Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ketimpangan Pendapatan Antarkota Di Sumatera Utara

 7  112  74  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

KATA PENGANTAR

MEMPENGARUHI KETIMPANGAN PENDAPATAN ANTARKOTA DI SUMATERA UTARA)

  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pengeluaran pemerintah, pesebaran industri dan jumlah siswa tamat SMA/Sederajat terhadapketimpangan pendapatan di tiap kota Sumatera Utara dengan kurun waktu 2003- 2007 dengan menggunakan Fixed Effect Model (FEM). Hasil estimasi data panel dengan Fixed Effect Model (FEM) menunjukkan bahwa nilai tambah industri daerah dan pengeluaran pemerintah daerahmempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi regional Sumatera Utara.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Nilai tersebut dapat dihitung menurut harga yang berlaku (yaitu harga- harga yang berlaku pada tahun dimana PDRB dihitung) dan menurut harga tetap(harga-harga yang berlaku pada tahun dasar perbandingan, misalnya tahun 1983,1993, 1997). Oleh karena itupenanggulangan ketimpangan distribusi pendapatan tidak saja penting dan perlu Pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara relatif tinggi, tetapi pertumbuhan tersebut diiringi dengan ketimpangan antar wilayah yang semakinbesar.

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian

  Sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi pihak yang berkepentingan seperti kepada pengambil keputusan khususnya mengenaiketimpangan pendapatan di Sumatera Utara. Sebagai bahan untuk para peneliti lain terutama yang tertarik dalam bidang ekonomi regional dengan ruang lingkup dan kajian yang berbeda.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Pertumbuhan Ekonomi

  Menurut model ini, pertumbuhan ekonomi suatu daerah akan sangat ditentukan oleh kemampuan daerah tersebut untuk meningkatkan produksinya,sedangkan kegiatan produksi suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh potensi daerah yang bersangkutan, tetapi juga ditentukan pula oleh mobilitas tenagakerja dan mobilitas modal antar daerah. Ada kalanya dapat pula dilakukan penggabungan dari model-model tersebut agar cakupan pembahasan dan faktor penentu pertumbuhan menjadi lebihlengkap sesuai dengan potensi dan permasalahan yang terdapat pada daerah/wilayah yang bersangkutan.

2.2 Ketimpangan Pembangunan Antar Wilayah

  Manakala pendapatan terbagikan secara merata kepada seluruhpenduduk di wilayah tersebut, maka dikatakan distribusi pendapatannya merata, sebaliknya apabila pendapatan regional tersebut terbagi secara tidak merata (adayang kecil, sedang dan besar) dikatakan ada ketimpangan dalam distribusi pendapatannya. Dalam usaha untuk menekan laju ketimpangan ini, maka harus ditentukan kebijakan yang tepat.

2.2.1 Hipotesa Neo Klasik

  Williamson pada tahun 1966 melalui suatu studi tentang ketimpangan pembangunan antar wilayah pada negara maju dan negara sedang berkembangdengan menggunakan data time series dan cross section. Williamson yang mula-mula menggunakan teknik ini untuk mengukur ketimpangan pembangunan antar wilayah dan indeks ini cukup lazim digunakandalam mengukur ketimpangan pembangunan antar wilayah.

2.3. Pengeluaran Pemerintah Daerah

  Dalam suatu perekonomian, apabila pendapatan perkapita meningkat secara relatif pengeluaran pemerintah juga akan meningkat, terutama pengeluaranpemerintah untuk mengatur hubungan dalam masyarakat seperti: hukum, pendidikan, kebudayaan, dan sebagainya. Anaman (2004), dikutip dari Sihotang (2006) menyatakan bahwa pengeluaran konsumsi pemerintah yang terlalu kecil akan merugikanpertumbuhan ekonomi, pengeluaran pemerintah yang proporsional akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pengeluaran konsumsi pemerintah yangboros akan menghambat pertumbuhan ekonomi.

2.3.1. Klasifikasi Pengeluaran Pemerintah Daerah

2.3.1.1. Pengeluaran Rutin

  Pengeluaran rutin yaitu pengeluaran untuk pemeliharaan atau penyelenggaraan roda pemerintahan sehari-hari, meliputi: belanja pegawai,belanja barang, berbagai macam subsidi (subsidi daerah dan subsidi harga), angsuran dan bunga utang pemerintah serta jumlah pengeluaran lain. Penghematan dan efisiensi pengeluaran rutinperlu dilakukan untuk menambah besarnya tabungan pemerintah yang diperlukan untuk pembiayaan pembangunan nasional.

2.3.1.2 Pengeluaran Pembangunan

  Pengeluaran pembangunan merupakan pengeluaran yang ditujukan untuk membiayai program-program pembangunan sehingga anggarannya selalu dapatdisesuaikan dengan dana yang dimobilisasi. Transfer payment adalah pos yang mencatat pembayaran atau pemberian pemerintah langsung kepadawarganya yang meliputi pembayaran subsidi atau bantuan langsung kepada berbagai golongan masyarakat, pembayaran pension, pembayaran bungauntuk pinjaman pemerintah kepada masyarakat.

2.3.2 Teori Pengeluaran Pemerintah

2.3.2.1. Teori Makro

  Model Pembangunan Tentang Teori Perkembangan Pengeluaran PemerintahModel ini dikembangkan oleh Rostow dan Musgrave (2003) yang menghubungkan pengeluaran pemerintah dengan tahapan-tahapan pembangunanekonomi. Menurut Peacock dan Wiseman (1961), perkembangan ekonomi menyebabkan pungutan pajak meningkat yang meskipun tarif pajaknya mungkintidak berubah pada gilirannya mengakibatkan pengeluran pemerintah meningkat pula.

2.3.2.2. Teori Mikro

  Tujuan dari teori mikro mengenai perkembangan pengeluaran pemerintah adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang menimbulkan permintaan akanbarang publik dan faktor-faktor yang mempengaruhi tersedianya barang publik. Pelaksanaan pembuatan pelabuhan udara baru tersebutmenimbulkan permintaan akan barang lain yang dihasilkan oleh sektor swasta, seperti semen, baja, alat-alat pengangkutan dan sebagainya.

2.4. Pendidikan

  Seseorang yang memiliki tingkat pendidikan yang semakin tinggi akan mendapatkan pekerjaan atau pendapatan yang semakin tinggi di masa yang akandating dan juga menyatakan bahwa membuat keputusan umtuk melakukan investasi pada human capital. Selain penundaan menerima penghasilan, orang yang melanjutkan pendidikan harus Dalam hal ini, tingkat penghasilan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, jelas ketimpangan pendapatan akan bertambah atau semakin besar mengingat parapelajar dari keluarga yang berpenghasilan tinggi jauh lebih besar peluangnya untuk meneruskan pendidikannya sampai ke jenjang yang lebih tinggi.

2.5. Industri

2.5.1 Pengertian Industri

  Dalam pengertian secara luas, industri mencakup semuausaha dan kegiatan di bidang ekonomi yang bersifat produktif sedangkan pengertian secara sempit, industri adalah suatu kegiatan yang mengubah suatu Dalam istilah ekonomi, industri mempunyai dua pengertian. Kedua industri adalah sektor ekonomi yang didalamnya terdapat kegiatan produktif yangmengolah bahan mentah menjadi barang jadi atau barang setengah jadi (Dumairy, 1996).

2.5.2. Klasifikasi Industri

  Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara, penggolongan industri dibagi atas empat golongan dengan didasarkan padabanyaknya jumlah tenaga kerja tanpa melihat alat yang digunakan dalam proses peroduksinya. Untuk keperluan perencanaan negara, anggaran negara dan analisis pembangunan, pemerintah membagi sektor industri menjadi tiga subsektor, yaitu: 1.

2.5.3. Teori Pertumbuhan Industri

  Keterkaitan industri (industrial linkage), jenis industri yang dikembangkan oleh negara yang menganut teori ini adalah yang mempunyai keterkaitanyang luas dengan sektor lain. Penciptaan kesempatan kerja (employment creation), jenis industri yang dikembangkan oleh negara yang menganut teori ini adalah industri yangmampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang besar.

2.5.4. Peranan Sektor Industri Terhadap Pembangunan Daerah

  Pembangunan industri di daerah merupakan bagian dari segi pembangunan industri secara nasional, dimana keberhasilan dari pembangunan industri di daerah Sektor industri harus dikembangkan karena merupakan sektor yang potensial dalam membantu suksesnya pelaksanaan pembangunan dimana sektorini dapat menyerap tenaga kerja yang banyak, mempunyai peluang pasar yang lebih baik bila dibandingkan dengan sektor lainnya. Untuk dapat menampung penyediaan tenaga kerja, Upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara melalui pembangunan di sektor industri yang mana pelaksanaan pembangunannya sesuaidengan kebijaksanaan pembangunan daerah Sumatera Utara bertujuan untuk mempercepat proses industrialisasi sehingga dapat menciptakan struktur ekonomiyang sehat.

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN

  Jumlah kota di Sumatera Utara yang digunakan adalah sebanyak enam kota yakniSibolga, Tanjung Balai, Pematang Siantar, Tebing Tinggi, Medan, Binjai dengan periode kajian yang dipergunakan adalah 5 tahun yakni dari tahun 2003 sampaidengan tahun 2007. Data yang digunakan antara lain adalah:PDRB kota di Sumatera Utara atas dasar harga konstan, realisasi pengeluaran pemerintah daerah, jumlah lulusan SMA/Sederajat di setiap kota di SumateraUtara, dan jumlah industri (besar/sedang) menurut sub sektor industri di tiap kota di Sumatera Utara.

3.4 Model Analisis

  Model yang digunakan untuk menganalisis data adalah model ekonometrika dengan teknik analisis data panel (time series cross dan section data), yakni dengan metode Generalized Least Square (GLS). Dasar perhitungannya adalah denganmenggunakan PDRB dengan rumus : 2 ( Y Y ) F / n i i  Y Nilai V w antara 0 dan 1, dimana :Vw = indeks Williamson Y i = PDRB di kota ke iỸ = Rata-rata PDRB seluruh kota penelitian.fi = Penduduk di kota i n = Total penduduk seluruh kota penelitian.

2 TSMA it +

  I = jumlah industri (besar/sedang) (unit).β = Konstanta.β 1 ,β 2 ,β 3 = Koefisien Regresi. dimana : KPend = ketimpangan pendapatan antar kota (juta rupiah).

3.5 Defenisi Operasional

  PDRB adalah jumlah nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh masyarakat pada suatu daerah dalam satu wilayah pada periode tertentu(dalam juta rupiah). Jumlah industri (besar/sedang) adalah jumlah industri (besar/sedang) yang diukur dengan jumlah unit perusahaan.

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

  Gambaran Umum Sumatera Utara 4.1.1 Lokasi dan Keadaan Geografis Provinsi Sumatera Utara berada di bagian Barat Indonesia, terletak pada 2 garis 10 - 40 Lintang Utara dan 980 - 1000 Bujur Timur, dengan luas 71.680 km . Ketinggian permukaan daratanProvinsi Sumatera Utara sangat bervariasi, sebagian daerahnya datar, hanya beberapa meter di atas permukaan laut, beriklim cukup panas bisa mencapai34,20C, sebagian daerah berbukit dengan kemiringan yang landai, beriklim sedang dan sebagian lagi berada pada daerah ketinggian yang suhu minimalnyabias mencapai 13,40 C.

4.1.5. Kondisi Geografis Kota Medan

  Kota 1 – 50 m di atas permukaan laut dan beriklim cukup panas dengan suhu mencapai 32.7 C dibulan Februari. Kota dengan luas 90,23 km Sebelah Timur : Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang Sebelah Barat : Kecamatan Selesai Kabupaten Langkat Sebelah Selatan : Kecamatan Sei Bingei Kabupaten Langkat danKecamatan Kutalimbaru Kabupaten Deli Serdang Sebelah Utara : Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat danKecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang Batas-batas wilayahnya adalah: ini terletak pada ketinggian 28 m di atas permukaan laut.

4.1.8. Kondisi Geografis Kota Pematang Siantar

” Secara geografis Kota Siantar terletak pada 3 01’09 - 2 54’40” LU dan 99 6’23”- 99 1’10” BT, berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Simalungun.

2 Kota dengan luas 79.971 km ini terletak pada ketinggian 400 m di atas permukaan laut

  Di sektor perdagangan, membaiknya pertumbuhan itu tidak terlepas dari membaiknya konsumsi dan pertumbuhan di sektor-sektor yang memilikiketerkaitan erat dengan sektor perdagangan, di antaranya adalah sektor bangunan dan sektor industri. Angkutan udara (penumpang dan barang) internasional dan domestik mengalami peningkatan Perbankan menunjukkan kinerja yang mnggembirakan yang tercermin dari meningkatnya dana yang dihimpun dan juga kredit yang disalurkan oleh Bankpemerintah maupun Bank swasta Nasional.

4.2.1. Ketimpangan Antarkota

  Penyebaran penduduk tiap kota di Sumatera Utara tidak merata, hal ini dapat dilihat dari tabel 4.2, dimana jumlah penduduk terbanyak berada pada kotaMedan, karena Medan merupakan pusat pemerintahan dan pusat perekonomian untuk Provinsi Sumatera Utara. Ketimpangan pendapatan yang paling besar berada pada kota Medan dimana rata- rata kesenjangan pendapatan dari tahun 2003 – 2007 adalah sebesar: 0.520,diikuti kota Binjai (0.048), Tebing Tinggi (0.035), Sibolga (0.032), Pematang Siantar (0.023) dan yang paling kecil adalah Tanjung Balai (0.010) .

4.2.2. Perkembangan Pengeluaran Pemerintah Daerah

  Tinggi Medan Binjai 2003 123400 136600 179300 161700 125300 1853002004 121500 139800 202500 139100 1004800 189300 2005 156500 176600 219300 160500 1135900 1969002006 174400 204400 288400 197500 1322400 274600 2007 294500 310700 395000 292600 1751800 358600 Sumber : BPS Sumatera Utara, Sumatera Utara Dalam Angka (Berbagai edisi) Dari tabel 4.4 dapat dilihat bahwa setiap tahun pengeluaran pemerintah tiap kota menunjukkan peningkatan. Hal ini sesuai dengan teori KeuanganNegara, dan kota Medan merupakan wilayah/daerah dimana jumlah pengeluaran pemerintahannya adalah yang paling besar dan kota Sibolga merupakan daerahdengan jumlah pengeluaran pemerintah yang paling kecil dibandingkan dengan kota-kota lainnya.

4.2.3. Perkembangan Pendidikan

  Jumlah siswa yang paling besar jumlahnyaberada di kota Medan dan jumlah siswa yang paling kecil adalah Tanjung Balai. Hal ini bisa saja disebabkan karena jumlah penduduk yang paling banyak dari tiap kota di Sumatera Utara adalah Medan dan juga Medan adalah pusat pemerintahandan pusat perekonomian.

4.2.3. Perkembangan Industri

  Sektor industri pengolahan menjadipenyumbang terbesar dalam pembentukan PDRB umumnya pada daerah yang memiliki potensi perkebunan sekaligus terdapat kegiatan industri khususnyaagroindustri yang mengolah hasil-hasil perkebunan seperti kelapa sawit dan karet. Tinggi Medan Binjai 2003 2 32 42 19 206 342004 2 32 42 19 206 34 2005 1 20 42 18 189 332006 1 23 44 20 239 20 2007 1 20 44 16 233 20 Sumber : Sumatera Utara Dalam Angka, 2003-2004 Dari tabel 4.6 dapat dilihat bahwa jumlah industri yang paling banyak berada pada kota Medan dan jumlah industri yang paling sedikit berada di kotaSibolga.

4.3. Analisis Hasil Penelitian

  Analisis yang dapat diberikan sebagai alasan tidak signifikannya jumlah siswa tamat sma/sederajat adalah bahwa adanya dampak dari teori spread effect Hal ini selanjutnya mengungkapkan bahwa produktivitas tenaga kerja yang semakin tinggi akan menyebabkan kenaikan dalam pendapatan karenapendidikan yang lebih tinggi, sehingga dengan demikian akan berpengaruh terhadap pemerataan pendapatan/ ketimpangan pendapatan (terkait dengan teorihuman capital). Analisis Pesebaran Jumlah Industri (Besar/Sedang) Variabel jumlah industri memiliki hubungan yang positif terhadapKetimpangan Pendapatan, yang artinya bahwa semakin besar/banyak jumlah indusri yang dimiliki suatu wilayah akan menyebabkan semakin tinggi terjadinyaKetimpangan Pendapatan pada daerah tersebut atau apabila variabel lainnya dianggap konstan, maka kenaikan 1% jumlah industri akan menaikkanketimpangan pendapatan sebesar 0.0011 %.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

  Ketimpangan pendapatan yang paling besar berada pada kota Medan dimana rata-rata kesenjangan pendapatannya adalah sebesar: 0.520,diikuti kota Binjai (0.048), Tebing Tinggi (0.035), Sibolga (0.032),PematangSiantar (0.023) dan yang paling kecil adalah Tanjung Balai (0.010) . Variabel pengeluaran pemerintah daerah, jumlah siswa tamatSMA/Sederajat dan variabel jumlah industri (besar/sedang) mempunyai pengaruh positif dan signifikan kecuali jumlah siswa tamatSMA/Sederajat, terhadap ketimpangan pendapatan antarkota di Sumatera Utara pada tahun 2003 – 2007.

5.2. Saran

  Pengeluaran Pemerintah tiap daerah diarahkan lebih baik agar pembangunan yang dilaksanakan dapat lebih cepat dan alokasipembangunan dapat lebih merata, sehingga tidak terjadi ketimpangan antardaerah, misalnya Pengeluaran Pemerintah diarahkan untukmembangun infrastruktur sebagai upaya untuk menarik investor ke daerah. Untuk itudiperlukan dukungan Pemerintah dalam hal perkembangan sektor industri dengan mengurangi hambatan-hambatan misalnya denganmenyederhanakan prosedur perizinan, memberikan tax holiday bagi industri-industri yang baru beroperasi dan membangun infrastruktur yanglebih baik.

SURAT PERNYATAAN

  Saya yang bertanda tangan di bawah ini:Nama : Larisma S. SihotangNIM : 060523017Departemen : Ekonomi PembangunanFakultas : EkonomiAdalah benar telah membuat skripsi ini guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi Universitas SumateraUtara, dengan mengambil judul: “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ketimpangan Pendapatan Antarkota Di Sumatera Utara ”.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ket..

Gratis

Feedback