Konstruksi berita 100 hari sby-boediono (studi analisis framing tentang berita 100 hari sby-boediono pada harian Kompas

138 

Full text

(1)

KONSTRUKSI BERITA 100 HARI SBY-BOEDIONO

(Studi Analisis Framing tentang Berita 100 Hari SBY-Boediono Pada Harian

Kompas)

SKRIPSI

Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan Menyelesaikan Pendidikan Strata I (S1) di Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik

Disusun Oleh:

ANDI SUNARJO SIMATUPANG 060904046

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

LEMBAR PERSETUJUAN Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh: Nama : Andi Sunarjo Simatupang NIM : 060904046

Departemen : Ilmu Komunikasi

Judul : Konstruksi Berita 100 Hari SBY-Boediono

(Studi Analisis Framing tentang Berita 100 Hari SBY-Boediono Pada Harian Kompas)

Medan, Maret 2010 Dosen Pembimbing Ketua Departemen

Drs. Syafruddin Pohan, M.Si Drs. Amir Purba, M.A 195812051989031002 195102191987011001

A.n. Dekan FISIP USU

(3)

 

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Panitia Penguji Skripsi Pada Hari :

Tanggal : Pukul :

Tim Penguji:

1. Ketua :

2. Anggota 1 :

(4)

ABSTARAKSI

(5)

 

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus karena berkat kasih

karunia-Nya yang senantiasa diberikan kepada penulis, sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu

persyaratan guna menyelesaikan dan memperoleh gelar kesarjanaan (S1) pada

Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di

Universitas Sumatera Utara.

Pada kesempataan ini penulis juga ingin mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada keluarga besar penulis. Kepada kedua orang tua penulis,

Albiner Simatupang dan Bunga Purba, juga kepada kakak penulis Roma L.

Simatupang, SE, dan adik-adik penulis Dina M. Simatupang, Lisnawaty

Simatupang, Sudianto Simatupang, Yeni M. Simatupang yang telah memberikan

kasih sayang dan dukungan kepada penulis hingga saat ini.

Penulis juga ingin menyampaikan rasa terima kasih yang

sedalam-dalamnya atas segala bantuan, dukungan serta bimbingan dari berbagai pihak

yang diberikan kepada penulis, karena tanpa semuanya itu penulis tidak akan

sampai pada penyelesaian skripsi ini. Adapun rasa terima kasih tersebut penulis

tujukan kepada :

1. Bapak Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial

dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. Amir Purba, MA, selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi,

(6)

3. Bapak Drs. Syafruddin Pohan, M.Si, selaku dosen pembimbing penulis,

yang sangat banyak membantu penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

Mulai dari meluangkan waktu, memberikan saran dan kritik berharga dan

tentunya berkenan untuk berdiskusi dengan penulis

4. Ibu Dra. Fatma Wardy Lubis, MA, selaku dosen wali yang telah

membimbing penulis selama menjalani masa studi sebaga mahasiswa

FISIP USU.

5. Seluruh Staf Dosen dan Adiministrasi Departemen Ilmu Komunikasi

FISIP USU, yang telah memberikan pendidikan pelajaran, bimbingan serta

bantuan lainnya pada penulis dari semester awal hingga menamatkan

perkuliahan.

6. Nelvita Sari, yang telah memberikan waktu, pikiran serta dukungan yang

sebesar-besarnya kepada penulis sampai skripsi ini dapat selesai.

7. Teman-teman penulis di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia cabang

Medan khusunya Komisariat FISIP USU: Tiwie, Yusniar, Maykel, Lerry,

Citra, Forman, bang Kiel, bang Melki, bang Frans, bang Nando, dan yang

lain yang tidak dapat disebut satu persatu yang turut memberikan

dukungan kepada penulis.

8. Teman-teman penulis seangkatan, terkhusus kepada Erin, Pangeran, Ester,

Mey, Edo, dan Kris yang telah bersama-sama dengan penulis dari semester

awal hinga akhir masa studi.

9. Teman-teman penulis di Ikatan Mahasiswa Dairi (IMADA): Toman,

(7)

 

10.Teman-teman mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi stambuk 2006:

Ima, Cristina, Efron, Pina, Hendra, dan yang lain yang tidak dapat

disebutkan.

Akhir kata, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu. Penulis juga menyadari

bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, masih terdapat

kekurangan Oleh karena itu diharapkan kritik dan saran yang membangun untuk

kedepannya bagi penulis. Sekian, semoga Tuhan memberikan berkat dan

karunianya senantiasa kepada kita semua.

Medan, Maret 2010 Penulis,

(8)

DAFTAR ISI

ABSTRAKSI ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

I.1. Latar Belakang Masalah ... 1

I.2. Perumusan Masalah ... 6

I.3. Pembatasan Masalah ... 6

I.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6

I.4.1. Tujuan Penelitian ... 6

I.4.2. Manfaat Penelitian ... 7

I.5. Kerangka Teori ... 7

I.5.1. Komunikasi dan Komunikasi Massa ... 8

I.5.2. Berita, Pers dan Jusnalistik ... 10

I.5.3. Paradigma Konstruktivisme ... 12

I.5.4. Ideologi Media ... 14

I.5.5. Hegemoni Media ... 14

I.5.6. Analisis Framing ... 15

I.6. Kerangka Konsep ... 17

(9)

 

BAB II. URAIAN TEORITIS ... 20

II.1. Komunikasi dan Komunikasi Massa ... 20

II.2. Berita, Pers dan Jusnalistik ... 24

II.2.1.Berita ... 24

II.2.2.Pers ... 28

II.2.3.Jurnalistik ... 29

II.3. Paradigma Konstruktivisme ... 31

II.4. Ideologi Media ... 40

II.5. Hegemoni Media ... 42

II.6. Analisis Framing ... 44

II.6.1.Analisis Framing Robert Entman ... 47

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 50

III.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 50

III.1.1. Sejarah Harian Kompas ... 50

III.1.2. Visi, Misi, dan Motto Harian Kompas ... 54

III.1.3. Nilai-Nilai Dasar Harian Kompas ... 55

III.1.4. Lain-lain ... 55

III.2. Metode Penelitian ... 56

III.3. Subjek Penelitian ... 59

III.4. Teknik Pengumpulan Data ... 59

III.5. Teknik Analisis Data ... 60

BAB IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN DATA ... 64

IV.1.Analisis Data ... 64

(10)

IV.1.2. Analisis Framing ... 79

IV.1.2.1. Frame Berita ... 81

IV.1.2.2. Rangkuman Frame Berita ... 98

BAB V. PENUTUP ... 104

V.1. Kesimpulan ... 104

V.2. Saran ... 106

V.3. Implikasi Peneltian ... 107

V.3.1. Implikasi Teoritikal ... 107

V.3.2. Implikasi Praktikal ... 107

(11)

 

DAFTAR TABEL

Tabel 1 : Perbandingan Ontologi, Epistemologi, Metodologi

Tabel 2 : Dimensi Framing Robert Entman

Tabel 3 : Perangkat Analisis Framing Robert Entman

Tabel 4 : Daftar Berita 100 hari SBY-Boediono 17 Januari s/d 7 Februari 2010

Tabel 5.1 : Contoh Tabel Jumlah Paragraf Tabel 5.2 : Contoh Tabel Jenis Berita

Tabel 5.3 :Contoh Tabel Posisi Berita

Tabel 5.4 : Contoh Tabel Rubrik Tabel 5.5 : Contoh Tabel Narasumber

Tabel 5.6 : Contoh Tabel Isu-Isu yang menonjol Tabel 5.7 : Contoh Tabel Berita yang diteliti Tabel 5.8 : Contoh Tabel Frame isi pemberitaan

Tabel 6 : Daftar Berita 100 hari SBY-Boediono 17 Januari s/d 7 Februari

Tabel 7.1 : Profil berita yang diteliti Tabel 7.2 : Profil berita yang diteliti

Tabel 8 : Jumlah Paragraf

Tabel 9 : Jenis Berita

Tabel 10 : Posisi Berita

Tabel 11 : Rubrik

Tabel 12 : Narasumber

Tabel 13 : Isu yang diangkat

Tabel 14 : Daftar berita yang diteliti

(12)

DAFTAR GAMBAR

(13)

 

ABSTARAKSI

(14)

BAB I PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Tahun 2009 menjadi masa dimana Bangsa Indonesia kembali mencetak

sejarah dengan melaksanakan agenda lima tahunan. Bangsa Indonesia memasuki

babak baru setelah Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009 menghasilkan Presiden dan

Wakil Presiden yang baru. Dimulai dari pemilihan anggota legislatif pada bulan

April, dan pada bulan Juli untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden. Tahapan

demi tahapan dilalui dalam proses demokrasi ini. Untuk kedua kalinya Susilo

Bambang Yudhoyono atau SBY biasa disapa terpilih sebagai Presiden, dan

didampingi Wakil Presiden yang baru Boediono. Pasangan baru ini diharapkan

membawa bangsa Indonesia kearah yang lebih baik, dimana stabilitas nasional

terjaga baik di bidang sosial, ekonomi, politik, dan keamanan.

Dalam rangka melaksanakan tugas-tugas kenegaraannya, Presiden memilih

menteri-menteri yang akan membantunya (tercantum dalam UUD Negara

Republik Indonesia 1945) dalam melaksanakan tugas-tugas pemerintahan. Jika

pada periode sebelumnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi

Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk memimpin Kabinet Indonesia Bersatu jilid I,

kini bersama Wakil Presiden Boediono beliau memimpin Kabinet Indonesia

Bersatu (KIB) Jilid II. Tahapan ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan

masyarakat setelah para Menteri diumumkan Presiden pada tanggal 20 Oktober

(15)

 

komposisi menteri sampai latar belakang menteri yang terpilih. Pemilihan menteri

ini tentunya dengan harapan dapat membantu Presiden baik dalam perencanaan

program kerja dan pelaksanaannya kelak demi mencapai cita-cita bersama.

Masa lima tahun pemerintahan akan dinilai keberhasilannya melalui

program kerja yang dijalankan. Presiden dibantu Wakil Presiden beserta para

menteri dalam merancang program kerja lima tahun dan program kerja 100 hari

pertama. Program kerja lima tahun merupakan program kerja jangka panjang yang

menjadi agenda selama Presiden menjabat dalam satu periode pemerintahaan,

sedangkan program kerja 100 hari disusun dalam rangka transisi pemerintahan

dari permeintahan lama ke pemerintahan yang baru. Pada rentan waktu 100 hari,

jajaran pemerintahan yang baru diharapkan dapat membawa perubahan yang

cukup berarti. Jika pemerintah mampu membuat perubahan, ini menjadi indikator

keberhasilan pemerintahan SBY-Boediono untuk sementara dan sebaliknya.

Program kerja 100 hari pertama ini menjadi sangat penting karena setiap

pihak merasa perlu mengetahui program-program atau kebijakan pemerintah yang

menjadi prioritas utama. Pihak-pihak lain seperti swasta merasa perlu untuk

mensinergiskan antara program dibidang ekonomi dengan kebijakan yang

dikeluarkan oleh pemerintah dalam bidang ekonomi. Begitu juga dengan bidang

lainnya seperti sosial dan politik. Beberapa instansi salah satunya Kamar Dagang

Indonesia (KADIN) bahkan mendesak pemerintah untuk mengumumkan

rancangan program 100 hari kepada publik. Program 100 hari meliputi 45

program aksi dimana 15 diantaranya menjadi program wajib untuk

diimplementasikan dalam 100 hari kerja. Pemerintah dalam pernyataannya kepada

(16)

berupa pengurusan administrasi, pembuatan rancangan kerja atau blueprint pada

setiap kementrian yang semuanya mengacu pada program jangka panjang

pemerintah.

Perkembangan rancangan program kerja 100 hari yang disusun dan

dilaksanakan oleh pemerintah menarik perhatian media dan menjadi berita utama.

Media sebagai lembaga yang mengawasi kinerja pemerintah juga merasa perlu

untuk mengetahui apa-apa saja kebijakan yang diambil selama lima tahun

kedepan dan terkhusus 100 hari pertama masa pemerintahan Kabinet Indonesia

Bersatu II.

Agenda media yang sedang terfokus pada kasus Komisi Pemberantasan

Korupsi (KPK) dan Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) pada bulan

November seakan meredupkan pemberitaan mengenai program-program kerja

Pemerintah 100 hari pertama. Pemberitaan mengenai kasus tersebut bahkan sudah

mengarah kearah yang lebih luas, berawal dari kasus hukum dan sampai ke

masalah politik. Keruhnya persoalan membuat Presiden mengambil langkah

membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) yang bertugas untuk mencari fakta-fakta

kunci dalam penyelesaian permasalahan ini. Pemberitaan mengenai kasus KPK

dan POLRI disusun seakan berbeda dengan pemberitaan 100 hari kinerja

pemerintah. Pada kenyataannya, hal tersebut merupakan bagian dari program

pemerintah dalam 100 hari pertama. Dalam rangka percepatan pemberantasan

korupsi, presiden membentuk TPF sebagai kebijakan awal. Keberhasilan Tim

Pencari Fakta nantinya untuk mengungkapkan akar permasalahan menjadi nilai

tersendiri dalam keberhasilan pemerintah dalam hal penegakan hukum dalam 100

(17)

 

Mengenai pemberitaan 100 hari KIB II, salah satu stasiun televisi swasta

bahkan telah merancang sebuah acara khusus membahas perkembangan yang

terjadi selama seratus hari pemerintahan yang baru. Selain media tersebut,

beberapa media cetak, baik media cetak nasional maupun lokal juga sudah mulai

mengangkat persoalan ini dalam pemberitaannya. Pemberiataan 100 hari menjadi

khusus karena topik ini hanya ada sekali dalam lima tahun, atau tepatnya ketika

pemerintahan yang baru terpilih. Semenjak era reformasi bergulir, media secara

terus menerus melakukan fungsi pengawasan terhadap pemerintah dan salah

satunya memberitakan kinerja pemerintah. Sudah menjadi sebuah tradisi bagi

media untuk memberitakan pencapaian yang dilakukan pemerintah selama 100

hari pertama melaksanakan tugasnya.

Hampir seluruh media, tekhusus media cetak yang ada di Indonesia

menyoroti masalah program 100 hari kerja dalam isi beritanya. Salah satu media

cetak yang konsisten dalam pemberitaanya adalah surat kabar harian Kompas.

Pada awal kemunculan Presiden SBY dengan Kabinet Indonesia Bersatu lima

tahun lalu, Kompas juga mengulas pemberitaan 100 hari pertama presiden

bekerja. Inilah mengapa peneliti memilih surat kabar harian Kompas sebagai

objek penelitian mengenai pemberitaan 100 hari pertama kinerja Kabinet

Indonesia Bersatu II. Kompas merupakan salah satu surat kabar yang telah

mengawal perjalanan negeri ini sejak tahun 1963. Kompas bermula sebagai media

bulanan bernama Inti Sari, dengan jumlah 128 halaman saat pertama kali terbit

tanggal 7 Agustus 1963. Perkembangan selanjutnya berubah nama menjadi

‘Bentara Rakyat’ dan terakhir menjadi Kompas. Kompas edisi pertama dicetak

(18)

terbit pada 6 Oktober 1965, tiras Kompas menenbus angka 23.268 eksemplar,

hingga pada akhir pemerintahan Soeharto tiras Kompas mencapai angka lebih dari

600 ribu eksemplar per hari. Pada tahun 2004, tiras hariannya mencapai 530.000

eksemplar, khusus untuk edisi Minggunya malah mencapai 610.000 eksemplar.

Pembaca koran ini mencapai 2,25 juta orang di seluruh Indonesia

(http://id.wikipedia.org/wiki/KOMPAS). Sejarah perjalanan Kompas tersebut

menjadi sebuah jaminan objektifitas dalam setiap pemberitaannya.

Pada umumnya isi pemberitaan di surat kabar di pengaruhi oleh latar

belakang, seperti ideologi, dan pemilik media. Bahkan secara khusus, cara

pandang wartawan terhadap suatu isu mempengaruhi isi berita yang dibuatnya.

Hal ini pastinya terjadi pada setiap media, dan tidak menutup kemungkinan

terjadi dalam permberitaan di harian Kompas terkait pemberitaan 100 hari kerja

permerintahan yang baru. Kita tidak mengetahui fakta-fakta apa yang menjadi

pilihan dan bagaimana fakta tersebut dikonstruksi menjadi sebuah berita. Untuk

mengetahui lebih mendalam konstruksi pemberitaan, peneliti menggunakan

analisis Framing. Framing bersama semiotik dan analisis wacana berada dalam

rumpun analisis isi. Proses framing berkaitan dengan persoalan bagaimana sebuah

realitas dikemas dan disajikan dalam presentasi media.

Dari serangkaian penjelasan diatas, peneliti tertarik untuk meneliti

(19)

  I.2 PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka perumusan masalah sebagai

berikut :

“Bagaimanakah konstruksi berita 100 hari SBY-Boediono dalam harian

Kompas?”

I.3 PEMBATASAN MASALAH

Untuk menghindari ruang lingkup yang terlalu luas, maka peneliti merasa

perlu untuk melakukan pembatasan agar dalam penelitian lebih jelas dan lebih

fokus. Adapun pembatasan masalah adalah sebagai berikut :

a. Penelitian ini bersifat kulitatif deskriptif, untuk mengetahui isi

pemberitaan 100 hari kerja pemerintahan SBY-Boediono.

b. Penelitian ini menggunakan analisis framing dengan pendekatan Robert

Entman. Media yang diteliti adalah media cetak harian, dalam hal ini

adalah harian Kompas.

c. Berita yang diteliti adalah pemberitaan mengenai 100 hari pemerintahan

SBY-Boediono mulai tanggal 17 Januari sampai dengan 7 Februari

2010.

I.4 TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN I.4.1 Tujuan Penelitian:

Adapun tujuan penelitian ini adalah:

1.Untuk mengetahui konstruksi berita 100 hari pemerintahan SBY-Boediono

(20)

2.Untuk mengetahui pandangan dan posisi harian Kompas terkait pemberitaan

100 hari pemerintahan SBY-Boediono.

I.4.2 Manfaat Penelitian:

Manfaat dilakukannya penelitain sebagai berikut:

1. Secara teoritis, penelitian berguna untuk memperkaya khasanah

penelitian yang menggunakan teori komunikasi dan memperluas

cakrawala penelitian tentang pemberitaan di media cetak.

2. Secara akademis, penelitian ini diharapkan mampu memperluas dan

memperkaya penelitian khususnya dalam bidang Ilmu Komunikasi.

3. Secara praktis, penelitian ini dapat memberikan masukan pemikiran

kepada pihak-pihak yang membutuhkan.

I.5 KERANGKA TEORI

Dalam penelitian ilmiah, yang menjadi landasan dalam berpikir adalah teori.

Teori berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan, dan memberikan pandangan

terhadap sebuah permasalahan. Teori merupakan himpunan konstruk (konsep),

defenisi dan preposisi yang mengemukakan pandangan sistematis tentang gejala

dengan menjabarkan relasi di antara variable, untuk menjelaskan dan meramalkan

(21)

  I.5.1 Komunikasi dan Komunikasi Massa

Komunikasi bukan hanya hal yang paling wajar dalam pola tindakan

manusia, tetapi juga paling rumit (Purba dkk,2006:29). Ungkapan diatas tidak

dapat dipungkiri, karena komunikasi merupakan hal yang dilakukan sejak

manusia lahir ke bumi. Komunikasi dapat diartikan sebagai bentuk interaksi

manusia yang saling memperngaruhi antara yang satu dengan yang lain sengaja

atau tidak sengaja, dan tidak terbatas pada komunikasi verbal saja

(Cangara,2002:20).

Sama halnya dengan sosiologi, dalam merumuskan suatu defenisi yang

sekaligus dapat mengemukakan keseluruhan pengertian, sifat dan hakikat dalam

beberapa kalimat ditemukan kesulitan. Oleh karenanya, suatu defenisi hanya dapat

dipakai sebagai suatu pegangan yang sifatnya sementara saja. Dalam

perkembangannya, banyak ahli komunikasi mendefenisikan komunikasi secara

berbeda-beda. Sejak awal abad 20 tepatnya 1930-1960, defenisi-defenisi

mengenai komunikasi telah banyak diungkap, ketika itu para ahli di Amerika

Serikat mulai merasakan kebutuhan akan “Science Of Communication”, dan

diantaranya adalah Carl I. Hovland. Menurutnya, Ilmu Komunikasi adalah suatu

usaha yang sistematis untuk merumuskan secara tegas azas-azas dan atas dasar

azas-azas tersebut disampaikan informasi serta dibentuk pendapat dan sikap (a

systematic attempt to formulate in rigorous fashion the principles by which

information is transmitted and opinions and attitudes are formed) (Purba dkk,

2006:29). JikaCarl I. Hovland mendefenisikan komunikasi sebagai usaha yang

sistematis, maka Harold Laswell menerangkan cara terbaik untuk menggambarkan

(22)

What In Which Channel To Whom With What Effect? Yang berarti “Siapa

Mengatakan Apa dengan Saluran Apa Kepada Siapa Dengan Pengaruh

Bagaimana?” (Mulyana,2005:62).

Sejalan dengan perkembangan media komunikasi, maka berkembang pula

ilmu komunikasi massa. Komunikasi massa merupakan studi ilmiah tentang

media massa beserta pesan yang dihasilkan, pembaca/ pendengar/ penonton yang

akan coba diraihnya dan efeknya terhadap mereka. Pada dasarnya komunikasi

massa adalah komunikasi melalui media massa (media cetak dan elktronik).

Sebab, awal perkembangannya, komunikasi massa berasal dari pengembagan kata

media mass communication (media komunikasi massa). Definisi komunikasi

massa yang paling sederhana dikemukakan oleh Bittner ia mendefenisikan

komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada

sejumlah besar orang (mass communication is messages communicated through a

mass medium to a large number of people. Definisi komunikasi massa yang lebih

rinci dikemukakan oleh ahli komunikasi yang lain, yaitu Gebner. Menurut

Gerbner (1967) “Mass communication is the tehnologically and institutionally

based production and distribution of the most broadly shared continous flow of

messages in industrial societes”. Komunikasi massa adalah produksi dan

distribusi yang berlandaskan teknologi lembaga dari arus pesan yang kontinyu

serta paling luas dimiliki masyarakat.

Dalam hal ini kita perlu membedakan massa dalam arti umum dengan massa

dalam arti komunikasi massa. Massa dalam arti komunikasi massa lebih

menunjuk pada penerima pesan yang berkaitan dengan media masa. Pengertian ini

(23)

 

mengemukakan defenisinya dalam dua item. Pertama, komunikasi massa adalah

komunikasi yang ditujukan kepada massa/ khalayak. Ini tidak berarti bahwa

khalayak meliputi seluruh penduduk atau semua orang yang menonton televisi,

tetapi ini berarti kahalayak yang besar itu pada umumnya agak sukar untuk

didefenisikan. Kedua, komunikasi massa adalah komunikasi yang disalurkan oleh

pemancar-pemancar yang audio atau visual. Komunikasi massa barangkali akan

lebih mudah dan lebih logis bila didefenisikan menurut bentuknya: televisi, radio,

surat kabar, majalah, film, buku dan pita. (Effendy, 1990:21). Komunikasi massa

mempunyai cirri-ciri khusus yang disebabkan oleh sifat komponenya.

Cirri-cirinya adalah sebagai berikut :

1. Komunikasi massa berlangsung satu arah

2. Komunikator pada komunikasi massa melembaga

3. Pesan pada komunikasi massa bersifat umum

4. Media komunikasi massa menimbulkan keserempakan

5. Komunikan komunikasi massa bersifgat heterogen

I.5.2 Berita, Pers dan Jusnalistik

Berita adalah informasi baru atau informasi mengenai sesuatu yang sedang

terjadi, disajikan lewat bentuk cetak, siaran, internet, atau dari mulut ke mulut

kepada orang ketiga atau orang banyak. Dalam kamus besar bahasa Indonesia

berita diartikan sebagai cerita atau keterangan mengenai kejadian atau peristiwa

yang hangat. Sedangkan pemberitaan diartikan proses, cara, perbuatan

memberitakan atau melaporkan. Henshall dan Ingram (2000) mendefenisikan

(24)

dalam bentuk yang tersusun dan dikemas rapi menjadi cerita, pada hari yang sama

di radio atau di televisi dan keesokan harinya di berbagai media. Tidak semua hal

dapat dikatakan berita. Sesuatu dapat dikatakan berita jika terdapat unsur-unsur

berita didalamnya. Aktual (baru), kedekatan, penting, akibat, pertentangan/

konflik, seks, ketegangan, kemajuan-kemajuan, konsekuensi, emosi, humor, dan

human interest merupakan beberapa unsur berita.

Istilah “pers” berasal dari bahasa Belanda, yang dalam bahasa Inggris

berarti press. Secara harfiah pers berarti cetak ataupun penyiaran secara tercetak

atau publikasi secara dicetak. Dalam perkembagannya pers mempunyai dua

pengertian, yakni pers dalam pengertian luas dan pers dalam pengertian sempit.

Pers dalam pengertian luas meliputi segala penerbitan, bahkan termasuk media

massa elektronik, radio siaran, dan televisi siaran, sedangkan pers dalam arti

sempit hanya terbatas pada media massa cetak, yakni surat kabar, majalah, dan

buletin kantor berita. Pers dalam hal ini sebagai penulis berita pada awalnya

mengedepankan prinsip objektivitas dalam penulisan beritanya. Yaitu bagaimana

wartawan memandang dan menulis berita seperti apa yang dilihat, bukan yang

diinginkan. Tetapi pandangan ini bergeser ke arah prinsip interpretasi. Sebab

objektivitas dapat melahirkan kedangkalan tentang berita itu sendiri. Sementara

pembaca menginginkan kedalaman agar mereka mampu mengetahui dan

memahami kejadian yang ada dalam setiap peristiwa. Dalam pelakasanaannya,

pers tidak hanya mengelola berita, tetapi juga aspek-aspek lain untuk isi surat

kabar atau majalah. Karena itu funggsinya bukan lagi menyiarkan informasi,

tetapi juga mendidik, menghibur, dan mempengaruhi agar khalayak melakukan

(25)

 

Jurnalistik adalah istilah yang berasal dari bahasa Belanda journalistiek, dan

dalam bahasa Inggris journalistic atau journalism, yang bersumber pada

perkataaan journal sebagai terjemahan dari bahasa Latin diurnal, yang berarti

“harian” atau “setiap hari”. Secara gamblang, jurnalistik didefenisikan sebagai

keterampilan atau kegiatan mengolah bahan berita mulai dari peliputan sampai

kepada penyusunan yang layak disebarluaskan kepada masyarakat.

I.5.3 Paradigma Konstruktivisme

Konstruktivisme mengatakan bahwa kita tidak akan pernah dapat mengerti

realitas yang sesungguhnya secara ontologis. Yang kita mengerti adalah struktur

konstruksi kita akan suatu objek. Konstruktivisme tidak bertujuan mengerti

realitas, tetapi hendak melihat bagaimana kita menjadi tahu akan sesuatu. Boleh

juga dikatakan bahwa “realitas” bagi konstruktivisme tidak pernah ada secara

terpisah dari pengamat. Yang diketahui bukan suatu realitas “di sanan” yang

berdiri sendiri, melainkan kenyataan sejauh dipahami oleh yang menangkapnya.

Menurut Shapiro, ada banyak bentuk kenyataan dan masing-masing terbentuk

pada kerangka dan interaksi pengamat dengan objek yang

diamati.(Ardianto,2007:80)

Pandangan konstruktivisme menolak pandangan positivism yang

memisahkan subjek dan objek komunikasi. Dalam pandangan konstruktivisme,

bahasa tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif

belaka dan dipisahkan dari subyek sebagai penyampai pesan. Positivism meyakini

bahwa pengetahuan harus merupakan representasi (gambaran atau ungkapan) dari

(26)

dianggap sebagai kumpulan fakta. Konstruktivisme menegaskan bahwa

pengetahuan tidak lepas dari subjek yang sedang belajar mengerti.

Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa

pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri (Ardianto,2007:154).

Pada proses komunikasi, pesan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak

seseorang ke kepala orang lain. Penerima pesan sendirilah yang harus

mengartikan apa yang telah diajarkan dengan menyesuaikan terhadap

pengalaman mereka.

Dalam kaitannya dengan ilmu komunikasi, teori konstruktivis atau

konstruktivisme adalah pendekatan secara teoritis untuk komunikasi yang

dikembangkan tahun 1970-an oleh Jesse Delia dan rekan-rekan sejawatnya.

Dalam buku Adrianto, Robyn Penmann merangkum kaitan konstruktivisme dalam

hubungannya dengan ilmu komunikasi. Pertama, tindakan komunikatif sifatnya

sukarela. Pembuat komunikasi adalah subjek yang memiliki pilihan bebas,

walaupun lingkungan sosial membatasi apa yang dapat dan telah dijakukan.

Kedua, pengetahuan adalah sebuah produk sosial. Pengetahuan bukan sesuatu

yang objektif sebagaimana diyakini positivism, melainkan diturunkan dari

interaksi dalam kelompok sosial. Ketiga, pengetahuan bersifat konstekstual,

maksudnya pengetahuan merupakan produk yang dipengaruhi ruang waktu dan

akan dapat berubah sesuai dengan pergeseran waktu. Keempat, teori-teori

menciptakan dunia. Teori bukanlah alat, melainkan suatu cara pandang yang ikut

mempengaruhi pada cara pandang kita terhadap realitas atau dalam batas tertentu

(27)

  I.5.4. Ideologi Media

Secara etimologis, ideologi berasal dari bahasa Greek, terdiri dari kata idea

dan logia. Idea berasal dari kata idein yang berarti melihat. Idea dalam Webster’s

News Colligiate Dictionary berarti sesuatu yang ada di dalam pikiran sebagai hasil

perumusan sesuatu pemikiran atau rencana. Sedangkan logis berasal dari kata

logos yang berarti world. Kata ini berasal dari kata legein yang berarti to speak

(berbicara). Selanjutnya kata logia berarti sciense (pengetahuan) atau teori

(Sobur,2004:64).

Dalam konsepsi Marx, ideologi adalah sebentuk kesadaran palsu.

Kesaradaran seseorang, siapa mereka, dan bagaimana mereka menghubungkan

dirinya dengan masyarakat dibentuk dan diproduksi oleh masyarakat, tidak oleh

biologi yang alamiah. Kesadaran kita tentang realitas sosial ditentukan oleh

masyarakat, tidak oleh psikologi individu.

Ideologi dapat diartikan sebagai kerangka berpikir atau kerangka referensi

tertentu yang dipakai oleh individu untuk melihat realitas dan bagaimana mereka

menghadapinya. Ideologi ini abstrak dan berhubungan dengan konsepsi atau

posisi seseorang dalam menafsirkan realitas (Sudibyo,2001:12)

I.5.5. Hegemoni Media

Teori Althusser tentang ideologi menekankan bagaimana kekuasaan

kelompok dominan dalam mengontrol kelompok lain. Mengenai cara atau

penyebaran ideologi dilakukan, teori Garamsci tentang hegemoni layak

dikedepankan. Antonio Gramsci membangun suatu teori yang menekankan cara

(28)

Teori Hegemoni Gramsci menekankan bahwa dalam lapangan sosial ada

pertarungan yang memperebutkan penerimaan public. Karena pengalaman sosial

kelompok subordinat (apakah oleh kelas, gender, ras, umur, dan sebagainya)

berbeda dengan ideologi kelompok dominan. Oleh karena itu, perlu usaha bagi

kelompok dominan untuk menyebarkan ideologi dan kebenarannya tersebut agar

diterima, tanpa perlawanan. Salah satu strategi kunci dalam hegemoni adalah

nalar awam (common sense). (Eriyanto,2001:107)

Hegemoni bekerja melalui konsensus ketimbang upaya penindasan satu

kelompok terhadap kelompok lain. Kelebihan hegemoni adalah bagaimana ia

menciptakan cara berpikir atau wacana tertentu yang dominan, yang dianggap

benar, sementara wacana yang lain dianggap salah. Ada suatu nilai atau konsensus

yang dianggap memang benar, sehingga ketika ada cara pandang atau wacana lain

dianggap tidak benar. Media di sini secara tidak sengaja dapat menjadi alat

bagaimana nilai-nilai atau wacana yang dipandang dominan itu disebarkan dan

meresap dalam benak khalayak sehingga menjadi konsensus bersama.

I.5.6. Analisis Framing

Secara epistemologi, kata framing berasal dai bahasa Inggris yakni dari kata

frame. Gagasan ini pertama kali dilontarkan Beterson pada tahun 1955. Mulanya

frame dimaknai sebagai sturktur konseptual atau perangkat kepercayaan yang

mengorganisir pandangan politik, kebicakan, dan wacana. Dalam perspektif

komunikasi, analisis framing dipakai untuk membedah cara-cara atau ideology

(29)

 

Analisis framing adalah salah satu metode analisis teks yang berada dalam

kategori penelittian konstruksionis. Paradigma ini memandang realitas kehidupan

sosial bukanlah realitas yang natural, tetapi hasil dari konstruksi (Eriyanto

2005:37). Mengenai defenisi framing, beberapa ahli memberikan penekanan dan

pengertian yang berbeda. Meskipun berbeda, ada titik singgung utama dari

defenisi framing tersebut. Framing adalah pendekatan untuk melihat bagaimana

realitas itu dibentuk dan dikonstruksi oleh media. Framing juga merupakan

pendekatan untuk mengetahui bagaimana persperktif atau cara pandang yang

digunakan oleh wartawan ketika menseleksi isu dan menulis berita. Bahkan

menurut Gitlin, frame adalah bagian yang pasti hadir dalam praktik jurnalistik.

(Eriayanto,2005:66)

Ada dua aspek dalam framing. Pertama, memilih fakta/realitas. Proses

memilih fakta ini didasarkan pada asumsi, wartawan tidak mungkin melihat

peristiwa tanpa perspektif. Dalam memilih fakta ini selalu terkandung dua

kemungkinan: apa yang dipilih (included) dan apa yang dibuang (excluded).

Kedua, menuliskan fakta. Proses ini berhubungan dengan bagaimana fakta yang

dipilih itu disajikan kepada khalayak.

Entman melihat framing dalam dua dimensi besar: seleksi isu dan

penekanan atau penonjolan aspek-aspek realitas. Kedua factor ini dapat lebih

mempertajam framing berita melalui proses seleksi isu yang layak ditampilkan

dan penekanan isi beritanya. Ia juga menambahakan bahwa framberimplikasi

penting bagi komunikasi politik. Menurutnya, frame muntut perhatian terhadap

beberapa aspek dari realitas dengan mengabaikan elemen-elemen lainnya yang

(30)

Pendekatan Entman inilah yang digunakan dalam penulisan ini. Dua

dimensi yang telah dijelaskan diatas, selanjutnya dikonsepsi oleh Entman menjadi

perangkat framing yang selalu ada dalm sebuah berita. Perangkat framing yang

dimaksud meliputi pendefenisian problem (Define Problems), memperkirakan

masalah atau sumber masalah (Diagnose Causes), membuat keputusan moral

(Make Moral Judgement), menekankan penyelesaian (Treatment

Recommendation). Empat perangkat framing ini merupakan “pisau analisis”

framing yang digunakan untuk mengolah dan menganalisa frame sebuah

pemberitaan media.

I.6 KERANGKA KONSEP

Kerangka konsep dalam penelitian ini memakai analisis framing Robert

Entman. Fokus perhatian Entman tetuju pada dua dimensi besar yaitu seleksi isu

dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas atau isu.

Kemudian Entman mengkonsepsi dua dimensi besar tersebut kedalam

perangkat framing. Perangkat framing yang dimaksud adalah:

a. Pendefenisian masalah (define problems), yaitu bagaimana suatu

peristiwa/isu dilihat? Sebagai apa? Atau sebagai masalah apa?

b. Memperkirakan masalah atau sumber masalah (diagnose causes), yaitu

peristiwa dilihat disebabkan oleh apa? Apa yang dianggap sebagai penyebab

dari suatu masalah? Siapa (aktor) yang dianggap sebagai penyebab

(31)

 

c. Membuat keputusan moral (make moral judgement), yaitu nilai moral apa

yang disajikan untuk menjelaskan masalah? Nilai moral apa yang dipakai

untuk melegitimasi atau mendelegitimasi suatu tindakan?

d. Menekankan penyelesaian (treatment recomendation), yaitu penyelesaian

apa yang ditawarkan untuk mengatasi masalah/isu? Jalan apa yang

ditawarkan dan harus ditempuh untuk mengatasi masalah?

Gambar 1. Visualisasi Konseptual Analisis Framing Robert Entman

(Sumber : Majalah Kajian Media Dictum Vol.1, No.2 September 2007)

I.7 OPERASIONAL KONSEP

a. Pendefenisian masalah (define problems) adalah elemen yang pertama kali

dapat kita lihat mengenai framing. Elemen ini merupakan master frame/

bingkai yang paling utama. Ia menekankan bagaimana peristiwa dipahami

oleh wartawan. Ketika ada masalah atau peristiwa, bagaimana peristiwa atau

FRAMING 

Seleksi isu

Penonjolan aspek tertentu dari isu

BERITA 

Diagnoses Causes Memperkirakan Sumber Masalah Problem Identification

Pendefenisian masalah

Moral Judgement/ Evaluation Membuat Keputusan Moral

(32)

isu tersebut dipahami. Peristiwa yang sama dapat dipahami secara berbeda.

Dan bingkai yang berbeda ini akan menyebabkan realitas bentukan yang

berbeda.

b. Memperkirakan masalah atau sumber masalah (diagnose causes),

merupakan elemen framing untuk membingkai siapa yang dianggap sebagai

aktor dari suatu peristiwa. Penyebab di sini bisa berarti apa (what), tetapi

bisa juga berarti siapa (who). Bagaiaman peristiwa dipahami, tentu saja

menekankan apa dan siapa yang dianggap sebagai sumber masalah.

c. Membuat keputusan moral (make moral judgement) adalah elemen framing

yang dipakai untuk membenarkan/member argumentasi pada pendefenisian

masalah yang sudah dibuat. Ketika masalah sudah didefenisikan, peneyebab

masalah sudah ditentukan, dibutuhkan sebuah argumentasi yang kuat untuk

mendukung gagasan tersebut.

d. Menekankan penyelesaian (treatment recomendation). Elemen ini dipakai

unuk menilai apa yang dikehendaki oleh wartawan. Jalan apa yang dipilih

(33)

  BAB II

URAIAN TEORITIS

II.1 Komunikasi dan Komunikasi Massa

Komunikasi bukan hanya hal yang paling wajar dalam pola tindakan

manusia, tetapi juga paling rumit. Bagaimana tidak, komunikasi sudah

berlangsung semenjak manusia lahir, dilakukan secara wajar dan leluasa seperti

halnya bernafas, namun ketika harus membujuk, membuat tulisan,

mengemukakan pikiran dan menginginkan orang lain bertindak sesuai dengan

harapan kita, barulah disadari bahwa komunikasi adalah sesuatu yang sulit dan

berbelit-belit (Purba dkk,2006:29). Ungkapan diatas tidak dapat dipungkiri,

karena komunikasi merupakan hal yang dilakukan sejak manusia lahir ke bumi.

Komunikasi dapat diartikan sebagai bentuk interaksi manusia yang saling

memperngaruhi antara yang satu dengan yang lain sengaja atau tidak sengaja, dan

tidak terbatas pada komunikasi verbal saja (Cangara,2002:20).

Dalam mendefenisikan komunikasi dapat ditinjau dari dua sudut pandang,

yaitu komunikasi dalam pengertian secara umumdan pengertian secara

paradigmatik. Pengertian secara umum komunikasi adalah proses penyampaian

suatu pernyataan yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain sebagai

konsekuensi dari hubungan sosial. Sedangkan dalam pengertian paradigmatic,

komunikasi mengandung tujuan tertentu, ada yang dilakukan secara lisan, secara

tatap muka, atau melalui media, baik media massa seperti surat kabar, radio,

(34)

bersifat intensional, mengandung tujuan; karena itu harus dilakukan dengan

perencanaan. (Effendi,1992:6)

Sejalan dengan perkembangan media komunikasi, maka berkembang pula

ilmu komunikasi massa. Komunikasi massa merupakan studi ilmiah tentang

media massa beserta pesan yang dihasilkan, pembaca/ pendengar/ penonton yang

akan coba diraihnya dan efeknya terhadap mereka. Pada dasarnya komunikasi

massa adalah komunikasi melalui media massa (media cetak dan elektronik).

Sebab pada awal perkembangannya, komunikasi massa berasal dari pengembagan

kata media mass communication (media komunikasi massa). Definisi komunikasi

massa yang paling sederhana dikemukakan oleh Bittner. Ia mendefenisikan

komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada

sejumlah besar orang (mass communication is messages communicated through a

mass medium to a large number of people. Definisi komunikasi massa yang lebih

rinci dikemukakan oleh ahli komunikasi yang lain, yaitu Gebner. Menurut

Gerbner (1967) “Mass communication is the tehnologically and institutionally based production and distribution of the most broadly shared continous flow of

messages in industrial societes”. Komunikasi massa adalah produksi dan

distribusi yang berlandaskan teknologi lembaga dari arus pesan yang kontinyu

serta paling luas dimiliki masyarakat.

Dalam hal ini kita perlu membedakan massa dalam arti umum dengan massa

dalam arti komunikasi massa. Kata massa dalam komunikasi massa dapat

diartikan bukan sekadar “orang banyak” di suatu lokasi yang sama. Massa kita

artikan sebagai “meliputi semua orang yang menjadi sasaran alat-alat komunikasi

(35)

 

komunikasi massa lebih menunjuk pada penerima pesan yang berkaitan dengan

media masa. Pengertian ini juga ditegaskan oleh ahli komunikasi lainnya, Joseph

A. Devito. Ia mengemukakan defenisinya dalam dua item. Pertama, komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan kepada massa/ khalayak. Ini tidak berarti

bahwa khalayak meliputi seluruh penduduk atau semua orang yang menonton

televisi, tetapi ini berarti kahalayak yang besar itu pada umumnya agak sukar

untuk didefenisikan. Kedua, komunikasi massa adalah komunikasi yang

disalurkan oleh pemancar-pemancar yang audio atau visual. Komunikasi massa

barangkali akan lebih mudah dan lebih logis bila didefenisikan menurut

bentuknya: televisi, radio, surat kabar, majalah, film, buku dan pita. (Effendy,

1990:21).

Komunikasi massa dengan media massa merupakan bagian yang tidak dapat

dipisahkan, karena berbicara komunikasi massa berarti berbicara media massa.

Komunikasi massa mempunyai ciri-ciri khusus yang disebabkan oleh sifat

komponenya. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut :

6. Komunikasi massa berlangsung satu arah. Dalam media cetak seperti

koran, komunikasi hanya berjalan satu arah. Kita tidak bisa memberikan

respon pada komunikatornya (media massa yang bersangkutan).

7. Komunikator pada komunikasi massa melembaga. Komunikator dalam

media massa bukan satu orang, tetapi kumpulan orang-orang yang

digerakkan oleh suatu sistem manajemen, dalam mencapai suatu tujuan

(36)

8. Pesan pada komunikasi massa bersifat umum. Pesan-pesan dalam

komunikasi massa itu tidak ditujukan kepada satu orang atau satu

kelompok masyarakat tertentu tetapi pada khalayak plural.

9. Media komunikasi massa menimbulkan keserempakan. Media massa

dapat menyampaikan pesan (message) kepada khalayak secara

serempak.

10.Komunikan komunikasi massa bersifat heterogen. Media massa bersifat

anonym dan heterogen maksudnya bahwa orang-orang yang terkait

dalam media massa tidak saling kenal, dan orang-orang yang menaruh

perhatian pada media massa bersifat beraneka ragam (heterogen).

Secara umum, fungsi dari media massa adalah sebagai berikut

(Sudarman,2008:7):

a.Menginformasikan (to inform). Maksudnya media massa merupakan tempat

untuk menginformasikan peristiwa-peristiwa atau hal-hal penting yang

perlu diketahui oleh khalayak.

b.Mendidik (to educate). Tulisan di media massa dapat mengalihkan ilmu

pengetahuan sehingga mendorong perkembangan intelektual, membentuk

watak dan dapat meningkatkan keterampilan serta kemampuan yang

dibutuhkan para pembacanya.

c.Menghibur (to intertait). Media massa merupakan tempat yang dapat

memberikan hiburan atau rasa senang kepada pembacanya atau

(37)

 

d.Mempengaruhi (to influence). Maksudnya bahwa media massa dapat

mempengaruhi pembacanya. Baik pengaruh yang bersifat pengetahuan

(cognitive), perasaan (afektive), maupun tingkah laku (conative).

e.Memberikan respons sosial (to social responsibility), maksudnya bahwa

dengan adanya media massa kita dapat menanggapi tentang fenomena dan

situasi sosial atau keadaan sosial yang terjadi.

f. Penghubung (to linkage), maksudnya bahwa media massa dapat

menghubungkan unsure-unsur yang ada dalam masyarakat yang tidak bisa

dilakukan secara perseorangan baik secara langsung maupun tidak

langsung.

II.2 Berita, Pers dan Jusnalistik

II.2.1 Berita

Berita adalah informasi baru atau informasi mengenai sesuatu yang sedang

terjadi, disajikan lewat bentuk cetak, siaran, internet, atau dari mulut ke mulut

kepada orang ketiga atau orang banyak. Berita merupakan laporan tentang fakta

atau ide yang termassa, yang dipilih oleh staf redaksi suatu media untuk disiarkan

atau dicetak, yang dapat menarik perhatian pembaca atau pendengar, entah karena

ia luar biasa atau entah karena pentingnya, atau pula karena ia mencakup segi-segi

human interest seperti humor, emosi, dan ketegangan. Namun ada beberapa

(38)

tercepat, rekaman fakta-fakta objektif, interpretasi, sensai, minat insani, ramalan

dan sebagai gambar (Effendi, 1993:131-134)

Dalam kamus besar bahasa Indonesia berita diartikan sebagai cerita atau

keterangan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat. Sedangkan

pemberitaan diartikan proses, cara, perbuatan memberitakan atau melaporkan.

Henshall dan Ingram (2000) mendefenisikan berita adalah susunan kejadian setiap

hari, sehingga masyarakat menerimanya dalam bentuk yang tersusun dan dikemas

rapi menjadi cerita, pada hari yang sama di radio atau di televisi dan keesokan

harinya di berbagai media. Tidak semua hal dapat dikatakan berita. Sesuatu dapat

dikatakan berita jika terdapat unsur-unsur berita didalamnya. Aktual (baru),

kedekatan, penting, akibat, pertentangan/ konflik, seks, ketegangan,

kemajuan-kemajuan, konsekuensi, emosi, humor, dan human interest merupakan beberapa

unsur berita.

Berita terdiri dari berbagai jenis. Sumadiria dalam bukunya Jurnalistik

Indonesia menuliskan beberapa jenis berita, yaitu:

1.Straight news (berita langsung) yaitu laporan langsung mengenai suatu

berita.

2.Depth news (berita mendalam) yaitu berita yang merupakan pengembangan

atau kelanjutan dari adanya sebuah berita yang masih belum selesai

(39)

 

3.Comprehensive news (berita komprehensif) yaitu laporan tentang fakta yang

berisfat menyeluruh ditinjau dari berbagai aspek (kritik terhadap straight

news).

4.Interpretative report yaitu lebih dari sekedar straight dan depth news, dan

merupakan gabungan antara fakta dan interpretasi. Dalam penulisannya

boleh dimasukkan uraian, komentar dan sebagainya yang ada kaitannya

dengan peristiwa yang dilihat.

5.Feature story (karangan khas) yaitu tulisan khas yang sengaja disajikan

untuk menarik perhatian pembaca dengan penulisan yang lebih ringan.

6.Investigative reporting (laporan investigasi), yaitu berita ataulaporan yang

biasanya memusatkan pada masalah yang kontroversi. Dalam hal ini

wartawan melakukan penyelidikan untuk memperoleh fakta yang

tersembunyi demi mengungkapkan kebenaran.

Secara umum, suatu kejadian dipandang memiliki news value apabila

mengandung satu atau beberapa unsur berikut ini:

Significance (penting), peristiwa itu berkemungkinan mempengaruhi

kehidupan orang banyak, atau yang memiliki akibat terhadap kehidupan

pembaca.

Magnitude (besar), kejadian itu menyangkut angka-angka yang berarti bagi

kehidupan orang banyak, atau kejadian itu bersifat kolosal.

Timeliness (waktu), aktual, hangat, atau termasa; menyangkut hal-hal yang

(40)

Proximity (dekat), kejadian yang memiliki kedekatan dengan pembaca, baik

secara geografis maupun emosional/psikologis.

Prominence (tenar), menyangkut hal atau orang yang terkenal atau sangat

dikenal oleh pembaca.

Human interest (manusiawi), menyangkut hal-hal yang bisa menyentuh

perasaan pembaca.

Munculnya berita dalam sebuah media bukanlah hal tanpa sebab. Ada

beberapa faktor yang mempengaruhi mengapa kemudian suatu media

menampilkan suatu berita pada medianya (Sudibyo,2001) yaitu:

a)Faktor Individual, dalam hal ini berkaitan dengan latar belakang

professional dari pengelola media yang kemudian mempengaruhi isi berita

yang ditampilkan. Misalnya jenis kelamin, agama, umur, latar belakang

pendidikan bahkan juga orientasi pada partai politik.

b)Rutinitas Media (Media Routine). Hal ini berhubungan dengan ukuran

tersendiri tentang apa yang disebut berita, ciri-ciri berita yang baik dan

layak untuk dimuat yang dimiliki oleh setiap media. Ukuran tersebut

adalah rutinitas yang berlangsing setiap hari dan menjadi prosedur standar

bagi pengelola media yang berada di dalamnya, dan pada akhirnya

mempengaruhi wuhud akhir dari sebuah berita.

c)Level Organisasi. Hal ini berhubungan dengan struktur organisasi media

yang bersangkutan yang dapat mempengaruhi pemberitaan. Pengelola

(41)

 

organisasi media, selain itu terdapat juga iklan, pemasaran, sirkulasi dan

lainnya yang juga memiliki kepentingan sendiri-sendiri dan berpengaruh

terhadap terbentuknya sebuah berita.

d)Level Ekstramedia. Hal ini berhubungan dengan faktor lingkungan di luar

media. Walaupun berada di luar organisasi media namun sedikit banyak

sangat mempengaruhi isi berita. Faktor-faktor yang dimaksud antara lain

adalah seperti sumber berita, sumber penghasilan media, pemerintah dan

lingkungan bisnis, dan juga pada tingkatan level ideologi.

II.2.2. Pers

Istilah “pers” berasal dari bahasa Belanda, yang dalam bahasa Inggris

berarti press. Secara harfiah pers berarti cetak ataupun penyiaran secara tercetak

atau publikasi secara dicetak. Dalam perkembagannya pers mempunyai dua

pengertian, yakni pers dalam pengertian luas dan pers dalam pengertian sempit.

Pers dalam pengertian luas meliputi segala penerbitan, bahkan termasuk media

massa elektronik, radio siaran, dan televisi siaran, sedangkan pers dalam arti

sempit hanya terbatas pada media massa cetak, yakni surat kabar, majalah, dan

buletin kantor berita.

Pers merupakan lembaga sosial (social institution) atau lembaga

kemasyarakatan yang merupakan subsistem dari sistem pemerintahan di Negara

mana ia beroperasi, bersama-sama dengan subsistem lainnya. Sebagai bagian dari

sistem yang berlaku, keberadaan pers juga diatur dalam undang-undang yaitu

Undang-Undang No.40 Tahun 1999 tentang Pers. Menurut Undang-Undang Pers

(42)

Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.

Pada Pasal 1 Ayat 2 dijelaskan:

Perusahaan pers adalah badan hukum Indonesia yang menyelenggarakan usaha pers meliputi perusahaan media cetak, media elektronik, dan kantor berita, serta perusahaan media lainnya yang secara khusus menyelenggarakan, menyiarkan, atau menyalurkan informasi.

Pers dalam hal ini sebagai penulis berita pada awalnya mengedepankan

prinsip objektivitas dalam penulisan beritanya. Yaitu bagaimana wartawan

memandang dan menulis berita seperti apa yang dilihat, bukan yang diinginkan.

Tetapi pandangan ini bergeser ke arah prinsip interpretasi. Sebab objektivitas

dapat melahirkan kedangkalan tentang berita itu sendiri. Sementara pembaca

menginginkan kedalaman agar mereka mampu mengetahui dan memahami

kejadian yang ada dalam setiap peristiwa. Dalam pelakasanaannya, pers tidak

hanya mengelola berita, tetapi juga aspek-aspek lain untuk isi surat kabar atau

majalah. Karena itu funggsinya bukan lagi menyiarkan informasi, tetapi juga

mendidik, menghibur, dan mempengaruhi agar khalayak melakukan kegiatan

tertentu.

II.2.3. Jurnalistik

Jurnalistik adalah istilah yang berasal dari bahasa Belanda journalistiek, dan

dalam bahasa Inggris journalistic atau journalism, yang bersumber pada

perkataaan journal sebagai terjemahan dari bahasa Latin diurnal, yang berarti

(43)

 

keterampilan atau kegiatan mengolah bahan berita mulai dari peliputan sampai

kepada penyusunan yang layak disebarluaskan kepada masyarakat.

F.Fraser Bond dalam An Indtroduction to Journalism menulis: jurnalistik adalah segala bentuk yang membuat berita dan ulasan mengenai berita sampai

pada kelompok pemerhati. Adinegoro menegaskan, jurnalistik adalah semacam

kepandaian mengarang yang pokoknya member pekabaran pada masyarakat

dengan selekas-lekasnya agar tersiar seluas-luanya.(Sumadiria,2006:3).

Dilihat dari segi bentuk dan pengelolaanya, jurnalistik dibagi kedalam tiga

bagian dasar .(Sumadiria,2006):

a)Jurnalistik media cetak

Jurnalistik media cetak dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor verbal

dan visual. Verbal, sangat menekankan pada kemampuan kita memilih dan

menyusun kata dalam rangakaian kalimat dan paragraf yang efektif dan

komunikatif. Visual, menunjuk pada kemampuan kita dalam menata,

menempatkan, mendesain tata letak atau hal-hal yang menyangkut segi

perwajahan.

b)Jurnalistik media elektronik auditif

Jurnalistik media elektronik auditif atau jurnalistik radio siaran, lebih

banyak dipengaruhi dimensi verbal, teknologikal, dan fisikal. Verbal,

berhubungan dengan kemampuan menyusun kata, kalimat,dan paragraph.

(44)

radio dapat ditangkap denga jelas dan jernih. Fisikal erat kaitanya dengan

tingkat kesehatan fisik dan kemampuan pendengaran khalayak.

c)Jurnalistik media elektronik audiovisual

Jurnalistik ini merupakan gabungan dari segi verbal, visual, teknologikal,

dan dimensi dramatikal. Dramatikal berarti bersinggungan dengan aspek

serta nilai dramatic yang dihasilkan oleh rangkaian gambar yang

dihasilkan oleh rangkaian gambar yang dihasilkan secara simultan. Aspek

dramatic televisi inilah yang tidak dipunyai media massa radio dan surat

kabar.

II.3. Paradigma Konstruktivisme

Pemahaman atas komunikasi manusia, merupakan masalah paradigma yang

dipakai untuk memahaminya. Cara pandang yang dipakai dalam memandang atau

mengamati kenyataan akan menentukan pengetahuan yang kita peroleh.

Konsekuensi dari penggunaan paradigma adalah kearifan untuk menyakan bahwa

apa yang kita ketahui bukanlah kebenaran mutlak, melainkan pemahaman yang

diciptakan oleh manusia. Konsekuensi lain adalah bahwa kita sebenarnya tidak

menemukan realitas, melainkan menciptakan realitas. Cara pandang ini juga

terjadi pada riset-riset penelitian.

Paradigma pada wilayah riset penelitian sebenarnya merupakan seperangkat

konstruksi cara pandang dalam menetapkan nilai-nilai dan tujuan penelitian.

Meskipun tidak bisa disetarakan dengan seperangkat teori semata, paradigma

(45)

 

apa yang seharusnya digunakan dalam sebuah penelitian. Paradigma bisa juga

berarti sebuah ideologi berpikir dan sekaligus praktik sekelompok komunitas

orang yang menganut suatu pandangan yang sama atas realitas, mereka memiliki

seperangkat aturan dan kriteria yang sama untuk menilai aktivitas penelitian dan

sekaligus menggunakan metode yang serupa (Narwaya, 2006: 108).

Cara pandang atau paradigma ini menurunkan sejumlah teori komunikasi.

Usaha mengidentifikasikan teori-teori dan pendekatan-pendekatan ke sejumlah

paradigma sejauh ini telah menghasilkan pengelompokan yang bervariasi seperti

Kinloch (1977), contohnya, mengkategorikan sekurangnya ada enam paradigma

atau perspektif teoritis (organic paradigm, conflict paradigm, social behaviorism,

structure functionalism, modern conflict theory, dan social-psychological

paradigm). Crotty (1994) mengetengahkan pengelompokan yang mencakup:

positivism interpretivism, critical inquiry, feminism, dan postmodernism. Burrel

dan Morgan, mengelompokkan teori-teori dan pendekatan-pendekatan dalam ilmu

sosial ke empat paradigma: radical humanist paradigm, radical structuralist

paradigm, interpretive paradigm, dan functionalist paradigm. Guba dan Lincoln

(1994) mengajukan tipologi yang mencakup empat paradigma: positivism,

postpositivism, critical theories dan constructivism. (Hidayat dalam Jurnal

Penelitian Ilmu Komunikasi Thesis Volume III No. 3 September-Desember 2004:

x).

Guba dan Lincoln (1994) mengemukakan bahwa setiap paradigma

membawa implikasi metodologi masing-masing. Oleh karena itu, untuk

mempermudah pembahasan tentang implikasi metodologi suatu paradigma,

(46)

dalam Jurnal Penelitian Ilmu Komunikasi Thesis Volume III No. 3

September-Desember 2004: x-xvi):

1.classical paradigm (yang mencakup positivism dan postpositivism),

2.critical paradigm, dan

3.constructivism paradigm

Terlepas dari variasi pemetaan, pada intinya setiap paradigma dapat

dibedakan dari paradigma lainnya berdasarkan sejumlah hal mendasar.

Perbandingan mengenai paradigma tersebut dapat dilihat berdasar ruang lingkup

paradigma itu sendiri baik secara ontolgi, epistemology, dan metodologis.

Tabel 1. Perbandingan Ontologi, Epistemologi, Metodologi

Positivisme Post-Positvisme Kritis Konstruktivisme Ontologi akan tetapi tidak pernah dan yang diteliti

Bersifat

(47)

  secara kritis pada keanekaragaman dialektis, ilmu hasil kosntruksi atau interaksi peneliti terhadap objek yang diteliti.

Sumber : Ardianto, Elvinaro. 2007. Filsafat Ilmu Komunikasi. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya

Konstruktivisme mengatakan bahwa kita tidak akan pernah dapat mengerti

realitas yang sesungguhnya secara ontologis. Yang kita mengerti adalah struktur

konstruksi kita akan suatu objek. Konstruktivisme tidak bertujuan mengerti

realitas, tetapi hendak melihat bagaimana kita menjadi tahu akan sesuatu. Boleh

juga dikatakan bahwa “realitas” bagi konstruktivisme tidak pernah ada secara

terpisah dari pengamat. Yang diketahui bukan suatu realitas “di sana” yang berdiri

sendiri, melainkan kenyataan sejauh dipahami oleh yang menangkapnya. Menurut

Shapiro, ada banyak bentuk kenyataan dan masing-masing terbentuk pada

kerangka dan interaksi pengamat dengan objek yang diamati.(Ardianto,2007:80)

Pandangan konstruktivisme menolak pandangan positivism yang

memisahkan subjek dan objek komunikasi. Dalam pandangan konstruktivisme,

bahasa tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif

belaka dan dipisahkan dari subyek sebagai penyampai pesan. Positivism meyakini

bahwa pengetahuan harus merupakan representasi (gambaran atau ungkapan) dari

kenyataan dunia yang terlepas dari pengamat (objektivisme). Pengetahuan

dianggap sebagai kumpulan fakta. Konstruktivisme menegaskan bahwa

(48)

Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa

pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri (Ardianto,2007:154).

Pada proses komunikasi, pesan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak

seseorang ke kepala orang lain. Penerima pesan sendirilah yang harus

mengartikan apa yang telah diajarkan dengan menyesuaikan terhadap

pengalaman mereka.

Sejauh ini ada tiga macam konstruktivisme: pertama, kosntrukstivisme

radikal; kedua, realism hipotetis; ketiga, konstruktivisme biasa (suparno,1997;25).

Konstruktivisme radikal hanya dapat mengakui apa yang dibentuk oleh pikiran

kita. Bentuk ini tidak selalu representasi dunia maya. Kaum konstruktivisme

radikal mengesampingkan hubungan antara pengetahuan dan kenyataan sebagai

suatu kriteria kebenaran. Pengetahuan bagi mereka tidak merefleksikan suatu

realitas ontologism obyektif, namun sebuah realitas yang dibentuk oleh

pengalaman seseorang.

Dalam kaitannya dengan ilmu komunikasi, teori konstruktivis atau

konstruktivisme adalah pendekatan secara teoritis untuk komunikasi yang

dikembangkan tahun 1970-an oleh Jesse Delia dan rekan-rekan sejawatnya.

Dalam buku Adrianto, Robyn Penmann merangkum kaitan konstruktivisme dalam

hubungannya dengan ilmu komunikasi :

1.Tindakan komunikatif sifatnya sukarela. Pembuat komunikasi adalah subjek

yang memiliki pilihan bebas, walaupun lingkungan sosial membatasi apa

yang dapat dan telah dilakukan. Jadi tindakan komunikatif dianggap

(49)

 

2.Pengetahuan adalah sebuah produk sosial. Pengetahuan bukan sesuatu yang

objektif sebagaimana diyakini positivisme, melainkan diturunkan dari

interaksi dalam kelompok sosial. Pengetahuan itu dapat ditemukan dalam

bahasa, melalui bahasa itulah konstruksi realitas tercipta.

3.Pengetahuan bersifat kontekstual, maksudnya pengetahuan merupakan

produk yang dipengaruhi ruang waktu dan akan dapat berubah sesuai

dengan pergeseran waktu;

4.Teori-teori menciptakan dunia. Teori bukanlah alat, melainkan suatu cara

pandang yang ikut memengaruhi pada cara pandang kita terhadap realitas

atau dalam batas tertentu teori menciptakan dunia. Dunia di sini bukanlah

“Segala sesuatu yang ada” melainkan “segala sesuatu yang menjadi

lingkungan hidup dan penghayatan hidup manusia”, jadi dunia dapat

dikatakan sebagai hasil pemahaman manusia atas kenyataan di luar

dirinya;

5.Pengetahuan bersifat sarat nilai.

Lebih jauh lagi, Penmann kemudian merumuskan empat kualitas

komunikasi. Baginya komunikasi harus bersifat konstitutif (menciptakan

dunia), kontekstual (sesuai dan tergantung ruang dan waktu), beragam

(muncul dalam bentuk yang berbeda-beda, tidak tunggal), dan tidak

lengkap (selalu dalam proses, terus berubah).

Istilah konstruktivisme atau konstruksi atas realitas sosial terkenal sejak

diperkenalkan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckman melalui bukunya yang

(50)

Knowledge tahun 1966. Teori dan pendekatan konstruksi sosial atas realitas terjadi

secara simultan melalui tiga proses sosial, yaitu eksternalisasi, objektivasi dan

internalisasi (Bungin, 2008: 193).

Dalam penjelasan ontologi paradigma konstruktivis, realitas merupakan

konstruksi sosial yang diciptakan oleh individu. Namun demikian, kebenaran

suatu realitas sosial bersifat nisbi, yang berlaku sesuai konteks spesifik yang

dinilai relevan oleh pelaku sosial. Proses konstruksi realitas yang dilakukan oleh

media merupakan usaha “menceritakan” (konseptualisasi) sebuah persitiwa atau

keadaan. Realitas tersebut tidak serta merta melahirkan berita, melainkan melalui

proses interaksi antara penulis berita atau wartawan dengan fakta. Menurut

Bungin (2008: 196), ada tiga hal penting dalam penyiapan materi konstruksi

sosial, yaitu:

a.Keberpihakan media massa kepada kapitalisme. Sebagaimana diketahui,

saat ini hampir tidak ada lagi media massa yang tidak dimiliki kapitalis.

Dalam arti media massa digunakan oleh kekuatan-kekuatan kapital untuk

menjadikan media massa sebagai mesin penciptaan uang dan

pelipatgandaan modal. Semua elemen media massa, termasuk orang-orang

media massa berpikir untuk melayani kapitalisnya, ideologi mereka adalah

membuat media massa yang laku di masyarakat.

b.Keberpihakan semu kepada masyarakat. Bentuk dari keberpihakan ini

adalah dalam bentuk empati, simpati dan berbagai partisipasi kepada

masyarakat, namun ujung-ujungnya adalah juga untuk “menjual berita”

dan menaikkan rating untuk kepentingan kapitalis. Kasus yang dapat

(51)

 

tsunami yang melanda Aceh, Nias dan sekitarnya dalam kemasan berita

“Indonesia Menangis” dan semacamnya yang terus-menerus diekspos

bahkan sampai pada sisi yang telah meninggalkan hak-hak sumber berita.

c.Keberpihakan kepada kepentingan umum. Bentuk keberpihakan kepada

kepentingan umum dalam arti sesungguhnya sebenarnya adalah visi setiap

media massa, namun akhir-akhir ini visi tersebut tak pernah menunjukkan

jati dirinya, namun slogan-slogan tentang visi ini tetap terdengar.

Secara esensial, pendekatan konstruktivis pada media, wartawan dan berita

dapat dirangkum dalam 6 perspektif

(

Eriyanto, 2003

).

Enam perspektif tersebut

adalah sebagai berikut :

a. Fakta atau peristiwa adalah hasil konstruksi. Bagi kaum konstruktivis,

realitas itu bersifat subjektif. Realitas itu hadir, karena diciptakan dan

dihadirkan oleh konsep subjektif wartawan. Realitas itu bisa

berbeda-beda, tergantung pada bagaimana ketika realitas itu dipahami oleh

wartawan. Pertanyaan utama dalam pandangan konstruktivis adalah fakta

berupa kenyataan itu sendiri bukan sesuatu yang terberi, melainkan ada

dalam benak kita, yang melihat fakta tersebut. Kitalah yang memberikan

definisi dan menentukan fakta tersebut sebagai kenyataan.

b. Media adalah agen konstruksi. Dalam pandangan konstruktivis, media

dianggap bukanlah sebagai saluran yang bebas, ia juga subjek yang

mengonstruksi realitas, lengkap dengan pandangan, bias dan

pemihakannya. Media dipandang sebagai agen yang mengonstruksi

(52)

realitas, bukan hanya menunjukkan pendapat sumber berita, tetapi juga

konstruksi dari media itu sendiri.

c. Berita bukan refleksi dari realitas, ia hanya konstruksi atas realitas.

Menurut pandangan konstruktivis, berita merupakan hasil dari konstruksi

sosial di mana selalu melibatkan pandangan, ideologi dan nilai-nilai dari

wartawan atau media. Bagaimana realitas itu dijadikan berita, sangat

tergantung pada bagaimana fakta itu dipahami dan dimaknai tergantung

pada bagaimana fakta itu dipahami dan dimaknai. Proses pemaknaan

selalu melibatkan nilai-nilai tertentu sehingga mustahil berita merupakan

cerminan dari realitas. Realitas yang sama bisa jadi menghasilkan berita

yang berbeda, karena melihatnya dengan cara yang berbeda.

d. Berita bersifat subjektif atas realitas. Berita subjektif lahir dari sisi lain

wartawan. Karena wartawan sendiri melihat dengan perspektif dan

berbagai pertimbangan subjektifnya. Penempatan sumber berita yang lebih

ditonjolkan dari sumber lainnya; menempatkan wawancara seorang tokoh

lebih besar dengan tokoh lainnya; liputan yang hanya satu sisi; tidak

berimbang, misalnya. Bagi kaum konstruktivis, hal tersebut bukanlah

sebuah kekeliruan atau bias, tetapi dianggap memang itulah praktik yang

dijalankan oleh wartawan.

e.

Wartawan bukanlah pelapor, ia agen konstruksi realitas. Dalam pandangan

konstruktivis, wartawan tidak bisa menyembunyikan pilihan moral dan

keberpihakannya, karena ia merupakan bagian yang intrinsik dalam

(53)

 

melainkan juga bagian dari proses organisasi dan interaksi antara

wartawannya.

f.

Etika, pilihan moral dan keberpihakan wartawan adalah bagian integral

dalam produksi berita. Aspek etika, moral dan nilai-nilai tertentu tidak

mungkin dihilangkan dalam pemberitaan media. Wartawan bukanlah robot

yang meliput apa adanya, apa yang dilihat tanpa pretensi apapun juga.

Etika dan moral dalam banyak hal dapat berarti keberpihakan pada satu

kelompok atau nilai tertentu -umumnya dilandasi oleh keyakinan tertentu-

adalah bagian integral dan tidak terpisahkan dalam membentuk dan

mengonstruksi realitas.

II.4. Ideologi Media

Secara etimologis, ideologi berasal dari bahasa Greek, terdiri dari kata idea

dan logia. Idea berasal dari kata idein yang berarti melihat. Idea dalam Webster’s

News Colligiate Dictionary berarti sesuatu yang ada di dalam pikiran sebagai hasil

perumusan sesuatu pemikiran atau rencana. Sedangkan logis berasal dari kata

logos yang berarti world. Kata ini berasal dari kata legein yang berarti to speak

(berbicara). Selanjutnya kata logia berarti sciense (pengetahuan) atau teori

(Sobur,2004:64).

Ada banyak defenisi tentang ideologi. Raymond William

(Eriyanto,2001:87) mendefenisikan penggunaan ideologi dalam tiga ranah.

Pertama, sebuah sistem kepercayaan yang dimiliki oleh kelompok atau kelas

tertentu. Defenisi ini terutama dipakai oleh kalangan psikologi yang melihat

Gambar

Gambar 1. Visualisasi Konseptual Analisis Framing Robert Entman
Gambar 1 Visualisasi Konseptual Analisis Framing Robert Entman . View in document p.31
Tabel 1. Perbandingan Ontologi, Epistemologi, Metodologi
Tabel 1 Perbandingan Ontologi Epistemologi Metodologi . View in document p.46
Tabel 2. Dimensi Framing Robert Entman
Tabel 2 Dimensi Framing Robert Entman . View in document p.61
Gambar 2. Fungsi Materi Teks
Gambar 2 Fungsi Materi Teks . View in document p.70
Tabel  3. Perangkat Analisis Framing Robert Entman
Tabel 3 Perangkat Analisis Framing Robert Entman . View in document p.71
Tabel  4
Tabel 4 . View in document p.73
Tabel 5.1 Contoh Tabel  Jumlah Paragraf
Tabel 5 1 Contoh Tabel Jumlah Paragraf . View in document p.74
Tabel 5.2 Contoh Tabel Jenis Berita
Tabel 5 2 Contoh Tabel Jenis Berita . View in document p.74
Tabel 5.5 Contoh Tabel  Narasumber
Tabel 5 5 Contoh Tabel Narasumber . View in document p.75
Tabel 5.4 Contoh Tabel Rubrik
Tabel 5 4 Contoh Tabel Rubrik . View in document p.75
Tabel 5.6 Contoh Tabel Isu-Isu yang menonjol
Tabel 5 6 Contoh Tabel Isu Isu yang menonjol . View in document p.76
Tabel 5.7 Contoh Tabel  Berita yang diteliti
Tabel 5 7 Contoh Tabel Berita yang diteliti . View in document p.76
Tabel 6
Tabel 6 . View in document p.77
Tabel 7.1 Profil berita yang diteliti
Tabel 7 1 Profil berita yang diteliti . View in document p.81
Tabel 7.2 Profil berita yang diteliti
Tabel 7 2 Profil berita yang diteliti . View in document p.83
Tabel 8 Jumlah Paragraf
Tabel 8 Jumlah Paragraf . View in document p.86
Tabel 6 menjelaskan bahwa porsi pemberitaan 100 hari SBY-Boediono
Tabel 6 menjelaskan bahwa porsi pemberitaan 100 hari SBY Boediono . View in document p.86
Tabel 9 Jenis Berita
Tabel 9 Jenis Berita . View in document p.87
Tabel 10 Posisi Berita
Tabel 10 Posisi Berita . View in document p.88
Tabel 11 Rubrik
Tabel 11 Rubrik . View in document p.89
Tabel 12  Narasumber
Tabel 12 Narasumber . View in document p.90
Tabel 13 Isu yang diangkat
Tabel 13 Isu yang diangkat . View in document p.91
Tabel 14 Daftar berita yang diteliti
Tabel 14 Daftar berita yang diteliti . View in document p.93
Tabel 15
Tabel 15 . View in document p.116

Referensi

Memperbarui...

Download now (138 pages)
Related subjects : Kompas 100