Feedback

Penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) Pada Bank Bni Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) (Studi Pada PT. BNI 46 Kantor Cabang Universitas Sumatera Utara)

Informasi dokumen
PENERAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PADA BANK BNI SEBAGAI BADAN USAHA MILIK NEGARA (BUMN) (STUDI PADA PT. BNI 46 KANTOR CABANG UNIVERSITAS SUMATERA UTARA) SKRIPSI Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dalam memenuhi syarat-syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum OLEH: SONTI YULYANDA S.B NIM: 060200124 DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PERDATA DAGANG FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010 Universitas Sumatera Utara PENERAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PADA BANK BNI SEBAGAI BADAN USAHA MILIK NEGARA (BUMN) (STUDI PADA PT. BNI 46 KANTOR CABANG UNIVERSITAS SUMATERA UTARA) SKRIPSI Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dalam memenuhi syarat-syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum OLEH: SONTI YULYANDA S.B NIM: 060200124 DISETUJUI OLEH: KETUA DEPARTEMEN HUKUM PERDATA Prof. Dr. Tan Kamello, S.H, M.S NIP. 196204211988031004 Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II Puspa Melati Hsb, SH. M. Hum NIP. 196801281994032001 Prof. Dr. Tan Kamello, S.H, M.S NIP. 196204211988031004 FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010 Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji Syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas kasih dan penyertaan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Adapun judul skripsi ini adalah “PENERAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PADA BANK BNI SEBAGAI BADAN USAHA MILIK NEGARA (BUMN) (STUDI PADA PT. BNI 46 KANTOR CABANG UNIVERSITAS SUMATERA UTARA)”. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Ayahanda Sontang Sidabutar, Ibunda Ramatio Sitompul, yang telah membesarkan dan mendidik saya tanpa pamrih sehingga saat ini saya mampu menyelesaikan perkuliahan saya di Universitas Sumatera Utara. Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak sehinggapada kesempatan ini penulis juga ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada: 1. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. 2. Bapak Prof. Dr. Suhaidi, SH, M.H selaku Pembantu Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. 3. Bapak Syafruddin Hasibuan, SH, M.H, DFM selaku Pembantu Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Universitas Sumatera Utara 4. Bapak Muhammad Husni, SH M.Hum selaku Pembantu Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. 5. Bapak Prof. Dr. Tan Kamello, S.H, M.S selaku Ketua Departemen Hukum Perdata fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan sekaligus selaku Dosen Pembimbing I yang berkenan membantu dan memperhatikan Mahasiswa Hukum Perdata. 6. Ibu Puspa Melati Hsb, SH. M. Hum selaku Dosen Pembimbing II yang banyak menuntun penulis dari awal sampai akhir pembuatan skripsi yang dengan kesabaran menuntun penulis dalam penulisan skripsi ini sehingga skripsi ini dapat selesai. 7. Ibu Nurmalawaty, SH. M. Hum selaku Dosen Penasehat Akademik selama perkuliahan. 8. Bapak dan Ibu Dosen pengajar Fakultas HukumUniversitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis. 9. Seluruh Pegawai Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. 10. Teman-teman seperjuangan stambuk 2006 dan juga semua pihak yang telah membantu penulisan skripsi ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan balasan yang berlipat ganda atas semua kebaikan yang telah diberikan. Dalam menyelesaikan skripsi in, penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih banyak kekurangan baik dari struktur bahasa, maupun teknik penyajiannya, ini semua karena keterbatasan ilmu dan kemampuan yang ada pada penulis. Universitas Sumatera Utara Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran yang sehat yang bersifat membangun demi kesempurnaan isi skripsi ini, namun demikian penulis berharap agar laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri maupun pihak-pihak lain yang berkepentingan. Medan, Maret 2010 Penulis Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI KATA PENGANTAR . i DAFTAR ISI . iv ABSTRAK . vi BAB I PENDAHULUAN . 1 A. Latar Belakang . 1 B. Perumusan Masalah . 8 C. Tujuan dan Manfaat Penulisan . 8 D. Keaslian Penulisan. 9 E. Tinjauan Kepustakaan . 10 F. Metode Penulisan . 13 G. Sistematika Penulsan . 15 BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) A. Sejarah Perkembangan Corporate Social Responsibility (CSR) . 17 B. Pengertian Corporate Social Responsibility (CSR). 23 C. Model Pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR) . 27 D. Konsep Corporate Social Responsibility (CSR) . 29 E. Pengaturan Hukum Mengenai Corporate Social Responsibility (CSR) . 40 BAB III TINJAUAN UMUM MENGENAI BADAN USAHA MILIK NEGARA (BUMN) Universitas Sumatera Utara A. Pengertian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) . 54 B. Bentuk-bentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) . 55 a. Perusahaan Perseroan (Persero). 55 b. Perusahaan Umum (Perum) . 59 C. Maksud dan Tujuan Pendirian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) . 63 D. Pengaturan Hukum Mengenai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) . 65 E. PT. Bank BNI 46 sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara. 68 BAB IV PENERAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PADA PT. BNI 46 Tbk A. Deskripsi tentang PT. BNI 46 Tbk . 72 B. Pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR) yang diterapkan PT. BNI 46 Tbk . 78 C. Manfaat Penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) PT. BNI 46 Tbk . 84 D. Kendala dalam Penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) PT. BNI 46 Tbk . 86 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan . 88 B. Saran . 89 DAFTAR PUSTAKA . vii LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Penerapan Corporate Social Responsibility pada Bank BNI sebagai badan Usaha Milik Negara (BUMN) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan salah satu pelaku ekonomi dalam sistem perekonomian nasional, disamping usaha swasta dan koperasi serta melaksanakan peran saling mendukung berdasarkan demokrasi ekonomi. BUMN tidak hanya dituntut kemampuannya dalam mencari profit/ keuntungan saja, tetapi BUMN juga memiliki tanggung jawab memberikan bimbingan bantuan secara aktif kepada karyawan, pengusaha golangan lemah, koperasi, masyarakat dan juga dalam hal kegiatan pelestarian lingkungan. Tanggung Jawab BUMN ini dilakukan melalui Program Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial korporat. Pelaksanaan Corporate Social Respnsibility (CSR) dapat dilakukan terhadap masyarakat sekitar, karyawan perusahaan dan lingkungan hidup. Pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR) tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat sekitar perusahaan dan lingkungan saja tetapi juga bermanfaat bagi perusahaan tersebut dalam hal ini PT. BNI 46 Tbk. Dalam pelaksanaan Corporate Social Respnsibility (CSR) perusahaan juga mendapatkan kendala yaitu kurang tegasnya peraturan yang mengatur tentang Corporate Social Respnsibility (CSR). Metode yang dipakai dalam penulisan skripsi ini adalah dengan cara pengumpulan data dengan penelitian kepustakaan (Library Research) yang dilakukan dengan menelusuri kepustakaan berdasarkan sumber-sumber bacaan seperti : Buku-buku, Literatur, Perundang-undangan yang berhubungan dengan topik selain itu juga penelitian lapangan (Field Research) dengan melakukan penelitian lapangan untuk mencari dan mengumpulkan bahan-bahan yang aktual dari PT. BNI 46 Tbk. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR) PT.BNI 46 Tbk dilakukan terhadap masyarakat, karyawan dan juga lingkungan hidup. Dimana pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR) PT.BNI 46 Tbk tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat saja tetapi juga bagi PT.BNI 46 Tbk walaupun dalam pelaksanaannya ditemukan kendalakendala yang dapat menghambat pelaksanaan Corporate Social Responsibility. Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Penerapan Corporate Social Responsibility pada Bank BNI sebagai badan Usaha Milik Negara (BUMN) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan salah satu pelaku ekonomi dalam sistem perekonomian nasional, disamping usaha swasta dan koperasi serta melaksanakan peran saling mendukung berdasarkan demokrasi ekonomi. BUMN tidak hanya dituntut kemampuannya dalam mencari profit/ keuntungan saja, tetapi BUMN juga memiliki tanggung jawab memberikan bimbingan bantuan secara aktif kepada karyawan, pengusaha golangan lemah, koperasi, masyarakat dan juga dalam hal kegiatan pelestarian lingkungan. Tanggung Jawab BUMN ini dilakukan melalui Program Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial korporat. Pelaksanaan Corporate Social Respnsibility (CSR) dapat dilakukan terhadap masyarakat sekitar, karyawan perusahaan dan lingkungan hidup. Pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR) tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat sekitar perusahaan dan lingkungan saja tetapi juga bermanfaat bagi perusahaan tersebut dalam hal ini PT. BNI 46 Tbk. Dalam pelaksanaan Corporate Social Respnsibility (CSR) perusahaan juga mendapatkan kendala yaitu kurang tegasnya peraturan yang mengatur tentang Corporate Social Respnsibility (CSR). Metode yang dipakai dalam penulisan skripsi ini adalah dengan cara pengumpulan data dengan penelitian kepustakaan (Library Research) yang dilakukan dengan menelusuri kepustakaan berdasarkan sumber-sumber bacaan seperti : Buku-buku, Literatur, Perundang-undangan yang berhubungan dengan topik selain itu juga penelitian lapangan (Field Research) dengan melakukan penelitian lapangan untuk mencari dan mengumpulkan bahan-bahan yang aktual dari PT. BNI 46 Tbk. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR) PT.BNI 46 Tbk dilakukan terhadap masyarakat, karyawan dan juga lingkungan hidup. Dimana pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR) PT.BNI 46 Tbk tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat saja tetapi juga bagi PT.BNI 46 Tbk walaupun dalam pelaksanaannya ditemukan kendalakendala yang dapat menghambat pelaksanaan Corporate Social Responsibility. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-Undang Dasar Republik Indonesia (UUD 1945) merupakan landasan konstitusi negara Indonesia. Melalui UUD 1945 pula secara jelas para founding father merumuskan falsafah dan prinsip ekonomi yang menjadi landasan ekonomi Indonesia. Mengenai sistem ekonomi negara Indonesia, dapat dilihat dalam Bab XIV UUD 1945 yang berjudul “Kesejahteraan Sosial”, khususnya Pasal 33 UUD 1954. 1 Dalam Pasal 33 ayat (2) dan (3) UUD 1945, secara jelas menerangkan bahwa cabang-cabang produksi yang penting yang menguasai hajat hidup orang banyak serta bumi, air dan kekayaan yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara, dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dalam pengertian diatas, secara jelas Indonesia menyatakan dirinya sebagai negara kesejahteraan (welfare state), dimana kesejahteraan rakyat merupakan tujuan utama dari pelaksanaan kehidupan berbangsa dan bernegara. 2 Indonesia dirasa perlu untuk meningkatkan penguasaan seluruh kekuatan ekonomi nasional baik melalui regulasi sektoral maupun melalui kepemilikan Negara terhadap unit-unit usaha tertentu dengan maksud untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Badan Usaha Milik 1 2 http://www.sinarharapan.co.id/berta/, terakhit kali diakses tanngal 18 Januari 2010. Pasal 33 ayat (2), (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Universitas Sumatera Utara Negara (BUMN) yang seluruh atau sebagian besar modalnya berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan, merupakan salah satu pelaku ekonomi dalam sistem perekonomian nasional, disamping usaha swasta dan koperasi serta melaksanakan peran saling mendukung berdasarkan demokrasi ekonomi. 3 Dalam sistem perekonomian nasional, BUMN ikut berperan menghasilkan barang dan/atau jasa yang diperlukan dalam rangka mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran masyarat. Peran BUMN dirasakan semakin penting sebagai pelopor dan perintis dalam sektor usaha yang belum diminati oleh swasta. Di samping itu, BUMN juga mempunyai peran strategis sebagai pelaksana pelayanan publik, penyeimbang kekuatan-kekuatan swasta besar, dan turut membantu pengembangan usaha kecil atau koperasi. BUMN juga merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang signifikan dalam bentuk berbagai jenis pajak, deviden dan hasil privatisasi. 4 Di Indonesia, fungsi dan peran BUMN tertuang secara jelas pada UUD Negara Republik Indonesia 1945. Di era Orde Lama, BUMN dijadikan alat pemerintah untuk merealisasikan kebijakan ekonomi terpimpin, sedangkan di era Orde Baru, Bumn diarahkan pada upaya untuk merekonstruksi ekonomi yang parah dan sebagai perintis sektor-sektor ekonomi yang belum terbuka. Namun semenjak jatuhnya harga minyak tahun 80-an, pemerintah memperketat anggaran dan membelanjai sektor prioritas bukan lagi BUMN. Untuk itu pemerintah menempuh berbagai kebijaksanaan guna memberdayakan BUMN atas dasar 3 Penjelasan Umum I Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2003 Tentang Badan Usaha Milik Negara. 4 Yusuf Wibisono, Membedah Konsep & Aplikasi Corporate Social Responsibility (CSR), ,Gresik, Fascho Publishing, 2007, hal. 81. Universitas Sumatera Utara kemampuan sendiri, dengan tujuan peningkatan produktifitas, efektifitas dan efisiensi terjaminya prinsi-prinsip ekonomi dalam pengelolaannya (accountable & audittable) dan mempunyai daya saing tinggi berdasarkan prinsip mekanisme pasar bebas agar dapat mempertahankan kehadirannya sebagai salah satu pelaku ekonomi nasional, serta yang pada akhirnya sebagai salah satu pelaku ekonomi nasional, serta yang pada akhirnya sebagai salah satu pelaku ekonomi nasional, serta yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat banyak (agen of development). 5 Merupakan fakta yang tidak bisa dibantah bahwa BUMN Indonesia mengemban misi yang amat strategis dalam pembangunan nasional. BUMN dituntut untuk mampu memberikan kontribusi optimal bagi pembangunan perekonomian nasional, diantaranya melalui deviden dan pajak. BUMN juga duwajibkan untuk berpartisipasi dalam program-program strategis untuk mengatasi berbagai permasalahan nasional. Lebih dari itu, BUMN juga dituntut untuk memiliki tanggung jawab dalam upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat pada umumnya. 6 Oleh karena itu, BUMN tidak hanya dituntut kemampuannya dalam mencari profit/ keuntungan saja, tetapi BUMN juga memiliki tanggung jawab memberikan bimbingan bantuan secara aktif kepada karyawan, pengusaha golangan lemah, koperasi, masyarakat dan juga dalam hal kegiatan pelestarian 5 Marsuki , Analisis Perekonomian Nasional dan Internasional Kebijaksanaan Ekonomi, Ekonomi Kerakyatan Perbankan, Kredit, Uang, Pasar Modal, BUMN, Privatisasi, Pengusaha Utang Luar Negeri, dan Isu Ekonomi Sektoral, Jakarta, Mitra Wacana Media, 2005, hal 255-256. 6 Dibyo Soemantri Priambodo, Perjalanan Panjang dan berliku Refleksi BUMN 19932993 Sebuah Catatan tentang Peristiwa, Pandangan dan Renungan dalam Satu Dasawarsa, Yogyakarta, Media Pressindo, 2004, hal. 3. Universitas Sumatera Utara lingkungan. Tanggung Jawab BUMN ini dilakukan melalui Program Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial korporat. Peraturan tentang Corporate Social Responsibility (CSR) ini diatur dalam Undang-Undang RI No. 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara. Undang-undang ini kemudian dijabarkan lebih lanjut oleh Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara No.4 Tahun 2007 yang mengatur mulai dari besaran dana hingga tatacara pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR). Di Tanah Air, perbincangan mengenai Corporate Social Responsibility (CSR) semakin menguat setelah dinyatakan dengan tegas dalam Undang-Undang RI No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Disebutkan bahwa Perseroan Terbatas yang menjalankan usaha di bidang dan/atau bersangkutan dengan sumber daya alam wajib menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan (Pasal 74 ayat 1).Peraturan lain yang juga mengatur tentang Corporate Social Responsibility (CSR) adalah Undang-Undang RI No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Dalam Pasal 16 (b) menyatakan bahwa “Setiap penanaman modal berkewajiban melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan.” 7 Corporate Social Responsibility (CSR) = 1 ; λ2 = 1 Dengan demikian matriks pada persamaan (12) merupakan matriks yang konsisten, dimana nilai λ-max sama dengan harga dimensi matriksnya. Jadi untuk n > 2, maka semua harga eigen value-nya sama dengan nol dan hanya ada satu eigen value yang sama dengan n (konstanta dalam kondisi matriks konsisten). b) Bila ada perubahan kecil dari elemen matriks aij maka eigen value-nya akan berubah menjadi semakin kecil pula. Dengan menggabungkan kedua sifat matriks (aljabar linier), jika: i) Elemen diagonal matriks A (a ii) Dan jika matriks ij A − 1) yang ∀ i = 1,2,3,  , n konsisten, maka variasi kecil dari aij ∀ i, j = 1,2,3,  , n akan membuat harga eigen value yang lain mendekati nol. 2.2.3 Uji Konsistensi Indeks dan Rasio Salah satu utama model AHP yang membedakannya dengan model – model pengambilan keputusan yang lainnya adalah tidak adanya syarat konsistensi mutlak. Pengumpulan pendapat antara satu faktor dengan yang lain adalah bebas satu sama lain, dan hal ini dapat mengarah pada ketidakkonsistenan jawaban yang diberikan responden. Namun, terlalu banyak ketidakkonsistenan juga tidak diinginkan. Pengulangan wawancara pada sejumlah responden yang sama kadang diperlukan apabila derajat tidak konsistensinya besar. Saaty telah membukt ikan bahwa Indeks Konsistensi dari matriks berordo n dapat diperoleh dengan rumus: CI = (λmax − n ) (n − 1) (15) CI = Rasio penyimpangan (deviasi) konsistensi (consistency index) λ max = Nilai eigen terbesar dari matriks berordo n n = Orde matriks Apabila CI bernilai nol, maka pair wise comparison matrix tersebut konsisten. Batas ketidakkonsistenan (inconsistency) yang telah ditetapkan oleh Thomas L. Saaty ditentukan dengan menggunakan Rasio Konsistensi (CR), yaitu perbandingan indeks konsistensi dengan nilai random indeks (RI) yang didapatkan dari suatu eksperimen oleh Oak Ridge National Laboratory kemudian dikembangkan oleh Wharton School dan diperlihatkan seperti tabel 2.3. Nilai ini bergantung pada ordo matriks n. Dengan demikian, Rasio Konsistensi dapat dirumuskan sebagai berikut : CR = CI RI CR = rasio konsistensi RI = indeks random (16) Tabel 2.3 Nilai Random Indeks (RI) n 1 2 3 4 5 6 7 8 9 RI 0, 000 0,000 0, 580 0, 900 1, 120 1, 240 1, 320 1, 410 1, 450 n 10 11 12 13 14 15 RI 1, 490 1, 510 1, 480 1, 560 1, 570 1, 590 Bila matriks pair–wise comparison dengan nilai CR lebih kecil dari 0,100 maka ketidakkonsistenan pendapat dari decision maker masih dapat diterima jika tidak maka penilaian perlu diulang. 2.3 Penerapan Model AHP Dalam Menentukan Ururtan Prioritas Jenis BUMN (PERSERO) Penerapan model AHP dalam menentukan urutan prioritas jenis BUMN (PERSERO) dilakukan melalui langkah-langkah berikut: a. Penetapan sasaran studi b. Penyusunan kriteria meliputi: gaji, jenjang karir, fasilitas, penempatan (domisili ) kerja c. Penetapan bobot kriteria melalui kuisoner dimana mahasiswa sebagai responden d. Penyusunan nilai masing-masing yakni gaji, jenjang karir, fasilitas, penempatan (domisili ) kerja menurut variabel variabel operasional yang diturunkan dari kriteria e. Perhitungan nilai hirarki prioritas pilihan jenis BUMN (PERSERO) berdasarkan perkalian bobot kriteria dan masing-masing dari penilaian gaji, jenjang kerja, fasilitas, penempatan (domisili ) kerja. Penyusunan kuisoner merupakan hal yang sangat penting untuk mendapatkan penilaian kriteria yaitu dengan cara memasukkan elemen-elemen ke dalam perbandingan secara berpasangan untuk memberikan penilaian tingkat kepentingan masing-masing elemen. Dalam menentukan tingkat kepentingan dari elemen-elemen keputusan pada setiap tingkat hirarki keputusan, penilaian pendapat dilakukan dengan menggunakan fungsi berfikir, dikombinasikan dengan preferensi perasaan dan penginderaan. Penilaian dapat dilakukan dengan komparasi berpasangan yaitu dengan membandingkan setiap elemen dengan elemen lainnya pada setiap kriteria sehingga didapat nilai kepentingan elemen dalam bentuk pendapat yang bersifat kualitatif tersebut digunakan skala penilaian Saaty sehingga akan diperoleh nilai pendapat dalam bentuk angka (kuantitatif). Kuisoner yang sudah disusun disebarkan ke mahasiswa USU dalam hal ini responden yang diambil adalah mahasiswa program S1 stambuk 2005 dan 2006 di fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), fakultas Tehnik dan fakultas Pertanian. Menentukan Urutan Prioritas Jenis BUMN (PERSERO) Berdasarkan Minat Mahasiswa USU Kriteria Jenjang Karir Gaji A B C D Penempatan (Domisili) Fasilitas E F G H I Alternatif Gambar 2.3 Skema Hirarki Penentuan Urutan Prioritas Jenis BUMN (PERSERO) Berdasarkan Minat Mahasiswa Keterangan: A = PT Garuda Indonesia Airways B = PT Angkasa Pura C = PT Pertamina D = PT PELNI E = PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) F = PT Pos Indonesia G = PT Kereta Api Indonesia J H = PT Telkom I = PT Perkebunan Nusantara (PTPN) J = Bank Indonesia BAB 3 PEMBAHASAN Pada bab ini akan dibahas secara khusus penetapan urutan prioritas jenis BUMN (PERSERO) sebagai tempat kerja mahasiswa berdasarkan minat mahasiswa dengan menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP). 3.1 Perhitungan Faktor Pembobotan Hirarki untuk Semua Kriteria Hasil analisis preferensi gabungan dari 21 responden menunjukkan bahwa: kriteria gaji 6 kali lebih penting dari kriteria jenjang karir, 4 kali lebih penting dari kriteria fasilitas dan 8 kali lebih penting dibandingkan dengan kriteria penempatan (domisili). Sedangkan kriteria jenjang karir 2 kali lebih penting dibandingkan dengan kriteria penempatan. Tetapi kriteria fasilitas 3 kali lebih penting dibandingkan dengan kriteria jenjang karir dan 6 kali lebih penting dibandingkan kriteria penempatan. Maka matriks perbandingan hasil preferensi diatas adalah: Tabel 3.1 Matriks Faktor Pembobotan Hirarki untuk Semua Kriteria Gaji Jenjang Karir Fasilitas Penempatan Gaji 1 6 4 8 Jenjang Karir 1/6 1 1/3 2 Fasilitas 1/4 3 1 6 Penempatan 1/8 1/2 1/6 1 Tabel 3.2 Matriks Faktor Pembobotan Hirarki untuk Semua Kriteria yang disederhanakan Gaji Jenjang Karir Fasilitas Penempatan Gaji 1,000 6,000 4,000 8,000 Jenjang Karir 0,167 1,000 0,333 2,000 Fasilitas 0,250 3,000 1,000 6,000 Penempatan 0,125 0,500 0,167 1,000 ∑ 1,542 10,500 5,500 17,000 Dengan unsur-unsur pada tiap kolom dibagi dengan jumlah kolom yang bersangkutan, akan diperoleh bobot relatif yang dinormalkan. Nilai vektor eigen dihasilkan dari rata-rata bobot relatif untuk setiap baris. Hasilnya dapat pada tabel berikut ini: Tabel 3.3 Matriks Faktor Pembobotan Hirarki untuk Semua Kriteria yang dinormalkan Gaji JK Fas Pen Vector Eigen (yang dinormalkan) Gaji 0,648 0,571 0,727 0,471 0,604 JK 0,108 0,095 0,061 0,118 0,096 Fas 0,162 0,286 0,182 0,353 0,246 Pen 0,081 0,048 0,030 0,059 0,055 Selanjutnya nilai eigen maksimum (λmaksimum) didapat dengan menjumlahkan hasil perkalian jumlah kolom dengan vektor eigen. Nilai eigen maksimum yang dapat diperoleh adalah: λ maksimum = (1,542 × 0,604) + (10,500 × 0.096) + (5,500 × 0,246) + (17,000 × 0,055) = 4,227 Karena matriks berordo 4 (yakni terdiri dari 4 kriteria), nilai indeks konsistensi yang diperoleh: CI = λ max − n n −1 = 4,227 − 4 0,227 = = 0,076 4 −1 3 Untuk n = 4, RI = 0.900 (tabel Saaty), maka: CR = CI 0,076 = = 0.084 < 0,100 RI 0,900 Karena CR < 0,100 berarti preferensi responden adalah konsisten. Dari hasil perhitungan pada tabel di atas menunjukkan bahwa: kriteria gaji merupakan kriteria yang paling penting bagi mahasiswa yang ingin bekerja di perusahaan BUMN (PERSERO) dengan bobot 0,604 atau 60,4%, berikutnya adalah kriteria fasilitas dengan nilai bobot 0,246 atau 24,6%, kemudian kriteria jenjang karir dengan nilai bobot 0,096 atau 9,6%, dan kriteria penempatan kerja (domisili kerja) dengan nilai bobot 0,055 atau 5,5%. 3.1.1 Vektor Prioritas Untuk memperoleh vektor prioritas, setiap unsur pada tabel 3.2, disetiap baris dikalikan dan selanjutnya ditarik akar berpangkat n. Hasil dari setiap baris ini kemudian dibagi dengan jumlah dari hasil semua baris. Tabel 3.4 Matriks Vektor Prioritas Gaji Jenjang Karir Fasilitas Penempatan Gaji 1,000 6,000 4,000 8,000 Jenjang Karir 0,167 1,000 0,333 2,000 Fasilitas 0,250 3,000 1,000 6,000 Penempatan 0,125 0,500 0,167 1,000 Dengan demikian dapat diperoleh vektor prioritasnya, yaitu: 4 1× 6 × 4 × 8 = 3,722 4 0,167 × 1 × 0,333 × 2 = 0,577 4 0,25 × 3 × 1 × 6 = 1,456 4 0,125 × 0,5 × 0,167 × 1 = 0,320 ∑ Vektor Prioritas: = 6,075 3,722 : 6,075 = 0,612 0,577 : 6,075 = 0,095 1,456 : 6,075 = 0,240 0,320 : 6,075 = 0,053 3.2 Perhitungan Faktor Evaluasi untuk Kriteria Gaji Perbandingan berpasangan untuk kriteria gaji pada 10 jenis perusahaan BUMN (PERSERO) yaitu perbandingan berpasangan antara Garuda Indonesia (A) terhadap Angkasa Pura (B), Pertamina (C), PELNI (D), PLN (E), Pos Indonesia (F), Kereta Api Indonesia (G), Telkom (H), PTPN (I), Bank konsumen merasa Universitas Sumatera Utara 54 senang dengan kegiatan CSR Lifebuoy dan menganggap dengan program CSR seperti ini, perusahaan tidak hanya mengambil keuntungan dari konsumen tapi juga memberikan sesuatu yang berarti bagi masyarakat (take and give). Akan tetapi masih terdapat sebagian kecil dari konsumen yang menganggap program CSR Lifebuoy ini hanya merupakan program pemasaran belaka yang memanfaatkan kaum minoritas untuk mendapatkan reputasi sebagai perusahaan yang baik. Di lain pihak, program CSR yang diintegrasikan ke dalam program pemasaran seperti ini dapat menimbulkan awareness masyarakat terhadap Lifebuoy sebagai produk yang bertanggung jawab, mengingat sebagian besar produk lain belum memasukkan isu CSR dalam strategi mereka. Hal ini bisa menjadi nilai tambah bagi Lifebuoy dalam menghadapi persaingan yang bertambah ketat. Menurut Harry Miarsono dalam Swa, Desember 2005, agar program CSR berjalan dengan elegan, etis dan mulus, maka program CSR seharusnya diarahkan ke masyarakat yang membutuhkan sehingga tepat sasaran, tidak boleh dipaksakan dan disesuaikan dengan kemampuan masyarakat penerima program. Program CSR lebih diprioritaskan pada kebutuhan pokok masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup mereka seperti pendidikan, kesehatan dan pengembangan agrobisnis. Sebenarnya jika berpedoman pada teori tersebut, program CSR Lifebuoy ini sudah tepat sasaran, hal ini juga tercermin dari jawaban responden, yaitu sebesar 68 responden (77.27%) menyatakan jika program CSR Lifebuoy sudah tepat sasaran dan hanya dua responden yang menyatakan program CSR Lifebuoy tidak tepat sasaran. Artinya, program CSR Lifebuoy ini masih belum menyentuh kepentingan masyarakat secara keseluruhan. Universitas Sumatera Utara 55 Di masa mendatang Lifebuoy perlu mengkaji lebih jauh mengenai apa yang sesungguhnya dibutuhkan dan diinginkan masyarakat dan mengintegrasikannya dalam program-program CSR-nya, sehingga akan tercipta rasa saling memiliki dan konsumen akan merasa memiliki ikatan emosional dengan Lifebuoy. Dari hasil analisis regresi diketahui bahwa persepsi konsumen pada penerapan program CSR Lifebuoy berpengaruh secara signifikan terhadap brand loyalty sabun mandi Lifebuoy. Meskipun pengaruh dari CSR ini hanya sebesar 23.7%, tetapi pengaruh ini cukup signifikan mengingat sabun mandi adalah produk sehari-hari dimana biasanya loyalitas konsumen terhadap merek tertentu sangat rendah. Oleh karena itu Lifebuoy harus tetap menjalankan program-program CSR secara konsisten. Kerena penerapan program CSR Lifebuoy telah terbukti menambah nilai dan daya saing Lifebuoy terhadap pesaing dan berpengaruh secara signifikan terhadap brand loyalty sabun mandi Lifebuoy. Universitas Sumatera Utara 56 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis yang telah dibahas pada bab terdahulu, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh persepsi konsumen dalam penerapan program corporate social responsibility terhadap brand loyalty sabun mandi Lifebuoy. 2. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebesar 88 responden dengan menggunakan metode purposive sampling. Karakteristik responden yang diambil untuk penelitian ini adalah mahasiswa Ekstensi S1 Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara Medan yang menggunakan sabun mandi Lifebuoy. 3. Berdasarkan hasil analisis distribusi frekuensi, sebagian besar konsumen (81 responden) atau 92.4% menunjukkan persepsi yang positif pada penerapan program corporate social responsibility. 4. Nilai koefisien korelasi (R) yang menunjukkan tingkat hubungan antara variabel bebas (X) dengan variabel terikat (Y) sebesar 0.487. Angka R sebesar 0.487 menunjukkan bahwa tingkat korelasi atau hubungan antara persepsi konsumen dalam penerapan program corporate social responsibility dan brand loyalty merupakan hubungan yang nilai R sebesar 0.40 substansial (kuat). Menurut Young dalam Sulaiman (2005:12), s.d.
Penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) Pada Bank Bni Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) (Studi Pada PT. BNI 46 Kantor Cabang Universitas Sumatera Utara)
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) Pada Bank Bni Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) (Studi Pada PT. BNI 46 Kantor Cabang Universitas Sumatera Utara)

Gratis