Kebijakan Penegakan Hukum Pidana Terhadap Tindak Pidana Narkotika (Studi di Polda Sumut)

 4  100  126  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document

  KEBIJAKAN PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP TINDAK PIDANA NARKOTIKA (STUDI DI POLDA SUMUT) TESIS Oleh LIDYA CAROLINA SITEPU 097005011/HK PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011

  KEBIJAKAN PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP TINDAK PIDANA NARKOTIKA (STUDI DI POLDA SUMUT) TESIS Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Hukum Dalam Program Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Oleh LIDYA CAROLINA SITEPU 097005011/HK PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011

  TERHADAP TINDAK PIDANA NARKOTIKA (STUDI DI POLDA SUMUT) NAMA MAHASISWA : Lidya Carolina Sitepu NOMOR POKOK : 097005011 PROGRAM STUDI : Ilmu Hukum

Menyetujui

Komisi Pembimbing

  

(Prof. Dr. Syafruddin Kalo, S.H., M.Hum)

K e t u a

(Dr. Mahmud Mulyadi, S.H., M.Hum) (Dr. Marlina, S.H., M.Hum)

  

Anggota Anggota

Ketua Program Studi Dekan (Prof. Dr. Suhaidi, S.H., MH) (Prof. Dr. Runtung, S.H., M.Hum) Tanggal Lulus : 12 Agustus 2011

  Tanggal 12 Agustus 2011 PANITIA PENGUJI TESIS Ketua : Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH, M.Hum Anggota : 1. Dr. Mahmud Mulyadi, SH, M.Hum

  2. Dr. Marlina, SH, M.Hum

  3. Dr. Madiasa Ablisar, SH, MS

  4. Syafruddin S. Hasibuan, SH, MH, DFM Jumlah kasus dan tersangka tindak pidana narkotika di Sumatera Utara Tahun 2007 sampai dengan Mei 2011 adanya 12.273 kasus dengan 16.847 tersangka. Meningkatnya tindak pidana narkotika ini pada umumnya disebabkan dua hal, yaitu:

  

pertama, bagi para pengedar menjanjikan keuntungan yang lebih besar, sedangkan

  bagi para pemakai menjanjikan ketentraman dan ketenangan hidup, sehingga beban psikis yang dialami dapat dihilangkan. Kedua, janji yang diberikan narkotika itu menyebabkan rasa takut terhadap resiko tertangkap menjadi berkurang, bahkan sebaliknya akan menimbulkan rasa keberanian. Dampak negatif dari narkotika tidak hanya menjangkau pengguna secara individu saja, tetapi juga generasi muda penerus bangsa dan bernegara. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini yaitu apakah yang menjadi faktor-faktor terjadinya tindak pidana narkotika di Sumatera Utara, bagaimanakah kebijakan penegakan hukum pidana terhadap tindak pidana narkotika.

  Menjawab permasalahan diatas, maka penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dan yuridis sosiologis. Jenis data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh melalui studi lapangan dan data sekunder yang diperoleh melalui studi pustaka. Informan dalam penelitian ini terdiri atas petugas kepolisian besar daerah sumatera utara dan narapidana lembaga pemasyarakatan tanjung gusta medan. Keseluruhan data dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan penulisan deskriptif analitis.

  Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa faktor penyebab terjadinya tindak pidana narkotika di sumatera utara pada umumnya karena faktor ekonomi yang sulit dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari yang menyebabkan napi tersebut menjual narkotika dengan mendapatkan keuntungan yang lebih besar, selain itu karena faktor keluarga yang mendidik dengan keras dari kecil, dan kurangnya kasih sayang yang didapatkan dan faktor lain dikarena rasa keingintahuan/coba-coba dalam memakai narkotika, dari rasa coba-coba napi tersebut menjadi pecandu dikarenakan untuk mendapatkan inspirasi dalam membuat lagu.

  Kebijakan Penegakan Hukum Pidana terhadap Tindak Pidana Narkotika diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Upaya penegakan hukum yang dilakukan oleh penyidik kepolisian dalam memberantas tindak pidana narkotika dimulai dari observasi, pembuntutan, pembelian terselubung, dan penyerahan yang diawasi. Peran polisi dalam penanggulangan tindak pidana narkotika dilakukan dengan penanggulangan preventif dilakukan dengan mengadakan penyuluhan kepada masyarakat, baik itu anak sekolah, orang tua, maupun pemuka masyarakat serta pemuka agama akan bahayanya narkotika. Penanggulangan bersifat represif merupakan upaya penindakan dan penegakan hukum dengan memberikan sanksi pidana maka dapat membuat jera pelaku tindak pidana narkotika. Upaya tersebut berupa penghancuran jaringan utama peredaran gelap, pengembangan teknik control delevery (penyerahan yang diawasi). Kata kunci: Kebijakan Penegakan Hukum Pidana, Tindak Pidana, Narkotika

  There were 12.273 cases and 16.847 suspects of narcotics in Sumatera Utara

from 2007 to May 2011. This increasing number of narcotics-related criminal acts, in

general, are caused by two things: first, to the dealers, narcotics promises them a bigger

benefit, while to the users, narcotics promises them a calm and peaceful life that they can

free themselves from the psychological problem they are having; second, the promise

given by the narcotics lessens their fear of getting arrested, it can even make them more

fearless. The negative impact of narcotics is not only experienced by the user

individually, but also all of our young generation. The research problems discussed in

this study were what factors did initiate the incident of the narcotics-related criminal act

in Sumatera Utara and how the criminal law policy was implemented in coping with the

narcotics-related criminal act.

  To answer the research problems above, this study employed normative juridical

and sociological juridical approaches. The data used in this study were primary data

obtained through field research and secondary data obtained through library research.

The informants for this study were the police officers from Sumatera Utara Police

Department and the convicted criminal in Tanjung Gusta Penitentiary, Medan. All of the

data obtained were qualitatively analyzed by means of analytical descriptive writing.

  The result of this study showed that, in general, the causal factors of the incident

of the narcotics-related criminal act in Sumatera Utara were the economic factor – it

was very difficult for them to meet their daily necessity that they sold narcotics to get

bigger benefit, and the family factor – when they were kids, they were very strictly

educated by their parents so they felt that they did not get love and affection from their

parents, and the factor of curiosity – because of their curiosity, they tried to consume the

narcotics to get some inspiration in writing song then they became addicted to it.

  The policy on Criminal Law Reinforcement towards the Narcotics-Related

Criminal Act is regulated in Law No.35/2009 on Narcotics. The attempt of law upholding

done by the police investigating officers in eliminating the narcotics-related criminal act

started with observation, survelaince, undercover buy, and controlled delivery. The role

of police officers in coping with the narcotics-related criminal act was done preventively

by providing extension on the danger of narcotics to the community members such as

students, parents, public figures, and religious leaders. Repressive action was conducted

by giving criminal sanction that can make the criminals learn from what they have done.

This attempt was done in the form of destroying the main network of illegal distribution

and developing the controlled delivery technique.

  Keywords: Policy, Criminal Law Reinforcement, Criminal Act, Narcotics  

  Puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena hanya dengan rahmat dan kasihNya, saya sebagai penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis yang berjudul Kebijakan Penegakan Hukum Pidana Terhadap

  

Tindak Pidana Narkotika (Studi di Polda Sumut).Tesis ini merupakan salah satu

  syarat yang harus dipenuhi untuk menyelesaikan Program Studi Magister Ilmu Hukum Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. Penulisan tesis ini masih kurang sempurna, dan dengan segala keterbatasan, penulis berharap kiranya penelitian ini dapat bermanfaat bagi penulis dan bagi pembaca sekalian.

  Penulis yakin dengan pepatah yang mengatakan “tiada gading yang tak retak” artinya bahwa tiada manusia yang luput dari kesalahan yang diperbuatnya, oleh karena itu penulis akan dengan senang hati menerima saran dan kritikan yang bersifat konstruktif dan edukatif demi kesempurnaan penulisan tesis yang penulis buat ini.

  Didalam hal pembuatan tesis ini penulis yakin tidak akan terselesaikan begitu saja tanpa adanya arahan, bimbingan, dorongan, motivasi dari orang-orang yang ada disekitar penulis, baik yang bersifat moril ataupun materil. Oleh karena itu pada kesempatan yang baik ini, perkenankanlah dengan segala kerendahan hati penulis menghaturkan rasa terima kasih secara khusus kepada yang terhormat:

  1. Bapak, Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, MSc, (CTM), SP.A(K),selaku Rektor atas kesempatan menjadi mahasiswi pada Program Studi Magister Ilmu Hukum Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara.

  Universitas Sumatera Utara atas kesempatan menjadi mahasiswi pada Program Studi Magister Ilmu Hukum Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara.

  3. Bapak Prof. Dr. Suhaidi, SH, MH, selaku Direktur Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara atas kesempatan yang telah diberikan untuk menyelesaikan pendidikan Program Studi Magister Ilmu Hukum Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara.

  4. Bapak Prof. Syafruddin Kalo, SH, M.Hum, selaku Komisi Pembimbing Utama Penulis.

  5. Bapak Dr. Mahmud Mulyadi, SH, M.Hum selaku Komisi Pembimbing Kedua Penulis.

  6. Ibu Dr. Marlina, SH, M.Hum selaku Komisi Pembimbing Ketiga Penulis.

  7. Bapak Dr. Madiasa Ablisar, SH, MS selaku Komisi Penguji Penulis.

  8. Bapak Syafruddin S. Hasibuan, SH, MH, DFM selaku Komisi Penguji Penulis.

  Yang telah banyak membantu penulis dengan memberikan arahan, bimbingan, petunjuk dan dorongan semangat serta motivasi untuk kesempurnaan penulisan ini hingga bisa terselesaikan. Atas segala bantuan tersebut, penulis berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar para pembimbing dan para penguji penulis senantiasa mendapat lindungan, rahmat, hidayah dan kasihNya dan senantiasa mendapatkan kebahagiaan di dunia dalam menjalani kehidupan serta pengabdian tugasnya sebagai kalangan akademisi dan di akhirat kelak.

  Selanjutnya penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada: segenap jiwa dan lembut kasih sayangnya yang telah mengimaniku dengan kasihNya, mengajarkanku setiap hal terbaik, memberiku kasih terkuat dan jiwa yang besar saatku jatuh lalu berdiri tegar, dan menuntun penulis menyongsong masa depan yang lebih baik. Merekalah yang telah menghantarkan penulis dalam usaha mencapai kemantapan hidup guna menjadi putri kebanggaan. Oleh karena itu penulis berdoa semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan perlindunganNya, memberikan kebahagiaan, kesehatan serta umur yang panjang.

  2. Abang-abang tercinta dr. Franky Hadinata Sitepu dan Fredy Widi Asmara Sitepu, ST dan adik tercinta Bram Aditya Sitepu yang telah mendoakan penulis dalam menyelesaikan studi pada Program Studi Magister Ilmu Hukum, semoga senantiasa dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa dan senantiasa dimudahkan segala cita-citanya.

  3. Bapak Kabag Analis Direktorat Narkoba Polda Sumut, AKBP K.A.M Sinambela, dan Bapak Kompol J. Silaban yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian di Satuan Narkoba Polda Sumut.

  4. Bapak Kepala Bidang Pembinaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IA Tanjung Gusta Medan, serta informan yang bersedia diwawancara serta membantu untuk penyelesaian tesis ini.

  5. Para Dosen dan Staff Program Studi Magister Ilmu Hukum Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara.

  MH terimakasih buat kebersamaannya selama ini dan terimakasih juga buat tumpangannya dengan si fero yang setia menemani penelitian ke lembaga, Ramadhan Putra Gayo terimakasih telah menemani selama melakukan penelitian ke lembaga, Melita Berlina Meliala, SH, MH terimakasih buat kebersamaannya mulai dari kuliah di Palembang sampai kuliah di Medan. Mughni Sulubara, SH, MH, Irma Atika Rangkuti, SH, MH, Reka Elvina Gulo, Agus Pratama terimakasih teman-teman buat kebersamaannya selama ini. Rina Consela, Cornelius Sembiring, Benny Capah, Rony Marbun terimakasih teman-teman buat dukungannya.

  Penulis menyadari tesis ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat diharapkan guna kesempurnaan tesis ini di masa yang akan datang. Semoga tesis ini bermanfaat dan memberikan kontribusi yang berarti bagi pengembangan ilmu hukum khususnya hukum pidana.

  Medan, Agustus 2011 Penulis

  Lidya Carolina Sitepu Nama : Lidya Carolina Sitepu Tempat/Tanggal Lahir : Medan, 30 April 1986 Jenis kelamin : Perempuan Agama : Protestan Pendidikan : 1. SD Swasta Methodist Berastagi,Lulus Tahun 1998

  2. SMP Negeri 1 Berastagi, Lulus Tahun 2001

  3. SMU Negeri 2 Kabanjahe, Lulus Tahun 2004

  4. Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya,Lulus Tahun 2008

  5. Program Studi Magister Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara, Lulus Tahun 2011

  ABSTRAK............................................................................................................. i

ABSTRACT.......................................................................................................... ii

KATA PENGANTAR.......................................................................................... iii

RIWAYAT HIDUP............................................................................................... vii

DAFTAR ISI.......................................................................................................... viii

DAFTAR TABEL ................................................................................................. x BAB I : PENDAHULUAN.............................................................................

  1 A. Latar Belakang...............................................................................

  1 B. Perumusan Masalah........................................................................

  10 C. Tujuan Penelitian............................................................................

  10 D. Manfaat Penelitian.........................................................................

  10 E. Keaslian Penelitian.........................................................................

  11 F. Kerangka Teori dan Konsep..........................................................

  11 1. Kerangka Teori...........................................................................

  11 2. Kerangka Konsep.......................................................................

  15 G. Metode Penelitian..........................................................................

  20 1. Jenis Penelitian...........................................................................

  20 2. Sumber Data...............................................................................

  21 3. Teknik Pengumpulan Data.........................................................

  23 4. Analisis Data..............................................................................

  23 BAB II : FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TINDAK PIDANA NARKOTIKA..................................................................................

  24 A. Kajian Kriminologi Penyebab Terjadinya Kejahatan.....................

  24 1. Teori yang menjelaskan kejahatan dari perspektif biologis.......

  25 2. Teori yang menjelaskan kejahatan dari perspektif sosiologis....

  27

  1. Faktor Internal Pelaku...............................................................

  72

  B. Saran............................................................................................... 103

  A. Kesimpulan..................................................................................... 102

  95 BAB IV : KESIMPULAN DAN SARAN........................................................ 102

  3. Peran Orang Tua, Sekolah (Perguruan Tinggi), Masyarakat, Pemerintah dalam Penanggulangan Tindak Pidana Narkotika

  75

  2. Peran Polri dalam Penanggulangan Tindak Pidana Narkotika

  72 1. Penerapan Hukum Pidana..........................................................

  34 2. Faktor Eksternal Pelaku.............................................................

  63 B. Penegakan Hukum Pidana Terhadap Tindak Pidana Narkotika

  2. Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Tindak Pidana Narkotika

  59

  52 1. Ketentuan Pidana Terhadap Tindak Pidana Narkotika.............

  52 A. Pengaturan Hukum Terhadap Tindak Pidana Narkotika...............

  43 BAB III : KEBIJAKAN PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP TINDAK PIDANA NARKOTIKA................................................

  36 C. Bahaya dan Akibat Penyalahgunaan Narkotika.............................

  DAFTAR PUSTAKA

  DAFTAR TABEL

  Tabel 1 : Jumlah Kasus dan Tersangka Tindak Pidana Narkotika Di Sumatera Utara Tahun 2007 sampai dengan Mei 2011........................ 6

  Tabel 2 : Data Tersangka Tindak Pidana Narkotika Menurut Umur Pelaku Di Sumatera Utara Tahun 2007 sampai Bulan Mei 2011......................... 7

  Tabel 3 : Data Tersangka Tindak Pidana Narkotika di Sumatera Utara Menurut Status Pelaku Tahun 2007 sampai Bulan Mei 2011.................. 9

  Jumlah kasus dan tersangka tindak pidana narkotika di Sumatera Utara Tahun 2007 sampai dengan Mei 2011 adanya 12.273 kasus dengan 16.847 tersangka. Meningkatnya tindak pidana narkotika ini pada umumnya disebabkan dua hal, yaitu:

  

pertama, bagi para pengedar menjanjikan keuntungan yang lebih besar, sedangkan

  bagi para pemakai menjanjikan ketentraman dan ketenangan hidup, sehingga beban psikis yang dialami dapat dihilangkan. Kedua, janji yang diberikan narkotika itu menyebabkan rasa takut terhadap resiko tertangkap menjadi berkurang, bahkan sebaliknya akan menimbulkan rasa keberanian. Dampak negatif dari narkotika tidak hanya menjangkau pengguna secara individu saja, tetapi juga generasi muda penerus bangsa dan bernegara. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini yaitu apakah yang menjadi faktor-faktor terjadinya tindak pidana narkotika di Sumatera Utara, bagaimanakah kebijakan penegakan hukum pidana terhadap tindak pidana narkotika.

  Menjawab permasalahan diatas, maka penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dan yuridis sosiologis. Jenis data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh melalui studi lapangan dan data sekunder yang diperoleh melalui studi pustaka. Informan dalam penelitian ini terdiri atas petugas kepolisian besar daerah sumatera utara dan narapidana lembaga pemasyarakatan tanjung gusta medan. Keseluruhan data dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan penulisan deskriptif analitis.

  Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa faktor penyebab terjadinya tindak pidana narkotika di sumatera utara pada umumnya karena faktor ekonomi yang sulit dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari yang menyebabkan napi tersebut menjual narkotika dengan mendapatkan keuntungan yang lebih besar, selain itu karena faktor keluarga yang mendidik dengan keras dari kecil, dan kurangnya kasih sayang yang didapatkan dan faktor lain dikarena rasa keingintahuan/coba-coba dalam memakai narkotika, dari rasa coba-coba napi tersebut menjadi pecandu dikarenakan untuk mendapatkan inspirasi dalam membuat lagu.

  Kebijakan Penegakan Hukum Pidana terhadap Tindak Pidana Narkotika diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Upaya penegakan hukum yang dilakukan oleh penyidik kepolisian dalam memberantas tindak pidana narkotika dimulai dari observasi, pembuntutan, pembelian terselubung, dan penyerahan yang diawasi. Peran polisi dalam penanggulangan tindak pidana narkotika dilakukan dengan penanggulangan preventif dilakukan dengan mengadakan penyuluhan kepada masyarakat, baik itu anak sekolah, orang tua, maupun pemuka masyarakat serta pemuka agama akan bahayanya narkotika. Penanggulangan bersifat represif merupakan upaya penindakan dan penegakan hukum dengan memberikan sanksi pidana maka dapat membuat jera pelaku tindak pidana narkotika. Upaya tersebut berupa penghancuran jaringan utama peredaran gelap, pengembangan teknik control delevery (penyerahan yang diawasi). Kata kunci: Kebijakan Penegakan Hukum Pidana, Tindak Pidana, Narkotika

  There were 12.273 cases and 16.847 suspects of narcotics in Sumatera Utara

from 2007 to May 2011. This increasing number of narcotics-related criminal acts, in

general, are caused by two things: first, to the dealers, narcotics promises them a bigger

benefit, while to the users, narcotics promises them a calm and peaceful life that they can

free themselves from the psychological problem they are having; second, the promise

given by the narcotics lessens their fear of getting arrested, it can even make them more

fearless. The negative impact of narcotics is not only experienced by the user

individually, but also all of our young generation. The research problems discussed in

this study were what factors did initiate the incident of the narcotics-related criminal act

in Sumatera Utara and how the criminal law policy was implemented in coping with the

narcotics-related criminal act.

  To answer the research problems above, this study employed normative juridical

and sociological juridical approaches. The data used in this study were primary data

obtained through field research and secondary data obtained through library research.

The informants for this study were the police officers from Sumatera Utara Police

Department and the convicted criminal in Tanjung Gusta Penitentiary, Medan. All of the

data obtained were qualitatively analyzed by means of analytical descriptive writing.

  The result of this study showed that, in general, the causal factors of the incident

of the narcotics-related criminal act in Sumatera Utara were the economic factor – it

was very difficult for them to meet their daily necessity that they sold narcotics to get

bigger benefit, and the family factor – when they were kids, they were very strictly

educated by their parents so they felt that they did not get love and affection from their

parents, and the factor of curiosity – because of their curiosity, they tried to consume the

narcotics to get some inspiration in writing song then they became addicted to it.

  The policy on Criminal Law Reinforcement towards the Narcotics-Related

Criminal Act is regulated in Law No.35/2009 on Narcotics. The attempt of law upholding

done by the police investigating officers in eliminating the narcotics-related criminal act

started with observation, survelaince, undercover buy, and controlled delivery. The role

of police officers in coping with the narcotics-related criminal act was done preventively

by providing extension on the danger of narcotics to the community members such as

students, parents, public figures, and religious leaders. Repressive action was conducted

by giving criminal sanction that can make the criminals learn from what they have done.

This attempt was done in the form of destroying the main network of illegal distribution

and developing the controlled delivery technique.

  Keywords: Policy, Criminal Law Reinforcement, Criminal Act, Narcotics  

  

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

  Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri,

  

  dan dapat menimbulkan ketergantungan. Di satu sisi narkotika merupakan obat atau bahan yang bermanfaat di bidang pengobatan, pelayanan kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan, namun di sisi lain dapat menimbulkan ketergantungan yang sangat merugikan apabila dipergunakan tanpa adanya pengendalian, pengawasan yang ketat dan seksama.

  Persoalan mengenai narkotika semakin lama semakin meningkat. Narkotika menjadi persoalan nasional bahkan internasional karena akibat dan dampak yang ditimbulkan telah meluas ke seluruh negara. Secara nasional perdagangan narkotika telah meluas kedalam setiap lapisan masyarakat, mulai lapisan masyarakat atas

  

  sampai masyarakat bawah. Dari segi usia, narkotika tidak dinikmati golongan remaja saja, tetapi juga golongan setengah baya maupun golongan usia tua.

  Penyebaran narkotika sudah tidak lagi hanya di kota besar, tetapi sudah masuk kota-

  3 kota kecil dan merambah di kecamatan bahkan desa-desa. 1 2 Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

  Nurmalawaty, Penegakan Hukum Pidana Dalam Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba, Majalah Hukum USU Vol. 9 No. 2 Agustus 2004, hal.188. 3 Hari Sasangka, Narkotika dan Psikotropika Dalam Hukum Pidana, (Bandung: Mandar Maju, 2003), hal. 2.

  saja dapat dipahami. Tetapi bagi seseorang yang mengkonsumsi narkotika yang sebelumnya sudah mengetahui akibat-akibatnya adalah di luar nalar kita. Menurut Graham Blaine seorang psikiater, sebab-sebab penyalahgunaan narkotika adalah

  

  sebagai berikut:

  a. Untuk membuktikan keberanian dalam melakukan tindakan-tindakan yang berbahaya dan mempunyai resiko; b. Untuk menantang suatu otoritas terhadap orangtua, guru, hukum atau instansi berwenang; c. Untuk mempermudah penyaluran dan perbuatan seksual;

  d. Untuk melepaskan diri dari rasa kesepian dan ingin memperoleh pengalaman- pengalaman emosional; e. Untuk berusaha agar dapat menemukan arti hidup;

  f. Untuk mengisi kekosongan dan mengisi perasaan bosan, karena kurang kesibukan; g. Untuk menghilangkan rasa frustasi dan kegelisahan yang disebabkan oleh problema yang tidak bisa diatasi dan jalan pikiran yang buntu, terutama bagi mereka yang mempunyai kepribadian yang tidak harmonis;

  h. Untuk mengikuti kemauan kawan dan untuk memupuk solidaritas dengan kawan-kawan; i. Karena didorong rasa ingin tahu (curiosty) dan karena iseng (just for kicks).

  Penyebab penggunaan narkotika secara tidak legal yang dilakukan oleh para

  

  remaja dapatlah dikelompokkan tiga keinginan yaitu:

  1. Mereka yang ingin mengalami (the experience seekers) yaitu ingin memperoleh pengalaman baru dan sensasi dari akibat pemakaian narkotika;

  2. Mereka yang bermaksud menjauhi atau mengelakkan realita hidup (the

  oblivion seekers) yaitu mereka yang menganggap keadaan terbius sebagai

  tempat pelarian terindah dan ternyaman;

  3. Mereka yang ingin merubah kepribadiannya (personality change) yaitu mereka yang beranggapan menggunakan narkotika dapat merubah 4 kepribadian, seperti menjadi tidak kaku dalam pergaulan. 5 Ibid., hal. 6.

  Soedjono Dirdjosisworo, Pathologi Sosial, (Bandung: Alumni, 1982), hal. 70-71. narkotika dengan sebab-sebab sebagai berikut:

  

  1. Menghilangkan rasa sakit dari penyakit kronis;

  2. Menjadi kebiasaan (akibat penyembuhan dan menghilangkan rasa sakit);

  3. Pelarian dari frustasi;

  4. Meningkatkan kesanggupan untuk berprestasi (biasanya sebagai zat perangsang).

  Pada awalnya narkotika digunakan untuk kepentingan umat manusia, khususnya untuk pengobatan dan pelayanan kesehatan. Di dunia kedokteran, narkotika banyak digunakan khususnya dalam proses pembiusan sebelum pasien dioperasi mengingat di dalam narkotika terkandung zat yang dapat mempengaruhi perasaan, pikiran, serta kesadaran pasien.

   Namun, jika disalahgunakan atau

  digunakan tidak sesuai dengan standar pengobatan dapat menimbulkan akibat yang sangat merugikan bagi perseorangan atau masyarakat khususnya generasi muda. Oleh karena itu, agar penggunaan narkotika dapat memberikan manfaat bagi kehidupan umat manusia, peredarannya harus diawasi secara ketat sebagaimana diatur dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yang menyebutkan, pengaturan narkotika bertujuan untuk: a. menjamin ketersediaan Narkotika untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; 6 Hari Sasangka., Op. Cit., hal. 7. 7 Dikdik M. Arief dan Elisatris Gultom, Urgensi Perlindungan Korban Kejahatan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007), hal. 100.

  penyalahgunaan Narkotika;

  c. memberantas peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika; dan

  d. menjamin pengaturan upaya rehabilitasi medis dan sosial bagi penyalah guna dan pecandu Narkotika.

  Peredaran narkotika di dalam negeri hampir meliputi kota besar dan sejumlah desa, dan sebagai tempat transaksi biasanya tempat hiburan (diskotik, karaoke), lingkungan kampus, hotel, apartemen, dan tempat kumpul remaja seperti mall, pusat

  

  belanja, dan lain-lain. Pentingnya peredaran narkotika perlu diawasi secara ketat karena saat ini pemanfaatannya banyak untuk hal-hal negatif. Disamping itu, melalui perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, penyebaran narkotika sudah menjangkau hampir ke semua wilayah Indonesia hingga ke pelosok-pelosok. Daerah yang sebelumnya tidak pernah tersentuh oleh peredaran narkotika lambat laun berubah menjadi sentra peredaran narkotika. Begitu pula anak-anak yang pada mulanya awam terhadap barang haram ini telah berubah menjadi sosok pecandu yang

  

sukar untuk dilepaskan ketergantungannya.

  Peredaran narkotika secara ilegal harus segera ditanggulangi mengingat efek negatif yang akan ditimbulkan tidak saja pada penggunanya, tetapi juga bagi keluarga, komunitas, hingga bangsa dan negara. Meningkatnya tindak pidana narkotika ini pada umumnya disebabkan dua hal, yaitu: pertama, bagi para pengedar 8 Togar M. Sianipar, Perkembangan Kejahatan Narkoba, Makalah dalam seminar Narkoba di Departemen Kehakiman dan HAM tanggal 22 Juli 2003, hal. 9. 9 Dikdik M. Arief dan Elisatris Gultom, Op. Cit, hal. 101.

  ketentraman dan ketenangan hidup, sehingga beban psikis yang dialami dapat dihilangkan. Kedua, janji yang diberikan narkotika itu menyebabkan rasa takut terhadap resiko tertangkap menjadi berkurang, bahkan sebaliknya akan menimbulkan

   rasa keberanian.

  Tindak pidana narkotika yang dimaksud dalam Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika memberikan sanksi pidana yang cukup berat, namun demikian dalam kenyataannya para pelaku kejahatan justru semakin meningkat, dan bagi para terpidana dalam kenyataannya tidak jera dan justru ada kecenderungan untuk mengulanginya lagi. Hal ini dapat diakibatkan oleh adanya faktor penjatuhan pidana yang tidak memberikan dampak atau deterrent effect terhadap para pelakunya.

  Dampak negatif dari narkotika tidak hanya menjangkau pengguna secara individu saja, tetapi juga generasi muda penerus bangsa dan bernegara. Dalam rangka pelaksanaan politik kriminal, pemerintah berupaya menetapkan kebijakan-kebijakan sebagai langkah antisipasi terhadap kejahatan penyalahgunaan narkotika yaitu dengan menggunakan dan menerapkan sarana penal. Kebijakan penetapan pidana dalam

  

  perundang-undangan menurut Barda Nawawi Arief merupakan: Tahap yang paling strategis dilihat dari keseluruhan proses kebijaksanaan untuk mengoperasionalkan sanksi pidana. Pada tahap inilah dirumuskan garis- garis kebijakan sistem pidana dan pemidanaan yang sekaligus merupakan 10 landasan legalitas bagi tahap-tahap berikutnya, yaitu tahap penerapan pidana 11 Moh. Taufik Makarao, Tindak Pidana Narkotika, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2003), hal. 6.

  Barda Nawawi Arief, Kebijakan Legislatif dalam Penanggulangan Kejahatan dengan Pidana Penjara, (Semarang: CV.Ananta, 1994), hal. 3. pidana. Penyalahgunaan narkotika sudah menjadi isu yang umum oleh karena itu setiap masyarakat diharapkan partisipasinya dalam menanggulangi bahaya narkotika.

  Di Sumatera Utara tindak pidana narkotika mengalami peningkatan dari tahun 2007 sampai dengan Mei 2011 seperti dalam tabel di bawah ini.

  Tabel 1 Jumlah Kasus dan Tersangka Tindak Pidana Narkotika di Sumatera Utara

  Tahun 2007 sampai dengan Mei 2011 NO TAHUN Kasus Tersangka JUMLAH 1 2007 2.958 4.160 7.118 2 2008 2.666 3.896 6.562 3 2009 2.802 3.531 6.333 4 2010 2.718 3.736 6.454

  5 Mei 2011 1.129 1.524 2.653 JUMLAH 12.273 16.847 29.120 Sumber: Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumut Tahun 2011

  Tabel di atas menunjukkan tindak pidana narkotika dari tahun 2007 sampai dengan Mei 2011 mengalami penurunan dan peningkatan. Tahun 2007 tercatat kasus tindak pidana narkotika sebanyak 2.958 dengan jumlah tersangka 4.160 orang. Tahun 2008 mengalami penurunan tercatat ada sebanyak 2.666 kasus dengan tersangka 3.896 orang. Tahun 2009 terjadinya kenaikan tindak pidana narkotika sebanyak 2.802 kasus dengan jumlah tersangka 3.531 orang. Tahun 2010 juga terjadi kenaikan dengan kasus sebanyak 2.718 kasus dengan jumlah tersangka 3.736 orang. Sedangkan Mei 2011 ada sebanyak 1.129 kasus tindak pidana narkotika dengan jumlah tersangka 1.524 orang. anak-anak sampai orang dewasa seperti dalam tabel dibawah ini.

  Tabel 2 Data Tersangka Tindak Pidana Narkotika Menurut Umur Pelaku

  Di Sumatera Utara Tahun 2007 sampai Bulan Mei 2011 UMUR PELAKU <15 16-19 20-24 25-29 >30

  NO TAHUN THN THN THN THN THN JUMLAH 1 2007 26 380 1.149 1.091 1.514 4.160 2 2008 32 363 898 1.036 1.567 3.896 3 2009 29 295 818 970 1.419 3.531 4 2010 18 221 666 897 1.934 3.736

  Mei 5 2011 16 85 248 370 805 1.524 JUMLAH 170 2.128 6.240 6.312 9.671 24.531 Sumber: Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumut Tahun 2011

  Tabel diatas menunjukkan bahwa yang menyalahgunakan narkotika di bawah usia 15 tahun pada tahun 2007 ada sebanyak 26 orang, sementara di tahun 2008 mengalami sedikit peningkatan sebanyak 32 orang, di tahun 2009 sampai tahun 2010 adanya penurunan menjadi 29 orang dan 18 orang, sementara sampai bulan Mei 2011 ada sebanyak 16 orang.

  Berusia 16-19 tahun di tahun 2007 ada sebanyak 380 orang, di tahun 2008 sampai dengan tahun 2010 mengalami penurunan, sementara sampai dengan bulan Mei 2011 yang menyalahgunakan narkotika sebanyak 85 orang. Tahun 2007 untuk usia 20-24 tahun yang menyalahgunakan narkotika sebanyak 1.149 orang, antara tahun 2008 sampai dengan tahun 2010 mengalami penurunan yang sangat drastis, dan untuk bulan Mei 2011 ada sebanyak 248 orang. Sedangkan yang berusia 25-29 tahun ada sebanyak 1.091 orang yang melakukan penyalahgunaan narkotika di tahun 2007, mengalami penurunan, untuk bulan Mei 2011 ada sebanyak 370 orang.

  Tahun 2007 untuk yang berusia diatas 30 tahun ada sebanyak 1.514 orang, tahun 2008 ada sedikit peningkatan menjadi 1.567 orang, di tahun 2009 terjadi penurunan menjadi 1.419 orang, sedangkan di tahun 2010 terjadi kenaikan sebanyak 1.934 orang, sementara untuk bulan Mei 2011 ada 805 orang.

  Data diatas yang paling memprihatinkan adalah korban penyalahgunaan narkotika yang pada umumnya masih remaja dan dewasa muda yang sedang dalam masa produktif dan merupakan sumber daya manusia atau aset bangsa dikemudian hari. Kondisi ini sangat memprihatinkan sekali apabila tidak bisa diatasi jelas akan merusak generasi muda Indonesia dan merupakan bahaya yang sangat besar bagi kehidupan manusia, bangsa dan negara. Namun di Sumatera Utara yang lebih banyak menyalahgunakan narkotika justru pelaku yang berusia diatas 30 tahun.

  Menurut status pelakunya penyalahgunaan narkotika yang terjadi di Sumatera Utara dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

  Tabel 3 Data Tersangka Tindak Pidana Narkotika di Sumatera Utara

  Menurut Status Pelaku Tahun 2007 sampai Bulan Mei 2011 TAHUN

  Mei NO STATUS PELAKU 2007 2008 2009 2010 2011 JUMLAH

  1 TNI 9 13 14 8 4 48

  2 POLRI 11 30 30 15 14 100

  3 PNS 21 29 29 21 15 115

  4 PEG. SWASTA 1.101 588 322 253 142 2.406

  5 PELAJAR 91 214 90 70 30 495

  6 MAHASISWA 48 111 71 46 26 302

  8 BURUH 881 409 503 851 175 2.819 JUMLAH 4.160 3.896 3.531 3.736 1.524 16.847 Sumber: Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumut Tahun 2011

  Tabel diatas menunjukkan bahwa TNI yang melakukan tindak pidana narkotika dalam kurun waktu 2007 sampai Mei 2011 ada sebanyak 48 orang.

  Sementara untuk POLRI ada sebanyak 100 orang, sedangkan untuk PNS ada sebanyak 115 orang, untuk pegawai swasta sebanyak 2.406 orang, pelajar sebanyak 495 orang, mahasiswa sebanyak 302 orang, untuk kalangan pengangguran ada sebanyak 10.562 orang, dan untuk kalangan buruh ada sebanyak 2.819 orang.

  Berdasarkan data yang diungkapkan diatas bahwa tindak pidana narkotika diantara masing-masing kalangan dari tahun 2007 sampai Mei 2011 menunjukkan adanya kenaikan dan penurunan.

  Permasalahan penyalahgunaan narkotika dan ketergantungan narkotika mempunyai dimensi yang sangat luas dan kompleks, baik dari sudut medis, maupun psikososial (ekonomi, politik, sosial, budaya, kriminalitas, kerusuhan massal dan lain sebagainya). Seringkali terjadi dimasyarakat, dampak dari penyalahgunaan ketergantungan narkotika antara lain: merusak hubungan kekeluargaan, menurunkan kemampuan belajar dan produktivitas kerja secara drastis, sulit membedakan mana perbuatan baik maupun perbuatan buruk, perubahan perilaku menjadi perilaku antisosial, gangguan kesehatan, mempertinggi jumlah kecelakaan lalu lintas, tindak

  

  kekerasan, dan kriminalitas lainnya. Berdasarkan alasan diatas, maka penulis 12 Mardani, Bunga Rampai Hukum Aktual, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2008), hal. 11.

  “Kebijakan Penegakan Hukum Pidana terhadap Tindak Pidana Narkotika (Studi di POLDA SUMUT)”.

  B. Permasalahan

  Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:

  1. Apakah yang menjadi faktor-faktor terjadinya tindak pidana narkotika di Sumatera Utara?

  2. Bagaimanakah kebijakan penegakan hukum pidana terhadap tindak pidana narkotika?

  C. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui faktor-faktor terjadinya tindak pidana narkotika.

  2. Untuk mengetahui kebijakan penegakan hukum pidana terhadap tindak pidana narkotika.

  D. Manfaat Penelitian

  Adapun manfaat yang didapat dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Secara teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran secara teoritis dalam pengembangan ilmu hukum khususnya dalam bidang hukum pidana mengenai kebijakan penegakan hukum pidana terhadap tindak pidana narkotika.

  Penelitian ini ditujukan kepada kalangan aparat penegak hukum agar dapat mengetahui kebijakan penegakan hukum pidana terhadap tindak pidana narkotika. Khusus bagi masyarakat umum agar dapat mengetahui akibat dari penyalahgunaan narkotika dan kebijakan penegakan hukum pidana apa yang dapat digunakan terhadap tindak pidana narkotika.

  E. Keaslian Penelitian

  Berdasarkan penelitian dan penelusuran yang telah dilakukan, baik terhadap hasil-hasil penelitian yang sudah ada maupun yang sedang dilakukan khususnya di lingkungan Sekolah Pasca Sarjana Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara belum ada penelitian menyangkut masalah “Kebijakan Penegakan Hukum Pidana terhadap Tindak Pidana Narkotika di Sumatera Utara”. Akan tetapi ada beberapa tesis membahas tentang narkotika namun di dalam tesis ini yang dibicarakan adalah mengenai kebijakan penegakan hukum pidana terhadap tindak pidana narkotika permasalahan yang diteliti tidaklah sama. Dengan demikian penelitian ini betul asli dari segi substansi maupun dari segi permasalahan sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah.

  F. Kerangka Teori dan Konsep

1. Kerangka Teori

   Kejahatan yang merupakan suatu bentuk gejala sosial yang tidak berdiri

  sendiri, melainkan nampak adanya korelasi dengan berbagai perkembangan kehidupan sosial, ekonomi, hukum maupun teknologi serta berbagai perkembangan perubahan sosial di dalam masyarakat.

  Teori yang digunakan dalam penelitian tesis ini adalah teori kebijakan hukum pidana (penal policy). Kebijakan hukum pidana (penal policy) adalah suatu ilmu sekaligus seni yang pada akhirnya mempunyai tujuan praktis untuk memungkinkan peraturan hukum positif dirumuskan secara lebih baik dan untuk memberi pedoman tidak hanya kepada pembuat undang-undang, tetapi juga kepada pengadilan yang menerapkan undang-undang dan juga kepada para penyelenggara atau pelaksana

   putusan pengadilan.

  Politik hukum adalah kebijaksanaan politik yang menentukan peraturan hukum apa yang seharusnya berlaku mengatur berbagai hal kehidupan bermasyarakat

  

  dan bernegara. Mahfud MD juga memberikan defenisi politik hukum sebagai kebijakan mengenai hukum yang akan atau telah dilaksanakan secara nasional oleh pemerintah. Hal ini juga mencakup pula pengertian tentang bagaimana politik mempengaruhi hukum dengan cara melihat konfigurasi kekuatan yang ada dibelakang pembuatan dan penegakan hukum itu. Hukum tidak bisa hanya dipandang sebagai pasal-pasal yang bersifat imperatif, melainkan harus dipandang sebagai subsistem yang dalam kenyataannya bukan tidak mungkin sangat ditentukan oleh politik, baik

   dalam perumusan materinya (pasal-pasal), maupun dalam penegakannya. 13 Mahmud Mulyadi, Criminal Policy Pendekatan Integral Penal Policy dan Non Penal Policy dalam Penanggulangan Kejahatan Kekerasan, (Medan: Pustaka Bangsa Press, 2008), hal. 19. 14 15 Solly Lubis, Serba Serbi Politik dan Hukum Pidana,(Bandung: Alumni,1989), hal. 159.

  Mahfud M.D,Politik Hukum di Indonesia, (Jakarta: LP3ES,1998), hal. 1-2. merupakan bagian dari usaha penegakan hukum (khususnya penegakan hukum pidana). Oleh karena itu, sering pula dikatakan bahwa politik atau kebijakan hukum pidana merupakan bagian dari kebijakan penegakan hukum (law enforcement

   policy). Di samping itu, usaha penanggulangan kejahatan lewat pembuatan undang-

  undang (hukum) pidana pada hakikatnya juga merupakan bagian integral dari usaha perlindungan masyarakat (social welfare). Oleh karena itu, sangat wajar apabila kebijakan atau politik hukum pidana juga merupakan bagian integral dari kebijakan atau politik sosial (social policy). Kebijakan sosial dapat diartikan sebagai segala usaha yang rasional untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dan sekaligus mencakup perlindungan masyarakat. Dengan penggunaan sarana penal dalam menanggulangi kejahatan berarti upaya mewujudkan suatu hukum pidana yang dapat diterapkan dalam masyarakat dalam jangka waktu yang lama dan menjadi kebijakan perundang-undangan yang baik, maka ia harus memenuhi syarat yuridis, sosiologis dan filosofis.

   Menurut Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto:

  Suatu peraturan hukum berlaku secara yuridis apabila peraturan hukum tersebut penentuannya berdasarkan kaidah yang lebih tinggi tingkatannya. Suatu peraturan hukum berlaku secara sosiologis bilamana peraturan hukum tersebut diakui atau diterima oleh masyarakat kepada siapa peraturan hukum 16 tersebut ditujukan. Peraturan hukum harus berlaku secara filosofis, apabila

  Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, (Jakarta: Kencana, 2008), hal. 24. 17 Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto, Perihal Kaidah Hukum, (Bandung: Alumni, 1978), hal. 113.

  yang tinggi. Barda Nawawi mengutarakan masih pentingnya menggunakan sarana penal

  

  dalam rangka menanggulangi kejahatan yaitu:

  a. Sanksi pidana sangatlah diperlukan, kita tidak dapat hidup, sekarang maupun di masa yang akan datang tanpa pidana; b. Sanksi pidana merupakan alat atau sarana terbaik yang tersedia, yang kita miliki untuk menghadapi kejahatan-kejahatan atau bahaya besar serta untuk menghadapi ancaman-ancaman dari bahaya;

  c. Sanksi pidana suatu ketika merupakan penjamin yang utama/terbaik dan suatu ketika merupakan pengancam yang utama dari kebebasan manusia. Ia merupakan penjamin apabila digunakan secara hemat, cermat dan secara manusiawi, ia merupakan pengancam apabila digunakan secara sembarangan dan secara paksa. Kebijakan penanggulangan kejahatan dengan menggunakan sarana penal oleh beberapa pakar kriminologi disebut juga dengan cara represif. Tindakan represif menitikberatkan pada upaya pemberantasan/penindasan/penumpasan sesudah

   kejahatan terjadi yaitu dengan dijatuhkannya sanksi pidana.

  Kebijakan hukum pidana diperlukan pendekatan yang berorientasi pada kebijakan yang lebih bersifat pragmatis dan rasional, dan juga pendekatan yang 18 Barda Nawawi Arief, Kebijakan Legislatif dalam Penanggulangan Kejahatan dengan Pidana Penjara, (Semarang: CV. Ananta, 1994), hal. 31. 19 Soedjono Dirdjosisworo, Ruang Lingkup Kriminologi, (Bandung: Remaja Karya, 1987), hal. 28.

  masalah nilai. Terlebih bagi Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan garis kebijakan pembangunan nasionalnya bertujuan membentuk manusia seutuhnya.

  Apabila pidana yang digunakan sebagai sarana untuk tujuan tersebut, maka pendekatan humanistik harus pula diperhatikan. Hal ini penting tidak hanya karena kejahatan itu, pada hakikatnya merupakan masalah kemanusiaan, tetapi juga karena pada hakikatnya pidana itu sendiri mengandung unsur penderitaan yang dapat

   menyerang kepentingan atau yang paling berharga bagi kehidupan manusia.

  Dengan demikian diperlukan adanya keterpaduan dan kerjasama yang baik aparat penegak hukum untuk menggunakan sarana penal dalam rangka menanggulangi kejahatan. Keterpaduan tersebut pada akhirnya akan menuju tercapainya keselarasan, keserasian dan keseimbangan hidup dalam masyarakat.

2. Kerangka Konsep

  Kerangka konsepsional mengungkapkan beberapa konsepsi atau pengertian yang akan dipergunakan sebagai dasar penelitian. Pentingnya defenisi operasional adalah untuk menghindarkan perbedaan pengertian atau penafsiran mendua (dubius) dari suatu istilah yang dipakai. Oleh karena itu, dalam penelitian ini di defenisikan beberapa konsep dasar supaya secara operasional diperoleh hasil penelitian yang sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, yaitu: kebijakan hukum pidana, penegakan hukum, kepolisian, penyelidikan, penyidikan, tindak pidana, narkotika. 20 Ibid., hal.34. yang pada akhirnya mempunyai tujuan praktis untuk memungkinkan peraturan hukum positif dirumuskan secara lebih baik dan untuk memberi pedoman tidak hanya kepada pembuat undang-undang, tetapi juga kepada pengadilan yang menerapkan undang-undang, dan juga kepada para penyelenggara atau pelaksana putusan

   pengadilan.

  Usaha penanggulangan kejahatan dengan hukum pidana pada hakikatnya merupakan bagian dari usaha penegakan hukum (khususnya penegakan hukum pidana). Oleh karena itu, sering pula dikatakan bahwa politik atau kebijakan hukum pidana merupakan bagian dari kebijakan penegakan hukum (law enforcement

   policy). Di samping itu, usaha penanggulangan kejahatan lewat pembuatan undang-

  undang (hukum ) pidana pada hakikatnya juga merupakan bagian integral dari usaha perlindungan masyarakat (social welfare). Oleh karena itu, sangat wajar apabila kebijakan atau politik hukum pidana juga merupakan bagian integral dari kebijakan atau politik sosial (social policy). Kebijakan sosial dapat diartikan sebagai segala usaha yang rasional untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dan sekaligus mencakup perlindungan masyarakat.

  Penegakan hukum (law enforcement), merupakan suatu istilah yang mempunyai keragaman pengertian. Menurut Satjipto Rahardjo, penegakan hukum diartikan sebagai suatu proses untuk mewujudkan keinginan-keinginan hukum, yaitu 21 22 Teguh Prasetyo, Politik Hukum Pidana, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hal. 18.

  Barda Nawawi Arief, Op. Cit, hal. 24.

   ditetapkan dalam peraturan-peraturan hukum yang kemudian menjadi kenyataan.

  Penegakan hukum adalah keseluruhan kegiatan dari para pelaksana penegak hukum, keadilan, dan perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia, ketentraman, dan

  

kepastian hukum, sesuai dengan UUD 1945.

  Istilah polisi pada mulanya berasal dari Yunani yaitu politeia yang berarti seluruh pemerintahan negara kota. Di abad sebelum masehi negara Junani terdiri dari kota-kota yang dinamakan polis. Arti polisi demikian luasnya bahkan selain meliputi seluruh pemerintahan negara kota, termasuk juga di dalamnya urusan-urusan keagamaan seperti penyembahan terhadap dewa-dewanya. Setelah munculnya agama Nasrani maka urusan keagamaan menjadi terpisah dari pemerintahan, sehingga arti

   polisi menjadi seluruh pemerintahan negara dikurangi urusan agama.

   Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, istilah polisi berarti:

  a. Badan pemerintahan (sekelompok pegawai negeri) yang bertugas memelihara keamanan dan ketertiban umum; b. Pegawai negeri yang bertugas menjaga keamanan.

  23 Satjipto Rahardjo, Masalah Penegakan Hukum Suatu Tinjauan Sosiologis, (Bandung: Sinar

Baru, 1993), hal. 15., Lihat juga Soedarto, Kapita Selekta Hukum Pidana, (Bandung: Alumni, 1986),

hal. 111. Penegakan hukum sebagai perhatian dan penggarapanperbuatan melawan hukum

yangsungguh-sungguh terjadi (onrecht in actu) maupun perbuatan melawan hukum yang mungkin

terjadi (onrecht in potentie). 24 Barda Nawawi Arief, Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan Hukum Pidana, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1998), hal. 8. 25 26 Momo Kelana, Hukum Kepolisian, (Jakarta: Grasindo, 1994), hal. 14.

  W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1986), hal. 763. adalah segala hal-ihwal yang berkaitan dengan fungsi dan lembaga polisi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

  Penyelidikan berarti serangkaian tindakan mencari dan menemukan sesuatu keadaan atau peristiwa yang berhubungan dengan kejahatan dan pelanggaran tindak

  

  pidana atau yang diduga sebagai perbuatan tindak pidana. Penyelidikan merupakan tindakan tahap permulaan penyidikan, akan tetapi penyelidikan bukan tindakan yang berdiri sendiri terpisah dari fungsi penyidikan. Penyelidikan merupakan bagian yang tak terpisah dari fungsi penyidikan.

  Penyidikan merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan pejabat penyidik sesuai dengan cara yang diatur dalam undang-undang untuk mencari serta mengumpulkan bukti, dan dengan bukti itu membuat atau menjadi terang tindak pidana yang terjadi sekaligus menemukan tersangkanya atau pelaku tindak

   pidananya.

  Istilah tindak pidana sering dipakai untuk menggantikan strafbaar feit. “Perkataan feit itu sendiri di dalam bahasa Belanda berarti sebagian dari suatu kenyataan atau een gedelte van de werkelijkheid, sedangkan strafbaar berarti dapat dihukum sehingga secara harfiah perkataan strafbaar feit itu dapat diterjemahkan sebagai sebagian dari suatu kenyataan yang dapat dihukum, yang sudah barang tentu tidak tepat, oleh karena kelak kita akan ketahui bahwa yang dapat di hukum itu 27 M.Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP Penyidikan dan Penuntutan, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hal. 101. 28 Ibid, hal. 109.

   tindakan”.

  Tindak pidana adalah perbuatan yang oleh aturan hukum dilarang dan diancam dengan pidana barang siapa yang melanggar larangan tersebut, selanjutnya menurut wujud atau sifatnya tindak pidana itu adalah perbuatan yang melawan hukum dan juga merugikan masyarakat dalam arti bertentangan dengan atau menghambat dari terlaksananya tata dalam pergaulan masyarakat yang dianggap baik dan adil. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa suatu perbuatan akan menjadi tindak pidana, apabila perbuatan itu melawan hukum, merugikan masyarakat,

   dilarang oleh aturan pidana dan pelakunya diancam dengan pidana.

   Soerdjono Dirjosisworo mengatakan bahwa pengertian narkotika:

  Zat yang bisa menimbulkan pengaruh tertentu bagi yang menggunakannya dengan memasukkan kedalam tubuh. Pengaruh tersebut bisa berupa pembiusan, hilangnya rasa sakit, rangsangan semangat dan halusinasi atau timbulnya khayalan-khayalan. Sifat-sifat tersebut yang diketahui dan ditemukan dalam dunia medis bertujuan dimanfaatkan bagi pengobatan dan kepentingan manusia di bidang pembedahan, menghilangkan rasa sakit dan lain-lain.

  Menurut Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009, Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, 29 P.A.F.Lamintang, Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1997), hal. 181. 30 Martiman Prodjohamidjojo, Memahami Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia 2, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1997), hal. 16. 31 Soedjono Dirjosisworo, Hukum Narkotika Indonesia, (Bandung: Citra Aditya Bhakti, 1990), hal. 3. menimbulkan ketergantungan.

G. Metode Penelitian

  Penelitian merupakan sarana pokok dalam pengembangan ilmu pengetahuan maupun teknologi. Hal ini disebabkan karena penelitian bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran secara sistematis, metodologi dan konsisten. Melalui proses penelitian tersebut diadakan analisa dan konstruksi data yang telah

   dikumpulkan.

  Oleh karena penelitian merupakan suatu sarana ilmiah bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka metodologi penelitian yang diterapkan harus senantiasa disesuaikan dengan ilmu pengetahuan yang

  

  menjadi induknya. Dengan demikian metode penelitian adalah merupakan upaya ilmiah untuk memakai dan memecah suatu permasalahan berdasarkan metode tertentu.

1. Jenis dan Sifat Penelitian

  Jenis penelitian yang dilakukan dalam penyusunan tesis ini adalah

  

  penelitian yuridis normatif. Penelitian yuridis normatif yaitu penelitian yang difokuskan untuk mengkaji penerapan kaedah-kaedah atau norma-norma hukum positif. Mengambil istilah Ronald Dworkin, penelitian semacam ini juga disebut 32 33 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (UI:Press, 1986), hal. 3.

  Soerjono Soekanto dan Sri Mahmudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996), hal. 64. 34 Johny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, (Surabaya: Bayumedia, 2008), hal. 295. menganalisis hukum baik yang tertulis di dalam buku (law at it is written in the

  

book), maupun hukum yang diputuskan oleh hakim melalui proses pengadilan

  

(law as it decided by the jungle through judicial process). Penelitian yuridis

  sosiologis yaitu penelitian yang bertitik tolak dari permasalahan dengan melihat kenyataan yang terjadi di lapangan kemudian menghubungkannya dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

  Sifat penelitian dalam tesis ini adalah bersifat deskriptif analitis, penelitian bersifat deskriptif analitis merupakan suatu penelitian yang menggambarkan, menelaah, menjelaskan, dan menganalisis suatu peraturan hukum.

2. Sumber Data

  Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berupa bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier, yaitu:

  a. Bahan Hukum Primer Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang bersifat autoritatif artinya mempunyai otoritas. Bahan hukum primer terdiri dari peraturan

  

  perundang-undangan yang diurut berdasarkan hierarki seperti 35 peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan penelitian ini

  Bismar Nasution, Metode Penelitian Hukum Normatif dan Perbandingan Hukum,

disampaikan pada dialog interaktif tentang penelitian hukum dan hasil penulisan hukum pada majalah

akreditasi, (Fakultas Hukum USU, tgl 18 Februari, 2003), hal. 2. 36 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana, 2006), hal. 141.

  pidana narkotika yaitu Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

  b. Bahan Hukum Sekunder Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang terdiri atas buku- buku teks yang ditulis oleh ahli hukum yang berpengaruh, jurnal-jurnal hukum, pendapat para sarjana, kasus-kasus hukum, yurisprudensi, dan hasil-hasil simposium mutakhir yang berkaitan dengan topik

  

  penelitian. Dalam penelitian ini, bahan hukum sekunder yang digunakan adalah berupa buku-buku rujukan yang relevan, hasil karya tulis ilmiah, dan berbagai makalah yang berkaitan.

  c. Bahan Hukum Tersier Bahan hukum tersier adalah bahan hukum yang memberikan petunjuk atau penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum

  

  sekunder berupa kamus umum, kamus bahasa, surat kabar, artikel, internet.

   Penelitian ini juga didukung oleh data primer yang diperoleh

  langsung melalui wawancara dengan beberapa narasumber yang terdiri dari Kabag Analis Direktorat Narkoba Polda Sumut, 10 (sepuluh) orang narapidana Lembaga Pemasyarakatan Klas IA Tanjung Gusta Medan. 37 38 Jhony Ibrahim, Op.Cit, hal. 296. 39 Ibid.

  Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hal. 23. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

  a. Penelitian Kepustakaan (Library Reseaarch) Penelitian kepustakaan ini dimaksud untuk memperoleh data sekunder dengan mempelajari literatur-literatur, peraturan perundang-undangan, teori-teori, pendapat para sarjana dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kebijakan penal.

  b. Penelitian Lapangan (Field Research) Penelitian lapangan dilakukan untuk memperoleh data primer. Data ini diperoleh dengan menggunakan teknik wawancara (interviewguide).

  Wawancara dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu.

4. Analisis Data

   Keseluruhan data dalam penelitian ini dianalisis secara kualitatif.

  Analisis kualitatif ini akan dikemukakan dalam bentuk uraian yang sistematis dengan menjelaskan hubungan antara berbagai jenis data. Selanjutnya semua data

  

  diseleksi dan diolah, kemudian dianalisa secara deskriptif sehingga selain menggambarkan dan mengungkapkan, diharapkan akan memberikan solusi atas permasalahan dalam penelitian ini.

  40 Muslan Abdurrahman, Sosiologi dan Metode Penelitian Hukum, (Malang: UMM Press, 2009), hal. 121. 41 Zainuddin Ali, Op. Cit., hal. 107.

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TINDAK PIDANA NARKOTIKA

  A. Kajian Kriminologi Penyebab Terjadinya Kejahatan Kejahatan merupakan perbuatan anti-sosial yang secara sadar mendapat reaksi dari negara berupa pemberian derita, dan kemudian sebagai reaksi terhadap rumusan-

  

  rumusan hukum (legal definitions) mengenai kejahatan. Menurut Sue Titus Reid, bagi suatu perumusan hukum tentang kejahatan, maka hal-hal yang perlu diperhatikan

  

  yaitu:

  1. Kejahatan adalah suatu tindakan sengaja. Dalam pengertian ini seseorang tidak dapat dihukum hanya karena pikirannya, melainkan harus ada suatu tindakan atau kealpaan dalam bertindak. Kegagalan untuk bertindak dapat juga merupakan kejahatan, jika terdapat suatu kewajiban hukum untuk bertindak dalam kasus tertentu. Disamping itu pula, harus ada niat jahat;

  2. Merupakan pelanggaran hukum pidana;

  3. Yang dilakukan tanpa adanya suatu pembelaan atau pembenaran yang diakui secara hukum;

  4. Yang diberi sanksi oleh negara sebagai suatu kejahatan atau pelanggaran.

  Secara sosiologis, maka kejahatan merupakan suatu perikelakuan manusia yang diciptakan oleh sebagian warga-warga masyarakat yang mempunyai kekuasaan

  

  dan wewenang. Gejala yang dinamakan kejahatan pada dasarnya terjadi di dalam proses dimana ada interaksi sosial antara bagian-bagian dalam masyarakat yang mempunyai kewenangan untuk melakukan perumusan tentang kejahatan dengan 42 43 W.A. Bonger, Pengantar tentang Kriminologi, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1982), hal. 25.

  Sue Titus Reid dalam Soerjono Soekanto, Kriminologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Ghalia, 1981), hal. 22. 44 Ibid., hal. 27. adalah perilaku yang dilarang oleh negara karena merupakan perbuatan yang merugikan negara dan terhadap perbuatan itu negara bereaksi dengan hukuman sebagai upaya pamungkas.

  Pendapat tentang kejahatan di atas tertampung dalam suatu ilmu pengetahuan yang disebut kriminologi. Kriminologi merupakan cabang ilmu pengetahuan yang muncul abad ke-19 yang pada intinya merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari sebab musabab dari kejahatan.

  Kriminologi sebagai kumpulan ilmu pengetahuan tentang kejahatan yang bertujuan untuk memperoleh pengetahuan dan pengertian tentang gejala kejahatan dengan jalan mempelajari dan menganalisa secara ilmiah keterangan-keterangan, keseragaman-keseragaman, pola-pola dan faktor- faktor kausal yang berhubungan dengan kejahatan, pelaku kejahatan serta

   reaksi masyarakat terhadap keduanya.

  Sebab-sebab terjadinya kejahatan dalam kriminologi dikarenakan faktor- faktor biologis (kejahatan karena bakat yang diperoleh sejak lahir) dan faktor sosiologis (kejahatan karena pengaruh lingkungan masyarakat).

1. Teori yang Menjelaskan Kejahatan dari Perspektif Biologis

  

Cesare Lambroso (1835-1909) dengan bukunya yang berjudul L’huomo

delinquente (the criminal man) menyatakan bahwa penjahat mewakili suatu tipe

  keanehan/keganjilan fisik, yang berbeda dengan non-kriminal. Lambroso mengklaim bahwa para penjahat mewakili suatu bentuk kemerosotan yang termanifestasi dalam 45 Topo Santoso dan Eva Achjani Zulfa, Kriminologi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,

  

2007), hal. 10., obyek studi kriminologi melingkupi perbuatan yang disebut sebagai kejahatan, pelaku

kejahatan dan reaksi masyarakat yang ditujukan baik terhadap perbuatan maupun pelakunya.

Ketiganya ini tidak dapat dipisah-pisahkan. Suatu perbuatan baru dapat dikatakan sebagai kejahatan

bila ia mendapat reaksi dari masyarakat.

  

Lambrosotentang born criminal menyatakan bahwa para penjahat adalah suatu

  bentuk yang lebih rendah dalam kehidupan, lebih mendekati nenek moyang mereka yang mirip kera dalam hal sifat bawaan dan watak dibanding mereka yang bukan

  

  penjahat. Berdasarkan penelitiannya, Lombrosso mengklasifikasikan penjahat

  

  dalam 4 (empat) golongan, yaitu:

  a. Born criminal yaitu orang yang memang sejak lahir berbakat menjadi penjahat;

  b. Insane criminal yaitu orang-orang yang tergolong ke dalam kelompok idiot dan paranoid; c. Occasional criminal atau criminaloid yaitu pelaku kejahatan berdasarkan pengalaman yang terus menerus sehingga mempengaruhi pribadinya; d. Criminals of passion yaitu pelaku kejahatan yang melakukan tindakan karena marah, cinta atau karena kehormatan.

  Disamping teori biologi dari Lombrosso, terdapat beberapa teori lain yang

  

  menitikberatkan pada kondisi individu penjahat, antara lain:

  1. Teori Psikis, dimana sebab-sebab kejahatan dihubungkan dengan kondisi kejiwaan seseorang. Sarana yang digunakan adalah tes-tes mental seperti tes

  IQ.

  2. Teori yang menyatakan bahwa penjahat memiliki bakat yang diwariskan oleh orang tuanya. Pada mulanya amat mudah mendapati anak yang memiliki karakter seperti orang tuanya, namun ternyata hasil yang sama pun tidak 46 jarang ditemui pada anak-anak yang diadopsi atau anak-anak angkat. 47 Ibid., hal. 37. 48 Ibid., hal. 24.

  Ibid., hal. 25. intelejensia ataupun kekuatan mental pelaku, teori psikopati mencari sebab- sebab kejahatan dari kondisi jiwanya yang abnormal. Seorang penjahat di sini terkadang tidak memiliki kesadaran atas kejahatan yang telah diperbuatnya sebagai akibat gangguan jiwanya.

  4. Teori bahwa kejahatan sebagai gangguan kepribadian sempat digunakan di Amerika untuk menjelaskan beberapa perilaku yang dikategorikan sebagai

  crime without victim (kejahatan tanpa korban) seperti pemabuk, gelandangan, perjudian, prostitusi, penggunaan obat bius.

2. Teori yang Menjelaskan Kejahatan dari Perspektif Sosiologis

  Secara sosiologis kejahatan merupakan suatu perilaku manusia yang diciptakan oleh masyarakat. Ada hubungan timbal-balik antara faktor-faktor umum sosial politik-ekonomi dan bangunan kebudayaan dengan jumlah kejahatan dalam lingkungan itu baik dalam lingkungan kecil maupun besar. Teori-teori sosiologis mencari alasan-alasan perbedaan dalam hal angka kejahatan di dalam lingkungan sosial. Teori-teori ini dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori umum yaitu: strain,

   cultural deviance (penyimpangan budaya), social kontrol (kontrol sosial).

  Teori strain dan penyimpangan budaya memusatkan perhatian pada kekuatan- kekuatan sosial (social forces) yang menyebabkan orang melakukan aktivitas 49 Ibid., hal. 57. berdasarkan satu asumsi bahwa motivasi melakukan kejahatan merupakan bagian dari umat manusia. Teori kontrol sosial mengkaji kemampuan kelompok-kelompok dan lembaga-lembaga sosial membuat aturan-aturannya efektif.

  a. Teori Differential Association Teori yang dikemukakan oleh Edwin Sutherland ini pada dasarnya melandaskan diri pada proses belajar, ini tidak berarti bahwa hanya pergaulan dengan penjahat yang akan menyebabkan perilaku kriminal, akan tetapi yang terpenting adalah isi dari proses komunikasi dari orang lain. TeoriDifferential Association ini menekankan bahwa semua tingkah laku itu dipelajari, tidak ada yang diturunkan berdasarkan pewarisan orang tua. Tegasnya, pola perilaku jahat tidak diwariskan tapi dipelajari melalui suatu pergaulan yang akrab. Untuk itu, Edwin Sutherland kemudian menjelaskan proses terjadinya perilaku kejahatan melalui 9 (sembilan) proposisi

  

  sebagai berikut:

  1. Criminal behaviour is learned. Negatively, this means that criminal behaviour

  is not inherited. (Perilaku kejahatan adalah perilaku yang dipelajari secara negatif berarti perilaku itu tidak diwarisi).

  2. Criminal behaviour is learned in interaction with other persons in a process

  of communication.This communication is verbal in many respects but includes 50 also the communication of gesture (Perilaku kejahatan dipelajari dalam Paulus Hadisuprapto, Juvenile Delinquency, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1997), hal.

  20. tersebut terutama dapat bersifat lisan ataupun menggunakan bahasa isyarat).

  3. The principal part of the learning of criminal behaviour occurs within

  intimate personal groups. Negatively, this means that the interpersonal

agencies of communication, such as movies and newspaper, plays a relatively

unimportant part in the genesis of criminal behaviour (Bagian yang terpenting

  dalam proses mempelajari perilaku kejahatan ini terjadi dalam kelompok yang intim/dekat. Secara negatif ini berarti komunikasi yang bersifat tidak personal, seperti melalui film dan surat kabar secara relatif tidak mempunyai peranan penting dalam hal terjadinya kejahatan).

  4. When criminal behaviour is learned, the learning in cludes (a) techniques of

  

committing the crime, which are sometimes very complicated, sometimes very

simple. (b) the specific direction of motives, drives, rationalizations and attitudes. (ketika tingkah laku kejahatan dipelajari, maka yang dipelajari

  meliputi (a) teknik-teknik melakukan kejahatan, yang kadang sangat sulit , kadang sangat mudah, (b) arah khusus dari motif-motif, dorongan-dorongan, rasionalisasi-rasionalisasi dan sikap-sikap).

  5. The specific direction of motives and drives is learned from definitions of the

  

legal codes as favorable on unfavorable.In some societies an individual is

surrounded by person who invariably define the legal codes as rules to be

observed, while in others he is surrounded by person whose definitions are dipelajari melalui definisi-definisi dari peraturan hukum. Dalam suatu masyarakat kadang seseorang dikelilingi oleh orang-orang yang secara bersamaan melihat apa yang diatur dalam peraturan hukum sebagai sesuatu yang perlu diperhatikan dan dipatuhi, namun kadang ia dikelilingi oleh orang- orang yang melihat aturan hukum sebagai sesuatu yang memberi peluang dilakukannya kejahatan).

  6. A person becomes delinquent because of an excess of definitions favorable to

  violation of law definitions unfavorable to violation of law. (Seseorang

  menjadi delinkuen karena ekses dari pola-pola pikir yang lebih melihat aturan hukum sebagai pemberi peluang dilakukannya kejahatan daripada yang melihat hukum sebagai sesuatu yang harus diperhatikan dan dipatuhi).

  7. Differential association may vary in frequency, duration, priority and

  intensity. (Differensial association bervariasi dalam hal frekuensi, jangka waktu, prioritas serta intensitasnya).

  8. The process of learning criminal behaviour by association with criminal and

  

anti-criminal patterns involves all of the mechanisms that are involved in any

other learning. (Proses mempelajari perilaku kejahatan yang diperoleh

  melalui hubungan dengan pola-pola kejahatan dan anti kejahatan yang belajar pada umumnya).

  9. While criminal behaviour is an expression of general needs and values, it is

  not explained by those general needs and values since non-criminal behaviour is an expression of the same needs and values (Sementara perilaku kejahatan

  merupakan pernyataan kebutuhan dan nilai umum, akan tetapi hal tersebut tidak dijelaskan oleh kebutuhan dan nilai-nilai umum itu, sebab perilaku yang bukan kejahatan juga merupakan pernyataan dari kebutuhan-kebutuhan dan nilai-nilai yang sama).

  Dengan diajukannya teori ini, Sutherland ingin menjadikan pandangannya sebagai teori yang dapat menjelaskan sebab-sebab terjadinya kejahatan.

b. Teori Kontrol

  Teori kontrol sosial merujuk pada pembahasan kejahatan yang dikaitkan dengan variabel-variabel yang bersifat sosiologis, antara lain struktur keluarga, pendidikan, dan kelompok dominan. Pada dasarnya, teori kontrol berusaha mencari jawaban mengapa orang melakukan kejahatan. Berbeda dengan teori lain, teori kontrol tidak lagi mempertanyakan mengapa orang melakukan kejahatan tetapi berorientasi kepada pertanyaan mengapa tidak semua orang melanggar hukum atau mengapa orang taat kepada hukum. Ditinjau dari akibatnya, pemunculan teori kontrol disebabkan tiga ragam perkembangan dalam kriminologi. Pertama, adanya reaksi terhadap orientasi labeling dan konflik yang kembali menyelidiki tingkah laku

  “kriminologi baru” atau “new criminology” dan hendak kembali kepada subyek semula, yaitu penjahat (criminal). Kedua, munculnya studi tentang “criminal justice” dimana sebagai suatu ilmu baru telah mempengaruhi kriminologi menjadi lebih pragmatis dan berorientasi pada sistem. Ketiga, teori kontrol sosial telah dikaitkan dengan suatu teknik penelitian baru, khususnya bagi tingkah laku anak/remaja, yakni

  

selfreport survey. Teori kontrol dapat dibedakan menjadi dua macam kontrol, yaitu

personal control dan sosial control. Personal control adalah kemampuan seseorang

  untuk menahan diri agar tidak mencapai kebutuhannya dengan cara melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat. Sedangkan social control adalah kemampuan kelompok sosial atau lembaga-lembaga di masyarakat melaksanakan norma-norma atau peraturan-peraturan menjadi efektif.

  Kejahatan atau delinkuen dilakukan oleh keluarga, karena keluarga merupakan tempat terjadinya pembentukan kepribadian, internalisasi, orang belajar baik dan buruk dari keluarga. Apabila internal dan eksternal kontrol lemah, alternatif untuk mencapai tujuan terbatas, maka terjadilah delinkuen, hal ini merupakan sesuatu yang jarang terjadi. Manusia diberi kendali supaya tidak melakukan pelanggaran, karena itu proses sosialisasi yang adequat (memadai) akan mengurangi terjadinya delinkuensi. Sebab, di sinilah dilakukan proses pendidikan terhadap seseorang yang diajari untuk melakukan pengekangan keinginan (impulse). Di samping itu, faktor 51 Romli Atmasasmita, Teori dan Kapita Selekta Kriminologi, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2007), hal. 41.

   abiding).

  Teori kontrol atau sering juga disebut dengan Teori Kontrol Sosial berangkat dari suatu asumsi atau anggapan bahwa individu di masyarakat mempunyai kecenderungan yang sama kemungkinannya, menjadi “baik” atau “jahat”. Baik jahatnya seseorang sepenuhnya tergantung pada masyarakatnya. Ia menjadi baik kalau masyarakatnya membuatnya demikian, pun ia menjadi jahat apabila masyarakat membuatnya begitu. Pertanyaan dasar yang dilontarkan paham ini berkaitan dengan unsur-unsur pencegah yang mampu menangkal timbulnya perilaku delinkuen di

   kalangan anggota masyarakat, utamanya para remaja.

  Penyimpangan tingkah laku diakibatkan oleh tidak adanya keterikatan atau kurangnya keterikatan moral pelaku terhadap masyarakat. Menurut Travis Hirschi, terdapat empat elemen ikatan sosial (social bond) dalam setiap masyarakat. Pertama,

  

Attachment adalah kemampuan manusia untuk melibatkan dirinya terhadap orang

  lain. Attachment sering diartikan secara bebas dengan keterikatan. Ikatan pertama yaitu keterikatan dengan orang tua, keterikatan dengan sekolah (guru) dan keterikatan dengan teman sebaya dapat mencegah atau menghambat yang bersangkutan untuk melakukan kejahatan. Kedua, Commitment adalah keterikatan seseorang pada subsistem konvensional seperti sekolah, pekerjaan, organisasi dan sebagainya. Komitmen merupakan aspek rasional yang ada dalam ikatan sosial. Segala kegiatan 52 53 Ibid., hal. 42.

  Paulus Hadisuprapto, Op. Cit., hal. 31. mendatangkan manfaat bagi orang tersebut. Manfaat tersebut dapat berupa harta benda, reputasi, masa depan, dan sebagainya. Ketiga,Involvement merupakan aktivitas seseorang dalam subsistem. Jika seseorang berperan aktif dalam organisasi maka kecil kecenderungannya untuk melakukan penyimpangan. Dengan demikian, segala aktivitas yang dapat memberi manfaat akan mencegah orang itu melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum. Keempat, Belief merupakan aspek moral yang terdapat dalam ikatan sosial dan tentunya berbeda dengan ketiga aspek di atas.

  

Belief merupakan kepercayaan seseorang pada nilai-nilai moral yang ada.

  Kepercayaan seseorang terhadap norma-norma yang ada menimbulkan kepatuhan terhadap norma tersebut. Kepatuhan terhadap norma tersebut tentunya akan mengurangi hasrat untuk melanggar. Tetapi, bila orang tidak mematuhi norma-norma maka lebih besar kemungkinan melakukan pelanggaran. Keempat unsur ini sangat mempengaruhi ikatan sosial antara seorang individu dengan lingkungan masyarakatnya.

B. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Tindak Pidana Narkotika

1. Faktor Internal Pelaku

  Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu yang meliputi kejiwaan seseorang. Ada berbagai macam penyebab kejiwaan yang dapat

  

  internal itu antara lain: a. Perasaan Egois.

  Merupakan sifat yang dimiliki oleh setiap orang. Sifat ini seringkali mendominir seseorang tanpa sadar, demikian juga bagi orang yang berhubungan dengan narkotika/para pengguna dan pengedar narkotika. Pada suatu ketika rasa egoisnya dapat mendorong untuk memiliki dan atau menikmati secara penuh apa yang mungkin dapat dihasilkan dari narkotika.

  b. Kehendak Ingin Bebas Sifat ini merupakan suatu sifat dasar yang dimiliki manusia. Sementara dalam tata pergaulan masyarakat banyak, norma-norma yang membatasi kehendak bebas tersebut. Kehendak ingin bebas ini muncul dan terwujud ke dalam perilaku setiap kali seseorang dihimpit beban pemikiran maupun perasaan.

  Dalam hal ini, seseorang yang sedang dalam himpitan tersebut melakukan interaksi dengan orang lain sehubungan dengan narkotika, maka dengan sangat mudah orang tersebut akan terjerumus pada tindak pidana narkotika.

  c. Kegoncangan Jiwa.

  Hal ini pada umumnya terjadi karena salah satu sebab yang secara kejiwaan hal tersebut tidak mampu dihadapi atau diatasinya. Dalam keadaan jiwa yang

54 Moh. Taufik Makarao, Op. Cit., hal. 53.

  narkotika maka ia akan dengan mudah terlibat tindak pidana narkotika.

  d. Rasa Keingintahuan.

  Perasaan ini pada umumnya lebih dominan pada manusia yang usianya masih muda, perasaan ingin ini tidak terbatas pada hal-hal yang positif, tetapi juga kepada hal-hal yang sifatnya negatif. Rasa ingin tahu tentang narkotika ini juga dapat mendorong seseorang melakukan perbuatan yang tergolong dalam tindak pidana narkotika.

2. Faktor Eksternal Pelaku

  Faktor-faktor yang datang dari luar ini banyak sekali, diantaranya yang paling

  

  penting adalah sebagai berikut: a. Keadaan ekonomi.

  Keadaan ekonomi pada dasarnya dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu keadaan ekonomi yang baik dan keadaan ekonomi yang kurang atau miskin. Pada keadaan ekonomi yang baik maka orang-orang dapat mencapai atau memenuhi kebutuhannya dengan mudah. Demikian juga sebaliknya, apabila keadaan ekonomi kurang baik maka pemenuhan kebutuhan sangat sulit adanya, karena itu orang-orang akan berusaha untuk 55 dapat keluar dari himpitan ekonomi tersebut. Dalam hubungannya dengan Ibid., hal. 55. yang baik dapat mempercepat keinginan-keinginan untuk mengetahui, menikmati tentang narkotika. Sedangkan bagi yang keadaan ekonominya sulit dapat juga melakukan hal tersebut, tetapi kemungkinannya lebih kecil daripada mereka yang ekonominya cukup.

  b. Pergaulan/Lingkungan.

  Pergaulan ini pada pokoknya terdiri dari pergaulan/lingkungan tempat tinggal, lingkungan sekolah atau tempat kerja dan lingkungan pergaulan lainnya. Ketiga lingkungan tersebut dapat memberikan pengaruh negatif terhadap seseorang, artinya akibat yang ditimbulkan oleh interaksi dengan lingkungan tersebut seseorang dapat melakukan perbuatan yang baik dan dapat pula sebaliknya. Apabila di lingkungan tersebut narkotika dapat diperoleh dengan mudah, maka dengan sendirinya kecenderungan melakukan tindak pidana narkotika semakin besar adanya.

  c. Kemudahan Kemudahan disini dimaksudkan dengan semakin banyaknya beredar jenis- jenis narkotika di pasar gelap maka akan semakin besarlah peluang terjadinya tindak pidana narkotika.

  d. Kurangnya Pengawasan narkotika, penggunaan, dan peredarannya. Jadi tidak hanya mencakup pengawasan yang dilakukan pemerintah, tetapi juga pengawasan oleh masyarakat. Pemerintah memegang peranan penting membatasi mata rantai peredaran, produksi, dan pemakaian narkotika. Dalam hal kurangnya pengawasan ini, maka pasar gelap, produksi gelap, dan populasi pecandu narkotika akan semakin meningkat. Pada gilirannya, keadaan semacam itu sulit untuk dikendalikan. Di sisi lain, keluarga merupakan inti dari masyarakat seyogyanya dapat melakukan pengawasan intensif terhadap anggota keluarganya untuk tidak terlibat perbuatan yang tergolong pada tindak pidana narkotika. Dalam hal kurangnya pengawasan seperti dimaksudkan diatas, maka tindak pidana narkotika bukan merupakan perbuatan yang sulit untuk dilakukan.

  e. Ketidaksenangan dengan keadaan sosial.

  Bagi seseorang yang terhimpit oleh keadaan sosial maka narkotika dapat menjadikan sarana untuk melepaskan diri dari himpitan tersebut, meskipun sifatnya hanya sementara. Tapi bagi orang-orang tertentu yang memiliki wawasan, uang, tidak saja dapat menggunakan narkotika sebagai alat melepaskan diri dari himpitan keadaan sosial, tetapi lebih jauh dapat dijadikan alat bagi pencapaian tujuan-tujuan tertentu. tindak pidana narkotika, tetapi dapat juga merupakan kejadian yang disebabkan karena kedua faktor tersebut saling mempengaruhi secara bersama.

  Menurut hasil penelitian yang dilakukan pada bulan Juni 2011 dengan 10 informan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Tanjung Gusta Medan, disimpulkan faktor penyebab mereka melakukan tindak pidana narkotika diantaranya adalah:

  1) Faktor Ekonomi Keadaan ekonomi yang sulit, menyebabkan seseorang melakukan tindak pidana narkotika. Untuk memenuhi kebutuhan ekonominya, seseorang rela menjadi pengedar narkotika untuk mencari nafkah tanpa mampu mencari alternatif lain selain menjadi pengedar narkotika. Karena keadaan ekonomi kurang baik maka pemenuhan kebutuhan sangat sulit adanya, karena itu orang-orang akan berusaha untuk dapat keluar dari himpitan ekonomi tersebut dengan cara mengedarkan narkotika. Dikarenakan dengan menjual narkotika keuntungan yang didapat sangat besar sekali.

  2) Rasa Keingintahuan.

  Perasaan ini pada umumnya lebih dominan pada manusia yang usianya masih muda, perasaan ingin ini tidak terbatas pada hal-hal yang positif, tetapi juga kepada hal-hal yang sifatnya negatif. Rasa ingin tahu tentang narkotika ini tindak pidana narkotika. 3) Pergaulan/Lingkungan.

  Pergaulan ini pada pokoknya terdiri dari pergaulan/lingkungan tempat tinggal, lingkungan sekolah atau tempat kerja dan lingkungan pergaulan lainnya.

  Ketiga lingkungan tersebut dapat memberikan pengaruh negatif terhadap seseorang, artinya akibat yang ditimbulkan oleh interaksi dengan lingkungan tersebut seseorang dapat melakukan perbuatan yang baik dan dapat pula sebaliknya. Apabila di lingkungan tersebut narkotika dapat diperoleh dengan mudah, maka dengan sendirinya kecenderungan melakukan tindak pidana narkotika semakin besar adanya.

  4) Faktor keluarga Didikan keluarga yang terlalu keras dapat menyebabkan seseorang menyalahgunakan narkotika, terlebih lagi tidak adanya kasih sayang yang didapat di dalam keluarga akan menyebabkan seseorang menyalahgunakan narkotika untuk mendapatkan kenikmatan sesaat.

  Menurut 10 (sepuluh) informan dari Lapas Tanjung Gusta Medan, maka 6 (enam) orang informan menyatakan faktor melakukan tindak pidana narkotika dikarenakan faktor ekonomi yang sulit dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari yang menyebabkan napi tersebut menjual narkotika dengan mendapatkan keuntungan yang lebih besar, selain itu 2 (dua) orang informan menyatakan melakukan tindak pidana dan kurangnya kasih sayang yang didapatkannya sehingga untuk mendapatkan kesenangan napi tersebut melakukan tindak pidana narkotika, serta 2 (dua) orang informan lainnya menyatakan melakukan tindak pidana narkotika dikarena rasa keingintahuan/coba-coba dalam memakai narkotika, dari rasa coba-coba napi tersebut menjadi pecandu dikarenakan untuk mendapatkan inspirasi dalam membuat lagu. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa dalam teori Sutherland yang dikenal dengan Differential Association menyatakan bahwa perilaku termasuk perilaku jahat merupakan suatu perbuatan dari proses belajar. Berdasarkan faktor-faktor dominan yang menyebabkan penyalahgunaan narkotika dapat diketahui bahwa faktor ekonomi yang sulit menyebabkan seseorang melakukan tindak pidana narkotika.

  Salah satu penghuni Lapas Tanjung Gusta mengaku bahwa alasannya melakukan tindak pidana narkotika karena faktor keuntungan. Menjual narkotika mendapatkan keuntungan yang besar, dikarenakan harga membeli narkotika lebih murah bila dibandingkan dengan harga menjual narkotika yang sangat tinggi,

  

  sehingga bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Pendapat yang sama juga dikemukakan penghuni lapas yang lain, napi tersebut melakukan tindak pidana narkotika dikarenakan faktor ekonomi yang sulit. Napi tersebut melakukan tindak pidana narkotika, dikarenakan hasil dagangannya dalam menjual sayur-mayur mengalami kerugian, sehingga keadaan ekonominya tidak baik, untuk mendapatkan 56 Wawancara dengan Napi A berusia 42 Tahun Penghuni Lapas Tanjung Gusta Medan, tanggal 15 Juni 2011.

   keuntungan yang lebih besar bila dibandingkan dengan pekerjaan sebelumnya.

  Pendapat berbeda juga dikemukakan salah seorang napi, yang menyalahgunakan narkotika karena rasa keingintahuan atau coba-coba untuk menggunakan narkotika. Memakai narkotika dapat meningkatkan aktivitas dalam membuat lagu, karena dengan menggunakan narkotika maka napi tersebut

  

  mendapatkan inspirasi dalam membuat lagu. Lain halnya dengan napi B, yang menyebabkan napi tersebut melakukan tindak pidana narkotika karena faktor keluarga. Didikan keluarga yang terlalu keras dan kurangnya kasih sayang,

   menyebabkan napi tersebut melakukan tindak pidana narkotika.

  Berdasarkan hasil wawancara dengan 3 orang Polisi yang berada di Polda Sumut mengenai faktor-faktor penyebab tindak pidana narkotika yaitu karena banyaknya pengangguran, rasa keingintahuan mencoba narkotika dan faktor keuntungan yang didapat sangat besar. Menurut Kepolisian faktor yang paling dominan penyebab tindak pidana narkotika adalah banyaknya pengangguran. Akibat banyaknya pengangguran, maka tindak pidana narkotika semakin marak, dikarenakan selain tidak adanya pekerjaan yang tetap, keuntungan yang didapat sangat besar,

  57 Wawancara dengan Napi Y berusia 40 Tahun Penghuni Lapas Tanjung Gusta Medan, tanggal 15 Juni 2011. 58 Wawancara dengan Napi R berusia 35 Tahun Penghuni Lapas Tanjung Gusta Medan, tanggal 15 Juni 2011. 59 Wawancara dengan Napi B berusia 27 Tahun Penghuni Lapas Tanjung Gusta Medan, tanggal 15 Juni 2011. walaupun dengan cara melawan hukum.

   Menurut Graham Blaine seorang psikiater, sebab-sebab penyalahgunaan

  narkotika adalah sebagai berikut:

  

  a. Untuk membuktikan keberanian dalam melakukan tindakan-tindakan yang berbahaya dan mempunyai resiko; b. Untuk menantang suatu otoritas terhadap orangtua, guru, hukum atau instansi berwenang; c. Untuk mempermudah penyaluran dan perbuatan seksual;

  d. Untuk melepaskan diri dari rasa kesepian dan ingin memperoleh pengalaman-pengalaman emosional; e. Untuk berusaha agar dapat menemukan arti hidup;

  f. Untuk mengisi kekosongan dan mengisi perasaan bosan, karena kurang kesibukan; g. Untuk menghilangkan rasa frustasi dan kegelisahan yang disebabkan oleh problema yang tidak bisa diatasi dan jalan pikiran yang buntu, terutama bagi mereka yang mempunyai kepribadian yang tidak harmonis;

  h. Untuk mengikuti kemauan kawan dan untuk memupuk solidaritas dengan kawan-kawan; i. Karena didorong rasa ingin tahu (curiosty) dan karena iseng (just for kicks).

  Penyebab penggunaan narkotika secara tidak legal yang dilakukan oleh para remaja dapatlah dikelompokkan tiga keinginan yaitu:

  

  1) Mereka yang ingin mengalami (the experience seekers) yaitu ingin memperoleh pengalaman baru dan sensasi dari akibat pemakaian narkotika; 2) Mereka yang bermaksud menjauhi atau mengelakkan realita hidup (the

  oblivion seekers) yaitu mereka yang menganggap keadaan terbius sebagai

  tempat pelarian terindah dan ternyaman; 3) Mereka yang ingin merubah kepribadiannya (personality change) yaitu mereka yang beranggapan menggunakan narkotika dapat merubah kepribadian, seperti menjadi tidak kaku dalam pergaulan. 60 Wawancara dengan anggota Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Medan) dengan jumlah informan sebanyak 3 orang Polisi, tanggal 23 Mei 2011. 61 Hari Sasangka, Loc. Cit. 62 Soedjono Dirdjosisworo, Loc. Cit.

  

  narkotika dengan sebab-sebab antara lain sebagai berikut:

  a) Menghilangkan rasa sakit dari penyakit kronis;

  b) Menjadi kebiasaan (akibat penyembuhan dan menghilangkan rasa sakit);

  c) Pelarian dari frustasi;

  d) Meningkatkan kesanggupan untuk berprestasi (biasanya sebagai zat perangsang).

C. Bahaya dan Akibat Penyalahgunaan Narkotika

  Bahaya dan akibat dari penyalahgunaan narkotika dapat bersifat pribadi bagi si pemakai dan dapat pula berupa bahaya sosial terhadap masyarakat atau lingkungan.

  Yang bersifat pribadi dapat dibedakan menjadi 2 (dua) sifat, yaitu secara khusus dan umum, secara umum dapat menimbulkan pengaruh dan efek-efek terhadap tubuh si

  

  pemakai sebagai berikut:

  1. Euphoria yaitu suatu rangsangan kegembiraan yang tidak sesuai dengan kenyataan dan kondisi badan si pemakai (biasanya efek ini masih dalam penggunaan narkotika dalam dosis yang tidak begitu banyak).

  2. Dellirium yaitu keadaan dimana pemakai narkotika mengalami menurunnya kesadaran dan timbulnya kegelisahan yang dapat menimbulkan gangguan terhadap gerakan anggota tubuh si pemakai (biasanya pemakaian dosis lebih banyak daripada keadaan euphoria).

  3. Halusinasi adalah suatu keadaan dimana si pemakai narkotika mengalami khayalan, misalnya melihat, mendengar yang tidak ada pada kenyataannya.

  4. Weakness adalah kelemahan yang dialami fisik atau psikis. 63 64 Hari Sasangka., Op. Cit., hal. 7.

  Moh. Taufik Makaro, Op. Cit., hal. 49. mengantuk.

  6. Coma adalah keadaan si pemakai narkotika sampai pada puncak kemerosotan yang akhirnya dapat membawa kematian.

   Bahaya penyalahgunaan narkotika terhadap kesehatan fisik yaitu:

  1. Gangguan mental organik yang terjadi sebagai efek dan akibat langsung zat terhadap susunan syaraf pusat, seperti: intoksikasi (teler), yaitu perusakan mental dan perilaku yang terjadi karena dosis berlebihan; gejala putus narkotika (sadar), yaitu gejala yang spesifik terjadi setelah menghentikan atau mengurangi narkotika; gejala yang sangat tergantung dari narkotika yang digunakan, misal menderita sakit pada sendi-sendi, berkeringat, diare, merinding, selalu menguap, sulit tidur, hidung dan mata keluar serta depresi.

  2. Menimbulkan komplikasi pada seluruh sistem tubuh, yaitu sistem pernafasan terganggu, infeksi pada jantung, hepatitis, HIV/AIDS, impotensi (pada pria), kelainan kulit (pada bekas suntikan), kelainan dalam kehamilan (khusus perempuan).

  Gangguan kesehatan tersebut tidak tampak secara tiba-tiba, awal menggunakan narkotika akan terasa nyaman dan ingin selalu mengulang pemakaian narkotika. Hal ini tergolong kecanduan, semula dosis yang digunakan rendah, dalam pengulangan dosis yang digunakan dinaikkan, disinilah syaraf dudah mulai terserang

65 Chulaifah, Sejarah Penyalahgunaan Napza, Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial, Vol. 34 No. 1 Maret 2010, hal. 84.

  jantung, paru-paru dan ginjal.

  Bahaya dan akibat secara khusus terhadap si pemakai, yakni yang menyangkut langsung terhadap penyalahgunaan narkotika itu sendiri, dapat menimbulkan efek-efek pada tubuh sebagai berikut:

  1. Ganja Bahaya dan akibat dari penyalahgunaan ganja akan memperlihatkan perubahan-perubahan mental dan perilaku sebagai berikut:

  1) Gejala Psikologik a) Euphoria yaitu rasa gembira tanpa sebab dan tidak wajar.

  b) Halusinasi adalah pengalaman panca indera tanpa adanya sumber stimulus (rangsangan) yang menimbulkannya, misalnya seseorang mendengar suara-suara padahal sebenarnya tidak ada sumber suara, itu berasal dari halusinasi pendengaran. Delusi adalah suatu keyakinan yang tidak rasional, walaupun telah diberikan bukti bahwa pikiran itu tidak rasional, yang bersangkutan tetap meyakininya, misalnya yang bersangkutan yakin benar bahwa ada orang yang akan berbuat jahat kepadanya, padahal dalam kenyataannya tidak ada orang yang dimaksud

   (delusi paranoid).

  c) Perasaan waktu berlalu dengan lambat, misalnya 10 menit dapat 66 dirasakan 1 jam.

  Mardani, Op. Cit, hal. 41. fungsinya sebagai makhluk sosial (apatis).

  e) Mempengaruhi perkembangan kepribadian. Daya tahan menghadapi problema kehidupan jadi lemah, malas, apatis, tidak peduli, kehilangan keinginan untuk belajar.

  f) Ada kecenderungan untuk menyalahgunakan obat-obat berbahaya lain yang lebih kuat potensinya, misalnya morfin, heroin.

  2) Gejala Fisik

  a) Mata merah, jantung berdebar, nafsu makan bertambah, mulut kering, perilaku maladaptif (sukar beradaptasi); b) Iritasi/gangguan pada saluran pernafasan;

  c) Bila terkena radang dapat terjadi bronchitis;

  d) Timbulnya ataxia yaitu hilangnya koordinasi kerja otot dengan syaraf sentral; e) Hilangnya atau kurangnya kedipan mata;

  f) Gerak refleks tertentu;

  g) Menyebabkan kadar gula darah naik turun; h) Mata menyala.

  Bahaya dan akibat dari penyalahgunaan opiat, baik yang dibakar atau disuntikkan setelah opiat dilarutkan dalam air, akan mengalami hal-hal sebagai berikut:

  

  a) Melebar atau mengecilnya pupil mata pada keadaan tidak semestinya;

  b) Euphoria (gembira berlebihan) atau disforia (cenderung merasa sedih dan lesu tak berdaya); c) Apatis;

  d) Retradasi psikomotorik, merasa lesu dan kehilangan tenaga sehingga terkesan malas; e) Pembicaraan cadel;

  f) Gangguan konsentrasi, apabila diajak bicara tidak nyambung;

  g) Daya ingat menurun;

  h) Tingkah laku maladaptif, yang bersangkutan sering berperilaku menunjukkan rasa kecurigaan, sehingga selalu berada dalam keadaan waspada, selalu membawa senjata. Penyalahgunaan opiat ini bila pemakaiannya dihentikan maka akan menimbulkan sakaw dan sangat menyiksa. Sindrom putus opiat merupakan gejala yang tidak mengenakkan, baik psikis maupun fisik. Apabila pemakaian opiat dalam 67 Moh. Taufik Makaro, Op. Cit., hal. 50. kematian yang diakibatkan overdosis dengan akibat berupa komplikasi medik, yaitu oedema (pembengkakan) paru akut sehingga pernafasan berhenti.

  3. Kokain Bahaya dan akibat dari penyalahgunaan kokain dengan cara dihirup (bubuk kokain disedot/dihirup melalui hidung) akan mengalami gangguan mental dan

  

  perilaku sebagai berikut: 1) Agitasi psikomotorik, yaitu menunjukkan kegelisahan dan tidak tenang; 2) Rasa gembira yang berlebihan; 3) Rasa harga diri yang meningkat, merasa dirinya hebat sehingga meremehkan masalah yang dihadapi; 4) Kewaspadaan meningkat merasa dirinya tidak aman dan terancam; 5) Jantung berdebar-debar; 6) Pupil mata melebar; 7) Tekanan darah naik;

  Penyalahgunaan kokain bila dihentikan akan menimbulkan depresi, rasa lelah, lesu, gangguan tidur dan akan sangat menyiksa sehingga pemakai akan berusaha untuk menggunakan dengan berbagai cara, dan takaran semakin bertambah serta 68 Ibid., hal. 51. gangguan jiwa, seperti halusinasi dan delusi, sehingga timbul gangguan dalam fungsi sosial atau pekerjaan misalnya perkelahian, kehilangan teman, tidak masuk sekolah atau kerja.

  4. Amphetamine (ekstasi, shabu-shabu) Bahaya dan akibat dari penyalahgunaan amphetamine (ekstasi, shabu-shabu)

  

  akan menimbulkan gejala-gejala sebagai berikut: 1) Gejala psikologis: tingkah laku yang kasar dan aneh seperti rasa gembira yang berlebihan, harga diri yang meningkat, banyak bicara, kewaspadaan meningkat, halusinasi penglihatan, gangguan delusi, tingkah laku maladaptif.

  2) Gejala fisik: jantung berdebar, pupil mata melebar, tekanan darah naik, keringat berlebihan, mual, muntah.

  Sindrom putus amphetamine atau gejala ketagihan yaitu murung, sedih, tidak dapat merasakan senang atau keinginan bunuh diri, rasa lelah, lesu. Kematian sering kali terjadi karena overdosis yang disebabkan rangsangan susunan saraf otak yang berlebihan sehingga menyebabkan kejang dan kehilangan kesadaran dan akhirnya meninggal.

  Akibat lain yang ditimbulkan bagi para penyalahguna nakotika yang sudah akut atau kecanduan, antara lain: Merusak susunan syaraf pusat atau merusak organ- organ tubuh lainnya, seperti hati dan ginjal serta menimbulkan penyakit lain dalam 69 Djoko Prakoso, Kejahatan-Kejahatan yang Merugikan dan Membahayakan Negara, (Jakarta: PT. Bina Aksara, 1987), hal. 494.

  

  melemahnya fisik, daya fikir dan merosotnya moral yang cenderung melakukan perbuatan penyimpangan sosial dalam masyarakat. Dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan penggunaan narkotika akibat ketergantungannya, mereka dapat menghalalkan segala cara demi memperoleh narkotika. Awalnya mengambil dan menjual barang-barang milik pribadi, kemudian terus meningkat dengan mengambil barang-barang milik keluarganya dan kemudian pada gilirannya melakukan tindak pidana baik berupa pencurian, perampokan, dan lain-lainnya sekedar untuk membeli narkotika.

  Akibat buruk lainnya dari penyalahgunaan narkotika meliputi sebagai berikut:

   1. Kematian.

  Kematian terhadap penyalahgunaan narkotika dapat terjadi karena overdosis ataupun karena kecelakaan akibat pengaruh narkotika yang disalahgunakan.

  2. Timbulnya penyakit baru.

  Pemakaian obat suntik secara bergantian dalam penggunaan narkotika telah membuat pemakainya berpotensi tinggi terkena penyakit AIDS dan Hepatitis C, yang kedua penyakit itu belum ditemukan obatnya.

  3. Dampak buruk bagi keluarga.

  70 Ibid 71 Mardani, Op. Cit., 45. suasana keluarga berubah menjadi tegang dan serba tidak senang. Suasana yang tegang dan tidak senang ini membuat keharmonisan keluarga terganggu, seperti saling menyalahkan antara ayah dan ibu, harus menanggung aib keluarga, etika dan sopan santun penderita yang tidak terpuji dan kehabisan harta benda karena ditukar dengan narkotika.

  4. Dampak buruk bagi masyarakat.

  Akibat buruk penyalahgunaan narkotika secara fisik dan mental bagi setiap individu pemakai akan berimbas pada kehidupan masyarakat lingkungannya, karena individu-individu tersebut merupakan anggota kecil dari masyarakat. Beberapa tindakan pemakai/penderita dapat mempengaruhi sendi-sendi kehidupan masyarakat, karena yang bersangkutan bisa nekad melakukan pencurian demi mendapatkan narkotika, sehingga dapat menimbulkan keresahan masyarakat lingkungannya. Si pemakai biasanya juga terjerumus dalam kehidupan free sex (seks bebas) yang tidak sesuai dengan tata krama dan adat istiadat masyarakat yang menyucikan suatu pernikahan. Dampak lingkungan adalah timbulnya gangguan ketertiban dan keamanan masyarakat, misalnya menjalankan kendaraan dengan kecepatan tinggi dan melakukan kejahatan di bawah pengaruh narkotika.

  5. Dampak buruk bagi bangsa dan negara membahayakan bangsa dan negara. Bahaya yang ditimbulkan sebagai ancaman bagi bangsa dan negara di masa depan, antara lain menurunnya kualitas sumber daya manusia, sehingga dapat membuat bangsa ini menjadi bangsa yang terbelakang, hilangnya rasa patriotismedan nasionalisme di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda, yang pada gilirannya akan mudah dimanfaatkan demi kepentingan pihak-pihak tertentu yang akan menjadi ancaman terhadap ketahanan dan stabilitas nasional.

  

KEBIJAKAN PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP TINDAK

PIDANA NARKOTIKA

A. Pengaturan Hukum Pidana Terhadap Tindak Pidana Narkotika

  Sebelum dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, ketentuan pidana terhadap tindak pidana narkotika diatur di dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997. Tindak pidana Narkotika tidak lagi dilakukan secara perseorangan, melainkan melibatkan banyak orang yang secara bersama-sama, bahkan merupakan satu sindikat yang terorganisasi dengan jaringan yang luas yang bekerja secara rapi dan sangat rahasia baik di tingkat nasional maupun internasional. Berdasarkan hal tersebut guna peningkatan upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana Narkotika perlu dilakukan pembaruan terhadap Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika, maka dibentuklah undang-undang narkotika yang baru yaitu Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Perbedaan antara Undang-Undang Nomor 22 tahun 1997 dengan Undang- Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika yaitu:

  1. Perluasan Jenis dan Golongan Undang-Undang mengenai narkotika sebelum UU No 35 tahun 2009 ini disahkan, Negara kita mengacu pada UU No 22 tahun 1997 tentang Narkotika dan

  UU No 5 tahun 1997 tentang Psikotropika. Pada undang-undang terdahulu, jenis golongan untuk masing-masing Narkotika dan Psikotropika dipisahkan secara jelas melalui lampiran jenis golongan di tiap-tiap undang-undang. Hal ini diatur pada pasal golongannya. Pada lampiran UU No 22 tahun 1997 dinyatakan bahwa Narkotika Golongan I terdiri dari 26 jenis narkotika, sedangkan pada UU No 35 tahun 2009 tentang Narkotika pada bagian lampirannya terdapat 65 jenis narkotika golongan I.

  Penambahan pada jenis Narkotika Golongan I ini dikarenakan digabungkannya jenis Psikotropika Golongan I dan II kedalam kategori Narkotika Golongan I. Jenis Psikotropika Golongan I dan II yang paling banyak diminati oleh para pecandu narkoba adalah jenis shabu dan ekstasi. Hal ini diperkuat dalam pasal 153 point b yang menyatakan bahwa Lampiran mengenai jenis Psikotropika Golongan I dan Golongan II sebagaimana tercantum dalam Lampiran Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3671) yang telah dipindahkan menjadi Narkotika Golongan I menurut Undang-Undang ini, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Hal ini dimungkinkan karena maraknya penggunaan shabu dan ekstasi dikalangan masyarakat Indonesia, sehingga secara serta merta ancaman pidana yang mengatur mengenai penggunaan shabu dan ekstasi pada jenis Narkotika Golongan I semakin bertambah berat dengan keluarnya UU No 35 tahun 2009 ini.

  2. Pengobatan dan Rehabilitasi Dalam hal pengobatan, UU No 35 tahun 2009 secara tegas menyatakan bahwa untuk kepentingan pengobatan dan indikasi medis jenis narkotika yang dapat dimiliki, disimpan atau dibawa hanyalah jenis narkotika Golongan II dan Golongan

  III saja. Kemudian UU No 35 tahun 2009 juga menyatakan bahwa pihak yang wajib seperti pada UU No 22 tahun 1997 namun juga terhadap korban penyalahgunaan. Kemudian pada pasal 55 ayat (2) dikatakan bahwa Pecandu Narkotika yang sudah cukup umur wajib melaporkan diri atau dilaporkan oleh keluarganya kepada pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit, dan/atau lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial yang ditunjuk oleh Pemerintah untuk mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.

  3. Pencegahan dan Pemberantasan Rangka mencegah dan memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap

  Narkotika yang dilakukan secara terorganisasi dan memiliki jaringan yang luas melampaui batas negara, dalam Undang-Undang ini diatur mengenai kerja sama, baik bilateral, regional, maupun internasional. Kemudian dalam undang-undang terbaru ini juga mengatur mengenai Badan Narkotika Nasional, dimana pada pasal 64 ayat (1) dikatakan bahwa dalam rangka pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika, dengan Undang-Undang ini dibentuk Badan Narkotika Nasional, yang selanjutnya disingkat BNN. Tidak hanya itu, undang-undang ini juga mengatur mengenai kewenangan dan kedudukan BNN sampai dengan di tingkat daerah, hal ini tidak tercantum pada UU No 22 tahun 1997 .

  4. Penyidikan Pada UU No 22 tahun 1997 peranan Badan Narkotika Nasional tidak diatur dalam perundang-undangan tentang narkotika. Pada UU No 35 tahun 2009, secara jelas peranan dan kewenangan dari BNN sebagai badan Nasional diatur sedemikian penyidikan hanya dilakukan Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia dan PPNS sesuai pasal 65, sedangkan pada undang-undang terbaru dikatakan pada pasal 81 bahwa Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia dan penyidik BNN berwenang melakukan penyidikan terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika berdasarkan Undang-Undang ini, ditambah dengan PPNS tertentu. Untuk mencegah dan memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika, dalam Undang-Undang ini juga diatur mengenai perluasan teknik penyidikan penyadapan (wiretapping), teknik pembelian terselubung (under cover buy), dan teknik penyerahan yang diawasi (controlled delevery), serta teknik penyidikan lainnya guna melacak dan mengungkap penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika. Selanjutnya, tehnik penyidikan ini juga membuka peluang terhadap perluasan alat bukti elektronik sebagaimana yang tercantum dalam pasal 86 ayat (2) yang menyatakan bahwa alat bukti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:

  a. informasi yang diucapkan, dikirimkan, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu; dan b. data rekaman atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar, yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik apa pun selain kertas maupun yang terekam secara elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada: 1) tulisan, suara, dan/atau gambar; 2) peta, rancangan, foto atau sejenisnya; atau dapat dipahami oleh orang yang mampu membaca atau memahaminya. Perluasan terhadap alat bukti khususnya yang menyangkut alat bukti elektronik ini memang sangat dibutuhkan, hal ini mengingat sebagai salah satu tindak kejahatan, peredaran narkotika merupakan jenis kejahatan dalam bentuk jaringan dimana antara para pelaku sering tidak bertemu secara face to face bahkan nyaris tidak saling mengenal satu dengan yang lain, dan komunikasi diantara para pelaku menggunakan media alat komunikasi elektronik seperti handphone maupun media chatting.

  Kemudian dalam hal lamanya waktu penangkapan, UU No 22 tahun 1997 hanya memberikan waktu 24 jam dalam menangkap di ikuti perpanjangan selama 48 jam apabila dalam pemeriksaan waktu tersebut tidak mencukupi yang diatur dalam

  pasal 67. Pada Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009, penangkapan dapat dilakukan selama 3 x 24 jam kemudian dapat diperpanjang 3 x 24 jam lagi apabila pemeriksaan dirasa belum mencukupi. Begitu pula dalam hal penyadapan, pada UU No 22 tahun 1997 waktu penyadapan hanya selama 30 hari diatur dalam pasal 66, namun pada undang-undang terbaru penyadapan terkait peredaran narkotika ini diperpanjang menjadi 3 bulan (90 hari), hal ini diatur pada pasal 77 ayat (1) yang menyatakan bahwa Penyadapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 huruf i dilaksanakan setelah terdapat bukti permulaan yang cukup dan dilakukan paling lama 3 (tiga) bulan terhitung sejak surat penyadapan diterima penyidik.

  Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 diatur juga peran serta masyarakat dalam usaha pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan Narkotika termasuk pemberian penghargaan bagi anggota masyarakat yang berjasa dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan Narkotika. Penghargaan tersebut diberikan kepada penegak hukum dan masyarakat yang telah berjasa dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika. Pada pasal 105 dinyatakan bahwa masyarakat mempunyai hak dan tanggung jawab dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika. Berbeda dengan undang-undang sebelumnya dimana peran masyarakat hanya sebatas pada kewajiban semata. Perluasan makna hak dan kewajiban disini memberikan pertanggung jawaban dua arah antara masyarakat dan penegak hukum/BNN dalam upaya bersama memberantas peredaran narkotika ini. Selanjutnya adalah mengenai pemberian penghargaan terhadap upaya pemberantasan narkotika ini, dimana pada UU No 22 tahun 1997 pasal 58 dimana pemerintah memberikan penghargaan kepada masyarakat yang telah berjasa dalam mencegah dan memberantas peredaran gelap narkotika, sedangkan pada UU No 35 tahun 2009 pemerintah juga memberikan penghargaan kepada penegak hukum sebagaimana diatur dalam pasal 109.

  6. Ketentuan Pidana Pada bagian ketentuan pidana ini telah terjadi beberapa perubahan yang cukup prinsipal dan mendasar dari UU No 22 tahun 1997 ke UU No 35 tahun 2009 ini, hanya berjumlah 23 pasal dan berkembang menjadi 35 pasal pada undang-undang terbaru. Secara umum UU No 35 tahun 2009 ini memiliki ancaman hukuman pidana penjara yang lebih berat daripada UU No 22 tahun 1997 demikian pula dengan ancaman hukuman denda yang diberikan juga lebih berat. Beberapa pokok perubahan tersebut diantaranya adalah :

  a. Penggunaan sistem pidana minimal. Pada undang-undang terbaru dikenal sistem pidana minimal dimana pada undang-undang sebelumnya hal tersebut tidak ada.

  Hal ini terutama pada para pelaku penyalahgunaan narkotika Golongan I.

  b. Semakin beratnya hukuman bagi pelaku yang melanggar penggunaan narkotika baik jenis Golongan I, II, maupun III dibandingkan UU No 22 tahun 1997, misalnya untuk Golongan I baik itu menyimpan, membawa maupun memiliki dan menggunakan menjadi minimal 4 tahun dan maksimal 12 tahun, kemudian di ikuti dengan semakin beratnya pidana denda dari Rp.500.000.000 (lima ratus juta rupiah) menjadi minimal Rp 800.000.000 (delapan ratus juta rupiah) dan maksimal Rp.8.000.000.000 (delapan milyar rupiah).

  c. Semakin beratnya hukuman bagi para pelaku dengan jumlah barang bukti yang banyak/jumlah besar, misalnya untuk pelanggaran terhadap narkotika Golongan I yang melebihi berat 1 kg atau 5 batang pohon (jenis tanaman) atau barang bukti melebihi 5 gram (untuk jenis bukan tanaman) maka pelaku di pidana dengan pidana seumur hidup atau minimal 5 tahun dan maksimal 20 tahun dan pidana dendanya ditambah 1/3. penyalahgunaan narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial diatur dalam Pasal 127 ayat (3) UU No 35 tahun 2009.

  e. Kriminalisasi bagi orang tua yang tertuang dalam pasal 128 UU No 35 tahun 2009 dimana orang tua atau wali pecandu yang belum cukup umur yang tidak melaporkan maka dapat dipidana dengan pidana kurungan 6 bulan atau denda 1 juta rupiah diatur dalam Pasal 128 ayat 1, sedangkan untuk pecandu narkotika dibawah umur dan telah dilaporkan sebagaimana pasal 55 ayat (1) maka dia tidak dapat dipidana, kemudian untuk pecandu narkotika yang telah cukup umur dan sedang menjalani rehabilitasi medis juga tidak dituntut pidana diatur dalam Pasal 128 ayat 3.

1. Ketentuan Pidana terhadap Tindak Pidana Narkotika

  Penggolongan Narkotika dibagi menjadi 3 golongan yaitu:

  a. Narkotika Golongan I adalah narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi yang sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan.

  b. Narkotika Golongan II adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. banyak digunakan dalam terapi dan/atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan.

  Tindak pidana narkotika yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 pada Bab XV Pasal 111 sampai dengan Pasal 148 berjumlah 38 Pasal.

  Perbuatan-perbuatan yang diklasifikasikan sebagai tindak pidana dalam undang- undang ini antara lain: a. Berkaitan dengan menanam, memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai atau menyediakan; b. Berkaitan dengan memproduksi, mengimpor, mengekspor atau menyalurkan;

  c. Berkaitan dengan menawarkan, menjual, membeli, menerima, membawa, mengirim, mengangkut, menukar, menyerahkan, dan menjadi perantara dalam jual beli;

  d. Berkaitan dengan penggunaan untuk diri sendiri atau orang lain; e. Berkaitan dengan pengobatan dan rehabilitasi.

  Narkotika mempunyai potensi yang sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Oleh karena itu di dalam penggunaan hanya diperuntukkan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak dipergunakan dalam terapi. Penggunaan narkotika di luar ilmu pengetahuan merupakan tindak pidana, antara lain:

  a. tanpa hak atau melawan hukum menanam, memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I dalam bentuk tanaman diancam dengan Pasal 111. menyediakan Narkotika Golongan I bukan tanaman diancam dengan Pasal 112.

  c. tanpa hak atau melawan hukum memproduksi, mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan Narkotika Golongan I, Narkotika Golongan II, Narkotika Golongan III diancam dengan masing-masing pasal yaitu untuk Narkotika Golongan I diancam dengan Pasal 113, Narkotika Golongan II diancam dengan Pasal 118 dan Narkotika Golongan III diancam dengan Pasal 123.

  d. tanpa hak atau melawan hukum menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan Narkotika Golongan I, Narkotika Golongan II, Narkotika Golongan III diancam dengan Pasal 114 untuk Narkotika Golongan I, Pasal 119 untuk Narkotika Golongan II, dan Pasal 124 untuk Narkotika Golongan III.

  e. tanpa hak atau melawan hukum membawa, mengirim, mengangkut, atau mentransito Narkotika Golongan I, Narkotika Golongan II, Narkotika Golongan III, diancam dengan masing-masing pasal yaitu Pasal 115 untuk Narkotika Golongan I, Pasal 120 untuk Narkotika Golongan II, dan Pasal 125 untuk Narkotika Golongan III.

  f. tanpa hak atau melawan hukum menggunakan Narkotika Golongan I terhadap orang lain atau memberikan Narkotika Golongan I, Narkotika Golongan II, Narkotika Golongan III untuk digunakan orang lain dikenakan sanksi dengan

  Pasal 126 untuk Narkotika Golongan III.

  g. Mengenai masalah tindak pidana penyalahgunaan Narkotika Golongan I, Narkotika Golongan II, dan Narkotika Golongan III bagi diri sendiri dikenakan sanksi pidana dengan Pasal 127.

  h. Untuk orang tua atau wali dari pecandu yang belum cukup umur dengan sengaja tidak melapor mengetahui bahwa pelaku menjadi pecandu narkotika akan dikenakan sanksi sesuai dengan Pasal 128. i. Pabrik obat diwajibkan mencantumkan label pada kemasan narkotika baik dalam bentuk obat jadi maupun bahan baku narkotika sebagaimana diatur dalam Pasal 45, kemudian untuk dapat dipublikasikan harus melalui media cetak ilmiah kedokteran atau media cetak ilmiah farmasi. Apabila hal tersebut tidak dilakukan maka akan terjadi tindak pidana narkotika mengenai label dan publikasi yang diatur dalam Pasal 135. j. Menghalang-halangi atau mempersulit penyidikan serta penuntutan dan pemeriksaan perkara tindak pidana narkotika akan dikenakan sanksi pidana sesuai dengan Pasal 138. k. Nakhoda atau kapten penerbangan yang secara melawan hukum tidak melaksanakan ketentuan dalam Pasal 27 dan Pasal 28, antara lain tidak membuat berita acara muatan narkotika, tidak melapor adanya muatan narkotika kepada Kepala Kantor Pabean setempat akan dikenakan sanksi pidana yang diatur dalam Pasal 139.

  Pasal 88 dan Pasal 89, antara lain tidak melakukan penyegelan dan pembuatan berita acara penyitaan, tidak memberi tahu atau menyerahkan barang sitaan, tidak memusnahkan tanaman narkotika yang ditemukan akan dikenakan sanksi sesuai dengan Pasal 140.

2. Pertanggungjawaban Pidana Tindak Pidana Narkotika

  Pelaku tindak pidana narkotika memenuhi syarat untuk dapat dijatuhi pidana, maka terlebih dahulu harus dibahas mengenai pertanggungjawaban pidananya.

  Konsepsi pertanggungjawaban pidana dalam arti dipidananya pembuat, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu: ada suatu tindak pidana yang dilakukan oleh pembuat; ada unsur kesalahan berupa kesengajaan atau kealpaan; ada pembuat yang mampu bertanggungjawab; dan tidak ada alasan pemaaf.

  1) Pengertian Tindak pidana Moeljatno menggunakan istilah perbuatan pidana, yang didefinisikan sebagai perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan mana disertai ancaman

  (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa melanggar larangan tersebut. Adapun istilah perbuatan pidana lebih tepat, alasannya adalah:

  

  a. Perbuatannya dilarang (perbuatan manusia, yaitu kejadian atau keadaan yang ditimbulkan oleh kelakuan orang), artinya larangan itu ditujukan pada perbuatannya, sedangkan ancaman pidananya ditujukan pada orangnya. 72 Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana, Cetakan Kedua, (Jakarta: Bina Aksara, 1984), hal.

  54. ditujukan pada orang) mempunyai hubungan yang erat, dan oleh karena itu perbuatan (yang berupa keadaan atau kejadian yang ditimbulkan orang tadi, melanggar larangan) dengan orang yang menimbulkan perbuatan tadi ada hubungan erat pula.

  c. Untuk menyatakan adanya hubungan yang erat itulah maka lebih tepat digunakan istilah perbuatan pidana, suatu pengertian abstrak yang menunjuk pada keadaan konkrit, yaitu: pertama adanya kejadian tertentu (perbuatan) dan kedua orang yang berbuat atau yang menimbulkan kejadian itu.

  Simons mengartikan perbuatan pidana (delik) sebagai suatu tindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak sengaja oleh seseorang yang dapat dipertanggungjawabkan atas tindakannya dan oleh undang- undang telah dinyatakan sebagai suatu perbuatan atau tindakan yang dapat dihukum.

  Dari definisi Simons tersebut dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur perbuatan pidana terdiri dari perbuatan manusia (positif atau negatif; berbuat atau tidak berbuat); diancam dengan pidana; melawan hukum; dilakukan dengan kesalahan; dan oleh orang yang mampu bertanggung jawab.

73 Van Hamel menguraikan perbuatan pidana sebagai perbuatan manusia yang

  dirumuskan oleh undang-undang, melawan hukum (patut atau bernilai untuk dipidana) dan dapat dicela karena kesalahan. Dari definisi tersebut dapat dilihat 73 Leden Marpaung, Unsur-unsur Perbuatan yang Dapat Dihukum, cetakan pertama, (Jakarta: Sinar Grafika, 1991), hal. 4. melawan hukum; dilakukan dengan kesalahan; dan patut dipidana. Selanjutnya Vos memberikan definisi singkat mengenai perbuatan pidana yang disebutkan

  

straafbaarfeit, yaitu kelakuan atau tingkah laku manusia yang oleh peraturan

  perundang-undangan diberikan pidana. Jadi, unsur-unsurnya adalah kelakuan

   manusia; dan diancam pidana dalam undang-undang.

  2) Kesalahan Dipidananya seseorang tidaklah cukup apabila orang itu telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum atau bersifat melawan hukum, sehingga meskipun perbuatannya memenuhi rumusan delik dalam undang-undang dan tidak dibenarkan, namun hal tersebut belum memenuhi syarat untuk penjatuhan pidana.

  Pemidanaan masih memerlukan adanya syarat bahwa orang yang melakukan perbuatan itu mempunyai kesalahan atau bersalah. Asasnya adalah tiada pidana tanpa kesalahan (geen sraf zonder schuld). Pengertian kesalahan berdasarkan pendapat-

  

  pendapat ahli hukum dapat dijabarkan sebagai berikut:

  a) Mezger mengatakan bahwa kesalahan adalah keseluruhan syarat yang berdasarkan adanya pencelaan pribadi terhadap si pembuat tindak pidana.

  b) Simons mengartikan kesalahan sebagai keadaan batin (psychis) yang tertentu 74 dari si pembuat dan hubungan antara keadaan batin (dari si pembuat) tersebut

A. Zainal Abidin Farid, Hukum Pidana I, Cetakan Pertama, (Jakarta: Sinar Grafika, 1995), hal. 225.

75 Sudarto, Hukum Pidana, (Semarang: Yayasan Sudarto, 1990), hal. 88.

  perbuatannya.

  c) Van Hamel mengatakan bahwa kesalahan pada suatu delik merupakan pengertian psychologis, hubungan antara keadaan jiwa si pembuat dan terwujudnya unsur-unsur delik karena perbuatannya. Kesalahan adalah pertanggungjawaban dalam hukum.

  d) Van Hattum berpendapat bahwa pengertian kesalahan yang paling luas memuat semua unsur dalam mana seseorang dipertanggungjawabkan menurut hukum pidana terhadap perbuatan yang melawan hukum, meliputi semua hal.

  e) Pompe mengatakan pada pelanggaran norma yang dilakukan karena kesalahannya biasanya sifat melawan hukum itu adalah perbuatannya yakni segi dalam, yang berkaitan dengan kehendak si pembuat adalah kesalahan. Kesalahan terdiri atas beberapa unsur, yaitu: adanya kemampuan bertanggung jawab pada sipembuat (Schuldfahigkeit atau Zurechnungsfahigkeit); artinya keadaan jiwa sipembuat harus normal; hubungan batin antara sipembuat dengan perbuatannya, yang berupa kesengajaan (dolus) atau kealpaan (culpa) ini disebut bentuk-bentuk kesalahan; tidak adanya alasan yang menghapus kesalahan atau tidak ada alasan

  

  pemaaf. Kalau ketiga unsur tersebut ada maka orang yang bersangkutan bisa dinyatakan bersalah sehingga bisa di pidana.

  Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Crimineel Wetboek) sengaja ialah kemauan untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang 76 Ibid., hal. 91.

  (MvT) sengaja diartikan dengan sadar dari kehendak melakukan suatu kejahatan

  

  tertentu. Ada dua teori yang berkaitan dengan pengertian sengaja, yaitu teori kehendak dan teori pengetahuan atau membayangkan. Menurut teori kehendak, sengaja adalah kehendak untuk mewujudkan unsur-unsur delik dalam rumusan undang-undang. Teori pengetahuan atau teori membayangkan, manusia tidak mungkin dapat menghendaki suatu akibat karena manusia hanya dapat menginginkan, mengharapkan atau membayangkan adanya suatu akibat. Adalah sengaja apabila suatu akibat yang ditimbulkan karena suatu tindakan dibayangkan sebagai maksud tindakan itu dan karena itu tindakan yang bersangkutan dilakukan sesuai dengan bayangan yang terlebih dahulu telah dibuat. Teori ini menitikberatkan pada apa yang diketahui atau dibayangkan si pembuat, ialah apa yang akan terjadi pada waktu ia

   berbuat.

  Teori pengetahuan merupakan teori yang lebih rasional apabila dibandingkan dengan teori kehendak. Bila seseorang dapat membayangkan akibat yang akan terjadi apabila ia melakukan suatu tindak pidana maka dengan sendirinya ia dapat menentukan kehendaknya untuk melakukan atau tidak melakukan perbuatan itu.

  77 78 Ibid., hal. 103.

  Tongat, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia dalam Perspektif Pembaharuan, (Malang: UMM Press, 2008), hal. 239. Bandingkan Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana, (Jakarta: Bina Aksara, 1987), hal. 172. Menurut Moeljatno, teori pengetahuan/membayangkan lebih memuaskan, sebab untuk

menghendaki sesuatu orang lebih dahulu sudah harus mempunyai pengetahuan (gambaran atau

bayangan) tentang sesuatu itu. Tetapi apa yang diketahui seseorang belum tentu juga dikehendaki olehnya. Lagipula kehendak merupakan arah,maksud atau tujuan, hal mana berhubungan dengan motif (alasan yang mendorong seseorang untuk berbuat). melakukan perbuatan itu, maka ia telah dengan sengaja melakukan perbuatan itu. 3) Kemampuan Bertanggungjawab

  Pertanggungjawaban pidana diperlukan untuk adanya syarat bahwa pembuat mampu bertanggung jawab. Tidaklah mungkin seseorang dapat dipertanggungjawabkan apabila ia tidak mampu bertanggung jawab. Untuk adanya

  

  kemampuan bertanggungjawab harus ada 2 (dua) hal, yaitu:

  a. Adanya kemampuan untuk membeda-bedakan antara perbuatan yang baik dan yang buruk, yang sesuai dengan hukum dan yang bertentangan dengan hak.

  b. Adanya kemampuan untuk menentukan kehendaknya menurut keinsyafan tentang baik dan buruknya perbuatan tersebut.

  Syarat pertama di atas merupakan faktor akal, yaitu dapat membeda-bedakan antara perbuatan yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan. Sedangkan syarat kedua merupakan faktor perasaan atau kehendak, yaitu dapat menyesuaikan tingkah lakunya dengan keinsyafan terhadap mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak diperbolehkan. Sementara itu, berkaitan dengan masalah kemampuan bertanggungjawab, KUHP tidak memberikan batasan. KUHP hanya merumuskannya

   secara negatif, yaitu kapan seseorang dianggap tidak mampu bertanggungjawab.

  Menurut ketentuan Pasal 44 ayat (1) KUHP, seseorang tidak dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya karena dua alasan, yaitu: 79 80 Moeljatno, Op. Cit., hal. 156.

  Tongat, Op. Cit., hal 76. b) Jiwanya terganggu karena penyakit.

  Berdasarkan ketentuan Pasal 44 ayat (1) KUHP di atas, apabila seseorang itu jiwanya cacat dalam tumbuhnya sehingga tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, maka terhadap orang tersebut tidak dapat dimintai pertanggungjawaban pidana atas alasan tidak ada kemampuan bertanggungjawab.

  Patut menjadi catatan, bahwa Pasal 44 ayat (1) KUHP tersebut sebenarnya hanya mengatur tentang ketidakmampuan bertanggungjawab karena jiwa yang cacat dalam tumbuhnya atau terganggu karena penyakit. Dengan demikian, apabila ketidakmampuan bertanggungjawab pelaku itu disebabkan karena jiwa (usia) yang

   masih muda, Pasal 44 tidak bisa menjadi dasar untuk menghapus pidana.

  4) Tidak Adanya Alasan Pemaaf Salah satu syarat dari pertanggungjawaban pidana adalah tidak adanya alasan pemaaf. Artinya, agar seseorang yang telah melakukan tindak pidana dapat dimintai pertanggungjawaban pidana atau dipersalahkan telah melakukan tindak pidana sehingga karenanya dapat dipidana, maka salah satu syaratnya adalah tidak adanya alasan pemaaf. Apabila dalam diri pelaku ada alasan pemaaf, maka orang itu tidak dapat dimintai pertanggungjawaban pidana sebab kesalahan orang tersebut akan dimaafkan. Secara doktinal yang dimaksud dengan alasan pemaaf adalah alasan yang

  

  menghapuskan kesalahan terdakwa. Dengan adanya alasan pemaaf maka seseorang 81 82 Ibid., hal. 77.

  Moeljatno, Op. Cit., hal. 137. orang yang melakukan tindak pidana tersebut dimaafkan. Dalam hal ini, perbuatan orang tersebut tetap sebagai tindak pidana atau bersifat melawan hukum, tetapi terhadap orang itu tidak dapat dijatuhi pidana oleh karena dalam diri orang itu dianggap tidak ada kesalahan. Dengan demikian, alasan pemaaf merupakan salah satu alasan penghapus pidana atau alasan yang meniadakan pidana.

  Alasan-alasan yang dapat menghapus kesalahan terdakwa yaitu:

  

  a. Tidak mampu bertanggungjawab (diatur dalam Pasal 44 KUHP;

  b. Daya paksa (diatur dalam Pasal 48 KUHP);

  c. Pembelaan terpaksa yang melampaui batas (diatur dalam Pasal 49 ayat (2) KUHP);

  d. Melaksanakan perintah jabatan yang tidak sah dengan itikad baik (diatur dalam Pasal 51 ayat (2) KUHP).

  Seorang pelaku telah memenuhi syarat untuk dapat dimintai pertanggungjawaban pidananya, dalam hal pertanggungjawaban pidana tindak pidana narkotika, maka seseorang tersebut dapat dijatuhi pidana sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yakni ketentuan Pasal 111 sampai dengan Pasal 148 yaitu:

  1. Adanya kehendak yang disadari yang ditujukan untuk melakukan tindak pidana narkotika, hal tersebut berarti telah memenuhi adanya kesalahan yang dilakukan pelaku tindak pidana narkotika. 83 Tongat, Op. Cit., hal. 298. narkotika karena pada saat melakukan perbuatan tersebut ia memiliki cukup akal dan kemauan, oleh karena cukup mampu untuk mengerti arti perbuatannya yang telah melakukan tindak pidana narkotika dan sesuai dengan pandangan itu untuk menentukan kemauannya untuk melakukan perbuatan tersebut. Kemampuan berfikir terdapat pada orang-orang normal dan oleh sebab itu kemampuan berfikir dapat diduga pada si pembuat. Dengan kata lain dapat dipertanggungjawabkan perbuatan pidana itu kepada pelaku tindak pidana narkotika tersebut apabila pelaku mempunyai kemampuan berfikir dan menginsyafi arti perbuatannya.

  3. Pertanggungjawaban pidana memerlukan syarat bahwa pembuat mampu bertanggungjawab, karena tidaklah mungkin seseorang dapat dipertanggungjawabkan apabila ia tidak mampu bertanggungjawab. Simons mengatakan bahwa kemampuan bertanggungjawab adalah suatu keadaan psychis, yang membenarkan adanya penerapan suatu upaya pemidanaan, baik dilihat dari sudut umum ataupun orangnya dan dalam hal ini, pelaku dapat

  

  dijatuhi pidana narkotika jika ia berjiwa sehat, yakni apabila:

  a) Mampu untuk mengerti nilai dari akibat-akibat perbuatannya melakukan tindak pidana narkotika; b) Mampu untuk mengetahui atau menyadari bahwa perbuatannya melakukan 84 tindak pidana narkotika bertentangan dengan hukum; Moeljatno, Op. Cit., hal. 226.

B. Penegakan Hukum Pidana terhadap Tindak Pidana Narkotika

1. Penerapan Hukum Pidana

  Tindak pidana narkotika sangat meresahkan masyarakat, karena dampak negatif yang ditimbulkan merugikan pelbagai pihak, mendatangkan korban dan menghambat cita-cita bangsa dan negara, merusak generasi bangsa, juga merupakan suatu beban pekerjaan yang sangat berat bagi aparat penegak hukum. Perlu dipahami ketentuan pidana tidak semata-mata terdapat dalam undang-undang hukum pidana, tetapi juga dapat dijumpai dalam undang-undang lain seperti undang-undang money laundering, undang-undang pajak, undang-undang imigrasi, undang-undang narkotika dan lain sebagainya. Kehadiran undang-undang di luar KUHP dewasa ini semakin banyak dan undang-undang ini sangat membantu, karena bersifat khusus jadi lebih terperinci membahas sesuatu kejahatan yang semakin beraneka ragam.

  Undang-undang khusus atau yang terdapat di luar KUHP ini sangat membantu dan menunjang penerapan hukum pidana dan penegakan hukum di sebuah negara.

  Jika kita membahas tentang penerapan hukum pidana berarti merupakan bagian dari penegakan hukum, salah satu sarana dalam penegakan hukum nasional ialah adanya ketentuan-ketentuan pidana atau eksistensi sanksi pidana di dalam setiap produk yang dibuat. Masyarakat pada dasarnya menginginkan diadakan pencegahan terlebih dahulu sebelum dikenakan pidana, karena penerapan hukum pidana dirasakan tidak menyenangkan. Pemerintah telah berupaya diadakan pencegahan dengan memberi penerangan kepada masyarakat tentang efek negatif suatu kejahatan dan sanksi

  

  jalan terakhir yang ditempuh adalah menerapkan hukum pidana. Sedangkan dengan menerapkan hukum pidana juga belum tentu kejahatan di muka bumi akan lenyap secara tuntas, buktinya masih banyak residivis yang mengulangi tindak pidana yang dilakukannya, tapi juga tidak dapat dielakkan bahwa penerapan hukum pidana juga membawa hasil yang baik dimana ada sebagian pelaku menjadi jera/tobat. Sudarto mengatakan bahwa dapat dipahami betapa terbatasnya pengaruh atau efek dari sanksi pidana the limits of criminal sanction merupakan kenyataan, hal mana berarti bahwa kita tidak boleh terlalu mengharapkan ketaatan orang pada suatu peraturan hanya dengan mengandalkan pada sanksi pidana belaka meskipun kita tidak boleh

   mengatakan bahwa sanksi pidana itu tidak ada artinya sama sekali.

  Peran sanksi pidana dalam penegakan hukum menjadi salah satu pilihan yang tepat untuk menganalisa kondisi yang timbul di masyarakat. Pengenaan sanksi pidana terhadap para pelaku tindak pidana dapat ditinjau dari bebarapa aliran yaitu aliran klasik dan aliran modern. Aliran klasik menitikberatkan kepada tindak pidana yang dilakukan. Aliran ini terutama menghendaki hukum pidana yang tersusun sistematis dan menitikberatkan kepada kepastian hukum. Dengan pandangannya yang indeterministis mengenai kebebasan kehendak manusia aliran ini menitikberatkan

   kepada perbuatan dan tidak kepada orang yang melakukan tindak pidana. 85 86 Sudarto, Hukum dan Hukum Pidana, (Bandung: Alumni, 1983), hal. 90. 87 Ibid., hal. 91.

  Muladi dan Barda Nawawi Arief, Teori-teori dan Kebijakan Pidana, (Bandung: Alumni, 1998), hal. 25.

  

  a. Asas legalitas, yang menyatakan bahwa tiada pidana tanpa undang-undang, tiada tindak pidana tanpa undang-undang dan tiada penuntutan tanpa undang- undang;

  b. Asas kesalahan, yang berisi bahwa orang hanya dapat dipidana untuk tindak pidana yang dilakukannya dengan sengaja atau karena kealpaan; c. Asas pengimbalan (pembalasan) yang sekuler, yang berisi bahwa pidana secara konkrit tidak dikenakan dengan maksud untuk mencapai sesuatu hasil yang bermanfaat, melainkan setimpal dengan berat ringannya perbuatan yang dilakukan.

  Aliran modern mencari sebab kejahatan menggunakan metode ilmu alam dan bermaksud untuk langsung mendekati dan mempengaruhi penjahat secara positif sejauh dia masih dapat diperbaiki. Menurut aliran ini perbuatan seseorang tidak dapat dilihat secara abstrak dari sudut yuridis semata-mata terlepas dari orang yang melakukannya tetapi harus dilihat secara konkrit bahwa dalam kenyataannya perbuatan seseorang itu dipenagruhi oleh watak pribadinya, faktor-faktor biologis

  

  maupun faktor lingkungan kemasyarakatannya. Aliran ini menitikberatkan perhatiannya kepada orang yang melakukan tindak pidana dan pemberian pidana atau tindakan dimaksud untuk melindungi masyarakat terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh pelaku tindak pidana. 88 89 Ibid., hal. 26.

  Ibid., hal. 32. Jaringan narkotika yaitu anggota dari suatu sindikasi dari tindak pidana narkotika, yang terdiri dari beberapa kelompok yang di dalam jaringan tersebut yang mendukung dalam melakukan suatu tindak pidana, yaitu, adanya penyandang dana, yang dimana dana tersebut digunakan untuk modal dalam melakukan penyalahgunaan narkotika. Adanya pemasok barang (obat), dimana obat tersebut akan diolah dan disalahgunakan menjadi zat yang berbahaya (narkotika). Adanya pengedar, yaitu orang atau oknum yang menyebarkan atau mendistribusikan sesuatu dalam ruang lingkup narkotika, yang tugasnya melakukan pengedaran barang terlarang atau narkotika kepada para pembeli setelah dilakukannya transaksi jual beli melalui komunikasi. Adanya bagian penyimpan barang, tugasnya untuk menyimpan barang narkotika agar tidak diketahui oleh siapapun. Dan adanya kurir, yang bertugas mengantarkan narkotika tersebut kepada pembeli.

  Berdasarkan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor

  22 Tahun 2010 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pada Tingkat Kepolisian Daerah, Direktorat Reserse Narkoba bertugas menyelenggarakan penyelidikan dan penyidikan tindak pidana penyalahgunaan narkoba; penganalisisan kasus narkoba beserta penanganannya dan pengkajian efektifitas pelaksanaan tugas Direktorat Reserse Narkoba;pengawasan penyidikan tindak pidana narkoba di lingkungan Polda; pembinaan dan penyuluhan dalam rangka pencegahan dan rehabilitasi korban penyalahgunaan narkoba. Berdasarkan Surat Keputusan Kapolri No.Pol: 1205/IX/2000 tentang penyelidikan reserse, dalam menggali keterangan dan mulai dari observasi (pengamatan), surveilance (pembuntutan), undercover buy (pembelian terselubung), controlled delevery (penyerahan yang diawasi) yang diuraikan sebagai berikut: a) Observasi (pengamatan)

  Pengertian observasi yaitu meninjau atau mengamat-amati suatu tempat, keadaan atau orang untuk mengetahui baik hal-hal yang biasa maupun yang tidak biasa dan kemudian hasilnya dituangkan dalam suatu laporan. Dari observasi yang dilakukan dapat diketahui kondisi suatu tempat dan orang-orang yang ada ditempat tersebut. Setiap apa yang dilihat dan diamati oleh observer akan dicatat sehingga dapat menentukan langkah-langkah berikutnya. Dalam melaksanakan observasi haruslah diperhatikan hal-hal yang lain atau terdapat perbedaan dari hal-hal biasa yang tidak diketahui masyarakat umum. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan observasi yaitu:

  1. Observasi dilakukan dengan cermat dan tepat sehingga dapat diperoleh gambaran yang lengkap dan jelas.

  2. Hal-hal yang kelihatan kecil atau sepele perlu diamati dengan baik, karena hal tersebut mungkin tidak berarti bagi orang awam, tetapi sangat berharga bagi penyelidik.

  3. Observasi sebaiknya dilakukan secara sistematis dan terus-menerus. peralatan/perlengkapan yang diperlukan, misalnya: alat tulis/catatan, peralatan foto, alat perekam (handycam), teropong, gambar sketsa.

  5. Sebelum melaksanakan observasi kepastian terhadap penentuan sasaran harus dikaji dan dianalisa secara cermat dan tepat.

  Melakukan observasi terhadap seseorang harus diperhatikan gerak-gerik orang yang sembunyi-sembunyi perlu mendapat perhatian khusus; sikap dan tingkah laku orang yang terlalu ingin tahu perlu diamati; sikap seseorang yang menunjukkan pura- pura tidak tahu, yang terlalu dibuat-buat biasanya mengandung maksud tertentu yang perlu diperhatikan penyelidik. Bila penyelidik hadir/datang di tempat kejadian perkara, tindak pidana masih berlangsung maka penyelidik harus dapat melakukan observasi secara cepat, tepat dan obyektif terutama mengenai faktor-faktor penting, misalnya waktu, tempat, orang, benda, dan perbuatan.

  b) Surveilance (pembuntutan) Dalam mengungkapkan adanya suatu tindakan pidana narkotika maka penyelidik tidak hanya melakukan pemeriksaan atau pengawasan hanya pada suatu ternpat tertentu. Pengawasan ini harus dilakukan secara berpindah, untuk itu diperlukan teknik surveilance. Surveilance adalah pengawasan terhadap orang, kenderaan dan tempat atau obyek yang dilakukan secara rahasia untuk memperoleh informasi kegiatan dan identifikasi oknum. Inforrmasi yang diperoleh dalam melakukan pembuntutan digunakan untuk mengidentifikasi sumber, kurir dan penerima narkotika. Operasi surveilance dilakukan secara terus-menerus dan narkotika. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan surveilance yaitu:

  1. Surveilance terhadap subyek sebaiknya direncanakan secara teliti dan matang serta fleksibel sesuai dengan kebutuhan dan keadaan yang mungkin berkembang/berubah di lapangan.

  2. Dalam merencanakan surveilance perlu memperhitungkan dan mempertimbangkan tentang kemungkinan yang dapat menimbulkan hal-hal yang tak terduga dan resiko-resiko yang akan dihadapi yaitu tentang informasi yang telah diterima dan telah tersedia, tujuan surveilance yang akan dicapai, perkiraan tentang kemungkinan yang akan dihadapi, cara bertindak yang diperlukan.

  3. Petugas yang melakukan surveilance bertubuh sedang/biasa, tidak memiliki kelainan/keistimewaan bentuk badan dan wajah, tidak mempunyai tanda khusus/cacat diri, dapat cepat menyesuaikan diri dan serasi dengan tempat/lingkungan dan keadaan sekeliling (misalnya menguasai bahasa, paham adat kebiasaan, cara berpakaian dan penampilan), menguasai teknik dan taktik penyelidikan.

  4. Surveilance agar mempersiapkan uang termasuk uang kecil yang cukup untuk sewaktu-waktu diperlukan misalnya untuk telepon, taxi, bus, makan direstoran, dan lain-lain, surveilance harus senantiasa peka terhadap gerak tipu obyek supaya tidak kehilangan jejak, harus waspada terhadap kemungkinan penyesatan, hati-hati dan waspada terhadap gerakan-gerakan obyek yang sepatu, dasi atau berdiri di depan etalase yang tujuan sebenarnya untuk mengelakkan atau mengecek apakah ada orang yang mengikutinya.

  5. Waspada terhadap obyek yang menggunakan pengawal bertujuan untuk mengamankan/menghalangi pengawasan atau memperdaya surveilance. Jika obyek curiga bahwa ada yang mengikuti atau surveilance kehilangan jejak, maka seolah-olah surveilance tak mengawasi obyek, merubah posisi dengan cepat dari cara semula dan segera melapor pada atasan sebab kehilangan jejak.

  6. Larangan bagi petugas penyelidik yang sedang melakukan surveilance yaitu hindarkan kontak langsung bertatap mata dengan obyek, supaya tidak dikenali oleh obyek terutama pada saat harus bertatapan; bila dalam surveilance tiba- tiba terjadi kontak langsung dan bertatap muka dengan obyek, maka jangan mengalihkan pandangan secara mendadak supaya tidak menimbulkan kecurigaan/perhatian obyek; bila perlu memandang wajah obyek, maka pandanglah secara tidak langsung dan wajar untuk menghindari kecurigaan; hindari gerakan-gerakan yang mendadak atau kurang wajar agar tidak menarik perhatian.

  c) Undercover buy (pembelian terselubung)

  

Undercover buy (pembelian terselubung) sebagai suatu metode yang

  dilakukan penyidik dalam tindak pidana narkotika. Undercover buy (pembelian terselubung) adalah suatu teknik khusus dalam penyelidikan kejahatan narkotika, dimana seorang informan atau anggota polisi bertindak sebagai pembeli dalam suatu penjual atau perantara atau orang-orang yang berkaitan dengan supply narkotika dapat ditangkap beserta barang bukti yang ada padanya. Pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa undercover buy (pembelian terselubung) bertujuan untuk menangkap penjual, perantara atau orang yang berkaitan dengan supply narkotika beserta barang bukti yang sah.

  d) Controlled Delevery (penyerahan yang diawasi)

  Controlled delevery adalah Pengiriman dan penyerahan Narkotika kepada

  penerima oleh kurir yang merupakan tersangka yang ingin bekerjasama dengan Polisi. Penyerahan tersebut diawasi untuk mengetahui siapa penerima atau jaringannya dan kemudian dilakukan penangkapan tersangka dan mengungkap jaringannya serta penyitaan barang bukti narkotika. Dalam hal ini Controlled

90 Delivery ada beberapa macam, yaitu:

  1) Controlled import atau export “pass through”, yaitu suatu teknik penyelidikan Controlled Delivery atas import atau export barang yang diduga diselewengkan untuk tujuan produksi/pembuatan Narkotika. Salah satunya dapat melalui jasa ekspedisi atau jasa pengiriman yang akhir-akhir ini semakin sering terjadi.

90 Wawancara dengan AKBP K.A.M Sinambela, Kabag Analis Direktorat Narkoba Polda Sumatera Utara tanggal 23 Mei 2011.

  dapat diajak kerjasama, dalam hal ini kurir adalah mantan pemakai atau mantan bandar.

  3) Controlled Delivery dengan undercover agent bertindak sebagai kurir sindikat. Undercover agent adalah petugas polisi yang melakukan penyusupan ke dalam sasaran sindikat atau organisasi kriminal. Dalam hal ini, penyidik kepolisian telah membuat transaksi sendiri dengan anggota sindikat narkotika.

  Setelah mendapat barang bukti narkotika dari hasil transaksi yang dilakukan dengan para pelaku tindak pidana narkotika maka barang bukti tersebut di foto dan dibuatkan BAP.

  Melaksanakan Undercover buy (pembelian terselubung) dan Controlled

  

Delevery (penyerahan yang diawasi) dilakukan untuk keperluan penyelidikan yang

  tidak mungkin didapat dengan dengan cara-cara terbuka oleh sebab itu perlu dilakukan penyamaran untuk dapat menyusup kedalam sasaran guna memperoleh bahan keterangan yang diperlukan. Petugas yang melakukan undercover harus betul- betul dipilih dan dipersiapkan sehingga memiliki kemampuan tehnis dalam melakukan observasi dan surveilance serta kemampuan untuk melakukan tindakan- tindakan lain yang mendukung tindakan penyelidikan. Untuk mencegah terungkapnya penyamaran (undercover), maka identitas petugas harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi sasaran, sedangkan semua identitas diri yang tidak mendukung pelaksanaan kegiatan undercover harus dihilangkan/disingkarkan antara lain KTP,

  undercover yaitu:

  1. Peralatan dan perlengkapan khusus disesuaikan dengan sasaran dan biaya yang diperlukan, sarana komunikasi dan transportasi sesuai dengan cover yang diperlukan, menentukan tempat pertemuan tertentu (safe house) untuk menyampaikan bahan keterangan dan menerima instruksi dari pimpinan, mempelajari data sasaran dengan cermat dan teliti. Kelengkapan administrasi meliputi surat perintah yang diterbitkan akan tetapi tidak dibawa oleh yang bersangkutan, surat-surat identitas diri seperti KTP, SIM dan lain sebagainya disesuaikan dengan covernya.

  2. Menyembunyikan segala catatan/arsip resmi baik yang berada dirumah maupun yang dibawa seperti identitas diri (surat perintah tugas, potret-potret berpakaian dinas yang dapat menunjukkan identitas anggota Polri). Apabila petugas yang melakukan penyamaran bertempat tinggal dalam komplek perumahan Polri maka yang bersangkutan harus berpindah keluar komplek hingga tugas selesai. Mengingatkan kepada semua anggota keluarga/teman untuk tidak mengatakan/menceritakan tentang identitas yang sebenarnya sebagai anggota Polri kepada orang lain yang belum dikenal.

  Melatih/membiasakan diri dengan identitas yang baru.

  3. Merencanakan tempat-tempat pertemuan tertentu serta alat-alat komunikasi dan transportasi yang akan dipergunakan untuk menyampaikan bahan-bahan keterangan yang diperoleh kepada pimpinan. Mencari dan memilih orang-

  Memperhitungkan segala kemungkinan adanya hambatan bagi pelaksanaan kegiatan undercover untuk dapat diatasi. Mempersiapkan suatu skenario/cerita penyamaran (cover story) yang akan dilakukan dalam kegiatan undercover guna mendekati sasaran.

  4. Melakukan pendekatan pada sasaran yang telah ditentukan, apabila ada hambatan untuk pendekatan langsung, dapat melalui orang lain yang dapat membantu. Setelah berhasil kontak dengan sasaran dilanjutkan dengan kegiatan untuk menumbuhkan kepercayaan dari sasaran dengan menyebarluaskan cerita samaran dilingkungan sasaran. Pilih tempat tinggal, tempat hiburan dan tempat kerja yang dapat dipergunakan untuk mengamati kegiatan sasaran. Dalam hal petugas yang melaksanakan kegiatan undercover telah berada dan berhasil diterima dilingkungan sasaran, maka sebelum mengumpulkan bahan keterangan yang diperlukan, petugas harus segera melakukan adaptasi dan bertindak hati-hati dengan cara membatasi pembicaraan agar orang-orang yang ada di sasaran lebih aktif bicara, berusaha untuk mendengar semua hal yang dibicarakan oleh sasaran, perhatikan dengan seksama apa yang tampak disekitar tempat/sasaran dan kegiatan-kegiatan apa yang tengah/akan berlangsung diingat tanpa mencatat, jangan sampai terpengaruh terhadap hal-hal negatif yang dilakukan oleh orang-orang yang ada di sasaran dengan memberikan alasan yang logis dan dapat diterima oleh sasaran, jangan bersikap dan bertindak yang dapat menimbulkan kecurigaan secara cermat dan teliti yang diharapkan dapat memperoleh bahan keterangan lain, petugas undercover jangan sampai terpengaruh akibat negatif dari orang- orang yang ada di sasaran, bila diperlukan memmbeli narkotika supaya petugas undercover tidak langsung membeli tetapi mengadakan tawar- menawar terlebih dahulu untuk tidak menimbulkan kecurigaan, komunikasi terhadap teman supaya menggunakan tanda-tanda atau gerakan tubuh tertentu (rahasia) yang mudah disampaikan dan dimengerti.

  5. Dalam hal petugas yang melaksanakan undercover tidak berhasil melapor pada waktu dan tempat yang telah ditentukan/diatur pimpinan pelaksana kegiatan undercover memerintahkan kepada petugas lain untuk mengadakan pengecekan untuk mengetahui situasi dan kondisi penyelidik yang melakukan undercover serta sasarannya. Jika karena situasi terpaksa harus melibatkan diri dalam suatu perbuatan tindak pidana, maka kegiatan tersebut harus sepengetahuan dan persetujuan pimpinan pelaksana undercover. Apabila petugas menemukan kesulitan-kesulitan dalam melakukan kegiatan undercover, maka pimpinan harus memberikan petunjuk baru yang jelas dan tegas. Jangan sekali-sekali menanyakan usul-usul orang di tempat sasaran.

  Waspada terhadap orang-orang yang membantu pelaksanaan kegiatan undercover. Apabila diperlukan agar pimpinan pelaksana kegiatan undercover menunjuk petugas lain yang bertindak sebagai pelindung dengan jalan mengikuti jejak dan memperhatikan kegiatan undercover yang dilakukan kegiatan undercover. Setelah tugas undercover selesai, segera membuat laporan hasil penyelidikan undercover.

  Berdasarkan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor

  22 Tahun 2010 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pada Tingkat Kepolisian Daerah, salah satu tugas Direktorat Reserse Narkoba adalah menyelenggarakan penyelidikan dan penyidikan tindak pidana penyalahgunaan narkoba. Anggota Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumatera Utara mempunyai tugas dalam

  

  menangani kasus-kasus penyalahgunaan narkotika, yaitu : 1. Penyelidikan.

  Berawal dari adanya informasi masyarakat dan diduga adanya tempat yang dijadikan sebagai transaksi dan peredaran narkotika salah satunya melalui jasa penitipan. Sebelumnya pihak kepolisian melakukan kerjasama atau koordinasi dalam mengungkap jaringan narkotika.

  2. Penindakan.

  Apabila ditemukan bukti adanya tindak pidana narkotika, maka polisi langsung melakukan proses penindakan di tempat kejadian perkara, dengan melakukan penggeledahan, penyitaan barang bukti, dan Penangkapan. Penggeledahan ada 2 macam yaitu penggeledahan rumah dan penggeledahan 91 badan. Menurut ketentuan Pasal 1 butir 17 KUHAP penggeledahan rumah

  Hari Sasangka, Penyidikan, Penahanan, Penuntutan dan Pra Peradilan Dalam Teori dan Praktek, cetakan 1, (Bandung: Mandar Maju, 2007), hal. 56. tertutup lainnya, untuk melakukan tindakan pemeriksaan dan atau penyitaan ada atau penangkapan dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang- undang. Serta menurut ketentuan Pasal 1 butir 18 KUHAP penggeledahan badan adalah tindakan penyidik untuk mengadakan pemeriksaan badan atau pakaian tersangka untuk mencari benda yang diduga keras ada pada badannya atau dibawa serta, untuk disita. Dalam keadaan biasa di dalam melakukan penggeledahan penyidik haruslah mendapat ijin dari ketua pengadilan, adanya saksi, serta membuat berita acara.

  Penyitaan menurut ketentuan Pasal 1 butir 16 KUHAP adalah serangkaian tindakan penyidik untuk mengambil alih dan atau menyimpan di bawah penguasaannya benda bergerak atau tidak bergerak, berwujud atau tidak berwujud untuk kepentingan pembuktian dalam penyidikan, penuntutan dan peradilan. Sesungguhnya penyitaan berkaitan erat dengan penggeledahan pada suatu tempat oleh penyidik biasanya diikuti oleh penyitaan, apabila diketemukan suatu benda, surat, dan sebagainya yang diperlukan untuk

  

pembuktian di sidang pengadilan nanti.

  Pengertian penangkapan menurut ketentuan Pasal 1 butir 20 KUHAP adalah suatu tindakan penyidik berupa pengekangan sementara waktu kebebasan tersangka atau terdakwa apabila cukup bukti gunakepentingan penyidikan 92 atau penuntutan dan atau peradilan dalam hal serta menurut cara yang diatur Ibid. dilakukan sewenang-wenang, tetapi harus dilakukan kepada mereka yang betul-betul melakukan tindak pidana. Dalam tugas tersebut, para anggota dilengkapi dengan surat perintah tugas, geledah, sita, penangkapan.

  3. Penyidikan.

  Para pelaku tindak pidana narkotika akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, yaitu dilakukannya proses penyidikan dengan dibuatnya Berita Acara Pemeriksaan saksi dan tersangka serta dilakukan tes barang bukti. Adapun tata cara/prosedur penyidikan yang dilakukan oleh penyidik terhadap tersangka

  

  adalah sebagai berikut:

  a. Tersangka dan saksi-saksi di BAP (berita acara pemeriksan) yaitu: surat perintah tugas, surat perintah geledah, surat perintah sita, surat perintah tangkap, surat perintah keterangan saksi, surat perintah keterangan saksi ahli, surat perintah keterangan tersangka; b. Barang bukti dikirim ke labfor POLDA Sumut, jika hasil positif maka tersangka ditahan; c. Melengkapi penyidikan (berita acara yang berkaitan dengan penyidikan, surat perintah tugas penyelidikan dan surat perintah tugas penyidikan); d. Berkas dikirim ke Penuntut Umum.

93 Wawancara dengan Kompol Jusman Silaban, Kasubbag Analis Direktorat Narkoba Polda Sumut, tanggal 23 Mei 2011.

  meresahkan masyarakat, terlebih-lebih yang kecanduan tersebut para remaja yang merupakan generasi penerus bangsa ini. Penanggulangan tindak pidana narkotika tidak dapat hanya dilakukan oleh satu pihak saja, yaitu hanya dilakukan oleh pemerintah. Upaya penanggulangan harus melibatkan berbagai pihak tidak hanya pemerintah tetapi juga keikutsertaan masyarakat. Penanggulangan narkotika yang dapat dilakukan menurut wawancara dengan AKBP K.A.M Sinambela Kabag Analis Direktorat Narkoba Polda Sumatera Utara, dalam menanggulangi penyalahgunaan narkotika telah melakukan dua upaya, yaitu:

  1. Penanggulangan yang bersifat preventif 2. Penanggulangan yang bersifat represif.

  1) Penanggulangan yang bersifat Preventif Penanggulangan yang bersifat preventif ini bisa diartikan sebagai suatu

  

  tindakan pencegahan. Preventif juga dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan narkotika melalui pengendalian dan pengawasan jalur resmi serta pengawasan langsung terhadap jalur peredaran gelap, dengan tujuan agar potensi penyalahgunaan tidak berkembang menjadi ancaman faktual, antara lain dengan tindakan mencegah agar jumlah dan jenis narkotika yang beredar hanya untuk dunia 94 Preventif (pencegahan), yaitu untuk membentuk masyarakat yang mempunyai ketahanan

  

dan kekebalan terhadap narkoba. Pencegahan adalah lebih baik dari pada pemberantasan. Pencegahan

penyalahgunaan Narkoba dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti pembinaan dan pengawasan dalam keluarga, penyuluhan oleh pihak yang kompeten baik di sekolah dan masyarakat, pengajian oleh

para ulama, pengawasan tempat-tempat hiburan malam oleh pihak keamanan, pengawasan distribusi

obat-obatan ilegal dan melakukan tindakan-tindakan lain yang bertujuan untuk mengurangi atau meniadakan kesempatan terjadinya penyalahgunaan Narkoba. resmi, meningkatkan dan memantapkan pengawasan terhadap lalu lintas narkotika tingkat internasional, pengawasan terhadap gerakan-gerakan komersial dagang dari zat pemula (precusor), pengawasan terhadap analog zat-zat yang berada di bawah pengawasan internasional, pemusnahan ladang-ladang narkotika, dan pengembangan kembali daerah yang sebelumnya merupakan perdagangan gelap yang menghabiskan

   narkotika.

  Penanggulangan preventif terhadap penyalahgunaan narkotika juga dapat dilakukan dengan cara memberikan pendidikan agama sejak dini, pembinaan kehidupan rumah tangga yang harmonis dengan penuh perhatian dan kasih sayang, menjalin komunikasi yang baik antara orang tua dan anak, orang tua memberikan teladan yang baik kepada anak-anak, anak-anak diberikan pengetahuan sedini mungkin tentang narkoba, jenis, dan dampak negatifnya.

  Penanggulangan preventif dilakukan dengan mengadakan pendekatan kepada masyarakat, baik itu anak sekolah, orang tua, maupun pemuka masyarakat serta pemuka agama. Dengan mengadakan penyuluhan ini, diharapkan dapat menghilangkan atau setidak-tidaknya mengurangi apa yang menjadi sebab terjadinya penyalahgunaan narkotika tersebut. Keterbukaan orang tua dengan anaknya, atau pemuka masyarakat dengan warganya adalah usaha pertama yang harus dilakukan, sehingga jika terjadi penyimpangan dari norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat dapat segera diperbaiki tanpa menunggu adanya korban yang lebih 95 Mardani, Op. Cit., hal. 48. berdasarkan Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2010 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pada Tingkat Kepolisian Daerah, salah satu tugas Direktorat Reserse Narkoba mengadakan pembinaan dan penyuluhan dalam rangka pencegahan dan rehabilitasi korban penyalahgunaan

  

  narkoba dengan cara: a) Mengadakan penyuluhan-penyuluhan ke sekolah-sekolah.

  Anak-anak sekolah sebagian besar yang terdiri dari remaja merupakan sasaran dari penanggulangan ini. Untuk penyuluhan ke sekolah-sekolah ini dilakukan dengan jalan memberikan penjelasan tentang akibat yang ditimbulkan dari penyalahgunaan narkotika. Dengan pengetahuan akan bahaya dari narkotika tersebut diharap mereka akan berusaha untuk menghindarinya dan tidak menggunakannya. Adanya tekanan atau goncangan pada jiwa anak dapat membuat pendirian seseorang anak goyah dan mereka sering mencari tempat

  

  pelarian yang belum tentu positif, salah satunya adalah narkotika. Sehingga untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan narkotika ini perlu adanya penyuluhan tentang narkotika.

  b) Pendekatan Terhadap Orang Tua 96 Wawancara dengan AKBP K.A.M Sinambela, Kabag Analis Direktorat Narkoba Polda Sumatera Utara, tanggal 23 Mei 2011. 97 Yanen Dwimukti Wibowo, Kasus Penyalahgunaan Narkoba Khususnya pada Remaja, , diakses tanggal 22 Juni 2011.

  bahwa orang tua juga perlu mendapatkan penyuluhan tentang narkotika. Disamping usaha penyuluhan yang dilakukan, yang tidak kalah pentingnya dalam rangka mengatasi penyalahgunaan narkotika ini adalah pengadaan sarana penunjang pembinaan mental, misalnya tempat-tempat olahraga dan tempat-tempat hiburan. Pengadaan sarana ini merupakan faktor yang sama pentingnya dengan pembinaan mental, sehingga pengadaan sarana ini merupakan hal yang perlu mendapat perhatian dari semua lapisan masyarakat terutama pemerintah. Contoh: Dengan memanggil orang tua ke sekolah untuk memberikan penjelasan tentang bahaya narkotika, sehingga orang tua diharapkan untuk lebih hati-hati dalam mengawasi anak-anaknya agar tidak terjerumus untuk menggunakan narkotika.

  c) Pendekatan Terhadap Pemuka Masyarakat Pada kehidupan bermasyarakat, pemuka masyarakat merupakan orang yang memegang peranan penting didalam hubungan yang terjadi sehari-hari dalam masyarakat. Dapatlah dikatakan bahwa para pemuka masyarakat mempunyai pengaruh yang besar bagi para warga masyarakatnya. Keadaan yang demikian ini tentulah merupakan salah satu faktor yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah yang terjadi di masyarakat termasuk masalah tentang narkotika. Dengan memberikan pengetahuan tentang narkotika kepada para pemuka masyarakat maka diharapkan para pemuka masyarakat tersebut mengerti tentang bahaya dari narkotika. Dengan pengetahuan yang memadai pemuka agama dapat menyampaikan pada para warga masyarakat terutama para generasi mudanya rasa tanggung jawab yang besar terhadap dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya serta bangsa dan negaranya. Pengetahuan yang dimaksud dapat berupa penyuluhan yang dilakukan Direktorat Reserse Narkoba kepada para remaja, orang tua, serta para pemuka masyarakat, kerja sama dan rasa saling membutuhkan antara orang tua dan para pemuka masyarakat merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan dalam upaya mengatasi penyalahgunaan narkotika.

  2) Penanggulangan yang bersifat Represif Penanggulangan bersifat represif merupakan penanggulangan yang dilakukan

   setelah terjadinya tindak pidana, dalam hal ini tindak pidana narkotika.

  Penanggulangan bersifat represif ini dilakukan oleh pihak Satuan Narkoba dengan melakukan penyelidikan sampai ke Pengadilan. Menurut bapak Kompol Jusman Silaban bahwa untuk penanggulangan jenis ini para petugas Polri harus mengadakan pendekatan dengan mereka yang menggunakan narkotika, yaitu dengan cara bergabung dan berpura-pura menjadi pecandu narkotika karena untuk 98 Represif merupakan upaya penindakan dan penegakan hukum terhadap ancaman faktual

  dengan sanksi tegas dan konsisten dapat membuat jera pelaku tindak pidana narkotika. Upaya tersebut berupa penghancuran jaringan utama peredaran gelap, pengembangan teknik control delivery (pengiriman yang terkendali), pengadaan fasilitas ekstradisi, bantuan bersama di bidang hukum dan peradilan, penggunaan sampel belajar barang bukti untuk penyitaan dalam jumlah yang besar, pemantapan peraturan perundang-undangan, memperketat pengawasan terhadap pelabuhan dan bandar udara, meningkatkan pengawasan perbatasan, pengawasan jalur masuk dari darat, laut dan udara serta perbatasan, pengawasan terhadap pengiriman pos dari luar negeri, dan pengawasan terhadap kapal- kapal di lautan dan pesawat udara di wilayah penerbangan internasional. tersebut, kejelian dan kecepatan anggota Polri sangat memegang peranan penting. Hal ini disebabkan karena para pecandu narkotika sangat pintar menghilangkan barang bukti. Apabila penyidikan terhadap perkara narkotika telah dilaksanakan dengan baik oleh pihak kepolisian, maka berkas perkara (Berita Acara Pemeriksaan) akan diserahkan kepada Kejaksaan Negeri selaku penuntut umum. Jika seorang pecandu narkotika telah mendapatkan keputusan hakim maka tindakan selanjutnya yang perlu dilakukan dalam menangani kasus narkotika ini adalah menolong para korban dengan melakukan pembinaan terhadap mereka. Dalam hal ini adalah rehabilitasi. Karena dengan rehabilitasi para pengguna narkotika diharap sembuh dari kecanduannya,

  

sehingga tidak menggunakan narkotika lagi.

  Upaya penanggulangan tindak pidana narkotika selain tindakan represif dan preventif, juga dapat dilakukan dengan tindakan preemptif serta juga treatment dan

  

rehabilitation (pengobatan dan pemulihan). Preemptif adalah upaya meniadakan

  pengobatan yang menyangkut kepentingan orang banyak sebelum perbuatan itu terjadi. Upaya yang dilaksanakan di sini lebih banyak mengutamakan kampanye membangun kesadaran masyarakat, yaitu dengan cara menentukan tingkat dan luas permasalahan penyalahgunaan narkotika, pencegahan, baik melalui pendidikan, di

99 Wawancara dengan Kompol Jusman Silaban, Kasubbag Analis Direktorat Narkoba Polda Sumut, tanggal 23 Mei 2011.

   peranan media massa.

  Penyalahgunaan narkotika selain sebagai tindak pidana, pelaku juga sebagai korban. Oleh karenanya, selain diberikan sanksi pidana, penyalahguna sebagai korban diupayakan agar mendapatkan perawatan dan pemulihan kembali sehingga setelah selesai menjalani sanksi (penjara) pidana, para korban telah siap kembali ke

  

  masyarakat sebagai anggota masyarakat. Adapun tindakan yang dilakukan dalam perawatan dan pemulihan adalah sebagai berikut: memilih program-program perawatan yang sesuai, training bagi petugas yang bekerja sebagai perawat (juru medis) narkotika, menangani pelanggaran-pelanggaran pidana dalam sistem pidana dan lembaga pemasyarakatan serta integrasi kembali ke masyarakat bagi penderita yang telah mengalami program perawatan dan pemulihan. Selain itu, yang sangat penting dalam penanggulangan tindak pidana narkotika dilakukannya upaya seperti

  international cooperation (kerjasama internasional) dalam upaya penanggulangan

  tindak pidana narkotika dan dissemination (penyebarluasan) bahaya narkotika kepada

   seluruh lapisan masyarakat.

  Hambatan yang dialami aparat penegak hukum khususnya Kepolisian dalam penegakan hukum terhadap tindak pidana narkotika yaitu besarnya biaya yang timbul akibat tindak pidana narkotika tentunya harus dibarengi dengan peningkatan biaya

  Penyalahgunaan Napza diakses tanggal 26 Mei 2011. 101 102 Mardani, Op. Cit., hal. 47.

  Ibid., hal. 48. dukungan dari berbagai pihak terutama pemerintah maka penyidikan dalam penanganan tindak pidana narkotika akan sulit dilakukan. Faktor biaya merupakan salah satu faktor yang menghambat dalam proses penegakan hukum tindak pidana narkotika pada tingkat penyelidikan maupun penyidikan. Minimnya anggaran membuat tidak maksimalnya atau tidak efektifnya dalam hal mengungkap tindak pidana narkotika, saat ini anggaran yang dikeluarkan dalam rangka penyelidikan dan penyidikan dalam mengungkap atau untuk dapat menegakkan hukum dalam pemberantasan tindak pidana narkotika belum mencukupi sehingga dalam menuntaskan penegakan hukum masih terkendala dan tidak memuaskan.

  Selain itu dengan tidak memadainya dana penyidikan tersebut, hal ini dikarenakan adanya faktor tumpang tindih tugas yang dilimpahkan kepada seorang penyidik. Hal ini dapat terjadi karena jumlah dan kemampuan personel belum memadai. Tindak pidana narkotika merupakan tindak pidana yang khusus bila dibandingkan dengan tindak pidana umum oleh karena itu dalam kapasitas penyidikan tindak pidana narkotika memerlukan kerja ekstra yang tidak bisa disamakan dengan menangani tindak pidana umum lainnya.

  3. Peran Orang Tua, Sekolah (Perguruan Tinggi), Masyarakat, Pemerintah

  dalam Penanggulangan Tindak Pidana Narkotika

  Ada beberapa upaya yang harus dilakukan oleh para orang tua guna

  

  menjauhkan anaknya dari narkotika, di antaranya: 103 Ibid., hal. 49. menggunakan obat agar merasa tinggi dan hebat tentang dirinya. Mereka mengalami rasa enak dan percaya diri, tetapi hal ini hanya bersifat sementara dan sering berakibat penyalahgunaan dalam jangka waktu panjang, bahkan dapat membawa kematian. Untuk meningkatkan kepercayaan diri hendaknya para orang tua mencoba hal-hal sebagai berikut: 1) Berilah pujian dan dorongan ungkapan penghargaan dengan kata-kata terima kasih atas bantuannya, kamu telah mencoba dan seterusnya.

  2) Tunjukkan rasa sayang dengan mendekap, memeluk dan dengan menyentuhnya.

  3) Lewatkan waktu bersama anak-anak. Ajaklah mereka berbicara, membaca dan melakukan aktivitas bersama.

  4) Berilah tanggung jawab kepada mereka. Buat mereka terlibat dalam pekerjaan rumah tangga. Hal ini akan membuat mereka dihargai dan berguna.

  b. Ajari mereka fakta-fakta tentang narkotika. Anak-anak sering mencoba narkotika oleh rasa keingintahuan. Namun, dengan mengetahui bahaya dan akibat dari penyalahgunaan narkotika, maka diharapkan mereka tidak akan

   mencobanya.

   , diakses tanggal 22 Juni 2011. melakukan suatu hubungan yang baik dalam pertukaran komunikasi antar pribadi. Ini dilakukan guna memberikan pemahaman dan pandangan hidup serta realitas yang ada di sekeliling dengan pesan yang tidak terbatas terhadap anak. Penyampaian pesan yang bertahap dengan mengutamakan kebijaksanaan dalam suatu pandangan saat menyampaikannya dapat menghindari terjadi persepsi tentang pesan yang disampaikan. Orang tua sering terlambat dalam mengetahui, karena kurang suatu jalinan dalam komunikasi dengan anak. Ketika orang tua mengetahui apa yang terjadi, ada banyak hal yang dapat dilakukan orang tua untuk pemulihan anak yang menjadi pecandu narkotika, yaitu merangkul anak (korban penyalahgunaan narkotika) dalam keluarga dan memikirkan hal terbaik untuknya. Orang tua mempunyai peranan penting dan sosok yang berarti dalam hidup korban. Hal percaya yang ditumbuhkan orang tua pada anak sangat mudah karena orang tua dalam diri seorang anak sangat berarti jika orang tua dapat meyakinkan anak atau korbannarkotika bahwa anak

   tersebut tetap mempunyai arti dalam keluarga dan masa depannya.

  Mengatasi dan melakukan tindakan pemulihan atau pencegahan dimulai dari keluarga. Orang tua harus dapat memelihara komunikasi dengan anak. Komunikasi sering berbicara antar orang tua dan anak, dengan member tentang resiko penggunaan dan penyalahgunaan Narkoba atau obat-obat terlarang. 105

  Lusiana Andriani Lubis, Peranan Komunikasi Dalam Penanggulangan Korban

Penyalahgunaan Narkoba, Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Pemberdayaan Komunitas Vol. 3 No. 1 Januari 2004, hal. 41. berbicara mengenai tekanan antar sebaya mereka, maka anak akan mendukung dalam penolakan terhadap Narkoba. Menjadi contoh yang baik,mencontohkan pengaruh buruk terhadap anak, khususnya ketergantungan kepada obat terlarang, akan berdam untuk kecanduan Narkoba. Jagalah keharmonisan keluarga,memperkuat hubungan dalam keluarga itu sangat diperlukan, karena bila anak dikucilkan dalam maka dia akan merasa asing, sendirian dan biasanya obat terlaranglah sebagai penghilang rasa sakit yang diderita oleh si anak. Mendidik anak dengan agama dan norma-norma kehidupan, untuk diri sendiri hendaklah belajar mengetahui tentang gejala-gejala penyalahgunaan narkotika, usahakan ikut serta dalam mengenali perkembangan-perkembangan yang melahirkan beberapa cara alternatif dalam

   menangani perkara-perkara narkotika.

  Sekolah (perguruan tinggi) mempunyai peran strategis dalam hal upaya menciptakan lingkungan sekolah (perguruan tinggi) yang terbebas dari bahaya narkotika. Oleh karena itu, perlu dibuat langkah-langkah yang bersifat operasional

  

  sebagai berikut:

  a. Membuat peraturan dan tata tertib tentang penanggulangan penyalahgunaan narkotika.

   akses tanggal 22 Juni 2011. 107 Mardani, Op. Cit., hal. 50. kegiatan, kampanye anti narkoba.

  c. Bekerja sama dengan aparat keamanan dan penegak hukum dalam menangani masalah penyalahgunaan narkotika di lingkungan sekolah.

  d. Mendorong masyarakat dan instansi terkait untuk berpartisipasi mendukung sekolah dalam penanggulangan penyalahgunaan narkotika di lingkungan sekolah.

  e. Menjalin kerja sama dengan LSM, Pusat Rehabilitasi, dokter, psikolog yang khusus menangani masalah narkotika.

  Memberantas dan menanggulangi bahaya narkotika keterlibatan masyarakat sangatlah penting, karena tanpa bantuan semua pihak maka usaha tersebut tidak akan membuahkan hasil. Oleh karena itu, ada beberapa upaya yang harus dilakukan oleh

  

  masyarakat tentang hal tersebut, yaitu sebagai berikut: a. Masyarakat harus menyatakan perang terhadap narkoba.

  b. Masyarakat harus membentuk aparat dalam hal pemberantasan narkotika.

  c. Masyarakat harus membentuk atau bekerja sama dengan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang bergerak di bidang pencegahan dan penanggulangan masalah narkotika.

  d. Masyarakat harus mendirikan pos pengawasan di tingkat RW atau kelurahan.

  Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika juga mengatur peran masyarakat dalam mencegah penyalahgunaan narkotika. Masyarakat 108 Ibid., hal. 51. pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika. Masyarakat mempunyai hak dan tanggung jawab dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika. Hak masyarakat dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika diwujudkan dalam bentuk mencari, memperoleh, dan memberikan informasi adanya dugaan telah terjadi tindak pidana Narkotika; memperoleh pelayanan dalam mencari, memperoleh, dan memberikan informasi tentang adanya dugaan telah terjadi tindak pidana Narkotika kepada penegak hukum atau BNN yang menangani perkara tindak pidana Narkotika; menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung jawab kepada penegak hukum atau BNN yang menangani perkara tindak pidana Narkotika; memperoleh jawaban atas pertanyaan tentang laporannya yang diberikan kepada penegak hukum atau BNN; memperoleh perlindungan hukum pada saat yang bersangkutan melaksanakan haknya atau diminta hadir dalam proses peradilan. Masyarakat dapat melaporkan kepada pejabat yang berwenang atau BNN jika mengetahui adanya penyalahgunaan atau peredaran gelap Narkotika.

  Pemerintah sebagai penyelenggaraan negara, mempunyai peran yang sangat penting dalam upaya penanggulangan dan pemberantasan narkotika. Upaya tersebut

  

  adalah sebagai berikut:

  a. pemerintah (hakim) harus berani menerapkan sanksi hukum yang berat bagi 109 pelaku penyalahgunaan narkotika.

  Ibid., hal. 51. tindak pidana narkotika, karena tindak pidana narkotika sudah merupakan persoalan kenegaraan. Komitmen itu harus ditindaklanjuti dengan sikap tegas aparat dalam memberantas tindak pidana narkotika tanpa pandang bulu.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

  Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas sebagai hasil penelitian dan pembahasan dalam tesis ini, maka dapat diajukan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya tindak pidana narkotika adalah:

  a. Faktor internal pelaku yaitu rasa keingintahuan atau coba-coba tentang narkotika mendorong seseorang melakukan perbuatan yang tergolong dalam tindak pidana narkotika.

  b. Faktor eksternal pelaku yaitu: 1) Faktor ekonomi yang sulit, menyebabkan seseorang melakukan tindak pidana narkotika. Keadaan ekonomi yang kurang baik menyebabkan seseorang menjadi pengedar narkotika. Dikarenakan dengan menjual narkotika keuntungan yang didapat sangat besar sekali.

  2) Pergaulan/Lingkungan terdiri dari pergaulan/lingkungan tempat tinggal, lingkungan sekolah atau tempat kerja dan lingkungan pergaulan lainnya.

  Ketiga lingkungan tersebut dapat memberikan pengaruh negatif terhadap seseorang, artinya akibat yang ditimbulkan oleh interaksi dengan lingkungan tersebut seseorang dapat melakukan perbuatan yang baik dan dapat pula sebaliknya. Apabila di lingkungan tersebut narkotika dapat melakukan tindak pidana narkotika semakin besar adanya. 3) Faktor didikan keluarga yang terlalu keras dapat menyebabkan seseorang menyalahgunakan narkotika, terlebih lagi tidak adanya kasih sayang yang didapat di dalam keluarga akan menyebabkan seseorang menyalahgunakan narkotika untuk mendapatkan kenikmatan sesaat.

  2. Kebijakan Penegakan Hukum Pidana terhadap Tindak Pidana Narkotika diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Upaya penegakan hukum yang dilakukan oleh penyidik kepolisian dalam memberantas tindak pidana narkotika dimulai dari observasi (pengamatan), surveilance (pembuntutan), undercover buy (pembelian terselubung), dan controlled delevery (penyerahan yang diawasi). Peran polisi dalam penanggulangan tindak pidana narkotika dilakukan dengan penanggulangan preventif dilakukan dengan mengadakan penyuluhan kepada masyarakat, baik itu anak sekolah, orang tua, maupun pemuka masyarakat serta pemuka agama akan bahayanya narkotika.

  Penanggulangan bersifat represif merupakan upaya penindakan dan penegakan hukum dengan memberikan sanksi pidana maka dapat membuat jera pelaku tindak pidana narkotika. Upaya tersebut berupa penghancuran jaringan utama peredaran gelap, pengembangan teknik control delevery (penyerahan yang diawasi).

B. Saran

  1. Perlunya penyidik bertindak tegas dalam penanggulangan tindak pidana narkotika, menghindari oknum-oknum yang menyulitkan pelaksanaan penyidikan, berani tindak pidana narkotika. Dan diharapkan juga kepada aparat penegak hukum dalam menyidik perkara penyalahgunaan narkotika terhadap pecandu narkotika sebagai korban dari peredaran gelap narkotika setidaknya diterapkannya pemberian rehabilitasi kepada pecandu seperti yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 mengenai pecandu narkotika yang seharusnya masuk ke panti rehabilitasi.

  2. Kepada masyarakat perlu adanya partisipasi dalam mencegah dan memberantas tindak pidana narkotika dengan memberikan informasi bila adanya dugaan telah terjadi tindak pidana narkotika kepada aparat penegak hukum, sehingga dengan adanya kerjasama masyarakat dan aparat penegak hukum, tindak pidana narkotika dapat dicegah dan diberantas dengan demikian tidak banyak lagi korban yang terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika.

A. Buku Ali, Zainuddin, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Sinar Grafika, 2009.

  Abdurrahman, Muslan, Sosiologi dan Metode Penelitian Hukum, Malang: UMM Press, 2009. Arief, Barda Nawawi, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Jakarta: Kencana 2008.

  • , Kebijakan Legislatif dalam Penanggulangan Kejahatan dengan Pidana Penjara, Semarang: CV.Ananta, 1994.
  • , Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan Hukum Pidana, Bandung: Citra Aditya Bakti, 1998.

  Arief, Dikdik dan Elisatris Gultom, Urgensi Perlindungan Korban Kejahatan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007. Atmasasmita, Romli, Teori dan Kapita Selekta Kriminologi, Bandung: PT. Refika Aditama, 2007. Bonger, W.A., Pengantar tentang Kriminologi, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1982. Dirdjosisworo, Soedjono, Pathologi Sosial, Bandung: Alumni, 1982.

  • , Ruang Lingkup Kriminologi, Bandung: Remaja Karya, 1987.
  • , Hukum Narkotika Indonesia, Bandung: Citra Aditya Bhakti, 1990.

  Farid, Zainal Abidin, Hukum Pidana I, Jakarta: Sinar Grafika, 1991. Hadisuprapto, Paulus, Juvenile Delinquency, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1997. Harahap, M.Yahya, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP Penyidikan dan Penuntutan, Jakarta: Sinar Grafika, 2009.

  Bayumedia, 2008. Kelana, Momo, Hukum Kepolisian, Jakarta: Grasindo, 1994. Lamintang, P.A.F., Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia, Bandung: Citra Aditya Bakti, 1997.

  Lubis, Solly,Serba Serbi Politik dan Hukum Pidana, Bandung: Alumni,1989. Makarao, Moh. Taufik, Tindak Pidana Narkotika, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2003. Mardani, Bunga Rampai Hukum Aktual, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2008. Marpaung, Leden, Unsur-Unsur Perbuatan yang Dapat Dihukum, Jakarta: Sinar Grafika, 1991.

  Marzuki, Peter Mahmud,Penelitian Hukum, Jakarta: Kencana, 2006. M.D, Mahfud,Politik hukum di Indonesia, Jakarta: LP3ES, 1998. Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana, Jakarta: Bina Aksara, 1987. Muladi dan Barda Nawawi Arief, Teori-Teori dan Kebijakan Pidana, Bandung: Alumni, 1996.

  Mulyadi, Mahmud, Criminal Policy Pendekatan Integral Penal Policy dan Non

  Penal Policy dalam Penanggulangan Kejahatan Kekerasan, Medan: Pustaka Bangsa Press, 2008.

  Poerwadarminta, W.J.S, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1986. Prasetyo, Teguh, Politik Hukum Pidana, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005. Prakoso, Djoko, Kejahatan-Kejahatan yang Merugikan dan Membahayakan Negara, Jakarta: PT. Bina Aksara, 1987. Prodjohamidjojo, Martiman, Memahami Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia 2, Jakarta: Pradnya Paramita, 1997. Purbacaraka, Purnadi dan Soerjono Soekanto, Perihal Kaidah Hukum, Bandung: Alumni, 1978.

  Sinar Baru, 1993. Sasangka, Hari, Narkotika dan Psikotropika Dalam Hukum Pidana, Bandung: Mandar Maju, 2003.

  • , Penyidikan, Penahanan, Penuntutan dan Pra Peradilan Dalam Teori dan Praktek, cetakan 1, Bandung: Mandar Maju, 2007.

  Santoso, Topo dan Eva Achjani Zulfa, Kriminologi, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007. Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, UI:Press, 2005.

  • , Kriminologi Suatu Pengantar, Jakarta: Ghalia, 1981. Soekanto, Soerjono dan Sri Mahmudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996.

  Sudarto, Hukum Pidana, Semarang: Yayasan Sudarto, 1990.

  • , Hukum dan Hukum Pidana, Bandung: Alumni, 1983.
  • , Kapita Selekta Hukum Pidana, Bandung: Alumni, 1986. Taufik, Moh. Makarao, Tindak Pidana Narkotika, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2003. Tongat, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia dalam Perspektif Pembaharuan, Malang: UMM Press, 2008.

B. Majalah, Jurnal Ilmiah, Surat Kabar

  Lubis, Lusiana Andriani, Peranan Komunikasi Dalam Penanggulangan Korban

  Penyalahgunaan Narkoba, Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Pemberdayaan

  Komunitas Vol. 3 No. 1 Januari 2004 Nasution, Bismar, Metode Penelitian Hukum Normatif dan Perbandingan Hukum, disampaikan pada dialog interaktif tentang penelitian hukum dan hasil penulisan hukum pada majalah akreditasi, Fakultas Hukum USU tanggal 18 Februari, 2003.

  Nurmalawaty, Penegakan Hukum Pidana Dalam Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba, Majalah Hukum USU Vol. 9 No. 2 Agustus 2004.

  Narkoba di Departemen Kehakiman dan HAM tanggal 22 Juli 2003.

  C. Peraturan Perundang-Undangan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

  Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2010 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pada Tingkat Kepolisian Daerah

  Surat Keputusan Kapolri No.Pol: 1205/IX/2000 tentang penyelidikan reserse

  D. Internet

  Yanen Dwimukti Wibowo, Kasus Penyalahgunaan Narkoba Khususnya pada Remaja, tanggal 22 Juni 2011. Penyalahgunaan Napza diakses tanggal 26 Mei 2011. 22 Juni 2011. Juni 2011.

Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Kebijakan Penegakan Hukum Pidana Terhadap Tin..

Gratis

Feedback