Feedback

PENGALAMAN KELUARGA DALAM MERAWAT ANGGOTA KELUARGA DENGAN GANGGUAN JIWA (SKIZOFRENIA) Di Wilayah Puskesmas Kedung Kandang Malang Tahun 2015

Informasi dokumen
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga serta beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di satu atap dalam keadaaan saling ketergantungan (Departemen Kesehatan, 1988 dalam Saputra, 2010) dan setiap anggota keluarga mempunyai peran masing – masing seperti Ayah, Ibu, dan Anak – anak (Efendi, 1998 dalam Saputra, 2010). Setiap anggota keluarga memiliki kebutuhan dasar fisik, pribadi dan sosial yang berbeda dan terbagi dalam 5 fungsi dasar ( Fungsi afektif, Fungsi Sosialisasi, Fungsi reproduksi, Fungsi ekonomi dan Fungsi perawatan) (Friedman, 1998 dalam Saputra, 2010). Indonesia termasuk salah satu Negara berkembang yang menghadapi masalah-masalah ekonomi seperti kemiskinan, krisis ekonomi yang berkepanjangan telah menyebabkan meningkatnya jumlah penderita gangguan jiwa (Notosoedirjo, 2005 dalam Nasution, 2014),secara umum gangguan jiwa disebabkan kerena adanya tekanan psikologi yang disebabkan oleh adanya tekanan dari luar individu maupun tekanan dari dalam individu, jenis gangguan jiwa cukup bervariasi tergantung dari jenis gangguan jiwa apa yang dialami, salah satunya adalah Skizofrenia. Gangguan jiwa jenis skizofrenia adalah gangguan mental yang sangat berat gangguan ini ditandai dengan gejala-gejala positif berupa menarik diri, isolasi sosial, halusinasi, kekacauan pikiran, gelisah, dan perilaku aneh atau bermusuhan (Sadock, 2003 dalam Nasution, 2014). Penderita gangguan jiwa merupakan bagian dari anggota keluarga, keluarga merupakan sistem pendukung utama yang memberikan perawatan langsung pada setiap keadaan sehat dan sakit. Pada umumnya, keluarga meminta bantuan tenaga kesehatan jika mereka tidak sanggup lagi merawat keluarganya yang sakit, oleh karena itu asuhan keperawatan jiwa yang berfokus pada keluarga bukan hanya memulihkan klien tetapi juga bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan peran serta keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan tersebut (Keliat, 1996 dalam Nasution, 2014). Keliat juga mengemukakan pentingnya peran serta keluarga dalam perawatan jiwa yang dapat dipandang dari berbagai segi : (a) Keluarga merupakan tempat dimana individu memulai hubungan interpersonal dengan lingkungannya, (b) Keluarga merupakan suatu sistem yang 1 2 saling bergantungan dengan anggota keluarga yang lain, (c) Pelayanan kesehatan jiwa bukan tempat klien seumur hidup tetapi fasilitas yang hanya membantu klien dan keluarga sementara, (d) Berbagai penelitian menunjukkan bahwa salah satu faktor penyebab gangguan jiwa adalah keluarga yang pengetahuannya kurang. Laporan American Psychiatric Association (1995 dalam Saputra, 2010) menunjukkan bahwa prevalensi skizofrenia adalah 1% dari populasi penduduk dunia menderita gangguan jiwa, sedangkan di Indonesia sekitar 1% hingga 2% dari total jumlah penduduk dan jumlah ini terus bertambah (Irmansyah, 2004 dalam Saputra, 2010). Hal ini didukung oleh penelitian Pariwisata (2006dalam Saputra, 2010) bahwa prevalensi skizofrenia di negara berkembang dan negara maju adalah hampir relatif sama yaitu sekitar 20% dari jumlah penduduk dewasa dan begitu juga di Indonesia.Porkony dkk (1993 dalam Saputra, 2010) melaporkan bahwa 49% penderita skizofrenia mengalami rawat ulang setelah follow up selama 1 tahun, sedangkan penderitapenderita non skizofrenia hanya 28%. Sekitar 10-60% pasien skizofrenia sering mengalami kekambuhan.Keliat, (1996 dalam Nasution, 2014) mengemukakan bahwa 25% sampai 50% klien yang pulang dari Rumah Sakit Jiwa tidak meminum obat secara teratur sehingga klien seringkali kambuh dan kembali ke Rumah Sakit Jiwa untuk rawat jalan. Salah satu yang menyebabkan kondisi ini adalah keluarga tidak rutin membawa klien berobat ke fasilitas kesehatan yang ada. Proses penyembuhan pada pasien gangguan jiwa harus dilakukan secara holistik dan melibatkan anggota keluarga. Tanpa itu, sama halnya dengan penyakit umum, penyakit jiwa pun bisa kambuh ( Wirawan, 2006 dalam Saputra, 2010) karena keluarga yang penuh konflik akan sangat mengganggu ruang hidup yang ada pada keluarga dan akibatnya lebih beresiko pada kekambuhan pasien skizofrenia, seperti tindakan kasar, bentakan, atau mengucilkan malah akan membuat penderita semakin depresi bahkan cenderung bersikap kasar, akan tetapi terlalu memanjakan juga tidak baik ( Rubbyana, 2012dalam Saputra, 2010 ). Dukungan keluarga sangat penting untuk membantu pasien bersosialisasi kembali, menciptakan kondisi lingkungan suportif, menghargai pasien secara pribadi dan membantu pemecahan masalah pasien (Gilang, 2001 dalam Saputra, 2010). Berdasarkan penuturan dari Ny. S yang salah satu anggota keluarganya menderita skizofrenia, bahwa keluarga pernah putus asa dan depresi ketika harus mengasuh Tn. R yang menderita gangguan jiwa dengan bukti informasi dari petugas puskesmas jika Tn. R pernah di pasung agar tidak marah – marah dan merepotkan anggota keluarga, tetapi setelah mendengar 3 edukasi dari petugas puskesmas keluarga menjadi tau bagaimana cara merawat anggota keluarga dengan gangguan jiwa. Dan keadaan ini cukup menarik peneliti untuk melakukan penelitian tentang Pengalaman Keluarga Dalam Merawat Anggota Keluarga Dengan Gangguan Jiwa (Skizofrenia) di wilayah kerja Puskesmas Kedungkandang Kota Malang. 1.2 Rumusan Masalah Dengan memperhatikan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan bagaimana Pengalaman Keluarga Dalam Merawat Anggota Keluarga Dengan Gangguan Jiwa (Skizofrenia)? 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang akan hendak di capai dalam penelitian ini adalah ingin membahas mengenai Pengalaman Keluarga Dalam Merawat Anggota Keluarga Dengan Gangguan Jiwa (Skizofrenia) 1.4 Manfaat Penelitian a) Bagi Pasien Sebagai sumber informasi bahwa keluarga juga mempunyai peran kuat di dalam penyembuhan pasien dengan gangguan jiwa. 4 b) Bagi Perawat Sebagai media komunikasi, informasi dan edukasi kepada pasien bahwa keluarga juga mempunyai peran kuat di dalam proses perawatan gangguan jiwa. c) Bagi Lembaga Selain menjadikan tambahan sumber referensi bagi institusi, penelitian ini juga berguna sebagai monitoring dan evaluasi bagi Puskesmas di dalam memberikan pelayanan kesehatan. PENGALAMAN KELUARGA DALAM MERAWAT ANGGOTA KELUARGA DENGAN GANGGUAN JIWA (SKIZOFRENIA) Di Wilayah PuskesmasKedungKandang Malang Tahun 2015 KARYA TULIS ILMIAH Oleh : YASMIN ANASTASYA KAYLA AURORA (NIM : 201210300511006) PROGRAM DIPLOMA DIII KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG TAHUN 2015 iii iv KATA PENGANTAR Pujisyukursayapanjatkankepada Allah SWT, karenaatasberkatdanrahmatNya,sayadapatmenyelesaikanKaryaTulisIlmiahini.PenulisanKaryaTulisIlmiahinidilakukandalamr angkamemenuhisalahsatusyaratuntukmencapaigelarAhliMadyaKeperawatanpadaFakultasIlmuKe sehatanUniversitasMuhammadiyah Malang.Sayamenyadaribahwa, tanpabantuandanbimbingandariberbagaipihakpadapenyusunanKaryaTulisIlmiahini, sangatlahsulitbagisayauntukmenyelesaikanlaporanini.Olehkarenaitu, sayamengucapkanterimakasihkepada: 1. Bapak Yoyok Bekti Prasetyo, M.Kep. Sp. Kom selaku DekanFakultasIlmuKesehatanUniversitasMuhammadiyah Malang beserta pembimbing I yang telahmemberikanbimbingandalampenugasanKaryaTulisIlmiah. 2. Ibu Ririn Harini, M.Kep selaku pembimbing II. 3. Ibu Reni Ilmiasih, M.Kep.,An Selakuketua Prodi Diploma III KeperawatanFakultasIlmuKesehatanUniversitasMuhammadiyah Malang 4. Ibu Wahyu selaku pembimbing di lahan Puskesmas Kedungkandang Malang 5. Seluruhdosen&stafprodikeperawatanUnivesitasMuhammadiyah Malang yang membantumelancarkansegalaurusandalamkaryatulisilmiahini. 6. Segenap staff tatausahaUniversitasMuhammadiyah Malang yang telahbanyakmembantupenulisselamamengikutiperkuliahan&penulisankaryailmiahini. 7. Orang tua dan keluarga saya yang telah memberikan bantuan, dukungan material dan moral. Yang selalumenadahkantangannyakepada sang penguasauntukmembangunasadanmasadepannya 8. HapipiJayadi, S.IP., M.AP yang telahbanyakmemberikanmotivasidalampenulisankaryailmiahini. 9. Sahabat-sahabatkuyang tidakbisasayasebutkannamanyaterimakasihatasyang telah banyak membantu dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah akhir ini. Semogabantuansertabudibaik yang telahdiberikankepadapenulis, mendapatbalasandari Allah SWT.Besarharapanpenulis agar KaryaTulisIlmiahakhirinidapatbermanfaat. Malang, 13Agustus 2015. Penulis v DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL . i HALAMAN SAMPUL . ii HALAMAN PERSETUJUAN . iii HALAMAN PENGESAHAN . iv ABTRAK . v ABSTRACT . vi KATA PENGANTAR . vii DAFTAR ISI . ix DAFTAR LAMPIRAN . BAB I PENDAHULUAN . 1 1.1.Latar Belakang . 1 1.2.Rumusan Masalah . 3 1.3.Tujuan Penelitian . 3 1.4.Manfaat Penelitian . 3 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA . 2.1. Konsep Skizofrenia . 2.2. Konsep Keluarga. 2.3. Konsep Pengalaman . 5 5 11 14 BAB 3 METODE STUDI KASUS . 3.1. Desain Penelitian . 3.2. Tempat dan Waktu Penelitian . 3.3. Setting Penelitian . 3.4. Subjek Penelitian . 3.5. Metode Pengumpulan Data . 3.6. Metode Uji Keabsahan Data . 3.7. Metode Analisis Data . 3.8. Etika Penelitian . 18 18 18 18 19 20 22 23 24 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN . 4.1. Informasi Umum Partisipan . 4.2. Hasil Penelitian . 4.3. Pembahasan . 26 26 27 29 BAB 5 PENUTUP . 5.1 Kesimpulan . 5.2 Saran . 32 32 33 DAFTAR PUSTAKA vi DAFTAR PUSTAKA Achjar, Komang Ayu Henny. (2010). Aplikasi Praktis Asuhan Keperawatan Keluarga Cetakan I. Jakarta : Sagung Seto. Durand, V.M dan Barlow, D.H. (2007). Essentials of Abnormal Psychology, Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Friedman. M .(2010). Keperawatan Keluarga Riset,Teori dan Praktik. Jakarta : ECG Manik, Chinta Bangun. (2015). Pengaruh Kepatuhan Pengobatan dan Koping Keluarga terhadap Pencegahan Kekambuhan Penderita Skozofrenia Paranoid di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2014. Diakses dan dipublikasikan di http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/44476 Nurdiana, Syafwani, dan Umbransyah. (2007). Korelasi Peran Serta Keluarga Terhadap Tingkat Kekambuhan Klien Skizofrenia. Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan. Volume 3. No. 1. Februari 2007.STIkes Muhammadiyah Banjarmasin. Nasution, Nurhasanah. (2014). Gambaran Peran Keluarga Dalam Pemulihan Pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatra Utara. Diakses dan dipublikasikan di http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/41404 Sugiyono. (2005). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: ALFABET. Setiadi. (2008). Konsep dan Proses Keperawatan Keluarga. Edisi 1. Yogyakarta: Graha Ilmu Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Bisnis. Cetakan keduabelas 2008. Alfabeta,Bandung. Penerbit Sandra Pebrianti, Wijayanti Rahayu, dan Munjiati. (2009). Hubungan Tipe Pola Asuh Keluarga Dengan Kejadian Skizofrenia di Ruang Sakura RSUD Banyumas. Jurnal Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal of Nursing), Volume 4 No.1 Maret 2009. Saputra, Nanda .(2010). Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kekambuhan Pasien Skizofrenia di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera. Diakses dan dipublikasikan di http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/20130 Syahputra, Edi. (2010). Pengalaman Keluarga Sebagai Pemberi Asuhan Keperawatan Pada Penderita Skizofrenia di Desa Birem Puntong Kota Langsa. Diakses dan dipublikasikan di http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/17109 Sunyono. (2011). Teknik Wawancara Dalam Penelitian Kualitatif. Tugas paper mata kuliah Penelitian Kualitatif. 2011. Fakultas Pascasarjana Universitas Negri Surabaya. vii Walgito, Bimo. (2010). Bimbingan dan Konseling Studi & Karir. Yogjakarta: Andi Wirdiani, Francisca Nike. (2013). Intensi Untuk Mengikuti Kegiatan Organisasi Pada Pensiunan. Studi Deskriptif pada Pensiunan PT. Kereta Api Indonesia.Universitas Pendidikan Indonesia. Diakses dan dipublikasikan di http://repository.upi.edu/428/1/S_PSI_0703833_TTILE.pdf . viii kekuasaan melaui media komunikasi dan lain sebagainya. 2.3 Definisi Relasi Kerja Relasi adalah kata yang diartikan sebagai hubungan sedangkan kerja dalam kamus besar bahasa Indonesia didefinisikan sebagai sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah atau mata pencaharian. Jadi relasi kerja adalah hubungan yang terjalin antara individu maupun kelompok dengan individuindividu yang lain dalam melakukan sesuatu hal yang dilakukan untuk mencari nafkah. Relasi kerja identik dengan pekerja yang melakukan interaksi dengan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 12 pekerja-pekerja lain di dalam wilayah kerja dan membentuk suatu ikatan emosional antar sesamanya dan memiliki satu tujuan yang sama yaitu ingin mencapai kesejahteraan. Di dalam perusahaan ataupun di dalam perkebunan pekerja atau karyawan diklasifikasikan berdasarkan jabatan sesuai dengan pekerjaannya masing-masing, mulai dari karyawan tetap, lepas dan kontrak. Beberapa jenis karyawan tersebut berbaur menjadi satu kesatuan di dalam wilayah kerja dan melakukan interaksi di setiap hari kerjanya dan saling menunjukkan loyalitas dan etos kerja kepada pihak perusahaan ataupun perkebunan. Relasi kerja dibangun atas kesadaran diri dan kebutuhan masing-masing individu. Dalam perkebunan relasi kerja awalnya terbangun antar sesama divisi kerja dan biasanya dijalin antar sesama jabatan. Contohnya, relasi kerja karyawan dimulai dari interaksi yang dilakukan pada penempatan divisi kerja seperti relasi yang terbentuk antar sesama pekerja petik cengkih, pekerja petik kopi ataupun pekerja penyadap getah karet. Untuk perkembangannya akan berurutan ke atas sampai relasi kerja yang terbangun antara karyawan dengan pimpinan divisi atau mandor sehingga di dalam setiap divisi kerja akan tercipta relasi kerja yang berlevel mikro, dan begitu seterusnya sehingga relasi kerja terbentuk dalam cakupan makro atau di seluruh divisi kerja di dalam perkebunan. Relasi kerja merupakan relasi kuasa yang sengaja dibangun oleh pihak perkebunan atau pemegang faktor produksi untuk mengatur dan mengontrol sistem kerja. Sistem kerja yang dimaksud adalah semua aturan yang dibentuk dan dibangun sedemikian rupa oleh pihak perkebunan guna membatasi ruang gerak para karyawan dan imbasnya adalah kepatuhan dan rasa takut. Tujuan inilah yang hendak dicapai dalam relasi kuasa dimana hubungan yang terjalin antar anggota di dalam wilayah kerja mempengaruhi satu sama lain dan mayoritas dari dampak yang dihasilkan adalah berkuasanya pemimpin dan terkuasanya karyawan. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 13 2.4 Kebijakan Perkebunan Sebagai Produksi Kekuasaan Apabila membicarakan tentang produksi kekuasaan di dalam wilayah perkebunan maka kekuasaan akan terlihat dari kebijakan yang diambil. Kebijakan sendiri memiliki pengertian sebagai rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak (tata pemerintahan, organisasi, dan lain sebagainya) atau dapat juga didefinisikan sebagai pernyataan cita-cita, tujuan, prinsip, atau maksud sebagai garis pedoman untuk manajemen dalam usaha mencapai sasaran. Untuk mengetahi lebih jauh tentang produk dari kekuasaan di dalam perkebunan yang dihasilkan oleh berbagai macam kebijakan, patut diketahui beberapa macam kebijakan yang membawa dampak negatif dan positif produksi dari kekuasaan itu sendiri. Kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya: 2.4.1 ฀abour Market Flexibility Labour market flexibility atau dalam bahasa Indonesia dapat kita sebut sebagai pasar kerja fleksibel merupakan salah satu kebijakan yang tercipta untuk mengatur urusan ketatatenagakerjaan dalam suatu perusahaan. Sedangkan definisi umum dari labour market flexibility atau pasar kerja fleksibel itu sendiri adalah kebjakan yang memberikan keleluasaan merekrut dan memecat buruh sesuai dengan situasi usaha untuk menghindarkan kerugian. Labour market flexibility atau bisa kita singkat dengan LMF merupakan suatu inovasi kebijakan yang diambil bukan hanya oleh Negara melainkan oleh dunia dengan tujuan meluweskan pengaturan tatatenaga kerja yang harus dihadapi oleh suatu perusahaan atau dengan kata lain memudahkan dalam mengatur tenaga kerja ataupun buruh di dalam suatu lembaga kerja. Kebijakan LMF sendiri terbentuk untuk dijadikan sebagai suatu strategi baru untuk menekan pengeluaran perusahaan dan memaksimalkan keuntungan Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 14 dari hasil produksi yang didapat dengan memanfaatkan peraturan tenaga kerja kontrak. Pengaturan yang dimaksud adalah mengatur keluar masuknya tenaga kerja kontrak disesuaikan dengan peraturan yang dibentuk oleh perusahaan itu sendiri. Fleksibilitas dalam pasar kerja inilah yang memberikan keleluasaan untuk perusahaan menerapkan sebuah aturan tenaga kerja yang berlaku tidak untuk buruh tetap melainkan untuk karyawan kontrak. Terdapat 4 dimensi fleksibilitas yakni: 1. Perlindungan kesempatan kerja 2. Fleksibilitas upah : pembatasan variasi tingkat upah melalui berbagai institusi dan regulasi termasuk upah minimum, aktivitas serikat buruh dan negosiasi upah 3. Fleksibilitas internal atau fungsional yang merupakan kemampuan perusahaan untuk mengatur kembali proses produksi dan penggunaan tenaga kerja demi produktivitas dan efisiensi yang mencakup fleksibilitas numerikal dan fungsional. 4. Fleksibilitas di sisi permintaan dari pekerja dalam keleluasaan waktu kerja dan mobilitas antar pekerjaan Mengapa membahas kebijakan LMF, alasannya adalah karena kebijakan ini adalah kebijakan yang merupakan awal dari adanya produksi kekuasaan yang akhirnya berdampak pada relasi kerja karyawan perkebunan. Kebijakan ini erat kaitannya dengan strategi karena strategi ada untuk menciptakan suatu kebijakan yang tepat sasaran. Tujuan dan fungsi dari adanya kebijakan maupun strategi adalah yang utama untuk memberikan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi orang-orang yang diberikan kebijakan. Akan tetapi terkadang keberadaan strategi dan kebijakan tidak sesuai dengan fungsi utamanya bahkan melenceng begitu jauh. Seperti yang dikatakan Haryanto (2011) bahwa muara berbagai kebijakan dan strategi adalah meningkatnya indeks ketimpangan sosial ekonomi di masyarakat. Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 15 Ketimpangan seperti ini selanjutnya menimbulkan dampak saring (filtering effect) yang menghambat peluang kaum miskin dalam memperoleh berbagai pelayanan dan buah pembangunan. Melencengnya kebijakan yang diambil adalah salah satu hasil dari produksi kekuasaan yang memberikan dampak negatif kepada para karyawan sebagai penggerak roda produksi di dalam perkebunan. Apabila ada salah satu produksi kekuasaan yang tidak tepat sasaran dan imbasnya langsung kepada para karyawan akan menimbulkan suatu bentuk kritik dan perlawanan yang tidak langsung dilakukan oleh para karyawan melainkan mereka akan membendungnya dalam sikap-sikap individu yang tidak taat pada aturan atau sikap anti kekuasaan. 2.4.2 Outsourcing/ Kontrak Kerja Di dalam wilayah kerja sendiri akan banyak kita temukan sistem kerja yang ada khususnya sistem kerja yang berhubungan dengan ketengakerjaan. Salah satunya adalah sistem kerja outsourcing, sistem kerja ini dapat didefinisikan sebagai sebuah sebuah upaya mengalihkan pekerjaan atau jasa ke pihak ketiga. Tujuan utama outsourcing pada dasarnya adalah untuk: ฀ menekan biaya ฀ berfokus pada kompetensi pokok ฀ melengkapi fungsi yang tak dimiliki ฀ melakukan usaha secara lebih efisien dan efektif ฀ meningkatkan fleksibilitas sesuai dengan perubahan situasi usaha ฀ mengontrol anggaran secara lebih ketat dengan biaya yang sudah diperkirakan ฀ menekan biaya investasi untuk infrastruktur internal Sebenarnya Praktek PKWT dan outsourcing merupakan wujud dari kebijakan Pasar Kerja Fleksibel yang dimintakan kepada pemerintah Indonesia Digital Digital Repository Repository Universitas Universitas Jember Jember 1฀ oleh IMF dan World Bank sebagai syarat pemberian bantuan untuk menangani krisis ekonomi 1997. Kebijakan Pasar Kerja Fleksibel merupakan salah satu konsep kunci dari kebijakan perbaikan iklim investasi yang juga disyaratkan oleh IMF dan dicantumkan dalam Letter of Intent atau nota kesepakatan ke-21 antara Indonesia dan IMF butir 37 dan 42. Kesepakatan dengan IMF tersebut menjadi acuan bagi penyusunan kebijakan dan peraturan perbaikan iklim investasi dan fleksibilitas tenagakerja. Kontrak kerja merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak dimana di dalam dunia kerja diwakili oleh pihak pertama pekerja dan pihak kedua adalah pihak perusahaan. Keduanya saling membuat suatu kesepakatan akan sistem kerja yang akan dijalani ketika pekerja telah masuk di dalam perusahaan, pihak perusahaan memiliki kekuasaan dalam menentukan kebijakan seperti apa yang akan dibuat sehingga pihak pekerja haruslah mengikuti kebijakan tersebut. Meskipun kontrak tersenyum dan seluruh teman-teman taklim di Al-Muslimun dan Nurrahman terima kasih atas dukungannya. 12. Pak Seno, Pak Jono dan Bu Nik yang mempunyai andil dalam membimbing saya. 13. Ucapan terimakasih kepada R.Novi Eka Vitriyana, seseorang yang akan menjadi istri yang saleh yang membantu dakwa penulis, terimakasih atas segala bantuan dan perhatiannya. 14. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Semoga Allah SWT selalu memberikan Hidayah dan Rahmat kepada semua pihak yang telah membantu dengan ikhlas sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Penulis sadar akan keterbatasan dan kurang sempurnanya penulisan skripsi ini, oleh karena itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun akan sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan tambahan pengetahuan bagi yang membacanya. Jember, 23 Mei 2008 Penulis x DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL . i HALAMAN PERNYATAAN. ii HALAMAN PENGESAHAN. iii HALAMAN PERSETUJUAN . iv HALAMAN PERSEMBAHAN . v HALAMAN MOTTO . vi ABSTRACT . vii ABSTRAK . viii KATA PENGANTAR. ix DAFTAR ISI. xi DAFTAR TABEL . xiii DAFTAR GAMBAR. xiv DAFTAR LAMPIRAN . xv I. PENDAHULUAN . 1 1.1 Latar Belakang Masalah. 1 1.2 Perumusan Masalah . 7 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian . 7 1.3.1 Tujuan Penelitian . 7 1.3.2 Manfaat Penelitian . 7 II. TINJAUAN PUSTAKA. 8 2.1 Landasan Teori. 8 2.1.1 Pengertian Pendapatan Domestik. 8 a. Teori Keynes . 9 b. Teori Pertumbuhan Ekonomi. 10 2.1.2 Hubungan Investasi dengan Pendapatan Domestik Bruto . 11 a. Pengertian Investasi. 11 xi b. Teori Harrod dan Domar. 11 c. Teori Keynes . 13 2.1.3 Teori Tingkat Suku Bunga. 14 a. Sintesis Klasik dan Keynesian. 14 b. Teori Mark dan Hull. 15 c. Teori Hick . . 16 2.1.4 Hubungan Nilai Tukar Terhadap Produk Domestik Bruto. 17 a. Teori Pertukaran Kurs . . 17 b. Teori Messe dan Regolf . 19 2.2 Hasil Penelitian Sebelumnya . . 20 2.3 Kerangka Berpikir. 22 2.4 Hipotesis 23 III. METODE PENELITIAN. 24 3.1 Rancangan Penelitian. 24 3.1.1 Jenis Penelitian. 24 3.1.2 Unit Analisis. 24 3.2 Jenis dan sumber Data. 24 3.2.1 Metode Penelitian. 24 3.3 Metode Analisis Data . 25 3.3.1 Analisis Regresi Linier Berganda. 25 3.3.2 Uji t . 26 3.3.3 Uji F . 27 3.3.4 Koefisien Determinasi Berganda . 28 3.4 Uji Ekonometrika . . 28 3.4.1 Uji Multikolinearitas . 28 3.4.2 Uji Autokorelasi 29 3.4.3 Uji Heterokedastisitas 29 3.5 Definisi Operasional 30 xii IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 31 4.1 Gambaran Umum Pendapatan Domestik di Indonesia. 31 4.1.1 Investasi . . 33 4.1.1 Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia. 40 4.1.2 Kurs Dollar Amerika Serikat . 43 4.2 Analisis Data. . 47 4.2.1 Analisis Regresi Linier Berganda. 47 4.2.2 Uji Statistik. 48 4.2.3 Uji Ekonometrika. 48 4.3 Pembahasan . 49 V. KESIMPULAN DAN SARAN. 59 5.1 Kesimpulan. 60 5.2 Saran . 60 DAFTAR PUSTAKA. 61 LAMPIRAN. 65 xiii DAFTAR TABEL Halaman 4.1 Perkembangan Investasi di Indonesia. 4.2 Hasil Uji Multikolinieritas . 50 xiv 34 DAFTAR GAMBAR Halaman 1.1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia . 3 1.2 Total Investasi Indonesia. . 5 2.1 Pengaruh Pendapatan Terhadap Investasi. 12 2.2 Teori Hick Suku Bunga Terhadap Pendapatan. 15 2.3 Hubungan Kurs dengan Produk Domestik Bruto.19 2.4 Kerangka Berfikir . . 22 4.1 Perkembangan Produk Domestik Bruto di Indonesia. 31 4.2 Perkembangan Investasi di Indonesia. 40 4.3 Perkembangan Tingkat Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia .40 4.4 Perkembangan Nilai Rupiah Terhadap Nilai Dollar Amerika. . 44 4.5 Analisis Data dan Uji Autokorelasi. 51 xv DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Data Variabel Penelitian. 66 2 Logaritma Natural . 68 3 Hasil Regresi Linier Berganda. 72 xvi
PENGALAMAN KELUARGA DALAM MERAWAT ANGGOTA KELUARGA DENGAN GANGGUAN JIWA (SKIZOFRENIA) Di Wilayah Puskesmas Kedung Kandang Malang Tahun 2015 Latar Belakang Masalah PENGALAMAN KELUARGA DALAM MERAWAT ANGGOTA KELUARGA DENGAN GANGGUAN JIWA (SKIZOFRENIA) Di Wilayah Puskesmas Kedung Kandang Malang Tahun 2015
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Upload teratas

PENGALAMAN KELUARGA DALAM MERAWAT ANGGOTA KELUARGA DENGAN GANGGUAN JIWA (SKIZOFRENIA) Di Wilayah Puskesmas Kedung Kandang Malang Tahun 2015

Gratis