Penyerangan Israel Terhadap Palestina Ditinjau Dari Perspektif Kejahatan Kemanusiaan Dalam Kerangka Hukum Internasional

Gratis

0
43
119
3 years ago
Preview
Full text

DAFTAR PUSTAKA

A. BUKU/MAKALAH

  Basayib, Hamid, Perspektif Sejarah Hubungan Islam dan Yahudi, dalam:Komaruddin Hidayat dan Ahmad Gaus AF (ed). Utomo, Anif Punto dan Hery Sucipto, Irak Pasca Invasi: AS, Minyak dan Berakhirnya Pan Arab , Global Mahardika Netama, Jakarta, 2003.

B. INTERNET

  El-Muhtaz, Majda, Israel dan Kejahatan Kemanusiaan, diakses dari situs : http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=4341:israel-dan-kejahatan-kemanusiaan&catid=182:20-januari- 2009&Itemid=135, tanggal 6 Juni 2009. Arif Nur, Sejarah Konflik Israel dan Palestina, diakses dari situs : http://ariefbangzd.blogspot.com/2009/01/sejarah-konflik-israel-palestina.html, Flower, Jerry, Mahkamah Pidana Internasional, Keadilan bagi Generasi Mendatang, diakses dari situs : http://www.elsam.or.id, tanggal 2 Juni 2009.

C. SURAT KABAR

  Kuncahyono, Trias, Jerusalem: Kesucian, Konflik, dan Pengadilan Akhir, Jakarta, 2008, Harian Kompas. Harian Kedaulatan Rakyat, Edisi 12 Januari 2009.

BAB II I KEJAHATAN KEMANUSIAAN SEBAGAI KEJAHATAN INTERNASIONAL A. Tinjauan Umum mengenai Kejahatan Internasional Hukum Humaniter atau lengkapnya disebut International Humanitarian Law

  Kategori pertama adalah “pelanggaran berat” Konvensi Jenewa, adalah :Suatu “pelanggaran berat” terjadi apabila tindakan kejahatan tertentu dilakukan terhadap orang yang lemah, misalnya orang yang terluka, orang yang sakit, tawananperang dan penduduk sipil. Tindak kejahatan demikian meliputi pembunuhan, kekerasan terhadap orang, mutilasi,perlakuan kejam dan penyiksaan; melakukan tindakan terkait dengan martabat orang, khususnya perlakuan yang mempermalukan atau merendahkan; menjadikan sandera;dan memutuskan hukuman dan melaksanakan eksekusi tanpa proses hukum yang layak.

73 ICRC (International Committee of The Red Cross), Protocol Additional to the Geneva

  Dengan kewajiban, mencari orang-orang yang disangka telah melakukan atau memerintahkan pelanggaran berat atau segala perbuatan yang bertentangan denganketentuan konvensi. Dalam Pasal 50 dinyatakan pelanggaran tersebut meliputi perbuatan apabila dilakukan terhadap orang atau milik yang dilindungi konvensi, pembunuhandisengaja, penganiayaan atau perlakuan tak berperikemanusiaan, termasuk percobaan biologis, menyebabkan dengan sengaja penderitaan besar atau luka berat atas badanatau kesehatan, serta penghancuran yang luas dan tindakan perampasan atas harta benda yang tidak dibenarkan oleh kepentingan militer dan dilaksanakan denganmelawan hukum dan semena-mena.

B. Kejahatan Kemanusiaan sebagai Kejahatan Internasional

  Pembahasan lebih lanjut mengenai kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanit) yang dimuat di dalam Pasal 7 Statuta Roma adalah menyatakan bahwa kejahatan terhadap kemanusiaan adalah kejahatan yang menimbulkan penderitaan besar dan tak perlu terjadi, yaitu pembunuhan, penyiksaan, pemerkosaandan bentuk lain dari pelecahan seksual, perbudakan, penyiksaan dan pengasingan. Para supir Ford Falcons yang digunakanoleh “pasukan kematian” di Argentina, dokter-dokter yang hadir untuk mengatur penyiksaan atas tindakan “subversif” di pusat-pusat yang didirikan oleh Pinochet,hakim-hakim yang memberikan instruksi politik untuk menolak permintaan habeas dan lain sebagainya.

80 Terhadap Peradaban Dunia

  Meskipun Pengadilan Kejahatan Internasional bagi bekas Yugoslavia yangdibentuk pada tahun 1993 dan Pengadilan Kejahatan Internasional bagi Rwanda, yang dibentuk pada tahun 1994 telah cukup efektif, dimana mayoritas dari mereka yangsudah diketahui terlibat dan mereka dengan kasus-kasus yang akan disidangkan sudah ditahan, keduanya masih terbatas pada kejahatan yang dilakukan di dua wilayahtertentu dan dalam dua peristiwa tertentu saja. Ketika Jaksa Penuntut International Criminal Court mendapatkan ijinuntuk melakukan penyelidikan, berdasarkan infomasi dari berbagai sumber, termasuk para korban dan keluarga, LSM, organisasi kepemerintahan seperti PBB, dan negara, Meskipun anggara tahunan International Criminal Court mencapai $100 juta, jumlah tersebut masih lebih kecil dibandingkan biaya yang dihabiskan oleh negara-negara yang melakukan penyelidikan dan penuntutan terhadap kejahatan biasa di seluruh dunia.

1. Struktur Mahkamah

  Lebih jauh lagi, Dewan Keamanan akan mempunyai peran yang penting dalam operasional Mahkamah ini atas dasar kewenangannya untuk memprakarsai suatu 85 penyelidikan (Pasal 13 dan 16) . Paling tidak separuh dari para hakimtersebut memiliki kompetensi di bidang hukum pidana dan acara pidana, sementara paling tidak lima lainnya mempunyai kompetensi di bidang hukum internasional,misalnya saja hukum humaniter internasional, dan hukum HAM internasional (Pasal 36 ayat 5).

84 Jerry Flower, Mahkamah Pidana Internasional, Keadilan bagi Generasi Mendatang

  Mayoritas absolut dari Majelis Negara Pihak akan menetapkan jaksa penuntut dansatu atau lebih wakil jaksa penuntut dengan masa kerja sembilan tahun, dan tidak dapat dipilih kembali Prinsip yang mendasar dari Statuta Roma ini adalah bahwa ICC“merupakan pelengkap bagi yurisdiksi pidana nasional” (Pasal 1). Prinsip komplementaritas menggarisbawahi bahwaMahkamah tidak dimaksudkan untuk menggantikan sistem peradilan yang masih berfungsi, melainkan untuk menyediakan sebuah alternatif untuk mencegah impunityyang disebabkan karena sistem peradilan yang independen dan efektif tidak tersedia.

2. Hal-Hal Yang Dapat ditanganai oleh Mahkamah

3. Kejahatan terhadap Kemanusiaan

  Sementara kelompok pembela HAM merespon bahwa hal itu bisa menimbulkan keterbatasan yang tak perlu Kompromi yang dicapai adalah “luas atau sistematik”, namun ditegaskan dengan “Serangan yang ditujukan terhadap suatu kelompok penduduk sipil” berartiserangkaian perbuatan yang mencakup pelaksanaan berganda sesuai dengan atau sebagai kelanjutan dari kebijakan Negara atau organisasi untuk melakukan serangantersebut” (Pasal 7 ayat 2.a). Beberapa tindakan yang dapat dimasukkan dalam dua kategori ini adalah : perkosaan, perbudakan seksual, prostitusi yang dipaksakan, kehamilan yang dipaksakan,sterilisasi yang dipaksakan, atau bentuk lain dari kekerasan seksual yang memiliki bobot yang setara (Pasal 7 ayat 1.b) (Pasal 8 ayat 2.b.xxii) (Pasal 8 ayat 2.e.vi).

4. Kejahatan Perang

  Statuta ini termasuk di dalamnya sebuah prasyarat yang menyatakan “Mahkamah mempunyaiyurisdksi berkenaan dengan kejahatan perang pada khususnya apabila dilakukuan sebagai suatu bagian dari suatu rencana atau kebijakan atau sebagai bagian dari suatupelaksanaan secara besar-besaran dari kejahatan tersebut.” (Pasal 8 ayat 1). Statuta Roma ini justru menyimpang dari Piagam Nuremberg dan statuta- statuta pendirian Peradilan HAM internasional yang pernah ada, dengan membuatnyasemakin sulit untuk menerapkan atau menghadirkan tanggung jawab seorang atasan secara pidana atas kejahatan yang termasuk dalam yurisdiksi Mahkamah (Pasal 28).

86 Statuta Roma mengijinkan Dewan Keamanan merujuk atau meneruskan sebuah keadaan

  atau situasi (dimana satu atau lebih kejahatan yang tampak telah dilakukan) kepada Mahkamah, saat memainkan peran sebagaimana yang disebutkan pada Bab VII Piagam PBB (Pasal 13.b).87 Dalam sudut pandang berkaitan dengan kewenangan ini, sangatlah mengejutkan bahwa mereka yang menentang ICC dalam Kongres Amerika Serikat, macam senator Jesse Helms dan senatorRod Grams, mengkritik Statuta Roma sebagai sebuah upaya untuk memuarakan semua persoalan pada Dewan Keamanan. Kemudian dalam kejahatan perang ada tindakan-tindakan yang pada waktu damai diklasifikasikan oleh Pengadilan Tingkat Banding dalam kasus Tadic, tak adaalasan yang tepat mengapa tindakan negara dalam keadaan perang harus dinilai 88 dengan cara yang berbeda dengan yang berlaku dalam konflik internal negara .

91 AS dengan cerdik merujuk pada “yurisdiksi yang dipaksakan atas negara-negara yang bukan

  Selanjutnya di dalam Pasal 27 Piagam PBB, memperbolehkan PBB sendiri untuk melakukan intervensi dalam masalah-masalah yang pada dasarnyaberada dalam “yurisdiksi domestic dari negara-negara manapun”, namun hanya dalam rangka penerapan tindakan-tindakan penegakan oleh Dewan Keamanan yang terlebihdahulu harus “menentukan ada tidaknya ancaman terhadap perdamaian, pelanggaran 96 perdamaian atau tindakan agresi lainnya” . Argumentasi dari mereka yang melontarkan kritik-kritik pada tindakanNATO adalah bahwa organ PBB ini wewenangnya mencakup hal intervensi yang implikasinya kemudian menghilangkan setiap hak-hak untuk melakukan intervensikemanusiaan yang didasarkan pada hukum kebiasaan, baik itu dari suatu negara atau sebuah kelompok regional, tanpa persetujuan dari Dewan Keamanan.

BAB IV ANALISA PENYERANGAN ISRAEL TERHADAP PALESTINA DITINJAU DARI PERSFEKTIF KEJAHATAN KEMANUSIAAN DALAM KERANGKA HUKUM INTERNASIONAL A. Penyerangan Israel terhadap Pelestina Menurut Hukum Humaniter Internasional. Sejak tanggal 28 Desember lalu Israel melancarkan serangan secara Massive

  Asas pembedaan ( distinction principle) adalah suatu asas yangmembedakan atau membagi penduduk dari suatu Negara yang sedang berperang atau sedang terlibat konflik bersenjata ke dalam dua golongan yakni kombatandan penduduk sipil (civilian), kombatan adalah golongan penduduk yang (combatant) secara aktif turut serta dalam permusuhan (hostilities) sedangkan penduduk sipil adalah golongan penduduk yang tidak ikut serta dalam permusuhan. Dari uraian diatas kita bisa menilai bahwa serangan yang dilakukan Israel adalah merupakan kejahatan perang karena tindakan-tindakan yang dilakukanmelanggar hukum dan kebiasaan yang berlaku dalam peperangan kita bisa melihat bahwa banyak penduduk sipil (yang terdiri dari anak-anak wanita) yang bukanmerupakan combatant menjadi objek sasaran Israel serta tempat ibadah dan rumah sakit yang seharusnya tidak menjadi sasaran pun menjadi sasaran perang.

98 Majda El-Muhtaz, Israel dan Kejahatan Kemanusiaan, diakses dari situs :

  penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari persamaan paham politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya, agama, jenis kelaminatau alasan lain yang telah diakui secara universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional; 9). Oleh karena itu Indonesia dituntut untuk ikut serta secara aktif dalam rangka perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia dan berusaha mendesak PBB 99 agar para penjahat perang Israel beserta antek-anteknya yaitu Amerika untuk diadili di ICC (International Criminal Court).

B. Penyerangan Israel terhadap Pelestina Menurut Hukum Hak Asasi Manusia

  Dalam Statuta tersebut Israel telah dengan terang-terangan melakukan tindakan yang termasuk dalam kategori yang masuk dalam yurisdiksi pengadilan Roma mengenai Pengadilan Pidana Internasional yang berbunyi : ”Yurisdiksi Pengadilan tebatas pada kejahatan paling serius yang menyangkut masyarakat internasional secara keseluruhan. Hal ini kemudian dipertegas pada ayat (2) huruf a bahwa “serangan yang ditujukan terhadap suatu kelompok penduduk sipil berarti serangkaian perbuatan yang mencakuppelaksanaan berganda dari perbuatan yang dimaksud dalam ayat 1terhadap kelompok penduduk sipil, sesuai dengan atau sebagai kelanjutan dari kebijakan Negara atau organisasi untuk melakukan serangan tersebut;”.

pasal 8 (iv)). Dari pasal diatas jelas bahwa Israel adalah Negara yang telah melakukan Kajahatan Perang dan Kejahatan Terhadap Kemanusiaan dalam serangannya. Kejahatan terhadap Kemanusiaan adalah dengan terbunuhnya warga sipil sebagai

  Dan Kejahatan Perang dengan Pebunuhan warga sipil yang bukan merupakan pihak yang bertikai, serangan kepada objek-objek sipil (gedung pemerintahan dan rumah sakit), menutupakses perbatasan Jalur Gaza-Mesir yang dapat dijadikan sebagai jalur masuknya pengungsi dan bantuan obat-obatan, dan penghancuran rumah ibadah. Dan tentu sajadari banyaknya korban dan bangunan yang hancur tidak satupun kita melihat adanya pihak militer yang jatuh.

C. Penyerangan Israel terhadap Pelestina Menurut Statuta Roma

  Pemusnahan, diartikan sebagai tindakan yang meliputi juga penerapan kondisi tertentu yang mengancam kehidupan yang secara sengaja antara lain menghambatakses terhadap makanan dan obat-obatan yang diperkirakan membawa kehancuran bagi sebagian penduduk. Dari uraian diatas kita bisa menilai bahwa serangan yang dilakukan Israel adalah merupakan kejahatan perang karena tindakan-tindakan yang dilakukanmelanggar hukum dan kebiasaan yang berlaku dalam peperangan kita bisa melihat bahwa banyak penduduk sipil (yang terdiri dari anak-anak wanita) yang bukanmerupakan combatant menjadi objek sasaran Israel serta tempat ibadah dan rumah sakit yang seharusnya tidak menjadi sasaran pun menjadi sasaran perang.

D. Penyerangan Israel ke Palestina berdasarkan Konvensi Den Haag, Konvensi Jenewa dan Protokol Tambahan tahun 1977

  Kategori pertama adalah “pelanggaran berat” Konvensi Jenewa, adalah :Suatu “pelanggaran berat” terjadi apabila tindakan kejahatan tertentu dilakukan terhadap orang yang lemah, misalnya orang yang terluka, orang yang sakit, tawanan 101 perang dan penduduk sipil. Menurut International Criminal Court sebuah serangan dianggap“berskala luas” apabila serangan itu berupa tindakan yang sering dilakukan dan berskala besar, yang dilakukan secara kolektif secara sungguh-sungguh dan ditujukankepada korban dalam jumlah banyak.

h. Memaksa tawanan perang atau penduduk sipil untuk bertugas di pasukan musuh

  Dalam Pasal 50 dinyatakan pelanggaran tersebut meliputi perbuatan apabila dilakukan terhadap orang atau milik yang dilindungi konvensi,pembunuhan disengaja, penganiayaan atau perlakuan tak berperikemanusiaan, termasuk percobaan biologis, menyebabkan dengan sengaja penderitaan besar atauluka berat atas badan atau kesehatan, serta penghancuran yang luas dan tindakan perampasan atas harta benda yang tidak dibenarkan oleh kepentingan militer dandilaksanakan dengan melawan hukum dan semena-mena. Seluruh hal yang tidak dibenarkan dalam berbagai instrument hukum internasinal di atas telah dilakukan oleh Israel terhadap penduduk Palestina, dimanaPebunuhan warga sipil yang bukan merupakan pihak yang bertikai, serangan kepada objek-objek sipil (gedung pemerintahan dan rumah sakit), menutup akses perbatasanJalur Gaza-Mesir yang dapat dijadikan sebagai jalur masuknya pengungsi dan bantuan obat-obatan, dan penghancuran rumah ibadah.

E. Peranan PBB dalam Konflik Israel terhadap Pelestina

  Berbeda dengan Resolusi DK PBB 1696, 1737, 1747 dan 1803 terhadapIran yang secara tegas memberikan sanksi dan ancaman sanksi lain jika Iran tidak menghentikan proliferasi nuklirnya, Resolusi 1860 terkesan ambigu dan sulit 106 diimplementasikan. Resolusi yang terdiri atas 17 poin ini secara tegas menyebutkan bahwa operasi militer Israel yang dilakukan secara masif dan sistematis telah sempurnamengakibatkan terjadinya pelanggaran berat HAM di Jalur Gaza (grave violations of human rights in the occupied Gaza Strip) .

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Kesimpulan yang dapat dikemukakan dari pembahasan skripsi ini, adalah :

  Kejahatan agresi; “ Dan Dalam Pasal 7 ayat (1) yang dengan tegas menyatakan bahwa kejahatan terhadap kemanusiaan adalah serangkaian perbuatan yang dilakukan sebagaibagian dari serangan meluas atau sistematik yang dutujukan kepada suatu kelompok penduduk sipil, dan kelompok penduduk sipil tersebut mengtahui akanterjadinya serangan itu. Hal ini kemudian dipertegas pada ayat (2) huruf a bahwa “serangan yang ditujukan terhadap suatu kelompok penduduk sipil berarti serangkaian perbuatan yang mencakuppelaksanaan berganda dari perbuatan yang dimaksuddalam ayat 1 terhadap kelompok penduduk sipil, sesuai dengan atau sebagai kelanjutan dari kebijakan Negara atau organisasi untuk melakukan serangantersebut;”.

B. Saran

  Untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina ini, sangat dibutuhkan kewibawaan dan ketegasan PBB untuk menindaklanjuti dua resolusi penting yang telahdihasilkan organ utama PBB sendiri. Negara-negara di dunia dan PBB selaku organisasi internasional harus mempunyai dan mampu menunjukkan komitmen yang lebih baik lagi denganmerumuskan berbagai peraturan yang dapat menjerat pelaku kejahatan terhadap kemanusiaan dan berupa untuk membentuk solidaritas internasional dalam rangkamenegakkan hukum internasional yang telah menjadi kesepakatan bersama masyarakat dunia internasional.

BAB II TINJAUAN UMUM KONFLIK ISRAEL DAN PALESTINA A. Sejarah Konflik Israel dan Palestina 1). Tiga Istilah Penting: Israel, Yahudi, dan Zionis Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, konflik Israel-Palestina

  Sajadah Perss.2829 Ibid, hlm:1 Buku yang ditulis Triyas Kuncahyono ini lebih dari sekedar catatan Jurnalistik, namunpengalaman spiritualitasnya sebagai seorang Katolik yang taat juga turut memperindah bahasan- bahasannya tentang Jerusalem, dan yang lebih menarik, penulisnya berusaha menggambarkanJerusalem seobjektif mungkin berdasarkan sudut pandang tiga agama besar yang memiliki memori masing-masing dengan tanah yang menjadi simbol spiritualitas Yahudi, Nasrani, dan Islam. Perang Arab-Israel pada 1967 mengakibatkan pendudukan Israel atas wilayahWest Bank milik Jordania dan wilayah lain yang secara substansial berpenduduk muslim, yang kemudian menyebabkan muslim Israel melakukan kontak dengankomunitas muslim yang lebih luas yang dapat memberikannya perasaan identitas yang 30 lebih besar.

31 Yahudi, Nasrani, dan Islam. Eratnya keterkaitan antara Yahudi dengan Israel

  sebagai identitas yang hampir mustahil dipisahkan setidaknya ditunjukkan oleh Law of Return Israel: "setiap orang yang memiliki kakek moyang Yahudi berhak untuk 32 tinggal di Israel dan berhak mengklaim sebagai warga negara Israel. Yogyakarta: Titian Ilahi Press.31 Irwansyah, dalam penelitian sederhana yang dilakukannya terhadap ayat-ayat tentang Islam di dalam al-Qur’an memberikan kesimpulan bahwa kata "Islam" mengandung muatan nilai dan bukaninstitusi, dengan demikian kata Islam kurang tepat disanndingkan dengan kata Yahudi dan Nasrani sebagai institusi, akan tetapi al-Qur’an menggunakan kata mu’min sebagai kata yang mendampingi kataYahudi dan Nasrani.

37 Islam. Yahudi kerap digambarkan sebagai makhluk berwatak jelek, berwajah bengis

  Pada periode Islam di Spanyol, umat Islam, Yahudi, dan Kristen bersama- sama membangun dan menghasilkan sebuah peradaban yang berpengaruh pada Memang kerukunan yang terjalin antara umat Islam dan Yahudi bukan berarti tanpa konflik. Shalom Dov Ber yang sangat khawatir terhadap masa depan agamaYahudi, mereka akan menjadi prajurit dalam pasukan rabi yang akan berperang tanpa kenal ampun dan kompromi untuk memastikan agama Yahudi sejati tetap bertahan, 47 dan perjuangan mereka akan meratakan jalan bagi kedatangan Messiah.

B. Konflik Israel dan Palestina dalam kajian Sosial, Politik dan Teologis

  Istilah "jihad" sendiri merupakan terminologi dalam ajaran Islam yang mengandung pengertian perang yang dilakukan 51 di jalan Allah, sehingga jika jihad dapat ditolerir dalam kasus ini, maka semakin sulit membangun fondasi keyakinan di tengah masyarakat Islam tentang adanya fakta " lain di balik situasi konflik yang sejak lama terjadi antara Israel dan Palestina." Fakta lain yang penulis maksud adalah dimensi politik yang juga demikian kental dalam konflik Israel-Palestina. Selain itu, sulitnya memisahkan antara konflik politik dengan konflik teologis tidak sajadisebabkan oleh pergeseran otomatis yang terjadi dari masalah politik ke teologi sebagaimana yang seringkali muncul, akan tetapi konflik yang bermula dari persoalanteologi juga tidak jarang memasuki ranah politik sebagai reaksinya untuk "bertarung" melawan teologi yang lain.

C. Peranan Amerika Serikat dalam Konflik Israel dan Palestina

  Perang pun mulaimembabi buta: hampir separuh warga Gaza yang tak berdosa dikorbankan, penggunaan material perang yang tidak sesuai dengan aturan Hukum HumaniterInternasional, hingga sarana fasilitas dan infrastruktur yang digunakan sebagai 60 bantuan kemanusiaan ikut menjadi target serangan. Harakah Muqawamah Islamiyah atau lebih dikenal dengan Hamas merupakan organisasi yang didirikan sejak 1987 dan secara sahmerupakan partai politik yang mendominasi kursi parlemen Palestina (meraih 76 dari total 132 kursi).

62 Internasional

  The NewYork Times (23 September 2001), memberitakan bahwa bantuan yang diberikan untuk Israel adalah sebesar 77 Milyar US$ sejak tahun 1967. Sikap tersebut karena para pengambil kebijakan AS didominasi kelompok Israel First dan menadopsi pandangan sayap kanan (Hawkish) serta kemampuan lobi politik Israel terutama melalui AIPAC.

63 Putih. Sementara itu, menurut Lipson dukungan dan keberpihakan AS terhadap

63 Utomo, Anif Punto dan Hery Sucipto, Irak Pasca Invasi: AS, Minyak dan Berakhirnya Pan

  Israel, didasarkan pada : pertama, kekuatan militer Israel yang dapat dikatakan terbesar di kawasan Timur Tengah dan kekuatan tersebut dapat diandalkan sebagaiparter regional; kedua, penentangan yang kuat dari Israel terhadap negara-negaraArab radikal, yang dalam waktu panjang menjadi sekutu Soviet atau menggantikannya dan masih menjadi ancaman suplai minyak serta stabilitas politiksejumlah pemerintahan Arab sekutu AS. Barak dan Livni tak akan cukup punya kekuasaan untuk memberikan konsesi serius kepada Palestina, sehingga pemerintahan yang akan mereka bentuk(dengan dukungan dari Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton dan sumbangsih pemerintahan Obama secara keseluruhan) akan menjadi satu-satunyapihak yang membuat tentara Israel boleh ulang-alik memasuki Palestina dengan satu 68 yang tidak akan terlihat seperti sebuah real estate di Palestina.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

  Dalam konflik Israel-Palestina misalnya,seruan agar umat Islam bersatu untuk melawan Zionis-Yahudi bukan sesuatu yang aneh disuarakan meski dengan alasan yang masih sulit ditebak: apakah merasasenasib dengan warga Islam Palestina, atau justru dipicu oleh kebencian terhadapYahudi yang telah jauh ditanamkan. Pada periode Islam di Spanyol, umat Islam, Yahudi, dan Kristen bersama- sama membangun dan menghasilkan sebuah peradaban yang berpengaruh pada Memang kerukunan yang terjalin antara umat Islam dan Yahudi bukan berarti tanpa konflik.

5 Trias Kuncahyono, op-cit, hlm:26-7

  Pada mitos Luria diceritakan bahwa Jika dinilai serangan yang dilakukan Israel tersebut, maka hal itu merupakan kejahatan perang karena tindakan-tindakan yang dilakukan melanggar hukum dankebiasaan yang berlaku dalam peperangan kita bisa melihat bahwa banyak penduduk sipil (yang terdiri dari anak-anak wanita) yang bukan merupakan combatant menjadiobjek sasaran Israel serta tempat ibadah dan rumah sakit yang seharusnya tidak menjadi sasaran pun menjadi sasaran perang. Dalam Pasal 7 ayat (1) Statuta Roma, dengan tegas menyatakan bahwa kejahatan terhadap kemanusiaan adalah serangkaian perbuatan yang dilakukansebagai bagian dari serangan meluas atau sistematik yang dutujukan kepada suatu kelompok penduduk sipil, dan kelompok penduduk sipil tersebut mengtahui akanterjadinya serangan itu.

pasal 8 yang mengatur tentang kejahatan perang, ayat (2) huruf b point ((i) sampai (iv)). Dari pasal diatas jelas bahwa Israel adalah Negara yang telah melakukan Kajahatan Perang dan Kejahatan Terhadap Kemnusiaan dalam serangannya. Kejahatan terhadap Kemanusiaan adalah dengan terbunuhnya warga sipil sebagai

  Dan KejahatanPerang dengan Pebunuhan warga sipil yang bukan merupakan pihak yang bertikai, serangan kepada objek-objek sipil (gedung pemerintahan dan rumah sakit), menutupakses perbatasan Jalur Gaza-Mesir yang dapat dijadikan sebagai jalur masuknya pengungsi dan bantuan obat-obatan, dan penghancuran rumah ibadah. Instrumen hukum internasional yang dapat dijadikan dasar untukmendukung argumentasi tersebut adalah seperti Hukum Humaniter (Konvensi Jenewa dan Konvensi Den Haag), Hukum Hak Asasi Manusia, Statuta Roma dan sebagainya,termasuk bagaimana seharusnya bentuk pertanggungjawaban yang harus dilakukan oleh Israel atas tindakan penyerangan tersebut.

D. Keaslian Penulisan

  Judul ini adalah murni hasil pemikiran dalam rangka melengkapi tugas dan memenuhi syarat guna memperoleh gelar Sarjana Hukum di Fakultas HukumUniversitas Sumatera Utara. Apabila di kemudian hari terdapat kesamaan judul dan isi dengan skripsi ini, maka penulis sepenuhnya akan bertanggung jawab terhadap haltersebut.

E. Tinjauan Kepustakaan

1. Pengertian Kejahatan Internasional

  Bagaimanapun, pengadilan tak akan dapat mencapai tujuannya apabila targetnya terbatas para prajurit seperti Dusko Tadic, yang kejahatannya (walaupunkejam) adalah kecil jika dibandingkan dengan orang-orang yang menghasut atau melakukan kejahatan seperti yang didefinisikan dalam Statuta Roma. Kemudian dalam kejahatan perang ada tindakan-tindakan yang pada waktu damai diklasifikasikan oleh Pengadilan Tingkat Banding dalam kasus Tadic, tak adaalasan yang tepat mengapa tindakan negara dalam keadaan perang harus dinilai 14 dengan cara yang berbeda dengan yang berlaku dalam konflik internal negara .

2. Pengertian Hukum Humaniter Internasional

Isitilah hukum humaniter atau “International Humanitarian Law Applicable in berasal dari istilah hukum perang (laws of war) yang kemudian Armed Conflict” berkembang menjadi hukum persengketaan bersenjata (laws of armed conflict), yang pada akhirnya saat ini biasa dikenal dengan istilah Hukum Humaniter

15 Internasional. Haryomataram membagi huku m Humaniter Internasional ini menjadi

  Seperti telah diketahui bersama, semula istilah yang digunakan adalah Hukum Perang, tetapi karena istilah Perang tidak disukai karena trauma yang disebabkan olehPerang Dunia II yang memakan banyak korban, maka istilah Hukum Perang diganti 18 menjadi Hukum Humaniter Internasional. Sehubungan dengan arah hukum Humaniter Internasional tersebut di atas, kiranya hukum Humaniter Internasional dalam arti sempit dapat didefinisikan sebagaikeseluruhan asas, kaidah dan ketentuan hukum yang mengatur tentang perlidnungan korban sengketa bersenjata sebagaimana diatur di dalam Konvensi Jenewa 1949 sertaketentuan Internasional lainnya yang berhubungan dengan itu.

18 Pada Perang Dunia I terdapat lebih dari 60 juta jiwa terbunuh. Pada abad ke- jumlah korban

  Jaminan perlakuan dan perlindungan yang sama untuk semua individu/warga negara yang sedang bersengketa baik militer atau sipil merupakanlandasan utama pemikiran para ahli Hukum Internasional untuk menciptakan hukum Humaniter Internasional sebagai bagian dari hukum Internasional. Mochtar Kusumaatmadja mengemukakan bahwa :“Hukum Humaniter merupakan bagian dari hukum yang mengatur ketentuan-ketentuan perlindungankorban perang, berlainan dengan hukum perang yang mengatur perang itu sendiri dan 20 segala sesuatu yang menyangkut cara melakukan melakukan perang itu sendiri”.

3. Pengertian Kejahatan Kemanusiaan

  26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM terdapat sedikit perbedaan tetapi secara umum adalah, salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dariserangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut secara langsung ditujukan pada penduduk sipil, yaitu berupa :a. International Crimes sendiri didefinisikan sebagai kejahatan-kejahatan yang karena tingkat kekejamannya, tidak satu pun pelakunya boleh menikmati imunitas dari jabatannya; dan tidak adayuridiksi dari satu negara tempat kejahatan itu terjadi bisa digunakan untuk mencegah proses peradilan oleh masyarakat internasional terhadapnya.

F. Metode Penelitian

  Sifat/Bentuk PenelitianDalam penulisan skripsi ini, penulis mempergunakan dan melakukan pengumpulan data-data untuk mendukung dan melengkapi penulisan skripsi inidengan cara Library Research (penelitian kepustakaan). Langkah pertama dilakukan penelitianhukum normatif yang didasarkan pada bahan hukum sekunder yaitu inventarisasi peraturan-peraturan yang berkaitan upaya instrument hukum internasional yangmengatur mengenai kejahatan kemanusiaan yang meupakan bagian dari kejahatan internasional.

2. Teknik Pengumpulan Data

  Bahan Hukum Tersier atau bahan hukum penunjang yang mencakup bahan yang memberi petunjuk-petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer dansekunder, seperti kamus umum, kamus hukum serta bahan-bahan primer, sekunder dan tersier di luar bidang hukum yang relevan dan dapat dipergunakan untuk 25 melengkapi data yang diperlukan dalam penelitian ini. 195, sebagaimana dikutip dari Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif suatu Pada bagian akhir, data yang berupa peraturan perundang-undangan ini diteliti dan dianalisis secara induktif kualitatif yang diselaraskan dengan hasil dari datapendukung yang diperoleh, yaitu berupa data-data skunder melalui penelitian kepustakaan (library research).

G. Sistematika Penulisan

  Untuk memudahkan pembahasan skripsi ini, maka penulis akan membuat sistematika secara teratur dalam bagian-bagian yang semuanya saling berhubungansatu dengan yang lain. Adapun gambaran isi atau sistematika tersebut adalah sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN Bab ini merupakan pembukaan yang berisikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, keaslian penulisan, tinjauan kepustakaan, metode penulisan dan yang terakhir adalah gambaran isiyang merupakan sistematika penulisan.

BAB II I KEJAHATAN KEMANUSIAAN SEBAGAI KEJAHATAN INTERNASIONAL Pada bab ini akan dibahas hal-hal yang berkaitan dengan Tinjauan Umum mengenai Kejahatan Internasional, Kejahatan Kemanusiaan

ANALISA PENYERANGAN ISRAEL TERHADAP

BAB IV PALESTINA DITINJAU DARI PERSFEKTIF KEJAHATAN KEMANUSIAAN DALAM KERANGKA HUKUM INTERNASIONAL Pada bab ini akan dibahas hal-hal yang berkaitan dengan Penyerangan Israel terhadap Pelestina Menurut Hukum Humaniter Internasional, Penyerangan Israel terhadap Pelestina Menurut Hukum Hak Asasi Manusia, Penyerangan Israel terhadap Pelestina Menurut Statuta Roma dan Peranan PBB dalam Konflik Israel terhadap Pelestina. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini merupakan bab penutup yang berisikan tentang kesimpulan

  sebagai Kejahatan Internasional, Yurisdiksi Pengadilan Internasional terhadap Pelaku Kejahatan Internasional dan Mekanisme PenegakanHukum Internasional terhadap Kejahatan Kemanusiaan. penulis dari pembahasan terhadap pokok permasalahan serta saran- saran penulis atas bagaimana sebaiknya langkah-langkah yang diambildi dalam mengatasi permasalahan tersebut.

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Penerapan Hukum Internasional dalam Menyelesaikan Konflik Internasional Israel dan Palestina.
25
142
126
Pelanggaran Hak Asasi Manusia Oleh Israel Terhadap Warga Sipil Palestina Ditinjau Dari Hukum Internasional
4
74
100
Mekanisme Penegakan Hukum (Law Enforcement) Terhadap Kejahatan-Kejahatan Internasional Dalam Perspektif Hukum Humaniter
16
96
108
ANALISIS HUKUM KONFLIK BERSENJATA ANTARA PALESTINA DAN ISRAEL DARI SUDUT PANDANG HUKUM HUMANITER INTERNASIONAL
0
21
18
ANALISIS HUKUM KONFLIK BERSENJATA ANTARA PALESTINA DAN ISRAEL DARI SUDUT PANDANG HUKUM HUMANITER INTERNASIONAL
0
6
10
Kejahatan Kemanusiaan sebagai Pelanggaran HAM Berat Terhadap Penduduk Sipil di Republik Afrika Tengah Ditinjau dari Hukum Internasional
1
20
121
PENGATURAN KEJAHATAN PERANG DALAM KONFLIK BERSENJATA MENURUT HUKUM HUMANITER INTERNASIONAL (Studi Kasus Perang 22 Hari Israel ke palestina).
0
0
9
PEMBERITAAN ISRAEL DAN PALESTINA DI MEDIA MASSA Analisis Framing Berita tentang Penyerangan Israel ke jalur Gaza Palestina di Harian Republika dan Kompas.
0
0
28
PENGGUNAAN BOM CURAH (CLUSTER BOMB) PADA AGRESI MILITER ISRAEL KE PALESTINA DALAM PERSPEKTIF HUKUM HUMANITER INTERNASIONAL.
0
1
16
Memahami Persoalan Palestina-Israel dari Perspektif Islam | Suswanta | Jurnal Hubungan Internasional 293 882 1 PB
0
0
6
Kejahatan Kemanusiaan sebagai Pelanggaran HAM Berat Terhadap Penduduk Sipil di Republik Afrika Tengah Ditinjau dari Hukum Internasional
0
0
11
Kejahatan Kemanusiaan sebagai Pelanggaran HAM Berat Terhadap Penduduk Sipil di Republik Afrika Tengah Ditinjau dari Hukum Internasional
0
0
2
Kejahatan Kemanusiaan sebagai Pelanggaran HAM Berat Terhadap Penduduk Sipil di Republik Afrika Tengah Ditinjau dari Hukum Internasional
0
0
14
Kejahatan Kemanusiaan sebagai Pelanggaran HAM Berat Terhadap Penduduk Sipil di Republik Afrika Tengah Ditinjau dari Hukum Internasional
0
0
17
Kejahatan Kemanusiaan sebagai Pelanggaran HAM Berat Terhadap Penduduk Sipil di Republik Afrika Tengah Ditinjau dari Hukum Internasional
0
1
5
Show more