Pemilihan Cara Koreksi Penglihatan Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2010 Dengan Kelainan Refraksi

Gratis

2
35
67
2 years ago
Preview
Full text

HALAMAN PERSETUJUAN

  TUJUAN : Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat gambaran pemilihan cara koreksi penglihatan pada kelompok anak muda dengan kelainan refraksi. Bagi pemilihan cara koreksi kelainanrefraksi pada akhir penelitian, sebanyak 136 responden (70,1%) memilih kacamata dengan 65 responden (48,0%) memilih atas faktor kenyamanan, diikuti dengan 58responden (29,9%) yang memilih lensa kontak dengan 30 responden (51,7%) memilih atas faktor trend.

KATA PENGHANTAR

  Alhamdulillah, puji dan syukur saya panjatkan ke hadrat Ilahi karena dengan izin-Nya, akhirnya saya berjaya menyelesaikan karya tulis ilmiah yang berjudul “Pemilihan CaraKoreksi Penglihatan pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Sumatera Utara Angkatan 2010 dengan Kelainan Refraksi” ini. Dan akhir sekali kepada keduaibu bapa, dengan rasa hormat saya melahirkan jutaan penghargaan atas sokongan dan kasih sayang yang telah diberikan dalam setiap usaha saya menyelesaikan tugasan ini.

DAFTAR ISI

  Lokasi dan Waktu Penelitian …..……………………..………………………...…18 4.3. Pengumpulan dan Analisis Data ……..…………………………………..............19 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN….…………….……..…………..………….21 5.1.

6.1. Kesimpulan ………………………………………………………………………32

  TUJUAN : Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat gambaran pemilihan cara koreksi penglihatan pada kelompok anak muda dengan kelainan refraksi. Bagi pemilihan cara koreksi kelainanrefraksi pada akhir penelitian, sebanyak 136 responden (70,1%) memilih kacamata dengan 65 responden (48,0%) memilih atas faktor kenyamanan, diikuti dengan 58responden (29,9%) yang memilih lensa kontak dengan 30 responden (51,7%) memilih atas faktor trend.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Salah satu dari jalur informasi utama dari panca indera adalah mata. Adanya

  Kekuatanpembiasan dari kornea atau lensa yang tidak sesuai akan menyebabkan sinar difokuskan lebih ke depan retina pada rabun jauh yaitu miopi dan di belakang retinapada rabun dekat yaitu hipermetropi ataupun pembiasan sinar terjadi di lebih dari satu titik pada astigmat. Kacamata adalah bentuk yang paling umum digunakan untuk koreksi refraksi karena bersifat murah dan sederhana daritiga pilihan tersebut; dengan demikian, kacamata adalah bentuk pengobatan yang paling tepat untuk kesalahan refraksi di negara berkembang.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Bola Mata

  (Ilyas,2010) Lapisan ketiga yaitu retina, terletak paling dalam dan mempunyai tebal 1mm yangterdiri atas susunan sebanyak 10 lapis yang merupakan lapis membran neurosensoris yang akan merubah sinar menjadi rangsangan pada saraf optik dan diteruskan ke otak. (Lang & Spraul, 2000) Protein larut dari lensa di kelilingi oleh kapsul tipis yang elastik yang mempunyaibagian posterior yang mempunyai radius 6.0mm lebih lengkung dari bagian anterior yang mempunyai radius 10.0mm.

2.3.1 Miopia

  Miopia atau rabun jauh adalah kelainan refraksi yang terjadi akibat dari kornea atau lensa berkekuatan lebih atau bola mata terlalu panjang maka titik fokus sinar yang sinaryang dibiaskannya akan terletak di depan retina. Hal ini adalah karena otak mampu beradaptasiterhadap distorsi penglihatan yang disebabkan oleh kelainan astigmat yang tidak terkoreksi, kacamata baru memperbaiki kelainan dapat menyebabkan disorientasitemporer,terutamanya akibat bayangan yang tampak miring.

2.4 Cara Koreksi Penglihatan

2.4.1 Kacamata

    Gambar  2: KacamataKacamata adalah perangkat optik yang terdiri dari lensa yang dipasang pada bingkai kacamata. Kacamata merupakan metode paling umum,murah dan mudah diresep padapenderita kelainan refraksi untuk membantu memulihkan penglihatan.

1. Bahan lensa a

  Crown glass yang mempunyai indeks bias 1,5223 yang umum digunakan untuk kacamata. Lensa ini dibentuk sehingga mencapaikelengkungan yang tepat dan kemudiannya dipoles sementara menunggu pemotongan akhir lensa supaya cocok dengan bingkai yangdipilih.

c. Lensa plastik mudah tersedia dengan metode percetakan. Lensa ini

  ringan dan tidak mudah pecah tetapi mempunyai kekurangan mudah tergores dan melentur. Lensa Triplex merupakan lensa yang ringan.

2. Bentuk lensa a

  Lensa meniskus digunakan untuk membuat kacamata untuk kelainan refraksi dalam derajat kecil atau sedang. Lensa tipe ini bersifat koreksi pada bagian tengah dan permukaan perifernya sejajarantara satu sama lain.

2.4.2 Lensa Kontak

    Gambar  3: Lensa KontakLensa kontak merupakan lensa tipis yang diletakkan di dataran depan kornea untuk memperbaiki kelainan refraksi dan pengobatan. Secara optik, lensa kontak berfungsi dalam cara yang sama seperti kacamata dengan membantu untuk memfokuskan bayangan tajam pada retina.

2.4.3 Bedah refraksi

  LASIKmenggunakan instrumen microsurgical laser dan kembali ke yang bening di depan mata. Setelah itu, flap dikembalikan ke tempatnya semula atau ditutup.(Ming & J.Constable, 2008) Tiga masalah paling umum dari bedah refraktif adalah undercorrection yaitumasalah tidak cukup jaringan yang dikeluarkan selama prosedur, diikuti dengan overcorrection yaitu banyaknya jaringan yang dikeluarkan selamaprosedur dan wrinkling yaitu flap kornea memiliki lipatan kecil atau kerut di dalamnya bila diganti yang menyebabkan daerah buram visi menjadi kecil.

BAB II I KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

  Cara koreksi kelainan refraksi Definisi Operasional : Cara koreksi kelainan refraksi yang dipilih olehresponden untuk membantu responden dalam koreksi kelainan refraksi yang dialami. Alasan pemilihan cara koreksi kelainan refraksi Definisi Operasional : Alasan yang menyebabkan respondenmenggunakan cara koreksi penglihatan pada saat itu.

5. Faktor pemilihan cara koreksi kelainan refraksi

Definisi operasional :Faktor-faktor yang menyebabkan responden memilih cara koreksi kelainan refraksi yangdiguna pada saat ini.Cara Ukur : Angket Alat Ukur : kuesionerHasil Ukur : kenyamanan, trend, mudah diperoleh, tujuan kosmetikSkala Ukur : Nominal

BAB IV METODE PENELITIAN

  Pendekatan yang digunakan pada desain penelitian ini adalah cross sectional study, yaitu dengan melakukanpengamatan sesaat dalam satu waktu untuk mengetahui gambaran pemilihan alat bantu penglihatan pada mahasiswa FK USU Angkatan 2010 yang diperolehmelalui pengisian kuesioner yang telah disediakan. 4.3 Populasi dan Sampel4.3.1 ` Populasi Populasi target dalam penelitian ini adalah anak muda dalam usia 18 hingga 25tahun manakala populasi terjangkau adalah mahasiswa dari Fakultas Kedokteran USU Angkatan 2010 yang berusia antara 18 hingga 25 tahun.

4.5 Pengumpulan dan Analisis Data

  Kuesioner adalah suatu daftar yang berisisejumlah pertanyaan yang diberikan kepada sampel agar dapat mengungkapkan 4.5.2 Analisis Data Pengolahan data adalah suatu proses dalam memperoleh data ringkasan denganmenggunakan cara-cara tertentu seperti editing, coding, entry dan cleaning data. Data yang terkumpul dan dikoreksi ketepatan kemudian diberi kode secaramanual dan dimasukkan ke dalam program computer dengan program SPSS.

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  Menurut data yang diperoleh dari bagianakademik Fakultas Kedokteran USU, mahasiswa dari angkatan 2010 yang menjadi sampel penelitian ini berjumlah 393 orang. Tabel 5.2 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis kelamin Frekuensi Persentase (%) Laki-laki 82 43.0 Perempuan 112 57.0 Jumlah 194 100.0 Pada tabel 5.2 dapat dilihat jenis kelamin responden yang terbanyak adalah perempuanyaitu sebanyak 112 responden (57.0%) sedangkan laki-laki hanya sebanyak 82 responden (43.0%).

5.3 Hasil Analisa Data

Setelah kuesioner dikumpulkan dan diolah maka data disajikan dalam bentuk tabel distribusi yang mengambarkan kejadian kelainan refraksi dan pemilihan carakoreksi penglihatan pada mahasiswa Fakultas Kedokteran USU yang mengalami kelainan refraksi ini manakala tabel cross tabulation pula digunakan untuk mengkajialasan dan faktor yang mempengaruhi pemilihan cara koreksi penglihatan oleh mahasiswa. Sesuai dengan pertanyaan penelitian maka hasil penelitian ini dibagi atas 3 sub variable, yaitu ;

1. Pemilihan cara koreksi penglihatan pertama yang didapatkan oleh mahasiswa beserta alasan dan faktor pemilihannya

  Pengetahuan tentang keuntungan dan keburukan cara koreksi penglihatan Berikut ini akan disajikan hasil peneltian dalam bentuk tabel. Tabel 5.3 Distribusi Jenis Kelainan Refraksi Jenis Kelainan Refraksi Frekuensi Persentase(%) Rabun jauh (miopi) 178 92.3 Rabun dekat (hipermetropi) 10 4.8 Astigmat 6 2.9 Total 194 100.0 Tabel 5.3 menunjukkan bahwa sebanyak 178 responden (92.3%) menjawab miopi sebagai kelainan refraksi yang dialami, diikuti sebanyak 10 responden (4.8%) menjawab hipermetropi dan astigmat sebanyak 6 orang ( 2.9%).

5.3.2 Cara Koreksi Penglihatan Pertama

  Tabel ini juga menunjukkan bahwa 79 responden memilih kacamata atas kehendak sendiri dan faktor paling banyak yaitu kenyamanan sebanyak 51 (6.6%) respondensedangkan faktor yang paling sedikit adalah faktor harga oleh 2 (2.5%) responden. Selain itu hanya 4 responden yang memilih kacamata dengan alasan pengaruh dari teman dimana 2(50.0%) darinya atas faktor harga dan 2 (50.0%) lagi atas faktor kenyamanan.

5.3.2 Pemilihan Cara Koreksi Penglihatan Pada Saat Ini

Tabel 5.6 Distribusi Jenis Cara Koreksi Penglihatan Pertama Dan Jenis Cara Koreksi Penglihatan Pada Saat Ini Jenis cara koreksi penglihatan saat ini Frekuensi (%)Cara koreksi penglihatan yangpertama didapatkan Kacamata Lensa kontak Bedah refraktif TotalKacamata 136(70,1) 58(29,9) - 194(100,0) Lensa kontak - -Bedah refraktif - - -Total 136(70,1) 58(29,9) - 194(100,0) Tabel 5.6 menunjukkan bahwa sebanyak 136 (70.1%) dari 194 responden masih menggunakan kacamata pada saat ini sedangkan 58(29,9%) responden telah bertukar kepada penggunaan lensa kontak. Tabel 5.7 Distribusi Jenis Cara Koreksi Penglihatan Saat Ini dan Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Faktor yang mempengaruhi perubahan cara koreksi penglihatan saat ini Frekuensi(%) Jenis cara koreksi Mudah Tujuanpenglihatan saat ini Harga Nyaman diperoleh Trend kosmetik TotalKacamata 6(4,4) 65(48,0) 2(1,5) 58(43,0) 5(3,7) 136(100,0) Lensa kontak 3(5,5) - 30(51,7) 25(43,1) 58(100,0) -Total 6(3,1) 68(35,1) 2(1,0) 88(45,4) 30(15,4) 194(100,0) Tabel di atas menunjukkan bahwa 65(48,0%) responden darinya memilih atas kenyamanan, sebanyak 58 (43,0%) responden memilih atas faktor trend dan hanya 2(1.5%) responden memilih atas faktor mudah diperoleh.Tabel ini juga menunjukkan bahwa dari 58 responden yang memakai lensa kontak pada saat ini, sebanyak 30 (55.6%) responden memilih atas faktor trend,diikuti dengan 21(38.9%) responden memilih atas faktor kosmetik dan sebanyak 3 (5.5%) responden memilih atas faktor kenyamanan.

5.3.3 Pengetahuan Mahasiswa Tentang Cara Koreksi Penglihatan

  Tabel 5.10 Mengetahui Keuntungan dan Keburukan dari Jenis Cara Koreksi Penglihatan yang Digunakan Saat Ini Mengetahui Keuntungan dan Keburukan dari Jenis Cara Koreksi Penglihatan yang Digunakan Saat Ini Persentase Frekuensi (%)Ya 194 100,0 Tidak Total194 100.0 Tabel 5.10 menunjukkan bahwa 194 (100,0 ) responden mengetahui keuntungan dan keburukan dari jenis cara koreksi penglihatan yang sedang digunakan. Manakala, dari 54 responden yang memakai lensa kontak, sebanyak 32( 55,2%) responden mengeluh akan kejelekan kondisi mata dan hanya 3(5,2%) responden mengeluh keterbatasan pada aktiviti harian.

5.4 Pembahasan

5.4.1 Pemilihan Cara Koreksi Penglihatan Pertama Beserta Alasan dan Faktor Pemilihannya

  Satu penelitian yang dibuat di India oleh tim yang diketuaioleh Brian A Holden pada tahun 2007 mendapatkan bahwa kenyamanan dan daya tarikan yaitu trend adalah faktor yang signifikan dalam corak pemakaiankacamata pada suatu individu. (Holden, 2007) Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 58 responden pada saat ini telah bertukar kepada penggunaan lensa kontak dengan 51,7 persen atasfaktor trend dan 43,1 persen atas faktor kosmetik.

5.4.2 Pemilihan Cara Koreksi Penglihatan Pada Saat Ini Beserta Alasan dan Faktor Pemilihannya

  Satu penelitian yang dibuat di India oleh tim yang diketuai oleh Brian A Holden bahwa kenyamanan dan daya tarikanyaitu trend adalah faktor yang signifikan dalam corak pemakaian kacamata pada individu (Holden, 2007). Hal ini mungkin adalah karena kacamata dipakai di luar dari kawasan mata dan tidak memerlukan penjagaan yang rapiseperti penggunaan lensa kontak.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 KESIMPULAN

  Berdasarkan hasil penelitian mengenai gambaran pemilihan jenis cara koreksi penglihatan pada mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Sumatera Utaraangkatan 2010 dapat disimpulkan bahwa : 1. Jumlah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dengan kelainan refraksi adalah sebanyak 43,9 persen.

2. Kelainan refraksi yang paling banyak adalah miopi dengan persentase 91,8 persen

  Jumlah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dengan kelainan refraksi yang memilih kacamata sebagai cara koreksi penglihatanadalah sebanyak 70,1 persen dan 48,0 persen darinya memilih atas faktor kenyamanan. Kesemua mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara mempunyai pengetahuan tentang cara koreksi penglihatan selain dari yangdigunakan da tentang keuntungan dan keburukan dari cara koreksi penglihatan yang sedang digunakan.

6.2 SARAN

  Dari seluruh proses penelitian yang telah dijalankan oleh peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini,maka dapat diungkapkan beberapa saran yangbermanfaat yaitu ; 1. Bagi peneliti dimasa akan datang, perlu diadakan penelitian pada sampel yang lebih banyak kriteria inklusinya dan di beberapatempat yang berbeda untuk memperdalam cakupan penelitian.

2. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut dengan memperhitungkan variabel-variabel yang berpengaruh dengan penelitian

  3. Bagi peneliti lain yang akan melakukan penelitian di masa akan datang yaitu diharapkan mencari lebih banyak masukan mengenaikejadian kelainan refraksi pada mahasiswa dan pemilihan cara koreksi penglihatan sehingga peneliti lebih dapat mengembangkanpengetahuan tentang kelainan refraksi dan cara koreksi penglihatan.

DAFTAR PUSTAKA

  Adakah anda tahu tentang kebaikan dan keburukan dari jenis alat bantu penglihatan yang anda gunakan pada saat ini?a. Apakah keburukan yang anda peroleh dari alat bantu penglihatan yang anda gunakan pada saat ini?a.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Hubungan Migren dengan Stres Pada Mahasiswa Stambuk 2010 Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
8
70
87
Pemilihan Cara Koreksi Penglihatan Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2010 Dengan Kelainan Refraksi
2
35
67
Tingkat Stres pada Mahasiswa Tahun Pertama Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2013
16
98
77
Efek Kafein Terhadap Kejadian Tremor Tangan pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan Tahun 2010
4
71
68
Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2010 Tentang Penularan Dan Pencegahan Hepatitis B
5
42
76
Uji Tapis Talasemia Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2013 Tahun 2013 Dengan Menggunakan Indeks Eritrosit
0
31
0
Hubungan Kualitas Tidur Dengan Konsentrasi Pada Mahasiswa Angkatan 2009 Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
33
157
83
Faktor Risiko Akne Vulgaris di Kalangan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2009, 2010 dan 2011
0
36
63
Gambaran Gangguan Haid Pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Tingkat I Angkatan 2010
4
33
72
Gambaran Aktivitas Olahraga Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2011 yang Menderita Obesitas
4
39
51
Hubungan Stres Ujian Dengan Perubahan Tekanan Darah Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU) Angkatan 2008 Pada Tahun 2010
9
91
81
Hubungan Lama Penggunaan Media Sosial Facebook Dengan Penurunan Tajam Penglihatan Pada Mahasiswa/I Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2010
2
32
69
Pengaruh Kebiasaan Merokok Terhadap Peak Expiratory Flow Rate pada Mahasiswa Laki-laki Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angkatan 2010
0
0
15
Gambaran Dermatofita Pada Kaki Pemain Sepak Bola Mahasiswa Angkatan 2010 Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
0
0
25
Gambaran Dermatofita Pada Kaki Pemain Sepak Bola Mahasiswa Angkatan 2010 Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
0
0
14
Show more