Uji Anti Mikroba Ekstrak Metanol Bunga Cengkeh Terhadap Bakteri Penyebab Karies Gigi, Streptococcus Mutans

Gratis

23
200
38
3 years ago
Preview
Full text

   UJI ANTI MIKROBA EKSTRAK METANOL BUNGA CENGKEH TERHADAP BAKTERI PENYEBAB KARIES GIGI, Streptococcus mutans SKRIPSI

  Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Sains

   DESY ENAYATI 040825001 DEPARTEMEN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009 Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

  13

  10 Bab3 Bahan dan Metoda

  12

  3.1.Waktu dan Tempat

  12

  3.2 Metode Penelitian

  12

  3.3 Pengambilan Sampel Bunga Cengkeh, Bakteri Streptococcus mutans 12

  3.3.1 Pembuatan Ekstrak Bunga Cengkeh

  13

  3.3.2 Pengenceran Ekstrak Metanol Bunga Cengkeh

  3.3.3 Penyiapan Biakan Uji

   9

  13

  3.3.4 Uji Ekstrak Cengkeh Terhadap Bakteri Streptococcus mutans Dengan Metode Kirby-Bauer

  14 Bab 4 Hasil dan Pembahasan

  15

  4.1 Uji Anti Mikroba Ekstrak Metanol Bunga Cengkeh Terhadap Bakteri Streptococus mutans dan Antibiotik Amoxicilin Sebagai Pembanding 15

  Bab 5 Kesimpulan dan Saran

  5.1. Kesimpulan

  19

  5.2 Saran

  19 Daftar Pustaka

  20 Universitas Sumatera Utara

  2.4.1 Streptococcus muatans Sebagai Penyebab Karies Gigi

  Halaman Persetujuan ii

  Pernyataan iii

  2

  Penghargaan iv

  Abstrak v

  Abstract vi

  Daftar Isi vii

  Daftar Tabel viii

  Daftrar Gambar ix

  Bab 1 Pendahuluan

  1

  1.1. Latar Belakang

  1

  1.2. Permasalahan

  1.3. Tujuan

  8

  2

  1.4. Hipotesa

  2

  1.5. Manfaat

  2 Bab 2 Tinjauan Pustaka

  3

  2.1 Tanaman Cengkeh

  3

  2.2 Tipe-tipe Cengkeh

  5

  2.3 Pengeringan Bunga Cengkeh

  2.4 Karakteristik Streptococcus mutans

DAFTAR LAMPIRAN

  Halaman Lampiran A:Alur Kerja Ekstraksi Bunga Cengkeh

  22 Lampiran B :Alur Kerja Pembuatan Suspensi Bakteri Streptococcus mutans

  23 Serta Pembuatan Media Uji Lampiran C:Pengujian Ekstrak Bunga Cengkeh

  24 Lampiran D:Data Diameter Zona Hambat dan Daftar Dwikasta Zona Hambat Ekstrak Methanol Bunga Cengkeh Terhadap Bakteri Streptococcus 25

   mutans

  Lampiran E:Analisis Ragam Diameter Zona Hambat (mm) Ekstrak Metanol

  26 Bunga Cengkeh

  Universitas Sumatera Utara

  DAFTAR TABEL

  Halaman

Tabel 4.1.1 Rataan Diameter Zona Hambat (mm) Ekstrak Metanol Bunga

  16 Cengkeh terhadap Bakteri Streptococcus mutans

  Universitas Sumatera Utara

  DAFTAR GAMBAR

  halaman

Gambar 2.1.1 Cengkeh Tipe Zanzibar

  3 Gambar 4.1.1 Hasil Uji Antimikroba Ekstrak Metanol Bunga Cengkeh Terhadap Bakteri Streptococcus mutans

  15 Gambar 4.2 Hasil Uji Antibiotik Amoxicilin Terhadap Bakteri

  Streptococcus mutans

   17 Gambar 4.3 Histogram Diameter Zona Hambat Ekstrak Metanol

  Bunga Cengkeh Terhadap Bakteri Streptococcus mutans

  18 Universitas Sumatera Utara

  PERSETUJUAN

  Judul : UJI ANTI MIKROBA EKSTRAK METANOL BUNGA CENGKEH TERHADAP BAKTERI PENYEBAB KARIES GIGI, Streptococcus mutans

  Kategori : SKRIPSI Nama : DESY ENAYATI Nomor Induk Mahasiswa : 040825001 Program studi : SARJANA (S1) BIOLOGI Departemen : BIOLOGI Fakultas : MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

  (FMIPA) UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Diluluskan di Medan,

  Komisi pembimbing : Pembimbing 2

  Pembimbing 1 Dr.Dwi Suryanto, M.Sc. Dra.Nunuk Priyani, M.Sc NIP.132 089 421

  NIP.132 149 454 Diketahui/Disetujui oleh Departemen Biologi FMIPA USU Ketua, Dr.Dwi Suryanto,M.Sc NIP.132 089 421

  Universitas Sumatera Utara

  PERNYATAAN UJI ANTI MIKROBA EKSTRAK METANOL BUNGA CENGKEH

  TERHADAP BAKTERI PENYEBAB KARIES GIGI, Streptococcus mutans SKRIPSI

  Saya mengaku bahwa skripsi ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya.

  Medan, DESY ENAYATI 040825001

  Universitas Sumatera Utara

  PENGHARGAAN

  Syukur alhamdulillah saya ucapkan kepada Allah SWT, atas berkat dan rahmat Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini yang berjudul”Uji Anti mikroba

  Ekstrak Metanol Bunga Cengkeh Terhadap Bakteri Penyebab Karies Gigi, Streptococcus mutans”dalam waktu yang telah ditetapkan.

  . Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada Dr. Dwi

  Suryanto, M.Sc. dan Dra. Nunuk Priyani, M.Sc. sebagai Dosen Pembimbing 1 dan 2, serta Drs. Kiki Nurtjahja, M.Sc dan Yurnaliza, S.Si, M.Sc. sebagai Dosen Penguji 1 dan 2 yang telah banyak memberikan bimbingan perhatian, waktu dan tenaga dalam mengarahkan penulis untuk menyusun skripsi ini, dan juga kepada Ketua Departemen Biologi FMIPA USU, dan Sekretaris Departemen Biologi FMIPA USU, Prof. Dr. Erman Munir, M.Sc. sebagai Kepala Laboratorium Mikrobiologi, Dekan dan para Pembantu Dekan FMIPA USU, seluruh dosen biologi yang telah mendidik penulis selama menuntut ilmu di Departemen Biologi, tidak lupa pula kepada Kak Ros dan Bang Erwin atas pertolongannya selama ini.

  Terima kasih yang tak terhingga penulis ucapkan kepada kedua orang tua, Ayahanda H.Adnan daud dan ibunda Hj. Rosmany serta kakak-kakakku tercinta dan adikku tersayang yang telah memberikan banyak doa, cinta, kasih sayang, pengharapan dan pengorbanan, sungguh penulis tidak mampu membalasnya, kepada teman-temanku tersayang, Ginta, S.Si, Icha, Novelina, Netti, Lidia, Atika, Siti, fitri, dan teman-teman yang lain yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu yang telah banyak memberikan bantuan dan motivasi dalam penulisan skripsi ini, semoga Allah SWT yang membalasnya.

  Tidak ada gading yang tidak retak, penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan penulisan skripsi ini, akhirnya penulis sangat mengharapkan skripsi ini bermanfaat bagi kita semua. Terimakasih.

  Universitas Sumatera Utara

   ABSTRAK Penelitian tentang uji anti mikroba ekstrak metanol bunga cengkeh terhadap bakteri penyebab karies, Streptococcus mutans telah dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas

Sumatera Utara dari April sampai Agustus 2008. Pengujian antimikroba ini

menggunakan metode difusi cakram Kirby-Bauyer. Perlakuan yang digunakan adalah konsentrasi ekstrak metanol bunga cengkeh yang meliputi 0 , 20, 40, 60, 80% sebagai pembanding digunakan antibiotik 250mg/ml, Hasil uji menunjukkan bahwa ekstrak metanol bunga cengkeh ini mempunyai aktivitas untuk menghambat pertumbuhan bakteri S. mutans, aktivitas anti mikroba terkecil ditunjukkan di dalam kosentrasi 20 % dengan diameter hambatan sebesar 6,59 mm dan konsentrasi tertinggi 80% dengan diameter hambatnya sebesar 11,77 mm. Aktivitas anti mikroba ekstrak bunga cengkeh masih lebih kecil dibandingkan dengan antibiotik amoxicilin, dengan diameter hambatan sebesar 24,66 mm.

  Universitas Sumatera Utara TEST ANTI MICROBIAL EXTRACT METHANOL CLOVE ACTIVITY BACTERIA CAUSED TEETH CARIES, Streptococcus mutans

  ABSTRACT

  The effect of anti microbial clove methanol extract activity on bacterial caused caries, Streptococcus mutans, has been conducted in Microbiology Laboratory, Biology Department, Faculty Of Mathematic and Natural Sciences, North Sumatra University from April to September 2008. Kirby-bauer disk diffusion method was used as a method to anti microbial assay. Treatmens used was crude clove methanol extract concertation which were 0, 20, 40, 60 and 80%, where us as comparison antibiotic amoxicillin 250 mg/ml was used in this experiment. The results showed that clove methanol extracts have an effect on the growth of Streptococcus mutans, the lowest anti microbial activity was shown by 20% with inhibition zone was 6. 59 mm, while highest anti microbial activity was shown by 80% with inhibition zone was 11. 77 mm, the results were slightly lower than the inhibition zone caused by amoxicillin wich was 24. 66 mm.

  Universitas Sumatera Utara

   ABSTRAK Penelitian tentang uji anti mikroba ekstrak metanol bunga cengkeh terhadap bakteri penyebab karies, Streptococcus mutans telah dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas

Sumatera Utara dari April sampai Agustus 2008. Pengujian antimikroba ini

menggunakan metode difusi cakram Kirby-Bauyer. Perlakuan yang digunakan adalah konsentrasi ekstrak metanol bunga cengkeh yang meliputi 0 , 20, 40, 60, 80% sebagai pembanding digunakan antibiotik 250mg/ml, Hasil uji menunjukkan bahwa ekstrak metanol bunga cengkeh ini mempunyai aktivitas untuk menghambat pertumbuhan bakteri S. mutans, aktivitas anti mikroba terkecil ditunjukkan di dalam kosentrasi 20 % dengan diameter hambatan sebesar 6,59 mm dan konsentrasi tertinggi 80% dengan diameter hambatnya sebesar 11,77 mm. Aktivitas anti mikroba ekstrak bunga cengkeh masih lebih kecil dibandingkan dengan antibiotik amoxicilin, dengan diameter hambatan sebesar 24,66 mm.

  Universitas Sumatera Utara TEST ANTI MICROBIAL EXTRACT METHANOL CLOVE ACTIVITY BACTERIA CAUSED TEETH CARIES, Streptococcus mutans

  ABSTRACT

  The effect of anti microbial clove methanol extract activity on bacterial caused caries, Streptococcus mutans, has been conducted in Microbiology Laboratory, Biology Department, Faculty Of Mathematic and Natural Sciences, North Sumatra University from April to September 2008. Kirby-bauer disk diffusion method was used as a method to anti microbial assay. Treatmens used was crude clove methanol extract concertation which were 0, 20, 40, 60 and 80%, where us as comparison antibiotic amoxicillin 250 mg/ml was used in this experiment. The results showed that clove methanol extracts have an effect on the growth of Streptococcus mutans, the lowest anti microbial activity was shown by 20% with inhibition zone was 6. 59 mm, while highest anti microbial activity was shown by 80% with inhibition zone was 11. 77 mm, the results were slightly lower than the inhibition zone caused by amoxicillin wich was 24. 66 mm.

  Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Banyak masyarakat yang mengalami sakit gigi yang sangat tidak tertahankan dan sangat mengganggu aktivitas. Ada sebagian orang beranggapan bila sakit gigi mereka ingin segera mencabut gigi mereka, padahal hal ini tidak bisa dilakukan karena jaringan di sekitar gigi terinfeksi sehingga tidak bisa dilakukan pencabutan, ada juga masyarakat yang meredakan rasa sakit dengan meletakkan minyak cengkeh ke dalam lubang gigi tersebut, dan ada juga dengan berkumur-kumur daun sirih atau minum antibiotik, semua hal tersebut bagus dilakukan untuk tahap pertama menanggulangi sakit gigi. Sakit gigi bisa disebabkan adanya kerusakan gigi berupa lubang gigi atau

  

karies tersebut adalah merupakan suatu proses dari mulai hilangnya mineral pada

  permukaan email hingga terjadinya suatu kavitas atau lubang ini makan waktu yang relatif lama dan juga karena adanya suatu kuman pada gigi tersebut (Miller, 1889).

  Mengingat bahwa proses karies sangat lama, maka karies merupakan kerusakan pada jaringan gigi. Pada gambaran mikroskopik seorang ahli kimia melihat dari aspek hubungan antara perubahan pH dan kelarutan mineral dari jaringan gigi, sedangkan seorang ahli mikrobiologi memandang sebagai interaksi yang melibatkan mikroorganisme, dan dokter gigi memandang dari gambaran kliniknya (Legler & Manaker, 1980). Meskipun secara tidak langsung karies tidak menimbulkan kematian, penjalaran dengan segala akibatnya menyebabkan banyak kerugian dalam hal kehilangan waktu dan biaya untuk menanggulanginya. Karies yang baru mencapai email tentunya tidak dirasakan keluhan apa-apa, namun jika penjalaran karies sudah mencapai jaringan dentin, maka rasa ngilu tidak bisa terhindari karena dentin adalah jaringan vital yang sangat sensitif, jika perjalanan sudah mencapai pulpa rasa sakit akan sangat mengganggu dan sangat nyeri (Newbrun, 1978; Mandel, 1983).

  Rasa ngilu atau rasa sakit tersebut umumnya merupakan penyebab utama seseorang meminta pertolongan dokter gigi. Namun karies kronik tidak selalu menimbulkan rasa sakit misalnya karies yang belum mencapai dentin. Dalam hal ini seseorang tidak menyadari bahwa suatu penyakit dan cacat sudah terjadi sehingga tidak berusaha untuk mencari pertolongan ke dokter gigi untuk penanggulangan dikorelasikan dengan jumlah kavitas yang ada, bakteri ini terutama melekat pada plak pada bidang-bidang karies. Bakteri ini merupakan bakteri patogen pada mulut yang merupakan agen penyebab utamanya plak, ginggivitis dan karies (Lee et al., 1992).

  1.2 Permasalahan

  Banyak masyarakat yang menanggu langi rasa sakit gigi dengan kumur-kumur air garam, atau air sirih dan meneteskan minyak cengkeh ke bagian gigi yang sakit. Dalam hal ini kemampuan ekstrak bunga cengkeh yang mengandung minyak atsiri terhadap pertumbuhan bakteri patogen Streptococcus mutans belum diketahui secara pasti, oleh karena itu perlu diketahui bagaimana pengaruh pemberian ekstrak bunga cengkeh terhadap pertumbuhan bakteri penyebab karies gigi Streptococcus mutans.

   Tujuan Penelitian

  1.3 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan ekstrak bunga cengkeh dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. mutans pada karies gigi.

  1.4 Hipotesis

  Ekstrak bunga cengkeh dalam konsentrasi tertentu dapat menghambat pertumbuhan bakteri S. mutans.

   Manfaat

  1.5 Sebagai bahan informasi tentang manfaat bunga cengkeh dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. mutans sehingga dapat diaplikasikan lebih lanjut.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Cengkeh

  Cengkeh (Syzygium aromaticum, syn. Eugenia aromaticum), dalam bahasa Inggris disebut cloves, adalah tangkai bunga kering beraroma dari suku Myrtaceae. Cengkeh adalah tanaman asli Indonesia, banyak digunakan sebagai bumbu masakan pedas di negara-negara Eropa, dan sebagai bahan utama rokok kretek khas Indonesia. Cengkeh juga digunakan sebagai bahan dupa di Tiongkok dan Jepang. Minyak cengkeh digunakan di aromaterapi dan juga untuk mengobati sakit gigi. Cengke h ditanam terutama di Indonesia (Kepulauan Banda) dan Madagaskar, juga tumbuh subur di Zanzibar (Gambar 2.1.1), India, Sri Lanka (Aksan, 2008).

Gambar 2.1.1 Cengkeh tipe Zanzibar (Aksan, 2008)

  Pohon cengkeh merupakan tanaman tahunan yang dapat tumbuh dengan tinggi mencapai 10-20 m, mempunyai daun berbentuk lonjong yang berbunga pada pucuk- pucuknya. Tangkai buah pada awalnya berwarna hijau, dan berwarna merah jika sudah mekar. Cengkeh akan dipanen jika sudah mencapai panjang 1,5-2 cm. Tumbuhan ini adalah flora identitas Provinsi Maluku Utara, pohonnya dapat tumbuh tinggi mencapai 20-30 m dan dapat berumur lebih dari 100 tahun.Tajuk tanaman cengkeh umumnya berbentuk kerucut, piramid atau piramid ganda, dengan batang agak mendatar dengan ukuran relatif kecil jika dibandingkan batang utama. Daunnya kaku berwarna hijau atau hijau kemerahan dan berbentuk elips dengan kedua ujung runcing. Daun-daun ini biasa keluar setiap periode dalam satu periode ujung ranting akan mengeluarkan satu set daun yang terdiri dari dua daun yang terletak saling berhadapan, ranting daun secara keseluruhan akan membentuk suatu tajuk yang indah (Soenardi, 1981).

  Tanaman cengkeh mulai berbunga pada umur 4,5 sampai 8 tahun tergantung dari jenis dan lingkungannya. Bunga ini merupakan bunga tunggal, berukuran kecil panjang 1-2 cm dan tersusun dalam satu tandan yang keluar dari ujung-ujung ranting, setiap tandan terdiri dari 2-3 cabang. Bakal bunga biasanya keluar setelah pasangan daun kelima dari satu set daun termuda telah dewasa atau mencapai ukuran normal fase ini disebut fase mepet tua, bakal bunga ini kadang-kadang keluar setelah daun pertama, kedua, atau ketiga tidak lagi membentuk bakal daun, tetapi langsung membentuk bakal bunga fase ini disebut fase mepet muda, bakal bunga ini bisa dibedakan dari bakal daun yaitu bakal bunga berwarna hijau, berujung tumpul, dan ruas dibawahnya sedikit membengkak sedangkan bakal daun berwarna merah dan berujung lancip (Agus, 2004).

  Bakal bunga keluar pada musim hujan (Oktober-Desember) bila bakal bunga mulai keluar dan kekurangan sinar matahari mendung terus menerus atau terjadi penurunan suhu malam sampai di bawah 17°C, maka bakal bunga akan berubah menjadi bakal daun sehingga ranting tersebut gagal menghasilkan bunga. Hal semacam ini bisa terjadi pada saat bakal bunga mulai berbentuk cabang. Apabila lingkungannya baik bakal bunga akan berkembang membentuk cabang-cabangnya dalam waktu 1-2 bulan, bila cabang-cabang telah terbentuk dari ujung cabang terakhir akan keluar kuncup-kuncup bunga yang disebut ukuran kecil, fase ini disebut dengan sebutan mata yuyu, selanjutnya dalam waktu 5-6 bulan setelah itu (April-Juli), bunga telah matang dan siap untuk dipetik (Soenardi, 1981).

  Bunga cengkeh yang tidak dipetik pada saat matang dalam waktu beberapa hari akan mekar biasanya pada pagi atau sore hari beberapa saat sebelum atau setelah bantuan angin atau serangga (Danarti & Najiyati, 1991). Cengkeh sering digunakan untuk bumbu masakan baik dalam bentuk utuh atau sebagai bubuk. Bumbu ini digunakan di Eropa dan Asia. Di Indonesia cengkeh digunakan sebagai bahan rokok kretek dan untuk obat sakit gigi, di Jepang cengkeh digunakan untuk bahan dupa, sebagai aromaterapi .

  Pada abad keempat, pemimpin Dinasti Han dari Tiongkok memerintahkan setiap orang yang mendekatinya sebelumnya mengunyah cengkeh, agar harum napasnya. Cengkeh, pala, dan merica sangat mahal di zaman Romawi kuno. Cengkeh menjadi bahan tukar menukar oleh bangsa Arab di abad pertengahan. Pada akhir abad ke-15, orang Portugis mengambil alih jalan tukar menukar di Laut India. Bersama itu diambil alih juga perdagangan cengkeh dengan perjanjian Tordesillas dengan Spanyol, selain itu juga dengan perjanjian dengan Sultan dari Ternate. Orang Portugis membawa banyak cengkeh yang mereka peroleh dari kepulauan Maluku ke Eropa. Pada saat itu harga 1 kg cengkeh sama dengan harga 7 gram emas (Hamid, 2008). Perdagangan cengkeh akhirnya didominasi oleh orang Belanda pada abad ke-17. Dengan susah payah orang Prancis berhasil membudayakan pohon cengkeh di Mauritius pada tahun 1770. Akhirnya cengkeh dibudidayakan di Guyana, Brasilia dan Zanzibar (Aksan, 2008).

2.2 Tipe-tipe Cengkeh

  Di Indonesia banyak sekali ditemukan tipe-tipe cengkeh yang satu sama lain sulit sekali dibedakan, misalnya tipe ambon, raja, sakit, indari, dokiri, afo dan tauro. Perkawinan antara berbagai tipe ini membentuk tipe-tipe baru sehingga tipe-tipe cengkeh di Indonesia sangat sulit digolongkan. Cengkeh di Indonesia dapat digolongkan menjadi 4 yaitu: si putih, sikotak, zanzibar dan ambon. Dengan pertimbangan bahwa tipe sikotak mirip dengan zanzibar dan siputih mirip dengan tipe ambon, maka pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri saat ini hanya memusatkan perhatian pada tipe zanzibar dan tipe ambon, sifat masing-masing tipe cengkeh itu adalah sebagai berikut: Daun cengkeh si putih berwarna hijau muda (kekuningan) dengan helaian daun relatif lebih besar. Cabang-cabang utama yang pertama mati sehingga percabangan seolah baru dimulai pada ketinggian 1,5 -2 m dari permukaan tanah, cabang dan daun jarang sehingga kelihatan kurang rindang mahkota berbentuk bulat dan agak bulat, relatif lebih besar dari sikotak dengan jumlah pertandan kurang dari 15 kuntum, Bila bunganya masak tetap berwarna hijau muda atau putih dan tidak berubah menjadi kemerahan, tangkai bunganya relatif panjang, mulai berproduksi pada umur 6,5 sampai 8,5 tahun, produksi dan kualitas bunganya rendah (Soenardi, 1981) .

  Cengkeh si kotak Daun cengkeh si kotak mulanya berwarna hijau muda kekuningan kemudian berubah menjadi hijau tua dengan permukaan atas licin dan mengkilap, helaian daunnya agak langsing dengan ujung agak membulat, cabang utama yang pertama hidup, sehingga percabangan kelihatan rendah sampai permukaan tanah. Ruas daun dan cabang rapat merimbun, mahkota bunga berbentuk piramid atau silindris, bunganya relatif kecil dibanding dengan si putih bertangkai panjang antara 20-50 kuntum pertandan, mulai berbunga pada umur 6,5 sampai 8,5 tahun bunganya berwarna hijau ketika masih muda dan menjadi kuning saat matang dengan pangkal berwarna merah, adaptasi dan produksinya lebih baik dari pada si putih tetapi lebih rendah dari zanzibar dengan kualitas sedang (Danarti & Najiyati, 1991).

  Cengkeh tipe Zanzibar Tipe ini merupakan tipe cengkeh terbaik sangat dianjurkan karena adanya adaptasi yang luas, produksi tinggi dan berkualitas baik, daun mulanya berwarna merah muda kemudian berubah menjadi hijau tua mengkilap pada permukaan atas dan hijau pucat memudar pada permukaan bawah, pangkal tangkai daun berwarna merah bentuk daunnya agak langsing dengan bagian terlebar tepat di tengah, ruas daun dan percabangan sangat rapat merimbun, cabang utama yang pertama hidup sehingga percabangannya rapat dengan permukaan tanah dengan sudut-sudut cabang lancip pada umur 4,5 sampai 6,5 tahun sejak disemaikan, bunganya agak langsing bertangkai pendek ketika muda berwarna hijau dan menjadi kemerahan setelah matang petik percabangan bunganya banyak dengan jumlah bunga bisa lebih dari 50 kuntum pertandannya (Soenardi, 1981). Cengkeh tipe Ambon Tipe cengkeh ini tidak dianjurkan untuk ditanam karena produksi dan daya adaptasinya rendah kualitas hasil yang kurang baik, daun yang muda berwarna ros muda atau hijau muda (lebih muda dari zanzibar), daun yang tua permukaan atasnya berwarna hijau tua dan kasar sedang permukaan bawah berwarna hijau keabu-abuan, daunnya agak lebar kira-kira 2/3 kali panjangnya, cabang dan daunnya jarang sehingga tampak kurang rimbun, mahkotanya agak bulat atau bulat bagian atas agak tumpul sedang bagian bawah agak meruncing, cabang-cabang utamanya mati sehingga seolah percabangannya mulai dari ketinggian 1,5 sampai 2 m tipe ini mulai berbunga pada umur 6,5 sampai 8,5 tahun sejak di semai bunganya agak gemuk dan bertangkai panjang berwarna hijau saat muda dan kuning saat matang petik percabangan bunganya sedikit dengan jumlah bunga kurang dari 15 kuntum pertandan (Agus, 2004).

  Adapun daerah yang cocok untuk ditanami cengkeh adalah terletak pada ketinggian 0-900 m dpl paling optimum pada 300-600 m dpl atau terletak pada ketinggian 900m dpl tetapi menghadap ke laut, suhunya 20-30°C pada malam hari tidak boleh kurang dari 17°C, mempunyai bulan kering berturut-turut dengan sedikit hujan dan mendung, bulan kering tidak boleh melibihi 3 bulan berturut-turut kecuali bila tersedia air irigasi yang cukup banyak dan juga tidak ada curah hujan yang melebihi 50-60 mm/perhari, dan juga tidak adanya kabut pada musim bunga mencapai fase mata yuyu, tidak ada angin kencang dimusim kemarau tanahnya juga harus gembur kedalamannya kira-kira lebih dari 2 m, tanah memiliki pH antara 5,5-

  6,5, serta kedalaman air tanah pada musim hujan tidak lebih dangkal dari 3m dari 8m (Danarti & Najiyati, 1991).

  Bunga cengkeh yang telah dirontokkan atau di petik dari tangkainya kemudian dikeringkan, pengeringan dapat dilakukan dengan penjemuran langsung dibawah sinar matahari atau dengan alat pengeringan buatan. Bunga cengkeh yang akan dijemur dihamparkan pada alas tikar, anyaman bambu atau plastik, apabila bunga cengkeh yang akan dijemur jumlahnya banyak maka sebaiknya penjemuran dilakukan dilantai semen yang diatasnya diberi alas plastik, dengan cara penjemuran seperti ini maka bila hujan turun plastik tersebut dapat langsung di gulung dan bunga cengkeh ditutupi dengan plastik lainnya, selama proses pengeringan bunga cengkeh di bolak balik agar keringnya merata proses pengeringan di anggap selesai bila warna bunga telah berubah menjadi coklat kemerahan, mengkilat, mudah di patahkan dengan jari tangan dan kadar air telah mencapai kira-kira 12%, lamanya waktu penjemuran dibawah sinar matahari berlangsung selama 4-6 hari (Soenardi, 1981).

  Pengeringan bunga cengkeh dapat dilakukan juga dengan menggunakan alat pengering tipe bak (batch dryer) bunga cengkeh diletakkan di atas bak yang terbuat dari logam yang berlubang udara panas kemudian di alirkan ke bawah bak dengan bantuan kipas, sumber panas diperoleh dengan cara membakar sekam padi, arang atau menggunakan minyak tanah, dengan menggunakan alat buatan ini dibutuhkan waktu pengeringan 2-3 hari (Agus, 2004). Bunga cengkeh mengandung minyak atsiri, fixed oil (lemak), resin, tannin, protein, cellulosa, pentosan dan mineral, karbohidrat terdapat dalam jumlahnya bervariasi tergantung dari banyak faktor diantaranya jenis tanaman, tempat tumbuh dan cara pengolahan (Purseglove et al., 1981). Zat yang terkandung di dalam cengkeh bernama eugenol sering digunakan dokter gigi untuk menghilangkan rasa sakit pada gigi yang karies dan bahan dasar penambalan gigi, eugenol yang diproses lebih lanjut akan menghasilkan iso-eugenol yang digunakan untuk pembuatan parfum dan vanilin sintesis, minyak cengkeh juga digunakan untuk bahan baku pembuatan balsem cengkeh dan obat kumur (Hamid, 2008). Minyak atsiri akhir-akhir ini menarik perhatian dunia, karena ada beberapa jenis minyak atsiri dapat digunakan sebagai bahan antiseptik internal atau eksternal, sebagai bahan analgesik, minyak atsiri juga mempunyai sifat membius, merangsang, disamping itu beberapa jenis minyak atsiri lainnya dapat digunakan sebagai obat cacing (Guenther, 1987).

2.4 Karakteristik Streptococcus mutans

  Klasifikasi Streptococcus mutans menurut Bergey dalam Capucino (1998) adalah: Kingdom : Monera Divisio : Firmicutes Class : Bacilus Order : Lactobacilalles Family : Streptococcaeae Genus : Streptococcus Species : Streptococcus mutans.

  Streptococcus mutans adalah salah satu jenis bakteri yang mendapat perhatian

  khusus, karena kemampuannnya dalam proses pembentukan plak dan karies (Joklik et

al., 1980; Nolte, 1982). Bakteri Streptococcus mutans pertama kali ditemukan oleh J.

Kilian Clark pada tahun 1924 dia seorang mikrobiologis, bakteri ini pertama kali diisolasi dari plak gigi oleh Clark pada tahun 1924 yang memiliki kecendrungan berbentuk coccus dengan formasi rantai panjang apabila ditanam pada medium yang diperkaya seperti pada Brain Heart Infusion (BHI), Michalek dan Mc Ghee (1982) serta Nolte (1982) menyatakan bahwa media selektif untuk pertumbuhan S. mutans adalah agar Mitis Salivarus yang menghambat kebanyakan bakteri mulut lainnya kecuali Streptococcus, penghambatan pertumbuhan bakteri mulut lainnya pada agar Milis Salivarus disebabkan karena kadar biru trypan disamping itu media ini juga mengandung kristal violet, terulit dan sukrosa berkadar tinggi. Streptococcus mutans yang tumbuh pada agar Mitis Salivarus memperlihatkan bentuk koloni halus berdiameter 0,5-1,5 mm, cembung, berwarna biru tua dan pada pinggiran kaloni kasar serta berair membentuk genangan disekitarnya, seperti bakteri Streptococcus lainnya bakteri ini bersifat gram positif, selnya berbentuk bulat atau lonjong dengan dimeter 1 mm dan tersusun dalam bentuk rantai (Michalek dan Mc Ghee, 1982).

  Streptococcus mutans tumbuh dalam suasana fakultatif anaerob (lehner, 1992;

  Michalek dan Mc Ghee, 1982), menurut Nolte (1982) dalam keadaan anaerob bakteri ini memerlukan 5% CO2 dan 95% nitrogen serta memerlukan amonia sebagai sumber menghasilkan dua enzim yaitu glikosiltransferase dan fruktosiltransferase, enzim- enzim ini bersifat spesifik untuk subtrat sukrosa yang digunakan untuk sintesa glukan dan fruktan, pada metabolisme karbohidrat enzim glikosiltransferase menggunakan sukrosa untuk mensintesa molekul glukosa dengan berat molekul tinggi yang berdiri dari ikatan glukosa alfa (1-6) dan alfa (1-3) (Michalek dan Mc Ghee, 1982). Ikatan glukosa alfa (1-3) bersifat sangat pekat seperti lumpur, lengket dan tidak larut dalam air, kelarutan ikatan glukosa alfa (1-3) dalam air sangat berpengaruh terhadap pembentukan koloni S. mutans pada permukaan gigi, ikatan glukosa alfa (1-3) berfungsi pada perlekatan dan peningkatan koloni bakteri ini dalam kaitannya dengan pembentukan plak dan terjadinya karies gigi (Roeslan dan Melanie, 1988). Bakteri ini merupakan bakteri patogen pada mulut yang merupakan agen penyebab utamanya plak, ginggivitis dan karies (Lee et al., 1992).

  Dari penelitian ternyata dengan adanya S. mutans dikorelasikan dengan jumlah kavitas yang ada, bakteri ini terutama melekat pada plak pada bidang-bidang

  

karies dari pada plak pada email gigi yang utuh, sedangkan plak itu adalah suatu

  lapisan lunak yang terdiri dari kumpulan mikroorganisme yang berkembang biak diatas suatu matrik yang terbentuk dan melekat erat pada permukaan gigi yang tidak di bersihkan (Panjaitan, 1995). Tetapi ada pertimbangan lain yang mendasar bahwa S.

  

mutans diakui sangat berarti sebagai kemungkinan terjadinya karies, suatu penelitian

  tunggal longtitudinal yang baik menunjukkan bahwa frekwensi adanya S. mutans di dalam plak adanya korelasi dengan terjadinya karies pada bidang yang sama,

  Streptococcus juga merupakan bakteri yang resisten terhadap asam (Suryo, 1997).

2.4.1 Streptococcus mutans Sebagai Penyebab Karies Gigi

  

Streptococcus mempunyai sifat-sifat tertentu yang memungkinkannya memegang

  peranan utama dalam proses karies gigi, Streptococcus memfermentasi berbagai jenis karbohidrat menjadi asam sehingga mengakibatkan penurunan pH, dan membentuk dan menyimpan polisakarida intraseluler dan berbagai jenis karbohidrat, simpanan ini dapat dipecahkan kembali oleh mikroorganisme tersebut bila karbohidrat oksigen kurang sehingga dengan demikian menghasilkan asam terus menerus, juga menghasilkan sifat-sifat adesif dan kohesif plak pada permukaan gigi serta mempunyai kemampuan untuk menggunakan glikoprotein dari saliva pada permukaan gigi.

  Kemampuan dari Streptococcus untuk membentuk asam pada tingkatan pH tertentu, bakteri-bakteri lain berhenti membentuk asam ini tidak terjadi pada

  

Streptococcus sehingga bakteri ini bersifat sangat tahan pada asam, bakteri ini juga

  berkemampuan untuk membuat cadangan intraseluler yang serupa dengan glikogen (Yuwono, 1989). Ada juga kemampuan lain Streptococcus yaitu membuat poli sacarida ekstra seluler dengan konsistensi seperti perekat dengan demikian bakteri ini dapat melekat pada permukaan gigi dan bertahan meskipun ada daya pembersih dari lidah dan ludah serta mendorong terjadinya plak dan kemudian akan terjadinya karies (Edwin & Sally, 1992).

  Penelitian bakteriologis pada manusia menunjukkan bahwa Strepcoccus tidak tersebar secara merata didalam mulut dan mempunyai kecendrungan untuk melekat pada permukaan tertentu, dari penelitian longitudinal ternyata bahwa tempat yang terkena infeksi S. mutans setelah beberapa bulan masih mengandung S. mutans sedangkan tempat-tempat yang lain dalam mulut yang sama yang tadinya bebas S.

  

mutans masih tetap demikian keadaannya, rupanya penularan infeksi dari permukaan

  yang satu kepermukaan yang lain dalam mulut yang sama tidak terjadi, pembentukan koloni S. mutans yang bersifat lokal dan persisiten menjelaskan sifat koriojenik yang relatif besar dari bakteri ini, jadi koloni S. mutans terbentuk langsung pada permukaan gigi (Tarigan, 1997). Ada pertimbangan lain yang mendasar bahwa S.

  

mutans diakui sangat berarti sebagai kemungkinan penyebab karies, suatu penelitian

  tunggal longitudinal yang baik menunjukkan bahwa frekwensi adanya S. mutans di dalam plak ada korelasi terhadap terjadinya karies pada bidang yang sama. Di dalam

  

plak S. mutans sebagai bakteri yang sangat resisten terhadap asam dan adalah suatu

penghasil asam yang kuat (Edwin & Sally, 1992).

BAHAN DAN METODA

  3.1 Waktu dan Tempat

  Penelitian ini dilakukan dari bulan April sampai bulan Oktober 2008 di Laboratorium Penelitian FMIPA dan Laboratorium Mikrobiologi FMIPA USU Medan.

  3.2 Metode Penelitian

  Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan faktor tunggal yaitu konsentrasi ekstrak yang meliputi 5 taraf yaitu:0, 20, 40, 60, 80% dan sebagai pembanding digunakan antibiotik amoxicilin 250 mg Bakteri yang digunakan adalah S. mutans yang diperoleh dari Laboratorium FKG USU yang berasal dari FKG UNAIR Surabaya yang diisolasi langsung dari karies pasien, masing-masing perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak 5 kali.

  3.3. Pengambilan Sampel Bunga Cengkeh, Bakteri Streptococcus mutans

  Bunga cengkeh diambil dari perkebunan cengkeh di daerah Aceh Selatan khususnya di daerah Blang Pidie. Bunga cengkeh yang diambil adalah cengkeh tipe Zanzibar. Bunga cengkeh dikeringkan dengan panasnya matahari selama 1 minggu. Setelah kering, bunga cengkeh dibawa ke Laboatorium. Bakteri S mutans diperoleh dari Laboratorium FKG USU yang berasal dari laboratorium FKG UNAIR Surabaya. Bakteri di kembangbiakkan kedalam media NA selama 1 minggu.

  3.3.1 Pembuatan Ekstrak Bunga Cengkeh

  Bunga cengkeh yang telah dikeringanginkan selama 1 minggu ditimbang sebanyak 1 dalam botol tertutup bewarna gelap agar terlindung dari sinar matahari dan direndam (dimaserasi) dengan metanol 1,5 liter. Pemeraserasian dilakukan pada suhu kamar, selama ± 3 hari dan pengadukan dilakukan setiap hari. Setelah 3 hari pemeserasian, maserat kemudian disaring, filtrat dipisahkan dan ampasnya direndam kembali dengan metanol yang baru, maserasi dilakukan ± 5 kali hingga diperoleh maserat yang terakhir berwarna jernih. Filtrat yang diperoleh dipekatkan dengan rotary

  

evaporator pada suhu tidak lebih dari 50°C dan diuapkan in vacuo sehingga terpisah

  pelarut metanol dengan ekstrak kental bunga cengkeh. Ekstrak kental kemudian dimasukkan ke dalam botol vial dan dikeringkan dalam desikator sehingga diperoleh ekstrak kering sebanyak 176,5 g, ekstrak cengkeh ini tidak bisa terlalu kering karena mengandung minyak atsiri.

  3.3.2 Pengeceran Ekstrak Metanol Bunga Cengkeh

  Sebanyak 4 g ekstrak metanol masing-masing sampel dilarutkan dengan aquades steril sebanyak 5 ml didalam botol vial steril sehingga diperoleh larutan induk (konsentrasi 80%), selanjutnya dilakukan pengenceran sehingga diperoleh ekstrak sampel dengan konsentrasi 60, 40, 20%.

  3.3.3 Penyiapan bakteri Streptococus mutans.

  Bakteri uji yaitu Streptococcus mutans diinokulasikan ke dalam media agar miring Nutrient Agar (NA). Inokulum selanjutnya diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam, dari stok kultur tersebut diambil biakkan dengan jarum ose steril dan disuspensikan kedalam tabung yang berisi 3 ml larutan NaCl fisiologis 0,9 %, kemudian dihomogenkan dengan vortex hingga diperoleh kekeruhan suspensi sebanding dengan

  8

  kekeruhan larutan McFarland yang setara dengan 10 CFU/ml

3.3.4 Uji Ekstrak Cengkeh Terhadap Bakteri Streptococcus mutans dengan Metode Kirby-Bauer

  Dalam pengujian ekstrak metanol sampel, digunakan kertas cakram kosong (oxoid, Inggris) dengan diameter 5 mm. Cakram dimasukkan ke dalam cawan Petri kosong steril. Larutan yang telah diencerkan dengan konsentrasi 80, 60, 40, 20 dan 0% masing-masing dipipet sebanyak 10 µ l selanjutnya diteteskan pada permukaan cakram dan ditunggu selama ± 1 jam hingga larutan ekstrak berdifusi ke dalam cakram. Sebanyak 10 ml media Mueller Hinton Agar (MHA), untuk bakteri kedalam cawan petri steril dan dibiarkan memadat. Dicelupkan kapas lidi steril pada suspensi biakan, dan diusapkan perlahan-lahan pada permukaan media secara merata selanjutnya dibiarkan mengering pada suhu kamar selama beberapa menit. Dengan menggunakan pinset steril, cakram yang telah ditetesi ekstrak dengan konsentrasi yang berbeda diletakkan secara teratur pada permukaan media uji, selanjutnya diinkubasi pada suhu 37-38 °C selama 24 jam. Setelah masa inkubasi diameter zona hambat (daerah bening) di sekitar cakram diukur dengan menggunakan jangka sorong.

  Aktifitas ekstrak dapat dilihat dengan adanya zona hambat(daerah bening)di sekitar cakram.

  BAB 4

4.1 Uji Anti Mikroba Ekstrak Metanol Bunga Cengkeh Terhadap Bakteri Streptococcus mutans Dan Antibiotik Amoxicilin Sebagai Pembanding

  Hasil uji aktivitas mikroba ekstrak metanol bunga cengkeh terhadap bakteri S. mutans menunjukkan adanya aktivitas penghambatan pertumbuhan, hal ini dapat dilihat dari hasil pengukuran diameter zona hambat yang terbentuk yaitu berupa wilayah jernih di sekeliling cakram yang mengandung ekstrak bunga cengkeh yang dapat dilihat pada Gambar 4.1.1 di bawah ini:

  D C D C A A E B B E D C A E B D C D C A A E B E B B

Gambar 4.1.1 Hasil uji aktivitas anti mikroba ekstrak metanol bunga cengkeh terhadap bakteri S. mutans : A=0% B=20% C=40% D=60% E=80%

  Hasil pengukuran diameter zona hambat aktivitas ekstrak metanol bunga cengkeh terhadap bakteri Streptococcus mutans dapat dilihat pada tabel 4.1.1 berikut ini:

Tabel 4.1.1 Rataan Diameter Zona Hambat Ekstrak Metanol Bunga Cengkeh Terhadap Bakteri Streptococcus mutans

  Rataan Diameter Zona Diameter Zona Hambat (mm) oleh ekstrak Hambat (mm) Kosentrasi % Metanol Bunga Cengkeh oleh Amoxicilin

0,00 24,66

20 6,59

  40 10,10 60 9,67 80 11,77

  Dari Tabel 4.1.1 terlihat diameter zona hambat yang dihasilkan oleh ekstrak metanol bunga cengkeh terdapat konsentrasi 80% sebesar 11,77 mm. Kemampuan ekstrak metanol bunga cengkeh dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. mutans mungkin disebabkan karena adanya senyawa aktif yang terkandung dalam ekstrak berupa alkaloid dan flavanoid (Ferdinanti, 2001).

  Menurut Naim (2004), suatu ekstrak tumbuhan aktif sebagai anti mikroba disebabkan oleh adanya senyawa kimia yang terdapat pada tumbuhan tersebut. Pada tumbuhan selain dihasilkan metabolit primer juga dihasilkan metabolit sekunder tanaman memiliki sifat anti mikroba, mekanisme kerja alkaloid sebagai anti mikroba dihubungkan dengan kemampuan alkaloid untuk berikatan dengan DNA bakteri seperti alkaloid, flavonoid, saponin dan sebagainya, alkaloid yang berasal dari tanaman memiliki sifat anti mikroba. Mekanisme kerja alkaloid sebagai anti mikroba dihubungkan dengan kemampuan alkaloid untuk berikatan dengan DNA bakteri.

  Ajizah et al. (2007) menyatakan bahwa flavonoid yang merupakan senyawa fenol dapat bersifat sebagai koagulator protein. Protein yang menggumpal tidak dapat berfungsi lagi, sehingga akan mengganggu pembentukan dinding sel bakteri. Flavonoid akan merusak dinding sel bakteri karena sifatnya yang lipofilik, aktivitas hambatan terdapat pada golongan bakteri gram-positif, karena Streptococcus mutans merupakan bakteri gram positif. menghambat pertumbuhan atau dapat membunuh mikroorganisme yang lain (Arief, 1991).

Gambar 4.2 hasil uji aktivitas antibiotik pembanding terhadap S. mutans dengan diameter zona hambat 24,66 mm

  Diameter zona hambat yang dihasilkan oleh ekstrak metanol bunga cengkeh bila dibandingkan dengan diameter zona hambat yang dihasilkan oleh antibiotik pembanding, terlihat bahwa ekstrak metanol bunga cengkeh menunjukkan aktivitas yang lebih rendah. Ekstrak metanol bunga cengkeh dengan konsentrasi 80% menunjukkan aktivitas yang lebih rendah dari pada antibiotik amoxicillin.

  25

20 Diameter Zona Hambat (mm)

  15

  10

  5

  20

  60

  20

  40

  80

  60 Amoxicilin Konsentrasi ekstrak (%)

Gambar 4.3 Histogram diameter zona hambat ekstrak metanol bunga cengkeh terhadap bakteri S. mutans

  Hasil dari gambar 4.3 diketahui bahwa ekstrak mempunyai aktifitas antibiotik yang baik untuk menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans, karena pada konsentrasi 80% menunjukkan hambatan bakteri sebanyak 11,77 mm, sedangkan bila dibandingkan dengan pemakaian antibiotik amoxicilin ternyata menunjukkan hasil masih jauh dengan pada antibiotik sebesar 24,66 mm. Menurut Cappucino dan Sherman (1996), beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya zona hambat tergantung kepada difusi bahan anti mikroba ke dalam media dan interaksinya dengan mikroorganisme uji, jumlah mikroorganisme yang digunakan, kecepatan tumbuh mikroorganisme yang diuji dan sensitifitas mikroorganisme terhadap bahan anti mikroba yang diuji, pengguanaan konsentrasi ekstrak tumbuhan yang berbeda memberikan tingkat pengaruh yang berbeda pula terhadap pertumbuhan mikroorganisme (Ajizah et al., 2007). Rendahnya pengaruh ekstrak dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme disebabkan oleh rendahnya konsentrasi senyawa aktif dalam ekstrak yang diuji. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak tumbuhan uji maka pertumbuhan mikroorganisme uji semakin dihambat karena semakin banyak bahan aktif dalam larutan uji (Ajizah et al., 2007)

  BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

  5.1 Kesimpulan

  Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

  1. Ekstrak metanol mempunyai aktivitas untuk menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans dengan zona hambat terbesar pada konsentrasi 80% dengan diameter 11,77 mm.

  2. Aktivitas anti mikroba terbesar pada ekstrak metanol bunga cengkeh terdapat pada konsentrasi 80% dengan zona hambat 11,77 mm.

  3. Aktivitas anti mikroba ekstrak bunga cengkeh masih dibawah aktivitas antibiotik amoxicilin dengan zona hambat 24,66 mm.

  4. Diameter zona hambat semakin besar seiring dengan semakin tingginya konsentrasi ekstrak yang digunakan.

  5.2 Saran

  Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut untuk pengujian senyawa murni bunga cengkeh terhadap bakteri patogen lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

  University Press: 38 Argankim, 2008, Pengaruh Ekstrak Serbuk Siwak (salvadora persica ) Terhadap

  Pertumbuhan Bakteri Streptococcus mutans dan Staphylococcus aureus Dengan Metode Defusi Agar, Jurnal natur 4 (5-6).

  Ajizah, A, Thihana & Mirhanuddin. 2007. Potensi Ekstrak Kayu Ulin (Eusideroxylon

  

zwageri T et B) dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus

aureus Secara In Vitro , Bioscientiae 4(1) :37-42.

  Aksan J. 10 Mei 2008. www/agribisnis. deptan, goid/agromedia.

  th Cappucino, S.M & Sherman, N. 1996. Microbiology: A Laboratory Manual. 4 Ed.

  Addison-Wesley Publishing Company. Danarti dan S. Najiyati, 1991, Budi Daya dan Penanganan Pasca Panen Cengkeh.

  Cetakan 1. Jakarta, penebar swadaya: 4-19. Edwin A.M dan S. j. Bechal, 1992 Dasar-Dasar Caries, Kedokteran EGC, Terjemahan N. Sumawinata : 1-2.

  Fani, 2007, Inhibitory Activity of Garlic(Allium sativum)Extract on Multidrug Resistant Streptococcus mutans, Department of Oral Medicine, School of Dentistry, Medical Science, Shiraz.

  Ginting, G. R, 2008, Aktivitas Antimikroba Ekstrak Daun Kembu-Kembu

  (Callicarpacandicans Burm.f. dan Rintih Bulung (Piper muricatum Bl.)terhadap Bakteri dan Khamir patogen serta Uji Toksisitas terhadap Brine Shrimp, Skripsi –S1 Medan, Departemen Biologi FMIPA Universitas Sumatera utara.

  Guenther, E. 1987. Minyak Atsiri. Jilid 1. Terjemahan S. Ketaren. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Hamid. 11 April 2008.cengkeh Tanaman obat. http/www/iptek.net.id/ind/pd-tanobat /view.php.

  Naim, R 15 Mei 2008. Senyawa Antimikroba dari Tanaman . http//64.203.71.11/ Kompas-cetak/0409/15/sorotan/1265264.htm. Nurdjannah N, Agustus 2008, Diversifikasi Penggunaan cengkeh, http/www /prospektif.htm.

  Purseglove, J.W, E B. Brown, C. L Green and S. R J. Robbins, 1981. Spices, vol 1 Longman, London and New York P . Panjaitan, M, 1995, Etiologi Karies, Penerbit USU Press Hal:14-18. Ruhnayat A. 2004. Memproduktifkan Cengkeh Edisi 3. Cetakan 3 Jakarta. Penebar

  Swadaya S Suryo, 1997, Ilmu Kedokteran Gigi dan arti Streptococcus mutans pada Proses Karies, Yogyakarta, Gadjah Mada, hal : 82-84.

  Soenardi, 1981, Petunjuk Bercocok Tanam Cengkeh, cetakan 1, Yogyakarta, kanisius hal 4, 8, 9. Siswo. 23 Maret 2008, Streptococcus mutans pada Karies. Htpp/www.strepto.htm Tarigan R, 1990, Caries gigi, Medan, USU press: 12-16 Tarigan R, 1989, Kesehatan Gigi dan Mulut, Medan, kedokteran EGC: 6-9 Yuwono, L, 1989, Pencegahan Penyakit Mulut, Jakarta, Hipokrates hal:20. 24, 27

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Isolasi dan Uji Ekstrak Metanol Bakteri Endofit Tapak Dara (Catharanthus roseus) dalam Menghambat Pertumbuhan Beberapa Mikroba Patogen
7
140
65
Perbedaan Daya Hambat Pasta Gigi Yang Mengandung Propolis Dan Bunga Cengkeh Terhadap Streptococcus Mutans (In Vitro)
0
61
74
Early Childhood Caries : Hubungan Streptococcus Mutans Pada Ibu Dan Anak Berdasarkan Pengalaman Karies Anak
5
53
64
Faktor Risiko Streptococcus Mutans terhadap Tingkat Keparahan Karies Anak dan Pencegahannya
0
50
33
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Metanol Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L) Terhadap Bakteri Escherichia coli dan Stapylococcus aureus
6
89
50
Karakterisasi Simplisia, Skrining Fitokimia dan Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun dari Dua Varietas Sirih (Piper betle L.) Terhadap Bakteri Streptococcus mutans Penyebab Karies Gigi
5
58
101
Uji Anti Mikroba Ekstrak Metanol Bunga Cengkeh Terhadap Bakteri Penyebab Karies Gigi, Streptococcus Mutans
23
200
38
Skrining Fitokimia, Uji Aktofitas Antibakteri Dan Antifungi Ekstrak Metanol Dari Daun Tuba Saba (Polygonum Caespitosum Blume) Terhadap Mikroba Penyebab Penyakit Kulit
0
34
68
Uji Bioaktivitas Penghambatan Ekstrak Metanol Ganoderma Spp. Terhadap Petumbuhan Bakteri Dan Jamur
1
57
4
Efektifitas Antimikrobial Ekstrak Kayu Siwak Terhadap Pertumbuhan Streptokokus Mutans Pada Karies Gigi
0
53
47
Daya Anti Mikroba Air Perasan Bawang Putih (Allium Sativum) Terhadap Streptococcus Pneumonia
2
23
27
Uji Efektivitas Ekstrak Jahe (Zingiber officinale Roscoe) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus viridans
2
41
61
View of Pengaruh Ekstrak Etanol Daun Sirih Merah (Piper Crocatum Ruiz & Pav) terhadap Hambatan Pertumbuhan Bakteri Streptococcus Mutans
1
1
7
Isolasi dan Uji Ekstrak Metanol Bakteri Endofit Tapak Dara (Catharanthus roseus) dalam Menghambat Pertumbuhan Beberapa Mikroba Patogen
0
4
6
Isolasi dan Uji Ekstrak Metanol Bakteri Endofit Tapak Dara (Catharanthus roseus) dalam Menghambat Pertumbuhan Beberapa Mikroba Patogen
0
0
12
Show more