Feedback

Etnobotani Pangan Masyarakat Suku Dayak Kenyah di Sekitar Taman Nasional Kayan Mentarang Kalimantan Timur

Informasi dokumen
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia dikenal memiliki kekayaan etnis dan budaya yang sangat tinggi. Setiap etnis memiliki kearifan yang spesifik dalam memanfaatkan sumberdaya hayati yang tersedia di lingkungannya. Setiap kawasan memiliki keanekaragaman spesies tumbuhan untuk berbagai keperluan, seperti pangan, obat, dan lain-lain. Adanya pemanfaatan keanekaragaman spesies tumbuhan lokal oleh berbagai etnis terutama untuk pangan, secara langsung akan berpengaruh terhadap ketahanan dan bahkan kedaulatan pangan di Indonesia. Menurut Khomsan (2003) diacu dalam Redaksi Kompas (2010), ketahanan pangan merupakan suatu sistem yang terdiri dari subsistem ketersediaan, distribusi, dan konsumsi. Subsistem ketersediaan pangan berfungsi menjamin pasokan pangan untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk, subsistem distribusi berfungsi mewujudkan sistem distribusi yang efektif dan efisien, sedangkan subsistem konsumsi berfungsi mengarahkan agar pola pemanfaatan pangan secara nasional memenuhi kaidah mutu, keragaman, kandungan gizi, kemananan dan kehalalannya. Namun seiring dengan perubahan pola konsumsi yang menjadikan beras sebagai pasokan makanan pokok, keanekaragaman pangan di Indonesia makin lama makin menurun sehingga ketahanan pangan pun melemah. Masalah ketahanan pangan dan malnutrisi dapat diatasi melalui peningkatan pengetahuan dan konsumsi keanekaragaman tumbuhan berguna khususnya tumbuhan pangan di alam (Johns 2003). Pengembangan pangan asli Indonesia dari keanekaragaman hayati yang melimpah dan berbasis informasi etnobiologi merupakan solusi menghadapi ancaman kedaulatan pangan di Indonesia (Zuhud 2011). Pengetahuan mengenai bahan pangan yang berasal dari tumbuhan dapat diperoleh melalui kearifan lokal suatu masyarakat tradisional di dalam ataupun di sekitar taman nasional. Taman nasional merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi dan memiliki fungsi perlindungan, 2 penelitian, pendidikan menunjang budidaya, pariwisata, rekreasi, dan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan, serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya hayati dan ekosistemnya (UU No. 5 tahun 1990). Salah satu taman nasional yang memiliki keanekaragaman spesies tumbuhan berguna tinggi adalah Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) dengan kearifan lokal masyarakat Suku Dayak yang tinggal di sekitarnya. Taman Nasional Kayan Mentarang merupakan kawasan konservasi terbesar di Pulau Kalimantan dan merupakan salah satu yang terbesar di wilayah Asia Pasifik (Dephut 2002a, 2002b). Suku Dayak yang tinggal di sekitar TNKM terdiri dari beberapa sub suku Dayak, di antaranya adalah Kayan, Kenyah, Lundayeh, Merap, Punan, Saben, Tagel, dan lain-lain (Uluk et al. 2001). Salah satu sub Suku Dayak yang memanfaatkan sumberdaya hutan untuk kebutuhan pangan seharihari adalah Dayak Kenyah. Pemanfaatan ini dikenal secara turun temurun melalui pengetahuan lokal. Pengetahuan mengenai tumbuhan pangan oleh masyarakat Dayak Kenyah dapat diperoleh melalui etnobotani. Etnobotani adalah kajian mengenai interaksi antara masyarakat lokal dengan lingkungan alamnya, terutama mengenai penggunaan tumbuhan dalam kehidupan sehari-hari (Martin 1998). Penggunaan tumbuhan dalam kehidupan sehari-hari yang dimaksud dapat berupa tumbuhan sebagai bahan pangan, obat, aromatik, pakan ternak, dan pemanfaatan lainnya. Suku Dayak di TNKM memiliki kearifan lokal dalam memanfaatkan sumberdaya hutan khususnya mengenai pemanfaatan tumbuhan pangan. Oleh sebab itu dokumentasi pemanfaatan tumbuhan pangan oleh Suku Dayak Kenyah di sekitar TNKM melalui etnobotani perlu dilakukan agar pemanfaatannya berkelanjutan. 1.2 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh: 1. Data dan informasi keanekaragaman tumbuhan pangan yang dimanfaatkan masyarakat Suku Dayak Kenyah 2. Data dan informasi mengenai kearifan tradisional Suku Dayak Kenyah dalam pemanfaatan tumbuhan pangan 3 1.3 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat menjadi data dasar dalam pengembangan pemanfaatan tumbuhan pangan, terutama yang berbasis kepada kearifan lokal masyarakat Suku Dayak Kenyah yang tinggal di sekitar TNKM untuk mendukung ketahanan dan keanekaragaman pangan nasional. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Etnobotani Etnobotani berasal dari kata ethnos dan botany yang berasal dari bahasa Yunani berarti bangsa dan tumbuh-tumbuhan. Istilah etnobotani pada awalnya diusulkan oleh Harsberger pada tahun 1893 dan didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari pemanfaatan tumbuhan secara tradisional oleh suatu suku bangsa yang masih primitif atau terbelakang (Afrianti 2007). Menurut Waluyo (2002) diacu dalam Afrianti (2007), etnobotani diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tumbuh-tumbuhan yang digunakan oleh perkumpulan suku primitif dan berguna untuk mengembangkan perkumpulan tersebut. Sedangkan menurut Martin (1998), etnobotani adalah interaksi antara masyarakat lokal dengan lingkungan alamnya, terutama mengenai penggunaan tumbuhan dalam kehidupan sehari-hari. Dharmono (2007) mendefinisikan etnobotani merupakan ilmu botani mengenai pemanfaatan tumbuhan dalam keperluan sehari-hari dan adat suku bangasa. Studi etnobotani tidak hanya mengenai data botani taksonomis saja, tetapi juga menyangkut pengetahuan botani yang bersifat kedaerahan, berupa tinjauan interpretasi dan asosiasi yang mempelajari hubungan timbal balik antara manusia dengan tanaman, serta menyangkut pemanfaatan tanaman tersebut lebih diutamakan untuk kepentingan budaya dan kelestarian sumber daya alam. Menurut Purwanto (2000), etnobotani berpotensi mengungkapkan sistem pengetahuan tradisional dari suatu kelompok masyarakat atau etnik tentang konservasi in-situ berupa habitat, keanekaragaman sumberdaya hayati dan budaya. Penelitian mengenai etnobotani mampu mengungkapkan pemanfaatan berbagai jenis sumberdaya tumbuhan secara tradisional oleh masyarakat setempat. Etnobotani merupakan instrumen yang mampu mengungkapakan pengetahuan tradisional menjadi ilmu yang bermanfaat dan berharga dengan mengaitkan dengan persoalan aktual yang dihadapi manusia modern. Etnobotani merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mendalami tentang persepsi dan konsepsi masyarakat tentang sumberdaya nabati di lingkungannya. Kajian etnobotani diarahkan dalam upaya mempelajari kelompok masyarakat 5 dalam mengatur sistem anggota menghadapi tetumbuhan dalam lingkungan yang dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi, spiritual, dan nilai budaya lainnya. Disiplin ilmu lain yang terkait kajian etnobotani adalah ilmu anthropologi, sejarah, pertanian, ekologi, kehutanan, dan geografi tumbuhan (Sudarsono & Waluyo 1992 diacu dalam Afrianti 2007). Gambar 1 Diagram bentuk hubungan antara ruang lingkup kajian etnobotani dengan disiplin ilmu dan kepentingan. 2.2 Kearifan Masyarakat Dayak Menurut definisi yang diberikan oleh UN Economic and Social Council, masyarakat adat atau tradisional adalah suku-suku dan bangsa yang mempunyai kelanjutan historis dengan masyarakat sebelum masuknya penjajah di wilayahnya. ILO mengkategorikan masyarakat adat sebagai suku-suku asli yang mempunyai kondisi sosial budaya sebuah negara, statusnya diatur oleh adat kebiasaan atau tradisi oleh hukum dan aturan mereka sendiri. Setiap masyarakat tradisional memiliki kearifan masing-masing. Kearifan tradisional merupakan semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman, atau wawasan, serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia di dalam komunitas ekologis (Keraf 2005). 6 Konsep sistem pengetahuan lokal berakar dari sistem pengetahuan dan pengelolaan lokal atau tradisional. Masyarakat tradisional adalah sekelompok orang yang dengan beberapa tipe kondisi ekonomi masyarakat, biasanya memiliki keturunan masyarakat pemburu, nomadik, dan peladang berpindah (Mitchell et al. 2007). Biber-Klemm dan Berglas (2006) menyebutkan bahwa pengetahuan lokal atau tradisional merupakan hubungan antara keanekaragaman hayati, kebangsaan, dan kebudayaan dalam kehidupan suatu masyarakat adat. Masyarakat adat merupakan kelompok manusia yang berinteraksi dekat dengan lingkungan, relung ekologi, pengetahuan tradisional mengenai cara mengelola sumberdaya alam dengan arif/bijaksana. Suku Dayak sangat bergantung pada ekosistem hutan. Hutan merupakan sumber makanan bagi masyarakat Dayak. Jika hutan terganggu maka tempat mencari makan suku Dayak juga terganggu, akibatnya hasil buruan dan hasil tumbuhan yang dimanfaatkan suku Dayak berkurang. Suku Dayak biasanya menanam tumbuhan yang bermanfaat sekitar rumah mereka. Dari hutan, mereka mengambil bibit tumbuh-tumbuhan yang baik berdasarkan pengalaman mereka. Tumbuh-tumbuhan tersebut biasanya dimanfaatkan pula sebagai bahan pangan mereka (Uluk et al. 2001). Menurut Florus et al. (1994) diacu dalam Afrianti (2007), Mata pencaharian suku Dayak selalu ada hubungannya dengan hutan. Hutan digunakan sebagai tempat berburu, berladang, dan berkebun. Kecenderungan seperti itu merupakan suatu refleksi dari hubungan yang akrab dan telah berlangsung berabad-abad dengan hutan dan segala isinya. Hutan merupakan basis utama dari kehidupan, sosial, ekonomi, budaya, dan politik kelompok etnik Dayak. 2.3 Pemanfaatan Tumbuhan Pemanfaatan tumbuhan dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat adat. Pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat adat yang berasal dari hutan diantaranya tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan sandang, pangan, papan, alat rumah tangga, anyaman, kerajinan, perlengkapan upacara adat, obat-obatan, 7 aromatik, kosmetik, kegiatan sosial, dan pemanfaatan lainnya (Purwanto & Walujo 1992 diacu dalam Hidayat 2009). 2.3.1 Tumbuhan pangan Tumbuhan pangan adalah kebutuhan vital bagi kehidupan manusia. Tumbuhan pangan adalah segala sesuatu yang tumbuh, hidup, berbatang, berakar, berdaun, dan dapat dimakan atau dikonsumsi oleh manusia. Jenis penghasil pangan yaitu tumbuhan yang mengandung karbohidrat, sayuran, buah-buahan, dan kacang-kacangan (Purwadarminta 1988). Tumbuhan penghasil pangan dapat dikelompokkan menjadi (Moeljopawiro dan Manwan 1992 diacu dalam Hidayat 2009): 1. Komoditas utama, seperti padi (Oryza sativa), kedelai (Glycine max), kacang tanah (Arachis hypogaea), jagung (Zea mays), dan sebagainya. 2. Komoditas potensial, seperti sorgum (Andropogon sorgum), sagu (Metroxylon sp.), dan sebagainya. 3. Komoditas introduksi, seperti ganyong (Canna edulis), jawawut (Panicum viridae), dan sebagainya. Tumbuhan pangan di alam memiliki kandungan gizi yang dibutuhkan tubuh seperti karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dan sebagainya. Kandungan tersebut dapat ditemukan di jenis tumbuhan seperti kacang-kacangan, buahbuahan, sayuran, dan sereal (sumber karbohidrat) (Kartikawati 2004). 2.3.1.1 Kacang-kacangan Kacang-kacangan merupakan biji-bijian yang dapat dimakan dari polongpolongan. Polong-polongan adalah anggota suku Leguminosae yang memiliki polong/legum. Kacang-kacangan utama yang dapat dimakan termasuk ke dalam anak suku Papiionoidae (anak suku terbesar dari Leguminosae) yang masih memiliki 450 marga dan 10000 spesies. Kacang-kacangan bermanfaat sebagai bahan pangan yang kaya protein (Maesen & Somaatmadja 1993 diacu dalam Kartikawati 2004). 8 2.3.1.2 Buah-buahan Buah-buahn merupakan komoditas yang besar dan beraneka ragam (Kartikawati 2004). Menurut Verheij dan Coronel (1991) diacu dalam Kartikawati (2004), terdapat jenis buah-buahan yang tumbuh tahunan. Buah-buahan tahunan dapat dimakan baik dalam keadaan segar, maupun yang telah dikeringkan atau yang telah diolah. Buah-buahan umumnya dikonsumsi dalam keadaan mentah (tidak dimasak, matang dari pohonnya). Buah-buahan mengandung vitamin dan mineral yang baik bagi tubuh, menyeimbangkan menu makanan, kaya protein, energi, dan ada yang mengandung lemak. Jenis-jenis buah-buahan antara lain: salak (Zalacca salacca), pisang (Musa paradisiaca), rambutan (Nephelium lappaceum), durian (Durio zibethinus), mangga (Mangifera indica), dan lainnya. 2.3.1.3 Sayuran Sayuran merupakan komoditas tumbuhan yang mengandung air. Sayuran biasanya dikonsumsi sebagai bahan makanan yang mengandung zat tepung dan kadang-kadang digunakan sedikit pada makanan untuk menambah rasa juga kelezatan makanan (Siemonsma & Piluek 1994 diacu dalam Kartikawati 2004). Beberapa spesies tumbuhan yang digunakan untuk sayuran diantaranya: selada (Lactuca sativa), katuk (Sauropus androgynus), berbagai jenis kobis, kol (Brassica oleraceae), kangkung (Ipomea aqutica), dan jenis lainnya. Adapun jenis sayuran yang digunakan sebagai bumbu, yaitu bawang merah (Allium cepa), bawang putih (Allium sativum), daun bawang (Allium ampeloprasum), seledri (Apium graveolens). Sedangkan spesies tumbuhan yang fungsi sekundernya sebagai sayuran adalah daun pepaya (Carica papaya), daun ubi jalar (Ipomea batatas), jagung muda/baby corn (Zea mays), dan daun singkong (Manihot utillisima). Jenis-jenis sayuran di atas merupakan spesies tumbuhan yang biasanya ditanam di kebun dan merupakan spesies tumbuhan hortikultura (Kartikawati 2004). 2.3.1.4 Palem-paleman dan umbi-umbian Jenis palem-paleman dan umbi-umbian biasanya dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat. Flach dan Rumawas (1996) diacu dalam Kartikawati (2004), 9 menyebutkan bahwa jenis tumbuhan pangan sebagai sumber karbohidrat merupakan spesies tumbuhan yang mengandung zat tepung atau zat gula yang digunakan sebagai cadangan makanan. Karbohidrat merupakan sumber energi utama dalam suatau makanan untuk manusia. Beberapa spesies tumbuhan yang merupakan sumber karbohidrat diantaranya adalah sagu (Metroxylon sp.), aren (Arenga pinnata), dan lain-lain yang merupakan jenis palem berkarbohidrat, kemudian ubi jalar (Ipomea batatas), singkong (Manihot utillisima), dan sebagainya yang merupakan umbi berkarbohidrat. 2.4 Taman Nasional Kayan Mentarang Taman nasional merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi dan memiliki fungsi perlindungan, penelitian, pendidikan menunjang budidaya, pariwisata, rekreasi, dan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan, serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya hayati dan ekosistemnya (UU No. 5 tahun 1990). 2.4.1 Pengelolaan Taman Nasional Kayan Mentarang Menurut SK Menhut No.631/Kpts-II/1996 ditetapkan bahwa adanya perubahan fungsi dan penunjukkan Cagar Alam Kayan Mentarang yang terletak di Kabupaten Daerah Tingkat II Bulungan, Provinsi daerah tingkat I Kalimantan Timur seluas ± 1.360.500 ha menjadi taman nasional dengan nama Taman Nasional Kayan Mentarang mengingat di beberapa daerah di dalam Cagar Alam Kayan Mentarang merupakan tempat kehidupan masyarakat tradisional etnis Dayak dan masyarakat tersebut sangat bergantung pada hutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (Rahmania et al. 2011). Pada tahun 2002 Pemerintah menetapkan bahwa pengelolaan Taman Nasional Kayan Mentarang harus dilaksanakan dengan sistem pengelolaan kolaboratif melalui SK Menhut 1214/Kpts-II/2002. Hal tersebut dikarenakan kegiatan konservasi harus dilakukan secara bersama-sama dengan berbagai pihak serta melihat bahwa masyarakat adat Dayak di dalam dan sekitar kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap hutan 10 dan mengelola kawasan hutan adat sesuai dengan kearifan tradisional. Kegiatan pengelolaan kolaboratif di Taman Nasional Kayan Mentarang berbasiskan masyarakat yang melibatkan banyak pihak dengan prinsip berbagi tanggung jawab, manfaat dan peranan dan didasari oleh Rencana Pengelolaan Taman Nasional Kayan Mentarang (RPTNKM) (Rahmania et al. 2011). Pengelolaan kolaboratif di TNKM didasarkan pada (i) TN tidak dapat dilindungi dan dikelola tanpa dukungan aktif masyarakat adat, (ii) Memastikan bahwa manfaat kawasan taman nasional dapat dimanfaatkan secara lestari yang merupakan sumber identitas budaya dan penghidupan masyarakat, (iii) Mengembangkan alternatif ekonomi berbasis konservasi untuk masyarakat dan pemerintah setempat (WWF 2010a). Gambar 2 Mekanisme pengelolaan kolaboratif Taman Nasional Kayan Mentarang. Dalam melaksanakan pengelolaan yang kolaboratif, TNKM memiliki beberapa mitra kerja diantaranya Pemerintah Daerah Kabupaten Malinau dan Nunukan, WWF Project Kayan Mentarang, FoMMA (Forum Musyawarah Masyarakat Adat), perguruan tinggi, dan BPTU (Badan Pengelola Tana’ Ulen). Forum Musyawarah Masyarakat Adat (FoMMA) merupakan organisasi masyarakat adat yang didirikan oleh lembaga-lembaga adat yang berada di 11 TNKM. Lembaga-lembaga adat tersebut antara lain berada di wilayah adat Hulu Bahau, Pujungan, Mentarang, Lumbis, Tubu, Krayan Hulu, Krayan Hilir, Krayan Tengah, Krayan Darat, dan Apo Kayan (sekarang wilayah adat Kayan Hulu dan wilayah adat Kayan Hilir). Badan Pengelola Tana’ Ulen (BPTU) adalah pelaksana operasional yang merupakan partner TNKM dalam mengelola kawasan konservasi. Lembaga ini didirikan masyarakat adat setempat dalam mengelola sumberdaya hutan secara berkelanjutan (Rahmania et al. 2011). Tabel 1 Hasil kesepakatan zonasi TNKM Kategori Zona Zona Inti (Publik) Kriteria dan Indikator Zona yang mewakili tipe ekosistem khas, homerange bagi key-stones species, jauh dari jangkauan masyarakat dan perlindungan kawasan“water catchment” hulu beberapa sungai besar dan pengaturan tata air. Arahan Pengelolaan a) Perlindungan dan pengamanan, Penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan, pendidikan. b) Dikelola langsung oleh Balai TNKM Zona Rimba (Adat) Zona rimba merupakan zona perlindungan atau penyangga dan pengamanan fungsi zona inti. a) Pengembangan konservasi lintas batas; pemanfaatan gaharu oleh masyarakat lokal b) Dikelola oleh BTNKM dan Masyarakat adat Zona Tradisional (Adat) a) Penelitian, pengembangan, dan pendidikan; Ekowisata; pemanfaatan dan usaha SDA oleh masyarakat lokal; bahan bangunan dan transportasi oleh masyarakat lokal; budidaya dan pembinaan habitat; berburu b) Dikelola oleh BTNKM dan Masyarakat adat Zona yang ditetapkan untuk kepentingan pengelolaan dan pemanfaatan oleh masyarakat adat yang karena kesejarahan telah mengelola kawasan tersebut serta masih mempunyai ketergantungan dengan sumberdaya alam. Zona khusus (Multi Zona dimana telah terjadi pemanfaatan a) Ekowisata; pemukiman dan stakeholders) sumberdaya atau telah didiami sejak bekas pemukiman; pertanian & sebelum ditetapkan sebagai taman budidaya berbasismasyarakat; nasional, serta merupakan pusat infrastruktur komunikasi, pertumbuhan ekonomi masyarakat pendidikan, dan transportasi. maupun pemukiman penduduk b) Dikelola oleh BTNKM, Pemda dan Masyarakat adat Sumber: WWF (2010c) Salah satu permasalahan yang dihadapi TNKM adalah mengenai kejelasan tata batas taman nasional. Pada tahun 2009 proses tata batas TNKM telah disepakati dan disetujui oleh pihak TNKM dan delapan wilayah adat sehingga diperoleh perkembangan proses tata batas TNKM dari tahun 1999 hingga 2008 12 (WWF 2010b). Berdasarkan WWF (2010c), sebagai tindakan lanjutan RPTN Kayan Mentarang, FoMMA bersama WWF Indonesia menyusun pedoman dan perencanaan tata ruang wilayah adat. Pada bulan September 2009, usulan zonasi berbasis pemahaman dan kearifan masyarakat adat telah diajukan kepada BTNKM berdasarkan rekomendasi masyarakat adat dan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.56/Menhut-II/2006 tentang Pedoman Zonasi Taman Nasional. Berdasarkan keputusan tersebut, dihasilkan kriteria dan indikatr zonasi TNKM antara lain: (1) Areal “publik” yaitu zona inti; (2) Areal “adat” yaitu zona rimba, zona pemanfaatan dan zona tradisional; dan (3) Areal “multi-stakeholders” yakni zona khusus (Tabel 1). 2.4.2 Peran masyarakat Masyarakat yang tinggal di sekitar TNKM memiliki peran yang penting dalam pengelolaan taman nasional yaitu masyarakat diikutsertakan dalam pengelolaan kolaboratif TNKM bersama lembaga/stakeholder lainnya dalam memanfaatkan sumberdaya hutan secara berkelanjutan, pemberian nama taman nasional, penentuan sistem zonasi, sebagai pemandu lapang dan penyedia transportasi lokal ekowisata TNKM, dan peran serta lainnya dalam menjaga dan merawat keberadaan hutan TN Kayan Mentarang (Dephut 2002a, 2002b). BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Long Alango, Kecamatan Bahau Hulu, SPTN Wilayah II Taman Nasional Kayan Mentarang, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur (Gambar 4). Penelitian ini dilakukan pada tanggal 22 Maret 2011 hingga 22 April 2011. 3.2 Alat , Bahan, dan Objek Penelitian Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: a) Peta lokasi penelitian yang menunjukkan tempat komunitas masyarakat Dayak Kenyah tinggal untuk mempermudah pengambilan data b) Kertas karton dan sampul plastik digunakan sebagai perlengkapan herbarium c) Lembar kuisioner untuk membantu dalam kegiatan wawancara dengan responden d) Alat pemotong untuk memotong spesimen yang akan dijadikan herbarium e) Label untuk memberi nama spesimen f) Alat tulis membantu dalam penulisan kuisioner dan label g) Recorder digunakan untuk merekam suara responden dalam proses wawancara h) Kertas koran untuk membungkus spesimen i) Kompas sebagai penunjuk arah j) Spesimen tumbuhan k) Oven untuk mengeringkan herbarium l) Alkohol 70% dan sprayer untuk menyemprotkan alkohol ke spesimen Sedangkan objek penelitian ini adalah masyarakat lokal Suku Dayak Kenyah, kelompok anak suku Leppo’ Maut di Desa Long Alango, Kecamatan Bahau Hulu. 3.3 Jenis Data yang Dikumpulkan Jenis data yang diambil dalam penelitian ini antara lain berupa data lapangan dan penelusuran dokumen. Data lapangan adalah data yang diperoleh langsung dari responden. Data yang termasuk ke dalam jenis data lapangan adalah 14 data mengenai segala bentuk pemanfaatan masyarakat Dayak Kenyah terhadap tumbuhan di sekitar hutan TN Kayan Mentarang sebagai bahan pangan mereka. Data tersebut berupa spesies tumbuhan, bagian yang digunakan, asal tumbuhan pangan tersebut, dan kegiatan budidayanya. Jenis data dan metode pengumpulan data secara rinci disajikan pada Tabel 2. Tabel 2 Jenis data dan metode pengumpulan data penelitian No. 1 Jenis data Keadaan umum lokasi penelitian Aspek yang dikaji a. Letak, luas, sejarah b. Aksesibilitas c. Tipe ekosistem d. Potensi flora dan Sumber Dokumen BTNKM Metode Studi literatur fauna e. Kondisi masyarakat Dayak 2 Karakteristik responden a. Jenis kelamin b. Pendidikan c. Kelompok umur d. Pekerjaan e. Pola hidup Masyarakat Suku Dayak Kenyah Desa Long Alango Wawancara 3 Etnobotani tumbuhan pangan a. Spesies tumbuhan Masyarakat Suku Dayak Kenyah Survei lapang, wawancara pangan b. Habitus c. Bagian yang digunakan d. Cara pengolahan e. Pola konsumsi f. Budidaya g. Cara pemanenan 3.4 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu studi literatur, survei dan inventarisasi lapang, wawancara dengan kuisioner, pembuatan dan identifikasi contoh herbarium, serta pengolahan dan analisis data. 3.4.1 Studi literatur Studi literatur dilakukan dengan mempelajari laporan, dokumen yang sudah ada mengenai TNKM, masyarakat adat, dan pemanfaatan tumbuhan pangan oleh masyarakat sekitar taman nasional. Studi literatur juga dapat dilakukan dengan mempelajari referensi seperti buku, jurnal, artikel, dan sebagainya mengenai hal 15 yang berhubungan dengan data yang akan diambil di lapangan. Studi literatur dapat membantu dalam memudahkan proses pengambilan data di lapangan. 3.4.2 Survei dan inventarisasi lapang Kegiatan survei dan inventarisasi lapang ini bertujuan untuk menghasilkan data awal penelitian. Survei dilakukan dengan melihat kondisi tempat tumbuh spesies tumbuhan pangan, kondisi umum lokasi di lapangan, kondisi TNKM, masyarakat, dan sekitarnya. Inventarisasi lapang dilakukan dengan mendata spesies tumbuhan pangan yang ada di sekitar maupun dalam kawasan hutan TNKM. Kegiatan survei dan inventarisasi lapang ini dilakukan sebelum kegiatan wawancara untuk mengetahui gambaran mengenai spesies tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat Dayak Kenyah sekitar TNKM. Hasil dari kegiatan survei dan inventarisasi lapang ini akan dicocokkan dengan hasil dari kegiatan wawancara dengan kuisioner. Dengan demikian dapat ditemukan perbedaan antara survei dan inventarisasi lapang dengan wawancara warga, perbedaan tersebut dapat ditanyakan kepada responden. 3.4.3 Wawancara dengan kuisioner Kegiatan wawancara dengan menggunakan kuisioner dilakukan secara semi terstruktur. Responden ditentukan dengan menggunakan metode purposive sampling dengan kriteria jenis pekerjaan utama responden. Jumlah responden sebanyak 35 orang. Wawancara ini berkaitan dengan biodata responden, spesies tumbuhan pangan yang dimanfaatkan, bagian yang dimanfaatkan, proses pengolahan tumbuhan pangan menjadi bahan pangan, lokasi tumbuhan pangan. Daftar pertanyaan tersaji pada Lampiran 8. Kuisioner adalah metode pengumpulan data melalui formulir yang berisi pertanyaan yang diajukan secara tertulis pada responden untuk mendapatkan jawaban dan informasi yang diperlukan peneliti (Mardalis 2004). 16 Gambar 3 Kegiatan wawancara dengan Ketua Adat Desa Long Alango. 3.4.4 Pembuatan dan identifikasi contoh herbarium Adapun tahapan pembuatan dan identifikasi contoh herbarium adalah sebagai berikut : 1. Spesimen tumbuhan (bagian tumbuhan yang akan dijadikan herbarium seperti daun, biji, buah) dipotong sekitar 40 cm 2. Spesimen tumbuhan diberi label gantung berukuran 3x5 cm. Label gantung berisi nomor koleksi, inisial nama kolektor, tanggal pengambilan spesimen, nama lokal spesimen, dan lokasi pengambilan spesimen. 3. Setelah diberi label, spesimen tumbuhan disemprotkan alkohol 70% dengan menggunakan sprayer. Pastikan seluruh bagian spesimen tertutup alkohol agar tidak membusuk. 4. Setelah itu, spesimen dimasukan dalam lipatan kertas koran dengan rapi. Seluruh bagian spesimen harus tertutup agar memudahkan dalam tahap pengovenan saat di laboratorium nantinya. 5. Spesimen-spesimen yang telah tertutup kertas koran kemudian dipres. 6. Setiap pagi atau siang hari, spesimen tersebut dijemur agar tidak tumbuh jamur. 7. Setelah sampai di laboratorium, spesimen dipres kembali, kemudian dioven dengan suhu 550C selama 5 hari. 17 8. Setelah kering, herbarium diidentifikasi nama ilmiahnya oleh salah satu staff LIPI Herbarium Bogoriense, Bapak Ismail. 9. Setelah diketahui nama ilmiahnya, herbarium diberi label berisikan nomor koleksi, inisial nama kolektor, tanggal pengambilan spesimen, nama lokal spesimen, nama ilmiah, famili, habitus, kegunaan, dan lokasi pengambilan spesimen. 10. Setelah diberi label, herbarium ditempelkan pada karton, kemudian ditutup dengan plastik bening. 3.4.5 Pengolahan data dan analisis data Pengolahan data dilakukan dengan cara menghitung persentase habitus, persentase bagian tertentu yang digunakan dari tumbuhan pangan yang dimanfaatkan masyarakat, persentase tipe habitat tertentu, dan persentase budidaya tumbuhan. Persentase yang diperoleh tersebut disajikan dalam bentuk tabulatif atau diagram agar mempermudah dalam membaca hasil penelitian yang diperoleh di lapangan. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dan deskriptif. Berikut rumus penghitungan persentase habitus tertentu, persentase bagian tertntu yang digunakan dari tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat, persentase tipe habitat tertentu, dan persentase budidaya tumbuhan : Persentase habitus tertentu= ∑ spesies habitus tertentu ×100% ∑ seluruh spesies Persentase bagian tertentu yang dimanfaatkan= ∑ bagian tertentu yang dimanfaatkan ×100% ∑ seluruh bagian yang dimanfaatkan Persentase tipe habitat tertentu= spesies dari habitat tertentu ×100% seluruh spesies Persentase budidaya tumbuhan= spesies tumbuhan budidaya ×100% seluruh spesies 18 Lokasi Penelitian Gambar 4 Denah lokasi penelitian (sumber: WWF 2002). BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Sejarah Singkat, Luas, dan Letak Kayan Mentarang awalnya ditunjuk sebagai cagar alam seluas 1,6 juta hektar berdasarkan SK No. 84 Kpts/Um/II/25 November 1980, mengingat tingginya keanekaragaman hayati di lokasi tersebut. Pada tahun 1989, PHPA, LIPI serta WWF Indonesia Programme menandatangani MoU untuk memulai proyek kerjasama penelitian dan pengembangan untuk Kayan Mentarang yang bertujuan untuk mengembangkan sistem pengelolaan yang mengintegrasikan konservasi dengan pembangunan ekonomi yang berkesinambungan bagi masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar cagar alam. Dengan statusnya sebagai cagar alam maka terdapat hambatan secara hukum bagi mayarakat adat untuk melanjutkan cara hidup tradisional mereka yang telah berlangsung selama berabad-abad (Dephut 2002a). Pada tahun 1992, WWF mengusulkan perubahan status Kayan Mentarang menjadi taman nasional mengingat status taman nasional memungkinkan pemanfaatan sumberdaya alam secara tradisional di zona yang telah ditentukan. Departemen Kehutanan membentuk tim untuk mengevaluasi rekomendasi WWF tersebut. Pada tanggal 7 Oktober 1996, Menteri Kehutanan menyetujui dan menunjuk Kayan Mentarang sebagai taman nasional melalui SK Menteri Kehutanan No. 631/Kpts-II/1996. Surat keputusan tersebut merupakan SK pertama di Indonesia yang menyatakan bahwa masyarakat asli diperbolehkan mencari nafkah secara tradisional di dalam areal tertentu dari taman nasional (Dephut 2002a). Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) memiliki luas wilayah sekitar 1,35 juta hektar dan terletak di wilayah Kecamatan Kayan Hilir, Pujungan, Kayan, Mentarang dan Lumbis di Kabupaten Malinau. Taman nasional ini berbentuk panjang dan menyempit, dan mengikuti batas internasional dengan negara bagian Sabah dan Serawak, Malaysia. Posisinya terletak diantara 2O LU dan 4O LU dari khatulistiwa (Dephut 2002a, 2002b). 20 4.2 Aksesibilitas Taman Nasional Kayan Mentarang terletak jauh dari pusat-pusat pemukiman penduduk dan jalan. Saat ini akses yang ada hanya terbatas melalui perjalanan sungai dengan perahu tempel dan perjalanan udara dengan pesawat kecil atau helikopter. Beberapa desa yang terdapat di dalam wilayah taman nasional dilayani dengan penerbangan reguler dari Dirgantara Air Service (DAS) dan Mission Aviation Fellowship (MAF). Rute utama jalur sungai menuju taman nasional dan daerah-daerah sekitarnya adalah (Dephut 2002b) : a. Dari Tanjung Selor dan Long Bia melalui Sungai Kayan dan Sungai Bahau ke Long Pujungan dan desa-desa bagian hulu (perjalanan selama 1,5 jam). Untuk desa-desa yang letaknya lebih jauh di bagian hulu dapat dicapai dengan cara menyewa perahu-perahu yang lebih kecil selama 1 hari. b. Dari Malinau di bagian hulu Sungai Tubu menuju ke daerah perbatasan dekat dengan Rian Tubu dapat ditempuh dalam waktu 1 hari perjalanan menyewa perahu tempel. c. Dari Long Ampung dan Long Nawang menuju ke Data Dian dicapai melalui Sungai Kayan. Pada jalur ini terdapat Jeram Ambun dan jeram-jeram lain di Sungi Kayan yang dapat menghambat perjalanan perahu. Perjalanan ke arah hilir sampai di jeram-jeram tersebut dapat dilakukan dengan mencarter perahu yang ada di Data Dian. Dari lokasi tersebut dapat diteruskan melalui jalan setapak sepanjang 30 km mengitari daerah sekitar jeram. Dari tempat tersebut juga tersedia perahu sewa menuju Long Peso dan ke Long Bia juga Tanjung Selor. 4.3 Ekosistem Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) sedikitnya memiliki 18 jenis habitat terestrial atau tipe vegetasi. Tipe-tipe tersebut antara lain hutan dataran rendah, sub Montana dan Montana bercampur dengan padang rumput dan lahan pertanian masyarakat setempat dan vegetasi pada substrat yang khusus seperti hutan kerangas dan hutan kapur. Banyak areal di TNKM memiliki curah hujan dua kali lipat dari daerah-daerah lain sehingga perbedaan curah hujan di kawasan tersebut membuat keadaan vegetasi menjadi lebih kompleks (Dephut 2002b). 21 Selain dari substrat terrestrial dan keterkaitannya dengan flora/fauna, TNKM juga memiliki berbagai komunitas perairan, mulai dari sungai besar dengan aliran deras sampai anak sungai kecil atau genangan air dari hujan dan rembesan. Sungai-sungai yang berada pada ketinggian dengan kondisinya yang beranekaragam menyebabkan tingginya keragamanan amfibi dan ikan (Dephut 2002b). 4.4 Potensi Flora dan Fauna Taman Nasional Kayan Mentarang memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa bernilai tinggi baik jenis langka maupun dilindungi, keanekaragaman tipe ekosistem dari hutan hujan dataran rendah sampai hutan berlumut di pegunungan tinggi. Beberapa tumbuhan yang ada antara lain pulai (Alstonia scholaris), jelutung (Dyera costulata), ramin (Gonystylus bancanus), Agathis (Agathis borneensis), kayu ulin (Eusideroxylon zwageri), rengas (Gluta wallichii), gaharu (Aquilaria malacensis), aren (Arenga pinnata), berbagai jenis anggrek, palem, dan kantong semar. Selain itu, ada beberapa jenis tumbuhan yang belum semuanya dapat diidentifikasi karena merupakan jenis tumbuhan baru di Indonesia (Dephut 2006). Terdapat sekitar 100 jenis mamalia (15 jenis diantaranya endemik), 8 jenis primata dan lebih dari 310 jenis burung dengan 28 jenis diantaranya endemik Kalimantan serta telah didaftarkan oleh ICBP (International Committee for Bird Protection) sebagai jenis terancam punah. Beberapa jenis mamalia langka seperti macan dahan (Neofelis nebulosa), beruang madu (Helarctos malayanus euryspilus), lutung dahi putih (Presbytis frontata frontata), dan banteng (Bos javanicus lowi) (Dephut 2006). 4.5 Kondisi Masyarakat Seluruh kawasan TN Kayan Mentarang dihuni sejak sekitar tiga abad yang lalu oleh kelompok masyarakat suku Dayak. Kira-kira 16.000 jiwa penduduk suku Dayak yang terdiri dari 12 kelompok bahasa yang berbeda, saat ini menghuni 50 desa di dalam dan di sekitar taman nasional. Kepadatan penduduk rata-rata 0,74 orang/km yang meliputi taman nasional dan daerah penyangga. Dalam 22 kesehariannya, masyarakat adat suku Dayak hidup dengan peraturan adat. Terdapat 10 wilayah adat yang masing-masing dipimpin oleh lembaga adat di bawah kepemimpinan kepala adat (Dephut 2002b). Masyarakat Dayak sebagian besar memiliki mata pencaharian kombinasi antara pertanian skala kecil, berburu, dan memancing, serta mengumpulkan bahan makanan, bahan bangunan, kayu bakar, dan obat-obatan dari hutan. Penduduk biasa mendapatkan uang tunai melalui kegiatan mengumpulkan dan kemudian menjual hasil-hasil hutan non kayu (Dephut 2002a, 2002b). Suku Dayak di sekitar TN Kayan Mentarang terdiri dari berbagai subsuku Dayak antara lain: Kayan, Kenyah, Lundayeh, Merap, Punan, Saben, Tagel, dan lain-lain. Mereka adalah pengelola hutan yang bijak. Sistem pengelolaan yang diterapkan secara turun temurun mewariskan hutan yang dapat dinikmati oleh anak-cucu mereka (Uluk et al. 2001). Suku Dayak di TN Kayan Mentarang sangat menggantungkan hidupnya pada hutan. Hidup dan hutan bagi mereka seperti ikan dan air yang menjadi satu kesatuan dan tak terpisahkan. Salah satu bentuk ketergantungan tersebut adalah pemanfaatan bahan pangan yang berasal dari hutan dan sekitarnya. Tumbuhan sebagai sumber karbohidrat yang berasal dari berbagai jenis palem dan umbiumbian seperti nanga (Eugeissona utilis), talang (Arenga undulatifolia), lundai (Xanthosoma sp., Colocasia gigantea), dan lain-lain (Uluk et al. 2001). Selain karbohidrat, Suku Dayak sekitar TNKM memanfaatkan tumbuhan hutan sebagai asupan vitamin dari sayur dan buah-buahan. Beberapa spesies tumbuhan yang digunakan sebagai sayur antara lain: paku bala (Stenoclaena palustris), paku bai (Diplazium esculentum), paku pa’it (Athyrium sozongonense), dan jenis lainnya. Sedangkan jenis buah yang dikonsumsi orang Dayak antara lain: dian da’un (Durio oxleyanus), dian kalang (Durio zibethinus), mangga (Mangifera indica), nakan (Artocarpus integer), dan lain sebagainya (Uluk et al. 2001). BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Karakteristik Responden 5.1.1 Komposisi jenis kelamin Dari keseluruhan jumlah responden yang diwawancarai (35 orang), dapat diketahui bahwa komposisi jenis kelamin sebanyak 25 orang laki-laki (71%) dan 10 orang perempuan (29%) (Gambar 5). Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, perbedaan jenis kelamin tidak berpengaruh besar terhadap pembagian kerja responden. Dari 35 responden yang telah diwawancarai, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama berperan dalam mengerjakan kegiatan mereka sehari-hari. Sebagai contoh bertani, baik laki-laki maupun perempuan memiliki peran yang sama dalam kegiatan seperti mencangkul, merumput, menanam, mencari kayu api, dan kegiatan bertani lainnya, bahkan untuk kegiatan berburu pun sebenarnya perempuan boleh melakukannya, akan tetapi di Desa Long Alango tidak terdapat perempuan yang ikut berburu. Pemburu yang berjenis kelamin perempuan ini ada di Desa Long Kemuat (sebelah Desa Long Alango). Untuk kegiatan berkebun pun mereka memiliki peran yang sama mulai dari persiapan lahan hingga pemanenan. Seperti Simatauw et al. (2001) menyebutkan bahwa masyarakat Dayak di Kalimantan merupakan masyarakat yang egaliter. Di beberapa suku, laki-laki dan perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam pengelolaan sumberdaya alam. 29% Laki-laki Perempuan 71% Gambar 5 Komposisi penduduk Desa Long Alango. 24 Dalam urusan desa seperti acara pertemuan/rapat desa, pemimpin seperti kepala desa, ketua adat, ketua BPTU (Badan Pengelola Tana’ Ulen), dan pemimpin lainnya tetap menjadi kewajiban laki-laki. Badan Pengelola Tana’ Ulen merupakan suatu badan yang mengelola semua hal yang berhubungan dengan Tana’ Ulen. Tana’ Ulen merupakan suatu wilayah yang dikeramatkan. Tana’ Ulen ini berada di zona tradisional TNKM karena wilayah ini telah dimanfaatkan oleh penduduk sekitar sebelum dibentuknya taman nasional. Perempuan-perempuan Desa Long Alango mengurus anak dan urusan rumah tangga, mereka juga memiliki perkumpulan ibu-ibu PKK untuk menjalin kekeluargaan. Ibu-ibu PKK ini selain mengadakan pertemuan rutin, mereka juga sering membuat kerajinan khas dayak seperti saung, belanyat, tikar, dan anyaman lainnya yang nantinya akan dijual ke pendatang/turis atau mereka gunakan sendiri. Sedangkan untuk acara kerja bakti membangun desa, antara laki-laki dan perempuan bekerja sama tanpa membedakan gender. Contohnya saja kerja bakti dalam perbaikan bandara pesawat lokal (Susi Air dan MAF) semua orang bekerja sama baik laki-laki maupun perempuan, mulai dari anak-anak hingga orang tua yang masih kuat. (a) (b) Gambar 6 Kerja bakti pelebaran bandara: (a) perempuan; (b) laki-laki. 5.1.2 Komposisi kelas umur Pengetahuan mengenai pemanfaatan tumbuhan terutama untuk kebutuhan pangan telah dikenal sejak zaman dahulu. Secara turun temurun pengetahuan ini diwariskan kepada keturunannya. Dari hasil wawancara diperoleh kelas umur 25 yang berkisar antara 23 tahun hingga 70 tahun (Gambar 7). Berdasarkan grafik tersebut, usia tertua adalah usia 70 tahun. Responden ini masih bekerja di sawah dan masih melakukan kegiatan lainnya sendiri, tanpa meyusahkan orang lain, bahkan responden ini sering berkunjung ke rumah tetangganya yang memiliki jarak agak jauh dari rumahnya dengan berjalan kaki. Kelompok usia terbanyak adalah antara 30 tahun hingga 40 tahun yaitu sebanyak 16 orang. Hal ini menunjukkan bahwa usia tersebut merupakan usia produktif dimana orang-orang bersemangat dalam bekerja di sawah, ladang, dan kebun, bahkan untuk pergi ke hutan dengan tujuan berburu dan kegiatan lainnya. 18 16 16 jumlah (orang) 14 12 10 7 8 6 4 5 4 4 2 0 62 th Kelompok umur (tahun) Gambar 7 Jumlah responden berdasarkan kelompok umur. Masyarakat Dayak Kenyah Desa Long Alango telah memanfaatkan hutan selam berabad-abad. Akan tetapi intensitas mereka pergi ke hutan bukan untuk setiap saat, melainkan hanya pada saat membutuhkan saja seperti saat ingin berburu, berladang, kerja gaharu, mengambil bahan bangunan dan kerajinan, serta hanya untuk refreshing. Mereka pergi ke hutan biasanya dua hingga empat kali dalam seminggu karena kegiatan harian mereka dihabiskan di sawah dan kebun mereka. 26 5.1.3 Tingkat pendidikan formal Komposisi tingkat pendidikan responden adalah tidak sekolah sebanyak 1 orang (3%), lulusan taman kanak-kanak (TK) sebanyak 1 orang (3%), lulusan sekolah dasar (SD) sebanyak 19 orang (54%), lulusan SMP sederajat sebanyak 5 orang (14%), lulusan SMA sederajat sebanyak 3 orang (9%), lulusan Diploma sebanyak 2 orang (6%), dan lulusan Sarjana sebanyak 4 orang (11%). Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui bahwa mayoritas masyarakat memiliki tingkat pendidikan lulusan SD (54%). Persentase tertinggi kedua adalah lulusan SMP sederajat yaitu 14% (Gambar 8). Hal ini karena sekolahan yang terdapat pada desa tersebut hanyalah SD dan SMP, itu pun jumlahnya masing-masing adalah satu sekolah. Biasanya orang yang ingin melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi belajar di luar daerah, misalnya di Tanjung Selor atau Malinau. Akan tetapi, mereka juga dapat melanjutkan sekolahnya lebih jauh lagi misalnya di luar Pulau Kalimantan. Mereka yang sekolah di luar daerah bahkan hingga Sarjana, ada yang kembali lagi ke kampung halamannya untuk menjadi guru ataupun pegawai kecamatan. Dengan kata lain mereka pulang untuk membangun desa mereka. Kebanyakan dari mereka yang sarjana berjenis kelamin laki-laki karena biasanya perempuan setelah lulus SMP langsung menikah dengan alasan tidak ingin sekolah jauh meninggalkan desanya. Tingkat pendidikan Sarjana 11% Diploma 6% SLTA Sederajat 9% SLTP Sederajat 14% SD 54% TK 3% Tidak sekolah 3% 0% 10% 20% 30% 40% 50% Persentase Gambar 8 Komposisi tingkat pendidikan responden. 60% 27 5.1.4 Jenis pekerjaan Dari 35 responden, keseluruhannya memiliki pekerjaan utama sebagai petani karena bagi mereka bertani merupakan kebutuhan hidup. Mereka memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri dengan menyediakan bahan pangan yang berasal dari sawah/ladang kadang juga mengambil langsung dari hutan tanpa mengandalkan proses jual-beli dari orang lain ataupun bantuan langsung dari pemerintah. Pemerintah Kabupaten Malinau juga membantu melalui program “Gerbangdema” (Gerakan Pembangunan Desa Mandiri). Program ini diharapkan mampu menjadikan desa-desa di Kabupaten Malinau menjadi desa yang lebih mandiri. Oleh sebab itu, “Gerbangdema” memiliki produk unggulan yang dihasilkan dari desa-desa tersebut yang nantinya dapat dijual ke luar ataupun dalam daerah sehingga mampu menjadi sumber pendapatan bagi warga desa. Salah satu produk unggulan adalah padi lokal. Bibit padi lokal yang awalnya berasal dari Pemerintah Kabupaten Malinau, ada juga yang berasal dari turuntemurun suku Dayak. Salah satu bibit padi yang berasal dari program “Gerbangdema” adalah padi adan. Tidak hanya padi, “Gerbangdema” memiliki produk unggulan lainnya seperti nanas (Ananas comosus), bekkai (Pycnarrhena cauliflora), bawang kenyah (Allium tuberosum), kopi (Coffea robusta), kakao (Theobroma cacao), dan produk unggulan lainnya. Di samping menjadi petani, mereka juga memiliki mata pencaharian lain seperti PNS (guru SD, guru SMP, pegawai kecamatan), pedagang, pemilik penginapan, dan sebagai agen penjualan tiket pesawat lokal (MAF dan Susi Air). Agar sawah atau ladang mereka tetap terurus di saat mereka bekerja di luar selain sebagai petani, maka mereka melakukan pembagian kerja dengan anggota keluarga lainnya. Sebagai contoh, apabila suami bekerja sebagai PNS, pada pagi hingga sore suami kerja di sekolah/kantor, sedangkan sawah atau ladang diurus istri atau anak (jika kedua orang tua bekerja di luar). Setelah suami/orang tua pulang, mereka bergantian dalam mengurus sawah/ladang. Biasanya mereka setelah bekerja langsung menuju sawah/ladang mereka sebelum pulang ke rumah. Begitu pula untuk pekerjaan/mata pencaharian yang lain. Adapun yang menjadi ibu rumah tangga dan pemandu (guide) lokal serta bekerja mencari gaharu, menjual hasil pertanian dan perkebunan sendiri ke tetangga atau desa lain, 28 menjual hasil buruan ke tetangga atau desa lain, menjual hasil kerajinan, menyewakan perahu untuk menambah pendapatan keluarganya. Pekerjaan ini dilakukan karena pendapatan yang diperoleh digunakan untuk kebutuhan lain di luar kebutuhan pangan seperti keperluan sandang, kebutuhan rumah tangga, dan kebutuhan lain yang memerlukan uang. Untuk kebutuhan papan, mereka dapat memanfaatkan hasil hutan kayu untuk membangun rumah mereka. Budaya bertani telah ada sejak zaman dahulu. Orang tua terdahulu mengajarkan kepada anak cucunya untuk dapat bertahan hidup dengan kemandirian. Bibit yang diperoleh untuk tanaman pertanian berasal dari turun temurun, ada juga yang berasal dari luar daerah. Karena dirasa hasil pertanian masih kurang cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan, mereka mengambil bibit tumbuhan hutan untuk dibudidayakan di kebun. Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan vitamin, mineral, air, dan kandungan nutrisi lainnya, penduduk desa menanam spesies sayuran yang bibitnya berasal dari luar daerah. Sayur yang biasanya dijadikan pelengkap bahan makanan mereka juga ada yang berasal dari hutan. 5.2 Keanekaragaman Tumbuhan Pangan 5.2.1 Keanekaragaman spesies Berdasarkan hasil wawancara dan eksplorasi tumbuhan, diperoleh 139 spesies tumbuhan berguna sebagai pangan dengan rincian 32 spesies tumbuhan pangan hutan/liar, 46 spesies tumbuhan pangan berasal dari hutan yang telah dibudidaya, dan 61 spesies tumbuhan pangan budidaya yang bukan berasal dari hutan (Gambar 9). Berdasarkan 32 spesies tumbuhan pangan yang berasal dari hutan dapat dikelompokkan dalam 13 famili (Gambar10). Berdasarkan hasil tersebut, famili yang memiliki jumlah spesies terbanyak adalah Famili Arecaceae (11 spesies). Beberapa spesies pada Famili Arecaceae seperti eman (Caryota mitis), nanga (Eugeissona utilis), uwai tebungen (Calamus ornatus), uwai tana’ (Calamus sp.) merupakan bahan pangan yang berguna sebagai bahan pangan pokok pengganti nasi (sumber energi) dan ada yang dimanfaatkan sebagai sayuran dengan bagian dimanfaatkan yaitu umbut. Umbut merupakan bagian rotan atau palem-paleman 29 yang masih muda, letaknya di dalam antara pangkal daun dan ujung batang. Umbut ini merupakan sayuran yang sangat disenangi masyarakat Dayak. Tumbuhan pangan hutan Tumbuhan pangan budidaya dari hutan 46 32 Tumbuhan pangan budidaya 61 Gambar 9 Jumlah spesies tumbuhan pangan hutan, tumbuhan pangan budidaya dari hutan, dan tumbuhan pangan budidaya. Selain itu terdapat satu spesies buah khas Borneo dari Famili Arecaceae yaitu birai (Salacca affinis var. borneensis). Birai atau dikenal dengan salak hutan ini banyak terdapat di Stasiun Penelitian Hutan Tropis (SPHT) Lalut Birai yang sekaligus merupakan Tana’ Ulen atau hutan adat bagi Suku Dayak Kenyah Famili TNKM. Amanitaceae Araceae Arecaceae Athyriaceae Auriculariaceae Nephrolepidacea Piperaceae Pleurotaceae Poaceae Polypodiaceae Russulaceae Zingiberaceae (tidak teridentifikasi) 1 3 11 1 1 1 1 1 3 2 2 2 3 0 5 10 15 Jumlah (spesies) Gambar 10 Jumlah spesies tumbuhan pangan hutan/liar berdasarkan famili. 30 Tumbuhan pangan hutan/liar yang sering dimanfaatkan Suku Dayak Kenyah selain sebagai bahan pangan pokok juga ada yang sering dimanfaatkan sebagai sayuran seperti spesies jamur (kulat) dengan contoh : kulat long (Amanita sp.), kulat tlengadok (Auricularia auricula-judae), kulat jap (Pleurotus sp.) dan pakupakuan seperti paku pait (Athyrium sozongonense), paku julut (Nephrolepis bisserata) (Tabel 3). Selain jamur dan paku-pakuan, terdapat pula tumbuhan berhabitus herba yang dimanfaatkan sebagai sayur yaitu balang (Heckeria umbellata). Berikut contoh nama-nama spesies tumbuhan pangan hutan yang dimanfaatkan Suku Dayak Kenyah berdasarkan familinya yang dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3 Contoh spesies tumbuhan pangan hutan berdasarkan famili No. 1 2 Famili Amanitaceae Araceae 3 Arecaceae 4 5 6 7 8 9 Athyriaceae Auriculariaceae Nephrolepidacea Piperaceae Pleurotaceae Poaceae 10 11 Polypodiaceae Russulaceae 12 13 Zingiberaceae (tidak teridentifikasi) Spesies Kulat long (Amanita sp.) Keladi upa' nyak (Colocasia esculenta), lundai 1 (Colocasia gigantea), lundai 2 (Xanthosoma sp.) Talang (Arenga undulatifolia), uwai tebungen (Calamus ornatus), eman (Caryota mitis), birai (Salacca affinis) Paku pait (Athyrium sozongonense) Kulat tlengadok (Auricularia auricula-judae) Paku julut (Nephrolepis bisserata) Daun balang (Heckeria umbellata) Kulat jap (Pleurotus sp.) Bambu betung (Dendrocalamus asper), bambu apus (Gigantolochloa apus), sengka (Setaria palmifolia) Paku bai (Diplazium esculentum), paku bala (Stenoclaena palustris) Kulat bulu (Lactarius deliciosus), kulat long balabau (Russula cyanoxantha) Nyanding (Etlingera elatior), iti' (Etlingera sp.) Kulat kedet, kulat puti', kulat temenggang Berdasarkan 139 spesies tumbuhan pangan yang dimanfaatkan Suku Dayak Kenyah, terdapat 46 spesies tumbuhan pangan yang telah dibudidaya berasal dari hutan dengan 16 famili (Gambar 11). Suku Dayak Kenyah melestarikan tumbuhan pangan dengan menanamnya di kebun. Hal ini bertujuan agar mempermudah dalam perolehan tumbuhan pangan tanpa harus mengambilnya langsung dari hutan. Suku Dayak Kenyah membudidayakan tumbuhan pangan hutan di kebun 31 dengan cara trial and error. Mereka belajar dari kesalahan dan terus mencobanya hingga berhasil. Hal ini telah diajarkan turun temurun hingga saat ini. Pada Gambar 11 dapat diketahui bahwa Famili Sapindaceae yang memiliki jumlah spesies terbanyak yaitu 12 spesies. Spesies yang ditemukan pada Famili Sapindaceae adalah buah-buahan yang berasal dari hutan (maritam, mata kucing, rambutan hutan, dan sebagainya). Hal ini membuktikan bahwa TNKM memiliki keanekaragaman buah, sehingga Suku Dayak Kenyah yang tinggal di sekitarnya senang membudidayakan/memanfaatkan bibitnya agar dapat dikonsumsi dengan lebih mudah. Hal ini menunjukkan bahwa Suku Dayak Kenyah TNKM Famili menerapkan asas konservasi (perlindungan, pengawetan, pemanfaatan). Anacardiaceae Bombacaceae Burseraceae Clusiaceae Cucurbitaceae Euphorbiaceae Fabaceae Flacourtiaceae Lauraceae Melastomataceae Meliaceae Menispermaceae Moraceae Polygalaceae Sapindaceae Urticaceae (tidak teridentifikasi) 2 5 1 3 1 7 1 1 1 1 1 2 2 3 12 1 2 0 2 4 6 8 10 12 14 Jumlah (spesies) Gambar 11 Jumlah spesies tumbuhan pangan budidaya yang berasal dari hutan berdasarkan famili. Beberapa responden menuturkan bahwa saat musim buah, pohon berbuah melimpah, ada yang tumbuh di kebun karena dibudidaya yang bibitnya berasal dari hutan, ada pula yang langsung mengambil dari hutan. Tapi sayangnya buahbuahan tersebut matang dan busuk begitu saja karena pohon terus menghasilkan 32 buah sedangkan tidak setiap hari dikonsumsi buahnya. Berdasarkan pendapat responden, Taman Nasional Kayan Mentarang yang memiliki akses susah dan perjalanan yang jauh, sehingga buah-buahan yang ada kurang dimanfaatkan dan dikelola dengan baik. Famili yang memiliki jumlah spesies terbanyak kedua adalah Euphorbiaceae. Beberapa spesies yang berasal dari Famili Euphorbiaceae adalah payang kure (Aleuritas moluccana), seti' (Baccaurea bracteata), keleppeso (Baccaurea dulcis) (Tabel 4). Selain contoh tersebut, terdapat pula spesies tumbuhan yang dijadikan bumbu (terasi dayak) oleh Suku Dayak Kenyah seperti payang lengu (Ricinus communis) dan salap (Sumbaviopsis albicans) (Lampiran 2). Tabel 4 Contoh spesies tumbuhan pangan budidaya yang berasal dari hutan berdasarkan famili No. 1 2 Famili Anacardiaceae Bombacaceae 3 4 Burseraceae Clusiaceae 5 6 Cucurbitaceae Euphorbiaceae 7 8 9 10 11 12 Fabaceae Flacourtiaceae Lauraceae Melastomataceae Meliaceae Menispermaceae 13 14 Moraceae Polygalaceae 15 Sapindaceae 16 17 Urticaceae (tidak teridentifikasi) Famili yang Spesies Berenyiu (Mangifera caesia), alim (Mangifera pajang) Durian merah (Durio graveolens), dian lai (Durio kutejensis), durian daun (Durio oxleyanus), durian besar, durian temenggang Kelamu' (Dacryodes rostrata) Petong (Garcinia bancana), berana' (Garcinia cf. Lateriflora), adiu (Garcinia forbesii) Payang aka (Trichosanthes sp.) Payang kure (Aleuritas moluccana), seti' (Baccaurea bracteata), keleppeso (Baccaurea dulcis) Petai hutan (Parkia speciosa) Payang kayu (Pangium edule) Belengla (Litsea cubeba) Tenggok Buin (Pternandra cordata) Langsat (Lancium domesticum) Bekkai lanya (Coscinium miosepalum), bekkai lema (Pycnarrhena cauliflora) Temai' (Artocarpus altilis), kean (Artocarpus odoratissimus) Bua tiup (Xanthophyllum amoenum), mejalin batu (Xanthophyllum exelsa), mejalin( Xanthophyllum obscurum) Mata kucing (Dimocarpus longan), se'bau (Nephelium juglandifolium), maritam (Nephelium ramboutan-ake), unjing (Nephelium maingayi), rambutan hutan (Nephelium muntabile) Keten (Poikilospermus suaveolens) Tekalang da'an, telo'dok memiliki jumlah spesies terbanyak ketiga setelah Euphorbiaceae adalah Bombacaceae (5 spesies). Keseluruhan tumbuhan pangan yang berasal dari Famili Bombacaceae ini adalah durian dengan berbagai spesies 33 seperti durian merah (Durio graveolens), dian lai (Durio kutejensis), durian daun (Durio oxleyanus), durian besar, yang durian temenggang (Tabel 5). Suku Dayak Kenyah senang dengan buah durian sehingga mereka berinisiatif untuk membudidayakannya. Dengan demikian pada saat musim buah tidak perlu lagi Famili mengambil langsung dari hutan yang kaya akan durian tersebut. Amaranthaceae Anacardiaceae Annonaceae Arecaceae Basellaceae Bombacaceae Brassicaceae Bromeliaceae Caricaceae Clusiaceae Convolvulaceae Cucurbitaceae Euphorbiaceae Fabaceae Lauraceae Liliaceae Limnocharitaceae Moraceae Musaceae Myrtaceae Pandanaceae Piperaceae Poaceae Rubiaceae Rutaceae Sapindaceae Solanaceae Sterculiaceae Zingiberaceae 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 2 6 3 6 2 2 1 2 1 4 1 1 5 1 2 1 5 1 4 0 1 2 3 4 5 6 7 Jumlah (spesies) Gambar 12 Jumlah spesies tumbuhan pangan budidaya bukan berasal dari hutan berdasarkan famili. Pada Gambar 12 dapat diketahui bahwa jumlah spesies tumbuhan pangan budidaya yang bukan berasal dari hutan paling banyak terdapat pada Famili Cucurbitaceae dan Fabaceae yaitu masing-masing 6 spesies. Contoh spesies dari Famili Cucurbitaceae adalah kelompok labu-labuan seperti timun (Cucumis 34 sativus), labu kuning (Cucurbita moschata), pare (Momordica charantia) (Tabel 5). Contoh spesies tumbuhan dari Famili Fabaceae adalah kelompok kacangkacangan seperti kacang tanah (Arachis hypogaea), kedelai (Glycine max), kacang hijau (Phaseolus aureus) (Tabel 5). Contoh-contoh tumbuhan tersebut merupakan tumbuhan yang kebanyakan dimanfaatkan sebagai sayuran oleh Suku Dayak Kenyah dalam memenuhi kebutuhan protein nabatinya. Tabel 5 Contoh spesies tumbuhan pangan budidaya bukan berasal dari hutan berdasarkan famili No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Famili Amaranthaceae Anacardiaceae Annonaceae Arecaceae Basellaceae Bombacaceae Brassicaceae Bromeliaceae Caricaceae Clusiaceae Convolvulaceae Cucurbitaceae 13 Euphorbiaceae 14 Fabaceae 15 16 17 18 19 20 Lauraceae Liliaceae Limnocharitaceae Moraceae Musaceae Myrtaceae 21 22 23 24 25 26 27 Pandanaceae Piperaceae Poaceae Rubiaceae Rutaceae Sapindaceae Solanaceae 28 29 Sterculiaceae Zingiberaceae Spesies Bayam (Amaranthus spinosus Mangga (Mangifera indica) Sirsak (Annona muricata) Pinang (Areca catechu), kelapa (Cocos nucifera) Lodo (Basella alba) Durian (Durio zibethinus) Sawi hijau (Brassica rapa var. parachinensis) Nanas (Ananas comosus) Pepaya (Carica papaya) Manggis (Garcinia mangostana) Kangkung (Ipomea aquatica), ubi jalar (Ipomea batatas) Timun (Cucumis sativus), labu kuning (Cucurbita moschata), pare (Momordica charantia) Singkong 1 (Manihot utilissima), singkong 2 (Manihot esculenta), cangkok manis (Sauropus androgynus) Kacang tanah (Arachis hypogaea), kedelai (Glycine max), kacang hijau (Phaseolus aureus) Kayu manis (Cinnamomum burmanii), buah mali (Litsea garciae) Bawang merah (Allium cepa), bawang rambut (Allium tuberosum) Genjer (Limnocharis flava) Nangka (Artocarpus heterophyllus), nakan (Artocarpus integer) Pisang (Musa spp.) Jambu batu (Psidium guajava), cengkih (Syzygium aromaticum), salam (Syzygium polyanthum) Pandan (Pandanus amaryllifolius) Lada (Piper nigrum) Jagung (Zea mays), padi (Oryza sativa), sereh (Andropogon nardus) Kopi kenyah (Coffea robusta) Bonyau kela'ang (Citrus maxima), Jeruk besar (Citrus aurantium ) Rambutan (Nephelium lappaceum) Olem (Solanum tovum), lombok/cabe rawit (Capsicum frutescens), terong (Solanum melongena) Kakao (Theobroma cacao) Lia lamut (Alpinia galanga), lia bonat (Curcuma domestic), lia salu (Zingiber officinale) 35 5.2.2 Keanekaragaman habitus Berdasarkan habitus pada tumbuhan pangan hutan, diperoleh 7 habitus (jamur, herba, semak, liana, paku-pakuan palem, bambu) (Tabel 6) dengan persentase tertinggi adalah habitus jamur (25%) yang memiliki 8 spesies. Contoh spesies tersebut adalah kulat long (Amanita sp.), kulat bulu (Lactarius deliciosus), kulat long balabau (Russula cyanoxantha) (Tabel 7). Habitus yang memiliki jumlah spesies paling sedikit yaitu semak (1 spesies). Spesies tersebut adalah birai (Salacca affinis var.borneensis). Tabel 6 Persentase habitus tumbuhan pangan hutan No. 1 2 3 4 5 6 7 Habitus Jamur Herba Semak Liana Paku-pakuan Palem Bambu Jumlah Jumlah (spesies) 8 7 1 5 4 5 2 32 Persentase (%) 25 22 3 16 13 16 6 100 Berdasarkan Tabel 6, berikut beberapa nama spesies tumbuhan pangan hutan berdasarkan habitusnya (Tabel 7). Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat padal Lampiran 1. Tabel 7 Contoh spesies tumbuhan pangan hutan berdasarkan habitus No. 1 Habitus Jamur 2 Herba 3 4 Semak Liana 5 Pakupakuan Palem Bambu 6 7 Spesies Kulat long (Amanita sp.), kulat bulu (Lactarius deliciosus), kulat long balabau (Russula cyanoxantha) Keladi upa' nyak (Colocasia esculenta), balang (Heckeria umbellata), nyanding (Etlingera elatior), iti' (Etlingera sp.) Birai (Salacca affinis var.borneensis) Uwai tebungen (Calamus ornatus), uwai tana' (Calamus sp.), uwai balamata (Calamus sp.1), uwai pait (Calamus sp.2) Paku bai (Diplazium esculentum), paku bala (Stenoclaena palustris), paku julut (Nephrolepis bisserata) Eman (Caryota mitis), nanga (Eugeissona utilis), sagu (Metroxylon sp.) Bambu betung (Dendrocalamus asper), bambu apus (Gigantolochloa apus) Berdasarkan hasil pengamatan spesies tumbuhan pangan hutan yang telah dibudidayakan Suku Dayak Kenyah, diperoleh 7 habitus dengan jumlah spesies terbanyak terdapat pada habitus pohon (40 spesies dengan persentase 87 %) 36 (Tabel 8). Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa Suku Dayak Kenyah banyak membudidayakan pohon buah dari hutan untuk ditanam di kebun. Pohon tersebut antara lain berasal dari Famili Bombacaceae (berbagai spesies durian), Sapindaceae (maritam, mata kucing, rambutan hutan), Euphorbiaceae (seti’, dabai, keleppeso, settai), dan famili lainnya (Lampiran 2). Tabel 8 Persentase habitus tumbuhan pangan budidaya yang berasal dari hutan No. 1 2 3 4 Habitus Pohon Liana Herba Perdu Jumlah Jumlah (spesies) 40 4 1 1 46 Persentase (%) 87 9 2 2 100 Berdasarkan jumlah spesies yang terdapat pada Tabel 8, berikut terdapat beberapa nama spesies tumbuhan pangan hutan yang telah dibudidayakan berdasarkan habitusnya (Tabel 9). Untuk nama-nama spesies tumbuhan pangan hutan yang telah dibudidaya secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 2. Tabel 9 Contoh spesies tumbuhan pangan hutan yang telah dibudidaya berdasarkan habitus No. 1 Habitus Pohon 2 Liana 3 4 Herba Perdu Spesies Berenyiu (Mangifera caesia), durian merah (Durio graveolens), kelamu' (Dacryodes rostrata), petong (Garcinia bancana), petai hutan (Parkia speciosa) Payang aka (Trichosanthes sp.), bekkai lanya (Coscinium miosepalum), bekkai lema (Pycnarrhena cauliflora) Keten (Poikilospermus suaveolens) Belengla (Litsea cubeba) Tabel 10 menunjukkan bahwa habitus yang memiliki persentase terbesar adalah herba yaitu 34% (21 spesies). Tumbuhan pangan budidaya non hutan yang memiliki habitus herba antara lain bayam (Amaranthus spinosus), kacang tanah (Arachis hypogaea), pepaya (Carica papaya) (Tabel 11). Habitus yang memiliki persentase paling sedikit yaitu bambu (2%) atau hanya satu spesies bambu kuning (Bambusa vulgaris). Suku Dayak Kenyah menanam bambu kuning karena bagi mereka rebung (tunas) bambu kuning lezat untuk dijadikan sayur tumisan. 37 Tabel 10 Persentase habitus tumbuhan pangan budidaya bukan berasal dari hutan No. 1 2 3 4 5 6 7 Habitus Herba Pohon Palem Liana Semak Perdu Bambu Jumlah Jumlah spesies 21 14 2 14 2 7 1 61 Persentase (%) 34 23 3 23 3 11 2 100 Berikut contoh spesies tumbuhan pangan budidaya non hutan berdasarkan habitusnya yang dapat dilihat pada Tabel 11. Nama spesies lainnya dapat dilihat pada Lampiran 3. Tabel 11 Contoh spesies tumbuhan pangan budidaya yang bukan dari hutan berdasarkan habitus No. 1 Habitus Herba 2 Pohon 3 4 5 6 Palem Liana Semak Perdu 7 Bambu Spesies Bayam (Amaranthus spinosus), sawi hijau (Brassica rapa var. parachinensis), pepaya (Carica papaya), kangkung (Ipomea aquatica), kacang tanah (Arachis hypogaea) Durian biasa (Durio zibethinus), manggis (Garcinia mangostana), mangga (Mangifera indica) Kelapa (Cocos nucifera), pinang (Areca catechu) Lodo (Basella alba), pare (Momordica charantia), lada (Piper nigrum) Nanas (Ananas comosus), pandan wangi (Pandanus amaryllifolius) Singkong (Manihot utilissima), jambu batu (Psidium guajava), terong (Solanum melongena), olem (Solanum torvum) Bambu kuning (Bambusa vulgaris) 5.2.3 Bagian yang digunakan Pada Tabel 12 terdapat 9 bagian yang digunakan dari tumbuhan pangan liar/hutan dengan persentase terbesar adalah umbut (28%) karena seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa masyarakat dayak senang mengonsumsi umbut sebagai sayuran. Persentase terbesar kedua terdapat pada seluruh bagian. Seluruh bagian ini merupakan bagian yang dimanfaatkan pada jamur. Suku Dayak Kenyah memperoleh jamur secara liar atau dari hutan untuk dijadikan sayuran. Persentase bagian yang digunakan tumbuhan pangan hutan terendah adalah umbi-daun, umbut-bunga, dan buah yaitu masing-masing 3%. Bagian digunakan umbi-daun terdapat pada spesies keladi upa’ nyak (Colocassia esculenta) karena pada bagian dimanfaatkan untuk dijadikan sumber energi (makanan pengganti nasi) adalah umbi dan bagian dimanfaatkan untuk sayur tumis atau kuah adalah 38 daun. Bagian yang digunakan terendah lainnya yaitu umbut-bunga nyanding (Etlingera elatior) dari Famili Zingiberaceae. Umbut dan bunga dari nyanding ini dijadikan sayur tumisan. Bunga nyanding dinamakan blusut dalam bahasa Kenyah. Bagian yang digunakan paling sedikit lainnya yaitu buah yang terdapat pada Birai (Salacca affinis var.borneensis). Tabel 12 Persentase bagian digunakan tumbuhan pangan hutan No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Bagian yang digunakan Seluruh bagian Umbi, daun Umbi Umbut Getah Daun Tunas Umbut, bunga Buah Jumlah Jumlah (spesies) 8 1 2 9 3 5 2 1 1 32 Persentase (%) 25 3 6 28 9 16 6 3 3 100 Berdasarkan 9 bagian yang digunakan pada tumbuhan pangan liar/hutan, terdapat beberapa spesies tumbuhan yang tertera pada Tabel 13. Pada tabel tersebut, menunjukkan contoh-contoh spesies yang sering dimanfaatkan Suku Dayak Kenyah dengan bagian tertentu yang digunakan. Rincian spesies tumbuhan pangan secara lebih lengkap terdapat pada Lampiran 1. Tabel 13 Contoh spesies tumbuhan pangan hutan berdasarkan bagian digunakan No. 1 Bagian yang digunakan Seluruh bagian 2 3 4 Umbi, daun Umbi Umbut 5 Getah 6 Daun 7 Tunas 8 9 Umbut, bunga Buah Spesies Kulat long (Amanita sp.), kulat bulu (Lactarius deliciosus), kulat long balabau (Russula cyanoxantha) Keladi upa' nyak (Colocasia esculenta) Lundai 1 (Colocasia gigantea), lundai 2 (Xanthosoma sp.) Talang (Arenga undulatifolia), uwai tebungen (Calamus ornatus), iti' (Etlingera sp.), sengka (Setaria palmifolia) Eman (Caryota mitis), nanga (Eugeissona utilis), sagu (Metroxylon sp.) Paku bai (Diplazium esculentum), paku bala (Stenoclaena palustris), Paku julut (Nephrolepis bisserata), balang (Heckeria umbellata) Bambu betung (Dendrocalamus asper), bambu apus (Gigantolochloa apus) Nyanding (Etlingera elatior) Birai (Salacca affinis var.borneensis) 39 Pada Tabel 14 dapat diketahui bahwa bagian yang digunakan paling banyak adalah buah dengan persentase 89% (41 spesies). Hal ini menunjukkan TNKM memiliki kekayaan spesies buah sehingga masyarakat sekitar hutan dapat memperoleh bibit dari hutan dan membudidayakannya. Tabel 14 Persentase bagian yang digunakan tumbuhan pangan budidaya yang berasal dari hutan No. 1 2 3 Bagian yang digunakan Buah Biji Daun Jumlah Jumlah (spesies) 41 2 3 46 Persentase (%) 89 4 7 100 Berdasarkan persentase spesies yang ditemukan berdasarkan bagian yang digunakan pada Tabel 14, berikut contoh nama-nama spesies tumbuhan pangan yang telah dibudidaya oleh Suku Dayak Kenyah TNKM (Tabel 15). Tabel 15 Contoh spesies tumbuhan pangan budidaya berasal dari hutan berdasarkan bagian yang digunakan No. 1 2 3 Bagian yang digunakan Buah Biji Daun Spesies Berenyiu (Mangifera caesia), durian merah (Durio graveolens), kelamu' (Dacryodes rostrata), petong (Garcinia bancana), petai hutan (Parkia speciosa) Petai hutan (Parkia speciosa), Belengla (Litsea cubeba) Keten (Poikilospermus suaveolens), Bekkai lanya (Coscinium miosepalum), bekkai lema (Pycnarrhena cauliflora) Pada Tabel 16, persentase bagian yang digunakan tumbuhan budidaya non hutan terbesar adalah buah yaitu 43% (26 spesies buah). Buah memiliki fungsi diantaranya sebagai pelengkap gizi, khususnya vitamin C (Tarwotjo 1998). Oleh sebab itu, buah-buahan yang bukan berasal dari hutan pun ditanam Suku Dayak Kenyah. 40 Tabel 16 Persentase bagian yang digunakan tumbuhan pangan budidaya bukan berasal dari hutan No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Bagian yang digunakan Daun Buah Umbut Buah, umbut Umbi, daun Buah, daun Biji Kulit batang Rimpang Buah, umbut, bunga Bunga Akar Tunas Rimpang, bunga Umbi Batang Jumlah Jumlah (spesies) 9 26 1 1 2 2 8 1 3 1 1 1 1 1 2 1 61 Persentase (%) 15 43 2 2 3 3 13 2 5 2 2 2 2 2 3 2 100 Berikut contoh spesies tumbuhan pangan budidaya non hutan berdasarkan bagian yang digunakan (Tabel 17). Tabel 17 Contoh spesies tumbuhan pangan budidaya bukan dari hutan berdasarkan bagian yang digunakan No. 1 Bagian yang digunakan Daun 2 Buah 3 4 5 6 7 Umbut Buah, umbut Umbi, daun Buah, daun Biji 8 9 Kulit batang Rimpang 10 11 12 13 14 15 16 Buah, umbut, bunga Bunga Akar Tunas Rimpang, bunga Umbi Batang Spesies Bayam (Amaranthus spinosus), lodo (Basella alba), pandan (Pandanus amaryllifolius) Sirsak (Annona muricata), pepaya (Carica papaya), labu putih (Lagenaria leucantha), cabai rawit (Capsicum frutescens), olem (Solanum torvum), durian (Durio zibethinus) Pinang (Areca catechu) Kelapa (Cocos nucifera) Ubi jalar (Ipomea batatas), Singkong (Manihot utilissima) Timun (Cucumis sativus), labu kuning (Cucurbita moschata) Lada (Piper nigrum), padi (Oryza sativa), kopi (Coffea robusta), kakao (Theobroma cacao) Kayu manis (Cinnamomum burmanii) Lia bonat (Curcuma domestica), lia salu' (jahe biasa) (Zingiber officinale), jahe merah (Zingiber officinale) peti' (pisang) (Musa spp.) Cengkih (Syzygium aromaticum) Sereh (Andropogon nardus) Bambu kuning (Bambusa vulgaris) Lia lamut (Alpinia galanga) Bawang merah (Allium cepa), bawang rambut (Allium tuberosum) Tebu (Saccharum officinarum) 41 5.2.4 Cara pemanenan Tumbuhan pangan hutan yang dibudidayakan di kebun biasanya berupa tumbuhan penghasil buah. Walaupun kebanyakan tumbuhan yang ditanam di kebun bibitnya berasal dari luar daerah dan dari pemerintah (Lampiran 3), akan tetapi beberapa bibit buah yang berasal dari hutan juga dibudidayakan di kebun mereka seperti berenyiu (Mangifera caesia), alim (Mangifera pajang), dian lai (Durio kutejensis), dian daun (Durio oxleyanus), adiu (Garcinia forbesii), petong (Garcinic bancana), seti’ (Baccaurea bracteata), dabai (Baccaurea dulcis), keleppeso (Baccaurea lanceolata), settai (Baccaurea macrocarpa), bua tiup (Xanthophyllum amoenum), mejalin batu (Xanthopyllum excelsa), mejalin (Xanthopyllum obscurum), isau bala (Dimocarpus longan ssp.), rambutan hutan (Nephelium muntabile), buah telo’ (Nephelium cuspidatum) dan berbagai spesies lainnya (Lampiran 2). Cara pemanenan tumbuhan yang berasal dari hutan dengan mengambil semai beserta tanahnya yang kemudian langsung ditanam di kebun mereka. Apabila ada yang tidak ingin menanam buah-buahn di kebun namun hanya ingin menikmati buah dari pohonnya langsung dai hutan, maka tidak diperbolehkan menebang pohonnya, hanya boleh mengambil bagian buahnya saja. Di samping itu bekkai pun juga ada yang ditanam di kebun, walaupun susah untuk dibudidayakan. Dari hasil wawancara, responden mengungkapkan bahwa keberhasilan tumbuh bekkai lema (Pycnarrhena cauliflora) dan bekkai lanya (Coscinium miosepalum) hanya 10%. Untuk pemanenan bekkai sama dengan memanen buah-buahan dari hutan yaitu dengan mengambil semai beserta tanahnya. Untuk pemanenan hasil kebun/sawah/ladang tidak ada aturannya. Bagi mereka memanen sesuka hati pemiliknya saja, tetapi tidak ditemukan adanya pemanenan yang berlebihan (kecuali pemanenan padi). Sebagian hasil kebun/sawah/ladang disisakan agar tidak habis dan tetap dapat berkembang biak. Cara memanen umbut yaitu dengan cara diukur 2/3 dari pucuk tumbuhan atau mengetuk-ketuk untuk memastikan tumbuhan tersebut terdapat berisi umbut. Kemudian dipotong bagian tersebut, kulitnya dikupas hingga terlihat umbutnya. Umbut siap diolah lebih lanjut sebelum dapat dikonsumsi. 42 5.2.5 Cara pengolahan bahan pangan Bahan pangan yang berasal dari hutan, ladang, kebun, ataupun sawah diolah lebih lanjut oleh Suku Dayak Kenyah. Berbagai makanan khas mereka olah sendiri untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Tabel 18 Spesies tumbuhan pangan yang dijadikan olahan pangan No. Olahan pangan Nama makanan olahan nasi, bubur, sagu, tepung 1 Bahan pangan berkarbohidrat 2 Sayuran sayuran tumis dan bening 3 Bahan pangan pelengkap 4 Minuman kerupuk, bumbu, gorengen, jajanan ciu, kopi, kacang hijau Spesies tumbuhan yang digunakan padi (Oryza sativa), lundai 1 (Colocasia gigantea), lundai 2 (Xanthosoma sp.), singkong (Manihot utilissima), sagu (Metroxylon sp.), dll keladi upa'nyak (Colocassia esculenta, balang (Heckeria umbellata), nyanding(Etlingera elatior), dll bekkai lema (Pycnarrhena cauliflora), bekkai lanya (Coscinium miosepalum), Payang aka (Trichosanthes sp.), salap (Sumbaviopsis albicans), dll singkong (Manihot utilissima), kopi (Coffea robusta), kacang hijau (Phaseolus aureus) 5.2.5.1 Bahan pangan berkarbohidrat Bahan pangan yang mengandung karbohidrat di alam bermacam-macam jenisnya, baik yang berasal dari hutan maupun yang telah dibudidaya. Bahan pangan ini dapat diolah lebih lanjut seperti menjadi : nasi, bubur, tepung, kue, sagu, tape, dan olahan yang dapat menjadi sumber energi lainnya. Olahan yang pertama adalah nasi. Nasi merupakan bahan pangan sederhana dan pokok bagi kehidupan umat manusia. Nasi berasal dari padi, berbagai jenis padi lokal yang ditanam Suku Dayak Kenyah dapat dijadikan nasi dengan tekstur yang berbeda tentunya. Mulai dari nasi pera yang cocok untuk dibuat nasi goreng hingga nasi ketan yang lezat dijadikan berbagai jajanan. Bubur merupakan olahan lanjutan dari nasi. Bubur ini ada yang berasal dari beras ada juga yang berasal dari spesies keladi-keladian seperti keladi upa’ nyak (Colocassia esculenta), lundai 1 (Colocasia gigantea) dan lundai 2 (Xanthosoma sp. (Lampiran 1). Cara pengolahannya sama dengan bubur biasa, hanya saja bubur keladi cara pengolahannya dengan mengambil umbi dari spesies keladi tersebut di atas kemudian membersihkannya, memotongnya, dan merebusnya hingga lembut seperti bubur, dapat juga ditambahkan bumbu garam, lada, dan bumbu lain sesuai 43 selera. Tidak semua spesies keladi dapat dimakan umbinya karena keladi memiliki getah yang apabila dimakan menimbulkan gatal tenggorokkan. Bahan pangan olahan lainnya antara lain tepung yang terbuat dari singkong (Manihot utilissima). Cara pengolahannya, umbi singkong dikupas, kemudian dibersihkan. Setelah bersih, umbi singkong diparut kasar. Setelah diparut, kemudian diletakkan di atas daun pisang dan dijemur. Setelah itu parutan singkong ditumbuk dan dicampur beras yang telah ditumbuk. Setelah itu jemur kembali. Kemudian diayak hingga keluar ampas dan ampas ini ditumbuk kembali. Begitu seterusnya hingga seluruhnya halus. Tepung ini dibuat sendiri secara tradisional dengan alat sederhana dan dapat bertahan lama hingga satu bulan. Bahan pangan berkarbohidrat lainnya adalah kue yang terbuat dari bahan ubi kayu (Ipomea batatas) dengan cara pengolahan seperti membuat kue biasa hanya saja ditambah dengan ubi kayu. Adapun tape singkong dengan cara pengolahan yang seperti biasanya menggunakan ragi. Selanjutnya bahan pangan olahan berkarbohidrat dengan tumbuhan yang berasal langsung dari hutan adalah sagu. Sagu ini berasal dati spesies eman (Caryota mitis), nanga (Eugeissona utilis), dan sagu (Metroxylon sp.) Cara pengolahan sagu pada ketiga spesies tersebut sama, yakni membelah batang sagu/eman/nanga kemudian memukulnya hingga hancur. Pengolahan ini dilakukan dekat dengan sumber air karena sangat membutuhkan air dalam mengolah sagu. Setelah itu injak-injak hingga keluar air dan biarkan hingga satu malam. Setelah terlihat sagu dan air terpisah, buang airnya, kemudian isi air lagi hingga keluar sagu murninya. (a) (b) Gambar 13 Olahan bahan pangan berkarbohidrat: (a) Sagu; (b) Kue. 44 5.2.5.2 Sayuran Spesies tumbuhan yang digunakan sebagai sayuran dapat ditemui di pematang sawah, ladang, bahkan ada yang hidup liar seperti balang (Heckeria umbellata) (Gambar 14). Bagian yang digunakan untuk sayuran selain daun dan seluruh bagian pada habitus herba, juga tunas pada spesies bambu dan umbut pada beberapa spesies seperti talang (Arenga undulatifolia), nyi’bung (Oncosperma horridum), nyandiang (Etlingera elatior), sengka (Setaria palmifolia). Beberapa tumbuhan berhabitus paku-pakuan dan jamur dapat dimanfaatkan sebagai sayur, bahkan spesies keladi-keladian daunnya dapat dimanfaatkan sebagai sayur namun hanya spesies tertentu, yaitu Colocasia esculenta. Semua spesies tumbuhan untuk sayur ini dapat diolah/dimasak dengan cara sayur bening ataupun ditumis. Gambar 14 Balang (Heckeria umbellata). 5.2.5.3 Bahan pangan pelengkap Bahan pangan pelengkap ini merupakan bahan pangan tambahan untuk melengkapi bahan pangan pokok seperti kerupuk yang terbuat dari tepung singkong yang dijemur dan digoreng, bumbu (sambal, penyedap rasa, terasi), gorengan, kacang sembuyi (seperti rempeyek kacang tanah), dan ada juga jajanan seperti pais yang terbuat dari singkong dan kelapa dengan dibungkus daun pisang. Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan langsung ditemukan adanya pemanfaatan bahan alami yang dijadikan penyedap rasa, yaitu yang berasal dari 45 tumbuhan hutan yang bernama bekkai. Bekkai ada dua macam, yaitu bekkai lema (Pycnarrhena cauliflora) dan bekkai lanya (Coscinium miosepalum) (Gambar 15a dan Gambar 15b). Cara pengolahannya yaitu dengan menumbuk halus daun kemudian dijemur hingga kering. Bekkai pun siap digunakan. (a) (b) (c) Gambar 15 Tumbuhan yang dijadikan bahan pangan pelengkap: (a) Bekkai lema (Pycnarrhena cauliflora); (b) Bekkai lanya (Coscinium miosepalum); (c) Payang lengu (Ricinus communis). Pemanfaatan tumbuhan yang merupakan khas dari Suku Dayak Kenyah, yaitu terasi dayak yang terbuat dari bahan tumbuh-tumbuhan. Berbeda dari terasi udang biasa, terasi dayak dianggap lebih lezat jika dicampur dengan sambal. Terdapat beberapa spesies yang dapat dijadikan terasi dayak. Spesies tersebut adalah payang aka (Trichosanthes sp.), payang kure’ (Aleuritas moluccana), payang kayu (Pangium edule), payang lengu (Ricinus communis) (Gambar 15c) 46 dan salap (Sumbaviopsis albicans) (Lampiran 2). Cara pengolahan terasi dayak yaitu dengan membusukkan bagian buah dari beberapa spesies tersebut, kemudian di letakkan di atas perapian agar tetap awet dan menambah aroma yang lezat. Selanjutnya dapat langsung dicampur dengan sambal ataupun langsung dimakan dengan lauk-pauk. 5.2.5.4 Minuman Masyarakat Suku Dayak Kenyah sejak dulu dikenal senang membuat minuman khas atau ciu yang sering dimanfaatkan untuk acara besar seperti perayaan panen raya, atau acara besar lainnya. Minuman tersebut juga sering dijadikan jamuan bagi tamu yang datang (hanya untuk yang suka meminumnya) karena sebagai wujud penghormatan pada tamu yang datang ke rumah. Selain itu minuman ini juga dapat diminum kapanpun mereka menginginkannya dan dapat diperjual-belikan antara warga ataupun desa. Ciu berasal dari umbi singkong (Manihot utilissima) yang difermentasikan. Air hasil fermentasi tersebut kemudian dilakukan proses lebih lanjut yaitu penyulingan hingga diperoleh kualitas yang sesuai. Hasil penyulingan pertama memiliki kadar alkohol yang sangat tinggi dan pekat. Inilah yang disebut kualitas paling bagus. Akan tetapi hanya orang-orang tertentu yang kuat meminumnya karena ini sangat memabukkan. Selain ciu terdapat pula tumbuhan yang dijadikan bahan minuman di antaranya minuman kolak jagung, kolak ubi jalar, dan kolak pisang. Cara pengolahannya sama dengan membuat kolak biasa. 5.2.6 Fungsi tumbuhan pangan Tumbuhan pangan memiliki fungsi penting bagi tubuh diantaranya sebagai sumber karbohidrat, protein nabati, vitamin dan mineral. Fungsi tersebut terdapat dalam berbagai spesies tumbuhan pangan hutan ataupun budidaya yang terdiri dari sayuran, buah-buahan, sumber energi, dan fungsi lainnya seperti bumbu dan minuman (Tabel 19, 21, 23). Dalam satu spesies terdapat pula fungsi ganda seperti buah-buahan, sayuran, minuman yang terdapat pada kelapa (Cocos nucifera) yang memiliki fungsi sebagai buah dengan bagian yang digunakan adalah daging buah. Kelapa juga dapat dimanfaatkan sebagai sayuran yaitu bagian umbutnya, serta 47 fungsi minuman terdapat pada bagian sari buahnya/air kelapa. Fungsi ganda lainnya dapat dilihat pada Tabel 23. Fungsi yang memiliki jumlah spesies terbanyak pada tumbuhan pangan hutan adalah adalah sayuran (26 spesies) (Tabel 19) yang di dalamnya terdapat sumber protein nabati. Sayuran hutan/liar ini pada umbut seperti pada umbut rotan (Calamus sp.) dan jamur (kulat) seperti kulat jap (Pleurotus sp.), kulat bulu (Lactarius delicious), kulat long balabau (Russula cyanoxantha). Jumlah spesies terbanyak kedua terdapat pada sumber energi (5 spesies) yang memiliki fungsi sebagai sumber karbohidrat bagi tubuh. Tabel 19 Macam penggunaan tumbuhan pangan hutan/liar No. 1 2 3 Fungsi Sayuran Sumber energi Buah-buahan Jumlah Jumlah (spesies) 26 5 1 32 Berikut nama-nama spesies tumbuhan pangan yang dimanfaatkan Suku Dayak Kenyah berdasarkan fungsinya (Tabel 20). Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 1. Tabel 20 Contoh Spesies tumbuhan pangan hutan/liar berdasarkan fungsi pangan No. 1 2 3 Fungsi Sayuran Sumber energi Buah-buahan Spesies Kulat long (Amanita sp.), uwai pait (Calamus sp.), nyi'bung (Oncosperma horridum), paku pait (Athyrium sozongonense), kulat jap (Pleurotus sp.), bambu betung (Dendrocalamus asper), nyanding (Etlingera elatior) Lundai 1 (Colocasia gigantea), lundai 2 (Xanthosoma sp.), eman (Caryota mitis), nanga (Eugeissona utilis), sagu (Metroxylon sp.) Birai (Salacca affinis var.borneensis) Berdasarkan Tabel 21, fungsi tumbuhan pangan budidaya berasal dari hutan yang memiliki jumlah spesies paling banyak yaitu pada buah-buahan (36 spesies) yang merupakan sumber vitamin dan mineral bagi tubuh. Selanjutnya terdapat bumbu (8 spesies) dan sayuran yang hanya memiliki dua spesies 48 Tabel 21 Macam penggunaan tumbuhan pangan budidaya yang berasal dari hutan No. 1 2 3 Fungsi Buah-buahan Bumbu Sayuran Jumlah Jumlah (spesies) 36 8 2 46 Berikut merupakan nama-nama spesies tumbuhan pangan budidaya yang berasal dari hutan berdasarkan fungsinya sesuai jumlah spesies yang ditemukan pada Tabel 21 (Tabel 22). Untuk lebih lengkapnya, spesies tumbuhan pangan budidaya dapat dilihat pada Lampiran 2. Tabel 22 Contoh spesies tumbuhan pangan budidaya yang berasal dari hutan berdasarkan fungsi No. 1 Fungsi Buahbuahan 2 Bumbu 3 Sayuran Spesies Kelamu' (Dacryodes rostrata), adiu (Garcinia forbesii), keleppeso (Baccaurea lanceolata), langsat (Lancium domesticum), mejalin (Xanthophyllum obscurum), mata kucing (Dimocarpus longan), maritam (Nephelium ramboutan-ake) Salap (Sumbaviopsis albicans), belengla (Litsea cubeba), bekkai lema (Pycnarrhena cauliflora) Keten (Poikilospermus suaveolens), petai hutan (Parkia speciosa) Berikut terdapat macam penggunaan tumbuhan budidaya non hutan sesuai fungsinya. Pada Tabel 23 jumlah spesies terbanyak terdapat pada fungsi sayuran (19 spesies), selanjutnya terdapat bumbu (16 spesies) dan buah-buah (14 spesies). Tabel 23 Macam penggunaan tumbuhan pangan budidaya bukan berasal dari hutan No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Fungsi Sayuran Buah-buahan Minuman Bumbu Sumber energi Bahan pangan lanjutan Buah-buahan, sayuran, minuman Sumber energi, sayuran Sumber energi,sayuran,minuman Bumbu,sayur Jumlah Jumlah (spesies) 19 14 2 16 1 1 2 3 2 1 61 Berdasarkan jumlah spesies pada Tabel 23, berikut contoh tumbuhan pangan yang dibudidayakan bukan berasal dari hutan berdasarkan fungsinya 49 terdapat pada Tabel 24. Spesies tumbuhan lainnya secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 3. Tabel 24 Contoh spesies tumbuhan pangan budidaya bukan berasal dari hutan berdasarkan fungsi No. 1 Fungsi Sayuran 2 Buah-buahan 3 4 Minuman Bumbu 5 6 7 Sumber energi Bahan pangan lanjutan Buah-buahan, sayuran, minuman Sumber energi, sayuran 8 9 10 Sumber energi,sayuran,minuman Bumbu,sayur Spesies Bayam (Amaranthus spinosus), pinang (Areca catechu), pare (Momordica charantia), kacang merah (Vigna angularis), kacang panjang (Vigna sinensis), bambu kuning (Bambusa vulgaris), terong (Solanum melongena) Nanas (Ananas comosus), pepaya (Carica papaya), jambu bol (Syzygium malaccense) Kacang hijau (Phaseolus aureus), kopi (Coffea robusta) Kayu manis (Cinnamomum burmanii), bawang merah (Allium cepa), bawang rambut (Allium tuberosum), salam (Syzygium polyanthum), pandan wangi (Pandanus amaryllifolius), lada (Piper nigrum), sereh (Andropogon nardus), lombok (Capsicum frutescens), tomat (Solanum lycopersicum), olem (Solanum torvum) Padi (Oryza sativa) Kakao (Theobroma cacao) Kelapa (Cocos nucifera ), peti' (Musa spp.) Ubi jalar (Ipomea batatas), labu kuning (Cucurbita moschata), labu putih (Lagenaria leucantha) Singkong 1 (Manihot utilissima), jagung (Zea mays) Lia lamut (Alpinia galanga) 5.2.6.1 Sumber karbohidrat Karbohidrat memegang peranan penting karena merupakan sumber energi utama bagi tubuh. Semua karbohidrat berasal dari tumbuhan (Almatsier 2006). Beberapa spesies tumbuhan yang memiliki sumber karbohidrat baik dari hutan maupun yang telah dibudidaya antara lain: keladi upa’ nyak (Colocassia esculenta), singkong (Manihot utilissima) (Gambar 16), ubi kayu (Ipomea batatas), nanga (Eugeissona utilis), dan sagu (Metroxylon sp.) (Lampiran 1 dan Lampiran 3). 50 Gambar 16 Singkong (Manihot utilissima). 5.2.6.2 Sumber protein nabati Protein berasal dari kata proteos yang berarti “yang utama” atau “yang didahulukan”. Kata ini diperkenalkan oleh Gerardus Mulder (1802-1880) dan didefinisikan sebagai zat yang paling penting dalam setiap organisme. Protein adalah bagian dari semua sel hidup dan merupakan bagian terbesar tubuh setelah air. Protein memiliki fungsi khas yang tidak dapat digantikan oleh zat gizi lain yaitu membangun serta memelihara sel-sel dari jaringan tubuh (Almatsier 2006). Berdasarkan definisi tersebut, Suku Dayak Kenyah memenuhi kebutuhan protein nabati yang sangat penting bagi tubuh itu dengan menanam berbagai spesies sayuran dan kacang-kacangan seperti daun singkong (Manihot utilissima dan Manihot esculenta) (Gambar 17a) , daun ubi jalar (Ipomea batatas), kacang tanah (Arachis hypogea), kedelai (Glycin max), kacang hijau (Phaseolus aureus), kacang merah (Vigna angularis), kacang panjang (Vigna sinensies) (Gambar 17b), dan beberapa spesies lainnya (Lampiran 3). Selain spesies tumbuhan yang dibudidayakan, terdapat pula sayuran mengandung protein nabati yang berasal dari hutan, diantaranya spesies jamurjamuran, rotan-rotanan, talas-talasan, dan spesies lainnya (Lampiran 1). 51 (a) (b) Gambar 17 Tumbuhan pangan sumber protein nabati: (a) Singkong (Manihot esculenta); (b) Kacang panjang (Vigna sinensis). 5.2.6.3 Sumber vitamin dan mineral Menurut Almatsier (2006), vitamin merupakan zat-zat organik kompleks yang dibutuhkan dalam jumlah yang sangat kecil dan tidak dapat dibentuk oleh tubuh. Oleh sebab itu vitamin diperoleh dari makanan yang dikonsumsi dalam tubuh. Ada beberapa jenis vitamin, diantaranya adalah vitamin A, B1, B2, B6, B12, C, D, E, K. Vitamin tersebut dapat diperoleh dari sayuran hijau, kacangkacangan/biji-bijian, dan buah-buahan yang terdapat dalam Lampiran 1, 2, dan 3. Selain vitamin, zat lain yang dibutuhkan tubuh dari tumbuhan pangan yaitu mineral. Mineral ada dua macam, yaitu mineral makro dan mineral mikro (Almatsier 2006). Mineral makro diperoleh dari air, sedangkan mineral mikro diperoleh dari zat seperti zat besi, seng, iodium, mangan, dan sebagainya. Mineral merupakan bagian dari tubuh yang memegang peranan penting dalam pemeliharaan fungsi tubuh (Almatsier 2006). Vitamin dan mineral ini tentunya dapat diperoleh dari berbagai jenis buah-buahan, sayuran hijau, kacang-kacangan, dan jenis lainnya yang dapat diperoleh Suku Dayak Kenyah dari hutan atau yang telah dibudidaya (Gambar 18). 52 Fungsi tumbuhan pangan Sumber karbohidrat (makanan pokok Suku Dayak Kenyah) Protein nabati Vitamin dan mineral Padi, jagung, keladikeladian, umbi, sagu Kacangkacangan Sayuran dan buah-buahan Gambar 18 Hierarki bagan fungsi tumbuhan pangan bagi Suku Dayak Kenyah. 5.2.7 Pola konsumsi Masyarakat Suku Dayak Kenyah Desa Long Alango memiliki pola konsumsi yang teratur. Setiap pagi, siang, hingga malam mereka selalu memenuhi kebutuhan pangannya. Setiap harinya mereka teratur memenuhi kebutuhan pangan dengan makan tiga kali sehari. Setiap pagi sebelum pergi ke ladang, mereka selalu menyempatkan diri untuk sarapan. Siang hari pun apabila terpaksa tidak dapat pulang untuk makan siang, mereka selalu membawa bekal makanan yang dibawa dengan menggunakan ki’ba yang terbuat dari uwai semule (Daemonorops periacantha). Nasinya pun dibungkus dengan menggunakan daun dalui (Halopegia blumei) (Lampiran 5). Setelah pulang dari ladang pada sore hari, kemudian pada malam harinya Suku Dayak Kenyah makan bersama keluarga di rumah. 5.2.8 Tipe habitat Berdasarkan persentase budidayanya 107 spesies tumbuhan pangan budidaya dari keseluruhan 139 spesies tumbuhan pangan, dapat dihitung dengan membagi jumlah spesies budidaya dengan jumlah seluruh spesies sehingga diperoleh 76,97%. Hal ini menunjukkan bahwa Suku Dayak Kenyah TNKM memiliki budaya membudidayakan tumbuhan hutan yang tinggi. Upaya 53 pembudidayaan tersebut tergolong upaya pelestarian agar keberadaan spesies tumbuhan pangan tetap terjaga. Tumbuhan dari hutan ataupun dari luar daerah mudah untuk dibudidayakan di lokasi pengamatan ini karena lahan yang dimiliki masyarakat masih tergolong subur. Berdasarkan tipe habitatnya, kebun dan hutan merupakan tipe habitat terbesar (33%) yang terdapat di Desa Long Alango. Hal ini menunjukkan bahwa Suku Dayak Kenyah yang tinggal di Desa Long Alango senang menanam bibit dari hutan di kebunnya. Budaya membudidayakan tumbuhan pangan yang berasal dari hutan ini diwariskan secara turun temurun. Nenek moyang Suku Dayak Kenyah mengajarkan keturunannya agar dapat hidup mandiri sekaligus melestrikan sumberdaya hutan yang dimiliki agar dapat menikmatinya dengan lebih mudah tanpa harus memperoleh langsung dari hutan. Sebagian besar tumbuhan dari hutan yang ditanam di kebun adalah buah-buahan. Tipe habitat pematang sawah 16% 1% sawah 6% ladang dan jekkau kebun 15% 33% kebun dan hutan 23% hutan/liar 0% 10% 20% 30% 40% Persentase Gambar 19 Persentase tipe habitat tumbuhan pangan. Tipe habitat terbesar kedua adalah hutan/liar (23%). Hal ini menunjukkan bahwa hutan masih merupakan habitat utama tumbuhan pangan karena persentasenya hanya berbeda tipis dengan habitat kebun dan hutan. Habitat kebun dan hutan ini bibitnya pun berasal dari hutan. Dengan demikian hutan masih merupakan habitat yang paling baik bagi tumbuhan pangan. Tipe habitat lain selanjutnya diikuti pematang sawah (16%) dengan berbagai sayuran yang di tanam di pematang sawah untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral Suku 54 Dayak Kenyah, kemudian kebun (15%) yang ditanami tanaman perkebunan, ladang dan jekkau (6%) dengan tanaman keras dan selingan, serta sawah (1%) yang hanya terdapat 1 spesies yaitu padi dengan bermacam varietas yang dimiliki Suku Dayak Kenyah (Gambar 19). 5.3 Pola Hidup Masyarakat Dayak Kenyah Desa long Alango 5.3.1 Berburu Masyarakat Dayak Kenyah memiliki kebiasaan berburu karena kegiatan berburu merupakan suatu kebutuhan bagi mereka. Tujuan utama berburu adalah untuk memenuhi kebutuhan protein hewani yang berasal dari hasil buruan (Billa 2005). Kegiatan berburu ini telah dilakukan secara turun temurun. Berburu merupakan kegiatan penting dalam pemenuhan kebutuhan untuk bertahan hidup (Hladik et al 1993). Berburu juga merupakan salah satu kegiatan yang penting dan merupakan bentuk penyesuaian diri manusia terhadap sumberdaya alam (Moran 1982). Orang tua mulai mengajarkan teknik berburu kepada anaknya sejak anaknya berusia sekitar 15 tahun. Berburu ada dua macam, yaitu berburu yang dilakukan secara tradisional dan berburu secara modern. Berburu secara tradisional adalah berburu yang dilakukan dengan teknik dan alat yang masih tradisional, yaitu sumpit dan bujak. Teknik berburu tradisional ini dengan memanfatkan anjing peliharaannya untuk menemukan target buruan dengan cara membiarkan anjing masuk hutan dan setelah anjing ini menemukan target buru maka anjing ini akan menggonggong, sehingga dapat dilakukan langkah berikutnya yaitu menembak target dengan alat yang bernama sumpit. Sumpit adalah alat tradisional yang berbentuk seperti tombak tetapi terdapat lubang kecil di tongkatnya (Gambar 20a, 20b). Lubang ini berfungsi sebagai tempat peluru tradisional yang dibuat dari bola-bola kecil tanah liat ataupun anak sumpit yang mengandung racun dan apabila ditembakkan ke target, maka binatang ini akan pingsan bahkan mati. Racun yang digunakan berasal dari getah tumbuhan bernama salo’ (Antiaris toxicaria) (Gambar 20c). Cara menembakkan peluru ini yaitu dengan meniup peluru yang ada di dalam lubang yang diarahkan pada sasaran/target. 55 (a) (b) (c) Gambar 20 Senjata berburu tradisional: (a) Badan tombak dan anak sumpit; (b) Ujung tombak; (c) Racun sumpit (getah salo’) Bujak adalah alat tradisional berburu yang berbentuk dan berfungsi seperti tombak. Berbeda dengan sumpit, bujak ini tidak memiliki lubang untuk peluru karena penggunaannya pun seperti tombak dengan cara menancapkan mata pisau ke tubuh target buruan. Berburu dengan bujak ini juga dapat dibantu dengan memanfaatkan anjing peliharaan untuk mencari dan menemukan target buruan. Target buruan umumnya adalah babi berjenggot/babui (Sus barbatus), akan tetapi apabila mereka tidak menemukan babi berjenggot, maka satwa apapun yang ditemukan dalam hutan mereka tangkap seperti payau (Cervus unicolor), pelanduk kancil (Tragulus javanicus), dan spesies satwa lainnya (Lampiran 6). Berburu bukan merupakan kegiatan prioritas yang dilakukan oleh Suku Dayak Kenyah Desa Long Alango karena kegiatan utama mereka adalah berladang di gunung dan bertani di sawah. Warga desa memenuhi kebutuhan pangan mereka melalui hasil pertaniannya karena bagi mereka makan yang penting terdapat nasi dan pelengkapnya, yaitu sayuran. Hasil dari buruan dimanfaatkan sebagai pelengkap makan, apabila makan tanpa lauk-pauk bagi 56 mereka tidak masalah. Hasil buruan ini biasanya dimanfaatkan untuk konsumsi sendiri tetapi ada yang sebagian dijual baik dalam desa maupun di luar desa. Hasil buruan dijual dengan harga Rp 15.000,00 per kilogram (Gambar 21). (a) (b) Gambar 21 Penjualan hasil buruan: (a) Pengangkutan hasil buruan; (b) Penimbangan daging yang dijual Kegiatan berburu biasanya dilakukan perorangan dan kelompok. Apabila perburuan ini dilakukan secara berkelompok maka hasil buruan yang didapat dibagi rata. Kegiatan berburu ini ada yang dilakukan dari pagi hingga malam (dalam satu hari) dan ada juga yang menginap di dalam hutan. Apabila perburuan dilakukan secara menginap maka pemburu biasanya membawa bekal dari rumah. Bekal ini berupa nasi bungkus dengan sayur yang dibuat dari rumah oleh ibu atau istri pemburu karena pemburu kebanyakan berjenis kelamin laki-laki. Apabila bekal yang dibawa tidak cukup, maka pemburu mencari bahan pangan dari dalam hutan yang siap makan tanpa diolah. Apabila berburu dilakukan pada musim buah, maka bahan pangan hutan yang dapat dimakan langsung adalah spesies buah-buahan seperti maritam (Nephelium ramboutan-ake), langsat (Lansium domesticum), durian (Durio sp.), manggis hutan (Garcinia bancana), mejalin (Xanthophyllum obscurum), mejalin batu (Xanthophyllum exelsa), dan spesies lainnya. Akan tetapi, apabila kegiatan berburu dilakukan tidak pada musim buah, maka bahan pangan hutan yang berasal dari tumbuhan yang dapat dimanfaatkan adalah umbut. Beberapa spesies tumbuhan yang dapat dimakan umbutnya antara lain : iti’ (Etlingera sp.), nyandiang (Etlingera elatior), talang (Arenga undulatifolia), (Oncosperma horridum), uwai tana’ (Calamus sp.) (Lampiran 1). nyi’bung 57 5.3.2 Berladang Sejak zaman dahulu, secara turun temurun masyarakat Suku Dayak memiliki budaya berladang. Bagi mereka, berladang bukanlah hanya sekedar aktivitas sehari-hari, melainkan berladang dapat membentuk suatu peradaban orang Dayak (Pilin dan Petebang 1999). Telah lama Suku Dayak terutama Dayak Kenyah memanfaatkan lahan hutan untuk kegiatan berladang. Sistem perladangan mereka adalah sistem hilir balik. Perladangan hilir balik maksudnya dalam kisaran waktu lima tahun dilakukan perladangan berpindah dari lokasi satu ke lokasi lain tiap tahunnya. Pada tahun ke lima peladang kembali lagi ke lokasi pertama, begitu seterusnya karena bagi mereka satu tahun pada lokasi yang sama tanah akan mengalami perubahan dan dirasa sudah tidak subur sehingga mereka mencari lokasi lain yang tanahnya lebih subur. Pardosi et al. (2005) menyebutkan bahwa pola perladangan berpindah di Kalimantan Timur pada mulanya menggunakan ladang pertama selama 1-2 tahun, kemudian peladang berpindah ke ladang berikutnya, begitu seterusnya hingga menuju ladang ke lima atau enam. Akan tetapi, peladang kembali ke ladang pertamanya setelah masa bera 4-6 tahun. Menurut Alamsyah (2010) diacu dalam Mukti (2010), pola yang digunakan pada masyarakat Dayak pada umumnya adalah pola berladang hilir balik yaitu bila suatu areal telah dibuka dan dimanfaatkan masyarakat untuk ladangnya, maka setelah itu lahan akan ditinggal beberapa waktu untuk membuka lahan baru. Kemudian setelah ladang pertama subur kembali, masyarakat akan kembali lagi untuk berkebun pada lahan tersebut. Lokasi yang dipilih untuk kegiatan perladangan biasanya hutan primer karena hutan primer menunjukkan ciri-ciri tanah yang sangat subur terbukti dengan adanya tumbuhan yang tumbuh secara subur selama bertahun-tahun dan hampir tidak ditemukan adanya tumbuhan bawah. Selain hutan primer yang dimanfaatkan untuk membuka lahan, hutan sekunder pun dapat dijadikan lokasi perladangan. Lahan yang dimanfaatkan sebagai areal perladangan biasanya adalah lahan bekas tebangan atau lahan bekas kegiatan perladangan lama (jekkau). Selama membuka lahan baru atau berpindah ke lokasi lain, lahan yang ditinggalkan biasanya ditanami tanaman keras seperti pohon buah-buahan, selain itu juga dapat ditanami tanaman semusim seperti pepaya (Carica papaya), pisang 58 (Musa sp.), singkong (Manihot utilissima), tebu (Saccharum officinarum), dan spesies tanaman semusim lainnya. Hal ini dilakukan agar mengembalikan kesuburan tanah yang ditinggalkan agar tetap produktif dan bermanfaat, juga sebagai pertanda kepemilikan tanah. Menurut Pardosi et al. (2005), tujuan menanam tanaman keras seperti durian, kemiri, mangga di ladang yang ditinggalkan adalah: (1) sebagai pertanda ladang tersebut terdapat pemiliknya, (2) sebagai sumber penghasilan/jaminan hari tua, (3) sebagai sarana memelihara kesuburan tanah. Ladang biasanya ditanam berbagai varietas padi gunung sebagai tanaman utamanya. Suku Dayak Kenyah telah bertahun-tahun memiliki berbagai macam varietas bibit padi yang secara turun temurun diwariskan. Bibit padi tersebut ada yang lokal ada juga yang datang dari luar daerah. Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan langsung di lapangan, terdapat 34 spesies padi ladang. Spesies tersebut diantaranya pa’dai membat, pa’dai kelawit, pa’dai nyu, pa’dai ble’en, pa’dai temai ladang, pa’dai nyelong, dan spesies padi lainnya (Lampiran 4). 5.3.2.1 Persiapan lahan Dalam kegiatan perladangan, tidak terlepas dari pola persiapan lahan, penanaman, perawatan, hingga kegiatan pemanenan. Pada proses persiapan lahan, hal yang dilakukan pertama kali adalah pemilihan lokasi perladangan, sebelumnya dilakukan musyawarah dalam penentuan lokasi ini agar nantinya tidak tumpang tindih dalam penentuan kepemilikan lahan. Musyawarah ini dipimpin oleh Kepala adat agar lebih jelas dan adil dalam menentukan batas-batas perladangan dan areal yang dilarang untuk dijadikan lahan perladangan. Menurut Pilin dan Petebang (1999), sebelum menentukan lokasi ladang, terlebih dahulu melakukan musyawarah antar pemilik areal di sekitar ladang. Hal ini bertujuan untuk pemberitahuan dan ijin penggunaan lahan. Apabila hasil musyawarah menyebutkan bahwa terdapat suatu areal tertentu yang tidak boleh dijadikan lahan perladangan, maka yang bersangkutan akan mendapatkan larangan ataupun saran dari pihak yang berbatasan dengan wilayah paling dekat. Setelah musyawarah, hal yang selanjutnya dilakukan adalah penebasan. Sebelum melakukan penebasan biasanya terdapat kepercayaan atau mitos-mitos mengenai aturan penebasan, seperti terdapat pada masyarakat Apau Ping yaitu dengan mengamati garis 59 bayangan matahari dengan pengamatan bentuk bulan. Pengamatan dilakukan dengan mendirikan tonggak kayu permanen yang diletakkan di suatu tempat. Selanjutnya, melihat pergeseran serta mengukur panjang bayangan matahari pada tonggak tersebut. Pengamatan ini digunakan dalam menentukan hari baik dalam perladangan (Sindju 1999). Suku Dayak Kenyah memiliki kepercayaan dalam kegiatan perladangan yaitu jika bertemu dengan burung isit (Arachnothera longirostra) (Gambar 22), lihat arah terbang burung tersebut. Jika isit terbang ke arah kiri maka bukan waktu atau hari yang tepat untuk pergi berladang karena bagi mereka hal tersebut merupakan pertanda buruk sehingga peladang lebih memilih untuk kembali ke rumah daripada mendapatkan kesialan. Akan tetapi hal tersebut sudah tidak dipercaya oleh masyarakat karena dianggap sudah tidak logis seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan masuknya ajaran agama di desa tersebut. Gambar 22 Burung isit (Arachnothera longirostra) (sumber: www.birdsisaw.com). 5.3.2.2 Penebasan Kegiatan yang dilakukan setelah persiapan lahan adalah penebasan. Penebasan harus dilakukan bersama-sama atau dengan cara gotong royong. Budaya ini dilakukan sejak turun temurun agar tetap terjalin sikap kekeluargaaan antar warga desa. Penebasan dilakukan setidaknya berjumlah tiga KK dalam setiap anak sungai. Pemilihan lahan untuk dijadikan ladang pun dipertimbangkan dengan prinsip konservasi. Lahan yang dipilih biasanya dekat dengan sungai karena selain aksesnya mudah juga tidak terlalu ke inti hutan sehingga tidak 60 merusak hutan. Kegiatan menebas adalah menyiangi bawah lahan untuk dijadikan ladang dengan menggunakan parang. waktu memulai kegiatan ini bergantung pada jenis hutan yang terdapat di lahan yang dipilih. Kegiatan menebas biasanya dilakukan di bulan ke-5 atau bulan Mei agar waktunya cukup dalam pengeringan rumput dan ranting-ranting sisa tebasan (Sindju 1999), sehingga tidak bertepatan pada musim hujan yang menghambat proses pembakaran. 5.3.2.3 Penebangan, pembakaran (pembersihan lahan), dan penanaman Kegiatan yang dilakukan selanjutnya adalah penebangan. Penebangan dilakukan dengan menggunakan alat yang lebih berat dibanding penebasan. Untuk pohon-pohon kecil, alat yang digunakan adalah parang, kapak, dan gergaji sederhana. Untuk pohon yang keliling batangnya besar dan tidak memungkinkan jika hanya menggunakan alat sederhana, dapat menggunakan chainsaw. Kayu potongan sisa hasil penebangan ini dapat dimanfaatkan sebagai kayu api untuk keperluan memasak di rumah. Kegiatan selanjutnya adalah pembakaran sampah organik hasil penebasan dan penebangan. Dalam proses pembakaran ini dilakukan pengawasan yang intensif dan pembuatan sekat bakar alami agar pembakaran masih dapat dikontrol. Dalam proses pembakaran, dilakukan perkiraan arah angin dan cuaca agar angin yang bertiup tidak mengganggu atau bahkan menimbulkan api yang sangat besar. Sisa pembakaran nantinya akan dijadikan pupuk alami bagi tanaman yang ada di ladang tersebut. Setelah lahan siap untuk dijadikan ladang, selanjutnya dilakukan proses penugalan, yaitu pembuatan lubang untuk menanam benih padi dengan alat penugal (Gambar 23a, 23b). (a) (b) Gambar 23 Penugalan: (a) Alat penugalan; (b) Proses penugalan 61 Kegiatan ini juga sering dilakukan warga untuk menugal sawah. Setelah penugalan dilanjutkan dengan menanam benih padi dengan cara memasukkan beberapa benih padi ke dalam lubang (Gambar 24a). Setelah penugalan, kegiatan yang dilakukan sambil menunggu padi yang ditanam tumbuh adalah berkebun. Setelah padi tumbuh, biasanya tumbuh pula gulma atau tumbuhan pengganggu yang menghalangi tumbuhan tanaman utama (padi), sehingga dilakukan perawatan yaitu dengan membersihkan lahan dengan cara tradisional yaitu mencabuti rumput dan memotongnya dengan parang. perawatan lain yang dilakukan adalah menyemprot padi dengan herbisida. Suku Dayak Kenyah ada yang masih menggunakan herbisida alami yaitu dari air tuba (Derris montana) dan ada yang menggunakan herbisida kimia. (a) (b) Gambar 24 Penanaman benih padi: (a) Memasukkan benih pada lubang; (b) Benih padi dalam lubang. 5.3.2.4 Pemanenan Kegiatan terakhir dari serangkaian pola perladangan Dayak Kenyah Desa Long Alango ini adalah pemanenan. Pemanenan dilakukan dengan mengambil padi yang sudah isi (masak) dengan alat semacam ani-ani. Selanjutnya padi yang terkumpul dimasukkan ke dalam ingen, kemudian dikumpulkan pada alat penggiling tradisional yang cara pemisahan tangkai padi dengan bijinya yaitu dengan cara diinjak-injak dan digeser-geser oleh alas kaki. Setelah biji gabah terkumpul kemudian di jemur di bawah sinar matahari. Setelah kering dilakukan pembersihan gabah (seleksi) dengan menggunakan tampi. Setelah itu baru 62 dibersihkan dengan kipas sehingga terpisah antara gabah yang berisi dengan gabah yang kosong. Setelah semua dilakukan kemudian dikumpulkan jadi satu dan dimasukkan dalam karung untuk proses pengilingan dengan mesin. Penyimpanan beras/padi di dalam lumbung dan masing-masing KK memiliki satu atau lebih lumbung yang letaknya dijadikan satu dengan lumbung-lumbung milik keluarga yang lain. Gambar 25 Proses pemanenan dari mengambil padi dengan ani-ani hingga penggilingan dengan mesin. 5.3.3 Bertani dan berkebun Masyarakat Long Alango selain memiliki ladang juga memiliki sawah. Sawah biasanya terletak di dekat rumah dan spesies padi yang ditanam memerlukan banyak air (irigasi), sedangkan ladang biasanya terletak di gunung dan spesies padi yang ditanam tidak membutuhkan banyak air. Sawah dibuat dengan pengairan melalui Sungai Alango. Berdasarkan Uluk et al. (2001), penggarapan sawah bergantung pada ketersediaan air. Berbeda dengan sistem 63 perladangan, sawah merupakan pola perkembangan baru. Sekitar tahun 1925-an, Kepala Adat Besar Hulu Bahau saat itu, Apuy Njau, setelah pulang dari tanah jawa mengajarkan cara membuat sawah kepada warganya di Hulu Bahau. Sehingga budaya itu pun hingga sekarang terus dilakukan secara turun temurun untuk memenuhi kebutuhan hidup. Walaupun zaman sekarang adanya sawah mempermudah pengerjaan dalam bidang pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan, tetapi masyarakat masih melakukan kegiatan perladangan sesuai budaya mereka sesuai tradisi yang diajarkan nenek moyang. Hal ini karena bagi orang Kenyah, semakin giat bekerja, kebutuhan akan pangan pun terjamin, apalagi dengan adanya sistem baru dalam pertanian, hal ini akan memperkaya spesies ataupun varietas padi yang berbeda dari padi gunung dan padi sawah. Oleh sebab itu musim paceklik dan krisis pangan tidak akan terjadi seperti zaman dulu karena setiap KK memiliki simpanan beras di lumbung yang tidak akan habis. Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan langsung di lapangan untuk pemanfaatan tanah agar tetap produktif, mereka menanam sayuran seperti sawi hijau (Brassica rapa var. parachinensis), bayam (Amaranthus spinosus), buncis (Phaseolus vulgaris), kacang-kacangan di pematang sawah. Sedangkan untuk tanaman selingan selama panen selesai lahan ditanami singkong (Manihot utilissima), jagung (Zea mays), labu-labuan, dan spesies tanaman palawija yang lain. Selain menggarap sawah, masyarakat Dayak Kenyah dalam mengisi waktunya membuat kebun selama masa panen selesai. Kebun tersebut biasanya ditanami tanaman perkebunan seperti kakao (Theobroma cacao), kopi (Coffea robusta), buah-buahan, lada (Piper nigrum), tebu (Saccharum officinarum), dan kadang ada yang juga menanam tanaman yang dapat dijadikan bumbu seperti sereh (Cymbopogon nardus), kunyit (Curcuma domestica), jahe (Zingiber officinale), dan sebagainya (Lampiran 3). Bibit tanaman yang berasal dari hutan telah banyak dibudidaya secara turun temurun, akan tetapi ada juga bibit tanaman yang berasal dari pemerintah. Bibit buah-buahan yang ditanam di kebun berasal dari luar daerah seperti rambutan (Nephelium lappaceum), sirsak (Annona muricata), nangka (Artocarpus heterophyllus), dan spesies lainnya (Lampiran 3). 64 Bibit buah-buahan lokal yang berasal dari hutan antara lain maritam (Nephelium ramboutan-ake), mata kucing (Dimocarpus longan), durian kelasi (Durio graveolens), mejalin (Xanthophyllum obscurum), dan spesies lainnya (Lampiran 2). Selain buah-buahan, masyarakat juga menanam spesies tanaman bumbu yang bibitnya juga berasal dari hutan seperti bekkai lema (Pycnarrhea cauliflora), belengla (Litsea cubeba), payang kure’ (Aleuritas moluccana), salap (Sumbaviopsis albican), dan spesies lainnya (Lampiran 2). 5.3.4 Sumber pendapatan lain masyarakat Selain untuk kegiatan budidaya tumbuhan oleh Dayak Kenyah, mereka juga memanfaatkan hasil hutan sebagai sumber pendapatan tambahan. Orang Dayak Kenyah memang menggantungkan hidupnya pada hutan sejak mereka lahir. Sumber pendapatn yang dapat diperoleh langsung dari hutan antara lain mengambil resin gaharu (Aquilaria spp.). Resin gaharu apabila dijual akan menghasilkan pendapatan yang sangat besar, apalagi jika resin yang diambil berkualitas. Uluk et al. (2001) menyebutkan bahwa gaharu digunakan sebagai bahan aromatik yang biasanya dijual hingga ke luar negeri. Selain gaharu, sumber pendapatan lainnya adalah adanya program “Gerbangdema” yang dapat membuat warga desa semakin produktif, contohnya penjualan hasil kebun seperti kopi (Rp 10.000,- per kg biji), kakao (Rp 10.000,- per kg biji), bekkai (Rp 10.000,- per bungkus), nanas (Rp 10.000,- per buah). Penghasilan lain yang mereka lakukan di luar program pemerintah adalah penjualan ciu yaitu minuman beralkohol yang berasal dari penyulingan air tape fermentasi, penjualan hasil tanaman seperti sayur Rp 2.000,- per ikat, benih padi, daging hasil buruan, penjualan kayu bakar antar warga, penjualan buah, kerajinan seperti belanyat, ki’ba, ingen, anyaman, tikar, saung, dan sebagainya. 5.4 Kearifan Tradisional Suku Dayak Kenyah 5.4.1 Tumbuhan pangan Kearifan tradisional menurut Keraf (2005) adalah segala bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman, atau wawasan, serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia di dalam komunitas ekologis. Kearifan 65 tradisional sendiri merupakan suatu cara suatu suku bangsa/masyarakat lokal dalam pengelolaan sumberdaya alam dengan arif/bijaksana. Suku Dayak Kenyah memanfaatkan tumbuhan pangan yang dari hutan dengan aturan adat yang dimiliki. Sebagai contoh, dalam memanfaatkan buah dari alam, mereka hanya diperbolehkan mengambil buahnya saja tanpa menebang pohonnya walaupun buah tersebut sulit untuk dijangkau. Akan tetapi jika Suku Dayak Kenyah ingin membudidayakan tumbuhan pangan hutan di kebunnya, mereka diperbolehkan mengambil semai tumbuhan tersebut beserta tanahnya untuk ditanam. Hal ini dilakukan agar pemanfaatannya berkelanjutan dan keanekaragaman tumbuhan pangan yang ada tetap lestari di alamnya. Contoh lain Suku Dayak Kenyah dalam pemanfaatan tumbuhan pangan sebagai wujud kearifan tradisional antara lain: pemanfaatan tumbuhan pangan hutan saat berburu, budaya berladang, bersawah, berkebun secara turun temurun, dan pengelolaan tumbuhan pangan. 5.4.1.1 Tumbuhan pangan hutan yang sudah dibudidaya Berdasarkan hasil pengamatan, ditemukan bahwa pemanfaatan tumbuhan pangan tidak hanya dari hutan saja ataupun yang budidaya saja, tetapi adapun beberapa tumbuhan hutan yang disemaikan di kebun. Tumbuhan tersebut mayoritas adalah buah-buahan karena bagi Suku Dayak Kenyah buah-buahan di TNKM sangat beraneka dan melimpah, sehingga pada saat ingin menikmatinya tidak perlu lagi memperolehnya langsung dari hutan. Selain buah-buahan juga ada beberapa spesies yang dimanfaatkan sebagai sayur-sayuran dan bumbu-bumbuan. Beberapa spesies tumbuhan tersebut antara lain payang aka (Trichosanthes sp.), payang kure’ (Aleuritas moluccana), salap (Sumbaviopsis albicans) yang digunakan sebagai terasi dayak, bekkai lema (Pycnarrhena cauliflora), bekkai lanya (Coscinium miosepalum) yang digunakan sebagai penyedap rasa alami, keten (Poikilospermus suaveolens) yang digunakan sebagai sayuran (Lampiran 2). 66 (a) (b) Gambar 26 Tumbuhan pangan hutan yang dibudidaya: (a) Payang aka; (b) Salap. 5.4.1.2 Pemanfaatan tumbuhan pangan hutan saat berburu Kearifan lokal yang dimiliki Suku Dayak Kenyah lainnya yaitu berburu. Dalam berburu, Suku Dayak Kenyah tidak membunuh binatang sebanyakbanyaknya untuk dimakan. Mereka biasanya melakukan perburuan satu sampai tiga kali seminggu dan motivasi berburu ini semata-mata hanya untuk memenuhi kebutuhan protein dan lemak hewani saja (Hastiti 2011). Kegiatan berburu ini dilakukan dalam satu hari atau bahkan lebih dari sehari sehingga perlu menginap di hutan. Jika berburu dilakukan dalam waktu sehari dan tidak menginap, maka biasanya Suku Dayak Kenyah membawa bekal makanan dari rumah. Akan tetapi jika persediaan makan habis atau bahkan kegiatan berburu dilakukan menginap di hutan, maka biasanya Suku Dayak Kenyah memanfaatkan tumbuhan rotanrotanan untuk diambil bagian umbutnya. Tidak semua rotan dapat dimakan umbutnya. Beberapa spesies rotan yang dapat dimakan umbutnya yaitu Calamus ornatus, Calamus sp. dengan nama lokal uwai balamata, uwai tebungen, uwai pa’it, uwai tana’ (Lampiran 1). Uwai balamata memiliki arti bala yaitu merah, spesies rotan ini berwarna merah sedangkan uwai pa’it artinya rotan yang memiliki rasa pahit, namun begitu bagi mereka rasa pahit ini justru lezat. Dahulu, Suku Dayak dalam mengambil spesies rotan-rotanan terdapat ritual tertentu akan tetapi seiring berjalannya waktu dengan adanya penyebaran agama dengan mayoritas agama yang dianut Suku Dayak Kenyah ini adalah Kristen sehingga kepercayaan itu lama-kelamaan surut. Suku 67 Dayak Kenyah biasanya saat akan mengambil tumbuhan atau bahkan saat pertama masuk hutan pun mereka melakukan doa terlebih dahulu. Selain memanfaatkan umbut rotan, Suku Dayak Kenyah senang dengan memakan buah yang langsung diambil dari pohonnya. Spesies buah-buahan tersebut telah dijelaskan pada bab sebelumnya. Buah-buahan tersebut biasanya dapat dinikmati hanya pada musim buah. Sehingga jika mereka ingin memakan buah tanpa harus masuk hutan, mereka memiliki budaya berkebun dengan tumbuhan yang ditanam kebanyakan adalah spesies buah-buahan baik dari hutan maupun dari luar daerah. 5.4.1.3 Budaya berladang, bersawah, berkebun Budaya berladang, bersawah, dan berkebun dilakukan oleh Suku Dayak Kenyah secara turun-temurun. Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa untuk bertahan hidup, Suku Dayak Kenyah melakukan budaya berladang, bersawah, dan berkebun. Sistem perladangan Suku Dayak Kenyah memiliki kearifan lokal tersendiri. Di balik sistem hilir balik ini Suku Dayak Kenyah dapat melestarikan hutan dengan memanfaatkan lahan yang ada tanpa dengan merusaknya. Sesuai dengan tiga asas konservasi yaitu perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan sumberdaya hutan secara berkelanjutan, Suku Dayak Kenyah ini melindungi hutan dengan aturan adat yang berlaku dalam mengambil sumberdaya hutan khususnya tumbuhan pangan. Pengawetan dan pemanfaatan dapat diwujudkan dengan menanam tanaman keras saat lahan ditinggalkan, pemanfaatan pestisida alami (Derris montana), dan perladangan yang dilakukan di pinggir sungai sehingga tidak menimbulkan kerusakan pada inti hutan. Ladang biasanya ditanamai padi gunung dan beberapa tanaman selingan agar tanah tetap produktif dan persediaan pangan mereka mencukupi. Seperti yang dikatakan Lahajir (2001), bahwa perladangan padi gunung merupakan aktivitas ekonomi subsisten utama di pedalaman Kalimantan. Tanaman-tanaman yang menghasilkan bahan pangan lainnya di tanam selang-seling di antara padi. Hal ini merupakan strategi adaptasi pertanian yang mengamankan persediaan makanan berkelanjutan sepanjang tahun. 68 Budaya bersawah merupakan budaya baru setelah berladang. Menurut Uluk et al. (2001), membuat sawah merupakan pola perkembangan baru. Sejak Kepala Adat Besar Bahau Hulu, Apuy Njau, ayah dari Kepala Adat Besar Bahau Hulu sekarang (Anyie Apuy) pada zaman Belanda pulang dari Jawa kira-kira pada tahun 1925-an beliau mengajarkan cara membuat sawah di wilayah Adat Bahau Hulu sehingga perkembangannya makin banyak. Masyarakat percaya bahwa hasil padi sawah lebih baik. Sawah dapat dikerjakan lebih dari sepuluh tahun, namun beberapa orang selain memiliki sawah juga mengerjakan ladang agar padi yang dihasilkan pun makin banyak dan bervariasi. 5.4.1.4 Pengelolaan tumbuhan pangan Suku Dayak Kenyah melindungi dan mengelola hutan dengan keterampilan dan pengetahuan lokal yang dimiliki (Uluk et al. 2001). Dalam melindungi dan mengelola hutannya, Suku Dayak memiliki keterampilan tersendiri yang diajarkan turun-temurun. Orang Dayak melindungi sebagian besar hutannya untuk tempat berburu dan mencari hasil hutan lainnya, tidak semua bagian hutan ditebang untuk dibuat ladang. Pengelolaan hutan dilakukan dengan hukum adat (Uluk et al. 2001). Dalam berladang, saat membuka hutan tidak boleh sembarangan. Pembukaan hutan harus dilakukan secara musyawarah. Dalam hal pembakaran lahan untuk menggarap ladang, dilakukan dengan berlawanan arah angin agar tidak menimbulkan kebakaran hutan yang besar. Hal ini dilakukan secara tradisional dan turun temurun (Uluk et al. 2001). Dalam hal mengambil hasil hutan lainnya pun seperti bahan pangan dan bahan lainnya, diperlukan adanya upacara adat terlebih dahulu. Akan tetapi dengan adanya pengaruh agama masuk, maka kepercayaan ini pun surut. Suku Dayak Kenyah dalam mengelola hutan telah dijelaskan, akan tetapi dalam mengelola tumbuhan pangan yang dihasilkan dari budidaya kurang baik karena kebanyakan dari hasil budidaya yang dimiliki seperti dari ladang, sawah, ataupun kebun hanya dinikmati sendiri. Hal ini terjadi karena setiap KK memiliki lahannya masing-masing sehingga tidak perlu ada kegiatan jual-beli. Berbeda dengan Suku Dayak Kenyah di Desa Long Kemuat yang merupakan tetangga dari Desa Long Alango bahwa mereka sering menjual hasil panennya seperti sayur- 69 sayuran ke desa-desa terdekat untuk menambah pendapatan. Sama halnya dengan Desa Long Tebulo yang juga merupakan tetangga dari Desa Long Alango, bahwa masyarakatnya sering menjual bekkai ke desa-desa atau bahkan ke pendatang untuk menambah pendapatan karena potensi tumbuhan bekkai terbanyak di Desa Long Tebulo. Untuk pengelolaan lanjut pada tumbuhan buah-buahan juga hanya dinikmati sendiri tanpa adanya penjualan sehingga buah hanya dibiarkan matang dan busuk begitu saja. Hal ini sangat disayangkan karena potensi buah-buahan lokal di TN Kayan Mentarang sangat melimpah sehingga perlu dilakukannya pengelolaan lebih lanjut dalam jual-beli buah-buahan lokal Kalimantan. Berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapangan, Suku Dayak Kenyah menanam bermacam spesies padi dengan beragam varietas yang bertujuan untuk memperkaya spesies padi yang dimakan dan agar tidak menimbulkan kebosanan dalam memakan nasi yang ada. Berbagai spesies padi yang dipanen pun disimpan di dalam lumbung (Gambar 28). Setiap KK memiliki satu lumbung yang dapat menyimpan hingga lebih dari dua karung beras sehingga Suku Dayak Kenyah tidak kekurangan bahan pangan saat musim paceklik. Gambar 27 Lumbung padi Suku Dayak Kenyah. Beberapa spesies padi yang ditemukan dalam penelitian, terdapat spesies yang teksturnya pulen dan rasanya enak. Spesies tersebut adalah pa’dai adan merah dan pa’dai adan putih yang ditanam di sawah serta pa’dai adan hitam, 70 pa’dai adan tinggi, pa’dai adan rendah yang ditanam di ladang. Terdapat pula satu spesies padi yang unik bernama pa’dai apuy layeang. Padi ini dibawa orang dari luar daerah untuk dibudidayakan di Desa Long Alango. Oleh karena mereka tidak mengetahui nama lokal padi tersebut, maka sang pembawa padi pertama itulah yang dijadikan nama spesies tersebut (nama pembawa padi tersebut adalah “Apuy Layeang”). Padi ini hanya untuk dikonsumsi sendiri, kecuali jika terdapat pendatang yang ingin membeli beras dari masyarakat lokal, maka akan dijual produk tersebut. Hal ini sangat disayangkan karena spesies padi lokal yang ada di Kalimantan khususnya yang dibudidayakan Suku Dayak Kenyah ini berpotensi untuk dikembangkan dalam rangka ketahanan dan kedaulatan pangan tingkat nasional agar pemerintah tidak perlu lagi mengimpor beras. 5.4.1.5 Produk pangan lokal unggulan Suku Dayak Kenyah TNKM khususnya yang berada di Desa Long Alango memiliki beberapa produk lokal yang dijadikan produk unggulan. Pemerintah Kabupaten Malinau menggalakkan program “Gerbangdema” pada desa-desa yang ada di Kabupaten Malinau untuk membantu desa-desa tersebut agar lebih mandiri dan menghasilkan produk yang dapat menambah pendapatan penduduk. Produkproduk tersebut kebanyakan berasal dari hasil pertanian seperti bekkai (Gambar 29), bawang rambut (Allium tuberosum), kayu manis (Cinnamomum burmanii), dan produk lainnya untuk dijual. Produk-produk ini dapat dipamerkan pada acara “Irau” yang merupakan perayaan ulang tahun Malinau yang diadakan setiap dua tahun sekali. Setiap desa di Kabupaten Malinau memamerkan produk lokalnya untuk dijual dan biasanya pada acara itulah produk-produk mereka habis terjual karena pembelinya bermacam-macam mulai dari orang Malinau sendiri bahkan turis luar negeri sekalipun. 71 (a) (b) Gambar 28 Contoh produk unggulan hasil kebun (bekkai): (a) Daun bekkai siap olah; (b) Daun bekkai yang telah ditumbuk dan siap pakai. Selain produk-produk di atas, terdapat beberapa padi lokal yang menjadi unggulan Suku Dayak Kenyah. Pada masyarakat Suku Kenyah Bakung di Desa Long Aran memiliki beberapa spesies padi lokal dengan lebih dari 51 varietas. Beberapa padi diantaranya pa’dai usan mempat dan pa’dai utan bulan (Ngindra 1999). Pada Suku Dayak Kenyah di Desa Long Alango sendiri ditemukan 34 spesies padi ladang dan 19 spesies padi sawah dengan kesamaan spesies diantaranya pa’dai bere, pa’dai ba’an, pa’dai putik, pa’dai mahag, pa’dai 6 bulanan, pa’dai merah (Lampiran 4). Dari sejumlah spesies padi yang ditemukan sayangnya tidak dapat diidentifikasi hingga tingkat varietas karena menurut masyarakat lokal pun mereka tidak mengerti hingga tingkat varietas dan penelitian mengenai varietas padi lokal di Desa Long Alango ini belum ditemukan. Menurut Setyawati (1999), ditemukan sebanyak 38 varietas di Desa Apau Ping namun hanya diperoleh sampel dari 35 varietas. Varietas-varietas padi dikategorikan menjadi padi biasa, pa’dai nyain (25 varietas) dan padi ketan, pa’dai pulut (10 varietas). 5.4.2 Aturan Adat dan kepercayaan Suku Dayak Kenyah Suku Dayak Kenyah di Desa Long Alango memiliki aturan dalam pemanfaatan sumberdaya hutan. Aturan tersebut telah disepakati bersama dalam setiap pertemuan BPTU (Badan Pengelola Tana’ Ulen). Aturan tersebut dibuat agar masyarakat tetap memanfaatkan sumberdaya hutan dengan arif/bijaksana. Seperti yang telah disebutkan oleh Uluk et al. (2001) bahwa Suku Dayak di TN 72 Kayan Mentarang sangat menggantungkan hidupnya pada hutan, mereka memanfaatkan hasil hutan untuk kebutuhan hidupnya. Oleh sebab itu agar mereka tetap dapat memanfaatkan sumberdaya hutan hingga anak cucunya, mereka menjaga hutan dengan aturan-aturan yang ada sehingga pemanfaatannya pun tidak berlebihan. Aturan-aturan tersebut antara lain: a) Pada musim kemarau, tidak diperbolehkan menyalakan api di dalam hutan karena dapat menimbulkan kebakaran (kecuali dalam pengawasan). b) Berburu di Tana’ Ulen dibatasi dan hanya untuk konsumsi sendiri karena Tana’ Ulen merupakan hutan yang dilindungi secara adat. c) Tidak boleh menebang pohon yang menghasilkan buah yang dapat dimakan di dalam hutan, jika ingin menanam bibitnya di kebun, diperbolehkan untuk mengambil tingkat semai bersama dengan tanahnya. d) Jika ingin mengambil bibit gaharu (Aquilaria sp.) hanya diperbolehkan anakannya saja (tingkat semai). e) Pemanenan rotan sega (Calamus caesius) dilakukan pada tumbuhan yang sudah tua. f) Jika ingin mengetahui isi gaharu (Aquilaria sp.), batang dipukul bagian bawah dahulu kemudian atasnya. Gaharu tidak boleh ditebang apabila tidak terdapat isinya. g) Penebangan pohon yang dilakukan di Tana’ Ulen tidak diperbolehkan kecuali untuk keperluan rumah tangga (tidak boleh untuk diperdagangkan). h) Memanfaatkan lahan orang lain harus dengan izin pemiliknya dan tidak boleh menanam tanaman keras pada lahan tersebut. Aturan yang dibuat tentunya telah disepakati dan masyarakat pun melaksanakannya dengan baik. Akan tetapi sering juga terjadi pelanggaran seperti penebangan pohon, memanfaatkan lahan orang tanpa izin, menanam tanaman keras pada lahan yang dipinjam, biasanya bukan dilakukan oleh masyarakat desa, melainkan pelanggaran tersebut dilakukan oleh pendatang atau orang dari luar kawasan. Oleh sebab itu diberlakukan sanksi bagi pelanggar. Sanksi tersebut adalah pelanggar wajib membeli parang seharga Rp 500.000,- atau uang tunai sebesar Rp 500.000,- yang diberikan kepada ketua adat atau kepala desa setempat yang nantinya akan menjadi sumber pemasukan desa. 73 Selain aturan adat, adapun kepercayaan/mitos nenek moyang yang masih berlaku hingga sekarang. Mitos ini dipercaya secara turun temurun dalam pemanfaatan sumberdaya hutan. Mitos-mitos tersebut antara lain: a) Di hutan tidak boleh melakukan hal-hal yang sembarangan karena penghuni hutan itu akan marah. b) Jika bertemu dengan ular berkepala merah, tidak diperboleh buka lahan karena akan terkena musibah. c) Pada saat bulan purnama tidak diperbolehkan membangun rumah, jika itu terjadi maka rumah tersebut akan terbakar. d) Menanam bibit buah harus pada waktu bulan salap (hampir bulan purnama bentuknya sekitar ¾ bulan) agar tanaman tersebut dapat tumbuh subur. e) Pada saat bulan teng (bulan setengah) saat yang tepat untuk menanam tuba (Derris montana). f) Pada saat berburu menggunakan anjing, pemburu tidak boleh mengambil rotan sega (Calamus caesius), jika melanggar maka anjing yang dibawa tidak dapat menyalak. g) Apabila di sekitar kulat (jamur) terdapat nyamuk, maka jamur ini aman dikonsumsi. Akan tetapi apabila tidak terdapat nyamuk di sekitarnya maka jamur tersebut beracun. h) Pemanenan spesies bambu hanya dilakukan pada bulan salap jika melanggar bambu tersebut akan jabuk atau busuk. i) Penebangan pohon untuk dimanfaatkan kayunya tidak boleh dilakukan sembarang waktu, harus pada pertengahan bulan karena jika sembarangan kayu akan lapuk. j) Kata orang tua dulu: pohon itu jika ditebang akan menangis, jika pun harus menebang untuk keperluan rumah tangga ataupun papan harus meminta izin atau permisi dahulu pada arwah nenek moyang. Berdasarkan salah satu penuturan Kepala Adat Besar Hulu Bahau, Anyie Apuy, bahwa: “Hutan merupakan rumah bagi kami, segala kebutuhan hidup mulai dari papan, makanan, obat-obatan, tempat berladang berasal dari hutan. Kami telah hidup bersama hutan lebih dari berabad-abad. Tidak boleh ada satupun yang berani merusak hutan kami. Jika ada yang melanggarnya harus dihukum. Hutan 74 kami (Tana’ Ulen) adalah jiwa bagi kami.” Hal tersebut menunjukkan bahwa betapa pentingnya hutan bagi Masyarakat Suku Dayak khususnya Suku Dayak Kenyah. Oleh sebab itu hutan perlu dijaga dan dilestarikan agar pemanfaatannya pun berkelanjutan. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan 1) Suku Dayak Kenyah TN Kayan Mentarang memanfaatkan keanekaragaman spesies tumbuhan pangan budidaya ataupun liar. Tumbuhan pangan yang dimanfaatkan Suku Dayak Kenyah sebanyak 139 spesies (23% tumbuhan pangan hutan, 33% tumbuhan pangan hutan yang dibudidaya, dan 44% tumbuhan budidaya non hutan). 2) Suku Dayak Kenyah memiliki kearifan tradisional dalam memanfaatkan sumberdaya hutan khususnya sumber bahan pangan agar tetap berkelanjutan, seperti (a) budaya berladang, bersawah, berkebun, (b) pemanfaatan tumbuhan pangan saat berburu, (c) menanam tumbuhan pangan dari hutan ke kebun, dan (d) pengelolaan tumbuhan pangan secara tradisional. 6.2 Saran Sumberdaya hutan TNKM memiliki keanekaragaman spesies tumbuhan pangan seperti bekkai lema (Pycnarrhena cauliflora), salap (Sumbaviopsis albicans), belengla (Litsea cubeba) yang dijadikan bumbu oleh Suku Dayak, serta buah-buahan seperti mata kucing (Dimocarpus longan) dan maritam (Nephelium ramboutan-ake). Hendaknya spesies tersebut dapat dipromosikan ke seluruh Indonesia bahkan ke mancanegara sebagai komoditi lokal unggulan. Beberapa padi lokal Dayak Kenyah seperti pa’dai adan, pa’dai bere, pa’dai pulut berpotensi untuk mendukung ketahanan pangan nasional sehingga pemerintah tidak perlu lagi mengimpor beras. ETNOBOTANI PANGAN MASYARAKAT SUKU DAYAK KENYAH DI SEKITAR TAMAN NASIONAL KAYAN MENTARANG KALIMANTAN TIMUR FELA ADITINA PUSPA AYU DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 DAFTAR PUSTAKA Almatsier S. 2006. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Afrianti UR. 2007. Kajian etnobotani dan aspek konservasi sengkubak (Pycnarrhena cauliflora (Miers.) Diels.) di Kabupaten Sintang Kalimantan Barat [tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana IPB. Biber-Klemm S, Berglas DS. 2006. Problems and goals. Di dalam: Biber-Klemm S and Cottier T. Rights to Plant Genetic Resources and Traditional Knowledge: Basic Issues and Perspectives. Switzerland: World Trade Institute, University of Berne. Billa M. 2005. Alam Lestari & Kearifan Budaya Dayak Kenyah. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Dharmono. 2007. Kajian etnobotani tumbuhan jalukap (Centella asiatica L.) di Suku Dayak Bukit Desa Haratai 1 Loksado. Jurnal Bioscientiae 4(2):7178. [Dephut] Departemen Kehutanan. 2002a. Rencana Pengelolaan Taman Nasional Kayan Mentarang 2001-2025 Buku I Rencana Pengelolaan. Tarakan: Departemen Kehutanan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. [Dephut] Departemen Kehutanan. 2002b. Rencana Pengelolaan Taman Nasional Kayan Mentarang 2001-2025 Buku II Data, Proyeksi dan Analisis. Tarakan: Departemen Kehutanan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. [Dephut] Departemen Kehutanan. 2006. Taman Nasional Kayan Mentarang. http://www.dephut.go.id/INFORMASI/TN%20INDOENGLISH/tn_kayanmentarang.htm. [21 September 2010]. Hastiti RD. 2011. Kearifan lokal dalam perburuan satwa liar Suku Dayak Kenyah, di Taman Nasional Kayan Mentarang, Kalimantan Timur [skripsi]. Bogor: Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Heyne K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia jilid 1-3. Jakarta: Badan Litbang Kehutanan Yayasan Wana Jaya. Hidayat S. 2009. Kajian etnobotani masyarakat kampung adat Dukuh Kabupaten Garut, Jawa Barat [skripsi]. Bogor: Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. 75 Hladik CM, Hladik A, Linares OF, Pagezy H, Semple A, Hadley M. 1993. Tropical Forest, People and Food: Biocultural Interaction and Application to Development. Paris: The Parthenon Publishing Group. Johns T. 2003. Plant bodiversity and malnutrition: simple solution to complex problems, theoretical basis for the development and implementation of a global strategy linking plant genetic resource conservation and human nutrition. African Journal of Food, Agriculture, Nutrition, and Development 3(1):45-52. Kartikawati SM. 2004. Pemanfaatan sumberdaya tumbuhan oleh masyarakat Dayak Meratus di kawasan Hutan Pegunungan Meratus Kabupaten Hulu Sungai Tengah [tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana IPB. Keraf AS. 2005. Etika Lingkungan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Mardalis. 2004. Metode Penelitian: Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta: Bumi Aksara. Martin GJ. 1998. Ethnobotany, A People and Plants Conservation Manual. London: Chapman and Hall. Mitchell B, Setiawan B, Rahmi DH. 2007. Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan. Yoyakarta: Gadjah Mada University Press. Moran EF. 1982. Human Adaptability: An Introduction to Ecological Antropology. Colorado: Westview Press. Mukti A. 2010. Beberapa kearifan lokal suku Dayak dalam pengelolaan sumberdaya alam [disertasi]. Malang: Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Program Doktor, Universitas Brawijaya. Ngindra F. 1999. Pemenuhan kebutuhan pangan pada masyarakat Suku Kenyah Bakung di Desa Long Aran. Di dalam: Eghenter C, Sellato B. Kebudayaan dan Pelestarian Alam Penelitian Interdisipliner di Pedalaman Kalimantan. Jakarta: WWF Indonesia. Pardosi J, Asngari PS, Tarumingkeng RC, Susanto D, Sumarjo. 2005. Pemberdayaan peladang berpindah: kasus Kabupaten Kutai Kertanegara, Kabupaten Kutai Timur, dan Kabupaten Kutai Barat di Provinsi Kalimantan Timur. Jurnal Penyuluhan 1 (1): 33-40. Pilin M, Petebang E. 1999. Hutan: Darah dan Jiwa Dayak. Pontianak: SHKKalbar. 76 Presiden Republik Indonesia. 1990. Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi keanekaragaman hayati dan ekosistemnya. Jakarta: Presiden Republik Indonesia Purwadarminta WJS. 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Rahmania M, Hastiti RD, Ayu FAP, Fauzi I, Prayitno A. 2011. Laporan praktik kerja lapang profesi Taman Nasional Kayan Mentarang, Kalimantan Timur [tidak dipublikasikan]. Bogor: Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB. Redaksi Kompas. 2010. Tantangan menuju ketahanan pangan. www.kompas.com. [24 Januari 2011]. Setyawati I. 1999. Pengetahuan tentang varietas-varietas padi dan pemanfaatannya di kalangan orang Kenyah Leppo’ Ke di Apau Ping. Di dalam: Eghenter C, Sellato B. Kebudayaan dan Pelestarian Alam Penelitian Interdisipliner di Pedalaman Kalimantan. Jakarta: WWF Indonesia. Simatauw M, Simanjuntak L, Kuswardono PT. 2001. Gender & Pengelolaan Sumberdaya Alam: Sebuah Panduan Analisis. Kupang: Yayasan PIKUL (Penguatan Institusi dan Kapasitas Lokal). Sindju HB. 1999. Penyiapan dan pemanfaatan lahan dalam perdagangan pada masyarakat Kenyah di Apau Ping. Di dalam: Eghenter C, Sellato B. Kebudayaan dan Pelestarian Alam Penelitian Interdisipliner di Pedalaman Kalimantan. Jakarta: WWF Indonesia. Tarwotjo CS. 1998. Dasar-Dasar Gizi Kuliner. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. Uluk A, Sudana M, Wollenberg E. 2001. Ketergantungan Masyarakat Dayak terhadap Hutan di Sekitar Taman Nasional Kayan Mentarang. Bogor: Center For International Forestry Research (CIFOR). Wahyu. 2007. Makna kearifan lokal dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan di Kalimantan Selatan. Di dalam: Soendjoto MA, Wahyu. 2007. Pengelolaan sumberdaya alam dan pemberdayaan masyarakat dalam perspektif budaya dan kearifan lokal. Banjarmasin: Universitas Lambung Mangkurat Press. [WWF] World Wildlife Fund. 2002. Ringkasan Eksekutif: Rencana Pengelolaan Taman Nasional Kayan Mentarang 2001-2025. Tarakan: WWF Indonesia Project Kayan Mentarang. 77 [WWF] World Wildlife Fund. 2010a. Briefing paper 2: Pengelolaan kolaboratif Taman Nasional Kayan Mentarang. Tarakan: WWF Indonesia Project Kayan Mentarang. [WWF] World Wildlife Fund. 2010b. Brief paper 4: Penataan batas Taman Nasional Kayan Mentarang. Tarakan: WWF Indonesia Project Kayan Mentarang. [WWF] World Wildlife Fund. 2010c. Brief paper 5: Perencanaan zonasi Taman Nasional Kayan Mentarang. Tarakan: WWF Indonesia Project Kayan Mentarang. Zuhud EAM. 2011. Pengembangan desa konservasi hutan keanekaragaman hayati untuk mendukung kedaulatan pangan dan obat keluarga (POGA) Indonesia dalam menghadapi ancaman krisis baru ekonomi dunia di era globalisasi. Makalah disampaikan dalam Orasi Ilmiah Guru Besar Institut Pertanian Bogor di Auditorium Sumardi Sastrakusumah Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, 19 November 2011. ETNOBOTANI PANGAN MASYARAKAT SUKU DAYAK KENYAH DI SEKITAR TAMAN NASIONAL KAYAN MENTARANG KALIMANTAN TIMUR FELA ADITINA PUSPA AYU DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 ETNOBOTANI PANGAN MASYARAKAT SUKU DAYAK KENYAH DI SEKITAR TAMAN NASIONAL KAYAN MENTARANG KALIMANTAN TIMUR FELA ADITINA PUSPA AYU Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 RINGKASAN FELA ADITINA PUSPA AYU. Etnobotani Pangan Masyarakat Suku Dayak Kenyah di Sekitar Taman Nasional Kayan Mentarang, Kalimantan Timur. Di bimbing oleh ERVIZAL A.M. ZUHUD dan AGUS HIKMAT. Suku Dayak Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) terdiri dari beberapa sub suku Dayak, salah satunya yaitu Dayak Kenyah. Suku Dayak Kenyah memiliki keunikan tersendiri dalam pemanfaatan tumbuhan khususnya tumbuhan pangan. Oleh karena itu dokumentasi pemanfaatan tumbuhan pangan oleh Suku Dayak Kenyah perlu dilakukan. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman tumbuhan pangan dan kearifan lokal pemanfaatan tumbuhan pangan oleh Suku Dayak Kenyah. Penelitian dilakukan di Desa Long Alango Kecamatan Bahau Hulu, SPTN Wilayah II Taman Nasional Kayan Mentarang, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur pada bulan Maret - April 2011. Metode penelitian yang digunakan meliputi studi literatur, survei dan inventarisasi lapang, wawancara dengan kuisioner, pembuatan dan identifikasi contoh herbarium, serta pengolahan dan analisis data. Responden pada kegiatan wawancara ditentukan dengan menggunakan metode purposive sampling dengan kriteria jenis pekerjaan utama responden yaitu petani. Jumlah responden sebanyak 35 orang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, diperoleh hasil tumbuhan pangan yang dimanfaatkan Suku Dayak Kenyah TNKM teridentifikasi sebanyak 139 spesies tumbuhan pangan dengan rincian 32 spesies tumbuhan pangan hutan/liar, 46 tumbuhan pangan hutan yang dibudidaya dan 61 tumbuhan pangan non hutan. Spesies tumbuhan pangan tersebut dapat diolah menjadi bahan pangan berkarbohidrat, sayuran, bahan pangan pelengkap, dan minuman. Di antara sumber pangan yang digunakan Suku Dayak Kenyah adalah beberapa jenis padi seperti pa’dai bere, pa’dai ba’an, pa’dai putik, dan pa’dai adan. Tipe habitat terbesar tumbuhan pangan adalah kebun dan hutan (33%), kemudian diikuti hutan/liar (23%), pematang sawah (16%), kebun (15%), ladang dan jekkau (6%), pekarangan (6%), dan sawah (1%). Kearifan tradisional yang dimiliki Suku Dayak Kenyah adalah pemanfaatan tumbuhan pangan saat berburu, pembudidayaan tumbuhan pangan hutan di kebun, sistem perladangan, dan lain-lain. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa Suku Dayak Kenyah TNKM banyak menggunakan tumbuhan untuk berbagai kebutuhan pangan dan Suku Dayak Kenyah memiliki kearifan lokal dalam pemanfaatan tumbuhan pangan. Kata kunci: etnobotani, Dayak Kenyah, TNKM, tumbuhan pangan. SUMMARY FELA ADITINA PUSPA AYU. Food Plants Ethnobotany of Dayak Kenyah Tribe Around Kayan Mentarang National Park, East Borneo. Under Supervision of ERVIZAL A.M. ZUHUD and AGUS HIKMAT. Dayak Ethnic of Kayan Mentarang Nasional Park (KMNP) consists of several Dayak sub ethnics, one of them is Dayak Kenyah. It has unique characteristic in the use of plants, particularly food plants, which needed to be documented. This research was aimed to identify the diversity of food plants and local wisdom of Dayak Kenyah tribe in food plants use. This research was conducted in Long Alango Village, Subdistrict of Bahau Hulu, National Park Section Management (NPSM) Region II Kayan Mentarang Nasional Park, Malinau, East Borneo on March - April 2011. Research methods used consist of literature study, field survey, interview using questionaire, herbarium sample making and identification, and data analysis. The research had identified 139 spesies of food plants that used by Dayak Kenyah tribe of KMNP, which consisted of 32 species of wild food plants (origin from forest), 46 species of wild food plants that had been cultivated, and 61 species of cultivated food plants. All those species could be processed into carbohydrate source, vegetables, complementary food, and beverages. Among all the foods source that consumed by Dayak Kenyah ethnic, there are several species of rice plant like pa’dai bere, pa’dai ba’an, pa’dai putik, and pa’dai adan. The largest habitat types of food plants was garden and forest (33%), then followed by forest/wild habitat (23%), the bund of irrigated rice field (16%), garden (15%), unirrigated agricultural field and jekkau (6%), yard (6%), and irrigated rice field (1%). Local wisdom of Dayak Kenyah tribe were the use of food plants when hunting, cultivation of food plants from forest in garden, cultivation system, etc. Conclusion of this research shows that Dayak Kenyah tribe of KMNP used various plants for various needs of foods, and Dayak Kenyah ethnic has local wisdom in the use of food plants. Keywords: ethnobotany, Dayak Kenyah, KMNP, food plants. PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul “Etnobotani Pangan Masyarakat Suku Dayak Kenyah di Sekitar Taman Nasional Kayan Mentarang Kalimantan Timur” adalah benar-benar hasil karya saya sendiri dengan dibimbing oleh dosen pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini. Bogor, Februari 2012 Fela Aditina Puspa Ayu E34070064 Judul Skripsi : Etnobotani Pangan Masyarakat Suku Dayak Kenyah di Sekitar Taman Nasional Kayan Mentarang Kalimantan Timur Nama : Fela Aditina Puspa Ayu NIM : E34070064 Menyetujui, Pembimbing I Pembimbing II Prof. Dr. Ir. Ervizal A.M Zuhud, MS NIP. 19590618 198503 1 003 Dr. Ir. Agus Hikmat, M.Sc.F NIP. 19620918 198903 1 002 Mengetahui, Ketua Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Prof. Dr. Ir. Sambas Basuni, MS NIP. 19580915 198403 1 003 Tanggal Lulus : KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan menyusun skripsi dengan baik. Sholawat serta salam semoga tetap kita curahkan kepada suri tauladan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarganya, para sahabatnya, hingga kepada para pengikutnya yang senantiasa setia sampai akhir zaman. Skripsi ini merupakan laporan akhir dari penelitian yang berjudul "Etnobotani Pangan Masyarakat Suku Dayak Kenyah di Sekitar Taman Nasional Kayan Mentarang Kalimantan Timur". Skripsi ini merupakan syarat dalam menyelesaikan studi untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan dalam program studi Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Penelitian ini dilakukan bulan Maret - April 2011 di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. H. Ervizal A.M Zuhud, MS dan Dr. Ir. Agus Hikmat, M.Sc.F. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, pengelola Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) dan masyarakat sekitar TNKM untuk bekerja sama dalam pengelolaan kawasan konservasi. Penulis menyadari karya ilmiah ini masih jauh dari sempurna. Semoga karya ilmiah ini berguna bagi seluruh pihak tentang pentingnya pangan lokal sehingga tidak perlu lagi Indonesia mengimpor bahan pangan karena negeri kita kaya akan spesies tumbuhan pangan. Bogor, Februari 2012 Penulis RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Semarang pada tanggal 20 Februari 1989 dari pasangan Suyadi dan Etty Endang Subekti, S.Pd. Penulis menempuh pendidikan di SDN Pedurungan Tengah 02 Semarang, SMPN 9 Semarang, dan SMAN 3 Semarang. Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Ujian Saringan Masuk IPB (USMI IPB) pada tahun 2007 dan memilih Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (DKSHE). Selama kuliah, penulis aktif di Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (HIMAKOVA) sebagai anggota Fotografi Konservasi (FOKA) dan Kelompok Pemerhati Flora (KPF) "Rafflesia" pada tahun 2008-2010 serta menjadi Sekretaris FOKA pada tahun 2008-2009. Selain itu penulis juga aktif di Komunitas Seni Budaya Masyarakat Roempoet (KSB MR) Fakultas Kehutanan IPB dan Organisasi Mahasiswa Daerah (OMDA) Paguyuban Putra ATLAS Semarang (PATRA ATLAS Semarang). Pada saat aktif di HIMAKOVA, penulis mengikuti beberapa rangkaian kegiatan seperti Gebyar Himakova 2008, Eksplorasi Fauna, Flora dan Ekowisata (Rafflesia) di Cagar Alam (CA) Rawa Danau (2009) dan CA Gunung Burangrang (2010), Studi Konservasi Lingkungan (Surili) di Taman Nasional (TN) Sebangau (2010). Penulis melakukan kegiatan Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan (P2EH) di Kamojang-Sancang pada tahun 2009, Praktik Pengelolaan Hutan (P2H) di Hutan Pendidikan Gunung Walat pada tahun 2010 dan Praktik Kerja Lapang Profesi di TN Kayan Mentarang pada tahun 2011. Untuk memenuhi gelar Sarjana Kehutanan, penulis melaksanakan penelitian dengan judul "Etnobotani Pangan Masyarakat Suku Dayak Kenyah di Sekitar Taman Nasional Kayan Mentarang, Kalimantan Timur" di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. H. Ervizal A.M Zuhud, MS dan Dr. Ir. Agus Hikmat, M.Sc.F. UCAPAN TERIMA KASIH Alhamdulillahirabbil’alamin, puji syukur kepada Allah SWT karena berkat ridha-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul "Etnobotani Pangan Masyarakat Suku Dayak Kenyah di Sekitar Taman Nasional Kayan Mentarang Kalimantan Timur". Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan. Penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Prof. Dr. Ir. H. Ervizal A.M. Zuhud, MS dan Dr. Ir. Agus Hikmat, M.Sc.F selaku dosen pembimbing atas segala kesabaran dan bimbingan selama proses penyusunan skripsi ini 2. Ir. Edhi Sandra, MSi yang telah menjadi Moderator Seminar Skripsi penulis; Dr. Ir. Abdul Haris Mustari, MSc selaku Ketua Sidang dan Dr. Ir. Muhdin, MSc. F. Trop selaku dosen penguji dari Departemen Manajemen Hutan IPB yang telah banyak memberikan nasihat dan arahan. 3. Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (BTNKM): Ir. Helmy, Pak Farhani, Pak Kris, Teh Eva, semua polisi kehutanan dan staf TNKM; WWF Project Kayan Mentarang: Pak Dody, Kak Itha, Bang Deden, dan semua staf WWF Project Kayan Mentarang atas seluruh bantuan yang diberikan, pengalaman, dan petuah. 4. Himpunan Alumni Fakultas Kehutanan IPB dan Tanoto Foundation atas dukungan dan bantuan yang telah diberikan. 5. Kepala Adat Besar Hulu Bahau (Amay Anyie Apuy) dan keluarga serta seluruh masyarakat Suku Dayak Kenyah di TN Kayan Mentarang (SPTN Wilayah II Kecamatan Bahau Hulu) khususnya yang berada di Desa Long Alango atas segala pengalaman yang tak terlupakan. 6. Bapak Ismail (LIPI Herbarium Bogoriense) yang telah membantu dalam mengidentifikasi spesimen tumbuhan. 7. Seluruh staf pengajar dan Tata Usaha, laboran, serta mamang-bibi di Fakultas Kehutanan (FAHUTAN), khususnya di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (DKSHE) yang telah membimbing dan membantu sejak menjadi mahasiswa DKSHE hingga tercapainya gelar Sarjana Kehutanan. ix 8. Ayah (Suyadi), Ibu (Etty E.S.), kakak-kakak (Mas Erik dan Mbak Lia) serta keluarga besar tercinta atas segala dukungan baik moral maupun material. 9. Semua guru dan teman-teman mulai dari TK, SD, SMP, SMA, hingga masuk FAHUTAN’44 dan menjadi anggota KOAK (KSHE’44 tersayang) yang selalu memberikan senyuman di kala sedih dan gundah. 10. Dosen-dosen dan teman-teman seperjuangan di masa matrikulasi dan TPB yang telah banyak memberikan motivasi dan pembelajaran hidup. 11. Housemate of Astri A2, Wisma Sintha, Edelweis, dan Pondok Annisaa atas segala canda, tawa, dan belajar bersama. 12. Mas Pramitama yang telah mengajarkan keberanian dan kemandirian. 13. PATRA ATLAS, HIMAKOVA, Komunitas Seni Budaya Masyarakat Roempoet (KSB MR) yang selalu ada saat dibutuhkan. 14. Segenap pihak yang namanya tidak dapat disebutkan satu per satu. DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ....................................................................................... DAFTAR ISI ...................................................................................................... DAFTAR TABEL ............................................................................................. DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ............................................................................... 1.2 Tujuan Penelitian ........................................................................... 1.3 Manfaat Penelitian ......................................................................... vi x xii xiv xvi 1 2 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Etnobotani ...................................................................................... 4 2.2 Kearifan Masyarakat Dayak ........................................................... 5 2.3 Pemanfaataan tumbuhan ................................................................ 6 2.4 Taman Nasional Kayan Mentarang................................................ 9 2.4.1 Pengelolaan Taman Nasional Kayan Mentarang .................. 9 2.4.2 Peran masyarakat .................................................................. 12 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ......................................................... 3.2 Alat, Bahan, dan Objek Penelitian ................................................. 3.3 Jenis Data yang Dikumpulkan ....................................................... 3.4 Metode Pengumpulan Data ............................................................ 3.4.1 Studi literatur ........................................................................ 3.4.2 Survei dan inventarisasi lapang ............................................ 3.4.3 Wawancara dengan kuisioner ............................................... 3.4.4 Pembuatan dan identifikasi contoh herbarium ..................... 3.4.5 Pengolahan dan analisis data ................................................ 13 13 13 14 14 15 15 16 17 BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Sejarah Singkat, Luas dan Letak .................................................... 4.2 Aksesibilitas ................................................................................... 4.3 Ekosistem ....................................................................................... 4.4 Potensi Flora dan Fauna ................................................................. 4.5 Kondisi Masyarakat ....................................................................... 19 20 20 21 21 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Karakteristik Responden ................................................................ 5.1.1 Komposisi jenis kelamin ....................................................... 5.1.2 Komposisi kelas umur ........................................................... 5.1.3 Tingkat pendidikan formal .................................................... 23 23 24 26 xi 5.1.4 Jenis pekerjaan ...................................................................... 5.2 Keanekaragaman Tumbuhan Pangan ............................................. 5.2.1 Keanekaragaman spesies ...................................................... 5.2.2 Keanekaragaman habitus ...................................................... 5.2.3 Bagian yang digunakan ......................................................... 5.2.4 Cara pemanenan .................................................................... 5.2.5 Cara pengolahan bahan pangan ............................................ 5.2.6 Fungsi tumbuhan pangan ...................................................... 5.2.7 Pola konsumsi ....................................................................... 5.2.8 Tipe habitat ........................................................................... 5.3 Pola Hidup Masyarakat Dayak Kenyah Desa Long Alango .......... 5.3.1 Berburu ................................................................................. 5.3.2 Berladang .............................................................................. 5.3.3 Bertani dan berkebun ............................................................ 5.3.4 Sumber pendapatan lain masyarakat ..................................... 5.4 Kearifan Tradisional Suku Dayak Kenyah ................................... 5.4.1 Tumbuhan pangan ................................................................ 5.4.2 Aturan Adat dan kepercayaan Suku Dayak Kenyah ............ 27 28 28 35 37 41 42 46 52 52 54 54 57 62 64 64 64 71 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan .................................................................................... 73 6.2 Saran ............................................................................................... 73 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 74 LAMPIRAN ...................................................................................................... 78 DAFTAR TABEL No Halaman 1. Hasil kesepakatan zonasi TNKM................................................................. 11 2. Jenis data dan metode pengumpulan data penelitian.................................... 14 3. Contoh spesies tumbuhan pangan hutan berdasarkan famili........................ 30 4. Contoh spesies tumbuhan pangan budidaya yang berasal dari hutan berdasarkan famili........................................................................................ 32 5. Contoh spesies tumbuhan pangan budidaya bukan berasal dari hutan berdasarkan famili........................................................................................ 34 6. Persentase habitus tumbuhan pangan hutan................................................. 35 7. Contoh spesies tumbuhan pangan hutan berdasarkan habitus...................... 35 8. Persentase habitus tumbuhan pangan budidaya yang berasal dari hutan...... 36 9. Contoh spesies tumbuhan pangan hutan yang telah dibudidaya berdasarkan habitus ......................................................................................................... 36 10. Persentase habitus tumbuhan pangan budidaya bukan berasal dari hutan.. 37 11. Contoh spesies tumbuhan pangan budidaya yang bukan dari hutan berdasarkan habitus...................................................................................... 37 12. Persentase bagian digunakan tumbuhan pangan hutan................................. 38 13. Contoh spesies tumbuhan pangan hutan berdasarkan bagian digunakan.... 38 14. Persentase bagian yang digunakan tumbuhan pangan budidaya yang berasal dari hutan.......................................................................................... 39 15. Contoh spesies tumbuhan pangan budidaya berasal dari hutan berdasarkan bagian yang digunakan................................................................................ 39 16. Persentase bagian yang digunakan tumbuhan pangan budidaya bukan berasal dari hutan......................................................................................... 40 17. Contoh spesies tumbuhan pangan budidaya bukan dari hutan berdasarkan bagian yang digunakan................................................................................ 40 18. Spesies tumbuhan pangan yang dijadikan olahan pangan........................... 42 19. Macam penggunaan tumbuhan pangan hutan/liar........................................ 47 20. Contoh Spesies tumbuhan pangan hutan/liar berdasarkan fungsi pangan... 47 21. Macam penggunaan tumbuhan pangan budidaya yang berasal dari hutan.. 48 22. Contoh spesies tumbuhan pangan budidaya yang berasal dari hutan berdasarkan fungsi....................................................................................... 48 23. Macam penggunaan tumbuhan pangan budidaya bukan berasal dari hutan............................................................................................................. 48 xiii 24. Contoh spesies tumbuhan pangan budidaya bukan berasal dari hutan berdasarkan fungsi...................................................................................... 49 DAFTAR GAMBAR No. Halaman 1. Diagram bentuk hubungan antara ruang lingkup kajian etnobotani dengan disiplin ilmu dan kepentingan........................................................................ 5 2. Mekanisme pengelolaan kolaboratif Taman Nasional Kayan Mentarang... 10 3. Kegiatan wawancara dengan Ketua Adat Desa Long Alango..................... 16 4. Denah lokasi penelitian (sumber: WWF 2002)........................................... 18 5. Komposisi penduduk Desa Long Alango.................................................... 23 6. Kerja bakti pelebaran bandara: (a) perempuan; (b) laki-laki....................... 24 7. Jumlah responden berdasarkan kelompok umur......................................... 25 8. Komposisi tingkat pendidikan responden.................................................... 26 9. Jumlah spesies tumbuhan pangan hutan, tumbuhan pangan budidaya dari hutan, dan tumbuhan pangan budidaya....................................................... 29 10. Jumlah spesies tumbuhan pangan hutan/liar berdasarkan famili................. 29 11. Jumlah spesies tumbuhan pangan budidaya yang berasal dari hutan berdasarkan famili....................................................................................... 31 12. Jumlah spesies tumbuhan pangan budidaya bukan berasal dari hutan berdasarkan famili....................................................................................... 33 13. Olahan bahan pangan berkarbohidrat: (a) Sagu; (b) Kue............................ 43 14. Balang (Heckeria umbellata)...................................................................... 44 15. Tumbuhan yang dijadikan bahan pangan pelengkap: (a) Bekkai lema (Pycnarrhena cauliflora); (b) Bekkai lanya (Coscinium miosepalum); (c) Payang lengu (Ricinus communis).............................................................. 45 16. Singkong (Manihot utilissima).................................................................... 50 17. Tumbuhan pangan sumber protein nabati................................................... 51 18. Hierarki bagan fungsi tumbuhan pangan bagi Suku Dayak Kenyah........... 52 19. Persentase tipe habitat tumbuhan pangan.................................................... 53 20. Senjata berburu tradisional: (a) Badan tombak dan anak sumpit; (b) Ujung tombak; (c) Racun sumpit (getah salo’)...................................................... 55 21. Penjualan hasil buruan: (a) Pengangkutan hasil buruan; (b) Penimbangan daging yang dijual....................................................................................... 56 22. Burung isit (Arachnothera longirostra)..................................................... 59 23. Penugalan: (a) Alat penugalan; (b) Proses penugalan................................. 60 24. Penanaman benih padi................................................................................. 61 xv 25. Proses pemanenan dari mengambil padi dengan ani-ani hingga penggilingan dengan mesin......................................................................... 62 26. Tumbuhan pangan hutan yang dibudidaya: (a) Payang aka; (b) Salap...... 66 27. Lumbung padi Suku Dayak Kenyah............................................................ 69 28. Contoh produk unggulan hasil kebun (bekkai)............................................ 71 DAFTAR LAMPIRAN No. Halaman 1. Daftar jenis tumbuhan pangan hutan/liar dimanfaatkan suku Dayak Kenyah TNKM............................................................................................. 79 2. Daftar jenis tumbuhan pangan hutan yang sudah budidaya oleh suku Dayak Kenyah TNKM................................................................................. 81 3. Daftar spesies tumbuhan pangan budidaya non hutan Suku Dayak Kenyah TNKM ........................................................................................................ 84 4. Jenis pisang dan jenis padi ditemukan......................................................... 88 5. Daftar spesies tumbuhan berguna selain pangan oleh suku Dayak Kenyah TNKM ........................................................................................................ 89 6. Daftar spesies satwa sebagai bahan pangan................................................ 96 7. Daftar spesies satwa berguna selain pangan................................................ 97 8. Kuisioner panduan wawancara.................................................................... 98 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia dikenal memiliki kekayaan etnis dan budaya yang sangat tinggi. Setiap etnis memiliki kearifan yang spesifik dalam memanfaatkan sumberdaya hayati yang tersedia di lingkungannya. Setiap kawasan memiliki keanekaragaman spesies tumbuhan untuk berbagai keperluan, seperti pangan, obat, dan lain-lain. Adanya pemanfaatan keanekaragaman spesies tumbuhan lokal oleh berbagai etnis terutama untuk pangan, secara langsung akan berpengaruh terhadap ketahanan dan bahkan kedaulatan pangan di Indonesia. Menurut Khomsan (2003) diacu dalam Redaksi Kompas (2010), ketahanan pangan merupakan suatu sistem yang terdiri dari subsistem ketersediaan, distribusi, dan konsumsi. Subsistem ketersediaan pangan berfungsi menjamin pasokan pangan untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk, subsistem distribusi berfungsi mewujudkan sistem distribusi yang efektif dan efisien, sedangkan subsistem konsumsi berfungsi mengarahkan agar pola pemanfaatan pangan secara nasional memenuhi kaidah mutu, keragaman, kandungan gizi, kemananan dan kehalalannya. Namun seiring dengan perubahan pola konsumsi yang menjadikan beras sebagai pasokan makanan pokok, keanekaragaman pangan di Indonesia makin lama makin menurun sehingga ketahanan pangan pun melemah. Masalah ketahanan pangan dan malnutrisi dapat diatasi melalui peningkatan pengetahuan dan konsumsi keanekaragaman tumbuhan berguna khususnya tumbuhan pangan di alam (Johns 2003). Pengembangan pangan asli Indonesia dari keanekaragaman hayati yang melimpah dan berbasis informasi etnobiologi merupakan solusi menghadapi ancaman kedaulatan pangan di Indonesia (Zuhud 2011). Pengetahuan mengenai bahan pangan yang berasal dari tumbuhan dapat diperoleh melalui kearifan lokal suatu masyarakat tradisional di dalam ataupun di sekitar taman nasional. Taman nasional merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi dan memiliki fungsi perlindungan, 2 penelitian, pendidikan menunjang budidaya, pariwisata, rekreasi, dan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan, serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya hayati dan ekosistemnya (UU No. 5 tahun 1990). Salah satu taman nasional yang memiliki keanekaragaman spesies tumbuhan berguna tinggi adalah Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) dengan kearifan lokal masyarakat Suku Dayak yang tinggal di sekitarnya. Taman Nasional Kayan Mentarang merupakan kawasan konservasi terbesar di Pulau Kalimantan dan merupakan salah satu yang terbesar di wilayah Asia Pasifik (Dephut 2002a, 2002b). Suku Dayak yang tinggal di sekitar TNKM terdiri dari beberapa sub suku Dayak, di antaranya adalah Kayan, Kenyah, Lundayeh, Merap, Punan, Saben, Tagel, dan lain-lain (Uluk et al. 2001). Salah satu sub Suku Dayak yang memanfaatkan sumberdaya hutan untuk kebutuhan pangan seharihari adalah Dayak Kenyah. Pemanfaatan ini dikenal secara turun temurun melalui pengetahuan lokal. Pengetahuan mengenai tumbuhan pangan oleh masyarakat Dayak Kenyah dapat diperoleh melalui etnobotani. Etnobotani adalah kajian mengenai interaksi antara masyarakat lokal dengan lingkungan alamnya, terutama mengenai penggunaan tumbuhan dalam kehidupan sehari-hari (Martin 1998). Penggunaan tumbuhan dalam kehidupan sehari-hari yang dimaksud dapat berupa tumbuhan sebagai bahan pangan, obat, aromatik, pakan ternak, dan pemanfaatan lainnya. Suku Dayak di TNKM memiliki kearifan lokal dalam memanfaatkan sumberdaya hutan khususnya mengenai pemanfaatan tumbuhan pangan. Oleh sebab itu dokumentasi pemanfaatan tumbuhan pangan oleh Suku Dayak Kenyah di sekitar TNKM melalui etnobotani perlu dilakukan agar pemanfaatannya berkelanjutan. 1.2 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh: 1. Data dan informasi keanekaragaman tumbuhan pangan yang dimanfaatkan masyarakat Suku Dayak Kenyah 2. Data dan informasi mengenai kearifan tradisional Suku Dayak Kenyah dalam pemanfaatan tumbuhan pangan 3 1.3 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat menjadi data dasar dalam pengembangan pemanfaatan tumbuhan pangan, terutama yang berbasis kepada kearifan lokal masyarakat Suku Dayak Kenyah yang tinggal di sekitar TNKM untuk mendukung ketahanan dan keanekaragaman pangan nasional. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Etnobotani Etnobotani berasal dari kata ethnos dan botany yang berasal dari bahasa Yunani berarti bangsa dan tumbuh-tumbuhan. Istilah etnobotani pada awalnya diusulkan oleh Harsberger pada tahun 1893 dan didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari pemanfaatan tumbuhan secara tradisional oleh suatu suku bangsa yang masih primitif atau terbelakang (Afrianti 2007). Menurut Waluyo (2002) diacu dalam Afrianti (2007), etnobotani diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tumbuh-tumbuhan yang digunakan oleh perkumpulan suku primitif dan berguna untuk mengembangkan perkumpulan tersebut. Sedangkan menurut Martin (1998), etnobotani adalah interaksi antara masyarakat lokal dengan lingkungan alamnya, terutama mengenai penggunaan tumbuhan dalam kehidupan sehari-hari. Dharmono (2007) mendefinisikan etnobotani merupakan ilmu botani mengenai pemanfaatan tumbuhan dalam keperluan sehari-hari dan adat suku bangasa. Studi etnobotani tidak hanya mengenai data botani taksonomis saja, tetapi juga menyangkut pengetahuan botani yang bersifat kedaerahan, berupa tinjauan interpretasi dan asosiasi yang mempelajari hubungan timbal balik antara manusia dengan tanaman, serta menyangkut pemanfaatan tanaman tersebut lebih diutamakan untuk kepentingan budaya dan kelestarian sumber daya alam. Menurut Purwanto (2000), etnobotani berpotensi mengungkapkan sistem pengetahuan tradisional dari suatu kelompok masyarakat atau etnik tentang konservasi in-situ berupa habitat, keanekaragaman sumberdaya hayati dan budaya. Penelitian mengenai etnobotani mampu mengungkapkan pemanfaatan berbagai jenis sumberdaya tumbuhan secara tradisional oleh masyarakat setempat. Etnobotani merupakan instrumen yang mampu mengungkapakan pengetahuan tradisional menjadi ilmu yang bermanfaat dan berharga dengan mengaitkan dengan persoalan aktual yang dihadapi manusia modern. Etnobotani merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mendalami tentang persepsi dan konsepsi masyarakat tentang sumberdaya nabati di lingkungannya. Kajian etnobotani diarahkan dalam upaya mempelajari kelompok masyarakat 5 dalam mengatur sistem anggota menghadapi tetumbuhan dalam lingkungan yang dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi, spiritual, dan nilai budaya lainnya. Disiplin ilmu lain yang terkait kajian etnobotani adalah ilmu anthropologi, sejarah, pertanian, ekologi, kehutanan, dan geografi tumbuhan (Sudarsono & Waluyo 1992 diacu dalam Afrianti 2007). Gambar 1 Diagram bentuk hubungan antara ruang lingkup kajian etnobotani dengan disiplin ilmu dan kepentingan. 2.2 Kearifan Masyarakat Dayak Menurut definisi yang diberikan oleh UN Economic and Social Council, masyarakat adat atau tradisional adalah suku-suku dan bangsa yang mempunyai kelanjutan historis dengan masyarakat sebelum masuknya penjajah di wilayahnya. ILO mengkategorikan masyarakat adat sebagai suku-suku asli yang mempunyai kondisi sosial budaya sebuah negara, statusnya diatur oleh adat kebiasaan atau tradisi oleh hukum dan aturan mereka sendiri. Setiap masyarakat tradisional memiliki kearifan masing-masing. Kearifan tradisional merupakan semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman, atau wawasan, serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia di dalam komunitas ekologis (Keraf 2005). 6 Konsep sistem pengetahuan lokal berakar dari sistem pengetahuan dan pengelolaan lokal atau tradisional. Masyarakat tradisional adalah sekelompok orang yang dengan beberapa tipe kondisi ekonomi masyarakat, biasanya memiliki keturunan masyarakat pemburu, nomadik, dan peladang berpindah (Mitchell et al. 2007). Biber-Klemm dan Berglas (2006) menyebutkan bahwa pengetahuan lokal atau tradisional merupakan hubungan antara keanekaragaman hayati, kebangsaan, dan kebudayaan dalam kehidupan suatu masyarakat adat. Masyarakat adat merupakan kelompok manusia yang berinteraksi dekat dengan lingkungan, relung ekologi, pengetahuan tradisional mengenai cara mengelola sumberdaya alam dengan arif/bijaksana. Suku Dayak sangat bergantung pada ekosistem hutan. Hutan merupakan sumber makanan bagi masyarakat Dayak. Jika hutan terganggu maka tempat mencari makan suku Dayak juga terganggu, akibatnya hasil buruan dan hasil tumbuhan yang dimanfaatkan suku Dayak berkurang. Suku Dayak biasanya menanam tumbuhan yang bermanfaat sekitar rumah mereka. Dari hutan, mereka mengambil bibit tumbuh-tumbuhan yang baik berdasarkan pengalaman mereka. Tumbuh-tumbuhan tersebut biasanya dimanfaatkan pula sebagai bahan pangan mereka (Uluk et al. 2001). Menurut Florus et al. (1994) diacu dalam Afrianti (2007), Mata pencaharian suku Dayak selalu ada hubungannya dengan hutan. Hutan digunakan sebagai tempat berburu, berladang, dan berkebun. Kecenderungan seperti itu merupakan suatu refleksi dari hubungan yang akrab dan telah berlangsung berabad-abad dengan hutan dan segala isinya. Hutan merupakan basis utama dari kehidupan, sosial, ekonomi, budaya, dan politik kelompok etnik Dayak. 2.3 Pemanfaatan Tumbuhan Pemanfaatan tumbuhan dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat adat. Pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat adat yang berasal dari hutan diantaranya tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan sandang, pangan, papan, alat rumah tangga, anyaman, kerajinan, perlengkapan upacara adat, obat-obatan, 7 aromatik, kosmetik, kegiatan sosial, dan pemanfaatan lainnya (Purwanto & Walujo 1992 diacu dalam Hidayat 2009). 2.3.1 Tumbuhan pangan Tumbuhan pangan adalah kebutuhan vital bagi kehidupan manusia. Tumbuhan pangan adalah segala sesuatu yang tumbuh, hidup, berbatang, berakar, berdaun, dan dapat dimakan atau dikonsumsi oleh manusia. Jenis penghasil pangan yaitu tumbuhan yang mengandung karbohidrat, sayuran, buah-buahan, dan kacang-kacangan (Purwadarminta 1988). Tumbuhan penghasil pangan dapat dikelompokkan menjadi (Moeljopawiro dan Manwan 1992 diacu dalam Hidayat 2009): 1. Komoditas utama, seperti padi (Oryza sativa), kedelai (Glycine max), kacang tanah (Arachis hypogaea), jagung (Zea mays), dan sebagainya. 2. Komoditas potensial, seperti sorgum (Andropogon sorgum), sagu (Metroxylon sp.), dan sebagainya. 3. Komoditas introduksi, seperti ganyong (Canna edulis), jawawut (Panicum viridae), dan sebagainya. Tumbuhan pangan di alam memiliki kandungan gizi yang dibutuhkan tubuh seperti karbohidrat, protein, vitamin, mineral, dan sebagainya. Kandungan tersebut dapat ditemukan di jenis tumbuhan seperti kacang-kacangan, buahbuahan, sayuran, dan sereal (sumber karbohidrat) (Kartikawati 2004). 2.3.1.1 Kacang-kacangan Kacang-kacangan merupakan biji-bijian yang dapat dimakan dari polongpolongan. Polong-polongan adalah anggota suku Leguminosae yang memiliki polong/legum. Kacang-kacangan utama yang dapat dimakan termasuk ke dalam anak suku Papiionoidae (anak suku terbesar dari Leguminosae) yang masih memiliki 450 marga dan 10000 spesies. Kacang-kacangan bermanfaat sebagai bahan pangan yang kaya protein (Maesen & Somaatmadja 1993 diacu dalam Kartikawati 2004). 8 2.3.1.2 Buah-buahan Buah-buahn merupakan komoditas yang besar dan beraneka ragam (Kartikawati 2004). Menurut Verheij dan Coronel (1991) diacu dalam Kartikawati (2004), terdapat jenis buah-buahan yang tumbuh tahunan. Buah-buahan tahunan dapat dimakan baik dalam keadaan segar, maupun yang telah dikeringkan atau yang telah diolah. Buah-buahan umumnya dikonsumsi dalam keadaan mentah (tidak dimasak, matang dari pohonnya). Buah-buahan mengandung vitamin dan mineral yang baik bagi tubuh, menyeimbangkan menu makanan, kaya protein, energi, dan ada yang mengandung lemak. Jenis-jenis buah-buahan antara lain: salak (Zalacca salacca), pisang (Musa paradisiaca), rambutan (Nephelium lappaceum), durian (Durio zibethinus), mangga (Mangifera indica), dan lainnya. 2.3.1.3 Sayuran Sayuran merupakan komoditas tumbuhan yang mengandung air. Sayuran biasanya dikonsumsi sebagai bahan makanan yang mengandung zat tepung dan kadang-kadang digunakan sedikit pada makanan untuk menambah rasa juga kelezatan makanan (Siemonsma & Piluek 1994 diacu dalam Kartikawati 2004). Beberapa spesies tumbuhan yang digunakan untuk sayuran diantaranya: selada (Lactuca sativa), katuk (Sauropus androgynus), berbagai jenis kobis, kol (Brassica oleraceae), kangkung (Ipomea aqutica), dan jenis lainnya. Adapun jenis sayuran yang digunakan sebagai bumbu, yaitu bawang merah (Allium cepa), bawang putih (Allium sativum), daun bawang (Allium ampeloprasum), seledri (Apium graveolens). Sedangkan spesies tumbuhan yang fungsi sekundernya sebagai sayuran adalah daun pepaya (Carica papaya), daun ubi jalar (Ipomea batatas), jagung muda/baby corn (Zea mays), dan daun singkong (Manihot utillisima). Jenis-jenis sayuran di atas merupakan spesies tumbuhan yang biasanya ditanam di kebun dan merupakan spesies tumbuhan hortikultura (Kartikawati 2004). 2.3.1.4 Palem-paleman dan umbi-umbian Jenis palem-paleman dan umbi-umbian biasanya dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat. Flach dan Rumawas (1996) diacu dalam Kartikawati (2004), 9 menyebutkan bahwa jenis tumbuhan pangan sebagai sumber karbohidrat merupakan spesies tumbuhan yang mengandung zat tepung atau zat gula yang digunakan sebagai cadangan makanan. Karbohidrat merupakan sumber energi utama dalam suatau makanan untuk manusia. Beberapa spesies tumbuhan yang merupakan sumber karbohidrat diantaranya adalah sagu (Metroxylon sp.), aren (Arenga pinnata), dan lain-lain yang merupakan jenis palem berkarbohidrat, kemudian ubi jalar (Ipomea batatas), singkong (Manihot utillisima), dan sebagainya yang merupakan umbi berkarbohidrat. 2.4 Taman Nasional Kayan Mentarang Taman nasional merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi dan memiliki fungsi perlindungan, penelitian, pendidikan menunjang budidaya, pariwisata, rekreasi, dan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan, serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya hayati dan ekosistemnya (UU No. 5 tahun 1990). 2.4.1 Pengelolaan Taman Nasional Kayan Mentarang Menurut SK Menhut No.631/Kpts-II/1996 ditetapkan bahwa adanya perubahan fungsi dan penunjukkan Cagar Alam Kayan Mentarang yang terletak di Kabupaten Daerah Tingkat II Bulungan, Provinsi daerah tingkat I Kalimantan Timur seluas ± 1.360.500 ha menjadi taman nasional dengan nama Taman Nasional Kayan Mentarang mengingat di beberapa daerah di dalam Cagar Alam Kayan Mentarang merupakan tempat kehidupan masyarakat tradisional etnis Dayak dan masyarakat tersebut sangat bergantung pada hutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (Rahmania et al. 2011). Pada tahun 2002 Pemerintah menetapkan bahwa pengelolaan Taman Nasional Kayan Mentarang harus dilaksanakan dengan sistem pengelolaan kolaboratif melalui SK Menhut 1214/Kpts-II/2002. Hal tersebut dikarenakan kegiatan konservasi harus dilakukan secara bersama-sama dengan berbagai pihak serta melihat bahwa masyarakat adat Dayak di dalam dan sekitar kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap hutan 10 dan mengelola kawasan hutan adat sesuai dengan kearifan tradisional. Kegiatan pengelolaan kolaboratif di Taman Nasional Kayan Mentarang berbasiskan masyarakat yang melibatkan banyak pihak dengan prinsip berbagi tanggung jawab, manfaat dan peranan dan didasari oleh Rencana Pengelolaan Taman Nasional Kayan Mentarang (RPTNKM) (Rahmania et al. 2011). Pengelolaan kolaboratif di TNKM didasarkan pada (i) TN tidak dapat dilindungi dan dikelola tanpa dukungan aktif masyarakat adat, (ii) Memastikan bahwa manfaat kawasan taman nasional dapat dimanfaatkan secara lestari yang merupakan sumber identitas budaya dan penghidupan masyarakat, (iii) Mengembangkan alternatif ekonomi berbasis konservasi untuk masyarakat dan pemerintah setempat (WWF 2010a). Gambar 2 Mekanisme pengelolaan kolaboratif Taman Nasional Kayan Mentarang. Dalam melaksanakan pengelolaan yang kolaboratif, TNKM memiliki beberapa mitra kerja diantaranya Pemerintah Daerah Kabupaten Malinau dan Nunukan, WWF Project Kayan Mentarang, FoMMA (Forum Musyawarah Masyarakat Adat), perguruan tinggi, dan BPTU (Badan Pengelola Tana’ Ulen). Forum Musyawarah Masyarakat Adat (FoMMA) merupakan organisasi masyarakat adat yang didirikan oleh lembaga-lembaga adat yang berada di 11 TNKM. Lembaga-lembaga adat tersebut antara lain berada di wilayah adat Hulu Bahau, Pujungan, Mentarang, Lumbis, Tubu, Krayan Hulu, Krayan Hilir, Krayan Tengah, Krayan Darat, dan Apo Kayan (sekarang wilayah adat Kayan Hulu dan wilayah adat Kayan Hilir). Badan Pengelola Tana’ Ulen (BPTU) adalah pelaksana operasional yang merupakan partner TNKM dalam mengelola kawasan konservasi. Lembaga ini didirikan masyarakat adat setempat dalam mengelola sumberdaya hutan secara berkelanjutan (Rahmania et al. 2011). Tabel 1 Hasil kesepakatan zonasi TNKM Kategori Zona Zona Inti (Publik) Kriteria dan Indikator Zona yang mewakili tipe ekosistem khas, homerange bagi key-stones species, jauh dari jangkauan masyarakat dan perlindungan kawasan“water catchment” hulu beberapa sungai besar dan pengaturan tata air. Arahan Pengelolaan a) Perlindungan dan pengamanan, Penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan, pendidikan. b) Dikelola langsung oleh Balai TNKM Zona Rimba (Adat) Zona rimba merupakan zona perlindungan atau penyangga dan pengamanan fungsi zona inti. a) Pengembangan konservasi lintas batas; pemanfaatan gaharu oleh masyarakat lokal b) Dikelola oleh BTNKM dan Masyarakat adat Zona Tradisional (Adat) a) Penelitian, pengembangan, dan pendidikan; Ekowisata; pemanfaatan dan usaha SDA oleh masyarakat lokal; bahan bangunan dan transportasi oleh masyarakat lokal; budidaya dan pembinaan habitat; berburu b) Dikelola oleh BTNKM dan Masyarakat adat Zona yang ditetapkan untuk kepentingan pengelolaan dan pemanfaatan oleh masyarakat adat yang karena kesejarahan telah mengelola kawasan tersebut serta masih mempunyai ketergantungan dengan sumberdaya alam. Zona khusus (Multi Zona dimana telah terjadi pemanfaatan a) Ekowisata; pemukiman dan stakeholders) sumberdaya atau telah didiami sejak bekas pemukiman; pertanian & sebelum ditetapkan sebagai taman budidaya berbasismasyarakat; nasional, serta merupakan pusat infrastruktur komunikasi, pertumbuhan ekonomi masyarakat pendidikan, dan transportasi. maupun pemukiman penduduk b) Dikelola oleh BTNKM, Pemda dan Masyarakat adat Sumber: WWF (2010c) Salah satu permasalahan yang dihadapi TNKM adalah mengenai kejelasan tata batas taman nasional. Pada tahun 2009 proses tata batas TNKM telah disepakati dan disetujui oleh pihak TNKM dan delapan wilayah adat sehingga diperoleh perkembangan proses tata batas TNKM dari tahun 1999 hingga 2008 12 (WWF 2010b). Berdasarkan WWF (2010c), sebagai tindakan lanjutan RPTN Kayan Mentarang, FoMMA bersama WWF Indonesia menyusun pedoman dan perencanaan tata ruang wilayah adat. Pada bulan September 2009, usulan zonasi berbasis pemahaman dan kearifan masyarakat adat telah diajukan kepada BTNKM berdasarkan rekomendasi masyarakat adat dan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.56/Menhut-II/2006 tentang Pedoman Zonasi Taman Nasional. Berdasarkan keputusan tersebut, dihasilkan kriteria dan indikatr zonasi TNKM antara lain: (1) Areal “publik” yaitu zona inti; (2) Areal “adat” yaitu zona rimba, zona pemanfaatan dan zona tradisional; dan (3) Areal “multi-stakeholders” yakni zona khusus (Tabel 1). 2.4.2 Peran masyarakat Masyarakat yang tinggal di sekitar TNKM memiliki peran yang penting dalam pengelolaan taman nasional yaitu masyarakat diikutsertakan dalam pengelolaan kolaboratif TNKM bersama lembaga/stakeholder lainnya dalam memanfaatkan sumberdaya hutan secara berkelanjutan, pemberian nama taman nasional, penentuan sistem zonasi, sebagai pemandu lapang dan penyedia transportasi lokal ekowisata TNKM, dan peran serta lainnya dalam menjaga dan merawat keberadaan hutan TN Kayan Mentarang (Dephut 2002a, 2002b). BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Long Alango, Kecamatan Bahau Hulu, SPTN Wilayah II Taman Nasional Kayan Mentarang, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur (Gambar 4). Penelitian ini dilakukan pada tanggal 22 Maret 2011 hingga 22 April 2011. 3.2 Alat , Bahan, dan Objek Penelitian Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: a) Peta lokasi penelitian yang menunjukkan tempat komunitas masyarakat Dayak Kenyah tinggal untuk mempermudah pengambilan data b) Kertas karton dan sampul plastik digunakan sebagai perlengkapan herbarium c) Lembar kuisioner untuk membantu dalam kegiatan wawancara dengan responden d) Alat pemotong untuk memotong spesimen yang akan dijadikan herbarium e) Label untuk memberi nama spesimen f) Alat tulis membantu dalam penulisan kuisioner dan label g) Recorder digunakan untuk merekam suara responden dalam proses wawancara h) Kertas koran untuk membungkus spesimen i) Kompas sebagai penunjuk arah j) Spesimen tumbuhan k) Oven untuk mengeringkan herbarium l) Alkohol 70% dan sprayer untuk menyemprotkan alkohol ke spesimen Sedangkan objek penelitian ini adalah masyarakat lokal Suku Dayak Kenyah, kelompok anak suku Leppo’ Maut di Desa Long Alango, Kecamatan Bahau Hulu. 3.3 Jenis Data yang Dikumpulkan Jenis data yang diambil dalam penelitian ini antara lain berupa data lapangan dan penelusuran dokumen. Data lapangan adalah data yang diperoleh langsung dari responden. Data yang termasuk ke dalam jenis data lapangan adalah 14 data mengenai segala bentuk pemanfaatan masyarakat Dayak Kenyah terhadap tumbuhan di sekitar hutan TN Kayan Mentarang sebagai bahan pangan mereka. Data tersebut berupa spesies tumbuhan, bagian yang digunakan, asal tumbuhan pangan tersebut, dan kegiatan budidayanya. Jenis data dan metode pengumpulan data secara rinci disajikan pada Tabel 2. Tabel 2 Jenis data dan metode pengumpulan data penelitian No. 1 Jenis data Keadaan umum lokasi penelitian Aspek yang dikaji a. Letak, luas, sejarah b. Aksesibilitas c. Tipe ekosistem d. Potensi flora dan Sumber Dokumen BTNKM Metode Studi literatur fauna e. Kondisi masyarakat Dayak 2 Karakteristik responden a. Jenis kelamin b. Pendidikan c. Kelompok umur d. Pekerjaan e. Pola hidup Masyarakat Suku Dayak Kenyah Desa Long Alango Wawancara 3 Etnobotani tumbuhan pangan a. Spesies tumbuhan Masyarakat Suku Dayak Kenyah Survei lapang, wawancara pangan b. Habitus c. Bagian yang digunakan d. Cara pengolahan e. Pola konsumsi f. Budidaya g. Cara pemanenan 3.4 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu studi literatur, survei dan inventarisasi lapang, wawancara dengan kuisioner, pembuatan dan identifikasi contoh herbarium, serta pengolahan dan analisis data. 3.4.1 Studi literatur Studi literatur dilakukan dengan mempelajari laporan, dokumen yang sudah ada mengenai TNKM, masyarakat adat, dan pemanfaatan tumbuhan pangan oleh masyarakat sekitar taman nasional. Studi literatur juga dapat dilakukan dengan mempelajari referensi seperti buku, jurnal, artikel, dan sebagainya mengenai hal 15 yang berhubungan dengan data yang akan diambil di lapangan. Studi literatur dapat membantu dalam memudahkan proses pengambilan data di lapangan. 3.4.2 Survei dan inventarisasi lapang Kegiatan survei dan inventarisasi lapang ini bertujuan untuk menghasilkan data awal penelitian. Survei dilakukan dengan melihat kondisi tempat tumbuh spesies tumbuhan pangan, kondisi umum lokasi di lapangan, kondisi TNKM, masyarakat, dan sekitarnya. Inventarisasi lapang dilakukan dengan mendata spesies tumbuhan pangan yang ada di sekitar maupun dalam kawasan hutan TNKM. Kegiatan survei dan inventarisasi lapang ini dilakukan sebelum kegiatan wawancara untuk mengetahui gambaran mengenai spesies tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat Dayak Kenyah sekitar TNKM. Hasil dari kegiatan survei dan inventarisasi lapang ini akan dicocokkan dengan hasil dari kegiatan wawancara dengan kuisioner. Dengan demikian dapat ditemukan perbedaan antara survei dan inventarisasi lapang dengan wawancara warga, perbedaan tersebut dapat ditanyakan kepada responden. 3.4.3 Wawancara dengan kuisioner Kegiatan wawancara dengan menggunakan kuisioner dilakukan secara semi terstruktur. Responden ditentukan dengan menggunakan metode purposive sampling dengan kriteria jenis pekerjaan utama responden. Jumlah responden sebanyak 35 orang. Wawancara ini berkaitan dengan biodata responden, spesies tumbuhan pangan yang dimanfaatkan, bagian yang dimanfaatkan, proses pengolahan tumbuhan pangan menjadi bahan pangan, lokasi tumbuhan pangan. Daftar pertanyaan tersaji pada Lampiran 8. Kuisioner adalah metode pengumpulan data melalui formulir yang berisi pertanyaan yang diajukan secara tertulis pada responden untuk mendapatkan jawaban dan informasi yang diperlukan peneliti (Mardalis 2004). 16 Gambar 3 Kegiatan wawancara dengan Ketua Adat Desa Long Alango. 3.4.4 Pembuatan dan identifikasi contoh herbarium Adapun tahapan pembuatan dan identifikasi contoh herbarium adalah sebagai berikut : 1. Spesimen tumbuhan (bagian tumbuhan yang akan dijadikan herbarium seperti daun, biji, buah) dipotong sekitar 40 cm 2. Spesimen tumbuhan diberi label gantung berukuran 3x5 cm. Label gantung berisi nomor koleksi, inisial nama kolektor, tanggal pengambilan spesimen, nama lokal spesimen, dan lokasi pengambilan spesimen. 3. Setelah diberi label, spesimen tumbuhan disemprotkan alkohol 70% dengan menggunakan sprayer. Pastikan seluruh bagian spesimen tertutup alkohol agar tidak membusuk. 4. Setelah itu, spesimen dimasukan dalam lipatan kertas koran dengan rapi. Seluruh bagian spesimen harus tertutup agar memudahkan dalam tahap pengovenan saat di laboratorium nantinya. 5. Spesimen-spesimen yang telah tertutup kertas koran kemudian dipres. 6. Setiap pagi atau siang hari, spesimen tersebut dijemur agar tidak tumbuh jamur. 7. Setelah sampai di laboratorium, spesimen dipres kembali, kemudian dioven dengan suhu 550C selama 5 hari. 17 8. Setelah kering, herbarium diidentifikasi nama ilmiahnya oleh salah satu staff LIPI Herbarium Bogoriense, Bapak Ismail. 9. Setelah diketahui nama ilmiahnya, herbarium diberi label berisikan nomor koleksi, inisial nama kolektor, tanggal pengambilan spesimen, nama lokal spesimen, nama ilmiah, famili, habitus, kegunaan, dan lokasi pengambilan spesimen. 10. Setelah diberi label, herbarium ditempelkan pada karton, kemudian ditutup dengan plastik bening. 3.4.5 Pengolahan data dan analisis data Pengolahan data dilakukan dengan cara menghitung persentase habitus, persentase bagian tertentu yang digunakan dari tumbuhan pangan yang dimanfaatkan masyarakat, persentase tipe habitat tertentu, dan persentase budidaya tumbuhan. Persentase yang diperoleh tersebut disajikan dalam bentuk tabulatif atau diagram agar mempermudah dalam membaca hasil penelitian yang diperoleh di lapangan. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dan deskriptif. Berikut rumus penghitungan persentase habitus tertentu, persentase bagian tertntu yang digunakan dari tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat, persentase tipe habitat tertentu, dan persentase budidaya tumbuhan : Persentase habitus tertentu= ∑ spesies habitus tertentu ×100% ∑ seluruh spesies Persentase bagian tertentu yang dimanfaatkan= ∑ bagian tertentu yang dimanfaatkan ×100% ∑ seluruh bagian yang dimanfaatkan Persentase tipe habitat tertentu= spesies dari habitat tertentu ×100% seluruh spesies Persentase budidaya tumbuhan= spesies tumbuhan budidaya ×100% seluruh spesies 18 Lokasi Penelitian Gambar 4 Denah lokasi penelitian (sumber: WWF 2002). BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Sejarah Singkat, Luas, dan Letak Kayan Mentarang awalnya ditunjuk sebagai cagar alam seluas 1,6 juta hektar berdasarkan SK No. 84 Kpts/Um/II/25 November 1980, mengingat tingginya keanekaragaman hayati di lokasi tersebut. Pada tahun 1989, PHPA, LIPI serta WWF Indonesia Programme menandatangani MoU untuk memulai proyek kerjasama penelitian dan pengembangan untuk Kayan Mentarang yang bertujuan untuk mengembangkan sistem pengelolaan yang mengintegrasikan konservasi dengan pembangunan ekonomi yang berkesinambungan bagi masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar cagar alam. Dengan statusnya sebagai cagar alam maka terdapat hambatan secara hukum bagi mayarakat adat untuk melanjutkan cara hidup tradisional mereka yang telah berlangsung selama berabad-abad (Dephut 2002a). Pada tahun 1992, WWF mengusulkan perubahan status Kayan Mentarang menjadi taman nasional mengingat status taman nasional memungkinkan pemanfaatan sumberdaya alam secara tradisional di zona yang telah ditentukan. Departemen Kehutanan membentuk tim untuk mengevaluasi rekomendasi WWF tersebut. Pada tanggal 7 Oktober 1996, Menteri Kehutanan menyetujui dan menunjuk Kayan Mentarang sebagai taman nasional melalui SK Menteri Kehutanan No. 631/Kpts-II/1996. Surat keputusan tersebut merupakan SK pertama di Indonesia yang menyatakan bahwa masyarakat asli diperbolehkan mencari nafkah secara tradisional di dalam areal tertentu dari taman nasional (Dephut 2002a). Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) memiliki luas wilayah sekitar 1,35 juta hektar dan terletak di wilayah Kecamatan Kayan Hilir, Pujungan, Kayan, Mentarang dan Lumbis di Kabupaten Malinau. Taman nasional ini berbentuk panjang dan menyempit, dan mengikuti batas internasional dengan negara bagian Sabah dan Serawak, Malaysia. Posisinya terletak diantara 2O LU dan 4O LU dari khatulistiwa (Dephut 2002a, 2002b). 20 4.2 Aksesibilitas Taman Nasional Kayan Mentarang terletak jauh dari pusat-pusat pemukiman penduduk dan jalan. Saat ini akses yang ada hanya terbatas melalui perjalanan sungai dengan perahu tempel dan perjalanan udara dengan pesawat kecil atau helikopter. Beberapa desa yang terdapat di dalam wilayah taman nasional dilayani dengan penerbangan reguler dari Dirgantara Air Service (DAS) dan Mission Aviation Fellowship (MAF). Rute utama jalur sungai menuju taman nasional dan daerah-daerah sekitarnya adalah (Dephut 2002b) : a. Dari Tanjung Selor dan Long Bia melalui Sungai Kayan dan Sungai Bahau ke Long Pujungan dan desa-desa bagian hulu (perjalanan selama 1,5 jam). Untuk desa-desa yang letaknya lebih jauh di bagian hulu dapat dicapai dengan cara menyewa perahu-perahu yang lebih kecil selama 1 hari. b. Dari Malinau di bagian hulu Sungai Tubu menuju ke daerah perbatasan dekat dengan Rian Tubu dapat ditempuh dalam waktu 1 hari perjalanan menyewa perahu tempel. c. Dari Long Ampung dan Long Nawang menuju ke Data Dian dicapai melalui Sungai Kayan. Pada jalur ini terdapat Jeram Ambun dan jeram-jeram lain di Sungi Kayan yang dapat menghambat perjalanan perahu. Perjalanan ke arah hilir sampai di jeram-jeram tersebut dapat dilakukan dengan mencarter perahu yang ada di Data Dian. Dari lokasi tersebut dapat diteruskan melalui jalan setapak sepanjang 30 km mengitari daerah sekitar jeram. Dari tempat tersebut juga tersedia perahu sewa menuju Long Peso dan ke Long Bia juga Tanjung Selor. 4.3 Ekosistem Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) sedikitnya memiliki 18 jenis habitat terestrial atau tipe vegetasi. Tipe-tipe tersebut antara lain hutan dataran rendah, sub Montana dan Montana bercampur dengan padang rumput dan lahan pertanian masyarakat setempat dan vegetasi pada substrat yang khusus seperti hutan kerangas dan hutan kapur. Banyak areal di TNKM memiliki curah hujan dua kali lipat dari daerah-daerah lain sehingga perbedaan curah hujan di kawasan tersebut membuat keadaan vegetasi menjadi lebih kompleks (Dephut 2002b). 21 Selain dari substrat terrestrial dan keterkaitannya dengan flora/fauna, TNKM juga memiliki berbagai komunitas perairan, mulai dari sungai besar dengan aliran deras sampai anak sungai kecil atau genangan air dari hujan dan rembesan. Sungai-sungai yang berada pada ketinggian dengan kondisinya yang beranekaragam menyebabkan tingginya keragamanan amfibi dan ikan (Dephut 2002b). 4.4 Potensi Flora dan Fauna Taman Nasional Kayan Mentarang memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa bernilai tinggi baik jenis langka maupun dilindungi, keanekaragaman tipe ekosistem dari hutan hujan dataran rendah sampai hutan berlumut di pegunungan tinggi. Beberapa tumbuhan yang ada antara lain pulai (Alstonia scholaris), jelutung (Dyera costulata), ramin (Gonystylus bancanus), Agathis (Agathis borneensis), kayu ulin (Eusideroxylon zwageri), rengas (Gluta wallichii), gaharu (Aquilaria malacensis), aren (Arenga pinnata), berbagai jenis anggrek, palem, dan kantong semar. Selain itu, ada beberapa jenis tumbuhan yang belum semuanya dapat diidentifikasi karena merupakan jenis tumbuhan baru di Indonesia (Dephut 2006). Terdapat sekitar 100 jenis mamalia (15 jenis diantaranya endemik), 8 jenis primata dan lebih dari 310 jenis burung dengan 28 jenis diantaranya endemik Kalimantan serta telah didaftarkan oleh ICBP (International Committee for Bird Protection) sebagai jenis terancam punah. Beberapa jenis mamalia langka seperti macan dahan (Neofelis nebulosa), beruang madu (Helarctos malayanus euryspilus), lutung dahi putih (Presbytis frontata frontata), dan banteng (Bos javanicus lowi) (Dephut 2006). 4.5 Kondisi Masyarakat Seluruh kawasan TN Kayan Mentarang dihuni sejak sekitar tiga abad yang lalu oleh kelompok masyarakat suku Dayak. Kira-kira 16.000 jiwa penduduk suku Dayak yang terdiri dari 12 kelompok bahasa yang berbeda, saat ini menghuni 50 desa di dalam dan di sekitar taman nasional. Kepadatan penduduk rata-rata 0,74 orang/km yang meliputi taman nasional dan daerah penyangga. Dalam 22 kesehariannya, masyarakat adat suku Dayak hidup dengan peraturan adat. Terdapat 10 wilayah adat yang masing-masing dipimpin oleh lembaga adat di bawah kepemimpinan kepala adat (Dephut 2002b). Masyarakat Dayak sebagian besar memiliki mata pencaharian kombinasi antara pertanian skala kecil, berburu, dan memancing, serta mengumpulkan bahan makanan, bahan bangunan, kayu bakar, dan obat-obatan dari hutan. Penduduk biasa mendapatkan uang tunai melalui kegiatan mengumpulkan dan kemudian menjual hasil-hasil hutan non kayu (Dephut 2002a, 2002b). Suku Dayak di sekitar TN Kayan Mentarang terdiri dari berbagai subsuku Dayak antara lain: Kayan, Kenyah, Lundayeh, Merap, Punan, Saben, Tagel, dan lain-lain. Mereka adalah pengelola hutan yang bijak. Sistem pengelolaan yang diterapkan secara turun temurun mewariskan hutan yang dapat dinikmati oleh anak-cucu mereka (Uluk et al. 2001). Suku Dayak di TN Kayan Mentarang sangat menggantungkan hidupnya pada hutan. Hidup dan hutan bagi mereka seperti ikan dan air yang menjadi satu kesatuan dan tak terpisahkan. Salah satu bentuk ketergantungan tersebut adalah pemanfaatan bahan pangan yang berasal dari hutan dan sekitarnya. Tumbuhan sebagai sumber karbohidrat yang berasal dari berbagai jenis palem dan umbiumbian seperti nanga (Eugeissona utilis), talang (Arenga undulatifolia), lundai (Xanthosoma sp., Colocasia gigantea), dan lain-lain (Uluk et al. 2001). Selain karbohidrat, Suku Dayak sekitar TNKM memanfaatkan tumbuhan hutan sebagai asupan vitamin dari sayur dan buah-buahan. Beberapa spesies tumbuhan yang digunakan sebagai sayur antara lain: paku bala (Stenoclaena palustris), paku bai (Diplazium esculentum), paku pa’it (Athyrium sozongonense), dan jenis lainnya. Sedangkan jenis buah yang dikonsumsi orang Dayak antara lain: dian da’un (Durio oxleyanus), dian kalang (Durio zibethinus), mangga (Mangifera indica), nakan (Artocarpus integer), dan lain sebagainya (Uluk et al. 2001). BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Karakteristik Responden 5.1.1 Komposisi jenis kelamin Dari keseluruhan jumlah responden yang diwawancarai (35 orang), dapat diketahui bahwa komposisi jenis kelamin sebanyak 25 orang laki-laki (71%) dan 10 orang perempuan (29%) (Gambar 5). Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, perbedaan jenis kelamin tidak berpengaruh besar terhadap pembagian kerja responden. Dari 35 responden yang telah diwawancarai, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama berperan dalam mengerjakan kegiatan mereka sehari-hari. Sebagai contoh bertani, baik laki-laki maupun perempuan memiliki peran yang sama dalam kegiatan seperti mencangkul, merumput, menanam, mencari kayu api, dan kegiatan bertani lainnya, bahkan untuk kegiatan berburu pun sebenarnya perempuan boleh melakukannya, akan tetapi di Desa Long Alango tidak terdapat perempuan yang ikut berburu. Pemburu yang berjenis kelamin perempuan ini ada di Desa Long Kemuat (sebelah Desa Long Alango). Untuk kegiatan berkebun pun mereka memiliki peran yang sama mulai dari persiapan lahan hingga pemanenan. Seperti Simatauw et al. (2001) menyebutkan bahwa masyarakat Dayak di Kalimantan merupakan masyarakat yang egaliter. Di beberapa suku, laki-laki dan perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam pengelolaan sumberdaya alam. 29% Laki-laki Perempuan 71% Gambar 5 Komposisi penduduk Desa Long Alango. 24 Dalam urusan desa seperti acara pertemuan/rapat desa, pemimpin seperti kepala desa, ketua adat, ketua BPTU (Badan Pengelola Tana’ Ulen), dan pemimpin lainnya tetap menjadi kewajiban laki-laki. Badan Pengelola Tana’ Ulen merupakan suatu badan yang mengelola semua hal yang berhubungan dengan Tana’ Ulen. Tana’ Ulen merupakan suatu wilayah yang dikeramatkan. Tana’ Ulen ini berada di zona tradisional TNKM karena wilayah ini telah dimanfaatkan oleh penduduk sekitar sebelum dibentuknya taman nasional. Perempuan-perempuan Desa Long Alango mengurus anak dan urusan rumah tangga, mereka juga memiliki perkumpulan ibu-ibu PKK untuk menjalin kekeluargaan. Ibu-ibu PKK ini selain mengadakan pertemuan rutin, mereka juga sering membuat kerajinan khas dayak seperti saung, belanyat, tikar, dan anyaman lainnya yang nantinya akan dijual ke pendatang/turis atau mereka gunakan sendiri. Sedangkan untuk acara kerja bakti membangun desa, antara laki-laki dan perempuan bekerja sama tanpa membedakan gender. Contohnya saja kerja bakti dalam perbaikan bandara pesawat lokal (Susi Air dan MAF) semua orang bekerja sama baik laki-laki maupun perempuan, mulai dari anak-anak hingga orang tua yang masih kuat. (a) (b) Gambar 6 Kerja bakti pelebaran bandara: (a) perempuan; (b) laki-laki. 5.1.2 Komposisi kelas umur Pengetahuan mengenai pemanfaatan tumbuhan terutama untuk kebutuhan pangan telah dikenal sejak zaman dahulu. Secara turun temurun pengetahuan ini diwariskan kepada keturunannya. Dari hasil wawancara diperoleh kelas umur 25 yang berkisar antara 23 tahun hingga 70 tahun (Gambar 7). Berdasarkan grafik tersebut, usia tertua adalah usia 70 tahun. Responden ini masih bekerja di sawah dan masih melakukan kegiatan lainnya sendiri, tanpa meyusahkan orang lain, bahkan responden ini sering berkunjung ke rumah tetangganya yang memiliki jarak agak jauh dari rumahnya dengan berjalan kaki. Kelompok usia terbanyak adalah antara 30 tahun hingga 40 tahun yaitu sebanyak 16 orang. Hal ini menunjukkan bahwa usia tersebut merupakan usia produktif dimana orang-orang bersemangat dalam bekerja di sawah, ladang, dan kebun, bahkan untuk pergi ke hutan dengan tujuan berburu dan kegiatan lainnya. 18 16 16 jumlah (orang) 14 12 10 7 8 6 4 5 4 4 2 0 62 th Kelompok umur (tahun) Gambar 7 Jumlah responden berdasarkan kelompok umur. Masyarakat Dayak Kenyah Desa Long Alango telah memanfaatkan hutan selam berabad-abad. Akan tetapi intensitas mereka pergi ke hutan bukan untuk setiap saat, melainkan hanya pada saat membutuhkan saja seperti saat ingin berburu, berladang, kerja gaharu, mengambil bahan bangunan dan kerajinan, serta hanya untuk refreshing. Mereka pergi ke hutan biasanya dua hingga empat kali dalam seminggu karena kegiatan harian mereka dihabiskan di sawah dan kebun mereka. 26 5.1.3 Tingkat pendidikan formal Komposisi tingkat pendidikan responden adalah tidak sekolah sebanyak 1 orang (3%), lulusan taman kanak-kanak (TK) sebanyak 1 orang (3%), lulusan sekolah dasar (SD) sebanyak 19 orang (54%), lulusan SMP sederajat sebanyak 5 orang (14%), lulusan SMA sederajat sebanyak 3 orang (9%), lulusan Diploma sebanyak 2 orang (6%), dan lulusan Sarjana sebanyak 4 orang (11%). Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui bahwa mayoritas masyarakat memiliki tingkat pendidikan lulusan SD (54%). Persentase tertinggi kedua adalah lulusan SMP sederajat yaitu 14% (Gambar 8). Hal ini karena sekolahan yang terdapat pada desa tersebut hanyalah SD dan SMP, itu pun jumlahnya masing-masing adalah satu sekolah. Biasanya orang yang ingin melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi belajar di luar daerah, misalnya di Tanjung Selor atau Malinau. Akan tetapi, mereka juga dapat melanjutkan sekolahnya lebih jauh lagi misalnya di luar Pulau Kalimantan. Mereka yang sekolah di luar daerah bahkan hingga Sarjana, ada yang kembali lagi ke kampung halamannya untuk menjadi guru ataupun pegawai kecamatan. Dengan kata lain mereka pulang untuk membangun desa mereka. Kebanyakan dari mereka yang sarjana berjenis kelamin laki-laki karena biasanya perempuan setelah lulus SMP langsung menikah dengan alasan tidak ingin sekolah jauh meninggalkan desanya. Tingkat pendidikan Sarjana 11% Diploma 6% SLTA Sederajat 9% SLTP Sederajat 14% SD 54% TK 3% Tidak sekolah 3% 0% 10% 20% 30% 40% 50% Persentase Gambar 8 Komposisi tingkat pendidikan responden. 60% 27 5.1.4 Jenis pekerjaan Dari 35 responden, keseluruhannya memiliki pekerjaan utama sebagai petani karena bagi mereka bertani merupakan kebutuhan hidup. Mereka memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri dengan menyediakan bahan pangan yang berasal dari sawah/ladang kadang juga mengambil langsung dari hutan tanpa mengandalkan proses jual-beli dari orang lain ataupun bantuan langsung dari pemerintah. Pemerintah Kabupaten Malinau juga membantu melalui program “Gerbangdema” (Gerakan Pembangunan Desa Mandiri). Program ini diharapkan mampu menjadikan desa-desa di Kabupaten Malinau menjadi desa yang lebih mandiri. Oleh sebab itu, “Gerbangdema” memiliki produk unggulan yang dihasilkan dari desa-desa tersebut yang nantinya dapat dijual ke luar ataupun dalam daerah sehingga mampu menjadi sumber pendapatan bagi warga desa. Salah satu produk unggulan adalah padi lokal. Bibit padi lokal yang awalnya berasal dari Pemerintah Kabupaten Malinau, ada juga yang berasal dari turuntemurun suku Dayak. Salah satu bibit padi yang berasal dari program “Gerbangdema” adalah padi adan. Tidak hanya padi, “Gerbangdema” memiliki produk unggulan lainnya seperti nanas (Ananas comosus), bekkai (Pycnarrhena cauliflora), bawang kenyah (Allium tuberosum), kopi (Coffea robusta), kakao (Theobroma cacao), dan produk unggulan lainnya. Di samping menjadi petani, mereka juga memiliki mata pencaharian lain seperti PNS (guru SD, guru SMP, pegawai kecamatan), pedagang, pemilik penginapan, dan sebagai agen penjualan tiket pesawat lokal (MAF dan Susi Air). Agar sawah atau ladang mereka tetap terurus di saat mereka bekerja di luar selain sebagai petani, maka mereka melakukan pembagian kerja dengan anggota keluarga lainnya. Sebagai contoh, apabila suami bekerja sebagai PNS, pada pagi hingga sore suami kerja di sekolah/kantor, sedangkan sawah atau ladang diurus istri atau anak (jika kedua orang tua bekerja di luar). Setelah suami/orang tua pulang, mereka bergantian dalam mengurus sawah/ladang. Biasanya mereka setelah bekerja langsung menuju sawah/ladang mereka sebelum pulang ke rumah. Begitu pula untuk pekerjaan/mata pencaharian yang lain. Adapun yang menjadi ibu rumah tangga dan pemandu (guide) lokal serta bekerja mencari gaharu, menjual hasil pertanian dan perkebunan sendiri ke tetangga atau desa lain, 28 menjual hasil buruan ke tetangga atau desa lain, menjual hasil kerajinan, menyewakan perahu untuk menambah pendapatan keluarganya. Pekerjaan ini dilakukan karena pendapatan yang diperoleh digunakan untuk kebutuhan lain di luar kebutuhan pangan seperti keperluan sandang, kebutuhan rumah tangga, dan kebutuhan lain yang memerlukan uang. Untuk kebutuhan papan, mereka dapat memanfaatkan hasil hutan kayu untuk membangun rumah mereka. Budaya bertani telah ada sejak zaman dahulu. Orang tua terdahulu mengajarkan kepada anak cucunya untuk dapat bertahan hidup dengan kemandirian. Bibit yang diperoleh untuk tanaman pertanian berasal dari turun temurun, ada juga yang berasal dari luar daerah. Karena dirasa hasil pertanian masih kurang cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan, mereka mengambil bibit tumbuhan hutan untuk dibudidayakan di kebun. Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan vitamin, mineral, air, dan kandungan nutrisi lainnya, penduduk desa menanam spesies sayuran yang bibitnya berasal dari luar daerah. Sayur yang biasanya dijadikan pelengkap bahan makanan mereka juga ada yang berasal dari hutan. 5.2 Keanekaragaman Tumbuhan Pangan 5.2.1 Keanekaragaman spesies Berdasarkan hasil wawancara dan eksplorasi tumbuhan, diperoleh 139 spesies tumbuhan berguna sebagai pangan dengan rincian 32 spesies tumbuhan pangan hutan/liar, 46 spesies tumbuhan pangan berasal dari hutan yang telah dibudidaya, dan 61 spesies tumbuhan pangan budidaya yang bukan berasal dari hutan (Gambar 9). Berdasarkan 32 spesies tumbuhan pangan yang berasal dari hutan dapat dikelompokkan dalam 13 famili (Gambar10). Berdasarkan hasil tersebut, famili yang memiliki jumlah spesies terbanyak adalah Famili Arecaceae (11 spesies). Beberapa spesies pada Famili Arecaceae seperti eman (Caryota mitis), nanga (Eugeissona utilis), uwai tebungen (Calamus ornatus), uwai tana’ (Calamus sp.) merupakan bahan pangan yang berguna sebagai bahan pangan pokok pengganti nasi (sumber energi) dan ada yang dimanfaatkan sebagai sayuran dengan bagian dimanfaatkan yaitu umbut. Umbut merupakan bagian rotan atau palem-paleman 29 yang masih muda, letaknya di dalam antara pangkal daun dan ujung batang. Umbut ini merupakan sayuran yang sangat disenangi masyarakat Dayak. Tumbuhan pangan hutan Tumbuhan pangan budidaya dari hutan 46 32 Tumbuhan pangan budidaya 61 Gambar 9 Jumlah spesies tumbuhan pangan hutan, tumbuhan pangan budidaya dari hutan, dan tumbuhan pangan budidaya. Selain itu terdapat satu spesies buah khas Borneo dari Famili Arecaceae yaitu birai (Salacca affinis var. borneensis). Birai atau dikenal dengan salak hutan ini banyak terdapat di Stasiun Penelitian Hutan Tropis (SPHT) Lalut Birai yang sekaligus merupakan Tana’ Ulen atau hutan adat bagi Suku Dayak Kenyah Famili TNKM. Amanitaceae Araceae Arecaceae Athyriaceae Auriculariaceae Nephrolepidacea Piperaceae Pleurotaceae Poaceae Polypodiaceae Russulaceae Zingiberaceae (tidak teridentifikasi) 1 3 11 1 1 1 1 1 3 2 2 2 3 0 5 10 15 Jumlah (spesies) Gambar 10 Jumlah spesies tumbuhan pangan hutan/liar berdasarkan famili. 30 Tumbuhan pangan hutan/liar yang sering dimanfaatkan Suku Dayak Kenyah selain sebagai bahan pangan pokok juga ada yang sering dimanfaatkan sebagai sayuran seperti spesies jamur (kulat) dengan contoh : kulat long (Amanita sp.), kulat tlengadok (Auricularia auricula-judae), kulat jap (Pleurotus sp.) dan pakupakuan seperti paku pait (Athyrium sozongonense), paku julut (Nephrolepis bisserata) (Tabel 3). Selain jamur dan paku-pakuan, terdapat pula tumbuhan berhabitus herba yang dimanfaatkan sebagai sayur yaitu balang (Heckeria umbellata). Berikut contoh nama-nama spesies tumbuhan pangan hutan yang dimanfaatkan Suku Dayak Kenyah berdasarkan familinya yang dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3 Contoh spesies tumbuhan pangan hutan berdasarkan famili No. 1 2 Famili Amanitaceae Araceae 3 Arecaceae 4 5 6 7 8 9 Athyriaceae Auriculariaceae Nephrolepidacea Piperaceae Pleurotaceae Poaceae 10 11 Polypodiaceae Russulaceae 12 13 Zingiberaceae (tidak teridentifikasi) Spesies Kulat long (Amanita sp.) Keladi upa' nyak (Colocasia esculenta), lundai 1 (Colocasia gigantea), lundai 2 (Xanthosoma sp.) Talang (Arenga undulatifolia), uwai tebungen (Calamus ornatus), eman (Caryota mitis), birai (Salacca affinis) Paku pait (Athyrium sozongonense) Kulat tlengadok (Auricularia auricula-judae) Paku julut (Nephrolepis bisserata) Daun balang (Heckeria umbellata) Kulat jap (Pleurotus sp.) Bambu betung (Dendrocalamus asper), bambu apus (Gigantolochloa apus), sengka (Setaria palmifolia) Paku bai (Diplazium esculentum), paku bala (Stenoclaena palustris) Kulat bulu (Lactarius deliciosus), kulat long balabau (Russula cyanoxantha) Nyanding (Etlingera elatior), iti' (Etlingera sp.) Kulat kedet, kulat puti', kulat temenggang Berdasarkan 139 spesies tumbuhan pangan yang dimanfaatkan Suku Dayak Kenyah, terdapat 46 spesies tumbuhan pangan yang telah dibudidaya berasal dari hutan dengan 16 famili (Gambar 11). Suku Dayak Kenyah melestarikan tumbuhan pangan dengan menanamnya di kebun. Hal ini bertujuan agar mempermudah dalam perolehan tumbuhan pangan tanpa harus mengambilnya langsung dari hutan. Suku Dayak Kenyah membudidayakan tumbuhan pangan hutan di kebun 31 dengan cara trial and error. Mereka belajar dari kesalahan dan terus mencobanya hingga berhasil. Hal ini telah diajarkan turun temurun hingga saat ini. Pada Gambar 11 dapat diketahui bahwa Famili Sapindaceae yang memiliki jumlah spesies terbanyak yaitu 12 spesies. Spesies yang ditemukan pada Famili Sapindaceae adalah buah-buahan yang berasal dari hutan (maritam, mata kucing, rambutan hutan, dan sebagainya). Hal ini membuktikan bahwa TNKM memiliki keanekaragaman buah, sehingga Suku Dayak Kenyah yang tinggal di sekitarnya senang membudidayakan/memanfaatkan bibitnya agar dapat dikonsumsi dengan lebih mudah. Hal ini menunjukkan bahwa Suku Dayak Kenyah TNKM Famili menerapkan asas konservasi (perlindungan, pengawetan, pemanfaatan). Anacardiaceae Bombacaceae Burseraceae Clusiaceae Cucurbitaceae Euphorbiaceae Fabaceae Flacourtiaceae Lauraceae Melastomataceae Meliaceae Menispermaceae Moraceae Polygalaceae Sapindaceae Urticaceae (tidak teridentifikasi) 2 5 1 3 1 7 1 1 1 1 1 2 2 3 12 1 2 0 2 4 6 8 10 12 14 Jumlah (spesies) Gambar 11 Jumlah spesies tumbuhan pangan budidaya yang berasal dari hutan berdasarkan famili. Beberapa responden menuturkan bahwa saat musim buah, pohon berbuah melimpah, ada yang tumbuh di kebun karena dibudidaya yang bibitnya berasal dari hutan, ada pula yang langsung mengambil dari hutan. Tapi sayangnya buahbuahan tersebut matang dan busuk begitu saja karena pohon terus menghasilkan 32 buah sedangkan tidak setiap hari dikonsumsi buahnya. Berdasarkan pendapat responden, Taman Nasional Kayan Mentarang yang memiliki akses susah dan perjalanan yang jauh, sehingga buah-buahan yang ada kurang dimanfaatkan dan dikelola dengan baik. Famili yang memiliki jumlah spesies terbanyak kedua adalah Euphorbiaceae. Beberapa spesies yang berasal dari Famili Euphorbiaceae adalah payang kure (Aleuritas moluccana), seti' (Baccaurea bracteata), keleppeso (Baccaurea dulcis) (Tabel 4). Selain contoh tersebut, terdapat pula spesies tumbuhan yang dijadikan bumbu (terasi dayak) oleh Suku Dayak Kenyah seperti payang lengu (Ricinus communis) dan salap (Sumbaviopsis albicans) (Lampiran 2). Tabel 4 Contoh spesies tumbuhan pangan budidaya yang berasal dari hutan berdasarkan famili No. 1 2 Famili Anacardiaceae Bombacaceae 3 4 Burseraceae Clusiaceae 5 6 Cucurbitaceae Euphorbiaceae 7 8 9 10 11 12 Fabaceae Flacourtiaceae Lauraceae Melastomataceae Meliaceae Menispermaceae 13 14 Moraceae Polygalaceae 15 Sapindaceae 16 17 Urticaceae (tidak teridentifikasi) Famili yang Spesies Berenyiu (Mangifera caesia), alim (Mangifera pajang) Durian merah (Durio graveolens), dian lai (Durio kutejensis), durian daun (Durio oxleyanus), durian besar, durian temenggang Kelamu' (Dacryodes rostrata) Petong (Garcinia bancana), berana' (Garcinia cf. Lateriflora), adiu (Garcinia forbesii) Payang aka (Trichosanthes sp.) Payang kure (Aleuritas moluccana), seti' (Baccaurea bracteata), keleppeso (Baccaurea dulcis) Petai hutan (Parkia speciosa) Payang kayu (Pangium edule) Belengla (Litsea cubeba) Tenggok Buin (Pternandra cordata) Langsat (Lancium domesticum) Bekkai lanya (Coscinium miosepalum), bekkai lema (Pycnarrhena cauliflora) Temai' (Artocarpus altilis), kean (Artocarpus odoratissimus) Bua tiup (Xanthophyllum amoenum), mejalin batu (Xanthophyllum exelsa), mejalin( Xanthophyllum obscurum) Mata kucing (Dimocarpus longan), se'bau (Nephelium juglandifolium), maritam (Nephelium ramboutan-ake), unjing (Nephelium maingayi), rambutan hutan (Nephelium muntabile) Keten (Poikilospermus suaveolens) Tekalang da'an, telo'dok memiliki jumlah spesies terbanyak ketiga setelah Euphorbiaceae adalah Bombacaceae (5 spesies). Keseluruhan tumbuhan pangan yang berasal dari Famili Bombacaceae ini adalah durian dengan berbagai spesies 33 seperti durian merah (Durio graveolens), dian lai (Durio kutejensis), durian daun (Durio oxleyanus), durian besar, yang durian temenggang (Tabel 5). Suku Dayak Kenyah senang dengan buah durian sehingga mereka berinisiatif untuk membudidayakannya. Dengan demikian pada saat musim buah tidak perlu lagi Famili mengambil langsung dari hutan yang kaya akan durian tersebut. Amaranthaceae Anacardiaceae Annonaceae Arecaceae Basellaceae Bombacaceae Brassicaceae Bromeliaceae Caricaceae Clusiaceae Convolvulaceae Cucurbitaceae Euphorbiaceae Fabaceae Lauraceae Liliaceae Limnocharitaceae Moraceae Musaceae Myrtaceae Pandanaceae Piperaceae Poaceae Rubiaceae Rutaceae Sapindaceae Solanaceae Sterculiaceae Zingiberaceae 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 2 6 3 6 2 2 1 2 1 4 1 1 5 1 2 1 5 1 4 0 1 2 3 4 5 6 7 Jumlah (spesies) Gambar 12 Jumlah spesies tumbuhan pangan budidaya bukan berasal dari hutan berdasarkan famili. Pada Gambar 12 dapat diketahui bahwa jumlah spesies tumbuhan pangan budidaya yang bukan berasal dari hutan paling banyak terdapat pada Famili Cucurbitaceae dan Fabaceae yaitu masing-masing 6 spesies. Contoh spesies dari Famili Cucurbitaceae adalah kelompok labu-labuan seperti timun (Cucumis 34 sativus), labu kuning (Cucurbita moschata), pare (Momordica charantia) (Tabel 5). Contoh spesies tumbuhan dari Famili Fabaceae adalah kelompok kacangkacangan seperti kacang tanah (Arachis hypogaea), kedelai (Glycine max), kacang hijau (Phaseolus aureus) (Tabel 5). Contoh-contoh tumbuhan tersebut merupakan tumbuhan yang kebanyakan dimanfaatkan sebagai sayuran oleh Suku Dayak Kenyah dalam memenuhi kebutuhan protein nabatinya. Tabel 5 Contoh spesies tumbuhan pangan budidaya bukan berasal dari hutan berdasarkan famili No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Famili Amaranthaceae Anacardiaceae Annonaceae Arecaceae Basellaceae Bombacaceae Brassicaceae Bromeliaceae Caricaceae Clusiaceae Convolvulaceae Cucurbitaceae 13 Euphorbiaceae 14 Fabaceae 15 16 17 18 19 20 Lauraceae Liliaceae Limnocharitaceae Moraceae Musaceae Myrtaceae 21 22 23 24 25 26 27 Pandanaceae Piperaceae Poaceae Rubiaceae Rutaceae Sapindaceae Solanaceae 28 29 Sterculiaceae Zingiberaceae Spesies Bayam (Amaranthus spinosus Mangga (Mangifera indica) Sirsak (Annona muricata) Pinang (Areca catechu), kelapa (Cocos nucifera) Lodo (Basella alba) Durian (Durio zibethinus) Sawi hijau (Brassica rapa var. parachinensis) Nanas (Ananas comosus) Pepaya (Carica papaya) Manggis (Garcinia mangostana) Kangkung (Ipomea aquatica), ubi jalar (Ipomea batatas) Timun (Cucumis sativus), labu kuning (Cucurbita moschata), pare (Momordica charantia) Singkong 1 (Manihot utilissima), singkong 2 (Manihot esculenta), cangkok manis (Sauropus androgynus) Kacang tanah (Arachis hypogaea), kedelai (Glycine max), kacang hijau (Phaseolus aureus) Kayu manis (Cinnamomum burmanii), buah mali (Litsea garciae) Bawang merah (Allium cepa), bawang rambut (Allium tuberosum) Genjer (Limnocharis flava) Nangka (Artocarpus heterophyllus), nakan (Artocarpus integer) Pisang (Musa spp.) Jambu batu (Psidium guajava), cengkih (Syzygium aromaticum), salam (Syzygium polyanthum) Pandan (Pandanus amaryllifolius) Lada (Piper nigrum) Jagung (Zea mays), padi (Oryza sativa), sereh (Andropogon nardus) Kopi kenyah (Coffea robusta) Bonyau kela'ang (Citrus maxima), Jeruk besar (Citrus aurantium ) Rambutan (Nephelium lappaceum) Olem (Solanum tovum), lombok/cabe rawit (Capsicum frutescens), terong (Solanum melongena) Kakao (Theobroma cacao) Lia lamut (Alpinia galanga), lia bonat (Curcuma domestic), lia salu (Zingiber officinale) 35 5.2.2 Keanekaragaman habitus Berdasarkan habitus pada tumbuhan pangan hutan, diperoleh 7 habitus (jamur, herba, semak, liana, paku-pakuan palem, bambu) (Tabel 6) dengan persentase tertinggi adalah habitus jamur (25%) yang memiliki 8 spesies. Contoh spesies tersebut adalah kulat long (Amanita sp.), kulat bulu (Lactarius deliciosus), kulat long balabau (Russula cyanoxantha) (Tabel 7). Habitus yang memiliki jumlah spesies paling sedikit yaitu semak (1 spesies). Spesies tersebut adalah birai (Salacca affinis var.borneensis). Tabel 6 Persentase habitus tumbuhan pangan hutan No. 1 2 3 4 5 6 7 Habitus Jamur Herba Semak Liana Paku-pakuan Palem Bambu Jumlah Jumlah (spesies) 8 7 1 5 4 5 2 32 Persentase (%) 25 22 3 16 13 16 6 100 Berdasarkan Tabel 6, berikut beberapa nama spesies tumbuhan pangan hutan berdasarkan habitusnya (Tabel 7). Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat padal Lampiran 1. Tabel 7 Contoh spesies tumbuhan pangan hutan berdasarkan habitus No. 1 Habitus Jamur 2 Herba 3 4 Semak Liana 5 Pakupakuan Palem Bambu 6 7 Spesies Kulat long (Amanita sp.), kulat bulu (Lactarius deliciosus), kulat long balabau (Russula cyanoxantha) Keladi upa' nyak (Colocasia esculenta), balang (Heckeria umbellata), nyanding (Etlingera elatior), iti' (Etlingera sp.) Birai (Salacca affinis var.borneensis) Uwai tebungen (Calamus ornatus), uwai tana' (Calamus sp.), uwai balamata (Calamus sp.1), uwai pait (Calamus sp.2) Paku bai (Diplazium esculentum), paku bala (Stenoclaena palustris), paku julut (Nephrolepis bisserata) Eman (Caryota mitis), nanga (Eugeissona utilis), sagu (Metroxylon sp.) Bambu betung (Dendrocalamus asper), bambu apus (Gigantolochloa apus) Berdasarkan hasil pengamatan spesies tumbuhan pangan hutan yang telah dibudidayakan Suku Dayak Kenyah, diperoleh 7 habitus dengan jumlah spesies terbanyak terdapat pada habitus pohon (40 spesies dengan persentase 87 %) 36 (Tabel 8). Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa Suku Dayak Kenyah banyak membudidayakan pohon buah dari hutan untuk ditanam di kebun. Pohon tersebut antara lain berasal dari Famili Bombacaceae (berbagai spesies durian), Sapindaceae (maritam, mata kucing, rambutan hutan), Euphorbiaceae (seti’, dabai, keleppeso, settai), dan famili lainnya (Lampiran 2). Tabel 8 Persentase habitus tumbuhan pangan budidaya yang berasal dari hutan No. 1 2 3 4 Habitus Pohon Liana Herba Perdu Jumlah Jumlah (spesies) 40 4 1 1 46 Persentase (%) 87 9 2 2 100 Berdasarkan jumlah spesies yang terdapat pada Tabel 8, berikut terdapat beberapa nama spesies tumbuhan pangan hutan yang telah dibudidayakan berdasarkan habitusnya (Tabel 9). Untuk nama-nama spesies tumbuhan pangan hutan yang telah dibudidaya secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 2. Tabel 9 Contoh spesies tumbuhan pangan hutan yang telah dibudidaya berdasarkan habitus No. 1 Habitus Pohon 2 Liana 3 4 Herba Perdu Spesies Berenyiu (Mangifera caesia), durian merah (Durio graveolens), kelamu' (Dacryodes rostrata), petong (Garcinia bancana), petai hutan (Parkia speciosa) Payang aka (Trichosanthes sp.), bekkai lanya (Coscinium miosepalum), bekkai lema (Pycnarrhena cauliflora) Keten (Poikilospermus suaveolens) Belengla (Litsea cubeba) Tabel 10 menunjukkan bahwa habitus yang memiliki persentase terbesar adalah herba yaitu 34% (21 spesies). Tumbuhan pangan budidaya non hutan yang memiliki habitus herba antara lain bayam (Amaranthus spinosus), kacang tanah (Arachis hypogaea), pepaya (Carica papaya) (Tabel 11). Habitus yang memiliki persentase paling sedikit yaitu bambu (2%) atau hanya satu spesies bambu kuning (Bambusa vulgaris). Suku Dayak Kenyah menanam bambu kuning karena bagi mereka rebung (tunas) bambu kuning lezat untuk dijadikan sayur tumisan. 37 Tabel 10 Persentase habitus tumbuhan pangan budidaya bukan berasal dari hutan No. 1 2 3 4 5 6 7 Habitus Herba Pohon Palem Liana Semak Perdu Bambu Jumlah Jumlah spesies 21 14 2 14 2 7 1 61 Persentase (%) 34 23 3 23 3 11 2 100 Berikut contoh spesies tumbuhan pangan budidaya non hutan berdasarkan habitusnya yang dapat dilihat pada Tabel 11. Nama spesies lainnya dapat dilihat pada Lampiran 3. Tabel 11 Contoh spesies tumbuhan pangan budidaya yang bukan dari hutan berdasarkan habitus No. 1 Habitus Herba 2 Pohon 3 4 5 6 Palem Liana Semak Perdu 7 Bambu Spesies Bayam (Amaranthus spinosus), sawi hijau (Brassica rapa var. parachinensis), pepaya (Carica papaya), kangkung (Ipomea aquatica), kacang tanah (Arachis hypogaea) Durian biasa (Durio zibethinus), manggis (Garcinia mangostana), mangga (Mangifera indica) Kelapa (Cocos nucifera), pinang (Areca catechu) Lodo (Basella alba), pare (Momordica charantia), lada (Piper nigrum) Nanas (Ananas comosus), pandan wangi (Pandanus amaryllifolius) Singkong (Manihot utilissima), jambu batu (Psidium guajava), terong (Solanum melongena), olem (Solanum torvum) Bambu kuning (Bambusa vulgaris) 5.2.3 Bagian yang digunakan Pada Tabel 12 terdapat 9 bagian yang digunakan dari tumbuhan pangan liar/hutan dengan persentase terbesar adalah umbut (28%) karena seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa masyarakat dayak senang mengonsumsi umbut sebagai sayuran. Persentase terbesar kedua terdapat pada seluruh bagian. Seluruh bagian ini merupakan bagian yang dimanfaatkan pada jamur. Suku Dayak Kenyah memperoleh jamur secara liar atau dari hutan untuk dijadikan sayuran. Persentase bagian yang digunakan tumbuhan pangan hutan terendah adalah umbi-daun, umbut-bunga, dan buah yaitu masing-masing 3%. Bagian digunakan umbi-daun terdapat pada spesies keladi upa’ nyak (Colocassia esculenta) karena pada bagian dimanfaatkan untuk dijadikan sumber energi (makanan pengganti nasi) adalah umbi dan bagian dimanfaatkan untuk sayur tumis atau kuah adalah 38 daun. Bagian yang digunakan terendah lainnya yaitu umbut-bunga nyanding (Etlingera elatior) dari Famili Zingiberaceae. Umbut dan bunga dari nyanding ini dijadikan sayur tumisan. Bunga nyanding dinamakan blusut dalam bahasa Kenyah. Bagian yang digunakan paling sedikit lainnya yaitu buah yang terdapat pada Birai (Salacca affinis var.borneensis). Tabel 12 Persentase bagian digunakan tumbuhan pangan hutan No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Bagian yang digunakan Seluruh bagian Umbi, daun Umbi Umbut Getah Daun Tunas Umbut, bunga Buah Jumlah Jumlah (spesies) 8 1 2 9 3 5 2 1 1 32 Persentase (%) 25 3 6 28 9 16 6 3 3 100 Berdasarkan 9 bagian yang digunakan pada tumbuhan pangan liar/hutan, terdapat beberapa spesies tumbuhan yang tertera pada Tabel 13. Pada tabel tersebut, menunjukkan contoh-contoh spesies yang sering dimanfaatkan Suku Dayak Kenyah dengan bagian tertentu yang digunakan. Rincian spesies tumbuhan pangan secara lebih lengkap terdapat pada Lampiran 1. Tabel 13 Contoh spesies tumbuhan pangan hutan berdasarkan bagian digunakan No. 1 Bagian yang digunakan Seluruh bagian 2 3 4 Umbi, daun Umbi Umbut 5 Getah 6 Daun 7 Tunas 8 9 Umbut, bunga Buah Spesies Kulat long (Amanita sp.), kulat bulu (Lactarius deliciosus), kulat long balabau (Russula cyanoxantha) Keladi upa' nyak (Colocasia esculenta) Lundai 1 (Colocasia gigantea), lundai 2 (Xanthosoma sp.) Talang (Arenga undulatifolia), uwai tebungen (Calamus ornatus), iti' (Etlingera sp.), sengka (Setaria palmifolia) Eman (Caryota mitis), nanga (Eugeissona utilis), sagu (Metroxylon sp.) Paku bai (Diplazium esculentum), paku bala (Stenoclaena palustris), Paku julut (Nephrolepis bisserata), balang (Heckeria umbellata) Bambu betung (Dendrocalamus asper), bambu apus (Gigantolochloa apus) Nyanding (Etlingera elatior) Birai (Salacca affinis var.borneensis) 39 Pada Tabel 14 dapat diketahui bahwa bagian yang digunakan paling banyak adalah buah dengan persentase 89% (41 spesies). Hal ini menunjukkan TNKM memiliki kekayaan spesies buah sehingga masyarakat sekitar hutan dapat memperoleh bibit dari hutan dan membudidayakannya. Tabel 14 Persentase bagian yang digunakan tumbuhan pangan budidaya yang berasal dari hutan No. 1 2 3 Bagian yang digunakan Buah Biji Daun Jumlah Jumlah (spesies) 41 2 3 46 Persentase (%) 89 4 7 100 Berdasarkan persentase spesies yang ditemukan berdasarkan bagian yang digunakan pada Tabel 14, berikut contoh nama-nama spesies tumbuhan pangan yang telah dibudidaya oleh Suku Dayak Kenyah TNKM (Tabel 15). Tabel 15 Contoh spesies tumbuhan pangan budidaya berasal dari hutan berdasarkan bagian yang digunakan No. 1 2 3 Bagian yang digunakan Buah Biji Daun Spesies Berenyiu (Mangifera caesia), durian merah (Durio graveolens), kelamu' (Dacryodes rostrata), petong (Garcinia bancana), petai hutan (Parkia speciosa) Petai hutan (Parkia speciosa), Belengla (Litsea cubeba) Keten (Poikilospermus suaveolens), Bekkai lanya (Coscinium miosepalum), bekkai lema (Pycnarrhena cauliflora) Pada Tabel 16, persentase bagian yang digunakan tumbuhan budidaya non hutan terbesar adalah buah yaitu 43% (26 spesies buah). Buah memiliki fungsi diantaranya sebagai pelengkap gizi, khususnya vitamin C (Tarwotjo 1998). Oleh sebab itu, buah-buahan yang bukan berasal dari hutan pun ditanam Suku Dayak Kenyah. 40 Tabel 16 Persentase bagian yang digunakan tumbuhan pangan budidaya bukan berasal dari hutan No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Bagian yang digunakan Daun Buah Umbut Buah, umbut Umbi, daun Buah, daun Biji Kulit batang Rimpang Buah, umbut, bunga Bunga Akar Tunas Rimpang, bunga Umbi Batang Jumlah Jumlah (spesies) 9 26 1 1 2 2 8 1 3 1 1 1 1 1 2 1 61 Persentase (%) 15 43 2 2 3 3 13 2 5 2 2 2 2 2 3 2 100 Berikut contoh spesies tumbuhan pangan budidaya non hutan berdasarkan bagian yang digunakan (Tabel 17). Tabel 17 Contoh spesies tumbuhan pangan budidaya bukan dari hutan berdasarkan bagian yang digunakan No. 1 Bagian yang digunakan Daun 2 Buah 3 4 5 6 7 Umbut Buah, umbut Umbi, daun Buah, daun Biji 8 9 Kulit batang Rimpang 10 11 12 13 14 15 16 Buah, umbut, bunga Bunga Akar Tunas Rimpang, bunga Umbi Batang Spesies Bayam (Amaranthus spinosus), lodo (Basella alba), pandan (Pandanus amaryllifolius) Sirsak (Annona muricata), pepaya (Carica papaya), labu putih (Lagenaria leucantha), cabai rawit (Capsicum frutescens), olem (Solanum torvum), durian (Durio zibethinus) Pinang (Areca catechu) Kelapa (Cocos nucifera) Ubi jalar (Ipomea batatas), Singkong (Manihot utilissima) Timun (Cucumis sativus), labu kuning (Cucurbita moschata) Lada (Piper nigrum), padi (Oryza sativa), kopi (Coffea robusta), kakao (Theobroma cacao) Kayu manis (Cinnamomum burmanii) Lia bonat (Curcuma domestica), lia salu' (jahe biasa) (Zingiber officinale), jahe merah (Zingiber officinale) peti' (pisang) (Musa spp.) Cengkih (Syzygium aromaticum) Sereh (Andropogon nardus) Bambu kuning (Bambusa vulgaris) Lia lamut (Alpinia galanga) Bawang merah (Allium cepa), bawang rambut (Allium tuberosum) Tebu (Saccharum officinarum) 41 5.2.4 Cara pemanenan Tumbuhan pangan hutan yang dibudidayakan di kebun biasanya berupa tumbuhan penghasil buah. Walaupun kebanyakan tumbuhan yang ditanam di kebun bibitnya berasal dari luar daerah dan dari pemerintah (Lampiran 3), akan tetapi beberapa bibit buah yang berasal dari hutan juga dibudidayakan di kebun mereka seperti berenyiu (Mangifera caesia), alim (Mangifera pajang), dian lai (Durio kutejensis), dian daun (Durio oxleyanus), adiu (Garcinia forbesii), petong (Garcinic bancana), seti’ (Baccaurea bracteata), dabai (Baccaurea dulcis), keleppeso (Baccaurea lanceolata), settai (Baccaurea macrocarpa), bua tiup (Xanthophyllum amoenum), mejalin batu (Xanthopyllum excelsa), mejalin (Xanthopyllum obscurum), isau bala (Dimocarpus longan ssp.), rambutan hutan (Nephelium muntabile), buah telo’ (Nephelium cuspidatum) dan berbagai spesies lainnya (Lampiran 2). Cara pemanenan tumbuhan yang berasal dari hutan dengan mengambil semai beserta tanahnya yang kemudian langsung ditanam di kebun mereka. Apabila ada yang tidak ingin menanam buah-buahn di kebun namun hanya ingin menikmati buah dari pohonnya langsung dai hutan, maka tidak diperbolehkan menebang pohonnya, hanya boleh mengambil bagian buahnya saja. Di samping itu bekkai pun juga ada yang ditanam di kebun, walaupun susah untuk dibudidayakan. Dari hasil wawancara, responden mengungkapkan bahwa keberhasilan tumbuh bekkai lema (Pycnarrhena cauliflora) dan bekkai lanya (Coscinium miosepalum) hanya 10%. Untuk pemanenan bekkai sama dengan memanen buah-buahan dari hutan yaitu dengan mengambil semai beserta tanahnya. Untuk pemanenan hasil kebun/sawah/ladang tidak ada aturannya. Bagi mereka memanen sesuka hati pemiliknya saja, tetapi tidak ditemukan adanya pemanenan yang berlebihan (kecuali pemanenan padi). Sebagian hasil kebun/sawah/ladang disisakan agar tidak habis dan tetap dapat berkembang biak. Cara memanen umbut yaitu dengan cara diukur 2/3 dari pucuk tumbuhan atau mengetuk-ketuk untuk memastikan tumbuhan tersebut terdapat berisi umbut. Kemudian dipotong bagian tersebut, kulitnya dikupas hingga terlihat umbutnya. Umbut siap diolah lebih lanjut sebelum dapat dikonsumsi. 42 5.2.5 Cara pengolahan bahan pangan Bahan pangan yang berasal dari hutan, ladang, kebun, ataupun sawah diolah lebih lanjut oleh Suku Dayak Kenyah. Berbagai makanan khas mereka olah sendiri untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Tabel 18 Spesies tumbuhan pangan yang dijadikan olahan pangan No. Olahan pangan Nama makanan olahan nasi, bubur, sagu, tepung 1 Bahan pangan berkarbohidrat 2 Sayuran sayuran tumis dan bening 3 Bahan pangan pelengkap 4 Minuman kerupuk, bumbu, gorengen, jajanan ciu, kopi, kacang hijau Spesies tumbuhan yang digunakan padi (Oryza sativa), lundai 1 (Colocasia gigantea), lundai 2 (Xanthosoma sp.), singkong (Manihot utilissima), sagu (Metroxylon sp.), dll keladi upa'nyak (Colocassia esculenta, balang (Heckeria umbellata), nyanding(Etlingera elatior), dll bekkai lema (Pycnarrhena cauliflora), bekkai lanya (Coscinium miosepalum), Payang aka (Trichosanthes sp.), salap (Sumbaviopsis albicans), dll singkong (Manihot utilissima), kopi (Coffea robusta), kacang hijau (Phaseolus aureus) 5.2.5.1 Bahan pangan berkarbohidrat Bahan pangan yang mengandung karbohidrat di alam bermacam-macam jenisnya, baik yang berasal dari hutan maupun yang telah dibudidaya. Bahan pangan ini dapat diolah lebih lanjut seperti menjadi : nasi, bubur, tepung, kue, sagu, tape, dan olahan yang dapat menjadi sumber energi lainnya. Olahan yang pertama adalah nasi. Nasi merupakan bahan pangan sederhana dan pokok bagi kehidupan umat manusia. Nasi berasal dari padi, berbagai jenis padi lokal yang ditanam Suku Dayak Kenyah dapat dijadikan nasi dengan tekstur yang berbeda tentunya. Mulai dari nasi pera yang cocok untuk dibuat nasi goreng hingga nasi ketan yang lezat dijadikan berbagai jajanan. Bubur merupakan olahan lanjutan dari nasi. Bubur ini ada yang berasal dari beras ada juga yang berasal dari spesies keladi-keladian seperti keladi upa’ nyak (Colocassia esculenta), lundai 1 (Colocasia gigantea) dan lundai 2 (Xanthosoma sp. (Lampiran 1). Cara pengolahannya sama dengan bubur biasa, hanya saja bubur keladi cara pengolahannya dengan mengambil umbi dari spesies keladi tersebut di atas kemudian membersihkannya, memotongnya, dan merebusnya hingga lembut seperti bubur, dapat juga ditambahkan bumbu garam, lada, dan bumbu lain sesuai 43 selera. Tidak semua spesies keladi dapat dimakan umbinya karena keladi memiliki getah yang apabila dimakan menimbulkan gatal tenggorokkan. Bahan pangan olahan lainnya antara lain tepung yang terbuat dari singkong (Manihot utilissima). Cara pengolahannya, umbi singkong dikupas, kemudian dibersihkan. Setelah bersih, umbi singkong diparut kasar. Setelah diparut, kemudian diletakkan di atas daun pisang dan dijemur. Setelah itu parutan singkong ditumbuk dan dicampur beras yang telah ditumbuk. Setelah itu jemur kembali. Kemudian diayak hingga keluar ampas dan ampas ini ditumbuk kembali. Begitu seterusnya hingga seluruhnya halus. Tepung ini dibuat sendiri secara tradisional dengan alat sederhana dan dapat bertahan lama hingga satu bulan. Bahan pangan berkarbohidrat lainnya adalah kue yang terbuat dari bahan ubi kayu (Ipomea batatas) dengan cara pengolahan seperti membuat kue biasa hanya saja ditambah dengan ubi kayu. Adapun tape singkong dengan cara pengolahan yang seperti biasanya menggunakan ragi. Selanjutnya bahan pangan olahan berkarbohidrat dengan tumbuhan yang berasal langsung dari hutan adalah sagu. Sagu ini berasal dati spesies eman (Caryota mitis), nanga (Eugeissona utilis), dan sagu (Metroxylon sp.) Cara pengolahan sagu pada ketiga spesies tersebut sama, yakni membelah batang sagu/eman/nanga kemudian memukulnya hingga hancur. Pengolahan ini dilakukan dekat dengan sumber air karena sangat membutuhkan air dalam mengolah sagu. Setelah itu injak-injak hingga keluar air dan biarkan hingga satu malam. Setelah terlihat sagu dan air terpisah, buang airnya, kemudian isi air lagi hingga keluar sagu murninya. (a) (b) Gambar 13 Olahan bahan pangan berkarbohidrat: (a) Sagu; (b) Kue. 44 5.2.5.2 Sayuran Spesies tumbuhan yang digunakan sebagai sayuran dapat ditemui di pematang sawah, ladang, bahkan ada yang hidup liar seperti balang (Heckeria umbellata) (Gambar 14). Bagian yang digunakan untuk sayuran selain daun dan seluruh bagian pada habitus herba, juga tunas pada spesies bambu dan umbut pada beberapa spesies seperti talang (Arenga undulatifolia), nyi’bung (Oncosperma horridum), nyandiang (Etlingera elatior), sengka (Setaria palmifolia). Beberapa tumbuhan berhabitus paku-pakuan dan jamur dapat dimanfaatkan sebagai sayur, bahkan spesies keladi-keladian daunnya dapat dimanfaatkan sebagai sayur namun hanya spesies tertentu, yaitu Colocasia esculenta. Semua spesies tumbuhan untuk sayur ini dapat diolah/dimasak dengan cara sayur bening ataupun ditumis. Gambar 14 Balang (Heckeria umbellata). 5.2.5.3 Bahan pangan pelengkap Bahan pangan pelengkap ini merupakan bahan pangan tambahan untuk melengkapi bahan pangan pokok seperti kerupuk yang terbuat dari tepung singkong yang dijemur dan digoreng, bumbu (sambal, penyedap rasa, terasi), gorengan, kacang sembuyi (seperti rempeyek kacang tanah), dan ada juga jajanan seperti pais yang terbuat dari singkong dan kelapa dengan dibungkus daun pisang. Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan langsung ditemukan adanya pemanfaatan bahan alami yang dijadikan penyedap rasa, yaitu yang berasal dari 45 tumbuhan hutan yang bernama bekkai. Bekkai ada dua macam, yaitu bekkai lema (Pycnarrhena cauliflora) dan bekkai lanya (Coscinium miosepalum) (Gambar 15a dan Gambar 15b). Cara pengolahannya yaitu dengan menumbuk halus daun kemudian dijemur hingga kering. Bekkai pun siap digunakan. (a) (b) (c) Gambar 15 Tumbuhan yang dijadikan bahan pangan pelengkap: (a) Bekkai lema (Pycnarrhena cauliflora); (b) Bekkai lanya (Coscinium miosepalum); (c) Payang lengu (Ricinus communis). Pemanfaatan tumbuhan yang merupakan khas dari Suku Dayak Kenyah, yaitu terasi dayak yang terbuat dari bahan tumbuh-tumbuhan. Berbeda dari terasi udang biasa, terasi dayak dianggap lebih lezat jika dicampur dengan sambal. Terdapat beberapa spesies yang dapat dijadikan terasi dayak. Spesies tersebut adalah payang aka (Trichosanthes sp.), payang kure’ (Aleuritas moluccana), payang kayu (Pangium edule), payang lengu (Ricinus communis) (Gambar 15c) 46 dan salap (Sumbaviopsis albicans) (Lampiran 2). Cara pengolahan terasi dayak yaitu dengan membusukkan bagian buah dari beberapa spesies tersebut, kemudian di letakkan di atas perapian agar tetap awet dan menambah aroma yang lezat. Selanjutnya dapat langsung dicampur dengan sambal ataupun langsung dimakan dengan lauk-pauk. 5.2.5.4 Minuman Masyarakat Suku Dayak Kenyah sejak dulu dikenal senang membuat minuman khas atau ciu yang sering dimanfaatkan untuk acara besar seperti perayaan panen raya, atau acara besar lainnya. Minuman tersebut juga sering dijadikan jamuan bagi tamu yang datang (hanya untuk yang suka meminumnya) karena sebagai wujud penghormatan pada tamu yang datang ke rumah. Selain itu minuman ini juga dapat diminum kapanpun mereka menginginkannya dan dapat diperjual-belikan antara warga ataupun desa. Ciu berasal dari umbi singkong (Manihot utilissima) yang difermentasikan. Air hasil fermentasi tersebut kemudian dilakukan proses lebih lanjut yaitu penyulingan hingga diperoleh kualitas yang sesuai. Hasil penyulingan pertama memiliki kadar alkohol yang sangat tinggi dan pekat. Inilah yang disebut kualitas paling bagus. Akan tetapi hanya orang-orang tertentu yang kuat meminumnya karena ini sangat memabukkan. Selain ciu terdapat pula tumbuhan yang dijadikan bahan minuman di antaranya minuman kolak jagung, kolak ubi jalar, dan kolak pisang. Cara pengolahannya sama dengan membuat kolak biasa. 5.2.6 Fungsi tumbuhan pangan Tumbuhan pangan memiliki fungsi penting bagi tubuh diantaranya sebagai sumber karbohidrat, protein nabati, vitamin dan mineral. Fungsi tersebut terdapat dalam berbagai spesies tumbuhan pangan hutan ataupun budidaya yang terdiri dari sayuran, buah-buahan, sumber energi, dan fungsi lainnya seperti bumbu dan minuman (Tabel 19, 21, 23). Dalam satu spesies terdapat pula fungsi ganda seperti buah-buahan, sayuran, minuman yang terdapat pada kelapa (Cocos nucifera) yang memiliki fungsi sebagai buah dengan bagian yang digunakan adalah daging buah. Kelapa juga dapat dimanfaatkan sebagai sayuran yaitu bagian umbutnya, serta 47 fungsi minuman terdapat pada bagian sari buahnya/air kelapa. Fungsi ganda lainnya dapat dilihat pada Tabel 23. Fungsi yang memiliki jumlah spesies terbanyak pada tumbuhan pangan hutan adalah adalah sayuran (26 spesies) (Tabel 19) yang di dalamnya terdapat sumber protein nabati. Sayuran hutan/liar ini pada umbut seperti pada umbut rotan (Calamus sp.) dan jamur (kulat) seperti kulat jap (Pleurotus sp.), kulat bulu (Lactarius delicious), kulat long balabau (Russula cyanoxantha). Jumlah spesies terbanyak kedua terdapat pada sumber energi (5 spesies) yang memiliki fungsi sebagai sumber karbohidrat bagi tubuh. Tabel 19 Macam penggunaan tumbuhan pangan hutan/liar No. 1 2 3 Fungsi Sayuran Sumber energi Buah-buahan Jumlah Jumlah (spesies) 26 5 1 32 Berikut nama-nama spesies tumbuhan pangan yang dimanfaatkan Suku Dayak Kenyah berdasarkan fungsinya (Tabel 20). Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 1. Tabel 20 Contoh Spesies tumbuhan pangan hutan/liar berdasarkan fungsi pangan No. 1 2 3 Fungsi Sayuran Sumber energi Buah-buahan Spesies Kulat long (Amanita sp.), uwai pait (Calamus sp.), nyi'bung (Oncosperma horridum), paku pait (Athyrium sozongonense), kulat jap (Pleurotus sp.), bambu betung (Dendrocalamus asper), nyanding (Etlingera elatior) Lundai 1 (Colocasia gigantea), lundai 2 (Xanthosoma sp.), eman (Caryota mitis), nanga (Eugeissona utilis), sagu (Metroxylon sp.) Birai (Salacca affinis var.borneensis) Berdasarkan Tabel 21, fungsi tumbuhan pangan budidaya berasal dari hutan yang memiliki jumlah spesies paling banyak yaitu pada buah-buahan (36 spesies) yang merupakan sumber vitamin dan mineral bagi tubuh. Selanjutnya terdapat bumbu (8 spesies) dan sayuran yang hanya memiliki dua spesies 48 Tabel 21 Macam penggunaan tumbuhan pangan budidaya yang berasal dari hutan No. 1 2 3 Fungsi Buah-buahan Bumbu Sayuran Jumlah Jumlah (spesies) 36 8 2 46 Berikut merupakan nama-nama spesies tumbuhan pangan budidaya yang berasal dari hutan berdasarkan fungsinya sesuai jumlah spesies yang ditemukan pada Tabel 21 (Tabel 22). Untuk lebih lengkapnya, spesies tumbuhan pangan budidaya dapat dilihat pada Lampiran 2. Tabel 22 Contoh spesies tumbuhan pangan budidaya yang berasal dari hutan berdasarkan fungsi No. 1 Fungsi Buahbuahan 2 Bumbu 3 Sayuran Spesies Kelamu' (Dacryodes rostrata), adiu (Garcinia forbesii), keleppeso (Baccaurea lanceolata), langsat (Lancium domesticum), mejalin (Xanthophyllum obscurum), mata kucing (Dimocarpus longan), maritam (Nephelium ramboutan-ake) Salap (Sumbaviopsis albicans), belengla (Litsea cubeba), bekkai lema (Pycnarrhena cauliflora) Keten (Poikilospermus suaveolens), petai hutan (Parkia speciosa) Berikut terdapat macam penggunaan tumbuhan budidaya non hutan sesuai fungsinya. Pada Tabel 23 jumlah spesies terbanyak terdapat pada fungsi sayuran (19 spesies), selanjutnya terdapat bumbu (16 spesies) dan buah-buah (14 spesies). Tabel 23 Macam penggunaan tumbuhan pangan budidaya bukan berasal dari hutan No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Fungsi Sayuran Buah-buahan Minuman Bumbu Sumber energi Bahan pangan lanjutan Buah-buahan, sayuran, minuman Sumber energi, sayuran Sumber energi,sayuran,minuman Bumbu,sayur Jumlah Jumlah (spesies) 19 14 2 16 1 1 2 3 2 1 61 Berdasarkan jumlah spesies pada Tabel 23, berikut contoh tumbuhan pangan yang dibudidayakan bukan berasal dari hutan berdasarkan fungsinya 49 terdapat pada Tabel 24. Spesies tumbuhan lainnya secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 3. Tabel 24 Contoh spesies tumbuhan pangan budidaya bukan berasal dari hutan berdasarkan fungsi No. 1 Fungsi Sayuran 2 Buah-buahan 3 4 Minuman Bumbu 5 6 7 Sumber energi Bahan pangan lanjutan Buah-buahan, sayuran, minuman Sumber energi, sayuran 8 9 10 Sumber energi,sayuran,minuman Bumbu,sayur Spesies Bayam (Amaranthus spinosus), pinang (Areca catechu), pare (Momordica charantia), kacang merah (Vigna angularis), kacang panjang (Vigna sinensis), bambu kuning (Bambusa vulgaris), terong (Solanum melongena) Nanas (Ananas comosus), pepaya (Carica papaya), jambu bol (Syzygium malaccense) Kacang hijau (Phaseolus aureus), kopi (Coffea robusta) Kayu manis (Cinnamomum burmanii), bawang merah (Allium cepa), bawang rambut (Allium tuberosum), salam (Syzygium polyanthum), pandan wangi (Pandanus amaryllifolius), lada (Piper nigrum), sereh (Andropogon nardus), lombok (Capsicum frutescens), tomat (Solanum lycopersicum), olem (Solanum torvum) Padi (Oryza sativa) Kakao (Theobroma cacao) Kelapa (Cocos nucifera ), peti' (Musa spp.) Ubi jalar (Ipomea batatas), labu kuning (Cucurbita moschata), labu putih (Lagenaria leucantha) Singkong 1 (Manihot utilissima), jagung (Zea mays) Lia lamut (Alpinia galanga) 5.2.6.1 Sumber karbohidrat Karbohidrat memegang peranan penting karena merupakan sumber energi utama bagi tubuh. Semua karbohidrat berasal dari tumbuhan (Almatsier 2006). Beberapa spesies tumbuhan yang memiliki sumber karbohidrat baik dari hutan maupun yang telah dibudidaya antara lain: keladi upa’ nyak (Colocassia esculenta), singkong (Manihot utilissima) (Gambar 16), ubi kayu (Ipomea batatas), nanga (Eugeissona utilis), dan sagu (Metroxylon sp.) (Lampiran 1 dan Lampiran 3). 50 Gambar 16 Singkong (Manihot utilissima). 5.2.6.2 Sumber protein nabati Protein berasal dari kata proteos yang berarti “yang utama” atau “yang didahulukan”. Kata ini diperkenalkan oleh Gerardus Mulder (1802-1880) dan didefinisikan sebagai zat yang paling penting dalam setiap organisme. Protein adalah bagian dari semua sel hidup dan merupakan bagian terbesar tubuh setelah air. Protein memiliki fungsi khas yang tidak dapat digantikan oleh zat gizi lain yaitu membangun serta memelihara sel-sel dari jaringan tubuh (Almatsier 2006). Berdasarkan definisi tersebut, Suku Dayak Kenyah memenuhi kebutuhan protein nabati yang sangat penting bagi tubuh itu dengan menanam berbagai spesies sayuran dan kacang-kacangan seperti daun singkong (Manihot utilissima dan Manihot esculenta) (Gambar 17a) , daun ubi jalar (Ipomea batatas), kacang tanah (Arachis hypogea), kedelai (Glycin max), kacang hijau (Phaseolus aureus), kacang merah (Vigna angularis), kacang panjang (Vigna sinensies) (Gambar 17b), dan beberapa spesies lainnya (Lampiran 3). Selain spesies tumbuhan yang dibudidayakan, terdapat pula sayuran mengandung protein nabati yang berasal dari hutan, diantaranya spesies jamurjamuran, rotan-rotanan, talas-talasan, dan spesies lainnya (Lampiran 1). 51 (a) (b) Gambar 17 Tumbuhan pangan sumber protein nabati: (a) Singkong (Manihot esculenta); (b) Kacang panjang (Vigna sinensis). 5.2.6.3 Sumber vitamin dan mineral Menurut Almatsier (2006), vitamin merupakan zat-zat organik kompleks yang dibutuhkan dalam jumlah yang sangat kecil dan tidak dapat dibentuk oleh tubuh. Oleh sebab itu vitamin diperoleh dari makanan yang dikonsumsi dalam tubuh. Ada beberapa jenis vitamin, diantaranya adalah vitamin A, B1, B2, B6, B12, C, D, E, K. Vitamin tersebut dapat diperoleh dari sayuran hijau, kacangkacangan/biji-bijian, dan buah-buahan yang terdapat dalam Lampiran 1, 2, dan 3. Selain vitamin, zat lain yang dibutuhkan tubuh dari tumbuhan pangan yaitu mineral. Mineral ada dua macam, yaitu mineral makro dan mineral mikro (Almatsier 2006). Mineral makro diperoleh dari air, sedangkan mineral mikro diperoleh dari zat seperti zat besi, seng, iodium, mangan, dan sebagainya. Mineral merupakan bagian dari tubuh yang memegang peranan penting dalam pemeliharaan fungsi tubuh (Almatsier 2006). Vitamin dan mineral ini tentunya dapat diperoleh dari berbagai jenis buah-buahan, sayuran hijau, kacang-kacangan, dan jenis lainnya yang dapat diperoleh Suku Dayak Kenyah dari hutan atau yang telah dibudidaya (Gambar 18). 52 Fungsi tumbuhan pangan Sumber karbohidrat (makanan pokok Suku Dayak Kenyah) Protein nabati Vitamin dan mineral Padi, jagung, keladikeladian, umbi, sagu Kacangkacangan Sayuran dan buah-buahan Gambar 18 Hierarki bagan fungsi tumbuhan pangan bagi Suku Dayak Kenyah. 5.2.7 Pola konsumsi Masyarakat Suku Dayak Kenyah Desa Long Alango memiliki pola konsumsi yang teratur. Setiap pagi, siang, hingga malam mereka selalu memenuhi kebutuhan pangannya. Setiap harinya mereka teratur memenuhi kebutuhan pangan dengan makan tiga kali sehari. Setiap pagi sebelum pergi ke ladang, mereka selalu menyempatkan diri untuk sarapan. Siang hari pun apabila terpaksa tidak dapat pulang untuk makan siang, mereka selalu membawa bekal makanan yang dibawa dengan menggunakan ki’ba yang terbuat dari uwai semule (Daemonorops periacantha). Nasinya pun dibungkus dengan menggunakan daun dalui (Halopegia blumei) (Lampiran 5). Setelah pulang dari ladang pada sore hari, kemudian pada malam harinya Suku Dayak Kenyah makan bersama keluarga di rumah. 5.2.8 Tipe habitat Berdasarkan persentase budidayanya 107 spesies tumbuhan pangan budidaya dari keseluruhan 139 spesies tumbuhan pangan, dapat dihitung dengan membagi jumlah spesies budidaya dengan jumlah seluruh spesies sehingga diperoleh 76,97%. Hal ini menunjukkan bahwa Suku Dayak Kenyah TNKM memiliki budaya membudidayakan tumbuhan hutan yang tinggi. Upaya 53 pembudidayaan tersebut tergolong upaya pelestarian agar keberadaan spesies tumbuhan pangan tetap terjaga. Tumbuhan dari hutan ataupun dari luar daerah mudah untuk dibudidayakan di lokasi pengamatan ini karena lahan yang dimiliki masyarakat masih tergolong subur. Berdasarkan tipe habitatnya, kebun dan hutan merupakan tipe habitat terbesar (33%) yang terdapat di Desa Long Alango. Hal ini menunjukkan bahwa Suku Dayak Kenyah yang tinggal di Desa Long Alango senang menanam bibit dari hutan di kebunnya. Budaya membudidayakan tumbuhan pangan yang berasal dari hutan ini diwariskan secara turun temurun. Nenek moyang Suku Dayak Kenyah mengajarkan keturunannya agar dapat hidup mandiri sekaligus melestrikan sumberdaya hutan yang dimiliki agar dapat menikmatinya dengan lebih mudah tanpa harus memperoleh langsung dari hutan. Sebagian besar tumbuhan dari hutan yang ditanam di kebun adalah buah-buahan. Tipe habitat pematang sawah 16% 1% sawah 6% ladang dan jekkau kebun 15% 33% kebun dan hutan 23% hutan/liar 0% 10% 20% 30% 40% Persentase Gambar 19 Persentase tipe habitat tumbuhan pangan. Tipe habitat terbesar kedua adalah hutan/liar (23%). Hal ini menunjukkan bahwa hutan masih merupakan habitat utama tumbuhan pangan karena persentasenya hanya berbeda tipis dengan habitat kebun dan hutan. Habitat kebun dan hutan ini bibitnya pun berasal dari hutan. Dengan demikian hutan masih merupakan habitat yang paling baik bagi tumbuhan pangan. Tipe habitat lain selanjutnya diikuti pematang sawah (16%) dengan berbagai sayuran yang di tanam di pematang sawah untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral Suku 54 Dayak Kenyah, kemudian kebun (15%) yang ditanami tanaman perkebunan, ladang dan jekkau (6%) dengan tanaman keras dan selingan, serta sawah (1%) yang hanya terdapat 1 spesies yaitu padi dengan bermacam varietas yang dimiliki Suku Dayak Kenyah (Gambar 19). 5.3 Pola Hidup Masyarakat Dayak Kenyah Desa long Alango 5.3.1 Berburu Masyarakat Dayak Kenyah memiliki kebiasaan berburu karena kegiatan berburu merupakan suatu kebutuhan bagi mereka. Tujuan utama berburu adalah untuk memenuhi kebutuhan protein hewani yang berasal dari hasil buruan (Billa 2005). Kegiatan berburu ini telah dilakukan secara turun temurun. Berburu merupakan kegiatan penting dalam pemenuhan kebutuhan untuk bertahan hidup (Hladik et al 1993). Berburu juga merupakan salah satu kegiatan yang penting dan merupakan bentuk penyesuaian diri manusia terhadap sumberdaya alam (Moran 1982). Orang tua mulai mengajarkan teknik berburu kepada anaknya sejak anaknya berusia sekitar 15 tahun. Berburu ada dua macam, yaitu berburu yang dilakukan secara tradisional dan berburu secara modern. Berburu secara tradisional adalah berburu yang dilakukan dengan teknik dan alat yang masih tradisional, yaitu sumpit dan bujak. Teknik berburu tradisional ini dengan memanfatkan anjing peliharaannya untuk menemukan target buruan dengan cara membiarkan anjing masuk hutan dan setelah anjing ini menemukan target buru maka anjing ini akan menggonggong, sehingga dapat dilakukan langkah berikutnya yaitu menembak target dengan alat yang bernama sumpit. Sumpit adalah alat tradisional yang berbentuk seperti tombak tetapi terdapat lubang kecil di tongkatnya (Gambar 20a, 20b). Lubang ini berfungsi sebagai tempat peluru tradisional yang dibuat dari bola-bola kecil tanah liat ataupun anak sumpit yang mengandung racun dan apabila ditembakkan ke target, maka binatang ini akan pingsan bahkan mati. Racun yang digunakan berasal dari getah tumbuhan bernama salo’ (Antiaris toxicaria) (Gambar 20c). Cara menembakkan peluru ini yaitu dengan meniup peluru yang ada di dalam lubang yang diarahkan pada sasaran/target. 55 (a) (b) (c) Gambar 20 Senjata berburu tradisional: (a) Badan tombak dan anak sumpit; (b) Ujung tombak; (c) Racun sumpit (getah salo’) Bujak adalah alat tradisional berburu yang berbentuk dan berfungsi seperti tombak. Berbeda dengan sumpit, bujak ini tidak memiliki lubang untuk peluru karena penggunaannya pun seperti tombak dengan cara menancapkan mata pisau ke tubuh target buruan. Berburu dengan bujak ini juga dapat dibantu dengan memanfaatkan anjing peliharaan untuk mencari dan menemukan target buruan. Target buruan umumnya adalah babi berjenggot/babui (Sus barbatus), akan tetapi apabila mereka tidak menemukan babi berjenggot, maka satwa apapun yang ditemukan dalam hutan mereka tangkap seperti payau (Cervus unicolor), pelanduk kancil (Tragulus javanicus), dan spesies satwa lainnya (Lampiran 6). Berburu bukan merupakan kegiatan prioritas yang dilakukan oleh Suku Dayak Kenyah Desa Long Alango karena kegiatan utama mereka adalah berladang di gunung dan bertani di sawah. Warga desa memenuhi kebutuhan pangan mereka melalui hasil pertaniannya karena bagi mereka makan yang penting terdapat nasi dan pelengkapnya, yaitu sayuran. Hasil dari buruan dimanfaatkan sebagai pelengkap makan, apabila makan tanpa lauk-pauk bagi 56 mereka tidak masalah. Hasil buruan ini biasanya dimanfaatkan untuk konsumsi sendiri tetapi ada yang sebagian dijual baik dalam desa maupun di luar desa. Hasil buruan dijual dengan harga Rp 15.000,00 per kilogram (Gambar 21). (a) (b) Gambar 21 Penjualan hasil buruan: (a) Pengangkutan hasil buruan; (b) Penimbangan daging yang dijual Kegiatan berburu biasanya dilakukan perorangan dan kelompok. Apabila perburuan ini dilakukan secara berkelompok maka hasil buruan yang didapat dibagi rata. Kegiatan berburu ini ada yang dilakukan dari pagi hingga malam (dalam satu hari) dan ada juga yang menginap di dalam hutan. Apabila perburuan dilakukan secara menginap maka pemburu biasanya membawa bekal dari rumah. Bekal ini berupa nasi bungkus dengan sayur yang dibuat dari rumah oleh ibu atau istri pemburu karena pemburu kebanyakan berjenis kelamin laki-laki. Apabila bekal yang dibawa tidak cukup, maka pemburu mencari bahan pangan dari dalam hutan yang siap makan tanpa diolah. Apabila berburu dilakukan pada musim buah, maka bahan pangan hutan yang dapat dimakan langsung adalah spesies buah-buahan seperti maritam (Nephelium ramboutan-ake), langsat (Lansium domesticum), durian (Durio sp.), manggis hutan (Garcinia bancana), mejalin (Xanthophyllum obscurum), mejalin batu (Xanthophyllum exelsa), dan spesies lainnya. Akan tetapi, apabila kegiatan berburu dilakukan tidak pada musim buah, maka bahan pangan hutan yang berasal dari tumbuhan yang dapat dimanfaatkan adalah umbut. Beberapa spesies tumbuhan yang dapat dimakan umbutnya antara lain : iti’ (Etlingera sp.), nyandiang (Etlingera elatior), talang (Arenga undulatifolia), (Oncosperma horridum), uwai tana’ (Calamus sp.) (Lampiran 1). nyi’bung 57 5.3.2 Berladang Sejak zaman dahulu, secara turun temurun masyarakat Suku Dayak memiliki budaya berladang. Bagi mereka, berladang bukanlah hanya sekedar aktivitas sehari-hari, melainkan berladang dapat membentuk suatu peradaban orang Dayak (Pilin dan Petebang 1999). Telah lama Suku Dayak terutama Dayak Kenyah memanfaatkan lahan hutan untuk kegiatan berladang. Sistem perladangan mereka adalah sistem hilir balik. Perladangan hilir balik maksudnya dalam kisaran waktu lima tahun dilakukan perladangan berpindah dari lokasi satu ke lokasi lain tiap tahunnya. Pada tahun ke lima peladang kembali lagi ke lokasi pertama, begitu seterusnya karena bagi mereka satu tahun pada lokasi yang sama tanah akan mengalami perubahan dan dirasa sudah tidak subur sehingga mereka mencari lokasi lain yang tanahnya lebih subur. Pardosi et al. (2005) menyebutkan bahwa pola perladangan berpindah di Kalimantan Timur pada mulanya menggunakan ladang pertama selama 1-2 tahun, kemudian peladang berpindah ke ladang berikutnya, begitu seterusnya hingga menuju ladang ke lima atau enam. Akan tetapi, peladang kembali ke ladang pertamanya setelah masa bera 4-6 tahun. Menurut Alamsyah (2010) diacu dalam Mukti (2010), pola yang digunakan pada masyarakat Dayak pada umumnya adalah pola berladang hilir balik yaitu bila suatu areal telah dibuka dan dimanfaatkan masyarakat untuk ladangnya, maka setelah itu lahan akan ditinggal beberapa waktu untuk membuka lahan baru. Kemudian setelah ladang pertama subur kembali, masyarakat akan kembali lagi untuk berkebun pada lahan tersebut. Lokasi yang dipilih untuk kegiatan perladangan biasanya hutan primer karena hutan primer menunjukkan ciri-ciri tanah yang sangat subur terbukti dengan adanya tumbuhan yang tumbuh secara subur selama bertahun-tahun dan hampir tidak ditemukan adanya tumbuhan bawah. Selain hutan primer yang dimanfaatkan untuk membuka lahan, hutan sekunder pun dapat dijadikan lokasi perladangan. Lahan yang dimanfaatkan sebagai areal perladangan biasanya adalah lahan bekas tebangan atau lahan bekas kegiatan perladangan lama (jekkau). Selama membuka lahan baru atau berpindah ke lokasi lain, lahan yang ditinggalkan biasanya ditanami tanaman keras seperti pohon buah-buahan, selain itu juga dapat ditanami tanaman semusim seperti pepaya (Carica papaya), pisang 58 (Musa sp.), singkong (Manihot utilissima), tebu (Saccharum officinarum), dan spesies tanaman semusim lainnya. Hal ini dilakukan agar mengembalikan kesuburan tanah yang ditinggalkan agar tetap produktif dan bermanfaat, juga sebagai pertanda kepemilikan tanah. Menurut Pardosi et al. (2005), tujuan menanam tanaman keras seperti durian, kemiri, mangga di ladang yang ditinggalkan adalah: (1) sebagai pertanda ladang tersebut terdapat pemiliknya, (2) sebagai sumber penghasilan/jaminan hari tua, (3) sebagai sarana memelihara kesuburan tanah. Ladang biasanya ditanam berbagai varietas padi gunung sebagai tanaman utamanya. Suku Dayak Kenyah telah bertahun-tahun memiliki berbagai macam varietas bibit padi yang secara turun temurun diwariskan. Bibit padi tersebut ada yang lokal ada juga yang datang dari luar daerah. Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan langsung di lapangan, terdapat 34 spesies padi ladang. Spesies tersebut diantaranya pa’dai membat, pa’dai kelawit, pa’dai nyu, pa’dai ble’en, pa’dai temai ladang, pa’dai nyelong, dan spesies padi lainnya (Lampiran 4). 5.3.2.1 Persiapan lahan Dalam kegiatan perladangan, tidak terlepas dari pola persiapan lahan, penanaman, perawatan, hingga kegiatan pemanenan. Pada proses persiapan lahan, hal yang dilakukan pertama kali adalah pemilihan lokasi perladangan, sebelumnya dilakukan musyawarah dalam penentuan lokasi ini agar nantinya tidak tumpang tindih dalam penentuan kepemilikan lahan. Musyawarah ini dipimpin oleh Kepala adat agar lebih jelas dan adil dalam menentukan batas-batas perladangan dan areal yang dilarang untuk dijadikan lahan perladangan. Menurut Pilin dan Petebang (1999), sebelum menentukan lokasi ladang, terlebih dahulu melakukan musyawarah antar pemilik areal di sekitar ladang. Hal ini bertujuan untuk pemberitahuan dan ijin penggunaan lahan. Apabila hasil musyawarah menyebutkan bahwa terdapat suatu areal tertentu yang tidak boleh dijadikan lahan perladangan, maka yang bersangkutan akan mendapatkan larangan ataupun saran dari pihak yang berbatasan dengan wilayah paling dekat. Setelah musyawarah, hal yang selanjutnya dilakukan adalah penebasan. Sebelum melakukan penebasan biasanya terdapat kepercayaan atau mitos-mitos mengenai aturan penebasan, seperti terdapat pada masyarakat Apau Ping yaitu dengan mengamati garis 59 bayangan matahari dengan pengamatan bentuk bulan. Pengamatan dilakukan dengan mendirikan tonggak kayu permanen yang diletakkan di suatu tempat. Selanjutnya, melihat pergeseran serta mengukur panjang bayangan matahari pada tonggak tersebut. Pengamatan ini digunakan dalam menentukan hari baik dalam perladangan (Sindju 1999). Suku Dayak Kenyah memiliki kepercayaan dalam kegiatan perladangan yaitu jika bertemu dengan burung isit (Arachnothera longirostra) (Gambar 22), lihat arah terbang burung tersebut. Jika isit terbang ke arah kiri maka bukan waktu atau hari yang tepat untuk pergi berladang karena bagi mereka hal tersebut merupakan pertanda buruk sehingga peladang lebih memilih untuk kembali ke rumah daripada mendapatkan kesialan. Akan tetapi hal tersebut sudah tidak dipercaya oleh masyarakat karena dianggap sudah tidak logis seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan masuknya ajaran agama di desa tersebut. Gambar 22 Burung isit (Arachnothera longirostra) (sumber: www.birdsisaw.com). 5.3.2.2 Penebasan Kegiatan yang dilakukan setelah persiapan lahan adalah penebasan. Penebasan harus dilakukan bersama-sama atau dengan cara gotong royong. Budaya ini dilakukan sejak turun temurun agar tetap terjalin sikap kekeluargaaan antar warga desa. Penebasan dilakukan setidaknya berjumlah tiga KK dalam setiap anak sungai. Pemilihan lahan untuk dijadikan ladang pun dipertimbangkan dengan prinsip konservasi. Lahan yang dipilih biasanya dekat dengan sungai karena selain aksesnya mudah juga tidak terlalu ke inti hutan sehingga tidak 60 merusak hutan. Kegiatan menebas adalah menyiangi bawah lahan untuk dijadikan ladang dengan menggunakan parang. waktu memulai kegiatan ini bergantung pada jenis hutan yang terdapat di lahan yang dipilih. Kegiatan menebas biasanya dilakukan di bulan ke-5 atau bulan Mei agar waktunya cukup dalam pengeringan rumput dan ranting-ranting sisa tebasan (Sindju 1999), sehingga tidak bertepatan pada musim hujan yang menghambat proses pembakaran. 5.3.2.3 Penebangan, pembakaran (pembersihan lahan), dan penanaman Kegiatan yang dilakukan selanjutnya adalah penebangan. Penebangan dilakukan dengan menggunakan alat yang lebih berat dibanding penebasan. Untuk pohon-pohon kecil, alat yang digunakan adalah parang, kapak, dan gergaji sederhana. Untuk pohon yang keliling batangnya besar dan tidak memungkinkan jika hanya menggunakan alat sederhana, dapat menggunakan chainsaw. Kayu potongan sisa hasil penebangan ini dapat dimanfaatkan sebagai kayu api untuk keperluan memasak di rumah. Kegiatan selanjutnya adalah pembakaran sampah organik hasil penebasan dan penebangan. Dalam proses pembakaran ini dilakukan pengawasan yang intensif dan pembuatan sekat bakar alami agar pembakaran masih dapat dikontrol. Dalam proses pembakaran, dilakukan perkiraan arah angin dan cuaca agar angin yang bertiup tidak mengganggu atau bahkan menimbulkan api yang sangat besar. Sisa pembakaran nantinya akan dijadikan pupuk alami bagi tanaman yang ada di ladang tersebut. Setelah lahan siap untuk dijadikan ladang, selanjutnya dilakukan proses penugalan, yaitu pembuatan lubang untuk menanam benih padi dengan alat penugal (Gambar 23a, 23b). (a) (b) Gambar 23 Penugalan: (a) Alat penugalan; (b) Proses penugalan 61 Kegiatan ini juga sering dilakukan warga untuk menugal sawah. Setelah penugalan dilanjutkan dengan menanam benih padi dengan cara memasukkan beberapa benih padi ke dalam lubang (Gambar 24a). Setelah penugalan, kegiatan yang dilakukan sambil menunggu padi yang ditanam tumbuh adalah berkebun. Setelah padi tumbuh, biasanya tumbuh pula gulma atau tumbuhan pengganggu yang menghalangi tumbuhan tanaman utama (padi), sehingga dilakukan perawatan yaitu dengan membersihkan lahan dengan cara tradisional yaitu mencabuti rumput dan memotongnya dengan parang. perawatan lain yang dilakukan adalah menyemprot padi dengan herbisida. Suku Dayak Kenyah ada yang masih menggunakan herbisida alami yaitu dari air tuba (Derris montana) dan ada yang menggunakan herbisida kimia. (a) (b) Gambar 24 Penanaman benih padi: (a) Memasukkan benih pada lubang; (b) Benih padi dalam lubang. 5.3.2.4 Pemanenan Kegiatan terakhir dari serangkaian pola perladangan Dayak Kenyah Desa Long Alango ini adalah pemanenan. Pemanenan dilakukan dengan mengambil padi yang sudah isi (masak) dengan alat semacam ani-ani. Selanjutnya padi yang terkumpul dimasukkan ke dalam ingen, kemudian dikumpulkan pada alat penggiling tradisional yang cara pemisahan tangkai padi dengan bijinya yaitu dengan cara diinjak-injak dan digeser-geser oleh alas kaki. Setelah biji gabah terkumpul kemudian di jemur di bawah sinar matahari. Setelah kering dilakukan pembersihan gabah (seleksi) dengan menggunakan tampi. Setelah itu baru 62 dibersihkan dengan kipas sehingga terpisah antara gabah yang berisi dengan gabah yang kosong. Setelah semua dilakukan kemudian dikumpulkan jadi satu dan dimasukkan dalam karung untuk proses pengilingan dengan mesin. Penyimpanan beras/padi di dalam lumbung dan masing-masing KK memiliki satu atau lebih lumbung yang letaknya dijadikan satu dengan lumbung-lumbung milik keluarga yang lain. Gambar 25 Proses pemanenan dari mengambil padi dengan ani-ani hingga penggilingan dengan mesin. 5.3.3 Bertani dan berkebun Masyarakat Long Alango selain memiliki ladang juga memiliki sawah. Sawah biasanya terletak di dekat rumah dan spesies padi yang ditanam memerlukan banyak air (irigasi), sedangkan ladang biasanya terletak di gunung dan spesies padi yang ditanam tidak membutuhkan banyak air. Sawah dibuat dengan pengairan melalui Sungai Alango. Berdasarkan Uluk et al. (2001), penggarapan sawah bergantung pada ketersediaan air. Berbeda dengan sistem 63 perladangan, sawah merupakan pola perkembangan baru. Sekitar tahun 1925-an, Kepala Adat Besar Hulu Bahau saat itu, Apuy Njau, setelah pulang dari tanah jawa mengajarkan cara membuat sawah kepada warganya di Hulu Bahau. Sehingga budaya itu pun hingga sekarang terus dilakukan secara turun temurun untuk memenuhi kebutuhan hidup. Walaupun zaman sekarang adanya sawah mempermudah pengerjaan dalam bidang pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan, tetapi masyarakat masih melakukan kegiatan perladangan sesuai budaya mereka sesuai tradisi yang diajarkan nenek moyang. Hal ini karena bagi orang Kenyah, semakin giat bekerja, kebutuhan akan pangan pun terjamin, apalagi dengan adanya sistem baru dalam pertanian, hal ini akan memperkaya spesies ataupun varietas padi yang berbeda dari padi gunung dan padi sawah. Oleh sebab itu musim paceklik dan krisis pangan tidak akan terjadi seperti zaman dulu karena setiap KK memiliki simpanan beras di lumbung yang tidak akan habis. Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan langsung di lapangan untuk pemanfaatan tanah agar tetap produktif, mereka menanam sayuran seperti sawi hijau (Brassica rapa var. parachinensis), bayam (Amaranthus spinosus), buncis (Phaseolus vulgaris), kacang-kacangan di pematang sawah. Sedangkan untuk tanaman selingan selama panen selesai lahan ditanami singkong (Manihot utilissima), jagung (Zea mays), labu-labuan, dan spesies tanaman palawija yang lain. Selain menggarap sawah, masyarakat Dayak Kenyah dalam mengisi waktunya membuat kebun selama masa panen selesai. Kebun tersebut biasanya ditanami tanaman perkebunan seperti kakao (Theobroma cacao), kopi (Coffea robusta), buah-buahan, lada (Piper nigrum), tebu (Saccharum officinarum), dan kadang ada yang juga menanam tanaman yang dapat dijadikan bumbu seperti sereh (Cymbopogon nardus), kunyit (Curcuma domestica), jahe (Zingiber officinale), dan sebagainya (Lampiran 3). Bibit tanaman yang berasal dari hutan telah banyak dibudidaya secara turun temurun, akan tetapi ada juga bibit tanaman yang berasal dari pemerintah. Bibit buah-buahan yang ditanam di kebun berasal dari luar daerah seperti rambutan (Nephelium lappaceum), sirsak (Annona muricata), nangka (Artocarpus heterophyllus), dan spesies lainnya (Lampiran 3). 64 Bibit buah-buahan lokal yang berasal dari hutan antara lain maritam (Nephelium ramboutan-ake), mata kucing (Dimocarpus longan), durian kelasi (Durio graveolens), mejalin (Xanthophyllum obscurum), dan spesies lainnya (Lampiran 2). Selain buah-buahan, masyarakat juga menanam spesies tanaman bumbu yang bibitnya juga berasal dari hutan seperti bekkai lema (Pycnarrhea cauliflora), belengla (Litsea cubeba), payang kure’ (Aleuritas moluccana), salap (Sumbaviopsis albican), dan spesies lainnya (Lampiran 2). 5.3.4 Sumber pendapatan lain masyarakat Selain untuk kegiatan budidaya tumbuhan oleh Dayak Kenyah, mereka juga memanfaatkan hasil hutan sebagai sumber pendapatan tambahan. Orang Dayak Kenyah memang menggantungkan hidupnya pada hutan sejak mereka lahir. Sumber pendapatn yang dapat diperoleh langsung dari hutan antara lain mengambil resin gaharu (Aquilaria spp.). Resin gaharu apabila dijual akan menghasilkan pendapatan yang sangat besar, apalagi jika resin yang diambil berkualitas. Uluk et al. (2001) menyebutkan bahwa gaharu digunakan sebagai bahan aromatik yang biasanya dijual hingga ke luar negeri. Selain gaharu, sumber pendapatan lainnya adalah adanya program “Gerbangdema” yang dapat membuat warga desa semakin produktif, contohnya penjualan hasil kebun seperti kopi (Rp 10.000,- per kg biji), kakao (Rp 10.000,- per kg biji), bekkai (Rp 10.000,- per bungkus), nanas (Rp 10.000,- per buah). Penghasilan lain yang mereka lakukan di luar program pemerintah adalah penjualan ciu yaitu minuman beralkohol yang berasal dari penyulingan air tape fermentasi, penjualan hasil tanaman seperti sayur Rp 2.000,- per ikat, benih padi, daging hasil buruan, penjualan kayu bakar antar warga, penjualan buah, kerajinan seperti belanyat, ki’ba, ingen, anyaman, tikar, saung, dan sebagainya. 5.4 Kearifan Tradisional Suku Dayak Kenyah 5.4.1 Tumbuhan pangan Kearifan tradisional menurut Keraf (2005) adalah segala bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman, atau wawasan, serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia di dalam komunitas ekologis. Kearifan 65 tradisional sendiri merupakan suatu cara suatu suku bangsa/masyarakat lokal dalam pengelolaan sumberdaya alam dengan arif/bijaksana. Suku Dayak Kenyah memanfaatkan tumbuhan pangan yang dari hutan dengan aturan adat yang dimiliki. Sebagai contoh, dalam memanfaatkan buah dari alam, mereka hanya diperbolehkan mengambil buahnya saja tanpa menebang pohonnya walaupun buah tersebut sulit untuk dijangkau. Akan tetapi jika Suku Dayak Kenyah ingin membudidayakan tumbuhan pangan hutan di kebunnya, mereka diperbolehkan mengambil semai tumbuhan tersebut beserta tanahnya untuk ditanam. Hal ini dilakukan agar pemanfaatannya berkelanjutan dan keanekaragaman tumbuhan pangan yang ada tetap lestari di alamnya. Contoh lain Suku Dayak Kenyah dalam pemanfaatan tumbuhan pangan sebagai wujud kearifan tradisional antara lain: pemanfaatan tumbuhan pangan hutan saat berburu, budaya berladang, bersawah, berkebun secara turun temurun, dan pengelolaan tumbuhan pangan. 5.4.1.1 Tumbuhan pangan hutan yang sudah dibudidaya Berdasarkan hasil pengamatan, ditemukan bahwa pemanfaatan tumbuhan pangan tidak hanya dari hutan saja ataupun yang budidaya saja, tetapi adapun beberapa tumbuhan hutan yang disemaikan di kebun. Tumbuhan tersebut mayoritas adalah buah-buahan karena bagi Suku Dayak Kenyah buah-buahan di TNKM sangat beraneka dan melimpah, sehingga pada saat ingin menikmatinya tidak perlu lagi memperolehnya langsung dari hutan. Selain buah-buahan juga ada beberapa spesies yang dimanfaatkan sebagai sayur-sayuran dan bumbu-bumbuan. Beberapa spesies tumbuhan tersebut antara lain payang aka (Trichosanthes sp.), payang kure’ (Aleuritas moluccana), salap (Sumbaviopsis albicans) yang digunakan sebagai terasi dayak, bekkai lema (Pycnarrhena cauliflora), bekkai lanya (Coscinium miosepalum) yang digunakan sebagai penyedap rasa alami, keten (Poikilospermus suaveolens) yang digunakan sebagai sayuran (Lampiran 2). 66 (a) (b) Gambar 26 Tumbuhan pangan hutan yang dibudidaya: (a) Payang aka; (b) Salap. 5.4.1.2 Pemanfaatan tumbuhan pangan hutan saat berburu Kearifan lokal yang dimiliki Suku Dayak Kenyah lainnya yaitu berburu. Dalam berburu, Suku Dayak Kenyah tidak membunuh binatang sebanyakbanyaknya untuk dimakan. Mereka biasanya melakukan perburuan satu sampai tiga kali seminggu dan motivasi berburu ini semata-mata hanya untuk memenuhi kebutuhan protein dan lemak hewani saja (Hastiti 2011). Kegiatan berburu ini dilakukan dalam satu hari atau bahkan lebih dari sehari sehingga perlu menginap di hutan. Jika berburu dilakukan dalam waktu sehari dan tidak menginap, maka biasanya Suku Dayak Kenyah membawa bekal makanan dari rumah. Akan tetapi jika persediaan makan habis atau bahkan kegiatan berburu dilakukan menginap di hutan, maka biasanya Suku Dayak Kenyah memanfaatkan tumbuhan rotanrotanan untuk diambil bagian umbutnya. Tidak semua rotan dapat dimakan umbutnya. Beberapa spesies rotan yang dapat dimakan umbutnya yaitu Calamus ornatus, Calamus sp. dengan nama lokal uwai balamata, uwai tebungen, uwai pa’it, uwai tana’ (Lampiran 1). Uwai balamata memiliki arti bala yaitu merah, spesies rotan ini berwarna merah sedangkan uwai pa’it artinya rotan yang memiliki rasa pahit, namun begitu bagi mereka rasa pahit ini justru lezat. Dahulu, Suku Dayak dalam mengambil spesies rotan-rotanan terdapat ritual tertentu akan tetapi seiring berjalannya waktu dengan adanya penyebaran agama dengan mayoritas agama yang dianut Suku Dayak Kenyah ini adalah Kristen sehingga kepercayaan itu lama-kelamaan surut. Suku 67 Dayak Kenyah biasanya saat akan mengambil tumbuhan atau bahkan saat pertama masuk hutan pun mereka melakukan doa terlebih dahulu. Selain memanfaatkan umbut rotan, Suku Dayak Kenyah senang dengan memakan buah yang langsung diambil dari pohonnya. Spesies buah-buahan tersebut telah dijelaskan pada bab sebelumnya. Buah-buahan tersebut biasanya dapat dinikmati hanya pada musim buah. Sehingga jika mereka ingin memakan buah tanpa harus masuk hutan, mereka memiliki budaya berkebun dengan tumbuhan yang ditanam kebanyakan adalah spesies buah-buahan baik dari hutan maupun dari luar daerah. 5.4.1.3 Budaya berladang, bersawah, berkebun Budaya berladang, bersawah, dan berkebun dilakukan oleh Suku Dayak Kenyah secara turun-temurun. Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa untuk bertahan hidup, Suku Dayak Kenyah melakukan budaya berladang, bersawah, dan berkebun. Sistem perladangan Suku Dayak Kenyah memiliki kearifan lokal tersendiri. Di balik sistem hilir balik ini Suku Dayak Kenyah dapat melestarikan hutan dengan memanfaatkan lahan yang ada tanpa dengan merusaknya. Sesuai dengan tiga asas konservasi yaitu perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan sumberdaya hutan secara berkelanjutan, Suku Dayak Kenyah ini melindungi hutan dengan aturan adat yang berlaku dalam mengambil sumberdaya hutan khususnya tumbuhan pangan. Pengawetan dan pemanfaatan dapat diwujudkan dengan menanam tanaman keras saat lahan ditinggalkan, pemanfaatan pestisida alami (Derris montana), dan perladangan yang dilakukan di pinggir sungai sehingga tidak menimbulkan kerusakan pada inti hutan. Ladang biasanya ditanamai padi gunung dan beberapa tanaman selingan agar tanah tetap produktif dan persediaan pangan mereka mencukupi. Seperti yang dikatakan Lahajir (2001), bahwa perladangan padi gunung merupakan aktivitas ekonomi subsisten utama di pedalaman Kalimantan. Tanaman-tanaman yang menghasilkan bahan pangan lainnya di tanam selang-seling di antara padi. Hal ini merupakan strategi adaptasi pertanian yang mengamankan persediaan makanan berkelanjutan sepanjang tahun. 68 Budaya bersawah merupakan budaya baru setelah berladang. Menurut Uluk et al. (2001), membuat sawah merupakan pola perkembangan baru. Sejak Kepala Adat Besar Bahau Hulu, Apuy Njau, ayah dari Kepala Adat Besar Bahau Hulu sekarang (Anyie Apuy) pada zaman Belanda pulang dari Jawa kira-kira pada tahun 1925-an beliau mengajarkan cara membuat sawah di wilayah Adat Bahau Hulu sehingga perkembangannya makin banyak. Masyarakat percaya bahwa hasil padi sawah lebih baik. Sawah dapat dikerjakan lebih dari sepuluh tahun, namun beberapa orang selain memiliki sawah juga mengerjakan ladang agar padi yang dihasilkan pun makin banyak dan bervariasi. 5.4.1.4 Pengelolaan tumbuhan pangan Suku Dayak Kenyah melindungi dan mengelola hutan dengan keterampilan dan pengetahuan lokal yang dimiliki (Uluk et al. 2001). Dalam melindungi dan mengelola hutannya, Suku Dayak memiliki keterampilan tersendiri yang diajarkan turun-temurun. Orang Dayak melindungi sebagian besar hutannya untuk tempat berburu dan mencari hasil hutan lainnya, tidak semua bagian hutan ditebang untuk dibuat ladang. Pengelolaan hutan dilakukan dengan hukum adat (Uluk et al. 2001). Dalam berladang, saat membuka hutan tidak boleh sembarangan. Pembukaan hutan harus dilakukan secara musyawarah. Dalam hal pembakaran lahan untuk menggarap ladang, dilakukan dengan berlawanan arah angin agar tidak menimbulkan kebakaran hutan yang besar. Hal ini dilakukan secara tradisional dan turun temurun (Uluk et al. 2001). Dalam hal mengambil hasil hutan lainnya pun seperti bahan pangan dan bahan lainnya, diperlukan adanya upacara adat terlebih dahulu. Akan tetapi dengan adanya pengaruh agama masuk, maka kepercayaan ini pun surut. Suku Dayak Kenyah dalam mengelola hutan telah dijelaskan, akan tetapi dalam mengelola tumbuhan pangan yang dihasilkan dari budidaya kurang baik karena kebanyakan dari hasil budidaya yang dimiliki seperti dari ladang, sawah, ataupun kebun hanya dinikmati sendiri. Hal ini terjadi karena setiap KK memiliki lahannya masing-masing sehingga tidak perlu ada kegiatan jual-beli. Berbeda dengan Suku Dayak Kenyah di Desa Long Kemuat yang merupakan tetangga dari Desa Long Alango bahwa mereka sering menjual hasil panennya seperti sayur- 69 sayuran ke desa-desa terdekat untuk menambah pendapatan. Sama halnya dengan Desa Long Tebulo yang juga merupakan tetangga dari Desa Long Alango, bahwa masyarakatnya sering menjual bekkai ke desa-desa atau bahkan ke pendatang untuk menambah pendapatan karena potensi tumbuhan bekkai terbanyak di Desa Long Tebulo. Untuk pengelolaan lanjut pada tumbuhan buah-buahan juga hanya dinikmati sendiri tanpa adanya penjualan sehingga buah hanya dibiarkan matang dan busuk begitu saja. Hal ini sangat disayangkan karena potensi buah-buahan lokal di TN Kayan Mentarang sangat melimpah sehingga perlu dilakukannya pengelolaan lebih lanjut dalam jual-beli buah-buahan lokal Kalimantan. Berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapangan, Suku Dayak Kenyah menanam bermacam spesies padi dengan beragam varietas yang bertujuan untuk memperkaya spesies padi yang dimakan dan agar tidak menimbulkan kebosanan dalam memakan nasi yang ada. Berbagai spesies padi yang dipanen pun disimpan di dalam lumbung (Gambar 28). Setiap KK memiliki satu lumbung yang dapat menyimpan hingga lebih dari dua karung beras sehingga Suku Dayak Kenyah tidak kekurangan bahan pangan saat musim paceklik. Gambar 27 Lumbung padi Suku Dayak Kenyah. Beberapa spesies padi yang ditemukan dalam penelitian, terdapat spesies yang teksturnya pulen dan rasanya enak. Spesies tersebut adalah pa’dai adan merah dan pa’dai adan putih yang ditanam di sawah serta pa’dai adan hitam, 70 pa’dai adan tinggi, pa’dai adan rendah yang ditanam di ladang. Terdapat pula satu spesies padi yang unik bernama pa’dai apuy layeang. Padi ini dibawa orang dari luar daerah untuk dibudidayakan di Desa Long Alango. Oleh karena mereka tidak mengetahui nama lokal padi tersebut, maka sang pembawa padi pertama itulah yang dijadikan nama spesies tersebut (nama pembawa padi tersebut adalah “Apuy Layeang”). Padi ini hanya untuk dikonsumsi sendiri, kecuali jika terdapat pendatang yang ingin membeli beras dari masyarakat lokal, maka akan dijual produk tersebut. Hal ini sangat disayangkan karena spesies padi lokal yang ada di Kalimantan khususnya yang dibudidayakan Suku Dayak Kenyah ini berpotensi untuk dikembangkan dalam rangka ketahanan dan kedaulatan pangan tingkat nasional agar pemerintah tidak perlu lagi mengimpor beras. 5.4.1.5 Produk pangan lokal unggulan Suku Dayak Kenyah TNKM khususnya yang berada di Desa Long Alango memiliki beberapa produk lokal yang dijadikan produk unggulan. Pemerintah Kabupaten Malinau menggalakkan program “Gerbangdema” pada desa-desa yang ada di Kabupaten Malinau untuk membantu desa-desa tersebut agar lebih mandiri dan menghasilkan produk yang dapat menambah pendapatan penduduk. Produkproduk tersebut kebanyakan berasal dari hasil pertanian seperti bekkai (Gambar 29), bawang rambut (Allium tuberosum), kayu manis (Cinnamomum burmanii), dan produk lainnya untuk dijual. Produk-produk ini dapat dipamerkan pada acara “Irau” yang merupakan perayaan ulang tahun Malinau yang diadakan setiap dua tahun sekali. Setiap desa di Kabupaten Malinau memamerkan produk lokalnya untuk dijual dan biasanya pada acara itulah produk-produk mereka habis terjual karena pembelinya bermacam-macam mulai dari orang Malinau sendiri bahkan turis luar negeri sekalipun. 71 (a) (b) Gambar 28 Contoh produk unggulan hasil kebun (bekkai): (a) Daun bekkai siap olah; (b) Daun bekkai yang telah ditumbuk dan siap pakai. Selain produk-produk di atas, terdapat beberapa padi lokal yang menjadi unggulan Suku Dayak Kenyah. Pada masyarakat Suku Kenyah Bakung di Desa Long Aran memiliki beberapa spesies padi lokal dengan lebih dari 51 varietas. Beberapa padi diantaranya pa’dai usan mempat dan pa’dai utan bulan (Ngindra 1999). Pada Suku Dayak Kenyah di Desa Long Alango sendiri ditemukan 34 spesies padi ladang dan 19 spesies padi sawah dengan kesamaan spesies diantaranya pa’dai bere, pa’dai ba’an, pa’dai putik, pa’dai mahag, pa’dai 6 bulanan, pa’dai merah (Lampiran 4). Dari sejumlah spesies padi yang ditemukan sayangnya tidak dapat diidentifikasi hingga tingkat varietas karena menurut masyarakat lokal pun mereka tidak mengerti hingga tingkat varietas dan penelitian mengenai varietas padi lokal di Desa Long Alango ini belum ditemukan. Menurut Setyawati (1999), ditemukan sebanyak 38 varietas di Desa Apau Ping namun hanya diperoleh sampel dari 35 varietas. Varietas-varietas padi dikategorikan menjadi padi biasa, pa’dai nyain (25 varietas) dan padi ketan, pa’dai pulut (10 varietas). 5.4.2 Aturan Adat dan kepercayaan Suku Dayak Kenyah Suku Dayak Kenyah di Desa Long Alango memiliki aturan dalam pemanfaatan sumberdaya hutan. Aturan tersebut telah disepakati bersama dalam setiap pertemuan BPTU (Badan Pengelola Tana’ Ulen). Aturan tersebut dibuat agar masyarakat tetap memanfaatkan sumberdaya hutan dengan arif/bijaksana. Seperti yang telah disebutkan oleh Uluk et al. (2001) bahwa Suku Dayak di TN 72 Kayan Mentarang sangat menggantungkan hidupnya pada hutan, mereka memanfaatkan hasil hutan untuk kebutuhan hidupnya. Oleh sebab itu agar mereka tetap dapat memanfaatkan sumberdaya hutan hingga anak cucunya, mereka menjaga hutan dengan aturan-aturan yang ada sehingga pemanfaatannya pun tidak berlebihan. Aturan-aturan tersebut antara lain: a) Pada musim kemarau, tidak diperbolehkan menyalakan api di dalam hutan karena dapat menimbulkan kebakaran (kecuali dalam pengawasan). b) Berburu di Tana’ Ulen dibatasi dan hanya untuk konsumsi sendiri karena Tana’ Ulen merupakan hutan yang dilindungi secara adat. c) Tidak boleh menebang pohon yang menghasilkan buah yang dapat dimakan di dalam hutan, jika ingin menanam bibitnya di kebun, diperbolehkan untuk mengambil tingkat semai bersama dengan tanahnya. d) Jika ingin mengambil bibit gaharu (Aquilaria sp.) hanya diperbolehkan anakannya saja (tingkat semai). e) Pemanenan rotan sega (Calamus caesius) dilakukan pada tumbuhan yang sudah tua. f) Jika ingin mengetahui isi gaharu (Aquilaria sp.), batang dipukul bagian bawah dahulu kemudian atasnya. Gaharu tidak boleh ditebang apabila tidak terdapat isinya. g) Penebangan pohon yang dilakukan di Tana’ Ulen tidak diperbolehkan kecuali untuk keperluan rumah tangga (tidak boleh untuk diperdagangkan). h) Memanfaatkan lahan orang lain harus dengan izin pemiliknya dan tidak boleh menanam tanaman keras pada lahan tersebut. Aturan yang dibuat tentunya telah disepakati dan masyarakat pun melaksanakannya dengan baik. Akan tetapi sering juga terjadi pelanggaran seperti penebangan pohon, memanfaatkan lahan orang tanpa izin, menanam tanaman keras pada lahan yang dipinjam, biasanya bukan dilakukan oleh masyarakat desa, melainkan pelanggaran tersebut dilakukan oleh pendatang atau orang dari luar kawasan. Oleh sebab itu diberlakukan sanksi bagi pelanggar. Sanksi tersebut adalah pelanggar wajib membeli parang seharga Rp 500.000,- atau uang tunai sebesar Rp 500.000,- yang diberikan kepada ketua adat atau kepala desa setempat yang nantinya akan menjadi sumber pemasukan desa. 73 Selain aturan adat, adapun kepercayaan/mitos nenek moyang yang masih berlaku hingga sekarang. Mitos ini dipercaya secara turun temurun dalam pemanfaatan sumberdaya hutan. Mitos-mitos tersebut antara lain: a) Di hutan tidak boleh melakukan hal-hal yang sembarangan karena penghuni hutan itu akan marah. b) Jika bertemu dengan ular berkepala merah, tidak diperboleh buka lahan karena akan terkena musibah. c) Pada saat bulan purnama tidak diperbolehkan membangun rumah, jika itu terjadi maka rumah tersebut akan terbakar. d) Menanam bibit buah harus pada waktu bulan salap (hampir bulan purnama bentuknya sekitar ¾ bulan) agar tanaman tersebut dapat tumbuh subur. e) Pada saat bulan teng (bulan setengah) saat yang tepat untuk menanam tuba (Derris montana). f) Pada saat berburu menggunakan anjing, pemburu tidak boleh mengambil rotan sega (Calamus caesius), jika melanggar maka anjing yang dibawa tidak dapat menyalak. g) Apabila di sekitar kulat (jamur) terdapat nyamuk, maka jamur ini aman dikonsumsi. Akan tetapi apabila tidak terdapat nyamuk di sekitarnya maka jamur tersebut beracun. h) Pemanenan spesies bambu hanya dilakukan pada bulan salap jika melanggar bambu tersebut akan jabuk atau busuk. i) Penebangan pohon untuk dimanfaatkan kayunya tidak boleh dilakukan sembarang waktu, harus pada pertengahan bulan karena jika sembarangan kayu akan lapuk. j) Kata orang tua dulu: pohon itu jika ditebang akan menangis, jika pun harus menebang untuk keperluan rumah tangga ataupun papan harus meminta izin atau permisi dahulu pada arwah nenek moyang. Berdasarkan salah satu penuturan Kepala Adat Besar Hulu Bahau, Anyie Apuy, bahwa: “Hutan merupakan rumah bagi kami, segala kebutuhan hidup mulai dari papan, makanan, obat-obatan, tempat berladang berasal dari hutan. Kami telah hidup bersama hutan lebih dari berabad-abad. Tidak boleh ada satupun yang berani merusak hutan kami. Jika ada yang melanggarnya harus dihukum. Hutan 74 kami (Tana’ Ulen) adalah jiwa bagi kami.” Hal tersebut menunjukkan bahwa betapa pentingnya hutan bagi Masyarakat Suku Dayak khususnya Suku Dayak Kenyah. Oleh sebab itu hutan perlu dijaga dan dilestarikan agar pemanfaatannya pun berkelanjutan. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan 1) Suku Dayak Kenyah TN Kayan Mentarang memanfaatkan keanekaragaman spesies tumbuhan pangan budidaya ataupun liar. Tumbuhan pangan yang dimanfaatkan Suku Dayak Kenyah sebanyak 139 spesies (23% tumbuhan pangan hutan, 33% tumbuhan pangan hutan yang dibudidaya, dan 44% tumbuhan budidaya non hutan). 2) Suku Dayak Kenyah memiliki kearifan tradisional dalam memanfaatkan sumberdaya hutan khususnya sumber bahan pangan agar tetap berkelanjutan, seperti (a) budaya berladang, bersawah, berkebun, (b) pemanfaatan tumbuhan pangan saat berburu, (c) menanam tumbuhan pangan dari hutan ke kebun, dan (d) pengelolaan tumbuhan pangan secara tradisional. 6.2 Saran Sumberdaya hutan TNKM memiliki keanekaragaman spesies tumbuhan pangan seperti bekkai lema (Pycnarrhena cauliflora), salap (Sumbaviopsis albicans), belengla (Litsea cubeba) yang dijadikan bumbu oleh Suku Dayak, serta buah-buahan seperti mata kucing (Dimocarpus longan) dan maritam (Nephelium ramboutan-ake). Hendaknya spesies tersebut dapat dipromosikan ke seluruh Indonesia bahkan ke mancanegara sebagai komoditi lokal unggulan. Beberapa padi lokal Dayak Kenyah seperti pa’dai adan, pa’dai bere, pa’dai pulut berpotensi untuk mendukung ketahanan pangan nasional sehingga pemerintah tidak perlu lagi mengimpor beras. DAFTAR PUSTAKA Almatsier S. 2006. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Afrianti UR. 2007. Kajian etnobotani dan aspek konservasi sengkubak (Pycnarrhena cauliflora (Miers.) Diels.) di Kabupaten Sintang Kalimantan Barat [tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana IPB. Biber-Klemm S, Berglas DS. 2006. Problems and goals. Di dalam: Biber-Klemm S and Cottier T. Rights to Plant Genetic Resources and Traditional Knowledge: Basic Issues and Perspectives. Switzerland: World Trade Institute, University of Berne. Billa M. 2005. Alam Lestari & Kearifan Budaya Dayak Kenyah. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Dharmono. 2007. Kajian etnobotani tumbuhan jalukap (Centella asiatica L.) di Suku Dayak Bukit Desa Haratai 1 Loksado. Jurnal Bioscientiae 4(2):7178. [Dephut] Departemen Kehutanan. 2002a. Rencana Pengelolaan Taman Nasional Kayan Mentarang 2001-2025 Buku I Rencana Pengelolaan. Tarakan: Departemen Kehutanan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. [Dephut] Departemen Kehutanan. 2002b. Rencana Pengelolaan Taman Nasional Kayan Mentarang 2001-2025 Buku II Data, Proyeksi dan Analisis. Tarakan: Departemen Kehutanan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. [Dephut] Departemen Kehutanan. 2006. Taman Nasional Kayan Mentarang. http://www.dephut.go.id/INFORMASI/TN%20INDOENGLISH/tn_kayanmentarang.htm. [21 September 2010]. Hastiti RD. 2011. Kearifan lokal dalam perburuan satwa liar Suku Dayak Kenyah, di Taman Nasional Kayan Mentarang, Kalimantan Timur [skripsi]. Bogor: Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Heyne K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia jilid 1-3. Jakarta: Badan Litbang Kehutanan Yayasan Wana Jaya. Hidayat S. 2009. Kajian etnobotani masyarakat kampung adat Dukuh Kabupaten Garut, Jawa Barat [skripsi]. Bogor: Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. 75 Hladik CM, Hladik A, Linares OF, Pagezy H, Semple A, Hadley M. 1993. Tropical Forest, People and Food: Biocultural Interaction and Application to Development. Paris: The Parthenon Publishing Group. Johns T. 2003. Plant bodiversity and malnutrition: simple solution to complex problems, theoretical basis for the development and implementation of a global strategy linking plant genetic resource conservation and human nutrition. African Journal of Food, Agriculture, Nutrition, and Development 3(1):45-52. Kartikawati SM. 2004. Pemanfaatan sumberdaya tumbuhan oleh masyarakat Dayak Meratus di kawasan Hutan Pegunungan Meratus Kabupaten Hulu Sungai Tengah [tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana IPB. Keraf AS. 2005. Etika Lingkungan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Mardalis. 2004. Metode Penelitian: Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta: Bumi Aksara. Martin GJ. 1998. Ethnobotany, A People and Plants Conservation Manual. London: Chapman and Hall. Mitchell B, Setiawan B, Rahmi DH. 2007. Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan. Yoyakarta: Gadjah Mada University Press. Moran EF. 1982. Human Adaptability: An Introduction to Ecological Antropology. Colorado: Westview Press. Mukti A. 2010. Beberapa kearifan lokal suku Dayak dalam pengelolaan sumberdaya alam [disertasi]. Malang: Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Program Doktor, Universitas Brawijaya. Ngindra F. 1999. Pemenuhan kebutuhan pangan pada masyarakat Suku Kenyah Bakung di Desa Long Aran. Di dalam: Eghenter C, Sellato B. Kebudayaan dan Pelestarian Alam Penelitian Interdisipliner di Pedalaman Kalimantan. Jakarta: WWF Indonesia. Pardosi J, Asngari PS, Tarumingkeng RC, Susanto D, Sumarjo. 2005. Pemberdayaan peladang berpindah: kasus Kabupaten Kutai Kertanegara, Kabupaten Kutai Timur, dan Kabupaten Kutai Barat di Provinsi Kalimantan Timur. Jurnal Penyuluhan 1 (1): 33-40. Pilin M, Petebang E. 1999. Hutan: Darah dan Jiwa Dayak. Pontianak: SHKKalbar. 76 Presiden Republik Indonesia. 1990. Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi keanekaragaman hayati dan ekosistemnya. Jakarta: Presiden Republik Indonesia Purwadarminta WJS. 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Rahmania M, Hastiti RD, Ayu FAP, Fauzi I, Prayitno A. 2011. Laporan praktik kerja lapang profesi Taman Nasional Kayan Mentarang, Kalimantan Timur [tidak dipublikasikan]. Bogor: Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB. Redaksi Kompas. 2010. Tantangan menuju ketahanan pangan. www.kompas.com. [24 Januari 2011]. Setyawati I. 1999. Pengetahuan tentang varietas-varietas padi dan pemanfaatannya di kalangan orang Kenyah Leppo’ Ke di Apau Ping. Di dalam: Eghenter C, Sellato B. Kebudayaan dan Pelestarian Alam Penelitian Interdisipliner di Pedalaman Kalimantan. Jakarta: WWF Indonesia. Simatauw M, Simanjuntak L, Kuswardono PT. 2001. Gender & Pengelolaan Sumberdaya Alam: Sebuah Panduan Analisis. Kupang: Yayasan PIKUL (Penguatan Institusi dan Kapasitas Lokal). Sindju HB. 1999. Penyiapan dan pemanfaatan lahan dalam perdagangan pada masyarakat Kenyah di Apau Ping. Di dalam: Eghenter C, Sellato B. Kebudayaan dan Pelestarian Alam Penelitian Interdisipliner di Pedalaman Kalimantan. Jakarta: WWF Indonesia. Tarwotjo CS. 1998. Dasar-Dasar Gizi Kuliner. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. Uluk A, Sudana M, Wollenberg E. 2001. Ketergantungan Masyarakat Dayak terhadap Hutan di Sekitar Taman Nasional Kayan Mentarang. Bogor: Center For International Forestry Research (CIFOR). Wahyu. 2007. Makna kearifan lokal dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan di Kalimantan Selatan. Di dalam: Soendjoto MA, Wahyu. 2007. Pengelolaan sumberdaya alam dan pemberdayaan masyarakat dalam perspektif budaya dan kearifan lokal. Banjarmasin: Universitas Lambung Mangkurat Press. [WWF] World Wildlife Fund. 2002. Ringkasan Eksekutif: Rencana Pengelolaan Taman Nasional Kayan Mentarang 2001-2025. Tarakan: WWF Indonesia Project Kayan Mentarang. 77 [WWF] World Wildlife Fund. 2010a. Briefing paper 2: Pengelolaan kolaboratif Taman Nasional Kayan Mentarang. Tarakan: WWF Indonesia Project Kayan Mentarang. [WWF] World Wildlife Fund. 2010b. Brief paper 4: Penataan batas Taman Nasional Kayan Mentarang. Tarakan: WWF Indonesia Project Kayan Mentarang. [WWF] World Wildlife Fund. 2010c. Brief paper 5: Perencanaan zonasi Taman Nasional Kayan Mentarang. Tarakan: WWF Indonesia Project Kayan Mentarang. Zuhud EAM. 2011. Pengembangan desa konservasi hutan keanekaragaman hayati untuk mendukung kedaulatan pangan dan obat keluarga (POGA) Indonesia dalam menghadapi ancaman krisis baru ekonomi dunia di era globalisasi. Makalah disampaikan dalam Orasi Ilmiah Guru Besar Institut Pertanian Bogor di Auditorium Sumardi Sastrakusumah Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, 19 November 2011. LAMPIRAN Lampiran 1 Daftar jenis tumbuhan pangan hutan/liar dimanfaatkan suku Dayak Kenyah TNKM No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Nama lokal Habitus Bagian yang digunakan Fungsi Kulat long jamur seluruh bagian sayuran Keladi upa' nyak Lundai 1 Lundai 2 herba herba herba umbi, daun umbi umbi sayuran sumber energi sumber energi Talang Uwai tebungen (rotan tebungen) Uwai tana' (rotan tana') Uwai balamata (rotan balamata) Uwai pait (rotan pahit) Eman Nanga Sagu Nyi'bung Birai (salak hutan) Uwai lata' (rotan lata') palem liana liana liana liana palem palem palem palem semak liana umbut umbut umbut umbut umbut getah getah getah umbut buah umbut sayuran sayuran sayuran sayuran sayuran sumber energi sumber energi sumber energi sayuran buah-buahan sayuran Paku pait paku-pakuan daun sayuran Kulat tlengadok (jamur kuping) jamur seluruh bagian sayuran Paku julut paku-pakuan daun sayuran Daun balang herba daun sayuran Kulat jap jamur seluruh bagian sayuran 79 20 Famili/Nama ilmiah Amanitaceae Amanita sp.** Araceae Colocasia esculenta Schott Colocasia gigantea Hook. f. Xanthosoma sp. Arecaceae Arenga undulatifolia Becc. Calamus ornatus Bl. Calamus sp. Calamus sp.1** Calamus sp.2** Caryota mitis Lour. Eugeissona utilis Becc. Metroxylon sp. Oncosperma horridum Scheff. Salacca affinis var.borneensis Becc. (tidak dapat spesimen) Athyriaceae Athyrium sozongonense (Presl.) Milde Auriculariaceae Auricularia auricula-judae Nephrolepidacea Nephrolepis bisserata (Sw.) Schott Piperaceae Heckeria umbellata Kunth. Pleurotaceae Pleurotus sp.** Lampiran 1 (Lanjutan) No Famili/Nama ilmiah Poaceae 21 Dendrocalamus asper Backer 22 Gigantolochloa apus Kurz. 23 Setaria palmifolia Stapf. Polypodiaceae 24 Diplazium esculentum Swartz. 25 Stenoclaena palustris Bedd. Russulaceae 26 Lactarius deliciosus (L. ex Fr.) S.F.Gray 27 Russula cyanoxantha (Schaeffer)Fries. Zingiberaceae 28 Etlingera elatior (Jack) R.M. Smith 29 Etlingera sp. (tidak teridentifikasi) 30 (tidak teridentifikasi)** 31 (tidak teridentifikasi) 32 (tidak teridentifikasi) Keterangan: ** sumber : Uluk et al. (2001) Nama lokal Habitus Bagian yang digunakan Fungsi Bambu betung Bambu apus Sengka bambu bambu herba tunas (rebung) tunas (rebung) umbut sayuran sayuran sayuran Paku bai Paku bala paku-pakuan paku-pakuan daun daun sayuran sayuran Kulat bulu Kulat long balabau jamur jamur seluruh bagian seluruh bagian sayuran sayuran Nyanding Iti' herba herba umbut, bunga (blusut) umbut sayuran sayuran Kulat kedet Kulat puti' Kulat temenggang jamur jamur jamur seluruh bagian seluruh bagian seluruh bagian sayuran sayuran sayuran 80 Lampiran 2 Daftar jenis tumbuhan pangan hutan yang sudah budidaya oleh suku Dayak Kenyah TNKM No 12 Famili/Nama ilmiah Anacardiaceae Mangifera caesia Jack. Mangifera pajang Kosterm. Bombacaceae Durio graveolens Becc. Durio kutejensis Becc. Durio oxleyanus Griff. (tidak dapat spesimen) (tidak dapat spesimen) Burseraceae Dacryodes rostrata (Blume) H. J. Lam. Clusiaceae Garcinia bancana Miq. Garcinia cf. lateriflora Blume Garcinia forbesii King. Cucurbitaceae Trichosanthes sp. 13 Euphorbiaceae Aleuritas moluccana Willd Payang kure (kemiri) pohon buah 14 15 16 17 18 Baccaurea bracteata M. A. Baccaurea dulcis Muell. Arg. Baccaurea lanceolata Muell. Arg. Baccaurea macrocarpa Muell. Arg. Ricinus communis Linn. Seti' Dabai (rambai) Keleppeso Settai Payang lengu pohon pohon pohon pohon herba buah buah buah buah buah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Nama lokal Habitus Bagian yang digunakan Fungsi Berenyiu/binjai Alim pohon pohon buah buah buah-buahan buah-buahan Durian merah/durian kelasi Dian lai (durian hutan) Durian daun Durian besar (daerah kemuat) Durian temenggang pohon pohon pohon pohon pohon buah buah buah buah buah buah-buahan buah-buahan buah-buahan buah-buahan buah-buahan Kelamu' pohon buah buah-buahan Petong (manggis hutan) Berana' Adiu pohon pohon pohon buah buah buah buah-buahan buah-buahan buah-buahan Payang aka liana buah bumbu (trasi dayak) bumbu (trasi dayak) buah-buahan buah-buahan buah-buahan buah-buahan bumbu (trasi dayak) 81 Lampiran 2 (Lanjutan) No 19 Famili/Nama ilmiah Sumbaviopsis albicans (BL.) J.J.S. 21 Fabaceae Parkia speciosa Hassk. Flacourtiaceae Pangium edule Reinw. 22 Lauraceae Litsea cubeba Pers. 20 25 Melastomataceae Pternandra cordata Baill. Meliaceae Lancium domesticum Corr. Menispermaceae Coscinium miosepalum Diels. 26 Pycnarrhena cauliflora (Miers.) Diels. 23 24 27 28 29 30 31 Moraceae Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg Artocarpus odoratissimus Blanco. Polygalaceae Xanthophyllum amoenum Chod. Xanthophyllum exelsa Miq. Xanthophyllum obscurum Blenn. Salap Nama lokal Habitus pohon Bagian yang digunakan buah Fungsi bumbu (trasi dayak) Petai hutan pohon biji sayuran Payang kayu pohon buah bumbu (trasi dayak) Belengla perdu biji bumbu (pelengkap sambal) Tenggok Buin pohon buah buah-buahan Langsat pohon buah buah-buahan Bekkai lanya liana daun Bekkai lema liana daun bumbu (pengganti vetsin) bumbu (pengganti vetsin) Temai' Kean/tarap pohon pohon buah buah buah-buahan buah-buahan Bua tiup Mejalin batu Mejalin pohon pohon pohon buah buah buah buah-buahan buah-buahan buah-buahan 82 Lampiran 2 (Lanjutan) No 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 Famili/Nama ilmiah Sapindaceae Dimocarpus Lour. ssp. malesianus var. malesianus Leenh (kakus) Dimocarpus Lour. ssp. malesianus var. malesianus Leenh (sau) Nephelium cuspidatum Blume Nephelium cuspidatum Blume var. eriopetalum Nephelium juglandifolium Bl. Nephelium lappaceum Linn. var. pallens Nephelium maingayi Hiern. Nephelium medusem Leenh. Nephelium muntabile Bl. Nephelium ramboutan-ake Leenh. Nephelium ramboutan-ake Leenh. Nephelium ramboutan-ake Leenh. Urticaceae Poikilospermus suaveolens (Bl.) Merr. (tidak teridentifikasi) (tidak dapat spesimen) (tidak dapat spesimen) Nama lokal Habitus Bagian yang digunakan Fungsi Isau bala (mata kucing merah) pohon buah buah-buahan Isau bileng (mata kucing biru) pohon buah buah-buahan Buah telo' Bua a'bong beleng (maritam biru) Se'bau Koyakan Unjing/onjeang Mbui luan Rambutan hutan Bua a'bong kobox (maritam biawak) Bua a'bong saleng (maritam hitam) Bua a'bong bala (maritam merah) pohon pohon pohon pohon pohon pohon pohon pohon buah buah buah buah buah buah buah buah buah-buahan buah-buahan buah-buahan buah-buahan buah-buahan buah-buahan buah-buahan buah-buahan pohon pohon buah buah buah-buahan buah-buahan Keten liana daun sayuran Tekalang da'an Telo'dok pohon pohon buah buah buah-buahan buah-buahan 83 Lampiran 3 Daftar spesies tumbuhan pangan budidaya non hutan Suku Dayak Kenyah TNKM No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Basellaceae Basella alba L. Bombacaceae Durio zibethinus Murr Brassicaceae Brassica rapa var. parachinensis L. Bromeliaceae Ananas comosus Merr. Caricaceae Carica papaya Linn. Clusiaceae Garcinia mangostana Linn. Convolvulaceae Ipomea aquatica Forsk. Ipomea batatas Poir. Cucurbitaceae Cucumis sativus Linn. Cucurbita moschata Duch Nama lokal Bayam Habitus Bagian yang digunakan Fungsi herba daun sayuran pohon buah buah-buahan Sirsak pohon buah buah-buahan Pinang Kelapa palem palem umbut buah, umbut sayuran buah-buahan, sayuran, minuman Lodo liana daun sayuran Durian biasa pohon buah buah-buahan Sawi hijau herba daun sayuran Nanas semak buah buah-buahan Pepaya herba buah buah-buahan Manggis biasa pohon buah buah-buahan Kangkung Ubi jalar herba liana daun umbi, daun sayuran sumber energi, sayuran Timun Labu kuning liana liana buah, daun buah, daun sayuran sumber energi, sayuran 84 14 15 Famili/Nama ilmiah Amaranthaceae Amaranthus spinosus Linn. Anacardiaceae Mangifera indica Linn. Annonaceae Annona muricata Linn. Arecaceae Areca catechu L. Cocos nucifera Linn. Lampiran 3 (Lanjutan) No 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Famili/Nama ilmiah Lagenaria leucantha Rusby Luffa acutangula Roxb. Momordica charantia Linn. Sechium edule Sw. Euphorbiaceae Manihot esculenta Crautz. Manihot utilissima Pohl. Nama lokal Labu putih Gambas Pare Labu gundul (labu siam) Habitus liana liana liana liana Bagian yang digunakan buah buah buah buah Fungsi sumber energi, sayuran sayuran sayuran sayuran Singkong 2 Singkong 1 perdu perdu daun umbi, daun Sauropus androgynus Merr. Fabaceae Arachis hypogaea Linn. Glycine max Merr. Phaseolus aureus Roxb. Phaseolus vulgaris Linn. Vigna angularis (Willd.) Ohwi & H.Ohashi Vigna sinensis Endl. Lauraceae Cinnamomum burmanii Bl. Litsea garciae Vidal Liliaceae Allium cepa Linn. Allium tuberosum Rottler ex Sprengel. Limnocharitaceae Limnocharis flava (L.) Buchenau Moraceae Artocarpus heterophyllus Lam Artocarpus integer (Thunb.) Merr. Cangkok manis (katuk) herba daun sayuran sumber energi, sayuran, minuman sayuran Kacang tanah Kedelai Kacang hijau Buncis Kacang merah Kacang panjang herba liana liana liana herba liana biji biji biji buah biji buah sayuran sayuran minuman sayuran sayuran sayuran Kayu manis Buah mali pohon pohon kulit batang buah bumbu buah-buahan Bawang merah Bawang rambut herba herba umbi umbi bumbu bumbu Genjer herba daun sayuran Nangka Nakan (cempedak) pohon pohon buah buah buah-buahan buah-buahan 85 Lampiran 3 (Lanjutan) No 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 Myrtaceae Psidium guajava Linn. Syzygium aromaticum (Linn.) Merr. Syzygium malaccense (L.) Merr. & Perry Syzygium polyanthum (Wight.) Walp. Pandanaceae Pandanus amaryllifolius Roxb. Piperaceae Piper nigrum Linn. Poaceae Andropogon nardus Linn. Bambusa vulgaris Schrad. Oryza sativa Linn. Saccharum officinarum Linn. Zea mays Linn. Rubiaceae Coffea robusta( L. )Linden Rutaceae Citrus aurantium Linn. Citrus maxima Merr. Sapindaceae Nephelium lappaceum Linn. Solanaceae Capsicum annum L. var. abbreviata Fingerhuth. Capsicum frutescens Linn. Nama lokal Habitus Bagian yang digunakan Fungsi peti' (pisang)* herba buah, umbut pisang (bu'), bunga buah-buahan, sayuran, minuman Jambu batu Cengkih Jambu bol Salam perdu pohon pohon pohon buah bunga buah daun buah-buahan bumbu buah-buahan bumbu Pandan wangi semak daun bumbu Lada liana biji bumbu Sereh Bambu kuning Padi* Tebu Jagung herba bambu herba herba herba akar tunas (rebung) biji batang buah bumbu sayuran sumber energi bumbu sumber energi, sayuran, minuman Kopi perdu biji minuman Jeruk besar Bonyau kela'ang pohon pohon buah buah buah-buahan buah-buahan Rambutan pohon buah buah-buahan Lombok Lombok (cabai rawit) herba herba buah buah bumbu bumbu 86 52 53 Famili/Nama ilmiah Musaceae Musa spp. Lampiran 3 (Lanjutan) No 54 55 56 Famili/Nama ilmiah Solanum lycopersicum Linn. Solanum melongena Linn. Solanum torvum Swartz. Sterculiaceae 57 Theobroma cacao Linn. Zingiberaceae 58 Alpinia galanga Sw. 59 Curcuma domestica Val. 60 Zingiber officinale Rosc. 61 Zingiber officinale Rosc. Keterangan: * memiliki berbagai spesies Nama lokal Tomat Terong Olem (takokak) Habitus liana perdu perdu Bagian yang digunakan buah buah buah bumbu sayuran bumbu Fungsi Kakao perdu biji bahan pangan lanjutan Lia lamut (lengkuas ) Lia bonat (kunyit ) Lia salu' (jahe biasa) Jahe merah herba herba herba herba rimpang, bunga rimpang rimpang rimpang bumbu, sayur bumbu bumbu bumbu 87 88 Lampiran 4 Jenis pisang dan jenis padi ditemukan No Jenis pisang (nama lokal) 1 Pisang moli 2 Pisang sanggar 3 Pisang susu 4 Pisang ble'dan 5 Pisang o'dang 6 Pisang pa'dai 7 Pisang bem 8 Pisang kelasi 9 Pisang lenjau 10 Pisang mosang 11 Pisang anak Keterangan: spesies pisang yang diperoleh dalam pengamatan tidak diketahui nama ilmiahnya karena tidak diperoleh specimen No Jenis padi sawah Jenis padi ladang 1 Bere Bere 2 Adan merah Membat 3 Adan putih Biasa 4 Agan Mak 5 Ba'an Ba'an 6 Putik Putik 7 Apuy layeang Nyu 8 Atok Nyelong 9 Pulut sawah Lo liuk 10 Nyain Langsat 11 Mahag Mahag 12 Iban Kelawit 13 Unggul Sapuy tangan 14 6 Bulan 6 Bulan 15 Punai Angga 16 Temai sawah Ble'en 17 Modang Temai ladang 18 Talun Hitam 19 Merah Merah 20 Mban 21 Adan hitam 22 Adan tinggi 23 Adan rendah 24 Makmur 25 Pulut ale 26 Pulut ta'em 27 Pulut temai 28 Pulut saleng 29 Pulut bala 30 Osen 31 Pa'larang 32 Jaweng 33 Ketan hitam 34 Ketan putih Keterangan: warna kuning menandakan jenis padi yang dapat ditanam di lahan sawah dan ladang Lampiran 5 Daftar spesies tumbuhan berguna selain pangan oleh suku Dayak Kenyah TNKM No Famili/Nama ilmiah Nama lokal Habitus Bagian yang digunakan Kegunaan Cara pengolahan Lokasi ditemukan 1 Anacardiaceae Mangifera caesia Jack. Berenyiu pohon batang kayu api (kayu bakar) Belah batang sesuai kebutuhan hutan, kebun 2 3 Annonaceae Xylopia cuspidata Diels. Goniothalamus sp. Kayu koyat Semang pohon pohon batang batang kayu api (kayu bakar) pengusir hantu Belah batang sesuai kebutuhan Batang dipotong sedikit, bakar ujungnya hutan hutan Long herba umbi obat mencret Umbi dikerok atau diiris, kemudian disiram dengan air panas, lalu diminum hutan Damar pohon batang papan Belah batang sesuai kebutuhan hutan Kelapa palem batang, daun, tulang daun batang untuk jembatan sungai; daun untuk bungkus makanan, atap; tulang daun sebagai lidi sebagai bahan nyirih Belah batang sesuai kebutuhan kebun buah pinang ditambah kapur, sirih, untuk kegiatan menyirih rotan dibersihkan, potong-potong, kemudian dirakit membentuk tapan kebun rotan dibersihkan, potong-potong, kemudian buat kerajinan rotan dibersihkan, potong-potong, kemudian buat kerajinan hutan 4 Araceae Homalomena cordata Schott 6 Araucariaceae Agathis borneensis Warb. Arecaceae Cocos nucifera Linn. 7 Areca catechu L. Pinang palem buah 8 Korthalsia sp. Uwai ayeng liana batang 9 Korthalsia echinometra liana batang 10 Calamus caesius Blume Uwai balamata Uwai sega liana batang 5 kerajinan (bahan tapan yaitu wadah untuk bersihkan beras) kerajinan (ki'ba, belanyat, ingen) kerajinan (ki'ba, belanyat, ingen) hutan hutan 89 Lampiran 5 (Lanjutan) Nama lokal Habitus Daemonorops hallierianus Becc. Uwai selingan liana Bagian yang digunakan batang Uwai semule liana batang 13 Daemonorops periacantha Miq. Calamus ornatus Bl. liana batang 14 Calamus javensis Bl. Uwai tebungen Uwai timai liana batang 15 Licuala valida Becc Sang semak daun Daun dewa herba Rumput tahi ayam No Famili/Nama ilmiah 11 12 17 Asteraceae Gynura segetum (Lour) Merr Ageratum conyzoides L 18 Balsaminaceae Impatiens balsamina Linn. 16 19 20 21 Bombacaceae Ceiba pentandra L. Gaertn Cunoniaceae Weinmannia blumei Planch. Convolvulaceae Merremia sp. Lokasi ditemukan hutan Kegunaan Cara pengolahan kerajinan (ki'ba, belanyat, ingen), obat keracunan setelah makan landak kerajinan (ki'ba, belanyat, ingen) kerajinan (ki'ba, belanyat, ingen) kerajinan (anyaman, belanyat) bahan saung (sejenus caping), terpal alami rotan dibersihkan, potong-potong, kemudian buat kerajinan; rotan kering dipotong-potong, siram air panas, minum airnya rotan dibersihkan, potong-potong, kemudian buat kerajinan rotan dibersihkan, potong-potong, kemudian buat kerajinan rotan dibersihkan, potong-potong, kemudian buat kerajinan Ambil bagian daun, susun tumpuk, jahit daun obat luka memar pekarangan herba daun obat keputihan Daun ditumbuk, tambah air, oles ke luka Daun muda direbus sampai setengah bagian, minum airnya Selangga (pacar air) herba daun, bunga bahan pewarna kuku Daunnya ditumbuk, tambahkan air jeruk, tempelkan pada kuku semalam pekarangan Kapuk pohon isi buah isi bantal, guling, kasur Isi buah diambil, kumpulkan, jemur, masukkan ke bantal, guling, kasur kebun Seleman pohon getah bahan pewarna ba'rang getah direbus, oleskan pada ba'rang hutan Akar padem liana seluruh bagian obat sakit perut Parut/cincang, rebus hingga pekat, minum airnya pekarangan hutan hutan hutan hutan pekarangan 90 Lampiran 5 (Lanjutan) No Famili/Nama ilmiah 22 Costaceae Costus speciosus (koenig) R. M. Smith. Bagian yang digunakan Habitus Penawar racun pai (bisa ular) herba daun penawar bisa ular ambil daun, remas-remas, gosokkan pada luka gigitan ular hutan Kapun/Kapur pohon batang jembatan Belah batang sesuai kebutuhan hutan Kayu tenak pohon batang bahan bangunan Belah batang sesuai kebutuhan Laran babui pohon batang kayu api (kayu bakar) Belah batang sesuai kebutuhan Kemiri pohon kulit buah obat muntaber kulit buah kemiri direbus, minum kebun 27 Shorea sp. Euphorbiaceae Aleuritas moluccana Willd Fabaceae Derris montana Benth. hutan, kebun hutan Akar tuba liana akar, kulit batang racun ikan (akar), racun pacet (kulit batang) pekarangan 28 Sindora leiocarpa De Witt Lemelai pohon batang bahan alat buru (gagang sumpit, bujak) Akar digulung, tumbuk, hingga keluar air. Air ini menjadi racun ikan; jika pacet menempel, gunakan kulit batang untuk melepaskannya Belah batang sesuai kebutuhan 29 Fagaceae Quercus gemeliflora Bl. pohon batang papan, kayu api Belah batang sesuai kebutuhan 30 Quercus argentata Korth. pohon batang papan, kayu api Belah batang sesuai kebutuhan 31 Lithocarpus cantleyanus (King ex Hook.f.) Rehder Nyelewai biru Nyelewai merah Palan pohon batang kayu api (kayu bakar) Belah batang sesuai kebutuhan hutan, kebun hutan, kebun hutan, kebun 23 24 25 26 Dipterocarpaceae Dryobalanops lanceolata Burck Shorea parvifolia Dyer Kegunaan Cara pengolahan Lokasi ditemukan Nama lokal hutan, kebun 91 Lampiran 5 (Lanjutan) No 32 33 34 35 36 37 38 Famili/Nama ilmiah Hipericaceae Cratoxylum sumatranum Blume Lauraceae Litsea cubeba Pers. Cinnamomum burmanii Bl. Eusideroxylon zwageri T. Et B. Magnoliaceae Elmerrillia tsiampacca (L.) Dandy Maranthaceae Halopegia blumei (Koern.) K. Schumann Meliaceae Lancium domesticum Corr Bagian yang digunakan Kegunaan Habitus Kayu loleang pohon batang kayu api (kayu bakar) Belah batang sesuai kebutuhan hutan, ladang Belengla perdu biji obat demam Kunyah biji secukupnya kayu manis pohon batang kayu api (kayu bakar) Belah batang sesuai kebutuhan hutan, kebun kebun Ulin pohon batang bahan bangunan Belah batang sesuai kebutuhan hutan, kebun Kayu adau pohon batang kayu api (kayu bakar) Belah batang sesuai kebutuhan hutan, ladang Daun jaum (daloey) herba daun pembungkus nasi, atap Ambil daun sesuai kebutuhan ladang, kebun, jekkau Kayu langsat pohon batang kayu api (kayu bakar) Belah batang sesuai kebutuhan hutan, kebun Ambil sedikit bagian batang, gigit/letakkan di gigi geraham saat meminum alkohol (ciu) agar tidak mabuk Dicuci, dikikis kulitnya, tambahkan air, masukkan ke kain, kemudian diperas dan diteteskan ke mata hutan 39 Menispermaceae Coscinum fenestratum (Gaertn.) Coleber Akar mabok liana batang anti mabuk 40 Fibraurea sp. Aka mit 1 liana batang obat sakit mata Cara pengolahan Lokasi ditemukan Nama lokal hutan 92 Lampiran 5 (Lanjutan) No Famili/Nama ilmiah 41 Arcangelisia flava (L) Merr Moraceae Antiaris toxicaria Leschen. Ficus cf. uncinulata Becc. 42 43 45 Myrtaceae Tristaniopsis whiteana (Griffith) Peter G. Wilson & J.T. Waterh Psidium guajava Linn. 46 Syzygium zeylanicum DC. 44 47 48 49 50 51 Pandanaceae Pandanus cf. Kaida Kurz. Poaceae Schizostachyum brachycladum Kurz. Coix lacryma-jobi Linn. Rubiaceae Anthocephalus chinensis Hassk. Tarenna cumingiana (Vid.) Elmer liana Bagian yang digunakan batang obat demam kuning batang dibersihkan, potong-potong, tambah air, minum Salo' pohon getah racun sumpit hutan Ti puti perdu batang tali/pengikat getah direbus, tunggu kering, jadikan peluru atau dioleskan pada tombak batang dipotong, dijadikan tali/pengikat Belaban pohon batang kayu api (kayu bakar) Belah batang sesuai kebutuhan hutan, ladang Jambu batu perdu daun obat mencret Daun direbus, minum airnya Kayu pa'dai pohon batang kayu api (kayu bakar) Belah batang sesuai kebutuhan kebun, pekarangan ladang, jekkau, hutan Da'a semak daun tikar, kerajinan Daunnya dibersihkan, dianyam ladang Bambu talang Inu latong bambu batang bahan ba'rang, tedien Belah batang sesuai kebutuhan herba biji hiasan Biji dirangkai menjadi perhiasan (gelang, kalung) ladang, jekkau dekat sawah Tembalut pohon batang kayu api (kayu bakar) Belah batang sesuai kebutuhan hutan Uku payau pohon batang kayu api, bahan bangunan Belah batang sesuai kebutuhan hutan Nama lokal Habitus Aka mit 2 Kegunaan Cara pengolahan Lokasi ditemukan hutan hutan 93 Lampiran 5 (Lanjutan) No 52 53 54 55 Famili/Nama ilmiah Rutaceae Citrus maxima Merr. Sapindaceae Nephelium ramboutan-ake Leenh. Dimocarpus Lour. ssp. malesianus var. malesianus Leenh Sapotaceae Palaqium sp. Bagian yang digunakan Kegunaan Cara pengolahan Lokasi ditemukan Nama lokal Habitus Bonyau kela'ang pohon buah menghilangkan ketombe Daging buah digosokkan ke rambut, bilas kebun Bua abong kobox pohon batang, daun batang untuk kayu api, daun untuk racun sumpit kebun, hutan Mata kucing pohon batang kayu api Batang dibelah sesuai kebutuhan, daun ditumbuk, peras airnya, campur dengan getah salo' Belah batang sesuai kebutuhan Ketepai pohon getah perekat mata parang dengan gagangnya Getah oleskan pada parang dan gangangnya hutan Sala baret herba seluruh bagian obat luka Sala baret ditumbuk, oles ke luka hutan Pasak bumi pohon akar menambah tenaga, malaria, demam, sakit pinggang, melancarkan kencing Akar diiris, direndam air panas, kemudian diminum hutan hutan 57 Selaginelaceae Selaginella plana Hieron. Simaroubaceae Eurycoma longfolia Jack 58 Solanaceae Nicotiana tabacum L. Tembakau herba daun obat pacet Tembakau yang kering diusapkan ke kulit yang dihinggapi pacet kebun 59 Thymelaeaceae Aquilaria spp. Gaharu pohon getah (resin) sumber pendapatan Penyadapan Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl. Mahkota dewa perdu kulit buah obat asam urat kulit buah dikeringkan, diseduh seperti minum teh hutan, kebun pekarangan 56 60 94 Lampiran 5 (Lanjutan) No Famili/Nama ilmiah Kegunaan Cara pengolahan Lokasi ditemukan daun obat hipertensi, diabetes daun dikeringkan, diseduh seperti teh pekarangan pohon batang papan, kayu api Belah batang sesuai kebutuhan hutan, ladang rimpang dibersihkan, ditumbuk, rebus, minum airnya rimpang dibersihkan, ditumbuk, rebus, minum airnya rimpang dibersihkan, ditumbuk, rebus, tambahkan asam, minum airnya rimpang dibersihkan, ditumbuk, rebus, minum airnya pekarangan Nama lokal Habitus Te'pae herba Japa' Bagian yang digunakan 62 Urticaceae Leucosyke capitellata Wedd. Verbenaceae Vitex pinnata L. 63 Zingiberaceae Zingiber officinale Rosc. Jahe herba rimpang obat masuk angin, flu 64 Kaempferia galanga Linn. Kencur herba rimpang obat batuk 65 Curcuma domestica Val. C. Kunyit herba rimpang melancarkan haid 66 Curcuma zanthorrhiza Roxb. Temulawak herba rimpang penambah nafsu makan 61 pekarangan pekarangan pekarangan 95 Lampiran 6 Daftar spesies satwa sebagai bahan pangan No. Nama lokal spesies Nama ilmiah spesies Bagian digunakan Fungsi Pengolahan 1 Babui (Babi berjenggot) Sus barbatus lemak, daging minyak babi, lauk hewani Goreng, bakar, rica-rica 2 Payau ( Rusa sambar) Cervus unicolor kulit, lemak, daging minyak babi, lauk hewani Goreng, bakar, rica-rica, kerupuk 3 Biawak Varanus salvator daging lauk hewani Goreng, bakar, rica-rica 4 Beruang madu Helarctos malayanus daging lauk hewani Goreng, bakar, rica-rica 5 Landak Hystrix brachyura daging lauk hewani Goreng, bakar, rica-rica 6 Trenggiling Manis javanica daging lauk hewani Goreng, bakar, rica-rica 7 Kijang Muntiacus muntjak daging lauk hewani Goreng, bakar, rica-rica 8 Monyet ekor panjang Macaca fascicularis otak, daging lauk hewani Goreng, bakar, rica-rica 9 Beruk Macaca nemestrina daging lauk hewani Goreng, bakar, rica-rica 10 Pelanduk Tragulus javanicus daging lauk hewani Goreng, bakar, rica-rica 11 Ular sawah Phyton reticulatus lemak, daging lauk hewani Goreng, bakar, rica-rica 96 Lampiran 7 Daftar spesies satwa berguna selain pangan No. Nama lokal spesies Nama ilmiah spesies Bagian digunakan Fungsi Pengolahan/keterangan 1 Beruang madu Helarctos malayanus empedu 2 Landak Hystrix brachyura isi usus besar menghilangkan lelah menyembuhkan segala macam penyakit 3 Kijang Muntiacus muntjak ranggah hiasan dinding empedu diminum dengan madu isi usus besar dikeringkan lalu ditelan bersama air setelah dimakan dagingnya, ranggah dijadikan hiasan 4 Monyet ekor panjang Macaca fascicularis otak obat maag langsung makan mentah 5 Beruk Macaca nemestrina batu guliga luka memar 6 Rangkong badak Buceros rhinoceros bulu, kepala hiasan dinding diminum campur madu bulu untuk topi adat, kepala untuk hiasan dinding 7 Kuau raja Argusianus argus bulu hiasan topi adat bulu dijadikan topi untuk tari adat 8 Binturong Arctictis binturong empedu obat setelah jatuh empedu diminum dengan madu 9 Macan dahan Neofelis nebulosa kulit dan rambut pakaian tari adat melambangkan kegagahan 10 Trenggiling Manis javanica embrio obat kuat 11 Rangkong gading Rhinoplax vigil tengkorak obat sakit gigi embrio dicampur ciu, diminum tengkorak dikerok, campur air, kumurkumur 97 Lampiran 8 Kuisioner panduan wawancara PANDUAN WAWANCARA Hari/tanggal : Nama responden : Jenis kelamin : Usia : Tingkat pendidikan : Jenis pekerjaan : Agama : Nilai budaya/kearifan lokal masyarakat Dayak TNKM A. Stimulus Alami 1. Jenis tumbuhan apa yang dimanfaatkan dari hutan? Apa manfaatnya? ............................................................................................................................. B. Stimulus Manfaat 1. Kegiatan apa yang dilakukan di dalam hutan? a) Berburu b) Mengambil kayu bakar c) Mengambil tumbuhan d) Lainnya........................................................................................................... 2. Apa hasil hutan yang dimanfaatkan? a) Hewan 3. b) Kayu c) Tumbuhan d) Lainnya.................. Hasil hutan yang diambil dipergunakan untuk diri sendiri atau dijual? a) Digunakan sendiri b) Dijual c) Sebagian dijual C. Stimulus Rela 1. Apakah bapak/ibu sering ke hutan? a) Sering 2. b) Jarang c) Tidak pernah d) Lainnya................. Berapa kali bapak/ibu pergi ke hutan? a) Setiap hari b) Seminggu sekali c) Sebulan sekali d) Lainnya...... 99 3. Sudah berapa lama memanfaatkan hasil hutan? a) < 1 tahun 4. b) 1-3 tahun c) 4-6 tahun d) > 6 tahun Seberapa sering memanfaatkan tumbuhan di hutan? a) Setiap saat b) Hanya saat membutuhkan c) Tidak pernah d) Lainnya........................................................................................................... 5. Apakah tumbuhan dari hutan juga ditanam di kebun sendiri? a) Iya 6. b) Tidak Apakah ada aturan atau larangan yang berkaitan dengan sumberdaya hutan bagi masyarakat? a) Ada 7. b) Tidak ada Apa hukuman bagi yang melnggar aturan tersebut? ............................................................................................................................. Pemanfaatan tumbuhan pangan oleh masyarakat Dayak TNKM A. Stimulus Alami 1. Jika ada tumbuhan di hutan dijadikan bahan pangan, apa jenisnya? ............................................................................................................................. 2. Apa nama jenis makanan yang diolah dari tumbuhan pangan tersebut? ............................................................................................................................. B. Stimulus Manfaat 1. Apakah tumbuhan di hutan dijadikan bahan pangan? a) Iya 2. b) Tidak Apa habitusnya? ............................................................................................................................. 3. Bagaimana cara memperoleh dan mengolah tumbuhan pangan tersebut menjadi bahan pangan? ............................................................................................................................. 4. Apa fungsi/khasiat tumbuhan tersebut bagi tubuh? ............................................................................................................................. 100 C. Stimulus Rela 1. Bagaimana cara memperole tumbuhan pangan? ............................................................................................................................. 2. Apakah diambil langsung dari hutan atau ditanam sendiri di kebun? a) Diambil langsung dari hutan b) Ditanam sendiri dari kebun c) Lainnya........................................................................................................... 3. Jika dari hutan, bagaimana cara memperolehnya? ............................................................................................................................. 4. Jika dari kebun sendiri bagaimana proses dari penanaman, perawatan, hingga pemanenannya? ............................................................................................................................. 5. Siapa saja yang dapat mengonsumsi jenis makanan tersebut (kalangan usia)? a) Kakek/nenek 6. c) Ayah/Ibu c) Bayi d) Lainnya...... Kapan mengonsumsi tumbuhan pangan tersebut? Bagaimanakah periodenya (hari/bulan/musim/pagi/siang/sore)? ............................................................................................................................. 7. Apakah ada ritual dalam pengambilan tumbuhan pangan dari alam? Bagaimanakah ritual tersebut? ............................................................................................................................. A. Data tambahan mengenai pemanfaatan tumbuhan berguna oleh masyarakat Dayak TNKM 1. Selain tumbuhan yang diambil, apakah ada lagi pemanfaatan tumbuhan secara etnis oleh masyarakat? Sebutkan. (Stimulus Rela) ............................................................................................................................. 2. Apa saja jenisnya? Apa manfaatnya? (Stimulus Alami) ............................................................................................................................. 3. Apakah juga memanfaatkan hewan sebagai tambahan bahan pangan? Apa saja jenisnya? Bagian tubuh hewan mana yang dimanfaatkan? (Stimulus Manfaat) ............................................................................................................................. 101 4. Apa fungsi dari hewan untuk pangan tersebut? (Stimulus Manfaat) ............................................................................................................................. B. Kegiatan sehari-hari masyarakat yang menunjang etnobotani pangan 1. Ada berapa anggota keluarga di rumah ini? Sebutkan. ............................................................................................................................. 2. Bagaimana kegiatannya? a) Kegiatan sehari-hari kepala keluarga b) Kegiatan sehari-hari ibu rumah tangga c) Kegiatan anak d) Kegiatan utama dan tambahan/penunjang masing-masing aggota keluarga 3. Bagaimana budayanya dalam pemanfaatan tumbuhan di hutan (terutama tumbuhan pangan)? a) Upacara adat b) Aturan adat c) Ritual pemanfaatan d) Konservasi menjaga hutan e) dll LAMPIRAN Lampiran 1 Daftar jenis tumbuhan pangan hutan/liar dimanfaatkan suku Dayak Kenyah TNKM No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Nama lokal Habitus Bagian yang digunakan Fungsi Kulat long jamur seluruh bagian sayuran Keladi upa' nyak Lundai 1 Lundai 2 herba herba herba umbi, daun umbi umbi sayuran sumber energi sumber energi Talang Uwai tebungen (rotan tebungen) Uwai tana' (rotan tana') Uwai balamata (rotan balamata) Uwai pait (rotan pahit) Eman Nanga Sagu Nyi'bung Birai (salak hutan) Uwai lata' (rotan lata') palem liana liana liana liana palem palem palem palem semak liana umbut umbut umbut umbut umbut getah getah getah umbut buah umbut sayuran sayuran sayuran sayuran sayuran sumber energi sumber energi sumber energi sayuran buah-buahan sayuran Paku pait paku-pakuan daun sayuran Kulat tlengadok (jamur kuping) jamur seluruh bagian sayuran Paku julut paku-pakuan daun sayuran Daun balang herba daun sayuran Kulat jap jamur seluruh bagian sayuran 79 20 Famili/Nama ilmiah Amanitaceae Amanita sp.** Araceae Colocasia esculenta Schott Colocasia gigantea Hook. f. Xanthosoma sp. Arecaceae Arenga undulatifolia Becc. Calamus ornatus Bl. Calamus sp. Calamus sp.1** Calamus sp.2** Caryota mitis Lour. Eugeissona utilis Becc. Metroxylon sp. Oncosperma horridum Scheff. Salacca affinis var.borneensis Becc. (tidak dapat spesimen) Athyriaceae Athyrium sozongonense (Presl.) Milde Auriculariaceae Auricularia auricula-judae Nephrolepidacea Nephrolepis bisserata (Sw.) Schott Piperaceae Heckeria umbellata Kunth. Pleurotaceae Pleurotus sp.** Lampiran 1 (Lanjutan) No Famili/Nama ilmiah Poaceae 21 Dendrocalamus asper Backer 22 Gigantolochloa apus Kurz. 23 Setaria palmifolia Stapf. Polypodiaceae 24 Diplazium esculentum Swartz. 25 Stenoclaena palustris Bedd. Russulaceae 26 Lactarius deliciosus (L. ex Fr.) S.F.Gray 27 Russula cyanoxantha (Schaeffer)Fries. Zingiberaceae 28 Etlingera elatior (Jack) R.M. Smith 29 Etlingera sp. (tidak teridentifikasi) 30 (tidak teridentifikasi)** 31 (tidak teridentifikasi) 32 (tidak teridentifikasi) Keterangan: ** sumber : Uluk et al. (2001) Nama lokal Habitus Bagian yang digunakan Fungsi Bambu betung Bambu apus Sengka bambu bambu herba tunas (rebung) tunas (rebung) umbut sayuran sayuran sayuran Paku bai Paku bala paku-pakuan paku-pakuan daun daun sayuran sayuran Kulat bulu Kulat long balabau jamur jamur seluruh bagian seluruh bagian sayuran sayuran Nyanding Iti' herba herba umbut, bunga (blusut) umbut sayuran sayuran Kulat kedet Kulat puti' Kulat temenggang jamur jamur jamur seluruh bagian seluruh bagian seluruh bagian sayuran sayuran sayuran 80 Lampiran 2 Daftar jenis tumbuhan pangan hutan yang sudah budidaya oleh suku Dayak Kenyah TNKM No 12 Famili/Nama ilmiah Anacardiaceae Mangifera caesia Jack. Mangifera pajang Kosterm. Bombacaceae Durio graveolens Becc. Durio kutejensis Becc. Durio oxleyanus Griff. (tidak dapat spesimen) (tidak dapat spesimen) Burseraceae Dacryodes rostrata (Blume) H. J. Lam. Clusiaceae Garcinia bancana Miq. Garcinia cf. lateriflora Blume Garcinia forbesii King. Cucurbitaceae Trichosanthes sp. 13 Euphorbiaceae Aleuritas moluccana Willd Payang kure (kemiri) pohon buah 14 15 16 17 18 Baccaurea bracteata M. A. Baccaurea dulcis Muell. Arg. Baccaurea lanceolata Muell. Arg. Baccaurea macrocarpa Muell. Arg. Ricinus communis Linn. Seti' Dabai (rambai) Keleppeso Settai Payang lengu pohon pohon pohon pohon herba buah buah buah buah buah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Nama lokal Habitus Bagian yang digunakan Fungsi Berenyiu/binjai Alim pohon pohon buah buah buah-buahan buah-buahan Durian merah/durian kelasi Dian lai (durian hutan) Durian daun Durian besar (daerah kemuat) Durian temenggang pohon pohon pohon pohon pohon buah buah buah buah buah buah-buahan buah-buahan buah-buahan buah-buahan buah-buahan Kelamu' pohon buah buah-buahan Petong (manggis hutan) Berana' Adiu pohon pohon pohon buah buah buah buah-buahan buah-buahan buah-buahan Payang aka liana buah bumbu (trasi dayak) bumbu (trasi dayak) buah-buahan buah-buahan buah-buahan buah-buahan bumbu (trasi dayak) 81 Lampiran 2 (Lanjutan) No 19 Famili/Nama ilmiah Sumbaviopsis albicans (BL.) J.J.S. 21 Fabaceae Parkia speciosa Hassk. Flacourtiaceae Pangium edule Reinw. 22 Lauraceae Litsea cubeba Pers. 20 25 Melastomataceae Pternandra cordata Baill. Meliaceae Lancium domesticum Corr. Menispermaceae Coscinium miosepalum Diels. 26 Pycnarrhena cauliflora (Miers.) Diels. 23 24 27 28 29 30 31 Moraceae Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg Artocarpus odoratissimus Blanco. Polygalaceae Xanthophyllum amoenum Chod. Xanthophyllum exelsa Miq. Xanthophyllum obscurum Blenn. Salap Nama lokal Habitus pohon Bagian yang digunakan buah Fungsi bumbu (trasi dayak) Petai hutan pohon biji sayuran Payang kayu pohon buah bumbu (trasi dayak) Belengla perdu biji bumbu (pelengkap sambal) Tenggok Buin pohon buah buah-buahan Langsat pohon buah buah-buahan Bekkai lanya liana daun Bekkai lema liana daun bumbu (pengganti vetsin) bumbu (pengganti vetsin) Temai' Kean/tarap pohon pohon buah buah buah-buahan buah-buahan Bua tiup Mejalin batu Mejalin pohon pohon pohon buah buah buah buah-buahan buah-buahan buah-buahan 82 Lampiran 2 (Lanjutan) No 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 Famili/Nama ilmiah Sapindaceae Dimocarpus Lour. ssp. malesianus var. malesianus Leenh (kakus) Dimocarpus Lour. ssp. malesianus var. malesianus Leenh (sau) Nephelium cuspidatum Blume Nephelium cuspidatum Blume var. eriopetalum Nephelium juglandifolium Bl. Nephelium lappaceum Linn. var. pallens Nephelium maingayi Hiern. Nephelium medusem Leenh. Nephelium muntabile Bl. Nephelium ramboutan-ake Leenh. Nephelium ramboutan-ake Leenh. Nephelium ramboutan-ake Leenh. Urticaceae Poikilospermus suaveolens (Bl.) Merr. (tidak teridentifikasi) (tidak dapat spesimen) (tidak dapat spesimen) Nama lokal Habitus Bagian yang digunakan Fungsi Isau bala (mata kucing merah) pohon buah buah-buahan Isau bileng (mata kucing biru) pohon buah buah-buahan Buah telo' Bua a'bong beleng (maritam biru) Se'bau Koyakan Unjing/onjeang Mbui luan Rambutan hutan Bua a'bong kobox (maritam biawak) Bua a'bong saleng (maritam hitam) Bua a'bong bala (maritam merah) pohon pohon pohon pohon pohon pohon pohon pohon buah buah buah buah buah buah buah buah buah-buahan buah-buahan buah-buahan buah-buahan buah-buahan buah-buahan buah-buahan buah-buahan pohon pohon buah buah buah-buahan buah-buahan Keten liana daun sayuran Tekalang da'an Telo'dok pohon pohon buah buah buah-buahan buah-buahan 83 Lampiran 3 Daftar spesies tumbuhan pangan budidaya non hutan Suku Dayak Kenyah TNKM No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Basellaceae Basella alba L. Bombacaceae Durio zibethinus Murr Brassicaceae Brassica rapa var. parachinensis L. Bromeliaceae Ananas comosus Merr. Caricaceae Carica papaya Linn. Clusiaceae Garcinia mangostana Linn. Convolvulaceae Ipomea aquatica Forsk. Ipomea batatas Poir. Cucurbitaceae Cucumis sativus Linn. Cucurbita moschata Duch Nama lokal Bayam Habitus Bagian yang digunakan Fungsi herba daun sayuran pohon buah buah-buahan Sirsak pohon buah buah-buahan Pinang Kelapa palem palem umbut buah, umbut sayuran buah-buahan, sayuran, minuman Lodo liana daun sayuran Durian biasa pohon buah buah-buahan Sawi hijau herba daun sayuran Nanas semak buah buah-buahan Pepaya herba buah buah-buahan Manggis biasa pohon buah buah-buahan Kangkung Ubi jalar herba liana daun umbi, daun sayuran sumber energi, sayuran Timun Labu kuning liana liana buah, daun buah, daun sayuran sumber energi, sayuran 84 14 15 Famili/Nama ilmiah Amaranthaceae Amaranthus spinosus Linn. Anacardiaceae Mangifera indica Linn. Annonaceae Annona muricata Linn. Arecaceae Areca catechu L. Cocos nucifera Linn. Lampiran 3 (Lanjutan) No 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Famili/Nama ilmiah Lagenaria leucantha Rusby Luffa acutangula Roxb. Momordica charantia Linn. Sechium edule Sw. Euphorbiaceae Manihot esculenta Crautz. Manihot utilissima Pohl. Nama lokal Labu putih Gambas Pare Labu gundul (labu siam) Habitus liana liana liana liana Bagian yang digunakan buah buah buah buah Fungsi sumber energi, sayuran sayuran sayuran sayuran Singkong 2 Singkong 1 perdu perdu daun umbi, daun Sauropus androgynus Merr. Fabaceae Arachis hypogaea Linn. Glycine max Merr. Phaseolus aureus Roxb. Phaseolus vulgaris Linn. Vigna angularis (Willd.) Ohwi & H.Ohashi Vigna sinensis Endl. Lauraceae Cinnamomum burmanii Bl. Litsea garciae Vidal Liliaceae Allium cepa Linn. Allium tuberosum Rottler ex Sprengel. Limnocharitaceae Limnocharis flava (L.) Buchenau Moraceae Artocarpus heterophyllus Lam Artocarpus integer (Thunb.) Merr. Cangkok manis (katuk) herba daun sayuran sumber energi, sayuran, minuman sayuran Kacang tanah Kedelai Kacang hijau Buncis Kacang merah Kacang panjang herba liana liana liana herba liana biji biji biji buah biji buah sayuran sayuran minuman sayuran sayuran sayuran Kayu manis Buah mali pohon pohon kulit batang buah bumbu buah-buahan Bawang merah Bawang rambut herba herba umbi umbi bumbu bumbu Genjer herba daun sayuran Nangka Nakan (cempedak) pohon pohon buah buah buah-buahan buah-buahan 85 Lampiran 3 (Lanjutan) No 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 Myrtaceae Psidium guajava Linn. Syzygium aromaticum (Linn.) Merr. Syzygium malaccense (L.) Merr. & Perry Syzygium polyanthum (Wight.) Walp. Pandanaceae Pandanus amaryllifolius Roxb. Piperaceae Piper nigrum Linn. Poaceae Andropogon nardus Linn. Bambusa vulgaris Schrad. Oryza sativa Linn. Saccharum officinarum Linn. Zea mays Linn. Rubiaceae Coffea robusta( L. )Linden Rutaceae Citrus aurantium Linn. Citrus maxima Merr. Sapindaceae Nephelium lappaceum Linn. Solanaceae Capsicum annum L. var. abbreviata Fingerhuth. Capsicum frutescens Linn. Nama lokal Habitus Bagian yang digunakan Fungsi peti' (pisang)* herba buah, umbut pisang (bu'), bunga buah-buahan, sayuran, minuman Jambu batu Cengkih Jambu bol Salam perdu pohon pohon pohon buah bunga buah daun buah-buahan bumbu buah-buahan bumbu Pandan wangi semak daun bumbu Lada liana biji bumbu Sereh Bambu kuning Padi* Tebu Jagung herba bambu herba herba herba akar tunas (rebung) biji batang buah bumbu sayuran sumber energi bumbu sumber energi, sayuran, minuman Kopi perdu biji minuman Jeruk besar Bonyau kela'ang pohon pohon buah buah buah-buahan buah-buahan Rambutan pohon buah buah-buahan Lombok Lombok (cabai rawit) herba herba buah buah bumbu bumbu 86 52 53 Famili/Nama ilmiah Musaceae Musa spp. Lampiran 3 (Lanjutan) No 54 55 56 Famili/Nama ilmiah Solanum lycopersicum Linn. Solanum melongena Linn. Solanum torvum Swartz. Sterculiaceae 57 Theobroma cacao Linn. Zingiberaceae 58 Alpinia galanga Sw. 59 Curcuma domestica Val. 60 Zingiber officinale Rosc. 61 Zingiber officinale Rosc. Keterangan: * memiliki berbagai spesies Nama lokal Tomat Terong Olem (takokak) Habitus liana perdu perdu Bagian yang digunakan buah buah buah bumbu sayuran bumbu Fungsi Kakao perdu biji bahan pangan lanjutan Lia lamut (lengkuas ) Lia bonat (kunyit ) Lia salu' (jahe biasa) Jahe merah herba herba herba herba rimpang, bunga rimpang rimpang rimpang bumbu, sayur bumbu bumbu bumbu 87 88 Lampiran 4 Jenis pisang dan jenis padi ditemukan No Jenis pisang (nama lokal) 1 Pisang moli 2 Pisang sanggar 3 Pisang susu 4 Pisang ble'dan 5 Pisang o'dang 6 Pisang pa'dai 7 Pisang bem 8 Pisang kelasi 9 Pisang lenjau 10 Pisang mosang 11 Pisang anak Keterangan: spesies pisang yang diperoleh dalam pengamatan tidak diketahui nama ilmiahnya karena tidak diperoleh specimen No Jenis padi sawah Jenis padi ladang 1 Bere Bere 2 Adan merah Membat 3 Adan putih Biasa 4 Agan Mak 5 Ba'an Ba'an 6 Putik Putik 7 Apuy layeang Nyu 8 Atok Nyelong 9 Pulut sawah Lo liuk 10 Nyain Langsat 11 Mahag Mahag 12 Iban Kelawit 13 Unggul Sapuy tangan 14 6 Bulan 6 Bulan 15 Punai Angga 16 Temai sawah Ble'en 17 Modang Temai ladang 18 Talun Hitam 19 Merah Merah 20 Mban 21 Adan hitam 22 Adan tinggi 23 Adan rendah 24 Makmur 25 Pulut ale 26 Pulut ta'em 27 Pulut temai 28 Pulut saleng 29 Pulut bala 30 Osen 31 Pa'larang 32 Jaweng 33 Ketan hitam 34 Ketan putih Keterangan: warna kuning menandakan jenis padi yang dapat ditanam di lahan sawah dan ladang Lampiran 5 Daftar spesies tumbuhan berguna selain pangan oleh suku Dayak Kenyah TNKM No Famili/Nama ilmiah Nama lokal Habitus Bagian yang digunakan Kegunaan Cara pengolahan Lokasi ditemukan 1 Anacardiaceae Mangifera caesia Jack. Berenyiu pohon batang kayu api (kayu bakar) Belah batang sesuai kebutuhan hutan, kebun 2 3 Annonaceae Xylopia cuspidata Diels. Goniothalamus sp. Kayu koyat Semang pohon pohon batang batang kayu api (kayu bakar) pengusir hantu Belah batang sesuai kebutuhan Batang dipotong sedikit, bakar ujungnya hutan hutan Long herba umbi obat mencret Umbi dikerok atau diiris, kemudian disiram dengan air panas, lalu diminum hutan Damar pohon batang papan Belah batang sesuai kebutuhan hutan Kelapa palem batang, daun, tulang daun batang untuk jembatan sungai; daun untuk bungkus makanan, atap; tulang daun sebagai lidi sebagai bahan nyirih Belah batang sesuai kebutuhan kebun buah pinang ditambah kapur, sirih, untuk kegiatan menyirih rotan dibersihkan, potong-potong, kemudian dirakit membentuk tapan kebun rotan dibersihkan, potong-potong, kemudian buat kerajinan rotan dibersihkan, potong-potong, kemudian buat kerajinan hutan 4 Araceae Homalomena cordata Schott 6 Araucariaceae Agathis borneensis Warb. Arecaceae Cocos nucifera Linn. 7 Areca catechu L. Pinang palem buah 8 Korthalsia sp. Uwai ayeng liana batang 9 Korthalsia echinometra liana batang 10 Calamus caesius Blume Uwai balamata Uwai sega liana batang 5 kerajinan (bahan tapan yaitu wadah untuk bersihkan beras) kerajinan (ki'ba, belanyat, ingen) kerajinan (ki'ba, belanyat, ingen) hutan hutan 89 Lampiran 5 (Lanjutan) Nama lokal Habitus Daemonorops hallierianus Becc. Uwai selingan liana Bagian yang digunakan batang Uwai semule liana batang 13 Daemonorops periacantha Miq. Calamus ornatus Bl. liana batang 14 Calamus javensis Bl. Uwai tebungen Uwai timai liana batang 15 Licuala valida Becc Sang semak daun Daun dewa herba Rumput tahi ayam No Famili/Nama ilmiah 11 12 17 Asteraceae Gynura segetum (Lour) Merr Ageratum conyzoides L 18 Balsaminaceae Impatiens balsamina Linn. 16 19 20 21 Bombacaceae Ceiba pentandra L. Gaertn Cunoniaceae Weinmannia blumei Planch. Convolvulaceae Merremia sp. Lokasi ditemukan hutan Kegunaan Cara pengolahan kerajinan (ki'ba, belanyat, ingen), obat keracunan setelah makan landak kerajinan (ki'ba, belanyat, ingen) kerajinan (ki'ba, belanyat, ingen) kerajinan (anyaman, belanyat) bahan saung (sejenus caping), terpal alami rotan dibersihkan, potong-potong, kemudian buat kerajinan; rotan kering dipotong-potong, siram air panas, minum airnya rotan dibersihkan, potong-potong, kemudian buat kerajinan rotan dibersihkan, potong-potong, kemudian buat kerajinan rotan dibersihkan, potong-potong, kemudian buat kerajinan Ambil bagian daun, susun tumpuk, jahit daun obat luka memar pekarangan herba daun obat keputihan Daun ditumbuk, tambah air, oles ke luka Daun muda direbus sampai setengah bagian, minum airnya Selangga (pacar air) herba daun, bunga bahan pewarna kuku Daunnya ditumbuk, tambahkan air jeruk, tempelkan pada kuku semalam pekarangan Kapuk pohon isi buah isi bantal, guling, kasur Isi buah diambil, kumpulkan, jemur, masukkan ke bantal, guling, kasur kebun Seleman pohon getah bahan pewarna ba'rang getah direbus, oleskan pada ba'rang hutan Akar padem liana seluruh bagian obat sakit perut Parut/cincang, rebus hingga pekat, minum airnya pekarangan hutan hutan hutan hutan pekarangan 90 Lampiran 5 (Lanjutan) No Famili/Nama ilmiah 22 Costaceae Costus speciosus (koenig) R. M. Smith. Bagian yang digunakan Habitus Penawar racun pai (bisa ular) herba daun penawar bisa ular ambil daun, remas-remas, gosokkan pada luka gigitan ular hutan Kapun/Kapur pohon batang jembatan Belah batang sesuai kebutuhan hutan Kayu tenak pohon batang bahan bangunan Belah batang sesuai kebutuhan Laran babui pohon batang kayu api (kayu bakar) Belah batang sesuai kebutuhan Kemiri pohon kulit buah obat muntaber kulit buah kemiri direbus, minum kebun 27 Shorea sp. Euphorbiaceae Aleuritas moluccana Willd Fabaceae Derris montana Benth. hutan, kebun hutan Akar tuba liana akar, kulit batang racun ikan (akar), racun pacet (kulit batang) pekarangan 28 Sindora leiocarpa De Witt Lemelai pohon batang bahan alat buru (gagang sumpit, bujak) Akar digulung, tumbuk, hingga keluar air. Air ini menjadi racun ikan; jika pacet menempel, gunakan kulit batang untuk melepaskannya Belah batang sesuai kebutuhan 29 Fagaceae Quercus gemeliflora Bl. pohon batang papan, kayu api Belah batang sesuai kebutuhan 30 Quercus argentata Korth. pohon batang papan, kayu api Belah batang sesuai kebutuhan 31 Lithocarpus cantleyanus (King ex Hook.f.) Rehder Nyelewai biru Nyelewai merah Palan pohon batang kayu api (kayu bakar) Belah batang sesuai kebutuhan hutan, kebun hutan, kebun hutan, kebun 23 24 25 26 Dipterocarpaceae Dryobalanops lanceolata Burck Shorea parvifolia Dyer Kegunaan Cara pengolahan Lokasi ditemukan Nama lokal hutan, kebun 91 Lampiran 5 (Lanjutan) No 32 33 34 35 36 37 38 Famili/Nama ilmiah Hipericaceae Cratoxylum sumatranum Blume Lauraceae Litsea cubeba Pers. Cinnamomum burmanii Bl. Eusideroxylon zwageri T. Et B. Magnoliaceae Elmerrillia tsiampacca (L.) Dandy Maranthaceae Halopegia blumei (Koern.) K. Schumann Meliaceae Lancium domesticum Corr Bagian yang digunakan Kegunaan Habitus Kayu loleang pohon batang kayu api (kayu bakar) Belah batang sesuai kebutuhan hutan, ladang Belengla perdu biji obat demam Kunyah biji secukupnya kayu manis pohon batang kayu api (kayu bakar) Belah batang sesuai kebutuhan hutan, kebun kebun Ulin pohon batang bahan bangunan Belah batang sesuai kebutuhan hutan, kebun Kayu adau pohon batang kayu api (kayu bakar) Belah batang sesuai kebutuhan hutan, ladang Daun jaum (daloey) herba daun pembungkus nasi, atap Ambil daun sesuai kebutuhan ladang, kebun, jekkau Kayu langsat pohon batang kayu api (kayu bakar) Belah batang sesuai kebutuhan hutan, kebun Ambil sedikit bagian batang, gigit/letakkan di gigi geraham saat meminum alkohol (ciu) agar tidak mabuk Dicuci, dikikis kulitnya, tambahkan air, masukkan ke kain, kemudian diperas dan diteteskan ke mata hutan 39 Menispermaceae Coscinum fenestratum (Gaertn.) Coleber Akar mabok liana batang anti mabuk 40 Fibraurea sp. Aka mit 1 liana batang obat sakit mata Cara pengolahan Lokasi ditemukan Nama lokal hutan 92 Lampiran 5 (Lanjutan) No Famili/Nama ilmiah 41 Arcangelisia flava (L) Merr Moraceae Antiaris toxicaria Leschen. Ficus cf. uncinulata Becc. 42 43 45 Myrtaceae Tristaniopsis whiteana (Griffith) Peter G. Wilson & J.T. Waterh Psidium guajava Linn. 46 Syzygium zeylanicum DC. 44 47 48 49 50 51 Pandanaceae Pandanus cf. Kaida Kurz. Poaceae Schizostachyum brachycladum Kurz. Coix lacryma-jobi Linn. Rubiaceae Anthocephalus chinensis Hassk. Tarenna cumingiana (Vid.) Elmer liana Bagian yang digunakan batang obat demam kuning batang dibersihkan, potong-potong, tambah air, minum Salo' pohon getah racun sumpit hutan Ti puti perdu batang tali/pengikat getah direbus, tunggu kering, jadikan peluru atau dioleskan pada tombak batang dipotong, dijadikan tali/pengikat Belaban pohon batang kayu api (kayu bakar) Belah batang sesuai kebutuhan hutan, ladang Jambu batu perdu daun obat mencret Daun direbus, minum airnya Kayu pa'dai pohon batang kayu api (kayu bakar) Belah batang sesuai kebutuhan kebun, pekarangan ladang, jekkau, hutan Da'a semak daun tikar, kerajinan Daunnya dibersihkan, dianyam ladang Bambu talang Inu latong bambu batang bahan ba'rang, tedien Belah batang sesuai kebutuhan herba biji hiasan Biji dirangkai menjadi perhiasan (gelang, kalung) ladang, jekkau dekat sawah Tembalut pohon batang kayu api (kayu bakar) Belah batang sesuai kebutuhan hutan Uku payau pohon batang kayu api, bahan bangunan Belah batang sesuai kebutuhan hutan Nama lokal Habitus Aka mit 2 Kegunaan Cara pengolahan Lokasi ditemukan hutan hutan 93 Lampiran 5 (Lanjutan) No 52 53 54 55 Famili/Nama ilmiah Rutaceae Citrus maxima Merr. Sapindaceae Nephelium ramboutan-ake Leenh. Dimocarpus Lour. ssp. malesianus var. malesianus Leenh Sapotaceae Palaqium sp. Bagian yang digunakan Kegunaan Cara pengolahan Lokasi ditemukan Nama lokal Habitus Bonyau kela'ang pohon buah menghilangkan ketombe Daging buah digosokkan ke rambut, bilas kebun Bua abong kobox pohon batang, daun batang untuk kayu api, daun untuk racun sumpit kebun, hutan Mata kucing pohon batang kayu api Batang dibelah sesuai kebutuhan, daun ditumbuk, peras airnya, campur dengan getah salo' Belah batang sesuai kebutuhan Ketepai pohon getah perekat mata parang dengan gagangnya Getah oleskan pada parang dan gangangnya hutan Sala baret herba seluruh bagian obat luka Sala baret ditumbuk, oles ke luka hutan Pasak bumi pohon akar menambah tenaga, malaria, demam, sakit pinggang, melancarkan kencing Akar diiris, direndam air panas, kemudian diminum hutan hutan 57 Selaginelaceae Selaginella plana Hieron. Simaroubaceae Eurycoma longfolia Jack 58 Solanaceae Nicotiana tabacum L. Tembakau herba daun obat pacet Tembakau yang kering diusapkan ke kulit yang dihinggapi pacet kebun 59 Thymelaeaceae Aquilaria spp. Gaharu pohon getah (resin) sumber pendapatan Penyadapan Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl. Mahkota dewa perdu kulit buah obat asam urat kulit buah dikeringkan, diseduh seperti minum teh hutan, kebun pekarangan 56 60 94 Lampiran 5 (Lanjutan) No Famili/Nama ilmiah Kegunaan Cara pengolahan Lokasi ditemukan daun obat hipertensi, diabetes daun dikeringkan, diseduh seperti teh pekarangan pohon batang papan, kayu api Belah batang sesuai kebutuhan hutan, ladang rimpang dibersihkan, ditumbuk, rebus, minum airnya rimpang dibersihkan, ditumbuk, rebus, minum airnya rimpang dibersihkan, ditumbuk, rebus, tambahkan asam, minum airnya rimpang dibersihkan, ditumbuk, rebus, minum airnya pekarangan Nama lokal Habitus Te'pae herba Japa' Bagian yang digunakan 62 Urticaceae Leucosyke capitellata Wedd. Verbenaceae Vitex pinnata L. 63 Zingiberaceae Zingiber officinale Rosc. Jahe herba rimpang obat masuk angin, flu 64 Kaempferia galanga Linn. Kencur herba rimpang obat batuk 65 Curcuma domestica Val. C. Kunyit herba rimpang melancarkan haid 66 Curcuma zanthorrhiza Roxb. Temulawak herba rimpang penambah nafsu makan 61 pekarangan pekarangan pekarangan 95 Lampiran 6 Daftar spesies satwa sebagai bahan pangan No. Nama lokal spesies Nama ilmiah spesies Bagian digunakan Fungsi Pengolahan 1 Babui (Babi berjenggot) Sus barbatus lemak, daging minyak babi, lauk hewani Goreng, bakar, rica-rica 2 Payau ( Rusa sambar) Cervus unicolor kulit, lemak, daging minyak babi, lauk hewani Goreng, bakar, rica-rica, kerupuk 3 Biawak Varanus salvator daging lauk hewani Goreng, bakar, rica-rica 4 Beruang madu Helarctos malayanus daging lauk hewani Goreng, bakar, rica-rica 5 Landak Hystrix brachyura daging lauk hewani Goreng, bakar, rica-rica 6 Trenggiling Manis javanica daging lauk hewani Goreng, bakar, rica-rica 7 Kijang Muntiacus muntjak daging lauk hewani Goreng, bakar, rica-rica 8 Monyet ekor panjang Macaca fascicularis otak, daging lauk hewani Goreng, bakar, rica-rica 9 Beruk Macaca nemestrina daging lauk hewani Goreng, bakar, rica-rica 10 Pelanduk Tragulus javanicus daging lauk hewani Goreng, bakar, rica-rica 11 Ular sawah Phyton reticulatus lemak, daging lauk hewani Goreng, bakar, rica-rica 96 Lampiran 7 Daftar spesies satwa berguna selain pangan No. Nama lokal spesies Nama ilmiah spesies Bagian digunakan Fungsi Pengolahan/keterangan 1 Beruang madu Helarctos malayanus empedu 2 Landak Hystrix brachyura isi usus besar menghilangkan lelah menyembuhkan segala macam penyakit 3 Kijang Muntiacus muntjak ranggah hiasan dinding empedu diminum dengan madu isi usus besar dikeringkan lalu ditelan bersama air setelah dimakan dagingnya, ranggah dijadikan hiasan 4 Monyet ekor panjang Macaca fascicularis otak obat maag langsung makan mentah 5 Beruk Macaca nemestrina batu guliga luka memar 6 Rangkong badak Buceros rhinoceros bulu, kepala hiasan dinding diminum campur madu bulu untuk topi adat, kepala untuk hiasan dinding 7 Kuau raja Argusianus argus bulu hiasan topi adat bulu dijadikan topi untuk tari adat 8 Binturong Arctictis binturong empedu obat setelah jatuh empedu diminum dengan madu 9 Macan dahan Neofelis nebulosa kulit dan rambut pakaian tari adat melambangkan kegagahan 10 Trenggiling Manis javanica embrio obat kuat 11 Rangkong gading Rhinoplax vigil tengkorak obat sakit gigi embrio dicampur ciu, diminum tengkorak dikerok, campur air, kumurkumur 97 Lampiran 8 Kuisioner panduan wawancara PANDUAN WAWANCARA Hari/tanggal : Nama responden : Jenis kelamin : Usia : Tingkat pendidikan : Jenis pekerjaan : Agama : Nilai budaya/kearifan lokal masyarakat Dayak TNKM A. Stimulus Alami 1. Jenis tumbuhan apa yang dimanfaatkan dari hutan? Apa manfaatnya? ............................................................................................................................. B. Stimulus Manfaat 1. Kegiatan apa yang dilakukan di dalam hutan? a) Berburu b) Mengambil kayu bakar c) Mengambil tumbuhan d) Lainnya........................................................................................................... 2. Apa hasil hutan yang dimanfaatkan? a) Hewan 3. b) Kayu c) Tumbuhan d) Lainnya.................. Hasil hutan yang diambil dipergunakan untuk diri sendiri atau dijual? a) Digunakan sendiri b) Dijual c) Sebagian dijual C. Stimulus Rela 1. Apakah bapak/ibu sering ke hutan? a) Sering 2. b) Jarang c) Tidak pernah d) Lainnya................. Berapa kali bapak/ibu pergi ke hutan? a) Setiap hari b) Seminggu sekali c) Sebulan sekali d) Lainnya...... 99 3. Sudah berapa lama memanfaatkan hasil hutan? a) < 1 tahun 4. b) 1-3 tahun c) 4-6 tahun d) > 6 tahun Seberapa sering memanfaatkan tumbuhan di hutan? a) Setiap saat b) Hanya saat membutuhkan c) Tidak pernah d) Lainnya........................................................................................................... 5. Apakah tumbuhan dari hutan juga ditanam di kebun sendiri? a) Iya 6. b) Tidak Apakah ada aturan atau larangan yang berkaitan dengan sumberdaya hutan bagi masyarakat? a) Ada 7. b) Tidak ada Apa hukuman bagi yang melnggar aturan tersebut? ............................................................................................................................. Pemanfaatan tumbuhan pangan oleh masyarakat Dayak TNKM A. Stimulus Alami 1. Jika ada tumbuhan di hutan dijadikan bahan pangan, apa jenisnya? ............................................................................................................................. 2. Apa nama jenis makanan yang diolah dari tumbuhan pangan tersebut? ............................................................................................................................. B. Stimulus Manfaat 1. Apakah tumbuhan di hutan dijadikan bahan pangan? a) Iya 2. b) Tidak Apa habitusnya? ............................................................................................................................. 3. Bagaimana cara memperoleh dan mengolah tumbuhan pangan tersebut menjadi bahan pangan? ............................................................................................................................. 4. Apa fungsi/khasiat tumbuhan tersebut bagi tubuh? ............................................................................................................................. 100 C. Stimulus Rela 1. Bagaimana cara memperole tumbuhan pangan? ............................................................................................................................. 2. Apakah diambil langsung dari hutan atau ditanam sendiri di kebun? a) Diambil langsung dari hutan b) Ditanam sendiri dari kebun c) Lainnya........................................................................................................... 3. Jika dari hutan, bagaimana cara memperolehnya? ............................................................................................................................. 4. Jika dari kebun sendiri bagaimana proses dari penanaman, perawatan, hingga pemanenannya? ............................................................................................................................. 5. Siapa saja yang dapat mengonsumsi jenis makanan tersebut (kalangan usia)? a) Kakek/nenek 6. c) Ayah/Ibu c) Bayi d) Lainnya...... Kapan mengonsumsi tumbuhan pangan tersebut? Bagaimanakah periodenya (hari/bulan/musim/pagi/siang/sore)? ............................................................................................................................. 7. Apakah ada ritual dalam pengambilan tumbuhan pangan dari alam? Bagaimanakah ritual tersebut? ............................................................................................................................. A. Data tambahan mengenai pemanfaatan tumbuhan berguna oleh masyarakat Dayak TNKM 1. Selain tumbuhan yang diambil, apakah ada lagi pemanfaatan tumbuhan secara etnis oleh masyarakat? Sebutkan. (Stimulus Rela) ............................................................................................................................. 2. Apa saja jenisnya? Apa manfaatnya? (Stimulus Alami) ............................................................................................................................. 3. Apakah juga memanfaatkan hewan sebagai tambahan bahan pangan? Apa saja jenisnya? Bagian tubuh hewan mana yang dimanfaatkan? (Stimulus Manfaat) ............................................................................................................................. 101 4. Apa fungsi dari hewan untuk pangan tersebut? (Stimulus Manfaat) ............................................................................................................................. B. Kegiatan sehari-hari masyarakat yang menunjang etnobotani pangan 1. Ada berapa anggota keluarga di rumah ini? Sebutkan. ............................................................................................................................. 2. Bagaimana kegiatannya? a) Kegiatan sehari-hari kepala keluarga b) Kegiatan sehari-hari ibu rumah tangga c) Kegiatan anak d) Kegiatan utama dan tambahan/penunjang masing-masing aggota keluarga 3. Bagaimana budayanya dalam pemanfaatan tumbuhan di hutan (terutama tumbuhan pangan)? a) Upacara adat b) Aturan adat c) Ritual pemanfaatan d) Konservasi menjaga hutan e) dll RINGKASAN FELA ADITINA PUSPA AYU. Etnobotani Pangan Masyarakat Suku Dayak Kenyah di Sekitar Taman Nasional Kayan Mentarang, Kalimantan Timur. Di bimbing oleh ERVIZAL A.M. ZUHUD dan AGUS HIKMAT. Suku Dayak Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) terdiri dari beberapa sub suku Dayak, salah satunya yaitu Dayak Kenyah. Suku Dayak Kenyah memiliki keunikan tersendiri dalam pemanfaatan tumbuhan khususnya tumbuhan pangan. Oleh karena itu dokumentasi pemanfaatan tumbuhan pangan oleh Suku Dayak Kenyah perlu dilakukan. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman tumbuhan pangan dan kearifan lokal pemanfaatan tumbuhan pangan oleh Suku Dayak Kenyah. Penelitian dilakukan di Desa Long Alango Kecamatan Bahau Hulu, SPTN Wilayah II Taman Nasional Kayan Mentarang, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur pada bulan Maret - April 2011. Metode penelitian yang digunakan meliputi studi literatur, survei dan inventarisasi lapang, wawancara dengan kuisioner, pembuatan dan identifikasi contoh herbarium, serta pengolahan dan analisis data. Responden pada kegiatan wawancara ditentukan dengan menggunakan metode purposive sampling dengan kriteria jenis pekerjaan utama responden yaitu petani. Jumlah responden sebanyak 35 orang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, diperoleh hasil tumbuhan pangan yang dimanfaatkan Suku Dayak Kenyah TNKM teridentifikasi sebanyak 139 spesies tumbuhan pangan dengan rincian 32 spesies tumbuhan pangan hutan/liar, 46 tumbuhan pangan hutan yang dibudidaya dan 61 tumbuhan pangan non hutan. Spesies tumbuhan pangan tersebut dapat diolah menjadi bahan pangan berkarbohidrat, sayuran, bahan pangan pelengkap, dan minuman. Di antara sumber pangan yang digunakan Suku Dayak Kenyah adalah beberapa jenis padi seperti pa’dai bere, pa’dai ba’an, pa’dai putik, dan pa’dai adan. Tipe habitat terbesar tumbuhan pangan adalah kebun dan hutan (33%), kemudian diikuti hutan/liar (23%), pematang sawah (16%), kebun (15%), ladang dan jekkau (6%), pekarangan (6%), dan sawah (1%). Kearifan tradisional yang dimiliki Suku Dayak Kenyah adalah pemanfaatan tumbuhan pangan saat berburu, pembudidayaan tumbuhan pangan hutan di kebun, sistem perladangan, dan lain-lain. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa Suku Dayak Kenyah TNKM banyak menggunakan tumbuhan untuk berbagai kebutuhan pangan dan Suku Dayak Kenyah memiliki kearifan lokal dalam pemanfaatan tumbuhan pangan. Kata kunci: etnobotani, Dayak Kenyah, TNKM, tumbuhan pangan. SUMMARY FELA ADITINA PUSPA AYU. Food Plants Ethnobotany of Dayak Kenyah Tribe Around Kayan Mentarang National Park, East Borneo. Under Supervision of ERVIZAL A.M. ZUHUD and AGUS HIKMAT. Dayak Ethnic of Kayan Mentarang Nasional Park (KMNP) consists of several Dayak sub ethnics, one of them is Dayak Kenyah. It has unique characteristic in the use of plants, particularly food plants, which needed to be documented. This research was aimed to identify the diversity of food plants and local wisdom of Dayak Kenyah tribe in food plants use. This research was conducted in Long Alango Village, Subdistrict of Bahau Hulu, National Park Section Management (NPSM) Region II Kayan Mentarang Nasional Park, Malinau, East Borneo on March - April 2011. Research methods used consist of literature study, field survey, interview using questionaire, herbarium sample making and identification, and data analysis. The research had identified 139 spesies of food plants that used by Dayak Kenyah tribe of KMNP, which consisted of 32 species of wild food plants (origin from forest), 46 species of wild food plants that had been cultivated, and 61 species of cultivated food plants. All those species could be processed into carbohydrate source, vegetables, complementary food, and beverages. Among all the foods source that consumed by Dayak Kenyah ethnic, there are several species of rice plant like pa’dai bere, pa’dai ba’an, pa’dai putik, and pa’dai adan. The largest habitat types of food plants was garden and forest (33%), then followed by forest/wild habitat (23%), the bund of irrigated rice field (16%), garden (15%), unirrigated agricultural field and jekkau (6%), yard (6%), and irrigated rice field (1%). Local wisdom of Dayak Kenyah tribe were the use of food plants when hunting, cultivation of food plants from forest in garden, cultivation system, etc. Conclusion of this research shows that Dayak Kenyah tribe of KMNP used various plants for various needs of foods, and Dayak Kenyah ethnic has local wisdom in the use of food plants. Keywords: ethnobotany, Dayak Kenyah, KMNP, food plants.
Etnobotani Pangan Masyarakat Suku Dayak Kenyah di Sekitar Taman Nasional Kayan Mentarang Kalimantan Timur Aksesibilitas Ekosistem Etnobotani Pangan Masyarakat Suku Dayak Kenyah di Sekitar Taman Nasional Kayan Mentarang Kalimantan Timur Aturan Adat dan kepercayaan Suku Dayak Kenyah Bagian yang digunakan Keanekaragaman Tumbuhan Pangan Bahan pangan berkarbohidrat Cara pengolahan bahan pangan Berburu Pola Hidup Masyarakat Dayak Kenyah Desa long Alango Bertani dan berkebun Pola Hidup Masyarakat Dayak Kenyah Desa long Alango Budaya berladang, bersawah, berkebun Cara pemanenan Keanekaragaman Tumbuhan Pangan Jenis pekerjaan Karakteristik Responden Kacang-kacangan Buah-buahan Sayuran Tumbuhan pangan Keanekaragaman habitus Keanekaragaman Tumbuhan Pangan Keanekaragaman spesies Keanekaragaman Tumbuhan Pangan Kearifan Masyarakat Dayak Etnobotani Pangan Masyarakat Suku Dayak Kenyah di Sekitar Taman Nasional Kayan Mentarang Kalimantan Timur Komposisi jenis kelamin Karakteristik Responden Komposisi kelas umur Tingkat pendidikan formal Latar Belakang Etnobotani Pangan Masyarakat Suku Dayak Kenyah di Sekitar Taman Nasional Kayan Mentarang Kalimantan Timur Lokasi dan Waktu Penelitian Alat , Bahan, dan Objek Penelitian Jenis Data yang Dikumpulkan Penebasan Penebangan, pembakaran pembersihan lahan, dan penanaman Pengelolaan Taman Nasional Kayan Mentarang Pengelolaan tumbuhan pangan Tumbuhan pangan Pola konsumsi Tipe habitat Potensi Flora dan Fauna Kondisi Masyarakat Produk pangan lokal unggulan Sayuran Bahan pangan pelengkap Sejarah Singkat, Luas, dan Letak Studi literatur Survei dan inventarisasi lapang Sumber karbohidrat Sumber protein nabati Sumber vitamin dan mineral Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Etnobotani Tumbuhan pangan hutan yang sudah dibudidaya Pemanfaatan tumbuhan pangan hutan saat berburu Wawancara dengan kuisioner Pembuatan dan identifikasi contoh herbarium
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Etnobotani Pangan Masyarakat Suku Dayak Kenyah di Sekitar Taman Nasional Kayan Mentarang Kalimantan Timur

Gratis