Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penerbitan Obligasi Pemerintah Di Indonesia

 3  100  111  2017-01-18 05:19:22 Report infringing document
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENERBITAN OBLIGASI PEMERINTAH DI INDONESIA TESIS Oleh: AHMADI SARIP 097018015 / EP SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENERBITAN OBLIGASI PEMERINTAH DI INDONESIA TESIS Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Ekonomi Pembangunan pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Oleh AHMADI SARIP 097018015 / EP SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara Judul Tesis : ANALISIS FAKTOR-FAKTOR MEMPENGARUHI PENERBITAN YANG OBLIGASI PEMERINTAH DI INDONESIA Nama Mahasiswa : Ahmadi Sarip : 097018015 Nomor Pokok : Ekonomi Pembangunan Program Studi Menyetujui: Komisi Pembimbing (Prof. Dr. Lic. Rer. Reg. Sirojuzilam, S.E) Ketua Ketua Program Studi (Drs. Rujiman, M.A) Anggota Direktur, (Prof. Dr. Sya’ad Afifuddin, S.E., M.Ec) (Prof. Dr. Ir. A.Rahim Matondang, MSIE) Tanggal lulus : 23 September 2011 Universitas Sumatera Utara Telah diuji pada Tanggal : 23 September 2011 PANITIA PENGUJI TESIS Ketua : Prof. Dr. Lic. Rer. Reg. Sirojuzilam, S.E Anggota : 1. Drs. Rujiman, M.A 2. Prof. Dr. Sya’ad Afifuddin, S.E., M.Ec 3. Dr. Jonni Manurung, MS 4. Wahyu Ario Pratomo, SE., M.Ec Universitas Sumatera Utara PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan Tesis yang berjudul : “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penerbitan Obligasi Pemerintah Di Indonesia” Adalah benar hasil kerja saya sendiri dan belum dipublikasikan oleh siapapun sebelumnya. Sumber-sumber data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan secara benar dan jelas. Medan, September 2011 Yang membuat pernyataan (Ahmadi Sarip) Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penerbitan obligasi pemerintah di Indonesia. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penerimaan negara tahun sebelumnya, pengeluaran pemerintah, pinjaman luar negeri pemerintah dan suku bunga SBI. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data time series dari triwulan pertama 2003 sampai dengan triwulan ke-empat 2009. Data diolah dengan menggunakan program E-views 5.1 dengan menggunakan model ekonometrika yaitu Ordinary Least Square. Hasil estimasi menunjukkan bahwa nilai R-square sebesar 0.972, yang berarti variabel independen mampu menjelaskan variabel dependen sebesar 97.2%, sedangkan sisanya 2.8% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak disertakan dalam model estimasi. F-statistik lebih besar dari F-tabel (202,4315 >4,26), menunjukkan bahwa variabel penerimaan negara tahun sebelumnya, pengeluaran pemerintah, pinjaman luar negeri pemerintah dan suku bunga SBI secara bersama-sama mampu mempengaruhi penerbitan obligasi pemerintah Indonesia, signifikan pada α= 1%. Pengeluaran pemerintah mempunyai pengaruh yang positif terhadap penerbitan obligasi pemerintah, sedangkan penerimaan negara tahun sebelumnya, pinjaman luar negeri pemerintah dan suku bunga SBI mempunyai pengaruh yang negatif terhadap penerbitan obligasi pemerintah Indonesia. Semua variabel bebas signifikan secara statistik dan sesuai hipotesis. Kata kunci: Penerbitan Obligasi Pemerintah, Penerimaan Negara tahun sebelumnya, Pengeluaran Pemerintah, Pinjaman Luar Negeri Pemerintah, Suku bunga SBI. Universitas Sumatera Utara ABSTRACT The aim of research is to analyze the factors which influence the issuances of the government bonds in Indonesia. The variables employed in this research are state revenues in previous year, government expenditure, official foreign borrowing and certificate of Bank Indonesia (SBI) rates. Data used for this research is time series data from first quarter 2003 till forth quarter 2009. The data is processed with program E-views 5.1 by using econometric model that is ordinary least square. The estimation showed R-square is 0.972, it means that the independent variables are able to explain the dependent variable as much as 97.2%, while the rest 2.8% are explained by variables are not included in estimation model. F-statistic is bigger than F-table (202,4315>4,26), it means that state of revenues in previous year, government expenditure, official foreign borrowing and certificate of Bank Indonesia (SBI) rates, together affected on issuances of government bonds in Indonesia significanty at α= 1%. The government expenditure have positively influence on issuances of government bond. State revenues in previous year, official foreign borrowing and SBI rates have negatively influence on issuances of government bond. All the independent variables are significant in statistic estimation and according to hypothesis. Keywords: Issuances of the government bonds, State revenue in previous year, government expenditure, Official foreign borrowing, SBI rates. Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Taufik dan Hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penerbitan Obligasi Pemerintah di Indonesia”. Tak lupa pula shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa risalah kepada seluruh umat manusia. Dalam penyelesaian tesis ini, penulis senantiasa mendapat bantuan baik berupa moril maupun materil terutama dari Ayahanda Panusunan Harahap dan Ibunda Tiraiya Siregar, serta saudara-saudaraku: Kak Armadani Harahap, Am.Keb., Abang Ahmad Parulian Harahap, SH., Kak Masdalipa Harahap, S.Pd., dan Adikku Surya Rahmat Harahap yang selalu memberikan dukungan, semangat dan do’a. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang tulus kepada : 1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), SpA(K)., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara. 2. Bapak Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE., selaku Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. 3. Bapak Prof. Dr. Sya’ad Afifuddin, S.E., M.Ec., selaku Ketua Program Studi Ekonomi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. 4. Bapak Prof. Dr. Lic. Rer. Reg. Sirojuzilam, S.E., selaku Ketua Pembimbing yang telah banyak membantu dalam mengarahkan, membimbing dan memberikan saran kepada penulis dalam penulisan tesis ini. Universitas Sumatera Utara 5. Bapak Drs. Rujiman, M.A., selaku Pembimbing yang telah banyak membantu dalam mengarahkan, membimbing dan memberikan saran kepada penulis dalam penulisan tesis ini. 6. Bapak Prof. Dr. Sya’ad Afifuddin, S.E., M.Ec., Dr. Jonni Manurung, MS., Wahyu Ario Pratomo, S.E., M.Ec., selaku dosen Pembanding yang telah banyak memberikan saran dan masukan atas penyempurnaan tesis ini. 7. Bapak dan Ibu dosen Program Studi Magister Ekonomi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. 8. Bapak dan Ibu Staf Administrasi Program Studi Magister Ekonomi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Semoga Allah SWT memberikan balasan yang lebih baik atas segala bantuan yang diberikan dan tesis ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Amin. Medan, September 2011 Penulis, ( Ahmadi Sarip ) Universitas Sumatera Utara RIWAYAT HIDUP Nama : Ahmadi Sarip Agama : Islam Tempat/Tanggal Lahir : Napahalas /19 Juni 1988 Jenis Kelamin : Laki-laki Warga Negara : Indonesia Alamat : Jl. Jamin Ginting, No. 24 Medan E-mail : ahmadisarip@yahoo.co.id Status Perkawinan : Belum Menikah Nama Orang Tua Ayah : Panusunan Harahap Ibu : Tiraiya Siregar Pendidikan 2009 – 2011 : S2 Magister Ekonomi Pembangunan Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara 2006 – 2009 : S1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara 2003 – 2006 : SMA Negeri 2 Padangsidimpuan 2000 – 2003 : SMP Negeri 1 Gunung Tua 1994 – 2000 : SD Negeri No. 147586 Napahalas Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK ............................................................................................................... i ABSTRACT.............................................................................................................. ii KATA PENGANTAR ........................................................................................... iii RIWAYAT HIDUP..................................................................................................v DAFTAR ISI.......................................................................................................... vi DAFTAR TABEL....................................................................................................x DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. xi DAFTAR LAMPIRAN......................................................................................... xii DAFTAR SINGKATAN ..................................................................................... xiii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang………………...……………..…………………................1 1.2 Perumusan Masalah ....................................................................................8 1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................................9 1.4 Manfaat Penelitian ......................................................................................9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Uraian Teoritis 2.1.1 Obligasi ...................................................................................................10 2.1.2 Peringkat Obligasi ...................................................................................12 2.1.3 Obligasi Pemerintah Indonesia ...............................................................13 2.1.4 Mekanisme Penerbitan Surat Utang Negara ...........................................17 Universitas Sumatera Utara 2.2 Penerimaan Negara 2.2.1 Penerimaan Perpajakan ..........................................................................18 2.2.2 Penerimaan Negara Bukan Pajak ...........................................................21 2.2.3 Hibah ......................................................................................................21 2.2.4 Pengaruh Penerimaan Negara Tahun sebelumnya Terhadap Penerbitan Obligasi Pemerintah ............................................................22 2.3 Pengeluaran Pemerintah 2.3.1 Pengeluaran Rutin .................................................................................22 2.3.2 Pengeluaran Pembangunan ....................................................................24 2.3.3 Klasifikasi Pengeluaran Pemerintah ..................................................... 25 2.3.4 Teori Pengeluaran Pemerintah ...............................................................27 2.3.5 Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Terhadap Penerbitan Obligasi Pemerintah .............................................................................................31 2.4 Pinjaman Luar Negeri Pemerintah 2.4.1 Karakteristik Pinjaman Luar Negeri .....................................................33 2.4.2 Prinsip Dasar Penerimaan Pinjaman Luar Negeri Pemerintah .............36 2.4.3 Peranan Pinjaman Luar Negeri Dalam APBN......................................37 2.4.4 Pengaruh Pinjaman Luar Negeri Pemerintah Terhadap Penerbitan Obligasi Pemerintah ...........................................................38 2.5 Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 2.5.1 Pengertian Suku Bunga.........................................................................39 2.5.2 Pengertian dan Sejarah Penerbitan SBI ................................................40 2.5.3 Pihak yang Berhak Memiliki SBI .........................................................41 2.5.4 Pengaruh Suku Bunga SBI Terhadap Penerbitan Obligasi Pemerintah ............................................................................42 2.6 Penelitian Sebelumnya ....................................................................................42 2.7 Kerangka Konseptual Penelitian .....................................................................45 2.8 Hipotesis..........................................................................................................46 Universitas Sumatera Utara BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian...............................................................................47 3.2 Jenis dan Sumber Data ....................................................................................47 3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data..........................................................48 3.4 Pengolahan Data..............................................................................................48 3.5 Model Analisis Data........................................................................................48 3.6 Test of Goodness of Fit (Uji Kesesuaian) ...................................................... 49 a. Koefisien Determinasi (R2) ........................................................................ 49 b. Uji t-statistik................................................................................................49 c. Uji F-statistik...............................................................................................50 3.7 Uji Asumsi Klasik ...........................................................................................50 3.7.1 Multikolinearitas ...................................................................................51 3.7.2 Autokorelasi ......................................................................................... 51 3.7.3 Normalitas............................................................................................ 52 3.8 Definisi Operasional........................................................................................53 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Variabel-Variabel Penelitian .............................................54 4.1.1 Perkembangan Keuangan Pemerintah ..................................................54 4.1.2 Perkembangan Penerbitan Obligasi Pemerintah ...................................57 4.1.3 Perkembangan Penerimaan Negara ......................................................61 4.1.4 Perkembangan Pengeluaran Pemerintah...............................................65 4.1.5 Perkembangan Pinjaman Luar Negeri Pemerintah ...............................68 4.1.6 Perkembangan suku bunga SBI ............................................................71 4.2 Uji Statistik Hasil Model Estimasi..................................................................74 4.2.1 Uji Kesesuaian ......................................................................................75 4.2.2 Uji Asumsi Klasik .................................................................................80 4.2.2.1 Multikolinearitas ................................................................................80 4.2.2.2 Autokorelasi .......................................................................................81 Universitas Sumatera Utara 4.2.2.3 Normalitas..........................................................................................81 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ..............................................................................................82 5.2 Saran.........................................................................................................83 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................85 Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Tabel Judul Halaman 1.1 Penerimaan Pemerintah...............................................................................2 1.2 Penerbitan Obligasi Pemerintah..................................................................4 1.3 Pinjaman Luar Negeri Pemerintah ..............................................................5 1.4 Pengeluaran Pemerintah..............................................................................6 1.5 Suku bunga SBI ..........................................................................................7 4.1 Perkembangan Penerbitan Obligasi Pemerintah .......................................58 4.2 Perkembangan Pendapatan Negara dan Hibah .........................................62 4.3 Perkembangan Pengeluaran Negara..........................................................66 4.4 Perkembangan Pinjaman Luar Negeri Pemerintah ...................................69 4.5 Perkembangan suku bunga SBI ................................................................71 4.6 Hasil Estimasi Model Penelitian ...............................................................74 4.7 Nilai Koefisien Determinasi (R2 ) .............................................................80 4.8 Hasil Uji LM-Test .....................................................................................81 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Gambar Judul Halaman 2.1 Kurva Perkembangan Pengeluaran Pemerintah ........................................30 2.2 Proses Pembelian SBI ...............................................................................41 2.3 Kerangka Konseptual ................................................................................45 4.1 Perkembangan Penerbitan Obligasi Pemerintah .......................................61 4.2 Perkembangan Pendapatan Negara dan Hibah .........................................65 4.3 Perkembangan Pengeluaran Negara..........................................................68 4.4 Perkembangan Pinjaman Luar Negeri Pemerintah ...................................70 4.5 Perkembangan suku bunga SBI ................................................................73 Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Judul Halaman 1 Hasil Estimasi OLS ......................................................................................88 2 Hasil Estimasi Uji Multikolinearitas............................................................89 3 Hasil Estimasi Uji Autokorelasi dengan LM Test .......................................91 4 Hasil Estimasi Uji Normalitas dengan Jarque – Berra Test .........................92 Universitas Sumatera Utara DAFTAR SINGKATAN APBN BI BLBI BPS GE LTBI OLS PDB POP PN PLNP RDG SBI SEKI SUN : Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara : Bank Indonesia : Bantuan Likuiditas Bank Indonesia : Badan Pusat Statistik : Government Expenditure : Laporan Tahunan Bank Indonesia : Ordinary Least Square : Produk Domestik Bruto : Penerbitan Obligasi Pemerintah : Penerimaan Negara : Pinjaman Luar Negeri Pemerintah : Rapat Dewan Gubernur : Sertifikat Bank Indonesia : Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia : Surat Utang Negara Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penerbitan obligasi pemerintah di Indonesia. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penerimaan negara tahun sebelumnya, pengeluaran pemerintah, pinjaman luar negeri pemerintah dan suku bunga SBI. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data time series dari triwulan pertama 2003 sampai dengan triwulan ke-empat 2009. Data diolah dengan menggunakan program E-views 5.1 dengan menggunakan model ekonometrika yaitu Ordinary Least Square. Hasil estimasi menunjukkan bahwa nilai R-square sebesar 0.972, yang berarti variabel independen mampu menjelaskan variabel dependen sebesar 97.2%, sedangkan sisanya 2.8% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak disertakan dalam model estimasi. F-statistik lebih besar dari F-tabel (202,4315 >4,26), menunjukkan bahwa variabel penerimaan negara tahun sebelumnya, pengeluaran pemerintah, pinjaman luar negeri pemerintah dan suku bunga SBI secara bersama-sama mampu mempengaruhi penerbitan obligasi pemerintah Indonesia, signifikan pada α= 1%. Pengeluaran pemerintah mempunyai pengaruh yang positif terhadap penerbitan obligasi pemerintah, sedangkan penerimaan negara tahun sebelumnya, pinjaman luar negeri pemerintah dan suku bunga SBI mempunyai pengaruh yang negatif terhadap penerbitan obligasi pemerintah Indonesia. Semua variabel bebas signifikan secara statistik dan sesuai hipotesis. Kata kunci: Penerbitan Obligasi Pemerintah, Penerimaan Negara tahun sebelumnya, Pengeluaran Pemerintah, Pinjaman Luar Negeri Pemerintah, Suku bunga SBI. Universitas Sumatera Utara ABSTRACT The aim of research is to analyze the factors which influence the issuances of the government bonds in Indonesia. The variables employed in this research are state revenues in previous year, government expenditure, official foreign borrowing and certificate of Bank Indonesia (SBI) rates. Data used for this research is time series data from first quarter 2003 till forth quarter 2009. The data is processed with program E-views 5.1 by using econometric model that is ordinary least square. The estimation showed R-square is 0.972, it means that the independent variables are able to explain the dependent variable as much as 97.2%, while the rest 2.8% are explained by variables are not included in estimation model. F-statistic is bigger than F-table (202,4315>4,26), it means that state of revenues in previous year, government expenditure, official foreign borrowing and certificate of Bank Indonesia (SBI) rates, together affected on issuances of government bonds in Indonesia significanty at α= 1%. The government expenditure have positively influence on issuances of government bond. State revenues in previous year, official foreign borrowing and SBI rates have negatively influence on issuances of government bond. All the independent variables are significant in statistic estimation and according to hypothesis. Keywords: Issuances of the government bonds, State revenue in previous year, government expenditure, Official foreign borrowing, SBI rates. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Krisis ekonomi tahun 1997 di Indonesia telah mengakibatkan perekonomian mengalami krisis yang berkepanjangan. Krisis ekonomi tersebut membuat pemerintah Indonesia terbelit utang yang berat untuk membiayai perekonomian. Bersamaan dengan itu muncul masalah kewajiban pembayaran cicilan hutang luar negeri dan bunganya yang mengakibatkan merosotnya sumber-sumber ekonomi Indonesia, yang seharusnya dapat dialokasikan untuk pembiayaan pembangunan. Pemerintah sebagai pembuat anggaran negara, baik penerimaan maupun pengeluarannya tersusun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dalam penyusunannya sebelum krisis menggunakan anggaran berimbang. Artinya, penerimaan negara harus sama dengan pengeluaran walaupun dalam kenyataannya tidak pernah ada karena dalam pembiayaan pembangunan nasional pemerintah juga mengandalkan pinjaman luar negeri. Pascakrisis, pemerintah menggunakan penyusunan anggaran yang tidak berimbang sehingga dalam penyusunannya bisa terjadi surplus atau defisit APBN. Di dalam perhitungan defisit atau surplus Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara perlu diperhatikan kategori penerimaan dan pengeluaran negara. Pada dasarnya yang dimaksud dengan penerimaan negara adalah pajak-pajak dan berbagai pungutan yang dipungut pemerintah dari perekonomian dalam negeri, yang Universitas Sumatera Utara menyebabkan kontraksi dalam perekonomian. Di lain sisi, yang dimaksud dengan pengeluaran negara adalah semua pengeluaran untuk operasi pemerintah dan pembiayaan berbagai proyek di sektor negara ataupun badan usaha milik negara. Dari perhitungan penerimaan dan pengeluaran negara tersebut akan diperoleh besarnya surplus atau defisit APBN. Pada umumnya surplus tersebut dapat dipergunakan sebagai cadangan atau untuk membayar hutang pemerintah (Hanni,2006). Tabel 1.1. Penerimaan Pemerintah dari tahun 2005 sampai tahun 2009 (triliun rupiah) Triwulan Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 I 115,229 149,435 170,243 204,913 214,323 II 120,984 159,664 172,429 217,469 221,148 III 126,738 169,893 174,615 230,026 215,175 IV 132,493 180,123 176,801 242,582 242,316 Sumber: Bank Indonesia (2005-2009) Dari tabel 1.1 diatas terlihat bahwa penerimaan Pemerintah dari tahun ke tahun cenderung mengalami kenaikan. Namun pada triwulan I bulan Maret 2007 penerimaan Pemerintah sebesar Rp.170,243 triliun. Penerimaan Pemerintah ini mengalami penurunan dibanding dengan triwulan IV bulan Desember 2006 yang sudah mencapai Rp.180,123 triliun. Penerimaan Pemerintah pada triwulan I bulan Maret 2009 juga mengalami penurunan dibanding dengan triwulan IV bulan Universitas Sumatera Utara Desember 2008 yaitu dari Rp.242,582 triliun turun menjadi Rp.214,323 triliun. Pada triwulan II bulan Juni 2009, penerimaan pemerintah ini sempat mengalami peningkatan akan tetapi pada triwulan III bulan September 2009 turun lagi. Akan tetapi kondisi ini berangsur-angsur pulih sehingga pada triwulan IV bulan Desember 2009, penerimaan Pemerintah berjumlah Rp.242,316 triliun. Pascakrisis, pemerintah mengeluarkan obligasi untuk membiayai defisit dalam APBN. Penerbitan obligasi ini dimulai untuk memenuhi kebutuhan rekapitalisasi perbankan sebagai akibat dari krisis. Kemudian penerbitan obligasi dilanjutkan untuk menutupi defisit secara umum dan tidak terbatas pada pembiayaan perbankan. Obligasi yang diterbitkan pemerintah selama triwulan I pada bulan Maret 2005 yaitu sebesar Rp.10,43 triliun. Pada triwulan II bulan Juni 2005 obligasi yang diterbitkan pemerintah mengalami kenaikan menjadi Rp.11,37 triliun. Sedangkan pada triwulan III bulan September 2005 penerbitan obligasi ini terus mengalami kenaikan menjadi Rp.12,31 triliun. Dan pada triwulan IV bulan Desember obligasi yang diterbitkan pemerintah sebesar Rp.13,25 triliun. Untuk lebih jelasnya, obligasi yang diterbitkan Pemerintah Indonesia selama tahun 2005-2009 dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Universitas Sumatera Utara Tabel 1.2. Penerbitan Obligasi Pemerintah dari tahun 2005 sampai tahun 2009 (triliun rupiah) Triwulan Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 I 10,43 13,98 23,98 30,68 28,93 II 11,37 14,83 27,47 31,27 38,02 III 12,31 15,69 30,96 31,85 32,17 IV 13,25 16,54 34,45 32,44 32,94 Sumber: Bank Indonesia (2005-2009) Pada triwulan I bulan Maret 2008, obligasi yang diterbitkan pemerintah sebesar Rp.30,68 triliun. Penerbitan Obligasi ini mengalami penurunan dibanding dengan triwulan IV bulan Desember 2007 yang berjumlah Rp.34,45 triliun. Dan pada triwulan I bulan Maret 2009 obligasi yang diterbitkan pemerintah mengalami penurunan yang cukup signifikan, yaitu dari Rp.32,44 triliun menjadi Rp.28,93 triliun. Sedangkan obligasi terendah yang diterbitkan oleh pemerintah terjadi pada triwulan I bulan Maret 2005 yaitu sebesar Rp.10,43 triliun. Penerbitan obligasi tertinggi terjadi pada triwulan II bulan Juni 2009 yaitu sebesar Rp.38,02 triliun. Dalam hal jika terjadi defisit, maka defisit tersebut dapat dibiayai dengan pinjaman luar negeri atau pinjaman dalam negeri. Pinjaman dalam negeri dapat dalam bentuk pinjaman perbankan atau non-perbankan yang mencakup penerbitan obligasi pemerintah dan pengalihan aset-aset negara menjadi milik swasta Universitas Sumatera Utara (privatisasi). Dengan demikian perlu ditegaskan bahwa penerbitan obligasi pemerintah merupakan bagian dari pembiayaan defisit dalam negeri non-perbankan. Hal yang paling penting diperhatikan dalam penerbitan obligasi adalah menjaga agar hutang luar negeri atau hutang dalam negeri masih dalam batas-batas kemampuan negara (sustainable). Adapun jumlah pinjaman luar negeri Pemerintah Indonesia selama tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 adalah sebagai berikut: Tabel 1.3. Pinjaman Luar Negeri Pemerintah dari tahun 2005 sampai tahun 2009 (triliun rupiah) Triwulan Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 I 195,03 180,63 181,63 207,98 210,46 II 196,02 174,18 185,09 215,95 223,84 III 197,36 167,72 190,18 223,93 246,25 IV 198,52 161,26 194,45 231,09 241,18 Sumber: Bank Indonesia (2005-2009) Dalam jangka pendek pinjaman luar negeri sangat membantu pemerintah Indonesia dalam upaya menutup defisit anggaran pendapatan dan belanja negara, akibat pembiayaan pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan yang cukup besar. Sehingga laju pertumbuhan ekonomi dapat dipacu sesuai dengan target yang telah ditetapkan sebelumnya. Universitas Sumatera Utara Pada tabel 1.4 dibawah ini terlihat bahwa pengeluaran pemerintah cenderung mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan karena banyaknya pengeluaran yang harus dilakukan oleh pemerintah. Pengeluaran-pengeluaran tersebut dibagi kedalam tiga pos utama yaitu: pengeluaran pemerintah untuk pembelian barang dan jasa, pengeluaran pemerintah untuk gaji pegawai serta pengeluaran pemerintah untuk pembayaran transfer. Tabel 1.4. Pengeluaran Pemerintah dari tahun 2005 sampai tahun 2009 (triliun rupiah) Triwulan Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 I 119,645 156,992 183,099 204,082 223,627 II 124,785 168,847 186,428 210,477 246,865 III 129,925 180,702 189,758 216,873 247,877 IV 135,065 192,557 193,088 223,268 256,319 Sumber: Bank Indonesia (2005-2009) Penerbitan obligasi jangka pendek dengan masa jatuh tempo kurang dari satu tahun dapat menggantikan SBI untuk kebijaksanaan moneter. Selama ini kebijaksanaan moneter BI mengandalkan SBI yang biayanya cukup besar. Namun dana SBI ini tidak dapat dipergunakan untuk mendorong kegiatan ekonomi dan SBI tidak diperdagangkan dalam pasar sekunder (Arief,2004). Universitas Sumatera Utara Tabel 1.5. Suku bunga SBI dari tahun 2005 sampai tahun 2009 (persen) Triwulan Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 I 11,50 12,75 9,00 8,00 7,75 II 8,25 12,50 8,50 8,50 7,00 III 10,00 11,25 8,25 9,25 6,50 IV 12,75 9,75 8,00 9,25 6,50 Sumber: www.bi.go.id Suku bunga SBI pada triwulan IV bulan Desember 2005 yaitu sebesar 12,75%. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan arah kebijakan moneter ketat yang merupakan cerminan komitmen BI dalam mengendalikan tekanan inflasi yang masih relatif tinggi. Terkait dengan itu, Bank Indonesia memutuskan untuk menetapkan suku bunga SBI sebesar 12,75 %. Sedangkan suku bunga SBI terendah adalah sebesar 6,50% pada tahun 2009. Dewan Gubernur Bank Indonesia memandang bahwa pelonggaran kebijakan moneter tersebut melalui penurunan suku bunga SBI menjadi 6,50% cukup kondusif bagi proses pemulihan perekonomian dan intermediasi perbankan. Suku bunga SBI sebesar 6,50% tersebut juga dipandang konsisten dengan pencapaian sasaran inflasi pada tahun 2010. Universitas Sumatera Utara Berdasarkan uraian diatas, maka menurut penulis hal ini merupakan suatu fenomena sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penerbitan Obligasi Pemerintah di Indonesia”. 1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka permasalahan yang akan dikaji dan dibahas dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimana pengaruh penerimaan negara tahun sebelumnya terhadap penerbitan obligasi Pemerintah di Indonesia? 2. Bagaimana pengaruh pengeluaran Pemerintah terhadap penerbitan obligasi Pemerintah di Indonesia? 3. Bagaimana pengaruh pinjaman luar negeri Pemerintah terhadap penerbitan obligasi Pemerintah di Indonesia? 4. Bagaimana pengaruh Suku bunga Bank Indonesia (SBI) terhadap penerbitan obligasi Pemerintah di Indonesia? Universitas Sumatera Utara 1.3 Tujuan Penelitian Sesuai dengan perumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Untuk menganalisis pengaruh penerimaan negara tahun sebelumnya terhadap penerbitan obligasi Pemerintah di Indonesia.  2. Untuk menganalisis pengaruh pengeluaran Pemerintah terhadap penerbitan obligasi Pemerintah di Indonesia.  3. Untuk menganalisis pengaruh pinjaman luar negeri Pemerintah terhadap penerbitan obligasi Pemerintah di Indonesia.  4. Untuk menganalisis pengaruh Suku bunga Bank Indonesia (SBI) terhadap penerbitan obligasi Pemerintah di Indonesia.    1.4 Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah : 1. Sebagai tambahan wawasan ilmiah dan ilmu pengetahuan penulis tentang faktor-faktor yang mempengaruhi penerbitan obligasi pemerintah di Indonesia. 2. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah untuk menetapkan kebijakankebijakan penganggaran. 3. Sebagai bahan  referensi bagi peneliti lainnya yang berminat dengan pembahasan penerbitan obligasi pemerintah. Universitas Sumatera Utara BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Uraian Teoritis 2.1.1 Obligasi Secara umum, obligasi merupakan surat pengakuan utang jangka menengah dan jangka panjang yang diterbitkan oleh pihak penerbit (pemerintah maupun swasta) dengan memberi imbalan berupa bunga (kupon) secara periodik dan melunasi pokok utang pada waktu yang telah ditentukan kepada pihak pembeli obligasi tersebut. Jadi surat obligasi adalah selembar kertas yang menyatakan bahwa pemilik kertas tersebut memberikan pinjaman kepada pihak yang menerbitkan obligasi (Tandelilin,2001). Obligasi (bond) adalah sertifikat utang yang menjelaskan kewajibankewajiban dari emiten (penerbit obligasi) kepada pemegang obligasi (Mankiw,2003). Obligasi merupakan sekuritas utang dengan pendapatan tetap karena menjanjikan pendapatan yang tetap atau pendapatan yang telah ditentukan sebelumnya dengan menggunakan rumus tertentu. Sekuritas utang merupakan pernyataan hak/klaim atas sejumlah pendapatan rutin pada suatu waktu tertentu. Kalau seseorang memiliki obligasi, maka secara periodik akan mendapatkan penghasilan yaitu berupa kupon obligasi (yield) yang dibayarkan dengan jumlah tetap pada waktu yang telah ditetapkan misalnya setiap 3 bulan, 6 bulan maupun setahun sekali. Universitas Sumatera Utara Istilah-istilah penting dalam sekuritas utang obligasi antara lain (Tandelilin,2001): 1. Face value atau nilai pari, menunjukkan besarnya nilai obligasi yang dikeluarkan. 2. Kupon atau bunga, merupakan pendapatan (yield) yang diperoleh pemegang obligasi yang periode waktu pembayarannya berbeda-beda. 3. Jatuh tempo, merupakan tanggal ditetapkannya emiten obligasi harus membayar kembali uang yang telah dikeluarkan investor pada saat membeli obligasi. Jumlah uang yang harus dibayar yaitu besarnya nilai pari beserta bunga (kupon) yang telah ditetapkan. Biasanya tanggal jatuh tempo tertera pada sertifikat obligasi. 4. Nilai intrinsik, merupakan nilai teoritis dari suatu obligasi yang diperoleh dari hasil estimasi nilai saat ini (present value) dari semua aliran kas obligasi di masa yang akan datang. P Ct Po  t (1  i) n t 1 (1  i) n dimana: P = Harga pasar obligasi Po = Harga nominal /face value Ct = Nilai rupiah coupon rate setiap periode i = Yield obligasi atau tingkat keuntungan yang dipandang relevan n = Maturity /jatuh tempo dari obligasi. Universitas Sumatera Utara 2.1.2 Peringkat Obligasi Pada tahun 1909 John Moody memperkenalkan peringkat obligasi. Peringkat obligasi mencakup penilaian atas risiko obligasi yang mungkin timbul kemudian. Peringkat obligasi dipengaruhi oleh (Rahardjo,2003): 1. Proporsi modal terhadap hutang 2. Tingkat profitabilitas perusahaan atau pihak yang menerbitkan obligasi 3. Tingkat kepastian dalam menghasilkan pendapatan 4. Besar kecilnya perusahaan atau pihak yang menerbitkan obligasi 5. Jumlah pinjaman subordinasi yang dikeluarkan perusahaan atau pihak yang menerbitkan obligasi. Peringkat obligasi menurut Moody’s standard and poor’s :  AAA merupakan ranking tertinggi dari standard and poor’s dan menunjukkan kemampuan yang sangat kuat dalam membayar pokok dan bunga.  AA merupakan obligasi yang dikualifikasikan sebagai obligasi berkualitas tinggi, dengan perbedaan kecil dari AAA.  A merupakan obligasi yang memiliki kemampuan kuat untuk membayar pokok dan bunga walaupun lebih rentan terhadap efek merugi dari perubahan situasi dan kondisi perekonomian.  BBB merupakan obligasi yang dianggap memiliki kemampuan yang mencukupi untuk membayar pokok dan bunga walaupun menunjukkan Universitas Sumatera Utara parameter perlindungan yang memadai, namun kondisi perekonomian yang merugi atau perubahan keadaan biasanya dapat melemahkan kemampuan membayar pokok dan bunga obligasi.  BB merupakan obligasi yang dianggap mampu membayar pokok dan bunga obligasi, walaupun parameter perlindungan yang cukup memadai.  B merupakan obligasi yang dianggap mampu membayar pokok dan bunga obligasi, namun kemampuannya sangat spekulatif dan rentan terhadap perubahan kondisi perekonomian.  CCC, CC, C, D merupakan obligasi yang secara berturut-turut semakin rapuh kemampuannya untuk membayar pokok dan bunga obligasi, bahkan ada potensi untuk tidak membayar bunga atau bahkan pembayaran bunga maupun pokok mengalami kemacetan. 2.1.3 Obligasi Pemerintah Indonesia Obligasi pemerintah sering disebut dengan Surat Utang Negara (SUN). Surat utang negara menurut Undang-Undang Nomor 24 tahun 2004 merupakan surat berharga yang merupakan surat pengakuan hutang dalam mata uang rupiah dan valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh negara Republik Indonesia sesuai dengan masa berlakunya atau masa jatuh tempo. Tujuan penerbitan surat utang negara adalah : 1. Membiayai defisit APBN 2. Menutup kekurangan kas negara dalam jangka pendek 3. Mengelola portofolio utang negara. Universitas Sumatera Utara Menurut denominasi mata uangnya, obligasi negara yang diterbitkan pemerintah dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok (Rahardjo,2003): 1. Obligasi Negara Berdenominasi Rupiah Obligasi negara denominasi rupiah dapat dibedakan atas tiga jenis, yaitu : a. Obligasi berbunga tetap (Fixed Rate bonds-FR) Obligasi jenis ini memiliki tingkat kupon yang ditetapkan pada saat penerbitan dan dibayarkan secara periodik setiap 6 (enam) bulan. Obligasi jenis FR dapat diperdagangkan dan dipindahtangankan kepemilikannya di pasar sekunder. b. Obligasi berbunga mengambang (Variable Rate bonds – VR) Obligasi berbunga mengambang memiliki tingkat kupon yang ditetapkan secara periodik berdasarkan referensi tertentu. Dalam hal ini referensi yang digunakan ialah tingkat bunga SBI (Sertifikat Bank Indonesia) berjangka 3 bulan. Kupon dibayarkan secara periodik setiap 3 (tiga) bulan. Obligasi jenis VR dapat diperdagangkan dan dipindahtangankan kepemilikannya di pasar sekunder. c. Obligasi lindung nilai (Hedge Bonds – HB) Obligasi lindung nilai (HB) diterbitkan untuk menutup Net Open Position (NOP) beberapa bank, saat bank-bank tersebut dalam proses rekapitalisasi perbankan. Secara umum NOP ialah suatu ukuran yang membandingkan antara aktiva valas dengan kewajiban valas perbankan. Semakin besar selisih antara aktiva valas dengan kewajiban valas, akan menyebabkan semakin meningkatnya NOP sehingga semakin besar pula risiko valas yang dihadapi bank yang bersangkutan. Bank Indonesia menetapkan aturan besarnya NOP yang harus dipatuhi oleh perbankan. Pokok Universitas Sumatera Utara obligasi jenis hedge bonds diterbitkan dalam denominasi Rupiah dengan memperhatikan NOP bank rekap pada saat pelaksanaan rekapitalisasi. Pada saat jatuh tempo pembayaran baik pokok maupun kupon, nilai nominalnya akan disesuaikan terlebih dahulu terhadap nilai tukar Rp/USD yang berlaku. Apabila nilai tukar Rupiah terhadap USD pada saat jatuh tempo pembayaran melemah dibanding nilai tukar pada saat penerbitan, maka nilai nominal HB setelah indeksasi akan meningkat sehingga meningkatkan jumlah pembayaran pokok dan bunga yang jatuh tempo dan sebaliknya. Tingkat kupon HB ditetapkan secara periodik berdasarkan referensi tertentu yaitu SIBOR + margin 2%. Kupon dibayarkan secara periodik setiap 3 (tiga) bulan sekali. Obligasi jenis HB ini tidak dapat diperdagangkan. d. Surat Utang kepada BI (SU) Dalam rangka program penjaminan perbankan dan BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) pada tahun 1998 dan 1999 Pemerintah menerbitkan empat seri SU, yaitu SU-001, SU-002, SU-003 dan SU-004. SU-001 dan SU-003 merupakan SU yang diterbitkan dalam rangka BLBI yang dikucurkan oleh Bank Indonesia saat krisis moneter tahun 1998/1999. SU-002 merupakan penyertaan modal negara pada Bank Ekspor Impor Indonesia. Sementara SU-004 merupakan surat utang yang diterbitkan dalam rangka program penjaminan Pemerintah. Sesuai dengan terms & conditions awalnya, Obligasi jenis ini memiliki tingkat bunga tetap sebesar 3% yang diperhitungkan atas pokok yang diindeks berdasarkan inflasi. Kupon dibayarkan secara periodik setiap 6 (enam) bulan sekali. Sementara pokok utang diamortisasi (dicicil) setiap enam bulan sekali secara proporsional atas dasar pokok yang telah Universitas Sumatera Utara diindeks. Pembayaran cicilan pokok dilakukan bersamaan dengan pembayaran bunga dan dimulai setelah masa tenggang (grace period) berakhir. e. SRBI (Special Rate Bank Indonesia) SRBI, yang lengkapnya SRBI-01/MK/2003 adalah surat utang yang diterbitkan oleh Pemerintah pada tanggal 7 Agustus 2003 sebagai pengganti SU-001 dan SU- 003, dalam rangka penyelesaian bantuan likuiditas BI. Pelunasan SRBI akan bersumber dari surplus Bank Indonesia yang menjadi bagian Pemerintah dan akan dilakukan apabila rasio modal terhadap kewajiban moneter BI telah mencapai diatas 10%. Dalam hal rasio modal terhadap kewajiban moneter Bank Indonesia kurang dari 3%, maka Pemerintah akan membayar charge kepada Bank Indonesia sebesar kekurangan dana yang diperlukan untuk mencapai rasio modal tersebut. 2. Obligasi Negara Berdenominasi Mata Uang Asing Pada tanggal 10 Maret 2004, Pemerintah menerbitkan ON berdenominasi USD (Dollar Amerika) yang selanjutnya disebut RI0014, dengan nominal penerbitan sebesar USD1.000.000.000,00. Obligasi ini jatuh tempo pada tanggal 10 Maret 2014 dengan tingkat kupon tetap sebesar 6,75% setahun, yang dibayar secara periodik dua kali setahun (semiannual). Obligasi RI0014 dapat diperdagangkan dan dipindahtangankan kepemilikannya di pasar sekunder. Universitas Sumatera Utara 2.1.4 Mekanisme Penerbitan Surat Utang Negara Pada dasarnya SUN dapat diterbitkan dengan dua cara yaitu melalui lelang atau tanpa lelang (Rahardjo,2003). Penerbitan yang dilakukan melalui lelang memiliki beberapa metode yaitu: 1. Lelang dengan metode harga beragam (multiple price) 2. Lelang dengan metode harga seragam (uniform price) Pada lelang dengan metode harga beragam, pemenang lelang membayar kepada Pemerintah sesuai harga penawarannya masing-masing. Sementara untuk lelang dengan metode harga seragam, seluruh pemenang lelang membayar pada harga yang sama, yang dapat ditetapkan atas dasar harga terendah dari penawaran yang dimenangkan. Untuk penerbitan tanpa lelang, metode yang dipakai Pemerintah ialah: a) Bookbuilding, ialah proses pengumpulan dan pemutakhiran data pemesanan pembelian pada volume dan harga tertentu oleh investor, atas surat utang yang ditawarkan. Proses pemesanan ini berlangsung selama periode tertentu (masa penawaran) dimana dalam masa tersebut pemesan/investor dapat mengubah baik volume maupun harga surat utang yang akan dibeli, sesuai dengan perkembangan terakhir. Setelah masa penawaran berakhir, Pemerintah beserta agen penjual akan menentukan harga akhir yang optimal dan melakukan penjatahan/alokasi perolehan atas surat utang yang ditawarkan. Universitas Sumatera Utara b) Private placement, yaitu Pemerintah melakukan penempatan langsung kepada investor tertentu sesuai kesepakatan. Terbitnya SUN pada saat rekapitalisasi perbankan dahulu dan penerbitan obligasi Negara baru pengganti HB yang jatuh tempo merupakan contoh penerbitan SUN tanpa lelang dengan metode private placement. 2.2 Penerimaan Negara / Penerimaan Pemerintah Penerimaan Pemerintah terdiri dari penerimaan dalam negeri Pemerintah, penerimaan luar negeri Pemerintah dan hibah. Penerimaan dalam negeri Pemerintah terdiri atas (Dumairy,1997): 2.2.1 Penerimaan Perpajakan Penerimaan perpajakan dapat dikelompokkan atas beberapa jenis, yaitu : a. Pajak Penghasilan (PPh) Pemungutan pajak penghasilan didasarkan pada Undang-Undang Nomor 10 tahun 1994 tentang pajak penghasilan. Pajak penghasilan merupakan biaya atau tarif yang ditetapkan sesuai dengan besarnya penghasilan seseorang. b. Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) PPN merupakan tarif yang dikenakan atas nilai tambah barang dan jasa, sedangkan PPnBM merupakan pajak yang dikenakan terhadap barang-barang mewah atau barang-barang yang diimpor dari luar negeri. Universitas Sumatera Utara c. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Pajak bumi dan bangunan merupakan pungutan yang dikenakan atas tanah dan bangunan yang didirikan di atasnya. Hasil pungutan tersebut, 90 persen dikembalikan kepada daerah setempat melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tingkat I 16,2 persen, dan APBD tingkat II 64,8 persen. Sisanya 9 persen digunakan untuk upah atau biaya pungut, sedangkan 10 persen lagi digunakan untuk Pemerintah pusat. Sejak tahun 1994 dana yang ke Pemerintah pusat dialokasikan kembali kepada daerah dengan perincian 65 persen dibagikan secara merata kepada daerah tingkat II, sisanya 35 persen dialokasikan sebagai insentif kepada daerah tingkat II yang realisasi penerimaan PBB tahun anggaran sebelumnya berhasil mencapai atau melampaui penerimaan yang telah ditetapkan. d. Bea perolehan Hak atas tanah dan bangunan (BPHTB) BPHTB merupakan jenis penerimaan pajak yang dikenakan atas nilai perolehan hak atas tanah dan atau bangunan yang meliputi pemindahan hak dan pemberian hak baru. Pemungutan pajak ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 21 tahun 1997 tentang BPHTB. e. Pajak lainnya Pajak lainnya terdiri dari bea meterai dan cukai. Bea meterai merupakan tarif yang dikenakan atas dokumen-dokumen terutang dan tidak terutang. Ketentuan mengenai bea meterai tercantum dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 182/KMK.04/1995 tanggal satu mei 1995. Cukai merupakan pungutan atas barang Universitas Sumatera Utara kena cukai yang digunakan sebagai bahan baku atau bahan penolong dalam pembuatan barang hasil akhir. f. Cukai Kebijaksanaan pemungutan cukai tidak semata-mata dilaksanakan untuk mengisi kas negara (fungsi budgeter), tetapi juga bertujuan sebagai alat pengatur dalam rangka perlindungan bagi masyarakat. Pengawasan dan penerapan sanksi untuk menjamin ditaatinya ketentuan tersebut diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 tahun 1995 tentang cukai. Dasar perhitungan besarnya tarif cukai tergantung kepada jumlah barang kena cukai, tarif dan harga dasar. Tetapi dalam kasus tertentu dikenankan pembebasan cukai terhadap keperluan tertentu seperti untuk pengembangan ilmu pengetahuan, pencegahan pencemaran lingkungan, serta pengembalian cukai apabila barang itu diekspor. g. Bea masuk Bea masuk merupakan tarif yang dikenakan atas barang-barang yang diimpor dari luar negeri. Selain sebagai penerimaan negara, bea masuk juga bertujuan untuk memproteksi produksi dalam negeri. h. Tarif eksport Tarif atau pajak ekspor merupakan tarif atas beberapa komoditi yang akan diekspor, seperti yang tertera dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 241 tahun 1998 tentang penetapan besarnya tarif dan tatacara pembayaran dan penyetoran pajak ekspor atas beberapa komoditi tertentu. Universitas Sumatera Utara 2.2.2 Penerimaan Negara Bukan Pajak Penerimaan negara bukan pajak (PNBP), menurut Undang-Undang Nomor 20 pasal 1 ayat 1 tahun 1997 merupakan seluruh penerimaan Pemerintah pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan. PNBP dalam UU No. 20 Tahun 1997 meliputi : a. Penerimaan yang bersumber dari pengelolaan dana Pemerintah b. Penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam c. Penerimaan dari hasil-hasil pengelolaan kekayaan Negara yang dipisahkan d. Penerimaan dari kegiatan pelayanan yang dilaksanakan Pemerintah e. Penerimaan berdasarkan putusan pengadilan dan yang berasal dari pengenaan denda administrasi f. Penerimaan berupa hibah yang merupakan hak Pemerintah; dan g. Penerimaan lainnya yang diatur dalam Undang-undang tersendiri. 2.2.3 Hibah Hibah adalah setiap penerimaan negara baik dalam bentuk devisa dan atau non devisa yang dirupiahkan maupun dalam bentuk barang dan atau dalam bentuk jasa termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang diperoleh dari pemberi hibah luar negeri yang tidak perlu dibayar kembali (Arief,2004). Universitas Sumatera Utara 2.2.4 Pengaruh Penerimaan Negara Tahun Sebelumnya Terhadap Penerbitan Obligasi Pemerintah Penerimaan Pemerintah baik dari dalam maupun luar negeri sangat penting bagi keberhasilan proses pembangunan nasional. Hal ini disebabkan penerimaan Pemerintah terutama dari dalam negeri yaitu dari pajak dan non-pajak maupun migas dan nonmigas adalah untuk menutup pengeluaran rutin Pemerintah. Dan kalau ada sisanya dijadikan sebagai tabungan pemerintah setelah ditambah dengan pinjaman luar negeri yang dimanfaatkan untuk mendanai pembangunan. Apabila penerimaan pemerintah ini cukup besar untuk membiayai pembangunan dan pengeluaran rutin, maka obligasi ataupun surat utang negara yang diterbitkan akan berkurang (Dumairy,1997). Dari pernyataan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa pengaruh penerimaan negara tahun sebelumnnya terhadap penerbitan obligasi pemerintah adalah negatif. 2.3 Pengeluaran Pemerintah Pengeluaran Pemerintah adalah sejumlah anggaran yang dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia, baik dalam bentuk pengeluaran rutin dan pengeluaran untuk pembiayaan pembangunan dalam satu tahun (Djunasien dan Hidayat,1999). 2.3.1 Pengeluaran Rutin Pengeluaran rutin merupakan pengeluaran yang digunakan untuk pemeliharaan dan penyelenggaraan Pemerintah yang meliputi belanja pegawai, belanja barang, pembayaran bunga dan cicilan utang, subsidi dan pengeluaran rutin Universitas Sumatera Utara lainnya. Melalui pengeluaran rutin, Pemerintah dapat menjalankan misinya dalam rangka menjaga kelancaran penyelenggaraan Pemerintah, kegiatan operasional dan pemeliharaan aset negara, pemenuhan kewajiban kepada luar negeri, perlindungan kepada masyarakat miskin dan kurang mampu serta menjaga stabilitas perekonomian (Djunasien dan Hidayat,1999). Besarnya pengeluaran rutin dipengaruhi oleh berbagai langkah kebijakan yang ditempuh Pemerintah dalam rangka pengelolaan keuangan negara dan stabilitas perekonomian seperti perbaikan pendapatan aparatur Pemerintah, penghematan pembayaran bunga utang dan pengalihan subsidi agar lebih tepat sasaran. Kenaikan pengeluaran Pemerintah terutama dari pos belanja pegawai yang dialokasikan untuk menaikkan gaji pegawai dan pensiunan. Selain itu lonjakan pengeluaran Pemerintah terjadi pada pos pembayaran bunga utang luar negeri dan dalam negeri. Perbedaan karakteristik yang paling mendasar antara pinjaman dari dalam dan luar negeri yaitu pada implikasi disaat pengembalian (amortisasi). Dalam kasus pinjaman dalam negeri, pembayaran bunga utang oleh Pemerintah akan kembali dinikmati oleh masyarakat Indonesia karena terjadi transfer pendapatan dari kelompok masyarakat yang menjadi kreditur. Dampak dari aliran dana ini masih berputar di dalam negeri karena masing-masing pihak adalah warga negara Indonesia. Sedangkan dalam kasus pinjaman luar negeri, terjadi aliran dampak ekonomi (multiplier effect) yang berbeda. Pihak-pihak yang menerima pengembalian pinjaman adalah kreditur di luar negeri (Mangkoesoebroto,2001). Universitas Sumatera Utara Jumlah utang luar negeri yang semakin besar menyebabkan anggaran yang digunakan untuk membayar bunga utang juga semakin meningkat. Meningkatnya jumlah pembayaran bunga utang tersebut selain disebabkan oleh membengkaknya jumlah utang jatuh tempo juga dipengaruhi oleh perubahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Selain itu pengeluaran untuk subsidi yang berperan cukup besar adalah subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Subsidi ini muncul pada tahun 1997/1998 sebagai akibat dari melonjaknya harga minyak mentah di pasar dunia menyebabkan meningkatnya biaya pengadaan BBM hingga melebihi hasil penjualan BBM itu sendiri, akibatnya pemerintah terpaksa memberikan subsidi terutama terhadap minyak tanah dan solar. 2.3.2 Pengeluaran Pembangunan Pengeluaran pembangunan yaitu pengeluaran yang digunakan untuk membiayai pembangunan di bidang ekonomi, sosial dan umum, baik pembangunan secara fisik maupun non fisik. Peranan anggaran pembangunan lebih ditekankan pada upaya penciptaan kondisi yang stabil dan kondusif bagi berlangsungnya proses pemulihan ekonomi dengan tetap memberikan stimulus bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam kaitannya dengan pengelolaan APBN secara keseluruhan dengan keterbatasan sumber pembiayaan yang tersedia, maka pencapaian sasaran-sasaran pembangunan harus dilakukan seoptimal mungkin. Sehubungan dengan hal tersebut, formulasi distribusi alokasi dan penentuan besarnya pengeluaran memegang peranan penting dalam target kebijakan fiskal (Nota Keuangan dan APBN,2004). Universitas Sumatera Utara Pengelolaan anggaran pembangunan juga harus tetap ditempatkan sebagai bagian yang utuh dari upaya menciptakan APBN yang sehat, melalui upaya mengurangi secara bertahap peran pembiayaan yang bersumber dari luar negeri tanpa mengurangi upaya menciptakan pertumbuhan yang berkesinambungan. Pembiayaan pembangunan dibiayai dari sumber-sumber pembiayaan dalam negeri dan pinjaman program. Pengelolaan dana tersebut akan dialokasikan kepada departemen di tingkat pusat termasuk Departemen Hankam dan pemerintah daerah yang diklasifikasikan kedalam dana pembangunan yang dikelola daerah (Djamin,1993). Dalam kebijakan penyusunan APBN dikenal beberapa kebijakan anggaran yaitu anggaran berimbang, anggaran surplus dan anggaran defisit. Dalam pengertian umum, anggaran berimbang adalah suatu kondisi dimana penerimaan sama dengan pengeluaran (G=T). Anggaran surplus yaitu pengeluaran lebih kecil dari penerimaan (G<T), sedangkan anggaran defisit adalah anggaran dimana pengeluaran lebih besar dari penerimaan (G>T). Anggaran surplus digunakan jika pemerintah ingin mengatasi masalah inflasi, sedangkan anggaran defisit digunakan jika pemerintah ingin mengatasi masalah pengangguran dan peningkatan pertumbuhan ekonomi. 2.3.3 Klasifikasi Pengeluaran Pemerintah Pengeluaran pemerintah dapat dibedakan (Djamin,1993): a. Pengeluaran yang self liquiditing sebagian atau seluruhnya, artinya pengeluaran Pemerintah mendapatkan pembayaran kembali dari masyarakat yang menerima jasa atau barang yang bersangkutan. Misalnya, pengeluaran untuk jasa perusahaan Negara atau proyek-proyek produktif untuk tujuan ekspor. Universitas Sumatera Utara b. Pengeluaran yang reproduktif, artinya mewujudkan keuntungan-keuntungan ekonomis bagi masyarakat, yang dengan naiknya tingkat penghasilan dan sasaran pajak akan menaikkan penerimaan Pemerintah. Misalnya untuk bidang pengairan, pertanian, pendidikan dan kesehatan masyarakat (pubic health). c. Pengeluaran yang tidak self liquiditing dan tidak produktif, yaitu pengeluaran yang langsung menambah kegembiraan dan kesejahteraan masyarakat. Misalnya untuk bidang rekreasi, pendirian monument, objek-objek pariwisata dan sebagainya. Ada tiga pos utama pada sisi pengeluaran Pemerintah, yaitu : 1. Pengeluaran Pemerintah untuk pembelian barang dan jasa 2. Pengeluaran Pemerintah untuk gaji pegawai 3. Pengeluaran Pemerintah untuk pembayaran transfer (transfer payment). Pembayaran transfer Pemerintah adalah pembayaran Pemerintah kepada individu yang tidak dipakai untuk menghasilkan barang dan jasa sebagai imbalannya. Pengeluaran Pemerintah berupa pembayaran subsidi atau bantuan langsung kepada berbagai golongan masyarakat. Pemerintah mampu mempengaruhi tingkat pendapatan keseimbangan menurut dua cara yang terpisah. Pertama, pembelian Pemerintah atas barang dan jasa merupakan komponen dari permintaan agregat. Kedua, pajak dan transfer payment mempengaruhi hubungan antara output dan pendapatan disposibel (pendapatan bersih yang siap untuk dikonsumsi atau ditabung) yang didapat oleh sektor swasta. Universitas Sumatera Utara Perubahan dalam pengeluaran Pemerintah dan pajak akan mempengaruhi tingkat pendapatan. Hal ini menimbulkan kemungkinan bahwa kebijakan fiskal dapat digunakan untuk menstabilkan perekonomian. Jika perekonomian berada dalam keadaan resesi, pajak harus dikurangi dan pengeluaran ditingkatkan untuk meningkatkan output. Jika sedang dalam masa makmur (booming), pajak harus ditingkatkan dan pengeluaran Pemerintah dikurangi agar kembali ke penggunaan tenaga kerja penuh. 2.3.4 Teori Pengeluaran Pemerintah a) Pengeluaran Pemerintah Versi Keynes Identitas keseimbangan pendapatan nasional Y = C + I + G merupakan pandangan kaum Keynesian akan relevansi campur tangan Pemerintah dalam perekonomian tertutup. Formula ini dikenal sebagai identitas pendapatan nasional. Y merupakan pendapatan nasional, C merupakan pengeluaran konsumsi, dan G merupakan Pengeluaran Pemerintah. Dengan membandingkan nilai G terhadap Y serta mengamati dari waktu ke waktu dapat diketahui seberapa besar kontribusi Pengeluaran Pemerintah dalam pembentukan pendapatan nasional (Dumairy,1997). Menurut Keynes untuk menghindari timbulnya stagnasi dalam perekonomian, Pemerintah berupaya untuk meningkatkan jumlah pengeluaran Pemerintah (G) dengan tingkat yang lebih tinggi dari pendapatan nasional sehingga dapat mengimbangi kecenderungan mengkonsumsi (C) dalam perekonomian. Universitas Sumatera Utara b) Teori Wagner Wagner menyatakan dalam suatu perekonomian apabila pendapatan perkapita meningkat, secara relatif pengeluaran Pemerintah akan meningkat. Terutama disebabkan karena Pemerintah harus mengatur hubungan yang timbul dalam masyarakat, hukum, pendidikan, rekreasi, kebudayaan dan sebagainya. Formulasi hukum Wagner ialah sebagai berikut : PkPPt  n PkPP PkPPt 1 PkPPt  2 > > >......> PPk PPkt 1 PPk t  2 PPk t  n Keterangan : PkPP = Pengeluaran Pemerintah per kapita PPk = Pendapatan nasional per kapita 1,2,..,n = Indeks waktu (tahun) Wagner mendasarkan pandangannya pada suatu teori yang disebut organic theory of state yaitu teori yang menganggap Pemerintah sebagai individu yang bebas bertindak, terlepas dengan masyarakat yang lain. Menurut Wagner, ada lima hal yang menyebabkan pengeluaran Pemerintah selalu meningkat yaitu : a. Tuntutan peningkatan perlindungan keamanan dan pertahanan b. Kenaikan tingkat pendapatan masyarakat c. Urbanisasi yang mengiringi pertumbuhan ekonomi d. Perkembangan demografi; dan e. Ketidakefisienan birokrasi. Universitas Sumatera Utara Pertumbuhan ekonomi akan menyebabkan hubungan antar industri dan hubungan antar industri dengan masyarakat akan semakin kompleks sehingga potensi terjadinya kegagalan eksternalitas negatif menjadi semakin besar. Namun teori Wagner memiliki kelemahan yaitu tidak didasari pada teori pemilihan barang-barang publik (Dumairy,1997). c) Teori Peacock dan Wiseman Teori mereka didasarkan pada suatu pandangan bahwa pemerintah senantiasa berusaha memperbesar pengeluaran, sedangkan masyarakat tidak suka membayar pajak yang semakin besar untuk membiayai pengeluaran pemerintah yang semakin besar tersebut. Peacock dan Wiseman menyebutkan bahwa perkembangan ekonomi menyebabkan pemungutan pajak yang semakin meningkat walaupun tarif pajak tidak berubah. Dan meningkatnya penerimaan pajak menyebabkan pengeluaran pemerintah semakin meningkat pula. Oleh karena itu dalam keadaan normal, meningkatnya GNP menyebabkan penerimaan pemerintah semakin besar. Begitu juga dengan pengeluaran pemerintah yang menjadi semakin besar juga. Peacock dan Wiseman menjelaskan bahwa perkembangan pengeluaran pemerintah tidak berbentuk garis tetapi berbentuk tangga seperti yang ditunjukkan oleh gambar di bawah ini: Universitas Sumatera Utara Pengeluaran Pemerintah Wagner, Solow, Musgrev Peacock – Wiseman 0 Tahun Gambar 2.1. Kurva Perkembangan Pengeluaran Pemerintah Pelaksanaan keterlibatan segenap pembangunan unsur merupakan lapisan program masyarakat. Peran yang memerlukan pemerintah dalam pembangunan adalah sebagai katalisator dan fasilitator tentu membutuhkan berbagai sarana dan fasilitas pendukung, termasuk anggaran belanja dalam rangka terlaksananya pembangunan yang berkesinambungan. Pengeluaran tersebut sebagian digunakan untuk administrasi pembangunan dan sebagian lagi untuk kegiatan pembangunan diberbagai jenis infrastruktur yang penting. Anggaran-anggaran tersebut akan meningkatkan pengeluaran agregat dan mempertinggi tingkat kegiatan ekonomi. Universitas Sumatera Utara 2.3.5 Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Terhadap Penerbitan Obligasi Pemerintah Dalam rangka menutupi kesenjangan antara kebutuhan pembangunan dengan kemampuan dana dalam negeri, maka penerbitan obligasi pemerintah masih tetap dibutuhkan. Akan tetapi apabila pengeluaran pemerintah sangat besar, penerbitan obligasi pemerintah pun akan semakin besar pula. Hal ini dikarenakan untuk menutupi defisit APBN ataupun untuk pembangunan dalam negeri. Oleh karena itu, pembiayaan proyek harus dimanfaatkan secara lebih optimal terutama bagi kegiatan ekonomi yang produktif dan dilaksanakan secara lebih transfaran, efektif dan efisien. Pembiayaan proyek dimanfaatkan untuk pembangunan sumber daya manusia dibidang pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial lainnya (Kamaluddin,1999). Dari pernyataan ini dapat diambil kesimpulan bahwa pengaruh antara pengeluaran pemerintah terhadap penerbitan obligasi pemerintah adalah positif. 2.4 Pinjaman Luar Negeri Pemerintah Pinjaman luar negeri adalah semua pinjaman yang menimbulkan kewajiban membayar kembali terhadap pihak luar negeri baik dalam valuta asing maupun dalam Rupiah. Termasuk dalam pengertian pinjaman luar negeri adalah pinjaman dalam negeri yang menimbulkan kewajiban membayar kembali terhadap pihak luar negeri (Sanuri,2005). Universitas Sumatera Utara Menurut Basri (2003) pinjaman luar negeri dapat diterangkan melalui pendekatan pendapatan nasional. Sebagai salah satu sumber pembiayaan pembangunan, pinjaman luar negeri dibutuhkan untuk menutupi 3 (tiga) defisit yaitu kesenjangan tabungan investasi, defisit anggaran, dan defisit transaksi berjalan. Hubungan ketiga defisit ini dapat dijelaskan dengan menggunakan kerangka teori three gap model yang diperoleh dari persamaan identitas pendapatan nasional, yaitu: a. Sisi Pengeluaran Y = C+ I + G + (X-M)……………………………………………..(1) Dimana: Y = Produk Domestik Bruto C = Total konsumsi masyarakat I = Ivestasi swasta G = Pengeluaran pemerintah X = Ekspor barang dan Jasa M = Impor barang dan jasa b. Sisi Pendapatan Y = C+ S + T………………………………………………………(2) Dimana: C = Total konsumsi masyarakat S = Tabungan pemerintah T = Penerimaan pajak pemerintah Universitas Sumatera Utara Jika kedua sisi identitas pendapatan nasional digabung, maka akan diperoleh: (M-X) = (I-S) + (G-T)…………………………………………...…(3) Dimana: (M-X) = Defisit transaksi berjalan (I-S) = Kesenjangan tabungan investasi (G-T) = Defisit anggaran pemerintah 2.4.1 Karakteristik Pinjaman Luar Negeri Pinjaman luar negeri Indonesia dibedakan dalam 2 kelompok besar, yaitu (Sanuri,2005): 1. Pinjaman luar negeri yang diterima Pemerintah (public debt) 2. Pinjaman luar negeri yang diterima swasta (private debt). Apabila pinjaman luar negeri dilihat dari sumber dananya, maka terbagi atas : a. Pinjaman Multilateral, yaitu pinjaman yang berasal dari badan-badan internasional, misalnya World Bank, Asian Development Bank (ADB), Islamic Development Bank (IDB). b. Pinjaman Bilateral, yaitu pinjaman yang berasal dari negara-negara baik yang tergabung dalam Consultative Group on Indonesia (CGI) maupun antar negara secara langsung (intergovernment). c. Pinjaman Sindikasi, yaitu pinjaman yang diperoleh dari beberapa bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) internasional. Pemberian pinjaman Universitas Sumatera Utara tersebut dikoordinir oleh satu bank/LKBB yang bertindak sebagai sindication leader. Pinjaman ini biasanya dalam jumlah besar dan bersifat komersial (commercial loan), misalnya dengan tingkat suku bunga yang mengambang (floating rate). Syarat-syarat pinjaman yang dituangkan dalam loan agreement merupakan konsensus dan kesepakatan diantara para pemberi pinjaman. Pinjaman luar negeri dilihat dari segi persyaratannya, dapat dibedakan : a. Pinjaman Lunak (Concessional Loan), yaitu pinjaman luar negeri Pemerintah dalam rangka pembiayaan proyek-proyek pembangunan. Pinjaman lunak biasanya diperoleh dari negara-negara yang tergabung dalam kerangka CGI maupun non CGI. Concessional loan biasanya juga diartikan sebagai pinjaman yang diperoleh dari Official Development Assitance (ODA) baik yang bersifat bilateral maupun multilateral. Berdasarkan Inpres No.8 tahun 1984 pinjaman yang dapat diklasifikasikan pinjaman lunak harus memenuhi unsur-unsur sebagai berikut:  Jangka waktu pengembalian pinjaman selama 25 tahun atau lebih. Masa tenggang (grace period) pembayaran pokok pinjaman selama 7 sampai dengan 10 tahun.  Tingkat bunga pinjaman berkisar 2% sampai dengan 3%.  Dalam pinjaman yang diberikan terdapat unsur hibah (grant element) sebesar 25% atau lebih. Universitas Sumatera Utara b. Pinjaman setengah lunak (semi concessional loan), yaitu pinjaman yang penggunaannya hampir sama dengan penggunaan pinjaman lunak, namun persyaratannya lebih berat dari pinjaman lunak tetapi lebih ringan daripada pinjaman komersial. Pinjaman semi lunak terdiri dari: 1. Fasilitas Kredit Ekspor (FKE), adalah pinjaman luar negeri yang disediakan oleh suatu badan pengembangan ekspor di luar negeri kepada Pemerintah Indonesia untuk membiayai pembelian barang modal bagi proyek tertentu. Fasilitas pinjaman ini dijamin oleh Pemerintah negara yang bersangkutan atau lembaga yang ditunjuk. Pada umumnya FKE diberikan hanya sebesar 65% sampai dengan 90% dari keseluruhan nilai proyek yang dibiayai, sedangkan sisanya dibiayai dengan dana sendiri atau dana pendampingan oleh Pemerintah RI. Fasilitas Kredit Ekspor dapat dalam bentuk Suppliers Credit atau Buyers Credit. Buyers Credit adalah pinjaman FKE yang diterima dari bank komersial atau lembaga keuangan bukan bank luar negeri, dimana tujuan pinjaman tersebut adalah untuk pembelian barang dari negara pemberi pinjaman. Suppliers Kredit adalah pinjaman FKE yang diterima Pemerintah langsung dari pemasok barang (supplier) di luar negeri kepada Pemerintah RI yang akan diberikan dalam bentuk barang untuk keperluan proyek. Universitas Sumatera Utara 2. Purchase Installment Sale Agreement (PISA), yaitu pinjaman yang diberikan oleh perusahaan leasing untuk pembiayaan proyek pembangunan tertentu yang dituangkan dalam bentuk persetujuan jual beli dengan pembayaran angsuran. Besarnya pinjaman PISA adalah 100% dari nilai proyek. 3. Pinjaman Komersial (Commercial Loan), yaitu pinjaman yang diterima dengan syarat-syarat yang ditetapkan berdasarkan kondisi pasar uang dan pasar modal internasional. Pinjaman ini lazim pula disebut cash loan karena pinjaman diterima dalam bentuk uang tunai dan penggunaannya lebih fleksibel atau tidak mengikat. Jumlah pinjaman komersial umumnya berjumlah besar karena pemberi pinjaman berupa sindikasi yang anggotanya terdiri atas perbankan dan lembaga-lembaga keuangan internasional. 2.4.2 Prinsip Dasar Penerimaan Pinjaman Luar Negeri Pemerintah Prinsip dasar dan pertimbangan dalam menerima setiap pinjaman luar negeri adalah (Dumairy,1997): 1. Pinjaman yang diterima harus berjangka panjang dengan syarat-syarat yang ringan, yaitu syarat yang masih dapat dipenuhi secara normal dan wajar. 2. Pinjaman yang diterima tidak disertai dengan suatu ikatan politik apapun dan dilandasi azas yang saling menguntungkan secara wajar. 3. Jumlah dan syarat pinjaman disesuaikan dengan batas kemampuan untuk membayar kembali dan tidak menimbulkan beban yang terlalu memberatkan terhadap neraca pembayaran. Indikator kemampuan membayar adalah rasio antara Universitas Sumatera Utara jumlah utang dan bunga pada satu periode dengan hasil ekspor pada periode yang sama atau disebut Debt-Service ratio (DSR). 4. Penggunaan dan penarikan dana pinjaman tidak terlalu ketat dan lebih disukai jenis pinjaman yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan. 5. Sumber dana pinjaman harus jelas dan pihak kreditor dikenal mempunyai reputasi yang baik. 6. Perlu adanya penganekaragaman (diversifikasi) sumber dan bentuk pinjaman, sehingga dapat meningkatkan borrowing capacity Indonesia. 7. Penggunaan pinjaman diarahkan pada pembiayaan proyek-proyek yang memberi manfaat langsung bagi pengembangan industri dalam negeri serta mendorong perluasan lapangan kerja. 8. Penggunaan pinjaman tidak dibatasi untuk impor barang/jasa dari negara pemberi pinjaman saja, tetapi hendaknya bebas digunakan untuk kepentingan impor dari negara lain. 2.4.3 Peranan Pinjaman Luar Negeri Dalam APBN Dalam struktur APBN, pinjaman luar negeri dimaksudkan sebagai penerimaan pembangunan yang berasal dari pinjaman program dan pinjaman proyek. Pinjaman proyek merupakan pinjaman luar negeri yang sejak awal direncanakan untuk membiayai proyek-proyek tertentu, sedangkan pinjaman program digunakan untuk membiayai proyek-proyek pembangunan. Universitas Sumatera Utara Pada saat ini Pemerintah mengajukan pilihan pada pinjaman luar negeri karena pinjaman luar negeri mempunyai fungsi (Dumairy,1997): a. Mengatasi kesulitan modal untuk membiayai pembangunan b. Mengatasi kesulitan valuta asing c. Mengurangi tekanan inflasi dibanding dengan pembiayaan deficit spending melalui pencetakan uang d. Memasukkan teknologi maju atau tenaga ahli dari luar negeri. Sumber dalam negeri seperti pencetakan uang tidak dilakukan, karena hal tersebut akan mengakibatkan tingginya inflasi dalam negeri yang dapat merusak sendi perekonomian Indonesia. 2.4.4 Pengaruh Pinjaman Luar Negeri Pemerintah Terhadap Penerbitan Obligasi Pemerintah Pinjaman luar negeri yang diterima Pemerintah dimaksudkan sebagai pelengkap pembiayaan pembangunan disamping sumber pembiayaan yang berasal dari dalam negeri berupa hasil perdagangan luar negeri, penerimaan pajak dan tabungan. Salah satu masalah dalam pelaksanaan pembangunan ekonomi yang dihadapi negara-negara berkembang termasuk Indonesia adalah keterbatasan modal dalam negeri. Hal ini tercermin pada angka kesenjangan tabungan investasi SavingInvestment Gap dan Foreigan Exchange Gap. Universitas Sumatera Utara Saving Investment gap menggambarkan kesenjangan antara tabungan dalam negeri dengan dana investasi yang dibutuhkan, sedangkan Foreign Exchange Gap menggambarkan kesenjangan antara kebutuhan devisa untuk membiayai impor barang/jasa dengan penerimaan devisa hasil expor barang/jasa. Dan apabila pinjaman luar negeri pemerintah mengalami peningkatan, maka surat utang negara yang diterbitkan mengalami penurunan. Oleh karena itu negara-negara berkembang membutuhkan pinjaman luar negeri untuk menutup kekurangan kebutuhan pembiayaan investasi dan untuk membiayai defisit transaksi berjalan (current account) neraca pembayaran dalam rangka pembiayaan transaksi internasional sehingga posisi cadangan devisa tidak terganggu (Sanuri,2005). Dari pernyataan tersebut terlihat bahwa pengaruh antara pinjaman luar negeri pemerintah dengan penerbitan obligasi adalah negatif. 2.5 Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 2.5.1 Pengertian Suku Bunga Suku bunga bank dapat dikatakan sebagai balas jasa yang diberikan kepada nasabah yang membeli atau menjual produknya. Bunga dapat juga dikatakan sebagai biaya yang dikeluarkan sebagai balas jasa karena telah menggunakan uang orang lain. Namun dalam dunia perbankan, suku bunga dapat dikatakan sebagai harga yang harus dikeluarkan oleh bank kepada nasabah yang menyimpan dana (Hamzah,2005). Universitas Sumatera Utara 2.5.2 Pengertian dan sejarah Penerbitan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) Sertifikat Bank Indonesia (SBI) pada prinsipnya adalah surat berharga atas unjuk dalam rupiah yang diterbitkan oleh Bank sentral sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek dan diperjualbelikan dengan sistem diskonto (Hamzah,2005). Sertifikat Bank Indonesia pertama kali diterbitkan pada tahun 1970 dengan sasaran utama untuk menciptakan pasar uang yang hanya diperdagangkan antar bankbank. Namun setelah dikeluarkannya kebijaksanaan yang memperkenalkan bankbank menerbitkan sertifikat deposito pada tahun 1972 dengan terlebih dahulu memperoleh izin dari Bank Indonesia, maka SBI tidak lagi diterbitkan karena sertifikat deposito dianggap akan menggantikan SBI. Oleh karena itu, SBI sebenarnya hanya beredar kurang lebih satu tahun. Namun dengan berubahnya pendekatan kebijakan moneter, maka Bank Indonesia kembali menerbitkan SBI sebagai instrumen kebijakan operasi pasar terbuka (open market operation) terutama untuk kontraksi moneter. Selain sebagai piranti operasi pasar terbuka, penggunaan SBI pada dasarnya sama dengan penggunaan Treasury Bills (T-Bills) di pasar uang Amerika Serikat. Melalui penggunaan SBI tersebut, Bank Indonesia dapat secara tidak langsung mempengaruhi tingkat suku bunga di pasar uang dengan cara mengumumkan Stop Out Rate (SOR). SOR adalah suatu tingkat suku bunga yang diterima Bank Indonesia atas penawaran tingkat suku bunga dari peserta lelang. Selanjutnya SOR tersebut Universitas Sumatera Utara akan dapat dipakai sebagai indikator bagi tingkat suku bunga transaksi di pasar uang pada umumnya (Nopirin,1992). 2.5.3 Pihak yang Berhak Memiliki SBI Sejalan dengan ide dasar penerbitan SBI sebagai salah satu piranti operasi pasar terbuka, penjualan SBI diprioritaskan pada lembaga perbankan. Tetapi tidak tertutup kemungkinan masyarakat baik perorangan maupun perusahaan untuk dapat memiliki SBI. Pembelian SBI oleh masyarakat tidak dapat dilakukan secara langsung kepada Bank Indonesia, melainkan harus melalui bank umum serta pialang pasar uang dan pialang pasar modal yang ditunjuk bank Indonesia. Proses pembelian SBI dapat digambarkan sebagai berikut (www.bi.go.id): Pialang Pasar Uang/ modal Bank Indonesia Perusahaan/ Perorangan Bank Gambar 2.2. Proses Pembelian SBI Universitas Sumatera Utara 2.5.4 Pengaruh Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia Terhadap Penerbitan Obligasi Pemerintah Harga obligasi pemerintah yang dijual akan selalu berfluktuasi. Hal ini disebabkan karena obligasi pemerintah lebih likuid dibanding obligasi korporasi. Perubahan harga obligasi tersebut bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti tingkat bunga. Harga obligasi ini berbanding terbalik dengan tingkat suku bunga. Artinya kalau suku bunga naik, maka harga obligasi akan turun dan sebaliknya (Djamin, 1993). Tingkat suku bunga yang cenderung menurun akan menjadi momentum bagi para emiten, baik korporasi BUMN dan swasta maupun pemerintah untuk menerbitkan obligasi. Dengan turunya tingkat suku bunga, maka biaya yang harus dikeluarkan untuk membayar bunga atau kupon menjadi lebih rendah sehingga obligasi yang diterbitkan menjadi bertambah. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa hubungan antara tingkat suku bunga Bank Indonesia dengan penerbitan obligasi pemerintah adalah negatif. 2.6 Penelitian Sebelumnya Engen dan Skiner (1992), melakukan penelitian dengan menggunakan data cross section dari 107 negara pada periode 1970-1985 yang mengembangkan sebuah general model kebijakan fiskal dan pertumbuhan ekonomi. Mereka menyimpulkan bahwa penerapan anggaran berimbang dengan meningkatkan Pengeluaran Pemerintah dan Penerimaan Pajak, diprediksi akan mengurangi pertumbuhan ekonomi. Universitas Sumatera Utara Lubis (2009), meneliti tentang pengaruh nilai kurs, tingkat suku bunga SBI, dan GDP terhadap Permintaan Obligasi Swasta di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kurs, tingkat suku bunga SBI, dan GDP berpengaruh simultan dan signifikan terhadap Permintaan Obligasi Swasta di Indonesia. Hasil studi yang dilakukan Arif dan Sasono (Kuncoro, 1989) menyatakan bahwa sejak Pemerintahan Orde Baru, defisit anggaran selalu ditutupi dengan Pembiayaan (hutang) Luar Negeri. Mereka berkesimpulan terdapat korelasi negatif antara Hutang Luar Negeri dengan anggaran belanja negara. Hal ini disebabkan bahwa hutang tersebut lebih banyak berfungsi sebagai penyedia sumber pembiayaan negara dan surplus impor daripada berfungsi sebagai penambah sumber-sumber yang di investasikan. Ghani dan Zang (1995), dalam penelitiannya menggunakan model Branson mengenai sustainebelitas Utang Luar Negeri dan mengaplikasikannya pada negara miskin dan terjerat utang seperti Ethiopia. Dengan menyederhanakan Utang Luar Negeri Ethiopia dalam sebuah elemen integral dari stabilitas makroekonomi. Interaksi antara berbagai variabel kebijakan (utang, fiskal dan suku bunga) dengan variabel hasil (PDB dan pertumbuhan ekspor) dan kondisi ekonomi internasional, kemudian menggabungkannya apakah negara tersebut sudah berada pada jalur Utang Luar Negeri yang sustaineibel. Ada tiga hal mengenai kesimpulannya: 1) Sebuah reformasi kritis sangat diperlukan untuk membuat sebuah negara tetap berada pada jalur Utang Luar Negeri yang sustaineibel. Universitas Sumatera Utara 2) Isu adanya debt-relief membutuhkan pertimbangan yang serius oleh masyarakat internasional pemberi pinjaman. 3) Mobilisasi sumberdaya dan pertumbuhan membutuhkan penekanan yang tepat untuk memastikan terbayarnya kembali Utang Luar Negeri. Suhud (2004), menurut Suhut selama masa campur tangan IMF di Indonesia setelah adanya krisis moneter menunjukkan banyak saran-saran yang diberikan kepada pemerintah Indonesia tidak menunjukkan hasil yang memuaskan. Hal ini disebabkan karena saran-saran yang diberikan IMF selalu terganjal dengan masalah pendanaan. Saran-saran tersebut tidak dapat berjalan karena sebelumnya pembangunan yang dilakukan pemerintah Indonesia berasal dari Utang Luar Negeri. Siahaan (2006), menganalisis pengaruh inflasi dan suku bunga SBI terhadap penerbitan obligasi pemerintah dalam rangka Rekapitalisasi perbankan. Dengan menggunakan metode estimasi Ordinary Least Square pada periode 1989-2005, menyimpulkan bahwa inflasi dan suku bunga SBI memiliki pengaruh negatif terhadap penerbitan obligasi pemerintah dalam rangka rekapitalisasi perbankan. Universitas Sumatera Utara 2.7 Kerangka Konseptual Penelitian Berdasarkan perumusan masalah, landasan teori dan berbagai penelitian sebelumnya, maka dibentuk suatu kerangka konseptual penelitian sebagai berikut: Penerimaan Negara tahun sebelumnya Pengeluaran Pemerintah Penerbitan Obligasi Pemerintah Pinjaman Luar Negeri Pemerintah Suku bunga SBI Gambar 2.3. Kerangka Konseptual Penelitian Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penerbitan Obligasi Pemerintah di Indonesia Universitas Sumatera Utara 2.8 Hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap permasalahan penelitian yang kebenarannya harus diuji secara empiris. Berdasarkan tinjauan pustaka yang diuraikan di atas, maka hipotesis yang dikemukakan adalah sebagai berikut : 1. Penerimaan negara tahun sebelumnya memiliki pengaruh negatif terhadap penerbitan obligasi Pemerintah di Indonesia, ceteris paribus. 2. Pengeluaran Pemerintah memiliki pengaruh positif terhadap penerbitan obligasi Pemerintah di Indonesia, ceteris paribus. 3. Pinjaman luar negeri Pemerintah Indonesia memiliki pengaruh negatif terhadap penerbitan obligasi Pemerintah di Indonesia, ceteris paribus. 4. Suku bunga Bank Indonesia (SBI) memiliki pengaruh negatif terhadap penerbitan obligasi Pemerintah di Indonesia, ceteris paribus. Universitas Sumatera Utara BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian adalah langkah dan prosedur yang dilakukan dalam mengumpulkan informasi empiris guna memecahkan masalah dan menguji hipotesis dari penelitian. 3.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah mengamati dan menganalisis variabelvariabel ekonomi makro yaitu pengaruh penerimaan negara tahun sebelumnya, pengeluaran Pemerintah, pinjaman luar negeri Pemerintah, suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) terhadap penerbitan obligasi Pemerintah di Indonesia, dengan kurun waktu 7 tahun (2003-2009) dalam bentuk data triwulan sehingga sampel data menjadi 28. 3.2 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dalam bentuk time series. Sumber data diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) provinsi Sumatera Utara, Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia (SEKI) dan Laporan Tahunan Bank Indonesia (LTBI). Universitas Sumatera Utara 3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data Penulis menggunakan teknik pengumpulan data dengan melakukan pencatatan secara langsung berupa data time series dari tahun 2003-2009 dan juga dengan cara menelaah berbagai bahan pustaka seperti buku, jurnal serta laporan-laporan ilmiah yang ada hubungannya dengan topik yang diteliti. 3.4 Pengolahan Data Dalam melakukan pengolahan data penelitian, penulis menggunakan program E-views 5.1. 3.5 Model Analisis Data Dalam menganalisis besarnya pengaruh variabel-variabel independen terhadap variabel dependen digunakan model ekonometrika. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode kuadrat terkecil biasa (Ordinary Least Square atau OLS). Data yang digunakan dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan analisis statistik yaitu dalam bentuk persamaan linear berganda. Fungsi persamaan yang digunakan adalah sebagai berikut: Penerbitan Obligasi Pemerintah = f (Penerimaan negara tahun sebelumnya, Pengeluaran Pemerintah , Pinjaman Luar Negeri Pemerintah, Suku bunga SBI)…………….....................................................................................(1) Universitas Sumatera Utara Kemudian dibentuk dalam model ekonometrika dengan persamaan regresi linear berganda: LogPOP= α 0 + α 1 LogPN (t-1) + α 2 LogGE + α 3 LogPLNP + α 4 LogSBI + μ..…..................................................................................................................(2) Dimana: POP = Penerbitan Obligasi Pemerintah (dalam rupiah) α0 = Intercept PN (t-1) = Penerimaan negara tahun sebelumnya (dalam rupiah) GE = Pengeluaran Pemerintah (dalam rupiah) PLNP = Pinjaman Luar Negeri Pemerintah (dalam rupiah) SBI = Suku bunga SBI (dalam persen) α 1, α 2, α 3, α 4, μ = Koefisien Regresi = Error Term 3.6 Uji Kesesuaian (Test Goodness of Fit) Uji kesesuaian dilakukan dengan cara : a. Penilaian terhadap koefisien determinasi (R2), bertujuan untuk mengetahui kekuatan variabel bebas dalam menjelaskan variabel terikat. b. Uji parsial (t–test), bertujuan untuk mengetahui signifikansi statistik koefisien regresi secara parsial. Jika t hitung > t tabel, maka H 0 ditolak dan H 1 diterima.  Signifikansi koefisien regresi secara parsial dapat juga diamati dari nilai Universitas Sumatera Utara probabilitas (p-value). Apabila nilai probabilitas lebih kecil dari  , maka Ho ditolak dan sebaliknya apabila nilai probabilitas lebih besar dari  , maka Ho diterima. c. Uji serempak (f–test), bertujuan untuk mengetahui signifikansi statistik koefisien regresi secara serempak. Jika F hitung > F tabel, maka H 0 ditolak dan H 1 diterima. 3.7 Uji Asumsi Klasik Gujarati (2003) dalam Pratomo dan Hidayat (2007) mengemukakan beberapa asumsi klasik yang harus dipenuhi untuk suatu hasil estimasi regresi linier agar hasil tersebut dapat dikatakan baik dan efisien. Adapun asumsi klasik yang harus dipenuhi antara lain : 1. Model regresi adalah linier, yaitu linier dalam parameter. 2. Residual variabel pengganggu (µ i ) mempunyai nilai rata-rata nol (zero mean value of disturbance µ i ). 3. Tidak ada autokorelasi antara variabel pengganggu (µ i ). 4. Jumlah data (observasi) harus lebih banyak dibandingkan dengan jumlah parameter yang akan diestimasi. 5. Tidak ada multikolinearitas. 6. Variabel pengganggu harus berdistribusi normal. Universitas Sumatera Utara Berdasarkan kondisi tersebut di dalam ilmu ekonometrika, agar suatu model dikatakan lebih baik dan sahih, maka perlu dilakukan beberapa pengujian. 3.7.1 Uji Multikolinearitas  Dikenalkan oleh Ragnar Frisch (1934). Sebuah model regresi dikatakan terkena multikolinearitas apabila terjadi hubungan linier yang sempurna diantara beberapa atau semua variabel bebas dari suatu model regresi. Multikolinearitas dapat dideteksi dengan besaran-besaran regresi yang didapat yaitu : 1. Korelasi antar variabel. Apabila nilai R 2 yang dihasilkan dari hasil estimasi model empiris sangat tinggi, tetapi tingkat signifikansi variabel bebas sangat rendah (tidak ada atau sangat sedikit variabel bebas yang signifikan) berarti terdapat multikolinearitas antar variabel. 2. Menggunakan korelasi parsial. Apabila nilai R 2 dari masing- masing variabel independen lebih kecil dari nilai R 2 model berarti tidak terdapat masalah multikolinieritas antar variabel. 3.7.2 Uji Autokorelasi Model regresi linier klasik mengasumsikan bahwa faktor pengganggu yang berhubungan dengan observasi tidak dipengaruhi oleh faktor pengganggu pada pengamatan lainnya. Apabila ada gangguan antara anggota serangkaian observasi Universitas Sumatera Utara pada data runtun waktu maka akan muncul autokorelasi. Masalah autokorelasi biasanya muncul pada data time series. Dalam data tersebut, observasi diurutkan secara kronologis sehingga sangat memungkinkan terjadinya hubungan terutama bila selang waktu pengamatan sangat pendek (Pratomo dan Hidayat, 2007). Cara mendeteksi ada tidaknya autokorelasi dapat dilakukan dengan uji Langrange Multiplier (LM Test). Uji LM Test bertujuan untuk menguji autokorelasi dengan keberadaan variabel dependen yang diperlamban dengan menganalisis seberapa baik residu-residu yang diperlamban menjelaskan pada persamaan awal. Jika residu yang diperlamban signifikan dalam menjelaskan residu- residu time series, maka Ho ditolak yang berarti tidak ada autokorelasi atau apabila nilai probabilitasnya lebih besar dari  maka hasil estimasi terbebas dari autokorelasi (Sarwoko, 2005). 3.7.3 Uji Normalitas Asumsi dalam OLS adalah nilai rata-rata dari faktor pengganggu (µ i ) adalah nol. Untuk menguji apakah normal atau tidaknya faktor pengganggu, maka perlu dilakukan uji Normalitas dengan menggunakan Jarque–Berra Test (J-B test). Kriterianya : 1. Apabila nilai 2 tabel (0,05) > nilai Jarque Berra normality test statistic, maka µ i berdistribusi normal. 2. Apabila angka probability > 0,05, maka data berdistribusi normal. Universitas Sumatera Utara 3.8 Definisi Operasional Variabel 1. Obligasi Pemerintah adalah surat pengakuan utang yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia untuk membiayai keperluan pemerintah yang menjanjikan pembayaran bunga secara periodik dan pembayaran pokok pada saat jatuh tempo, yang dinyatakan dalam rupiah. 2. Penerimaan negara adalah sejumlah anggaran yang diterima pemerintah melalui penerimaan pajak, bukan pajak dan hibah, yang dinyatakan dalam rupiah. 3. Pengeluaran Pemerintah adalah sejumlah anggaran yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia, baik dalam bentuk pengeluaran rutin dan pengeluaran untuk pembiayaan pembangunan, yang dinyatakan dalam rupiah. 4. Pinjaman luar negeri Pemerintah adalah setiap penerimaan pemerintah Indonesia baik devisa maupun non devisa yang dirupiahkan maupun dalam bentuk barang dan jasa yang diperoleh dari pemberi pinjaman luar negeri, yang dinyatakan dalam rupiah. 5. Suku bunga SBI adalah suku bunga Sertifikat Bank Indonesia yang ditetapkan oleh Bank Indonesia sebagai balas jasa atas pembelian Sertifikat Bank Indonesia, yang dinyatakan dalam persen. Universitas Sumatera Utara BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Variabel-Variabel Penelitian 4.1.1 Perkembangan Keuangan Pemerintah Tekanan eksternal berupa turbulensi nilai tukar dan tekanan internal akibat krisis ekonomi dan stabilitas politik yang terjadi pada tahun 1997 sangat mempengaruhi keuangan Pemerintah. Sampai triwulan kedua 1997/98 keuangan pemerintah masih mencatat surplus Rp.8 triliun. Akan tetapi, akibat dari depresiasi rupiah yang terus memburuk membuat performa perekonomian dipertengahan triwulan ketiga mengalami defisit akibat pengeluaran Pemerintah jauh melampaui total penerimaan Negara dan hibah. Pengeluaran Pemerintah membengkak akibat pembiayaan luar negeri dan amortisasi meningkat tajam akibat melemahnya kurs rupiah terhadap mata uang luar negeri, khususnya pembiayaan melalui dollar Amerika Serikat. Total utang luar negeri per Maret 1998 mencapai 138 milyar dollar AS. 72,5 milyar dollar AS adalah utang swasta yang dua pertiganya jangka pendek, di mana sekitar 20 milyar dollar AS jatuh tempo dalam tahun 1998. Sementara pada saat itu cadangan devisa hanya 14,44 milyar dollar AS. Terpuruknya kepercayaan ke titik nol membuat rupiah yang ditutup pada level Rp.4.850/dollar AS pada tahun 1997, meluncur dengan cepat ke level Rp. 17.000/dollar AS pada 22 Januari 1998, atau terdepresiasi lebih dari 80 persen. Universitas Sumatera Utara Pertumbuhan ekonomi yang sebelumnya tampil dengan rata – rata 7% per tahun, pada puncak krisis ekonomi tahun 1998 anjlok mencapai angka -13% dan inflasi yang meroket mencapai 77,63% serta pengangguran dan kemiskinan yang melonjak dengan sangat tajam. Pendapatan per kapita yang mencapai 1.155 dollar/kapita tahun 1996 dan 1.088 dollar/kapita tahun 1997 menciut menjadi 610 dollar/kapita tahun 1998. Dua dari tiga penduduk Indonesia disebut Organisasi Buruh Internasional (ILO) dalam kondisi sangat miskin pada tahun 1999 jika ekonomi tidak segera membaik. Pada tahun 2002 terjadi defisit APBN untuk tahun buku 2003 sebesar 33,7 triliun rupiah. Pengeluaran Pemerintah semakin membengkak untuk pemulihan pembangunan akibat bom bali pada tahun 2002, dan tantangan kondisi moneter maupun pembayaran utang luar negeri. Sampai tahun 2005 APBN mengalami tekanan yang sangat berat. Tekanan berasal dari kenaikan harga minyak yang melebihi asumsi harga minyak mentah Indonesia yang sempat mencapai $69/barel, jauh melebihi asumsi harga minyak yang digunakan dalam APBN serta depresiasi rupiah yang sangat tajam membuat defisit keuangan Pemerintah semakin membengkak. Tekanan lain berupa bencana Tsunami di Aceh dan Kepulauan Nias pada tahun 2004, membuat pemerintah memerlukan dana yang sangat besar untuk merehabilitasi NAD dan Nias. Sekitar US$5,8 milyar dikucurkan dari anggaran untuk rehabilitasi tersebut. Universitas Sumatera Utara Untuk tahun anggaran 2006/2007, APBN diarahkan pada konsolidasi dan ketahanan fiskal yang berkelanjutan. Beberapa upaya yang dilakukan adalah dengan meningkatkan penerimaan Negara dan hibah, meningkatkan efektivitas dan efisiensi belanja Negara, dan menurunkan rasio utang luar negeri secara bertahap. Disisi penerimaan Negara dan hibah, tahun 2007 mencapai Rp.694,09 triliun, meningkat dibanding tahun sebelumnya yang hanya mencapai 659,12 triliun rupiah. Pada sisi belanja Negara mencapai 752,37 triliun rupiah yang mengakibatkan anggaran mengalami defisit 58,28 triliun rupiah. Pada tahun 2007, perekonomian Indonesia dibayangi oleh gejolak eksternal sebagai efek dari terjadinya krisis subprime mortgage di Amerika Serikat yang mempengaruhi perekonomian global. Untungnya perekonomian Indonesia masih dapat mencatat prestasi yang cukup baik, hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang masih positif, penurunan tingkat inflasi dan persentase angka pengangguran dalam negeri dan apresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di Indonesia. Perekonomian Indonesia tahun 2008 secara umum mencatat perkembangan yang cukup baik ditengah terjadinya gejolak eksternal, pertumbuhan ekonomi mencapai 6,1%. Namun pelaksanaan APBN pada tahun 2008 tidak luput dari berbagai tantangan yang bersumber dari gejolak eksternal. Pada semester I-2008, APBN mengalami tekanan yang cukup kuat akibat meningkatnya harga minyak mentah dan komoditas pangan, membuat Pemerintah mengambil langkah-langkah untuk mengamankan pelaksanaan APBN 2008 dengan cara meningkatkan penerimaan domestik terutama dari pajak dan juga penerbitan obligasi. Universitas Sumatera Utara Pada tahun 2009 defisit APBN tercatat Rp.87,2 triliun atau 1,6% dari PDB. Dalam pembiayaan defisit APBN 2009, srategi yang ditempuh tetap diarahkan agar tidak memberikan tekanan bagi prospek kesinambungan fiskal. Strategi pembangunan tersebut antara lain dilakukan dengan memprioritaskan penerbitan Surat Berharga Negara di pasar domestik. Secara keseluruhan strategi itu mengakibatkan utang pemerintah dibanding dengan kapasitas perekonomian masih dalam tren menurun, yang tercermin pada menurunnya rasio utang pemerintah terhadap PDB dari 33% pada tahun 2008 menjadi 29% pada tahun 2009. Strategi pembiayaan juga didukung oleh realisasi APBN 2009 yang masih mencatat surplus pembiayaan Rp.38,1 triliun sehingga berpotensi mendukung sumber pembiayaan kedepan. 4.1.2 Perkembangan Penerbitan Obligasi Pemerintah Maraknya penerbitan obligasi negara tidak terlepas dari upaya pembayaran hutang Indonesia yang menumpuk dan juga untuk membiayai defisit APBN. Obligasi Pemerintah semakin marak di Indonesia mulai sejak 1998 akibat ambruknya sistem perbankan nasional sehingga Pemerintah menyelamatkan permodalan perbankan nasional dengan menerbitkan obligasi rekapitalisasi perbankan yang mencapai Rp.430,4 triliun. Akibat pengeluaran Pemerintah yang melebihi penerimaan Negara pada tahun 2003, maka Pemerintah menerbitkan obligasi dalam bentuk SUN yang mencapai Rp.11,3 triliun. Pemerintah belum melakukan pembelian kembali terhadap obligasi rekapitalisasi akibat defisit APBN yang meningkat 21,3% dibanding tahun Universitas Sumatera Utara sebelumnya. Selain penerbitan obligasi, pemerintah juga melakukan privatisasi terhadap aset-aset negara untuk menutupi defisit APBN. Tabel 4.1. Perkembangan Penerbitan Obligasi Pemerintah (triliun rupiah) 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 11.3 32.4 47.4 61.1 116.9 126.2 132.0 I.Denominasi Rupiah 11.3 23.4 22.9 42.6 103.3 86.9 92.4 II.Denominasi Valas 0 9.0 24.5 18.5 13.6 39.3 49.6 Penerbitan Obligasi Pemerintah Sumber : Bank Indonesia (2003-2009) Dari tabel di atas terlihat bahwa penerbitan obligasi pemerintah dari tahun ke tahun mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan karena penerbitan obligasi denominasi rupiah maupun valas mengalami kenaikan. Adapun tujuan penerbitan obligasi ini adalah untuk menutupi defisit APBN. Pengelolaan defisit dilakukan untuk konsolidasi fiskal yaitu untuk mengurangi beban utang luar negeri Pemerintah. Penerbitan obligasi Pemerintah sepanjang tahun 2004 mencapai Rp.32,4 triliun, sebagian diterbitkan dalam bentuk obligasi internasional untuk meningkatkan rating atau peringkat obligasi Pemerintah Indonesia. Sedangkan sumber utama pembiayaan defisit tahun 2005 adalah obligasi Pemerintah. Sepanjang tahun 2005, Pemerintah menerbitkan obligasi sebesar Rp.47,4 triliun baik denominasi rupiah maupun valuta asing. Jumlah tersebut melebihi target yang ditetapkan dalam APBN-P 2005 sebesar Rp.43,3 triliun. Pemenuhan pembiayaan melalui penerbitan obligasi dilakukan dengan lelang sebanyak 8 kali lelang. Universitas Sumatera Utara Sepanjang tahun 2006, Pemerintah menerbitkan SUN mencapai Rp.61,1 triliun. Net beli investor terhadap obligasi Pemerintah sepanjang tahun 2006 cenderung meningkat terutama sejak penurunan BI rate pada tahun 2006. Tujuan tersebut dicapai melalui kegiatan lelang penerbitan SUN di pasar domestik, lelang penerbitan SUN dalam Valuta Asing, serta penjualan Obligasi Negara Ritel dan lelang Penukaran SUN (debt switching). Pembayaran cicilan pokok utang luar negeri yang mencapai Rp.52,7 triliun, neto pembayaran utang luar negeri menjadi lebih besar dari sasaran yaitu mencapai negatif Rp.19,3 triliun. Selain untuk membiayai defisit, penerbitan SUN juga digunakan untuk pembiayaan infrastruktur melalui Public Private Partnership (PPP) sekitar Rp.2 triliun. Sampai dengan akhir Desember 2007 jumlah SBN rupiah dan valas yang telah diterbitkan mencapai Rp.116,9 triliun. Setelah memperhitungkan SUN yang jatuh tempo, buyback SUN dan pelunasan sebagian pokok kewajiban Pemerintah kepada Bank Indonesia (SRBI-01) sekitar Rp.13,7 triliun. Pelaksanaan APBN 2008 Sampai dengan pertengahan triwulan III-2008, pemenuhan kebutuhan pembiayaan defisit melalui penerbitan SUN berjalan lancar. Akan tetapi sejak september 2008 pasar SUN mulai menghadapi tekanan kenaikan yield SUN secara signifikan. Pada situasi tersebut Pemerintah memutuskan untuk tidak melakukan penerbitan SUN sejak Oktober 2008. Memburuknya harga obligasi negara di pasar internasional juga menyebabkan Pemerintah menunda penerbitan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) valas di akhir tahun 2008. Dampaknya, realisasi pembiayaan defisit APBN tahun 2008 jauh dibawah target. Sampai dengan akhir Desember 2008, jumlah Universitas Sumatera Utara Obligasi denominasi rupiah dan valas yang telah diterbitkan mencapai Rp.126,2 triliun. Setelah memperhitungkan SUN yang jatuh tempo dan buyback SUN, neto total penerbitan SBN mencapai Rp.86,9 triliun, jauh di bawah target APBN-P 2008 sebesar Rp.117,8 triliun. Dalam upaya menstabilkan harga SUN, Pemerintah telah melakukan buyback sun pada April, Oktober dan November 2008. Strategi yang ditempuh untuk pembiayaan defisit APBN 2009 tetap diarahkan agar tidak memberikan tekanan bagi prospek kesinambunagn fiskal. Strategi pembiayaan tersebut antara lain dilakukan dengan memprioritaskan penerbitan Surat Berharga Negara di pasar domestik, penerapan front loading strategi, menjadikan SBN valas sebagai pelengkap dan mengaktifkan srategi buyback dan debt switching. Dari strategi buyback, pada tahun 2009 pemerintah melakukan buyback SUN sebanyak dua kali dengan total nominal Rp.8,52 triliun. Untuk strategi debt switching, pemerintah melakukan debt switching SUN sebanyak enam kali dengan total nominal Rp.2,93 triliun. Strategi debt switching tersebut dilakukan guna memperpanjang durasi utang dan mengurangi refinancing risk. Untuk visualisasi perkembangan penerbitan obligasi pemerintah dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Universitas Sumatera Utara 150 100 P enerbita n Oblig a s i N eg a ra  D enom ina s i R upia h 50 D enom ina s i Va la s 0 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Gambar 4.1. Perkembangan Penerbitan Obligasi Pemerintah 2003-2009 4.1.3 Perkembangan Penerimaan Negara Tahun 1997 sampai tahun 2000 merupakan tahun fiskal yang sangat sulit bagi perekonomian Indonesia. Akan tetapi secara kuantitatif jumlah penerimaan negara baik melalui perpajakan dan non perpajakan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 1998, kontribusi perpajakan di Indonesia mencapai 11,4% dari total PDB atau setara dengan Rp.70,93 triliun. Pengaruh krisis sangat besar terhadap perolehan sumber dana dalam negeri. Sektor usaha yang terpuruk membawa dampak pada menurunnya penerimaan perpajakan. Sementara itu penerimaan dari minyak bumi telah menurun sejak beberapa dekade sebagai akibat dari melemahnya harga minyak dunia. Universitas Sumatera Utara Tabel 4.2. Perkembangan Pendapatan Negara dan Hibah (triliun rupiah) Kategori 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Pendapatan Negara dan Hibah 342.81 403.77 540.13 659.12 694.09 894.99 848.57 I.Penerimaan Dalam Negeri 342.47 403.03 532.67 654.88 690.26 892.04 847.63 1.Penerimaan Perpajakan 248.47 279.21 351.97 425.05 492.01 609.23 661.75 94 123.82 180.70 229.83 198.25 282.81 185.87 0.34 0.74 7.46 4.23 3.82 2.95 0.93 2.Penerimaan Negara Bukan Pajak II.Penerimaan Hibah dalam dan luar Negeri Sumber : Bank Indonesia (2003-2009) Komponen penerimaan dalam negeri berasal dari perpajakan dan penerimaan negara bukan pajak. Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa pendapatan negara dari tahun ke tahun cenderung mengalami kenaikan, kecuali pada tahun 2009 pendapatan negara mengalami penurunan dari Rp.894,99 triliun pada tahun 2008 turun menjadi Rp.848,57 triliun pada tahun 2009. Hal ini disebabkan karena penerimaan dalam negeri khususnya penerimaan negara bukan pajak mengalami penurunan dari Rp.282,81 triliun pada tahun 2008 turun menjadi Rp.185,87 triliun pada tahun 2009. Memang pada tahun 2007 penerimaan negara bukan pajak juga mengalami penurunan dari Rp.299,83 triliun pada tahun 2006 turun menjadi Rp.198,25 triliun Universitas Sumatera Utara pada tahun 2007. Akan tetapi pengaruhnya kepada pendapatan negara tidak begitu besar karena masih ditutupi oleh penerimaan perpajakan dan penerimaan hibah. Disini perlu usaha dari Pemerintah untuk meningkatkan penerimaan melalui kebijaksanaan perpajakan (tax reform), yang tengah digarap dan harus dijalankan secara serius. Tax reform mengalami perjalanan yang panjang dan memiliki 6 dasar sistem perpajakan yaitu: pajak haruslah sederhana, harus mencerminkan azas pemerataan dan keadilan, memberikan kepastian hukum bagi wajib pajak maupun aparat pajak, menutup peluang penyeludupan, memberikan kepercayaan dan menunjang pembangunan. Srategi Pemerintah dalam mengelola sisi pendapatan negara terus dilakukan melalui berbagai langkah konsolidasi fiskal yang diarahkan pada upaya mendorong peningkatan penerimaan negara. Untuk tahun anggaran 2006/2007 penerimaan negara dan hibah tahun 2006 mencapai Rp.659,12 triliun, sedangkan tahun 2007 mencapai Rp.694,09 triliun. Realisasi pendapatan negara dan hibah tahun 2008 meningkat signifikan akibat berbagai kebijakan Pemerintah maupun dampak dari kondisi ekonomi makro. Pendapatan negara dan hibah mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 38,6%, lebih tinggi dari pertumbuhan tahun 2007 sebesar 11%. Dalam hal ini sektor perpajakan maupun migas berkontribusi besar bagi pencapaian tersebut. Dengan kondisi tersebut realisasi pendapatan negara dan hibah mencapai 109,6% dari APBN-P 2008. Dari sektor perpajakan, realisasi penerimaan mencapai 108,1% dari APBN-P 2008 atau meningkat sebesar 34,2% lebih tinggi dari pertumbuhan tahun sebelumnya sebesar 20%. Peningkatan penerimaan pajak tersebut tidak terlepas dari pengaruh Universitas Sumatera Utara pelaksanaan berbagai kebijakan perpajakan diantaranya adalah intensifikasi, ekstensifikasi, modernisasi dan penegakan hukum. Secara khusus, intensifikasi pada tahun 2008 difokuskan pada penggalian potensi di booming sectors seperti industri kelapa sawit, batu bara dan jasa konstruksi serta program mapping, profiling dan benchmarking wajib pajak. Sementara itu, kebijakan penegakan hukum terutama dilakukan pada sektor cukai dalam rangka mengurangi peredaran tembakau ilegal. Di samping optimalisasi kebijakan, kondisi eksternal juga turut berkontribusi pada meningkatnya penerimaan perpajakan. Kenaikan harga minyak dan beberapa komoditas lain di pasar internasional sampai dengan pertengahan triwulan III-2008 mampu meningkatkan penerimaan PPH migas, bea masuk dan pajak ekspor. Pada tahun 2009 pendapatan Negara dan hibah mengalami penurunan dibanding tahun 2008 yaitu dari Rp.894,99 triliun pada tahun 2008 menjadi Rp.848, 57 triliun pada tahun 2009. Gambar di bawah ini menunjukkan perkembangan pendapatan negara dan hibah dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2009. Universitas Sumatera Utara 1000 900 Pendapatan Negara dan Hibah 800 700 Penerimaan Dalam Negeri 600 500 Penerimaan Perpajakan 400 300 200 Penerimaan Negara Bukan  Pajak 100 Hibah 0 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Gambar 4.2. Perkembangan Pendapatan Negara dan Hibah 2003-2009 4.1.4 Perkembangan Pengeluaran Pemerintah Pengeluaran Pemerintah menunjukkan kecenderungan yang meningkat dari tahun 1998 sampai tahun 2009. Komponen belanja pusat mempunyai peranan yang dominan dalam pengeluaran Pemerintah. Dari tahun 2000-2003, pengeluaran Pemerintah untuk komponen ini cukup meningkat. Pada tahun 2003 dana yang dibelanjakan untuk keperluan ini mencapai Rp.259,93 triliun. Dan total pengeluaran Pemerintah dalam APBN mencapai 377,25 triliun rupiah. Untuk lebih jelasnya, perkembangan pengeluaran pemerintah dapat dilihat pada tabel berikut: Universitas Sumatera Utara Tabel 4.3. Perkembangan Pengeluaran Pemerintah (triliun rupiah) 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 377.25 430.04 565.07 699.10 752.37 989.49 988.08 259.93 300.04 411.67 478.25 498.17 697.07 685.03 a.Pengeluaran Rutin 191.79 228.04 - - - - - b.Pengeluaran Pembangunan 66.15 71.95 - - - - - 119.31 130.01 153.40 220.85 254.20 292.42 303.05 109.93 123.15 146.16 216.80 244.61 278.44 279.31 9.39 6.86 7.24 4.05 9.59 13.98 23.73 Pengeluaran Pemerintah/Belanja Negara I.Belanja Pemerintah Pusat II.Transfer ke Daerah a.Dana Perimbangan b.Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus Sumber : Bank Indonesia (2003-2009) Dari tabel di atas terlihat bahwa pengeluaran pemerintah dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Pada tahun 2003, total pengeluaran pemerintah sebesar Rp.377,25 triliun. Sedangkan pada tahun 2009, jumlahnya naik menjadi Rp.988,08 triliun. Hal ini disebabkan karena peningkatan belanja pemerintah pusat dan transfer ke daerah mengalami peningkatan. Peningkatan pengeluaran Pemerintah ini berkaitan juga dengan upaya perbaikan kesejahteraan aparatur Pemerintah dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat, pemberian stimulus fiskal secara terbatas pada perekonomian, dan peningkatan alokasi anggaran ke daerah sejalan dengan pelaksanaan kebijakan desentralisasi fiskal. Pengeluaran Pemerintah juga membengkak untuk membiayai subsidi, baik belanja subsidi energi dan non energi. Pertumbuhan peningkatan belanja negara tahun 2008 mencapai 30%, hal ini dilakukan untuk melakukan pelaksanaan program stabilisasi harga menghadapi dampak krisis ekonomi global pada perekonomian Universitas Sumatera Utara domestik. Subsidi mengalami kenaikan sebesar 83,3% akibat harga minyak mentah yang terus meningkat sejak awal tahun 2008. Sebagian besar dari belanja negara digunakan untuk pembayaran subsidi dan bunga utang, disusul oleh belanja untuk daerah, kemudian sisanya untuk stimulus fiskal dari Pemerintah pusat serta kompensasi atas pengurangan subsidi BBM. APBN 2006/2007 diarahkan pada konsolidasi fiskal dan ketahanan fiskal yang berkelanjutan. Pada tahun 2007, belanja Negara pada APBN sebesar Rp.752,37 triliun, dimana belanja pusat sebesar Rp.498,17 triliun rupiah dan belanja ke daerah sebesar Rp.254,20 triliun rupiah. Defisit anggaran pada tahun 2007 mencapai Rp.58,28 triliun rupiah. Pada tahun 2009 pemerintah akan meningkatkan berbagai program yang bertujuan untuk memberikan stimulus terhadap kegiatan perekonomian. Programprogram tersebut antara lain dengan meneruskan berbagai program kesejahteraan rakyat seperti program nasional pemberdayaan masyarakat, bantuan operasional sekolah, jaminan kesehatan masyarakat, raskin dll. Selain itu pemerintah juga akan melanjutkan pembangunan infrastruktur dan meneruskan reformasi birokrasi. Secara visualisasi, perkembangan pengeluaran pemerintah dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Universitas Sumatera Utara 1200 1000 Pengeluaran Negara 800 Belanja Pemerintah  Pusat 600 Transfer ke  Daerah 400 Dana Perimbangan 200 Dana Penyesuaian  dan  Otonomi Khusus 0 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Gambar 4.3. Perkembangan Pengeluaran Negara 2003-2009 4.1.5 Perkembangan Pinjaman Luar Negeri Pemerintah Pada dasarnya dalam proses pelaksanaan pembangunan ekonomi di negara berkembang seperti Indonesia, pinjaman luar negeri merupakan suatu gejala yang wajar. Hal ini disebabkan oleh tabungan Pemerintah yang rendah sehingga Pemerintah mengalami kekurangan modal (capital shortgage) ketika memulai atau menjalankan akselerasi pembangunan, sehingga dilakukan alternatif melalui pinjaman luar negeri untuk menutupi kekurangan modal pembangunan. Pinjaman luar negeri jika dikelola dengan baik maka pinjaman akan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga merupakan salah satu penyebab utama keterpurukan perekonomian Indonesia. Ini disebabkan semakin besarnya beban utang luar negeri, yaitu pembayaran bunga dan cicilan hutang (amortisasi). Sejak Universitas Sumatera Utara kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, pergerakan pinjaman luar negeri menunjukkan tren yang meningkat. Pada tahun 1980 pinjaman luar negeri mencapai US$14,8 milyar, dan meningkat tajam menjadi US$122,033 pada tahun 1998 akibat krisis ekonomi di Indonesia. Kecenderungan penarikan pinjaman luar negeri juga dikarenakan untuk membiayai pembangunan ekonomi yang sempat ambruk akibat krisis ekonomi. Tabel 4.4. Perkembangan Pinjaman Luar Negeri Pemerintah (triliun rupiah) 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Pinjaman Luar Negeri 20.49 21.74 35.54 37.56 42.22 48.14 102.15 Pinjaman Program 5.74 3.14 11.27 12.08 19.01 26.39 76.43 Pinjaman Proyek 14.75 18.60 24.27 25.48 23.21 21.75 25.72 Sumber : Bank Indonesia (2003-2009) Pinjaman luar negeri dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pada tahun 2003 pinjaman luar negeri pemerintah sebesar Rp.20,49 triliun. Sedangkan pada tahun 2004 pinjaman luar negeri meningkat menjadi Rp. 21,74 triliun. Jumlah ini semakin lama semakin tinggi, sehingga pada tahun 2009 pinjaman luar negeri pemerintah mencapai Rp.102,15 riliun. Realisasi pembiayaan defisit melalui pinjaman utang luar negeri pada tahun 2006 dibawah anggaran, yaitu hanya Rp.33,4 triliun, atau 89% dari sasarannya. Dengan pembayaran cicilan pokok utang luar negeri yang mencapai Rp.52,7 triliun, neto pembayaran utang luar negeri menjadi lebih besar dari sasaran yaitu mencapai negatif Rp.19,3 triliun. Sumber utama pembiayaan realisasi defisit APBN-P 2006 Universitas Sumatera Utara berasal dari dalam negeri dan konsolidasi disisi pembiayaan defisit anggaran masih diarahkan untuk optimalisasi pembiayaan anggaran dan memperbaiki pengelolaan utang. Pada tahun 2007 penarikan pinjaman luar negeri yang hanya mencapai 81% dari target APBN-P karena tidak terpenuhinya policy matrix. Sumber utama pinjaman luar negeri masih berasal dari World Bank dan ADB yang digunakan untuk membiayai berbagai program pembangunan hampir seluruh sektor perekonomian. Pada tahun 2008 pinjaman luar negeri pemerintah mencapai Rp.48,14 triliun yang terdiri dari pinjaman program senilai Rp.26,39 triliun dan pinjaman proyek Rp.21,75 triliun. Sedangkan untuk tahun 2009 pinjaman luar negeri pemerintah mencapai Rp.102,15 triliun yang terdiri dari pinjaman program sebesar Rp.76,43 triliun dan pinjaman proyek sebesar Rp.25,72 triliun. Visualisasi perkembangan pinjaman luar negeri pemerintah dapat dilihat pada gambar di bawah ini. 120 100 80 Pinjaman Luar Negeri 60 Pinjaman Program 40 Pinjaman Proyek 20 0 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Gambar 4.4. Perkembangan Pinjaman Luar Negeri Pemerintah 2003-2009 Universitas Sumatera Utara 4.1.6 Perkembangan Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) Perkembangan suku bunga SBI tahun 2003 yaitu pada triwulan I sebesar 11,97%, triwulan II sebesar 10,18%, triwulan III sebesar 8,75%, dan triwulan IV sebesar 8,34%. Suku bunga SBI ini terlihat cenderung menurun. Adapun faktorfaktor yang mempengaruhi penurunan suku bunga SBI ini adalah relatif terkendalinya laju inflasi dan pertumbuhan uang primer. Perkembangan uang primer (M 0 ) menunjukkan pergerakan yang relatif stabil dengan kecenderungan meningkat. Selain itu penurunan suku bunga SBI telah mendorong berlanjutnya penurunan suku bunga kredit. Penurunan suku bunga SBI ini ditengarai merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi aktivitas investor di pasar saham. Untuk lebih jelasnya perkembangan suku bunga SBI sejak triwulan I 2003 – triwulan IV 2009 dapat dilihat pada Tabel di bawah ini. Tabel 4.5. Perkembangan Suku bunga SBI 2003 – 2009 (persen) 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Triwulan I 11.97 7.42 11.5 12.75 9 8 7.75 Triwulan II 10.18 7.5 8.25 12.5 8.5 8.5 7 Triwulan III 8.75 7.75 10 11.25 8.25 9.25 6.5 Triwulan IV 8.34 7.29 12.75 9.75 8 9.25 6.5 Sumber: www.bi.go.id Universitas Sumatera Utara Sedangkan perkembangan suku bunga SBI tahun 2005 yaitu pada triwulan I suku bunga SBI mengalami kenaikan sampai 11,50%. Hal ini terjadi karena kembali melemahnya nilai tukar rupiah akibat mulai kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap kestabilan makroekonomi sebagai akibat dari tingginya harga minyak dunia dan adanya penyesuaian berupa kenaikan harga BBM di dalam negeri serta tingginya inflasi. Untuk memulihkan stabilitas moneter tersebut, Bank Indonesia mulai melakukan penerapan kerangka kebijakan moneter yang baru yaitu ITF (Inflation Targeting Framework). Tetapi pada akhir tahun 2007, ketika nilai tukar rupiah mengalami depresiasi yang cukup besar akibat mulai meningkatnya harga minyak dunia dan terjadinya kasus subprime mortgage di Amerika Serikat yang mulai berpengaruh ke Indonesia, tidak membuat suku bunga SBI mengalami kenaikan bahkan mengalami penurunan menjadi 8% dibandingkan akhir tahun 2006 yaitu sebesar 9,75%. Hal ini dilakukan oleh Bank Indonesia dengan tujuan untuk menjaga rentang antara suku bunga SBI dengan suku bunga di luar negeri. Strategi kebijakan pengendalian inflasi tahun 2008 diarahkan pada upaya pencapaian target inflasi dalam jangka menengah yang ditetapkan Pemerintah. Selama tahun 2008 secara umum suku bunga SBI sangat terkait dengan semakin dalamnya krisis ekonomi global, serta perlambatan ekonomi domestik yang lebih dalam. Pada triwulan I tahun 2008, suku bunga SBI melalui penentuan tingkat BI rate dipertahankan pada level 8% untuk mengantisipasi ekspektasi inflasi akibat kenaikan harga komoditas internasional dan kelangkaan pasokan minyak tanah. Pada triwulan Universitas Sumatera Utara II dan III, perkembangan ekonomi dunia masih diwarnai oleh perlambatan ekspansi ekonomi serta tingginya inflasi akibat kenaikan harga minyak dunia yang mengakibatkan inflasi mengalami kenaikan. Pada triwulan III dan IV tahun 2009, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga SBI pada level 6,50%. Pelonggaran kebijakan moneter sejak Desember 2008 melalui penurunan suku bunga SBI menjadi 6,50% cukup kondusif bagi proses pemulihan perekonomian dan intermediasi perbankan. Suku bunga SBI sebesar 6,50% tersebut juga dipandang konsisten dengan pencapaian sasaran inflasi pada tahun 2010 sebesar 5%. Berbagai indikator menunjukkan bahwa pengeluaran konsumsi masyarakat terus meningkat didorong oleh ketersediaan pembiayaan konsumsi dan tingkat keyakinan konsumen akan prospek perekonomian kedepan. Disisi eksternal, ekspor juga terus meningkat sejalan dengan membaiknya perekonomian di kawasan, khususnya Cina dan India. TWI 03 TWII 03 TWIII 03 TWIV 03 TWI 04 TWII 04 TWIII 04 TWIV 04 TWI 05 TWII 05 TWIII 05 TWIV 05 TWI 06 TWII 06 TWIII 06 TWIV 06 TWI 07 TWII 07 TWIII 07 TWIV 07 TWI 08 TWII 08 TWIII 08 TWIV 08 TWI 09 TWII 09 TWIII 09 TWIV 09 13 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 BI rate Gambar 4.5. Perkembangan Suku Bunga SBI 2003 – 2009 Universitas Sumatera Utara 4.2 Uji Statistik Hasil Estimasi Model Untuk mengetahui pengaruh variabel bebas (Penerimaan Negara tahun sebelumnya, Pengeluaran Pemerintah, Pinjaman Luar Negeri Pemerintah dan suku bunga SBI) terhadap variabel terikat (Penerbitan Obligasi Pemerintah) dilakukan dengan menggunakan model regresi linear berganda. Hasil estimasi tersebut ditunjukkan pada tabel berikut: Tabel 4.6. Hasil Estimasi Model Penelitian Variabel C LPN LGE LPLNP LSBI Koefisien -8.426144 -1.562532 3.489645 -0.370484 -0.232857 Std. Error 0.724191 0.622767 0.710090 0.044213 0.163037 t-Statistic -11.63524 -2.509017 4.914368 -8.379519 -3.428244 Prob. 0.0000 0.0196 0.0001 0.0000 0.0467 Sumber: Hasil pengolahan Eviews Berdasarkan hasil estimasi yang ditunjukkan pada tabel di atas, maka hasilnya dapat diperoleh: LogPOP = -8,426 – 1,563 LogPN +3,490 LogGE – 0,370 LogPLNP – 0,233 LogSBI (-2.509017)** (4.914368)*** (-8.379519)*** R2 = 0,972 R2 adjusted = 0,967 (-3.428244)** F-Stat = 202,4315 Prob = 0,000 Catatan : Angka dalam kurung adalah nilai t-statistik * Signifikan pada α 10 % ** Signifikan pada α 5 % *** Signifikan pada α 1 % Universitas Sumatera Utara 4.2.1 Uji Kesesuaian (Test Goodness of Fit) Berdasarkan hasil estimasi di atas, diperoleh nilai koefisien determinasi R2 sebesar 0,972 yang bermakna bahwa variabel Penerimaan Negara tahun sebelumnya, Pengeluaran Pemerintah, Pinjaman Luar Negeri Pemerintah dan suku bunga SBI mampu menjelaskan variasi terhadap Penerbitan Obligasi Pemerintah untuk kurun waktu Januari 2003 sampai Desember 2009 adalah sebesar 97,2 persen. Sedangkan sisanya sebesar 2,8 persen dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model persamaan tersebut. Hasil uji simultan (serempak) dilakukan untuk melihat signifikansi secara bersama-sama variabel bebas dalam mempengaruhi variabel terikat. Dari estimasi tersebut diperoleh nilai F – statistik sebesar 202,4315 yang lebih besar dari F – tabel sebesar 4,26 pada tingkat α= 1 persen, dengan nilai probabilitas sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,01. Artinya secara bersama-sama variabel Penerimaan Negara tahun sebelumnya, Pengeluaran Pemerintah, Pinjaman Luar Negeri Pemerintah dan suku bunga SBI memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penerbitan Obligasi Pemerintah. Pembahasan Penerimaan Negara tahun sebelumnya Nilai koefisien variabel penerimaan negara tahun sebelumnya bertanda negatif sesuai dengan hipotesis yaitu sebesar -1,563 yang mengandung arti bahwa setiap peningkatan terhadap 1 persen penerimaan negara tahun sebelumnya, maka penerbitan obligasi pemerintah akan mengalami penurunan sebesar 1,563 persen, Universitas Sumatera Utara ceteris paribus. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa hubungan antara penerimaan negara tahun sebelumnya dengan Penerbitan Obligasi Pemerintah adalah negatif. Semakin besar penerimaan negara tahun sebelumnya, maka Penerbitan Obligasi pemerintah akan semakin kecil. Dengan nilai probabilitas sebesar 0,0196 lebih kecil dari 0,05, maka variabel penerimaan negara tahun sebelumnya signifikan pada tingkat α = 5%. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa penerimaan negara tahun sebelumnya merupakan variabel yang dapat menurunkan penerbitan obligasi pemerintah di Indonesia. Penerimaan Pemerintah baik dari dalam maupun luar negeri sangat penting bagi keberhasilan proses pembangunan nasional, karena penerimaan Pemerintah terutama dari dalam negeri yaitu dari pajak dan non-pajak maupun dari migas dan nonmigas adalah untuk menutup pengeluaran rutin Pemerintah dan kalau ada sisanya dijadikan tabungan Pemerintah. Pembahasan Pengeluaran Pemerintah/Negara Nilai koefisien variabel pengeluaran pemerintah bertanda positif sesuai dengan hipotesis. Nilai koefisiennya sebesar 3,490 yang mengandung arti bahwa setiap peningkatan terhadap 1 persen pengeluaran negara, maka penerbitan obligasi pemerintah di Indonesia akan mengalami peningkatan sebesar 3,490 persen, ceteris paribus. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa hubungan antara Pengeluaran Pemerintah dengan Penerbitan Obligasi Pemerintah adalah positif atau searah. Semakin besar Pengeluaran Pemerintah semakin tinggi pula Penerbitan Obligasi pemerintah.  Dengan nilai probabilitas sebesar 0,0001 lebih kecil dari 0,01, Universitas Sumatera Utara maka variabel penerimaan negara tahun sebelumnya signifikan pada tingkat α = 1%. Variabel pengeluaran Negara mempunyai koefisien yang cukup besar dalam mempengaruhi penerbitan obligasi pemerintah. Hal ini disebabkan karena pengeluaran Negara sangat berperan dalam kemajuan ekonomi. Salah satu indikator untuk mengukur sejauh mana peran pemerintah lewat kebjakan fiskalnya didalam perekonomian adalah tren perkembangan jangka panjang dari rasio G-Y atau besarnya pengeluaran pemerintah sebagai persentase dari pendapatan nasional. Pentingnya pengeluaran pemerintah ini adalah untuk menggairahkan kembali perekonomian nasional. Besarnya pengeluaran pemerintah dipengaruhi oleh berbagai langkah kebijakan yang ditempuh Pemerintah dalam rangka pengelolaan keuangan negara dan stabilitas perekonomian seperti perbaikan pendapatan aparatur Pemerintah, penghematan pembayaran bunga utang dan pengalihan subsidi agar lebih tepat sasaran. Kenaikan pengeluaran Pemerintah terutama dari pos belanja pegawai yang dialokasikan untuk menaikkan gaji pegawai dan pensiunan. Selain itu lonjakan pengeluaran Pemerintah terjadi pada pos pembayaran bunga utang luar negeri dan dalam negeri. Perbedaan karakteristik yang paling mendasar antara pinjaman dari dalam dan luar negeri yaitu pada implikasi disaat pengembalian (amortisasi). Universitas Sumatera Utara Pembahasan Pinjaman Luar Negeri Pemerintah Variabel pinjaman luar negeri pemerintah bertanda negatif sesuai dengan hipotesis. Nilai koefisiennya sebesar -0,370 yang mengandung arti bahwa setiap peningkatan terhadap 1 persen pinjaman luar negeri pemerintah, maka penerbitan obligasi pemerintah akan mengalami penurunan sebesar 0,370 persen, ceteris paribus. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa hubungan antara pinjaman luar negeri pemerintah dengan Penerbitan Obligasi Pemerintah adalah negatif. Semakin besar penerimaan negara tahun sebelumnya, maka Penerbitan Obligasi pemerintah akan semakin kecil. Nilai probabilitas sebesar 0,0000 lebih kecil dari 0,01, menunjukkan bahwa variabel pinjaman luar negeri pemerintah signifikan pada tingkat α = 1%. Biasanya Pinjaman luar negeri yang diterima harus berjangka panjang dan dengan syarat-syarat yang ringan. Tujuan pemerintah melakukan pinjaman luar negeri adalah untuk pelengkap pembiayaan pembangunan yang diarahkan pada pembiayaan proyek-proyek yang memberi manfaat secara langsung bagi pengembangan industri dalam negeri serta mendorong perluasan lapangan kerja. Selain itu salah satu masalah dalam pelaksanaan pembangunan ekonomi yang dihadapi negara berkembang termasuk Indonesia adalah keterbatasan modal dalam negeri. Dalam jangka pendek, pinjaman luar negeri sangat membantu pemerintah Indonesia dalam upaya menutup defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, akibat pembiayaan pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan yang cukup besar. Dengan demikian, laju pertumbuhan ekonomi dapat dipacu sesuai dengan Universitas Sumatera Utara target yang telah ditetapkan sebelumnya. Akan tetapi dalam jangka panjang, pinjaman luar negeri dapat menimbulkan permasalahan ekonomi pada banyak negara debitur. Di samping beban ekonomi yang harus diterima rakyat pada saat pembayaran kembali, juga beban psikologis politis yang harus diterima oleh negara debitur akibat ketergantungannya dengan bantuan asing. Pembahasan suku bunga SBI Nilai koefisien suku bunga SBI bertanda negatif sesuai dengan hipotesis. Nilai koefisiennya sebesar -0,233 mengandung arti bahwa setiap peningkatan terhadap 1 persen tingkat suku bunga SBI, maka penerbitan obligasi pemerintah di Indonesia akan mengalami penurunan sebesar 0,233 persen, ceteris paribus. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa hubungan antara suku bunga SBI dengan Penerbitan Obligasi Pemerintah adalah negatif. Semakin tinggi suku bunga SBI, maka Penerbitan Obligasi pemerintah akan semakin kecil.  Dilihat dari nilai probabilitas sebesar 0,0467 lebih kecil dari 0,05 yang menunjukkan bahwa variabel suku bunga SBI signifikan pada tingkat α = 5%. Selain sebagai piranti operasi pasar terbuka, penggunaan SBI pada dasarnya sama dengan penggunaan Treasury Bills (TBills) di pasar uang Amerika Serikat. Melalui penggunaan SBI tersebut, Bank Indonesia dapat secara tidak langsung mempengaruhi suku bunga di pasar uang dengan cara mengumumkan Stop Out Rate (SOR). Universitas Sumatera Utara 4.2.2 Uji Asumsi Klasik 4.2.2.1 Uji Multikolinearitas Uji multikolinearitas bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat korelasi yang cukup besar antar sesama variabel bebas. Korelasi yang terlalu tinggi antar sesama variabel bebas akan berpengaruh pada menurunnya korelasi secara simultan terhadap variabel terikat. Untuk mendeteksi terjadinya multikolinearitas digunakan dengan perbandingan nilai R2 model, dengan nilai R2 regresi dari masing-masing variabel independen. Tabel 4.7. Nilai koefisien determinasi R2 Variabel R2 POP 0,972 PN 0,955 PLNP 0,425 Bebas GE 0,904 Multikolinearitas SBI 0,171 Kesimpulan Sumber : Hasil Pengolahan Eviews Kriteria yang digunakan adalah jika nilai R2 variabel-variabel independen lebih kecil dari nilai R2 model, maka data bebas dari masalah multikolinearitas. Dari tabel diatas terlihat bahwa R2 lebih kecil dari nilai R2 model. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa data penelitian bebas dari masalah multikolinearitas. Universitas Sumatera Utara 4.2.2.2 Uji Autokorelasi Hasil uji autokorelasi dengan menggunakan serial correlation LM test menunjukkan bahwa nilai Probabilitas lebih besar dari 0,05 sehingga hipotesis nol ditolak, yaitu tidak ada autokorelasi. Tabel 4.8. Hasil Uji LM – Test Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 7.640330 Probability Obs*R-squared 11.79302 Probability 0.073212 0.062749 Sumber : Hasil Pengolahan Eviews 4.2.2.3 Uji Normalitas Dari hasil pengujian normalitas dengan menggunakan Jarque – Berra Test (JB test), didapat bahwa nilai probabilitas adalah 0,184 lebih besar dari 0,05 sehingga dapat dikatakan bahwa data berdistribusi normal. Universitas Sumatera Utara BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan beberapa hal: 1. Secara serempak, variabel-variabel eksplanatori atau variabel bebas dalam mempengaruhi variabel terikat sangat jelas. Dari hasil estimasi tersebut secara bersama-sama Penerimaan Negara tahun sebelumnya, Pengeluaran Pemerintah, Pinjaman Luar Negeri Pemerintah, dan suku bunga SBI dapat mempengaruhi Penerbitan Obligasi Pemerintah di Indonesia secara signifikan. 2. Secara parsial terdapat pengaruh yang signifikan dan sesuai hipotesis yaitu Penerimaan Negara tahun sebelumnya, Pengeluaran Pemerintah, Pinjaman Luar Negeri Pemerintah, dan suku bunga SBI terhadap Penerbitan Obligasi Pemerintah di Indonesia. 3. Variabel yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap Penerbitan Obligasi Pemerintah adalah Pengeluaran Pemerintah/Negara. Hal ini disebabkan karena Pengeluaran Pemerintah merupakan salah satu unsur penggerak dalam perekonomian. Pengeluaran pemerintah ini dapat dalam bentuk pengeluaran rutin seperti pengeluaran untuk belanja pegawai, belanja Universitas Sumatera Utara barang, pembayaran bunga dan cicilan utang, dan pengeluaran rutin lainnya. Sedangkan pengeluaran pemerintah dalam pembiayaan pembangunan digunakan untuk membiayai pembangunan di bidang ekonomi, sosial, dan umum, baik pembangunan secara fisik maupun non fisik. Banyaknya pengeluaran yang harus dikeluarkan pemerintah ini sering menyebabkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara mengalami defisit sehingga salah satu cara untuk mengatasinya adalah penerbitan obligasi pemerintah. 4. Variabel yang mempunyai pengaruh paling kecil terhadap Penerbitan Obligasi Pemerintah adalah Penerimaan Negara tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan mungkin karena penerimaan negara tersebut lebih diarahkan untuk pengeluaran rutin dan juga untuk pengeluaran pembangunan, sehingga Penerimaan Negara tersebut memiliki kontribusi yang kecil terhadap penerbitan obligasi pemerintah. 5.2 Saran 1. Pemerintah sebagai pengelola anggaran belanja negara haruslah meningkatkan efektivitas anggaran agar penanganan defisit tidak memperbesar akumulasi utang Pemerintah. 2. Penerimaan negara harus ditingkatkan baik melalui kebijakan perpajakan dan kebijakan penganggaran seperti menetapkan aturan maksimal 50 persen dari APBN digunakan untuk pengeluaran rutin, agar defisit negara tidak semakin membengkak. Universitas Sumatera Utara 3. Penelitian ini hanya dilakukan selama kurun waktu Januari 2003 sampai Desember 2009 (7 tahun dengan 28 observasi), sehingga belum tentu dapat memberikan gambaran yang jelas berhubungan dengan penerbitan obligasi pemerintah. Hendaknya pada penelitian selanjutnya jumlah data time series diperbanyak agar memberikan gambaran dan hasil yang lebih baik. 4. Disarankan untuk penelitian selanjutnya agar menggunakan metode lain serta konsep peninjauan yang berbeda sehingga menghasilkan studi komparasi atau hasil perbandingan yang berbeda pula. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Arief, Sritua dan A.Sasono. 2004. Modal Asing, Beban Hutang Luar Negeri dan Ekonomi Indonesia. Jakarta : Universitas Indonesia. Bank Indonesia. 2003-2010. Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia. Indonesia : Bank Indonesia. Basri, Y., Z. & Mulyadi Subri. 2003. Keuangan Negara dan Analisis Kebijakan Utang Luar Negeri. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Boediono. 2000. Ekonomi Moneter, edisi 3. BPFE : Yogyakarta. Djamin, Z. 1993. Perekonomian Indonesia. Jakarta: Universitas Indonesia. Djunaisien dan Hidayat. 1999. Ekonomi Indonesia. Jakarta: Universitas Indonesia. Dumairy. 1997. Perekonomian Indonesia. Jakarta: Erlangga. Departemen Keuangan. 2004. Nota Keuangan dan Rencana Anggaran Pendapatan Belanja Negara. (http://www.djapt.depkeu.go.id/APBN/NK RAPBN/2004). Engen, E.M. and Skiner, J. 1992. Fiscal Policy and Economic Growth. Cambridge. NBER Working Paper Series. No. 4223. Gujarati, Damodar. 1995. Ekonometrika Dasar. Jakarta : Erlangga. Ghani dan Zang. 1995. Is Ethiopia’s Debt Sustainable?, Policy Research Working Paper. No.1525. Hamzah, Amir. 2005. Analisis Kebijakan Pemerintah Dalam Penerbitan Obligasi. Jakarta : Universitas Indonesia. Hanni, Umi. 2006. Sustainabilitas Fiskal Indonesia dan Faktor Faktor Yang Mempengaruhinya. Jurnal Keuangan Publik Volume 4 No.2. Jhingan, M.L. 2007. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Kuncoro, M. 1989. Dampak Arus Modal Asing Terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Tabungan Domestik. Jakarta: Prisma No.9 tahun XVIII. Universitas Sumatera Utara Lubis, Richard Noviandi. 2009. pengaruh nilai kurs, tingkat suku bunga SBI, dan GDP terhadap Permintaan Obligasi Swasta di Indonesia. USU Repository©2008. Mankiw, N.,Gregory. 2003. Pengantar Ekonomi. Edisi Kedua Jilid 2. Alih bahasa: Haris Munandar. Jakarta: Erlangga. Mangkoesoebroto,G. 2001. Kebijakan Ekonomi Publik di Indonesia, Substansi dan Urgensi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Nopirin. 1992. Ekonomi Moneter Buku 2. Yogyakarta : BPFE. Pratomo, Wahyu Ario dan Paidi Hidayat. 2007. Pedoman Praktis Penggunaan Eviews dalam Ekonometrika. Medan : USU Press. Rahardjo, Sapto. 2003. Panduan Investasi Obligasi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Samuelson, Paul A. dan William D. Nordhaus. 1992. Makro Ekonomi, Edisi XIV. Alih bahasa: Haris Munandar. Jakarta : Erlangga. Sanuri. 2005. Beberapa Aspek Pokok Pinjaman Luar Negeri. Jakarta: ULN, BI. Siahaan, Welfania. 2006. Analisis pengaruh inflasi dan suku bunga SBI terhadap penerbitan obligasi pemerintah dalam rangka rekapitalisasi perbankan. USU Repository©2005. Suminto. 2004. Pengelolaan APBN Dalam Sistem Manajemen Keuangan Negara. Jakarta : Ditjen Anggaran, Depkeu. Sugiyono. 2005. Metode Penelitian Bisnis. Bandung : Alfabeta. Suhud, Muhammad. 2004. Debt Of Indonesia Post IMF Program. INFID. Todaro, Michael dan Stephen C Smith. 2003. Pembangunan Ekonomi Di Dunia Ketiga. Jakarta: Erlangga. Tandelilin, E. 2001. Analisis Investasi dan Management Portofolio. Yogyakarta: BPFE. http://www.bi.go.id/web/id/Moneter/BI+Rate/Penjelasan+BI+Rate/ Universitas Sumatera Utara Lampiran 1 Hasil Estimasi OLS Dependent Variable: LPOP Method: Least Squares Date: 06/08/11 Time: 21:30 Sample: 2003:1 2009:4 Included observations: 28 Variable Coefficient Std. Error C LPN LGE LPLNP LSBI -8.426144 -1.562532 3.489645 -0.370484 -0.232857 R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat 0.972380 0.967576 0.155974 0.559540 15.04954 1.761931 0.724191 0.622767 0.710090 0.044213 0.163037 t-Statistic Prob. -11.63524 -2.509017 4.914368 -8.379519 -3.428244 0.0000 0.0196 0.0001 0.0000 0.0467 Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) 2.655546 0.866205 -0.717825 -0.479931 202.4315 0.000000 Universitas Sumatera Utara Lampiran 2 Hasil Estimasi Uji Multikolinearitas Dependent Variable: LPN Method: Least Squares Date: 06/08/11 Time: 21:35 Sample: 2003:1 2009:4 Included observations: 28 Variable Coefficient Std. Error C LGE LSBI LPLNP -0.510023 1.125090 -0.076666 0.004367 R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat 0.955292 0.933453 0.051124 0.062727 45.68612 0.447215 0.213319 0.037789 0.051096 0.014464 -1.782415 0.866484 0.624569 -0.357784 R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat 0.425666 0.353874 0.720105 12.44523 -28.37814 0.334738 Prob. -2.390891 29.77321 -1.500438 0.301936 0.0250 0.0000 0.1465 0.7653 Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Dependent Variable: LPLNP Method: Least Squares Date: 06/08/11 Time: 21:38 Sample: 2003:1 2009:4 Included observations: 28 Variable Coefficient Std. Error C LPN LGE LSBI t-Statistic 3.323616 2.869763 3.275888 0.749164 5.020265 0.397433 -2.977580 -2.787265 535.9108 0.000000 t-Statistic Prob. -0.536288 0.301936 0.190657 -0.477578 0.5967 0.7653 0.8504 0.6373 Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) 4.936909 0.895854 2.312724 2.503039 5.929177 0.003555 Dependent Variable: LGE Method: Least Squares Date: 06/08/11 Time: 21:41 Universitas Sumatera Utara Sample: 2003:1 2009:4 Included observations: 28 Variable C LSBI LPLNP LPN Coefficient Std. Error 0.555301 0.061059 0.002421 0.865388 R-squared 0.904918 Adjusted R-squared 0.893033 S.E. of regression 0.044837 Sum squared resid 0.048248 Log likelihood 49.36029 Durbin-Watson stat 0.443585 Dependent Variable: LSBI Method: Least Squares Date: 06/08/11 Time: 21:45 Sample: 2003:1 2009:4 Included observations: 28 Variable 0.174613 0.045179 0.012700 0.029066 2.086944 -0.026312 -1.118616 1.158248 R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat 0.171716 0.068180 0.195281 0.915230 8.160705 0.707673 Prob. 3.180182 1.351472 0.190657 29.77321 0.0040 0.1891 0.8504 0.0000 Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Coefficient Std. Error C LPLNP LPN LGE t-Statistic 0.800389 0.055094 0.745527 0.857027 5.045132 0.344211 -3.240021 -3.049706 522.4286 0.000000 t-Statistic Prob. 2.607411 -0.477578 -1.500438 1.351472 0.0154 0.6373 0.1465 0.1891 Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) 2.184807 0.202299 -0.297193 -0.106878 1.658521 0.202456 Universitas Sumatera Utara Lampiran 3 Hasil Estimasi Uji Autokorelasi dengan LM Test Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic Obs*R-squared 7.640330 11.79302 Probability Probability 0.073212 0.062749 Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 06/08/11 Time: 21:50 Presample missing value lagged residuals set to zero. Variable Coefficient Std. Error C LPN LGE LPLNP LSBI RESID(-1) RESID(-2) 0.018172 -0.239861 0.253908 -0.000662 -0.045893 0.773793 -0.214885 R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat 0.421179 0.255802 0.124188 0.323873 22.70422 2.122167 0.576868 0.541878 0.608464 0.035362 0.134043 0.211456 0.234548 t-Statistic Prob. 0.031500 -0.442648 0.417294 -0.018707 -0.342377 3.659352 -0.916166 0.9752 0.6625 0.6807 0.9853 0.7355 0.0015 0.3700 Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) -4.63E-15 0.143957 -1.121730 -0.788679 2.546777 0.051810 Universitas Sumatera Utara Lampiran 4 Hasil Estimasi Uji Normalitas dengan Jarque – Berra Test 8 Series: Residuals Sample 2003:1 2009:4 Observations 28 7 6 Mean Median Maximum Minimum Std. Dev. Skewness Kurtosis 5 4 3 2 1 Jarque-Bera Probability 0 -0.4 -0.2 0.0 -4.63E-15 0.024307 0.216983 -0.362644 0.143957 -0.851590 2.993942 3.384336 0.184120 0.2 Universitas Sumatera Utara
Dokumen baru
Aktifitas terbaru
Penulis
123dok avatar

Berpartisipasi : 2016-09-17

Dokumen yang terkait

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pene..

Gratis

Feedback