Feedback

Uji Daya Tumbuh Bibit Tebu yang Terserang Hama Penggerek Batang Bergaris (Chilo sacchariphagus Bojer.)

Informasi dokumen
UJI DAYA TUMBUH BIBIT TEBU YANG TERSERANG HAMA PENGGEREK BATANG BERGARIS (Chilo sacchariphagus Bojer.) SKRIPSI OLEH : IIN SUWITA 070302020 HPT DEPARTEMEN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara UJI DAYA TUMBUH BIBIT TEBU YANG TERSERANG HAMA PENGGEREK BATANG BERGARIS (Chilo sacchariphagus Bojer.) SKRIPSI OLEH : IIN SUWITA 070302020 HPT Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana di Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Disetujui Oleh : Komisi Pembimbing ( Ir. Yuswani P. Ningsih, MS. ) Ketua ( Ir. Fatimah zahara ) Anggota DEPARTEMEN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011 Universitas Sumatera Utara ABSTRACT Iin Suwita, "Test of Sugarcane Seedlings Growing Power of sugarcane internode borer (Chilo sacchariphagus Bojer.)" Under supervised by Yuswani P. Ningsih and Fatimah Zahara. Sugarcane is the main ingredient of sugar manufacture in Indonesia. One of the main pests of sugar cane crops include sugar cane striped stem borer (C. sacchariphagus). Planting sugar cane that has been infected with pests resulted in impaired growth of sugarcane pests in plants and carried away. The aim of the research was to get ability to optimal grow seedlings sugarcane (Saccharum officinarum L.) result at various intensity of attacks sugarcane internode borer (C. sacchariphagus). The research has been conducted in land Balai Riset dan Pengembangan Tanaman Tebu, Sei Semayang in December 2010-March 2011. The method of this research used is a randomized block design factorial which consisted of 2 factors: The first are the intensity of attacks (healthy sugar cane, cane attacked by 20%, 40%, 60%, 80%, 100%) and the second are thickness of soil cover (3 and 5 cm) with 12 combinations treatments and three replications. The results showed that treatment intensity (%), soil cover thickness and intensity of interaction with a thickness of soil cover significantly increased the percentage of germination (%). Treatment intensity and thickness of soil cover was significantly different whereas the intensity of interaction with the thickness of soil cover was not significantly different to the number of tillers per hill. Treatment intensity and thickness of soil cover was significantly different whereas the intensity of interaction with the thickness of soil cover was not significantly different to the plant height. Treatment intensity significantly different attacks while the thickness of soil cover and intensity of interaction with the thickness of soil cover was not significantly different to the intensity of shoots attacked .The highest percentage of germination of sugarcane found on I0K1 treatment (healthy cane with 3 cm thickness of soil cover) of 100% and lowest in treatment I5K2 (cane attacked by 100% with 5 cm thickness of soil cover) of 11.11%. The number of tillers per hill highest sugarcane found on healthy sugarcane plants (I0) is 9.14 and the lowest number of tillers per hill in planting sugar cane with the intensity of attacks by 100% (I5) is 6.72. Higher plants have the highest sugar cane on healthy sugarcane plants (I0) is 68.85 and the lowest plant height at planting sugar cane with the intensity of attacks by 100% (I5) is 11.95. The intensity of shoots attacked (%) at the highest sugarcane found on sugar cane plants with the intensity of attacks by 80% (I4) which is 20.37% and the intensity of shoots attacked (%) lowest in healthy sugarcane cultivation (I0) is 0.00%. Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Iin Suwita, “Uji Daya Tumbuh Bibit Tebu yang Terserang Hama Penggerek Batang Bergaris (Chilo sacchariphagus Bojer.) ” di bawah bimbingan Yuswani P. Ningsih dan Fatimah Zahara. Tebu merupakan bahan baku utama pembuatan gula di Indonesia. Salah satu hama utama tanaman tebu antara lain adalah penggerek batang tebu bergaris (C. sacchariphagus). Penanaman tebu yang telah terinfeksi hama mengakibatkan tanaman tebu terganggu pertumbuhannya dan terbawa hama pada tanamannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan daya tumbuh bibit tebu (Saccharum officinarum L.) yang optimal pada berbagai intensitas serangan hama penggerek batang bergaris (C. sacchariphagus). Penelitian ini dilaksanakan di lahan Balai Riset dan Pengembangan Tanaman Tebu, Sei Semayang pada bulan Desember 2010-Maret 2011. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu intensitas serangan (tebu sehat, tebu terserang 20%, 40%, 60%, 80%, 100%) dan ketebalan penutup tanah (3 dan 5 cm) dengan 12 kombinasi perlakuan dan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan intensitas serangan (%), ketebalan penutup tanah dan interaksi intensitas serangan dengan ketebalan penutup tanah berbeda nyata terhadap persentase perkecambahan (%). Perlakuan intensitas serangan dan ketebalan penutup tanah berbeda nyata sedangkan interaksi intensitas serangan dengan ketebalan penutup tanah tidak berbeda nyata terhadap jumlah anakan per rumpun. Perlakuan intensitas serangan dan ketebalan penutup tanah berbeda nyata sedangkan interaksi intensitas serangan dengan ketebalan penutup tanah tidak berbeda nyata terhadap tinggi tanaman. Perlakuan intensitas serangan berbeda nyata sedangkan ketebalan penutup tanah dan interaksi intensitas serangan dengan ketebalan penutup tanah tidak berbeda nyata terhadap intensitas tunas terserang. Persentase perkecambahan tanaman tebu tertinggi terdapat pada perlakuan I0K1 (tebu sehat dengan ketebalan penutup tanah 3 cm) sebesar 100% dan terendah pada perlakuan I5K2 (tebu terserang 100% dengan ketebalan penutup tanah 5 cm) sebesar 11.11%. Jumlah anakan per rumpun tanaman tebu tertinggi terdapat pada tanaman tebu sehat (I0) yaitu 9,14 dan jumlah anakan per rumpun terendah pada penanaman tebu dengan intensitas serangan 100% (I5) yaitu 6,72. Tinggi tanaman tebu tertinggi terdapat pada tanaman tebu sehat (I0) yaitu 68,85 dan tinggi tanaman terendah pada penanaman tebu dengan intensitas serangan 100% (I5) yaitu 11,95. Intensitas tunas terserang (%) pada tanaman tebu tertinggi terdapat pada tanaman tebu dengan intensitas serangan 80% (I4) yaitu 20,37% dan intensitas tunas terserang (%) terendah pada penanaman tebu sehat (I0) yaitu 0,00%. Universitas Sumatera Utara RIWAYAT HIDUP Iin Suwita lahir pada tanggal 30 Mei 1990 di Simalungun dari Ibunda Hasnita Br. Saragih dan Ayahanda Supardi. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Pendidikan yang telah ditempuh penulis adalah sebagai berikut : - Lulus dari Sekolah Dasar Negeri 068074 Medan pada tahun 2001. - Lulus dari SLTP Dwiwarna Medan pada tahun 2004. - Lulus dari SMA Negeri 7 Medan pada tahun 2007. - Pada tahun 2007 diterima di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan melalui jalur SPMB. Penulis pernah aktif dalam organisasi kemahasiswaan yaitu : - Anggota Komus (Komunikasi Muslim) HPT tahun 2007-2011. - Anggota IMAPTAN (Ikatan Mahasiswa Perlindungan Tanaman) Tahun 2007-2011. - Asisten Laboratorium Dasar Perlindungan Tanaman tahun 2010-2011 - Asisten Laboratorium Dasar Perlindungan Hutan tahun 2010-2011. - Penulis melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di PTPN IV, Kebun Tonduhan, Kabupaten Simalungun pada tahun 2011. - Melaksanakan penelitian skripsi di Balai Riset dan Pengembangan Tanaman Tebu, Sei Semayang pada bulan Desember 2010-Maret 2011. Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa dimana atas berkat dan Rahmat-Nyalah penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat waktu. Adapun judul dari skripsi ini adalah “Uji Daya Tumbuh Bibit Tebu yang Terserang Hama Penggerek Batang Bergaris (Chilo sacchariphagus Bojer.) ” yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Pada kesempatan ini penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Komisi Pembimbing, Ir. Yuswani P. Ningsih, MS selaku ketua dan Ir. Fatimah Zahara selaku anggota yang telah memberikan arahan dan masukan kepada penulis sehingga memberikan banyak pengetahuan dan membantu dalam penyelesain skripsi ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pegawai dan karyawan di Balai Riset dan Pengembangan Tanaman Tebu, Sei Semayang bagian proteksi tanaman yang telah banyak membantu dan membimbing penulis selama penelitian. Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun dalam penyempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Medan, Maret 2011 Penulis Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI ABSTRACT . i ABSTRAK. ii RIWAYAT HIDUP . iii KATA PENGANTAR . iv DAFTAR ISI . v DAFTAR GAMBAR . vii DAFTAR TABEL . viii DAFTAR LAMPIRAN . ix PENDAHULUAN Latar Belakang . 1 Tujuan Penelitian . 4 Hipotesa Penelitian . 4 Kegunaan Penelitian. 4 TINJAUAN PUSTAKA Biologi Hama PBB (Chilo sacchariphagus Bojer.) . 5 Telur . 5 Larva . 6 Pupa . 6 Imago . 7 Gejala Serangan . 7 Pengendalian . 8 Botani Tanaman . 9 Syarat Tumbuh . 11 Iklim . 11 Tanah . 12 BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian . 14 Bahan dan Alat . 14 Metode Penelitian . 14 Pelaksanaan Penelitian . 17 Pengolahan Lahan . 17 Pemotongan Batang Tebu . 17 Universitas Sumatera Utara Penanaman Bibit. 17 Pemupukan . 18 Pemeliharaan Tanaman . 18 Peubah Amatan . 19 Persentase Perkecambahan . 19 Jumlah anakan/rumpun . 19 Tinggi Tanaman . 19 Intensitas Tunas Terserang . 19 HASIL DAN PEMBAHASAN Persentase Perkecambahan . 20 Jumlah anakan/rumpun . 24 Tinggi Tanaman . 27 Intensitas Tunas Terserang . 30 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan . 34 Saran . 34 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR No. Keterangan Hlm 1. Gambar Telur C. sacchariphagus Bojer. . 5 2. Gambar Larva C. sacchariphagus . 6 3. Gambar Pupa C. sacchariphagus . 6 4. Gambar Imago C. sacchariphagus . 7 5. Gambar Gejala Serangan C. sacchariphagus . 8 6. Gambar Histogram pengaruh intensitas serangan penggerek (C. sacchariphagus) terhadap persentase perkecambahan tanaman tebu . 22 7. Gambar Histogram pengaruh ketebalan penutup tanah terhadap persentase perkecambahan tanaman tebu . 23 8. Gambar Histogram pengaruh faktor interaksi intensitas serangan Dengan faktor ketebalan tanah terhadap persentase perkecambahan tanaman tebu . 24 9. Gambar Histogram pengaruh intensitas serangan penggerek (C. sacchariphagus) terhadap jumlah anakan per rumpun tanaman tebu . 26 10. Gambar Histogram pengaruh ketebalan penutup tanah terhadap Jumlah anakan per rumpun tanaman tebu . 27 11. Gambar Histogram pengaruh intensitas serangan penggerek (C. sacchariphagus) terhadap tinggi tanaman tebu. 29 12. Gambar Histogram pengaruh ketebalan penutup tanah terhadap tinggi tanaman tebu. 30 13. Gambar Histogram pengaruh intensitas serangan penggerek (C. sacchariphagus) terhadap intensitas tunas terserang pada tanaman tebu. 31 Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL No. Keterangan Hlm 1. Tabel 1 Beda Uji Rataan persentase perkecambahan (%) tebu dengan intensitas serangan penggerek batang tebu bergaris (C. sacchariphagus) dengan ketebalan penutup tanah pada pengamatan I-IV.20 2. Tabel 2 Beda Uji Rataan jumlah anakan per rumpun tanaman tebu dengan intensitas serangan penggerek batang tebu bergaris (C. sacchariphagus) dengan ketebalan penutup tanah pada pengamatan I-III.25 3. Tabel 3 Beda Uji Rataan tinggi tanaman tebu dengan intensitas serangan penggerek batang tebu bergaris (C. sacchariphagus) dengan ketebalan penutup tanah pada pengamatan I-III.28 4. Tabel 4. Beda Uji Rataan intensitas tunas terserang (%) dengan intensitas serangan penggerek batang tebu bergaris (C. sacchariphagus) pada pengamatan I-III . .30 Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN No. Keterangan Hlm 1. Bagan Penelitian. 37 2. Bagan Tanaman Sampel . 38 3. Lampiran Data Persentase Perkecambahan I . 39 4. Lampiran Data Persentase Perkecambahan II. 42 5. Lampiran Data Persentase Perkecambahan III . 45 6. Lampiran Data Persentase Perkecambahan IV . 48 7. Lampiran Data Jumlah Anakan per Rumpun I . 51 8. Lampiran Data Jumlah Anakan per Rumpun II . 53 9. Lampiran Data Jumlah Anakan per Rumpun III. 55 10. Lampiran Data Tinggi Tanaman I . 57 11. Lampiran Data Tinggi Tanaman II. 59 12. Lampiran Data Tinggi Tanaman III . 61 13. Lampiran Data Intensitas Tunas Terserang I . 63 14. Lampiran Data Intensitas Tunas Terserang II. 65 15. Lampiran Data Intensitas Tunas Terserang III . 67 16. Foto Penelitian . 69 Universitas Sumatera Utara ABSTRACT Iin Suwita, "Test of Sugarcane Seedlings Growing Power of sugarcane internode borer (Chilo sacchariphagus Bojer.)" Under supervised by Yuswani P. Ningsih and Fatimah Zahara. Sugarcane is the main ingredient of sugar manufacture in Indonesia. One of the main pests of sugar cane crops Oleh karena itu, di samping faktor nutrisi, ketersediaan ruang yang sesuai juga merupakan hal yang penting. Parasitoid C. flavipes hanya memilih larva berukuran 1,5 cm yang dianggap sesuai bagi keberhasilan hidup keturunannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa C. sacchariphagus yang terparasit C. flavipes hanya larva dengan ukuran besar (instar 5, panjang> 1,5 cm). Larva dengan ukuran kecil maupun sedang tidak berhasil diparasit oleh C. flavipes (Purnomo, 2006). Tingkah laku kawin dari imago dan nisbah kelamin perlu diteliti dalam serangga entomofagus. Banyak serangga entomofagus telah hilang karena gagal dalam perkawinan atau memiliki nisbah kelamin yang tidak sesuai dengan kondisi tempat perbanyakan serangga. Bila telur dihasilkan dalam jumlah yang besar maka rasio kelaminnya tinggi, dimana akan lebih banyak betina daripada jantan (teliotoki) (Sembel, 2010). Jenis kelamin parasitoid sangat ditentukan oleh ada tidaknya pembuahan telur oleh sperma sebelum imago betina meletakkan telurnya pada inang. Parasitoid hymenoptera yang meletakkan telurnya sebelum kawin akan menghasilkan telur-telur jantan. Nisbah kelamin dipengaruhi oleh suhu. Ketahanan parasitoid jantan dan betina berbeda terhadap suhu dingin. Larva, prapupa, pupa dan imago betina diduga mempunyai ketahanan lebih rendah dibanding dengan jantan sehingga kemunculannya dari telur inang terhambat. Hal Universitas Sumatera Utara ini terlihat dari nisbah kelamin betina jantan dan persentase betina yang rendah setelah mendapat perlakuan suhu 9oC (Murtiyarini dkk, 2006). Parasitoid betina dalam meletakkan telur pada permukaan kulit inang atau dengan tusukan ovipositornya telur langsung dimasukkan dalam tubuh inang. Larva yang keluar dari telur menghisap cairan tubuh inangnya dan menyelesaikan perkembangannya dapat dari luar tubuh inang (ektoparasit) dan sebagian besar dari dalam tubuh inang (endoparasitoid) (Soviani, 2012). Efek parasitisasi C. flavipes pada pada inang menimbulkan dua reaksi seluler yaitu enkapsulasi dan pembentukan nodul hemocyte. Enkapsulasi adalah reaksi selular yang utama inang melawan endoparasitoid. Sebagai gambaran, pada serangga inang nonpermisif hemocyte membentuk dan menyebar kemudian berkembang membentuk lapisan pelindung (Mahmoud dkk, 2011). Universitas Sumatera Utara BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Riset dan Pengembangan Tebu PTPN II Sei Semayang (+ 40 m dpl) mulai Mei sampai Juli 2013. Bahan dan Alat Bahan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah imago C. flavipes berumur satu hari, larva penggerek batang bergaris C. sacchariphagus instar 4, larva penggerek batang berkilat C. auricilius instar 4, madu murni, sogolan tebu, selotip, kertas label dan bahan lainnya yang mendukung penelitian ini. Alat yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah wadah plastik dengan tinggi 7 cm, solder, kawat baja halus, pisau, telenan, tabung reaksi dengan panjang 20 cm dan diameter 4 cm, kain hitam, karet gelang, pinset bambu dan alat lain yang mendukung penelitian ini. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 faktor yaitu : Faktor I : Jenis inang yang dipergunakan (I) dengan dua taraf yaitu : L1 : Larva C. sacchariphagus L2 : Larva C. auricilius Faktor II : Jumlah inang (T) dengan tiga taraf yaitu: T1 : 2 ekor T2 : 3 ekor Universitas Sumatera Utara T3 : 4 ekor Faktor III : Metode Parasititasi (P) dengan dua taraf yaitu: P1 : Buatan P2 : Alami Metode linier yang digunakan adalah sebagai berikut : Yijk = µ + Ai + Bj + (AB)ij + Ck + (AC)ik + (BC)jk + ABC(ijk) + ε(ijk) Dimana : Yijk = variabel respon karena pengaruh bersama taraf ke i faktor A, taraf ke j faktor B, dan taraf ke k faktor C yang terdapat pada pengamatan/unit perlakuan ke n µ = efek rata-rata yang sebenarnya (nilai konstan) Ai = efek sebenarnya dari taraf ke i faktor A Bj = efek sebenarnya dari taraf ke j faktor B ABij = efek sebenarnya dari taraf ke k faktor C ACik = efek sebenarnya dari interaksi taraf ke i faktor A dengan taraf ke k faktor C BCjk = efek sebenarnya dari interaksi taraf ke j faktor B dengan taraf ke k faktor C ABCijk= efek sebenarnya terhadap variabel respon yang disebabkan oleh interaksi antara taraf ke i faktor A, taraf ke j faktor B dan taraf ke k faktor C ε(ijk) = efek sebenarnya unit eksperimen ke i disebabkan oleh kombinasi perlakuan (ijk). Universitas Sumatera Utara Dengan kombinasi perlakuan 2 x 3 x 2 = 12 L1T1P1 L1T3P1 L1T1P2 L1T3P2 L1T2P1 L2T1P1 L1T2P2 L2T1P2 L2T2P1 L2T2P2 L2T3P1 L2T3P2 Dengan jumlah ulangan yang dihitung dengan rumus : (t – 1 ) (r – 1) > 15 (18 – 1) (r – 1) > 15 17 (r – 1) > 15 17r – 17 > 15 17r > 32 r > 32/17 r > 1,8 Ulangan : tiga (3) Jumlah parasitoid yang akan dinokulasikan untuk setiap perlakuan adalah 1 pasang (1 ekor jantan dan 1 ekor betina) maka diperoleh jumlah unit penelitian 12 x 3 = 36 unit penelitian. Jika dari hasil analisis sidik ragam menunjukkan pengaruh yang nyata, maka dilanjutkan dengan uji beda rataan berdasarkan Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5% (Steel and Torrie, 1989). Persiapan penelitian 1. Penyediaan Wadah Plastik Disediakan wadah plastik dengan diameter 14 cm dan tinggi 7 cm untuk metode parasititasi buatan dan parasititasi alami. Tutup wadah plastik tersebut Universitas Sumatera Utara diberi lubang dengan menggunakan solder dan lubang tersebut ditutup menggunakan jaring kawat halus, agar sirkulasi udara dalam wadah plastik tetap terjaga sehingga larva dapat terpelihara dengan baik. 2. Penyediaan Sogolan Tebu Sogolan tebu diambil dari lapangan kemudian dipotong dengan panjang 5 cm agar tidak melebihi tinggi wadah plastik dimasukkan ke dalam wadah plastik tersebut dengan cara disusun secara vertical sampai penuh. 3. Penyediaan larva C. sacchariphagus dan C. auricilius Larva C. sacchariphagus dan C. auricilius instar 4 diperoleh dari Perkebunan Tebu Balai Riset dan Pengembangan Tebu Sei Semayang. 4. Penyediaan starter parasitoid Dimasukkan kokon C. flavipes yang berasal dari Laboratorium Riset dan Pengembangan Tebu Sei Semayang ke dalam tabung reaksi, dibiarkan sampai muncul imago C. flavipes. Selanjutnya imago tersebut digunakan sebagai starter. Starter dipelihara dengan memberi pakan berupa madu murni yang telah dicelupkan pada kertas berukuran kecil dan dimasukkan pada tabung reaksi. Pelaksanaan Penelitian 1. Parasititasi Buatan Stater imago C. flavipes dimasukkan ke dalam tabung reaksi dibiarkan selama 2-3 jam agar parasitoid dapat berkopulasi dan kemudian dimasukkan larva C. sacchariphagus dan C. aurilius sesuai masing-masing perlakuan dengan menggunakan pinset bambu agar larva terparasit. Setelah larva-larva tersebut terparasit oleh C. flavipes maka larva C. sacchariphagus dan C. auricilius Universitas Sumatera Utara dipindahkan pada sogolan tebu yang ada di dalam wadah plastik dan diberi selotip serta label sebagai penanda perlakuan dan diletakkan pada rak untuk dipelihara. Setelah 12-16 hari maka sogolan tebu dibongkar dan diambil kokon C. flavipes lalu dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditutup dengan menggunakan kain hitam. Kemudian ditunggu sampai imago C. flavipes muncul. 2. Parasititasi Alami Dimasukkan larva C. sacchariphagus dan C. auricilius sesuai perlakuan ke dalam wadah plastik dengan 14 cm dan tinggi 7 cm yang sudah berisi sogolan tebu. Selanjutnya stater imago C. flavipes yang sudah berkopulasi dari tabung reaksi dimasukkan ke dalam wadah plastik tersebut. Dibiarkan dan diamati hingga parasitoid C. flavipes memarasit larva C. sacchariphagus dan C. auricilius dengan sendirinya. Setelah 12-16 hari maka sogolan tebu dibongkar dan diambil kokon C. flavipes lalu dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditutup dengan menggunakan kain hitam. Kemudian ditunggu sampai imago C. flavipes muncul. Peubah Amatan 1. Persentase parasititasi Persentase parasititasi C. flavipes pada kedua jenis larva (C. sacchariphagus dan C. auricilius) dapat diketahui dengan menggunakan rumus : %Parasitasi = Jumlah larva yang terparasit x 100% Jumlah larva seluruhnya 2. Hari terparasit (hari) Diamati pada hari keberapa ketika larva terparasit oleh C. flavipes yang ditandai dengan keluarnya kokon parasitoid dari permukaan tubuh inang. Universitas Sumatera Utara 3. Jumlah dan ukuran kokon C. flavipes Penghitungan jumlah kokon C. flavipes yang terbentuk dilakukan 12-16 hari setelah parasititasi pada masing-masing perlakuan. Ukuran kokon dapat diketahui dengan mengukur panjang dan lebar kokon dengan menggunakan kertas milimeter pada masing-masing perlakuan. 4. Jumlah imago C. flavipes yang muncul Jumlah imago C. flavipes dihitung setelah keluar dari kokon pada larva C. sacchariphagus dan C. auricilius. 5. Nisbah kelamin jantan dan betina C. flavipes Nisbah kelamin jantan dan betina C. flavipes dapat diketahui dengan mengamati Persentase Imago (%) Perlakuan U0L1 U0L2 U0L3 U1L1 U1L2 U1L3 U2L1 U2L2 U2L3 U3L1 U3L2 U3L3 U4L1 1 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 100,00 100,00 100,00 0,00 100,00 50,00 0,00 Ulangan 2 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 50,00 0,00 0,00 100,00 0,00 0,00 3 0,00 0,00 100,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 Total 0,00 0,00 100,00 0,00 0,00 0,00 100,00 150,00 100,00 0,00 200,00 50,00 0,00 Rataan 0,00 0,00 33,33 0,00 0,00 0,00 33,33 50,00 33,33 0,00 66,67 16,67 0,00 Universitas Sumatera Utara U4L2 U4L3 U5L1 U5L2 U5L3 U6L1 U6L2 U6L3 U7L1 U7L2 U7L3 U8L1 U8L2 U8L3 U9L1 U9L2 U9L3 U10L1 U10L2 U10L3 Total Rataan 100,00 100,00 0,00 0,00 100,00 0,00 0,00 100,00 0,00 100,00 100,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1050,00 31,82 100,00 50,00 0,00 0,00 100,00 0,00 0,00 100,00 0,00 100,00 50,00 0,00 0,00 100,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 750,00 22,73 100,00 100,00 0,00 100,00 100,00 0,00 100,00 50,00 100,00 100,00 100,00 0,00 0,00 100,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1050,00 31,82 300,00 250,00 0,00 100,00 300,00 0,00 100,00 250,00 100,00 300,00 250,00 0,00 0,00 200,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 2850,00 100,00 83,33 0,00 33,33 100,00 0,00 33,33 83,33 33,33 100,00 83,33 0,00 0,00 66,67 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 28,79 Transformasi Arc sin V Persentase Perlakuan U0L1 U0L2 U0L3 U1L1 U1L2 U1L3 U2L1 U2L2 U2L3 U3L1 U3L2 U3L3 U4L1 U4L2 1 4,05 4,05 4,05 4,05 4,05 4,05 90,00 90,00 90,00 4,05 90,00 45,00 4,05 90,00 Ulangan 2 4,05 4,05 4,05 4,05 4,05 4,05 4,05 45,00 4,05 4,05 90,00 4,05 4,05 90,00 3 4,05 4,05 90,00 4,05 4,05 4,05 4,05 4,05 4,05 4,05 4,05 4,05 4,05 90,00 Total 12,16 12,16 98,11 12,16 12,16 12,16 98,11 139,05 98,11 12,16 184,05 53,11 12,16 270,00 Rataan 4,05 4,05 32,70 4,05 4,05 4,05 32,70 46,35 32,70 4,05 61,35 17,70 4,05 90,00 Universitas Sumatera Utara U4L3 U5L1 U5L2 U5L3 U6L1 U6L2 U6L3 U7L1 U7L2 U7L3 U8L1 U8L2 U8L3 U9L1 U9L2 U9L3 U10L1 U10L2 U10L3 Total Rataan 90,00 4,05 4,05 90,00 4,05 4,05 90,00 4,05 90,00 90,00 4,05 4,05 4,05 4,05 4,05 4,05 4,05 4,05 4,05 1034,21 31,34 45,00 4,05 4,05 90,00 4,05 4,05 90,00 4,05 90,00 45,00 4,05 4,05 90,00 4,05 4,05 4,05 4,05 4,05 4,05 772,32 23,40 90,00 4,05 90,00 90,00 4,05 90,00 45,00 90,00 90,00 90,00 4,05 4,05 90,00 4,05 4,05 4,05 4,05 4,05 4,05 1034,21 31,34 225,00 12,16 98,11 270,00 12,16 98,11 225,00 98,11 270,00 225,00 12,16 12,16 184,05 12,16 12,16 12,16 12,16 12,16 12,16 2840,73 75,00 4,05 32,70 90,00 4,05 32,70 75,00 32,70 90,00 75,00 4,05 4,05 61,35 4,05 4,05 4,05 4,05 4,05 4,05 28,69 Tabel Dwi Kasta Total Umur Imago U0 U1 U2 U3 U4 U5 U6 U7 U8 U9 U10 Total Rataan L1 12,16 12,16 12,16 12,16 12,16 12,16 12,16 98,11 12,16 12,16 12,16 219,71 19,97 Jumlah C. Sacchariphagus L2 12,16 12,16 139,05 184,05 270,00 98,11 98,11 270,00 12,16 12,16 12,16 1120,12 101,83 L3 98,11 12,16 98,11 53,11 225,00 270,00 225,00 225,00 184,05 12,16 12,16 1414,86 128,62 Total 122,43 36,48 249,32 249,32 507,16 380,27 335,27 593,11 208,37 36,48 36,48 2754,69 Rataan 40,81 12,16 83,11 83,11 169,05 126,76 111,76 197,70 69,46 12,16 12,16 83,48 Universitas Sumatera Utara Tabel Dwi Kasta Rataan Umur Imago U0 U1 U2 U3 U4 U5 U6 U7 U8 U9 U10 Total Rataan L1 4,05 4,05 32,70 4,05 4,05 4,05 4,05 32,7 4,05 4,05 4,05 69,15 6,92 Jumlah C. Sacchariphagus L2 4,05 4,05 46,35 61,35 90,00 32,70 32,70 90,00 4,05 4,05 4,05 369,30 33,94 L3 32,70 4,05 32,70 17,70 75,00 90,00 75,00 75,00 61,35 4,05 4,05 471,60 42,87 Total 40,80 12,15 111,75 83,10 169,05 126,75 111,75 165,00 69,45 12,15 12,15 914,10 Rataan 13,60 4,05 37,25 27,70 56,35 42,25 37,25 82,50 23,15 4,05 4,05 30,20 Daftar Sidik Ragam SK db JK KT Fhit 0,05 0,01 U 10 35456,74 3545,67 0,62 2,77 3,65 L 2 18632,13 9316,07 1,64 4,34 6,9 U x L 20 34821,65 1741,08 0,31 2,42 3,04 Galat 66 375667,53 5691,93 Total 98 429756,40 FK = 81512,42 KK = 0,01% Ket : tn * ** = tidak nyata = nyata = sangat nyata Lampiran 4. Jumlah Imago Betina Xanthocampoplex sp. Jumlah Imago Betina Perlakuan Ulangan 123 U0L1 0,00 0,00 0,00 Total Rataan 0,00 0,00 tn tn tn Universitas Sumatera Utara U0L2 U0L3 U1L1 U1L2 U1L3 U2L1 U2L2 U2L3 U3L1 U3L2 U3L3 U4L1 U4L2 U4L3 U5L1 U5L2 U5L3 U6L1 U6L2 U6L3 U7L1 U7L2 U7L3 U8L1 U8L2 U8L3 U9L1 U9L2 U9L3 U10L1 U10L2 U10L3 Total Rataan 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 1,00 1,00 0,00 1,00 1,00 0,00 1,00 1,00 0,00 0,00 2,00 0,00 0,00 1,00 0,00 1,00 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 12,00 0,36 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 0,00 0,00 1,00 0,00 0,00 1,00 1,00 0,00 0,00 3,00 0,00 0,00 1,00 0,00 1,00 1,00 0,00 0,00 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 11,00 0,33 0,00 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 1,00 0,00 1,00 2,00 0,00 1,00 1,00 1,00 1,00 3,00 0,00 0,00 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 14,00 0,42 0,00 1,00 0,00 0,00 0,00 1,00 2,00 1,00 0,00 2,00 1,00 0,00 3,00 3,00 0,00 1,00 7,00 0,00 1,00 3,00 1,00 3,00 5,00 0,00 0,00 2,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 37,00 0,00 0,33 0,00 0,00 0,00 0,33 0,67 0,33 0,00 0,67 0,33 0,00 1,00 1,00 0,00 0,33 2,33 0,00 0,33 1,00 0,33 1,00 1,67 0,00 0,00 0,67 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,37 Tabel Dwi Kasta Total Umur Imago U0 U1 U2 U3 U4 Jumlah C. Sacchariphagus L1 L2 0,00 0,00 0,00 0,00 1,00 2,00 0,00 2,00 0,00 3,00 L3 1,00 0,00 1,00 1,00 3,00 Total Rataan 0,00 0,33 0,00 0,00 4,00 1,33 3,00 1,00 6,00 2,00 Universitas Sumatera Utara U5 U6 U7 U8 U9 U10 Total Rataan 0,00 0,00 1,00 0,00 0,00 0,00 2,00 0,18 1,00 1,00 3,00 0,00 0,00 0,00 12,00 1,09 Tabel Dwi Kasta Rataan 7,00 3,00 5,00 2,00 0,00 0,00 23,00 2,09 8,00 4,00 9,00 2,00 0,00 0,00 36,00 2,67 1,33 3,00 0,67 0,00 0,00 1,12 Umur Imago U0 U1 U2 U3 U4 U5 U6 U7 U8 U9 U10 Total Rataan Jumlah C. Sacchariphagus L1 L2 L3 0,00 0,00 0,33 0,00 0,00 0,00 0,33 0,67 0,33 0,00 0,67 0,33 0,00 1,00 1,00 0,00 0,33 2,33 0,00 0,33 1,00 0,33 1,00 1,67 0,00 0,00 0,67 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,66 4,00 7,66 0,06 0,36 0,70 Total Rataan 0,00 0,00 1,33 1,00 2,00 2,66 1,33 3,00 0,67 0,00 0,00 11,99 0,11 0,00 0,44 0,33 0,67 0,89 0,44 1,00 0,22 0,00 0,00 0,37 Transformasi √X + 0,5 Perlakuan Ulangan 123 U0L1 0,71 0,71 0,71 U0L2 0,71 0,71 0,71 U0L3 0,71 0,71 1,22 U1L1 0,71 0,71 0,71 U1L2 0,71 0,71 0,71 U1L3 0,71 0,71 0,71 U2L1 1,22 0,71 0,71 U2L2 1,22 1,22 0,71 U2L3 1,22 0,71 0,71 U3L1 0,71 0,71 0,71 U3L2 1,22 1,22 0,71 Total Rataan 2,12 0,71 2,12 0,71 2,64 0,88 2,12 0,71 2,12 0,71 2,12 0,71 2,64 0,88 3,16 1,05 2,64 0,88 2,12 0,71 3,16 1,05 Universitas Sumatera Utara U3L3 U4L1 U4L2 U4L3 U5L1 U5L2 U5L3 U6L1 U6L2 U6L3 U7L1 U7L2 U7L3 U8L1 U8L2 U8L3 U9L1 U9L2 U9L3 U10L1 U10L2 U10L3 Total Rataan 1,22 0,71 1,22 1,22 0,71 0,71 1,58 0,71 0,71 1,22 0,71 1,22 1,22 0,71 0,71 0,71 0,71 0,71 0,71 0,71 0,71 0,71 29,38 0,89 0,71 0,71 1,22 1,22 0,71 0,71 1,87 0,71 0,71 1,22 0,71 1,22 1,22 0,71 0,71 1,22 0,71 0,71 0,71 0,71 0,71 0,71 28,64 0,87 0,71 0,71 1,22 1,22 0,71 1,22 1,58 0,71 1,22 1,22 1,22 1,22 1,87 0,71 0,71 1,22 0,71 0,71 0,71 0,71 0,71 0,71 30,03 0,91 2,64 2,12 3,67 3,67 2,12 2,64 5,03 2,12 2,64 3,67 2,64 3,67 4,32 2,12 2,12 3,16 2,12 2,12 2,12 2,12 2,12 2,12 88,06 0,88 0,71 1,22 1,22 0,71 0,88 1,68 0,71 0,88 1,22 0,88 1,22 1,44 0,71 0,71 1,05 0,71 0,71 0,71 0,71 0,71 0,71 0,89 Tabel Dwi Kasta Total Umur Imago U0 U1 U2 U3 U4 U5 U6 U7 U8 U9 U10 Total Rataan L1 2,12 2,12 2,64 2,12 2,12 2,12 2,12 2,64 2,12 2,12 2,12 24,37 2,22 Jumlah C. Sacchariphagus L2 2,12 2,12 3,16 3,16 3,67 2,64 2,64 3,67 2,12 2,12 2,12 29,55 2,69 L3 2,64 2,12 2,64 2,64 3,67 5,03 3,67 4,32 3,16 2,12 2,12 34,14 3,10 Total Rataan 6,88 6,36 8,43 7,92 9,47 9,79 8,43 10,63 7,40 6,36 6,36 88,06 2,29 2,12 2,81 2,64 3,16 3,26 2,81 3,54 2,47 2,12 2,12 2,67 Universitas Sumatera Utara Tabel Dwi Kasta Rataan Umur Imago U0 U1 U2 U3 U4 U5 U6 U7 U8 U9 U10 Total Rataan Jumlah C. Sacchariphagus L1 L2 0,71 0,71 0,71 0,71 0,88 1,05 0,71 1,05 0,71 1,22 0,71 0,88 0,71 0,88 0,88 1,22 0,71 0,71 0,71 0,71 0,71 0,71 8,12 9,85 0,74 0,90 L3 0,88 0,71 0,88 0,88 1,22 1,68 1,22 1,44 1,05 0,71 0,71 11,38 1,03 Total Rataan 2,29 2,12 2,81 2,64 3,16 3,26 2,81 3,54 2,47 2,12 2,12 29,35 0,76 0,71 0,94 0,88 1,05 1,09 0,94 1,18 0,82 0,71 0,71 0,89 Daftar Sidik Ragam SK U L UxL Galat Total db 10 2 20 66 98 JK 2,48 1,45 2,13 2,12 8,18 KT Fhit 0,05 0,25 7,72 2,77 0,72 22,53 4,34 0,11 3,31 2,42 0,03 0,01 3,65 6,90 3,04 FK = KK= 78,32 0,01 Ket : tn = tidak nyata * = nyata ** = sangat nyata Uji Jarak Duncan Jumlah C. saccharphagus SY A SSR 0.05 LSR 0.05 0,059749 0,56 2 2,93 0,17507 0,71 3 3,07 0,18337 0,85 4 3,12 0,18621 ** ** ** Universitas Sumatera Utara Perlakuan L1 Rataan 0,74 L2 L3 0,90 1,03 a b Universitas Sumatera Utara
Uji Daya Tumbuh Bibit Tebu yang Terserang Hama Penggerek Batang Bergaris (Chilo sacchariphagus Bojer.)
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Uji Daya Tumbuh Bibit Tebu yang Terserang Hama Penggerek Batang Bergaris (Chilo sacchariphagus Bojer.)

Gratis