Feedback

Karakterisasi Simplisia, Skrining Fitokimia Dan Uji Sitotoksisitas Ekstrak Daun Tumbuhan Sirsak (Annona muricata L.) Terhadap Larva Artemia salina Leach

Informasi dokumen
KARAKTERISASI SIMPLISIA, SKRINING FITOKIMIA DAN UJI SITOTOKSISITAS EKSTRAK DAUN TUMBUHAN SIRSAK (Annona muricata L.) TERHADAP LARVA Artemia salina Leach. SKRIPSI OLEH: IRA VERANITA SINURAT NIM 071501045 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara KARAKTERISASI SIMPLISIA, SKRINING FITOKIMIA DAN UJI SITOTOKSISITAS EKSTRAK DAUN TUMBUHAN SIRSAK (Annona muricata L.) TERHADAP LARVA Artemia salina Leach. SKRIPSI Diajukan untuk melengkapi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara OLEH: IRA VERANITA SINURAT NIM 071501045 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara LEMBAR PENGESAHAN KARAKTERISASI SIMPLISIA, SKRINING FITOKIMIA DAN UJI SITOTOKSISITAS EKSTRAK DAUN TUMBUHAN SIRSAK (Annona muricata L.) TERHADAP LARVA Artemia salina Leach. OLEH: IRA VERANITA SINURAT NIM 071501045 Dipertahankan dihadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara Pada Tanggal : Agustus 2011 Pembimbing I, Panitia Penguji, Dr.Ginda Haro, M.Sc., Apt. NIP 195108161980031002 Dr. M.Pandapotan Nasution, MPS, Apt. NIP 194908111976031001 Pembimbing II, Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt. NIP 195107231982032001 Dra.Aswita Hafni Lubis, M.Si., Apt. NIP 195304031983032001 Drs. Awaluddin Saragih, M,Si., Apt. NIP 195008221974121002 Disahkan Oleh: Dekan, Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt. NIP. 195311281983031002 Universitas Sumatera Utara KARAKTERISASI SIMPLISIA, SKRINING FITOKIMIA DAN UJI SITOTOKSISITAS EKSTRAK DAUN TUMBUHAN SIRSAK (Annona muricata L.) TERHADAP LARVA Artemia salina Leach ABSTRAK Tumbuhan sirsak (Annona muricata L.) termasuk dalam familia Annonaceae. Daun sirsak kaya akan metabolit sekunder yang bermanfaat sebagai obat. Masyarakat memanfaatkan daun sirsak untuk mengobati berbagai macam penyakit, bahkan rebusan daun sirsak dikatakan dapat digunakan sebagai obat alternatif untuk penyakit kanker. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai karakteristik daun sirsak, golongan senyawa dari simplisia daun sirsak, dan aktivitas sitotoksisitas ekstrak daun sirsak terhadap larva Artemia salina Leach. Karakterisasi simplisia daun sirsak dilakukan dengan pemeriksaan kadar air, kadar sari yang larut dalam air, kadar sari yang larut dalam etanol, kadar abu total dan kadar abu yang tidak larut dalam asam. Ekstrak daun sirsak dilakukan secara perkolasi bertingkat dengan menggunakan pelarut n-heksan, etilasetat dan etanol. Terhadap masing-masing ekstrak diuji aktivitas sitotoksisitasnya dengan metode brine shrimp lethally test. Data diolah menggunakan analisis regresi linear untuk memperoleh harga LC50. Hasil karakterisasi simplisia memberikan kadar air 5,97%, kadar sari yang larut dalam air 18,19%, kadar sari larut dalam etanol 15,06%, kadar abu total 5,42%, dan kadar abu yang tidak larut dalam asam 0,25% . Hasil pemeriksaan mikroskopik tampak sel epidermis, kutikula tebal, terdapat stomata tipe anomositik, rambut penutup. Berkas pembuluh tipe kolateral dan dikelilingi oleh serabut. Hasil uji sitotoksisitas dari ekstrak n-heksana, etilasetat, dan etanol simplisia daun sirsak terhadap larva Artemia salina Leach ditunjukkan dengan nilai LC50 berturut-turut 3,66µg/ml, 1,75 µg/ml, dan 0,73 µg/ml. Kata kunci: daun sirsak, uji brine shrimp, Artemia salina Leach. Universitas Sumatera Utara SIMPLEX CHARACTERIZATION, PHYTOCHEMICALS SCREENING AND THE TEST OF CITOTOXICITY EFFECT OF SOURSOP LEAF(Annona muricata L.) EXTRACT WITH LARVAE Artemia salina Leach. ABSTRACT Soursop (Annona muricata L.) is included in the family of Annonaceae. Soursop leaves are rich in secondary metabolites are useful as a drug. Public use soursop leave to treat various diseases, even soursop leave boilde is said to be used as an alternative medicine for cancer.The purpose of the study was to obtain information about the charactheries of the soursop leave, group compound from the leaves of the soursop simplex, and citotoxicity activity of soursop leave extract with larvae Artemia salina Leach. Characterization of simplex the soursop leave is includes the determination of the water content, water soluble extractive, ethanolsoluble extractive, total ash value and acid insoluble ash value. The soursop leave was extracted by percolation method using n-hexana, ethylacetate, and ethanol as solvents. The citotoxicity activity of each extract was tested with brine shrimp method. To obtain the LC50, the data were analyzed using linear regression analysis. The result of simplex characterization gave the water content 5.97%, the water soluble extractive 18.19%, the ethanol soluble extractive 15.06%, the total ash value 5.42% and the acid insoluble ash value 0.25%. The result of microscopic examination of suorsop leave showed an epidermis, thick cuticle, anomocitic stomata, covering hair, collateral vascular bundle is peripheried by fibers. The result of the citotoxicity activity of the n-hexana, ethylacetat, and ethanol extract of simplex of soursop leave with Artemia salina Leach showed with LC50 values were 3.66 µg/ml, 1.75 µg/ml, and 0.73 µg/ml consequtively. Key word: soursop leave, brine shrimp test, Artemia salina Leach. Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman JUDUL . i LEMBAR PENGESAHAN . . ii ABSTRAK . iii ABSTRACT . iv DAFTAR ISI v . DAFTAR TABEL . ix DAFTAR LAMPIRAN . x BAB I. PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar Belakang . 1 1.2 Perumusan Masalah . 3 1.3 Hipotesis . 3 1.4 Tujuan Penelitian . 3 1.5 Manfaat Penelitian . . 4 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA . 5 2.1 Uraian Tumbuhan . 5 2.1.1 Sistematika Tumbuhan . 6 2.1.2 Sinonim . 6 2.1.3 Nama Daerah . 6 2.1.4 Habitat . 6 2.1.5 Morfologi . 6 2.1.6 Kandungan Kimia . 6 2.1.7 Manfaat . 6 Universitas Sumatera Utara 2.2 Ekstraksi . 5 2.3 Uji Sitotoksisitas . 5 2.3.1 Metode Potato Disk . 6 2.3.2 Brine Shrimp Lethality test . 6 2.3.3 Uji Terhadap Lemna minor L. . 6 2.3.4 Uji Terhadap cell line . 6 2.4 Uraian Artemia salina Leach . 5 BAB III. METODE PENELITIAN . 5 3.1 Alat-alat . 5 3.2 Bahan-bahan . 5 3.3 Pengumpulan dan Pengolahan Bahan Tumbuhan . 6 3.3.1 Pengumpulan Bahan Tumbuhan . 6 3.3.2 Identifikasi Tumbuhan . 6 3.3.3 Pembuatan Simplisia . 6 3.4 Lokasi Penelitian . 7 3.5 Pembuatan Larutan Pereaksi . 7 3.5.1 Larutan Pereaksi Asam Klorida 2N . 7 3.5.2 Larutan Pereaksi Natrium Hidroksida 2N . 7 3.5.3 Larutan Pereaksi Bouchadart . . 7 3.5.4 Larutan Pereaksi Mayer. 7 3.5.5 Larutan Pereaksi Dragendorff . 8 3.5.6 Larutan Pereaksi Besi (III) Klorida 1% . . 8 3.5.7 Larutan Pereaksi liebermann- Burchad . 8 3.5.8 Larutan Pereaksi Molish . . 8 Universitas Sumatera Utara 3.5.9 Air Kloroform . . 8 3.9.10 Larutan Kloralhidrat . . 8 3.9.11 Larutan Pereaksi Timbal (II) Asetat 0,4M . . 8 3.9.12 Pereaksi Asam Nitrat 0,5N. . 9 3.6 Pemeriksaan Karakterisasi Simplisia . 9 3.6.1 Pemeriksaan Makroskopik . 9 3.6.2 Pemeriksaan Mikroskopik . 9 3.6.3 Penetapan Kadar Air . 9 3.6.4 Penetapan Kadar Sari yang Larut dalam Air . 10 3.6.5 Penetapan Kadar Sari yang Larut dalam Etanol. 11 3.6.6 Penetapan Kadar Abu Total . 11 3.6.7 Penetapan Kadar Abu yang Tidak Larut dalam Asam . 11 3.7 Skrining Fitokimia . . 12 3.7.1 Pemeriksaan Alkaloida . . 12 3.7.2 Pemeriksaan Flavonoida . . 12 3.7.3 Pemeriksaan Saponin . . 13 3.7.4 Pemeriksaan Tanin . . 13 3.7.5 Pemeriksaan Glikosida . . 13 3.7.6 Pemeriksaan Antrakinon . . 14 3.7.7 Pemeriksaan Steroid/Triterpenoid . . 14 3.8 Pembuatan Ekstrak . 14 3.9 Uji Sitotoksisitas . 15 Universitas Sumatera Utara BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN . 17 4.1 Hasil Identifikasi Tumbuhan . 17 4.2 Hasil Pemeriksaan karakteristik daun sirsak . 17 4.3 Hasil Skrining Fitokimia . . 19 4.4 Hasil Ekstraksi . 19 4.5 Hasil Uji Toksisitas . 20 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN . 21 5.1 Kesimpulan . 21 5.2 Saran . 21 DAFTAR PUSTAKA . 22 LAMPIRAN . Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Tabel Halaman 4.1 Hasil karakterisasi simplisia . 18 4.2 Hasil Skrining Fitokimia . 19 4.3 Hasil Uji Sitotoksisitas . 20 Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1. Hasil Identifikasi Tumbuhan . 24 2. Gambar Tumbuhan Sirsak dan Daun Sirsak . 25 3. Gambar Simplisia Daun Sirsak dan Serbuk Simplisia Daun Sirsak . 26 4. Gambar Mikroskopik Serbuk Simplisia Daun sirsak . 27 5. Gambar Mikroskopik Penampang Melintang Daun Sirsak . 28 6. Perhitungan Pemeriksaan Karakteristik Serbuk Simplisia . 29 7. Bagan Kerja . 34 7. Data Persen Kematian Nauplii . 37 8. Perhitungan Uji Sitotoksisitas . 39 Universitas Sumatera Utara KARAKTERISASI SIMPLISIA, SKRINING FITOKIMIA DAN UJI SITOTOKSISITAS EKSTRAK DAUN TUMBUHAN SIRSAK (Annona muricata L.) TERHADAP LARVA Artemia salina Leach ABSTRAK Tumbuhan sirsak (Annona muricata L.) termasuk dalam familia Annonaceae. Daun sirsak kaya akan metabolit sekunder yang bermanfaat sebagai obat. Masyarakat memanfaatkan daun sirsak untuk mengobati berbagai macam penyakit, bahkan rebusan daun sirsak dikatakan dapat digunakan sebagai obat alternatif untuk penyakit kanker. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai karakteristik daun sirsak, golongan senyawa dari simplisia daun sirsak, dan aktivitas sitotoksisitas ekstrak daun sirsak terhadap larva Artemia salina Leach. Karakterisasi simplisia daun sirsak dilakukan dengan pemeriksaan kadar air, kadar sari yang larut dalam air, kadar sari yang larut dalam etanol, kadar abu total dan kadar abu yang tidak larut dalam asam. Ekstrak daun sirsak dilakukan secara perkolasi bertingkat dengan menggunakan pelarut n-heksan, etilasetat dan etanol. Terhadap masing-masing ekstrak diuji aktivitas sitotoksisitasnya dengan metode brine shrimp lethally test. Data diolah menggunakan analisis regresi linear untuk memperoleh harga LC50. Hasil karakterisasi simplisia memberikan kadar air 5,97%, kadar sari yang larut dalam air 18,19%, kadar sari larut dalam etanol 15,06%, kadar abu total 5,42%, dan kadar abu yang tidak larut dalam asam 0,25% . Hasil pemeriksaan mikroskopik tampak sel epidermis, kutikula tebal, terdapat stomata tipe anomositik, rambut penutup. Berkas pembuluh tipe kolateral dan dikelilingi oleh serabut. Hasil uji sitotoksisitas dari ekstrak n-heksana, etilasetat, dan etanol simplisia daun sirsak terhadap larva Artemia salina Leach ditunjukkan dengan nilai LC50 berturut-turut 3,66µg/ml, 1,75 µg/ml, dan 0,73 µg/ml. Kata kunci: daun sirsak, uji brine shrimp, Artemia salina Leach. Universitas Sumatera Utara SIMPLEX CHARACTERIZATION, PHYTOCHEMICALS SCREENING AND THE TEST OF CITOTOXICITY EFFECT OF SOURSOP LEAF(Annona muricata L.) EXTRACT WITH LARVAE Artemia salina Leach. ABSTRACT Soursop (Annona muricata L.) is included in the family of Annonaceae. Soursop leaves are rich in secondary metabolites are useful as a drug. Public use soursop leave to treat various diseases, even soursop leave boilde is said to be used as an alternative medicine for cancer.The purpose of the study was to obtain information about the charactheries of the soursop leave, group compound from the leaves of the soursop simplex, and citotoxicity activity of soursop leave extract with larvae Artemia salina Leach. Characterization of simplex the soursop leave is includes the determination of the water content, water soluble extractive, ethanolsoluble extractive, total ash value and acid insoluble ash value. The soursop leave was extracted by percolation method using n-hexana, ethylacetate, and ethanol as solvents. The citotoxicity activity of each extract was tested with brine shrimp method. To obtain the LC50, the data were analyzed using linear regression analysis. The result of simplex characterization gave the water content 5.97%, the water soluble extractive 18.19%, the ethanol soluble extractive 15.06%, the total ash value 5.42% and the acid insoluble ash value 0.25%. The result of microscopic examination of suorsop leave showed an epidermis, thick cuticle, anomocitic stomata, covering hair, collateral vascular bundle is peripheried by fibers. The result of the citotoxicity activity of the n-hexana, ethylacetat, and ethanol extract of simplex of soursop leave with Artemia salina Leach showed with LC50 values were 3.66 µg/ml, 1.75 µg/ml, and 0.73 µg/ml consequtively. Key word: soursop leave, brine shrimp test, Artemia salina Leach. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keampuhan pengobatan herbal banyak dibuktikan melalui berbagai pengalaman. Berbagai macam penyakit yang tidak dapat disembuhkan secara medis ternyata masih bisa diatasi dengan pengobatan herbal, contohnya penyakit kanker (Agromedia, 2008). Salah satu tanaman yang digunakan dalam pengobatan herbal yakni tanaman sirsak yang termasuk dalam famili Annonaceae. Diperkirakan sejak tahun 1940 tanaman sirsak telah digunakan sebagai pengobatan herbal. Masyarakat Brasil merupakan masyarakat yang pertama kali memanfaatkan tanaman sirsak untuk dijadikan obat baik bagian daun, biji, buah, batang, dan akar. Daun sirsak dikatakan dapat berkhasiat untuk pengobatan kanker, yakni dengan mengkonsumsi air rebusan daun sirsak. Selain itu, tanaman sirsak juga dimanfaatkan untuk pengobatan diare, anti kejang, anti jamur, gatal-gatal dan lainlain (Taylor, 2002). Daun sirsak telah digunakan oleh sebagian masyarakat Indonesia untuk mengobati beberapa penyakit, diantaranya sebagai obat sakit pinggang, mengurangi rasa nyeri, gatal-gatal, reumatik, obat bisul, dan penurun panas. Bahkan dikatakan dapat mengobati penyakit kanker, beberapa pasien yang mengidap penyakit kanker sembuh dengan mengkonsumsi air rebusan daun sirsak. Masyarakat juga memanfaatkan daun sirsak untuk mengusir serangga dan sebagai pestisida. (Mardiana, 2011). Universitas Sumatera Utara Daun sirsak mengandung alkaloid, tanin, dan beberapa bakteri gram positif, aerob atau anaerob fakultatif berbentuk bola atau kokus berkelompok tidak teratur (menyerupai buah anggur), diameter 0,8-1,0 µm, tidak membentuk spora dan tidak bergerak, koloni berwarna kuning (Jawetz, 2001). Bakteri ini biasanya terdapat pada beberapa bagian tubuh manusia, termasuk hidung, tenggorokan dan kulit. Bakteri ini dapat menjadi penyebab infeksi terutama kulit. Infeksi yang ditimbulkannya ditandai dengan adanya peradangan dan pembentukan abses (Nurwanto, 1997). b. Bakteri Eschericia coli Sistematika bakteri Eschericia coli menurut Bergey edisi ke-7 (Dwidjoseputro, 1987) adalah sebagai berikut: Divisi : Schizophyta Kelas : Schyzomycetes Ordo : Eubacteriales Universitas Sumatera Utara Familia : Micrococcaceae Genus :Eschericia Species : Eschericia coli Eschericia colidisebut juga Bacterium coli, merupakan bakteri gram negatif, aerob atau anaerob fakultatif, panjang 1-4 µm, lebar 0,4-1,7 µm, berbentuk batang, tidak bergerak. Eschericia colibiasanya terdapat dalam saluran cerna sebagai flora normal. Bakteri ini dapat menjadi patogen bila berada diluar usus atau dilokasi lain dimana flora normal jarang terdapat (Jawetz, 2001). Escherichia coli berkembang biak pada suhu 40°C dan bakteri ini akan mati pada suhu 60°C selama 30 menit, bila dilihat dibawah mikroskop maka kumpulan Escherichia coli berwarna merah (Nurwanto, 1997). Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme dapat meliputi temperatur, pH, tekanan osmotik, oksigen dan nutrisi dalam media pertumbuhan (Pratiwi, 2008). 1. Temperatur Pertumbuhan bakteri sangat dipengaruhi oleh temperatur. Setiap mikroorganisme mempunyai temperatur optimum yaitu temperatur di mana terjadi kecepatan pertumbuhan optimal dan dihasilkan jumlah sel yang maksimal. Temperatur yang terlalu tinggi dapat menyebabkan denaturasi protein sedangkan temperatur yang sangat rendah aktivitas enzim akan terhenti. Berdasarkan batas temperatur dibagi atas tiga golongan: Universitas Sumatera Utara a. psikrofil, tumbuh pada temperatur -5 sampai 30°C dengan optimum 10 sampai 20°C. b. mesofil, tumbuh pada temperatur 10 sampai 45°C dengan optimum 20 sampai 40°C. c. termofil, tumbuh pada temperatur 25 sampai 80°C dengan optimum 50 sampai 60°C (Pratiwi, 2008). 2. Derajat keasaman (pH) pH optimum bagi kebanyakan bakteri terletak antara 6,5 dan 7,5. Namun ada beberapa mikroorganisme yang dapat tumbuh pada keadaan yang sangat asam atau alkali (Pelczar dan Chan, 2006). 3. Oksigen Berdasarkan kebutuhan oksigen mikroorganisme dibagi menjadi 5 golongan yaitu: a. anaerob obligat, hidup tanpa oksigen, oksigen toksik terhadap golongan ini. b. anaerob aerotoleran, tidak mati dengan adanya oksigen. c. anaerob fakultatif, mampu tumbuh baik dalam suasana dengan atau tanpa oksigen. d. aerob obligat, tumbuh subur bila ada oksigen jumlah besar. e. mikroaerofilik, hanya tumbuh baik dalam tekanan oksigen yang rendah (Pratiwi, 2008). Universitas Sumatera Utara 4. Tekanan osmosis Air merupakan bahan yang sangat penting bagi pertumbuhan bakteri karena 80%-90% bakteri tersusun dari air. Tekanan osmosis sangat diperlukan untuk mempertahankan bakteri agar tetap hidup. Apabila bakteri berada dalam larutan yang konsentrasinya lebih tinggi daripada konsentrasi yang ada dalam sel bakteri, maka cairan dari sel akan keluar melalui membrane sitoplasma yang disebut plasmolisis (Nurwanto, 1997). 5. Nutrisi Nutrisi merupakan substansi yang diperlukan untuk biosintesis dan pembentukan energi. Berdasarkan kebutuhannya, nutrisi dibedakan menjadi dua yaitu makroelemen (elemen yang diperlukan dalam jumlah banyak) dan mikroelemen (trace element yaitu elemen nutrisi yang diperlukan dalam jumlah sedikit) (Lay, 1994). Bahan nutrisi untuk pertumbuhan mikroorganisme terdapat pada media. Media juga dapat digunakan untuk membedakan mikroorganisme dengan mengetahui habitatnya (Pratiwi, 2008). Menurut kegunaannya media terdiri dari: a. Media selektif merupakan media yang digunakan untuk memacu pertumbuhan suatu mikroba yang spesifik dengan menekan pertumbuhan mikroba lainnya. Dengan menggunakan media ini kita dapat menyeleksi mikroorganisme tertentu. b. Media differensial digunakan untuk menyeleksi suatu mikroorganisme dari berbagai jenis dalam suatu lempengan (plate) agar. Universitas Sumatera Utara c. Media diperkaya (fortified media) digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme yang diperoleh dari lingkungan alami karena jumlah mikroorganisme yang diinginkan terdapat dalam jumlah sedikit. Mikroorganisme ditanam pada media yang sesuai dalam waktu tertentu akan tumbuh memperbanyak diri, maka dapat dilihat suatu grafik pertumbuhan yang dapat dibagi dalam 4 fase menurut (Dwidjoseputro, 1987) yaitu: 1. Fase penyesuaian diri (lag phase) Fase pertama ini mikroorganisme mengalami penyesuaian pada lingkungan baru setelah pemindahan. Pada fase ini tidak terjadi perkembangbiakan sel, yang ada hanya peningkatan ukuran sel dan aktivitas metabolisme. 2. Fase pembelahan (log phase) Fase kedua ini mikroorganisme berkembang dengan cepat yang jumlahnya meningkat secara eksponansial. Fase ini berlangsung selama 18-24 jam. 3. Fase stasioner (stationary phase) Fase ketiga terjadi keseimbangan antara jumlah sel yang membelah dengan jumlah sel yang mati. Hal ini terjadi karena akumulasi hasil metabolisme yang toksis. 4. Fase kematian (death phase) Fase dimana jumlah sel yang mati meningkat dikarenakan keadaan lingkungan seperti ketidaksediaan nutrisi dan akumulasi hasil metabolisme yang toksik. Universitas Sumatera Utara 2.3.2 Uji aktivitas antimikroba Uji kepekaan terhadap obat antimikroba pada dasarnya dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu: a. Metode dilusi Cara ini digunakan untuk menentukan KHM (kadar hambat minimum) dan KBM (kadar bunuh minimum) dari obat antimikroba. Prinsip dari metode dilusi adalah sebagai berikut: Menggunakan satu seri tabung reaksi yang diisi media cair dan sejumlah tertentu sel mikroba yang diuji. Kemudian masing-masing tabung diuji dengan obat yang telah diencerkan secara serial. Seri tabung diinkubasi pada suhu 37°C selama 18-24 jam dan diamati terjadinya kekeruhan pada tabung. Konsentrasi terendah obat pada tabung yang ditunjukkan dengan hasil biakan yang mulai tampak jernih (tidak ada pertumbuhan mikroba) adalah KHM dari obat. Kosentrasi terendah obat pada biakan padat yang ditunjukkan dengan tidak adanya pertumbuhan koloni mikroba adalah KBM dari obat terhadap bakteri uji (Pratiwi, 2008). b. Metode difusi Metode disc diffusion (tes Kirby dan Bauer) untuk menentukan aktivitas agen antimikroba. Piringan yang berisi agen antimikroba diletakkan pada media agar yang telah ditanami mikroorganisme yang akan berdifusi pada media agar tersebut. Area jernih mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan mikroorganisme oleh agen antimikroba pada permukaan media agar (Pratiwi, 2008). Universitas Sumatera Utara c. Metode turbidimetri Ke dalam tabung reaksi ditambahkan 1 ml larutan antibiotik dan 9 ml inokulum. Diinkubasikan pada suhu 30°C selama 3-4 jam. Setelah diinkubasi, ditambahkan 0,5 ml formaldehid. Serapan diukur dengan spektrofotometer pada 530 nm. Kadar antibiotik ditentukan berdasarkan perbandingan serapannya terhadap serapan standar (Wattimena, 1991). Universitas Sumatera Utara BAB III METODE PENELITIAN Metode yang digunakan adalah metode eksperimental parametrik meliputi pengumpulan dan pengolahan bahan tumbuhan, skrining fitokimia, pembuatan ekstrak dan fraksinasi ekstrak. Selanjutnya pengujian aktivitas antibakteri dengan metode difusi agar menggunakan cakram kertas. Parameter yang dilihat adalah besarnya diameter hambat pertumbuhan bakteri. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fitokimia dan Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. 3.1 Alat-alat Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah alat-alat gelas, autoklaf (Fisons), blender (Philips), bola karet,cakram kertas (diameter 6 mm), freeze dryer(Modulio), inkubator (Fiber Scientific), jangka sorong, jarum ose, kamera digital (Samsung), kertas saring, kompor gas (Sharp), Laminar Air Flow Cabinet(Astec HLF 1200L), lemari pendingin (Toshiba), oven (Memmert), penangas air,pinset, pipet mikro (Eppendorf),rotary evaporator (Haake D), spektrofotometer visible (Dynamic), timbangan digital (Mettler Toledo). Universitas Sumatera Utara 3.2 Bahan-Bahan Bahan- bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun sirsak, nutrient agar,nutrient broth, bakteriStaphylococcus aureus (ATCC No. 6538) dan Escherichia coli (ATCC No. 25922), akuades, bahan kimia yang digunakan berkualitas pro analisa, kecuali dinyatakan lain: alfa-naftol, amil alkohol, asam asetat anhidrida, asam klorida pekat, asam nitrat pekat, asam sulfat pekat, benzen, besi (III) klorida, bismut (III) nitrat, dimetil sulfoksida (DMSO), etanol, etil asetat, iodium, isopropanol, kalium iodida, kloroform,kristal natrium hidroksida, metanol Air % Kadar Sari Larut Dalam Air = 1. Berat simplisia Berat sari = 5,0020 g = 0,2800 g % Kadar Sari Larut Dalam Air = 2. Berat simplisia x 100% x 100% = 27,98% = 5,0040 g Universitas Sumatera Utara Berat sari = 0,2900 g % Kadar Sari Larut Dalam Air = 3. Berat simplisia Berat sari x 100% = 28,98% = 5,0020 g = 0,3000 g % Kadar Sari Larut Dalam Air = x 100% = 29,98% % Kadar sari larut dalam air rata-rata = 3. Perhitungan Kadar Sari Yang Larut Dalam Etanol % Kadar Sari Larut Dalam Etanol = 1. Berat simplisia Berat sari = 5,0020 g = 0,1660 g % Kadar Sari Larut Dalam Etanol = 2. Berat simplisia Berat sari Berat sari x 100% = 16,59% = 5,0040 g = 0,1710 g % Kadar Sari Larut Dalam Etanol = 3. Berat simplisia x 100% x 100% = 17,09% = 5,0000 g = 0,1650 g % Kadar Sari Larut Dalam Etanol = x 100% = 16,50% % Kadar Sari Larut Dalam Etanol ratarata= = 16,73% Universitas Sumatera Utara 4. Perhitungan Kadar Abu Total % Kadar Abu Total = 1. Berat simplisia Berat abu % Kadar Abu Total = 2. Berat simplisia Berat abu % Kadar Abu Total = 3. Berat simplisia Berat abu % Kadar Abu Total = x 100% = 2,0003 g = 0,1878 g x 100% = 9,39% = 2,0001 g = 0,1863 g x 100% = 9,31% = 2,0005 g = 0,1875 g x 100% = 9,37% % Kadar Abu Total rata-rata = 5. Perhitungan Kadar Abu Yang Tidak Larut Dalam Asam % Kadar Abu Tidak Larut dalam Asam = 1. Berat simplisia Berat abu = 2,0003 g = 0,0087 g % Kadar Abu Tidak Larut dalam Asam= 2. Berat simplisia Berat abu x 100% 100% = 0,43% = 2,0001 g = 0,0086 g % Kadar Abu Tidak Larut dalam Asam = 100% = 0,43% Universitas Sumatera Utara 3. Berat simplisia Berat abu = 2,0005 g = 0,0089 g % Kadar Abu Tidak Larut dalam Asam = x 100% = 0,44% % Kadar Abu Yang Tidak Larut Dalam Asam rata-rata = = 0,43 % Universitas Sumatera Utara Lampiran 9. Hasil Uji Antioksidan 1. Ekstrak Etilasetat Buah Pare kukus pada Menit ke-60 Tabel Data Absorbansi Ekstrak Etilasetat Buah Pare Kukus Harga Absorbansi Hasil Pengukuran Harga Persen Konsentrasi Absorbansi Peredaman 1 2 3 Rata-rata (%) Larutan Uji 0 (blanko) 1,169 1,143 1,136 1,149 50 µg/ml 1,138 1,121 1,104 1,121 2,40% 100 µg/ml 1,115 1,096 1,082 1,098 4,44% 150 µg/ml 1,115 1,065 1,053 1,078 6,18% 200 µg/ml 1,072 1,045 1,036 1,051 8,50% % Peredaman: = x 100% Keterangan : AKontrol = Absorbansi tidak mengandung sampel Asampel = Absorbansi sampel Perhitungan % Peredaman ekstrak etilasetat buah pare kukus - Konsentrasi 50 ppm % Peredaman: = = x 100% . 100% = 2,40% - Konsentrasi 100 ppm % Peredaman: = = x 100% . 100% = 4,44% Universitas Sumatera Utara - Konsentrasi 150 ppm x 100% % Peredaman: = . 100% = = 6,18% - Konsentrasi 200 ppm % Peredaman: = x 100% . 100% = = 8,50 % 2. Ekstrak Etanol Buah Pare kukus pada Menit ke-60 Tabel Data Absorbansi Ekstrak Etanol Buah Pare Kukus Harga Absorbansi Hasil Pengukuran Konsentrasi Harga Persen Absorbansi Peredaman Rata-rata (%) Larutan Uji 1 2 3 0 (blanko) 1,072 1,071 1,076 1,073 50 µg/ml 1,062 1,066 1,0667 1,065 0,74% 100 µg/ml 1,056 1,054 1,065 1,058 1,40% 150 µg/ml 1,053 1,055 1,032 1,047 2,42% 200 µg/ml 1,013 1,015 1,010 1,013 5,59% % Peredaman: = x 100% Keterangan : AKontrol = Absorbansi tidak mengandung sampel Asampel = Absorbansi sampel Universitas Sumatera Utara Perhitungan % Peredaman ekstrak etanol buah pare kukus - Konsentrasi 50 ppm % Peredaman: = = x 100% . 100% = 0,74% - Konsentrasi 100 ppm x 100% % Peredaman: = = . 100% = 1,40% - Konsentrasi 150 ppm % Peredaman: = = x 100% . 100% = 2,42% - Konsentrasi 200 ppm % Peredaman: = = x 100% . 100% = 5,59 % Universitas Sumatera Utara 3. Ekstrak Etil Asetat Simplisia Buah Pare pada Menit ke-60 Tabel Data Absorbansi Ekstrak Etil Asetat Simplisia Buah Pare Harga Absorbansi Hasil Pengukuran Harga Persen Konsentrasi Absorbansi Peredaman 1 2 3 Rata-rata (%) Larutan Uji 0 (blanko) 1,140 1,125 1,123 1,129 50 µg/ml 1,080 1,054 1,071 1,068 5,40% 100 µg/ml 1,012 0,979 1,017 1,003 11,16% 150 µg/ml 0,971 0,964 0,972 0,969 14,17% 200 µg/ml 0,908 0,896 0,927 0,908 19,60% % Peredaman: = x 100% Keterangan : AKontrol = Absorbansi tidak mengandung sampel Asampel = Absorbansi sampel Perhitungan % Peredaman ekstrak etil asetat simplisia buah pare - Konsentrasi 50 ppm % Peredaman: = = x 100% . 100% = 5,40% - Konsentrasi 100 ppm % Peredaman: = = x 100% . 100% Universitas Sumatera Utara = 11,16% - Konsentrasi 150 ppm x 100% % Peredaman: = . 100% = = 14,17% - Konsentrasi 200 ppm % Peredaman: = x 100% . 100% = = 19,60% 4. Ekstrak Etanol Simplisia Buah Pare pada Menit ke-60 Tabel Data Absorbansi Ekstrak Etanol Simplisia Buah Pare Harga Absorbansi Hasil Pengukuran Konsentrasi Harga Persen Absorbansi Peredaman Rata-rata (%) Larutan Uji 1 2 3 0 (blanko) 1,032 1,070 1,130 1,077 50 µg/ml 0,999 1,018 1,088 1,035 3,89% 100 µg/ml 0,950 0,971 1,026 0,982 8,82% 150 µg/ml 0,900 0,928 0,985 0,938 12,91% 200 µg/ml 0,857 0,883 0,940 0,893 17,08% % Peredaman: = x 100% Keterangan : AKontrol = Absorbansi tidak mengandung sampel Universitas Sumatera Utara Asampel = Absorbansi sampel Perhitungan % Peredaman ekstrak etanol simplisia buah pare - Konsentrasi 50 ppm % Peredaman: = = x 100% . 100% = 3,89% - Konsentrasi 100 ppm x 100% % Peredaman: = = . 100% = 8,82% - Konsentrasi 150 ppm % Peredaman: = = x 100% . 100% = 12,91% - Konsentrasi 200 ppm % Peredaman: = = x 100% . 100% = 17,08 % Universitas Sumatera Utara 5. BHT Tabel Data absorbansi BHT Harga Absorbansi Hasil Pengukuran Konsentrasi Harga Persen Absorbansi Peredaman Rata-rata (%) Larutan Uji 1 2 3 0 (blanko) 1,069 0,830 1,033 0,977 50 µg/ml 0,156 0,129 0,251 0,179 81,70% 100 µg/ml 0,060 0,054 0,081 0,065 93,30% 150 µg/ml 0,054 0,053 0,065 0,057 94,20% 200 µg/ml 0,055 0,053 0,054 0,054 94,50% % Peredaman: = Keterangan : AKontrol x 100% = Absorbansi tidak mengandung sampel Asampel = Absorbansi sampel Perhitungan % Peredaman BHT - Konsentrasi 50 ppm % Peredaman: = = x 100% . 100% = 81,70 % - Konsentrasi 100 ppm % Peredaman: = x 100% Universitas Sumatera Utara = . 100% = 93,30% - Konsentrasi 150 ppm x 100% % Peredaman: = = . 100% = 94,20% - Konsentrasi 200 ppm % Peredaman: = = x 100% . 100% = 94,50% Universitas Sumatera Utara Lampiran 10. Perhitungan nilai IC50 a. Perhitungan nilai IC50 ekstrak etil asetat buah pare kukus pada menit ke60 X Y XY X2 0 0 0 0 50 2,4 120 2500 100 4,44 444 10.000 150 6,18 927 22.500 200 8,5 1700 40.000 ΣX= 500 ΣY= 21,52 ΣXY= 3191 Σ X2=75.000 X = Konsentrasi (ppm) Y = % Peredaman a = = = = 0,041 =a +b b = Y- Ax = 4,304 - (0,041).(100) = 4,304 -4,1 = 0,204 Universitas Sumatera Utara Jadi, persamaan garis regresi Y = 0,041 X + 0,204 Nilai IC50 = Y = 0,041X + 0,204 50 = 0,041 X + 0,204 X = 1224,49 IC50 = 1224,49 ppm b. Perhitungan nilai IC50 ekstrak etanol buah pare kukus pada menit ke-60 X Y XY X2 0 0 0 0 50 0,74 37 2500 100 1,40 140 10.000 150 2,42 363 22.500 200 5,59 1118 40.000 ΣX= 500 ΣY= 10,15 ΣXY= 1658 Σ X2=75.000 X = Konsentrasi (ppm) Y = % Peredaman a = = = = 0,026 =a +b b = Y- Ax = 2,03 - (0,026).(100) = 2,03 -2,6 = -0,57 Universitas Sumatera Utara Jadi, persamaan garis regresi Y = 0,026 X - 0,57 Nilai IC50 = Y = 0,026X \- 0,57 50 = 0,026 X - 0,57 X = 1945 ppm c. Perhitungan nilai IC50 ekstrak etil asetat simplisia buah pare pada menit ke-60 X Y XY X2 0 0 0 0 50 5,4 270 2500 100 11,16 1.116 10.000 150 14,17 2.125,5 22.500 200 19,6 3920 40.000 ΣX= 500 ΣY= 50,33 ΣXY= 7431,5 Σ X2=75.000 X = Konsentrasi (ppm) Y = % Peredaman a = = = = 0,09 =a +b b = Y- Ax = 10,06 - (0,09).(100) = 10,06 – 9 = 1,06 Jadi, persamaan garis regresi Y = 0,09 X + 1,06 Universitas Sumatera Utara Nilai IC50 = Y = 0,09 + 1,06 50 = 0,09 X + 1,06 X = 543,7 IC50 = 543,7 ppm d. Perhitungan nilai IC50 ekstrak etanol simplisia buah pare pada menit ke60 X Y XY X2 0 0 0 0 50 3,89 194,5 2500 100 8,82 882 10.000 150 12,91 1.936,5 22.500 200 17,08 3.416 40.000 ΣX= 500 ΣY= 42,7 ΣXY= 6429 Σ X2=75.000 X = Konsentrasi (ppm) Y = % Peredaman a = = = = 0,086 =a +b b = Y- Ax = 8,54 - (0,086).(100) = 8,54 – 8,6 = -0,06 Jadi, persamaan garis regresi Y = 0,086 X - 0,06 Universitas Sumatera Utara Nilai IC50 = Y = 0,086X - 0,06 50 = 0,086 X – 0,06 X = 582,1 IC50 = 582,1 ppm e. Perhitungan nilai IC50 BHT pada menit ke-60 X Y XY X2 0 0 0 0 50 81,7 4.085 2500 100 93,3 9.330 10.000 150 94,2 14.130 22.500 200 94,5 18.900 40.000 ΣX= 500 ΣY= 363,7 ΣXY= 46.445 Σ X2=75.000 X = Konsentrasi (ppm) Y = % Peredaman a = = = = 0,403 =a +b b = Y- Ax = 72,74 - (0,403).(100) = 72,74 – 40,3 = 32,44 Jadi, persamaan garis regresi Y = 0,403 X + 32,44 Universitas Sumatera Utara Nilai IC50 = Y = 0,403X + 32,44 50 = 0,403 X + 32,44 X = 43,57 IC50 = 43,57 ppm Universitas Sumatera Utara
Karakterisasi Simplisia, Skrining Fitokimia Dan Uji Sitotoksisitas Ekstrak Daun Tumbuhan Sirsak (Annona muricata L.) Terhadap Larva Artemia salina Leach
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Karakterisasi Simplisia, Skrining Fitokimia Dan Uji Sitotoksisitas Ekstrak Daun Tumbuhan Sirsak (Annona muricata L.) Terhadap Larva Artemia salina Leach

Gratis