Feedback

Kebijakan Penegakan Hukum Pidana Terhadap Tindak Pidana Narkotika (Studi di Polda Sumut)

Informasi dokumen
KEBIJAKAN PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP TINDAK PIDANA NARKOTIKA (STUDI DI POLDA SUMUT) TESIS Oleh LIDYA CAROLINA SITEPU 097005011/HK PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara KEBIJAKAN PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP TINDAK PIDANA NARKOTIKA (STUDI DI POLDA SUMUT) TESIS Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Hukum Dalam Program Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Oleh LIDYA CAROLINA SITEPU 097005011/HK PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara JUDUL TESIS : NAMA MAHASISWA NOMOR POKOK PROGRAM STUDI : : : KEBIJAKAN PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP TINDAK PIDANA NARKOTIKA (STUDI DI POLDA SUMUT) Lidya Carolina Sitepu 097005011 Ilmu Hukum Menyetujui Komisi Pembimbing (Prof. Dr. Syafruddin Kalo, S.H., M.Hum) Ketua (Dr. Mahmud Mulyadi, S.H., M.Hum) Anggota Ketua Program Studi (Prof. Dr. Suhaidi, S.H., MH) (Dr. Marlina, S.H., M.Hum) Anggota Dekan (Prof. Dr. Runtung, S.H., M.Hum) Tanggal Lulus : 12 Agustus 2011 Universitas Sumatera Utara Telah diuji pada Tanggal 12 Agustus 2011 PANITIA PENGUJI TESIS Ketua : Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH, M.Hum Anggota : 1. Dr. Mahmud Mulyadi, SH, M.Hum 2. Dr. Marlina, SH, M.Hum 3. Dr. Madiasa Ablisar, SH, MS 4. Syafruddin S. Hasibuan, SH, MH, DFM Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Jumlah kasus dan tersangka tindak pidana narkotika di Sumatera Utara Tahun 2007 sampai dengan Mei 2011 adanya 12.273 kasus dengan 16.847 tersangka. Meningkatnya tindak pidana narkotika ini pada umumnya disebabkan dua hal, yaitu: pertama, bagi para pengedar menjanjikan keuntungan yang lebih besar, sedangkan bagi para pemakai menjanjikan ketentraman dan ketenangan hidup, sehingga beban psikis yang dialami dapat dihilangkan. Kedua, janji yang diberikan narkotika itu menyebabkan rasa takut terhadap resiko tertangkap menjadi berkurang, bahkan sebaliknya akan menimbulkan rasa keberanian. Dampak negatif dari narkotika tidak hanya menjangkau pengguna secara individu saja, tetapi juga generasi muda penerus bangsa dan bernegara. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini yaitu apakah yang menjadi faktor-faktor terjadinya tindak pidana narkotika di Sumatera Utara, bagaimanakah kebijakan penegakan hukum pidana terhadap tindak pidana narkotika. Menjawab permasalahan diatas, maka penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dan yuridis sosiologis. Jenis data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh melalui studi lapangan dan data sekunder yang diperoleh melalui studi pustaka. Informan dalam penelitian ini terdiri atas petugas kepolisian besar daerah sumatera utara dan narapidana lembaga pemasyarakatan tanjung gusta medan. Keseluruhan data dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan penulisan deskriptif analitis. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa faktor penyebab terjadinya tindak pidana narkotika di sumatera utara pada umumnya karena faktor ekonomi yang sulit dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari yang menyebabkan napi tersebut menjual narkotika dengan mendapatkan keuntungan yang lebih besar, selain itu karena faktor keluarga yang mendidik dengan keras dari kecil, dan kurangnya kasih sayang yang didapatkan dan faktor lain dikarena rasa keingintahuan/coba-coba dalam memakai narkotika, dari rasa coba-coba napi tersebut menjadi pecandu dikarenakan untuk mendapatkan inspirasi dalam membuat lagu. Kebijakan Penegakan Hukum Pidana terhadap Tindak Pidana Narkotika diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Upaya penegakan hukum yang dilakukan oleh penyidik kepolisian dalam memberantas tindak pidana narkotika dimulai dari observasi, pembuntutan, pembelian terselubung, dan penyerahan yang diawasi. Peran polisi dalam penanggulangan tindak pidana narkotika dilakukan dengan penanggulangan preventif dilakukan dengan mengadakan penyuluhan kepada masyarakat, baik itu anak sekolah, orang tua, maupun pemuka masyarakat serta pemuka agama akan bahayanya narkotika. Penanggulangan bersifat represif merupakan upaya penindakan dan penegakan hukum dengan memberikan sanksi pidana maka dapat membuat jera pelaku tindak pidana narkotika. Upaya tersebut berupa penghancuran jaringan utama peredaran gelap, pengembangan teknik control delevery (penyerahan yang diawasi). Kata kunci: Kebijakan Penegakan Hukum Pidana, Tindak Pidana, Narkotika Universitas Sumatera Utara ABSTRACT There were 12.273 cases and 16.847 suspects of narcotics in Sumatera Utara from 2007 to May 2011. This increasing number of narcotics-related criminal acts, in general, are caused by two things: first, to the dealers, narcotics promises them a bigger benefit, while to the users, narcotics promises them a calm and peaceful life that they can free themselves from the psychological problem they are having; second, the promise given by the narcotics lessens their fear of getting arrested, it can even make them more fearless. The negative impact of narcotics is not only experienced by the user individually, but also all of our young generation. The research problems discussed in this study were what factors did initiate the incident of the narcotics-related criminal act in Sumatera Utara and how the criminal law policy was implemented in coping with the narcotics-related criminal act. To answer the research problems above, this study employed normative juridical and sociological juridical approaches. The data used in this study were primary data obtained through field research and secondary data obtained through library research. The informants for this study were the police officers from Sumatera Utara Police Department and the convicted criminal in Tanjung Gusta Penitentiary, Medan. All of the data obtained were qualitatively analyzed by means of analytical descriptive writing. The result of this study showed that, in general, the causal factors of the incident of the narcotics-related criminal act in Sumatera Utara were the economic factor – it was very difficult for them to meet their daily necessity that they sold narcotics to get bigger benefit, and the family factor – when they were kids, they were very strictly educated by their parents so they felt that they did not get love and affection from their parents, and the factor of curiosity – because of their curiosity, they tried to consume the narcotics to get some inspiration in writing song then they became addicted to it. The policy on Criminal Law Reinforcement towards the Narcotics-Related Criminal Act is regulated in Law No.35/2009 on Narcotics. The attempt of law upholding done by the police investigating officers in eliminating the narcotics-related criminal act started with observation, survelaince, undercover buy, and controlled delivery. The role of police officers in coping with the narcotics-related criminal act was done preventively by providing extension on the danger of narcotics to the community members such as students, parents, public figures, and religious leaders. Repressive action was conducted by giving criminal sanction that can make the criminals learn from what they have done. This attempt was done in the form of destroying the main network of illegal distribution and developing the controlled delivery technique. Keywords: Policy, Criminal Law Reinforcement, Criminal Act, Narcotics   Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena hanya dengan rahmat dan kasihNya, saya sebagai penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis yang berjudul Kebijakan Penegakan Hukum Pidana Terhadap Tindak Pidana Narkotika (Studi di Polda Sumut).Tesis ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk menyelesaikan Program Studi Magister Ilmu Hukum Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. Penulisan tesis ini masih kurang sempurna, dan dengan segala keterbatasan, penulis berharap kiranya penelitian ini dapat bermanfaat bagi penulis dan bagi pembaca sekalian. Penulis yakin dengan pepatah yang mengatakan “tiada gading yang tak retak” artinya bahwa tiada manusia yang luput dari kesalahan yang diperbuatnya, oleh karena itu penulis akan dengan senang hati menerima saran dan kritikan yang bersifat konstruktif dan edukatif demi kesempurnaan penulisan tesis yang penulis buat ini. Didalam hal pembuatan tesis ini penulis yakin tidak akan terselesaikan begitu saja tanpa adanya arahan, bimbingan, dorongan, motivasi dari orang-orang yang ada disekitar penulis, baik yang bersifat moril ataupun materil. Oleh karena itu pada kesempatan yang baik ini, perkenankanlah dengan segala kerendahan hati penulis menghaturkan rasa terima kasih secara khusus kepada yang terhormat: 1. Bapak, Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, MSc, (CTM), SP.A(K),selaku Rektor atas kesempatan menjadi mahasiswi pada Program Studi Magister Ilmu Hukum Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. Universitas Sumatera Utara 2. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara atas kesempatan menjadi mahasiswi pada Program Studi Magister Ilmu Hukum Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. 3. Bapak Prof. Dr. Suhaidi, SH, MH, selaku Direktur Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara atas kesempatan yang telah diberikan untuk menyelesaikan pendidikan Program Studi Magister Ilmu Hukum Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. 4. Bapak Prof. Syafruddin Kalo, SH, M.Hum, selaku Komisi Pembimbing Utama Penulis. 5. Bapak Dr. Mahmud Mulyadi, SH, M.Hum selaku Komisi Pembimbing Kedua Penulis. 6. Ibu Dr. Marlina, SH, M.Hum selaku Komisi Pembimbing Ketiga Penulis. 7. Bapak Dr. Madiasa Ablisar, SH, MS selaku Komisi Penguji Penulis. 8. Bapak Syafruddin S. Hasibuan, SH, MH, DFM selaku Komisi Penguji Penulis. Yang telah banyak membantu penulis dengan memberikan arahan, bimbingan, petunjuk dan dorongan semangat serta motivasi untuk kesempurnaan penulisan ini hingga bisa terselesaikan. Atas segala bantuan tersebut, penulis berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar para pembimbing dan para penguji penulis senantiasa mendapat lindungan, rahmat, hidayah dan kasihNya dan senantiasa mendapatkan kebahagiaan di dunia dalam menjalani kehidupan serta pengabdian tugasnya sebagai kalangan akademisi dan di akhirat kelak. Selanjutnya penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada: Universitas Sumatera Utara 1. Ayahanda tercinta Kompol M. Sitepu dan Ibunda terkasih M.D Bangun. Dengan segenap jiwa dan lembut kasih sayangnya yang telah mengimaniku dengan kasihNya, mengajarkanku setiap hal terbaik, memberiku kasih terkuat dan jiwa yang besar saatku jatuh lalu berdiri tegar, dan menuntun penulis menyongsong masa depan yang lebih baik. Merekalah yang telah menghantarkan penulis dalam usaha mencapai kemantapan hidup guna menjadi putri kebanggaan. Oleh karena itu penulis berdoa semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan perlindunganNya, memberikan kebahagiaan, kesehatan serta umur yang panjang. 2. Abang-abang tercinta dr. Franky Hadinata Sitepu dan Fredy Widi Asmara Sitepu, ST dan adik tercinta Bram Aditya Sitepu yang telah mendoakan penulis dalam menyelesaikan studi pada Program Studi Magister Ilmu Hukum, semoga senantiasa dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa dan senantiasa dimudahkan segala cita-citanya. 3. Bapak Kabag Analis Direktorat Narkoba Polda Sumut, AKBP K.A.M Sinambela, dan Bapak Kompol J. Silaban yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian di Satuan Narkoba Polda Sumut. 4. Bapak Kepala Bidang Pembinaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IA Tanjung Gusta Medan, serta informan yang bersedia diwawancara serta membantu untuk penyelesaian tesis ini. 5. Para Dosen dan Staff Program Studi Magister Ilmu Hukum Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. Universitas Sumatera Utara 6. Sahabat dan rekan-rekan mahasiswa seperjuangan Nancy Yosepin Simbolon, SH, MH terimakasih buat kebersamaannya selama ini dan terimakasih juga buat tumpangannya dengan si fero yang setia menemani penelitian ke lembaga, Ramadhan Putra Gayo terimakasih telah menemani selama melakukan penelitian ke lembaga, Melita Berlina Meliala, SH, MH terimakasih buat kebersamaannya mulai dari kuliah di Palembang sampai kuliah di Medan. Mughni Sulubara, SH, MH, Irma Atika Rangkuti, SH, MH, Reka Elvina Gulo, Agus Pratama terimakasih teman-teman buat kebersamaannya selama ini. Rina Consela, Cornelius Sembiring, Benny Capah, Rony Marbun terimakasih teman-teman buat dukungannya. Penulis menyadari tesis ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat diharapkan guna kesempurnaan tesis ini di masa yang akan datang. Semoga tesis ini bermanfaat dan memberikan kontribusi yang berarti bagi pengembangan ilmu hukum khususnya hukum pidana. Medan, Agustus 2011 Penulis Lidya Carolina Sitepu Universitas Sumatera Utara RIWAYAT HIDUP Nama : Lidya Carolina Sitepu Tempat/Tanggal Lahir : Medan, 30 April 1986 Jenis kelamin : Perempuan Agama : Protestan Pendidikan : 1. SD Swasta Methodist Berastagi,Lulus Tahun 1998 2. SMP Negeri 1 Berastagi, Lulus Tahun 2001 3. SMU Negeri 2 Kabanjahe, Lulus Tahun 2004 4. Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya,Lulus Tahun 2008 5. Program Studi Magister Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara, Lulus Tahun 2011 Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI ABSTRAK. i ABSTRACT. ii KATA PENGANTAR. iii RIWAYAT HIDUP. vii DAFTAR ISI. viii DAFTAR TABEL . x BAB I : PENDAHULUAN. 1 A. Latar Belakang. 1 B. Perumusan Masalah. 10 C. Tujuan Penelitian. 10 D. Manfaat Penelitian. 10 E. Keaslian Penelitian. 11 F. Kerangka Teori dan Konsep. 11 1. Kerangka Teori. 11 2. Kerangka Konsep. 15 G. Metode Penelitian. 20 1. Jenis Penelitian. 20 2. Sumber Data. 21 3. Teknik Pengumpulan Data. 23 4. Analisis Data. 23 : FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TINDAK PIDANA NARKOTIKA. A. Kajian Kriminologi Penyebab Terjadinya Kejahatan. 24 24 1. Teori yang menjelaskan kejahatan dari perspektif biologis. 25 2. Teori yang menjelaskan kejahatan dari perspektif sosiologis. 27 BAB II Universitas Sumatera Utara BAB III B. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Tindak Pidana Narkotika. 34 1. Faktor Internal Pelaku. 34 2. Faktor Eksternal Pelaku. 36 C. Bahaya dan Akibat Penyalahgunaan Narkotika. 43 : KEBIJAKAN PENEGAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP TINDAK PIDANA NARKOTIKA. 52 A. Pengaturan Hukum Terhadap Tindak Pidana Narkotika. 52 1. Ketentuan Pidana Terhadap Tindak Pidana Narkotika. 59 2. Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Tindak Pidana Narkotika 63 B. Penegakan Hukum Pidana Terhadap Tindak Pidana Narkotika 72 1. Penerapan Hukum Pidana. 72 2. Peran Polri dalam Penanggulangan Tindak Pidana Narkotika 75 3. Peran Orang Tua, Sekolah (Perguruan Tinggi), Masyarakat, Pemerintah dalam Penanggulangan Tindak Pidana Narkotika BAB IV : KESIMPULAN DAN SARAN. 95 102 A. Kesimpulan. 102 B. Saran. 103 DAFTAR PUSTAKA Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Tabel 1 : Jumlah Kasus dan Tersangka Tindak Pidana Narkotika Di Sumatera Utara Tahun 2007 sampai dengan Mei 2011. 6 Tabel 2 : Data Tersangka Tindak Pidana Narkotika Menurut Umur Pelaku Di Sumatera Utara Tahun 2007 sampai Bulan Mei 2011. 7 Tabel 3 : Data Tersangka Tindak Pidana Narkotika di Sumatera Utara Menurut Status Pelaku Tahun 2007 sampai Bulan Mei 2011. 9 Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Jumlah kasus dan tersangka tindak pidana narkotika di Sumatera Utara Tahun 2007 sampai dengan Mei 2011 adanya 12.273 kasus dengan 16.847 tersangka. Meningkatnya tindak pidana narkotika ini pada umumnya disebabkan dua hal, yaitu: pertama, bagi para pengedar Utara BAB II PENGATURAN HUKUM TINDAK PIDANA NARKOTIKA A. PENGGOLONGAN NARKOTIKA 1. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun bukan sintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran dan hilangnya rasa. Zat ini dapat mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat mengakibatkan ketergantungan. Narkotika memiliki daya adiksi (ketagihan) yang sangat berat, juga memiliki daya toleran (penyesuaian) dan daya habitual (kebiasaan) yang sangat tinggi. Ketiga sifat narkotika inilah yang menyebabkan pemakai narkotika tidak dapat lepas dari “cengkraman”nya. Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 22 Tahun 199723 bahwa jenis narkotika dibagi dalam 3 (tiga) kelompok, yaitu : a. Narkotika golongan I adalah narkotika yang paling berbahaya. Daya adiktifnya sangat tinggi. Golongan ini tidak boleh digunakan untuk kepentingan apa pun, kecuali untuk penelitian atau ilmu pengetahuan. Contohnya adalah Ganja, Heroin, kokain, morfin, opium, dan lain-lain. b. Narkotika golongan II adalah narkotika yang memiliki daya adiktif kuat, tetapi bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian. Contohnya adalah petidin, dan turunannya, benzetidin, betametadol, dan lain-lain. c. Narkotika golongan III adalah narkotika yang memiliki daya adiktif ringan, tetapi bermanfaat untuk pengobatan dan penelitian. Contohnya kodein dan keturunanya. 23 Undang-Undang Republik Indonesia No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika 52 Universitas Sumatera Utara Berdasarkan cara pembuatannya, narkotika dibedakan ke dalam 3 (tiga) golongan, yaitu : a. Narkotika Alami. Narkotika alami adalah narkotika yang zat adiktifnya diambil dari tumbuh-tumbuhan (alam). Contohnya: 1) Ganja adalah tanaman perdu dengan daun menyerupai daun singkong yang tepinya bergerigi dan berbulu halus. Jumlah jarinya selalu ganjil, yaitu 5, 7, 9. tumbuhan ini banyak tumbuh di beberapa daerah di Indonesia, seperti Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Pulau Jawa dan lain-lain. Daun ganja sering digunakan sebagai bumbu penyedap masakan. Bila digunakan sebagai bumbu masak, daya adiktifnya rendah. Namun, tidak demikian bila dengan dibakar dan asapnya dihirup. Cara penyalahgunaannya dengan dikeringkan dan dicampur dengan tembakau rokok atau dijadikan lalu dibakar serta dihisap. 2) Hasis adalah tanaman serupa ganja yang tumbuh di Amerika Latin dan Eropa. Daun ganja, hasis, dan mariyuana juga dapat disuling dan diambil sarinya. Dalam bentuk cair, harganya Sangat mahal. Gunanya adalah untuk disalahgunakan oleh pemadat-pemadat ”kelas tinggi”. 53 Universitas Sumatera Utara 3) Koka adalah tanaman perdu mirip pohon kopi. Buahnya yang matang berwarna merah seperti biji kopi. Dalam komunitas masyarakat indian kuno, biji koka sering digunakan untuk menambah kekuatan orang yang berperang atau berburu binatang. Koka kemudian diolah menjadi kokain. 4) Opium adalah bunga dengan bentuk dan warna yang indah. Dari getah bunga opium dihasilkan candu (opiat). Di Mesir dan daratan Cina, opium dulu digunakan untuk mengobati beberapa penyakit, memberi kekuatan, atau menghilangkan rasa sakit pada tentara yang terluka sewaktu berperang atau ketika sedang berburu. b. Narkotika Semisintetis Narkotika semisintetis adalah narkotika alami yang diolah dan diambil zat aktifnya (intisarinya) agar memiliki khasiat yang lebih kuat sehingga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan kedokteran. Contohnya: 1) Morfin, dipakai dalam dunia kedokteran untuk menghilangkan rasa sakit atau pembiusan pada operasi (pembedahan) 2) Kodein, dipakai untuk obat penghilang batuk 3) Heroin, tidak dapat dipakai dalam pengobatan karena daya adiktifnya sangat besar dan manfaatnya secara medis 54 Universitas Sumatera Utara belum ditemukan. Dalam perdagangan gelap, heroin diberi nama putaw, atau petai. Bentuknya seperti tepung terigu halus, putih dan agak kotor. 4) Kokain, merupakan hasil olahan dari biji koka. c. Narkotika Sintetis. Narkotika sintetis adalah narkotika palsu yang dibuat dari bahan kimia. Narkotika ini digunakan untuk pembiusan dan pengobatan bagi orang yang menderita ketergantungan obat (subsitusi). Contohnya: 1) Petidin, digunakan untuk obat bius lokal. (operasi kecil, sunat, dan sebagainya) 2) Methadon, digunakan untuk pengobatan pecandu narkotika. Selain untuk pembiusan, narkotika sintetis ini biasanya diberikan oleh dokter kepada penyalahguna narkotika untuk menghentikan kebiasaannya yang tidak kuat melawan sugesti (relaps) atau sakaw. Narkotika sintetis berfungsi sebagai ”pengganti sementara”. Bila benar-benar sudah bebas, asupan narkotika sintetis ini dikurangi sedikit demi sedikit sampai akhirnya berhenti total. 2. Psikotropika adalah zat atau obat bukan narkotika, baik alamiah maupun sintetis, yang memiliki khasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas 55 Universitas Sumatera Utara pada aktifitas normal dan perilaku. Psikotropika adalah obat yang digunakan oleh dokter untuk mengobati ganguan jiwa (psyche). Berdasarkan Undang-Undang No. 5 tahun 199724 bahwa psikotropika dapat dikelompokkan ke dalam 4 (empat) Golongan yaitu : a. Golongan I adalah psikotropika dengan daya yang sangat kuat, belum diketahui manfaatnya untuk pengobatan dan sedang diteliti khasiatnya, Contohnya adalah MDMA, ekstasi, LSD, dan STP. b. Golongan II adalah psikotropika dengan daya adiktif kuat serta berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contohnya adalah afetamin, metamfetamin, metakualon dan sebagainya. c. Golongan III adalah psikotropika dengan daya adiksi yang sedang serta berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contohnya adalah lumibal, buprenorsina, fleenitrazepam dan sebagainya. d. Golongan IV adalah psikotropika dengan daya adiksi ringan serta berguna untuk pengobatan dan penelitian. Contohnya adalah nitrazepam (BK, mogadon, dumolid), diazepam dan lain sebagainya. 3. Zat atau Bahan Adiktif lainnya.adalah zat-zat selain narkotika dan psikotropika yang dapat menimbulkan ketergantungan. contohnya : rokok, kelompok alkohol dan minuman lain yang dapat memabukkan dan menimbulkan ketagihan, thinner, dan zat-zat lain seperti lem kayu, aseton, cat, bensin dimana bila dihisap, dihirup,dan dicium dapat memabukkan. Setelah Undang-Undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika diterbitkan dan dilanjutkan dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2013 tentang Pelaksanaan Undang- Undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika sesuai Pasal 152 Undang- Undang RI no. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yang berbunyi semua 24 Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika 56 Universitas Sumatera Utara peraturan perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3698) pada saat Undang-Undang ini diundangkan, masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan/atau belum diganti dengan peraturan baru berdasarkan Undang-Undang ini dan Pasal 153. Dengan berlakunya Undang-Undang ini maka : 1. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 67, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3698) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku; dan 2. Lampiran mengenai jenis Psikotropika Golongan I dan Golongan II sebagaimana tercantum dalam Lampiran Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3671) yang telah dipindahkan menjadi Narkotika Golongan I menurut Undang-Undang ini, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.25 B. KETENTUAN PIDANA MENURUT UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA 1. Menurut Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika26 a. Pasal 60 1) Barangsiapa : a) memproduksi psikotropika selain yang ditetapkan dalam ketentuan Pasal 5; atau 25 Undang-Undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika 26 Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika 57 Universitas Sumatera Utara b) memproduksi atau mengedarkan psikotropika dalam bentuk obat yang tidak memenuhi standar dan/atau persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7; atau c) memproduksi atau mengedarkan psikotropika yang berupa obat yang tidak terdaftar pada departemen yang bertanggung jawab di bidang kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1); dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah). 2) Barangsiapa menyalurkan psikotropika selain yang ditetapkan dalam Pasal 12 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda paling banyak Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah). 3) Barangsiapa menerima penyaluran psikotropika selain yang ditetapkan dalam Pasal 12 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara dan Analisis Transaksi Keuangan yang terkait dengan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika;                                                             187 Ibid. 300-301.  188 Ibid. hlm. 301.    Universitas Sumatera Utara e. meminta secara langsung kepada instansi yang berwenang untuk melarang seseorang bepergian ke luar negeri; f. meminta data kekayaan dan data perpajakan tersangka kepada instansi terkait; g. menghentikan sementara suatu transaksi keuangan, transaksi perdagangan, dan perjanjian lainnya atau mencabut sementara izin, lisensi, serta konsesi yang dilakukan atau dimiliki oleh tersangka yang diduga berdasarkan bukti awal yang cukup ada hubungannya dengan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika yang sedang diperiksa; dan h. meminta bantuan interpol Indonesia atau instansi penegak hukum negara lain untuk melakukan pencarian, penangkapan, dan penyitaan barang bukti di luar negeri.   Universitas Sumatera Utara BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN Dari uraian yang sebagaimana yang telah disebutkan di atas, maka penulis mengambil kesimpulan: 1. Konsep kebijakan hukum pidana mencakup kebijakan krimininal, kebijakan hukum pidana dan kebijakan non-pidana (penal). Kebijakan kriminal merupakan ilmu penanggulangan kejahatan yang dapat dilakukan dengan memadukan penerapan sarana pidana dan pencegahan tanpa mengggunakan sarana pidana. Kebijakan hukum pidana adalah upaya penanggulangan kejahatan dengan menggunakan sarana pidana. Sedangkan kebijakan non pidana adalah tindakan pencegahan sebelum terjadinya kejahatan. Kebijakan pidana dan kebijakan non pidana adalah merupakan bagian dari kebijakan kriminal dan kebijakan kriminal itu sendiri merupakan bagian kebijakan penegakan hukum yang mempunyai tujuan akhir perlindungan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. 2. Kebijakan hukum pidana terhadap pengaturan tindak pidana narkotika di Indonesia meliputi pertanggungjawaban pidana, perbuatan-perbuatan yang dikualifikasikan sebagai tindak pidana dan sanksi pidana. Pertanggungjawaban pidana terdiri dari pertanggungjawaban yang dilakukan oleh manusia dan korporasi sebagai subjek tindak pidana. Perbuatan-perbuatan yang dilarang terdiri mengedarkan narkotika atau   Universitas Sumatera Utara prekursor narkotika dan menyalahgunakan narkotika atau prekursor narkotika baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Sanksi yang ada dalam undang-undang ini adalah sanksi pidana yang terdiri dari sanksi pidana pokok dan tambahan. Pidana pokok terdiri pidana mati, penjara, kurungan dan denda. Sedangkan pidana tambahan terdiri pencabutan izin usaha dan pencabutan suatu badan hukum untuk korporasi. Sanksi tindakan yang diberikan adalah pengobatan dan rehabilitasi kepada pecandu atau korban penyalahgunaan narkotika. Undang-Undang Narkotika ini mengatur fungsi dan peran Badan Narkotika Nasional sebagai lembaga pencegahan dan pemberantasan tindak pidana narkotika dan prekursor narkotika. BNN mempunyai peran dan fungsi sebagai penyidik dalam rangka pemberantasan penyalahgunaan peredaran gelap dan penyalahgunaan narkotika dan prekursor narkotika. B. SARAN Adapun saran dari penulis yang ingin disampaikan terhadap permasalahan skripsi ini adalah: 1. Dalam penerapan Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika agar dapat lebih efektif maka perlu adanya tindakan yang terkoordinasi antara para pihak atau instansi seperti antara kepolisian dengan pihak Badan Narkotika Nasional, Kementerian Perhubungan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, lembaga-lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan dan lain-lain. Dalam upaya pencegahan tindak pidana narkotika perlu diintensifkan penyuluha-   Universitas Sumatera Utara penyuluhan tentang bahaya narkotika melalui media massa seperti surat kabar, majalah, internet, jejaring sosial (facebook, twitter) dan lain-lain, sehingga anggota masyarakat menyadari bahaya besar narkotika, sehingga setiap keluarga dapat membuat upaya-upaya pencegahan secara internal keluarga. Pertahanan keluarga adalah usaha yang terpenting dalam mencegah terjadinya narkotika. 2. Generasi muda adalah calon penerus bangsa, oleh karenanya agar jangan sampai terjebak penyalahgunaan narkotika maka yang dilakukan: a. Perlu memberikan pemahaman agama dan pembinaan moral pada generasi muda yang dimulai dari keluarga, karena agama dan moral adalah benteng yang kokoh dalam melindungi keluarga dari kerusakan dan kehancuran termasuk dari bahaya narkotika. b. Perlu memberikan pengertian dan pemahaman bahwa narkotika adalah barang yang berbahaya dan merusak, sehingga penyalahgunaan narkotika tersebut termasuk perbuatan atau tindak pidana yang dapat dijatuhi hukuman yang berat. c. Perlu memberikan pengertian dan pemahaman bahwa sekali mencoba narkotika akan seterusnya menjadi ketagihan yang kemudian meningkat menjadi ketergantungan. d. Perlu memberikan pengertian dan pemahaman bahwa penyalahgunaan narkotika akan menjauhkan diri dari keluarga, teman, dan kehidupan sosial.   Universitas Sumatera Utara e. Perlu memberikan pengertian dan pemahaman mengenai resiko penyalahgunaan narkotika akan berdampak fatal terhadap diri sendiri dan orang lain.   Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA BUKU-BUKU Adami Chazawi, 2008, Pelajaran Hukum Pidana I, Raja Grafindo Persada, Jakarta. Andi Hamzah, 2008, Asas-Asas Hukum Pidana: Edisi Revisi, Rineka Cipta, Jakarta. Bambang Poernomo, 1992, Asas-Asas Hukum Pidana, Ghalia Indonesia, Jakarta. Bambang Waluyo, 2000, Pidana dan Pemidanaan, Sinar Grafika, Jakarta. Barda Nawawi Arief, 2006, Perbandingan Hukm Pidana, Raja Grafindo Persada, Jakarta. --------, 2008, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana (Perkembangan Penyusunan Konsep KUHP Baru), Kencana Prenada Media Group, Jakarta. D. Scraffmeister, et.al, J.E. Sahetapy (Ed.terj.), 1995, Hukum Pidana, Liberty, Yogyakarta. Lilik Mulyadi, 2008, Bunga Rampai Hukum Pidana: Perspektif, Teoritis, dan Praktik., PT Alumni, Bandung. Mahmud Mulyadi, 2008, Criminal Policy: Pendekatan Integral Penal Policy dan Non Penal Policy dalam Penanggulangan Kejahatan Kekerasan, Pustaka Bangsa Press, Medan. --------, Feri Antoni Surbakti, 2010, Politik Hukum Pidana Terhadap kejahatan Korporasi, PT Softmedia, Medan. --------, 2011, Politik Hukum Pidana Bahan Kuliah, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan.   Universitas Sumatera Utara Moeljatno, 2008, Asas-Asas Hukum Pidana: Edisi Revisi, Rineka Cipta, Jakarta. Moh. Taufik Makaro, dkk, 2003, Tindak Pidana Narkotika, Ghalia Indonesia, Bogor. Mochtar Kusumaatmadja dan B.Arief Sidharta, 2000, Pengantar Ilmu Hukum, Suatu Pengenalan Pertama Berlakunya Ruang Lingkup Berlakunya Ilmu Hukum, Buku I, Alumni,Bandung. M. Hamdan, 1997, Politik Hukum Pidana, Raja Grafindo Persada, Jakarta. M. Sholehuddin, 2004, Sistem Sanksi Dalam Hukum Pidana: Ide Dasar Double Track System dan Implementasinya, Raja Grafindo Persada, Jakarta. Muladi dan Dwija Priyatno, 2010, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, Kencana Prenada Media Group, Jakarta. P.A.F. Lamintang, 1997, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Citra Adiyta Bakti, Bandung. Raharjo, Hukum dan Perubahan Sosial, 1983, Alumni, Bandung. Roeslan Saleh, 1983, Perbuatan Pidana dan Pertanggung Jawaban Pidana, Aksara Baru, Jakarta. Siswantoro Sunarso. 2004. Penegakan Hukum Dalam Kajian sosiologis. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Siswanto Sunarso, 2012, Politik Hukum Dalam Undang-Undang Narkotika, Rineka Cipta, Jakarta. Soerjono Soekanto, Sri Mamudji, 2010, Penelitian Hukum Normatif, Rajawali Press, Jakarta. Sudarto, 1990, Hukum Pidana I, Yayasan Sudarto, Jakarta.   Universitas Sumatera Utara Teguh Praseyto, Abdul Halim Barkatullah, 2005, Politik Hukum Pidana: Kajian Kriminalisasi dan Dekriminalisasi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. --------, 2011, Hukum Pidana: Edisi Revisi, Rajawali Press, Jakarta. Tongat, 2009, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia Dalam Perspektif Pembaharuan, UMM Press, Malang. Zainal Abidin Farid, 2007, Hukum Pidana 1, Sinar Grafika, Jakarta. PERUNDANG-UNDANGAN Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. INTERNET A. Kadarmanta, Kejahatan narkotika: Extraordinary crime dan extraordinary punishment, http://kejahatan-narkotika-extraordinary-crime.html, diakses tanggal 21 Maret 2012. Bismar Nasution, Kejahatan Korporasi dan Pertanggungjawabannya hhtp://www.google.com, diakses tanggal 3 Juli 2012. BNN Portal: Kejahatan Transnasional, Masalah Narkoba, dan Diplomasi Indonesia, http://bnn.narkotika.htm, diakses tanggal 21 Maret 2012.   Universitas Sumatera Utara Hindari keluarga kita dari narkoba, http://BNN. com, diakses tanggal 21 Maret 2012. Pertanggungjawaban Korporasi, http://www.ensiklopedia indonesia.mnt, diakses tanggal 3 Juli 2012.   Universitas Sumatera Utara
Kebijakan Penegakan Hukum Pidana Terhadap Tindak Pidana Narkotika (Studi di Polda Sumut)
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Kebijakan Penegakan Hukum Pidana Terhadap Tindak Pidana Narkotika (Studi di Polda Sumut)

Gratis