Feedback

Analisis Hukum Putusan Pengadilan Agama Yang Memutuskan Sertipikat Hak Milik Atas Tanah Tidak Berkekuatan Hukum (Studi Kasus : Putusan Pengadilan Agama Tebing Tinggi No. 52/Pdt.G/2008/PA-TTD jo. Putusan Pengadilan Tinggi Agama Sumatera Utara No. 145/Pdt.G

Informasi dokumen
ANALISIS HUKUM PUTUSAN PENGADILAN AGAMA YANG MEMUTUSKAN SERTIPIKAT HAK MILIK ATAS TANAH TIDAK BERKEKUATAN HUKUM (STUDI KASUS : PUTUSAN PENGADILAN AGAMA TEBING TINGGI NO. 52/PDT.G/2008/PA-TTD JO. PUTUSAN PENGADILAN TINGGI AGAMA SUMATERA UTARA NO. 145/PDT.G/2008 /PTA-MDN) TESIS OLEH CATUR MUHAMMAD SARJONO 097011059/M.Kn FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara ANALISIS HUKUM PUTUSAN PENGADILAN AGAMA YANG MEMUTUSKAN SERTIPIKAT HAK MILIK ATAS TANAH TIDAK BERKEKUATAN HUKUM (STUDI KASUS : PUTUSAN PENGADILAN AGAMA TEBING TINGGI NO. 52/PDT.G/2008/PA-TTD JO. PUTUSAN PENGADILAN TINGGI AGAMA SUMATERA UTARA NO. 145/PDT.G/2008 /PTA-MDN) TESIS Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Oleh CATUR MUHAMMAD SARJONO 097011059/M.Kn FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara Judul Tesis : ANALISIS HUKUM PUTUSAN PENGADILAN AGAMA YANG MEMUTUSKAN SERTIPIKAT HAK MILIK ATAS TANAH TIDAK BERKEKUATAN HUKUM (STUDI KASUS : PUTUSAN PENGADILAN AGAMA TEBING TINGGI NO. 52/PDT.G/2008/PA-TTD JO. PUTUSAN PENGADILAN TINGGI AGAMA SUMATERA UTARA NO. 145/PDT.G/2008 /PTAMDN) : Catur Muhammad Sarjono : 097011059 : Kenotariatan Nama Mahasiswa Nomor Pokok Program Studi Menyetujui Komisi Pembimbing (Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN) Pembimbing (Prof. Dr. H. M. Hasballah Thaib, MA, PhD) Pembimbing (Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH MHum) Ketua Program Studi, (Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN) Dekan, (Prof. Dr. Runtung, SH, MHum) Tanggal lulus : 19 Agustus 2011 Universitas Sumatera Utara Telah diuji pada Tanggal : 19 Agustus 2011 PANITIA PENGUJI TESIS Ketua : Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN Anggota : 1. Prof. Dr. H. M. Hasballah Thaib, MA, PhD 2. Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH MHum 3. Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum 4. Dr. Idha Aprilyana, SH, MHum Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Salah satu tugas dan wewenang dari Pengadilan Agama sesuai UU No. 3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama memutus perkara antara orang-orang yang beragama Islam mengenai masalah kewarisan. Bidang kewarisan ini meliputi penentuan siapa-siapa yang menjadi ahli waris, penentuan harta peninggalan, penentuan bagian dari masingmasing pihak dan melaksanakan pembagian tersebut. Jika terjadi perselisihan, persengketaan mengenai harta peninggalan, harta warisan atau harta warisan yang dikuasai orang lain yang bukan haknya, ahli waris dapat dan berhak mengajukan gugatan kepada Pengadilan Agama. Pembatalan hak atas tanah yang menjadi objek sengketa waris dapat dikarenakan cacat administrasi dalam penerbitan surat keputusan pemberian hak atas tanah maupun untuk melaksanakan putusan Pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap. Amar putusan Pengadilan Agama yang menyatakan sertipikat hak milik atas tanah tidak berkekuatan hukum, secara administasi harus ditindaklanjuti oleh Pemerintah, dalam hal ini Badan Pertanahan Nasional dengan mengeluarkan surat keputusan pembatalan surat keputusan pemberian hak atas tanah yang serta merta membatalkan sertipikat hak atas tanah. Namun kenyataannya, Badan Pertanahan Nasional menolak membatalkan sertipikat hak milik atas tanah atas dasar putusan Pengadilan Agama. Penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu bertujuan untuk menggambarkan serta menganalisis data yang diperoleh secara sistematis, faktual dan akurat mengenai pembatalan hak atas tanah atas dasar putusan Pengadilan Agama. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif, yaitu penelitian kepustakaan dengan pendekatan perundang-undangan terutama untuk mengkaji peraturan-peraturan yang berkaitan dengan pembatalan hak atas tanah. Metode pengumpulan data yang dipergunakan adalah penelitian kepustakaan dan analisisnya dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan metode deduktif. Berdasarkan penelitian yang dilakukan bahwa persoalan pembatalan hak atas tanah yang merupakan objek perkara waris terkait dengan kompetensi peradilan. Hal ini disebabkan sulitnya mengidentifikasi yurisdiksi materiil gugatan karena biasanya gabungan antara aspek perdata dengan aspek tata usaha Negara. Masih terdapat kekeliruan Hakim di lingkungan Peradilan Agama dalam memeriksa dan memutus perkara waris yang objek perkaranya berupa tanah yang sudah bersertipikat. Apabila tanah yang menjadi objek perkara waris belum bersertipikat maka hal tersebut merupakan kewenangan mengadili Pengadilan Agama, tetapi apabila tanah yang menjadi objek perkara waris sudah bersertipikat maka menjadi kewenangan dari Pengadilan Tata Usaha Negara. Sertipikat hak atas tanah memiliki sisi ganda, pada satu sisi sebagai Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN) dan di sisi lain sebagai Tanda Bukti Hak Keperdataan (kepemilikan) seseorang atau badan hukum atas tanah. Oleh karena itu, ada 2 (dua) badan peradilan yang berwenang memeriksa perkara dengan objek gugatan Sertipikat hak atas tanah, yaitu Peradilan Umum dan Peradilan Tata Usaha Negara. Kata kunci : Putusan Pengadilan Agama, Sertipikat. i Universitas Sumatera Utara ABSTRACT One of the rights and Obligations of Religious Court, according to Law No.3/2008 on Religious Jurisdiction is making the ruling for the Moslems about inheritance. This inheritance case is composed of the rulings about who will be the heirs, about the inheritance, about the parties who will share the inheritance, about the implementation of the allotment, about the potential dispute on the inheritance, and about the real inheritance or the inheritance which is given to the wrong person so that the real heir can have the right to claim a lawsuit to the Religious Court. The revocation of land rights which becomes the dispute among the heirs can be caused by the defect of the administration in issuing the directive of giving the land rights or in implementing the Court’s ruling which has been final and conclusive. The court’s ruling which decides that the land certificate is not final and conclusive will administratively be followed up by the government; in this case, the National Land Board which issues a directive of the revocation of the land certificate will eventually revoke the directive of the land certificate itself. But, in reality, the National Land Board refuses to revoke the land certificate which is based on the Religious Court’s ruling. This research was descriptive which was aimed to describe and analyze the data which had been collected systematically, factually, and accurately regarding the revocation of the land rights which was based on the Religious Court’s ruling. The type of the research was legal normative; namely, a literature study with legal approach, especially in studying regulations which were related to the revocation of land rights. The method of the research was literature study and the analysis was done qualitatively by using deductive method. The result of the research showed that the problem of the revocation of land rights which was about the case of inheritance was related to the competence of the judicial administration. This was due to the difficulty in identifying jurisdiction materials of the complaint because usually they comprised the combination of civil aspects and State Administration. Besides that, there was the judge’s error in the Religious Court in investigating and handing down a ruling about an inheritance case when the land had its certificate. If the land which was in dispute did not have any certificate, the Religious Court had the competence to pass the judgment on it. On the other hand, if the land which was in dispute had already had its certificate, the State Administrative Court had the competence to pass the judgment on it. The land rights certificate has two sides: on the one hand, it is the Directive of State Administration; on the other hand, it is an Affidavit of Civil Rights (ownership) of an individual or a legal entity of the land. Therefore, there are two courts which have the competence to investigate the case of the complaint about land certificate: Court of General Jurisdiction and State Administrative Court. Keywords: Religious Court Ruling, Certificate ii Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberi kemudahan sehingga Penulis dapat menyelesaikan penelitian tesis ini yang berjudul “ANALISIS HUKUM PUTUSAN PENGADILAN AGAMA YANG MEMUTUSKAN SERTIPIKAT HAK MILIK ATAS TANAH TIDAK BERKEKUATAN HUKUM (Studi Kasus : Putusan Pengadilan Agama Tebing Tinggi No. 52/Pdt.G/2008/PA-TTD jo. Putusan Pengadilan Tinggi Agama Sumatera Utara No. 145/Pdt.G/2008/PTA-MDN).” Penulisan tesis ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam menyelesaikan Program Studi Magister Kenotariatan pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Dalam kesempatan ini dengan kerendahan hati, Penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada: 1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, MSc (CTM), SpA(K), selaku Rektor Universitas Sumatera Utara atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada Penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program Studi Magister Kenotariatan pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. 2. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, MHum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, atas kesempatan menjadi mahasiswa Program Studi Magister Kenotariatan pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. 3. Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN, selaku Ketua Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sekaligus Pembimbing Utama yang dengan penuh perhatian member bimbingan dan saran kepada Penulis. 4. Ibu Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum, selaku Sekretaris Program Studi Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sekaligus Penguji yang telah memberikan masukan serta kritik yang membangun kepada Penulis. 5. Bapak Prof. Dr. H. M. Hasballah Thaib, MA, PhD, selaku dosen pembimbing yang telah memberikan perhatian, dukungan dan masukan kepada Penulis. iii Universitas Sumatera Utara 6. Bapak Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH, MHum, selaku dosen pembimbing yang telah memberikan perhatian, dukungan dan masukan kepada Penulis. 7. Ibu Dr. Idha Aprilyana, SH, MHum, selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan serta kritik yang membangun kepada Penulis. 8. Bapak-bapak dan Ibu-ibu staf pengajar serta para pegawai di Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. 9. Kepada yang terhormat dan terkasih kedua orang tuaku H. Lopo dan Hj. Sardiyem, yang telah sabar dan ikhlas membesarkan dan memberi dukungan kepada Penulis hingga memperoleh gelar Magister Kenotariatan. 10. Buat Isteriku tersayang Ika Marina Pohan dan anakku yang solehah Shayna Althafunnisa, do’a dan dukungan kalian akan menjadi motivasi bagi Penulis untuk menjadi yang terbaik hari ini dan di hari yang akan datang. 11. Buat keluarga besar Abang-abangku Eko Sukono dan isteri, Dwi Prayitno, SP, dan isteri, Tridhi Hartono, ST, dan isteri, serta keponakan-keponakan yang lucu-lucu dan membanggakan, terima kasih yang tulus buat doa dan semangatnya. 12. Keluarga besar mahasiswa Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Angkatan 2009, terkhusus kelas A, semoga kekeluargan kita terjaga selalu dan abadi sepanjang masa. Kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan perhatiannya sehingga Penulis dapat menyelesaikan perkuliahan dan penulisan tesis ini. Penulis menyadari tesis ini masih jauh dari sempurna, namun diharapkan semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Medan, Agustus 2011 Penulis, Catur Muhammad Sarjono iv Universitas Sumatera Utara RIWAYAT HIDUP I. Identitas Pribadi Nama : Catur Muhammad Sarjono Tempat/Tanggal lahir : Medan, 24 April 1982 Jenis Kelamin : Laki-Laki Status : Menikah Agama : Islam Alamat : Jl. Teratai No. 42A Medan II. Keluarga Nama Ayah : H. Lopo Nama Ibu : Hj. Sardiyem III. Pendidikan 1. SD Swasta Nurul Huda Medan (1988-1994) 2. SLTP Swasta Tunas Kartika I-1 Medan (1994-1997) 3. SMU Negeri 15 Medan (1997-2000) 4. S-1 Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (2000-2005) 5. S-2 Program Studi Magister Kenotariatan (MKn) Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (2009-2011) v Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK . i ABSTRACT . ii KATA PENGANTAR. iii RIWAYAT HIDUP . v DAFTAR ISI. vi DAFTAR ISTILAH . ix BAB I BAB II PENDAHULUAN A. Latar Belakang . 1 B. Perumusan Masalah. 16 C. Tujuan Penelitian. 16 D. Manfaat Penelitian. 17 E. Keaslian Penelitian . 18 F. Kerangka Teori dan Konsepsi . 20 1. Kerangka Teori. 20 2. Konsepsi . 24 G. Metodologi Penelitian . 27 1. Sifat Penelitian . 27 2. Jenis Penelitian . 27 3. Metode Pengumpulan Data . 28 4. Alat Pengumpulan Data . 30 5. Analisis Data . 30 KEWENANGAN MENGADILI PENGADILAN AGAMA DALAM SENGKETA WARIS ISLAM A. Jangkauan Kewenangan Mengadili Perkara Warisan . 32 B. Kewenangan Pengadilan Agama Mengenai Sengketa Milik Menurut UU No. 7 Tahun 1989 . 43 vi Universitas Sumatera Utara BAB III C. Kewenangan Pengadilan Agama Mengenai Sengketa Milik Menurut UU No. 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 . 47 D. Analisis Hukum Terhadap Kewenangan Mengadili Pengadilan Agama Yang Memutuskan Sertipikat Hak Milik Atas Tanah Tidak Berkekuatan Hukum (Putusan Agama dalam Perkara No. Pengadilan 52/Pdt.G/2008/PA-TTD). 49 STATUS HUKUM PUTUSAN PENGADILAN AGAMA YANG MEMUTUS PERKARA YANG BUKAN KEWENANGANNYA A. Kasus Posisi. 54 B. Duduk Perkara . 55 C. Pembuktian dalam Putusan Sela. 61 D. Pertimbangan Hakim dalam Putusan Sela. 62 E. Jawaban Tergugat. 65 F. Replik . 74 G. Duplik. 74 H. Pembuktian dalam perkara . 75 I. Pertimbangan Hukum Hakim Pengadilan Agama dalam Perkara No. 52/Pdt.G/2008/PA-TTD . 78 J. Pertimbangan Hukum Hakim Pengadilan Tinggi Agama dalam Perkara No. 145/Pdt.G/2008/PTA-MDN . 91 K. Status Hukum Putusan Pengadilan Agama yang Memutus Perkara Yang Bukan Kewenangannya . 92 BAB IV PUTUSAN PENGADILAN AGAMA YANG MENJADI DASAR PERMOHONAN PEMBATALAN SERTIPIKAT HAK MILIK ATAS TANAH DI BADAN PERTANAHAN NASIONAL (BPN) A. Kewenangan Pembatalan Hak Atas Tanah . 100 B. Subjek Pembatalan Sertipikat Hak Atas Tanah. 102 C. Objek Pembatalan Hak Atas Tanah. 103 D. Syarat Permohonan Pembatalan Hak Atas Tanah . 105 E. Prosedur Permohonan Pembatalan Hak Atas Tanah . 106 vii Universitas Sumatera Utara F. BAB V Putusan Pengadilan Agama Tidak Dapat Menjadi Dasar Permohonan Pembatalan Sertipikat Hak Milik Atas Tanah di Badan Pertanahan Nasional (BPN) . 109 KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan . . 113 B. Saran . . 114 DAFTAR PUSTAKA .117 viii Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISTILAH ashobah beschikkingsbevoegd condemnatoir constitutif contentiosa declaratoir directive interview executionary power executorial verkoop executoriale kracht fardhu kifayah fundamentum petendi inkracht van gewijsde zaak legal culture legal structure legal substance mal waris muamalah mutatis mutandis : menghabisi seluruh harta pusaka dengan ketentuan bagian seorang anak laki-laki adalah sama dengan bagian dua orang anak perempuan. : kewenangan bertindak. : putusan yang berisi penghukuman. : putusan yang meniadakan suatu keadaan hukum atau menimbulkan suatu keadaan hukum baru. : perkara sengketa antara dua pihak dimana pihak Penggugat berhadapan dengan pihak Tergugat. : putusan yang bersifat menerangkan, menegaskan suatu keadaan hukum sematamata. : wawancara yang dilakukan secara terarah. : putusan mempunyai kekuatan yang dilaksanakan. : kepada sebagian anaknya yang lain karena dikhawatirkan menimbulkan permusuhan bahkan bisa jadi memutuskan tali silaturanhmi. Maka ayah yang melakukan seperti itu hendaklah ia membatalkannya, rasullah bersabda: ”Persamakanlah di antara anak anakmu dalam pemberian. Seandainya aku hendak melebihkan seseorang tentulah aku lebihkan anak anak perempuan”(HR.Ahmad) Selain hibah ada juga istilah yang hampir sama dengan kata hibah tersebut yaitu Al ’umra dan Ruqba. Al ’umra adalah diambil dari kata umur yang artinya Universitas Sumatera Utara 59 hidup, disebut demikian karena orang jahiliyah jika seseorang memberi orang lain rumah dia berkata kepadanya saya berikan ’umra ini kepadamu artinya saya hibahkan untukmu selama umurmu dan hidupmu. Dalam hal ini ada mekanisme ’umra yang berlaku: Mekanisme Pertama, pemberi ;umra mengatakan saya berikan rumah ini tanpa ada penjelasan lebih lanjut.hukum rumah ini menjadi milik penerima selamanya dan tidak boleh ditarik kembali oleh pemberi karena ia merupakan sesuatu yang sudah dilepaskan hukumnya untuk selama lamanya, ini salah satu dari dua pendapat Imam Syafi’i dan sesuai pendapat jumhur Ada juga pendapat kedua bahwa ia berstatus pinjaman yang boleh diambil kembali oleh pemberi jika ia sudah meninggal sesuai dengan hadist Sufyan dari Ibnu Juraij dari Atha dari Jabir secara marfu’: Mekanisme kedua, pemberi ’umra mengatakan: ”harta ini milikmu selama kamu masih hidu, dan jika kamu sudah meninggal dikembalikan kepadaku”. Ini adalah pinjaman terbatas yang harus dikembalikan kepada pemberi pinjaman jika yang meminjam sudah meninggal dunia. Ini adalah pendapat mayoritas sebagian ulama mazhab Syafi’i. Namun pendapat yang lebih shahih adalah tidak bolehnya kembali barang tersebut ke pemberi sebab dianggap syarat yang rusak dan tidak berlaku lagi. Mekanisme ketiga, pemberi mengatakan: ”harta ini milikmu dan anakmu setelah kamu atau dengan ucapan yang menunjukkan untuk selamanya” hukumnya sama dengan hukum hibah. Diriwayatkan dari Imam Malik, ia mengatakan bahwa hukumnya sama dengan hukum wakaf. Universitas Sumatera Utara 60 Kesimpulannya, jika ada syarat dalam ’umra bahwa ia menjadi milik yang menerima dan anak keturunannya maka ini mempertegas hukumnya,ia menjadi milik yang menerima dan ahli warisnya dan ini adalah pendapat semua ulama yang membolehkan; umra, dan jika ia memutlakkan (tanpa syarat) ia menjadi milik penerima dan ahli warisnya juga karena berbentuk pemberian hak milik sama dengan hibah, dan jika memberi syarat harta tersebut akan kembali menjadi milik si pemberi setelah penerima meninggal Imam Syafi’i berkata akad dan syarat sah,dan kapan penerima meninggal maka dikembalikan kepada pemberi. Jika memang ’umra dan ruqba boleh dilakukan, maka akadnya sah untuk tanah dan yang lainnya berupa berbagai macam jenis hewan, pakaian karena ia sejenis hibah, maka sah sama seperti hibah hibah yang lain. Oleh sebab itu jika ia berkata: menempati rumah ini adalah milikmu selama kamu masih hidup atau tempatilah selama kamu masih hidup, ini bukan satu akad yang wajib sebab pada dasarnya ia adalah hibah manfaat, dan semua manfaat baru bisa dirasakan kegunaannya jika dipakai sedikit demi sedikit, tidak menjadi wajib kecuali sebatas yang diterimanyadan ditempatinya dan bagi yang memberi hak menempati ada hak rujuk kapan dia mau, dan jika dia meninggal dunia maka akad batal. Sedangkan Ar-ruqba dengan pola kata yang sama denga ’umra diambil dari kata muraqabah (pengawasan) sebab keduanya saling mengawasi yang lain kapan dia meninggal agar dia bisa rujuk kepadannya, lalu para ahli warisnya menggantikannya posisinya, inilah arti menurut bahasa99. 99 Abdul Aaziz Muhammad Azzam, Op.Cit., hal 459 Universitas Sumatera Utara 61 BAB III FAKTOR FAKTOR PEMBATALAN HIBAH DI PENGADILAN AGAMA MEDAN A. Hibah yang Berkembang di Indonesia Perlu dimengerti bahwa pada kenyataannya, dizaman sekarang ini, tidak ada sesuatu bantuan itu yang gratis. Yang ada adalah sifat saling kerjasama untuk saling menguntungkan. Biasanya satu pihak pasti mempunyai suatu misi tertentu dimana lembaga tersebut pasti menginginkan misinya tercapai. Ada yang mempunyai misi mendapatkan keuntungan materi misalnya dananya bertambah dan ada juga yang mempunyai misi service misalnya tujuan program yang dipunyainya dapat tercapai. Padahal dalam Islam segala sesuatu yang tidak ikhlas hanya karena mengharap ridho Allah maka sesuatu itu tertolak, misalnya seseorang memberikan suatu bantun kepada mesjid, namun niatnya hanyalah untuk mendapat pujian dari orang atau mendapat imbalan duniawi maka amalnya tertolak disisi Allah subhanahu wata’ala Jadi pemberian hibah adalah institusi yang diakui hukum Islam bagi pranata yang menjadi alat kepemilikan. Hibah juga merupakan perbuatan hukum sepihak, dalam hal itu pihak yang satu memberikan atau menjanjikan memberikan benda kepadanya kepadapihak lain dan tidak mendapatkan tukaran atau penggantian atau imbalan.100 100 Andi Tahrir Hamid, Op.Cit, hal. 71 61 Universitas Sumatera Utara 62 Seperti yang dilakukan bantuan pendanaan, pihak pemberi bantuan pendanaan pasti mempunyai persyaratan hasil yang harus dipenuhi oleh pemohon sebagai imbalan dari bantuan pendanaan yang diberikan ke pemohon. Berdasarkan atas imbalan yang harus dikembalikan oleh pemohon kepada lembaga donor, maka dapat dikelompokkan sifat/bentuk bantuan pendanaan yang ada di Indonesia sebagai berikut: a. Infaq/sedekah/zakat/hadiah Infaq/sedekah/zakat/hadiah dapat merupakan salah satu bentuk bantuan pendanaan bagi seseorang/kelompok/organisasi tertentu. Pemberi dana tidak akan meminta pengembalian apapun terhadap bantuan yang telah dikeluarkan, tidak juga laporan pemakaian atau hasil pemakaian dana tersebut. Bantuan dana ini sifatnya pemberian sukarela atau charity. Pemberi bantuan dana jenis ini biasanya adalah perorangan. b. Hibah (grant). Bentuk bantuan pendanaan ini adalah suatu bantuan yang tidak mensyaratkan kepada pemohon untuk mengembalikan bantuan yang diberikan apabila kegiatan telah selesai tetapi pemohon cukup menyampaikan laporan hasil kegiatannya. Jadi tidak ada pembayaran balik dari penerima ke pemberi bantuan dana. Hasil kegiatan ini biasanya akan dipakai oleh lembaga donor tersebut sebagai salah satu pencapaian kegiatan lembaga donor. Hibah pada umumnya tidak hanya berbentuk modal/dana cash, tetapi bisa juga tenaga ahli dan manajemen, maupun alih teknologi. Hibah ini dapat berasal dari satu Universitas Sumatera Utara 63 Negara (bilateral) dan dapat juga dari suatu lembaga pendanaan regional atau internasional (multilateral) misalnya lembaga-lembaga dibawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP, FAO, WHO, dan lain-lain). c. Pinjaman (loan). Sesuai dengan namanya, yakni pinjaman, maka pemberi bantuan dana ini akan meminta kembali dana yang telah diberikan, artinya penerima dana berkewajiban mengembalikan dana yang dia peroleh. Pinjaman sifatnya merupakan bantuan dana dalam jangka waktu tertentu dan penerima bantuan harus membayar kembali pinjaman serta bunganya bila telah jatuh waktunya. Bunga pinjaman ada yang bersifat sangat kecil atau biasa disebut pinjaman lunak (soft loan) dan ada juga yang bersifat bunga komersial. Pinjaman bunga lunak biasanya diberikan oleh suatu lembaga pemerintah baik itu pemerintah Indonesia maupun pemerintah asing (bantuan luar negeri). Apabila bantuan pinjaman ini berasal dari luar negeri, maka sumber pendanaan tersebut dapat berasal dari satu Negara (pinjaman bilateral) atau dari suatu lembaga keuangan regional atau internasional (pinjaman multilateral) seperti Bank Dunia. Bank Pembangunan Asia, dan lain-lainnya. Selain pinjaman dari pemerintah atau lembaga keuangan regional/internasional, lembaga keuangan swasta pun dapat memberikan pinjaman dengan syarat-syarat tertentu yang telah ditetapkan. Di Indonesia pemberian hibah sudah berkembang dalam hal sesuatu yang diberikannya, bukan hanya pemberian yang sebatas benda seperti tanah dan lainnya Universitas Sumatera Utara 64 juga dalam hal pemberinya, bukan hanya dari orang ke orang, adapun perkembangan di Indonesia diantaranya adalah: 1. Hibah antar lembaga,contohnya hibah yang diberikan Cipta Media kepada Aliansi Jurnalis Independen Banda Aceh. Hibah Cipta Media Bersama merupakan program pemberian dana grant bagi lembaga dan perorangan di Indonesia hasil kerjasama Ford Foundation, Aliansi Jurnalis Independen Indonesia, Wikimedia Indonesia, dan ICT Watch. Dana hibah diberikan untuk program “Mendorong Media Sehat dalam Pemberitaan Syariat Islam di Aceh”.101 2. Hibah Anggota Tubuh, dimana Majelis Ulama Indonesia memperbolehkan pencangkokan organ tubuh melalui hibah, wasiat dengan meminta atau tanpa imbalan atau melalui bank organ tubuh tentunya dengan syarat syarat102. Hal itu terdapat dalam fatwa MUI yang disahkan dalam rapat pleno Musyawarah Nasional (Munas) VIII MUI yang dibacakan Sekretaris Komisi C tentang fatwa, Asrorun Ni`am Sholeh. Selain itu dikatakan juga, pencangkokan atau tranplantasi dimungkinkan dilakukan antara data maupun dokumen-dokumen yang diberikannya sehingga ada pihak-pihak lain yang merasa keberatan dan dirugikan, yang kemudian menuntut pembatalan penetapan ahli waris tersebut. Dan dalam hal ini hakim menolak pembatalan penetapan ahli waris karena penggugat bukanlah merupakan orang yang tepat untuk menuntut pembatalan, sebab ia adalah anak tiri yang tidak mempunyai hubungan darah dengan pewaris. Dan tidak termasuk kedalam golongan ahli waris. B. SARAN Berdasarkan hasil penelitian tentang “analisa hukum penetapan ahli waris”, maka peneliti menyarankan hal-hal sebagai berikut : 1. Kepada ahli waris, maka diharapkan kejujuran dan keterbukaannya dalam pemberian informasi mengenai data-data ahli waris atau data-data yang diperlukan dalam pembuatan surat keterangan waris sehingga tidak ada kecurangan yang dapat merugikan pihak lain dan tidak mengakui warisan yang bukan haknya. Dan juga sebaiknya dalam memberikan dokumen-dokumen Universitas Sumatera Utara 94 maupun surat-surat yang berhubungan dengan penetapan ahli waris adalah dokumen-dokumen dan surat-surat yang sebenar-benarnya. 2. Kepada lembaga yang mengeluarkan penetapan ahli waris diharapkan ketelitian dan kecermatannya dalam membuat penetapan ahli waris, sehingga tidak ada celah atau kesempatan bagi pihak yang akan berbuat curang. Tidak hanya menerima begitu saja data atau informasi yang diberikan tapi juga harus meneliti kebenarannya. Kebenaran mengenai ahli warisnya dan kebenaran mengenai data, dokumen, maupun keterangan-keterangan yang diberikan. 3. Hendaknya ada suatu peraturan hukum yang jelas yang mengatur mengenai penetapan waris sehingga ada pedoman yang kuat dalam pembuatan penetapan ahli waris oleh pengadilan maupun lembaga-lembaga yang berwenang. Universitas Sumatera Utara 95 DAFTAR PUSTAKA A. Buku-buku Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Akademika Pressindo, Jakarta, 1992 Abdurrahman, Muslan, Sosiologi dan Metode Penelitian Hukum, UMM Press, Malang, 2009 Afandi, Ali, Hukum Waris Hukum Keluarga Hukum Pembuktian, Bina Aksara, Jakarta, 1984 Afdol, Penerapan Hukum Waris Islam Secara Adil, Airlangga University Press, Surabaya, 2003 Ali, M.Daud, Asas-asas Hukum Islam, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Islam di Indonesia, Cetakan III, Rajawali Press, Jakarta, 1993 Al-Mawardi, Al-Ahkam As-Sulthaniyyah, Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan Negara Islam, Darul Falah, Jakarta, 2000 Amir, Syafruddin, Hukum Kewarisan Islam, Kencana, Jakarta, 2004 Arifin, Bustanul, Pelaksanaan Hukum Islam di Indonesia, Al-Mizan, Nomor 3 Tahun I, 1983 Ash-Shiddieqy, Hasbi, Peradilan dan Hukum Acara Islam, PT. Ma’arif, Yogyakarta, 1994 Azhary, Tahir, Bunga Rampai Hukum Islam (Kumpulan Tulisan), Bulan Bintang, Jakarta, 1992 Bakri, Hasbullah, Pedoman Islam di Indonesia, UI-Press, Jakarta, 1988 Bisri, Cik Hasan, Peradilan Agama di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2000 Bzn, Ter Haar, Asas-asas dan Susunan Hukum Adat, diterjemahkan oleh K. Ng. Soebakti Poesponoto, Pradnya Paramita, Jakarta, 1985 Djazuli, H.A, Ilmu Fiqih Penggalian, Perkembangan dan Penerapan Hukum Islam, Prenada Media Group, 2005 95 Universitas Sumatera Utara 96 Djakfar, Idris dan Taufik Yahya, Kompilasi Hukum Kewarisan Islam, PT. Dunia Pustaka Jaya, Jakarta,1995 Djalil, Basiq. H.A, Peradilan Agama di Indonesia, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2006 Djamali, R.Abdul, Hukum Islam Berdasarkan Ketentuan Konsorsium Ilmu Hukum, Cetakan II, Mandar Maju, Bandung, 1997 Ensiklopedia Hukum Islam, Jilid 5, Cetakan 1, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1993 Faturrahman, Ilmu Waris, Al-Ma’arif, Bandung, 1975 Hadi, Sutrisno, Metodologi Research, Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM, Yokyakarta, 1973 Harahap, M.Yahya, Kedudukan Kewenangan dan Acara Peradilan Agama, UU No. 7 Tahun 1989, Sinar Grafika, Jakarta, 2009 Hasan. A, Al-Faraid, Pustaka Progresif, Jakarta, 1996 H.S, Salim, Pengantar Hukum perdata Tertulis (BW), Sinar Grafika, Jakarta, 2002 Lubis, H. Mukhlis, Ilmu Pembagian Waris, Pesantren Al-Manar, Medan, 2011 Lubis, M. Solly, Filsafat Ilmu dan Penelitian, Mandar Maju, Bandung, 1994 Lubis, Sulaikin, Wismar ‘Ain Marzuki dan Gemala Dewi, Hukum Acara Perdata Peradilan Agama di Indonesia, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2008 Marzuki, Peter Mahmud, Pengantar Ilmu Hukum, Kencana Prenada Media Grup, Jakarta, 2008 Moelong, Lexy. J, Metodologi Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1993 Muhammad, Kewenangan Mengadili Perkara Warisan Bagi Golongan Penduduk Yang Bergama Islam, Varia Peradilan, Nomor 137 Universitas Sumatera Utara 97 Muhammad, Abdul Kadir, Hukum Perdata indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1990 Muhammad, Bushar, Pokok-pokok Hukum Adat, Pradnya Paramita, Jakarta, 1981 Muhammad, Muhibbin, Hukum Kewarisan Islam sebagai Pembaharuan Hukum Positif di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2009 Muhammad, Muhibbin dan Abdul Wahid, Hukum Kewarisan Islam Sebagai Pembaruan Hukum Positif di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2009 Munawir, Ahmad Warson, Al-Munawir (Kamus Arab-Indonesia), Cet.Pertama, Jakarta, 1996 Notosusanto, Organisasi dan Jurisprudensi Peradilan Agama di Indonesia, B.P. Gadjah Mada, Yogyakarta, 1963 Notodisoerjo, R.Soegondo, Hukum Nataiat Di Indonesia Suatu Penjelasan, Rajawali Pers, Jakarta, 1982 Projodikoro, Wiryono, Hukum Kewarisan di Indonesia, Sumur Bandung, Bandung, 1980 Purwaka, I.Gde, Keterangan Hak Mewaris Berdasarkan Ketentuan Kitab Undang- undang Hukum Perdata (BW), Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 2003 Rahardjo, Satjipto, Ilmu Hukum, PT.Citra Aditya Bakti, Bandung, 1996 Rasyid, Roihan.A, Hukum Acara Peradilan Agama, CV.Rajawali, Jakarta, 1991 Rofiq, Ahmad, Fiqh Mawaris, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1998 Rusyd, Ibnu, Analisa Fiqih Para Mujahid (terjemahan Bidayatul Mujtahid), Juz III, Pustaka Imami, Jakarta, 2002 Salman, Otje, Kesadaran Hukum Masyarakat Terhadap Hukum Waris, Alumni, Bandung, 1993 Samardi, A.Sukris, Transedensi Keadilan Hukum Waris Islam Transformatif, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1997 Universitas Sumatera Utara 98 Sitepu, Runtung, Pengertian dan Prinsip-prinsip Pewarisan Dalam Hukum Waris Adat, bahan kuliah Hukum Waris Adat, Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, tanggal 27 September 2011. Sjahdeini, Sutan Remi, Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan yang Seimbang Bagi Para Pihak dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia, Institute Bankir Indonesia, Jakarta, 1993 Soekanto, Soerjono dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995 Soemitro, Ronny Hanitjo, Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1990 Soepomo. R, Bab-bab Tentang Hukum Adat, Pradnya Paramita, Jakarta, 1986 Soesilo. R, RIB/HIR dengan Penjelasan, Politea, Bogor, 1979 Subagyo, Joko.P, Metode Penelitian Dalam Teori dan Praktek, Rineka Cipta, Jakarta, 1997 Subekti dan Tjitrosoedibio, Kamus Hukum, PT.Pradnya Paramita, Jakarta, 2005 Syaf, Mahyudin, Pelajaran Agama Fiqih, Sulita, Bandung, 1976 Tamakiran, Asas-asas Hukum Waris Menurut Tiga Sistem Hukum, Pioner Jaya, Bandung, 1987 Thalib, Sajuti, Hukum Kewarisan Islam di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 1995 Thaib, Hasballah, Ilmu Hukum Waris Islam, Medan, 2009 Universitas Al-Azhar Mesir, Komite fakultas Syariah, Hukum Waris, Senayan Abadi Publishing, Jakarta, 2004 Wignjodipoero, Soerojo, Pengantar dan Asas-asas Hukum Adat, CV.Haji Masagung, Jakarta, 1988 Wuisman, JJJ.M, Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, UI-Press, Jakarta, 1996 Yunus, Mahmud, Hukum Warisan Dalam Islam, PT. Hidakarya Agung, Jakarta, 1989 Universitas Sumatera Utara 99 Zuhdi, Masjfuk, Studi Islam, Jilid III, PT. Raja Grafindo, Jakarta, 1993 B. Undang-undang Undang-undang nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama Undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan Kitab Undang-undang Hukum Perdata Kompilasi Hukum Islam C. Internet Ibnu, Teori Keadilan, http://staff.blog.ui.ac.id/arif51/2008/12/01/teori-keadilan-john- rawls/, diakses tanggal 31 Mei 2012. Heru, Teori Keadilan, http://kumpulan-teori-skripsi.blogspot.com/2011/09/teori- keadilan-adam-smith.html, diakses tanggal 31 mei 2012. Nur Rahmat, Keadilan Sosial Dalam Islam, http://insistnet.com/index.php?option=com content&task=view&id=112&itemid=26, diakses pada tanggal 31 mei 2012. Penetapan Ahli Waris, http://www.renungan.indah.web.id/2011/05/penetapan-ahliwaris.html,diakses tanggal 17 September 2012 http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/11208130149.1693-9336.pdf, diakses pada tanggal 31 Mei 2012 PembaharuanHukumIslam,http://khisni.blog.unissula.ac.id/2011/10/10/pembaharuanhukum-islam-dan-perwujudan-peraturan-perundangundangan-diindonesiajurnal,diakses pada tanggal 31 Mei 2012. Istiqomah, Hukum Waris, http://istiqomah.wordpress.com/2009/03/30/hukum-waris, diakses pada tanggal 7 Juni 2012. www.badilag.net/data/ARTIKEL/keadilandalamhukumwarisislam.pdf, diakses pada tanggal 7 Juni 2012. Universitas Sumatera Utara
Analisis Hukum Putusan Pengadilan Agama Yang Memutuskan Sertipikat Hak Milik Atas Tanah Tidak Berkekuatan Hukum (Studi Kasus : Putusan Pengadilan Agama Tebing Tinggi No. 52/Pdt.G/2008/PA-TTD jo. Putusan Pengadilan Tinggi Agama Sumatera Utara No. 145/Pdt.G
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Analisis Hukum Putusan Pengadilan Agama Yang Memutuskan Sertipikat Hak Milik Atas Tanah Tidak Berkekuatan Hukum (Studi Kasus : Putusan Pengadilan Agama Tebing Tinggi No. 52/Pdt.G/2008/PA-TTD jo. Putusan Pengadilan Tinggi Agama Sumatera Utara No. 145/Pdt.G

Gratis