Perbandingan Kinerja Anti Stripping Agent WETFIX BE dengan DERBO-401 UN 2735 pada AC – WC yang Menggunakan Aggregat dari Patumbak (Penelitian)

Gratis

6
124
69
2 years ago
Preview
Full text

PERBANDINGAN KINERJA ANTI STRIPPING AGENT WETFIX BE DENGAN DERBO-401 UN 2735 PADA AC – WC YANG MENGGUNAKAN AGGREGAT DARI PATUMBAK

PERBANDINGAN KINERJA ANTI STRIPPING AGENT WETFIX BE DENGAN DERBO-401 UN 2735 PADA AC – WC YANG MENGGUNAKAN AGGREGAT DARI PATUMBAK Diajukan untuk melengkapi tugas – tugas dan memenuhi syarat untuk menempuhUjian Sarjana Teknik Sipil

TUGAS AKHIR

Diajukan untuk melengkapi tugas – tugas dan memenuhi syarat untuk menempuhUjian Sarjana Teknik Sipil Disusun Oleh :

THERESIA MARISA PRIMA SIMATUPANG 05 0404 141 BIDANG STUDI TRANSPORTASI DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2012

  Adapun pengujian yang dilakukan adalah dengan menggunakan dua jenis AntiStripping Agent jenis WETFIX BE yang diperoleh dari PT. Dari hasil pengujian yang dilakukan dengan penambahan masing – masing jenis AntiStripping Agent sebesar 0.2%, 0.25%, 0.3%, 0.35% dan 0.4% dari berat aspal menunjukkan bahwa penambahan DERBO-401 UN 2735 meningkatkan nilai retained stability yang lebihtinggi bila dibandingkan dengan penggunaan WETFIX BE.

KATA PENGANTAR

  Judul Tugas Akhir ini adalah : “Perbandingan Kinerja Anti Stripping Agent WETFIX BE dengan DERBO-401 UN 2735 pada AC – WC yang Menggunakan Aggregat dari Patumbak (Penelitian)”. Ryan Egia Sembiring, seseorang yang sangat berarti yang telah banyak membantu dalam penyelesaian Tugas Akhir ini, baik dalam dukungan, tenaga, waktu, doadan kasihnya juga tanpa mengenal lelah.

7. Sahabatku Elsa, Gonduth, Ema, Sondang, Gea, Ganda, Jose, Tonggo, Albert, Niel

  Hasil Pengujian Marshall dengan Penambahan Anti Stripping Agent Jenis DERBO-401 UN 2735 ...................................................41Tabel IV.6. Hasil Pengujian Marshall dengan Penambahan Anti Stripping Agent Jenis WETFIX BE ..................................................................42Tabel IV.7.

DAFTAR NOTASI

  Grafik Perbandingan Nilai Retained Stability dengan Penambahan Anti Stripping Agent DERBO-401 UN 2735 dan WETFIX BE .......56 ABSTRAK Daya ikat antara bitumen dan agregat adalah merupakan hal yang sangat penting dalam perkerasan jalan. Dari hasil pengujian yang dilakukan dengan penambahan masing – masing jenis AntiStripping Agent sebesar 0.2%, 0.25%, 0.3%, 0.35% dan 0.4% dari berat aspal menunjukkan bahwa penambahan DERBO-401 UN 2735 meningkatkan nilai retained stability yang lebihtinggi bila dibandingkan dengan penggunaan WETFIX BE.

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Negara – negara di Asia umumnya memiliki curah hujan dan kelembaban yang cukup

  Jenis aditif yang digunakan haruslah yangdisetujui Direksi Pekerjaan dan persentase aditif yang diperlukan harus dicampur ke dalam bahan aspal serta waktu pencampurannya harus sesuai dengan petunjuk pabrik pembuatnya.” Zat anti pengelupasan (Anti Stripping Agent) merupakan suatu zat adiktif yang dapat merubah sifat aspal dan aggregat, meningkatkan daya lekat dan ikatan, serta mengurangi efeknegatif dari air dan kelembaban sehingga menghasilkan permukaan berdaya lekat tinggi. Dengan penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk memberikan gambaran kepada pembina jalan dan semua pihak yang terkait mengenai penggunaan jenis AntiStripping Agent yang lebih baik untuk campuran AC-WC dalam usaha peningkatan mutu perkerasan jalan raya.

4. Pengujian Campuran Beraspal

  Hasil Penelitian dan Pembahasan Bab IV : Bab ini berisikan mengenai data-data yang diperoleh dari hasil pemeriksaan dan pengujian di laboratorium yang ditampilkan dalam bentuk gambar, grafik, atau tabel berikutanalisa dari hasil penelitian tersebut serta pembahasannya. Kesimpulan dan Saran Bab V : Berisikan kesimpulan yang diperoleh dari pembahasan dan analisa sesuai permasalahan yang dibahas pada penelitian.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1. Aspal, Aggregat, AC-WC, serta Standart Perencanaan Aspal atau bitumen merupakan material yang berwarna hitam kecoklatan yang

  Ukuran agregat dalam suatu campuran beraspal terdistribusi dari yang berukuran besar sampai ke yang kecil. Menurut Direktorat Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum, Laston(AC) terdiri dari tiga macam campuran, Laston Lapis Aus (AC-WC), Laston Lapis Pengikat(AC-BC) dan Laston Lapis Pondasi (AC-Base) dan ukuran maksimum agregat masing- masing campuran adalah 19 mm, 25.4 mm, dan 37.5 mm.

II. 2. Bahan Tambah

  Dalam campuran beraspal untuk memperbaiki perilaku suatu campuran beraspal serta meningkatkan kualitas aspal sehingga dapat menghasilkan perkerasan yang baik adalahdengan menggunakan bahan modifikasi. Adapun bahan tambahan yang akan digunakan dalam penelitian Tugas Akhir ini Dengan penggunaan Anti Stripping Agent ini diharapkan dapat memperpanjang waktu pelapisan ulang hotmix, memungkinkan seleksi jenis aggregat yang lebih luas danmeminimalkan kerusakan jalan oleh air dengan biaya perawatan yang lebih rendah.

II. 2.1. Anti Stripping Agent WETFIX – BE

  Meminimalkan kerusakan oleh airBahan ini bekerja dengan merubah sifat aspal dan aggregat, meningkatkan daya lekat dan ikatan serta mengurangi efek negatif dari air dan kelembaban sehingga menghasilkanpermukaan yang berdaya lekat tinggi Dosis pemakaian WETFIX BE hanya berkisar 0.2 % - 0.5 % dari berat aspal. Anti Stripping jenis ini berfungsi untuk membantu mengurangi kerusakan perkerasan yang diakibatkan oleh hujan dan kelembaban.

II. 3. Perencanaan Campuran Beraspal Panas

  Menurut Manual Pekerjaan Campuran Beraspal Panas Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, campuran beraspal panas adalah suatu campuran perkerasan lentur yang terdiri dari agregat kasar, agregat halus, filler dan bahan pengisi aspal dengan perbandingan tertentu,dan untuk mengeringkan agregat dan mencairkan aspal agar dapat dengan mudahdicampur dengan baik maka pencampuran bahan tersebut harus dipanaskan. Tujuan dari perencanaan campuran aspal adalah untuk mendapatkan campuran efektif dari gradasi agregat dan aspal yang akan menghasilkan campuran aspal yang memiliki sifat-sifatcampuran sebagai berikut : a.

3) Adanya perubahan volume campuran

  Hal ini disebabkan oleh pengaruh oksidasi dari udara dan proses penguapan yang berakibatakan menurunkan daya lekat dan kekenyalan aspal.2) Pengaruh air yang menyebabkan kerusakan atau kehilangan sifat lekat antara aspal dan material lainnya. Workability adalah campuran agregat aspal harus mudah dikerjakan saat pencampuran, penghamparan dan pemadatan, untuk mencapai satuan berat jenis yang diinginkan tanpamengalami suatu kesulitan sampai mencapai tingkat pemadatan yang diinginkan dengan peralatan yang memungkinkan.

II. 4. Metode Pengujian Campuran

  Pengujian Marshall merupakan pengujian yang paling banyak dan paling umum dipakai pada saat ini. Pengujian Marshall bertujuan untuk mengukur daya tahan (stabilitas) campuran agregat dan aspal terhadap kelelehan plastis (flow) dan retained stability.

II. 4.1. Parameter pengujian Marshall

  Rongga Terisi Aspal (VFA atau VFB)Rongga terisi aspal (VFA) adalah persen rongga yang terdapat diantara partikel agregat(VMA) yang terisi oleh aspal, tidak termasuk aspal yang diserap oleh agregat. Rumus adalah sebagai berikut : ��� − ������ = 100 � ���Dimana : VFA : Rongga udara yang terisi aspal, prosentase dari VMA, (%) VMA : Rongga udara pada mineral agregat, prosentase dari volume total,(%) VIM : Rongga udara pada campuran setelah pemadatan (%) e.

II. 4.2 Dasar-dasar Perhitungan

  Berat Jenis Bulk dan Apparent Total AgregatAgregat total terdiri atas fraksi-fraksi agregat kasar, agregat halus dan bahan pengisi / filler yang masing-masing mempunyai berat jenis yang berbeda, baik berat jenis kering (bulk spesific gravity) dan berat jenis semu (apparent grafity). 2 Dengan pengertian :Gse = Berat jenis efektif / efektive spesific gravity, (gr/cc)Gsb = Berat jenis kering agregat / bulk spesific gravity, (gr/cc)Gsa = Berat jenis semu agregat / apparent spesific gravity, (gr/cc) �� �� =� �� � Pmm = Persen berat total campuran (=100)Ps = Kadar agregat, persen terhadap berat total campuran, (%) Gse = Berat jenis efektif/ efektive spesific gravity, (gr/cc)Gb = Berat jenis aspal,(gr/cc) d.

II. 5 Campuran Beraspal Panas dengan Pendekatan Kepadatan Mutlak

  Dalam Pedoman Perencanaan Campuran Beraspal Dengan Pendekatan Kepadatan Mutlak, kepadatan mutlak dimaksudkan sebagai kepadatan tertinggi (maksimum) yang dicapai sehingga walaupun dipadatkan terus, campuran tersebut praktis tidak dapat menjadi lebih padat lagi. Untuk menambah kesempurnaan dalam prosedur perencanaan gradasi gabungan campuran dilapangan, maka ditentukan pengujian tambahan, yaitu pemadatan ultimit padabenda uji sampai mencapai kepadatan mutlak (refusal density) dimana VIM dirancang dapat dicapai tidak kurang dari 2.5 % untuk lalu lintas berat.

BAB II I METODOLOGI PENELITIAN III.1. Diagram Alir Penelitian Kerusakan jalan yang disebabkan oleh air

  Tidak A Persiapan Benda Uji AC-A WC Tanpa Penambahan Anti Stripping AgentPembuatan Benda Uji Dengan KAO (untuk AC-WC dengan variasi penambahan Anti Stripping Agent) Pengujian Campuran Dengan Metode Marshall Untuk Menganalisa Pengujian Campuran Dengan Metode MarshallKarakteristik Marshall Untuk Menganalisa Karakteristik Marshall Nilai VIM, VMA, VFB, VIM PRD, Stabilitas, Flow, MQ (VIM, VFB, VIM PRD, Stabilitas, Flow, MQ)didapatkan? Alat uji pemeriksaan aspalAlat yang digunakan untuk pemeriksaan aspal antara lain: alat uji penetrasi, alat uji titik lembek, alat uji titik nyala dan titik bakar, alat uji daktilitas, alat uji berat jenis(piknometer dan timbangan), alat uji kelarutan, dan TFOT.ii.

III. 3 Pengujian dan Persyaratan Bahan

  beratSNI 06-2438-1991 Min. 99 10 Uji bintik (spot test) Pengujian dimaksudkan untuk meneliti bahan yang akan dipakai dapat memenuhi persyaratan.

III. 3.1. Aspal Aspal yang digunakan adalah aspal ESSO dari EXXON dengan penetrasi 60/70

  Pengujian dan Ketentuan Aspal Penetrasi 60/70 No. Jenis Pengujian Metode Persyaratan 1 Penetrasi, 25ºC, 100 gr, 5 detik: 0,1 mm SNI 06-2456-1991 60 – 79 2 Titik lembek : ºC SNI 06-2434-1991 48 - 58 3 Titik nyala: ºC SNI 06-2433-1991 Min.

III. 3.2. Agregat Untuk material agregat pengujian bahan meliputi agregat kasar dan halus

  Pengujiannya serta Persyaratan dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel III.3.2. Pengujian untuk Agregat Kasar dan Agregat Halus No.

1 Abrasi dengan mesin Los Angeles SNI 03-247-99 Maks 40%

3 Angularitas SNI 03-6877-2002 95/90 * 4 Partikel Pipih dan Lonjong (**) RSNI T-01-2005 Maks 10% 5 Material lolos saringan No.200 SNI 03-4142-1996 Maks 1% Agregat Halus 1 Nilai Setara Pasir SNI 03-4428-1997 Min 50% 2 Material lolos saringan No.200 SNI 03-4142-1996 Maks 8% 3 Angularitas SNI 03-6877-2002 Min. 45 (*) 95/90 menunjukkan 95% agregat kasar mempunyai muka bidang pecah satu atau lebih dan 90% agregat kasar mempunyai muka bidang pecah dua atau lebih(**) Pengujian dengan perbandingan lengan alat uji terhadap poros 1 : 5

III. 3.3 Gradasi agregat

  Kurva gradasiuntuk Beton Aspal Lapis Aus (AC-WC) yang digunakan dalam penelitian ini adalah kurva gradasi yang disarankan spesifikasi yaitu beranjak dari bawah kurva fuller, memotong kurvafuller di antara saringan No.4 dan No.8, dan berada dalam titik kontrol gradasi Beton Aspal Lapis Aus (AC-WC). Masukkan seluruh campuran ke dalam cetakan dan tusuk-tusuk campuran dengan spatula yangdipanaskan atau aduklah dengan sendok semen 15 kali keliling pinggirannya dan 10 kali di bagian dalam.

7. Timbang benda uji dalam kondisi kering permukaan jenuh 8

  Untuk penambahan masing – masing jenis Anti Stripping Agent dibuat dalam 5 variasi yaitu 0.2%, 0.25%, 0.3%, 0.35% dan 0.4% dari berat aspal masing –masing direncanakan 3 (tiga) benda uji untuk setiap penambahan. Dengan melihat pada��� ��� batas-batas yang disyaratkan untuk semua parameter Marshall (Stabilitas, Flow, MQ, VFB, VMA, VIM, dan ), kemudian dilakukan analisis untuk mendapatkan Kadar Aspal��� ��� Optimum (KAO) yang memenuhi semua kriteria campuran.

III. 4.2 Uji Rendaman Marshall

  Untuk 12 benda uji pertama dilakukan perendaman dalam air dengan suhu 60 ºC selama 24 jam dan lakukanpengujian Marshall, kemudian pada sisa benda uji dilakukan pengujian Marshall standar. Perbandingan stabilitas pada benda uji yang direndam dengan yang standardisebut Indeks Kekuatan Marshall Sisa (Marshall Index of Retained Strength) yang dinyatakan dalam persen.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN IV.1. Penyajian Data IV.1.1. Hasil Pengujian Sifat-Sifat Fisik Agregat Agregat kasar dan agregat halus yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari AMP ADHI KARYA. Pengujian agregat dilakukan untuk mengetahui sifat-sifat fisik atau

  Zat aditif Anti Stripping Agent jenis WETFIX yang digunakan berasal dari PT. ADHIKARYA dan jenis DERBO-401 UN 2735 berasal dari India.

1. Kelekatan agregat terhadap aspa 95% >95%

  12%6.6% Kadar lumpur 3. Agregat Kasar (CA)2.35% Agregat Sedang (MA)2.80% Agregat Halus (FA)2.90% Los Angeles 4.

IV. 1.2. Hasil Pengujian Aspal

  Pengujian pada aspal yang digunakan dalam campuran memenuhi persyaratan spesifikasi. Hasil dan Diskusi Pengujian Aspal dengan Penambahan Anti Stripping Agent 56.17104.7 99.6850.064 1.023105.2 49323 65 Min.

9. Penetrasi, 25ºC; 100 gr; 5 detik; 0,1 mm

  Setelah penambahan Anti Stripping Agent, nilai penetrasi pun berubah, antara lain untuk penambahan WETFIX BE 0.2% (53.50); 0.25% (53.00); 0.3% (52.50); 0.35% (52.00)dan 0.4% (51.50). Dan diantara kedua jenis zat AntiStripping tersebut, penggunaan DERBO-401 UN 2735 dapat menurunkan nilai penetrasi yang lebih besar bila dibandingkan dengan WETFIX BE.

IV. 1.2.1.b.Pengujian Titik Lembek Aspal

  Nilai titik lembek aspal sebelum penambahan kedua jenis Anti Stripping Agent menunjukkan bahwa aspal Pen 60/70 (49ºC) memenuhi persyaratan Departemen Pekerjaan Setelah penambahan Anti Stripping Agent Wetfix BE 0.2% menjadi 55.5ºC, penambahan 0.25% menjadi 55.75ºC, penambahan 0.3% menjadi 56.2ºC, penambahan 0.35%menjadi 56.5ºC dan penambahan 0.4% menjadi 56.9 ºC. Sedangkan untuk penambahan DERBO-401 UN 2735 0.2% menjadi 56ºC, penambahan 0.25% menjadi 56.35ºC, penambahan 0.3% menjadi 56.5ºC, penambahan 0.35%menjadi 57ºC dan penambahan 0.4% menjadi 57.5 ºC.

IV. 1.3. Hasil Pengujian Marshall

  Nilai KAO ini digunakan untuk membuat membuat benda uji dengan menggunakan bahan tambah Anti Stripping Agentmasing – masing untuk Wetfix dan Derbo-401 UN 2735 sebesar 0.2% ; 0.25% ; 0.3% ; 0.35% ; dan 0.4% dari total berat aspal. Hasil Pengujian Marshall untuk Mendapatkan KAO 5.00 9 7.00 A ir 6.50 6.00 5.50 5.00 4.50 4.00 8 4.50 7 6 5 4 3 2 1 Ditentukan masing – masing lima variasi penambahan ASA ke dalam campuran beton aspal, yaitu sebesar 0.2% ; 0.25% ; 0.3% ; 0.35% ; 0.4% dari total berat aspal .

IV. 1.4. Hasil Pengujian Marshall dengan Penambahan Anti Stripping Agent

VIM PRD

  4.00 4.00 7.00 F lo w ( m m ) % Bitument by Total Mix 100 200 300 400 500 600 6.50 6.00 5.50 5.00 4.50 7 5.00 6 5 4 3 2 1 7.00 VM A ( % ) % Bitument by Total mix 6.50 4.50 5.50 Pengujian dilakukan untuk melihat pengaruh penambahan Anti Stripping Agent (ASA) jenis DERBO-401 UN 2375 dan WETFIX BE terhadap campuran beton aspal. Hasil Pengujian Marshall untuk Mendapatkan KAO 5.00 9 7.00 A ir 6.50 6.00 5.50 5.00 4.50 4.00 8 4.50 7 6 5 4 3 2 1 Ditentukan masing – masing lima variasi penambahan ASA ke dalam campuran beton aspal, yaitu sebesar 0.2% ; 0.25% ; 0.3% ; 0.35% ; 0.4% dari total berat aspal .

IV. 1.5. Hasil Pengujian Perendaman Marshall

  Hasil perbandingan antara stabilitas benda uji setelah perendaman dan stabilitas benda uji standar dinyatakan dalam persen, yang disebutIndeks Kekuatan Marshall Sisa (Marshall Index of Retained Strength). Hasil Pengujian Perendaman Marshall pada Kadar Aspal Optimum DERBO-401 UN 2375 Sifat-Sifat Syarat Hasil Pengujian Campuran 0.2 0.25 0.3 0.35 0.4 5.5 5.5 5.5 5.5 5.5 5.5 Stabilitas awal (S1) ;>800 1032 1073 1075 1076 1081 1076 KgStabilitas Perendaman 24 jam 797 - 948 951 959 965 961(S2) ; Kg IKS (S2/S1) ; % >75% 77.22 88.34 88.50 89.10 89.32 89.33 Tabel IV.8.

IV. 2.1 Analisis Data Pengujian Agregat

  Hasil dari pengujian sifat-sifat fisik agregat kasar serta agregat halus yang digunakan dalam campuran seperti yang terlihat pada Tabel IV.1, menunjukkan bahwa agregat yangdigunakan memenuhi spesifikasi yang ditentukan Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Bina Marga 2006. KekerasanKekerasan dari agregat kasar diukur dengan uji abrasi menggunakan mesin LosAngeles, nilai yang diperoleh dari pengujian tersebut adalah 21.30% yang memenuhi dari spesifikasi Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Bina Marga 2006yang menetapkan persyaratan maksimum sebesar 40%.

2.34 DERBO-

  Grafik Perbandingan Nilai Density dengan Penambahan Anti Stripping AgentDERBO-401 UN 2375 dengan WETFIX BE Kurva diatas menunjukkan hasil percobaan laboratorium dengan penambahan kedua jenis zat Anti Stripping Agent tersebut dimana nilai density meningkat akibat 2. Berikut grafik perbandingan nilai VIM dengan penambahan Anti Stripping Agent DERBO-401 UN2375 dan WETFIX BE 4.45 VIM 4.4 R² = 0.386 4.35ji 4.3 VIM WETFIXsil u R² = 0.438a BE 4.25h 4.2 R² = 0.848 4.15 VIM DERBO-401 UN 2375 4.1 0.2 0.25 0.3 0.35 0.4penambahan antistripping agent Gambar IV.5.

15.2 VMA

  Rongga Terisi Aspal (Void Filled Asphalt) VFA merupakan persentase butiran yang mengisi ruang rongga diantara butiran agregat (VMA) dan yang akan diisi aspal, VFA tidak termasuk aspal yang diserap. Nilai VFA Campuran Beraspal dengan Penambahan Anti Stripping Agent 72.25 72.05 71.85 71.65 71.45 71.25 DERBO-401 UN 2375 dan WETFIX BE 0%; 0.2%; 0.25%; 0.3%; 0.35%; 0.4%Kurva diatas menunjukkan hasil percobaan laboratorium dengan penambahan kedua jenis zat Anti Stripping Agent tersebut dimana nilai VFA meningkat akibatpenambahan zat hingga 0.25% namun mengalami penurunan saat penambahan 0.3% dan kemudian meningkat kembali saat penambahan 0.35%.

IV. 2.3. Analisis Nilai Empiris Marshall R² = 0.864 R² = 0.444 R² = 0.374

  Dari hasil pengujian, diperoleh nilai MQ dengan penambahan Anti Stripping AgentWETFIX BE 0.2% (321 kg/mm), penambahan 0.25% (348 kg/mm), penambahan0.3% (336 kg/mm), penambahan 0.35% (324 kg/mm), penambahan 0.4% (303 kg/mm) sedangkan dengan penambahan Anti Stripping Agent DERBO-401 UN 23750.2% (345 kg/mm), penambahan 0.25% (354 kg/mm), penambahan 0.3% (327 kg/mm), penambahan 0.35% (304 kg/mm), penambahan 0.4% (312 kg/mm). Nilai MQ Campuran Beraspal dengan Penambahan Anti Stripping Agent 0%; 0.2%; 0.25%; 0.3%; 0.35%; 0.4%Grafik diatas merupakan hasil percobaan laboratorium terhadap nilai MQ yang dihasilkan dengan penambahan Anti Stripping Agent DERBO-401 UN 2735 danWETFIX BE.

IV. 2.4. Retained Stability

  Dari pengujian yang dilakukan, nilai retained stability yang diperoleh dengan penambahan Anti Stripping Agent WETFIX BE 0% (77.22%), penambahan 0,2% (87.43%),penambahan 0,25% (87.93%), penambahan 0,3% (88.17%), penambahan 0,35% (88.30%) dan penambahan 0,4% (89.01%). Sedangkan dengan penambahan Anti Stripping Agent DERBO-401 UN 2375, nilai retained stability yang diperoleh dengan penambahan antara lain 0% (77.22%), penambahan0,2% (89.34%), penambahan 0.25% (88.50%), penambahan 0,3% (89.10), penambahan0,35% (89.32), dan penambahan 0,4% (89.33%).

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN V.1 Kesimpulan 1. Dilakukan pengujian AC–WC dengan penambahan zat aditif Anti Stripping Agent. Adapun jenis Anti Stripping Agent yang digunakan ada dua jenis, antara lain : WETFIX BE dan DERBO-401 UN 2735. Pengujian ini dilakukan untuk

  Gradasi agregat yang digunakan untuk perencanaan campuran adalah gradasi dari Laston Lapis Aus (AC-WC) dan aspal yang digunakan adalah aspal Pen 60/70. Pengujian yang selanjutnya dilakukan adalah dengan menambahkan kedua jenis zatAnti Stripping Agent tersebut pada aspal pen 60/70 untuk menguji penetrasi dan titik lembek aspal.

V. 2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian diajukan saran sebagai berikut :Sebaiknya percobaan di laboratorium dilakukan lebih teliti untuk meminimalkan berbagai kemungkinan kesalahan yang terjadi sehingga data yang diperoleh lebih relevan.

DAFTAR PUSTAKA

  Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Bina Marga, (2006), Spesifikasi Umum Dokumen Pelelangan Nasional Pekerjaan Jasa Pelaksanaan Konstruksi (Pemborongan) untuk Kontrak Harga Satuan, Indonesia. Departemen Permukiman dan Pengembangan Wilayah, (1999), Pedoman Perencanaan Campuran Beraspal Panas dengan Pendekatan Kepadatan Mutlak, Badan Penelitian dan Pengembangan Kembangwil – Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi dan Prasarana Jalan, No.023/T/BM/1999 SK.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Perbandingan Kekuatan Balok Beton Tanpa Perkuatan dengan Balok Beton Menggunakan Pelat Baja yang Diangkur
2
58
111
Perbandingan kualitas hidup anak palsi serebral yang mendapat terapi fisik lebih dari 10 bulan dengan kurang dari 10 bulan
3
63
77
Perbandingan Kinerja Anti Stripping Agent WETFIX BE dengan DERBO-401 UN 2735 pada AC – WC yang Menggunakan Aggregat dari Patumbak (Penelitian)
6
124
69
Pembuatan Papan Pertikel dari Serbuk Batang Kelapa Memakai Poliprolena yang Digrafting dengan Maleat Anhidrida sebagai Coupling Agent
3
57
68
Perbandingan Kadar HbA1c pada Penderita Diabetes Mellitus Tidak Terkontrol yang Merokok dengan yang Tidak Merokok
4
94
69
Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Bank Syariah dan Bank Konvensional dengan Menggunakan Metode Camel
1
48
82
Peningkatan Kinerja Jaringan WLAN dengan Load Balancing Menggunakan Teknologi Agent
0
60
137
TANGGA TANGGA TANGGA WC WC WC WC Kelas 1
1
14
1
Potential Effect of Curcumin As Anti Fertility Agent
0
0
9
Analisis Perbandingan Kinerja Protokol Websocket dengan Protokol SSE pada Teknologi Push Notification
0
0
8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Perbandingan Kinerja Anti Stripping Agent WETFIX BE dengan DERBO-401 UN 2735 pada AC – WC yang Menggunakan Aggregat dari Patumbak (Penelitian)
0
0
17
Perbandingan Kinerja Anti Stripping Agent WETFIX BE dengan DERBO-401 UN 2735 pada AC – WC yang Menggunakan Aggregat dari Patumbak (Penelitian)
0
0
11
Pembuatan Papan Pertikel dari Serbuk Batang Kelapa Memakai Poliprolena yang Digrafting dengan Maleat Anhidrida sebagai Coupling Agent
0
0
13
Perbandingan Kadar HbA1c pada Penderita Diabetes Mellitus Tidak Terkontrol yang Merokok dengan yang Tidak Merokok
0
0
15
Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Bank Syariah dan Bank Konvensional dengan Menggunakan Metode Camel
0
0
11
Show more