Feedback

Perkembangan Kemandirian Anak Tunanetra di Sekolah Luar Biasa Bagian A (Studi Kasus di SLB-A Karya Murni Medan Johor)

Informasi dokumen
PERKEMBANGAN KEMANDIRIAN ANAK TUNANETRA DI SEKOLAH LUAR BIASA BAGIAN A (STUDI KASUS DI SLB-A YAYASAN KARYA MURNI MEDAN JOHOR) SKRIPSI Disusun Dan Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Mmemperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara Oleh Nama : BUTET AGUSNIAR MANURUNG Nim : 040902043 DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2008 1 Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial ABSTRAK BUTET AGUSNIAR MANURUNG 040902043 Perkembangan kemandirian anak tunanetra di Sekolah Luar Biasa Bagian A (Studi Kasus Di SLB-A Yayasan Karya Murni Medan Johor) Masalah yang di bahas dalam penelitian ini adalah bagaimana perkembangan kemandirian anak tunanetra di Sekolah Luar Biasa Bagian A Yayasan Karya Murni Medan Johor dalam kehidupannya sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana perkembangan kemandirian anak tunanetra di Sekolah Luar Biasa Bagian A Yayasan Karya Murni Medan Johor, baik itu dalam melakukan kegiatannya kehidupan seharihari, belajar serta keterampilan mereka yang dapat menunjang kemandirian dan kepribadian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif, yaitu untuk menggambarkan Perkembangan Kemandirian Anak Tunanetra Sekolah Luar Biasa Bagian A (SLB-A) Yayasan Karya Murni, Medan Johor. Adapun instrumen yang digunakan dalam mengungkap fakta dan data yang ada di Sekolah Luar Biasa Bagian A (SLB-A) ini adalah melalui observasi dan wawancara terbuka. Data yang di peroleh tersebut kemudian di analisa dengan menggunakan pendekatan kualitatif yaitu menggambarkan hasil penelitian atau fakta sebagaimana adanya. Hasil penelitian yang diperoleh adalah bahwa anak-anak tunanetra yang berada di Sekolah Luar Biasa Bagian A Yayasan Karya Murni Medan Johor tidak dapat di golongkan ke dalam anak yang tidak memiliki kemandirian karena anak yang berada di sana sudah dapat menjalankan akktifitas nya dengan sendiri nya dan keterampilan yang dimilikinya juga dapat mereka pergunakan untuk mencapai kemandirian, yaitu yang mereka peroleh dengan adanya proses pendidikan yang di berikan oleh Yayasan Karya Murni sebagai modal begi mereka untuk masa depan atau hari depan para penyandang tunanetra yang ada di Yayasan Karya Murni. Dan kegiatan yang dilakukan juga dapat mendukung mereka dalam mencapai suatu keahlian dan keterampilan mereka. Dan dari observasi yang dilakukan oleh peneliti bahwa anak tunanetra yang ada di SLB-A Yayasan Karya Murni sudah dapat di golongkan mandiri karena dari segi perkembangan kemandirian kognitif, motorik, ungkapan kreatif dan olah raga. Kata kunci : Perkembangan, Kemandirian, Anak Tunanetra 2 Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Segala puji, hormat dan syukur penulis panjatkan kehadirat tuhan yang maha esa dengan segenap hati, sebab karena kasihnya sehingga penulis dapat menyelaesaikan skripsi ini. Adapun judul dari skripsi ini adalah : “Perkembangan Kemandirian Anak Tunanetra di Sekolah Luar Biasa Bagian A (Studi Kasus di SLB-A Karya Murni Medan Johor)”. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan, karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang dapat membangun dari para pembaca demi penyempurnaan skripsi ini. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimah kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini, antara lain kepada : 1. Bapak Prof. DR. M. Arif Nasution, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. 2. Bapak Drs. Matias Siagian, selaku Ketua Depertemen Ilmu Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. 3. Bapak Drs. Sudirman, Msp, selaku dosen pembimbing yang membimbing penulis dalam penulisan skripsi ini sehingga mencapai hasil yang maksimal. 4. Suster Angelina selaku kepala Sekolah di Sekolah Luar Biasa Bagian A Yayasan Karya Murni Medan Johor, Guru-guru yang ada di SLB-A Yayasan Karya Murni Medan Johor 5. Teristimewa untuk orang tua yang kukasihi dan kucintai serta yang ku banggakan, yaitu Bapak P.Manurung dan Mama R.Simbolon, yang telah 3 Universitas Sumatera Utara mengasuh, membesarkan dan mendididik penulis dengan penuh kesabaran dan ketabahan dan yang juga banyak memberikan semangat moril dan kasih sayang, materi dan juga Doa kepada penulis sampai saat ini, sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan (perkuliahan) dan skrtipsi ini. 6. Secara khusus kepada kakak dan abang (K’Corry, K’susi,K’Maya,B’Roindo,K’Rama) dan buat abang ipar ku (B’lajur Ginting dan B’Nelwan Silalahi) dan buat semua keluarga yang mendukung dan mendoakan saya dalam perkuliahan dan penulisan skripsi ini sehingga dapat menyelesaikannya. 7. Sahabat-sahabat seperjuangan di Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial Stambuk’04 yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu terima kasih atas doa dan dukungan yang diberikan kepada saya. 8. Buat Seniorku yang ada di Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial yang tidak dapat saya saya sebutkan satu persatu 9. Buat Juniorku yang ada di Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial yang tidak dapat saya saya sebutkan satu persatu Stambuk’05 dan Stambuk’06 yang baik-baik dan cantik-cantik dan Stambuk’07 yang belum semua saya kenal 10. Buat Rekan-rekan Kampus yang senasib dan sepenanggungan yang dari awal samapai akhir kuliah (Elsa,Juni,Rini) dan buat teman saya yang sudah alumni Stambuk’04 (Via, Tere, Robi) yang selalu mendukung dan mendoakan saya dalam penulisan skripsi saya ini. 11. Terimah kasih Buat semua Pihak yang telah mendukung dan mendoakan saya dalam penulisan Skripsi ini yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Akhirnya penulis berharap semoga Skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. 4 Universitas Sumatera Utara Medan, Maret 2008 Penulis, BUTET AGUSNIAR MANURUNG 040902043 5 Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI ABSTRAK . i KATA PENGANTAR . ii DAFTAR ISI . v DAFTAR TABEL . viii DAFTAR GAMBAR . ix BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah. 1 B. Perumusan Masalah . 6 C. Tujuan dan Manfaat Penelitian . 6 D. Sistematika Penulisan . 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Anak . 8 B. Pengertian Tunanetra dan Faktor Penyebab 1 Pengertian Tunanetra . 7 2 Faktor Penyebab . 11 C. Perkembangan Anak Tunanetra 1 Perkembangan Kognitif Anak Tunanetra . 13 2 Perkembangan Motorik Anak Tunanetra . 15 3 Perkembangan Emosi Anak Tunanetra . 18 4 Perkembangan Sosial Anak Tunanetra . 19 5 Perkembangan Kepribadian Anak Tunanetra . 20 D. Orientasi dan Mobilitas Bagi Anak Tunanetra . 20 E. Kemandirian Anak Tunanetra . 21 6 Universitas Sumatera Utara F. Pendidikan Anak Tunanetra . 24 G. Defenisi Konsep. 26 BAB III METODE PENELITIAN A. Tipe Penelitian . 27 B. Lokasi Penelitian . 27 C. Sumber Penelitian . 27 D. Tehnik Pengumpulan Data. 28 E. Tehnik Analisa Data. 29 BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN A. Lokasi Penelitian . 30 B. Sejarah Singkat Berdirinya Yayasan Karya Murni . 30 C. Visi, Misi, dan Tujuan Pendidikan SLB-A Karya Murni 1 Visi Sekolah Luar Biasa –A Karya Murni . 32 2 Misi Sekolah Luar Biasa –A Karya Murni . 33 3 Tujuan Sekolah Luar Biasa –A Karya Murni . 33 D. Sumber Daya dan Dana Sekolah Luar Biasa –A Karya Murni . 34 E. Uraian Sekolah . 36 F. Sarana Tunanetra Sekolah Luar Biasa –A Karya Murni . 38 BAB V ANALISA DATA I. Perkembangan Kognitif . 50 II. Perkembangan Motorik . 52 III. Perkembangan Kreatif. 54 IV. Perkembangan Olah Raga . 56 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 7 Universitas Sumatera Utara A. KESIMPULAN . 72 B. SARAN . 74 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 8 Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Tabel 1. Data Guru/Pegawai SLB-A Karya Murni Tahun Pelajaran 2006/2007 . 35 2. Data anak SLB-A Karya Murni yang mendapat prestasi Tahun Pelajaran 2006/2007. 36 9 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR/FOTO Gambar/Foto 1. Anak melakukan pekerjaan sehari-hari. 47 2. Anak melakukan pekerjaan sehari-hari. 48 3. Koordinasi Badan yang Tidak Memiliki Arti . 53 4. Bermain di Panti Asuhan . 54 5. Ekspresi saat Senang . 55 6. Olah raga, Berenang . 57 7. Belajar Di Panti Asuhan . 61 8. Latihan Keterampilan Di Sekolah . 63 10 Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial ABSTRAK BUTET AGUSNIAR MANURUNG 040902043 Perkembangan kemandirian anak tunanetra di Sekolah Luar Biasa Bagian A (Studi Kasus Di SLB-A Yayasan Karya Murni Medan Johor) Masalah yang di bahas dalam penelitian ini adalah bagaimana perkembangan kemandirian anak tunanetra di Sekolah Luar Biasa Bagian A Yayasan Karya Murni Medan Johor dalam kehidupannya sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana perkembangan kemandirian anak tunanetra di Sekolah Luar Biasa Bagian A Yayasan Karya Murni Medan Johor, baik itu dalam melakukan kegiatannya kehidupan seharihari, belajar serta keterampilan mereka yang dapat menunjang kemandirian dan kepribadian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif, yaitu untuk menggambarkan Perkembangan Kemandirian Anak Tunanetra Sekolah Luar Biasa Bagian A (SLB-A) Yayasan Karya Murni, Medan Johor. Adapun instrumen yang digunakan dalam mengungkap fakta dan data yang ada di Sekolah Luar Biasa Bagian A (SLB-A) ini adalah melalui observasi dan wawancara terbuka. Data yang di peroleh tersebut kemudian di analisa dengan menggunakan pendekatan kualitatif yaitu menggambarkan hasil penelitian atau fakta sebagaimana adanya. Hasil penelitian yang diperoleh adalah bahwa anak-anak tunanetra yang berada di Sekolah Luar Biasa Bagian A Yayasan Karya Murni Medan Johor tidak dapat di golongkan ke dalam anak yang tidak memiliki kemandirian karena anak yang berada di sana sudah dapat menjalankan akktifitas nya dengan sendiri nya dan keterampilan yang dimilikinya juga dapat mereka pergunakan untuk mencapai kemandirian, yaitu yang mereka peroleh dengan adanya proses pendidikan yang di berikan oleh Yayasan Karya Murni sebagai modal begi mereka untuk masa depan atau hari depan para penyandang tunanetra yang ada di Yayasan Karya Murni. Dan kegiatan yang dilakukan juga dapat mendukung mereka dalam mencapai suatu keahlian dan keterampilan mereka. Dan dari observasi yang dilakukan oleh peneliti bahwa anak tunanetra yang ada di SLB-A Yayasan Karya Murni sudah dapat di golongkan mandiri karena dari segi perkembangan kemandirian kognitif, motorik, ungkapan kreatif dan olah raga. Kata kunci : Perkembangan, Kemandirian, Anak Tunanetra 2 Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Anak cacat adalah anak yang berkebutuhan khusus karena mereka adalah anak yang memiliki kekurangan. Anak cacat atau berkelainan juga memiliki klasifikasi. Di Indonesia pengklasifikasian anak itu sudah dibagi dengan jelas. Untuk anak yang tunanetra atau penyandang cacat mata di golongkan atau dikelompokkan kedalam bagian A atau dalam pendidikannya di golongkan kedalam Sekolah Luar Biasa Bagian A. Sekolah ini hanya di khususkan bagi penyandang cacat tunanetra saja baik itu yang total ataupun bagi yang low vision atau anak yang memiliki penglihatan yang kurang jelas. Sedangkan bagi anak yang berkebutuhan khusus yang lainnya akan dibagi ke dalam sekolah atau pengelompokan yang lain dan tidak disamakan. Banyak lembaga yang menampung anak-anak yang bermasalah sosial, khususnya anak yang mengalami gangguan penglihatan atau penyandang cacat tunanetra. Lembaga yang ada bukan hanya didirikan atau ditangani oleh pihak pemerintah tetapi banyak juga lembaga yang didirikan oleh pihak swasta. Lembaga-lembaga ini juga kebanyakan yang bersifat seri amal. Lembaga-lembaga ini juga bertujuan untuk membantu dan memberdayakan para tunanetra untuk hidup mandiri dan ikut serta berpartisipasi dalam segala kegiatan seperti anak-anak awas. Anak awas adalah anak yang normal yang tidak memiliki kekurangan (cacat netra). Lembaga-lembaga ini diharapkan mengajar dan memberikan pendidikan yang benar dan yang tepat sesuai dengan masalah yang dihadapi yaitu tunanetra, karena mereka adalah suatu individu yang tidak dapat mudah untuk mengenaldan 11 Universitas Sumatera Utara memahami keadaan karena kekurangan mereka tersebut. Lembaga ini juga merupakan kunci dan suatu subjek yang memahami apa saja yang diperlukan oleh para tunanetra yang ada dilembaga itu dan lembaga ini jugalah yang berkewajiban untuk dapat mengembangkan kemampuan mereka. Oleh sebab itulah lembaga sangat diperlukan keahliannya bagi anak-anak cacat netra tersebut yaitu untuk mengajarkan keberanian dan kedisiplinan yang dapat meningkatkan rasa percaya diri dan dapat menghilangkan sikap negatif masyrakat tentang ketunaan mereka serta dapat membawa mereka kepada pikiran atau sikap yang positif. Pelayanan yang ada pada suatu lembaga hendaknya dapat memberikan rasa atau rasa yang dapat menciptakan suasana sejahtera pada para tunanetra, karena mereka adalah individu yang bermasalah social sehingga dengan pelayanan yang diberikan dengan benar dan sesuai dengan apa yang mereka perlukan seperti halnya dapat memanfaatkan indera yang lainnya agar dapat di pakai dan tidak semua indera yang ada pada mereka tidak cacat dan mereka dapat menjalankan fungsi sosialnya dengan baik yang dapat mereka tunjukkan kepada masyarakat yang memiliki pikiran atau sikap negatif yang salah tentang tunanetra, sehingga mereka tidak hanya dianggap sebagai penyakit masyarakat saja melainkan sebagai masyarakat yang dapat berpartisipasi. Suatu lembaga yang menangani anak tunanetra juga diharapkan dapat melatih kemampuan indera yang lain yang dapat menutupi dari indera penglihatan yang tidak dapat dipakai, sehingga fungsi anggota yang lain dapat digunakan seperti halnya fungsi perabaan, fungsi penciuman, fungsi pendengaran, sehingga tidak semua fungsi anggota tubuhnya rusak 12 Universitas Sumatera Utara Adapun jumlah lembaga dan Sekolah Luar Biasa Bagian A yang menangani anak cacat netra tidak semuanya terdata, tetapi menurut data yang ada di Indonesia diperkirakan sebanyak 250 unit dan yang ada di Sumatera Utara sebanyak 94 unit (Subijanto,1991). Lembaga dan sekolah ini juga merupakan alat yang sangat diperlukan oleh pemerintah, keluarga dan masyarakat untuk dapat mengajarkan mereka lebih mandiri dan terampil serta dapat mewujudkan cita-citanya seperti halnya anak-anak awas lainnya. Jumlah penyandang cacat netra menurut data yang dikeluarkan oleh Depdiknas(Departemen Pendidikan Nasional) pada tahun 1986 mencapai 41.057 orang atau 16,16% tetapi menurut mereka setiap data yang dikeluarkan oleh pihak yang lain pasti selalu berubah-ubah dan berlainan. Sedangkan data pada tahun 1996 yang dikeluarkan oleh pihak departemen sosial mencapai 1.613.898 atau 28,94% dari jumlah penduduk dan jumlah ini akan selalu bertambah tiap tahunnya baik itu yang dicapai sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sebelumnya dan dapat memberikan manfaat yang nyata sesuai dengan kebutuhan. 2. Program pelatihan keterampilan adalah suatu program atau kumpulan proyekproyek yang berhubungan dengan keterampilan telah dirancang untuk mengembangkan keterampilan penyandang cacat tunanetra agar bisa lebih mandiri dengan keterampilan yang telah dimilikinya. 3. Penyandang cacat tunanetra adalah individu yang indra penglihatannya (keduaduanya) tidak berfungsi sebagai saluran penerimaan informasi dalam kegiatan sehari-hari seperti halnya orang awas. 4. Pelayanan Sosial disebut juga pelayanan kesejahteraan sosial mencakup program pertolongan dan perlindungan kepada golongan yang tidak beruntung seperti Universitas Sumatera Utara pelayanan sosial bagi anak terlantar, keluarga miskin, cacat, tuna sosial dan sebagainya. 2.9.2 Defenisi Operasional Defenisi operasional adalah proses operasionalisasi konsep yaitu upaya transformasi konsep ke dunia nyata sehingga konsep-konsep penelitian dapat diobservasi (Siagian, 2011:141). Dengan defenisi operasional dapat diketahui indikator-indikator apa saja yang akan diukur dan dianalisa dalam variabel yang ada. Untuk memudahkan dalam memahami variabel dalam penelitian ini, maka menurut Gomes (2003:209), program pelatihan bisa diukur melalui indikatorindikator sebagai berikut : 1. Reaksi (reaction) dari warga binaan tuna rungu wicara terhadap program pelatihan dari tingkat kepuasannya terhadap: a. Program pelatihan secara keseluruhan 1) Efektif, jika sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan keterampilan terpenuhi 2) Tidak efektif, jika sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan keterampilan tidak terpenuhi b. Pelatih/instruktur 1) Efektif, jika pelatih/instruktuf mampu menyampaikan materi pembelajaran dengan baik. 2) Tidak efektif, jika pelatih/instruktur tidak mampu menyampaikan materi pembelajaran dengan baik 2. Belajar (Learning) adalah untuk mengetahui seberapa jauh warga binaan tunanetra menguasai konsep-konsep dan keterampilanketerampilan yang diberikan selama pelatihan. Universitas Sumatera Utara a. Penerimaan dan pemahaman pembelajaran 1) Efektif, jika pembelajaran yang diberikan kepada setiap warga binaan merata. 2) Tidak efektif, jika pembelajaran yang diberikan kepada setiap warga binaan tidak merata. b. Peningkatan SDM yang diterima peserta dari pelaksanaan program keterampilan 1) Efektif, jika keahlian warga binaan bertambah setelah mengikuti kegiatan. 2) Tidak efektif, jika keahlian warga binaan tidak bertambah setelah mengikuti kegiatan. 3. Perilaku (Behavior) dari warga binaan, sebelum dan sesudah pelatihan, dapat dibandingkan guna mengetahui tingkat pengaruh pelatihan terhadap perubahan perilaku mereka. a. Perubahan perilaku warga binaan 1) Efektif, jika terjadi perubahan perilaku warga binaan sebelum dan sesudah pelatihan diberikan. 2) Tidak efektif, jika tidak terjadi perubahan perilaku warga sebelum dan sesudah pelatihan diberikan. b. perubahan perilaku sosial dan kemandirian 1) Efektif, jika terjadi perubahan berinteraksi dan kemendirian warga binaan sebelum dan sesudah pelatihan. 2) Tidak efektif, jika terjadi perubahan perilaku warga binaan sebelum dan sesudah pelatihan diberikan. 4. Dampak Organisasi (Organizational results) adalah untuk menguji dampak pelatihan terhadap organisasi secara keseluruhan. Data bisa dikumpulkan sebelum dan sesudah pelatihan atas dasar kriteria: a. Pemanfaatan Keterampilan Universitas Sumatera Utara 1. Efektif, jika keterampilan yang diajarkan dapat menjadi manfaat dan modal dalam bekerja. 2. Tidak efektif, jika keterampilan yang diajarkan tidak bermanfaat dan tidak dapat menjadi modal dalam bekerja. b. Waktu pelaksanaan program 1) Efektif, jika pelaksanaan program ini dapat meningkatkan keahlian serta keterampilan selama kurun waktu yang telah ditentukan. 2) Tidak efektif, jika pelaksanaan program ini tidak dapat meningkatkan keahlian dan keterampilan selama kurun waktu yang telah ditentukan c. Kepuasan warga binaan 1) Efektif, jika warga binaan merasa puas terhadap program pelatihan keterampilan yang telah diberikan. 2) Tidak efektif, jika warga binaan tidak merasa puas terhadap program pelatihan keterampilan yang telah diberikan. d. percaya diri/ mandiri 1) Efektif, jika warga binaan sudah merasa percaya diri/ mandiri dengan program pelatihan yang sudah diberikan 2) Tidak efektif, jika warga binaan belum percaya diri/ mandiri dengan program pelatihan yang diberikan. Universitas Sumatera Utara BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian Adapun tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif yaitu suatu bentuk penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala, atau kelompok tertentu, atau untuk menentukan frekuensi atau penyebaran suatu gejala atau frekuensi adanya hubungan tertentu antara suatu gejala lain dalam masyarakat (Silalahi, 2009:27). Melalui penelitian ini, penulis ingin membuat gambaran tentang bagaimana pelayanan melalui program keterampilan yang diberikan di Sekolah Luar Biasa/A (SLB/A) Karya Murni Medan Johor dengan melakukan pengamatan terhadap gejala, peristiwa, kondisi dan fasilitas yang tersedia pada saat sekarang. 3.2 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan Di Sekolah Luar Biasa/ (SLB/A ) Karya Murni Medan Johor, yang berada di jalan Karya Wisata No. 6 Medan Johor, Kotamadya Medan. Alasan memilih lokasi ini adalah karena SLB/A Karya Murni Medan Johor merupakan suatu lembaga pendidikan Formal bagi penyandang cacat tunanetra. Sebagai lembaga pendidikan formal, tentunya mempunyai peran yang penting dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tunanetra sebagai manusia yang memiliki kekurangan sehingga mampu bersaing dengan masyarakat awas dan mencapai taraf hidup yang lebih baik. Universitas Sumatera Utara 3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi Secara sederhana populasi dapat diartikan sekumpulan objek, benda, peristiwa, atau individu yang akan dikaji dalam suatu penelitian. Berdasarkan pengertian ini dapat dipahami bahwa mengenal populasi termasuk langkah awal dan penting dalam proses penelitian (Siagian, 2011: 155). Adapun yang menjadi populasi penelitian ini adalah seluruh warga binaan sosial yang terlibat dalam program pelatihan bagi penyandang cacat tunetra yakni berjumlah 22 orang. 3.3.2 Sampel Sampel adalah bagian dari obyek, kejadian atau individu yang terpilih dari populasi yang akan diambil datanya atau yang akan diteliti, dengan demikian dapat dikemukakan bahwa sampel adalah bagian yang bersifat representatif dari populasi yang diambil datanya secara langsung. Hal ini berarti bahwa sampel bukan sekedar bagian dari populasi, melainkan bagian yang benar-benar mewakili populasi (Siagian, 2011: 156). Adapun jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 15 yang diperoleh menggunakan teknik penarikan sampel bertujuan (purposive sampling). . Purposive sampling artinya penetapan sampel mempertimbangkan kriteria-kriteria tertentu yang telah dibuat terhadap objek yang sesuai dengan tujuan dalam penelitian ini. Adapun beberapa kriteria dalam teknik penarikan sampel adalah siswa-siswi yang duduk mulai kelas V-IX yang sudah mempelajari teori-teori dasar dan praktek dari program keterampilan yang diikuti. Selain itu, siswa-siswi yang duduk di kelas V-IX sudah mampu memberikan pendapat yang baik tentang program keterampilan yang diikuti. Universitas Sumatera Utara 3.4 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini sebagai berikut: a. Data Primer Data primer adalah data yang diambil dari sumber data primer atau sumber data pertama di lapangan. Data primer diperoleh dengan metode sebagai berikut: 1. Metode wawancara, yaitu proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden, dengan atau tanpa menggunakan pedoman wawancara 2. Metode kuesioner atau angket, yaitu kegiatan mengumpul data dengan cara menyebar daftar pertanyaan untuk dijawab responden sehingga peneliti memperoleh data dan informasi yang diperlukan dalam penelitian (Siagian, 2011: 206-207) b. Data Sekunder, yang diperoleh melalui: 1. Studi kepustakaan yaitu teknik pengumpulan data atau informasi yang menyangkut masalah yang diteliti dengan mempelajari dan menelaah buku, majalah, surat kabar, serta tulisan yang ada kaitannya terhadap masalah yang diteliti 2. Studi lapangan yaitu pengumpulan data atau informasi melalui kegiatan penelitian langsung turun ke lokasi penelitian untuk mencari fakta-fakta yang berkaitan dengan masalah yang diteliti Universitas Sumatera Utara 3.5 Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data deskriptif dengan pendekatan kuantitatif yaitu dengan menjabarkan hasil penelitian, untuk menganalisis data-data yang diperoleh dari hasil penelitian dengan mentabulasi data yang didapat masalah kesehatan kepada anak. Tidak menjadikan anak sebagai bahan untuk kekerasa. Seperti memukul mereka karena dapat membuat perubahan yang tidak baik bagi tumbuh kembang seorang anak. Kelak anak akan dapat mengerti aka pubertas terebut, mereka akan terbiasa dan mandiri. Kepada guru, agar mereka selalu berada dalam pengawasan guru dalam lingkungan sekolah tidak pada saat belajar saja melainkan pada saat di luar kelas. Bimbingan guru juga bermanfaat bagi murid dalam masa puber. Pengarahan-pengarahan mengenai nilai-nilai yang dapat mengarah kepada hal-hal positif agar tindakan yang dilakukan seorang anak dapat menentukan siapa dirinya sebenarnya. Sekolah juga seharusnya memberikan pelayanan kesehatan kepada anak-anak setiap bulannya atau pun sekali tiga bulan agar anak dapat juga mengetahui pertumbuhan dan kesehatan yang baik itu bagaimana. Universitas Sumatera Utara anak tunanetra kelas V ketika dia sedang mensturasi hal yang dilakukannya adalah mengamuk dan mau meledak-ledak sendiri dengan cara begitu kepuasan mereka akan terlampiaskan dan mereka akan merasa puas. Terkadang mereka juga mau berguling-guling di bawah tempat tidur dan mau juga sampai tertidut di bawah tempat tidur tersebut Anak tunanetra tidak jauh-jauh dari orang tua dan guru, mereka selalu berada dalam satu lingkungan yaitu keluarga dan sekolah. Orang tua dan guru adalah pembimbing paling utama bagi mereka, bahkan penerapan mengenai masa-masa remaja dan sebab musabab dari perubahan perkembangan fisik tersebut. Banyak kendala yang di hadapi oleh orang tua dan guru dalam membimbing dan mengasuh anak yang memiliki kebutuhan. Terutama pada saat mereka sedang merasakan hal yang lain dalam dirinya mereka tidak mau bercerita pada orang tua atau pun orang terdekat mereka. hal ini membuat guru dan orang tua susah untuk mengerti keadaan seperti ini. khayalan-khalayan mereka tentang sesuatu apalagi tentang menyangkut pubertas. Mereka memiliki khayalan di luar batas pemikiran kita. Seorang anak mengatakan bahwa dirinya tidak sabar lagi untuk menikah di akhir semester, di sini komunikasi antara guru dan pengasuh kurang dekat karena tidak dapat menjelakan bagai mana prosesnya itu terjadi. Kurangnya komunikasi dapat membuat seorang anak semakin berfikir kalau dia tidak di sukai lagi. Bahkan seorang anak merasa kurang percaya diri, dari hal tersebut orang tua dan guru dapat memberikan motivasi yang bisa membangun diri anak tunanetra agar mereka tidak berlebihan dalam membayangkan sesuatu saat masa puber. 5.2 Saran Agar anak-anak tunanetra dapat bertumbuh dan berkembang selayak anak remaja lain, maka mereka harus memiliki kepribadian yang baik. Ada beberapa saran yang diberikan penulis, antara lain: untuk orang tua harus dapat memberikan bimbingan khusus kepada Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Ahmadi, Abu & Widodo Supriyono 2008 Psikologi belajar. Jakarta : PT Rineka Cipta. Cassirer, Ernst 1990 Manusia dan Kebudayaan : Sebuah esensi tentang manusia. Jakarta : PT Gramedia. Dananjaya, James 1994 Antropologi Psikologi: Teori, Metode, dan Sejarah Perkembanganny. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada Dariyo, Agoes 2004 Psikologi Perkembangan Remaja. Bogor Selatan : Penerbit Ghalia Indonesia Dewi, Heriana Eka 2012 Memahami Perkembangan Fisik Remaja. Yogyakarta : Gosyen Publising. Hidayat, Drs. Asep AS, M. Pd dan Ate Suandi, M. Pd 2013 Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Tunanetra. Jakarta : PT. Luxima Metro Media. Hurlock, Elisabeth B 2002 Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta : Penerbit Erlangga. L Zulkifli, Drs 2005 psikologi perkembangan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Koswara, E 1991 Teori-Teori Kepribadian. Bandung : PT Eresco-anggota IKAPI. Langgulung, hasan 1986 Teori-Teori kesehatan Mental. Jakarta : Pustaka Al Husna. Moleong, J.L 1997 Metodelogi penelitian kualitatif. Bandung : PT Remaja Rosda Karya. O.Sunngu, Silvia Yetti Putri Universitas Sumatera Utara 2010 Proses Pendidikan Pada Anak Cacat (Studi Kasus Pada Anak Cacat SLB C YPAC, Medan). Skripsi sarjana, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik Universitas Sumatera Utara. Medan. Pandji, Dwi dan Winda Wardhani 2013 Sudahkah Kita Ramah Anak Special Needs?. Jakarta: PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia. Pradopo, dkk 1977 Pendidikan Anak-Anak Tunanetra. Jakarta: Dapertemen pendidikan dan kebudayaan. Saifuddin, Achmad Fedyani 2005 Antropologi Kontenporer: Suatu Paradigma Kritis Mengenai Paradigma. Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Sarwono, Sarlito. W. 1997 Psikologi Remaja. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada. Sihotang, Marsono W. M 2010 Makna Sekolah Bagi Tunanetra. Skripsi sarjana. Fakultas Ilmu social dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Medan. Soekanto, Soerjono. 1992 Sosiologi keluarga “Tentang ihkwal Keluarga, Remaja, dan Anak”. Jakarta : PT Rineka Cipta Sumber Internet http://salimchoiri.blog.uns.ac.id/2010/03/31/latar-belakang-pendidikan-inklusif-bagi-anakberkebutuhan-khusus/html(13 januari 2013, pukul 09:34) http://edukasi.kompasiana.com/2012/05/20/perkembangan-pendidikan-anak-berkebutuhankhusus-di-indonesia-463559.html(13 januari 2013, pukul 10:54) http://artikelkesehatananak.com/mempersiapkan-perkembangan-emosi-anak-memasukimasa-pubertas.html(akses 22 maret 2013) Universitas Sumatera Utara http://kreatifcemerlang.weebly.com/psikolojugi.html (23 maret 2013,pukul 19:13) http://chelbryden.wordpress.com/ (23 maret 2013, pukul 20:02) http://Didi Tarsidi Counseling and Blindness -- 3 MEMAHAMI PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN TUNANETRA MELALUI TEORI KEPRIBADIAN SOCIAL LEARNING DARI BANDURA.htm (2 april 2013, pukul12;4) http://asmianfawziah.blogspot.com/2013/04/perkembangan-perilaku-remaja-padamasa_12.hml (20juni2013.pukul 14:24)   Universitas Sumatera Utara FOTO‐FOTO                      Universitas Sumatera Utara         Universitas Sumatera Utara         Universitas Sumatera Utara Interview guide No Karakteristik pertanyaan Interview guide 1 Bagaimana anak merespon pubrtas? 1. Pengertian puber itu apa? 2. Bagaimana kalian merasakan hal itu? 3. Ada rasa terkejut pertama kali merasakan hal itu? 4. Adakah sifat dan sikap kalian berubah pada saat memasuki masa puber? 5. Dari siapa saja kalian mengetahui hal-hal itu 6. Pernah tidak kalian cerita kepada guru/pengasuh atau orang tua kalau kalian sedang mengalami hal tersebut? 7. Merasa senang atau tidak memasuki usia remaja? 2 Peran orang tua dan guru dalam Orang tua menghadapi anak pubertas 1. Bagaimana kelakuan anak jika pada saat pertama kali memasuki masa pubertas? 2. Perilaku apa yang paling kelihatan ketika anak ibu/bapak saat mens atau jimak pertama? 3. Dapatkah anak menerima tentang masa remaja/ pubertas tersebut? 4. Apakah sejak kecil sudah diajarkan tentang masa puber? Guru 1. Menurut anda apa pubertas? 2. Bagaimana anda mengajarkan itu kepada anak didik? 3. Apakah anak didik anda tertarik dengan pelajaran mengenai masa pubertas? 4. Apakah perilaku anak sedang puber kelihatan di sekolah? 5. Apa saja kelakuan-kelakuan di dalam dan di luar kelas? 6. Seberapa sering guru menjelaskan tentang hal itu kepada anak-anak? 3 Kendala Anak 1. Penegrtian puber? Universitas Sumatera Utara 2. Kendala apa yang kamu alami saat memasuki masa pubertas? 3. Apa yang kamu lakukana saat pubertas terjadi dalam diri kamu 4. Adakah perubahan yang terjadi pada dirimu? 5. Apakah kamu sudah paham dengan pubertas? Orang tua 1. Apa kendala yang dihadapi saat anak memasuki masa puber? 2. Apakah kendala-kendala itu bisa ditangani sendiri? 3. Apa yang anda lakukan untuk anak jika mengalami masalah dalam masa pubertas? Guru 1. Bagaimana sikap anak yang sedang mengalami masa pubertas? 2. Adakah kendala yang terjadi pada proses belajar mengajar? 3. Apa tindakan sekolah terhadap anak yang mengalami masa pubertas? 4. Apa kendala itu dapat diatasi oleh pihak sekolah? 5. Apa yang dilakukan, jika mengalami masalah pubertas pada 6. saat proses belajar mengajar?                       Universitas Sumatera Utara DAFTAR NAMA INFORMAN Nama Pekerjaan Usia : Leoni Silaen : Kepala Sekolah : 26 Tahun Nama Pekerjaan Usia : Pristina Saragih : Tata Usaha : 24 Tahun Nama Pekerjaan Usia : Linus : Guru : 43 tahun Nama Pekerjaan Usia : Kenneria Lubis : Guru : 45 Tahun Nama Pekerjaan Usia : Rose : Guru : 25 Tahun Nama Pekerjaan Usia : Sinta : Ibu Rumah Tangga : 36 Tahun Universitas Sumatera Utara Nama Pekerjaan Usia : Ibu rayhan : ibu Rumah tangga : 29 Tahun Nama Pekerjaan Usia : Ida : Pelajar : 12 Tahun Nama Pekerjaan Usia : Tya : Pelajar : 12 tahun Nama Pekerjaan Usia : Rudi : pelajar : 12 Tahun Nama Pekerjaan Usia : Henita : Pelajar : 19 Tahun Nama Pekerjaan Usia : Fransiskus : Pelajar : 20 Tahun Nama : Aisyah Universitas Sumatera Utara
Perkembangan Kemandirian Anak Tunanetra di Sekolah Luar Biasa Bagian A (Studi Kasus di SLB-A Karya Murni Medan Johor)
Aktifitas terbaru
Penulis
Dokumen yang terkait
Upload teratas

Perkembangan Kemandirian Anak Tunanetra di Sekolah Luar Biasa Bagian A (Studi Kasus di SLB-A Karya Murni Medan Johor)

Gratis