Feedback

Effect of gotu kola (Centella asiatica (L.) Urban) leaf extract on the cognitive functions of rats

Informasi dokumen
PENGARUH PENGGUNAAN EKSTRAK DAUN PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urban) TERHADAP FUNGSI KOGNITIF TIKUS ISKANDAR MIRZA SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012 PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Pengaruh Penggunaan Ekstrak Daun Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) terhadap Fungsi Kognitif Tikus adalah karya saya dengan arahan dari Komisi Pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir disertasi ini. Bogor, Juli 2012 Iskandar Mirza NIM I162070111 ABSTRACT ISKANDAR MIRZA. Effect of Gotu Kola (Centella asiatica (L.) Urban) Leaf Extract on the Cognitive Functions of Rats. Supervised by HADI RIYADI, ALI KHOMSAN, SRI ANNA MARLIYATI, EVY DAMAYANTHI, and ADI WINARTO The aim of the study was to explore the mechanism of Centella asiatica leaf extract in improvement of cognitive function. The study used Wistar male rats, Centella asiatica and reagents for extraction. The evaluated levels are 0, 100, 300 and 600 mg extract/kg body weight. The design was randomized block design with five replicates. The statistical analyzes method of variance with F-test was used in this study. The result indicated that the Centella asiatica extract contains P, K, Mg, Ca, Zn, Mn, and asiaticoside. The daily body weight rats gain of treatment group was not significantly different (p>0.05). The group on level of 300 mg/kg body weigh of ethanol extract gives a better hematological profile. The rats with level 2 and 3 showed more activitve from week to week, but not for those in level 1, as it was markly found stable. On T-maze test there are no control rats member reached the finish point, while the percentage of treated rats that reached the finish is various and the highest one is found on level 3 group. The rat activities of the level of 300 and 600 mg/kg body weigh showed significant increase compare to those in control (p0,05). Total asupan pakan antar kelompok perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (p>0,05). Hasil analisis darah lengkap menunjukkan bahwa gambaran darah berada dalam batasan normal dan bahkan menunjukkan kecenderungan yang lebih baik dibandingkan dengan kontrol. Jumlah benda darah merah (BDM) dan eosinofil pada kelompok tikus setelah 2 bulan pemberian ekstrak etanol menunjukkan perbedaan yang nyata (p0,05), dan berbeda nyata dengan kelompok level 2 dan 3 pada minggu ketiga dan keempat (p0,05), namun demikian kelompok level 2 frekuensi pencapaian titik finish lebih baik dibandingkan dengan kelompok level lainnya. Tikus yang aktif, aktivitas memanjat di dalam maze dapat mencapai lebih dari 20 kali selama 5 menit. Tikus yang diberikan ekstrak air kurang aktif dibandingkan dengan aktivitas tikus yang diberikan ektrak etanol. Aktivitas tikus yang diberikan ekstrak air tidak menunjukkan perbedaan antar kelompok (p>0,05) kecuali pada minggu ketiga, dan secara umum tikus pada kelompok level 2 lebih baik daripada kelompok level lainnya. Hasil pewarnaan imunohistokimia dengan menggunakan antibodi GFAP menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kepadatan sel-sel glial antar kelompok perlakuan. Pada kelompok yang diberi ekstrak etanol, penampakan populasi sel neuron yang positif terhadap antibodi calbindin D28k lebih banyak dibandingkan dengan control. Pewarnaan imunohistokimia dengan menggunakan antibodi dopamine, TNF dan CRP tidak menghasilkan reaksi positif. © Hak Cipta milik IPB, tahun 2012 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB PENGARUH PENGGUNAAN EKSTRAK DAUN PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urban) TERHADAP FUNGSI KOGNITIF TIKUS ISKANDAR MIRZA Disertasi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada Program Studi Ilmu Gizi Manusia SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2 0 12 Penguji pada Ujian Tertutup : 1. Prof. Dr. Ir. Faisal Anwar, MS 2. drh. Min Rahminiwarti, MS, Ph.D Penguji pada Ujian Terbuka : 1. Dr. Haryono 2. drh. Ekowati Handharyani, MS, Ph.D Judul Disertasi: Pengaruh Penggunaan Ekstrak Daun Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) terhadap Fungsi Kognitif Tikus Nama : Iskandar Mirza NIM : I162070111 Disetujui Komisi Pembimbing Dr. Ir. Hadi Riyadi, MS Ketua Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, MSi Anggota Anggota drh. Adi Winarto, Ph.D Prof. Dr. Ir. Evy Damayanthi, MS Anggota Anggota Mengetahui Ketua Program Studi Ilmu Gizi Manusia drh. M.Rizal M. Damanik, MRepSc, Ph.D Tanggal Ujian : 27 Juli 2012 Dekan Sekolah Pascasarjana Dr. Ir. Dahrul Syah, MSc.Agr Tanggal Lulus : 31 Agustus 2012 PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas qudrah dan iradahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan disertasi yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Ekstrak Daun Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) terhadap Fungsi Kognitif Tikus”. Terima kasih yang tidak terhingga disampaikan kepada Dr. Ir. Hadi Riyadi, MS selaku ketua komisi pembimbing, serta anggota komisi pembimbing yaitu Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS, Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, MSi, Prof. Dr. Ir. Evy Damayanthi, MS dan drh. Adi Winarto, Ph.D. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada penguji prelim lisan Prof. Dr. Ir. Faisal Anwar, MS dan Dr. Ir. Lilik Kustiyah, MSi dan penguji proposal Dr. Rimbawan, serta penguji pada ujian tertutup Prof. Dr. Ir. Faisal Anwar, MS dan drh. Min Rahminiwati, MS, Ph.D. Ucapan yang sama juga disampaikan kepada Bapak dan Ibu dosen mayor Ilmu Gizi Manusia Departemen Gizi Masyarakat atas bekal ilmu pengetahuan yang diberikan. Terimakasih juga disampaikan kepada Rektor dan Dekan Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Ketua Departemen dan Ketua Program Studi Ilmu Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor. Kepada Balai Pengkajian Teknoogi Pertanian NAD yang telah memberi izin dan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian yang telah memberikan beasiswa dan biaya penelitian melalui proyek KKP3T juga penulis ucapkan terima kasih. Terimakasih kepada Laboratorium Histologi FKH IPB dan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian atas fasilitas laboratorium yang disediakan selama penulis melaksanakan penelitian. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada temanteman angkatan 2007 GMA, dan teman-teman lainnya atas semangat kebersamaan dan persaudaraan selama ini. Kepada isteri tercinta Ir. Farhani Zakaria dan anak-anak tercinta Muna Ulfia, Farah Rizkina dan Nur Faizah, atas kasih sayang, pengertian, serta dukungan moril yang tidak pernah berhenti, penulis sampaikan terimakasih yang sedalam-dalamnya. Tak lupa juga kepada Kakanda dan Adinda sekalian penulis ucapkan terima kasih. Sembah dan sujud serta doa yang tidak pernah berhenti penulis sampaikan kepada guru rohani Abu Muhammad ‘Alimin dan Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidy, kepada Ibunda Salamiah Arsyad/Hj. Chairani, dan Ayahanda Mahmud Ali (Alm)/Ir. H. Zakaria Ibrahim yang telah mendoakan dan mengikhlaskan penulis untuk melanjutkan pendidikan ini. Kepada semua pihak yang telah membantu dengan tulus, penulis sampaikan terimakasih. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca. Bogor, Juli 2012 Iskandar Mirza RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Pidie Aceh pada tanggal 16 Maret 1963 sebagai putra keenam dari dua belas bersaudara dari ayahanda Mahmud Ali (Alm) dan ibunda Salamiah Arsyad. Pendidikan sarjana ditempuh di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala lulus tahun 1989. Pada tahun 1999 penulis melanjutkan pendidikan program Strata-2 di Universitas Gadjah Mada Yogjakarta dengan beasiswa Badan Litbang Pertanian dan menamatkannya pada tahun 2001. Pada tahun 2007 mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan ke pendidikan doktor pada program studi Ilmu Gizi Manusia Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor dengan beasiswa dari Badan Litbang Pertanian. Penulis bekerja di Sub Balai Penelitian Ternak Sei Putih Sumatera Utara dari tahun 1992-1996. Sejak tahun 1996-sekarang, penulis bekerja di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NAD. Selama menempuh program doktor, penulis pernah mengikuti Program Sandwich Depdiknas di International Islamic University Malaysia selama 4 bulan pada tahun 2009. Karya ilmiah yang merupakan bagian dari disertasi yaitu “Pengaruh Ekstrak Etanol Daun Pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) terhadap Gambaran Darah, Aktivitas dan Fungsi Kognitif Tikus”, akan diterbitkan pada Jurnal Kedokteran Hewan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh pada volume 7 No. 1 Maret 2013. DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI ……………………………………………………………........... xix DAFTAR TABEL …………………………………………………………....... xxiii DAFTAR GAMBAR ………………………………………………………...... xxv DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………………….. xxvi PENDAHULUAN …………………………………………………………...... Latar Belakang …………………………………………………………...... Tujuan …………………………………………………………………….. Tujuan Umum ………………………………………………………….. Tujuan Khusus ………………………………………………………….. Manfaat ………….………………………………………………………… Hipotesis Penelitian ……………………………………………………....... 1 1 4 4 4 4 4 TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………………………. Pengobatan alternatif ……………………………………………………… Obat Herbal sebagai Obat Tradisional …………………………………....... Pasar dan Permintaan Tanaman Obat ……………………………………… Penelitian tentang Manfaat pegagan ……………………………………… Pegagan ……………………………………………………………….......... Kandungan Kimia ………………………………………………………… Manfaat pegagan …………………………………………………………… Antibakteri, anticestoda dan larvicidal ………………………………....... Antiinflamasi dan antinosiseptif ………………………………………… Aktivitas antioksidan …………………………………………………… Antiproliferatif …………………………………………………………… Antithrombotik ………………………………………………………....... Sitotoksisitas …………………………………………………………....... Pangan Fungsional………………………………………………………… Otak Hipokampus ………………………………………………………… Kognitif …………………………………………………………………..... 7 7 8 10 11 15 16 19 19 20 21 23 24 24 26 27 32 KERANGKA PEMIKIRAN…………………………………………………… METODE PENELITIAN ……………………………………………………… Penelitian 1. Penyiapan Ekstrak Pegagan dan Analisa Kandungan Zat Gizi ……………………………………………………………………. Tempat dan Waktu …………………………………………………….. .. Bahan dan Alat ………………………………………………………....... Sumber pegagan ………………………………………………………… Penyiapan bahan ekstrak dan skrining ………………………………….. Ekstraksi dan Maserasi ………………………………………………....... Variabel yang diukur ……………………………………………………. 35 39 39 39 39 39 40 40 42 xx Analisis Fitokimia ……………………………………………………. Analisis Proksimat …………………………………………………… Analisis Kadar air ………………………………………………… Kadar Abu ………………………………………………………… Kadar Sari Larut dalam Air ……………………………………....... Kadar Sari Larut dalam Alkohol ………………………………........ Analisis Kandungan Kimia Pegagan ………………………………… Analisis Mineral …………………………………………………… Pengolahan dan Analisis Data …………………………………………… 42 43 43 44 44 45 45 45 46 Penelitian 2. Pengujian Ekstrak Pegagan pada Hewan Model ……………. Tempat dan Waktu ……………………………………………………… Bahan dan Alat ………………………………………………………....... Penentuan Level Pegagan ……………………………………………....... Desain Penelitian ………………………………………………………… Variabel yang Diukur …………………………………………………… Konsumsi Pakan ……………………………………………………… Bobot Badan ………………………………………………………...... Aktivitas dan Tingkah Laku ………………………………………....... Analisis Darah Rutin …………………………………………………. Pengolahan dan Analisis Data …………………………………………… 46 46 46 47 48 49 49 49 49 50 51 Penelitian 3. Analisis Morfologi Hipokampus …………………………….. Tempat dan Waktu ………………………………………………………. Bahan dan Alat ………………………………………………………....... Penyiapan Preparat ……………………………………………………… Pewarnaan Hematoxylin Eosin (HE) …………………………………. Pewarnaan Imunohistokimia …………………………………………. Variabel yang Diukur ……………………………………………………. Pengolahan dan Analisis Data …………………………………………… 51 51 51 52 52 52 53 53 HASIL DAN PEMBAHASAN ……………………………………………....... Penelitian 1. Penyiapan Ekstrak Pegagan dan Analisa Kandungan Zat Gizi ……………………………………………………………………. Hasil Analisis Kualitatif Komponen Kimia Pegagan Segar ……….............. Kandungan Zat Gizi Pegagan Segar ………………………………………. Kadar Air ………………………………………………………………… Kadar Abu ……………………………………………………………....... Kadar Protein ……………………………………………………………. Kadar Sari dalam Air dan Sari dalam Alkohol ……………………………. Analisis Mineral …………………………………………………………… Kandungan Komposisi Kimia Ekstrak Pegagan …………………………… Hasil Analisis Proksimat Ekstrak Kering ………………………………... Mineral ……………………………………………………………....... Kandungan Asiatikosida ……………………………………………… 55 55 55 58 59 59 60 61 61 64 65 65 66 xxi Penelitian 2. Pengujian Ekstrak Pegagan pada Hewan Model ……………. Pertambahan Bobot Badan dan Asupan Pakan ……………………………. Gambaran Darah Lengkap ………………………………………………… Pola Aktivitas ……………………………………………………………… Perlakuan Pemberian Ekstrak Etanol ……………………………………. Perlakuan Pemberian Ekstrak Air ……………………………………….. Penelitian 3. Analisis Morfologi Hipokampus …………………………….. Imunohistokimia Jaringan Otak …………………………………………… Profil Sel Neuroglia ……………………………………………………… Ekspresi Sel yang Positif Terhadap Antibodi Calbindin D28k ……………. Ekspresi Sel yang Positif Terhadap Antibodi Dopamin …………………. Ekspresi Sel yang Positif Terhadap Antibodi CRP dan TNF ……………. 67 67 70 74 75 79 80 80 81 83 87 88 PEMBAHASAN UMUM………………………………………………...... 91 KESIMPULAN DAN SARAN ……………………………………………. Kesimpulan ………………………………………………………………. Saran …………………………………………………………………....... 97 97 98 DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………… LAMPIRAN ……………………………………………………………….. 99 109 DAFTAR GAMBAR Halaman 1 2 Tanaman pegagan ........................................ Error! Bookmark not defined. Struktur dari asiatikosida, madekassosida, asam madekassik, dan asam asiatik…....................................... Error! Bookmark not defined. 3 Jalur biosintesis asiatikosida di dalam tanaman pegagan.Error! Bookmark not defined. 4 Anatomi otak pada posisi pandangan coronalError! Bookmark not defined. 5 Struktur sel neuron ...................................... Error! Bookmark not defined. 6 Kerangka Pemikiran .................................... Error! Bookmark not defined. 7 Diagram alir pembuatan ekstrak pegagan ... Error! Bookmark not defined. 8 Desain penelitian ......................................... Error! Bookmark not defined. 9 Model modifikasi multiple T-maze.............. Error! Bookmark not defined. 10 Kurva pertambahan bobot badan dari masing-masing kelompok yang diberi ekstrak etanol............................ Error! Bookmark not defined. 11 Kurva pertambahan bobot badan dari masing-masing kelompok yang diberi ekstrak air ................................. Error! Bookmark not defined. 12 Hasil pewarnaan dengan antibodi GFAP pada bagian hipokampus pada kelompok kontrol yang diberi ekstrak etanol daun pegagan.Error! Bookmark not defined. 13 Hasil pewarnaan dengan antibodi GFAP pada bagian hipokampus pada Kelompok level 3 yang diberi ekstrak etanol daun pegagan.Error! Bookmark not defined. 14 Hasil pewarnaan dengan antibodi calbindin D28k pada bagian hipokampus untuk kelompok kontrol yang diberi ekstrak etanol.Error! Bookmark not defined. 15 Hasil pewarnaan dengan antibodi calbindin D28k pada bagian hipokampus untuk kelompok level 1 yang diberi ekstrak etanol.Error! Bookmark not defined. 16 Hasil pewarnaan dengan antibodi calbindin D28k pada bagian hipokampus untuk kelompok level 2 yang diberi ekstrak etanol.Error! Bookmark not defined. 17 Hasil pewarnaan dengan antibodi calbindin D28k pada bagian hipokampus untuk kelompok level 3 yang diberi ekstrak etanol.Error! Bookmark not defined. 18 Hasil pewarnaan dengan antibodi dopamin pada bagian hipokampus kelompok level 2 yang diberi ekstrak daun etanol.Error! Bookmark not defined. 19 Hasil pewarnaan dengan antibodi TNF pada bagian hipokampus kelompok level 1 yang diberi ekstrak daun etanol.Error! Bookmark not defined. 20 Hasil pewarnaan dengan antibodi CRP pada bagian hipokampus kelompok level 2 yang diberi ekstrak daun etanol.Error! Bookmark not defined. 21 22 23 24 Mekanisme penyerapan Ca dari usus .......... Error! Bookmark not defined. Mekanisme terjadinya kontraksi otot yang diperantarai oleh penggunaan Ca dan ATP ............................ Error! Bookmark not defined. Penggunaan ATP pada kontraksi ............... Error! Bookmark not defined. Skema peningkatan fungsi kognitif setelah pemberian ekstrak daun pegagan selama 8 minggu................... Error! Bookmark not defined. DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Data bobot badan (gr) kelompok tikus yang diberi ekstrak etanol daun pegagan ....................................... Error! Bookmark not defined. 2 Data bobot badan (gr) kelompok tikus yang diberi ekstrak air daun pegagan ............................................. Error! Bookmark not defined. 3 Data total konsumsi pakan (gr) dari masing-masing kelompok tikus yang diberi ekstrak etanol daun pegaganError! Bookmark not defined. 4 Data total konsumsi pakan (gr) dari masing-masing kelompok tikus yang diberi ekstrak air daun pegagan .... Error! Bookmark not defined. 5 Data skor aktivitas dari masing-masing kelompok tikus yang diberi ekstrak etanol daun pegagan ................ Error! Bookmark not defined. 6 Data skor aktivitas dari masing-masing kelompok tikus yang diberi ekstrak air daun pegagan ...................... Error! Bookmark not defined. DAFTAR TABEL Halaman 1 Beberapa hasil penelitian tentang pegagan ... Error! Bookmark not defined.2 2 Rumus kimia, rumus molekul dan berat molekul dari senyawa asiatikosida, madekassosida, asam madekassik dan asam asiatik .......... Error! Bookmark not defined.7 3 Kandungan asiatikosida dan persentase distribusi dari setiap jaringan dari keseluruhan bagian tanaman pegagan ... Error! Bookmark not defined.8 4 Aktivitas larvicidal dari ekstrak daun pegagan terhadap Culex quinquefasciatus pada lima temperatur yang berbeda................................... 20 5 Kandungan nutrisi pakan tikus ...................................................................... 47 6 Kandungan fitokimia dari masing-masing bagian pegagan Error! Bookmark not defined.7 7 Hasil analisis kandungan zat gizi pegagan segar .......... Error! Bookmark not defined.8 8 Data hasil analisis kandungan mineral dan asiatikosida di dalam bagian yang berbeda dari pegagan segar ....................................................... 62 9 Hasil analisis proksimat dan komposisi kimia per 100 g bahan segar ... Error! Bookmark not defined.3 10 Hasil analisis proksimat dari ekstrak kering daun pegagan . Error! Bookmark not defined.5 11 Kandungan mineral dari ekstrak kering daun pegagan Error! Bookmark not defined.6 12 Kadar asiatikosida dari bahan ekstrak yang berbeda .... Error! Bookmark not defined.7 13 Respon pertambahan bobot badan (g) dan asupan mingguan (g) pada perlakuan dengan ekstrak etanol .......... Error! Bookmark not defined.9 14 Respon pertambahan bobot badan dan asupan pakan mingguan pada perlakuan dengan ekstrak air................................................................. 70 15 Rata-rata gambaran darah lengkap tikus setelah 2 bulan pemberian ekstrak etanol ................................................................................................. 71 16 Rata-rata gambaran darah lengkap tikus setelah 2 bulan pemberian ekstrak air ...................................................................................................... 73 17 Rata-rata gambaran differensial benda darah putih pada tikus yang diberi ekstrak etanol....................................................................................... 73 18 Rata-rata gambaran differensial benda darah putih pada tikus yang diberi ekstrak air ........................................... Error! Bookmark not defined.4 ii 19 Distribusi tikus dari masing-masing kelompok perlakuan berdasarkan skor kategori aktivitas dan rataan skor kategori ........... Error! Bookmark not defined.6 20 Persentase tikus yang mencapai titik finish setelah diberi ekstrak etanol ................................................ Error! Bookmark not defined.7 21 Rata-rata frekuensi dan waktu pencapaian titik finish setelah pemberian ekstrak etanol selama 10 kali pengamatan.. Error! Bookmark not defined.8 22 Distribusi tikus dari masing-masing kelompok perlakuan berdasarkan skor kategori aktivitas dan rataan skor kategori ........... Error! Bookmark not defined.9 23 Persentase tikus yang mencapai titik finish setelah diberi ekstrak air........... 80 24 Rata-rata frekuensi dan waktu pencapaian titik finish setelah pemberian ekstrak air selama 10 kali pengamatan ........................................ 80 iii 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan tentang mekanisme kerja otak mengalami lompatan yang luar biasa. Hasil penelitian yang telah diperoleh saat ini sangat bermanfaat untuk kehidupan manusia dan juga dapat dijadikan sebagai acuan untuk penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan kemampuan fungsi kognitif (Sidiarto & Kusumoputro 2003). Kognitif adalah kemampuan berfikir dan memberikan rasional, termasuk proses mengingat, menilai, orientasi, persepsi dan memperhatikan. Kemampuan berfikir erat kaitannya dengan fungsi otak, karena kemampuan seseorang untuk berfikir dapat dipengaruhi oleh keadaan otak. Dengan demikian, kelainan pada fungsi otak dapat berpengaruh secara langsung kepada fungsi kognitif seseorang. Daya ingat adalah sesuatu yang sangat penting dari fungsi kognitif manusia. Daya ingat akan mengalami kemunduran dengan bertambahnya usia pada sebagian orang berusia setengah baya dan lanjut. Masalah penuaan dan kapasitas kerja semakin penting untuk didiskusikan karena kapasitas kerja pada usia tua sering tidak sepadan dengan tuntutan-tuntutan pekerjaan sehingga dapat mengakibatkan stress, masalah-masalah kesehatan dan angka kematian yang tinggi, misalnya karena penyakit kardiovaskular, bunuh diri atau kecelakaan (Hartanto 1996). Pada proses otak menjadi tua terjadi perubahan anatomi sel-sel neuron atau sel-sel otak, dan jumlah sel neuron mengalami penurunan di berbagai bagian otak. Di bagian hipokampus yang merupakan pusat pantauan memori juga terjadi penurunan jumlah sel neuron dalam jumlah besar. Secara klinis, pada orang usia lanjut kemunduran fungsi memori digolongkan ke dalam gangguan memori fisiologis dan gangguan memori patologis yang disebabkan oleh penyakit otak misalnya Alzheimer (Sidiarto & Kusumoputro 2003). Dengan demikian, memahami mekanisme kerja otak akan memudahkan untuk memahami bagianbagian fungsinya serta cara penanggulangannya apabila terjadi gangguan dan menjadi dasar dalam penerapan penanggulangan kemampuan kognitif (Sidiarto & Kusumoputro 2003). Pengobatan pada kelainan fungsi kognitif dapat dilakukan dengan pendekatan medis moderen atau gizi/pangan fungsional atau kombinasinya. Pada kondisi normal, fungsi kognitif dapat dioptimalkan dengan mengkonsumsi pangan fungsional yang bermanfaat terhadap fungsi kognitif secara tepat disamping mengkonsumsi zat gizi lainnya secara berimbang dan menerapkan pola hidup sehat. Demikian juga pada kondisi dimana fungsi kognitif tidak dicapai secara maksimal, pemberian pangan fungsional juga dapat membantu memperbaiki fungsi kognitif. Salah satu pangan fungsional yang bermanfaat untuk meningkatkan fungsi kognitif adalah pegagan (Centella asiatica). Pegagan adalah salah satu jenis tanaman obat dari ordo Umbelliferae (Babu et al. 1995), famili Apiaceae (Sharma & Jaimala 2003) mempunyai manfaat pengobatan yang tinggi (Babu et al. 1995). Tanaman obat tersebut pada umumnya dikenal sebagai Gotukola dan Marsh Pennywort (AS) (Sharma & Jaimala 2003). Pegagan adalah suatu tanaman merambat, tumbuh di tempat lembab di India dan negara Asia lainnya (Rao et al. 2007) terutama ditemukan di Asia bagian selatan (Wang et al. 2005). Di Indonesia, pegagan banyak dijumpai mulai dataran rendah sampai dataran tingggi, pada lahan terbuka maupun ternaungi dan tanah basah sampai kering (Widowati et al. 1992). Pegagan telah digunakan berabad-abad sebagai tanaman obat dan tercantum di dalam Pharmacopoeia Perancis tahun 1884, demikian pula pada tradisi kuno Chinese Shennong Herbal sekitar 2000 tahun yang lalu, dan juga pada Indian Ayurvedic Medicine sekitar 3000 tahun yang lalu. Pegagan juga dikenal sebagai rasayana pada penggunaan Ayurveda sebagai tonikum otak dan penyembuh luka (Sharma & Jaimala 2003). Manfaat pengobatan dari ekstrak pegagan mungkin berhubungan dengan keberadaan senyawa fenolik (Zainol et al. 2003). Dengan demikian, pegagan menjadi sangat penting berdasarkan atas peran kritisnya pada pencegahan penyakit (Shetty et al. 2008). Penggunaan pegagan untuk tujuan peningkatan fungsi kognitif telah lama dilakukan. Pada pengobatan sistem ayurvedic, yang merupakan pengobatan sistem alternatif di India, menggunakan daun pegagan untuk meningkatkan memori (Rao et al. 2007). Berdasarkan bukti empiris dan hasil pengujian pra klinis menunjukkan bahwa pegagan mempunyai suatu reputasi untuk membangun kembali kemunduran fungsi kognitif pada pengobatan tradisional dan pada hewan model (Wattanathorn et al. 2008). Pada pengujian daya ingat, dilaporkan bahwa pemberian jus daun segar pegagan selama periode pertumbuhan cepat pada tikus neonatal dapat meningkatkan kemampuan mengingat. Tikus yang diberi jus daun segar pegagan dengan dosis yang lebih tinggi (4 dan 6 mL) dengan lama pemberian 2-6 minggu menghasilkan jumlah alternasi yang lebih tinggi dan juga memberikan peningkatan prosentase respon alternasi yang benar dibandingkan dengan kontrol (Rao et al. 2005). Hasil pemeriksaan secara histologis menunjukkan terjadinya peningkatan pada panjang dendritik (intersection) dan jumlah titik percabangan dendritik, yaitu pada dendrit apikal dan dendrit basal pada tikus muda pada masa pertumbuhan cepat yang diberi pegagan 4 dan 6 mL/kg bobot badan per hari untuk periode waktu yang lebih panjang (4 dan 6 minggu). Dengan demikian, ekstrak daun segar pegagan dapat digunakan untuk meningkatkan dendrit neuronal pada keadaan stres dan neurodegeneratif serta kelainan memori (Rao et al. 2006). Pengujian pada orang tua yang sehat yang diberi ekstrak pegagan sebanyak 750 mg/hari selama 2 bulan dapat meningkatkan persentase akurasi kerja memori dan berpotensi untuk mengurangi kemunduran yang berhubungan dengan umur pada fungsi kognitif dan ketidakteraturan suasana hati pada orang tua yang sehat. Hal ini mengindikasikan bahwa ekstrak tanaman pegagan memberikan pengaruh pada kecepatan dan kualitas kerja memori (Wattanathorn et al. 2008). Uraian tersebut di atas menunjukkan bahwa pegagan berpotensi sebagai tanaman obat untuk meningkatkan fungsi kognitif, namun mekanismenya belum jelas dan bahkan sebagian peneliti menyebutnya tidak diketahui. Oleh karena itu, melalui penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan sebagian dari serangkaian mekanisme peningkatan fungsi kognitif akibat penggunaan ekstrak pegagan pada tikus. Tujuan Tujuan Umum Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengkaji pengaruh penggunaan ekstrak daun pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) terhadap peningkatan fungsi kognitif dengan menggunakan tikus sebagai model. Tujuan Khusus Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk: 1. Mengetahui komposisi kandungan gizi dan bahan aktif pegagan. 2. Mengetahui efek/peran ekstrak pegagan terhadap: a. Parameter umum metabolisme tubuh (bobot badan dan profil darah perifer) b. Aktivitas dan tingkat pembelajaran dalam pengenalan jalur finish T-maze c. Populasi neuron positif terhadap calbindin dan glial pada area CA3 d. Mengetahui perubahan bahan aktif seluler pada area CA3 3. Mengetahui level efektif terhadap peningkatan fungsi kognitif Manfaat Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah: 1. Menghasilkan jenis ekstrak yang sesuai untuk tujuan penggunaan sebagai material peningkatan memori dan penghambat kemunduran fungsi memori. 2. Menghasilkan data kandungan bahan aktif dan bahan gizi lainnya dari pegagan. 3. Menghasilkan data gambaran darah rutin, kimia darah, histologi neuroglia dan penanda biologis. 4. Menjelaskan sebagian dari serangkaian mekanisme peningkatan fungsi kognitif karena penggunaan ekstrak daun pegagan pada tikus. Hipotesis Rumusan hipotesis yang dapat diajukan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: H1: Perlakuan ekstrak daun pegagan dapat meningkatkan fungsi kognitif. H1: Terdapat perbedaan antar perlakuan ekstrak air daun pegagan dan ekstrak etanol daun pegagan terhadap gambaran darah, bobot badan, aktivitas dan gambaran histokimia hipokampus. 7 TINJAUAN PUSTAKA Pengobatan Alternatif Pengobatan alternatif didefinisikan sebagai terapi atau praktek di luar dari praktek medis konvensional sebagai mana yang diajarkan dalam sebagian besar sekolah medis. Perhatian terhadap praktek penggunaan obat alternatif saat ini telah meningkat, baik di tingkat konsumen maupun di lingkungan ilmiah. National Institutes of Health, Office of Alternative Medicine telah ditetapkan pada tahun 1992 untuk menguji dan meneliti sebagian dari kebanyakan peluang terapi alternatif. Sasaran dari Office of Alternative Medicine adalah untuk memodifikasi konsep dari “alternatif,” ke arah istilah “komplementer” untuk menggambarkan terapi yang mungkin saja berguna untuk suatu intervensi yang menyeluruh di dalam praktek medis yang konvensional. Beberapa penanganan yang dianggap sebagai praktek medis outside mainstream US, misalnya akupunktur, telah menjadi bagian dari perawatan medis standar di beberapa Negara eropa (Borchers et al. 1997). Jenis lain dari complementary or alternative medicine (CAM), seperti acupressure, botanical remedies, homeopathy, dan mind-body therapies, juga diterima di berbagai tingkat dengan ketetapan medis, demikian pula di masyarakat umum dari berbagai negara (Farnsworth 1993 Dalam Borchers et al. 1997). Hasil estimasi World Health Organization (WHO) bahwa pada awal tahun l990-an 80% populasi dunia tinggal di negara-negara berkembang dan 80% tidak mempunyai akses untuk atau memilih menggunakan obat berstandar Barat (Borchers et al. 1997). Sebagai gantinya, mereka diarahkan ke obat tradisional, dengan kata lain, CAM adalah untuk pelayanan kesehatan primer mereka (Farnsworth 1993 Dalam Borchers et al. 1997). Jumlah orang yang menggunakan atau bentuk lain dari CAM dengan cepat meningkat di seluruh dunia, bahkan diantara mereka terdapat orang yang mampu untuk menggunakan obat berstandar Barat (Goldbeck-Wood et al. 1996 Dalam Borchers et al. 1997). Efek zat gizi terhadap penyakit degeneratif kronis telah menjadi salah satu wilayah penelitian yang menarik, yang menyempurnakan konsep dari zat gizi optimal, dari hanya mencegah terjadinya penyakit karena defisiensi nutrisi ke mengurangi resiko penyakit kronis (Shils & Rude 1996 Dalam Borchers et al. 1997). Suatu kelompok zat gizi yang berperan penting dalam hal pencegahan penyakit adalah antioksidan (Borchers et al. 1997). Terkecuali manfaat antioksidatifnya, tanaman mengandung banyak senyawa yang mempunyai efek yang berpotensi baik terhadap banyak penyakit dan hal ini adalah salah satu dari alasan utama mengapa para ilmuwan, menunjukkan peningkatan minat pada medicinal botanicals. Sadar akan banyak pertanyaan yang tidak terjawab di sekitar penggunaan obat herbal, National Institutes of Health’s Office of Alternative Medicine bekerjasama dengan Food and Drug Administration mensponsori suatu pertemuan dari orang-orang yang terlibat dalam manufaktur serta distribusi CAM untuk mendiskusikan 1) keamanan dan kemanjuran medicinal botanicals, dan 2) bukti yang diperlukan untuk mengijinkan pemberian label efektif dalam penanganan dari penyakit spesifik. Hal ini menegaskan bahwa pengalaman dari negara lain mungkin memberikan suatu model demikian pula petunjuk untuk regulasi dari beberapa klaim kesehatan (Borchers et al. 1997). Obat Herbal sebagai Obat Tradisional Obat herbal adalah campuran kompleks, sekurang-kurangnya pemrosesannya (misalnya bagian-bagian tanaman yang direbus untuk dibuat teh). Bersama dengan komponen lainnya seperti akupunktur atau pijatan yang juga termasuk dalam katagori penyembuhan tradisional, obat herbal digunakan untuk pengobatan dalam suatu jangkauan yang lebih luas terhadap gejala dan penyebab penyakit (Plaeger 2003). Penggunaan herbal untuk pengobatan penyakit dalam suatu tradisi penyembuhan kuno itu dimulai di Asia lebih dari 3,000 tahun yang lalu (Nestler 2002 Dalam Plaeger 2003). Oleh praktisi abad ke-19 dan 20 pengobatan tersebut sebagian besar telah diabaikan karena pengaruh pengobatan ala Barat. Memasuki abad ke-21 praktek penyembuhan ramuan obat herbal, seperti obat tradisional Cina (Traditional Chinese Medicine/TCM), Kampo Jepang, dan Ayurveda India, dengan cepat meningkat penerimaannya di Barat (Plaeger 2003). Kebangkitan kembali praktek pengobatan tradisional telah banyak dijelaskan (Ernst & Pittler 2002 Dalam Plaeger 2003), tetapi kenyataannya bahwa obat herbal dan obat alami lainnya atau pengobatan alternatif dengan cepat berasimilasi menjadi praktek medis ala Barat (Plaeger 2003). Pada tahun 1998, dalam suatu survey dilaporkan bahwa 75% dari dokter Jepang telah meresepkan obat Kampo, dan dalam asuransi kesehatan nasional Jepang (Japanese National Health Insurance) sekarang ini juga tercakup pengobatan Kampo (Borchers el al. 2000 Dalam Plaeger 2003). Walaupun pada abad ke-20 Cina dengan cara yang sama mengadopsi pengobatan ala Barat sebagai pengobatan ortodoks, Institute of Chinese Medicine senilai $64 juta, sekarang ini sedang dibangun di Hong Kong, dan Taiwan serta daratan Cina juga sedang memompa dana ke penelitian formula tradisional (Normile 2003 Dalam Plaeger 2003). Diperkirakan bahwa pada tahun 1997 dan 1998, orang Amerika telah menghabiskan lebih dari $4 milyar terhadap obat herbal (Ernst & Pittler 2002 Dalam Plaeger 2003). Minat Amerika terhadap pengobatan dengan obat tradisional bukan semata-mata hanya untuk penggemar makanan kesehatan atau penduduk West Coast saja (Plaeger 2003). Untuk menambah dorongan lebih lanjut pada beberapa penelitian telah tersedia dana penelitian yang sangat memadai untuk penelitian obat herbal tradisional. Pada tahun 1998, National Institutes of Health mendirikan National Center for Complementary and Alternative Medicine, yang merupakan suatu ekspansi yang sebelumnya Office of Alternative Medicine, dengan 2002 anggaran penelitian lebih dari $100 juta. National Center for Complementary and Alternative Medicine sekarang ini telah membiayai empat pusat penelitian yang mengkhususkan pada penelitian botanikal dan banyak menginisiasi untuk membiayai pelatihan penelitian dari pengobatan alternatif (http://nccam.nih.gov/). Selain dari pada itu, National Institute of Allergy and Infectious Diseases telah mendanai penelitian manfaat imunomodulatori dari obat herbal serta efek terapeutiknya terhadap penyakit infeksi. National Institutes of Health didirikan yang berminat pada penyakit spesifik (misalnya National Cancer Institute and the National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases) untuk mendukung penelitian tentang pengobatan herbal (Plaeger 2003). Sehubungan dengan keterbatasan ekonomi, sediaan modern medical healthcare di negara-negara berkembang seperti India adalah masih suatu pencapaian yang sulit untuk dijangkau. Sehingga penggunaan obat alternatif menjadi sangat penting dalam penanganan berbagai penyakit. Fenomena ini juga dialami di Indonesia yang masyarakatnya masih banyak yang miskin. Obat- obatan yang paling umum digunakan dari obat modern seperti aspirin, antimalaria, anti-kanker, digitalis, dan lain-lain awalnya berasal dari sumber tanaman. Ke depan, harus dapat dilihat pengobatan terintegrasi dan diharapkan bahwa penelitian obat alternatif akan membantu mengidentifikasikan mana obat yang aman serta efektif daripada marginalnya, klaim dan penemuan medis yang tak lazim (Sagrawat & Khan 2007). Dalam pengobatan tradisional, bagian tanaman yang berbeda dipercaya mempunyai manfaat pengobatan yang spesifik termasuk kemampuan untuk menstimulasi mekanisme melawan penyakit (Craig 1999; Jones 1996 Dalam Punturee et al. 2005). Pasar dan Permintaan Tanaman Obat Permintaan produk bahan alam untuk tujuan kesehatan dan kebugaran terus meningkat. Menurut laporan Convention on Biological Diversity (CBD), pasar herbal dunia tahun 2000 mencapai 43 miliar US$, nilai penjualan suplemen bahan alam mencapai 20 M US$ (Dennin 2000 dalam Komarawinata 2007) atau 30% dari nilai penjualan produk yang berasal dari bahan alam. Kontribusi Indonesia terhadap pasar herbal dunia baru 100 juta US$. Nilai perdagangan dunia meningkat menjadi 60 miliar US$ tahun 2002, pada tahun 2010 diprediksi menjadi 300 miliar US$ (Bodecker 2003 dalam Komarawinata 2007). Omset penjualan produk tanaman obat Indonesia saat ini baru mencapai 3 triliun rupiah dan diharapkan meningkat menjadi 8 triliun rupiah pada tahun 2010. Di Amerika Serikat, konsumsi tanaman obat naik hampir mendekati 15% setiap tahunnya (Marwick 1995 Dalam Borchers et al. 1997). Sebagian botanikal dapat diperoleh atau dibeli, baik keseluruhan dari tanaman, atau bagian-bagian daripadanya, atau dapat diperoleh sebagai teh, serbuk, ekstrak cair, kapsul, atau tablet (Wuest & Gossel 1995 Dalam Borchers et al. 1997). Di Amerika Serikat, ekstrak tanaman secara umum dijual sebagai food supplements sehingga pertimbangan konsumen untuk memenuhi kebutuhan zat gizi kelihatannya terjamin (Borchers et al. 1997). Dalam konteks ini adalah menarik untuk dicatat bahwa hal itu telah diketahui untuk beberapa dekade dimana zat gizi dan kesehatan adalah saling berhubungan (Feigin 1997 Dalam Borchers et al. 1997). Indonesia mempunyai keragaman hayati yang cukup luas, mempunyai prospek yang cukup cerah dalam pengembangan produk obat-obatan dan pangan fungsional berbasis bahan alami. Potensi Indonesia untuk menghasilkan obatobatan atau pangan fungsional berbasis bahan alami sangat tinggi, mengingat Indonesia kaya akan kekayaan hayati tumbuhan obat yang mencapai 7000 jenis dan pengetahuan tradisional untuk pemanfaatan tumbuhan obat dari berbagai etnis yang mencapai 370 etnis. Di negara lain, penggunaan ekstrak tanaman untuk tujuan pengobatan dan kebugaran telah banyak dilakukan, karena di dalam ekstrak tanaman mengandung beberapa senyawa, yang dapat memainkan peran penting terhadap fungsi fisiologis dengan cara spesifik yang dimilikinya (Sharma & Jaimala 2003). Namun di Indonesia, penelitian tentang tanaman obat serta pengetahuan tradisional untuk produk alam masih sangat terbatas. Oleh karena itu investigasi yang luas dan mendalam tentang khasiat berbagai macam tanaman obat termasuk diantaranya tanaman obat pegagan atau pegagan perlu dilakukan. Penelitian tentang Manfaat Pegagan Dilaporkan bahwa pegagan bermanfaat untuk berbagai keadaan klinis misalnya sebagai antibakteri (Taemchuay et al. 2008), antisestoda (Temjenmongla & Yadav 2005) larvasida (Rajkumar & Jebanesan 2005), anti-inflamasi dan antinosiseptif (Somchit et al. 2004) antioksidan (Hamida et al. 2002; Veerendra & Gupta 2002; Zainol et al. 2003; Gnanapragasam et al. 2007; Hussin et al. 2007; Shetty et al. 2008), antitumor (Babu et al. 1995; Punturee et al. 2005), imunostimulan (Punturee et al. 2005; Wang et al. 2004; Wang et al. 2005), penyembuhan luka (Rao Vishnu et al. 1996; Shukla et al. 1999; Hong et al. 2005; Shetty et al. 2008; Suwantong et al. 2008), radio protektif (Sharma & Jaimala 2003), dan fungsi kognitif (Veerendra & Gupta 2002; Rao et al. 2005; Rao et al. 2006; Rao et al. 2007; Wattanathorn et al. 2008). Tabel 1 berikut ini menyajikan sebagian dari hasil penelitian tentang manfaat pegagan terhadap kesehatan. Tabel 1 Beberapa hasil penelitian tentang pegagan Indikasi o Anti-inflamasi Ekstrak air pegagan pada level 10, 30, 100 dan 300 mg/kg bobot badan memperlihatkan aktivitas antinociceptive dan aktivitas antiinflamasi o Imunostimulasi Deasetilasi dan carboxyl-reduction, pektin dan produk turunannya yang terdapat di dalam pegagan menunjukkan aktivitas imunostimulasi o Antithrombotik Ekstrak metanol (45 mg/kg) dan etanol pegagan (14 mg/kg bobot badan) bermanfaat untuk pencegahan penyakit yang berhubungan dengan gaya hidup seperti hipertensi, kardiopati dan apopleksia serebral yang disebabkan oleh pengapuran pembuluh darah (arteriosclerosis). o Tulang dan Sendi Pengujian in vitro, fraksi pegagan 10 µg/mL dapat menghambat degradasi tulang rawan, menghambat pelepasan IL-1ß dan produksi nitric okside oleh eksplan tulang rawan o Tumor Pengujian dengan metoda brine shrimp lethality test, ekstrak etanol pegagan 100, 500 dan 1000 µg/mL tidak menunjukkan aktivitas sitotoksik. Peneliti Somchit et al. 2004 Wang et al. 2005 Satake et al. 2007 Hartog et al. 2009 Padmaja et al. 2002 Ekstrak metanol pegagan dapat memperlambat perkembangan tumor solid dan tumor asites dan mempunyai tingkat keracunan selektif terhadap sel tumor serta memberikan manfaat anti-tumor yang potensial dengan cara menstimulasi sistem kekebalan. Level efektif dari fraksi aseton ekstrak metanol adalah 17 µg/mL untuk Ehrlich ascites tumour cells, 22 µg/mL untuk Dalton’s lymphoma ascites tumour cells dan 8 µg/mL untuk mouse lung fibroblast. Babu et al. 1995 Di samping sitotoksik langsung terhadap sel tumor, ekstrak air pegagan 100 mg/kg bobot badan juga dapat mencegah karsinogenesis dengan cara memodulasi respon imun (meningkatkan produksi IL-2 dan TNF-α), sedangkan ekstrak etanol menunjukkan aktivitas imunosuppressif (menurunkan produksi IL-2 dan TNF-α) Punturee et al. 2005 Indikasi  Antisestoda Aktivitas antisestoda yang moderat telah dilaporkan untuk ekstrak etanol daun pegagan pada konsentrasi 5 - 40 mg/mL, dengan waktu rata-rata kematian parasit berkisar dari 4 – 14,66 jam  Larvisidal Ekstrak etanol daun pegagan pada konsentrasi 6,84 ppm (19 °C) dan 1,12 ppm (31°C) dapat membunuh 50% larva Culex quinquefasciatus Peneliti Temjenmongla & Yadav 2005 Rajkumar & Jebanesan 2005  Antibakteri Ekstrak air pegagan mempunyai nilai minimum inhibitory Taemchuay et al. concentration pada konsentrasi 2-3 mg/ml terhadap bakteri 2008 Staphylococcus aureus  Penyembuhan Luka Pemberian ekstrak etanol daun pegagan 800 mg/kg bobot badan selama 10 hari dapat memacu penyembuhan luka pada tikus dan juga mampu mengatasi reaksi hambatan penyembuhan luka oleh steroid Shetty et al. 2008 Senyawa asitikosida dari tanaman pegagan diyakini sebagai senyawa aktif yang berhubungan dengan penyembuhan luka Suwantong et al. 2008 Pemberian ekstrak air pegagan dalam bentuk suspensi propylene glycol 5% secara topikal dapat meningkatkan kandungan kolagen pada jaringan luka Rao Vishnu et al. 1996 Aplikasi larutan yang mengandung 0,2% dan 0,4% asiatikosida secara topikal pada marmut normal demikian pula pada yang diabetik atau pemberian 1 mg/kg bobot badan secara oral dapat meningkatkan tingkat penyembuhan luka yang ditandai dengan peningkatan sintesa kolagen dan kekuatan tensil dari jaringan yang luka Shukla et al. 1999 Ekstrak pegagan telah digunakan di Eropa untuk penanganan penyembuhan luka Maquart et al. 1999  Perlukaan Lambung Pemberian ekstrak air pegagan pada tikus dengan dosis 10 dan 20 mg/kg bobot badan mempu mencegah terjadinya tukak lambung karena pemakaian obat anti inflamasi (indomethacin)  Kecerdasan Sripanidkulchai et al. 2007 Indikasi Pemberian ekstrak air pegagan pada level 200 dan 300 mg/kg bobot badan tikus selama 14 hari dapat meningkatkan kinerja belajar dan memori Peneliti Veerendra & Gupta 2002 Pemberian jus daun segar pegagan selama periode pertumbuhan cepat pada tikus neonatal dapat meningkatkan kinerja memori Rao et al. 2005 Pemberian ekstrak daun segar pegagan 0,158-0,474 g/kg bobot badan tikus dapat menstimulus pertumbuhan dendritik neuronal, sehingga dapat digunakan untuk meningkatkan dendrit neuronal pada stres dan neurodegeneratif serta kelainan memori Rao et al. 2006 Pemberian jus daun segar pegagan dapat meningkatkan arborisasi dendritik di neuron amygdaloid tikus Rao et al. 2007 Pemberian ekstrak pegagan 750 mg per hari selama 2 bulan Wattanathorn et berpotensi untuk mengurangi kemunduran fungsi kognitif al. 2008 yang berhubungan dengan umur dan ketidakteraturan suasana hati pada orang tua yang sehat  Antioksidan Ekstrak etanol dari semua bagian pegagan memperlihatkan aktivitas antioksidatif yang lebih tinggi dibandingkan ekstrak air. Bagian akar menunjukkan aktivitas tertinggi daripada bagian lainnya Hamida et al. 2002 Pemberian ekstrak air 100-300 mg/kg bobot badan tikus dapat meningkatkan kemampuan belajar dan memori serta manfaat antioksidan dengan cara mengurangi peroksidasi lemak dan memperbanyak enzim antioksidan endogenus di dalam otak Veerendra & Gupta 2002 Aksesi pegagan yang berbeda mempunyai aktivitas antioksidatif yang berbeda pula. Bagian daun mempunyai aktivitas antioksidatif yang tinggi, diikuti bagian akar dan tangkai Zainol et al. 2003 Ekstrak air pegagan 200 mg/kg bobot badan tikus efektif menetralkan perubahan enzim mitokhondria dan sistem pertahanan mitokhondria (mengurangi kardiomiopati mitokhondria) Gnanapragasam et al. 2007 Pemberian 5% tepung dan 0,3% ekstrak pegagan dalam Hussin et al. Indikasi makanan dapat memperbaiki stres oksidatif dengan cara mengurangi peroksidasi lemak melalui perubahan sistem pertahanan antioksidan Ekstrak alkohol pegagan 800 mg/kg bobot badan tikus dapat menigkatkan konsentrasi antioksidan, protein dan lysyl oxidase dan mengurangi peroksidasi lemak Peneliti 2007 Shetty et al. 2008 Pegagan Pegagan merupakan tanaman merambat yang tumbuh di tempat lembab di India dan negara Asia lainnya (Rao et al. 2007), terutama ditemukan di Asia bagian selatan (Wang et al. 2005). Ekstrak tanaman pegagan mengandung beberapa senyawa yang dapat berperan pada fungsi fisiologi dengan cara spesifik yang dimilikinya (Sharma & Jaimala 2003). Pegagan adalah tanaman obat dari famili Apiaceae/Umbelliferae (Sharma & Jaimala 2003), dan menurut Babu et al. (1995), pegagan merupakan salah satu tanaman dari famili Umbelliferae yang mempunyai manfaat pengobatan yang tinggi. Tanaman obat ini pada umumnya dikenal sebagai Gotukola dan Marsh Pennywort (AS) (Sharma & Jaimala 2003). Gambar 1 Tanaman pegagan Di Thailand, tanaman ini umumnya dikenal sebagai Buabok dan biasanya diminum sebagai teh atau jus (Farnsworth & Bunyapraphatsara 1992 Dalam Punturee et al. 2005). Di Indonesia, pegagan banyak dijumpai mulai di dataran rendah sampai di dataran tinggi, pada lahan terbuka maupun ternaungi dan tanah basah sampai kering (Widowati et al. 1992). Pegagan dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Klas : Dicotyledenae Sub-Klas : Polypetalae Series : Calyciflorae Order : Umbellales Famili : Umbelliferae (Apiaceae) Genus : Centella Spesies : asiatica Pegagan telah digunakan berabad-abad sebagai tanaman obat dan tercantum di dalam Pharmacopoeia Perancis tahun 1884, demikian pula pada tradisi kuno Chinese Shennong Herbal sekitar 2000 tahun yang lalu, dan juga pada Indian Ayurvedic Medicine sekitar 3000 tahun yang lalu (Sharma & Jaimala 2003). Menurut Satake et al. (2007) pegagan juga telah digunakan di seluruh dunia untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Pegagan juga dikenal sebagai rasayana pada penggunaan Ayurveda sebagai tonikum otak dan penyembuh luka (Sharma & Jaimala 2003), dan juga pegagan menjadi sangat penting berdasarkan peran kritisnya pada pencegahan penyakit (Shetty et al. 2008). Manfaat pengobatan dari ekstrak pegagan mungkin berhubungan dengan keberadaan senyawa fenolik yang dikandungnya (Zainol et al. 2003). Kandungan Kimia Ekstrak air pegagan mengandung senyawa asiatikosida, asam asiatik, triterpines, centoic acid, centellic acid dan esternya. Ekstrak tanaman ini juga kaya akan vitamin, mineral dan nutrien yang secara umum tidak beracun terhadap tubuh. Disamping senyawa tersebut, juga banyak dijumpai senyawa lainnya termasuk asam askorbik (Sharma & Jaimala 2003), dan senyawa pektin yang mengandung arabinose, rhamnose, galactose, xylose serta galacturonic acid (Wang et al. 2005), serta sterol bebas (Mangas et al. 2008). Di dalam pegagan juga ditemukan senyawa flavonoid lainnya seperti castilliferol, castillicetin, dan isochlorogenic acid (Subban et al. 2008). Menurut Zhang et al. (2009), selain asiatikosida, pegagan juga mengandung madekassosida, brahmosida, brahminosida dan thankunisida yang merupakan komponen utama dari triterpene dalam bentuk saponin triterpenoid. Diantara senyawa aktif tersebut, asam asiatik merupakan suatu senyawa triterpin yang digunakan dalam penanganan demensia dan dapat meningkatkan kognisi (Rao et al. 2005). Asam asiatik tersebut adalah suatu metabolit aktif dari asiatikosida, dan juga merupakan senyawa ionik (Thongnopnua 2008). Rumus kimia, rumus molekul dan berat molekul dari senyawa asiatikosida, madekassosida, asam madekassik dan asam asiatik disajikan pada Tabel 2 (Aziz et al. 2007). Tabel 2 Rumus kimia, rumus molekul dan berat molekul dari senyawa asiatikosida, madekassosida, asam madekassik dan asam asiatik Senyawa aktif Rumus molekul Asiatikosida C 48 H 78 O 19 Madekassosida C 48 H 78 O 20 Asam madekassik C 30 H 48 O 6 Asam asiatik C 30 H 48 O 5 Sumber: (Aziz et al. 2007) Berat molekul 958 974 504 488 Gambar berikut menjelaskan struktur asiatikosida, madekassosida, asam madekassik dan asam asiatik (Aziz et al. 2007). Gambar 2 Struktur dari asiatikosida, madekassosida, asam madekassik, dan asam asiatik. Asiatikosida (R1 = H; R2 = O-glu-glu-rham), Madekassosida (R1 = OH; R2 = O-glu-glu-rham), Asam madekassik (R1 = OH; R2 = OH), Asam asiatik (R1 = H; R2 = OH) (Aziz et al. 2007). Distribusi senyawa asiatikosida dan madekassosida di dalam bagian organ spesifik pegagan adalah berbeda, dimana bagian daun mengandung senyawa tersebut yang lebih tinggi (Aziz et al. 2007). Zainol et al. (2003) juga melaporkan bahwa ekstrak daun mengandung senyawa fenolik yang tertinggi pada semua aksesi tanaman pegagan, diikuti oleh akar sementara konsentrasi paling rendah adalah pada bagian tangkai daun, dengan aktivitas antioksidatif yang serupa. Sedangkan menurut Kim et al. (2007), asiatikosida dan madekassosida dihasilkan dalam jumlah yang sedikit di dalam bagian akar (Tabel 3). Tabel 3 Kandungan asiatikosida dan persentase distribusi dari setiap jaringan dari keseluruhan bagian tanaman pegagan Asiatikosida Kandungan (mg/g BK) Distribusi (%) Daun 9,56 + 0,91 82,6 Tangkai daun 1,85 + 0,07 15,9 Akar 0,17 + 0,01 1,5 ND Node 0 Keseluruhan tanaman 4,32 + 0,35 Sumber: Kim et al. (2007). BK = Berat Kering, ND = Tidak ada data Jaringan Pegagan dari dua fenotip yang berbeda memperlihatkan perbedaan pada kandungan asiatikosida dan madekassosida. Pada phenotype-Smoot kandungan asiatikosida dan madekassosida lebih tinggi dibandingkan dengan phenotypeFringed. Kandungan asiatikosida dan madekassosida pada tanaman yang diregenerasi bervariasi sesuai dengan medium regenerasi yang digunakan. Kandungan rata-rata dari kedua senyawa tersebut paling banyak dijumpai di dalam daun (Aziz et al. 2007). Variasi kandungan kimia juga dijumpai di antara populasi pegagan (Zhang et al. 2009). Peningkatan senyawa target yang dihasilkan pada pegagan dapat dilakukan dengan suatu protokol transformasi genetik yang efisien menggunakan strain R1000 dari Agrobacterium rhizogenes yang mengandung encoding pCAMBIA1302 gen hygromycin phosphotransferase (hpt) dan green fluorescence protein (mgfp5) (Kim et al. 2007). Kandungan senyawa aktif tersebut juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan, dimana kondisi lingkungan harus optimal untuk memaksimalkan sintesa senyawa aktif tersebut. Variasi kandungan asiatikosida di dalam pegagan juga berhubungan dengan asal tanaman. Tanaman yang diperoleh dari ketinggian 609 m di atas permukaan laut mengandung 0,11 % asiatikosida per daun kering, sedangkan yang diperoleh dari ketinggian yang lebih rendah yaitu 5 m di atas permukaan laut mengandung hampir setengah nilai tersebut (Aziz et al. 2007). Jalur biosintesis senyawa asiatikosida dan madekassosida masih belum diketahui secara pasti (Aziz et al. 2007), namun diduga bahwa sintesis asiatikosida adalah melalui jalur squalene (Gambar 3). Gambar 3 Jalur biosintesis asiatikosida di dalam tanaman pegagan. HMGCoA (3-hydroxy-3-methylglutaryl-coenzyme A), MVA (mevalonic acid), IPP (isopentenyl diphosphate), DMAPP (dimethylallyl diphosphate), FPP (farnesyl diphosphate), CYS (cycloartenol synthase), bAS (βamyrin synthase), LUS (lupeol synthase) (Aziz et al. 2007). Manfaat Pegagan Antibakteri, Antisestoda dan Larvisidal Pemanfaatan pegagan sebagai phytochemical telah dilaporkan oleh beberapa peneliti. Dinyatakan bahwa pegagan dapat bertindak sebagai alternatif yang tepat untuk insektisida sintetis pada masa mendatang karena relatif aman, tidak mahal, dan banyak tersedia di banyak area (Rajkumar & Jebanesan 2005). Ekstrak kasar pegagan, terutama sekali yang diekstrak dengan air, mempunyai efek antibakteri terhadap Staphylococcus aureus (Taemchuay et al. 2008), antisestoda (Temjenmongla & Yadav 2005), larvisida dan menghambat munculnya Culex quinquefasciatus serta dapat digunakan secara langsung dalam volume yang kecil di habitat air atau pada tempat pembiakan ukuran terbatas di sekitar manusia (Rajkumar & Jebanesan 2005). Aktivitas biologis dari ekstrak tanaman ini berhubungan dengan senyawa phenol, terpenoid, dan alkaloid yang ada di dalam tanaman tersebut. Senyawa ini secara bersama-sama atau secara terpisah berperan untuk menghasilkan aktivitas larvisidal dan menghambat munculnya nyamuk dewasa Culex quinquefasciatus. Ekstrak ini dapat digunakan untuk mengontrol larva Culex quinquefasciatus pada cakupan temperatur yang luas (Rajkumar & Jebanesan 2005). Ekstrak daun pegagan dapat menyebabkan kematian larva Culex quinquefasciatus pada semua temperature yang diuji. Pada 24 jam, LC 50 (Lethal Concentration) adalah 1,12 ppm pada 31°C dan nilai LC 50 meningkat mencapai 6,84 ppm dengan menurunnya temperatur menjadi 19°C (Tabel 4) (Rajkumar & Jebanesan 2005). Tabel 4 Aktivitas larvisidal dari ekstrak daun pegagan terhadap Culex quinquefasciatus pada lima temperatur yang berbeda. Temperatur (oC) 19 22 25 28 31 Sumber: LC 50 (ppm) 6,84+1,32a 5,64+1,57b 3,92+1,23c 2,79+1,43d 1,12+1,23e 95% Confidence limit (ppm) 4,85-8,79 3,78-7,56 2,22-4,82 1,37-3,57 0,22-2,08 LC 90 (ppm) 9,12+2,12a 8,32+1,82b 6,78+1,47c 5,28+1,43d 3,63+1,57e 95% Confidence limit (ppm) 5,92-12,57 4,98-11,39 4,06-8,71 3,32-7,19 2,68-4,52 Rajkumar & Jebanesan (2005). Nilai dalam kolom dengan superscript yang berbeda adalah perbedaan signifikan pada tingkat P0.05). The group on level of 300 mg/kg body weigh of ethanol extract gives a better hematological profile. The rats with level 2 and 3 showed more activitve from week to week, but not for those in level 1, as it was markly found stable. On T-maze test there are no control rats member reached the finish point, while the percentage of treated rats that reached the finish is various and the highest one is found on level 3 group. The rat activities of the level of 300 and 600 mg/kg body weigh showed significant increase compare to those in control (p0,05). Total asupan pakan antar kelompok perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (p>0,05). Hasil analisis darah lengkap menunjukkan bahwa gambaran darah berada dalam batasan normal dan bahkan menunjukkan kecenderungan yang lebih baik dibandingkan dengan kontrol. Jumlah benda darah merah (BDM) dan eosinofil pada kelompok tikus setelah 2 bulan pemberian ekstrak etanol menunjukkan perbedaan yang nyata (p0,05), dan berbeda nyata dengan kelompok level 2 dan 3 pada minggu ketiga dan keempat (p0,05), namun demikian kelompok level 2 frekuensi pencapaian titik finish lebih baik dibandingkan dengan kelompok level lainnya. Tikus yang aktif, aktivitas memanjat di dalam maze dapat mencapai lebih dari 20 kali selama 5 menit. Tikus yang diberikan ekstrak air kurang aktif dibandingkan dengan aktivitas tikus yang diberikan ektrak etanol. Aktivitas tikus yang diberikan ekstrak air tidak menunjukkan perbedaan antar kelompok (p>0,05) kecuali pada minggu ketiga, dan secara umum tikus pada kelompok level 2 lebih baik daripada kelompok level lainnya. Hasil pewarnaan imunohistokimia dengan menggunakan antibodi GFAP menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kepadatan sel-sel glial antar kelompok perlakuan. Pada kelompok yang diberi ekstrak etanol, penampakan populasi sel neuron yang positif terhadap antibodi calbindin D28k lebih banyak dibandingkan dengan control. Pewarnaan imunohistokimia dengan menggunakan antibodi dopamine, TNF dan CRP tidak menghasilkan reaksi positif. 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan tentang mekanisme kerja otak mengalami lompatan yang luar biasa. Hasil penelitian yang telah diperoleh saat ini sangat bermanfaat untuk kehidupan manusia dan juga dapat dijadikan sebagai acuan untuk penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan kemampuan fungsi kognitif (Sidiarto & Kusumoputro 2003). Kognitif adalah kemampuan berfikir dan memberikan rasional, termasuk proses mengingat, menilai, orientasi, persepsi dan memperhatikan. Kemampuan berfikir erat kaitannya dengan fungsi otak, karena kemampuan seseorang untuk berfikir dapat dipengaruhi oleh keadaan otak. Dengan demikian, kelainan pada fungsi otak dapat berpengaruh secara langsung kepada fungsi kognitif seseorang. Daya ingat adalah sesuatu yang sangat penting dari fungsi kognitif manusia. Daya ingat akan mengalami kemunduran dengan bertambahnya usia pada sebagian orang berusia setengah baya dan lanjut. Masalah penuaan dan kapasitas kerja semakin penting untuk didiskusikan karena kapasitas kerja pada usia tua sering tidak sepadan dengan tuntutan-tuntutan pekerjaan sehingga dapat mengakibatkan stress, masalah-masalah kesehatan dan angka kematian yang tinggi, misalnya karena penyakit kardiovaskular, bunuh diri atau kecelakaan (Hartanto 1996). Pada proses otak menjadi tua terjadi perubahan anatomi sel-sel neuron atau sel-sel otak, dan jumlah sel neuron mengalami penurunan di berbagai bagian otak. Di bagian hipokampus yang merupakan pusat pantauan memori juga terjadi penurunan jumlah sel neuron dalam jumlah besar. Secara klinis, pada orang usia lanjut kemunduran fungsi memori digolongkan ke dalam gangguan memori fisiologis dan gangguan memori patologis yang disebabkan oleh penyakit otak misalnya Alzheimer (Sidiarto & Kusumoputro 2003). Dengan demikian, memahami mekanisme kerja otak akan memudahkan untuk memahami bagianbagian fungsinya serta cara penanggulangannya apabila terjadi gangguan dan menjadi dasar dalam penerapan penanggulangan kemampuan kognitif (Sidiarto & Kusumoputro 2003). Pengobatan pada kelainan fungsi kognitif dapat dilakukan dengan pendekatan medis moderen atau gizi/pangan fungsional atau kombinasinya. Pada kondisi normal, fungsi kognitif dapat dioptimalkan dengan mengkonsumsi pangan fungsional yang bermanfaat terhadap fungsi kognitif secara tepat disamping mengkonsumsi zat gizi lainnya secara berimbang dan menerapkan pola hidup sehat. Demikian juga pada kondisi dimana fungsi kognitif tidak dicapai secara maksimal, pemberian pangan fungsional juga dapat membantu memperbaiki fungsi kognitif. Salah satu pangan fungsional yang bermanfaat untuk meningkatkan fungsi kognitif adalah pegagan (Centella asiatica). Pegagan adalah salah satu jenis tanaman obat dari ordo Umbelliferae (Babu et al. 1995), famili Apiaceae (Sharma & Jaimala 2003) mempunyai manfaat pengobatan yang tinggi (Babu et al. 1995). Tanaman obat tersebut pada umumnya dikenal sebagai Gotukola dan Marsh Pennywort (AS) (Sharma & Jaimala 2003). Pegagan adalah suatu tanaman merambat, tumbuh di tempat lembab di India dan negara Asia lainnya (Rao et al. 2007) terutama ditemukan di Asia bagian selatan (Wang et al. 2005). Di Indonesia, pegagan banyak dijumpai mulai dataran rendah sampai dataran tingggi, pada lahan terbuka maupun ternaungi dan tanah basah sampai kering (Widowati et al. 1992). Pegagan telah digunakan berabad-abad sebagai tanaman obat dan tercantum di dalam Pharmacopoeia Perancis tahun 1884, demikian pula pada tradisi kuno Chinese Shennong Herbal sekitar 2000 tahun yang lalu, dan juga pada Indian Ayurvedic Medicine sekitar 3000 tahun yang lalu. Pegagan juga dikenal sebagai rasayana pada penggunaan Ayurveda sebagai tonikum otak dan penyembuh luka (Sharma & Jaimala 2003). Manfaat pengobatan dari ekstrak pegagan mungkin berhubungan dengan keberadaan senyawa fenolik (Zainol et al. 2003). Dengan demikian, pegagan menjadi sangat penting berdasarkan atas peran kritisnya pada pencegahan penyakit (Shetty et al. 2008). Penggunaan pegagan untuk tujuan peningkatan fungsi kognitif telah lama dilakukan. Pada pengobatan sistem ayurvedic, yang merupakan pengobatan sistem alternatif di India, menggunakan daun pegagan untuk meningkatkan memori (Rao et al. 2007). Berdasarkan bukti empiris dan hasil pengujian pra klinis menunjukkan bahwa pegagan mempunyai suatu reputasi untuk membangun kembali kemunduran fungsi kognitif pada pengobatan tradisional dan pada hewan model (Wattanathorn et al. 2008). Pada pengujian daya ingat, dilaporkan bahwa pemberian jus daun segar pegagan selama periode pertumbuhan cepat pada tikus neonatal dapat meningkatkan kemampuan mengingat. Tikus yang diberi jus daun segar pegagan dengan dosis yang lebih tinggi (4 dan 6 mL) dengan lama pemberian 2-6 minggu menghasilkan jumlah alternasi yang lebih tinggi dan juga memberikan peningkatan prosentase respon alternasi yang benar dibandingkan dengan kontrol (Rao et al. 2005). Hasil pemeriksaan secara histologis menunjukkan terjadinya peningkatan pada panjang dendritik (intersection) dan jumlah titik percabangan dendritik, yaitu pada dendrit apikal dan dendrit basal pada tikus muda pada masa pertumbuhan cepat yang diberi pegagan 4 dan 6 mL/kg bobot badan per hari untuk periode waktu yang lebih panjang (4 dan 6 minggu). Dengan demikian, ekstrak daun segar pegagan dapat digunakan untuk meningkatkan dendrit neuronal pada keadaan stres dan neurodegeneratif serta kelainan memori (Rao et al. 2006). Pengujian pada orang tua yang sehat yang diberi ekstrak pegagan sebanyak 750 mg/hari selama 2 bulan dapat meningkatkan persentase akurasi kerja memori dan berpotensi untuk mengurangi kemunduran yang berhubungan dengan umur pada fungsi kognitif dan ketidakteraturan suasana hati pada orang tua yang sehat. Hal ini mengindikasikan bahwa ekstrak tanaman pegagan memberikan pengaruh pada kecepatan dan kualitas kerja memori (Wattanathorn et al. 2008). Uraian tersebut di atas menunjukkan bahwa pegagan berpotensi sebagai tanaman obat untuk meningkatkan fungsi kognitif, namun mekanismenya belum jelas dan bahkan sebagian peneliti menyebutnya tidak diketahui. Oleh karena itu, melalui penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan sebagian dari serangkaian mekanisme peningkatan fungsi kognitif akibat penggunaan ekstrak pegagan pada tikus. Tujuan Tujuan Umum Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengkaji pengaruh penggunaan ekstrak daun pegagan (Centella asiatica (L.) Urban) terhadap peningkatan fungsi kognitif dengan menggunakan tikus sebagai model. Tujuan Khusus Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk: 1. Mengetahui komposisi kandungan gizi dan bahan aktif pegagan. 2. Mengetahui efek/peran ekstrak pegagan terhadap: a. Parameter umum metabolisme tubuh (bobot badan dan profil darah perifer) b. Aktivitas dan tingkat pembelajaran dalam pengenalan jalur finish T-maze c. Populasi neuron positif terhadap calbindin dan glial pada area CA3 d. Mengetahui perubahan bahan aktif seluler pada area CA3 3. Mengetahui level efektif terhadap peningkatan fungsi kognitif Manfaat Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah: 1. Menghasilkan jenis ekstrak yang sesuai untuk tujuan penggunaan sebagai material peningkatan memori dan penghambat kemunduran fungsi memori. 2. Menghasilkan data kandungan bahan aktif dan bahan gizi lainnya dari pegagan. 3. Menghasilkan data gambaran darah rutin, kimia darah, histologi neuroglia dan penanda biologis. 4. Menjelaskan sebagian dari serangkaian mekanisme peningkatan fungsi kognitif karena penggunaan ekstrak daun pegagan pada tikus. Hipotesis Rumusan hipotesis yang dapat diajukan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: H1: Perlakuan ekstrak daun pegagan dapat meningkatkan fungsi kognitif. H1: Terdapat perbedaan antar perlakuan ekstrak air daun pegagan dan ekstrak etanol daun pegagan terhadap gambaran darah, bobot badan, aktivitas dan gambaran histokimia hipokampus. 7 TINJAUAN PUSTAKA Pengobatan Alternatif Pengobatan alternatif didefinisikan sebagai terapi atau praktek di luar dari praktek medis konvensional sebagai mana yang diajarkan dalam sebagian besar sekolah medis. Perhatian terhadap praktek penggunaan obat alternatif saat ini telah meningkat, baik di tingkat konsumen maupun di lingkungan ilmiah. National Institutes of Health, Office of Alternative Medicine telah ditetapkan pada tahun 1992 untuk menguji dan meneliti sebagian dari kebanyakan peluang terapi alternatif. Sasaran dari Office of Alternative Medicine adalah untuk memodifikasi konsep dari “alternatif,” ke arah istilah “komplementer” untuk menggambarkan terapi yang mungkin saja berguna untuk suatu intervensi yang menyeluruh di dalam praktek medis yang konvensional. Beberapa penanganan yang dianggap sebagai praktek medis outside mainstream US, misalnya akupunktur, telah menjadi bagian dari perawatan medis standar di beberapa Negara eropa (Borchers et al. 1997). Jenis lain dari complementary or alternative medicine (CAM), seperti acupressure, botanical remedies, homeopathy, dan mind-body therapies, juga diterima di berbagai tingkat dengan ketetapan medis, demikian pula di masyarakat umum dari berbagai negara (Farnsworth 1993 Dalam Borchers et al. 1997). Hasil estimasi World Health Organization (WHO) bahwa pada awal tahun l990-an 80% populasi dunia tinggal di negara-negara berkembang dan 80% tidak mempunyai akses untuk atau memilih menggunakan obat berstandar Barat (Borchers et al. 1997). Sebagai gantinya, mereka diarahkan ke obat tradisional, dengan kata lain, CAM adalah untuk pelayanan kesehatan primer mereka (Farnsworth 1993 Dalam Borchers et al. 1997). Jumlah orang yang menggunakan atau bentuk lain dari CAM dengan cepat meningkat di seluruh dunia, bahkan diantara mereka terdapat orang yang mampu untuk menggunakan obat berstandar Barat (Goldbeck-Wood et al. 1996 Dalam Borchers et al. 1997). Efek zat gizi terhadap penyakit degeneratif kronis telah menjadi salah satu wilayah penelitian yang menarik, yang menyempurnakan konsep dari zat gizi optimal, dari hanya mencegah terjadinya penyakit karena defisiensi nutrisi ke mengurangi resiko penyakit kronis (Shils & Rude 1996 Dalam Borchers et al. 1997). Suatu kelompok zat gizi yang berperan penting dalam hal pencegahan penyakit adalah antioksidan (Borchers et al. 1997). Terkecuali manfaat antioksidatifnya, tanaman mengandung banyak senyawa yang mempunyai efek yang berpotensi baik terhadap banyak penyakit dan hal ini adalah salah satu dari alasan utama mengapa para ilmuwan, menunjukkan peningkatan minat pada medicinal botanicals. Sadar akan banyak pertanyaan yang tidak terjawab di sekitar penggunaan obat herbal, National Institutes of Health’s Office of Alternative Medicine bekerjasama dengan Food and Drug Administration mensponsori suatu pertemuan dari orang-orang yang terlibat dalam manufaktur serta distribusi CAM untuk mendiskusikan 1) keamanan dan kemanjuran medicinal botanicals, dan 2) bukti yang diperlukan untuk mengijinkan pemberian label efektif dalam penanganan dari penyakit spesifik. Hal ini menegaskan bahwa pengalaman dari negara lain mungkin memberikan suatu model demikian pula petunjuk untuk regulasi dari beberapa klaim kesehatan (Borchers et al. 1997). Obat Herbal sebagai Obat Tradisional Obat herbal adalah campuran kompleks, sekurang-kurangnya pemrosesannya (misalnya bagian-bagian tanaman yang direbus untuk dibuat teh). Bersama dengan komponen lainnya seperti akupunktur atau pijatan yang juga termasuk dalam katagori penyembuhan tradisional, obat herbal digunakan untuk pengobatan dalam suatu jangkauan yang lebih luas terhadap gejala dan penyebab penyakit (Plaeger 2003). Penggunaan herbal untuk pengobatan penyakit dalam suatu tradisi penyembuhan kuno itu dimulai di Asia lebih dari 3,000 tahun yang lalu (Nestler 2002 Dalam Plaeger 2003). Oleh praktisi abad ke-19 dan 20 pengobatan tersebut sebagian besar telah diabaikan karena pengaruh pengobatan ala Barat. Memasuki abad ke-21 praktek penyembuhan ramuan obat herbal, seperti obat tradisional Cina (Traditional Chinese Medicine/TCM), Kampo Jepang, dan Ayurveda India, dengan cepat meningkat penerimaannya di Barat (Plaeger 2003). Kebangkitan kembali praktek pengobatan tradisional telah banyak dijelaskan (Ernst & Pittler 2002 Dalam Plaeger 2003), tetapi kenyataannya bahwa obat herbal dan obat alami lainnya atau pengobatan alternatif dengan cepat berasimilasi menjadi praktek medis ala Barat (Plaeger 2003). Pada tahun 1998, dalam suatu survey dilaporkan bahwa 75% dari dokter Jepang telah meresepkan obat Kampo, dan dalam asuransi kesehatan nasional Jepang (Japanese National Health Insurance) sekarang ini juga tercakup pengobatan Kampo (Borchers el al. 2000 Dalam Plaeger 2003). Walaupun pada abad ke-20 Cina dengan cara yang sama mengadopsi pengobatan ala Barat sebagai pengobatan ortodoks, Institute of Chinese Medicine senilai $64 juta, sekarang ini sedang dibangun di Hong Kong, dan Taiwan serta daratan Cina juga sedang memompa dana ke penelitian formula tradisional (Normile 2003 Dalam Plaeger 2003). Diperkirakan bahwa pada tahun 1997 dan 1998, orang Amerika telah menghabiskan lebih dari $4 milyar terhadap obat herbal (Ernst & Pittler 2002 Dalam Plaeger 2003). Minat Amerika terhadap pengobatan dengan obat tradisional bukan semata-mata hanya untuk penggemar makanan kesehatan atau penduduk West Coast saja (Plaeger 2003). Untuk menambah dorongan lebih lanjut pada beberapa penelitian telah tersedia dana penelitian yang sangat memadai untuk penelitian obat herbal tradisional. Pada tahun 1998, National Institutes of Health mendirikan National Center for Complementary and Alternative Medicine, yang merupakan suatu ekspansi yang sebelumnya Office of Alternative Medicine, dengan 2002 anggaran penelitian lebih dari $100 juta. National Center for Complementary and Alternative Medicine sekarang ini telah membiayai empat pusat penelitian yang mengkhususkan pada penelitian botanikal dan banyak menginisiasi untuk membiayai pelatihan penelitian dari pengobatan alternatif (http://nccam.nih.gov/). Selain dari pada itu, National Institute of Allergy and Infectious Diseases telah mendanai penelitian manfaat imunomodulatori dari obat herbal serta efek terapeutiknya terhadap penyakit infeksi. National Institutes of Health didirikan yang berminat pada penyakit spesifik (misalnya National Cancer Institute and the National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases) untuk mendukung penelitian tentang pengobatan herbal (Plaeger 2003). Sehubungan dengan keterbatasan ekonomi, sediaan modern medical healthcare di negara-negara berkembang seperti India adalah masih suatu pencapaian yang sulit untuk dijangkau. Sehingga penggunaan obat alternatif menjadi sangat penting dalam penanganan berbagai penyakit. Fenomena ini juga dialami di Indonesia yang masyarakatnya masih banyak yang miskin. Obat- obatan yang paling umum digunakan dari obat modern seperti aspirin, antimalaria, anti-kanker, digitalis, dan lain-lain awalnya berasal dari sumber tanaman. Ke depan, harus dapat dilihat pengobatan terintegrasi dan diharapkan bahwa penelitian obat alternatif akan membantu mengidentifikasikan mana obat yang aman serta efektif daripada marginalnya, klaim dan penemuan medis yang tak lazim (Sagrawat & Khan 2007). Dalam pengobatan tradisional, bagian tanaman yang berbeda dipercaya mempunyai manfaat pengobatan yang spesifik termasuk kemampuan untuk menstimulasi mekanisme melawan penyakit (Craig 1999; Jones 1996 Dalam Punturee et al. 2005). Pasar dan Permintaan Tanaman Obat Permintaan produk bahan alam untuk tujuan kesehatan dan kebugaran terus meningkat. Menurut laporan Convention on Biological Diversity (CBD), pasar herbal dunia tahun 2000 mencapai 43 miliar US$, nilai penjualan suplemen bahan alam mencapai 20 M US$ (Dennin 2000 dalam Komarawinata 2007) atau 30% dari nilai penjualan produk yang berasal dari bahan alam. Kontribusi Indonesia terhadap pasar herbal dunia baru 100 juta US$. Nilai perdagangan dunia meningkat menjadi 60 miliar US$ tahun 2002, pada tahun 2010 diprediksi menjadi 300 miliar US$ (Bodecker 2003 dalam Komarawinata 2007). Omset penjualan produk tanaman obat Indonesia saat ini baru mencapai 3 triliun rupiah dan diharapkan meningkat menjadi 8 triliun rupiah pada tahun 2010. Di Amerika Serikat, konsumsi tanaman obat naik hampir mendekati 15% setiap tahunnya (Marwick 1995 Dalam Borchers et al. 1997). Sebagian botanikal dapat diperoleh atau dibeli, baik keseluruhan dari tanaman, atau bagian-bagian daripadanya, atau dapat diperoleh sebagai teh, serbuk, ekstrak cair, kapsul, atau tablet (Wuest & Gossel 1995 Dalam Borchers et al. 1997). Di Amerika Serikat, ekstrak tanaman secara umum dijual sebagai food supplements sehingga pertimbangan konsumen untuk memenuhi kebutuhan zat gizi kelihatannya terjamin (Borchers et al. 1997). Dalam konteks ini adalah menarik untuk dicatat bahwa hal itu telah diketahui untuk beberapa dekade dimana zat gizi dan kesehatan adalah saling berhubungan (Feigin 1997 Dalam Borchers et al. 1997). Indonesia mempunyai keragaman hayati yang cukup luas, mempunyai prospek yang cukup cerah dalam pengembangan produk obat-obatan dan pangan fungsional berbasis bahan alami. Potensi Indonesia untuk menghasilkan obatobatan atau pangan fungsional berbasis bahan alami sangat tinggi, mengingat Indonesia kaya akan kekayaan hayati tumbuhan obat yang mencapai 7000 jenis dan pengetahuan tradisional untuk pemanfaatan tumbuhan obat dari berbagai etnis yang mencapai 370 etnis. Di negara lain, penggunaan ekstrak tanaman untuk tujuan pengobatan dan kebugaran telah banyak dilakukan, karena di dalam ekstrak tanaman mengandung beberapa senyawa, yang dapat memainkan peran penting terhadap fungsi fisiologis dengan cara spesifik yang dimilikinya (Sharma & Jaimala 2003). Namun di Indonesia, penelitian tentang tanaman obat serta pengetahuan tradisional untuk produk alam masih sangat terbatas. Oleh karena itu investigasi yang luas dan mendalam tentang khasiat berbagai macam tanaman obat termasuk diantaranya tanaman obat pegagan atau pegagan perlu dilakukan. Penelitian tentang Manfaat Pegagan Dilaporkan bahwa pegagan bermanfaat untuk berbagai keadaan klinis misalnya sebagai antibakteri (Taemchuay et al. 2008), antisestoda (Temjenmongla & Yadav 2005) larvasida (Rajkumar & Jebanesan 2005), anti-inflamasi dan antinosiseptif (Somchit et al. 2004) antioksidan (Hamida et al. 2002; Veerendra & Gupta 2002; Zainol et al. 2003; Gnanapragasam et al. 2007; Hussin et al. 2007; Shetty et al. 2008), antitumor (Babu et al. 1995; Punturee et al. 2005), imunostimulan (Punturee et al. 2005; Wang et al. 2004; Wang et al. 2005), penyembuhan luka (Rao Vishnu et al. 1996; Shukla et al. 1999; Hong et al. 2005; Shetty et al. 2008; Suwantong et al. 2008), radio protektif (Sharma & Jaimala 2003), dan fungsi kognitif (Veerendra & Gupta 2002; Rao et al. 2005; Rao et al. 2006; Rao et al. 2007; Wattanathorn et al. 2008). Tabel 1 berikut ini menyajikan sebagian dari hasil penelitian tentang manfaat pegagan terhadap kesehatan. Tabel 1 Beberapa hasil penelitian tentang pegagan Indikasi o Anti-inflamasi Ekstrak air pegagan pada level 10, 30, 100 dan 300 mg/kg bobot badan memperlihatkan aktivitas antinociceptive dan aktivitas antiinflamasi o Imunostimulasi Deasetilasi dan carboxyl-reduction, pektin dan produk turunannya yang terdapat di dalam pegagan menunjukkan aktivitas imunostimulasi o Antithrombotik Ekstrak metanol (45 mg/kg) dan etanol pegagan (14 mg/kg bobot badan) bermanfaat untuk pencegahan penyakit yang berhubungan dengan gaya hidup seperti hipertensi, kardiopati dan apopleksia serebral yang disebabkan oleh pengapuran pembuluh darah (arteriosclerosis). o Tulang dan Sendi Pengujian in vitro, fraksi pegagan 10 µg/mL dapat menghambat degradasi tulang rawan, menghambat pelepasan IL-1ß dan produksi nitric okside oleh eksplan tulang rawan o Tumor Pengujian dengan metoda brine shrimp lethality test, ekstrak etanol pegagan 100, 500 dan 1000 µg/mL tidak menunjukkan aktivitas sitotoksik. Peneliti Somchit et al. 2004 Wang et al. 2005 Satake et al. 2007 Hartog et al. 2009 Padmaja et al. 2002 Ekstrak metanol pegagan dapat memperlambat perkembangan tumor solid dan tumor asites dan mempunyai tingkat keracunan selektif terhadap sel tumor serta memberikan manfaat anti-tumor yang potensial dengan cara menstimulasi sistem kekebalan. Level efektif dari fraksi aseton ekstrak metanol adalah 17 µg/mL untuk Ehrlich ascites tumour cells, 22 µg/mL untuk Dalton’s lymphoma ascites tumour cells dan 8 µg/mL untuk mouse lung fibroblast. Babu et al. 1995 Di samping sitotoksik langsung terhadap sel tumor, ekstrak air pegagan 100 mg/kg bobot badan juga dapat mencegah karsinogenesis dengan cara memodulasi respon imun (meningkatkan produksi IL-2 dan TNF-α), sedangkan ekstrak etanol menunjukkan aktivitas imunosuppressif (menurunkan produksi IL-2 dan TNF-α) Punturee et al. 2005 Indikasi  Antisestoda Aktivitas antisestoda yang moderat telah dilaporkan untuk ekstrak etanol daun pegagan pada konsentrasi 5 - 40 mg/mL, dengan waktu rata-rata kematian parasit berkisar dari 4 – 14,66 jam  Larvisidal Ekstrak etanol daun pegagan pada konsentrasi 6,84 ppm (19 °C) dan 1,12 ppm (31°C) dapat membunuh 50% larva Culex quinquefasciatus Peneliti Temjenmongla & Yadav 2005 Rajkumar & Jebanesan 2005  Antibakteri Ekstrak air pegagan mempunyai nilai minimum inhibitory Taemchuay et al. concentration pada konsentrasi 2-3 mg/ml terhadap bakteri 2008 Staphylococcus aureus  Penyembuhan Luka Pemberian ekstrak etanol daun pegagan 800 mg/kg bobot badan selama 10 hari dapat memacu penyembuhan luka pada tikus dan juga mampu mengatasi reaksi hambatan penyembuhan luka oleh steroid Shetty et al. 2008 Senyawa asitikosida dari tanaman pegagan diyakini sebagai senyawa aktif yang berhubungan dengan penyembuhan luka Suwantong et al. 2008 Pemberian ekstrak air pegagan dalam bentuk suspensi propylene glycol 5% secara topikal dapat meningkatkan kandungan kolagen pada jaringan luka Rao Vishnu et al. 1996 Aplikasi larutan yang mengandung 0,2% dan 0,4% asiatikosida secara topikal pada marmut normal demikian pula pada yang diabetik atau pemberian 1 mg/kg bobot badan secara oral dapat meningkatkan tingkat penyembuhan luka yang ditandai dengan peningkatan sintesa kolagen dan kekuatan tensil dari jaringan yang luka Shukla et al. 1999 Ekstrak pegagan telah digunakan di Eropa untuk penanganan penyembuhan luka Maquart et al. 1999  Perlukaan Lambung Pemberian ekstrak air pegagan pada tikus dengan dosis 10 dan 20 mg/kg bobot badan mempu mencegah terjadinya tukak lambung karena pemakaian obat anti inflamasi (indomethacin)  Kecerdasan Sripanidkulchai et al. 2007 Indikasi Pemberian ekstrak air pegagan pada level 200 dan 300 mg/kg bobot badan tikus selama 14 hari dapat meningkatkan kinerja belajar dan memori Peneliti Veerendra & Gupta 2002 Pemberian jus daun segar pegagan selama periode pertumbuhan cepat pada tikus neonatal dapat meningkatkan kinerja memori Rao et al. 2005 Pemberian ekstrak daun segar pegagan 0,158-0,474 g/kg bobot badan tikus dapat menstimulus pertumbuhan dendritik neuronal, sehingga dapat digunakan untuk meningkatkan dendrit neuronal pada stres dan neurodegeneratif serta kelainan memori Rao et al. 2006 Pemberian jus daun segar pegagan dapat meningkatkan arborisasi dendritik di neuron amygdaloid tikus Rao et al. 2007 Pemberian ekstrak pegagan 750 mg per hari selama 2 bulan Wattanathorn et berpotensi untuk mengurangi kemunduran fungsi kognitif al. 2008 yang berhubungan dengan umur dan ketidakteraturan suasana hati pada orang tua yang sehat  Antioksidan Ekstrak etanol dari semua bagian pegagan memperlihatkan aktivitas antioksidatif yang lebih tinggi dibandingkan ekstrak air. Bagian akar menunjukkan aktivitas tertinggi daripada bagian lainnya Hamida et al. 2002 Pemberian ekstrak air 100-300 mg/kg bobot badan tikus dapat meningkatkan kemampuan belajar dan memori serta manfaat antioksidan dengan cara mengurangi peroksidasi lemak dan memperbanyak enzim antioksidan endogenus di dalam otak Veerendra & Gupta 2002 Aksesi pegagan yang berbeda mempunyai aktivitas antioksidatif yang berbeda pula. Bagian daun mempunyai aktivitas antioksidatif yang tinggi, diikuti bagian akar dan tangkai Zainol et al. 2003 Ekstrak air pegagan 200 mg/kg bobot badan tikus efektif menetralkan perubahan enzim mitokhondria dan sistem pertahanan mitokhondria (mengurangi kardiomiopati mitokhondria) Gnanapragasam et al. 2007 Pemberian 5% tepung dan 0,3% ekstrak pegagan dalam Hussin et al. Indikasi makanan dapat memperbaiki stres oksidatif dengan cara mengurangi peroksidasi lemak melalui perubahan sistem pertahanan antioksidan Ekstrak alkohol pegagan 800 mg/kg bobot badan tikus dapat menigkatkan konsentrasi antioksidan, protein dan lysyl oxidase dan mengurangi peroksidasi lemak Peneliti 2007 Shetty et al. 2008 Pegagan Pegagan merupakan tanaman merambat yang tumbuh di tempat lembab di India dan negara Asia lainnya (Rao et al. 2007), terutama ditemukan di Asia bagian selatan (Wang et al. 2005). Ekstrak tanaman pegagan mengandung beberapa senyawa yang dapat berperan pada fungsi fisiologi dengan cara spesifik yang dimilikinya (Sharma & Jaimala 2003). Pegagan adalah tanaman obat dari famili Apiaceae/Umbelliferae (Sharma & Jaimala 2003), dan menurut Babu et al. (1995), pegagan merupakan salah satu tanaman dari famili Umbelliferae yang mempunyai manfaat pengobatan yang tinggi. Tanaman obat ini pada umumnya dikenal sebagai Gotukola dan Marsh Pennywort (AS) (Sharma & Jaimala 2003). Gambar 1 Tanaman pegagan Di Thailand, tanaman ini umumnya dikenal sebagai Buabok dan biasanya diminum sebagai teh atau jus (Farnsworth & Bunyapraphatsara 1992 Dalam Punturee et al. 2005). Di Indonesia, pegagan banyak dijumpai mulai di dataran rendah sampai di dataran tinggi, pada lahan terbuka maupun ternaungi dan tanah basah sampai kering (Widowati et al. 1992). Pegagan dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Klas : Dicotyledenae Sub-Klas : Polypetalae Series : Calyciflorae Order : Umbellales Famili : Umbelliferae (Apiaceae) Genus : Centella Spesies : asiatica Pegagan telah digunakan berabad-abad sebagai tanaman obat dan tercantum di dalam Pharmacopoeia Perancis tahun 1884, demikian pula pada tradisi kuno Chinese Shennong Herbal sekitar 2000 tahun yang lalu, dan juga pada Indian Ayurvedic Medicine sekitar 3000 tahun yang lalu (Sharma & Jaimala 2003). Menurut Satake et al. (2007) pegagan juga telah digunakan di seluruh dunia untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Pegagan juga dikenal sebagai rasayana pada penggunaan Ayurveda sebagai tonikum otak dan penyembuh luka (Sharma & Jaimala 2003), dan juga pegagan menjadi sangat penting berdasarkan peran kritisnya pada pencegahan penyakit (Shetty et al. 2008). Manfaat pengobatan dari ekstrak pegagan mungkin berhubungan dengan keberadaan senyawa fenolik yang dikandungnya (Zainol et al. 2003). Kandungan Kimia Ekstrak air pegagan mengandung senyawa asiatikosida, asam asiatik, triterpines, centoic acid, centellic acid dan esternya. Ekstrak tanaman ini juga kaya akan vitamin, mineral dan nutrien yang secara umum tidak beracun terhadap tubuh. Disamping senyawa tersebut, juga banyak dijumpai senyawa lainnya termasuk asam askorbik (Sharma & Jaimala 2003), dan senyawa pektin yang mengandung arabinose, rhamnose, galactose, xylose serta galacturonic acid (Wang et al. 2005), serta sterol bebas (Mangas et al. 2008). Di dalam pegagan juga ditemukan senyawa flavonoid lainnya seperti castilliferol, castillicetin, dan isochlorogenic acid (Subban et al. 2008). Menurut Zhang et al. (2009), selain asiatikosida, pegagan juga mengandung madekassosida, brahmosida, brahminosida dan thankunisida yang merupakan komponen utama dari triterpene dalam bentuk saponin triterpenoid. Diantara senyawa aktif tersebut, asam asiatik merupakan suatu senyawa triterpin yang digunakan dalam penanganan demensia dan dapat meningkatkan kognisi (Rao et al. 2005). Asam asiatik tersebut adalah suatu metabolit aktif dari asiatikosida, dan juga merupakan senyawa ionik (Thongnopnua 2008). Rumus kimia, rumus molekul dan berat molekul dari senyawa asiatikosida, madekassosida, asam madekassik dan asam asiatik disajikan pada Tabel 2 (Aziz et al. 2007). Tabel 2 Rumus kimia, rumus molekul dan berat molekul dari senyawa asiatikosida, madekassosida, asam madekassik dan asam asiatik Senyawa aktif Rumus molekul Asiatikosida C 48 H 78 O 19 Madekassosida C 48 H 78 O 20 Asam madekassik C 30 H 48 O 6 Asam asiatik C 30 H 48 O 5 Sumber: (Aziz et al. 2007) Berat molekul 958 974 504 488 Gambar berikut menjelaskan struktur asiatikosida, madekassosida, asam madekassik dan asam asiatik (Aziz et al. 2007). Gambar 2 Struktur dari asiatikosida, madekassosida, asam madekassik, dan asam asiatik. Asiatikosida (R1 = H; R2 = O-glu-glu-rham), Madekassosida (R1 = OH; R2 = O-glu-glu-rham), Asam madekassik (R1 = OH; R2 = OH), Asam asiatik (R1 = H; R2 = OH) (Aziz et al. 2007). Distribusi senyawa asiatikosida dan madekassosida di dalam bagian organ spesifik pegagan adalah berbeda, dimana bagian daun mengandung senyawa tersebut yang lebih tinggi (Aziz et al. 2007). Zainol et al. (2003) juga melaporkan bahwa ekstrak daun mengandung senyawa fenolik yang tertinggi pada semua aksesi tanaman pegagan, diikuti oleh akar sementara konsentrasi paling rendah adalah pada bagian tangkai daun, dengan aktivitas antioksidatif yang serupa. Sedangkan menurut Kim et al. (2007), asiatikosida dan madekassosida dihasilkan dalam jumlah yang sedikit di dalam bagian akar (Tabel 3). Tabel 3 Kandungan asiatikosida dan persentase distribusi dari setiap jaringan dari keseluruhan bagian tanaman pegagan Asiatikosida Kandungan (mg/g BK) Distribusi (%) Daun 9,56 + 0,91 82,6 Tangkai daun 1,85 + 0,07 15,9 Akar 0,17 + 0,01 1,5 ND Node 0 Keseluruhan tanaman 4,32 + 0,35 Sumber: Kim et al. (2007). BK = Berat Kering, ND = Tidak ada data Jaringan Pegagan dari dua fenotip yang berbeda memperlihatkan perbedaan pada kandungan asiatikosida dan madekassosida. Pada phenotype-Smoot kandungan asiatikosida dan madekassosida lebih tinggi dibandingkan dengan phenotypeFringed. Kandungan asiatikosida dan madekassosida pada tanaman yang diregenerasi bervariasi sesuai dengan medium regenerasi yang digunakan. Kandungan rata-rata dari kedua senyawa tersebut paling banyak dijumpai di dalam daun (Aziz et al. 2007). Variasi kandungan kimia juga dijumpai di antara populasi pegagan (Zhang et al. 2009). Peningkatan senyawa target yang dihasilkan pada pegagan dapat dilakukan dengan suatu protokol transformasi genetik yang efisien menggunakan strain R1000 dari Agrobacterium rhizogenes yang mengandung encoding pCAMBIA1302 gen hygromycin phosphotransferase (hpt) dan green fluorescence protein (mgfp5) (Kim et al. 2007). Kandungan senyawa aktif tersebut juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan, dimana kondisi lingkungan harus optimal untuk memaksimalkan sintesa senyawa aktif tersebut. Variasi kandungan asiatikosida di dalam pegagan juga berhubungan dengan asal tanaman. Tanaman yang diperoleh dari ketinggian 609 m di atas permukaan laut mengandung 0,11 % asiatikosida per daun kering, sedangkan yang diperoleh dari ketinggian yang lebih rendah yaitu 5 m di atas permukaan laut mengandung hampir setengah nilai tersebut (Aziz et al. 2007). Jalur biosintesis senyawa asiatikosida dan madekassosida masih belum diketahui secara pasti (Aziz et al. 2007), namun diduga bahwa sintesis asiatikosida adalah melalui jalur squalene (Gambar 3). Gambar 3 Jalur biosintesis asiatikosida di dalam tanaman pegagan. HMGCoA (3-hydroxy-3-methylglutaryl-coenzyme A), MVA (mevalonic acid), IPP (isopentenyl diphosphate), DMAPP (dimethylallyl diphosphate), FPP (farnesyl diphosphate), CYS (cycloartenol synthase), bAS (βamyrin synthase), LUS (lupeol synthase) (Aziz et al. 2007). Manfaat Pegagan Antibakteri, Antisestoda dan Larvisidal Pemanfaatan pegagan sebagai phytochemical telah dilaporkan oleh beberapa peneliti. Dinyatakan bahwa pegagan dapat bertindak sebagai alternatif yang tepat untuk insektisida sintetis pada masa mendatang karena relatif aman, tidak mahal, dan banyak tersedia di banyak area (Rajkumar & Jebanesan 2005). Ekstrak kasar pegagan, terutama sekali yang diekstrak dengan air, mempunyai efek antibakteri terhadap Staphylococcus aureus (Taemchuay et al. 2008), antisestoda (Temjenmongla & Yadav 2005), larvisida dan menghambat munculnya Culex quinquefasciatus serta dapat digunakan secara langsung dalam volume yang kecil di habitat air atau pada tempat pembiakan ukuran terbatas di sekitar manusia (Rajkumar & Jebanesan 2005). Aktivitas biologis dari ekstrak tanaman ini berhubungan dengan senyawa phenol, terpenoid, dan alkaloid yang ada di dalam tanaman tersebut. Senyawa ini secara bersama-sama atau secara terpisah berperan untuk menghasilkan aktivitas larvisidal dan menghambat munculnya nyamuk dewasa Culex quinquefasciatus. Ekstrak ini dapat digunakan untuk mengontrol larva Culex quinquefasciatus pada cakupan temperatur yang luas (Rajkumar & Jebanesan 2005). Ekstrak daun pegagan dapat menyebabkan kematian larva Culex quinquefasciatus pada semua temperature yang diuji. Pada 24 jam, LC 50 (Lethal Concentration) adalah 1,12 ppm pada 31°C dan nilai LC 50 meningkat mencapai 6,84 ppm dengan menurunnya temperatur menjadi 19°C (Tabel 4) (Rajkumar & Jebanesan 2005). Tabel 4 Aktivitas larvisidal dari ekstrak daun pegagan terhadap Culex quinquefasciatus pada lima temperatur yang berbeda. Temperatur (oC) 19 22 25 28 31 Sumber: LC 50 (ppm) 6,84+1,32a 5,64+1,57b 3,92+1,23c 2,79+1,43d 1,12+1,23e 95% Confidence limit (ppm) 4,85-8,79 3,78-7,56 2,22-4,82 1,37-3,57 0,22-2,08 LC 90 (ppm) 9,12+2,12a 8,32+1,82b 6,78+1,47c 5,28+1,43d 3,63+1,57e 95% Confidence limit (ppm) 5,92-12,57 4,98-11,39 4,06-8,71 3,32-7,19 2,68-4,52 Rajkumar & Jebanesan (2005). Nilai dalam kolom dengan superscript yang berbeda adalah perbedaan signifikan pada tingkat P
Effect of gotu kola (Centella asiatica (L.) Urban) leaf extract on the cognitive functions of rats
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Effect of gotu kola (Centella asiatica (L.) Urban) leaf extract on the cognitive functions of rats

Gratis