UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS VI SD NEGERI 1 SINAR MULYA KECAMATAN BANYUMAS KAB. PRINGSEWU

 21  114  68  2017-04-19 01:26:59 Report infringing document
Informasi dokumen
ABSTRAK UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS VI SD NEGERI 1 SINAR MULYA KECAMATAN BANYUMAS KAB. PRINGSEWU Oleh Istiqomah Kualitas pembelajaran tercermin dari keberhasilan pembelajaran. Masalah yang sering terjadi di kelas VI SD Negeri 1 Sinar Mulya adalah rendahnya hasil belajar siswa, hal ini karena pendekatan pembelajaran yang digunakan belum tepat, Tujuan penelitian ini adalah untuk dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika dengan menerapkan pendekatan kontekstual pada siswa kelas VI semester Genap SD Negeri 1 Sinar Mulya tahun pelajaran 2012/2013”. Penelitian tindakan kelas ini terbagi menjadi dua siklus dimana setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 1 Sinar Mulya pada semester II tahun pelajaran 2012/2013 dengan jumlah siswa 35 siswa, terdiri dari 20 siswa laki-laki dan 15 perempuan. Data penelitiannya berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data kualitatif berupa data aktivitas belajar siswa yang diperoleh dari lembar observasi sedangkan data kuantitatif berupa hasil belajar siswa yang diperoleh dari tes pada akhir siklus. Dari hasil analisis data penelitian dapat disimpulkan bahwa melalui pendekatan kontekstual dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar terhadap pelajaran matematika pada siswa kelas VI SD Negeri 1 Sinar Mulya tahun pelajaran 2012/2013, Peningkatan aktivitas dan hasil belajar dapat dilihat dari peningkatan persentase hasil belajar siswa pada setiap siklus yaitu: siklus I dengan persentase siswa yang tuntas sebesar 62,85 % dan siklus II dengan persentase siswa yang tuntas sebesar 88,57% ada peningkatan persentase sebesar 25,71%. siklus I dengan persentase siswa yang aktif sebesar 62,85 % dan siklus II dengan persentase siswa yang aktif sebesar 88,57% ada peningkatan persentase sebesar 25,71%. 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Jika seseoarang memiliki pengetahuan dan keterampilan, maka akan memiliki kemampuan bertingkah laku yang mandiri di dalam masyarakat dengan berbekal pengetahuan dan keterampilan tersebut. Pernyataan ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional berikut ini : “Tujuan Pendidikan Nasional adalah mencerdaskan bangsa dan menumbuhkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti yang luhur, memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian yang mantap serta bertanggung jawab terhadap masyarakat dan bangsa” ( UUSPN, Nomor 20, 2009 ). Tujuan nasional ini dapat dicapai melalui pendidikan formal khususnya di sekolah tersebut dilaksanakan kegiatan belajar. Dalam melakukan belajar mengajar ini di bina oleh guru yang bertugas untuk menyampaikan berbagai materi pelajaran, serta bertanggung jawab terhadap moralitas dan mentalitas bagi setiap peserta didik. Pelaksanaan kegiatan belajar akan dapat tercapai dengan baik. Dari penjelasan diatas, maka penulis berasumsi bahwa didalam proses belajar sering dijumpai siswa yang mengalami berbagai masalah belajar. Proses pembelajara adalah proses belajar mengajar antara guru dan murid. Belajar diartikan sebagai suatu perubahan tingkah laku karena hasil dari pengalaman yang 2 diperoleh, sedangkan mengajar adalah kegiatan penyedian kondisi yang mengarahkan kegiatan belajar siswa atau subjek belajar untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang dapat membawa perubahan serta kesadaran diri sebagai pribadi. Konsep pembelajaran pada hakekatnya adalah kegiatan kegiatan guru dalam membelajarkan siswa. Ini berarti bahwa proses pembelajaran adalah membuat atau menjadikan siswa dalam kondisi belajar. Tetapi karena pola yang dipakai guru selama ini dikelas masih bersifat pengajaran dan belum membelajarkan siswa. Untuk dapat membelajarkan siswa, hendaknya guru memilih dan menggunakan strategi, pendekatan, metode, dan tekhnik yang banyak melibatkan sswa aktif dalam belajar agar proses pembelajaran matematika lebih bermakna. Guru dituntut untuk dapat memilih dan menggunakan strategi, pendekatan, metode, dan tekhnik belajar yang efektif, sehingga konsep-konsep matematika dapat dikuasai peserta didik dengan optimal. Kurang tepat memilih dan menggunakan strategi pembelajaran yang digunakan akan berdampak pada sulitnya peserta didik menguasai konsep/belajar, sama halnya denga matematika. Jika dalam penguasaan konsep matematika terhambat akan berpengaruh terhadap konsep matematika selanjutnya, karena matematika ilmu terstruktur. Agar konsep-konsep matematika dapat dikuasai siswa dengan optimal, guru harus mampu mengaktifkan siswa dalam pemebalajaran. Guru harus mampu menciptakan kegiatan belajar yang beragam dan menyenangkan serta efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran. Pelaksanaan proses belajar mengajar dikelas masih banyak guru yang melakukan aktivitas menagajar dan memamndang siswa sebagai penonton, guru mengajar dan bukan membelajarkan siswa, memberikan konsep dan siswa menerima bahan jadi. Guru cenderung 3 menyampaikan materi saja, masalah pemahaman dan kualitas penerimaan materi kurang mendapat perhatian secara serius. Masalah yang dihadapi guru dikelas VI pokok bahasan pecahan adalah siswa kurang memperhatikan penjelasan dari guru, banyak siswa yang ngobrol denag temen satu bangkunya disaat guru sedang menjelaskan, dalam mengerjakan soal siswa kurang percaya diri dengan jawabanya sendiri sehingga siswa cenderung melihat jawaban orang lain. Dalam pembelajaran jarang ada siswa yang bertanya, baik terhadap guru dan temannya. Bila menghadapi soal latihan yang sulit, hanya sebagian siswa yang tertantang untuk menyelesaikannya, siswa lain hanya menunggu guru membahas soal yang diberikan. Diduga hal tersebut menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa yang dapat dilihat pada table berikut : Tabel. Nilai Ulangan Harian Matematika Pada Pokok Bahasan Pecahan Kelas VI SD Negeri 1 Sinar Mulya Tahun Pelajaran 2012/2013 dengan KKM = 60. No Rentang Nilai Jumlah Nilai siswa KKM Persentase Kategori 1 60 – 100 16 60 45, 71 % Tuntas 2 0 – 59 19 60 54, 29 % Belum Tuntas 35 100 % Sumber : Buku Nilai Kelas VI SD Negeri 1 Sinar Mulya Berdasarkan data diatas, 35 siswa yang dapat mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM = 60 ) hanya 16 siswa ( 45, 71 % ) dan yang memperoleh nilai dibawah KKM Adalah 19 siswa ( 54,29 %). Maka dapat dikatakan bahwa 4 sebagian besar siswa kelas VI SD Negeri 2 Sinar Mulya pada pokok bahasan pecahan masih rendah ( 54,29 %). Oleh karena itu, untuk mengantisispasi masalah tersebut diperlukan pendekatan pembelajaran yang tepat. Guru harus mempunyai strategi agar pembelajaran menjadi menarik dan siswa dapat belajar secara efektif, salah satunya denga pendekatan kontekstual. Pendekatan kontekstual ( Contextual Teaching and learning ) adalah Konsep belajar yang mengaitkan antar materi yang diajarkan denga situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetrahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, tujuh komponen utama (contructivisme), pembelajaran inkuiri (inquiry), kontekstual, bertanya yaitu : Kontruktivisme (questioning), masyarakat belajarlearning (community), pemodelan (modeling), refleksi (refrection), dan penilaian autentik (authentic assessment) ( Trianto, 2009 : 107 ). Misalnya : Siswa mempunya satu buah apel. Jika apel tersebut dibagi menjadi dua bagian maka  hasilnya setengah (), kemudian apel tersebut dibagi menjadi dua bagian lagi  maka hasilnya seperempat (), jadi siswa dapat memahami bagaimana suatu konsep pecahan. 1.2. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka kami identifikasi masalah sebagai berikut : a. Kurangnya minat siswa dalam belajar matematika karena menganggap bahwa matematika pelajaran yang sulit 5 b. Kurangnya penguasaan konsep-konsep matematika c. Kurangnya motivasi yang dimiliki oleh siswa d. Kurang tepatnya strategi yang digunakan dalam proses pembelajaran e. Aktifitas siswa yang kurang sehingga berkurangnya minat belajar siswa. 1.3. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dan Identifikasi masalah di atas, maka peneliti merumuskan sebagai berikut : 1. Bagaimanakah meningkatkan aktifitas belajar metematika siswa dengan menggunakan pendekatan kontekstual pada kelas VI SD Negeri 1 Sinar Mulya? 2. Bagaimanakah meningkatkan hasil belajar metematika siswa dengan menggunakan pendekatan kontekstual pada kelas VI SD Negeri 1 Sinar Mulya? 1.4.Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1.4.1. Tujuan Penelitian 1. Untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa dengan menggunakan pendekatan kontekstual pada mata pelajaran matematika siswa kelas VI SD Negeri 1 Sinar Mulya. 6 2. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan pendekatan kontekstual pada mata pelajaran matematika siswa kelas VI SD Negeri 1 Sinar Mulya. 1.4.2. Kegunaan Penelitian a. Bagi siswa, penelitian ini berguna untuk membedakan antara pendekatan kontekstual dengan pembelajaran kooperatif guna meningkatkan aktivitas siswa yang bersdampak pada meningkatnya hasil belajar siswa. b. Bagi guru, memberikan pengetahuan dan pengalaman dalam pelaksanaan pemebelajaran yaitu strategi dengan pendekatan kontekstual, memperbaiki kinerja guru, meningkatkan kualitas pembelajaran. 1.5. Ruang Lingkup Penelitian Untuk membatasi agar materi penelitian ini tidak melampaui batas dari lingkup yang penulis teliti, maka penulis membatasi ruang lingkup pada penelitian tindakan kelas ini. Adapun yang yang menjadi ruang lingkup dalam penelitian tindakan kelas ini adalah: 1. Pendekatan Kontekstual adalah konsep belajar yang mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. dimilikinya dengan 7 2. Aktivitas belajar adalah segala kegiatan yang dilakukan dalam proses inetraksi ( guru dan siswa ) dalam rangka mencapai tujuan belajar, sedangkan indicator yang dinilai pada aktifitas ini adalah a. Memperhatikan penjelasan guru b. Menjawab pertanyaan guru c. Bertanya kepada guru atau menanggapi pertanyaan saat pembelajaran d. Diskusi ( Mengerjakan LKS ) e. Merangkum Materi Pelajaran . 3. Hasil belajar matematika adalah kemampuan siswa dalam memahami dan menguasai pelajaran matematika yang di ukur dari skor atau angka berdasarkan tes hasil belajar pada Pecahan dengan menggunakan Pendekatan Kontekstual. 4. Subjek Penelitian adalah siswa kelas VI SD Negeri 1 Sinar Mulya Tahun Pelajaran 2012/2013. 5. Objek Penelitian adalah hasil belajar dan aktivitas siswa pada pokok bahasan Pecahan. 6. Waktu Penelitian adalah semester II Tahun Pelajaran 2012/2013. 7. Tempat Penelitian adalah SD Negeri 1 Sinar Mulya. 8 II. KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Belajar dan Pembelajaran Belajar merupakan kewajiban dari semua pelajar juga mahasiswa, karena dengan belajar seseorang dapat merubah perilaku dari akibat belajar tersebut. Belajar juga dapat merubah perilaku seorang yang baru sebagai hasil pengalamannya dalam interaksi dengan lingkungannya. “ belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan tersebut akan dinyatakan dalam seluruh aspek tingkah laku. Pengertian belajar dapat diartikan sebagai suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individunitu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya” Menurut Ahmadi dan Supriyono ( 2007: 59 ). “ belajar adalah proses perubahan perilaku secara aktif, proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu, proses yang diarahkan pada suatu tujuan, proses berbuat melalui berbagai pengalaman, proses melihat, dan memahami sesuatu yang dipelajari” Menurut Wijaya (2005:36). Dari kedua ahli diatas, maka dapat dijelaskan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya 9 dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, perubahan tersebut akan dinyatakan dalam seluruh aspek tingkah laku. Belajar adalah proses perubahan perilaku secara aktif, proses mereaksi terhadap terhadap semua situasi yang ada disekitar individu, proses yang di arahkan pada suatu tujuan, proses berbuat melalui berbagai pengalaman, proses melihat, mengamati dan memahami sesuatu yang di pelajari. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yag diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik”. (wilkpedia.com. November 2009) Dari pengertian diatas, maka dpat dijelaskan bahwa pembelajaran adalah usaha sadar dari guru untuk membantu siswa belajar, yaitu terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa yang belajar, dimana perubahan itu dengandidapatkannya kemampuan baru yang berlaku dalam waktu yang relative lama dank arena adanya usaha. Kegiatan belajar mengajar adalah satu kesatuan dari dua kegiatan yang searah. Kehiatan belajar adalah kegiatan primer, sedangkan mengajar adalah kegiatan sekunder yang dimaksudkan agar terjadi kegiatan secara optimal. 2.2 Aktivitas belajar Aktivitas belajar merupakan segala kegiatan yang dilakukan dalam proses inetraksi ( guru dan siswa ) dalam rangka mencapai tujuan belajar. Aktivitas yang dimaksudkan disini penekanannya adalah pada siswa, sebab dengan adanya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran terciptalah situasi belajar aktif, belajar aktif adalah suatu system belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa 10 secara fisik, mental, intelektual dan emosional guna memperoleh hasil belajar khususnya pada mata pelajaran matematika di sekolah dasar. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dengan siswa atau pun dengan siswa sendiri. Hal ini akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif, dimana masng-masing siswa dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin. Aktivitas yang timbul dari siswa akan menghasilkan pula terbentuknya pengetahuan dan keterampilan yang akan mengarah kepada peningkatan prestasi. Pembentukan kemampuan siswa di sekolah dipengaruhi oleh proses belajar yang ditempuhnya. Proses belajar akan terbentuk berdasarkan pandangan dan pemahaman guru tentang karakteristik siswa dan juga hakikat pembelajaran. Untuk menciptakan proses belajar yang efektif, hal yang harus dipahami guru adalah fungsi dan peranannya dalam kegiatan belajar mengajar, yaitu sebagai pembimbing, fasilitator, nara sumber, atau pemberi informasi. Proses belajar yang terjadi tergantung pada pandangan guru terhadap makna belajar yang akan mempengaruhi aktivitas siswa-siswanya. Dengan demikian, proses belajar perlu disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa. Untuk mendukung hal tersebut, diperlukan pemahaman para guru mengenai karakteristik siswa dan proses pembelajarannya, khususnya di SD kelas rendah. Tingkatan kelas di sekolah dasar dapat dibagi menjadi dua, yaitu kelas rendah dan kelas tinggi. Kelas rendah terdiri dari kelas satu, dua, dan tiga, sedangkan kelas- 11 kelas tinggi terdiri dari kelas empat, lima, dan enam (Supandi, 1992: 44). Di Indonesia, rentang usia siswa SD, yaitu antara 6 atau 7 tahun sampai 12 tahun. Usia siswa pada kelompok kelas rendah, yaitu 6 atau 7 sampai 8 atau 9 tahun. Siswa yang berada pada kelompok ini termasuk dalam rentangan anak usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa yang pendek tetapi sangat penting bagi kehidupan seseorang. Oleh karena itu, pada masa ini seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal. Berkaitan dengan hal tersebut, ada beberapa tugas perkembangan siswa sekolah diantaranya: a) mengembangkan konsep-konsep yang perlu bagi kehidupan sehari-hari, b) mengembangkan kata hati, moralitas, dan suatu skala, nilai-nilai, c) mencapai kebebasan pribadi, d) mengembangkan sikap-sikap terhadap kelompok-kelompok dan institusi institusi sosial. (Makmun, 1995: 68) Beberapa keterampilan akan dimiliki oleh anak yang sudah mencapai tugas-tugas perkembangan pada masa kanak-kanak akhir dengan rentang usia 6-13 tahun. Keterampilan yang dicapai diantaranya, yaitu social-help skills dan play skill. Social-help skills berguna untuk membantu orang lain di rumah, di sekolah, dan di tempat bermain seperti membersihkan halaman dan merapikan meja kursi. Keterampilan ini akan menambah perasaan harga diri dan menjadikannya sebagai anak yang berguna, sehingga anak suka bekerja sama (bersifat kooperatif). 12 Dengan keterampilan ini pula, anak telah dapat menunjukkan keakuannya tentang jenis kelamin, mulai berkompetisi dengan teman sebaya, mempunyai sahabat, mampu berbagi, dan mandiri. Sementara itu, play skill terkait dengan kemampuan motorik seperti melempar, menangkap, berlari, keseimbangan. Anak yang terampil dapat membuat penyesuaian-penyesuaian yang lebih baik di sekolah dan di masyarakat. Berdasarkan uraian tersebut, maka perilaku belajar anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam dirinya dan lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang proses belajar terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya. Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasional konkret. Pada rentang usia tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut: a) Mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak, b) Mulai berpikir secara operasional, c) Mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan bendabenda, d) Membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat, dan e) Memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat. Memperhatikan tahapan perkembangan berpikir tersebut, kecenderungan belajar anak usia sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu: 13 1. Konkrit Konkrit mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkrit yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan. 2. Integratif Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian. 3. Hierarkis Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta kedalaman materi . 2.3 Hasil Belajar Hasil belajar siswa dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya faktor dari dalam diri siswa dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkugan. 14 Sesuai yang dikatakan oleh Slameto ( 2003 : 54 ) “Hasil belajar dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor interal dan faktor eksternal”. Faktor internal berasal dari diri siswa itu sendiri sedangkan faktor eksternal berasal dari luar diri siswa seperti faktor keluarga, masyarakat dan sekolah. Faktor sekolah juga dapat mempengaruhi hasil belajar siswa seperti kondisi sekolah, sarana dan prasarana sekolah dan juga strategi atau model pembelajaran yang digunakan dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Selain itu, hasil belajar juga dipengaruhi oleh intelegensi dan penguasaan awal siswa tentang materi yang akan dipelajarai. 2.4 Pendekatan Kontekstual a. Pendekatan Kontekstual ( contextual teaching and learning ) Pendekatan Kontekstual ( contextual teaching and learning ) adalah konsep belajar yang mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran kontekstual, yaitu : Kontruktivisme (contructivisme), inkuiri (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajarlearning (community), pemodelan (modeling), refleksi (refrection), dan penilaian autentik (authentic assessment) ( Trianto, 2009 : 107 ). Sedangkan pembelajaran kontekstual menyandarkan pada memori special. Pemilihan informasi didasarkan pada kebutuhan individu siswa. Pembelajaran 15 kontekstual juga selalu mengaitkan dengan pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa. Dalam pelaksanaanya, pembelajaran ini merupakan penilaian autentik. Pembelajaran kontekstual sebuah pendekatan pembelajaran yang mengakui dan menunjuka kondisi alamiah dari pengetahuan. Kemudian pendekatan ini memberikan pengalaman yang lebih relevan dan berarti bagi siswa dalam membangun kemampuan yang akan diterapkannya seumur hidup melalui hubungan di dalam dan luar kelas (Depdiknas, 2005). Pembelajaran ini berusaha menyajikan suatu konsep materi yang dikaitkannya dengan konsep materi tersebut digunakan, sehingga pengalaman belajarnya lebih realities dan biasanya akan berdaya tahan lama. b. Langkah-langkah pendekatan kontekstual 1. Konstruktivisme ( constructivism ) Constructivism merupakan landasan berfikir pendekatan kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangunoleh masnusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap diambil dan diingat. Manusia harus mengkunstruksi pengetahuan itu dan member makna melalui pengalaman nyata. Dengan dasar itu, pembelajran harus dikemas menjadi proses mengkonstruksi, bukan menerima pengetahuan. Dalam proses ini, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar dan mengajar. Siswa menjadi pusat kegiatan, bukan guru. 16 Landasan berfikir konstruktivisme agak beda dengan kaum objektif, yang lebih menekankan pada hasil pembelajran. Untuk itu, tugas guru adala memfasilitasi proses tersebut dengan : a. Menjadikan pengetahuan bermakna da relevan bagi siswa b. Memberikan kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri c. Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar. ( Riyanto, 2008:140 ) 2. Menemukan ( Inquiry ) Menemukan merupakan kegiatan inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL. Pengetahuan dari keterampilan yang diperoleh siswa bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri.guru harus merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan apapun materi yang diajarkannya.Siklus inquiry : a). Observation b). Questioning c). Hipotesis d). Data gathering e). Conclusion ( Riyanto, 2008:140 ) Langkah-langkah Kegiatan Menemukan ( inquiry ) : a. Merumuskan masalah b. Mengamati atau melakukan observasi 17 c. Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar laporan bagan, table atau karya lainnya d. Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audiensi yang lain. ( Riyanto, 2008:148 ) 3. Bertanya ( Questioning ) Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari bertanya. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis CTL. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, danmemiliki kemampuan berfikir siswa. Bagi siswa bertaya merupkan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiry, yaitu menggali informasi, menginformasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk : a. b. c. d. e. f. g. Menggali informasi baik administrasi maupun akademis Mengecek pemahaman siswa Membangkitkan respon kepada siswa Mengetahui sejauh mana yang sudah diektahui siswa Mengfokuskan perhatia siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan bagi siswa Untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa. ( Riyanto, 2008:148). Hamper pada semua aktifitas belajar questioning ini dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa, antara siswa dengan guru. Aktivitas bertanya juga ditemukan ketika siswa berdiskusi, bekerja dalam kelompok, ketika menemui kesulitan, ketika mengamati dan sebagainya. 18 4. Masyarakat Belajar ( Learning Community ) Konsep Learning Community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama orang lain. Hasil belajar diperoleh dari shering dengan teman, antar kelompok dan antar yang tahu ke yang belum tahu. Dalam kelas CTL, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok belajar. Kelompok siswa bias sangat bervariasi bentuknya baik keanggotaannya, jumlah, bahkan meliibatkan siswa kelas diatasnya, atau guru mengadakan kolaborasi dengan mendatangkan seorang ahli ke atas. Masyarakat belajar bias melibatka siswa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. Seorang guru mengajar siswanya bukanlah contoh masyarakat belajar. Dalam contoh ini yang benar hanya siswa bukan guru. Dalam masyarakat belajar dua kelompok ( atau lebih ) yang terlibat dalam masyarakat belajar member informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus meminta informasi yang diperlukan dari taman belajarnya. Kalau setiap orang mau belajar dari orang lain, maka setiap orang lain bias manjadi sumber belajar dan ini berarti setiap orang akan kaya dengan pengetahuan dan pengalaman. Praktik metode ini dalam pemebalajaran terwujud jika : a. b. c. d. e. f. Pembentukan kelompk kecil Pembentukan kelompok besar Mendatangkan ahli ke atas Bekerja dengan kelas sederajat Bekerja kelompok dengan kelas diatasnya Bekerja dengan masyarakat. ( Riyanto, 2008:162 ) 19 5. Pemodelan ( Modeling ) Dalam sebuah pembelajaran keterampilan dan pengetahuan tertentu, ada model yang bias ditiru. Model itu bias berupa cara mengoprasikan sesuatu, cara melempar bola dalam olahraga, contoh karya tulis, cara melafalkan dan sebagainya. Atau guru memberikan contoh cara mengerjakan sesuatu. Dalam pendekatan kontekstual, guru bukan satuny-satunya model. 6. Refleksi ( Reflection ) Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang harus dipelajari atau berfikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan dimasa yang lalu. Siswa mengahdapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau refleksi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas atau pengetahuan baru yang di terimanya. Pada akhir pembelajaran, guru menyisahkan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi, refleksinya berupa : a. b. c. d. g. Pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu Catatan atau jurnal di buku siswa Kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu Diskusi Hasil karya ( Riyanto, 2008:162 ) 7. Penilaian Sebenarnya ( Authentic Assessment ) Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bias memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bias memastikan bahwa siswa mengalami proses 20 pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengidentifikasikan bahwa sswa mengalami kemacetan belajar, maka guru dapat segera mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Karena gambaran tentang kemajuan belajar diperlukan disepanjang proses pembelajaran, maka assessment tidak dilakukan diakhir periode pembelajaran seperti pada kegiatan evaluasi hasil belajar tetapi dilakukan bersama dengan secara terintegrasi dari kegiatan pembelajaran. Karakteristik Authentic Assessment : a. b. c. d. e. f. Dilaksanaka selama dan sesudah proses pembelajaran bersinggung Bias digunakan untuk formatif maupun sumatif Yang diukur keterampilan dan performasi, bukan mengingat fakta Berkesinambungan Terintegrasi Dapat digunakan sebagai feed Back Hal-hal yang bias digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa : a. Proyek/kegiatan dan laporan b. PR c. Kuis d. Karya siswa e. Persentasi atau penampilan siswa f. Demonstrasi g. Laporan h. Jurnal i. Hasil tes tertulis h. Karya tulis. ( Riyanto, 2008:169 ) Intinya denga Authentic Assessment, pertanyaan yang ingin di jawab adalah “ apakah anak-anak belajar ? “, bukan “apa yang sudah diketahui ?” jadi, siswa dinilai kemampuannya dengan berbagai cara. Karakteristik pembelajaran CTL : a. b. c. d. Kerja sama Saling menunjang Menyenangkan, tidak membosankan Belajar dengan bergairah 21 e. f. g. h. i. j. i. Pembelajaran terintegrasi Menggunakan berbagai sumber Siswa aktif Sharing dengan teman Siswa kritis guru kreatif Diding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar dan lain-lain Laporan kepada orang tua bukan hanya raport tetapi hasil kerja siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa dan lain-lain. ( Riyanto, 2008:170 ) c. Kelebihan pendekatan kontekstual 1. Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. 2. Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena pendekatan kontekstual menganut aliran kontruktivisme, dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. d. Kelemahan pendekatan kontekstual 1. Guru lebih intensif dalam membimbing. Karena dalam pendekatan kontekstual guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan pengetahuan dan keterampilan yang baru bagi siswa. 2. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Sumber : http://nadhirin.blogspot.com/2010/03/model-pembelajaran- contextual-teaching.html 22 2.5 Materi penelitian Tujuan pembelajaran dalam penelitian ini adalah sesuai dengan model pembelajaran yang penulis gunakan yaitu dengan pendekatan kontekstual dimana model pembelajaran ini mengaitkan materi pelajaran dengan dunia nyata yang ada dalam lingkungan siswa, karena setelah pembelajaran ini selesai digunakan diharapkan siswa dapat menerapkan materi pecahan ini dalam kehidupan seharihari. Materi matematika yang penulis teliti adalah : a. Menyederhanakan Pecahan Cara menyederhanakan sebuah pecahan adalah sebagai berikut : 1). Bentuk pecahan sederhana dari : = : = : :  adalah sebagai berikut : = Jadi, pecahan paling sederhana dari adalah b. Mengurutkan Pecahan Cara mengurutkan sebuah pecahan adalah sebagai berikut : 1). Diketahui pecahan-pecahan , , , a. Urutkanlah pecahan-pecahan diatas mulai dari yang terkecil ! b. Urutkanlah pecahan-pecahan diatas mulai dari yang terbesar ! Jawab : Ubahlah pecahan-pecahan tersebut menjadi pecayahan yang penyebutnya sama. KPK dari penyebut-penyebutnya ( 2, 3, 4, 5, 6, dan 12 ) adalah 12, maka : = = = = 23  = = = 1 1 6 6 = = 2 2 6 12 = Jika penyebutnya telah sama, untuk mengurutkannya kalian hanya perlu membandingkan pembilangnya saja. Sehingga dapat ditentukan urutannya berikut ini : a. Urutkan pecahan-pecahan diatas mulai dari yang terkecil adalah 3 4 5 6 , , , 12 12 12 12 8 12 Jadi, urutan pecahan dari yang terkecil adalah , , , , b. Urutkan pecahan-pecahan diatas mulai dari yang terbesar adalah 8 6 5 4 , , , 12 12 12 12 3 12 Jadi, urutan pecahan dari yang terkecil adalah , , , 2.6 Kerangka Pikir Penerapan metode konvensional dalam pembelajaran matematika membuat siswa merasa bosan dan enggan belajar, sehingga aktivitas pembelajaran cenderung rendah. Pengunaan Pendekatan Kontekstual dapat menjadi alternative dalam peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa pembelajaran metematika pada pokok bahasan pecahan. Tahapan perkembangan usia anak SD yang masih dalam tahap oprasional konkret, menurut guru untuk aktif dalam mengkombinaskan metode pembelajaran di kelas. 24 Pendekatan kontektual dapat menjadi salah satu alternative dalam pembelajaran matematika. Dimana tahapan pada pendekatan kontekstual adalah a. Konstrukstivisme ( constructivism ) b. Menemukan ( inquiry ) c. Bertanya ( Questioning ) d. Masyarakat belajar ( learning Community ) e. Pemodelan ( modeling ) f. Refleksi ( reflection ) g. Penilaian Sebenarnya ( authentic Assessment ). 2.7 Hipotesis Hipotesis ini dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Ada peningkatan aktivitas belajar matematika dengan pendekatan kontekstual siswa kelas VI SD Negeri 1 Sinar Mulya Tahun Pelajaran 2012/2013. 2. Ada peningkatan hasil belajar matematika dengan pendekatan kontekstual siswa kelas VI SD Negeri 1 Sinar Mulya Tahun Pelajaran 2012/2013. 25 III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Sedangakan model yang digunakan adalah pendekatan kontekstual. Pemilihan pendekatan ini didasarkan pendapat bahwa penelitian tindakan kelas mampu menawarkan cara atau prosedur baru untuk memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme guru dalam pembelajaran di kelas dengan melihat berbagai indicator keberhasilan proses dan hasil pembelajaran yang terjadi pada siswa. 3.2 Setting Penelitian 3.2.1 Tempat Dan Waktu penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini yang dilakukan terhadap siswa kelas VI SD Negeri 1 Sinar Mulya Kecamatan Banyumas Kabupaten Pringsewu pada pokok bahasan Pecahan. Penelitian ini dilaksanakan selama tiga minggu. Selama proses pembelajaran pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kontekstual. Jumlah siswa yang dijadikan sebagai subjek penelitian sebanyak 35 orang siswa, yang terdiri dari 20 orang siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Dari seluruh siswa kemudian dikelompokkan kedalam 8 kelompok secara acak berdasarkan hasil belajar matematika sebelumnya. 5 kelompok beranggotakan 4 orang, dan 3 kelompok beranggotakan 5 orang. dimana di dalam setiap kelompok harus 26 terdapat paling sedikit satu orang siswa yang mempunyai kemampuan lebih dari pada siswa yang lain. Hal ini dilakukan untuk mempermudah dan mengaktifkan mereka dalam bekerjasama dalam kelompoknya. Selama dalam penelitian ini peneliti dibantu oleh seorang guru mitra dari SD Negeri 1 Sinar Mulya Kecamatan Banyumas Kabupaten Pringsewu sebagai mitra sejawat. 3.3 Pelaksanaan Tindakan Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian meliputi : 3.3.1 Tahap Pra Penelitian 1. Menentukan dasar yang digunakan untuk mengetahui peningkatan individu 2. Sekor diperoleh dari ulangan harian kemudian dilakukan pembentuka kelompok yang heterogen 3. Menjelaskan maksud dan langkah-langkah menggunakan pendekatan kontekstual pembelajaran dengan 27 3.3.2 Tahap Pelaksanaan Tindakan Perencanaan Refleksi SIKLUS I Tindakan Pelaksanaan Pengamatan ( Observasi) Perencanaan Refleksi SIKLUS II Tindakan Perbaikan Pengamatan ( Observasi) Perencanaan Refleksi SIKLUS III Tindakan Pelaksanaan Perencanaan SIKLUS PENELITIAN TINDAKAN KELAS Penelitan tindakan kelas ini dilaksanakan dalam tiga siklus, yang dilaksanakan selama 3 minggu. Gambaran tentang pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini diuraikan pada bagian berikut ini: 28 a. Siklus I 1) Perencanaan Hal-hal yang dilakukan pada tahap perancaan pada penelitian tindakan kelas ini antara lain adalah; a) Membuat silabus yang sesuai dengan pokok bahasan yaitu Bilangan Pecahan. b) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan langkah-langkah metode Pembelajaran menggunakan metode inkuiri. c) Menyusun skenario pembelajaran sesuai dengan materi yang akan diberikan. d) Mempersiapkan lembar evaluasi dan soal tes tertulis sebagai alat evaluasi siswa. 2) Pelaksanaan Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah melaksanakan perbaikan pembelajaran sesuai dengan rencana yang telah ditentukan. Tindakan ini untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran dikelas. Langkah yang akan dilakukan pada tahap ini adalah pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri dengan skenario pembelajaran sebagai berikut: a) Guru meminta siswa untuk berdoa terlebih dahulu, lalu membuka pelajaran dengan mengucapkan salam. b) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan mengenalkan kepada siswa halhal dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan materi yang diajarkan. c) Membagi siswa kedalam kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4 dan ada yang 5 orang siswa. 29 d) Menyampaikan materi tentang pokok bahasan Pecahan selama kurang lebih 10 sampai 15 menit. kemudian dilanjutkan dengan pemberian latihan soal. e) Menganjurkan kepada siswa untuk mendiskusikan dalam kelompok tentang materi yang telah disampaikan yang dilanjutkan dengan mengerjakan latihan yang disediakan. f) Guru memberikan kesempatan kepada siswa/kelompok untuk bertanya. g) Guru mengamati diskusi dan kerja kelompok dengan memberikan bimbingan jika perlu. h) Salah seorang siswa pada setiap kelompok mewakili kelompoknya mempresentasikan hasil kelompoknya di kelas dihadapan kelompok lainnya. i) Guru bersama siswa menyimpulkan hasil diskusi dan kerja kelompok. j) Memberikan penguatan pada materi ajar, yakni mengulas kembali materi yang disampaikan dengan memberikan soal latihan untuk dikerjakan. k) Sebagai akhir pembelajaran siswa diberikan tes secara tertulis berupa tes formatif untuk mengetahui sampai sejauh mana siswa telah memahami materi Pecahan. 3) Pengamatan atau Observasi Dalam pengamatan penelitian tindakan kelas ini, peneliti bekerjasama dengan guru mitra yaitu salah seorang guru pelajaran matematika di SD Negeri 1 Sinar Mulya yang bertugas mengamati selama proses kegiatan pembelajaran berlangsung. Hasil pengamatan ini dituangkan dalam catatan lapangan yang telah dipersiapkan. 30 4) Refleksi Refleksi ini merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. Refleksi dilakukan dengan menganalisis kelemahan dan kekurangan yang ditemukan selama pelaksanaan siklus ini dilihat dari hasil tes dan pengamatan sebagai dasar perbaikan pada siklus selanjutnya. b. Siklus II Pelaksanaan Siklus II berdasarkan hasil refleksi pada siklus I dengan melalui tahapan yang sama sebagaimana tahapan pada siklus I. Berdasarkan pada hasil analisis pelaksanaan siklus I yang belum tercapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Dalam proses kegiatan pembelajaran pada siklus II ini, setiap kelompok disediakan lembar kerja soal dan siswa diberi kesempatan untuk berdiskusi bagaimana cara penyelesainnya. c. Siklus III Pelaksanaan siklus III berdasarkan hasil refleksi pada siklus II dengan tahapan yang sama sebagaimana pada siklus I dan siklus II sebelumnya. Siklus III ini dilakukan mengingat indicator keberhasilan belum tercapai pada siklus sebelumnya. Pelaksanaan tindakan perbaikan pembelajaran dilakukan berdasarkan hasil refleksi yang telah dilakukan terhadap hasil observasi dan evaluasi terhadap tindakan perbaikan pembelajaran pada siklus II. 31 3.4 Teknik Pengumpulan Data Untuk memperoleh data selama pelaksanaan penelitian, maka teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: 1) Tes Tes dilaksanakan setiap akhir siklus. Tes ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa setelah diterapkannya Pendekatan Kontekstual. 2) Observasi Observasi bertujuan untuk mengetahui aktifitas belajar siswa yang terjadi selama proses pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Observasi berupa penelitian secara langsung melihat proses pembelajaran yang terjadi di SD Negeri 1 Sinar Mulya. b. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yang digunakan pada penelitian tindakan kelas ini meliputi: 1) Lembar obeservasi Digunakan untuk mengetahui segala aktifitas siswa yang terjadi pada saat pendekatan kontekstual berlangsung. Sehinggah aktifitas dan hasil belajar dapat telihat peningkatannya. 2) Perangkat Tes Digunakan untuk mendapatkan data tentang hasil belajar yang dicapai siswa pada setiap akhir siklus, guna mengetahui tingkat pencapaian pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi yang telah diberikan pada setiap siklus. 32 3) Catatan Lapangan Catatan Lapangan ini berupa catatan yang dibuat oleh peneliti dan bekerjasama dengan seorang guru mitra selama pelaksanaan penelitian sebagai bahan analisis secara keseluruhan mengenai aktifitas guru peneliti dan siswa selama pelaksanaan tindakan perbaikan pembelajaran berlangsung. 3.5 Indikator Keberhasilan Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual pada penelitian ini sudah dianggap berhasil apabila : 1. Terjadi peningkatan persentase belajar siswa yang mendapat nilai ≥60 pada siklus berikutnya dan pada akhir siklus II. 2. Persentase siswa yang aktif pada setiap siklus minimal ada peningkatan dari siklus pertama dengan siklus berikutnya. 3.6 Teknik Analisis Data Pemahaman siswa tentang materi yang diajarkan akan menghasilkan hasil yang lebih baik jika diukur dengan tes hasil belajar. Untuk mengetahui pencapaian tingkat pemahaman siswa tentang materi yang telah disampaikan (hasil belajarnya) yaitu dengan menghitung perolehan nilai tes yang didapatkan masingmasing siswa pada pokok bahasan Bilangan Pecahan melalui pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri untuk setiap siklus digunakan rumus: X  N .S x100% N Keterangan: - x = Nilai rata-rata tes 33 - ΣNS = Jumlah nilai seluruh siswa N = Jumlah siswa (Sudjana, 2005:67) Sedangakan untuk penilaian aktifitas dilakukan dengan melihat indicator yang dinalai pada saat pendekatan kontekstual berlangsung. Yaitu ada lima indicator yang meliputi : 1. Memperhatikan penjelasan guru 2. Menjawab pertanyaan guru 3. Bertanya kepada guru atau menanggapi pertanyaan saat pembelajaran 4. Diskusi ( Mengerjakan LKS ) 5. Merangkum Materi Pelajaran Dan Kriteria penilaiannya adalah sebagai berikut : 1. A : Aktif ( Jika jumlah indokator ≥ 4 ) 2. TA : Tidak Aktif ( Jika jumlah indokator ≤ 4 ) 47 IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 HASIL PENELITIAN Siklus I dan Siklus II dilaksanakan setiap siklus dua kali pertemuan, yaitu pada tanggal 08 - 17 Januari 2013 dengan materi pembelajaran Pecahan melalui pendekatan kontekstual. Pada setiap siklus ini berlangsung selama 4 jam pelajaran ( 4 x 35 menit ) yaitu diadakan penelitian tindakan kelas pada siklus I dan Siklus II, penulis menyajikan hasil belajar dan aktifitas belajar matematika dengan menggunakan pendekatan kontekstual, seperti yang tertera pada tabel berikut : Hasil observasi pengamatan aktivitas belajar siswa siklus I No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Nama Siswa TF RS YDM FA TS AS A Sp AR AM AA A St HM DP ID I IS Jumlah 4 3 4 3 4 2 2 2 4 3 3 3 4 2 3 5 Kriteria A TA A TA A TA A TA TA TA A TA TA TA A TA TA A 48 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 LK LH MK M PK PH LA RAK R Rw TY RJ AMS AK UR IK MJ UK S Jumlah Nilai Persentase 4 3 4 3 4 4 3 4 4 3 2 5 3 3 2 2 3 2 2 111 A A A A A A A TA TA TA TA TA TA TA TA TA TA TA TA 37,14% 62,86% Kriteria : A : Aktif ( jika jumlah indikator ≥4 ) TA : Tidak Aktif ( jika jumlah indikator ≤4 ) Hasil observasi aktivitas belajar peserta didik pada siklus I, dalam proses pembelajaran ada perubahan yaitu siswa yang sudah bekerja sama dan tidak raguragu mengeluarkan pendapatnya. Hal ini menunjukan peningkatan peserta didik yang aktif meningkat menjadi 13 siswa sekitar 37,14% dari 35 peserta didik. Namun masih ada yang perlu diperhatikan siswa yang “tinggal” dalam kelompok tidak menshering informasi dan hasil kerjanya kepada tamu mereka. Untuk mengetahui sampai dimana kemampuan siswa dalam menyerap materi yang diberikan maka diadakan tes formatif. Hasil tes formatif tersebut dapat dilihat pada table berikut : 49 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Nama Siswa Nilai TF 60 RS 55 YDM 60 FA 55 TS 60 AS 75 A Sp 55 AR 65 AM 60 AA 55 A St 55 HM 60 DP 60 ID 70 I 60 IS 55 LK 60 LH 55 MK 70 M 60 PK 60 PH 60 LA 55 RAK 60 R 60 Rw 55 TY 60 RJ 60 AMS 55 AK 60 UR 65 IK 40 MJ 60 UK 65 S 75 Jumlah Nilai 2090 Rata-rata 59,86 Persentase siswa yang mendapat nilai ≥60 ( T ) Target KKM = 60 Keterangan : T : Tuntas TT : Tidak Tuntas Kategori T/TT TT T T T T TT TT TT T TT TT T T T TT T T TT T T T T TT T T TT T T TT T T T T TT TT 62,85% 50 1.1 Refleksi Siklus I Pada akhir siklus I diperoleh data bahwa hasil belajar siswa belum memenuhi indikator keberhasilan yang telah ditentukan. Hal ini dapat dilihat dari diagram berikut ini : 70,00% 60,00% 50,00% 40,00% Siswa Tuntas 30,00% Siswa Tidak Tuntas 20,00% 10,00% 0,00% Siswa Tuntas siswa Tidak Tuntas Hal ini disebabkan karena penerapan pendekatan kontekstual belum memenuhi kondisi yang diharapkan. Selain itu disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu : a. Sebagian besar siswa belum terbiasa belajar dengan menggunakan pendekatan kontekstual. b. Siswa masih kesulitan beradaptasi dengan teman dalam satu kelompoknya. c. Diskusi kelompok dalam belajar masih kurang. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan untuk siklus berikutnya adalah sebagai berikut : a. Guru perlu lebih memperhitungkan alokasi waktu baik penyampaian materi, kegiatan diskusi kelompok, maupun dalam presentasi hasil kelompok. 51 b. Guru menjelaskan kembali aturan pelaksanaan pembelajaran. c. Guru lebih memotivasi siswa agar bekerja sama dalam kelompok dan berani mengajukan pertanyaan. Setelah melakukan evaluasi, maka pembelajaran melanjutkan ke siklus II dengan hasil aktifitas dan hasil belajar sebagai berikut : Hasil observasi pengamatan aktivitas belajar siswa siklus I No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 Nama Siswa TF RS YDM FA TS AS A Sp AR AM AA A St HM DP ID I IS LK LH MK M PK PH LA RAK R Rw TY RJ AMS AK UR Jumlah 5 4 4 4 4 4 4 4 3 4 4 4 5 5 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 3 4 4 3 4 A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A A Kriteria TA TA TA TA 52 32 33 34 35 A TA IK MJ UK S Jumlah Nilai Persentase 4 5 5 3 142 A A A TA 88,57% 11,43% : Aktif ( jika jumlah indikator ≥4 ) : Tidak Aktif ( jika jumlah indikator ≤4 ) Kriteria : Hasil observasi aktivitas belajar peserta didik pada siklus II, dalam proses pembelajaran ada perubahan yaitu siswa yang sudah bekerja sama dan tidak raguragu mengeluarkan pendapatnya. Hal ini menunjukan peningkatan peserta didik yang aktif meningkat menjadi 31 siswa sekitar 88,57% dari 35 peserta didik. Untuk mengetahui sampai dimana kemampuan siswa dalam menyerap materi yang diberikan maka diadakan tes formatif. Hasil tes formatif tersebut dapat dilihat pada table berikut : No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Nama Siswa TF RS YDM FA TS AS A Sp AR AM AA A St HM DP ID I IS LK LH MK Nilai Kategori T/TT 65 70 65 70 75 85 70 75 70 55 70 75 70 80 65 60 75 75 85 T T T T T T T T T TT T T T T T T T T T 53 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 M 70 PK 75 PH 70 LA 70 RAK 80 R 65 Rw 65 TY 65 RJ 70 AMS 55 AK 55 UR 70 IK 55 MJ 75 UK 75 S 85 Jumlah Nilai 2455 Rata-rata 70,14 Persentase siswa yang mendapat ≥60 (T) Target KKM = 60 T T T T T T T T T TT TT T TT T T T T 88,57% Keterangan : T : Tuntas TT : Tidak Tuntas 1.2 Refleksi Siklus II Pada akhir siklus II diperoleh keterangan bahwa hasil belajar siswa sudah memenuhi indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Hal ini disebabkan karena siswa sudah terbiasa dengan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual. Peningkatan tersebut dapat dilihat di diagram berikut ini : 54 100,00% 90,00% 80,00% 70,00% 60,00% 50,00% Siswa Tidak Tuntas 40,00% Siswa Tuntas 30,00% 20,00% 10,00% 0,00% Siswa Tuntas Siswa Tidak Tuntas Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan kontekstual pada pelaksanaannya perlu memperhatikan alokasi waktu dengan baik dalam penyajian materi, kegiatan diskusi kelompok, maupun dalam persentasi hasil kerja siswa. Guru perlu memberikan penjelasan tentang pelaksanaan pembelajaran, memberikan motivasi kepada siswa agar bekerja sama dalam kelompok dan berani mengajukan pendapat atau pun pertanyaan. Selain itu guru hendaknya memaparkan lebih jelas materi yang akan disampaikan, Memberikan arahan kepada siswa agar bekerjasama dan saling membantu dalam memahami materi dan ketika mengerjakan soal. 4.2 PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah penulis lakukakan, maka hasilnya dapat di bahas yait pada siklus I persentase aktifitas dan hasil belajar siswa sebesar 59,86%, persentase ini menggambarkan bahwa siklus tersebut hanya sedikit siswa 55 yang aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini disebabkan karena siswa baru pertama kali mengikuti pembelajaran dengan pendekatan kontekstual sehingga kegiatan utama yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran masih terpaku pada penjelasan guru, membaca buku dan mengerjakan latihan. Siswa masih belum mempercayai teman sekelompoknya sehingga lebih memilih untuk bertanya langsung kepada guru jika terdapat hal yang tidak dimengerti. Beberapa siswa masih kesulitan dalam beradaptasi dengan teman dalam kelompoknya, sehingga mereka cenderung untuk mengerjakan latihan secara individu. Pada saat ini pembentukan kelompok serta penjelasan pembelajaran yang akan diterapkan menyita waktu yang lebih banyak dari yang direncanakan sehingga dengan kesepakatan bersama siswa, kegiatan persentasi dilakukan sebagian besar pada jam pulang. Pada kegiatan persentasi tersebut, sebagian besar siswa tidak fokus dengan persentasi yang dilakukan temannya. Pada siklus II, siswa sangat tampak antusias mengikuti kegiatan pembelajaran. Pengumuman hasil siklus I, pemberian penghargaan kepada kelompok terbaik dan pemberian motivasi pada awal pembelajaran membuat siswa tampak bersemangat. Persentase aktifitas dan hasil belajar dalam kegiatan pembelajaran pada siklus II nilai rata-rata 70,14 dan persentase tuntas 88,57%. Hal ini menunjukan bahwa indikator keberhasilan tentang aktifitas dan hasil belajar siswa sudah tercapai, karena sudah mencapai 75% ( syarat minimal dikatan berhasil). Dengan demikian, pendekatan kontekstual dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa. Berdasarka uraian diatas, dapat diketahui bahwa persentase aktifitas dan hasil belajar siswa setiap siklusnya mengalami peningkatan. Adanya peningkatan aktifitas dalam belajar siswa dikarenakan siswa mulai memahami pentingnya 56 kerjasama dan saling membantu dalam memahami materi yang diberikan, artinya siswa tersebut sudah mulai mengerti tujuan dari pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Selain itu, pemberian motivasi, peningkatan pengelolaan pembelajaran oleh guru, yang membuat mereka untuk belajar lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian bahwa, aktivitas dan hasil belajar siswa selama proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual dapat diketahui dalam Diagram berikut ini : 100,00% 90,00% 80,00% 70,00% 60,00% 50,00% Siklus I 40,00% Siklus II 30,00% 20,00% 10,00% 0,00% Siklus I No Siklus 1 2 Siklus II Jumlah Persentase A TA A TA I 13 22 37,14% 62,86% II 31 4 88,57% 11,43% Keterangan Banyaknya siswa tuntas pada siklus I 62,85% hal ini belum memenuhi indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Rata-rata hasil belajar siswa adalah 59,86. 57 Siswa yang tidak tuntas pada siklus I sebagian besar adalah siswa tidak aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran siklus I. Banyaknya siswa tuntas pada siklus ini belum memenuhiindikator yang ditetapkan. Oleh karena itu, penelitan ini dilanjutkan pada siklus berikutnya dengan memperhatikan hal sebagai berikut : a. Guru perlu lebih memperhitungkan alokasi waktu baik penyampaian materi, kegiatan diskusi kelompok, maupun dalam presentasi hasil kelompok. b. Guru menjelaskan kembali aturan pelaksanaan pembelajaran. c. Guru lebih memotivasi siswa agar bekerja sama dalam kelompok dan berani mengajukan pertanyaan. Dengan demikian kegiatan pembelajaran dapat berlangsung dengan baik. Selain itu, guru perlu menjelaskan kembali aturan pelaksanaan pembelajaran dan guru lebih memotivasi siswa agar bekerjasama dalam kelompok dan berani mengajukan pertanyaan. Pada siklus II ini, persentasi siswa mengalami peningkatan sebesar 25,71% dari siklus II. Rata-rata hasil belajar siswa pun mengalami peningkatan sebesar 10,28. Banyak siswa yang tuntas 31 dari 35 siswa yang mengikuti tes. Nilai tertinggi adalah 85 dan nilai terendahnya adalah 55. Dan persentase siswa tuntak pada siklus II ini adalah 88,57%. Berdasarkan inikatir keberhailsan maka banyaknya siswa yang tuntas sudah mencapai diatas KKm yaitu 75% ( syarat minimal dikatakan tuntas). Hal ini berrti bahwa pendekatan kontekstual dapat menigkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa. 58 Setelah siswa tersebut memahami materi yang diberikan guru, sehingga siswa dapat memperoleh hasil belajar lebih baik. Hal ini didukung pernyataan Sharan ( dalam Isjoni, 2009:23 ) bahwa siswa belajar menggunakan pendekatan kontekstual akan memiliki motivasi yang tinggi, karena didorong dan didukung dari temansebaya terhadap lingkungan sekitar. Keberhasilan dalam belajar bukan semata-mata harus diperoleh dari guru saja melainkan melalui teman. Dengan siswa dituntut untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran. Melalui keaktifannya siswa mengkontruksi pengetahuan dibentuk mereka sendiri. Dengan pengetahuan yang dibentuk sendiri oleh siswa, pengetahuan tersebut akan bertahan lama dalam benak siswa. Pengetahuan yang melekat kuat dalam benak siswa akan mampu membantu pada saat dibutuhkan sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. Sebagaimana diungkapkan Piaget ( dalam Wina Sanjaya, 2006;122 ) “pengetahuan yang dikaitkan dengan lingkungan kehidupan sekitar oleh anak sebagai sujek maka akan menjadi pengetahuan yang bermakna sedangkan pengetahuan yang dapat diperoleh melalui proses pembelajaran tersebut akan selalu diingat dan tidak mudah dilupakan”. Berdasarkan uraian diatas, menjelaskan bahwa pendekatan kontekstual mampu mengaktifkan siswa dalam memecahkan masalah, meningkatkan interaksi sosial dan komunikasi yang berkualitas serta membangun pengetahuan siswa menjadi pengetahuan yang bermakna, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa secara optimal. Berdasarkan hasil belajar siswa pada siklus II bahwa nilai rata-rata dan ketuntasan belajar mengalami peningkatan. Adanya peningkatan nilai siswa dipengaruhi oleh 59 adanya peningkatan aktifitas dan belajar siswa serta pengelolaan pembelajaran yang semakin baik, selain itu juga motivasi yang diberikan oleh guru memberikan pengaruh terhadap aktifitas dan hasil belajar siswa. Hasil penelitian pada siklus II menunjukan bahwa indikator kinerja telah tercapai baik aktfitas maupun hasil belajar siswa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendekatan kontekstual dapat meningkatkan aktifitas dan hasil belajar siswa. Terjadinya peningkatan aktiifitas dan hasil belajar siswa tersebut karena adanya perbaikan-perbaikan dalam pelaksanaan pembelajaran tersebut. Perbaikan tersebut meliputi : a. Perhitngan alokalsi waktu baik dalam penyajian materi, kegiatan diskusi kelompok, maupun persentasi hasil kerja kelompok. b. Menjelaskan kembali aturan pelaksanaan pembelajaran. c. Memotivasi dan memberikan arahan kepada siswa agar bekerja sama dalam kelompok dan berani mengajukan pendapat atau pernyataan. d. Memaparkan lebih jelas materi yang disampaikan. UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS VI SD NEGERI 1 SINAR MULYA KECAMATAN BANYUMAS KABUPATEN PRINGSEWU Oleh Istiqomah Skripsi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar SARJANA PENDIDIKAN Pada Program Studi S1 PGSD Dalam Jabatan Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2013 UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS VI SD NEGERI 1 SINAR MULYA KECAMATAN BANYUMAS KABUPATEN PRINGSEWU Skripsi Oleh Istiqomah FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2013 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ………………………………………………………………. xiii DAFTAR GAMBAR…………………………………………………….............. xiv DAFTAR LAMPIRAN..…………………………………………………………… xv I PENDAHULUAN…………………………………………………………….. 1 1.1 Latar Belakang Masalah…………………………………………………. 1 1.2 Identifikasi Masalah ……………………………………………………. 4 1.3 Rumusan Masalah……………………………………………………….. 5 1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian………………………………………….. 5 1.4.1 Tujuan Penelitian………………………………………………..... 6 1.4.2 Kegunaan Penelitian………………………………………………. 6 1.5 Ruang Lingkup Penelitian ………………………………………………… 6 II KAJIAN PUSTAKA …………………………………………………………. 2.1 Pengertian Belajar Dan Pembelajaran………………….…………............. 2.2 Aktivitas Belajar ........................................………………………………. 2.3 Hasil Belajar…...............................................…………………………… 2.4 Pendekatan Kontekstual…………………………………………............ 2.5 Materi Penelitian………………………………………………………… 2.6 Kerangka Pikir…………………………………………………………... 2.7 Hipotesis………………………………………………………………… III METODE PENELITIAN…………………………………………………..…. 8 8 9 13 14 22 27 24 25 3.1 Metode Penelitian……………………………………........................... 25 3.2 Setting Penelitian ……………………………………………………… 26 3.3 Pelaksanaan Tindakan…………………………………………………. 26 3.4 Teknik Pengumpulan Data…………………………………………….. 31 3.5 Indikator Keberhasilan………………………………………………… 32 3.6 Teknik Analisis Data…………………………………………………… 32 IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN………………………………. 34 4.1 Hasil Penelitian…. ………………………………………………………. 34 4.2 Pembahasan …………………………………………………………….. 41 V KESIMPULAN DAN SARAN…….…………………………………………. 47 5.1 Kesimpulan……………………………………………………………… 47 5.2 Saran…………………………………………………………………….. 47 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN DAFTAR PUSTAKA Agus Riyanto, 2008. Pendekatan Kontekstual. Jakarta : Rineka Cipta Agus Suharjana dan Sigit TriGuntoro. 2008. Manfaat Alat Peraga Matematika Salam Dimiyati. 2006. Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. P4TK Matematika. Pembelajaran Kooperatif 25 November 2010. Pembelajaran, Yogyakarta. Pujiat, 2008. Pembuatan Alat Peraga Matematika SMP Sederhana. Yogyakarta Roestiya, 2008. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Renika Cipta. Slameto. 2006. Belajar dan factor-faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Renika Cipta. Suharsimi Arikunto, 2006. Penelitian Tindakan Kelas, Bumi Aksara, Jakarta Suherman, Erman. 2008. Hakekat Pembelajaran. http://educare.e-fkipnula.net. 14 Januari 2011 Surya M, 2005. Kapita Selekta Kependidikan SD. Universitas Terbuka Jakarta. Tim Bina Karya Guru. 2007. Matematika Kelas VI Sekolah Dasar. Jakarta: Erlangga, Trianto, 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi. Surabaya : Prastisi Pustaka. Wina Snajaya, 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana. Winata Putra, Udin, S. 2005. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Universitas Terbuka Jakarta. 1 DAFTAR TABEL Halaman 1. Nilai ulangan harian matematika pada pokok bahasan pecahan kelas VI SD Negeri 1 Sinar Mulya tahun pelajaran 2011/2012 ………………………….. 3 2. Table aktivitas belajar siklus I ……………………………………………… 35 3. Table hasil belajar siklus I…………………………………………………... 36 4. Table aktivitas belajar siklus II ……………………………………………... 38 5. Table hasil belajar siklus II………………………………………………….. 39 6. Table hasil aktivitas siklus I dan II …………………………………………. 44 2 DAFTAR GAMBAR Halaman 1. Gambar Alur Kerangka berfikir…………………………………………. 24 2. Gambar Rencana Siklus Penelitian Tindakan Kelas…………………….. 28 3. Gambar diagram hasil belajar siswa tuntas dan tidak tuntas siklus I……. 37 4. Gambar diagram hasil belajar siswa tuntas dan tidak tuntas siklus II…… 39 5. Gambar diagram hasil belajar siswa tuntas pada siklus I dan II………… 42 3 DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. Surat Izin Penelitian ………………………………………………… 47 2. Surat Keterangan Pelaksanaan Penelitian ………………………….. 48 3. Jadwal Penelitian …………………………………………………… 49 4. Silabus ……………………………………………………………… 50 5. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) Siklus I……………… 54 6. Lembar Kerja Siswa 1……………………………………………… 59 7. Kunci Jawaban LKS 1……………………………………………… 62 8. Lembar Observasi Aktivitas Siswa ………………………………… 64 9. Lembar Observasi Aktivitas Guru………………………………… 66 10. Lembar Catatan Lapangan Siklus I………………………………… 68 11. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) Siklus II……………… 69 12. Lembar Kerja Siswa 2………………………………………………. 74 13. Kunci Jawaban LKS 2………………………………………………. 79 14. Lembar Observasi Aktivitas Siswa ………………………………… 83 15. Lembar Observasi Aktivitas Guru…………………………………. 85 16. Lembar Catatan Lapangan Siklus II………………………………… 87 17. Gambar Kegitan Pembelajaran Kontekstual Siklus I dan II………… 88 18. Kartu Konsultasi Bimbingan Skripsi……………………………….. 91 49 JADWAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS No Hari / Tanggal Jam Ke- Waktu 1. Selasa, 8 Januari 2013 1 dan 2 07.30 – 08.45 2. Kamis, 10 Januari 2013 1 dan 2 07.30 – 08.45 3. Selasa, 15 Januari 2013 1 dan 2 07.30 – 08.45 4. Kamis, 17 Januari 2013 1 dan 2 07.30 – 08.45 PENINGKATAN MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN MENGGUNAKAN LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK PADA SISWA KELAS IX SMP NEGERI 1 LIWA LAMPUNG BARAT TAHUN PELAJARAN 2012/2013 (Skripsi) Oleh UMI SALAMAH PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG 2013 PENINGKATAN MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN MENGGUNAKAN LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK PADA SISWA KELAS IX SMP NEGERI 1 LIWA LAMPUNG BARAT TAHUN PELAJARAN 2012/2013 Oleh UMI SALAMAH Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN Pada Program Studi Bimbingan dan Konseling Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2013 Judul Skripsi : PENINGKATAN MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN MENGGUNAKAN LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK PADA SISWA KELAS IX SMP NEGERI 1 LIWA LAMPUNG BARAT TAHUN PELAJARAN 2012/2013 Nama Mahasiswa : Umi Salamah Nomor Pokok Mahasiswa : 0813052012 Program Studi : Bimbingan Konseling Jurusan : Ilmu Pendidikan Fakultas : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan MENYETUJUI I. Komisi Pembimbing Pembimbing Utama, Pembimbing Pembantu, Drs. Yusmansyah, M.Si NIP. 19600112 198503 1 004 Diah Utaminingsih, S.Psi., M.A.,Psi NIP. 19790714 200312 2 002 II. Mengetahui Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan Drs. Baharudin Risyak, M.Pd NIP. 19510507 198103 1 002 MENGESAHKAN 1. Tim Penguji Ketua : Drs. Yusmansyah, M.Si. .................................. Sekretaris : Diah Utaminingsih, S.Psi., M.A.,Psi .................................. Penguji Bukan Pembimbing : Drs. Syaifuddin Latif,M.Pd.................................. 2. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dr. Bujang Rahman, M.Si. NIP. 19600315 198503 1 003 Tanggal Lulus Ujian Skripsi : 31 Januari 2013 SURAT PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : UMI SALAMAH NPM : 0813052012 Tempat, tanggal lahir : Way Mengaku, 24 Oktober 1989 Alamat : Jln. Raden Intan, no 10, Way Mengaku, Liwa, Lampung Barat Dengan ini menyatakan bahwa skripsi dengan judul “PENINGKATAN MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN MENGGUNAKAN LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK PADA SISWA KELAS IX SMP NEGERI 1 LIWA LAMPUNG BARAT TAHUN PELAJARAN 2012/2013” adalah benar hasil karya penulis berdasarkan penelitian yang dilaksanakan pada bulan Oktober s/d Desember. Skripsi ini bukan hasil menjiplak atau hasil karya orang lain. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Atas perhatiannya, saya ucapkan terimakasih. Bandar Lampung, Umi Salamah Februari 2013 MOTO                         “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan“ ( Terjemahan Al-Qur’an surat Alam Nasyrah : 5 ) “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (Terjemahan Al-Qur’an surat Al-Baqoroh : 152 ) “Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[99], Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Terjemahan Al-Qur’an surat Al-Baqoroh : 153 ) PENGESAHAN 1. Tim Penguji Penguji Penguji Bukan Pembimbing : Drs. Suyatno, M.Pd ........................ : Dra. Rini Asnawati, M.Pd ........................ 2. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dr. HI. Bujang Rahman, M. Si. NIP 19600315 198503 1 003 Tanggal Lulus Ujian Skripsi : 25 Februari 2013 PERSEMBAHAN Skripsi ini kupersembahkan kepada : - Suamiku yang tercinta AM. Suparno, S.Pd.I yang saya cintai. - Keluarga Besar dari Bapak H. Sobirin dan Bapak H. Nur Hasan yang saya sayangi. - Ibu dan Bapak Dosen yang saya Hormati dan takdimi. - Keluarga besar SD Negeri 1 Sinar Mulya yang selalu memberi motivasi. - Sahabat-sahabatku yang selalu memberi semangat dan masukan dalam menyusun skripsi ini. - Anakku Eko Ari Sutama, Hanif Afandi, Intan Nur Halizah. - Adikku Hujaemah, Hi. Rohmat, Turyati, Mustainah, Hotimah, Aniah, Hj. Marfuah, Sulaiman, Laili Fitri Yanti. - Almamater Universitas Lampung Bandar Lampung. RIWAYAT HIDUP Istiqomah lahir di Pekon Banyumas pada tanggal 10 Mei 1967 anak pertama dari Bapak H. Sobirin dan Ibu Rusminah. a. Riwayat Pendidikan 1. MIN Teladan Bandung Baru tahun 1980 2. MTs Persiapan Negeri Banyumas Tahun 1983 3. PGAN Bandar Lampung lulus tahun 1986 4. DII PGSD Universitas terbuka Bandar Lampung Lulus Tahun 2009 b. Riwayat Pekerjaan 1. Bekerja sebagai Guru di Sekolah Dasar Negeri 1 Sinar Mulya PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama NPM Progam Studi Fakultas Perguruan Tinggi : Istiqomah : 1113119013 : S1 PGSD Dalam Jabatan : Keguruan dan Ilmu Pendidikan : Universitas Lampung Menyatakan dengan Sesungguhnya bahwa skripsi : Judul : UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS VI SD NEGERI 1 SINAR MULYA KECAMATAN BANYUMAS KABUPATEN PRINGSEWU Adalah benar – benar hasil karya saya. Di dalam skripsi tidak terdapat keseluruhan atau sebagian tulisan atau gagasan orang lain yang saya ambil dengan cara menyalin atau meniru dalam bentuk rangkaian kalimat atau symbol yang saya aku seolah-olah sebagai tulisan saya sendiri tanpa memberikan pengakuan kepada penulis aslinya. Apabila kemudian terbukti bahwa saya ternyata melakukan tindakan menyalin atau meniru tulisan orang lain seolah-olah hasil pemikiran saya sendiri, saya bersedia menerima sanksi sesuai peraturan yang berlaku di fakultas termasuk (pencabutan gelar Kesarjanaan / sanksi ) yang telah saya peroleh. Bandar Lampung, 20 Febuari 2013 Yang Membuat Peryataan, ISTIQOMAH NPM 1113119013
UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS VI SD NEGERI 1 SINAR MULYA KECAMATAN BANYUMAS KAB. PRINGSEWU
Dokumen baru

Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags

UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJA..

Gratis

Feedback