PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 1 KAMPUNG KOTAAGUNG KABUPATEN TANGGAMUS TAHUN PELAJARAN 2012/2013

Gratis

0
5
34
3 years ago
Preview
Full text
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 1 KAMPUNG KOTAAGUNG KABUPATEN TANGGAMUS TAHUN PELAJARAN 2012/2013 Oleh : Arnawita Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar SARJANA PENDIDIKAN Pada Jurusan Ilmu Pendidikan FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2013 ABSTRAK PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 1 KAMPUNG KOTAAGUNG KABUPATEN TANGGAMUS TAHUN PELAJARAN 2012/2013 Oleh, Arnawita Aktivitas dan hasil belajar matematika siswa kelas IV SDN 1 Kampung Kota Agung Kabupaten Tanggamus Tahun Pelajaran 2012/2013 masih rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika melalui pendekatan kontenkstual pada siswa kelas IV SDN 1 Kampung Kota Agung Kabupaten Tanggamus Tahun Pelajaran 2012/2013. Subjek penelitian yang digunakan adalah siswa kelas IV SD Negeri 1 Kampung Kota Agung semester genap tahun pelajaran 2012/2013 yang berjumlah 24 siswa terdiri 12 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa aktivitas kinerja guru serta aktivitas dan hasil belajar siswa. Aktivitas kinerja guru diperoleh saat peneliti melaksanakan pembelajaran pada setiap siklus, aktivitas dan hasil belajar siswa diperoleh berdasarkan hasil tes serta ketuntasan belajar pada masing-masing siklus. Instrumen yang digunakan yaitu lembar aktivitas guru, lembar aktivitas siswa dan LKS. Hasil penelitian diketahui bahwa ada peningkatan aktivitas dan hasil belajar matematika melalui pendekatan Kontekstual pada materi mengenal pecahan senilai dapat dilaksanakan dengan baik sehingga dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari hasil penerapan pembelajaran Kontekstual. Persentase aktivitas belajar siswa siklus I rata-rata 66,67% meningkat menjadi 87,5% pada siklus II. Nilai hasil belajar siswa rata-rata siklus I 55,42 dengan ketuntasan belajar sebesar 37,5 %, meningkat 82,50 pada siklus II dengan ketuntasan belajar 91,67 %. Hasil penelitian menunjukkan ada perubahan aktivitas belajar siswa siklus I dan siklus II naik sebesar 20,83 % dan hasil belajar siklus I ke siklus II naik sebesar 27,08 ketuntasan hasil belajar siklus I ke siklus II naik sebesar 54,17 %. Berdasarkan data di atas diperoleh kesimpulan bahwa penerapan pembelajaran dengan pendekatan Kontekstual dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Matematika pada siswa kelas IV SD Negeri 1 Kampung Kota Agung Kabupaten Tanggamus. Kata Kunci : Aktivitas, Hasil belajar, Pendekatanan Kontekstual DAFTAR ISI DAFTAR TABEL ............................................................................................. DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN....................................................................................... Halaman xii xiv xv BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ I.1. Latar Belakang Masalah ................................................................... I.2. Identifikasi Masalah ......................................................................... I.3. Rumusan Masalah .......................................................................... I.4. Tujuan Penelitian ........................................................................... I.5. Manfaat Penelitian .......................................................................... I.6. Ruang Lingkup Penelitian ................................................................ 1 1 5 5 6 6 7 BAB II KAJIAN PUSTAKA ......................................................................... II.1. Belajar dan Pembelajaran ............................................................... II.2 . Aktivitas Belajar ............................................................................. II.3. Hasil Belajar ................................................................................... II.4.Pendekatan Kontekstual .................................................................. II.5.Hipotesis Tindakan ......................................................................... 8 8 10 11 13 18 BAB III METODE PENELITIAN ................................................................ III.1. Subyek, Tempat, dan Waktu Penelitian .......................................... III.2. Data Penenlitian ............................................................................. III.3.Teknik Pengumpulan Data ............................................................. III.4.Instrumen Penelitian .................................................................... III.5.Teknik Analisis Data....................................................................... III.6.Prosedur Peneltian .......................................................................... III.7.Indikator Keberhasilan ................................................................... 19 19 20 20 21 22 24 27 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN….……...................... IV.1. Hasil Penelitian .............................................................................. IV.1.1.Siklus I ......................................................................................... IV.1.1.1.Tahap Perencanaan ....................................................... IV.1.1.2.Tahap Pelaksaaan .......................................................... IV.1.1.3.Tahap Pengamatan (Observasi) / Penilaian .................. IV.1.1.4.Tahap Refleksi .............................................................. IV.2.2.Siklus II ....................................................................................... IV.2.2.1.Tahap Perencanaan ....................................................... IV.2.2.2.Tahap Pelaksaaan ......................................................... IV.2.2.3.Tahap Pengamatan (Observasi) / Penilaian .................. IV.2.2.4. Tahap Refleksi ............................................................. IV.3 Pembahasan ..................................................................................... IV.3.1. Aktivitas Siswa .................................................................... IV.3.2. Kinerja Guru ........................................................................ IV.3.3. Hasil Belajar Siswa .............................................................. 28 28 28 28 28 29 36 36 37 37 37 44 45 45 47 50 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................... V.1. Kesimpulan ...................................................................................... V.2. Saran ................................................................................................ 53 53 54 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ LAMPIRAN-LAMPIRAN ................................................................................ 55 56 xii 1 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penerapan Standar Nasional Pendidikan (SNP) telah dilaksanakan sejak pemerintah berupaya mengubah paradigma penyelenggaraan sistem pendidikan dengan memberikan otonomi pendidikan dan sistem sentralisasi ke sistem desentralisasi. Kemajuan ilmu pengetahuan semakin pesat dan makin menuntut sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, untuk meningkatkan SDM tersebut tentunya mutu pendidikan harus ditingkatkan. Menyadari pentingnya amanat tersebut melalui berbagai usaha pembangunan pendidikan yang lebih berkualitas. Mutu pendidikan erat kaitannya dengan prestasi belajar, mutu pendidikan dikatakan baik apabila prestasi belajar tinggi, untuk mencapai prestasi belajar yang tinggi diperlukan proses belajar yang baik dan bermutu. Selanjutnya agar mutu pendidikan dapat meningkat sebaiknya setiap sekolah berusaha untuk dapat menyelenggarakan pendidikan yang bermutu. Pendidikan yang bermutu tersebut memerlukan guru yang profesional karena guru memegang peranan penting dan terlibat langsung dengan peserta didik. Proses pendidikan telah mengalami perubahan menjadi proses pembelajaran, atau perubahan paradigma belajar, karena belajar harus berpusat pada siswa, dan pembelajaran dapat dilakukan dan berbagai sumber. Hal ini adalah salah 2 satu upaya dalam rangka memperbaiki mutu pendidikan, dimana guru berperan untuk mengatur, mengelola, memfasilitasi dan membantu siswa, sehingga tercipta kondisi belajar yang kondusif dalam rangka mengembangkan manusia seutuhnya. Pendidikan Matematika layaknya pendidikan bidang nilai di berbagai negara, terutama di negara-negara maju telah berkembang dengan cepat disesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan yang bernuansa kemajuan teknologi. Terkait dengan pembelajaran Matematika, banyak kecenderungan baru yang lahir dengan diikuti perkembangannya yang merupakan perwujudan dari inovasi dan reformasi dari pada model pembelajaran yang tentunya perubahan ini terjadi sebagai suatu jawaban atas tantangan globalisasi. Pembelajaran matematika sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, oleh karena itu pelajaran matematika dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika sangat penting dalam meningkatkan penalaran dan kecerdasan peserta didik. Sedangkan penalaran yang tinggi merupakan salah satu indikator dalam meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Kemampuan penalaran dikembangkan melalui pembelajaran matematika diharapkan kemampuan siswa dapat meningkat. Selain peningkatan penguasaan materi pelajaran yang diberikan guru di sekolah. Kenyataan yang ditunjukkan di lapangan, dari hasil ulangan semester yang dilaksanakan pada pertengahan bulan Oktober 2012, diperoleh nilai rata-rata 3 kelas IV SDN 1 Kampung Kotaagung Kabupaten Tanggamus adalah 54 masih dibawah KKM (Kriteria ketuntasan minimal) adalah 60. Hal ini berarti hasil belajar siswa tersebut masih rendah. Dari 24 orang siswa kelas IV, yang tuntas hanya 7 orang atau 29,2 %. Rendahnya nilai matemarika tersebut diduga disebabkan karena umumnya siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal matematika. Hal ini desebabkan karena siswa hanya mendengarkan penjelasan guru, siswa kurang aktif mengajukan pertanyaan, bahkan siswa hanya bersedia menjawab pertanyaan apabila dipaksa atau disuruh oleh guru, tidak pernah mengemukakan pendapat atau gagasan sendiri, dan tidak mencatat apabila tidak diminta oleh guru. Jika ditelaah mengenai pembelajaran matematika kelas IV di SDN 1 Kampung Kotaagung Kabupaten Tanggamus dapat dikatakan bahwa pembelajaran matematika menakutkan dan siswa masih beranggapan jika pelajaran matematika adalah pelajaran momok (hantu) bagi siswa, dan prestasi belajar siswa tergolong rendah. Kurangnya motivasi belajar siswa selama mengikuti pembelajaran menyebabkan prestasi siswa rendah. Dalam pembelajaran guru tidak mengaitkan mata pelajaran dengan kehidupan siswa, maka dari itu diperlukan interaksi mengajar yang baik antara guru dengan siswa dalam proses belajar mengajar. Adanya penggunaan model pembelajaran kontekstual yang baik diharapkan mampu memberikan hasil yang baik pula dalam bentuk prestasi belajar. 4 Agar terjalin komunikasi dan interaksi yang baik antara guru dengan siswa, seorang guru harus memperhatikan kesiapan intelektual siswa serta pemilihan metode dan pendekatan pembelajaran yang tepat dalam proses belajar mengajar. Salah satu cara penyajian materi pelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar adalah dengan menggunakan model pembelajaran kontekstual. Untuk mewujudkan tujuan pembelajaran sesuai KKM di sekolah tersebut, maka diperlukan sebuah pembelajaran kontekstual yang menuntut pendidik dapat mengeksplorasi dan mengkombinasi aneka sumber belajar yang ada di sekitar peserta didik, baik itu di sekolah atau di rumah. Karena segala sesuatu yang ada di sekitar mereka diyakini mampu memberi pengalaman langsung, dengan begitu peserta didik dapat melihat dan terlibat langsung di dalamnya. Sehubunag dengan hal tersebut, maka diperlukan upaya-upaya untuk dicari aternatif pembelajaran yang tepat dengan tingkat kemampuan berpikir siswa dan strategi yang dapat membantu mengatasi kesulitannya dalam upaya meningkatkan hasil belajar matematika agar kompetensi yang akan dicapai dapat berhasil secara optimal. Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan penelitian tentang penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika di kelas tersebut. 5 I.2. Identitifaksi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas maka identifikasi masalah sebagai berikut : I.2.1. Prestasi belajar matematika mayoritas masih dibawah KKM (60). I.2.2. Pembelajaran matematika yang dilakukan masih bersifat konvensional, yakni penyampaian materi dengan ceramah. I.2.3. Pembelajaran belum mengaitkan materi matematika dengan kehidupan sehari-hari. I.3. Rumusan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut : I.3.1. Bagaimanakah peningkatan aktivitas belajar matematika melalui pembelajaran kontekstual pada siswa kelas IV SDN 1 Kampung Kotaagung Kabupaten Tanggamus Tahun Pelajaran 2012/2013? I.3.2. Bagaimanakah peningkatan hasil belajar matematika melalui pembelajaran kontekstual pada siswa kelas IV SDN 1 Kampung Kotaagung Kabupaten Tanggamus Tahun Pelajaran 2012/2013? 6 I.4. Tujuan Penelitian I.4.1. Untuk meningkatkan aktivitas belajar matematika melalui pembelajaran kontekstual pada siswa kelas IV SDN 1 Kampung Kotaagung Kabupaten Tanggamus. I.4.2. Untuk meningkatkan hasil belajar matematika melalui pembelajaran kontekstual pada siswa kelas IV SDN 1 Kampung Kotaagung Kabupaten Tanggamus. I.5. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat : I.5.1. Bagi siswa, dapat memberikan suasana baru dalam pembelajaran matematika, diharapkan menumbuhkan sikap positif siswa terhadap pemecahan masalah, lebih mudah memahami matematika, serta meningkatkan semangat atau aktivitas siswa. I.5.2. Bagi guru, menambah pengalaman dalam pembelajaran matematika menggunakan pendekatan kontekstual. I.5.3. Bagi sekolah sebagai bahan masukan atau input untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam mengambil kebijaksanaan untuk mendorong guru dalam menciptakan metode yang tepat untuk menentukan keberhasilan pengelolaan pembelajaran di sekolah. 7 I.5.4. Bagi peneliti, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan referensi untuk melakukan penelitian berikutnya. I.6. Ruang Lingkup Penelitian Untuk memperjelas penelitian ini maka ruang lingkung penelitian ini adalah : I.6.1 Aktivitas belajar yaitu rangkaian kegiatan yang meliputi keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran, bertanya hal-hal yang belum jelas, mencatat, mendengar, berfikir, membaca, dan segala kegiatan yang dilakukan yang dapat menunjang prestasi belajar. I.6.2 Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa melalui proses pembelajaran yang dapat diwujudkan dengan hasil tes akhir setiap siklus. I.6.3 Pendekatan kontekstual yaitu proses yang menekankan kepada siswa untuk menemukan sendiri materi yang dipelajari dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. 8 BAB II KAJIAN PUSTAKA II.1 Belajar dan Pembelajaran II.1.1 Pengertian belajar Menurut Slamento (1995:2), belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya (Arsyad, 2004:1). Lebih lanjut belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan prilaku yang relatif dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik yang diperoleh melalui interaksi individu dengan lingkungannya. Slamento dalam Kurnia dkk (2008:3), belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak dia masih bayi hingga keliang lahat nanti (Sardiman dkk, 2008:2). Menurut Surakhmad (1987:67) belajar berarti mengalami dan menghayati sesuatu yang akan menimbulkan respon-respon tertentu dari pihak siswa. 9 Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan prilaku yang kompleks dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik melalui interaksi individu dengan lingkungannya yang dilakukan seumur hidup. II.1.2 Pengertian Pembelajaran Dalam mempelajari matematika terdapat banyak model pembelajaran. Yang dimaksud dengan model pembelajaran adalah cara yang dilakukan dalam pembelajaran yang didesain untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Menurut Kemp dalam Sanjaya (2006:22) pengertian pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efesien. Pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan dimana guru (pengajar) dan murid (pembelajar) berinteraksi, membicarakan suatu bahan atau melakukan suatu aktivitas, guna mencapai tujuan yang dikehendaki. Pembelajaran tidak hanya terbatas pada peristiwa-peristiwa yang dilakukan oleh guru, tetapi mencakup semua peristiwa yang mempunyai pengaruh langsung pada proses belajar yang meliputi : kegiatan-kegiatan yang diturunkan dari bahan-bahan cetak, gambar, program, radio, televisi, film, slide, maupun kombinasi dari bahan-bahan tersebut. Soetomo (1993:68) mengemukakan bahwa pembelajaran adalah proses pengelolaan lingkungan seseorang yang dengan sengaja dilakukan sehingga 10 memungkinkan dia belajar untuk melakukan atau mempertunjukkan tingkah laku tertentu pula. Pembelajaran yang efektif menurut Miarso (2007:46) adalah pembelajaran yang menghasilkan belajar yang bermanfaat dan bertujuan bagi para siswa melalui prosedur yang tepat. Ada tujuh indikator yang menunjukkan pembelajaran yang efektif adalah pengorganosasian pembelajaran dengan baik; komunikasi secara efektif; penguasaan dan antusiasme dalam pembelajaran; sikap positif terhadap siswa; pemberian ujian dan nilai yang adil; keluwesan dalam pendekatan pembelajaran dan hasil belajar siswa yang baik. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian pembelajaran adalah cara yang dilakukan oleh guru agar pembelajaran dapat mencapai hasil yang maksimal. II.2 Aktivitas Belajar Sardiman (1994: 95) mengatakan bahwa dalam belajar sangat diperlukan adanya aktivitas belajar. Tanpa adanya aktivitas, belajar itu tidak dapat memungkinkan berlangsung dengan baik. Aktivitas dalam belajar mengajar merupakan rangkaian kegiatan yang meliputi keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran. Antara lain bertanya tentang apa yang belum jelas, mencatat, mendengar, berpikir, membaca, dan segala kegiatan yang dilakukan untuk menunjang prestasi belajar. 11 Diedrich yang dikutip oleh Sardiman (2001:95) membuat suatu daftar yang bermacam-macam kegiatan siswa yang antara lain dapat digolongkan sebagai berikut : (1) Visual activities, (2)oral activities, (3) Listening activities, (4) writing acitivities, (5) Drawing activities, (6) motor activities. Bila siswa menjadi partisipan yang aktif, maka ia akan memiliki pemahaman yang lebih baik. Dalam kegiatan pembelajaran, perhatian siswa merupakan kesadaran yang menyertai suatu aktivitas yang dilakukan. Hamalik (2002:74) berpendapat bahwa kegiatan aktivitas siswa dalam pembelajaran bermanfaat bagi siswa yaitu siswa memperoleh pengalaman langsung, memupuk kerjasama, disiplin belajar, kemampuan berpikir kritis, dan suasana pembelajaran di kelas menjadi hidup dan dinamis. Siswa dikatakan aktif belajar jika dalam belajarnya mengerjakan yang sesuai dengan tujuan belajarnya. Memberikan tanggapan terhadap suatu peristiwa yang terjadi, dan mengalami atau turut merasakan sesuatu dalam proses belajarnya. Untuk itu aktivitas siswa dalam pembelajaran perlu diperhatikan. Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar adalah merupakan rangkaian kegiatan yang meliputi aktivitas siswa dalam mengikuti proses pembelajaran II.3 Hasil Belajar Syah (2003:141) menjelaskan bahwa : hasil belajar merupakan taraf keberhasilan murid atau santri dalam mempelajari materi pelajaran di 12 sekolah atau pondok pesantren dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu. Perubahan sebagai hasil belajar bersifat menyeluruh. Menurut pandangan ahli jiwa Gastalt, bahwa perubahan sebagai hasil belajar bersifat menyeluruh baik perubahan pada perilaku maupun kepribadian secara keseluruhan. Belajar bukan semata-mata kegiatan mekanis stimulus respon, tetapi melibatkan seluruh fungsi organisasi yang mempunyai tujuan-tujuan tertentu. Menurut Winkel dalam Kosasih (2007:48) belajar merupakan suatu proses psikis berlangsung dalam interaksi aktif subjek, dengan lingkungan dan menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan-pemahaman keterampilan nilai sikap yang bersifat konstan/menetap. Belajar yang sering disebut sebagai metode perseptual, dan tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajar. Beberapa rumusan belajar menyimpulkan hal-hal pokok yang menyangkut belajar sebagai berikut : II.2.1 Belajar membuat perubahan dalam arti perubahan prilaku aktual maupun potensial. II.2.2 Perubahan itu pada dasarnya didapat dari kecakapan baru. II.2.3 Perubahan itu terjadi karena usaha dengan sengaja. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil yang dicapai dari suatu kegiatan atau usaha yang dapat 13 memberikan kepuasan emosional, dan dapat diukur dengan alat atau tes tertentu. Dalam proses pendidikan prestasi dapat diartikan sebagai hasil dari proses belajar mengajar yakni ; penguasaan, perubahan emosional, atau perubahan tingkah laku yang dapat diukur dengan tes tertentu. Dan dapat pula didefenisikan bahwa, hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar mempuyai peranan penting dalam proses pembelajaran. Proses penilaian terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajarnya melalui kegiatan belajar. II.4 Pendekatan Kontekstual Sebagai perancang, fasilitator, dan motivator, guru sangat berperan dalam meningkatkan mutu pembelajaran, baik di kelas maupun di luar kelas. Dalam melaksanakan tugasnya seorang guru sanagat memerlukan wawasan yang luas tentang pendekatan dalam menyajikan materi pembelajaran. Melalui wawasan yang luas, guru dapat memilih dengan tepat pendekatan yang dipakai untuk menyampaikan setiap topik materi pelajaran. Salah satu pendekatan pembelajaran yang dipakai adalah pendekatan kontekstual. Munculnya pembelajaran kontekstual di latar belakangi oleh rendahnya mutu hasil pembelajaran yang ditandai dengan ketidak mampuan sebagian besar siswa menghubungkan apa yang telah mereka pelajari dengan cara 14 pemanfaatan pengetahuan tersebut pada saat ini dan kemudian hari dalam kehidupan siswa. Menurut Sanjaya (2006:109), pendekatan kontekstual (constektual teaching learning) adalah “suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka”. Hal ini berarti pembelajaran yang dilakukan lebih terpusat pada siswa bukan pada guru. Guru bukan sebagai sumber ilmu, melainkan perancang, fasilitator, dan motivator dalam pembelajaran. Selanjutnya Sabandar (2003:2-3) mengemukakan bahwa :”Dalam pelaksanaannya, pembelajaran kontekstual tercermin dalam strategi-strategi berikut ini : II.4.1 Menenkankan pemecahan masalah II.4.2 Pembelajaran terjadi dengan adanya konteks yang bervariasi, misalnya : rumah, masyarakat, dan tempat orang-orang bekerja. II.4.3 Siswa diajarkan untuk memantau dan mengarahkan belajar mereka sendiri. II.4.4 Guru mengajar dengan memanfaatkan konteks yang berbeda dalam kehidupan siswa. II.4.5 Mendorong siswa untuk berinteraksi, belajar dengan satu dari yang lain. 15 II.4.6 Menerapkan assesmen autentik”. Sabandar (2003:5) memberikan penjabaran-penjabaran dari ketujuh komponen utama tersebut. Penjabaran-penjabaran komponen utama tersebut adalah sebagai berikut : II.4.1 Konstruktivisme adalah suatu teori belajar yang mengklaim bahwa individu membangun pengetahuannya dan pemahamannya dari pengalaman-pengalaman baru berdasarkan pengetahuan yang telah dimiliki dan pemahamannya tentang matematika. II.4.2 Inkuiri merupakan suatu proses yang bermula dari pengamatan menuju pehaman. Untuk itu diperlukan adanya pertanyaan-pertanyaan, sehingga individu melakukan observasi-observasi. Jawaban-jawaban terhadap pertanyaan itu dapat melalui suatu siklus yaitu membuat prediksi menyusun hipotesis, menentukan cara menguji hipotesis, melakukan pengamatan lanjutan, dan menyusun teori dan model berdasarkan data dan pengetahuan yang telah ada. II.4.3 Bertanya adalah kegiatan guru untuk menuntun siswa berfikir dan menilai kemampuan siswa. II.4.4 Masyarakat belajar adalah sekelompok orang yang terlibat dalam suatu kegiatan belajar. II.4.5 Pemodelan adalah suatu proses dimana kita memberikan contoh tentang bagaimana kita ingin orang lain melakukannya. 16 II.4.6 Refleksi merupakan suatu aktivitas dimana dapat tercermin apa yang telah kita lakukan, sedemikian sehingga kita dapat memahami apa yang kita tahu. Refleksi dilakukan terhadap peristiwa, aktivitas apa yang kita pelajari, apa yang dirasakan, dan bagaimana kita dapat menggunakan pengetahuan yang baru kita pelajari. II.4.7 Assesmen autentik adalah suatu penilaian untuk mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa secara keseluruhan dari kegiatan belajar mengajar siswa. Pembelajaran kontekstual dalam matematika merupakan suatu gagasan atau konsep yang melibatkan dan menonjolkan faktor keterkaitan materi (konsep) pelajaran matematika yang siswa pelajari di sekolah dengan konteks yang berkaitan dengan isi matematika tersebut. Dengan adanya keterkaitan diantara konteks yang relevan, maka proses belajar akan menjadi lebih bermakna. Dari penjelasan diatas, penerapan kontekstual sangatlah penting dalam pembelajaran di sekolah. Jadi, pendekatan kontekstual adalah proses yang menekankan kepada siswa untuk menemukan sendiri materi yang dipelajari dan menerapkan dalam kehidupan sendiri. 17 II.4.1 Kelebihan Pendekatan Kontekstual Kita ketahui setiap pendekatan yang kita perguanakan dalam pembelajaran pasti ada kekurangan dan menurut Sabandar (2003:85 keunggulan dengan pembelajaran CTL adalah real word learning. Mengutamakan pengalaman nyata, berfikir tingkat tinggi, berpusat pada siswa aktif, kritis, dan keratif, pengetahuan bermakana, dan kegiatannya lebih kepada pendidikan bukan pembelajaran, sebagai pembentukan manusia, memecahkan masalah, siswa aktif guru mengarahkan, dan hasil belajar diukur dengan berbagai alat ukur tidak hanya tes saja. II.4.2 Kelemahan Pendekatan Kontekstual Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL juga memiliki kelemahannya, hal ini dikemukakan oleh Sabandar (2003L105) yaitu sebagai berikut : bagi guru kelas, guru harus memiliki kemampuan untuk memahami secara mendalam dan komprehensif tentang (1) konsep pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL itu sendiri, (2) potensi perbedaan individual siswa di kelas, (3) beberapa pendekatan dalam pembelajaran yang berorentasi kepada siswa aktivitas siswa, dan (4) sarana, media alat bantu serta kelengkapan pembelajaran yang menunjang aktivitas siswa dalam belajar. Bagi siswa diperlukan antara lain : (1) insiatif dan kreatifitas dalam belajar, (2) memiliki wawasan pengetahuan yang memadai dari setiap mata pelajaran, (3) adanya perubahan sikap dalam menghadapi persoalan, dan (4) memiliki tanggung jawab pribadi yang tinggi dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. 18 II.5. Hipotesis Tindakan Hipotesis dalam penelitian ini adalah “jika pembelajaran matematika dilakasanakan dengan pendekatan kontekstual, maka dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika kelas IV SD Negeri 1 Kampung Kota Agung Kabupaten Tanggamus Tahun Pelajaran 2012/2013. 19 BAB III METODE PENELITIAN III.1. Subyek, Tempat, dan Waktu Penelitian III.1.1. Subyek Penelitian Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri 1 Kampung Kota Agung Kabupaten Tanggamus. Sebanyak 24 orang, yang terdiri dari 12 laki-laki dan 12 perempuan III.1.2. Tempat Penelitian Penelitian ini bertempat di SD Negeri 1 Kampung Kota Agung Kelas IV Kabupaten Tanggamus Tahun Pelajaran 2012/2013 III.1.3. Waktu Penelitian Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau saat penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan bulan Maret 2013. 20 III.2 Data Penelitian Data yang diteliti dalam penelitian ini adalah data aktivitas dan hasil belajar siswa. Hasil belajar dalam penelitian ini dinyatakan sebagai hasil tes yang diperoleh pada akhir siklus. III.3 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : III.3.1 Observasi Observasi adalah kegiatan pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki. Observasi dilakukan untuk mengamatai aktivitas kinerja guru dan aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung dengan cara memberi tanda ceklis (√) pada lembar observasi yang telah disediakan peneliti, dengan demikian dapat mengetahui kesesuaian suatu perencanaan dan pelaksanaan. III.3.2. Tes Tes ini digunakan untuk memperoleh data tentang ketercapaian hasil belajar siswa setelah melaksanakan pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual. Bentuk tes yang digunakan adalah isian. III.3.3. Tolak Ukur Untuk mengukur tingkat keberhasilan siswa dalam mengikuti pembelajaran Matematika selama penelitian tindakan kelas ini berlangsung, maka pada 21 setiap akhir pembelajaran pada setiap siklus, akan selalu diadakan post test. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dengan tolok ukur penilaian di bawah ini. Tabel 3.1. Tolak Ukur Penilaian No Rentang Skor 1. 85 – 100 2. 75 – 84 3. 60 – 74 4. 40 – 59 5. 0 – 39 (Nurgiantoro, 2001:399) Tingkat Kemampuan Sangat baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang III.4. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah : III.4.1 Lembar observasi, untuk memperoleh data tentang kondisi pelaksanaan model pembelajaran kontekstual, seperti berikut : Tabel 3.1. Instrumen Observasi Aktivitas Kinerja Guru No Aspek Kinerja Guru I. Pra Pembelajaran 1. Persiapan skenario pembelajaran (RPP) 2. Kesiapan model yang akan ditampilkan II. Kegiatan Pendahuluan 1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen 2. Menjelaskan pada siswa tentang arti kerjasama dalam kelompok 3. Menjelaskan beberapa aturan kelompok yang harus dipatuhi III. Kegiatan Inti 1. Menyajikan / mempresentasikan materi pelajaran dengan bahasa yang mudah dimengerti siswa 2. Memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok 3. Membimbing setiap anggota kelompok dalam mempelajari dan mendiskusikan LKS. Skor 1 2 22 No Aspek Kinerja Guru Skor 1 4. Mengarahkan siswa dalam saling membantu antara anggota jika ada yang mengalami kesulitan 5. Mengarahkan siswa dalam saling mengalami kesulitan untuk bertanya pada teman sekelompok sebelum bertanya pada guru. 6. Mengingatkan dan menekankan pada setiap kelompok agar melakukan yang terbaik untuk kelompoknya. 7. Memberi kuis / pertanyaan kepada seluruh siswa IV. Kegiatan Penutup 1. Memberikan penghargaan pada kelompok yang skornya melebihi rata-rata kriteria tertentu 2. Melakukan refleksi pembelajaran dengan melibatkan siswa 3. Menyusun rangkuman dengan melibatkan siswa 4. Melaksanakan tindak lanjut 5. memberi evaluasi kepada semua siswa Jumlah Skor Kinerja Guru Persentase Kinerja Guru Katagori Kinerja Guru III.4.2 Perangkat tes, perangkat tes yang diguanakan untuk mengukur tingkat pemahaman siswa tantang materi, dan untuk melihat peningkatan hasil belajar siswa. III.4.3 Catatan lapangan, untuk mencatat hal-hal yang tidak terangkum dalam lembar observasi. III.5 Teknik Analisis Data III.5.1 Teknik analisis data aktivitas siswa Analisis data kualitatif pada penelitian ini, menggunakan analisis deskriptif kualitatif yaitu, suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan 2 23 untuk mengetahui aktivitas belejar siswa setiap siklus menggunakan lembar observasi. Penentuan presentase aktivitas siswa menggunakan rumus sebagai berikut : PAS = JSA x100% JS Keterangan : PAS : Presentase Aktivitas Siswa JSA : Jumlah Siswa Aktif JS : Jumlah Siswa 100 : Bilangan tetap III.5.2 Teknik Tes data hail belajar Untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diterapkan pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual, diambil dari rata-rata tes yang diperoleh setiap akhir siklus. X= X N Keterangan : X : Nilai Rata-rata X : Jumlah semua nilai siswa N : Jumlah Siswa 24 III.5.3 Penilaian ketuntasan belajar p  Siswa yang tuntas belajar x100%  Siswa Selanjutnya seluruh data yang telah dipresentase, dianalisis dan dibuat abtraksi rangkuman inti hasil analisis. Kemudian presentase yang diperoleh diinterprestasikan dengan menghubungkan antar aspek dalam bentuk deskripsi ringkas untuk tiap-tiap tindakan, kemudian dikatagorikan, siswa dapat dikatakan tuntas apabila hasil belajar mencapai rata-rata lebih dari 60. III.6.Prosedur Penelitian Penelitian tindakan kelas ini direncanakan dalam dua siklus. Tiap siklus terdiri dari atas satu kali pertemuan, tiap-tiap pertemuan terdiri dari empat tahapan yaitu, perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. III.6.1 Tahap Perencanaan a. Membuat pemetaan, silabus dan Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) pembelajaran Matematika pada materi mengenal pecahan sederhana dengan menggunakan pembelajaran konstektual b. Menyiapkan alat peraga berupa contoh-contoh pecahan sederhana. c. Membuat lembar observasi untuk melihat bagimana proses belajar mengajar di kelas berlangsung. 25 III.6.2 Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan Tindakan akan dilakukan untuk beberapa siklus sesuai dengan yang diharapkan. 1. Pra pembelajaran a. Mengawali pelajaran dengan pendahuluan yaitu memberikan motivasi dan apersepsi. b. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 siswa sehingga terbentuk “masyarakat belajar”. c. Menjelaskan pada siswa tentang arti kerjasama dalam kelompok d. Menjelaskan beberapa aturan kelompok yang harus dipatuhi 2. Inti pembelajaran a. menyajikan / mempresentasikan materi pelajaran dengan bahasa yang mudah dimengerti siswa b. memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok c. membimbing setiap anggota kelompok dalam mempelajari dan mendiskusikan LKS. d. Mengarahkan siswa dalam saling membantu antara anggota jika ada yang mengalami kesulitan e. Mengarahkan siswa dalam saling mengalami kesulitan untuk bertanya pada teman sekelompok sebelum bertanya pada guru. 26 f. Mengingatkan dan menekankan pada setiap kelompok agar melakukan yang terbaik untuk kelompoknya. g. memberi kuis / pertanyaan kepada seluruh siswa 3. Penutup pembelajaran a. Memberikan penghargaan pada kelompok yang skornya melebihi rata-rata kriteria tertentu. b. Memberi evaluasi kepada semua siswa. III.6.3 Tahap Pengamatan Pengamatan dalam penelitian tindakan kelas ini dilakukan oleh penulis dan satu orang guru sebagai teman sejawat atau kolaborator. Pada tahap observasi ini kegiatan yang dilaksanakan yaitu mengobservasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan yaitu lembar kegiatan aktivitas siswa dan lembar kegiatan aktivitas guru. III.6.4 Tahap Refleksi Refleksi merupakan kegiatan menganalisis, mencermati, dan megkaji secara mendalam dan meyeluruh tindakan yang telah dilakukan berdasarkan data yang telah dikumpulkan. Kemudian dilakukan evaluasi oleh guru untuk menyempurnakan tindakan berikutnya. 27 Setelah siklus I dilaksanakan, peneliti mengevaluasi kelebihan dan kekurangan yang ditemukan selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Dari kekurangan yang didapatkan pada siklus I, peneliti merencanakan untuk melakukan perbaikan kembali dengan menentukan rencana perbaikan untuk siklus II. III.7 Indikator Keberhasilan III.7.1 Presentase aktivitas siswa dalam pembelajaran sekurang-kurangnya 80 %. III.7.2 Rata-rata hasil belajar siswa serendah-rendahnya 60. III.7.3 Banyaknya siswa yang tuntas sekurang-kurangnya 75 %. 53 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN V.1. Kesimpulan Berdasarkan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan di SD Negeri 1 Kampung Kota Agung dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan Kontekstual dapat disimpulkan sebagai berikut : V.1.1. Penggunaan pendekatan Kontekstual dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas IV SDN 1 Kampung Kota Agung dalam materi pecahan senilai. Hal ini terbukti dari rata-rata persentase aktivitas yang diperoleh, dimana dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan. Siklus I persentase aktivitas mencapai 66,67 % dan siklus II menjadi 87,5%. Dari siklus I ke siklus II meningkat sebesar 20.83 %. V.1.2. Penggunaan pendekatan Kontekstual dapat meningkatan hasil belajar kelas IV SDN 1 Kampung Kota Agung dalam materi pecahan senilai rata-rata hasil belajar pada siklus I sebesar 55,42 dan siklus II menjadi 82,50, meningkat sebesar 27,08. Demikian juga dengan persentase ketuntasan belajar siswa, pada siklus I persentase ketuntasan hanya 37,5 % dan siklus II meningkat menjadi 91,67 %. Naik sebesar 54,17 %. 54 V.2. Saran Dari pembahasan dan hasil kesimpulan, ada beberapa saran yang penulis sampaikan, diantaranya sebagai berikut : V.2.1. Bagi Guru V.2.1.1. Guru senantiasa menciptakan suasana belajar yang lebih konkrit dengan cara pemberian tugas atau latihan-latihan sehingga potensi dan kemampuan siswa dapat tergali dan tersalurkan dengan baik. V.2.1.2. Guru hendaknya menerapkan pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran Matematika secara efektif sehingga diharapkan dapat memotivasi dalam belajar dan menumbuhkan keinginan siswa untuk berprestasi lebih baik. V.2.3. Bagi Sekolah Bagi sekolah untuk meningkatkan kualitas peserta didik perlu dibuat media atau sumber belajar yang cukup, misal LKS, alat peraga, atau buku panduan siswa untuk belajar sehingga bisa memberikan bantuan lebih kepada siswa yang mempunyai permasalahan dalam belajar, terutama pelajaran Matematika. V.2.3. Bagi Peneliti Peneliti perlu pemahaman konsep yang lebih mendalam mengenai pembelajaran dengan pendekatan konstektual sehingga perlu adanya penelitian selanjutnya. 55 DAFTAR PUSTAKA Arsyad. A 2004. Media Pembelajaran. Raja Grafindo Persada.Jakarta. Hamalik, 2002. Proses Belajar Mengajar. Jakarta. Bumi Akasara. Kurnia. 2008. Perkembangan Belajar Peserta Didik.. Jakarta . Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Depdiknas. Kosasih, A dan Angkowo. R. 2007. Optimalisasi Media Pembelajaran. Grasindo. Jakarta Miarso, Yusufhadi. 2007. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Prenada Media. Jakarta. Sabandar. 2003. Pendekatan Kontekstual Dalam Pembelajaran Matematika. Jakarta. Universitas Pendidikan Indonesia. Sardiman. 1994. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta ________. 2008. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta ________. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorentasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana. Syah, Muhibin. 2003. Psikologi Belajar. PT. Raja Grasindo Persada. Jakarta. Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta. Universitas Lampung. 2011.Format Penulisan Karya Ilmiah. Universita Lampung, Bandar Lampung

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

ENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN CTL PADA SISWA KELAS IV SDN 1 SUKADANA ILIR LAMPUNG TIMUR TAHUN PELAJARAN 2012/2013
1
14
40
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN ALAM PADA POKOK BAHASAN PERUBAHAN WUJUD ZAT MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA DI KELAS IV SD NEGERI 2 MARGODADI KECAMATAN AMBARAWA KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2012/2013
1
11
55
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS IV SD NEGERI 2 MARGODADI KECAMATAN AMBARAWA KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2012/2013
0
12
47
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 2 REJOSARI KECAMATAN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2012/2013
0
5
52
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPA MELALUI METODE DEMONSTRASI KELAS IV SD NEGERI 2 REJOSARI TAHUN PELAJARAN 2012/2013
0
4
42
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 1 KAMPUNG KOTAAGUNG KABUPATEN TANGGAMUS TAHUN PELAJARAN 2012/2013
0
5
34
PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN REALISTIK PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 2 SUMUR PUTRI TELUK BETUNG UTARA TAHUN PELAJARAN 2012/2013
0
16
40
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MODEL INKUIRI SISWA KELAS IV SD KRISTEN 1 METRO PUSAT TAHUN PELAJARAN 2012/2013
1
12
37
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL KOOPERATIF TIPE STAD SISWA KELAS V SD NEGERI 1 GUNUNG MAS TAHUN PELAJARAN 2012/2013
0
3
53
PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI MEDIA GRAFIS UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PADA PEMBELAJARAN TEMATIK SISWA KELAS IV B SD NEGERI 1 NUNGGALREJO TAHUN PELAJARAN 2013/2014
2
4
71
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL KOOPERATIF TIPE STAD SISWA KELAS V SD NEGERI 1 GUNUNG MAS TAHUN PELAJARAN 2012/2013
0
11
51
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE MAKE A MATCH SISWA KELAS IV SD NEGERI 02 SINDANG AGUNG TAHUN PELAJARAN 2012/2013
1
5
47
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS VI SD NEGERI 1 SUSUNAN BARU BANDARLAMPUNG
0
6
44
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN SCIENTIFIC DAN MEDIA GRAFIS SISWA KELAS IV A SD NEGERI 1 TOTOKATON
0
6
66
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL SISWA KELAS IV SD NEGERI 7 METRO BARAT
0
4
76
Show more