Gambaran Pola Asuh Orangtua Pada Masyarakat Pesisir Pantai

 9  98  216  2017-01-18 05:19:22 Laporkan dokumen yang dilanggar

  GAMBARAN POLA ASUH ORANGTUA PADA MASYARAKAT PESISIR PANTAI Guna Memenuhi Persyaratan Skripsi Bidang Psikologi Perkembangan Oleh: PUTRI LIA RAHMAN 071301033 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA GENAP 2012

  GAMBARAN POLA ASUH ORANGTUA PADA

MASYARAKAT PESISIR PANTAI

  Dipersiapkan dan disusun oleh:

  

PUTRI LIA RAHMAN

071301033

  Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji Pada tanggal 02 Agustus 2012

  Mengesahkan Dekan Fakultas Psikologi

  Prof. Dr. Irmawati, psikolog NIP. 195301311980032001

  

Tim Penguji

1.

  Elvi Andriani, M.Si., psikolog Penguji I

  NIP. 196405232000032001 Merangkap pembimbing 2. Debby Anggraini Daulay, M.Psi., psikolog

  NIP. 198101222008122002 Penguji II 3. Meutia Nauly, M.Si., psikolog

  NIP. 196711272000032001 Penguji III

LEMBAR PERNYATAAN

  Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul :

  Gambaran Pola Asuh Orangtua Pada Masyarakat Pesisir Pantai

  Adalah hasil karya saya sendiri dan belum pernah di ajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun.

  Adapun bagian-bagian tertentu dalanm penulisan skripsi ini yang saya kutip dari hasil karya orang lain telah di tulis sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.

  Apabila di kemudian hari di temukan adanya kecurangan di dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang saya sandang dan sanksi-sanksi lainnya yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

  Medan, Agustus 2012 Putri Lia Rahman NIM : 071301033

KATA PENGANTAR

  Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya skripsi ini dapat diselesaikan sebagaimana yang diharapkan.

  Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasullulah SAW, pribadi tangguh, pengukir peradaban, pembawa kebenaran, dan syafaatnya sangat diharapkan kelak di yaumilakhir.

  Skripsi ini diajukan sebagai salah satu persyaratan untuk mencapai derajat Sarjana S-1 pada program studi psikologi bidang psikologi perkembangan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.

  Dalam proses penyelesaian skripsi ini Peneliti banyak memperoleh dukungan, bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak yang sangat bermanfaat.

  Untuk itu pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: Ibu Prof. Dr. Irmawati, psikolog selaku dekan Fakultas Psikologi USU.

  2. Ibu Elvi Andriani, M.Psi selaku dosen pembimbing penulisan skripsi ini yang telah sepenuh hati, sabar dan iklas membimbing, memberikan saran, perhatian, bantuan serta dukungan kasih sayang sehingga penulis lebih bersemangat dan pantang menyerah dalam mengerjakan skripsinya.

  3. Seluruh Dosen di departemen Psikologi Perkembangan. Terima kasih untuk segala ilmu, saran serta kemudahan yang diberikan dalam mengerjakan skripsi ini.

  4. Kedua orang tua, Putri mengucapkan terima kasih dan bersyukur karena selalu berada dalam bimbingannya. Terima kasih Putri ucapkan untuk setiap perjuangan, didikan, cinta dan kasih sayang, pengertian, perhatian, doa, dan semua hal yang telah kalian berikan untuk Putri. Semoga Allah membalas semua kebaikan Ummi dan Abi ku tersayang, love u so much...

5. Kepala Desa di desa Medang Deras. Terima kasih untuk kemudahan memberikan informasi yang telah diberikan dalam mengerjakan skripsi ini.

  6. Kepada responden Putri yaitu pak M, pak S, ibu SH, dan ibu A terimakasih banyak sudah bersedia untuk membantu jalannya skripsi ini. Semoga ibu dan bapak diberi kemudahan dalam menjalani kehidupan.

  7. Ahmad Junaedi yang selalu menemaniku dalam susah dan senang, yang selalu setia memberikan saran. Pengorbanan mu yang selalu membantu ku dengan setia mendengarkan repetan-repetanku, dan dengan senantiasa membimbing penulisan skripsi ini dan juga yang selalu membuatku tertawa saat aku lagi sedih. Bantet ku, thank you so much...

  8. Sahabat-sahabatku “Param-pampam” yang telah membantuku, menghiburku di kala aku lagi “galau”, menemani ku saat-saat aku lagi sedih, shooping bareng kalian, jalan-jalan bareng kalian gak akan terlupakan buat Putri.

  9. Adik-adik ku semua yaitu ana, dara, dan icha yang selalu membuat ku terhibur ketika sampai dirumah. Dan selalu mengingatkanku untuk mengerjakan skripsi saat mbak mu ini asik nonton TV saja.

  10. Bantet, chum-chum, grey, eng-ong, dan itam makasih banyak ya sudah mau nemeni Putri selama lagi masa skripsi. Tingkah kalian tidur, bermain selalu membuat Putri tertawa.

  Semoga skripsi ini memberikan manfaat kepada pembaca dan dunia psikologi perkembangan untuk pengembangan ilmu di kemudian hari.

  Medan, Agustus 2012 Peneliti

  Putri Lia Rahman

  Pola Asuh Orangtua Pada Masyarakat Pesisir Pantai

  Putri Lia Rahman dan Elvi Andriani Yusuf

  

ABSTRAK

  Pola asuh orangtua merupakan segala bentuk dan proses interaksi yang terjadi antara orangtua dan anak yang merupakan pola pengasuhan tertentu dalam keluarga yang akan memberi pengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak (Baumrind, 1978). Orangtua bebas memberikan bentuk pola asuh kepada anak- anaknya yang menurut mereka terbaik. Namun ada juga hal-hal yang turut mempengaruhi pola asuh orangtua tersebut seperti pendidikan, lingkungan, dan budaya (Edwards, 2006). Hal tersebut memiliki peranan yang penting dalam pola asuh yang diberikan oleh orangtua. Pola asuh orangtua tersebut yaitu Authoritarian, Authoritative, dan Permissive (Baumrind, 1971).

  Penelitian ini yaitu kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk memberikan gambaran pola asuh orangtua pada masyarakat pesisir pantai melalui metode wawancara mendalam yang di dukung dengan observasi dengan jumlah responden empat orang. Teknik pengambilan responden dilakukan dengan

  operational construct sampling. Penelitian dilakukan di desa Medang Deras.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi pola asuh orangtua pada masyarakat pesisir pantai yaitu pendidikan, lingkungan, budaya. Selain itu ditemukan faktor lain yang mempengaruhi yaitu agama yang dianut, serta pola asuh yang diturunkan oleh orangtua terdahulu. Pola asuh yang terlihat dari hasil penelitian ini yaitu orangtua tidak mempunyai kecendrungan untuk menggunakan salah satu jenis pola asuh saja, orangtua menggunakan kombinasi bentuk pola asuh seperti authoritarian dengan permissive, authoritative dengan

  permissive, dan ada yang mengkombinasikan ketiganya yaitu authoritarian, authoritative dan permissive. Pola asuh authoritarian ditunjukkan dengan adanya

  belajar Al-Qur’an atau pergi melaut. Sedangkan permissive ditunjukkan melalui ketidakpedulian orangtua akan hal pendidikan sekolah anak-anaknya, jika anak sudah tidak ingin sekolah maka anak pun akan dibiarkan saja, orangtua lebih menganggap pendidikan sekolah itu tidak penting, karena percuma disekolahin tinggi-tinggi pada akhirnya akan melaut juga. Sedangkan pola asuh authoritative terlihat dari orangtua yang tidak pernah memberi hukuman secara fisik ketika anak-anaknya melakukan kesalahan tapi orangtua memberikan arahan pada anak- anaknya, orangtua dekat dengan anak-anaknya, komunikasi yang terjalin sering karena anak dan orangtua selalu bercanda serta anak juga banyak cerita tentang masalahnya pada orangtuanya.

  

Kata kunci : Pola Asuh Orangtua, Faktor Yang Mempengaruhi Pola Asuh,

Masyarakat Pesisir Pantai.

  Parenting In Coastal Communities

  Putri Lia Rahman dan Elvi Andriani Yusuf

  ABSTRACT

  Parenting are all forms and processes of interaction that occurs between parents and children who are certain parenting in families that will give effect to the child's personality development (Baumrind, 1978). Parents are free to shape parenting to their children that they think best. But there are also things that influence parenting such as parental education, environment, and culture (Edwards, 2006). It has an important role in the pattern of care provided by parents. Parenting is the Authoritarian, Authoritative, and Permissive (Baumrind, 1971).

  This is a qualitative descriptive study that aims to provide an overview of parenting parents on the coastal communities through in-depth interviews, supported by the observation by the number of respondents of four people. Technical decision made by the respondent operational construct sampling. The study was conducted in the village Medang Deras.

  The results showed that the factors that influence parents' upbringing in coastal communities: education, environment, culture. Besides other factors found to influence the religious affiliation, as well as parenting handed down by parents earlier. Parenting can be seen from the results of this study is parents do not have the tendency to use one type of parenting course, parents use a combination of shapes such as authoritarian parenting with permissive, authoritative with permissive, and there are three that combine authoritarian, authoritative and permissive. Authoritarian parenting is indicated by the existence of physical punishment if the child does not obey his parents as unwilling to learn the Quran or go to the sea. While permissive parents would disregard shown by the alone, more parents think that school education is not important, because it's useless high school will eventually go to sea as well. While the authoritative parenting style look of the parents who never gave physical punishment when their children make mistakes, but parents provide guidance to their children, parents close to her children, communication is established for children and parents are always joking and children are also many story about the problem to his parents.

  

Keywords: Parents Parenting, Parenting Factors Affecting, Coastal

Communities.

  DAFTAR ISI

  Halaman

  KATA PENGANTAR.................................................................................... i ABSTRAK…………………………………………………………………... iv DAFTAR ISI................................................................................................... vi DAFTAR TABEL........................................................................................... x BAB I. PENDAHULUAN ...........................................................................

  1 I.A. Latar Belakang Masalah .............................................................................. 1

  I.B. Perumusan Masalah. ..................................................................................... 11

  I.C. Tujuan Penelitian .......................................................................................... 11

  I.D. Manfaat Penelitian ....................................................................................... 11

  I.E. Sistematika Penulisan ................................................................................... 12 BAB II. LANDASAN TEORI ......................................................................

  14 II.A. Pengasuhan ............................................................................................. 14

  II.B.1. Definisi Pola Asuh Orangtua ............................................................ 15

  II.B.2. Dimensi Pola Asuh Orangtua ..................................................... 17

  II.B.3. Gaya Pola Asuh Orangtua .......................................................... 19

  II.B.4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pola Asuh ........................ 24

  II.C. Pengasuhan Ibu Dan Ayah Berbeda .......................................................... 26

  II.D. Perkembangan Pada Masa Kanak-kanak Akhir ........................................ 30

  II.E. Praktek Pengasuhan Pada Anak-anak Akhir .............................................. 31

  II.F. Masyarakat Pesisir ....................................................................................... 32

  II.F.1. Definisi Masyarakat Pesisir ........................................ 32

  II.F.2. Karakteristik Masyarakat Pesisir ................................ 33

  II.G. Gambaran Pola Asuh Orangtua Pada Masyarakat Pesisir Pantai ............. 36

  II.H. Paradigma Berfikir ...................................................................................... 40 BAB III. METODE PENELITIAN ..............................................................

  41 III.A. Pendekatan Kualitatif ............................................................................41

  III.B. Teknik Pengumpulan Data...................................................................... 42

  III.C. Responden Penelitian............................................................................. 43

  III.C.1. Karakteristik Responden.......................................... 43

  III.C.2. Jumlah Responden................................................... 43

  III.C.3. Prosedur Pengambilan Responden.......................... 44

  III.C.4. Lokasi Penelitian...................................................... 44

  III.D. Alat Bantu Pengumpulan Data............................................................... 44

  III.E. Prosedur Penelitian.................................................................................. 45

  III.F. Prosedur Analisa Data............................................................................. 49

  III.G. Kredibilitas Penelitian............................................................................. 51

  BAB IV. HASIL ANALISA DATA.............................................................. 56 IV.A.1. Hasil Observasi Dan Rangkuman Wawancara Responden I............... 56 IV.A.2. Latar Belakang Keluarga Responden I................................................ 59 IV.A.3. Analisa Data Responden I.................................................................. 61 IV.A.3.a. Gambaran Kebudayaan Masyarakat Pesisir......... 61

  IV.A.3.b. Faktor Yang Mempengaruhi Pola Asuh Orangtua............................................................................... 66

  IV.A.3.c. Gambaran Pola Asuh Orangtua Pada Masyarakat Pesisir Pantai........................................................................ 71

  IV.A.4. Skema Hasil Responden I................................................................... 76

  IV.B.1. Hasil Observasi Dan Rangkuman Wawancara Responden II............. 77

  IV.B.2. Latar Belakang Keluarga Responden II.............................................. 81

  IV.B.3. Analisa Data Responden II.................................................................. 84

  IV.B.3.a. Gambaran Kebudayaan Masyarakat Pesisir..........84

  IV.B.3.b. Faktor Yang Mempengaruhi Pola Asuh Orangtua............................................................................... 90

  IV.B.3.c. Gambaran Pola Asuh Orangtua Pada Masyarakat Pesisir Pantai........................................................................ 99

  IV.B.4. Skema Hasil Responden II.................................................................. 107

  IV.C.1. Hasil Observasi Dan Rangkuman Wawancara Responden III............. 108

  IV.C.2. Latar Belakang Keluarga Responden III............................................. 112

  IV.C.3. Analisa Data Responden III................................................................ 115

  IV.C.3.a. Gambaran Kebudayaan Masyarakat Pesisir..........115

  IV.C.3.b. Faktor Yang Mempengaruhi Pola Asuh Orangtua............................................................................... 121

  IV.C.3.c. Gambaran Pola Asuh Orangtua Pada Masyarakat Pesisir Pantai........................................................................ 127

  IV.C.4. Skema Hasil Responden III.................................................................. 137

  IV.D.1. Hasil Observasi Dan Rangkuman Wawancara Responden IV............ 138

  IV.D.2. Latar Belakang Keluarga Responden IV............................................. 141

  IV.D.3. Analisa Data Responden IV................................................................ 146

  IV.D.3.a. Gambaran Kebudayaan Masyarakat Pesisir......... 146

  IV.D.3.b. Faktor Yang Mempengaruhi Pola Asuh Orangtua............................................................................... 153

  IV.D.3.c. Gambaran Pola Asuh Orangtua Pada Masyarakat Pesisir Pantai ....................................................................... 160

  IV.D.4. Skema Hasil Responden IV ................................................................ 167

  IV.E. Tabel analisa Pola Asuh Antar Subjek ....................................................168

  IV.F. Pembahasan Responden I dan II ............................................................ 178

  IV.G. Pembahasan Responden III dan IV …………………………………...186

  BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN..................................................... 190 V.A. Kesimpulan ..............................................................................................190 V.B.Saran ......................................................................................................... 196 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 198

  

DAFTAR TABEL

  Tabel.1. Identitas Diri Responden .............................................................………55 Tabel.2. Jadwal Pelaksanaan Wawancara ........................................................ ….55 Tabel.3. Analisa Pola Asuh Antar Subjek ...........................................................168

  Pola Asuh Orangtua Pada Masyarakat Pesisir Pantai

  Putri Lia Rahman dan Elvi Andriani Yusuf

  

ABSTRAK

  Pola asuh orangtua merupakan segala bentuk dan proses interaksi yang terjadi antara orangtua dan anak yang merupakan pola pengasuhan tertentu dalam keluarga yang akan memberi pengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak (Baumrind, 1978). Orangtua bebas memberikan bentuk pola asuh kepada anak- anaknya yang menurut mereka terbaik. Namun ada juga hal-hal yang turut mempengaruhi pola asuh orangtua tersebut seperti pendidikan, lingkungan, dan budaya (Edwards, 2006). Hal tersebut memiliki peranan yang penting dalam pola asuh yang diberikan oleh orangtua. Pola asuh orangtua tersebut yaitu Authoritarian, Authoritative, dan Permissive (Baumrind, 1971).

  Penelitian ini yaitu kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk memberikan gambaran pola asuh orangtua pada masyarakat pesisir pantai melalui metode wawancara mendalam yang di dukung dengan observasi dengan jumlah responden empat orang. Teknik pengambilan responden dilakukan dengan

  operational construct sampling. Penelitian dilakukan di desa Medang Deras.

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi pola asuh orangtua pada masyarakat pesisir pantai yaitu pendidikan, lingkungan, budaya. Selain itu ditemukan faktor lain yang mempengaruhi yaitu agama yang dianut, serta pola asuh yang diturunkan oleh orangtua terdahulu. Pola asuh yang terlihat dari hasil penelitian ini yaitu orangtua tidak mempunyai kecendrungan untuk menggunakan salah satu jenis pola asuh saja, orangtua menggunakan kombinasi bentuk pola asuh seperti authoritarian dengan permissive, authoritative dengan

  permissive, dan ada yang mengkombinasikan ketiganya yaitu authoritarian, authoritative dan permissive. Pola asuh authoritarian ditunjukkan dengan adanya

  belajar Al-Qur’an atau pergi melaut. Sedangkan permissive ditunjukkan melalui ketidakpedulian orangtua akan hal pendidikan sekolah anak-anaknya, jika anak sudah tidak ingin sekolah maka anak pun akan dibiarkan saja, orangtua lebih menganggap pendidikan sekolah itu tidak penting, karena percuma disekolahin tinggi-tinggi pada akhirnya akan melaut juga. Sedangkan pola asuh authoritative terlihat dari orangtua yang tidak pernah memberi hukuman secara fisik ketika anak-anaknya melakukan kesalahan tapi orangtua memberikan arahan pada anak- anaknya, orangtua dekat dengan anak-anaknya, komunikasi yang terjalin sering karena anak dan orangtua selalu bercanda serta anak juga banyak cerita tentang masalahnya pada orangtuanya.

  

Kata kunci : Pola Asuh Orangtua, Faktor Yang Mempengaruhi Pola Asuh,

Masyarakat Pesisir Pantai.

  Parenting In Coastal Communities

  Putri Lia Rahman dan Elvi Andriani Yusuf

  ABSTRACT

  Parenting are all forms and processes of interaction that occurs between parents and children who are certain parenting in families that will give effect to the child's personality development (Baumrind, 1978). Parents are free to shape parenting to their children that they think best. But there are also things that influence parenting such as parental education, environment, and culture (Edwards, 2006). It has an important role in the pattern of care provided by parents. Parenting is the Authoritarian, Authoritative, and Permissive (Baumrind, 1971).

  This is a qualitative descriptive study that aims to provide an overview of parenting parents on the coastal communities through in-depth interviews, supported by the observation by the number of respondents of four people. Technical decision made by the respondent operational construct sampling. The study was conducted in the village Medang Deras.

  The results showed that the factors that influence parents' upbringing in coastal communities: education, environment, culture. Besides other factors found to influence the religious affiliation, as well as parenting handed down by parents earlier. Parenting can be seen from the results of this study is parents do not have the tendency to use one type of parenting course, parents use a combination of shapes such as authoritarian parenting with permissive, authoritative with permissive, and there are three that combine authoritarian, authoritative and permissive. Authoritarian parenting is indicated by the existence of physical punishment if the child does not obey his parents as unwilling to learn the Quran or go to the sea. While permissive parents would disregard shown by the alone, more parents think that school education is not important, because it's useless high school will eventually go to sea as well. While the authoritative parenting style look of the parents who never gave physical punishment when their children make mistakes, but parents provide guidance to their children, parents close to her children, communication is established for children and parents are always joking and children are also many story about the problem to his parents.

  

Keywords: Parents Parenting, Parenting Factors Affecting, Coastal

Communities.

BAB I PENDAHULUAN I.A. Latar Belakang Masalah Secara geografis, Indonesia terdiri dari beribu pulau yang sebagian besar

  wilayahnya 62% merupakan perairan laut, selat dan teluk, sedangkan 38% lainnya adalah daratan yang didalamnya juga memuat kandungan air tawar dalam bentuk sungai, danau, rawa, dan waduk. Demikian luasnya wilayah laut di Indonesia sehingga mendorong masyarakat yang hidup di sekitar wilayah laut memanfaatkan sumber kelautan sebagai tumpuan hidupnya. Ketergantungan masyarakat terhadap sektor kelautan ini memberikan identitas tersendiri sebagai masyarakat pesisir dengan pola hidup yang dikenal sebagai kebudayaan pesisir (Geertz, 2000).

  Kebudayaan adalah hasil dari cipta, karya, dan karsa bersama. Salah satu faktor yang mempengaruhi terbentuknya kebudayaan itu adalah lingkungan alam fisik seperti situasi dan kondisi yang secara tidak langsung akan membentuk watak kepribadian serta budaya masyarakat yang tinggal di lingkungan itu (Syarief, 2008). Ralph Linton (2002) yang mendefenisikan kebudayaan yaitu seluruh cara kehidupan dari masyarakat dan tidak hanya mengenai sebagian tata cara hidup saja yang dianggap lebih tinggi dan lebih diinginkan. Jadi, kebudayaan menunjuk pada berbagai aspek kehidupan. Istilah ini meliputi cara-cara berlaku, kepercayaan-kepercayaan dan sikap-sikap, dan juga hasil dari kegiatan manusia. Kebudayaan pesisir dapat diartikan sebagai keseluruhan pengetahuan yang dipunyai dan terjiwai oleh masyarakat pesisir, yang isinya adalah perangkat- perangkat model pengetahuan yang secara selektif dapat digunakan untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan yang dihadapi, untuk mendorong, dan untuk menciptakan tindakan-tindakan yang diperlukannya. Dalam pengertian ini, kebudayaan adalah suatu kumpulan pedoman atau pegangan yang kegunaan untuk menghadapi lingkungan-lingkungan sekitarnya (fisik, alam, dan sosial) agar masyarakat pesisir itu dapat melangsungkan kehidupannya, yaitu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, dan untuk dapat hidup secara lebih baik (Mudjahirin, 2009).

  Masyarakat yang tinggal dipesisir pantai, yang jauh dari kata layak secara kehidupan & harus bergantung pula semuanya dari alam. Termasuk masalah

  

supply makanan & minuman, yang sangat susah dicari & didapat untuk bahan

  konsumsi mereka sehari – hari. Itulah resiko tinggal didaerah pesisir, yang jauh dari keramaian & gemerlap kota yang senantiasi bergejolak setiap detiknya.

  Segala keterbatasan silih berganti datang menghampiri mereka secara langsung maupun tidak langsung tanpa pernah ditebak kapan datang & perginya. Walaupun dengan banyak kendala yang datang kepada mereka, seolah mereka tetap memilih pesisir pantai sebagai tempat tinggal mereka sekarang & nanti dibanding harus tinggal didaerah kota besar yang terjangkau dari akses pendidikan, kesehatan & pembangunan. Itu semua mereka, lakukan demi menjaga tradisi & budaya leluhur yang masih mereka junjung tinggi sampai generasi selanjutnya sesudah mereka. Walaupun, tak semua dari mereka yang mau secara terus menerus ingin tinggal didaerah pesisir sampai selamanya karena ada juga segelintir orang yang ingin mencoba peruntungan nasibnya dengan mengadu nasibnya dikota besar yang kelihatan menjanjikan. Tak ada yang pernah tahu termasuk mereka sendiri, kapan kehidupan dipesisir akan berakhir tapi mereka selalu yakin & akan yakin tentang sebuah nilai leluhur yang akan mereka jaga & lestarikan sampai kapan pun (Arsavin, 2012). Bagi masyarakat nelayan atau sering disebut masyarakat pesisir, kebudayaan merupakan sistem gagasan atau sistem kognitif yang berfungsi sebagai ”pedoman kehidupan”, referensi pola-pola kelakuan sosial, serta sebagai sarana untuk menginterpretasi dan memaknai berbagai peristiwa yang terjadi di lingkungannya (Keesing, 1989).

  Masyarakat pesisir dapat didefinisikan sebagai kelompok orang atau suatu komunitas yang tinggal di daerah pesisir dan sumber kehidupan perekonomiannya bergantung secara langsung pada pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir. Mereka terdiri dari nelayan, buruh nelayan, pembudidaya ikan, pedagang ikan, pengolah ikan, sarana produksi perikanan (Mudjahirin, 2009). Masyarakat pesisir yang identik dengan nelayan merupakan bagian dari masyarakat terpinggirkan yang masih terus bergulat dengan berbagai persoalan kehidupan, baik ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan, maupun budaya. Kondisi kehidupan mereka selalu dalam kondisi yang memprihatinkan, terutama secara ekonomi. Dengan penghasilan yang selalu tergantung pada kondisi alam (Winengan, 2007). Masalah kompleks yang dihadapi masyarakat pesisir adalah kemiskinan, keterbatasan pengetahuan serta dunia pendidikan dan teknologi yang berkembang (Nikijuluw, 2001). Hal ini di dukung dengan hasil wawancara dengan salah satu nelayan Bapak X.

  “…kami disini nak, gak tentu melautnya. Dalam sebulan tu, 10 harinya gak melaut karena sepuluh harinya itu ntuk betulin jala ikan lah, karena kan jalanya perlu di perbaiki juga. Trus dua puluh harinya tu gak tentu juga bisa melaut atau gak. Liat cuaca atau ombak lautnya lah nak, kayak tadi malam gak bisa melaut karena ombak besar, yah gak dapat lah pemasukan nak..”

  (Komunikasi Personal, 11 Desember 2011) Kondisi alam tersebut yang membuat sulit bagi mereka untuk merubah kehidupannya menjadi lebih baik. Kondisi yang memprihatinkan tersebut yang menyebabkan rendahnya kemampuan dan ketrampilan masyarakat pesisir (Winengan, 2007). Kemiskinan yang melanda rumah tangga masyarakat pesisir telah mempersulit mereka dalam hal menyekolahkan anak-anaknya. Anak-anak mereka harus menerima kenyataan untuk mengenyam tingkat pendidikan yang rendah, karena ketidakmampuan ekonomi orangtuanya. Apabila para orangtua nelayan mampu untuk menyekolahkan anak-anaknya, mereka berusaha menyekolahkan anaknya setinggi mungkin, sehingga tidak harus menjadi nelayan seperti orangtuanya, tetapi biasanya orangtua nelayan tidak mampu membebaskan diri dari profesi nelayan, turun-temurun adalah nelayan (Mubyarto, 1989). Anak- anak dituntut untuk ikut mencari nafkah, menanggung beban kehidupan rumah tangga, dan mengurangi beban tanggung jawab orangtuannya (Fathul, 2002). Oleh karena itu, sebagian besar anak nelayan masih ingin bekerja di bidang kenelayanan untuk menambah pendapatan keluarga daripada bersekolah (Mulyadi, 2005). Hasil wawancara yang mendukung dengan salah satu nelayan Bapak X.

  “anak yang besar kelas 2 SMP ja, itu yang kecil sampe kelas 6 SD.. habis tu gak sanggup Bapak lagi membiayai nya nak.. uang bukunya lah, trus baju seragamnya lah, uang jajannya lah, uang sekolahnya lah.. aduh banyak kali biayanya nak, Bapak kan cuman nelayan, dapat uangnya pun gak tentu.. jadi orang ni kerjanya cari ‘Kepah’ di pinggir-pinggir pante itu, trus di jual lah… lumayan juga hasilnya dapat lima belas ribu sampe dua puluh ribulah nak..” (Komunikasi Personal, 11 Desember 2011)

  Keterbatasan penghasilan atau kemiskinan yang dialami oleh masyarakat pesisir tidak jarang membuat isteri maupun anak-anak mereka ikut terlibat mencari nafkah tambahan guna memenuhi kebutuhan keluarga (Kusnadi, 2003). Fenomena keseharian masyarakat pesisir yang terlihat yaitu anak lelaki maupun wanita secara lebih dini terlibat dalam proses pekerjaan nelayan dari mulai persiapan orangtua mereka untuk ke laut sampai dengan menjual hasil tangkapan. Hal ini tentunya berimplikasi kepada kelangsungan pendidikan anak-anaknya (Pengemanan, 2002). Pada umumnya rumah tangga nelayan tidak memiliki perencanaan yang matang untuk pendidikan anak-anaknya. Pendidikan bagi sebagian besar rumah tangga masyarakat pesisir masih menjadi kebutuhan nomor sekian dalam rumah tangga. Dapat dikatakan bahwa antusias terhadap pendidikan di masyarakat nelayan relatif masih rendah (Anggraini, 2000). Hal ini tentunya berimplikasi kepada kelangsungan pendidikan anak-anaknya (Pengemanan, 2002). Hal ini didukung oleh hasil wawancara dengan kepala desa Medang Deras Batu Bara.

  “untuk pendidikan anak-anaknya kalo masyarakat sini kurang lah, anak- anaknya gak sekolah yah gak papa bagi mereka. Kalo anak-anak mereka dah putus sekolah yaudah dibawa melaut lah mereka supaya bantu-bantu keluarga.. bagi mereka pendidikan belum dianggap penting, karena ujung- ujungnya juga cari kerja trus sekarang cari kerja susah nti ujung-ujungnya jadi nalayan juga…”

  (Komunikasi personal, 3 November 2011) Dalam hal pengasuhan anak, masyarakat pesisir memiliki pola pengasuhan yang khas yang dipengaruhi oleh budaya setempat, biasanya orangtua belajar dari budaya setempat tentang peran yang harus dilakukan dalam mengasuh anak. (Winengan, 2007). Pengasuhan dapat dipengaruhi oleh budaya, etnis, dan status sosioekonomi, (Bronfenbreener dalam Santrock, 2007). Budaya dalam masyarakat nelayan dalam hal pengasuhan anak cukup bervariasi namun secara garis besarnya mereka memandang bahwa anak adalah aset dalam membantu pekerjaaan orangtua di rumah dan membantu mencari nafkah. Sebagian orangtua merasa senang bila memiliki anak laki-laki sebab bisa membantu ayahnya mencari nafkah dan bisa meneruskan pekerjaan ayahnya, sedangkan anak perempuan dapat membantu ibunya dalam pekerjaan rumah tangga. Kebanyakan orangtua pesisir juga mempelajari pengasuhan anak dari orangtua mereka sebelumnya, mereka sering menganggap praktek pengasuhan yang diberikan orangtua mereka adalah pengasuhan yang membawa anak-anak mereka menjadi positif (Kusnadi, 2003).

  Orang tua tentu saja memiliki pola asuh tersendiri dalam mengarahkan perilaku anak. Hal ini sangat dipengaruh oleh latar belakang pendidikan orang tua, mata pencaharian hidup, keadaan sosial ekonomi, adat istiadat, dan sebagainya. Dengan kata lain, pola asuh orangtua petani tidak sama dengan pedagang. Demikian pula pola asuh orangtua berpendidikan rendah berbeda dengan pola asuh orang tua yang berpendidikan tinggi. Ada yang menerapkan dengan pola yang keras/kejam, kasar, dan tidak berperasaan. Namun, ada pula yang memakai pola lemah lembut, dan kasih sayang. Ada pula yang memakai sistem militer, yang apabila anaknya bersalah akan langsung diberi hukuman dan tindakan tegas yang biasa disebut pola otoriter (Clemes, 2001).

  Kebanyakan orangtua mempelajari praktek pengasuhan dari orangtua mereka sendiri. Sebagian praktek tersebut mereka terima, namun sebagian lagi mereka tinggalkan. Suami dan istri mungkin saja membawa pandangan yang berbeda mengenai pengasuhan ke dalam pernikahan. Sayangnya, ketika metode orangtua diteruskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya, praktek yang baik maupun yang buruk diteruskan (Santrock, 2007). Seperti yang terjadi di desa Medang Deras yaitu anak-anak yang sudah pandai mencari nafkah dari hasil laut maka akan di ijinkan untuk menikah tanpa menghiraukan pendidikan anaknya, karena hal tersebut akan membantu mengurangi jumlah tanggungan orangtua. Seperti penuturan seorang Ibu Z yaitu ibu rumah tangga di masyarakat setempat.

  “.... enaknya kan Anak-anakku ni bisa cepat-cepat pintar cari duet, kalo’ dah bisanya dia cari duet kan jadi enak bisa bantu-bantu ibuk... atau gak kawin lah biar gak tanggungan lagi.. ibu tamat SD ja dah kawin karena dulu ibu cepat-cepat di kawinkan sama orangtua ibuk, biar gak nyusahin lagi, gak tanggungan lagi lah...”

  (Komunikasi personal, 3 November 2011) Hal tersebut mengindikasikan bahwa budaya membentuk perilaku dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor diantaranya adalah latar belakang pendidikan orangtua, informasi yang didapat oleh orangtua tentang cara mengasuh anak, kultur budaya, kondisi lingkungan sosial, ekonomi (Winengan, 2007).

  Proses pengasuhan bukanlah sebuah hubungan satu arah yang mana orangtua mempengaruhi anak namun lebih dari itu, pengasuhan merupakan proses interaksi antara orangtua dan anak yang dipengaruhi oleh budaya dan kelembagaan sosial dimana anak dibesarkan (Brooks, 2001). Faktor Sosial, ekonomi, lingkungan, budaya dan pendidikan memberikan kontribusi pada kualitas pengasuhan orangtua

  (Zevalkinki, 2007). Hal ini didukung oleh hasil wawancara dengan kepala desa Medang Deras Batu Bara.

  “... disini yang khasnya yaitu anak-anak disini dari kecil sudah diajarin ngaji baca Qur’an secara keras sama orang-orang tuanya, itu lah yang menjadi suatu yang positif dari masyarakat ini. Karena kan disini kan masyarakatnya suku melayu, kalo’ melayu kan identik dengan islam jadi mereka mengajarin anak-anaknya agar pande baca Qur’an, sholat, bacaan sholat.. tapi klo pendidikan secara akademis mereka sangat kurang sekali…”

  (Komunikasi personal, 3 November 2011) Oleh karenanya, bila budaya yang ada mengandung seperangkat keyakinan yang dapat melindungi perkembangan anak, maka nilai-nilai pengasuhan yang diperoleh orangtua kemungkinan juga akan berdampak positif terhadap perkembangan anak. Sebaliknya, bila ternyata seperangkat keyakinan yang ada dalam budaya masyarakat setempat justru memperbesar munculnya faktor resiko maka nilai-nilai pengasuhan yang diperoleh orangtua pun akan menyebabkan perkembangan yang negatif pada anak (Suhartono, 2007). Anak tumbuh dan berkembang di bawah asuhan orangtua. Melalui orangtua, anak pergaulan hidup yang berlaku di lingkungannya. Ini disebabkan oleh orang tua merupakan dasar pertama bagi pembentukan pribadi anak (Clemes, 2001).

  Wawancara pada seorang nelayan Bapak Y.

  “anak-anak Bapak ni, Bapak suruh sekolah ngaji biar pande lah dia mengaji kan. Masa’ kita orang islam gak tau baca Qur’an kan malu lah.. sekolah ngaji nya bayarnya gak mahal nak, makanya Bapak masih mampu sekolahin ngajinya.. nanti kalo’ dia gak mau ngaji, tah main ja kerjanya mau lah Bapak pukul dia pake lidi sawit tu Bapak libas kan.. Pokoknya dia mesti sekolah ngaji lah nak, sampe dia pande ngaji dan sholat..”

  (Komunikasi Personal, 11 Desember 2011) Hal tersebut menunjukkan pola pengasuhan yang otoriter penuh pembatasan dan hukuman (kekerasan) dengan cara orangtua memaksakan kehendaknya, sehingga orangtua dengan pola asuh authoritarian memegang kendali penuh dalam mengontrol anak-anaknya (Baumrind, 1971). Hurlock (1994) mengatakan bahwa di dalam pengasuhan anak para orangtua mempunyai tujuan untuk membentuk anak menjadi yang terbaik sesuai dengan apa yang dianggap ideal oleh para orangtua dan dalam pengasuhan anak diberikan istilah disiplin sebagai pelatihan dalam mengendalikan dan mengontrol diri.

  Pola asuh orangtua merupakan pola interaksi antara anak dengan orangtua bukan hanya pemenuhan kebutuhan fisik (seperti makan, minum, dan lain-lain) dan kebutuhan psikologis (seperti rasa aman, kasih sayang), tetapi juga mengajarkan norma-norma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungan (Santrock, 2002). Perlakuan orangtua terhadap seorang anak akan mempengaruhi bagaimana anak itu memandang, menilai, dan juga mempengaruhi sikap anak tersebut terhadap orangtua serta mempengaruhi kualitas hubungan yang berkembang di antara mereka (Santrock, 2007).

  Orangtua punya peran yang penting dalam perkembangan. Ada berbagai gaya pengasuhan orangtua yang bisa amat berbeda-beda. Baumrind (1971) dalam David (2000) mengidentifikasi tiga pola utama pengasuhan orangtua. Pertama, orangtua yang otoriter mengharapkan kepatuhan mutlak dan melihat bahwa anak butuh untuk di kontrol. Kedua, orangtua yang permisif membolehkan anak untuk mengatur hidup mereka sendiri dan menyediakan haya sedikit panduan baku.

  Ketiga, orangtua yang otoritatif bersifat tegas, adil, dan logis. Gaya pengasuhan ini di pandang akan membentuk anak-anak secara psikologis sehat, kompeten, dan mandiri, yang bersifat kooperatif dan nyaman menghadapi situasi-situasi sosial.

  Masing-masing orangtua tentu saja memiliki pola asuh tersendiri dalam mengarahkan perilaku anak. Hal ini sangat dipengaruh oleh latar belakang pendidikan orangtua, mata pencaharian hidup, keadaan sosial ekonomi, adat istiadat atau budaya setempat, dan sebagainya (Shochib, 1998).

  Keluarga pesisir yaitu nelayan seringkali dihadapkan pada persoalan- persoalan ekonomi dan ketidakpastian penghasilan walaupun hamparan laut dihadapaya menjanjikan ikan yang banyak, namun kenyataannya nelayan masih tetap dalam kemiskinan. Penghasilan yang mereka peroleh tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga menuntut isteri dan anak untuk ikut serta mencari nafkah tambahan aga kebutuhan keluarga dapat terpenuhi. Beban kerja isteri selain mengasuh anak juga ikut membantu suami mencari nafkah, dengan demikian akan berimpliasi terhadap pola interaksi antara anak dan orangtua di dalam keluarga (Kusnadi, 2003).

  Berdasarkan karakteristik masyarakat pesisir yang identik dengan nelayan yang merupakan bagian dari masyarakat terpinggirkan yang masih terus bergulat dengan berbagai persoalan kehidupan, baik ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan, maupun budaya. Kondisi kehidupan mereka selalu dalam kondisi yang memprihatinkan, terutama secara ekonomi dan pendidikan, maka peneliti tertarik melihat seperti apa gambaran pola asuh yang terjadi pada masyarakat pesisir pantai.

  I.B. RUMUSAN MASALAH

  Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, masalah dalam penelitian ini dirumuskan dalam pertanyaan penelitian yaitu:

  1. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi pola asuh orangtua pada masyarakat pesisir pantai?

  2. Bagaimanakah gambaran pola asuh orangtua pada masyarakat pesisir pantai?

  I.C. TUJUAN PENELITIAN

  Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah melihat gambaran pola asuh orangtua pada masyarakat pesisir pantai

  I.D. MANFAAT PENELITIAN

  I.D.1. Manfaat Teoritis a.

  Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat serta wawasan pengetahuan dalam pengembangan ilmu psikologi, khususnya bidang Psikologi Perkembangan terutama dalam hal pola asuh orangtua. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi peneliti-peneliti lain yang ingin meneliti mengenai pola asuh orangtua pada masyarakat pesisir pantai.

I.D.2. Manfaat Praktis

  a. Bagi orangtua khususnya pada masyarakat pesisir pantai dapat menjadi bahan informasi kepada mereka dalam bersikap tepat dalam memberikan pola asuh kepada anaknya.

  b. Bagi pemerintah, diharapkan dapat menjadi tambahan informasi untuk nantinya dijadikan referensi dalam sosialisasi pentingnya memberikan pengasuhan yang tepat bagi anak, terutama untuk masyarakat yang berada jauh dari pusat kota.

I.E. SISTEMATIKA PENULISAN

  Sistematika penulisan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

  Bab I Pendahuluan Bab ini terdiri dari latar belakang masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan. Bab II Landasan Teori Bab ini menguraikan landasan teori yang mendasari masalah yang menjadi objek penelitian. Memuat landasan teori tentang pola asuh orangtua, termasuk di dalamnya definisi pola asuh orangtua, dimensi pola asuh orangtua, gaya pola asuh orangtua, dan faktor yang mempengaruhi pola asuh orangtua. Serta teori tentang masyarakat pesisir pantai, termasuk di dalamnya definisi masyarakat pesisir, karakteristik masyarakat pesisir.

  Bab III : Metode Penelitian Bab ini berisi penjelasan mengenai alasan digunakannya pendekatan kualitatif, responden penelitian, teknik pengambilan responden, teknik pengumpulan data, alat pengumpulan data, prosedur penelitian, kredibilitas (validitas penelitian), dan pengolahan data.

  Bab IV : Analisa Data dan Pembahasan Bab ini berisi deskripsi data, interpretasi data dari hasil wawancara yang dilakukan, dan membahas data-data penelitian tersebut dengan teori yang relevan untuk menjawab pertanyaan penelitian.

  Bab V : Kesimpulan dan Saran Bab ini berisi kesimpulan yang berisikan hasil dari penelitian yang telah dilaksanakan dan saran yang berisi saran praktis dan saran untuk penelitian lanjutan dengan mempertimbangkan hasil penelitian yang diperoleh, keterbatasan, dan kelebihan penelitian.

BAB II LANDASAN TEORI II.A. Pengasuhan Pengasuhan erat kaitannya dengan kemampuan suatu keluarga atau rumah

  tangga dan komunitas dalam hal memberikan perhatian, waktu dan dukungan untuk memenuhi kebutuhan fisik, mental, dan sosial anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan serta bagi anggota keluarga lainnya (Engel, 1997). Orangtua dalam pengasuhan memiliki beberapa definisi yaitu ibu, ayah, atau seseorang yang akan membimbing dalam kehidupan baru, seorang penjaga, maupun seorang pelindung. Orangtua adalah seseorang yang mendampingi dan membimbing semua tahapan pertumbuhan anak, yang merawat, melindungi, mengarahkan kehidupan baru anak dalam setiap tahapan perkembangannya (Brooks, 2001).

  Brooks (2001) juga mendefinisikan pengasuhan sebagai sebuah proses yang merujuk pada serangkaian aksi dan interaksi yang dilakukan orangtua untuk mendukung perkembangan anak. Proses pengasuhan bukanlah sebuah hubungan satu arah yang mana orangtua mempengaruhi anak namun lebih dari itu, pengasuhan merupakan proses interaksi antara orangtua dan anak yang dipengaruhi oleh budaya dan kelembagaan sosial dimana anak dibesarkan.

  Pengasuhan merupakan proses yang panjang, maka proses pengasuhan akan mencakup 1) interaksi antara anak, orang tua, dan masyarakat lingkungannya, 2) penyesuaian kebutuhan hidup dan temperamen anak dengan orang tuanya, 3) pemenuhan tanggung jawab untuk membesarkan dan memenuhi kebutuhan anak,

  4) proses mendukung dan menolak keberadaan anak dan orang tua, serta 5) proses mengurangi resiko dan perlindungan tehadap individu dan lingkungan sosialnya (Berns 1997).

  Hoghughi (2004) menyebutkan bahwa pengasuhan mencakup beragam aktifitas yang bertujuan agar anak dapat berkembang secara optimal dan dapat bertahan hidup dengan baik. Prinsip pengasuhan menurut Hoghughi tidak menekankan pada siapa (pelaku) namun lebih menekankan pada aktifitas dari perkembangan dan pendidikan anak. Oleh karenanya pengasuhan meliputi pengasuhan fisik, pengasuhan emosi dan pengasuhan sosial.

  Beberapa definisi tentang pengasuhan tersebut menunjukkan bahwa pengasuhan merupakan sebuah proses interaksi yang terus menerus antara orangtua dengan anak yang bertujuan untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal, baik secara fisik, mental maupun sosial, sebagai sebuah proses interaksi dan sosialisasi yang tidak bisa dilepaskan dari sosial budaya dimana anak dibesarkan.

  II.B. Pola Asuh Orangtua

  II.B.1.Definisi Pola Asuh Orangtua

  Pola asuh orangtua merupakan segala bentuk dan proses interaksi yang terjadi antara orangtua dan anak yang merupakan pola pengasuhan tertentu dalam keluarga yang akan memberi pengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak (Baumrind dalam Irmawati, 2002). Menurut Darling, (1999), pola asuh adalah aktivitas kompleks yang melibatkan banyak perilaku spesifik yang bekerja secara individual dan bersama-sama untuk mempengaruhi anak.

  Hubungan baik yang tercipta antara anak dan orangtua akan menimbulkan perasaan aman dan kebahagiaan dalam diri anak. Sebaliknya hubungan yang buruk akan mendatangkan akibat yang sangat buruk pula, perasaan aman dan kebahagiaan yang seharusnya dirasakan anak tidak lagi dapat terbentuk, anak akan mengalami trauma emosional yang kemudian dapat ditampilkan anak dalam berbagai bentuk tingkah laku seperti menarik diri dari lingkungan, bersedih hati, pemurung, dan sebagainya. Pola asuh orangtua merupakan pola interaksi antara anak dengan orangtua bukan hanya pemenuhan kebutuhan fisik (seperti makan, minum, dan lain-lain) dan kebutuhan psikologis (seperti rasa aman, kasih sayang, dan lain-lain), tetapi juga mengajarkan norma-norma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungan (Hurlock, 1994). Pola asuh adalah suatu cara orangtua menjalankan peranan yang penting bagi perkembangan anak selanjutnya, dengan memberi bimbingan dan pengalaman serta memberikan pengawasan agar anak dapat menghadapi kehidupan yang akan datang dengan sukses, sebab di dalam keluarga yang merupakan kelompok sosial dalam kehidupan individu, anak akan belajar dan menyatakan dirinya sebagai manusia sosial dalam hubungan dan interaksi dengan kelompok (Meuler, 1987 dalam Iswantini, 2002).

  Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pola asuh orangtua adalah cara yang dipakai oleh orangtua dalam mendidik dan memberi bimbingan dan pengalaman serta memberikan pengawasan kepada anak-anaknya agar kelak menjadi orang yang berguna, serta tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik dan psikis melainkan juga menanamkan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat yang akan menjadi faktor penentu bagi anak-anaknya dalam menginterpretasikan, menilai dan mendeskripsikan kemudian memberikan tanggapan dan menentukan sikap maupun berperilaku.

II.B.2. Dimensi pola asuh

  Menurut (Baumrind, 1983) ada dua dimensi besar pola asuh yang menjadi dasar dari kecenderungan jenis kegiatan pengasuhan anak, yaitu :

  a.

  Responsiveness atau Responsifitas

  Dimensi ini berkenaan dengan sikap orangtua yang penuh kasih sayang, memahami dan berorientasi pada kebutuhan anak. Sikap hangat yang ditunjukkan orangtua pada anak sangat berperan penting dalam proses sosialisasi antara orangtua dengan anak. Diskusi sering terjadi pada keluarga yang orangtuanya responsif terhadap anak – anak mereka, selain itu juga sering terjadi proses memberi dan menerima secara verbal diantara kedua belah pihak. Namun pada orangtua yang tidak responsif terhadap anak – anaknya, orangtua bersikap membenci, menolak atau mengabaikan anak. Orangtua dengan sikap tersebut sering menjadi penyebab timbulnya berbagai masalah yang dihadapi anak seperti kesulitan akademis, ketidakseimbangan hubungan dengan orang dewasa dan teman sebaya sampai dengan masalah delikuensi.

  Menurut (Baumrind, 1983 dalam Berk, 2000) responsiveness atau responsifitas terdiri atas : 1) Clarity of communication (menuntut anak berkomunikasi secara jelas), yaitu orangtua meminta pendapat anak yang disertai alasan yang jelas ketika anak menuntut pemenuhan kebutuhannya, menunjukkan kesadaran orangtua untuk medengarkan atau menampung pendapat, keinginan atau keluhan anak, dan juga kesadaran orangtua dalam memberikan hukuman kepada anak bila diperlukan. 2) Nurturance (upaya pengasuhan), yaitu orangtua menunjukkan ekspresi kehangatan dan kasih sayang serta keterlibatan orangtua terhadap kesejahteraan dan kebahagiaan anak dan menunjukkan rasa bangga akan prestasi yang diperoleh anak. Orangtua mampu mengekspresikan cinta dan kasih sayang melalui tindakan dan sikap yang mengekspresikan kebanggaan dan rasa senang atas keberhasilan yang dicapai anak-anaknya.

  b.

   Demandingness atau tuntutan

  Untuk mengarahkan perkembangan sosial anak secara positif, kasih sayang dari orangtua belumlah cukup. Kontrol dari orangtua dibutuhkan untuk mengembangkan anak agar anak menjadi individu yang kompeten baik secara intelektual maupun sosial.

  Menurut (Baumrind, 1983 dalam Berk, 2000) demandingness atau tuntutan terdiri atas : 1) Demand for maturity (menuntut anak bersikap dewasa), yaitu orangtua menekankan pada anak untuk mengoptimalkan kemampuannya agar menjadi lebih dewasa dalam segala hal. Orangtua memberikan tekanan terhadap anak untuk dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam aspek sosial, intelektual dan emosional. Orangtua pun menuntut kemandirian yang meliputi pemberian kesempatan kepada anak-anaknya untuk membuat keputusannya sendiri.

  2) Control (kontrol), yaitu menunjukkan upaya orangtua dalam menerapkan kedisiplinan pada anak sesuai dengan patokan orangtua yang kaku yang sudah di buat sebelumnya. Orangtua juga terlihat berusaha untuk membatasi kebebasan, inisiatif dan tingkah laku anaknya. Orangtua memiliki kemampuan untuk menahan tekanan dari anak, dan konsisten dalam menjalankan aturan. Mengontrol tindakan didefinisikan sebagai upaya orangtua untuk memodifikasi ekspresi ketergantungan anak, agresivitas atau perilaku bermain di samping untuk meningkatkan internalisasi anak terhadap standar yang dimiliki orangtua terhadap anak.

II.B.3.Gaya Pola Asuh Orangtua

  Gaya pola asuh adalah kumpulan dari sikap, praktek dan ekspresi nonverbal orangtua yang bercirikan kealamian dari interaksi orangtua kepada anak sepanjang situasi yang berkembang (Darling & Steinberg, 1999). Gaya konseptual pola asuh Baumrind didasarkan pada pendekatan tipologis pada studi praktek sosialisasi keluarga. Pendekatan ini berfokus pada konfigurasi dari praktek pola asuh yang berbeda dan asumsi bahwa akibat dari salah satu praktek tersebut tergantung sebagian pada pengaturan kesemuanya. Variasi dari konfigurasi elemen utama pola asuh (seperti kehangatan, keterlibatan, tuntutan kematangan, dan supervisi) menghasilkan variasi dalam bagaimana seorang anak merespon pengaruh orangtua. Dari perspektif ini, gaya pola asuh dipandang sebagai karakteristik orangtua yang membedakan keefektifan dari praktek sosialisasi keluarga dan penerimaan anak pada praktek tersebut (Darling & Steinberg, 1999).

  Tipologi gaya pola asuh Baumrind (1971) mengidentifikasi tiga pola yang berbeda secara kualitatif pada otoritas orangtua, yaitu authoritarian parenting,

  

authoritative parenting dan permissive parenting. Menurut (Baumrind, 1971

  dalam Berk, 2000), ada tiga tipe pola asuh orangtua: a.

  Pola asuh authoritarian, yaitu pola asuh yang penuh pembatasan dan hukuman (kekerasan) dengan cara orangtua memaksakan kehendaknya, sehingga orangtua dengan pola asuh authoritarian memegang kendali penuh dalam mengontrol anak-anaknya. Authoritarian mengandung

  demanding dan unresponsive. Yang dicirikan dengan orangtua yang

  selalu menuntut anak tanpa memberi kesempatan pada anak untuk mengemukakan pendapatnya, tanpa disertai dengan komunikasi terbuka antara orangtua dan anak juga kehangatan dari orangtua. Pola asuh

  authoritarian ditandai dengan ciri-ciri sikap orangtua yang kaku dan

  keras dalam menerapkan peraturan-peraturan maupun disiplin. Orangtua bersikap memaksa dengan selalu menuntut kepatuhan anak, agar bertingkah laku seperti yang dikehendaki oleh orangtuanya. Karena orangtua tidak mempunyai pegangan mengenai cara bagaimana mereka harus mendidik, maka timbul berbagai sikap orangtua yang mendidik menurut apa yang dinggap terbaik oleh mereka sendiri, diantaranya adalah dengan hukuman dan sikap acuh tak acuh, sikap ini dapat menimbulkan ketegangan dan ketidak nyamanan, sehingga memungkinkan kericuhan di dalam rumah (Baumrind, 1971 dalam Berk, 2000). Menurut Stewart dan Koch (1983), orangtua yang menerapkan pola asuh otoriter mempunyai ciri sebagai berikut:

  1) Kaku 2) Tegas 3) Suka menghukum 4) Kurang ada kasih sayang serta simpatik 5) Orangtua memaksa anak-anak untuk patuh pada nilai-nilai mereka, serta mencoba membentuk lingkah laku sesuai dengan yang orangtua inginkan serta cenderung mengekang keinginan anak 6) Orangtua tidak mendorong serta memberi kesempatan kepada anak untuk mandiri dan jarang memberi pujian 7) Hak anak dibatasi tetapi dituntut tanggung jawab seperti anak dewasa.

  b. Pola asuh authoritative, yaitu pola asuh yang memberikan dorongan pada anak untuk mandiri namun tetap menerapkan berbagai batasan yang akan mengontrol perilaku mereka. Adanya saling memberi dan saling menerima, mendengarkan dan didengarkan. Pola ini lebih memusatkan perhatian pada aspek pendidikan daripada aspek hukuman, orangtua memberikan peraturan yang luas serta memberikan penjelasan tentang sebab diberikannya hukuman serta imbalan tersebut. Authoritative mengandung demanding dan responsive dicirikan dengan adanya tuntutan dari orang tua yang disertai dengan komunikasi terbuka antara orangtua dan anak, mengharapkan kematangan perilaku pada anak disertai dengan adanya kehangatan dari orangtua. Jadi penerapan pola asuh authoritatif dapat memberikan keleluasaan anak untuk menyampaikan segala persoalan yang dialaminya tanpa ada perasaan takut, keleluasaan yang diberikan orangtua tidak bersifat mutlak akan tetapi adanya kontrol dan pembatasan berdasarkan norma-norma yang ada (Baumrind, 1971 dalam Berk, 2000). Menurut Stewart dan Koch (1983) menyatakan ciri-cirinya adalah: 1) Bahwa orangtua yang demokratis memandang sama kewajiban dan hak antara orangtua dan anak.

  2) Secara bertahap orangtua memberikan tanggung jawab bagi anak- anaknya terhadap segala sesuatu yang diperbuatnya sampai mereka menjadi dewasa. 3) Mereka selalu berdialog dengan anak-anaknya, saling memberi dan menerima, selalu mendengarkan keluhan-keluhan dan pendapat anak- anaknya. 4) Dalam bertindak, mereka selalu memberikan alasannya kepada anak, mendorong anak saling membantu dan bertindak secara obyektif, tegas tetapi hangat dan penuh pengertian.

  c. Pola asuh permissive, yaitu pola asuh yang menekankan pada ekspresi diri dan regulasi diri anak. Mengizinkan anak untuk memonitor aktivitas mereka sendiri sebanyak mungkin tanapa adanya batasan dari orangtua

  (Baumrind, 1989 dalam Papalia, 2008). Maccoby dan Martin (dalam Santrock, 2002) membagi pola asuh ini menjadi dua: neglectful parenting

  

dan indulgent parenting. Pola asuh yang neglectful yaitu bila orangtua

  sangat tidak terlibat dalam kehidupan anak (tidak peduli). Pola asuh ini menghasilkan anak-anak yang kurang memiliki kompetensi sosial terutama karena adanya kecenderungan kontrol diri yang kurang. Pola asuh yang indulgent yaitu bila orangtua sangat terlibat dalam kehidupan anak, namun hanya memberikan kontrol dan tuntutan yang sangat minim (selalu menuruti atau terlalu membebaskan) sehingga dapat mengakibatkan kompetensi sosial yang tidak adekuat karena umumnya anak kurang mampu untuk melakukan kontrol diri dan menggunakan kebebasannya tanpa rasa tanggung jawab serta memaksakan kehendaknya.

  Permissive mengandung undemanding dan unresponsive (Baumrind, 1971

  dalam Berk, 2000). Dicirikan dengan orangtua yang bersikap mengabaikan dan lebih mengutamakan kebutuhan dan keinginan orangtua daripada kebutuhan dan keinginan anak, tidak adanya tuntutan larangan ataupun komunikasi terbuka antara orangtua dan anak. Hurlock (1994) mengatakan bahwa pola asuhan permisif bercirikan : 1) Adanya kontrol yang kurang 2) Orangtua bersikap longgar atau bebas 3) Bimbingan terhadap anak kurang.

II.B.4.Faktor–faktor yang mempengaruhi pola asuh orangtua

  Adapun faktor yang mempengaruhi pola asuh anak adalah (Edwards, 2006): a.

  Pendidikan orangtua Pendidikan dan pengalaman orangtua dalam perawatan anak akan mempengaruhi persiapan mereka menjalankan pengasuhan. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menjadi lebih siap dalam menjalankan peran pengasuhan antara lain: terlibat aktif dalam setiap pendidikan anak, mengamati segala sesuatu dengan berorientasi pada masalah anak, selalu berupaya menyediakan waktu untuk anak-anak dan menilai perkembangan fungsi keluarga dan kepercayaan anak (Edwards, 2006). Latar belakang pendidikan orangtua, informasi yang didapat oleh orangtua tentang cara mengasuh anak, kultur budaya, kondisi lingkungan sosial, ekonomi akan mempengaruhi bagaimana orangtua memberikan pengasuhan pada anak-anak mereka (Winengan, 2007). Orangtua yang sudah mempunyai pengalaman sebelumnya dalam mengasuh anak akan lebih siap menjalankan peran asuh, selain itu orangtua akan lebih mampu mengamati tanda-tanda pertumbuhan dan perkembangan yang normal (Supartini, 2004).

b. Lingkungan

  Faktor sosial, ekonomi, lingkungan, budaya dan pendidikan memberikan kontribusi pada kualitas pengasuhan orangtua (Zevalkinki, 2007). Pengasuhan merupakan proses yang panjang, maka proses pengasuhan akan mencakup 1) interaksi antara anak, orang tua, dan masyarakat lingkungannya, 2) penyesuaian kebutuhan hidup dan temperamen anak dengan orang tuanya, 3) pemenuhan tanggung jawab untuk membesarkan dan memenuhi kebutuhan anak, 4) proses mendukung dan menolak keberadaan anak dan orang tua, serta 5) proses mengurangi resiko dan perlindungan tehadap individu dan lingkungan sosialnya (Berns 1997). Lingkungan banyak mempengaruhi perkembangan anak, maka tidak mustahil jika lingkungan juga ikut serta mewarnai pola-pola pengasuhan yang diberikan orangtua terhadap anaknya (Edwards, 2006).

c. Budaya

  Sering kali orangtua mengikuti cara-cara yang dilakukan oleh masyarakat dalam mengasuh anak, kebiasaan-kebiasaan masyarakat disekitarnya dalam mengasuh anak, karena pola-pola tersebut dianggap berhasil dalam mendidik anak kearah kematangan (Edwards, 2006). Orangtua mengharapkan kelak anaknya dapat diterima dimasyarakat dengan baik, oleh karena itu kebudayaan atau kebiasaan masyarakat dalam mengasuh anak juga mempengaruhi setiap orangtua dalam memberikan pola asuh terhadap anaknya (Anwar,2000).

  Budaya yang ada di dalam suatu komunitas menyediakan seperangkat keyakinan, yang mencakup (a) pentingnya pengasuhan; (b) peran anggota keluarga (c) tujuan pengasuhan; (d) metode yang digunakan dalam penerapan disiplin kepada anak; dan (e) peran anak di dalam masyarakat(Brooks, 2001).

  Oleh karenanya, bila budaya yang ada mengandung seperangkat keyakinan yang dapat melindungi perkembangan anak, maka nilai-nilai pengasuhan yang diperoleh orangtua kemungkinan juga akan berdampak positif terhadap perkembangan anak. Sebaliknya, bila ternyata seperangkat keyakinan yang ada dalam budaya masyarakat setempat justru memperbesar munculnya faktor resiko maka nilai-nilai pengasuhan yang diperoleh orangtua pun akan menyebabkan perkembangan yang negatif pada anak (Suhartono, 2007).

II.C.Gaya Pengasuhan Ibu dan Ayah Berbeda

  Orangtua mungkin tidak menyadari, sebenarnya gaya pengasuhan antara ayah dan ibu berbeda. Hal ini dikarenakan, pada dasarnya gender laki-laki dan perempuan berbeda, baik dalam pola kehidupan, latar belakang maupun pekerjaannya. Perbedaan pada gaya ayah dan ibu sangat wajar, mengingat pada bapak-bapak, secara fisik memang lebih kuat dari ibu-ibu. Selain itu, secara umum bapak-bapak adalah breadwinners (pencari nafkah, Red.) dalam keluarga.

  Namun begitu, keduanya tetap harus sinergis dalam membangun kehidupan anak. ayah dan ibu tetap memiliki peranan yang sama besarnya dalam membangun anak. Kalau ayah lebih kepada membangun visi dan misi, dan menumuhkan kompetensi dan percaya diri. Ibu lebih kepada memberikan kasih sayang, sentuhan, memeluk, memberikan contoh kasih sayang, ataupun mengajak anak ngobrol (Verauli, 2012). Secara umum, ayah dan ibu memiliki peran yang sama dalam pengasuhan anak-anaknya. Namun ada sedikit perbedaan sentuhan dari apa yang ditampilkan oleh ayah dan ibu (Verauli, 2009).

a. Peran ibu

  1. Menumbuhkan perasaan mencintai dan mengasihi pada anak melalui interaksi yang jauh melibatkan sentuhan fisik dan kasih sayang.

  2. Menumbuhkan kemampuan berbahasa pada anak melalui kegiatan-kegiatan bercerita dan mendongeng, serta melalui kegiatan yang lebih dekat dengan anak, yakni berbicara dari hati ke hati kepada anak.

  3. Mengajarkan tentang peran jenis kelamin perempuan, tentang bagaimana harus bertindak sebagai perempuan, dan apa yang diharapkan oleh lingkungan sosial dari seorang perempuan.

b. Peran ayah

  1. Menumbuhkan rasa percaya diri dan kompeten pada anak melalui kegiatan bermain yang lebih kasar dan melibatkan fisik baik di dalam maupun di luar ruang.

  2. Menumbuhkan kebutuhan akan hasrat berprestasi pada anak melalui kegiatan mengenalkan anak tentang berbagai kisah tentang cita-cita.

  3. Mengajarkan tentang peran jenis kelamin laki-laki, tentang bagaimana harus bertindak sebagai laki-laki, dan apa yang diharapkan oleh lingkungan sosial dari laki-laki.

  Peran orangtua dalam pengasuhan anak berubah seiring pertumbuhan dan perkembangan anak. Karenanya, diharapkan orangtua bisa memahami fase-fase perkembangan anak dan mengimbanginya. Menurut pakar psikologi perkembangan Jean Piaget, anak perlu melakukan aksi tertentu atas lingkungannya untuk dapat mengembangkan cara pandang yang kompleks dan cerdas atas setiap pengalamannya. Sudah menjadi tugas orangtua untuk memberi anak pengalaman yang dibutuhkan anak agar kecerdasannya berkembang sempurna (Verauli, 2009). Erik Erikson (dalam Verauli, 2012) selaku pelopor dunia psikologi anak juga menegaskan bahwa cinta seorang ayah dan kasih seorang ibu berbeda secara kualitatif. Berikut ini keterlibatan seorang ayah membuat perbedaan positif dalam kehidupan anak:

  1. Gaya komunikasi berbeda

  Ayah memiliki gaya komunikasi berbeda. Anak akan lebih berpengalaman, lebih luas interaksi relasional.

  2. Gaya bermain berbeda

  Ayah mengajarkan melempar, menggelitik, menendang, bergulat untuk pengendalian diri.

  3. Membangun rasa percaya diri

  Meski gaya pengasuhan sendiri dapat membahayakan tubuh, namun ayah mengambil risiko untuk membangun kemandirian dan kepercayaan diri.

  Sementara anak tetap aman namun memperluas pengalaman dan meningkatkan kepercayaan diri mereka.

  4. Gaya disiplin unik Ayah cenderung mengamati dan menegakkan aturan secara sistematis dan tegas.

  Mengajar anak-anak konsekuensi dari benar dan salah.

  5. Persiapkan anak untuk dunia nyata

  Ayah terlibat membantu anak menyikapi perilaku. Misalnya ayah lebih mungkin dibandingkan ibu untuk memberitahu anak-anak tentang persiapan realitas dan kerasnya dunia.

  Masing-masing orangtua tentu saja memiliki pola asuh tersendiri dalam mengarahkan perilaku anak. Hal ini sangat dipengaruh oleh latar belakang pendidikan orangtua, mata pencaharian hidup, keadaan sosial ekonomi, adat istiadat, dan sebagainya. Dengan kata lain, pola asuh orangtua petani tidak sama dengan pedagang. Demikian pula pola asuh orangtua berpendidikan rendah berbeda dengan pola asuh orangtua yang berpendidikan tinggi. Ada yang menerapkan dengan pola yang keras/kejam, kasar, dan tidak berperasaan. Namun, ada pula yang memakai pola lemah lembut, dan kasih sayang. Ada pula yang memakai sistem militer, yang apabila anaknya bersalah akan langsung diberi hukuman dan tindakan tegas yang biasa disebut pola otoriter (Clemes, 2001).

  Kedekatan hubungan ibu dan anak sama pentignya dengan ayah dan anak walaupun secara kodrati akan ada perbedaan. Didalam rumah tangga ayah dapat melibatkan dirinya melakukan peran pengasuhan kepada anaknya. Seorang ayah tidak saja bertanggung jawab dalam memberikan nafkah tetapi dapat pula bekerja sama dengan ibu dalam melakuan perawatan anak. Gaya pengasuhan anak merupakan seluruh interaksi antara subjek dan objek berupa bimbingan, pengarahan dan pengawasan terhadap aktivitas objek sehari-hari yang berlangsung secara rutin sehingga membentuk suatu pola dan merupakan usaha yang diarahkan untuk mengubah tingkah laku sesuai dengan keinginan si pendidik atau pengasuh. Peran ibu adalah sebagai pelindung dan pengasuh. Seorang ibu, tua maupun muda, kaya atau miskin secara naluriah tahu tentang garis-garis besar dan fungsinya sehari-hari dalam keluarga. Ibu adalah pendidik pertama dan utama dalam keluarga, khususnya bagi anak-anak yang berusia dini. Oleh karena itu keterlibatan ibu dalam mengasuh dan membesarkan anak sejak masih bayi dapat membawa pengaruh positif maupun negatif bagi perkembangan anak di masa yang akan datang (Berk, 2000).

II.D. Perkembangan Pada Masa Anak-anak Akhir

  Pembentukan kualitas seorang individu dapat dimulai dari masa anak- anak, terutama pada usia dini. Anak-anak adalah generasi penerus bangsa, merekalah para pengganti dan penyempurna generasi sebelumnya. Pada masa ini seorang anak mulai belajar untuk semua hal yang ada di dunia. Masa anak-anak ini terbagi dalam dua bagian yaitu masa anak-anak awal yang berlangsung dari usia 2-6 tahun dan masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia 6-13 tahun pada anak perempuan dan 14 tahun pada anak laki-laki (Hurlock, 1994). Periode ini dimulai ketika anak mulai memasuki Sekolah Dasar dan berakhir ketika anak mengalami kematangan seksual. Periode ini juga disebut sebagai periode anak usia Sekolah Dasar, karena pada masa ini anak mulai memasuki sekolah formal (Hurlock, 1994).

  Anak usia sekolah telah menginternalisasi rasa malu dan bangga serta dapat memahami dan mengontrol emosi negatif lebih baik. Anak usia sekolah menjadi lebih empati dan lebih condong kepada perilaku prososial, anak prososial cendrung bertindak sesuai dengan situasi sosial, relatif bebas dari emosi negatif dan menghadapi masalah secara konstruktif. Anak usia sekolah lebih sedikit menghabiskan waktunya dengan orangtua, namun hubungannya dengan orangtua tetap sangat penting. (Papalia, 2008)

II.E. Praktek Pengasuhan Pada Anak-anak Akhir Orangtua dari anak yang berprestasi menciptakan lingkungan untuk belajar.

  Mereka menyediakan tempat untuk belajar, menyimpan buku serta berbagai peralatan, mereka menentukan waktu makan, tidur, dan pekerjaan rumah, mereka memonitor seberapa banyak acara televisi yang ditonton anak mereka dan apa yang dilakukan anak mereka setelah sekolah dan mereka menunjukkan ketertarikan kepada kehidupan anak mereka dengan berbincang-bincang tentang sekolah dan terlibat dalam aktivitas sekolah (Cooper dkk, 1998 dalam Papalia, 2008) .

  Orangtua memotivasi anaknya dengan cara ekstrinsik maupun intrinsik. Orangtua yang menggunakan cara ekstrinsik yaitu dengan cara memberikan uang atau barang apabila sang anak mendapatkan peringkat yang bagus atau menghukumnya apabila peringkat sang anak buruk. Orangtua yang menggunakan cara intrinsik yaitu dengan cara memuji kemampuan ataukerja keras mereka.

  Motivasi intrinsik akan lebih efektif untuk pembelajaran sang anak (Miserandino, 1996 dalam Papalia, 2008).

  Gaya pengasuhan akan mempengaruhi motivasi. Dalam sebuah studi penelitian anak kelas lima, hasil menunjukkan bahwa orangtua otoritarian, selalu mengurung anak agar mengerjakan pekerjaan rumah mereka, mengawasi dengan ketat, dan menyandarkan diiri kepada motivasi ekstrinsik cendrung memiliki anak berprestasi rendah. Begitu pula dengan orangtua yang permissive yang lepas tangan tidak tampak peduli dengan yang dilakukan sang anak di sekolah.

  Orangtua yang autoritative cendrung memiliki anak yang bersikap terbuka pada orangtuanya, orangtua memberikan kesempatan bagi anak-anaknya namun tidak lepas dari pengawasan (Bronstein & Ginsburg, 1996 dalam Papalia, 2008).

   II.F. Masyarakat Pesisir

   II.F.1. Definisi Masyarakat Pesisir

  Pengertian masyarakat pesisir tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat itu sendiri. Maka dari itu sebelum membicarakan tentang masyarakat pesisir terlebih dahulu kita memahami tentang definisi masyarakat. Masyarakat merupakan sekelompok manusia yang telah hidup lama dan bekerja sama sehingga mereka dapat mengatur diri dan menganggap diri mereka sebagai kesatuan sosial dengan batas tertentu yang diharuskan dengan jelas. Pada hakikatnya pengertian masyarakat mempunyai unsur-unsur sebagai berikut: (a). Adanya sejumlah manusia yang hidup bersama (b). Bercampur atau bersama- sama untuk waktu yang cukup lama (c). Menyadari bahwa mereka merupakan satu kesatuan (d). Menyadari bahwa mereka bersama-sama di ikat oleh perasaan anggota yang satu dengan yang lainnya (e). Menghasilkan suatu kebudayaan tertentu (Audiyahira, 2011).

  Masyarakat pesisir dapat didefinisikan sebagai kelompok orang atau suatu komunitas yang tinggal di daerah pesisir dan sumber kehidupan perekonomiannya bergantung secara langsung pada pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir. Mereka terdiri dari nelayan, buruh nelayan, pembudidaya ikan, pedagang ikan, pengolah ikan, sarana produksi perikanan (Mudjahirin, 2009). Masyarakat pesisir yang identik dengan nelayan merupakan bagian dari masyarakat terpinggirkan yang masih terus bergulat dengan berbagai persoalan kehidupan, baik ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan, maupun budaya. Kondisi kehidupan mereka selalu dalam kondisi yang memprihatinkan, terutama secara ekonomi. Dengan penghasilan yang selalu tergantung pada kondisi alam (Winengan, 2007). Masalah kompleks yang dihadapi masyarakat pesisir adalah kemiskinan, keterbatasan pengetahuan serta dunia pendidikan dan teknologi yang berkembang (Nikijuluw, 2001).

II.F.2.Karakteristik Masyarakat Pesisir

  Masyarakat di pesisir pantai secara umum mempunyai karakteristik yaitu sebagian besar mrupakan nelayan tradisional dengan penghasilan pas-pasan, dan tergolong keluarga miskin yang disebabkan oleh faktor alamiah, yaitu semata- mata bergantung pada hasil tangkapan dan bersifat musiman, serta faktor non alamiah berupa keterbatasan teknologi alat penangkap ikan, sehingga berpengaruh terhadap pendapatan keluarga. Rendahya pendapatan keluarga berdampak terhadap ketersediaan pangan keluarga, ketersediaan rumah yang layak, pendidikan yang minimal untuk anak-anaknya. (Kusnadi 2003).

  Masyarakat pesisir adalah masyarakat yang memiliki tempramental dan karakter watak yang keras dan tidak mudah di atur. Realitas pendidikan di masyarakat pesisir adalah pendidikan yang mengalami “Dehumanisasi”, dikatakan demikian karena pendidikan mengalami proses kemundurun dengan terkikisnya nilai-nilai kemanusiaan yang dikandungnya. Dengan pendidikan seperti itu maka anak-anak menjadi putus sekolah dan lebih memilih bekerja sebagai nelayan untuk mencari nafkah (Audiyahira, 2011).

  Lingkungan alam sekitar akan membentuk sifat dan perilaku masyarakat. Lingkungan fisik dan biologi mempengaruhi interaksi sosial, distribusi peran sosial, karakteristik nilai, norma sosial, sikap serta persepsi yang melembaga dalam masyarakat. Perubahan lingkungan dapat merubah konsep keluarga. Nilai- nilai sosial yang berkembang dari hasil penafsiran atas manfaat dan fungsi lingkungan dapat memacu perubahan sosial (Usman, 2003).

  Karateristik sosial ekonomi masyarakat pesisir dapat dilihat dari faktor mata pencaharian dan lingkungan pemukiman. Mata pencaharian sebagian besar penduduk di wilayah pesisir adalah di sektor pemanfaatan sumberdaya kelautan (marine resources base), seperti nelayan, petani ikan (budidaya tambak dan laut), penambangan pasir, kayu mangrove dan lain-lain. Sebagian besar penduduk wilayah pesisir memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Lingkungan pemukiman masyarakat pesisir, khususnya nelayan masih belum tertata dengan baik dan terkesan kumuh (Fakhrudin, 2008).

  Keterbatasan penghasilan atau kemiskinan menjadi karakteristik utama masyarakat pesisir, mereka tidak jarang membuat sang isteri ikut terlibat mencari nafkah tambahan guna memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan tidak mentup kemungkinan sang anak juga ikut terlibat dalam proses mencari nafkah yaitu dengan cara melaut. Pada umumnya isteri-isteri nelayan menjual hasl tangkapan suaminya. Dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga, peranan isteri sangat cukup dominan, secara hati-hati isteri mengatur sepenuhnya pengeluaran rumah tangga sehari-hari berdasarkan tingkat kebutuhan konsumsi jumlah anggota rumah tangganya. Selain itu gambaran umum yang pertama kali yang bisa dilihat dari kondisi kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi dalam kehidupan masyarakat pesisir adalah fakta-fakta yang bersifat fisik berupa kualitas pemukiman.

  Kampung-kampung nelayan miskin akan mudah diidentifikasi dari kondisi rumah hunian mereka. Rumah-rumah yang sangat sederhana, berdinding anyaman bamboo, berlantai tanah pasir, beratap daun rimba, dan keterbatasan pemilikan perabotan rumah tangga adalah tempat tinggal para nelayan buruh atau nelayan tradisional (Kusnadi, 2003).

  Selain gambaran fisik tersebut, untuk mengidentifikasi kehidupan nelayan miskin dapat dilihat dari tingkat pendidikan anak-anak, pola konsumsi sehari-hari dan tingkat pendapatan mereka. Karena tingkat pendapatan mereka rendah, maka adalah logis jika tingkat pendidikan anak-anak mereka juga rendah. Banyak anak yang harus berhenti sebelum lulus sekolah dasar atau kalaupun lulus, mereka tidak akan melanjutkan pendidikannya ke sekolah menengah pertama. Disamping itu, kebutuhan hidup yang paling mendasar bagi rumah tangga nelayan miskin adalah pemenuhan kebutuhan pangan. Kebutuhan dasar yang lain, seperti kelayakan perumahan dan sandang dijadikan sebagai kebutuhan sekunder. Kebutuhan akan pangan merupakan prasyarat utama agar rumah tangga nelayan dapat bertahan hidup (Kusnadi, 2003).

  II.G. Gambaran Pola asuh Pada Masyarakat Pesisir Pantai

  Penduduk komunitas pantai yang disebut dengan masyarakat pesisir hampir sebagian besar bekerja sebagai nelayan tradisional umumnya mempunyai ciri yang sama yaitu kurang berpendidikan. Artinya, karena pekerjaan sebagai nelayan sedikit -banyak merupakan pekerjaan kasar yang lebih banyak mengandalkan otot dan pengalaman, maka setinggi apa pun tingkat pendidikan masyarakat pesisir tersebut tidaklah akan mempengaruhi kecakapan mereka melaut (Sudarso, 2005). Masyarakat pesisir sangat tergantung dengan lam, sehingga ada waktu-waktu tertentu mereka memperoleh ikan dan ada waktu- waktu tertentu mereka tidak melaut. Oleh karena itu tidak jarang ditemukan masyarakat pesisir yang berhutang pada penjual atau warung yang bera di sekitar tempat tinggalnya. Hal ini adalah salah satu cara mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup (Kusnadi, 2003).

  Masyarakat pesisir yang identik dengan nelayan merupakan bagian dari masyarakat terpinggirkan yang masih terus bergulat dengan berbagai persoalan kehidupan, baik ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan, maupun budaya. Kondisi kehidupan mereka selalu dalam kondisi yang memprihatinkan, terutama secara ekonomi. Dengan penghasilan yang selalu tergantung pada kondisi alam. Kondisi alam tersebut yang membuat sulit bagi mereka untuk merubah kehidupannya menjadi lebih baik. Kondisi yang memprihatinkan tersebut yang menyebabkan rendahnya kemampuan dan ketrampilan masyarakat pesisir sehingga membuat mereka hidup dalam kemiskinan (Winengan, 2007). Keterbatasan penghasilan atau kemiskinan yang dialami oleh masyarakat pesisir tidak jarang membuat isteri ikut terlibat mencari nafkah tambahan guna memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan tidak menutup kemungkinan anak-anak mereka juga ikut terlibat dalam proses mencari nafkah seperti anak lelaki yang ikut melaut bersama ayah mereka (Kusnadi, 2003).

  Kemiskinan yang melanda rumah tangga masyarakat pesisir telah mempersulit mereka dalam membentuk kehidupan generasi berikutnya yang lebih baik dari keadaan mereka saat ini (Fathul, 2002). Karena mereka selalu hidup dalam kemiskinan, bagi mereka menikah dalam usia yang mungkin belum terlalu matang ini tidaklah menjadi soal. Masalah yang sesungguhnya biasanya baru mulai terasa jika keluarga-keluarga nelayan tradisional miskin itu mulai dikaruniai anak (Sudarso, 2005). Orangtua yang hidup dalam rumah kumuh, yang kehilangan pekerjaan, yang susah cari makan, dan yang merasa tidak dapat mengontrol kehidupan cendrung menjadi cemas, tertekan dan lekas marah. Orangtua akan menjadi kurang mengasihi anak-anaknya, kurang responsif, kasar yang berlebihan. Mereka juga cendrung mengabaikan perilaku yang baik dan hanya memperhatikan perilaku yang salah. Dampaknya, sang anak akan tertekan, kesulitan bermain dengan teman sabayanya, kurang percaya diri, memiliki masalah perilaku, dan terlibat dalam tindakan antisosial (Brooks-Gunn et al, 1998 dalam Papalia, 2008).

  Keluarga yang berada dalam kesulitan ekonomi memiliki kecendrungan yang lebih rendah dalam mengontrol aktivitas anak-anak mereka, dan kurangnya memonitor prestasi sekolah dan penyesuaian sosial sang anak (Bolger dkk, 1995 dalam Papalia, 2008). Akan tetapi, gambaran suram tersebut tidak baku, ada juga orangtua yang mengalami kemiskinan namun ia merawat anaknya dengan baik, mengasuh anak secara efektif. Maka anak-anaknya akan mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, anak-anak mereka juga akan lebih mudah untuk mencapai kesuksesan yang mereka inginkan (Ackerman dkk, 1999 dalam Papalia, 2008).

  Secara sosial-psikologis, kehadiran seorang anak bagi sebuah keluarga memang akan menjadi pelengkap kebahagiaan dan sudah sewajarnya jika disambut dengan gembira. Tetapi, bagi keluarga miskin kehadiran anak adalah sebagai beban mereka, karena mereka harus membiayai hidup dan sekolahnya.

  Anak-anak mereka harus menerima kenyataan untuk mengenyam tingkat pendidikan yang rendah. Karena ketidakmampuan ekonomi orang tuanya (Fathul, 2002).

  Fenomena keseharian masyarakat pesisir yang terlihat yaitu anak lelaki maupun wanita secara lebih dini terlibat dalam proses pekerjaan nelayan dari mulai persiapan orangtua mereka untuk ke laut sampai dengan menjual hasil tangkapan. Hal ini tentunya berimplikasi kepada kelangsungan pendidikan anak- anaknya (Pengemanan, 2002). Pada umumnya rumah tangga nelayan tidak memiliki perencanaan yang matang untuk pendidikan anak-anaknya. Pendidikan bagi sebagian besar rumah tangga masyarakat pesisir masih menjadi kebutuhan nomor sekian dalam rumah tangga. Dapat dikatakan bahwa antusias terhadap pendidikan di masyarakat nelayan relatif masih rendah (Anggraini, 2000).

  Di kalangan keluarga nelayan tradisional, mempekerjakan anak-anak untuk ikut membantu orang tua mencari nafkah dalam usia dini adalah hal yang biasa, sehingga jangan kaget jika anak-anak mereka pun rata-rata tidak sempat menyelesaikan pendidikan hingga jenjang yang setinggi –tingginya (Sudarso, 2005). Anak-anak di tuntut untuk ikut mencari nafkah, menanggung beban kehidupan rumah tangga, dan mengurangi beban tanggung jawab orang tuannya (Fathul, 2002). Di lingkungan komunitas masyarakat pesisir pantai, peran istri dan anak-anak dalam membantu ekonomi keluarga umumnya besar, dan bahkan tidak jarang menjadi sumber utama pemasukan keluarga (Sudarso, 2005).

  Oleh karenanya, bila budaya yang ada mengandung seperangkat keyakinan yang dapat melindungi perkembangan anak, maka nilai-nilai pengasuhan yang diperoleh orangtua kemungkinan juga akan berdampak positif terhadap perkembangan anak. Sebaliknya, bila ternyata seperangkat keyakinan yang ada dalam budaya masyarakat setempat justru memperbesar munculnya faktor resiko maka nilai-nilai pengasuhan yang diperoleh orangtua pun akan menyebabkan perkembangan yang negatif pada anak (Suhartono, 2007). II.H. Paradigma Berfikir Karakteristik masyarakat pesisir:

  • persoalan kehidupan

  Memiliki banyak

  • rendah

  Status ekonomi yang

  Pola asuh antara ibu dan Wawasan

  • ayah berbeda pengetahuan yang sempit
  • Pola asuh orangtua : yang rendah

  Tingkat pendidikan

  Authoritarian

  • Authoritative -
  • Faktor yang mempengaruhi pola asuh orangtua:

  Permissive

  Pendidikan

  • Lingkungan -

  Budaya

BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian merupakan unsur penting di dalam penelitian ilmiah,

  karena metode yang digunakan dalam penelitian dapat menentukan apakah penelitian tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Mengingat tujuan dari penelitian ini adalah melihat gambaran pola asuh orangtua pada masyarakat pesisir pantai, maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif.

  Pendekatan kualitatif memungkinkan individu memfokuskan atensi dan mengungkapkan variasi pengalaman yang dijalaninya (Patton dalam Poerwandari, 2007).

III. A. Pendekatan Kualitatif

  Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitiatif untuk mengetahui bagaimana gambaran pola asuh orangtua pada masyarakat pesisir pantai. Hal ini disebabkan karena sebagian perilaku manusia, yang penghayatannya melibatkan berbagai pengalaman pribadi, sulit dikuantifikasikan sehingga mustahil diukur dan dibakukan, apalagi dituangkan dalam satuan numerik (Poerwandari, 2007). Menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 1989) metode kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.

  Metode kualitatif berusaha memahami suatu gejala sebagaimana pemahaman responden yang diteliti, dengan penekanan pada aspek subjektif dari perilaku seseorang. Penelitian kualitatif memungkinkan pemahaman tentang kompleksitas perilaku dan penghayatan manusia sabagai mahluk yang memiliki pemahaman tentang hidupnya (Poerwandari, 2007).

III.B. Teknik Pengumpulan Data

  Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam (in-depth interview). Wawancara mendalam dilakukan dengan maksud untuk memperoleh pengetahuan tentang makna-makna subjektif yang dipahami individu berkenaan dengan topik yang diteliti dan bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu tersebut, satu hal yang tidak dapat dilakukan melalui pendekatan lain (Banister dkk dalam Poerwandari, 2007).

  Penelitian ini menggunakan pedoman wawancara yang di buat berdasarkan karakteristik masyarakat pesisir, faktor yang mempengaruhi pola asuh orangtua serta gaya pola asuh orangtua pada masyaraka pesisir pantai. Pedoman wawancara tersebut terlebih dahulu telah di standarisari oleh profesional judgment. Kegunaan pedoman wawancara tersebut adalah untuk mengingatkan peneliti mengenai hal- hal yang harus dibahas, sekaligus menjadi daftar pengecek (checklist) apakah faktor serta dimenasi tersebut telah dibahas atau ditanyakan. Pada saat proses wawancara juga akan disertai dengan proses observasi terhadap perilaku responden penelitian (Poerwandari, 2007).

  III.C. Responden Penelitian

  III.C.1. Karakteristik Responden

  Sesuai dengan tujuan penelitian ini, karakteristik responden penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah salah satu dari pasangan suami istri yang sudah memiliki anak, dengan karakteristik sebagai berikut :

  Responden dalam penelitian ini adalah: 1.

  Orangtua yang tinggal satu rumah dengan anak-anaknya 2. Orangtua yang memiliki anak dengan usia 6-13 tahun 3. Orangtua yang tinggal di pesisir pantai

  III.C.2. Jumlah Responden

  Prosedur penentuan jumlah responden penelitian dalam penelitian kualitatif menurut Sarankatos (dalam Poerwandari, 2007) memiliki karakteristik berikut ini: (1) tidak ditentukan secara kaku sejak awal tetapi dapat berubah, baik dalam hal jumlah maupun karakteristik responden, sesuai dengan pemahaman konseptual yang berkembang dalam penelitian; (2) tidak diarahkan pada keterwakilan (dalam arti jumlah maupun peristiwa random) melainkan pada kecocokan konteks; (3) responden tidak diarahkan pada jumlah yang besar, melainkan pada kasus-kasus tipikal sesuai kekhususan masalah penelitian. Banister dkk. (dalam Poerwandari, 2007) menyatakan bahwa dengan fokusnya pada kedalaman proses, penelitian kualitatif cenderung dilakukan dengan jumlah kasus sedikit. Suatu kasus tunggal pun dapat dipakai, bila secara potensial memang sangat sulit bagi peneliti untuk memperoleh kasus lebih banyak, dan bila dari kasus tunggal tersebut memang diperlukan informasi yang sangat mendalam. Sesuai dengan pernyataan tersebut, jumlah responden penelitian dalam penelitian ini adalah empat orang responden, akan tetapi kemudian responden dalam penelitian ini bertambah karena peneliti bertanya kepada orang-orang terdekat responden utama dengan tujuan memperkaya data penelitian. Dengan jumlah responden tersebut diharapkan akan dapat memberikan deskripsi tentang pola asuh orangtua pada masyarakat pesisir pantai.

  III.C.3. Prosedur Pengambilan Responden

  Prosedur pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah pengambilan sampel berdasarkan teori, atau berdasarkan konstruk operasional (theory-based/ operational

  

construct sampling). Sampel dipilih dengan kriteria tertentu, berdasarkan teori atau

  konstruk operasional sesuai studi-studi sebelumnya atau sesuai dengan tujuan penelitian. Hal ini dilakukan agar sample sungguh-sungguh mewakili (bersifat presentative terhadap) fenomena yang dipelajari.

  III.C.4. Lokasi Penelitian

  Lokasi pengambilan data dilakukan di daerah pesisir pantai Medang Deras, alasan pengambilan tempat penelitian dikarenakan fenomena yang sedang diteliti berada di daerah tersebut.

  III.D. Alat Bantu Pengumpulan Data

  Menurut Poerwandari (2007) penulis sangat berperan dalam seluruh proses penelitian, mulai dari memilih topik, mendeteksi topik tersebut, mengumpulkan data, hingga analisis, menginterprestasikan dan menyimpulkan hasil penelitian. Dalam mengumpulkan data-data penulis membutuhkan alat Bantu. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan tiga alat bantu, yaitu :

1. Pedoman wawancara

  Pedoman wawancara digunakan agar wawancara yang dilakukan tidak menyimpang dari tujuan penelitian. Pedoman ini disusun tidak hanya berdasarkan tujuan penelitian, tetapi juga berdasarkan teori yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

  2. Alat Perekam

  Alat perekam berguna sebagai alat bantu pada saat wawancara, agar peneliti dapat berkonsentrasi pada proses pengambilan data tanpa harus berhenti untuk mencatat jawaban-jawaban dari subjek. Dalam pengumpulan data, alat perekam baru dapat dipergunakan setelah mendapat ijin dari subjek untuk mempergunakan alat tersebut pada saat wawancara berlangsung.

  3. Lembar Observasi

  Peneliti membuat lembar observasi yang sederhana untuk mencatat apa saja yang diobservasi selama wawancara berlangsung baik responden penelitian atau kondisi lingkungan selama wawancara.

  III.E. Prosedur Penelitian

  III.E.1. Tahap Persiapan

  Pada tahap persiapan penelitian, peneliti menggunakan sejumlah hal yang diperlukan untuk melaksanakan penelitian (Moleong, 2006), sebagai berikut :

  1. Mengumpulkan data

  Peneliti mengumpulkan berbagai informasi, studi literarur, dan teori-teori yang berhubungan dengan pola asuh orangtua.

  2. Menyusun pedoman wawancara

  Pedoman wawancara disusun agar wawancara yang dilakukan tidak menyimpang dari tujuan penelitian, peneliti menyusun butir-butir pertanyaan berdasarkan teori pola asuh orangtua yaitu dari faktor yang mempengaruhi serta gaya pola asuh orangtua yang ada untuk menjadi pedoman wawancara. Pedoman wawancara yang digunakan sebelumnya telah di diskusikan dengan salah satu profesional judgment, yaitu dosen pembimbingan dalam penelitian ini.

3. Persiapan untuk mengumpulkan data

  Peneliti mengumpulkan informasi tentang calon responden penelitian dari anak responden. Peneliti memastikan calon responden memenuhi karakteristik responden yang telah ditentukan dengan melakukan pra-wawancara. Untuk responden I, peneliti mengenal anak laki-laki pertama responden bernama Rendi.

  Informasi awal mengenai responden I peneliti peroleh dari anak responden tersebut. Untuk responden II, informasi mengenai responden II dan keluarganya peneliti peroleh dari ayah peneliti karena responden II adalah teman bermain ayah peneliti pada masa anak-anaknya. Untuk responden III dan IV, peneliti peroleh informasi mengenai responden dari anak-anak responden. Yaitu peneliti mengenal anak perempuan pertama responden III yang benama Arini. Sedangkan responden

  IV, peneliti mengenal anak ke dua nya bernama Jaka. Setelah semua informasi terkumpul kemudian barulah peneliti menyusun cara dan strategi untuk membangun rapport dengan keempat responden penelitian serta keluarganya. Setelah mendapatkan calon responden yang memenuhi karakteristik, lalu peneliti menanyakan kesediaannya untuk berpartisipasi dalam penelitian dan menjelaskan

  informed consent dalam penelitian.

4. Membangun

  rapport dan menentukan jadwal wawancara

  Setelah informasi terkumpul, peneliti mendatangi responden untuk menjelaskan tentang penelitian yang akan dilakukan dan menanyakan kesediaannya untuk berpartisipasi dalam penelitian. Setelah memperoleh kesediaan dari responden penelitian, peneliti membuat janji bertemu dengan responden dan berusaha membangun rapport yang baik dengan responden. Peneliti melakukan pendekatan berulang-ulang kepada keempat responden. Waktu yang digunakan peneliti untuk membina rapport juga berbeda-beda pada keempat responden.

III.E.2. Tahap Pelaksaan Penelitian

  Setelah tahap persiapan penelitian dilakukan, peneliti memasuki beberapa tahap pelaksanaan penelitian, antara lain:

  1. Mengkonfirmasi ulang waktu dan tempat wawancara

  Sebelum wawancara dilakukan, peneliti mengkonfirmasi ulang waktu dan tempat yang sebelumnya telah disepakati bersama dengan responden. Konfirmasi ulang ini dilakukan sehari sebelum wawancara dilakukan dengan tujuan agar memastikan responden dalam keadaan sehat dan tidak berhalangan dalam melakukan wawancara.

  2. Melakukan wawancara berdasarkan pedoman wawancara

  Sebelum wawancara dilakukan, peneliti meminta responden untuk menandatangani “Lembar Persetujuan Wawancara” yang menyatakan bahwa responden mengerti tujuan wawancara, bersedia menjawab pertanyaan yang diajukan, mempunyai hak untuk mengundurkan diri dari penelitian sewaktu- waktu serta memahami bahwa hasil wawancara adalah rahasia dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian. Setelah itu, peneliti melakukan proses wawancara berdasarkan pedoman wawancara yang telah dibuat sebelumnya. Peneliti melakukan beberapa kali wawancara untuk mendapatkan hasil dan data yang maksimal.

  

3. Memindahkan rekaman hasil wawancara ke dalam bentuk transkrip

verbatim

  Setelah proses wawancara selesai dilakukan dan hasil wawancara telah diperoleh, peneliti kemudian memindahkan hasil wawancara ke dalam verbatim tertulis. Pada tahap ini, peneliti melakukan koding dengan membubuhkan kode- kode pada materi yang diperoleh. Koding dimaksudkan untuk dapat mengorganisasi dan mensistemasi data secara lengkap dan mendetail sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang topik yang dipelajari (Poerwandari, 2007).

4. Melakukan analisa data

  Bentuk transkrip verbatim yang telah selesai dibuat kemudian dibuatkan salinannya, peneliti kemudian menyusun dan menganalisa data dari hasil transkrip wawancara yang telah dikoding menjadi sebuah narasi yang baik dan menyusunnya berdasarkan alur pedoman wawancara yang digunakan saat wawancara. Peneliti membagi penjabaran analisa data responden ke dalam faktor yang mempengaruhi pola asuh serta gaya pola asuh orangtua.

5. Menarik kesimpulan, membuat diskusi dan saran

  Setelah analisa data selesai dilakukan, peneliti menarik kesimpulan untuk menjawab rumusan permasalahan. Kemudian peneliti menuliskan diskusi berdasarkan kesimpulan dan data hasil penelitian. Setelah itu, peneliti memberikan saran-saran sesuai dengan kesimpulan, diskusi dan data hasil penelitian.

  III.E.3. Tahap Pencatatan Data

  Untuk memudahkan pencatatan data, peneliti menggunakan alat perekam sebagai alat bantu agar data yang diperoleh dapat lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebelum wawancara dimulai, peneliti meminta izin kepada responden untuk merekam wawancara yang akan dilakukan dengan tape

  recorder. Dari hasil rekaman ini kemudian akan ditranskripsikan secara verbatim

  untuk dianalisa. Transkrip adalah salinan hasil wawancara dalam pita suara yang dipindahkan ke dalam bentuk ketikan di atas kertas.

  III.F. Prosedur Analisa Data

  Data akan dianalisis menurut prosedur-prosedur kualitatif, dengan mengumpulkan verbatim wawancara dan mengolah data dengan metode kualitatif.

  Menurut Poerwandari (2007) proses analisis data adalah sebagai berikut:

a. Organisasi data

  Pengolahan dan analisis sesungguhnya dimulai dengan mengorganisasikan data. Dengan data kualitatif yang sangat beragam dan banyak, peneliti berkewajiban untuk mengorganisasikan diantaranya adalah data mentah (catatan lapangan, kaset hasil rekaman), data yang sudah diproses sebagian, (transkip wawancara), data yang sudah dibubuhi kode-kode dan dokumentasi yang kronologis mengenai pengumpulan-pengumpulan data analisis.

  b. Koding

  Langkah penting pertama sebelum analisis dilakukan adalah membubuhkan kode-kode pada materi yang diperoleh. Koding dimaksudkan untuk dapat mengorganisasikan dan mensistematisasikan data secara lengkap dan mendetail sehingga data dapat memunculkan gambaran tentang topik yang dipelajari.

  Dengan demikian, peneliti akan dapat menemukan makna dari data yang dikumpulkannya. Peneliti berhak memilih cara melakukan koding yang dianggapnya paling efektif bagi data yang dikumpulkan, membaca transkip begitu transkip selesai dibuat, membaca transkip berulang-ulang sebelum melakukan koding untuk memperoleh ide umum tentang tema sekaligus untuk mnghindari kesulitan dalam mengambil kesimpulan (Poerwandari, 2009).

  c. Pengujian terhadap dugaan

  Dugaan adalah kesimpulan sementara, begitu tema-tema dan pola-pola muncul dari data, kita mengembangkan dugaan-dugaan yang adalah juga kesimpulan-kesimpulan sementara. Dugaan yang berkembang tersebut harus dipertajam serta diuji ketepatannya. Saat tema-tema dan pola-pola muncul dari data untuk menyakinkan temuannya, selain mencoba untuk terus menajamkan tema dan pola yang ditemukan, peneliti juga perlu mencari data yang memberikan gambaran atau fenomena berbeda dari pola-pola yang muncul tersebut (Poerwandari 2007).

  d. Strategi Analisis

  Analisis terhadap data pengamatan sangat dipengaruhi oleh kejelasan mengenai apa yang dilakukan. Patton (dalam Poerwandari 2007) menjelaskan bahwa proses analisis dapat melibatkan konsep-konsep yang muncul dari jawaban atau kata-kata partisipan sendiri maupun konsep yang dikembangkan atau dipilih oleh peneliti untuk menjelaskan fenomena yang dianalisis.

  e. Interpretasi

  Menurut Kyale (dalam Poerwandari, 2007) interpretasi mengacu pada upaya memahami data secara lebih ekstensif sekaligus mendalam. Peneliti memiliki persepektif mengenai apa yang sedang diteliti dan menginterpretasi data melalui persepektif tersebut.

III.G. Kredibilitas Penelitian

  Kredibilitas merupakan istilah yang digunakan dalam penelitian kualitatif untuk menggantikan konsep validitas (Poerwandari, 2007). Deskripsi mendalam yang menjelaskan kemajemukan (kompleksitas) aspek-aspek yang terkait (dalam bahasa kuantitatif: variabel) dan merupakan interaksi berbagai aspek menjadi salah satu ukuran kredibilitas penelitian kualitatif. Menurut Poerwandari (2007), kredibilitas penelitian kualitatif juga terletak pada keberhasilan mencapai maksud mengeksplorasi masalah dan mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial, atau pola interaksi yang kompleks. Adapun upaya peneliti dalam menjaga kredibilitas dan objektifitas penelitian ini, yaitu dengan: 1)

  Melakukan pemilihan sampel yang sesuai dengan karakteristik penelitian, dalam hal ini adalah orangtua yang memiliki anak berusia 6-13 tahun.

  2) Membangun rapport dengan responden agar ketika proses wawancara berlangsung responden dapat lebih terbuka menjawab setiap pertanyaan dan suasana tidak kaku pada saat wawancara.

  3) Membuat pedoman wawncara berdasarkan faktor yang mempengaruhi pola asuh serta gaya pola asuh orangtua. Kemudian melakukan standarisasi pedoman wawanncara dengan professional judgement. Pada penelitian ini, professional judgment adalah dosen pembimbing penelitian ini. 4) Menggunakan pertanyaan terbuka dan wawancara mendalam untuk mendapatkan data yang akurat.

  5) Selama wawancara, peneliti menanyakan kembali beberapa pertanyaan yang dirasa butuh penjelasan yang lebih dalam lagi pada wawancara berikutnya untuk memastikan keakuratan data responden.

  6) Memperpanjang keikutsertaan peneliti dalam pengumpulan data di lapangan. Hal ini memungkinkan peneliti mendapatkan informasi yang lebih banyak tentang responden penelitian.

  7) Melibatkan teman sejawat, dosen pembimbing, dan dosen yang ahli dalam bidang kualitatif untuk berdiskusi, memberikan masukan dan kritik mulai awal kegiatan proses penelitian sampai tersusunnya hasil penelitian. Hal ini dilakukan mengingat keterbatasan kemampuan peneliti pada kompleksitas fenomena yang diteliti.

  8) Melacak kesesuaian dan kelengkapan hasil analisis data dengan melihat hasil wawancara yang dilakukan pertama kali dengan hasil wawancara yang dilakukan setelahnya.

BAB IV HASIL ANALISA DATA Pada bab ini akan diuraikan hasil analisa wawancara dalam bentuk narasi. Untuk mempermudah pembaca maka data akan dijabarkan, dianalisa, dan

  diinterpretasi per-responden. Interpretasi akan dijabarkan dengan menggunakan aspek-aspek yang ingin dilihat dan terdapat dalam pedoman wawancara.

  Kutipan dalam setiap bagian analisa akan diberikan kode-kode tertentu untuk mempermudah diperolehnya pembahasan yang jelas dan utuh. Contoh kode yang digunakan adalah R.1/W.1/b.30-39/h.1, maksud kode ini adalah kutipan pada responden 1, wawancara 1, baris 30 sampai 39, verbatim halaman 1.

  Berikut dilampirkan identitas responden, tempat serta waktu wawancara, pada penelitian ini :

  Tabel 1.

Identitas Diri Responden

NO KETERAN RESPONDEN I RESPONDEN II RESPONDEN III RESPONDEN IV

  GAN

  1 Nama Mansyur Syahminan Salbiah Aisyah

  2 Usia

  40 Tahun

  42 Tahun

  38 Tahun

  39 Tahun

  3 Pendidikan Tidak Sekolah Sekolah Dasar (SD) Tidak Sekolah Tidak Sekolah

  Terakhir

  4 Pekerjaan Nelayan Nelayan Ibu Rumah Tangga Buruh cuci dan

  setrika

  • 5 Penghasilan 15.000 Per-hari 15.000 Per-hari 160.000 Per-bulan

  6 Usia saat

  15 Tahun

  17 Tahun

  15 Tahun

  15 Tahun Menikah

  7 Jumlah Anak 4 orang 2 orang 3 orang 4 orang

  8 Pendidikan

  1. Laki-laki (Kelas 3

  1. Laki-laki (Kelas 3

  1. Perempuan

  1. Laki-laki (Tamat Anak SMA) SMA) (Kelas 2 SMA) SMP dan Sudah

  2. Perempuan (Kelas

  2. Laki-laki (Kelas 3

  2. Laki-laki (Kelas Menikah)

  3 SMP) SMP)

  2 SMP)

  2. Laki-laki (Tamat

  3. Perempuan (Kelas

  3. Perempuan (Kelas

  3. Perempuan SMP dan sudah

  5 SD)

  5 SD) (Kelas 5 SD) tidak sekolah lagi)

  4. Laki-laki (Kelas 3

  3. Perempuan SD)

  (Kelas 3 SMP)

  4. Laki-laki (Kelas

  5 SD)

Tabel 2.

  

Jadwal Pelaksanaan Wawancara

NO RESPONDEN HARI DAN WAKTU TEMPAT TANGGAL

  1 I Jum’at/27 April 2012 14.12 – 15.35 2 (Mansyur)

  Rumah Responden I Rabu/02 Mei 2012 14.10 – 15.31

  3 Kamis/ 10 Mei 2012 14.20 – 15.33

  1 II Minggu/ 29 April 2012 14.10 – 15.35

  2

  (Syahminan) Rumah Responden II

  Kamis/ 03 Mei 2012 14.15 – 15.37

  3 Sabtu/12 Mei 2012 13.30 – 15.35

  1 III Jum’at/27 April 2012 09.40 –12.20

  2

  (Salbiah) Rabu/02 Mei 2012 10.00 –11.55 Rumah Responden III

  3 Jumat/04 Mei 2012 09.45 –12.35

  1 IV Jum’at/29 Juni 2012 16.35 –17.45

  2

  (Aisyah) Minggu/01 Juli 2012 10.00 –12.35 Rumah Responden IV

  3 Rabu/04 Juli 2012 10.45 –12.35

  IV.A.1. Hasil Observasi dan Rangkuman Wawancara Responden I

  IV.A.1.i. Hasil Observasi Responden I

  Wawancara dilakukan di rumah responden, rumah responden terbuat dari tepas-tepas yang sudah banyak bolong-bolong kecil dan atap rumahnya hanya seng yang sudah banyak bolong-bolong kecilnya jadi ketika wawancara di siang hari itu sinar matahari pun masuk ke dalam rumahnya dari celah-celah seng dan tepas yang sudah bolong-bolong. Wawancara dilakukan di ruang keluarga yang berukuran sekitar 4 x 3 meter. Ruangan ini berada disebelah kiri pintu masuk.

  Suasananya berantakan, dimana-mana ada permainan anak kecil, air susu tumpah, dan banyak tumpukan pakaian. Pak M sambil mengambil tumpukan pakaian yang ada di kursi tua ruang tamunya dan menaruhnya ke tumpukan pakaian yang ada di depan TV, setelah itu beliau juga memperbaiki taplak meja yang jatuh ke lantai, taplak meja tersebut sudah usang warnanya.

  Di ujung ruangan terdapat lemari yang sudah tua yang diatasnya terdapat sebuah TV 20 inci. Di depan TV terbentang tikar daun pandan yang sudah bolong-bolong dan ada bantal tidur dengan sarung corak bunga-bunga yang bewarna pink pudar. Di sebelah kanan ruang tamu ada dua pintu kamar tidur, tidak ada pintu yang menutupi kamar tersebut hanya sehelai kain polos bewarna biru muda yang menutupi kamar tersebut. Di dinding ruang tamu yang terbuat dari tepas sebelah kanan terdapat enam bingkai foto responden, istri, anak-anak serta cucu laki-lakinya.

  Wawancara pertama dilakukan pada Jum’at siang setelah sholat Jum’at, ketika itu cuaca cerah dan sinar matahari agak terik. Pak M menyambut hangat kedatangan peneliti. Beliau tampak rapi dengan mengenakan baju koko warna hijau muda yang sudah pudar dan mengenakan sarung bewarna biru muda yang sudah pudar juga serta mengenakan peci bewarna hitam. Tubuh beliau terlihat kecil dan sedikit agak membungkuk, usia beliau 40 tahun, tinggi badan beliau sekitar 155 cm dan berat sekitar 65 kg. Pada saat peneliti datang, beliau baru saja selesai sholat jum’at dan makan siang. Sebelum wawancara berlangsung, peneliti meminta ijin untuk merekam pembicaraan, dan akhirnya disetujuin oleh responden. Peneliti meletakkan tape recorder di atas meja yaitu di antara peneliti dan pak M. Suara anak-anak tetangga yang sedang bermain, suara ombak laut yang menerjang bibir pantai, suara-suara mesin bot atau kapal kecil nelayan yang melintas berkali-kali, turut mewarnai jalannya wawancara pada siang itu. Pada wawancara pertama, Pada awal wawancara beliau sedikit malu, karena beliau sering menundukkan wajahnya. Namun hal tersebut tidak berjalan lama, saat pertengahan sesi wawancara beliau sudah tidak merasa malu dan asing dengan peneliti, karena beliau sudah tidak lagi menundukkan wajahnya, beliau sudah aktif menceritakan tentang kebiasaan masyarakat pesisir.

  Wawancara kedua dilakukan pada siang hari di rumah pak M. Pak M mempersilahkan peneliti untuk masuk ke rumahnya dan wawancara berlangsung di ruang tamu rumahnya. Kali ini keadaan ruang tamu rumahnya tidak berantakan, semua tersusun rapi namun di meja dan kursi tamu banyak debu-debu rumah yang menempel, sarang laba-laba pun masih banyak di dinding tepas rumah pak M. Pak M mengenakan pakaian kaos lengan pendek yang tipis bewarna putih, bergambar partai democrat serta mengenakan sarung bewarna hijau liris-liris putih yang sudah pudar dan sedikit kusut. Kali ini rumah pak M terlihat ramai karena anak pak M yang masih kelas 3 SD membawa teman-temannya ke rumah beliau.

  Keenam teman-temannya pun mewarnai jalannya wawancara.

  Wawancara ketiga dilakukan pada siang hari jam dua lewat dua puluh menit. Saat peneliti datang ke rumah responden, keadaan rumah responden sangat berantakan. Di depan pintu masuk ada enam pasang sandal yang berserakan dimana-mana. Saat peneliti memasuki pintu rumah responden, peneliti menemukan dimana-mana permainan anak-anak yang berserakan. Bola yang sudah kotor berada di dekat meja ruang tamu, pedang-pedangan berada diatas meja ruang tamu dan di samping pintu masuk sebelah kanan ada sepeda roda empat anaknya yang bewarna biru kusam dan sudah banyak karat dan ban sepedanya sudah kempes.

  Lantai rumahnya banyak pasir pantai yang masuk ke dalam rumah, serta banyak bekas ban sepeda yang menempel di lantai rumah responden. Saat pak M menyambut kedatangan peneliti, pak M merasa malu dengan keadaan rumahnya yang berantakan. Beliau meminta maaf atas keadaan rumahnya yang berantakan.

  Saat itu pak M memakai baju koko bewarna hijau lumut dan sarung bewarna biru kotak-kotak. Wawancara pun dilakukan di depan TV dengan tikar pandan yang sudah bolong-bolong. Pak M kembali meminta maaf dengan kondisi rumahnya.

  Sejak awal, pak M terlihat sangat antusias dan kooperatif saat wawancara berlangsung. Ia selalu memberikan jawaban disertai dengan gerakan-gerakan tangan yaitu menunjukkan kearah-arah yang bersangkutan dengan wawancara seperti warung kopi, tetangganya, mushola kecil di dekat rumahnya dan juga di dukung dengan ekspresi wajah yang berubah-ubah sesuai dengan apa yang diceritakan. Pak M sangat bersemangat menceritakan pengalamannya mengasuh anak dengan keras, pengalaman beliau saat diasuh orangtuanya secara keras juga, keadaan keluarga yang sungguh memprihatinkan seperti sering tidak makan karena beliau tidak melaut dan istrinya tidak dapat borongan kerja oleh karena itu beliau dan istrinya tidak makan, dan juga menceritakan kebiasaan masyarakat pesisir. Beliau juga selalu mengucapkan kata “hemmm” dan beliau selalu berusaha menjelaskan dengan detail apa yang terjadi dan dirasakan walaupun terkadang kesulitan menemukan kata-kata yang dianggap tepat.

  IV.A.1.ii. Rangkuman Wawancara Responden I

  IV.A.2. Latar Belakang Keluarga

  Peneliti melakukan rapport pada pak M sejak awal April 2012 sebelum proses wawancara berlangsung. Peneliti selalu datang dua kali seminggu pada hari Rabu dan Jumat ke rumah pak M untuk melihat kehidupan pak M dan keluarganya. Pak M merupakan kepala keluarga dari seorang istri dan empat orang anak-anaknya yaitu yang anak pertamanya kelas 3 SMA, anak keduanya perempuan kelas 3 SMP, anak ketiganya perempuan yang masih kelas 5 SD, dan yang terakhir laki-laki kelas 3 SD. Istri pak M tidak memiliki pekerjaan tetap, istri beliau bekerja jika ada borongan dari para tengkulak yaitu seperti mengupas udang, menjemur ikan asin. Anak laki-lakinya selalu beliau ajak melaut saat dia lagi libur sekolah. Sedangkan anak-anak perempuan pak M selalu membantu ibunya di rumah misalnya memasak, mencuci, ngambil air bersih, membersihkan rumah, menyetrika baju. Anak-anak perempuannya juga ikut mengupas udang, menjemur ikan asin jika ada borongan dari para tengkulak. Beliau mengatakan pada anak-anaknya jika anak-anaknya tidak bekerja maka tidak bisa sekolah.

  Kehidupan pak M cukup memprihatinkan, beliau mendapat upah dari hasil melaut hanya lima belas ribu per-harinya, beliau tidak memiliki perahu sendiri, perahunya disewakan oleh para tengkulak. Jadi beliau dan teman-temannya menyewa perahu tersebut, dan nanti hasilnya dibagi-bagi kepada para tengkulak dan teman-teman beliau, uang sewa perahu pun juga dibagi-bagi. Karena pendapatan beliau yang cukup minim sekali oleh karena itu beliau juga mengaku kalau beliau sering tidak makan tapi untuk anak-anak akan beliau usahakan untuk makan. Penghasilan lima belas ribu itu tidak setiap hari beliau dapatkan karena terkadang beliau melaut tapi ikannya tidak ada atau jika ombak laut besar maka beliau tidak melaut juga. Maka dari itu beliau melaut jika kondisi lautnya baik tidak berombak besar. Jika beliau tidak melaut dan istrinya juga tidak dapat borongan pekerjaan dari para tengkulak maka beliau akan menghutang pada tetangganya untuk dapat membeli makanan. Dengan keadaan yang cukup memprihatinkan, beliau berusaha untuk menyekolahkan semua anak-anaknya tapi jika anak-anaknya ada yang memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya lagi maka beliau pun membiarkan anaknya untuk tidak melanjutkan sekolahnya lagi.

  Ketika anak-anaknya tidak ingin sekolah lagi, pak M membiarkannya saja tapi lain dengan pendidikan agama seperti mengaji. Anak-anak pak M diwajibkan untuk belajar mengaji seperti membaca Al-Qur’an, tata cara sholat lima waktu. Menurut beliau pendidikan agama jauh lebih penting daripada pendidikan sekolah biasa karena pendidikan agama akan dibawa sampai akhir hayat. Beliau menyuruh anak-anaknya untuk belajar mengaji secara keras, jika anak-anaknya tidak ingin mengaji atau malas mengaji maka beliau akan memukulnya. Beliau mendidik anak-anaknya untuk dapat mengenal agama dan Tuhannya, karena beliau akan malu jika anak-anaknya tidak pandai mengaji. Hal tersebut dikarenakan suku melayu identik dengan keislamannya maka dari itu anak-anak beliau di didik secara keras untuk belajar agama islam. Latar belakang keluarga pak M banyak peneliti temukan saat melakukan pendekatan pada pak M.

IV.A.3. Analisa Data Responden I

  IV.A.3.a. Gambaran kebudayaan masyarakat pesisir

  Pak M adalah salah satu dari masyarakat pesisir setempat yang memiliki pekerjaan sebagai nelayan. Pak M yang tidak memiliki perahu pribadi di karenakan harganya yang mahal membuat beliau harus menyewa perahu pada tengkulak. Oleh karena itu pak M menyebut dirinya sebagai “buruh nelayan atau buruh tengkulak”. Tengkulak yang disebut pak M mempunyai arti orang yang memiliki banyak perahu dan disewakannya kepada para nelayan yang tidak mampu membeli perahu, ia juga menyebutnya sebagai toke ikan karena para nelayan yang menyewa perahunya akan menjualkan hasil ikan yang di dapat padanya. Sedangkan buruh nelayan menurut pak M memiliki arti yaitu orang yang menyewa perahu dari para tengkulak, mereka para nelayan termasuk pak M harus membayar lima ratus ribu perbulannya kepada para tengkulak, satu perahu biasanya disewa oleh lima orang nelayan. Lima orang nelayan ini lah yang

  nantinya akan patungan membayar uang sewa perahunya. Hasil dari melautnya akan diberikan pada tengkulak dan mereka akan membagi hasilnya secara merata.

  “...disini kebiasaannya ya nangkap ikan la... namanya juga nelayan...” (R.1/W.1/b.29-30/h.2) “...nah, kalo kami yang gak punya perahu sendiri nih, biasanya dibilang kami ni buruhnya tengkulak lah gitu nak.. buruh nelayan... hahahaha... karena gak punya perahu sendiri nak...” (R.1/W.2/b.329-336/h.14) “...iyalah nak nyewa sama tengkulaknya perbulannya bayar lima ratus ribu...” (R.1/W.2/b.305-307/h.13) “...sama kawan-kawan bapak, bapak gak punya perahu... jadi yang punya perahu tuh ya para-para tengkulak nak. Nti kalo’ dah dapat ikannya yah kami kasih ke tengkulak kan, nah upahnya ntu di bagi-bagilah nak...” (R.1/W.2/b.292-300/h.13) “...tengkulak tuh kalo masyarakat sini artinya tuh orang yang punya perahu trus disewakan sama kami, orang kaya toke ikan gituh. Jadi kami bekerja lah sama dia kalo kami-kami yang gak mampu beli perahu...” (R.1/W.2/b.341-348/h.15) Kondisi ekonomi pak M sangat memprihatinkan, beliau memiliki pendapatan perharinya berkisar sepuluh sampai lima belas ribu, beliau sangat mensyukuri pendapatan tersebut. Pendapatan yang sangat kecil itupun tidak rutin beliau dapatkan setiap harinya dikarenakan beliau juga harus melihat kondisi cuaca jika ingin pergi melaut, seperti mendung, ombak besar, atau hujan yang mengakibatkan beliau tidak pergi melaut karena beliau memikirkan nasib istri dan anak-anaknya nanti jika terjadi sesuatu dengan diri beliau.

  “...susah la hidup ni... penghasilan lima belas ribu nak itupun belum tentu dapat nak...” (R.1/W.1/b.139-141/h.6)

  “...kalo ombak, angin lagi besar gak bisa bapak melaot... ini ja bapak udah dua hari gak melaot.. kalo bapak paksakan melaot nanti terjadi apa-apa kan.. anak-anak, istri hidupnya gimana...” (R.1/W.1/b.141-146/h.6-7) Memiliki pendapatan sepuluh sampai lima belas ribu inilah yang membuat beliau dan istrinya sering tidak makan, jika persediaan makanan tidak ada maka beliau dan istrinya pun akan berpuasa, beliau beranggapan bahwa jika berpuasa maka akan dapat pahala ibadah. Maka dari itu keluarga beliau pun ikut andil dalam membantu mencari pendapatan tambahan agar mereka dapat makan, dan anak-anaknya dapat sekolah misalnya istri dan anak perempuannya bekerja borongan mengupas kulit udang dengan upah sepuluh ribu persetengah hari namun pekerjaan tersebut tidak setiap hari juga bisa di dapatkan oleh istri dan anak perempuannya, sedangkan anak laki-lakinya diajak untuk ikut melaut bersamanya.

  “...kalo bapak sama ibuk seringnya kami gak makan tapi anak-anak harus lah makan, kasian kan... kadang kami sama ibuk ni puasa la kami karena gak da yang mau dimakan... hahaha tapi gak apalah kan itung amal ibadah juga kan berpuasa...” “...istri bapak ni alhamdulillah dapat la borongan ngupas udang kan di tengkulak itu... upahnya sepuluh ribu sampe’ siang hari sebelum zuhur... yah dari situ la kami makan nak..” (R.1/W.1/b.150-154/h.7) “...kadang-kadang iya nak, kalo dia gak sekolah misalnya kan tah liburnya dia kan, nah itu bapak ajak lah dia melaot... kan lumayan tuh nak, uangnya dia tabung lah tuh kan ntuk nambah biaya sekolahnya kalo’ gak kayak gituh mana sanggup bapak nyekolahin dia...” (R.1/W.1/b.169-176/h.8) Pak M mengatakan, kebiasaan yang terjadi di lingkungannya yaitu pergi melaut jam enam pagi setelah usai sholat shubuh dan kembali sebelum sholat

  dzuhur tiba. Mereka selalu sholat berjemaah dan tepat waktu di musholla yang kecil. Karena kebiasaan yang terjadi seperti itu maka beliau pun melakukan hal yang sama seperti yang ada di lingkungannya tersebut.

  “…disini, namanya juga mayoritas islamkan jadi kami kalo sudah adzan sholat la.. masyarakatnya pada ke mushola itulah yang kecil tu...” (R.1/W.1/b.35-38/h.2) “…kalo bapak ke laot pun waktu habis sholat shubuh barulah ke laot nanti pulangnya sebelum zuhur entah jam dua belasan gitulah biar dapat sholat berjemaah…” (R.1/W.1/b.43-47/h.2) Pak M mengatakan masyarakat setempatnya memiliki kebiasaan mengajarkan kepada anak-anaknya tentang pendidikan agama, seperti mengaji, belajar sholat, berpuasa. Masyarakat setempat menyekolahkan anak-anaknya belajar mengaji pada pak S. Karena memilki kebiasaan seperti itu di lingkungan beliau maka tidak heran jika beliau melakukan hal yang sama pada anak-anaknya, pak M sendiri akan merasa berdosa, jika anak-anaknya tidak pandai mengaji, dan sholat karena menurut beliau dengan cara menyuruh anak-anaknya belajar agama, “...orang disini anak itu harus pande mengaji, dan sholat dulu sejak kecil... orang-orang sini biasanya disekolahkan ngajinya di tempat pak S...” (R.1/W.1/b.55-59/h.3) “...saya merasa berdosa kalo anak-anak saya tidak pande ngaji dan sholat karena itu amalan dia untuk akhirat...” (R.1/W.1/b.81-84/h.3) Jika anak-anak pak M malas mengaji karena asyik bermain dengan teman- temannya, maka beliau akan menyuruh secara baik-baik namun jika anak-anaknya masih nakal juga maka beliau akan “keras” dalam menghadapi anak-anaknya yang tidak mau mengaji.

  “...kalo’ dia gak mau ngaji ya saya suruh dengan baek-baek la dulu kan tapi kalo dia masih maen juga terkadang sapu lidi tu saya ambil satu saya pukulkan ke dia...” (R.1/W.1/b.94-98/h.5) “...kalo masih maen juganya dia, pukulkan lagi.. dibilang baek-baek gak bisa kan yawdah dipukul lah...” (R.1/W.1/b.103-106/h.5) Menurut pak M pola pikir masyarakat pesisir setempat yaitu memandang betapa pentingnya pendidikan agama yaitu pelajaran mengenai sholat lima waktu, bagaimana cara membaca Al-Qur’an, berpuasa. Pentingnya pendidikan agama bagi mereka namun pendidikan sekolah formal tidak begitu penting dan tidak harus dicapai setinggi-tingginya. Ketika tidak sanggup untuk menyekolahkan anak-anak lagi maka tidak masalah bagi mereka, lain hal dengan sekolah agama yang harus mereka perjuangkan. Seperti pak M yang terus berjuang untuk menyekolahkan agama anak-anaknya walaupun beliau sering tidak makan tapi beliau tetap harus berjuang demi pendidikan agama anak-anaknya. Namun lain hal dengan pendidikan formal anaknya, jika beliau tidak sanggup untuk hanya pasrah serta tidak menjadi masalah bagi beliau.

  “...disini masih ada kebiasaan masyarakat disini berpikir ngapain disekolahin tinggi-tinggi anak-anak nanti jatuh-jatuhnya jadi nelayan juga nya...” (R.1/W.1/b.59-63/h.3) “...kalo mampu orangtuanya ya disekolahkan la dia sampe’ aliyah tapi kalo gak sanggupnya orangtuanya paling juga diajak anaknya untuk ke laot cari uang kan.. orang disini anak itu harus pande mengaji, dan sholat dulu sejak kecil...” (R.1/W.1/b.51-57/h.3) “...anak saya ni, saya ngajikan dia... saya merasa kalo’ nanti misalnya saya gak sanggupnya menyekolahkannya yawdah mau di bilang apa lagi kan,

  tapi diusahakan lah supaya dia sekolah tapi kalo ngaji dia mau gimanapun haruslah dia pande ngaji dan sholat...” (R.1/W.1/b.72-79/h.4) Hal-hal tersebut diatas yang merupakan gambaran singkat tentang bagaimana kebudayaan serta kebiasaan masyarakat pesisir menurut pak M.

  IV.A.3.b. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pola Asuh Orangtua

  IV. A.3.b.1. Pendidikan

  Pak M merupakan orangtua yang tidak memiliki pendidikan , beliau tidak pernah sekolah. Hal ini mengakibatkan beliau tidak pernah menanyakan bagaimana pelajaran anak-anaknya disekolah, ranking atau juara si anak dikarenakan faktor tidak pernah sekolah tersebut.

  “...kalo soal pelajarannya, rangkingnya atau juara gitu bapak gak tau menau nak.. bapak ja gak pernah makan bangku sekolahan, ibuk jugak gituh jadi kami gak tau menau lah nak...” (R.1/W.1/b.249-253/h.11) “...kalo soal rangking atau pelajarannya gitu gak pernah dia cerita, kami pun tak pernah nanyak ke dia nak.. hahaha namanya juga bapak tak tau (R.1/W.1/b.256-260/h.11) Pendidikan orangtua dalam merawat anak akan mempengaruhi persiapan orangtua dalam menjalankan pengasuhan. Seperti yang terjadi pada pak M, beliau tidak siap dalam hal pendidikan anak-anaknya dikarenakan beliau yang tidak memiliki pengalaman tentang dunia sekolah.

  IV. A.3.b.2. Lingkungan

  Pak M mengatakan bahwa di lingkungannya, anak-anak pesisir harus bisa membaca Al-Qur’an jika anak-anak mereka tidak bisa membaca Al-Qur’an, maka orangtuanya akan merasa malu dan jika anak-anak mereka yang umurnya rata-rata dengan anak SMP belum bisa membaca Al-Quran, maka masyarakat disekitar akan menggosipin anak yang belum bisa membaca Al-Qur’an tersebut. Oleh karena itu untuk menghindari hal tersebut masyarakat mengajarin anak-anaknya secara lebih dini membaca Al-Qur’an dengan pak S “...ya, di ajarin dia mengaji nak, kayak gitulah cara mengasuh anaknya... karena disini kan islam semua jadi masyarakat disini bisa malu kalo anaknya gak pande baca kur’an dan sholat nak...” (R.1/W.2/b.552-559/h.22) “...hmmm iyalah nak, masak orang Islam gak pande membaca kur’an dan sholat. Nanti kalo misalnya anaknya sudah es m pe belum pande baca kur’an ntu nanti jadi bahan pembicaraan orang-orang kampung nak. Yah jadi gosip-gosip gituh lah.. hahahaha...” (R.1/W.2/b.573-583/h.22) “...orang disini anak itu harus pande mengaji, dan sholat dulu sejak kecil... orang-orang sini biasanya disekolahkan ngajinya di tempat pak S...” Di lingkungan pak M sangat menjunjung tinggi nilai agama maka dari itu cara pengasuhan terhadap anak pun harus ada unsur agamanya. Seperti pak M yang melakukan hal yang sama di lingkungannya terhadap anak-anaknya yang ditanamkan nilai agama sejak usia dini. Namun tidak hanya nilai agama saja yang mempengaruhi gaya pengasuhan pak M, cara pandang beliau tentang pernikahan pun akan mempengaruhi gaya pengasuhannya. Menurut pak M pernikahan anak adalah salah satu cara untuk mengurangi beban tanggung jawab sebagai orangtua. Oleh karena itu, beliau akan senang jika anak-anaknya cepat menikah.

  “...iya nak, bapak juga berpandangan seperti itu. Jika anak menikah cepat maka akan mengurangi beban orangtua lah nak.. apalagi kalo anak kita perempuan kan berarti bukan tanggungan kita lagi kan, dah tanggungan sama suaminya lah kan...” (R.1/W.2/b.629-638/h.24-25) Orangtua seperti halnya pak M akan menyiapin anak-anaknya untuk cepat menikah dini dengan cara mengajak anaknya ke laut khususnya anak laki-laki.

  Karena menurut beliau, jika anak-anaknya sudah pandai mencari uang maka anak siap untuk dinikahkan. Seperti pak M yang mengatakan jika anak pertamanya sudah selesai sekolahnya dan ia juga sudah pandai melaut ia akan siap dinikahkan oleh pak M

  “...anak bapak yang pertama ni kalo dah siap dia sekolah dan sudah pande dia kan melaut yang selama ni bapak ajak dia yaudah mau nikah dia silahkan. Anak bapak yang perempuan ni, kalo gak mau ngelanjutin sekolah dia, dianya mau menikah yaudah bapak nikahkan. Daripada dia berbuat yang enggak-enggak diluar sana bagus bapak nikahkan ja kan. Bapak gak pusing mikirin dia lagi.. hahahaha... gitulah nak kehidupan orang susah...” (R.1/W.2/b.638-655/h.25) Seperti itulah yang terjadi di masyarakat pesisir setempat, lingkungan menikah di usia dini.

  IV. A.3.b.3. Budaya

  Pak M mengikuti cara-cara kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar dalam mengasuh anak, seperti budaya masyarakat pesisir sangat menjunjung tinggi pendidikan agama buat anak-anak mereka. Pendidikan agama anak-anak sangat penting bagi mereka. Begitu juga dengan pak M yang mengajarkan anak-anaknya untuk bisa sholat serta membaca Al-Qur’an. Beliau

  serta masyarakat setempat mempercayai anak-anak mereka pada pak S untuk diajarkan agama. Pak M akan merasa berdosa jika anak-anaknya tidak pandai membaca Al-Qur’an, hal ini dikarenakan budaya yang melekat di lingkungan pesisir yaitu budaya yang memegang nilai-nilai keislaman.

  “...orang disini anak itu harus pande mengaji, dan sholat dulu sejak kecil...” (R.1/W.1/b.55-57/h.3) “...kalo disekolahin biasa ntu kan gak dapatnya pelajaran agama ntu kayak baca kur’an dan cara sholat, nah kalo disini anak-anak itu harus diajarin dari kecil nak.. yah kayak bapak bilang itu, biasanya orang sini anak- anaknya sama pak S belajarnya...” (R.1/W.2/b.559-568/h.22) “...saya merasa berdosa kalo anak-anak saya tidak pande ngaji dan sholat karena itu amalan dia untuk akhirat...” (R.1/W.1/b.81-84/h.3) “...anak saya ni, saya ngajikan dia... saya merasa kalo’ nanti misalnya saya gak sanggupnya menyekolahkannya yawdah mau di bilang apa lagi kan, tapi diusahakan lah supaya dia sekolah tapi kalo ngaji dia mau gimanapun haruslah dia pande ngaji dan sholat... kalo’ pun dia gak tamat sekolah setidaknya dia mengenal Tuhannya.. saya merasa berdosa kalo anak-anak saya tidak pande ngaji dan sholat..” (R.1/W.1/b.72-83/h.4) Pak M pun berjuang untuk membuat anaknya pintar dalam hal membaca

  Qur’an dan sholat, lain hal dengan pendidikan umum anak-anaknya ketika beliau tidak sanggup untuk menyekolahkannya maka beliau pun putus asa tidak mau memperjuangkan nasib anaknya.

  Selain memiliki kebiasaan yang melekat dengan nilai-nilai keislamannya, ada budaya yang juga turun temurun dari keluarga pak M yaitu pengasuhan secara “keras”. Menurut beliau pengasuhan secara “keras” adalah benar yaitu membuat anak supaya takut dan hormat padanya. Beliau mengaku bahwa pengasuhan

  secara “keras” tersebut ia dapatkan dari orangtuanya terdahulu yang juga secara “keras” mengasuh beliau, oleh karena itu beliau turunkan pada anaknya pengasuhan tersebut. Beliau juga berharap agar nantinya ketika anak-anaknya berumah tangga dan mempunyai anak maka anaknya juga mendidik anak-anaknya secara “keras” juga.

  “...bapak sih keras mengasuh anak nak, bapak tuh mendidik anak secara keras supaya anak-anak bapak tuh gak da yang melawan sama orangtua..” (R.1/W.2/b.406-411/h.17) “...ya nak, dulu orangtua bapak keras kali ngedidik bapak. Bapak dulu kalo nakal-nakal ngelawan orangtua di cambuk bapak pake tali pinggang orangtua bapak. Makanya bapak diajarin sama orangtua bapak supaya jangan lah melawan sama orangtua. Dulu bapak di didik keras kayak gitu kan supaya tau pentingnya orangtua. Yah kayak gitulah cara dia menunjukkan kasih sayangnya sama bapak dulu.. hahahaha makanya bapak turunkan ke anak-anak bapak...” (R.1/W.2/b.507-525/h.20-21) “...makanya bapak turunkan ke anak-anak bapak, anak-anak bapak ni juga bapak kerasin supaya gak melawan...” (R.1/W.2/b.523-527/h.21) “...iya nak, menurut bapak benar kali pun. Karena bapak ngerasa anak- anak tuh kalo dikerasin dia, dia hormat sama orangtuanya tapi kalo tingkahnya, kayak raja lah tuh tingkahnya.. makanya anak-anak tuh di didik secara keras...” (R.1/W.2/b.535-546/h.21-22) “...bapak berharap Nanti dia juga buat sama anak-anaknya seperti itu, kalo memang gak baik melawan-lawan sama orangtua. Bapak dulu di didik kayak gituh, keras nak. Makanya bapak buat ke anak-anak bapak. Karena dulu bapak memang gak da melawan-lawan sama orangtua bapak kalo bapak dikerasin sama orangtua bapak...” (R.1/W.3/b.846-859/h.32-33) Faktor budaya mewarnai gaya pengasuhan pak M terhadap anak-anaknya.

  Mulai dari budaya yang identik dengan Islam sampai budaya yang turun temurun

  mendidik anak secara “keras”. Hal tersebut beliau berikan pada anak-anaknya dengan harapan anak-anaknya menjadi orang yang baik.

  IV.A.3.c. Gambaran pola asuh orangtua pada masyarakat pesisir pantai

  Pak M menunjukkan rasa kasih sayang terhadap anak-anaknya dengan cara menyekolahkan anak-anaknya baik secara umum maupun sekolah agamanya seperti mengaji, memukul atau menampar anak-anak jika berbuat salah misalnya melawan orangtua.

  “...ya kalo menunjukkan rasa kasih sayangnya, disekolahkan la dia... kalo gak sayangnya ya saya biarkan saja dia mau jadi apa, gak sekolah yaudah gak ngaji pun terserah dia... ini kan saya suruh dia sekolah, ngaji kalo nakal nya dia saya pukulkan tapi itu kan semuanya saya lakukan karena saya sayang sama dia.. biarlah saya didik dengan keras saya berharap kalo bisa dia jadi orang la, gak kayak saya nelayan hidupnya susah.. tapi kalo’ nantinya juga ke laot nya dia mau diapain lagi yah gitulah jalan hidupnya.. (R.1/W.1/b.120-134/h.6) “...kalo bapak nunjukkan rasa kasih sayang bapak ke anak-anak ya dengan cara ngajarin dia yang bener gak boleh ngelawan sama orangtua. Itu bapak pukul dia, bapak tampar dia karna bapak sayang nya sama dia. Terus bapak sekolahin dia ngaji, belajar ngaji supaya dia kenal sama agamanya, nunjukkan kasih sayang nak.. kalo dengan cara belikan apa yang dia mau, bapak gak punya duitkan hahahaha..” (R.1/W.2/b.472-491/h.20) Pak M mengasuh anak-anaknya secara keras, beliau beranggapan bahwa mengasuh anak secara “keras” akan membuat anak-anak patuh terhadapnya, tidak melawan pada beliau. Beliau mengaku bahwa anak-anaknya takut padanya dan beliau pun menyenangi perasaan takut anak-anaknya karena menurut beliau perasaan takut tersebut membuat anak-anaknya hormat padanya.

  “...bapak sih keras mengasuh anak nak, bapak tuh mendidik anak secara keras supaya anak-anak bapak tuh gak da yang melawan sama orangtua..” (R.1/W.2/b.406-411/h.17) “...iya nak, mereka takut sama saya, saya senang ditakutin sama mereka. berarti saya dihormati sama mereka...” (R.1/W.2/b.463-467/h.19) Anak-anak pak M tidak ada yang berani melawan pak M dikarenakan beliau yang sifatnya keras dengan anak-anak. Beliau mengatakan bahwa anak- anak sering tidak menuruti apa yang dikatakan istrinya seperti yang sering dilakukan oleh anaknya yang paling kecil, jika beliau mengetahui anak-anaknya melawan atau tidak menuruti apa yang diinginkan oleh istrinya maka pak M pun langsung menamparkan anaknya.

  “...anak-anak bapak ni kan takut sama bapak.. gak da mereka yang berani melawan, tapi kalo sama mamaknya berani mereka melawan misalnya disuruh beli cabe lah dia, tapi dianya malah lari tah maen kemana. Kayak anak bapak yang es de ntu, ihhh susah kali disuruh, omaknya kadang naek darah kalo dah nyuruh dia.. tapi kalo nampak bapak kayak gitu, melawan- melawan sama omaknya bapak tamparkan dia nak...” (R.1/W.2/b.412-428/h.17) Pak M memberi hukuman pada anak-anaknya dengan cara menampar dan memukul anak-anaknya. Jika anak-anak tidak mau mendengar apa kata pak M maka beliau pun langsung memukul atau menampar anaknya. Hal ini dilakukan dengan harapan agar si anak tidak melawan pada orangtua.

  “...kalo’ dia gak mau ngaji ya saya suruh dengan baek-baek la dulu kan tapi kalo dia masih maen juga terkadang sapu lidi tu saya ambil satu saya pukulkan ke dia...” (R.1/W.1/b.94-98/h.5) “iya, langsung la dia mandi tu bersiap-siap untuk pergi ngaji kalo masih maen juganya dia, pukulkan lagi.. dibilang baek-baek gak bisa kan yawdah dipukul lah...” (R.1/W.1/b.102-106/h.5)

  “...anak saya gak ada yang berani melawan bapak nak, pada takut. Karena bapak kan kalo anak-anak melawan bapak pukul atau tampar nak, gak suka bapak ngeliatnya. Macem dah hebat kali dia melawan-melawan sama orangtua...” (R.1/W.2/b.435-443/h.18) Pak M bersikap “keras” pada anak-anaknya yang tidak mau mengaji, namun lain hal dengan sekolah umum anak-anaknya. Beliau tidak mempermasalahkan jika anaknya sudah tidak mau melanjutkan sekolahnya lagi dan memilih mencari pekerjaan yang terpenting bagi beliau anak-anaknya harus sudah bisa membaca Al-Qur’an dan tahu akan ajaran agama. Karena menurut beliau jika nanti anaknya sudah putus sekolah maka anaknya sudah dapat mengenal siapa Tuhannya. Maka dari itu bagi beliau tidak ada masalah jika anaknya sudah tidak mau sekolah lagi.

  “...kalo dia mau gak sekolah laginya dia yaudah mau dibilang apa kan... hahahaha...” (R.1/W.1/b.190-192/h.9) “...kalo kalian gak mau sekolah yaudah mau diapain lagi carilah kerja...” (R.1/W.1/b.220-222/h.10) menau nak.. bapak ja gak pernah makan bangku sekolahan, ibuk jugak gituh jadi kami gak tau menau lah nak...” (R.1/W.1/b.249-253/h.11) “...kalo soal rangking atau pelajarannya gitu gak pernah dia cerita, kami pun tak pernah nanyak ke dia nak.. hahaha namanya juga bapak tak tau apa-apa nak...” (R.1/W.1/b.256-260/h.11) “...kalo’ pun dia gak tamat sekolah setidaknya dia mengenal Tuhannya.. saya merasa berdosa kalo anak-anak saya tidak pande ngaji dan sholat karna itu amalan dia untuk akhirat kalo’ sekolah kan cuman untuk di dunia saja makanya saya mengutamakan belajar ngajinya...” (R.1/W.1/b.79-87/h.4)

  Pak M memiliki cara mendidik anak dengan “keras” misalnya jika anak tidak mau mengaji dan anak-anak mendapatkan hukuman dari beliau seperti pukulan atau tamparan, anak-anak tidak diberikan kesempatan untuk berbicara kenapa dia melakukan kesalahan dan pak M pun tidak menjelaskan mengapa anak-anak diperlakukan seperti itu. Menurut pak M, anak-anak sudah mengetahui mengapa ia dihukum, karena jika anak-anaknya melakukan hal yang baik maka dia tidak mendapatkan pukulan atau tamparan.

  “...taunya dia tu, gak usah dibilang kenapa dia kenak pukul... saya memukul kan dia karna dia nya yang gak mau dengar, gak baik kelakuannya kalo baeknya dia enggaklah saya pukul dianya.. anak-anak kalo gak keras kita ngerawatnya, nanti durhaka dianya...” (R.1/W.1/b.110-117/h.5-6) Sosok pak M yang begitu keras terhadap anak-anaknya tidak ada masalah bagi sang istri. Istri beliau hanya diam jika melihat anak-anaknya dipukul atau di tampar oleh beliau. Beliau berkata sang istri mengikuti caranya dalam mendidik anak-anak. Cara beliau mendidik anak dengan keras anak-anak pun menjadi tidak dekat dengan beliau. Anak-anaknya dekat dengan figur sang ibu. Jika anak-anak mengalami masalah atau ada hal yang ingin diceritakan maka mereka pasti bercerita dengan ibunya. Lain hal dengan pak M, beliau mengaku bahwa komunikasi antara beliau dengan anak-anak hanya sebatas jika ada perlunya saja.

  “...ibuk ngikut-ngikut ja apa kata bapak. Kalo bapak tampar anak-anak yaudah ibuk diam ja gak da ngomong apa-apa. Nti anak-anak kalo dah bapak gituin pada lari la ke kamarnya.. gitu nak...” (R.1/W.3/b.866-873/h.33) “...yah ngomong seperlunya ja nak, anak-anak tuh dekatnya sama omaknya.. kalo ada apa-apa gitu pasti ngomong sama omaknya dulu nti omaknya lah yang cerita sama bapak.. gituh...” (R.1/W.2/b.450-456/h.18)

  Sikap pak M yang keras dalam mendidik anak-anaknya dikarenakan dahulu beliau diasuh oleh orangtuanya juga secara keras. Beliau di didik agar tidak melawan sama orangtua jika beliau melakukan hal tersebut maka orangtua beliau akan menghukum beliau dengan cambukan tali pinggang orangtua beliau.

  Dengan cara mendidik keras tersebut, menurut beliau orangtuanya dahulu berhasil dalam membentuk anak-anak yang tidak melawan orangtua seperti beliau. Oleh karena itulah, beliau membuat hal yang sama dengan anak-anaknya dan berharap agar nantinya anak-anak beliau membuat didikan yang keras juga terhadap cucunya nanti.

  “...ya nak, dulu orangtua bapak keras kali ngedidik bapak. Bapak dulu kalo nakal-nakal ngelawan orangtua di cambuk bapak pake tali pinggang orangtua bapak. Makanya bapak diajarin sama orangtua bapak supaya jangan lah melawan sama orangtua. Dulu bapak di didik keras kayak gitu kan supaya tau pentingnya orangtua. Yah kayak gitulah cara dia menunjukkan kasih sayangnya sama bapak dulu.. hahahaha makanya bapak turunkan ke anak-anak bapak...” (R.1/W.2/b.507-525/h.20-21) “...makanya bapak turunkan ke anak-anak bapak, anak-anak bapak ni juga bapak kerasin supaya gak melawan...” “...bapak berharap Nanti dia juga buat sama anak-anaknya seperti itu, kalo memang gak baik melawan-lawan sama orangtua. Bapak dulu di didik kayak gituh, keras nak. Makanya bapak buat ke anak-anak bapak. Karna dulu bapak memang gak da melawan-lawan sama orangtua bapak kalo bapak dikerasin sama orangtua bapak...” (R.1/W.3/b.846-859/h.32-33) Mendidik secara keras terhadap anak-anak adalah warisan dari orangtua pak M sebelumnya yang sekarang beliau tiru dan terapkan pada anak-anak karena menurut beliau mendidik dengan cara pengasuhan yang keras itu adalah benar membuat anak-anak menjadi tidak melawan pada orangtua.

  IV.B.1. Hasil Observasi dan Rangkuman Wawancara Responden II

  IV.B.1.i. Hasil Observasi Responden II

  Selama sesi wawancara berlangsung tiga kali dilakukan di rumah responden. Keadaan rumah responden sungguh miris, beliau tinggal di gubuk kecilnya yang terbuat dari tepas-tepas yang sudah miring. Rumah beliau agak miring ke kanan, keadaan ini dikarenakan angin laut yang kencang menerpa rumah beliau sehingga rumah beliau miring ke kanan. Rumah yang beratapkan seng yang sudah banyak bolong-bolongnya. Ketika siang hari saat wawancara berlangsung maka cahaya matahari pun masuk dari bolong-bolong seng rumahnya. Dinding-dinding rumah beliau yang terbuat dari tepas pun sudah banyak bolong-bolongnya, sehingga jika orang lain dari luar mengintip pun akan keliahatan keadaan rumahnya.

  Wawancara dilakukan di ruang tamu yang berukuran sekitar 3 x 3 meter. Ruangan kecil ini tidak banyak dipenuhi oleh perabotan rumah tangga. Yang kelihatan hanya bingkai-bingkai foto yang sudah lama dan berdebu di dinding ruangan, dan ada meja kecil bulat yang diatasnya terdapat banyak tumpukan Al- Qur’an yang sudah tidak ada sampulnya. Meja dan kursi tamu pun tidak ada, jadi ketika ada tamu datang ke rumah maka pak S pun membentang tikar daun pandannya yang bewarna krem susu. Ketika beliau mengajari anak-anak mengaji pun, beliau membentang tikar pandan tersebut.

  Wawancara pertama dilakukan pada hari minggu jam setengah tiga. Ketika itu pak S baru siap membetulkan jaring ikannya. Pak S menyambut kedatangan peneliti dengan hangat. Beliau tampak letih, wajah beliau kelihatan lemas, dan berkeringat baju putih lusuh tangan pendek pun penuh dengan keringat dan kotor. Saat peneliti datang, beliau pun mempersilahkan masuk ke rumah kecilnya, beliau pun sibuk membentang tikar pandannya dan mempersilahkan peneliti untuk duduk terlebih dahulu sedangkan beliau ke kamar mandi untuk membersihkan diri dahulu. Setelah beliau siap membersihkan dirinya, beliau tampak lebih segar yang di padu dengan baju koko tangan panjang bewarna putih bersih dan memakai sarung bewarna biru muda garis-garis serta beliau juga memakai peci warna hitam. Beliau memiliki tinggi badan sekitar 160 cm dan berat badan sekitar 65 kg. Tubuh beliau tinggi, tegap dan tidak membungkuk.

  Setelah beliau siap membenahkan dirinya, beliau pun menyapa peneliti dengan hangat dan beliau juga sudah tahu maksud akan kedatangan peneliti, namun peneliti juga meminta kembali izin serta kesediaan beliau dalam berperan menjadi responden, serta juga izin untuk merekam selama sesi wawancara berlangsung. Beliau pun menyetujuinya dan mempersilahkan peneliti untuk bertanya-tanya pada beliau. Saat wawancara pertama berlangsung, beliau tidak kelihatan canggung atau malu untuk menceritakan budaya serta kehidupan yang terjadi di masyarakat pesisir. Beliau menceritakannya dengan semangat dan kooperatif dan wawancara pun berlangsung dengan lancar.

  Hari kamis pukul dua lewat lima belas menit, wawancara kedua pun berlangsung di rumah responden. Seperti biasanya pak S mempersilahkan masuk peneliti dan tak lama kemudian istri beliau pun menyuguhkan teh manis pada peneliti. Keadaan rumah beliau saat itu cukup berantakan dikarenakan anak kedua beliau yang laki-laki mengajak teman-temannya berkunjung ke rumah. Jadi pada saat itu ruang tamu beliau, banyak sekali gelas-gelas dan piring bekas teman- teman anak beliau yang nomor dua. Saat peneliti telah duduk di tikar pandan beliau, istri beliau pun sibuk membersihkan gelas-gelas dan piring kotornya untuk dibawa kebelakang, istri beliau pun meminta maaf karena keadaan rumahnya yang masih berantakan. Setelah selesai dibersihkan, wawancara pun berlangsung. Saat itu pak S memakai baju koko tangan panjang bewarna coklat tua yang sudah pudar dan memakai sarung bewarna hitam garis-garis halus yang juga sudah pudar warnanya. Pada wawancara kedua, peneliti meminta pak S menceritakan tentang gaya pengasuhannya terhadap anak-anaknya. Beliau menjawab dengan santai bahwa gaya pengasuhan yang beliau berikan adalah pengasuhan yang “keras”, beliau menceritakannya dengan santai tanpa ada perasaan malu-malu. Beliau juga menceritakannya penuh ekspresi, terkadang ada ekpresi kesal karena lingkungan rumah beliau yang banyak berjudi, terkadang tertawa karena kehidupan beliau sebagai nelayan. Dan beliau juga sering menggerak-gerakkan tangan ketika bercerita, beliau kelihatan santai dalam menceritakan hal-hal yang diminta oleh peneliti.

  Wawancara ketiga dilakukan pun di rumah responden, pada wawancara ketiga bertepatan pada hari sabtu pukul dua lewat sepuluh. Saat peneliti datang, terlihat pak S lagi menyapu halaman depan rumahnya menggunakan sapu lidi. Peneliti pun meminta maaf atas kedatangannya telah mengganggu aktivitas pak S. Namun pak S tidak merasa di ganggu karena beliau mengatakan sudah janjian dari awal bakal ke rumah maka dari itu untuk kali ini beliau ingin rumahnya kelihatan rapi ketika peneliti datang berkunjung ke rumahnya. Saat beliau menyapu halaman rumahnya, beliau menggunakan sarung warna biru tua yang sudah pudar yang digulung sampai panjang sarung tersebut selutut beliau, dan beliau tidak memakai baju. Setelah peneliti disuruh masuk ke dalam rumahnya dan dipersilahkan duduk diatas tikar pandannya, beliau pun kebelakang untuk membenahi dirinya. Dan tak lama kemudian pun peneliti kembali disuguhi teh manis oleh istrinya. Keadaan rumah beliau pada saat itu, terlihat rapi tidak ada yang berantakan, lantai rumahnya pun bersih tidak ada pasir-pasir pantai yang masuk ke dalam rumahnya. Sandal-sandal yang berada di depan rumahnya tersusun rapi tidak berserakan.

  Setelah beliau siap membenahi dirinya selama lebih kurang lima belas menit, beliau datang menghampiri peneliti dan meminta maaf karena lama menunggu. Beliau menggunakan baju koko tangan panjang bewarna hijau tua dan memakai sarung bewarna hijau tua dengan motif kotak-kotak putih. Beliau pun mempersilahkan peneliti untuk bertanya kepadanya, dan peneliti pun kembali bertanya tentang pengasuhan serta kebiasaan di lingkungan pesisir dan juga pengasuhan yang diberikan oleh orangtua pak S terhadap beliau. Pak S menceritakannya dengan aktif dan dengan wajah yang serius beliau juga sambil menggerak-gerakkan tangannya untuk menjelaskan pernyataan.

  Selama tiga sesi wawancara berlangsung pak S secara aktif menjelaskan kehidupan yang terjadi di lingkungan pesisir seperti kebiasaan masyarakatnya, mata pencahariannya, serta pola asuh pak S terhadap anak-anaknya. Dari awal pertemuan pak S tidak terlihat kesulitan dalam menjelaskan dan tidak terlihat kesulitan juga dalam mencari kata-kata yang tepat.

  IV.B.1.ii. Rangkuman Wawancara Responden II

  IV.B.2. Latar Belakang Keluarga Peneliti melakukan pendekatan pada pak S sejak awal bulan April 2012.

  Peneliti berkunjung ke rumah pak S sebanyak dua kali seminggu yaitu pada hari Rabu dan Jumat sama seperti pak M. Setelah berkunjung dari rumah pak M, peneliti pun langsung berkunjung ke rumah pak S untuk mendapatkan pendekatan.

  Pak S memiliki seorang istri dan sudah memiliki tiga orang anak. Anak pertama beliau yaitu laki-laki sudah kelas tiga SMA, yang kedua juga laki-laki sudah duduk di kelas tiga SMP, dan yang paling kecil yaitu perempuan yang masih duduk di bangku SD kelas lima. Beliau dan keluarganya hidup di rumah yang sangat kecil dan dengan keadaan yang sangat memprihatinkan yaitu rumah yang terbuat dari dinding-dinding pelepah atau sering disebut tepas yang sudah tidak layak lagi dan keadaan rumah beliau pun sedikit miring ke kanan. Namun beliau tetap menerima dengan ikhlas keadaan hidup yang beliau jalani selama ini.

  Pak S menghidupi keluarganya dengan menjadi buruh nelayan. Beliau bekerja sebagai buruh nelayan yang menyewa perahu para tengkulak. Beliau dan teman-temannya berpatungan untuk menyewa perahu tengkulak, biasanya satu perahu disewa oleh empat sampai lima orang. Beliau, anak, serta teman-temannya membawa perahu sewaan tersebut untuk mencari ikan dan hasil perharinya antara sepuluh ribu sampai lima belas ribu, itupun tidak setiap harinya mereka dapatkan dikarenakan mereka harus melihat cuaca yang baik untuk melaut dan mereka juga harus memperbaiki jaring ikan yang kemungkinan sudah rusak.

  Pendapatan yang perharinya sepuluh sampai lima belas ribu inilah yang membuat pak S menyuruh anak lelakinya untuk ikut melaut bersamanya. Hal tersebut untuk menunjang perekonomian keluarga, meskipun tidak banyak berpengaruh namun setidaknya membantu sedikit perekonomian keluarga misalnya biaya uang sekolah anak-anak. Alasan pak S menyuruh anak lelakinya melaut yaitu dikarenakan perekonomian keluarga dan dikarenakan lingkungan rumah pak S yang tidak baik yaitu remaja anak laki-laki dan orang dewasa banyak yang berjudi. Oleh karena itu ketika anak lelaki pak S libur sekolah, maka pak S pun membawa anak lelakinya melaut, beliau takut anak beliau ikut-ikutan dalam pergaulan yang tidak baik tersebut.

  Anak lelaki pertamanya selalu diajak pak S melaut jika anaknya libur sekolah, sedangkan anak perempuannya ketika libur sekolah membantu ibunya mengerjakan pekerjaan rumah tangga misalnya membersihkan rumah, mencuci piring, mencuci baju, dan lain-lain. Namun ketika ada borongan dari para tengkulak misalnya borongan mengupas kulit udang maka istri dan anak perempuan beliau akan turut serta dalam borongan tersebut. Biasanya upah dari mengupas kulit udang sekitar sepuluh ribu per setengah harinya yaitu bekerja dari jam sembilan sampai jam dua belas, borongan mengupas udang tersebut tidak ada setiap harinya. Setidaknya dapat membantu perekonomian keluarga pak S.

  Pak S juga merupakan guru mengaji anak-anak di lingkungannya. Anak- anak yang diharuskan oleh para orangtuanya untuk bisa membaca Al-Qur’an dan sholat lima waktu belajar pada pak S. Pak S mengajarkan anak-anak mengaji setelah sholat ashar. Beliau dibayar sangat kecil yaitu seribu lima ratus sampai dua ribu rupiah per bulannya. Sungguh sangat kecil yang di dapatkan oleh beliau dari mengajarkan anak-anak mengaji. Namun, beliau tetap bersyukur apa yang telah ia dapatkan, dan beliau juga senang karena beliau bisa mengajarkan anak- anaknya serta anak-anak yang ada di lingkungannya untuk belajar mengaji membaca Al-Qur’an serta sholat lima waktu. Beliau mendidik anak-anak yang belajar mengaji padanya dengan sabar, anak-anak yang tidak belum mengerti apa yang diajarkan beliau, akan diajarkan beliau kembali secara sabar. Saat mengajari anak-anak mengaji, beliau suka membawa ranting pohon yang sudah dibersihkan dari duri. Beliau membawa ranting tersebut untuk menakutkan anak-anak agar mereka tidak nakal saat belajar mengaji. Beliau mendidik anak-anak yang belajar mengaji tidak secara keras karena menurut beliau anak-anak yang sudah di titipkan orangtua padanya adalah untuk diajarkan mengaji jika nanti dia memukul anak-anak yang belajar mengaji maka orangtua dari anak-anak tersebut akan marah padanya dan tidak mau lagi menitipkan anaknya untuk diajarkan mengaji.

  Pak S mengajari anak-anak ngajinya dengan cara yang sabar, ketika anak- anak ngajinya nakal maka beliau akan memberi tahu secara baik-baik, namun lain hal dengan anak-anak kandungnya. Beliau mendidik anak-anak beliau secara keras. Jika anak-anak beliau melawan pada orangtua maka beliau akan menghukum anak-anaknya dengan cara “menghantamnya”. Hukuman yang diberika beliau secara fisik yaitu menampar atau menendang. Beliau tidak suka melihat anak-anaknya melawan orangtua. Beliau sudah pernah mengatakan pada anak-anaknya jangan pernah melawan sama orangtua dan harus mendengarkan apa yang dikatakan oleh orangtua jika mereka masih tetap melanggarnya maka

  akan dihukum beliau dengan cara menampar atau menendang anaknya. Beliau berharap dengan didikan yang keras tersebut akan membuat anak-anaknya patuh terhadap beliau dan tidak pernah melawan pada orangtua.

  IV.B.3. Analisa Data Responden II

  IV.B.3.a. Gambaran kebudayaan masyarakat pesisir

  Pak S menghidupi keluarganya dengan hasil laut, beliau biasanya pergi melaut di pagi hari setelah sholat shubuh dan kembali sebelum adzan dzuhur tiba.

  “...kalo orang sini kebiasaan melaotnya ntu pergi dari sesudah subuh, subuh ntu sholat dulu kan bejemaah di musola yang itu terus nti sebelum zuhur pulang la..” (R.2/W.1/b.39-45/h.2) Beliau melaut dengan menyewa perahu tengkulak dikarenakan harga perahu yang mahal maka dari itu beliau menjadi buruh para tengkulak. Uang sewa perahu yang harus dibayar oleh beliau beserta teman-temannya adalah lima ratus ribu perbulannya, uang sewa tersebut dibayar secara berpatungan. Biasanya akan berpatungan membayar uang sewanya.

  “...iya nak, bapak jadi buruhnya tengkulak... mana da duit bapak ntuk beli perahu tangkap ikan... disininya masyarakatnya rata-rata jadi buruhnya tengkulak..”. (R.2/W.3/b.834-839/h.34) “...biasanya empat sampe lima orang nak, nti kalo banyak-banyak orangnya mau dimana pulak narok ikannya kan... yang perlu kan narok ikannya... hahahaha” (R.2/W.3/b.848-853/h.35) “...uang sewanya biasanya lima ratus ribu nak perbulannya, nah ntulah yang dibagi-bagi sama lima orang tadi nak…” (R.2/W.3/b.856-860/h.35)

  Dari pekerjaan sebagai nelayan, pak S biasanya mendapatkan penghasilan perharinya sepuluh sampai lima belas ribu. Namun pendapatan tersebut tidak setiap harinya beliau kantongin, karena beliau melaut jika ombaknya tidak besar dan cuacanya baik. Dalam sebulan, pak S ada sepuluh hari yang tidak melaut, itu terhitung dikarenakan cuaca yang buruk dan memperbaiki jaring-jaring ikan.

  “...yah, pendapatannya perharinya sepuluh ribu sampe lima belas ribulah nak paling banyak...” (R.2/W.3/b.839-842/h.34) “...kami kan harus liat cuacanya apakah bagus untuk melaut, kalo ombak besar yah gak berani kami melaot nak, takut ada apa-apa kan. Teros kami pun harus perbaiki jaring-jaring ikan yang kusut nak. Jadi selama sebulan itu sepuluh hari itu ntuk perbaiki jaring atau cuaca buruk nak...” (R.2/W.3/b.865-875/h.35) Pendapatan yang hanya perharinya sepuluh sampai lima belas ribu inilah yang membuat pak S menyuruh istri serta anak-anaknya untuk bekerja mencari uang. Anak laki-laki beliau diajak untuk melaut bersamanya sedangkan istri dan anak perempuan biasanya ikut borongan para tengkulak seperti mengupas udang.

  “...iyalah nak, disini orang susah semuanya. Kalo gak kayak gitu sering la bekerja. Seperti itulah...” (R.2/W.3/b.791-797/h.32-33) “...banyak lah nak, sermuanya kayak gitu. Yang laki-lakinya ja yang di suruh melaut. Itung-itung sebagai uang tambahan lah. Kalo gak kayak gitu mau dari mana lagi kami cari uang tambahan buat makan nak.. kalo anak perempuan yah gak mungking dibawa kelaot kan, paling dirumah bantu- bantu beres rumah lah sama mamaknya. Atau gak kalo yang perempuan ntah jaga kede orangnya dia di pajak sore sanan nak. Gituh lah kalo anak perempuan disini, kalo laki-lakinya melaot..” (R.2/W.3/b.771-787/h.32) Pendapatan yang tidak setiap hari di kantongin oleh beliau yang dikarnakan oleh faktor cuaca dan beliau juga harus memperbaiki jaring-jaring

  ikan yang kusut. Biasanya dalam sebulan ada sepuluh hari tidak melaut maka dari itu untuk membuat ekonomi keluarga terbantu beliau menyuruh anak-anak beliau untuk mencari uang tambahan untuk kehidupan keluarga sudah hal yang biasa di kehidupan pesisir. Karena dengan cara yang demikian, beliau dapat melangsungkan kehidupannya. Jika tidak demikian, maka keluarga mereka akan sering tidak makan.

  “...Jadi selama sebulan itu sepuluh hari itu ntuk perbaiki jaring atau cuaca buruk nak. Nah kalo dah gitu lah barulah banyak yang pada ngirit untuk makan, adalah yang ngutang ke warung, atau bahkan gak makan. Gituh nak, makanya disini untuk cari tambahan uang dan untuk supaya makan setiap harinya, anak-anak ntu harus kerja nak bantuin cari duit ntuk kebutuhan hidup...” (R.2/W.3/b.872-885/h.35-36) Pak S selalu mengajak anak lelaki pertamanya untuk ikut melaut bersamanya, ketika anak lelakinya tidak sekolah atau libur sekolah. Beliau beranggapan ketika libur sekolah lebih baik anak lelakinya ikut melaut bersamanya daripada anak lelakinya tidur dirumah seharian.

  “...Kalo dibilangnya libur sekolah ya bapak ajak ke laot ja lah daripada di uang tambahan.. hahahaha...” (R.2/W.3/b.760-766/h.31-32) Bukan hanya kebiasaan mengajak anak-anak untuk bekerja mencari uang tambahan keluarga. Namun ada kebiasaan lainnya yang beliau lakukan yaitu menyuruh anak-anak untuk bisa membaca Al-Qur’an dan bisa sholat lima waktu secara lebih dini. Pola pikir beliau tentang budaya Melayu adalah identik dengan keislamannya maka dari itu beliau menanamkan pada anak-anaknya secara lebih dini tentang agama seperti aturan-aturan yang ada dalam agama dan anak-anak

  juga harus pandai sholat lima waktu, hafal bacaan sholatnya, serta bisa membaca Al-Qur’an.

  Pak S merupakan guru agama anak-anak pesisir setempat. Penghasilan beliau dari memberikan pelajaran agama pada anak-anak hanya seribu lima ratus sampai dua ribu perbulannya. Beliau hanya dapat bersyukur dengan pendapatan dari hasil mengajarnya tersebut.

  “...kalo disini anak-anak ntu harus disekolahin ngaji. Pintar sholat, baca qur’an. Anak-anak disini ngajinya sama bapak la... bapak ajarin sebisanya bapak dari baca iqro’ sampe bisa baca qur’an. Kalo sholatnya, bapak ajarin la baca-bacaan sholat, tata cara sholat, berapa kali harus sholat dalam sehari ya gitulah. Kita kan orang melayu, kalo’ orang melayu kan identik dengan keislamannya makanya anak-anak disini didik dari kecil untuk mengenal Tuhannya, gimana aturan dalam agamanya..” (R.2/W.1/b.109-125/h.5) “...disini bapak dibayar terkadang seribu lima ratus sampe dua ribu nak, lumayan kan...” (R.2/W.1/b.130-133/h.5-6) “...setiap bulannya nak. Hahahha murah kali ya nak.. gimana la nak disini kan orang-orangnya miskin semua...” (R.2/W.1/b.144-147/h.6) sholat ashar, hal tersebut dikarnakan jika pagi hari beliau melaut dan anak-anak yang sekolah maka akan sekolah jika anak-anak yang tidak sekolah biasanya melaut juga. Anak-anak yang belajar mengaji bersama beliau dari usia lima tahun.

  Biasanya usia lima tahun sampai sepuluh tahun mereka belajar membaca Iqro’ sedangkan usia sepuluh tahun keatas biasanya sudah bisa baca Al-Qur’an.

  “...bapak ngajarin anak-anak ngajinya habis solat asar la nti siapnya sebelum maghrib...” (R.2/W.1/b.158-160/h.6)

  “...Kalo pagi kan biasanya anak-anak yang bisa dia sekolah ya sekolah klo’ yang gak sekolah cari duet la dia ke laot sama bapaknya atau sama kawan-kawannya yang gak sekolah. Jadi kalo dah sore biasanya gak ada kerjaan anak-anak ntu daripada maen ja kerjanya bagus mereka mengajikan...” (R.2/W.1/b.160-170/h.6-7) “...dari umur lima tahun ada nak... yang umur lima tahun sampe sepuluh tahun ntu biasanya bapak nagajarin dia Iqro’ nak... kalo’ umur sepuluh tahun keatas dah baca Qur’an nak...” (R.2/W.2/b.376-382/h.17) Pak S mengajari anak-anak mengajinya dengan penuh kesabaran. Jika anak-anak mengajinya belum mengerti apa yang diajarkan beliau maka beliau pun dengan sabar mengajarinya kembali. Dan ketika anak-anak ngaji beliau nakal maka pak S pun menasehatinya secara baik-baik dan ketika anak-anak tersebut tetap nakal juga maka pak S pun akan memukulkan ranting pohon kepada anak yang nakal tersebut. Pak S melakukan hal tersebut dengan tujuan agar si anak tidak nakal lagi, namun pak S tidak memukulkan si anak dengan kuat, karena pak S takut akan menjadi masalah sama orangtua si anak tersebut.

  “...bapak ngajarinnya yah pelan-pelan la nak ya kan, supaya dia masuk apa (R.2/W.2/b.404-407/h.18) “...kalo dia nakal lah gitu kan nak, bapak kasih tau la dulu dia baek-baek jangan nakal lagi, jangan gangguin teman-temannya belajar.. bapak kalo ngajar anak-anak ngaji sambil bawa ranting pohon ini nak ni dah bapak serut lah kayunya supaya mulus, awalnya ranting pohon ni.. nah kalo nakal juganya anak-anak tuh dah bapak kasih tau, bapak pukulkan pelan gak lah kuat-kuat nak sampe nangis, marah nti orangtuanya sama bapak jadi masalah... hahahaha sekedar supaya dia gak nakal lagi...” (R.2/W.2/b.412-431/h.18-19) Beliau pergi melaut setelah sholat shubuh dan kembali sebelum dzuhur dikarnakan beliau yang juga patuh terhadap ajaran agama yaitu sholat tepat waktu, mengajari anak-anak secara lebih dini untuk bisa membaca Al-Qur’an, sholat lima

  waktu serta ajaran agamanya. Ada lagi kebiasaan yang jauh lebih unik yang ada di lingkungan pesisir pantai yaitu mengasuh anak tetangga. Pak S mengatakan bahwa ada kebiasaan masyarakat pesisir yaitu mengasuh anak tetangga, beliau mengatakan hal tersebut dikarnakan masyarakatnya yang saling tolong menolong saat saudara atau tetangganya dalam kesusahan. Beliau menjelaskan jika ada keluarga yang anaknya sudah menikah semua dan hanya tinggal suami dan istri saja di rumahnya maka dia harus menolong tetangganya dengan cara mengasuh anak tetangganya yang masih memilki banyak anak-anak yang masih kecil. Pak S mengatakan, bahwa orangtua yang ada di pesisir pantai tidak keberatan akan hal tersebut karna menurut mereka hal tersebut akan mengurangi beban mereka sebagai orangtua. Jika pak S memiliki anak banyak dan masih kecil-kecil, beliau pun dengan senang hati apabila anaknya dirawat atau diasuh sama orang lain

  “...kalo disini misalnya orang yang anak-anaknya sudah kawin semua terus dia tinggal bedua sama istrinya dirumah dan tetangganya ada anak kecil banyak maka anak itu diasuh sama orang yang tinggal bedua itu. Kayak gitulah kebiasaan disini istilahnya kita kan sama-sama susah maka saling ngebantu satu sama lainnya...” “...iya, tapi enggaklah orangtua yang sudah uzur kan.. disini kan anak- anaknya cepat nikah.. umur empat belas atau tujuh belas tahun dah nikah makanya orangtua yang anak-anaknya sudah menikah semua maka dia harus ngebantu tetangganya yang masih punya anak-anak yang masih kecil. Misalnya saya punya anak yang masih kecil dua orang maka satu orangnya lagi di asuh sama tetangga gitu...” (R.2/W.1/b.74-87/h.3-4) “...oo bersedia kali lah nak, lumayan kan tanggungan dia sedikit berkurang kan... yah disini dah sama-sama ngertilah kalo yang kayak gitu nak...” (R.2/W.1/b.92-96/h.4) Berdasarkan dari penuturan beliau, kebiasaan mengasuh anak tetangga yang terjadi di masyarakat pesisir merupakan bentuk dari perilaku saling

  membantu satu sama lain antar tetangga. Mereka para orangtua yang banyak memilki anak dan kehidupannya yang susah akan dengan senang hati anaknya akan diasuh oleh tetangganya yang mampu mengasuh anaknya dengan baik. Kebiasaan yang cukup unik yang ada di lingkungan pesisir pantai tersebut. seperti itulah gambaran kebudayaan atau kebiasaan yang terjadi di pesisir pantai menurut penuturan pak S.

  IV.B.3.b. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pola Asuh Orangtua

  IV. B.3.b.1. Pendidikan

  Pak S orangtua dari tiga orang anak yang memiliki pendidikan hanya sampai Sekolah Dasar. Mengenai pendidikan sekolah anak-anak, pak S tidak pernah peduli kepada pendidikan sekolah anak-anaknya. Beliau menganggap bahwa beliau tidak mengetahui tentang pendidikan sekolah karena beliau hanya tamatan sekolah dasar maka dari itu beliau tidak pernah menanyakan bagaimana perkembangan anaknya disekolah. Beliau menyerahkan segala urusan sekolah pada anak-anaknya, karena menurut beliau ketika nanti anak-anaknya mengalami masalah maka anak-anaknya akan mengadu sendiri tanpa ada ditanya-tanya.

  “...gak pernah bapak tanyain nak.. dia sekolah ja dah sukur kali bapak rasa nak...” (R.2/W.2/b.494-496/h.21) “...gak tau-tau bapak tuh nak.. yang penting dia sekolah ja lah.. soal urusan sekolah bapak gak ngerti, bapak cuman “es de”.. mamak nya juga gitu gak pernah sekolah.. jadi kami gak tau-menau soal sekolah dia.. biarlah dia sendiri yang ngadapinnya.. kalo ada apa-apakan dia ngadu sama kami...” (R.2/W.2/b.499-509/h.21)

  Beliau beserta istrinya tidak pernah bertanya tentang sekolahnya anak- anak karena menurut beliau, ia tidak mengetahui bagaimana hal tersebut dikarenakan beliau yang hanya tamatan Sekolah Dasar.

  IV. B.3.b.2. Lingkungan

  Di lingkungan pak S merupakan lingkungan yang menghidupi keluarga mereka dari hasil laut yang mereka dapatkan. Seperti halnya pak S yang menghidupi keluarganya dari hasil laut. Hasil laut tersebut tidak cukup untuk menghidupi keluarga beliau, maka dari itu anggota keluarga beliau pun yaitu istri dan anak-anak harus membantu perekonomian keluarga, jika tidak demikian maka akan sering mereka tidak makan. Beliau juga harus membiasakan anak-anaknya untuk bisa mencari uang sendiri, anak lelakinya ikut dengan beliau untuk melaut ketika hari libur sekolah.

  “...banyak la nak, kalo’ dia gak sekolah gitu nti diajak bapaknya lah ntu ntuk ngelaut sama-sama. Bapak juga kalo anak bapak libur sekolah misalnya kayak hari minggu gitu kan, bapak ajak lah dia melaut sama (R.2/W.2/b.450-458/h.19) “...Kalo pagi kan biasanya anak-anak yang bisa dia sekolah ya sekolah klo’ yang gak sekolah cari duet la dia ke laot sama bapaknya atau sama kawan-kawannya yang gak sekolah. Jadi kalo dah sore biasanya gak ada kerjaan anak-anak ntu daripada maen ja kerjanya bagus mereka mengajikan...” (R.2/W.1/b.160-170/h.6-7) “...bapak yang ngajak dia nak, daripada dia gak da kerjaan dirumah.. nti maen-maen ja sama kawannya bagus dia bantuin bapak kan melaot.. kan lumayan tuh hasilnya juga buat dianya. Buat biaya sekolahnya ntu nak...” (R.2/W.2/b.481-488/h.20-21)

  Selain mengajak anak-anak untuk mencari uang sebagai uang tambahan di dalam keluarga, di lingkungan pesisir juga mengajarkan anak-anaknya dari kecil untuk belajar mengaji. Biasanya masyarakat pesisir mempercayai anak-anaknya untuk belajar mengaji di tempat pak S. Beliau lah yang memberi pelajaran membaca Iqro’ sampai Al-Qur’an, bagaimana sholat lima waktu, dan yang berkaitan tentang agama Islam.

  “...kalo disini anak-anak ntu harus disekolahin ngaji. Pintar sholat, baca qur’an. Anak-anak disini ngajinya sama bapak la... bapak ajarin sebisanya bapak dari baca iqro’ sampe bisa baca qur’an. Kalo sholatnya, bapak ajarin la baca-bacaan sholat, tata cara sholat, berapa kali harus sholat dalam sehari ya gitulah...” (R.2/W.1/b.109-119/h.5) “...pertama kan ngajarin solatnya dulu, bacaan solatnya, cara solatnya dari wuduk sampe cara-cara solat kan barulah setelah itu mengaji...” (R.2/W.2/b.386-390/h.17) Usia anak-anak yang belajar mengaji di tempat pak S yaitu dari usia lima tahun sampai usia sepuluh tahun keatas. Biasanya yang usia lima tahun baru bisa membaca Iqro’ sedangkan usia sepuluh tahun keatas adalah anak-anak yang sudah waktu setelah ashar sampai sebelum maghrib. Karena jika di pagi hari beliau mengari anak-anak mengaji, maka akan mengganggu aktivitas mereka seperti ada yang sekolah, atau jika yang tidak sekolah biasanya ke laut bersama ayahnya atau sama teman-temannya, maka dari itu beliau memilih waktu pada sore hari setelah sholat ashar.

  “...dari umur lima tahun ada nak... yang umur lima tahun sampe sepuluh tahun ntu biasanya bapak nagajarin dia Iqro’ nak... kalo’ umur sepuluh tahun keatas dah baca Qur’an nak...” (R.2/W.2/b.376-382/h.17)

  “...bapak ngajarin anak-anak ngajinya habis solat asar la nti siapnya sebelum maghrib... (R.2/W.1/b.158-160/h.6) “...Kalo pagi kan biasanya anak-anak yang bisa dia sekolah ya sekolah klo’ yang gak sekolah cari duet la dia ke laot sama bapaknya atau sama kawan-kawannya yang gak sekolah. Jadi kalo dah sore biasanya gak ada kerjaan anak-anak ntu daripada maen ja kerjanya bagus mereka mengajikan...” (R.2/W.1/b.160-170/h.6-7) Menjadi guru ngaji adalah pekerjaan pak S selain menjadi nelayan. Dari hasil menjadi guru mengaji di lingkungannya tersebut beliau meraih keuntungan yang cukup sedikit yaitu seribu lima ratus sampai dua ribu rupiah perbulannya untuk satu orang anak. Keuntungan tersebut beliau syukuri, karena beliau mengerti keadaan di lingkungannya adalah semuanya orang-orang yang bernasib sama dengan beliau.

  “...disini bapak dibayar terkadang seribu lima ratus sampe dua ribu nak, lumayan kan. Klo’ mengharap dari hasil laot ja gak bisa nak bisa-bisa sering gak makan bapak nanti...” (R.2/W.1/b.130-135/h.5-6) “...setiap bulannya nak. Hahahha murah kali ya nak.. gimana la nak disini tepas semua...” (R.2/W.1/b.144-149/h.6) Pak S anak-anaknya mengaji secara bersamaan ketika beliau mengajari anak-anak tetangganya mengaji. Anak-anak beliau semuanya sudah bisa membaca

  Al-Qur’an.

  “...anak bapak sekalian ikut lah.. kalo anak bapak dia dah bisa baca Qur’an nak.. dia belajarnya juga sama-sama lah sama anak-anak laen. Jadi bapak sekalian ngajarin anak bapak dan anak-anak tetangga...” (R.2/W.2/b.437-444/h.19)

  Beliau mengatakan di lingkungannya arti dari mengasuh anak yaitu mengajari anak-anak untuk bisa membaca Al-Qur’an. Seperti halnya pak S yang ditanya tentang pengasuhan itu seperti apa, beliau menjawab pengasuhan itu salah satunya mengajari anak untuk bisa membaca Al-Qur’an, karena masyarakatnya yang bersuku Melayu maka beliau berkata jika suku Melayu maka akan identik dengan keislamannya maka dari itu masyarakat pesisir setempat pun mengajarin anak-anaknya secara lebih dini untuk bisa membaca Al-Qur’an, sholat lima waktu, serta ajaran-ajaran di dalam agama Islam.

  “...Kita kan orang melayu, kalo’ orang melayu kan identik dengan keislamannya makanya anak-anak disini didik dari kecil untuk mengenal Tuhannya, gimana aturan dalam agamanya...” (R.2/W.1/b.119-125/h.5) “...ya sama la nak. bapak ajarin dia mengaji, solat.. bapak cuman bisa ngajarin dia ngaji dan solat la nak. Kalo’ pelajaran sekolahnya mana bisa bapak. Bapak ja cuman tamat “es de” jadi gak bisa bapak ngajarin dia kalo soal pelajaran dia di sekolah...” (R.2/W.1/b.174-182/h.7) Beliau juga mengatakan dilingkungannya memiliki kebiasaan yaitu “...disini kan anak-anaknya cepat nikah.. umur empat belas atau tujuh belas tahun dah nikah...” (R.2/W.1/b.75-78/h.3) Karena di lingkungan pesisir setempat memiliki kebiasaan yaitu menikahkan anak secara lebih dini, maka pak S pun ingin dengan cepat anaknya untuk menikah, karena menurut beliau jika anak-anaknya sudah menikah maka akan mengurangi beban tanggung jawab beliau sebagai orangtua. Biasanya anak lelaki yang sudah bisa mencari penghasilan sendiri maka akan diijinkan untuk menikah jika dia sudah meminta untuk menikah, dan jika anak perempuan maka

  dia harus sudah baligh terlebih dahulu dan jika sudah baligh maka akan diijinkan lah dia menikah walau usianya masih terbilang dini.

  “...hahaha, inginlah nak.. kalo dia dah nikah kan gak capek bapak mikirin uang sekolahnya lah, makannya lah... kalo dia dah nikah kan tanggung jawab sendiri.. (R.2/W.1/b.282-287/h.12) “...biar gak mikirin uang sekolahnya lah, makannya lah.. daerah sini pun banyak kali nak yang nikahnya umur empat belas taon la, ada yang enam belas sampe tujuh belas taon gitu.. kalo yang perempuannya udah baligh nya dia bisa lah dinikahkan la ntu nti sama orangtuanya, karna kan biar berkurang beban tanggung jawab tapi kalo yang laki-laki dah pande dia cari duit barulah dia minta nikah...” (R.2/W.1/b.292-305/h.12-13) Pak S mengatakan orangtua yang anak-anaknya sudah menikah secara lebih dini, biasanya anak-anak mereka yang sudah menikah masih tinggal di rumah orangtua mereka karna kebanyakan dari mereka yang belum mampu membeli rumah sendiri. Namun hal tersebut mendapatkan keuntungan sendiri bagi keluarga karena artinya lebih banyak yang membantu pereknomian keluarga.

  “...banyak yang sudah nikah tinggalnya sama orangtuanya.. namanya juga orang miskin nak, mana mampu beli rumah...” “...kalo dia dah nikah dan tingal di rumah orangtuanya, si suami kan juga cari nafkah.. jadi kalo pun orangtuanya juga cari nafkah dan menantunya cari nafkah kan jadi bisa makan nak.. seperti itunya, tapi kalo gak kerjanya menantunya masih nyusahin ja ya di tendang la dari rumah.. hahahaha...” (R.2/W.1/b.310-314/h.13) Seperti itulah kebiasaan yang terjadi di lingkungan pesisir pantai tempat tinggalnya pak S yang dapat memungkinkan untuk mempengaruhi pola asuh mereka pada anak-anaknya.

  IV. B.3.b.3. Budaya

  Dari penuturan pak S masyarakat pesisir memiliki kebiasaan yang kental dengan unsur keislaman. Yaitu dengan cara yang seperti beliau lakukan yaitu mengajari anak-anaknya untuk belajar mengaji, sholat, serta ajaran-ajaran di dalam agama Islam. Anak-anak beliau harus mengetahui secara lebih dini yaitu dari usia lima tahun sudah belajar mengaji, dan belajar tentang ajaran-ajaran Islam. Anak-anak beliau ditanamkan nilai-nilai keislamannya dari usia lima tahun.

  Seperti yang dikatakan oleh pak S bahwa jika orang Melayu itu adalah orang- orang yang beragama Islam maka dari itu anak-anak harus diajarakan juga ajaran- ajaran Islamnya supaya mereka terdidik dari kecil.

  “...kalo disini anak-anak ntu harus disekolahin ngaji. Pintar sholat, baca qur’an. Anak-anak disini ngajinya sama bapak la... bapak ajarin sebisanya bapak dari baca iqro’ sampe bisa baca qur’an. Kalo sholatnya, bapak ajarin la baca-bacaan sholat, tata cara sholat, berapa kali harus sholat dalam sehari ya gitulah...” (R.2/W.1/b.109-119/h.5) “...dari umur lima tahun ada nak... yang umur lima tahun sampe sepuluh tahun ntu biasanya bapak nagajarin dia Iqro’ nak... kalo’ umur sepuluh (R.2/W.2/b.376-382/h.17) “...pertama kan ngajarin solatnya dulu, bacaan solatnya, cara solatnya dari wuduk sampe cara-cara solat kan barulah setelah itu mengaji...” (R.2/W.2/b.386-390/h.17) “...Kita kan orang melayu, kalo’ orang melayu kan identik dengan keislamannya makanya anak-anak disini didik dari kecil untuk mengenal Tuhannya, gimana aturan dalam agamanya...” (R.2/W.1/b.119-125/h.5) Menurut pak S mengajari anak-anak untuk bisa membaca Al-Qur’an, sholat lima waktu dan ajaran-ajaran agama Islam adalah menjadi kebudayaan tersendiri di masyarakat pesisir setempat. Jika anak usia sepuluh tahun keatas

  belum bisa membaca Al-Qur’an maka akan menjadi bahan gosip para ibu-ibu setempat.

  “...kalo disini kan memang anak-anak tuh dah harus belajar baca qur’an nak, ajaran-ajaran agama islam, sholat yah gituh lah yang berkaitan dengan ajaran agama islam nak jadi gak da orangtua yang gak ngajarin anak-anaknya ntuk belajar ngaji nak. Itu dah menjadi kebiasaan atau budaya lah dibilangnya di masyarakat sisni nak.. kalo soal anak-anak yang belom pande baca qur’an tapi umur sepuluh tahun keatas ya nak, nah itu biasanya digosipin gituh nak... tetangga pada tau lah kalo anaknya ntu belom pande baca qur’an gituh nak.. hahahaha tapi itu biasanya gosip- gosip gitu kerjaan mamak-mamak yang sambil ngupas udang nah itulah pembicaraan mereka.. hahahaha...” (R.2/W.3/b.963-987/h.39) Pak S merasa penting sekali untuk mengajarin anak-anaknya bisa mengaji, bukan karena takut di gosipin oleh para masyarakat pesisir setempat melainkan karena rasa tanggung jawab beliau terhadap anak-anaknya. Menurut beliau orangtualah yang bertanggung jawab akan agama anak-anaknya, mau dibawa kearah mana anak-anaknya secara agama. Beliau juga berkata akan merasa malu jika beliau tidak mengajari anak-anaknya agama Islam, beliau malu terhadap masyarakat dan terlebihnya malu terhadap Tuhan.

  “...wuih merasa malu la bapak nak kalo bapak gak mengajarin anak-anak bapak ajaran agama islam kan. Malu sama orang-orang sini, malu sama Tuhan. Bapak kan orangtua nya seharusnya bapak bertanggung jawab atas agama anak-anak bapak. Jadi seprti itulah nak, merasa tanggung jawab ja bapak atas agama anak-anak, mau dibawa kemana agamanya anak-anak kan itu tergantung sama orangtua kan...” (R.2/W.3/b.992-1006/h.40) Selain budaya yang secara turun temurun yaitu budaya yang kental dengan unsur agama Islamnya, ada juga yang sudah menjadi kebiasaan yang turun temurun di dalam keluarga pak S yaitu pengasuhan secara “keras”. Pak S mendidik anak-anak secara “keras”, beliau mengakui bahwa mendidik anak-anak

  dengan cara seperti itu karena diajarkan oleh orangtua beliau sebelumnya. Beliau beranggapan bahwa didikan yang diberikan oleh orangtuanya terdahulu adalah benar dan menjadikan anak-anak untuk tidak melawan pada orangtua, dan beliau berharap agar anak-anaknya kelak akan seperti itu.

  “...Dulu bapak juga dikerasin sama orangtua bapak nak.. bapak dihajar habis-habisan kalo bapak gak dengar apa kata orangtua bapak. Bapak dulu juga takut kali pun sama ayah bapak, kalo dia dah pulang gituh dari melaut suara jejak kakinya ja dah tanda bapak karna sangkin takutnya bapak. Kalo dahh pulang ayah bapak tuh langsung lah bapak mengerjakan sesuatu biar dilihatnya bapak gak nyantai-nyantai di rumah. Gituh lah nak sangkin takotnya bapak sama ayah bapak tuh...” (R.2/W.3/b.912-928/h.37) “...iya nak bapak turunkan apa yang telah diajarkan oleh orangtua bapak terhadap bapak dulu. Yahhh, kayak mendidik anak dengan keras nak seperti itulah...” (R.2/W.3/b.934-939/h.38) “...iyalah nak bapak berharap nantinya anak-anak bapak ni menjadi orang yang benar nak. Berbakti pada orangtua yang penting nak, dan tidak melawan apalagi sama mamaknya kan bedosa kali kalo melawan sama ibu kan...” (R.2/W.3/b.945-952/h.38) Cara mendidik anak dengan “keras” menjadi turun temurun di dalam keluarga pak S, dan pak S pun membenarkan didikan keras seperti itu. Banyak berbagai faktor budaya atau kebiasaan yang terjadi di lingkungan pak S yang dapat mewarnai pengasuhan yang terjadi di keluarga pak S mulai dari menyuruh anak melaut atau mencari kerja demi membantu ekonomi keluarga, mengajari anak-anak belajar mengaji, sampai pada mendidik anak dengan cara yang “keras” karena dianggap menjadikan anak-anak menjadi orang benar dan tidak melawan orangtua.

  IV.B.3.c. Gambaran pola asuh orangtua pada masyarakat pesisir pantai

  Pak S adalah orangtua dari tiga anak-anaknya, beliau mempunyai caranya sendiri dalam memberi kasih sayang serta mendidik anak-anaknya untuk kearah yang lebih baik. Pak S memiliki cara menunjukkan kasih sayangnya terhadap anak-anaknya dengan cara mendidik anak-anaknya secara “keras”, karena menurut beliau dengan begitu mereka akan menjadi lebih baik seperti tidak durhaka sama orangtua, akan menjadi anak yang berguna nantinya, tidak ikut ke dalam pergaulan yang tidak baik, dan masuk syurga nantinya. Jika beliau tidak sayang pada anak-anaknya maka beliau mengatakan akan membiarkan saja anaknya ke dalam pergaulan yang tidak benar atau melawan orangtua namun beliau tidak membiarkan itu semua terjadi maka dari itu bentuk rasa kasih sayang beliau terhadap anak-anaknya adalah mendidik anak dengan “keras”.

  “...bapak didik secara keras gituh kan karena bapak sayangnya sama anak- anak bapak, bapak gak mau mereka jadi durhaka, bapak gak mau mereka ke pergaulan yang gak benar, bapak kan maunya mereka jadi anak yang baik. Makanya bapak keras pada mereka nak itulah rasa kasih sayang bapak pada mereka. Kalo gak sayangnya bapak, yaudah bapak biarkan ja mereka mau pergaulan yang kayak mana biarin ja, melawan orangtua pun biarin ja kan dia yang masok neraka kan. Itu berarti bapak gak sayang sama dia tapi klo bapak keras kan supaya tujuannya masok surga sama- sama nak.. hahaha...” (R.2/W.3/b.1012-1035/h.40) “...iya nak, seperti itu. Mendidik anak dengan keras dengan tujuan supaya dia menjadi orang yang baik dan berguna itulah rasa kasih sayang bapak terhadap anak-anak. Kalo dengan cara belik-belik barang kemauan anak- anak yahhhh gimana wong orang susah apa yang mau dibelikan untuk dia... hahahaha makan ja terancam nak...” (R.2/W.3/b.1040-1052/h.41-42) Sehari-harinya beliau mendidik anak dengan secara “keras”. Beliau menganggap pengasuhan secara “keras” lah yang pantas untuk mendidik anak-

  anaknya menjadi lebih baik apalagi anak lelaki, menurut beliau sangat pantas “dikerasin”. Ketika anak-anak tidak mendengar apa yang dikatakan oleh pak S maka beliau pun akan langsung menghukumnya secara fisik yaitu dengan memukul, menampar, bahkan menendang anak-anaknya.

  “...iya nak, kalo gak bapak kasarin dia bapak takut kalo nanti dia malah suka gak dengar apa cakap orangtua. Tak dihiraukannya pulak nti orangtua kan jadi sakit hati awak jadi orangtuanya.. jadi kalo agak dikasarin la dia, biar dia jadi orang benar la...” (R.2/W.1/b.233-241/h.10) “...iya nak, kita didik mereka seperti itu biar mereka pun gak melawan sama kita. Nanti kalo dimanjain aja nya mereka melunjak mereka nanti nak, makanya bapak kayak gitu biar mereka pada hormat sama orangtua, ngikut apa kata orangtua jangan taunya membangkang aja kerjanya. Gituh nak. Itulah yang bapak hindari makanya bapak lakukan keras kayak itu...” (R.2/W.3/b.816-828/h.33-34) “...iya nak, cem gituhlah bapak ngasuh anak-anak bapak. Mendidik nya dengan keras seperti itu, kalo mereka gak mendengar apa kata bapak langsung bapak tampar atau tendang seperti itu nak...” (R.2/W.3/b.805-811/h.33) “...iya nak, bapak harus keras kalo ngedidik anak laki-laki ni nak. Kalo gak banyak nanti dia buat masalah. Selagi dia belom buat masalah jadi bapak kerasin lah...” “...iyalah nak, buktinya mereka kalo dikerasin kayak ditampar dan ditendangi kayak gitu barulah mereka gak mengulangi lagi, ada jera nya mereka nak. Lagian kalo digituin kan biar takut dia...” (R.2/W.2/b.651-657/h.27) “...iyalah nak bapak berharap nantinya anak-anak bapak ni menjadi orang yang benar nak. Berbakti pada orangtua yang penting nak, dan tidak melawan apalagi sama mamaknya kan bedosa kali kalo melawan sama ibu kan...” (R.2/W.3/b.945-952/h.38) Pak S menganggap pengasuhan secara “keras” itu adalah pengasuhan yang benar untuk anak-anaknya, karena menurut beliau anak-anaknya tidak akan

  mengulangi perilaku yang sama jika sudah dihukum oleh pak S. Beliau berbuat seperti itu karena beliau takut nanti anak-anaknya akan menjadi anak-anak yang melawan sama orangtua. Dan beliau juga berharap dengan mendidik anak yang seperti itu akan menjadikan anak-anaknya hormat pada orangtua dan tidak melawan pada orangtua. Sebelum menghukum anak-anaknya, beliau akan memperingati anak-anak terlebih dahulu untuk tidak melakukan kenakalan yang tidak diinginkan oleh beliau, tapi jika anak-anak tidak mau mendengar peringatan dari beliau maka barulah beliau akan menghukum anak-anaknya secara fisik yaitu memukul, menampar bahkan menendang. Kenakalan yang biasanya dilakukan oleh anak lelaki beliau, mereka selalu pulang diatas jam sembilan. Sebelumnya pak S sudah memperingati, jangan pulang diatas jam sembilan tapi anak-anak tidak menghiraukannya dan pulang diatas jam sembilan malam maka dari itu anak-anak dihukum oleh pak S.

  “...yah, awalnya bapak bilang la baek-baek dulu jangan buat kesalahan lagi, tapi kalo tetapnya dibuatnya ya bapak pukulkan la supaya dia gak melakukan kesalahan lagi...” “...Kadang anak-anak ni kalo sudah malam masih ja belom pulang. Nti kalo dah jam sepuluh malam beloom juga naek kerumah, Bapak cari la dia tu keluar, bapak pukulkan la dia lama-lama kali pulang ke rumah. Awalnya bapak dah kasih tau ke dia, kalo maen-maen tu jangan pulang malam-malam. Sampe jam sembilan pulanglah kerumah ni jam sepuluh belom naek apa gak naek darah bapak liat tingkahnya ntu...” (R.2/W.1/b.208-222/h.9) Ketika anak pak S pulang diatas jam yang ditentukan yaitu jam sembilan maka pak S pun mencari anaknya yang pulang malam tapi jika pencariannya tidak membawakan hasil pak S akan menunggui sampai anaknya pulang lalu menghantamnya. Beliau berbuat seperti itu, karena dilingkungan beliau banyak

  remaja-remaja yang pergaulannya tidak sehat maka dari itu beliau takut anaknya terjerumus ke pergaulan yang tidak sehat yaitu banyak yang berjudi.

  “...Bapak tungguin tuh sampe dia pulang, kalo dia dah pulang barulah bapak hantam dia. Bapak takut dia nti tah mengganjanya dia atau bejudi. Wuihhh takut la bapak nak, awak orang susah janganlah maunya anak awak buat susah kan. Dia masih tinggal sama kita tapi kalo dah kawinnya dia yawdah bapak biarin mau jadi apa dianya, dah punya tanggung jawab sendiri kan dianya...” (R.2/W.1/b.252-264/h.10-11) “...bapak bilang sama mereka jangan kalian ikut-ikutan berjudi kayak orang-orang yang gak betol kayak gitu, kalo kedapatan sama bapak akan bapak cambuk mereka pake tali pinggang.. pokoknya habis lah bapak hantam mereka, bapak dah peringati sama mereka agar menjauhi teman- teman kayak gitu nak. Makanya kalo orang ni pulang malam diatas jam sepuluh dah habis bapak buat. Bapak ngijinin mereka keluar malam sampe jam sembilan ja nak, namanya juga laki-laki kan tau lah bapak dia gak betah di rumah. Terus kalo libur bapak ajak ke laot daripada maen-maen sama kawan-kawan yang gak betol kan...” (R.2/W.2/b.581-603/h.24-25) Beliau menghukum anak lelakinya di depan anak perempuannya yang masih duduk di kelas lima SD, beliau mengatakan pada anaknya yang paling kecil jangan melakukan kenakalan yang sama seperti abangnya jika ia melakukan abangnya. Pak S mengakui bahwa ketika anak-anaknya dihukum, beliau tidak mengatakan alasan mengapa anak-anaknya dihukum secara fisik karena beliau beranggapan anak-anaknya sudah tahu bahwa beliau begitu supaya anak-anak menjadi lebih baik.

  “...bapak kan dah bilang sama dia baek-baek jangan pulang malam- malam.. boleh maen keluar rumah tapi ingat waktu pulang yang udah bapak tentuin sampe jam sembilan.. tapi kalo gak mau dengarnya dia bapak tampar kan dia, bapak tendang.. bapak takut kali nak kalo dia kenak-kenak masalah diluar sana. Yang selalu bermasalah ntu anak bapak dua orang laki-laki tuh... kalo adeknya sih gak da nakalnya. Tapi bapak juga bilang keras sama dia jangan kayak abangmu nakalnya kalo kau gak

  mau bapak buat kayak abangmu ni. Kayak gitu bapak bilang sama anak bapak yang perempuan...” (R.2/W.2/b.607-627/h.25-26) “...gak da bapak bilang-bilang kayak gituh, taunya dia tuh. Bapak kayak gituh karna dia da salah. Mana pulak gak salah dia bapak pukuli juga kan... hahahhaha...” (R.2/W.3/b.1061-1066/h.42) Mengenai pendidikan sekolah anak-anak, pak S tidak pernah peduli kepada pendidikan sekolah anak-anaknya. Beliau menganggap bahwa beliau tidak mengetahui tentang pendidikan sekolah karena beliau hanya tamatan sekolah dasar maka dari itu beliau tidak pernah menanyakan bagaimana perkembangan anaknya disekolah. Beliau menyerahkan segala urusan sekolah pada anak- anaknya, karena menurut beliau ketika nanti anak-anaknya mengalami masalah maka anak-anaknya akan mengadu sendiri tanpa ada ditanya-tanya. Jika anak- anaknya ingin libur sekolah, maka beliau pun akan menuruti kemauan anaknya dan jika anaknya libur sekolah maka anaknya harus mau untuk diajak melaut. Jika anak-anak minta libur sekolah maka akan diberi ijin oleh pak S, tapi lain hal mandi dan lebih memilih tidur maka pak S akan menendang anak-anaknya yang malas. Pak S sangat “keras” dengan sekolah mengaji mereka, karena menurut beliau itu untuk kebaikan akhirat anak-anaknya.

  “...gak pernah bapak tanyain nak.. dia sekolah ja dah sukur kali bapak rasa nak...” (R.2/W.2/b.494-496/h.21) “...gak tau-tau bapak tuh nak.. yang penting dia sekolah ja lah.. soal urusan sekolah bapak gak ngerti, bapak cuman “es de”.. mamak nya juga gitu gak pernah sekolah.. jadi kami gak tau-menau soal sekolah dia.. biarlah dia sendiri yang ngadapinnya.. kalo ada apa-apakan dia ngadu sama kami...” (R.2/W.2/b.499-509/h.21)

  “...iya nak, bapak serahkan sama dia kalo urusan sekolah. Nti kalo ada apa-apa dia ngadunya ntu...” (R.2/W.2/b.513-516/h.22) “...iya soal sekolah mereka gak tau-tau lah bapak tuh nak, bapak gak ngerti nak. Jadi bapak serahkan ja sama dia semua. Kalo dibilangnya mau libur sekolah yah libur bapak percaya ja, palng kalo libur yah ke laot la sama bapak kan... hahahaha kalo soal sekolahnya gak bapak pantau-pantau dia. Tapi kalo ngaji nya yah pastilah bapak pantau. Orang bapak kok gurunya, yang ngajarin dia. Kalo malas-malas bapak tendangin mereka. Kalo misalnya udah mau dekat ashar mereka masih tidur bapak suruh bangun kalo gak dengar bapak tendang biar cepat besiap untuk ngaji. Orang kan untuk kebaikan akhirat dianya nak...” (R.2/W.3/b.1090-1111/h.43) Karena sikap pak S yang “keras” terhadap anak-anak maka sosok pak S ditakuti oleh anak-anaknya, namun beliau tidak merasa terganggu akan perasaan anak-anak yang takut terhadapnya, beliau malah senang terhadap perasaan takut anak-anak karena menurut beliau anak-anak menjadi tidak berani untuk melawan atau menentang pada beliau dan beliau juga merasa dihormati sebagai ayah. Lain hal dengan istri beliau, jika istri beliau menyuruh anak-anak maka mereka sering tidak mau melakukan apa yang disuruh oleh ibunya namun jika pak S nampak berkata apa-apa dan hasilnya anak-anaknya takut padanya dan langsung mengerjakan perintah ibunya.

  “...iya nak, anak-anak ni takut sama saya...” (R.2/W.2/b.661-662/h.27) “...kalo mereka takut kayak gitu berarti mereka gak berani kan menentang dan melawan sama bapak, nah bapak merasa dihormati sebagai orangtua kalo mereka tuh gak melawan dan menentang apa yang bapak katakan sama bapak...” (R.2/W.2/b.680-687/h.28) “...kalo saya di rumah mereka gak banyak tingkah, kata omaknya kalo saya lagi di luar ntah lagi melaot atau tempat orang gitu, disuruh pun pada

  gak mau anak-anak ni.. tapi kalo saya dah di rumah, omaknya nyuruh anak-anak mereka gak mau ngelakuinnya nanti saya liatin aja dia terus langsung dikerjainnya...” (R.2/W.2/b.664-674/h.27-28) Di keluarga beliau, anak-anak lebih sering berkomunikasi dengan ibunya, menurut beliau, anak-anaknya lebih dekat pada ibunya daripada pak S. Anak-anak selalu cerita pada ibu mereka, lain hal pada pak S. Beliau mengaku bahwa anak- anak jarang sekali berkomunikasi dengannya, komunikasi yang terjalin hanya sebatas “ada perlunya saja” misalnya, anak-anak ingin meminta uang jajan atau uang sekolah padanya selain dari itu beliau mengaku sangat jarang.

  “...yahhh seperti biasa ngomong antara bapak dan anak. Bapak jarang ngomong nak, seperlunya ja... (R.2/W.1/b.186-189/h.8) “...kalo mereka nanya-nanya ja baru bapak jawab misalnya pak da duit untuk bayar uang sekolah, gitu-gitu ja nak. Yang perlu-perlunya ja, kalo ditanya mereka barulah bapak jawab kan. Hahaha...” (R.2/W.1/b.191-197/h.8) “...gak pernah anak-anak tuh cerita sama bapak, mereka kalo ngomong sama bapak kalo da perlu ja, yah kayak minta duit jajan lah, minta uang sekolahlah. Kayak gitu.. kalo cerita-cerita gituh gak pernah sama bapak, mamaknya...” (R.2/W.3/b.1081-1071/h.42-43) Didikan yang diberikan oleh pak S dan istrinya berbeda, istri beliau tidak mau menampar bahkan menendang anak-anak, maka dari itu anak-anak lebih dekat pada ibunya daripada sama pak S. Ketika pak S menghukum anak-anak secara fisik, istri beliau tidak ada berkomentar apapun terhadap perlakuan pak S pada anak-anak. menurut pak S, istrinya mengerti bahwa apa yang dilakukan pak S terhadap anak-anaknya itu semata hanya untuk kebaikan anak-anaknya.

  “...gak pernah ada pertengkaran kok, istri bapak biasanya nurut-nurut ja apa yang bapak suruh... kalo bapak menghukum anak-anak yah ibunya diam ja lah... nurut ja tuh, walaupun anak-anak dekatnya sama mamaknya...” (R.2/W.3/b.893-900/h.36) “...tidak ada masalah nak, istri bapak diam ja kalo bapak menghukum anak-anak bapak.. taunya dia tuh, kalo bapak berbuat keras seperti itu demi kebaikan anak-anak supaya mereka menjadi lebih baik kan...” (R.2/W.3/b.905-912/h.37) Pak S mengaku bahwa pengasuhan secara “keras” tersebut beliau belajar dari orangtua beliau sebelumnya. Beliau juga di “kerasin” oleh orangtua beliau sebelumnya, dan menurut beliau pengasuhan tersebut berhasil membuat anak- anak untuk patuh dan tidak melawan pada orangtua.

  “...Dulu bapak juga dikerasin sama orangtua bapak nak.. bapak dihajar habis-habisan kalo bapak gak dengar apa kata orangtua bapak. Bapak dulu juga takut kali pun sama ayah bapak, kalo dia dah pulang gituh dari melaut suara jejak kakinya ja dah tanda bapak karna sangkin takutnya bapak. Kalo dahh pulang ayah bapak tuh langsung lah bapak mengerjakan sesuatu biar dilihatnya bapak gak nyantai-nyantai di rumah. Gituh lah nak sangkin takotnya bapak sama ayah bapak tuh...” (R.2/W.3/b.912-928/h.37) “...iya nak bapak turunkan apa yang telah diajarkan oleh orangtua bapak seperti itulah...” (R.2/W.3/b.934-939/h.38) Orangtua bebas memilih cara mendidik anak-anaknya yang sesuai menurut mereka baik dan mengarahkan anak-anak kepada kebaikan. Tidak jarang orangtua yang mewarisi didikan dari orangtuanya terdahulu karena mereka menganggap didikan tersebut adalah benar untuk mencapai kearah kebaikan. Seperti yang dilakukan oleh pak S yang meniru didikan orangtuanya yaitu secara “keras” dalam mendidik anak-anaknya.

  IV.C.1. Hasil Observasi dan Rangkuman Wawancara Responden III

  IV.C.1.i. Hasil Observasi Responden III

  Pak SH merupakan ibu rumah tangga yang memiliki satu suami dan memiliki tiga orang anak. Anak beliau yang pertama perempuan yang sudah duduk di kelas dua SMA, yang kedua laki-laki yang duduk dikelas dua SMP, dan yang terakhir adalah perempuan yang masih duduk di kelas lima SD.

  Selama wawancara dilakukan yaitu tiga kali pertemuan dilakukan di rumah pak SH yaitu di ruang tamu. Hari pertama pertemuan wawancara dilakukan yaitu pada hari jum’at pagi sekitar jam sembilan lewat. Peneliti datang ke rumah pak SH yang tempatnya tidak jauh dari rumah pak S yang hanya selang tiga rumah dari rumah pak S. Pak SH pun menyambut kedatangan peneliti dengan hangat. Pak SH sudah mengetahui maksud dan tujuan peneliti datang ke rumah beliau, namun peneliti meminta kembali kesediaan pak SH dalam berpartisipasi di penelitian peneliti. Pak SH pun tetap menyetujui permintaan peneliti sebagai respondennya.

  Pada hari pertama wawancara, pak SH memakai baju daster panjang sampai sebawah lutut warna biru tua dengan motif bunga-bunga besar yang bagus dan warna bajunya pun masih keliatan cerah. Beliau memakai jilbab warna hitam yang penuh dengan manik-manik yang berkilauan. Beliau masih keliatan muda, wajahnya mulus dan belum ada keriput. Beliau memilki kulit bewarna sawo matang. Tinggi beliau kira-kira 150 cm. Beliau memiliki bentuk tubuh yang bulat karna beliau gemuk dan tidak tinggi. Kondisi rumah beliau sama seperti kondisi rumah penduduk lainnya yaitu terbuat dari dinding-dinding tepas dan beratapkan seng yang sudah berkarat, dan kondisi rumah beliau pun sedikit miring sebelah kanan.

  Wawancara dilakukan di ruang tamu, saat itu keadaan ruang tamu rumah pak SH rapi. Ada meja dan kursi tamu yang sudah tua dan sudah banyak di makan rayap. Di meja dan kursi tamu beliau banyak sarang-sarang rayap dan ketika wawancara berlangsung pun ada tiga ekor rayap yang berterbangan. Meja tamu pak SH tidak ada taplaknya dan sedikit berdebu. Di ruang tamu tersebut ada dua buah jendela yang modelnya dua pintu terbuka tidak ada jerejaknya dan jendela tersebut di buka lebar-lebar agar angin laut masuk kedalam rumah. Kondisi jendela tersebut sudah sedikit patah karna lapuk dimakan rayap.

  Wawancara pertama pun membicarakan tentang budaya atau kebiasaan yang ada di masayarakat pesisir pantai. Pak SH menjelaskan sedikit malu-malu dan beliau sedikit merapatkan bibirnya tidak membuka lebar bibirnya, beliau menjelaskan kehidupan masyarakat pesisir dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat tidak dengan suara yang keras tapi pelan-pelan karna beliau masih malu-malu untuk menjelaskannya pada peneliti. Beliau juga sering menutup mulutnya dengan tangannya.

  Hari kedua wawancara, pada saat itu bertepatan pada hari rabu sekitar pukul sepuluh pagi. Pagi itu saat peneliti datang kerumah pak SH, peneliti melihat dari kejauhan pak SH sedang menyapu halaman rumahnya. Sesampai di rumah pak SH, peneliti memberi salam dan meminta maaf karna mengganggu aktivitas pak SH. Namun pak SH menjawab tidak menganggu karna beliau juga sudah tahu bahwa peneliti akan datang kerumah beliau. Saat itu, kondisi rumah beliau sama seperti pertama wawancara yaitu kondisi rumah beliau rapi, tidak ada yang berserakan. Sandal-sandal tersusun rapi di teras rumahnya. Tidak ada benda yang berantakan, ruang tamu pak SH hanya diisi dengan perabotan rumah yaitu kursi dan meja tamu yang sudah tua dan dipenuhi oleh sarang rayap. Ruang tamu beliau terlihat Pak SH memakai baju daster warna kuning cerah dengan motif bunga- bunga besar di padu dengan jilbab yang bewarna hitam yang berkilauan.

  Wawancara kedua ini, pak SH menjelaskan tentang didikan yang beliau berikan pada anak-anaknya. Beliau juga menjelaskan tentang didikan suaminya pada anak-anaknya yang keras terhadap anak-anaknya. pada wawancara kedua ini, pak SH tidak kelihatan malu-malu seprti pada wawancara awal. Pak SH kelihatan lebih rileks saat bercerita, dan tidak tampak pak SH menutupi mulutnya lagi dengan tangannya. Wawancara pun berlangsung dengan sikap antusias dan kooperatifnya pak SH, walaupun pak SH masih juga kelihatan sulit untuk mencari kata-kata yang dianggap tepat.

  Wawancara ketiga pun berlangsung bertepatan pada hari jum’at pukul sembilan lewat. Saat peneliti datang ke rumah pak SH, beliau lagi duduk-duduk di teras rumahnya. Pada saat itu beliau memakai baju daster panjang berwarna cokelat tua yang bermotifkan batik, warna baju beliau sedikit tidak cerah dan kusam. Beliau juga masih memakai jilbab bewarna hitam yang motif dan bentuknya sama seperti saat wawancara pertama dan kedua yaitu jilbab yang penuh dengan manik-manik berkilauan. Kondisi rumah beliau pada saat itu, masih pada kondisi rapi. Meja dan kursi tamu tua yang tersusun rapi tidak ada berantakan, lantai rumah yang tidak ada pasirnya, serta sandal-sandal yang tersusun rapi di teras rumah beliau. Pada wawancara ketiga, peneliti mengecek kembali pertanyaan-pertanyaan yang awalnya sudah ditanyakan kepada bu Salbiah apakah jawaban pak SH sama seperti yang awal ataukah lain, dan ternyata hasilnya adalah sama. Dan pada wawancara ketiga ini pak SH juga terlihat lebih kooperatif dari wawancara sebelumnya, beliau lebih semangat dalam menceritakan hal-hal tentang kehidupan beliau seperti mengasuh anak, suami yang menghukum anak dengan cara melibaskan tali pinggang. Beliau menjelaskannya dengan gerakan-gerakan tangan dan ekspresi wajah yang berubah-ubah. Namun beliau juga masih terlihat kesulitan dalam mencari kata- kata yang dianggap tepat.

  Awal wawancara pak SH terlihat tidak kooperatif, kemungkinan beliau masih asing dengan peneliti. Beliau selalu menutup mulut beliau dengan tangannya. Peneliti melihat tidak ada apa-apa pada bibir mulut beliau yang memungkinkan beliau untuk menutup mulut beliau dengan tangannya, dan beliau pun bercerita dengan suara yang kecil. Namun pada saat wawancara kedua dan ketiga respon beliau pada saat wawancara berubah, beliau terlihat kooperatif dalam sesi wawancaranya. Tidak terlihat sedikit pun beliau menutup mulutnya dengan tangannya lagi. Dan bercerita dengan suara yang keras serta beliau pun sambil menggerak-gerakkan tangannya serta ekspresi wajahnya yang berubah- ubah untuk lebih menekankan pernyataan beliau.

  IV.C.1.ii. Rangkuman Wawancara Responden III

  IV.C.2. Latar Belakang Keluarga

  Peneliti melakukan pendekatan dengan pak SH pada akhir bulan Maret 2012 sebelum melakukan wawancara pada pak SH. Peneliti berkunjung ke rumah pak SH tiga kali dalam seminggu. Yaitu hari Senin, Rabu, dan Jumat.

  Pak SH adalah seorang ibu dari tiga orang anaknya. Beliau tidak memilki pekerjaan tetap, beliau mengaku jika ada borongan dari para tengkulak barulah beliau bekerja dan dapat upah kerja sebesar sepuluh ribu rupiah. Itupun tidak setiap hari beliau dapatkan, karna itu tergantung borongan para tengkulak. Pak SH mengakui bahwa dia tidak memilki kepintaran apa-apa dikarnakan beliau tidak pernah sekolah maka dari itu beliau menerima dengan ikhlas nasib menjadi orang susah.

  Suami beliau adalah seorang nelayan biasa. Suaminya menyewa kapal untuk menangkap ikan, uang sewa kapalnya pun cukup mahal yaitu lima ratus ribu perbulannya namun uang sewa kapal pun dibagi secara merata pada teman- teman suami beliau. Pak SH mengakui, jika mengharapkan dari hasil laut suaminya, maka keluarga beliau sering tidak makan. Dikarenakan suaminya tidak setiap hari mendapatkan penghasilan. Penghasilan suaminya adalah sepuluh sampai lima belas ribu perharinya, tapi itu tidak setiap hari suami beliau dapatkan. Karna pekerjaan sebagai nelayan adalah melihat kondisi lautnya dan cuacanya yang tidak setiap hari mendukung.

  Penghasilan suaminya yang minim maka seluruh keluarga pun ikut mencari uang tambahan. Pak SH yang mencari borongan mengupas kulit udang, anak perempuannya yang pertama bekerja sebagai penjaga toko baju di pajak sore yang penghasilan perbulannya adalah seratus lima puluh ribu, selanjutnya anak lelakinya yang kedua diharuskan untuk ikut melaut bersama ayahnya ketika hari- hari libur sekolah seperti hari minggu. Uang tambahan dari penghasilan anak- anaknya adalah sebagai uang sekolah anak-anaknya. Pak SH berharap agar semua anak-anaknya dapat menyelesaikan sekolahnya sampai SMA tapi jika nanti uang beliau tidak ada untuk menyekolahkan anak-anaknya maka beliau pun terpaksa memberhentikan anaknya untuk sekolah.

  Ketika pak SH tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya lagi maka pak SH pun akan pasrah saja pada takdir. Namun lain hal dengan sekolah ngaji anak- anaknya, pak SH akan berusaha agar anak-anaknya bisa membaca Al-Qur’an dan bisa sholat lima waktu. Walaupun uang ngaji anak-anaknya terbilang cukup murah yaitu seribu lima ratus sampai dua ribu rupiah perbualnnya tapi uang dengan nominal yang demikian sangat berarti buat keluarga pak SH.

  Pak SH mengatakan, jika anaknya yang SMP belum bisa membaca Al- Qur’an maka nantinya akan jadi bahan pembicaraan orang-orang kampong disekitarnya. Karna anak-anak yang belum bisa baca Al-Qur’an saat dia sudah SMP akan jadi bahan pemmbicaraan masyarakat pesisir. Mereka akan menggosipin orangtuanya yang tidak mampu mengasuh anak dengan benar.

  Seperti itulah penuturan pak SH tentang anak-anak yang belum bisa baca Qur’an. Maka dari itu, beliau tekun untuk mengingatkan anak-anaknya supaya mengaji di tempat pak S. Jika anak-anaknya malas mengaji maka suami pak SH akan menghukum anak-anak dengan cara melibaskan tali pinggang kepada anak-anak.

  Melihat anak-anaknya dihukum ketika tidak mau mengaji, pak SH pun sebenarnya sedih tapi itu untuk kebaikan anak-anak. Pak SH mengatakan bahwa suaminya yaitu sosok ayah dari anak-anak adalah orang yang sangat keras dengan anak-anak. Ketika anak-anak melakukan kesalahan maka suami pak SH akan menghukum anak-anak dengan cara melibaskan tali pinggang. Pak SH mengatakan, anak-anak takut sekali dengan ayah mereka. Ketika ayah mereka yaitu suami pak SH berada di rumah maka anak-anak tidak ada yang bandal. Biasanya, jika ayah anak-anak berada di rumah, anak-anak pun berada dirumah juga tidak berkeliaran bermain-main bersama teman-temannya karna takut dimarahin oleh ayah mereka.

  Didikan suami pak SH terhadap anak-anaknya yaitu dengan cara keras. Pak SH mengatakan, jika dikerasin maka anak-anak akan takut padanya dan mau mendengarkan apa yang disuruh oleh ayah mereka. Sedangkan didikan yang diberikan oleh pak SH pada anak-anaknya yaitu jika anak-anaknya berbuat kesalahan maka pak SH akan menasehatinya terlebih dahulu lain hal dengan suaminya yang langsung main libaskan tali pinggang pada anaknya. maka dari itu, pak SH mengatakan anak-anaknya dekat dengannya dan jika ada masalah atau anak-anaknya ingin bercerita maka mereka akan bercerita pada pak SH. Komunikasi anak-anak pada ayahnya hanya seperlunya saja, misalnya minta uang jajan atau minta uang sekolah. Untuk bercanda ria anak-anak tidak berani pada ayah mereka. Mereka hanya bercanda ria pada ibu mereka yaitu pak SH. Didikan yang diberikan oleh pak SH dan suaminya sangat berbeda, namun hal itu tidak menjadi masalah menurut pak SH.

IV.C.3. Analisa Data Responden III

  IV.C.3.a. Gambaran kebudayaan masyarakat pesisir

  Pak SH mengatakan budaya Melayu sebagai budaya yang memiliki identitas Islamnya maka dari itu kehidupan beliau juga dekat dengan nilai-nilai keislamannya seperti waktu sholat sudah tiba maka beliau pun mengerjakan sholat terlebih dahulu segala aktivitas dan pekerjaan ditinggalkan dahulu untuk sementara. Anak-anak beliau pun tidak ada yang bermain lagi, beliau menyuruh anak-anaknya untuk sholat terlebih dahulu.

  “...budaya disini dekat dengan keislaman. Karna kan disini kebanyakan orang melayu, kalo orang melayu kan islam jadi budaya disini ya kayak gitulah...” (R.3/W.1/b.45-50/h.2) “...misalnya kalo dah masuk solat, ya orang-orang disini solat la.. kalo masih kerja ya ditinggalkannya dulu, solat dulu lah dia gak bekeliaran la dia. Anak-anak pun disuruh solat dulu kalo dia gak sekolah...” (R.3/W.1/b.53-60/h.2-3) Anak-anak beliau diberi nilai-nilai islami pada usia lima tahun, mereka sudah diajarkan membaca Qur’an, anak usia lima tahun biasanya belajar Iqro’ terlebih dahulu dan nantinya baru bisa membaca Qur’an. Selain belajar membaca Qur’an anak-anaknya juga diajarkan sholat lima waktu serta ajaran-ajaran agama islam. Beliau mempercayai anak-anaknya untuk belajar agama pada pak S maka dari itu beliau harus mengeluarkan uang untuk membayar pak S setiap bulannya sebesar Rp1500-Rp2000. Di lingkungan beliau, jika anak-anak yang sudah SMP tidak pandai membaca Al-Qur’an maka akan menjadi bahan pembicaraan masyarakat setempat. Beliau mengatakan, Orangtuanya akan di gosipin bahwa

  tidak berhasil mendidik anaknya, tidak peduli pada anaknya, dan anaknya juga dikatain “bodoh” sama masyarakat setempat.

  “...dari umurnya lima taon la nak. Ibuk suruh dia sekolah ngaji.. sekolah ngajinya bayarnya seribu lima ratus. Murah Nak.. jadi anak-anak ibuk bisa lah ibuk sekolahin ngajinya...” (R.3/W.1/b.134-140/h.5) “...kalo disini ngasuh anak tuh dengan cara ngajarin anak agamanya nak, belajar ngaji dia, sholat lima waktunya, harus tau dia tuh dari kecil umur lima tahun harus tahu dia tuh cara-cara sholat, kalo umur lima taon kan biasanya belajar iqro’ dulu tuh harus bisa tuh nah nanti kal dah dia “es m pe” belom bisa baca kur’an barulah nanti da yang gosip-gosip itu tuh anak sia anu belom pande baca kur’an masak dah “es m pe” belom bisa juga bodoh kali anaknya mungkin atau orangtuanya gak peduli sama anaknya... gitu-gtiuh lah nak. Biasanya orang sini tuh anak-anaknya belajar ngajinya sama pak S yang kayak ibuk bilang tadi bayah seribu lima ratus atau dua ribu gituh lah nak. Mank sih kedengarannnya murah yah kan nak tapi kalo sama orang sini tuh dah besar kali tuh uang segitu nak, namanya juga orang susah...” (R.3/W.1/b.424-452/h.13-14-15) Pendidikan agama islam buat anak-anak bagi pak SH sangat penting yaitu mengajari anak-anak mengaji, sholat, serta mengenalkan agama islam dan peraturan-peraturan di agama islam itu sangat penting. Seperti yang dikatakan pak orangtua, mau dibawa kemana si anak tersebut oleh orangtuanya. Karena budaya Melayu adalah budaya orang islam maka dari itu anak-anak juga harus dari kecil di bawa ke ajaran agama islamnya dari mereka usia lima tahun. Bagi pak SH pendidikan agama anak-anak adalah bekal anak-anak untuk akhirat, maka dari itu sangat penting pendidikan agama di mata masyarakat pesisir dan bu Salbiah.

  Namun lain hal dengan pendidikan sekolah umum biasa, menurut pak SH pendidikan umum hanya bersifat sementara tidak jauh lebih penting dari pendidikan agama. Bagi pak SH tidak ada masalah jika anak-anak sudah tidak

  mampu disekolahi lagi, namun walaupun sudah putus sekolah pendidikan agama harus jalan terus.

  “...iyahlah nak pendidikan agamanya penting kali tuh nak, menurut ibuk itu tanggung jawab ibuk sebagai orangtua besar kali nak sama Tuhan ntuk nunjukin anak-anak ibuk ke jalan yang betol kan nak, lagian kan kami disini nak melayu semuanya dan semuanya beragama islam nak jadi ada rasa malu tersendiri nak kalo keluarga kita gak pande ajaran islam, gak tau tentang islam dan baca kur’an atau sholat. Malu lah nak. Makanya penting kali tuh agamanya nak, kalo pendidikan umum dia kayak sekolah tuh, yahhh ibuk kan berharap bisa neyekolahinnya sampe “es m a” tapi kalo keuangan berkata lain apa lah hendak dibuat kan.. hahahaha lagian kan sekolah untuk dunia nak, dunia bersifat sementara makanya yaudah lah yang paling penting tuh ajaran agamanya...” (R.3/W.2/b.566-592/h.18-19) “...iya nak, belum sama penting pendidikan umum sama agama mereka, kalo menurut ibuk juga kayak gituh nak, kalo pendidikan agama lah yang sangat penting untuk bekal akhirat mereka kan. Yang penting kita sudah membekali mereka dengan keislaman soal nantinya mereka jalni tuh agama yahhhh itu soal tanggung jawab mereka sendiri kan. Yang penting dah kita bekali mereka nak...” (R.3/W.3/b.811-824/h.26-27) Selain kuat dengan nilai keislamannya, pak SH juga mengatakan bahwa di lingkungannya juga peduli dengan tetangganya, mereka tunjukkan kepedulian tanggungan anak-anaknya yaitu anak-anak mereka yang sudah pada menikah maka pasangan suami istri tersebut wajib untuk membantu tetangganya yang masih banyak tanggungan anak-anaknya, misalnya keluarga yang masih banyak anak-anaknya yang masih sekolah SD, atau belum sekolah. Orangtua yang mengasuh, terkadang memenuhi segala kebutuhan anak-anaknya namun itu tidak mutlak terjadi karena itu semua tergantung pada kesepekatan awal untuk mengasuh anak tetangganya.

  “...ngasuh anak orang kalo kita dah tinggal bedua sama suami. Gitu nak, kalo budaya disini.. karna kan, disini orangnya susah-susah semua jadi semuanya harus saling tolong menolong semuanya nak. Jadi kalo ngasuh anak orang ntu kalo’ anak kecilnya misalnya tah belom sekolah atau masih sekolah “es de” ntu lebih dari satu...” (R.3/W.1/b.66-77/h.3) “...kebutuhan si anak di tanggung sama orang yang ngasuhnya. Tapi terkadang ada juga yang setengah-setengah. Tergantung kesepakatan antara orangtuanya dan orang yang akan mengasuhnya nanti nak...” (R.3/W.1/b.95-101/h.4) Pak SH adalah salah satu masyarakat pesisir yang hidup dalam kemiskinan yang rentan memiliki persoalan kehidupan mengenai ekonomi. Beliau mengaku persoalan kehidupannya adalah masalah ekonomi. Beliau selalu menghutang kesana-kesini untuk kebutuhan hidupnya, dan hutang beliau pun tidak pernah terselasaikan karena beliau mengatakan istilah “gali lubang tutup lubang” maka dari itu hutang beliau pun tidak pernah terselesaikan.

  “...persoalan uang lah nak. Itunya persoalan orang susah. Hahahaha... kalo udah gak da uang ngutang lah sana sini, ntupi utang-utangnya pun galilubang tutup lubang gituh gak pernah selesai utang-utang tuh.. cemana lah nak, keluarga perlu makan sedangkan uang gak da yah ngutang lah yah kan. Walaupun anak ibuk yang besar kerjanya di jadi jaga toko nak tapi ngarapin dari hasil laotnya bapak lah... tapi mau gimana lagi itulah takdir kami kan nak.. hahahaha...” (R.3/W.2/b.497-515/h.16-17) Persoalan kehidupan beliau yang terus mendera, mengakibatkan beliau mengajak anak-anaknya untuk bekerja mencari uang. Dari anak usia enam sampai tujuh tahun, anak-anak sudah dibawa untuk bekerja yang nantinya akan menghasilkan uang tambahan keluarga. Anak-anak beliau harus banting tulang juga untuk membantu kebutuhan keluarga. Anak pertama beliau harus membanting tulang, setelah ia pulang dari sekolah ia harus menjaga toko baju

  yang berada di pajak sore, sedangkan anak lelaki beliau ketika libur sekolah, mereka tidak bisa meliburkan diri dari aktivitas karena mereka harus ikut melaut bersama ayahnya demi untuk mendapatkan uang lebih. Walaupun anak sudah ikut andil dalam membantu ekonomi keluarga, pak SH tidak bisa juga untuk menabung sedikit uangnya. Karena menurut pak SH banyak sekali tunggakan bulanan yang harus dibayarnya yang mengakibatkan beliau tidak bisa menyisihkan uangnya. Dalam sebulan itu beliau harus membayar tagihan bulanan air, listrik, dan uang sekolah anak-anaknya.

  “...anak-anak orang sini kan yang umur-umur enam atau tujuh taon kayak gituh ikut borongan ngupas udang diajak mamaknya gituh kan upahnya lumayan ntuk makan kan...” (R.3/W.2/b.539-544/h.18) “...semuanya anak-anak disini udah bisa cari duet sendiri. Misalnya dari umor enam sampe tujuh taon gituh yang perempuan diajak mamaknya sama-sama ke borongan tengkulak itu. Itukan pekerjaan wanita, kalo yang laki-lakinya yahhhh ngelaot lah sama bapaknya. Gitunya orang sini. Kalo bukan anak-anak yang bantu ekonomi keluarga sapa lagi nak, gak mungkinkan uang jatoh dengan sendirinya kalo gak kerja... gituh lah nak..” (R.3/W.3/b.765-779/h.25) “...harus kerja semuanya. Dari orangtua sampek anak-anaknya harus kerja cari duet nak. Kalo ibuk tunggu ada borongan dari tengkulak baru dapat duet, anak ibuk pertama jadi jaga toko baju, anak ibuk kedua yang laki- laki tuh kalo libur sekolah barulah diajak ayahnya ngelaut sama-sama, tapi kalo yang masih kelas lima “es de” ntu yah gak lah sama kayak abang dan kakaknya kan. Palingan dia juga ikut sama ibuk ngupas udang borongan tengkulak...” (R.3/W.2/b.521-536/h.17) “...mau gimana pulak nabung nak, itu ja kurang nak sebulannya. Banyak nak pengeluaran, kayak bayar listrik, aer lah, uang sekolah anak-anaklah, makan sehari-hari, utang lah, aduuuuhhhh pening ibuk nak... hahahahaha...” (R.3/W.2/b.548-555/h.18)

  Pak SH menganggap anak itu adalah tanggungan orangtua, beban orangtua. Karena beliau menganggap anak adalah sebagai beban atau tanggungan orangtua maka dari itu pak SH sangat mengharapkan anak-anaknya untuk segera menikah karena dengan hal menikahkan anaknya dengan segera akan mengurangi tanggungan pak SH. Beliau sangat mengharapkan sekali jika anak pertamanya yang perempuan menikah cepat. Di lingkungan beliau juga banyak orangtua yang sudah menikahkan anak-anaknya di usia 14 sampai 18 tahun, bahkan tidak ada yang menikah di usia 20 tahun keatas.

  “...soal menikah tuh, anak-anak maunya tuh dinikahkan cepat nak, orang sini biasanya anak-anak tuh nikah cepat nak kalo yang laki-laki udah pande cari duit dia nak, misalnya dah pandenya dia ngelaot atau ada kerjaan lain gituh nak yaudah kalo mau nikah dia dinikahkan orangtuanya, kalo yang perempuan dia nak dah haid dia nak yaudah boleh lah dinikahkan orangtuanya kalo dah da jodohnya yang mau minang dia kan. Kalo orang-orang sini biasanya anak-anaknya tuh nikah muda nak, nikahnya tuh umor empat belas taon sampe lapan belas taon gituh dah nikah lah tuh... gak da tuh umor dua puluhan nikahnya, gak da tuh nak pasti sekitar segitulah umornya...” (R.3/W.3/b.828-850/h.27-28) “...si kakaknya tuh lah, kalo dah da yang mau nikahin dia yah nikah lah ibuk lagi dia kan...” (R.3/W.3/b.853-858/h.28) Pak SH mengatakan, jika anak lelaki yang sudah bisa mencari penghasilan sendiri dan ia meminta untuk menikah maka orangtua pun termasuk dirinya akan menikahkan anaknya sedangkan anak perempuan jika ia sudah baligh atau menstruasi maka orangtua sudah bisa menikahkan anaknya. Seperti itulah kebiasaan yang terjadi pada masyarakat pesisir setempat dan juga pada keluarga pak SH.

  IV.C.3.b. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pola Asuh Orangtua

  IV.C.3.b.1. Pendidikan

  Faktor pendidikan juga sedikit banyaknya ikut mewarnai pola asuh pak SH terhadap anaknya. Pak SH orangtua dari tiga orang anak yang tidak memiliki pendidikan. Hal ini berimplikasi mengenai pendidikan sekolah anak-anaknya, beliau tidak pernah peduli pada pendidikan sekolah anak-anaknya. Beliau tidak mengetahui tentang pendidikan sekolah karena beliau tidak pernah sekolah maka dari itu beliau tidak pernah menanyakan bagaimana perkembangan anaknya disekolah. Beliau menyerahkan segala urusan sekolah pada anak-anaknya.

  “...ibuk ja gak tau menau tentang sekolah dia. Ibukkan gak sekolah nak, jadi soal sekolah dia gak pernah ibuk tanya-tanya gimana dia disekolah, pelajarannya atau apalah. Gak tau lah ibuk tuh... pokoknya ibuk sekolahin ja selagi mampu disekolahin...” (R.3/W.1/b.656-664/h.21) “...ibuk gak tau apa-apa tentang sekolah anak-anak ibuk. Bapaknya anak- anak juga gituh gak pernah nanyain tentang rangking berapalah, kelasnya dimanalah, pelajaran gimana atau apalah nak itu gak pernah nak. Kami gak tau sekolahan itu gimana, namanya juga gak sekolah. Bapaknya anak-anak juga gak pernah sekolah...” Pak SH pun tidak menghiraukan bagaimana perkembangan sekolah anak- anaknya. Beliau tidak mengetahui bagaimana perkembangan sekolah anak- anaknya, beliau juga tidak pernah menanyakan tentang sekolah. Bukan hanya pak SH saja yang bersikap seperti itu namun suaminya juga bersikap acuh pada sekolah anak-anak, yang mereka tahu hanya membiayai sekolah anak-anak selagi mereka mampu.

IV.C.3.b.2. Lingkungan

  Adapun faktor yang ikut mewarnai pola asuh dari pak SH yaitu lingkungannya. Di lingkungan beliau, banyak sekali anak yang menikah di usia dini. Beliau mengatakan anak-anak di lingkungannya rata-rata menikah di usia empat belas sampai delapan belas tahun bahkan tidak ada yang menikah pada usia dua puluh tahun keatas. Karena kondisi lingkungan tersebut, maka pak SH pun mengharapkan anaknya yang pertama untuk menikah dengan segera karena menurut pak SH agar beban tanggungannya dapat berkurang.

  “...soal menikah tuh, anak-anak maunya tuh dinikahkan cepat nak, orang sini biasanya anak-anak tuh nikah cepat nak kalo yang laki-laki udah pande cari duit dia nak, misalnya dah pandenya dia ngelaot atau ada kerjaan lain gituh nak yaudah kalo mau nikah dia dinikahkan orangtuanya, kalo yang perempuan dia nak dah haid dia nak yaudah boleh lah dinikahkan orangtuanya kalo dah da jodohnya yang mau minang dia kan. Kalo orang-orang sini biasanya anak-anaknya tuh nikah muda nak, nikahnya tuh umor empat belas taon sampe lapan belas taon gituh dah nikah lah tuh... gak da tuh umor dua puluhan nikahnya, gak da tuh nak pasti sekitar segitulah umornya...” (R.3/W.3/b.828-850/h.27-28) “...iyalah nak, berharap kali pun. Kalo dia dah nikah tinggalah adek- (R.3/W.1/b.165-168/h.6) Dari penuturan pak SH, beliau mengatakan biasanya anak yang sudah menikah tidak tinggal atau hidup di rumah mereka yang baru, tapi mereka yang sudah menikah masih tetap tinggal di rumah orangtuanya. Misalnya anak yang sudah menikah, akan tinggal di rumah orangtua wanitanya. Hal tersebut dikarenakan mereka yang sudah menikah belum memiliki uang yang cukup banyak untuk membuat rumah. Dan demikian juga yang terjadi pada pak SH, beliau tidak memikirkan bagaimana kehidupan anaknya setelah menikah nantinya,

  bagi beliau anaknya menikah terlebih dahulu dengan segera agar beban tanggungan beliau dapat berkurang.

  “...biasanya tinggal sama orangtuanya nak, ihhh mahal lah buat rumah sendiri nak. Biasanya masih tinggal sama orangtuanya dulu nti kalo dah punya duet barulah beli rumah. Tapi biasanya daerah sini jugak nya rumahnya tuh...” (R.3/W.3/b.865-872/h.28) “...kalo pun mereka tinggal dirumah orangtua mereka kan bisa saling membantu kan ekonomi keluarga. Biasanya kan yang dah nikah gituh tinggalnya dirumah perempuannya kan. Ayahnya si perempuan kan kerja, seluruh keluarganya kan kerja jadi kalo da mantu kan jadi tebantu juga sedikit ekonomi keluarga besar gituh nak... hahahaha..” (R.3/W.3/b.874-886/h.28-29) Selain anak-anak yang cepat menikah, di lingkungan pak SH juga anak- anak yang usianya masih terbilang muda sudah mampu bekerja dan menghasilkan uang itu dikarenakan orangtua yang menyuruh anaknya untuk ikut andil dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Biasanya anak yang usianya enam sampai tujuh tahun sudah diajak ibunya untuk ikut dalam borongan mengupas kulit udang dari para tengkulak. Karena pada usia tersebut anak-anak tidak dimungkinkan untuk yang usianya masih terbilang dini diikutkan orangtuanya dalam borongan tersebut. Karena upah dari hasil tersebut adalah sepuluh ribu rupiah yang jumlahnya cukup lumayan di mata masyarakat pesisir. Termasuk juga pak SH ketika dapat borongan mengupas kuli udang, beliau menyertakan anaknya yang masih kelas lima SD untuk ikut bersamanya dalam borongan mengupas kulit udang demi untuk mendapatkan upah sepuluh ribu rupiah.

  “...semuanya anak-anak disni udah bisa cari duet sendiri. Misalnya dari umor enam sampe tujuh taon gituh yang perempuan diajak mamaknya sama-sama ke borongan tengkulak itu. Itukan pekerjaan wanita, kalo yang

  laki-lakinya yahhhh ngelaot lah sama bapaknya. Gitunya orang sini. Kalo bukan anak-anak yang bantu ekonomi keluarga sapa lagi nak, gak mungkinkan uang jatoh dengan sendirinya kalo gak kerja... gituh lah nak..” (R.3/W.3/b.765-779/h.25) “...harus kerja semuanya. Dari orangtua sampek anak-anaknya harus kerja cari duet nak. Kalo ibuk tunggu ada borongan dari tengkulak baru dapat duet, anak ibuk pertama jadi jaga toko baju, anak ibuk kedua yang laki- laki tuh kalo libur sekolah barulah diajak ayahnya ngelaut sama-sama, tapi kalo yang masih kelas lima “es de” ntu yah gak lah sama kayak abang dan kakaknya kan. Palingan dia juga ikut sama ibuk ngupas udang borongan tengkulak...” (R.3/W.2/b.521-536/h.17) Perekonomian keluarga pak SH yang sangat jauh dari kecukupan sangat memungkinkan jika suatu saat nanti anak-anaknya mengalami putus sekolah. Tapi bagi beliau putus sekolah atau tidak sekolah sama sekali tidak masalah baginya karena pendidikan sekolah umum biasa adalah pendidikan yang hanya untuk dunia saja tidak membekali akhirat anak-anaknya. Pak SH menganggap pendidikan umum anak-anak tidak terlalu penting untuk anak-anak, tidak sama pentingnya dari pendidikan agama anak-anak. Jadi jika nanti anak-anaknya sudah pak SH untuk melanjutkannya. Pak SH hanya berserah pada nasibnya sebagai orang susah, walau sekolah anak-anak putus tapi tidak untuk pendidikan agama mereka yaitu mengaji. Mengaji harus tetap lanjut sampai mereka paham, bisa, dan mengerti tentang agama.

  “...banyak lah nak, banyak yang putus sekolah anak-anak sini yahhhh karna itu lah cemana penghasilan bapaknya cuman sepuloh atau lima belas ribu perharinya, kalo diharapkan dari uang hasil ngelaot yahhh gak mungkinlah anak-anak tuh skolah nak... lagian kalo orang sini tuh masih menganggap sekolahan itu gak penting nak, gak sepenting dengan pendidikan agama anak-anak. kalo gak sekolah anak-anak masih bisa cari

  kerja kan, kalo anak-anak gak tau soal agama bisa-bisa masok neraka nantinya.. kan maunya sekeluarga tuh masok surga nak... hahahaha” (R.3/W.3/b.785-804/h.26) “...iyahlah nak pendidikan agamanya penting kali tuh nak, menurut ibuk itu tanggung jawab ibuk sebagai orangtua besar kali nak sama Tuhan ntuk nunjukin anak-anak ibuk ke jalan yang betol kan nak, lagian kan kami disini nak melayu semuanya dan semuanya beragama islam nak jadi ada rasa malu tersendiri nak kalo keluarga kita gak pande ajaran islam, gak tau tentang islam dan baca kur’an atau sholat. Malu lah nak. Makanya penting kali tuh agamanya nak, kalo pendidikan umum dia kayak sekolah tuh, yahhh ibuk kan berharap bisa neyekolahinnya sampe “es m a” tapi kalo keuangan berkata lain apa lah hendak dibuat kan.. hahahaha lagian kan sekolah untuk dunia nak, dunia bersifat sementara makanya yaudah lah yang paling penting tuh ajaran agamanya...” (R.3/W.2/b.566-592/h.18-19) “...iya nak, belum sama penting pendidikan umum sama agama mereka, kalo menurut ibuk juga kayak gituh nak, kalo pendidikan agama lah yang sangat penting untuk bekal akhirat mereka kan. Yang penting kita sudah membekali mereka dengan keislaman soal nantinya mereka jalni tuh agama yahhhh itu soal tanggung jawab mereka sendiri kan. Yang penting dah kita bekali mereka nak...” (R.3/W.3/b.811-824/h.26-27) Seperti itulah yang terjadi di lingkungan pak SH yang sedikit banyaknya mempengaruhi bagaimana beliau bertindak dan bersikap pada anak-anaknya.

  IV.C.3.b.3. Budaya

  Faktor budaya atau kebiasaan juga sebagai salah satu penunjang bagaimana pak SH dalam mendidik anak-anaknya. Pak SH mengatakan kebiasaan yang ada di masyarakat pesisir yaitu kebiasaan yang lekat dengan unsur islamnya. Hal ini dikarenakan adanya faktor budaya Melayu. Beliau beranggapan bahwa orang yang bersuku Melayu adalah orang yang beragama islam oleh karena itu kehidupan beliau pun dekat dengan unsur islamnya. Misalnya saja sudah masuk waktu sholat, maka jika beliau sedang melakukan aktivitas akan wajib hukumnya

  untuk menunda dahulu aktivitas yang dilakukan dan bersegera untuk melakukan ibadah sholat. Hal itu tidak hanya berlaku pada beliau saja namun juga pada anak- anaknya. Beliau akan menyuruh anak-anaknya juga untuk mengerjakan sholat, maka dari itu ketika sudah masuk waktu sholat anak-anak tidak ada yang berkeliaran untuk bermain-main.

  “...budaya disini dekat dengan keislaman. Karna kan disini kebanyakan orang melayu, kalo orang melayu kan islam jadi budaya disini ya kayak gitulah...” (R.3/W.1/b.45-50/h.2) “...misalnya kalo dah masuk solat, ya orang-orang disini solat la.. kalo masih kerja ya ditinggalkannya dulu, solat dulu lah dia gak bekeliaran la dia. Anak-anak pun disuruh solat dulu kalo dia gak sekolah...” (R.3/W.1/b.53-60/h.2-3) Selain mengajarkan anak-anak untuk sholat tepat pada waktunya, anak- anak juga harus belajar agama. Beliau mengharuskan mereka untuk belajar agama, mengaji baca Qur’an serta bagaimana ajaran yang ada di dalam agama islam. Beliau mempercayai anaknya untuk diajarkan membaca Qur’an serta sholat pada pak S. Pak SH mengatakan, ia harus membayar pak S sebesar seribu lima ratus atau dua ribu rupiah perbulannya. Uang dengan nominal yang demikian sangat berarti pada bu SH tapi karena itu demi pendidikan agama anak-anak maka pak SH akan berusaha untuk itu.

  “...dari umurnya lima taon la nak. Ibuk suruh dia sekolah ngaji.. sekolah ngajinya bayarnya seribu lima ratus. Murah Nak.. jadi anak-anak ibuk bisa lah ibuk sekolahin ngajinya...” (R.3/W.1/b.134-140/h.5) “...kalo disini ngasuh anak tuh dengan cara ngajarin anak agamanya nak, belajar ngaji dia, sholat lima waktunya, harus tau dia tuh dari kecil umur lima tahun harus tahu dia tuh cara-cara sholat, kalo umur lima taon kan biasanya belajar iqro’ dulu tuh harus bisa tuh nah nanti kal dah dia “es m pe” belom bisa baca kur’an barulah nanti da yang gosip-gosip itu tuh anak

  sia anu belom pande baca kur’an masak dah “es m pe” belom bisa juga bodoh kali anaknya mungkin atau orangtuanya gak peduli sama anaknya... gitu-gtiuh lah nak. Biasanya orang sini tuh anak-anaknya belajar ngajinya sama pak S yang kayak ibuk bilang tadi bayar seribu lima ratus atau dua ribu gituh lah nak. Mank sih kedengarannnya murah yah kan nak tapi kalo sama orang sini tuh dah besar kali tuh uang segitu nak, namanya juga orang susah...” (R.3/W.1/b.424-452/h.13-14-15) Pak SH mengatakan ada hal yang menjadi kebiasaan di lingkungannya yaitu ketika anak-anak sudah SMP, dan belum bisa juga membaca Al-Qur’an dengan baik maka masyarakat pesisir setempat akan menggosipi keluarga si anak tersebut. Biasanya masyarakat mengatakan bahwa orangtuanya tidak mampu mendidik anaknya, anaknya yang terlalu “bodoh” untuk bisa membaca Al-Qur’an, dan lain-lain.

  Karena faktor budaya dan lingkungan di tempat pak SH yang dekat dengan unsur islamnya maka sedikit banyaknya juga akan mempengaruhi bagaimana didikan pak SH pada anak-anaknya.

  Orangtua adalah seseorang yang mendampingi dan membimbing anak- anaknya. Orangtua juga mempunyai pandangan serta caranya tersendiri dalam memberikan pengasuhan pada anak-anaknya. Seperti pak SH yang memiliki pandangan tersendiri tentang pengasuhan pada anak-anak, beliau berpandangan bahwa pengasuhan itu mengurus anak seperti makan, menyekolahinnya jika selagi beliau masih mampu, mengaji serta ajaran agamanya.

  “...ya ngurus dia lah ya kan. Kayak makannya, sekolahnya, agamanya. Ya gitulah...” (R.3/W.1/b.117-120/h.4)

  “...ibuk rawatlah dia dari kecil sampe sekarang… ibu sekolahin dia ngaji biar tau dia agama, ibu sekolahin juga dia “esde” sampe “es m a” nya itupun kalo ibuk masih punya duit nak...” (R.3/W.1/b.125-131/h.5) Pak SH juga memiliki caranya tersendiri dalam memberikan kasih sayang pada anak-anaknya, beliau memberikan kasih sayang pada anak dengan cara menyekolahkan anaknya, memberi makan anak-anaknya, kasih uang jajan anak- anaknya, serta mendidik anaknya dengan memberikan hukuman jika anaknya melakukan kesalahan seperti yang biasanya beliau lakukan yaitu menarik telinga anak-anaknya itu juga merupakan rasa bentuk kasih sayang beliau pada anak- anaknya. Karena jika beliau tidak sayang pada anak-anaknya, maka beliau akan membiarkan anaknya saja.

  “...nunjukin kasih sayang yah disekolahin dia, dikasih makan dia, kasih uang jajan semampunya.. hahahaha... didik dia untuk yang benar nak, dikasih tau dia yang mana yang benar dan yang buruk buat diri dia gituh nak. Ibuk cubit dia atau narik telinga dia karna ibuk sayangnya sama dia nak. Coba kalo gak sayang ibuk sama dia misalnya kayak pulang malam lah dia gituh kan nak yaudah ibuk biarin ja lah dian kan kalo ibuk gak sayang sama dia, mau pulang atau gak biarin ja.. ni kan ibuk cari dia nak, ibuk tuh takut nak dia tuh ikut-ikut pergaulan yang gak betul disini. Disini takot dia ikut-ikutan kayak gituh nak. Jangan lah sampe anak ibuk ikut- ikut kayak gituh... ihhh...” (R.3/W.1/b.599-624/h.19-20) Hukuman yang biasa dilakukan pak SH pada anak-anaknya yaitu mencubit atau menarik telinga anaknya, pak SH punya alasan tersendiri mengapa ia melakukan hal tersebut pada anaknya itu dikarenakan beliau takut anaknya terjerumus pada pergaulan yang tidak benar seperti berjudi atau narkoba. Biasanya yang dilakukan oleh anak pak SH yaitu pulang diatas jam sembilan malam, jika anak belum pulang jam sembilan maka pak SH pun sudah khawatir dan mencari

  anaknya dan setelah ketemu maka anak pun langsung dicubit atau ditarik telainganya dan dibawa pulang ke rumah dan sesampai di rumah pun anak belum bisa aman dari hukuman orangtua karena ayahnya yaitu suami pak SH sudah menunggu untuk “menghajar” si anak.

  “...jahatnya ni anak ibuk ni suka kali pulang malam-malam. Dah ibuk kasih tau sama dia kalo jam sembilan malam itu harus naik ke rumah tapi terkadang dia bandel kali nak. Tetap ja pulang lama. Ibuk mendidih darah ibuk kalo dia belom pulang juga jam sembilan malam. Ibuk cari la tuh ke rumah-rumah tetangga dimana dia maen. Ibuk cubit kan dia, buk tarek telinganya. Takut ibuk nak, dia menjahat tah bejudi atau bernarkoba dia nak. Takuuut kali ibuk nak, jadi kalo jam sembilan malam belom pulang juga ibuk cariin lah kayak gitu. Awak dah bilang sama dia baek-baek harus naek ke rumah jam sembilan...” (R.3/W.1/b.210-231/h.7-8) “...kadang maennya dia sama kawan-kawannya. Mengobrolnya dia, itunya kerjanya. Jantung ibuk dah berdebar kalo dia pulang ke rumah malam- malam gitu nak...” (R.3/W.1/b.236-241/h.8) “...Ibuk cubit kan dia, buk tarek telinganya. Takut ibuk nak, dia menjahat tah bejudi atau bernarkoba dia nak. Takuuut kali ibuk nak, jadi kalo jam sembilan malam belom pulang juga ibuk cariin lah kayak gitu. Awak dah bilang sama dia baek-baek harus naek ke rumah jam sembilan...” (R.3/W.1/b.221-231/h.8) “...ooo iya nak, nti kan ibuk tuh yang biasa nyari dia kan kemana ja dia melalaknya. Trus dapatlah dirumah tetangga ja dia bekombur ja kerjanya ibuk tarek lah telinganya kan nti sampe dirumah dihajar ayahnya lagi nak. Habis dihajar ayahnya tuh nak. Di tali pinggang kan ayahnya lah mereka. (R.3/W.1/b.304-314/h.10) Melihat suaminya menghajar anaknya dengan menggunakan tali pinggang yang dilibaskan pada anaknya, tidak ada masalah menurut pak SH karena apa yang dilakukan oleh suaminya sudah benar yang dilakukan suaminya itu tujuannya untuk mendidik anak ke arah yang positif dan juga dengan tujuan supaya anak jera tidak mengulangi kesalahan yang sama.

  “...yah biasa ja nak, ayahnya kayak gituh kan demi untuk kebaikan dia nak supaya dia gak ngulangin kayak gituh lagi kan. Supaya dia patuh sama orangtuanya kan nak, biar dia jera nak tapi udah digituin sama ayahnya nanti ngulangin lagi tingkahnya yang sama pulang malam juga lagi. Cemana lah ayahnya gak naek darah sama orang tuh..” (R.3/W.1/b.319-330/h.11) “...ibuk sih terserah sama bapaknya nak, ibuk percaya apapun yang dilakukan oleh bapak pada anak-anak itu semua karna dia sayang sama anak-anak. dia ngajak anak-anak tuh ntuk ke arah kebaikan nak. Jadi ibuk sih percaya ja sama bapak. Dia keras karna dia sayang supaya anak- anaknya tuh gak nakal lagi...” (R.3/W.3/b.907-917/h.29-30) Walaupun sudah dihukum oleh ayahnya dengan cara “keras”, anak tidak juga jera dengan kenakalannya. Pak SH mengatakan bahwa anaknya masih sering juga melakukan kesalahan yang sama yaitu pulang diatas jam sembilan. Oleh karena itu, pak SH mengungkapkan bahwa anak memang harus di hukum, jika tidak dihukum secara “keras” pak SH takut anaknya akan lebih nakal lagi.

  “...perlu lah nak, biar orang tuh jera nak. Kan harapan ibuk supaya mereka tuh gak buat lagi tingkah yang sama tapi nyatanya udah digituin pun masih ngulangin lagi.. bandel kali memang anak ibuk...” (R.3/W.1/b.363-369/h.12) sama ayahnya tapi tetap ja bandel juga. Apalgi kalo dilembek-lembekin makin merajalela lah nakalnya tuh...” (R.3/W.1/b.373-379/h.12-13) Selain pulang diatas jam sembilan malam, anak juga terkadang malas- malasan untuk membantu ayahnya untuk melaut. Jika anak bermalas-malasan untuk membantu ayahnya melaut maka ayahnya akan mengatakan jangan membuat susah orangtua jika lagi libur sekolah, anak harus membantu orangtua.

  Jika anak masih malas-malasan juga yaitu masih tidur ketika dibangunin ayahnya

  maka ayahnya pun akan menarik telinga si anak sampai anaknya terbangun dari tempat tidur.

  “...marah lah ayahnya nak. Dia tuh dibangunin ayahnya tuh jam empat nak, nah disitu mereka tuh mandilah yah kan, siap-siap ngelaot. Apa-apa ja yang mau dibawa dipersipakan, nah nanti kalo ajan shubuh sholatlah dulu kan baru habis shubuh tinggal berangkat nak. Gituh kalo misalnya malas- malasan, tidur dia gituh kan. Dibangunin ayahnya kalo masih bandel juga gak mau bangun barulah ditarek telinganya sama ayahnya, bangun kau kalo libur jangan buat susah ja, bantu keluarga gituh nak...” (R.3/W.3/b.743-760/h.24-25) Pak SH maupun suaminya ketika menghukum anak-anaknya dengan cara mencubit, menarik telinganya, atau melibas tali pinggang pada anak-anaknya, mereka berdua tidak ada memberikan alasan mengapa anak tersebut mendapatkan hukuman seperti itu karena menurut mereka anak-anak sudah mengetahui bahwa mereka salah makanya mereka wajib mendapatkan hukuman seperti itu. Dan anak juga tidak diberi kesempatan untuk membela diri, bagi mereka jika sudah melanggar peraturan yang ada di rumah maka harus dihukum dan tidak ada lagi bagi anak untuk memberikan alasan mengapa pulang diatas jam sembilan. marah karna dia pulang malam-malam, coba dia gak pulang lama yah pasti gak ibuk marahin. Kadang juga kalo dia malas belajar juga ibuk marahin lah dia. Capek-capek disekolahin gak belajar pulak dia. Hadoooh susah hidup ni nak kalo jadi orang susah dan bodoh kayak ibuk...” (R.3/W.1/b.247-259/h.8-9) “...gak da nak kasih tau kayak gitu, paling juga anggapan ayahnya juga sama kayak ibuk kan. Mereka di libas karna mereka salah. Kalo mereka gak salahnya baek-baek ja nya tingkahnya gak lah di libas juga kan.. yah dah tau orang tuh nak, karna mereka salah...” (R.3/W.1/b.337-345/h.11)

  “...gak da ibuk atau bapak tanyakan kayak gituh nak, pokoknya yang ibuk tahu dia pulang malam diatas jam sembilan nak, dan dari awal dah ibuk bilang kalo jangan pernah pulang diatas jam sembilan. Kalo pulang jam segituh yah kenak lah orang tuh nak...” (R.3/W.1/b.349-358/h.12) Terlihat bahwa cara mendidik anak yang diberikan oleh pak SH maupun suaminya adalah sama. Mereka menginginkan anak-anak mereka untuk menjadi lebih baik dengan cara mereka sendiri yaitu dengan cara menanamkan nilai agama serta jika anak melakukan kesalahan maka akan dihukum secara fisik.

  “...sama lah nak, suami ibuk juga nyuruh ngasuh anak tuh menanamkan nilai agamakan, ibu yahhhh setuju ja sama suami ibuk nak... kalo yang melibas pake tali pinggang ntu, ibuk gak pernah berbuat sama anak ibuk kayak gituh.. paling juga cubit atau narek telinganya ja nak... gituh lah nak...” (R.3/W.3/b.892-902/h.29) Memberi hukuman yaitu dengan cara mencubit atau menarik telinga anaknya bukan dari hasil didikan orangtua pak SH, orangtua pak SH ketika mendidik beliau lebih “keras” daripada didikan yang diberikan beliau pada anak- anaknya. Beliau tidak ingin meniru didikan orangtuanya kerana menurut beliau memberi hukuman dengan cara mencubit atau menarik telinga yang menurut beliau itu adalah hukuman yang sederhana.

  “...orangtua ibuk jugak dulu keras nak. Keras kali pun... dua-duanya keras. mamak sama bapak ibuk keras juga. Kalok bapak ibuk dulu suka kali nampar kami kalo kami gak nurut samanya. Mamak ibuk kalok gak nurut, sama jugak kadang tuh mamak ibuk tuh ngejambak rambut kami nak. Kalok kami betengkar kakak adek, kepala kami diantukkan berdua, dilaga gituh sama ibuk... ihhh kejam lah dulu nak...” (R.3/W.3/b.958-972/h.31) “...gak lah nak, serem nak kalo ingat masa lalu ibuk dulu. Gak enak nak walaupun berhasil buat kami nurut sama mereka tapi kalo kayak gituh caranya ibuk jugak gak sampek hati ntuk ngelakuinnya sama anak ibuk.

  Udahalah dengan cara cubit dan jewer gituh ja rasa ibuk itulah yang sederhana dan gak kejam-kejam kali...” (R.3/W.3/b.986-997/h.32) Walaupun pak SH tidak mengikuti cara didikan orangtuanya melainkan beliau hanya mencubit serta menarik telinga anak yang menurut beliau itu hukuman sederhana hal itu membuat anak-anak beliau dekat dengan beliau, anak- anak selalu cerita ketika mereka digangguin temannya, jika mereka mengalami masalah pasti mereka ceritanya dengan pak SH. Beliau mengaku anak-anaknya lebih dekat pada beliau daripada suaminya. Beliau mengatakan anak-anak takut pada suaminya karena jika suaminya marah pada anak-anak akan mengerikan maka dari itu anak-anaknya takut pada suaminya dan lebih patuh pada suaminya daripada pak SH.

  “...dekatnya sama ibuk nak, walaupun ibuk kalo geram liat anak ibuk, ibuk kan bisa nyubit atau narik telinga dia tapi orang tuh masih bisa ketawa-ketawa kalo ibuk gituin. Orang tuh kalo misalnya ada masalah sama kawannya tah berantam gituh atau ngomongin soal yang lain pasti sama ibuk nak. Anak-anak ibuk ni takut sama ayahnya nak...” (R.3/W.1/b.272-283/h.9-10) sama ibuk selalu misalnya dah dijahatin temannya lah tadi atau apalah itu ceritanya sama ibuk nak. Kalo sama ayahnya mereka takut nak. Orang tuh patuh kali sama ayahnya kalo sama ibuk tuh kalo orang tuuh di suruh mau tuh gak ngerjain apa yang ibuk suruh tapi kalo ayahnya, janganlah coba- coba kalo gak marah betol ayahnya tuh nak. Makanya orang tuh gak dekat sama ayahnya..” (R.3/W.3/b.921-936/h.30) “...wuihhhh ayahnya tuh kalo dah marah ngeri nak, gak berani tuh anak- anak ibuk sama ayahnya takut nak. Kalo ayahnya tuh dah marah ngambil tali pinggangnya di libaskannya anak-anak tuh sampe nangis-nagis lah orang tuh... makanya anak-anak ibuk pada takut sama ayahnya... kalo dah di rumah ayahnya dah la pada baek semuanya anak-anak ibuk gak da yang nakal-nakal...” (R.3/W.1/b.285-298/h.10)

  “...Kalo sama ayahnya mereka takut nak. Orang tuh patuh kali sama ayahnya kalo sama ibuk tuh kalo orang tuuh di suruh mau tuh gak ngerjain apa yang ibuk suruh tapi kalo ayahnya, janganlah coba-coba kalo gak marah betol ayahnya tuh nak. Makanya orang tuh gak dekat sama ayahnya..” (R.3/W.3/b.927-936/h.30) Komunikasi yang terjalin antara pak SH dengan anak-anak sering terjadi dikarenakan anak-anak yang selalu cerita tentang masalah mereka atau apa yang terjadi pada diri mereka pasti mereka ceritanya pada pak SH. Beliau juga sering bercanda pada anak-anaknya. Namun hal itu tidak terjadi pada suaminya, anak- anak takut pada suaminya dan anak-anak juga tidak pernah bercanda dengan suami pak SH, karena menurut pak SH suaminya adalah orang yang “seriusan”.

  “...yah sering lah ibuk komunikasi sama anak-anak ibuk, kan mereka dekatnya sama ibuk kalo cerita-cerita, becanda-canda anak ibuk tuh sama ibuk terus sama ayahnya mereka gak pernah canda-canda gituh... takot mereka nak... kalo sama ayahnya mereka ni komunikasinya jarang lah... becanda pun sama ayahnya gak pernah, ayahnya orangnya seriusan gituh nak... hahahahah...” (R.3/W.3/b.941-954/h.30-31) Pendidikan agama anak-anak adalah sangat penting di mata beliau. Tidak pendidikan umum anak tidak sejauh pentingnya pendidikan agama karena pendidikan umum bersifat duaniwi sedangkan agama bersifat akhirat. Maka dari itu beliau sangat menjunjung tinggi pendidikan agama bagi anak-anaknya.

  “...dari umurnya lima taon la nak. Ibuk suruh dia sekolah ngaji.. sekolah ngajinya bayarnya seribu lima ratus. Murah Nak.. jadi anak-anak ibuk bisa lah ibuk sekolahin ngajinya...” (R.3/W.1/b.134-140/h.5) “...iyahlah nak pendidikan agamanya penting kali tuh nak, menurut ibuk itu tanggung jawab ibuk sebagai orangtua besar kali nak sama Tuhan ntuk nunjukin anak-anak ibuk ke jalan yang betol kan nak, lagian kan kami disini nak melayu semuanya dan semuanya beragama islam nak jadi ada

  rasa malu tersendiri nak kalo keluarga kita gak pande ajaran islam, gak tau tentang islam dan baca kur’an atau sholat. Malu lah nak. Makanya penting kali tuh agamanya nak, kalo pendidikan umum dia kayak sekolah tuh, yahhh ibuk kan berharap bisa neyekolahinnya sampe “es m a” tapi kalo keuangan berkata lain apa lah hendak dibuat kan.. hahahaha lagian kan sekolah untuk dunia nak, dunia bersifat sementara makanya yaudah lah yang paling penting tuh ajaran agamanya...” (R.3/W.2/b.566-592/h.18-19) “...iya nak, belum sama penting pendidikan umum sama agama mereka, kalo menurut ibuk juga kayak gituh nak, kalo pendidikan agama lah yang sangat penting untuk bekal akhirat mereka kan. Yang penting kita sudah membekali mereka dengan keislaman soal nantinya mereka jalani tuh agama yahhhh itu soal tanggung jawab mereka sendiri kan. Yang penting dah kita bekali mereka nak...” (R.3/W.3/b.811-824/h.26-27) Pendidikan agama sangat mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan anak-anaknya, namun lain hal dengan pendidikan umum anak-anak yaitu sekolah, sekolah menjadi hal yang belum penting bagi pak SH. Pak SH pun tidak menghiraukan bagaimana perkembangan sekolah anak-anaknya. Beliau tidak tahu menau bagaimana perkembangan sekolah anak-anaknya, beliau juga tidak pernah menanyakan tentang sekolah. Bukan hanya pak SH saja yang yang mereka tahu hanya membiayai sekolah anak-anak selagi mereka mampu.

  “...ibuk ja gak tau menau tentang sekolah dia. Ibukkan gak sekolah nak, jadi soal sekolah dia gak pernah ibuk tanya-tanya gimana dia disekolah, pelajarannya atau apalah. Gak tau lah ibuk tuh... pokoknya ibuk sekolahin ja selagi mampu disekolahin...” (R.3/W.1/b.656-664/h.21) “...ibuk gak tau apa-apa tentang sekolah anak-anak ibuk. Bapaknya anak- anak juga gituh gak pernah nanyain tentang rangking berapalah, kelasnya dimanalah, pelajaran gimana atau apalah nak itu gak pernah nak. Kami gak tau sekolahan itu gimana, namanya juga gak sekolah. Bapaknya anak-anak juga gak pernah sekolah...” (R.3/W.1/b.673-684/h.22)

  Pak SH mempunyai pandangan tersendiri tentang cara mendidik anak, memberi pendidikan anak-anaknya mana yang lebih diprioritaskan dan yang tidak atau mana yang butuh perhatian dan yang tidak. Orangtua termasuk pak SH bebas memilih keyakinan yang menurut mereka benar dan membuat anak-anak mereka menjadi yang terbaik.

  IV.D.1. Hasil Observasi dan Rangkuman Wawancara Responden IV

  IV.D.1.i. Hasil Observasi Responden IV

  Responden ke empat bernama ibu A. Setiap sesi wawancara dilakukan di rumah beliau tepatnya di ruang tamu. Kunjungan pertama perneliti meminta izin dan kesediaannya kepada responden untuk diwawancarai, pada saat itu bertepatan pada hari kamis. Ibu A memakai baju daster bercorakkan batik yang panjang selutut dan beliau memakai songkok warna hijau muda yang sudah kusam warnanya, baju yang dikenakan beliau robek bagian ketiak kanannya. Beliau tidak ada gerakan-gerakan untuk menutupi baju yang robek tersebut. Saat peneliti datang kerumah beliau dengan maksud untuk menjelaskan apa-apa saja yang akan di tanyakan peneliti terhadap responden seperti mengenai kebudayaan pesisir, kebiasaan masyarakatnya serta pola asuh yang diberikan oleh ibu A terhadap anak-anaknya. Dan peneliti juga menjelaskan maksud dan tujuan diwawancarinya ibu A, serta tidak lupa juga peneliti meminta izin untuk merekam seluruh wawancara dengan tape recorder. Setelah mendapat izin dan kesediaannya ibu A diwawancarai maka peneliti dan ibu A menentukan hari dan waktu wawancara.

  Setelah waktu dan wawancara ditentukan, maka wawancara pertama dilakukan pada hari jum’at pukul setengah lima sore. Pada saat itu ibu A memakai baju daster bewarna merah bermotifkan batik, dan beliau juga memakai songkok kepala bewarna hitam polos yang sudah pudar warnanya. Ibu A adalah wanita dengan usia 39 tahun, beliau memilki berat badan kira-kira 55 kg dengan tinggi badan kira-kira 158cm. Beliau masih kelihatan muda, beliau memiliki wajah berbentuk oval dengan warna kulit hitam. Wawancara berlangsung sangat kooperatif. Beliau tidak terlihat malu-malu, beliau terlihat percaya diri menceritakan segala bentuk yang terjadi pada masyarakat pesisir pantai, beliau juga menceritakan segala kesusahan yang terjadi padanya seperti suaminya yang tidak tentu pendapatannya sampai pada anak-anaknya yang ingin putus sekolah karena tidak mau lagi sekolah. Wawancara dilakukan di rumah ibu A yang terbilang cukup memprihatinkan karena rumah beliau kondisinya seperti rumah warga pesisir lainnya yitu terbuat dari tepas dan keadaannya miring. Wawancara berlangsung di ruang tamu ibu A yang hanya memiliki luas sekitar 3x3 meter yang di ruang tamu tersebut ada tiga kursi tua yang penuh debu dan bantalan duduk kursinya yang sudah banyak sobeknya dan ada meja kayu bulat kecil yang juga sudah tua dan ada taplak meja bewarna hijau yang pinggir-pinggirnya sudah sobek juga. Tidak ada apa-apa disekitar dinding ruang tamu ibu A, yang ada di ruang tamu hanya kursi, meja serta lampu sekitar delapan watt. Keadaan rumah pada hari wawancara pertama berlangsung tidak berantakan, sandal di teras rumahnya tersusun rapi, meja serta kursi tamu tuanya pun tersusun rapi meski banyak debunya.

  Wawancara kedua pun berlangsung dirumah ibu A, ketika itu ibu A sedang menyapu halaman rumahnya. Peneliti pun datang dan menyalamin ibu A. Ibu A pun mempersilahkan peneliti masuk dan duduk di ruang tamunya yang keadaannya pada saat itu tidak berantakan. Kursi dan meja tamu beliau tidak di penuhi debu lagi. Saat itu bersih tidak ada debu walaupun keadaannya masih kursi dan meja tua yang sudah banyak gigitan rayapnya. Pada wawancara kedua yang bertepatan pada hari minggu jam sepuluh pagi, ibu A berpakaian daster batik bewarna kuning bercorak bunga-bunga besar bewarna coklat dan memakai jilbab warna coklat polos. Daster yang beliau kenakan memilki warna yang cerah dan terlihat bagus tidak ada sobekan disekitar manapun. Wawancara kedua membicarai tentang pengasuhan yang diberikan ibu A pada anak-anaknya. Ibu A menceritakan segala bentuk pengasuhan yang beliau berikan pada anak-anaknya. Beliau menceritakannya, tidak ada rasa sungkan ataupun malu pada peneliti. Ekspresi wajah beliau terlihat santai namun bersemangat dalam menceritakan dalam segala hal, beliau menceritakan sambil menggerak-gerakkan tangannya.

  Wawancara ketiga pun masih berlangsung di rumah ibu A dan masih juga berlangsung di ruang tamu ibu A. Wawancara ketiga berlangsung bertepatan pada hari rabu, jam sepuluh lewat. Pada saat peneliti datang ke rumah ibu A, ibu A lagi menyapu ruang tamunya. Beliau menyuruh peneliti untukk tunggu sebentar diluar teras rumahnya, sekitar tiga menit berlalu ibu A pun menyuruh peneliti untuk masuk ke dalam rumah beliau dan mempersilahkan duduk di kursi tua beliau.

  Keadaan rumah beliau tidak berantakan dan terlihat bersih, kursi dan meja tamunya tidak kelihatan berdebu. Saat itu ibu A mengenakan pakaian daster lagi namun dengan warna yang berbeda dan corak yanng berbeda. Beliau mengenakan daster dengan warna hijau tua berlengan panjang bercorakkan bunga-bunga kecil warna putih. Keadaan daster beliau sudah lusuh dan pinggiran bawah daster beliau sobek-sobek kecil seperti di gigit tikus. Beliau juga mengenakan jilbab warna hijau tua polos yang keadaannya terlihat bagus tidak ada sobekan. Pada wawancara ketiga ini beliau masih terlihat sangat kooperatif dan leluasa dalam bercerita. Beliau juga mencaritakan pengasuhan yang diberikan oleh orangtuanya dulu, pengasuhan yang diberikan oleh suaminya dan banyak hal yang beliau ceritakan dengan leluasa tanpa ada sedikitpun gerak tubuh yang menunjukkan ketidaknyamanan.

  Wawancara pun berlangsung tiga sesi, ibu A sangat santai dan leluasa dalam mencaritakan segalanya tidak ada kelihatan ketidaknyamanan terhadap peneliti. Beliau bercerita juga selalu menggerak-gerakkan tangannya. Beliau sangat kooperatif selama berlangsungnya wawancara.

  IV.D.1.ii. Rangkuman Wawancara Responden IV

  IV.D.2. Latar Belakang Keluarga Peneliti melakukan pendekatan dengan ibu A dari awal bulan Juni 2012.

  Pendekatan tersebut dilakukan peneliti agar mudah melakukan wawancara serta nantinya responden pun tidak malu untuk menceritakan apa yang diminta oleh peneliti. Peneliti berkunjung ke rumah responden tiga kali seminggu yaitu pada hari Rabu, Jumat, dan Minggu. Hanya hari-hari tersebut responden berada dirumah, jika hari lain responden bekerja sebagai buruh cuci.

  Ibu A merupakan ibu dari empat orang anaknya. Anak lelaki pertamanya sudah menikah di usia enam belas tahun, dan anak lelakinya tidak menyelesaikan sekolahnya sampai SMA, anak lelaki pertamanya hanya sampai sekolah kelas dua SMP saja setelah itu tidak melanjutkan sekolahnya lagi dan sudah menikah. Anak keduanya yaitu laki-laki juga yang sudah putus sekolah di kelas dua SMP, namun belum menikah. Anak ketiganya yaitu perempuan yang duduk di kelas tiga SMP, dan anak terakhir beliau yaitu laki-laki yang masih duduk di kelas lima SD.

  Ibu A adalah ibu rumah tangga yang memiliki suami sebagai nelayan. Suami beliau juga sama seperti tetangga-tetangganya yang bekerja sebagai nelayan yang menyewa perahu tengkulak dan mempunyai penghasilan perharinya sepuluh sampai lima belas ribu, namun penghasilan tersebut tidak setiap hari di dapatkan oleh suaminya dikarnakan pekerjaan sebagai nelayan adalah melihat kondisi cuaca dan laut yang baik serta harus memperbaiki jaring-jaring ikan yang sudah terpakai yang kondisinya sudah kusut.

  Penghasilan suami yang sangat terbilang minim tersebut yang membuat ibu A dan anak-anaknya membantu mencari uang untuk kebutuhan hidup mereka.

  Ibu A mencari uang tambahan sebagai buruh cuci, beliau mencuci pakaian di rumah orang yang tinggalnya tidak jauh dari daerah pesisir. Beliau mendapat upah dari pekerjaannya sebagai buruh cuci perbulannya adalah delapan puluh ribu, beliau bekerja di dua rumah jadi penghasilan beliau perbulannya adalah seratus enam puluh ribu. Sedangkan anak-anaknya membantu ekonomi keluarga dengan cara melaut bersama suaminya, karna anak pertama dan keduanya adalah laki- laki, karena biasanya di daerah pesisir tersebut anak laki-laki bekerja sebagai nelayan juga.

  Anak laki-laki pertama dan kedua beliau hanya sekolah sampai kelas dua SMP saja, beliau mengatakan bahwa anak-anaknya sudah tidak mau sekolah lagi.

  Mereka maunya hanya pergi mencari uang di laut seperti ayahnya. Sejak anak- anaknya memutuskan untuk tidak sekolah lagi, ibu A dan suaminya tidak memperdulikan keputusan anaknya tersebut. Ibu A mengatakan, jika anak-anak sudah tidak mau sekolah lagi, itu adalah urusan mereka asalkan mereka tidak membuat orangtua lebih susah lagi.

  Anak pertama beliau sudah menikah saat usianya enam belas tahun, anak pertama beliau menikah sudah setahun usia pernikahannya. Beliau mengijinkan anaknya menikah dikarenakan anak beliau sudah bisa mencari uang sendiri dan anak beliau sudah meminta untuk dinikahkan, maka dari itulah ibu A serta suaminya mengijinkan anaknya untuk menikah. Namun anak pertama beliau masih tinggal satu rumah dengan beliau. Beliau mengatakan, anaknya belum punya duit untuk bangun rumah. Beliau tidak merasa keberatan atau terbebani dengan keadaan seperti itu. Bahkan beliau merasa senang, jika anaknya tinggal satu rumah dengannya, karena menurut beliau suasana rumah menjadi ramai.

  Anak kedua beliau juga sudah tidak menginginkan sekolah lagi, karena anak kedua beliau berteman dengan anak-anak tetangga beliau yang tidak sekolah.

  Maka dari itu anak beliau pun memutuskan tidak mau lagi melanjutkan sekolahnya. Karena sudah tidak sekolah lagi maka kegiatan anak keduanya selalu diajak pergi melaut oleh ayahnya, ia selalu menyiapkan peralatan-peralatan melaut sebelum pergi melaut. Beliau mengatakan, anaknya selalu menuruti apa kata ayahnya termasuk untuk melaut bersamanya, karena jika anaknya tidak mau melaut maka ayahnya akan marah dan mengatakan kalau sudah tidak sekolah lagi maka harus membantu orangtua jangan bisanya hanya buat susah saja. Jika anaknya tetap tidak mau melaut dan tidur saja maka ayahnya akan menendang anaknya. Maka dari itu anak-anak beliau selalu menuruti apa kata ayahnya.

  Anak ketiga beliau yaitu perempuan, dia masih kelas tiga SMP. Ibu A berkata, anak yang ketiganya berharap sekolahnya sampai ke jenjang kuliah.

  Beliau ingin sekali mengabulkan harapan anaknya untuk bisa sekolah sampai ke jenjang kuliah, tapi beliau sudah putus asa deluan, dikarenakan faktor ekonomi keluarga. Maka dari itu beliau mengatakan pada anak yang ketiganya, jangan berharap lebih untuk bisa sekolah ke jenjang kuliah karena orangtua tidak sanggup untuk menyekolahkannya. Sedangkan anaknya yang terakhir yaitu laki- laki yang masih duduk di kelas lima SD. Ia hanya main-main saja bersama teman- teman sebayanya, terkadang ia sering dipukuli ayahnya karena lupa pulang untuk mandi sore.

  Ibu A mengatakan, jika untuk sekolah umum anak-anak tidak terlalu diusahakan semaksimalnya karena beliau menganggap hanya keperluan dunia saja. Lain hal dengan sekolah ngaji anak-anaknya. Beliau akan berusaha semaksimal mungkin untuk anak-anaknya pandai mengaji, walaupun bayar uang mengajinya perbulan dua ribu rupiah bagi beliau itu juga berat untuk membayarnya karena yang disekolahkan ngaji adalah empat orang anaknya berarti beliau harus mengeluarkan uang delapan ribu rupiah perbulannya, bagi beliau itu sudah berat namun beliau tetap berusaha untuk itu. Karena beliau menganggap sekolah ngaji itu sangat penting untuk pendidikan akhirat mereka. Beliau juga mengatakan, tidak apa-apa jika anaknya putus sekolah tapi jika anaknya tidak mau mengaji maka ayah anak-anak akan menghukum anak-anak dengan cara memukul atau menendang anak-anak yang mala mengaji. Anak kedua beliau yang sudah putus sekolah masih tetap terus belajar mengaji pada pak S. Anak ketiga dan keempatnya juga belajar mengaji. Mereka belajar mengaji dari jam empat sampai sebelum maghrib. Anak-anak beliau selalu bersiap-siap untuk mengaji sebelum sholat ashar, karena mereka akan sholat ashar berjemaah dan selesai sholat mereka akan langsung pergi mengaji. Jika mereka bermalas-malasan mengaji maka mereka akan dihukum oleh ayahnya, maka dari itu mereka selalu rajin karena takut sama ayah mereka.

  Didikan yang diberikan oleh suami ibu A terhadap anak-anaknya adalah didikan yang keras. Beliau mengatakan, suaminya sering memukul anak-anaknya jika anak-anak tidak mau mendengar apa yang suaminya katakan, dan jika suaminya menyuruh sesuatu harus langsung dikerjakan jika anak-anaknya mengatakan “tunggu dulu atau sebentar” maka mereka akan dimarahin oleh ayahnya oleh karena itu anak-anak jika disuruh oleh ayahnya akan langsung mereka lakukan. Berbeda dengan ibu A, beliau mengatakan jika anak-anak disuruh sesuatu hal maka mereka sering mengatakan “tunggu dulu” atau mereka akan lempar-lemparan (menyuruh kakak atau adiknya) untuk mengerjakan apa yang disuruh ibu A, beliau tidak marah pada mereka tapi jika hal tersebut diketahui oleh suaminya maka suaminya akan langsung menendang anaknya. Melihat suaminya yang keras dalam mendidik anak-anak, ibu A tidak keberatan akan hal tersebut, beliau menyetujui setipa apa yang dilakukan oleh suaminya, beliau tidak ada berkomentar apa-apa tentang didikan keras yang diberikan suaminya pada anak-anaknya. Dengan sikap ibu A yang tidak suka memarahi atau memukul anak-anak, maka anak-anak pun jadi dekat sama beliau. Anak-anak selalu manja sama beliau, anak-anak suka bercerita tentang sekolahnya, atau teman-teman bermainnya, lain hal dengan ayahnya. Anak-anak tidak dekat sama ayah mereka, mereka sangat tidak pernah bercerita sama ayah mereka.

  Ketika anak-anak dihukum oleh ayah mereka dengan cara memukul atau menendang, menurut ibu A itu tidak ada masalah karena itu adalah bentuk dari menunjukkan kasih sayang pada anak-anaknya. Karena suaminya ingin anak- anaknya menjadi lebih baik oleh karena itu suaminya mendidik anak-anaknya secara “keras”. Sedangkan menurut ibu A menunjukkan kasih sayang pada anak itu dengan cara menyekolahkan anak-anaknya ketika mampu, jika tidak mampu lagi orangtua maka itulah nasib anaknya, menagajarkan mereka agama, dan mendidik mereka untuk berbuat kebaikan jangan ikut pada pergaulan yang tidak baik. Beliau sangat percaya pada suaminya, beliau percaya apa yang dilakukan suaminya pada anak-anaknya hanya semata untuk membuat anak-anaknya menjadi lebih baik dan tidak melawan pada orangtua.

IV.D.3. Analisa Data Responden IV

  IV.D.3.a. Gambaran kebudayaan masyarakat pesisir

  Ibu A hidup dengan serba pas-pasan. Suaminya adalah nelayan yang menghidupi keluarganya dari hasil laut yang terkadang tidak tentu pendapatan perharinya. Suaminya tidak memilki perahu pribadi untuk melaut, maka dari itu harus menyewa perahu pada tengkulak dengan harga sewa yang cukup mahal, namun tidak ada pilihan lagi bagi suami beliau. Suami beliau yang bekerja sebagai nelayan pergi melaut sesudah sholat shubuh yaitu sekitar pukul enam dan kembali sebelum sholat dzuhur tiba yaitu sekitar pukul dua belas siang.

  “...orang sini sih nelayan semua. Nelayan yang gak punya perahu semua.. hahahaha karna harga perahu tuh mahal kali nak, makanya pada nyewa lah sama tengkulak....” (R.4/W.1/b.51-57/h.2) “...perharinya tuh dapat sepuluh sampe lima belas ribu gituh. Itupun gak setiap hari ngelaot nak. Sebulan itu eceknya gak penuh melautnya yahhhh tergantung cuaca lah nak... kalo orang sini ngelaot itu liat-liat kondisi lautnya, cuacanya... kalo ombak besar yah, gak beranilah orang tuh ngelaot yah kan...” (R.4/W.1/b.75-85/h.3) “...kalo melaot biasanya tuh pergi dari sesudah sholat shubuh nak, dan kembali saat sebelom zuhur nak.. orang sini kalo tentang solat sangat patuh nak, berjemaah solatnya dan tepat waktu nak sholatnya... kalo misalnya masok waktu solat yahhh solat dulu tinggalkan pekerjaan yang ada...” (R.4/W.1/b.132-142/h.5) Dengan pendapatan suaminya yang hanya sepuluh sampai lima belas ribu perhari dan itu juga belum tentu didapatkan, karena kondisi seperti itu mengharuskan anggota keluarga ibu A untuk bekerja mencari uang. seperti ibu A yang bekerja sebagai buruh cuci di dua rumah, dan jika ada borongan mengupas kulit udang maka ibu A pun akan membawa anknya untuk ikut andil dalam

  “...ibuk kerja cuci dan gosok nak, hmmm kira-kira dah dua bulan gituh lah nak...” (R.4/W.2/b.398-400/h.14) “...ibuk dapat gaji tuh perbulannya lapan puluh ribu nak, ibuk tuh kerjanya di dua rumah nak, kalo banyak-banyak nti capek x ibuk sakit pulak kan, mahal lagi biaya rumah sakitnya.. hahahaha...” (R.4/W.2/b.403-409/h.14) “...kalo ibuk kan jadi buruh cuci pakaian jadi anak-anak ibuk gak ikut sama ibuk nak. Tapi kalo da borongan ngupas udang nah anak ibuk yang laki-laki dan perempuan ituh ibuk ikutkan. Kalo yang laki-laki kan masih kelas lima “es de” tuh jadi masih mau dia kerja di lingkungan wanita. Banyak kok ibuk-ibuk yang juga ngajak anak laki-lakinya ikut borongan

  ngupas udang gituh tapi yang masih “es de” kalo yang dah “es m pe” gituh malu dia nak...” (R.4/W.2/b.488-503/h.17) Hidup dengan serba kekurangan rentan mengalami persoalan kehidupan dan biasanya persoalan kehidupan yang menghampirinya adalah keuangan.

  Seperti ibu A salah satu dari masyarakat pesisir, beliau mengaku bahwa persoalan kehidupan beliau hanya satu yaitu ekonomi atau keuangan keluarga maka wajar bila beliau pun selalu menghutang pada tetangganya untuk mencukupi kebutuhan keluarganya selain itu beliau menganggap salah satu menyelesaikan persoalan ekonomi keluarga tersebut dengan cara menyuruh anak-anak untuk bekerja.

  “...soal kehidupan, hmmm tentang ekonomi lah nak, soal keuangan gituh.. kalo soal berumah tangga antara ibuk dan suami ibuk alhamdulillah kami rukun sampek sekarang ni nak. Soal keuangan yang biasanya jadi permasalahan di keluarga ibuk..” (R.4/W.2/b.432-440/h.15) “...yahhhh dicukup-cukupin lah nak, hahahaha... yahhh kalo nti lagi gak da duit ngutang sama tetangga nak, cemana lah cukup dengan penghasilan segituh nak, biaya sekolah anak ibuk. Anak ibuk da dua lagi yang sekolah nak. Uang jajannya, listrik, aer, tuh lah kan perbulannya harus dibayar nak... hahahaha...” “...menyuruh anak-anak bekerja nak cari duit bantu orangtua. Semuanya kayak gituh lah supaya ekonomi keluarga terbantu lah walaupun sedikit.

  Yang penting satu hari tuh makan nak...” (R.4/W.2/b.443-450/h.15-16) Semua anggota keluarga ibu A bekerja untuk mendapatkan uang tambahan agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga, tapi walaupun semua anggota keluarga sudah bekerja untuk mendapatkan uang, ibu A tidak juga bisa untuk menyisihkan uang dari hasil bekerja anggota keluarga. Karena menurut beliau uang hasil itu semua masih juga kurang untuk memenuhi keluarga, membayar tunggakan

  bulanan yaitu seperti air, listrik dan uang sekolah anak-anak. Jika uang masih kurang, maka pak SH pun akan menghutang pada tetangganya.

  “...gak ada nak, uang nya habis-habis gituh ja nak, biaya bulanan lah.. ntuk bayar biaya bulanan gituh lah nak kayak uang sekolah anak, lestrek, aer, habis kesitu ja nak, gak da yang bisa di tabung.. hahahaha...” (R.4/W.3/b.755-761/h.25) “...yahhhh dicukup-cukupin lah nak, hahahaha... yahhh kalo nti lagi gak da duit ngutang sama tetangga nak, cemana lah cukup dengan penghasilan segituh nak, biaya sekolah anak ibuk. Anak ibuk da dua lagi yang sekolah nak. Uang jajannya, listrik, aer, tuh lah kan perbulannya harus dibayar nak... hahahaha...” (R.4/W.2/b.403-409/h.14) Kehidupan ibu A yang rentan pada kemiskinan dan persoalan hidup mengenai keuangan. Walaupun hidup dalam kemiskinan yang mendera keluarga beliau tapi ibu A harus mengajari anaknya membaca Al-Quran, sholat, mengenalkan ajaran Islam itu seperti apa di tempat pak S sejak anaknya berusia empat tahun.

  “...dari umur empat atau lima tahun gituh nak... ngajarin dia baca iqro’ gituh kan nak kalo umur empat tahun kan biasanya tuh iqro’ lah dulu mengenalkan huruf-huruf kur’an tuh ya kan, trus sholatnya kalo sholat tuh anaknya diajarin sama pak S nak, disitu ditarok anak-anak tuh. Bayar seribu lima ratus sampe dua ribu gituh lah nak... murahkan tapi kalo disini uang segitu berarti kali nak... hahahahha namnay juga orang susah nak...” (R.4/W.1/b.110-128/h.4-5) Ibu A mengatakan jika anak-anak pesisir tidak bisa membaca Al-Quran maka akan menjadi bahan pembicaraan masyarakat pesisir. Biasanya mereka mengatakan bahwa anaknya yang bodoh tidak pandai untuk membaca Al-Quran atau orangtuanya yang tidak peduli tentang agama si anak.

  “...orang sini tuh ngasuh anaknya ngajarin mereka ngaji gituh nak.. ngasih anak-anaknya nilai agamanya, dari kecil dah dikenalin anak-anak tuh sama agama biar tahu dari kecil ajaran agama islam itu seperti apa, peraturan-

  peraturannya tuh kayak apa... gituh nak, karna itu kan tanggung jawab kita sama Tuhan untuk memperkenalkan anak-anak ke jalanNya...” (R.4/W.1/b.178-191/h.6-7) “...orang sini tuh kebiasaanya apa yah... kayak ngajarin anak agama lah, orang sini kan muslim semua jadi anak-anak tuh harus diajarin agama islam nak dari kecil gitu, teros anak-anak tuh diajarin pande ngaji baca kur’an kalo nanti gak pande jadi bahan bicaraan orang kampung nak... di bilang lah anaknya bodoh kali gak pande-pande baca kur’an atau dibilang orangtuanya lah yang gak peduli sama agama anaknya...” (R.4/W.1/b.90-105/h.4) Bagi ibu A pendidikan agama adalah pendidikan yang sangat di junjung tinggi, beliau menganggap pendidikan agama adalah nomor satu, lain hal dengan pendidikan umum anak-anak seperti sekolah. Pendidikan sekolah anak-anak dipandang tidak sepenting pendidikan agama karena itu adalah bekal anak-anak di akhirat nanti.

  “...sangat penting sekali pendidikan agama. Dinomor satukan itu nak...” (R.4/W.1/b.197-199/h.7) “...kalo menurut ibuk pendidikan agama anak-anak ibuk tuh diatas segalanya...” (R.4/W.1/b.204-206/h.7) nak, buktinya banyak anak-anak yang gak disekolahin orangtuanya... karena toh ujung-ujungnya disekolahin tinggi-tinggi larinya ke laot juga... yah makanya sekolah tuh gak penting bagi masyarakat sini nak, masih jauh lebih penting pendidikan agama untuk akhirat anak-anak nantinya...” (R.4/W.1/b.218-230/h.8) Ibu A memiliki pemikiran bahwa pendidikan sekolah itu tidak sepenting pendidikan agama, karena memilki pemikiran tersebut anak pertama beliau dan kedua beliau putus sekolah, mereka putus sekolah sewaktu SMP kelas dua. Ibu A mengatakan bahwa anak-anaknya tidak ingin sekolah lagi. Dan tragisnya beliaupun menyetujui keputusan si anak untuk putus sekolah.

  “...ibuk sama ja tanggapannya kayak masyarakat sini, sekolah tuh untuk dunia ja nak. Tapi yahhh harapan ibuk sih anak-anak ibuk sekolahh tinggi- tinggi, tapi kalo orang tuh gak mau sekolah lagi atau duetnya gak da yah mau diapain lagi coba... yah kan... kayak anak ibuk pertama dan kedua itu kelas dua “es m pe” dah gak mau sekolah lagi, yaudah ibuk bilang gak usah sekolah, toh dia maunya gak sekolah kan. Tapi kalo anak ibuk yang nomor tiga tuh harapannya sampe kuliah nak.. yah ibuk pengen ngabulkan harapan dia tapi kondisi keuangan yang serba kekurangan kayak gini mo cemana pulak ngabulin harapan dia kan nak... hhh tengok nanti lah kalo da rezeki yah sekolah, kalo gak da rezeki yah terpaksa putus sekolahlah... hahahaha...” (R.4/W.1/b.234-260/h.8-9) Berdasarkan dari penuturan ibu A ada hal lain yang juga sering ditemui pada masyarakat pesisir yaitu mereka yang hidup dalam kesusahan sangat toleransi serta tolong menolong pada tetangganya. Hal tersebut terlihat dari kebiasaan mereka dalam mengasuh anak tetangga. Orangtua yang sudah tidak ada lagi beban tanggungannya yaitu anak-anaknya yang sudah pada menikah akan wajib mengasuh anak tetangganya yang masih memilki banyak tanggungan anak- anaknya.

  “...kebiasaan ngasuh anak orang gituh... baru dengarkan.. nah ni kalo misalnya tuh kan ada suami istri yang sudah tidak ada tanggungan anak- mengasuh anak tetangganya yang masih banyak tanggungannya tapi anak- anaknya yang diasuhnya yang masih “es de” gituh nak.. nah ditanggung lah tuh biaya sekolahnya, kebutuhannya semuannya lah.. tapi si anak itu masih tetap tinggal dirumah orangtuanya tapi kalo dia mau tinggal di tempat orangtua asuhnya yahhhh gak papa juga nak... orang sini bilangnya tuh rasa tolong menolong antar tetangga nak, karna udah susah sama susah jadi harus saling tolong menolong hidup ni... (R.4/W.1/b.145-170/h.5-6) Menikah di usia dini adalah hal yang wajar dan sudah tidak aneh lagi bagi masyarakat pesisir. Menurut mereka, menikahkan anak adalah mengurangi beban tanggung jawab mereka sebagai orangtua. Anak-anak pesisir setempat menikah biasanya diusia empat belas tahun. Anak lelaki yang sudah pandai mencari uang

  sendiri yang nantinya bisa menghidupi keluarganya dan ia minta untuk dinikahkan maka orangtua pun dengan senang hati menikahkan anaknya, sedangkan perempuan apabila ia sudah menstruasi maka sudah bisa juga orangtuanya menikahkan anak perempuannya. Seperti yang dilakukan oleh ibu A pada anak pertamanya. Anak pertamanya menikah di usia enam belas tahun, ia minta untuk dinikahkan saat usianya enam belas tahun dan ibu A pun mengabulkannya karena ia sudah bisa mencari uang dengan cara melaut seperti ayahnya.

  “...dari usia empat belas sampek lapan belas gituh nak... disini malah susah bahkan mungkin gak da tuh yang nikahkan anaknya di usia dua puloh... kalo usia lapan belas gituh belom juga nikah malah dikatain nanti anaknya jadi perawan tua nak... makanya anak-anak sini nikahnya gak da yang lebih dari usia dua puloh...” (R.4/W.3/b.911-922/h.31) “...oooh orang sini sih cepat nikah nak. Anak laki-laki kalo dah beduit dia sendiri, tau dia kayak mana cari uang tros mintak nikah dia yaudah dinikahkan. Kayak anak ibuk yang pertama kan dah ibuk nikahi dia waktu umor enam belas sekarang dah setaon lah dia dah nikah. Orang sini cepat- cepatlah nikahnya nak, umor empat belasan gituh dah da juga yang dinikahkan orangtuanya. Nah, makanya ada kebiasaan mengasuh anak tetangga ituh yahhhh karna orang sini cepat nikah. Kalo anak dah nikah semua kan gak da lagi beban kita kan, yahhh makanya bantu tetangga lah (R.4/W.3/b.884-904/h.30) “...kalo yang perempuan kalok dia udah halangan bisalah lah udah dinikahkan....” (R.4/W.3/b.927-929/h.31) Karena kebiasaan masyarakat pesisir yang menikahkan anaknya di usia dini maka dari itulah ada kebiasaan masyarakat untuk mengasuh anak tetangga dikarenankan anak-anaknya sudah pada menikah dan mereka sudah tidak ada lagi tanggungannya sehingga mereka wajib untuk mengasuh anak tetangganya demi membantu tetangganya yang masih banyak tanggungan anak-anaknya. Banyak

  kebiasaan yang unik yang terjadi pada masyarakat pesisir pantai. Seperti yang terlihat diatas, seperti itulah gambaran kebiasaan masyarakat pesisir menurut penuturan ibu A

  

IV.D.3.b. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pola Asuh Orangtua Pada

Masyarakat Pesisir Pantai

  IV.D.3.b.1. Pendidikan

  Pendidikan merupakan faktor yang memungkinkan untuk mempengaruhi pola asuh pada ibu A. Ibu A adalah orangtua dari empat orang anak yang tidak memiliki pendidikan. Karena beliau tidak pernah sekolah maka dari itu mengenai pendidikan sekolah anak-anak, ibu A tidak pernah peduli. Beliau tidak mengetahui tentang pendidikan sekolah. Beliau menyerahkan segala urusan sekolah pada anak-anaknya. beliau menganggap dirinya tidak mengetahui segala urusan sekolah anak-anaknya yang beliau tahu hanya membayar uang bulanan sekolahnya saja. hehehehe jadi gak tau tau kami tuh soal sekolah mereka...” (R.4/W.3/b.785-789/h.26) “...gak tau nak ibuk gak sekolah nak jadi gak tahu tentang sekolah- sekolah dia nak, yahhh ibuk biarkan ja dia di sekolah gimana kalo dia da apa-apa atau apalah gituh perlunya nti kan dia cerita sama ibuk... ibuk pun gak da nanya-nanya ke dia kayak mana sekolah dia.. ibuk gak ngerti nak... tugas ibuk cuman bayar spp nya nak.. haaha selebihnya ibuk gak tau tau ituh...” (R.4/W.3/b.767-780/h.26) Orangtua tidak memperdulikan bagaimana perkembangan sekolah anak- anaknya. Ibu A menyatakan jika anaknya mengalami masalah akan mengadu sendiri pada beliau.

  IV.D.3.b.2. Lingkungan

  Faktor lingkungan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pola asuh orangtua. Seperti yang terjadi pada ibu A, faktor lingkungan ikut mewarnai bagaimana ibu A dalam mendidik anak-anaknya. Di lingkungan pesisir pantai, anak-anak harus bisa membaca Al-Qur’an, sholat, serta mengerti tentang ajaran Islam. Karena lingkungan ibu A seperti itu maka tidak heran bahwa beliau juga memperlakukan anaknya seperti yang berlaku di lingkungannya. Beliau mempercayai anak-anaknya untuk menguasai baca Al-Qur’an serta ajaran agama pada pak S dan beliau harus membayar senilai seribu lima ratus sampai dua ribu rupiah perbulannya.

  “...dari umur empat atau lima tahun gituh nak... ngajarin dia baca iqro’ gituh kan nak kalo umur empat tahun kan biasanya tuh iqro’ lah dulu mengenalkan huruf-huruf kur’an tuh ya kan, trus sholatnya kalo sholat tuh ada lima.. ya diajarin gituh nak. Dan biasanya masyarakat sini tuh anak- anaknya diajarin sama pak S nak, disitu ditarok anak-anak tuh. Bayar seribu lima ratus sampe dua ribu gituh lah nak... murahkan tapi kalo disini uang segitu berarti kali nak... hahahahha namanya juga orang susah nak...” (R.4/W.1/b.110-128/h.4-5)

  Al-Qur’an dengan lancar, maka anak-anak yang belum bisa membaca Al-Qur’an pun akan menjadi bahan pembicaraan masyarakat pesisir. Biasanya mereka mengatakan bahwa anak yang belum bisa baca Qur’an itu adalah bodoh atau orangtuanya yang tidak peduli pada pendidikan agama anaknya. untuk menghindari hal tersbut makanya ibu A mempercayai anak-anaknya pada pak S sejak usia empat tahun agar natinya anaknya cepat lancar membaca Al-Qur’an dan jauh dari gosipan warga.

  “...kalo orang sini tuh kebiasaanya apa yah... kayak ngajarin anak agama lah, orang sini kan muslim semua jadi anak-anak tuh harus diajarin agama islam nak dari kecil gitu, teros anak-anak tuh diajarin pande ngaji baca kur’an kalo nanti gak pande jadi bahan bicaraan orang kampung nak... di bilang lah anaknya bodoh kali gak pande-pande baca kur’an atau dibilang orangtuanya lah yang gak peduli sama agama anaknya. Gituh lah nak...” (R.4/W.1/b.90-105/h.3-4) Pendidikan agama di mata masyarakat pesisir merupakan pendidikan yang sangat penting daripada pendidikan lainnya. Hal ini dikarnakan masyarakat yang semuanya adalah beragama Islam, maka dari itu mereka beranggapan bahwa pendidikan agama memiliki nilai yang sangat penting bagi kehidupan anaknya nanti. Karena masyarakat memiliki pemikiran seperti itu, ibu A pun juga memiliki pemikiran yang sama yaitu memandang pendidikan agama adalah segalanya buat anak-anak. beliau mengatakan bahwa pendidikan agama membawa anak-anaknya supaya mereka mengenal Tuhannya.

  “...iya, sangat penting sekali pendidikan agama. Dinomor satukan itu nak...” (R.4/W.1/b.197-199/h.7) “...kalo menurut ibuk pendidikan agama anak-anak ibuk tuh diatas sama Tuhannya nak...” (R.4/W.1/b.204-209/h.7) Selain karena pendidikan agama, ada juga yang dapat mempengaruhi bagaimana ibu A bersikap dalam mendidik anak-anaknya yaitu di lingkungannya anak usia lima tahun sudah banyak yang menghasilkan uang, dikarenakan anak dibawa oleh orangtuanya untuk ikut bekerja bersamanya dan nantinya anak juga dibayar karena hasil kerjanya. Biasanya anak-anak usia lima tahun dibawa orangtuanya untuk ikut bekerja di borongan mengupas kulit udang. Masyarakat

  banyak yang menyuruh anaknya untuk ikut bersama mereka agar nantinya anak mereka juga ikut diupahin sebesar sepuluh ribu rupiah.

  “...kalo masyarakat sini sih anak umur lima taon pun dah diajak kerja nak, kalo misalnya tuh kan disini tuuh ada kadang-kadang borongan ngupas kulit udang, udangnya tuhhh yang mau dikeringkan gituh nak, nah ituh kan biasanya ibuk-ibuk yang ngerjain nak. Tuuh lumayan upahnya sepuluh ribu nak. Kerjanya dari jam sembilan sampe dua belas dapat sepuluh nak.. ituuuh nti banyak tuuh anak-anak yang ikut umur-umur lima taon gituh la nak.. jadi kan lumayana tuh.. cem gituh nak.. kalo yang laki-lakinya nti “es m pe” kelas satu atau dua gituh dah diajak bapak-bapaknya ngelaot nak, kalo diajak anak kayak gituh kan lumayan penghasilannya jadi tiga puluh ribo... cem gituh lah nak orang-orang sini tuh banyak lah yang nyuruh anaknya kerja, jadi ibuk pun kayak gituh lah sama anak ibuk nyuruh dia kerja kan supaya bantu orangtuanya..” (R.4/W.2/b.454-484/h.16-17) Ibu A pun seolah tidak mau ketinggalan akan borongan tersebut. Jika borongan tersebut ada beliau pun ikut serta dan mengajak anaknya yang masih kelas lima SD untuk ikut bersamanya. Biasanya borongan mengupas kuli udang adalah pekerjaan para wanita pesisir, namun ibu A mengatakan borongan mengupas kulit udang juga dipenuhi oleh anak-anak usia lima tahun. Anak-anak yang ikut pun tidak hanya yang perempuan saja, anak lelaki pun diikutkan orangtuanya jika ia belum bisa melaut bersama ayah mereka. Seperti yang dilakukan ibu A yang mengajak anak lelaki yang masih duduk di kelas lima SD.

  “...kalo ibuk kan jadi buruh cuci pakaian jadi anak-anak ibuk gak ikut sama ibuk nak. Tapi kalo da borongan ngupas udang nah anak ibuk yang laki-laki dan perempuan ituh ibuk ikutkan. Kalo yang laki-laki kan masih kelas lima “es de” tuh jadi masih mau dia kerja di lingkungan wanita. Banyak kok ibuk-ibuk yang juga ngajak anak laki-lakinya ikut borongan ngupas udang gituh tapi yang masih “es de” kalo yang dah “es m pe” gituh malu dia nak...” (R.4/W.2/b.488-503/h.17) Anak disuruh untuk bekerja dan menghasilkan uang demi untuk membantu perekonomian keluarga, walaupun anak letih demi membantu

  orangtuanya tapi orangtua pesisir masih saja menganggap anak itu adalah beban. Karena masyarakat memiliki anggapan seperti itu, masyarakat pun berlomba- lomba untuk menikahkan anak-anaknya. Mereka beranggapan dengan cara menikahkan anak mereka dengan cepat, akan mengurangi beban mereka sebagai orangtua. Anak dinikahkan dari usia mereka empat belas tahun sampai usia delapan belas tahun. Jika anak belum menikah juga pada usia delapan belas tahun, biasanya anak tersebut dikatain oleh masyarakat pesisir “perawan tua”.

  “...dari usia empat belas sampek lapan belas gituh nak... disini malah susah bahkan mungkin gak da tuh yang nikahkan anaknya di usia dua puloh... kalo usia lapan belas gituh belom juga nikah malah dikatain nanti anaknya jadi perawan tua nak... makanya anak-anak sini nikahnya gak da yang lebih dari usia dua puloh...” (R.4/W.3/b.911-922/h.31) Seolah takut akan cemoohan masyarakat pesisir, ibu A pun menikahkan anak pertamanya di usia enam belas tahun. Jika anak lelaki yang sudah pandai mencari uang seperti melaut dan ia minta untuk dinikahkan maka orangtua pun dengan senang hati untuk menikahkan anaknya. Sedangkan yang perempuan, jika jodohnya.

  “...oooh orang sini sih cepat nikah nak. Anak laki-laki kalo dah beduit dia sendiri, tau dia kayak mana cari uang tros mintak nikah dia yaudah dinikahkan. Kayak anak ibuk yang pertama kan dah ibuk nikahi dia waktu umor enam belas sekarang dah setaon lah dia dah nikah. Orang sini cepat- cepatlah nikahnya nak, umor empat belasan gituh dah da juga yang dinikahkan orangtuanya. Nah, makanya ada kebiasaan mengasuh anak tetangga ituh yahhhh karna orang sini cepat nikah. Kalo anak dah nikah semua kan gak da lagi beban kita kan, yahhh makanya bantu tetangga lah yang masih punya beban...” (R.4/W.3/b.884-904/h.17)

  “...kalo yang perempuan kalok dia udah halangan bisalah lah udah dinikahkan...” (R.4/W.3/b.927-929/h.31) Kebiasaan yang ada di lingkungan masyarakat pesisir sedikit banyaknya mempengaruhi didikan ibu A pada anak-anaknya.

  IV.D.3.b.3. Budaya

  Kebanyakan orangtua yang mengikuti budaya atau kebiasaan yang ada di lingkungan tempat tinggalnya. Mereka orangtua banyak yang menyangka bahwa budaya atau kebiasaan tersebut akan membuat anaknya menjadi anak yang diinginkan oleh orangtuanya. Seperti yang terjadi pada masyarakat pesisir pantai.

  Kebiasaan mereka mengajari anaknya untuk bisa membaca Al-Qur’an serta sholat, dan ajaran agama Islam dari anak berusia empat tahun itu juga dikarenakan faktor agama yang mereka anut yaitu agama Islam, maka dari itu anak-anak di perkenalkan secara dini pada ajaran agama Islam. Ibu A pun juga mengikuti budaya yang ada dilingkungannya, beliau juga mengajari anaknya agama sejak

  “...kalo orang sini tuh kebiasaanya apa yah... kayak ngajarin anak agama lah, orang sini kan muslim semua jadi anak-anak tuh harus diajarin agama islam nak dari kecil gitu, teros anak-anak tuh diajarin pande ngaji baca kur’an kalo nanti gak pande jadi bahan bicaraan orang kampung nak... di bilang lah anaknya bodoh kali gak pande-pande baca kur’an atau dibilang orangtuanya lah yang gak peduli sama agama anaknya. Gituh lah nak...” (R.4/W.1/b.90-105/h.3-4) Anak yang tidak pandai mengaji akan menjadi cemoohan masyarakat pesisir, maka dari itu para orangtua termasuk ibu A berlomba-lomba mengajarkan anaknya untuk pandai mengaji agar tidak jadi bahan cemoohan masyarakat pesisir.

  “...orang sini tuh ngasuh anaknya ngajarin mereka ngaji gituh nak.. ngasih anak-anaknya nilai agamanya, dari kecil dah dikenalin anak-anak tuh sama agama biar tahu dari kecil ajaran agama islam itu seperti apa, peraturan- peraturannya tuh kayak apa... gituh nak, karna itu kan tanggung jawab kita sama Tuhan untuk memperkenalkan anak-anak ke jalanNya...” (R.4/W.1/b.178-191/h.6-7) Kebiasaan seperti itu yang terjadi di masyarakat pesisir, maka ibu A pun membuat anak-anaknya untuk bisa juga membaca Qur’an, sholat serta mengetahui ajaran agama Islam. Beliau mempercayai anaknya untuk diajarkan agama pada pak S dari usia empat tahun, beliau juga harus mengeluarkan uang untuk itu yaitu seribu lima ratus sampai dua ribu rupiah.

  “...dari umur empat atau lima tahun gituh nak... ngajarin dia baca iqro’ gituh kan nak kalo umur empat tahun kan biasanya tuh iqro’ lah dulu mengenalkan huruf-huruf kur’an tuh ya kan, trus sholatnya kalo sholat tuh ada lima.. ya diajarin gituh nak. Dan biasanya masyarakat sini tuh anak- anaknya diajarin sama pak S nak, disitu ditarok anak-anak tuh. Bayar seribu lima ratus sampe dua ribu gituh lah nak... murahkan tapi kalo disini uang segitu berarti kali nak... hahahahha namanya juga orang susah nak...” (R.4/W.1/b.110-128/h.4-5) Ibu A sangat menjunjung tinggi nilai agama sehingga pendidikan agama buat anak-anak menjadi hal yanng sangat penting bagi ibu A. Namun itu hanya berlaku pada pendidikan agama, ibu A tidak memandang penting pendidikan umum yaitu sekolah. Karena percuma di sekolahin setinggi-tingginya pada akhirnya melaut juga. Dan menurut beliau pendidikan sekolah hanyalah untuk kepentingan dunia yang sifatnya hanyalah sementara makanya banyak anak- anaknya yang putus sekolah namun beliau tidak merasa kesal. Hal tersebut sudah terlihat dari kehidupan ibu A yang anaknya sudah dua orang putus sekolah, mereka putus sekolah dari SMP kelas dua. Ibu A mengaku bahwa anaknya lah yang sudah tidak ingin sekolah lagi, dan beliau pun menuruti apa keinginan

  anaknya tersebut. Lain hal dengan pendidikan agama yang beliau anggap itu adalah pendidikan untuk bekal akhirat anak-anaknya. Maka dari itu beliau sangat peduli dengan pendidikan agama anaknya.

  “...kalo masyarakat sini tuh pendidikan sekolah tuh gak berapa penting nak, buktinya banyak anak-anak yang gak disekolahin orangtuanya... karena toh ujung-ujungnya disekolahin tinggi-tinggi larinya ke laot juga... yah makanya sekolah tuh gak penting bagi masyarakat sini nak, masih jauh lebih penting pendidikan agama untuk akhirat anak-anak nantinya...” (R.4/W.1/b.218-230/h.8) “...ibuk sama ja tanggapannya kayak masyarakat sini, sekolah tuh untuk dunia ja nak. Tapi yahhh harapan ibuk sih anak-anak ibuk sekolahh tinggi- tinggi, tapi kalo orang tuh gak mau sekolah lagi atau duetnya gak da yah mau diapain lagi coba... yah kan... kayak anak ibuk pertama dan kedua itu kelas dua “es m pe” dah gak mau sekolah lagi, yaudah ibuk bilang gak usah sekolah, toh dia maunya gak sekolah kan. Tapi kalo anak ibuk yang nomor tiga tuh harapannya sampe kuliah nak.. yah ibuk pengen ngabulkan harapan dia tapi kondisi keuangan yang serba kekurangan kayak gini mo cemana pulak ngabulin harapan dia kan nak... hhh tengok nanti lah kalo da rezeki yah sekolah, kalo gak da rezeki yah terpaksa putus sekolahlah... hahahaha...” (R.4/W.1/b.234-260/h.8-9) Faktor budaya mewarnai bagaimana cara ibu A dalam mendidik anak- anaknya. Mulai dari didikan secara islami yaitu mengajarkan anak untuk bisa membaca Qur’an dan mengerti tentang ajaran agama islam sampai kepada pemikiran tentang pentingnya pendidikan agama daripada pendidikan sekolah umum anak-anak.

  IV.D.3.c. Gambaran pola asuh orangtua pada masyarakat pesisir pantai

  Ibu A adalah salah satu orangtua pesisir pantai. Beliau memiliki empat orang anak yang harus didik oleh beliau beserta suaminya, didikan yang beliau beri pada anak-anaknya didikan yang mengarahkan anak-anak pada nilai islami. Beliau memiliki caranya sendiri dalam memberikan kasih sayang pada ke empat

  anak-anaknya, menurut beliau memberi kasih sayang pada anak itu dengan cara mendidik dengan nilai-nilai islami, mengarahkan anak kepada kebaikan, menyekolahkannya jika orangtua masih mampu.

  “...kalo ibuk nak nunjukin kasih sayang yahhhh gak lah nurutin apa maunya kan, belikan apa kesukaan dia yahhh gak mungkin kan, makan ja susah dapatnya apalagi belikan anak-anak ni. Hahahaha.... kalo ibuk yahhh, kita ajarain dia agama, kasih tau dia yang mana yang baik dan buruk nya, kita larang dia ntuk ikut ke pergaulan yang gak benar, sekolahin dia waktu masih mampu. Didik dia secara islam nak, ajarin dia lah tentang agama islam itu seperti apa. Kayak gituhnya nunjukin sayang ibuk ke dia. Karna kan orangtua tuh maunya anak-anaknya tuh soleh dan solehah taat pada agama. Gituh lah nak, hmmm teros ngajarin dia supaya jangan melawan sama orangtua, hmmm tros harus saling tolong menolong gituhnya.. kalo ayahnya kan keras sama mereka pun karna sayang sama mereka nak, mukul atau menendang yang kayak ibuk bilang tadi kan karna dia sayang, anak-anaknya juga gak bisa dibilang secara baek-baek, harus dikasarin baru betol yaudahlah kayak gituh lah ayahnya...” (R.4/W.1/b.509-545/h.18-19) Ibu A mengasuh anak-anaknya dengan cara menasehati anak-anaknya ketika anak-anaknya melakukan kesalahan. Beliau tidak suka memukul anak- anaknya karena beliau takut nantinya anak-anaknya takut padanya. Anak-anak juga selalu cerita pada beliau mengenai masalah mereka dengan temannya, orangtua temannya, bahkan pacar anak-anaknya. Mereka cerita dengan beliau, dan beliau pun mendengarkan dengan baik cerita-cerita anak-anaknya. Jika anak- anaknya membutuhkan pendapat atau masalah saat mereka bercerita, ibu A akan memberikan solusi pada anaknya. Ibu A yang tidak pernah memukul menjadikan anak-anaknya pun sedikit tidak patuh atau nurut apa kata ibu A. Misalnya anaknya di suruh mengangkat air oleh ibu A, anak-anaknya selalu saling melempar apa yang disuruh ibu A dan pada akhirnya tidak ada yang mengerjakan perintah bu Aisyah sehingga beliau mengerjakannya sendiri.

  “...anak-anak sih dekatnya sama ibuk nak, tah kenapa orang ni suka cerita- cerita gituh sama ibuk, misalnya kayak si adeknya kan anak ibuk paling kecil tuh nti suka dia cerita-cerita temannya tros cerita tentang mamak kawannya, kalo yang perempuan tuh cerita tentang pacarnya gituh.. hahaha anak ibuk yang perempuan tuh dah pacaran dia, tapi ibuk bilang jangan pacaran yang aneh-aneh. Jangan pernahh mau diajak kemana-mana sama pacarnya. Dirumah ja suruh dia, kalo dirumah ja kan tau ibuk ngapain ja mereka kalo keluar-keluar jalan-jalan nti bedebar lah jantung

  ibuk mikirin dia nak... yah, kayak gituh jadi anak-anak ibuk nie dekat sama ibuk, becandaain ibuk... tapi kalo sama ayahnya gak pernah ngomong orang ni nak takut nak. Hahahaha paling minta uang jajan sama aayahnya atau minta uang buku, atau sekolah gituh sama ayahnya kalo soal becanda atau cerita-cerita tentang orang tuh gak pernah lah sama ayahnya.. takut kali mereka nak... hahahaha” (R.4/W.2/b.626-660/h.21-22) “...kalo ibuk nak, gak da pake keras mukul-mukul gituh gak pernah nak.. ibuk sih, biasanya nasehti anak-anak jangan kayak gituh lagi kelakuan tapi anaknya bandel juga nak..tapi ibuk gak mukul gituh, bapaknya yang mukul-mukul gituh.. misalnya ni kan ibuk suruh lah anak ibuk angkat aer kan nak nti dia nyuruh adeknya yang angkat aer kayak lempar-lemparan gituh kerjaan yang ibuk suruh kadaang gak mau dibilngnya yaudah ibuklah yang angkat aer sendiri tapi kalo ayahnya ada dirumah dan tahu ibuk digituin hhhh ditendang orrang tuh nak dibilang ayahnya lah gak da otak kau hah, biarin mamak kau yang angkat aer kayak dah raja ja kau dirumah ni hah.” Barulah pecicing lari ntuk angkat aer nak... ibuk sih nasehati jangan buat kayak gituh lagi ya... nti ayahmu marah kayak tadi... mau ayahmu marah-marah kayak tadi nendang mu kayak gituh... hhh gituh lah nak ibuk nasehati dia cem gituh ibuk mendidik dia nak...” (R.4/W.2/b.565-597/h.19-20) “...ibuk akan nasehati dia supaya dia gak ngulangin nya lagi, kalo diulanginya lagi nanti dia dimarahin ayahnya lagi apa mau kayak gituh dimarahin ayah.. ibuk bilang kayak gituh nak... tapi nyatanya ngulangin juga lagi nak, kalo gak da ayahnya nakal juga gak mau dengar cakap ibuk, tapi kalo ayahnya di rumah semua yang ibuk suruh langsung dikerjain dengan cepat. Ibuk nasehati juga lah sama anak-anak masak ada ayah ja ketawa ja anak-anak ibuk...” (R.4/W.2/b.604-622/h.20-21) Cara didikan yang diberikan oleh ibu A pada anak-anaknya tidak beliau tiru dari cara didikan orangtua beliau dahulu. Karena beliau mengatakan, bahwa orangtua beliau mendidik beliau dengan cara “keras” yaitu dengan cara menarik rambut anak, melagakan kepala anak ketika anak saling bertengkar, melibaskan tali pinggang ke tubuh anak, atau memukul anak dengan gagang sapu. Beliau merasa takut jika membayangkan masa kecilnya dulu.

  “...dulu orangtua ibuk tuh yah ngedidik ibuk ntuk bisa ngenal Tuhan kan. Tapi kalo masalahh sekolah gituh gak penting kali bagi mereka nak, karna itubagi mereka buat ngabisin duet ja nak. Makanya ibuk gak sekolah nak... hahaaha kalo ayah ibuk dulu keras juga sama ibuk nak, kalo mamak ibuk tuh jugak mau tuh mukul ibuk, apalagi ayah ibuk tuh, hhh keras kali nak, nti anaknya nakal-nakal tali pinggang di libas pake tali pinggang, atau gagang sapu tuh dipukulkan ke anak. kayak gituh tuh orangtua ibuk dulu.. tapi mank kami kalo dah mamak kami atau ayah kami marah dulu nak, gak berani kami buat kayak gituh lagi nak... sekarang anak ibuk dah dipukul ayahnya lah, ditendang ayahnya lah masih juga melawan orangtua... hhh pening ibuk liat orang tuh...” (R.4/W.3/b.795-832/h.27) Didikan orangtua beliau dulu yang sangat “keras” tidak membuat beliau meniru didikan orangtuanya dulu karena beliau tidak ingin anak-anaknya menjadi tidak dekat dengan beliau karena sering di hukum secara fisik, seperti yang terjadi pada beliau dulu, beliau mengaku bahwa beliau dan saudara kandungnya tidak ada yang dekat dengan orangtuanya. Beliau tidak ingin anak-anaknya akan mengalami seperti itu yang beliau inginkan ketika beliau pulang dari kerjanya yaitu sebagai buruh cuci, beliau bisa bercanda dengan anak-anaknya karena menurut beliau itu adalah cara untuk menghilangkan keletihan beliau selama bekerja. ibuk. Ibuk suka kalo anak ibuk dekat sama ibuk, becanda, cerita-cerita tentang kawan mereka, pacarnya, gituuh lah nak.. kan enak tuh ada teman ngobrol saat capek kerja kan...” (R.4/W.3/b.855-863/h.29) Beliau mendidik anak-anaknya untuk ke arah kebaikan tidak dengan cara

  “keras” namun beliau memberikan nasihat-nasihat pada anaknya agar anaknya tidak melakukan kesalahan lagi. Cara didikan yang beliau berikan pada anak- anaknya sangat berbeda jauh dengan yang diberikan oleh suami beliau. Suami beliau sangat sering melakukan hukuman secara fisik seperti memukul atau menendang anaknya.

  “...kalo ayahnya kan keras sama mereka pun karna sayang sama mereka nak, mukul atau menendang...” (R.4/W.2/b.535-539/h.18) Suami ibu A sangat “keras” dalam mendidik anak-anaknya. Ibu Asiyah mengatakan, jiika anaknya sedikit saja tidak menuruti apa keinginan ayah mereka maka ayahnya akan langsung memukul atau beliau juga sering mengeluarkan kata-kata yang “kasar” pada anak-anaknya.

  “...marah lah ayahnya nak, ayahnya tuh bilang kalo dah gak sekolah lagi jangan taunya buat susah orangtua, seharusnya bantu orangtua lah, ni kerjaannya tidur ja... gituh nak, kalo gak dengar juga dia bandel juga dibilangin yaudah di pukul bapaknya nak, disuruh bangun di bilang bapaknya lah kau kalo masih mau tinggal dirumah nie bantu orangtua jangan bisanya melawan ja, kalo kau mau enak-enakan yah keluar ja dari rumah ni.. pernah digituin nak sama bapaknya... ibuk diam ja lah nak kalo bapaknya dah marah. Orang dia nya juga bandel sih gak mau dengar cakap bapaknya dah tau bapaknya orangnya keras gituh kalo sama anak...” (R.4/W.1/b.283-306/h.10) Melihat anaknya dipukul atau ditendang oleh suaminya, ibu A hanya diam tidak berkata apapun, bukan dikarenakan beliau takut pada suaminya tapi itu merupakan rasa hormat beliau pada suaminya. Beliau juga menganggap bahwa anak, dengan cara “kasar” seperti itulah suamintya menunjukkan kasih sayang pada anak-anaknya. Karena suami beliau menginginkan anaknya untuk patuh dan nurut setiap apa yang dikatakan orangtua, baik itu suami ibu A maupun ibu A.

  “...hmmm gak nak, bukan karna takut atau apa... itu karna ibuk hormat pada suami ibuk, suami kan pemimpin rumah tangga apapun yang suami ibuk lakukan sama anak-anak yah itu karna dia mau anaknya baik nak.. ibuk percaya kok itu supaya anak-anak gaak nakal lagi, mau dengar kata orangtua. Kalo anaknya membangkang juga yah di kasarin baru dia mau nurut. Dibilang baek-baek gak bisa kalo dikasarin baru mau yahhh gituh lah caranya.. makanya ibuk ngikut ja apa yang dilakukan bapak sama anak-anak...” (R.4/W.1/b.314-332/h.11)

  “...yahhh mau gimana lagi nak, dengan cara kasar seperti itunya anak-anak bisa mendengarkan kata orangtua... yahhhh menurut ibuk sih wajar saja, benar lah kalo mank anaknya dengan kayak gituh dia baru bisa dengar apa kata orangtua...” (R.4/W.2/b.550-558/h.19) Tindakan “keras” dalam mengasuh anak-anak yang diberikan oleh suami ibu A menjadikan anak-anak beliau takut pada suami beliau.

  “...yahhhh gimana gak takut orang ayahnya kalo anaknya ada salah dikit langsung mukul atau kalo gak nendangg gituh kan. Anak ibuk kan banyak laki-laki, semuanya digituinnya yang anak kedua dan yang kecil digituinnya di pukulnya, tapi kalo anak perempuannya gak nakal dia nak, dia mau dengar cakap orangtua, dia mau nurut semua perkataan orangtua tapi sama ja dia takut juga nak, diliatnya adek dan abang di hajar sama ayahnya yahhhh jadi takut lah dia sama ayahnya... hahahaha...” (R.4/W.2/b.664-680/h.22-23) Pengasuhan yang diberikan oleh suami dan ibu A sangat berbeda jauh. Ibu

  A yang sangat dekat dengan anak-anaknya, beliau mendidik anak-anaknya dengan cara menasehati anak-anaknya ketika anak-anaknya melakukan kesalahan sedangkan suami beliau yang mendidik anak dengan “keras” sehingga anak-anak takut pada sosok sang ayah. Namun dalam hal tersebut saja yang mereka berbeda

  “...iya nak, ibuk sama bapak sama nak gak pernah sekolah kami nak.. hehehehe jadi gak tau tau kami tuh soal sekolah mereka...” (R.4/W.3/b.785-789/h.26) “...gak tau nak ibuk gak sekolah nak jadi gak tahu tentang sekolah- sekolah dia nak, yahhh ibuk biarkan ja dia di sekolah gimana kalo dia da apa-apa atau apalah gituh perlunya nti kan dia cerita sama ibuk... ibuk pun gak da nanya-nanya ke dia kayak mana sekolah dia.. ibuk gak ngerti nak... tugas ibuk cuman bayar spp nya nak.. haaha selebihnya ibuk gak tau tau ituh...” (R.4/W.3/b.767-780/h.26)

  Orangtua tidak memperdulikan bagaimana perkembangan sekolah anak- anaknya. Ibu A menyatakan jika anaknya mengalami masalah akan mengadu sendiri pada beliau. Beliau tidak pernah menanyakan bagaimana anak-anak di sekolah. Menurut beliau anak-anak yang sudah mau sekolah beliau merasa sangat bersyukur dengan hal itu karena anaknya sudah dua orang yang meminta untuk putus sekolah dan beliau mengijinkan anaknya untuk putus sekolah.

  “...sama sekali ibuk gak tau apa-apa nak, mereka sendirilah tuh yang tau. Gak da ibuk tanya-tanya kali tentang sekolah mereka. Mau sekolah dan bisa sekolah ja mereka dah sukur nak ibuk rasa.. hahaha...” (R.4/W.3/b.795-802/h.27) Ada perbedaan dan persamaan dalam mendidik anak-anaknya pada keluarga ibu A. Namun hal tersebut tidak menjadi permasalahan dalam keluarga ibu A.

  IV.E. Tabel Analisa Pola Asuh Antar Subjek Tabel 3. Analisa Pola Asuh Antar Subjek KETERANGAN RESPONDEN I (PAK M) RESPONDEN II (PAK S) RESPONDEN III (IBU SH) RESPONDEN IV (IBU A) Kebudayaan Masyarakat Pesisir 1.

  Mengajarkan anak- anak membaca Al- Qur’an sejak usia dini. Dan mempercayakan anaknya untuk diajarkan membaca Al-Qur’an pada pak S.

  2. Ketika anaknya tidak pandai membaca Al- Qur’an maka pak M akan merasa malu dan berdosa karena menurut beliau orang yang beragama Islam haruslah bisa membaca Al-Qur’an serta paham akan ajaran agamanya.

  3. Ketika waktu sholat tiba, maka pak M pun akan menunda segala 1.

  Mengajarkan anak- anak membaca Al- Qur’an, sholat serta ajaran agama Islam dari usia 5 tahun.

  2. Memilki pemikiran, pendidikan agama anak-anaknya adalah nomor satu tidak dengan pendidikan sekolah anak-anaknya. karena menurut beliau percuma disekolahin tinggi-tinggi karena pada akhirnya juga akan melaut.

  Melayu, dan beliau beranggapan bahwa suku Melayu adalah identik dengan agama

  1. Para nelayan termasuk suami ibu SH pergi melaut sesudah sholat shubuh dan kembali sebelum dzuhur.

  2. Ibu SH mengatakan bahwa budaya Melayu adalah budayanya orang-orang Islam maka dari itu beliau mendidik anak serta beraktivitas dekat dengan nilai-nilai keislaman.

  3. Jika waktu sholat sudah tiba maka beliau pun akan langsung mengerjakan sholat dan jika lagi beraktivitas maka wajib hukumnya 1.

  Nelayan setempat pergi melaut sesudah shubuh dan kembali sebelum dzuhur. Hal itu juga terjadi pada suami beliau.

  2. Menurut beliau budaya Melayu adalah identik dengan agama Islamnya, maka dari itu beliau pun beraktivitas serta mendidik anaknya juga dekat dengan nilai Islamnya 3. Anak disuruh belajar mengaji dari usia 4 tahun, beliau mempercayai anaknya untuk diajarkan mengaji

3. Karena beliau suku

  Universitas Sumatera Utara aktivitasnya dan beralih mengerjakan sholat. Setelah sholat barulah melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda.

  4. Pergi melaut jam 6 shubuh dan kembali sebelum sholat dzuhur dikarenakan supaya dapat mengerjakan sholat dzuhur secara berjemaah.

  5. Mengajak anak lelakinya untuk ikut membantu ekonomi keluarga dengan cara melaut bersama ketika anak lelakinya tersebut lagi libur sekolah.

  6. Menikahkan anak dengan cepat merupakan cara untuk mengurangi

  Islam maka dari itu beliau pun beraktivitas serta mendidik anak- anaknya dengan nilai- nilai keislaman.

  4. Mengajak anak untuk ikut melaut bersama beliau ketika hari libur sekolah

  5. Pergi melaut jam 6 shubuh setelah selesai sholat shubuh dan kembali sebelum dzuhur.

  6. Ingin menikahkan anaknya agar mengurangi beban tanggung jawabnya sebagai orangtua.

  7. Mengatakan bahwa masyarakat sekitarnya memiliki kebiasaan dalam mengasuh anak tetangga. Hal tersebut merupakan bentuk dari tolong menolong antar menundanya terlebih dahulu nanti ketika sudah selesai sholat barulah melanjutkan aktivitas atau pekerjaan yang sempat tertunda

  4. Ketika waktu sholat tiba tidak hanya beliau saja yang sibuk untuk melaksanakan sholat namun anak-anak beliau pun ikut bersiap jika waktu sholat telah tiba. Dan anak-anak beliau tidak ada yang bermain lagi, nanti ketika sudah sholat barulah mereka menlanjutkan bermainnya.

  5. Anak-anak diajarkan tentang agama sejak usia lima tahun, dan beliau mempercayainya pada pada pak S

  4. Menurut beliau pendidikan agama jauh lebih penting daripada pendidikan umum karena menurut beliau percuma disekolahin tinggi-tinggi karena pada akhirnya akan melaut juga.

  5. Menikahkan anaknya diusia enam belas tahun. Hal ini karena di lingkungannya anak-anak menikah di usia empat belas sampai delapan belas tahun. Ketika anak usia delapan belas tahun belum menikah juga maka disebut sebagai “perawan tua” 6. Ibu A mengatakan, walaupun masyarakat

  Universitas Sumatera Utara beban kehidupan warga. pak S di lingkungannya orangtua.

  6. merupakan orang- Ingin menikahkan 7. anaknya dengan cepat, orang yang susah

  Lebih mementingkan pendidikan agama karena beliau namun rasa tolong anak-anak daripada beranggapan menolong tetap ada pendidikan sekolah menikahkan anak pada mereka hal anak-anak. adalah salah satu cara ditunjukkan dari untuk mengurangi kebiasaan dalam beban tanggungan mengasuh anak beliau sebagai tetangga yang masih orangtua. banyak tanggungan 7. anak-anaknya. Pendidikan agama anak jauh lebih penting daripada pendidikan sekolah anak-anak.

  8. Mengajak anak untuk ikut membantu perekonomian keluarga dari anak usia 6 atau 7 tahun.

  9. Mengasuh anak tetangga adalah bentuk dari rasa tolong menolong masyarakat pesisir.

  Universitas Sumatera Utara

  Faktor Yang Mempengaruhi Pola Asuh Orangtua:

  Mengajak anak lelakinya melaut sedangkan perempuannya membantu pekerjaan rumah tangga ibunya atau jika ada borongan mengupas kulit udang maka anak perempuannya juga ikut andil dalam borongan tersebut.

  Universitas Sumatera Utara

  Beliau menikahkan anaknya disia 16 tahun karena di lingkungan beliau anak-anak usia 15-18 tahun sudah menikah. Jika anak yang belum menikah usia 18 tahun maka akan disebut sebagai “perawan tua” 2. Di lingkungan beliau diharuskan anak-anak

  2. Anak lelaki di lingkungan beliau jika sudah bisa mencari 1.

  1. Beliau sangat menginkan anak pertamanya untuk menikah, jika anak pertamanya menikah diusia 20 tahun maka akan disebut sebagai perawan tua. Beliau tidak mau hal itu terjadi pada anaknya.

  2. Mengajarkan anak- anaknya sholat, membaca Qur’an serta ajaran agama dari usia

  Mengajak anak lelakinya untuk melaut ketika libur sekolah dan menyuruh anak perempuannya yang masih kecil untuk ikut bersama istrinya dalam borongan mengupas kulit udang.

  b. Lingkungan 1.

  a. Pendidikan 1.

  2. Karena beliau tidak pernah sekolah maka dari itu mengenai pendidikan sekolah anak-anak, ibu A tidak pernah peduli. Beliau tidak mengetahui tentang pendidikan sekolah

  1. Tidak memiliki latar belakang pendidikan

  2. Karena beliau tidak pernah sekolah maka dari itu beliau tidak pernah menanyakan bagaimana perkembangan anaknya disekolah. Beliau menyerahkan segala urusan sekolah pada anak-anaknya.

  1. Tidak memiliki latar belakang pendidikan.

  S tidak pernah peduli kepada pendidikan sekolah anak-anaknya. Beliau menganggap bahwa beliau tidak mengetahui tentang pendidikan sekolah.

  1. Memiliki latar belakang pendidikan sekolah hanya sampai Sekolah Dasar 2. Mengenai pendidikan sekolah anak-anak, pak

  Tidak memiliki latar belakang pendidikan sekolah 2. Tidak pernah menanyakan bagaimana pelajaran anak-anaknya disekolah, ranking atau juara si anak dikarenakan faktor tidak pernah sekolah tersebut.

2. Mengajarkan kepada 1.

  anak-anak untuk bisa 5 tahun. uang sendiri maka untuk bisa membaca sholat, membaca Al- 3. sudah bisa lah ia Qur’an maka dari itu

  Jika anaknya sudah Qur’an serta ajaran meminta untuk dinikahkan oleh beliau pun menyuruh agama Islam. Hal ini dinikahkan maka beliau orangtuany, jika anak anak-anaknya untuk pak M pun akan menikahkan perempuan maka ia belajar Qur’an serta mempercayainya anak lelakinya. Karena harus melewati masa agama pada pak S pada pak S. di lingkungan beliau baligh dahulu.

  3. Beliau juga 3. anak lelaki yang sudah 3. menyuruuh anak-

  Ketika anak-anak usia Anak lelakinya pergi setara dengan usia bisa mencari uang melaut bersama anaknya untuk bisa anak SMP belum bisa sendiri maka sudah suaminya ketika libur menghasilkan uang membaca Al-Qur’an bisa ia menikah sekolah sedangkan juga seperti anak maka akan menjadi sedangkan perempuan anak perempuannya lelakinya yang masih bahan gosipan para harus melewati masa harus menjaga toko kelas lima SD pun warga. balighnya terlebih baju ketika sudah beliau bawa dalam

  4. dahulu jika sudah pulang dari sekolahnya borongan mengupas Memilki pandangan menikahkan anak baligh barulah bisa sedangkan anaknya kulit udang demi adalah cara untuk dinikahkan oleh yang paling kecil yang mendapatkan upah mengurangi beban orangtuanya. masih kelas lima SD Rp10.000 tanggung jawab diajaknya ketika orangtua borongan mengupas kulit udang.

  4. Mengajarkan anak- anaknya sholat, membaca Qur’an serta ajaran agama dari usia 5 tahun.

  Universitas Sumatera Utara

  5. Pendidikan agama anak-anaknya jauh lebih penting daripada pendidkan sekolah anak-anaknya.

c. Budaya 1.

  Mengajarkan anaknya membaca Al-Qur’an, sholat serta ajaran agama Islam karena menganggap orang Islam harus memilki kemampuan tersebut. Dan jika anaknya tidak menguasai kemampuan tersebut maka beliau pun akan merasa malu dan berdosa

  2. Karena budaya yang melekat dengan nilai keislaman tersebut pak M pun akan berjuang untuk membuat anaknya pintar dalam hal membaca Qur’an dan

  1. Beliau mengatakan karena beliau bersuku Melayu dan suku Melayu itu adalah beragama Islam maka dari itu beliaupun beraktivitas serta mendidik anaknya juga berdasarkan nilai islam yang ada.

  2. Beliau mengajari anak utuk bisa membaca Qur’an, sholat, serta ajaran agama Islam merupakan bentuk dari menanamkan nilai islam pada anak- anaknya.

  1. Menjunjung tinggi nilai agama karena bersuku Melayu. Beliau beranggapan orang yang bersuku Melayu adalah orang Islam. Maka dari itu beliau mendidik anak serta berprilaku sesuai dengan nilai-nilai Islam.

  2. Beliau mengajari anak utuk bisa membaca Qur’an, sholat, serta ajaran agama Islam merupakan bentuk dari menanamkan nilai islam pada anak- anaknya sejak anak- anak usia 5 tahun.

  3. Jika waktu sholat tiba maka beliau serta anak-

  1. Lingkungan disekitar ibu A adalah beragama Muslim, maka dari itu beliau mendidik anak-ana dengan nilai-nilai keislaman.

  2. Menyuruh anak untuk belajar mengaji di usia 4 tahun 3. Memandang pendidikan agama adalah pendidikan nomor satu sedangkan pendidikan yang lainnya menjadi nomor sekian dan bahkan dianggap tidak penting bagi beliau.

  Universitas Sumatera Utara sholat. anaknya harus mengerjakan sholat

  Gaya Pola Asuh Orangtua : a.

  • Universitas Sumatera Utara

   Authoritari an

  1. Menunjukkan kasih sayang dengan cara mendidik anak dengan “keras” yaitu memukul atau menampar dengan harapan agar si anak tidak melawan pada orangtua 2. Pak M adalah figur ayah yang ditakuti oleh anaknya dan pak M pun menyenangi hal tersebut.

  3. Komunikasi yang terjalin antara pak M dengan anaknya hanya sebatas “jika ada perlunya saja” 4. Memberi hukuman secara fisik yaitu memukul atau menampar.

  1. Menunjukkan rasa kasih sayang pada anak-anaknya dengan cara mendidik anak- anaknya secara “keras”.

  2. Menghukum anak- anaknya secara fisik seperti memukul, menampar bahkan menendang.

  3. Ketika anak dihukum oleh beliau, beliau tidak ada memberikan alasan mengapa anaknya mendapatkan hukuman. Karena menurut beliau anaknya pasti sudah mengetahui alasan kenapa dihukum.

  4. Pak S selalu menghukum anak 1.

  Menunjukkan rasa kasih sayang dengan cara mendidik anak dengan hukuman.

  2. Menghukum anak secara fisik yaitu mencubit atau menarik telinga anaknya. Ibu SH beranggapan bahwa hukuman yang diberikannya adalah hukuman sederhana

  3. Tidak ada memberi alasan pada anak ketika anak mendapatkan hukuman. Karena beliau mengatakan anaknya pasti sudah tahu alasannya kenapa ia diberi hukuman seperti itu karena jika ia tidak melakukan kesalahan, ibu SH pun

  5. lelakinya dengan cara tidak akan menghukum Tidak ada memberi alasan mengapa anak fisik di depan anak anaknya. maka dari itu di beri hukuman perempuannya yang beliau beranggapan secara fisik karena masih duduk di kelas tidak perlu pak M menganggap lima SD. Ketika anaknya memberikan alasan anak-anaknya sudah melihat pak S pada anak mengapa ia mengetahui menghukum anak dihukum. alasannya. lelakinya, beliau 4.

  Tidak memberi 6. mengatakan pada anak kesempatan pada anak

  Tidak memberi kesempatan anak perempuannya kalau untuk memberikan untuk menjelaskan tidak ingin seperti alasan mengapa anak menagapa anak abangnya maka jangan melakukan kesalahan. melakukan kesalahan berbuat nakal seperti abangnya.

  5. Pak S di takuti oleh anak-anaknya. dan pak S pun merasa senang denga perasaan takut anak-anaknya terhadap beliau karena menurut beliau itu adalah bentuk dari rasa hormat mereka pada beliau.

  6. Berkomunikasi pada anak tidak sering

  Universitas Sumatera Utara karena faktor dari rasa atakut anak-anak terhadapnya. Oleh karena itu beliau berkomunikasi pada anak-anaknya sebatas “ada perlunya saja”.

  a.

  • 1.

   Authoritati ve

  Komunikasi yang terjalin antara beliau dengan anak-anaknya sering karena anak- anaknya selalu menceritakan masalah mereka pada ibu SH. Tidak hanya mendengarkan cerita anak-anaknya saja ibu SH juga memberi nasihat-nasihat pada anaknya ketika anaknya bercerita padanya.

  2. Walaupun anak-anak selalu dihukum oleh ibu SH dengan cara mencubit atau menarik

  1. Menunjukkan rasa kasih sayang dengan cara menasehati anak dengan baik, menyekolahkan anak ketika masih mampu, menyuruh anak untuk belajar mengaji, serta menasehati anak untuk saling tolong menolong pada sesama.

  2. Anak-anak selalu bercerita dengan ibu A. Anak cerita mengenai masalah temannya, pacar ataupun masalah lainnya.

  Universitas Sumatera Utara telinga. Anak-anak 3.

  Beliau tidak hanya tidak takut pada beliau mendengarkan 3. cerita0cerita si anak

  Anak-anak dekat dengan beliau. Beliau saja tapi beliau dan anak-anaknya memberikan nasihat- selalu bercerita nasihat pada anaknya ataupun bercanda ria. ketika anaknya bercerta pada beliau

  4. Anak juga terkadang meminta solusi masalah yang sedang dihadapinya kepada beliau dan beliau pun memberikannya.

  5. Tidak pernah menghukum anaknya secara fisik, ketika anak melakukan kealahan beliau justru menasehati anak- anaknya supaya tidak melakukan kesalahan lagi.

  6. Selalu bercanda dengan anak- anaknya, karena

  Universitas Sumatera Utara menurut beliau bercanda dengan anak-anak membuat letih bekerjanya hilang untuk sesaat.

  b.

  a. tidak 1.

  1.

  1. Permissive Pak M Tidak pernah peduli Ibu SH tidak tahu Tidak pernah ingin mempermasalahkan dan tidak ingin tahu menau tentang sekolah tahu bagaimana anaknya ketika dengan perkembangan anak-anaknya. yang perkembangan anaknya sudah tidk sekolah anak-anaknya, beliau tahu hanya sekolah anak- ingin sekolah lagi. tidak pernah membiayai sekolah anaknya,

  b. menanyakan keadaan anak-anaknya untuk 2.

  Beliau tidak tahu Beliau tidak pernah menau tentang sekolah anak-anaknya. urusan yang lain beliau bertanya bagaimana perkembangan anak- 2. tidak ingin tahu. nilai ataupun rangking

  Jika anak-anaknya anaknya disekolah. meminta untuk libur 2. anak-anaknya di

  Tidak pernah peduli c. sekolah maka pak S dengan perkembangan sekolah. Menurut beliau tugas beliau hanya pun mengijinkan sekolah anak-anaknya.

  3. Ibu A merasa sangat membiayai anaknya anaknya untuk libur 3. bersyukur jika

  Beliau juga tidak sekolah sedangkan sekolah tanpa ditanya pernah menanyakan anaknya masih tentang bagaimana alasannya, asalkan bagaimana pelajaran mampu dan mau pendidikan anaknya ketika anaknya libur sekolah anak-anaknya bersekolah. Tapi hal di sekolah beliau tidak sekolah maka anaknya rangking atau nilai lain yang mengetahuinya. harus ikut melaut anak-anaknya di berhubungan dengan bersamanya. sekolah pun beliau pelajaran anaknya tidak ingin tahu. beliau tidak tahu.

  Universitas Sumatera Utara

  Universitas Sumatera Utara

  Universitas Sumatera Utara

  Universitas Sumatera Utara

IV.F. Pembahasan Responden I dan II

  Kebudayaan yaitu seluruh cara kehidupan masyarakat dan tidak hanya mengenai sebagian tata cara hidup saja yang dianggap lebih lebih tinggi dan lebih diinginkan, jadi kebudayaan menunjukkan beberapa aspek kehidupan. Istilah ini meliputi cara-cara berlaku, kepercayaan, sikap, dan juga hasil dari kegiatan manusia Ralph Linton (2002). Berdasarkan hasil wawancara dari keempat responden kebudayaan yang terjadi pada masyarakat pesisir pantai yaitu keempat responden menganggap budaya Melayu adalah budaya yang orang-orangnya menganut agama Islam maka dari itu masyarakat setempat beraktivitas tidak jauh dari unsur islam. Seperti menyuruh anak-anaknya belajar agama, ketika waktu sholat sudah tiba maka masyarakatnya pun akan mengerjakan sholat terlebih dahulu jika sedang melakukan pekerjaan maka wajib hukumnya untuk menunda pekerjaan tersebut tidak hanya orangtua yang wajib langsung mengerjakan sholat tepat waktu, anak-anakpun di suruh oleh orangtuanya untuk langsung mengerjakan sholat ketika waktunya sudah tiba tidak ada lagi anak-anak yang bermain-main lagi, pergi melaut setelah shubuh dan kembali sebelum dzuhur, hal itu dilakukan karena alasan agama yaitu pulang sebelum dzuhur agar dapat mengerjakan sholat dzuhur tepat waktu dan berjemaah.

  Cara pandang keempat responden mengenai pendidikan yaitu memandang pendidikan agama adalah nomor satu daripada pendidikan lainnya, pendidikan sekolah hanya percuma karena akan percuma jika nanti anaknya di sekolahin tinggi-tinggi pada akhirnya akan melaut juga. Pendidikan bagi sebagian besar rumah tangga masyarakat pesisir masih menjadi kebutuhan nomor sekian dalam rumah tangga. Dapat dikatakan bahwa antusias terhadap pendidikan di masyarakat nelayan relatif masih rendah (Anggraini, 2000). Karena memiliki pandangan pendidikan sekolah tidak terlalu penting, maka tidak heran jika anak-anaknya sudah putus sekolah seperti responden keempat yaitu ibu A yang anak pertama dan kedua mengalami putus sekolah dari SMP kelas dua, beliau tidak ada masalah dengan hal tersebut bagi beliau yang penting dia bisa mengaji membaca Al- Qur’an serta paham akan ajaran agamanya.

  Anak-anak mereka harus menerima kenyataan untuk mengenyam tingkat pendidikan yang rendah, karena ketidakmampuan ekonomi orang tuanya. Anak- anak dituntut untuk ikut mencari nafkah, menanggung beban kehidupan rumah tangga, dan mengurangi beban tanggung jawab orangtuannya (Fathul, 2002).

  Berdasarkan hasil wawancara dari keempat responden terlihat bahwa mereka menyuruh anak-anaknya untuk bekerja menghasilkan uang tambahan seperti ikut melaut, bekerja di toko baju bahkan anak kelas lima SD pun diikut sertakan dalam borongan mengupas kulit udang. Hal ini bagi para responden agar membantu perekonomian keluarga. Selain itu keempat responden juga mengatakan bahwa anak-anak adalah sebagai beban orangtua. Untuk mengurangi beban tanggung jawab orangtua, keempat responden pun mengemukakan salah satu caranya yaitu menikahkan anaknya. Pada masyarakat pesisir menikahkan anak di usia dini adalah hal yang wajar, anak-anak menikah dari usia empat belas tahun sampai delapan belas tahun. Mereka yang belum menikah diusia delapan belas tahun biasanya sering disebut “perawan tua”. Keempat responden pun menginginkan anaknya untuk cepat menikah karena takut anaknya akan menjadi “perawan tua”. Hal itu terjadi pada responden keempat yaitu ibu A yang sudah menikahkan anaknya diusia enam belas tahun, menurut beliau itu adalah cara untuk mengurangi tanggung jawab beliau sebagai orangtua.

  Fenomena keseharian masyarakat pesisir yang terlihat yaitu anak lelaki maupun wanita secara lebih dini terlibat dalam proses pekerjaan nelayan dari mulai persiapan orangtua mereka untuk ke laut sampai dengan menjual hasil tangkapan (Pengemanan, 2002). Di lingkungan pesisir banyak anak-anak yang sudah bisa mencari uang sendiri, kebanyakan anak lelaki yang ikut dengan ayah mereka untuk melaut. Seperti yang terjadi pada keempat responden yang masing- masing memiliki anak laki-laki, ketika mereka libur sekolah maka mereka tidak bisa meliburkan diri dari aktivitas yang ada, mereka harus membantu ayah mereka untuk melaut demi mendapatkan uang tambahan.

  Tidak hanya menyuruh anak-anaknya untuk pergi melaut tapi juga mengajarkan anak-anaknya dari kecil untuk belajar mengaji. Anak-anak harus bisa membaca Al-Qur’an serta sholat lima waktu sejak usia lima tahun. Biasanya orangtua pesisir menyekolahkan anak-anaknya untuk belajar mengaji di tempat pak S. Beliau lah yang memberi pelajaran membaca Iqro’ sampai Al-Qur’an, bagaimana sholat lima waktu, dan yang berkaitan tentang agama Islam. Jika anak usia sepuluh tahun keatas belum bisa membaca Al-Qur’an maka akan menjadi bahan gosip para ibu-ibu setempat. Lingkungan banyak mempengaruhi perkembangan anak, maka tidak mustahil jika lingkungan juga ikut serta mewarnai pola-pola pengasuhan yang diberikan orangtua terhadap anaknya (Edwards, 2006).

  Selain faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi pola asuh dari keempat responden, faktor pendidikan juga memberikan kontribusi dalam mempengaruhi pola asuh. Latar belakang pendidikan dari keempat responden sangat memprihatinkan, paling tinggi latar belakang pendidikannya adalah hanya tamatan SD yaitu responden kedua pak S. Hal ini mengakibatkan mereka tidak peduli akan perkembangan pendidikan sekolah anak-anaknya, mereka menganggap dirinya tidak mengetahui dunia pendidikan karena keterbatasan latar belakang pendidikan yanng merekan miliki. Pendidikan dan pengalaman orangtua dalam perawatan anak akan mempengaruhi persiapan mereka menjalankan pengasuhan. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menjadi lebih siap dalam menjalankan peran pengasuhan antara lain: terlibat aktif dalam setiap pendidikan anak, mengamati segala sesuatu dengan berorientasi pada masalah anak, selalu berupaya menyediakan waktu untuk anak-anak dan menilai perkembangan fungsi keluarga dan kepercayaan anak (Edwards, 2006).

  Bukan hanya lingkungan, dan pendidikan saja yang mempengaruhi pola asuh dari keempat respon. Budaya juga ikut mewarnai dalam pemberian pola asuh dari keempat responden terlihat dari mengajari anak-anaknya untuk belajar mengaji, sholat, serta ajaran-ajaran di dalam agama Islam. Anak-anak beliau harus mengetahui secara lebih dini tentang ajaran Islam yaitu dari usia lima tahun sudah belajar mengaji, dan belajar tentang ajaran-ajaran Islam. Mereka ditanamkan nilai- nilai keislamannya dari usia lima tahun. Anggapan mereka tentang budaya Melayu itu adalah orang-orang yang beragama Islam maka dari itu anak-anak harus diajarakan juga ajaran-ajaran Islamnya supaya mereka terdidik dari kecil.

  Mengajari anak-anak untuk bisa membaca Al-Qur’an, sholat lima waktu dan ajaran-ajaran agama Islam adalah menjadi kebudayaan tersendiri di masyarakat pesisir setempat. Selain itu responden pertama dan kedua juga memiliki budaya yang turun temurun dari keluarga mereka yaitu kebiasaan pengasuhan secara “keras”. Kedua responden tersebut mendidik anak-anak secara “keras”, beliau mengakui bahwa mendidik anak-anak dengan cara seperti itu karena diajarkan oleh orangtua beliau sebelumnya. Beliau beranggapan bahwa didikan yang diberikan oleh orangtuanya terdahulu adalah benar dan menjadikan anak-anak untuk tidak melawan pada orangtua, dan beliau berharap agar anak-anaknya kelak akan seperti itu. Orangtua mengharapkan kelak anaknya dapat diterima dimasyarakat dengan baik, oleh karena itu kebudayaan atau kebiasaan masyarakat dalam mengasuh anak juga mempengaruhi setiap orangtua dalam memberikan pola asuh terhadap anaknya (Anwar,2000). Sering kali orangtua mengikuti cara- cara yang dilakukan oleh masyarakat dalam mengasuh anak, kebiasaan-kebiasaan masyarakat disekitarnya dalam mengasuh anak, karena pola-pola tersebut dianggap berhasil dalam mendidik anak kearah kematangan (Edwards, 2006).

  Pengasuhan menurut keempat responden yaitu mengajari anak untuk bisa membaca Al-Qur’an, karena masyarakatnya yang bersuku Melayu maka beliau berkata jika suku Melayu maka akan identik dengan keislamannya maka dari itu masyarakat pesisir setempat pun mengajarin anak-anaknya secara lebih dini untuk bisa membaca Al-Qur’an, sholat lima waktu, serta ajaran-ajaran di dalam agama Islam. Keempat responden memilki caranya sendiri dalam mengasuh anak- anaknya. Pola asuh anak sangat berperan penting bagi perkembangan kepribadian anak saat dewasa kelak. Namun, yang terjadi pada ke empat responden yaitu orangtua memiliki pola asuh yang saling bertolak belakang. Responden I dan II mengatakan bahwa beliau mendidik anak secara keras, dan anak-anak menjadi takut dan tidak dekat dengan beliau namun berbeda dengan istrinya. Beliau mengaku bahwa anak-anak dekat dengan istrinya, jika anak-anak mendapatkan masalah diluar, anak-anak pun cerita pada ibunya.

  Baumrind (1978) membagi gaya pengasuhan menjadi tiga kategori. Pertama, authoritarian, yaitu pola orangtua dalam mendidik anak yang menekankan ketaatan atau kepatuhan. Orangtua cenderung memberlakukan peraturanperaturan yang ketat dan menuntut agar peraturan-peraturan itu dipatuhi yang kadang tanpa ada penjelasan kepada anak. Orangtua dengan pola asuh

  Authoritarian memegang kendali penuh dalam mengontrol anak-anaknya.

Authoritarian mengandung demanding dan unresponsive. Yang dicirikan dengan

  orangtua yang selalu menuntut anak tanpa memberi kesempatan pada anak untuk mengemukakan pendapatnya, tanpa disertai dengan komunikasi terbuka antara orangtua dan anak juga kehangatan dari orangtua. Orangtua bersikap memaksa dengan selalu menuntut kepatuhan anak, agar bertingkah laku seperti yang dikehendaki oleh orangtuanya. (Baumrind, 1971 dalam Berk, 2000).

  Kedua, permissive, yang memberikan sejumlah pedoman perilaku kepada anak, tetapi orangtua tidak mau anak mereka marah. Secara umum, orangtua

  permissive berusaha menerima dan mendidik anak sebaik mungkin, tetapi mereka cenderung sangat pasif ketika sampai pada masalah penetapan batas-batas atau menanggapi ketidakpatuhan. Dan terakhir, authoritative, yang berusaha menyeimbangkan antara membimbing dengan batas-batas yang jelas, namun tidak terlihat seperti mengatur. Orangtua memberi penjelasan tentang apa yang anak mereka lakukan serta membolehkan mereka untuk memberi masukan dalam pengambilan keputusan-keputusan penting.

  Pola asuh yang terlihat pada responden I dan II adalah pola asuh

  

authoritarian dan permissive. Pola asuh authoritarian terlihat dari cara beliau

  yang mendidik anak-anaknya secara keras. Beliau menggunakan hukuman secara fisik untuk menghukum anak-anaknya yang tidak patuh dengan beliau. Responden I menghukum anaknya dengan cara memukul atau menampar anaknya. jika anaknya tidak menuruti apa keinginan beliau seperti malas mengaji atau malas membantu beliau ikut serta dalam melaut maka beliau pun akan menghukum anaknya dengan cara yang demikian. Beliau juga tidak memberikan kesempatan pada anak untuk memberikan alasan mengapa anak melakukan kesalahan dan beliau juga tidak mengatakan mengapa anak perlu dihukum secara fisik seperti itu. Beliau menganggap anak yang melakukan kesalahan harus dihukum dengan demikian supaya anak tidak melakukan kesalahan lagi.

  Responden II menghukum anak-anaknya dengan cara memukul, menampar bahkan menendang. Beliau melakukan hal tersebut semata hanya untuk anaknya patuh terhadapnya. Jika anak tidak patuh dengan perkataannya maka beliau pun akan langsung menghukum anaknya dengan cara yang demikian.

  Karena beliau selalu menghukum anak-anaknya secara fisik, maka anak-anak pun menjadi takut dan tidak dekat dengan beliau namun beliau tidak mempermasalahkan hal yang demikian, menurut beliau ketakutan anak-anak terhadapnya adalah bentuk rasa hormat anak-anak padanya. Beliau juga mengaku, ketika menghukum anak-anaknya, beliau tidak mengatakan mengapa anaknya perlu dihukum dengan cara yang demikian. Bagi beliau anak yang tidak patuh pada orangtua harus dihukum supaya anak tersebut menjadi lebih baik.

  Selain menggunakan pola asuh authoritarian, responden I dan II menggunakan pola asuh permissive. Hal itu terlihat dari ketidakpedulian beliau terhadap pendidikan sekolah anak-anaknya. di lingkungan beliau menganggap pendidikan sekolah tidak terlalu penting karena akan percuma anak disekolahin tinggi-tinggi pada akhirnya akan melaut juga. Salah satu penyebab beliau bersikap

  

permissive pada pendidikan anak-anaknya adalah lingkungannya. Dan penyebab

  lainnya yaitu pendidikan beliau. Responden I tidak memiliki latar belakang pendidikan sedangkan responden II memiliki latar belakang pendidikan hanya sebatas SD. Karena latar pendidikan mereka yang rendah maka mereka pun menjadi tidak mengetahui tentang dunia sekolah anak-anaknya. Beliau mengatakan tidak mengerti tentang sekolah anak-anaknya, yang beliau tahu hanya membayar uang sekolah anak-anaknya.

  Responden I dan II mengatakan pengasuhan dalam mendidik anak- anaknya berbeda dengan istrinya. Beliau mendidik anak-anak secara keras sedangkan istri-istri beliau tidak demikian. Beliau mengatakan, anak-anaknya lebih dekat dengan ibunya, jika mereka mengalami masalah misalnya dimusuhi teman, bertengkar dengan saudara kandung, atau masalah lainnya mereka akan lebih memilih untuk cerita pada ibu mereka daripada responden I dan II karena anak-anak mereka takut pada figur sang ayah.

  Sebenarnya, pola asuh berbeda antara ayah dan ibu itu wajar karena peran keduanya dalam keluarga juga beda. Peran ayah adalah sebagai pencari nafkah, pelindung, dan pengayom keluarga sehingga diharapkan bisa bersikap tegas, bijaksana, mengasihi keluarganya, namun tetap berpartisipasi dalam masalah pengasuhan dan pendidikan anak. Sedangkan ibu lebih berperan sebagai orang yang bisa memenuhi kebutuhan anak, merawat keluarga dengan sabar, mesra, dan konsisten, mendidik, mengatur, dan mengendalikan anak sehingga diharapkan ibu bisa menjadi contoh dan teladan bagi anak. Tapi, semua itu tidak bisa digeneralisasi alias bersifat kontekstual, semua itu harus disesuaikan kembali dengan karakter, komitmen, dan tujuan ayah dan ibu dalam membentuk keluarga dan anak-anaknya di masa depan (Berk, 2000).

IV.G. Pembahasan Responden III dan IV

  Secara umum dalam pola asuh authoritarian ibu sangat menanamkan disiplin dan menuntut prestasi yang tinggi pada anaknya. Hanya sayang ibu tidak memberikan kesempatan pada anak untuk mengungkapkan pendapat, sekaligus menomorduakan anak. Pola asuh yang penuh pembatasan dan hukuman (kekerasan) dengan cara orangtua memaksakan kehendaknya, sehingga Menurut Stewart dan Koch (1983), orangtua yang menerapkan pola asuh otoriter mempunyai ciri sebagai berikut: Kaku, Tegas, Suka menghukum, Orangtua memaksa anak-anak untuk patuh pada nilai-nilai mereka, serta mencoba membentuk lingkah laku sesuai dengan yang orangtua inginkan. Ini terlihat pada responden III, beliau menghukum anak-anaknya ketika tidak mau mendengarkan perkataanya. Hukuman yang biasa beliau berikan seperti mencubit, menarik telinga. Beliau juga mengakui bahwa ketika anak-anak diberi hukuman, beliau tidak ada memberikan alasan mengapa sang anak dihukum. Beliau juga tidak memberikan mengapa si anak melakukan kesalahan, bagi beliau anak yang melakukan kesalahan wajib dihukum agar si anak tidak mengulanginya lagi.

  Kebalikan pola asuh authoritarian adalah pola asuh permissive. Dalam golongan ini ibu dengan penuh kasih sayang dan perhatian. Namun, di sisi lain kendali ibu dan tuntutan prestasi pada anak rendah. Anak dibiarkan berbuat sesukanya tanpa beban kewajiban atau target apapun (Berk, 2000). Pola asuh

  

Permissive terlihat dari responden III, dan IV. Responden memakai pola asuh

Permissive jika dihadapkan pada kondisi pendidikan anak-anaknya. Pola asuh

permissive yaitu menekankan pada ekspresi diri dan regulasi diri anak. orangtua

  mengizinkan anak untuk memonitor aktivitas mereka sendiri sebanyak mungkin tanpa ada batasan yang diberikan oleh orangtua. (Baumrind, 1989 dalam Papalia, 2008). Terlihat bahwa responden tidak peduli dengan perkembangan sekolah anak-anaknya, yang beliau tahu hanya membiayai sekolah anak-anaknya. Mereka dibiarin untuk menghadapi lingkungan sekolahnya sendiri. Permissive mengandung undemanding dan unresponsive (Baumrind, 1971 dalam Berk, 2000). Hurlock (1994) mengatakan bahwa pola asuhan permisif bercirikan adanya kontrol yang kurang, orangtua bersikap longgar atau bebas, bimbingan terhadap anak kurang.

  Selain itu pola asuh Authoritative terlihat pada responden III dan IV. Berdasarkan hasil wawancara responden III, meskipun beliau sering menghukum anak-anaknya dengan cara mencubit atau menarik telinga anak-anaknya tapi anak- anak beliau dekat dengan beliau, anak-anak selalu cerita ketika mereka digangguin temannya, jika mereka mengalami masalah pasti mereka ceritanya dengan beliau. Beliau mengaku anak-anaknya lebih dekat pada beliau daripada suaminya. Beliau mengatakan anak-anak takut pada suaminya karena jika suaminya marah pada anak-anak akan mengerikan maka dari itu anak-anaknya takut pada suaminya dan lebih patuh pada suaminya daripada beliau. Komunikasi yang terjalin antara beliau dengan anak-anak sering terjadi dikarenakan anak-anak yang selalu cerita tentang masalah mereka atau apa yang terjadi pada diri mereka pasti mereka ceritanya pada beliau. Beliau juga sering bercanda pada anak- anaknya.

  Sedangkan responden IV memberi rasa kasih sayang pada anak itu dengan cara mendidik dengan nilai-nilai islami, mengarahkan anak kepada kebaikan, menyekolahkannya jika orangtua masih mampu. Ibu A mengasuh anak-anaknya dengan cara yang lembut, beliau selalu menasehati anak-anaknya ketika anak- anaknya melakukan kesalahan. Beliau tidak suka memukul anak-anaknya karena beliau takut nantinya anak-anaknya takut padanya. Anak-anak juga selalu cerita pada beliau mengenai masalah mereka dengan temannya, orangtua temannya, bahkan pacar anak-anaknya. Mereka cerita dengan beliau, dan beliau pun mendengarkan dengan baik cerita-cerita anak-anaknya. Jika anak-anaknya membutuhkan pendapat atau masalah saat mereka bercerita, ibu A akan memberikan solusi pada anaknya. Ibu A yang sangat dekat dengan anak-anaknya, beliau mendidik anak-anaknya dengan cara menasehati anak-anaknya ketika anak- anaknya melakukan kesalahan sedangkan suami beliau yang mendidik anak dengan “keras” sehingga anak-anak takut pada sosok sang ayah. Pola asuh yang ditunjukkan responden III dan IV sesuai dengan definisi Authoritative yaitu pola asuh yang memberikan dorongan pada anak untuk mandiri namun tetap menerapkan berbagai batasan yang akan mengontrol perilaku mereka. Adanya saling memberi dan saling menerima, mendengarkan dan didengarkan.

  

Authoritative mengandung demanding dan responsive dicirikan dengan adanya

  tuntutan dari orang tua yang disertai dengan komunikasi terbuka antara orangtua dan anak, mengharapkan kematangan perilaku pada anak disertai dengan adanya kehangatan dari orangtua. Jadi penerapan pola asuh authoritatif dapat memberikan keleluasaan anak untuk menyampaikan segala persoalan yang dialaminya tanpa ada perasaan takut, keleluasaan yang diberikan orangtua tidak bersifat mutlak akan tetapi adanya kontrol dan pembatasan berdasarkan norma- norma yang ada (Baumrind, 1971 dalam Berk, 2000).

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Pada bab ini, peneliti akan menyimpulkan jawaban-jawaban dari

  permasalahan penelitian. Selanjutnya, akan dikemukakan saran praktis dan metodologis yang berguna bagi penelitian selanjutnya yang akan meneliti mengenai pola asuh orangtua pada masyarakat pesisir pantai.

V.A. Kesimpulan 1.

  Kebudayaan pesisir berdasarkan dari keempat responden yaitu: a.

  Masyarakat pesisir merupakan masyarakat budaya Melayu, karena keidentikan budaya Melayu dengan agama yang dianut adalah Islam maka dari itu aktivitas yang mereka lakukan sangat dekat dengan nilai keislamannya.

  b.

  Seluruh masyarakatnya menganut agama Islam, oleh karena itu mereka menanamkan nilai-nilai keislaman pada anak-anaknya dari anak usia 4 atau 5 tahun.

  c.

  Anak harus diberi nilai-nilai agama sejak usia 4 atau lima tahun, ketika anak tidak mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan agama seperti tidak bisa membaca Al-Qur’an di usia 10 tahun maka si anak dan orangtuanya akan menjadi bahan pembicaraan masyarakat pesisir.

  d. Ketika waktu sholat sudah tiba maka masyarakatnya pun akan mengerjakan sholat terlebih dahulu jika sedang melakukan pekerjaan maka wajib hukumnya untuk menunda pekerjaan tersebut tidak hanya orangtua, anak-anakpun di suruh oleh orangtuanya untuk langsung mengerjakan sholat ketika waktunya sudah tiba tidak ada lagi anak- anak yang bermain-main.

  e.

  Pergi melaut setelah shubuh dan kembali sebelum dzuhur, hal itu dilakukan karena alasan agama yaitu pulang sebelum dzuhur agar dapat mengerjakan sholat dzuhur tepat waktu dan berjemaah.

  f.

  Cara pandang keempat responden mengenai pendidikan yaitu memandang pendidikan agama adalah nomor satu daripada pendidikan lainnya, pendidikan sekolah hanya percuma karena akan percuma jika nanti anaknya di sekolahin tinggi-tinggi pada akhirnya akan melaut juga.

  g.

  Keempat responden terlihat bahwa mereka menyuruh anak-anaknya untuk bekerja menghasilkan uang tambahan seperti ikut melaut, bekerja di toko baju bahkan anak kelas lima SD pun diikut sertakan dalam borongan mengupas kulit udang. Hal ini bagi para responden agar membantu perekonomian keluarga.

  h.

  Keempat responden juga mengatakan bahwa anak-anak adalah sebagai beban orangtua. Untuk mengurangi beban tanggung jawab orangtua, keempat responden pun mengemukakan salah satu caranya yaitu menikahkan anaknya.

  2. Faktor yang mempengaruhi pola asuh orangtua pada keempat responden yaitu:

  1. Faktor Pendidikan yaitu: a. Faktor pendidikan juga memberikan kontribusi dalam mempengaruhi pola asuh. Latar belakang pendidikan dari keempat responden sangat memprihatinkan, paling tinggi latar belakang pendidikannya adalah hanya tamatan SD yaitu responden II pak S.

  Sedangkan responden I, III, dan IV tidak memiliki latar belakang pendidikan. Hal ini mengakibatkan mereka tidak peduli akan perkembangan pendidikan sekolah anak-anaknya, mereka menganggap dirinya tidak mengetahui dunia pendidikan karena keterbatasan latar belakang pendidikan yanng merekan miliki.

  2. Faktor Lingkungan yaitu : a. Anak-anak harus bisa membaca Al-Qur’an serta sholat lima waktu sejak usia lima tahun. Biasanya orangtua pesisir menyekolahkan anak-anaknya untuk belajar mengaji di tempat pak S.

  b.

  Di lingkungan pesisir banyak anak-anak yang sudah bisa mencari uang sendiri, kebanyakan anak lelaki yang ikut dengan ayah mereka untuk melaut. Seperti yang terjadi pada keempat responden yang masing-masing memiliki anak laki-laki, ketika mereka libur sekolah maka mereka tidak bisa meliburkan diri dari aktivitas yang ada, mereka harus membantu ayah mereka untuk melaut demi mendapatkan uang tambahan. c.

  Memilki pandangan menikahkan anak adalah cara untuk mengurangi beban tanggung jawab orangtua d.

  Di lingkungan pesisir, anak lelaki yang sudah bisa mencari uang sendiri maka sudah bisa dinikahkan oleh orangtuanya, jika anak perempuan maka ia harus melewati masa baligh dahulu.

3. Faktor Budaya yaitu: a.

  Mengajarkan anak membaca Al-Qur’an, sholat serta ajaran agama Islam karena menganggap orang Islam harus memilki kemampuan tersebut b.

  Menganggap bahwa suku Melayu adalah beragama Islam maka dari itu keempat responden beraktivitas serta mendidik anaknya juga berdasarkan nilai islam yang ada.

3. Pola asuh yang peneliti peroleh dari keempat responden yaitu : a.

  Responden I, II, dan III memiliki pola asuh Authoritarian. Ketiga responden tersebut menghukum anaknya secara fisik yaitu mencubit, menarik telinga, memukul, menampar bahkan menendang anaknya. Mereka melakukan hal tersebut karena bentuk rasa sayang mereka buat anak-anaknya. Ketiga responden pun juga tidak memberikan alasan mengapa anak-anak mendapat hukuman tersebut, mereka menganggap anak-anak sudah mengetahui alasannya. Mereka juga tidak memberikan anak untuk menjelaskan mengapa ia melakukan kesalahan, bagi mereka anak yang melakukan kesalahan tidak perlu dimintain alasannya. Karena mendidik anak dengan “keras”, anak-anak beliau pun tidak ada yang dekat dengan beliau namun hal itu tidak terjadi pada responden III, walaupun beliau selalu menghukum anaknya namun beliau dan anaknya memiliki kedekatan karena anaknya selalu cerita bersama beliau.

  b.

  Pola asuh Authoritative terlihat pada responden III dan IV.

  Meskipun responden III sering menghukum anak-anaknya dengan cara mencubit atau menarik telinga anak-anaknya tapi anak-anak beliau dekat dengan beliau, anak-anak selalu cerita ketika mereka digangguin temannya, jika mereka mengalami masalah pasti mereka ceritanya dengan responden III. Komunikasi yang terjalin antara responden III dengan anak-anak sering terjadi dikarenakan anak-anak yang selalu cerita tentang masalah mereka atau apa yang terjadi pada diri mereka pasti mereka ceritanya pada responden III.

  Sedangkan responden IV memberi rasa kasih sayang pada anak itu dengan cara mendidik dengan nilai-nilai islami, mengarahkan anak kepada kebaikan, menyekolahkannya jika orangtua masih mampu. Responden III mengasuh anak-anaknya dengan cara selalu menasehati anak-anaknya ketika anak-anaknya melakukan kesalahan, tidak suka memukul anak-anaknya karena takut nanti anak-anaknya takut padanya. Anak-anak juga selalu cerita pada beliau mengenai masalah mereka dengan temannya, orangtua temannya, bahkan pacar anak-anaknya. c.

  Pola asuh Permissive terlihat dari responden I, II, III, dan IV.

  Seluruh responden memakai pola asuh Permissive jika dihadapkan pada kondisi pendidikan anak-anaknya. Terlihat bahwa responden I, II, III, dan IV tidak peduli dengan perkembangan sekolah anak- anaknya, yang beliau tahu hanya membiayai sekolah anak- anaknya. Mereka dibiarin untuk menghadapi lingkungan sekolahnya sendiri.

  Adapun hasil tambahan yang ditemukan dalam penelitian ini adalah : a.

  Pendidikan agama merupakan hal yang sangat penting daripada pendidikan sekolah anak.

  b.

  Faktor agama yang dianut yaitu Islam memiliki peran yang sangat penting dalam pemberian pola asuh orangtua c.

  Pola asuh yang diberikan oleh orangtua responden I dan II membuat mereka meniru pola asuh tersebut. Mereka mewarisi pola asuh secara “keras” pada anak-anak mereka

  V.B. Saran 1.

  Penelitian ini juga menemukan bahwa faktor agama yang dianut oleh masyarakat pesisir sangat membentuk bagaimana mereka mendidik anak- anaknya yaitu secara Islam. Bagi mereka orang Islam haruslah mengerti ajaran Islam sesungguhnya. Penelitian selanjutnya dapat meneliti pengaruh agama yang dianut terhadap pola asuh orangtua.

  2. Berdasarkan penelitian ini ditemukan bahwa ada responden yang sudah menyetujui jika anaknya tidak ingin sekolah lagi maka penelitian selanjutnya diharapkan meneliti tentang pengaruhnya pola asuh orangtua terhadap motivasi belajar anak.

  3. Ditemukan bahwa responden mengikuti cara pola asuh yang diberikan oleh orangtuanya terdahulu. Responden mengikuti cara tersebut karena menurut responden itu adalah cara yang benar. Maka dari itu penelitian selanjutnya sebaikanya meneliti pengaruh pola asuh orangtua yang mewarisi pola asuh orangtuanya terdahulu.

  4. Karena ditemukan dari penelitian ini yaitu orangtua yang menyuruh anak- anaknya untuk bekerja menghasilkan uang untuk kebutuhan hidup keluarga. Maka, penelitian selanjutnya dapat meneliti tentang bagaimana motivasi belajar anak-anak pesisir yang sudah bisa menghasilkan uang.

  5. Karena ditemukan dari penelitian ini ada anak yang mengalami putus sekolah karena tidak ingin sekolah lagi dikarenakan di lingkungannya yang banyak terdapat anak-anak yang putus sekolah atau tidak sekolah lagi dan ada juga anak yang ingin melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi maka penelitian selanjutnya dapat melihat tentang gambaran resiliensi pendidikan sekolah pada anak-anak pesisir pantai.

  DAFTAR PUSTAKA Anggraini, E. (2000). Menyelamatkan Generasi Nelayan. [online].

  www.SuaraKaryaOnline.com. Tanggal akses 25 Agustus 2011. Audiyahira, J. (2010). 13 Juta Anak Terancam Putus Sekolah. [online]. Tanggal akses 25 Agustus 2011.

  Anwar. (2000). Permasalahan dan Isu Pengelolaan dan Pemanfaatan Pesisir Di

  Daerah.[online]

   Tanggal akses 14 November 2011 Arsavin. (2012). Romansa Kehidupan Pesisir.[online]. Tanggal akses 06 Agustus 2012

  Berns, R.M. (1997). Child, Family, School, Community: Socialization And Support. USA (US): Rinehart and Winston, Inc. Baumrind, D. (197l). Current patterns of parental authority. Developmental Psychology Monograph, 4 (1, Pt. 2). Baumrind, D. (1978). Parental disciplinary patterns and sosial competence in children. Youth and Society, 9, 239-276. Berk, L.E. (2000). Child Development (5th ed). USA : A Pearson Education Comp. Brooks, Jane B. (2001). The Process of Parenting. 6th Ed. New York: McGraw- Hill. Clemes, Harris. 2001. Mengajarkan Disiplin Kepada Anak. Jakarta. Mitra Utama. Darling, N., & Steinberg, L. (1999). Parenting style as context: An integrative model. Psychological Bulletin, 113(3), 487-496. [online]. http://ericeece.org. Tanggal akses 25 Agustus 2011. Engel, P.H. (1997). Perkembangan dan kepribadian Anak. Jakarta : Arcan Edward, A. L. (2006). Techniques Of Attitude Scale Construction. New York

  Appleton-Century-Crofts. Ing. Beffer And Simong International University Edition. Fathul. (2002). Peran Komunitas dalam Pengasuhan. [online]. Tanggal akses 3 September 2011.

  Fahrudin, A. (2008). Karakteristik sosial ekonomi masyarakat. pesisir . [online] . Tanggal akses 25 Agustus 2011

  Geertz, D. E. (2000). Wajiran dalam Masyarakat Pesisir. [online]. Tanggal akses 14 November 2011

  Hurlock, E. B. (1994). Psikologi Perkembangan (Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan). Edisi 5. Jakarta: Erlangga. Hoghughi, M. (2004). Parenting-An Introduction. Journal Of Cross Cultural Psychology, Western Washington University. Irmawati. (2002). Motivasi Berprestasi & Pola Pengasuhan Pada Suku Bangsa

Batak Toba & Suku Bangsa Melayu (tesis). Jakarta : Fakultas Pasca UI.

Kusnadi. (2003). Akar Kemiskinan Nelayan, LkiS, Yogyakarta. Keesing, Roger M. 1989. Antropologi Budaya: Suatu Perspektif Kontemporer.

  Jakarta:Erlangga. Maccoby, E. E., & Martin, J. A. (1983). Sosialization in the context of the family:

  Parent–child interaction. In P. H. Mussen (Ed.) & E. M. Hetherington (Vol. Ed.), Handbook of child psychology: Vol. 4. Sosialization, personality, and sosial development (4th ed.). New York: Wiley.

  Muhadjirin. (2009). Sosiologi Pedesaan Masyarakat Pesisiran. [online]. . Tanggal akses 25 Agustus 2011.

  Meuler, H.R. (1987). Hubungan Antara Gaya Pengasuhan Orangtua dengan Tingkah Laku Prososial Anak. Jurnal Psikologi. Vol. 11. No.1. Mubyarto. (1989). Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta: LP3S. Mulyadi, S. (2005). Ekonomi Kelautan. Jakarta: Rajawali Pers. Nikijuluw, V.P.H. (2001). Krisis Sumberdaya Manusia Nelayan (Memperingati Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2006). [online]. http://ocean.iuplog.com.

  Tanggal akses 14 November 2011. Papalia, E. Diane (2008). Human Development (Psikologi Perkembangan).

  Jakarta: Kencana. Pangemanan, A. P. (2002). Sumberdaya Manusia Masyarakat Nelayan. [online] http://W\NW rudict tripod.com. Tanggal akses 25 Agustus 2011.

  Poerwandari, E. Kristi (2009). Pendekatan Kualitatif dalam Penelitian Psikologi.

  Jakarta: FP Universitas Indonesia. Ralph linton, V. (2001) Pengelolaan Wilayah Pesisir Yang Berkelanjutan.[online]

  Tanggal akses 25 Agustus 2011. Santrock, J.W. (1997). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang

  Rentang Kehidupan (terjemahan oleh Istiwidayanti, dkk). Jakarta: Erlangga.

  Santrock, J.W. (2002). Live Span Development, Perkembangan Masa Hidup.

  Edisi Kelima Jilid 2. (terjemahan Chusaeri dan Damanik) Jakarta : Erlangga.

  Santrock, J.W. (2007). Perkembangan Anak. Edisi. Ketujuh Jilid 2. (Mila Rachmawati, S.Psi dan Anna Kuswanti) Jakarta : Erlangga

  Shochib. (1998). Pola Asuh Orangtua : Untuk Membantu Anak Mengembangkan Disiplin Diri. Jakarta : PT Rineka Cipta. Stewart, A.C., dan Koch, J.B., (1983). Children Development Trough Adolescence. John Wiley & Sons, Canada. Sudarso. (2005). Tekanan Kemiskinan Struktural Komunitas Nelayan Tradisonal

  di Perkotaan. Universitas Airlangga Suhartono. (2007). Kehidupan Masyarakat Pesisir. [online].

   Tanggal akses 25 Agustus 2011 Syarief (2008). Karakteristik Sosial Ekonomi Pesisir. [online]. Tanggal akses 25 Agustus 2011

  Turmudji, T. (2003). Pola Asuh Orangtua dengan Agresivitas Remaja. [online].

  Http Tanggal akses 25 Agustus 2011. Usman, S. (2003). Pemberdayaan Masyarakat. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Verauli, Rosalina (2012). Gaya Pengasuhan Ayah Dan Ibu Memang

  Beda.[online]. Tanggal akses 05 Agustus 2012.

  Verauli, Rosalina (2009). Peran Ayah dan Ibu Berbeda Untuk Pengasuhan Anak.[online] Winengan. (2007).

  Tanggal akses 14 November 2011 Zevalkinki, D. (2007). Budaya Masyarakat Pesisir Kabupaten Indramayu. [online]. anggal akses 14 November 2011.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Gambaran Pola Asuh Orangtua Pada Masyarakat P..

Gratis

Feedback