Feedback

Induksi Akar dan Tunas pada Stek Buni (Antidesma bunius L. Spreng)

Informasi dokumen
INDUKSI AKAR DAN TUNAS STEK BUNI (Antidesma bunius L. Spreng) MENGGUNAKAN NAA DAN ROOTONE F Oleh Novita Anggraini 071202023 Budidaya Hutan PROGAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011 Universitas Sumatera Utara INDUKSI AKAR DAN TUNAS STEK BUNI (Antidesma bunius L. Spreng) MENGGUNAKAN NAA DAN ROOTONE F SKRIPSI Oleh Novita Anggraini 071202023 Budidaya Hutan PROGAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011 Universitas Sumatera Utara INDUKSI AKAR DAN TUNAS STEK BUNI (Antidesma bunius L. Spreng) MENGGUNAKAN NAA DAN ROOTONE F SKRIPSI Oleh Novita Anggraini 071202023 Budidaya Hutan Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara PROGAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2011 Universitas Sumatera Utara LEMBAR PENGESAHAN Judul Penelitian Nama Mahasiswa NIM Program Studi : Induksi Akar dan Tunas pada Stek Buni (Antidesma bunius L. Spreng) : Novita Anggraini : 071202023 : Budidaya Hutan Disetujui Oleh : Komisi Pembimbing Nelly Anna, S.Hut, M.Si Ketua Dr.Ir. Edy Batara Mulya Siregar, M.S Anggota Mengetahui Ketua Program Studi Siti Latifah, S.Hut, M.Si, Ph.D NIP. 19710416 200112 2 001 Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Novita Anggraini : Induksi akar dan tunas stek buni (Antidesma bunius L. Spreng) menggunakan Rootone F dan NAA, dibimbing oleh Nelly Anna, S.Hut, M.Si and Dr.Ir.Edy Batara Mulya Siregar, M.S. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh zat pengatur tumbuh (ZPT) Rootone F dan NAA terhadap keberhasilan stek buni (Antidesma bunius L. Spreng). Penelitian ini dilakukan di Rumah Kasa dan Laboratorium Bioteknologi Kehutanan, Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara dari bulan Maret hingga Juli 2011. Rancangan yang digunakan ialah rancangan acak lengkap non faktorial. Adapun faktor tersebut terdiri dari 9 perlakuan yakni A0 = kontrol; A1 = Rootone F 25 ppm: A2 = Rootone F 50 ppm; A3 = Rootone F 75 ppm; A4 = Rootone F 100 ppm; A5 = NAA 0,5 ppm; A6= NAA 1 ppm; A7 = NAA 1,5 ppm; A8 = NAA 2 ppm. Parameter yang diamati ialah persentase hidup, persentase tunas dan jumlah tunas. Pengamatan dilakukan setiap 10 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian zat pengatur tumbuh baik NAA (0,5 ppm, 1 ppm, 1,5 ppm, 2 ppm) maupun Rootone F (25 ppm, 50 ppm, 75 ppm, 100 ppm) belum mampu memicu pembentukan akar pada stek buni. Namun, pembentukan tunas tetap terjadi. Pembentukan tunas diduga berasal dari cadangan makanan, terlihat pada kontrol yang bertunas tanpa diberi zat pengatur tumbuh. Persentase hidup dan jumlah tunas tertinggi terdapat pada pengamatan 10 HST sedangkan persentase tunas tertinggi terdapat pada pengamatan 20 HST. Untuk itu, diperlukan penelitian lanjutan dengan dosis yang lebih tinggi untuk mengetahui keberhasilan stek buni ini. Kata kunci : Antidesma bunius L. Spreng, buni, stek batang, Rootone F, NAA Universitas Sumatera Utara ABSTRACT Novita Anggraini : Root and bud induction of buni (Antidesma bunius L.Spreng) cutting stem by using Rootone F and NAA, guided by Nelly Anna, S.Hut, M.Si and Dr.Ir.Edy Batara Mulya Siregar, M.S. The purpose of this research is to examine the effect of Rootone F and NAA as plant growth regulator to the success cutting stem of Antidesma bunius L.Spreng. This research was conducted in gauzing house and forestry biotectonology laboratory, Forestry Major, Agricultural Faculty, North Sumatera University, from March to July 2011. This research is arranged in non factorial completely design with 9 treatments. The treatment consisted of A0 as kontrol; A1 as Rootone F 25 ppm: A2 as Rootone F 50 ppm; A3 as Rootone F 75 ppm; A4as Rootone F 100 ppm; A5 as NAA 0,5 ppm; A6 as NAA 1 ppm; A7 as NAA 1,5 ppm; A8 as NAA 2 ppm. The parameters were live percentage, bud percentage and number of bud. the monitoring was conducted every 10 days. The results show that giving plant growth regulator neither NAA (0,5 ppm, 1 ppm, 1,5 ppm, 2 ppm) nor Rootone F (25 ppm, 50 ppm, 75 ppm, 100 ppm) can support root induction. But the bud induction still happened. Bud induction is predicted base on carbohydrate which is available in the cutting, look at the control, it can form bud without treatment. The highest live percentage and number of bud were found in 10 days after planting, while the highest bud percentage was found in 20 days after planting. Need extending research with the higher concentrate to know the success cutting stem of buni. Key Words : Antidesma bunius L. Spreng, buni, cutting stem, Rootone F, NAA Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul Induksi Akar dan Tunas pada Stek Buni (Antidesma bunius L. Spreng). Penelitian ini dilakukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi S1 pada Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan. Penelitian ini melibatkan banyak pihak. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Sismanto dan Ibu Hj.Trisnani selaku orangtua, serta Abangda Andre Setiawan, yang telah banyak memberikan dukungan moril dan materil demi kelancaran penelitian ini. 2. Keluarga Besar H. Syukur dan Hj. Sarah yang telah memberikan dorongan semangat, doa dan tenaga dalam kelancaran penelitian ini. 3. Ibu Nelly Anna, S.Hut, M.Si dan Dr. Ir. Edy Batara Mulya Siregar, M.S selaku komisi pembimbing yang telah banyak memberikan bantuan serta masukan yang sangat bermanfaat selama penulis menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini. 4. Teman-temanku Intan Utami, Nurul Diana, Mila Yusniar, Delcia Septiani, dan seluruh pihak yang mendukung baik secara langsung maupun tidak langsung yang telah banyak memberikan bantuan dan motivasi dari awal penelitian hingga akhir skripsi ini. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini tidak luput dari kekurangan. Penulis mengharapkan semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan Universitas Sumatera Utara berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu kehutanan. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih. Medan, Juli 2011 Penulis Universitas Sumatera Utara RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Medan pada tanggal 28 November 1989 sebagai putri kedua dari dua bersaudara dari keluarga Bapak Sismanto dan Ibu Hj.Trisnani. Pendidikan formal penulis dimulai pada tahun 1995-2001 di SD Negeri 060861 Medan, kemudian dilanjutkan di SLTP Negeri 11 Medan tahun 20012004. Pada tahun 2004-2007, penulis melanjutkan SLTA di SLTA Negeri 3 Medan. Tahun 2007, penulis diterima di Universitas Sumatera Utara melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) sebagai mahasiswa di Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian. Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif sebagai anggota BKM Baytul Ashjar Kehutanan, Tim Mentoring Agama Islam Fakultas Pertanian USU, asisten Praktikum Silvikultur pada tahun 2009 dan asisten Pengenalan Pengelolaan Hutan (P3H) pada tahun 2010. Penulis melaksanakan Praktik Pengenalan Pengelolaan Hutan (P3H) di Hutan Dataran Rendah Aras Napal dan Hutan Mangrove Pulau Sembilan Kabupaten Langkat. Penulis melaksanakan Praktik Kerja Lapang (PKL) di Perum Perhutani Unit I KPH Randublatung, Jawa Tengah. Pada akhir kuliah, penulis melaksanakan penelitian dengan judul Induksi Akar dan Tunas Stek Buni (Antidesma bunius L. Spreng) Menggunakan Rootone F dan NAA di bawah bimbingan Ibu Nelly Anna, S. Hut, M.Si dan Bapak Dr.Ir. Edy Batara Mulya Siregar, M.S. Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK. i ABSTRACT. ii KATA PENGANTAR. iii RIWAYAT HIDUP. v DAFTAR ISI . vi DAFTAR TABEL . viii DAFTAR GAMBAR. ix DAFTAR LAMPIRAN . x PENDAHULUAN . 1 Latar Belakang . Tujuan Penelitian . Hipotesis Penelitian . Kegunaan . 1 3 3 3 TINJAUAN PUSTAKA . 4 Buni (Antidesma bunius L. Spreng). Perbanyakan Vegetatif secara Stek. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Perbanyakan Stek . Zat Pengatur Tumbuh . Media Tanam. 4 6 7 10 14 BAHAN DAN METODE . 17 Waktu dan Tempat . Bahan dan Metode . Metode Penelitian . Pelaksanaan Penelitian. Persiapan Tempat Tumbuh. Persiapan Media Tumbuh. Pengambilan Stek. Persiapan Zat Pengatur Tumbuh. Penanaman Stek . Pemeliharaan. Parameter yang Diukur . 17 17 17 18 18 18 19 19 20 20 20 HASIL DAN PEMBAHASAN. 23 Persentase Hidup . Persentase Stek yang Bertunas . Jumlah Tunas. Induksi Akar . 25 26 29 31 KESIMPULAN DAN SARAN. 32 Universitas Sumatera Utara Kesimpulan. 32 Saran . 32 DAFTAR PUSTAKA. 34 LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL No. Halaman 1. Tabel persentase hidup stek buni pada pengamatan 0-40 HST . 23 2. Tabel persentase stek yang bertunas pada pengamatan 0-40 HST . 26 3. Tabel jumlah stek buni pada pengamatan 0-40 HST . 29 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR No. Halaman 1. Gambar persentase hidup stek buni pada pengamatan 0-40 HST . 24 2. Gambar persentase stek yang bertunas pada pengamatan 0-40 HST. 28 3. Gambar jumlah tunas stek buni pada pengamatan 0-40 HST . 30 Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN No. Halaman 1. Lampiran tabel rekapitulasi sidik ragam pengaruh pemberian ZPT dengan berbagai konsentrasi terhadap persentase hidup, persentase tunas dan jumlah tunas stek buni . 33 2. Lampiran gambar naungan dan bedeng sungkup penelitian. 34 3. Lampiran gambar sampel penelitian. 34 4. Lampiran gambar stek bertunas . 35 5. Lampiran gambar pohon, buah dan biji buni (Antidesma bunius L.Spreng) . 35 Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Novita Anggraini : Induksi akar dan tunas stek buni (Antidesma bunius L. Spreng) menggunakan Rootone F dan NAA, dibimbing oleh Nelly Anna, S.Hut, M.Si and Dr.Ir.Edy Batara Mulya Siregar, M.S. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh zat pengatur tumbuh (ZPT) Rootone F dan NAA terhadap keberhasilan stek buni (Antidesma bunius L. Spreng). Penelitian ini dilakukan di Rumah Kasa dan Laboratorium Bioteknologi Kehutanan, Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara dari bulan Maret hingga Juli 2011. Rancangan yang digunakan ialah rancangan acak lengkap non faktorial. Adapun faktor tersebut terdiri dari 9 perlakuan yakni A0 = kontrol; A1 = Rootone F 25 ppm: A2 = Rootone F 50 ppm; A3 = Rootone F 75 ppm; A4 = Rootone F 100 ppm; A5 = NAA 0,5 ppm; A6= NAA 1 ppm; A7 = NAA 1,5 ppm; A8 = NAA 2 ppm. Parameter yang diamati ialah persentase hidup, persentase tunas dan jumlah tunas. Pengamatan dilakukan setiap 10 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian zat pengatur tumbuh baik NAA (0,5 ppm, 1 ppm, 1,5 ppm, 2 ppm) maupun Rootone F (25 ppm, 50 ppm, 75 ppm, 100 ppm) belum mampu memicu pembentukan akar pada stek buni. Namun, pembentukan tunas tetap terjadi. Pembentukan tunas diduga berasal dari cadangan makanan, terlihat pada kontrol yang bertunas tanpa diberi zat pengatur tumbuh. Persentase hidup dan jumlah tunas tertinggi terdapat pada pengamatan 10 HST sedangkan persentase tunas tertinggi terdapat pada pengamatan 20 HST. Untuk itu, diperlukan penelitian lanjutan dengan dosis yang lebih tinggi untuk mengetahui keberhasilan stek buni ini. Kata kunci : Antidesma bunius L. Spreng, buni, stek batang, Rootone F, NAA Universitas Sumatera Utara ABSTRACT Novita Anggraini : Root and bud induction of buni (Antidesma bunius L.Spreng) cutting stem by using Rootone F and NAA, guided by Nelly Anna, S.Hut, M.Si and Dr.Ir.Edy Batara Mulya Siregar, M.S. The purpose of this research is to examine the effect of Rootone F and NAA as plant growth regulator to the success cutting stem of Antidesma bunius L.Spreng. This research was conducted in gauzing house and forestry biotectonology laboratory, Forestry Major, Agricultural Faculty, North Sumatera University, from March to July 2011. This research is arranged in non factorial completely design with 9 treatments. The treatment consisted of A0 as kontrol; A1 as Rootone F 25 ppm: A2 as Rootone F 50 ppm; A3 as Rootone F 75 ppm; A4as Rootone F 100 ppm; A5 as NAA 0,5 ppm; A6 as NAA 1 ppm; A7 as NAA 1,5 ppm; A8 as NAA 2 ppm. The parameters were live percentage, bud percentage and number of bud. the monitoring was conducted every 10 days. The results show that giving plant growth regulator neither NAA (0,5 ppm, 1 ppm, 1,5 ppm, 2 ppm) nor Rootone F (25 ppm, 50 ppm, 75 ppm, 100 ppm) can support root induction. But the bud induction still happened. Bud induction is predicted base on carbohydrate which is available in the cutting, look at the control, it can form bud without treatment. The highest live percentage and number of bud were found in 10 days after planting, while the highest bud percentage was found in 20 days after planting. Need extending research with the higher concentrate to know the success cutting stem of buni. Key Words : Antidesma bunius L. Spreng, buni, cutting stem, Rootone F, NAA Universitas Sumatera Utara PENDAHULUAN Latar Belakang Buni (Antidesma bunius L. Spreng) merupakan jenis asli yang tumbuh secara liar di dataran rendah Hilmalaya, Srilanka dan Asia Tenggara hingga Utara Australia (Orwa dkk., 2009). Jenis tanaman dari famili Euphorbiaceae ini termasuk jenis potensial baik dari segi ekonomis maupun ekologis. Mulai dari buah, daun, kulit kayu dan kayunya. Di Indonesia, buahnya dijadikan pelengkap masakan, sirup maupun jeli. Di Indonesia dan Filipina, daun mudanya dapat dimakan dengan nasi, baik mentah atau dimasak. Kulit kayu memiliki serat yang kuat untuk tali temali. Kayunya berwarna kemerah-merahan dan keras, dan telah diuji menjadi bubur kertas untuk membuat kardus/kertas karton. Di Asia, kulit kayu berkhasiat sebagai obat penutup luka (gigitan ular). Pohon Buni ini juga biasa digunakan untuk kegiatan reklamasi lahan (Orwa dkk., 2009). Berdasarkan penelitian Gratimah (2009), Pohon Buni mempunyai daya serap karbondioksida (CO2) tertinggi yakni 31,31 ton per tahun dibandingkan dengan pohon angsana, bungur, beringin, daun kupu, kembang merak, krepayung, flamboyan, lobi-lobi, jambu bol, mahoni, pulai, tanjung, kecapi, binuang dan Dimocarpus confinis. Dari hasil penelitian tersebut diperoleh bahwa penanaman hutan kota dengan tetapi tidak dapat digunakan untuk membedakan macam-macam golongan flavonoid. Pereaksi ini memberi warna kehijauan, warna biru, dan warna hitam-biru (Robinson, 1995). Universitas Sumatera Utara 2.6 Teknik Pemisahan Teknik pemisahan memiliki tujuan untuk memisahkan komponen yang akan ditentukan berada dalam keadaan murni, tidak tercampur dengan komponenkomponen lainnya. Ada 2 jenis teknik pemisahan: 1. Pemisahan kimia adalah suatu teknik pemisahan yang berdasarkan adanya perbedaan yang besar dari sifat-sifat fisika komponen dalam campuran yang akan dipisahkan. 2. Pemisahan fisika adalah suatu teknik pemisahan yang didasarkan pada perbedaan-perbedaan kecil dari sifat-sifat fisik antara senyawa-senyawa yang termasuk dalam satu golongan (Muldja, 1995). Biomassa (tanaman, mikroba, laut) Ekstraksi Skrining Isolasi zat aktif berdasarkan uji hayati Skrining silang Elusidasi Struktur Gambar 2.3 Diagram Teknik Pemisahan 2.6.1 Ekstraksi Sampel yang berasal dari tanaman setelah diidentifikasi, kemudian digolongkan menjadi spesies dan famili, sampel kemudian dikumpulkan dari bagian arialnya (daun, batang, kulit kayu pada batang, kulit batang, dan akar). Sampel ini kemudian dikeringkan dengan cara diangin-anginkan untuk menghindari penguraian komponen oleh udara atau mikroba. Universitas Sumatera Utara Jika telah dikeringkan, biomassa kemudian digiling menjadi partikel-partikel kecil menggunakan blender atau penggilingan. Proses penggilingan ini penting karena ektraksi efektif pada partikel kecil, dikarenakan memiliki luas permukaan yang lebih besar. Pemilihan pelarut ekstraksi sangat penting. Jika tanaman diteliti dari sudut pandang etnobotani, ektraksi harus mengikuti pemakaiannya secara tradisional. Kegagalan mengekstraksi biomassa dapat menyebabkan kehilangan akses untuk mendapatkan zat aktif. Terdapat sejumlah metode ekstraksi, yang paling sederhana adalah ekstraksi dingin (dalam labu besar berisi biomassa), dengan cara ini bahan kering hasil gilingan diekstraksi pada suhu kamar secara berturut-turut dengan pelarut yang kepolarannya makin tinggi. Keuntungan utama cara ini adalah merupakan metode ekstraksi yang mudah karena ekstrak tidak dipanaskan sehingga kemungkinan kecil bahan alam terurai. Penggunaan pelarut dengan peningkatan kepolaran secara berurutan memungkinkan pemisahan bahan alam berdasarkan kelarutannya (dan polaritasnya) dalam ektraksi. Hal ini sangat mempermudah proses isolasi. Ekstraksi dingin memungkinkan banyak senyawa terekstraksi, meskipun beberapa senyawa memiliki kelarutan terbatas dalam pelarut ekstraksi pada suhu kamar (Heinrich et al, 2009). Ekstraksi dianggap selesai bila tetesan terakhir memberikan reaksi negatif terhadap senyawa yang diekstraksi. Untuk mendapatkan larutan ekstrak pekat, biasanya pelarut ekstrak diuapkan dengan menggunakan alat rotari evaporator (Harborne, 1996). 2.6.2 Partisi Metode pemisahan yang mungkin paling sederhana adalah partisi, yang banyak digunakan sebagai tahap awal pemurnian ekstrak. Partisi menggunakan dua pelarut tak bercampur yang ditambahkan kedalam ekstrak tersebut, hal ini dapat dilakukan Universitas Sumatera Utara secara terus menerus dengan menggunakan dua pelarut yang tak bercampur yang kepolarannya meningkat. Partisi biasanya dilakukan melalui dua tahap: 1. Air/petroleum eter ringan (heksana) untuk menghasilkan fraksi nonpolar di lapisan organik 2. Air/diklorometan atau air/kloroform atau air/etil asetat untuk membuat fraksi agak polar di lapisan organik. Ini merupakan metode pemisahan yang mudah dan mengandalkan kelarutan bahan alam dan bukan interaksi fisik dengan medium lain (Heinrich et al, 2009). 2.6.3 Hidrolisis Prosedur yang digunakan untuk hidrolisis asam dari flavonoid glikosida adalah, sebanyak 2 mg sampel flavonoid glikosida dicampur dengan asam klorida 6% sebanyak 5 ml dengan jumlah metanol yang sangat sedikit pada sampel untuk membuat proses hidrolisis menjadi sempurna. Larutan dipanaskan selama 45 menit lalu didinginkan, kemudian ekstrak sepenuhnya dilarutkan dengan eter. Penguapan dari larutan akan mengendapkan ramnosa dan glukosa. Lapisan eter, setelah dikeringkan dengan menggunakan natrium sulfat akan didapatkan aglikon flavonoid setelah diuapkan (Mabry et al, 1970). 2.6.4 Kromatografi Kromatografi pertama kali dikembangkan oleh seorang ahli botani Rusia Michael Tswett pada tahun 1903 untuk memisahkan pigmen berwarna dalam tanaman dengan cara perkolasi ekstrak petroleum eter dalam kolom gelas yang berisi kalsium karbonat (CaCO3). Kromatografi merupakan suatu teknik pemisahan yang menggunakan fase diam (stationary phase) dan fase gerak (mobile phase). Teknik kromatografi telah berkembang dan telah digunakan untuk memisahkan dan mengkuantifikasi berbagai macam komponen yang kompleks, baik komponen organik maupun komponen anorganik. Universitas Sumatera Utara Kromatografi dapat dibedakan atas berbagai macam tergantung pada pengelompokkannya. Berdasarkan pada mekanisme pemisahannya, kromatografi dibedakan menjadi: kromatografi adsorbsi, kromatografi partisi, kromatografi pasangan ion, kromatografi penukar ion, kromatografi eksklusi ukuran. Berdasarkan pada alat yang digunakan, kromatografi dapat dibagi atas: kromatografi kertas, kromatografi lapis tipis (disebut juga kromatografi planar), kromatografi cair kinerja tinggi, dan kromatogtrafi gas. Bentuk kromatografi yang paling awal adalah kromatografi kolom yang digunakan untuk pemisahan sampel dalam jumlah yang besar. Pemisahan pada kromatografi planar pada umumnya dihentikan sebelum semua fase gerak melewati seluruh permukaan fase diam. Solut pada kedua kromatografi ini dikarakterisasi dengan jarak migrasi solut terhadap jarak ujung fase geraknya. Nilai faktor retardasi solut (Rf) dapat dihitung dengan menggunakan perbandingan dalam persamaan: Nilai maksimum Rf adalah 1 dan ini dicapai ketika solut mempunyai perbandingan distribusi (D) dan faktor retensi sama dengan 0 yang berarti solut bermigrasi dengan kecepatan yang sama dengan fase gerak. Nilai minimum Rf adalah 0 dan ini teramati jika solut tertahan pada posisi titik awal di permukaan fase diam. Proses Sorpsi Sorpsi merupakan proses pemindahan solut dari fase gerak ke fase diam, sementara itu proses sebaliknya (pemindahan solut dari fase diam ke fase gerak) disebut dengan desorpsi. Kedua proses ini (sorpsi dan desorpsi) terjadi secara terus menerus selama pemisahan kromatografi karenanya sistem kromatografi berada dalam keadaan kesetimbangan dinamis. Solut akan terdistribusi diantara dua fase yang bersesuaian dengan perbandingan distribusinya (D) untuk menjaga keadaan kesetimbangan ini. Ada 4 jenis mekanisme sorpsi dasar dan umumnya 2 atau lebih mekanisme ini terlibat dalam satu jenis kromatografi. Keempat jenis tersebut adalah adsorpsi, partisi, pertukaran ion, dan eksklusi ukuran. Universitas Sumatera Utara Adsorben Silika gel merupakan jenis adsorben (fase diam) yang penggunaannya paling luas. Permukaan silika gel terdiri atas gugus Si-O-Si dan gugus silanol (Si-OH). Gugus silanol bersifat sedikit asam dan polar karenanya gugus ini mampu membentuk ikatan hidrogen dengan solut-solut yang agak polar sampai sangat polar. Adanya air dari atmosfer yang diserap oleh permukaan silika gel mampu mendeaktifkan permukaan silika gel karena air akan menutup sisi aktif silika gel. Hal seperti ini dapat diatasi dengan memanaskan pada suhu 1050C, meskipun demikian reprodusibilitasnya sulit dicapai kecuali jika suhu dan kelembapan benar-benar dijaga secara hati-hati. Semakin polar solut maka akan semakin tertahan kuat ke dalam adsorben silika gel ini (Gandjar dkk, 2007). Tabel 2.1 Daftar Adsorben pada Kromatografi Alumina Karbon aktif (Charcoal) Silika gel Magnesium silikat Selulosa Resin-resin polimerik (stiren/difenil benzen) 2.6.4.1 Kromatografi Lapis Tipis (paling polar) (paling non polar) Dalam kromatografi lapis tipis (KLT), adsorben diletakkan tepat pada satu sisi plat atau kaca atau saluran plastik ataupun aluminium. Adsorben yang paling sering digunakan adalah silika gel dan alumina. Beberapa mikroliter larutan sampel yang akan dianalisa ditotolkan pada plat sebagai titik kecil yang tunggal dengan menggunakan pipa mikrokapilaritas. Plat dikembangkan dengan meletakkannya didalam botol ataupun chamber pengembang yang berisi sejumlah kecil pelarut. Pelarut akan menaiki plat dengan adanya gaya kapilar, dan membawa senyawa dari sampel dengan itu. Senyawa yang berbeda dipisahkan dari dasarnya pada saat interaksi mereka dengan lapisan adsorben. Universitas Sumatera Utara Plat KLT yang biasa digunakan adalah plat dengan ukuran pori silika 60 Å dan ketebalan lapisan 25 µm dalam penyangga poliester atau aluminium, beberapa dengan menggunakan atau tanpa menggunakan indikator fluorosensi yang sesuai untuk analisa cepat dari ekstrak kasar tanaman dan digunakan sebagai dasar dari langkah preparatif. Plat biasa dapat digunting dengan menggunakan gunting atau kertas cutter untuk mengambil Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada. Yogyakarta. Tjitrosoepomo, G. 2001. Morfologi 13.GadjahMadaUniversity Press.Yogyakarta. Tumbuhan. Cetakan Wawo, A.H. 2010. Pengaruh Nungan dalam Lama Penyimpanan Stek pada Pertumbuhan Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) dan Jarak Merah (Jatropha gossypiifolia L.). Bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi LIPI. Bogor. Widiarsih, S., Minarsih, Dzurrahmah, B. Wirahman, dan W.B. Suwarno. 2008. Perbanyakan Tanaman Secara Vegetasi Buatan. Makalah. Wikipedia. 2011. Buni (Antidesma bunius (L.) Spreng.http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Buni_(pohon)(01/03/201 1) Wudianto, R. 1993. Membuat Stek, Cangkok, dan Okulasi. Penerbit PT. Penebar Swadaya. Jakarta. Universitas Sumatera Utara Perlakuan Ulangan total Rata-Rata LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara N0A0 N0A1 N0A2 N0A3 Perlakuan N0A4 N1A0 N0A0 N1A1 N0A1 N1A2 N0A2 N1A3 N1A4 N2A0 N2A1 N2A2 N2A3 N2A4 N3A0 N3A1 N3A2 N3A3 N3A4 N4A0 N4A1 N4A2 N4A3 N4A4 1 0 0 0 0 01 03 03 03 100 100 0 0 0 0 0 0 100 0 0 100 0 0 0 100 0 2 0 0 0 0 02 03 03 03 100 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 0 0 0 100 100 0 3 0 0 0 0 Ulangan 03 03 03 03 0 0 0 100 0 0 0 0 0 100 100 0 0 0 0 0 100 4 0 0 0 0 04 03 03 100 3 0 0 0 0 0 100 0 0 0 0 100 100 0 0 0 0 0 0 0 0 0total 0 012 012 100 12 200 100 0 100 0 100 100 0 100 100 200 200 0 0 100 200 100 0 0 0 0Rata-Rata 0 03 03 25 3 50 25 0 25 0 25 25 0 25 25 75 50 0 0 25 50 25 Lampiran 1. Persentase hidup stek buni (Antidesma bunius L Spreng) Lampiran 2. Arc Sin dari persentase hidup Universitas Sumatera Utara N0A3 N0A4 N1A0 Perlakuan N1A1 N1A2 N0A0 N1A3 N0A1 N1A4 N0A2 N2A0 N0A3 N2A1 N0A4 N2A2 N1A0 N2A3 N1A1 N2A4 N3A0 N3A1 N3A2 N3A3 N3A4 N4A0 N4A1 N4A2 N4A3 N4A4 3 3 3 13 03 87.13 0 087.13 3 0 03 03 3 0 3 3 87.13 3 3 87.13 3 3 3 87.13 3 3 3 3 3 3 3 Ulangan 3 2 33 3 0 03 87.13 3 0 0 3 0 03 3 3 0 0 03 087.13 3 0 03 3 3 0 0 87.13 3 3 3 3 3 3 87.13 3 87.13 3 3 3 3 3 3 87.13 3 87.13 3 3 87.13 3 3 3 43 087.13 3 0 03 3 0 03 03 87.13 0 3 3 3 3 87.13 87.13 3 3 3 3 3 12 12 12 total 12 096.13 180.26 0 096.13 12 0 0180.26 012 96.13 0 180.26 12 96.13 96.13 180.26 180.26 12 12 96.13 180.26 96.13 3 3 3 Rata-Rata 3 024 45.1 0 024 3 0 045.1 03 24 0 45.1 3 24 24 45.1 45.1 3 3 24 45.1 24 Lampiran 3. Persentase tunas stek buni (Antidesma bunius L Spreng) Universitas Sumatera Utara N1A2 N1A3 N1A4 Perlakuan N2A0 N2A1 N0A0 N2A2 N0A1 N2A3 N0A2 N2A4 N0A3 N3A0 N0A4 N3A1 N1A0 N3A2 N1A1 N3A3 N1A2 N3A4 N1A3 N4A0 N1A4 N4A1 N2A0 N4A2 N4A3 N4A4 0 100 100 10 30 30 30 30 30 30 30 30 100 87.13 0 87.13 30 0 100 0 0 0 0 0 2 0 3 0 3 0 3 0 3 0 3 0 3 0 3 0 3 0 3 0 3 0 3 0 100 0 0 0 0 Ulangan 03 100 3 03 03 03 03 03 100 3 100 3 03 03 03 0 0 0 0 0 0 04 03 03 100 3 03 03 03 03 03 100 3 03 03 0 0 0 0 100 100 total 0 100 12 012 100 12 012 012 012 100 12 100 12 200 96.13 096.13 012 0 200 0 0 25 25 Rata-Rata 0 25 3 03 25 3 03 03 03 25 3 25 3 50 24 024 03 0 50 0 Lampiran 4. Arc Sin % dari persentase tunas Universitas Sumatera Utara N2A1 N2A2 Perlakuan N2A3 N2A4 N3A0 N0A0 N3A1 N0A1 N3A2 N0A2 N3A3 N0A3 N3A4 N0A4 N4A0 N1A0 N4A1 N1A1 N4A2 N1A2 N4A3 N1A3 N4A4 N1A4 3 3 3 31 30 30 30 30 87.13 0 30 30 30 87.13 4 34 3 87.13 3 3 Ulangan 3 3 2 33 3 3 0 03 3 0 03 3 0 087.13 3 0 087.13 3 0 03 3 0 03 3 0 03 3 0 03 87.13 0 03 3 0 03 3 3 87.13 43 03 03 03 03 087.13 03 03 03 03 03 96.13 12 total 96.13 12 012 012 096.13 096.13 0180.26 012 012 012 4180.26 412 24 3 Rata-Rata 24 3 03 03 024 024 045.1 03 03 03 145.1 13 Lampiran 5. Jumlah tunas stek buni (Antidesma bunius L Spreng) Universitas Sumatera Utara N2A0 N2A1 Perlakuan N2A2 N2A3 N2A4 N0A0 N3A0 N0A1 N3A1 N0A2 N3A2 N0A3 N3A3 N0A4 N3A4 N1A0 N4A0 N1A1 N4A1 N1A2 N4A2 N1A3 N4A3 N1A4 N4A4 N2A0 0 0 0 01 00.71 00.71 00.71 00.71 00.71 20.71 00.71 00.71 02.12 62.12 00.71 Lampiran 6. Arc Sin 0 0 0 02 00.71 00.71 00.71 00.71 00.71 00.71 00.71 00.71 00.71 20.71 00.71 0 3 Ulangan 0 03 0 0.71 0 0.71 0 0.71 4 0.71 5 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0 0 2 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 4 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0 3 0 2 0 0 0 4 5 3 0 0 0 8 0 total 2.84 2.84 2.84 2.84 2.84 2.84 2.84 2.84 4.25 4.25 2.84 0 7.5 0 Rata-Rata 0.5 0 0.71 0 0.71 0 0.71 1 0.71 1.250.71 0.750.71 0 0.71 0 0.71 0 1.1 1.5 1.1 0 0.71 % dari Jumlah tunas Universitas Sumatera Utara N2A1 N2A2 N2A3 Perlakuan N2A4 N3A0 N0A0 N3A1 N0A1 N3A2 N0A2 N3A3 N0A3 N3A4 N0A4 N4A0 N1A0 N4A1 N1A1 N4A2 N1A2 N4A3 N1A3 N4A4 0.71 0.71 0.71 10.71 00.71 00.71 00.71 00.71 01.58 00.71 00.71 00.71 2.55 1.9 0.71 0.71 1.87 0.71 0.71 0.71 Ulangan 0.71 20.71 3 0.71 00.71 0 0.71 00.71 0 0.71 0.71 0 0 2.12 0.71 0 0 2.35 00.71 0 0.71 00.71 0 0.71 00.71 0 0.71 00.71 0 0.71 1.58 0 0 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 1.58 4 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 1.25 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0.71 4 2.84 2 total 2.84 0 2.84 0 2.84 0 4.25 0 4.48 0 4.25 0 2.84 0 2.84 0 2.84 1.95.55 2.84 1 0.71 0.5 Rata-Rata 0.71 0 0.71 0 0.71 0 1.1 0 1.12 0 1.1 0 0.71 0 0.71 0 0.71 1.39 0.475 0.71 Lampiran 7.Panjang tunas stek buni (Antidesma bunius L Spreng) Universitas Sumatera Utara N1A4 N2A0 N2A1 Perlakuan N2A2 N2A3 N0A0 N2A4 N0A1 N3A0 N0A2 N3A1 N0A3 N3A2 N0A4 N3A3 N1A0 N3A4 N1A1 N4A0 N1A2 N4A1 N1A3 N4A2 N1A4 N4A3 N2A0 N4A4 2.8 0 0 10 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 4.1 0.71 0 0.71 0 1.55 0 1.82 4.1 0.71 0 Lampiran 8. Arc Sin 0 0 0 0 2 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0.71 3.1 0.71 0 0 0 2.1 Ulangan 03 00.71 00.71 00.71 00.71 4.7 0.71 7.8 0.71 00.71 00.71 00.71 00.71 00.71 0 0 0 0 04 1.1 0.71 00.71 00.71 00.71 00.71 00.71 2.4 0.71 00.71 00.71 00.71 00.71 0 2.8 0 2.1 total 0 1.1 2.84 02.84 02.84 02.84 4.7 2.84 7.8 2.84 6.5 2.84 02.84 03.68 03.95 7.2 2.84 0 0.7 0 0.525 Rata-Rata 0 0.275 0.71 00.71 00.71 00.71 1.175 0.71 1.95 0.71 1.625 0.71 00.71 00.92 00.99 1.8 0.71 0 % dari Panjang tunas Universitas Sumatera Utara N2A1 N2A2 Perlakuan N2A3 N2A4 N3A0 N0A0 N3A1 N0A1 N3A2 N0A2 N3A3 N0A3 N3A4 N0A4 N4A0 N1A0 N4A1 N1A1 N4A2 N1A2 N4A3 N1A3 N4A4 N1A4 0.71 0.71 0.71 1 0.71 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 2.15 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 2.15 0 0.71 0 0.71 0.71 0.71 2 0.71 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 1.9 0 0.71 0 1.61 0.71 Ulangan 0.71 30.71 00.71 00.71 02.28 2.88 0 00.71 00.71 00.71 00.71 00.71 0.71 0 0.71 0.71 1.27 4 0.71 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 1.7 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 3.74 2.84 total 3.4 2.84 2.84 0 2.84 0 4.41 0 4.41 0 5.27 0 2.84 0 2.84 0 2.84 0 5.47 0 2.84 0 0.94 0.71 Rata-Rata 0.85 0.71 0.71 0 0.71 0 1.1 0 1.1 0 1.32 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 1.37 0 0.71 0 Lampiran 9. Persentase berakar stek buni (Antidesma bunius L Spreng) Universitas Sumatera Utara N2A0 N2A1 N2A2 Perlakuan N2A3 N2A4 N0A0 N3A0 N0A1 N3A1 N0A2 N3A2 N0A3 N3A3 N0A4 N3A4 N1A0 N4A0 N1A1 N4A1 N1A2 N4A2 N1A3 N4A3 N1A4 N4A4 0 0 0 10 30 30 30 30 30 3100 30 30 30 3100 0 0 0 0 0 2 0 3 0 3 0 3 0 3 0 3 0 3 0 3 0 3 0 3 100 3 0 0 100 0 Ulangan 03 03 03 03 100 3 100 3 03 03 03 03 03 0 0 0 0 4100 30 30 03 03 30 30 30 30 03 03 0 0 100 0total 100 012 012 012 100 12 100 12 100 12 012 012 012 200 12 0 0 25 0Rata-Rata 25 03 03 03 25 3 25 3 25 3 03 03 03 50 3 0 Lampiran 10. Arc Sin % dari Persentase berakar Universitas Sumatera Utara N2A0 N2A1 N2A2 Perlakuan N2A3 N2A4 N0A0 N3A0 N0A1 N3A1 N0A2 N3A2 N0A3 N3A3 N0A4 N3A4 N1A0 N4A0 N1A1 N4A1 N1A2 N4A2 N1A3 N4A3 N1A4 N4A4 3 3 3 31 30 30 30 30 30 87.13 0 30 30 30 87.13 0 3 3 3 3 87.13 3 3 Ulangan 3 2 33 3 0 03 3 0 03 3 0 03 3 0 087.13 3 0 087.13 3 0 03 3 0 03 3 0 03 3 0 03 87.13 0 03 3 3 3 3 3 487.13 03 03 03 03 03 03 03 03 03 03 3 12 96.13 12 total 96.13 012 012 012 096.13 096.13 096.13 012 012 012 0180.26 12 3 24 3 Rata-Rata 24 03 03 03 024 024 024 03 03 03 045.1 3 Lampiran 11. Panjang akar stek buni (Antidesma bunius L Spreng) Universitas Sumatera Utara N2A0 N2A1 N2A2 Perlakuan N2A3 N2A4 N0A0 N3A0 N0A1 N3A1 N0A2 N3A2 N0A3 N3A3 N0A4 N3A4 N1A0 N4A0 N1A1 N4A1 N1A2 N4A2 N1A3 N4A3 N1A4 N4A4 N2A0 0 0 0 10 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0.1 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 5.4 0.71 0 0.71 0 0.1 0 0 2 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0 0.71 0.2 0.71 0 0.71 0 0 0 Ulangan 03 00.71 00.71 00.71 0.1 0.71 0.9 0.71 00.71 00.71 00.71 00.71 00.71 00.71 0 0 0 0.2 4 00.71 00.71 00.71 00.71 00.71 00.71 00.71 00.71 00.71 00.71 00.71 0 0.1 0total 0.2 0 0 0 0.1 0 0.9 0 0.1 0 0 0 0 5.6 0 0 0 0.025 0Rata-Rata 0.05 00.71 00.71 00.71 0.025 0.71 0.225 0.71 0.025 0.71 00.71 00.71 00.71 1.4 0.71 00.71 Lampiran 12. Arc Sin % dari Panjang akar Universitas Sumatera Utara N2A1 N2A2 N2A3 N2A4 N3A0 N3A1 N3A2 N3A3 N3A4 N4A0 N4A1 N4A2 N4A3 N4A4 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.78 0.71 0.71 0.71 2.43 0.71 0.78 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.84 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.78 1.18 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.84 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 0.71 2.91 0 2.97 0 0 0 2.91 3.31 2.91 0 0 0 4.69 0 0.73 0.71 0.74 0.71 0.71 0.71 0.73 0.83 0.73 0.71 0.71 0.71 1.17 0.71 Universitas Sumatera Utara
Induksi Akar dan Tunas pada Stek Buni (Antidesma bunius L. Spreng)
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Tags
Antidesma Bunius L Spreng

Antidesma Buniusl Spreng

Induksi Tunas Mikro Tunas Kentang Solanum Tuberosum L Stek Batang

Tunas Apikal

Stek Kentang

Tunas Mikro

Kultur Tunas

Motor Induksi Perilaku Akar

Induksi Tegangan

Plectranthus Amboinicus Lour Spreng

Daun Tumbuhan Buni
Upload teratas

Induksi Akar dan Tunas pada Stek Buni (Antidesma bunius L. Spreng)

Gratis