Praktek Prostitusi Sebagai Salah Satu Bentuk Penyalahgunaan Fungsi Tempat Wisata

Gratis

31
140
87
3 years ago
Preview
Full text

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN SOSIOLOGI PRAKTEK PROSTITUSI SEBAGAI SALAH SATU BENTUK PENYALAHGUNAAN FUNGSI TEMPAT WISATA

  Adapun masalah dalam penelitian adalah terjadinya praktek prostitusi sebagai salah satu bentuk penyalahgunaan fungsi tempat wisata yang dilakukan oleh sebagianpihak yang menyebabkan pergeseran fungsi dari fungsi dengan nilai ideal kepada nilai yang disfungsional. Keberadaan tempat hiburan malam dengan adanya pelayanan seks, terinspirasi dari maraknya di kota-kota besar, yang memberikankeuntungan yang besar dengan praktek seperti itu.

ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2010

  Adapun masalah dalam penelitian adalah terjadinya praktek prostitusi sebagai salah satu bentuk penyalahgunaan fungsi tempat wisata yang dilakukan oleh sebagianpihak yang menyebabkan pergeseran fungsi dari fungsi dengan nilai ideal kepada nilai yang disfungsional. Penulis juga melihat pentingnya penanaman nilai-nilai agama serta pendidikan seks bagi para remaja yang dimulai dari keluarga dimana keluarga adalah tempatsosialisasi yang pertama dan utama bagi seorang individu untuk mendapatkan nilai-nilai sosial yang ada dimasyarakat.

KATA PENGANTAR

  Adapun masalah dalam penelitian adalah terjadinya praktek prostitusi sebagai salah satu bentuk penyalahgunaan fungsi tempat wisata yang dilakukan oleh sebagianpihak yang menyebabkan pergeseran fungsi dari fungsi dengan nilai ideal kepada nilai yang disfungsional. Penulis juga melihat pentingnya penanaman nilai-nilai agama serta pendidikan seks bagi para remaja yang dimulai dari keluarga dimana keluarga adalah tempatsosialisasi yang pertama dan utama bagi seorang individu untuk mendapatkan nilai-nilai sosial yang ada dimasyarakat.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Sedangkan kebutuhan kedua, yaitu kebutuhan sekunder, yaknikebutuhan akan kesehatan, pendidikan, rekreasi atau hiburan, dan lain sebagainya Manusia adalah mahkluk yang tidak pernah puas dengan kebutuhan yang ada, setelah kebutuhan yang satu terpenuhi, maka muncul pula kebutuhan-kebutuhan lainnyayang harus dipuaskan. Dalam Undang-undang nomor 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan, usahaPariwisata adalah kegiatan yang bertujuan menyelenggarakan jasa pariwisata atau menyediakan atau mengusahakan objek dan daya tarik wisata, usaha sarana pariwisatadan usaha yang terkait dibidang tersebut, dengan salah satunya adalah usaha sarana pariwisata dengan penyediaan akomodasi, penyediaan makanan dan minuman,penyediaan angkutan wisata, penyediaan sarana wisata tirta.

1.4. Manfaat Penelitian

  Manfaat PraktisYang menjadi manfaat praktis dari penelitian ini adalah untuk menambah referensi dari hasil penelitian dan dapat juga dijadikan sebagai bahan rujukan bagipeneliti berikutnya yang ingin mengetahui lebih dalam lagi terkait dengan penelitian sebelumnya. Manfaat Bagi PenulisPenelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan serta wawasan penulis mengenai fenomena yang ada dalam masyarakat dan sebagai wadahlatihan serta pembentukan pola pikir yang rasional dalam menghadapi segala macam persoalan yang terjadi di masyarakat.

1.5. Defenisi konsep

  ProstitusiUsaha komersil yang bekerja didalam hal yang berkaitan dengan seks dengan cara tidak resmi dan dilarang oleh setiap agama. Praktek prostitusi dalam hal ini adalah Bisnis seks yang terjadi di dalam kawasan tempat wisata Lumban Silintong tersebut, dan selanjutnya pelayanan seks tersebut dilakukan atau diberikan para pelacur padapelanggannya di hotel-hotel.

BAB II KAJIAN PUSTAKA Manusia tetaplah manusia yang memiliki kekurangan, tidak sempurna dalam hal

  Namun karena ketidaksempurnaan manusia tersebut, serta adanya nilai- nilai yang tidak sesuai dengan norma yang ada didalam individu tersebut, mengakibatkanadanya warga masyarakat yang berperilaku yang tidak diharapkan, yang tidak sesuai dengan norma serta aturan-aturan yang ada dalam masyarakat. Demikian halnya yang terjadi pada tempat wisata Lumban silintong dimana yang terjadi adalah sebaliknya, yakni adanya sekelompok orang atau individu yang adadidalam masyarakat dengan tidak memperhitungkan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dimasyarakat dengan menjalankan praktek prostitusi di tempat wisata tersebut.

BAB II I METODE PENELITIAN

  Metode penelitian kualitatif merupakan metode yangbermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya, perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain, secara holistic dan dengancara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalahmanusia.pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata- kata, laporan terperinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yangalami.

3.3. Unit Analisis dan Informan

3.3.1 Unit Analisis

3.3.2 Informan

  Unit analisis dalam penelitian ini adalah pekerja seks komersial di tempat hiburan malam di tempat wisata Lumban Silintong Balige. Adapun informan yang menjadi subjek penelitian inidibedakan atas dua jenis yakni, informan kunci dan informan biasa yang dapat mendukung penelitian.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

  Data SekunderData sekunder yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung dari objek penelitian kepustakaan dan pencatatan dokumen, yaitu dengan mengumpulkan data danmengambil informasi dari buku-buku referensi, dokumen majalah, jurnal, internet, yang dianggap relevan dengan masalah yang diteliti. Teknik Interpretasi data Bogdan dan Biklen dalam ( Moleong, 2007) menjelaskan analisis data adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data,memilah-milahnya menjadi satuan data yang dapat dikelola, mensistensiskan, membuat ikhtisarnya, mencarikan dan menemukan pola dalam menemukan apa yang penting untukdipelajari.

3.7 Keterbatasan Penelitian

  Keterbatasan penelitian yang ditemukan oleh peneliti selama melakukan proses penelitian adalah didalam memperoleh data secara jelas dan mendetail, hal ini disebabkanpara informan yang tidak mau memberikan data yang jelas mengenai praktek prostitusi di tempat wisata Lumban Silintong Balige. Namun setelah melakukan pendekatan kepada informan barulah mereka mau untuk memberikan data secara lengkap dan mendetail.

BAB IV INTERPRETASI DATA

4.1 Setting Daerah Lokasi

  Ditinjau dari segi letak dan geografis Desa Lumban Silintong berada di daerah ketinggian 905 meter diatas permukaan laut dengan suhu rata-rata 30derajat celcius dengan curah tiap bulan pertahun adalah 2.305 mm / tahun, yang memiliki 4 dusun yaitu : Dusun Sosor Pasir, Dusun Lumban Silintong, Dusun Batu Nabolon, danDusun Lumban Binanga. Desa ini adalah objek wisata yang ramai pada hari minggu dan hari libur, dimana pengunjung bisa mandi di Danau dan menyantapikan mas bakar di kafe-kafe yang terdapat di tepinya.

4.2. Kondisi Sosial Ekonomi dan dinamika sosial

  sekaitan dengan desa ini telah menjadi salah satu objek wisataandalan, maka aktivitas perdagangan berupa tempat rekreasi dan sajian makanan ringan sudah tumbuh dan berkembang di desa ini. Selain itu para pemuda dapat terorganisir dalam Dalam hal partisipasi dan swadaya masyarakat, rasa kesetiakawanan yang dicerminkan dalam jiwa gotong royong yang pada saat ini disebut marsiadapari.

4.3 Potensi Yang dimiliki Lumban Silintong

  Saat menyusuri jalanan menuju Tarabunga, pemandangan Danau Toba menjadi daya pikat, disamping cuaca yang sangat sejuk dan bila sudah tiba di desaTarabunga, dari puncak bukit dapat disaksikan matahari yang hendak pulang keparaduan, yang perlahan-lahan menghilang seperti ditelan Danau Toba. Potensi yang dimiliki oleh Lumban Silintong ini sangat cocok untuk dikembangkan menjadi salah satu objek wisata pantai, mengingat objek wisata yangdikembangkan secara optimal di Sumatera Utara belum begitu banyak eksotisme nuansa pariwisata yang khas dan tersendiri bisa dinikmati misalnya alam Lumban Silintong.

4.4 Pelayanan Seks di Tempat Wisata Lumban Silintong

  Karena saya sangat sulit mendapatkan pekerjaan yang halal” Melakukan profesi sebagai pekerja seks komersial juga tidak terlepas dari banyaknya pengunjung yang datang ke tempat hiburan malam tersebut. Buktinya tidak jarang Pamong Praja melakukan razia sebagai bentuk pelarangan praktek bisnis seks di lokasi tempatwisata tersebut” Keberadaan pekerja seks komersial di tempat wisata Lumban Silintong memang tanda tanya, sebab biasanya tempat wisata itu sering ditemukan keluarga atau anak mudayang menikmati panorama Danau Toba, seperti mangkal sambil melihat pemandangan, berenang menikmati dinginnya air Danau Toba atau bahkan keluarga untuk berkumpuldengan menyewa tikar untuk bersantai.

4.5. Profil Informan

4.5.1. Informan kunci

  N menginap di Losmen atau di kamar kecil yang tersedia di tempat hiburan Dalam melakukan pekerjaannya, informan memerlukan banyak relasi dengan teman-temannya yang lain yang memberi informasi tentang keberadaan pekerja sekskomersial yang bisa dihadirkan di tempat hiburan malam kawasan tempat wisata LumbanSilintong. Tapipraktek tersebut memang harus sangat disusun dengan rapi, karena keberadaan pekerja seks komersial di tempat hiburan malam kawasan wisata Lumban Silintong sangatdilarang, buktinya dengan adanya razia yang dilakukan oleh pemerintah daerah setempat dengan mengoperasikan pamong praja dan menjaring para pekerja seks komersial yangkebetulan melakukan prakteknya.

1. B.M (lk, 43 tahun)

  Menurut informan bisnis pariwisata yang dijalankan oleh masyarakat belum tercapai sepenuhnya, dapat dilihat dengan adanya tempat hiburan malam yangmenyediakan tempat hiburan malam yang menimbulkan sebagian keresahan dari masyarakat. S memanfaatkan fungsi tempat wisata Lumban Silintong telah digunakan oleh sebagian pihak, dengan adanya praktek prostitusi yang sangatbertentangan dengan norma yang ada dimasyarakat.

4.5.2 Informan Biasa

Profil informan biasa dalam penelitian ini terdiri dari penduduk sekitar kawasan tempat wisata Lumban Silintong dan pengunjung yang tidak menginginkan pelayanan seks. Profil informan 1: masyarakat sekitar Lumban Silintong

1. B.B (pr, 52 tahun)

  Usaha hiburan malam dengan praktekprostitusi yang ada didalamnya yang dilakukan pihak tanpa memperhatikan norma yang berlaku dalam masyarakat hanya demi keuntungan yang diperolehnya. Tapi yang kurang berkenan pada informan adalah maunya tempat hiburanmalam tersebut dibuka agak larut, sehingga menunggu para penduduk setempat yang banyak anak-anak tidur dan tidak ikut untuk mengetahui praktek prostitusi yang ada dikawasan tempat wisata Lumban silintong.

4.6. Hasil Interpretasi Data

4.6.1. Analisa Fungsi Manifes Tempat Wisata Lumban Silintong

  Betapa sungguh memalukan kita terhadap masyarakat dansungguh berdosanya kita terhadap Sang Pencipta jika kita menyalahgunakan sebagai tempat yang menjadi Larangan Nya “ Dari uraian diatas jelas bahwa fungsi tempat wisata Lumban Silintong yang sebenarnya adalah untuk menikmati potensi wisata berikut Danau Toba yang telahdisediakan oleh yang Maha Kuasa (Dinas Pariwisata Toba Samosir, 2006). Masyarakat juga berkesempatan untuk memanfaatkan tempat wisata sebagai mata pencahariandengan menyediakan barang dan jasa yang diperlukan oleh pengunjung dengan melihat norma yang berlaku di dalam masyarakat untuk menghindari penyimpangan.

4.6.2. Pergeseran Fungsi Tempat Wisata ke Arah Prostitusi

  Kondisi inilah yang membuat pasangan yang sedang berpacaran, maupun antara pengunjung dengan Pekerja seks Komersial dapat dengan mudah melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan di tempat yang banyak dihuni oleh penduduk yang banyak dihuni oleh anak-anak, misalnya dengan berpelukan ataupun bahkan ciumanditempat hiburan malam tersebut. Namun yang uniknya, para pekerja ataupun pedagang dan orang-orang yang ada di tempat hiburan malam tersebut, menganggap ini adalah hal yang biasa yang sudahbiasa dilakukan di tempat hiburan malam tersebut dan sudah menjadi tradisi kalau hal tersebut tidak perlu jadi bahan perhatian.

4.6.3 Praktek Prostitusi Merupakan Disfungsi Tempat Wisata Lumban Silintong

4.6.3.1 Analisa Tentang Prostitusi

  Kebanyakan dari mereka para pelaku prostitusi hanya ingin mendapat uang banyak dengan mudah dan dalam waktu yang singkat, ada juga dari keluarga broken home,keluarga berada namun kurang kasih sayang dan yang paling parah adalah alasan karena hobbi yang ia jalankan. Hanya demi Dari uraian yang telah terpapar diatas, dapat dilihat dengan jelas adanya pergeseran fungsi Tempat Wisata dari fungsi positif adalah sebagai tempat orang untukmelakukan kegiatan tamasya/rekreasi, namun sejalan berjalannya waktu, tempat wisata mengalami pergeseran fungsi, sehingga mengalami disfungsi, yakni sebagai tempatprostitusi yang menyediakan wanita-wanita cantik dan seksi yang siap untuk melayani kebutuhan-kebutuhan seks bagi para pengunjung.

4.5.3.2 Proses Terjadinya Praktek Prostitusi Di Tempat Hiburan Malam Tempat Wisata Lumban Silintong

  Pada bisnis yangterjadi di tempat hiburan malam tersebut, dapat dilihat dengan adanya hubungan yang terjadi pada seseorang yang berbeda kedudukan tetapi dihubungkan melalui ikatankepentingan dalam persahabatan untuk tujuan tertentu, dimana dalam pola hubungan patron-klien ada dua atau lebih sebagai pelaku utama hubungan tersebut, yaitu bisnis antara pekerja seks komersial dengan hidung belang yang terjadi di tempat hiburan malam tersebut. Dalam proses yang terjadi pada praktek tersebut, dapat dilihat yang menjadi patron adalah penyalur atau orang yang menjadi distributor dengan bekerja sama dengan pedagang yang berhasrat untuk memperoleh keuntungan.

4.6.4 Penyediaan Tempat Hiburan Malam di Lokasi Tempat Wisata

  Penyediaan tempat hiburan malam tersebut jelas sangat mendukung terjadinya pergeseran fungsi yang mengakibatkan terjadinya disfungsi, yakni tempat wisata menjadiakses untuk melakukan hal-hal yang dilarang norma-norma masyarakat seperti berkencan dan melakukan hal-hal yang dianggap tabu seperti berpelukan dan berciuman, dimanapemandangan seperti ini dianggap sudah biasa bagi orang-orang yang berkunjung maupun pedagang di tempat hiburan malam tersebut. Dari urain di atas mengenai keberadaan tempat hiburan malam, dapat terlihat jelas bahwa, pengelola tempat hiburan malam yang ada di tempat wisata tersebut memilikiperan yang sangat penting dan andil yang besar didalam terjadinya penyalahgunaan fungsi tempat wisata yang terjadi di lokasi wisata Lumaban Silintong Balige.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

  Alasan yang cukup klise, terlibatnya para germo, pekerja seks dan pelayan/pedagang tersebut adalah karena alasan ekonomi agar dapat memenuhikebutuhan hidup sehari-hari, yang membuat para pelaku praktek prostitusi ini mau melakukan hal-hal yang menyimpang dari norma dan nilai yang ada dalammasyarakat. Perlunya keluarga mengajarkan pendidikan seks terhadap anak-anaknya, karena keluarga merupakan tempat sosialisasi yang pertama dan utama bagiseorang individu untuk mendapatkan nilai-nilai sosial yang ada serta remaja yang akan mengetahui segala dampak negatif yang ditimbulkan darihubungan seks yang tidak sehat.

DAFTAR PUSTAKA

  Ilmu Sosial Dasar, Teori dan Konsep Ilmu Sosial, Bandung: Refika Aditama. Sumber LainDinas Pariwisata Seni dan Budaya Toba Samosir, 2006.

Dokumen baru