dengan asumsi dalam satu tahun periode kerja adalah 300 hari. Mesin digunakan hanya pada saat kapal naik dok dan turun dok. Lama waktu kapal naik dan turun dok masing-masing adalah tiga jam, sehingga lama operasional mesin untuk reparasi satu buah kapal adalah enam jam. Berdasarkan Tabel 10 di atas, dapat dilihat pada tahun 2006, jumlah kapal yang melakukan 38 reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI ada 147 kapal sehingga jam pemakaian mesin pada tahun tersebut adalah 147 kapal x 6 jam = 882 jam. Tahun 2007 ada 104 kapal, 130 kapal pada tahun 2008, 140 kapal pada tahun 2009, dan 97 kapal pada tahun 2010. Jam pemakaian mesin yang digunakan berturut-turut adalah 624, 780, 840, dan 582 jam. Tingkat utilitas Dok Pembinaan UPT BTPI dapat dikatakan masih rendah karena fasilitas dalam hal ini mesin winch tidak dioperasikan mendekati kapasitasnya. Prosentase pemakaian mesin diperoleh dengan cara jam pemakaian mesin dibagi jumlah jam tersedia dikalikan 100 %. Hasil prosentase pemakaian mesin berturut-turut dari tahun 2006 sampai 2010 adalah 36,75 %; 26 %; 32,5 %; 35 %; dan 24,25 %. Tahun 2006 prosentase pemakaian mesin bernilai 36,75 %. Hal tersebut menandakan bahwa pada tahun 2006, mesin hanya digunakan 36,75 % dari jumlah jam pemakaian yang tersedia sebesar 2400 jam. Waktu pemakaian mesin yang terpakai pada tahun 2006 hanya 882 jam. Nilai prosentase pada tahun 2007 sampai 2010 juga menandakan hal yang sama. Jumlah kapal yang melakukan reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI pada tahun 2006 sampai 2010 dapat dilihat pada Tabel 10 dan Gambar 6. Tabel 10 Jumlah kapal yang melakukan reparasi berdasarkan ukuran di Dok Pembinaan UPT BTPI. Ukuran Kapal 1-10 GT 11-20 GT 21-30 GT 31-50 GT >50 GT Jumlah 2006 40 18 84 4 1 147 2007 25 9 67 2 1 104 Tahun 2008 23 18 86 3 0 130 2009 30 14 93 1 2 140 2010 21 10 58 5 3 97 Jumlah 139 69 387 15 7 618 39 160 140 Jumlah Kapal 120 100 80 60 40 20 0 2006 2007 2008 2009 2010 Kapal Ukuran 1-10 GT 40 25 23 30 21 Kapal Ukuran 11-20 GT 18 9 18 14 10 Kapal Ukuran 21-30 GT 84 67 86 93 58 Kapal Ukuran 31-50 GT 4 2 3 1 5 Kapal Ukuran >50 GT 1 1 0 2 3 147 104 130 140 97 Jumlah total Gambar 7 Fluktuasi produksi reparasi kapal tahun 2006 sampai 2010 di Dok Pembinaan UPT BTPI Tahun 2007 dan 2010, jumlah kapal yang naik jauh lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2006, 2008, dan 2009 karena pada tahun 2007 bulan Oktober sampai Desember dilakukan perbaikan dan pembangunan slipway di galangan dan pada tahun 2010 bulan Oktober sampai Desember dilakukan peninggian dok galangan. 2) Indikator kinerja yang termasuk dalam kriteria “Efektivitas” (1) Jam kerja aktual Penentuan nilai indikator jam kerja aktual dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 11 Nilai indikator jam kerja aktual produksi Periode 2006 2007 2008 2009 2010 Jam Kerja Aktual Produksi (jam) 1470 1040 1300 1400 970 Rata-rata Working Time (jam) 2.100 2.100 2.100 2.100 2.100 Prosentase Jam Kerja Aktual (%) 70 49,524 61,905 66,667 46,19 58,86 40 Jam kerja aktual produksi adalah jam kerja yang benar-benar digunakan oleh staf lapang di Dok Pembinaan UPT BTPI dalam operasional reparasi kapal. Jam kerja aktual produksi diperoleh dengan mengalikan jumlah kapal dengan jam yang digunakan oleh pekerja dalam mereparasi satu kapal. Waktu yang dibutuhkan oleh staf lapang tetap untuk mereparasi satu kapal adalah 10 jam dengan pembagian waktu yaitu: penaikan kapal ke atas dok selama 3 jam, penyekrapan selama 1 jam, pembakaran teritip selama 2 jam, pengecatan selama 1 jam, dan penurunan kapal dari dok ke dalam air setelah selesai dilakukan reparasi selama 3 jam. Pengerjaan yang dilakukan oleh staf lapang tetap tersebut bukan keseluruhan pengerjaan pada proses reparasi kapal. Pengerjaan tersebut hanyalah tugas yang dilakukan oleh staf lapang tetap. Pengerjaan reparasi kapal lainnya dilakukan oleh staf lapang tidak tetap. Working time adalah jam kerja yang sudah ditetapkan oleh perusahaan kepada staf lapang di Dok Pembinaan UPT BTPI. Working time staf lapang Dok Pembinaan UPT BTPI yaitu selama 7 jam dari pukul 09.00 sampai pukul 16.00 dalam satu hari dan dalam satu tahun periode kerja diasumsikan selama 300 hari, sehingga working time staf lapang di Dok Pembinaan UPT BTPI adalah 2.100 jam dalam periode satu tahun (300 hari). Prosentase jam kerja aktual Dok Pembinaan UPT BTPI diperoleh dengan cara jam kerja aktual produksi dibagi dengan working time dikalikan 100 %. Berdasarkan tabel nilai indikator jam kerja aktual produksi di atas, jam kerja aktual produksi Dok Pembinaan UPT BTPI berturut-turut dari tahun 2006 sampai 2010 adalah 1470 jam dengan jumlah kapal yang direparasi sebanyak 147 kapal atau 70 % dari jam kerja sebesar 2.100 jam dalam satu tahun; 1.040 jam dengan jumlah kapal yang direparasi sebanyak 104 kapal atau 49,52 % dari jam kerja sebesar 2100 jam dalam satu tahun, 1300 jam dengan jumlah kapal yang direparasi sebanyak 130 kapal atau 61,91 % dari jam kerja sebesar 2100 jam dalam satu tahun, 1400 jam dengan jumlah kapal yang direparasi sebanyak 140 kapal atau 66,67 % dari jam kerja sebesar 2.100 jam dalam satu tahun, dan 970 jam dengan jumlah kapal yang direparasi sebanyak 97 kapal atau 46,19 % dari 41 jam kerja sebesar 2.100 jam dalam satu tahun. Jumlah kapal yang direparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI dapat dilihat pada Tabel 10. (2) Jam kerja efektif Penentuan nilai indikator jam kerja efektif dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 12 Nilai indikator jam kerja efektif Periode 2006 2007 2008 2009 2010 Operating Time (jam) 1800 1800 1800 1800 1800 Rata-rata Working Time (jam) 2.100 2.100 2.100 2.100 2.100 Prosentase Jam Kerja Efektif (%) 85,714 85,714 85,714 85,714 85,714 85,714 Jam kerja efektif (operating time) adalah jam kerja yang baku yang harus dilaksanakan di luar jam istirahat makan siang selama satu jam. Apabila dalam satu hari, working time di Dok Pembinaan UPT BTPI adalah 7 jam, maka setelah dikurangi waktu istirahat makan siang yang sudah ditentukan oleh perusahaan selama 1 jam diperoleh operating time selama 6 jam dalam satu hari. Dengan asumsi yang sama yaitu periode bekerja dalam satu tahun diasumsikan selama 300 hari, maka operating time Dok Pembinaan UPT BTPI dalam satu tahun adalah 1.800 jam. Operating time dari tahun 2006 sampai 2010 nilainya sama sehingga prosentasenya pun bernilai sama yaitu sebesar 85,714 %. Prosentase jam kerja efektif diperoleh dengan cara operating time dibagi working time dikali 100 %. 3) Indikator kinerja yang termasuk dalam kriteria “Inferensial” (1) Ketidakhadiran karyawan Nilai indikator ketidakhadiran karyawan dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 13 Nilai indikator jumlah ketidakhadiran Periode 2006 2007 2008 2009 2010 Jumlah karyawan (orang) 20 20 20 20 20 Rata-rata Jumlah Karyawan Absen (hari) 80 80 80 80 80 Prosentase Ketidakhadiran (%) 1,33 1,33 1,33 1,33 1,33 1,33 Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa jumlah karyawan yang tersedia di Dok Pembinaan UPT BTPI sebanyak 20 orang dengan rincian 7 orang staf lapang dan 13 orang staf administrasi. Nilai jumlah karyawan absen pada Tabel 14 di atas bernilai sama yaitu 80 hari. Nilai tersebut adalah nilai gabungan 42 jumlah ketidakhadiran karyawan staf lapang dan karyawan staf administrasi. Data ketidakhadiran karyawan staf lapang diperoleh dengan cara wawancara langsung salah seorang pekerja lapangan dan pegawai kantor UPT BTPI. Hal tersebut dikarenakan Dok Pembinaan UPT BTPI tidak memiliki data tertulis terkait absen staf lapang. Sedangkan data ketidakhadiran karyawan staf administrasi diperoleh dari rekapitulasi absen, namun data yang ada hanya dari Januari 2010 sampai November 2011. Berdasarkan hasil wawancara, untuk jumlah ketidakhadiran karyawan staf lapang diperoleh dari asumsi-asumsi. Ketidakhadiran karyawan diasumsikan dalam satu bulan rata-rata hanya satu orang yang absen dan hanya satu hari orang tersebut absen, sehingga diperoleh hasil jumlah ketidakhadiran karyawan sebesar 12 hari dalam satu tahun untuk staf lapang. Nilai jumlah ketidakhadiran karyawan staf administrasi diperoleh dari ratarata rekapitulasi data yang diperoleh yaitu Januari 2010 sampai November 2011. Penggunaan rata-rata dari rekapitulasi data dikarenakan data yang ada hanya data dari Januari 2010 sampai November 2011. Hal tersebut mengakibatkan nilai ratarata dari rekapitulasi data tersebut dibutuhkan untuk dijadikan asumsi jumlah ketidakhadiran karyawan staf administrasi dalam satu tahun. Berdasarkan hasil rekapitulasi data, untuk jumlah ketidakhadiran karyawan staf administrasi adalah 68 hari dalam satu tahun. Dengan demikian, diperoleh hasil dalam satu tahun jumlah hari karyawan absen adalah 80 hari. Prosentase ketidakhadiran karyawan memiliki nilai sebesar 1,33 % diperoleh dengan cara: 5.2.2 Pencapaian awal dari indikator kinerja (skor 3) Pencapaian setiap indikator kinerja pada saat matrik mulai dioperasionalkan dikategorikan ke dalam skor 3. Besarnya nilai pencapaian ini sama dengan ratarata nilai pencapaian indikator-indikator kinerja (tenaga kerja, pemakaian mesin, jam kerja aktual produksi, jam kerja efektif, ketidakhadiran karyawan) pada periode pengukuran dalam hal ini periode lima tahun terakhir dari tahun 2006 sampai 2010. Nilai pencapaian awal (skor 3) dapat dilihat pada Tabel 14. 43 Tabel 14 Nilai pencapaian awal (skor 3) Nomor Indikator 1 2 3 4 5 Indikator Kinerja Tenaga Kerja Pemakaian Mesin Jam Kerja Aktual Produksi Jam Kerja Efektif Jumlah Ketidakhadiran Satuan % % % % % Nilai Awal 53,33 30,90 58, 86 85,71 1,33 5.2.3 Target realistis dan terendah indikator kinerja (skor 10 dan 0) Target realistis yang ditetapkan berkenaan dengan target yang ingin dicapai perusahaan di masa mendatang untuk tiap-tiap prespektif kinerja yang diukur. Target yang ingin dicapai tersebut akan ditempatkan dalam skala skor 10 untuk setiap indikator kinerja. Target ditentukan oleh pihak manajemen perusahaan, karena pihak manajemen mengetahui keadaan perusahaan yang sebenarnya sehingga dapat menentukan kemajuan yang akan dicapai. Nilai target realistis ini diperoleh dari hasil wawancara dan kuesioner kepada pihak manajemen yang dapat dilihat pada Lampiran 8. Berdasarkan hasil wawancara dan kuesioner tersebut disebutkan bahwa untuk target realistis tertinggi yang ingin dicapai oleh perusahaan ditentukan berdasarkan target perusahaan yaitu dalam 3 slipway yang dimiliki mampu menampung masing-masing 2 kapal dan dalam satu bulan terjadi 4 kali frekuensi reparasi kapal dikalikan 12 bulan sehingga diperoleh target reparasi kapal dalam satu tahun sebanyak 288 kapal. Sementara itu, dilihat dari ketidakhadiran karyawan, diasumsikan bahwa dalam satu tahun, masing-masing karyawan hanya absen dua kali, sehingga jumlah ketidakhadiran karyawan dalam satu tahun adalah 40 hari absen. Berdasarkan hasil tersebut dapat diperoleh nilai tiap indikator kinerja yang diukur pada skor 10. Nilai tersebut dapat dilihat pada Tabel 15. Tabel 15 Nilai target realistis (skor 10) Nomor Indikator 1 2 3 4 5 Indikator Kinerja Tenaga Kerja Pemakaian Mesin Jam Kerja Aktual Produksi Jam Kerja Efektif Jumlah Ketidakhadiran Satuan % % % % % Nilai Awal 100,00 72,00 137,14 85,71 0,67 44 Penetapan skor 0 juga dilakukan dengan wawancara dan kuesioner. Berdasarkan wawancara dan kuesioner tersebut, nilai target terendah perusahaan adalah jika dalam 3 slipway yang dimiliki oleh perusahaan masing-masing hanya memuat 1 kapal dan dalam satu bulan hanya terjadi 3 kali frekuensi reparasi kapal dikalikan 12 bulan sehingga diperoleh target reparasi kapal terendah dalam satu tahun sebanyak 108 kapal. Apabila dilihat dari ketidakhadiran karyawan, diasumsikan bahwa masing-masing karyawan menggunakan jatah cuti mereka dalam setahun yaitu 12 hari, sehingga dalam satu tahun jumlah ketidakhadiran adalah 240 hari. Berdasarkan hal tersebut, nilai yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel 16. Tabel 16 Nilai terendah (skor 0) Nomor Indikator 1 2 3 4 5 Indikator Kinerja Tenaga Kerja Pemakaian Mesin Jam Kerja Aktual Produksi Jam Kerja Efektif Jumlah Ketidakhadiran Satuan % % % % % Nilai Awal 70,00 27,00 51,43 78,57 4,00 5.2.4 Bobot indikator kinerja Setiap indikator kinerja yang telah ditentukan memiliki pengaruh yang relatif berbeda terhadap peningkatan kinerja secara keseluruhan. Dibutuhkan suatu pembobotan untuk dapat mengetahui derajat kepentingan suatu indikator kinerja terhadap lainnya dalam menentukan kinerja perusahaan. Pembobotan dilakukan oleh pihak manajemen yang berkepentingan dengan kuesioner. Hasil kuesioner dihitung dengan matrik perbandingan berpasangan. Data matrik perbandingan berpasangan dapat dilihat pada Lampiran 9. Nilai pembobotan dapat dilihat pada Tabel 17. Tabel 17 Nilai pembobotan Nomor Indikator 1 2 3 4 5 Indikator Kinerja Tenaga Kerja Pemakaian Mesin Jam Kerja Aktual Produksi Jam Kerja Efektif Jumlah Ketidakhadiran Satuan % % % % % Bobot 21 14 14 21 30 45 5.2.5 Penyusunan tabel objective matrix (OMAX) Pada langkah ini data yang telah diperoleh disusun dalam tabel objective matrix untuk dilakukan analisa. Berikut adalah tabel pengukuran produktivitas model objective matrix pada tahun 2006 sampai 2010: Tabel 18 Matriks tahun 2006 Kriteria Rasio-Rasio Nilai Aktual Target Skor Aktual Bobot Nilai Produktivitas Keterangan Efisiensi Rasio 1 Rasio 2 53,33 36,75 100 72 93,33 66,12857 86,67 60,25714 80,00 54,38571 73,33 48,51429 66,66 42,64286 60,00 36,77143 53,33 30,9 48,89 29,6 44,44 28,3 40 27 3 3 21 14 63 42 Sedang Sedang Efektivitas Rasio 3 Rasio 4 70 85,714 137,143 85,714 125,9593 85,714 114,7756 85,714 103,5919 85,714 92,40814 85,714 81,22443 85,714 70,04071 85,714 58,857 85,714 56,381 83,333 53,905 80,952 51,429 78,571 3 10 14 21 42 210 Sedang Sangat Baik Inferensial Rasio 5 1,33 0,67 0,76428571 0,85857143 0,95285714 1,04714286 1,14142857 1,23571429 1,33 2,22 3,11 4 3 30 90 Sedang Indikator Performansi Saat ini Periode Dasar Index 447 300 49 Indikator Performansi Saat ini Periode Sebelum Index 447 0 0 Skor Keterangan 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 Sangat Baik Baik Sedang Buruk Sangat Buruk Tabel 19 Matriks tahun 2007 Kriteria Rasio-Rasio Nilai Aktual Target Skor Aktual Bobot Nilai Produktivitas Keterangan Efisiensi Rasio 1 Rasio 2 53,33 26 100 72 93,33 66,12857143 86,67 60,25714286 80,00 54,38571429 73,33 48,51428571 66,66 42,64285714 60,00 36,77142857 53,33 30,9 48,89 29,6 44,44 28,3 40 27 3 0 21 14 63 0 Sedang Sangat Buruk Efektivitas Rasio 3 Rasio 4 49,52380952 85,714 137,143 85,714 125,9592857 85,714 114,7755714 85,714 103,5918571 85,714 92,40814286 85,714 81,22442857 85,714 70,04071429 85,714 58,857 85,714 56,381 83,333 53,905 80,952 51,429 78,571 0 10 14 21 0 210 Sangat Buruk Sangat Baik Saat ini Indikator Performansi Periode Dasar Index 363 300 363 Periode Sebelum Index 447 -18,791946 Saat ini Indikator Performansi Inferensial Rasio 5 1,33 0,67 0,76428571 0,85857143 0,95285714 1,04714286 1,14142857 1,23571429 1,33 2,22 3,11 4 3 30 90 Sedang 21 Skor Keterangan 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 Sangat Baik Baik Sedang Buruk Sangat Buruk 46 Tabel 20 Matriks tahun 2008 Kriteria Rasio-Rasio Nilai Aktual Target Skor Aktual Bobot Nilai Produktivitas Keterangan Efisiensi Rasio 1 Rasio 2 53,33 32,5 100,00 72 93,33 66,12857 86,67 60,25714 80,00 54,38571 73,33 48,51429 66,66 42,64286 60,00 36,77143 53,33 30,9 48,89 29,6 44,44 28,3 40,00 27 3 3 21 14 63 42 Sedang Sedang Efektivitas Rasio 3 Rasio 4 61,90476 85,714 137,143 85,714 125,9593 85,714 114,7756 85,714 103,5919 85,714 92,40814 85,714 81,22443 85,714 70,04071 85,714 58,857 85,714 56,381 83,333 53,905 80,952 51,429 78,571 3 10 14 21 42 210 Sedang Sangat Baik Inferensial Rasio 5 1,33 0,67 0,76428571 0,85857143 0,95285714 1,04714286 1,14142857 1,23571429 1,33 2,22 3,11 4 3 30 90 Sedang Indikator Performansi Saat ini Periode Dasar Index 447 300 Indikator Performansi Saat ini Periode Dasar Index 447 363 23,1404959 Skor Keterangan 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 Sangat Baik Sangat Buruk Skor Keterangan 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 Sangat Baik Baik Sedang Buruk 49 Tabel 21 Matriks tahun 2009 Kriteria Rasio-Rasio Nilai Aktual Target Skor Aktual Bobot Nilai Produktivitas Keterangan Efisiensi Rasio 1 Rasio 2 53,33 35 100 72 93,3328571 66,12857 86,6657143 60,25714 79,9985714 54,38571 73,3314286 48,51429 66,6642857 42,64286 59,9971429 36,77143 53,33 30,9 48,8866667 29,6 44,4433333 28,3 40 27 3 3 21 14 63 42 Sedang Sedang Efektivitas Rasio 3 Rasio 4 66,66667 85,714 137,143 85,714 125,9593 85,714 114,7756 85,714 103,5919 85,714 92,40814 85,714 81,22443 85,714 70,04071 85,714 58,857 85,714 56,381 83,333 53,905 80,952 51,429 78,571 3 10 14 21 42 210 Sedang Sangat Baik Inferensial Rasio 5 1,33 0,67 0,76428571 0,85857143 0,95285714 1,04714286 1,14142857 1,23571429 1,33 2,22 3,11 4 3 30 90 Sedang Indikator Performansi Saat ini Periode Dasar Index 447 300 49 Indikator Performansi Saat ini Periode Dasar Index 447 447 0 Baik Sedang Buruk Sangat Buruk 47 Tabel 22 Matriks tahun 2010 Kriteria Rasio-Rasio Nilai Aktual Target Skor Aktual Bobot Nilai Produktivitas Keterangan Efisiensi Rasio 1 Rasio 2 53,33 24,25 100 72 93,3328571 66,12857143 86,6657143 60,25714286 79,9985714 54,38571429 73,3314286 48,51428571 66,6642857 42,64285714 59,9971429 36,77142857 53,33 30,9 48,8866667 29,6 44,4433333 28,3 40 27 3 0 21 14 63 0 Sedang Sangat Buruk Efektivitas Rasio 3 Rasio 4 46,19047619 85,714 137,143 85,714 125,9592857 85,714 114,7755714 85,714 103,5918571 85,714 92,40814286 85,714 81,22442857 85,714 70,04071429 85,714 58,857 85,714 56,381 83,333 53,905 80,952 51,429 78,571 0 10 14 21 0 210 Sangat Buruk Sangat Baik Saat ini Indikator Performansi 363 Periode Dasar Index 300 363 Periode Dasar Index 447 -18,791946 Saat ini Indikator Performansi Keterangan: Inferensial Rasio 5 1,33 0,67 0,76428571 0,85857143 0,95285714 1,04714286 1,14142857 1,23571429 1,33 2,22 3,11 4 3 30 90 Sedang Skor Keterangan 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 Sangat Baik Baik Sedang Buruk Sangat Buruk 21 1) Rasio 1: rasio indikator pemakaian tenaga kerja 2) Rasio 2: rasio indikator pemakaian mesin 3) Rasio 3: rasio indikator jam kerja aktual 4) Rasio 4: rasio indikator jam kerja efektif 5) Rasio 5: rasio indikator jumlah ketidakhadiran karyawan 5.3 Tingkat Produktivitas Pada Aktivitas Reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI Setelah dilakukan pengolahan data, langkah selanjutnya adalah melakukan analisa dan interpretasi terhadap hasil pengolahan data. Hal-hal yang akan dibahas meliputi analisa terhadap masing-masing indikator kinerja yang digunakan dalam pengukuran kinerja dengan menggunakan model OMAX, analisa terhadap indeks pencapaian kinerja tiap periode pengukuran, dan analisa keseluruhan nilai kinerja total pada unit produksi. Analisa terhadap indikator kinerja yang digunakan dalam pengukuran kinerja Dok Pembinaan UPT BTPI dilakukan untuk memberikan gambaran tentang pencapaian hasil dari setiap indikator kinerja sehingga galangan, dalam hal ini pihak manajemen, dapat mengukur kinerja yang telah dilakukan dan selanjutnya melakukan tindakan-tindakan yang dianggap perlu dalam memperbaiki dan meningkatkan kinerja galangan. Berikut ini akan dijelaskan 48 hasil yang dicapai masing-masing indikator kinerja galangan untuk setiap periode pengukuran. Analisa ini dibuat berdasarkan hasil pengolahan data berupa tabel pengukuran kinerja di setiap periode pengukuran. Tabel hasil pengolahan dapat dilihat pada Tabel 19 sampai Tabel 23 di atas. Nilai pencapaian untuk indikator tenaga kerja konstan pada skor 3 (tiga) dengan nilai sebesar 53,33 dengan bobot 21 %. Hal ini terjadi karena tenaga kerja yang digunakan dan tenaga kerja yang tersedia tidak mengalami perubahan. Berdasarkan hasil pengukuran 5 tahun menggunakan model OMAX tersebut tampak bahwa pencapaian kinerja untuk indikator tenaga kerja sudah cukup baik karena berada pada skor 3 (tiga) dan konstan selama 5 tahun. Jika dilihat berdasarkan pencapaian sasaran akhir (skor 10), indikator tenaga kerja ini perlu ditingkatkan dengan syarat seluruh tenaga kerja digunakan sepenuhnya untuk melakukan reparasi kapal. Hal tersebut dikarenakan perbedaan nilai yang cukup jauh antara pencapaian awal (skor 3) dengan pencapaian sasaran akhir (skor 10) dengan perbedaan mencapai 46,7 %. Nilai pencapaian skor tertinggi untuk indikator kinerja pemakaian mesin dicapai pada tahun 2006 dengan skor 3 dan nilai sebesar 36,75. Nilai indikator yang memiliki bobot 14 % tersebut lebih besar dari nilai pada tahun lainnya meskipun pada tahun 2008 dan 2009 mencapai skor yang sama yaitu skor 3 namun memiliki nilai lebih kecil yaitu 32,2 dan 35. Hal tersebut dapat terjadi karena pada tahun 2006 terjadi produksi yang lebih banyak daripada tahun-tahun lainnya sehingga pemakaian mesin juga lebih besar daripada tahun yang lainnya. Nilai indikator terendah dicapai pada tahun 2007 dan 2010 yaitu pada skor 0 dengan nilai masing-masing sebesar 26 dan 24,25. Penurunan yang terjadi pada tahun 2007 dan 2010 dari tahun sebelumnya dikarenakan pada tahun 2007 terjadi perbaikan dan pembangunan slipway pada bulan Oktober sampai dengan bulan Desember, sedangkan pada tahun 2010 terjadi peninggian dok galangan dari bulan Oktober sampai bulan Desember. Hal tersebut mengakibatkan pada tahun 2007 dan 2010 terjadi pemangkasan periode produksi menjadi 9 bulan dari 12 bulan. Pemangkasan periode produksi tersebut mengakibatkan produksi galangan juga menurun sehingga pemakaian mesin juga menurun. 49 Nilai pencapaian skor tertinggi untuk indikator kinerja jam kerja aktual produksi dicapai pada tahun pada skor 3 dengan nilai 70. Nilai indikator yang memiliki bobot 14 % tersebut lebih besar daripada nilai pada tahun yang lainnya meskipun pada tahun 2008 dan 2009 mencapai skor yang sama yaitu skor 3 dengan nilai masing-masing 61,9 dan 66,67. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya pengurangan pemakaian waktu setup produksi pada tahun 2007 sampai 2010 dibandingkan dengan waktu setup produksi pada tahun 2006. Nilai indikator terendah pada tahun 2007 dan 2010 yaitu pada skor 0 dengan nilai masing-masing sebesar 49,52 dan 46,19. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, penurunan terjadi karena pada tahun 2007 dan 2010 periode produksi hanya 9 bulan. Berdasarkan hasil pengukuran selama 5 tahun tampak bahwa kinerja untuk indikator jam kerja aktual produksi masih sangat rendah dan perlu diberi perhatian untuk lebih ditingkatkan karena nilai indikator tersebut masih jauh dibawah target realistis yang telah ditetapkan yang terdapat pada skor 10 yaitu sebesar 137,14. Solusi yang dapat digunakan agar target realistis dapat dicapai adalah dengan penambahan jumlah tenaga kerja langsung sehingga waktu yang digunakan untuk melakukan reparasi kapal sesuai dengan target realistis jumlah kapal yang direparasi lebih cepat terselesaikan. Nilai pencapaian untuk indikator kinerja jam kerja efektif konstan pada skor 10 (sepuluh) dengan nilai sebesar 85,71 dengan bobot 21 %. Hal ini terjadi karena jam kerja efektif (operating time) yang digunakan dan jam kerja yang ditetapkan tidak mengalami perubahan. Berdasarkan hasil pengukuran 5 tahun tersebut tampak bahwa pencapaian kinerja untuk indikator jam kerja efektif sudah sangat baik. Nilai pencapaian untuk indikator kinerja ketidakhadiran karyawan konstan pada skor 3 (tiga) dengan nilai sebesar 1,33 dengan bobot 30 %. Hal ini terjadi karena jumlah ketidakhadiran karyawan dengan jumlah karyawan tidak mengalami perubahan. Berdasarkan hasil pengukuran 5 tahun tersebut tampak bahwa pencapaian kinerja untuk indikator ketidakhadiran karyawan cukup baik (sedang). Indikator jumlah ketidakhadiran karyawan pada kasus ini sulit untuk ditingkatkan. Hal tersebut dikarenakan ketidakhadiran karyawan yang terjadi di Dok Pembinaan UPT BTPI masih termasuk dalam penggunaan jatah cuti dalam 50 satu tahun, yaitu masing-masing karyawan mendapatkan hak jatah cuti selama 12 hari dalam satu tahun. Nilai jumlah ketidakhadiran karyawan di Dok Pembinaan UPT BTPI yang didapat bernilai 80 hari dalam satu tahun, sedangkan jika karyawan menggunakan seluruh jatah cutinya dalam satu tahun maka nilai jumlah ketidakhadiran karyawan bernilai sebesar 240 hari. Selain itu, perolehan data jumlah ketidakhadiran karyawan pada kasus ini diperoleh berdasarkan asumsi-asumsi dan rekapitulasi data dua tahun terakhir yang dirata-ratakan. Hal tersebut terjadi karena tidak terdapatnya data tertulis jumlah ketidakhadiran karyawan staf lapang, sedangkan data jumlah ketidakhadiran karyawan staf administrasi hanya ada dari Januari 2010 sampai November 2011. Berdasarkan hasil pengukuran kinerja selama 5 (lima) periode dengan menggunakan model Objective Matrix (OMAX) dapat dibuat tabel pencapaian kinerja total dan tabel prosentase peningkatan kriteria sebagai berikut: Tabel 23 Pencapaian kinerja total dengan menggunakan periode dasar dan periode sebelum No Periode 1 2 3 4 5 2006 2007 2008 2009 2010 Pencapaian Kinerja Total Sekarang Dasar Sebelum 447 300 0 363 300 447 447 300 363 447 300 447 363 300 447 Indeks berdasarkan periode dasar (%) 49 21 49 49 21 Indeks berdasarkan periode sebelum (%) 0 -18,79 23,14 0 -18,79 Berdasarkan Tabel 23 di atas tampak bahwa Dok Pembinaan UPT BTPI mencapai nilai kinerja total tertinggi berdasarkan periode dasar terjadi pada tahun 2006, 2008 dan 2009, dimana peningkatan kinerja yang berhasil dicapai lebih tinggi dibandingkan dengan periode-periode yang lainnya. Pada tahun 2006, 2008 dan 2009 mencatat nilai indeks sebesar 49 %. Hal tersebut dapat terjadi karena jumlah produksi reparasi kapal yang terjadi pada tahun 2006, 2008 dan 2009 lebih besar daripada jumlah produksi yang terjadi pada tahun 2007 dan 2010. Nilai kinerja total tertinggi berdasarkan periode sebelum terjadi pada tahun 2008, dimana peningkatan kinerja yang berhasil dicapai dibandingkan periode sebelumnya sangat tinggi dibandingkan dengan peningkatan kinerja yang terjadi pada tahun-tahun yang lain. Pada tahun 2008 mencatat nilai indeks sebesar 23,14 % jauh meningkat dari tahun sebelumnya yaitu pada tahun 2007 yang mencatat indeks sebesar -18,79 %. Hal tersebut terjadi karena pada tahun 2008 terjadi 51 peningkatan jumlah produksi yang sangat signifikan dari tahun 2007, dimana pada tahun 2008 jumlah produksi reparasi kapal yang terjadi di Dok Pembinaan UPT BTPI mencapai angka 130 kapal sedangkan pada tahun 2007 sebesar 104 kapal. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa pada tahun 2007 terjadi perbaikan slipway sehingga bulan produksi dalam satu tahun pada tahun 2007 hanya sembilan bulan. Perbedaan hasil yang ditunjukkan pada Tabel 24 di atas karena pada nilai indeks terhadap periode dasar menunjukkan peningkatan kinerja yang terjadi dilihat dari jumlah produksi reparasi kapal yang dilakukan oleh Dok Pembinaan UPT BTPI pada masing-masing periode. Periode yang digunakan sebagai pembanding pada pencarian indeks menggunakan periode dasar yaitu 300. Lain halnya dengan nilai indeks terhadap periode sebelum menunjukkan peningkatan kinerja yang dilihat adalah peningkatan jumlah produksi reparasi antara tahun yang ditentukan dengan tahun sebelumnya, sehingga periode yang digunakan sebagai pembanding untuk mencari indeks menggunakan periode sebelumnya (tahun sebelumnya). Secara keseluruhan, kinerja yang dihasilkan oleh Dok Pembinaan UPT BTPI sudah tergolong cukup baik karena pada setiap periode pengukuran banyak indikator kinerja yang pencapaian nilainya stabil pada skor 3 bahkan ada yang stabil pada skor 10. Skor 3 merupakan skala nilai rata-rata dari seluruh periode pengukuran. Meskipun terdapat beberapa indikator kinerja yang pencapaian nilainya berada di bawah skor 3, bahkan mencapai skor 0 yaitu pada tahun 2007 dan 2010. Hal tersebut dikarenakan faktor perbaikan dan perawatan sarana dan prasarana Dok Pembinaan UPT BTPI. Tentunya diharapkan pencapaian kinerja untuk semua indikator dapat melebihi nilai rata-rata pengukuran karena hal itu menunjukkan adanya perbaikan atau peningkatan kerja yang lebih baik. Namun kecenderungan yang terjadi pada sebagian besar nilai indikator-indikator kinerja yang diukur setiap periode ini ada yang stabil dan ada juga yang fluktuatif, dimana tingkat perubahan nilai indikator antara satu periode dengan periode berikutnya bisa meningkat ataupun menurun secara tajam. Hal ini menunjukkan suatu indikasi bahwa upaya perusahaan untuk melakukan perbaikan kinerja masih belum menunjukkan hasil yang lebih baik. 52 Adapun indikator-indikator yang memiliki nilai tergolong rendah (tidak pernah melebihi skor 3) antara lain pemakaian mesin dan jam kerja aktual. Bahkan, indikator-indikator tersebut ada yang berubah secara menurun pada tahun 2007 dan 2010 hingga mencapai skor 0. 5.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dan Langkah Awal yang Dilakukan Dalam Upaya Peningkatan Produktivitas Pada Aktivitas Reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI Faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan produktivitas pada aktivitas reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI menggunakan model OMAX berturut-turut dari yang paling berpengaruh adalah jumlah ketidakhadiran karyawan, tenaga kerja, jam kerja efektif, pemakaian mesin, dan jam kerja aktual. Tingkat pengaruhnya ditentukan berdasarkan bobot kepentingan masing-masing indikator. Jumlah ketidakhadiran karyawan memiliki bobot kepentingan sebesar 30 %, tenaga kerja sebesar 21 %, jam kerja efektif sebesar 21 %, pemakaian mesin sebesar 14 %, dan jam kerja aktual sebesar 14 %. Jumlah ketidakhadiran karyawan memiliki bobot paling tinggi dikarenakan karyawan lapang yang dimiliki oleh Dok Pembinaan UPT BTPI hanya ada tujuh orang dan masing-masing orang sudah memiliki tugasnya sendiri yang tidak bisa digantikan oleh orang lain. Hal tersebut mengakibatkan jika ada satu orang yang tidak hadir, maka tugas orang yang tidak hadir tersebut tidak dapat berjalan yang mengakibatkan kegiatan reparasi kapal tertunda. Tenaga kerja yang terdapat di Dok Pembinaan UPT BTPI terdiri dari dua bagian yaitu tenaga kerja lapang dan tenaga kerja administrasi. Jumlah tenaga kerja lapang yang ada di Dok Pembinaan UPT BTPI lebih sedikit dibanding jumlah tenaga kerja administrasi. Tenaga kerja lapang terdiri dari tujuh orang, sedangkan tenaga kerja administrasi terdiri dari 13 orang. Jumlah tenaga kerja lapang yang lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah tenaga kerja administrasi tersebut mengakibatkan kurang efisiennya kegiatan reparasi kapal di Dok Pembinaan UPT BTPI. Jam kerja efektif antara tenaga kerja lapang dan administrasi di Dok Pembinaan UPT BTPI berbeda. Jam kerja efektif untuk tenaga kerja administrasi lebih lama dibanding tenaga kerja administrasi. Jam kerja efektif tenaga kerja 53 administrasi adalah tujuh jam, sedangkan jam kerja efektif untuk tenaga kerja lapang adalah enam jam. Perbedaan jam kerja efektif tersebut juga mengakibatkan kegiatan reparasi kapal jadi kurang efektif. Pemakaian mesin dan jam kerja aktual memiliki bobot kepentingan yang lebih kecil dibanding dengan indikator lainnya dikarenakan pengaruh kedua indikator ini juga tergantung dari indikator yang lain seperti tenaga kerja dan jumlah ketidakhadiran karyawan. Pemakaian mesin tergantung dari jumlah kapal yang direparasi dan kehadiran karyawan. Semakin banyak kapal yang direparasi dan semakin sering kehadiran karyawan khususnya karyawan yang bertanggung jawab terhadap pengoperasian mesin maka pemakaian mesin di Dok Pembinaan UPT BTPI akan semakin efisien dan kegiatan reparasi kapal di Dok Pembinaan UPT BTPI juga akan efisien. Jam kerja aktual di Dok Pembinaan UPT BTPI juga tergantung dari indikator yang lainnya seperti jumlah kapal yang direparasi, tenaga kerja dan kehadiran karyawan. Semakin banyak kapal yang direparasi, semakin banyak tenaga kerja yang terlibat dan semakin sedikit ketidakhadiran karyawan maka jam kerja aktual di Dok Pembinaan UPT BTPI akan lebih efektif. Hal tersebut mengakibatkan perbandingan antara working time dan jam kerja aktual akan semakin sedikit. Berdasarkan hal tersebut, maka langkah awal yang harus dilakukan dalam upaya peningkatan produktivitas pada aktivitas reparasi di Dok Pembinaan UPT BTPI adalah dengan memperhatikan nilai indikator yang memiliki bobot tertinggi yaitu jumlah ketidakhadiran karyawan dengan bobot kepentingan sebesar 30 %. Indikator ini mampu mencapai skor 3 bahkan secara stabil selama lima tahun berada di skor 3 dengan derajat kepentingan yang cukup tinggi dibandingkan dengan indikator lainnya. Langkah awal yang dapat dilakukan contohnya adalah memberikan pelatihan kepada seluruh karyawan lapang terkait kegiatan reparasi. Pelatihan yang diberikan bertujuan agar seluruh karyawan lapang yang ada di Dok Pembinaan UPT BTPI dapat saling mengisi dalam melakukan tugas reparasi yang ada sehingga jika terjadi absen pada satu atau beberapa orang karyawan tidak akan menyebabkan kegiatan reparasi tertunda. 54 Pencapaian kinerja keseluruhan dari Dok Pembinaan UPT BTPI dapat ditingkatkan bila pihak galangan memiliki komitmen untuk terus melakukan perbaikan pada indikator-indikator yang pencapaiannya masih rendah dan memperhatikan nilai indikator yang memiliki bobot cukup besar serta mempertahankan indikator yang pencapaiannya hampir atau sudah memenuhi target realistis yang ditentukan. Hasil pengukuran kinerja yang dilakukan selama 5 (lima) periode ini dapat memberikan gambaran tentang nilai pencapaian kinerja perusahaan yang sebenarnya sesuai dengan data yang dimiliki galangan. 55 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dan hasil pengolahan serta analisa yang telah diperoleh, maka dapat ditarik kesimpulan: 1) Kriteria produktivitas dan indikator kinerja yang terdapat di Dok Pembinaan Unit Pelaksana Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan (UPT BTPI) adalah kriteria efisiensi dengan indikator tenaga kerja, dan pemakaian mesin; kriteria efektivitas dengan indikator jam kerja aktual, dan jam kerja efektif; serta kriteria inferensial dengan indikator jumlah ketidakhadiran karyawan. 2) Produktivitas galangan Dok Pembinaan UPT BTPI secara garis besar sudah cukup baik karena pada setiap periode pengukuran banyak indikator kinerja yang pencapaian nilainya stabil pada skor 3 sebagai skala nilai rata-rata dari seluruh periode, bahkan ada yang stabil pada skor 10. Terdapat beberapa indikator kinerja dengan pencapaian nilai pada skor 0 disebabkan karena adanya perbaikan dan perawatan sarana dan prasarana Dok Pembinaan UPT BTPI yang menyebabkan terhentinya aktivitas reparasi selama 3 bulan pada tahun 2007 dan 3 bulan pada tahun 2010. 3) Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produktivitas galangan di Dok Pembinaan UPT BTPI dari yang paling berpengaruh adalah jumlah ketidakhadiran karyawan dengan nilai bobot kepentingan sebesar 30 %, pemakaian tenaga kerja dengan bobot kepentingan sebesar 21 %, jam kerja efektif dengan bobot kepentingan sebesar 21 %, pemakaian mesin dengan bobot kepentingan sebesar 14 %, dan jam kerja aktual produksi dengan bobot kepentingan sebesar 14 %. 4) Langkah awal yang dilakukan dalam upaya peningkatan produktivitas di Dok Pembinaan UPT BTPI adalah dengan memperhatikan faktor yang paling berpengaruh pada kasus pengukuran produktivitas Dok Pembinaan UPT BTPI ini adalah jumlah ketidakhadiran karyawan dengan bobot sebesar 30%. Salah satu langkah awal yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pelatihan kepada seluruh karyawan terkait kegiatan reparasi sehingga seluruh karyawan dapat saling mengisi dalam melakukan tugas reparasi yang ada. 56 6.2 Saran Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka saran-saran yang dapat disampaikan adalah: 1) Pencapaian kinerja seluruh indikator secara umum sudah cukup baik. Namun tetap memerlukan perhatian dari Dok Pembinaan UPT BTPI untuk dapat terus ditingkatkan agar target yang ingin dicapai dapat terpenuhi karena selisih antara target yang ingin dicapai dengan keadaan yang sebenarnya masih cukup jauh. 2) Melakukan evaluasi untuk mengetahui penyebab terjadinya penurunan kinerja yang dicapai dan menentukan langkah-langkah perbaikan yang tepat dan tidak mengganggu produksi yang dapat dilakukan untuk mendorong perusahaan untuk terus meningkatkan kinerja sehingga akhirnya mampu meningkatkan daya saing dengan galangan lain. 3) Perbaikan dan penambahan peralatan serta perlengkapan, meningkatkan kedisiplinan karyawan, memberikan pelatihan, dan mengoptimalkan pemakaian mesin dapat meningkatkan produktivitas pada Dok Pembinaan UPT BTPI. 4) Pengukuran produktivitas menggunakan model objective matrix (OMAX) dapat juga digunakan untuk mengukur produktivitas komponen lain seperti produktivitas alat tangkap, produktivitas kapal perikanan, dan lain-lain sehingga dapat diketahui upaya peningkatan produktivitasnya. 57 DAFTAR PUSTAKA Ade. 2011. Kementerian Kelautan Bangun 1000 Kapal Nelayan. Portaljakarta. portaljakarta.com. [9 Juli 2011]. Al-Kattan, R. 1992. Paper: Productivity and Performan Improvement. Surabaya: Guess lecture Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Anugrah, RH. 1996. Analisa Produktivitas SBP 30000 di PT PAL Surabaya [Skripsi]. Surabaya: Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Chrismianto, D. 1997. Studi Penelitian Produktivitas pada Pekerjaan di Departemen Fabrikasi Lambung Devisi Kapal Niaga PT. PAL Indonesia [Skripsi]. Surabaya: Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Dahuri, R. 13 Desember 2005. 4 Potensi Ekonomi Kelautan. Harian Republika. Dilworth, JB. 1989. Production and Operation Management. New York: Hill publising company. Dok Pembinaan UPT BTPI. 2006. Laporan Bulanan Kegiatan Reparasi Kapal. Dok Pembinaan UPT BTPI. 2007. Laporan Bulanan Kegiatan Reparasi Kapal. Dok Pembinaan UPT BTPI. 2008. Laporan Bulanan Kegiatan Reparasi Kapal. Dok Pembinaan UPT BTPI. 2009. Laporan Bulanan Kegiatan Reparasi Kapal. Dok Pembinaan UPT BTPI. 2010. Laporan Bulanan Kegiatan Reparasi Kapal. Fauzan, A. 2009. Penilaian Tingkat Teknologi Dok Pembinaan UPT BTPI Muara Angke Jakarta [Skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Groover, R. 1989. Automation, Production System and Computer Integrated Manufacturing. New York: Hill publising company. Iryanto, D. 2008. Analisa Daya Saing Galangan Menggunakan New Compensated Gross Tonnage (New CGT) Studi Kasus di PT Dok dan Perkapalan Surabaya. [Skripsi]. Surabaya: Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Hal 24. Mahendra, MK. 2007. Peningkatan Produktivitas Galangan Kapal Menggunakan Model OMAX (Studi kasus: di PT. BEN SANTOSA Surabaya) [Skripsi]. Surabaya: Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Hal 11-28 Mayhoneys. 2008. Objective Matrix (OMAX). http://digilib.ittelkom.ac.id. [25 November 2011]. Sinungan, M. 1997. Produktivitas : Apa dan Bagaimana. Jakarta: Budi Aksara. 58 Soeharto A, Soejitno. 1996. Galangan Kapal: Diktat kuliah Teknik Perkapalan Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Summanth, DJ. 1984. Productivity Engineering and Management. New York: Mcgraw Hill Book Company. Sunarto. 1999. Metoda Analisa Produktivitas dan Kemampuan Bersaing Galangan Indonesia di Era Global [Skripsi]. Surabaya: Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Hal 12-53 [UPT BTPI] Unit Pelaksana Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan. 2006. Produktivitas Dok di Lingkungan UPT BTPI Muara Jakarta. [UPT BTPI] Unit Pelaksana Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan. 2007. Produktivitas Dok di Lingkungan UPT BTPI Muara Jakarta. [UPT BTPI] Unit Pelaksana Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan. 2008. Produktivitas Dok di Lingkungan UPT BTPI Muara Jakarta. [UPT BTPI] Unit Pelaksana Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan. 2009. Produktivitas Dok di Lingkungan UPT BTPI Muara Jakarta. [UPT BTPI] Unit Pelaksana Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan. 2010. Produktivitas Dok di Lingkungan UPT BTPI Muara Jakarta. Windyandari, A. 2008. Prospek Industri Galangan Kapal Dalam Negeri Guna Menghadapi Persaingan Global. Jurnal TEKNIK. Vol. 29 No. 1: 73 Yin, RK. 2008. Studi Kasus: Desain dan Metode. Jakarta: Rajawali Pers. 59 Lampiran 1 Kuesioner penentuan sasaran KUESIONER PENENTUAN SASARAN Kuesioner lanjutan untuk keperluan : Penelitian dalam mengukur tingkat produktivitas dari variabel – variabel yang berpengaruh dalam proses produksi dengan pendekatan model OMAX di galangan Dok Pembinaan Unit Pelayan Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan (UPT BTPI), Muara Angke, Jakarta. I. Petunjuk Umum 1) Daftar pertanyaan dibawah ini dipergunakan untuk suatu penelitian guna mengukur tingkat produktivitas dari variabel – variabel yang berpengaruh dalam proses produksi. 2) Pada hakekatnya kuisioner ini diajukan kepada para pembuat keputusan agar dapat meminimasi kesalahan – kesalahan dalam pengambilan keputusan. 3) Dalam pengisian kuisioner ini dimohon agar Bapak dapat mengisi kuisioner ini selengkap – lengkapnya. 4) Atas perhatian dan bantuan Bapak yang sangat berharga, kami ucapkan terimakasih. II. Daftar Pertanyaan Umum 1) Nama pengisi : 2) Jabatan pengisi : III. Petunjuk Pengisian Kuisioner 1) Kuisioner ini digunakan untuk melihat seberapa besar sasaran (kemajuan) yang dapat dicapai dari tiap – tiap kriteria produktivitas dengan melihat kendala – kendala yang ada. 2) Sasaran disini merupakan suatu target realistis yang dapat dicapai dengan sumber serta sistem yang ada sekarang dalam jangka waktu yang masih diprediksikan. Oleh karena itu, target atau sasaran yang diambil harus 60 merupakan gambaran yang realistis, tetapi perlu dipertimbangkan pula faktor – faktor yang masuk akal. 3) Besarnya target (sasaran) yang dapat dicapai dari masing – masing variabel ini ditetapkan untuk periode / waktu yang ditetapkan. 4) Nilai sasaran akan diletakkan pada skor 10, yang akan digunakan sebagai prestasi tertinggi yang dapat dicapai. IV. Kuisioner penentuan besarnya sasaran (target yang dapat dicapai untuk tiap – tiap kriteria produktivitas. 1) Kriteria yang termasuk dalam efisiensi, adalah : No Kriteria Satuan 1 Pemakaian Mesin % 2 Pemakaian Tenaga Kerja % Sasaran 2) Kriteria yang termasuk dalam kategori efektivitas, adalah : No Kriteria Satuan 1 Jam Kerja Aktual % 2 Jam Kerja Efektif % Sasaran 3) Kriteria yang termasuk dalam inferensial, adalah : No Kriteria Satuan 1 Jumlah Ketidakhadiran % Sasaran Catatan : Apabila ada penambahan – penambahan, dapat digunakan halaman samping. Terimakasih atas bantuan Bapak yang sangat berharga. 61 Lampiran 2 Kuesioner penentuan pembobotan KUESIONER PENENTUAN PEMBOBOTAN Kuesioner lanjutan untuk keperluan : Penelitian dalam mengukur bobot dari variabel – variabel yang berpengaruh dalam proses produksi dengan pendekatan model OMAX di galangan Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta. I. Petunjuk Umum 1) Daftar pertanyaan dibawah ini dipergunakan untuk suatu penelitian guna mengukur tingkat produktivitas dari variabel – variabel yang berpengaruh dalam proses produksi. 2) Pada hakekatnya kuisioner ini diajukan kepada para pembuat keputusan agar dapat meminimasi kesalahan – kesalahan dalam pengambilan keputusan. 3) Dalam pengisian kuisioner ini dimohon agar Bapak dapat mengisi kuisioner ini selengkap – lengkapnya. 4) Atas perhatian dan bantuan Bapak yang sangat berharga, kami ucapkan terimakasih. II. Daftar Pertanyaan Umum 1) Nama pengisi : 2) Jabatan pengisi : III. Petunjuk Pengisian Kuisioner 1) Kuisioner ini digunakan untuk menentukan bobot dari masing – masing kriteria produktivitas yang ada. 2) Penentuan pembobotan berguna, karena tiap – tiap kriteria yang telah ditetapkan mempunyai pengaruh yang berbeda – beda terhadap tingkat produktivitas unit yang diukur. Untuk itu perlu dicantumkan bobot yang menyatakan derajat kepentingan (dinyatakan dengan prosen) untuk tiap – 62 tiap kriteria yang menunjukkan pengaruh relatif terhadap produktivitas unit kerja yang diukur. 3) Jumlah seluruh bobot dari masing-masing kriteria produktivitas berjumlah 100 %. 4) Untuk mempermudah pembobotan ini, dapat dilakukan dengan memulai pembobotan ini dengan membagi 100 % untuk prosentase efisiensi, efektivitas, dan inferensial. Misalnya: Efisiensi : A 35% Efektivitas : B 35% Inferensial : C 30% Total 100 % Dari prosentase efisiensi, efektivitas, dan inferensial diatas, kemudian dibagi lagi pembobotannya sesuai dengan jumlah dan kepentingan kriteria yang termasuk didalamnya, misalnya: a. Kriteria yang termasuk dalam efisiensi - Pemakaian Mesin : a3 60 % - Pemakaian Tenaga Kerja : a4 40 % Total : 100 % b. Kriteria yang termasuk dalam efektivitas - Jam Kerja Aktual : b1 40 % - Jam Kerja Efektif : b2 60 % Total : 100 % c. Kriteria yang termasuk dalam inferensial - Jumlah ketidakhadiran :c 100 % Total : 100 % 63 IV. Kuisioner penentuan bobot Kriteria Utama Bobot Efisiensi Efektivitas Inferensial Total 1) Kriteria yang termasuk dalam efisiensi, adalah : No Kriteria Satuan 1 Pemakaian Mesin % 2 Pemakaian Tenaga kerja % Bobot (%) Total 2) Kriteria yang termasuk dalam kategori efektivitas, adalah : No Kriteria Satuan 1 Jam Kerja Aktual % 2 Jam Kerja Efektif % Bobot (%) Total 3) Kriteria yang termasuk dalam inferensial, adalah : No 1 Kriteria Satuan Jumlah Ketidakhadiran Bobot (%) % Total Catatan : Apabila ada penambahan – penambahan, dapat digunakan halaman samping. Terimakasih atas bantuan Bapak yang sangat berharga. 64 Lampiran 3 Kegiatan Pelayanan Docking Kapal BTPI Tahun 2006 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 NAMA KAPAL KM.CAHAYA ABADI KM.INTAN LAUT – II KM.SINAR HARAPAN KM.RINDU ALAM KM.KASIH INDAH KM.SRI MUTIA KM.BERLIAN B KM.CAHAYA SAMUDRA KM.VINCENT KM.SANDRA JAYA KM.INTAN LAUT KM.SINAR ABADI KM.SINAR REJEKI – II KM.SEDIA JAYA KM.AMAT JAYA KM.BANGKIT JAYA KM.SUMBER HM JAYA KM.SINAR REZEKI - I KM.TETAP JAYA - I KM.NAGA JAYA - I KM.TIMBUL JAYA KM.CITRA SULAWESI - II KM.YOSHINAGA - II KM.ALAM PRIMA KM.BANTENG SAMUDRA KM.SINAR WIJAYA KM.DIMAS PUTRA KM.JAYA KENCANA KM.BERKAT JAYA KM.PUTRA SEJATI KM.INDO MAKMUR KM.ALAM JAYA KM. YOSHINAGA KM.TUGU PERMAI KM. SINAR SEJAHTERA KM.CAHAYA INDAH - II TANGGAL NAIK TURUN 04 Januari 07 Januari 04 Januari 07 Januari 05 Januari 11 Januari 08 Januari 13 Januari 09 Januari 11 Januari 09 Januari 11 Januari 13 Januari 16 Januari 14 Januari 18 Januari 14 Januari 17 Januari 20 Januari 22 Januari 23 Januari 27 Januari 23 Januari 26 Januari 25 Januari 29 Januari 25 Januari 28 Januari 01 Februari 03 Februari 02 Februari 03 Februari 03 Februari 09 Februari 03 Februari 06 Februari 05 Februari 09 Februari 05 Februari 08 Februari 07 Februari 10 Februari 14 Februari 17 Februari 14 Februari 17 Februari 17 Februari 23 Februari 19 Februari 26 Februari 21 Februari 25 Februari 03 Maret 09 Maret 04 Maret 07 Maret 05 Maret 15 Maret 08 Maret 11 Maret 09 Maret 11 Maret 12 Maret 16 Maret 13 Maret 16 Maret 20 Maret 23 Maret 20 Maret 26 Maret 26 Maret 28 Maret ALAT TANGKAP Jaring Cumi Angkutan Ikan Angkutan Ikan Gill Net Jaring Udang Pancing Angkutan Ikan Jaring Cumi Jaring Cumi Purse Seine Angkutan Ikan Purse Seine Bouke Ami Bouke Ami Gill Net Purse Seine Mini Purse Seine Mini Bubu Jaring Cumi Jaring Cumi Muro Ami Angkutan Ikan Gill Net Muro Ami Gill Net Bouke Ami Gill Net Gill Net Angkutan Ikan Jaring Cumi Gill Net Purse Seine Jaring Cumi Gill Net Angkutan Ikan Angkutan Ikan GT 28 28 6 28 6 6 20 28 20 27 27 29 29 29 33 6 7 29 28 13 28 6 9 6 29 28 10 23 6 5 16 29 29 12 30 23 TANDA SELAR 1549/Ba 2489/Bc A.8 No.2199 1905/Bc J.64 No.7359 J.26 No.318 2521/Bc 1667/Bc 2337/Bc 170/Bc 2703/Bc 3202/Bc 2812/Bc 330/Hha J.15 No.9098 J.117 No.4601 3203/Bc 2269/Bc 806/Bc 1440/Bc J.35 No.172 770/Bc J.16 No.307 1703/Bc 2288/Bc 456/Bc 003/Bc J.5 No.657 J.42 No.4565 1814/Bc 137/Gge 1631/Bc 5180/N 929/HHd 17/Bb PEMILIK / PENGURUS TAUFIK ERIK MUSLIMIN ANYAN ERMI TARSONO WARJU ERIK TAUFIK AHAI NUNUNG ZAKARIA TAUFIK / ARPO BAHRIN SENO WIJAYA SANGKALA RATINI Bt WASNAD MUSTOFA HAQ BAHRIN Hj.NODA NURJAYA HARNOTO / ABUN FREDY GARMANSYAH SYAM SYUKUR HL HARNOTO / ABUN ENCUP EFENDI WIDIANTO YUDHI MASHUDI ANYAN PATI Bin MATNAMIN BAMBANG SUWITNO ANYAN ANAM P GUNAWAN ANYAN ABDUL MALIK H.DAENG MALOSE KETERANGAN MUARA ANGKE JAKPUS CILINCING PLUIT - JAKUT BREBES MUARA ANGKE TANGGERANG MUARA ANGKE MUARA ANGKE MUARA ANGKE MUARA ANGKE MUARA ANGKE JELAMBAR MUARA ANGKE MUARA ANGKE BREBES GRESIK MUARA ANGKE MUARA ANGKE MUARA ANGKE BELITUNG MUARA ANGKE MUARA ANGKE MUARA ANGKE JAKBAR MUARA KARANG KALIBARU PLUIT KALIBARU JAKBAR PLUIT MUARA KARANG PLUIT PLUIT MUARA ANGKE MUARA ANGKE 65 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 KM.MULYA INDAH SELARAS KM. MEGA BUANA KM. RESTU KM. SETIA MAKMUR KM. RINDU ALAM KM. SUNVIANA KM. SEPIA JAYA KM. BARUNA KM. JAYA KENCANA KM. LABA - LABA II KM. PELITA ABADI KM. CAMAR LAUT KM. FERIAN BACHTI KM. SOPIAH KM. CAKRAWALA KM. ALAM LESTARI KM. NUSANTARA KM. ANALISA KM. TUGU PERMAI KM. PUTRI TUNGGAL KM. ANGGI KM. JAYA WIJAYA KM. LOEKI - B KM. DORETHY KM. ARJUNA - 03 KM SHANTY KM. MEGA BUANA KM. SRI WIJAYA IV KM. RAHAYU KM. DECO DEDES - I KM. CITRA ABADI KM. IDOLA KM. BINTANG PERMATA KM. SENANTIASA - II KM. TELUK INTAN KM. DUTA BAHARI - II KM. SINAR GEMILANG KM. MAJU JAYA KM. BUNGA MAS KM. CITRA SULAWESI - III 30 Maret 02-Apr 03-Apr 04-Apr 06-Apr 06-Apr 09-Apr 08-Apr 13-Apr 13-Apr 17-Apr 18-Apr 21-Apr 21-Apr 23-Apr 28 April 28 April 01 Mei 01 Mei 05 Mei 06 Mei 08 Mei 08 Mei 10 Mei 12 Mei 16 Mei 18 Mei 22 Mei 22 Mei 26 Mei 02 Juni 02 Juni 05 Juni 08 Juni 08 Juni 11 Juni 12 Juni 18 Juni 19 Juni 19 Juni 02 Aprl 05-Apr 08-Apr 07-Apr 08-Apr 09-Apr 11-Apr 11-Apr 16-Apr 16-Apr 20-Apr 26-Apr 25-Apr 26-Apr 26-Apr 02 Mei 01 Mei 03 Mei 04 Mei 08 Mei 08 Mei 10 Mei 11 Mei 13 Mei 15 Mei 19 Mei 22 Mei 23 Mei 24 Mei 31 Mei 05 Juni 06 Juni 09 Juni 11 Juni 11 Juni 15 Juni 15 Juni 22 Juni 22 Juni 20 Juni Angkutan Ikan Angkutan Ikan Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Jaring Cumi Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Angkutan Ikan Gill Net Gill Net Gill Net Bubu Gill Net Gill Net Gill Net Purse Seine Gill Net Purse Seine Jaring Cumi Gill Net Angkutan Ikan Gill Net Angkutan Ikan Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Angkutan Ikan Gill Net Jaring Cumi Gill Net Gill Net Gill Net Angkutan Ikan 24 6 29 24 28 29 29 20 23 10 26 19 6 6 25 27 29 27 12 28 28 29 25 27 6 29 7 12 29 27 13 25 27 6 12 27 28 30 10 6 1281/Bc J.15 No.1340 1175 / Bc 1541 / Bc 1905 / Bc 325 / Bc 2812 / Bc 1202 / Bc 003 / Bc 391 / Bc 1483 / Bc 556 / Gge J.5 No.172 J.15 No.5598 1725 / N 1412 / Bc 2350 / N 2550 / Bc 5180/N 1774 / Bc 1850 / Bc 2708 / Bc 466 / Bc 1563 / Bc S.37 No. 1559 1510 / Bc J.15 No. 146 857 / Bc 1470 / Bc 1599 / Bc 148 / Bc 0550 / Bc 1717 / Bc 1973 / Bc 2949 / Bc 407 / Bc S. 35 No.202 RAMSADI M. YUSUF ANYAN ANYAN ANYAN DIMIN DEDY ANYAN ANYAN ANYAN ANYAN BAHRUL JAMILI ANDY SULISTIYONO ANYAN ATONG ANYAN PANCE ANYAN H. YANTO PANCE ANAM MOMO NUNUNG A. RAHMAN NUNUNG M. YUSUF KO AKI KO AKI SLAMET ANYAN ANYAN AHWAT WARJU ANYAN AGUS TAUFIK SANTA ANTON H HAZAIRIN MUARA ANGKE MUARA ANGKE PLUIT PLUIT PLUIT MUARA KARANG MUARA KARANG PLUIT PLUIT PLUIT PLUIT MUARA ANGKE JAKARTA TIMUR MUARA ANGKE PLUIT JAKARTA PLUIT JAKARTA UTARA PLUIT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA JAKARTA JAKARTA Jakarta Utara Jakarta Utara Jakarta Utara Jakarta Utara Jakarta Utara Jakarta Selatan Jakarta Jakarta Jakarta Utara Jakarta Utara 66 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 KM. ALAM INDAH KM. MARLIN JAYA KM. COLUMBIA I KM. ANDIKA BAHARI - 02 KM. ANDI SEJAHTERA KM. SAM JAYA KM. PARAMOUN KM. IRWAN JAYA KM. PRIMA UTAMA JY 28 KM. KOMALA SARI KM. ELANG MAS KM. SINAR KAJUARA KM. LIANA KM. DUTA BAHARI V KM. SAFARI KM. BINTANG LAUT KM. NURI INDAH KM. SUMBER BAHARI KM. MUNCUL LESTARI JY KM. LISA JAYA KM. CITRA WIJAYA KM. BINTANG MORO KM. HASIL JAYA KM. MURNI INDAH KM. NURI INDAH III KM. SARI NIRANUANG KM. IRWAN PUTRA KM. INDH SRYA KENCANA KM. EMAN PUTRA KM. PRAJA BAHARI JY I KM. PRAJA BAHARI JY II KM. PRAJA BAHARI JY IV KM. PRAJA BAHARI JY VI KM. PUTRA BUANA KM. JAYA MANDIRI KM. ELANG BIRU KM. CAHAYA BINTANG KM. ALAM JAYA LESTARI KM. CAHAYA INDAH KM. AKBAR MULYA 03 Juli 05 Juli 03 Juli 05 Juli 10 Juli 11 Juli 16 Juli 16 Juli 17 Juli 17 Juli 31 Juli 04 Agustus 14 Agustus 21 Agustus 21 Agustus 26 Agustus 28 Agustus 28 Agustus 29 Agustus 03 September 06 September 06 September 07 September 12 September 17 September 19 September 21 September 23 September 23 September 25 September 25 september 30-Sep 30-Sep 30-Sep 02 Oktober 03 Oktober 16 Oktober 08 Oktober 10 Oktober 12 Oktober 09 Juli 09 Juli 12 Juli 10 Juli 14 Juli 16 Juli 20 Juli 19 Juli 19 Juli 21 Juli 04 Agustus 08 Agustus 18 Agustus 24 Agustus 24 Agustus 28 Agustus 02 September 02 September 02 September 06 September 10 September 10 September 11 September 16 September 19 September 20 September 23 September 27 September 25 September 28 september 28 September 06 Oktober 06 Oktober 02 Oktober 05 Oktober 06 Oktober 17 Oktober 12 Oktober 14 Oktober 14 Oktober Angkutan Bouke Ami Bouke Ami Jaring Cumi Gill Net Purse Seine Gill Net Gill Net Bubu Gill Net Purse Seine Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Jaring Dogol Angkutan Ikan Gill Net Jaring Cumi Gill Net Purse Seine Purse Seine Gill Net Bouke Ami Angkutan Ikan Angkutan Ikan Angkutan Ikan Angkutan Ikan Angkutan Ikan Gill Net Gill Net Purse Seine Angkutan Ikan Gill Net Angkutan Ikan Angkutan Ikam 28 29 29 29 27 38 25 22 29 28 29 6 29 29 23 7 6 26 29 21 29 28 21 26 6 6 18 29 25 4 6 4 4 24 26 28 6 29 30 6 1479 / Bc 54 / Bb 3155 / Bc 3208 / Bc 1923 / Ba 2732 / Bc 2634 / Bc 1229 / Bc 1781 / Bc 186 / Bb 2622 / Bc J.5 No. 593 1909 / Bc 2251 / Bc 1342 / Bc J.8 No. 684 S.35 A No.27 1395 / Bc 69 / Bb 1230 / Bc 2707 / Bc 2371 / Bc 863 / Bc 395 / SSd J. 26 No. 1107 J. 1 No. 1415 1542 / Bc 3331 / Bc 1422 / Da J. 6 1370 / Bc 2633 / Bc 2011 / Bc J. 6 No. 573 2205 / Bc 07 / Bb J. 5. No. 690 ACIU SEIN WIJAYA KASMAN SADIKIN TINUS AYUNG SINAGA ADI GENDUT SUTRISNO HENDRA BOB TJONG MAT NUR NUNUNG AGUS ANYAN BUDI H. MALUSE ANYAN TASDIK HENDRO S ANAM P SURYADI APO ALIP H. D. MALUSE H. ARSYAD B RAMSADI INDAH KANDAR KAB. P. SERIBU KAB. P. SERIBU NELSON NELSON ANYAN ANYAN BOB TJONG KAHARUDIN ANAM P H. DAENG M TONY JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA MUARA ANGKE JAKARTA PUSAT MUARA ANGKE PLUIT PLUIT JAKARTA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA UTARA KEP. SERIBU KEP. SERIBU PULAU PRAMUKA PULAU PRAMUKA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA B ARAT JAKARTA B ARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA 67 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 KM. PRAJA BAHARI JY V KM. PRAJA BAHARI JY III KM. BIMA KM. LABA - LABA KM. PRAJA BHR UTAMA I BANDAR JAKARTA II KM. DECO DEDES KM. RESTU KM. MEGA SURYA KM. WALKOT II KM. GUCCI KM. MAS AGUNG BANDAR JAKARTA I BAHARI KM. PRAJA BAHARI UTM 2 KM. ARIES KM. SINAR HARAPAN KM. YOLANDA KM. BANGKIT JAYA 075 KM. PUTRI II KM. BINTANG MAS KM. MINA JAKARTA 03 KM. EKA INDAH KM. BARACUDA JAYA KM. AMAR JAYA KM. CAKALANG KM. SUMBER REJEKI KM. CAMAR LAUT KM. PERMATA - I KM. HAYATI PERTIWI V KM. BERKEMBANG 06 Oktober 06 Oktober 12 Oktober 30 Oktober 30 Oktober 31 Oktober 06 Nopember 10 Nopember 11 Nopember 11 Nopember 16 Nopember 16 Nopember 14 Nopember 14 Nopember 24 Nopember 26 Nopember 30 Nopember 30 Nopember 30 Nopember 01 Desember 01 Desember 01 Desember 06 Desember 08 Desember 08 Desember 13 Desember 13 Desember 14 Desember 15 Desember 18 Desember 20 Desember 10 Oktober 10 Oktober 15 Oktober 11 Nopember 08 Nopember 13 Nopember 14 Nopember 22 Nopember 19 Nopember 18 Nopember 21 Nopember 23 Nopember 30 Nopember 28 Nopember 02 Desember 04 Desember 03 Desember 04 Desember 07 Desember 27 Desember 10 Desember 16 Desember 12 Desember 21 Desember 15 Desember 17 Desember 20 Desember 22 Desember 23 Desember Angkutan Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Angkutan Gill Net Gill Net Speed Boat Bubu Angkutan Ikan Gill Net Jaring Cumi Purse Seine Gill Net Jaring Cumi Angkutan Ikan Purse Seine Bouke Ami Angkutan Ikan Jr. Muro Ami Angkutan Ikan Gill Net 5 5 14 18 10 30 27 29 28 6 25 28 30 6 19 6 6 28 21 28 17 22 32 42 6 70 28 19 6 29 19 501 / Bc 480 / Bc 48 / Ba 1599 / Bc 1175 / Bc 2179 / Bc 1123 / Bc 1572 / Bc 374 / Ba 2185 / Ba J.2 No. 255 A.8 No 2199 186 / Bc 553 / Qa 1570 / Bc 711 / Bc 3073 / Bc 219 / Dpe 2140 / Ba S.35 No.123 1612 / T 1573 / Bc 556 / Gga J. 2 No.32 287 / Ft 702 / Bc NELSON NELSON ANYAN TAUFIK NELSON NELSON KO AKI ANYAN ANYAN NELSON ANYAN ANYAN NELSON NELSON NELSON AKIONG MUSLIMIN GENDUT SURADJI A. BASARI YULIANTO LIM H. ARSYAD NAWAR BTPI H. RUDIN BTPI APO BAHRUL HANDOKO H. SUKRI Y. HARIMAN PULAU PRAMUKA PULAU PRAMUKA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA PULAU PRAMUKA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA SELAT PANJANG JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA SELATAN JAKARTA UTARA JAKARTA PUSAT 68 Lampiran 4 Kegiatan Pelayanan Docking Kapal BTPI Tahun 2007 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 NAMA KAPAL KM. TELUK INTAN KM. CAHAYA SAMUDERA KM. PRANA JAYA - II KM. CAKRAWALA KM. CAHAYA ABADI - I KM. NAGA LAUT KM. WINDA FRANSISCA KM. CAHAYA BINTANG KM. IDOLA KM. LANCAR KM. MUNCUL JAYA KM. SARI INDAH KM. RINDU ALAM KM. AMAT JAYA KM. KARYA MITRA KM. SURYA CITRA N 1 KM. PERINTIS 1 KM. TIMBUL JAYA I KM. KURNIA KM. PAHALA KENCANA KM. SOPONGIRO - II KM. SINAR ULTRA KM. MARIANA KM. SETIA MAKMUR KM. TUGU PERMAI KM. SURYA BAHARI KM. SENTOSA KM. BINTANG LAUT KM. SAHABAT KM. ALAM SARI KM. CAROLINA KM. NUSANTARA KM. BERLIAN - 5 KM. ANALISA KM. TELUK INTAN KM. BERKAT USAHA TANGGAL NAIK TURUN 02 Januari 05 Januari 02 Januari 06 Januari 06 Januari 08 Januari 06 Januari 09 Januari 07 Januari 12 Januari 07 Januari 09 Januari 10 Januari 13 Januari 12 Januari 17 Januari 16 Januari 20 Januari 25 Januari 28 Januari 08 Februari 13 Februari 11 Februari 14 Februari 11 Februari 15 Februari 12 Februari 15 Februari 15 Februari 19 Februari 15 Februari 19 Februari 19 Februari 23 Februari 19 Februari 22 Februari 21 Februari 24 Februari 02 Maret 05 Maret 05 Maret 09 Maret 06 Maret 13 Maret 06 Maret 09 Maret 09 Maret 12 Maret 14 Maret 19 Maret 14 Maret 18 Maret 16 Maret 20 Maret 16 Maret 19 Maret 22 Maret 24 Maret 27 Maret 30 Maret 27 Maret 30 Maret 03-Apr 07-Apr 03-Apr 06-Apr 08-Apr 11-Apr 12-Apr 16-Apr 12-Apr 15-Apr ALAT TANGKAP Gill Net Jr. Tangsi Jr. Dogol Gill Net Gill Net Jr. Dogol Gill Net Angkutan Ikan Gill Net Purse Seine Gill Net Angkutan Ikan Gill Net Gill Net Gill Net Muro Ami Angkutan Ikan Muro Ami Bouke Ami Gill Net Jaring Udang Gill Net Bouke Ami Gill Net Gill Net Jaring Cantrang Bubu Jaring Dogol Gill Net Purseine Bouke Ami Gill Net Jaring Cumi Gill Net Gill Net Angkutan Ikan GT 29 28 7 25 28 7 28 20 25 6 28 23 28 33 26 17 7 28 30 29 6 28 20 24 12 29 29 7 26 29 13 29 20 27 29 6 TANDA SELAR 3018 / Bc 1667 / Bc J.8 No. 696 1710 / Bc 1549 / Bc J.8 No. 697 2249 / Bc 131 / Gga 50 / Bc J. 26 No.600 1509 / Bc 826 / Da 1905 / Bc 330 / Hha 216 / Bc 330 / Eed I / J2 1440 / Bc 415 / PPf 3019 / Bc J. 15 No. 671 2701 / Bc 710 / Bc 1541 / Bc 479 / Bc 1665 / Bc 1928 / Bc J. 8 No. 684 2466 / Bc 2345 / Bc 591 / Bc 2081 / Bc 941 / Bc 2250 / Bc 3018 / Bc J.5 No. 657 PEMILIK / PENGURUS ANYAN TAUFIK ERIYANTO ANYAN TAUFIK SANTO DIMIN KAHARUDIN ANYAN SUMANTO BOB TJOENG SUTANDI WALUYO SANGKALA ANAM P ENCUP AIP ENCUP ATONG WALUYO M. MA'RUF TAUFIK GUNAWAN WALUYO ANYAN A'ENG OSAN BUDIYANTO ANYAN EFFENDI YONO WALUYO AGUS DIMIN WALUYO ROJAK KETERANGAN JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA LAMPUNG JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA 69 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 KM. MINA JAKARTA - 05 KM. BOGA PATI KM. SINAR HARAPAN KM. PUTRI TUNGGAL KM. DUTA BAHARI - II KM. PRIMA SAKTI KM. CAHAYA INDAH - 02 KM. MILENIUM JAYA KM. ALAM JAYA MAKMUR KM. CAHAYA BINTANG KM. WIRA USAHA KM. MAJU JAYA KM. DUTA BAHARI KM. DORETHY KM. SUMBER JAYA KM. ESMERALDA KM. CAHAYA INDAH KM. BADAK KULON KM. PUTRA MANDALA KM. PARAMOUNT KM. ANGGI KM. ELANG RAJA KM. SUGIH TERUS JAYA KM. KENARI KM. BERLIAN KM. SUMBER MAJU KM. GRESIDA KM. DUTA BAHARI - 5 KM. ARJUNA - 03 KM. BUNGA LILI KM. KAJUARA KM. TETAP JAYA - I KM. PAUS BIRU KM. MURNI INDAH KM. ANNE KM. ALPUKAT KM. NOVITA JAYA KM. IDOLA KM. CAHAYA SAMUDRA KM. ALAM JAYA 12-Apr 16-Apr 16-Apr 18-Apr 18-Apr 23-Apr 27-Apr 25-Apr 03 Mei 04 Mei 07 Mei 10 Mei 11 Mei 11 Mei 13 Mei 14 Mei 14 Mei 18 Mei 22 Mei 23 Mei 28 Mei 28 Mei 04 Juni 05 Juni 06 Juni 06 Juni 08 Juni 13 Juni 18 Juni 18 Juni 21 Juni 25 Juni 11 Juni 30 Juni 30 Juni 04 Juli 09 Juli 11 Juli 16 Juli 19 Juli 15-Apr 19-Apr 19-Apr 23-Apr 24-Apr 28-Apr 29-Apr 28-Apr 09 Mei 05 Mei 12 Mei 12 Mei 12 Mei 13 Mei 17 Mei 21 Mei 20 Mei 20 Mei 26 Mei 27 Mei 30 Mei 30 Mei 07 Juni 07 Juni 10 Juni 10 Juni 11 Juni 18 Juni 22 Juni 21 Juni 29 Juni 29 Juni 04 Juli 04 Juli 04 Juli 08 Juli 12 Juli 16 Juli 20 Juli 23 Juli Jaring Cumi Gill Net Angkutan Ikan Purse Seine Jaring Cumi Angkutan Ikan Angkutan Ikan Purse Seine Purse Seine Angkutan Ikan Gill Net Bubu Muro Ami Gill Net Gill Net Gill Net Angkutan Ikan Pancing Gill Net Gill Net Gill Net Purse Seine Angk. Ikan Bagan Apung Muro Ami Angk. Ikan Purse Seine Jaring Cumi Angk. Ikan Purse Seine Jaring Cumi Jaring Cumi Angkutan Bouke Ami Gill Net Jr. Muro Ami Purse Seine Gill Net Jaring Cumi Purse Seine 22 28 6 28 27 30 23 28 29 6 29 28 29 27 27 28 30 4 6 25 28 29 6 7 6 6 25 29 6 29 6 28 42 26 27 5 29 25 28 27 3075 / Bc 959 / Bc A.8 No.2199 1774 / Bc 1973 / Bc 138 / Fp 17 / Bb 1885 / Bc 2050 / Bc J.8 No.573 2984 / Bc 2720 / Bc 1859 / Bc 1563 / Bc 1660 / Bc 1676 / Bc 07 / Bb J.17 No.3610 J.37 No.6603 2634 / Bc 1850 / Bc 3330 / Bc J.5 No.806 J. 8 No. 750 J. 16 No.378 J.8 No. 685 735 / Da 2251 / Bc S.37 No.1599 245 / Bc J. 1 No.1389 2269 / Bc 1314 / Ba 395 / SSd 129 / Bc A-8 No.2308 1530 / Bc 50 / Bc 1667 / Bc 137 / Gga ZULKARNAEN WALUYO ROJAK WARJU AGUS M. TAUFIK D. MALUSE MARTIN ANAM KAHARUDIN ANYAN HERMANTO AGUS NUNUNG TJAN HASAN AMIN YUNUS H. DAENG M CHRISTIAN KODORI ANYAN PANCE BOB TJOENG KAPOL KRISNADI HON HENDRY H HARYANTO SULIYANTO HON HENDRY H SOLIHIN ANTON H. MAS NUR MENCRET HARYO SENO ALIP MOMU ENCUP APO ANYAN ARPO ANAM P JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKSEL JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA SELATAN JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA PUSAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA INDRAMAYU JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA TIMUR JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA PUSAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA Tj. PANDAN JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA 70 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 KM. MITRA BAHARI KM. MORO MULIA KM. PERINTIS KM. GRESIDA - 5 KM. CAHAYA IKHWAN KM. FIJAI SAPUTRA KM. ALAM JAYA LESTARI KM. AGUNG MULYA KM. NUR ILHAM KM. PUTRA BONE KM. KONCO ENGGAL KM. INDO MAKMUR KM. CAKALANG JAYA 1 KM. REZEKI GARUDA MAS KM. CAHAYA REJEKI KM. SENANTIASA - 2 KM. HASIL JAYA KM. DERMAWAN KM. IRWAN PUTRA KM. NURMAWADAH KM. SINAR SEJAHTERA KM. NURI INDAH KM. SRI RAMA KM. SUMBER HARAPAN KM. RESTU KM. ROHANI JAYA KM. MEGA SURYA KM. KARYA MITRA 22 Juli 22 Juli 21 Juli 27 Juli 01 Agustus 07 Agustus 09 Agustus 13 Agustus 13 Agustus 13 Agustus 14 Agustus 21 Agustus 20 Agustus 21 Agustus 24 Agustus 26 Agustus 03 September 05 September 05 September 08 September 14 September 16 September 20 September 19 September 19 September 25 September 25 September 25 September 30 Juli 28 Juli 26 Juli 30 Juli 04 Agustus 11 Agustus 14 Agustus 19 Agustus 16 Agustus 16 Agustus 17 Agustus 26 Agustus 31 Agustus 23 Agustus 25 Agustus 28 Agustus 08 september 10 September 08 September 17 September 17 September 19 September 24 September 24 September 23 September 27 September 28 september 28 september Gill Net Purse Seine Angkutan Ikan Bouke Ami Angkutan Ikan Gill Net Gill Net Angkutan Ikan Pancing Purse Seine Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Bouke Ami Gill Net Angkutan Angkutan Ikan Angkutan Ikan Angkutan Ikan Angkutan Ikan Jaring Cumi Jaring Cumi Gill Net Jaring Cumi Gill Net Gill Net 29 29 26 29 6 6 29 24 25 6 21 28 82 30 29 6 21 6 18 7 30 6 14 29 29 20 28 26 2768 / Bc 2710 / Bc 631 / Bc 1681 / Bc S.35A No.252 J. 8 No.692 2205 / Bc 1271 / Bc 119 / Bb J. 5 No.415 1211 / Bc 1814 / Bc 2977 / Bc 627 / SSd 1111 / Dda 863 / Bc J. 8 No. 906 1542 / Bc S. 35 a No.199 929 / HHd S. 35 A No.27 763 / Bc 3027 / Bc 1175 / Bc 3830 / Bc 2179 / Bc 216 / Bc INDRI HARTONO ALIP HAKIM H. D. MALUSE SOLIHIN ANAM P ANYAN H.D. MANGENDRE WARJU HARTONO ANYAN BTPI SOLIHIN SUIYAN WARJU ARPO Hj. SRI NGANIATUN RAMSADI H. D MANGENDRE H. SUKRI H. D MALUSE WARJU SUJAMIN SININ SAMUEL AT WARJU ANYAN ANAM P JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA PALEMBANG JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA 71 Lampiran 5 Kegiatan Pelayanan Docking Kapal BTPI Tahun 2008 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 NAMA KAPAL KM. RINDU ALAM KM. YAMATOBA - 05 KM. CAHAYA ABADI KM. SUMBER KEHIDUPAN KM. SINAR REJEKI - 1 KM. ULAM SARI PUTRA-II KM. DUTA BAHARI - II KM. CAHAYA BARU KM. W L M KM. SINAR WIJAYA - II KM. SURYA BAHARI KM. PUTRA BUANA KM. ROBOT B KM. TUGU PERMAI KM. MAS AGUNG KM. SAHABAT KM. SUMBER REJEKI KM. SETIA MAKMUR KM. TELUK INTAN KM. CAHAYA REJEKI KM. DUTA BAHARI - 1 KM. SAFARI KM. MITRA BAHARI KM. CITRA SULAWESI - III KM. PAHALA KENCANA KM. NANDO JAYA - I KM. CAKRAWALA KM. ANDI SEJAHTERA KM. SUMBER BAHARI KM. MEGASURYA KM. IDOLA KM. SRI ASIH KM. ELANG LAUT KM. SAPUTRA JAYA - II KM. MARIANA KM. DORETHY TANGGAL NAIK TURUN 13-Feb 17-Feb 14-Feb 18-Feb 18-Feb 23-Feb 20-Feb 25-Feb 20-Feb 24-Feb 23-Feb 29-Feb 25-Feb 29-Feb 03-Mar 09-Mar 03-Mar 07-Mar 07-Mar 12-Mar 10-Mar 13-Mar 14-Mar 17-Mar 15-Mar 20-Mar 22-Mar 26-Mar 27-Mar 30-Mar 29-Mar 01-Apr 30-Mar 01-Apr 31-Mar 03-Apr 01-Apr 03-Apr 03-Apr 04-Apr 06-Apr 10-Apr 06-Apr 09-Apr 10-Apr 12-Apr 10-Apr 13-Apr 15-Apr 17-Apr 18-Apr 20-Apr 20-Apr 22-Apr 24-Apr 28-Apr 01-Mei 04-Mei 02-Mei 05-Mei 07-Mei 14-Mei 10-Mei 15-Mei 14-Mei 19-Mei 14-Mei 17-Mei 17-Mei 21-Mei 20-Mei 27-Mei ALAT TANGKAP Gill Net Bubu Jaring Cumi Jaring Tangsi Bouke Ami Jaring Cucut Jaring Cumi Muro Ami Muro Ami Bouke Ami Jaring Cantrang Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Angkutan Ikan Gill Net Gill Net KM. Angkutan Muro Ami Gill Net Gill Net Angkutan Ikan Gill Net Bouke Ami Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Bouke Ami Gill Net Bouke Ami Gill Net Gill Net GT 28 25 28 24 29 26 27 7 14 27 29 24 15 12 27 26 28 24 29 29 29 23 25 6 29 28 25 27 26 28 25 6 28 26 20 27 TANDA SELAR 1905 / Bc 2511 / Bc 1549 / Bc 1574 / Bc 3203 / Bc 1973 / Ft 1973 / Bc 232 / S. 20 318 / Eed 2285 / Bc 1665 / Bc 137 / Bc 410 / Bc 479 / Bc 1572 / Bc 2465 / Bc 1573 / Bc 1541 / Bc 3018 / Bc 1111 / Dda 1859 / Bc 1342 / Bc 1068 / Bc S.35 A No.202 3019 / Bc 78 / Bc 1710 / Bc 1923 / Ba 1395 / Bc 2179 / Bc 50 / Bc J.26 No.554 2623 / Bc 916 / Bc 710 / Bc 1503 / Bc PEMILIK / PENGURUS TONY T HORISON S ARPO S ANTON H BAHRIM MAD SAID HON HENDRY H KIM SAI TJIN SAI WIDIANTO A'ENG ANYAN BOB ANYAN SURYANI WALUYO MOH. AZIZ WALUYO WALUYO SURYANI HON HENDRI H WALUYO WALUYO M. HAZAIRIN WALUYO JOHAN ANDI GAUTAMA FAUZI ANYAN ANYAN ANYAN MI CEH BOB TJOENG SANDJAYA BAJA GUNAWAN NUNUNG KETERANGAN JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA BELITUNG JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA PALEMBANG JAKARTA PUSAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA PUSAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA 72 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 KM. GUCCI KM. KOTA BARU - IV KM. SUMBER LAUT KM. MUDA JAYA KM. SURYA CITRA N - V KM. CAHAYA INDAH KM. DINASTI MAKMUR - IA KM. ANNE KM. VINCENT KM. NURI INDAH - III KM. CITRA WIJAYA KM. PRIMADANA KM. AGUNG MULYA KM. CAHAYA INDAH - II KM. PURI INDAH KM. INDAH SURYA K KM. DANARE KM. PUTRI PESONA KM. NURI INDAH - I KM. TIMBUL JAYA - I KM. CAHAYA SAMUDRA KM. JAYA RAYA PERKASA KM. PARAMOUNT KM. PUTRI II KM. BERLIAN KM. BINTANG KEJORA KM. PERINTIS SINABOY KM. BADAK KULON KM. SRIKANDI - I KM. WINDI JAYA KM. BINTANG PUTRA - I KM. TEKUN KM. SINAR GEMILANG KM. JAYA WIJAYA KM. TATA KENCANA KM. BERLIAN KM. INDO MAKMUR KM. CAHAYA SENJA KM. ALI BABA - II KM. YOSHINAGA - V 21-Mei 03-Jun 04-Jun 06-Jun 11-Jun 11-Jun 12-Jun 16-Jun 16-Jun 16-Jun 21-Jun 21-Jun 23-Jun 25-Jun 25-Jun 02-Jul 05-Jul 09-Jul 14-Jul 14-Jul 16-Jul 18-Jul 22-Jul 22-Jul 22-Jul 23-Jul 03-Agust 04-Agust 06-Agust 11-Agust 11-Agust 13-Agust 13-Agust 14-Agust 15-Agust 19-Agust 19-Agust 19-Agust 22-Agust 23-Agust 25-Mei 07-Jun 07-Jun 13-Jun 15-Jun 16-Jun 19-Jun 19-Jun 19-Jun 20-Jun 23-Jun 26-Jun 27-Jun 28-Jun 29-Jun 14-Jul 09-Jul 12-Jul 17-Jul 17-Jul 22-Jul 21-Jul 28-Jul 27-Jul 28-Jul 26-Jul 09-Agust 06-Agust 12-Agust 13-Agust 12-Agust 18-Agust 20-Agust 18-Agust 18-Agust 29-Agust 23-Agust 29-Agust 26-Agust 25-Agust Gill Net Payang Jaring Dogol Angkutan Ikan Angkutan Ikan Angkutan Ikan Jaring Cumi Jaring Cumi Jaring Cumi Angkutan Ikan Gill Net Gill Net Gill Net Angkutan Ikan Angkutan Ikan Angkutan Jaring Cumi Bouke Ami Angkutan Ikan Muro Ami Jaring Cumi Bouke Ami Gill Net Purse Seine Jaring Cumi Jaring Cumi Bouke Ami Jaring Cumi Jaring Cumi Angkutan Ikan Bouke Ami Gill Net Purse Seine Gill Net Jaring Cumi Gill Net Angkutan Ikan Jaring Tangsi Jaring Cumi 25 6 7 7 17 30 46 27 28 6 29 25 24 23 11 29 19 29 6 28 28 29 25 28 20 7 6 4 24 24 27 11 28 29 6 20 28 17 21 6 1123 / Bc J. 64 -5627 R 4 No.642 S.36 No.2740 330 / Eed 07 / Bb 3181 / Bc 129 / Bc 2638 / Bc J. 26 No.1107 2707 / Bc 034 / Bc 1271 / Bc 17 / Bb 308 / Ge 3331 / Bc 1458 / Da 2626 / Bc S.35 A No. 27 1440 / Bc 1667 / Bc 2583 / Bc 2634 / Bc 1570 / Bc 2521 / Bc 53 / Bb J.8 No. 601 J.17 No.3610 996 / Bc 3827 / Bc 2416 / Bc 897 / Bc 2949 / Bc 2708 / Bc S.44 No.4862 2521 / Bc 1814 / Bc 1345 / Bc 7564 / Ba J.15 No.1334 ANYAN SUHAJO HUTOMO G JUNLI HANDOKO ENCUP H. DAENG MALUSE UCOK ISWADI MOMO SUJAMIN SININ H. DAENG MALUSE ANAM P GUNAWAN ANYAN H. DAENG MALUSE SUTANDI INDAH N RONALD A. BASARI H. D. MALUSE FREDY G ARPO S HOCKY S WALUYO A. BASARI HON HENDRI H H. NUR YUS HERI CULANG TJULIK WARJU DENI REVINA DANIEL M ARPO S ANAM P TATU HON HENDRI H WALUYO ALI HUSEN KACONG ALPHONSUS T JAKARTA UTARA BREBES MUARA KARANG MUARA ANGKE MUARA ANGKE MUARA ANGKE TAMBORA KALI BARU MUARA ANGKE MUARA ANGKE MUARA KARANG PETOJO / JAKPUS PLUIT MUARA ANGKE JAKARTA PUSAT JAKARTA JAKARTA PUSAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA KAB. BELITUNG JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT 73 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 KM. NUSANTARA KM. JAYA KENCANA - III KM. EMAN PUTRA - II KM. JAYA MANDIRI KM. IDOLA KM. MELINDA KM. CITRA ABADI KM. BARUNA KM. EMAN PUTRA KM. BANGKIT BAHARI KM. CAHAYA BINTANG KM. PUTRA MANDIRI KM. ELLEN JAYA KM. DERMAWAN KM. JAYA KENCANA - III KM. MUNCUL JAYA - 3 KM. CAROLINA KM. WIRA USAHA KM. SINAR BARU - 3 KM. BUDI ABADI KM. CAHAYA MULYA KM. SENTOSA KM. ROSALINDA KM. BERDIKARI KM. PERKASA - 3 KM. PUTRI AYU KM. CAHAYA INDAH KM. BERDIKARI KM. SINAR BAHARI KM. MULYA INDAH SLRS KM. DEWI LESTARI KM. TRISNAWATI KM. VICTORY KM. LIANA KM. MARLIN KM. VANESA KM. DUTA BAHARI - V KM. RESTU KM. GUCCI KM. PUTRA JAYA 04-Sep 05-Sep 06-Sep 10-Sep 10-Sep 11-Sep 14-Sep 16-Sep 17-Sep 17-Sep 19-Sep 19-Sep 06-Okt 06-Okt 08-Okt 11-Okt 11-Okt 12-Okt 16-Okt 18-Okt 20-Okt 22-Okt 23-Okt 23-Okt 01-Nop 01-Nop 01-Nop 01-Nop 08-Nop 07-Nop 11-Nop 12-Nop 13-Nop 16-Nop 18-Nop 18-Nop 21-Nop 24-Nop 24-Nop 01-Des 11-Sep 08-Sep 09-Sep 19-Sep 13-Sep 15-Sep 19-Sep 23-Sep 19-Sep 23-Sep 23-Sep 23-Sep 11-Okt 11-Okt 11-Okt 15-Okt 17-Okt 16-Okt 23-Okt 21-Okt 30-Okt 29-Okt 30-Okt 28-Okt 05-Nop 07-Nop 03-Nop 18-Nop 11-Nop 21-Nop 14-Nop 14-Nop 17-Nop 20-Nop 24-Nop 24-Nop 30-Nop 30-Nop 29-Nop 12-Des Gill Net Bouke Ami Angkutan Ikan Gill Net Gill Net Jaring Cumi Gill Net Gill Net Angkutan Ikan Purse Seine Angkutan Ikan Gill Net Gill Net Angkutan Bouke Ami Gill Net Gill Net Gill Net Angkutan Ikan Angkutan Ikan Angkutan Ikan Bubu Jaring Cumi Pancing Gill Net Muro Ami Angkutan Ikan Angkutan Gill Net Angkutan Ikan Angkutan Jaring Cumi Angkutan Gill Net Angkutan Gill Net Jaring Cumi Gill Net Gill Net Jaring Cumi 29 28 28 26 25 20 13 20 25 29 20 29 28 6 29 28 13 29 25 22 6 29 26 26 22 29 30 7 30 24 32 29 29 29 6 28 29 29 25 6 2081 / Bc 2040 / Bc 2417 / Bc 2663 / Bc 0550 / Bc 1490 / Bc 648 / Bc 1202 / Bc 1422 / Da 2091 / Bc 131 / Gga 2983 / Bc 2879 / Bc J. 8 No. 906 2540 / Bc 1509 / Bc 591 / Bc 2984 / Bc 807 / Da 12 / Bc 191 / S. 35 A 1928 / Bc 1805 / Bc J. 2 No. 477 447 / Bc 2038 / Bc 07 / Bb J. 2 No. 188 1220 / Ft 1281 / Bc 427 / Ppe 204 / Bc 2887 / Bc 1909 / Bc J. 6 No. 265 3118 / Bc 2551 / Bc 1175 / Bc 1123 / Bc - WALUYO BUDI HERMAN WALUYO WALUYO CUN SENG WALUYO WALUYO KANDAR KHO OTONG B WALUYO WALUYO NELLY Hj. SRI N BUDY BOB M. ARIFIN WALUYO FARIZAL ENCU H. AKBAR CUAN IN HOA WIJAYA KEVIN TEJA ABDUL H LUKMANUL H H. DAENG M ENO BOWO S NUNUNG RAMSADI SUSILO APUK KAPOL NUNUNG HARYOSENO TAN TJUN SENG HON HENDRI H WALUYO WALUYO WALUYO JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA SELATAN JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA BARAT 74 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 KM. MAS AGUNG KM. MULIA BARU - 9 KM. PUTRI AYU KM. MINA JAKARTA - 03 KM. SURYA BAHARI KM. BARACUDA JAYA KM. SUMBER HARAPAN KM. HIJRAH ABADI KM. NAZARAH - II TB. TRANTIB KM. SINAR MAJU KM. W L M KM. PUTRI DUYUNG - IV KM. LANGKAH PASTI 03-Des 03-Des 03-Des 06-Des 11-Des 12-Des 12-Des 15-Des 16-Des 18-Des 18-Des 18-Des 18-Des 19-Des 12-Des 05-Des 09-Des 11-Des 15-Des 17-Des 17-Des 18-Des 17-Des 22-Des 22-Des 25-Des 20-Des 26-Des Gill Net Angkutan Ikan Jaring Cumi Angkutan Bouke Ami Bouke Ami Muro Ami Jaring Dogol Jaring Muro Ami Jaring Muro Ami Jaring Dogol Angkutan Ikan 28 16 28 22 29 42 29 5 7 30 6 14 6 5 1572 / Bc 399 / Bc 2515 / Bc 3037 / Bc 1665 / Bc 2140 / Ba 3027 / Bc A. 12 No. 027 J. 8 No. 540 1408 / Bc A. 12 No. 401 318 / Eed J. 8 No. 698 208 / J. 26 WALUYO H. DJAWADE A. BASARI H. ARSYAD ARPO UPT. BTPI NANO H. ABDUL RIFAI CHANDRA SILVI MARNO S TJIN SAN HARYANTO JOKO JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT 75 Lampiran 6 Kegiatan Pelayanan Docking Kapal BTPI Tahun 2009 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 NAMA KAPAL KM. MEGA SURYA KM. CAKRAWALA KM. HAYATI PERTIWI - V KM. SINAR REJEKI - I KM. TELUK INTAN KM. KURNIA KM. CAHAYA ABADI KM. SIDO MULYO KM. ANNE - II KM. CAHAYA BINTANG KM. SRI ASIH - I KM. BANGUN JAYA KM. ELANG MAS KM. KARYA ARTA KM. ROHANI - I KM. SAFIR LAUT - 3 KM. NURI INDAH - III KM. SUGIH TERUS JAYA KM. SINAR SEJAHTERA KM. SUSANTI JAYA KM. INTAN LAUT - 2 KM. INDO MAKMUR KM. CAHAYA BARU KM. SRI RAMA KM. SRI ASIH KM. TRI JAYA - 04 KM. SUMBER KEHIDUPAN KM. KAPAL BARU KM. ROHANI - 2 KM. PULAU MAS KM. SAFARI KM. BANDAR JAKARTA KM. KARYA GUNA KM. DARMA JAYA KM. PESUT KM. MINA JAYA TANGGAL NAIK TURUN 03-Jan 10-Jan 04-Jan 12-Jan 06-Jan 10-Jan 06-Jan 10-Jan 10-Jan 16-Jan 16-Jan 15-Jan 17-Jan 26-Jan 17-Jan 28-Jan 18-Jan 24-Jan 20-Jan 25-Jan 27-Jan 30-Jan 28-Jan 30-Jan 28-Jan 31-Jan 31-Jan 03-Feb 03-Feb 06-Feb 03-Feb 06-Feb 04-Feb 07-Feb 05-Feb 08-Feb 08-Feb 25-Feb 09-Feb 13-Feb 09-Feb 13-Feb 13-Feb 18-Feb 13-Feb 16-Feb 23-Feb 26-Feb 23-Feb 27-Feb 14-Feb 23-Feb 18-Feb 20-Feb 19-Feb 26-Feb 15-Feb 01-Mar 03-Mar 09-Mar 03-Mar 08-Mar 03-Mar 12-Mar 05-Mar 11-Mar 07-Mar 13-Mar 13-Mar 18-Mar 14-Mar 16-Mar ALAT TANGKAP Gill Net Gill Net Angkutan Ikan Bouke Ami Gill Net Angkutan Ikan Gill Net Jaring Cumi Gill Net Angkutan Ikan Jaring Cumi Pancing Purse Seine Angkutan Jaring Cumi Angkutan Angkutan Angkutan Angkutan Purseine Angkutan Angkutan Angkutan Angkutan Bouke Ami Jaring Bubu Jaring Tangsi Gill Net Jaring Cumi Angkutan Gill Net Jaring Cumi Jaring Cumi Angkutan Purseine GT 28 25 29 29 29 6 28 26 27 6 27 6 6 7 29 29 6 6 30 29 27 7 7 7 6 26 24 29 29 29 23 83 19 6 6 4 TANDA SELAR 2179 / Bc 1710 / Bc 287 / Ft 3203 / Bc 3018 / Bc J. 16 No. 1204 1549 / Bc 955 / Ft 129 / Bc J. 8 No. 573 129 / Bc J. 26 No. 554 J. 37 No.3769 571 / Bc 1579 / Bc J. 26 No. 1107 J. 5 No. 599 929 / HHd 2010 / Bc 312 / Bc 1814 / Bc S. 20 No. 232 763 / Bc J. 26 No. 554 290 / Da 1574 / Bc 1342 / Bc 347 / Ba 543 / Bc J. 5 No. 806 J. 8 No. 693 75 / J.2 PEMILIK / PENGURUS WALUYO WALUYO H. NAZAIRIN BAHRIN WALUYO SURYANA ARPO S SODIKIN ANTON KAHARUDIN UJANG R ENCUP BOB TJONG UNTUNG WARJU PONDI HIMAWAN H. MALUSE KAPOL H. SUKRI APO HENDRI ANYAN JUNAIDI WARJU SUSANTO ANTHONY ANTON ANYAN WARJU H. SUKRI TONY S PEMDA DKI UNTUNG NOPA N BAMBANG H. MINAH KETERANGAN JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA TJ. PANDAN JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA 76 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 KM. SETIA MAKMUR KM. BARUNA KM. KAKAP MERAH - IV KM. MARIANA KM. VITA JAYA KM. DORETHY KM. BINTANG PERMATA KM. SAHABAT KM. INDO MAKMUR KM. BERLIAN JAYA - 5 KM. TUNGKASA JAYA KM. WINDA DIANA KM. MAGRIS JAYA - VIII KM. SETIA JAYA KM. ASIA JAYA - I KM. PARAMOUNT KM. PAHALA KENCANA KM. DINASTI MAKMUR-Ia KM. SINAR ABADI - 88 KM. HARMONIS KM. GUNUNG JAYA KM. BINTANG ALAM - 2 KM. VINCENT KM. MITRA BAHARI KM. DUTA BAHARI - III KM. IDOLA KM. NABARA - II KM. BANGUN JAYA KM. NUR INDAH - III KM. ROSALINA KM. PONTI KM. NUR ILHAM KM. DUTA BAHARI - I KM. BUNGSU B KM. ROHMAH KM. AMALIA JAYA KM. MINA JAKARTA - 04 KM. KARYA SAMUDRA KM. TETAP JAYA - I KM. SUMBER BAHARI 17-Mar 17-Mar 18-Mar 20-Mar 27-Mar 31-Mar 03-Apr 03-Apr 06-Apr 06-Apr 12-Apr 14-Apr 20-Apr 26-Apr 18-Apr 23-Apr 23-Apr 30-Apr 01-Mei 02-Mei 08-Mei 11-Mei 15-Mei 19-May 26-Mei 27-Mei 02-Jun 02-Jun 03-Jun 03-Jun 08-Jun 08-Jun 09-Jun 17-Jun 19-Jun 19-Jun 28-Jun 28-Jun 30-Jun 05-Jul 20-Mar 21-Mar 28-Mar 26-Mar 30-Mar 06-Apr 10-Apr 10-Apr 13-Apr 08-Apr 16-Apr 18-Apr 24-Apr 29-Apr 23-Apr 30-Apr 28-Apr 05-Mei 05-Mei 07-Mei 15-Mei 17-Mei 19-Mei 26-Mei 31-Mei 02-Jun 09-Jun 09-Jun 08-Jun 08-Jun 11-Jun 16-Jun 14-Jun 22-Jun 21-Jun 06-Jul 03-Jul 03-Jul 06-Jul 10-Jul Gill Net Gill Net Jaring Cumi Bouke Ami Jaring Cumi Gill Net Jaring Cumi Angkutan Ikan Jaring Cumi Jaring Cumi Angkutan Ikan Angkutan Ikan Angkutan Ikan Gill Net Angkutan Ikan Gill Net Gill Net Bouke Ami KM. Angkutan Angkutan Ikan Angkutan Ikan Angkutan Ikan Jaring Cumi Gill Net Jaring Cumi Gill Net Angkutan Angkutan Ikan Angkutan Ikan Bouke Ami Bouke Ami Angkutan Ikan Bouke Ami Jaring Dogol Jaring Dogol Angkutan Ikan Hand Line Gill Net Jaring Cumi Gill Net 24 20 28 20 25 27 27 26 28 20 23 6 29 29 29 25 29 46 57 29 29 19 28 25 29 25 25 6 6 19 25 25 29 7 7 6 28 29 28 26 1541 / Bc 1202 / Bc 2387 / Bc 710 / Bc 199 / Ia 1563 / Bc 1717 / Bc 2465 / Bc 1814 / Bc 941 / Bc 826 / Da 230 / S. 35 A 876 / Dda 1615 / Bc 62 / Bb 2634 / Bc 3019 / Bc 3181 / Bc 571 / Dda 952 / Dda 1515 / Bc 406 / Dda 2683 / Bc 1068 / Bc 1974 / Bc 50 / Bc J.37 No.3769 1107 / J.26 694 / Bc 119 / Bb 1859 / Bc J.8 No. 416 J.8 No. 1469 3074 / Bc 2269 / Bc 1395 / Bc TONI CAHYADI TONI CAHYADI KIM YAN THO GUNAWAN SALIM SAIDI TJANDRA K TJAN KEK HOK ACE SURYANI HON HENDRI H H. MOCH ZEIN HARIS SUSANTO TJAN HASAN A. SYARIFUDIN ANYAN TONI CAHYADI HALIM EDY TONO IRIYANTO TJAN KEK SENG ABDUL HAI SUDJAMIN S Ir. SUSANTO HON HENDRI H TONY CAHYADI HALIM IAN ARDIANSH H. DAENG M AMIN YUNUS WARJU H. DAENG M HON HENDRI H ARWA ENDRI ENCAS A. RASYID DINAS PERIK HR. UNA HJ. NOPA W SURYANI JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA TANJUNG PANDAN MUARA KARANG MUARA ANGKE JAKARTA BARAT PANIPAHAN PALEMBANG JAKARTA UTARA P. TIDUNG JAKARTA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA 77 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 KM. SAMANTA KM. SHINTA KM. SAM JAYA KM. JAYA KENCANA - 3 KM. KAYTORA KM. NURWADDAH KM. MEGA SURYA KM. NIDIA KM. NUSANTARA KM. NADIA KM. NUR INDAH 01 KM. ALAM JAYA LESTARI KM. CITRA BAHARI KM. PRAJA BAHARI JY I KM. CAHAYA ABADI KM. NUR INDAH - 03 KM. EMAN PUTRA - II KM. KARYA ARTA KM. MUSTIKA JAYA -V KM. TRI JAYA -04 KM. PUTRA JAYA KM. BOGA PATI KM. WIRA USAHA KM. GUCCI KM. DUTA BAHARI - 05 KM. DANARE KM. BERLIAN KM. TELUK INTAN KM. YOSHINAGA KM. MARGARETH KM. PRIMADANA KM. SANTI JAYA KM. CAHAYA INDAH - 04 KM. MITRA SEJATI KM. JAYA MANDIRI KM. VERONICA KM. CAKRAWALA KM. JAYA RAYA PERKASA KM. CAHAYA INDAH - 02 KM. CAHAYA BINTANG 05-Jul 06-Jul 06-Jul 13-Jul 15-Jul 16-Jul 21-Jul 27-Jul 29-Jul 03-Agust 03-Agust 04-Agust 04-Agust 13-Agust 13-Agust 18-Agust 24-Agust 26-Agust 28-Agust 29-Agust 31-Agust 31-Agust 03-Sep 08-Sep 08-Sep 11-Sep 14-Sep 14-Sep 08-Sep 12-Sep 28-Sep 27-Sep 29-Sep 29-Sep 28-Sep 03-Okt 07-Okt 13-Okt 21-Okt 19-Okt 10-Jul 11-Jul 11-Jul 17-Jul 20-Jul 23-Jul 29-Jul 01-Agust 03-Agust 07-Agust 06-Agust 09-Agust 12-Agust 18-Agust 19-Agust 21-Agust 26-Agust 30-Agust 01-Sep 30-Agust 07-Sep 03-Sep 08-Sep 11-Sep 11-Sep 17-Sep 17-Sep 17-Sep 13-Sep 17-Sep 03-Okt 09-Okt 05-Okt 16-Okt 04-Okt 09-Okt 13-Okt 17-Okt 24-Okt 05-Nop Bouke Ami Gill Net Purseine Bouke Ami Angkutan Ikan Angkutan Ikan Gill Net Bouke Ami Gill Net Bouke Ami Angkutan Ikan Gill Net Jaring Cumi Gill Net Angkutan Ikan Angkutan Ikan Gill Net Bouke Ami Jaring Bubu Jaring Cumi Gill Net Bouke Ami Gill Net Jaring Cumi Bouke Ami Jaring Cumi Gill Net Purseine Gill Net Gill Net Purseine Angkutan Bouke Ami Gill Net Gill Net Gill Net Bouke Ami Angkutan Angkutan Ikan 29 29 29 29 3 29 28 27 29 30 6 29 23 4 28 6 28 19 18 26 6 28 29 25 29 19 20 29 29 24 25 27 30 26 26 28 25 29 23 20 260 / Bc 48 / Bb 2540 / Bc J.37 No. 6398 166 / Bb 2179 / Bc 2815 / Bc 2081 / Bc 2439 / Bc S.35 No. 27 2205 / Bc 1411 / Bc 1549 / Bc 1107 / Bc 2471 / Bc 571 / Bc 408 / Dda 290 / Da 959 / Bc 2984 / Bc 1123 / Bc 225 / Bc 1958 / Da 657 / J.5 3018 / Bc 1631 / Bc 46 / Bc 034 / Bc 2337 / Bc 07 / Bb 2633 / Bc 1010 / Bc 1710 / Bc 2583 / Bc 17 / Bb 131 / Gga AMIN YUNUS ANTON SELSAM WIJAYA BUDY HERMAN H. DAENG M TONY CAHYADI ANTON TONY CAHYADI ADI H. DAENG M EFFENDI M. NUR KAB. P. SERIBU ARPO SUPANGAT H. DAENG M HERMAN UNTUNG A ABDUL HAMID ANTHONY WALUYO TONY TJAHYADI RUDI TJAHYADI SAMUEL AT HON HENDRI H RONALD HON HENDRI H RUDI TJAHYADI GUNAWAN ANTON GUNAWAN CHANDRA H. D MALUSE ARPO ANYAN AMIN YUNUS ANYAN HOCKY S H. D MALUSE KAHARUDIN JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA PETOJO / JAKPUS JAKARTA PETOJO / JAKPUS JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA 78 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 KM. CAHAYA INDAH - 2 KM. RINDU ALAM KM. LIANA KM. JAYA KENCANA KM. SINAR GEMILANG KM. SETIA JAYA KM. ELLEN JAYA KM. MARIYANI KM. NANA SURYA KM. NUR ILHAM KM. SUGIH TERUS JAYA KM. ALOHA KM. DERMAWAN - 02 KM. BATI GEMILANG KM. HARAPAN BARU KM. ALAM JAYA INDAH KM. ELIZABETH KM. SRI MUTIA KM. MUTIA JAYA KM. SINAR GEMILANG KM. SINAR HARAPAN KM. ANUGRAH SEMPURNA KM. CAROLINA KM. SURYA BAHARI 21-Okt 25-Okt 29-Okt 02-Nop 07-Nop 08-Nop 09-Nop 16-Nop 16-Nop 17-Nop 17-Nop 20-Nop 07-Okt 07-Nop 30-Nop 01-Des 02-Des 05-Des 08-Des 07-Des 08-Des 11-Des 16-Des 17-Des 24-Okt 01-Nop 06-Nop 07-Nop 30-Nop 16-Nop 13-Nop 30-Nop 23-Nop 20-Nop 20-Nop 26-Nop 13-Okt 17-Des 04-Des 07-Des 06-Des 07-Des 10-Des 14-Des 16-Des 16-Des 22-Des 21-Des Angkutan Ikan Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Angkutan Ikan Angkutan Ikan Bouke Ami Angkutan Ikan Pengangkut Jaring Cumi Jaring Muro Ami Bouke Ami Jaring Cumi Jaring Cumi Jaring Cumi Jaring Cumi Angkutan Ikan Muro Ami Bouke Ami Jaring Cantrang 23 28 29 23 28 29 28 23 23 20 6 20 6 28 8 29 25 6 27 28 6 28 13 29 17 / Bb 1905 / Bc 1909 / Bc 3 / Bc 2949 / Bc 1615 / Bc 2879 / Bc 1295 / Bc R. 11 No.2953 119 / Bc 806 / J.5 131 / Bc J. 8 No. 924 104 / Bb A. 13 No. 68 1920 / Bc 057 / Bc 2949 / Bc A. 8 No.2199 360 / HHc 591 / Bc 1665 / Bc H. MALUSE ANYAN NUNUNG ANYAN SUTIKNO H. SUKRI NUNUNG JAP KHE TJON MOH. NASIR DJOKO KAPOL A. RACHIM Hj. SRI N AVEN S WOEISA ROSLI EFFENDI ADI WARJU WARJU ARPO ROJAK ABIDIN IDRUS M. ARIFIN A'ENG JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA BALIKPAPAN TJ. PANDAN JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA KEP. SERIBU JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA 79 Lampiran 7 Kegiatan Pelayanan Docking Kapal BTPI Tahun 2010 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 NAMA KAPAL KM. PESUT KM. ROSALINDA KM. ENRICO JAYA KM. DIAN JAYA KM. DIAN PUTRI KM. ROBOT B KM. KEMBANG WJY K KM. TRISNAWATI KM. VICTORIA KM. SINAR MAJU KM. ELANG LAUT KM. VALERINA KM. BINTANG JY MAKMUR KM. GUCCI KM. RAHAYU KM. NANDO JAYA - 1 KM. TIMBUL JAYA - 1 KM. BANGUN JAYA KM. PAUSTINA KM. CAHAYA SAMUDRA KM. SURYA INDH KNCANA KM. NUR INDAH KM. INTAN LAUT KM. SETIA MAKMUR KM. PARAMOUNT KM. GUCCI KM. VINCENT KM. SAHABAT KM. MITRA BAHARI KM. MINA JAKARTA - 3 KM. BATU KACANG - I KM. MARGARETH KM. MARIANA KM. PAUS BIRU KM. AMALIA JAYA KM. DUA PUTRI DUA TANGGAL NAIK TURUN 11-Des 06-Jan 23-Des 27-Des 26-Des 01-Jan 28-Des 03-Jan 28-Des 03-Jan 04-Jan 11-Jan 05-Jan 11-Jan 09-Jan 13-Jan 09-Jan 16-Jan 12-Jan 16-Jan 17-Jan 24-Jan 23-Jan 28-Jan 01-Feb 06-Feb 01-Feb 05-Feb 02-Feb 07-Feb 03-Feb 07-Feb 05-Feb 09-Feb 06-Feb 10-Feb 07-Feb 12-Feb 07-Feb 12-Feb 10-Feb 15-Feb 14-Feb 18-Feb 20-Feb 24-Feb 01-Mar 04-Mar 01-Mar 05-Mar 02-Mar 05-Mar 02-Mar 06-Mar 02-Mar 08-Mar 05-Mar 11-Mar 10-Mar 14-Mar 11-Mar 18-Mar 14-Mar 17-Mar 14-Mar 17-Mar 16-Mar 23-Mar 18-Mar 23-Mar 21-Mar 24-Mar ALAT TANGKAP Angkutan Ikan Jaring Tangsi Purseine Gill Net Purseine Gill Net Purseine Bouke Ami Gill Net Angkutan Ikan Gill Net Gill Net Bouke Ami Gill Net Bouke Ami Bouke Ami Muro Ami Gill Net Bouke Ami Jaring Tangsi Angkutan ikan Angkutan ikan Angkutan ikan Gill Net Gill Net Gill Net Bouke Ami Gill Net Gill Net Bouke Ami Angkutan Gill Net Bouke Ami Angkutan Angkutan Angkutan GT 6 19 6 28 6 15 6 29 28 6 28 26 25 25 29 28 28 6 27 28 29 6 27 24 25 25 28 26 25 22 45 24 20 42 20 6 TANDA SELAR J.8 No. 693 694 / Bc 6468 / J. 64 410 / Bc 204 / Bc 640 / Bc A. 10 No. 400 2623 / Bc 1238 / Bc 2537 / Bc 1123 / Bc 1470 / Bc 78 / Bb 230 / Bb 113 / Bc 1667 / Bc S. 35 A No.27 170 / Bc 1541 / Bc 2634 / Bc 1123 / Bc 2683 / Bc 2465 / Bc 1068 / Bc 3073 / Bc 39 / GGg 46 / Bc 710 / Bc 1314 / Ba J.16 No. 358 PEMILIK / PENGURUS BAMBANG S KRISE S BAMBANG S WARJU WARIDIN BOB TJOENG WARIDIN ANYAN RUDIANTO MARNO S BOB TJOENG AMIN YUNUS ANAM B ANYAN JAP KHIE JOEN JOHAN JUNLI HANDOKO UNTUNG ANTON CARTIM TOMO H. DAENG M YAYA ANYAN ANYAN ANYAN HALIM ANYAN ANYAN H. ARSYAD APRIANTO ANTON GUNAWAN HARYOSENO H. SUKRI MULAYADI KETERANGAN JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA KEP. SERIBU 80 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 KM. IRA KM. KURNIA KM. PUTRA BAHARI KM. MITRA BAHARI KM. INDO MAKMUR KM. CAHAYA INDAH KM. WIRA USAHA KM. PUTRA MANDIRI KM. FATMA KM. BUNGA NUSANTARA-1 KM. DECODEDES - I KM. SIDO MULYO KM. SENTOSA TB. RAJAWALI KM. FIJAI SAPUTRA KM. SINAR HARAPAN KM. SRIWIJAYA KM. SRI MULIA KM. FERNANDO KM. NATALIA KM. ROHMAH - III KM. MULIA INDH SELARAS KM. MARISKA KM. BINTANG ALAM - 2 KM. PAHALA KENCANA KM. SINAR ABADI KM. BAHTERA MAKMUR KM. ARJUNA - 03 KM. NIDIA KM. SABRINA KM. BANGKIT JAYA - 45 KM. KALAMARIS KM. CAHAYA BINTANG KM. SUMBER JAYA KM. PERKASA - 3 KM. SURYA CITRA N - V KM. SINAR ULTRA KM. CAHAYA MULYA KM. PUTRI PESONA KM. HAN JAYA 02-Apr 03-Apr 03-Apr 05-Apr 06-Apr 06-Apr 11-Apr 25-Apr 25-Apr 25-Apr 25-Apr 02-Mei 02-Mei 10-Mei 22-Mei 25-Mei 25-Mei 01-Jun 01-Jun 03-Jun 03-Jun 03-Jun 06-Jun 08-Jun 08-Jun 09-Jun 11-Jun 15-Jun 21-Jun 01-Jul 02-Jul 03-Jul 03-Jul 03-Jul 04-Jul 05-Jul 06-Jul 08-Jul 15-Jul 18-Jul 11-Apr 05-Apr 05-Apr 11-Apr 16-Apr 09-Apr 15-Apr 29-Apr 28-Apr 28-Apr 28-Apr 06-Mei 09-Mei 15-Mei 25-Mei 28-Mei 28-Mei 04-Jun 05-Jun 07-Jun 07-Jun 06-Jun 09-Jun 10-Jun 14-Jun 16-Jun 16-Jun 17-Jun 24-Jun 05-Jul 05-Jul 06-Jul 06-Jul 07-Jul 08-Jul 08-Jul 11-Jul 11-Jul 20-Jul 22-Jul Gill Net Gill Net Bouke Ami Gill Net Gill Net Angkutan Ikan Bouke Ami Gill Net Angkutan Ikan Bouke Ami Gill Net Jaring Cumi Angkutan Ikan Tunda Angkutan Ikan Angkutan Ikan Jaring Cumi Bubu Gill Net Gill Net Jaring Dogol Angkutan Ikan Angkutan Angkutan Gill Net Purse Seine Jaring Dogol Angkutan Ikan Gill Net Bouke Ami Bouke Ami Bouke Ami Angkutan Purse Seine Mini Gill Net Angkutan Gill Net Angkutan Purse Seine Purse Seine 26 29 6 25 28 30 29 29 6 26 27 26 29 31 6 6 29 19 79 29 6 24 63 6 29 29 6 6 27 26 25 25 20 6 22 17 28 6 29 39 2042 / Bc 87 / J.2 1068 / Bc 1814 / Bc 07 / Bb 2984 / Bc 2983 / Bc 1995 / Ga 1599 / Bc 955 / Ft 1928 / Bc 2500 / Ka J. 8. No. 692 2199 / A.8 3239 / Bc 1245 / Bc 639 / Bc J. 8 No.3284 1281 / Bc 3107 / Bc J.16 No. 1209 2553 / Bc 2703 / Bc J.8 No. 426 S.37 No. 1599 2815 / Bc 104 / Bc 1344 / Da 1451 / Da 131 / Gga J. 64No.5126 447 / Bc 4918 / Bc 2701 / Bc 191 / S.35 A 2626 / Bc 2730 / Bc KO AKI ADI ANDI S Ir. SUSANTO SURYANI H. DAENG M RUDI TJAHYADI RUDI H. SUKRI MI CEH JAP KIE JOEN H. KASNO CUAN TEK M. SOFYAN SOLIHIN MUSLIMIN APO EE. SIREGAR SUDJAMIN SININ AMIN YUNUS JAMALUDIN RAMSADI HUSEN SAMSUDI H. HIDAYAT MISBALI DJOKO ARPO S FIRDAUS KANANG ANTON AMIN YUNUS ROBI SURYA INDRA D KAHARUDIN SOHARI ABD. HALIM ABIDIN ARPO S MOH. ASNAWI A. BASARI SELSAM WJY JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA TEGAL JAKARTA UTARA SURABAYA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA KEP. SERIBU KEP. SERIBU JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA BREBES JAKARTA UTARA KEP. SERIBU JAKARTA KEP. SERIBU JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA 81 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 KM. CITRA ALAM KM. SAMANTHA KM. LISA INDAH KM. MINA CITRA KM. RINDU ALAM KM. BINTANG ALAM – I KM. DORETHY KM. PUTRA BETAWI KM. KILAT MAJU JAYA KM. PESONA ALAM KM. VANIA KM. MULIA BARU – 8 KM. SINAR GEMILANG KM. SAFIR LAUT – 3 KM. MUSTIKA JAYA – V KM. MITRA KAPUAS KM. BINTANG NELAYAN KM. DWIKI JAYA KM. YOSHINAGA KM. PRIMADANA KM. MARIANA 18-Jul 21-Jul 02-Agust 02-Agust 02-Agust 03-Agust 05-Agust 05-Agust 05-Agust 08-Agust 11-Agust 13-Agust 15-Agust 18-Agust 21-Agust 16-Sep 24-Sep 24-Sep 26-Sep 26-Sep 26-Sep 22-Jul 25-Jul 05-Agust 05-Agust 06-Agust 06-Agust 07-Agust 08-Agust 07-Agust 11-Agust 15-Agust 16-Agust 21-Agust 21-Agust 24-Agust 20-Sep 27-Sep 29-Sep 29-Sep 29-Sep 29-Sep Angkutan Bouke Ami Angkutan Ikan Gill Net Angkutan Angkutan Ikan Gill Net Bouke Ami Jaring Cumi Angkutan Jaring Cumi Angkutan Ikan Jaring Cumi Angkutan Ikan Muro Ami Jaring Cumi Muro Ami Jaring Cumi Purseine Gill Net Bouke Ami 28 29 28 6 64 6 27 27 6 43 28 17 28 29 18 30 23 260 / Bc J. 15 No. 2643 5035 / Bc J. 16 No. 1234 1563 / Bc 1778 / Bc 5000 / Bc 417 / Ba 2949 / Bc 1579 / Bc 408 / Dda 733 / HHd 479 / Dda 29 25 20 1631 / Bc 034 / Bc 710 / Bc MUSA AMIN YUNUS KAPOL WASTUM B KDR BAHDAR H. HIDAYAT TJANDRA K ANDI SUCIPTO HENDRI K DALIK T ANTON H. ALIMUDIN LIFENI H PONDI H ABDUL H BUDIMIN Drs. PRIYADI K ANTHONY GUNAWAN GUNAWAN GUNAWAN JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA PONTIANAK PALEMBANG JAKARTA BARAT PETOJO / JAKPUS PETOJO / JAKPUS JAKARTA UTARA 82 Lampiran 8 Hasil kuesioner penentuan besarnya sasaran (target yang dapat dicapai untuk tiap – tiap kriteria produktivitas. 1) Kriteria yang termasuk dalam efisiensi, adalah : No Kriteria Satuan Sasaran 1 Pemakaian Mesin % 72 2 Pemakaian Tenaga Kerja % 100 2) Kriteria yang termasuk dalam kategori efektivitas, adalah : No Kriteria Satuan Sasaran 1 Jam Kerja Aktual % 137,14 2 Jam Kerja Efektif % 85,71 3) Kriteria yang termasuk dalam inferensial, adalah : No Kriteria Satuan 1 Jumlah Ketidakhadiran % Nama pengisi : Arif Prakoso, ST Jabatan pengisi : Staff Golongan IIIA Sasaran 0,67 83 Lampiran 9 Hasil kuesioner penentuan bobot Kriteria Utama Bobot (%) Efisiensi 35 Efektivitas 35 Inferensial 30 Total 100 1) Kriteria yang termasuk dalam efisiensi, adalah : No Kriteria 1 Pemakaian Mesin 2 Pemakaian Tenaga kerja Satuan Bobot (%) Kg/JO 60 % 40 Total 100 2) Kriteria yang termasuk dalam kategori efektivitas, adalah : No Kriteria Satuan Bobot (%) 1 Jam Kerja Aktual % 40 2 Jam Kerja Efektif % 60 Total 100 3) Kriteria yang termasuk dalam inferensial, adalah : No 1 Kriteria Jumlah Ketidakhadiran Total Nama pengisi : Arif Prakoso, ST Jabatan pengisi : Staff Golongan IIIA Satuan Bobot (%) % 100 100 PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PADA AKTIVITAS REPARASI DI DOK PEMBINAAN UPT BTPI, MUARA ANGKE, JAKARTA MENGGUNAKAN MODEL OBJECTIVE MATRIX (OMAX) PRAMUDYA PRATAMA PUTRA PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 57 DAFTAR PUSTAKA Ade. 2011. Kementerian Kelautan Bangun 1000 Kapal Nelayan. Portaljakarta. portaljakarta.com. [9 Juli 2011]. Al-Kattan, R. 1992. Paper: Productivity and Performan Improvement. Surabaya: Guess lecture Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Anugrah, RH. 1996. Analisa Produktivitas SBP 30000 di PT PAL Surabaya [Skripsi]. Surabaya: Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Chrismianto, D. 1997. Studi Penelitian Produktivitas pada Pekerjaan di Departemen Fabrikasi Lambung Devisi Kapal Niaga PT. PAL Indonesia [Skripsi]. Surabaya: Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Dahuri, R. 13 Desember 2005. 4 Potensi Ekonomi Kelautan. Harian Republika. Dilworth, JB. 1989. Production and Operation Management. New York: Hill publising company. Dok Pembinaan UPT BTPI. 2006. Laporan Bulanan Kegiatan Reparasi Kapal. Dok Pembinaan UPT BTPI. 2007. Laporan Bulanan Kegiatan Reparasi Kapal. Dok Pembinaan UPT BTPI. 2008. Laporan Bulanan Kegiatan Reparasi Kapal. Dok Pembinaan UPT BTPI. 2009. Laporan Bulanan Kegiatan Reparasi Kapal. Dok Pembinaan UPT BTPI. 2010. Laporan Bulanan Kegiatan Reparasi Kapal. Fauzan, A. 2009. Penilaian Tingkat Teknologi Dok Pembinaan UPT BTPI Muara Angke Jakarta [Skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Groover, R. 1989. Automation, Production System and Computer Integrated Manufacturing. New York: Hill publising company. Iryanto, D. 2008. Analisa Daya Saing Galangan Menggunakan New Compensated Gross Tonnage (New CGT) Studi Kasus di PT Dok dan Perkapalan Surabaya. [Skripsi]. Surabaya: Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Hal 24. Mahendra, MK. 2007. Peningkatan Produktivitas Galangan Kapal Menggunakan Model OMAX (Studi kasus: di PT. BEN SANTOSA Surabaya) [Skripsi]. Surabaya: Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Hal 11-28 Mayhoneys. 2008. Objective Matrix (OMAX). http://digilib.ittelkom.ac.id. [25 November 2011]. Sinungan, M. 1997. Produktivitas : Apa dan Bagaimana. Jakarta: Budi Aksara. 58 Soeharto A, Soejitno. 1996. Galangan Kapal: Diktat kuliah Teknik Perkapalan Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Summanth, DJ. 1984. Productivity Engineering and Management. New York: Mcgraw Hill Book Company. Sunarto. 1999. Metoda Analisa Produktivitas dan Kemampuan Bersaing Galangan Indonesia di Era Global [Skripsi]. Surabaya: Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Hal 12-53 [UPT BTPI] Unit Pelaksana Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan. 2006. Produktivitas Dok di Lingkungan UPT BTPI Muara Jakarta. [UPT BTPI] Unit Pelaksana Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan. 2007. Produktivitas Dok di Lingkungan UPT BTPI Muara Jakarta. [UPT BTPI] Unit Pelaksana Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan. 2008. Produktivitas Dok di Lingkungan UPT BTPI Muara Jakarta. [UPT BTPI] Unit Pelaksana Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan. 2009. Produktivitas Dok di Lingkungan UPT BTPI Muara Jakarta. [UPT BTPI] Unit Pelaksana Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan. 2010. Produktivitas Dok di Lingkungan UPT BTPI Muara Jakarta. Windyandari, A. 2008. Prospek Industri Galangan Kapal Dalam Negeri Guna Menghadapi Persaingan Global. Jurnal TEKNIK. Vol. 29 No. 1: 73 Yin, RK. 2008. Studi Kasus: Desain dan Metode. Jakarta: Rajawali Pers. 59 Lampiran 1 Kuesioner penentuan sasaran KUESIONER PENENTUAN SASARAN Kuesioner lanjutan untuk keperluan : Penelitian dalam mengukur tingkat produktivitas dari variabel – variabel yang berpengaruh dalam proses produksi dengan pendekatan model OMAX di galangan Dok Pembinaan Unit Pelayan Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan (UPT BTPI), Muara Angke, Jakarta. I. Petunjuk Umum 1) Daftar pertanyaan dibawah ini dipergunakan untuk suatu penelitian guna mengukur tingkat produktivitas dari variabel – variabel yang berpengaruh dalam proses produksi. 2) Pada hakekatnya kuisioner ini diajukan kepada para pembuat keputusan agar dapat meminimasi kesalahan – kesalahan dalam pengambilan keputusan. 3) Dalam pengisian kuisioner ini dimohon agar Bapak dapat mengisi kuisioner ini selengkap – lengkapnya. 4) Atas perhatian dan bantuan Bapak yang sangat berharga, kami ucapkan terimakasih. II. Daftar Pertanyaan Umum 1) Nama pengisi : 2) Jabatan pengisi : III. Petunjuk Pengisian Kuisioner 1) Kuisioner ini digunakan untuk melihat seberapa besar sasaran (kemajuan) yang dapat dicapai dari tiap – tiap kriteria produktivitas dengan melihat kendala – kendala yang ada. 2) Sasaran disini merupakan suatu target realistis yang dapat dicapai dengan sumber serta sistem yang ada sekarang dalam jangka waktu yang masih diprediksikan. Oleh karena itu, target atau sasaran yang diambil harus 60 merupakan gambaran yang realistis, tetapi perlu dipertimbangkan pula faktor – faktor yang masuk akal. 3) Besarnya target (sasaran) yang dapat dicapai dari masing – masing variabel ini ditetapkan untuk periode / waktu yang ditetapkan. 4) Nilai sasaran akan diletakkan pada skor 10, yang akan digunakan sebagai prestasi tertinggi yang dapat dicapai. IV. Kuisioner penentuan besarnya sasaran (target yang dapat dicapai untuk tiap – tiap kriteria produktivitas. 1) Kriteria yang termasuk dalam efisiensi, adalah : No Kriteria Satuan 1 Pemakaian Mesin % 2 Pemakaian Tenaga Kerja % Sasaran 2) Kriteria yang termasuk dalam kategori efektivitas, adalah : No Kriteria Satuan 1 Jam Kerja Aktual % 2 Jam Kerja Efektif % Sasaran 3) Kriteria yang termasuk dalam inferensial, adalah : No Kriteria Satuan 1 Jumlah Ketidakhadiran % Sasaran Catatan : Apabila ada penambahan – penambahan, dapat digunakan halaman samping. Terimakasih atas bantuan Bapak yang sangat berharga. 61 Lampiran 2 Kuesioner penentuan pembobotan KUESIONER PENENTUAN PEMBOBOTAN Kuesioner lanjutan untuk keperluan : Penelitian dalam mengukur bobot dari variabel – variabel yang berpengaruh dalam proses produksi dengan pendekatan model OMAX di galangan Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta. I. Petunjuk Umum 1) Daftar pertanyaan dibawah ini dipergunakan untuk suatu penelitian guna mengukur tingkat produktivitas dari variabel – variabel yang berpengaruh dalam proses produksi. 2) Pada hakekatnya kuisioner ini diajukan kepada para pembuat keputusan agar dapat meminimasi kesalahan – kesalahan dalam pengambilan keputusan. 3) Dalam pengisian kuisioner ini dimohon agar Bapak dapat mengisi kuisioner ini selengkap – lengkapnya. 4) Atas perhatian dan bantuan Bapak yang sangat berharga, kami ucapkan terimakasih. II. Daftar Pertanyaan Umum 1) Nama pengisi : 2) Jabatan pengisi : III. Petunjuk Pengisian Kuisioner 1) Kuisioner ini digunakan untuk menentukan bobot dari masing – masing kriteria produktivitas yang ada. 2) Penentuan pembobotan berguna, karena tiap – tiap kriteria yang telah ditetapkan mempunyai pengaruh yang berbeda – beda terhadap tingkat produktivitas unit yang diukur. Untuk itu perlu dicantumkan bobot yang menyatakan derajat kepentingan (dinyatakan dengan prosen) untuk tiap – 62 tiap kriteria yang menunjukkan pengaruh relatif terhadap produktivitas unit kerja yang diukur. 3) Jumlah seluruh bobot dari masing-masing kriteria produktivitas berjumlah 100 %. 4) Untuk mempermudah pembobotan ini, dapat dilakukan dengan memulai pembobotan ini dengan membagi 100 % untuk prosentase efisiensi, efektivitas, dan inferensial. Misalnya: Efisiensi : A 35% Efektivitas : B 35% Inferensial : C 30% Total 100 % Dari prosentase efisiensi, efektivitas, dan inferensial diatas, kemudian dibagi lagi pembobotannya sesuai dengan jumlah dan kepentingan kriteria yang termasuk didalamnya, misalnya: a. Kriteria yang termasuk dalam efisiensi - Pemakaian Mesin : a3 60 % - Pemakaian Tenaga Kerja : a4 40 % Total : 100 % b. Kriteria yang termasuk dalam efektivitas - Jam Kerja Aktual : b1 40 % - Jam Kerja Efektif : b2 60 % Total : 100 % c. Kriteria yang termasuk dalam inferensial - Jumlah ketidakhadiran :c 100 % Total : 100 % 63 IV. Kuisioner penentuan bobot Kriteria Utama Bobot Efisiensi Efektivitas Inferensial Total 1) Kriteria yang termasuk dalam efisiensi, adalah : No Kriteria Satuan 1 Pemakaian Mesin % 2 Pemakaian Tenaga kerja % Bobot (%) Total 2) Kriteria yang termasuk dalam kategori efektivitas, adalah : No Kriteria Satuan 1 Jam Kerja Aktual % 2 Jam Kerja Efektif % Bobot (%) Total 3) Kriteria yang termasuk dalam inferensial, adalah : No 1 Kriteria Satuan Jumlah Ketidakhadiran Bobot (%) % Total Catatan : Apabila ada penambahan – penambahan, dapat digunakan halaman samping. Terimakasih atas bantuan Bapak yang sangat berharga. 64 Lampiran 3 Kegiatan Pelayanan Docking Kapal BTPI Tahun 2006 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 NAMA KAPAL KM.CAHAYA ABADI KM.INTAN LAUT – II KM.SINAR HARAPAN KM.RINDU ALAM KM.KASIH INDAH KM.SRI MUTIA KM.BERLIAN B KM.CAHAYA SAMUDRA KM.VINCENT KM.SANDRA JAYA KM.INTAN LAUT KM.SINAR ABADI KM.SINAR REJEKI – II KM.SEDIA JAYA KM.AMAT JAYA KM.BANGKIT JAYA KM.SUMBER HM JAYA KM.SINAR REZEKI - I KM.TETAP JAYA - I KM.NAGA JAYA - I KM.TIMBUL JAYA KM.CITRA SULAWESI - II KM.YOSHINAGA - II KM.ALAM PRIMA KM.BANTENG SAMUDRA KM.SINAR WIJAYA KM.DIMAS PUTRA KM.JAYA KENCANA KM.BERKAT JAYA KM.PUTRA SEJATI KM.INDO MAKMUR KM.ALAM JAYA KM. YOSHINAGA KM.TUGU PERMAI KM. SINAR SEJAHTERA KM.CAHAYA INDAH - II TANGGAL NAIK TURUN 04 Januari 07 Januari 04 Januari 07 Januari 05 Januari 11 Januari 08 Januari 13 Januari 09 Januari 11 Januari 09 Januari 11 Januari 13 Januari 16 Januari 14 Januari 18 Januari 14 Januari 17 Januari 20 Januari 22 Januari 23 Januari 27 Januari 23 Januari 26 Januari 25 Januari 29 Januari 25 Januari 28 Januari 01 Februari 03 Februari 02 Februari 03 Februari 03 Februari 09 Februari 03 Februari 06 Februari 05 Februari 09 Februari 05 Februari 08 Februari 07 Februari 10 Februari 14 Februari 17 Februari 14 Februari 17 Februari 17 Februari 23 Februari 19 Februari 26 Februari 21 Februari 25 Februari 03 Maret 09 Maret 04 Maret 07 Maret 05 Maret 15 Maret 08 Maret 11 Maret 09 Maret 11 Maret 12 Maret 16 Maret 13 Maret 16 Maret 20 Maret 23 Maret 20 Maret 26 Maret 26 Maret 28 Maret ALAT TANGKAP Jaring Cumi Angkutan Ikan Angkutan Ikan Gill Net Jaring Udang Pancing Angkutan Ikan Jaring Cumi Jaring Cumi Purse Seine Angkutan Ikan Purse Seine Bouke Ami Bouke Ami Gill Net Purse Seine Mini Purse Seine Mini Bubu Jaring Cumi Jaring Cumi Muro Ami Angkutan Ikan Gill Net Muro Ami Gill Net Bouke Ami Gill Net Gill Net Angkutan Ikan Jaring Cumi Gill Net Purse Seine Jaring Cumi Gill Net Angkutan Ikan Angkutan Ikan GT 28 28 6 28 6 6 20 28 20 27 27 29 29 29 33 6 7 29 28 13 28 6 9 6 29 28 10 23 6 5 16 29 29 12 30 23 TANDA SELAR 1549/Ba 2489/Bc A.8 No.2199 1905/Bc J.64 No.7359 J.26 No.318 2521/Bc 1667/Bc 2337/Bc 170/Bc 2703/Bc 3202/Bc 2812/Bc 330/Hha J.15 No.9098 J.117 No.4601 3203/Bc 2269/Bc 806/Bc 1440/Bc J.35 No.172 770/Bc J.16 No.307 1703/Bc 2288/Bc 456/Bc 003/Bc J.5 No.657 J.42 No.4565 1814/Bc 137/Gge 1631/Bc 5180/N 929/HHd 17/Bb PEMILIK / PENGURUS TAUFIK ERIK MUSLIMIN ANYAN ERMI TARSONO WARJU ERIK TAUFIK AHAI NUNUNG ZAKARIA TAUFIK / ARPO BAHRIN SENO WIJAYA SANGKALA RATINI Bt WASNAD MUSTOFA HAQ BAHRIN Hj.NODA NURJAYA HARNOTO / ABUN FREDY GARMANSYAH SYAM SYUKUR HL HARNOTO / ABUN ENCUP EFENDI WIDIANTO YUDHI MASHUDI ANYAN PATI Bin MATNAMIN BAMBANG SUWITNO ANYAN ANAM P GUNAWAN ANYAN ABDUL MALIK H.DAENG MALOSE KETERANGAN MUARA ANGKE JAKPUS CILINCING PLUIT - JAKUT BREBES MUARA ANGKE TANGGERANG MUARA ANGKE MUARA ANGKE MUARA ANGKE MUARA ANGKE MUARA ANGKE JELAMBAR MUARA ANGKE MUARA ANGKE BREBES GRESIK MUARA ANGKE MUARA ANGKE MUARA ANGKE BELITUNG MUARA ANGKE MUARA ANGKE MUARA ANGKE JAKBAR MUARA KARANG KALIBARU PLUIT KALIBARU JAKBAR PLUIT MUARA KARANG PLUIT PLUIT MUARA ANGKE MUARA ANGKE 65 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 KM.MULYA INDAH SELARAS KM. MEGA BUANA KM. RESTU KM. SETIA MAKMUR KM. RINDU ALAM KM. SUNVIANA KM. SEPIA JAYA KM. BARUNA KM. JAYA KENCANA KM. LABA - LABA II KM. PELITA ABADI KM. CAMAR LAUT KM. FERIAN BACHTI KM. SOPIAH KM. CAKRAWALA KM. ALAM LESTARI KM. NUSANTARA KM. ANALISA KM. TUGU PERMAI KM. PUTRI TUNGGAL KM. ANGGI KM. JAYA WIJAYA KM. LOEKI - B KM. DORETHY KM. ARJUNA - 03 KM SHANTY KM. MEGA BUANA KM. SRI WIJAYA IV KM. RAHAYU KM. DECO DEDES - I KM. CITRA ABADI KM. IDOLA KM. BINTANG PERMATA KM. SENANTIASA - II KM. TELUK INTAN KM. DUTA BAHARI - II KM. SINAR GEMILANG KM. MAJU JAYA KM. BUNGA MAS KM. CITRA SULAWESI - III 30 Maret 02-Apr 03-Apr 04-Apr 06-Apr 06-Apr 09-Apr 08-Apr 13-Apr 13-Apr 17-Apr 18-Apr 21-Apr 21-Apr 23-Apr 28 April 28 April 01 Mei 01 Mei 05 Mei 06 Mei 08 Mei 08 Mei 10 Mei 12 Mei 16 Mei 18 Mei 22 Mei 22 Mei 26 Mei 02 Juni 02 Juni 05 Juni 08 Juni 08 Juni 11 Juni 12 Juni 18 Juni 19 Juni 19 Juni 02 Aprl 05-Apr 08-Apr 07-Apr 08-Apr 09-Apr 11-Apr 11-Apr 16-Apr 16-Apr 20-Apr 26-Apr 25-Apr 26-Apr 26-Apr 02 Mei 01 Mei 03 Mei 04 Mei 08 Mei 08 Mei 10 Mei 11 Mei 13 Mei 15 Mei 19 Mei 22 Mei 23 Mei 24 Mei 31 Mei 05 Juni 06 Juni 09 Juni 11 Juni 11 Juni 15 Juni 15 Juni 22 Juni 22 Juni 20 Juni Angkutan Ikan Angkutan Ikan Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Jaring Cumi Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Angkutan Ikan Gill Net Gill Net Gill Net Bubu Gill Net Gill Net Gill Net Purse Seine Gill Net Purse Seine Jaring Cumi Gill Net Angkutan Ikan Gill Net Angkutan Ikan Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Angkutan Ikan Gill Net Jaring Cumi Gill Net Gill Net Gill Net Angkutan Ikan 24 6 29 24 28 29 29 20 23 10 26 19 6 6 25 27 29 27 12 28 28 29 25 27 6 29 7 12 29 27 13 25 27 6 12 27 28 30 10 6 1281/Bc J.15 No.1340 1175 / Bc 1541 / Bc 1905 / Bc 325 / Bc 2812 / Bc 1202 / Bc 003 / Bc 391 / Bc 1483 / Bc 556 / Gge J.5 No.172 J.15 No.5598 1725 / N 1412 / Bc 2350 / N 2550 / Bc 5180/N 1774 / Bc 1850 / Bc 2708 / Bc 466 / Bc 1563 / Bc S.37 No. 1559 1510 / Bc J.15 No. 146 857 / Bc 1470 / Bc 1599 / Bc 148 / Bc 0550 / Bc 1717 / Bc 1973 / Bc 2949 / Bc 407 / Bc S. 35 No.202 RAMSADI M. YUSUF ANYAN ANYAN ANYAN DIMIN DEDY ANYAN ANYAN ANYAN ANYAN BAHRUL JAMILI ANDY SULISTIYONO ANYAN ATONG ANYAN PANCE ANYAN H. YANTO PANCE ANAM MOMO NUNUNG A. RAHMAN NUNUNG M. YUSUF KO AKI KO AKI SLAMET ANYAN ANYAN AHWAT WARJU ANYAN AGUS TAUFIK SANTA ANTON H HAZAIRIN MUARA ANGKE MUARA ANGKE PLUIT PLUIT PLUIT MUARA KARANG MUARA KARANG PLUIT PLUIT PLUIT PLUIT MUARA ANGKE JAKARTA TIMUR MUARA ANGKE PLUIT JAKARTA PLUIT JAKARTA UTARA PLUIT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA JAKARTA JAKARTA Jakarta Utara Jakarta Utara Jakarta Utara Jakarta Utara Jakarta Utara Jakarta Selatan Jakarta Jakarta Jakarta Utara Jakarta Utara 66 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 KM. ALAM INDAH KM. MARLIN JAYA KM. COLUMBIA I KM. ANDIKA BAHARI - 02 KM. ANDI SEJAHTERA KM. SAM JAYA KM. PARAMOUN KM. IRWAN JAYA KM. PRIMA UTAMA JY 28 KM. KOMALA SARI KM. ELANG MAS KM. SINAR KAJUARA KM. LIANA KM. DUTA BAHARI V KM. SAFARI KM. BINTANG LAUT KM. NURI INDAH KM. SUMBER BAHARI KM. MUNCUL LESTARI JY KM. LISA JAYA KM. CITRA WIJAYA KM. BINTANG MORO KM. HASIL JAYA KM. MURNI INDAH KM. NURI INDAH III KM. SARI NIRANUANG KM. IRWAN PUTRA KM. INDH SRYA KENCANA KM. EMAN PUTRA KM. PRAJA BAHARI JY I KM. PRAJA BAHARI JY II KM. PRAJA BAHARI JY IV KM. PRAJA BAHARI JY VI KM. PUTRA BUANA KM. JAYA MANDIRI KM. ELANG BIRU KM. CAHAYA BINTANG KM. ALAM JAYA LESTARI KM. CAHAYA INDAH KM. AKBAR MULYA 03 Juli 05 Juli 03 Juli 05 Juli 10 Juli 11 Juli 16 Juli 16 Juli 17 Juli 17 Juli 31 Juli 04 Agustus 14 Agustus 21 Agustus 21 Agustus 26 Agustus 28 Agustus 28 Agustus 29 Agustus 03 September 06 September 06 September 07 September 12 September 17 September 19 September 21 September 23 September 23 September 25 September 25 september 30-Sep 30-Sep 30-Sep 02 Oktober 03 Oktober 16 Oktober 08 Oktober 10 Oktober 12 Oktober 09 Juli 09 Juli 12 Juli 10 Juli 14 Juli 16 Juli 20 Juli 19 Juli 19 Juli 21 Juli 04 Agustus 08 Agustus 18 Agustus 24 Agustus 24 Agustus 28 Agustus 02 September 02 September 02 September 06 September 10 September 10 September 11 September 16 September 19 September 20 September 23 September 27 September 25 September 28 september 28 September 06 Oktober 06 Oktober 02 Oktober 05 Oktober 06 Oktober 17 Oktober 12 Oktober 14 Oktober 14 Oktober Angkutan Bouke Ami Bouke Ami Jaring Cumi Gill Net Purse Seine Gill Net Gill Net Bubu Gill Net Purse Seine Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Jaring Dogol Angkutan Ikan Gill Net Jaring Cumi Gill Net Purse Seine Purse Seine Gill Net Bouke Ami Angkutan Ikan Angkutan Ikan Angkutan Ikan Angkutan Ikan Angkutan Ikan Gill Net Gill Net Purse Seine Angkutan Ikan Gill Net Angkutan Ikan Angkutan Ikam 28 29 29 29 27 38 25 22 29 28 29 6 29 29 23 7 6 26 29 21 29 28 21 26 6 6 18 29 25 4 6 4 4 24 26 28 6 29 30 6 1479 / Bc 54 / Bb 3155 / Bc 3208 / Bc 1923 / Ba 2732 / Bc 2634 / Bc 1229 / Bc 1781 / Bc 186 / Bb 2622 / Bc J.5 No. 593 1909 / Bc 2251 / Bc 1342 / Bc J.8 No. 684 S.35 A No.27 1395 / Bc 69 / Bb 1230 / Bc 2707 / Bc 2371 / Bc 863 / Bc 395 / SSd J. 26 No. 1107 J. 1 No. 1415 1542 / Bc 3331 / Bc 1422 / Da J. 6 1370 / Bc 2633 / Bc 2011 / Bc J. 6 No. 573 2205 / Bc 07 / Bb J. 5. No. 690 ACIU SEIN WIJAYA KASMAN SADIKIN TINUS AYUNG SINAGA ADI GENDUT SUTRISNO HENDRA BOB TJONG MAT NUR NUNUNG AGUS ANYAN BUDI H. MALUSE ANYAN TASDIK HENDRO S ANAM P SURYADI APO ALIP H. D. MALUSE H. ARSYAD B RAMSADI INDAH KANDAR KAB. P. SERIBU KAB. P. SERIBU NELSON NELSON ANYAN ANYAN BOB TJONG KAHARUDIN ANAM P H. DAENG M TONY JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA MUARA ANGKE JAKARTA PUSAT MUARA ANGKE PLUIT PLUIT JAKARTA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA UTARA KEP. SERIBU KEP. SERIBU PULAU PRAMUKA PULAU PRAMUKA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA B ARAT JAKARTA B ARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA 67 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 KM. PRAJA BAHARI JY V KM. PRAJA BAHARI JY III KM. BIMA KM. LABA - LABA KM. PRAJA BHR UTAMA I BANDAR JAKARTA II KM. DECO DEDES KM. RESTU KM. MEGA SURYA KM. WALKOT II KM. GUCCI KM. MAS AGUNG BANDAR JAKARTA I BAHARI KM. PRAJA BAHARI UTM 2 KM. ARIES KM. SINAR HARAPAN KM. YOLANDA KM. BANGKIT JAYA 075 KM. PUTRI II KM. BINTANG MAS KM. MINA JAKARTA 03 KM. EKA INDAH KM. BARACUDA JAYA KM. AMAR JAYA KM. CAKALANG KM. SUMBER REJEKI KM. CAMAR LAUT KM. PERMATA - I KM. HAYATI PERTIWI V KM. BERKEMBANG 06 Oktober 06 Oktober 12 Oktober 30 Oktober 30 Oktober 31 Oktober 06 Nopember 10 Nopember 11 Nopember 11 Nopember 16 Nopember 16 Nopember 14 Nopember 14 Nopember 24 Nopember 26 Nopember 30 Nopember 30 Nopember 30 Nopember 01 Desember 01 Desember 01 Desember 06 Desember 08 Desember 08 Desember 13 Desember 13 Desember 14 Desember 15 Desember 18 Desember 20 Desember 10 Oktober 10 Oktober 15 Oktober 11 Nopember 08 Nopember 13 Nopember 14 Nopember 22 Nopember 19 Nopember 18 Nopember 21 Nopember 23 Nopember 30 Nopember 28 Nopember 02 Desember 04 Desember 03 Desember 04 Desember 07 Desember 27 Desember 10 Desember 16 Desember 12 Desember 21 Desember 15 Desember 17 Desember 20 Desember 22 Desember 23 Desember Angkutan Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Angkutan Gill Net Gill Net Speed Boat Bubu Angkutan Ikan Gill Net Jaring Cumi Purse Seine Gill Net Jaring Cumi Angkutan Ikan Purse Seine Bouke Ami Angkutan Ikan Jr. Muro Ami Angkutan Ikan Gill Net 5 5 14 18 10 30 27 29 28 6 25 28 30 6 19 6 6 28 21 28 17 22 32 42 6 70 28 19 6 29 19 501 / Bc 480 / Bc 48 / Ba 1599 / Bc 1175 / Bc 2179 / Bc 1123 / Bc 1572 / Bc 374 / Ba 2185 / Ba J.2 No. 255 A.8 No 2199 186 / Bc 553 / Qa 1570 / Bc 711 / Bc 3073 / Bc 219 / Dpe 2140 / Ba S.35 No.123 1612 / T 1573 / Bc 556 / Gga J. 2 No.32 287 / Ft 702 / Bc NELSON NELSON ANYAN TAUFIK NELSON NELSON KO AKI ANYAN ANYAN NELSON ANYAN ANYAN NELSON NELSON NELSON AKIONG MUSLIMIN GENDUT SURADJI A. BASARI YULIANTO LIM H. ARSYAD NAWAR BTPI H. RUDIN BTPI APO BAHRUL HANDOKO H. SUKRI Y. HARIMAN PULAU PRAMUKA PULAU PRAMUKA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA PULAU PRAMUKA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA SELAT PANJANG JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA SELATAN JAKARTA UTARA JAKARTA PUSAT 68 Lampiran 4 Kegiatan Pelayanan Docking Kapal BTPI Tahun 2007 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 NAMA KAPAL KM. TELUK INTAN KM. CAHAYA SAMUDERA KM. PRANA JAYA - II KM. CAKRAWALA KM. CAHAYA ABADI - I KM. NAGA LAUT KM. WINDA FRANSISCA KM. CAHAYA BINTANG KM. IDOLA KM. LANCAR KM. MUNCUL JAYA KM. SARI INDAH KM. RINDU ALAM KM. AMAT JAYA KM. KARYA MITRA KM. SURYA CITRA N 1 KM. PERINTIS 1 KM. TIMBUL JAYA I KM. KURNIA KM. PAHALA KENCANA KM. SOPONGIRO - II KM. SINAR ULTRA KM. MARIANA KM. SETIA MAKMUR KM. TUGU PERMAI KM. SURYA BAHARI KM. SENTOSA KM. BINTANG LAUT KM. SAHABAT KM. ALAM SARI KM. CAROLINA KM. NUSANTARA KM. BERLIAN - 5 KM. ANALISA KM. TELUK INTAN KM. BERKAT USAHA TANGGAL NAIK TURUN 02 Januari 05 Januari 02 Januari 06 Januari 06 Januari 08 Januari 06 Januari 09 Januari 07 Januari 12 Januari 07 Januari 09 Januari 10 Januari 13 Januari 12 Januari 17 Januari 16 Januari 20 Januari 25 Januari 28 Januari 08 Februari 13 Februari 11 Februari 14 Februari 11 Februari 15 Februari 12 Februari 15 Februari 15 Februari 19 Februari 15 Februari 19 Februari 19 Februari 23 Februari 19 Februari 22 Februari 21 Februari 24 Februari 02 Maret 05 Maret 05 Maret 09 Maret 06 Maret 13 Maret 06 Maret 09 Maret 09 Maret 12 Maret 14 Maret 19 Maret 14 Maret 18 Maret 16 Maret 20 Maret 16 Maret 19 Maret 22 Maret 24 Maret 27 Maret 30 Maret 27 Maret 30 Maret 03-Apr 07-Apr 03-Apr 06-Apr 08-Apr 11-Apr 12-Apr 16-Apr 12-Apr 15-Apr ALAT TANGKAP Gill Net Jr. Tangsi Jr. Dogol Gill Net Gill Net Jr. Dogol Gill Net Angkutan Ikan Gill Net Purse Seine Gill Net Angkutan Ikan Gill Net Gill Net Gill Net Muro Ami Angkutan Ikan Muro Ami Bouke Ami Gill Net Jaring Udang Gill Net Bouke Ami Gill Net Gill Net Jaring Cantrang Bubu Jaring Dogol Gill Net Purseine Bouke Ami Gill Net Jaring Cumi Gill Net Gill Net Angkutan Ikan GT 29 28 7 25 28 7 28 20 25 6 28 23 28 33 26 17 7 28 30 29 6 28 20 24 12 29 29 7 26 29 13 29 20 27 29 6 TANDA SELAR 3018 / Bc 1667 / Bc J.8 No. 696 1710 / Bc 1549 / Bc J.8 No. 697 2249 / Bc 131 / Gga 50 / Bc J. 26 No.600 1509 / Bc 826 / Da 1905 / Bc 330 / Hha 216 / Bc 330 / Eed I / J2 1440 / Bc 415 / PPf 3019 / Bc J. 15 No. 671 2701 / Bc 710 / Bc 1541 / Bc 479 / Bc 1665 / Bc 1928 / Bc J. 8 No. 684 2466 / Bc 2345 / Bc 591 / Bc 2081 / Bc 941 / Bc 2250 / Bc 3018 / Bc J.5 No. 657 PEMILIK / PENGURUS ANYAN TAUFIK ERIYANTO ANYAN TAUFIK SANTO DIMIN KAHARUDIN ANYAN SUMANTO BOB TJOENG SUTANDI WALUYO SANGKALA ANAM P ENCUP AIP ENCUP ATONG WALUYO M. MA'RUF TAUFIK GUNAWAN WALUYO ANYAN A'ENG OSAN BUDIYANTO ANYAN EFFENDI YONO WALUYO AGUS DIMIN WALUYO ROJAK KETERANGAN JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA LAMPUNG JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA 69 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 KM. MINA JAKARTA - 05 KM. BOGA PATI KM. SINAR HARAPAN KM. PUTRI TUNGGAL KM. DUTA BAHARI - II KM. PRIMA SAKTI KM. CAHAYA INDAH - 02 KM. MILENIUM JAYA KM. ALAM JAYA MAKMUR KM. CAHAYA BINTANG KM. WIRA USAHA KM. MAJU JAYA KM. DUTA BAHARI KM. DORETHY KM. SUMBER JAYA KM. ESMERALDA KM. CAHAYA INDAH KM. BADAK KULON KM. PUTRA MANDALA KM. PARAMOUNT KM. ANGGI KM. ELANG RAJA KM. SUGIH TERUS JAYA KM. KENARI KM. BERLIAN KM. SUMBER MAJU KM. GRESIDA KM. DUTA BAHARI - 5 KM. ARJUNA - 03 KM. BUNGA LILI KM. KAJUARA KM. TETAP JAYA - I KM. PAUS BIRU KM. MURNI INDAH KM. ANNE KM. ALPUKAT KM. NOVITA JAYA KM. IDOLA KM. CAHAYA SAMUDRA KM. ALAM JAYA 12-Apr 16-Apr 16-Apr 18-Apr 18-Apr 23-Apr 27-Apr 25-Apr 03 Mei 04 Mei 07 Mei 10 Mei 11 Mei 11 Mei 13 Mei 14 Mei 14 Mei 18 Mei 22 Mei 23 Mei 28 Mei 28 Mei 04 Juni 05 Juni 06 Juni 06 Juni 08 Juni 13 Juni 18 Juni 18 Juni 21 Juni 25 Juni 11 Juni 30 Juni 30 Juni 04 Juli 09 Juli 11 Juli 16 Juli 19 Juli 15-Apr 19-Apr 19-Apr 23-Apr 24-Apr 28-Apr 29-Apr 28-Apr 09 Mei 05 Mei 12 Mei 12 Mei 12 Mei 13 Mei 17 Mei 21 Mei 20 Mei 20 Mei 26 Mei 27 Mei 30 Mei 30 Mei 07 Juni 07 Juni 10 Juni 10 Juni 11 Juni 18 Juni 22 Juni 21 Juni 29 Juni 29 Juni 04 Juli 04 Juli 04 Juli 08 Juli 12 Juli 16 Juli 20 Juli 23 Juli Jaring Cumi Gill Net Angkutan Ikan Purse Seine Jaring Cumi Angkutan Ikan Angkutan Ikan Purse Seine Purse Seine Angkutan Ikan Gill Net Bubu Muro Ami Gill Net Gill Net Gill Net Angkutan Ikan Pancing Gill Net Gill Net Gill Net Purse Seine Angk. Ikan Bagan Apung Muro Ami Angk. Ikan Purse Seine Jaring Cumi Angk. Ikan Purse Seine Jaring Cumi Jaring Cumi Angkutan Bouke Ami Gill Net Jr. Muro Ami Purse Seine Gill Net Jaring Cumi Purse Seine 22 28 6 28 27 30 23 28 29 6 29 28 29 27 27 28 30 4 6 25 28 29 6 7 6 6 25 29 6 29 6 28 42 26 27 5 29 25 28 27 3075 / Bc 959 / Bc A.8 No.2199 1774 / Bc 1973 / Bc 138 / Fp 17 / Bb 1885 / Bc 2050 / Bc J.8 No.573 2984 / Bc 2720 / Bc 1859 / Bc 1563 / Bc 1660 / Bc 1676 / Bc 07 / Bb J.17 No.3610 J.37 No.6603 2634 / Bc 1850 / Bc 3330 / Bc J.5 No.806 J. 8 No. 750 J. 16 No.378 J.8 No. 685 735 / Da 2251 / Bc S.37 No.1599 245 / Bc J. 1 No.1389 2269 / Bc 1314 / Ba 395 / SSd 129 / Bc A-8 No.2308 1530 / Bc 50 / Bc 1667 / Bc 137 / Gga ZULKARNAEN WALUYO ROJAK WARJU AGUS M. TAUFIK D. MALUSE MARTIN ANAM KAHARUDIN ANYAN HERMANTO AGUS NUNUNG TJAN HASAN AMIN YUNUS H. DAENG M CHRISTIAN KODORI ANYAN PANCE BOB TJOENG KAPOL KRISNADI HON HENDRY H HARYANTO SULIYANTO HON HENDRY H SOLIHIN ANTON H. MAS NUR MENCRET HARYO SENO ALIP MOMU ENCUP APO ANYAN ARPO ANAM P JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKSEL JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA SELATAN JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA PUSAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA INDRAMAYU JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA TIMUR JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA PUSAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA Tj. PANDAN JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA 70 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 KM. MITRA BAHARI KM. MORO MULIA KM. PERINTIS KM. GRESIDA - 5 KM. CAHAYA IKHWAN KM. FIJAI SAPUTRA KM. ALAM JAYA LESTARI KM. AGUNG MULYA KM. NUR ILHAM KM. PUTRA BONE KM. KONCO ENGGAL KM. INDO MAKMUR KM. CAKALANG JAYA 1 KM. REZEKI GARUDA MAS KM. CAHAYA REJEKI KM. SENANTIASA - 2 KM. HASIL JAYA KM. DERMAWAN KM. IRWAN PUTRA KM. NURMAWADAH KM. SINAR SEJAHTERA KM. NURI INDAH KM. SRI RAMA KM. SUMBER HARAPAN KM. RESTU KM. ROHANI JAYA KM. MEGA SURYA KM. KARYA MITRA 22 Juli 22 Juli 21 Juli 27 Juli 01 Agustus 07 Agustus 09 Agustus 13 Agustus 13 Agustus 13 Agustus 14 Agustus 21 Agustus 20 Agustus 21 Agustus 24 Agustus 26 Agustus 03 September 05 September 05 September 08 September 14 September 16 September 20 September 19 September 19 September 25 September 25 September 25 September 30 Juli 28 Juli 26 Juli 30 Juli 04 Agustus 11 Agustus 14 Agustus 19 Agustus 16 Agustus 16 Agustus 17 Agustus 26 Agustus 31 Agustus 23 Agustus 25 Agustus 28 Agustus 08 september 10 September 08 September 17 September 17 September 19 September 24 September 24 September 23 September 27 September 28 september 28 september Gill Net Purse Seine Angkutan Ikan Bouke Ami Angkutan Ikan Gill Net Gill Net Angkutan Ikan Pancing Purse Seine Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Bouke Ami Gill Net Angkutan Angkutan Ikan Angkutan Ikan Angkutan Ikan Angkutan Ikan Jaring Cumi Jaring Cumi Gill Net Jaring Cumi Gill Net Gill Net 29 29 26 29 6 6 29 24 25 6 21 28 82 30 29 6 21 6 18 7 30 6 14 29 29 20 28 26 2768 / Bc 2710 / Bc 631 / Bc 1681 / Bc S.35A No.252 J. 8 No.692 2205 / Bc 1271 / Bc 119 / Bb J. 5 No.415 1211 / Bc 1814 / Bc 2977 / Bc 627 / SSd 1111 / Dda 863 / Bc J. 8 No. 906 1542 / Bc S. 35 a No.199 929 / HHd S. 35 A No.27 763 / Bc 3027 / Bc 1175 / Bc 3830 / Bc 2179 / Bc 216 / Bc INDRI HARTONO ALIP HAKIM H. D. MALUSE SOLIHIN ANAM P ANYAN H.D. MANGENDRE WARJU HARTONO ANYAN BTPI SOLIHIN SUIYAN WARJU ARPO Hj. SRI NGANIATUN RAMSADI H. D MANGENDRE H. SUKRI H. D MALUSE WARJU SUJAMIN SININ SAMUEL AT WARJU ANYAN ANAM P JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA PALEMBANG JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA 71 Lampiran 5 Kegiatan Pelayanan Docking Kapal BTPI Tahun 2008 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 NAMA KAPAL KM. RINDU ALAM KM. YAMATOBA - 05 KM. CAHAYA ABADI KM. SUMBER KEHIDUPAN KM. SINAR REJEKI - 1 KM. ULAM SARI PUTRA-II KM. DUTA BAHARI - II KM. CAHAYA BARU KM. W L M KM. SINAR WIJAYA - II KM. SURYA BAHARI KM. PUTRA BUANA KM. ROBOT B KM. TUGU PERMAI KM. MAS AGUNG KM. SAHABAT KM. SUMBER REJEKI KM. SETIA MAKMUR KM. TELUK INTAN KM. CAHAYA REJEKI KM. DUTA BAHARI - 1 KM. SAFARI KM. MITRA BAHARI KM. CITRA SULAWESI - III KM. PAHALA KENCANA KM. NANDO JAYA - I KM. CAKRAWALA KM. ANDI SEJAHTERA KM. SUMBER BAHARI KM. MEGASURYA KM. IDOLA KM. SRI ASIH KM. ELANG LAUT KM. SAPUTRA JAYA - II KM. MARIANA KM. DORETHY TANGGAL NAIK TURUN 13-Feb 17-Feb 14-Feb 18-Feb 18-Feb 23-Feb 20-Feb 25-Feb 20-Feb 24-Feb 23-Feb 29-Feb 25-Feb 29-Feb 03-Mar 09-Mar 03-Mar 07-Mar 07-Mar 12-Mar 10-Mar 13-Mar 14-Mar 17-Mar 15-Mar 20-Mar 22-Mar 26-Mar 27-Mar 30-Mar 29-Mar 01-Apr 30-Mar 01-Apr 31-Mar 03-Apr 01-Apr 03-Apr 03-Apr 04-Apr 06-Apr 10-Apr 06-Apr 09-Apr 10-Apr 12-Apr 10-Apr 13-Apr 15-Apr 17-Apr 18-Apr 20-Apr 20-Apr 22-Apr 24-Apr 28-Apr 01-Mei 04-Mei 02-Mei 05-Mei 07-Mei 14-Mei 10-Mei 15-Mei 14-Mei 19-Mei 14-Mei 17-Mei 17-Mei 21-Mei 20-Mei 27-Mei ALAT TANGKAP Gill Net Bubu Jaring Cumi Jaring Tangsi Bouke Ami Jaring Cucut Jaring Cumi Muro Ami Muro Ami Bouke Ami Jaring Cantrang Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Angkutan Ikan Gill Net Gill Net KM. Angkutan Muro Ami Gill Net Gill Net Angkutan Ikan Gill Net Bouke Ami Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Bouke Ami Gill Net Bouke Ami Gill Net Gill Net GT 28 25 28 24 29 26 27 7 14 27 29 24 15 12 27 26 28 24 29 29 29 23 25 6 29 28 25 27 26 28 25 6 28 26 20 27 TANDA SELAR 1905 / Bc 2511 / Bc 1549 / Bc 1574 / Bc 3203 / Bc 1973 / Ft 1973 / Bc 232 / S. 20 318 / Eed 2285 / Bc 1665 / Bc 137 / Bc 410 / Bc 479 / Bc 1572 / Bc 2465 / Bc 1573 / Bc 1541 / Bc 3018 / Bc 1111 / Dda 1859 / Bc 1342 / Bc 1068 / Bc S.35 A No.202 3019 / Bc 78 / Bc 1710 / Bc 1923 / Ba 1395 / Bc 2179 / Bc 50 / Bc J.26 No.554 2623 / Bc 916 / Bc 710 / Bc 1503 / Bc PEMILIK / PENGURUS TONY T HORISON S ARPO S ANTON H BAHRIM MAD SAID HON HENDRY H KIM SAI TJIN SAI WIDIANTO A'ENG ANYAN BOB ANYAN SURYANI WALUYO MOH. AZIZ WALUYO WALUYO SURYANI HON HENDRI H WALUYO WALUYO M. HAZAIRIN WALUYO JOHAN ANDI GAUTAMA FAUZI ANYAN ANYAN ANYAN MI CEH BOB TJOENG SANDJAYA BAJA GUNAWAN NUNUNG KETERANGAN JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA BELITUNG JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA PALEMBANG JAKARTA PUSAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA PUSAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA 72 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 KM. GUCCI KM. KOTA BARU - IV KM. SUMBER LAUT KM. MUDA JAYA KM. SURYA CITRA N - V KM. CAHAYA INDAH KM. DINASTI MAKMUR - IA KM. ANNE KM. VINCENT KM. NURI INDAH - III KM. CITRA WIJAYA KM. PRIMADANA KM. AGUNG MULYA KM. CAHAYA INDAH - II KM. PURI INDAH KM. INDAH SURYA K KM. DANARE KM. PUTRI PESONA KM. NURI INDAH - I KM. TIMBUL JAYA - I KM. CAHAYA SAMUDRA KM. JAYA RAYA PERKASA KM. PARAMOUNT KM. PUTRI II KM. BERLIAN KM. BINTANG KEJORA KM. PERINTIS SINABOY KM. BADAK KULON KM. SRIKANDI - I KM. WINDI JAYA KM. BINTANG PUTRA - I KM. TEKUN KM. SINAR GEMILANG KM. JAYA WIJAYA KM. TATA KENCANA KM. BERLIAN KM. INDO MAKMUR KM. CAHAYA SENJA KM. ALI BABA - II KM. YOSHINAGA - V 21-Mei 03-Jun 04-Jun 06-Jun 11-Jun 11-Jun 12-Jun 16-Jun 16-Jun 16-Jun 21-Jun 21-Jun 23-Jun 25-Jun 25-Jun 02-Jul 05-Jul 09-Jul 14-Jul 14-Jul 16-Jul 18-Jul 22-Jul 22-Jul 22-Jul 23-Jul 03-Agust 04-Agust 06-Agust 11-Agust 11-Agust 13-Agust 13-Agust 14-Agust 15-Agust 19-Agust 19-Agust 19-Agust 22-Agust 23-Agust 25-Mei 07-Jun 07-Jun 13-Jun 15-Jun 16-Jun 19-Jun 19-Jun 19-Jun 20-Jun 23-Jun 26-Jun 27-Jun 28-Jun 29-Jun 14-Jul 09-Jul 12-Jul 17-Jul 17-Jul 22-Jul 21-Jul 28-Jul 27-Jul 28-Jul 26-Jul 09-Agust 06-Agust 12-Agust 13-Agust 12-Agust 18-Agust 20-Agust 18-Agust 18-Agust 29-Agust 23-Agust 29-Agust 26-Agust 25-Agust Gill Net Payang Jaring Dogol Angkutan Ikan Angkutan Ikan Angkutan Ikan Jaring Cumi Jaring Cumi Jaring Cumi Angkutan Ikan Gill Net Gill Net Gill Net Angkutan Ikan Angkutan Ikan Angkutan Jaring Cumi Bouke Ami Angkutan Ikan Muro Ami Jaring Cumi Bouke Ami Gill Net Purse Seine Jaring Cumi Jaring Cumi Bouke Ami Jaring Cumi Jaring Cumi Angkutan Ikan Bouke Ami Gill Net Purse Seine Gill Net Jaring Cumi Gill Net Angkutan Ikan Jaring Tangsi Jaring Cumi 25 6 7 7 17 30 46 27 28 6 29 25 24 23 11 29 19 29 6 28 28 29 25 28 20 7 6 4 24 24 27 11 28 29 6 20 28 17 21 6 1123 / Bc J. 64 -5627 R 4 No.642 S.36 No.2740 330 / Eed 07 / Bb 3181 / Bc 129 / Bc 2638 / Bc J. 26 No.1107 2707 / Bc 034 / Bc 1271 / Bc 17 / Bb 308 / Ge 3331 / Bc 1458 / Da 2626 / Bc S.35 A No. 27 1440 / Bc 1667 / Bc 2583 / Bc 2634 / Bc 1570 / Bc 2521 / Bc 53 / Bb J.8 No. 601 J.17 No.3610 996 / Bc 3827 / Bc 2416 / Bc 897 / Bc 2949 / Bc 2708 / Bc S.44 No.4862 2521 / Bc 1814 / Bc 1345 / Bc 7564 / Ba J.15 No.1334 ANYAN SUHAJO HUTOMO G JUNLI HANDOKO ENCUP H. DAENG MALUSE UCOK ISWADI MOMO SUJAMIN SININ H. DAENG MALUSE ANAM P GUNAWAN ANYAN H. DAENG MALUSE SUTANDI INDAH N RONALD A. BASARI H. D. MALUSE FREDY G ARPO S HOCKY S WALUYO A. BASARI HON HENDRI H H. NUR YUS HERI CULANG TJULIK WARJU DENI REVINA DANIEL M ARPO S ANAM P TATU HON HENDRI H WALUYO ALI HUSEN KACONG ALPHONSUS T JAKARTA UTARA BREBES MUARA KARANG MUARA ANGKE MUARA ANGKE MUARA ANGKE TAMBORA KALI BARU MUARA ANGKE MUARA ANGKE MUARA KARANG PETOJO / JAKPUS PLUIT MUARA ANGKE JAKARTA PUSAT JAKARTA JAKARTA PUSAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA KAB. BELITUNG JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT 73 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 KM. NUSANTARA KM. JAYA KENCANA - III KM. EMAN PUTRA - II KM. JAYA MANDIRI KM. IDOLA KM. MELINDA KM. CITRA ABADI KM. BARUNA KM. EMAN PUTRA KM. BANGKIT BAHARI KM. CAHAYA BINTANG KM. PUTRA MANDIRI KM. ELLEN JAYA KM. DERMAWAN KM. JAYA KENCANA - III KM. MUNCUL JAYA - 3 KM. CAROLINA KM. WIRA USAHA KM. SINAR BARU - 3 KM. BUDI ABADI KM. CAHAYA MULYA KM. SENTOSA KM. ROSALINDA KM. BERDIKARI KM. PERKASA - 3 KM. PUTRI AYU KM. CAHAYA INDAH KM. BERDIKARI KM. SINAR BAHARI KM. MULYA INDAH SLRS KM. DEWI LESTARI KM. TRISNAWATI KM. VICTORY KM. LIANA KM. MARLIN KM. VANESA KM. DUTA BAHARI - V KM. RESTU KM. GUCCI KM. PUTRA JAYA 04-Sep 05-Sep 06-Sep 10-Sep 10-Sep 11-Sep 14-Sep 16-Sep 17-Sep 17-Sep 19-Sep 19-Sep 06-Okt 06-Okt 08-Okt 11-Okt 11-Okt 12-Okt 16-Okt 18-Okt 20-Okt 22-Okt 23-Okt 23-Okt 01-Nop 01-Nop 01-Nop 01-Nop 08-Nop 07-Nop 11-Nop 12-Nop 13-Nop 16-Nop 18-Nop 18-Nop 21-Nop 24-Nop 24-Nop 01-Des 11-Sep 08-Sep 09-Sep 19-Sep 13-Sep 15-Sep 19-Sep 23-Sep 19-Sep 23-Sep 23-Sep 23-Sep 11-Okt 11-Okt 11-Okt 15-Okt 17-Okt 16-Okt 23-Okt 21-Okt 30-Okt 29-Okt 30-Okt 28-Okt 05-Nop 07-Nop 03-Nop 18-Nop 11-Nop 21-Nop 14-Nop 14-Nop 17-Nop 20-Nop 24-Nop 24-Nop 30-Nop 30-Nop 29-Nop 12-Des Gill Net Bouke Ami Angkutan Ikan Gill Net Gill Net Jaring Cumi Gill Net Gill Net Angkutan Ikan Purse Seine Angkutan Ikan Gill Net Gill Net Angkutan Bouke Ami Gill Net Gill Net Gill Net Angkutan Ikan Angkutan Ikan Angkutan Ikan Bubu Jaring Cumi Pancing Gill Net Muro Ami Angkutan Ikan Angkutan Gill Net Angkutan Ikan Angkutan Jaring Cumi Angkutan Gill Net Angkutan Gill Net Jaring Cumi Gill Net Gill Net Jaring Cumi 29 28 28 26 25 20 13 20 25 29 20 29 28 6 29 28 13 29 25 22 6 29 26 26 22 29 30 7 30 24 32 29 29 29 6 28 29 29 25 6 2081 / Bc 2040 / Bc 2417 / Bc 2663 / Bc 0550 / Bc 1490 / Bc 648 / Bc 1202 / Bc 1422 / Da 2091 / Bc 131 / Gga 2983 / Bc 2879 / Bc J. 8 No. 906 2540 / Bc 1509 / Bc 591 / Bc 2984 / Bc 807 / Da 12 / Bc 191 / S. 35 A 1928 / Bc 1805 / Bc J. 2 No. 477 447 / Bc 2038 / Bc 07 / Bb J. 2 No. 188 1220 / Ft 1281 / Bc 427 / Ppe 204 / Bc 2887 / Bc 1909 / Bc J. 6 No. 265 3118 / Bc 2551 / Bc 1175 / Bc 1123 / Bc - WALUYO BUDI HERMAN WALUYO WALUYO CUN SENG WALUYO WALUYO KANDAR KHO OTONG B WALUYO WALUYO NELLY Hj. SRI N BUDY BOB M. ARIFIN WALUYO FARIZAL ENCU H. AKBAR CUAN IN HOA WIJAYA KEVIN TEJA ABDUL H LUKMANUL H H. DAENG M ENO BOWO S NUNUNG RAMSADI SUSILO APUK KAPOL NUNUNG HARYOSENO TAN TJUN SENG HON HENDRI H WALUYO WALUYO WALUYO JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA SELATAN JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA BARAT 74 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 KM. MAS AGUNG KM. MULIA BARU - 9 KM. PUTRI AYU KM. MINA JAKARTA - 03 KM. SURYA BAHARI KM. BARACUDA JAYA KM. SUMBER HARAPAN KM. HIJRAH ABADI KM. NAZARAH - II TB. TRANTIB KM. SINAR MAJU KM. W L M KM. PUTRI DUYUNG - IV KM. LANGKAH PASTI 03-Des 03-Des 03-Des 06-Des 11-Des 12-Des 12-Des 15-Des 16-Des 18-Des 18-Des 18-Des 18-Des 19-Des 12-Des 05-Des 09-Des 11-Des 15-Des 17-Des 17-Des 18-Des 17-Des 22-Des 22-Des 25-Des 20-Des 26-Des Gill Net Angkutan Ikan Jaring Cumi Angkutan Bouke Ami Bouke Ami Muro Ami Jaring Dogol Jaring Muro Ami Jaring Muro Ami Jaring Dogol Angkutan Ikan 28 16 28 22 29 42 29 5 7 30 6 14 6 5 1572 / Bc 399 / Bc 2515 / Bc 3037 / Bc 1665 / Bc 2140 / Ba 3027 / Bc A. 12 No. 027 J. 8 No. 540 1408 / Bc A. 12 No. 401 318 / Eed J. 8 No. 698 208 / J. 26 WALUYO H. DJAWADE A. BASARI H. ARSYAD ARPO UPT. BTPI NANO H. ABDUL RIFAI CHANDRA SILVI MARNO S TJIN SAN HARYANTO JOKO JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT 75 Lampiran 6 Kegiatan Pelayanan Docking Kapal BTPI Tahun 2009 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 NAMA KAPAL KM. MEGA SURYA KM. CAKRAWALA KM. HAYATI PERTIWI - V KM. SINAR REJEKI - I KM. TELUK INTAN KM. KURNIA KM. CAHAYA ABADI KM. SIDO MULYO KM. ANNE - II KM. CAHAYA BINTANG KM. SRI ASIH - I KM. BANGUN JAYA KM. ELANG MAS KM. KARYA ARTA KM. ROHANI - I KM. SAFIR LAUT - 3 KM. NURI INDAH - III KM. SUGIH TERUS JAYA KM. SINAR SEJAHTERA KM. SUSANTI JAYA KM. INTAN LAUT - 2 KM. INDO MAKMUR KM. CAHAYA BARU KM. SRI RAMA KM. SRI ASIH KM. TRI JAYA - 04 KM. SUMBER KEHIDUPAN KM. KAPAL BARU KM. ROHANI - 2 KM. PULAU MAS KM. SAFARI KM. BANDAR JAKARTA KM. KARYA GUNA KM. DARMA JAYA KM. PESUT KM. MINA JAYA TANGGAL NAIK TURUN 03-Jan 10-Jan 04-Jan 12-Jan 06-Jan 10-Jan 06-Jan 10-Jan 10-Jan 16-Jan 16-Jan 15-Jan 17-Jan 26-Jan 17-Jan 28-Jan 18-Jan 24-Jan 20-Jan 25-Jan 27-Jan 30-Jan 28-Jan 30-Jan 28-Jan 31-Jan 31-Jan 03-Feb 03-Feb 06-Feb 03-Feb 06-Feb 04-Feb 07-Feb 05-Feb 08-Feb 08-Feb 25-Feb 09-Feb 13-Feb 09-Feb 13-Feb 13-Feb 18-Feb 13-Feb 16-Feb 23-Feb 26-Feb 23-Feb 27-Feb 14-Feb 23-Feb 18-Feb 20-Feb 19-Feb 26-Feb 15-Feb 01-Mar 03-Mar 09-Mar 03-Mar 08-Mar 03-Mar 12-Mar 05-Mar 11-Mar 07-Mar 13-Mar 13-Mar 18-Mar 14-Mar 16-Mar ALAT TANGKAP Gill Net Gill Net Angkutan Ikan Bouke Ami Gill Net Angkutan Ikan Gill Net Jaring Cumi Gill Net Angkutan Ikan Jaring Cumi Pancing Purse Seine Angkutan Jaring Cumi Angkutan Angkutan Angkutan Angkutan Purseine Angkutan Angkutan Angkutan Angkutan Bouke Ami Jaring Bubu Jaring Tangsi Gill Net Jaring Cumi Angkutan Gill Net Jaring Cumi Jaring Cumi Angkutan Purseine GT 28 25 29 29 29 6 28 26 27 6 27 6 6 7 29 29 6 6 30 29 27 7 7 7 6 26 24 29 29 29 23 83 19 6 6 4 TANDA SELAR 2179 / Bc 1710 / Bc 287 / Ft 3203 / Bc 3018 / Bc J. 16 No. 1204 1549 / Bc 955 / Ft 129 / Bc J. 8 No. 573 129 / Bc J. 26 No. 554 J. 37 No.3769 571 / Bc 1579 / Bc J. 26 No. 1107 J. 5 No. 599 929 / HHd 2010 / Bc 312 / Bc 1814 / Bc S. 20 No. 232 763 / Bc J. 26 No. 554 290 / Da 1574 / Bc 1342 / Bc 347 / Ba 543 / Bc J. 5 No. 806 J. 8 No. 693 75 / J.2 PEMILIK / PENGURUS WALUYO WALUYO H. NAZAIRIN BAHRIN WALUYO SURYANA ARPO S SODIKIN ANTON KAHARUDIN UJANG R ENCUP BOB TJONG UNTUNG WARJU PONDI HIMAWAN H. MALUSE KAPOL H. SUKRI APO HENDRI ANYAN JUNAIDI WARJU SUSANTO ANTHONY ANTON ANYAN WARJU H. SUKRI TONY S PEMDA DKI UNTUNG NOPA N BAMBANG H. MINAH KETERANGAN JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA TJ. PANDAN JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA 76 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 KM. SETIA MAKMUR KM. BARUNA KM. KAKAP MERAH - IV KM. MARIANA KM. VITA JAYA KM. DORETHY KM. BINTANG PERMATA KM. SAHABAT KM. INDO MAKMUR KM. BERLIAN JAYA - 5 KM. TUNGKASA JAYA KM. WINDA DIANA KM. MAGRIS JAYA - VIII KM. SETIA JAYA KM. ASIA JAYA - I KM. PARAMOUNT KM. PAHALA KENCANA KM. DINASTI MAKMUR-Ia KM. SINAR ABADI - 88 KM. HARMONIS KM. GUNUNG JAYA KM. BINTANG ALAM - 2 KM. VINCENT KM. MITRA BAHARI KM. DUTA BAHARI - III KM. IDOLA KM. NABARA - II KM. BANGUN JAYA KM. NUR INDAH - III KM. ROSALINA KM. PONTI KM. NUR ILHAM KM. DUTA BAHARI - I KM. BUNGSU B KM. ROHMAH KM. AMALIA JAYA KM. MINA JAKARTA - 04 KM. KARYA SAMUDRA KM. TETAP JAYA - I KM. SUMBER BAHARI 17-Mar 17-Mar 18-Mar 20-Mar 27-Mar 31-Mar 03-Apr 03-Apr 06-Apr 06-Apr 12-Apr 14-Apr 20-Apr 26-Apr 18-Apr 23-Apr 23-Apr 30-Apr 01-Mei 02-Mei 08-Mei 11-Mei 15-Mei 19-May 26-Mei 27-Mei 02-Jun 02-Jun 03-Jun 03-Jun 08-Jun 08-Jun 09-Jun 17-Jun 19-Jun 19-Jun 28-Jun 28-Jun 30-Jun 05-Jul 20-Mar 21-Mar 28-Mar 26-Mar 30-Mar 06-Apr 10-Apr 10-Apr 13-Apr 08-Apr 16-Apr 18-Apr 24-Apr 29-Apr 23-Apr 30-Apr 28-Apr 05-Mei 05-Mei 07-Mei 15-Mei 17-Mei 19-Mei 26-Mei 31-Mei 02-Jun 09-Jun 09-Jun 08-Jun 08-Jun 11-Jun 16-Jun 14-Jun 22-Jun 21-Jun 06-Jul 03-Jul 03-Jul 06-Jul 10-Jul Gill Net Gill Net Jaring Cumi Bouke Ami Jaring Cumi Gill Net Jaring Cumi Angkutan Ikan Jaring Cumi Jaring Cumi Angkutan Ikan Angkutan Ikan Angkutan Ikan Gill Net Angkutan Ikan Gill Net Gill Net Bouke Ami KM. Angkutan Angkutan Ikan Angkutan Ikan Angkutan Ikan Jaring Cumi Gill Net Jaring Cumi Gill Net Angkutan Angkutan Ikan Angkutan Ikan Bouke Ami Bouke Ami Angkutan Ikan Bouke Ami Jaring Dogol Jaring Dogol Angkutan Ikan Hand Line Gill Net Jaring Cumi Gill Net 24 20 28 20 25 27 27 26 28 20 23 6 29 29 29 25 29 46 57 29 29 19 28 25 29 25 25 6 6 19 25 25 29 7 7 6 28 29 28 26 1541 / Bc 1202 / Bc 2387 / Bc 710 / Bc 199 / Ia 1563 / Bc 1717 / Bc 2465 / Bc 1814 / Bc 941 / Bc 826 / Da 230 / S. 35 A 876 / Dda 1615 / Bc 62 / Bb 2634 / Bc 3019 / Bc 3181 / Bc 571 / Dda 952 / Dda 1515 / Bc 406 / Dda 2683 / Bc 1068 / Bc 1974 / Bc 50 / Bc J.37 No.3769 1107 / J.26 694 / Bc 119 / Bb 1859 / Bc J.8 No. 416 J.8 No. 1469 3074 / Bc 2269 / Bc 1395 / Bc TONI CAHYADI TONI CAHYADI KIM YAN THO GUNAWAN SALIM SAIDI TJANDRA K TJAN KEK HOK ACE SURYANI HON HENDRI H H. MOCH ZEIN HARIS SUSANTO TJAN HASAN A. SYARIFUDIN ANYAN TONI CAHYADI HALIM EDY TONO IRIYANTO TJAN KEK SENG ABDUL HAI SUDJAMIN S Ir. SUSANTO HON HENDRI H TONY CAHYADI HALIM IAN ARDIANSH H. DAENG M AMIN YUNUS WARJU H. DAENG M HON HENDRI H ARWA ENDRI ENCAS A. RASYID DINAS PERIK HR. UNA HJ. NOPA W SURYANI JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA TANJUNG PANDAN MUARA KARANG MUARA ANGKE JAKARTA BARAT PANIPAHAN PALEMBANG JAKARTA UTARA P. TIDUNG JAKARTA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA 77 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 KM. SAMANTA KM. SHINTA KM. SAM JAYA KM. JAYA KENCANA - 3 KM. KAYTORA KM. NURWADDAH KM. MEGA SURYA KM. NIDIA KM. NUSANTARA KM. NADIA KM. NUR INDAH 01 KM. ALAM JAYA LESTARI KM. CITRA BAHARI KM. PRAJA BAHARI JY I KM. CAHAYA ABADI KM. NUR INDAH - 03 KM. EMAN PUTRA - II KM. KARYA ARTA KM. MUSTIKA JAYA -V KM. TRI JAYA -04 KM. PUTRA JAYA KM. BOGA PATI KM. WIRA USAHA KM. GUCCI KM. DUTA BAHARI - 05 KM. DANARE KM. BERLIAN KM. TELUK INTAN KM. YOSHINAGA KM. MARGARETH KM. PRIMADANA KM. SANTI JAYA KM. CAHAYA INDAH - 04 KM. MITRA SEJATI KM. JAYA MANDIRI KM. VERONICA KM. CAKRAWALA KM. JAYA RAYA PERKASA KM. CAHAYA INDAH - 02 KM. CAHAYA BINTANG 05-Jul 06-Jul 06-Jul 13-Jul 15-Jul 16-Jul 21-Jul 27-Jul 29-Jul 03-Agust 03-Agust 04-Agust 04-Agust 13-Agust 13-Agust 18-Agust 24-Agust 26-Agust 28-Agust 29-Agust 31-Agust 31-Agust 03-Sep 08-Sep 08-Sep 11-Sep 14-Sep 14-Sep 08-Sep 12-Sep 28-Sep 27-Sep 29-Sep 29-Sep 28-Sep 03-Okt 07-Okt 13-Okt 21-Okt 19-Okt 10-Jul 11-Jul 11-Jul 17-Jul 20-Jul 23-Jul 29-Jul 01-Agust 03-Agust 07-Agust 06-Agust 09-Agust 12-Agust 18-Agust 19-Agust 21-Agust 26-Agust 30-Agust 01-Sep 30-Agust 07-Sep 03-Sep 08-Sep 11-Sep 11-Sep 17-Sep 17-Sep 17-Sep 13-Sep 17-Sep 03-Okt 09-Okt 05-Okt 16-Okt 04-Okt 09-Okt 13-Okt 17-Okt 24-Okt 05-Nop Bouke Ami Gill Net Purseine Bouke Ami Angkutan Ikan Angkutan Ikan Gill Net Bouke Ami Gill Net Bouke Ami Angkutan Ikan Gill Net Jaring Cumi Gill Net Angkutan Ikan Angkutan Ikan Gill Net Bouke Ami Jaring Bubu Jaring Cumi Gill Net Bouke Ami Gill Net Jaring Cumi Bouke Ami Jaring Cumi Gill Net Purseine Gill Net Gill Net Purseine Angkutan Bouke Ami Gill Net Gill Net Gill Net Bouke Ami Angkutan Angkutan Ikan 29 29 29 29 3 29 28 27 29 30 6 29 23 4 28 6 28 19 18 26 6 28 29 25 29 19 20 29 29 24 25 27 30 26 26 28 25 29 23 20 260 / Bc 48 / Bb 2540 / Bc J.37 No. 6398 166 / Bb 2179 / Bc 2815 / Bc 2081 / Bc 2439 / Bc S.35 No. 27 2205 / Bc 1411 / Bc 1549 / Bc 1107 / Bc 2471 / Bc 571 / Bc 408 / Dda 290 / Da 959 / Bc 2984 / Bc 1123 / Bc 225 / Bc 1958 / Da 657 / J.5 3018 / Bc 1631 / Bc 46 / Bc 034 / Bc 2337 / Bc 07 / Bb 2633 / Bc 1010 / Bc 1710 / Bc 2583 / Bc 17 / Bb 131 / Gga AMIN YUNUS ANTON SELSAM WIJAYA BUDY HERMAN H. DAENG M TONY CAHYADI ANTON TONY CAHYADI ADI H. DAENG M EFFENDI M. NUR KAB. P. SERIBU ARPO SUPANGAT H. DAENG M HERMAN UNTUNG A ABDUL HAMID ANTHONY WALUYO TONY TJAHYADI RUDI TJAHYADI SAMUEL AT HON HENDRI H RONALD HON HENDRI H RUDI TJAHYADI GUNAWAN ANTON GUNAWAN CHANDRA H. D MALUSE ARPO ANYAN AMIN YUNUS ANYAN HOCKY S H. D MALUSE KAHARUDIN JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA PETOJO / JAKPUS JAKARTA PETOJO / JAKPUS JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA 78 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 KM. CAHAYA INDAH - 2 KM. RINDU ALAM KM. LIANA KM. JAYA KENCANA KM. SINAR GEMILANG KM. SETIA JAYA KM. ELLEN JAYA KM. MARIYANI KM. NANA SURYA KM. NUR ILHAM KM. SUGIH TERUS JAYA KM. ALOHA KM. DERMAWAN - 02 KM. BATI GEMILANG KM. HARAPAN BARU KM. ALAM JAYA INDAH KM. ELIZABETH KM. SRI MUTIA KM. MUTIA JAYA KM. SINAR GEMILANG KM. SINAR HARAPAN KM. ANUGRAH SEMPURNA KM. CAROLINA KM. SURYA BAHARI 21-Okt 25-Okt 29-Okt 02-Nop 07-Nop 08-Nop 09-Nop 16-Nop 16-Nop 17-Nop 17-Nop 20-Nop 07-Okt 07-Nop 30-Nop 01-Des 02-Des 05-Des 08-Des 07-Des 08-Des 11-Des 16-Des 17-Des 24-Okt 01-Nop 06-Nop 07-Nop 30-Nop 16-Nop 13-Nop 30-Nop 23-Nop 20-Nop 20-Nop 26-Nop 13-Okt 17-Des 04-Des 07-Des 06-Des 07-Des 10-Des 14-Des 16-Des 16-Des 22-Des 21-Des Angkutan Ikan Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Gill Net Angkutan Ikan Angkutan Ikan Bouke Ami Angkutan Ikan Pengangkut Jaring Cumi Jaring Muro Ami Bouke Ami Jaring Cumi Jaring Cumi Jaring Cumi Jaring Cumi Angkutan Ikan Muro Ami Bouke Ami Jaring Cantrang 23 28 29 23 28 29 28 23 23 20 6 20 6 28 8 29 25 6 27 28 6 28 13 29 17 / Bb 1905 / Bc 1909 / Bc 3 / Bc 2949 / Bc 1615 / Bc 2879 / Bc 1295 / Bc R. 11 No.2953 119 / Bc 806 / J.5 131 / Bc J. 8 No. 924 104 / Bb A. 13 No. 68 1920 / Bc 057 / Bc 2949 / Bc A. 8 No.2199 360 / HHc 591 / Bc 1665 / Bc H. MALUSE ANYAN NUNUNG ANYAN SUTIKNO H. SUKRI NUNUNG JAP KHE TJON MOH. NASIR DJOKO KAPOL A. RACHIM Hj. SRI N AVEN S WOEISA ROSLI EFFENDI ADI WARJU WARJU ARPO ROJAK ABIDIN IDRUS M. ARIFIN A'ENG JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA BALIKPAPAN TJ. PANDAN JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA KEP. SERIBU JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA 79 Lampiran 7 Kegiatan Pelayanan Docking Kapal BTPI Tahun 2010 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 NAMA KAPAL KM. PESUT KM. ROSALINDA KM. ENRICO JAYA KM. DIAN JAYA KM. DIAN PUTRI KM. ROBOT B KM. KEMBANG WJY K KM. TRISNAWATI KM. VICTORIA KM. SINAR MAJU KM. ELANG LAUT KM. VALERINA KM. BINTANG JY MAKMUR KM. GUCCI KM. RAHAYU KM. NANDO JAYA - 1 KM. TIMBUL JAYA - 1 KM. BANGUN JAYA KM. PAUSTINA KM. CAHAYA SAMUDRA KM. SURYA INDH KNCANA KM. NUR INDAH KM. INTAN LAUT KM. SETIA MAKMUR KM. PARAMOUNT KM. GUCCI KM. VINCENT KM. SAHABAT KM. MITRA BAHARI KM. MINA JAKARTA - 3 KM. BATU KACANG - I KM. MARGARETH KM. MARIANA KM. PAUS BIRU KM. AMALIA JAYA KM. DUA PUTRI DUA TANGGAL NAIK TURUN 11-Des 06-Jan 23-Des 27-Des 26-Des 01-Jan 28-Des 03-Jan 28-Des 03-Jan 04-Jan 11-Jan 05-Jan 11-Jan 09-Jan 13-Jan 09-Jan 16-Jan 12-Jan 16-Jan 17-Jan 24-Jan 23-Jan 28-Jan 01-Feb 06-Feb 01-Feb 05-Feb 02-Feb 07-Feb 03-Feb 07-Feb 05-Feb 09-Feb 06-Feb 10-Feb 07-Feb 12-Feb 07-Feb 12-Feb 10-Feb 15-Feb 14-Feb 18-Feb 20-Feb 24-Feb 01-Mar 04-Mar 01-Mar 05-Mar 02-Mar 05-Mar 02-Mar 06-Mar 02-Mar 08-Mar 05-Mar 11-Mar 10-Mar 14-Mar 11-Mar 18-Mar 14-Mar 17-Mar 14-Mar 17-Mar 16-Mar 23-Mar 18-Mar 23-Mar 21-Mar 24-Mar ALAT TANGKAP Angkutan Ikan Jaring Tangsi Purseine Gill Net Purseine Gill Net Purseine Bouke Ami Gill Net Angkutan Ikan Gill Net Gill Net Bouke Ami Gill Net Bouke Ami Bouke Ami Muro Ami Gill Net Bouke Ami Jaring Tangsi Angkutan ikan Angkutan ikan Angkutan ikan Gill Net Gill Net Gill Net Bouke Ami Gill Net Gill Net Bouke Ami Angkutan Gill Net Bouke Ami Angkutan Angkutan Angkutan GT 6 19 6 28 6 15 6 29 28 6 28 26 25 25 29 28 28 6 27 28 29 6 27 24 25 25 28 26 25 22 45 24 20 42 20 6 TANDA SELAR J.8 No. 693 694 / Bc 6468 / J. 64 410 / Bc 204 / Bc 640 / Bc A. 10 No. 400 2623 / Bc 1238 / Bc 2537 / Bc 1123 / Bc 1470 / Bc 78 / Bb 230 / Bb 113 / Bc 1667 / Bc S. 35 A No.27 170 / Bc 1541 / Bc 2634 / Bc 1123 / Bc 2683 / Bc 2465 / Bc 1068 / Bc 3073 / Bc 39 / GGg 46 / Bc 710 / Bc 1314 / Ba J.16 No. 358 PEMILIK / PENGURUS BAMBANG S KRISE S BAMBANG S WARJU WARIDIN BOB TJOENG WARIDIN ANYAN RUDIANTO MARNO S BOB TJOENG AMIN YUNUS ANAM B ANYAN JAP KHIE JOEN JOHAN JUNLI HANDOKO UNTUNG ANTON CARTIM TOMO H. DAENG M YAYA ANYAN ANYAN ANYAN HALIM ANYAN ANYAN H. ARSYAD APRIANTO ANTON GUNAWAN HARYOSENO H. SUKRI MULAYADI KETERANGAN JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA KEP. SERIBU 80 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 KM. IRA KM. KURNIA KM. PUTRA BAHARI KM. MITRA BAHARI KM. INDO MAKMUR KM. CAHAYA INDAH KM. WIRA USAHA KM. PUTRA MANDIRI KM. FATMA KM. BUNGA NUSANTARA-1 KM. DECODEDES - I KM. SIDO MULYO KM. SENTOSA TB. RAJAWALI KM. FIJAI SAPUTRA KM. SINAR HARAPAN KM. SRIWIJAYA KM. SRI MULIA KM. FERNANDO KM. NATALIA KM. ROHMAH - III KM. MULIA INDH SELARAS KM. MARISKA KM. BINTANG ALAM - 2 KM. PAHALA KENCANA KM. SINAR ABADI KM. BAHTERA MAKMUR KM. ARJUNA - 03 KM. NIDIA KM. SABRINA KM. BANGKIT JAYA - 45 KM. KALAMARIS KM. CAHAYA BINTANG KM. SUMBER JAYA KM. PERKASA - 3 KM. SURYA CITRA N - V KM. SINAR ULTRA KM. CAHAYA MULYA KM. PUTRI PESONA KM. HAN JAYA 02-Apr 03-Apr 03-Apr 05-Apr 06-Apr 06-Apr 11-Apr 25-Apr 25-Apr 25-Apr 25-Apr 02-Mei 02-Mei 10-Mei 22-Mei 25-Mei 25-Mei 01-Jun 01-Jun 03-Jun 03-Jun 03-Jun 06-Jun 08-Jun 08-Jun 09-Jun 11-Jun 15-Jun 21-Jun 01-Jul 02-Jul 03-Jul 03-Jul 03-Jul 04-Jul 05-Jul 06-Jul 08-Jul 15-Jul 18-Jul 11-Apr 05-Apr 05-Apr 11-Apr 16-Apr 09-Apr 15-Apr 29-Apr 28-Apr 28-Apr 28-Apr 06-Mei 09-Mei 15-Mei 25-Mei 28-Mei 28-Mei 04-Jun 05-Jun 07-Jun 07-Jun 06-Jun 09-Jun 10-Jun 14-Jun 16-Jun 16-Jun 17-Jun 24-Jun 05-Jul 05-Jul 06-Jul 06-Jul 07-Jul 08-Jul 08-Jul 11-Jul 11-Jul 20-Jul 22-Jul Gill Net Gill Net Bouke Ami Gill Net Gill Net Angkutan Ikan Bouke Ami Gill Net Angkutan Ikan Bouke Ami Gill Net Jaring Cumi Angkutan Ikan Tunda Angkutan Ikan Angkutan Ikan Jaring Cumi Bubu Gill Net Gill Net Jaring Dogol Angkutan Ikan Angkutan Angkutan Gill Net Purse Seine Jaring Dogol Angkutan Ikan Gill Net Bouke Ami Bouke Ami Bouke Ami Angkutan Purse Seine Mini Gill Net Angkutan Gill Net Angkutan Purse Seine Purse Seine 26 29 6 25 28 30 29 29 6 26 27 26 29 31 6 6 29 19 79 29 6 24 63 6 29 29 6 6 27 26 25 25 20 6 22 17 28 6 29 39 2042 / Bc 87 / J.2 1068 / Bc 1814 / Bc 07 / Bb 2984 / Bc 2983 / Bc 1995 / Ga 1599 / Bc 955 / Ft 1928 / Bc 2500 / Ka J. 8. No. 692 2199 / A.8 3239 / Bc 1245 / Bc 639 / Bc J. 8 No.3284 1281 / Bc 3107 / Bc J.16 No. 1209 2553 / Bc 2703 / Bc J.8 No. 426 S.37 No. 1599 2815 / Bc 104 / Bc 1344 / Da 1451 / Da 131 / Gga J. 64No.5126 447 / Bc 4918 / Bc 2701 / Bc 191 / S.35 A 2626 / Bc 2730 / Bc KO AKI ADI ANDI S Ir. SUSANTO SURYANI H. DAENG M RUDI TJAHYADI RUDI H. SUKRI MI CEH JAP KIE JOEN H. KASNO CUAN TEK M. SOFYAN SOLIHIN MUSLIMIN APO EE. SIREGAR SUDJAMIN SININ AMIN YUNUS JAMALUDIN RAMSADI HUSEN SAMSUDI H. HIDAYAT MISBALI DJOKO ARPO S FIRDAUS KANANG ANTON AMIN YUNUS ROBI SURYA INDRA D KAHARUDIN SOHARI ABD. HALIM ABIDIN ARPO S MOH. ASNAWI A. BASARI SELSAM WJY JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA TEGAL JAKARTA UTARA SURABAYA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA KEP. SERIBU KEP. SERIBU JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA BREBES JAKARTA UTARA KEP. SERIBU JAKARTA KEP. SERIBU JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA 81 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 KM. CITRA ALAM KM. SAMANTHA KM. LISA INDAH KM. MINA CITRA KM. RINDU ALAM KM. BINTANG ALAM – I KM. DORETHY KM. PUTRA BETAWI KM. KILAT MAJU JAYA KM. PESONA ALAM KM. VANIA KM. MULIA BARU – 8 KM. SINAR GEMILANG KM. SAFIR LAUT – 3 KM. MUSTIKA JAYA – V KM. MITRA KAPUAS KM. BINTANG NELAYAN KM. DWIKI JAYA KM. YOSHINAGA KM. PRIMADANA KM. MARIANA 18-Jul 21-Jul 02-Agust 02-Agust 02-Agust 03-Agust 05-Agust 05-Agust 05-Agust 08-Agust 11-Agust 13-Agust 15-Agust 18-Agust 21-Agust 16-Sep 24-Sep 24-Sep 26-Sep 26-Sep 26-Sep 22-Jul 25-Jul 05-Agust 05-Agust 06-Agust 06-Agust 07-Agust 08-Agust 07-Agust 11-Agust 15-Agust 16-Agust 21-Agust 21-Agust 24-Agust 20-Sep 27-Sep 29-Sep 29-Sep 29-Sep 29-Sep Angkutan Bouke Ami Angkutan Ikan Gill Net Angkutan Angkutan Ikan Gill Net Bouke Ami Jaring Cumi Angkutan Jaring Cumi Angkutan Ikan Jaring Cumi Angkutan Ikan Muro Ami Jaring Cumi Muro Ami Jaring Cumi Purseine Gill Net Bouke Ami 28 29 28 6 64 6 27 27 6 43 28 17 28 29 18 30 23 260 / Bc J. 15 No. 2643 5035 / Bc J. 16 No. 1234 1563 / Bc 1778 / Bc 5000 / Bc 417 / Ba 2949 / Bc 1579 / Bc 408 / Dda 733 / HHd 479 / Dda 29 25 20 1631 / Bc 034 / Bc 710 / Bc MUSA AMIN YUNUS KAPOL WASTUM B KDR BAHDAR H. HIDAYAT TJANDRA K ANDI SUCIPTO HENDRI K DALIK T ANTON H. ALIMUDIN LIFENI H PONDI H ABDUL H BUDIMIN Drs. PRIYADI K ANTHONY GUNAWAN GUNAWAN GUNAWAN JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA BARAT JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA JAKARTA UTARA PONTIANAK PALEMBANG JAKARTA BARAT PETOJO / JAKPUS PETOJO / JAKPUS JAKARTA UTARA 82 Lampiran 8 Hasil kuesioner penentuan besarnya sasaran (target yang dapat dicapai untuk tiap – tiap kriteria produktivitas. 1) Kriteria yang termasuk dalam efisiensi, adalah : No Kriteria Satuan Sasaran 1 Pemakaian Mesin % 72 2 Pemakaian Tenaga Kerja % 100 2) Kriteria yang termasuk dalam kategori efektivitas, adalah : No Kriteria Satuan Sasaran 1 Jam Kerja Aktual % 137,14 2 Jam Kerja Efektif % 85,71 3) Kriteria yang termasuk dalam inferensial, adalah : No Kriteria Satuan 1 Jumlah Ketidakhadiran % Nama pengisi : Arif Prakoso, ST Jabatan pengisi : Staff Golongan IIIA Sasaran 0,67 83 Lampiran 9 Hasil kuesioner penentuan bobot Kriteria Utama Bobot (%) Efisiensi 35 Efektivitas 35 Inferensial 30 Total 100 1) Kriteria yang termasuk dalam efisiensi, adalah : No Kriteria 1 Pemakaian Mesin 2 Pemakaian Tenaga kerja Satuan Bobot (%) Kg/JO 60 % 40 Total 100 2) Kriteria yang termasuk dalam kategori efektivitas, adalah : No Kriteria Satuan Bobot (%) 1 Jam Kerja Aktual % 40 2 Jam Kerja Efektif % 60 Total 100 3) Kriteria yang termasuk dalam inferensial, adalah : No 1 Kriteria Jumlah Ketidakhadiran Total Nama pengisi : Arif Prakoso, ST Jabatan pengisi : Staff Golongan IIIA Satuan Bobot (%) % 100 100
Peningkatan Produktivitas Pada Aktivitas Reparasi Di Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta Menggunakan Model Objective Matrix (OMAX Alasan pemilihan metode OMAX Bentuk dan susunan model OMAX Bobot indikator kinerja Penyusunan tabel o bjective matrix OMAX Faktor-Faktor yang Mempengaruhi dan Langkah Awal yang Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas galangan Kesimpulan Peningkatan Produktivitas Pada Aktivitas Reparasi Di Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta Menggunakan Model Objective Matrix (OMAX Konsep utilitas Usaha-usaha untuk meningkatkan produktivitas galangan Kriteria Produktivitas dan Indikator Kinerja Latar Belakang Peningkatan Produktivitas Pada Aktivitas Reparasi Di Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta Menggunakan Model Objective Matrix (OMAX Manfaat pengukuran produktivitas pada organisasi level Internasional, Metode Penelitian Pengumpulan Data Pengolahan dan Analisis Data Pencapaian awal dari indikator kinerja skor 3 Target realistis dan terendah indikator kinerja skor 10 dan 0 Pengoperasian matrik Metode Pengukuran Produktivitas Model Objective Matrix OMAX Pengukuran produktivitas galangan Konsep efisiensi dan efektivitas Penilaian indikator kinerja Model Objective Matrix OMAX Penyusunan matrik Metode Pengukuran Produktivitas Model Objective Matrix OMAX Produktivitas Galangan Peningkatan Produktivitas Pada Aktivitas Reparasi Di Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta Menggunakan Model Objective Matrix (OMAX Sarana dan Prasarana Peningkatan Produktivitas Pada Aktivitas Reparasi Di Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta Menggunakan Model Objective Matrix (OMAX Sumberdaya Manusia Peningkatan Produktivitas Pada Aktivitas Reparasi Di Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta Menggunakan Model Objective Matrix (OMAX Tenaga Kerja dan Struktur Organisasi Tingkat Produktivitas Pada Aktivitas Reparasi di Dok Pembinaan UPT Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Pengertian Produktivitas Tempat dan Waktu Penelitian
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags

Objective Matrix Omax

Upload teratas

Peningkatan Produktivitas Pada Aktivitas Reparasi Di Dok Pembinaan UPT BTPI, Muara Angke, Jakarta Menggunakan Model Objective Matrix (OMAX

Gratis