PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA REALIA PADA SISWA KELAS V SDN 7 WONODADI KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN

Gratis

2
16
63
2 years ago
Preview
Full text
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA REALIA PADA SISWA KELAS V SDN 7 WONODADI KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2011/2012 (Skripsi) OLEH RUMIYATI 1013119169 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2012 Judul Skripsi : PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA REALIA PADA SISWA KELAS V SDN 7 WONODADI KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2011/2012 Nama : Rumiyati No. Pokok Mahasiswa : 1013119169 Program Studi : S1 PGSD Dalam Jabatan Jurusan : Ilmu Pendidikan Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan MENYETUJUI, Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan, Dosen Pembimbing, Drs. Baharuddin Risyak, M.Pd. NIP. 19510507 198103 1 002 Drs. Riswandi, M.Pd. NIP. 19760808 200912 1 001 MENGESAHKAN 1. Tim Penguji Ketua : Drs. Riswandi, M.Pd Penguji Bukan Pembimbing : Dra. Cut Rohani Bitai, M.Pd. 2. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dr. Hi. Bujang Rahman, M.Si. NIP 19600315 198503 1 003 Tanggal Lulus Ujian Skripsi: 6 Juli 2012 ABSTRAK ......... . PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA REALIA PADA SISWA KELAS V SDN 7 WONODADI KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2011/2012 Oleh: RUMIYATI Masalah yang dihadapi guru adalah rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah melalui pembelajaran menggunakan alat peraga realia dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada pelajaran matematika kelas V SD Negeri 7 Wonodadi. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus. Pola umum setiap tindakan meliputi 1) Perencanaan, 2) Tindakan, 3) Observasi, dan 4) Refleksi. Data dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi. Pembelajaran menggunakan alat peraga realia mampu meningkatkan aktivitas belajar siswa, hasil penelitian menunjukkan peningkatkan aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran dari siklus ke siklus. Jumlah siswa yang aktif pada siklus 1 pertemuan 1 sebanyak 65% dan naik 5 % menjadi 70% pada pertemuan 2. Kemudian mengalami peningkatan pada siklus II sebanyak 20% menjadi 90% pada pertemuan 1 siklus II dan naik lagi sebanyak 10 % pada pertemuan berikutnya menjadi 100% aktif. Selain aktivitas, juga terjadi peningkatkan hasil belajar siswa. Pada siklus 1 pertemuan 1 dan 2 sebanyak 30% dan 55% yang telah mencapai KKM. Kemudian meningkat pada siklus II pertemuan 1 dan 2 sebanyak 25% menjadi 80% dan meningkat kembali sebanyak 10% menjadi 90% siswa yang telah mencapai KKM pada akhir penelitian. Kata kunci : Aktivitas belajar, Hasil belajar, Alat peraga Realia KATA PENGANTAR Assalamu alaikum wr.wb.... Puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat-Nya skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik dan dapat dilalui tanpa hambatan yang berarti. Skripsi dengan judul Peningkatan Aktivitas Dan Hasil Belajar Matematika Dengan Menggunakan Alat Peraga Realia Pada Siswa Kelas V SDN 7 Wonodadi Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu Tahun Pelajaran 2011/2012 sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di Universitas Lampung. Selesainya penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Bapak Dr. H. Bujang Rahman, M.Si., selaku Dekan FKIP Unila 2. Bapak Drs. Baharudin Risyak, M.Pd., selaku Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. 3. Drs. H. Darsono, M.Pd., selaku Ketua Program Studi PGSD Jurusan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung. 4. Bapak Dr. Riswandi, M.Pd., selaku Dosen Pembimbing, terimakasih telah banyak memberikan saran, motivasi serta meluangkan waktunya kepada peneliti sehingga dapat menyelesaikan penelitian ini. 5. Ibu Dra. Cut Rohani Bitai, M.Pd., selaku Dosen Pembahas, terima kasih atas segala saran dan motivasi dan masukannya. 6. Ibu Suminah, S.Pd. selaku kepala SD Negeri 7 Wonodadi Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu yang telah memberikan izin serta dukungan kepada peneliti dalam melaksanakan Studi Program S 1 PGSD dalam jabatan hingga terselesaikannya skripsi ini. 7. Rekan guru SD Negeri 7 Wonodadi Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu yang telah mendukung penyelesaian skripsi ini. 8. Keluarga yang selama ini mendukung dan mendoakan sampai selesainya penelitian ini. 9. Rekan-rekan S 1 PGSD dalam jabatan UNILA sebagai rekan diskusi dalam pelaksanaan penyusunan skripsi ini. 10. Serta kerabat-kerabat dekat dan rekan-rekan seperjuangan yang penulis banggakan. Semoga Allah SWT. Memberikan balasan atas kebaikan yang telah diberikan kepada penulis. 11. Almamater tercinta, Universitas Lampung. Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat diharapkan oleh penulis. Akhirnya penulis panjatkan doa dan syukur, semoga apa yang penulis sajikan dalam laporan ini, bermanfaat bagi penulis dan bagi pembaca pada umumnya. Gadingrejo, Penulis, Juli 2012 RUMIYATI NPM. 1013119169 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ................................................................................. i HALAMAN PENGESAHAN................................................................... ii DAFTAR ISI.............................................................................................. iii DAFTAR TABEL ..................................................................................... iv DAFTAR GAMBAR................................................................................. v BAB I BAB II PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ..................................................... 1 B. Identifikasi Masalah ............................................................ 4 C. Peumusan Masalah ............................................................. 5 D. Tujuan Penelitian ................................................................ 5 E. Manfaat Penelitian .............................................................. 6 KAJIAN PUSTAKA A. Teori Belajar........................................................................ 7 1. Teori Kognitivisme ...................................................... 2. Teori Behaviourisme..................................................... 3. Teori kostruktivisme ..................................................... 7 10 12 B. Proses Pembelajaran ............................................................ 14 C. Aktivitas Belajar ................................................................. 16 D. Hasil Belajar ........................................................................ 19 1. Ranah Kognitif ............................................................. 2. Ranah Afektif ............................................................... 3. Ranah Psikomotor ........................................................ 20 20 21 E. Media Pembelajaran ............................................................ 22 F. Alat Peraga Realia .............................................................. 24 G. Kerangka Pikir .................................................................... 26 H. Hipotesis Tindakan.............................................................. 29 BAB III METODE PENELITIAN A. Subjek, Tempat dan Waktu Penelitian ............................... 30 B. Metode Penelitian................................................................ 31 C. Prosedur Penelitian ............................................................. 31 D. Teknik Pengumpulan Data .................................................. 35 E. Instrumen Penelitian ........................................................... 35 F. Teknik Analisis Data ........................................................... 36 G. Indikator Keberhasilan ....................................................... 38 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB V A. Temuan Umum ................................................................... 39 B. Hasil Penelitian.................................................................... 42 C. Pembahasan ......................................................................... 54 KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ......................................................................... 62 B. Saran .................................................................................... 62 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN LAMPIRAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Silabus ................................................................................ RPP dan Soal Latihan.......................................................... Kisi-kisi soal........................................................................ LKS...................................................................................... Lembar Observasi Aktivitas Siswa ..................................... Nilai rata-rata siswa ............................................................. Analisis nilai siswa .............................................................. Alat penilaian kinerja guru .................................................. Gambar pelaksanaan pembelajaran ..................................... Surat keterangan penelitian ................................................. 66 68 68 75 80 88 89 91 96 100 DAFTAR TABEL Tabel Halaman Tabel 1.1 Rekap nilai matematika kelas V.................................................... 2 Tabel 1.2 Data aktivitas belajar matematika kelas V .................................... 3 Tabel 2.1 Analisis Aktivitas Siswa ............................................................... 19 Tabel 4.1 Nama-nama Kepala SD Negeri 7 Wonodadi dan masa jabatannya. .................................................................................... 39 Tabel 4.2 Nama-nama guru SD Negeri 7 Wonodadi dan Tingkat pendidikannya Tahun 2012 ......................................................... 40 Tabel 4.3 Sarana Prasarana SD Negeri 7 wonodadi tahun 2012 ................. 40 Tabel 4.4 Jumlah siswa SD Negeri 7 Wonodadi Tahun Pelajaran 2011/2012...................................................................................... 41 Tabel 4.5 Jadwal pertemuan penelitian mata pelajaran Matematika kelas V........................................................................................... 41 Tabel 4.6 Persentase jenis aktivitas siklus I .................................................. 46 Tabel 4.7 Data hasil belajar siklus I .............................................................. 48 Tabel 4.8 Persentase jenis aktivitas siklus II................................................. 51 Tabel 4.9 Data hasil belajar siklus II............................................................. 52 DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir.............................................................. 28 Gambar 3.1 Alur Pelasksanaan Tindakan .................................................. 31 Gambar 4.1 Grafik peningkatan tiap jenis aktivitas .................................... 54 Gambar 4.2 Grafik peningkatan hasil belajar dari siklus ke siklus ............. 59 HALAMAN PERNYATAAN Yang bertanda tangan dibawah ini saya : Nama : Rumiyati NPM : 1013119169 Program Studi : Program S-1 PGSD Dalam Jabatan Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan Perguruan Tinggi : Universitas Lampung Judul Skripsi : Peningkatan Aktivitas Dan Hasil Belajar Matematika Dengan Menggunakan Alat Peraga Realia Pada Siswa Kelas V SDN 7 Wonodadi Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu Tahun Pelajaran 2011/2012 Menyatakan bahwa penelitian skripsi ini adalah hasil pekerjaan saya sendiri, dan sepengetahuan saya tidak berisi materi yang telah dipublikasikan atau ditulis oleh orang lain atau telah dipergunakan dan diterima sebagai persyaratan penyelesaian studi pada universitas atau institut lain. Bandar Lampung, Juli 2012 Yang membuat pernyataan, R u m i ya t i NPM. 1013119169 MOTTO     (Rumiyati. 2012) RIWAYAT HIDUP Penulis bernama Rumiyati, dilahirkan di Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, pada tanggal 22 April 1960, sebagai anak ketiga dari tiga bersaudara, dari pasangan Bapak Darso Pawiro dan Ibu Ponirah. Pendidikan formal di Sekolah Dasar (SD) di SD Negeri 2 gadingrejo diselesaikan pada tahun 1972, Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMP Negeri 1 Gadingrejo diselesaikan pada tahun 1975, dan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di SPG Negeri 1 Tanjung Karang diselesaikan pada tahun 1979. Pendidikan Diploma II (DII) PGSD diselesaikan pada tahun 2006. Pada tahun 2010, penulis terdaftar sebagai mahasiswa Program S-1 PGSD PPKHD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung. PERSEMBAHAN Bismillahi rohmaanirrohimm,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, Puji syukur kehadirat Allah SWT yang selalu memberikan limpahan rahmat dan karunia-Nya. Dengan segala kerendahan hati kupersembahkan Skripsi ini kepada: 1. ALLAH SWT atas segala 2. Suamiku tercinta, Ir. Suwondho yang senantiasa memanjatkan doa dan memberikan dukungan dan kasih yang tiada henti bagi keberhasilanku. 3. Anak-anakku tercinta (IPTU Sigiet Aji Vambayun,S.H., Santi Sistra Nauli, SH.MH., Lulu Ayu Allesandra, S.Farm., dr. Elga Ria Vinensa, dan Gildan Aji Arwendho) yang selalu mendoakan dan menantikan keberhasilanku. 4. Sahabatku se almamater semoga silaturahmi kita tetap terjalin selamanya. 5. Almamaterku tercinta serta pembaca dan pecinta ilmu pengetahuan yang budiman. ABSTRAK PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA REALIA PADA SISWA KELAS V SDN 7 WONODADI KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2011/2012 Oleh: RUMIYATI Masalah yang dihadapi guru adalah rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah melalui pembelajaran menggunakan alat peraga realia dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada pelajaran matematika kelas V SD Negeri 7 Wonodadi. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus. Pola umum setiap tindakan meliputi 1) Perencanaan, 2) Tindakan, 3) Observasi, dan 4) Refleksi. Data dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi. Pembelajaran menggunakan alat peraga realia mampu meningkatkan aktivitas belajar siswa, hasil penelitian menunjukkan peningkatkan aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran dari siklus ke siklus. Jumlah siswa yang aktif pada siklus 1 pertemuan 1 sebanyak 65% dan naik 5 % menjadi 70% pada pertemuan 2. Kemudian mengalami peningkatan pada siklus II sebanyak 20% menjadi 90% pada pertemuan 1 siklus II dan naik lagi sebanyak 10 % pada pertemuan berikutnya menjadi 100% aktif. Selain aktivitas, juga terjadi peningkatkan hasil belajar siswa. Pada siklus 1 pertemuan 1 dan 2 sebanyak 30% dan 55% yang telah mencapai KKM. Kemudian meningkat pada siklus II pertemuan 1 dan 2 sebanyak 25% menjadi 80% dan meningkat kembali sebanyak 10% menjadi 90% siswa yang telah mencapai KKM pada akhir penelitian. Kata kunci : Aktivitas belajar, Hasil belajar, Alat peraga Realia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika sebagai salah satu sarana berfikir ilmiah sangat diperlukan untuk menumbuhkembangkan kemampuan berfikir logis, sistematis dan kritis dalam diri siswa. Matematika memegang peranan yang sangat penting dalam perkekembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Matematika juga diperlukan siswa sebagai pengetahuan dasar dalam menunjang keberhasilan belajar dalam bidang lain. Oleh karena itu siswa dituntut dapat menguasai materi-materi pelajaran matematika yang ada. Namun, kenyataaan dilapangan menunjukkan bahwa rata-rata nilai matematika siswa di kelas umumnya lebih rendah jika dibandingkan dengan mata pelajaran lain. Hal ini juga yang dialami siswa kelas V di SD Negeri 7 Wonodadi. Nilai matematika siswa masih berada dibawah ratarata nilai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditetapkan sekolah yaitu sebesar 6,0. Nilai matematika siswa kelas V pada semester ganjil tahun pelajaran 2011/2012 dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1.1. Rekap nilai matematika kelas V semester ganjil TP 2011/2012 2 No. Rentang Nilai 1 Jumlah Siswa Persentase 2 10% 2 60 69 5 25% 3 50 59 8 40% 5 25% 20 100% 4 Jumlah Sumber : Nilai matematika semester ganjil T.P 201l/2012 Berdasarkan tabel tersebut terlihat jumlah siswa yang mendapatkan nilai lebih dari atau sama dengan 70 hanya berjumlah 2 orang atau 10% saja. Banyaknya siswa yang mendapat nilai antara 60-69 berjumlah 5 orang atau 25%. Untuk siswa yang mendapat nilai antara 50-59 berjumlah 8 orang atau mencapai 40% dan siswa yang nilainya dibawah 50 bejumlah 5 orang atau 25% siswa. Jika dilihat dari uraian tersebut terlihat bahwa hasil belajar matematika siswa kelas V SD Negeri 7 Wonodadi Kabupaten Pringsewu Tahun Pelajaran 2010/2011 masih rendah, sehingga perlu adanya upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Melihat rendahnya hasil belajar siswa dari tabel 1.1. maka peneliti juga menganalisis aktivitas siswa pada pembelajaran tersebut. Aktivitas belajar siswa diduga sangat berpengaruh dan berbanding lurus terhadap hasil belajar siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Djamarah (2000) yang menyatakan bahwa belajar sambil melakukan aktivitas lebih banyak mendatangkan hasil bagi anak didik, sebab kesan yang didapatkan oleh anak didik lebih tahan lama tersimpan didalam benak anak didik. Hasil analisis peneliti bersama dengan guru mitra menemukan selain hasil belajar, antusiasme siswa untuk belajar matematika juga masih kurang. Hal ini 3 terlihat dari banyaknya siswa yang masih kurang aktif dalam mengikuti proses pembelajaran. Berikut ini adalah data observasi aktivitas siswa kelas V. Tabel 1.2.Data aktivitas belajar matematika kelas V semester ganjil TP 2011/2012 No Nilai Aktivitas Kategori Jumlah Siswa Persentase 1 ≥ 57,14 Aktif 6 30% 2 < 57,14 Belum Aktif 14 70% 20 100% Jumlah Berdasarkan tebel diatas terlihat bahwa dari seluruh siswa yang mengikuti pembelajaran matematika, hanya 30 % atau 6 orang siswa saja yang aktif saat mengikuti proses pembelajaran, sedangkan 70% atau 14 orang siswa lainnya tampak belum begitu aktif selama proses pembelajaran. Kriteria Ketuntasan Minimum(KKM) aktivitas siswa kelas V dalam pelajaran matematika di SD Negeri 7 Wonodadi Kabupaten Pringsewu yaitu mencapai 4 aspek (57,14%) dari 7 kriteria aktivitas yang ada. Masalah-masalah yang ada di kelas ini jika dibiarkan terus menerus, tentu akan berdampak pada hasil belajar siswa yang rendah. Setelah dilakukan obsevasi temyata masalah yang ada tersebut disebabkan proses pembelajaran yang ada hanya menggunakan metode ceramah dan latihan soal saja. Pembelajaran yang digunakan juga kurang bervariasi. Media pembelajaran yang digunakan masih sebatas papan tulis dan soal-soal latihan saja. Pembelajaran juga masih didominasi oleh guru sebagai pusat pembelajaran (teacher centered) sehingga kurang mampu merangsang siswa untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran (student centered). Hal ini tidak sesuai dengan aspek proses pembelajaran menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran, sedangkan guru bertindak sebagai motivator dan fasilitator. 4 Berdasarkan uraian diatas, maka perlu usaha untuk memperbaiki proses pembelajaran yang ada dengan menggunakan pembelajaraan yang bisa membuat siswa lebih aktif dan bisa berkomunikasi baik dengan guru maupun dengan sesama siswa serta rnampu meningkatkan hasil belajar matematika siswa. Salah satu hal yang dapat dilakukan guru adalah dengan menggunakan alat peraga realia. Alat peraga realia harus dilandasi suatu konsep belajar yang tidak hanya membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa, tetapi juga membantu siswa menghubungkan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan siswa sebagai anggota keluarga dan masyarakat sehingga diharapkan dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dan diharapkan akan meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan uraian tersebut, maka akan dilakukan penelitian dengan judul eningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika Dengan Menggunakan Alat Peraga Realia pada Siswa Kelas V SD Negeri 7 Wonodadi Tahun Pelajaran 2011/2012" B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka masalah dapat diidentifikasikan sebagai berikut : 1. Hasil belajar matematika siswa masih rendah karena rata-rata nilai yang diperoleh belum mencapai KKM yang ditetapkan sekolah. 2. Siswa kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran karena pembelajaran yang ada kurang variatif dan cenderung membosankan. 5 3. Proses pembelajaran masih berpusat pada sistem satu arah (one way) yaitu hanya sebatas guru menyampaikan materi pelajaran dan siswa menerimanya, tetapi tidak ada timbal balik yang terjadi. 4. Media pembelajaran yang digunakan hanya sebatas papan tulis dan soal-soal latihan saja sehingga siswa sering merasa jenuh dalam pembelajaran. C. Perumusan Masalah Untuk memberikan kejelasan dan arah dalam penelitian ini, maka rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Apakah dengan menggunakan alat peraga realia dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada pelajaran matematika kelas V SD Negeri 7 Wonodadi? 2. Apakah dengan menggunakan alat peraga realia dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran matematika kelas V SD Negeri 7 Wonodadi? D. Tujuan Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui: 1. Penerapan alat peraga realia dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada pelajaran matematika kelas V SD Negeri 7 Wonodadi. 2. Penerapan alat peraga realia dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran matematika kelas V SD Negeri 7 Wonodadi E. Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang dapat diperoleh melalui penelitian ini adalah: 1. Bagi Siswa : 6 Alat peraga realia yang digunakan dapat membantu meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada pelajaran matematika dan diharapkan siswa akan lebih tertarik dengan mata pelajaran matematika. 2. Bagi Guru: Memberikan masukan bagi guru agar dapat lebih memahami akan manfaat digunakannya media pembelajaran dalam kegiatan-kegiatan pembelajaran matematika kelas V SD dan menjadi salah satu alternatif guru dalam melaksanakan pembelajamn yang efektif dan efisien. 3. Bagi Sekolah: Dapat memberikan sumbangan yang berguna dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah yang bersangkutan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Teori Belajar Menurut Slameto dalam Djamarah (2002) elajar Merupakan suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Ada beberapa teori tentang belajar, antara lain teori Kognitivisme Behaviourisme dan Konstruktivisme: 1. Teori Kognitivisme Teori kognitivisme mengacu pada wacana psikologi kognitif, yang didasarkan pada kegiatan kognitif dalam belajar. Belajar kognitif ciri khasnya terletak dalam belajar memperoleh dan mempergunakan bentuk-bentuk representatif yang mewakili semua obyek yang dihadapi, entah obyek itu orang, benda atau kejadian/peristiwa. Segala obyek itu di representasikan atau di hadirkan dalam diri seseorang melalui tanggapan, gagasan atau lambang, yang semuamya merupakan sesuatu yang bersifat mental. Misalnya, seseorang menceritakan pengalamannya selama mengadakan perjalanan keluar negeri, setelah kembali ke negerinya sendiri. Tempat-tempat yang dikunjuginya selama berada di lain negara tidak dapat dibawa pulang, orangnya sendiri juga tidak hadir 8 di tempat-tempat itu pada waktu sedang bercerita. Tetapi, semua pengalamannya tercatat dalam benaknya dalam bentuk berbagai gagasan dan sejumlah tanggapan. Gagasan dan tanggapan itu di tuangkan dalam kata-kata yang disampaikan kepada orang yang mendengarkan ceritanya. Dengan demikian, hal-hal yang tidak hadir secara fisik pada saat sekarang, dapat menjadi bahan komunikasi antara dua orang, segala macam hal seolah-olah dipegang, disentuh dan dipermainkan secara mental. Karena kemampuan kognitif ini, manusia dapat menghadirkan realitas dunia di dalam dirinya sendiri. Disamping itu, semakin besar kemampuan berbahasa untuk mengungkapkan gagasan dan tanggapan itu, semakin meningkatlah kemahiran untuk menggunakan kemampuan kognitif secara efisien dan efektif. Kemampuan berbahasa pun harus dikembangan melalui belajar. Pembahasan tentang belajar kognitif di sini, akan dibatasi pada dua aktifitas kognitif yaitu mengingat dan berpikir. 1. Mengingat adalah suatu aktifitas kognitif di mana orang menyadari bahwa pengetahuannya berasal dari masa lampau atau berdasarkan kesan-kesan yang diperoleh di masa lampau. 2. Dalam aktivitas mental berpikir akan menjadi jelas, bahwa manusia berhadapan dengan objek-objek yang diwakili dalam kesadaran. Jadi, orang tidak langsung menghadapi objek secara fisik seperti terjadi dalam mengamati sesuatu raba (Winkel:2004). bila melihat, mendengar atau meraba- 9 Menurut Piaget, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan objek fisik yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan Menurut Piaget aspek perkembangan kognitif meliputi empat tahap, yaitu: l. Sensory-motor (sensori-motor) Selama perkembangan dalam periode ini berlangsung sejak anak lahir sampai usia 2 tahun, intelegensi yang dimiliki anak tersebut masih berbentuk primitif dalam arti masih didasarkan pada perilaku terbuka. Meskipun primitif dan terkesan tidak penting, intelegensi sensori-motor sesungguhnya merupakan intelegensi dasar yang amat berarti karena ia menjadi pondasi untuk tipe-tipe intelegensi tertentu yang akan dimiliki anak tersebut kelak. 2. Pre operational (praoperasional) Perkembangan ini bermula pada saat anak berumur 2-7 tahun dan telah memiliki penguasaan sempurna mengenai objek permanence, artinya anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda yang ada atau biasa ada, walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sudah tak dilihat dan tak didengar lagi. Jadi, pandangan terhadap eksistensi benda tersebut berbeda dari pandangan pada periode sensori-motor, yakni tidak lagi bergantung pada pengamatan belaka. 3. Concrete operational (konkret-operasional) 10 Dalam periode konkret operasional ini berlangsung hingga usia menjelang remaja kemudian anak mulai memperoleh tanbahan kemampuan yang disebut sistem of operations (satuan langkah berfikir). Kemampuan ini berfaedah bagi anak untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu dalam sistem pemikirannya sendiri. 4. Formal aperational (formal-operasional) Dalam perkembangan formal operasional, anak yang sudah menjelang atau sudah menginjak masa remaja, yakni usia 11-15 tahun, akan dapat mengatasi masalah keterbatasan pemikiran. Dalam perkembangan kognitif akhir ini seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan (serentak) maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif, yakni: a. kapasitas menggunakan hipotesis, b. kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak. Dalam dua macam kemampuan kognitif yang sangat berpengaruh terhadap kualiatas skema kognitif itu tentu telah dimiliki oleh orang-orang dewasa. Oleh karenanya, seorang remaja pelajar yang telah berhasil menempuh proses perkembangan formal operasional secara kognitif dapat dianggap telah mulai dewasa (Muhibbin Syah :2003) 2. Teori Behavioristik Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. 11 Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Beberapa prinsip dalam teori belajar behavioristik, meliputi: (1) Reinforcement and Punishment; (2) Primary and Secondary Reinforcement; (3) Schedules of Reinforcement; (4) Contingency Management; (5) Stimulus Control in Operant Learning; (6) The Elimination of Responses (Gage, Berliner, 1984) Teori behavioristik sering kali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan atau belajar yang tidak dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Teori ini tidak mampu menjelaskan alasan-alasan yang mengacaukan hubungan antara stimulus dan respon ini dan tidak dapat menjawab hal-hal yang menyebabkan terjadinya penyimpangan antara stimulus yang diberikan dengan responnya. Namun kelebihan dari teori ini cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shapping yaitu membawa siswa menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik untuk tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. 3. Teori Konstruktivisme 12 Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah bentukan (konstruksi) kita sendiri. Pengetahuan bukan tiruan dari realitas, bukan juga gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan merupakan hasil dari konstruksi kognitif melalui kegiatan seseorang dengan membuat struktur, kategori, konsep, dan skema yang diperlukan untuk membentuk pengetahuan tersebut. Jika behaviorisme menekankan keterampilan atau tingkah laku sebagai tujuan pendidikan, sedangkan maturasionisme menekankan pengetahuan yang berkembang sesuai dengan usia sementara konstruktivisme menekankan perkembangan konsep dan pengertian yang mendalam, pengetahuan sebagai konstruksi aktif yang dibuat siswa. Jika seseorang tidak aktif membangun pengetahuannya, meskipun usianya tua tetap tidak akan berkembang pengetahuannya. Suatu pengetahuan dianggap benar bila pengetahuan itu berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomena yang sesuai. Pengetahuan tidak bisa ditransfer begitu saja melainkan harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang. Pengetahuan juga bukan sesuatu yang sudah ada melainkan suatu proses yang berkembang terus-menerus. Dalam proses itu keaktivan seseorang sangat menetukan dalam mengembangkan pengetahuannya. Jean Piaget adalah psikolog pertama yang menggunakan filsafat konstruktivisme, sedangkan teori pengetahuannya dikenal dengan teori adaptasi kognitif. Sama halnya dengan setiap organisme harus beradaptasi secara fisik dengan lingkungan untuk dapat bertahan hidup, demikian juga struktur pemikiran manusia. Manusia berhadapan dengan tantangan, pengalaman, gejala baru, dan 13 persoalan yang harus ditanggapinya secaca kognitif (mental). Untuk itu, manusia harus mengembangkan skema pikiran lebih umum atau rinci, atau perlu perubahan, menjawab dan menginterpretasikan pengalaman-pengalaman tersebut. Dengan cara itu, pengetahuan seseorang terbentuk dan selalu berkembang. Proses tersebut meliputi: 1. Skema/skemata adalah struktur kognitif yang dengannya seseorang beradaptasi dan terus mengalami perkembangan mental dalam interaksinya dengan lingkungan. Skema juga berfungsi sebagai kategori-kategori untuk mengidentifikasikan rangsangan yang datang, dan terus berkembang. 2. Asimilasi adalah proses kognitif perubahan skema yang tetap mempertahankan konsep awalnya hanya menambah atau merinci. 3. Akomodasi adalah proses pembentukan skema atau karena konsep awal sudah tidak cocok lagi. 4. Equilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sehingga seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamya (skemata). Proses perkembangan intelek seseorang berjalan dari disequilibrium menuju equilibrium melalui asimilasi dan akomodasi. (http://rinimaryani.blogspot.com/2008/04/teori-konstruktivisme.html(15103/2012) Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksinya dengan lingkungannya. Dalam proses belajar terjadi perubahan dan peningkatan mutu kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan siswa, baik dari segi kognitif, psikomotor maupun afektif. 14 B. Proses Pembelajaran Proses pembelajaran pada dasarnya merupakan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh guru sebagai pendidik dan siswa sebagai anak didik dalam kegiatan pengajaran dengan menggunakan sarana dan fasilitas pendidikan yang ada untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Adapun tujuan pembelajaran khususnya pelajaran matematika adalah: 1. Melatih cara berpikir dan menalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan, ekplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsisten dan inkonsisten. 2. Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan serta mencoba-coba. 3. Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah. 4. Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, catatan, grafik, peta, diagram dalam menjelaskan gagasan. (Depdiknas, 2003). Dalam proses pengajaran, unsur proses belajar memegang peranan yang penting. Mengajar adalah proses bimbingan kegiatan belajar, kegiatan belajar hanya bermakna apabila terjadi kegiatan belajar oleh siswa. Oleh karena itu, penting sekali bagi setiap guru memahami sebaik-baiknya tentang proses belajar siswa, agar dia dapat memberikan bimbingan dan menyediakan lingkungan belajar yang tepat dan serasi bagi siswanya. 15 Peningkatan mutu pendidikan akan tercapai apabila proses belajar mengajar yang diselenggarakan di kelas benar-benar efektif dan berguna untuk mencapai kemampuan pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang diharapkan. Karena pada dasarnya proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan, di antaranya guru merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan berhasilnya proses belajar mengajar di dalam kelas Menurut Ahmadi dan Prasetya (1997), proses belajar mengajar adalah suatu aspek dari lingkungan sekolah yang terorganisasi. Lingkungan ini diatur serta diawasi agar kegiatan belajar terarah sesuai tujuan pendidikan. Pengawasan turut menentukan lingkungan itu membantu kegiatan belajar. Lingkungan belajar yang baik adalah lingkungan yang menantang dan merangsang para siswa untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan serta mencapai tujuan yang diharapkan. Salah satu faktor yang mendukung kondisi belajar di dalam satu kelas adalah job descreption proses belajar mengajar yang berisi serangkaian pengertian peristiwa belajar yang dilakukan oleh kelompok-kelompok siswa Pengertian pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari pengertian belajar. Menurut Slamet (dalam Hadis, 2006) mengungkapkan bahwa belajar adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan prilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dan interaksinya dengan lingkungan. 16 Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran merupakan suatu proses atau kegiatan yang memungkinkan terjadinya peristiwa belajar yang dapat menghasilkan perubahan prilaku kognitif, afektif dan psikomotor dari pelaku pembelajaran atau dalam hal ini adalah siswa C. Aktivitas Belajar Dalam proses belajar mengajar, aktivitas belajar memegang peranan penting dalam pencapaian tujuan dan hasil belajar. Belajar pada dasarnya merupakan aktivitas seseorang yang dapat menyebabkan perubahan tingkah laku. Belajar adalah berbuat, berbuat untuk mengubah tingkah laku jadi melakukan kegiatan. Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas. Itulah sebabnya aktivitas merupakan prinsip yang sangat penting di dalam interaksi belajar mengajar. Belajar merupakan bagian dari aktivitas. Tidak ada belajar jika tidak ada aktivitas. Aktivitas belajar harus dilakukan siswa sebagai usaha untuk meningkatkan hasil belajar. Seiring dengan itu, Djamarah (2002) menyatakan bahwa belajar sambil melakukan aktivitas lebih banyak mendatangkan hasil bagi anak didik, sebab kesan yang didapatkan oleh anak didik lebih tahan lama tersimpan didalam benak anak didik Aktivitas belajar merupakan suatu kegiatan yang didahului dengan perencanaan dan didasari untuk mencapai tujuan belajar, yaitu perubahan pengetahuan dan keterampilan yang ada pada diri siswa yang melakukan kegiatan belajar. Kegiatan belajar yang dilakukan adalah kegiatan yang dapat mendukung pencapaian tujuan dalam prqies pembelajaran. Dalam belajar sangat diperlukan adanya aktivitas, tanpa aktivitas, belajar itu tidak mungkin berlangsung dengan 17 baik. Menurut Hamalik (2011), karena aktivitas belajar itu banyak sekali macamnya maka para ahli mengadakan klasifikasi atas macam-macam aktivitas tersebut. Beberapa diantaranya ialah: 1. kegiatan-ksgiatan visual, yang di dalamnya membaca melihat gambargambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan mengamati orang lain bekerja atau bermain. 2. kegiatan-kegiatan lisan (oral), seperti mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi, dan interupsi. 3. kegiatan-kegatan mendengarkan, seperti mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok mendengarkan suatu permainan, dan mendengarkan radio. 4. kegiatan-kegiatan menulis, seperti menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi, membuat rangkuman, mengerjakan tes, dan mengisi angket. 5. kegiatan-kegitan menggambar, seperti menggambar, membuat grafik, chart, diagram, peta, dan pola. 6. kegiatan-kegiatan metrik, seperti melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, menari, dan berkebun. 7. kegiatan-kegiatan mental, seperti merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktor-faktor, melihat, hubungan-hubungan, dan membuat keputusan. 8. kegiatan-kegiatan emosional, seperti minat, membedakan, berani, tenang dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan dalam kelompok ini terdapat dalam semua jenis kegiatan dan overlap satu sama lain. Aktivitas-aktivitas dalam belajar tersebut dapat dibedakan lagi menjadi aktivitas yang relevan dengan pembelajaran (on task) dan aktivitas yang tidak relevan dengan pembelajaran (off task). Aktivitas yang relevan dengan pembelajaran (on task) contohnya adalah memperhatikan penjelasan guru, melakukan diskusi, dan mencatat. Aktivitas yang tidak relevan dengan pembelajaran (off task), contohnya adalah tidak memperhatikan penjelasan guru dan mengobrol dengan teman. Siswa aktif dalam pembelajaran apabila siswa melakukan aktivitas yang relevan dengan kegiatan pembelajaran (on task), dengan 18 melakukan banyak aktivitas yang relevan dengan pembelajaran, maka siswa mampu memahami, mengingat, dan menerapkan konsep yang telah dipelajari. Aktivitas yang tidak relevan dengan pembelajaran (off task) akan lebih mudah diamati ketika proses pembelajaran berlangsung jika dibandingkan dengan aktivitas yang relevan dengan pembelajaran (on task). Jadi siswa dikatakan aktif dalam kegiatan pembelajaran jika siswa sedikit melakukan aktivitas yang tidak relevan dengan pembelajaran. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar adalah segala kegiatan belajar siswa yang menghasilkan suatu perubahan khas, yaitu hasil belajar yang akan nampak melalui hasil belajar yang akan dicapai. Dalam penelitian ini, data aktivitas siswa diambil pada setiap pertemuan dengan menggunakan lembar pengamatan terhadap aktivitas siswa. Data aktivitas siswa yang dimunculkan adatah aktivitas yang relevan dengan ketujuh aspek kegiatan pembelajaran yang diamati. Tabel 2. l. Analisis Aktivitas Siswa Aspek Aktivitas Yang No. Nama Diamati a b 1 2 3 4 Skor Siswa c d e f g Penilaian 19 Aktivitas yang diamati : a) Bertanya Pada Guru b) Menjawab Pertanyaan c) Berdiskusi d) Mengerjakan Tugas Kelompok e) Mengemukakan pendapat f) Membantu teman dan tidak mengganggu saat pembelajaran g) Menghargai pendapat teman D. Hasil Belajar Hasil belajar siswa diperoleh setelah berakhirnya proses pembelajaran dan dapat diukur dengan angka-angka yang bersifat pasti, tetapi mungkin juga hanya dapat diamati karena perubahan tingkah laku. Sehubungan dengan hasil belajar Dimyati dan Mudjiono (2002) berpendapat bahwa hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar, dari sisi siswa, hasil belajar merupakan puncak proses belajar. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menekankan pada kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa yang meliputi kompetensi kognitif, kompetensi afektif, dan kompetensi psikomotor. Perumusan ketiga kompetensi tersebut secara rinci dapat dilakukan dengan menganalisis kompetensi. a. Ranah kognitif 20 Ranah kognitif merupakan salah satu aspek dari hasil belajar yang harus dinilai. Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir, termasuk didalamnya kemampuan menghafal, memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan kemampuan mengevaluasi. Kemampuan yang penting pada ranah kognitif adalah kemampuan menerapkan konsep-konsep untuk memecahkan masalah yang ada di tengah masyarakat. Kemampuan ini sering disebut dengan kemampuan mentransfer pengetahuan ke berbagai situasi sesuai dengan konteksnya. Hampir semua mata pelajaran berkaitan dengan kemampuan kognitif karena di dalarnnya diperlukan kemampuan berfikir untuk memahaminya. b. Ranah afektif Ranah afektif merupakan salah satu aspek dari hasil belajar yang harus dinilai. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan minat, sikap, emosi, atau nilai. Ranah afektif menentukan keberhasilan belajar seseorang yang tidak memiliki minat pada pelajaran tertentu sulit untuk mencapai keberhasilan studi secara optimal, sedangkan seseorang yang berminat terhadap suatu mata pelajaran diharapkan akan mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Ranah afektif yang dinilai adalah tingkat minat siswa terhadap pembelajaran yang dilakukan setelah proses pembelajaran tersebut telah dilakukan. c. Ranah psikonotor 21 Ranah psikomotor merupakan salah satu aspek dari hasil belajar yang harus dinilai. Ranah psikomotor yaitu kemampuan yang berkaitan dengan aktivitas fisik. Ranah psikomotor yang dinilai berdasarkan keterampilan yang dilakukan oleh siswa adalah cara menggambarkan bangun datar dan bangun ruang. Salah satu yang diamati juga aktivitas. Dalam prakteknya alat peraga realia tergolong baru diterapkan pada kelas V SDN 7 Wonodadi Kabupaten Pringsewu, sehingga ada beberapa hal yang perlu diamati dalam aktivitas belajar yang menggunakan metode ini, adapun yang diamati adalah : 1. Tentang belajar bertanggungjawab. 2. Cara siswa menjalin kerja sama antara teman sejawat dimana siswa akan menjalin komunikasi, betbagai ide dan pendapat serta saling mendiskusikan masalah masalah dengan siswa lainnya. Keterlibatan dan tanggung jawab setiap siswa akan membuat siswa tebih memahami konsep-konsep yang sulit dan dapat meningkatkan daya nalar siswa. Berdasarkan uraian diatas, hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh siswa setelah proses pembelajaran berlangsung. Kemampuan tersebut diperoleh berdasarkan penilaian yang diambil dari hasil tes setelah proses pembelajaran. E. Media Pembelajaran Kata media berasal dari bahasa latin. medus yang secara harfiah berarti 'tengah' , 'perantara', atau 'pengantar'. Heinich dkk (1982) dalam Arsyad (2010) mengemukakan istilah medium sebagai perantara yang mengantar informasi antara sumber dan penerima. Jadi televisi, film, radio, foto, rekaman, audio, 22 gambar yang diproyeksikan, bahan-bahan cetakan dan sejenisnya adalah media komunikasi. Apabila media itu membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran media itu disebut media pembelajaran. Secara umum media mempunyai kegunaan: l. memperjelas pesan agar tidak verbalitas. 2. mengatasi keterbatasan ruang, waktu, tenaga dan daya indra. 3. menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara murid dengan sumber belajar. 4. memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori, dan kinestatiknya. 5.memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman dan menimbulkan persepsi yang sama. Selain itu, kontribusi media pembelajaran menurut Kemp and Dayton (1985) dalam Arsyad (2010) adalah: 1. Penyampaian pesan pembelajaran dapat lebih standar. 2. Pembelajaran akan lebih menarik. 3. Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan menerapkan teori belajar. 4. Waktu pelaksanaan pembelajaran dapat diperpendek. 5. Kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan. 6. Proses pembelajaran dapat dilaksanakan kapanpun dan dimanapun diperlukan. 7. Peran guru berubah kearah yang positif Menurut Arifin (2003) dalam Arsyad (2010) dua sisi penting dari fungsi media dalan proses pembelajaran dikelas yaitu: 1) Membantu guru dalam 23 mempermudah, menyederhanakan, dan mempercepat berlangsungnya proses belajar mengajar, penyajian informasi atau keterampilan secara utuh dan lengkap, serta merancang lingkup informasi dan keterampilan secara sistematis sesuai dengan tingkat kemampuan dan alokasi waktu; 2) Membantu siswa dalam mengaktifkan fungsi psikologis dalam dirinya antara lain dalam pemusatan dan mempertahankan perhatian , memelihara" keseimbangan mental, serta-belajar mandiri. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan media pembelajaran adalah media yang digunakan dalam pembelajaran, yaitu meliputi alat bantu guru dalam mengajar serta sarana pembawa pesan dari sumber belajar ke penerima pesan belajar (siswa). Sebagai penyaji dan penyalur pesan, media belajar dalam hal-hal tertentu bisa mewakili guru menyajikan informasi belajar kepada siswa. F. Alat Peraga Realia Media pembelajaran matematika adalah sarana dalam menyajikan, mempelajari, memahami, dan mempermudah dalam mempelajari matematika. Media pembelajaran pada mata pelajaran matematika sebagian besar berupa alat peraga. Alat peraga dan peragaan perlu mendasarkan pada realita budaya yang terjadi pada kehidupan anak setempat. Dengan demikian, pemahaman siswa tentang konsep matematika tidak akan terlepas dari kehidupan nyata yang mereka hadapi sehari-hari. Selain siswa akan benar-benar paham tentang konsep yang dimaksud mereka akan mampu berkreasi dalam mengaplikasikan.. konsep matematika pada kehidupan nyata. Media seperti ini juga sering disebut alat peraga Realia. 24 Alat peraga realia adalah benda nyata yang tidak harus dihadirkan di ruang kelas, tetapi siswa dapat melihat langsung ke obyek. Misal untuk mempelajari keanekaragaman makhluk hidup, klasifikasi makhluk hidup, ekosistem, dan organ tanaman. Dalam pelajaran matematika realia biasanya berupa bentuk-bentuk bangun datar maupun bangun ruang. Menurut Heinich dkk.(1996), alat peraga realia adalah benda yanq masih berada dalam bentuk utuh, dapat dioperasikan, mungkin hidup (tumbuhan atau binatang), dalam ukuran yang sebenarnya dan dapat dikenali sebagaimana wujud aslinya. Realia dapat digunakan dalan kegiatan belajar dalam bentuk sebagai mana adanya, tidak ada pengubahan, kecuali dipindahkan dari kondisi lingkungan hidup aslinya. Ciri media realia adalah benda asli yang masih ada dalam keadaan utuh, dapat dioperasikan, hidup, dalam ukuran yang sebenarnya, dan dapat dikenali sebagaimana wujud aslinya. ` Pemanfaatan alat peraga realia dalam proses pembelajaran merupakan cara yang cukup efektif, karena dapat memberikan informasi yang lebih akurat. Walaupun tidak semua benda nyata dapat digunakan sebagai media realia karena keterbatasan penyediaannya, misalnya karena ukuran ataupun biayanya. Berikut ini adalah beberapa kelebihan dari Alat Peraga Realia Menurut Arifin (2003) dalam Arsyad (2010): 1. Menumbuhkan minat belajar siswa karena pelajaran menjadi lebih menarik. 2. Dapat memberikan pengalaman nyata kepada siswa. 3. Pembelajaran akan lebih bervariasi sehingga siswa tidak akan mudah bosan 4. Siswa aktif melakukan kegiatan belajar seperti mengamati, melakukan dan 25 mendemonstrasikan materi. Adapun kelemahan dari Alat Peraga Realia adalah guru biasanya tidak maksimal dalam pemakaian alat peraga dan pada saat pembelajaran terlalu terpaku dengan alat peraga yang digunakan. Berikut ini adalah langkah-langkah dalam pembelajaran dengan menggunakan alat peraga realia: 1. Guru melibatkan siswa untuk mencari informasi yang luas dan dalam tentang materi yang akan dipelajari dengan menggunakan alat peraga realia. 2. Guru menjelaskan kepada siswa tentang sifat-sifat bangun ruang dengan menggunakan alat peraga realia. 3. Siswa diminta mencatat informasi yang didapat setelah melihat alat peraga realia. 4. Guru memberikan contoh soal pada siswa dan siswa diminta memberikan tanggapan atau jawaban jawaban yang benar 5. Guru berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator yang manjawab pertanyaan piserta didik yang mengalami kesulit

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI METODE LATIHAN DILENGKAPI DENGAN ALAT PERAGA PADA SISWA KELAS IVB SDN 1 METRO BARAT TAHUN PELAJARAN 2010/2011
0
6
52
ENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MENGGUNAKAN ALAT PERAGA ASLI PADA SISWA KELAS IV SDN 1 TAMBAHREJO KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TP 2011/2012
1
12
144
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MENGGUNAKAN ALAT PERAGA ASLI PADA SISWA KELAS IV SDN 1 TAMBAHREJO KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TP 2011/2012
0
21
55
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA REALIA PADA SISWA KELAS V SDN 7 WONODADI KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN
2
16
63
UPAYA PENINGKATAN PROSES DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA PADA MATA PELAJARAN IPA DI KELAS IV (EMPAT) SDN 3 TEGALSARI KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2011/2012
23
108
52
UPAYA PENINGKATAN PROSES DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA PADA MATA PELAJARAN IPA DI KELAS IV (EMPAT) SDN 3 TEGALSARI KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2011/2012
0
5
53
MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA DENGAN METODE BERMAIN PERAN KELAS IV SDN 5 WONODADI KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TP. 2011/2012
0
4
50
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENG-GUNAKAN ALAT PERAGA PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 2 MARGAKAYA KECAMATAN PRINGSEWU KABUPATEN
0
2
22
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR IPA MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI SISWA KELAS V SDN 4 WONODADI KECAMATAN GADINGREJO
0
5
43
PAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA POKOK BAHASAN PECAHAN DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA DI KELAS IV SD NEGERI 3 MATARAM KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2011/2012
0
3
42
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA POKOK BAHASAN PECAHAN DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA DI KELAS IV SD NEGERI 3 MATARAM KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2011/2012
0
31
213
MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS V DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA GAMBAR DI SDN 1 PRINGSEWU TIMUR KECAMATAN PRINGSEWU KABUPATEN PRINGSEWU LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2011/2012
1
6
61
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI METODE INKUIRI PADA SISWA KELAS V SDN 3 PAREREJO KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU
0
9
38
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 2 REJOSARI KECAMATAN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2012/2013
0
4
52
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPA DENGAN MENGGUNAKAN METODE DEMONTRASI PADA SISWA KELAS V SDN 3 BULUKARTO KECAMATAN GADINGREJO KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN 2012/2013
0
12
39
Show more