PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Plus Tri Sukses Natar Lampung Selatan Tahun Pelajaran 2013/2014)

Gratis

1
5
60
2 years ago
Preview
Full text
ABSTRAK PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VIII Semester Genap SMP Plus Tri Sukses Natar Lampung Selatan Tahun Pelajaran 2013/2014) Oleh LINDA DWI ASTUTI Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu dengan desain postest only control design yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap pemahaman konsep matematis siswa. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII semester genap SMP Plus Tri Sukses, Natar Tahun Pelajaran 2013/2014 sebanyak 97 siswa yang terdistribusi dalam tiga kelas parallel. Sampel penelitian adalah siswa kelas VIIIB dan VIIIC yang diambil dengan teknik purposive sampling. Data penelitian diambil melalui tes berbentuk soal uraian. Berdasarkan hasil uji hipotesis diketahui bahwa pemahaman konsep matematis siswa dengan model pembelajaran NHT lebih tinggi dari pembelajaran konvensional. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran NHT berpengaruh positif terhadap pemahaman konsep matematis siswa. Kata kunci : konvensional, NHT, pemahaman konsep matematis PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VIII Semester Genap SMP Plus Tri Sukses Natar Lampung Selatan Tahun Pelajaran 2013/2014) (Skripsi) Oleh LINDA DWI ASTUTI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2015 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Kota Kalianda Desa Kedaton, Provinsi Lampung, pada tanggal 10 Desember 1991. Penulis adalah anak kedua dari dua bersaudara pasangan Bapak Khoiruddin dan Ibu Ana Nila Septiana. Pendidikan yang ditempuh penulis berawal dari Taman Kanak-kanak (TK) yakni di TK Asiyah Lampung Selatan yang dilanjutkan dengan pendidikan Sekolah Dasar (SD) yakni di SD Negeri 1 Kedaton dan lulus pada tahun 2003. Kemudian melanjutkan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMP Negeri 1 Kalianda dan lulus tahun 2006 dan Sekolah Menengah Atas (SMA) yakni di SMA Negeri 1 Kalianda hingga tahun 2009. Melalui jalur mandiri penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung pada tahun 2009. Penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Jayaguna, Kecamatan Marga Tiga, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung sekaligus melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SDN Jayaguna tahun 2012. Selama kuliah, penulis bersama seorang sahabat Yuni KD memulai bisnis online menjual pakaian sampai tahun 2013. Motto Indahnya mencintai ALLAH SWT Jadikan hidup ini pengalaman yang paling berharga SANWACANA Puji syukur kehadirat Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together Terhadap Pemahaman Konsep Matematis Siswa (Studi pada Siswa Kelas VIII Semester Genap SMP Plus Tri Sukses Natar Lampung Selatan Tahun Pelajaran 2013/2014)” Penulis sangat menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat : 1. Bapak Dr. H. Bujang Rahman, M.Si., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung beserta staf dan jajarannya. 2. Bapak Dr. Caswita, M.Si., selaku Ketua Jurusan PMIPA dan Pembimbing Akademik sekaligus Pembimbing Utama yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk bimbingan, menyumbangkan banyak ilmu, memberikan perhatian, motivasi dan semangat kepada penulis demi terselesaikannya skripsi ini. 3. Bapak Dr. Haninda Bharata, M.Pd. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Matematika. 4. Ibu Dr. Tina Yunarti, M.Si. selaku Pembimbing kedua yang telah banyak memberikan waktu dan kesempatan dalam memberikan bimbingan. 5. Bapak Drs. M. Coesamin. M. Pd., selaku pembahas yang telah memberikan masukan dan saran kepada penulis. 6. Bapak dan Ibu Dosen Pendidikan Matematika di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis. 7. Hj. Sri Anugrawati, S.P. selaku kepala sekolah SMP Tri Sukses Natar Lampung Selatan. 8. Ahmat Nurdin, S.Pd., selaku guru mitra yang telah banyak membantu dalam penelitian. 9. Sahabat-sahabatku tercinta: Yuni KD, Astia, Titin, Jennie, Nike, Resti atas motivasi dan doanya. 10. Teman-teman di Pendidikan Matematika angkatan 2009: Masni, Selvi, PitriO, Ana, Restu, Ikim, Umpu, Vera, Pitri H, Astrie, Echa, Ifa, Purbo, Nurdin, EL, Elan, Kak Oce, Kak Adi, Arini, Tika, Risa atas perhatian dan canda tawa kita bersama. 11. Kakak tingkat angkatan 2008, Mb Elva, Mb Nay, Mb Qurotta, Mb Endah, Mb Dila, Mb Lina, Kak Adi, Kak Dedi, serta adik tingkat angkatan 2010, Dessy, Anggi, Engla, 2011, atas kebersamaannya. 12. Sahabat-sahabat KKN dan PPL SDN Jayaguna: Tetin, Fina, Ummi, Shella, Nugraha, Rian, Eko, Ayu, Cici, Nindy, Ervina, atas kebersamaanya. 13. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini. iii Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan. Untuk itu kritik dan saran demi kesempurnaan penulisan skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pihak yang berkepentingan dan kiranya Allah SWT membalas semua pihak yang telah membantu. Bandar lampung, Penulis, Linda Dwi Astuti iv Januari 2015 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL .................................................................................... vii DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................ viii I. II. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah .............................................................. 1 B. Rumusan Masalah ....................................................................... 7 C. Tujuan Penelitian ........................................................................ ... 7 D. Manfaat Penelitian ...................................................................... ... 8 E. Ruang Lingkup Penelitian ........................................................... ... 8 TINJAUAN PUSTAKA A. Belajar dan Pembelajaran ........................................................... 10 B. Pembelajaran Kooperatif ............................................................. 12 C. Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT ............................................ 15 D. Pemahaman Konsep ..................................................................... 17 E. Kerangka Pikir ............................................................................ 19 F. Anggapan Dasar .......................................................................... 23 G. Hipotesis Penelitian ..................................................................... 23 III. METODE PENELITIAN A. Populasi dan Sampel .................................................................... 24 B. Desain Penelitian.......................................................................... ... 25 C. Prosedur Penelitian ...................................................................... ... 26 D. Data dan Teknik Pengumpulan Data ........................................... ... 27 E. Instrumen Penelitian .................................................................... 27 F. Analisis Data dan Teknik Uji Hipotesis ...................................... 36 IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ............................................................................ 41 1. Data Pemahaman Konsep Matematis Siswa ......................... 41 2. Pencapaian Indikator Pemahaman Konsep ........................... 43 B. Pembahasan ................................................................................. ... V. 44 KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ................................................................................. . 47 B. Saran ............................................................................................ 47 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN vi DAFTAR TABEL Tabel 3.1 Halaman Rata-Rata Nilai Semester Ganjil TP 2013/2014 Mata Pelajaran Matematika ....................................................................................... 24 3.2 Desain Penelitian................................................................................ 25 3.3 Rekapitulasi Nilai Validitas Butir Soal ............................................ 30 3.4 Pedoman Penskoran Tes Pemahaman Konsep Matematis Siswa ..... 31 3.5 Interpretasi Koefisien Reabilitas ....................................................... 33 3.6 Interpretasi Tingkat Kesukaran .......................................................... 33 3.7 Rekapitulasi Tingkat Kesukaran Butir Soal ...................................... 34 3.8 Interpretasi Daya Beda....................................................................... 35 3.9 Rekapitulasi Daya Pembeda Butir Soal ............................................. 35 4.1 Data Pemahaman Konsep Matematis Siswa .................................. 41 4.2 Pencapaian Indikator Pemahaman Konsep Matematis ..................... 42 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman A. Perangkat Pembelajaran A.1 Silabus Pembelajaran ........................................................................ A.2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas dengan Model Pembelajaran Konvensional .............................................................. A.3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas dengan Model Pembelajaran NHT ............................................................................ A.4 Lembar Kerja Kelompok ................................................................... 51 54 74 115 B. Instrumen B.1 B.2 B.3 B.4 Kisi-Kisi Soal Uji Coba .................................................................... Soal Posttest ....................................................................................... Kunci Jawaban Soal Postest ............................................................. Form Penilaian Tes Essai .................................................................. 143 144 146 152 C. Analisis Data C.1 C.2 C.3 C.4 C.5 C.6 C.7 C.8 C.9 C.10 C.11 C.12 Nilai Ujian Semester Ganjil .............................................................. Analisis Validitas Butir Soal Instrumen Tes ..................................... Analisis Penilaian Instrumen Tes ...................................................... Daya Pembeda dan Tingkat Kesukaran Instrumen Tes .................... Hasil Postest dengan Pembelajaran NHT .......................................... Hasil Postest dengan Pembelajaran Konvensional ........................... Uji Normalitas Data Pemahaman Konsep Matematis Siswa dengan Pembelajaran NHT .................................................... Uji Normalitas Data Pemahaman Konsep Matematis Siswa dengan Pembelajaran Konvensonal ........................................ Uji Homogenitas Populasi Data Posttest .......................................... Uji Hipotesis Data Pemahaman Konsep Matematis Siswa .................................................................................................. Rekapitulasi Pencapaian Indikator Pemahaman konsep Matematis Siswa ............................................................................... Analisis Pemahaman Konsep Matematis Siswa dengan Model Pembelajaran NHT ................................................................ 154 155 173 175 176 177 178 182 186 187 189 190 C.13 Analisis Pemahaman Konsep Matematis Siswa dengan Model Pembelajaran Konvensional .................................................. 192 D. Lain-Lain x I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah suatu proses pembelajaran untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, kreatif, mandiri, serta mampu menciptakan kehidupan yang cerdas dan demokratis. Cita-cita mulia tersebut tertuang dalam pembukaan UUD RI Tahun 1945 dengan tujuan untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional juga disebutkan seperti berikut. “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.” Berdasarkan pengertian tersebut, maka pendidikan haruslah mampu mengembangkan keterampilan peserta didik, antara lain kemampuan menghitung dan berlogika atau kemampuan matematika. Matematika merupakan ilmu yang berperan penting dalam kehidupan terutama berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, matematika perlu dipelajari pada setiap jenjang pendidikan, mulai dari SD 2 hingga Perguruan Tinggi. Matematika yang diajarkan di tingkat pendidikan dasar sampai pendidikan menengah adalah matematika sekolah. Dalam Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 diungkapkan salah satu tujuan pembelajaran matematika di sekolah adalah agar peserta didik memiliki kemampuan memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan tepat dalam pemecahan masalah. Dengan demikian, pemahaman konsep merupakan keterampilan yang harus dicapai dalam mempelajari matematika. Pemahaman konsep yang dicapai oleh siswa tidak dapat dipisahkan dari pembelajaran yang mereka ikuti selama di sekolah. Hal ini dikarenakan pembelajaran merupakan proses interaksi guru dalam membelajarkan siswa secara sistematis (teratur) yang pada akhirnya siswa diharapkan mampu memahami konsep yang sedang dipelajari. Berdasarkan tujuan pembelajaran matematika pada paragraf sebelumnya jelas bahwa siswa dituntut untuk memiliki pemahaman yang baik terhadap konsep-konsep matematika. Oleh karena itu, dalam pembelajaran matematika di sekolah, guru harus berorientasi pada pemahaman konsep matematis siswa. Membelajarkan matematika kepada peserta didik, sehingga mereka memahami konsep dengan baik harus sesuai dengan urutan yang logis, yang diawali dari yang sederhana menuju yang lebih kompleks. Oleh karena itu untuk dapat mencapai pemahaman konsep yang baik diperlukan suasana belajar yang tepat, agar siswa senantiasa aktif dan bersemangat selama pembelajaran. Dengan demikian, diharapkan pemahaman konsep siswa dapat berkembang. Dengan berkembangnya pemahaman konsep, berarti tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. 3 Pada kenyataannya pemahaman konsep matematis siswa SMP di Indonesia terlihat cukup rendah. Hal ini dapat dilihat dari hasil survei studi internasional tentang prestasi matematika dan sains oleh TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) pada tahun 2011, yaitu Indonesia berada di urutan ke-38 dari 45 negara, dengan skor 386 dibawah rata-rata skor seluruh Negara yang berpartisipasi yaitu 500. Skor ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2007, dimana pada saat itu Indonesia menempati peringkat 33 dari 49 negara dengan skor 397. Pada TIMSS, kompetensi siswa yang diamati dalam penilaiannya meliputi: pengetahuan, penerapan, dan penalaran. Rendahnya kemampuan siswa dalam pelajaran matematika juga terjadi di SMP Plus Tri Sukses, khususnya pada mata pelajaran matematika yang memiliki kriteria ketuntasan minimal (KKM) 68. Hal tersebut dapat dilihat dari rata-rata nilai semester ganjil untuk mata pelajaran matematika kelas VIII SMP Plus Tri Sukses T.P. 2013/2014, yaitu 61,70 dengan persentase siswa yang tuntas adalah 29,94% dari 97 siswa. Rendahnya pemahaman konsep matematis siswa merupakan permasalahan yang harus mendapatkan perhatian serius. Untuk meningkatkan pemahaman konsep matematis siswa dapat dilakukan beberapa hal, salah satunya adalah memilih model pembelajaran yang tepat sehingga dapat mempermudah siswa memahami konsep matematika. Berdasarkan hasil observasi pada kelas VIII di SMP Plus Tri Sukses Natar dapat diketahui pada proses pembelajaran matematika dimulai dari guru menjelaskan materi pelajaran di depan kelas, memberikan contoh soal, tanya jawab, latihan soal, dan pemberian tugas. Sebagian besar siswa cenderung kurang 4 memperhatikan dan tidak aktif saat pelajaran matematika berlangsung. Hanya beberapa siswa saja yang aktif dan memperhatikan saat pelajaran matematika. Akibatnya, tidak ada timbal balik antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Oleh sebab itu, diperlukan suatu paradigma yang lain dalam pembelajaran matematika yang sesuai dengan kondisi ini. Kenyataan tersebut bisa disebabkan oleh cara mengajar yang masih selalu menerapkan pembelajaran konvensional. Pada pembelajaran konvensional yang dimaksud disini adalah pembelajaran berpusat atau didominasi oleh guru sehingga murid mudah merasa jenuh, guru lebih banyak menempatkan siswa sebagai objek didik sehingga siswa menjadi pasif dan proses pembelajaran menjadi bersifat monoton. Hal ini dapat mengakibatkan siswa hanya menerima materi yang diberikan oleh guru yang akan berdampak pemahaman konsep matematis pada siswa kurang terasah sehingga siswa memiliki pemahaman konsep matematis yang rendah. Selain beberapa akibat yang muncul dari pembelajaran konvensional seperti tersebut di atas, pembelajaran konvensional menyebabkan siswa cenderung kurang bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Dikarenakan siswa hanya memperoleh penjelasan satu arah dari guru, maka sebagian besar siswa hanya mampu menjawab pertanyaan seperti yang dicontohkan saja. Dengan demikian, tidak jarang dari mereka ketika diberikan masalah yang sedikit berbeda dari contoh, merasa kesulitan dan akhirnya lebih memilih mencontek hasil jawaban temannya. Sikap tersebut tentu menunjukkan bahwa siswa tidak bertanggung jawab terhadap hasil jawabannya sendiri. 5 Berdasarkan uraian tentang pembelajaran berpusat pada guru di atas, para guru harus mulai mengubah paradigma pembelajaran. Menurut Lie (2007: 5), pendidik perlu menyusun dan melaksanakan kegiatan pembelajaran berdasarkan pokok pemikiran. (1) Pengetahuan ditemukan, dibentuk, dan dikembangkan oleh siswa; (2) Siswa membangun pengetahuan secara aktif; (3) Pengajar perlu mengembangkan kompetensi dan kemampuan siswa; dan (4) Pendidikan adalah interaksi pribadi di antara para siswa dan interaksi antara guru dan siswa. Oleh karena itu, pembelajaran di kelas haruslah mengacu pada keempat poin tersebut. Dalam pembelajaran matematika diperlukan suatu model yang tepat agar siswa mudah memahami konsep yang saling berhubungan dan mendasar. Oleh karena itu, maka perlu adanya perubahan pada proses pembelajaran. adalah penggunaan model pembelajaran Salah satunya yang inovatif, dimana proses pembelajaran berpusat pada siswa dan dapat membuat siswa menjadi lebih aktif sehingga kemampuan pemahaman konsep siswa menjadi lebih baik. Dalam pembelajaran inovatif tersebut, guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber informasi bagi siswa, tetapi lebih dari itu guru diharapkan menjadi motivator, fasilitator, dan pendamping dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, pembelajaran bukan lagi merupakan proses transfer pengetahuan dari guru ke siswa, melainkan proses pengkondisian siswa mencari dan menemukan konsep melalui tahap rancangan, pelaksanaan, dan evaluasi yang dilakukan oleh guru. Salah satu model pembelajaran yang inovatif yang berpusat pada siswa adalah model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama diantara siswa untuk mencapai 6 tujuan pembelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif ini siswa di tuntut untuk bekerja sama dalam memahami pelajaran, saling bertukar pikiran dalam mendiskusiakan suatu permasalahan. Model pembelajaran kooperatif memiliki banyak tipe. Salah satunya adalah model pembelajaran koopertaf tipe Numbered Heads Together (NHT). Model NHT yang merupakan model pembelajaran kooperatif lebih menekankan pada proses bekerja dan berpikir bersama dalam kelompok yang memungkinkan siswa untuk terlibat aktif dalam pembelajaran dibandingkan jika pembelajaran hanya terjadi satu arah dari guru ke siswa. Menurut Holland (2012), Model pembelajaran koopertaf tipe NHT memiliki kelebihan yaitu siswa menjadi terlibat dalam menyelesaikan tugas dan bertanggung jawab penuh dalam memahami materi pelajaran baik secara kelompok maupun individual. Selain itu, model ini juga mendorong siswa untuk lebih siap saat diskusi kelompok, meningkatkan semangat kerja sama antarsiswa, dan meningkatkan komunikasi antarsiswa. Pada umumnya NHT digunakan untuk melibatkan siswa dalam mereview bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran atau penguatan pemahaman pembelajaran dan mengecek pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran sehingga setiap siswa mau bertanya pada guru atau teman apabila dia tidak mengerti dan belum memahami konsep yang telah diajarkan. Selain itu siswa tidak akan tergantung lagi pada teman yang lain dan mereka akan lebih bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan, penuh gagasan dan mampu mandiri karena dalam pem belajaran kooperatif tipe NHT siswa dalam kelompok diberi nomor yang berbeda. NHT juga dinilai lebih memudahkan siswa dalam berinteraksi dengan teman- 7 teman dalam kelas dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional yang selama ini diterapkan oleh guru, hal tersebut disebabkan karena pada model pembelajaran kooperatif tipe NHT siswa perlu berkomunikasi dengan siswa lain. Dari hasil wawancara dengan guru matematika kelas VIII dan beberapa siswa kelas VIII tersebut, maka perlu dilakukan penelitian eksperimen semu dengan judul ”Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Terhadap Pemahaman Konsep Matematis Siswa.” B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah model pembelajaran kooperatif tipe NHT berpengaruh terhadap pemahaman konsep matematis siswa kelas VIII SMP Plus Tri Sukses Natar Lampung Selatan Tahun Pelajaran 2013/2014? C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap pemahaman konsep matematis siswa kelas VIII SMP Plus Tri Sukses Natar Lampung Selatan Tahun Pelajaran 2013/2014. 8 D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi dalam pembelajaran matematika berkaitan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT serta hubungannya dengan pemahaman konsep matematis siswa. 2. Manfaat Praktis a. b. Bagi guru dan calon guru matematika, diharapkan penelitian ini dapat memberikan wawasan dan menjadi bahan sumbangan pemikiran tentang model pembelajaran alternatif yang dapat diterapkan terhadap pemahaman konsep matematis siswa. c. Bagi kepala sekolah, diharapkan dengan penelitian ini kepala sekolah memperoleh informasi sebagai masukan dalam upaya pembinaan para guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika d. Bagi siswa, memperoleh pengalaman baru dalam belajar matematika, menumbuhkan semangat saling tolong-menolong dan kerja sama antarsiswa, dan membantu siswa dalam memahami konsep matematis. e. Bagi peneliti lain, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan acuan atau referensi pada penelitian yang sejenis. E. Ruang Lingkup 1. Pengaruh merupakan suatu daya atau tindakan yang dapat membentuk atau mengubah sesuatu yang lain. Model pembelajaran kooperatit tipe NHT 9 dikatakan berpengaruh jika pemahaman konsep matematis siswa pada pembelajaran dengan model NHT lebih tinggi dari pemahaman konsep matematis siswa pada pembelajaran dengan model konvensional. 2. Model pembelajaran kooperatif, dalam hal ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe NHT, yaitu suatu model diskusi kelompok untuk memproses informasi yang diterima dengan mengembangkan cara berpikir dan kerjasama, serta untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang tepat. Langkah-langkah dalam model ini, yaitu: penomoran (Numbering) untuk setiap anggota kelompok, pengajuan pertanyaan oleh guru, berpikir bersama (Heads Together) antaranggota kelompok, dan pemberian jawaban oleh salah satu anggota kelompok yang nomornya dipanggil. 3. Pembelajaran konvensional yang dimaksud dalam penelitian ini, yaitu pembelajaran yang diawali dengan penyampaian materi oleh guru, pemberian contoh soal, tanya jawab, latihan soal,dan pemberian tugas. 4. Pemahaman konsep merupakan kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran yang dapat dilihat dari hasil belajar siswa (nilai). Pemahaman konsep matematis berarti kemampuan untuk dapat mengerti dan memahami suatu konsep matematis yang relevan dengan ide-ide matematika dan sesuai dengan indikator-indikator pemahaman konsep. II. TINJAUAN PUSTAKA A. Belajar dan Pembelajaran Belajar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007: 17) berasal dari kata ajar yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut). Belajar berarti berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, dan berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Beberapa ahli dalam Sagala (2008: 11) yang mengemukakan pengertian dari belajar, yaitu: 1. Hilgard dan Marquis berpendapat bahwa “belajar merupakan proses mencari ilmu yang terjadi dalam diri seseorang melalui latihan, pembelajaran, dan sebagainya sehingga terjadi perubahan dalam diri”. 2. James L. Mursell menyatakan bahwa “belajar adalah upaya yang dilakukan dengan mengalami sendiri, menjelajahi, menelusuri, dan memperoleh sendiri”. 3. Menurut Gagne (1984) “belajar adalah sebagai suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman”. 4. Henry E. Garret berpendapat bahwa “belajar merupakan proses yang berlangsung dalam jangka waktu lama melalui latihan maupun pengalaman yang membawa kepada perubahan diri dan perubahan cara mereaksi terhadap suatu perangsang tertentu”. 5. Menurut Lester D. Crow mengemukakan “belajar ialah upaya untuk memperoleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan, dan sikap-sikap”. 11 Beberapa ahli dalam Dimyati (2009: 8) yang mengemukanan pengertian belajar yaitu: 1. Skinner berpandangan bahwa “belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responsnya menjadi lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responsnya menurun”. 2. Gagne berpendapat bahwa “belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengolahan informasi, menjadi kapabilitas baru”. 3. Piaget berpendapat bahwa “pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab individu melakukan interaksi terus-menerus dengan lingkungan. Lingkungan tersebut mengalami perubahan. Dengan adanya interaksi dengan lingkungan maka fungsi intelek semakin berkembang”. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor. Menurut Sagala (2008: 37) siswa diharapkan dapat memiliki perubahan perilaku setelah adanya proses belajar karena pengalaman dan latihan. Perubahan perilaku bukan dilihat dari perubahan sifat-sifat fisik, melainkan perubahan yang termasuk dalam hasil belajar. Perilaku berbicara, menulis, bergerak, dan lainnya memberi kesempatan kepada siswa untuk mempelajari perilaku-perilaku seperti berpikir, merasa, mengingat, memecahkan masalah, berbuat kreatif, dan lain sebagainya. Dunkin dan Biddle dalam Sagala (2008 : 63) mengatakan bahwa proses pembelajaran minimal mempunyai dua kompetensi utama, yaitu kompetensi substansi materi pembelajaran atau penguasaan materi pelajaran dan kompetensi metodologi pembelajaran. Artinya jika guru menguasai materi pelajaran, guru 12 juga harus mampu mengelola kegiatan pembelajaran, mulai dari merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang mengacu pada prinsip pedagogik. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, berarti bahwa pembelajaran merupakan proses interaksi guru dalam membelajarkan siswa secara sistematis (teratur) melalui tahap rancangan, pelaksanaan, dan evaluasi untuk memperoleh dan memproses pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam suatu lingkungan belajar. Interaksi antara pendidik, peserta didik, masyarakat, lingkungan sekolah, dan lain sebagainya merupakan faktor utama penentu proses pembelajaran. Oleh sebab itu, dalam proses pembelajaran diperlukan perkembangan kemampuan berpikir peserta didik dengan proses interaksi terhadap lingkungannya agar dapat membantu peserta didik tersebut untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang mereka konstruksi sendiri. B. Pembelajaran Kooperatif Teori yang melandasi pembelajaran kooperatif adalah teori konstruksivisme, sehingga dalam model pembelajaran kooperatif, guru lebih berperan sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai jembatan penghubung ke arah pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri. Guru tidak hanya memberikan pengetahuan pada siswa, tetapi juga harus membangun pengetahuan dalam pikirannya. Lie (2003: 19) mengatakan bahwa dalam model pembelajaran kooperatif siswa diarahkan untuk bisa berkerjasama, mengembangkan diri, dan bertanggung jawab 13 secara individu. Pengertian pembelajaran kooperatif menurut Saptono (dalam Huda, 2011) adalah strategi pembelajaran yang menitikberatkan pada pengelompokan siswa dengan berbagai tingkat kemampuan akademik yang berbeda ke dalam kelompok-kelompok kecil. Slavin (2008: 284) mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengacu pada strategi pembelajaran, siswa dituntut bekerjasama dalam kelompokkelompok kecil untuk menolong satu sama lainnya dalam memahami suatu pelajaran, memeriksa dan memperbaiki jawaban teman, serta kegiatan lainnya dengan tujuan mencapai prestasi belajar yang tinggi. Selanjunya, Slavin (2008: 165) mengemukakan bahwa: “Pembelajaran kooperatif menekankan pada pengaruh dari kerja sama terhadap pencapaian tujuan pembelajaran. Asumsi dasar dari teori pembangunan kognitif adalah bahwa interaksi diantara para siswa berkaitan dengan tugas-tugas yang sesuai meningkatkan penguasaan mereka terhadap konsep kritik. Pengelompokan siswa yang heterogen mendorong interaksi yang kritis dan saling mendukung bagi pertumbuhan dan perkembangan penge-tahuan atau kognitif. Penelitian psikologi kognitif menemukan bahwa jika informasi ingin dipertahankan di dalam memori dan berhubungan dengan informasi yang sudah ada di dalam memori orang yang belajar harus terlibat dalam semacam pengaturan kembali kognitif, atau elaborasi dari materi. Salah satu cara elaborasi yang paling efektif adalah menjelaskan materinya kepada orang lain.” Siahaan dalam Rusman (2010: 205) menyatakan bahwa terdapat lima unsur esensial yang ditekankan dalam pembelajaran kooperatif, yaitu: (1) saling ketergantungan positif, (2) tanggung jawab perseorangan, (3) interaksi berhadapan, (4) keterampilan sosial, dan (5) evaluasi proses kelompok. Dalam ketergantungan positif, keberhasilan kelompok sangat bergantung pada setiap usaha anggotanya sehingga guru perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya. Oleh karena itu, 14 penilaian dilakukan baik secara perseorangan maupun kelompok, sehingga setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Unsur interaksi berhadapan anggota. akan membentuk sinergi yang menguntungkan semua Hasil pemikiran beberapa kepala akan lebih kaya daripada hasil pemikiran satu kepala saja. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan masing-masing. Tidak kalah penting, keberhasilan suatu kelompok dipengaruhi oleh keterampilan intelektual, keterampilan berkomunikasi setiap anggota dalam kelompoknya. Evaluasi proses kelompok bertujuan untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Berdasarkan uraian tentang pengertian pembelajaran koperatif diatas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran di mana siswa belajar dalam suatu kelompok kecil yang heterogen untuk bersama-sama menyelesaikan suatu masalah demi mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Rusman (2010 : 211) terdapat enam langkah utama atau tahapan di dalam pembelajaran yang menggunakan kooperatif, pembelajaran dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar. Fase ini diikuti oleh penyajian informasi, sering kali dengan bahan bacaan daripada secara verbal. Selanjutnya, siswa dikelompokkan ke dalam tim-tim belajar. Fase ini kemudian diikuti dengan bimbingan guru pada saat siswa bekerja sama untuk menyelesaikan tugas bersama mereka. Fase berikutnya adalah persentasi hasil akhir kerja kelompok, atau evaluasi tentang apa yang telah mereka 15 pelajari dan terakhir diikuti dengan pemberian penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu. C. Pembelajaran Kooperatif tipe Numbered Heads Together Dalam pembelajaran kooperatif salah satunya adalah pembelajaran kooperatif tipe NHT. Nurhadi (2004: 67) mengatakan bahwa metode NHT ini dikembangkan oleh Spencer Kagan dengan melibatkan para siswa dalam mereview bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek atau memeriksa pemahaman mereka mengenai isi pelajaran tersebut. Lie (2007: 58) mengungkapkan: ”Teknik NHT ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selain itu, teknik ini juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja sama mereka. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.” Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe NHT menurut Huda (2011: 138), yaitu: 1. Penomoran (Numbering). Penomoran adalah hal yang utama di dalam NHT. Dalam tahap ini guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan empat orang secara heterogen sesuai dengan jumlah siswa di dalam kelas dan kemudian memberikan masing-masing siswa nomor, sehingga setiap siswa di dalam kelompoknya memiliki nomor yang berbeda-beda. Nomor terurut dan sesuai dengan jumlah siswa di dalam kelompok. 2. Pengajuan Pertanyaan Langkah selanjutnya adalah pengajuan pertanyaan. Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan yang diberikan diambil dari materi 16 pelajaranyang sedang dipelajari. Dalam membuat pertanyaan usahakan dapat bervariasi dari yang spesifik hingga bersifat umum dan dengan tingkat kesulitan yang bervariasi pula. Pertanyaan dalam penelitian ini tertuang dalam Lembar Kerja Kelompok (LKK). 3. Berpikir Bersama (Heads Together). Setelah mendapatkan pertanyaan-pertanyaan dari guru, siswa berpikir bersama, saling membagikan ide-ide, dan mempertimbangkan jawaban yang tepat, serta saling menjelaskan jawaban kepada anggota dalam kelompoknya yang belum paham, sehingga semua anggota dalam kelompok mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut. 4. Pemberian Jawaban. Langkah terakhir, yaitu guru memanggil salah satu nomor dan setiap siswa dari tiap kelompok yang bernomor sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas, kemudian guru secara acak memilih siswa dalam kelompok yang harus menjawab pertanyan tersebut, selanjutnya siswa yang nomornya dipanggil guru dari kelompok tersebut berdiri untuk menjawab pertanyaan. Kelompok lain yang bernomor sama dapat menanggapi jawaban tersebut. Ada beberapa manfaat pada model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap siswa yang hasil belajar rendah yang dikemukakan oleh Ibrahim (2000) antara lain: (1) rasa harga diri menjadi lebih tinggi, (2) memperbaiki kehadiran siswa, (3) penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar, (4) perilaku mengganggu menjadi lebih kecil, (5) konflik antara pribadi berkurang, (6) pemahaman yang 17 lebih mendalam, (7) meningkatkan kebaikan budi, kepekaan, dan toleransi, dan (8) hasil belajar lebih tinggi. Beberapa keunggulan pembelajaran kooperatif tipe NHT menurut Holland antara lain: (1) melibatkan seluruh siswa dalam menyelesaikan tugas, (2) meningkatkan tanggung jawab individu, (3) meningkatkan pembelajaran kelompok sehingga setiap anggota terlatih, dan (4) meningkatkan semangat dan kepuasan kelompok. Berdasarkan uraian di atas, maka pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam kelompok dimana setiap anggota kelompok terlibat aktif berlatih dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas, sehingga konsep yang diajarkan dapat dikuasai dengan baik. D. Pemahaman Konsep Dalam proses mengajar, hal terpenting adalah pencapaian pada tujuan yaitu agar siswa mampu memahami sesuatu berdasarkan pengalaman belajarnya. Kemampuan pemahaman ini merupakan hal yang sangat fundamental, karena dengan pemahaman akan dapat mencapai pengetahuan prosedur. Pemahaman konsep tersusun atas dua kata, yaitu pemahaman dan konsep. Menurut Virlianti (2002: 6) pemahaman adalah konsepsi yang bisa dicerna atau dipahami oleh peserta didik sehingga mereka mengerti apa yang dimaksudkan, mampu menemukan cara untuk mengungkapkan konsep tersebut, serta dapat mengeksplorasi kemungkinan yang terkait. Konsep adalah suatu ide abstrak yang memungkinkan seseorang untuk menggolongkan suatu objek atau kejadian. Jadi 18 pemahaman konsep adalah pengertian yang benar tentang suatu rancangan atau ide abstrak. Menurut Soedjadi (2000: 14) Konsep adalah ide abstrak yang dapat digunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan obyek. Konsep berhubungan erat dengan definisi. Definisi adalah ungkapan yang membatasi konsep. Dengan adanya definisi, orang dapat membuat ilustrasi atau gambaran atau lambang dari konsep yang didefinisikan, sehingga menjadi jelas apa yang dimaksud konsep tertentu. Menurut Winkel (2000: 44) konsep dapat diartikan sebagai suatu sistem satuan arti yang mewakili sejumlah objek yang mempunyai ciri-ciri yang sama. Konsep matematika disusun secara berurutan sehingga konsep sebelumnya akan digunakan untuk mempelajari konsep selanjutnya. Misalnya konsep luas persegi diajarkan terlebih dahulu daripada konsep luas permukaan kubus. Hal ini karena sisi kubus berbentuk persegi sehingga konsep luas persegi akan digunakan untuk menghitung luas permukaan kubus. Pemahaman terhadap konsep materi prasyarat sangat penting karena apabila siswa menguasai konsep materi prasyarat maka siswa akan mudah untuk memahami konsep materi selanjutnya. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep matematis adalah kemampuan individu menguasai konsep dengan cara menerima dan memahami informasi yang diperoleh dari pembelajaran yang dilihat melalui kemampuan bersikap, berpikir dan bertindak yang ditunjukkan oleh siswa dalam memahami definisi, pengertian, ciri khusus, hakikat dan inti /isi dari materi matematika dan kemampuan dalam memilih serta menggunakan 19 prosedur secara efisien dan tepat. Konsep matematika harus diajarkan secara berurutan. Hal ini karena pembelajaran matematika tidak dapat dilakukan secara melompat-lompat tetapi harus tahap demi tahap, dimulai dengan pemahaman ide dan konsep yang sederhana sampai ke tahap yang lebih kompleks. Pada penjelasan teknis Peraturan Dirjen Dikdasmen Depdiknas Nomor 506/C/Kep/ PP/2004 tanggal 11 November 2004 tentang rapor dalam Wardhani (2008: 10) diuraikan bahwa indikator siswa memahami konsep matematis adalah: (a) mampu menyatakan ulang suatu konsep; (b) mengklasifikasikan objek-objek menurut sifatsifat tertentu (c) memberi contoh dan non contoh dari konsep; (d) menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis; (e) mengembangkan syarat perlu dan syarat cukup dari suatu konsep; (f) menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu; dan (g) mengaplikasikan konsep atau algoritma pada pemecahan masalah. Penelitian ini menggunakan indicator sebagai berikut 1. Menyatakan ulang suatu konsep 2. Mengklasifikasikan objek-objek menurut sifat-sifat tertentu 3. Menyajikan konsep dalam bentuk representasi matematika 4. Menggunakan, memanfaatkan dan memilih prosedur atau operasi hitung 5. Mengaplikasikan konsep. E. Kerangka Pikir Pembelajaran konvesional yaitu cara mengajar tradisional seperti bahan pelajaran dibagikan lalu peserta didik ditugaskan untuk mempelajari yang kemudian 20 pendidik menyampaikan kembali di kelas membuat peserta didik belajar dengan cara yang sangat tidak efisien, peserta didik tidak sanggup membaca dengan suatu tujuan khas, tidak sanggup menilai apa yang dipelajari, tidak sanggup menggunakan teknik matematis atau ilmiah, tidak sanggup menyusun fakta dan mengambil kesimpulan, karena mereka tidak memperoleh hasil belajar yang autentik Proses pembelajaran yang dilakukan selama ini masih didominasi dengan tuntutan untuk menghafalkan dan menguasai pelajaran sebanyak mungkin demi menghadapi ujian. Saat ujian berlangsung, peserta didik harus mampu mengeluarkan apa yang telah dihafalnya tersebut. Kondisi ini sangat bertentangan dengan kondisi psikologis peserta didik dimana proses pembelajaran akan efektif jika siswa terlibat aktif. Tetapi kenyataannya, dalam pembelajaran di kelas justru sebaliknya, peserta didik terkesan pasif karena pembelajaran di kelas hanya merupakan trasfer pengetahuan searah dari guru ke siswa. Akibatnya, peserta didik cenderung bosan dan belajar dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Kondisi seperti ini menyebabkan lemahnya pemahaman konsep matematis siswa. Agar pemahaman konsep matematis siswa menjadi lebih baik, maka diperlukan cara agar siswa lebih aktif dan pembelajaran menjadi menyenangkan di kelas. Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu dengan pemilihan model pembelajaran kooperatif yang dapat membuat siswa saling bekerjasama, berinteraksi, bertukar pemikiran, hingga mereka menemukan dan memahami konsep yang sedang dipelajarinya. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran melalui kelompok kecil siswa yang saling bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Dengan berperan aktif dan saling 21 bekerjasama dalam pembelajaran siswa akan lebih memahami konsep daripada siswa hanya mendengarkan penjelasan dari guru tanpa berperan aktif untuk dapat memahami konsep materi yang diajarkan. Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang mengutamakan adanya kerja sama antarsiswa dan peran aktif siswa sebagai individu untuk bekerja sama dalam kelompok guna mencapai tujuan pembelajarandan diarahkan untuk mempelajari dan memahami materi pelajaran. Kerja sama dan peran aktif siswa sangat diperlukan dalam pembelajaran, agar siswa dapat memahami konsep dalam suatu materi pelajaran dengan baik. Pembelajaran kooperatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT). Model pembelajaran kooperatif tipe NHT adalah model pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan bertujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik dengan melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Selain itu, model ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang tepat. Sehingga siswa diharapkan tertarik dalam setiap pelajaran, khususnya pelajaran matematika. Sebab, apabila siswa tertarik dengan pelajaran matematika, maka siswa diharapkan dapat memahami konsep matematis dengan baik. Pembelajaran dengan model NHT dimulai dengan siswa dibagi dalam kelompok yang beranggotakan 4 orang, disesuaikan dengan jumlah siswa di kelas tersebut. Kemudian guru melakukan penomoran (Numbering) untuk setiap anggota kelom- 22 pok yang heterogen sesuai dengan anggota dalam kelompok tersebut. Maksud dari penomoran ini adalah agar siswa lebih tertarik saat pembelajaran apabila dilakukan sebuah teknik ataupun cara yang baru dalam kelompok diskusi. Selain itu, siswa akan lebih siap saat pembelajaran dan diskusi, karena siswa akan dipanggil nomornya secara acak saat memberikan jawaban hasil diskusi. Setelah siswa diberikan nomor, kegiatan selanjutnya adalah pengajuan pertanyaan oleh guru berupa Lembar Kerja Kelompok (LKK). Pemberian LKK diharapkan agar siswa dapat menggali pengetahuan baru bersama anggota kelompoknya dari pertanyaan-pertanyaan yang ada di LKK tersebut. Kemudian, masing-masing kelompok dapat berpikir bersama (Heads Together) untuk membahas LKK. Kegiatan ini dilakukan agar siswa dapat saling memberikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang tepat, serta memastikan setiap anggota kelompok mengetahui jawaban dari pertanyaan yang ada di LKK, sehingga siswa dapat menambah dan meningkatkan pemahaman konsep matematisnya dari hasil berpikir bersama. Kegiatan selanjutnya, yaitu pemberian jawaban. Guru memanggil acak nomor siswa. Siswa dari setiap kelompok yang bernomor sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas. Kemudian, guru secara acak memilih siswa dalam kelompok yang harus memberikan jawaban hasil berpikir bersama. Siswa yang nomornya dipilih oleh guru dari kelompok tersebut berdiri untuk memberikan jawaban kepada seluruh kelas. Kelompok lain yang bernomor sama dapat menanggapi jawaban tersebut. Kegiatan ini dilakukan untuk mematangkan pemahaman konsep matematis siswa, membuat siswa agar berani mengungkapkan 23 ide-ide, dan dapat saling memberikan pengetahuan yang baru hasil berpikir bersama anggota kelompok kepada siswa yang lain, serta agar siswa berani tampil di depan kelas. Pengalaman dalam belajar dan pengetahuan yang mereka peroleh tentu akan bertambah dan melalui kegiatan pembelajaran dengan model NHT, siswa diharapkan dapat meningkatkan pemahaman konsep matematisnya. F. Anggapan Dasar Penelitian ini mempunyai anggapan sebagai berikut : 1. Seluruh siswa kelas VIII SMP Plus Tri Sukses Natar Tahun Pelajaran 2013/2014 memperoleh materi pelajaran matematika berdasarkan kurikulum KTSP. 2. Faktor lain yang mempengaruhi pemahaman konsep matematis siswa selain faktor pembelajaran NHT dan pembelajaran konvensional dianggap memberi kontribusi yang sama. G. Hipotesis Penelitian Hipotesis dalam penelitian ini yaitu: a. Hipotesis Umum Model pembelajaran kooperatif tipe NHT berpengaruh terhadap pemahaman konsep matematis siswa. b. Hipotesis Kerja Pemahaman konsep matematis siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih tinggi dari pemahaman konsep matematis siswa dengan model pembelajaran konvensional. III. METODE PENELITIAN A. Populasi dan Sampel Penelitian ini telah dilaksanakan di SMP Plus Tri Sukses yang beralamatkan di Jalan Serbajadi, Desa Pemanggilan, Kecamatan Natar, Lampung Selatan dari tanggal 14 Mei 2014 sampai dengan tanggal 7 Juni 2014. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII semester genap SMP Plus Tri Sukses Natar Tahun Pelajaran 2013/2014 sebanyak 97 siswa yang terdistribusi dalam tiga kelas (VIIIA-VIII C). Sampel dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu dengan mengambil dua kelas yang memiliki nilai rata-rata yang mendekati sama pada ujian semester ganjil untuk mata pelajaran matematika. Rata-rata nilai ujian semester ganjil kelas VIII di sekolah tersebut disajikan dalam tabel berikut. Tabel 3.1 Rata-rata Nilai Semester Ganjil T.P. 2013/2014 Mata Pelajaran Matematika No. 1 2 3 Kelas Banyak Siswa Rata-Rata VIII A 33 65,20 VIII B 31 61,14 VIII C 33 58,75 (Sumber: Data Nilai Ujian Semester Ganjil SMP Plus Tri Sukses, Natar) 25 Dengan melihat rata-rata nilai ujian semester ganjil, terpilih dua kelas, yaitu kelas VIII B dan kelas VIII C. Penentuan kelas kontrol dan kelas eksperimen dilakukan secara acak dan diperoleh kelas VIII B sebagai kelas kontrol dan kelas VIII C sebagai kelas eksperimen. B. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasi experimental research). Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah posttest only control design yang merupakan bentuk desain penelitian eksperimen semu. Pada desain ini kelompok eksperimen memperoleh perlakuan berupa model pembelajaran kooperatif tipe NHT, sedangkan kelompok kontrol memperoleh perlakuan berupa model pembelajaran konvensional. Di akhir pembelajaran, siswa diberi posttest untuk mengetahui pemahaman konsep matematis siswa. Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Furchan (2007: 368) desain pelaksanaan penelitian digambarkan sebagai berikut. Tabel 3.2 Desain Penelitian Kelompok A1 A2 Perlakuan X1 X2 Keterangan: A1 = eksperimen A2 = kontrol O = Observasi X1 = model pembelajaran kooperatif tipe NHT X2 = model pembelajaran konvensional Posttest O O 26 C. Prosedur Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah penelitian sebagai berikut. 1. Prapenelitian Kegiatan yang dilakukan pada prapenelitian sebagai berikut : a) Membawa surat izin penelitian pendahuluan (observasi) ke sekolah. b) Mengadakan observasi ke sekolah tempat diadakannya penelitian, untuk mendapatkan informasi tentang keadaan kelas yang akan diteliti. c) Menetapkan sampel penelitian untuk kelas kontrol dan kelas eksperimen. d) Menyusun perangkat pembelajaran, Perangkat pembelajaran ini terdiri dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), kisi-kisi soal, soal tes, dan kunci jawaban soal tes pemahaman konsep yang merujuk pada pedoman penskoran. 2. Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun, yaitu RPP dengan model pembelajaran koo

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Natar Semester Genap Tahun Pelajaran 2011/2012)
1
6
46
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA (Studi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Pagelaran Semester Genap Tahun Pelajaran 2011/2012)
0
2
48
EFEKTIVITAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT DITINJAU DARI PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 22 Bandar Lampung Semester Genap Tahun Pelajaran 2012/2013)
0
8
54
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DITINJAU DARI PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 8 Bandar Lampung Semester Genap Tahun Pelajaran 2012/2013)
0
8
39
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 20 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2012/2013)
1
12
36
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Natar Semester Genap Tahun Pelajaran 2012/2013)
0
29
40
PENGARUH PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE SCRAMBLE TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII MTs Darul Huffaz Pesawaran Semester Genap Tahun Pelajaran 2013/2014)
0
6
57
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Seputih Raman Semester Genap Tahun Pelajaran 2013/2014)
0
10
51
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DITINJAU DARI KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi Pada Siswa Kelas VIII Semester Genap SMP Ar-Raihan Tahun Pelajaran 2013/2014)
0
7
51
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TWO STAY TWO STRAY TERHADAP KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISW (Studi pada Siswa Kelas VIII Semester Genap SMP Negeri 25 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2013/2014)
0
3
59
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VIII Semester Genap SMP Negeri 1 Sribhawono Tahun Pelajaran 2012/2013)
1
17
132
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Negeri 1 Terbanggi Besar Lampung Tengah Tahun Pelajaran 2012/2013)
0
15
161
EFEKTIVITAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER DITINJAU DARI PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Rumbia Lampung Tengah Semester Genap Tahun Pelajaran 2014/2015)
0
4
62
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Negeri 8 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2013/2014)
0
19
44
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Plus Tri Sukses Natar Lampung Selatan Tahun Pelajaran 2013/2014)
1
5
60
Show more