Feedback

Perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara

Informasi dokumen
7 KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa : 1. Hasil evaluasi program minapolitan di Kabupaten Gorontalo Utara bahwa Kabupaten Gorontalo Utara belum layak dijadikan sebagai daerah minapolitan perikanan tangkap, 2. Sumberdaya ikan yang berpotensi dan memiliki peluang pemanfaatan untuk pengembangan perikanan tangkap meliputi ikan kuwe, ikan tembang, ikan kembung, ikan teri dan ikan tuna, 3. Semua unit penangkapan yang dominan di Kabupaten Gorontalo Utara layak berdasarkan analisis finansial yaitu unit penangkapan purse seine, pancing tuna, bagan perahu, gillnet, payang, bubu, pancing ulur, dan sero, 4. Faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan perikanan tangkap adalah aspek ekonomi yang terdiri dari pasar, kemitraan, dukungan modal dan kestabilan harga, 5. Rancangan model pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara meliputi jenis ikan yang berpeluang untuk dikelola, dukungan unit penangkapan ikan yang layak dikembangkan, dan selanjutnya memberikan solusi terhadap faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan serta aspek penunjang dalam pengembangan perikanan tangkap. 7.2 Saran Dalam menentukan suatu kebijakan perikanan khususnya perikanan tangkap, sebaiknya pemerintah terlebih dahulu mengkaji potensi sumberdaya ikan, kelayakan usaha, serta faktor yang akan menunjang keberhasilan suatu kebijakan perikanan. Hasil kegiatan tersebut dijadikan sebagai dasar ilmiah (scientific justification) dalam menentukan kebijakan perikanan tangkap yang akan diambil. ABSTRACT ALFISAHRI R. BARUADI. Development of Fisheries Capture in North Gorontalo District; Under Supervison by: DOMU SIMBOLON, ARI PURBAYANTO, and ROZA YUSFIANDAYANI. The potency of capture fisheries in the North Gorontalo itself has not been known so far, especially for dominant species that caught from the waters of North Gorontalo. Nevertheless, an understanding of fish resource potency is important to optimize the management of the resource by fishers, private sector as well as government. Fisheries management in the North Gorontalo District is still conducted by government through fisheries development policies, however the output sometimes has not been matched with the government expectation. The fisheries development policies were implemented by several programs for example fishing technology development of purse seine that managed by fishers group, and grant of outboard fishing boat, whereas these programs were failed. Now, the fisheries development policy that still continued done by the government is the policy of capture fisheries minapolitan.Some constrains in fisheries development require the attention of government and stakeholders in carefully formulating and assigning each policy in accordance with the expected goal and supporting factors for the successfull of the policy. Therefore, it needs on the assessment of capture fisheries development that becomes one of the reference for fisheries development policies. The methods used were first, to analysis appropriatness of the capture fisheries minapolitan policy based on the guideline of minapolitan which was published by the Ministry of Marine Affairs and Fisheries; second, to analysis fish resource potency through surplus production model; third, financial analysis for fishing units that feasible to be developed; fourth, structural equation model (SEM) analysis for determining the influence factors toward capture fisheries development; and fifth, to design the capture fisheries development model. The result showed that North Gorontalo District was not feasible to become a center of minapolitan capture fisheries program. The potencial fish resources that could be developed consist of trevally, sardine, mackerel, anchovies, tuna, and frigate mackerel. Fishing units that feasible to be developed were purse seine, longline, boat liftnet, gillnet, boat seine, basket trap, hand line, and guiding barrier trap. Factors affected to the capture fisheries development were the economic aspect that consist of market, partnership, capital support, and fish price.Based on the analysis of fish resources that could be potencially developed, the feasible fishing units, and the factors influenced to the capture fisheries development, therefore the design model of capture fisheries development in the North Gorontalo District was created. Keywords: development, capture fisheries, fish resource, fishing unit, North Gorontalo. 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumberdaya perikanan di Kabupaten Gorontalo Utara meliputi perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Salah satu potensi sumberdaya perikanan yang belum banyak dimanfaatkan adalah sumberdaya perikanan tangkap. Kabupaten Gorontalo Utara yang termasuk pada wilayah pengelolaan perikanan (WPP) Laut Sulawesi sampai Samudera Pasifik diperkirakan mempunyai potensi perikanan tangkap sebesar 590.970 ton yang terdiri dari ikan pelagis besar 175.260 ton, ikan pelagis kecil 384.750 ton, dan jenis ikan lainnya sebesar 30.960 ton. Diukur dari tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan, diperkirakan baru mencapai 46 % (Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gorontalo Utara, 2010). Potensi perikanan tangkap di perairan Kabupaten Gorontalo Utara saat ini, belum diketahui berapa besar potensi per jenis ikan, terutama untuk jenis ikan yang dominan tertangkap di perairan tersebut. Pentingnya mengetahui potensi sumberdaya ikan adalah untuk mengoptimalkan pengelolaan terhadap sumberdaya ikan oleh nelayan, swasta dan pemerintah. Pengelolaan sumberdaya ikan di Kabupaten Gorontalo Utara masih terus dilakukan oleh pemerintah melalui berbagai kebijakan pengembangan perikanan. Namun, kebijakan perikanan yang dilakukan oleh pemerintah belum sesuai dengan yang diharapkan. Kebijakan tersebut diantaranya adalah pengembangan teknologi alat tangkap purse seine yang dikelola secara kelompok dan bantuan perahu bermesin yang mengalami kegagalan. Kebijakan pengembangan perikanan memang didesain untuk lebih mendongkrak pertumbuhan sektor kelautan dan perikanan untuk mengelola dan mengoptimalkan sumberdaya ikan di wilayah tersebut. Kebijakan pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan oleh pemerintah diantaranya melalui kebijakan minapolitan yang merupakan pengembangan perikanan. Kebijakan minapolitan merupakan suatu kebijakan Pemerintah Pusat yang bekerjasama dengan Pemerintah Daerah dalam bidang perikanan. Kebijakan minapolitan atau kota perikanan, merupakan kawasan terpilih yang dijadikan kawasan bisnis perikanan. Untuk itu, pemerintah bersama para pemangku 2 kepentingan dituntut untuk dapat menciptakan iklim usaha yang lebih baik dalam menunjang suatu program pengembangan perikanan. Sasaran kebijakan pengembangan perikanan tersebut adalah untuk meningkatkan produksi ikan dan menjamin mutu hasil tangkapan ikan serta menciptakan pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut. Upaya yang dilakukan meliputi penataan kawasan yang berfungsi melayani dan mendorong pengembangan kawasan perikanan, termasuk daerah sekitarnya atau disebut program berbasis kawasan. Kawasan minapolitan menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan yaitu (1) perikanan merupakan sumber pendapatan utama masyarakat, (2) kegiatan kawasan didominasi oleh kegiatan perikanan, (3) hubungan interdependensi atau timbal balik antar pusat dan hinterland-hinterland, dan (4) kehidupan masyarakat di kawasan minapolitan mirip dengan suasana kota, karena keadaan sarana yang ada di kawasan minapolitan tidak jauh dengan yang di kota. Kota perikanan atau minapolitan yang dijadikan sebagai konsep yang dikembangkan adalah dengan mewujudkan kemandirian pembangunan di daerah pesisir yang didasarkan pada potensi perikanan di wilayah tersebut. Daerah pesisir atau daerah nelayan akan diubah menjadi kawasan industri, yaitu kawasan industri berbasis perikanan. Penyediaan infrastruktur diperlukan untuk menunjang keperluan aktivitas perikanan dan masyarakat di wilayah tersebut. Dengan demikian, desa nelayan atau wilayah pesisir tidak lagi dipandang hanya sebagai wilayah pendukung perkotaan. Beberapa penelitian yang pernah dilakukan untuk mengkaji kebijakan perngembangan berbasis kawasan melalui kebijakan minapolitan, diantaranya yang dilakukan oleh Maringi (2009) mengatakan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah yaitu faktor teknologi, permintaan pasar, sumberdaya manusia dan standardisasi mutu produk atau jaminan mutu hasil perikanan. Selanjutnya dikatakan, bahwa dalam pengembangan perikanan perlu menetapkan standar mutu hasil perikanan, meningkatkan pemahaman, kepedulian, dan tanggungjawab dari stakeholder serta segera membuat peraturan-peraturan yang berkaitan dengan 3 minapolitan dan untuk meningkatkan efesiensi dan efektivitas di kawasan minapolitan, serta hendaknya terdapat kegiatan yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Menurut Setiawan (2010) bahwa status keberlanjutan kawasan minapolitan di Kabupaten Gowa Provinsi Sulawesi Selatan termasuk dalam kategori kawasan yang kurang berkelanjutan. Hanya ada satu dimensi yang sudah berkelanjutan yaitu dimensi hukum dan kelembagaan. Status yang kurang berkelanjutan yaitu : dimensi ekologi, infrastruktur, teknologi, sosial budaya, dan dimensi ekonomi yang belum begitu optimal dalam menunjang keberlanjutan kawasan minapolitan. Adanya kebijakan pengembangan kawasan minapolitan di Kabupaten Mandeh Provinsi Sumatra Barat dengan menetapkan komoditas perikanan sebagai komoditas unggulan perlu ditinjau kembali, dan bila dikembangkan menjadi kawasan minapolitan, perlu dukungan kesesuaian lahan yang didukung oleh RTRW. Untuk masa yang akan datang, kebijakan minapolitan perlu diarahkan pada produk yang terbukti memiliki keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif (Tar, 2010). Cara pandang pengelolaan perikanan tangkap seperti di atas merupakan pengelolaan berbasis pemerintah pusat (government based management), dimana dalam pengelolaan, pemerintah bertindak sebagai pelaksana mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai pengawasan. Menyikapi kegagalan kebijakan pengelolaan perikanan, pemerintah perlu melakukan perbaikan-perbaikan untuk mencapai keberhasilan suatu kebijakan perikanan. Menurut Suseno (2004), bahwa kebijakan pengelolaan perikanan tangkap dengan paradigma rasional selama ini dirasakan tidak efektif. Tidak efektifnya sebuah kebijakan di daerah biasanya karena tidak didukung sepenuhnya oleh pemerintah daerah setempat dan sarana dan prasarana yang masih minim dalam menunjang kebijakan pemerintah pusat. Selain itu, kurangnya koordinasi lintas sektoral baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, kurangnya sosialisasi program baik oleh pemerintah pusat maupun daerah, dan timpang-tindihnya kebijakan antara satu kebijakanan dengan kebijakan lain yang tidak mendukung. Kebijakan pengembangan perikanan tangkap melalui kebijakan minapolitan di Kabupaten Gorontalo Utara dilaksanakan sejak tahun 2010 dan masih terus dilaksanakan untuk tahun berikutnya yang merupakan program 4 Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama Pemerintah Daerah. Dengan berbagai kendala dalam pengembangan perikanan, mengharuskan pemerintah dan stakeholder untuk cermat dalam merumuskan dan menetapkan setiap kebijakan sesuai dengan tujuan yang diharapkan serta faktor-faktor yang mendukung tercapainya suatu kebijakan pengembangan perikanan tangkap. Untuk itu, perlunya suatu kajian pengembangan perikanan tangkap yang menjadi salah satu acuan kebijakan pengembangan perikanan, khususnya perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara. 1.2 Perumusan Masalah Pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara saat ini, sedang dilakukan oleh Pemerintah Pusat bersama Pemerintah Daerah dengan menetapkan Kabupaten Gorontalo Utara sebagai salah satu pilot project kebijakan minapolitan perikanan tangkap di Indonesia. Harapan pemerintah melalui kebijakan minapolitan adalah dapat meningkatkan produksi hasil tangkapan, menjamin mutu hasil tangkapan dan menciptakan pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut. Belum diketahuinya berapa besar potensi sumberdaya ikan dan unit penangkapan ikan yang layak serta kegagalan kebijakan pengembangan perikanan melalui kebijakan minapolitan menjadi kendala dalam pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara. Menyikapi berbagai tantangan kebijakan pengembangan perikanan tangkap, maka diperlukan komitmen yang kuat dan kerjasama antara pemerintah dan pihak swasta serta nelayan dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Untuk itu, diperlukan terobosan konsep yang dapat mendorong tercapainya kebijakan pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara. Untuk mengatasi hal tersebut di atas, maka diperlukan penelitian pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara, yang akan menjawab sejumlah pertanyaan, sebagai berikut : 1) Bagaimana implementasi kebijakan program minapolitan di Kabupaten Gorontalo Utara, 2) Berapa besar potensi sumberdaya ikan dan peluang pemanfatanya dalam pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara, 5 3) Unit penangkapan ikan apa yang dominan dan layak dikembangkan dalam pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara,, 4) Faktor-faktor apa yang berpengaruh terhadap pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara, 5) Bagaimana rancangan model pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara. 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1) Mengevaluasi implementasi program minapolitan perikanan tangkap Kabupaten Gorontalo Utara, 2) Menentukan potensi sumberdaya ikan dan peluang pemanfaatan untuk pengembangan perikanan di perairan Kabupaten Gorontalo Utara, 3) Menentukan tingkat kelayakan unit penangkapan ikan yang dominan di perairan Kabupaten Gorontalo Utara, 4) Menentukan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara, 5) Menyusun rancangan model pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara. 1.4 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut : 1) Manfaat bagi pemerintah, dapat dijadikan rekomendasi bagi perbaikan kebijakan perikanan tangkap khususnya yang berkaitan dengan kebijakan minapolitan, 2) Manfaat bagi masyarakat, memberikan kontribusi pemikiran secara ilmiah bagi masyarakat yang akan menginvestasikan modalnya dalam perikanan tangkap, 3) Manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan, sebagai bahan referensi dan pengkajian lebih lanjut tentang kebijakan perikanan khsusnya program minapolitan. 6 1.5 Kerangka Pemikiran Berkaitan dengan kegiatan pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap saat ini, pemerintah berperan dalam perencanaan, pelaksanaan, operasional serta pembinaan dan pengawasan sumberdaya perikanan tangkap. Peran tersebut berupa kebijakan pengembangan perikanan tangkap melalui kebijakan minapolitan yang menjadikan Kabupaten Gorontalo Utara sebagai pilot project oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Belum diketahuinya potensi sumberdaya ikan di perairan Kabupaten Gorontalo Utara dan kegagalan kebijakan pengembangan perikanan tangkap dibeberapa daerah menjadi pertimbangan dalam pengembangan perikanan tangkap. Selain itu, diduga ada faktor-faktor yang berpengaruh, sehingga pengembangan perikanan tangkap belum optimal. Berdasarkan permasalahan di atas, maka diperlukan adanya penelitian yang akan memberikan informasi tentang potensi sumberdaya ikan, kelayakan unit penangkapan ikan dan faktor-faktor penyebab belum optimalnya pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara. Setelah itu, di desain rancangan model pengembangan perikanan tangkap yang akan menjadi bahan acuan dalam penentuan kebijakan pengembangan perikanan tangkap. 7 KEGAGALAN MINAPOLITAN RENDAHNYA MUTU HASIL TANGKAPAN RENDAHNYA PRODUKSI ASPEK EKONOMI UNIT PENANGKAPAN IKAN ASPEK PENGEMBANGAN PERIKANAN TANGKAP MSY SCHAEFER NVP NET B/C IRR SEM KELAYAKAN SUMBERDAYA IKAN KELAYAKAN INVESTASI KELAYAKAN PENGEMBANGAN PERIKANAN TANGKAP SUMBERDAYA IKAN PENGEMBANGAN PERIKANAN TANGKAP Keterangan: INPUT PROSES OUTPUT Gambar 1 Kerangka pemikiran penelitian 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Model Pengembangan Perikanan Tangkap Model merupakan terjemahan bebas dari istilah modelling. Secara umum model didefinisikan sebagai suatu perwakilan atau abstraksi dari sebuah obyek atau situasi aktual. Model memperlihatkan hubungan-hubungan langsung maupun tidak langsung serta kaitan timbal balik dalam istilah sebab akibat, oleh karena itu model dapat dikatakan lengkap apabila dapat mewakili berbagai aspek dari realitas yang sedang dikaji. Salah satu dasar utama untuk mengembangkan model adalah guna menemukan peubah-peubah apa yang penting dan tepat. Model juga diartikan suatu teknik untuk membantu konseptualisasi dan pengukuran dari suatu yang kompleks, atau untuk memprediksi konsekuensi (response) dari sistem terhadap tindakan (intervensi) manusia. manajemen dan alat ilmiah. Model dapat berfungsi sebagai alat Umumnya model digunakan sebagai alat untuk mengambil keputusan tentang bagaimana pengolahan sumberdaya alam yang terbaik. Penggunaan model dalam penelitian umum merupakan cara pemecahan masalah yang bersifat umum (Eriyatno, 2003). Model perikanan tangkap dapat diwujudkan melalui pengelolaan sumberdaya yang terintegrasi. Artinya mengintegrasikan semua kepentingan dari pelaku sistem perikanan. Pengelolaan dilakukan secara terpadu untuk seluruh lingkup perairan, tidak dilakukan secara spasial per provinsi atau kabupaten. Model perikanan juga harus didukung oleh kebijakan pemerintah dan dukungan sarana dan prasarana penunjang usaha perikanan tangkap, khususnya kebijakan pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap, perizinan, penciptaan iklim berusaha yang kondusif, kebijakan standar mutu produk, kebijakan ekspor dan kebijakan terhadap lingkungan (Haluan et al, 2007). Pengembangan perikanan merupakan suatu proses atau kegiatan manusia untuk meningkatkan produksi dalam bidang perikanan dan sekaligus meningkatkan pendapatan nelayan melalui penerapan teknologi yang lebih baik. Apabila pengembangan perikanan di wilayah perairan ditekankan pada perluasan kesempatan kerja, maka teknologi yang perlu dikembangkan adalah jenis unit penangkapan ikan yang relatif dapat menyerap tenaga kerja banyak, dengan 10 pendapatan nelayan yang memadai. Pengembangan perikanan dibutuhkan untuk penyediaan protein bagi masyarakat Indonesia, maka dipilih unit penangkapan ikan yang memiliki produktivitas unit dan produktivitas nelayan yang tinggi, namun masih dapat dipertanggungjawabkan secara biologis dan ekonomis (Monintja, 2000). Pengembangan perikanan tangkap selama ini berjalan lambat. Hal ini, disebabkan oleh kompleksnya permasalahan yang dihadapi, menyangkut faktorfaktor teknis, sosial, ekonomi dan lingkungan. Penyebab lambatnya pengembangan usaha perikanan tangkap saat ini adalah posisi tawar yang lemah, kurangnya modal usaha, tingkat pengetahuan dan ketrampilan yang rendah dan kurangnya pembinaan dari instansi terkait. Oleh karena itu dalam perencanaan dan pengembangannya perlu dilakukan suatu pendekatan komprehensif yang dilandasi oleh teknologi yang tepat guna dan tepat waktu sehingga hasilnya benar-benar berdaya guna, terutama bagi nelayan di wilayah masyarakat pantai. Untuk itu, teknologi yang akan dipakai haruslah yang dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknis (mencakup aspek sumberdaya), ekonomi, sosiologi, kelembagaan dan lingkungan (Yahya, 2007). Selanjutnya dikatakan bahwa pengembangan perikanan harus diubah menjadi suatu usaha perikanan tangkap yang dikelola dengan cara-cara maju, tetapi tetap melibatkan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan suatu desain sistem untuk menghasilkan usaha yang efisien dengan penerapan teknologi yang sesuai. Untuk perencanaan dan pengembangannya diperlukan intervensi kekuatan dari luar antara lain untuk melakukan reformasi modal, menciptakan pasar, sistem kelembagaan dan input teknologi. Sektor perikanan juga akan dihadapkan pada berbagai hambatan seperti ditolaknya produk ekspor hasil perikanan oleh beberapa negara tujuan ekspor seperti Eropa dan Amerika, sebagai akibat mutu produk tidak terjamin dan memenuhi persyaratan, karena diduga tercemar logam berat. Posisi penawaran harga produk yang lemah karena harga ditentukan oleh negara tujuan ekspor yaitu Jepang dan Amerika, Uni Eropa dan Korea. Untuk mengantisipasi gejala ini, pengembangan perikanan harus melalui pengembangan agroindustri, karena agroindustri khususnya industri perikanan membutuhkan ketersediaan bahan baku berkembang tanpa dukungan kegiatan perikanan yang menghasilkan bahan baku 11 primer (ikan). Untuk penyediaan bahan baku primer harus didukung oleh sarana (alat tangkap dan kapal) maupun infrastruktur berupa pelabuhan perikanan yang dilakukan secara bersamaan dan harmonis serta sesuai dengan persyaratan dunia tentang produk hasil perikanan (Wahyuni, 2002). Charles (2001) mengemukakan sistem perikanan terdiri dari tiga komponen, yaitu sistem alam (natural system), sistem manusia (human system) dan sistem pengelolaan perikanan (fishery management system). Sistem alam terdiri dari 3 subsistem, yaitu ikan (fish), ekosistem biota (ecosystem) dan lingkungan biofisik (biophysical environment). Sistem manusia terdiri dari 4 subsistem yaitu nelayan (fishers), bidang pasca panen dan konsumen (post harvest sector and consumers), rumah tangga dan komunitas masyarakat perikanan (fishing households and communities) dan lingkungan sosial ekonomi budaya (social economic/cultural environment). Sistem manajemen dikelompokkan menjadi 4 subsistem, yaitu perencanaan dan kebijakan perikanan (fishery policy and planning), manajemen perikanan (fishery management), pembangunan perikanan (fishery development) dan riset perikanan (fishery research). Pengembangan wilayah di daerah pesisir, khususnya pengembangan sumberdaya perikanan menuntut sumberdaya di daerah tersebut dapat berkesinambungan. Salah satu cara adalah membuat wilayah tertentu menjadi wilayah terlindung (marine protected areas) yang merupakan bentuk program untuk melindungi keberagaman dan mengelola habitat laut yang sensitif dan juga untuk melindungi spesies yang mengalami tekanan pemanfaatan berlebih atau spesies yang hampir punah (Cho, 2005). Salah satu konsep ruang dalam pengembangan pemanfaatan sumberdaya perikanan, yaitu melibatkan nelayan, meningkatkan kesadaran akan adanya pengembangan pemanfaatan sumberdaya perikanan dan menampung aspirasi yang diaspirasikan oleh semua stakeholder dalam pengembangan sumberdaya perikanan di wilayah pesisir (Storrier dan McGlashan, 2006). Pengelolaan sumberdaya perikanan, haruslah dikelola secara terpadu, karena dalam proses pengaturan, para stakeholder yang umumnya anggota kelompok nelayan memiliki kekuatan dan kesempatan untuk berpartisipasi dalam perencanaan dan pelaksanaan pengelolaan sumberdaya perikanan di daerahnya. 12 Saat ini, sudah banyak kelompok masyarakat nelayan yang sadar akan pentingnya keterlibatan mereka dalam merumuskan atau merencanakan kegiatan-kegiatan perikanan di wilayahnya (Kaplan dan Powell, 2000). Umumnya masyarakat nelayan membutuhkan koordinasi lebih lanjut dengan pemerintah dalam pembentukan peraturan yang mengatur tentang bagaimana sebaiknya memanfaatkan sumberdaya perikanan yang berkesinambungan. Pengelolaan sumberdaya perikanan, hendaknya dimengerti sebagai proses dinamis dan interaktif yang mengalami dinamika dan perubahan secara terus menerus. Untuk itu, dukungan pemerintah untuk mengelola sumberdaya perikanan yang efesien dan berkesinambungan sangat dibutuhkan saat ini (Hauck dan Sowman, 2001). Kebijakan pengembangan sumberdaya perikanan diharapkan tidak terjadi tumpang tindih program dalam pengelolaan. Ada beberapa cara pengembangan perikanan, diantaranya memperbaiki kerangka legislatif yang berpengaruh pada sektor perikanan. Penguatan departemen perikanan berupa kolaborasi yang lebih baik dengan departemen lain, memecahkan masalah pendanaan, meningkatkan penelitian perikanan, serta pengembangan sumberdaya manusia dibidang perikanan (Thorpe, 2009). Menurut Putro (2002) bahwa perlunya strategi dalam mengatasi tantangan dan menghadapi berbagai hambatan dalam pengembangan perikanan tangkap antara lain menyusun strategi kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah seperti : 1) Membangun prasarana berupa pelabuhan perikanan samudera yang tidak lain adalah untuk memberi pelayanan dalam pengembangan industri perikanan, 2) Menghilangkan birokrasi yang dapat menghambat kinerja industri, 3) Mengembangkan dan mendorong organisasi nelayan agar nelayan tradisional mampu meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan usahanya guna memanfaatkan sumberdaya perikanan guna mensuplai kebutuhan bahan baku industri, 4) Menyediakan modal investasi dan modal kerja kepada industri perikanan agar mampu meningkatkan kualitas produk dengan harga yang kompetitif untuk memenangkan persaingan pasar. 13 Salah satu komponen pokok yang sensitif dan selalu menjadi ciri khas pada pengembangan perikanan tangkap skala kecil dan menengah adalah permasalahan permodalan. Permasalahan modal bukan disebabkan oleh tidak adanya lembaga keuangan dan kurangnya uang beredar, namun disebabkan sebagian besar lembaga keuangan di Indonesia kurang berminat pada kegiatan usaha perikanan, karena dianggap beresiko tinggi (high risk) mengingat hasil tangkapan nelayan tidak pasti. Sedangkan dalam menyalurkan dana pinjamannya, lembaga keuangan pada umumnya menetapkan syarat agunan (collateral) yang sulit untuk dapat dipenuhi oleh para pelaku usaha penangkapan ikan skala kecil. Modal merupakan salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan perikanan tangkap. Hanya saja pemodal atau lembaga keuangan selalu mempertimbangkan risiko yang melekat pada usaha perikanan tangkap antara lain: (1) production risk, yaitu meliputi risiko atas hasil tangkapan nelayan yang diharapkan, seperti gangguan alam (cuaca, arus), stok ikan yang makin tipis; (2) natural risk, yaitu risiko akibat kondisi alam, biasanya merupakan salah satu faktor yang menyebabkan timbulnya risiko produksi, seperti terjadinya angin badai atau topan; (3) price risk, yaitu harga hasil tangkapan ikan tidak sesuai dengan yang diharapkan, misalnya karena ada permainan tengkulak; (4) technology risk, yaitu perubahan-perubahan yang terjadi oleh pesatnya kemajuan teknologi, yang dapat menimbulkan ketidakpastian; (5) other risk, yaitu macam risiko lainnya (Ritonga, 2004). Perlunya pengelolaan perikanan yang dinamis dalam menghadapi era globalisasi, yaitu sesuai dengan perspektif para stakeholder yang senantiasa berkembang. Implikasi dari perkembangan perspektif tersebut adalah penyesuaian atau perubahan dapat terjadi pada tujuan, strategi dan kegiatan pengelolaan perikanan. Saat ini, pengelolaan perikanan lebih diarahkan untuk memaksimumkan manfaat sumber daya ikan, memastikan diterapkannya keadilan terhadap para pengguna terutama nelayan atau masyarakat pesisir yang masih terjerat dalam kemiskinan, melestarikan sumber daya ikan serta menjaga kondisi lingkungan. Usaha perikanan sangat beragam dan ada faktor yang mempengaruhi dalam pengelolaan sumberdaya perikanan. Faktor tersebut meliputi faktor biologi, 14 teknologi, sosial budaya dan ekonomi. Perkembangan percepatan kegiatan atau aktivitas di daerah pesisir lebih diarahkan pada pematangan kelembagaan organisasi perikanan, penataan ruang dan sumberdaya. (Guillemot et al, 2009). Pengembangan perikanan tangkap tidak berkembang kearah yang lebih baik, karena (1) masih rendahnya muatan teknologi disektor kelautan dan perikanan; (2) lemahnya pengelolaan; dan (3) masih kurangnya dukungan ekonomi-politik (Adrianto dan Kusumastanto, 2004). Perikanan tangkap menurut Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap adalah kegiatan ekonomi dalam bidang penangkapan atau pengumpulan hewan atau tanaman air yang hidup di laut atau perairan umum secara bebas. Berdasarkan pengelolaannya, UU No. 22 Tahun 1999 pasal 10 ayat 2 menyatakan bahwa kewenangan daerah di wilayah laut sebagaimana dimaksud pada pasal 3, meliputi (1) eksplorasi, eksploitasi, konservasi dan pengelolaan kekayaan laut sebatas wilayah laut tersebut, (2) pengaturan kepentingan administrasi, (3) pengaturan tata ruang, (4) penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh daerah yang dilimpahkan kewenangannya oleh pemerintah, dan (5) bantuan penegakan keamanan dan kedaulatan negara. Selanjutnya pasal 10 ayat 3 dijelaskan bahwa kewenangan daerah kabupaten dan daerah kota di wilayah laut, sebagaimana dimaksud pada ayat 2 adalah sejauh sepertiga dari batas laut daerah provinsi. Kegiatan perikanan tangkap di Indonesia dikategorikan di dalam dua kelompok besar, yakni perikanan komersil dengan investasi rendah hingga sedang dan perikanan komersil dengan investasi tinggi atau dapat disebut dengan perikanan industri (industrial fishery). Perbedaan dua kelompok tersebut terletak pada armada perikanan tangkap yang digunakan. Perikanan komersil dengan investasi rendah hingga sedang dicirikan oleh penggunaan armada kapal motor 230 Gross Tonnage (GT). Nilai investasi yang ditanamkan pada kegiatan ini tergolong kecil hingga sedang dengan alat tangkap yang digunakan juga sangat bervariasi. Daerah operasi penangkapan ikan umumnya terkonsentrasi di perairan pantai pada jalur penangkapan 0,3 – 12 mil. Sedangkan perikanan industri dicirikan menggunakan armada kapal penangkapan ikan berukuran lebih besar dari 30 GT dengan alat tangkap yang relatif besar dan dilengkapi pula dengan alat bantu penangkapan ikan mekanis maupun elektronik. Daerah operasi 15 penangkapan ikan umumnya dilakukan dijalur penangkapan di atas 12 mil hingga perairan ZEE Indonesia sejauh 200 mil (Ditjen Perikanan Tangkap, 2005). Perikanan tangkap merupakan aktivitas perekonomian yang meliputi penangkapan atau pengumpulan hewan dan atau tanaman air yang hidup di perairan laut atau perairan umum secara bebas. Perikanan tangkap merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponen yang saling berkaitan atau berhubungan dan saling mempengaruhi satu dengan sama lainnya. Komponenkomponen perikanan tangkap: (1) SDM nelayan; (2) sarana produksi; (3) usaha penangkapan; (4) prasarana pelabuhan; (5) unit pengolahan; (6) unit pemasaran dan (7) ekspor (Kesteven 1973 yang dimodifikasi oleh Monintja, 2001). Selanjutnya dikatakan bahwa dalam pengembangan perikanan disuatu wilayah perairan ditekankan pada perluasan kesempatan kerja, maka teknologi yang perlu dikembangkan adalah jenis unit penangkapan ikan yang relatif dapat menyerap banyak tenaga kerja dengan pendapatan yang memadai. Modal yang dibutuhkan untuk pengembangan tersebut perlu disiapkan oleh pemerintah melalui suatu anggaran khusus. Pengembangan perikanan tersebut harus dapat mensinkronkan kegiatan produksi dengan kesiapan sarana dan prasarana perikanan tangkap, penguasaan pasar yang baik, dan kestabilan harga yang diawasi oleh pemerintah dan punya jenis produk yang diunggulkan, kontinyu jumlahnya, punya grade kualitas atau mutu tertentu, selalu ada pada saat dibutuhkan (tepat waktu), dan produknya tersedia pada berbagai tempat yang resmi. Pengembangan perikanan khususnya sub sektor perikanan tangkap tidak hanya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga kelestarian sumberdaya ikan, tetapi juga untuk meningkatkan konstribusi sektor perikanan terhadap perekonomian nasional, utamanya guna membantu mengatasi krisis ekonomi, baik dalam bentuk penyediaan lapangan kerja, penerimaan devisa melalui ekspor, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (Manggabarani, 2005). Selajutnya dikatakan bahwa pengelolaan perikanan menjadi semakin penting oleh sebab perubahan-perubahan dalam hal ekonomi, teknologi, dan lingkungan, termasuk penggunaan cara-cara tradisional dalam penanganan sumberdaya perikanan. Contoh pengaruh perubahan-perubahan tersebut adalah peningkatan pendapatan nelayan semakin penting sejalan dengan meningkatnya pengeluaran 16 untuk konsumsi dan barang. Semakin efisien alat penangkapan (misalnya gill net) berarti semakin banyak ikan yang dapat ditangkap per satuan waktu; juga dengan adanya kemampuan sarana penyimpan seperti freezer, maka lebih banyak ikan yang dapat disimpan. Semua itu menunjukkan bahwa pengelolaan perikanan meliputi berbagai aspek dan sifatnya dinamis sesuai perkembangan lingkungan. Pengembangan perikanan tangkap membutuhkan kaidah-kaidah tata ruang khususnya tata ruang wilayah pesisir dan laut yang umumnya selalu berubahberubah seriring terjadi pasang surut di wilayah pantai. Hal ini terkadang menyulitkan terutama untuk justifikasi batas wilayah administrasi daerah. Untuk kepentingan pengelolaan, batas wilayah pesisir dibagi dua macam, yaitu batas wilayah perencanaan (planning zone) dan batas wilayah pengaturan (regulation zone) atau pengelolaan keseharian (day-today management). Wilayah perencanaan dapat meliputi seluruh daratan apabila terdapat aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh manusia yang secara nyata dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan sumberdaya pesisir serta masih memungkinkan untuk dikembangkan. Untuk wilayah keseharian, pemerintah mempunyai kewenangan yang dapat menetapkan beberapa peraturan terkait dengan aktivitas ekonomi atau pembangunan yang dilakukan oleh manusia (Dahuri, 2001) Pentingnya melibatkan berbagai pihak, yaitu nelayan, pemerintah, dan stakeholder lainnya dalam pengembangan perikanan tangkap. Oleh karena itu, pengelolaan perikanan diperlukan untuk menjamin agar sektor perikanan dapat memberikan manfaat yang optimal bagi para stakeholder baik sekarang atau masa yang akan datang, serta terciptanya perikanan yang bertanggung jawab. Pengembangan penangkapan ikan pada hakekatnya terarah pada pemanfaatan sumberdaya ikan secara optimal dan rasional bagi kesejahteraan masyarakat pada umumnya dan nelayan khususnya, tanpa menimbulkan kerusakan sumberdaya ikan itu sendiri maupun lingkungannya. UUNo.31/2004 tentang perikanan juga mengamanatkan bahwa pengelolaan perikanan, termasuk kegiatan perikanan tangkap, harus dilakukan berdasarkan asas manfaat, keadilan, kemitraan, pemerataan, keterpaduan, keterbukaan, efesiensi, dan kelestarian yang berkelanjutan. Kendala yang dihadapi oleh usaha perikanan tangkap skala kecil dan menengah secara umum ada 4 (empat) faktor yang sangat dominan 17 mempengaruhi keberhasilan upaya pengembangan usaha perikanan yaitu: pemasaran, produksi, organisasi, keuangan dan permodalan. Selain itu, usaha perikanan tangkap sangat berbeda dengan bidang-bidang lainnya. Usaha perikanan tangkap di laut relatif lebih sulit untuk diprediksi keberhasilannya, karena sangat peka terhadap faktor eksternal (musim dan iklim) serta faktor internal (teknologi, sarana dan prasarana penangkapan ikan dan modal). Kerentanan dalam proses produksi akan mengakibatkan adanya fluktuasi dalam perolehan hasil tangkapannya (Baskoro, 2006). 2.2 Alat Tangkap 2.2.1 Purse seine Purse seine biasanya disebut jaring kantong, karena bentuk jaring tersebut waktu dioperasikan menyerupai kantong. Purse seine kadang-kadang juga disebut jaring kolor, karena pada bagian bawah jaring dilengkapi dengan tali kolor yang berguna untuk menyatukan bagian bawah jaring sewaktu operasi, dengan cara menarik tali kolor tersebut (Sadhori, 1985). Alat tangkap purse seine merupakan alat tangkap yang dioperasikan secara aktif, yaitu dengan cara mengejar dan melingkarkan jaring pada suatu gerombolan Selanjutnya dikatakan bahwa purse seine terdiri dua jenis yaitu tipe ikan. Amerika dan Jepang. Purse seine tipe Amerika berbentuk empat persegi panjang dengan bagian pembentuk kantong terletak di bagian tepi jaring. Purse seine tipe Jepang berbentuk empat persegi panjang dengan bagian bawah berbentuk busur lingkar. Bagian pembentuk kantong pada purse seine tipe Jepang terletak ditengah jaring (Brandt, 2005). Sadhori (1985), menyatakan bahwa purse seine dibedakan berdasarkan empat kelompok besar yaitu : (1) Berdasarkan bentuk jaring utama : persegi panjang atau segi empat, trapesium atau potongan, dan lekuk, (2) Berdasarkan jumlah kapal yang digunakan pada waktu operasi : tipe satu kapal (one boat system) dan tipe dua kapal (two boat system), (3) Berdasarkan waktu operasi yang dilakukan : purse seine siang dan purse seine malam, 18 (4) Berdasarkan spesies ikan yang tertangkap : purse seine lemuru, layang, kembung, cakalang. Prinsip penangkapan dengan menggunakan purse seine adalah melingkari gerombolan ikan dengan jaring, kemudian bagian bawah jaring dikerucutkan sehingga ikan tujuan penangkapan akan terkurung pada bagian kantong, atau dengan memperkecil ruang lingkup gerakan ikan, sehingga ikan tidak dapat melarikan diri. Oleh sebab itu, jika ikan belum terkumpul pada suatu catchable area atau berada diluar kemampuan tangkap jaring, maka dapat diusahakan ikan datang atau berkumpul dengan menggunakan lampu atau rumpon (Ayodhyoa, 1981). 2.2.2 Bagan perahu Bagan (lifnet) merupakan alat tangkap yang dioperasikan dengan cara menarik waring ke permukaan air pada posisi horisontal. Pada saat pengangkatan waring ke permukaan terjadi proses penyaringan air, ikan yang berukuran lebih besar dari ukuran mata waring akan tersaring pada waring (Fridman, 1986). Kontruksi bagan perahu terdiri dari waring, perahu, rumah bagan (anjanganjang), lampu, serok, dan roller yang berfungsi untuk mengangkat dan menurunkan waring (Subani dan Barus, 1989). Menurut Von Brandt (2005), bagan diklasifikasikan ke dalam klasifikasi jaring angkat (lifnet) karena proses pengoperasiannya, jaring diturunkan ke dalam perairan, kemudian diangkat secara vertikal, berdasarkan teknik yang digunakan untuk memikat perhatian ikan agar berkumpul pada area, maka bagan diklasifikasikan dalam light fishing yang menangkap ikan dengan menggunakan atraktor cahaya untuk mengumpulkan ikan. Bagan perahu menggunakan lampu atau cahaya sebagai alat bantu penangkapan, oleh karena itu operasi tidak dimungkinkan dilakukan pada siang hari atau saat sinar bulan terang, karena cahaya menyebar merata dipermukaan air. Penangkapan ikan dengan bagan hanya akan efektif dilakukan pada malam hari. Waktu operasi penangkapan biasanya dimulai saat matahari mulai terbenam hingga menjelang fajar. Pada umumya ikan akan aktif dan menunjukkan sifat fototaksis yang maksimum sebelum tengah malam (Gunarso, 1985). 19 2.2.3 Hand line Hand line atau pancing ulur adalah salah satu alat tangkap yang paling dikenal oleh masyarakat umum, terlebih dikalangan nelayan. Prinsip penggunaan pancing adalah dengan meletakan umpan pada mata pancing, lalu pancing diberi tali, setelah umpan dimakan ikan, maka mata pancing akan termakan oleh ikan dan dengan tali manusia menarik ikan (Ayodhyoa, 1975). Pada prinsipnya pancing terdiri dari dua komponen utama yaitu : tali (line) dan pancing (hook). Jumlah mata pancing yang terdapat pada tiap perangkat (satuan) pancing terdiri satu atau lebih mata pancing. Sedangkan ukuran mata pancing bervariasi disesuaikan dengan besar kecilnya ikan yang akan ditangkap (Subani dan Barus, 1989). Pancing ulur adalah sistem penangkapan yang mempergunakan mata pancing dengan atau tanpa umpan yang dikaitkan pada tali pancing dan secara langsung dioperasikan dengan tangan manusia. Ciri khas dari alat ini adalah bisa dioperasikan di tempat yang alat tangkap lain sukar dioperasikan, misalnya tempat-tempat yang dalam, berarus cepat atau dasar perairan yang berkarang. Alat ini dapat dioperasikan oleh satu atau dua orang. Keberhasilan usaha penangkapan ikan pada alat tangkap pancing tergantung dari beberapa faktor, diantaranya adalah pemilihan umpan yang cocok untuk ikan target. Umpan berfungsi menarik perhatian ikan, sehingga ikan akan memakan umpan yang terkait pada pancing. Mekanisme ikan yang tertangkap dengan pancing disebabkan karena ikan terangsang atau tertarik pada umpan, kemudian berusaha membawa pancing yang terdapat umpan dan akhirnya pancing terkait pada mulutnya (Subani dan Barus, 1989). 2.2.4 Payang Menurut International Standard Statistical Classfication of Fishing Gear (ISSCFG) vide FAO (1990) payang digolongkan kedalam boat seine. Disainnya terdiri atas dua sayap, badan dan kantong mirip trawl. Jaring ini dioperasikan dari kapal dan ditarik dengan dua tali selembar. Menurut klasifikasi Von Brandt (2005) payang termasuk kelompok seine net yaitu alat tangkap yang memiliki warp penarik yang sangat panjang dengan cara melingkari wilayah seluas-luasnya dan kemudian menariknya ke kapal atau 20 pantai. Seine net terdiri dari kantong dan dua buah sayap yang panjang, serta dilengkapi pelampung dan pemberat. Jaring payang terdiri atas bagian sayap (wing), badan (body) dan kantong (code end). Semua bagian jaring ini dibuat dengan cara disambungkan mulai bagian kantong sampai bagian sayap dimana ukuran mata jaring (mesh size) dari bagian kantong hingga kaki semakin membesar. Umumnya terbuat dari bahan sintesis karena bahan tersebut memiliki keunggulan dibandingkan dengan penggunaan bahan alami, tidak perlu perlakuan seperti penjemuran serta sangat kuat dan tidak banyak menyerap air. Nilon merupakan salah satu contoh bahan sintesis yang sangat baik untuk payang atau seine net. Ikan yang tekurung dalam jaring payang diharapkan dapat masuk kedalam kantong. Fungsi ukuran mata jaring pada kantong hanya merupakan dinding penghadang, semakin kecil ukuran mata jaring berarti semakin sedikit ikan yang meloloskan diri. Pembukaan kantong juga dipengaruhi oleh gaya tarik tersebut, oleh sebab itu perlu adanya batasan ukuran mata jaring dengan pehitungan besar ikan (girth). Kecepatan melingkar dan menarik jaring pada setiap operasi serta pembukaan mulut jaring menentukan operasi penangkapan (Ayodhyoa, 1981). 2.2.5 Bubu Bubu merupakan salah satu alat tangkap yang banyak digunakan oleh nelayan di Indonesia untuk menangkap ikan-ikan karang. Beberapa keuntungan menggunakan bubu seperti: bahan mudah diperoleh dan harga relatif murah, desain dan konstruksinya sederhana, pengoperasiannya mudah, tidak memerlukan kapal khusus, ikan hasil tangkapan masih memiliki tingkat kesegaran yang baik dan alat tangkap dapat dioperasikan di perairan karang yang tidak terjangkau oleh alat tangkap lainnya (Iskandar dan Diniah, 1999). Bubu adalah alat tangkap yang cara pengoperasiannya bersifat pasif yaitu dengan cara menarik perhatian ikan agar masuk kedalamnya. Prinsip penangkapan bubu adalah membuat ikan dapat masuk dan tidak dapat keluar dari bubu (Sainsbury, 1996). Secara garis besar komponen bubu di bagi menjadi tiga bagian, yaitu badan (body), mulut (funnel) dan pintu. Bubu biasanya terbuat dari bahan anyaman bambu, anyaman rotan atau anyaman kawat. Bentuk bubu sangat 21 bervariasi, hampir setiap daerah di Indonesia memiliki bentuk sendiri-sendiri (Subani dan Barus, 1989). Unit penangkapan bubu terdiri atas perahu atau kapal, bubu dan nelayan. Pemasangan bubu dasar biasanya dilakukan di perairan karang. Untuk memudahkan dalam mengetahui tempat pemasangan bubu, biasanya bubu dilengkapi dengan pelampung tanda (Subani dan Barus, 1989). 2.2.6 Gillnet Gillnet secara harfiah berarti jaring insang. Alat tangkap ini disebut jaring insang karena ikan yang tertangkap oleh gillnet umumnya tersangkut pada tutup insangnya (Sadhori, 1985). Martasuganda (2002), mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan jaring insang adalah jaring yang berbentuk empat persegi panjang, dimana mata jaring dari bagian jaring utama ukurannya sama dan jumlah mata jaring ke arah horisontal lebih banyak dari pada jumlah mata jaring arah vertikal. Pada bagian atasnya dilengkapi dengan beberapa pemberat dan bagian bawahnya dilengkapi dengan beberapa pemberat sehingga adanya dua gaya yang berlawanan. Gillnet merupakan dinding jaring dengan bahan yang lembut dan mempunyai daya visibilitas yang rendah. Gillnet sebagai dinding yang lebar ditempatkan di atas dasar laut untuk menangkap ikan demersal, atau seluruh tempat mulai dari pertengahan kolom air sampai lapisan permukaan untuk menangkap ikan pelagis (Sainsburry, 1996). Menurut Ayodhyoa (1981) mengklasifikasikan gillnet berdasarkan cara pengoperasiannya atau kedudukan jaring di daerah penangkapan. yaitu : (1) Surface gillnet, yaitu gillnet yang direntangkan di lapisan permukaan dengan area daerah penangkapan yang sempit, (2) Bottom gillnet, yaitu gillnet yang dipasang dekat atau di dasar laut dengan menambahkan jangkar sehingga jenis ikan tujuan penangkapannya adalah ikan demersal, (3) Drift gillnet, yaitu gillnet yang dibiarkan hanyut di suatu perairan terbawa arus dengan atau tanpa kapal. Posisi jaring ini ditentukan oleh jangkar. Sehingga pengaruh kecepatan arus terhadap kekuatan tubuh jaring dapat diabaikan, 22 (4) Encircling gillnet, yaitu gillnet yang dipasang melingkar terhadap gerombolan ikan dengan maksud menghadang ikan. Secara umum cara pemasangan gillnet adalah dipasang melintang terhadap arah arus dengan tujuan menghadang arah ikan dan diharapkan ikanikan tersebut menabrak jaring serta terjerat (gilled) di sekitar insang pada mata jaring atau terpuntal (entangled) pada tubuh jaring. Oleh karena itu wama jaring sebaiknya disesuaikan dengan warna perairan tempat gillnet dioperasikan (Sadhori, 1985). Menurut Martasuganda (2002), jaring insang hanyut (drift gillnet) adalah jaring yang cara pengoperasiannya dibiarkan hanyut di perairan, baik itu dihanyutkan di bagian permukaan (surface drift gillnet), kolom perairan (midwater/submerged drift gillnet) atau dasar perairan (bottom drift gillnet). Besar kecilnya ukuran mata jaring mempunyai hubungan erat dengan ikan yang tertangkap. Gillnet akan bersifat selektif terhadap ukuran ikan tertangkap. Untuk menghasilkan tangkapan yang besar pada suatu daerah penangkapan, hendaknya ukuran mata jaring disesuaikan dengan besar badan ikan yang terjerat. Pada umumnya ikan tertangkap secara terjerat pada bagian tutup insangnya (opperculum), maka luas mata jaring disesuaikan dengan luas penampang tubuh ikan antara batas tutup insang sampai sekitar bagian depan dari sirip dada (pectoral) (Ayodhyoa, 1981). Jenis-jenis ikan yang tertangkap oleh gillnet adalah layang (Decapterus spp), tembang (Sardinella fimbriata), kuwe (Caranx spp, selar (Selaroides spp), kembung (Rastrelliger spp), daun bambu (Chorinemus spp), belanak (Mugil spp), kuro (Polynemus spp), tongkol (Auxis spp), tenggiri (Scomberomorus spp) dan cakalang (Katsuwonus pelamis) (Sadhori. 1985). 2.2.7 Sero Sero adalah alat penangkap ikan yang dioperasikan di perairan pantai, bersifat menetap dan berfungsi sebagai perangkap ikan yang melakukan gerakan ke pantai atau ikan yang habitatnya di pantai. Sifat ikan sasaran, umumnya adalah berenang menyusuri pantai karena pola ruayanya dan pada waktu tertentu akan kembali mendekati pantai (Martasuganda, 2002). 23 Unit penangkapan sero, umunya terbuat dari kombinasi antara jaring dan bambu yang disusun menyerupai pagar. Pada prinsipnya jaring terdiri atas empat bagian penting (Barus, et al, 1991) yaitu: (1) Penaju (leader net) Penaju merupakan bagian penting dari sero, berfungsi menghambat pergerakan ikan dan mengarahkan ke bagian jaring tempat ikan yang tertangkap terkumpul. Penaju terdiri atas tiang-tiang yang dipancangkan, jarak antar tiang sekitar 1,50 meter. Panjang penaju bervariasi pada ukuran sero. (2) Serambi (trap net) Serabi adalah bagian yang berfungsi sebagai tempat berkumpulnya ikan untuk sementara waktu sebelum memasuki kantong. Pada bagian ini ikan dikondisikan agarpeluang untuk masuk ke dalam kantong menjadi lebih besar. Serambi berbentuk kerucut lebih efektif karena peluang memasuki kantong bagi ikan menjadi lebih besar. (3) Kantong (cribe) Kantong berguna untuk mengumpulkan ikan yang telah masuk ke dalam alat tangkap. Ukuran kantong harus cukup besar, agar mampu menjamin hasil tangkapan tetap hidup dan mengurangi keluarnya ikan yang sudah berada di dalam. Pada bagian inilah dilakukan pengambilan hasil tangkapan. (4) Pintu (entrance) Pintu adalah tempat masuknya ikan setelah diarahkan oleh penaju. Pada bagian ini biasanya terdapat sepasang sayap (wings) yang berfungsi untuk mempercepat jalannya ikan masuk ke dalam serambi. Menurut Subandi dan Barus (1989) bahwa disamping penaju, serambi, kantong dan pintu, masih ada kelengkapan lain sebagai alat bantu penangkapan. Alat tersebut adalah sisir atau penggiring dan serok (scoop net) sebagai alat untuk mengambil ikan. Lokasi yang cocok untuk pengoperasian alat tangkap sero menurut Ayodhyoa (1981), harus memiliki kriteria sebagai berikut: (1) Merupakan perairan teluk yang terlindungi pada setiap musim, 24 (2) Merupakan alur dari ruaya kelompok ikan ke arah pantai, (3) Topografi dasar perairan mempunyai kemiringan (slope) yang tidak tajam, (4) Lokasi pemasangan mudah terjangkau, dekat dengan sarana dan prasarana. 2.3 Jenis Ikan 2.3.1 Ikan layang (Decapterus spp) Di Indonesia terdapat ikan layang jenis Decapterus russelli dan Decapterus macrosoma. Ikan ini hidup perairan lepas pantai dan membentuk gerombolan besar. Panjang tubuhnya mencapai panjang 30 cm, bentuk badan agak memanjang dan agak gepeng. Dalam statistik perikanan, kedua jenis ikan layang ini dimasukan dalam satu kategori (Decapterus spp) (Widodo, 1988). Ikan layang selain hidup bergelombol, ikan ini termasuk ikan perenang cepat yang hidup diperairan berkadar garam relatif tinggi (32 - 34 0/00) dan menyenangi perairan jernih. Ikan layang mempunyai salinitas optimum berkisar antara 32 - 32,5 0/00, ikan ini banyak terdapat di perairan yang berjarak 37-56 km dari pantai. Pada perairan yang mempunyai suhu minimum, yaitu sebesar 170C biasanya ikan layang akan memijah. Ikan layang umumnya memiliki dua kali masa pemijahan pertahun dengan puncak pemijahan pada bulan Maret sampai April (musim barat) dan Agustus sampai September (musim timur). Menurut Asakin (1971), ikan layang muncul ke permukaan karena dipengaruhi oleh ruaya harian dari plankton hewani (zoo plankton) yang terdapat disuatu perairan. Secara spesifik, makanan ikan layang terdiri dari copepoda 39%, crutacea 31% dan organisme lainnya 30%. 2.3.2 Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) merupakan ikan pelagis besar yang memiliki tubuh membulat, memanjang dan mempunyai garis lateral. Ciri-ciri ikan cakalang adalah terdapatnya 4 – 6 garis berwarna hitam dan memanjang di samping badan. Umumnya ikan cakalang memiliki panjang antara 30-80 cm dengan berat 0,5 – 11,5 kg. Maksimum ukuran fork length ikan cakalang dapat mencapai 108 cm dan berat 32, 34,5 kg, sedangkan ukuran umum yang tertangkap dapat mencapai 40–80 cm (Collete dan Nauen, 1983). 25 Gunarso (1988), mengatakan bahwa sebagian dari perairan Indonesia merupakan lintasan ikan cakalang yang bergerak menuju ke kepelauan Philipina dan Jepang. Di perairan Indonesia bagian timur meliputi Laut Banda, Laut Flores, Laut Arafura, Laut Halmahera, Laut Maluku, Laut Sulawesi, Laut Aru dan sebelah utara Irian Jaya. 2.3.3 Ikan tembang (Sardinella fimbriata) Ikan tembang (Sardinella fimbriata) adalah ikan yang hidup dipermukaan perairan lepas pantai dan suka bergerombol pada daerah yang luas sehingga sering tertangkap dengan ikan lemuru. Ikan tembang tersebar di perairan Indonesia hingga ke utara sampai ke Taiwan, ke selatan sampai ujung Australia dan barat sampai ke Laut Merah. Ikan tembang juga terkosentrasi pada kedalaman kurang dari 100 meter. Pergerakan vertikal terjadi karena perubahan siang dan malam, dan pada malam hari ikan tembang cenderung berenang ke permukaan dan berada di permukaan sampai matahari terbit. Waktu malam terang, nampaknya gerombolan ikan tembang akan berpencar atau tetap berada di bawah permukaan. Panjang tubuh berkisar antara 15 – 25 cm, warna biru kehijauan pada bagian atas, putih perak pada bagian bawah. Sirip-sirip pucat kehijauan, tembus cahaya. Dasar sirip dubur perak dan jauh di belakang dasar sirip dorsal serta berjari-jari lemah 16 – 19, pemakan plankton (Fischer dan Whitehead, 1974). 2.3.4 Ikan teri (Stolephorus sp) Di Indonesia ikan teri (Stolephorus spp) merupakan jenis ikan pelagis kecil. Ikan teri mempunyai sembilan jenis yaitu : Stolephorus heterolobus, Stolephorus devisi, Stolephorus baganensis, Stolephorus tri, Stolephorus dubiousus, Stolephorus indicus, Stolephorus commersonii, Stolephorus insularis dan Stolephorus buccaneezi. Ciri-ciri teri adalah bentuk tubuh agak bulat memanjang (fusiform) hampir silindris, perut bulat dengan tiga atau empat sisik duri seperti jarum (sisik abdominal) yang terdapat diantara sirip dada (pectoral) dan sirip perut (ventral), sirip ekor (caudal) bercagak dan tidak bergabung dengan sirip dubur (anal). Teri termasuk ikan pelagis yang menghuni pesisir dan estuari, tetapi beberapa jenis dapat hidup antara 10 – 15 ppt. Pada umumnya ikan bergerombol, 26 ikan teri yang berukuran besar cenderung untuk hidup soliter. Ukuran 40 mm, ikan teri memanfaatkan fitoplankton dan zooplankton, sedangkan pada ukuran lebih dari 40 mm ikan teri banyak memafaatkan zooplakton. Perairan barat Sumatera, Selat Malaka, selatan dan utara Sulawesi, timur Sumatera merupakan daerah kosentrasi ikan teri (Direktorat Jenderal Perikanan, 1997). 2.3.5 Ikan tongkol (Auxis thazard) Ikan tongkol (Auxis thazard) termasuk jenis tuna kecil. morfologinya adalah badan memanjang, kaku, bulat seperti cerutu. Ciri-ciri Badan tongkol tanpa bersisik kecuali pada bagian korselet yang tumbuh sempurna dan mengecil kebagian belakang, warnanya kebiru-biruan serta putih dan perak dibagian perut. Ciri-ciri lain, dibagian perut terdapat ban-ban serong berwarna hitam diatas garis rusuk serta noktah-noktah hitam terdapat diantara sirip dada dan perut. Ukuran ikan ini dapat mencapai panjang 50 cm, tetapi umumnya berukuran panjang 25-40 cm. Tongkol termasuk ikan jenis buas, predator, hidup dengan pantai, lepas pantai dan bergorombol besar. Tongkol tergolong ikan epipelagik dengan kisaran temperatur yang disenangi antara 18 – 29 0C. Dalam penyebarannya tongkol multispecies menurut ukurannya. cenderung membentuk kumpulan Penyebaran tongkol sangat luas meliputi perairan tropis dan sub tropis, termasuk Samudra Pasifik, Samudra Hindia dan Samudra Atlantik (FAO, 1986). 2.3.6 Ikan tuna (Thunnus sp.) Ikan tuna (Thunnus sp) merupakan salah satu jenis ikan pelagis yang memiliki tubuh seperti cerutu. Sirip dada terletak agak ke atas, sirip perut kecil, sirip ekor bercagak agak ke dalam dengan jari-jari menyokong menutup seluruh hypural, tubuhnya tertutup oleh sisik, berwarna biru dan agak gelap pada bagian atas tubuhnya. Sirip punggung terdiri atas dua, sirip depan biasanya pendek dan terpisah dari sirip belakang. Tuna species besar terdiri dari 7 species, species besar pada umumnya mempunyai ukuran panjang tubuh antara 40 – 180 cm. Tuna besar diantaranya adalah; madidihang atau yellowfin tuna (Thunnus albacares), tuna mata besar (Thunnus obesus), tuna albakora (Thunnus alalunga), tuna sirip biru selatan 27 (Thunnus maccoyii), tuna ekor panjang (Thunnus tonggol), tuna sirip biru selatan (Thunnus thynnus), tuna sirip hitam (Thunnus atlanticus) (Blackburn, 1965). Beberapa petunjuk untuk menentukan daerah penyebaran ikan tuna antara lain: (1) Tempat-tempat pertemuan arus dari daerah perairan sempit (dangkal) dengan laut dalam atau daerah karang dan tebing yang merupakan fishing ground pada laut dalam. Berdasarkan keadaan hidrografi dapat diketahui, bahwa putaran arus pada dasar laut merupakan barier pada fishing ground laut dalam; (2) Tempat-tempat yang terdapat arus yang mengalir dengan cepat atau di tempat yang terdapat rintangan (karang, tebing dan pulau); (3) Tempat terjadinya konvergensi dan divergensi antara arus yang berdekatan; (4) Daerah arus eddy dari arus balik equator (equatorial counter current). Menurut Gunarso (1988), beberapa daerah yang merupakan daerah penangkapan ikan tuna antara lain adalah: Laut Banda, Laut Maluku, dan perairan selatan Jawa terus menuju ke timur. Begitu pula perairan selatan dan barat Sumatera serta perairan yang lainnya. Diperairan Indonesia juga terdapat semua jenis tuna besar kecuali tuna sirip biru utara dan sirip biru hitam, ini disebabkan karena tuna sirip utara adalah penghuni perairan Samudera Pasifik Atlantik. Tuna merupakan jenis ikan yang dalam kelompok ruaya akan muncul sedikit diatas lapisan termoklin pada siang hari dan akan beruaya kelapisan permukaan pada sore hari. Sedangkan pada malam hari akan menyebar diantara lapisan permukaan dan termoklin. 2.3.7 Selar (Selaroides sp) Selar (Selaroides sp) umumnya hidup di semua perairan Indonesia yang meliputi selar bentong (Selaroides erumenopthalmus), selar kuling (Selaroides leptolepsis) Hidup bergerombol di sekitar pantai dangkal dan makan makan ikanikan kecil dan udang kecil (Nontji, 1993). Selar kuning memiliki bentuk badan lonjong, pipih dengan sirip punggung (dorsal) berjari-jari keras satu dengan jari-jari lunak 15 buah. Sirip duburnya terdiri dua jari-jari keras yang terpisah dan satu jari-jari keras yang bersambung 28 dengan 20 jari-jari lunak. Tapis insang pada busur insang pertama bagian bawah berjumlah 26 buah. Garis rusuk membusur, memiliki 25 – 34 sisik. Selar bentong memiliki bentuk hampir sama, tapi dapat dibedakan dari ukuran lebih besar (Wiyono, 2001). 2.3.8 Kembung (Rastrelliger spp) Secara umum ikan kembung (Rastrelliger spp) berbentuk cerutu, tubuh dan pipinya ditutupi oleh sisik-sisik kecil, bagian dada agak lebih besar dari bagian yang lain. Mata mempunyai kelopak yang berlemak. Tulang insang dan banyak sekali terlihat seperti bulu jika mulut terbuka. Mempunyai dua buah sirip punggung (dorsal), sirip punggung pertama terdiri dari atas jari-jari lemah dan sama dengan sirip dubur (anal) tidak mempunyai jari-jari keras. Lima sampai enam tambahan (finlet) terdapat dibelakang sirip dubur (anal) dan sirip punggung (dorsal). Bentuk sirip ekor (caudal) bercagak dalam, sirip dada (pectoral) dengan dasar agak melebar dan sirip perut terdiri atas satu jari-jari keras dan jari-jari lemah (Saanin, 1984). Ikan kembung lelaki (Rastrelliger kanagurta) biasanya ditemukan di perairan yang jernih dan agak jauh dari pantai dengan kadar garam lebih dari 32 ppt, sedangkan kembung perempuan (Rastrelliger brachysoma) dijumpai di perairan dekat pantai dengan kadar garam lebih rendah (Nontji, 1993). Ikan kembung lelaki untuk pertama kali matang gonad berukuran rata-rata 20 cm (Nurhakim, 1993). Ikan kembung perempuan untuk pertama kali matang gonad berukuran 16 cm (Suhendrata dan Rusmadji, 1991). Penyebaran utama ikan kembung (Rastrelliger spp) yaitu perairan barat, timur dan selatan Kalimantan serta Malaka. Sedangkan daerah penyebarannya mulai dari barat dan timur Sumatera, utara dan selatan Jawa, Nusa Tenggara, utara dan selatan Sulawesi, Maluku dan Papua (Direktorat Jendral Perikanan, 1997). 2.3.9 Lemuru (Sardinella longiceps) Ikan lemuru berwarna biru kehijauan pada bagian punggung dan putih keperakan pada bagian lambung, serta mempunyai sirip-sirip transparan. Panjang tubuh dapat mencapai 23 cm tetapi pada umumnya hanya 10-15 cm (Chan, 1965). Ikan lemuru mempunyai rumus sirip punggung, D. 16 – 18; sirip dubur, A. 13 – 16; sirip dada, P. 15 – 16; sirip perut, V. 8 – 9; tipe sisik sikloid, sisik garis 29 rusuk, LI. 45; sisik melintang, Ltr. 12 – 13. Bentuk tubuh memanjang, cembung dan membundar pada bagian perut. Sub operkulum membentuk segi empat dengan bagian bawah melengkung. Sirip punggung lebih dekat ke ekor daripada ke moncong, permulaan sirip dengan perut berada di belakang pertengahan sirip punggung. Gigi pada langit-langit mulut sambungan tulang rahang bawah dan lidah. Tapis insang berjumlah 120 lembar, lebarnya kurang dari 1/2 operkulum. Sisiksisiknya lembut dan bertumpuk tidak teratur, jumlah sisik di depan sirip punggung 13 – 15. Scute atau sisik duri terdapat pada lambung, 18 di depan sirip perut dan 14 lainnya di belakang sirip perut (Weber and de Beaufort, 1965). Ikan lemuru sering bergerombol dengan ikan lain seperti ikan layang (Decapterus sp) dan kembung (Rastrelliger sp). Ikan yang bergerombol mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk menyelamatkan diri dari predator, karena terlindung dalam gerombolan. Menurut Whitehead (1985) ikan lemuru tersebar di Lautan Hindia bagian timur yaitu Phuket, Thailand, dan pantai-pantai di Indonesia. 2.3.10 Ikan kuwe (Caranx sp) Ikan kuwe ini memiliki nama internasional giant trevally. Adapun klasifikasi ikan ini adalah sebagai berikut: Kingdom: Animalia, Phylum: Chordata, Class: Actinopterygii, Order: Perciformes, Suborder: Percoidei, Superfamily: Percoidea, Family: Carangidae, Genus: Caranx, Species: Caranx ignobilis. Ikan ini hidup di karang dan biasanya menjadi sasaran penangkapan untuk tujuan rekreasi dan komersial. Ikan ini ditangkap dengan menggunakan alat tangkap pancing, rawai, dan tombak. Ikan Kuwe adalah anggota terbesar dari genus Caranx dan anggota terbesar kelima dari famili Carangidae. Ikan kuwe dapat dikenali dari profile kepala yang curam, sisik menebal secara lurus, linea lateralis lebih banyak berada di daerah posterior. Warna ikan bervariasi dari berwarna keperak-perakan hingga kehitaman. Terkadang berwarna emas kehitaman dan memiliki garis hitam yang tidak teratur pada bagian belakang, namun tidak pernah memiliki bintik hitam di bagian belakang operculum. Ikan dengan kelompok trevally ini adalah jenis ikan 30 perenang cepat dengan tubuh yang padat, dasar ekor yang meramping dan bentuk ekor yang tajam. Daerah habitat ikan kuwe memiliki rentang lingkungan yang luas, dari daerah estuaria, perairan dangkal dan laguna ketika masih juvenil dan ke daerah karang lebih dalam, atol lautan lepas dan perairan luas ketika dewasa. Ketika masih Juvenil, ikan kuwe hidup di daerah di perairan dengan salinitas rendah seperti danau di daerah pantai dan muara sungai. Spesies ini biasa terlihat bergerak disepanjang dinding karang yang menurun di perairan tropis. Ikan kuwe berubah habitatnya setiap waktunya dalam sehari. Aktivitas ikan tertinggi adalah ketika fajar atau sore dan biasanya merubah lokasi ketika mendekati matahari terbit dan tenggelam. Ikan ini juga melakukan migrasi untuk melakukan pemijahan dan daerah yang sesuai. (www.fishbase.org dan www.wikipedia.com). 2.3.11 Ikan kerapu (Ephynephelus sp.) Ikan kerapu termasuk dalam famili Serranidae, subfamili Epinephelinae dan dikenal dengan istilah grouper (Tucker, 1999). Ikan kerapu terdiri dari 15 genus dan mencakup 159 spesies. Kelima belas genus ikan kerapu tersebut adalah Aethalperca, Alphestes, Anyperodon, Cephalopholis, Cromileptes, Dermatolepis, Epinephelus, Gonioplectrus, Gracila, Mycteroperca, Paranthias, Plectropomus, Saloptia, Triso dan Variola. Ikan kerapu terdiri dari 14 genus dan mencakup setidaknya setengah dari 449 spesies famili Serranidae. Kebanyakan ditemukan pada perairan berkarang (Sluka et al, 2001) namun beberapa spesies dapat ditemukan di daerah estuaria atau karang berbatu. Secara umum, ikan kerapu sangat menyenangi wilayah dengan dasar perairan yang berbatu, walaupun pada masa juvenil ikan ini ditemukan pada area padang lamun dan ada juga yang dewasa ditemukan beberapa spesies lebih menyukai areal berpasir. Menurut Tucker (1999), juvenil dan ikan kerapu dewasa hidup di perairan pesisir dan estuaria, tapi sebagian lebih menyukai perairan yang jernih di areal terumbu karang. Telurnya tunggal, non adhesive dan mengapung pada salinitas normal. Larva dari beberapa spesies menghabiskan beberapa minggu pertamanya sebagai plankton oceanic. Ketika menjadi juvenil, ikan kerapu menetap di 31 perairan dangkal untuk mencari tempat berlindung. Pada saat ukurannya bertambah panjang, ikan kerapu bergerak ke perairan yang lebih dalam namun kebanyakan tetap tinggal di wilayah dekat gua tempat berlindungnya. 2.4 Maximum Sustainable Yield (MSY) Terjadinya penangkapan sumberdaya ikan di suatu perairan secara berlebihan disebabkan oleh: (1) meningkatnya jumlah penduduk sehingga meningkatkan tekanan terhadap sumberdaya, termasuk perikanan tangkap; (2) sumberdaya ikan bersifat akses terbuka, sehingga setiap orang berhak untuk melakukan penangkapan secara bebas dan; (3) gagalnya manajeman perikanan` (DKP 2003a). Laju eksploitasi sumberdaya ikan yang tinggi dan melebihi daya dukungnya berdampak langsung terhadap keberlanjutan ketersediaan sumberdaya, mempercepat proses kerusakan sumberdaya ikan dan menurunnya pertumbuhan ekonomi jangka panjang dengan cepat dan tidak dapat dihindari. Model pembangunan dimasa mendatang tidak lagi sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan perikanan berkelanjutan. Pemanfaatan sumberdaya ikan umumnya didasarkan pada konsep hasil maksimum yang lestari (Maximum Sustainable Yield) atau juga disebut dengan MSY. Konsep MSY berangkat dari model pertumbuhan biologis, agar ikan dapat dimanfaatkan secara maksimum dalam waktu yang panjang melalui keseimbangan biologi dari sumberdayatersebut (Schaefer, 1957). Dalam mengelola sumberdaya perikanan, maka perlu menentukan jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) atau Total Allowable Catch (TAC) yang akan didistribusikan menjadi porsi nasional (Domestic Harvesting Capacity). Besarnya TAC biasanya dihitung berdasarkan nilai hasil tangkapan maksimum lestari (MSY). Jumlah tangkapan yang diperbolehkan dari seluruh potensi sumberdaya ikan adalah sekitar 80% dari potensi lestari (DKP, 2002). Menurut teori bioekonomi untuk perikanan komersial menyatakan bahwa tingkat optimal secara sosial dari effort dan panen ditentukan oleh dinamika biologi dari stok dan ekonomi dari industri (seperti biaya input dan harga output). Hal ini karena masyarakat telah tertarik dalam konservasi stok dan keuntungan dari industri. Tanpa pembatasan masuk atau effort, pemanenan akan berlanjut sampai break event point yaitu suatu tingkat upaya dimana total penerimaan hanya 32 mampu menutupi total biaya dan dikenal sebagai open access equilibrium (OAE). Pada kondisi seperti ini secara sosial tidak efisien karena effort terlalu tinggi (Gordon, 1954). Pengelolaan sumberdaya ikan banyak didasarkan pada faktor biologis semata dengan pendekatan yang disebut Maximum SustainableYield (MSY) yaitu tangkapan maksimum yang lestari. Inti pendekatan ini adalah bahwa setiap spesies ikan memiliki kemampuan untuk berproduksi yang melebihi kapasitas produksi (surplus), sehingga apabila surplus ini dipanen (tidak lebih dan tidak kurang), maka stok ikan akan mampu bertahan secara berkesinambungan. Akan tetapi, pendekatan pengelolaan dengan konsep ini belakangan banyak dikritik oleh berbagai pihak sebagai pendekatan yang terlalu sederhana dan tidak mencukupi. Kritik yang paling mendasar diantaranya adalah karena pendekatan MSY tidak mempertimbangkan sama sekali aspek sosial ekonomi pengelolaan sumberdaya alam (Fauzi, 2000). Kesediaan sumberdaya ikan sangat penting bagi pembangunan yang berbasis sumberdaya (resource-based development). Tanpa sumberdaya ikan, pembangunan perikanan tidak akan ada. Oleh karena itu, pengelolaan sumberdaya ikan adalah jantungnya pembangunan perikanan. Jika ada upaya untuk mengelola sumberdaya ikan, secara implisit hal tersebut berarti menyusun langkah-langkah untuk membangun perikanan. Sebab itu, tujuan mengelola sumberdaya sering juga disamakan dengan tujuan pembangunan perikanan (Nikijuluw, 2002). Efisiensi dalam usaha penangkapan ikan sulit untuk diukur. Hal ini, terkait dengan adanya ketidakpastian dalam usaha penangkapan ikan. Dimana penghasilan yang diperoleh juga terkait dengan musim -musim ikan (Kusnadi, 2002) dan nelayan tidak bisa mengendalikan usaha penangkapannya. Disamping itu rusaknya ekosistem sumberdaya laut yang disebabkan berbagai eksternalitas negatif dan penangkapan ikan secara berlebihan telah menekan kehidupan para nelayan. Produksi (h) pada perikanan tangkap dapat diasumsikan sebagai fungsi dari upaya (E) dan stok ikan (x). Secara matematis dapat ditulis; h = f (x,E). Adapun upaya (effort) merupakan sarana yang digunakan untuk mengeksploitasi ikan pada suatu perairan. Effort didefinisikan indeks dari berbagai input seperti 33 tenaga kerja, perahu, alat tangkap, bahan bakar minyak, kekuatan mesin dan sebagainya yang dibutuhkan untuk suatu aktivitas penangkapan. Peningkatan effort yang terus menerus pada periode tertentu tanpa peningkatan produksi lestari, akan menyebabkan produksi hasil tangkapan turun bahkan mencapai nol pada upaya (effort) maksimum sehingga menimbulkan inefisiensi kapasitas perikanan tangkap. Dengan demikian, produksi lestari sangat tergantung pada kapasitas perikanan tangkap atau tingkat upaya yang memungkinkan (Kirkley and Squires, dalam Fauzi dan Anna, 2005). Dalam hal tersebut perlu diperhatikan efisiensi dari upaya (effort) untuk menghasilkan output berupa hasil tangkapan ikan (Fauzi, 2004). Menurut Gulland (1983), indikator terjadinya over fishing ditunjukan dengan menurunnya ukuran ikan yang ditangkap, dan makin menurunnya CPUE. Berkurangnya jumlah dan komposisi spesies ikan merupakan indikator integritas biotik ekosistem perairan. Hal ini, diakibatkan selain oleh penangkapan berlebih juga oleh adanya tekanan terhadap perairan sehubungan dengan pemanfaatan lahan di wilayah pesisir terutama konversi kawasan mangrove menjadi tambak dan sebagainya. Pendekatan ini pula yang dipergunakan sebagai kriteria oleh Bailey et al. (1987) dan FAO (2000), di dalam menentukan status pemanfaatan sumberdaya ikan di suatu perairan dikelompokkan menjadi 6 (enam) kelompok, yaitu : (1) Unexploited, Stok sumberdaya ikan berada pada kondisi belum tereksploitasi, sehingga aktivitas penangkapan ikan sangat dianjurkan di perairan ini guna mendapatkan keuntungan dari produksi. (2) Higly exploited, Stok sumberdaya ikan baru tereksploitasi dalam jumlah sedikit (kurang dari 25 persen MSY). Pada kondisi ini, peningkatan jumlah upaya penangkapan sangat dianjurkan karena tidak mengganggu kelestarian sumberdaya ikan dan hasil tangkapan per unit upaya (catch per unit effort) atau CPUE masih mungkin meningkat. 34 (3) Moderately exploited, Stok sumberdaya ikan sudah tereksploitasi setengah dari MSY. Pada kondisi ini, peningkatan jumlah upaya penangkapan masih dianjurkan tanpa mengganggu kelestarian sumberdaya ikan, akan tetapi hasil tangkapan per unit upaya mungkin mulai menurun. (4) Fully exploited, Stok sumberdaya ikan sudah tereksploitasi mendekati nilai MSY. Disini peningkatan jumlah upaya penangkapan sangat tidak dianjurkan, walaupun hasil tangkapan masih dapat meningkat. Peningkatan upaya penangkapan akan mengganggu kelestarian sumberdaya ikan dan hasil tangkapan per unit upaya pasti turun. (5) Over exploited, Stok sumberdaya ikan sudah menurun, karena tereksploitasi melebihi nilai MSY. Pada kondisi ini, upaya penangkapan harus diturunkan agar kelestarian sumberdaya ikan tidak terganggu. (6) Depleted, Stok sumberdaya ikan dari tahun ke tahun jumlahnya mengalami penurunan secara drastis, dan upaya penangkapan sangat dianjurkan untuk dihentikan. 2.5 Kebijakan Minapolitan Kebijakan adalah suatu peraturan yang mengatur atau mengubah suatu kondisi ke kondisi yang lebih baik. Manusia menetapkan suatu kebijakan merupakan upaya manusia untuk mengetahui dan mengatasi sesuatu. Kebijakan dapat dibedakan menjadi kebijakan publik (public policy) dan kebijakan pribadi (private policy). Kebijakan juga menghasilkan informasi yang ada hubungannya dengan kebijakan yang dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah. Selain itu, kebijakan juga menghasilkan informasi mengenai nilai-nilai dan arah tindakan yang lebih baik. Salah satu kebijakan publik dalam pengelolaan perikanan tangkap yang didefinisikan bahwa kebijakan publik merupakan suatu keputusan untuk mengatasi masalah tertentu, kegiatan tertentu atau untuk mencapai tujuan tertentu yang dilakukan oleh instansi pemerintah yang secara formal dan dituangkan 35 dalam berbagai peraturan perundang-undangan tentang perikanan tangkap (Hamdan, 2007). Menurut Suharto (2005) ada beberapa konsep kunci yang termuat dalam kebijakan publik : 1) Kebijakan publik adalah tindakan yang dibuat dan diimplementasikan oleh badan pemerintah yang memiliki kewenangan hukum, politis dan finansial untuk melakukannya, 2) Kebijakan publik adalah sebuah reaksi terhadap kebutuhan dan masalah dunia nyata, dan upaya merespon masalah atau kebutuhan kongkrit yang berkembang di masyarakat, 3) Seperangkat tindakan yang berorientasi pada tujuan. Kebijakan publik biasanya bukan sebuah keputusan tunggal, melainkan terdiri dari beberapa pilihan tindakan atau strategi yang dibuat untuk mencapai tujuan tertentu demi kepentingan orang banyak, 4) Sebuah keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Kebijakan publik pada umumnya merupakan tindakan kolektif untuk memecahkan masalah sosial. Namun kebijakan publik bisa juga dirumuskan berdasarkan keyakinan bahwa masalah sosial akan dapat dipecahkan oleh kerangka kebijakan yang sudah ada, 5) Sebuah justifikasi yang dibuat oleh seorang atau beberapa orang aktor. Kebijakan publik berisi sebuah pernyataan atau justifikasi terhadap langkah-langkah atau rencana tindakan yang telah dirumuskan, bukan sebuah maksud atau janji yang belum dirumuskan. Keputusan yang telah dirumuskan dalam kebijakan publik bisa dibuat oleh sebuah badan pemerintah, maupun oleh beberapa perwakilan lembaga pemerintah. Contoh kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan kebijakan perikanan dan sesuai dengan potensi dan peluang yang dimiliki Indonesia, maka pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Perikanan telah menetapkan beberapa misi pembangunan perikanan tangkap, yaitu : 1) Mengendalikan pemanfaatan sumberdaya ikan, 2) Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan nelayan, 3) Meningkatkan mutu dan nilai tambah hasil perikanan, 36 4) Menyediakan bahan pangan sumber protein hewani dan bahan baku industri serta ekspor, 5) Menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan usaha perikanan tangkap, 6) Menciptakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha yang produktif; 7) Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, 8) Mengembangkan kelembagaan dan peraturan perundangan, 9) Meningkatkan penerimaan PNBP dan PAD, 10) Meningkatkan tertib administrasi pembangunan, dan 11) Menjadikan sumberdaya ikan sebagai perekat nusa dan bangsa. Kebijakan Pemerintah yang sangat penting dan strategis untuk mengatur pengelolaan perikanan adalah dengan dikeluarkannya Undang-Undang No. 31 tentang Perikanan dimana secara tegas dalam pasal 6 ayat 1 diamanatkan bahwa Pengelolaan perikanan dalam wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia dilakukan untuk tercapainya manfaat yang optimal dan berkelanjutan, serta terjaminnya kelestarian sumberdaya ikan. Kemudian pasal 6 ayat 2 menyatakan bahwa pengelolaan perikanan untuk kepentingan penangkapan ikan dan pembudidayaan ikan harus mempertimbangkan hukum adat dan/atau kearifan lokal serta memperhatikan peran serta masyarakat. Memaksimalkan suatu kebijakan sebaiknya dilakukan berdasarkan masukan dari bawah (feed-back) merupakan kunci suatu perumusan kebijakan publik. Jika tata krama dan hukum adat masih dominan dalam hal aturan main tata krama kemasyarkatan, inovasi dan perubahan kelembagaan dapat juga dilakukan melalui jalur yang semestinya. Perumusan kebijakan tanpa mengikutsertakan evaluasi (assessment) dan umpan balik dari bawah, hanya akan menimbulkan suatu sistem kekuasaan yang otoriter dan totaliter. Jika telah terlanjur menjadi sebuah kebijakan, maka kontrol terhadap pelaksanaan kebijakan publik oleh pejabat pemerintah harus jelas mekanisme politiknya. Hal ini, karena sumber-sumber ekonomi, kekuatan hukum dan politik yang terlibat merupakan domain publik yang harus diawasi (Karunia, 2009). Menurut Arifin dan Rahbini (2001), model hirarki kebijakan publik timbul dan berkembang dari suatu proposisi bahwa perubahan aransemen kelembagaan 37 sangat berhubungan dengan hakikat, model dan analisis kebijakan publik. Walaupun terdapat beberapa model kebijakan publik seperti model linier, melingkar dan sebagainya, model hirarki kebijakan sering dijadikan referensi dalam analisis ekonomi kelembagaan dan ekonomi politik secara umum. Model hirarki perumusan kebijakan mengenal tiga tingkatan, yaitu: (1) tingkatan politis (kebijakan); (2) tingkatan organisasi (institusi, aturan main); dan (3) tingkatan implementasi. Menentukan suatu kebijakan perikanan, seharusnya kebijakan tersebut harus memiliki data ilmiah. Keperluan data tersebut adalah untuk mencapai suatu kebijakan dan penegakan hukum yang efektif dalam pengelolaan sumberdaya perikanan. Selain itu, dukungan kebijakan dan penegakan hukum diperlukan untuk kesesuaian alat tangkap yang sesuai dengan kondisi perairan. Intinya adalah persyaratan data yang ilmiah akan menentukan arah kebijakan dan penegakan hukum yang efektif dalam pengelolaan sumberdaya perikanan (Nwosu, 2011). Kebijakan minapolitan sebagai konsep pemerintah dalam pengembangan perikanan bukan merupakan hal yang baru. Ide konsep minapolitan merupakan adopsi dari konsep agropolitan yang mengangkat taraf hidup petani Gorontalo ketika menjadi gubernur di daerah tersebut dengan entri point jagung. Agropolitan adalah kota pertanian yang tumbuh dan berkembangnya sistim dan usaha agribisnis yang dapat dapat melayani, mendorong, menarik kegiatan pembangunan pertanian. Menurut Suwandi (2004), model pembangunan dapat diintegrasikan melalui sistem dan usaha agribisnis secara simultan dan mendukung peningkatan produksi, mendukung tumbuhnya industri agro-processing skala kecil dan menengah dan mendukung kemudahan dalam pemasaran hasil. Segala aktivitas pengembangan harus diintegrasikan terutama untuk membangun keterkaitan antara kawasan yang menjadi sentra produksi, sentra pengolahan, sentra pemasaran hasil, serta penyediaan infrastuktur yang dibutuhkan di kawasan tersebut. Pengembangan kawasan tersebut merupakan pembangunan ekonomi berbasis ekonomi daerah yang dirancang dan dilaksanakan dengan jalan mensinergikan berbagai potensi yang ada untuk mendorong berkembangnya 38 sistem dan usaha berdaya saing, berbasis kerakyatan, berkelanjutan, terdesentralisasi, dan digerakkan oleh masyarakat serta difasilitasi oleh pemerintah. Kementerian Kelautan dan Perikanan (2010), minapolitan terdiri dari mina artinya ikan dan politan yang artinya kota, jadi minapolitan didefinisikan sebagai kota perikanan. Ciri kawasan minapolitan yaitu sebagian besar masyarakat memperoleh pendapatan dari kegiatan minabisnis dan kegiatan di kawasan tersebut didominasi oleh perikanan. Persyaratan kawasan minapolitan yaitu : (1) memiliki lahan atau perairan yang sesuai untuk pengembangan komoditas perikanan, (2) memiliki sarana umum lainnya seperti ; transportasi, listrik, telekomunikasi, air bersih, dan lain-lain (3) memiliki berbagai sarana dan prasarana minabisnis. Kawasan minapolitan dicirikan sebagai berikut: (1) Perikananan merupakan sumber pendapatan utama masyarakat, (2) Kegiatan kawasan didominasi oleh kegiatan perikanan, (3) Hubungan interdependensi/timbal antar pusat dan hinterland-hinterland, (4) Kehidupan masyarakat di kawasan minapolitan mirip dengan suasana kota, karena keadaan sarana yang ada di kawasan minapolitan tidak jauh dengan yang di kota. Perencanaan minapolitan dilaksanakan secara bertahap baik jangka panjang, menengah maupun jangka pendek. Penetapan berdasarkan usulan masyarakat dan hasil studi kelayakan. Kebijakan pengembangan kawasan berdasarkan RUTR dan RTRW yang difasilitasi pelaksanaan program pengembangan kawasan minapolitan sharing pembiayaan program akan dibahas bersama antara pemerintah pusat, provinsi dan pemerintah daerah (Departemen Kelautan dan Perikanan 2010). Minapolitan merupakan konsep pembangunan kelautan dan perikanan berbasis wilayah. Untuk itu, pendekatan dalam pembanguan minapolitan dilakukan dengan sistem manajemen kawasan dengan prinsip integrasi, efisiensi, kualitas dan akselerasi. Dalam membangun kawasan minapolitan, perlu diambil langkah-langkah strategis dalam rangka terciptanya kesejahteraan nelayan, pembudidaya dan pengolah ikan. Adapun langkah-langkah yang diambil adalah; 39 (1) penguatan ekonomi masyarakat kelautan dan perikanan skala kecil, (2) penguatan usaha menengah dan atas (UMA), serta (3) pengembangan ekonomi kelautan dan perikanan berbasis wilayah dengan sistem manajemen kawasan. Persyaratan dalam konsep minapolitan menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan (2011) adalah sebagai berikut: (1) Kesesuaian dengan rencana strategis yaitu; rencana tata ruang wilayah (RTRW), rencana zonasi pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau (RZWP3K), rencana pengembangan investasi jangka menengah daerah (RPIJMD), (2) Memiliki komoditas unggulan dengan nilai ekonomi tinggi, (3) Letak geografis kawasan yang strategis dan secara alami memenuhi persyaratan produk unggulan, (4) Terdapat unit produksi, pengolahan, pemasaran, permodalan dan jaringan usaha yang aktif berproduksi, mengolah dan memasarkan yang terkosentrasi disuatu wilayah dan mempunyai mata rantai produksi dan pemasaran yang saling terkait, (5) Tersedianya fasilitas pendukung berupa aksesibilitas terhadap pasar, sarana dan prasarana produksi pengolahan, dan pemasaran, keberadaan lembaga-lembaga usaha dan fasilitas penyuluhan, (6) Aspek kelayakan lingkungan yang meliputi daya dukung dan daya tampung lingkungan, potensi dampak negatif di lokasi dimasa depan, (7) Komitmen daerah, berupa kontribusi pembiayaan, personil, dan fasilitas pengelolaan dan pengembangan, (8) Keberadaan kelembagaan pemerintah daerah yang bertanggungjawab dibidang kelautan dan perikanan, (9) Ketersediaan data dan informasi penunjang tentang kondisi dan potensi kawasan. Apabila persyaratan-persyaratan tersebut terpenuhi, maka kebijakan strategis menjadikan kawasan minapolitan sebagai kawasan ekonomi yang terdiri dari sentra-sentra produksi dan perdagangan komoditas kelautan dan perikanan, yang dapat meningkatkan pendapatan nelayan, pembudidaya dan pengolah ikan. Pada akhirnya, peningkatan pendapatan tersebut dapat meningkatkan 40 kesejahterakan masyarakat kelautan dan perikanan. Adanya komitmen daerah dalam mengembangkan kawasan minapolitan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi daerah, yang pada akhirnya dapat mensejahterakan masyarakat disekitarnya (Muhamad, 2010). Persyaratan dalam konsep minapolitan yang di adopsi dari konsep agropolitan menurut Maringi (2009) sebagi berikut : (1) Memiliki lahan yang didukung oleh sumberdaya alam (seperti lahan budidaya dan perairan laut) yang memadai dan telah memiliki komoditi unggulan yang sesuai budaya lokal, (2) Tersedianya pasar untuk memasarkan hasil produksi, (3) Dukungan lembaga keuangan baik lembaga keuangan pemerintah maupun lembaga keuangan swasta, (4) Balai penyuluhan perikanan sebagai klinik konsultasi (tempat agribisnis, sumber informasi, dan pusat pemberdayaan dan usaha agribisnis, (5) Percobaan/pengkajian teknologi (termasuk inovasi teknologi tepat guna untuk meningkatkan hasil produksi maupun pengolahan hasil), (6) Memiliki sarana dan prasarana penunjang agribisnis, (7) Memiliki sarana dan prasarana umum (listrik, telepon, dan sebagainya), (8) Memiliki sarana dan prasarana kesejahteraan sosial, (9) Menjamin kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup, sosial budaya dan keharmonisan hubungan kota dan desa. Ditinjau dari aspek tata ruang, maka struktur hierarki sistem kota-kota agropolitan terdiri dari tiga yaitu : orde yang paling tinggi, orde kedua dan orde ketiga. Orde yang paling tinggi yaitu kota menjadi outlet, dalam lingkup wilayah skala besar yang berfungsi sebagai : (1) Kota perdagangan yang berorientasi ekspor ke luar daerah (nasional dan internasional) dan bila berada di tepi pantai maka kota ini memiliki pelabuhan samudra, (2) Pusat berbagai kegiatan final manufacturing industri (packing), stok pergudangan dan perdagangan bursa komoditas, (3) Pusat berbagai kegiatan tertier agribisnis, jasa perdagangan, asuransi pertanian/perikanan, perbankan dan keuangan, (4) Pusat berbagai pelayanan (general agro industri sevices). 41 Orde kedua (kota utama atau agropolis) yang berfugsi sebagai : (1) Pusat perdagangan wilayah yang ditandai dengan adanya pasar-pasar grosir dan pergudangan komoditas sejenis, (2) Pusat kegiatan agroindustri berupa pengolahan produksi menjadi produk lain atau produk setengah jadi, (3) Pusat pelayanan industri khusus, seperti pendidikan, pelatihan dan pengembangan komoditas unggulan. Orde ketiga (kawasan yang menjadi sentra produksi) yang berfungsi sebagai : (1) Pusat perdagangan lokal yang ditandai adanya pasar harian, (2) Pusat koleksi komoditas yang dihasilkan sebagai bahan mentah industri, (3) Pusat penelitian, pembibitan dan percontohan komoditas, (4) Pusat pemenuhan pelayanan kebutuhan pemukiman, (5) Koperasi dan informasi pasar barang perdagangan, (6) Pusat produksi komoditas unggulan yang dapat dipasok dari beberapa desa-desa di sekitarnya. Komoditas ungulan dalam konsep minapolitan merupakan jenis pilihan komoditas yang diusahakan oleh daerah setempat yang memiliki sifat-sifat keunggulan. Sifat keunggulan tersebut seperti : (1) segi ekologi pengusahaan komoditas dapat memenuhi kebutuhan hidup masyarakat dimasa sekarang tanpa merugikan generasi yang akan datang, (2) segi ekonomi penguasahaan komoditas yang diusahakan menguntungkan secara finansial dengan jangkauan pasar yang luas dan permintaan yang tinggi, (3) segi sosial penguasaan komoditas didukung oleh dengan adanya partisipasi masyarakat maupun pemerintah, (4) segi kelembagaan komuditas yang diusahakan didukung oleh kebijakan maupun sumberdaya lainnya. Konsep atau model ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan menyerap tenaga kerja dari sektor perikanan dan kelautan serta memberikan solusi yang tepat untuk menjawab berbagai permasalahan kesenjangan antara desa dan kota, yang akhirnya dapat mencegah urbanisasi dari desa ke kota. Sasaran dari pusat-pusat pertumbuhan (kota) di wilayah terdapat enam kategori yaitu : (1) melindungi ruang terbuka hijau/konservasi dan sumberdaya alam, (2) mengoptimalkan penggunaan lahan, (3) mengurangi dan mengefisienkan 42 pembiayaan pembangunan infrastruktur, (4) mendorong sinergisitas hubungan kota dan desa, serta (5) memastikan transisi penggunaan lahan pedesaan menuju perkotaan berjalan secara alamiah dan terarah (Cho, 2006). Terdapat beberapa faktor bagi para perencana (planner) dalam melakukan pusat pertumbuhan di suatu daerah, seperti faktor tekanan pertumbuhan (growth pressures), kekuatan defleksi (potential deflection), dan kekuatan fiskal (fiscal strength). Ketiga faktor tersebut merupakan faktor utama dalam menentukan pertumbuhan suatu kota. Faktor ini mempunyai kekuatan mendeterminasi masa depan sebuah pusat pertumbuhan di suatu wilayah. Apabila secara legalitas mempunyai kekuatan hukum, sehingga tidak rentan terhadap perubahan kondisi lingkungan sekitarnya. Faktor berikutnya adalah kepemilikan lahan, faktor ini tidak mudah diintervensi oleh kebijakan dan regulasi karena status yang umumnya jangka panjang. Terakhir adalah estimasi kapasitas institusi terkait untuk keberlanjutan suatu batas pusat pertumbuhan di suatu wilayah (Avin and Bayer, 2006). Dinamika kegiatan pertumbuhan di suatu wilayah khususnya perkotaan, biasanya merupakan kondisi yang dapat meningkatkan pertumbuhan pada wilayah-wilah disekitarnya. Apabila tidak terkendali, maka kegiatan di perkotaan tersebut akan dapat menjadi hambatan dalam pengembangan potensi wilayah. Terhambatnya pertumbuhan kependudukan, ekonomi, sebagai dan berkesinambungan di wilayahnya. penggerak peningkatan pengembangan sosial, kesejahteraan secara Hal ini, karena adanya urban dari daerah sekitar kota yang tidak siap untuk mengembangkan kota. (Canales, 1999). Healey (2004) menjelaskan tentang new strategic spatial planning in Europe, suatu bahasan pengelolaan ruang yang optimal dalam jurnal internasional Urban and Regional Research. Ada beberapa alasan perlunya langkah operasional rencana pengembangan kawasan, tetapi kenyataannnya masih sulit untuk dilaksanakan dan bahkan menjadi perdebatan para planners Eropa. Alasannya masih diperlukan adanya arahan kebijakan dan strategi dalam pelaksanaan pembangunan, antara lain karena masih ada permasalahan pada pengkoordinasian kebijakan khususnya dengan pemerintah lokal dalam mencari cara bagaimana membuat wilayah kabupaten atau kota lebih ekonomis dan kompetitif dalam 43 mengembangkan kawasan. Konsep kebijakan dan strategi dalam pengembangan kawasan sering disebut perencanaan (kebijakan dan strategi) dalam penataan kawasan (strategic settlement planning). Model dan perencanaan kebijakan dan strategi pengembangan, telah mulai dikembangkan dibeberapa negara termasuk Indonesia khususnya untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan (2010), bahwa program pengembangan kawasan minapolitan adalah pembangunan ekonomi berbasis perikanan, yang dirancang dan dilaksanakan dengan jalan mensinergikan berbagai potensi yang ada untuk mendorong berkembangnya sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berbasis masyarakat dan difasilitasi oleh pemerintah. Minapolitan merupakan upaya percepatan pengembangan kelautan dan perikanan pada sentra-sentra produksi perikanan yang memiliki potensi untuk dikembangkan dengan tujuan: (1)Meningkatkan produksi perikanan, produktivitas usaha dan kualitas produk kelautan dan perikanan, (2)Meningkatkan pendapatan nelayan, pembudaya dan pengolah ikan yang adil dan merata, (3)Mengembangkan kawasan minapolitan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di daerah dan sentra-sentra produksi perikanan sebagai penggerak perekonomian rakyat. Selanjutnya dalam mencapai tujuan, maka pendekatan yang dilakukan untuk mencapai pengembangan kawasan minapolitan sebagai berikut: (1) Ekonomi kelautan dan perikanan berbasis wilayah, dimaksudkan untuk mendorong penerapan manajemen ekonomi, meningkatkan efesiansi dalam menggunakan sumberdaya sekaligus mengintegrasikan pemenuhan kebutuhan sarana produksi, proses produksi, pengolahan, pemasaran hasil dan pengelolaan lingkungan yang baik, (2) Kawasan ekonomi unggulan, diarahkan memacu pengembangan komoditas yang memiliki kriteria (a) bernilai ekonomis tinggi, (b) bersedianya teknologi, (c) permintaan pasar besar dan (d) dapat di kembangkan secara masal, 44 (3) Sentra produksi, dimana minapolitan berada dalam kawasan pemasok hasil perikanan yang dapat memberikan kontribusi besar terhadap mata pencaharian dan kesejahteraan masyarakat. Seluruh sentra produksi kelautan dan perikanan menerapkan teknologi inovatif dengan kemasan dan mutu terjamin, (4) Unit usaha, dimana seluruh unit usaha dilakukan dengan menggunakan prinsip bisnis secara profesional dan berkembang dalam satu kemitraan usaha yang saling memperkuat dan menghidupi, (5) Penyuluhan, diarahkan pada penguatan kelembagaan dan pengembangan kawasan. Penyuluh akan berperan sebagai fasilitator dan pendamping program. Lintas sektor, bahwa pengembangan minapolitan dengan dukungan dan kerjasama berbagai instansi terkait untuk mendukung program antara lain penyediaan sarana dan prasarana penunjang program, tata ruang wilayah, penyediaan air bersih, BBM serta akses lain. Pengembangan wilayah yang dihuni oleh nelayan atau kawasan pesisir merupakan wilayah yang bersifat dinamis dan merupakan tantangan bagi perencanaan wilayah dengan tingkat ketidakpastian dan dinamika yang tinggi. Lingkungan kelautan masih sedikit dimengerti, jika dibandingkan dengan wilayah darat. Perlu pendekatan yang terencana dalam mengembangkan wilayah di pesisir, selanjutnya dibutuhkan komunikasi yang baik antara berbagai stakeholder untuk bersama-sama bekerja dan berpikir dalam mengembangkan wilayah (Stead dan McGlashan, 2006). Pendekatan pengelolaan suatu wilayah akan lebih efektif, apabila terdapat pihak-pihak yang pro aktif untuk mengelola sumberdaya sesuai dengan kaidahkaidah pengelolaan yang lestari dengan dukungan pemerintah dan masyarakat nelayan secara bersama. Bila terdapat kejanggalan dalam pemanfaatan sumberdaya, maka secepatnya mencari solusi guna pemecahan masalah (Fletcher dan Pike, 2007) Pengembangan wilayah kawasan di daerah pesisir salah satu tujuannya adalah pemberdayaan masyarakat atau nelayan yang kurang beruntung atau dalam kategori masyarakat miskin. Pemberdayaan masyarakat diarahkan pada 45 pemanfaatan sumberdaya yang ada di sekitarnya dengan dukungan peningkatan sumberdaya nelayan, pematangan dalam berorganisasi dan manajemen dalam berwirausaha. Dalam mengembangkan suatu wilayah, khususnya wilayah pesisir, perlu mengkombinasikan partisipasi masyarakat atau nelayan serta dukungan pemerintah, lembaga non pemerintah, akademisi, atau institusi lainnya yang terkait dalam kemajuan pengembangan wilayah di daerah pesisir (White, 2005). Pengembangan kawasan dengan memanfaatkan potensinya perlu menetapkan bentuk kebutuhan ruang sumber daya alam dan lahan yang optimal. Hal ini, untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan, serta bagaimana mengatasi ketidakseimbangan akses distribusi penduduk lokal dalam berinteraksi dengan wilayah pusat pertumbuhan (perkotaan). Untuk itu, perlu menetapkan kriteria dalam kebijakan dan strateginya, yaitu (1) skala pengelolaan, (2) posisi kota dan wilayahnya, (3) regionalisasi, (4) kelayakan, (5) konsep pengembangan, dan (6) bentuk-bentuk representasi hubungan integrasi fungsional. Semua kriteria ini, selanjutnya dijabarkan dalam langkah kebijakan dan strategi untuk mengoperasionalkan perspektif pengembangan ruang kawasan. 2.6 Analisis Manfaat dan Kelayakan Investasi Investasi adalah usaha menanamkan faktor-faktor produksi langka dalam proyek tertentu, baik yang bersifat baru sama sekali atau perluasan proyek. Tujuan utamanya adalah untuk memperoleh manfaat keuangan dan atau non keuangan yang layak dikemudian hari. Investasi dapat dilakukan oleh orang perorang, perusahaan swasta, maupun badan-badan pemerintah (Sutojo, 1995). Pada prinsipnya analisis investasi dapat dilakukan dengan dua pendekatan, tergantung pihak yang berkepentingan langsung dalam suatu proyek, yaitu : (1) Analisis finansial, dilakukan apabila yang berkepentingan langsung dalam proyek adalah individu atau kelompok individu yang bertindak sebagai investor dalam proyek. Dalam hal ini, maka kelayakan proyek dilihat dari besarnya manfaat bersih tambahan yang diterima investor tersebut, (2) Analisis ekonomi, dilakukan apabila yang berkepentingan langsung dalam proyek adalah pemerintah atau masyarakat secara keseluruhan. Dalam hal ini, maka kelayakan proyek dilihat dari besarnya manfaat bersih tambahan yang diterima oleh masyarakat. 46 Husnan (1994), mengatakan bahwa banyak manfaat yang dimaksud dengan kelayakan proyek adalah penelitian tentang dapat tidaknya suatu proyek yang biasanya merupakan proyek investasi, jika dilaksanakan dengan berhasil. Selanjutnya dijelaskan pada umumnya suatu studi kelayakan proyek akan menyangkut tiga aspek, yaitu : (1) Manfaat ekonomis proyek tersebut bagi proyek itu sendiri (sering juga disebut sebagai manfaat finansial). Ekonomis berarti apakah proyek itu dipandang cukup menguntungkan apabila dibandingkan dengan resiko proyek tersebut, (2) Manfaat ekonomis proyek tersebut bagi negara tempat proyek itu dilakukan (sering juga disebut manfaat ekonomi nasional) yang menunjukkan manfaat proyek tersebut bagi ekonomi makro suatu negara, (3) Manfaat sosial proyek tersebut bagi masyarakat sekitar proyek. Dalam analisis ekonomi yang diperhatikan adalah hasil total, atau produktivitas atau keuntungan yang di dapat dari semua sumber yang dipakai dalam proyek untuk masyarakat atau perekonomian sebagai keseluruhan, tanpa melihat pihak mana yang menyediakan sumber-sumber tersebut dan pihak mana dalam masyarakat yang menerima hasil dari pada proyek tersebut. Setiap usulan investasi selalu mempunyai resiko. Semakin tinggi resiko suatu investasi, maka semakin tinggi tingkat keuntungan yang diminta para pemilik modal. Hubungan yang positif antara resiko dan tingkat keuntungan dipertimbangkan dalam penilaian investasi. Bagi para pengambil keputusan, yang penting adalah mengarahkan penggunaan sumber-sumber yang langka kepada proyek-proyek yang dapat memberikan hasil yang paling banyak untuk perekonomian sebagai keseluruhan, artinya yang menghasilkan social returns atau economic returns yang paling tinggi. Dalam rangka mencari suatu ukuran menyeluruh tentang baik tidaknya suatu proyek telah di kembangkan beberapa indeks. Indeks-indeks tersebut adalah investment criteria. Hakekat dari semua kriteria tersebut adalah mengukur hubungan antara manfaat dan biaya dari proyek. Setiap kriteria mempunyai kelemahan dan kelebihan, sehingga dalam menilai kelayakan proyek sering 47 digunakan lebih dari satu kriteria. Dari beberapa kriteria yang ada, tiga diantaranya adalah (1) Net Present Value (NPV), (2) Net Benefit-Cost ratio (Net B/C), (3) Internal Rate of Return (IRR) Ketiga kriteria tersebut digunakan untuk menentukan diterima tidaknya suatu usulan proyek dengan tingkat keuntungan masing-masing. Melihat manfaat finansial ekonomi dari pengembangan usaha perikanan tangkap, maka dilakukan studi kelayakan investasi yang ditanamkan. Dalam rangka mencari ukuran menyeluruh tentang manfaat investasi, maka digunakan kriteria investasi yang dinyatakan dengan indeks. Indeks-indeks tersebut sebagai kriteria investasi, setiap indeks menggunakan nilai kini (present value) yang telah di diskont dari setiap arus manfaat dan biaya selama umur suatu usaha atau investasi. Penilaian atas suatu investasi dilakukan dengan membandingkan semua penerimaan yang diperoleh akibat investasi tersebut dengan semua pengeluaran yang harus dikorbankan selama proses investasi dilakukan. Baik penerimaan maupun pengeluaran dinyatakan dalam bentuk uang agar dapat dibandingkan dan harus dihitung pada waktu yang sama. Dalam analisa ini akan dikembalikan pada nilai kini (present value). Karena baik penerimaan maupun pengeluaran berjalan bertahap, maka terjadi arus pengeluaran dan penerimaan yang dinyatakan dalam bentuk arus tunai (cash flow). 2.7 Analisis SEM (Structural Equation Modelling) Analisis SEM (Structural Equation Modelling) atau model persamaan struktural adalah teknik analisis multivariat yang dapat menguji hubungan antar variabel yang kompleks untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai keseluruhan model (Ghazali dan Fuad, 2005). Langkah pertama dalam pengembangan SEM adalah pencarian sebuah model yang mempunyai justifikasi teoritis. Untuk pengembangan model teoritis, harus dilakukan kajian deduksi teori dan eksplorasi ilmiah dari telaah sejumlah pustaka maupun hasil penelitian empiris terdahulu untuk memperkuat pembenaran hubungan kausalitas variabel yang diasumsikan dalam model. Tanpa pertimbangan teori yang kuat maka SEM tidak dapat digunakan. Hal ini disebabkan karena SEM tidak digunakanuntuk menghasilkan sebuah model, 48 melainkan digunakan untuk mengkomfirmasi model teoritis tersebut melalui data empirik (Ferdinand 2006). Keyakinan untuk mengajukan sebuah model kausalitas dengan menganggap adanya hubungan sebab akibat antara dua variabel atau lebih, bukan didasarkan pada metode analisis yang digunakan, tetapi haruslah berdasarkan pada pertimbangan teoritis yang mapan (Hair et.al 2006). Umumnya analisis SEM digunakan dalam penelitian prilaku manusia dan dapat dikelompokan sebagai analisis faktor dan regresi atau analisis jalur. SEM dapat juga menguji model secara bersama-sama, baik model structural (hubungan/nilai loading antara konstruk independen dan dependen), maupun model meansurement (hubungan/nilai loading antara indikator dengan konstruk/variabel laten). Analisis SEM yang digunakan dalam penelitian yaitu menggunakan piranti lunak (software) Liser (Linier Structural Relation) dan AMOS (Analisis of Moment Structural). Sedangkan piranti lunak yang biasa digunakan untuk mengolah data model SEM adalah PRELIS dan SIMPLIS. Tahapan analisis yang dilakukan dalam analisis SEM adalah : (1) Konseptualisasi pengembangan model, hipotesis yaitu proses berdasarkan yang teori berhubungan sebagai dasar dengan dalam menghubungkan variabel laten (variabel yang tidak dapat di ukur secara langsung dan memerlukan beberapa indikator sebagai proksi) dengan variabel laten lainnya, dan juga dengan indikator-indikatornya. Variabel laten dalam SEM terdiri dari variabel eksogen yaitu variabel independen sehingga tidak dipengaruhi oleh variabel lain dalam suatu model. Konseptualisasi model merupakan gambaran persepsi tentang hubungan variabel eksogen dan variabel endogen berdasarkan teori, dan mereflesikan pengukuran variabel melalui berbagai indikator yang diukur. Dalam penelitian ini diklasifikasi variabel endogen atau variabel eksogen di tentukan oleh program (software). (2) Penyususnan diagram alur, yaitu diagram yang memvisualisasikan hipotesis yang telah dibangun dalam konseptualisasi model. Manfaat penyusunan diagram ini adalah untuk memudahkan pembahasan langkah-langkah SEM berikutnya, 49 (3) Spesifikasi, yaitu menggambarkan sifat dan jumlah parameter yang diestimasi, (4) Identifikasi model, dalam tahap ini yang diperoleh dari data yang diuji untuk menentukan apakah cukup untuk mengestimasi parameter dari data yang diperoleh, (5) Estimasi parameter, setelah model struktur dapat diidentifikasi, maka estimasi parameter dapat diketahui. Pada tahap ini, estimasi parameter untuk suatu model diperoleh dari data, karena program LISREL maupun AMOS akan menghasilkan matriks kovarians berdasarkan model (model-based covariance matrix). Uji signifikansi dilakukan dengan menentukan apakah parameter yang dihasilkan secara signifikan berbeda dari nol, (6) Penilaian model fit, artinya suatu model dikatakan fit apabila kovarians matriks suatu model (model-based covariance matrix) adalah sama dengan koverian matriks data (observed covariance matrix), (7) Modifikasi model dilakukan setelah penilaian model fit, maka akan diketahui apakah diperlukan modifikasi model karena tidak fitnya hasil yang diperoleh pada tahap keenam. Namun, modifikasi harus berdasarkan teori yang mendukung dan tidak dilakukan hanya semata-mata untuk mencapai model yang fit, (8) Validasi silang model, guna menguji fit tidaknya model terhadap suatu data baru. Validasi silang penting apabila terdapat modifikasi yang substansial yang dilakukan terhadap model asli yang dilakukan pada langkah ke tujuh. Prosedur Structural Equation Model (SEM) memberikan kesempatan peneliti untuk mengevaluasi parameter-parameter struktural secara statistik dari berbagai indikator dan konstruk laten dan keseluruhan menjadi fit dari suatu model. Ukuran-ukuran yang bersifat psikometrik dari berbagai sumber laporan (seperti laporan responden dan penilaian pengamat atau observer) dan pengukuran-pengukuran tidak bebas (laporan diri sendiri atau self report) dan laporan dari orang lain (others) dapat digunakan dalam metode SEM. Untuk menganalisis pengaruh faktor-faktor terhadap suatu peubah laten apakah pengaruhnya langsung (direct effect) atau pengaruh tidak langsung (indirect effect), maka total pengaruh (total effect) harus diuraikan melalui dekomposisi 50 total efek (decomposition effect) yaitu dengan rumus total effect = direct effect+indirect effect. Analisis SEM terdiri dari tiga hal yang penting, 1) struktur yang spesifik antara peubah laten eksogen dan endogen harus sudah terstruktur (sudah dapat dihipotesiskan atau menggunakan pendekatan confirmatory), 2) harus sudah ditetapkan bagaimana untuk mengukur peubah laten ensogen, dan 3) pengukuran model untuk peubah laten endogen harus sudah dideterminasikan. Fenomena yang bersifat abstrak akan menjadi kajian yang biasanya disebut peubah laten. Oleh karena itu, secara operasional peubah laten harus dikaitkan dengan peubah lainnya yang bersifat abserved. Untuk menjelaskan kaitan analisis SEM seperti pada Gambar 2 1 X1 λ1 Ksi 1 (ξ1) 1 Y1 2 X2 λ2 Eta 1 (ŋ1) 3 X3 λ3 2 Y2 Ksi 1 (ξ2) 4 X1 λ4 Gambar 2 Struktur SEM (Structural Equation Modelling). Pada Gambar 2, yang berbentuk segi empat berisi peubah manifest atau observed variable atau yang disimbolkan dengan X untuk peubah bebas dan Y untuk peubah terkait. Lambang berbentuk oval berisi peubah laten atu peubah konstruk yang disimbolkan dengan Ksi ξ u tuk peubah late X peubah eksoge dan Eta η u tuk peubah late Y peubah endogen). Besarnya pengaruh/relasi/hubugan dari peubah manifest terhadap peubah laten disebut factor loading yang diberi symbol lamda λ . Sedangkan galat pengukuran pada peubah manifest untuk peubah X disimbolkan delta Y diberi epsilon da galat pengukuran pada peubah manifest untuk peubah laten . Si bol gamma erupaka para eter atau koefesie pe garuh eksogen terhadap peubah endogen. Maksud dari mengukur sampel adalah mengukur indikasi (indicant) tentang sifat-sifat atau ciri-ciri obyek pengamatan, karena tidak mungkin dilakukan penilaian langsung terhadap obyek yang diamati, terutama obyek penelitian dibidang ilmu sosial. Karena itu, yang harus dilakukan adalah menginterferensikan sifat-sifat atau ciri-ciri obyek pengamatan berdasarkan halhal yang diduga merupakan indikasi sifat-sifat obyek pengamatan tersebut (Kerlinger, 2002). 51 Ukuran sampel memegang peranan dalam mengestimasi dan interpretasi hasil analisis SEM (Structural Equation Modelling). Menurut Kusnendi (2008) mengatakan bahwa ukuran sampel yang sesuai adalah antara 100-200, bila ukuran sampel menjadi lebih besar, misalnya 500 sampel. Maka metode ini menjadi sangat sensitif yang berdampak pada sulitnya mendapatkan ukuran-ukuran Goodness of Fit yang baik. 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan selama 12 (dua belas) bulan, dari bulan Oktober 2010 sampai September 2011. Tahapan penelitian dimulai dari penyusunan rencana penelitian, survei pendahuluan, pengumpulan data, pengolahan data dan analisis data serta penyusunan disertasi. Lokasi penelitian di Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo (Lampiran 1). 3.2 Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei lapangan dengan mencari data dan informasi langsung dari lokasi penelitian mengenai pengembangan perikanan tangkap, termasuk kebijakan minapolitan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara. 3.3 Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh secara langsung dari nelayan dan stakeholder terkait melalui wawancara langsung dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah disusun terlebih dahulu. Wawancara dengan responden ditentukan secara langsung (purposive sampling) yang terkait dalam pengembangan perikanan tangkap termasuk kebijakan minapolitan perikanan tangkap yang terdiri dari: nelayan sebanyak 100 orang, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Ketua BAPPEDA, serta kepala lembaga keuangan yang menunjang pengembangan perikanan tangkap. Pengumpulan data sekunder diperoleh dari Dinas Kelautan dan Perikanan, Badan Perencanaan dan Pengembangan Daerah (BAPPEDA) dan Biro Pusat Statistik (BPS). Data yang dikumpulkan mencakup kondisi geografi dan administrasi wilayah, keadaan nelayan, pemasaran hasil tangkapan, data hasil tangkapan ikan, alat tangkap, keadaan sarana dan prasarana penunjang perikanan, serta implementasi kebijakan pemerintah dalam pengembangan perikanan tangkap. Data sekunder lain yang merupakan pendukung penelitian diperoleh melalui studi pustaka yang relevan dari berbagai instansi terkait. 54 3.4 Analisis Data 3.4.1 Kesesuaian kebijakan program minapolitan Pemerintah telah menetapkan Kabupaten Gorontalo Utara sebagai salah satu pilot project kebijakan minapolitan perikanan tangkap di Indonesia. Namun demikian, penentuan pilot project ini perlu dikaji terlebih dahulu untuk mengetahui kesesuaian kebijakan tersebut agar pelaksanaanya efektif. Analisis kesesuaian program minapolitan didasarkan pada pedoman kebijakan minapolitan yang diterbitkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2011. Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2011 bahwa daerah yang menjadi kawasan minapolitan memiliki persyaratan sebagai berikut : (1) kesesuaian dengan rencana strategis yaitu; rencana tata ruang wilayah (RTRW), rencana zonasi pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau (RZWP3K), rencana pengembangan investasi jangka menengah daerah (RPIJMD), (2) memiliki komoditas unggulan dengan nilai ekonomi tinggi, (3) letak geografis kawasan yang strategis dan secara alami memenuhi persyaratan produk unggulan, (4) terdapat unit produksi, pengolahan, pemasaran, permodalan dan jaringan usaha yang aktif berproduksi, mengolah dan memasarkan yang terkosentrasi di suatu wilayah dan mempunyai mata rantai produksi dan pemasaran yang saling terkait, (5) tersedianya fasilitas pendukung berupa aksesibilitas terhadap pasar, sarana dan prasarana produksi pengolahan, dan pemasaran, keberadaan lembaga-lembaga usaha dan fasilitas penyuluhan, (6) aspek kelayakan lingkungan yang meliputi daya dukung dan daya tampung lingkungan, potensi dampak negatif pada lokasi dimasa depan, (7) komitmen daerah, berupa kontribusi pembiayaan, personil, dan fasilitas pengelolaan dan pengembangan, (8) keberadaan kelembagaan pemerintah daerah yang bertanggungjawab dibidang kelautan dan perikanan, (9) ketersediaan data dan informasi penunjang tentang kondisi dan potensi kawasan. Terpenuhi tidaknya persyaratan minapolitan tersebut bagi suatu kawasan dianalisis secara deskriptif berdasarkan data dan informasi yang diperoleh selama penelitian. Hasil evaluasi ditampilkan dalam bentuk tabulasi. 55 3.4.2 Hasil tangkapan per upaya penangkapan (CPUE) Penghitungan CPUE bertujuan untuk mengetahui laju tangkap upaya penangkapan ikan yang didasarkan atas pembagian total hasil tangkapan (catch) dengan upaya penangkapan (effort). Rumus yang digunakan berdasarkan Gulland (1983) adalah sebagai berikut : CPUE = Keterangan : C = hasil tangkapan (ton) F = upaya penangkapan (trip) CPUE = hasil tangkapan per upaya penangkapan (ton/trip) Sumberdaya ikan yang di analisis meliputi jenis ikan yang dominan tertangkap di perairan Kabupaten Gorontalo Utara yaitu ikan layang, cakalang, tembang, teri, tuna, lemuru, selar, kembung, tongkol, kuwe, dan kerapu. 3.4.3 Standardisasi alat tangkap Menurut Gulland (1983) jika terdapat berbagai jenis alat tangkap yang dipergunakan untuk memanfaatkan spesies ikan tertentu di suatu wilayah perairan, maka salah satunya dapat dianggap sebagai alat tangkap yang standar, sedangkan alat tangkap lainnya distandardisasi terhadap alat tangkap tersebut. Jenis alat tangkap yang menjadi standar memiliki nilai laju tangkapan rata-rata (hasil tangkapan per unit upaya penangkapan) terbesar atau merupakan jenis alat tangkap yang paling dominan dipergunakan di suatu kawasan perairan. Tujuan dari standardisasi alat tangkap adalah untuk meyeragamkan upaya penangkapan, karena setiap alat tangkap memiliki daya tangkap yang berbeda-beda. Langkah pertama dalam standardisasi yaitu menentukan nilai CPUE terbesar dari masing-masing alat tangkap dan nilai CPUE terbesar tersebut dijadikan sebagai alat tangkap standar. Upaya penangkapan dinyatakan sebagai jumlah seluruh satuan perkalian antara kemampuan penangkapan (fishing power) setiap tahun dengan satuan waktu penangkapan atau dengan jumlah satuan operasi. Indeks kemampuan penangkapan atau Fishing Power Indeks (FPI) dari jenis alat tangkap standar memiliki nilai 1,0 dan untuk jenis alat tangkap lainya memiliki nilai FPI antara 56 0,0–1,0 dihitung dengan cara membagi CPUE alat tangkap tersebut dengan CPUE alat tangkap standar. Nilai FPI ini kemudian digunakan untuk mencari upaya standar (standard efffort), yaitu mengalikan nilai FPI dengan upaya penangkapan tersebut. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut : CPUEs = ; CPUEi = ; FPIs = FPIs = fStandar = dimana : Cstandar = hasil tangkapan (catch) alat tangkap standar, fstandar = upaya penangkapan (effort) alat standar, Ci = hasil tangkapan tahun ke-i jenis alat tangkap lain, CPUEstandar = hasil tangkapan per upaya penangkapan alat tangkap standar, CPUEi = hasil tangkapan per upaya penangkapan tahun ke-i jenis alat tangkap lain, FPIs = fishing power indeks alat tangkap standar, dan FPIi = fishing power indeks jenis alat tangkap lain. 3.4.4 Surplus produksi Model surplus produksi melalui pendekatan model Schaefer adalah salah satu model yang didasarkan pada kepercayaan bahwa salah satu model tersebut paling rasional dan mendekati keadaan sebenarnya atau paling sesuai dengan data yang ada. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai R2 atau koefisien determinasi. Menurut Sudjana (1988) koefisien determinasi adalah nilai yang menyatakan besarnya perubahan variabel y karena peubah variabel x. Nilai R2 dinyatakan dalam persen (%). Model yang memiliki nilai R2 terbesar adalah model yang sesuai digunakan dalam menganalisis data. Hal ini, disebabkan karena peubah x berpengaruh besar terhadap peubah y. Secara umum langkah-langkah pengolahan data dalam metode surplus produksi adalah sebagai berikut : 57 (1) Membuat tabulasi hasil tangkapan (catch = C) beserta upaya penangkapan (effort = f), kemudian dihitung nilai hasil tangkapan per satuan upaya penangkapan (CPUE = Catch Per Unit Effort). (2) Jika terdapat berbagai macam alat tangkap yang digunakan, maka dilakukan standardisasi alat tangkap. Alat tangkap dominan dijadikan standar, sedangkan alat tangkap lain dikonversikan dalam alat tangkap standar. (3) Memplotkan nilai f terhadap nilai c/f dan menduga nilai intercept (a) dan slope (b) dengan regresi linier (model Schaefer), (4) Menghitung pendugaan potensi lestari (Maximum Sustainable Yield = MSY) dan upaya optimum (effort optimum = fopt). Besarnya parameter a dan b secara matematik dapat dicari dengan menggunakan persamann regresi sederhana dengan rumus Y = a - bx. Selanjutnya, parameter a dan b dapat dicari dngan rumus : , Dimana : Xi = Upaya penangkapan pada periode-i Yi = Hasil tangkapan per satuan upaya pada periode-i Rumus-rumus untuk mencari potensi lestari (MSY) hanya berlaku bila parameter b bernilai negatif, artinya penambahan upaya penangkapan akan menyebabkan penurunan CPUE. Bila dalam perhitungan diperoleh nilai b positif, maka perhitungan potensi dan upaya penangkapan optimum tidak dilanjutkan, akan tetapi hanya dapat disimpulkan bahwa penambahan upaya penangkapan masih memungkinkan untuk meningkatkan hasil tangkapan. Perhitungan nilai potensi lestari (MSY) dan upaya optimum (fopt) dengan menggunakan rumus Schaefer atau fox adalah sebagai berikut : Model persamaan Schaefer dapat ditulis : CPUE = a - bf Hubungan antara c dan f adalah : C = af - b(f)2 58 Nilai potensi lestari adalah : MSY = Nilai upaya optimum adalah : Asumsi yang digunakan dalam model surplus produksi adalah : (1) Stok ikan dianggap sebagai unit tunggal tanpa memperhatikan struktur populasinya, (2) Penyebaran ikan pada setiap periode dalam wilayah perairan dianggap merata, (3) Stok ikan dalam keadaan seimbang (steady state) dan (4) Masing-masing unit penangkapan ikan memiliki kemampuan yang sama. 3.4.5 Tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan Untuk menduga tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan dipergunakan rumus sebagai berikut : El = Keterangan : El = tingkat pemanfaatan (exploitation level) Ci = jumlah hasil tangkapan ikan pada tahun ke-I, MSY = maximum sustainable yild (potensi lestari) 3.4.6 Tingkat pengusahaan sumberdaya ikan Untuk menduga tingkat pengusahaan sumberdaya ikan dipergunakan rumus sebagai berikut : Fe = Fe = tingkat pengusahaan (fishing effort level) fi = upaya penangkapan tahun ke-i Fopt = maximum sustainable yild (potensi lestari) 59 3.4.7 Kelayakan unit penangkapan ikan Pendekatan ekonomi ditekankan pada analisis finansial dari unit penangkapan ikan purse seine, pancing tuna, bagan perahu, bubu, pancing ulur, payang, sero dan gillnet. Suatu investasi dapat dinilai dengan membandingkan semua penerimaan yang diperoleh dari investasi tersebut dengan total pengeluaran yang harus dikeluarkan selama proses investasi dilaksanakan. Baik penerimaan maupun pengeluaran dinyatakan dalam bentuk uang agar dapat dibandingkan dan harus dihitung dalam jangka waktu yang sama. Karena baik penerimaan maupun pengeluaran berjalan bertahap, sehingga terjadi arus pengeluaran dan penerimaan yang dinyatakan dalam bentuk tunai (cash flow). Kriteria-kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut : 1) Net Presen Value (NPV), kriteria ini digunakan untuk menilai manfaat investasi yang merupakan jumlah nilai dari manfaat bersih dan dinyatakan dalam rupiah. Rumus persamaan tersebut dinyatakan sebagai berikut : Bt  Ct  t t 1 1  i  n NPV   Dimana : Bt = Benefit kotor pada tahun t Ct = Cost kotor pada tahun t n = Umur ekonomis dari pada proyek i = discount rate t = periode Bila NPV > 0 berarti investasi dinyatakan menguntungkan dan merupakan tanda „go‟ untuk suatu proyek tersebut layak, sedangkan apabila NPV < 0 maka investasi dinyatakan tidak menguntungkan yang berarti proyek tersebut tidak layak untuk dilaksanakan. Pada keadaan ini NPV = 0, maka investasi pada proyek tersebut hanya mengembalikan manfaat yang posisi sama dengan tingkat social opportunity cost of capital. 2) Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C), kriteria ini merupakan perbandingan dimana sebagai pembilang terdiri atas nilai total dari manfaat bersih yang bersifat positif, sedangkan sebagai penyebut terdiri atas present value total 60 yang bernilai negatif atau pada keadaan biaya kotor lebih besar dari manfaat kotor. Persamaan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut : n Bt  Ct   1  i  B NetB / C  C  B   1  i  B t t 0 t  Ct   0 t  Ct   0 n t t 1 t t Dari persamaan tersebut tampak bahwa nilai Net B/C, paling sedikit ada satu nilai Bt – Ct yang bernilai positif. Jika Net B/C memberikan nilai > 1, maka keadaan tersebut menunjukkan bahwa NPV > 0. Apabila Net B/C > 1 merupakan tanda layak untuk sesuatu proyek, sedangkan bila Net B/C < 0 merupakan tanda tidak layak untuk sesuatu proyek. 3) Internal Rate of Return (IRR), IRR dapat juga dianggap sebagai tingkat keuntungan atas investasi bersih dalam suatu proyek. Setiap benefit bersih yang diwujutkan secara otomatis ditanam kembali dalam tahun berikutnya dan mendapatkan tingkat keuntungan yang diberi bunga selama sisa umur proyek. Dengan demikian IRR dapat dirumuskan sebagai berikut :   NPV1 i2  i1  IRR  i1    NPV1  NPV 2  Proyek dikatakan “layak” bila IRR > dari tingkat bunga berlaku. Dengan demikian, bila IRR ternyata sama dengan tingkat bunga yang berlaku, maka NPV dari proyek tersebut sama dengan nol. Jika IRR < dari tingkat bunga yang berlaku, maka berarti bahwa nilai NPV < 0, berarti proyek tidak layak. 3.4.8 Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan perikanan tangkap Analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan SEM (structural equation model). Data yang dimasukan dalam analisis ini adalah data primer yang dikumpulkan dari responden dan diolah secara kuantitatif, ditabulasi, dan selanjutnya diolah menggunakan model persamaan SEM. Persamaan SEM, variabel endogen laten (Y) dipengaruhi oleh variabel eksogen laten (X). Penggunaan analisis SEM bukan untuk menghasilkan teori, tetapi menguji model yang mempunyai pijakan-pijakan teori yang benar dan baik. Berdasarkan pemikiran ini, maka interpretasi dari model dapat diterima atau ditolak. Apabila 61 model tersebut belum baik, perlu diadakan modifikasi. Dalam penggunaan indeks modifikasi model, syaratnya adalah terdapat justifikasi teoritis yang kuat untuk memodifikasi model. Faktor-faktor yang akan dianalisis dalam pengembangan perikanan tangkap sebagai berikut; variabel Y terdiri atas pengembangan unit penangkapan ikan (Y1) dan sasaran pengembangan (Y2). Sedangkan variabel X terdiri dari: produksi ikan (X1), unit alat tangkap (X2), sarana dan prasarana (X3), aspek sosial (X4), keamanan, kepastian hukun dan pengawasan (X5) aspek ekonomi (X6). Setiap variabel dipengaruhi oleh interaksi dengan komponen lain yang secara rinci dapat dijelaskan: produksi ikan X1 dipengaruhi oleh : musim (X1.1), jarak antara daerah fishing ground dan fishing base (X1.2) zona penangkapan ikan (X1.3), unit penangkapan ikan X2, dipengaruhi oleh : efektifitas menangkap ikan (X2.1), kemudahan pengoperasian alat tangkap (X2.2), kemudahan perbaikan alat tangkap (X2.3), ramah lingkungan (X2.4), keamanan hasil tangkapan (X2.5), sarana dan prasarana X3 dipengaruhi oleh: TPI dan pelabuhan perikanan (X3.1), penyediaan es (X3.2), tempat penampungan ikan (X3.3), sarana informasi (X3.4), tempat pengolah ikan (X3.5), bengkel (X3.6), BBM (X3.7), kedai nelayan (X3.8), aspek sosial nelayan X4 dipengaruhi oleh : tingkat kepercayaan (X4.1), kemampuan berkelompok/berorganisasi (X4.2), kecintaan terhadap pekerjaan (X4.3), tenaga kerja (X4.4), keamanan, kepastian hukum dan pengawasan X5 dipengaruhi oleh: kepastian hukum (X5.1), keamanan(X5.2), pengawasan (X5.3), aspek ekonomi X6 dipengaruhi oleh: pasar (X6.1), kemitraan (X6.2), dukungan modal (X6.3), kestabilan harga ikan (X6.4), kemudahan perizinan (X6.5), pengembangan unit penangkapan ikan (Y1) dipengaruhi oleh: purse seine (Y1.1), pancing ikan tuna (Y1.2), bagan perahu (Y1.3), bubu (Y1.4), pancing ulur (Y1.5), payang (Y1.6) sero, (Y1.7) gillnet (Y1.8), Sasaran pengembangan Y2 dipengaruhi oleh: menciptakan pertumbuhan ekonomi di daerah (Y2.1), peningkatan produksi hasil tangkapan (Y2.2), menjamin mutu hasil tangkapan ikan (Y2.3). Analisis ditujukan untuk melihat terjadinya interaksi antara komponen dan mengetahui interaksi mana yang berpengaruh dalam pengembangan perikanan tangkap. Gambaran interaksi antara komponen-komponen tersebut diilustrasikan pada Gambar 3. 62 Produksi Ikan (X1) 1. Musim 2.Jarak antara FB ke FG 3. Zona penangkapan Unit Penangkapan Ikan (X2) 1. Efektifitas menangkap ikan 2. Kemudahan pengoperasian 3. Kemudahan Perbaikan 4. Ramah lingkungan 5. Keamanan hasil tangkapan untuk dikonsumsi Sarana dan Prasarana (X3) 1. TPI dan Pelabuhan perikanan 2. ES 3. Tempat penampungan 4. Sarana informasi 5. Tempat pengolah ikan 6. Bengkel 7. BBM 8. Kedai nelayan Pengembangan Unit Perikanan Tangkap (Y1) 1. Purse seine 2. Pancing ikan tuna 3.Bagan perahu 4. Bubu 5. Pancing ulur 6. Payang 7. Sero 8.Gillnet Aspek Sosial (X4) 1. Tingkat kepercayaan 2. Kemampuan berkelompok 3. Pencintaan terhadap pekerjaan 4. Tenaga kerja Sasaran Pengembangan (Y2) 1. Menciptakan pertumbuhan ekonomi di daerah 2. Meningkatkan produksi hasil tangkapan 3. Menjamin mutu hasil tangkapan Keamanan, Kepastian Hukum dan Pengawasan (X5) 1. Kepastian hukum 2. Keamanan 3. Pengawasan Aspek Ekonomi (X6) 1. Pasar 2. Kemitraan 3.Dukugan modal 4. Kestabilan harga 5. Kemudahan perizinan Keterangan: Pengaruh langsung INPUT Pengaruh tidak PROSES langsung Gambar 3 Alur hubungan antar variabel pengembangan perikanan tangkap 63 Berdasarkan penjelasan alur hubungan antar variabel pada pengembangan perikanan tangkap, maka data yang dikumpulkan sebagai berikut: 1) Produksi ikan X1 meliputi (i) Musim (X1.1) diukur berdasarkan pengaruh musim terhadap produksi. (ii) Jarak, (X1.2), diukur berdasarkan pengaruh jarak antara fishing ground dan fishing base terhadap produksi, (iii) Zona penangkapan ikan (X1.3), diukur berdasarkan pengaruh adanya zona penangkapan ikan terhadap produksi. 2) Unit alat tangkap X2 meliputi; (i) Efektifitas menangkap ikan (X2.1), diukur berdasarkan efektifitas alat tangkap dalam menangkap ikan target, (ii) Kemudahan pengoperasian (X2.2), diukur berdasarkan kemudahan dalam pengoperasian alat tangkap, (iii) Kemudahan perbaikan (X2.3), diukur berdasarkan kemudahan dalam memperbaiki alat tangkap, (iv) Ramah lingkungan (X2.4), diukur berdasarkan tingkat keramahan alat tangkap terhadap lingkungan, (v) Keamanan hasil tangkapan (X2.5), diukur berdasarkan tingkat keamanan ikan yang akan di konsumsi terhadap penggunaan alat tangkap. 3) Sarana dan prasarana X3 meliputi; (i) TPI dan pelabuhan perikanan (X3.1), diukur berdasarkan adanya TPI dan pelabuhan perikanan di kawasan pengembangan perikanan tangkap, (ii) Es (X3.2), diukur berdasarkan adanya ketersediaan es di kawasan pengembangan perikanan tangkap, (iii) Tempat penampungan ikan (X3.3), diukur berdasarkan adanya tempat penampungan ikan di kawasan pengembangan perikanan tangkap, (iv) Sarana informasi (X3.4), diukur berdasarkan adanya sarana informasi di kawasan pengembangan perikanan tangkap, (v) Tempat pengolah ikan (X3.5), diukur berdasarkan adanya pelabuhan perikanan di kawasan pengembangan perikanan tangkap, (vi) Bengkel (X3.6), diukur berdasarkan adanya bengkel di kawasan pengembangan perikanan tangkap, 64 (vii) BBM (X3.7), diukur berdasarkan adanya ketersediaan BBM di kawasan pengembangan perikanan tangkap, (viii) Kedai nelayan (X3.8), diukur berdasarkan adanya kedai nelayan di kawasan pengembangan perikanan tangkap. 4) Aspek sosial nelayan X4 yang meliputi; (i) Tingkat kepercayaan (X4.1), diukur dari besarnya tingkat kepercayaan sesama nelayan maupun nelayan kepada pemerintah, (ii) Kemampuan berkelompok/berorganisasi (X4.2), diukur berdasarkan kemampuan dalam memahami peran sebagai anggota atau nelayan dalam komunitas atau berkelompok, (iii) Kecintaan terhadap pekerjaan (X4.3), diukur berdasarkan tingkat keinginan menekuni pekerjaan sebagai nelayan, (iv) Tenaga kerja (X4.4), diukur berdasarkan apakah dalam pengembangan perikanan tangkap dapat menyerap tenaga kerja. 5) Keamanan, kepastian hukum dan pengawasan X5 meliputi; (i) Kepastian hukum (X5.1), diukur berdasarkan tingkat adanya kepastian hukum di kawasan pengembangan perikanan tangkap. (ii) Keamanan (X5.2), diukur berdasarkan tingkat keamanan di kawasan pengembangan perikanan tangkap, (iii) Pengawasan (X5.3), diukur adanya pengawasan terhadap pengelolaan perikanan di kawasan pengembangan perikanan tangkap, 6) Aspek ekonomi X6 meliputi ; (i) Pasar (X6.1) diukur berdasarkan tersedianya pasar yang menampung produksi, baik pasar lokal maupun pasar eksport, (ii) Kemitraan (X6.2), diukur berdasarkan adanya kemitraan nelayan dengan pelaku ekonomi perikanan, (iii) Dukungan modal (X6.3), diukur dari adanya dukungan modal oleh pemerintah maupun swasta dalam mengembangkan usaha perikanan, (iv) Kestabilan harga ikan (X6.4), diukur berdasarkan jaminan harga dan harga dasar ikan, (v) Kemudahan perizinan (X6.5), diukur berdasarkan kemudahan dalam perizinan melakukan usaha perikanan. 65 7) Pengembangan unit penangkapan ikan (Y1), meliputi ; (i) Purse seine (Y1.1), diukur berdasarkan bahwa purse seine merupakan unit penangkapan ikan yang layak dikembangkan dalam mendukung pengembangan perikanan tangkap, (ii) Pancing ikan tuna (Y1.2), diukur berdasarkan bahwa pancing ikan tuna merupakan unit penangkapan ikan yang layak dikembangkan dalam mendukung pengembangan perikanan tangkap, (iii) Bagan perahu (Y1.3), diukur berdasarkan bahwa bagan perahu merupakan unit penangkapan ikan yang layak dikembangkan dalam mendukung pengembangan perikanan tangkap, (iv) Bubu (Y1.4), diukur berdasarkan bahwa bubu merupakan unit penangkapan ikan yang layak dikembangkan dalam mendukung pengembangan perikanan tangkap, (v) Pancing ulur (Y1.5), diukur berdasarkan bahwa pancing ulur merupakan unit penangkapan ikan yang layak dikembangkan dalam mendukung pengembangan perikanan tangkap, (vi) Payang (Y1.6), diukur berdasarkan bahwa payang merupakan unit penangkapan ikan yang layak dikembangkan dalam mendukung pengembangan perikanan tangkap, (vii) Sero (Y1.7), diukur berdasarkan bahwa sero merupakan unit penangkapan ikan yang layak dikembangkan dalam mendukung pengembangan perikanan tangkap, (viii) Gillnet (Y1.8), diukur berdasarkan bahwa gillnet merupakan unit penangkapan ikan yang layak dikembangkan dalam mendukung pengembangan perikanan tangkap, 8) Sasaran pengembangan Y2 meliputi ; (i) Menciptakan pertumbuhan ekonomi di daerah (Y2.1), diukur berdasarkan adanya kemampuan menjadikan pusat pertumbuhan ekonomi di daerah Kabupaten Gorontalo Utara melalui pengembangan perikanan tangkap, (ii) Peningkatan produksi hasil tangkapan (Y2.2), diukur berdasarkan adanya kemampuan dalam meningkatkan produksi hasil tangkapan ikan melalui pengembangan perikanan tangkap, 66 (iii) Menjamin mutu hasil tangkapan (Y2.3), diukur berdasarkan adanya kemampuan menjamin mutu hasil tangkapan ikan sesuai dengan permintaan konsumen melalui pengembangan perikanan tangkap. Setelah data tentang analisis faktor-faktor pengembangan perikanan tangkap diperoleh, maka proses selanjutnya adalah menyusun kontruksi persamaan eksegen peubah laten dan persamaan model struktural sebagai berikut : 1) Kontruksi persamaan eksogen peubah laten meliputi:  Pengukuran peubah produksi ikan terdiri dari: : X1.1 = λ1X1 + 1 Jarak : X1.2 = λ2X1 + 2 Zona penangkapan : X1.3 = λ3X1 + 3 Musim  Pegukuran peubah unit alat tangkap terdiri dari : Efektifitas menangkap ikan : X2.1 = λ4X2 + 4 Kemudahan pengoperasian : X2.2 = λ5X2 + 5 Kemudahan perbaikan : X2.3 = λ6X2 + 6 Ramah lingkungan : X2.4 = λ7X2 + 7 Keamanan hasil tangkapan : X2.5 = λ8X2 + 8  Pengukuran peubah sarana dan prasarana terdiri dari : TPI dan Pelabuhan perikanan : X3.1 = λ9X3 + Tempat penampungan ikan : X3.2 = λ10X3 + 10 Es : X3.3 = λ11X3 + 11 Sarana informasi : X3.4 = λ12X3+ 12 Tempat pengolah ikan : X3.5 = λ13X3 + 13 Bengkel : X3.6 = λ14X3 + 14 BBM : X3.7 = λ15 X3+ 15 Kedai nelayan : X3.8 = λ16X3 + 16 9  Pengukuran peubah aspek sosial terdiri dari : Tingkat kepercayaan : X4.1 = λ17X4 + 17 Berkelompok/berorganisasi : X4.2 = λ18X4 + 18 Kecintaan pada pekerjaan : X4.3 = λ19X4 + 19 Tenaga kerja : X4.4 = λ20X4 + 20 67  Pengukuran peubah keamanan, kepastian hukum dan pengawasan : Kepastian hukum : X5.1 = λ21X5 + 21 Keamanan : X5.2 = λ22X5 + 22 Pengawasan : X5.3 = λ23X5 + 23  Pengukuran peubah ekonomi terdiri dari: Pasar : X6.1 = λ24X6 + 24 Kemitraan : X6.2 = λ24X6 + 25 Dukungan modal : X6.3 = λ24X6 + 26 Kestabilan harga ikan : X6.4 = λ24X6 + 27 Kemudahan perizinan : X6.5 = λ24X6 + 28  Pengukuran peubah pengembangan unit penangkapan ikan : Purse seine : Y1.1 = λ25Y1 + 1 Pancing ikan tuna : Y1.2 = λ26Y1 + 2 Bagan perahu : Y1.3 = λ27Y1 + 3 Bubu : Y1.4 = λ28Y1 + 4 Pancing ulur : Y1.5 = λ29Y1 + 5 Payang : Y1.6 = λ30Y1 + 6 Sero : Y1.7 = λ31Y1 + 7 Gillnet : Y1.8 = λ32Y1 + 8  Pengukuran peubah sasaran pengembangan terdiri dari : Pertumbuhan ekonomi : Y2.1 = λ33Y2 + 9 Peningkatan produksi : Y2.2 = λ34Y2 + 10 Mutu hasil tangkapan : Y2.3 = λ35Y2 + 11 2). Persamaan model struktural (i) Model pengembangan unit penangkapan ikan Y1 = 1 X1 + 2 X2 + 2 X2 + 3 X3 + 4 X4 + 5 X5 + 6 X6 + 1 (ii) Model sasaran pengembangan Y2= 7 X1 + 8 X2 + 9 X2 + 10 X3 + 11 X4 + 12 X5 + 13 X6+ Y1+ 2 68 Untuk menguji model pengembangan perikanan yang dianalisis, jika hipotesis H0: matriks kovariansi data sampel tidak berbeda dengan matriks kovariansi populasi yang diestimasi dan H1: matriks kovariansi data sampel berbeda dengan maktriks kovariansi populasi yang diestimasi. Selanjutnya model dikatakan fit jika nilai ρ-hitung ≥ 0,05 ; nilai RMSEA < 0,08 dan nilai CFI > 0,90. Selanjutnya adalah melihat faktor yang paling signifikan, yaitu bila nilai dari variabel (t-hitung > 1,96) pada α=0,05 (Kusnendi, 2008). 3.4.9 Rancangan model pengembangan perikanan tangkap Rancangan model pengembangan perikanan tangkap dianalisis dengan cara menyusun strategi pengembangan perikanan tangkap berdasarkan data hasil analisis potensi sumberdaya ikan melalui pendekatan model schaefer, kelayakan unit penangkapan berdasarkan analisis finansial (NPV, IRR dan Net B/C) dan faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan perikanan melalui pendekatan model SEM yang selanjutnya dilihat faktor yang signifikan terhadap pengembangan. 4 KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Kondisi Umum Wilayah Kabupeten Gorontalo Utara terletak di wilayah pantai utara Provinsi Gorontalo, dengan luas wilayah 1.676,15 km2 atau 47% luas dari kabupaten induk yaitu Kabupaten Gorontalo. Batas wilayah kabupaten Gorontalo Utara adalah : - Sebelah utara berbatasan dengan Laut Sulawesi, - Sebelah timur berbasan dengan Kabupaten Bolmong, Sulawesi Utara, - Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Gorontalo, Bone Bolango dan Boalemo, - Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Buol. Kabupaten Gorontalo Utara memiliki 5 wilayah kecamatan dan 56 desa. Luas masing-masing kecamatan meliputi; Kwandang 33.190 km2, Anggrek 17.492 km2, Sumalata 13.893 km2, Tolinggula 12.082 km2 dan Atinggola 16.733 km2. Wilayah kecamatan di Kabupaten Gorontalo Utara semuanya memiliki wilayah perairan laut, dan memiliki garis panjang pantai 198,00 km2 yang menjadi garis pantai terpanjang di Provinsi Gorontalo yang berhadapan dengan Samudera Pasifik. Kabupaten Gorontalo Utara memiliki perekonomian yang terdiversifikasi dalam beberapa sektor yaitu : Sektor pertanian dan perkebunan, sektor peternakan, serta sektor perikanan dan kelautan. Sektor perikanan dan kelautan dijadikan sektor unggulan, karena semua wilayah kecamatan di Kabupaten Gorontalo Utara memiliki daerah pesisir yang sangat potensial untuk dikembangkan. Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara memandang penting menyediakan sarana dan prasarana dalam membangun suatu daerah. Dalam menunjang pembangunan wilayah khususnya sumberdaya kelautan dan perikanan, maka jaringan perhubungan dan transportasi yang tersedia memungkinkan Kabupaten Gorontalo Utara berkembang mengikuti daerah-daerah lain di Provinsi Gorontalo. Pemerintah juga mendukung perekonomian daerah khususnya dalam hal meningkatkan interaksi dan jalur akses pasar antar pelaku ekonomi yang akhirnya dapat meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi daerah. 70 4.2 Kondisi Perikanan Tangkap Kondisi perikanan di Kabupaten Gorontalo Utara saat ini cukup menjanjikan. Sarana penunjang berupa pabrik es di Kecamatan Gentuma dengan kapasitas 7,5 ton/hari dan di Kecamatan Kwandang dengan kapasitas 10 ton/hari, serta didukung oleh kapal pengawas (speed boat) di Kwandang jumlah 1 unit. Sedangkan untuk TPI dan pelabuhan perikanan, Gorontalo Utara mempunyai 2 TPI dan 1 pelabuhan perikanan. 4.2.1 TPI dan PPI TPI Gentuma terletak di wilayah Gentuma kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara. TPI ini didirikan pada tahun 2004, dengan biaya pembangunan yang bersumber dari APBD oleh pemerintah dan pihak swasta. Pihak swasta memberikan kontribusi pada pembangunan pabrik es, sedangkan fasilitas TPI dan dermaga dibangun oleh pemerintah. Bangunan fisik TPI dan dermaga masih dalam kondisi baik. PPP Kwandang merupakan satu-satunya TPI yang berada di Provinsi Gorontalo yang telah menjadi Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP). PPP ini memiliki luas area sekitar 1,5 ha. Bangunan TPI sendiri memiliki panjang lantai lelang 100 m dan lebar 40 m. Pendapatan PPP Kwandang mencapai Rp. 2,000,000 perbulan. Pelabuhan perikanan pantai Kwandang kini sudah tidak lagi memakai sistem lelang. Sistem lelang dipakai hingga tahun 1997. Biaya retribusi yang dibebankan kepada nelayan sebesar 5% berdasarkan nilai hasil tangkapan. Fasilitas penunjang yang mendukung optimalisasi PPP Kwandang adalah pabrik es, balai pertemuan nelayan, dermaga, musholla, dan mes karyawan. 4.2.2 Nelayan Definisi Nelayan berdasarkan UU no 31 Tahun 2004 jonto UU no 45 Tahun 2009 tentang perikanan adalah orang yang matapencahariaanya melakukan penangkapan ikan. Nelayan merupakan salah satu potensi sumberdaya manusia yang berperan penting dalam menjalankan usaha perikanan tangkap. Potensi sumberdaya manusia (nelayan) yang dimiliki dapat bedakan berdasarkan pengetahuan, keterampilan dan sikap, terutama pengetahuan dan keterampilan 71 dalam pengoperasian alat tangkap serta sikap terhadap introduksi inovasi teknologi baru dalam upaya penangkapan ikan. Berdasarkan jam kerja, nelayan di Kabupaten Gorontalo Utara dapat dibagi menjadi tiga katagori yaitu nelayan penuh, nelayan sambilan utama dan nelayan sambilan tambahan. Jumlah nelayan Kabupaten Gorontalo Utara selama periode 2003-2010 di sajikan pada Tabel 1. Tabel 1 Jumlah nelayan Kabupaten Gorontalo Utara Nelayan (orang) Penuh Tahun Jumlah Sambilan utama Persentase (%) Jumlah Persentase (%) Sambilan tambahan Jumlah Total Persentase (%) 2003 9.432 62.36 3.177 21.00 2.516 16.63 15.125 2004 8.853 57.92 3.487 22.81 2.945 19.27 15.285 2005 8.871 57.74 3.536 23.01 2.958 19.25 15.365 2006 8.862 57.52 3.526 22.89 3..019 19.59 15.407 2007 9.007 57.14 3.616 22.94 3.140 19.92 15.763 2008 10.445 57.95 4.211 23.36 3.369 18.69 18.025 2009 10.461 57.35 4.232 23.20 3.548 19.45 18.241 2010 10.440 56.99 4.288 23.41 3.592 19.61 18.320 9546 58.12 3759 22.83 3136 Rata-rata Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara 19.05 16441 Nelayan Kabupaten Gorontalo Utara didominasi oleh nelayan katagori nelayan penuh, dimana seluruh hidupnya bermatapencaharian nelayan dan tidak mempunyai pekerjaan lain. Jumlah rata-rata selama periode 2003-2010 katagori nelayan penuh mencapai 58,12% atau 9546 jiwa dari total nelayan sebanyak 16441 jiwa, sedangkan nelayan sambilan utama sebesar 22,83% atau 3759 jiwa dan nelayan sambilan tambahan sebesar 19,05% atau 3.136 jiwa. Jika dibandingkan dengan seluruh jumlah penduduk Gorontalo Utara, pada tahun 2010 presentase nelayan mencapai 18,23% dari total penduduk Gorontalo Utara (100.468 jiwa). Presentase antara nelayan penuh, sambilan utama dan sambilan tambahan disajikan pada Gambar 4. 72 Gambar 4 Presentase jumlah nelayan. 4.2.3 Alat tangkap Alat tangkap yang digunakan dalam upaya penangkapan ikan oleh nelayan Kabupaten Gorontalo Utara terdiri dari delapan jenis alat tangkap yaitu meliputi purse seine, payang, pancing ulur, pancing tuna, bagan perahu, sero, bubu dan gillnet (Tabel 2). Tabel 2 Perkembangan jumlah alat tangkap dominan di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 20010 Jumlah alat tangkap menurut jenis (unit) Pancing Pancing Bagan Sero ulur tuna perahu Tahun Purse seine Payang 2003 121 93 3213 938 175 2004 109 93 2640 1613 2005 113 96 1952 2006 117 100 2007 114 100 2008 104 2009 Bubu Gillnet 215 73 530 188 41 90 743 1760 189 103 108 782 3294 1765 227 139 118 632 3344 3296 190 88 155 513 81 4682 4675 196 82 124 931 113 81 4854 4743 192 98 139 920 2010 116 81 5236 5296 197 110 157 1023 Rata-rata 113 91 3652 3011 194 110 121 759 Rata-rata pertumbuhan -0.39% -1.66% 11.13% 31.86% 2.21% 13.36% 12.71% 14.13% Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara 73 Sebagian besar nelayan Kabupaten Gorontalo Utara menggunakan alat tangkap pancing ulur dan pancing tuna dalam usaha pemanfaatan ikan. Jumlah rata-rata pancing ulur selama periode 2003-2010, berkisar antara 1952-5236 unit atau sebesar 46,25% dari total alat tangkap yang digunakan nelayan Kabupaten Gorontalo Utara. Selanjutnya, jumlah terbesar kedua adalah pancing tuna dimana selama periode 2003-2010, berkisar antara 938-5296 unit atau sebesar 35,00% dari total alat tangkap (Gambar 5) Rata-rata pertumbuhan jumlah alat tangkap secara umum memiliki kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun kecuali pada unit penangkapan purse seine dan payang. Pada kedua alat tangkap tersebut selama periode 20032010 cenderung berkurang jumlahnya dengan penurunan rata-rata sebesar 0,39% pada purse seine dan 1,66% pada payang. Gambar 5 Persentase rata-rata komposisi alat tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara. 4.2.3.1 Purse seine Pajeko merupakan nama lokal dari purse seine yang dioperasikan di perairan Kabupaten Gorontalo Utara (Gambar 6). Purse seine (pajeko) yang digunakan di Kabupaten Gorontalo Utara mempunyai panjang berkisar 200-450 m dan lebar 45-60 m. Kantong sebagai tempat berkumpulnya ikan terbuat dari bahan PA 210/D12 dan PA 210/D9 dengan ukuran mesh size 0,75 inci - 1 inci. Badan jaring terbuat dari bahan PA 210/D6, PA 210/D9 dan PA /210/D12 dengan 74 ukuran mesh size sebesar 1 inci. Bagian Sayap yang berfungsi sebagai pagar pada waktu penangkapan gerombolan ikan dan mencegah ikan keluar dari bagian kantong, terbuat dari bahan PA 210/D6, PA 210/D9 dan PA 210/D12 dengan ukuran mesh size 1,25 inci. Jaring yang berada pada pinggir badan jaring (selvedge) ini terbuat dari bahan PVA 380/D15 dengan ukuran mata jaring (mesh size) 1 inci yang terdiri dari 3 mata untuk arah ke bawah. Gambar 6 Bagian-bagian alat tangkap purse seine. Purse seine (pajeko) bagian atas terdiri dari tali ris atas (floatline) terbuat dari bahan PVA dengan panjang 410 m, dan diameter tali sebesar 14 mm, jumlah pelampung adalah 1.100 buah, dan jarak antar pelampung sekitar 15-20 cm. Pelampung berbentuk elips dengan panjang 12,7 cm dan diameter tengah 9,5 cm yang terbuat dari bahan sintetic rubber. Bagian bawah terdiri dari tali ris bawah (leadline) terbuat dari bahan PVA dengan diameter tali sebesar 14 mm yang memiliki panjang 470 m, pemberat pada purse seine (pajeko) mempunyai panjang 2,9 cm, berjumlah 2.200 buah dengan berat 100 gram perbuah mempunyai diameter tengah 2,8 cm yang terbuat dari bahan timah hitam, jarak antar pemberat berkisar 10 -15 cm. Tali pemberat pada soma pajeko terbuat dari bahan PVA berdiameter 12 mm. Jumlah cincin pada purse seine (pajeko) di Kabupaten Gorontalo Utara dalam satu unit rata-rata terdiri dari 50 - 70 buah. Cincin memiliki diameter luar 10 cm dan diameter dalam 6,6 cm. Cincin terbuat dari bahan kuningan dengan jarak antar cincin berkisar 75 antara 5 - 10 m. Purse line terbuat dari bahan PVA dengan diameter tali 20 mm yang memiliki panjang 700 m. Kapal yang digunakan berukuran panjang 15-17 meter dan lebar 3-4 meter, dengan tenaga penggerak menggunakan mesin mobil truk yang telah dimodivikasi. Umumnya mesin mobil yang digunakan untuk kapal atau pamo adalah mesin disel toyota PS 1500. 4.2.3.2 Payang Payang adalah termasuk alat tangkap yang sudah lama dikenal masyarakat nelayan Gorontalo yang disebut pajala (Gambar 7). Penyebaran alat tangkap payang di Provinsi Gorontalo hanya terdapat di perairan Laut Utara Sulawesi atau biasa di sebut wilayah pantai utara atau Gorontalo Utara. Gambar 7 Bagian-bagian alat tangkap payang. Kontruksi payang di Kabupaten Gorontalo Utara sama dengan bentuk payang pada umumnya yaitu panjang sayap 40 m dan lebar 20 m, kantong 20 m dengan lebar kantong 4 m. Ukuran jaring pada kantong terdiri dari tiga ukuran yaitu bagian belakang dengan ukuran mata jaring 1 cm panjang 8 m, bagian tengah ukuran mata jaring 1.5 cm panjang 8 m, dan kantong bagian depan ukuran mata jaring 3 cm panjang 4 m, sedangkan sayap payang mempunyai ukuran mata jaring 20 cm dengan panjang 40 m. Pemberat terdiri dari 10 buah dengan berat perbuah 1 kg. 76 Pengoperasiannya payang menggunakan alat bantu penangkapan yaitu rumpon sebagai alat pengumpul ikan. Ukuran kapal yang digunakan relatif kecil, terbuat dari kayu dan menggunakan mesin dalam berkekuatan 24 PK, panjang perahu 11 m, lebar 125 cm. Jumlah trip per bulan mencapai 20 hari dengan jumlah ABK 3 hingga 5 orang, ikan hasil tangkapan dominan terdiri dari layang, kembung, cakalang, tongkol dan selar. 4.2.3.3 Pancing ulur Pancing ulur digunakan untuk menangkap ikan pelagis kecil seperti kembung, tembang, atau ikan demersal yang hidup di sekitar karang seperti kerapu, sunu dan lain-lain. Pancing ulur terdiri dari roller, tali utama (main line), tali cabang (branch line), mata pancing (hook), kili-kili (swivel) dan pemberat (Gambar 8). Gambar 8 Bagian-bagian alat tangkap pancing ulur. 77 Roller atau penggulung senar (tali) biasanya terbuat dari kayu atau kaleng bekas dengan diameter 20-40 cm. Tali utama terbuat dari PA monofilament dengan nomor 100 dan panjang 150 m, tali cabang (branch line) terbuat dari monofilamen dengan nomor 50 dengan panjang tali cabang 15 cm dengan jarak 40 cm. Mata pancing yang digunakan terbuat dari tembaga dengan nomor 17-18. Swivel digunakan untuk menyambung tali utama dengan tali cabang, agar tidak terjadi kekusutan pada saat pancing berada di dalam perairan. Pemberat yang digunakan terbuat dari besi, dengan berat sebesar 100-250 gram. Perahu yang digunakan untuk memancing yaitu perahu jukung atau perahu kayu yang dilengkapi cadik. Panjang perahu 5 – 7 meter dan lebar 0.8–100 cm dan tenaga penggerak yang digunakan adalah mesin tempel 5.5 PK. 4.2.3.4 Pancing tuna Pancing tuna merupakan pancing tangan yang dikhususkan untuk menangkap ikan tuna (Gambar 7). Pancing adalah salah satu alat tangkap yang dikenal oleh masyarakat luas, utamanya dikalangan nelayan. Pancing pada prinsipnya terdiri dari dua komponen utama, yaitu tali (line) dan mata pancing (hook). Gambar 9 Bagian-bagian alat tagkap pancing tuna. 78 Tali pancing biasanya terbuat dari bahan nylon monofilament. Keuntungan dari jenis tali pancing jenis nylon monofilament yaitu kuat, tahan lama dan tidak busuk dalam air. Sedangkan untuk mata pancing umumnya terbuat dari baja atau bahan yang anti karat dan mempunyai berkait balik nomor 7 dan 9. Panjang tali pancing bervariasi antara 200 m sampai 300 m, dan ukuran tali pancing bernomor 500. Pemberat berbentuk kerucut dengan diameter 4 cm, tinggi 6 cm dan berat 500 gram. Kapal yang digunakan terbuat dari kayu dengan panjang 10-15 m, lebar 3 m tinggi 1.5 - 2 m. Kapal ini telah dilengkapi oleh palka untuk menyimpan ikan tuna dengan panjang 2 m, lebar 1.20 m tinggi 1.10 yang berkapasitas kurang lebih 1 ton. 4.2.3.5 Bagan perahu Bagan perahu merupakan alat tangkap yang berasal dari daerah Sulawesi Selatan yang diperkenalkan kepada nelayan-nelayan di Gorontalo (Gambar 8). Komponen bagan perahu di Gorontalo Utara sama dengan bagan pada umumnya yang terdiri dari jaring bagan, perahu dan rumah bagan. Gambar 10 Bagian-bagian alat tangkap bagan perahu (Sumber: Sudirman dan Mallwa, 2003). 79 Bagan perahu di Gorontalo Utara, saat ini masih berskala tradisional. Hal ini, dilihat dari ukuran yang relatif kecil, pengoperasian masih dilakukan secara manual, alat bantu pengumpul ikan berupa lampu listrik 1.500 kw. Dipelataran bagan terdapat alat penggulung (roller) yang berfungsi untuk mengangkat jaring bagan pada saat dioperasikan dengan menggunakan tenaga manusia untuk memutar (roller). Kontruksi bagan perahu berbentuk empat persegi pajang, jaring atau waring yang digunakan dipasang pada bingkai berukuran 12 x 12 meter persegi. Ukuran mata jaring 0,3 hingga 0,5 cm dan tidak bersimpul, sebab dengan jaring tanpa simpul akan memudahkan pengoperasian, peningkatan efektifitas serta daya tahan jaring. Perahu yang digunakan berukuran panjang 7 m hingga 10 m tergantung ukuran bingkai yang diinginkan oleh nelayan, mesin sebagai tenaga penggerak adalah mesin dalam 24 PK dan kapal terbuat dari kayu. Jenis ikan hasil tangkapan didominasi oleh ikan teri dengan jumlah trip per bulan mencapai 15-20 trip. 4.2.3.6 Sero Unit penangkapan sero di daerah Gorontalo Utara umunmya terbuat dari kombinasi antara jaring dan bambu yang disusun menyerupai pagar (Gambar 9), yang terdiri dari : (1) Penaju (leader net) Penaju merupakan bagian penting dari sero, berfungsi menghambat pergerakan ikan dan mengarahkan ke bagian jaring tempat ikan yang tertangkap terkumpul. Penaju terdiri atas tiang-tiang yang dipancangkan, jarak antar tiang sekitar 1,50 meter. Panjang penaju bervariasi pada ukuran sero berkisar antara 20-50 meter, (2) Serambi (trap net) Serabi adalah bagian yang berfungsi sebagai tempat berkumpulnya ikan untuk sementara waktu sebelum memasuki kantong. Pada bagian ini ikan dikondisikan agar peluang untuk masuk ke dalam kantong menjadi lebih besar. Serambi berbentuk kerucut lebih efektif karena peluang memasuki kantong bagi ikan menjadi lebih besar dengan tinggi 1,5-2 meter dan ukuran mata jaring 0,5 cm, 80 (3) Kantong (cribe) Kantong berguna untuk mengumpulkan ikan yang telah masuk ke dalam alat tangkap. Ukuran kantong harus cukup besar, agar mampu menjamin hasil tangkapan tetap hidup dan mengurangi keluarnya ikan yang sudah berada di dalam. Pada bagian inilah dilakukan pengambilan hasil tangkapan. Tinggi jaring 2-3 meter dengan ukuran mata jaring 0,5 cm, (4) Pintu (enterance) Pintu adalah tempat masuknya ikan setelah diarahkan oleh penaju. Pada bagian ini biasanya terdapat sepasang sayap (wings) yang berfungsi untuk mempercepat jalannya ikan masuk ke dalam serambi dengan tinggi jaring 1,5-2 meter dengan ukuran mata jaring 0,5 cm. Gambar 11 Bagian-bagian alat tangkap sero Sumber: Sudirman dan Malllawa, 2003). 81 Perahu yang digunakan dalam kegiatan penangkapan ikan untuk sero sama dengan perahu yang digunakan untuk pancing ulur dan perahu bubu yaitu perahu jukung atau perahu kayu dan dilengkapi dengan cadik. Panjang perahu 5-7 meter dan lebar 0.8–100 cm dan tenaga penggerak yang digunakan berupa mesin tempel 5.5 PK. 4.2.3.7 Bubu Bubu di Kabupaten Gorontalo umumnya berbentuk segi empat dan terbuat dari bahan anyaman bambu (Gambar 10). Konstruksi bubu dibuat sedemikian rupa hingga ikan yang masuk kedalamnya tidak dapat melarikan diri. Ukuran panjang bubu 2-3 meter, tinggi 1,5 meter dan lebar 2 meter dengan ukuran mata anyaman 1 cm. Gambar 12 Alat tangkap bubu. Perahu yang digunakan sama dengan perahu yang digunakan untuk pancing ulur dan perahu ke sero yaitu perahu jukung atau perahu kayu dan dilengkapi dengan cadik. Panjang perahu 5–7 meter dan lebar 0.8–100 cm dengan mesin penggerak yang digunakan adalah mesin tempel 5.5 PK. 82 4.2.3.8 Gillnet Jaring insang (gillnet) yang umumnya beroperasi di perairan Gorontalo Utara adalah jaring insang permukaan yang terbuat dari bahan nylon multifilament (Gambar 11). Ukuran mata jaring yang digunakan adalah 3,5 dan 4 inci dengan nomor nylon 15-18. Jumlah piece dalam satu badan jaring mencapai 10 piece sampai 25 piece dengan panjang satu piece 49,5 meter dan tinggi rata-rata 16.5 meter. Pelampung yang digunakan berbahan plastik berdiameter 5 cm dengan jarak antar pelampung 30 cm. Pemberat yang digunakan terbuat dari timah dengan berat 250 gram dengan jarak 1 meter. Kapal atau perahu yang digunakan relatif kecil dengan nama lain lokal pete-pete, terbuat dari kayu dan menggunakan mesin dalam berkekuatan 24 PK, panjang perahu 11 m, lebar 125 cm. Jumlah trip per bulan mencapai 20-25 hari tergantung kondisi perairan dengan jumlah ABK 3 hingga 5 orang. Ikan yang dominan tertangkap adalah ikan layang, kembung, selar, cakalang, dan tongkol. Gambar 13 Bagian-bagian alat tangkap gillnet. 5 HASIL 5.1 Evaluasi Pengembangan Perikanan Tangkap Melalui Kebijakan Minapolitan Pemerintah telah menetapkan Kabupaten Gorontalo Utara sebagai salah satu pilot project kebijakan minapolitan perikanan tangkap di Indonesia. Namun demikian, penentuan pilot project ini perlu dikaji terlebih dahulu untuk mengetahui kesesuaian kebijakan tersebut agar pelaksanaanya efektif. Hasil evaluasi sederhana, terhadap persyaratan kebijakan minapolitan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara yang didasarkan pada pedoman kebijakan program minapolitan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2011 terlihat bahwa, dari sembilan persyaratan kebijakan minapolitan, hanya ada satu kriteria yang dipenuhi, yaitu aspek kelayakan lingkungan (Tabel 3). Tabel 3 Hasil evaluasi persyaratan minapolitan di Kabupaten Gorontalo Utara No Persyaratan minapolitan Status Hasil evaluasi Keterangan Kesesuaian Rencana Strategis, rencana tata ruang wilayah (RTRW), rencana zonasi pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau (RZWP3K), rencana pengembangan investasi jangka menengah daerah (RPIJMD). Tidak memenuhi persyaratan Tidak ada rencana tata ruang wilayah, rencana zonasi pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau, serta rencana pengembangan investasi jangka menengah daerah yang telah ditetapkan di Kabupaten Gorontalo Utara. 2 Memiliki komoditas unggulan dengan nilai ekonomi tinggi. Tidak memenuhi persyaratan Tidak ada komuditas unggulan dengan nilai ekonomi tinggi yang di tetapkan sebagai komuditas unggulan 3 Letak geografis kawasan yang strategis dan secara alami memenuhi persyaratan produk unggulan. Tidak memenuhi persyaratan Walaupun memiliki perairan laut sulawesi dan ZEE yang bisa mendukung produk unggulan, tetapi tidak memiliki produk unggulan 84 Lanjutan Tabel 3 No Persyaratan minapolitan Hasil evaluasi Keterangan Status 4 Terdapat unit produksi, pengolahan, pemasaran, permodalan dan jaringan usaha yang aktif berproduksi, mengolah dan memasarkan yang terkosentrasi di suatu dan mempunyai mata rantai produksi dan pemasaran yang saling terkait. Tidak memenuhi persyaratan Unit produksi (unit penangkapan ikan) masih kurang, tidak terdapat tempat pengolahan lembaga permodalan 6 Aspek kelayakan lingkungan : daya dukung dan daya tampung lingkungan, potensi dampak negatif dilokasi dimasa depan. Memenuhi persyaratan Layak dari segi lingkungan, sedangkan untuk potensi dampak negatif seperti aktivitas penangkapan menggunakan bom sudah jarang terjadi. 7 Komitmen daerah, berupa kontribusi pembiayaan, personil, dan fasilitas pengelolaan dan pengembangan. Kurang memenuhi persyaratan Kontribusi pembiayaan, dan fasilitas pengelolaan dan pengembangan hanya dari pusat. 8 Keberadaan kelembagaan pemerintah daerah yang bertanggungjawab di bidang kelautan dan perikanan Kurang memenuhi persyaratan Kelembagaan daerah yang bertanggungjawab hanya Dinas Perikanan dan Kelautan, serta Bappeda. 9 Ketersediaan data dan informasi penunjang tentang kondisi dan potensi kawasan. Kurang memenuhi persyaratan Hanya data perikanan statistik Sumber : Diolah dari data DKP Kabupaten Gorontalo Utara Apabila program minapolitan Kabupaten Gorontalo Utara dilaksanakan, maka persyaratan-persyaratan yang belum terpenuhi pada Tabel 3, harus dipenuhi agar implementasi program tersebut lebih efektif. Dalam mengatasi hal ini, peran stakeholder seperti pemerintah, pengusaha perikanan, dan lembaga penelitian/pendidikan diharapkan dapat memberikan kontribusi yang besar dan bekerjasama secara terintegrasi. 85 5.2 Potensi Sumberdaya Ikan Secara garis besar sumberdaya ikan yang ada di Kabupaten Gorontalo Utara memiliki sumberdaya perikanan yang pengelolaan termasuk dalam wilayah pengelolaan perikanan (WPP) 8 yang meliputi Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik. Jenis ikan yang dominan tertangkap di perairan Kabupaten Gorontalo Utara meliputi kembung (Rastrelliger sp), layang (Decapterus sp), selar (Selaroides sp), lemuru (Sardinella longiceps), tembang (Sardinella fimbriata), teri (Stolephorus sp), tuna (Thunnus sp), cakalang (Katsuwonus pelamis), tongkol (Auxis thazard), kerapu (Ephynephelus sp) dan kuwe (Caranx sp). Berdasarkan data produksi hasil tangkapan dari Dinas Kabupaten Gorontalo Utara selama 8 (delapan) tahun terakhir (2003-2010) secara umum didominasi oleh ikan pelagis kecil yaitu cakalang, tongkol dan layang dengan produksi di atas 1000 ton/tahun. Produksi ikan cakalang berkisar 2.579-3.357 ton/tahun, ikan tongkol berkisar 1.441-1.657 ton/tahun, dan ikan layang berkisar 1.055-2.192 ton/tahun. Sedangkan jenis ikan lain jumlah produksinya kurang dari 1000 ton/tahun, yaitu ikan kembung, kerapu, kuwe, lemuru, selar, tembang, teri dan tuna. Produksi tertinggi dari semua jenis ikan adalah ikan cakalang yaitu sebesar 3.357 ton/tahun, sedangkan produksi terendah untuk semua jenis ikan adalah ikan kuwe dengan jumlah produksi sebesar 125 ton/tahun (Tabel 4). Tabel 4 Produksi total hasil tangkapan ikan yang dominan tertangkap di perairan Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010 Jenis Ikan Cakalang Kembung Kerapu Kuwe Layang lemuru Selar Tembang Teri Tongkol Tuna 2003 3.008 298 326 240 1.713 137 213 303 119 1.508 399 2004 2.593 206 691 242 2.067 285 566 435 171 1.591 408 2005 3.357 225 339 259 1.905 484 540 561 150 1.441 375 Tahun (ton) 2006 2007 3.140 2.935 275 307 598 413 147 125 1.378 1.055 531 380 374 525 807 444 116 181 1.657 1.646 297 395 Sumber : Data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara. 2008 2.734 261 252 206 2.192 430 543 456 179 1.387 328 2009 3.296 333 265 147 1.916 317 321 701 181 1.637 407 2010 2.579 230 322 154 1.880 468 456 783 176 1.694 392 86 5.2.1 Produksi, upaya penangkapan dan CPUE ikan cakalang Ikan cakalang merupakan jenis ikan pelagis kecil yang termasuk dalam katagori ikan ekonomis penting dan merupakan ikan dengan jumlah produksi tertinggi pada tahun 2009 yaitu sebesar 3.296 ton/tahun selama periode delapan tahun 2003-2010. Pemanfaatan ikan cakalang oleh nelayan Kabupaten Gorontalo Utara ditangkap dengan menggunakan alat tangkap purse seine, payang dan gillnet (Tabel 5). Tabel 5, menunjukkan bahwa ada pengaruh peningkatan upaya penangkapan terhadap peningkatan jumlah produksi. Namun ada juga peningkatan upaya penangkapan tidak berpengaruh terhadap peningkatan jumlah produksi. Tahun 2007, peningkatan jumlah upaya penangkapan payang berpengaruh terhadap produksi, namun tahun 2006, peningkatan jumlah trip purse seine tidak berpengaruh terhadap peningkatan produksi. Tabel 5 Produksi dan upaya penangkapan ikan cakalang per alat tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010 Purse seine Tahun Gillnet Payang Upaya Upaya Upaya Produksi Produksi Produksi penangkapan penangkapan penangkapan (ton) (ton) (ton) (trip) (trip) (trip) 1.805 29.052 902 14.526 301 4.842 2003 2004 1.556 13.080 778 21.540 259 7.180 2005 2.414 13.884 707 6.942 236 2.314 2006 1.884 19.988 942 7.494 314 2.498 2007 1.361 25.232 1.181 17.616 394 5.872 2008 1.641 34.025 820 17.012 273 5.671 2009 1.938 20.721 1.019 20.360 340 6.787 2010 1.147 24.807 1.074 22.404 358 7.468 Rata-rata 1.718 22599 928 15.987 309 5.329 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Perkembangan produksi ikan cakalang terlihat mengalami fluktuasi dengan trend yang menurun. Produksi yang memiliki trend menurun yaitu pada alat tangkap purse seine, sedangkan untuk alat tangkap payang dan gillnet terlihat adanya trend meningkat (Gambar 14). 87 Peningkatan produksi tertinggi untuk semua alat tangkap ikan cakalang terjadi pada tahun 2005, yaitu sebesar 55.19% oleh alat tangkap purse seine. Sedangkan penurunan tertinggi terjadi pada tahun 2010 yaitu sebesar 40.78% yang juga pada alat tangkapa purse seine. Sedangkan penurunan produksi pada alat tangkap payang dan gillnet terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 30.52% (Lampiran 2). Produksi tangkapan payang 1400 3500 1200 3000 1000 Produksi (ton) Produksi (ton) Total produksi tangkapan 4000 2500 2000 1500 800 600 1000 400 500 200 0 0 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2003 2010 2004 2005 Produksi tangkapan purse seine 2007 2008 2009 2010 2008 2009 2010 Produksi tangkapan gillnet 3000 450 400 2500 350 Produksi (ton) Produksi (ton) 2006 Tahun Tahun 2000 1500 1000 300 250 200 150 100 500 50 0 0 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2003 2004 Tahun 2005 2006 2007 Tahun Gambar 14 Perkembangan produksi ikan cakalang di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. Upaya penangkapan ikan cakalang terdiri dari purse seine, payang dan gillnet seperti terlihat pada Gambar 15. Dari ketiga upaya penangkapan ikan (effort), purse seine memiliki nilai rata-rata upaya penangkapan tertinggi yaitu sebesar 22.599 trip/tahun. Selanjutnya dikuti oleh alat tangkap payang sebesar 15.986 trip/tahun dan gillnet sebesar 5.328 trip/tahun. Upaya penangkapan tertinggi untuk semua alat tangkap terjadi pada tahun 2008 sebesar 34.025 trip/tahun oleh alat tangkap purse seine. Sedangkan jumlah upaya penangkapan terendah dari ketiga unit penangkapan tersebut adalah sebesar 2.314 trip/tahun oleh upaya penangkapan gillnet. Namun, sejak tahun 2007, terjadi peningkatan jumlah upaya penangkapan gillnet sebesar 135.07%. 88 Peningkatan jumlah upaya penangkapan pada tahun 2007, terjadi juga pada alat tangkap payang yaitu sebesar 135.07% (Lampiran 2). Gambar 15 Perkembangan upaya penangkapan ikan cakalang per alat tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara Tahun 2003-2010. CPUE merupakan nilai produksi yang dibagi dengan jumlah trip atau upaya penangkapan ikan. Nilai CPUE mencerminkan produktivitas dari alat penangkapan yang digunakan untuk menangkap ikan cakalang. Permasalahannya adalah kemampuan masing-masing alat tangkap berbeda-beda dalam memproduksi. Oleh karena itu, perlu dilakukan standardisasi upaya penangkapan sebelum menghitung potensi ikan cakalang. Unit penangkapan yang dijadikan sebagai alat tangkap standar adalah jenis alat tangkap yang mempunyai nilai ratarata CPUE tertinggi (Tabel 6). Tabel 6 Nilai CPUE ikan cakalang pada masing-masing alat tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010 Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata Purse seine CPUE FPI (ton/trip) (ton/trip) 0.0621 1 0.1189 1 0.1739 1 0.0942 1 0.0539 1 0.0482 1 0.0935 1 0.0463 1 0.0864 1 Payang CPUE FPI (ton/trip) (ton/trip) 0.0621 1.0000 0.0361 0.3036 0.1019 0.5858 0.1257 1.3336 0.0670 1.2424 0.0482 1.0000 0.0500 0.5351 0.0479 1.0361 0.0674 0.8795 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Gillnet CPUE FPI (ton/trip) (ton/trip) 0.0621 1.0000 0.0361 0.3036 0.1019 0.5858 0.1257 1.3336 0.0670 1.2424 0.0482 1.0000 0.0500 0.5351 0.0479 1.0361 0.0674 0.8795 89 Tabel 6, menunjukkan bahwa unit penangkapan standar yang digunakan dalam upaya pemanfaatan sumberdaya ikan cakalang adalah alat tangkap purse seine, hal ini dikarenakan alat tangkap purse seine mempunyai nilai rata-rata CPUE tertinggi dibandingkan unit penangkapan ikan lainnya yaitu sebesar 0,0864, sedangkan nilai rata-rata CPUE payang dan gillnet mempunyai nilai yang sama sebesar 0,0674. Purse seine dijadikan alat tangkap standar, maka nilai FPI purse seine bernilai 1 (satu), sebab nilai CPUE purse sene dibagi dengan nilai CPUE purse seine. Hasil perhitungan upaya penangkapan hasil standardisasi selama periode 2003-2010 berkisar antara 19.306-56.708 trip/tahun, dimana jumlah upaya penangkapan hasil standardisasi tertinggi pada tahun 2010 dan terendah pada tahun 2005 (Tabel 7). Tabel 7 Nilai upaya penangkapan dan standardisasi tahun 2003 - 2010 CPUE ikan cakalang hasil Total hasil tangkapan Upaya penangkapan standar CPUE std (ton) (trip) (ton/trip) 2003 3008 48.420 0.062119 2004 2593 21.800 0.118940 2005 3357 19.306 0.173892 2006 3140 33.313 0.094245 2007 2935 54.413 0.053939 2008 2734 56.708 0.048216 2009 3296 35.247 0.093511 2010 2579 55.758 0.046255 Rata-rata 2955 40.620 0.086390 Tahun Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Tabel 7, terlihat bahwa pada tahun 2005 terjadi penuruan upaya penangkapan yang tidak diikuti oleh penurunan produksi ikan cakalang, sedangkan pada tahun 2010 terjadi kenaikan upaya penangkapan yang diikuti oleh peningkatan produksi. Peningkatan atau penurunan jumlah upaya penangkapan tidak berpengaruh terhadap produksi ikan cakalang. 90 Hubungan atau korelasi antara nilai CPUE dengan upaya penangkapan ikan cakalang diperlukan untuk mengetahui kecenderungan produktivitas alat tangkap terhadap sumberdaya ikan cakalang. Korelasi antara CPUE dengan upaya penangkapan ikan cakalang menunjukkan hubungan yang negatif, yaitu semakin tinggi upaya penangkapan, maka semakin rendah CPUE-nya. Korelasi negatif tersebut mengindikasikan produktivitas alat tangkap akan menurun apabila upaya penangkapan mengalami peningkatan (Gambar 16). Gambar 16 Hubungan CPUE dengan upaya penangkapan ikan cakalang di Kabupaten Gorontalo Utara Tahun 2003-2010. Gambar 16, menunjukkan bahwa perubahan atau penambahan effort tidak selalu diikuti penambahan produksi ikan cakalang. Hal ini, mengindikasikan bahwa peningkatan effort atau upaya penangkapan akan menguras sumberdaya perikanan ikan cakalang yang semakin terbatas, karena tidak sebanding dengan rekruitmen yang dalam jangka panjang akan menimbulkan biological overfishing. Hubungan antara produksi (C) dengan CPUE terhadap upaya penangkapan (f) menghasilkan nilai a (intercep) sebesar 0,1968 dan b (slope) sebesar -0,0000027 sehingga persamaan lestari Schaefer adalah : C =0,1968f − 0,00000β7f2 Persamaan Schaefer diperoleh nilai a dan b yang dapat digunakan untuk mengetahui upaya penangkapan optimum yaitu (F Opt) = 36.195 trip/tahun. Setelah memasukkan nilai upaya optimum (F Opt) tersebut ke dalam persamaan penangkapan lestari, sehingga diperoleh tingkat produksi lestari (MSY) sebesar 3.562 ton/tahun (Lampiran 2). MSY sebesar 3.562 ton/tahun merupakan nilai 91 maksimum untuk dimanfaatkan untuk sumberaya ikan cakalang, sedangkan nilai upaya penangkapan optimum artinya batas maksimal upaya penangkapan yang dilakukan pada sumberdaya ikan cakalang. Hubungan antara produksi lestari dengan effort dan produksi aktual dengan effort pada ikan cakalang di Kabupaten Gorontalo Utara disajikan pada Gambar 17. Gambar 17 Maximum sustainable yield ikan cakalang di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. Gambar 17, terlihat bahwa pada tahun 2004, 2005, 2006, 2009 pemanfaatan sumberdaya ikan cakalang masih di bawah MSY dan upaya penangkapan maksimum. Tetapi, pada tahun 2003, 2007, 2008 dan 2010 effort telah melebihi batas upaya penangkapan. Dengan demikian, perlu pengurangan upaya penangkapan untuk menjaga keseimbangan sumberdaya ikan cakalang. Tabel 8, menunjukan bahwa selama periode delapan tahun (2003-2010) hasil perhitungan tingkat pemanfaatan ikan cakalang berkisar antara 72,4194,25%, hal ini menunjukkan bahwa masih ada peluang untuk memanfaatkan sumberdaya ikan cakalang, sedangkan tingkat pengusahaan berkisar antara 60,23156,67%. Tingkat pengusahaan melebihi 100% terjadi pada tahun 2003, 2007, 2010. Sedangkan tingkat pemanfaatan pada tahun terakhir (2010) masih di bawah MSY, yaitu 72%, tetapi tingkat pengusahaan telah melebihi batas optimumnya yaitu 154%, artinya perlu pengurangan upaya penangkapan pada sumberdaya ikan cakalang di Kabupaten Gorontalo Utara. 92 Tabel 8 Tingkat pemanfaatan dan pengusahaan ikan cakalang di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010 Tahun Cacth (ton) MSY (ton) 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 3.008 2.593 3.357 3.140 2.935 2.734 3.296 2.579 3.562 3.562 3.562 3.562 3.562 3.562 3.562 3.562 F standar (trip) 48.420 21.800 19.306 33.313 54.413 56.708 35.247 55.758 F optimum (trip) 36.195 36.195 36.195 36.195 36.195 36.195 36.195 36.195 Tingkat pemanfaatan (%) 84.44 72.79 94.25 88.14 82.40 76.76 92.53 72.41 Tingkat pengusahaan (%) 133.78 60.23 53.34 92.04 150.33 156.67 97.38 154.05 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara 5.2.2 Produksi, upaya penangkapan dan CPUE ikan layang Produksi ikan layang yang tertangkap di perairan Kabupaten Gorontalo Utara dengan jumlah produksi tertinggi terjadi pada tahun 2008 sebesar 2.192 ton/tahun (Lampiran 3). Pemanfaatan ikan layang oleh nelayan di Kabupaten Gorontalo Utara terdiri dari purse seine, payang dan gillnet. Namun, dari ketiga alat tangkap yang digunakan purse seine merupakan jenis alat tangkap yang paling banyak menangkap ikan layang, kedua payang dan yang ketiga adalah gillnet dengan jumlah tangkapan terkecil. Secara rinci produksi ikan layang pada masing-masing alat tangkap dan jumlah trip dijelaskan pada Tabel 9. Tabel 9 Produksi dan upaya penangkapan ikan layang per alat tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003 - 2010 Purse seine Tahun Produksi (ton) Upaya penangkapan (trip) 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata 1028 1240 1143 827 633 1315 1150 1008 1043 14210 15900 11570 14490 10360 15240 15940 16400 14263 Gillnet Payang Produksi (ton) Upaya penangkapan (trip) Produksi (ton) Upaya penangkapan (trip) 514 620 572 413 317 658 575 654 540 1423 1477 1434 1464 1332 1808 1830 1685 1556 171 207 191 138 106 219 192 218 180 1145 1164 1149 1159 1114 1278 1285 1235 1191 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara 93 Perkembangan produksi ikan layang mengalami fluktuasi yang normal (Gambar 18). Produksi ikan layang dengan unit penangkapan ikan purse seine yang memiliki kecenderungan menurun, dimana penurunan produksi tahun 2010 sebesar 12,31% dibanding tahun 2009. Sedangkan unit penangkapan gillnet dan payang terjadi sebaliknya, dengan peningkatan produksi pada tahun 2010 sebesar 13,78% dibanding tahun sebelumnya (Lampiran 3). Total produksi tangkapan Produksi tangkapan payang 700 2500 600 Produksi (ton) Produksi (ton) 2000 1500 1000 500 500 400 300 200 100 0 0 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2003 2004 2005 Tahun 2007 2008 2009 2010 Tahun Produksi tangkapan gillnet Produksi tangkapan purse seine 250 1400 1200 200 1000 Produksi (ton) Produksi (ton) 2006 800 600 400 150 100 50 200 0 0 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Tahun Gambar 18 Perkembangan produksi ikan layang di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. Perkembangan upaya penangkapan selama delapan tahun periode 20031010 secara umum memiliki trend meningkat pada semua unit penangkapan ikan layang seperti terlihat pada Gambar 19. Upaya penangkapan ikan layang ditangkap dengan menggunakan alat tangkap purse seine, payang dan gillnet. Upaya penangkapan ikan layang dari ketiga alat tangkap tersebut secara berturut-turut, purse seine memiliki jumlah upaya penangkapan tertinggi yang pada tahun 2010 yaitu sebesar 16.400 trip/tahun. Selanjutnya upaya penangkapan payang sebesar 1.830 trip/tahun pada tahun 2009 dan gillnet sebesar 1.285 trip/tahun pada tahun 2009 (Lampiran 3). 18000 2000 16000 1800 Upaya Penangakap trip) Upaya Penangakap trip) 94 14000 12000 10000 8000 6000 4000 2000 1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 0 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2003 2010 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Tahun Tahun Trip UPI payang Trip UPI Purseseine Trip UPI Gillnet Gambar 19 Perkembangan upaya penangkapan ikan layang per alat tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara Tahun 2003-2010. CPUE (Catch per unit effort) merupakan nilai yang mencerminkan produktivitas dari unit penangkapan yang digunakan untuk menangkap ikan layang. Permasalahannya adalah perbedaan kemampuan masing-masing alat tangkap dalam menghasilkan produksi ikan layang. Oleh karena itu, perlu dilakukan standardisasi upaya penangkapan sebelum menghitung potensi ikan layang. Alat tangkap yang dijadikan sebagai alat tangkap standar adalah jenis alat tangkap yang mempunyai nilai rata-rata CPUE terbesar (Tabel 10). Tabel 10 Nilai CPUE ikan layang pada masing-masing alat tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010 Purse seine Tahun CPUE (ton/trip) FPI (ton/trip) 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata 0.0723 0.0780 0.0988 0.0571 0.0611 0.0863 0.0721 0.0615 0.0734 0.0723 0.0780 0.0988 0.0571 0.0611 0.0863 0.0721 0.0615 0.0734 Gillnet Payang CPUE FPI (ton/trip) (ton/trip) 0.3612 0.4199 0.3985 0.2824 0.2377 0.3638 0.3141 0.3882 0.3457 1 1 1 1 1 1 1 1 1 CPUE (ton/trip) FPI (ton/trip) 0.1496 0.1776 0.1658 0.1189 0.0947 0.1716 0.1491 0.1765 0.1504 0.1496 0.1776 0.1658 0.1189 0.0947 0.1716 0.1491 0.1765 0.1504 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Unit penangkapan standar yang digunakan dalam upaya pemanfaatan sumberdaya ikan layang adalah unit penangkapan ikan payang, hal ini dikarenakan alat tangkap payang mempunyai nilai rata-rata CPUE tertinggi yaitu sebesar 0,3457, dibandingkan unit penangkapan purse seine dengan nilai rata-rata 95 CPUE sebesar 0,0735 dan gillnet sebesar 0,1504. Hasil perhitungan upaya penangkapan yang telah distadardisasi selama periode 2003-2010 nilai CPUE standar berkisar antara 2.070-3.342 trip/tahun (Tabel 11). Tabel 11 Nilai upaya penangkapan dan CPUE ikan layang hasil standardisasi tahun 2003-2010 2003 Total hasil tangkapan (ton) 1.713 Upaya penangkapan standar (trip) 2.622 CPUE std (ton/trip) 0.6534 2004 2.067 2.924 0.7070 2005 1.905 2.768 0.6883 2006 1.378 2.428 0.5675 2007 1.055 2.070 0.5097 2008 2.192 3.342 0.6559 2009 1.916 3.171 0.6042 2010 1.880 2.911 0.6459 Rata-rata 1.763 2.7795 0.6289 Tahun Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Hubungan atau korelasi antara nilai CPUE dengan upaya penangkapan ikan layang diperlukan untuk mengetahui kecenderungan produktivitas unit penangkapan terhadap sumberdaya ikan. Korelasi antara CPUE dengan upaya penangkapan ikan layang, menunjukkan hubungan yang positif, yaitu semakin tinggi upaya penangkapan maka semakin tinggi pula CPUE-nya (Gambar 20). Gambar 20 Hubungan CPUE dengan upaya penangkapan ikan layang di Kabupaten Gorontalo Utara Tahun 2003-2010. 96 5.2.3 Produksi, upaya penangkapan dan CPUE ikan tembang Jumlah produksi ikan tembang di Kabupaten Gorontalo Utara berkisar antara 303 - 806 ton/tahun atau sekitar 6,14% dari rata-rata produksi selama periode delapan tahun 2003-2010. Pemanfaatan ikan tembang oleh nelayan Gorontalo Utara ditangkap dengan menggunakan alat tangkap bagan perahu, payang dan purse seine (Tabel 12). Tabel 12 Produksi dan upaya penangkapan ikan tembang per alat tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010 Bagan Perahu Tahun Payang Purse seine Produksi (ton) Upaya penangkapan (trip) Produksi (ton) Upaya penangkapan (trip) Produksi (ton) Upaya penangkapan (trip) 2003 116 1068 173 995 14 258 2004 124 1211 282 649 29 318 2005 307 2088 204 739 49 401 2006 595 3139 148 969 64 492 2007 237 2738 169 918 38 436 2008 220 2240 190 886 46 394 2009 544 3164 122 781 36 382 2010 594 3456 160 999 30 325 Rata-rata 342 2388 181 867 38 375 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Alat tangkap yang paling banyak menangkap ikan tembang adalah alat tangkap bagan perahu, kedua payang dan terkecil purse seine. Perkembangan produksi untuk semua unit penangkapan terlihat kecenderungan meningkat (Gambar 21). Produksi ikan tembang yang menggunakan alat tangkap bagan perahu berkisar antara 116-594 ton/tahun, dengan produksi tertinggi terjadi pada tahun 2010 yaitu sebesar 594 ton/tahun dan produksi terendah sebesar 116 ton/tahun. Alat tangkap payang memiliki ton/tahun yang produksi tertinggi sebesar 282 terjadi pada tahun 2005 dan produksi terendah sebesar 122 ton/tahun yang terjadi pada tahun 2009. Sedangkan untuk purse seine, produksi tertinggi sebesar 64 ton/tahun yang terjadi pada tahun 2006 dan produksi terendah sebesar 14 ton/tahun yang terjadi tahun 2003 (Lampiran 4). 97 Produksi Tangkapan Bagan Perahu Hasil Tangkapan (ton) 700 600 500 400 300 200 100 0 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Tahun Produksi Tangkapan Payang 300 60 250 Hasil Tangkapan (ton) Hasil Tangkapan (ton) Produksi Tangkapan Purse seine 70 50 40 30 20 10 200 150 100 50 0 0 2003 2004 2005 2006 2007 Tahun 2008 2009 2010 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Tahun Gambar 21 Perkembangan produksi ikan tembang di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003 - 2010. Upaya penangkapan ikan tembang menggunakan alat tangkap purse seine, payang dan bagan perahu. Upaya penangkapan ikan (effort) didominasi oleh alat tangkap bagan perahu dengan total upaya penangkapan sebesar 19.104 trip/tahun (lampiran 4). Jumlah upaya penangkapan tertinggi terjadi tahun 2010 sebesar 3.456 trip/tahun pada alat tangkap bagan perahu, sedangkan upaya penangkapan terendah terjadi pada tahun 2003 yaitu sebesar 1.068 trip/tahun (Gambar 22). Gambar 22 Perkembangan upaya penangkapan ikan tembang per alat tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. 98 CPUE mencerminkan produktivitas dari unit penangkapan yang digunakan untuk menangkap ikan. Permasalahanya adalah perbedaan masing-masing alat tangkap dalam memproduksi. Oleh karena itu, perlu dilakukan standardisasi upaya penangkapan sebelum menghitung potensi ikan tembang. Alat tangkap yang dijadikan sebagai alat tangkap standar adalah alat tangkap yang mempunyai nilai rata-rata CPUE tertinggi (Tabel 13). Tabel 13 Nilai CPUE ikan tembang pada masing-masing alat tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010 Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata Payang CPUE FPI (ton/trip) (ton/trip) 0.1740 1 0.4346 1 0.2755 1 0.1523 1 0.1837 1 0.2143 1 0.1560 1 0.1597 1 0.2188 1 Bagan Perahu Purse seine CPUE FPI CPUE FPI (ton/trip) (ton/trip) (ton/trip) (ton/trip) 0.1088 0.6254 0.0531 0.3054 0.1024 0.2356 0.0895 0.2060 0.1472 0.5344 0.1232 0.4471 0.1896 0.1302 1.2451 0.8549 0.0866 0.0872 0.4716 0.4744 0.0981 0.1173 0.4579 0.5473 0.1718 1.1017 0.0941 0.6032 0.1719 1.0760 0.0917 0.5740 0.1346 0.7184 0.0983 0.5015 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Tabel 13, menunjukkan bahwa unit penangkapan standar yang digunakan dalam upaya pemanfaatan sumberdaya ikan tembang adalah alat tangkap payang. Hal ini, karena alat tangkap payang mempunyai nilai rata-rata CPUE tertinggi yaitu sebesar 0,2188 dibandingkan unit penangkapan lainnya. Nilai FPI alat standar bernilai 1 (satu), karena CPUE payang dibagi dengan CPUE payang. Alat tangkap bagan perahu dan purse seine distandardisasi dengan alat tangkap payang sehingga diperoleh upaya penangkapan hasil standardisasi. Hasil perhitungan upaya penangkapan selama periode 2003-2010 berkisar antara 1.000-4.904 trip/tahun, dimana jumlah trip tertinggi pada tahun 2010 dan terendah pada tahun 2004. Upaya penangkapan terendah terjadi pada tahun 2004 yaitu sebesar 1000 trip/tahun dan upaya penangkapan tertinggi terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 5.298 trip/tahun. Tahun 2004 dan tahun 2008 terlihat bahwa penurunan upaya penangkapan tidak berpengaruh terhadap produksi (Tabel 14). 99 Tabel 14 Nilai upaya penangkapan dan CPUE ikan tembang hasil standardisasi tahun 2003-2010 Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata Total hasil tangkapan (ton) 303 435 561 807 444 456 701 783 561 Upaya penangkapan standar (trip) 2.785 4.243 3.807 4.255 5.123 4.646 4.082 4.557 4.187 CPUE std (ton/trip) 0.1740 0.4346 0.2755 0.1523 0.1837 0.2143 0.1560 0.1597 0.2187 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Hubungan atau korelasi antara nilai CPUE dengan upaya penangkapan ikan tembang diperlukan untuk mengetahui kecenderungan produktivitas alat tangkap pada sumberdaya ikan tembang. Korelasi antara CPUE dengan upaya penangkapan ikan tembang menunjukkan hubungan yang negatif, yaitu semakin tinggi upaya penangkapan, maka semakin rendah CPUE-nya. Korelasi negatif tersebut mengindikasikan produktivitas alat tangkap akan menurun apabila upaya penangkapan mengalami peningkatan (Gambar 23). Gambar 23 Hubungan CPUE dengan upaya penangkapan ikan tembang di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. 100 Gambar 23, menunjukkan bahwa perubahan atau penambahan upaya penangkapan tidak selalu diikuti oleh penambahan produksi ikan tembang. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan upaya penangkapan yang berlebihan akan menguras sumberdaya ikan tembang, karena tidak sebanding dengan rekruitmen dan dalam jangka panjang akan menimbulkan overfishing. Hubungan antara produksi (C) dengan CPUE terhadap upaya penangkapan (f) menghasilkan nilai a (intercep) sebesar 0.157551 dan b (slope) sebesar -0.00000490 sehingga persamaan lestari Schaefer adalah : C = 0.157551f − 0.00000490f2 Persamaan Schaefer diperoleh nilai a dan b yang dapat digunakan untuk mengetahui upaya penangkapan optimum yaitu (F opt) = 14.347 trip/tahun. Setelah memasukkan nilai upaya optimum (F opt) tersebut ke dalam persamaan penangkapan lestari, sehingga diperoleh tingkat produksi lestari (MSY) sebesar 1.130 ton/tahun. Gambar 24 Maximum sustainable yield ikan tembang di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. Hubungan antara produksi lestari dengan effort dan produksi aktual dengan effort pada sumberdaya ikan tembang di Kabupaten Gorontalo Utara memperlihatkan bahwa upaya pemanfaatan dan pengusahan ikan tembang di Kabupaten Gorontalo Utara belum melampaui batas effort optimum dan MSY (Gambar 24). Kondisi ini, memberikan harapan besar untuk memanfaatkan sumberdaya ikan tembang secara optimal dan lestari. 101 Persentase antara produksi dengan nilai MSY (maximum sustainable yield) menunjukkan tingkat pemanfaatan dari ikan tembang. Sedangkan persentase antara effort standar dengan effort optimum menunjukkan tingkat pengusahaan dari produksi ikan tembang (Tabel 15). Tabel 15 Tingkat pemanfaatan dan pengusahaan ikan tembang di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010 1.130 F standar (trip) 2.785 F optimum (trip) 14.347 Tingkat pemanfaatan (%) 26.81 Tingkat pengusahaan (%) 19.41 435 1.130 4.243 14.347 38.45 29.58 2005 561 1.130 3.807 14.347 49.60 26.54 2006 807 1.130 4.255 14.347 71.41 29.66 2007 444 1.130 5.123 14.347 39.27 35.71 2008 456 1.130 4.646 14.347 40.35 32.38 2009 701 1.130 4.082 14.347 62.06 28.45 2010 783 1.130 4.557 14.347 69.32 31.77 Tahun Cacth (ton) MSY (ton) 2003 303 2004 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Hasil perhitungan tingkat pemanfaatan dan tingkat pengusahaan periode tahun 2003-2010, tingkat pemanfaatan berkisar antara 26,81-69,32% dan tingkat pengusahan berkisar antara 19,41-35,71%. Kondisi tersebut memberikan harapan untuk pengelolaan ikan tembang yang didasarkan pada tingkat pemanfaatan dan tingkat pengusahaan 5.2.4 Produksi, upaya penangkapan dan CPUE ikan teri Ikan teri di kabupaten Gorontalo di tangkap dengan menggunakan bagan perahu. Jumlah produksi ikan teri di Kabupaten Gorontalo Utara selama periode delapan tahun 2003-2010 berkisar antara 116-181 ton/tahun (Tabel 16). Produksi tertinggi terjadi pada tahun 2007 dan 2009 yaitu sebesar 181 ton/tahun, dan produksi terendah terjadi pada tahun 2006 dengan produksi sebesar 116 ton/tahun. Tahun 2007, produksi ikan teri mengalami peningkatan produksi sebesar 55.45% dari tahun sebelumnya (2006) dan merupakan presentase tertinggi kenaikan produksi ikan teri selama 2003-2010. Sedangkan penurunan tertinggi terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 22.64% (Lampiran 5) 102 Tabel 16 Produksi dan upaya penangkapan ikan teri di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010 Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata Produksi (ton) 119 171 150 116 181 179 181 176 159 Upaya penangkapan (rip) 1.464 2.304 2.428 1.921 3.265 2.686 3.096 2.905 2.508 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Perkembangan produksi ikan teri selama periode delapan tahun (20032010) menunjukkan fluktuasi yang normal dengan kecenderungan meningkat, namun pada tahun 2010 produksi mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yang terlihat pada Gambar 25. Gambar 25 Perkembangan produksi ikan teri di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. Jumlah produksi hasil tangkapan ikan teri diantaranya dipengaruhi oleh upaya penangkapan ikan (effort). Trip merupakan jumlah hari melakukan usaha penangkapan ikan. Semakin tinggi jumlah upaya penangkapan biasanya diikuti oleh peningkatan jumlah produksi, dan menurunnya jumlah upaya penangkapan mengakibatkan penurunan produksi ikan teri (Lampiran 5) 103 Perkembangan upaya penangkapan ikan teri di Kabupaten Gorontalo Utara selama delapan tahun periode 2003-1010 memiliki kecenderungan meningkat (Gambar 26). Akan tetapi, pada tahun terakhir (2010) terjadi penurunan upaya penangkapan. Gambar 26 Perkembangan upaya penangkapan ikan teri pada alat tangkap bagan perahu di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. CPUE merupakan pembagian antara produksi dengan upaya penangkapan. Nilai CPUE mencerminkan produktivitas dari unit penangkapan yang digunakan untuk menangkap ikan teri (Tabel 17). Tabel 17 Nilai CPUE ikan teri pada alat tangkap bagan perahu di Kabupaten Gorontalo Utara Tahun 2003-2010 Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata Hasil tangkapan (ton) 119 171 150 116 181 179 181 176 159 Upaya penangkapan (trip) 1464 2304 2428 1921 3265 2686 3096 2905 2509 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara CPUE (ton/trip) 0.0813 0.0742 0.0618 0.0604 0.0554 0.0666 0.0585 0.0606 0.0649 104 Sejak periode tahun 2003-2010, nilai CPUE ikan teri berfluktuasi. Tahun 2003 sampai 2007 nilai CPUE mengalami penurunan hingga mencapai 0.0554 ton/trip. Nilai CPUE tertinggi terjadi pada tahun 2003 sebesar 0.0813 ton/trip dan CPUE terendah terjadi pada tahun 2007 yaitu sebesar 0.0554 ton/trip. Standardisasi dari alat tangkap tidak dilakukan, hal ini karena produksi ikan teri di Kabupaten Gorontalo Utara hanya menggunakan satu alat tangkap yaitu bagan perahu. Korelasi atau hubungan antara nilai CPUE dengan upaya penangkapan ikan tembang diperlukan untuk mengetahui kecenderungan produktivitas alat tangkap terhadap sumberdaya ikan teri. Korelasi antara CPUE dengan upaya penangkapan ikan teri menunjukkan hubungan yang negatif, yaitu semakin tinggi upaya penangkapan maka semakin rendah CPUE-nya. Korelasi negatif tersebut mengindikasikan produktivitas alat tangkap akan menurun apabila upaya penangkapan mengalami peningkatan. Gambar 27 Hubungan CPUE dengan upaya penangkapan ikan teri di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. Gambar 27, menjelaskan bahwa perubahan atau penambahan upaya penangkapan tidak selalu diikuti penambahan produksi ikan teri. Hal ini, mengindikasikan bahwa peningkatan effort atau upaya penangkapan yang berlebihan akan menguras sumberdaya ikan teri, karena tidak sebanding dengan rekruitmen dan dalam jangka panjang akan menimbulkan overfishing. 105 Hubungan antara produksi (C) dengan CPUE terhadap upaya penangkapan (f) menghasilkan nilai a (intercep) sebesar 0.092 dan b (slope) sebesar -0.0000109 sehingga persamaan lestari Schaefer adalah : C = 0.09βf − 0.0000109f2 Persamaan Schaefer diperoleh nilai a dan b yang dapat digunakan untuk mengetahui upaya penangkapan optimum yaitu (F opt) = 4.204 trip/tahun. Setelah memasukkan nilai upaya optimum (F opt) tersebut ke dalam persamaan penangkapan lestari, sehingga diperoleh tingkat produksi lestari (MSY) sebesar 194 ton/tahun. Hubungan antara produksi lestari dengan effort dan produksi aktual dengan effort pada perikanan teri di Kabupaten Gorontalo Utara. Gambar 28 Maximum sustainable yield ikan teri di Kabupaten Gorontalo Utara Tahun 2003 - 2010. Gambar 28, menunjukkan bahwa pemanfaatan ikan teri sejak tahun 20032010 masih di bawah MSY dan upaya penangkapan optimum. Akan tetapi, pada tahun 2008, 2007, 2009, dan 2010 tingkat pemanfaatan ikan teri sudah mendekati batas MSY dan upaya optimum. Persentase antara hasil tangkapan ikan teri dengan nilai MSY (maximum sustainable yield) menunjukkan tingkat pemanfaatan dari ikan teri, sedangkan persentase antara effort dengan effort optimum menunjukkan tingkat pengusahaan dari produksi ikan teri. Berdasarkan hasil perhitungan menunjukkan selama periode delapan tahun (2003-2010) tingkat pemanfaatan ikan teri berkisar antara 61,34-93,50% dan tingkat pengusahan produksi berkisar antara 34,82-77,67% (Tabel 18). 106 Tabel 18 Tingkat pemanfaatan dan pengusahaan ikan teri di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010 4.204 Tingkat pemanfaatan (%) 61.34 Tingkat pengusahaan (%) 34.82 4.204 4.204 4.204 4.204 4.204 4.204 4.204 88.14 77.32 59.79 93.30 92.27 93.30 90.72 54.80 57.76 45.70 77.67 63.89 73.64 69.10 Tahun Cacth (ton) MSY (ton) F standar (trip) Fopt (trip 2003 119 194 1.464 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 171 150 116 181 179 181 176 194 194 194 194 194 194 194 2.304 2.428 1.921 3.265 2.686 3.096 2.905 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara 5.2.5 Produksi, upaya penangkapan dan CPUE ikan tuna Jenis ikan pelagis besar yang merupakan target utama penangkapan oleh nelayan di Kabupaten Gorontalo Utara salah satunya adalah tuna. Produksi ikan tuna selama periode delapan tahun 2003-2010 berkisar antara 297-408 ton/tahun (Lampiran 6). Pemanfaatan ikan tuna oleh nelayan hanya menggunakan alat tangkap pancing. Produksi terendah terjadi pada tahun 2006, dengan nilai produksi sebesar 297 ton/tahun dan produksi tertinggi terjadi pada tahun 2004 yaitu sebesar 408 ton/tahun. . Tabel 19 Produksi dan upaya penangkapan ikan tuna di Kabupaten Gorontalo Utara Tahun 2003-2010 Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata Produksi (ton) 399 408 375 297 395 328 407 392 375 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Upaya penangkapan (trip) 3906 4872 3719 2229 2590 2692 3227 2914 3268 107 Perkembangan produksi ikan tuna berfluktuasi normal dengan kecenderungan menurun seperti terlihat pada Gambar 29. Penurunan produksi tuna terbesar terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 20,80% dibandingkan tahun sebelumnya dan sekaligus merupakan produksi terendah selama peride delapan tahun yaitu sebesar 297 ton/tahun (Lampiran 6). Gambar 29 Perkembangan produksi ikan tuna di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. Perkembangan upaya penangkapan selama delapan tahun periode 20031010 terlihat kecenderungan menurun (Gambar 30). Peningkatan upaya penangkapan tertinggi terjadi pada tahun 2004. Namun, pada tahun 2006-2009 upaya penangkapan tuna mengalami peningkatan. Gambar 30 Perkembangan upaya penangkapan ikan tuna pada alat tangkap pancing tuna di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. 108 CPUE merupakan pembagian dari produksi dengan upaya penangkapan. Nilai CPUE mencerminkan produktivitas dari unit penangkapan pancing terhadap sumberdaya ikan tuna. Standardisasi dari alat tangkap tidak dilakukan, karena alat tangkap yang digunakan dalam upaya penangkapan ikan tuna hanya menggunakan satu alat tangkap yaitu pancing tuna (Tabel 20). Tabel 20 Nilai CPUE ikan tuna pada alat tangkap pancing tuna di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010 Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata Total hasil tangkapan (ton) 399 408 375 297 395 328 407 392 375 Upaya penangkapan (trip) 3.906 4.872 3.719 2.229 2.590 2.692 3.227 2.914 3.269 CPUE (ton/trip) 0.1022 0.0837 0.1008 0.1332 0.1525 0.1218 0.1261 0.1345 0.1194 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Hubungan atau korelasi antara nilai CPUE dengan upaya penangkapan ikan tuna, diperlukan untuk mengetahui kecenderungan produktivitas alat tangkap terhadap sumberdaya ikan tuna (Gambar 31). Gambar 31 Hubungan CPUE dengan upaya penangkapan ikan tuna di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. 109 Korelasi menunjukkan hubungan yang negatif, yaitu semakin tinggi upaya penangkapan ikan tuna, maka semakin rendah CPUE-nya. Korelasi negatif tersebut mengindikasikan produktivitas alat tangkap akan menurun apabila upaya penangkapan mengalami peningkatan. Hubungan antara produksi (C) dengan CPUE terhadap upaya penangkapan (f) menghasilkan nilai a (intercept) sebesar 0.19535 dan b (slope) sebesar -0.00002325 sehingga persamaan lestari Schaefer adalah : C = 0.19535f − 0.0000βγβ5f2 Persamaan Schaefer diperoleh nilai a dan b yang dapat digunakan untuk mengetahui upaya penangkapan optimum yaitu (F opt) = 4.202 trip/tahun. Setelah memasukkan nilai upaya optimum (F opt) tersebut ke dalam persamaan penangkapan lestari, sehingga diperoleh tingkat produksi lestari (MSY) sebesar Hubungan antara produksi lestari dengan effort dan produksi 410 ton/tahun. aktual dengan effort pada ikan tuna (Gambar 32). Produksi (ton) 450 400 200 2007 350 2010 MS 2004 200 200 200 300 250 2006 200 150 100 50 0 0 2000 4000 6000 8000 10000 Effort (unit) Gambar 32 Maximum sustainable yield ikan tuna di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. Gambar 32, terlihat peningkatan produksi tahun 2004 dengan effort yang tinggi atau melebihi batas effort optimum. Pada tahun 2003, 2005, 2007, dan 2009 diperoleh hasil tangkapan mendekati effort. Persentase antara hasil tangkapan ikan tuna dengan nilai MSY (maximum sustainable yield) menunjukkan tingkat pemanfaatan ikan tuna, sedangkan persentase perbandingan antara effort standar dengan effort optimum menunjukkan tingkat pengusahaan. 110 Tabel 21 Tingkat pemanfaatan dan pengusahaan ikan tuna di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010 Tahun Cacth (ton) MSY (ton) 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 399 408 375 297 395 328 407 392 410 410 410 410 410 410 410 410 F standar (trip) 3.906 4.872 3.719 2.229 2.590 2.692 3.227 2.914 Fopt (trip) 4.202 4.202 4.202 4.202 4.202 4.202 4.202 4.202 Tingkat pemanfaatan (%) 97.32 99.51 91.46 72.44 96.34 80.00 99.27 95.61 Tingkat pengusahaan (%) 92.96 115.94 88.51 53.05 61.64 64.06 76.80 69.35 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Berdasarkan hasil perhitungan menunjukkan selama periode delapan tahun (2003-2010) tingkat pemanfaatan ikan tuna berkisar antara 72,44 - 99,51% dan tingkat pengusahan produksi berkisar antara 53,05 - 115,94% (Tabel 21). Tingkat pemanfaatan pada tahun 2010 hampir mendekati batas MSY, yaitu 95,61%, dengan tingkat pengusahaan sebesar 69,35%. Kondisi ini, mengindikasikan bahwa perlu kehati-hatian dalam memanfaatkan sumberdaya ikan tuna. 5.2.6 Produksi, upaya penangkapan dan CPUE ikan lemuru Ikan lemuru (Sardinella longiceps) merupakan jenis ikan pelagis kecil, dengan jumlah produksi berkisar antara 137-531 ton/tahun (Tabel 22). Pemanfaatan ikan lemuru menggunakan alat tangkap purse seine, payang dan bagan perahu. Produksi tertinggi bagan perahu sebesar 379 ton/tahun pada tahun 2010 yaitu dan produksi terendah bagan perahu sebesar 96 ton/tahun pada tahun 2003. Alat penangkapan payang memiliki produksi tertinggi sebesar 128 pada tahun 2006 dan terendah sebesar 27 ton/tahun pada tahun 2003. Sedangkan alat tangkap purse seine produksi tertinggi terjadi sebesar 69 ton/tahun dan terendah sebesar 14 ton/tahun. Presetase peningkatan produksi terjadi pada tahun 2004 yaitu sebesar 108.03% untuk semua alat tangkap yang menangkap ikan lemuru. Sedangkan presentase penurunan terbesar terjadi pada tahun 2007 yaitu sebesar 40,72% pada alat tangkap payang dan purse seine. 111 Tabel 22 Produksi dan upaya penangkapan ikan lemuru per alat tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010 Bagan Perahu Purse seine Payang Tahun Produksi (ton) Upaya penangkapan (trip) 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata 96 200 336 339 266 291 209 379 264 2.291 2.823 2.702 2.540 3.843 3.063 3.033 3.097 2.924 Produksi (ton) Upaya penangkapan (trip) Produksi (ton) Upaya penangkapan (trip) 27 57 99 128 76 92 72 60 76 237 211 271 307 377 212 401 232 281 14 29 49 64 38 46 36 30 38 106 119 109 116 155 202 128 155 136 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Perkembangan produksi ikan lemuru memiliki fluktuasi yang normal dengan kecenderungan meningkat dari total hasil produksi selama tahun 20032007. Namun pada tahun 2008 produksi mengalami penurunan (Gambar 33). Produksi tangkapan bagan perahu Total Produksi Ikan Lemuru 400 600 350 500 Produksi (ton) Produksi (ton) 300 400 300 200 250 200 150 100 100 50 0 0 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2003 2010 2004 2005 Produksi tangkapan payang 2007 2008 2009 2010 2008 2009 2010 Teri UPI Purse seine 140 70 120 60 100 50 Produksi (ton) Produksi (ton) 2006 Tahun Tahun 80 60 40 20 40 30 20 10 0 0 2003 2004 2005 2006 2007 Tahun 2008 2009 2010 2003 2004 2005 2006 2007 Tahun Gambar 33 Perkembangan produksi ikan lemuru di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. 112 Upaya penangkapan ikan lemuru terdiri dari alat tangkap purse seine, payang dan bagan perahu (Gambar 34). Upaya penangkapan didominasi oleh alat tangkap bagan perahu, selanjutnya dikuti oleh alat tangkap dan purse seine. Perkembangan upaya penangkapan periode tahun 2003-1010 terlihat 4500 450 4000 400 Upaya penangkapan (trip) Upaya penangkapan (trip) kecenderungan meningkat pada semua unit penangkapan. 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 350 300 250 200 150 100 50 0 0 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2003 2004 Tahun Trip Bagan Perahu 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Tahun Trip Payang Trip Purse seine Gambar 34 Perkembangan upaya penangkapan ikan lemuru per alat Tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. CPUE merupakan nilai dari produksi hasil tangkapan dibagi dengan upaya penangkapan. Permasalahan adalah perbedaan masing-masing alat tangkap dalam memproduksi ikan lemuru. Oleh karena itu, perlu dilakukan standardisasi upaya penangkapan sebelum menghitung potensi sumberdaya ikan lemuru (Tabel 23). Tabel 23 Nilai CPUE ikan lemuru pada masing-masing alat tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010 Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata Payang CPUE (ton/trip) 0.1156 0.2695 0.3644 0.4176 0.2017 0.4361 0.1791 0.2573 0.2802 FPI (trip) 0.8915 1.1273 0.8009 0.7551 0.8222 1.9059 0.6362 1.3401 1.0349 Bagan Perahu CPUE (ton/trip) 0.0419 0.0707 0.1243 0.1333 0.0692 0.0951 0.0690 0.1222 0.0907 FPI (trip) 0.323 0.296 0.273 0.241 0.282 0.416 0.245 0.637 0.339 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Purse seine CPUE (ton/trip) 0.1296 0.2391 0.4550 0.5530 0.2454 0.2288 0.2815 0.1920 0.2906 FPI (trip) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 113 Purse seine dijadikan alat alat standar, karena memiliki nilai rata-rata CPUE tertinggi. Nilai FPI alat standar atau purse seine bernilai 1 (satu) karena CPUE purse seine dibagi dengan CPUE purse seine. Dari hasil perhitungan selama periode 2003-2010 nilai upaya hasil standardisasi berkisar antara 1.0572.437 trip/tahun, dimana jumlah upaya penangkapan tertinggi pada tahun 2010 dan terendah pada tahun 2006 (Tabel 24). Tabel 24 Nilai upaya penangkapan dan CPUE ikan lemuru hasil standardisasi tahun 2003-2010 Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata Total hasil tangkapan (ton) 137 285 484 531 380 430 317 468 379 Upaya penangkapan standar (trip) 1.057 1.192 1.064 960 1.549 1.879 1.126 2.437 1.408 CPUE std (ton/trip) 0.1296 0.2391 0.4550 0.5530 0.2454 0.2288 0.2815 0.1920 0.2905 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Alat tangkap payang dan bagan perahu distandardisasi dengan alat tangkap purse seine sehingga diperoleh upaya penangkapan hasil. Hasil standardisasi menunjukkan bahwa pada tahun 2006, 2005, dan 2007 terjadi penurunan upaya penangkapan yang tidak diikuti oleh penurunan produksi. Hubungan atau korelasi antara nilai CPUE dengan upaya penangkapan ikan lemuru diperlukan untuk mengetahui kecenderungan produktivitas alat tangkap terhadap sumberdaya ikan lemuru. Korelasi antara CPUE dengan upaya penangkapan ikan lemuru menunjukkan hubungan yang negatif, yaitu semakin tinggi upaya penangkapan, maka semakin rendah CPUE-nya. Korelasi negatif tersebut mengindikasikan produktivitas alat tangkap akan menurun apabila upaya penangkapan mengalami peningkatan. Gambar 35, menunjukkan bahwa perubahan atau penambahan effort tidak selalu diikuti penambahan produksi ikan lemuru. Hal ini, mengindikasikan bahwa peningkatan effort atau upaya penangkapan yang berlebihan akan menguras 114 sumberdaya perikanan ikan lemuru yang disebabkan karena tidak sebanding dengan rekruitmen yang dalam jangka panjang akan menimbulkan overfishing. Gambar 35 Hubungan CPUE dengan upaya penangkapan ikan lemuru di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. Hubungan antara produksi (C) dengan CPUE terhadap upaya penangkapan (f) menghasilkan nilai a (intercep) sebesar 0.472 dan b (slope) sebesar -0.0001288 sehingga persamaan lestari Schaefer adalah : C = 0.δ7βf −0.0001β88f2 Dari persamaan Schaefer di atas diperoleh nilai a dan b yang dapat digunakan untuk mengetahui upaya penangkapan optimum yaitu (F opt) = 1.832 trip/tahun. Setelah memasukkan nilai upaya optimum (F opt) tersebut ke dalam persamaan penangkapan lestari diperoleh tingkat produksi lestari (MSY) sebesar 432 ton/tahun. Hubungan antara produksi lestari dengan effort dan produksi aktual dengan effort pada sumberdaya ikan lemuru di Kabupaten Gorontalo Utara terlihat pada Gambar 36. Penambahan upaya (effort) tidak selalu diikuti dengan peningkatan produksi. Hasil analisis terhadap pemanfaatan sumberdaya ikan lemuru di Kabupaten Gorontalo pemanfaatanya sudah melebihi batas MSY yang terjadi pada tahun 2005, 2006 dan 2010. Jika hal ini dibiarkan, maka akan ketidak seimbangan sumberdaya ikan lemuru dan akhinya akan mengakibatkan overfishing. 115 Gambar 36 Maximum sustainable yield ikan lemuru di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. Persentase antara hasil tangkapan dengan nilai MSY (maximum sustainable yield) menunjukkan tingkat pemanfaatan dari ikan lemuru dan persentase perbandingan antara effort standar dengan effort optimum menunjukkan tingkat pengusahaan dari produksi ikan. Hasil perhitungan menunjukkan selama tahun 2003-2010, tingkat pemanfaatan ikan lemuru berkisar antara 31,69-122,84% dan tingkat pengusahan berkisar antara 57,69-133,03%. Tabel 25, menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan pada tahun terakhir (2010) sudah melebihi MSY, yaitu 108,27%, dan tingkat pengusahaan juga telah melebihi batas optimumnya yaitu 133,05%. Tabel 25 Tingkat pemanfaatan dan pengusahaan lemuru di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010 Tahun Cacth (ton) MSY (ton) 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 137 285 484 531 380 430 317 468 432 432 432 432 432 432 432 432 F standar (trip) 1.057 1.192 1.064 960 1.549 1.879 1.126 2.437 F optimum (trip) 1.832 1.832 1.832 1.832 1.832 1.832 1.832 1.832 Tingkat pemanfaatan (%) 31.69 65.93 111.97 122.84 87.91 99.48 73.34 108.27 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Tingkat pengusahaan (%) 57.69 65.07 58.06 52.42 84.54 102.59 61.46 133.05 116 5.2.7 Produksi, upaya penangkapan dan CPUE ikan selar Jumlah produksi ikan selar di Kabupaten Gorontalo Utara berkisar antara 213-566 ton/tahun selama periode delapan tahun 2003-2010. Pemanfaatan ikan selar oleh nelayan Kabupaten Gorontalo Utara ditangkap menggunakan alat tangkap bagan perahu, payang dan purse seine. Jumlah produksi tertinggi ikan selar ditangkap menggunakan alat tangkap bagan perahu (Tabel 26). Tabel 26 Produksi dan upaya penangkapan ikan selar per alat tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010 Bagan Perahu Purse seine Payang Tahun Produksi (ton) Upaya penangkapan (trip) Produksi (ton) Upaya penangkapan (trip) Produksi (ton) Upaya penangkapan (trip) 2003 149 1.905 43 617 21 573 2004 321 2.685 163 1.111 82 892 2005 306 3.174 156 1.108 78 606 2006 202 2.201 115 989 57 369 2007 212 2.150 209 1.041 105 777 2008 350 3.932 129 742 64 628 2009 255 1.814 44 538 22 398 2010 281 1.731 117 1.077 58 574 60 602 259 2.449 122 902 Rata-rata Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Produksi tertinggi untuk masing-masing alat tangkap terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 350 ton/tahun oleh unit bagan perahu, dan produksi terendah terjadi pada tahun 2003 yaitu sebesar 149 ton/tahun. Produksi tertinggi payang terjadi pada tahun 2007 yaitu sebesar 209 ton/tahun dan terendah terjadi pada tahun 2003 yaitu sebesar 43 ton/tahun. Sedangkan untuk purse seine produksi tertinggi terjadi pada tahun 2007 yaitu sebesar 105 ton/tahun dan produksi terendah terjadi pada tahun 2003 yaitu sebesar 21 ton/tahun. Perkembangan total produksi ikan selar memiliki fluktuasi yang normal dengan kecenderungan menurun. Namun, pada tahun 2010 produksi ikan selar terlihat kecenderungan meningkat pada semua alat alat tangkap (Gambar 37). 117 Total produksi tangkapan Produksi tangkapan bagan perahu 600 400 350 500 Produksi (ton) Produksi (ton) 300 400 300 200 250 200 150 100 100 50 0 0 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2003 2004 2005 Tahun 2007 2008 2009 2010 2009 2010 Tahun Produksi tangkapan purse seine Produksi tangkapan payang 250 120 200 100 Produksi (ton) Produksi (ton) 2006 150 100 50 80 60 40 20 0 0 2003 2004 2005 2006 2007 Tahun 2008 2009 2010 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Tahun Gambar 37 Perkembangan produksi ikan selar di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. Perkembangan upaya penangkapan selama delapan tahun periode 20031010 memiliki kecenderungan meningkat pada alat tangkap bagan perahu dan alat tangkap payang, sedangkan pada purse seine terlihat kecenderungan menurun (Gambar 38). Gambar 38 Perkembangan upaya penangkapan ikan selar per alat tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. 118 Upaya penangkapan ikan selar menggunakan alat tangkap bagan perahu, payang, dan purse seine. Ketiga alat tangkap yang digunakan, upaya penangkapan ikan (effort) didominasi oleh alat tangkap bagan perahu dengan jumlah rata-rata trip pertahun sebesar 2.449 trip/tahun. Selanjutnya dikuti oleh alat tangkap payang sebesar 903 trip/tahun dan purse seine sebesar 602 trip/tahun. Pada tahun 2010 terjadi penurunan upaya penangkapan pada bagan perahu sebesar 4,58% dibandingkan tahun sebelumnya (2009), sedangkan upaya penangkapan payang terjadi penurunan sebesar 100,19% dan purse seine 44,27% (Lampiran 8). Nilai CPUE (Catch per unit effort) yang merupakan pembagian dari produksi dengan upaya peangkapan. Permasalahannya adalah perbedaan masingmasing alat tangkap dalam memproduksi. Oleh karena itu, perlu dilakukan standardisasi upaya penangkapan sebelum menghitung potensi ikan selar. Alat tangkap yang dijadikan sebagai alat tangkap standar adalah alat tangkap yang mempunyai nilai rata-rata CPUE tertinggi (Tabel 27). Tabel 27 Nilai CPUE ikan selar pada masing-masing alat tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara Tahun 2003-2010 Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata Bagan Perahu CPUE FPI (ton) (trip) 0.0783 1.1336 0.1196 0.8144 0.0964 0.6847 0.0917 0.7899 0.0984 0.4900 0.0890 0.5125 0.1404 1.7090 0.1622 1.4958 0.1095 0.9537 Payang CPUE FPI (ton/trip) (trip) 0.0690 1 0.1469 1 0.1408 1 0.1161 1 0.2008 1 0.1736 1 0.0822 1 0.1084 1 0.1297 1 Purse seine CPUE FPI (ton/trip) (trip) 0.0372 0.5388 0.0915 0.6230 0.1287 0.9144 0.1557 1.3411 0.1345 0.6698 0.1026 0.5911 0.0555 0.6757 0.1017 0.9376 0.1009 0.7864 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Tabel 27, menunjukkan bahwa alat tangkap standar yang digunakan dalam upaya pemanfaatan sumberdaya ikan selar adalah alat tangkap payang, hal ini dikarenakan alat tangkap payang mempunyai nilai rata-rata CPUE tertinggi yaitu sebesar 0,1297. Alat tangkap standar mendapatkan nilai FPI 1 (satu) karena nilai CPUE payang dibagi dengan nilai CPUE payang. Sedangkan alat tangkap bagan 119 perahu dan purse seine distandardisasi dengan alat tangkap payang, sehingga di peroleh upaya penangkapan hasil standardisasi. Upaya penangkapan hasil standardisasi tertinggi terjadi pada tahun 2010 yaitu sebesar 4.205 trip/tahun dan yang terendah sebesar 2.615 trip/tahun yang terjadi pada tahun 2007. Sedangkan CPUE hasil standardisasi tertinggi sebesar 0.2008 ton/trip dan terendah sebesar 0.0690 ton/trip (Tabel 28). Tabel 28 Nilai upaya penangkapan dan CPUE ikan selar hasil standardisasi tahun 2003-2010 Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata Total hasil tangkapan (ton) 213 566 540 374 525 543 321 456 442 Upaya penangkapan standar (trip) 3.085 3.853 3.835 3.222 2.615 3.128 3.907 4.205 3.481 CPUE std (ton/trip) 0.0690 0.1469 0.1408 0.1161 0.2008 0.1736 0.0822 0.1084 0.1297 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Hubungan atau korelasi antara nilai CPUE dengan upaya penangkapan ikan lemuru diperlukan untuk mengetahui kecenderungan produktivitas unit penangkapan terhadap sumberdaya ikan selar (Gambar 39). Gambar 39 Hubungan CPUE dengan upaya penangkapan ikan selar di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. 120 Korelasi antara CPUE dengan upaya penangkapan ikan selar menunjukkan hubungan yang negatif, yaitu semakin tinggi upaya penangkapan maka semakin rendah CPUE-nya. Korelasi negatif tersebut mengindikasikan produktivitas payang akan menurun apabila upaya penangkapan mengalami peningkatan. Hubungan antara produksi (C) dengan CPUE terhadap upaya penangkapan (f) menghasilkan nilai a (intercep) sebesar 0.256 dan b (slope) sebesar -0.00003617 sehingga persamaan lestari Schaefer adalah : C = 0.β56f −0.0000γ617f2 Persamaan Schaefer di atas diperoleh nilai a dan b yang dapat digunakan untuk mengetahui upaya penangkapan optimum yaitu (F opt) = 3.534 trip/tahun. Setelah memasukkan nilai upaya optimum (F opt) tersebut ke dalam persamaan penangkapan lestari, sehingga diperoleh tingkat produksi lestari (MSY) sebesar 452 ton/tahun. Penambahan upaya penangkapan (effort) tidak selalu diikuti dengan peningkatan produksi. Sejak tahun 2003-2010 hampir semua upaya pemanfaatan ikan selar di Kabupaten Gorontalo Utara telah melampaui batas MSY dan effort optimum (Gambar 40). Gambar 40 Maximum sustainable yield ikan selar di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003 - 2010. Gambar 40, terlihat bahwa penambahan upaya penangkapan (effort) tidak selalu diikuti dengan peningkatan produksi. Sejak tahun 2003-2010 hampir semua upaya pemanfaatan ikan selar di Kabupaten Gorontalo Utara telah melampaui 121 batas MSY dan effort optimum. Persentase antara hasil tangkapan ikan selar dengan nilai MSY (maximum sustainable yield) menunjukkan tingkat pemanfaatan dari ikan selar sedangkan persentase perbandingan antara effort standar dengan effort optimum menunjukkan tingkat pengusahaan dari produksi ikan selar yang disajikan pada Tabel 29. Tabel 29 Tingkat pemanfaatan dan pengusahaan ikan selar di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003 – 2010 Tahun Cacth (ton) MSY (ton) 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 213 566 540 374 525 543 321 456 452 452 452 452 452 452 452 452 F standar (trip) 3.085 3.853 3.835 3.222 2.615 3.128 3.907 4.205 F optimum (trip) 3.534 3.534 3.534 3.534 3.534 3.534 3.534 3.534 Tingkat pemanfaatan (%) 47.16 125.30 119.55 82.80 116.23 120.21 71.06 100.95 Tingkat pengusahaan (%) 87.30 109.03 108.53 91.18 74.00 88.52 110.57 118.99 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Berdasarkan hasil perhitungan menunjukkan selama periode delapan tahun (2003-2010) tingkat pemanfaatan ikan selar berkisar antara 47,16-125,30% dan tingkat pengusahan produksi berkisar antara 87,30-118,99%. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pada Tabel 29, terlihat bahwa tingkat pemanfaatan pada tahun 2010 telah melebihi batas MSY, yaitu 100,95% dengan tingkat pengusahaan melebihi F opt yaitu sebesar 118,99%. 5.2.8 Produksi, upaya penangkapan dan CPUE ikan kembung Jumlah produksi ikan kembung di Kabupaten Gorontalo Utara berkisar antara 206-333 ton/tahun selama periode delapan tahun 2003-2010. Pemanfaatan ikan kembung oleh nelayan Kabupaten Gorontalo Utara ditangkap menggunakan alat tangkap bagan perahu, purse seine, dan gillnet dengan jumlah ikan yang dominan tertangkap oleh alat tangkap bagan perahu. Produksi tertinggi terjadi pada tahun 2009, yaitu sebesar 220 ton/tahun pada alat tangkap bagan perahu dan produksi terendah yaitu sebesar 26 ton/tahun yang terjadi pada tahun 2004 pada alat tangkap gillnet (Tabel 30). 122 Tabel 30 Produksi dan upaya penangkapan ikan kembung per alat tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003 - 2010 Purse seine Bagan Perahu Tahun Gillnet Produksi (ton) Upaya penangkapan (trip) Produksi (ton) Upaya penangkapan (trip) Produksi (ton) Upaya penangkapan (trip) 2003 192 2156 61 519 46 372 2004 109 1504 71 299 26 624 2005 112 1418 75 304 38 424 2006 115 1121 107 303 54 258 2007 193 1965 76 290 38 544 2008 113 1386 97 386 51 439 2009 220 1996 75 457 38 279 2010 111 1105 87 436 32 402 Rata-rata 145 1581 81 374 40 417 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Perkembangan produksi ikan kembung memiliki fluktuasi yang normal dengan kecenderungan meningkat. Pada tahun 2010 produksi kembung dengan unit penangkapan ikan purse seine terlihat mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, sedangkan untuk alat tangkap bagan perahu dan gillnet terlihat mengalami penurunan produksi (Gambar 41). Alat tangkap bahan perahu memiliki nilai rata-rata produksi sebesar 145 ton/tahun, purse seine sebesar 81 ton/tahun, dan gillnet sebesar 40 ton/tahun. 250 Total produksi tangkapan 350 200 Produksi (ton) Produksi (ton) 300 250 200 150 100 150 100 50 50 0 0 2003 2003 2004 2005 2006 2007 Tahun 2008 2009 2004 2010 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Tahun Produksi tangkapan Purse seine Produksi tangkapan bagan perahu Produksi tangkapan gillnet Gambar 41 Perkembangan produksi ikan kembung di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. 123 Perkembangan upaya penangkapan selama delapan tahun periode 20031010 memiliki kecenderungan menurun pada semua unit penangkapan ikan (Gambar 42). Pada tahun 2010 terjadi penurunan upaya penangkapan pada bagan perahu sebanyak 44,63% dibandingkan tahun sebelumnya, purse seine turun sebesar 4,55% dibandingkan tahun sebelumnya, sedangkan effort gillnet sebaliknya terjadi peningkatan sebesar 44,27% dibandingkan tahun sebelumnya (Lampiran 9). Gambar 42 Perkembangan upaya penangkapan ikan kembung per alat tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. Dari ketiga alat tangkap, upaya penangkapan ikan kembung didominasi oleh alat tangkap bagan perahu dengan jumlah rata-rata trip pertahun sebesar 1.581 trip/tahun. Selanjutnya dikuti oleh alat tangkap gillnet sebesar 418 trip/tahun dan purse seine sebesar 374 trip/tahun. Jumlah trip tertinggi yaitu sebesar 2.156 trip/tahun yang terjadi pada tahun 2003 pada alat tangkap bagan perahu, sedangkan trip terendah yaitu sebesar 258 trip/tahun pada alat tangkap gillnet. Nilai CPUE mencerminkan produktivitas dari alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan kembung. Nilai CPUE (Catch per unit effort) adalah pembagian dari produksi dengan upaya penangkapan. Permasalahannya adalah 124 kemampuan masing-masing alat tangkap berbeda-beda dalam memproduksi ikan kembung. Oleh karena itu, perlu dilakukan standardisasi upaya penangkapan sebelum menghitung potensi kembung. Alat tangkap yang dijadikan sebagai alat tangkap standar adalah jenis unit penangkapan yang nilai rata-rata CPUE tertinggi (Tabel 31). Tabel 31 Nilai CPUE ikan kembung pada masing-masing alat tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010 Gillnet Bagan Perahu Tahun Purse seine CPUE FPI CPUE FPI CPUE FPI (ton/trip) (ton) (ton/trip) (trip) (ton/trip) (trip) 2003 0.0888 0.7551 0.1222 1.0393 0.1176 1 2004 0.0726 0.3046 0.0410 0.1720 0.2384 1 2005 0.0791 0.3201 0.0887 0.3587 0.2472 1 2006 0.1021 0.2889 0.2073 0.5863 0.3535 1 2007 0.0983 0.3761 0.0697 0.2665 0.2615 1 2008 0.0815 0.3230 0.1154 0.4576 0.2522 1 2009 0.1102 0.6681 0.1353 0.8203 0.1649 1 2010 0.1004 0.5011 0.0788 0.3937 0.2003 1 Rata-rata 0.0916 0.4421 0.1073 0.4421 0.2294 1 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Tabel 31, menunjukkan bahwa unit penangkapan standar yang digunakan dalam upaya pemanfaatan sumberdaya ikan kembung adalah unit penangkapan purse seine, hal ini, karena unit penangkapan purse seine mempunyai nilai ratarata CPUE tertinggi dibandingkan dengan unit penangkapan bagan perahu atau unit penangkapan gillnet. CPUE tertinggi pada bagan perahu yaitu sebesar 0.1102 ton/trip, dan terendah sebesar 0.0791 ton/trip. Alat tangkap gillnet memiliki CPUE tertinggi sebesar 0.1353 ton/trip dan terendah sebesar 0.0410 ton/trip. Sedangkan untuk alat tangkap purse seine CPUE tertingg sebesar 0.2003 ton/trip. Nilai FPI alat standar bernilai 1 (satu), karena nilai CPUE standar atau purse seine dibagi dengan nilai CPUE purse seine (Tabel 32). Nilai upaya 125 penangkapan hasil standardisasi tertinggi terjadi pada tahun 2007 yaitu sebesar 1174 ton/trip, sedangkan yang terendah terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 778 ton/trip. Tabel 32 Nilai upaya penangkapan dan CPUE ikan kembung hasil standardisasi tahun 2003 - 2010 Total hasil tangkapan Upaya penangkapan standar CPUE std (ton) (trip) (ton/trip) 2003 298 2534 0.1176 2004 206 864 0.2384 2005 225 910 0.2472 2006 275 778 0.3535 2007 307 1174 0.2615 2008 261 1035 0.2522 2009 333 2019 0.1649 2010 230 1148 0.2003 Rata-rata 266 1307 0.2294 Tahun Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Hubungan atau korelasi antara nilai CPUE dengan upaya penangkapan ikan lemuru diperlukan untuk mengetahui kecenderungan produktivitas unit penangkapan terhadap sumberdaya ikan kembung (Gambar 43). Gambar 43 Hubungan CPUE dengan upaya penangkapan ikan kembung di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. 126 Korelasi antara CPUE dengan upaya penangkapan ikan kembung menunjukkan hubungan yang negatif, yaitu semakin tinggi upaya penangkapan maka semakin rendah CPUE-nya. Korelasi negatif tersebut mengindikasikan produktivitas alat tangkap akan menurun apabila upaya penangkapan mengalami peningkatan. Perubahan atau penambahan effort tidak selalu diikuti penambahan produksi ikan kembung. Hal ini, mengindikasikan bahwa peningkatan effort atau upaya penangkapan yang berlebihan akan menguras sumberdaya perikanan ikan kembung yang semakin terbatas, karena tidak sebanding dengan rekruitmen yang dalam jangka panjang akan menimbulkan overfishing. Hubungan antara produksi (C) dengan CPUE terhadap upaya penangkapan (f) menghasilkan nilai a (intercept) sebesar 0.355 dan b (slope) sebesar -0.00009616 sehingga persamaan lestari Schaefer adalah : C = 0.355f −0.0000616f2 Persamaan Schaefer di atas diperoleh nilai a dan b yang dapat digunakan untuk mengetahui upaya penangkapan optimum yaitu (F opt) = 1.847 trip/tahun. Setelah memasukkan nilai upaya optimum (F opt) tersebut ke dalam persamaan penangkapan lestari, sehingga diperoleh tingkat produksi lestari (MSY) sebesar 328 ton/tahun. Hubungan antara produksi lestari dengan effort dan produksi aktual dengan effort pada perikanan kembung di Kabupaten Gorontalo Utara disajikan pada Gambar 44. Gambar 44 Maximum sustainable yield ikan kembung di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. 127 Gambar 44, terlihat bahwa penambahan upaya (effort) tidak selalu diikuti dengan peningkatan produksi, pemanfaatan ikan kembung di Kabupaten Gorontalo Utara terlihat masih di bawah batas effort optimum dan MSY. Persentase perbandingan antara hasil tangkapan ikan kembung dengan nilai MSY (maximum sustainable yield) menunjukkan tingkat pemanfaatan dari ikan kembung, sedangkan persentase perbandingan antara effort standar dengan effort optimum menunjukkan tingkat pengusahaan dari produksi ikan kembung. Berdasarkan hasil perhitungan menunjukkan selama periode delapan tahun (20032010) tingkat pemanfaatan ikan kembung berkisar antara 62,80%-101,52% dan tingkat pengusahan produksi berkisar antara 42,11-137,17%. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pada Tabel 33, terlihat bahwa tingkat pemanfaatan pada tahun terakhir (2010) masih di bawah batas MSY, yaitu 70,12% dan tingkat pengusahaan sebesar 62,18% (Tabel 33). Tabel 33 Tingkat pemanfaatan dan pengusahaan ikan kembung di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010 Tahun Cacth (ton) MSY (ton) 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 298 206 225 275 307 261 333 230 328 328 328 328 328 328 328 328 F standar (trip) 2.534 864 910 778 1.174 1.035 2.019 1.148 F optimum 1.847 1.847 1.847 1.847 1.847 1.847 1.847 1.847 Tingkat pemanfaatan (%) 90.85 62.80 68.59 83.84 93.59 79.57 101.52 70.12 Tingkat pengusahaan (%) 137.17 46.78 49.29 42.11 63.57 56.04 109.33 62.18 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara 5.2.9 Produksi, upaya penangkapan dan CPUE ikan tongkol Ikan tongkol merupakan jenis ikan pelagis kecil yang termasuk dalam katagori ikan ekonomis penting, jumlah produksi ikan tongkol di Kabupaten Gorontalo Utara berkisar antara 1.387-1.694 ton/tahun selama periode delapan tahun 2003-2010 (Lampiran 10). Pemanfaatan ikan tongkol oleh nelayan Kabupaten Gorontalo Utara ditangkap dengan menggunakan alat tangkap purse seine, payang, dan gillnet dengan jumlah ikan dominan yang tertangkap 128 menggunakan alat tangkap purse seine (Tabel 34). Produksi tertinggi ikan tongkol pada masing-masing alat berbeda-beda. Untuk alat tangkap purse seine produksi tertinggi sebesar 1.034 ton/tahun, payang sebesar 522 ton/tahun dan alat tangkap gillnet sebesar 170 ton/tahun. Tabel 34 Produksi dan upaya penangkapan ikan tongkol per alat tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010 Purse seine Gillnet Payang Tahun Produksi (ton) Upaya penangkapan (trip) 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata 905 955 745 1034 998 792 1010 1013 931 15848 16586 11173 17430 16013 11433 17172 15598 15156 Produksi (ton) Upaya penangkapan (trip) Produksi (ton) Upaya penangkapan (trip) 453 477 522 467 486 446 470 511 479 5924 5293 4436 5215 5507 4717 7586 7801 5809 151 159 174 156 162 149 157 170 159 1975 2098 1479 1738 1836 1572 1862 1970 1816 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Produksi ikan tongkol menunjukkan kecenderungan meningkat pada semua unit alat tangkap. Produksi tertinggi ikan tongkol selama periode 20032010 terjadi pada tahun 2010. Perkembangan produksi tangkapan tongkol untuk masing-masing alat tangkap disajikan pada Gambar 45. 1200 Total produksi tangkapan 1800 1000 Produksi (ton) 1600 Produksi (ton) 1400 1200 1000 800 800 600 400 600 200 400 200 0 0 2003 2003 2004 2005 2006 2007 Tahun 2008 2009 2010 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Tahun Produksi tangkapan purse seine Produksi tangkapan payang Produksi tangkapan gillnet Gambar 45 Perkembangan produksi ikan tongkol di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. 129 Produksi tertinggi untuk masing-masing alat tangkap terjadi pada tahun 2006 yaitu sebesar 1.034 ton/tahun oleh unit purse seine, dan produksi terendah terjadi pada tahun 2005 yaitu sebesar 745 ton/tahun. Produksi tertinggi payang terjadi pada tahun 2005 yaitu sebesar 522 ton/tahun dan terendah terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 446 ton/tahun. Sedangkan untuk gillnet produksi tertinggi terjadi pada tahun 2004 yaitu sebesar 174 ton/tahun dan produksi terendah terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 149 ton/tahun. Upaya penangkapan ikan tongkol menggunakan alat tangkap purse seine, payang, dan gillnet (Gambar 46). Dari ketiga alat tangkap, upaya penangkapan ikan (effort) didominasi oleh alat tangkap purse seine dengan jumlah rata-rata trip/tahun sebesar 121.253 trip. Selanjutnya dikuti oleh alat tangkap payang sebesar 46.479 trip/tahun dan gillnet sebesar 14.529 trip/tahun (Lampiran 10). Gambar 46 Perkembangan upaya penangkapan ikan tongkol per alat tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003 - 2010. Perkembangan effort selama delapan tahun periode 2003-1010 memiliki kecenderungan yang fluktuatif. Pada tahun 2010 terjadi penurunan upaya penangkapan (effort) purse seine sebanyak 9,17 % dibandingkan tahun sebelumnya dan effort payang meningkat sebanyak 2,83% dan effort gillnet sebanyak 5,80% dibandingkan tahun sebelumnya. 130 Nilai CPUE mencerminkan produktivitas dari unit penangkapan yang digunakan untuk menangkap ikan tongkol (Tabel 35). Nilai CPUE (Catch per unit effort) yang merupakan hasil tangkapan ikan tongkol dibagi dengan trip atau upaya penangkapan. Tabel 35 Nilai CPUE ikan tongkol pada masing-masing alat tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010 Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata Purse seine CPUE FPI (ton) (trip) 0.0571 0.7476 0.0576 0.7588 0.0666 0.5661 0.0593 0.6624 0.0623 0.7054 0.0693 0.7326 0.0588 0.6990 0.0649 0.7504 0.0620 0.7027 Payang Gillnet CPUE FPI CPUE FPI (ton/trip) (trip) (ton/trip) (trip) 0.0764 1.0000 0.0764 1 0.0902 1.1889 0.0758 1 0.1177 1.0000 0.1177 1 0.0896 1.0000 0.0896 1 0.0883 1.0000 0.0883 1 0.0946 1.0000 0.0946 1 0.0620 0.7364 0.0841 1 0.0655 0.7576 0.0865 1 0.0855 0.9603 0.0891 1 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Perbedaan kemampuan alat tangkap dalam produksi hasil tangkapan merupakan masalah dalam perhitungan potensi sumberdaya ikan. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu dilakukan standardisasi alat tangkap (Tabel 36). Tabel 36 Nilai upaya penangkapan dan CPUE ikan tongkol hasil standardisasi tahun 2003-2010 2003 Total hasil tangkapan (ton) 1509 Upaya penangkapan standar (trip) 19746 CPUE std (ton/trip) 0.0764 2004 1591 20977 0.0758 2005 1441 12240 0.1177 2006 1657 18500 0.0896 2007 1646 18638 0.0883 2008 1387 14665 0.0946 2009 1637 19452 0.0841 2010 1694 19584 0.0865 Rata-rata 1570 17975 0.08913 Tahun Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara 131 Unit penangkapan standar yang digunakan dalam upaya pemanfaatan sumberdaya ikan tongkol adalah unit penangkapan gillnet, hal ini, karena unit penangkapan gillnet mempunyai nilai rata-rata CPUE tertinggi dibandingkan dengan unit penangkapan purse seine dan payang. Nilai upaya penangkapan berkisar antara 1.387-1.694 trip/tahun, sedangkan CPUE berkisar antara 0.07640.1177 ton/trip. Hubungan atau korelasi antara nilai CPUE dengan upaya penangkapan ikan tongkol diperlukan untuk mengetahui kecenderungan produktivitas pada sumberdaya ikan tongkol. Korelasi antara CPUE dengan upaya penangkapan tongkol menunjukkan hubungan yang negatif, yaitu semakin tinggi upaya penangkapan maka semakin rendah CPUE-nya. Korelasi negatif tersebut mengindikasikan produktivitas armada gillnet akan menurun apabila upaya penangkapan mengalami peningkatan Gambar 47. Gambar 47 Hubungan CPUE dengan upaya penangkapan ikan tongkol di Kabupaten Gorontalo Utara Tahun 2003-2010. Gambar 47, menunjukkan bahwa perubahan atau penambahan effort tidak selalu diikuti penambahan produksi ikan tongkol. Hal ini, mengindikasikan bahwa peningkatan effort atau upaya penangkapan akan menguras sumberdaya perikanan ikan tongkol yang semakin terbatas, karena tidak sebanding dengan rekruitmen yang dalam jangka panjang akan menimbulkan overfishing. 132 Hubungan antara produksi (C) dengan CPUE terhadap upaya penangkapan (f) menghasilkan nilai a (intercept) sebesar 0.09590 dan b (slope) sebesar -0.00000132 sehingga persamaan lestari Schaefer adalah : C = 0.09590f − 0.00000132f2 Persamaan Schaefer di atas diperoleh nilai a dan b yang dapat digunakan untuk mengetahui upaya penangkapan optimum yaitu (F opt) = 36.057 trip/tahun. Setelah memasukkan nilai upaya optimum (F opt) tersebut ke dalam persamaan penangkapan lestari, sehingga diperoleh tingkat produksi lestari (MSY) sebesar 1.729 ton/tahun. Hubungan antara produksi lestari dengan effort dan produksi aktual dengan effort pada perikanan tongkol di Kabupaten Gorontalo Utara disajikan pada Gambar 48. Produksi tahun 2004, 2006, 2007, 2009 dan 2010 memperlihatkan bahwa produksi ikan tongkol sudah mendekati batas MSY. Gambar 48 Maximum sustainable yield ikan tongkol di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. Persentase perbadingan antara hasil tangkapan tongkol dengan nilai MSY (maximum sustainable yield) menunjukkan tingkat pemanfaatan dari ikan tongkol sedangkan persentase perbandingan antara effort standar dengan effort optimum menunjukkan tingkat pengusahaan dari produksi tongkol. Berdasarkan hasil perhitungan menunjukkan selama periode delapan tahun (2003-2010) tingkat 133 pemanfaatan ikan tongkol berkisar antara 85,93%-102,66% dan tingkat pengusahan produksi berkisar antara 62,21-106,62%. Tabel 37 Tingkat pemanfaatan dan pengusahaan ikan tongkol di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010 Tahun Cacth (ton) MSY (ton) 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 1.509 1.591 1.441 1.657 1.646 1.387 1.637 1.694 1.729 1.729 1.729 1.729 1.729 1.729 1.729 1.729 F standar (trip) 19.746 20.977 12.240 18.500 18.638 14.665 19.452 19.584 F Optimum (trip) 36.057 36.057 36.057 36.057 36.057 36.057 36.057 36.057 Tingkat pemanfaatan (%) 87.25 92.02 83.34 95.86 95.20 80.23 94.66 98.00 Tingkat pengusahaan (%) 100.36 106.62 62.21 94.03 94.73 74.53 98.86 99.54 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara 5.2.10 Produksi, upaya penangkapan dan CPUE ikan kuwe Jumlah produksi ikan kuwe di Kabupaten Gorontalo Utara berkisar antara 125-259 ton/tahun selama periode delapan tahun 2003-2010, dengan menggunakan alat tangkap bubu, dan sero. Alat tangkap yang dominan menangkap ikana adalah bubu (Tabel 38). Tabel 38 Produksi dan upaya penangkapan ikan kuwe per alat tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003 - 2010. Bubu Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata Produksi (ton) 168 157 175 103 88 126 103 108 128 Sero Trip (trip) 4768 3611 3288 3239 3238 3240 3864 2456 3463 Produksi (ton) 72 85 84 44 38 80 44 46 61 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Trip (ton) 1974 2097 1478 1738 1835 1572 2862 2997 2069 134 Perkembangan produksi ikan kuwe memiliki fluktuasi yang normal dengan kecenderungan menurun pada kedua unit penangkapan (Gambar 49). Tahun 2010 produksi ikan kuwe mengalami peningkatan sebesar 4,76% untuk sero dan bubu. Produksi tertinggi terjadi pada tahun 2004 dan produksi terendah terjadi pada tahun 2003. Total produksi tangkapan 600 Produksi (ton) Produksi (ton) 500 400 300 200 100 0 200 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 2003 2003 2004 2005 2006 2007 Tahun 2008 2009 2004 2005 2010 2006 2007 2008 2009 2010 Tahun Produksi tangkapan bubu Produksi tangkapan sero Gambar 49 Perkembangan produksi ikan kuwe di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. Perkembangan effort selama delapan tahun periode 2003-1010 memiliki kecenderungan meningkat pada kedua unit penangkapan. Pada tahun 2010 terjadi penurunan upaya penangkapan (effort) pada kedua unit penangkapan tersebut (Gambar 50). Gambar 50 Perkembangan upaya penangkapan ikan kuwe per alat tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. 135 Upaya penangkapan ikan (effort) didominasi oleh alat tangkap bubu dengan jumlah rata-rata trip pertahun sebesar 3.463 trip/tahun. Selanjutnya dikuti oleh alat tangkap sero sebesar 2.069 trip/tahun (Lampiran 11). Unit penangkapan bubu turun sebanyak 36,44 % trip/tahun dibandingkan tahun sebelumnya, dan sero turun sebanyak 4,72% trip dibandingkan tahun 2009. Nilai CPUE mencerminkan produktivitas dari unit penangkapan yang digunakan untuk menangkap ikan kuwe (Tabel 39). Nilai CPUE (Catch per unit effort) merupakan produksi dibagi dengan trip atau upaya penangkapan ikan. Permasalahannya adalah perbedaan kemampuan masing-masing alat tangkap dalam menghasilkan produksi. Oleh sebab itu, perlu dilakukan standardisasi upaya penangkapan sebelum menghitung CPUE. Unit penangkapan yang dijadikan sebagai alat tangkap standar adalah unit penangkapan ikan yang mempunyai nilai rata-rata CPUE terbesar. Tabel 39 Nilai CPUE ikan kuwe pada masing-masing alat tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010 Bubu Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata CPUE (ton/trip) 0.0352 0.0436 0.0533 0.0318 0.0270 0.0390 0.0266 0.0439 0.0376 Sero FPI (ton/trip) 1 1 1 1 1 1 1 1 CPUE (ton/trip) 0.0365 0.0403 0.0566 0.0254 0.0204 0.0508 0.0154 0.0154 0.0326 FPI (ton/trip) 1.0352 0.9255 1.0622 0.7987 0.7562 1.3033 0.5786 0.3512 0.8513 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Tabel 39, menunjukkan bahwa unit penangkapan standar yang digunakan dalam upaya pemanfaatan sumberdaya ikan kuwe adalah unit penangkapan ikan bubu, hal ini dikarenakan unit penangkapan bubu mempunyai nilai rata-rata CPUE tertinggi yaitu sebesar 0,0376, dibandingkan nilai rata-rata CPUE sero sebesar 0,0326. Nilai FPI alat standar bernilai 1 (satu), karena nilai alat tangkap standar atau alat tangkap bubu dibagi dengan alat tangkap bubu (Tabel 40). 136 Tabel 40 Nilai upaya penangkapan tahun 2003-2010 Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata Total hasil tangkapan (ton) 240 242 259 147 125 206 147 154 190 dan CPUE ikan kuwe hasil standardisasi Upaya penangkapan standar (ton) 6.811 5.552 4.858 4.627 4.626 5.289 5.520 3.509 5.099 CPUE std (ton/trip) 0.0352 0.0436 0.0533 0.0318 0.0270 0.0390 0.0266 0.0439 0.03755 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Hubungan atau korelasi antara nilai CPUE dengan upaya penangkapan ikan kuwe diperlukan untuk mengetahui kecenderungan produktivitas alat tangkap pada sumberdaya ikan kuwe. Korelasi antara CPUE dengan upaya penangkapan kuwe menunjukkan hubungan yang negatif, yaitu semakin tinggi upaya penangkapan, maka semakin rendah CPUE-nya. Korelasi negatif tersebut mengindikasikan produktivitas unit penangkapan bubu akan menurun apabila upaya penangkapan mengalami peningkatan (Gambar 51). Gambar 51 Hubungan CPUE dengan upaya penangkapan ikan kuwe di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. 137 Gambar 51, menunjukkan bahwa perubahan atau penambahan effort tidak selalu diikuti penambahan produksi ikan kuwe. Hal ini, mengindikasikan bahwa peningkatan effort atau upaya penangkapan akan menguras sumberdaya perikanan ikan kuwe yang semakin terbatas karena tidak sebanding dengan rekruitmen yang dalam jangka panjang akan menimbulkan overfishing. Hubungan antara produksi (C) dengan CPUE terhadap upaya penangkapan (f) menghasilkan nilai a (intercept) sebesar 0.046925 dan b (slope) sebesar 0.00000184, sehingga persamaan lestari Schaefer adalah : C = 0.0δ69β5 f −0.0000018δ f2 Persamaan Schaefer di atas diperoleh nilai a dan b yang dapat digunakan untuk mengetahui upaya penangkapan optimum yaitu (F opt) = 12.762 trip/tahun. Setelah memasukkan nilai upaya optimum (F opt) tersebut ke dalam persamaan penangkapan lestari, sehingga diperoleh tingkat produksi lestari (MSY) sebesar 299 ton/tahun. Hubungan antara produksi lestari dengan effort dan produksi aktual dengan effort pada sumberdaya ikan kuwe di Kabupaten Gorontalo Utara disajikan pada Gambar 52. Produksi ikan kuwe sejak tahun 2003-2010 memperlihatkan tingkat pemanfaatan yang masih di bawah MSY dan batas upaya penangkapan. Gambar 52 Maximum sustainable yield ikan kuwe di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. 138 Persentase antara hasil tangkapan kuwe dengan nilai MSY (maximum sustainable yield) menunjukkan tingkat pemanfaatan dari ikan kuwe, sedangkan persentase antara effort standar dengan effort optimum menunjukkan tingkat pengusahaan dari ikan kuwe. Berdasarkan hasil perhitungan menunjukkan selama periode delapan tahun (2003-2010) tingkat pemanfaatan ikan kuwe berkisar antara 41,81-86,62% dan tingkat pengusahan produksi berkisar antara 27,49-53,37% (Tabel 41). Tabel 41 Tingkat pemanfaatan dan pengusahaan kuwe di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003 – 2010. Tahun Cacth (ton) MSY (ton) 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 240 242 259 147 125 206 147 154 299 299 299 299 299 299 299 299 F standar (trip) 6.811 5.552 4.858 4.627 4.626 5.289 5.520 3.509 F optimum (trip) 12.762 12.762 12.762 12.762 12.762 12.762 12.762 12.762 Tingkat pemanfaatan (%) 80.27 80.94 86.62 49.16 41.81 68.90 49.16 51.51 Tingkat pengusahaan (%) 53.37 43.50 38.07 36.26 36.25 41.44 43.25 27.49 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pada Tabel 41, terlihat bahwa tingkat pemanfaatan pada tahun terakhir (2010) telah melebihi batas MSY yaitu 51,51% dengan tingkat pengusahaan sebesar 27,49%. 5.2.11 Produksi, upaya penangkapan dan CPUE ikan kerapu Jumlah produksi ikan kerapu di Kabupaten Gorontalo Utara berkisar antara 252-691 ton/tahun selama periode delapan tahun 2003-2010. Pemanfaatan ikan kerapu oleh nelayan Kabupaten Gorontalo Utara ditangkap dengan menggunakan alat tangkap bubu, pancing ulur, dan sero dengan jumlah ikan dominan yang tertangkap menggunakan alat tangkap pancing. Secara rinci produksi ikan kerapu pada masing-masing alat tangkap dan jumlah trip disajikan pada Tabel 42. 139 Tabel 42 Produksi dan upaya penangkapan ikan kerapu per alat tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010 Bubu Pancing Sero .Tahun Produksi (ton) Upaya penangkapan (trip) Produksi (ton) Upaya penangkapan (trip) Produksi (ton) Upaya penangkapan (trip) 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata 98 207 102 179 124 76 80 97 120 2.675 1.541 1.570 1.561 1.496 1.993 2.359 2.251 1.930 163 346 170 299 207 126 133 161 200 4.291 3.823 3.702 3.540 2.843 3.063 2.033 3.097 3.299 65 138 68 120 83 50 53 64 80 1.321 1.490 1.357 1.449 1.936 2.524 2.594 2.940 1.951 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Perkembangan produksi ikan kerapu memiliki fluktuasi yang normal dengan kecenderungan menurun (Gambar 53). Produksi tangkapan kerapu pada tahun terakhir (2010) memiliki kecenderungan meningkat jika dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi kerapu dengan unit penangkapan bubu, pancing, dan sero dimana penurunan produksi tahun 2010 sebesar 21,51% dibanding tahun 2009. Jumlah produksi hasil tangkapan ikan kerapu salah satunya dipengaruhi oleh upaya penangkapan ikan (effort) atau trip. Trip merupakan jumlah hari melakukan usaha penangkapan ikan. Semakin tinggi jumlah trip biasanya diikuti oleh peningkatan jumlah produksi. 400 350 700 300 Produksi (ton) Produksi (ton) Total produksi tangkapan 800 600 500 400 300 250 200 150 100 200 50 100 0 0 2003 2003 2004 2005 2006 2007 Tahun 2008 2009 2004 2010 Produksi tangkapan bubu 2005 2006 2007 Tahun Produksi tangkapan sero 2008 2009 2010 Produksi tangkapan pancing Gambar 53 Perkembangan produksi ikan kerapu di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. 140 Gambar 53, menunjukkan bahwa upaya penangkapan ikan kerapu menggunakan alat tangkap bubu, pancing, dan sero. Dari ketiga alat tangkap, upaya penangkapan ikan didominasi oleh alat tangkap pancing dengan jumlah rata-rata trip pertahun sebesar 3.299 trip/tahun. Selanjutnya dikuti oleh alat tangkap sero sebesar 1.951 trip/tahundan bubu sebesar 1.931 trip/tahun. Perkembangan effort selama delapan tahun periode 2003-1010 memiliki kecenderungan meningkat pada unit sero dan bubu, sedangkan unit pancing terlihat kecenderungan menurun (Gambar 54). Pada tahun 2010 terjadi kenaikan upaya penangkapan (effort) pancing sebanyak 52,34% dan effort sero sebanyak 13,34% dibandingkan tahun sebelumnya. Trend perkembangan effort terlihat pada Gambar 54 Perkembangan upaya penangkapan ikan kerapu per alat tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. Nilai CPUE (Catch per unit effort) adalah pembagian dari produksi dengan upaya penangkapan. Permasalahannya adalah perbedaan kemampuan masing-masing alat tangkap dalam memproduksi. Oleh karena itu, perlu dilakukan standardisasi upaya penangkapan sebelum menghitung potensi sumberdaya ikan kerapu. Alat tangkap yang dijadikan sebagai alat tangkap standar adalah unit penangkapan yang banyak menangkap ikan kerapu. Ikan yang banyak menangkap ikan kerapu adalah jenis ikan pancing ulur. Nilai FPI pancing bernilai 1 (satu) karena CPUE pancing dibagi dengan CPUE pancing (Tabel 43). 141 Tabel 43 Nilai CPUE ikan kerapu pada masing-masing alat tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010 Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata Pancing CPUE FPI (ton/trip) (trip) 0.0380 1 0.0904 1 0.0458 1 0.0845 1 0.0726 1 0.0411 1 0.0652 1 0.0520 1 0.0612 1 Bubu CPUE (ton/trip) 0.0366 0.1346 0.0648 0.1149 0.0828 0.0379 0.0337 0.0429 0.0685 FPI (trip) 0.9623 1.4889 1.4151 1.3604 1.1406 0.9224 0.5172 0.8254 1.0790 Sero CPUE (ton/trip) 0.0494 0.0928 0.0500 0.0825 0.0427 0.0200 0.0204 0.0219 0.0474 FPI (trip) 1.2993 1.0263 1.0912 0.9772 0.5874 0.4854 0.3135 0.4214 0.7752 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara Tabel 43, menunjukkan bahwa alat tangkap standar yang digunakan dalam upaya pemanfaatan sumberdaya ikan kerapu adalah unit penangkapan bubu, hal ini dikarenakan unit penangkapan bubu mempunyai nilai rata-rata CPUE tertinggi, dibandingkan nilai rata-rata CPUE dari sero dan pancing yaitu CPUE rata-rata bubu sebesar 0,0685 sedangkan CPUE rata-rata sero sebesar 0,0326 dan pancing sebesar 0,0612. Hasil perhitungan upaya penangkapan bubu (alat tangkap standar) selama periode 2003-2010 berkisar antara 5.686-8.582 trip/tahun, dimana jumlah trip tertinggi pada tahun 2009 dan terendah pada tahun 2007 (Tabel 44). Tabel 44 Nilai upaya penangkapan dan CPUE ikan kerapu hasil standardisasi tahun 2003-2010 Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Rata-rata Total hasil tangkapan (ton) 326 691 339 598 413 252 265 322 400 Upaya penangkapan standar (trip) 8582 7646 7404 7080 5686 6126 4066 6194 6598 Sumber : Diolah dari data statistik DKP Kabupaten Gorontalo Utara CPUE std (ton/trip) 0.0366 0.1346 0.0648 0.1149 0.0828 0.0379 0.0337 0.0429 0.0685 142 Hubungan atau korelasi antara nilai CPUE dengan upaya penangkapan ikan kerapu diperlukan untuk mengetahui kecenderungan produktivitas unit penangkapan pada sumberdaya ikan kerapu. Korelasi antara CPUE dengan upaya penangkapan kerapu menunjukkan hubungan yang positif, yaitu semakin tinggi upaya penangkapan maka semakin CPUE-nya. Korelasi positif tersebut mengindikasikan produktivitas unit penangkapan akan meningkat apabila upaya penangkapan mengalami peningkatan Gambar 55. Gambar 55 Hubungan CPUE dengan upaya penangkapan ikan kerapu di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. 5.3 Kelayakan Usaha Perikanan Analisis finansial yang dilakukan dalam usaha pengembangan perikanan di Kabupaten Gorontalo Utara, meliputi perhitungan biaya investasi, biaya operasional penangkapan, biaya total, pendapatan total dan keuntungan yang dihitung berdasarkan kriteria investasi seperti, Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR) terhadap 8 (delapan) jenis alat tangkap terpilih, yang terdiri dari purse seine, bagan perahu, bubu, pancing ulur, payang, sero, dan gillnet. Dalam penyusunannya analisis finansial usaha perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara, asumsi-asumsi dasar yang digunakan antara lain: 143  Umur proyek ditentukan selama sepuluh tahun, didasarkan pada perkiraan umur ekonomis unit penangkapan ikan yang merupakan komponen investasi terbesar.  Cash flow diasumsikan bahwa tanpa proyek dianggap nol karena usaha yang dilakukan adalah usaha baru untuk pengembangan usaha perikanan tangkap yang layak di daerah tersebut.  Harga ikan dirata-ratakan tergantung ikan yang dominan tertangkap  Hari kerja adalah rata-rata pertahun/trip.  Tingkat pinjaman bunga bank yang berlaku adalah 12%. Berdasarkan hasil perhitungan analisis finansial meliputi nilai NPV, B/C dan IRR diperoleh hasil seperti pada Tabel 45. Tabel 45 Analisis finansial unit usaha penangkapan ikan di Kabupaten Gorontalo Utara No 1 2 3 4 5 6 7 8 Unit Usaha Penangkapan Purse seine Pancing Tuna Bagan Perahu Payang Pancing Ulur Sero Bubu Gillnet Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp NPV 241,082,371 217,350,579 57,286,958 12,637,657 7,224,660 4,639,817 8,419,727 12,782,057 Net B/C 1.56 1.95 1.48 1.30 1.76 1.42 1.84 1.91 IRR 24.63% 32.50% 22.88% 18.97% 28.65% 21.61% 30.29% 31.70% Sumber : Diolah dari aata primer usaha penangkapan ikan di Kabupaten Gorontalo Utara Net present value yang selanjutnya sering disebut dengan NPV merupakan selisih antara pengeluaran dan pemasukan yang telah didiskon dengan menggunakan discount factor, atau dengan kata lain merupakan arus kas yang diperkirakan pada masa yang akan datang yang didiskontokan pada saat ini. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai Net Present Value (NPV) dari 8 (delapan) jenis alat tangkap terpilih yang di kaji berdasarkan tahun perhitungan dengan discount rate sebesar 12% (suku bunga bank BNI) menunjukkan bahwa usaha penangkapan dengan menggunakan alat tangkap purse seine, pancing tuna dan bagan perahu mempunyai nilai NPV yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan alat tangkap lainnya. Purse seine mempunyai NPV terbesar yaitu Rp 241.082.371 dalam 10 tahun, diikuti dengan pancing tuna dan bagan perahu 144 secara berturut-turut dengan nilai NPV sebesar Rp 217.350.579 dan Rp 57.286.985 dalam 10 tahun. Berdasarkan kriteria NPV maka alat tangkap purse seine dan pancing tuna dan bagan perahu dikatakan layak dengan masa pengusahaan 10 tahun. Net benefit cost ratio merupakan perbandingan antara keuntungan bersih dari usaha perikanan dengan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan usaha perikanan. Net B/C dari masing-masing unit penangkapan menggambarkan berapa kali lipat benefit yang akan diperoleh dari cost yang dikeluarkan. Dari hasil analisis yang dilakukan terhadap 8 (delapan) jenis alat tangkap dengan discount factor yang sama dengan perhitungan NPV yaitu sebesar 12% (suku bunga bank BNI), diketahui bahwa untuk pengusahaan dalam jangka waktu 10 tahun semua unit penangkapan mempunyai nilai net B/C lebih dari 1 (satu). Tiga urutan terbesar nilai net B/C dari unit usaha penangkapan ikan yaitu pancing tuna dengan net B/C 1,95 gillnet dengan net B/C 1,91 dan bubu dengan net B/C 1,81. Internal Rate of Return (IRR) merupakan indikator efisiensi dari suatu investasi, dalam hal ini usaha unit perikanan. IRR bertujuan untuk mengetahui persentase keuntungan dari suatu usaha setiap tahun dan juga merupakan alat ukur bagi kemampuan usaha dalam mengembalikan bunga pinjaman. IRR dapat juga dianggap sebagai tingkat keuntungan atas investasi bersih dalam suatu usaha. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai Internal Rate of Return (IRR) dari 8 (delapan) unit usaha penangkapan menunjukkan bahwa persentase yang dihasilkan masih lebih besar dari bunga bank yang sebesar 12%, sehingga bisa dikatakan unit dari usaha tersebut layak untuk dijalankan. Dari ketujuh unit usaha yang dianalisis, unit usaha dengan nilai IRR tertinggi adalah unit usaha pancing tuna yaitu sebesar 32,50%. Selanjutnya unit usaha dengan nilai IRR tertinggi lainnya adalah gillnet dah bubu dengan nilai IRR secara berturut-turut masingmasing sebesar 31,70% dan 30,29%. 5.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terhadap Pengembangan Perikanan Tangkap Mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan perikanan tangkap dilakukan dengan menggunakan analisis SEM seperti yang di jalaskan pada Gambar 56, yang meliputi produksi ikan (X1) dipengaruhi oleh 145 musim (X1.1), jarak antara daerah fishing ground dan fishing base (X1.2) zona penangkapan ikan (X1.3), unit penangkapan ikan X2 dipengaruhi oleh : efektifitas menangkap ikan (X2.1), kemudahan pengoperasian alat tangkap (X2.2), kemudahan perbaikan alat tangkap (X2.3), ramah lingkungan (X2.4), keamanan hasil tangkapan (X2.5), sarana dan prasarana (X3) dipengaruhi oleh : TPI dan pelabuhan perikanan (X3.1), penyediaan es (X3.2), tempat penampungan ikan (X3.3), sarana informasi (X3.4), tempat pengolah ikan (X3.5), bengkel (X3.6), BBM (X3.7), kedai nelayan (X3.8), aspek sosial nelayan X4 dipengaruhi oleh : tingkat kepercayaan (X4.1), kemampuan berkelompok/berorganisasi (X4.2), kecintaan terhadap pekerjaan (X4.3), tenaga kerja (X4.4), keamanan, kepastian hukum dan pengawasan X5 dipengaruhi oleh: kepastian hukum (X5.1), keamanan(X5.2), pengawasan (X5.3), aspek ekonomi X6 dipengaruhi oleh : pasar (X6.1), kemitraan (X6.2), dukungan modal (X6.3), kestabilan harga ikan (X6.4), kemudahan perizinan (X6.5) Sedangkan variabel unit penangkapan ikan (Y1) dipengaruhi oleh : purse seine (Y1.1), pancing ikan tuna (Y1.2), bagan perahu (Y1.3), bubu (Y1.4), pancing ulur (Y1.5), payang (Y1.6) sero, (Y1.7) gillnet (Y1.8) dan sasaran pengembangan (Y2) dipengaruhi oleh : menciptakan pertumbuhan ekonomi di daerah (Y2.1), peningkatan produksi hasil tangkapan (Y2.2), menjamin mutu hasil tangkapan ikan (Y2.3). Setelah dilakukan analisis dari model pengembangan perikanan tangkap, maka dilakukan pengujian terhadap asumsi dasar SEM. Pengujian hipotesis uji kesesuaian model penelitian bahwa H0 : Matriks kovariansi data sampel tidak berbeda dengan maktriks populasi yang di estimasi. Dengan kriteria uji: H0 diterima, jika nilai p-hitung ≥ 0,05; RεSEA ≤ 0,08 dan CFI ≥ 0,90. Gambar 56, menunjukkan nilai p-hitung = 0.00 < 0,05, nilai Root Mean Square Error of Approximation of Approximation (RMSEA) = 0,054 < 0,08, dan nilai Comparative Fit Indeks (CFI) = 0,71 < 0,90. Maka, H1 diterima atau H0 ditolak, artinya model yang diuji tidak mampu mengestimasi matriks kovariansi populasi atau hasil estimasi parameter model tidak dapat diberlakukan pada populasi penelitian. Dengan demikian hasil pengujian kesesuian model pengembangan perikanan tangkap menunjukkan model pengukuran tidak fit dengan data, maka model perlu diperbaiki. 146 X 1.2 X 1.1 X 2.1 4.09 X 2.2 9.64 0.24 X 1.3 -36.41 45.56 X1 7.89 X 2.3 Y 1.1 1.93 2.44 X2 Y 1.2 0.040 8.73 X 2.4 X 3.1 -2.62 10.75 X 2.5 X 3.2 4.30 4.19 X 3.3 2.34 Y 1.3 2.36 Y 1.4 2.17 4.56 0.66 Y1 X3 R² = 0.00084 Y 1.5 1.85 X 3.4 X 4.1 11.14 4.27 2.23 Y 1.6 2.22 Y 1.7 1.45 Y 1.8 5.11 X 3.5 5.34 X4 X 4.2 4.07 6.00 X 3.6 -0.92 X 4.3 4.19 X 3.7 X 4.4 11.39 3.65 2.97 Y2 -2.03 X 3.8 X 5.1 Y 2.1 11.48 Y 2.2 11.53 9.28 X5 1.05 1.23 Y 2.3 X 5.2 X 5.3 X6 1.16 20.30 2.88 X 6.1 X 6.2 3.51 X 6.3 2.88 X 6.4 2.55 X 6.5 Chi Square = 893.90, df =695, P-value = 0.00, RMSEA = 0.054, CFI =0.71 Gambar 56 Estimasi model pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara yang belum fit. 147 Langkah berikutnya adalah melakukan modifikasi terhadap model yang tidak memenuhi syarat pengujian yang telah dilakukan seperti yang terlihat pada Gambar 57. X 1.1 X 13 4.40 5.02 X 2.1 9.21 X1 8.93 X2 X 2.2 X 3.1 1.55 X 2.4 5.46 Y 1.1 6.94 8.51 1.48 X 3.2 X 3.3 5.92 Y 1.2 5.70 5.73 0.41 X3 5.78 Y 1.3 Y1 R² = 0.98 6.18 5.32 X 3.5 Y 1.5 X 4.1 7.40 1.69 5.18 X 3.7 4.53 6.86 X4 X 4.2 Y 1.6 7.69 3.11 X 4.3 Y 2.1 4.41 X 4.4 6.60 1.57 Y2 R² = 0.32 Y 2.2 3.26 3.24 X 5.1 7.61 2.71 X5 2.98 Y 2.3 X 5.2 X6 7.38 X 5.3 5.27 X 6.1 8.53 X 6.2 7.70 X 6.3 6.04 X 6.4 Chi Square = 285.84 df =355, P-value = 0.90, RMSEA = 0.061, CFI =0.97 Gambar 57 Estimasi model pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara yang sudah fit. 148 Gambar 57, menunjukkan nilai p-hitung = 0.90 > 0.05, nilai Root Mean Square Error Appoximation (RMSEA) = 0.061 < 0.08 dan nilai Comparative Fit Indeks (CFI) = 0.97 > 0.90. Berdasarkan hasil uji model tersebut, maka H0 diterima atau H1 ditolak, artinya model yang diuji mampu mengestimasi matriks kovariansi populasi atau hasil estimasi parameter model dapat diberlakukan pada penelitian. menunjukkan Dengan demikian bahwa hasil pengujian kesesuaian model bahwa model pengukuran fit dengan data atau model pengembangan perikanan tangkap sesuai dengan pengujian. Hasil analisis SEM menunjukkan bahwa model pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara dipengaruhi oleh produksi ikan (x1), unit penangkapan ikan (x2) sarana dan prasarana (x3), aspek sosial nelayan (x4), keamanan dan kepastian hukum serta pengawasan (x5), dan aspek ekonomi (x6). Secara matematik, persamaan model struktural dapat dirumuskan sebagai berikut Y1 = 1.55X1 + 1.84X2 + 0.41X3 + 1.69X4 + 1.57X5 + 2.71X6. Namun dari persamaan diperoleh hanya ada satu yang memberikan pengaruh signifikan yaitu aspek ekonomi, karena nilai (X6) 2,71 > 1,96 pada α=0,05 dan nilai koefesien determinasi R2 = 0.98 artinya bahwa model tersebut mampu dijelaskan sebesar 98 persen. Untuk sasaran pengembangan hasil analisis menunjukkan adanya pengaruh dari pengembangan unit perikanan tangkap, dengan rumus model matematik sebagai berikut : Y2 = 0.56Y1, dimana pengaruh Y1 peubah tersebut yaitu 0.γβ yang nyata pada α = 0.05, atau H1 diterima dengan koefesien determinasi R2 = 0.32 artinya bahwa model tersebut mampu dijelaskan sebesar 32 persen. Hasil analisis SEM model yang fit pada pengujian model pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara bahwa; (1) oleh musim dan zona penangkapan berpengaruh terhadap produksi ikan, (2) oleh efektifitas menangkap ikan, kemudahan pengoperasian alat tangkap, ramah lingkungan, berpengaruh terhadap unit penangkapan ikan (3) TPI dan pelabuhan perikanan, kesediaan es, tempat menampung ikan, tempat pengolah ikan, dan kesediaan BBM berpengaruh terhadap sarana dan prasarana (4) tingkat kepercayaan nelayan, kemampuan berkelompok atau berorganisasi, kecintaan terhadap pekerjaan, dan penyerapan 149 tenaga kerja berpengaruh terhadap aspek sosial (5) keamanan, kepastian hukum dan pengawasan berpengaruh terhadap keamanan, kepastian hukum, dan pengawasan (6) pasar, kemitraan, dukungan modal, dan kestabilan harga ikan berpengaruh terhadap aspek ekonomi, (7) purse seine, pancing tuna, bagan perahu, pancing ulur, dan payang berpengaruh terhadap pengembangan unit penangkapan ikan, (8) menciptakan pertumbuhan ekonomi, peningkatan produksi hasil tangkapan, dan menjamin mutu hasil tangkapan berpengaruh terhadap sasaran pengembangan. Faktor-faktor yang tidak berpengaruh terhadap model pengembangan perikanan tangkap yaitu: (1) jarak antara fishing ground dan fishing base tidak berpengaruh terhadap produksi ikan, (2) kemudahan perbaikan alat tangkap dan keamanan hasil tangkapan tidak berpengaruh terhadap unit penangkapan ikan, (3) sarana informasi bengkel dan kedai nelayan tidak berpengaruh terhadap sarana dan prasarana, (4) kemudahan perizinan tidak berpengaruh terhadap aspek ekonomi, (5) unit tangkap bubu, sero dan gillnet tidak berpengaruh terhadap pengembangan unit penangkapan ikan. 6 PEMBAHASAN 6.1 Status Sumberdaya Ikan Pengelolaan sumberdaya ikan merupakan suatu aspek yang sangat fragile disektor perikanan, ketidakmampuan pengelolaan sumberdaya ikan khususnya sumberdaya perikanan tangkap dapat berakibat menurunnya pendapatan sektor perikanan tangkap yang berasal dari sumber yang ada. Penangkapan yang berlebihan akan mengakibatkan potensi lestari dari sumber daya ikan akan menurun dan dalam jangka panjang akan mengakibatkan biological overfishing bahkan kepunahan dari spesies. Oleh karena itu, perlu pengelolaan sumberdaya ikan yang lestari. Pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap yang akan di kembangkan melalui pengembangan perikanan, terlebih dahulu mengetahui potensi sumberdaya ikan yang akan mendukung pengembangan perikanan tangkap di daerah tersebut. Hasil perhitungan analisis potensi sumberdaya ikan dominan memperlihatkan bahwa status potensi sumberdaya ikan di Kabupaten Gorontalo Utara pada tahun 2010 dalam katagori moderately exploited hingga over exploited (Tabel 46). Tabel 46 Status potensi sumberdaya ikan di Kabupaten Gorontalo Utara pada tahun 2010 (trip/thn) Tingkat pemanfaatan (%) Tingkat pengusahaan (%) Peluang pemanfaatan (%) Peluang pengusahaan (%) - - - - - 6194 - - - - - 3562 55758 36195 72.41 154.05 27.59 -54.05 783 1130 4557 14347 69.32 31.77 30.68 68.24 Teri 176 194 2905 4204 90.72 69.10 9.28 30.90 Tuna 392 410 2914 4202 95.61 69.35 4.39 30.65 Lemuru 468 432 2437 1832 108.27 133.05 -8.27 -33.05 Selar 456 452 4205 3534 100.95 118.99 -0.95 -18.99 Kembung 230 328 1148 1847 70.12 62.18 29.88 37.82 Tongkol 1694 1729 19584 36057 98.00 99.54 2.00 0.46 Kuwe 154 299 3509 12762 51.51 27.49 48.49 72.51 F Std F Opt (trip/thn) 4843 - 2579 Tembang Jenis Ikan Cacth MSY (ton) (ton/thn) Layang 1880 - Kerapu 322 Cakalang Sumber : Data DKP Kabupaten Gorontalo Utara (telah diolah) 152 Tabel 46, terlihat bahwa ikan layang dan kerapu tidak memiliki nilai MSY, F optimum, tingkat pemanfaatan, tingkat pemanfaatan peluang pemanfaatan dan peluang pengusahaan. Hal ini karena, hubungan antara CPUE dan upaya penangkapan masih menunjukan nilai positif dan tidak bisa dikelompokkan dalam kategori menurut Bailey (1987) dan FAO (2000). Hasil analisis pada Tabel 46, yang dapat dikategorikan berdasarkan kriteria Bailey (1987) dan FAO (2000), tentang status pemanfaatan sumberdaya ikan di suatu perairan sebagai berikut : 1) Kategori moderately exploited Moderately exploited adalah stok sumberdaya ikan sudah tereksploitasi setengah dari MSY. Pada kondisi ini, peningkatan jumlah upaya penangkapan masih dianjurkan tanpa mengganggu kelestarian sumberdaya ikan, akan tetapi hasil tangkapan per unit upaya mungkin mulai menurun. Ikan yang termasuk dalam kriteria ini yaitu ikan tembang, kuwe dan kembung. Ikan tembang tahun 2010 tingkat pemanfaatannya mancapai 69,29% dimana produksi pada tahun 2010 mencapai 783 ton sedangkan nilai MSY nya adalah 1.130 ton dengan tingkat pengusahaan 31,77%. Potensi pemanfaatan produksi ikan tembang masih mempunyai peluang 30,68% dengan peluang peningkatan potensi pengusahaan hingga 68,24%. Dari analisis tersebut dapat dikatakan usaha pengembangan produksi untuk ikan tembang masih layak dikembangkan. Ikan kembung pada tahun 2010, tingkat pemanfaatan kembung mencapai 70,12% dimana produksi pada tahun tersebut sebesar 230 ton dari total MSY 328 ton/tahun dengan upaya pengusahaan sebesar 62,18%. Produksi tangkapan kembung masih berpeluang untuk ditingkatkan pengusahaannya, dimana peluang potensi pengusahan sebesar 37,82% untuk memperoleh peluang produksi sebesar 29,88%. Peningkatan jumlah upaya (trip) sangat direkomendasikan untuk pencapaian produksi optimum. Ikan kuwe merupakan sumberdaya ikan demersal yang berpotensi untuk dikembangkan di Kabupaten Gorontalo Utara. Pada tahun 2010 pemanfaatan potensi ikan kuwe baru mencapai 51,51% atau sebesar 154 ton dari MSY 299 ton/tahun. Pemanfaatan potensi yang masih rendah disebabkan karena upaya 153 pengusahaan yang masih rendah yaitu baru mencapai 27,50% dari effort optimal atau sebesar 3509 trip dari upaya optimum sebesar 12762 trip/tahun. Potensi peluang peningkatan pemanfaatan dan pengusahaan kuwe masih terbuka cukup besar dimana potensi peningkatan produksi tangkapan masih dapat ditingkatkan hingga 48,49% dengan potensi pengusahaan sebesar 72,51%. 2) Fully exploited, Fully exploited, artinya stok sumberdaya ikan sudah tereksploitasi mendekati nilai MSY. Peningkatan jumlah upaya penangkapan sangat tidak dianjurkan, walaupun hasil tangkapan masih dapat meningkat. Peningkatan upaya penangkapan akan mengganggu kelestarian sumberdaya ikan dan hasil tangkapan per unit upaya pasti turun. Jenis ikan yang termasuk dalam kriteria Fully exploited yaitu ikan teri, tuna dan tongkol. Tingkat pemanfaatan ikan teri tahun 2010 di Kabupaten Gorontalo Utara mencapai 90,72% dimana produksi pada tahun 2010 sebesar 176 ton dari total MSY sebesar 194 ton dengan tingkat pengusahaan sebesar 69,10% atau sebanyak 2.905 trip dari 4.204 trip optimal. Peluang potensi pengembangan produksi dari ikan teri di Kabupaten Gorontalo Utara sudah sudah sangat kecil untuk dilakukan demi menjaga potensi lestari dari ikan teri. Rekomendasinya adalah peningkatan jumlah upaya penangkapan sangat tidak dianjurkan, walaupun masih ada peluang peningkatan jumlah upaya sebesar 30, 90% atau sebesar 1.288 trip yang memungkinkan hasil tangkapan meningkat. Peningkatan upaya penangkapan akan mengganggu kelestarian sumberdaya ikan menyebabkan hasil tangkapan per unit upaya akan mengalami penurunan. Ikan tuna di Kabupaten Gorontalo Utara pada tahun 2010 tingkat pemanfaatan mencapai 95,61 % dimana produksi pada tahun 2010 sebesar 392 ton dari total MSY 420 ton/tahun. Unit penangkapan yang digunakan untuk pengusahaan tuna dapat dikatakan sudah efektif karena besar tingkat pengusahaan baru mencapai 69,35% namun hasil produksi sudah tinggi. Untuk menjaga agar pemanfaatan dari sumberdaya ikan tuna tetap lestari dan berkelanjutan, peningkatan jumlah upaya penangkapan sangat tidak dianjurkan. Dengan peningkatan jumlah upaya penangkapan masih memungkinkan hasil tangkapan 154 meningkat, namun dengan peningkatan upaya penangkapan akan mengganggu kelestarian sumberdaya ikan, dan hasil tangkapan per unit upaya akan menurun. Pemanfaatan ikan tongkol sudah mendekati batas MSY. Produksi tangkapan tongkol pada tahun 2010 mencapai 98,00% atau sebesar 1694 ton dari nilai MSY sebesar 1729 ton/tahun dengan upaya pengusahaan sebesar 99,54% atau sebesar 19584 trip dari effort optimal sebesar 19675 trip/tahun. Hal ini mengindikasikan alat tangkap yang digunakan sangat efektif. Peningkatan jumlah upaya penangkapan sangat tidak dianjurkan, karena dengan peningkatan upaya penangkapan akan mengganggu kelestarian sumberdaya ikan, dan hasil tangkapan per unit upaya akan menurun. 3) Over exploited, Over exploited, yaitu stok sumberdaya ikan sudah menurun, karena tereksploitasi melebihi nilai MSY. Pada kondisi ini, upaya penangkapan harus diturunkan agar kelestarian sumberdaya ikan tidak terganggu. Jenis ikan yang masuk dalam kriteria over exploited yaitu ikan lemuru dan selar. Ikan lemuru pada tahun 2010, tingkat pemanfaatan telah melebihi batas MSY yaitu 108,33% dimana produksi pada tahun 2010 sebesar 468 ton dari total MSY 432 ton/tahun. Unit penangkapan yang digunakan untuk pengusahaan lemuru juga sudah melebihi batas effort optimal, dimana tingkat pengusahaan telah mencapai 133,05% dari effort yang diperbolehkan yaitu sebesar 1832 trip/tahun. Kondisi seperti ini, upaya penangkapan harus diturunkan agar kelestarian sumberdaya ikan tidak terganggu dan sudah tidak direkomendasikan lagi untuk dikembangkan. Pemanfaatan produksi dari sumberdaya ikan selar di Kabupaten Gorontalo Utara pada tahun 2010 kondisinya sama dengan ikan lemuru. Produksi ikan selar pada tahun 2010 mencapai 100,95% dari nilai MSY yang sebesar 452 ton/tahun dengan upaya penangkapan yang berlebihan mencapai 4205 trip dengan tingkat pengusahaan sebesar 118,99%. Kondisi seperti ini, upaya penangkapan harus diturunkan agar kelestarian sumberdaya ikan tidak terganggu dan sudah tidak direkomendasikan lagi untuk dikembangkan. Hasil analisis pada Tabel 46, tidak semua jenis ikan masuk dalam kriteria yang dikelompokkan berdasarkan Bailey (1987) dan FAO (2000), tentang status 155 pemanfaatan sumberdaya ikan di suatu perairan, hanya terdiri dari: (1) unexploited, artinya stok sumberdaya ikan berada pada kondisi belum tereksploitasi, sehingga aktivitas penangkapan ikan sangat dianjurkan di perairan ini guna mendapatkan keuntungan dari produksi; (2) highly exploited, artinya stok sumberdaya ikan baru tereksploitasi dalam jumlah sedikit (kurang dari 25 persen MSY). Pada kondisi ini, peningkatan jumlah upaya penangkapan sangat dianjurkan karena tidak mengganggu kelestarian sumberdaya ikan dan hasil tangkapan per unit upaya (catch per unit effort) atau CPUE masih mungkin meningkat; (3) moderately exploited, artinya stok sumberdaya ikan sudah tereksploitasi setengah dari MSY. Pada kondisi ini, peningkatan jumlah upaya penangkapan masih dianjurkan tanpa mengganggu kelestarian sumberdaya ikan, akan tetapi hasil tangkapan per unit upaya mungkin mulai menurun; (4) fully exploited, artinya stok sumberdaya ikan sudah tereksploitasi mendekati nilai MSY. Disini peningkatan jumlah upaya penangkapan sangat tidak dianjurkan, walaupun hasil tangkapan masih dapat meningkat. Peningkatan upaya penangkapan akan mengganggu kelestarian sumberdaya ikan dan hasil tangkapan per unit upaya pasti turun; (5) over exploited, artinya stok sumberdaya ikan sudah menurun, karena tereksploitasi melebihi nilai MSY. Pada kondisi ini, upaya penangkapan harus diturunkan agar kelestarian sumberdaya ikan tidak terganggu; (6) depleted,artinya stok sumberdaya ikan dari tahun ke tahun jumlahnya mengalami penurunan secara drastis, dan upaya penangkapan sangat dianjurkan untuk dihentikan. Jenis ikan yang tidak termasuk dalam pengelompokkan berdasarkan kriteria Bailey (1987) dan FAO (2000) yaitu ikan cakalang. Pemanfaatan ikan cakalang telah mencapai 72,40% dimana jumlah produksi pada tahun 2010 sebesar 2.579 ton dari nilai MSY cakalang yang sebesar 3.562 ton. Pemanfaatan produksi ikan cakalang masih mempunyai potensi peluang 27,60% namun tingkat pengusahan dari ikan cakalag sudah melebihi dari effort optimumnya yaitu sebesar 154,05%. Hal ini mengindikasikan bahwa penangkapan ikan cakalang sudah semakin sulit dilakukan dengan tingkat pengusahaan yang berlebih namun hasilnya sedikit. Faktor yang mempengaruhi tingginya upaya penangkapan ikan cakalang yaitu disebabkan oleh jumlah alat tangkap yang menangkap ikan cakalang. Jumlah alat tangkap yang menangkap 156 cakalang terdiri dari purse seine sebesar 116 unit, payang sebesar 81 unit, dan gillnet sebesar 1.023 unit. Kondisi perikanan di Kabupaten Gorontalo Utara dengan jenis ikan yang dominan tertangkap, terlihat eksploitasi terhadap sumberdaya ikan relatif tinggi dan beberapa jenis telah mengalami overfishing, Hal ini menunjukkan bahwa usaha penangkapan tidak lagi efisien, sehingga perlu peran pemerintah dalam mengatur sumberdaya. Menurut Widodo (2003), pada kondisi perairan yang telah mengalami tangkap lebih, peran pemerintah harus melakukan pengaturan terhadap pengelolaan sumberdaya perikanan. Dengan pengelolaan yang lebih baik memungkinkan terjadinya pemulihan sumberdaya ikan yang selanjutnya akan meningkatkan jumlah hasil tangkapan. 6.2 Kelayakan Usaha Perikanan Salah satu faktor pengelolaan peikanan berkelanjutan adalah faktor ekonomi, hal ini berarti bahwa kegiatan pengelolaan sumberdaya ikan harus dapat membuahkan pertumbuhan ekonomi, pemeliharaan kapital, dan penggunaan suberdaya ikan serta investasi secara efisien. Berdasarkan hal tersebut, kelayakan ekonomi perlu dipertimbangkan. Kelayakan ekonomi digunakan untuk mengestimasi nilai ekonomi suatu usaha perikanan tangkap dan salah satunya adalah faktor finansial. Penyesuaian harga finansial dilakukan agar dapat menggambarkan nilai sosial secara menyeluruh baik untuk input maupun output usaha perikanan tangkap. Harga ikan atau jasa diubah agar lebih mendekati opportunity cost (nilai ikan atau jasa dalam alternatif pemanfaatan yang terbaik). Dalam analisis faktor finansial ini digunakan juga harga sosial yang merupakan harga bayangan (shadow price/accounting price). Harga bayangan adalah setiap harga barang atau jasa yang bukan merupakan harga pasar (belum diketahui), untuk menggambarkan distribusi pendapatan dan tabungan masyarakat. Kelayakan tersebut didasarkan hasil analisis NPV≥ 0, IRR ≥ tingkat suku bunga yang berlaku dan net B/C≥ 1. Analisis finansial dalam usaha perikanan sangat penting artinya terutama dalam memperhitungkan insentif bagi nelayan atau orang lain yang terlibat dalam suatu usaha perikanan. Dengan melakukan analisis finansial, maka dapat mengestimasi keuntungan secara keseluruhan dari total produksi atau 157 penangkapan. Analisis finansial akan berdampak pada kondisi ekonomi nelayan, artinya dengan melakukan analisis finansial sebaik mungkin maka keuntungan yang diperoleh akan diestimasi sebaik mungkin sehingga dapat dipastikan bahwa kondisi ekonomi nelayan meningkat. Hasil analisis finansial berdasarkan nilai NPV (net present value), net B/C ratio (net benefit cost ratio) dan IRR (Internal Rate of Return) merupakan selisih antara pengeluaran dan pemasukan yang telah didiskon dengan menggunakan social opportunity cost of capital sebagai diskon faktor. Nilai NPV merupakan arus kas yang diperkirakan pada masa akan datang yang didiskontokan. Nilai NPV usaha perikanan yang ada di Kabupaten Gorontalo Utara untuk usaha perikanan berturut-turut adalah bagan perahu Rp 57.286.958, purse seine sebesar Rp 241,082,370, pancing tuna Rp 217,350,579, payang Rp 12.637.657, pancing ulur Rp 7.224.660, bubu Rp 8.419.727, sero Rp 4.639.817, dan gillnet 12.782.057. Nilai NPV menyatakan bahwa nilai kas bersih pada saat yang akan datang lebih besar nilainya dari nilai investasi yang ditanamkan. Dari hasil diatas diperoleh bahwa nilai NPV usaha perikanan bagan perahu memiliki cadangan nilai kas bersih yang lebih tinggi dibandingkan dengan purse seine, pancing tuna, payang, pancing ulur, bubu, sero serta gillnet. Artinya dengan meningkatkan hasil dari usaha perikanan bagan perahu akan mempercepat peningkatan biaya pengembalian modal usaha, dan untuk investasi awalnya tidak diperlukan dana yang besar. Dengan memaksimalkan usaha perikanan bagan perahu maka keuntungan yang diperoleh akan semakin besar, dan nelayanpun dapat memastikan bahwa insentifnya akan meningkat untuk perbaikan kondisi ekonominya. Nilai net B/C Ratio merupakan rasio antara manfaat bersih yang bernilai positif dengan manfaat bersih yang bernilai negatif. Suatu usaha akan dikatakan layak apabila nilai net B/C ≥ 1 (positif), dan dikatakan tidak layak apabila nilai net B/C ≤ 1. Dari perhitungan nilai net B/C ratio usaha perikanan tangkap diperoleh nilai positif untuk semua jenis alat tangkap yang digunakan. Nilai untuk usaha perikanan purse seine sebesar 1.56; pancing tuna 1.95; bagan perahu 1,48; bubu 1,84; pancing ulur 1,76; payang 5.1,30; sero 1,42; dan gillnet 1,91. Nilai net B/C ratio yang positif menunjukkan bahwa semua jenis usaha perikanan diatas layak 158 untuk dilakukan di Kabupaten Gorontalo Utara, karena dari penerimaan atau hasil yang diperoleh dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan dalam produksi menggunakan alat tangkap tersebut lebih besar atau sama dengan satu. (net B/C ratio ≥ 1). Analisis nilai IRR diperoleh berdasarkan hasil penghitungan nilai NPV yang dikurangi faktor bunga bank yang paling atraktif (paling berpengaruh). Nilai IRR ini merupakan indikator tingkat efisiensi dari suatu usaha atau investasi. Dalam melakukan investasi, hal yang harus diperhitungkan adalah laju pengembalian investasi yang dilakukan lebih besar dibanding dengan laju pengembalian apabila melakukan usaha ditempat yang lain, misalnya bank atau deposito. Dari hasil perhitungan nilai IRR diperoleh nilai IRR untuk usaha perikanan purse seine sebesar 24,63%, pancing tuna 32,50%, bagan perahu 22,88%, bubu 30,29%, pancing ulur 28,65%, payang 18,97%, sero 21,61%, dan gillnet 31,70%. Jika digunakan pembanding suku bunga BNI sebesar 12 % pertahun, maka nilai tingkat pengembalian investasi usaha perikanan yang dilakukan di Kabupaten Gorontalo Utara menunjukkan angka yang jauh lebih tinggi. Pengembangan unit penangkapan ikan di Kabupaten Gorontalo Utara, perlu perhatian dan kesadaran yang khusus dari para nelayan dalam mengelola usaha tersebut, serta peran aktif pemerintah sebagai fasilitator dalam mengembangkan usaha yang nantinya akan dikembangkan oleh masyarakatnya. Peran aktif pemerintah yang berkaitan dengan perbaikan dan peningkatan faktor finansial tersebut dapat meliputi, kegiatan sosialisasi mengenai penerapan teknologi, penerapan tata cara dan efisiensi pengelolaan alat dan investasi, sistem manajemen usaha khususnya dalam analisis finansial usaha. Kegiatan lain yang merupakan peran aktif pemerintah adalah training/pelatihan yang dilaksanakan oleh tenaga penyuluh dalam rangka analisis finansial usaha dan perbaikan harga input produksi maupun output produksi ; pembangunan infrastruktur penunjang, misalnya tempat pelelangan ikan agar nelayan bisa menjual ikan hasil tangkapan dengan harga yang layak dan stabil ; serta menyediakan media informasi yang dapat digunakan oleh nelayan sebagai pusat informasi harga ikan. 159 Penjualan ikan di Kabupaten Gorontalo Utara saat tidak melewati pelelangan, umumnya nelayan menjual ikan melalui beberapa cara: (1) sistem calo atau perantara, yaitu seseorang yang sudah dikenali oleh nelayan pemilik usaha penangkapan, pekerjaannya adalah membawa ikan hasil tangkapan nelayan kepada pembeli dan menetapkan harga beli sesuai dengan kesepakatan yang dibuatnya dengan pemilik usaha. Dari kesepakatan antara nelayan pemilik usaha dan perantara tersebut, maka perantara mendapatkan 5 – 10% harga jual, dimana harga jual tersebut bergantung pada musim, (2) nelayan pemilik usaha menjual ikan hasil tangkapannya langsung kepada pedagang pengumpul karena sudah terikat kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya, kemudian pedagang pengumpul tersebut yang akan membawa hasil tangkapan untuk dijual ke pasar, (3) nelayan pemilik usaha menjual langsung hasil tangkapannya ke pasar. Cara ini memberikan pendapatan kepada nelayan untuk memperoleh keuntungan yang lebih tinggi dibanding dengan perantara atau pedangang pengumpul, namun waktu dan tenaga nelayan menjadi tersita karena harus berperan ganda sebagai penangkap ikan dan penjual langsung, (4) nelayan pemilik usaha menjual kepada pedagang atau melayani pembeli secara langsung dirumah nelayan atau ditempat lain, tanpa adanya kesepakatan yang dibuat sebelumnya. Dengan cara ini nelayan dapat menghemat waktu dan tenaga. Meskipun usaha perikanan tangkap seperti purse seine, pancing tuna, bagan perahu, dan payang dinyatakan menguntungkan, nelayan pemilik usaha harus memahami sejumlah pengetahuan dasar atau karakteristik khusus tentang usaha tersebut tersebut agar tidak mengalami kegagalan dalam menjalankan usahanya. Sejumlah karakteristik yang harus diperhatikan nelayan pemilik usaha untuk mengusahakan ikan adalah; ikan tersebut memiliki nilai jual yang tinggi atau merupaka jenis ikan yang disenangi konsumen, cara penangan ikan yang ceat dan tepat, misalnya penerapan sistem dingin selama ikan belum sampai ketangan konsumen atau memperpendek aliran pemasaran ikan agar ikan langsung ke tangan konsumen. Kelayakan ekonomi perlu memperhatikan hasil total, produktifitas dan keuntungan bersih yang diperoleh dari keseluruhan sumber yang dipakai dalam usaha perikanan. Bagi para pengambil keputusan, yang penting ialah 160 mengarahkan penggunaan sumberdaya perikanan tangkap yang dapat memberikan hasil yang paling banyak untuk perekonomian secara keseluruhan, yaitu yang menghasilkan social return atau economic return yang paling tinggi. 6.3 Faktor yang Berpengaruh Terhadap Pengembangan Perikanan Tangkap Berdasarkan hasil analis SEM bahwa hanya satu faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan perikanan tangkap yaitu aspek ekonomi. Hal ini karena memberikan pengaruh signifikan dengan nilai (X6) 2,71 > 1,96 pada α=0,05 dan nilai koefesien determinasi R2 = 0.98 artinya bahwa model tersebut mampu dijelaskan sebesar 98 persen. Aspek ekonomi dipengaruhi oleh pasar, dukungan modal, kemitraan, dan kestabilan harga. Pasar dibutuhkan dalam menunjang pengembangan perikanan tangkap. Pemasaran hasil tangkapan ikan di Kabupaten Gorontalo Utara, sebagian besar ditentukan oleh para pembeli atau konsumen (buyer market). Kondisi ini mengakibatkan harga jual produk perikanan pada umumnya atau seringkali kurang menguntungkan produsen (nelayan). Ada faktor yang membuat pemasaran hasil tangkapan ikan di Kabupaten Gorontalo Utara masih lemah, yaitu (1) lemahnya market intelligence yang meliputi penguasaan informasi tentang pesaing, segmen pasar, dan selera (preference) para konsumen tentang jenis dan mutu komoditas perikanan; (2) belum memadainya prasarana dan sarana yang menunjang sistem pemasaran untuk mendukung distribusi atau penyampaian (delivery) hasil tangkapan dari nelayan ke konsumen secara tepat waktu. Dukungan modal memiliki peranan penting dalam memperbesar meningkatkan produksi hasil tangkapan ikan. Berdasarkan pendekatan ekonomi, bahwa setiap penambahan modal akan memperbesar output dalam setiap kegiatan penangkapan. Kebutuhan terhadap unit penangkapan, alat bantu pengumpul ikan, BBM dan faktor produksi lain yang akan memudahkan setiap kegiatan penangkapan, terutama dalam pemanfaatan sumberdaya ikan yang berpotensi untuk di kelola. Permasalahan utama yang sering dihadapi nelayan adalah kurangnya dukungan modal. Kemitraan usaha yang dikembangkan bertujuan membantu terwujudnya suatu kemitraan yang menyetarakan posisi nelayan dengan posisi pengusaha atau investor. Kemitraan yang terbentuk diharapkan dapat menyinergikan kebutuhan 161 semua pihak yang terlibat dalam kegiatan perikanan tangkap, khususnya nelayan, pengusaha, industri pengolahan ikan, dan masyarakat sekitar, menyelaraskan konflik kepentingan yang ada, dan mengoordinasikan semua pihak yang terlibat. Kemitraan dapat berfungsi sebagai berikut: (1) Menjamin kesinambungan pasok hasil tangkapan ikan dari nelayan untuk industri, konsumen dan kebutuhan pasar ekspot, sehingga akan mempengaruhi harga, (2) Menetapkan tingkat mutu, dan ukuran ikan, yang konsisten dan sesuai dengan selera konsumen, (3) Dapat mengidentifikasi sumber dana yang dapat digunakan untuk mendukung pengembangan perikanan tangkap. Kestabilan harga jual hasil tangkapan juga merupakan salah satu faktor penting, karena umumnya harga ikan relatif fluktuatif bergantung pada kualitas dan kuantitas hasil tangkapan. Fenomena lain yang sering menjadi permasalahan dalam upaya menjaga harga ikan yakni adanya aktifitas tengkulak yang sering merugikan nelayan. Permasalahan ini dapat diatasi dengan mengadakan kegiatan kemitraan baik berupa pembentukan koperasi nelayan, menjalin kerjasama dengan pengusaha lokal dan eksportir, ataupun menjalin kerjasama dengan perusahaan pengolahan ikan. 6.4 Model Pengembangan Perikanan Tangkap Berdasarkan analisa sumberdaya ikan, kelayakan finansial unit penangkapan ikan dan analisis SEM untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara diperoleh beberapa langkah yang diharapkan dapat dilakukan dalam rancangan model pengembangan perikanan tangkap di daerah tersebut. Salah satunya adalah menentukan jenis ikan yang layak dan potensial untuk dikembangkan di Kabupaten Gorontalo Utara berdasarkan kriteria MSY dan selanjutnya di lihat tingkat pemanfaatan dan peluang pengusahaan jenis ikan tersebut, menentukan unit penangkapan ikan yang layak berdasarkan aspek finansial, mengetahui faktor mana yang paling berpengaruh dalam pengembangan perikanan tangkap, dan selanjutnya melihat aspek penunjang pengembangan perikanan tangkap berdasarkan hasil survei seperti terlihat pada Gambar 58. 162 MODEL PENGEMBANGAN PERIKANAN TANGKAP PENGELOLAAN SDI TINGKAT PEMANFAATAN DAN PENGUSAHAAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. Ikan Kuwe Tingkat Pemanfaatan 51,51% Tingkat Pengusahaan 27,57% Ikan Tembang Tingkat Pemanfaatan 69,32% Tingkat Pengusahaan 31,77% Ikan Kembung Tingkat Pemanfaatan 70,12% Tingkat Pengusahaan 62,18% Ikan Teri Tingkat Pemanfaatan 90,72% Tingkat Pengusahaan 69,10% Ikan Tuna Tingkat Pemanfaatan 95,61% Tingkat Pengusahaan 69,35% Ikan Tongkol Tingkat Pemanfaatan 98,00% Tingkat Pengusahaan 99,54% PELUANG PEMANFAATAN DAN PENGUSAHAAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. Ikan Kuwe Peluang Pemanfaatan 48,49% Peluang Pengusahaan 72,50% Ikan Tembang Peluang Pemanfaatan 30,68% Peluang Pengusahaan 68,24% Ikan Kembung Peluang Pemanfaatan 29,88% Peluang Pengusahaan 37,82% Ikan Teri Peluang Pemanfaatan 9,28% Peluang Pengusahaan 30,90% Ikan Tuna Peluang Pemanfaatan 4,39% Peluang Pengusahaan 30,65% Ikan Tongkol Peluang Pemanfaatan 2.00% Peluang Pengusahaan 0.46% TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP DAN SDM FAKTOR BERPENGARUH DALAM PENGEMBANGAN PENUNJANG MODEL UNIT PENANGKAPAN IKAN ASPEK EKONOMI PENUNJANG PENGEMBANGAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Purse Seine NPV Rp 241.082.371 Net B/C 1,56 IRR 24,63% Pancing Tuna NPV Rp 217.350.570 Net B/C 1,95 IRR 32.50% Bagan Perahu NPV Rp 57.286.958 Net B/C 1,48 IRR 22,88% Gillnet NPV Rp 12.782.057 Net B/C 1,91 IRR 31,70% Payang NPV Rp 12.637.657 Net B/C 1,30 IRR 18,97% Bubu NPV Rp 8.419.727 Net B/C 1,84 IRR 30,29% Pancing Ulur NPV Rp 7.224.660 Net B/C 1,76 IRR 28,65% Sero NPV Rp 4.639.917 Net B/C 1,42 IRR 21,61% 1. 2. 3. 4. Pasar t= 5,27 Kemitraan t=8,53 Dukungan modal t= 7,70 Kestabilan harga ikan t=6,40 Gambar 58 Rancangan pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara. 1. 2. 3. 4. 5. Perlu Pengaturan Zona Penangkapan Ikan Perlu Pengelolaan Perikanan Tangkap yang Ramah Lingkungan Mengoptimalkan peren TPI dan PPP Penyediaan Tempat Penampungan Ikan/Cold Storage Penyediaan Tempat Mengolah Ikan Hasil Analisis Hasil Survei 163 6.4.1 Jenis ikan Berdasarkan data hasil olahan terhadap sumberdaya perikanan tangkap yang layak di mendukung pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara meliputi : Ikan kuwe, tembang, kembung, teri, tuna tongkol. Ikan kuwe merupakan sumberdaya ikan yang paling berpotensi untuk dikembangkan di Kabupaten Gorontalo Utara adalah kuwe. Hal ini di lihat dari tingkat pemanfaatan potensi ikan kuwe baru mencapai 51,51% atau sebesar 154 ton dari MSY 299 ton/tahun. Peluang peningkatan pemanfaatan dan pengusahaan ikan kuwe masih terbuka cukup besar dimana potensi peningkatan produksi tangkapan masih dapat ditingkatkan hingga 48,49% dengan potensi pengusahaan sebesar 72,50% dari effort optimum. Ikan tembang menduduki peringkat kedua untuk diekomendasikan dalam pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara. Tingkat pemanfaatan ikan tembang mencapai 69,29% dimana produksi pada tahun 2010 mencapai 783 ton sedangkan nilai MSY nya adalah 1.130 ton dengan tingkat pengusahaan 31,76% atau 4.557 trip dari total 14.347 trip optimal. Potensi pemanfaatan produksi ikan tembang masih mempunyai peluang 30,71% atau 347 ton/tahun dengan peluang peningkatan potensi pengusahaan hingga 68,24% atau 9790 trip/tahun. Ikan kembung merupakan ikan yang yang layak setalah ikan tembang. Hal ini didasarkan pada tingkat pemanfaatan kembung mencapai 70,12% dan upaya pengusahaan sebesar 62,15%. Pemanfaatan sumberdya ikan kembung masih berpeluang untuk ditingkatkan pengusahaannya, dimana peluang potensi pengusahan sebesar 37,85% untuk memperoleh peluang produksi sebesar 29,88% atau 98 ton. Ikan teri termasuk ikan yang berpotensi untuk dieksploitasi. Hal ini, didasarkan pada tingkat pemanfaatan ikan teri Kabupaten Gorontalo Utara mencapai 90,72% dan tingkat pengusahaan sebesar 69,10%.. Peluang potensi pengembangan ikan teri di Kabupaten Gorontalo Utara sudah sudah sangat kecil untuk dilakukan demi menjaga potensi lestari dari ikan teri. Rekomendasinya adalah peningkatan jumlah upaya penangkapan sangat tidak dianjurkan, walaupun 164 masih ada peluang peningkatan jumlah upaya sebesar 30, 90% atau sebesar 1288 trip yang memungkinkan hasil tangkapan meningkat Ikan tuna merupakan ikan yang direkomendasikan untuk mendukung pengembangan perikanan tangkap khususnya pemenuhan produksi ikan. Hal ini didasarkan pada tingkat pemanfaatan sudah mencapai 95,61%. Unit penangkapan yang digunakan untuk pengusahaan tuna dapat dikatakan sudah efektif karena besar tingkat pengusahaan baru mencapai 69,35% namun hasil produksi sudah tinggi. Untuk menjaga agar pemanfaatan dari sumberdaya ikan tuna tetap lestari dan berkelanjutan, peningkatan jumlah upaya penangkapan sangat tidak dianjurkan. Dengan peningkatan jumlah upaya penangkapan masih memungkinkan hasil tangkapan meningkat, namun dengan peningkatan upaya penangkapan akan mengganggu kelestarian sumberdaya ikan, dan hasil tangkapan per unit upaya akan menurun. Tongkol termasuk jenis ikan yang bisa direkendasikan untuk mendukung pengembangan perikanan tangkap. Tingkat pemanfaatan ikan tongkol sudah mendekati overfishing yaitu dengan tingkat pemanfaatan sebesar 98.00% dan peluang pemanfataan sebesar 2.00%. Kondisi ini, perlu kehati-hatian dalam pemanfaatan sumberdaya ikan. Hal ini sesuai dengan pendapat Supardan (2006) bahwa dalam pengelolaan yang sedah mendekati overfishing, maka pengelolaan lestari dapat diterapkan dengan mengadopsi pendekatan kehati-hatian (precautionary approach) untuk pengelolaan perikanan. 6.4.2 Kelayakan Unit Penangkapan Ikan Salah satu aspek yang digunakan dalam menganalisis kelayakan usaha dalam pengembangan perikanan tangkap khususnya pada unit penangkapan yang akan di kembangkan adalah dengan menganalisis aspek finansialnya. Dalam analisis finansial, kegiatan usaha unit penangkapan ikan dilihat dari sudut badan atau orang yang menanam modalnya dalam kegiatan usaha menangkap ikan. Untuk menentukan kelayakan usaha penangkapan dan pembesaran lobster, dapat digunakan kriteria B/C ratio, NPV dan IRR Hasil analisis dalam pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara menunjukkan bahwa semua unit penangkapan layak untuk 165 diusahakan yang meliputi usaha perikanan purse seine, pancing tuna, bagan perahu, payang, pancing ulur, bubu, sero serta gillnet. NPV dipakai sebagai ukuran dari hasil neto (net benefit) yang maksimal yang dapat dicapai dengan modal unit usaha penangkapan ikan. Suatu kegiatan dikatakan layak apabila NPV bernilai positif atau lebih besar dari nol. Hasil analisis diperoleh dengan memperlihatkan bahwa manfaat yang diperoleh dari suatu pengorbanan investasi dengan tingkat bunga 12% pertahun sebagai berikut purse seine sebesar Rp 241,082,370 pancing tuna Rp 217,350,579, bagan perahu Rp 57.286.958, gillnet 12.782.057, payang Rp 12.637.657, bubu Rp 8.419.727 pancing ulur Rp 7.224.660, dan sero Rp 4.639.817. Usaha penangkapan dengan nilai net B/C Ratio usaha perikanan purse seine sebesar 1.56; pancing tuna 1.95; bagan perahu 1,48; bubu 1,84; pancing ulur 1,76; payang 5.1,30; sero 1,42; dan gillnet 1,91 berarti dengan berarti bahwa dengan discount rate sebesar 12%/tahun, the present value dari benefit lebih besar dari pada the present value dari cost, dan hal ini berarti usaha tersebut menguntungkan. Semakin besar nilainya berarti usaha tersebut semakin menguntungkan. Besarnya B/C ratio dipengaruhi oleh tingginya discount rate yang dipakai. Makin tinggi discount rate, makin kecil B/C ratio, dan B/C ratio dapat turun sampai menjadi lebih kecil dari 1 yang berarti bahwa usaha tersebut tidak lagi menguntungkan. Usaha penangkapan dengan IRR sebesar purse seine sebesar 1.56; pancing tuna 1.95; bagan perahu 1,48; bubu 1,84; pancing ulur 1,76; payang 5.1,30; sero 1,42; dan gillnet 1,91. Semakin tinggi nilai IRR yang diperoleh, maka tingkat bunga maksimum yang dapat dibayar makin tinggi yang berarti bahwa besarnya insentif yang diterima oleh pemilik modal dari modal yang dinvestasikan makin tinggi. Dengan melihat nilai NVP, Net B/C dan IRR dalam investasi unit penangkapan ikan di Kabupaten Gorontalo Utara memberikan keuntungan yang layak. Penanaman investasi yang memberikan nilai keuntungan perlu peran pemilik modal, pemerintah dan nelayan sebagai pekerja untuk bekerjasama dalam mengembangkan usaha penangkapan ikan sehingga pengembangan usaha perikanan perikanan tangkap. dapat mendukung 166 6.4.3 Faktor Berpengaruh pada Pengembangan Perikanan Tangkap 6.4.3.1 Pasar Faktor yang mempengaruhi aspek ekonomi dalam pengembangan perikanan tangkap di Gorontalo Utara adalah pasar. Pasar yang di maksud adalah pasar yang dapat mendukung pengembangan perikanan tangkap. Selama ini, pasar yang terbentuk di daerah Gorontalo utara belum efekti, sehingga dibutuhkan konsep pasar yang ideal dalam menunjang pengembangan perikanan tangkap. Secara konsepsional pasar yang dapat berjalan secara sempurna merupakan cara yang paling ideal untuk mencapai tujuan-tujuan normatif yaitu kemakmuran nelayan dan masyarakat di wilayah pesisir. Namun demikian pasar yang sempurna (perfect competition) jarang ditemukan. Yang terjadi justru ketidaksempurnaan pasar (imperfect competition). Akibatnya, konsentrasi ekonomi berada pada kelompok usaha besar, seperti akses terhadap teknologi, permodalan, informasi, dan SDM yang bermutu. Pada sisi lain, terdapat usaha skala kecil di wilayah pesisir Gorontalo Utara yang jumlahnya besar yang berpearan dalam pasar perikanan yang sangat kompetitif, mereka lemah dalam akses terhadap teknologi, permodalan, informasi, serta didukung SDM yang kwalitasnya rendah. Dengan demikian usaha kecil bersaing di pasar tanpa didukung prasyarat yang memadai bagi terwujudnya mekanisme pasar yang bersaing secara sempurna. Dalam kondisi demikian ini timbulnya berbagai praktek-praktek persaingan tidak sehat sulit dicegah. Kondisi seperti itu menyebabkan mekanisme pasar tidak berjalan secara sempurna, yang cenderung merugikan nelayan, baik dalam aspek efisiensi maupun dalam aspek keadilan. Sementara pemilik modal besar yang sifatnya monompoli terus menikmati kesempatan-kesempatan ketidakberdayaan nelayan yang bersumber dari ketidak sempurnaan pasar, maupun yang berasal dari keunggulan-keunggulan dalam aspek penguasaan modal dan juga berdampak pada lambatnya peningkatan teknologi perikanan tangkap dan terhambatnya aktivitas melaut. Sementara usaha kecil terus bergulat dengan berbagai kelemahannya dalam pasar yang sempit dan dalam tingkat persaingan yang sangat ketat. 167 Oleh karena itu, diperlukan koreksi terhadap berbagai kondisi, agar mekanisme pasar dapat berjalan secara sempurna. Pemerintah dalam hal ini berkewajiban untuk melakukan koreksi terhadap timbulnya berbagai ketidaksempurnaan pasar tersebut. Koreksi yang dilakukan pemerintah pada dasarnya memang bertujuan untuk mendorong dan melindungi agar mekanisme pasar dapat berjalan secara sempurna dan sehat. Hal ini, perlu dicari langkah-langkah alternatif agar pasar hasil perikanan di Kabupaten Gorontalo Utara menjadi idial bagi para nelayan. Memperkuat pasar lokal dan menciptakan pasar ekspor merupakan hal yang perlu dilakukan dalam memperkuat pasar hasil perikanan di Kabupaten Gorontalo Utara. Tantangan pokok dan sekaligus visi pembangunan Indonesia di masa mendatang adalah; bagaimana mempertinggi daya saing ekonomi nasional kita. Dengan daya saing yang tinggi, dunia usaha nasional dan produksi dalam negeri akan mampu menguasai dan mengembangkan pasar dalam negeri dan sekaligus mampu melakukan transaksi ekspor yang lebih besar ke manca negara. Menurut Monintja (2000), bahwa solusi dari berbagai permasalahan pengembangan perikanan tangkap di suatu wilayah diantaranya adalah akses pasar perlu dikembangkan secara terus-menerus baik pasar lokal, antar pulau maupun ekspor yang dapat menjamin nelayan giat melaksanakan usahanya. Penguasaan dan pengembangan pasar perikanan dalam negeri tentu saja perlu diarahkan agar tetap berorientasi pada peningkatan efisiensi, produktivitas, kemandirian, dan daya saing perekonomian nasional. Untuk itu, perlu ditempuh langkah-langkah yang lebih intensif, antara lain melalui: pengaturan persaingan yang sehat termasuk jaminan kepastian hukum dalam berusaha; peningkatan aksesbilitas dunia usaha khususnya usaha kecil, menengah (UKM), dan koperasi terhadap antara lain hasil tangkapan ikan yang bermutu, modal, informasi, teknologi, dan sumber daya manusai yang bermutu; peningkatan sarana dan prasarana usaha termasuk lokasi; peningkatan loyalitas konsumen terhadap hasil tangkapan dan olahan produk perikanan dan sebagainya. 6.4.3.2 Kemitraan Di Indonesia, perkembangan kemitraan usaha telah tumbuh terutama sejak pertengahan tahun 70-an. Namun demikian perkembangannya terkesan sangat 168 lambat. Penyebabnya adalah adanya faktor kondisi dan struktur yang spesifik dan berbeda dibandingkan dengan negara lain. Misalnya, kondisi dan struktur perekonomian kita masih diwarnai oleh mekanisme pasar yang belum efisien dan efektif. Seiring dengan itu, kita masih menjumpai berbagai bentuk kesenjangan, seperti kesenjangan antar daerah, antar kelompok pendapatan, antars ektor, antar pelaku ekonomi, dan sebagainya. Persoalan selanjutnya adalah bahwa di satu sisi, kita memang membutuhkan kemitraan usaha, khususnya kemitraan dalam pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara. Tetapi di sisi lain, kondisi dan struktur ekonomi kita belum sepenuhnya kondusif untuk menumbuhkan kemitraan berdasarkan pertimbangan bisnis murni atau dorongan pasar yang bersaing sehat. Gerakan kemitraan perikanan tangkap sangat perlu dan harus berjalan efektif. Dengan gerakan kemitraan akan terjadi sinergi secara nasional antara usaha besar, usaha menengah dan usaha kecil termasuk koperasi dalam sistim perikanan tangkap. Di samping itu dengan kemitraan terjadi proses ”belajar sambil bekerja (learning by doing)” yang merupakan proses yang paling efektif dan efisien serta memperkokoh usaha mereka, khususnya bagi nelayan yang masih minim pengetahuannya dalam dunia usaha. Oleh sebab itu, kemitraan usaha yang kita kembangkan memiliki tujuan, yaitu: pertama-tama untuk memberdayakan koperasi nelayan, pengusaha, lembaga keuangan, dan usaha perorangan dalam kegiatan penangkapan ikan yang dilakukan nelayan di Kabupaten Gorontalo Utara. Kemudian, tujuan lainnya adalah untuk menumbuhkan struktur dunia usaha nasional yang lebih kokoh dan efisien sehingga mampu menguasai dan mengembangkan pasar domestik serta sekaligus meningkatkan daya saing global. Dengan demikian, kemitraan dalam pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara pada hakekatnya adalah pemaduan berbagai kompetensi yang dimiliki oleh pengusaha besar, menengah, kecil dan koperasi. Dalam kemitraan tersebut, pengusaha besar diharapkan berperan sebagai pemrakarsa sedangkan koperasi dan pengusaha kecil menengah sebagai mitra usaha. 169 Berdasarkan hal tersebut, maka peran pemerintah dalam gerakan kemitraan masih sangat diperlukan, setidaknya pada tahaptahap awal yang sifatnya memotivasi dan mendorong pelaksanaan kemitraan. Peran pemerintah yang pertama dan paling utama adalah menciptakan iklim usaha yang sehat bagi kemitraan usaha. Selanjutnya pemerintah dapat berperan dalam memberikan pedoman tentang kemitraan melalui peraturan perundangan. Pemerintah juga berperan penting dalam memberikan informasi dan peluang kemitraan serta rencana teknis kepada usaha kecil dalam perencanaan kemitraan dan negosiasi bisnis. Pemerintah dapat mendukung kemitraan dengan memantapkan prasarana, sarana dan memperkuat kelembagaan, antara lain mengembangkan sistem dan lembaga keuangan. Berdasarkan penjelasan demikian, istimewanya dengan kemitraan alami adalah pemerintah berperan menciptakan iklim usaha yang kondusif sehingga mempercepat terwujudnya kemitraan. 6.4.3.3 Dukungan Modal Dukungan modal sangat diperlukan bagi pengembangan perikanan tangkap untuk memasimalkan usaha dalam perikanan tangkap. Untuk mendapatkan dukungan modal baik dari pemerintah maupun swasta, maka perlu untuk memperbaiki iklim usaha agar tercipta suatu iklim ekonomi yang kondusif serta sehat, dimana pengembangan perikanan berjalan di atas landasan kebersamaan berusaha di antara berbagai pelaku ekonomi yang ada. Penciptaan iklim ekonomi seperti ini harus memungkinkan aktivitas ekonomi bisa berkembang secara merata, baik kegiatan investasi, kegiatan produksi dan distribusi maupun kegiatan penangkapan ikan. Permodalan merupakan aspek penting bagi arah perkembangan perikanan tangkap, perlu disesuaikan dengan berbagai tata cara perolehan modal dan mekanisme pembayaran yang disanggupi nelayan secara bersama dengan pemberi modal dan penerima modal usaha. Untuk itu, perlunya membangun kepercayaan dalam memperoleh modal. Hal ini, sesuai dengan pendapat (Suyatno, et al (1999) bahwa seorang yang memperoleh kredit pada dasarnya adalah memperoleh kepercayaan atau dengan kata lain orang yang mendapat bantuan kredit adalah 170 mereka yang telah mendapat kepercayaan untuk membayar lunas pinjamannya dalam jangka waktu tertentu. Menciptakan kondisi ideal tersebut, salah satu kunci utamanya terletak pada pola investasi yang saling percaya. Kebijaksanaan investasi harus bersifat dinamis dari waktu ke waktu, harus dibenahi dan harus disesuaikan dengan kondisi perkembangan hasil tangkapan nelayan, baik jangka pendek maupun jangka panjang sesuai dengan target yang hendak diwujudkan dalam pengembangan perikanan tangkap di Gorontalo Utara. Investasi itu sendiri pada dasarnya adalah merupakan instrumen yang dibutuhkan dalam aspek ekonomi Adanya bantuan permodalan maka, dapat meningkatkan peran para pengusaha kecil dan koperasi nelayan berkembang secara dinamis serta mempunyai kedudukan yang sejajar dengan pelaku ekonomi lainnya, maka kepada pengusaha kecil dan koperasi perlu diberi bantuan baik dari pemerintah sendiri dalam bentuk kemudahan-kemudahan maupun dari pengusaha menengah dan besar dalam bentuk kerjasama usaha atau kemitraan. 6.4.3.4 Kestabilan Harga Pentingnya kestabilan harga dalam pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara, karena merupakan cikal bakal, dimana produsen hasil tangkapan ikan dalam hal ini nelayan mempunyai keterkaitan erat dengan konsumen atau industri pengolahan ikan, pedagang ikan atau eksportir. Polanya adalah terjalinnya kerjasama untuk menstabilkan harga produksi ikan yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Mengoptimalkan produksi hasil tangkapan dan menjamin mutu perlu dilakukan untuk menstabilkan harga ikan. Produksi hasil tangkapan terlebih dahulu untuk memenuhi kebutuhan lokal dalam Kabupaten Gorontalo Utara untuk menjamin agar konsumen dan pedagang mempunyai input produksi yang berkelanjutan, selain juga menjamin terciptanya pasar lokal di dalam suatu wilayah, sehingga diharapkan aliran barang dan uang terjadi secara efisien. Selanjutnya baru menciptakan pasar eksport. Hal ini, menjaga kurang stabilnya pasar internasional dan banyak aturan yang harus dipenuhi dalam pasar eksport. Bila memungkinkan kerjasama untuk menstabilkan harga melalui pasar eksport perlu aturan yang saling menguntungkan. 171 Kestabilan harga melalui pasar lokal telah terpenuhi, maka produksi hasil tangkapan, seyogianya dapat mensuplai produsen dari luar wilayah, tetapi tetap dalam konteks pasar dalam negeri. Selanjutnya, bilamana kebutuhan produksi hasil tangkapan dalam negeri telah terpenuhi, maka suplai produksi untuk ekspor juga dapat dilakukan. Oleh karena itu, perlu kiranya dijalin sistem koordinasi yang baik dan terpadu antar stakeholder. Pemerintah diharapkan dapat berperan lebih dalam upaya pengembangan pasar untuk tujuan kestabilan harga hasil tangkapan Ikan oleh nelayan di Kabupaten Gorontalo Utara. Dalam hal ini, pemerintah diharapkan dapat mendorong bank dan lembaga keuangan serta memberikan jaminan keberlanjutan insentif berupa kredit lunak agar nelayan, pengolah dan pedagang dapat melakukan upaya pengembangan usaha mereka. Hal ini penting diupayakan agar pengembangan perikanan tangkap tidak terganjal oleh terbatasnya modal usaha. Namun demikian, para pelaku bisnis juga harus memberikan kondite baik agar kredit yang diterimanya tidak menjadi kredit macet di kemudian hari. Penting kiranya pemerintah memberikan stimulans atau insentif lain terkait dengan upaya pengembangan usaha perikanan tangkap terpadu dan berkelanjutan, misalnya berupa penetapan harga dasar bahan baku di tingkat nelayan, sehingga para nelayan terjamin untuk dapat menerima hasil secara tetap dan kontinu. Penetapan harga dasar ini perlu juga memperhatikan kemampuan pengolah untuk menghasilkan hasil tangkapan yang dapat bersaing dengan daerah lain di sekitar daerah Gorontalo Utara. Sehingga produksi hasil tangkapan dari Kabupaten Gorontalo secara kualitas tidak kalah dengan hasil daerah lain. 6.5 Aspek Penunjang Aspek penunjang yang medorong keberhasilan pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara didasarkan pada hasil survei selama penelitian yang meliputi beberapa komponen penting yang erat kaitannya antara satu sama lain. 6.5.1 Zona penangkapan Pengaturan zona penangkapan masing-masing alat tangkap memberikan pengaruh pada keberlanjutan sumberdaya ikan agar tetap lestari sehingga potensi 172 sumberdaya ikan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Zonasi penangkapan untuk masing-masing alat tangkap sudah diatur dalam Kepmen Kelautan dan Perikanan RI No 2/MEN/2011. Dimana dalam KepMen tersebut telah diatur dengan jelas aturan-aturan yang berkaitan dengan jalur penangkapan ikan, penempatan alat penangkapan ikan dan alat bantu penangkapan ikan di wilayah pengelolaan perikanan negara republik Indonesia. Upaya-upaya konservasi dari kelembagaan lokal perlu terus digalakkan untuk meningkatkan tanggungjawab dan kesadaran masyarakat lokal dalam menjaga kelestarian sumberdaya perikanan dan lingkungannya. 6.5.2 Penggunaan alat tangkap ikan yang ramah lingkungan Selain pengaturan zona penangkapan upaya menjaga potensi juga harus dilakukan dengan upaya penyadaran kepada nelayan agar menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan. Seperti yang disebutkan dalam code of conduct for responsible fisheries (CCRF) menyebutkan salah satu dari Beberapa kriteria ramah lingkungan diantaranya 1) tidak membehayakan nelayan dan orang lain di laut; 2) sesuai dengan peraturan yang berlaku; 3) terbuat dari bahan yang pengadaanya tidak merusak lingkungan atau ekosistem yang dilindungi; 4) memiliki potensial yang rendah untuk menimbulkan ghost fishing; 5) tidak menangkap jenis yang dilindungi/ biodiversity; 6) tidak merusak lingkungan perairan dan habitat; serta 7) tidak menimbulkan konflik dengan kegiatan lainnya. Berdasarkan dari hal tersebut dalam konsep pengembangan sebaiknya ada upaya penyadaran kepada nelayan setempat dari pihak yang berwenang serta kerjasma dari berbagai stakeholder yang terlibat. 6.5.3 TPI dan PPI Pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara adalah mengoptimalkan tempat pelelangan dan pelabuhan perikanan. Pelabuhan perikanan merupakan salah satu prasarana utama dalam sistem perikanan tangkap dan salah satu komponen penting penunjang dalam pengembangan perikanan tangkap, karena tanpa komponen ini kegiatan operasi penangkapan ikan dan proses pendaratan ikan dapat terhambat atau tidak mungkin dilakukan dengan baik dan lancar. Pelabuhan perikanan sebagai infrastruktur dalam pembangunan ekonomi yang memiliki peranan penting sebagai penggerak roda perekonomian 173 suatu kawasan. Pembangunan pelabuhan perikanan seharusnya menjadi salah satu kebijakan pemerintah dalam upaya mengurangi overhead cost industri perikanan. Melalui pelabuhan perikanan, industri perikanan akan mendapat pelayanan dan kemudahan untuk berusaha sehingga produk yang dihasilkan dapat bersaing, sesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang No. 9 Tahun 1985 tentang perikanan, selanjutnya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. Per.16/16/MEN/2006 tentang Pelabuhan Perikanan yang menjelaskan tentang fungsi-fungsi pelabuhan perikanan. Kondisi Pelabuhan perikanan yang terjadi di Kabupaten Gorontalo Utara cenderung kurang berfungsi terutama fungsi pelayanannya sebagai contoh nelayan cenderung menjual hasil tangkapan tidak melalui sistem lelang, yang seharusnya dengan lelang harga ikan bisa lebih tinggi/ lebih terjadi persaingan harga. Dalam pengembangan perikanan seyogyanya fungsi pelabuhan diaktifkan kembali terutama tempat pelelangan ikan yang merupakan pusat kegiatan nelayan yang merupakan tempat bertemunya nelayan sebagai produsen dan pedagang ikan sebagai pembeli, sehingga di harapkan dengan adanya lelang kestabilan harga ikan dapat terjaga dan selain itu dengan adanya lelang dapat meningkatkan pendapatan asli daerah Gorontalo Utara. 6.5.4 Penyediaan tempat penyimpanan ikan atau cold storage. Pelabuhan perikanan di Kabupaten Gorontalo Utara belum memiliki fasilitas tempat penampungan ikan/cold storage. Hal ini menjadi salah satu kendala dalam pengembangan perikanan tangkap, sudah menjadi rahasia umum bahwa produk ikan merupakan barang yang mudah busuk apabila penanganan maupun penyimpanan kurang baik. Untuk menjaga produk ikan rantai dingin dalam setiap proses, baik penanganan maupun penyimpanan harus dilakukan. Ketika dalam kondisi puncak yang biasanya diikuti dengan anjloknya harga ikan, karena nelayan terpaksa menjual murah daripada ikan yang ditangkap tidak mempunyai nilai lagi ketika dibiarkan tidak terjual dan busuk. Dengan adanya cold storage/ tempat penampungan ikan diharapkan ketika musim puncak nelayan dapat menyimpan produk ikan tanpa ada kekhawatiran akan mengalami penurunan mutu ikan sehingga diharapkan kestabilan harga dari produk ikan bisa terjaga. 174 6.5.5 Pembangunan tempat pengolahan ikan Alternatif lainnya untuk meningkatkan nilai tambah dari produk perikanan adalah mengolah produk ikan menjadi produk lain atau mengolah menjadi produk turunannya. Dengan demikian produk ikan mempunyai nilai yang lebih daripada dijual dalam keadaan segar. Pembangunan tempat pengolahan ikan menjadi salah satu bentuk solusi yang ditawarkan, namun dalam prosesnya perlu ada kerjasama dari pihak investor/ pengusaha atau bisa juga mengembangkan usaha perseroan terbatas yang sudah ada. Ada hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan perikanan yaitu menjamin kualitas atau mutu ikan dan meningkatkan produktivitas hasil tangkapan ikan oleh nelayan yang dengan sendirinya mendatangkan investor atau pemodal. Kedua, adanya sinergitas peran oleh pemerintah baik pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam menciptakan dan menjaga hubungan bisnis antara nelayan dengan pengusaha atau pemilik modal yang datang menginvestasikan modalnya pada perikanan tangkap di daerah tersebut. 7 KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa : 1. Hasil evaluasi program minapolitan di Kabupaten Gorontalo Utara bahwa Kabupaten Gorontalo Utara belum layak dijadikan sebagai daerah minapolitan perikanan tangkap, 2. Sumberdaya ikan yang berpotensi dan memiliki peluang pemanfaatan untuk pengembangan perikanan tangkap meliputi ikan kuwe, ikan tembang, ikan kembung, ikan teri dan ikan tuna, 3. Semua unit penangkapan yang dominan di Kabupaten Gorontalo Utara layak berdasarkan analisis finansial yaitu unit penangkapan purse seine, pancing tuna, bagan perahu, gillnet, payang, bubu, pancing ulur, dan sero, 4. Faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan perikanan tangkap adalah aspek ekonomi yang terdiri dari pasar, kemitraan, dukungan modal dan kestabilan harga, 5. Rancangan model pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara meliputi jenis ikan yang berpeluang untuk dikelola, dukungan unit penangkapan ikan yang layak dikembangkan, dan selanjutnya memberikan solusi terhadap faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan serta aspek penunjang dalam pengembangan perikanan tangkap. 7.2 Saran Dalam menentukan suatu kebijakan perikanan khususnya perikanan tangkap, sebaiknya pemerintah terlebih dahulu mengkaji potensi sumberdaya ikan, kelayakan usaha, serta faktor yang akan menunjang keberhasilan suatu kebijakan perikanan. Hasil kegiatan tersebut dijadikan sebagai dasar ilmiah (scientific justification) dalam menentukan kebijakan perikanan tangkap yang akan diambil. PENGEMBANGAN PERIKANAN TANGKAP DI KABUPATEN GORONTALO UTARA ALFI SAHRI REMI BARUADI SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 DAFTAR PUSTAKA Adrianto, L. dan Tridoyo Kusumastanto, 2004. Penyusunan Rencana Pengelolaan Perikanan (Fisheries Management Plan) dan Rencana Pengelolaan Kawasan Pesisir (Coastal Management Plan). Makalah pada Training of Trainer (TOT) Marginal Fishing Community Development Pilot. Bappenas. Cipayung, 8 Oktober 2004. 42 hal. Arifin, B. dan Rahbini, D.J. 2001. Ekonomi Politik dan Kebijakan Publik. Penerbit Gramedia. Jakarta. Asikin, D. 1971. Sinopsis Biologi Ikan Layang (Decapterus spp). LPPL Jakarta. Jakarta. 3-27 hal. Avin and Bayer, 2006. Right – Sizing Urban Growth Bounderies and Integration Effects in Border Regions – A Survey Of Economics The One And Empirical Studies, Journal Planning, architecture and engineering. Volume 1 : Hal. 3. Columbia. Ayodhyoa. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Halaman Yayasan Dewi Sri, Bogor. 97 Banglos, 2005. Integrated Coastal Management and Marine Protected Areas in the Philipines. Concurrent Developments. Ocean and Coastal Management Journal Vol.48, pg 972-995. Baskoro, M.S, 2002., Metode Penangkapan Ikan., Diktat Pengajaran Kuliah Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Bogor : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. 54 hal. Baskoro MS. 2006. Sondita MFA dan Solihin I, editor. Alat Penangkapan Ikan Berwawaan Lingkungan. Didalam: Kumpulan Pemikiran Tentang Teknologi Perikanan Tangkapyang Bertanggungjawab. Kenangan Purnabakti Prof.Dr.Ir.Daniel R. Monintja. Bogor: FPIKIPB.7-18 hlm. Bailey C, Dwiponggo A, Marahudin F. 1987. Indonesian Marine Capture Fisheries. ICLARM Studies and Reviews 10, Inernational Center for Living Aquatic Resources Management, Manila, Philippines; DirectorateGeneral of Fisheries and Marine Fisheries Research Institute, Ministry ofAgriculture, Jakarta, Indonesia. Boer, M. dan K.A. Azis. 1995. Prinsip-prinsip Dasar Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Melalui Pendekatan Bio-Ekonomi. Jurnal Ilmu-ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia. Bogor: IPB. Brandt, v. 1959. Clasification Fishing Gear in Modern of the Word. Volume II (Hilman Kristjonsson). Fishing News (Book) Ltd. London. 117-123 p. 178 Canales, 1999. Industriallization, Urbanization, and Population Growth on the Border, Journal Border Lines. Volume 1 : Hal. 4.. Mexico. --------, 2001. Sustanable Fishery System, Blackwell Science Ltd. Oxford. 370 pp Chan, W.L.Y. 1965 A Systemacic Division of Indo-Pasific Clupeid Fisheries of the Genus Sardinella (Famili Clupedae) Japanesse, Ichyology. XIII (5): 10-39. Cho, 2005. Marine Protected Areas: A Tool for Integrated Coastal Management in Belize. Ocean an Coastal Management Journal Vol.48, pg 932-430 _____2006. Estimating Effects of an Urban Growth Boundery on Land Development, Journal of Agricultural and Applied Economics. Vol.38 : pg.1. Wshington, USA. Collete, B.B. and C.E. Nauer. 1983. FAO Species Catalogue, Vo 2. Scombrids of the Work; An Annotated and Illustrated Catalogue of Tunas, Mackarels, Bonitos and Related Species Known to Date. United Nation Development Programme, Food and Agriculture by the United Nation. Rome, 137 p. Dahuri, R. 2001. Potensi dan Permasalahan Pembangunan Kawasan Pesisir Indonesia. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor Departemen Kelautan dan Perikanan. 2002. Laporan Akhir Penyusunan Data Base Kondisi Potensi Sumberdaya Alam Laut (Provinsi DKI Jakarta, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara). Jakarta: Direktorat Jenderal Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil, Departemen Kelautan dan Perikanan. Departemen Kelautan dan Perikanan. 2003a. Perikanan Berkelanjutan dan peranan Kawasan Konservasi Laut. Prosiding Lokakarya. Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-pulau Kecil DKP dan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Dephut. Jakarta Dinas Kelautan dan Perikanan, 2010. Laporan Tahunan. Gorontalo: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gorontalo Utara. 51 hal. Direktorat Jenderal Perikanan. 1997. Buku Pedoman Pengenalan Sumberdaya Perikanan Laut. Bagian I. Jenis-jenis Ikan Ekonomis Penting. Departemen Pertanian. Jakarta. 64 hal. _____ 2001. Kebijakan dan Program Pembangunan Perikanan Tangkap. Jakarta. ______2005. Pengembangan Sumber Daya Manusia pada Usaha Penangkapan. Jakarta.12 hal. 179 Dun W.N., 2000. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Edisi ke-2. Yogyakarta Gajah Mana Univ Press. Terjemahan dari: Policy Analysis: An Introduction. Eriyatno. 2003. Ilmu sistem meningkatkan mutu dan efektivitas manajemen. Jilid 1. Bogor. IPB Press. 175 hlm. Fauzi, A dan Anna, S. 2005. Pemodelan Sumber Daya Perikanan dan Kelautan Untuk Analisis Kebijakan. Gramedia. Jakarta FAO, 1986. Distribution and Importan Biological Features of The Coastal Fish Resources in South Asia. FAO. Fisheries Technical Paper. FAO-UN: Vol 2:1-42 ---------2000. The State of World Fisheries and Aquacult ure 2000. Rome. Ferdinand, A . 2006. Structural Equation Modeling (SEM) Dalam penelitian Manajemen. Program Magister Manajemen Universitas Diponegoro. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. 390 hlm. Fletcher and Pike, 2007. Coastal Management in The Solent: The Stakeholder Perspective.Marine Policy Journal Vol.31, pg 638-644. Fischer, W. And P.J. P Whitehead. 1974. Eastern Ocean (Fishing Area 57) and Wetern Central Pasifik (Fishing Area 71). FAO, Species Identification Sheets for Fishety Purpose. Vo 1 – 4. FAO, United Nation. Ghozali, I. dan Fuad. 2005. Structural Equation Modeling: Teori, Konsep dan Aplikasi dengan Program LISREL 8.54. Badan Penerbit Universitas Dipenogoro. Semarang. 376 halaman Gordon, H. S. 1954. The Economic Theory of Common Property Resource : The Fishery. Journal of Political Economy, 62 : 124-142. Gulland, J.A. 1983. Fish Stock Assessment. A Manual of Basic Methods. A wiley Publication. 223 p. Guillemot, at al. 2009. Characterization and Management Of Informal Fisheries Confronted with Sosio-economic Changes in New Caledonia (South Pasific): Fisheries Research Journal, Vol.98, pg 51-61 Gunarso, W. 1988. Tingkah Laku Ikan Dalam Hubungannya dengan Alat, Metoda dan Taktik Penangkapan. Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor. 149 hal. Hair. JF, Anderson RE, Tatham R L, Black W C 2006. Multivariate Data nalysis. Sixth Edition. Prentice Hall-International . INC. Printed in The United States Of America Page 577. Chapter 11 Structural Equation Modeling. 180 Haluan, at all. 2007. Model Pengembangan Perikanan di Perairan Selatan Jawa. Buletin PSP Volume VI No 2. Hamdan, 2007. Analisis Kebijakan Pengelolaan Perikanan Tangkap Berkelanjutan di Kabupaten Indramayu. Disertasi Doktor. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor. 202 Hal. Hauck and Sowman, 2001. Coastal and Fisheries Co-Management in South Africa: An Overview an Analisis. Marine Policy Journal Vol.25 pg 173185. Healey, 2004. The Treatment of Space and Place in the new Strategic Spatial Planning in Europe. International Journal of Urban and Regional Research. Volume : 28 Hal. 45-67 Husnan, S. 1994. Studi Kelayakan Proyek Edisi Ketiga. UPP AMP YKPN. Yokyakarta. 379 hal. http://en.wikipedia.org/wiki/Giant_trevally http://australianmuseum.net.au/Giant-Trevally-Caranx-ignobilis-Forsskal-1775 Iskandar, M.D. dan Diniah. 1999. Modifikasi Bubu Dasar (Bottom traps) Untuk Menangkap Ikan Karang dan Ikan Demersal Lainnya di Teluk Pelabuhanratu, Sukabumi. Bulletin PSP 8 : 1. Hal 16-28. Kaplan and Powell, β000. Safety at Sea and Fisheries εanagement: Fishermen‟s Attudes and The Need for Co-Management. Marine Policy Journal Vol. 24 pg 493-497. Kementerian Kelautan dan Perikanan, (2010). Tentang Kebijakan Minapolitan http//cetak.kompas.com/red/xml/2010/04/16/05303517/.agar.ambisi. terwujud (Jumat, 16 April 2010). --------. 2010. Kebijakan minapolitan, Jakarta. --------,2011. Pedoman Kebijakan Minapolitan, Jakarta Kesteven, G.L. 1973. Manual of Fisheries Science. Part 1 – An Introduction to Fisheries Science. FAO Fisheries Technical Paper No. 118. Food and Agriculture Organization of The United Nations, Rome Kerlinger, 2002. Azas-Azas Penelitian Behavioral. Ed. Ke-3. Cet. ke-7. Terjemahan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Kusnadi. 2002. Konflik Sosial Nelayan, Kemiskinan dan Perebutan Sumberdaya Perikanan. Yogyakarta 181 Kusnendi, 2008. Model-model Persamaan Struktural. Satu dan Multigroup Sampel dengan LISREL. Bandung: Alfabeta Karunia, 2009. Analisis Kebijakan Peningkatan Kesejahteraan Nelayan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Disertasi (Tidak Dipublikasikan). Bogor. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. 226 halaman. Juwono, P.S.H. 1998. Ketika Nelayan Harus Sandar Dayung: Studi Nelayan Miskin di Desa Kirdowono. Konphalindo. Jakarta. Mangkusubroto, K dan Trisnadi. 1985. Analisis Keputusan Pendekatan Sistem dalam Manajemen Usaha dan Proyek. Ganeca Exact, Bandung. 271 hal. Maringi A, 2009. Pembangunan Perdesaan Berkelanjutan Melalui Pendekatan Pengembangan Kawasan Minapolitan di Kabupaten Boyolali. Tesis Program Magister. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Martasuganda, S. 2002. Jaring Insang (gillnet): Serial Teknologi Penangkapan Ikan Berwawasan Lingkungan. Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. 68 halaman. Monintja, D. 2000. Prosiding Pelatihan Untuk Pelatih Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Institut Pertanian Bogor, Bogor. 156 hal. Monintja D. 2001. Pemanfaatan Sumberdaya Pesisir dalam Bidang Perikanan Tangkap. Prosiding Pelatihan Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 156 hal. Muhamad F, 2010. Percepatan Pembangunan KTI Melalui Ekonomi dan Kelautan. Seminar Nasional Kementerian Kelautan dan Perikanan. Makasar. 22 Hal Nikijuluw, V.P.H. 2002. Rezim Pengelolaan Sumberdaya Perikanan. P3R. Jakarta. Nontji, A. 1993. Laut Nusantara. PT. Djambatan. Jakarta. 386 hal. Nwosu, 2011. Fisheries management in Nigeria: A case study of the marine fisheries policy. International Research Journal of Agricultural Science and Soil Science Vol. 1(3) pp.070-076 Putro S. 2002. Pengelolaan Hasil Perikanan Menghadapi Pasar Global-Peluang dan Tantangan. Seminar Perdagangan Internasional dan Pasca Panen, Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta 2002. Atase Pertanian, Perutusan Republik Indonesia untuk Uni Eropa. Brussels 182 Ritonga, J. 2004. Studi Pengembangan Marine Banking untuk Pembangunan Ekonomi Wilayah Pesisir. Disertasi (Tidak Dipublikasikan). Bogor. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. 320 halaman. Saanin H. 1984. Taksonomi dan kunci identifikasi ikan 1 dan 2. Bina Cipta. Bandung. Viii + 508 h. Sadhori, N. 1985. Teknik Penangkapan Ikan. Penerbit Angkasa, Bandung 128 Halaman Sainsbury, J.C. 1996. Commercial Fishing Methods an Introduction to Vessel and Gears. Third Edition. Fishing News Books Ltd. London. 354 p. Schaefer, M. 1954. Some Aspects of the Dynamics of Populations Important to the Management of Commercial Marine Fisheries. Bull. Inter-Am. Tropical Tuna Commission. 1 :27-56. Schaefer MB. 1957. Some Consideration of Population Dynamics and Economics in Relation to the Management of The Commercial Marine Fisheries. J. Fish. Res. Board Can. Setiawan, 2010. Analisis Kinerja dan Status Keberlanjutan minapolitan di Bontonompo Kabupaten Gowa. Provinsi Sulawesi Selatan. Tesis Program Magister. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor. 152 Hal Sluka RD, Chiappone M, Sealey KMS. 2001. Influence of habitat on grouper abundance in the Florida Keys, U.S.A. Journal of Biology. 58:682-700. Sondita, M.F.A. 2004. Monitoring Pengelolaan dan Pemanfaatan Sumber Daya Ikan. Makalah disampaikan dalam Workshop-2 Rencana Pengelolaan Perikanan Layur, Kerjasama COFISH dan Dinas Kelautan dan Perikanan Trenggalek, Kediri 20-23 Juli 2004. Stead, and McGlashan, 2006. A Coastal and Marine National Park for Scotland in Partnership With Integrated Coastal Zone Management. Ocean and Coastal Management Journal Volume. 49, pg 22-41. Storrier and McGlasham, 2006. Development and Management of a Coastal litter Campaign: The Voluntary Coastal Partnership Approach. Marine Policy Journal Vol. 30, pg 189-196 Subani, W. dan H.R. Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut Indonesia. Balai penelitian Perikanan laut. Departemen Pertanian. Jakarta. 248 hal. 183 Subani, W., 1989. Telaah Penggunaan Rumpon dan Payaos Dalam Perikanan di Indonesia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. No. 35. Jakarta : Balai Penelitian Perikanan Laut. Hal. 31 – 47. Sudirman dan Mallawa, A. 2003. Teknik Penangkapan Ikan. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta. 168 hal. Suharto, E. 2005. Analisis Kebijakan Publik. Panduan Praktis Mengkaji Masalah dan Kebijakan Sosial. CV. Alfabeta, Bandung. Suhendrata B, Rusmadji. 1991. Pendugaan ukuran pertarna kali matang gonad dan perbandingan kelamin ikan kernbung perempuan (Rastrelliger brachysoma) di perairan sebelah Utara Tegal. Jumal Penelitian Perikman Laut. 6459-63. Suseno, 2004. Analisis Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Tangkap Disertasi Program Doktor. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. 221 hal. Sutojo, S. 1995. Studi Kelayakan Proyek. Teori dan Praktek Seri Manajemen No.66. PT. Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta. 165 hal Supardan A. 2006 Maksimum Sustanable Yield dan Aplikasinya pada Kebijakan Pemanfaatan Sumberdaya Ikan di Teluk Buton. Disertasi (Tidak Dipublikasikan). Bogor. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. 320 halaman. Suwandi. 2004. Penguatan Kelembagaan Ekonomi Perdesaan di Kawasan Agropolitan. Departemen Pertanian. Jakarta. Tar, 2010. Arahan Pengembangan Kawasan Minapolitan Mendeh, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatra Barat. Tesis Program Magister. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor. 119 Hal. Thorpe, 2009. The Collapse of The Fisheries Sector in Kyrgyzstan: An Analysis of its Roods and its Prospects for Revival. Communist and PostCommunist Studies Journal Vol.42, pg 141-163. Tucker Jr JW. 1999. Species profile grouper aquaculture. SRAC Publication No 721. Von Brant, A. 1984. Fish Catching Methods of The World. Fishing News Books Ltd. Farnham Surrey, England. 166 p. Wahyuni. 2002. Perencanaan Industri Hasil Perikanan. Jurusan Teknologi Kelautan Fakultas Pascasarjana IPB. Bogor 184 Weber, M, dan L.F. de Beaufort 1965. The Fishes of the Indo-Australian Archipelago II. Malapcopteryii, Myctophoidea; Ostariophysi; Siluroidea, wit 151. Illustration of Bleekeri. E. J. Brill. Ltd, Leiden. 410 p. Whitehead, P.J.P. 1985. FAO Species Catalogue, Volume 7. Clupeid Fishes of the Word, An Annonated and Illustrated Catalague of Herrings, Sardines, Pillchards, Sprats, Anchovies and Wolf Herrings. Part 1, Chirocentridae, Clupeidea, and Prestigastrudae. FAO Fish. Synopsis 7 (25) 1-303 p. White, 2005. Integrated Coastal Management and Marine Protected Areas in the Philipines. Concurrent Developments. Ocean and Coastal Management Journal Vol.48, pg 948-640. Widodo, J . 2003. Pengkajian Stok Sumber Daya Ikan Laut Indonesia Tahun 2002. Prosiding Forum Pengkajian Stok Ikan Laut 2003. Pusat Riset Perikanan Tangkap. Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Departemen Kelautan Perikanan. Jakarta. Wiyono, E.S. 2001. Optimasi Manajemen Perikanan Skala Kecil di Teluk Pelabuhan Ratu, Jawa Barat (Tesis). Bogor. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. 102 Hal Yahya, 2007. Desain Sistim Perencanaan dan Pengembangan Perikanan Tangkap di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Disertasi Program Doktor. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. 157 hal. LAMPIRAN 187 Lampiran 1 Peta Kabupaten Gorontalo Utara 188 Lampiran 2 Produksi, upaya penangkapan, tingkat pemanfaatan, tingkat pengusahaan, F optimum dan MSY ikan cakalang di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010 Produksi Tahun Purse Seine Produksi Fluktuasi Gillnet Payang Produksi Fluktuasi 902 Produksi Fluktuasi 2003 1805 2004 1556 -13.79% 778 -13.79% 301 259 -13.79% 2005 2414 55.19% 707 -9.09% 236 -9.09% 2006 1884 -21.98% 942 33.19% 314 33.19% 2007 1361 -27.75% 1181 25.33% 394 25.33% 2008 1641 20.54% 820 -30.52% 273 -30.52% 2009 1938 18.11% 1019 24.20% 340 24.20% 2010 1147 -40.78% 1074 5.39% 358 5.39% Total 13745 -0.10465 7423 0.34722 2474 0.34722 Rata-rata 1718 -0.01495 928 0.69445 309 0.69445 Upaya Penangkapan Tahun Purse Seine Trip Fluktuasi Gillnet Payang Trip Fluktuasi 14526 Trip Fluktuasi 2003 29052 4842 2004 13080 -54.98% 21540 48.29% 7180 48.29% 2005 13884 6.15% 6942 -67.77% 2314 -67.77% 2006 19988 43.96% 7494 7.95% 2498 7.95% 2007 25232 26.24% 17616 135.07% 5872 135.07% 2008 34025 34.85% 17012 -3.43% 5671 -3.43% 2009 20721 -39.10% 20360 19.68% 6787 19.68% 2010 24807 19.72% 22404 10.04% 7468 10.04% Total 180788 0.36837 127894 1.49822 42631 1.49822 Rata-rata 22599 0.05262 15987 2.99644 5329 2.99644 189 Lanjutan lampiran 2 Tahun Cacth 2003 3008 2004 2593 2005 3357 2006 3140 2007 2935 2008 2734 2009 3296 2010 2579 Tingkat pemanfaatan MSY 3562 3562 3562 3562 3562 3562 3562 3562 Tingkat Pemanfaatan 84.44 72.79 94.25 88.14 82.40 76.76 92.53 72.41 Fopt 36195 36195 36195 36195 36195 36195 36195 36195 Tingkat Pengusahaan 133.78 60.23 53.34 92.04 150.33 156.67 97.38 154.05 Tingkat pengusahaan Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 F standar 48420 21800 19306 33313 54413 56708 35247 55758 Nilai a 0.196849244 b -0.0000027 F opt 36.195 MSY 3.562 190 Lampiran 3 Produksi, upaya penangkapan, tingkat pemanfaatan, tingkat pengusahaan, F optimum dan MSY ikan layang di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. Produksi Tahun Purse Seine Produksi 2003 1028 2004 1240 2005 2006 Gillnet Payang Fluktuasi Produksi Fluktuasi 514 20.67% 620 1143 -7.84% 827 -27.66% 2007 633 2008 Produksi Fluktuasi 171 20.67% 207 20.67% 572 -7.84% 191 -7.84% 413 -27.66% 138 -27.66% -23.44% 317 -23.44% 106 -23.44% 1315 107.77% 658 107.77% 219 107.77% 2009 1150 -12.59% 575 -12.59% 192 -12.59% 2010 1008 -12.32% 654 13.78% 218 13.78% Total 8344 44.59% 4322 70.68% 1441 70.68% Rata-Rata 1043 6.37% 540 10.10% 180 10.10% Upaya Penangkapan Tahun Purse Seine Trip Fluktuasi Payang Trip Fluktuasi Gillnet Trip Fluktuasi 1423 1145 2003 14210 2004 15900 11.89% 1477 3.80% 1164 1.62% 2005 11570 -27.23% 1434 -2.88% 1149 -1.26% 2006 14490 25.24% 1464 2.05% 1159 0.88% 2007 10360 -28.50% 1332 -9.03% 1114 -3.92% 2008 15240 47.10% 1808 35.76% 1278 14.69% 2009 15940 4.59% 1830 1.24% 1285 0.60% 2010 Total 16400 2.89% 1685 -7.94% 1235 -3.89% 114110 35.98% 12452 23.00% 9530 8.74% Rata-Rata 14264 5.14% 1556 3.29% 1191 1.25% Hasil standardisasi Tahun Cacth Fluktuasi 2003 1713 Effort std Fluktuasi 4742 CPUE std Fluktuasi 0,3612 2004 2005 2067 1905 20,67 -7,84 4923 4781 11,89 -27,23 0,4199 0,3985 7,84 26,65 2006 2007 1378 1055 -27,66 -23,44 4879 4438 25,24 -28,50 0,2824 0,2377 -42,24 7,08 2008 2009 2010 2192 1916 1880 107,77 -12,59 -1,88 6026 6100 4843 47,10 4,59 15,13 0,3638 0,3141 0,3882 41,24 -16,43 -14,78 191 Lampiran 4 Produksi, upaya penangkapan, tingkat pemanfaatan, tingkat pengusahaan, F optimum dan MSY ikan tembang di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. Produksi Tahun Bagan Perahu Produksi Fluktuasi Payang Produksi Fluktuasi 173 Purse Seine Produksi Fluktuasi 2003 116 14 2004 124 6.71% 282 62.91% 29 108.03% 2005 307 147.90% 204 -27.77% 49 73.33% 2006 595 93.62% 148 -27.54% 64 29.76% 2007 237 -60.15% 169 14.23% 38 -40.72% 2008 220 -7.34% 190 12.63% 46 21.58% 2009 544 147.32% 122 -35.86% 36 -22.29% 2010 594 9.27% 160 30.95% 30 -16.99% Total 2737 337.34% 1446 29.56% 306 152.69% Rata-rata 342 48.19% 181 4.22% 38 21.81% Upaya penangkapan Tahun Bagan Perahu Trip Fluktuasi Payang Trip Fluktuasi 995 Purse Seine Trip Fluktuasi 2003 1068 258 2004 1211 13.39% 649 -34.78% 318 23.48% 2005 2088 72.42% 739 13.96% 401 25.97% 2006 3139 50.34% 969 31.08% 492 22.74% 2007 2738 -12.77% 918 -5.31% 436 -11.44% 2008 2240 -18.19% 886 -3.45% 394 -9.65% 2009 3164 41.25% 781 -11.86% 382 -3.13% 2010 3456 9.23% 999 27.85% 325 -14.83% Total 19104 155.66% 6936 17.48% 3006 33.14% Rata-rata 2388 22.24% 867 2.50% 376 4.73% 192 Lanjutan lampiran 4 Tingkat pemanfaatan Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Cacth 303 435 561 807 444 456 701 783 MSY 1130 1130 1130 1130 1130 1130 1130 1130 Tingkat Pemanfaatan 26.81 38.45 49.60 71.41 39.27 40.35 62.06 69.32 Fopt 14347 14347 14347 14347 14347 14347 14347 14347 Tingkat Pengusahaan 19.41 29.58 26.54 29.66 35.71 32.38 28.45 31.77 Tingkat pengusahaan Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 F standar 2785 4243 3807 4255 5123 4646 4082 4557 Nilai a 0.15755 b -0.00000490 F opt 14.347 MSY 1.130 193 Lampiran 5 Produksi, upaya penangkapan, tingkat pemanfaatan, tingkat pengusahaan, F optimum dan MSY ikan teri di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. Produksi dan upaya penangkapan Tahun Bagan Perahu Produksi 2010 119 171 150 116 181 179 181 176 Total Rata-rata 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Fluktuasi Trip Fluktuasi 1464 43.63% 2304 57.37% -12.19% 2428 5.41% -22.64% 1921 -20.88% 55.45% 3265 69.98% -0.83% 2686 -17.75% 0.78% 3096 15.26% -2.38% 2905 -6.16% 1273 62.83% 20069 103.22% 159 8.83% 2509 14.75% Tingkat pemanfaatan Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Cacth 119 171 150 116 181 179 181 176 MSY 194 194 194 194 194 194 194 194 Tingkat Pemanfaatan 61.34 88.14 77.32 59.79 93.30 92.27 93.30 90.72 194 Lanjutan lampiran 5 Tingkat pengusahaan Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 F 1464 2304 2428 1921 3265 2686 3096 2905 Nilai a 0.092424082 b -0.00001099 F opt 4.204 MSY 194 Fopt 4204 4204 4204 4204 4204 4204 4204 4204 Tingkat Pengusahaan 34.82 54.80 57.76 45.70 77.67 63.89 73.64 69.10 195 Lampiran 6 Produksi, upaya penangkapan, tingkat pemanfaatan, tingkat pengusahaan, F optimum dan MSY ikan tuna di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. Produksi dan upaya penangkapan Tahun Pancing Tegak/Tuna Produksi 2003 399 2004 408 2005 2006 Fluktuasi Trip Fluktuasi 3906 2.26% 4872 24.73% 375 -8.09% 3719 -23.67% 297 -20.80% 2229 -40.06% 2007 395 33.00% 2590 16.20% 2008 328 -16.96% 2692 3.94% 2009 407 24.09% 3227 19.87% 2010 392 -3.69% 2914 -9.70% Total 3001 9.80% 26149 -8.69% Rata-rata 375 1.40% 3269 -1.24% Tingkat pemanfaatan Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Cacth 399 408 375 297 395 328 407 392 MSY 410 410 410 410 410 410 410 410 Tingkat Pemanfaatan 97.32 99.51 91.46 72.44 96.34 80.00 99.27 95.61 196 Lanjutan lampiran 6 Tingkat pengusahaan Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 F 3906 4872 3719 2229 2590 2692 3227 2914 Nilai a 0.195351105 b -0.00002325 F opt 4.202 MSY 410 Fopt 4202 4202 4202 4202 4202 4202 4202 4202 Tingkat Pengusahaan 92.96 115.94 88.51 53.05 61.64 64.06 76.80 69.35 197 Lampiran 7 Produksi, upaya penangkapan, tingkat pemanfaatan, tingkat pengusahaan, F optimum dan MSY ikan lemuru di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. Produksi Tahun Bagan Perahu Produksi Fluktuasi 2003 96 2004 200 108.03% 2005 336 2006 339 2007 Payang Produksi Fluktuasi 27 Purse Seine Produksi Fluktuasi 14 57 108.03% 29 108.03% 68.32% 99 73.33% 49 73.33% 0.86% 128 29.76% 64 29.76% 266 -21.46% 76 -40.72% 38 -40.72% 2008 291 9.55% 92 21.58% 46 21.58% 2009 209 -28.17% 72 -22.29% 36 -22.29% 2010 379 80.89% 60 -16.99% 30 -16.99% Total 2115 218.01% 611 152.69% 306 152.69% Rata-rata 264 31.14% 76 21.81% 38 21.81% Upaya penangkapan Tahun Bagan Perahu Trip Fluktuasi Payang Trip Fluktuasi 237 Purse Seine Trip Fluktuasi 2003 2291 2004 2823 23.22% 211 -10.81% 106 119 12.79% 2005 2702 -4.29% 271 28.20% 109 -8.93% 2006 2540 -6.00% 307 13.25% 116 6.78% 2007 3843 51.30% 377 22.71% 155 33.61% 2008 3063 -20.30% 212 -43.76% 202 30.37% 2009 3033 -0.98% 401 89.20% 128 -36.85% 2010 3097 2.11% 232 -42.22% 155 21.71% Total 23392 45.07% 2248 56.57% 1089 59.49% Rata-rata 2924 6.44% 281 8.08% 136 8.50% 198 Lanjutan lampiran 7 Tingkat pemanfaatan Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Cacth 137 285 484 531 380 430 317 468 MSY 432.26 432.26 432.26 432.26 432.26 432.26 432.26 432.26 Tingkat Pemanfaatan 31.69 65.93 111.97 122.84 87.91 99.48 73.34 108.27 Tingkat pengusahaan F standar 1057 1192 1064 960 1549 1879 1126 2437 Nilai a 0.472 b -0.0001288 F opt 1.832 MSY 432 Fopt 1831.97 1831.97 1831.97 1831.97 1831.97 1831.97 1831.97 1831.97 Tingkat Pengusahaan 57.69 65.07 58.06 52.42 84.54 102.59 61.46 133.05 199 Lampiran 8 Produksi, upaya penangkapan, tingkat pemanfaatan, tingkat pengusahaan, F optimum dan MSY ikan selar di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. Produksi Tahun Bagan Perahu Produksi 2003 149 2004 321 2005 2006 Fluktuasi Payang Produksi Fluktuasi 43 115.43% 163 306 -4.73% 202 -34.05% 2007 212 2008 Purse Seine Produksi Fluktuasi 21 283.10% 82 283.10% 156 -4.41% 78 -4.41% 115 -26.41% 57 -26.41% 4.81% 209 82.06% 105 82.06% 350 65.39% 129 -38.37% 64 -38.37% 2009 255 -27.19% 44 -65.68% 22 -65.68% 2010 281 10.25% 117 164.25% 58 164.25% Total 2075 129.90% 975 394.53% 488 394.53% Rata-rata 259 18.56% 122 56.36% 61 56.36% Upaya penangkapan Tahun Bagan Perahu Trip Fluktuasi Payang Trip Fluktuasi 617 Purse Seine Trip Fluktuasi 2003 1905 573 2004 2685 40.94% 1111 80.06% 892 55.71% 2005 3174 18.21% 1108 -0.27% 606 -32.05% 2006 2201 -30.66% 989 -10.74% 369 -39.14% 2007 2150 -2.32% 1041 5.26% 777 110.75% 2008 3932 82.88% 742 -28.72% 628 -19.24% 2009 1814 -53.87% 538 -27.49% 398 -36.57% 2010 1731 -4.58% 1077 100.19% 574 44.27% Total 19592 50.63% 7223 118.28% 4816 83.74% Rata-rata 2449 7.23% 903 16.90% 602 11.96% 200 Lanjutan lampiran 8 Tingkat pemanfaatan Tahun Cacth MSY Tingkat Pemanfaatan 2003 213 452 47.16 2004 566 452 125.30 2005 540 452 119.55 2006 374 452 82.80 2007 525 452 116.23 2008 543 452 120.21 2009 321 452 71.06 2010 456 452 100.95 Tingkat pengusahaan Tahun F standar Fopt Tingkat Pengusahaan 2003 3085 3534 87.30 2004 3853 3534 109.03 2005 3835 3534 108.53 2006 3222 3534 91.18 2007 2615 3534 74.00 2008 3128 3534 88.52 2009 3907 3534 110.57 2010 4205 3534 118.99 Nilai a 0.256 b -0.00003617 F opt 3.534 MSY 452 201 Lampiran 9 Produksi, upaya penangkapan, tingkat pemanfaatan, tingkat pengusahaan, F optimum dan MSY ikan kembung di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. Produksi Tahun Bagan Perahu Produksi Fluktuasi 2003 192 2004 109 -42.98% 2005 112 2.75% 2006 115 2.05% 2007 193 68.82% 2008 113 2009 2010 Purse Seine Produksi Fluktuasi 61 71 Gillnet Produksi Fluktuasi 46 16.72% 26 -43.74% 75 5.62% 38 46.88% 107 42.29% 54 42.29% 76 -29.16% 38 -29.16% -41.59% 97 28.50% 51 33.77% 220 94.77% 75 -22.59% 38 -25.64% 111 -49.57% 87 15.92% 32 -15.92% Total 1164 34.25% 650 57.29% 320 8.48% Rata-rata 146 4.89% 81 8.18% 40 1.21% Upaya penangkapan Tahun Bagan Perahu Trip 2003 2156 2004 1504 2005 2006 Fluktuasi Purse Seine Trip Fluktuasi 519 -30.26% 299 1418 -5.68% 1121 -20.95% 2007 1965 2008 1386 2009 2010 Gillnet Trip Fluktuasi 372 -42.41% 624 67.69% 304 1.88% 424 -32.05% 303 -0.53% 258 -39.14% 75.31% 290 -4.21% 544 110.75% -29.48% 386 33.23% 439 -19.24% 1996 44.00% 457 18.37% 279 -36.57% 1105 -44.63% 436 -4.55% 402 44.27% Total 12651 -11.70% 2994 1.78% 3343 95.71% Rata-rata 1581 -1.67% 374 0.25% 418 13.67% 202 Lanjutan lampiran 9 Tingkat pemanfaatan Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Cacth 298 206 225 275 307 261 333 230 MSY 328 328 328 328 328 328 328 328 Tingkat Pemanfaatan 90.85 62.80 68.59 83.84 93.59 79.57 101.52 70.12 Fopt 1.847 1.847 1.847 1.847 1.847 1.847 1.847 1.847 Tingkat Pengusahaan 137.17 46.78 49.29 42.11 63.57 56.04 109.33 62.18 Tingkat pengusahaan Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 F standar 2.534 864 910 778 1.174 1.035 2.019 1.148 Nilai a 0.355 b -0.00009616 F opt 1.847 MSY 328 203 Lampiran 10 Produksi, upaya penangkapan, tingkat pemanfaatan, tingkat pengusahaan, F optimum dan MSY ikan tongkol di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. Produksi Tahun Purse Seine Produksi Fluktuasi Gillnet Payang Produksi 2003 905 2004 955 5.47% 477 2005 745 -22.00% 2006 1034 38.93% 2007 998 2008 Fluktuasi 453 Produksi Fluktuasi 151 5.47% 159 5.47% 522 9.42% 174 9.42% 467 -10.55% 156 -10.55% -3.56% 486 4.08% 162 4.08% 792 -20.58% 446 -8.25% 149 -8.25% 2009 1010 27.47% 470 5.34% 157 5.34% 2010 1013 0.27% 511 8.80% 170 8.80% Total 7451 25.99% 3833 14.31% 1278 14.31% Rata-rata 931 3.71% 479 2.04% 160 2.04% Upaya penangkapan Tahun Purse Seine Trip Fluktuasi Gillnet Payang Trip Fluktuasi 5924 Trip Fluktuasi 2003 15848 1975 2004 16586 4.66% 5293 -10.65% 2098 6.23% 2005 11173 -32.64% 4436 -16.19% 1479 -29.50% 2006 17430 56.01% 5215 17.55% 1738 17.55% 2007 16013 -8.13% 5507 5.59% 1836 5.59% 2008 11433 -28.60% 4717 -14.34% 1572 -14.34% 2009 17172 50.19% 7586 60.84% 1862 18.43% 2010 15598 -9.17% 7801 2.83% 1970 5.80% Total 121253 32.33% 46479 45.63% 14529 9.76% Rata-rata 15157 4.62% 5810 6.52% 1816 1.39% 204 Lanjutan lampiran 10 Tingkat pemanfaatan Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Cacth 1509 1591 1441 1657 1646 1387 1637 1694 MSY 1614 1614 1614 1614 1614 1614 1614 1614 Tingkat Pemanfaatan 87.25 92.02 83.34 95.86 95.20 80.23 94.66 98.00 Fopt 19675 19675 19675 19675 19675 19675 19675 19675 Tingkat Pengusahaan 100.36 106.62 62.21 94.03 94.73 74.53 98.86 99.54 Tingkat pengusahaan Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 F standar 19746 20977 12240 18500 18638 14665 19452 19584 Nilai a 0.0164 b -0.00000417 F opt 36.057 MSY 1.729 205 Lampiran 11 Produksi, upaya penangkapan, tingkat pemanfaatan, tingkat pengusahaan, F optimum dan MSY ikan kuwe di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. Produksi Tahun Bubu Produksi 2003 168 2004 157 2005 2006 Sero Fluktuasi Produksi Fluktuasi 72 -6.31% 85 17.50% 175 11.37% 84 -1.06% 103 -41.30% 44 -47.31% 2007 88 -14.97% 38 -14.97% 2008 126 44.23% 80 112.80% 2009 103 -18.46% 44 -44.74% 2010 108 4.76% 46 4.76% Total 1028 -20.68% 492 26.98% Rata-rata 129 -2.95% 62 3.85% Upaya penangkapan Tahun Bubu Trip Sero Fluktuasi Trip Fluktuasi 2003 4768 1974 2004 3611 -24.27% 2097 6.23% 2005 3288 -8.94% 1478 -29.52% 2006 3239 -1.49% 1738 17.59% 2007 3238 -0.03% 1835 5.58% 2008 3240 0.06% 1572 -14.33% 2009 3864 19.26% 2862 82.06% 2010 2456 -36.44% 2997 4.72% Total 27704 -51.85% 16553 72.33% Rata-rata 3463 -7.41% 2069 10.33% 206 Lanjutan lampiran 11 Tingkat pemanfaatan Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Cacth 240 242 259 147 125 206 147 154 MSY 299 299 299 299 299 299 299 299 Tingkat Pemanfaatan 80.27 80.94 86.62 49.16 41.81 68.90 49.16 51.51 Fopt 12762 12762 12762 12762 12762 12762 12762 12762 Tingkat Pengusahaan 53.37 43.50 38.07 36.26 36.25 41.44 43.25 27.49 Tingkat pengusahaan Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 F standar 6811 5552 4858 4627 4626 5289 5520 3509 Nilai a 0.046925 b -0.00000184 F opt 12762 MSY 299 207 Lampiran 12 Produksi, upaya penangkapan, tingkat pemanfaatan, tingkat pengusahaan, F optimum dan MSY ikan kerapu di Kabupaten Gorontalo Utara tahun 2003-2010. Produksi Tahun Bubu Produksi Pancing Fuktuasi Produksi Fuktuasi 2003 98 163 2004 207 111.96% 346 111.96% 2005 102 -50.94% 170 2006 179 76.40% 299 2007 124 -30.94% 2008 76 2009 2010 Sero Produksi Fuktuasi 65 138 111.96% -50.94% 68 -50.94% 76.40% 120 76.40% 207 -30.94% 83 -30.94% -38.98% 126 -38.98% 50 -38.98% 80 5.16% 133 5.16% 53 5.16% 97 21.51% 161 21.51% 64 21.51% Total 962 94.17% 1603 94.17% 641 94.17% Rata-rata 120 13.45% 200 13.45% 80 13.45% Upaya penangkapan Tahun Bubu Trip Pancing Fuktuasi 2003 2675 2004 1541 2005 2006 Trip Fuktuasi 4291 Sero Trip Fuktuasi 1321 -42.41% 3823 -10.91% 1490 12.79% 1570 1.88% 3702 -3.17% 1357 -8.93% 1561 -0.53% 3540 -4.38% 1449 6.78% 2007 1496 -4.21% 2843 -19.69% 1936 33.61% 2008 1993 33.23% 3063 7.74% 2524 30.37% 2009 2359 18.37% 2033 -33.63% 2594 2.77% 2010 2251 -4.55% 3097 52.34% 2940 13.34% Total 15445 1.78% 26392 -11.69% 15611 90.74% Rata-rata 1931 0.25% 3299 -1.67% 1951 12.96% Hasil standardisasi Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Cacth Fluktuasi 326 691 339 598 413 252 265 322 111,96 -50,94 76,40 -30,94 -38,98 5,16 21,51 Effort std Fluktuasi CPUE std Fluktuasi 8582 0,03799 7646 -10,91 0,09037 137,91 7404 -3,17 0,04579 -49,34 7080 -4,38 0,08446 84,47 5686 -19,69 0,07263 -14,00 6126 7,74 0,04114 -43,37 4066 -33,63 0,06517 58,44 6194 52,34 0,05199 -20,24 208 Lampiran 13 Hasil analisis Net Present Value (NVP), Net Benefit Cost (Net B/C) dan Internal Rate of Return (IRR) unit penangkapan purse seine di Kabupaten Gorontalo Utara NO Biaya A. Investasi 1 Kapal 2 Mesin 3 Alat Tangkap 4 Lampu 5 Rumpon Total B. Biaya I. Biaya tetap 1 Perawatan kapal 2 Perawatan mesin 3 Perawatan alat tangkap 4 Perawatan lampu 5 Perawatan rumpon Total biaya tetap II. Biaya variabel 5 Solar (100 L x 4.600 x 240 trip/thn) 6 Oli (48 Liter pertahun) 7 Bensin (5 L x 4.600 x 240 trip/thn) 8 Es Balok (20 x 15.000 x 240 trip/tahun) 9 Garam (10 kg x 2.000 x 240 trip/tahun) 10 Upah ABK (50%) 11 Retribusi 5% Total biaya variabel Total biaya C. Penerimaan Ikan (650 kg x Rp 4.000 x 240 trip/thn) D. Benefit Net Benefit df (BNI = 12% tahun 2003) PV 0 150,000,000 54.000.000 200.000.000 3.000.000 20.000.000 427.000.000 - 427000.000 1 - 427.000.000 Umur Proyek 2 1 3 4 20.000.000 20.000.000 20.000.000 20.000.000 20.000.000 20.000.000 20.000.000 20.000.000 10.000.000 7.000.000 8.000.000 500.000 1.500.000 27.000.000 10.000.000 7.000.000 8.000.000 500.000 1.500.000 27.000.000 10.000.000 7.000.000 8.000.000 500.000 1.500.000 27.000.000 10.000.000 7.000.000 8.000.000 500.000 1.500.000 27.000.000 138.000.000 1.440.000 5.520.000 36.000.000 138.000.000 1.440.000 5.520.000 36.000.000 138.000.000 1.440.000 5.520.000 36.000.000 138.000.000 1.440.000 5.520.000 36.000.000 4.800.000 4.800.000 4.800.000 4.800.000 390.000.000 39.000.000 614.760.000 641.760.000 390.000.000 39.000.000 614.760.000 641.760.000 390.000.000 39.000.000 614.760.000 641.760.000 390.000.000 39.000.000 614.760.000 641.760.000 780.000.000 780.000.000 780.000.000 780.000.000 117,640,000 117,640,000 117,640,000 117,640,000 0.89 0.80 0.71 0.64 105,571,428 94,260,204 84,160,896 75,143,657.59 209 Lanjutan lampiran 13 NO Biaya A. Investasi 1 Perahu 2 Mesin 24 PK 3 Alat Tangkap 4 Lampu 5 Rumpon Total B. Biaya I. Biaya tetap 1 Perawatan perahu 2 Perawatan mesin 3 Perawatan alat tangkap 4 Perawatan lampu 5 Perawatan rumpon Total biaya tetap II. Biaya variabel 5 Solar 6 Oli 7 Bensin 8 Es 9 Garam 10 Upah ABK (50%) 11 Retribusi 5% Total biaya variabel Total biaya C. Penerimaan Ikan hasil tangkapan D. Benefit Net Benefit df (BNI = 12% tahun 2010) PV NPV PV + PV Net B/C IRR Umur Proyek 5 6 7 8 9 10 20.000.000 20.000.000 20.000.000 20.000.000 20.000.000 20.000.000 20.000.000 20.000.000 20.000.000 20.000.000 20.000.000 20.000.000 10.000.000 7.000.000 8.000.000 500.000 1.500.000 27.000.000 10.000.000 7.000.000 8.000.000 500.000 1.500.000 27.000.000 10.000.000 7.000.000 8.000.000 500.000 1.500.000 27.000.000 10.000.000 7.000.000 8.000.000 500.000 1.500.000 27.000.000 10.000.000 7.000.000 8.000.000 500.000 1.500.000 27.000.000 10.000.000 7.000.000 8.000.000 500.000 1.500.000 27.000.000 138.000.000 1.440.000 5.520.000 36.000.000 4.800.000 390.000.000 39.000.000 614.760.000 641.760.000 138.000.000 1.440.000 5.520.000 36.000.000 4.800.000 390.000.000 39.000.000 614.760.000 641.760.000 138.000.000 1.440.000 5.520.000 36.000.000 4.800.000 390.000.000 39.000.000 614.760.000 641.760.000 138.000.000 1.440.000 5.520.000 36.000.000 4.800.000 390.000.000 39.000.000 614.760.000 641.760.000 138.000.000 1.440.000 5.520.000 36.000.000 4.800.000 390.000.000 39.000.000 614.760.000 641.760.000 138.000.000 1.440.000 5.520.000 36.000.000 4.800.000 390.000.000 39.000.000 614.760.000 641.760.000 780.000.000 780.000.000 780.000.000 780.000.000 780.000.000 780.000.000 117,640,000 117,640,000 117,640,000 117,640,000 117,640,000 117,640,000 0.57 0.51 0.45 0.40 0.36 0.32 67,092,551 241,082,370 668,082,370 -427,000,000 1.56 24.63% 59,904,063 53,485,771 47,755,152 42,638,529 38,070,115 210 Lampiran 14 Hasil analisis Net Present Value (NVP), Net Benefit Cost (Net B/C) dan Internal Rate of Return (IRR) ) unit penangkapan pancing tuna di Kabupaten Gorontalo Utara NO Biaya A. Investasi 1 Kapal 2 Mesin 3 Alat Tangkap 4 Lampu 5 Rumpon Total B. Biaya I. Biaya tetap 1 Perawatan kapal 2 Perawatan mesin 3 Perawatan alat tangkap 4 Perawatan lampu 5 Perawatan rumpon Total biaya tetap II. Biaya variabel 5 Solar (100 L x 4.600 x 36 trip/thn) 6 Oli (5 L x 4.600 x 36 pertahun) 7 Bensin (5 L x 4.600 x 36 trip/thn) 8 Es Balok (20 x 15.000 x 36 trip/tahun) 9 Garam (10 kg x 2.000 x 36 trip/tahun) 10 Upah ABK (50%) 11 Retribusi 5% Total biaya variabel Total biaya C. Penerimaan Ikan (1000 kg x Rp 10.000 x 36 trip/thn) D. Benefit Net Benefit df (BNI = 12% tahun 2003) PV 0 150,000,000 54.000.000 1.000.000 3.000.000 20.000.000 228.000.000 - 228.000.000 1 - 228.000.000 Umur Proyek 2 1 3 4 20.000.000 20.000.000 20.000.000 20.000.000 20.000.000 20.000.000 20.000.000 20.000.000 10.000.000 7.000.000 8.000.000 500.000 1.500.000 27.000.000 10.000.000 7.000.000 8.000.000 500.000 1.500.000 27.000.000 10.000.000 7.000.000 8.000.000 500.000 1.500.000 27.000.000 10.000.000 7.000.000 8.000.000 500.000 1.500.000 27.000.000 16.560.000 5.400.000 5.520.000 10.800.000 16.560.000 5.400.000 5.520.000 10.800.000 16.560.000 5.400.000 5.520.000 10.800.000 16.560.000 5.400.000 5.520.000 10.800.000 2.592.000 2.592.000 2.592.000 2.592.000 180.000.000 18.000.000 234.180.000 261.180.000 180.000.000 18.000.000 234.180.000 261.180.000 180.000.000 18.000.000 234.180.000 261.180.000 180.000.000 18.000.000 234.180.000 261.180.000 360.000.000 360.000.000 360.000.000 360.000.000 78,820,000 78,820,000 78,820,000 78,820,000 0.89 0.80 0.71 0.64 70,375,000 62,834,821 56,102,519 50,091,534 211 Lanjutan lampiran 14 NO Biaya A. Investasi 1 Perahu 2 Mesin 24 PK 3 Alat Tangkap 4 Lampu 5 Rumpon Total B. Biaya I. Biaya tetap 1 Perawatan perahu 2 Perawatan mesin 3 Perawatan alat tangkap 4 Perawatan lampu 5 Perawatan rumpon Total biaya tetap II. Biaya variabel 5 Solar 6 Oli 7 Bensin 8 Es 9 Garam 10 Upah ABK (50%) 11 Retribusi 5% Total biaya variabel Total biaya C. Penerimaan Ikan hasil tangkapan D. Benefit Net Benefit df (BNI = 12% tahun 2010) PV NPV PV + PV Net B/C IRR Umur Proyek 5 6 7 8 9 10 20.000.000 20.000.000 20.000.000 20.000.000 20.000.000 20.000.000 20.000.000 20.000.000 20.000.000 20.000.000 20.000.000 20.000.000 10.000.000 7.000.000 8.000.000 500.000 1.500.000 27.000.000 10.000.000 7.000.000 8.000.000 500.000 1.500.000 27.000.000 10.000.000 7.000.000 8.000.000 500.000 1.500.000 27.000.000 10.000.000 7.000.000 8.000.000 500.000 1.500.000 27.000.000 10.000.000 7.000.000 8.000.000 500.000 1.500.000 27.000.000 10.000.000 7.000.000 8.000.000 500.000 1.500.000 27.000.000 16.560.000 5.400.000 5.520.000 10.800.000 2.592.000 180.000.000 18.000.000 234.180.000 261.180.000 16.560.000 5.400.000 5.520.000 10.800.000 2.592.000 180.000.000 18.000.000 234.180.000 261.180.000 16.560.000 5.400.000 5.520.000 10.800.000 2.592.000 180.000.000 18.000.000 234.180.000 261.180.000 16.560.000 5.400.000 5.520.000 10.800.000 2.592.000 180.000.000 18.000.000 234.180.000 261.180.000 16.560.000 5.400.000 5.520.000 10.800.000 2.592.000 180.000.000 18.000.000 234.180.000 261.180.000 16.560.000 5.400.000 5.520.000 10.800.000 2.592.000 180.000.000 18.000.000 234.180.000 261.180.000 360.000.000 360.000.000 360.000.000 360.000.000 360.000.000 360.000.000 78,820,000 78,820,000 78,820,000 78,820,000 78,820,000 78,820,000 0.57 0.51 0.45 0.40 0.36 0.32 44,724,584 217,350,579 445,350,579 39,932,664 35,654,165 31,834,076 28,423,282 25,377,930 - 228.000.000 1.95 32.50% 212 Lampiran 15 Hasil analisis Net Present Value (NVP), Net Benefit Cost (Net B/C) dan Internal Rate of Return (IRR) ) unit penangkapan bagan perahu di Kabupaten Gorontalo Utara NO Biaya A. Investasi 1 Bagan Perahu 2 Perahu penarik 3 Mesin perahu penarik 24 PK 4 Alat tangkap 5 Lampu Total B. Biaya I. Biaya tetap 1 Perawatan perahu 2 Perawatan mesin 3 Perawatan alat tangkap 4 Perawatan lampu Total biaya tetap II. Biaya variabel 5 Solar (20 L x 4.600 x180 trip/thn) 6 Oli (80 L pertahun) 7 Bensin (5 L x 4.600 x 180 trip/thn) 8 Upah ABK (50%) 9 Retribusi 5% Total biaya variabel Total biaya C. Penerimaan Ikan (300 kg x Rp 5.000 x 180 trip/thn) D. Benefit Net Benefit df (BNI = 12% tahun 2003) PV 0 85,000,000 8.000.000 9.000.000 14.000.000 3.000.000 119.000.000 - 119.000.000 1 - 119.000.000 1 Umur Proyek 2 3 4 5.000.000 3.000.000 2.000.000 500.000 10.500.000 5.000.000 3.000.000 2.000.000 500.000 10.500.000 5.000.000 3.000.000 2.000.000 500.000 10.500.000 5.000.000 3.000.000 2.000.000 500.000 10.500.000 16.560.000 2.400.000 4.140.500 72.000.000 7.200.000 102.300.000 112.800.000 16.560.000 2.400.000 4.140.500 72.000.000 7.200.000 102.300.000 112.800.000 16.560.000 2.400.000 4.140.500 72.000.000 7.200.000 102.300.000 112.800.000 16.560.000 2.400.000 4.140.500 72.000.000 7.200.000 102.300.000 112.800.000 144.000.000 144.000.000 144.000.000 144.000.000 31.200.000 0.89 27,857,142 31.200.000 0.80 24,872,448 31.200.000 0.71 22,207,543 31.200.000 0.64 19,828,164 213 Lanjutan lampiran 15 NO Biaya A. Investasi 1 Perahu 2 Perahu penarik 3 Mesin perahu 4 Alat tangkap 5 Lampu Total B. Biaya I. Biaya tetap 1 Perawatan perahu 2 Perawatan mesin 3 Perawatan alat tangkap 4 Perawatan lampu Total biaya tetap II. Biaya variabel 5 Solar 6 Oli 7 Bensin 8 Upah ABK (50%) 9 Retribusi 5% Total biaya variabel Total biaya C. Penerimaan Ikan hasil tangkapan D. Benefit Net Benefit df (BNI = 12% tahun 2010) PV NPV PV + PV Net B/C IRR Umur Proyek 5 6 7 8 9 10 5.000.000 3.000.000 2.000.000 500.000 10.500.000 5.000.000 3.000.000 2.000.000 500.000 10.500.000 5.000.000 3.000.000 2.000.000 500.000 10.500.000 5.000.000 3.000.000 2.000.000 500.000 10.500.000 5.000.000 3.000.000 2.000.000 500.000 10.500.000 5.000.000 3.000.000 2.000.000 500.000 10.500.000 16.560.000 2.400.000 4.140.500 72.000.000 7.200.000 102.300.000 112.800.000 16.560.000 2.400.000 4.140.500 72.000.000 7.200.000 102.300.000 112.800.000 16.560.000 2.400.000 4.140.500 72.000.000 7.200.000 102.300.000 112.800.000 16.560.000 2.400.000 4.140.500 72.000.000 7.200.000 102.300.000 112.800.000 16.560.000 2.400.000 4.140.500 72.000.000 7.200.000 102.300.000 112.800.000 16.560.000 2.400.000 4.140.500 72.000.000 7.200.000 102.300.000 112.800.000 144.000.000 144.000.000 144.000.000 144.000.000 144.000.000 144.000.000 31.200.000 0.57 17,703,717 57,286,958 176,286,958 -119,000,000.00 1.48 22.88% 31.200.0000 0.51 15,806,890 31.200.000 0.45 14,113,295 31.200.000 0.40 12,601,156 31.200.000 0.36 11,251,032 31.200.000 0.32 10,045,564 214 Lampiran 16 Hasil analisis Net Present Value (NVP), Net Benefit Cost (Net B/C) dan Internal Rate of Return (IRR) ) unit penangkapan bubu di Kabupaten Gorontalo Utara NO Biaya A. Investasi 1 Perahu 2 Mesin 5,5 PK (2 Unit) 3 Alat Tangkap Total B. Biaya I. Biaya tetap 1 Perawatan perahu 2 Perawatan mesin 3 Perawatan alat tangkap Total biaya tetap II. Biaya variabel 4 Bensin (5 L x 4.600 x 300 trip/thn) 5 Oli (24 liter pertahun) 6 Upah Pekerja (25%) Total biaya variabel Total biaya C. Penerimaan Ikan (10 kg x Rp 11.500 x 300 trip/thn) D. Benefit Net Benefit df (BNI = 12% tahun 2003) PV 0 3,000,000 6.000.000 1.000.000 10.000.000 - 10.000.000 1 - 10.000.000 Umur Proyek 2 1 3 4 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 250.000 250.000 250.000 750.000 250.000 250.000 250.000 750.000 250.000 250.000 250.000 750.000 250.000 250.000 250.000 750.000 5.520.000 720.000 3.750.000 9.990.000 10.740.000 5.520.000 720.000 3.750.000 9.990.000 10.740.000 5.520.000 720.000 3.750.000 9.990.000 10.740.000 5.520.000 720.000 3.750.000 9.990.000 10.740.000 15.000.000 15.000.000 15.000.000 15.000.000 3.260.000 3.260.000 3.260.000 3.260.000 0.89 0.80 0.71 0.64 2,910,714 2,598,852 2,320,403 2,071,788 215 Lanjutan lampiran 16 NO Biaya A. Investasi 1 Perahu 2 Mesin 3 Alat Tangkap Total B. Biaya I. Biaya tetap 1 Perawatan perahu 2 Perawatan mesin 3 Perawatan alat tangkap Total biaya tetap II. Biaya variabel 4 Bensin 5 Oli 6 Upah pekerja (25%) Total biaya variabel Total biaya C. Penerimaan Ikan hasil tangkapan D. Benefit Net Benefit df (BNI = 12% tahun 2010) PV NPV PV + PV Net B/C IRR Umur Proyek 5 6 7 8 9 10 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 1.000.000 250.000 250.000 250.000 750.000 250.000 250.000 250.000 750.000 250.000 250.000 250.000 750.000 250.000 250.000 250.000 750.000 250.000 250.000 250.000 750.000 250.000 250.000 250.000 750.000 5.520.000 720.000 3.750.000 9.990.000 10.740.000 5.520.000 720.000 3.750.000 9.990.000 10.740.000 5.520.000 720.000 3.750.000 9.990.000 10.740.000 5.520.000 720.000 3.750.000 9.990.000 10.740.000 5.520.000 720.000 3.750.000 9.990.000 10.740.000 5.520.000 720.000 3.750.000 9.990.000 10.740.000 15.000.000 15.000.000 15.000.000 15.000.000 15.000.000 15.000.000 3.260.000 3.260.000 3.260.000 3.260.000 3.260.000 3.260.000 0.57 0.51 0.45 0.40 0.36 1,849,811 8,419,727.07 8,419,727.07 1,651,617 1,474,658 1,316,659 1,175,588 - 10.000.000 1.84 30.29% 0.32 1,049,632 216 Lampiran 17 Hasil analisis Net Present Value (NVP), Net Benefit Cost (Net B/C) dan Internal Rate of Return (IRR) ) unit penangkapan pancing ulur di Kabupaten Gorontalo Utara NO Biaya A. Investasi 1 Perahu 2 Mesin 5,5 PK (2 unit) 3 Alat Tangkap Total B. Biaya I. Biaya tetap 1 Perawatan perahu 2 Perawatan mesin Total biaya tetap II. Biaya variabel 3 Bensin (5 L x 4.600 x 240 trip/thn) 4 Oli (24 liter pertahun) 5 Es Balok (20 x 15.000 x 240 trip/tahun) 6 Upah ABK (50%) Total biaya variabel Total biaya C. Penerimaan Ikan (30 kg x Rp 10.000 x 240 trip/thn) D. Benefit Net Benefit df (BNI = 12% tahun 2003) PV 0 3,000,000 6.000.000 500.000 9.500.000 - 9.500.000 1 - 9.500.000 Umur Proyek 2 1 3 4 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 250.000 250.000 500.000 250.000 250.000 500.000 250.000 250.000 500.000 250.000 250.000 500.000 5.520.000 720.000 1.800.000 12.000.000 20.040.000 20.540.000 5.520.000 720.000 1.800.000 12.000.000 20.040.000 20.540.000 5.520.000 720.000 1.800.000 12.000.000 20.040.000 20.540.000 5.520.000 720.000 1.800.000 12.000.000 20.040.000 20.540.000 24.000.000 24.000.000 24.000.000 24.000.000 2.960,000 2.960,000 2.960,000 2.960,000 0.89 0.80 0.71 0.64 2,642,857 2,359,693 2,106,869 1,881,133 217 Lanjutan lampiran 17 NO Biaya A. Investasi 1 Perahu 2 Mesin 3 Alat Tangkap Total B. Biaya I. Biaya tetap 1 Perawatan perahu 2 Perawatan mesin Total biaya tetap II. Biaya variabel 3 Bensin 4 Oli 5 Es 6 Upah ABK (50%) Total biaya variabel Total biaya C. Penerimaan Ikan hasil tangkapan D. Benefit Net Benefit df (BNI = 12% tahun 2010) PV NPV PV + PV Net B/C IRR Umur Proyek 5 6 7 8 9 10 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 500.000 250.000 250.000 500.000 250.000 250.000 500.000 250.000 250.000 500.000 250.000 250.000 500.000 250.000 250.000 500.000 250.000 250.000 500.000 5.520.000 720.000 1.800.000 12.000.000 20.040.000 20.540.000 5.520.000 720.000 1.800.000 12.000.000 20.040.000 20.540.000 5.520.000 720.000 1.800.000 12.000.000 20.040.000 20.540.000 5.520.000 720.000 1.800.000 12.000.000 20.040.000 20.540.000 5.520.000 720.000 1.800.000 12.000.000 20.040.000 20.540.000 5.520.000 720.000 1.800.000 12.000.000 20.040.000 20.540.000 24.000.000 24.000.000 24.000.000 24.000.000 24.000.000 24.000.000 2.960,000 2.960,000 2.960,000 2.960,000 2.960,000 2.960,000 0.57 0.51 0.45 0.40 0.36 0.32 1,679,583 7,224,660 16,724,660 1,499,628 1,338,953 1,195,494 1,067,405 953,040 - 9.500.000 1.76 28.65% 218 Lampiran 18 Hasil analisis Net Present Value (NVP), Net Benefit Cost (Net B/C) dan Internal Rate of Return (IRR) ) unit penangkapan payang di Kabupaten Gorontalo Utara NO Biaya A. Investasi 1 Perahu 2 Mesin 24 PK 3 Alat Tangkap 4 Lampu 5 Rumpon Total B. Biaya I. Biaya tetap 1 Perawatan perahu 2 Perawatan mesin 3 Perawatan alat tangkap 4 Perawatan lampu 5 Perawatan rumpon Total biaya tetap II. Biaya variabel 5 Solar (20 L x 4.600 x300 trip/thn) 6 Oli (24 L pertahun) 7 Bensin (5 L x 4.600 x 130 trip/thn) 8 Upah ABK (50%) 9 Retribusi 5% Total biaya variabel Total biaya C. Penerimaan Ikan (150 kg x Rp 5.000 x 300 trip/thn) D. Benefit Net Benefit df (BNI = 12% tahun 2003) PV 0 10,000,000 9.000.000 10.000.000 3.000.000 10.000.000 42.000.000 - 42.000.000 1 - 42.000.000 1 Umur Proyek 2 3 4 10.000.000 10.000.000 10.000.000 10.000.000 10.000.000 10.000.000 10.000.000 10.000.000 500.000 1.000.000 200.000 500.000 750.000 2.950.000 500.000 1.000.000 200.000 500.000 750.000 2.950.000 500.000 1.000.000 200.000 500.000 750.000 2.950.000 500.000 1.000.000 200.000 500.000 750.000 2.950.000 41.400.000 720.000 2.760.000 75.000.000 7.500.000 127. 380.000 130.330.000 41.400.000 720.000 2.760.000 75.000.000 7.500.000 127. 380.000 130.330.000 41.400.000 720.000 2.760.000 75.000.000 7.500.000 127. 380.000 130.330.000 41.400.000 720.000 2.760.000 75.000.000 7.500.000 127. 380.000 130.330.000 150.000.000 150.000.000 150.000.000 150.000.000 9.670.000 0.89 9.670.000 0.80 9.670.000 0.71 9.670.000 0.64 8,633,928 7,708,864 6,882,915 6,145,459 219 Lanjutan lampiran 18 NO Biaya A. Investasi 1 Perahu 2 Mesin 24 PK 3 Alat Tangkap 4 Lampu 5 Rumpon Total B. Biaya I. Biaya tetap 1 Perawatan perahu 2 Perawatan mesin 3 Perawatan alat tangkap 4 Perawatan lampu 5 Perawatan rumpon Total biaya tetap II. Biaya variabel 5 Solar 6 Oli 7 Bensin 8 Upah ABK (50%) 9 Retribusi 5% Total biaya variabel Total biaya C. Penerimaan Ikan hasil tangkapan D. Benefit Net Benefit df (BNI = 12% tahun 2010) PV NPV PV + PV Net B/C IRR Umur Proyek 5 6 7 8 9 10 10.000.000 10.000.000 10.000.000 10.000.000 10.000.000 10.000.000 10.000.000 10.000.000 10.000.000 10.000.000 10.000.000 10.000.000 500.000 1.000.000 200.000 500.000 750.000 2.950.000 500.000 1.000.000 200.000 500.000 750.000 2.950.000 500.000 1.000.000 200.000 500.000 750.000 2.950.000 500.000 1.000.000 200.000 500.000 750.000 2.950.000 500.000 1.000.000 200.000 500.000 750.000 2.950.000 500.000 1.000.000 200.000 500.000 750.000 2.950.000 41.400.000 720.000 2.760.000 75.000.000 7.500.000 127. 380.000 130.330.000 41.400.000 720.000 2.760.000 75.000.000 7.500.000 127. 380.000 130.330.000 41.400.000 720.000 2.760.000 75.000.000 7.500.000 127. 380.000 130.330.000 41.400.000 720.000 2.760.000 75.000.000 7.500.000 127. 380.000 130.330.000 41.400.000 720.000 2.760.000 75.000.000 7.500.000 127. 380.000 130.330.000 41.400.000 720.000 2.760.000 75.000.000 7.500.000 127. 380.000 130.330.000 150.000.000 150.000.000 150.000.000 150.000.000 150.000.000 150.000.000 9.670.000 0.57 9.670.000 0.51 9.670.000 0.45 9.670.000 0.40 9.670.000 0.36 9.670.000 0.32 5,487,017 12,637,656 54,637,656 4,899,122 4,374,216 3,905,550 3,487,098 3,113,481 -42,000,000.00 1.30 18.97% 220 Lampiran 19 Hasil analisis Net Present Value (NVP), Net Benefit Cost (Net B/C) dan Internal Rate of Return (IRR) ) unit penangkapan sero di Kabupaten Gorontalo Utara NO Biaya A. Investasi 1 Perahu 2 Mesin 5,5 PK 3 Alat Tangkap Total B. Biaya I. Biaya tetap 1 Perawatan perahu 2 Perawatan mesin 3 Perawatan alat tangkap Total biaya tetap II. Biaya variabel 5 Bensin (2 L x 4.600 x 360 trip/thn) 6 Oli (24 liter pertahun) Total biaya variabel Total biaya C. Penerimaan Ikan (10 kg x Rp 5.000 x 360 trip/thn) D. Benefit Net Benefit df (BNI = 12% tahun 2003) PV 0 3,000,000 3.000.000 5.000.000 11.000.000 - 11.000.000 1 - 11.000.000 Umur Proyek 2 1 3 4 5.000.000 5.000.000 5.000.000 5.000.000 5.000.000 5.000.000 5.000.000 5.000.000 250.000 250.000 300.000 800.000 250.000 250.000 300.000 800.000 250.000 250.000 300.000 800.000 250.000 250.000 300.000 800.000 3.312.000 720.000 4.032.000 4.832.000 3.312.000 720.000 4.032.000 4.832.000 3.312.000 720.000 4.032.000 4.832.000 3.312.000 720.000 4.032.000 4.832.000 12.000.000 12.000.000 12.000.000 12.000.000 2.768,000 2.768,000 2.768,000 2.768,000 0.89 0.80 0.71 0.64 2,471,428 2,206,632 1,970,207 1,759,114 221 Lanjutan lampiran 19 NO Biaya A. Investasi 1 Perahu 2 Mesin 3 Alat Tangkap Total B. Biaya I. Biaya tetap 1 Perawatan perahu 2 Perawatan mesin 3 Perawatan alat tangkap Total biaya tetap II. Biaya variabel 4 Bensin 5 Oli Total biaya variabel Total biaya C. Penerimaan Ikan hasil tangkapan D. Benefit Net Benefit df (BNI = 12% tahun 2010) PV NPV PV + PV Net B/C IRR Umur Proyek 5 6 7 8 9 10 5.000.000 5.000.000 5.000.000 5.000.000 5.000.000 5.000.000 5.000.000 5.000.000 5.000.000 5.000.000 5.000.000 5.000.000 250.000 250.000 300.000 800.000 250.000 250.000 300.000 800.000 250.000 250.000 300.000 800.000 250.000 250.000 300.000 800.000 250.000 250.000 300.000 800.000 250.000 250.000 300.000 800.000 3.312.000 720.000 4.032.000 4.832.000 3.312.000 720.000 4.032.000 4.832.000 3.312.000 720.000 4.032.000 4.832.000 3.312.000 720.000 4.032.000 4.832.000 3.312.000 720.000 4.032.000 4.832.000 3.312.000 720.000 4.032.000 4.832.000 12.000.000 12.000.000 12.000.000 12.000.000 12.000.000 12.000.000 2.768,000 2.768,000 2.768,000 2.768,000 2.768,000 2.768,000 0.57 0.51 0.45 0.40 0.36 0.32 1,570,637 4,639,817 15,639,817 1,402,354 1,252,102 1,117,948 998,168 891,221 - 11.000.000 1.42 21.61% 222 Lampiran 20 Hasil analisis Net Present Value (NVP), Net Benefit Cost (Net B/C) dan Internal Rate of Return (IRR) ) unit penangkapan gillnet di Kabupaten Gorontalo Utara NO Biaya A. Investasi 1 Perahu 2 Mesin 5,5 PK (2 Unit) 3 Alat Tangkap Total B. Biaya I. Biaya tetap 1 Perawatan perahu 2 Perawatan mesin 3 Perawatan alat tangkap Total biaya tetap II. Biaya variabel 4 Bensin (10 L x 4.600 x 240 trip/thn) 5 Oli (24 liter pertahun) 6 Es (1/2 balok x 15.000 x 240 trip/tahun) 7 Upah Pekerja (25%) Total biaya variabel Total biaya C. Penerimaan Ikan (10 kg x Rp 5.000 x 240 trip/thn) D. Benefit Net Benefit df (BNI = 12% tahun 2003) PV 0 3,000,000 6.000.000 5.000.000 14.000.000 - 14.000.000 1 - 14.000.000 Umur Proyek 2 1 3 4 5.000.000 5.000.000 5.000.000 5.000.000 5.000.000 5.000.000 5.000.000 5.000.000 250.000 250.000 500.000 1.000.000 250.000 250.000 500.000 1.000.000 250.000 250.000 500.000 1.000.000 250.000 250.000 500.000 1.000.000 11.040.000 720.000 1.800.000 11.040.000 720.000 1.800.000 11.040.000 720.000 1.800.000 11.040.000 720.000 1.800.000 8.100.000 21.660.000 22.660.000 8.100.000 21.660.000 22.660.000 8.100.000 21.660.000 22.660.000 8.100.000 21.660.000 22.660.000 32.400.000 32.400.000 32.400.000 32.400.000 4.740,000 4.740,000 4.740,000 4.740,000 0.89 0.80 0.71 0.64 4,232,142 3,778,698 3,373,838 3,584,321 223 Lanjutan lampiran 20 NO Biaya A. Investasi 1 Perahu 2 Mesin 3 Alat Tangkap Total B. Biaya I. Biaya tetap 1 Perawatan perahu 2 Perawatan mesin 3 Perawatan alat tangkap Total biaya tetap II. Biaya variabel 4 Bensin 5 Oli 6 Es Upah pekerja (25%) Total biaya variabel Total biaya C. Penerimaan Ikan hasil tangkapan D. Benefit Net Benefit df (BNI = 12% tahun 2010) PV NPV PV + PV Net B/C IRR Umur Proyek 5 6 7 8 9 10 5.000.000 5.000.000 5.000.000 5.000.000 5.000.000 5.000.000 5.000.000 5.000.000 5.000.000 5.000.000 5.000.000 5.000.000 250.000 250.000 500.000 1.000.000 250.000 250.000 500.000 1.000.000 250.000 250.000 500.000 1.000.000 250.000 250.000 500.000 1.000.000 250.000 250.000 500.000 1.000.000 250.000 250.000 500.000 1.000.000 11.040.000 720.000 1.800.000 8.100.000 21.660.000 22.660.000 11.040.000 720.000 1.800.000 8.100.000 21.660.000 22.660.000 11.040.000 720.000 1.800.000 8.100.000 21.660.000 22.660.000 11.040.000 720.000 1.800.000 8.100.000 21.660.000 22.660.000 11.040.000 720.000 1.800.000 8.100.000 21.660.000 22.660.000 11.040.000 720.000 1.800.000 8.100.000 21.660.000 22.660.000 32.400.000 32.400.000 32.400.000 32.400.000 32.400.000 32.400.000 4.740,000 4.740,000 4.740,000 4.740,000 4.740,000 4.740,000 0.57 0.51 0.45 0.40 0.36 0.32 2,689,603 12,782,057 26,782,057 2,401,431 2,144,135 1,914,406 1,709,291 1,526,153 - 14.000.000 1.91 31.70% 224 Lampiran 21 Output lisrel model tidak fit pengembangan perikanan tangkap DATE: 12/09/2011 TIME: 21:17 L I S R E L 8.30 BY Karl G. Jöreskog & Dag Sörbom This program is published exclusively by Scientific Software International, Inc. 7383 N. Lincoln Avenue, Suite 100 Chicago, IL 60646-1704, U.S.A. Phone: (800)247-6113, (847)675-0720, Fax: (847)675-2140 Copyright by Scientific Software International, Inc., 1981-99 Use of this program is subject to the terms specified in the Universal Copyright Convention. Website: www.ssicentral.com The following lines were read from file D:\DATA\STUDID~1\SEM\DATA.SPL: PENGEMBANGAN PERIKANAN TANGKAP Observed variables X11-X13 X21-X25 X31-X38 X41-X44 X51-X53 X61-X65 Y11-Y18 Y21Y23 Covariance matrix from file DATA.cov Sample size 100 Latent variable X1 X2 X3 X4 X5 X6 Y1 Y2 Equations X11-X13 = X1 X21-X25 = X2 X31-X38 = X3 X41-X44 = X4 X51-X53 = X5 X61-X65 = X6 Y11-Y18 = Y1 Y21-Y23 = Y2 X1-X6 = Y1 Y1 = Y2 Path diagram End of problem Sample Size = 100 225 Lanjutan lampiran 21 PENGEMBANGAN PERIKANAN TANGKAP Covariance Matrix to be Analyzed X11 X12 X13 X21 X22 X23 -------- -------- -------- -------- -------- -------X11 164.51 X12 -16.92 12.09 X13 175.39 -11.85 428.25 X21 -1.36 0.20 -0.31 1.68 X22 -1.94 0.51 -0.79 1.17 1.78 X23 1.42 -0.23 3.37 0.07 0.17 0.49 X24 -0.11 0.12 -0.84 0.95 0.93 0.08 X25 0.15 -0.41 0.22 -0.36 -0.37 0.06 X31 0.65 0.47 -0.31 0.48 0.55 0.16 X32 0.66 -0.08 1.08 0.17 0.16 0.05 X33 1.91 0.68 2.46 0.23 0.25 0.21 X34 0.52 0.53 0.83 0.08 0.12 0.08 X35 1.63 -0.34 1.91 0.15 0.15 0.08 X36 0.73 0.12 0.17 0.11 0.20 0.05 X37 0.55 0.04 1.33 0.31 0.29 0.08 X38 0.50 -0.15 2.33 -0.03 0.11 0.02 X41 -0.34 0.20 0.84 0.34 0.44 0.20 X42 0.32 -0.22 1.13 0.43 0.40 0.17 X43 -0.49 -0.07 -0.62 0.31 0.36 0.16 X44 0.39 0.26 0.88 0.36 0.36 0.04 X51 0.51 -0.48 0.78 0.03 -0.04 0.08 X52 -0.35 -0.11 0.45 0.34 0.31 -0.04 X53 -0.41 0.01 0.73 0.04 0.16 0.07 X61 0.55 -0.19 1.09 0.10 0.14 0.05 X62 0.81 -0.07 0.89 0.09 0.10 -0.01 X63 0.75 -0.18 1.29 0.18 0.16 0.05 X64 0.75 -0.24 1.29 0.14 0.15 0.06 X65 0.39 -0.26 0.14 0.10 0.08 0.04 Y11 -1.29 0.43 -2.10 0.02 0.08 0.00 Y12 0.94 0.19 1.17 0.20 0.25 0.13 Y13 0.74 -0.50 1.11 0.26 0.25 0.11 Y14 0.67 -0.20 1.52 0.17 0.16 0.03 Y15 -0.51 -0.16 -2.19 0.18 0.12 0.05 Y16 0.41 -0.19 0.66 0.28 0.29 -0.03 Y17 0.81 -0.13 1.76 0.09 0.16 0.11 Y18 -0.26 -0.13 0.22 0.17 0.15 0.06 Y21 -0.71 -0.38 -2.01 0.19 0.10 0.09 Y22 0.98 -0.25 0.83 0.23 0.31 0.08 Y23 2.08 0.25 2.46 0.29 0.30 0.14 226 Lanjutan lampiran 21 Covariance Matrix to be Analyzed X24 X25 X31 X32 X33 X34 -------- -------- -------- -------- -------- -------X24 1.37 X25 -0.16 1.31 X31 0.45 -0.07 1.03 X32 0.14 0.05 0.19 0.37 X33 0.22 0.05 0.45 0.28 1.02 X34 -0.04 -0.01 -0.01 0.09 0.20 0.59 X35 0.20 0.02 0.23 0.15 0.33 0.08 X36 0.11 0.10 0.18 0.10 0.17 0.14 X37 0.32 0.01 0.25 0.23 0.35 -0.05 X38 0.07 -0.12 0.09 0.10 0.19 0.07 X41 0.43 -0.15 0.37 0.12 0.31 0.04 X42 0.41 -0.06 0.34 0.12 0.27 0.01 X43 0.35 0.14 0.38 0.17 0.28 0.09 X44 0.37 -0.05 0.30 0.15 0.28 0.00 X51 0.01 0.09 0.04 0.03 0.08 0.05 X52 0.34 -0.13 0.16 0.10 -0.02 0.19 X53 0.13 0.07 0.12 0.06 0.14 0.07 X61 0.11 0.07 0.08 0.05 0.07 0.05 X62 -0.01 -0.03 0.06 0.00 0.03 0.05 X63 0.11 -0.02 0.15 0.04 0.11 0.06 X64 0.09 0.03 0.18 0.12 0.15 0.05 X65 0.11 0.09 0.06 0.06 0.07 0.05 Y11 -0.05 -0.06 -0.07 -0.02 0.05 0.21 Y12 0.20 -0.02 0.20 0.12 0.25 0.03 Y13 0.24 0.02 0.13 0.09 0.06 0.02 Y14 0.15 0.00 0.14 0.09 0.14 0.01 Y15 0.16 0.20 0.18 -0.08 -0.07 -0.03 Y16 0.24 0.03 0.18 0.06 0.10 0.02 Y17 0.12 -0.02 0.16 0.03 0.13 0.02 Y18 0.05 -0.11 0.05 0.17 0.00 0.16 Y21 0.16 0.26 0.05 0.10 0.03 -0.06 Y22 0.22 -0.06 0.27 0.20 0.18 0.03 Y23 0.25 0.28 0.36 0.11 0.30 0.09 227 Lanjutan lampiran 21 Covariance Matrix to be Analyzed X35 X36 X37 X38 X41 X42 -------- -------- -------- -------- -------- -------X35 0.47 X36 0.16 0.33 X37 0.28 0.17 0.89 X38 0.17 0.09 0.19 0.49 X41 0.19 0.16 0.21 0.13 0.93 X42 0.17 0.12 0.17 0.06 0.37 0.75 X43 0.23 0.20 0.24 0.15 0.42 0.50 X44 0.20 0.15 0.25 0.18 0.36 0.23 X51 0.12 0.06 0.01 0.04 -0.01 0.07 X52 0.04 0.07 0.09 0.11 0.08 0.09 X53 0.10 0.05 0.06 0.01 0.14 0.11 X61 0.07 0.09 0.06 0.05 0.13 0.06 X62 0.05 0.05 0.01 0.05 0.07 0.10 X63 0.12 0.06 0.11 0.02 0.15 0.07 X64 0.12 0.08 0.09 0.02 0.16 0.13 X65 0.11 0.05 0.05 0.05 0.14 0.10 Y11 0.09 0.05 -0.06 -0.03 0.11 0.03 Y12 0.17 0.09 0.20 0.12 0.20 0.17 Y13 0.12 0.08 0.08 0.00 0.16 0.22 Y14 0.09 0.07 0.08 0.04 0.13 0.12 Y15 0.10 0.06 -0.04 -0.05 0.08 0.23 Y16 0.10 0.12 0.14 0.05 0.15 0.14 Y17 0.13 0.06 0.05 0.06 0.17 0.12 Y18 0.01 0.03 0.08 0.02 0.04 0.18 Y21 0.06 0.06 0.36 -0.05 0.02 0.09 Y22 0.07 0.01 0.15 0.07 0.22 0.11 Y23 0.12 0.17 0.15 0.04 0.27 0.19 228 Lanjutan lampiran 21 Covariance Matrix to be Analyzed X43 X44 X51 X52 X53 X61 -------- -------- -------- -------- -------- -------X43 0.68 X44 0.32 0.69 X51 0.07 0.01 0.36 X52 0.15 0.09 0.07 1.02 X53 0.15 0.04 0.02 0.14 0.32 X61 0.11 0.05 0.03 0.15 0.16 0.25 X62 0.11 0.01 0.03 0.12 0.09 0.11 X63 0.14 0.08 0.04 0.14 0.18 0.14 X64 0.15 0.09 0.09 0.01 0.14 0.07 X65 0.12 0.11 0.10 0.13 0.07 0.10 Y11 -0.03 -0.06 0.06 0.09 0.07 0.09 Y12 0.19 0.19 0.03 0.13 0.11 0.11 Y13 0.21 0.13 0.07 0.11 0.08 0.07 Y14 0.14 0.08 0.00 0.14 0.11 0.10 Y15 0.14 0.08 0.11 0.03 -0.03 -0.02 Y16 0.14 0.15 0.10 0.19 0.11 0.13 Y17 0.15 0.07 0.06 0.07 0.13 0.09 Y18 0.16 0.12 0.10 0.23 0.03 0.04 Y21 0.11 0.29 0.07 -0.18 -0.09 -0.08 Y22 0.14 0.08 0.06 0.17 0.06 0.05 Y23 0.24 0.30 0.11 0.12 -0.01 0.04 Covariance Matrix to be Analyzed X62 X63 X64 X65 Y11 Y12 -------- -------- -------- -------- -------- -------X62 0.29 X63 0.19 0.37 X64 0.15 0.23 0.43 X65 0.15 0.16 0.17 0.35 Y11 0.07 0.06 0.03 0.11 0.56 Y12 0.09 0.14 0.10 0.09 0.05 0.31 Y13 0.08 0.11 0.12 0.13 0.03 0.08 Y14 0.07 0.11 0.07 0.08 0.02 0.09 Y15 0.01 -0.04 0.04 0.00 0.03 0.00 Y16 0.09 0.14 0.16 0.11 0.11 0.10 Y17 0.09 0.14 0.13 0.09 0.00 0.12 Y18 0.11 0.08 0.05 0.10 0.09 0.00 Y21 -0.05 -0.09 -0.07 -0.03 -0.13 0.01 Y22 0.03 0.14 0.16 0.01 0.04 0.10 Y23 0.00 0.06 0.05 0.09 0.01 0.10 229 Lanjutan lampiran 21 Covariance Matrix to be Analyzed Y13 Y14 Y15 Y16 Y17 Y18 -------- -------- -------- -------- -------- -------Y13 0.26 Y14 0.09 0.22 Y15 0.12 0.00 0.88 Y16 0.12 0.11 0.12 0.37 Y17 0.07 0.06 0.02 0.06 0.28 Y18 0.12 0.04 -0.01 0.04 0.02 0.58 Y21 0.06 -0.09 0.12 -0.06 -0.11 0.16 Y22 0.11 0.09 0.02 0.14 0.05 0.03 Y23 0.08 0.06 0.15 0.09 0.06 0.12 Covariance Matrix to be Analyzed Y21 Y22 Y23 -------- -------- -------Y21 1.34 Y22 -0.12 0.85 Y23 0.24 0.31 0.95 W_A_R_N_I_N_G: THETA-EPS is not positive definite W_A_R_N_I_N_G: THETA-DELTA is not positive definite PEGEMBANGAN PERIKANAN TANGKAP W_A_R_N_I_N_G: The solution was found non-admissible after 20 iterations. The following solution is preliminary and is provided only for the purpose of tracing the source of the problem. Setting AD> 20 or AD=OFF may solve the problem LISREL Estimates(Intermediate Solution) X11 = 14.66*X1, Errorvar.= -43.97 , R² = 1.26 (62.32) (58.36) 0.24 -0.75 W_A_R_N_I_N_G : Error variance is negative. X12 = - 1.11*X1, Errorvar.= 10.78, R² = 0.10 (0.031) (1.65) -36.41 6.53 230 Lanjutan lampiran 21 X13 = 11.84*X1, Errorvar.= 280.37, R² = 0.33 (0.26) (56.81) 45.56 4.94 X21 = 1.04*X2, Errorvar.= 0.54 , R² = 0.67 (0.25) (0.14) 4.09 3.93 X22 = 1.07*X2, Errorvar.= 0.58 , R² = 0.67 (0.11) (0.15) 9.64 3.98 X23 = 0.12*X2, Errorvar.= 0.47 , R² = 0.030 (0.063) (0.068) 1.93 6.92 X24 = 0.85*X2, Errorvar.= 0.63 , R² = 0.54 (0.097) (0.12) 8.73 5.44 X25 = - 0.27*X2, Errorvar.= 1.24 , R² = 0.055 (0.10) (0.18) -2.62 7.01 X31 = 0.49*X3, Errorvar.= 0.73 , R² = 0.25 (0.046) (0.095) 10.75 7.72 X32 = 0.36*X3, Errorvar.= 0.25 , R² = 0.34 (0.083) (0.045) 4.30 5.47 X33 = 0.67*X3, Errorvar.= 0.58 , R² = 0.44 (0.14) (0.11) 4.91 5.44 X34 = 0.19*X3, Errorvar.= 0.56 , R² = 0.060 (0.10) (0.081) 1.85 6.87 X35 = 0.48*X3, Errorvar.= 0.24 , R² = 0.48 (0.093) (0.055) 5.11 4.39 X36 = 0.31*X3, Errorvar.= 0.23 , R² = 0.29 (0.077) (0.040) 4.07 5.88 231 Lanjutan lampiran 21 X37 = 0.52*X3, Errorvar.= 0.62 , R² = 0.31 (0.12) (0.10) 4.19 6.02 X38 = 0.28*X3, Errorvar.= 0.42 , R² = 0.16 (0.095) (0.067) 2.97 6.24 X41 = 0.56*X4, Errorvar.= 0.59 , R² = 0.35 (0.050) (0.081) 11.14 7.19 X42 = 0.65*X4, Errorvar.= 0.32 , R² = 0.57 (0.12) (0.074) 5.34 4.34 X43 = 0.71*X4, Errorvar.= 0.14 , R² = 0.78 (0.12) (0.061) 6.00 2.29 X44 = 0.43*X4, Errorvar.= 0.50 , R² = 0.27 (0.12) (0.074) 3.65 6.75 X51 = 0.14*X5, Errorvar.= 0.35 , R² = 0.056 (0.013) (0.045) 11.53 7.76 X52 = 0.35*X5, Errorvar.= 0.86 , R² = 0.12 (0.33) (0.13) 1.05 6.43 X53 = 0.29*X5, Errorvar.= 0.22 , R² = 0.28 (0.25) (0.043) 1.16 5.14 X61 = 0.26*X6, Errorvar.= 0.16 , R² = 0.29 (0.013) (0.018) 20.30 9.25 X62 = 0.37*X6, Errorvar.= 0.15 , R² = 0.48 (0.13) (0.031) 2.88 4.94 X63 = 0.50*X6, Errorvar.= 0.12 , R² = 0.68 (0.14) (0.029) 3.51 3.99 232 Lanjutan lampiran 21 X64 = 0.43*X6, Errorvar.= 0.24 , R² = 0.43 (0.15) (0.042) 2.88 5.69 X65 = 0.36*X6, Errorvar.= 0.23 , R² = 0.36 (0.14) (0.040) 2.55 5.76 Y11 = 0.28*Y1, Errorvar.= 0.67 , R² = 0.11 (0.036) (0.062) 7.89 10.88 Y12 = 0.36*Y1, Errorvar.= 0.18 , R² = 0.42 (0.15) (0.041) 2.44 4.30 Y13 = 0.31*Y1, Errorvar.= 0.16 , R² = 0.38 (0.13) (0.034) 2.45 4.63 Y14 = 0.26*Y1, Errorvar.= 0.15 , R² = 0.32 (0.11) (0.030) 2.36 4.90 Y15 = 0.095*Y1, Errorvar.= 0.86 , R² = 0.010 (0.14) (0.12) 0.66 7.08 Y16 = 0.36*Y1, Errorvar.= 0.24 , R² = 0.35 (0.16) (0.046) 2.23 5.11 Y17 = 0.27*Y1, Errorvar.= 0.21 , R² = 0.25 (0.12) (0.038) 2.22 5.52 Y18 = 0.20*Y1, Errorvar.= 0.54 , R² = 0.067 (0.14) (0.081) 1.45 6.71 Y21 = 2.11*Y2, Errorvar.= -2.94 , R² = 2.93 (0.19) (0.60) 11.39 -4.94 233 Lanjutan lampiran 21 W_A_R_N_I_N_G : Error variance is negative. Y22 = - 0.098*Y2, Errorvar.= 0.85 , R² = 0.011 (0.095) (0.12) -1.03 6.99 Y23 = 0.12*Y2, Errorvar.= 0.93 , R² = 0.015 (0.097) (0.13) 1.23 7.22 X1 = 0.083*Y1, Errorvar.= 0.99, R² = 0.0069 (2.06) 0.040 X2 = 0.55*Y1, Errorvar.= 0.70, R² = 0.30 (0.25) 2.17 X3 = 0.68*Y1, Errorvar.= 0.54, R² = 0.46 (0.15) 4.56 X4 = 0.71*Y1, Errorvar.= 0.50, R² = 0.50 (0.17) 4.27 X5 = 0.99*Y1, Errorvar.= 0.010, R² = 0.99 (0.087) 11.48 X6 = 0.74*Y1, Errorvar.= 0.46, R² = 0.54 (0.079) 9.28 Y1 = - 0.029*Y2, Errorvar.= 1.00, R² = 0.00084 (0.031) -0.94 Correlation Matrix of Independent Variables Y2 -------1.00 234 Lanjutan lampiran 21 Covariance Matrix of Latent Variables X1 X2 X3 X4 X5 X6 -------- -------- -------- -------- -------- -------X1 1.00 X2 0.05 1.00 X3 0.06 0.37 1.00 X4 0.06 0.39 0.48 1.00 X5 0.08 0.55 0.67 0.70 1.00 X6 0.06 0.40 0.50 0.52 0.73 1.00 Y1 0.08 0.55 0.68 0.71 0.99 0.74 Y2 0.00 -0.02 -0.02 -0.02 -0.03 -0.02 Covariance Matrix of Latent Variables Y1 Y2 -------- -------Y1 1.00 Y2 -0.03 1.00 235 Lanjutan lampiran 21 Goodness of Fit Statistics Degrees of Freedom = 695 Minimum Fit Function Chi-Square = 1047.27 (P = 0.00) Normal Theory Weighted Least Squares Chi-Square = 893.90 (P = 0.00) Estimated Non-centrality Parameter (NCP) = 198.90 90 Percent Confidence Interval for NCP = (126.04 ; 279.88) Minimum Fit Function Value = 10.58 Population Discrepancy Function Value (F0) = 2.01 90 Percent Confidence Interval for F0 = (1.27 ; 2.83) Root Mean Square Error of Approximation (RMSEA) = 0.054 90 Percent Confidence Interval for RMSEA = (0.043 ; 0.064) P-Value for Test of Close Fit (RMSEA < 0.05) = 0.27 Expected Cross-Validation Index (ECVI) = 10.75 90 Percent Confidence Interval for ECVI = (10.01 ; 11.56) ECVI for Saturated Model = 15.76 ECVI for Independence Model = 20.51 Chi-Square for Independence Model with 741 Degrees of Freedom = 1952.13 Independence AIC = 2030.13 Model AIC = 1063.90 Saturated AIC = 1560.00 Independence CAIC = 2170.73 Model CAIC = 1370.34 Saturated CAIC = 4372.03 Root Mean Square Residual (RMR) = 0.52 Standardized RMR = 0.11 Goodness of Fit Index (GFI) = 0.68 Adjusted Goodness of Fit Index (AGFI) = 0.64 Parsimony Goodness of Fit Index (PGFI) = 0.60 Normed Fit Index (NFI) = 0.46 Non-Normed Fit Index (NNFI) = 0.69 Parsimony Normed Fit Index (PNFI) = 0.43 Comparative Fit Index (CFI) = 0.71 Incremental Fit Index (IFI) = 0.72 Relative Fit Index (RFI) = 0.43 Critical N (CN) = 75.18 The Problem used 207936 Bytes (= 0.3% of Available Workspace) Time used: 0.250 Seconds 236 Lampiran 22 Output lisrel model fit pengembangan perikanan tangkap DATE: 12/20/2011 TIME: 13:08 L I S R E L 8.80 BY Karl G. Jöreskog & Dag Sörbom This program is published exclusively by Scientific Software International, Inc. 7383 N. Lincoln Avenue, Suite 100 Lincolnwood, IL 60712, U.S.A. Phone: (800)247-6113, (847)675-0720, Fax: (847)675-2140 Copyright by Scientific Software International, Inc., 1981-2006 Use of this program is subject to the terms specified in the Universal Copyright Convention. Website: www.ssicentral.com The following lines were read from file D:\Data Klien\Data Klien 2011\12. Desember\Alfi\Grha statistika\OK\OK2.spj: PENGEMBANGAN PERIKANAN TANGKAP Raw Data from file 'D:\Data Klien\Data Klien 2011\12. Desember\Alfi\Grha statistika\OK\DATA OK2.PSF' Sample Size = 100 Latent Variables X1 X2 X3 X4 X5 X6 Y1 Y2 Relationships X11 X13 = X1 X21 X22 X24 = X2 X31 X32 X33 X35 X37 = X3 X41-X44 = X4 X51-X53 = X5 X61-X64 = X6 Y11 Y12 Y13 Y15 Y16 = Y1 Y21-Y23 = Y2 Y1 = X1-X6 Y2 = Y1 Path Diagram End of Problem Sample Size = 100 237 Lanjutan lampiran 22 PENGEMBANGAN PERIKANAN TANGKAP Covariance Matrix Y11 Y12 Y13 Y15 Y16 Y21 -------- -------- -------- -------- -------- -------Y11 0.39 Y12 0.12 0.28 Y13 0.20 0.14 0.34 Y15 0.14 0.12 0.17 0.39 Y16 0.11 0.09 0.11 0.06 0.35 Y21 0.10 0.14 0.13 0.15 0.10 0.85 Y22 0.12 0.10 0.10 0.09 0.12 0.31 Y23 0.11 0.07 0.10 0.15 0.06 0.19 X11 0.73 0.52 1.18 0.47 1.07 0.98 X13 1.04 0.79 1.48 1.01 1.94 0.74 X21 0.23 0.24 0.26 0.27 0.13 0.23 X22 0.26 0.29 0.16 0.29 0.20 0.31 X24 0.25 0.27 0.23 0.24 0.15 0.22 X31 0.16 0.18 0.23 0.16 0.14 0.16 X32 0.11 0.11 0.08 0.08 0.04 0.19 X33 0.14 0.11 0.16 0.12 0.10 0.23 X35 0.11 0.13 0.12 0.12 0.10 0.08 X37 0.19 0.14 0.14 0.14 0.05 0.17 X41 0.20 0.21 0.21 0.16 0.17 0.25 X42 0.20 0.22 0.17 0.18 0.15 0.15 X43 0.20 0.21 0.18 0.16 0.15 0.15 X44 0.19 0.15 0.17 0.20 0.11 0.08 X51 0.09 0.12 0.16 0.22 0.08 0.17 X52 0.13 0.09 0.10 0.12 0.12 0.06 X53 0.13 0.08 0.09 0.14 0.09 0.05 X61 0.13 0.08 0.12 0.09 0.08 0.04 X62 0.18 0.11 0.13 0.14 0.15 0.15 X63 0.14 0.12 0.13 0.15 0.12 0.16 X64 0.14 0.12 0.14 0.12 0.08 0.01 238 Lanjutan lampiran 22 Covariance Matrix Y22 Y23 X11 X13 X21 X22 -------- -------- -------- -------- -------- -------Y22 0.95 Y23 0.37 1.16 X11 2.08 -0.48 164.51 X13 2.45 -0.86 172.14 416.48 X21 0.29 0.28 -1.36 -0.29 1.68 X22 0.30 0.25 -1.94 -0.97 1.17 1.78 X24 0.25 0.18 -0.11 -0.81 0.95 0.93 X31 0.31 0.25 1.45 1.71 0.45 0.47 X32 0.13 0.15 0.21 0.64 0.17 0.20 X33 0.13 0.15 0.22 1.53 0.23 0.26 X35 0.08 0.15 1.66 1.55 0.15 0.11 X37 0.19 0.30 0.41 0.78 0.21 0.19 X41 0.34 0.26 0.33 1.05 0.41 0.43 X42 0.24 0.03 0.44 0.63 0.39 0.52 X43 0.16 0.09 -0.23 -0.79 0.33 0.33 X44 0.31 0.24 0.59 0.78 0.34 0.34 X51 0.13 0.19 0.08 0.87 0.36 0.31 X52 -0.01 0.06 -0.41 0.60 0.04 0.16 X53 0.03 0.06 0.45 0.96 0.10 0.14 X61 0.02 0.04 1.22 1.18 0.19 0.14 X62 0.07 0.11 0.78 1.27 0.21 0.18 X63 0.05 0.02 0.75 1.19 0.14 0.15 X64 0.09 0.06 0.39 0.04 0.10 0.08 239 Lanjutan lampiran 22 Covariance Matrix X24 X31 X32 X33 X35 X37 -------- -------- -------- -------- -------- -------X24 1.37 X31 0.39 0.98 X32 0.18 0.16 0.39 X33 0.27 0.19 0.18 0.49 X35 0.21 0.21 0.15 0.20 0.46 X37 0.30 0.25 0.25 0.18 0.28 0.97 X41 0.47 0.43 0.22 0.26 0.23 0.32 X42 0.42 0.32 0.18 0.19 0.14 0.15 X43 0.36 0.32 0.17 0.19 0.20 0.18 X44 0.36 0.27 0.16 0.12 0.18 0.30 X51 0.36 0.21 0.12 0.06 0.04 0.14 X52 0.13 0.14 0.09 0.14 0.09 0.10 X53 0.12 0.08 0.04 0.08 0.07 0.05 X61 0.07 0.07 0.03 0.07 0.05 0.04 X62 0.13 0.14 0.05 0.13 0.12 0.17 X63 0.09 0.12 0.11 0.16 0.11 0.15 X64 0.11 0.08 0.05 0.08 0.09 0.09 Covariance Matrix X41 X42 X43 X44 X51 X52 -------- -------- -------- -------- -------- -------X41 0.95 X42 0.32 0.76 X43 0.39 0.42 0.68 X44 0.41 0.26 0.29 0.68 X51 0.20 0.13 0.18 0.14 1.02 X52 0.14 0.12 0.16 0.06 0.14 0.32 X53 0.14 0.08 0.12 0.07 0.12 0.16 X61 0.12 0.13 0.13 0.05 0.11 0.05 X62 0.17 0.11 0.14 0.10 0.12 0.17 X63 0.18 0.16 0.17 0.12 0.02 0.14 X64 0.15 0.11 0.13 0.14 0.14 0.07 240 Lanjutan lampiran 22 Covariance Matrix X53 X61 X62 X63 X64 -------- -------- -------- -------- -------X53 0.24 X61 0.07 0.36 X62 0.13 0.17 0.37 X63 0.08 0.13 0.22 0.43 X64 0.09 0.13 0.15 0.17 0.35 PENGEMBANGAN PERIKANAN TANGKAP Number of Iterations = 43 LISREL Estimates (Maximum Likelihood) Measurement Equations Y11 = 0.41*Y1, Errorvar.= 0.22 , R² = 0.42 (0.035) 6.49 Y12 = 0.34*Y1, Errorvar.= 0.17 , R² = 0.41 (0.060) (0.025) 5.70 6.52 Y13 = 0.38*Y1, Errorvar.= 0.19 , R² = 0.43 (0.066) (0.030) 5.78 6.48 Y15 = 0.37*Y1, Errorvar.= 0.25 , R² = 0.35 (0.070) (0.038) 5.32 6.65 Y16 = 0.29*Y1, Errorvar.= 0.26 , R² = 0.25 (0.065) (0.038) 4.53 6.82 Y21 = 0.49*Y2, Errorvar.= 0.61 , R² = 0.28 (0.11) 5.41 Y22 = 0.63*Y2, Errorvar.= 0.55 , R² = 0.42 (0.19) (0.13) 3.26 4.09 241 Lanjutan lampiran 22 Y23 = 0.51*Y2, Errorvar.= 0.89 , R² = 0.23 (0.17) (0.15) 2.98 5.85 X11 = 12.57*X1, Errorvar.= 6.50 , R² = 0.96 (2.50) (58.46) 5.02 0.11 X13 = 13.69*X1, Errorvar.= 228.93, R² = 0.45 (3.11) (76.63) 4.40 2.99 X21 = 1.06*X2, Errorvar.= 0.55 , R² = 0.67 (0.12) (0.12) 9.21 4.51 X22 = 1.07*X2, Errorvar.= 0.64 , R² = 0.64 (0.12) (0.13) 8.93 4.81 X24 = 0.91*X2, Errorvar.= 0.55 , R² = 0.60 (0.11) (0.11) 8.51 5.21 X31 = 0.56*X3, Errorvar.= 0.67 , R² = 0.31 (0.10) (0.11) 5.46 6.25 X32 = 0.37*X3, Errorvar.= 0.26 , R² = 0.34 (0.064) (0.042) 5.73 6.15 X33 = 0.42*X3, Errorvar.= 0.32 , R² = 0.36 (0.071) (0.052) 5.92 6.07 X35 = 0.42*X3, Errorvar.= 0.28 , R² = 0.39 (0.068) (0.048) 6.18 5.95 X37 = 0.53*X3, Errorvar.= 0.69 , R² = 0.29 (0.10) (0.11) 5.18 6.35 X41 = 0.68*X4, Errorvar.= 0.49 , R² = 0.49 (0.092) (0.083) 7.40 5.83 242 Lanjutan lampiran 22 X42 = 0.57*X4, Errorvar.= 0.43 , R² = 0.43 (0.084) (0.071) 6.86 6.07 X43 = 0.59*X4, Errorvar.= 0.33 , R² = 0.52 (0.077) (0.058) 7.69 5.67 X44 = 0.53*X4, Errorvar.= 0.41 , R² = 0.41 (0.080) (0.066) 6.60 6.17 X51 = 0.36*X5, Errorvar.= 0.89 , R² = 0.13 (0.11) (0.13) 3.24 6.75 X52 = 0.44*X5, Errorvar.= 0.13 , R² = 0.59 (0.057) (0.033) 7.61 4.03 X53 = 0.37*X5, Errorvar.= 0.11 , R² = 0.55 (0.050) (0.025) 7.38 4.38 X61 = 0.32*X6, Errorvar.= 0.26 , R² = 0.29 (0.061) (0.040) 5.27 6.43 X62 = 0.48*X6, Errorvar.= 0.14 , R² = 0.63 (0.056) (0.031) 8.53 4.46 X63 = 0.45*X6, Errorvar.= 0.23 , R² = 0.47 (0.063) (0.040) 7.07 5.70 X64 = 0.36*X6, Errorvar.= 0.22 , R² = 0.36 (0.059) (0.036) 6.04 6.18 Structural Equations Y1 = 0.12*X1 + 0.20*X2 + 0.083*X3 + 0.37*X4 + 0.20*X5 + 0.36*X6, Errorvar.= 0.019 , R² = 0.98 (0.079) (0.11) (0.20) (0.22) (0.12) (0.13) (0.065) 1.55 1.84 0.41 1.69 1.57 2.71 0.30 243 Lanjutan lampiran 22 Y2 = 0.56*Y1, Errorvar.= 0.68 , R² = 0.32 (0.18) (0.34) 3.11 2.03 Correlation Matrix of Independent Variables X1 X2 X3 X4 X5 X6 -------- -------- -------- -------- -------- -------X1 1.00 X2 -0.09 1.00 (0.11) -0.80 X3 0.14 0.52 1.00 (0.12) (0.10) 1.18 5.08 X4 0.03 0.64 0.82 1.00 (0.12) (0.09) (0.07) 0.28 7.49 11.03 X5 0.01 0.31 0.49 0.49 1.00 (0.12) (0.12) (0.12) (0.11) 0.09 2.60 4.24 4.39 X6 0.14 0.33 0.55 0.53 0.65 1.00 (0.12) (0.11) (0.11) (0.10) (0.09) 1.23 2.91 5.11 5.20 6.93 Covariance Matrix of Latent Variables Y1 Y2 X1 X2 X3 X4 -------- -------- -------- -------- -------- -------Y1 1.00 Y2 0.56 1.00 X1 0.18 0.10 1.00 X2 0.65 0.37 -0.09 1.00 X3 0.81 0.46 0.14 0.52 1.00 X4 0.86 0.49 0.03 0.64 0.82 1.00 X5 0.72 0.41 0.01 0.31 0.49 0.49 X6 0.82 0.46 0.14 0.33 0.55 0.53 Covariance Matrix of Latent Variables X5 X6 -------- -------X5 1.00 X6 0.65 1.00 244 Lanjutan lampiran 22 Goodness of Fit Statistics Degrees of Freedom = 355 Minimum Fit Function Chi-Square = 311.13 (P = 0.95) Normal Theory Weighted Least Squares Chi-Square = 285.84 (P = 0.90) Estimated Non-centrality Parameter (NCP) = 0.89 90 Percent Confidence Interval for NCP = (0.0 ; 0.0) Minimum Fit Function Value = 3.14 Population Discrepancy Function Value (F0) = 0.04 90 Percent Confidence Interval for F0 = (0.0 ; 0.36) Root Mean Square Error of Approximation (RMSEA) = 0.061 90 Percent Confidence Interval for RMSEA = (0.0 ; 0.081) P-Value for Test of Close Fit (RMSEA < 0.05) =0.0.92 Expected Cross-Validation Index (ECVI) = 5.20 90 Percent Confidence Interval for ECVI = (5.20 ; 5.20) ECVI for Saturated Model = 8.79 ECVI for Independence Model = 30.58 Chi-Square for Independence Model with 406 Degrees of Freedom = 2969.66 Independence AIC = 3027.66 Model AIC = 445.84 Saturated AIC = 870.00 Independence CAIC = 3132.21 Model CAIC = 234.25 Saturated CAIC = 2438.25 Normed Fit Index (NFI) = 0.98 Non-Normed Fit Index (NNFI) = 0.92 Parsimony Normed Fit Index (PNFI) = 0.95 Comparative Fit Index (CFI) = 0.97 Incremental Fit Index (IFI) = 0.96 Relative Fit Index (RFI) = 0.98 Critical N (CN) = 134.61 Root Mean Square Residual (RMR) = 0.63 Standardized RMR = 0.064 Goodness of Fit Index (GFI) = 0.93 Adjusted Goodness of Fit Index (AGFI) = 0.94 Parsimony Goodness of Fit Index (PGFI) = 0.92 Time used: 0.390 Seconds RINGKASAN ALFI SAHRI R. BARUADI. Pengembangan Perikanan Tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara, di bawah bimbingan DOMU SIMBOLON, ARI PURBAYANTO dan ROZA YUSFIANDAYANI Sumberdaya perikanan di Kabupaten Gorontalo Utara meliputi perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Salah satu potensi sumberdaya perikanan yang belum banyak dimanfaatkan adalah sumberdaya perikanan tangkap. Kabupaten Gorontalo Utara yang termasuk pada wilayah pengelolaan perikanan (WPP) Laut Sulawesi sampai Samudera Pasifik diperkirakan mempunyai potensi perikanan tangkap sebesar 590.970 ton yang terdiri dari ikan pelagis besar 175.260 ton, ikan pelagis kecil 384.750 ton, dan jenis ikan lainnya sebesar 30.960 ton (Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gorontalo Utara, 2010). Potensi perikanan tangkap di perairan Kabupaten Gorontalo Utara saat ini, belum diketahui berapa besar potensi per jenis ikan, terutama untuk jenis ikan yang dominan tertangkap di perairan tersebut. Pentingnya mengetahui potensi sumberdaya ikan adalah untuk mengoptimalkan pengelolaan terhadap sumberdaya ikan oleh nelayan, swasta dan pemerintah. Pengelolaan sumberdaya ikan di Kabupaten Gorontalo Utara masih dilakukan oleh pemerintah melalui kebijakan pengembangan perikanan, hanya saja hasilnya belum sesuai dengan yang diharapkan oleh pemerintah. Kebijakan tersebut diantaranya adalah pengembangan teknologi alat tangkap purse seine yang dikelola secara kelompok dan bantuan perahu bermesin yang mengalami kegagalan. Saat ini, kebijakan pengembangan perikanan yang masih dilakukan oleh pemerintah adalah kebijakan minapolitan perikanan tangkap. Berbagai kendala dalam pengembangan perikanan, mengharuskan pemerintah dan stakeholder untuk cermat dalam merumuskan dan menetapkan setiap kebijakan sesuai dengan tujuan yang diharapkan serta faktor-faktor yang mendukung tercapainya suatu kebijakan pengembangan perikanan tangkap. Untuk itu, perlunya suatu kajian pengembangan perikanan tangkap yang menjadi salah satu acuan kebijakan pengembangan perikanan, khususnya perikanan tangkap. Tujuan penelitian yaitu: pertama mengevaluasi implementasi program minapolitan perikanan tangkap Kabupaten Gorontalo Utara, kedua menentukan potensi sumberdaya ikan dan peluang pemanfaatan untuk pengembangan perikanan di perairan Kabupaten Gorontalo Utara, ketiga menentukan tingkat kelayakan unit penangkapan ikan yang dominan di perairan Kabupaten Gorontalo Utara, keempat menentukan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara, kelima menyusun rancangan model pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara. Metode yang digunakan yaitu: pertama menganalisis kesesuaian kebijakan program minapolitan perikanan tangkap berdasarkan pedoman kebijakan minapolitan yang diterbitkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan, kedua analisis potensi sumberdaya ikan melalui pendekatan surplus produksi, ketiga analisis finansial terhadap unit penangkapan ikan yang layak dikembangkan, dan keempat analisis SEM (structural equation modelling) untuk mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan perikanan tangkap, dan kelima adalah mendesain rancangan model pengembangan perikanan tangkap. Hasil evaluasi terhadap kesesuain kebijakan minapolitan bahwa daerah Kabupaten Gorontalo Utara belum layak dijadikan sebagai program minapolitan perikanan tangkap, sumberdaya ikan yang berpotensi dikembangkan terdiri dari ikan kuwe, tembang, kembung, teri, tuna dan tongkol. Unit penangkapan ikan yang layak dikembangkan adalah purse seine, pancing tuna, bagan perahu, gillnet, payang, bubu, pancing ulur, dan sero. Faktor yang mempengaruhi pengembangan perikanan tangkap adalah aspek ekonomi yang meliputi pasar, kemitraan, dukungan permodal dan kepastian harga ikan. Berdasarkan hasil analisis tentang sumberdaya ikan yang berpotensi dikembangkan, unit penangkapan ikan yang layak dan faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan perikanan tangkap, maka dibuat rancangan model pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara. Kata kunci : Pengembangan, perikanan tangkap, sumberdaya ikan, unit penangkapan, Gorontalo Utara.
Perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara 0.24 1.55 1.69 Perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara 3.26 Perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara 5.02 Perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara 5.27 Perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara 5.46 Perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara 5.70 Perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara 5.78 Perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara 5.92 Perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara 6.60 Perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara 6.86 Perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara 7.61 Perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara 7.70 Perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara 8.51 Perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara Analisis Manfaat dan Kelayakan Investasi Analisis SEM Structural Equation Modelling Bagan perahu Alat Tangkap Dukungan Modal Faktor Berpengaruh pada Pengembangan Perikanan Tangkap .1 Pasar Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan perikanan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terhadap Pengembangan Perikanan Tangkap Faktor yang Berpengaruh Terhadap Pengembangan Perikanan Tangkap Hand line Alat Tangkap Hasil tangkapan per upaya penangkapan CPUE Ikan cakalang Katsuwonus pelamis Ikan kerapu Ephynephelus sp. Ikan kuwe Caranx sp Ikan layang Decapterus spp Ikan tembang Sardinella fimbriata Ikan teri Stolephorus sp Ikan tongkol Auxis thazard Jenis ikan Model Pengembangan Perikanan Tangkap Kebijakan Minapolitan Perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara Kelayakan unit penangkapan ikan Kelayakan Usaha Perikanan Perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara Kembung Rastrelliger spp Jenis Ikan Kemitraan Faktor Berpengaruh pada Pengembangan Perikanan Tangkap .1 Pasar Kesesuaian kebijakan program minapolitan Kesimpulan Saran Perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara Kestabilan Harga Faktor Berpengaruh pada Pengembangan Perikanan Tangkap .1 Pasar Kondisi Umum Wilayah Perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara Latar Belakang Perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara Lemuru Sardinella longiceps Jenis Ikan Manfaat Penelitian Kerangka Pemikiran Maximum Sustainable Yield MSY Metode Penelitian Perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara Model Pengembangan Perikanan Tangkap Pancing tuna Bagan perahu Pancing ulur Alat tangkap Penggunaan alat tangkap ikan yang ramah lingkungan Pengumpulan Data Perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara Penyediaan tempat penyimpanan ikan atau cold storage. Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Produksi, upaya penangkapan dan CPUE ikan cakalang Produksi, upaya penangkapan dan CPUE ikan kembung Produksi, upaya penangkapan dan CPUE ikan kerapu Produksi, upaya penangkapan dan CPUE ikan kuwe Produksi, upaya penangkapan dan CPUE ikan layang Produksi, upaya penangkapan dan CPUE ikan lemuru Produksi, upaya penangkapan dan CPUE ikan selar Produksi, upaya penangkapan dan CPUE ikan tembang Produksi, upaya penangkapan dan CPUE ikan teri Produksi, upaya penangkapan dan CPUE ikan tongkol Produksi, upaya penangkapan dan CPUE ikan tuna Purse seine Alat Tangkap Rancangan model pengembangan perikanan tangkap Selar Selaroides sp Jenis Ikan Status Sumberdaya Ikan Perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara Surplus produksi Analisis Data Tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan Tingkat pengusahaan sumberdaya ikan TPI dan PPI Aspek Penunjang TPI dan PPI Nelayan Waktu dan Tempat Penelitian Zona penangkapan Aspek Penunjang Perikanan Tangkap Di Kabupaten Gorontalo Utara
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Perikanan tangkap di Kabupaten Gorontalo Utara

Gratis