ANALISIS YURIDIS TENTANG PENGATURAN PENGELOLAAN ANGGARAN DANA DESA BERDASARKAN OTONOMI DESA

Gratis

4
26
68
2 years ago
Preview
Full text
ABSTRAK ANALISIS YURIDIS TENTANG PENGATURAN PENGELOLAAN ANGGARAN DANA DESA BERDASARKAN OTONOMI DESA Oleh ANNISAA TORIQI Anggaran Dana Desa sangat penting guna pembiayaan pengembangan wilayah tertinggal dalam suatu sistem wilayah pengembangan. Namun kurang maksimalnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan-kegiatan desa yang dibiayai dari Anggaran Dana Desa juga menunjukkan kurangnya komunikasi dari organisasi pengelolaan Anggaran Dana Desa dengan masyarakat, maka harus ada pengaturan hukum yang tepat atas pengelolaan Anggaran Dana Desa. Anggaran Dana Desa diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Terdapat dua permasalahan yang hendak diteliti dalam skripsi ini yakni: pertama, Bagaimanakah pengaturan pengelolaan anggaran dana desa berdasarkan otonomi desa. Kedua, Faktor pendorong dan penghambat pelaksanaan pengelolaan anggaran dana desa. Penelitian ini adalah penelitian hukum normatif (dogmatic research). Pendekatan masalahnya menggunakan pendekatan peratutran perundang-undangan (statute approach). Berdasarkan hasil penelitian maka didapatkan hasil bahwa: pertama, pengaturan hukum kebijakan pengelolaan Anggaran Dana Desa (ADD) secara khusus diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Desa. Dalam peraturan tersebut pengelolaan keuangan desa meliputi: perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan dan pertanggungjawaban. Penguatan pelaksanaan otonomi Desa dan pemberian kewenangan yang lebih besar kepada desa untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri tidak akan bermakna manakala tidak dibarengi dengan dukungan sumber pendanaannya. Maka kebijakan pemberian ADD merupakan wujud dari pemenuhan hak desa untuk menyelenggarakan otonominya dalam rangka peningkatan pelayanan publik dan pemberdayaan masyarakat. Kedua, faktor pendukung dalam pengelolaan ADD salah satunya adalah partisipasi masyarakat. Faktor penghambat dalam pengelolaan ADD yaitu rendahnya sumberdaya manusia. Sebaiknya pemerintah dapat meningkatkan sumberdaya manusia dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam perencanaan pengelolaan ADD, agar Dana Desa dapat dioptimalkan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan desa. Kata Kunci : Anggaran Dana Desa, pengelolaa ADD, Desa, Otonomi Desa ANALISIS YURIDIS TENTANG PENGATURAN PENGELOLAAN ANGGARAN DANA DESA BERDASARKAN OTONOMI DESA Oleh ANNISAA TORIQI Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA HUKUM Pada Bagian Hukum Administrasi Negara Fakultas Hukum Universitas Lampung FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2015 RIWAYAT HIDUP Nama lengkap penulis adalah Annisaa Toriqi Penulis dilahirkan di Mulya Asri, Tulang Bawang Barat, pada tanggal 28 Februari 1993, dan merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Bapak Kuwat Waluyo dan Ibu Sukarsih. Penulis mengawali pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 4 Mulya Asri pada tahun 2000, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 1 Tulang Bawang Tengah sampai tahun 2009, dan menyelesaikan pendidikan di Sekolah Mengenang Atas Negeri 2 Tumijajar pada tahun 2011. Penulis terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung pada tahun 2011. Penulis melaksanakan Kuliah KerjaNyata (KKN) pada tahun 2014 di kecamatan Marga Tiga Kabupaten Lampung Timur. Di tengah banyaknya polemik pada saat perkuliahan tidak menjadi penghalang penulis untuk menjadi organisatoris. Salama menjadi mahasiswa, penulis aktif diberbagai unik kegiatan mahasiswa. Penulis pernah menjadi anggota bidang kaderisasi UKMF FOSSI FH UNILA 2011-2013, anggota KMB VII BEM U UNILA, Bendahara Umum UKMU UNILA periode 2013-2015. PERSEMBAHAN Atas Ridho Allah SWT dan dengan segala kerendahan hati kupersembahkan skripsiku ini kepada: Ibundaku (Sukarsih) dan Ayahandaku (Kuat Waluyo) tercinta. Terimakasih atas segala lelah, pengorbanan, kasih sayang, doa, dan dukungan dalam setiap langkah yang kupilih. Adik-adikku Diana Dwi Yulianti dan Adnan Raghib Zuhair. Terimakasih untuk semangat, motivasi, dukungan serta tawa yang kalian berikan. Semoga menjadi anak-anak yang bermanfaat dalam melanjutkan estafet kebaikan untuk keluarga dimasa depan. Kepada segenap keluarga besarku, terimakasih atas segalanya semoga kelak dinda dapat membahagiakan, membanggakan, dan selalu bisa membuat kalian tersenyum dalam kebahagiaan; Almamater tercinta Universitas Lampung, Tempatku memperoleh ilmu dan merancang mimpi yang menjadi sebagian jejak langkahku menuju kesuksesan... SANWACANA Alhamdulillahirabbil’alamin, segala puji Bagi Allah SWT, Rabb semesta alam, Sang Mengetahui dan Maha Melihat hamba-hambaNya, Maha suci Allah, Dzat pemilik atas seluruh ilmu tanpa batas. Dia-lah Penetap atas hukumnya yang Maha Adil, Rabb yang Maha Mulia dan memuliakan kita diatas makhluk-Nya yang lain. Rabb yang memberi kita jalan keluar dari keputusasaan. Rabb yang Maha Pengasih dan Penyayang... Yang menguasai segala sesuatu... Yang Maha Berhendak ...Yang Maha Memuliakan dan Menghinakan hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. “Maka nikmat Tuhan Kamu yang manakah yang kamu dustakan..?? (Ar-Rahman:13) shalawat teriring salam senantiasa terlimpahkan kepada Baginda Rasullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya yang senantiasa mengikuti jalan petunjuk-Nya. Amin. Hanya dengan kehendak-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Analisis Yuridis Tentang Pengeturan Pengelolaan Anggaran Dana Desa Berdasarkan Otonomi Desa” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum di Faultas Hukum Universitas Lampung. Penulis menyadari masi terdapat kekurangan dalam penulisan skripsi nini, saran dan kritik yang membangun dari semua pihak sangat diharapkan untuk pengembangan dan kesempurnaan skripsi ini. Dalam penyelesaian skripsi ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan, dan saran dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima asih kepada: 1. Ibu Nurmayani, S.H., M.H., selaku Pembimbing Satu atas kesabarannya dan kesediaan meluangkan waktu di sela-sela kesibukannya, mencurahkan segenap pemikirannya, memberikan bimbingan, saran, dan kritik yang sangat berharga dalam proses penyelesaian skripsi ini; 2. Ibu Upik Hamidah, S.H., M.H., selaku Pembimbing Dua atas kesabarannya dan kesediaan meluangkan waktu di sela-sela kesibukannya, mencurahkan segenap pemikirannya, memberikan bimbingan, saran, dan kritik yang sangat berharga dalam proses penyelesaian skripsi ini; 3. Bapak Elman Eddy Patra, S.H., M.H., selaku Pembahas Satu, yang telah memberikan kritik, saran, dan masukan yang membangun terhadap skripsi ini; 4. Ibu Ati Yuniarti, S.H., M.H., selaku Pembahas Dua, yang telah memberikan kritik, saran, dan masukan yang membangun terhadap skripsi ini; 5. Bapak Dr. Heryandi, S.H., M.H., selaku Dekan Fakultas Hukum Universutas Lampung; 6. Bapak Dr. Muhammad Akib, S.H., M.H., selaku Pembimbing Akademi, yang telah membantu penulis menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Lampung; 7. Seluruh dosen dan karyawan/i Fakultas Hukum Universitas Lampung yang penuh dedikasi dalam memeberikan ilmu yang bermanfaat bagi penulis, serta segala bantuan yang diberikan kepada penulis selam menyelesaikan studi; 8. Mas Eko Wahyudi, S.P, om Huda, pakde Barman, mbah sumo kardi, mbah joe utomo, dan seluruh keluarga besar di Tulang Bawang Barat, yang senantiasa memberikan dukungan dan semangat serta telah banyak memberi inspirasi selama ini. Semoga apa yang telah kalian Allah berikan balasan kebaikan ; 9. Teman seperjuangan Fakultas Hukum Universitas Lampung angkatan 2011, Birsye Niadora, S.H, Angga Adi Yama D.P, Aisyah Muda Cemerlang, S.H, Andre Jevi Surya, S.H, Elsha Venca Inditta, S.H, Eva rohmaniyah, S.H, Agus Suteja, S.H, Ratna Eka Sari, Anisa Apriyani, Abdul Arifin, Fitri Agista dan seluruh teman-teman Fakultas Hukum yang tidak dapat disebutkan satu persatu atas dukungan dan kerjasamanya. Semoga kita semua sukses. 10. Seluruh teman-teman KKN Tematik di Desa Marga Tiga, Lampung Timur, Arif Lukman Fauzun, Ayu Agustina, Sulistya Wardani, Dwi Ariyanti, Bambang Irawan, Aridza Adiargo, Asna Lestari, Astri Ambun Sari. 11. Seluruh teman-teman Asrama Astid A, Esa Devi sefiani, Nurhikamah Harahap, Marlina, Moriana Dewi, Mar Tini, Roaida, Siti, Puji, Erlin, dll; 12. Sahabat istimewaku, Amelia Zahra, Ning Hartati Setiasih, Yudi Wibowo dan Muhammad Ridho. Saya benar-benar merasakan sebuah kebaikan yang tulus ketikan kalian membantu saya .Thank you for all that you have given to me, hopefully all of these are useful for all of us. 13. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini, terima kasih atas semua bantuan dan dukungannya. Semoga Allah memberikan balasan atas jasa dan budi baik yang telah diberikan kepada penulis. Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, akan tetapi sedikit harapan semoga skripsi yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya, khususnya bagi penulis dalam mengembangkan dan mengamalkan ilmu pengetahuan. Bandar Lampung, Penulis, Annisaa Toriqi DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ............................................................................................. 1 1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................ 6 1.3 Tujuan Penelitian ......................................................................................... 6 1.4 Kegunaan Penelitian ..................................................................................... 6 1.4.1 Kegunaan Teoritis ............................................................................. 6 1.4.2 Kegunaan Praktis ............................................................................... 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Desa .............................................................................................................. 8 2.1.1 Pengertian Desa .......................................................................... ....... 8 2.1.2 Struktur Pemerintahan Desa......................................................... ...... 14 2.2 Dana Desa............................................................................................. ........ 20 2.2.1 Pengertian Dana Desa......................................................................... 20 2.2.2 Sumber-Sumber Kuangan Desa.......................................................... 27 2.2.3 Pengertian Pengelolaan Keuangan Desa ..................................... ...... 30 2.3 Otonomi Desa ............................................................ .................................. 32 2.3.1 Pengertian Otonomi Desa............................................................. ...... 32 2.3.2 Tujuan Otonomi Desa......................................................................... 42 2.3.3 Pengelolaan Anggaran Dana Desa dalam Keuangan Desa (APBDesa).......................................................... ..... 43 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Pendekatan Masalah ..................................................................................... 48 3.2 Sumber Data ............................................................................................... 48 3.3 Metode Pengumpulan dan Pengolahan Data ............................................... 50 3.3.1 Pengumpulan Data.............................................................................. 50 3.3.2 Pengolahan Data ................................................................................ 50 3.4 Analisis Data ................................................................................................ 51 BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Pengaturan Pengelolaan Anggaran Dana Desa ............................................ 52 4.1.1 Perencanaan Pengelolaan Dana Desa ................................................ 52 4.1.2 Pelaksanaan Pengelolaan Dana Desa................................................... 55 4.1.3 Penganggaran Dana Desa..................................................................... 60 4.1.4 Penatausahaan..................................................................................... . 63 4.1.5 Pelaporan dan pertanggung jawaban Dana Desa................................. 64 4.1.6 Pengaturan Anggaran Dana Desa Berdasarkan Otonomi Desa ........ 65 4.1.7 Pengawasan Badan Permusyawaratan (BPD) dalam pengelolaan Anggaran Dana Desa....................................................... 74 4.4 Faktor Pendorong dan Pengehambat Pelaksanaan Pengelolaan Anggaran Dana Desa................................................................................... .. 78 4.4.1 Faktor Pendorong.................................................................................. 78 4.4.2 Faktor Penghambat......................................................................... ...... 79 BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan...................................................................................................... .... 81 5.2 Saran............................................................................................................. ........ 82 DAFTAR PUSTAKA BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah sebuah negara yang wilayahnya terbagi atas daerah-daerah provinsi. Daerah provinsi dibagi lagi atas daerah kabupaten dan daerah kota. Setiap daerah provinsi, daerah kabupaten, dan derah kota mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan undang-undang. Pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantu dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-Undang Dasar 1945. Menurut Dwipayana desentralisasi memungkinkan berlangsungnya perubahan mendasar dalam karakteristik hubungan kekuasaan antara daerah dengan pusat, sehingga daerah diberikan keleluasaan untuk menghasilkan keputusan-keputusan politik tanpa intervensi pusat.1 Demokratisasi setidaknya mengubah hubungan kekuasaan diantara lembaga-lembaga politik utama dalam berbagai tingkatan. Salah satu bentuk perubahan karakter hubungan kekuasaan tercermin dari 1 Dwipayana, Aridan Suntoro Eko, 2003, Membangun Good Governance di Desa, Institute of Research and Empowerment,Yogyakarta. Hlm,6. 2 pergeseran locus politics dari pemerintahan oleh birokrasi menjadi pemerintahan oleh partai (party government). Desentralisasi ini tidak hanya terbatas pada tingkat kabupaten kota tetapi juga desa sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (PP 72/2005). Desa, atau sebutan-sebutan lain yang sangat beragam di Indonesia, pada awalnya merupakan organisasi komunitas lokal yang mempunyai batas-batas wilayah, dihuni oleh sejumlah penduduk, dan mempunyai adat-istiadat untuk mengelola dirinya sendiri yang disebut dengan self-governing community. Desa pada umumnya mempunyai pemerintahan sendiri yang dikelola secara otonom tanpa ikatan hirarkhis-struktural dengan struktur yang lebih tinggi. Sementara itu Nordiawan menyatakan bahwa desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.2 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah yang kemudian direvisi dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014, bahwa efesiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan daerah perlu ditingkatkan dengan lebih memperhatikan aspek-aspek hubungan antara pemerintah pusat 2 Nordiawan, Deddi, Iswahyudi SP dan Maulidah Rahmawati, 2007, Akuntansi Pemerintahan, Salemba Empat, Jakarta.hlm.284. 3 dengan daerah dan antar daerah, potensi dan keanekaragaman daerah, serta peluang dan tantangan persaingan global dalam kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah tidak sesuai lagi dengan perkembangan, keadaan ketatanegaraan dan tuntutan penyelenggaraan pemerintah daerah sehingga perlu diganti. Dalam pemerintahan daerah kabupaten/kota dibentuk pemerintahan desa yang terdiri dari pemerintahan desa dan Badan Permusyawaratan Desa. Pembentukan, penghapusan, dan/atau penggabungan desa dengan memperhatikan asal-usulnya atas prakarsa masyarakat. Landasan pemikiran dalam pengaturan mengenai desa adalah keanekaragaman, partisipasi, otonomi asli, demokratisasi dan pemberdayaan masyarakat. Pemerintah mengakui otonomi yang dimiliki oleh desa ataupun dengan sebutan lainnya dan kepada desa melalui pemerintah desa dapat diberikan penugasan ataupun pendelegasian dari pemerintah ataupun pemerintah daerah untuk melaksanakan urusan pemerintah tertentu, sedangkan terhadap desa di luar desa geneologis yaitu desa yang bersifat administratif seperti desa yang dibentuk karena pemekaran desa ataupun karena transmigrasi ataupun karena alasan lain yang warganya pluralistik, majemuk, ataupun heterogen, maka otonomi desa akan diberikan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang mengikuti perkembangan dari desa itu sendiri. Dalam menyelenggarakan kewenangan, tugas dan kewajiban desa dalam penyelenggaraan pemerintah maupun pembangunan maka dibutuhkan sumber pendapatan. Menanggapi permasalahan tersebut, pemerintah memberi dukungan 4 keuangan desa salah satunya adalah berasal dari dana Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah minimal 10% (sepuluh persen) diperuntukkan bagi desa yang disebut Anggaran Dana Desa (ADD). Dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, maka tiap desa akan mendapatkan kucuran dana dari pemerintah pusat melalui APBN lebih kurang dari 1 Milyar per tahun. Pada pasal 72 ayat (1) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa mengenai sumber pendapatan desa, maksud pemberian Anggaran Dana Desa (ADD) sebenarnya adalah sebagai bantuan stimulan untuk mendorong dalam membiayai program pemerintah desa yang ditunjang dengan partisipasi swadaya gotong royong masyarakat dalam melaksanakan kegiatan pemerintah dan pemberdayaan masyarakat.3 Melalui Anggaran Dana Desa, desa atau pun kelurahan berpeluang untuk mengelola pembangunan, pemerintahan dan sosial kemasyarakatan desa secara otonom. Anggaran Dana Desa adalah dana yang di berikan kepada Desa yang berasal dari dana perimbangan keuangan pemerintah pusat dan daerah yang diterima oleh kabupaten/kota. Pemberian Anggaran Dana Desa merupakan wujud dari pemenuhan hak desa untuk menyelenggarakan otonominya agar tumbuh dan berkembang mengikuti pertumbuhan dari desa itu sendiri berdasarkan keanekaragaman, partisipasi, otonomi asli, demokratisasi, pemberdayaan masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta memacu percepatan pembangunan dan pertumbuhan wilayah-wilayah strategis. Anggaran Dana Desa sangat penting guna pembiayaan pengembangan wilayah tertinggal dalam suatu sistem wilayah pengembangan. Pelaksanaan Anggaran 3 Lihat Pasal 72 ayat (1) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. 5 Dana Desa ini ditujukan untuk program-program fisik dan non fisik yang berhubungan dengan indikator perkembangan desa, meliputi tingkat pendidikan, tingkat pendapatan masyarakat, dan tingkat kesehatan. Salah satu alasan rasional mengapa perlu ada Anggaran Dana Desa (ADD) adalah Kebijakan ADD sejalan dengan agenda Otonomi daerah, dimana desa ditempatkan sebagai basis desentralisasi. Kebijakan ADD sangat relevan dengan perspektif yang menempatkan desa sebagai basis partisipasi, karena desa berhadapan langsung dengan masyarakat dan kontrol masyarakat lebih kuat. Sebagian besar Masyarakat Indonesia hidup di dalam komunitas pedesaan. Sehingga desentralisasi di tingkat desa akan meningkatkan fungsi pemerintahan sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya. Mengenai hal tersebut tentunya akan memunculkan berbagai permasalahan yang sangat menarik untuk dikaji berkaitan dalam proses pengelolaan anggaran dana desa di desa. Sehingga kegiatan penelitian tentang masalah tersebut sangat penting untuk dilakukan, yaitu dengan melakukan penelitian untuk mengamati dan mencermati proses pengelolaan alokasi dana desa yang selama ini telah dilaksanakan, agar dapat mengetahui apakah dalam proses tersebut berjalan dengan baik. Di dalam pelaksanaan bantuan Anggaran Dana Desa masih terdapat beberapa permasalahan. Sebagai contoh adalah masih rendahnya Pendapatan Asli Desa yang diperoleh desa. Permasalahan dalam pelaksanaan Anggaran Dana Desa dijumpai juga pada kemampuan pengelola Anggaran Dana Desa baik dari unsur pemerintah desa maupun lembaga kemasyarakatan di desa dalam perencanaan, 6 pelaksanaan, dan pengendalian kegiatan yang belum baik. Permasalahan lainnya adalah masih kurang maksimal partisipasi swadaya gotong royong masyarakat desa. Kurang maksimalnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan-kegiatan desa yang dibiayai dari Anggaran Dana Desa juga menunjukkan kurangnya komunikasi dari organisasi pengelola Anggaran Dana Desa dengan masyarakat, oleh karena itu harus ada pengaturan yang hukum yang tepat atas pengelolaan Anggaran Dana Desa dan disamping itu harus ada kebijakan trensisi yang harus dilakukan oleh pemerintah guna memaksimalkan pengelolaan ADD tersebut. Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang “Analisis Yuridis Tentang Pengelolaan Anggaran Dana Desa (ADD) Berdasarkan Otonomi Desa” untuk mengkaji kritis atas pengaturan pengelolaan Anggaran Dana Desa ini. 1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana pengaturan pengelolaan anggaran dana desa berdasarkan otonomi desa? 2. Faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan pengelolaan anggaran dana desa berdasarkan otonomi desa? 1.3 Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui pengaturan pengelolaan anggaran dana desa berdasarkan otonomi desa. 2. Untuk mengetahui faktor penghambat dalam pelaksanaan pengaturan pengelolaan anggaran dana desa berdasarkan otonomi desa. 7 1.4 Kegunaan Penelitian 1.4.1 Kegunaan Teoritis Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman mengenai pengaturan hukum tindakan pemerintah dalam mendapatkan dan mengelola Anggaran Dana Desa secara yuridis dalam otonomi daerah, selanjutnya mengetahui bagaimana implikasi dan kebijakan transisi dari program pemerintah tersebut, sehingga mahasiswa dapat memberikan kritisi dan menemukan solusisolusi yang terbaik untuk pengelolaan ADD Indonesia kedepannya. 1.4.2 Kegunaan Praktis Secara praktis penelitian ini untuk memberikan pengetahuan bagi semua pihak yang mempunyai perhatian terhadap kebijakan pemerintah bidang pengelolaan Anggaran Dana Desa dan sebagai bahan bacaan alternative dalam bidang kebijakan hukum pengelolaan ADD Indonesia terutama mahasiswa Fakultas Hukum dalam menambah wawasan dalam urgensi suatu kebijakan pemerintah dan implikasinya. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Desa 2.1.1 Pengertian Desa Secara etimologi kata desa berasal dari bahasa sansekerta, deca yang berarti tanah air, tanah asal, atau tanah kelahiran. Dari perspektif geografis, desa atau village yang diartikan sebagai “ a groups of houses or shops in a country area, smaller than and town “. Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewewenangan untuk mengurus rumah tangganya berdasarkan hak asal-usul dan adat istiadat yang diakui dalam Pemerintahan Nasiona dan berada di Daerah Kabupaten. Desa menurut H.A.W. Widjaja dalam bukunya yang berjudul “Otonomi Desa” menyatakan bahwa:4 Desa adalah sebagai kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai susunan asli berdasarkasan hak asal-usul yang bersifat istimewa. Landasan pemikiran dalam mengenai Pemerintahan Desa adalah keanekaragaman, partisipasi, otonomi asli, demokratisasi dan pemberdayaan masyarakat. 4 Prof. Drs. Widjaja, HAW. 2003. Pemerintahan Desa/Marga. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Hlm. 3. 9 Menurut R. Bintarto5, berdasarkan tinajuan geografi yang dikemukakannya, desa merupakan suatu hasil perwujudan geografis, sosial, politik, dan cultural yang terdapat disuatu daerah serta memiliki hubungan timbal balik dengan daerah lain. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia6, desa adalah suatu kesatuan wilayah yang dihuni oleh sejumlah keluarga yang mempunyai system pemerintahan sendiri (dikepalai oleh seorang Kepala Desa) atau desa merupakan kelompok rumah di luar kota yang merupakan kesatuan. Pengertian tentang desa menurut undang-undang adalah: Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 Tentang Desa Pasal 1 ,7 Desa atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Pasal 1, Desa adalah Desa dan Desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal-usul, dan/atau hak tradisional yang 5 R. Bintaro, Dalam Interaksi Desa – Kota dan Permasalahannya (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1989). 6 Kamus Besar Bahasa Indonesia, Medan: Bitra Indonesia, 2013. Hlm.2. 7 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 Tentang Desa, penjelasan mengenai Desa. 10 diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah Pasal 1, Desa adalah Desa dan adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut , adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa Pasal 1, Desa adalah Desa dan adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan demikian sebagai suatu bagian dari sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diakui otonominya dan Kepala melalui pemerintah dapat diberikan penugasan pendelegasian dari pemrintahan atauoun dari pemerintahan daerah untuk melaksanakan pemerintahan tertentu. Landasan pemikiran dalam pengaturan mengenai adalah keanekaragaman, partisipai, otonomi asli, demokratisasi dan pemberdayaan masyarakat. Pemerintahan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 adalah penyelenggaraan 11 urusan pemerintahan oleh Pemerintahan dan Badan Permusyawaratan dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-ususl dan adat istiadat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Merupakan suatu kegiatan pemerintah , lebih jelasnya pemikiran ini didasarkan bahwa penyelenggaraan tata kelola (disingkat penyelenggara ), atau yang dikenal selama ini sebagai “Pemerintahan ”. Kepala adalah pelaksana kebijakan sedangkan Badan Pemusyawaratan dan lembaga pembuatan dan pengawasan kebijakan (Paraturan ). Menurut Zakaria dalam Wahjudin Sumpeno dalam Candra Kusuma8 menyatakan bahwa desa adalah sekumpulan yang hidup bersama atau suatu wilayah, yang memiliki suatu serangkaian peraturan-peraturan yang ditetapkan sendiri, serta berada diwilayah pimpinan pemerintahan yang dipilih dan ditetapkan sendiri. Sedangkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 72 Tahun 2005 Tentang pasal 6 menyebutkan bahwa Pemerintahan Permusyawaratan dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adatistiadat setempat yang diakui dan dihormti dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.9 Dengan demikian sebagai suatu bagian dari sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diakui otonominya dan Kepala melalui pemerintah dapat diberikan penugasan pendelegasian dari pemerintahan ataupun pemerintahan daerah untuk melaksanakan urusan pemerintah tertentu. Sebagai 8 Candra Kusuma Putra, Ratih Nur Pratiwi, suwondo, Pengelolaan Alokasi Dana Desa Dalam Pemberdayaan Masyarakat Desa dalam Pemberdayaan Masyarakat Desa. Jurnal Administrasi Publik , vol I, No. 6. 9 Pasal 6 Undang-Undang Nomor 72 Tahun 2005 Tentang Desa. 12 unit organisasi yang berhadapan langsung dengan masyarakat dengan segala latar belakang kepentingan dan kebutuhannya mempunyai peranan yang sangat strategis, khususnya dalam pelaksanaan tugas dibidang pelayanan publik. Maka desentralisasi kewenangan-kewenangan yang lebih besar disertai dengan pembiayaan dan bantuan sarana prasarana yang memadai mutlak diperlukan guna penguatan otonomi menuju kemandirian dan alokasi. Dalam pengertian menurut Widjaja dan Undang-Undang di atas sangat jelas sekali bahwa desa merupakan self community yaitu komunitas yang mengatur dirinya sendiri. Dengan pemahaman bahwa desa memiliki kewenangan untuk mengurus dan mengatur kepentingan masyarakatnya sesuai dengan kondisi dan sosial budaya setempat, maka posisi desa yang memiliki otonomi asli sangat strategis sehingga memerlukan perhatian yang seimbang terhadap penyelenggaraan Otonomi Daerah. Karena dengan Otonomi Desa yang kuat akan mempengaruhi secara signifikan perwujudan Otonomi Daerah. Desa memiliki wewenang sesuai yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa yakni:10 1. Menyelenggarakan urusan pemerintahan yang sudah ada berdasarkan hak asal-usul desa. 2. Menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan kabupaten/kota yang diserahkan pengaturannya kepada desa, yakni urusan pemerintahan urusan pemerintahan yang meningkatkan pelayanan masyarakat. 10 Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. secara langsung dapat 13 3. Tugas pembantuan dari pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota. 4. Urusan pemerintahan lainnya yang oleh peraturan perundang-undangan diserahkan kepada desa. Desa juga memiliki hak dan kewajiban yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa yakni, Desa berhak: a. Mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat berdasarkan hak asalusul, adat-istiadat, dan nilai sosial budaya masyarakat desa; b. Menetapkan dan mengelola kelembagaan desa; c. Mendapatkan sumber pendapatan; Desa berkewajiban; a. Melindungi dan menjaga persatuan, keatuan serta kerukunan masyarakat desa dalam rangka kerukunan nasional dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia; b. Meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat desa; c. Mengembangkan kehidupan demokrasi; d. Mengembangkan pemberdayaan masyarakat desa; dan e. Memberikan dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat desa; Tujuan pembentukan desa adalah untuk meningkatkan kemampuan penyelenggaraan Pemerintahan secara berdaya guna dan berhasil guna dan peningkatan pelayanan terhadap masyarakat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemajuan pembangunan. Dalam menciptakan pembangunan hingga ditingkat akar rumput, maka terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk 14 pembentukan desa yakni: pertama, faktor penduduk, minimal 2500 jiwa atau 500 kepala keluarga, kedua, faktor luas yang terjangkau dalam pelayanan dan pembinaan masyarakat, ketiga, faktor letak yang memiliki jaringan perhubungan atau komunikasi antar dusun, keempat, faktor sarana prasarana, tersedianya sarana perhubungan, pemasaran, sosial, produksi, dan sarana pemerintahan desa, kelima, faktor sosial budaya, adanya kerukunan hidup beragama dan kehidupan bermasyarakat dalam hubungan adat istiadat, keenam, faktor kehidupan masyarakat, yaitu tempat untuk keperluan mata pencaharian masyarakat. 2.1.2 Struktur Pemerintah Desa Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa Pasal 25 bahwa Pemerintah Desa adalah Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dan yang dibantu oleh perangkat desa atau yang disebut dengan nama lain. Dalam ilmu manajemen pembantu pimpinan disebut staf. Staf professional diartikan sebagai pegawai yaitu pimpinan yang memiliki keahlian dalam bidangnya, bertanggungjawab, dan berperilaku professional dalam menjalankan tugasnya. Selanjutnya pada pasal 26 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 disebutkan; Kepala Desa bertugas menyelenggarakan Pemerintahan Desa, melaksanakan Pembangunan Desa, Pembinaan Kemasyarakatan Desa, dan Pemberdayaan Masyarakat Desa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perangkat desa adalah Pembantu Kepala Desa dan pelaksanaan tugas menyelenggaraan Pemerintahan Desa, melaksanakan pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat desa. Atas dasar tersebut, 15 Kepala Desa memiliki wewenang yang sesuai dengan tugas-tugasnya itu. Diantaranya adalah, bahwa Kepala Desa berwenang untuk: a. Memimpin penyelenggaraan Pemerintahan Desa; b. Mengangkat dan memberhentikan perangkat desa; c. Memegang kekeuasaanpengelolaan Keuangan dan Aset Desa; d. Menetapkan Peraturan Desa; e. Menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa; f. Membina kehidupan masyarakat desa; g. Membina ketentraman dan ketertiban masyarakat desa; h. Membina dan meningkatkan perekonomian desa serta mengintegrasi agar mencapai perekonomian skala produktif untuk sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat desa; i. Mengembangkan sumber pendapatan desa; j. Mengusulkan dan menerima pelimpahan sebagian kekayaan negara guma meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa; k. Mengembangkan kehidupan sosial budaya masyarakat desa; l. Memanfaatkan teknologi tepat guna; m. Mengordinasikan pembangunan desa secara partisipatif; n. Mewakili desa di dalam dan di luar pengadilan atau menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan ketentuan peraturan perumdangundangan; dan o. Melaksanakan wewenang lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 16 Jika ada wewenang, tentu ada kewajiban, wewenang yang dimaksud diatas merupakan format yang diakui oleh kontitusi Negara Republik Indonesia. Sedangkan untuk kewajiban untuk menjadi Kepala Desa tidaklah mudah, diantaranya adalah: 1. Memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika; 2. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa; 3. Menaati dan menegakkan peraturan perundang-undangan; 4. Melaksanakan kehidupan demokrasi dan berkeadilan gender; 5. Melaksanakan prinsip tata Pemerintahan Desa yang akuntabel, transparan, profesional, efektif dan efesien, bersih serta bebas dari kolusi, korupsi, dan nepotisme; 6. Menjalin kerja sama dan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan di desa; 7. Menyelengarakan administrasi pemerintahan desa yang baik; 8. Mengelola keuangan dan Aset Desa; 9. Melaksanakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan desa; 10. Menyelesaikan perselisihan masyarakat di desa; 11. Mengembangkan perekonomian masyarakat desa; 12. Membina dan melestarikan nilai sosial budaya masyarakat desa; 13. Memberdayakan masyarakat dan lembaga kemasyarakatan desa; 17 14. Mengembangkan potensi sumber daya alam dan melestarikan lingkungan hidup; 15. Memberikan informasi kepada masyrakat desa. Dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya, kepala desa bersama dengan Badan Permusyawaratan Desa membuat rencana strategis desa. Hal ini tercantum pada Pasal 55 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa yang berbunyi: Badan Permusyawartan Desa mempunyai fungsi:11 a. Membahas dan menyepakati Rancangan Peraturan Desa bersama Kepala Desa; b. Menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat desa; c. Melakukan pengawasan kinerja kepala desa; Badan Permusyawartan Desa juga memiliki hak untuk mengawasi penyelenggaraan pemerintahan desa, hal ini terdapat dalam Pasal 61 huruf a Undang-Undang Desa yang berbunyi: Badan Permusyawaratan Desa berhak: 1. Mengawasi dan meminta keterangan tentang penyelenggaraan pemerintahan desa kepada pemerintah desa; 2. Menyatakan pendapat atas penyelenggara pemerintahan desa, pelaksanaan pembangunan desa, pembinaan masyarakat desa, dan pemberdayaan masyarakat desa; dan 3. Mendapatkan biaya operasional pelaksanaan tugas dan fungsinya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja. 11 Lihat Pasal 55 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. 18 Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Petunjuk Pelaksanaan Undang-Undang Desa Pasal 4812, dalam melaksanakan tugas, kewenangan, hak, kepala desa wajib: menyampikan laporan penyelenggaraan Pemerintah Desa setiap akhir tahun anggaran kepada Bupati/Walikota, menyampaikan laopran penyelenggaraan Pemerintahan Desa pada akhir masa jabatan kepada Bupati/Kota, menyampaikan laporan keterangan secara tertulis kepada Badan Permusyawaratan Desa setiap akhir tahun anggaran. Lebih lanjut dalam Pasal 51 Kepala Desa menyampaikan laporan keterangan penyelenggaraan Pemerintahan Desa sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Pasal 48 huruf c setiap akhir tahun anggaran kepada Badan Permusyawaratan Desa secara tertulis paling lambat 3 (tiga) bulan setelah berakhirnya tahun anggaran. Laporan keterangan penyelenggaraan Pemerintahan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit memuat pelaksanaan peraturan Desa. Laporan keterangan penyelenggaraan Pemerintahan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan oleh Badan Permusyawaratan Desa dalam melaksanakan fungsi pengawasan kinerja kepala desa. Dari uraian tersebut sudah jelas bahwa Badan Permusyawaratan Masyarakat Desa mempunyai peran yang strategis dalam ikut mengawal penggunaan dana desa tersebut agar tidak diselewengkan. Mari kita cermati ketentuan pasal 48 dan 51 Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014. 12 Lihat Pasal 48 Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Petunjuk Pelaksanaan Undang-Undang Desa. 19 Selain bersama Badan Permusyawaratan Desa, sesuai dengan undang-undang bahwa kepala desa dibantu oleh perangkat desa. Perangkat desa menurut UndangUndang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa terncantum dalam Pasal 48. Perangkat desa terdiri atas;13 a. Sekretariat desa; b. Pelaksana kewilayahan; dan c. Pelaksana teknis. Perangkat desa diangkat oleh Kepala Desa setelah dikonsultasikan dengan camat atas nama Bupati/Walikota. Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, perangkat desa bertanggungjawab kepada Kepala Desa. Perangkat desa diangkat dari warga desa yang memenuhi persyaratan, karena tugas pemerintah desa begitu berat maka perangkat desa harus memiliki kemampuan yang memadai untuk bisa mendukung Kepala Desa dalam menjalankan pemerintahan dan pembangunan. Pemerintah desa berkewajiban melaksanakan tugas-tugas pemerintahan sesuai dengan kewenangannya. Dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa Pasal 18 disebutkan bahwa kewenangan desa meliputi kewenangan dibidang penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan desa, dan pemberdayaan masyarakat desa, berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal-usul, dan adat istiadat desa.14 Untuk melaksanakan tugastugas ini diperlukan susunan organisasi dan perangkat desa yang memadai agar mampu menyelenggarakan pemerintahan dengan baik. Dengan demikian susunan 13 14 Lihat Pasal 48 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Lihat Pasal 18 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. 20 organisasi pemerintah desa yang ada saat ini perlu dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dalam upaya melaksanakan amanat Undang-Undang Desa. Struktur organisasi pemerintah desa harus disesuikan dengan kewenangan dan beban tugas yang harus dilaksanakan. Menurut Asnawi Rewansyah (2011) ada 5 (lima) fungsi utama pemerintah yaitu: (1) Fungsi pengaturan/regulasi, (2) Fungsi pelayanan kepada masyarakat, (3) Fungsi pemberdayaan masyarakat, (4) Fungsi pengelolaan asset/kekayaan dan (5) Fungsi pengamanan dan perlindungan. 2.2 Dana Desa 2.2.1 Pengertian Dana Desa Dana desa adalah dana yang bersumber dari APBN yang diperuntukkan bagi yang ditransfer melalui APBD kabupaten dan kota yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan.15 Dana desa adalah salah satu issu krusial dalam undang-undang desa, penghitungan anggaran berdasarkan jumlah desa dengan mempertimbangkan jumlah penduduk, angka kemiskinan, luas wilayah, dan tingkat kesulitan geografis dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan pemerataan pembangunan desa. Karena issu yang begitu krusial, para senator menilai, penyelenggaraan pemerintahan desa membutuhkan pembinaan dan pengawasan, khususnya penyelenggaraan kegiatan desa. 15 Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 241 Tahun 2014 pasal 1 tentang Pelaksanaan Pertanggungjawaban Transfer ke Daerah dan Dana Desa. 21 Anggaran Dana Desa atau ADD adalah bagian keuangan yang diperoleh dari Bagi Hasil Pajak dan bagian dari Dana Perimbangan Kuangan Pusat dan Daerah yang diterima oleh kabupaten. Sumber pendapatan desa tersebut secara keseluruhan digunakan untuk menandai seluruh kewenangan yang menjadi tanggungjawab desa. Dana tersebut digunakan untuk menandai penyelenggaraan kewenangan pembangunan, desa yang pemberdayaan demikian, pendapatan menacakup masyarakat, penyelenggaraan dan pemerintahan, kemasyarakatan. Dengan yang bersumber dari APBN juga digunakan untuk menandai kewenangan tersebut. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, diberikan kewenangan untuk mengatur dan mengurus kewenangannya sesuai dengan kebutuhan dan prioritas desa. Hal itu berarti dana desa akan digunakan untuk menandai keseluruhan kewenangan sesuai denagan kebutuhan dan prioritas dana desa tersebut namun, mengingat dana desa bersumber dari Belanja Pusat, untuk mengoptimalkan penggunaan dana desa, Pemerintah diberikan kewenangan untuk menetapkan prioritas penggunaan dana desa untuk mendukung program pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat desa. Penetapan prioritas penggunaan dana tersebut tetap sejalan dengan kewenangan yang menjadi tanggungjawab desa. Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa pada Pasal 18 bahwa Anggaran Dana Desa berasal dari APBD Kabupaten/Kota yang bersumber dari bagian Dana Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah yang diterima oleh Kabupaten/Kota 22 untuk desa paling sedikit 10% (sepuluh persen).16 Anggaran Pendapatan dan Belanja bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa selanjutnya disingkat APBDES adalah Rencana Keuangan Tahunan Desa yang dibahas dan disetujui bersama oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa yang ditetapkan dengan Peraturan Desa dan Dana Alokasi Desa terdapat pada Bantuan Keuangan Pemerintah Kabupaten meliputi: 1. Tunjangan Penghasilan Aparatur Pemerintah Desa (TPAPD). 2. Anggaran Dana Desa. 3. Penyisihan pajak dan retribusi daerah. 4. Sumbangan bantuan lainnya dari Kabupaten. Pembagian Anggaran Dana Desa (ADD) dapat dilihat berdasarkan Variabel Independen utama dan Variabel Independen tambahan dengan rincian sebagai berikut: 1. Asas Merata adalah besarnya bagian Anggaran Dana Desa (ADD) yang sama untuk di setiap atau yang disebut dengan Alokasi Dana Desa (ADD) minimal. Alokasi Dana Desa (ADD) Variabel Independen utama sebesar 70% dan Variabel Independen Tambahan 30%. 2. Asas Adil adalah besarnya bagian Alokasi Dana Desa (ADD) yang dibagi secara proporsional untuk di setiap berdasarkan Nilai Bobot Desa yang dihitung dengan rumus dan variabel tertentu atau Alokasi Dana Desa (ADD) Proporsional (ADDP), Variabel Proporsional Utama sebesar 60% dan Variabel Proporsional Tambahan sebesar 40%. Variabel Independen 16 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa pada Pasal 18. 23 Utama adalah Variabel yang dinilai terpenting untuk menentukan nilai bobot desa. Variabel Utama ditujukan untuk mengurangi kesenjangan kesejahteraan masyarakat dan pelayanan dasar umum antar desa secara bertahap dan mengatasi kemiskinan strukturan masyarakat di desa. Variabel Independen Utama meliputi sebagai berikut: 1. Indikator kemiskinan. 2. Indikator Pendidikan Dasar. 3. Indikator Kesehatan. 4. Indikator Keterjangkauan Desa Variabel Tambahan merupakan Variabel yang dapat ditambahkan oleh masing-masing daerah yang meliputi sebagai berikut : 1. Indikator Jumlah Penduduk. 2. Indikator Luas Wilayah. 3. Indikator Potensi Ekonomi (PBB). 4. Indikator Jumlah Unit Komunitas (Dusun). Menurut Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa pada Pasal 72 ayat (1) mengenai sumber pendapatan desa, dalam huruf d disebutkan “ anggaran dana desa yang merupakan bagian dari dana perimbangan yang diterima Kabupaten/Kota". Selanjutnya dalam ayat (4) Pasal yang sama disebutkan "Anggaran Dana Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d paling sedikit 10% (sepuluh perseratus) dari dana perimbangan yang diterima Kabupaten/Kota dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah setelah dikurangi Dana Alokasi 24 Khusus".17 Dalam masa transisi, sebelum dana desa mencapai 10% anggaran dana desa dipenuhi melalui realokasi dari Belanja Pusat dari desa“ program yang berbasis desa”18. Kementrian/lembaga mengajukan anggaran untuk program yang berbasis kepada menteri dan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perencanaan pembanguna nasional untuk ditetapkan sebagai sumber dana desa. Berlakunya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 dirasakan menjadi angin segar bagi desa. Adanya undang-undang ini menjadi dasar hukum dari diakuinya desa sebagai suatu daerah otonomi sendiri. Dalam hubungannya dengan desentralisasi fiscal yang menjadi pokok dari berlakunya undang-unadang tersebut yaitu terkait dengan 10% dana dari APBN untuk desa diseluruh Indonesia, dimana setiap desa akan menerima dana kurang lebih besar 1 Milyar per tahun. Pembagian anggaran yang hampir seragam berkisar 1 Milyar padahal kapasitas pengelolaan pemerintah sangat beragam ( hal ini akan diantisipasi melalui aturan-aturan desentralisasi fiscal yang mengatur besarnya anggaran desa berdasarkan kebutuhan serta kemampuannya mengelola melalui peraturan pemerintah. Dana desa dikelola secara tertib, taat pada ketentuan peraturan perundangundangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan serta mengutamakan kepentingan masyarakat setempat. Pemerintah menganggarkan Dana Desa secara nasional dalam APBN setiap tahun. Dana Desa sebagaimana bersumber dari belanja 17 18 Lihat pasal 72 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Pasal 4 yang dimaksud dengan program yang berbasis adalah program dalam rangka melaksanakan kewenangan Desa berdasarkan hak asal-usul dan kewenangan lokal berskala Desa sesuai dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dan peraturan pelaksanaannnya. 25 Pemerintah dengan mengefektifkan program yang berbasis Desa secara merata dan berkeadilan. Dana Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2014 Tentang Dana Desa Yang Bersumber Dari Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara ditransfer melalui APBD kabupaten/kota untuk selanjutnya ditransfer ke APBDesa.19 Dana Desa setiap kabupaten/kota dialokasikan berdasarkan perkalian antara jumlah di setiap kabupaten/kota dan rata-rata Dana Desa setiap provinsi. Rata-rata Dana Desa setiap provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dialokasikan berdasarkan jumlah desa dalam provinsi yang bersangkutan serta jumlah penduduk kabupaten/kota, luas wilayah kabupaten/kota, angka kemiskinan kabupaten/kota, dan tingkat kesulitan geografis kabupaten/kota dalam provinsi yang bersangkutan. Berdasarkan besaran Dana Desa setiap kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (8) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2014 Tentang Dana Desa Yang Bersumber Dari Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara, bupati/walikota menetapkan besaran Dana Desa untuk setiap desa di wilayahnya.20 Besaran Dana Desa setiap Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Neagara, dihitung berdasarkan jumlah penduduk desa, luas wilayah desa, angka kemiskinan Desa, dan tingkat kesulitan 19 Lihat Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2014 Tentang Dana Desa Yang Bersumber Dari Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara. 20 Pasal 11 ayat (8) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2014 Tentang Dana Desa Yang Bersumber Dari Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara, 26 geografis21. Jumlah penduduk Desa, luas wilayah Desa, dan angka kemiskinan Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dihitung dengan bobot:22 a. 30% (tiga puluh perseratus) untuk jumlah penduduk Desa; b. 20% (dua puluh perseratus) untuk luas wilayah Desa; dan c. 50% (lima puluh perseratus) untuk angka kemiskinan Desa. Tingkat kesulitan geografis setiap Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) digunakan sebagai faktor pengalihasil penghitungan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Besaran Dana Desa setiap Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung dengan cara:23 a. Dana Desa untuk suatu Desa = Pagu Dana Desa kabupaten/kota x [(30% x persentase jumlah penduduk desa yang bersangkutan te

Dokumen baru

Download (68 Halaman)
Gratis

Dokumen yang terkait

AKUNTABILITAS PENGELOLAAN ALOKASI DANA DESA (ADD) DI DESA – DESA KECAMATAN ROGOJAMPI KABUPATEN BANYUWANGI
14
98
63
ANALISIS PENGELOLAAN ALOKASI DANA DESA (ADD) (STUDI PADA DESA SUMBEREJO, KECAMATAN BATU, KOTA BATU)
22
175
18
ANALISIS PENGELOLAAN DANA DESA (DD) DAN ALOKASI DANA DESA (ADD) (Studi pada Wilayah Kecamatan Krembung, Kabupaten Sidoarjo)
14
88
15
ANALISIS AKUNTABILITAS DAN EFEKTIVITAS PENGELOLAAN ALOKASI DANA DESA (ADD) DI DESA SUMBERSUKO KECAMATAN DAMPIT
4
64
19
ANALISIS PENGELOLAAN ALOKASI DANA DESA (ADD) DAN DANA DESA (DD) (STUDI KASUS DI DESA DONOMULYO KECAMATAN DONOMULYO KABUPATEN MALANG)
8
66
18
ANALISIS AKUNTABILITAS PENGELOLAAN ALOKASI DANA DESA PADA DESA BANJARARUM KECAMATAN SINGOSARI KABUPATEN MALANG
0
6
21
ANALISIS PENGELOLAAN DANA DESA 2015 (STUDI KASUS DI DESA ARJOSARI, KECAMATAN ARJOSARI, KABUPATEN PACITAN)
8
32
19
ANALISIS PENGELOLAAN DANA DESA DI DESA SAMBIGEDE KECAMATAN BINANGUN KABUPATEN BLITAR
1
21
13
ANALISIS YURIDIS PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA KORUPSI DANA ANGGARAN PEMBANGUNAN SARANA AIR BERSIH DESA JELBUK
0
5
15
ANALISIS YURIDIS PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA KORUPSI DANA ANGGARAN PEMBANGUNAN SARANA AIR BERSIH DESA JELBUK
0
3
15
ANALISIS YURIDIS PENUNDAAN PELAKSANAAN PEMILIHAN KEPALA DESA BERDASARKAN SK MENTERI NO. 140/2632/SJ TENTANG PENYELENGGARAAN PEMILIHAN KEPALA DESA DI DESA
0
5
7
ANALISIS YURIDIS TENTANG PENGATURAN PENGELOLAAN ANGGARAN DANA DESA BERDASARKAN OTONOMI DESA
4
26
68
ANALISIS ANGGARAN DAN REALISASI DANA DESA PADA DESA EPIL KECAMATAN LAIS KABUPATEN MUSI BANYUASIN
0
0
8
SISTEM AKUNTANSI PENGELOLAAN DANA DESA
0
0
18
PROBLEMATIKA YURIDIS PENGATURAN BADAN USAHA MILIK DESA
1
3
12
Show more