Feedback

Performa Sifat Produksi dan Kualitas Telur Hasil Persilangan Resiprokal antara Itik Alabio dengan Itik Pekin

Informasi dokumen
ABSTRACT Egg Production and Qualities of Reciprocal Crosses betweenAlabio and Pekin Ducks Keynesandy, A. W., R. R. Noor, L. H. Prasetyo The aim of this study was to evaluate the stability of egg production and quality of the reciprocal crosses between Alabio and Pekin ducks. The total number of ducks used in this study was 180 ducks, consisted of PA and AP genotypes. They were maintained at individual cages for 11 months. The parameters observed were egg production, age at first laying, first egg weight, body weight at laying and egg quality. The result shows that different genotype did not affect the egg production (P>0,05).Different genotypes did not affect egg quality (P>0,05) in almost all parameters. Based on the observed of egg production and quality, itcan be conducted that the stability of egg production of Alabio duck was high enough to produce crossedducks that had height body and egg production. Keywords: Alabio, reciprocal, egg production, egg quality iii PENDAHULUAN Latar Belakang Itik merupakan jenis ternak yang dapat menghasilkan daging dan telur. Populasi itik di Indonesia pada tahun 2009 telah mencapai 40.680.000 ekor atau meningkat sebesar 2,1% dibandingkan dengan tahun 2008. Berdasarkan jumlah tersebut komoditas itik mampu memberikan kontribusi terhadap produksi daging nasional lebih dari 258.000 ton dan telur 2.364.000 ton (Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2011). Seiring dengan meningkatnya produksi itik secara nasional, kebutuhan nasional akan produk itik berupa telur dan daging juga meningkat melebihi tingkat produksinya. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan mengembangkan dan memanfaatkan potensi sumber daya ternak lokal yang terdapat di Indonesia salah satunya adalah jenis itik yang berasal dari Provinsi Kalimantan Selatan, khususnya Kabupaten Hulu Sungai Utara yaitu itik Alabio. Itik Alabio telah cukup dikenal sebagai itik petelur yang sangat potensial dengan produksi telur yang tinggi dan penampilan fisik yang sangat berbeda dengan jenis unggas atau itik lain yang ada di pulau Jawa dan merupakan plasma nuftah ternak yang layak dibanggakan. Dewasa ini itik Alabio telah menyebar ke beberapa daerah di Indonesia, terutama di pulau Jawa. Sejalan dengan perkembangannya, itik Alabio ternyata masih banyak dibudidayakan secara tradisional oleh para peternak yang memungkinkan terjadinya perkawinan yang tidak diharapkan seperti perkawinan antara itik Alabio dengan itik tipe petelur lainnya bahkan mungkin dapat terjadi perkawinan antara itik Alabio dengan itik tipe pedaging seperti itik Pekin. Itik Pekin yang terdapat di Indonesia saat ini berasal dari daratan China dan ternyata memiliki kemampuan yang cukup baik untuk beradaptasi, sehingga populasinya semakin banyak. Karakteristik itik Pekin lebih umum dikenal sebagai jenis itik pedaging karena postur dan bobot badannya yang besar. Persilangan tak terstruktur antara itik Alabio dan itik Pekin tersebut memungkinkan dapat menyebabkan perubahan mutu genetik dari itik Alabio itu sendiri. Oleh karena itu, perlu adanya pengamatan terhadap kestabilan sifat produksi dan kualitas telur pada itik Alabio yang disilangkan secara resiprokal dengan itik Pekin, sehingga dapat diketahui seberapa kuat sifat produksi dari itik Alabio yang diwariskan. Beberapa sifat produksi yang 1 diamati dalam penelitian ini adalah produksi telur, umur pertama bertelur, bobot pertama bertelur, dan kualitas telur yang dihasilkannya. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk dapat mengevaluasi kestabilan sifat produksi dan kualitas telur hasil persilangan resiprokal antara itik Alabio dan itik Pekin. Penelitian ini juga bertujuan untuk membandingkan sifat produksi itik hasil persilangan resiprokal.       2 TINJAUAN PUSTAKA Itik Alabio Itik alabio merupakan salah satu plasma nutfah unggas lokal yang mempunyai keunggulan sebagai penghasil telur. Itik ini telah lama dipelihara dan berkembang di Kalimantan Selatan, terutama di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Tengah (HST), dan Hulu Sungai Utara (HSU).Itik Alabio memiliki ciri warna bulu coklat dengan bintik-bintik putih di seluruh badan dengan garis putih di sekitar mata. Pada itik jantan, warna bulu cenderung gelap, sayapnya terdapat beberapa helai bulu suri berwarna hijau kebiruan mengkilap, warna paruh dan kaki kuning terang. Berat badan bobot badan itik betina umur 6 bulan 1,60 kg dan jantan 1,75 kg dan produksi telur rata-rata 220-250 butir/ekor/tahun (Haqiqi, 2008). Gambar 1. Itik Alabio Sulaiman dan Rahmatullah (2011) mengatakan bahwa itik Alabio memiliki karakteristik eksterior dari segi posisi tubuhitik Alabio(sudutelevasi)pada 0 saatpenelitiandidapatkanbesarsudutyang sama yaitu 60 , sedangkanbentuktubuhdari hasilpengamatandi lapangan itikAlabio lebihmiripmenyerupai bentukbotol pada saat dilihatdari atas kepala padasaatdiammemilikibentuksegitiga sampai dilihat kaki saat dari tegak,sedangkan sampingdan pada saatitiktersebutdiam.Warnabulu itik Alabiosecara umumnyaberwarnabulu coklatagak kelabudan seluruhbulunyaterdapat warna bercak-bercak(fleck)hitam.Itik Alabio memiliki variasi warna paruh yaitu warna kuning hingga jingga dan memiliki warna pada kaki (shank) yang juga bervariasi dari warna kuning muda hingga jingga. 3 Produksi Telur Produktivitas itik ditentukan oleh dua faktor utama, yaitu genetik dan lingkungan (Ketaren et al., 1999). Faktor genetik ditentukan oleh susunan gen dan kromosom yang dimiliki suatu individu dan bersifat baka selama tidak terjadi mutasi dari gen yang menyusunnya, sedangkan faktor lingkungan tidak selalu berubah dan tidak dapat diwariskan kepada anak keturunannya (Hardjosubroto, 1994). Oleh karena itu, perbaikan mutu bibit, pakan dan tata laksana pemeliharaan akan meningkatkan produktivitas itik tersebut. Purbaet al. (2001) mengemukakan bahwa rata-rata produksi telur itik Alabio pada sistem kandang battery lebih tinggi dan lebih stabil bila dibandingkan dengan sistem kandang litter.Prasetyo et al. (2003) menyatakan bahwa produksi itik MA (Mojosari-Alabio) dan MM (MojosariMojosari) selama 3 bulan pada umur 7 bulan produksi masing-masing sebesar 79,4% dan 52,47%. Umur Pertama Bertelur Menurut Ketaren et al. (1999) umur bertelur pertama tidak mencerminkan tingkat produktivitas telur itik. Hal ini terbukti bahwa dari hasil penelitiannya menunjukkan itik yang paling terakhir mulai bertelur (umur 130 hari) memiliki kemampuan produksinya lebih tinggi dari itik yang lebih dahulu bertelur. Pada hasil penelitiannya umur pertama bertelur itik Alabio dicapai pada umur 130; 116 dan 121hari dengan rataannya 122hari. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian Prasetyo dan Susanti (2000) dimana hasil tersebut menyatakan bahwa itik yang memiliki umur bertelur lebih cepat dapat menghasilkan produksi telur yang lebih banyak. Hal ini sesuai dengan hasil penelitiannya dimana itik MA memiliki umur bertelur pertama paling cepat (153 hari) dan produksi telurnya lebih banyak dibandingkan dengan itik AA; MM dan AM. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh faktor lingkungan yaitu jumlah dan jenis pakan yang diberikan serta cara pemeliharaannya.Itik Cihateup yang berasal dari daerah Tasikmalaya dan Garut memiliki umur pertama bertelur lebih cepat yang masing-masing dicapai pada 145,75 dan 139,94 hari memiliki produksi telur selama 7 minggu produksi sebesar 79,22% dan 86,70% (Suretno, 2006). Berbeda dengan itik Cihateup, hasil penelitian Purna(1999) menunjukkan bahwa rataan umur pertama bertelur itik Mojosari dan itik Tegal secara berturut-turut sebesar 206,02 hari dan 211,24 hari. 4 Susanti (2003) menemukan bahwa umur pertama bertelur itik Alabio dicapai pada 150,3 hari atau 21,5 minggu berbedaPrasetyo dan Susanti (2000) menyatakan bahwa umur pertama bertelur itik Alabio adalah 169,89 hari.Itik yang bertelur terlalu cepat, akan menghasilkan telur yang kecil-kecil dan masa produksi tidak lama. Oleh sebab itu, umur pertama bertelur harus dipertimbangkan sebagai kriteria seleksi disamping produksi telur, karena umur pertama bertelur akan mempengaruhi bobot telur, dan bobot DOD sertabobot badan, sehingga dikhawatirkan akan terjadi populasi itik yang memiliki bobot badan yang rendah di masa yang akan datang sebagai akibat seleksi yang kurang tepat (Susanti, 2003). Bobot Telur Pertama Konsekuensi umur pertama bertelur yang lebih cepat akan menyebabkan rendahnya bobot telur yang menyebabkan rendahnya bobot DOD (Susanti, 2003). Hal ini didukung oleh hasil penelitian Ketaren et al. (1999) dimana itik Alabio yang memiliki umur pertama bertelur relatif lebih cepat dengan rataan 122 hari memiliki rataan bobot telur itik pertama yang relatif kecil juga berkisar antara 42-48 g. Setelah itu, rataan bobot telur meningkat menjadi 58,5 g dan kemudian naik 71,1 g pada umur 280-301hari.Berbeda dengan Suretno (2006) yang mengamati umur pertama bertelur itik Cihateup yang lebih cepat yaitu 145,75 dan 139,94 hari namun memiliki bobot telur pertama yang lebih tinggi sebesar 51,75 dan 52,90 g. Prasetyo dan Susanti (2000) menyatakan bahwa bobot telur pertama pada itik AA; MM; AM dan MAmasing-masing sebesar 56,39; 53,69; 56,07 dan 56,66. Purna (1999) menyatakan bahwa bobot telur pertama itik Tegal sebesar 57,87g. Bobot Badan Pertama Bertelur Bobot itik pada saat pertama bertelur sangat berpengaruh terhadap berat telur pertama, dimana itik yang memiliki bobot badan yang ringan saat bertelur cenderung akan menghasilkan bobot telur pertama yang kecil, sebaliknya itik yang memiliki bobot badan yang berat saat bertelur cenderung akan menghasilkan bobot telur yang berat pula (Prasetyo dan Susanti, 2000). Berdasarkan hasil penelitian tersebut, bobot badan pertama saat bertelur pada itik AA; MM; AM dan MA masing-masing adalah 1906; 1616; 1741 dan 1803 g. Suretno (2006) menyatakan bobot badan pertama bertelur itik Cihateup yang berasal dari Tasikmalaya dan Garut masing-masing 5 sebesar 1503,17 dan 1531,97 g, sedangkan bobot badan pertama bertelur itik Tegal sebesar 1651,27 g (Purna, 1999). Itik Pekin Itik Pekin merupakan salah satu jenis itik pedaging unggul yang berasal dari China.Kokoszynski et al. (2007) menyatakan bahwa itik Pekin memiliki variasi yang cukup tinggi pada bobot telur fase awal produksi dengan rataan bobot telur sebesar 71,7 g dan bobot telurnya terus meningkat sampai fase akhir produksi dengan nilai sebesar 86,7 g.Produksi telur itik Pekin selama 3 bulan pada umur produksi 8 sampai 10 bulan pada tiga lokasi peternakan yang berbeda secara berturut-turut sebesar 57,31%; 56,84% dan 55,51% sehingga rataan produksi telur itik pekin pada penelitian Monica (2010) sebesar 56,55%. Gambar 2. Itik Pekin Kualitas Telur Menurut Prasetyo dan Susanti (2000), pada penelitiannya kualitas telur dapat diketahui dengan mengamati berat kuning telur, warna kuning telur, berat kerabang basah, berat kerabang kering, tebal kerabang, berat putih telur dan nilai HU. Hasil pada penelitian tersebut dapat dilihat pada Tabel 1. Hasil penelitian Zubaidah (2001) menyebutkan bahwa itik Alabio memiliki bobot kerabang sebesar 5,99 g dengan ketebalan kerabang 40,2 mm. Hasil lainnya menyebutkan nilai HU pada itik Alabio sebesar 86,06 dengan skor warna kuning telur 8,12. Itik Pekin menurut Kokoszynski et al. (2007) memiliki rataan bobot telur sebesar 80,7 g, rataan bobot putih telur sebesar 47,9 g, rataan bobot kuning telur 6 sebesar 24,9 g, rataan nilai HU sebesar 79,9 dan rataan warna kuning telur sebesar 3,5. Tabel 1. Parameter Kualitas TelurItik AA, MM, AM, MA, Bali Putih dan Bali Coklat Parameter Genotipa 1 AA 1 MM 1 AM 1 MA 2 Bali Putih 2 Bali Coklat Berat Kuning Telur (g) 15,97 16,65 14,74 16,58 16,76 17,94 Warna Kuning Telur 6,09 5,61 7,31 6,21 8,48 8,56 Berat Kerabang Basah (g) 7,04 6,52 6,63 7,01 6,38 6,69 Berat Kerabang Kering (g) 5,67 5,14 5,44 5,56 5,26 5,43 Tebal Kerabang (mm) 36,33 34,74 33,94 36,47 32,98 33,73 Berat Putih telur (g) 40,87 38,04 38,45 40,43 33,70 35,13 HU 120,6 115,3 116,5 116 102,84 101,80 Keterangan : AA: Alabio; MM: Mojosari; AM: Alabio x Mojosari; MA: Mojosari x Alabio. 1Hasil penelitian Prasetyo dan Susanti (2000).2Hasil penelitian Setioko et al. (2002). Indeks Telur Indeks telur yang mencerminkan bentuk telur sangat dipengaruhi oleh sifat genetik, bangsa, dan juga dapat disebabkan oleh proses-proses yang terjadi selama pembentukan telur, terutama pada saat telur melalui magnum dan isthmus(Dharma et al., 2002). Pengukuran indeks telur dilakukan dengan mengukur perbandingan lebar dan panjang telur. Romanoff dan Romanoff (1963) mengatakan bahwa nilai indeks yang normal adalah 79%, maka nilai indeks yang lebih kecil dari 79% akan memberikan penampilan telur yang lebih panjang dan nilai indeks lebih dari 79% penampilannya akan lebih bulat.Noyansa (2004) menyatakan bahwa indeks telur itik Alabio; Mojosari; Alabio x Mojosari dan Mojosari x Alabio masing-masing sebesar 78,78%; 81,36%; 81,81% dan 77,30%. Indeks telur itik Cihateup memiliki rataan sebesar 80,18% dan 81,37% (Suretno, 2006).Indeks telur itik Pekin pada fase awal; pertengahan dan akhir produksi masing-masing memiliki rataan sebesar 72,8%; 74,5% dan 75% (Kokoszynski et al., 2007). Resiprokal Persilangan yang mungkin dilakukan pada dua bangsa unggas menurut Noor (2001) adalah persilangan resiprokal, backcross, sintetik optimum atau sintetik seimbang. Persilangan resiprokal adalah persilangan antara dua induk, dimana kedua induk berperan sebagai pejantan dalam suatu persilangan, dan sebagai betina dalam 7 persilangan yang lain. Seleksi berulang resiprokal memperbaiki kemampuan berkombinasi spesifik maupun umum. Caranya adalah dengan melakukan seleksi terhadap dua populasi dalam waktu yang bersamaan. Pada perkawinan pertama induk pertama difungsikan sebagai induk betina, adapun induk kedua, berfungsi sebagai induk jantan. Sebaliknya pada perkawinan ke dua, induk pertama sebagai induk jantan dan induk kedua sebagai induk betina(A ♀ x B ♂ ; B ♀ x A ♂). 8 MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Pengamatan sifat produksi dan kualitas telur dilakukan di kandang percobaan itik Balai Penelitian Ternak Ciawi, Bogor. Penelitian dilakukan selama 11 bulan mulai pada Desember 2010 sampai dengan November 2011. Materi Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah itik betina PA (pejantan Pekin-betina Alabio) 90 ekor dan itik betina AP (pejantan Alabio-betina Pekin) 90 ekor yang merupakan hasil dari persilangan resiprokal antara itik Alabio (Anas Platyrhynchos Borneo) dengan itik Pekin (Anas Platyrhynchos domesticus) di Balai Penelitian Ternak Ciawi, Bogor. Pakan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sesuai standar yang biasa diberikan di Balai Penelitian Ternak Ciawi, yaitu konsentrat itik 25% dan campuran dedak dengan katul 75% dimana kadar Protein Kasar yang dihasilkan sekitar 18%.Selain itu, jumlah pakan yang diberikan untuk kedua jenis itik sama yaitu sekitar 250 g/ekor/hari.Air minum diberikan ad libitum. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kandang individu (cages) yang telah diberikan nomor sebanyak 180 unit beserta tempat pakan, minum dan pengkoleksian telur, gelas pakan, egg tray, timbangan Mettler P1210, cawan kaca, Haugh Units (HU) meter, Yolk Colour Fan, jangka sorong, mikrometer serta alat tulis dan catatan. Prosedur Populasi dasar (P0) yang digunakan dalam penelitian ini yaitu itik Alabio (Anas Platyrhynchos Borneo) dan itik Pekin(Anas Platyrhynchos domesticus) dengan umur sekitar 4 bulan (menjelang bertelur) yang sudah dikoleksi di Balai Penelitian Ternak sejak tahun 2010. Itik Alabio yang digunakan sebanyak 25 ekor (5 ekor jantan dan 20 ekor betina), sedangkan itik Pekin yang digunakan sebanyak 23 ekor terdiri atas 5 ekor jantan dan 18 ekor betina. Persilangan kedua jenis itik tersebut dilakukan secara resiprokal, sehingga didapatkan keturunan berupa 90 ekor itik betina PA dan 90 ekor itik betina AP. 9 P0 F1 Pekin Jantan X Alabio Betina Alabio Jantan PA Betina PA Jantan X Pekin Betina AP Betina AP Jantan Gambar3. Skema persilangan resiprokal itik Alabio dan itik Pekin Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah umur pertama bertelur, bobot badan pertama bertelur, bobot telur pertama dan peubah lainnya yang juga diamati adalah kualitas telur. Pengamatan sifat produksi yang diamati meliputi: 1. Umur pertama bertelur:diketahui dengan menghitung dari tanggal DOD menetas sampai dengan tanggal pertama kali bertelur. 2. Bobot badan pertama bertelur:diperoleh melalui penimbangan pada hari saat individu itik pertama kali bertelur. 3. Bobot telur pertama:diukur dengan menimbang telur yang pertama kali dihasilkan oleh masing-masing individu itik. 4. Produksi telur 3 bulan: diperoleh melalui pengoleksian telur selama 3 bulan (umur 8 bulan sampai 10 bulan produksi) dari masing-masing genotipayang memiliki umur pertama bertelur dengan selang 164-172 hari. 5. Kualitas Telur: dilakukan dengan mengamati 10 sampai 20 butir telur yang meliputi: a) Indeks Telur: pengukuran meliputi panjang dan lebar telur. Telur yang akan diamati sebelumnya dilakukan proses pembersihan. Panjang dan lebar telur diukur dengan menggunakan jangka sorong. b) Bobot Telur: diukur dengan menggunakan timbangan Mettler P1210. Pengukuran bobot telur dilakukan bertujuan untuk dapat menghitung nilai Haugh Unit telur. c) Haugh Unit:dilakukan dengan menggunakan HU meter. Pengukuran dilakukan pada ketinggian putih telur yang dihubungkan terhadap bobot telur. d) Warna Kuning Telur: dilakukan dengan menyesuaikan warna kuning telur dengan menggunakan Yolk Colour Fan. 10 e) Bobot Putih dan Kuning Telur: dilakukan dengan menggunakan timbangan ukur yang telah dilapisi cawan kaca sebagai wadah putih atau kuning telur. f) Kerabang: meliputi bobot kerabang basah dan bobot kerabang kering yang dilakukan dengan menimbang kerabang. Selain itu, pengukuran pada kerabang juga dilakukan dengan mengukur ketebalan dari kerabang kering yang telah dibersihkan dari selaput putih telurnya dengan menggunakan mikrometer. Rancangan dan Analisis Data Rancangan statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua taraf perlakuan berupa genotipa hasil persilangan itik Alabio dan Pekin,yaitu AP dan PA. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis of variance (ANOVA).Menurut Mattjik dan Sumertajaya (2006), model statistik yang digunakan adalah sebagai berikut: Yij = µ + Gi+ εij Keterangan: Yij=rataan sifat produksi pada taraf perlakuan ke-i dan ulangan ke-jµ =rataan umum Gi = pengaruh genotipa ke-i εij=pengaruh acak dari pengamatan setiap telur Pengujian parameter indeks telur dilakukan dengan menggunakan ttest.Irianto (2008) menerangkan bahwa rumus t-test yang digunakan adalah sebagai berikut: μ Keterangan μ : = rataan sampel a = rataan sampel b μ = rataan populasi a μ = rataan populasi b sba = simpangan baku a sbb = simpangan baku b n = jumlah sampel 11 HASIL DAN PEMBAHASAN Produksi Itik Kestabilan sifat produksi dari itik Alabio dapat diketahui dengan melakukan persilangan resiprokal antara itik Alabio dengan itik Pekin dimana induk itik Alabio pada satu persilangan bertindak sebagai pejantan dan pada persilangan lain bertindak sebagai induk. Persilangan resiprokal tersebut menghasilkan itik PA (pejantan Pekin dengan betina Alabio) dan itik AP (pejantan Alabio dengan betina Pekin). Itik PA dan itik AP dari hasil persilangan tersebut kemudian dilakukan pemeliharaan dan diberikan pakan yang sama untuk mendapatkan sifat produksi dan kualitas telur yang dihasilkan. Sifat produksi dari itik PA dan itik AP akan memberikan nilai yang dapat menggambarkan tentang kestabilan sifat produksi dari itik Alabio tersebut. Hasil penelitian pada sifat-sifat produksi telur itik PA dan AP yaitu umur pertama bertelur, bobot telur pertama, bobot badan pertama bertelur dan produksi telur tercantum pada Tabel 2. Tabel 2. Sifat Produksi Itik PA dan AP PA AP x ± s.e x ± s.e Umur Pertama Bertelur (hari) 168,95 ± 3,42 172,82 ± 3,44 Bobot Telur Pertama (g) 62,12 ± 0,80 62,15 ± 0,98 Bobot Badan Pertama Bertelur (g) 2445,7 ± 26,2 2430 ± 34,3 84,7 ± 1,49 78,1 ± 4,52 Parameter Produksi Telur 3 Bulan (%) Keterangan:Nilai tanpa superskrips pada baris yang sama menunjukkan nilai tidak berbeda nyata (P>0,05). PA = pejantan Pekin-betina Alabio, AP = pejantan Alabio-betina Pekin Hasil analisis statistik memperlihatkan bahwa umur pertama bertelur itik PA dan AP tidak berbeda nyata (P>0,05), demikian pula dengan bobot telur pertama, bobot badan pada saat bertelur pertama dan produksi telur selama 3 bulan. Hal ini menunjukkan bahwa itik Alabio baik sebagai pejantan maupun betina menghasilkan keturunan yang memiliki sifat produksi yang tidak berbeda, dalam arti lain itik Alabio memiliki sifat produksi yang stabil. Secara umum, sifat produksi itik PA dan AP cenderung mirip dengan galur murninya yaitu itik Alabio jika dibandingkan dengan hasil penelitian Prasetyo dan 12 Susanti (2000) yang menyatakan bahwa umur pertama bertelur itik Alabio adalah 169.89 hari. Susanti (2003) menyatakan bahwa umur pertama bertelur dapat mempengaruhi produktivitas itik. Konsekuensi umur pertama bertelur yang relatif cepat akan menyebabkan rendahnya bobot telur yang akan menyebabkan rendahnya bobot DOD. Oleh sebab itu, umur pertama bertelurjuga harus dipertimbangkan sebagai kriteria seleksi disamping sifat produksi lainnya. Rataan bobot telur pertama itik PA dan AP yang diperoleh pada penelitian ini masing-masing sebesar 62,12 g dan 62,15 g. Hasil tersebut sedikit lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil penelitian Prasetyo dan Susanti (2000) yang menyatakan rataan bobot telur pertama hasil persilangan resiprokal itik Alabio dan Mojosari masing-masing sebesar 56,66 g dan 56,07 g. Perbedaan hasil tersebut diduga dipengaruhi oleh faktor genetik dimana itik Pekin memiliki performa tubuh yang lebih besar sehingga berpengaruh terhadap bentuk dan bobot telurnya. Hal tersebut juga terjadi pada parameter bobot badan saat pertama bertelur dimana diduga terdapat pengaruh genetik antara itik PA dan AP yang masing masing memiliki bobot sebesar 2445,7 g dan 2430 g dengan hasil penelitian Prasetyo dan Susanti (2000) yang menyatakan bahwa bobot badan itik MA dan AM saat pertama bertelur masing-masing sebesar 1803 g dan 1741 g. Produksi telur merupakan hal yang sangat penting dalam pemeliharaan itik karena merupakan salah satu kriteria seleksi yang umum dipertimbangkan oleh para peternak.Berdasarkan hasil analisis statistik dengan keragaman yang tidak homogen diketahui bahwa produksi telur itik PA dan AP selama 3 bulan pada umur 7 bulan produksi tidak berbeda nyata dengan nilai sebesar 84,7% dan 78,1%. Hasil tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan produksi itik MA dan MM pada penelitian Prasetyo et al. (2003) dimana produksi itik MA dan MM selama 3 bulan pada umur 7 bulan produksi masing-masing sebesar 79,4% dan 52,47%. Produksi telur pada penelitian ini juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan produksi telur itik Pekin pada penelitian Monica (2010) dimana rataan produksi telur itik Pekin selama 3 bulan pada umur 8 sampai 10 bulan produksi mencapai 56,55%. Hal ini disebabkan karena performans atau penampilan individu ditentukan oleh dua faktor, yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik ditentukan oleh susunan gen dan kromosom yang dimiliki suatu individu dan bersifat baka selama tidak terjadi mutasi 13 dari gen yang menyusunnya,sedangkan faktor lingkungan tidak selalu berubah dan tidak dapat diwariskan kepada anak keturunannya (Hardjosubroto, 1994). Oleh karena itu perbaikan mutu genetik, pakan dan tata laksana pemeliharaan akan meningkatkan produktivitas itik tersebut. Kualitas Telur Pengukuran kualitas telur dalam penelitian ini dilakukan pada bobot telur, kuning telur, putih telur, kerabang basah dan kering, serta nilai HU, warna kuning telur dan tebal kerabang. Pengamatan dilakukan pada telur pertama, 1 bulan dan 2 bulan. Hasil pengamatan kualitas telur pertama itik PA dan AP dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Kualitas Telur PA dan AP pada Telur Pertama Telur Pertama Parameter Bobot Telur (g) PA x ± s.e 62,64±0,80 AP x ± s.e 62,74±1,00 Bobot Kuning Telur (g) 17,07±0,39 17,94±0,41 Bobot Putih Telur (g) 39,29±0,44 38,44±0,54 Bobot Kerabang Basah (g) 7,53a±0,08 7,87b±0,10 Bobot Kerabang Kering (g) 6,27a±0,07 6,57b±0,09 108,23a ±0,32 106,51b±0,34 Warna Kuning Telur 10,92±0,10 10,70±0,14 Tebal Kerabang (mm) 39,16±0,37 38,85±0,30 Indeks Telur (%) 74,7a ±2,87 72,84b±3,06 H.U. Keterangan: Superskrip dengan huruf kecil yang berbeda pada satu baris yangsama menunjukkan berbeda nyata (P0,05). Hasil pengamatan kualitas telur secara umum juga menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05) hanya pada beberapa peubah yang memiliki nilai berbeda nyata (P0,05).Different genotypes did not affect egg quality (P>0,05) in almost all parameters. Based on the observed of egg production and quality, itcan be conducted that the stability of egg production of Alabio duck was high enough to produce crossedducks that had height body and egg production. Keywords: Alabio, reciprocal, egg production, egg quality iii PERFORMA SIFAT PRODUKSI DAN KUALITAS TELUR HASIL PERSILANGAN RESIPROKAL ANTARA ITIK ALABIO DENGAN ITIK PEKIN ACHDYAWAN WENDA KEYNESANDY D14080311 Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 iv Judul : Performa Sifat Produksi dan Kualitas Telur Hasil Persilangan Resiprokal antara Itik Alabio dengan Itik Pekin Nama : Achdyawan Wenda Keynesandy NIM : D114080311 Menyetujui, Pembimbing Utama, Pembimbing Anggota, (Prof. Dr. Ir. Ronny R. Noor, M.Rur.Sc) NIP. 19610210 198603 1 003 (Dr. Ir. L. Hardi Prasetyo, M.Agr) NIP. 19510917 197901 1 001 Mengetahui: Ketua Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (Prof. Dr. Ir. Cece Sumantri, M. Agr.Sc) NIP. 19591212 198603 1 004 Tanggal Ujian : 25 Mei 2012 Tanggal Lulus : v RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan pada tanggal 27 Mei 1990 di Balikpapan, Kalimantan Timur.Penulis adalah anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Drs. Wiek Suripto dan Ibu Dra.Henny Widiastuti. Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar pada tahun 2002 di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 011 pagi Palmerah, Jakarta.Sekolah Menengah Pertama diselesaikan pada tahun 2005 di SLTP Negeri 88 Slipi, Jakarta dan Sekolah Menengah Umum diselesaikan pada tahun 2008 di SMU Negeri 23 Jakarta. Penulis diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) pada tahun 2008 dan terdaftar sebagai mahasiswa Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Selama mengikuti pendidikan, penulis aktif dalam organisasi kemahasiswaan sebagai anggota Badan Eksekutif Mahasiswa pada Departemen Sosial Kemasyarakatan selama periode 2009-2010. Selain itu penulis juga aktif dalam kegiatan kepanitian diantaranya Bina Desa ‘Neglasari’ BEM-D sebagai Koordinator Lapangan, Dekan Cup BEM-D sebagai Ketua Divisi Basket, Fapet Show Time BEM-D sebagai Ketua Divisi Fapet In Action serta anggota tim Basket Fakultas Peternakan pada Olimpiade Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (OMI) periode 2010-2011.   vi KATA PENGANTAR Bismillahirohmannirrohim, Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat-Nya sehingga penulis mendapatkan kelancaran dalam penelitian dan penulisan skripsi yang berjudul “Performa Sifat Produksi dan Kualitas Telur Hasil Persilangan Resiprokal antara Itik Alabio dengan Itik Pekin” dalam rangka penyelesaian studi di Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Isntitut Pertanian Bogor. Shalawat serta salam tidak lupa penulis haturkan kepada junjungan besar Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabat serta orang-orang yang senantiasa lurus di jalan-Nya. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Desember 2010 sampai dengan November 2011 di Kandang Percobaan Itik Balai Penelitian Ternak Ciawi, Bogor.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kestabilan sifat produksi dan kualitas telur hasil persilangan resiprokal antara itik Alabio dengan itik Pekin.Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk membandingkan sifat produksi itik hasil persilangan tersebut sehingga diharapkan hasilnya dapat dijadikan acuan dalam sistem pemuliabiakan itik Alabio. Penulis berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan semangat, membantu dan mengizinkan untuk mempergunakan materi-materi yang digunakan selama penelitian dan penulisan skripsi ini.Penulis juga menyadari dalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan didalamnya.Oleh karena itu, saran dan kritik yang konstruktif sangat diharapkan penulis untuk perbaikan di masa mendatang. Bogor, Juni 2012 Penulis vii DAFTAR ISI Halaman RINGKASAN .................................................................................................... ii ABSTRACT....................................................................................................... iii LEMBAR PERNYATAAN ............................................................................... iv LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................... v RIWAYAT HIDUP ........................................................................................... vi KATA PENGANTAR ....................................................................................... vii DAFTAR ISI………………………………………………………………… viii DAFTAR TABEL…………………………………………………………… x DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xi DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................... xii PENDAHULUAN ............................................................................................. 1 Latar Belakang ....................................................................................... Tujuan .................................................................................................... 1 2 TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................... 3 Itik Alabio .............................................................................................. Produksi Telur............................................................................ Umur Pertama Bertelur .............................................................. Bobot Telur Pertama .................................................................. Bobot Badan Bertelur Pertama .................................................. Itik Pekin ................................................................................................ Kualitas Telur ........................................................................................ Indeks Telur ........................................................................................... Resiprokal .............................................................................................. 3 3 4 5 5 6 6 7 8 MATERI DAN METODE ................................................................................. 9 Lokasi dan Waktu .................................................................................. Materi ..................................................................................................... Prosedur ................................................................................................. Rancangan dan Analisis Data ............................................................................ 9 9 10 11 HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................................... 12 Produksi Telur........................................................................................ 12 Kualitas Telur ........................................................................................ 14 KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................................... 19 Kesimpulan ............................................................................................ 19 Saran ...................................................................................................... 19 UCAPAN TERIMA KASIH ............................................................................. 20 viii DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 21 LAMPIRAN....................................................................................................... 23 ix DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1. Parameter Kualitas Telur Itik AA, MM, AM, MA, Bali Putih dan Bali Coklat ............................................................................................. 7 2. Sifat Produksi Itik PA dan AP ...................................................................... 12 3. Kualitas Telur PA dan AP pada Telur Pertama .................................................. 14 4. Kualitas Telur PA dan AP pada Telur 1 Bulan .............................................. 16 5. Kualitas Telur PA dan AP pada Telur 2 Bulan ...................................................... 17                                         x DAFTAR GAMBAR Nomor Halaman 1. Itik Alabio ............................................................................................... 3 2. Itik Pekin ................................................................................................... 6 3. Skema Persilangan Resiprokal Itik Alabio dan Itik Pekin ...................... 9   xi DAFTAR LAMPIRAN Nomor Halaman 1. Hasil ANOVA Bobot Badan Pertama Bertelur ...................................... 24 2. Hasil ANOVA Umur Pertama Bertelur ........................................................ 24 3. Hasil ANOVA Bobot Telur Pertama ............................................................ 24 4. Hasil ANOVA Produksi Telur 3 Bulan ........................................................ 24 5. Hasil ANOVA Bobot Telur Pertama ............................................................ 24 6. Hasil ANOVA Bobot Telur 1 Bulan............................................................. 24 7. Hasil ANOVA Bobot Telur 2 Bulan ........................................................... 24 8. Hasil ANOVA Bobot Kuning Telur Pertama ............................................... 25 9. Hasil ANOVA Bobot Kuning Telur 1 Bulan................................................ 25 10. Hasil ANOVA Bobot Kuning Telur 2 Bulan.............................................. 25 11. Hasil ANOVA Bobot Putih Telur Pertama ............................................... 25 12. Hasil ANOVA Bobot Putih Telur 1 Bulan ............................................... 25 13. Hasil ANOVA Bobot Putih Telur 2 Bulan ................................................. 25 14. Hasil ANOVA Bobot Kerabang Basah Pertama ........................................ 25 15. Hasil ANOVA Bobot Kerabang Basah 1 Bulan ....................................... 26 16. Hasil ANOVA Bobot Kerabang Basah 2 Bulan ......................................... 26 17. Hasil ANOVA Bobot Kerabang Kering Pertama ...................................... 26 18. Hasil ANOVA Bobot Kerabang Kering 1 Bulan ...................................... 26 19. Hasil ANOVA Bobot Kerabang Kering 2 Bulan........................................ 26 20. Hasil ANOVA Nilai HU Pertama ............................................................. 26 21. Hasil ANOVA Nilai HU 1 Bulan ............................................................. 26 22. Hasil ANOVA Nilai HU 2 Bulan ............................................................... 27 23. Hasil ANOVA Warna Kuning Telur Pertama .......................................... 27 24. Hasil ANOVA Warna Kuning Telur 1 Bulan ........................................... 27 25. Hasil ANOVA Warna Kuning Telur 2 Bulan ........................................... 27 26. Hasil ANOVA Tebal Kerabang Pertama .................................................. 27 27. Hasil ANOVA Tebal Kerabang 1 Bulan .................................................... 27 28. Hasil ANOVA Tebal Kerabang 2 Bulan .................................................. 27 29. Hasil Uji T-Test Indeks Telur Pertama ..................................................... 28 30. Hasil Uji T-Test Indeks Telur 1 Bulan ..................................................... 28 xii 31. Hasil Uji T-Test Indeks Telur 2 Bulan ..................................................... 32. Peralatan dalam Penelitian: (a). Timbangan Mettler P1210, (b). Alat Uji Kualitas, (c)Haugh Units (HU) meter, (d). Jangka Sorong, (e). Mikrometer, (f).Serok, (g).Yolk Colour,(h). Cawan Kaca, (i). Koleksi Telur …………………………………………………….. 28 28 xiii PENDAHULUAN Latar Belakang Itik merupakan jenis ternak yang dapat menghasilkan daging dan telur. Populasi itik di Indonesia pada tahun 2009 telah mencapai 40.680.000 ekor atau meningkat sebesar 2,1% dibandingkan dengan tahun 2008. Berdasarkan jumlah tersebut komoditas itik mampu memberikan kontribusi terhadap produksi daging nasional lebih dari 258.000 ton dan telur 2.364.000 ton (Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2011). Seiring dengan meningkatnya produksi itik secara nasional, kebutuhan nasional akan produk itik berupa telur dan daging juga meningkat melebihi tingkat produksinya. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan mengembangkan dan memanfaatkan potensi sumber daya ternak lokal yang terdapat di Indonesia salah satunya adalah jenis itik yang berasal dari Provinsi Kalimantan Selatan, khususnya Kabupaten Hulu Sungai Utara yaitu itik Alabio. Itik Alabio telah cukup dikenal sebagai itik petelur yang sangat potensial dengan produksi telur yang tinggi dan penampilan fisik yang sangat berbeda dengan jenis unggas atau itik lain yang ada di pulau Jawa dan merupakan plasma nuftah ternak yang layak dibanggakan. Dewasa ini itik Alabio telah menyebar ke beberapa daerah di Indonesia, terutama di pulau Jawa. Sejalan dengan perkembangannya, itik Alabio ternyata masih banyak dibudidayakan secara tradisional oleh para peternak yang memungkinkan terjadinya perkawinan yang tidak diharapkan seperti perkawinan antara itik Alabio dengan itik tipe petelur lainnya bahkan mungkin dapat terjadi perkawinan antara itik Alabio dengan itik tipe pedaging seperti itik Pekin. Itik Pekin yang terdapat di Indonesia saat ini berasal dari daratan China dan ternyata memiliki kemampuan yang cukup baik untuk beradaptasi, sehingga populasinya semakin banyak. Karakteristik itik Pekin lebih umum dikenal sebagai jenis itik pedaging karena postur dan bobot badannya yang besar. Persilangan tak terstruktur antara itik Alabio dan itik Pekin tersebut memungkinkan dapat menyebabkan perubahan mutu genetik dari itik Alabio itu sendiri. Oleh karena itu, perlu adanya pengamatan terhadap kestabilan sifat produksi dan kualitas telur pada itik Alabio yang disilangkan secara resiprokal dengan itik Pekin, sehingga dapat diketahui seberapa kuat sifat produksi dari itik Alabio yang diwariskan. Beberapa sifat produksi yang 1 diamati dalam penelitian ini adalah produksi telur, umur pertama bertelur, bobot pertama bertelur, dan kualitas telur yang dihasilkannya. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk dapat mengevaluasi kestabilan sifat produksi dan kualitas telur hasil persilangan resiprokal antara itik Alabio dan itik Pekin. Penelitian ini juga bertujuan untuk membandingkan sifat produksi itik hasil persilangan resiprokal.       2 TINJAUAN PUSTAKA Itik Alabio Itik alabio merupakan salah satu plasma nutfah unggas lokal yang mempunyai keunggulan sebagai penghasil telur. Itik ini telah lama dipelihara dan berkembang di Kalimantan Selatan, terutama di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Tengah (HST), dan Hulu Sungai Utara (HSU).Itik Alabio memiliki ciri warna bulu coklat dengan bintik-bintik putih di seluruh badan dengan garis putih di sekitar mata. Pada itik jantan, warna bulu cenderung gelap, sayapnya terdapat beberapa helai bulu suri berwarna hijau kebiruan mengkilap, warna paruh dan kaki kuning terang. Berat badan bobot badan itik betina umur 6 bulan 1,60 kg dan jantan 1,75 kg dan produksi telur rata-rata 220-250 butir/ekor/tahun (Haqiqi, 2008). Gambar 1. Itik Alabio Sulaiman dan Rahmatullah (2011) mengatakan bahwa itik Alabio memiliki karakteristik eksterior dari segi posisi tubuhitik Alabio(sudutelevasi)pada 0 saatpenelitiandidapatkanbesarsudutyang sama yaitu 60 , sedangkanbentuktubuhdari hasilpengamatandi lapangan itikAlabio lebihmiripmenyerupai bentukbotol pada saat dilihatdari atas kepala padasaatdiammemilikibentuksegitiga sampai dilihat kaki saat dari tegak,sedangkan sampingdan pada saatitiktersebutdiam.Warnabulu itik Alabiosecara umumnyaberwarnabulu coklatagak kelabudan seluruhbulunyaterdapat warna bercak-bercak(fleck)hitam.Itik Alabio memiliki variasi warna paruh yaitu warna kuning hingga jingga dan memiliki warna pada kaki (shank) yang juga bervariasi dari warna kuning muda hingga jingga. 3 Produksi Telur Produktivitas itik ditentukan oleh dua faktor utama, yaitu genetik dan lingkungan (Ketaren et al., 1999). Faktor genetik ditentukan oleh susunan gen dan kromosom yang dimiliki suatu individu dan bersifat baka selama tidak terjadi mutasi dari gen yang menyusunnya, sedangkan faktor lingkungan tidak selalu berubah dan tidak dapat diwariskan kepada anak keturunannya (Hardjosubroto, 1994). Oleh karena itu, perbaikan mutu bibit, pakan dan tata laksana pemeliharaan akan meningkatkan produktivitas itik tersebut. Purbaet al. (2001) mengemukakan bahwa rata-rata produksi telur itik Alabio pada sistem kandang battery lebih tinggi dan lebih stabil bila dibandingkan dengan sistem kandang litter.Prasetyo et al. (2003) menyatakan bahwa produksi itik MA (Mojosari-Alabio) dan MM (MojosariMojosari) selama 3 bulan pada umur 7 bulan produksi masing-masing sebesar 79,4% dan 52,47%. Umur Pertama Bertelur Menurut Ketaren et al. (1999) umur bertelur pertama tidak mencerminkan tingkat produktivitas telur itik. Hal ini terbukti bahwa dari hasil penelitiannya menunjukkan itik yang paling terakhir mulai bertelur (umur 130 hari) memiliki kemampuan produksinya lebih tinggi dari itik yang lebih dahulu bertelur. Pada hasil penelitiannya umur pertama bertelur itik Alabio dicapai pada umur 130; 116 dan 121hari dengan rataannya 122hari. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian Prasetyo dan Susanti (2000) dimana hasil tersebut menyatakan bahwa itik yang memiliki umur bertelur lebih cepat dapat menghasilkan produksi telur yang lebih banyak. Hal ini sesuai dengan hasil penelitiannya dimana itik MA memiliki umur bertelur pertama paling cepat (153 hari) dan produksi telurnya lebih banyak dibandingkan dengan itik AA; MM dan AM. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh faktor lingkungan yaitu jumlah dan jenis pakan yang diberikan serta cara pemeliharaannya.Itik Cihateup yang berasal dari daerah Tasikmalaya dan Garut memiliki umur pertama bertelur lebih cepat yang masing-masing dicapai pada 145,75 dan 139,94 hari memiliki produksi telur selama 7 minggu produksi sebesar 79,22% dan 86,70% (Suretno, 2006). Berbeda dengan itik Cihateup, hasil penelitian Purna(1999) menunjukkan bahwa rataan umur pertama bertelur itik Mojosari dan itik Tegal secara berturut-turut sebesar 206,02 hari dan 211,24 hari. 4 Susanti (2003) menemukan bahwa umur pertama bertelur itik Alabio dicapai pada 150,3 hari atau 21,5 minggu berbedaPrasetyo dan Susanti (2000) menyatakan bahwa umur pertama bertelur itik Alabio adalah 169,89 hari.Itik yang bertelur terlalu cepat, akan menghasilkan telur yang kecil-kecil dan masa produksi tidak lama. Oleh sebab itu, umur pertama bertelur harus dipertimbangkan sebagai kriteria seleksi disamping produksi telur, karena umur pertama bertelur akan mempengaruhi bobot telur, dan bobot DOD sertabobot badan, sehingga dikhawatirkan akan terjadi populasi itik yang memiliki bobot badan yang rendah di masa yang akan datang sebagai akibat seleksi yang kurang tepat (Susanti, 2003). Bobot Telur Pertama Konsekuensi umur pertama bertelur yang lebih cepat akan menyebabkan rendahnya bobot telur yang menyebabkan rendahnya bobot DOD (Susanti, 2003). Hal ini didukung oleh hasil penelitian Ketaren et al. (1999) dimana itik Alabio yang memiliki umur pertama bertelur relatif lebih cepat dengan rataan 122 hari memiliki rataan bobot telur itik pertama yang relatif kecil juga berkisar antara 42-48 g. Setelah itu, rataan bobot telur meningkat menjadi 58,5 g dan kemudian naik 71,1 g pada umur 280-301hari.Berbeda dengan Suretno (2006) yang mengamati umur pertama bertelur itik Cihateup yang lebih cepat yaitu 145,75 dan 139,94 hari namun memiliki bobot telur pertama yang lebih tinggi sebesar 51,75 dan 52,90 g. Prasetyo dan Susanti (2000) menyatakan bahwa bobot telur pertama pada itik AA; MM; AM dan MAmasing-masing sebesar 56,39; 53,69; 56,07 dan 56,66. Purna (1999) menyatakan bahwa bobot telur pertama itik Tegal sebesar 57,87g. Bobot Badan Pertama Bertelur Bobot itik pada saat pertama bertelur sangat berpengaruh terhadap berat telur pertama, dimana itik yang memiliki bobot badan yang ringan saat bertelur cenderung akan menghasilkan bobot telur pertama yang kecil, sebaliknya itik yang memiliki bobot badan yang berat saat bertelur cenderung akan menghasilkan bobot telur yang berat pula (Prasetyo dan Susanti, 2000). Berdasarkan hasil penelitian tersebut, bobot badan pertama saat bertelur pada itik AA; MM; AM dan MA masing-masing adalah 1906; 1616; 1741 dan 1803 g. Suretno (2006) menyatakan bobot badan pertama bertelur itik Cihateup yang berasal dari Tasikmalaya dan Garut masing-masing 5 sebesar 1503,17 dan 1531,97 g, sedangkan bobot badan pertama bertelur itik Tegal sebesar 1651,27 g (Purna, 1999). Itik Pekin Itik Pekin merupakan salah satu jenis itik pedaging unggul yang berasal dari China.Kokoszynski et al. (2007) menyatakan bahwa itik Pekin memiliki variasi yang cukup tinggi pada bobot telur fase awal produksi dengan rataan bobot telur sebesar 71,7 g dan bobot telurnya terus meningkat sampai fase akhir produksi dengan nilai sebesar 86,7 g.Produksi telur itik Pekin selama 3 bulan pada umur produksi 8 sampai 10 bulan pada tiga lokasi peternakan yang berbeda secara berturut-turut sebesar 57,31%; 56,84% dan 55,51% sehingga rataan produksi telur itik pekin pada penelitian Monica (2010) sebesar 56,55%. Gambar 2. Itik Pekin Kualitas Telur Menurut Prasetyo dan Susanti (2000), pada penelitiannya kualitas telur dapat diketahui dengan mengamati berat kuning telur, warna kuning telur, berat kerabang basah, berat kerabang kering, tebal kerabang, berat putih telur dan nilai HU. Hasil pada penelitian tersebut dapat dilihat pada Tabel 1. Hasil penelitian Zubaidah (2001) menyebutkan bahwa itik Alabio memiliki bobot kerabang sebesar 5,99 g dengan ketebalan kerabang 40,2 mm. Hasil lainnya menyebutkan nilai HU pada itik Alabio sebesar 86,06 dengan skor warna kuning telur 8,12. Itik Pekin menurut Kokoszynski et al. (2007) memiliki rataan bobot telur sebesar 80,7 g, rataan bobot putih telur sebesar 47,9 g, rataan bobot kuning telur 6 sebesar 24,9 g, rataan nilai HU sebesar 79,9 dan rataan warna kuning telur sebesar 3,5. Tabel 1. Parameter Kualitas TelurItik AA, MM, AM, MA, Bali Putih dan Bali Coklat Parameter Genotipa 1 AA 1 MM 1 AM 1 MA 2 Bali Putih 2 Bali Coklat Berat Kuning Telur (g) 15,97 16,65 14,74 16,58 16,76 17,94 Warna Kuning Telur 6,09 5,61 7,31 6,21 8,48 8,56 Berat Kerabang Basah (g) 7,04 6,52 6,63 7,01 6,38 6,69 Berat Kerabang Kering (g) 5,67 5,14 5,44 5,56 5,26 5,43 Tebal Kerabang (mm) 36,33 34,74 33,94 36,47 32,98 33,73 Berat Putih telur (g) 40,87 38,04 38,45 40,43 33,70 35,13 HU 120,6 115,3 116,5 116 102,84 101,80 Keterangan : AA: Alabio; MM: Mojosari; AM: Alabio x Mojosari; MA: Mojosari x Alabio. 1Hasil penelitian Prasetyo dan Susanti (2000).2Hasil penelitian Setioko et al. (2002). Indeks Telur Indeks telur yang mencerminkan bentuk telur sangat dipengaruhi oleh sifat genetik, bangsa, dan juga dapat disebabkan oleh proses-proses yang terjadi selama pembentukan telur, terutama pada saat telur melalui magnum dan isthmus(Dharma et al., 2002). Pengukuran indeks telur dilakukan dengan mengukur perbandingan lebar dan panjang telur. Romanoff dan Romanoff (1963) mengatakan bahwa nilai indeks yang normal adalah 79%, maka nilai indeks yang lebih kecil dari 79% akan memberikan penampilan telur yang lebih panjang dan nilai indeks lebih dari 79% penampilannya akan lebih bulat.Noyansa (2004) menyatakan bahwa indeks telur itik Alabio; Mojosari; Alabio x Mojosari dan Mojosari x Alabio masing-masing sebesar 78,78%; 81,36%; 81,81% dan 77,30%. Indeks telur itik Cihateup memiliki rataan sebesar 80,18% dan 81,37% (Suretno, 2006).Indeks telur itik Pekin pada fase awal; pertengahan dan akhir produksi masing-masing memiliki rataan sebesar 72,8%; 74,5% dan 75% (Kokoszynski et al., 2007). Resiprokal Persilangan yang mungkin dilakukan pada dua bangsa unggas menurut Noor (2001) adalah persilangan resiprokal, backcross, sintetik optimum atau sintetik seimbang. Persilangan resiprokal adalah persilangan antara dua induk, dimana kedua induk berperan sebagai pejantan dalam suatu persilangan, dan sebagai betina dalam 7 persilangan yang lain. Seleksi berulang resiprokal memperbaiki kemampuan berkombinasi spesifik maupun umum. Caranya adalah dengan melakukan seleksi terhadap dua populasi dalam waktu yang bersamaan. Pada perkawinan pertama induk pertama difungsikan sebagai induk betina, adapun induk kedua, berfungsi sebagai induk jantan. Sebaliknya pada perkawinan ke dua, induk pertama sebagai induk jantan dan induk kedua sebagai induk betina(A ♀ x B ♂ ; B ♀ x A ♂). 8 MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Pengamatan sifat produksi dan kualitas telur dilakukan di kandang percobaan itik Balai Penelitian Ternak Ciawi, Bogor. Penelitian dilakukan selama 11 bulan mulai pada Desember 2010 sampai dengan November 2011. Materi Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah itik betina PA (pejantan Pekin-betina Alabio) 90 ekor dan itik betina AP (pejantan Alabio-betina Pekin) 90 ekor yang merupakan hasil dari persilangan resiprokal antara itik Alabio (Anas Platyrhynchos Borneo) dengan itik Pekin (Anas Platyrhynchos domesticus) di Balai Penelitian Ternak Ciawi, Bogor. Pakan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sesuai standar yang biasa diberikan di Balai Penelitian Ternak Ciawi, yaitu konsentrat itik 25% dan campuran dedak dengan katul 75% dimana kadar Protein Kasar yang dihasilkan sekitar 18%.Selain itu, jumlah pakan yang diberikan untuk kedua jenis itik sama yaitu sekitar 250 g/ekor/hari.Air minum diberikan ad libitum. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kandang individu (cages) yang telah diberikan nomor sebanyak 180 unit beserta tempat pakan, minum dan pengkoleksian telur, gelas pakan, egg tray, timbangan Mettler P1210, cawan kaca, Haugh Units (HU) meter, Yolk Colour Fan, jangka sorong, mikrometer serta alat tulis dan catatan. Prosedur Populasi dasar (P0) yang digunakan dalam penelitian ini yaitu itik Alabio (Anas Platyrhynchos Borneo) dan itik Pekin(Anas Platyrhynchos domesticus) dengan umur sekitar 4 bulan (menjelang bertelur) yang sudah dikoleksi di Balai Penelitian Ternak sejak tahun 2010. Itik Alabio yang digunakan sebanyak 25 ekor (5 ekor jantan dan 20 ekor betina), sedangkan itik Pekin yang digunakan sebanyak 23 ekor terdiri atas 5 ekor jantan dan 18 ekor betina. Persilangan kedua jenis itik tersebut dilakukan secara resiprokal, sehingga didapatkan keturunan berupa 90 ekor itik betina PA dan 90 ekor itik betina AP. 9 P0 F1 Pekin Jantan X Alabio Betina Alabio Jantan PA Betina PA Jantan X Pekin Betina AP Betina AP Jantan Gambar3. Skema persilangan resiprokal itik Alabio dan itik Pekin Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah umur pertama bertelur, bobot badan pertama bertelur, bobot telur pertama dan peubah lainnya yang juga diamati adalah kualitas telur. Pengamatan sifat produksi yang diamati meliputi: 1. Umur pertama bertelur:diketahui dengan menghitung dari tanggal DOD menetas sampai dengan tanggal pertama kali bertelur. 2. Bobot badan pertama bertelur:diperoleh melalui penimbangan pada hari saat individu itik pertama kali bertelur. 3. Bobot telur pertama:diukur dengan menimbang telur yang pertama kali dihasilkan oleh masing-masing individu itik. 4. Produksi telur 3 bulan: diperoleh melalui pengoleksian telur selama 3 bulan (umur 8 bulan sampai 10 bulan produksi) dari masing-masing genotipayang memiliki umur pertama bertelur dengan selang 164-172 hari. 5. Kualitas Telur: dilakukan dengan mengamati 10 sampai 20 butir telur yang meliputi: a) Indeks Telur: pengukuran meliputi panjang dan lebar telur. Telur yang akan diamati sebelumnya dilakukan proses pembersihan. Panjang dan lebar telur diukur dengan menggunakan jangka sorong. b) Bobot Telur: diukur dengan menggunakan timbangan Mettler P1210. Pengukuran bobot telur dilakukan bertujuan untuk dapat menghitung nilai Haugh Unit telur. c) Haugh Unit:dilakukan dengan menggunakan HU meter. Pengukuran dilakukan pada ketinggian putih telur yang dihubungkan terhadap bobot telur. d) Warna Kuning Telur: dilakukan dengan menyesuaikan warna kuning telur dengan menggunakan Yolk Colour Fan. 10 e) Bobot Putih dan Kuning Telur: dilakukan dengan menggunakan timbangan ukur yang telah dilapisi cawan kaca sebagai wadah putih atau kuning telur. f) Kerabang: meliputi bobot kerabang basah dan bobot kerabang kering yang dilakukan dengan menimbang kerabang. Selain itu, pengukuran pada kerabang juga dilakukan dengan mengukur ketebalan dari kerabang kering yang telah dibersihkan dari selaput putih telurnya dengan menggunakan mikrometer. Rancangan dan Analisis Data Rancangan statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua taraf perlakuan berupa genotipa hasil persilangan itik Alabio dan Pekin,yaitu AP dan PA. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis of variance (ANOVA).Menurut Mattjik dan Sumertajaya (2006), model statistik yang digunakan adalah sebagai berikut: Yij = µ + Gi+ εij Keterangan: Yij=rataan sifat produksi pada taraf perlakuan ke-i dan ulangan ke-jµ =rataan umum Gi = pengaruh genotipa ke-i εij=pengaruh acak dari pengamatan setiap telur Pengujian parameter indeks telur dilakukan dengan menggunakan ttest.Irianto (2008) menerangkan bahwa rumus t-test yang digunakan adalah sebagai berikut: μ Keterangan μ : = rataan sampel a = rataan sampel b μ = rataan populasi a μ = rataan populasi b sba = simpangan baku a sbb = simpangan baku b n = jumlah sampel 11 HASIL DAN PEMBAHASAN Produksi Itik Kestabilan sifat produksi dari itik Alabio dapat diketahui dengan melakukan persilangan resiprokal antara itik Alabio dengan itik Pekin dimana induk itik Alabio pada satu persilangan bertindak sebagai pejantan dan pada persilangan lain bertindak sebagai induk. Persilangan resiprokal tersebut menghasilkan itik PA (pejantan Pekin dengan betina Alabio) dan itik AP (pejantan Alabio dengan betina Pekin). Itik PA dan itik AP dari hasil persilangan tersebut kemudian dilakukan pemeliharaan dan diberikan pakan yang sama untuk mendapatkan sifat produksi dan kualitas telur yang dihasilkan. Sifat produksi dari itik PA dan itik AP akan memberikan nilai yang dapat menggambarkan tentang kestabilan sifat produksi dari itik Alabio tersebut. Hasil penelitian pada sifat-sifat produksi telur itik PA dan AP yaitu umur pertama bertelur, bobot telur pertama, bobot badan pertama bertelur dan produksi telur tercantum pada Tabel 2. Tabel 2. Sifat Produksi Itik PA dan AP PA AP x ± s.e x ± s.e Umur Pertama Bertelur (hari) 168,95 ± 3,42 172,82 ± 3,44 Bobot Telur Pertama (g) 62,12 ± 0,80 62,15 ± 0,98 Bobot Badan Pertama Bertelur (g) 2445,7 ± 26,2 2430 ± 34,3 84,7 ± 1,49 78,1 ± 4,52 Parameter Produksi Telur 3 Bulan (%) Keterangan:Nilai tanpa superskrips pada baris yang sama menunjukkan nilai tidak berbeda nyata (P>0,05). PA = pejantan Pekin-betina Alabio, AP = pejantan Alabio-betina Pekin Hasil analisis statistik memperlihatkan bahwa umur pertama bertelur itik PA dan AP tidak berbeda nyata (P>0,05), demikian pula dengan bobot telur pertama, bobot badan pada saat bertelur pertama dan produksi telur selama 3 bulan. Hal ini menunjukkan bahwa itik Alabio baik sebagai pejantan maupun betina menghasilkan keturunan yang memiliki sifat produksi yang tidak berbeda, dalam arti lain itik Alabio memiliki sifat produksi yang stabil. Secara umum, sifat produksi itik PA dan AP cenderung mirip dengan galur murninya yaitu itik Alabio jika dibandingkan dengan hasil penelitian Prasetyo dan 12 Susanti (2000) yang menyatakan bahwa umur pertama bertelur itik Alabio adalah 169.89 hari. Susanti (2003) menyatakan bahwa umur pertama bertelur dapat mempengaruhi produktivitas itik. Konsekuensi umur pertama bertelur yang relatif cepat akan menyebabkan rendahnya bobot telur yang akan menyebabkan rendahnya bobot DOD. Oleh sebab itu, umur pertama bertelurjuga harus dipertimbangkan sebagai kriteria seleksi disamping sifat produksi lainnya. Rataan bobot telur pertama itik PA dan AP yang diperoleh pada penelitian ini masing-masing sebesar 62,12 g dan 62,15 g. Hasil tersebut sedikit lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil penelitian Prasetyo dan Susanti (2000) yang menyatakan rataan bobot telur pertama hasil persilangan resiprokal itik Alabio dan Mojosari masing-masing sebesar 56,66 g dan 56,07 g. Perbedaan hasil tersebut diduga dipengaruhi oleh faktor genetik dimana itik Pekin memiliki performa tubuh yang lebih besar sehingga berpengaruh terhadap bentuk dan bobot telurnya. Hal tersebut juga terjadi pada parameter bobot badan saat pertama bertelur dimana diduga terdapat pengaruh genetik antara itik PA dan AP yang masing masing memiliki bobot sebesar 2445,7 g dan 2430 g dengan hasil penelitian Prasetyo dan Susanti (2000) yang menyatakan bahwa bobot badan itik MA dan AM saat pertama bertelur masing-masing sebesar 1803 g dan 1741 g. Produksi telur merupakan hal yang sangat penting dalam pemeliharaan itik karena merupakan salah satu kriteria seleksi yang umum dipertimbangkan oleh para peternak.Berdasarkan hasil analisis statistik dengan keragaman yang tidak homogen diketahui bahwa produksi telur itik PA dan AP selama 3 bulan pada umur 7 bulan produksi tidak berbeda nyata dengan nilai sebesar 84,7% dan 78,1%. Hasil tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan produksi itik MA dan MM pada penelitian Prasetyo et al. (2003) dimana produksi itik MA dan MM selama 3 bulan pada umur 7 bulan produksi masing-masing sebesar 79,4% dan 52,47%. Produksi telur pada penelitian ini juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan produksi telur itik Pekin pada penelitian Monica (2010) dimana rataan produksi telur itik Pekin selama 3 bulan pada umur 8 sampai 10 bulan produksi mencapai 56,55%. Hal ini disebabkan karena performans atau penampilan individu ditentukan oleh dua faktor, yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik ditentukan oleh susunan gen dan kromosom yang dimiliki suatu individu dan bersifat baka selama tidak terjadi mutasi 13 dari gen yang menyusunnya,sedangkan faktor lingkungan tidak selalu berubah dan tidak dapat diwariskan kepada anak keturunannya (Hardjosubroto, 1994). Oleh karena itu perbaikan mutu genetik, pakan dan tata laksana pemeliharaan akan meningkatkan produktivitas itik tersebut. Kualitas Telur Pengukuran kualitas telur dalam penelitian ini dilakukan pada bobot telur, kuning telur, putih telur, kerabang basah dan kering, serta nilai HU, warna kuning telur dan tebal kerabang. Pengamatan dilakukan pada telur pertama, 1 bulan dan 2 bulan. Hasil pengamatan kualitas telur pertama itik PA dan AP dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Kualitas Telur PA dan AP pada Telur Pertama Telur Pertama Parameter Bobot Telur (g) PA x ± s.e 62,64±0,80 AP x ± s.e 62,74±1,00 Bobot Kuning Telur (g) 17,07±0,39 17,94±0,41 Bobot Putih Telur (g) 39,29±0,44 38,44±0,54 Bobot Kerabang Basah (g) 7,53a±0,08 7,87b±0,10 Bobot Kerabang Kering (g) 6,27a±0,07 6,57b±0,09 108,23a ±0,32 106,51b±0,34 Warna Kuning Telur 10,92±0,10 10,70±0,14 Tebal Kerabang (mm) 39,16±0,37 38,85±0,30 Indeks Telur (%) 74,7a ±2,87 72,84b±3,06 H.U. Keterangan: Superskrip dengan huruf kecil yang berbeda pada satu baris yangsama menunjukkan berbeda nyata (P0,05). Hasil pengamatan kualitas telur secara umum juga menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05) hanya pada beberapa peubah yang memiliki nilai berbeda nyata (P
Performa Sifat Produksi dan Kualitas Telur Hasil Persilangan Resiprokal antara Itik Alabio dengan Itik Pekin
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Performa Sifat Produksi dan Kualitas Telur Hasil Persilangan Resiprokal antara Itik Alabio dengan Itik Pekin

Gratis