LAPORAN KIMIA LINGKUNGAN UJI KUALITAS UD

Gratis

1
40
34
2 years ago
Preview
Full text

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA LINGKUNGAN UJI KUALITAS UDARA AMBIENT DOSEN : Ir. ETYN YUNITA, M.Si ASISTEN : MIRJANI ADILLA, S.Si WENNI AGUSTIN KELOMPOK 1

MUHAMMAD RIDWAN (1112095000004)

  LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA LINGKUNGAN UJI KUALITAS UDARA AMBIENT DOSEN : Ir. Si ASISTEN : MIRJANI ADILLA, S.

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2014

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

  Karbon dioksidaBeberapa senyawa yang berada di udara seperti SO , NO dan NH dapat dijadikan 2 2 3 indikator bagi kualitas udara di suatu tempat. Hal ini lah yang mendasar praktikum ini dilakukan yaitu untuk mengatahui kadar SO 2 , NO 2 dan NH 3 sebagai bukti tercemar atau tidaknya udara disekitar kampus.

1.2 Tujuan

Mahasiswa dapat melakukan pengambilan sampel udara ambient (SO , NO ,NH ,  2 2 3 total partikulat/debuMahasiswa dapat melakukan pengambilan data-data pendukung sampling udara  ambient ditempat kerja (suhu , tekanan udara, laju uadara, waktu lamanyasampling, kebisingan, arah dan kecepatan anginMahasiswa dapat menentukan volume sampel udara yang diserap Mahasiswa dapat menganalisa dan menentukan total partikulat udara dengan  metode gravimetri Mahasiswa dapat menganalisa dan menentukan kadar NO udara ambient dengan  2 metode Griess saltzmanMahasiswa dapat menganalisa dan menentukan kadar SO udara ambient dengan  2 3 kisaran konsentrasi 0.01 ppm sampai 0.4 ppm udara atau 25 µg/m sampai 1000 3 µg/mMahasiswa dapat menentukan gas amoniak (NH3) di udara pada panjang  3 gelombang 640 nm dengan kisaran konsentrasi 20 -700 µg/m (0.025 ppm sampai 1 ppm )

1.3 Manfaat

Mengetahui kondisi udara yang berada disekitar kampus UIN Jakarta Dapat memberikan informasi kepada dosen dan mahasiswa mengenai kualitas  udara di kampus UIN Jakarta

BAB II TEORI

2.1 Udara ambient

  Teknik sampling kualitas udara dilihat lokasi pemantauannya terbagi dalam dua kategori yaitu teknik sampling udara emisi dan teknik sampling udara ambien. LVS (Low Volume Sampler) Cara ini menggunakan filter berbentuk lingkaran (Bulat) dengan porositas 0,3-0,45 µm, kecepatan pompa yang dipakai untuk pengangkapanSuspensi Partikulate Matter ini adalah 10 30 lpm.

2.2 Pencemaran Udara

  Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan mahkluk hidup,menggangguestetika dan kenyamanan, atau merusak properti. Pencemaran udara adalah masuknya, atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya kedalam atmosfir yang dapat mengakibatkan terjadinyakerusakan lingkungan, gangguan pada kesehatan manusia secara umum serta menurunkan kualitas lingkungan.

2.2.1 Penyebab Utama Pencemaran Udara

  Di kota besar sangat sulit untuk mendapat udara yang segar, diperkirakan 70 % pencemaran yang terjadi adalah akibat adanya kendaraan bermotor. Contoh : Di Jakarta antara tahun 1993-1997 terjadi peningkatan jumlah kendaraan berupa :- Sepeda motor 207 %- Mobil penumpang 177 %- Mobil barang 176 %- Bus 138 %Dampak Pencemaran Udara : 2.

2.3 Partikulat Debu

  Pembakaran yang tidak secara sempurna dihasilkan dari bahan bakar yaitu dari mobil dan kendaraan bermotor secara umum mengandung dan berasal dari senyawa suatugas organik seperti halnya penggunaan mesin disel yang tidak terpelihara dengan baik . Selain itu partikulat debu yang melayang dan berterbangan dibawa angin akan menyebabkan iritasi pada mata dan dapat menghalangidaya tembuspandang mata (Visibility) Adanya ceceran logam beracun yang terdapat dalam partikulat debu di udara merupakan bahaya yang terbesar bagi kesehatan.

2.4 Nitrogen Oksida (NOx)

  Nitrogen oksida (NOx) adalah senyawa gas yang terdapat di udara bebas(atmosfer) yang sebagian besar terdiri atas nitrit oksida (NO) dan nitrogen dioksida(NO2) serta berbagaijenis oksida dalam jumlah yang lebih sedikit. Kadar NOx di udara daerah perkotaan yang berpenduduk padat akan lebih tinggi dibandingkan di pedesaan hal ini dikarenakan berbagaimacam kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh manusia secara otomatis akan menunjang pembentukan NOx, misalnya transportasi, generator pembangkit listrik, pembuangansampah, dan lain-lain.

2.5 Sulfur Oksida (SOx)

  Selain itu sulfur merupakan kontaminan yang tidak dikehendaki didalam logam dan biasanya lebih mudah untuk menghasilkan sulfur dari logam kasar daripada menghasilkannya dari produk logam akhirnya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa iritasi tenggorokan terjadi pada kadar SO2sebesar 5 ppm atau lebih bahkan pada beberapa individu yang sensitif iritasi terjadi pada kadar 1-2 ppm.

2.6 Ammonia (NH3) Amonia merupakan senyawa nitrogen yang terpenting dan paling banyak diproduksi

  Antara pada tahun 1908 sampai 1913, Fritz Haber (1868-1934)seorang Ilmuawan dariJerman berhasil mensintesis amonia langsung dari unsurnya, yaitu dari gas nitrogen (N2)dan gas hidrogen (H2). Ini merupakan sebuah kunci dalam pembentukan dan netralisasi dari nitrat dan aerosol sulfat dalam atmosfer yang tercemar.

BAB II I METODE PENELITIAN

  3.2 Alat dan Bahan Alat-alat yang diguankan dalam praktikum ini adalah midget impinger, LVAS, vaccum pump, flowmeter, termometer, hygrometer, sound level meter, anemometer,stopwatch, counter, desikator, pinset,timbangan analitik, spektrofotometer UV-Vis + kuvet, labu ukur 100 mL,alu erlenmeyer 100 dan 250 mL, labu ukur 50 mL, pipet mikro 1000 µL. Bahan-bahan yang digunakan adalah absorber dari SO , NO ,NH akuadest, filter 2 2 3, hidrofobik pori 0.5 µm dianeter 110 cm, botol, plastik politilen, larutan induk nitrit (NO 2 ), larutan standar nitrit,larutan induk natrium metabisulfit, larutan standar natrium metabisulfit, larutan pararosanilin hidroklorida, larutan indikator kanji, larutan formaldehyde, larutan asamsulfanilic 0.6 %, larutan iodin 0.1 N, larutan stok amoniak 1000 µg, pereaksi A dan pereaksi B.

2 Larutan penyerap tetrakloromerkurat sebesar 0.04 M. Kemudian larutkan 10.86

  gram merkuri (II) klorida (HgCl ) dengan 800 air suling ke dalam gelas piala 1000 2 mL. Tambahkan berturut-turut 5.96 gram kalium klorida (KCl) dan 0.066 gramEDTA lalu diaduk sampai homogen.

2 Pembuatan larutan induk NEDA, C -

  Larutkan 0.1 g NEDA dalam labu ukur 100 mL, dengan air suling sampai batas tera. Larutan Penyerap Griess saltzman -Larutkan 2.5 gram asam sulfanilat anhidrat atau 2.76 gram asam sulfanilat monohidrat dalam labu ukur 500 mL dengan 300 mL air suling dan 70 mL asamaasetat glacial kemudian dikocok.

2 SO 4 97 % kedalam labu ukur 1000 mL yang telah terisi dengan air suling kurang lebih 00 mL lalu tepatkan pada batas tera

  Lakukan 3.3.2 Penentuan PartikulatTimbang filter sampel dan filter blanko sebagai pembanding menggunkaan timbangan analitik yang sama sehingga diperoleh serat filter blanko (B ) dan filter 2 sampel (W 2 ). 3.3.3 Penentuan NO2 Udara AmbientPembuatan kurva kalibrasi - Buat sederet standar dengan mimpipet (misalkan 0; 0,2; 0.4; 0.6; 0,8 dan 1 mL) dari larutan standar nitrit kedalam labu ukur 25 mL, encerkan dengan larutanpenyerap sampai batas tera.

2 Pembuatan kurva kalibrasi -

2 Pengukuran Sampel -

  Tepatkan dengan air suling sampai 25 mL , lalu homogenkan dan tunggu sampai 30-60 menitKemudian untuk blanko , 20 mL larutan TCM dalam labu ukur 25 mL ditambah ddengan 1 mL larutan asam sulfanilic 0.6 % ditunggu selama 10 menit. Tambahkan 2mL larutan formaldehida 0.2 % dan larutan pararosalin sebanyak 2 mL, lalu lepaskan hingga batas tera dnegan larutan TCM dan ukur sampel denganspektrofotometer dengan panjaang gelombang 550 nm 3.3.5 Penentuan NH3 Udara AmbientPembuatan kurva kalibrasi - Buat deret standar konsentrasi 0,2,4,8 dan 10 µg/mL dalam labu ukur 25 mL.

3.4 Analisi Data

Hitung volume sampel uji udara yang diambil -Volume sampel uji udara yang diambil dikoreksi pada kondisi normal(25 C, 760 mmHg) dengan menggunakan rumus :V= F1+F2 x t x Pa x 298 2 Ta 760Keterangan:V= volum udara yang dihisapF1= laju alir awal (L/menit)F2= laju alir akhir (L/menit)T= durasi pengambilan sampel uji (menit)Pa= tekanan barometer rata-rata selama pengambilan sampel uji (mmHg)Ta= temperature rata-rata selama pengambilan sampel uji (K)298= temperature pada kondisi normal 25 C (K)760= tekanan pada kondisi normal 1 atm (mmHg)Hitung kadar debu total di udara dengan menggunaakan rumus sebagai berikut : - ( W 2−W 1)−(B 2−B 1) C= V Ket : C = kadar debu totalB = verat filter sebelum pengambil sampel

1 B = berat filter blaanko setelah pengambilan sampel

2 W 1 = berat filter sampel uji sebeleum pengambil an sampelW 2 = berat filter sampel ui setelah pengambilan sampel V = volume udara pada waktu pengambilan sampelKonsentrasi NO dan NH di udara ambient - 2 3a C = x 1000 V C = konsentrasi NO di udara (µg/Nm3) 2 a = jumlah NO 2 dari udara sampel uji dengan melihat kurva kalibrasi (µg) V = volume udrara pada kondisi normal 1000 = konversi literKonsentrasi SO diudara ambient - 2a 10 C = x x 1000 V 25 C = konsentrasi NO di udara (µg/Nm3) 2 a = jumlah NO dari udara sampel uji dengan melihat kurva kalibrasi (µg)

2 V = volume udrara pada kondisi normal

1000 = konversi liter

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian sampling udara ambient dilakukan di halte UIN Jakarta yang berada

  Hasil konsentrasi kadar Partikulat di udaraNo Sampel Volume udara yang Kadar Debu Total di Udara dihisap (L) (mg/L) Pagi Sore Pagi Sore 1 Filter Blanko Awal(B 1)-5 114.52 117.835 < 0,1 1,272 x 10 2 Filter SampelAwal (W 1 ) 3 Filter BlankoAkhir (B 2 ) 4 FilterSampel Akhir (W 2 ) Partikulat atau debu merupakan partikel padatan dan cairan halus yang tersuspensi dalam udara ambient. Sementara partikel debu yang mengandung Pb akan merusak otak, dan pada tanaman dapat menyebabkan kekeringan padadaun yang pada akhirnya akan menyebabkan tanaman tersebut mati (Nugroho,2005) Ukuran debu atau partikel yang masuk ke dalam paru-paru akan menentukan letak penempelan atau pengendapannya.

2 Konsentrasi nitrit Absorbansi Sampel ID Jumlah Konsentrasi SO

  32 standar ( standar SO2 sampel (µg) udara (µg/Nm )mg/mL ) (< 0,1) 4 0,0215 Sampel B 1,1174 3,793 6 0,12258 0,2263 Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui bahwa kadar SO 2 yang dihasilkan di lingkungan sekitar UIN Syarif Hidayatullah masih jauh dari nilai ambang batas yang diperbolekan 3 oleh PP No. Selain itu hasil perhitungan ini juga disebabkan pembacaan pada spektroforometer UV-Vis3 yang kecil sehingga nilai konsentrasi SO 2 kurang dari 0.1 µg/Nm 2 di wilayah ini masih tergolong sangat rendah dan masih jauh dari baku mutu yang diperbolehkan.

3 Konsentrasi Absorbansi Sampel ID Jumlah Konsentrasi NH

  3 3 nitrit standar ( standar NH sampel (ug) udara (Ug/Nm ) 3μg/mL ) 0,0077 Sampel A 0,7378 6,441 2 0,1882 Sampel B 1.0089 8.5614 1,1327 8 1,877710 2,2591 Data perhitungan kadar konsentrasi amoniak (NH 3 ) dengan metode indofenol yang 3 diperoleh dari pengujian sampel A sebesar 6,441 μ g/ Nm . Nilai konsentrasi sampel dari samplingudara didepan halte UIN Jakarta saat siang hari atau sampel B (14.30-15.30 WIB) lebih besar 3 (8,561 μ g/ Nm ) dibanding nilai konsentrasi sampel didepan halte UIN Jakarta saat pagi Sifat-sifat bahaya dari amonia akan menimbulkan efek kesehatan pada manusia yang dibagi menjadi efek jangka pendek dan efek jangka panjang.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Mahasiswa telah mampu melakukan pengambilan sample udara ambient SO  2 , NO 2 , NH 3 ,total partikulat/debu Penentuang kadar NO  2 dan partikulat menggunkan metode Griess saltzman Kadar debu/partikulat pada pagi hari adalah < 0.1 mg/L dan pada siang hari adalah  -5 1,272 x 10 mg/L 23<0,1 μg/ Nm Penentuan kadar SO  2 menggunakan metode pararosanilin3 Kadar SO  2 pada pagi hari adalah < 0,1 μg/ Nm dan pada siang hari adalah < 0,13μg/ Nm Penentuan kadar NH  3 menggunakan metode indofenol36,441 dan pada siang hari adalah 8,561 Kadar NH  3 pada pagi hari adalah μg/ Nm3μg/ Nm 5.2 Saran Perlu diinformasikan kepada seluruh pihak kampus yaitu seluruh dosen dan  mahasiswa serta masyarakat sekitar bahwa udara yang berada di sekitar kampus sudahtercemarPengurangan penggunaan dari mobil dan motor bagi mahasiswa dan dosen Melakukan sebuah gerakan green kampus atau penanaman 1000 pohon disekitar  kampus

DAFTAR PUSTAKA

  Penentuan Kadar Sulfur Dioksida (SO 2 ) di Udara Ambien dengan Metode Pararosanilin Secara Spektrofotometri. (http://www.pertamina.com/index.php) diakses pada 8 Desember 2014 pukul 19:26 2 , SO 2 , Total Suspended Particulate) Terhadap Kejadian ISPA di Kota Bekasi Tahun 2004-2011.

Dokumen baru