Karakteristik Penderita Hydrocephalus Rawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009

Gratis

2
33
115
2 years ago
Preview
Full text
KARAKTERISTIK PENDERITA HYDROCEPHALUS RAWAT INAP DI RSUP. H. ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2005-2009 SKRIPSI Oleh : VILINO MELDA SITEPU NIM. 061000147 FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Hydrocephalus adalah keadaan patologi otak yang mengakibatkan bertambahnya Cairan Serebrospinalis (CSS) dengan tekanan intrakarnial yang meninggi sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat mengalirnya CSS. Di RSUP H. Adam Malik Kota Medan terdapat 141 penderita pada tahun 2005-2009. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain case series. Populasi adalah data penderita hydrocephalus rawat inap di RSUP H. Adam Malik Kota Medan tahun 2005-2009 sebanyak 141 data. Sampel adalah data seluruh populasi (total sampling) dilanjutkan dengan analisis statistik uji chi square, t-test, Anova atau uji Kruskal Wallis. Kecendrungan kunjungan penderita hydrocephalus berdasarkan data tahun 2005-2009 menunjukkan penurunan dengan persamaan garis y = − 5,7 x + 45,3 . Umur termuda 5 hari (1 orang) dan yang tertua berumur 55 tahun (2 orang), serta proporsi tertinggi pada kelompok umur 0-6 tahun 69,5%. Sex ratio 1,14, suku Jawa32,6%, agama Islam 77,3%, pendidikan belum sekolah/tidak tamat SD 74,5%, pekerjaan belum bekerja 70,9%, sumber biaya Jamkesmas 81,6%, pembesaran kepala 64,5%, hydrocephalus non komunikans 45,4%, kelainan kongenital 43,3%, penatalaksanaan medis pemberian obat-obatan 60,3%, lama rawatan rata-rata 13,77 hari, pulang berobat jalan 76,6%, pulang atas permintaan sendiri 19,9% dan Case Fatality Rate (CFR) 3,5%. Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna antara umur berdasrkan klasifikasi hydrocephalus (p=0,110), ada perbedaan proporsi yang bermakna antar keluhan utama berdasarkan klasifikasi hydrocephalus (p=0,026), proporsi keluhan utama kejang secara bermakna lebih tinggi pada hydrocephalus non komunikans dibandingkan dengan hydrocephalus komunikans (X2=7,325, p=0,026; 23,4% vs 9,4%), tidak ada perbedaan yang bermakna antara lama rawatan rata-rata berdasarkan sumber biaya (p=0,919), lama rawatan ratarata berdasarkan keadaan sewaktu pulang (p=0,925), penatalaksanaan medis berdasarkan sumber biaya (p=0,747). Diharapkan kepada dokter dan perawat RSUP H. Adam Malik Medan agar memberikan pemahaman kepada penderita dan keluarga penderita tentang penatalaksanaan hydrocephalus agar dapat mengurangi jumlah penderita yang pulang atas permintaan sendiri. Kepada Dokter RSUP H. Adam Malik Medan diharapkan untuk melengkapi pencatatan rekam medik khususnya yang berkaitan dengan hydrocephalus yaitu riwayat penyakit sebelumnya, jenis kelainan kongenital dan klasifikasi hydrocephalus. Kepada ibu hamil diharapkan untuk melakukan antenatal care. Kata Kunci: Hydrocephalus, Karakteristik Penderita Universitas Sumatera Utara ABSTRACT Hydrocephalus is a state of brain pathology that resulted in increased cerebrospinal fluid (CSF) with a rising intrakarnial pressure so that there is widening of the room where the flow of CSF. In H. Adam Malik Medan Hospital Centre there were 141 patients in 2005 to 2009. This is descriptive research with case series design. The population is 141 hydrocephalus patients hospitalized in H. Adam Malik Medan Hospital Centre in 2005-2009. Sample is the entire population data (total sampling) continued by statistical analysis chi square, t-test, Anova or Kruskal Walli. Based on 2005-2009 data, there was aqueous decreasing tendency of hydrocephalus cases as it showed by the formula y=-5,7+45,3. The youngest age 5 days (one person) and the oldest was 55 year (two persons), and the highest proportion was in the age 0-6 years old 69,5%. Sex ratio 1,14, Jawanese 32,6%, Moslem 77,3%, education is not school / did not complete primary school 74,5%, of work is not working, funding source Jamkesmas 81,6%, enlargement of the head 64,5%, hydrocephalus non communicans 45,4%, congenital abnormalities 43,3%, medical management of drugs 60,3%, the average treatment time 13,77 days, returned 76,6% outpatient. Statistical analysis showed there wasn’t significant difference between age on basis of classification (p=0,110), there was significant difference between the main complaint on basis of classification of hydrocephalus (p=0,026), proportion of chief complaints seizures were significantly higher in non communicans hydrocephalus compared with hydrocephalus communicans, there wasn’t significant difference between the old treatment based on average cost sources (p=0,919), duration of treatment based on state average during the home ( p=0,925), medical management based on source of funding (p = 0,747). To doctors and nurse in H. Adam Malik Medan Hospital Centre to give understanding to the patients and their families about the of hydrocephalus in order to reduce the number of patients who returned at their own request. The Medical Records is expected to complete the data in H. Adam Malik Medan Hospital Centre especially related with hydrocephalus such as family medical history of disease and types of congenital abnormalities and classification of hydrocephalus. To pregnant women are expected to perform antenatal care. Keywords: Hydrocephalus, the characteristics of patient Universitas Sumatera Utara DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama : Vilino Melda Sitepu Tempat/Tanggal Lahir : Binjai/ 08 Oktober 1988 Agama : Islam Status Perkawinan : Belum Menikah Jumlah anggota keluarga : 4 (empat) bersaudara Nama Ayah : Sehat Sitepu Nama Ibu : Alm. Siti Sumarni Perangin-angin Alamat rumah : Jln. Aek Song – songan Kec.Bandar Pulau, Kab. Asahan. Riwayat Pendidikan : 1. SDN No. 013835 B. Pulau (1994 – 2000) 2. SLTP Negeri 1 B. Pulau (2000 – 2003) 3. SMA Negeri 1 B. Pulau (2003 – 2006) 4. FKM USU MEDAN (2006 – 2011) Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Allah SWT karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Karakteristik Penderita Hydrocephalus Rawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Medan. Skripsi ini penulis persembahkan kepada Ayahanda Sehat Sitepu dan Ibunda Alm. Siti Sumarni Pa yang telah membesarkan, membimbing, dan mendidik penulis dengan kasih sayang serta memberikan dukungan dan do’a kepada penulis dalam menyelesaikan pendidikan. Terima kasih kepada Dosen Pembimbing I Bapak Prof. Dr. Sori Muda Sarumpaet dan Dosen Pembimbing II Ibu drh. Rasmaliah, M.Kes serta Dosen Pembanding I Ibu Prof. dr. Nerseri Barus, MPH serta Dosen Pembanding II Bapak Drs. Jemadi M. Kes yang telah meluangkan waktu dan pikirannya dalam memberi saran, kritikan dan bimbingan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Dalam penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini penulis juga ingin menyampaikan terima kasih kepada: 1. Bapak Dr. Drs. Surya Utama, M.S selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. 2. Ibu drh. Rasmaliah, M. Kes selaku Kepala Bagian Epidemiologi. 3. Bapak Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi M.Kes selaku Dosen Pembimbing Akademik. 4. Bapak Direktur Utama, Bapak Direktur SDM dan Pendidikan, Kepala Instalasi Litbang dan Staff, dan Kepala Instalasi Rekam Medik beserta Staff serta seluruh pihak terkait dalam penelitian ini di RSUP H. Adam Malik Medan. 5. Seluruh Dosen dan Pegawai di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. 6. Ibu Ratna yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Universitas Sumatera Utara 7. Seluruh keluarga yang penulis sayangi: Ayahanda Sehat Sitepu dan Ibunda Alm. Siti Sumarni Pa, Kakanda Nova Klara Sitepu, S.Pd dan Adinda Dessy Yulia Sitepu, Siti Karolina Sitepu, Ibu Butet, Adinda Windi dan Adinda Farhan Ramadhan Sitepu yang sudah begitu bijak memahami penulis apa adanya dan senantiasa memberi dukungan kepada penulis. 8. Sahabat- sahabat terbaikku (Eva, Firdha, Nia, Dani, Bang Ari, Weyha dan Desi) terima kasih atas semangat, saran, masukan, doa, dan canda tawa selama ini. 9. Para alumni yang telah banyak membantu penulis dalam penyelesaian skripsi ini. 10. Temen-temen peminatan Epidemiologi FKM-USU, Media, Arinil, Sintha, Vera, Anta, Mika, Vivi, Bang Rafael, Kak Frida, Kak Nur, Kak Neni, Kak Lia, semua kakak yang dipemondokan Hasanah (Kak Mida,Kak Ika dan Kak Debi) dan lainnya terima kasih atas doa, bantuan, semangat dan kebersamaannya dalam meraih gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat. 11. Temen-teman pengurus dan mantan pengurus PHBI FKM USU dan HIMAB Bandar Pulau terima kasih atas doa dan dukungan kepada penulis. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan dan kesempurnaan skripsi ini. Semoga Alllah SWT selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua dan semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca. Amin… Medan, Januari 2011 Penulis Vilino Melda Sitepu Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI ABSTRAK ...................................................................................................... ABSTRACT.................................................................................................... DAFTAR RIWAYAT HIDUP ........................................................................ KATA PENGANTAR .................................................................................... DAFTAR ISI .................................................................................................. DAFTAR TABEL........................................................................................... DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN................................................................................... i ii iii iv vi ix xi xiii BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................... 1.1. Latar belakang ................................................................................ 1.2. Perumusan Masalah........................................................................ 1.3. Tujuan Penelitian ........................................................................... 1.3.1. Tujuan Umum ....................................................................... 1.3.2. Tujuan Khusus ..................................................................... 1.4. Manfaat Penelitian.......................................................................... 1 1 5 5 5 5 7 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................... 8 2.1. Pengertian Hydrocephalus ............................................................. 8 2.2. Anatomi dan Fisiologi Hydrocephalus ............................................ 8 2.3. Etiologi .......................................................................................... 9 2.3.1. Kelainan Bawaan ........................................................................ 10 2.3.2. Infeksi ......................................................................................... 11 2.3.3. Neoplasma .................................................................................. 13 2.3.4. Perdarahan .................................................................................. 13 2.4. Epidemiologi.................................................................................. 14 2.4.1. Distribusi dan Frekuensi ........................................................ 14 2.4.2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi ....................................... 16 2.5. Klasifikasi Hydrocephalus .............................................................. 17 2.5.1. Gambaran Klinis ................................................................... 17 2.5.2. Waktu Pembentukan ............................................................ 17 2.5.3. Proses Terbentuknya ............................................................. 17 2.5.4. Sirkulasi Cairan Serebrospinal ............................................... 18 2.6. Gambaran Klinis ............................................................................ 18 2.6.1. Neonatus ................................................................................ 18 2.6.2. Dewasa................................................................................. 19 2.7. Pencegahan .................................................................................... 20 2.7.1. Pencegahan Primer ................................................................ 20 Universitas Sumatera Utara 2.7.2. Pencegahan Sekunder ............................................................ 21 2.7.3. Pencegahan Tersier ............................................................... 23 BAB 3 KERANGKA KONSEP ...................................................................... 3.1. Kerangka Konsep ........................................................................... 3.2. Definisi Operasional ....................................................................... BAB 4 METODE PENELITIAN ................................................................... 4.1. Jenis dan Rancangan Penelitian....................................................... 4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian........................................................... 4.2.1. Lokasi Penelitian................................................................... 4.2.2. Waktu Penelitian ................................................................... 4.3. Populasi dan Sampel....................................................................... 4.3.1 Populasi ................................................................................ 4.3.2 Sampel ................................................................................. 4.4. Metode Pengumpulan Data ............................................................. 4.5. Teknik Pengolahan dan Analisa Data .............................................. 4.5.1. Analisis Univariat ................................................................ 4.5.2. Analisis Bivariat .................................................................. 25 25 25 30 30 30 30 30 30 30 31 31 31 31 32 BAB 5 HASIL PENELITIAN.............................................................................. 33 5.1. Gambaran Umum RSUP H. Adam Malik Medan................................ 33 5.1. Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Tahun .............................................................................................. 36 5.2. Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Sosiodemografi .............................................................................. 36 ............................................................................................................. 5.3. Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Keluhan Utama .............................................................................. 40 5.4. Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Klasifikasi Hydrocephalus .............................................................. 40 5.5. Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Riwayat Penyakit Sebelumnya ........................................................ 41 5.6. Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Penatalaksanaan Medis ................................................................... 42 5.7. Lama Rawatan Rata-Rata Penderita Hydrocephalus ........................ 43 5.8. Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang................................................................ 44 5.9. Analisa Statistik ............................................................................. 47 5.12.1. Umur Berdasarkan Klasifikasi Hydrocephalus ................... 47 5.12.2. Keluhan Utama Berdasarkan Klasifikasi Hydrocephalus .... 48 5.12.3. Penatalaksanaan Medis Berdasarkan Sumber Biaya ............ 49 5.12.4. Lama Rawatan Rata-Rata Berdasarkan Sumber Biaya ........ 50 Universitas Sumatera Utara 5.12.5. Penatalaksanaan Medis Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang .............................................................................. 51 5.12.6. Lama Rawatan Rata-Rata Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang .............................................................................. 52 BAB 6 PEMBAHASAN .................................................................................. 6.1. Distribusi Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Tahun .................. 6.2. Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Sosiodemografi .............................................................................. 6.2.1. Umur dan Jenis Kelamin ....................................................... 6.2.2. Suku ..................................................................................... 6.2.3. Agama .................................................................................. 6.2.4. Pendidikan ............................................................................ 6.2.5. Pekerjaan .............................................................................. 6.2.6. Status Perkawinan ................................................................. 6.2.7. Sumber Biaya ....................................................................... 6.3. Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Keluhan Utama .............................................................................. 6.4. Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Klasifikasi Hydrocephalus .............................................................. 6.5. Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Riwayat Penyakit Sebelumnya ........................................................ 6.6. Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Penatalaksanaan Medis ................................................................... 6.7. Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Lama Rawatan Rata-Rata ............................................................... 6.8. Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang................................................................ 6.9. Analisa Statistik ............................................................................. 6.9.1. Umur Berdasarkan Klasifikasi Hydrocephalus ..................... 6.9.2. Keluhan Utama Berdasarkan Klasifikasi Hydrocephalus ...... 6.9.3. Penatalaksanaan Medis Berdasarkan Sumber Biaya.............. 6.9.4. Lama Rawatan Rata- Rata Berdasarkan Sumber Biaya ......... 6.9.5. Penatalaksanaan Medis Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang ................................................................................ 6.9.6. Lama Rawatan Rata-Rata Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang ................................................................................ 53 53 54 54 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 69 69 70 72 73 74 76 BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................ 78 7.1. Kesimpulan .................................................................................... 78 7.2. Saran.............................................................................................. 80 Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN DAFTAR TABEL Tabel 5.1. Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Rawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 Berdasarkan Rincian Tahun .............................................................................................. 36 Tabel 5.2. Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Rawat Inap Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 ................................................................. 37 Tabel 5.3. Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Rawat Inap Berdasarkan Sosiodemografi di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 ............................................................................ 38 Tabel 5.4. Distribusi Proporsi Penderita Hydocephalus Rawat Inap Berdasarkan Keluhan Utama di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 ............................................................................ 40 Tabel 5.5. Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Rawat Inap Berdasarkan Klasifikasi Hydrocephalus di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 ................................................................. 40 Tabel 5.6. Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Rawat Inap Berdasarkan Riwayat Penyakti Sebelumnya di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 ....................................................... 41 Tabel 5.7. Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Rawat Inap Berdasarkan Penatalaksanaan Medis di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 ................................................................. 43 Tabel 5.8. Lama Rawatan Rata-Rata Penderita Hydrocephalus Rawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 .............................. 43 Tabel 5.9. Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Rawat Inap Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 ................................................................. 45 Tabel 5.10. Distribusi Proporsi Umur Berdasarkan Klasifikasi Hydrocephalus Penderita Hydrocephalus Rawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 ................................................................. 47 Universitas Sumatera Utara Tabel 5.11. Distribusi Proporsi Keluhan Utama Berdasarkan Klasifikasi Hydrocephalus Penderita Hydrocephalus Rawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 ............................................. 48 Tabel 5.12. Distribusi Proporsi Penatalaksanaan Medis Berdasarkan Sumber Biaya Penderita Hydrocephalus Rawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 ....................................................... 49 Tabel 5.13. Distribusi Lama Rawatan Rata-Rata Berdasarkan Sumber Biaya Penderita Hydrocephalus Rawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 ................................................................. 50 Tabel 5.14. Distribusi Proporsi Penatalaksanaan Medis Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang Penderita Hydrocephalus Rawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 ............................................. 51 Tabel 5.15. Distribusi Lama Rawatan Rata-Rata Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang Penderita Hydrocephalus Rawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 ............................................. 52 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1. Anatomi Otak .................................................................................. 9 Gambar 2.2. Hydrocephalus................................................................................. 20 Gambar 6.1. Grafik Garis Trend Kunjungan Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Tahun di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 ....................................................................................... 53 Gambar 6.2. Diagram Bar Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 ....................................................................................... 54 Gambar 6.3. Diagram Bar Suku Penderita Hydrocephalus yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 ................... 56 Gambar 6.4. Diagram Pie Agama Penderita Hydrocephalus yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 ................... 57 Gambar 6.5. Diagram Pie Pendidikan Penderita Hydrocephalus yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 20052009 ................................................................................................ 58 Gambar 6.6. Diagram Bar Pekerjaan Penderita Hydrocephalus yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 20052009 ................................................................................................ 59 Gambar 6.7. Diagram Pie Status Perkawinan Penderita Hydrocephalus yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 ....................................................................................... 60 Gambar 6.8. Diagram Pie Sumber Biaya Penderita Hydrocephalus yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 20052009 ................................................................................................ 61 Gambar 6.9. Diagram Bar Keluhan Utama Penderita Hydrocephalus yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 20052009 ................................................................................................ 62 Gambar 6.10. Diagram Pie Klasifikasi Hydrocephalus Penderita Hydrocephalus yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 ................................................................. 63 Universitas Sumatera Utara Gambar 6.11. Gambar 6.12. Diagram Bar Riwayat Penyakit Sebelumnya Penderita Hydrocephalus yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 ................................................................ 64 Diagram Pie Penatalaksanaan Medis Penderita Hydrocephalus yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 ................................................................. 65 Gambar 6.13. Diagram Pie Keadaan Sewaktu Pulang Penderita Hydrocephalus yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 ................................................................. 67 Gambar 6.14. Diagram Bar Umur Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Klasifikasi Hydrocephalus yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 ............................................. 69 Gambar 6.14. Diagram Bar Keluhan Utama Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Klasifikasi Hydrocephalus yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 .............................. 70 Gambar 6.15. Diagram Bar Penatalaksanaan Medis Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Sumber Biaya yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 ................... 72 Gambar 6.17. Diagram Bar Lama Rawatan Rata-Rata Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Sumber Biaya yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 ................... 73 Gambar 6.16. Diagram Bar Penatalaksanaan Medis Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 20052009 ............................................................................................... 74 Gambar 6.18. Diagram Bar Lama Rawatan Rata-Rata Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 20052009 ................................................................................................ 76 Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Analisa Kecenderungan dengan Metode Kuadrat Terkecil (Least Squares) Lampiran 2. Master Data Lampiran 3. Output Master Data Lampiran 4. Surat Penelitian dari FKM USU Lampiran 5. Surat Selesai Penelitian dari RSUP H. Adam Malik Medan Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Hydrocephalus adalah keadaan patologi otak yang mengakibatkan bertambahnya Cairan Serebrospinalis (CSS) dengan tekanan intrakarnial yang meninggi sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat mengalirnya CSS. Di RSUP H. Adam Malik Kota Medan terdapat 141 penderita pada tahun 2005-2009. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain case series. Populasi adalah data penderita hydrocephalus rawat inap di RSUP H. Adam Malik Kota Medan tahun 2005-2009 sebanyak 141 data. Sampel adalah data seluruh populasi (total sampling) dilanjutkan dengan analisis statistik uji chi square, t-test, Anova atau uji Kruskal Wallis. Kecendrungan kunjungan penderita hydrocephalus berdasarkan data tahun 2005-2009 menunjukkan penurunan dengan persamaan garis y = − 5,7 x + 45,3 . Umur termuda 5 hari (1 orang) dan yang tertua berumur 55 tahun (2 orang), serta proporsi tertinggi pada kelompok umur 0-6 tahun 69,5%. Sex ratio 1,14, suku Jawa32,6%, agama Islam 77,3%, pendidikan belum sekolah/tidak tamat SD 74,5%, pekerjaan belum bekerja 70,9%, sumber biaya Jamkesmas 81,6%, pembesaran kepala 64,5%, hydrocephalus non komunikans 45,4%, kelainan kongenital 43,3%, penatalaksanaan medis pemberian obat-obatan 60,3%, lama rawatan rata-rata 13,77 hari, pulang berobat jalan 76,6%, pulang atas permintaan sendiri 19,9% dan Case Fatality Rate (CFR) 3,5%. Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna antara umur berdasrkan klasifikasi hydrocephalus (p=0,110), ada perbedaan proporsi yang bermakna antar keluhan utama berdasarkan klasifikasi hydrocephalus (p=0,026), proporsi keluhan utama kejang secara bermakna lebih tinggi pada hydrocephalus non komunikans dibandingkan dengan hydrocephalus komunikans (X2=7,325, p=0,026; 23,4% vs 9,4%), tidak ada perbedaan yang bermakna antara lama rawatan rata-rata berdasarkan sumber biaya (p=0,919), lama rawatan ratarata berdasarkan keadaan sewaktu pulang (p=0,925), penatalaksanaan medis berdasarkan sumber biaya (p=0,747). Diharapkan kepada dokter dan perawat RSUP H. Adam Malik Medan agar memberikan pemahaman kepada penderita dan keluarga penderita tentang penatalaksanaan hydrocephalus agar dapat mengurangi jumlah penderita yang pulang atas permintaan sendiri. Kepada Dokter RSUP H. Adam Malik Medan diharapkan untuk melengkapi pencatatan rekam medik khususnya yang berkaitan dengan hydrocephalus yaitu riwayat penyakit sebelumnya, jenis kelainan kongenital dan klasifikasi hydrocephalus. Kepada ibu hamil diharapkan untuk melakukan antenatal care. Kata Kunci: Hydrocephalus, Karakteristik Penderita Universitas Sumatera Utara ABSTRACT Hydrocephalus is a state of brain pathology that resulted in increased cerebrospinal fluid (CSF) with a rising intrakarnial pressure so that there is widening of the room where the flow of CSF. In H. Adam Malik Medan Hospital Centre there were 141 patients in 2005 to 2009. This is descriptive research with case series design. The population is 141 hydrocephalus patients hospitalized in H. Adam Malik Medan Hospital Centre in 2005-2009. Sample is the entire population data (total sampling) continued by statistical analysis chi square, t-test, Anova or Kruskal Walli. Based on 2005-2009 data, there was aqueous decreasing tendency of hydrocephalus cases as it showed by the formula y=-5,7+45,3. The youngest age 5 days (one person) and the oldest was 55 year (two persons), and the highest proportion was in the age 0-6 years old 69,5%. Sex ratio 1,14, Jawanese 32,6%, Moslem 77,3%, education is not school / did not complete primary school 74,5%, of work is not working, funding source Jamkesmas 81,6%, enlargement of the head 64,5%, hydrocephalus non communicans 45,4%, congenital abnormalities 43,3%, medical management of drugs 60,3%, the average treatment time 13,77 days, returned 76,6% outpatient. Statistical analysis showed there wasn’t significant difference between age on basis of classification (p=0,110), there was significant difference between the main complaint on basis of classification of hydrocephalus (p=0,026), proportion of chief complaints seizures were significantly higher in non communicans hydrocephalus compared with hydrocephalus communicans, there wasn’t significant difference between the old treatment based on average cost sources (p=0,919), duration of treatment based on state average during the home ( p=0,925), medical management based on source of funding (p = 0,747). To doctors and nurse in H. Adam Malik Medan Hospital Centre to give understanding to the patients and their families about the of hydrocephalus in order to reduce the number of patients who returned at their own request. The Medical Records is expected to complete the data in H. Adam Malik Medan Hospital Centre especially related with hydrocephalus such as family medical history of disease and types of congenital abnormalities and classification of hydrocephalus. To pregnant women are expected to perform antenatal care. Keywords: Hydrocephalus, the characteristics of patient Universitas Sumatera Utara BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan kesehatan merupakan upaya seluruh potensi bangsa Indonesia, bagi masyarakat, swasta maupun pemerintah untuk mencapai tujuan akhirnya yaitu kesejahteraan masyarakat. Hal ini juga merupakan Tujuan Pembangunan Milenium atau lebih dikenal dengan istilah Millenium Development Goals (MDGs) yang dicetuskan WHO (World Health Organization) pada tahun 2000. Indonesia termasuk salah satu dari 189 negara yang menyepakati 8 (delapan) tujuan Millenium Development Goals (MDGs), yang pencapaianya dicanangkan paling lambat pada tahun 2015. Indonesia menargetkan pada tahun 2015 Angka Kematian Bayi (AKB) diturunkan menjadi 170 bayi per 10.000 kelahiran.1,2 Berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 1997, Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia adalah 46 bayi per 1.000 kelahiran kemudian mengalami penurunan pada tahun 2007 menjadi 35 bayi per 1.000 kelahiran. Bila dirincikan 157.000 bayi meninggal dunia pertahun atau 430 bayi meninggal per hari. Hal ini menunjukka n bahwa Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia sekarang ini merupakan kematian bayi tertinggi di negara ASEAN.2 Penanganan kesehatan reproduksi juga dilakukan pengelolaan dan meningkatkan potensi reproduksi manusia, sehingga mengangkat kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Dalam ruang lingkup kesehatan, reproduksi dapat mengalami gangguan, yang mengakibatkan kegagalan fungsi seorang wanita untuk hamil dan melahirkan bayi sehat. Salah satu dari penyebab yang mempengaruhi Universitas Sumatera Utara adalah infeksi TORCH (Toxoplas, Orther’s, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes simplex virus).3 Infeksi ini jika terjadi pada awal kehamilan dapat menyebabkan abortus, lahir mati, premature, atau kelainan kongenital berupa hydrocephalus, mikrophtalmia, mikrosephalus, dan endophtalmia. Jika infeksi terjadi pada akhir kehamilan dapat menyebabkan retardasi mental, retinokoroiditis, dan lesi pada organ tubuh.Di Indonesia sering dijumpai bayi yang dilahirkan dengan kelainan kongenital seperti hydrocephalus, kejang, korioretinitis, hepatospenomegali dan lain – lain.3,4 Kelainan kongenital merupakan penyebab penting terjadinya abotus/keguguran, lahir mati atau kematian segera setelah lahir (perinatal). Kadang kadang suatu kelainan kongenital belum ditemukan beberapa saat setelah kelahiran bayi. Kelainan kongenital pada bayi baru lahir dapat berupa satu jenis kelainan saja atau dapat pula beberapa kelainan kongenital yang terjadi secara bersamaan yang disebut kelainan kongenital multiple.2 Hydrocephalus dapat terjadi pada setiap golongan umur, karena berbagai hal yang menyebabkannya. Sekarang dokter mulai mengidentifikasi dan menemukan hal yang berbeda dari hydrocephalus yang muncul pada golongan dewasa. Tekanan normal pada intrakranial ditemukan pada orang dewasa yang menderita hydrocephalus. Berbeda dari hydrocephalus yang di diagnosis pada masa bayi dan kanak-kanak.5 Data di Amerika Serikat pada tahun 2006 menyatakan 15%-30% wanita mempunyai antibodi terhadap toxoplasma. Menurut Sunaryo (2006), infeksi TORCH di Indonesia pada kehamilan menunjukkan prevalensi cukup tinggi, berkisar antara Universitas Sumatera Utara 5,5% sampai 84%. Beberapa penelitian di Indonesia memperoleh, dari ibu yang menderita Toxoplasmosis, sebanyak 56% bayi dapat menderita Toxoplasmosis kongenital bila ibu tersebut tidak diberi pengobatan selama kehamilan. Infeksi TORCH oleh Cornain dan kawan – kawan (1994) pada 67% wanita kasus infertilitas didapatka sebanyak 10,3 Toxoplasma, 13,8% positif Rubella, 13,8% positif infeksi CMV. Prevalensi toxoplasmosis di Jakarta sebesar 61,6%, Bandung 74,5%, Surabaya 55,5%, Yogyakarta 55,4%, Denpasar 23,0%, dan Semarang 44,0%.3 Insiden kelainan bawaan di Indonesia tahun 2009 berkisar 15 per 1.000 kelahiran. Angka kejadian ini akan menjadi 4 – 5% bila bayi diikuti terus sampai berusia 1 tahun. Menurut Maryuni tahun 2009, angka kejadian kelainan kongenital dibeberapa rumah sakit di Indonesia yaitu RSCM Jakarta tahun 1975 – 1979 sebanyak 11,61 per 1.000 kelahiran hidup dan RS Pirngadi Medan tahun 1977 – 1980 sebanyak 3,3 per 1.000 kelahiran hidup.2 Hydrocepkalus hydrocephalus Komunikans berdasarkan merupakan sirkulasi cairan salah satu cerebrospinal. dari klasifikasi Hydrocephalus Komunikans dapat disebabkan oleh meningitis bakterialis, toksoplasmosis, infeksi virus sitomegalo, dan perdarahan subaraknoid. Hydrocephalus ini terjadi ketika aliran CSF diblokir setelah keluar dari ventrikel.6,7 Secara keseluruhan insiden dari Hydrocephalus Infantil di dunia tahun 2002 adalah sekitar 1-2 per 1.000 kelahiran. Insiden hydrocephalus yang diperoleh pada orang dewasa tidak diketahui karena terjadi sebagai akibat dari cedera, penyakit, atau faktor lingkungan. Hydrocephalus pada orang dewasa dapat terjadi pada 1 per 1.000 orang.8,9 Universitas Sumatera Utara Di Inggris pada tahun 2005 hydrocephalus terjadi 6,46 per 10.000 kelahiran, 1 kematian janin akibat hydrocephalus dan 5 kasus aborsi diinduksi terjadi setelah diagnosis pralahir hydrocephalus.10 Insidens Hydrocephalus Kongenital di Amerika Serikat pada tahun 2008 adalah 3 per 1.000 kelahiran hidup, kasus spina bifida disertakan bawaan hydrocephalus terjadi pada 2-5 kelahiran per 1.000 kelahiran. Sedangkan insidens Hydrocephalus Akuisita tidak diketahui persis karena berbagai gangguan yang menyebabkan itu. 8,11 Prevalensi hydrocephalus pada tahun 2008 di dunia cukup tinggi, di Belanda dilaporkan terjadi kasus sekitar 6,5 per 10.000 kelahiran pertahun dan di Amerika Serikat 2 per 1.000 kelahiran pertahun.12 Pada tahun 1996 kasus hydrocephalus di Indonesia mencapai 20 kasus per 10.000 kelahiran. Sementara itu Thanman (2006), melaporkan bahwa insidens hydrocephalus antara 2 – 40 setiap 10.000 kelahiran.2 Dari hasil survei pendahuluan di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2005 2009 diperoleh jumlah penderita hydrocephalus sebanyak 141 orang, dengan rincian tahun 2005 sebanyak 33 orang, 2006 sebanyak 36 orang, 2007 sebanyak 39 orang, tahun 2008 sebanyak 21 orang dan tahun 2009 sebanyak 12 orang. Bardasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka perlu dilakukan penelitian tentang karakteristik penderita hydrocephalus di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2005 – 2009. Universitas Sumatera Utara 1.2. Perumusan Masalah Belum diketahui karakteristik penderita hydrocephalus yang dirawat inap di RSUP H.Adam Malik Medan Tahun 2005 – 2009. 1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Untuk mengetahui gambaran karakteristik penderita hydrocephalus yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005 – 2009. 1.3.2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui kecenderungan kunjungan penderita hydrocephalus ke RSUP H.Adam Malik berdasarkan data pada tahun 2005 – 2009. b. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita hydrocephalus menurut sosiodemografi: umur, jenis kelamin, suku, agama, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan. c. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita hydrocephalus proporsi penderita hydrocephalus penderita hydrocephalus penderita hydrocephalus berdasarkan keluhan utama. d. Untuk mengetahui distribusi berdasarkan klasifikasi hydrocephalus. e. Untuk mengetahui distribusi proporsi berdasarkan lama keluhan rata – rata. f. Untuk mengetahui distribusi proporsi berdasarkan riwayat penyakit sebelumnya. Universitas Sumatera Utara g. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan penatalaksanaan medis yang didapatkan penderita. h. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan sumber biaya. i. Untuk mengetahui lama rawatan rata – rata penderita hydrocephalus. j. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan keadaan sewaktu pulang. k. Untuk mengetahui perbedaan proporsi umur berdasarkan klasifikasi hydrocephalus. l. Untuk mengetahui perbedaan proporsi keluhan utama berdasarkan klasifikasi hydrocephalus. m. Untuk mengetahui perbedaan proporsi penatalaksanaan medis berdasarkan sumber biaya. n. Untuk mengetahui distribusi lama rawatan rata – rata berdasarkan sumber biaya. o. Untuk mengetahui perbedaan proporsi penatalaksanaan medis berdasarkan keadaan sewaktu pulang. p. Untuk mengetahui distribusi lama rawatan rata – rata berdasarkan keadaan sewaktu pulang. Universitas Sumatera Utara 1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Sebagai bahan masukan dan memberikan informasi bagi RSUP H.Adam Malik Medan terutama pembuatan keputusan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dalam perawatan dan pengobatan bagi penderita hydrocephalus. 1.4.2. Menambah wawasan penulis serta menerapkan ilmu yang telah diperoleh penulis selama masa perkuliahan di FKM USU. Universitas Sumatera Utara BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Hydrocephalus Hydrocephalus adalah keadaan patologi otak yang mengakibatkan bertambahnya Cairan Serebrospinalis (CSS) dengan tekanan intrakarnial yang meninggi sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat mengalirnya CSS. Hydrocephalus Kongenital umumnya terjadi sekunder akibat malformasi susunan saraf pusat atau stenosis aquaduktus. Hydrocephalus biasanya timbul selama periode neonatus atau pada awal masa bayi. Harus dibedakan dengan pengumpulan cairan lokal tanpa tekanan intrakarnial yang meninggi seperti pada kista porensefali atau pelebaran ruangan CSS akibat tertimbunnya CSS yang menempati ruangan, sesudah terjadinya atrofi otak. Hydrocephalus yang tampak jelas dengan tanda – tanda klinis yang khas disebut hydrocephalus yang manifes. Sementara itu, hydrocephalus dengan ukuran kepala yang normal disebut sebagai hydrocephalus yang tersembunyi. Dikenal Hydrocephalus Kongenital dan Hydrocephalus Akuisita.13,14,15 2.2. Anatomi dan Fisiologi Ruangan CSS mulai terbentuk pada minggu kelima masa embrio, terdiri dari sistem ventrikel, sistem magna pada dasar otak dan ruangan subaraknoid yang meliputi seluruh susunan syaraf. CSS yang dibentuk dalam sistem ventrikel oleh pleksus koroidalis kembali ke dalam peredaran darah melalui kapiler dalam piamater dan araknoid yang meliputi seluruh susunan syaraf pusat (SSP). Hubungan antara sistem ventrikel dan ruang subaraknoid adalah melalui foramen Magendie di median Universitas Sumatera Utara dan foramen Luschka di sebelah lateral ventrikel IV. Aliran CSS yang normal ialah dari ventrikel lateralis melalui foramen Monroi ke ventrikel III, dari tempat ini melalui saluran yang sempit akuaduktus Sylvii ke ventrikel IV dan melalui foramen Luscha dan Magendie ke dalam ruang subaranoid melalui sisterna magna. Penutupan sisterna basalis menyebabkan gangguan kecepatan resorpsi CSS oleh sistem kapiler.13 Secara rinci anatomi otak dapat dilihat pada gambar berikut ini: Gambar 2.1. Anatomi Otak 2.3. Etiologi Kasus hydrocephalus terjadi 2 per 1.000 kelahiran. Kondisi ini bisa dideteksi sejak masih dalam kandungan (Congenital Hydrocephalus) sehingga tindakan lanjut dari kondisi ini sudah bisa disiapkan sejak sebelum persalinan.16 Universitas Sumatera Utara Hydrocephalus terjadi bila terdapat penyumbatan aliran CSS pada salah satu tempat antara tempat pembentukan CSS dalam sistem ventrikel dan tempat absorpsi dalam ruang subarachnoid. Akibat penyumbatan terjadi dilatasi ruangan CSS di atasnya. Penyebab penyumbatan aliran CSS yang sering terdapat pada bayi dan anak ialah: 2.3.1. Kelainan bawaan a. Stenosis aquaduktus sylvii Adalah penyumbatan aliran CSS pada tingkat saluran air dari sylvii (antara ventrikel ketiga dan keempat di otak). Merupakan penyebab yang terbanyak pada hydrocephalus bayi dan anak (60-90%). Akuaduktus dapat merupakan saluran buntu sama sekali atau abnormal lebih sempit dari biasa. Umumnya gejala hydrocephalus terlihat sejak lahir atau progresif dengan cepat pada bulan-bulan pertama setelah lahir. Stenosis aquaduktus juga merupakan penyebab yang sangat umum dari hydrocephalus kongenital. Dengan kejadian hydrocephalus 5 sampai 10 per 10.000 kelahiran hidup, stenosis aquaduktus menyumbang sekitar 20% dari kasus hydrocephalus.13,17,18 b. Spina bifida dan kranium bifida Hydrocephalus pada kelainan ini biasanya berhubungan dengan sindrom Arnold-Chiari akibat tertariknya medula spinalis dengan medula oblongata dan serebelum letaknya lebih rendah dan menutupi foramen magnum sehingga terjadi penyumbatan sebagian atau total. Kasus hydrocephalus karena spina bifida terjadi pada 20 – 50 per 10.000 kelahiran hidup.13,19 Universitas Sumatera Utara c. Sindrom Dandy-Walker Dandy-Walker juga merupakan penyebab penting Hydrocephalus Kongenital, meskipun terjadi lebih jarang. Merupakan atresia kongenital foramen Luschka dan Magendie dengan akibat Hydrocephalus Obstruktif dengan pelebaran sistem ventrikel terutama ventrikel IV yang dapat sedemikian besarnya hingga merupakan suatu kista yang besar di daerah fosa posterior. Sindrom tersebut terjadi pada sekitar 1 per 30.000 kelahiran hidup. Meskipun cacat yang hadir pada saat lahir, hydrocephalus tidak selalu hadir dalam periode neonatal. Sekitar 80% dari semua Dandy-Walker akan di diagnosis pada usia satu tahun, meskipun beberapa diagnosa mungkin tertunda hingga remaja atau dewasa.13,19 d. Kista araknoid Dapat terjadi kongenital tetapi dapat juga timbul akibat trauma sekunder suatu hematoma.13 e. Anomali Pembuluh Darah Dalam kepustakaan dilaporkan terjadinya hydrocephalus akibat aneurisma arterio-vena yang mengenai arteria serebralis posterior dengan vena Galeni atau sinus transversus dengan akibat obstruksi akuaduktus.13 2.3.2. Infeksi16,18 Infeksi pada selaput meningen dapat menimbulkan perlekatan meningen sehingga dapat terjadi obliterasi ruang subarachnoid. Pelebaran ventrikel pada fase akut meningitis purulenta terjadi bila aliran CSS terganggu oleh obstruksi mekanik eksudat purulenta di aquaduktus silvii sisterna basalis. Universitas Sumatera Utara Selain itu, ibu hamil sering menderita beberapa infeksi, infeksi ini dapat berpengaruh pada perkembangan normal otak bayi. Seperti: a. CMV (Cytomegalovirus) Merupakan virus yang menginfeksi lebih dari 50% orang dewasa Amerika pada saat mereka berusia 40 tahun. Juga dikenal sebagai virus yang paling sering ditularkan ke anak sebelum kelahiran. Virus ini bertanggung jawab untuk demam kelenjar. b. Campak Jerman (rubella) Merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus rubella. Virus ditularkan dari orang ke orang melalui udara yang ditularkan ketika orang terinfeksi batuk atau bersin, virus juga dapat ditemukan dalam air seni, kotoran dan pada kulit. Ciri gejala dari beberapa rubella merupakan suhu tubuh tinggi dan ruam merah muda. c. Mumps Merupakan sebuah virus (jangka pendek) infeksi akut di mana kelenjar ludah, terutama kelenjar parotis (yang terbesar dari tiga kelenjar ludah utama) membengkak. d. Sifilis Merupakan PMS (Penyakit Menular Seksual) yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. e. Toksoplasmosis merupakan infeksi yang disebabkan oleh parasit berseltunggal yaitu Toxoplasma gondii. Universitas Sumatera Utara 2.3.3. Neoplasma Hydrocephalus oleh obstruksi mekanis yang dapat terjadi di setiap tempat aliran CSS. Pengobatan dalam hal ini ditujukan kepada penyebabnya dan apabila tumor tidak mungkin dioperasi, maka dapat dilakukan tindakan paliatif dengan mengalirkan CSS melalui saluran buatan atau pirau. Pada anak yang terbanyak menyebabkan penyumbatan ventrikel IV atau akuaduktus sylvii bagian terakhir biasanya suatu glioma yang berasal dari serebelum, sedangkan penyumbatan bagian depan ventrikel III biasanya disebabkan suatu kraniofaringioma.13 2.3.4. Perdarahan Telah banyak dibuktikan bahwa perdarahan sebelum dan sesudah lahir dalam otak, dapat menyebabkan fibrosis leptomeningen terutama pada daerah basal otak, selain penyumbatan yang terjadi akibat organisasi dari darah itu sendiri.10 Meskipun banyak ditemukan pada bayi dan anak, sebenarnya hydrocephalus juga bisa terjadi pada dewasa. Hanya saja, pada bayi gejala klinisnya tampak lebih jelas, sehingga lebih mudah dideteksi dan didiagnosis. Hal ini dikarenakan pada bayi ubun-ubunnya masih terbuka, sehingga adanya penumpukan cairan otak dapat dikompensasi dengan melebarnya tulang-tulang tengkorak. Terlihat pembesaran diameter kepala yang makin lama makin membesar seiring bertambahnya tumpukan CSS. Sedangkan pada orang dewasa, tulang tengkorak tidak lagi mampu melebar. Akibatnya berapapun banyaknya CSS yang tertumpuk, tidak akan mampu menambah besar diameter kepala.16 Universitas Sumatera Utara 2.4. Epidemiologi 2.4.4. Distribusi dan Frekuensi a. Orang Hydrocephalus internus atau penumpukan cairan serebrospinalis yang berlebihan dalam ventrikel otak dengan akibat pembesaran kranium, terjadi pada satu diantara 2.000 janin dan merupakan 12% diantara malformasi berat yang ditemukan pada waktu lahir. Cacat yang sering terjadi bersamaan adalah spina bifida yang ditemukan pada sepertiga kasus. Seringkali lingkaran kepala melampaui 50 cm, dan terkadang mencapai 80 cm. Volume cairan biasanya antara 500 dan 1500 ml, tetapi dapat mencapai 5 liter. Presentasi sungsang ditemukan pada sepertiga kasus. Apapun presentasinya, biasanya akan terjadi disproporsi sephalopelvik, dan biasanya mengakibatkan distosia yang berat.20 Pada umumnya, kejadian hydrocephalus sama pada laki-laki dan perempuan. Insiden hydrocephalus menyajikan kurva usia bimodal. Satu puncak terjadi pada masa bayi dan terkait dengan berbagai bentuk cacat bawaan. Dipuncak lain terjadi di masa dewasa yaitu mewakili sekitar 40% dari total kasus hydrocephalus.10 Dalam sebuah penelitian (1968 - 1976) yang berbasis rumah sakit di Amerika Serikat dengan total 174.000 kelahiran, peneliti menemukan kejadian hydrocephalus bawaan sebesar 6,6 kasus per 10.000 kelahiran. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam insiden antara kulit putih dan kulit hitam.21 Universitas Sumatera Utara b. Tempat dan Waktu Hydrocephalus dapat mempengaruhi kesehatan baik pasien anak dan dewasa. Menurut situs NIH pada tahun 2008, diperkirakan 700.000 anak-anak dan orang dewasa yang hidup dengan hydrocephalus. Hydrocephalus Pediatric mempengaruhi satu di setiap 500 kelahiran hidup, membuatnya menjadi salah satu yang paling umum cacat perkembangan , lebih umum dari sindrom Down atau tuli. Ini adalah penyebab utama operasi otak untuk anak-anak di Amerika Serikat. Ada lebih dari 180 penyebab yang berbeda kondisi tersebut, salah satu etiologi diperoleh paling umum adalah perdarahan otak yang berhubungan dengan kelahiran prematur. Hydrocephalus dapat terdeteksi selama pemeriksaan USG.22 Raveley (1973) dan Cit Yasa (1983) di Inggris melaporkan bahwa insidensi Hydrocephalus Kongenital sebesar 5-10,8 pada setiap 10.000 kelahiran dan 11%43% disebabkan oleh stenosis aqueductus serebri. Menurut Harsoso (1996), Hydrocephalus Infantil ditemukan 46% diantaranya adalah akibat abnormalitas perkembangan otak, 50% karena perdarahan subaraknoid dan meningitis, dan kurang dari 4% akibat tumor fossa posterior.23 Insiden Hydrocephalus Kongenital bervariasi pada populasi berbeda, terutama hydrocephalus dengan meningomielokel, pada tahun 1992 yaitu antara 4 per 1.000 kelahiran di beberapa bagian Wales dan Irlandia Utara dan sekitar 2 per 10.000 kelahiran di Jepang. Insidens bentuk hydrocephalus lainnya sekitar 1 per 1.000 kelahiran hidup. Sedangkan di Indonesia mencapai 10 per 1.000 kelahiran.9 Universitas Sumatera Utara 2.4.5. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi18,24 Berikut ini adalah hal – hal yang mempengaruhi terjadinya hydrocephalus: a. Lahir prematur, bayi yang lahir prematur memiliki risiko yang lebih tinggi perdarahan intraventricular (perdarahan dalam ventrikel otak), yang dapat menyebabkan hydrocephalus. b. Masalah selama kehamilan infeksi pada rahim selama kehamilan dapat meningkatkan risiko hydrocephalus pada bayi berkembang. Akibat infeksi dapat timbul perlekatan meningen. secara patologis terlihat penebalan jaringan piameter dan arakhnoid sekitar sisterna basalis dan daerah lain, penyebab infeksi adalah toksoplasmosis. c. Masalah dengan perkembangan janin seperti penutupan yang tidak lengkap dari kolom tulang belakang. Beberapa cacat bawaan mungkin tidak terdeteksi saat lahir, tetapi peningkatan risiko hydrocephalus akan tampak saat usia bayi lebih tua (masih masa anak - anak). d. Lesi dan tumor sumsum tulang belakang atau otak. Pada anak yang menyebabkan penyumbatan ventrikel IV / akuaduktus sylvii bagian terakhir biasanya suatu glioma yang berasal dari cerebelum, penyumbatan bagian depan ventrikel III disebabkan kraniofaringioma. Hydrocephalus Infantil, 4% adalah karena tumor fossa fosterior. e. Infeksi pada sistem saraf. f. Perdarahan di otak. Hydrocephalus Infantil, 50% adalah karena perdarahan dan meningitis. g. Memiliki cedera kepala berat. Universitas Sumatera Utara 2.5. Klasifikasi Hydrocephalus Terdapat berbagai macam klasifikasi hydrocephalus yang bergantung pada faktor yang terkait. Klasifikasi hydrocephalus berdasarkan : 2.5.1. Gambaran Klinis a. Hydrocephalus yang manifes (overt hydrocephalus) merupakan hydrocephalus yang tampak jelas dengan tanda – tanda klinis yang khas. b. Hydrocephalus yang tersembunyi (occult hydrocephalus) merupakan hydrocephalus dengan ukuran kepala yang normal.8 2.5.2. Waktu pembentukan a. Hydrocephalus Kongenital merupakan hydrocephalus yang terjadi pada neonatus atau yang berkembang selama intrauterine. b. Hydrocephalus Infantil merupakan hydrocephalus yang terjadi karena cedera kepala selama proses kelahiran. c. Hydrocephalus Akuisita merupakan hydrocephalus yang terjadi selama masa neonatus atau disebabkan oleh faktor – faktor lain setelah masa neonatus.2 2.5.3. Proses terbentuknya a. Hydrocephalus Akut adalah hydrocephalus yang terjadi secara mendadak sebagai akibat obstruksi atau gangguan absorbsi CSS. b. Hydrocephalus Kronik adalah hydrocephalus yang terjadi setelah aliran serebrospinal mengalami obstruksi beberapa minggu atau bulan atau tahun. Universitas Sumatera Utara c. Hydrocephalus Subakut adalah hydrocephalus yang terjadi diantara waktu hydrocephalus akut dan kronik.2 2.5.4. Sirkulasi cairan serebrospinal a. Hydrocephalus Komunikans adalah hydrocephalus yang memperlihatkan adanya hubungan antara CSS system ventrikulus dan CSS dari ruang subaraknoid. b. Hydrocephalus non - Komunikans berarti terdapat hambatan sirkulasi cairan serebrospinal dalam sistem ventrikel sendiri.8,20 2.6. Gambaran Klinis8 Gambaran klinik hydrocephalus dipengaruhi oleh umur penderita, penyebab, dan lokasi obstruksi. Gejala – gejala yang menonjol merupakan refleksi hipertensi intrakranial. Rincian gambaran klinik adalah sebagai berikut: 2.6.1. Neonatus Gejala hydrocephalus yang paling umum dijumpai pada neonatus adalah iritabilitas. Sering kali anak tidak mau makan dan minum, kadang – kadang kesadaran menurun ke arah letargi. Anak kadang – kadang muntah, jarang yang bersifat proyektil. Pada masa neonatus ini gejala – gejala lainnya belum tampak, sehingga apabila dijumpai gejala – gejala seperti tersebut di atas, perlu dicurigai adanya kemungkinan hydrocephalus. Dengan demikian dapat dilakukan pemantauan secara teratur dan sistematik. Pada anak di bawah 6 tahun, termasuk neonatus, akan tampak pembesaran kepala karena sutura belum menutup secara sempurna. Pembesaran kepala ini harus Universitas Sumatera Utara dipantau dari waktu ke waktu, dengan mengukur lingkar kepala. Fontanela anterior tampak menonjol, pada palpasi terasa tegang dan padat. Pemeriksaan fontanela ini harus dalam situasi yang santai, tenang, dan penderita dalam posisi berdiri atau duduk tegak. Tidak ditemukannya fontanela yang menonjol bukan berarti bahwa tidak ada hydrocephalus. Pada umur 1 tahun, fontanela anterior sudah menutup atau oleh karena rongga tengkorak yang melebar maka tekanan intrakranial secara relatif akan mengalami dekompresi. Vena – vena di kulit kepala dapat sangat menonjol, terutama apabila bayi menangis. Peningkatan tekanan intrakranial akan mendesak darah vena dari alur normal di basis otak menuju ke sistem kolateral dan saluran – saluran yang tidak mempunyai klep. Mata penderita hydrocephalus memperlihatkan gambaran yang khas, yang disebut sebagai setting-sun sign, skera yang berwarna putih akan tampak di atas iris. Paralisis nervus abdusens, yang sebenarnya tidak menunjukkan lokasi lesi, sering dijumpai pada anak yang berumur lebih tua dan pada dewasa. Kadang – kadang terlihat adanya nistagmus dan strabismus. Pada hydrocephalus yang sudah lanjut dapat terjadi edema papil atau atrofi papil. Tidak adanya pulsasi vena retina merupakan tanda awal hipertensi intrakranial yang khas. 2.6.2. Dewasa Gejala yang paling sering dijumpai adalah nyeri kepala. Sementara itu, gangguan visus, gangguan motorik/berjalan, dan kejang terjadi pada 1/3 kasus hydrocephalus pada usia dewasa. Pemeriksaan neurologik pada umumnya tidak menunjukkan kelainan, kecuali adanya edema papil dan/atau paralisis nervus abdusens. Universitas Sumatera Utara Gambar 2.2. Gambar 2.2. Hydrocephalus Gambar 2.2. Hydrocephalus 2.7. Pencegahan 2.7.1. Pencegahan Primer18,25 Pencegahan primer adalah upaya memodifikasi faktor risiko atau mencegah berkembangnya faktor risiko, sebelum dimulainya perubahan patologis, dilakukan pada tahap suseptibel dan induksi penyakit, dengan tujuan mencegah atau menunda terjadinya kasus baru penyakit. Pada kasus hydrocephalus pencegahan dapat dilakukan dengan: a. Pada kehamilan perawatan prenatal yang teratur secara signifikan dapat mengurangi risiko memiliki bayi prematur, yang mengurangi risiko bayi mengalami hydrocephalus. Universitas Sumatera Utara b. Untuk penyakit infeksi, setiap individu hendaknya memiliki semua vaksinasi dan melakukan pengulangan vaksinasi yang direkomendasikan. c. Meningitis merupakan salah satu penyebab terjadinya hydrocephalus. Untuk itu perlu dilakukan penyuluhan tentang pentingnya vaksin meningitis bagi orang – orang yang berisiko menderita meningitis. Vaksinasi dianjurkan untuk individu yang berpergian ke luar negeri, orang dengan gangguan sistem imun dan pasien yang menderita gangguan limpa. d. Mencegah cedera kepala. 2.7.2. Pencegahan Sekunder a. Diagnosis Hydrocephalus merupakan salah satu dari kelainan kongenital. Untuk mewaspadai adanya kelainan kongenital maka diperlukan pemeriksaan fisik, radiologik, dan laboratorium untuk menegakkan diagnosa kelainan kongenital setelah bayi lahir. Disamping itu, dengan kemajuan teknologi kedokteran suatu kelainan kongenital kemungkinan telah diketahui selama kehidupan janin seperti adanya diagnosa prenatal atau antenatal.2 Pada hydrocephalus, diagnosa biasanya mudah dibuat secara klinis. Pada anak yang lebih besar kemungkinan hydrocephalus diduga bila terdapat gejala dan tanda tekanan intrakranial yang meninggi. Tindakan yang dapat membantu dalam menegakkan diagnosis ialah transluminasi kepala, ultrasonogafi kepala bila ubunubun besar belum menutup, foto Rontgen kepala dan tomografi komputer (CT Scan). Pemeriksaan untuk menentukan lokalisasi penyumbatan ialah dengan menyuntikkan Universitas Sumatera Utara zat warna PSP ke dalam ventrikel lateralis dan menampung pengeluarannya dari fungsi lumbal untuk mengetahui penyumbatan ruang subaraknoid. Sebelum melakukan uji PSP ventrikel ini, dilakukan dahulu uji PSP ginjal untuk menentukan fungsi ginjal. Ventrikulografi dapat dilakukan untuk melengkapi pemeriksaan. Namun dengan adanya pemeriksaan CT Scan kepala, uji PSP ini tidak dikerjakan lagi.2 b. Pengobatan Penanganan hydrocephalus telah semakin baik dalam tahun-tahun terakhir ini, tetapi terus menghadapi banyak persoalan. Idealnya bertujuan memulihkan keseimbangan antara produksi dan resorpsi CSF. Beberapa cara dalam pengobatan hydrocephalus yaitu: 1. Terapi Medikamentosa Hydrocephalus dengan progresivitas rendah dan tanpa obstruksi pada umumnya tidak memerlukan tindakan operasi. Dapat diberi asetazolamid dengan dosis 25-50 mg/kg BB. Asetazolamid dalam dosis 40-75 mg/kg 24 jam mengurangi sekitar sepertiga produksi CSF, dan terkadang efektif pada hydrocephalus ringan yang berkembang lambat. Pada keadaan akut dapat diberikan manitol. Diuretika dan kortikosteroid dapat diberikan, meskipun hasilnya kurang memuaskan.8 2. Operasi Operasi berupa upaya menghubungkan ventrikulus otak dengan rongga peritoneal, yang disebut ventriculo-peritoneal shunt. Tindakan ini pada umumnya ditujukan untuk hydrocephalus non-komunikans dan hydrocephalus Universitas Sumatera Utara yang progresif. Setiap tindakan pemirauan (shunting) memerlukan pemantauan yang berkesinambungan oleh dokter spesialis bedah saraf.8 Pada Hydrocephalus Obstruktif, tempat obstruksi terkadang dapat dipintas (bypass). Pada operasi Torkildsen dibuat pintas stenosis akuaduktus menggunakan tabung plastik yang menghubungkan tabung plastik yang menghubungkan 1 ventrikel lateralis dengan sistem magna dan ruang subaraknoid medula spinalis; operasi tidak berhasil pada bayi karena ruanganruangan ini belum berkembang dengan baik.6 2.7.3. Pencegahan Tersier Pencegahan tersier adalah upaya pencegahan progresi penyakit ke arah berbagai akibat penyakit yang lebih buruk, dengan tujuan memperbaiki kualitas hidup pasien. Pada penderita hydrocephalus pencegahan tersier yang dapat dilakukan yaitu dengan pemeliharaan luka kulit terhadap kontaminasi infeksi dan pemantauan kelancaran dan fungsi alat shunt yang dipasang. Tindakan ini dilakukan pada periode pasca operasi. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi shunt seperti infeksi, kegagalan mekanis, dan kegagalan fungsional yang disebabkan oleh jumlah aliran yang tidak adekuat.25 Infeksi pada shunt meningkatkan resiko akan kerusakan intelektual, lokulasi ventrikel dan bahkan kematian. Kegagalan mekanis mencakup komplikasikomplikasi seperti: oklusi aliran di dalam shunt (proksimal, katup atau bagian distal), diskoneksi atau putusnya shunt, migrasi dari tempat semula, tempat pemasangan yang tidak tepat. Kegagalan fungsional dapat berupa drainase yang berlebihan atau malah kurang lancarnya drainase. Drainase yang terlalu banyak dapat menimbulkan Universitas Sumatera Utara komplikasi lanjut seperti terjadinya efusi subdural, kraniosinostosis, lokulasi ventrikel, hipotensi ortostatik.15 Universitas Sumatera Utara BAB 3 KERANGKA KONSEP 3.1. Kerangka Konsep Karakteristik Penderita Hydrocephalus 1. Kecendrungan (Trend) 2. Sosiodemografi (Umur, Jenis Kelamin, Suku, Agama, Pendidikan, Pekerjaan, Status Perkawinan) 3. Keluhan Utama 4. Klasifikasi Hydrocephalus 5. Lama Keluhan Rata – Rata 6. Riwayat Penyakit Sebelumnya 7. Penatalaksanaan Medis 8. Sumber Biaya 9. Lama Rawatan Rata – Rata 10. Keadaan Sewaktu Pulang 3.2. Definisi Operasional 3.2.1. Penderita hydrocephalus adalah penderita yang dinyatakan menderita hydrocephalus berdasarkan diagnosa dokter yang tercatat di rekam medik. 3.2.2. Jumlah menurut rincian tahun adalah jumlah penderita hydrocephalus tiap tahunnya (2005 - 2009) 3.2.3. Sosiodemografi dibedakan atas: a. Umur adalah usia penderita hydrocephalus seperti yang tercatat di kartu status yang ada di rekam medik yang dikategorikan dengan menggunakan rumus Sturges. Universitas Sumatera Utara Untuk analisa statistik, umur dikategorikan atas: 1. ≤ 14 tahun 2. > 14 tahun b. Jenis kelamin adalah jenis kelamin penderita hydrocephalus seperti yang tercatat di kartu status yang ada di rekam medik yaitu: 1. Laki – laki 2. Perempuan c. Suku adalah suku/etnis penderita hydrocephalus seperti yang tercatat di kartu status yang ada di rekam medik yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Batak Jawa Nias Minang Melayu Aceh Dan lain – lain d. Agama adalah keyakinan atau kepercayaan yang dianut oleh penderita hydrocephalus seperti yang tercatat di kartu status yang ada di rekam medik yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. Islam Kristen Protestan Kristen Katolik Budha Hindu Universitas Sumatera Utara e. Pendidikan adalah tingkat pendidikan formal terakhir penderita hydrocephalus seperti yang tercatat di kartu status yang ada di rekam medik yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. Belum Sekolah/Tidak tamat SD SD/Sederajat SLTP/Sederajat SLTA/Sederajat Akademi/PT f. Pekerjaan adalah kegiatan utama yang dilakukan penderita hydrocephalus untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga ataupun tidak seperti yang tercatat dalam kartu status yang ada di rekam medik, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. PNS/TNI/POLRI Pensiunan PNS/TNI/POLRI Wiraswasta Pegawai Swasta Pelajar IRT Petani Belum Bekerja Dan lain-lain g. Status perkawinan adalah riwayat perkawinan penderita hydrocephalus seperti yang tercatat pada kartu status yang ada di rekam medik yaitu: 1. Kawin 2. Belum Kawin 3.2.3. Keluhan utama adalah keluhan utama yang dirasakan penderita hydrocephalus pada saat datang berobat ke rumah sakit yang dikategorikan atas: 1. Pembesaran kepala 2. Penglihatan kabur 3. Kejang Universitas Sumatera Utara 3.2.4. Klasifikasi hydrocephalus adalah jenis hydrocephalus yang ditemukan seperti yang tercatat di kartu status yang ada di rekam medik yang dilihat dari hasil CT Scan yaitu: Berdasarkan sirkulasi cairan serebrospinalis: 1. Hydrocephalus Komunikans 2. Hydrocephalus non - Komunikans 3.2.5. Lama keluhan rata – rata lamanya penderita hydrocephalus merasakan keluhan sebelum penderita datang berobat ke rumah sakit dihitung rata – ratanya seperti yang tercatat di kartu status yang ada di rekam medik. 3.2.6. Riwayat penyakit sebelumnya adalah penyakit yang pernah diderita oleh penderita hydrocephalus sebelum terdiagnosa menderita hydrocephalus seperti yang tercatat di kartu status yang ada di rekam medik yaitu: 1. 2. 3. 4. Kelainan bawaan Penyakit infeksi Neoplasma Perdarahan 3.2.7. Penatalaksanaan medis yang didapatkan penderita hydrocephalus adalah usaha yang dilakukan terhadap penderita sehubungan dengan tindakan penyembuhan seperti yang tercatat pada kartu status yang ada di rekam medik yaitu: 1. Obat – obatan 2. Operasi 3. Operasi + Obat-obatan Untuk analisa statistik, penatalaksanaan medis dikategorikan atas : 1. Obat 2. Operasi Universitas Sumatera Utara 3.2.8. Sumber biaya adalah jenis sumber biaya yang digunakan oleh penderita hydrocephalus selama dirawat di rumah sakit sesuai dengan yang tercatat pada kartu status, yang dikategorikan atas: 1. 2. 3. Biaya Sendiri Asuransi Kesehatan (ASKES) Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) Untuk analisa statistik, sumber biaya dikategorikan atas: 1. Biaya sendiri 2. Bukan biaya sendiri 3.2.8. Lama rawatan rata – rata adalah rata – rata lamanya penderita hydrocephalus menjalani perawatan di rumah sakit dihitung dari tanggal mulai dirawat sampai keluar seperti yang tercatat pada kartu status yang ada di rekam medik. 3.2.9. Keadaan sewaktu pulang adalah keadaan penderita hydrocephalus pada waktu pulang seperti yang tercatat pada kartu status yang ada di rekam medik yaitu: 1. Pulang berobat jalan (PBJ) 2. Pulang atas permintaan sendiri (PAPS) 3. Meninggal Dunia Universitas Sumatera Utara BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah bersifat deskriptif dengan menggunakan desain case series. 4.2.. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2.1. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di RSUP H.Adam Malik Medan dengan pertimbangan bahwa rumah sakit ini merupakan rumah sakit pusat rujukan, berbagai lapisan masyarakat datang untuk berobat ke rumah sakit ini serta memiliki data yang dibutuhkan dalam penelitian. 4.2.2. Waktu Penelitian Penelitian dilakukan sejak bulan Agustus sampai Maret 2010. 4.3. Populasi dan Sampel 4.3.1. Populasi. Populasi penelitian ini adalah semua data penderita hydrocephalus rawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2005 – 2009. Jumlah populasi sebesar 141 orang. Universitas Sumatera Utara 4.3.2. Sampel Sampel dalam penelitian ini adalah data penderita hydrocephalus rawat inap di RSUP H. Adam Malik tahun 2005 – 2009, besar sampel adalah sama dengan populasi (Total Sampling) yaitu 141 orang. 4.4. Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari kartu status penderita hydrocephalus yang bersumber dari Rekam Medik RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2005 – 2009. Kartu status dengan kasus hydrocephalus yang dipilih sebagai sampel dikumpulkan kemudian dilakukan pencatatan tabulasi sesuai dengan variabel yang akan teliti. 4.5. Teknik Pengumpulan dan Analisa Data Pengolahan data dengan menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solution). Data dianalisa dengan menggunakan uji Chi-Square, t-test, Anova atau uji Kruskal Wallis. Data disajikan dalam bentuk narasi, distribusi proporsi, diagram pie dan bar, serta grafik garis. 4.5.1. Analisis Univariat Analisis ini digunakan untuk memperoleh gambaran distribusi frekuensi atau besarnya proporsi berdasarkan variabel yang diteliti. Universitas Sumatera Utara 4.5.2. Analisis Bivariat Uji Chi-Square dilakukan untuk mengetahui perbedaan variabel-variabel independen dengan variabel dependen. Dari hasil uji statistik akan diketahui ada tidaknya perbedaan yang signifikan antara variabel yang diteliti dengan melihat nilai p. Bila dari hasil uji statistik nilai p<0,05 berarti terdapat perbedaan yang bermakna antara kedua variabel. Uji t-test digunakan untuk membandingkan antara dua kelompok variabel kategorik dan variabel non kategorik, uji Anova digunakan untuk membandingkan antara tiga atau lebih kelompok variabel kategorik dan non kategorik, uji Kruskal Wallis merupakan alternatif untuk uji Anova, ketika asumsi normalitas atau kesamaan varians tidak terpenuhi maka dilakukan uji Kruskal Wallis. Universitas Sumatera Utara BAB 5 HASIL PENELITIAN 5.1. Gambaran Umum RSUP H. Adam Malik Medan RSUP H. Adam Malik Medan merupakan Rumah Sakit Kelas A dengan SK Menkes No.335/Menkes/SK/VII/1990 dan juga sebagai Rumah Sakit Pendidikan sesuai dengan SK Menkes No.501/Menkes/SK/IX/1991. RSUP H.Adam Malik juga sebagai Pusat Rujukan untuk Wilayah Pembangunan A yang meliputi Propinsi Sumatera Utara, Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat dan Riau. RSUP H.Adam Malik Medan mulai berfungsi sejak tanggal 17 Juni 1991 dengan pelayanan Rawat Jalan sedangkan untuk Pelayanan Rawat Inap baru dimulai tanggal 2 Mei 1992. Pada tanggal 11 Januari 1993 secara resmi Pusat Pendidikan Kedokteran USU Medan dipindahkan ke RSUP H.Adam Malik Medan sebagai tanda dimulainya Soft Opening. Kemudian diresmikan oleh Bapak Presiden RI pada tanggal 21 Juli 1993. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan No.280/KMK.05/2007 dan Surat Keputusan Menteri Kesehatan dengan No.756/Menkes/SK/VI/2007 tepatnya pada Juni 2007 RSUP H. Adam Malik telah berubah status menjadi Badan Layanan Umum (BLU) bertahap dengan tetap mengikuti pengarahan-pengarahan yang diberikan oleh DitJen YanMed dan Departemen Keuangan untuk perubahan status menjadi Badan Layanan Umum (BLU) penuh. Untuk mewujudkan hal ini perlu pemberdayaan dan kemandirian Instalasi SMF (Satuan Medis Fungsional) sehingga produktif dan efisien. RSUP H. Adam Malik sebagai salah satu unit organik Departemen Kesehatan RI yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Universitas Sumatera Utara Direktorat Jenderal Pelayanan Medik wajib melaksanakan Sistem Laporan Rumah Sakit. Visi Menjadi Pusat Rujukan Pelayanan Kesehatan Pendidikan dan Penelitian Yang Mandiri dan Unggul di Sumatera pada Tahun 2015. Misi - Melaksanakan pelayanan kesehatan yang paripurna bermutu dan terjangkau - Melaksanakan pendidikan, pelatihan serta penelitian kesehatan yang profesional - Melaksanakan kegiatan pelayanan dengan prinsip efektif, efisien, akuntabel dan mandiri RSUP H. Adam Malik dibangun di atas tanah seluas ± 10 Ha dan berlokasi di Jl. Bunga Lau No.17 Km 12 Kecamatan Medan Tuntungan Propinsi Sumatera Utara. Untuk Instalasi Rawat Jalan terdiri dari lantai I (Poli Obstetri dan Gynekologi, Poli Gigi, Poli Jiwa, Poli Umum (Jamkesmas). Lantai II (Poli Anak, Poli Kardiologi, Poli Paru, Poli Syaraf). Lantai III (Poli Penyakit Dalam, Poli Bedah, Poli Bedah Syaraf). Lantai IV (Poli Mata, Poli THT, Poli Kulit dan Kelamin). Untuk Instalasi Rawat Inap dibagi menjadi 2 yaitu Instalasi Rawat Inap A dan Instalasi Rawat Inap B. Untuk Central Medical Unit terdiri dari Lantai I (Instalasi Radiologi, Instalasi CSSD dan Instalasi Hemodialisa). Lantai II (Instalasi Diagnostik Terpadu, Instalasi Patologi Klinik, Instalasi Patologi Anatomi dan Instalasi Mikrobiologi). Lantai III (Instalasi Bedah Pusat dan Instalasi Perawatan Intensif), Instalasi Gawat Darurat, Farmasi, Universitas Sumatera Utara Dapur dan Laundry, Instalasi Kedokteran Kehakiman/Pemulasaran Jenazah, Pusat Administrasi (Lantai I, II, dan III), M&E Utility, Work Shop, ITS dan IBM, Asrama Perawat (lantai I dan II), Gedung Instalasi Rehabilitasi Medik, Gudang Barang, Gedung Rawatan Khusus dan untuk Kasus Flu Burung dan Flu Babi. Sarana dan prasarana seperti air bersumber dari PAM dengan kapasitas 20L/detik ditambah Deep Well dengan kapasitas 5L/detik, listrik berasal dari PLN dengan kapasitas 1.730 KWH generator 1.000 KVA dan UPS dengan kapasitas 60 KVA. Taman seluas 6.000 m², parkir seluas 9.716 m². Pembuangan Limbah Cair dan Padat telah dibangun Sewage Treatment bantuan dari Negara Korea seluas 800 m² dan Incenerator. Alat-alat lain seperti telekomunikasi (PABX dan Audiosystem) dan Instalasi Gas Medis. Untuk ketenagaan jumlah seluruhnya 2.038 orang dengan Pejabat Struktural 38 orang, Kepala Instalasi 25 orang, Kepala SMF 20 orang, Medis 790 orang, Paramedis Perawatan 604 orang, Paramedis Non Perawatan 298 orang, Non Medis 263 orang, Dokter Ahli/Spesialis (Fungsional) 257 orang. Untuk spesialis Syaraf berjumlah 9 orang dan untuk Spesialis Bedah Syaraf berjumlah 5 orang. Universitas Sumatera Utara 5.2. Proporsi Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Tahun Proporsi penderita hydrocephalus rawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan berdasarkan tahun dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 5.1. No 1 2 3 4 5 Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Rawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 Berdasarkan Rincian Tahun Tahun f % 2005 33 23,4 2006 36 25,5 2007 39 27,7 2008 21 14,9 2009 12 8,5 Total 141 100,0 Dari tabel 5.1 dapat dilihat bahwa proporsi penderita hydrocephalus menurut waktu tertinggi pada tahun 2007 dengan proporsi 27,7% dan terendah pada tahun 2009 dengan proporsi 8,5%. Dari tahun 2005 – 2009 kecenderungan frekuensi penderita hydrocephalus yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan mengalami penurunan dengan persamaan garis y = -5,7x + 45,3. Frekuensi penderita hydrocephalus dari tahun 2005–2009 mengalami penurunan sebanyak 39-12 = 27 kasus dengan simpel rasio penurunan 5.3. 39 39 − 12 = 3,25 kali dan persentase penurunan sebesar x 100%=69%. 12 39 Sosiodemografi Penderita Hydrocephalus Proporsi penderita hydrocephalus rawat inap berdasarkan sosiodemografi di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2005 - 2009 dapat dilihat pada tabel 5.2 dan 5.3. Universitas Sumatera Utara Tabel 5.2. Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin di RSUP Medan Tahun 2005-2009 No. Jenis Kelamin Umur Laki – Laki Perempuan f % f % 52 36,9 46 32,6 1. 0-6 8 5,8 8 5,8 2. 7-13 3 2,1 2 1,4 3. 14-20 4 2,8 2 1,4 4. 21-27 1 0,7 2 1,4 5. 28-34 35-41 4 2,8 2 1,4 6. 1 0,7 1 0,7 7. 42-48 2 1,4 3 2,1 8. 49-55 Total 75 53,2 66 46,8 Rawat Inap H. Adam Malik Jumlah f 98 16 5 6 3 6 2 5 141 % 69,5 11,6 3,5 4,2 2,1 4,2 1,4 3,5 100,0 Dari tabel 5.2. dapat dilihat bahwa proporsi penderita hydrocphalus berdasarkan kelompok umur tertinggi pada kelompok umur 0-6 tahun 69,5% dengan proporsi laki – laki 36,9% dan perempuan 32,6%, dan terendah pada kelompok umur 42-48 tahun 1,4% dengan proporsi laki – laki 0,7% dan perempuan 0,7%. Berdasarkan jenis kelamin laki – laki 53,2% dan perempuan 46,8% dengan sex ratio 1,14. Karakteristik penderita hydrocephalus dengan umur termuda pada penelitian ini adalah berumur 5 hari berjumlah 1 orang, jenis kelamin perempuan, keluhan utama pembesaran kepala, klasifikasi Hydrocephalus non-Komunikans, riwayat penyakit sebelumnya adalah penyakit infeksi (meningitis atau toksoplasmosis), penatalaksanaan medis hanya pemberian obat – obatan saja dan pulang atas permintaan sendiri. Karakteristik penderita hydrocephalus dengan umur tertua pada penelitian ini adalah berumur 55 tahun berjumlah 2 orang. Kedua-duanya adalah laki – laki, dengan keluhan utama penglihatan kabur, klasifikasi Hydrocephalus Universitas Sumatera Utara Komunikans, riwayat penyakit sebelumnya adalah infeksi, penatalaksanaan medis yang didapat operasi serta obat – obatan dan pulang berobat jalan. Tabel 5.3. No. 1. Suku 2. 3. 4. 5. Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Rawat Inap Berdasarkan Sosiodemografi di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 Sosiodemografi f % Jawa Batak Aceh Tidak tercatat Dan lain – lain Melayu Minang Total Agama Islam Kristen Protestan Kristen Katolik Total Pendidikan Belum Sekolah/Tidak Tamat SD SD/Sederajat SLTP/Sederajat SLTA/Sederajat Akademi/Perguruan Tinggi Total Pekerjaan Belum Bekerja Pelajar IRT Wiraswasta PNS/TNI/POLRI Dan lain – lain Petani Total Status Perkawinan Kawin Belum Kawin Total 46 44 26 10 7 6 2 141 32,6 31,2 18,4 7,1 5,0 4,3 1,4 100,0 109 31 1 141 77,3 22,0 0,7 100,0 105 74,5 15 10 8 3 141 10,6 7,1 5,7 2,1 100,0 100 20 7 6 4 3 1 141 70,9 14,2 5,0 4,3 2,8 2,1 0,7 100,0 19 122 141 13,5 86,5 100,0 Universitas Sumatera Utara 6. Sumber Biaya Biaya Sendiri ASKES JAMKESMAS Total 14 12 115 141 9,9 8,5 81,6 100,0 Dari tabel 5.3. dapat dilihat bahwa proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan suku tertinggi adalah suku Jawa 32,6% dan terendah adalah Minang 1,4% serta terdapat 7,1% yang tidak tercatat pada kartu status dan tidak ditemukan pebderita hydrocephalus dengan suku Nias. Proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan agama tertinggi adalah Islam 77,3% dan terendah adalah Kristen Katolik 0,7% dan tidak ditemukan penderita hydrocephalus yang beragama Hindu dan Budha. Proporsi Penderita hydrocephalus berdasarkan pendidikan tertinggi adalah Belum Sekolah/Tidak Tamat 74,5% dan terendah adalah Akademi/Perguruan Tinggi 2,1%. Proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan pekerjaan tertinggi adalah belum bekerja 70,9% dan terendah adalah dan lain – lain 2,1%. Proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan status perkawinan tertinggi adalah berstatus belum kawin 86,5% dan kawin sebesar 13,5%. Proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan sumber biaya tertinggi adalah JAMKESMAS 81,6% dan terendah adalah biaya sendiri 9,9%. Universitas Sumatera Utara 5.4. Keluhan Utama Penderita Hydrocephalus Proporsi penderita hydrocephalus rawat inap berdasarkan keluhan utama di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2005 - 2009 dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 5.4. Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Rawat Inap Berdasarkan Keluhan Utama di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 No. Keluhan Utama n=141 f % Pembesaran Kepala 91 64,5 1. Kejang 32 22,7 2. Penglihatan Kabur 16 11,3 3. Tidak tercatat 2 1,4 4. Dari tabel 5.4. dapat dilihat bahwa proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan keluhan utama tertinggi adalah pembesaran kepala 64,5% dan terendah adalah penglihatan kabur 11,3% serta terdapat 1,4% yang tidak tercatat pada kartu status dan tidak ditemukan penderita hydrocephalus dengan keluhan sulit berjalan. 5.5. Klasifikasi Penderita Hydrocephalus Proporsi penderita hydrocephalus rawat inap berdasarkan klasifikasi hydrocephalus di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2005 - 2009 dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 5.5. Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Rawat Inap Berdasarkan Klasifikasi Hydrocephalus di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 No. Klasifikasi Hydrocephalus f % 1. Tercatat 117 82,9 2. Tidak Tercatat 24 17,1 Total 141 100,0 Universitas Sumatera Utara No. Klasifikasi Hydrocephalus 1. Komunikans 2. Non – Komunikans Total f 53 64 117 % 45,3 54,7 100,0 Dari tabel 5.5. dapat dilihat bahwa proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan klasifikasi hydrocephalus tertinggi adalah Hydrocephalus nonKomunikans 54,7% dan Hydrocephalus Komunikans 45,3%. 5.6. Lama Keluhan Rata – rata Penderita Hydrocephalus Lama keluhan rata – rata penderita hydrocephalus tidak dapat dilihat karena tidak tersedianya data pada kartu status. 5.7. Riwayat Penyakit Sebelumnya Penderita Hydrocephalus Proporsi penderita hydrocephalus rawat inap berdasarkan riwayat penyakit sebelumnya di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2005 - 2009 dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 5.6. Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Rawat Inap Berdasarkan Riwayat Penyakit Sebelumnya di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 No. Riwayat Penyakit Sebelumnya f % 1. Kelainan Kongenital 61 43,3 2. Infeksi 55 39,0 3. Neoplasma 15 10,6 4. Tidak tercatat 6 4,3 5. Perdarahan 4 2,8 Total 141 100,0 Dari tabel 5.6. dapat dilihat bahwa proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan riwayat penyakit sebelumnya tertinggi adalah kelainan kongenital 43,3% Universitas Sumatera Utara dan terendah adalah perdarahan 2,8% serta terdapat 4,3% yang tidak tercatat pada kartu status. Karakteristik penderita hydrocephalus yang mengalami perdarahan pada penelitian ini adalah berjumlah 4 orang yaitu 1 orang penderita berusia 34 tahun dengan jenis kelamin perempuan, keluhan utama penglihatan kabur, klasifikasi hydrocephalus komunikans, penatalaksanaan medis yang didapat operasi dan sumber biaya adalah bukan biaya sendiri (Jamkesmas). 1 orang penderita berusia 11 tahun dengan jenis kelamin perempuan, keluhan utama pembesaran kepala, klasifikasi hydrocephalus non komunikans, penatalaksanaan medis yang didapat operasi serta obat – obatan dan sumber biaya adalah adalah bukan biaya sendiri (Jamkesmas). 1 orang penderita berusia 25 tahun dengan jenis kelamin laki – laki, keluhan utama penglihatan kabur, klasifikasi hydrocephalus non komunikans, penatalaksanaan medis yang didapat operasi serta obat – obatan dan sumber biaya yang didapat adalah bukan biaya sendiri (Jamkesmas). 1 orang penderita berusia 26 tahun dengan jenis kelamin laki – laki, keluhan utama pembesaran kepala, klasifikasi hydrocephalus komunikans, penatalaksanaan medis yang didapat operasi serta obat – obatan dan sumber biaya adalah bukan biaya sendiri (Jamkesmas). 5.8. Penatalaksanaan Medis Penderita Hydrocephalus Proporsi penderita hydrocephalus rawat inap berdasarkan penatalaksanaan medis yang didapatkan penderita di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2005 – 2009 dapat dilihat pada tabel berikut ini. Universitas Sumatera Utara Tabel 5.7. Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Rawat Inap Berdasarkan Penatalaksanaan Medis di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 No. Penatalaksanaan Medis f % 1. Obat – obatan 85 60,3 2. Operasi 12 8,5 3. Operasi + Obat – obatan 44 31,2 Total 141 100,0 Dari tabel 5.7. dapat dilihat bahwa proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan penatalaksanaan medis tertinggi adalah obat - obatan 60,3% dan terendah adalah operasi 8,5%. 5.9. Lama Rawatan Rata – Rata Penderita Hydrocephalus Lama rawatan penderita hydrocephalus rawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2005 – 2009 dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 5.8. Lama Rawatan Rata – Rata Penderita Hydrocephalus Rawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005 – 2009 Lama Rawatan Rata – Rata (Hari) Mean 13,77 Standar Deviasi (SD) 9,042 95% Confidence Interval 12,26 – 15,27 Median 11,00 Minimum 2 Maximum 60 Dari tabel 5.8. dapat dilihat bahwa lama rawatan rata – rata penderita hydrocephalus adalah 13,77 hari atau 14 hari dan median 11,00. SD (Standar Deviasi) 9,042 hari, dengan lama rawatan minimum 2 hari dan lama rawatan maksimum 60 hari. Universitas Sumatera Utara Penderita hydrocephalus paling lama dirawat yaitu selama 60 hari berjumlah 1 orang adalah penderita berusia 6 tahun dengan jenis kelamin laki – laki, keluhan kepala besar, sumber biaya adalah bukan biaya sendiri (Jamkesmas), dan status pulang adalah pulang berobat jalan. Sementara itu penderita hydrocephalus yang dirawat hanya dalam 2 hari berjumlah 7 orang. Penderita hydrocephalus yang dirawat 12 – 20 hari sebanyak 43 orang dan yang dirawat selama 21 – 60 hari sebanyak 25 orang yaitu umur 0 – 6 tahun sebanyak 17 orang, 7 – 13 tahun sebanyak 2 orang, 14 – 20 tahun sebanyak 1 orang, 21 – 27 tahun sebanyak 3 orang dan 42 – 48 sebanyak 2 orang. Jenis kelamin laki – laki sebanyak 10 orang dan perempuan sebanyak 15 orang, keluhan utama besar kepala sebanyak 17 orang, penglihatan kabur sebanyak 3 orang dan kejang sebanyak 5 orang, klasifikasi hydrocephalus komunikans sebanyak 10 orang dan hydrocephalus non komunikans sebanyak 10 orang, riwayat penyakit sebelumnya kelainan kongenital sebanyak 9 orang, penyakit infeksi sebanyak 7 orang, neoplasma sebanyak 6 orang dan perdarahan sebanyak 1 orang. Penatalaksanaan medis obat – obatan sebanyak 5 orang, operasi sebanyak 4 orang dan operasi serta obat – obatan sebanyak 16 orang. Sumber biaya Jamkesmas sebanyak 21 orang, Askes sebanyak 1 orang dan biaya sendiri sebanyak 3 orang. 5.10. Keadaan Sewaktu Pulang Penderita Hydrocephalus Proporsi penderita hydrocephalus rawat inap berdasarkan keadaan sewaktu pulang di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2005 – 2009 dapat dilihat pada tabel berikut ini. Universitas Sumatera Utara Tabel 5.9. Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Rawat Inap Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005 – 2009 No. Keadaaan Sewaktu Pulang f % 1. Pulang Berobat Jalan 108 76,6 2. Pulang Atas Permintaan Sendiri 28 19,9 3. Meninggal 5 3,5 Total 141 100,0 Dari tabel 5.9. dapat dilihat bahwa proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan keadaan sewaktu pulang tertinggi adalah pulang berobat jalan 76,6% dan terendah adalah meninggal 3,5%. Penderita hydrocephalus yang meninggal berjumlah 5 orang adalah 1 orang berumur 26 tahun dengan jenis kelamin laki – laki, keluhan kejang, klasifikasi hydrocephalus Komunikans, riwayat penyakit sebelumnya perdarahan, penatalaksanaan medis yang didapat operasi serta obat – obatan, sumber biaya adalah bukan biaya sendiri (Jamkesmas). 1 orang berumur 3 bulan dengan jenis kelamin laki – laki, keluhan kepala besar, klasifikasi hydrocephalus komunikans, riwayat penyakit sebelumnya kelainan kongenital, penatalaksanaan medis yang didapat obat – obatan dan sumber biaya adalah bukan biaya sendiri (Jamkesmas). Satu orang berumur 21 tahun dengan jenis kelamin laki – laki, keluhan penglihatan kabur, riwayat penyakit sebelumnya neopalasma, penatalaksanaan medis yang didapat operasi serta obat – obatan dan sumber biaya adalah bukan biaya sendiri (Jamkesmas). 1 orang berumur 20 tahun dengan jenis kelamin laki – laki, keluhan kejang, klasifikasi hydrocephalus non komunikans, riwayat penyakit sebelumnya penyakit infeksi, penatalaksanaan medis yang didapat operasi serta obat – obatan dan sumber biaya adalah bukan biaya sendiri (Jamkesmas). 1 orang berumur 7 bulan Universitas Sumatera Utara dengan jenis kelamin laki – laki, keluhan kejang, klasifikasi hydrocephalus non komunikans, riwayat penyakit sebelumnya penyakit infeksi, penatalaksanaan medis yang didapat obat – obatan dan sumber biaya adalah bukan biaya sendiri (Jamkesmas). Penderita hydrocephalus yang Pulang Atas Permintaan Sendiri sebanyak 28 orang adalah umur 0 – 6 tahun sebanyal 23 orang, 7 – 13 tahun sebanyak 2 orang, 21 - 27 tahun sebanyak 1 orang, 28 – 34 tahun sebanyak 1 orang 35 – 41 tahun sebanyak 1 orang. Jenis kelamin laki – laki sebanyak 14 orang dan perempuan sebanyak 14 orang. Keluhan utama besar kepala sebanyak 23 orang, penglihatan kabur sebanyak 2 orang dan kejang sebanyak 3 orang. Klasifikasi hydrocephaus komunikans sebanyak 9 orang dan hydrocephalus non komunikans sebanyak 14 orang. Riwayat penyakit sebelumnya kelainan kongenital sebanyak 14 orang, penyakit infeksi sebanyak 12 orang dan neoplasma sebanyak 1 orang. Penatalaksanaan medis obat – obatan sebanyak 25 orang, operasi sebanyak 2 orang dan operasi serta obat – obatan sebanyak 1 orang. Sumber biaya Jamkesmas sebanyak 21 orang, Askes sebanyak 3 orang dan biaya sendiri sebanyak 4 orang. Universitas Sumatera Utara 5.11. Analisa Statistik 5.11.1. Umur Berdasarkan Klasifikasi Hydrocephalus Proporsi umur berdasarkan klasifikasi hydrocephalus penderita hydrocephalus rawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2005 – 2009 dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 5.10. Distribusi Proporsi Umur Berdasarkan Klasifikasi Hydrocephalus Penderita Hydrocephalus Rawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005 – 2009 Klasifikasi Umur Total No. Hydrocephalus ≤ 14 tahun > 14 tahun f % f % f % 1. Komunikans 46 86,6 7 13,4 53 100,0 2. Non-Komunikans 48 75,0 16 25,0 64 100,0 X2=2,553 df=1 p=0,110 Dari tabel 5.10. dapat dilihat bahwa dari 53 orang penderita hydrocephalus dengan klasifikasi Hydrocephalus non-Komunikans, penderita yang mengalami hydrocephalus pada umur ≤ 14 tahun 86,8% dan umur > 14 tahun 13,4%. Dari 64 orang penderita hydrocephalus dengan Hydrocephalus Komunikans, penderita yang mengalami hydrocephalus pada umur ≤ 14 tahun 75,0%, umur > 14 tahun 25,0%. Analisa statistik dengan uji chi-square diperoleh p > 0,05. Hal ini berarti secara statistik tidak ada perbedaan proporsi yang bermakna antara umur berdasarkan klasifikasi hydrocephalus. Universitas Sumatera Utara 5.11.2. Keluhan Utama Berdasarkan Klasifikasi Hydrocephalus Proporsi keluhan utama berdasarkan klasifikasi hydrocephalus penderita hydrocephalus rawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2005 – 2009 dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 5.11. Distribusi Proporsi Keluhan Utama Berdasarkan Klasifikasi Hydrocephalus Penderita Hydrocephalus Rawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005 – 2009 Klasifikasi Hydrocephalus No. 1. 2. Komunikans Non-Komunikans Keluhan Utama Pembesaran Penglihatan Kejang Kepala Kabur f % f % f % 45 84,9 3 5,7 5 9,4 40 62,5 9 14,1 15 23,4 X2=7,325 Total f 53 64 df=2 % 100,0 100,0 p=0,026 Analisa statistik dengan uji chi-square diperoleh p < 0,05. Hal ini berarti secara statistik ada perbedaan proporsi yang bermakna antara keluhan utama berdasarkan klasifikasi hydrocephalus. Dari tabel 5.11. dapat dilihat bahwa proporsi keluhan utama pembesaran kepala secara bermakna lebih tinggi pada Hydrocephalus Komunikans dibanding Hydrocephalun non Komunikans. Proporsi keluhan utama penglihatan kabur secara bermakna lebih tinggi pada Hydrocephalus non Komunikans dibanding Hydrocephalus Komunikans. Proporsi keluhan utama kejang secara bermakna lebih tinggi pada Hydrocephalus non Komunikans dibandingkan Hydrocephalus Komunikans. Universitas Sumatera Utara 5.11.3. Penatalaksanaan Medis Berdasarkan Sumber Biaya Proporsi penatalaksanaan medis berdasarkan sumber biaya penderita hydrocephalus rawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2005 – 2009 dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 5.12. Distribusi Proporsi Penatalaksanaan Medis Berdasarkan Sumber Biaya Penderita Hydrocephalus Rawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005 – 2009 No. Sumber Penatalaksanaan Medis Total Biaya Obat Operasi f % f % f % 1. Biaya 9 64,3 5 35,7 14 100.0 Sendiri 2. Bukan Biaya 76 59,8 51 40,2 127 100,0 Sendiri X2=0,104 df=1 p=0,747 Dari tabel 5.12. dapat dilihat bahwa dari 14 orang penderita hydrocephalus dengan sumber biaya sendiri, penderita yang mendapat penatalaksanaan medis obat 64,3%, operasi 35,7%. Dari 127 orang penderita hydrocephalus dengan biaya bukan biaya sendiri, penderita yang mendapatkan penatalaksanaan medis obat 59,8%, operasi 40,2%. Analisa statistik dengan uji chi-square diperoleh p > 0,05. Hal ini berarti secara statistik tidak ada perbedaan yang bermakna antara penatalaksanaan medis berdasarkan sumber biaya. Universitas Sumatera Utara 5.11.4. Lama Rawatan Rata-Rata Berdasarkan Sumber Biaya Lama rawatan rata - rata berdasarkan sumber biaya penderita hydrocephalus rawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2005 – 2009 dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 5.13. Distribusi Lama Rawatan Rata-Rata Penderita Hydrocephalus Rawat Inap Berdasarkan Sumber Biaya di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005 – 2009 No. Sumber Biaya Lama Rawatan Rata-Rata (Hari) n Mean SD 1. Biaya Sendiri 14 14,00 9,232 2. Bukan biaya sendiri 127 13,74 9,057 t = 0,102 df = 139 p = 0,919 Dari tabel 5.13. dapat dilihat bahwa dari 14 orang penderita hydrocephalus dengan sumber biaya sendiri memiliki lama rawatan rata – rata 14,00 hari. Dari 127 orang penderita hydrocephalus dengan sumber biaya bukan biaya sendiri (Askes dan Jamkesmas) memiliki lama rawtan rata – rata 13,74 hari. Hasil analisa statistik dengan menggunakan uji t diperolah p > 0,05 berarti secara statistik tidak ada perbedaan yang bermakna antara lama rawatan rata – rata berdasarkan sumber biaya. Universitas Sumatera Utara 5.11.5. Penatalaksanaan Medis Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang Penatalaksanaan medis berdasarkan keadaan sewaktu pulang penderita hydrocephalus rawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2005 – 2009 dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 5.14. Distribusi Proporsi Penatalaksanaan Medis Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang Penderita Hydrocephalus Rawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005 – 2009 Keadaan Penatalaksanaan Medis Total No. Sewaktu Obat Operasi Pulang f % f % f % 1. Pulang Berobat 58 53,7 50 46,3 108 100,0 Jalan 2. Pulang Atas Permintaan 25 89,3 3 10,7 28 100,0 Sendiri 3. Meninggal 2 40,0 3 60,0 5 100,0 Dari tabel 5.14. dapat dilihat bahwa dari 108 orang penderita hydrocephalus yang pulang berobat jalan, penderita yang mendapat penatalaksanaan medis obat 53,7% dan operasi 46,3%. Dari 28 orang penderita hydrocephalus yang pulang atas permintaan sendiri, penderita yang mendapatkan penatalaksanaan medis obat 89,3%, dan operasi 10,7%. Dari 5 orang penderita hydrocephalus yang meninggal, penderita yang mendapatkan penatalaksanaan medis obat 40,0% dan operasi 60,0%. Analisa statistik dengan uji chi-square tidak memenuhi syarat untuk dilakukan karena terdapat 2 sel (33,3%) expected count yang besarnya kurang dari 5. Universitas Sumatera Utara 5.11.6. Lama Rawatan Rata-Rata Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang Lama rawatan rata - rata berdasarkan keadaan sewaktu pulang penderita hydrocephalus rawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2005 – 2009 dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 5.15. Distribusi Lama Rawatan Rata-Rata Penderita Hydrocephalus Rawat Inap Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005 – 2009 No. Keadaan Sewaktu Lama Rawatan Rata-Rata (Hari) Pulang N Mean SD 1. PBJ 108 14,38 8,906 2. PAPS 28 11,18 9,510 3. Meninggal 5 15,00 8,367 F = 1,451 df = 2 p = 0,238 Dari tabel 5.15. dapat dilihat bahwa dari 108 orang penderita hydrocephalus yang pulang berobat jalan memiliki lama rawatan rata – rata 14,38 hari. Dari 28 orang penderita hydrocephalus yang pulang atas permintaan sendiri memiliki lama rawatan rata- rata 11,18 hari. Dari 5 orang penderita hydrocephalus yang meninggal memiliki lama rawtan rata – rata 15,00 hari. Berdasarkan test homogeneity of variances diperoleh p > 0,05 (0,925) yang berarti memiliki varians yang sama sehingga analisis tidak dilanjutkan dengan menggunakan uji Kruskal Wallis. Dari analisa statistik dengan menggunakan uji Anova diperoleh p > 0,05 berarti secara statistik tidak ada perbedaan yang bermakna antara lama rawatan rata – rata berdasarkan keadaan sewaktu pulang. Universitas Sumatera Utara BAB 6 PEMBAHASAN 6.1. Distribusi Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Tahun Distribusi frekuensi penderita hydrocephalus berdasarkan tahun yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005 – 2009 dapat dilihat pada gambar berikut ini. Gambar 6.1. Grafik Garis Trend Kunjungan Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Tahun di RSUP H. Adam Malik Kota Medan Tahun 2005 -2009 Dari gambar 6.1. dapat dilihat bahwa kecenderungan penderita hydrocephalus yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2005 – 2009 menunjukkan penurunan dengan persamaan garis Y = -5,7x + 45,3, frekuensi penderita hydrocephalus menurun sebanyak 27 kasus, simpel rasio penurunan 3,25 kali, dan persentase penurunan sebesar 69%. Penderita hydrocephalus tertinggi pada tahun 2007 yaitu 39 orang dan terendah tahun 2009 yaitu 12 orang. Universitas Sumatera Utara Pada hasil penelitian ini terjadi penurunan penderita hydrocephalus mempunyai keterkaitan dengan jumlah penderita hydrocephalus yang datang berobat ke RSUP H. Adam Malik Medan mengalami penurunan selama tahun 2005 – 2009. 6.2. Distribusi Proporsi Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Sosiodemografi 6.2.1. Umur dan Jenis Kelamin Distribusi frekuensi penderita hydrocephalus berdasarkan umur dan jenis kelamin yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005 – 2009 dapat dilihat pada gambar berikut ini. Gambar 6.2. Diagram Bar Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005 – 2009 Dari gambar 6.2. dapat dilihat bahwa proporsi penderita hydrocephalus pada laki-laki telah ada pada kelompok umur 0-6 tahun 36,9%, menurun pada kelompok umur 7-13 tahun 5,8%, menurun lagi pada kelompok umur 14-20 tahun 2,1%, meningkat lagi pada kelompok umur 21-27 tahun 2,8%, menurun lagi pada Universitas Sumatera Utara kelompok umur 28-34 tahun 0,7%, meningkat lagi pada kelompok umur 35-41 tahun 2,8%, menurun lagi pada kelompok umur 42-48 tahun 0,7%, kemudian meningkat lagi pada kelompok umur 49-55 tahun 1,4%. Proporsi penderita hydrocephalus pada perempuan telah ada pada kelompok umur 0-6 tahun 32,6%, menurun pada kelompok umur 7-13 tahun 5,8%, kemudian terus menurun hingga pada kelompok umur 42-48 tahun 0,7%, kemudian meningkat lagi pada kelompok umur 49-55 tahun 2,1%. Proporsi penderita hydrocephalus terbanyak pada laki-laki 53,2% sedangkan pada perempuan sebanyak 46,8% denagan sex ratio 1,14. Hal ini bukan berarti jenis kelamin laki-laki lebih beresiko untuk terkena hydrocephalus, namun dapat dilihat dengan keterkaitannya terhadap jumlah penderita hydrocephalus yang datang berobat ke RSUP H. Adam Malik Medan banyak laki-laki dibandingkan perempuan. Universitas Sumatera Utara 6.2.1. Suku Distribusi proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan suku yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Tahun 2005-2009 dapat dilihat pada gambar beriktu ini. 35 32,6 31,2 Proporsi (%) 30 25 18,4 20 15 10 7,1 5,0 5 4,3 1,4 0 Jaw a Batak Aceh Tidak tercatat Dan lain – lain Melayu Minang Suku Gambar 6.3. Diagram Bar Suku Penderita Hydrocephalus yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 Dari gambar 6.3. dapat diketahui proporsi tertinggi penderita hydrocephalus berdasarkan suku adalah suku Jawa 32,6% dan proporsi yang terendah adalah suku Minang 1,4%. Pada kartu status terdapat 7,1% proporsi penderita yang tidak tercatat. Hal ini menunjukkan mayoritas jumlah pasien penderita hydrocephalus yang datang berobat ke RSUP H. Adam Malik Medan adalah suku Jawa. Universitas Sumatera Utara 6.2.2. Agama Distribusi Proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan agama yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 dapat dilihat pada gambar berikut ini. 0,7% 22,0% Agama Islam Kristen Protestan Kristen Katolik 77,3% Gambar 6.4. Diagram Pie Agama Penderita Hydrocephalus yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 Dari gambar 6.4. dapat dilihat bahwa proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan agama tertinggi yaitu agama Islam 77,3% , agama Kristen Protestan 22,0% dan agama Kristen Katolik 0,7%. Hal ini menunjukkan mayoritas jumlah pasien penderita hydrocephalus yang datang berobat ke RSUP H. Adam Malik Medan adalah beragama Islam. Universitas Sumatera Utara 6.2.3. Pendidikan Distribusi proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan pendidikan yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 dapat dilihat pada gambar berikut ini. 5,7% 2,1% Pendidikan 7,1% Belum Sekolah/Tidak Tamat SD 10,6% SD/Sederajat SLTP/Sederajat SLTA/Sederajat 74,5% Akademi/Perguruan Tinggi Gambar 6.5. Diagram Pie Pendidikan Penderita Hydrocephalus yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 Dari gambar 6.5. dapat dilihat bahwa proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan pendidikan tertinggi yaitu Belum Sekolah /Tidak Tamat SD 74,5% dan terendah yaitu Akademi/Perguruan Tinggi 2,1%. Hal ini menunjukkan mayoritas jumlah pasien penderita hydrocephalus datang berobat ke RSUP H. Adam Malik Medan adalah Belum Sekolah/Tidak Tamat SD. Suliman (2006), menemukan bahwa puncak kejadian hydrocephalus diperoleh pada anak kecil, Cerebro-Spinal Meningitis (CSM) dapat terjadi beberapa minggu. Universitas Sumatera Utara Kelompok usia terkena hydrocephalus pasca-meningitis adalah di bawah usia dua tahun.26 6.2.4. Pekerjaan Distribusi proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan pekerjaan dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 dapat dilihat pada gambar berikut ini. 80 70,9 Proporsi (%) 70 60 50 40 30 14,2 20 5,0 10 4,3 2,8 2,1 0,7 la in D an Pe ta ni – la in O LR PN S /T N I/P as ta T IR Pe la ja r W i ra sw Be lu m B ek er ja I 0 Pekerjaan Gambar 6.6. Diagram Bar Pekerjaan Penderita Hydrocephalus yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 Dari gambar 6.6. dapat dilihat bahwa proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan pekerjaan tertinggi yaitu Belum Bekerja 70,9% dan terendah yaitu Petani 0,7%. Hal ini menunjukkan mayoritas jumlah pasien penderita hydrocephalus datang berobat ke RSUP H. Adam Malik Medan adalah Belum Bekerja. Tingginya Universitas Sumatera Utara penderita yang belum bekerja dapat dikaitkan dengan mayoritas penderita yang datang berobat usia < 14 tahun sebesar 85,1% yang memang belum bekerja. 6.2.5. Status Perkawinan Distribusi proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan status perkawinan yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 dapat dilihat pada gambar berikut ini. 13,5% Status Perkawinan Belum Kawin Kawin 86,5% Gambar 6.7. Diagram Pie Status Perkawinan Penderita Hydrocephalus yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 Dari gambar 6.7.dapat dilihat proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan status perkawinan tertinggi yaitu berstatus belum kawin 86,5% dan yang berstatus kawin 13,5%. Hal ini dapat dikaitkan dengan proporsi penderita hydrocephalus lebih besar pada umur 0-6 tahun dimana pada usia tersebut penderita belum menikah. Tingginya Universitas Sumatera Utara penderita hydrocephalus yang berstatus belum kawin juga dapat dikaitkan dengan mayoritas penderita hydrocephalus yang datang berobat belum sekolah. 6.2.6. Sumber Biaya Distribusi proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan sumber biaya yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 dapat dilihat pada gambar berikut ini. 8,5% 9,9% Sumber Biaya JAMKESMAS Biaya Sendiri ASKES 86,6% Gambar 6.8. Diagram Pie Sumber Biaya Penderita Hydrocephalus Yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 Dari gambar 6.8. dapat dilihat bahwa penderita hydrocephalus berdasarkan sumber biaya tertinggi yaitu Jamkesmas 86,6% dan terendah Askes 8,5%. Rumah Sakit Umum H. Adam Malik Medan adalah rumah sakit pemerintah kota medan yang melayani pasien dengan Jaminan Sosial (Askes dan Jamkesmas) dan juga pasien umum. Tingginya pasien yang berobat dengan Jamkesmas dapat Universitas Sumatera Utara dikaitkan dengan mayoritas penderita hydrocephalus berasal dari keluarga yang kurang mampu. 6.3.Distribusi Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Keluhan Utama Distribusi proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan keluhan utama yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 dapat dilihat gambar berikut ini. 70 64,5 Proporsi (%) 60 50 40 30 22,7 20 11,3 10 1,4 0 Pembesaran Kepala Kejang Penglihatan Kabur Tidak tercatat Keluhan Utama Gambar 6.9.Diagram Bar Keluhan Utama Penderita Hydrocephalus yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 Dari gambar 6.9. dapat dilihat bahwa proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan keluhan utama tertinggi yaitu pembesaran kepala 64,5%, kejang 22,7% dan yang terendah yaitu penglihatan kabur 11,3%. Pada kartu status terdapat 1,4% proporsi penderita yang tidak tercatat. Universitas Sumatera Utara Tekanan pada otak oleh cairan yang terakumulasi pada akhirnya dapat menyebabkan kejang-kejang dan keterbelakangan mental. Tanda-tanda ini terjadi lebih cepat pada orang dewasa, karena tengkorak yang tidak lagi mampu memperluas untuk mengakomodasi meningkatnya volume cairan di dalam otak.22 Hal ini juga kemungkinan karena keterlambatan keluarga dalam membawa pasien ke pelayanan kesehatan sehingga pasien mengalami kejang. 6.4.Distribusi Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Klasifikasi Hydrocephalus Distribusi proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan klasifikasi yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 dapat dilihat pada gambar berikut ini. 17,0% Klasifikasi Hydrocephalus 45,4% Hydocephalus non Komunikans Hydocephalus Komunikans Tidak Tercatat 37,6% Gambar 6.10. Diagram Pie Klasifikasi Penderita Hydrocephalus yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 Universitas Sumatera Utara Berdasarkan gambar 6.10. hydrocephalus berdasarkan dapat dilihat klasifikasi tertinggi bahwa proporsi penderita yaitu Hydrocephalus non Komunikans dan terendah Hydrocephalus Komunikans 37,6%. Pada kartu status terdapat 17,0% proporsi penderita yang tidak tercatat. 6.5.Distribusi Penderita Sebelumnya Hydrocephalus Berdasarkan Riwayat Penyakit Distribusi proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan riwayat penyakit sebelumnya yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 dapat dilihat pada gambar berikut ini. 50 45 43,3 39,0 Proporsi (%) 40 35 30 25 20 15 10,6 10 4,3 5 2,8 0 Kelainan Kongenital Infeksi Neoplasma Tidak tercatat Perdarahan Riwayat Penyakit Sebelumnya Gambar 6.11. Diagram Bar Riwayat Penyakit Sebelumnya Penderita Hydrocephalus yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 Berdasarkan gambar 6.11. dapat dilihat bahwa proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan riwayat penyakit sebelumnya tertinggi yaitu kelainan Universitas Sumatera Utara kongenital 43,3% dan terendah yaitu perdarahan 2,8%. Pada kartu status terdapat 4,3% proporsi penderita yang tidak tercatat. Kelainan kongenital memegang peranan penting sebagai kematian perinatal. Dari SKRT 1997, penyebab kematian perinatal oleh kelainan kongenital menepati urutan ketujuh (4,7%). Maridin F, pada penelitiannya tentang kematian perinatal di RS. Sardjito Yogyakarta mendapatkan bahwa kelainan kongenital sebagai penyebab kematian perinatal menepati urutan kelima (5,1%).27,28 6.6.Distribusi Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Penatalaksanaa Medis Distribusi proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan penatalaksanaan medis yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 dapat dilihat pada gambar berikut ini. 8,5% Penatalaksanaan Medis Obat – obatan 31,5% Operasi + Obat - obatan 60,3% Operasi Gambar 6.12. Diagram Bar Penatalaksanaan Medis Penderita Hydrocephalus yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 20052009 Universitas Sumatera Utara Berdasarkan gambar 6.12. dapat dilihat bahwa proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan riwayat penyakit sebelumnya tertinggi yaitu kelainan kongenita 43,3% dan terendah yaitu perdarahan 2,8%. Pada kartu status terdapat 4,3% proporsi penderita yang tidak tercatat. Pengobatan hydrocephalus dapat diberikan antibiotik jika ada tanda-tanda infeksi. Infeksi berat mungkin dilakukan shunt.12 6.7.Distribusi Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Lama Rawatan Rata-Rata Lama rawatan rata-rata penderita hydrocephalus adalah 13,77 hari atau 14 hari. SD (Standar Deviasi) 9,042 hari dengan lama rawatan minimum 2 hari dan lama rawatan maksimum 60 hari. Penderita hydrocephalus paling lama dirawat yaitu selama 60 hari berjumlah 1 orang adalah penderita berusia 6 tahun dengan jenis kelamin laki – laki, keluhan kepala besar, sumber biaya adalah bukan biaya sendiri (Jamkesmas), dan status pulang adalah pulang berobat jalan. Sementara itu penderita hydrocephalus yang dirawat hanya dalam 2 hari berjumlah 7 orang. Universitas Sumatera Utara 6.8.Distribusi Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang Distribusi proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan keadaan sewaktu pulang yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 dapat dilihat pada gambar berikut ini. 3,5% 19,9% Keadaan Sewaktu Pulang Pulang Berobat Jalan Pulang Atas Permintaan Sendiri Meninggal 76,6% Gambar 6.13. Diagram Pie Keadaan Sewaktu Pulang Penderita Hydrocephalus yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 20052009 Berdasarkan gambar 6.13. dapat dilihat bahwa proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan keadaan sewaktu pulang tertinggi yaitu pulang berobat jalan 76,6% dan yang terendah yaitu meninggal dunia (3,5%). Hal ini dikarenakan tindak lanjut (follow up) pada penderita hydrocephalus sangat penting. Diperlukan pemeriksaan secara periodik dan teratur pada penderita hydrocehalus untuk mengetahui bagaimana keadaannya, salah satunya dengan berobat jalan. Hydrocephalus paling sering dirawat dengan pembedahan memasukkan Universitas Sumatera Utara sistem shunt. Sistem ini mengalihkan aliran CSF dari SSP ke area tubuh di tempat yang dapat diserap sebagai bagian dari proses peredaran darah normal. Shunt adalah tabung plastik fleksibel namun kokoh. Sebuah sistem terdiri dari shunt shunt, kateter, dan katup. Salah satu ujung kateter ditempatkan dalam ventrikel dalam otak atau di CSF luar sumsum tulang belakang.12 Sistem shunt bukan perangkat sempurna. Komplikasi mungkin termasuk kegagalan mekanis, infeksi, hambatan, dan kebutuhan untuk memperpanjang atau mengganti kateter.12 Penderita yang pulang atas permintaan sendiri kemungkinan memiliki berbagai alasan diantaranya tidak ada biaya, ada urusan keluarga, merasa sudah terlalu lama berada di rumah sakit namun tidak ada perubahan pada penyakitnya, atau ingin berobat tradisional, ataupun ingin dirawat di rumah saja. Universitas Sumatera Utara 6.9.Analisa Statistik 6.9.1. Umur dan Klasifikasi Hydrocephalus Distribusi proporsi umur penderita hydrocephalus berdasarkan klasifikasi hydrocephalus yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 dapat dilihat pada gambar berikut ini. 100 86,6% 90 75,0% 80 Umur (Tahun) Proporsi (%) 70 60 < 14 tahun 50 > 14 tahun 40 25,0% 30 13,4% 20 10 0 Hydrocephalus Komunikans Hydrocephalus non Komunikans Klasifikasi Hydrocephalus Gambar 6.13. Diagran Bar Umur Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Klasifikasi yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 Dari gambar 6.13. dapat dilihat bahwa dari 53 orang penderita hydrocephalus dengan klasifikasi Hydrocephalus non-Komunikans, penderita yang mengalami hydrocephalus pada umur ≤ 14 tahun 86,8% dan umur > 14 tahun 13,4%. Dari 64 orang penderita hydrocephalus dengan Hydrocephalus Komunikans, penderita yang mengalami hydrocephalus pada umur ≤ 14 tahun 75,0%, umur > 14 tahun 25,0%. Universitas Sumatera Utara Analisa statistik dengan uji chi-square diperoleh p = 0,110. Hal ini berarti secara statistik tidak ada perbedaan proporsi yang bermakna antara umur berdasarkan klasifikasi hydrocephalus. 6.9.2. Keluhan Utama Berdasarkan Klasifikasi Hydrocephalus Distribusi proporsi keluhan utama penderita hydrocephalus berdasarkan klasifikasi hydrocephalus yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 dapat dilihat pada gambar berikut ini. 90 84,9% 80 Proporsi (%) 70 Keluhan Utama 62,5% 60 Pembesaran Kepala 50 Penglihatan Kabur 40 Kejang 30 23,4% 20 10 5,7% 9,4% 14,1% 0 Hydrocephalus Komunikans Hydrocephalus non Komunikans Klasifikasi Hydrocephalus Gambar 6.14. Diagran Bar Keluhan Utama Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Klasifikasi yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 Analisa statistik dengan uji chi-square diperoleh p = 0,026. Hal ini berarti secara statistik ada perbedaan proporsi yang bermakna antara keluhan utama berdasarkan klasifikasi hydrocephalus. Universitas Sumatera Utara Dari gambar 6.14. dapat dilihat bahwa proporsi keluhan utama pembesaran kepala secara bermakna lebih tinggi pada Hydrocephalus Komunikans dibanding Hydrocephalun non Komunikans. Proporsi keluhan utama penglihatan kabur secara bermakna lebih tinggi pada Hydrocephalus non Komunikans dibanding Hydrocephalus Komunikans. Proporsi keluhan utama kejang secara bermakna lebih tinggi pada Hydrocephalus non Komunikans dibandingkan Hydrocephalus Komunikans. Manifestasi klinis hydrocephalus meliputi pembesaran kepala abnormal, gambaran tetap hydrocephalus kongenital dan pada masa bayi. Lingkaran kepala neonatus biasanya adalah 35-40 cm, dan pertumbuhan ukuran lingkar kepala terbesar adalah selama tahun pertama kehidupan. Kranium terdistensi dalam semua arah, tetapi terutama pada daerah frontal. Tampak dorsum nasi lebih besar dari biasa. Fontanella terbuka dan tegang, sutura masih terbuka bebas. Tulang-tulang kepala menjadi sangat tipis. Vena-vena di sisi samping kepala tampak melebar dan berkelok.24 Universitas Sumatera Utara 6.9.3. Penatalaksanaan Medis Berdasarkan Sumber Biaya Distribusi proporsi penatalaksanaan medis penderita hydrocephalus berdasarkan sumber biaya yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 dapat dilihat pada gambar berikut ini. 70 64,3% 59,8% Proporsi (%) 60 Penatalaksanaan Medis 50 40,2% 40 35,7% Obat Operasi 30 20 10 0 Biaya Sendiri Bukan Biaya Sendiri Sumber Biaya Gambar 6.15. Diagram Bar Penatalaksanaan Medis Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Sumber Biaya yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 Dari gambar 6.15. dapat dilihat bahwa penderita yang mendapat penatalaksanaan medis obat 64,3% dan operasi 35,7%. Penderita hydrocephalus dengan biaya bukan biaya sendiri, penderita yang mendapatkan penatalaksanaan medis obat 59,8% dan operasi 40,2%. Hal ini dimungkinkan karena banyak dari penderita hydrocephalus yang tidak mau atau pihak keluarga tidak menyetujui untuk dilakukan tindakan pembedahan dan karena tidak adanya biaya sehingga lebih memilih obat. Universitas Sumatera Utara Analisa statistik dengan uji chi-square diperoleh p = 0,747. Hal ini berarti secara statistik tidak ada perbedaan yang bermakna antara penatalaksanaan medis berdasarkan sumber biaya. 6.9.4. Lama Rawatan Rata-Rata Berdasarkan Sumber Biaya Distribusi proporsi lama rawatan rata-rata berdasarkan sumber biaya yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 dapat dilihat pada gambar berikut ini. 13,74 Sumber Biaya Bukan biaya sendiri 14,00 Biaya Sendiri 0 2 4 6 8 10 12 14 16 Lama Rawatan Rata-Rata (Hari) Gambar 6.16. Diagran Bar Lama Rawatan Rata-Rata Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Sumber Biaya yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 Dari gambar 6.16. dapat dilihat bahwa lama rawatan rata-rata 127 orang yang bukan biaya sendiri (jaminan sosial ataupun askes) adalah 13,74 hari atau 14 hari, sedangkan lama rawatan rata-rata 14 orang penderita hydrocephalus dengan biaya sendiri adalah 14 hari. Universitas Sumatera Utara Hasil analisa statistik dengan menggunakan uji t diperolah p = 0,919. Hal ini berarti secara statistik tidak ada perbedaan yang bermakna antara lama rawatan rata – rata berdasarkan sumber biaya. 6.9.5. Penatalaksanaan Medis Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang Distribusi proporsi penatalaksanaan medis berdasarkan keadaan sewaktu pulang yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 dapat dilihat pada gambar berikut ini. 100 89,3% 90 Proporsi (%) 80 Penatalaksanaan Medis 70 60 50 60,0% 53,7% 46,3% 40,0% Obat Operasi 40 30 20 10,7% 10 0 Pulang Berobat Jalan Pulang Atas Permintaan Sendiri Meninggal Keadaan Sewaktu Pulang Gambar 6.17. Diagram Bar Penatalaksanaan Medis Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 Dari gambar 6.17. dapat dilihat bahwa penderita yang mendapat penatalaksanaan medis obat 53,7% dan operasi 46,3%. Dari 28 orang penderita hydrocephalus yang pulang atas permintaan sendiri, penderita yang mendapatkan penatalaksanaan medis obat 89,3%, dan operasi 10,7%. Penderita hydrocephalus Universitas Sumatera Utara yang meninggal, penderita yang mendapatkan penatalaksanaan medis obat 40,0% dan operasi 60,0%. Penatalaksanaan medis hydrocephalus tergantung pada tahap perkembangan penyakit dan komplikasi yang berhubungan. Dari hasil terlihat bahwa berdasarkan penatalaksanaan medis, pasien meninggal tertinggi pada penatalaksanaan medis operasi 3 orang. Adanya pasien yang meninggal karena komplikasi setelah operasi pemasangan shunt. Analisa statistik dengan uji chi-square tidak memenuhi syarat untuk dilakukan karena terdapat 2 sel (33,3%) expected count yang besarnya kurang dari 5. Universitas Sumatera Utara 6.9.6. Lama Rawatan Rata-Rata Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang Distribusi proporsi lama rawatan rata-rata berdasarkan keadaan sewaktu pulang yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 dapat dilihat pada gambar berikut ini. 11,18 Keadaan Sewaktu Pulang PAPS 14,38 PBJ Meninggal 15,00 0 2 4 6 8 10 12 14 16 Lama Rawatan Rata - Rata (Hari) Gambar 6.18. Diagran Bar Lama Rawatan Rata-Rata Penderita Hydrocephalus Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 Dari gambar 6.18. dapat dilihat bahwa lama rawatan rata-rata penderita hydrocephalus yang meninggal adalah 15 hari, lama rawatan penderita yang pulang berobat jalan adalah 14,38 hari atau 14 hari, sedangkan lama rawatan rata-rata yang pulang atas permintaan sendiri adalah 11,18 hari atau 11 hari. Berdasarkan test homogeneity of variances diperoleh p = 0,925 yang berarti memiliki varians yang sama sehingga analisis tidak dilanjutkan dengan menggunakan uji Kruskal Wallis. Universitas Sumatera Utara Dari analisa statistik dengan menggunakan uji Anova diperoleh p = 0,238. Hal ini berarti secara statistik tidak ada perbedaan yang bermakna antara lama rawatan rata – rata berdasarkan keadaan sewaktu pulang. Universitas Sumatera Utara BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN 7.1.Kesimpulan 7.1.1. Kecenderungan kunjungan penderita hydrocephalus di RSUP H. Adam Malik Kota Medan berdasarkan data tahun 2005-2009 menunjukkan penurunan dengan persamaan garis y = − 5,7 x + 45,3 . Jumlah penderita tertinggi pada tahun 2007 sebanyak 39 kasus. 7.1.2. Proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan sosiodemografi proporsi tertinggi pada kelompok umur 0-6 tahun 69,5%, ditemukan penderita hydrocephalus umur 5 hari dan tertua 55 tahun. Berdasarkan jenis kelamin proporsi laki-laki 53,2% dan perempuan 46,8% dengan sex ratio 1,14, suku Jawa 32,6%, agama Islam 77,3%, pendidikan belum sekolah/belumtamat SD 74,5%, pekerjaan belum bekerja 70,9%, status perkawinan belum kawin 86,5%, dan sumber biaya Jamkesmas 81,6%. 7.1.3. Proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan keluhan utama diperoleh proporsi tertinggi dengan keluhan mengalami pembesaran kepala 64,5%. 7.1.4. Proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan klasifikasi hydrocephalus diperoleh proporsi tertinggi penderita Hydrocephalus non Komunikans 45,4%, dan Hydrocephalus Komunikans 37,6%. 7.1.5. Proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan riwayat penyakit sebelumnya diperoleh proporsi tertinggi dengan riwayat penyakit sebelumnya kelainan kongenital 43,3%. Universitas Sumatera Utara 7.1.6. Proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan penatalaksanaan medis diperoleh proporsi tertinggi dengan penatalaksanaan medis pemberian obatobatan 60,3%. 7.1.7. Lama rawatan rata-rata penderita hydroccephalus 13,77 hari (14 hari). 7.1.8. Proporsi penderita hydrocephalus berdasarkan keadaan sewaktu pulang tertinggi pulang berobat jalan 76,6%. Terdapat 19,9% proporsi penderita yang pulang atas permintaan sendiri. 7.1.9. Tidak ada perbedaan yang bermakna antara umur berdasarkan klasifikasi hydrocephalus (p=0,110). 7.1.10. Ada perbedaan proporsi yang bermakna antara keluhan utama berdasarkan klasifikasi hydrocephalus (p=0,026), proporsi keluhan utama kejang secara bermakna lebih tinggi pada Hydrocephalus non Komunikans dibanding Hydrocephalus Komunikans (X2=7,325, p=0,026; 23,4% vs 9,4%). 7.1.11. Tidak ada perbedaan yang bermakna antara lama rawatan rata-rata berdasarkan sumber biaya (p=0,919). 7.1.12. Tidak ada perbedaan yang bermakna antara lama rawatan rata-rata berdasarkan keadaan sewaktu pulang (p=0,925). 7.1.13. Tidak ada perbedaan yang bermakna antara penatalaksanaan medis berdasarkan sumber biaya (p=0,747). 7.1.14. Uji chi-square tidak dapat dilakukan untuk melihat perbedaan penatalaksanaan medis berdasarkan keadaan sewaktu pulang. Universitas Sumatera Utara 7.2. Saran 7.2.1. Diharapkan kepada dokter dan perawat RSUP H. Adam Malik Medan agar memberikan pemahaman kepada penderita dan keluarga penderita tentang penatalaksanaan hydrocephalus agar dapat mengurangi jumlah penderita yang pulang atas permintaan sendiri. 7.2.2. Diharapkan kepada pihak Rumah Sakit khususnya Kepada Dokter di RSUP H. Adam Malik Kota Medan diharapkan untuk melengkapi pencatatan rekam medik, khususnya yang berkaitan dengan hydrocephalus yaitu riwayat penyakit sebelumnya, jenis kelainan kongenital dan klasifikasi hydrocephalus. 7.2.3. Kepada ibu hamil diharapkan untuk melakukan antenatal care. 7.2.4. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang faktor – faktor yang berhubungan dengan terjadinya hydrocephalus. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA 1. Depkes RI., 2004. Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta. 2. Maryunani, A. dan Nurhayati ., 2009. Asuhan Kegawatdaruratan Dan Penyulit Pada Neonatus. CV. Trans Info Media, Jakarta. 3. Sunaryo, R., 2006. Infeksi Toxoplasma Dalam Kehamilan. Ethical Digest No 23 Bulan Januari 2006. 4. Gandahusada S., 1991. Diagnosis Toksoplasmosis Kongenital pada Bayi. Medika No 7 Bulan Juli 1991. 5. Assosiation Hydrocephalus. 2003. Hydrocephalus Didiagnosis Pada Anak Dan Dewasa. Edisi Kedua. San Fransisco. 6. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. 1999. Buku Ajar Neurologis Klinis. Edisi Pertama. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. 7. Behrman R.E, dan Vaughan V.C., 1992. Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 12 Bagian 3. Buku Kedokteran EGC, Jakarta. 8. Farina A., 2000. Hydrocephalus. http://www.scribd.com// 9. Alberto E.J, dkk., 2008. Hydrocephalus. http//emedicine.medscape.com// 10. Maliawan S., dkk., 2008. Perbandingan Tekhnik Endoscopic Third Ventriculostomy (ETV) Dengan Ventriculoperitoneal Shunting (VP Shunting) Pada Hydrocephalus Obtruktif: Perbaikan Klinis dan Perubahan Interleukin-ß, Interleukin-6, dan Neural Growth Faktor Cairan Serebrospinalis. Volume 9 nomor 1 Bulan Januari 2008, Jakarta. 11. University of Ultser. 2005. Prevalensi dan Kejadian Hydrocephalus. Edisi Kedelapan. http : //www.wrongdiagnosis.co.id 12. National Institute of Neurological. //www.ninds.nih.gov 2008. Hydrocephalus. http: 13. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia., 1985. Ilmu Kesehatan Anak. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. 14. Schwartz, M.W., 2005. Pedoman Klinis Pediatri. Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta. Universitas Sumatera Utara 15. Rukiyah A.Y, dan Yulianti L., 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Trans Info Media, Jakarta. 16. Anonim., 2009. Hydrocephalus. Fakultas Kedokteran Universitas Riau, Pekan Baru. 17. Riordan S., dkk., 2000. Congenital Hydrocephalus / Ventriculomegaly Hydrocephalus Congenital. http://www.scribd.com// 18. Anonim., 2009. Hydrocephalus. Artikel http://www.medicalnewstoday.com// Date : 10 Maret 2009. 19. Bouterie., 2003. Hydrocephalus. University of John A. Burns School of Medicine Hawaii. http://www.scribd.com// 20. Departments of Neurosurgery. 1981. The Epidemiology Hydrocephalus Congenital. State University of New York. 21. Pritchard., dkk., 1984. Obstetri Williams. Edisi 7. Airlangga University Press, Surabaya. 22. Alexie S., 2008. Hydrocephalus. http://www.wikipedia.org// 23. Harsono., 1994. Masalah Diagnosis Epilepsi. Laboratorium Ilmu Penyakit Syaraf Fakultas Kedokteran Universita Gadjah Mada. Yogyakarta. 24. Darsono dan Himpunan dokter spesialis saraf indonesia dengan UGM. 2005. Buku Ajar Neurologi Klinis. Yogyakarta. UGM Press. 25. Murti, B., 2007. Riwayat Alamiah Penyakit. Jakarta. 26. Suliman, M.,2006. The effect of the seasonal cerebro-spinal meningitis on the incidence of hydrocephalus in Sudanese children. Sudan JMS, Vol 1, No.1, Sept 2006. 27. Megadhana, S., 1997. Kematian Perinatal di RSUP Dr. Kariadi. Majalah Obstetri Ginekologi Indonesia. 28. Maridin, F., 1997. Kematian Perinatal di RS. Sarjito tahun 1991-1995. Majalah Obstetri Ginekologi Indonesia. Universitas Sumatera Utara Lampiran 1 Analisa Kecenderungan dengan Metode Kuadrat Terkecil (Least Squares) Memakai rumus : Y = a + bx Jumlah Penderita Hydrocephalus Rawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009 Tahun Tahun dalam kode (Xi) 1 2 3 4 5 ∑Xi=15 2005 2006 2007 2008 2009 ∑ Yi XiYi Xi2 33 36 39 21 12 ∑Yi=141 33 72 117 84 60 ∑XiYi=366 1 4 9 16 25 ∑Xi2 n=5 Bentuk umum: Y=a + bX dimana: (∑ Yi )(∑ Xi ) − (∑ Xi )(∑ XiYi ) n∑ Xi − 2 a= a= (∑ Xi ) 2 (141 )(55 ) − (15 )(366 ) 2 5(55 ) − (15 ) a= 7755 − 5490 275 − 225 a= 2265 50 a = 45,3 Universitas Sumatera Utara b= n(∑ XiYi ) − (∑ Xi b= 5(366 ) − (15 )(141 b= b= )(∑ Yi ) 2 n∑ Xi 2 − (∑ Xi ) ( ( 5 55 ) − 15 1.830 − 2.115 275 − 225 ) ) 2 − 285 50 b = -5,7 maka persamaanya y = 45,3 + (-5,7)x y = 45,3 – 5,7x Jika x = 1 maka y = 45,3 – 5,7x = 39,6 x = 2 maka y = 45,3 – 5,7x = 33,9 x = 3 maka y = 45,3 – 5,7x = 28,2 x = 4 maka y = 45,3 – 5,7x = 22,5 x = 5 maka y = 45,3 – 5,7x = 16,8 Diperoleh trend penurunan kasus sebesar 39 − 12 x 100% = 69% dari tahun 200539 2009 Universitas Sumatera Utara No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 thn 5 5 5 5 5 4 4 5 1 1 1 1 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 2 2 2 4 1 2 1 1 1 1 2 2 2 2 2 1 1 2 2 umur 0 3 34 48 5 42 2 0 3 0 4 2 26 2 6 7 2 0 2 13 0 0 0 0 0 0 2 0 0 10 0 2 13 0 0 12 0 0 0 2 8 0 0 5 0 umurk 1 1 5 7 1 7 1 1 1 1 1 1 4 1 1 2 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1 1 jk 1 1 2 1 1 2 2 1 1 1 2 2 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 1 1 2 2 2 2 1 1 2 1 2 1 2 2 1 1 1 2 suku . . . . . . . . 2 . 2 2 7 1 6 1 6 1 1 1 2 6 2 6 2 2 2 4 6 . 2 2 2 1 2 2 2 6 7 7 6 1 7 2 1 agama 1 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 2 1 2 1 1 2 pend 1 1 3 5 1 3 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 pek 8 8 6 2 8 6 8 8 8 8 8 8 3 8 8 8 8 8 8 5 8 8 8 8 8 8 8 8 8 5 8 8 5 8 8 5 8 8 8 8 5 8 8 8 8 sttus 2 2 1 1 2 1 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 bskpla 1 1 2 2 2 2 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 pkbur 2 2 1 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 1 1 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 kejang 1 2 2 1 1 1 2 2 1 2 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 1 1 2 1 2 Universitas Sumatera Utara kluhk 1 1 2 3 3 3 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 klsifk 1 1 1 . 1 1 1 2 2 . 2 1 1 1 . 1 1 1 . 2 2 1 1 2 . 2 1 1 1 . 2 . 1 1 2 2 . 1 1 . 2 1 2 1 1 r . . . . . 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 4 1 1 1 1 1 2 2 2 3 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 3 1 4 4 3 4 3 3 3 3 3 3 22 0 1 8 13 39 1 1 49 0 3 0 0 0 0 0 1 3 0 0 7 0 21 38 1 1 20 11 0 0 0 55 55 15 1 0 33 15 18 2 0 10 0 3 25 23 4 1 1 2 2 6 1 1 8 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 4 6 1 1 3 2 1 1 1 8 8 3 1 1 5 3 3 1 1 2 1 1 4 4 2 1 1 2 1 2 2 2 2 1 1 2 1 1 2 1 2 2 2 2 1 1 1 2 1 2 1 2 2 2 2 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 1 1 2 1 1 6 1 1 2 2 1 1 6 6 2 2 6 2 6 4 1 1 5 6 2 1 2 2 6 2 2 6 2 2 2 7 1 2 1 1 2 1 7 1 2 5 1 1 2 5 1 1 2 3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 2 2 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 5 1 1 2 3 4 1 1 5 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 3 4 1 1 3 2 1 1 1 4 2 4 1 1 4 3 4 1 1 1 1 1 2 2 5 8 8 5 5 6 8 8 2 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 5 8 3 6 8 8 5 5 8 8 8 2 3 5 8 8 3 5 5 8 8 5 8 8 9 9 2 2 2 2 2 1 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 1 1 1 2 2 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 2 1 2 2 1 1 1 1 2 2 2 1 1 2 2 2 2 1 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 1 2 2 2 1 1 1 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 1 2 1 2 1 1 1 1 2 2 2 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 1 2 1 2 2 2 2 1 2 2 1 1 1 1 1 2 2 2 2 1 Universitas Sumatera Utara 3 1 1 1 3 3 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 3 1 2 2 1 3 3 1 1 1 1 2 2 3 1 1 2 3 3 3 1 2 1 1 2 3 2 . 1 . 2 2 1 1 . . . 1 1 1 . 2 1 1 1 1 1 2 2 . 2 2 . 2 2 1 1 . 1 1 1 2 2 . 2 2 1 2 2 . 1 2 2 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 3 3 3 3 3 3 3 2 3 4 3 1 3 3 3 3 3 3 4 3 2 3 3 1 5 4 2 5 4 5 4 1 2 1 3 1 5 3 4 4 4 2 3 3 5 2 2 6 1 0 35 0 0 0 0 18 0 24 0 0 0 0 0 2 9 0 0 0 0 2 5 0 0 8 30 50 35 1 2 0 0 1 40 0 3 8 41 0 0 0 7 0 1 1 1 1 6 1 1 1 1 3 1 4 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 5 8 6 1 1 1 1 1 6 1 1 2 6 1 1 1 2 1 2 2 2 1 1 1 2 1 2 1 1 2 2 2 1 2 1 1 2 1 1 1 2 2 2 1 2 1 1 2 1 1 1 2 2 2 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 6 2 2 1 1 2 2 2 5 1 1 1 6 2 1 2 1 6 1 2 1 1 1 6 1 2 1 2 6 6 1 6 1 2 1 6 6 1 2 7 1 5 6 1 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 1 2 1 2 2 2 1 1 1 2 1 1 1 1 1 2 1 2 1 1 1 1 2 2 1 1 2 2 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 3 1 4 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 3 1 1 1 1 1 4 1 1 2 3 1 1 1 2 1 8 8 8 8 7 8 8 8 8 5 8 3 8 8 8 8 8 8 5 8 8 8 8 8 8 8 8 5 9 6 3 8 8 8 8 8 2 8 8 5 6 8 8 8 5 8 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 2 2 2 2 2 1 2 2 2 1 2 2 2 2 2 1 1 1 1 2 1 1 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 1 1 1 1 1 2 2 1 1 2 1 1 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 2 2 1 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 2 1 2 2 1 2 2 1 2 2 2 1 2 Universitas Sumatera Utara 1 1 1 1 3 1 1 1 1 3 1 2 1 1 1 1 1 1 3 3 1 1 1 1 1 1 1 3 3 2 2 1 1 1 1 1 2 3 1 1 3 1 1 1 3 1 2 2 1 2 2 2 1 . 1 1 2 2 2 1 . 1 1 2 . 2 1 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 . 2 138 139 140 141 2 1 1 5 1 2 8 55 1 1 2 8 2 2 2 2 5 6 1 2 1 1 2 1 1 1 1 2 8 8 8 6 2 2 2 1 1 1 1 2 2 2 2 1 2 2 2 2 Universitas Sumatera Utara 1 1 1 2 2 . 2 2 Lampiran 3. Output Master Data TAHUN KASUS Valid 2005 Percent 23.4 2006 36 25.5 25.5 48.9 2007 2008 39 27.7 27.7 76.6 21 14.9 14.9 91.5 2009 12 141 8.5 100.0 8.5 100.0 100.0 Total Valid Percent 23.4 Cumulative Percent 23.4 Frequency 33 Universitas Sumatera Utara Umur penderita * Jenis Kelamin Crosstabulation JK Laki - laki Umur penderita 0-6 Count Expected Count % within UMURK % within JK % of Total 7-13 Count Expected Count % within UMURK % within JK % of Total 14-20 Count Expected Count % within UMURK % within JK % of Total 21-27 Count Expected Count % within UMURK % within JK % of Total 28-34 Count Expected Count % within UMURK % within JK % of Total 35-41 Count Expected Count % within UMURK % within JK % of Total 42-48 Count Expected Count Total Perempuan 52 46 98 52.1 45.9 98.0 53.1% 46.9% 100.0% 69.3% 69.7% 69.5% 36.9% 32.6% 69.5% 8 8 16 8.5 7.5 16.0 50.0% 50.0% 100.0% 10.7% 12.1% 11.3% 5.8% 5.8% 11.6% 3 2 5 2.7 2.3 5.0 60.0% 40.0% 100.0% 4.0% 3.0% 3.5% 2.1% 1.4% 3.5% 4 2 6 3.2 2.8 6.0 66.7% 33.3% 100.0% 5.3% 3.0% 4.3% 2.8% 1.4% 4.3% 1 2 3 1.6 1.4 3.0 33.3% 66.7% 100.0% 1.3% 3.0% 2.1% .7% 1.4% 2.1% 4 2 6 3.2 2.8 6.0 66.7% 33.3% 100.0% 5.3% 3.0% 4.3% 2.8% 1.4% 4.3% 1 1 2 1.1 .9 2.0 Universitas Sumatera Utara % within UMURK % within JK 50.0% 50.0% 100.0% 1.3% 1.5% 1.4% .7% .7% 1.4% 2 3 5 2.7 2.3 5.0 40.0% 60.0% 100.0% 2.7% 4.5% 3.5% 1.4% 2.1% 3.5% 75 66 141 75.0 66.0 141.0 53.2% 46.8% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 53.2% 46.8% 100.0% % of Total 49-55 Count Expected Count % within UMURK % within JK % of Total Total Count Expected Count % within UMURK % within JK % of Total Suku penderita Valid Batak Frequency 44 Percent 31.2 Valid Percent 33.6 Cumulative Percent 33.6 Jawa 46 32.6 35.1 68.7 2 6 1.4 4.3 1.5 4.6 70.2 74.8 26 18.4 19.8 94.7 7 5.0 5.3 100.0 Total 131 92.9 100.0 System 10 141 7.1 100.0 Minang Melayu Aceh Dll Missing Total Agama yang dianut penderita Valid Islam Kristen Protestan Kristen katolik Total Frequency 109 Percent 77.3 Valid Percent 77.3 Cumulative Percent 77.3 31 22.0 22.0 99.3 100.0 1 .7 .7 141 100.0 100.0 Universitas Sumatera Utara Pendidikan terakhir penderita Frequency Valid Belum Sekolah/Tidak tamat SD SD/Sederajat SLTP/Sederajat SLTA/Sederajat Akademi/Sederajat Total Percent Cumulative Percent Valid Percent 105 74.5 74.5 74.5 15 10.6 10.6 85.1 10 7.1 7.1 92.2 8 3 5.7 2.1 5.7 2.1 97.9 100.0 141 100.0 100.0 Pekerjaan penderita Frequency Valid Pensiunan PNS/TNI/POLRI Percent 4 Wiraswasta Valid Percent 2.8 Cumulative Percent 2.8 2.8 6 4.3 4.3 7.1 20 14.2 14.2 21.3 IRT 7 5.0 5.0 26.2 Petani 1 .7 .7 27.0 Belum bekerja 100 70.9 70.9 97.9 Dan lain-lain Total 3 141 2.1 100.0 2.1 100.0 100.0 Pelajar Status perkawinan penderita Valid Kawin Belum Kawin Total Frequency 19 122 Percent 13.5 86.5 Valid Percent 13.5 86.5 141 100.0 100.0 Cumulative Percent 13.5 100.0 Sumber biaya Valid Biaya Sendiri Asuransi Kesehatan (ASKES) Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) Total Frequency 14 Percent 9.9 Valid Percent 9.9 Cumulative Percent 9.9 12 8.5 8.5 18.4 115 81.6 81.6 100.0 141 100.0 100.0 Universitas Sumatera Utara Keluhan utama pembesaran kepala Frequency Valid Ya Percent 101 Tidak 40 Total 141 Valid Percent 71.6 Cumulative Percent 71.6 71.6 28.4 28.4 100.0 100.0 100.0 Keluhan utama penglihatan kabur Frequency Valid Ya Percent Valid Percent Cumulative Percent 24 17.0 17.0 17.0 Tidak 117 83.0 83.0 100.0 Total 141 100.0 100.0 Keluhan utama kejang Frequency Valid Ya Percent 46 Tidak 95 Total 141 Valid Percent 32.6 Cumulative Percent 32.6 32.6 67.4 67.4 100.0 100.0 100.0 Klasifikasi hydrocephalusI Frequency Valid Total Valid Percent Cumulative Percent Hydrocephalus Komunikans 53 37.6 45.3 45.3 Hydrocephalus non - Komunikans 64 45.4 54.7 100.0 117 83.0 100.0 24 17.0 141 100.0 Total Missing Percent System Universitas Sumatera Utara Riwayat penyakit sebelumnya Valid Frequency 61 Kelainan Bawaan Valid Percent 45.2 Cumulative Percent 45.2 85.9 Penyakit Infeksi 55 39.0 40.7 Neoplasma 15 10.6 11.1 97.0 Perdarahan 4 2.8 3.0 100.0 135 95.7 100.0 6 4.3 141 100.0 Total Missing Percent 43.3 System Total Penatalaksanaan medis yang didapat penderita Valid Frequency 85 12 Obat - obatan Operasi operasi + obat - obatan Total Percent 60.3 8.5 Valid Percent 60.3 8.5 44 31.2 31.2 141 100.0 100.0 Cumulative Percent 60.3 68.8 100.0 Lama Rawatan Rata - rata Descriptives LRRR Mean 95% Confidence Interval for Mean 5% Trimmed Mean Median Variance Std. Deviation Minimum Maximum Range Interquartile Range Skewness Kurtosis Statistic 13.77 Lower Bound Upper Bound Std. Error .761 12.26 15.27 12.96 11.00 81.752 9.042 2 60 58 8.00 1.941 .204 5.911 .406 Universitas Sumatera Utara Keadaan sewaktu pulang penderita Frequency Valid Pulang berobat jalan (PBJ) Pulang atas permintaan sendiri (PAPS) Meninggal Dunia Total Percent Cumulative Percent Valid Percent 108 76.6 76.6 76.6 28 19.9 19.9 96.5 5 3.5 3.5 100.0 141 100.0 100.0 Klasifikasi * Umurkk Crosstabulation UMURKK ≤ 14 tahun KLSIFKSI Hydrocephalus Komunikans Count Total 46 7 53 10.4 53.0 86.8% 13.4% 100.0% 48.9% 30.4% 45.3% 39.3% 6.0% 45.3% 48 16 64 51.4 12.6 64.0 75.0% 25.0% 100.0% 51.1% 69.6% 54.7% 41.0% 13.7% 54.7% 94 23 117 94.0 23.0 117.0 80.3% 19.7% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 80.3% 19.7% 100.0% Count Expected Count % within KLSIFKSI % within UMURKK % of Total Count Expected Count % within KLSIFKSI % within UMURKK % of Total Total 42.6 Expected Count % within KLSIFKSI % within UMURKK % of Total Hydrocephalus non Komunikans >14 tahun Chi-Square Tests Value Pearson Chi-Square Continuity Correction(a) Likelihood Ratio Asymp. Sig. (2-sided) df 2.553(b) 1 .110 1.861 1 .173 2.624 1 .105 Fisher's Exact Test Exact Sig. (2-sided) .160 Linear-by-Linear Association 2.531 N of Valid Cases 117 1 Exact Sig. (1-sided) .085 .112 Universitas Sumatera Utara a Computed only for a 2x2 table b 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 10.42. KLSIFKSI * KELUHNK Crosstabulation KLSIFKSI Hydrocephalus Komunikans Hydrocephalus non - Komunikans Total Count Expected Count % within KLSIFKSI % within KELUHNK % of Total Count Expected Count % within KLSIFKSI % within KELUHNK % of Total Count Expected Count % within KLSIFKSI % within KELUHNK % of Total KELUHNK Penglihatan Kabur 3 5.4 5.7% 25.0% 2.6% 9 6.6 14.1% 75.0% 7.7% 12 12.0 10.3% 100.0% 10.3% Pembesaran Kepala 45 38.5 84.9% 52.9% 38.5% 40 46.5 62.5% 47.1% 34.2% 85 85.0 72.6% 100.0% 72.6% Kejang 5 9.1 9.4% 25.0% 4.3% 15 10.9 23.4% 75.0% 12.8% 20 20.0 17.1% 100.0% 17.1% Total 53 53.0 100.0% 45.3% 45.3% 64 64.0 100.0% 54.7% 54.7% 117 117.0 100.0% 100.0% 100.0% Chi-Square Tests Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value 7.325a 7.631 2 2 Asymp. Sig. (2-sided) .026 .022 1 .011 df 6.471 117 a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5.44. Sumber biaya * Penatalaksanaan Medis Crosstabulation PENATAMK Obat SMBRBIA1 Biaya Sendiri Count Expected Count % within SMBRBIA1 % within PENATAMK % of Total bukan biaya sendiri Count Expected Count % within SMBRBIA1 Operasi Total 9 5 14 8.4 5.6 14.0 64.3% 35.7% 100.0% 10.6% 8.9% 9.9% 6.4% 3.5% 9.9% 76 51 127 76.6 50.4 127.0 59.8% 40.2% 100.0% Universitas Sumatera Utara % within PENATAMK % of Total Total 89.4% 91.1% 90.1% 53.9% 36.2% 90.1% Count Expected Count % within SMBRBIA1 % within PENATAMK % of Total 85 56 141 85.0 56.0 141.0 60.3% 39.7% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 60.3% 39.7% 100.0% Chi-Square Tests Value Pearson Chi-Square Continuity Correction(a) Likelihood Ratio Asymp. Sig. (2-sided) df .104(b) 1 .747 .001 1 .972 .105 1 .746 Exact Sig. (2-sided) Fisher's Exact Test Exact Sig. (1-sided) 1.000 Linear-by-Linear Association .103 N of Valid Cases 141 1 .493 .748 a Computed only for a 2x2 table b 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5.56. KSP * Penatalaksanaan Medis Crosstabulation PENATAMK Obat KSP Pulang berobat jalan (PBJ) Count Expected Count % within KSP % within PENATAMK % of Total Pulang atas permintaan sendiri (PAPS) Count Expected Count Operasi Total 58 50 108 65.1 42.9 108.0 53.7% 46.3% 100.0% 68.2% 89.3% 76.6% 41.1% 35.5% 76.6% 25 3 28 16.9 11.1 28.0 % within KSP 89.3% 10.7% 100.0% % within PENATAMK 29.4% 5.4% 19.9% Universitas Sumatera Utara % of Total Meninggal Dunia 17.7% Count % within PENATAMK % of Total Total 2 3 5 2.0 5.0 40.0% 60.0% 100.0% 2.4% 5.4% 3.5% 1.4% 2.1% 3.5% Count Expected Count % within KSP % within PENATAMK % of Total 19.9% 3.0 Expected Count % within KSP 2.1% 85 56 141 85.0 56.0 141.0 60.3% 39.7% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 60.3% 39.7% 100.0% Chi-Square Tests Value Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Asymp. Sig. (2-sided) df 12.649(a) 14.535 2 2 .002 .001 4.076 1 .043 141 a 2 cells (33.3%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1.99. Lama Rawatan Rata – Rata berdasarkan Sumber Biaya Group Statistics LRRR SMBRBIA1 Biaya Sendiri bukan biaya sendiri N Mean 14.00 13.74 14 127 Std. Deviation 9.232 9.057 Std. Error Mean 2.467 .804 Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances F LRRR Equal variances assumed Equal variances not assumed .133 Sig. .716 t-test for Equality of Means t df Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper .102 139 .919 .26 2.555 -4.792 5.312 .100 15.887 .921 .26 2.595 -5.244 5.764 Lama Rawatan Rata – Rata Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang Descriptives Universitas Sumatera Utara Descriptives LRRR N Pulang berobat jalan (PBJ) Pulang atas permintaan sendiri (PAPS) Meninggal Dunia Total Mean 95% Confidence Interval for Mean Lower Bound Upper Bound Std. Deviation Std. Error Minimum Maximum 108 14.38 8.906 .857 12.68 16.08 2 60 28 11.18 9.510 1.797 7.49 14.87 2 50 5 141 15.00 13.77 8.367 9.042 3.742 .761 4.61 12.26 25.39 15.27 7 2 29 60 Test of Homogeneity of Variances Lama rawatan rata - rata Levene Statistic .079 df1 df2 2 Sig. 138 .925 Anova Lama rawatan rata - rata Between Groups Sum of Squares 235.734 df 2 Mean Square 117.867 81.229 Within Groups 11209.542 138 Total 11445.277 140 F 1.451 Sig. .238 Universitas Sumatera Utara

Dokumen baru

Dokumen yang terkait

Karakteristik Penderita Epilepsi Rawat Inap di RSUP Haji Adam Malik Medan Tahun 2011-2013
0
42
119
Karakteristik Anak Yang Menderita Leukemia Akut Rawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2011-2012
0
65
117
Karakteristik Penderita Asma Bronkial Dewasa Rawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 1999-2001
0
30
96
Karakteristik Penderita Kanker Kolorektal Yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 1998-2001
0
34
78
Karakteristik Penderita Gagal Ginjal Kronik Rawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2000-2001
0
31
77
Karakteristik Penderita Hipertensi Rawat Inap Di Bagian Penyakit Dalam RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2001
0
49
78
Karakteristik Penderita Carcinoma Nasopharynx Rawat Inap di RSUP Haji Adam Malik Medan Tahun 2002-Agustus 2004
0
25
92
Karakteristik Penderita Trauma kapitis Rawat Inap Di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2002-2004
0
34
89
Karakteristik Penderita Sirosis Hati Yang Dirawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2002-2004
0
40
88
Karakteristik Penderita Hydrocephalus Rawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2009
2
33
115
Karakteristik Penderita Meningitis Rawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2008.
4
75
142
Karakteristik Penderita Meningitis Anak yang di Rawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2006 − 2010
0
20
143
Karakteristik Penderita Penyakit Jantung Koroner Rawat Inap Di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2005-2005
2
45
136
Karakteristik Penderita Kanker Paru Rawat Inap Di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2004-2008
4
87
137
Karakteristik Anak Yang Menderita Leukemia Akut Rawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2011-2012
0
0
34
Show more