Pembentukan akhlak anak melalui kesehatan mental keluarga perspektif al-qur'an

Gratis

0
12
73
3 years ago
Preview
Full text

  PEMBENTUKAN AKHLAK ANAK MELALUI KESEHATAN MENTAL KELUARGA PERSPEKTIF AL- QUR’AN

  Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Ushluddin

  Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Theologi Islam (S.Th.I)

  Oleh :

  FAIZAH AULIA NURDIN 107034001783 PROGRAM STUDI TAFSIR-HADIS FAKULTAS USHULUDDIN UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1433 H / 2011 M

  PEMBENTUKAN AKHLAK ANAK MELALUI KESEHATAN MENTAL KELUARGA PERSPEKTIF AL- QUR’AN

  Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Ushluddin

  Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Theologi Islam (S.Th.I)

  Oleh :

FAIZAH AULIA NURDIN 107034001783

  Pembimbing :

  Dr.H.M. Suryadinata, MA NIP. 19600908 198903 1 005 PROGRAM STUDI TAFSIR-HADIS FAKULTAS USHULUDDIN UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1433 H / 2011 M

  

PENGESAHAN PANITIA UJIAN

  Skripsi yang berjudul Pembentukan Akhlak Anak Melalui Kesehatan

  Mental Keluarga Perspektif al- Qur’an, telah diujikan dalam sidang

  munaqasyah Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada hari Senin tanggal 19 Desember 2011. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Theologi Islam (S.Th.I) pada jurusan Tafsir Hadis.

  Jakarta, 19 Desember 2011

  

Sidang Munaqasyah

  Ketua Merangkap Anggota Sekretaris Merangkap Anggota Dr. M. Suryadinata, MA Dr. Lilik Ummi Kalsum, MA

  NIP. 19600908 198903 1 005 NIP. 19711003 199903 2 001

  

Anggota

  Penguji I Penguji II Dr. Faizah Ali Syibromalisi, MA Drs. A. Rifqi Muchtar, MA

  NIP. 19550725 200012 2 001 NIP. 19690822 199703 1 002

  

Pembimbing

  Dr.H.M. Suryadinata, MA NIP. 19600908 198903 1 005

  

ABSTRAK

  Skripsi ini menyimpulkan bahwa gangguan tingkah laku pada anak terjadi karena orang tua tidak memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak, tidak adanya komunikasi yang hangat antara orang tua dan anak, pola asuh orang tua yang tidak benar, dan tidak adanya keteladanan orang tua.

  Skripsi ini membahasa tentang faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya gangguan tingkah laku pada anak sebagi acuan untuk memberi masukan bagi orangtua dalam upaya mengatasi dan memberikan pembinaan mental terhadap anak yang mengalami gangguan tingkah laku. Skripsi ini juga mengungkap makna prilaku menyimpang yang mengalami conduct disorder.

  Skripsi ini juga menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi timbulnya gangguan tingkah laku pada anak adalah karena kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tua dan anak,pola asuh yang tidak benar,dan tidak adanya keteladanan orang tua. Dan di kaitkan dengan teori psikologi sehingga didapat makna dari kesehatan mental keluarga dalam pembentukan karakter pada anak.

KATA PENGANTAR

  Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam yang Maha Pengasih dan Maha penyayang. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas Nabi Muhammad SAW, serta seluruh keluarga dan sahabat.

  Penulisan skripsi ini yang berjudul : “Kesehatan Mental Keluarga Dalam Pembentukan Karakter Anak ( Kajian Tafsir Tematik Dalam Tafsir al-

  Qur’an al- Azim)”, dimaksudkan untuk melengkapi dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan untuk menenpuh ujian program Strata 1 ( S1) Jurusan Tafsir Hadis Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

  Sehubungan dengan hal tersebut, penulis menyadari bahwa penyelesaian skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan dorongan berbagai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada mereka yang tersebut dibawah ini: 1.

  Bapak Prof. Dr Zainun Kamaluddin Fakih, MA, Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

  2. Bapak Dr. Bustamin, MA Ketua Jurusan Tafsir Hadis 3.

  Ibu Dr. Lilik Ummi Kaltsum MA Sekretaris Jurusan Tafsir Hadis.

  4. Bapak Dr. H.M.Suryadinata , MA, adalah pembimbing skripsi saya ini yang telah banyak memberikan kritik dan saran yang sangat berharga untuk menyempurnakan skripsi ini.

  5. Pimpinan dan segenap karyawati Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

6. Kedua orang tua penulis Papa Drs.H.M.Alamsyah David Nurdin, Ibu

  Dra. Nurliana yang selalu memberi dorongan ,semangat dukungan yang tidak terhingga dan iringan doa yang begitu tulus, ikhlas sehingga selesainya studi ( S1) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

  7. Suami penulis, Ade Surya A.Md yang dengan tulus ikhlas memberi kepercayaan, dorongan dan semangat, dengan semangat tanpa kenal lelah turut bersama-sama mendampingi dan memberi sugesti pada penulis dalam proses merampungkan skripsi ini sampai selesai.

  8. Tambahan gelora semangat juga penulis rasakan dari kesabaran anak penulis yang selama kuliah dan proses skripsi sering penulis tinggalkan kepada anak penulis yang tercinta : Zufair Qisthi Kannabi ( 4 tahun), semoga kesabarannya ditinggalkan selama masa kuliah memberi arti yang terdalam nantinya, amin.

  9. Dan untuk kembaran penulis Fauzan Aulia Nurdin yang telah memberi semangat

  10. Teristimewa untuk uni Rahmi Meldayati dan ni rika delfa yona hanya dengan ketulusan dan kelapangan hatinyalah segala perjuangan ini terasa indah dan membuat penulis merasa mudah untuk melaluinya.

  11. Untuk adik-adik penulis khususnya Rina Andriani,Resti Gustiana tarimo kasih samangaik, dukungan dorongan nyooo, untuk tetap memberi masukan ketika uni putus asa, semoga Allah membalas kebaikan adiak- adiak amin.

  12. Untuk semua anak–anak TH yang memberiku semangat khususnya Muhammad Indra Purnama, Nidaul Islam, Muhammad Hanif.

  13. Untuk Elok Net Tiada kata yang dapat penulis sampaikan . Penulis serahkan semuanya kepada Allah SWT membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda. Amin.

  Jakarta , 14 Desember 2011 Penulis .

  

DAFTAR ISI

ABSTRAK ......................................................................................................... i

KATA PENGANTAR ....................................................................................... ii

DAFTAR ISI ...................................................................................................... v

PEDOMAN TRANSLITERASI ...................................................................... vii

  BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ........................................................ 1 B. Pembatasan dan perumusan Masalah .................................... 8 C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ............................................. 8 D. Kajian Pustaka ....................................................................... 9 E. Metodologi Penelitian Dan Teknik Penulisan ...................... 11 F. Sistematika Penulisan ........................................................... 13 BAB II KELUARGA, KESEHATAN MENTAL DAN AKHLAK A. Keluarga ................................................................................ 14 1. Pengertian Keluarga ........................................................ 14 2. Fungsi- fungsi keluarga ................................................. 16 3. Keluarga dan lingkungan ................................................ 20 B. Kesehatan Mental .................................................................. 26 1. Pengertian Mental dan Pengertian al-Nafs ..................... 27 2. Jenis-jenis mental ........................................................... 39 3. Kaitan mental terhadap akhlak anak ............................... 41

  C.

  Akhlak ................................................................................... 43 1.

  Pengertian akhlak ............................................................ 43 2. Pengaruh pendidikan akhlak terhadap anak .................... 44 3. Peran orang tua terhadap pembentukan akhlak anak ...... 46

  BAB III ANALISIS TERHADAP AYAT-AYAT AKHLAK A. Pendapat Para Mufassirin Terhadap Ayat-Ayat Akhlak ....... 48 B. Peranan kesehatan mental dalam pembentukan akhlak

  anak Perspektif al- Qur’an ..................................................... 49 C.

  Analisis penulis tentang ayat-ayat yang berhubungan dengan kesehatan mental dan pembentukan akhlak anak perspektif al-

  Qur’an .............................................................. 55

  BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan ........................................................................... 58 B. Saran ...................................................................................... 59

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 60

PEDOMAN TRANSLITERASI 1.

   Konsonan Hurua Arab Huruf Latin Huruf Arab Huruf Latin

  Tidak

  ا

  ţ dilambangkan ś

  ť

  ث

  h ΄ kh

  ġ h ż

  ذ ة

  Sy ş d

2. Vokal Tanda dan Tanda Huruf Latin Huruf Latin Huruf

  a ai

  ْـ

  i au

  ْـ

  u 3.

   Mâdd (panjang) Harakt dan Huruf Huruf dan Tanda

  â

  ا

  î

  ـ

  û

  ْـ

4. Daftar Singkatan

  Swt : Subhâ nahu wa ta’ala Saw : Sallallâ hu „alaihi wa sallam Qs

  : Qur’ân Surat

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Allah memerintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada

  kedua orang tuanya sebagai wujud rasa syukur atas pengorbanan keduanya dalam memelihara dan mengasuh si anak sejak dalam kandungan. Demikian pula pengorbanan ketika menyusui si anak selama dua tahun, terutama sang ibu. Karena itu, sekalipun kedua orangtuanya kafir, seorang anak tetap harus berbuat baik kepada keduanya. Hanya saja, seorang anak tidak boleh menaati keduanya dalam hal-hal yang melanggar perintah Allah, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Allah.

  Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik, mengasuh dan membimbing anak-anaknya dalam keluarga untuk mencapai tahapan tertentu yang menghantarkan anak untuk siap dalam kehidupan bermasyarakat. Perhatian Islam yang sangat serius terhadap masalah tersebut dapat dilihat dari banyaknya ayat dan hadis yang mengatur hidup kekeluargaan. Dari sekian banyak ayat ahkam yang mengatur masalah mu

  ’âmalah hampir sepertiga ayat ahkam tersebut mengatur ketentuan tentang masalah-masalah keluarga.

  Perhatian Islam yang sangat besar terhadap masalah keluarga karena mengingat begitu besarnya tanggung jawab keluarga dalam hal ini orang tua terhadap pembentukan akhlak anak. Pendidikan keluarga merupakan landasan pendidikan moral anak selanjutnya. Kenyataannya dewasa ini menggambarkan tidak banyak orang tua yang sadar akan pentingnya pendidikan moral dan etika pada keluarga untuk membentuk pribadi yang berkualitas. Menurut Pade Pidarta orang tua terkadang lebih mementingkan dan mencurahkan perhatiannya pada aspek pertumbuhan jasmani dan pemenuhan kebutuhan materil anak saja, tanpa memperhatikan perkembangan

  1

  jiwa anak . Hal ini dapat dilihat dalam kenyataan sosial bahwa semakin banyak anak-anak yang sehat dan cerdas tapi masih banyak juga yang nakal dan membuat kerusakan bahkan dirusak oleh orang tua mereka dengan kekerasan.contoh kasusnya

  Tahun baru belum lama berselang, 2006 baru menginjak tanggal pertengahan. Tapi masyarakat Indonesia lagi-lagi mesti mengurut dada. Belum habis cerita tentang bencana alam, publik dihadapkan pada empat kasus kekerasan pada anak yang terjadi beruntun. Empat anak, dua diantaranya masih balita menambah panjang daftar anak yang menjadi korban kekerasan fisik, psikis hingga seksual di negeri ini.

  Tragisnya kisah mereka bukan cuma karena dua nyawa korban melayang. Namun sang algojo yang ternyata orang tua serta orang terdekat mereka. Lintang, 3,3 tahun harus meregang nyawa setelah sembilan hari berjuang dengan rasa nyeri dan pedih di sekujur tubuhnya. Yeni, ibu kandungnya yang mengaku kesal karena tekanan ekonomi keluarga serta kebiasaan suaminya yang kerap mabuk-mabukan menyiramkan minyak tanah pada tubuh kedua anak kandungnya. Nasib baik masih berpihak pada adik Lintang, Indah, 12 bulan yang berhasil melewati masa kritis. Kini Indah bersiap pulang ke rumah. Namun, ia tak akan dapat bertemu Yeni maupun 1 Made Pidarta, Landasan kependidikan,Stimulus Pendidikan Bercorak Indonesia, cet 1,

  (Jakarta : Rineka Cipta), h. 178

  Buyung ayahnya. Buyung turut diseret ke muka hukum karena dianggap lalai sehingga peristiwa mengenaskan itu terjadi.( 16/06 ) "Inilah yang terjadi ketika kompleksnya masalah ekonomi hingga sosial berakumulasi. Anak, sebagai anggota keluarga terlemah menjadi korban. Jika pemicunya, yaitu masalah berat dan kompleks yang dihadapi bangsa ini tak segera diperbaiki, bukannya tak mungkin berita-berita seperti ini akan menjadi santapan kita sehari-hari," ujar Ketua Komnas Perlindungan

2 Anak Seto Mulyadi.

  Penanaman nilai-nilai agama berupa penanaman keimanan, ibadah, dan akhlak sejak dini kepada anak merupakan faktor yang sangat penting dalam upaya mengatasi kepribadian yang negatif pada keluarganya. Begitu pula halnya dalam perhatian dan kasih sayang orang tua. Semua anak membutuhkan perhatian dan kasih sayang orang tuannya. Anak akan tumbuh dengan baik jika orang tuanya memberikan perhatian yang positif dan anak

  3 akan tumbuh dengan tidak baik jika sering mendapatkan perhatian negatif .

  Kebanyakan orang tua baru mulai memberikan perhatian kepada anaknya jika anak melakukan kesalahan, hal inilah yang memberi pengaruh negatif terhadap pembentukan pribadi seorang anak. Anak menyimpulkan bahwa orang tua baru mulai memberikan perhatian kepadanya ketika mereka melakukan kesalahan atau perbuatan buruk. Perhatian yang diberikan orang tua pada saat anak melakukan kesalahan dan kenakalan merupakan perhatian 2

   =1196:4-kasus-kekerasan-terhadap-anak-anak&catid=160:info&Itemid=200 3 Kevin Steede, 10 Kesalahan Orang Tua Dalam Mendidik Anak, (Jakarta: Tangga Pustaka, 2007), h. 23.

  yang negatif. Perhatian yang negatif akan memberikan pengaruh negatif

  4 terhadap kepribadian seseorang (anak).

  Kasih sayang orang tua bukan semata-mata berupa materi dengan menyediakan fasilitas sekolah dengan segala aktivitas belajar, namun

  5 terpenting bagi anak kasih sayang yang tulus dari orang tuanya .

  Demikian pula halnya dengan komunikasi yang hangat dalam keluarga. Komunikasi memiliki arti yang sangat penting dalam keluarga.

  Orang tua hendaknya menciptakan komunikasi yang hangat terhadap anak, komunikasi yang hangat antara orang tua dan anak sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan anak, baik perkembangan kepribadian, emosional maupun moral anak. Terciptanya komunikasi yang hangat antara orang tua dan anak sangat tergantung pada pola hubungan antara orang tua dan anak atau pada pola asuh orang tua.

  Istilah “kesehatan mental” diambil dari konsep mental hygiene. Kata mental diambil dari bahasa Yunani, pengertiannya sama dengan psyche dalam bahasa Latin yang artinya psikis, jiwa atau kejiwaan. Jadi istilah mental

  hygiene dimaknakan sebagai kesehatan mental atau jiwa yang dinamis bukan

  statis karena menunjukkan adanya usaha peningkatan. (Notosoedirjo & Latipun, 2001: 21).

  Zakiah Daradjat (1985:10-14) mendefinisikan kesehatan mental dengan beberapa pengertian: 4 Sal Severe, Bagaimana Bersikap Kepada Anak Agar Bersikap Baik, (Jakarta :

  Gramedia, 2001), h.208 5 Perhatian negative akan mengajarkan kepada anak bagaimana merajuk, merengek dan

merengek, perhatian negative juga mengajarkan anak menjadi murah marah dan putus asa. Lihat

Sal Severe, Bagaimana Bersikap Kepada Anak Agar Bersikap Baik, h. 209

  1. Terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa (neurose) dan dari gejala-gejala penyakit jiwa (psychose).

  2. Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan di mana ia hidup.

  3. Pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin, sehingga membawa kepada kebahagiaan diri dan orang lain; serta terhindar dari gangguan-gangguan dan penyakit jiwa.

  4. Terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem biasa yang terjadi, dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya.

  Dengan berpijak pada pengertian di atas, kesehatan mental merupakan kemampuan diri-individu dalam mengelola terwujudnya keserasian antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri baik dengan dirinya sendiri, orang lain, maupun lingkungan sekitarnya secara dinamis dan mempunyai citra diri yang positif menjadi pribadi yang unggul dalam mencapai tujuan hidup yang bermakna.

  Seorang anak terlahir di atas fitrah dan yang bisa mewarnainya adalah orang tuanya,adapun bunyi hadis itu adalah: Artinya:

  Adam telah membawakan hadis kepada kita,ibnu Abi Dzi’bin telah membawakan hadis kepada kita al-zuhri,dari Abi salamah ibni Abdi al Rahman,dari abi Hurairah berkata rasulullah SAW bersabda:setiap anak yang dilahirkan itu dalam keadaan fitrah maka orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi ,majusi dan nasrani.(H.R.al-Bukhari)

  Dari kandungan hadis diatas bisa dipahami bahwa anak itu lahir dalam

  6 keadaan fitrah dan bisa dibentuk oleh orang tuanya dan lingkungannya.

  Maka sesuatu yang sedikit saja akan berpengaruh padanya. Dan wanita muslimah adalah orang yang bersegera menanamkan agama yang mudah ini, serta menanamkan kecintaan terhadap agama ini kepada anak-anaknya. Karakter didefinisikan secara berbeda-beda oleh berbagai pihak. Sebagian menyebutkan akhlak sebagai penilaian subyektif terhadap kualitas moral dan mental, sementara yang lainnya menyebutkan akhlak sebagai penilaian subyektif terhadap kualitas mental saja, sehingga upaya merubah atau membentuk akhlak hanya berkaitan dengan stimulasi terhadap intelektual seseorang mendefinisikan akhlak sebagai suatu penilaian subyektif terhadap kepribadian seseorang yang berkaitan dengan atribut kepribadian yang dapat atau tidak dapat diterima oleh masyarakat. akhlak , seperti juga kualitas diri yang lainnya, tidak berkembang dengan sendirinya.

  Menurut kamus bahasa Indonesia, karakter adalah suatu kualitas yang dimiliki oleh seseorang yang membedakan dirinya dengan orang lain, dan juga bisa diartikan dengan kualitas moral atau mental seseorang yang menunjukkan

  7

  identitasnya . jadi bisa disimpulkan bahwa karakter anak adalah suatu moral 6 Al-

  Imam Nawawi, Sahahih Muslim, jilid 4, terjemahan dari shohih muslim oleh ma’mur daud(klang Selangor Malaysia; Klang Book Centre,1997), cet 5,h.243 7 di-indonesia-masih-menonnjol- atau mental yang dimiliki anak yang dapat membedakannya dengan orang lain. Dan di sana juga dituntut peran seorang ibu yang sangat penting bagi pertumbuhan karakter anak itu sendiri, Mendidik anak dengan baik merupakan salah satu sifat seorang ibu muslimah. Dia senantiasa mendidik anak-anaknya dengan akhlak yang baik, yaitu akhlak Muhammad dan para sahabatnya yang mulia. Mendidik anak bukanlah (sekedar) kemurahan hati seorang ibu kepada anak-anaknya, akan tetapi merupakan kewajiban dan fitrah yang diberikan Allah kepada seorang ibu. Mendidik anak pun tidak terbatas dalam satu perkara saja tanpa perkara lainnya, seperti (misalnya) mencucikan pakaiannya atau membersihkan badannya saja. Bahkan mendidik anak itu mencakup perkara yang luas, mengingat anak merupakan generasi penerus yang akan menggantikan kita yang diharapkan menjadi generasi tangguh yang akan memenuhi bumi ini dengan kekuatan, hikmah, ilmu, kemuliaan dan kejayaan.

  Memandang permasalahan mengenai pentingnya memerhatikan kesehatan mental keluarga dalam pembentukan akhlak seorang anak dan belum mendapat perhatian,maka penulis bermaksud membahas mengenai hal itu dari sudut pandang penafsiran al-

  Qur’ân, penulis sadar akan kekurangan untuk dapat memahami dengan tepat, oleh karena itu untuk mempermudah pemahaman, penulis mengambil judul tentang pembentukan akhlak anak melalui kesehatan mental keluarga perspektif al-

  Qur’an dengan membahas beberapa ayat-ayat al- Qur’ân yaitu Q.S Ali Imran ayat 164, Q.S As-Syams ayat 6-10, Yunus 57, Q.S Luqman ayat 12-19.

  B. Pembatasan dan perumusan Masalah

  Agar pembahasan skripsi ini dapat terarah dan memiliki fokus dalam pembahasannya maka penulis merasa perlu memberikan batasan masalah yang merupakan upaya menentukan aspek-aspek tertentu dari masalah yang akan diteliti. Mengingat pembahasan mengenai kesehatan mental keluarga dalam pembentukan akhlak anak dalam perspektif al- qur’an, maka penulis membatasi pada pembahasan mengenai kesehatan jiwa keluarga yang di dalamnya membahas beberapa ayat-ayat al-

  Qur’ân yaitu QS Ali Imran ayat 164,QS As-Syams ayat 6-10,QS Yunus ayat 57,QS Luqman ayat 12-19. dan hal-hal yang berkaitan dengan keluarga dan kesehatan mental dan akhlak.

  Berdasarkan pembatasan masalah sebagaimana penulis paparkan di atas, maka penulis merumuskan masalah dalam bentuk pertanyaan, “bagaimana ulama mufassirin memandang keluarga , kesehatan mental dan akhlak .

  C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

  Adapun tujuan penelitian ini adalah: 1. Mengetahui bagaimana sebenarnya konsep pendidikan akhlak atau mental

  keluarga terhadap anak dalam perspektif al- Qur’an dalam memandang

  keterkaitan kesehatan mental dalam pembentukan kara kter anak?”

  2. Menggali berbagai petunjuk yang ditawarkan dalam al-Qur’ân dan ilmu psikologi umum tentang kaitan kesehatan mental dan pembentukan akhlak anak.

  Sejalan dengan tujuan penelitian yang di kemukakan di atas, hasil penelitian ini diharapkan akan berguna, terutama secara praktis bagi para akademisi dan masyarakat dalam menangani masalah tentang pembentukan akhlak anak dengan melihat hubungannya dengan kesehatan mental keluarga.

D. Kajian Pustaka

  Untuk menghindari terjadinya kesamaan pada skripsi ini dengan skripsi yang lain, penulis terlebih dahulu menelusuri kajian-kajian yang pernah dilakukan atau memiliki kesamaan. Selanjutnya hasil penelusuran ini akan menjadi acuan bagi penulis untuk tidak mengangkat objek pembahasan yang sama sehingga diharapkan kajian yang penulis lakukan tidak terkesan plagiat dari kajian yang telah ada.

  Setelah penulis melakukan penelusuran, ternyata tidak begitu banyak pembahasan yang membahas permasalahan ini. Tetapi penulis menemukan beberapa karya ilmiah yang terkait dengan pembahasan yang penulis garap, yang bisa membantu penulis jadikan sebagai sumber sekunder dalam penulisan skripsi ini, yaitu ; 1.

  Faidah Umami jurusan tafsir hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2010 dalam skripsinya yang berjudul

  Isyarat-isyarat psikologi Al- Qur’ân tentang pembentukan karakter anak (analisis penafsiran Sya’rawi dengan pendekatan tematik) dalam skripsi

  ini dijelaskan mengenai bagaimana membentuk karakter anak dengan menggunakan beberapa metode, yaitu : metode teladan, metode nasehat, dan metode balasan. Penjelasan tersebut berkaitan dengan penafsiran Sya’rawi dengan pendekatan tematik pada surat al-Baqarah/2 :44, al- „An’am/6 : 90, al-Ahzab/33 : 21 dan al-Shaf/37 : 2-3.

  2. Een Hendrawati jurusan tafsir hadis pada fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2009 dalam skripsinya yang berjudul Peran orang tua terhadap pendidikan anak dalam perspektif Al-

  Qur’an. Dalam skripsi ini dijelaskan bagaimana peran orang tua terhadap

  perkembangan anak dalam arti lain pendidikan akhlak bagi seorang anak bagi ibu-bapaknya, khususnya yang berkaitan dengan penafsiran Hamka pada surat Luqman/31 ayat:12-19.

  3. Jonh W.Santrock dalam bukunya Perkembangan Anak, buku ini adalah terjemahan dari buku karangan Child Development, dalam buku ini dijelaskan tentang hakikat perkembangan anak yang meliputi : proses biologis, perkembangan fisik, perkembangan konseptual serta perkembangan bahasa,dalam buku ini terdapat pendapat-pendapat para ahli perkembangan anak dengan konsep-konsepnya.

  4. Mugi Hasan jurusan tafsir hadis pada fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2008 dalam skripsinya yang berjudul Karakter manusia dalam al-

  Qur’ân : studi analisis pemikiran Sayyid Quthub dalam tafsir Fi Zilal Al- Qur’ân, secara umum skripsi ini

  membahas mengenai konsep manusia dan bermacam-macam karakteristik manusia menurut Sayyid Quthub.

  Ada perbedaan yang mendasar dalam penelitian dan penulisan skripsi yang dilakukan oleh penulis yang telah dilakukan oleh skripsi di atas.Yakni dalam penulisan skripsi ini, penulis membahas tentang bagaimana kesehatan mental keluarga sangat berperan penting dalam pembentukan akhlak anak dengan membagi kesehatan mental itu atas dua bagian, yaitu : Mental Hygine dan Mental Disorder. Selain itu, penulis juga membahas tentang pemikiran penafsir klasik dan modern tentang kesehatan mental dengan sumber ayat-ayat al-

  Qur’ân yang berhubungan dengan jiwa, pendidikan dan akhlak.

E. Metodologi Penelitian Dan Teknik Penulisan 1. Metode Pengumpulan Data

  Penulisan skripsi ini menggunakan penelitian kepustakaan ( library

  research) yaitu mengumpulkan data-data dari berbagai literatur, terdiri

  dari buku-buku, kitab tafsir dan hadis, dengan menelaah artikel-artikel yang mendukung dan memiliki relevansi dengan masalah yang penulis bahas dan penelitian lapangan (Field Research), ini ditempuh dengan teknik pengumpulan data: a.

  Observasi, yang dimaksud dengan observasi adalah pengamatan dan pencatatan tentang fenomena-fenomena yang diselidiki. Fenomena- fenomena yang diselidiki ini akan dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan keadaan lapangan.

  b.

  Dokumentasi, mengamati dan menyelidiki dokumen-dokumen untuk memperoleh data mengenai permasalahan ini. c.

  Angket, yaitu alat penelitian berupa daftar pertanyaan yang sudah

  8 dipersiapkan sebelumnya , untuk memperoleh keterangan responden.

  Karena penulisan ini merupak an perspektif Al Qur’a ân dan Hadis, maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan metode tafsir yaitu metode tematik (

  maudhu’i) dan pengumpulan hadis-

  hadis yang berkaitan dengan tema ini. Adapun langkah-langkah yang digunakan dalam tafsir m

  audhu’i adalah sebagai berikut; a.

  Menentukan topik bahasan b. Menghimpun dan menetapkan ayat-ayat yang membahas persoalan tersebut; c.

  Menyusun bahasan dalam suatu kerangka; d. Mempelajari semua ayat yang terpilih 2.

   Metode Pembahasan

  Sebuah karya ilmiah pada suatu bidang ilmu dalam setiap pembahasan pasti menggunakan metode tertentu dalam menganalisa permasalahan-permasalahan yang sedang digeluti. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah deskriftif analitik, yaitu penulis menggambarkan permasalahan dengan didasari data-data yang ada lalu dianalisa untuk ditemukan kesimpulan

3. Teknik Penulisan

  Untuk penulisan skripsi ini secara umum penulis berpedoman pada buku petunjuk 8 “ pedoman penulisan skripsi, Tesis dan Disertasi “ yang diterbitkan oleh Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2006, sedangkan untuk sistematikanya mengacu pada

  “Pedoman akademik „ Fakultas Ushuluddin dan Filsafat. Sedangkan untuk kutipan

  Al- Qur’ân dan terjemahannya mengacu kepada Qur’ân in Word Ver 1.2.

F. Sistematika Penulisan

  Untuk memudahkan dalam pembahasan ,penulis menulisnya dalam beberapa bab: Bab pertama mengenai pendahuluan yang dimaksud untuk memperjelas latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kajian pustaka, metode penelitian dan sistematika penulisan agar penelitian ini memiliki kerangka yang jelas.

  Bab kedua akan membahas tentang definisi-definisi, definisi keluarga, kesehatan mental keluarga, akhlak, kepribadian dan lain-lain, karena akan memberikan kemudahan bagi penulis untuk mendapatkan kesimpulan.

  Bab ke tiga membahas tentang pendapat para mufassir terhadap ayat- ayat akhlak. peranan kesehatan mental dalam pembentukan karakter anak, pendapat para mufassir terhadap pembentukan akhlak, analisis penulis tentang kesehatan mental dan pembentukan akhlak anak.

  Bab keempat membahas penutup , terdiri atas kesimpulan dan saran- saran, dalam kesimpulan penulis menjawab permasalahan yang berkaitan dengan topik pembahasan, sedangkan untuk saran, ada beberapa hal yang harus penulis sampaikan: yaitu penulis berharap agar penelitian ini benar- benar bisa bermanfaat dalam usaha mendidik mental anak.

BAB II KELUARGA, KESEHATAN MENTAL DAN AKHLAK A. Keluarga 1. Pengertian Keluarga Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia di sebutkan “Keluarga”:ibu

  bapak dengan anak-anaknya, satuan kekerabatan yang sangat mendasar di

  1

  masyarakat . Keluarga merupakan sebuah institusi terkecil dalam masyarakat yang berfungsi sebagai wahana untuk mewujudkan kehidupan yang tentram, aman, damai, dan sejahtera dalam suasana cinta dan kasih sayang di antara anggotanya. Suatu ikatan hidup yang didasarkan karena terjadinya perkawinan , juga bisa disebabkan karena persusuan atau muncul perilaku pengasuhan.

  Dalam al- Qur’ân dijumpai beberapa kata yang mengarah kepada

  “keluarga”. Ahlul bait Keluarga adalah potensi menciptakan cinta dan kasih sayang. Menurut Abu Zahra bahwa institusi keluarga mencakup suami, istri, anak-anak dan keturunan mereka, kakek, nenek, saudara- saudara kandung dan anak-anak mereka, mencakup pula saudara kakek,

  2

  nenek, paman, bibi, serta anak mereka(sepupu) Menurut psikologi, keluarga bisa diartikan sebagai dua orang yang berjanji hidup bersama yang memiliki komitmen atas dasar cinta, 1 menjalankan tugas dan fungsi yang saling terkait karena sebuah ikatan

  Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kwdua, (Jakarta: Balai Pustaka,1996), hal. 471. 2 Muhammad Abu Zahra, Tanzib al islam li al Mujtama’, Alih bahasa Shadiq Nor batin, atau hubungan perkawinan yang kemudian melahirkan ikatan sedarah, terdapat pula nilai kesepahaman, watak, kepribadian, yang satu sama lain saling mempengaruhi walaupun terdapat keragaman, menganut ketentuan norma, adat, nilai yang diyakini dalam membatasi keluarga dan yang bukan keluarga.

  Keluarga merupakan unit terkecil dalam struktur masyarakat yang dibangun di atas perkawinan/pernikahan terdiri dari ayah/suami, ibu/istri dan anak. pernikahan, sebagai salah satu proses pembentukan suatu keluarga, merupakan perjanjian sakral (mitsâqun ghalidha) antara suami dan istri .perjanjian sakral ini, merupakan prinsip universal yang terdapat dalam semua tradisi keagamaan. Dengan ini pula pernikahan dapat menuju terbentuknya rumah tangga yang sakinah.

  Pandangan masyarakat tentang keluarga bahwa keluarga merupakan lambang kehormatan bagi seseorang karena telah memiliki pasangan yang sah dan hidup wajar sebagaimana umumnya dilalukan oleh masyarakat, kendati pun sesungguhnya menikah merupakan pilihan bukan sebuah kewajiban yang berlaku umum untuk semua individu.

  Keluarga dalam konteks masyarakat Timur, dipandang sebagai lembang kemandirian, karena awalnya seseorang masih memiliki ketergantungan pada orang tua maupun keluarga besarnya, maka perkawinan sebagai pintu masuknya keluarga baru menjadi awal memulainya tanggung jawab baru dalam babak kehidupan baru. Di sinilah seseorang menjadi berubah status, dari bujangan menjadi berpasangan, menjadi suami, istri, ayah, ibu dari anak-anaknya dan seterusnya. Keluarga merupakan lembaga sosial yang paling dasar untuk mencetak kualitas manusia. Sampai saat ini masih menjadi keyakinan dan harapan bersama bahwa keluarga senantiasa dapat diandalkan sebagai lembaga ketahanan moral, akhlak al-karîmah dalam konteks bermasyarakat, bahkan baik buruknya generasi suatu bangsa, ditentukan pula oleh pembentukan pribadi dalam keluarga. Disinilah keluarga memiliki peranan yang strategis untuk memenuhi harapan tersebut.

2. Fungsi- fungsi keluarga

  Secara sosiologis, Djudju Sudjana (1990)

  3

  mengemukakan tujuh macam fungsi keluarga yaitu: a.

  Fungsi biologis, perkawinan dilakukan antara lain bertujuan agar memperoleh keturunan, dapat memperoleh keturunan, dapat memelihara kehormatan serta martabat manusia sebagai makhluk yang berakal dan beradab. fungsi biologis inilah yang membedakan perkawinan manusia dengan binatang, sebab fungsi ini diatur dalam suatu norma perkawinan yang diakui bersama.

  b.

  Fungsi edukatif, keluarga merupakan tempat pendidikan bagi semua anggotanya dimana orang tua memiliki peran yang cukup penting untuk membawa anak menuju kedewasaan jasmani dan ruhani dalam dimensi kognisi, efektif maupun skill, dengan tujuan untuk mengembangkan aspek mental spiritual, moral, intelektual, dan propesioanal. Fungsi edukatif ini merupakan penjagaan hak dasar manusia dalam memelihara dan 3 Bandingkan: Djudju Sudraja, dalam Jalauddin Rahmat, (ed), Keluarga Muslim Dalam mengembangkan potensi akalnya. Pendidikan keluarga sekarang ini pada umumnya telah mengikuti pola keluarga demokratis yang tidak dapat dipilah-pilah siapa belajar kepada siapa. Peningkatan pendidikan generasi penerus berdampak pada pergeseran relasi dan peran-peran anggota keluarga. Karena itu bisa terjadi suami belajar kepada istri ,bapak atau ibu belajar kepada anaknya. namun teladan baik dan tugas-tugas pendidikan dalam keluarga tetap menjadi tanggung jawab kedua orang tua. dalam hadis ditegaskan: “setiap anak lahir dalam keadaan suci,orang tuanyalah yang

  menjadikannya yahudi, nasrani, ataupun majusi

  ”(HR.Ahmad, Thabrani,

  4 dan Baihaqi) .

  c.

  Fungsi religious, keluarga merupakan tempat penanaman nilai moral agama melalui pemahaman, penyadaran dan praktek dalam kehidupan sehari hari sehingga tercipta iklim keagamaan di dalammya. Dalam QS Luqman: 13 mengisahkan peran orang tua dalam keluarga menanamkan aqidah kepada anaknya sebagai mana dilakukan Luqman al

  • –Hakim terhadap anaknya.

                4  

  Muhammad bin Hiban Abu Htim at tamimy, Shahih Ibnu Hibban juz 1, (Beirut:

  Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

  Dengan demikian keluarga merupakan awal mula seseorang mengenal siapa dirinya dan siapa Tuhan nya. penanaman aqidah yang benar, pembiasaan ibadah dengan disiplin, dan pembentukan kepribadian sebagai seorang yang beriman sangat penting dalam mewarnai terwujudnya masyarakat religius.

  d.

  Fungsi protektif, di mana keluarga menjadi tempat yang aman dari gangguan internal maupun eksternal keluarga dan untuk menangkal segala perubahan negatif yang masuk didalamnya. gangguan internal dapat terjadi dalam kaitannya dengan keragaman kepribadian anggota keluarga, perbedaan pendapat dan kepentingannya, dapat menjadi pemicu lahirnya konflik bahkan juga kekerasan. Kekerasan dalam keluarga biasanya tidak mudah dikenali karena berada di wilayah privat, dan terdapat hambatan psikis dan sosial maupun norma budaya dan agama untuk diungkapkan secara publik. Adapun gangguan eksternal keluarga lebih mudah dikenali

  5 oleh masyarakat karena berada pada wilayah publik .

  e.

  Fungsi sosialisasi, adalah berkaitan dengan mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik, mampu memegang norma-norma kehidupan secara universal baik antar relasi dalam keluarga itu sendiri maupun dalam menyikapi masyarakat yang pluralistik lintas suku, bangsa, 5 budaya, bahasa maupun jenis kelaminnya. Fungsi sosialisasi ini di harapkan anggota keluarga dapat memosisikan diri sesuai dengan status struktur keluarga, misalnya, dalam konteks masyarakat Indonesia selalu memperhatikan bagaimana anggota keluarga satu memanggil dan menempatkan anggota keluarga lainnya agar posisi nasab tetap terjaga.

  f.

  Fungsi rekreatif, bahwa keluarga merupakan tempat yang dapat memberikan kesejukan dalam melepaskan lelah dari seluruh aktivitas masing-masing anggota keluarga. Fungsi rekreatif ini dapat mewujudkan suasana keluarga yang menyenangkan, saling menghargai, menghormati dan menghibur masing-masing anggota keluarga sehingga tercipta hubungan harmonis, damai, kasih sayang dan setiap anggota keluarga merasa “rumahku adalah surgaku”.

  g.

  Fungsi ekonomis, yaitu keluarga merupakan kesatuan ekonomis keluarga memiliki aktivitas mencari nafkah, pembinaan usaha, perencanaan anggaran, pengelolaan dan bagaimana memanfaatkan sumber-sumber penghasilan dengan baik, mendistribusikan secara adil dan proporsional, serta dapat mempertanggung jawabkan kekayaan dan harta bendanya secara sosial maupun moral.

  Ditinjau dari tujuh fungsi keluarga tersebut, maka jelaslah bahwa keluarga memiliki fungsi vital dalam pembentukan individu, oleh karena itu keseluruhan fungsi tersebut harus terus menerus dipelihara. jika salah satu dari fungsi-fungsi tersebut tidak berjalan, maka akan terjadi ketidak harmonisan dalam sistem keteraturan dalam keluarga.

3. Keluarga dan lingkungan

  Fitrah Islam itu adalah baik, maka kalau nanti anak menjadi buruk, itu karena pengaruh orang tuanya (lingkungannya) Ahli-ahli pendidikan pun sudah mengakui besarnya pengaruh lingkungan pada anak didik. Maka ditinjau dari segi ini, adanya penyakit rohani/mental pada seseorang disebabkan oleh pengaruh lingkungan yang buruk, sehingga seseorang itu mempunyai sifat dan sikap yang buruk, dan lingkungan yang dimaksud di sini adalah lingkungan manusia (pergaulan),

  6 bukan lingkungan alam.

  Lingkungan dunia modern ini adalah lingkungan yang memperturutkan nafsu dan lingkungan rohani yang tidak diberi makan. Karena itu tidaklah mengherankan kalau manusia modern mempunyai penyakit rohani/mental yang cukup parah, akibat berbagai macam krisis yang menimpa mereka.

  Keluarga merupakan kumpulan dari individu-individu yang satu sama lain terikat oleh sistem kekeluargaan. Suami isteri atau ayah dan ibu adalah pilar pertama keluarga dari sana berkembang sebuah keluarga besar. Adapun ciri hidup keluarga adalah adanya ikatan emosional yang alami , konstan dan sering mendalam dalam dinamika hubungan solidaritas ,yang dalam keadaan normal terdapat rasa saling ketergantungan, saling membutuhkan serta saling melindungi. Keluarga merupakan unit terkecil masyarakat, oleh karena itu dapat dikatakan bahwa di dalam suatu masyarakat pun ada sifat-sifat

  7 Kekeluargaan. 6 Achamad Mubarak, Psikologi keluarga, dari keluarga sakinah Hingga keluarga Bangsa, cetakan pertama, (Jakarta: Bina Rena Pariwara, 2005), hal. 2. 7 Achmad Mubarak, Psikologi Keluarga, Dari keluarga Sakinah Hingga Keluarga Keluarga dibangun dari individu-individu yang masing-masing memiliki keunikan psikologi, oleh karena itu berbeda dengan membangun rumah yang cukup dengan pendekatan teknis, sementara membangun keluarga diperlukan pendekatan psikologis. Merupakan suatu kekeliruan memperlakukan manusia sebagai benda mati yang bisa dipindah-pindah sesuka hati, atau seperti binatang yang bisa di giring sesuka pengembala .Manusia memiliki persepsi, memiliki cara berpikir dan cara yang merasa yang khas dan memiliki kehendak yang sesuai dengan kondisi obyektif jiwanya. Kehidupan keluarga sebenarnya lebih kompleks dibanding dunia pendidikan, tetapi pendidikan psikologis terhadap masalah-masalah keluarga masih sedikit sekali yang dilakukan secara profesional. Mungkin karena kehidupan rumah tangga merupakan fenomena universal maka para ahli lebih

  8 memilih membiarkan rumah tangga berjalan secara ilmiah profesional.

  Berkaitan dengan pembentukan karakter, terdapat tiga lingkaran lingkungan, yakni: keluarga, sekolah dan masyarakat. Meski ketiganya saling mempengaruhi, tetapi pendidikan keluarga paling dominan pengaruhnya. jika suatu rumah tangga berhasil membangun keluarga sakinah, maka peran sekolah dan masyarakat menjadi pelengkap. Jika tidak maka sekolah kurang efektif, dan lingkungan sosial akan sangat dominan dalam mewarnai keluarga. Pada masyarakat modern, pengaruh faktor lingkungan sangat kuat dan bisa menjadi ancaman terutama pengaruh budaya yang menyesatkan (misalnya pornografi) karena ia bukan saja berada di luar rumah, tetapi menyelusup 8 Achmad Mubarak, Psikologi Keluarga, Dari keluarga Sakinah Hingga Keluarga masuk ke dalam rumah, sehingga menimbulkan penyakit sosial tersendiri, yakni penyakit manusia manusia modern.

  Anak adalah amanah atau titipan Allah kepada orang tuanya orang tua, berkewajiban memelihara dan mendidiknya agar anak itu terpelihara dan berkembang potensinya hingga ia kelak menjadi manusia yang berkualitas sesuai dengan maksud penciptaannya Sesuatu yang dititipkan adalah sesuatu yang penjagaannya dipercayakan kepada orang yang dititipi hingga suatu saat sesuatu itu akan diambil oleh orang yang menitipkannya. Maksud menitipkan adalah agar sesuatu yang dititipkan itu tetap terjaga dan terlindungi keberadaannya. Tanggung jawab memelihara sesuatu yang dititipkan itulah

  9 yang disebut amanah.

  Ketika seorang anak pertama kali lahir ke dunia dan melihat apa yang ada di dalam rumah dan di sekelilingnya, tergambar dalam benaknya sosok awal dari sebuah gambaran kehidupan. Bagaimana awalnya dia harus bisa melangkah dalam hidupnya di dunia ini. jiwanya yang masih suci dan bersih akan menerima segala bentuk apa saja yang datang mempengaruhinya. maka tingkah laku anak akan dibentuk apa saja yang datang mempengaruhinya.

  Maka tingkah laku anak akan dibentuk oleh setiap pengaruh yang datang dalam dirinya. Menurut Al-Ghâzali, anak adalah amanah bagi orang tuanya, hatinya bersih, suci, polos. Kosong dari segala ukiran dan gambaran. Anak akan selalu menerima segala apa yang diukir padanya, dan akan cenderung terhadap apa saja yang mempengaruhinya. Maka apabila dia dibiasakan dan 9 Achmad Mubarak, Psikologi Keluarga, Dari keluarga Sakinah Hingga Keluarga diajarkan untuk melakukan kebaikan, niscaya tingkah laku terbentuk baik. Sehingga kedua orang tua akan mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat. Anak akan menjadi orang yang terdidik ,orang yang baik. Namun apabila si anak dibiasakan untuk melakukan kejahatan dan ditelantarkan bagaikan binatang liar, maka anak akan sengsara dan celaka. Dosanya akan ditanggung langsung oleh kedua orang tuanya sebagai pertanggung jawaban kepada

10 Allah.

  Dengan memahami betapa besar pengaruh lingkungan rumah bagi kehidupan anak, maka kedua orang tuanya memiliki kewajiban penuh dalam mempersiapkan anak dan melindunginya dari kehinaan serta mengarahkannya agar ruh agama dan kemuliaan tumbuh di dalam jiwanya. Orang tua (ayah dan ibu) adalah penanggung jawab pendidik anak. Oleh karena itu bila orang tua mengondisikan kehidupan anak di dalam persemaian yang buruk, maka mereka akan diminta pertanggung jawabannya dan akan di azab Allah disebabkan telah menjerumuskan pertama yang sangat berharga dan mulia ke dalam kesesatan yang nyata, juga akan di azab untuk kedua kalinya karena mereka telah menjerumuskan diri mereka sendiri ke dalam keburukan itu

  11 pula.

10 Lihat Muhammad Nur Abdul Hafizh,Mendidik anak Bersama Rasulullah ,Hafiz

  

Muhammad Nur Abdul, Mendidik anak bersama Rasulullah, cet. Ketiga (terjemahan), Bandung

Bayan, 1998. 11 Siti Mechati, Kesehatan Mental, (Yogyakarta: Yayasan penerbit fakultas psikologi

Universitas Gajah mada, 1982), h. 108. Hampir sejalan dengan pendapat Siti Meichhati,

Muhammad Mahmud Mahmud memandang keluarga sebagai kesatuan terkecil yang memiliki

tanggung jawab yang cukup besar dan signifikan dalam pembentukan kepribadian seorang anak

baik dari aspek agama, social, budaya. Selanjutnya lihat Muhammad Mahmud, ilm an-nafs al-

  Rasulullah Saw. menjadikan pendidikan anak sebagai tanggung jawab penuh orang tua. Ibnu „Umar berkata: aku telah mendengar Rasulullah Saw bersabda,yang artinya: “setiap diri kalian adalah pemimpin .dan ia akan diminta pertanggungan jawaban terhadap apa yang ia pimpin. Seseorang imam adalah pemimpin , ia akan dimintai pertanggung jawaban terhadap yang dipimpinnya (rakyatnya). Setiap laki-laki adalah pemimpin di dalam keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungan jawaban terhadap yang ia pimpin. Setiap perempuan adalah pimpinan dalam rumah suaminya dan ia akan dimintai pertanggungan jawaban pula dengan apa yang ia pimpin. Seorang pembantu adalah pimpinan di dalam harta majikannya dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas hartanya. Setiap dirimu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungan jawaban atas yang ia pimpin” (HR Muttafaqun alaih).

  Rasulullah Saw pun sampai mengatur ketentuan yang mendasar tentang besarnya pengaruh kedua orang tua dalam membentuk agama anaknya. Orangtuanyalah yang paling berpengaruh terhadap perkembangan

  12

  anak. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Abu Huraiarah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, yang artinya: “Tidak ada seorang pun dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah (suci). Kedua orangtuanyalah yang menjadikannya sebagai

  13

  ora ng Yahudi atau Nasrani, atau Majusi.”

  12 Fenomena umum dan mencuat yang mencerminkan umat muslim Indonesia berakhlak

terpuji dapat menjaga citra agama islam dan mendukung syiar dakwah agama Islam ( khususnya di

Indonesia). 13 Hajar al-Ashqalani, Fathul Baari, penjelasan kitab Shohih Bukhari, penerjemah

  Dalam ajaran Islam dinyatakan bahwa pendidikan merupakan hak anak dari orangtuanya. bukan sebagai hadiah atau pemberian dari orang tua kepada anak. Sebagaimana Rasulullah telah bersabda, yang artinya:’’ Sesungguhnya Allah telah menanamkan abraran (golongan yang berbuat baik)karena mereka telah berbuat baik kepada orangtua dan anak mereka. Sebagaimana kamu memiliki hak atas anakku, demikian pula anakmu memiliki hak atasmu.” (HR

  14 Bukhari dalam kitabnya Al-Adabul Mufrad).

  Menurut Zakiah Daradjat pertumbuhan kecerdasan anak sampai umur enam tahun masih terkait kepada alat indranya. Maka dapat dikatakan bahwa anak pada umur 0-6 tahun berpikir inderawi. artinya anak belum mampu memahami hal yang maknawi (abstrak). Oleh karena itu pendidikan iman dan akhlak anak, belum dapat menggunakan kata-kata (verbal), akan tetapi diperlukan contoh, teladan, pembiasaan dan latihan yang terlaksana di dalam keluarga sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. yang terjadi secara alamiah misalnya ibu bapak yang saleh, sering terlihat oleh anak, mereka sedang shalat, berdo’a dengan khusuk, dan bergaul dengan sopan santun yang dapat ditiru . dan si anak juga mendengar orang tuanya membaca al-

  Qur’ân. Berdo’a dan mengajak anaknya memohon kepada Allah. Di sana – sini dalam rumah, terdapat pigura yang terpajang di dinding, macam-macam perhiasan yang terdapat di dalam dan di luar rumah, di pekarangan, halaman rumah dan taman-taman yang sering tampak oleh anak, semuanya bernafaskan 14 Hajar al-Ashqalani, Fathul Baari, penjelasan kitab shohih bukhari, penerjemah

  

Amiruddin, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), cet .ke. 1, juz., 6, h. 432. (HR Bukhari dalam

kitabnya Al-Adabul Mufrad).

  Islam. .Adanya kecendrungan meniru dan unsur identifikasi di dalam jiwa si

  15 anak , akan membawa kepada meniru orang tuanya.

  Keluarga yang Harmonis adalah yang seluruh anggotanya merasa satu, adanya kerja sama dan saling pengertian antar anggota keluarga. Hubungan yang diliputi oleh kasih sayang, kerja sama yang saling pengertian, menunjang perkembangan rasa kasih sayang dalam diri anak-anaknya. Ringkasnya dalam perspektif islam , secara tegas dikatakan bahwa pendidikan akhlak anak adalah tanggung jawab orang tua(ayah dan ibu). Ini berarti orangtua akan diminta pertanggung jawabannya atas pendidikan akhlak anak yang menuntut adanya pendidikan yang menggunakan pendekatan psikologis (ilmu jiwa) dan berpedoman pada nilai-nilai Islam sehingga tujuan, harapan dan metode pendidikan mengarahkan terbentuknya akhlak mulia, Karakter baik, atau budi pekerti luhur.

B. Kesehatan Mental

  Teori kesehatan mental merupakan hal yang sangat penting artinya dalam kehidupan seseorang, pada dasarnya kesehatan mental merupakan kemampuan seseorang dalam melakukan penyesuaian diri,baik dengan dirinya sendiri,dan lingkungannya, sehingga ia mampu menghadapi kenyataan hidup dengan tenang, tentran dan bahagia, sebaliknya orang yang tidak mampu melakukan penyesuaian, baik dengan dirinya sendiri maupun dengan lingkungannya, dapat mengalami ganguan mental. 15

  Gangguan mental mulai dapat mumcul sejak individu berusia dini atau kanak-kanak . diantara ganguan mental yang terjadi pada anak adalah gangguan tingkah laku conduct disorder yang termasuk dalam kategori gangguan prilaku merusak ( disruptive beghavior disorder). Dibawah ini akan diuraikan tentang hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan mental dan gangguan tingkah laku baik dari pengertian psikologi maupun pengertian mental atau jiwa dalam perspektif al- Qur’an.

1. Pengertian Mental dan Pengertian al-Nafs

  Tristiadi Ardi mengemukakan beberapa pendapat tentang kesehatan mental sebagai berikut:

  

16

a.

  Karl Menniger mengemukakan kesehatan mental adalah kemampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan secara keefektifan dan kebahagian yang maksimum. Ia bukan hanya perasaan puas atau keluwesan dalam mematuhi aturan permainan dengan riang hati, kesehatn mental mencakup kemampuan menhan diri , kecerdasan , berprilaku dengan menenggang perasaan orang lain dan sikap hidup yang bahagia.

  b.

  Kesehatan Mental mnurut H.B. English adalah keadaan relative tetap, yaitu seseorang menunjukkan penyesuain diri atau mengalami alkulturasi diri dan relisasi diri . kesehatan mental merupakan keadaan positif bukan hanya sekedar absennya ganguan mental..

  16 c.

  W.W Boehm, Kesehatan mental adalah suatu keadaan dan taraf ketertiban social yang diterimaorang lain dan memberikan kepuasan bagi orang lain.

  d.

  Zakiah Daradjat mengemukakan beberapa defenisi kesehatan mental yaitu pertama, kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari gejala gangguan jiwa atau neorosis dan dari gejala-gejala penyakit jiwa, kedua kesehatan mental adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat serta

  17 lingkungan oranag dimana ia hidup.

  e.

  Kesehatan mental adalah pengetahuan dan perbuatan utuk memanfaatkan dan mengembangkan segala potensi , bakat dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin, sehingga membawa kebahagiaan diri dan orang lain serta terhindar dari gangguan dan

  18 penyakit jiwa.

  f.

  Kesehatan mental dimaknai juga dengan terwujudnya keharmonisan yang yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa dan mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang biasa terjadi 17 serta mersakan secara positif kebahagian dan kemampuan dirinya.

  Defenisi ini sangat luas dan umum jadi seseorang harus menerima kehidupannya secara

keseluruhan , untuk dapat menyesuaikan diri dengan diri sendiri, seseorang harus menerima

dirinya apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekuranganya, disamping itu seseorang juga bisa

saling mengenal , memahami dan menilai orang lain secara objektif. Dan bisa pula mengenal

kelebihan dan kekurangan ornag lain. Dari defenisi diatas dapat dipahami orang yang bermental

sehat adalah orang yang dapat menguasai segala factor dalam hidupnya, sehingga ia dapat

mengatasi kekalutan sebagai akibat tekanan perasaan dan hal-hal yang menimbulkan frustasi.

Lihat Zakiah Daradjat , Kesehatan mental , ( Jakarta : Gunung Agung , 2003), h. 10. 18 Hal ini berarti kalau semua potensi dapat berkembang dengan baik,maka orang tersebut

akan mengalami kebagiaan. Sebaliknya jika semua potensi tersebut tidak berkembang dengan

baik, maka dapat timbul konflik dalam timbul dalam dirinya dan orang lain.Lihat Zakiah Daradjat .

  Sedangkan Dalam bahasa arab term al-nâfs digunakan untuk banyak hal, seperti: roh, diri manusia, hakikat sesuatu, darah, saudara, kepunyaan, kegaiban, ukuran samakan kulit, jasad, kedekatan, zat, mata.

19 Kebesaran, dan perhatian. Ada yang menunjukkan arti totalitas manusia,

  ada yang menunjukkan pada apa saja yang terdapat dalam diri manusia yang menghasilkan tingkah laku, dan ada pula yang menunjukkan kepada diri tuhan. Dalam konteks pembicaraan tentang manusia, disamping untuk menyebut totalitas manusia, nâfs juga menunjuk pada sisi dalam manusia yang mempengaruhi perbuatannya, berpotensi baik atau buruk.

  Didalam al- Qur’ân, kata nâfs yang digunakan dalam berbagai bentuk dan aneka makna, dijumpai sebanyak 297 kali, masing-masing

  20

  dalam bentuk mufrad (singular) sebanyak 140 kali, sedangkan dalam bentuk jamâ

   terdapat dua versi, yaitu nufus sebanyak 2kali, dan anfus

  21

  22

  sebanyak 153 kali, dalam bentuk fi’il ada dua kali.

  Penggunaan nâfs untuk menyebut totalitas manusia dapat dijumpai dalam ayat berikut:

                                      19       20 Ibn Manzhur, Lisanul A'rab, jil, VI, h. 4500-4501 Dalam hitungan Ahmad Mubarak sebanayk 142 kali, terdiri atas 77 tanpa idhafah dan

  

65 dalam bentuk idhafah. Lihat Ahmad Mubarak, Jiwa dalam al-Qur'an, (Jakarta: Paramadina,

2000), h. 42 21 22 I Ahmad Mubarak, Jiwa dalam al-Qur'an, (Jakarta: Paramadina, 2000), h. 43

  “oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain[411], atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya[412]. dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu[413] sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.”(Q.S al-Maidah/5:32)

  Pada ayat ini term nâfs digunakan untuk menyebutkan totalitas manusia secara fisik dan psikis didunia, yakni manusia hidup yang bisa dibunuh (mati). Berbeda dengan ayat diatas, pada surah Yassin/36: 54 term

  

nâfs digunakan untuk menyebut manusia di alam akhirat . disamping dua ayat

  diatas, term nâfs yang digunakan untuk menyebut totalitas manusia juga dapat di jumpai dalam surah al-Baqarah/2: 61, Yusuf /12: 54, al-Dzariyat/51:21, dan an-Nahl/16:111.

  Penggunaan term nâfs untuk menyebut sisi dalam manusia terdapat dalam surah al-

  Ra’d/13: 10 :

            

 

“sama saja (bagi Tuhan), siapa diantaramu yang merahasiakan ucapannya,

dan siapa yang berterus-terang dengan Ucapan itu, dan siapa yang

bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang

hari.”

  Menurut Ahmad Mubarok, dalam bukunya yang berjudul Jiwa dalam

  Al- Qur’ân, kesanggupan manusia untuk merahasiakan dan berterus-terang

  dengan ucapannya merupakan petunjuk adanya sisi dalam sisi luar manusia. Jika sisi luar manusia dapat dilihat dari perbuatan lahirnya, maka sisi dalam berfungsi sebagai penggerak.

  Nâfs sebagai sisi dalam manusia sangat erat kaitannya dengan nâfs

  yang berpotensi (sebagai) penggerak tingkah laku. Sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat berikut :

               “Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka meru

bah keadaan yang ada pada dirinya sendiri ” (Q.S al-Ra’d/13: 11)

  Nâfs sebagai penggerak tingkah laku di dalamnya terkandung gagasan, pikiran, kemauan, dan tekad untuk melakukan suatu perbuatan. Pada munculnya tingkah laku manusia, sebenarnya tingkah lakunya tersebut di gerakkan suatu sistem yang ada dalam dirinya, yaitu sistem nâfs, Al-

  Qur’ân mengisyaratkan bahwa nâfs sebagai sisi dalam manusia yang berhubungan dengan dorongan-dorongan tingkah laku. Nâfs sebagai penggerak atau tingkah laku, berhubungan erat dengan tingkah laku manusia. Di dalam sistem Nâfs manusia ada potensi (potensi positif dan potensi negatif) yang menggerakkan manusia melakukan suatu tingkah laku tertentu. dengan adanya kemampuan berpikir logis manusia diberi peluang untuk memilih. Manusia bisa mengalahkan tuntunan keinginan bertingkah laku tercela dengan memenangkan keinginan bertingkah laku terpuji. Potensi positif berkembang sejalan dengan pengalaman dan stimulasi hasil interaksi sosial (interaksi manusia dengan lingkungan). Pada dasarnya manusia mempunyai insting atau

  23 naluri merusak walaupun manusia memiliki predikat khalifah di muka bumi.

23 Mengenai sistem Nafs Lihat dalam Achmad Mubarak ,Jiwa dalam Al-Qur;an ,cet

  Dalam ajaran Islam ada beberapa metode (jalan atau cara) yang ditempuh dalam melaksanakan pendidikan akhlak dan pengembangan karakter, salah satu di antaranya adalah metode tazkiyatun al-nâfs (penyucian jiwa), tazkiyatun al-nâfs sebagai tugas pokok dan terpenting dari para nabi dan rasul Allah , yang sudah tercatat dalam sejarah, di tegaskan Al-

  Qur’ân dalam ayat berikut:

                           

  Berkaitan dengan akhlak, Al-Ghazali mengemukakan konsep

  tazkiyatut nâfs sebagai metode pendidikan akhlak. menurut Al-Ghazali

  berakhlak di artikan dengan baik secara lahir dan baik secara batin, yang dimaksud baik secara lahir adalah baik dalam penampilan sedangkan baik secara batin adalah menangnya sifat-sifat terpuji yang ada pada jiwa/diri seseorang atas sifat-sifat tercelanya. Sebagai upaya untuk memenangkan sifat- sifat terpuji atas sifat-sifat tercela yang ada pada jiwa seseorang, maka dilakukan taziyat al- nâfs dengan cara pengosongan jiwa dari sifat-sifat tercela dan pengisian jiwa dengan sifat-sifat terpuji. tazkiyat al-nâfs berfungsi sebagai penguat motif, pengembangan tingkah laku dan memberi warna corak tingkah

24 Q.S 3:164 artinya sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang

  

beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri ,yang

membacakan kepada mereka ayat- ayat Allah, membersihkan ( jiwa )mereka,dan mengajarkan

kepada mereka Al-Kitab dan Al- Hikmah.dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi

  25

  laku manusia. Adapun pemikiran tazkiyat al-nâfs berdasarkan Al- Qur’ân surat al-Syams/91:7-10:

                   

  Menurut Sa’id Hawwa , kata tazkiyat secara harfiah memiliki dua makna yaitu tathir dan al- ishlah. Tazkiyatun nâfs dalam pengertian pertama berarti membersihkan diri dari sifat-sifat tercela, sedangkan dalam pengertian

  27 . Dengan demikian

  kedua berarti memperbaiki jiwa dengan sifat

  • –sifat terpuji arti Tazkiyatun nâfs tidak saja terbatas pada pembersihan diri , Kitab-kitab tafsir seperti Fakhr al
  • –razi dalam tafsir kabir juga mengartikan tazkiyat

  dengan tathir dan tanmiyat, yang berfungsi untuk menguatkan motivasi seseorang dalam beriman dan beramal sholeh secara tegas ia mengatakan

  28 bahwa tazkiyat adalah ungkapan tentang tathhir dan tanmiyat.

  Di samping itu, mufasir Muhammad Abduh mengartikan tazkiyat al-

  nâfs dengan tarbiyat al-nâfs (pendidikan jiwa) yang kesempurnaannya dapat

  di capai dengan tazkiyat al-

  „aql (pensucian yang mengembangkan akal)dari

  akidah yang sesat dan akhlak yang jahat. Kesempurnaan tazkiyat al-

  „aql dapat

  29

  pula dicapai dengan tauhid yang murni. Pendapat Abduh ini sejalan dengan 25 Hasan Langgulung , asas-asas pendidikan (Jakarta; pustaka al-husna, 1987), hal 371-

  377 26 Q.S 91:7-10, artinya :dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaanya)maka Al- Qur’an

mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang

yang mensucikan jiwa itu,dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. 27 28 Sa’id Hawwa, Al-mustakhlash Fi Tazkiyat al- anfus, (Mesir: Dar al–salam,1984) Fakhr al- Razi, Tafsir al

  • –Kabir ,juz 4,(Teheran :Dar al- Kutub al- ilmiyat,t.t,), hal. 75

  dan 143 29 Muhammad Rashid Ridha, (ed), Tafsir al-Manar, juz 4, (Mesir : Maktabah al-

  arti kata tazkiyat itu sendiri, dan pengertian pendidikan dalam arti luas, yang tidak saja terbatas pada tathhir al- nâfs,tetapi juga tanmiyat al-nâfs. tetapi juga

  tanmiyat al-nâfs.

  Dari segi pendidikan dan ilmu jiwa banyak pula pendapat para ahli tentang Tazkiyatun nâfs, misal Ziauddin Sardar, Muhammad Fazl

  • –ur-Rahman Ansari, dan Hasan Langgulung. Sardar mengartikan Tazkiyatun nâfs sebagai pembangunan karakter(watak)dan transformasi dari personalitas manusia. di mana seluruh aspek kehidupan memainkan peranan penting dalam prosesnya. Sebagai konsep pendidikan dan pengajaran, Tazkiyatun nâfs tidak saja membatasi proses pengetahuan yang sadar, tetapi lebih merupakan tugas untuk memberi bentuk pada tingkatan hidup taat bagi individu yang melakukannya.,

  30 dan mukmin adalah karya seni yang dibentuk oleh Tazkiyatun nâfs.

  .Sedangkan Hasan Langgulung mengartikan Tazkiyatun nâfs sebagai metode penghayatan dan pengamalan nilai-nilai yang ada dalam ajaran Islam. Jika semua nilai Islam itu tersimpul dalam ketaqwaan, maka Tazkiyatun nâfs

  31 adalah metode pembentukan orang yang bertaqwa.

  Kornard berangkat dari dasar pemikiran bahwa tingkah laku seseorang tidak hanya di gerakkan oleh kekuatan dari dalam diri (innate forces) seperti dorongan biologis, sifat dan disposisi,maupun rangsangan yang berasal dari luar diri(external stimulus) seperti kondisi situasional, tetapi juga di aktifkan oleh motif (learned motive) yang mengarahkan tingkah laku tersebut ketujuan akan dicapai berdasarkan harapan-harapan yang dimilikinya. dengan 30 Ziauddin Sardar, the future of muslim civicilation

  , ter…HM. Moctar Zoerni dan Ach.Hafas Sn:Msa Depan peradaban muslim’’, (Surabaya: Bina Ilmu, 1985), hal. 383. 31 Hasan Langgulunng, Asas

  • –asas pendidikan islam, (Jakarta: Pustaka Alhusna, 1987),
memahami motif (faktor intristik) sebagai salah satu faktor utama penyebab munculnya tingkah laku agresif, maka Kornard mengusulkan pemakaian kerangka pembahasan teori motivasi mengenai agresi dalam menganalisis permasalahan di bidang agresi. Teori Kornard tentang agresi mencakup beberapa pendekatan teoretis, yaitu: 1) teori biologis, 2) teori frustasi- agres 3) teori belajar 4) teori sosial-belajar dan 5) teori kognitif dari motivasi. Apalagi analisis yang sistematis teori motivasi tentang agresi jarang dilakukan dan

  32 kurang di gali.

  Dalam usaha membentuk teori agresi, Kornerd mengembangkan beberapa konsep teori dasar melalui pendekatan teoritis, konsep-konsep tersebut adalah (1) agresi mempunyai akar biologis, tingkah laku agresi di dasari oleh fungsi otak khusus (fungsi hypothalamus) dan sistem endokrin sehingga agresi mempunyai komponen herediter, (2) frustasi dapat mengarahkan manusia pada beberapa bentuk tingkah laku agresif,(3) tingkah laku agresif dapat diperoleh dari proses belajar dan merupakan akibat pengaruh rangsangan yang berulang kali dari lingkungan atau pun pengalaman yang disertai penguatan, (4), tingkah laku agresif dapat dipelajari terbentuk dengan meniru dan mencontoh agresi yang dilakukan oleh model yang di amati: dan,(5)pemunculan agresi melibatkan interpretasi kognitif terutama berkaitan dengan penentuan tujuan yang akan dicapai dan pelaksanaan suatu

  

33 tingkah laku agresi yang diharapkan. 32 Lihat Olweus, Kornard, Miller dalam Kornard, Outline of Motivation Theory Aggression (Saabrucken: Facbereich Sozial-und Umweltwissenshaften, 1981b), hal 23-25 33 Lihat Kornard, H.J.L.H.Eckensberger dan W.B.Emminghaus, Cross Cultural Research

on motivation and its Contribution to a General Theory of Motivation.(Beston :Allyn and Bacon, Sesungguhnya konsep tazkiyat al-nafs yang terdapat dalam kitab Ihya ulumuddin tersebut memberikan kontribusi yang berarti bagi pengembangan karakter dan pendidikan akhlak, namun belum pernah diteliti sebagai suatu konsep untuk pendidikan akhlak dan pengembangan karakter dalam Islam.

  Apalagi penelitian tersebut dikaji dan dibandingkan dengan psikologi. Padahal

  • – antara tazkiyat al-nafs dan psikologi terdapat hubungan yang erat. Kedua duanya merupakan kebutuhan pokok hidup manusia dalam mencapai kebahagiannya di dunia dan akhirat. Baik tazkiyat al-nâfs (Ilmu Agama Islam) maupun pengembangan prilaku agresi psikologi), membahas hal-hal yang sama (kesamaan substansi), namun menggunakan istilah yang berbeda. Keduanya dapat saling melengkapi. Dengan mengabungkan teori Al- Ghazali dan teori baru tentang pengembangan karakter melalui pendidikan keluarga, teori yang lebih aplikatif dan berpedoman pada nilai-nilai Islam.

  Berkaitan dengan Jiwa manusia Al- Qur’ân menjelaskan bahwa manusia hanya terdiri dari kesatuan jasad dan ruh terdapat unsur lain yang berbeda dari keduanya unsur lain itu disebut al-

  Qur’ân sebagai jiwa( nafs jamak annâfus, nufus)yang dimaksud jiwa disini adalah nafsu ego manusia yang kemudian al-

  Qur’ân menjelaskan bahwa terdapat 3 nafsu dalam diri manusia yaitu: a.

  Al-Ammarah (Q.S Yusuf 12:53)

                    

  Artinya: Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena

  Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya

Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang. Jiwa yang buruk Al- Ammârah bi al-su ini adalah jiwa atau nafsu (nafs) yang mengajak manusia kepada keburukan ,nafsu semacam ini mendorong manusia untuk melakukan perbuatan tercela yang menghalangi kesempurnaan akhlak,dengan demikian siapapun yang mengikuti perintah- perintah jiwa ini terjerembap dalam jurang terendah dari tingkat kesabaran.

  b.

  Al-Lawwâmah (Q.S Qiyamay 75:2)

      

  Artinya: Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).

  Ini adalah jiwa (nafs) yang dapat mengarahkan manusia untuk merealisasikan kebaikan jiwa semacam ini berpotensi untuk selalu melakukan koreksi dan evaluasi terhadap perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan seseorang,jiwa ini pula yang senantisa mengecam perbuatan- perbuatan dosa yang bertentangan dengan ajaran islam lantaran kecintaan dan kecendrungan manusia pada dunia.

  Jiwa ini juga mengibarkan panji kebajikan dan menegakkan akhlak yang mulia dan terpuji dan karna kebenciannya terhadap jalan yang keji ,ia disebut nafs lawwâmah (jiwa yang sadar) melalui jiwa inilah manusia dapat mengerti pentingnya kesabaran hingga ia mampu memperoleh daya juang untuk mewujudkan keinginannya serta mampu mengenali sifat akhlak tercela, amun seseorang harus menyadari bahwa tidak ada keberhasilan yang sempurna. c.

  Al-Muthmainnâh ( Q.S Al-Fajr 89:27)

      Artinya: Hai jiwa yang tenang.

  Ini adalah jiwa (nafs) yang menuntut manusia untuk mengenali allah dan mengikuti ajarannya pada tahap ini juga jiwa seseorang bebas dari segala macam bentuk kelemahan dan telah dipenuhi oleh kekuatan ini,ia akan mencapai tingkah keberhasilan yang paling tinggi dalam

  34 mewujudkan kesabaran.

  Berpijak dari pola di atas, Zakiah Daradjat secara lengkap mendefinisikan kesehatan mental dengan terwujudnya keserasian yang sungguh

  • –sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian antara individu diri sendiri dan lingkungannya berdasarkan keimanan dan ketaqwaan serta bertujuan untuk mencapai hidup bermakna dan bahagia di

  35 dunia dan akhirat.

  Salah satu contoh ekstrim yang dapat memberi pemahaman terhadap perbedaan itu adalah pertanyaan lebih bahaya mana orang yang bertubuh kekar, tegap, kuat, psikisnya terhindar dari neorosi maupun psikosis sementara sikapnya pendendam, propokator, pendengki dan penyakit hati lainnya. Dibandingkan dengan orang gila di jalanan yang sekalipun kehidupannya suka melempar batu dan suka memecah kaca rumah orang.? meskipun kedua kondisi ini sama-sama tidak diharapkan, namun secara spiritual hal yang dapat dijawab bahwa orang gila tersebut lebih baik 34 35 Kuntowijoyo, Mukjizat Sabar, (Bandung: Mizania Pustaka, 2009), hlm 108-109.

  A.F.Jaelani, Penyucian Jiwa, (tazkiyat al-nafs) dan kesehatan mental penerbit Amzah dibanding orang yang waras tetapi punya penyakit hati. sebab orang gila terbebas dari segala tuntutan atau beban yang dalam prilaku tidak terkait dosa atau pahala. sementara orang waras yang berpenyakit hati akan mendapat dosa dari apa yang diperbuat oleh hatinya.

  

36

2.

   Jenis-jenis mental adalah : a.

  Mental Hygine Merupakan sub kajian (cabang) psikologi yang mulai intensif dan ekstensif dikembangkan di Eropa dan Amerika terutama sejak berakhirnya perang dunia ke II yang berdampak sangat parah terhadap mental masyarakat Barat. Seperti namanya, Ilmu kesehatan mental tujuannya mencari, menemukan dan mengembangkan filosofi, teori dan teknik dengan berbagai pendekatan serta metode yang tepat bagi upaya tercapainya kesehatan mental individu dan masyarakat.

  37 Islam sendiri sebagaimana dalam Al-

  Qur’an dan hadis secara tersurat dan tersirat kaya dengan konsep-konsep yang berkaitan dengan dimensi kejiwaan manusia seperti Hawa , nafs

  , ’aql, qalb , ruh, dan fitrah, serta ajaran yang mengarah kepada pencapaian Keselamatan

  (salâmah) dan kebahagiaan (

  sa’âdah) serta kesehatan (shihah) manusia, 36 Zakariah Dradjat membagi gangguan jiwa menjadi 2 neorosis dan psikosis 37 Dalam konteks psikionalisis Sigmund Freud telah kesehatan mental menjadi objek

kajian psikologi klinis meskipun belum dinamai Ilmu kesehatan mental ( Mental Hiygien) yang

mandiri, terutama untuk memberi terapi untuk psikiater kepada para pasien yang mengalami

gangguan kejiwaan seperti ilusi, depresi, halusinasi, dan sejenisnya, sedangkan dalam konteks

Ilmu jiwa agama, tema kesehatan mental juga menjadi telaah yang bersifat penting dan terapan

terutama dalam psikologi pastoral. Agama menjadi variabel yang sangat dominan dalam terapi

kejiwaan karena ia menyentuh aspek kejiwaan yang sangat dalam pada manusia yang berupa

keyakinan yang bersifat spiritual yang menjangkau kehidupan setelah mati. Dalam konteks

kontenporer Kesehatan mental juga banyak di integrasikan dengan pengembangan bimbingan dan

konseling. Lihat Hasan langgulung, teori-teori kesehatan mental (Jakarta: Al

  • –Husna, 1992), hal, 9.

    Lihat pula dadang hawari, Al- qu’an, ilmu kedokteran dan ilmu jiwa ( Yogyakarta: Dana Yakti

    Prima Yasa,1995), hlm. 11-14 Lihat juga Kartini Kartono, Hiygien Mental dan kesehatan mental

baik secara jasmani maupun rohani. individual maupun kolektif dengan konsep-konsep kunci seperti : tazkiah nâ

  ffs, munjiyat, falah, sa”âdah, naja’âh, salam, fawz istiqâmah, barakah, hasanah, rida, qanâ’ah, tuma’ninah, rajâ’farh dan hayyat tayyibah yang sempurna yang

  38

  berhubungan dengan ayat- ayat yang bernuansa psikologis b. Mental Disorder

  Dalam psikologi dikenal istilah sakit jiwa dan gangguan kejiwaan/mental disorder, ada yang disebabkan oleh faktor saraf, ada juga yang disebabkan oleh faktor psikis (neorosis, psikoksis, psikosomatik, dan

  depresi.) Dalam perspektif Islam gangguan kejiwaan juga bisa terjadi dan

  ini disebabkan oleh faktor akhlak yang rendah (yang setelah diteliti penulis dari bab sebelumnya memiliki kesamaan penyebab) yaitu di antaranya ialah: riya, dengki, syirik, nifaq, tamak, takabur, ujub dan al-wahn dan lain-lain.

  Dalam bahasa agama jarang disebut dengan penyakit mental yang sering disebut adalah penyakit hati (fî qulubihim maradh).di dalam al- Qur'ân tidak kurang dari sebelas kali menyebut adanya penyakit hati (fÎ

  39 qulubihim maradh). Dalam bahasa arab maradh (penyakit) antara lain

  didefinisikan sebagai "sesuatu yang mengakibatkan manusia melampaui batas keseimbangan/kewajaran mengantar kepada terganggunya fisik, mental dan bahkan kepada tidak sempurnanya amal seseorang. Melampaui

  38 39 Lihat Yahya Jaya, Spiritulisai Islam (Jakarta: CV. Ruhama, 1994), hlm. 51-55

  batas, satu sisi membawa implikasi pada gerak berlebihan dan sisi lain

  40 membawa implikasi ke arah kekurangan.

  Akal yang sakitnya dari gerak berlebihan berwujud kelicikan, tetapi jika sakitnya bersumber dari arah kekurangan (kurang pendidikan) maka sakitnya berwujud ketidaktahuan. Ketidaktahuan akal membawa kepada keraguan dan kebimbangan. Penyakit kejiwaan lain yang bersumber dari gerak berlebihan bisa berujud, angkuh, benci, dendam, fanatisme, serakah dan kikir. Sedangkan penyakit yang bersumber dari arah kekurangan bisa berujud pesimis, rendah diri, kecut, cemas, takut dan

  41 sebagainya.

3. Kaitan mental terhadap akhlak anak.

  Bila kita menghayati arti kehidupan yang diberikan Allah Swt, tentunya kita sepakat mengatakan bahwa hidup yang kita jalani ini adalah semata-mata hanya untuk ibadah kepada Allah , seperti yang dijelaskan pada surat adz-Dzariyat ayat 56. Tetapi dalam menjalani proses ibadah tersebut, Allah akan menyeleksi dengan memberikan ujian kepada hamba-Nya seperti

  42 yang sudah dijelaskan pada ayat di atas.

  Ada yang diuji dengan kesulitan, kemudahan kesenangan dan kekuatan, dll. Bagi umat yang mampu melalui ujian dengan sabar, yaitu ketika mendapat cobaan mereka mengatakan sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan kepada-Nya kami kembali, mereka inilah yang selamat kelak. Maka untuk mempunyai sikap sabar, penulis berpendapat bahwa kita harus mendapatkan 40 41 M. Quraish. Shihb, " Wawasan Al-Qur'an", h. 189 42 M. Quraish. Shihb, " Wawasan Al-Qur'an, h. 189 ilmu dan pendidikan bagaimana cara bersikap bijak, dan pendidikan ini

  43 sebetulnya bisa didapatkan dari dalam keluarga sendiri.

  Kita sering melihat atau bahkan mengalami sendiri, saat mengalami berbagai cobaan hidup, biasanya banyak orang yang mengalami ketegangan, kekecewaan/frustasi, atau konflik-konflik, baik konflik yang muncul secara intern yaitu dalam diri sendiri maupun konflik antar manusia. Bila hal ini terjadi secara terus menerus tanpa penyelesaian yang optimal maka akhirnya tidak mustahil akan muncul suatu gangguan mental, terutama bagi orang- orang yang mempunyai potensi/ kecenderungan untuk timbulnya gangguan

  44 mental.

  Di tengah kehidupan globalisasi seperti sekarang ini, orang-orang asyik berpacu dan bersaing ketat dalam perlombaan hidup, sehingga dalam suasana hidup yang serba kompetitif itu, biasanya sering diwarnai oleh fenomena-fenomena tingkah laku yang tidak wajar, seperti: tingkah laku kriminal, tingkah laku spekulasi, manipulasi atau cara-cara hidup (gaya hidup) yang mengandung bahaya dan lain-lain.

  Tingkah laku tersebut pada pernyataannya banyak menimbulkan ketakutan dan ketegangan sehingga dapat menjadi bibit timbulnya berbagai

  45 penyakit.

  43 44 A.F Jaialani. Penyucian Jiwa, (Tazkiyat al- Nafs) dan Kesehatan Mental..., h. 56 45 A.F Jaialani. Penyucian Jiwa, (Tazkiyat al- Nafs) dan Kesehatan Mental..., h. 56 Saadi, nilai kesehatan mental islam dalam kebathinan, Jakarta: puslitbang lektur

C. Akhlak 1. Pengertian akhlak

  Kata akhlak berasal dari bahasa arabyang berbentuk plural (jama’)

  46 dari kata khuluk yang berarti „’perangai’’, tabi’at, atau tingkah laku.

  Sedangkan dalam Dairah al- Mâ ’rifat dikatakan bahwa akhlak adalah sifat-

  47 sifat manusia yang terdidik.

  Kata akhlak ini meski berbentuk plural ,tetapi memiliki arti tunggal (Mufrad) . Pengertian akhlak menunjuk sejumlah sifat tabiat asli manusia dan sejumlah sifat yang di usahakan hingga seolah-olah fitri akhlak manusia ini memiliki dua bentuk : pertama bersifat batiniyah( kejiwaan)

  48

  dan kedua bersifat Zahiriyah yang berwujud dalam prilaku. Inilah pengertian akhlak secara garis besar sebagaimana tersebut dalam beberapa kamus.

  Dari pengertian akhlak diatas dapat diketahui bahwa akhlak ialah sifat-sifat yang dibawa manusia sejak lahir yang tertanam dalam jiwanya dan selalu ada padanya. Sifat tersebut dapat lahir berupa perbuatan baik yang disebut akhlak yang mulia, atau perbuatan buruk yang disebut akhlak tercela.

  Para ualama dan Sarjana dari kalangan filosof dan Ilmu kalam seperti Ibn Maskawaih , Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd, al- Gazali dan

  46 Louse Ma’luf , Al- Munjid Fi Al-Lughah wa al-A-lam ( Beirut :al- Maktabah al- katulikiyah, t, t, hlm . 194. 47 Abdul Hamid Yunus , Da’irah al- Ma’rifat , (Kairo: Darul al- Sya’ab ,t ,t, ) jilid II, hlm, 436. 48 Ibrahim Anis , Al- lainnya mendefenisikan akhlak sesuai dengan aliran ajarannya masing- masing .

  Dalam Ensklopedi Pendidikan disebut bahwa akhlak ialah budi pekerti , watak, kesusilaan ( kesadaran etik dan moral) yaitu kelakuan baik yang yang merupakan akibat dari sikap jiwa yang benar terhadap

  49 khaliqnya dan sesama manusia.

  Banyak istilah yang sering digunakan untuk menyebut akhlak yaitu etika.

2. Pengaruh pendidikan akhlak terhadap anak

  Akhlak adalah hasil pendidikan melalui pembiasaan, pengamatan, pembelajaran, pemberian stimulus, dan belajar sosial. Pengembangan karakter melalui pendidikan keluarga merupakan hal yang penting untuk diteliti. keluarga terutama orang tua adalah lingkungan yang paling berpengaruh dalam perkembangan anak, karena keluarga adalah tempat di mana relasi- relasi kemanusiaan di contohkan, kepribadian-kepribadian di bentuk , tujuan- tujuan dan pandangan hidup di bentuk. kondisi lingkungan ya ng berubah cepat dan dinamis memerlukan pemikiran-pemikiran baru dalam pendidikan keluarga terutama pada era digital ini. Kehidupan keluarga sebenarnya lebih kompleks di banding dunia pendidikan , tetapi pendekatan psikologis terhadap masalah-masalah keluarga masih sedikit sekali yang dilakukan secara

  50 profesional. 49 Soegarda Poerbakawatja, Ensklopedi pendidikan (Jakarta : Gunung Agung , 1976), hlm. 9. 50 Umami Faidah ,isyarat psikologi pembentukan karakter skripsi anak tafsir hadis UIN

  Mungkin karena kehidupan berkeluarga merupakan fenomena universal maka para ahli lebih memilih membiarkan kehidupan keluarga berjalan secara alamiah di masyarakat dibanding memikirkannya secara

  51 alamiah profesional.

  Di tinjau dari ilmu agama Islam, kedua orangtua memiliki kewajiban penuh dalam mempersiapkan anak menjalani kehidupan agar tumbuh menjadi insan Tuhan yang berakhlak terpuji. Pendidikan merupakan hak anak dari orang tuanya, bukan sebagai hadiah atau pemberian dari orangtua kepada anak dengan kata lain,pendidikan anak adalah tanggung jawab orang tua. Allah S.W.T. telah memerintahkan kepada setiap orang tua untuk mendidik anak-

  52

  anak mereka. Hal ini di isyaratkan oleh Al- Qur’ân surat Al- Tahrim /66:6:

  

          

           

  Dari sudut pandang psikologi , tingkah laku kriminal adalah tingkah laku melanggar hukum yang berlaku(legal offenses) dan merupakan salah satu bentuk tingkah laku yang nyata. Kornadt memandang bahwa tindakan melanggar tabu dan pelanggaran hukum yang berlaku serta menolak

51 Fenomena umum dan mencuat yang mencerminkan umat muslim Indonesia berakhlak

  

terpuji dapat menjaga citra agama Islam dan mendukung syiar dakwah agama Islam ( khususnya di

Indonesia). 52 Manusia yang perpendidikan tinggi memiliki intelektualitas yang tinggi ,namun

memiliki cacat karakter ( misal koruptor) bertingkah laku agresif , merupakan indicator kegagalan

pendidikan ditinjau dari sudut pandang islam . 53 Q.S 66:6 Artinya :Hai orang-orang yang beriman ,peliharalah dirimu dan keluargamu

dari api nerakayang bahan bakarnya dari manusia dan batu:penjaganya malaikat-malaikat yang

kasar ,keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-nya kepada mereka dan

  54

  konsensus yang kelompok, termasuk dalam definisi agresi . sementara Gunarsa menyatakan bahwa agresivitas adalah reaksi khas terhadap suatu frustrasi yang biasanya di hukum oleh masyarakat, tetapi tidak selalu dilampiaskan secara terbuka dan kadang kala di alihkan pada obyek, orang

  55

  lain atau diri sendiri. Beberapa ahli dalam bidang agresi berpendapat bahwa agresi adalah tingkah laku yang mempunyai potensi untuk melukai secara fisik atau merusak sesuatu yang dimiliki orang lain seperti harga diri, status sosial

  56 dan hak milik.

3. Peran orang tua terhadap pembentukan akhlak anak.

  Tingkah laku agresif adalah fenomena universal yang di temukan pada setiap tahap perkembangan kepribadian. Sementara kepribadian melalui tingkah laku yang nyata(over behavior)adalah fenomena yang di hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Pendapat umum mengatakan bahwa remaja adalah kelompok sosial yang paling rentan terhadap tingkah laku agresif dan

  57

  kriminalitas. Dalam perspektif psikologi, menurut Sarlito W.Sarwono. Agresi merupakan hal yang penting untuk di kaji mengingat pengaruhnya amat besar terhadap individu maupun kelompok, sebagaimana kutipan berikut ini:

  Agresi altuisme adalah prilaku-prilaku yang sangat penting dalam psikologi, khususnya psikologi sosial, karena pengaruhnya yang sangat besar, baik terhadap individu atau kelompok. Banyak peristiwa bersejarah, baik 54 Kornard ,H.J, Development af Aggressivenees:Motivation Theory Perspektif.In

  

:R.m.kaplan ,V.J.Konenchi,R.W.Novaco(eds). Aggresion in children and yout.(The Hague

Martinus Nijhoff Publisters,1984),hal 5. 55 Gunarsa, S.D dan Yulia Gunarsa, Psikologi perawatan, (Jakarta: PT.BPK Gunung Mulia, 1989) 56 Lihat Feshbach dan Bandura dalam Arhenbanch ,T.M,Development Psyhopathology.

  Secont Edition. (New York: John Wiley dan Sons,Inc., 1982), hal .340 57 Lihat E liiot dan Feldman dan rice dalam Durkin K,Development social dalam skala kehidupan bangsa , maupun dalam skala umat ,terjadi karena

  58 agresi dan altuisme ini.

  Perkembangan tingkah laku (behavior development) telah lama menjadi pusat perhatian para ahli, para ahli telah berhasil menunjukkan bahwa perkembangan tingkah laku adalah sesuatu yang penting diperhatikan dalam usaha perkembangan manusia menuju keadaan yang sejahtera dan bahagia.

  Dalam perkembangan tingkah laku, tampak jelas bahwa lingkungan hidup (ecological environment) anak adalah faktor yang sangat penting, sebagai sumber dari munculnya berbagai perangsangan (stimulation). Lingkungan hidup anak berpengaruh secara bertingkat, yakni dari microsystem, di mana orang tua atau benda secara langsung mempengaruhi anak, kemudian

  mesosystem di mana lingkungan lebih luas, menghubungkan antara rumah

  dengan kehidupan sosial yang lebih luas misalnya sekolah yang mempengaruhi anak yang sedang tumbuh dan berkembang. Selanjutnya

  59

exosystem yakni latar belakang kekhususan yang dimiliki oleh orangtuanya.

  58 Sarlito W, Sarwono, Psikologi Sosial :Individu dan teori-teori psikologi social. Cet Ketiga, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002), hal. 294 59 Lihat Bronfentbrenner dalam Gunarsa,Child and Adolescent Development in Urban

BAB III ANALISIS TERHADAP AYAT-AYAT AKHLAK A. Pendapat Para Mufassirin Terhadap Ayat-Ayat Akhlak 1. Menurut Yunahar Ilyas (2002: 1) bahwa aklak berasal dari bahasa arab,

  secara etimologis adalah berasal dari bentuk jama’ dari khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat. Atau besasal dari kata khalaqa yang berarti menciptakan, seakar dengan kata khaliq yang berarti pencipta, makhluk berarti yang diciptakan, dan khalq yang berarti penciptaan. Sedangkan menurut istilah adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, sehingga dia akan muncul secara spontan bila mana diperlukan, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan telebih dahulu serta tidak memerlukan dorongan dari luar.

  2. Menurut Imam Al-Ghazali sebagamana yang dikutip oleh Islail Thabib (1992: 2) bahwa akhlak adalah: Artinya: “Akhlak adalah pernyataan gerak-gerik dalam jiwa yang

  tertanam di dalamnya, sehingga menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan mudah melakukannya tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan ”.

  3. Ahmad Amin mendefinisikan akhlak sebagai kehendak yang dibiasakan.

  Maksudnya, sesuatu yang mencirikan akhlak itu ialah kehendak yang dibiasakan. Artinya kehendak itu apabila membiasakan sesuatu, maka kebiasaan itu dinamakan akhlak. Ahmad Amin menjelaskan arti kehendak itu ialah ketentuan daripada beberapa keinginan manusia. Manakala kebiasaan pula ialah perbuatan yang diulang-ulang sehingga mudah melakukannya. Daripada kehendak dan kebiasaan ini mempunyai kekuatan kearahmenimbulkan apa yang disebut akhlak. (alias.tripod.com/ pengertian akhlak).

  4. Ibnu Maskawayh mengatakan akhlak ialah suatu keadaan bagi diri atau jiwa yang mendorong (diri atau jiwa itu) untuk melakukan perbuatan dengan senang tanpa didahului oleh daya pemikiran karena sudah menjadi

  1 kebiasaan. (alias.tripod.com/ pengertian akhlak).

  B.

  

Peranan kesehatan mental dalam pembentukan akhlak anak dalam

perspektif al- Qur’an .

  Jadi peranan kesehatan mental ini dengan cara menanamkan:Model Pembinaan Mental Anak dalam Perspektif Islam Penanaman nilai keimanan (aqidah). Diperlukannya penanaman nilai keimanan adalah berlandaskan kepada asumsi bahwa hakikat fungsi manusia adalah beribadah kepada Allah

  2

  atau dengan kata lain hakikat fungsi manusia adalah hamba Allah. Allah subhanahu wa ta’âla berfirman:

  1 2 Zakiah Daradjat, Islam dan Kesehatan Mental, (Jakarta: Penerbit Gunung Agung(

                       

  Artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia

  mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia Telah berbuat dosa yang besar.

  Oleh karena itu, di dalam Al-Qur ’ân pula Allah kisahkan nasehat

  Luqman kepada anaknya. Salah satunya berbunyi,“ Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar- benar kezhaliman yang besar”.Setiap hamba selalu tunduk kepada penciptanya, ia tidak dapat dioperasikan dengan cara berbeda, apalagi bertentangan dengan kehendak Allah sebagai khaliqnya.

  Sedangkan maksud diciptakannya manusia antara lain agar dia mengabdi kepada Allah,maka dari itu fungsi manusia adalah hamba Allah.

  Berlandaskan maksud penciptaan manusia inilah nilai keimanan harus ditanamkan,karena tanpa keimanan dahulu ibadah yang dilakukan tanpa makna. Di sisi lain fitrah agama yang dimiliki manusia juga melandasi perlunya penanaman nilai keimanan ini. Dalam fitrah agama ini manusia adalah makhluk etik relegius, sehingga sebagai rangkaian wujudnya yang suci pada saat lahir, Tuhan akan selalu memberi bimbingan dengan agama fitrah, agama yang sesuai dengan fitrah manusia adalah agama tauhid. Dengan demikian penanaman nilai keimanan atau mempercayai keesaan Allah harus diutamakan,karena perasaan ke-Tuhanan yang secara sempurna hadir dalam jiwa anak akan berperan sebagai dasar dalam berbagai aspek kehidupannya.

  Nilai keimanan yang tertanam kokoh dalam jiwa anak akan memberikan warna dan corak dalam kehidupan mereka sehari-hari, dikarenakan adanya pengakuan dalam dirinya tentang kekuatan yang menguasai dan melindunginya, yaitu Allah. Pengakuan ini di harapkan mampu mendorong anak untuk berbuat sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah, maka dari itu semakin matang perasaan ketuhanannya akan semakin baik perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam tahap selanjutnya anak selalu diarahkan untuk mentaati hukum-hukum Allah, serta diimbangi pengetahuan tentang ibadah, yang dalam sistem etika Islam termasuk akhlak terhadap Allah. Anak juga senantiasa diingatkan bahwa iman selalu diformulasikan dalam amal salih, iman yang dipegang teguh haruslah direalisasikan dalam realitas kehidupan dengan amal salih. Orang yang dengan keimanannya mampu merealisasikan nilai-nilai keimanannya dalam kehidupan sehari-hari telah menunjukkan akan sehatnya mental dari orang tersebut. Penanaman keimanan mempunyai nilai penting untuk diberikan, sebab dengan nilai itulah pembinaan kesehatan mental didasarkan sehingga akan terwujud pribadi yang sehat mentalnya.

  Penanaman nilai akhlak. Pembentukan moral tertinggi adalah tujuan utama pendidikan Islam. Dengan demikian harus diusahakan terhadap penanaman akhlak mulia, meresapkan fadhilah di dalam jiwa para siswa,membiasakan berpegang kepada moral yang tinggi serta menghindari hal-hal tercela, berfikir secara ruhaniyah dan insaniyah serta mempergunakan waktu untuk belajar

  3 ilmu keduniaan dan agama dengan tanpa memandang keuntungan materi .

  Rasulullah SAW bersabda:Artinya: 3

  Artinya: “Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling

  baik akhlaqnya

  ” (HR. Muslim) Rentetan dari iman, islam dan ihsan adalah tiga unsur pokok,bila terintegrasikan dalam diri, hal inilah yang dimaksud berakhlak mulia. Islam bersumber kepada norma-norma pokok yang terdapat dalam Al-

  Qur’ân sedang Rasulullah sebagai suri tauladan yang baik,yang memberi contoh realisasi Al- qur’ân menjelaskan dalam realitas kehidupan sebagai sunnah Rasul. Akhlak manusia ideal kemungkinan dapat dicapai dengan proses pendidikan dan pembinaan yang sungguh-sungguh, yaitu terwujudnya keseimbangan dan iffah. Namun tak ada manusia yang dapat mencapai keseimbangan yang sempurna dalam akhlaknya kecuali Rasulullah karena beliaulah yang ditugaskan oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak manusia dan secara logis beliau telah sempurna lebih dahulu. Salah satu bagian yang terpenting

  4

  dalam masalah akhlak adalah tentang hak dan kewajiban. Dalam upaya penanaman akhlak ini terbatasi dalam pembahasan tentang kewajiban- kewajiban manusia terhadap Allah (akhlak kepada Allah), kewajiban terhadap diri sendiri dan sesamanya (akhlak individual dan sosial) serta kewajiban terhadap alam (akhlak terhadap alam). Dalam masa anak-anak dan menginjak remaja adalah terpenting bagi penanaman akhlak dengan pembatasan terhadap kewajiban-kewajibannya sebagai manusia sehingga akan sampai kepada pemahaman akan eksistensi dirinya sebagai hamba Allah dan sebagai pribadi yang tak mungkin tercerabut dari akar komunitasnya. Karena dalam fase ini 4 Dra Mufidah ch, M Ag, Psikologi Berwawasan Gender UIN Malang , Penerbit Press , anak telah mampu menggunakan logika untuk merenungkan segala persoalan. Kesadaran akan eksistensi dirinya inilah yang akan membuat keseimbangan

  

5

  yang harmonis bagi kehidupannya. Keharmonisan adalah merupakan sarat bagi ketenangan jiwa dan ketentraman hati,bila keharmonisan ini terguncang maka yang terjadi adalah gangguan kejiwaan. Pendidikan akhlak terbagi dalam dua kategori, yaitu akhlak kepada Allah dan akhlak individual, sosial serta alam. Akhlak kepada Allah, seperti telah disebutkan sebelumnya akhlak kepada Allah antara lain berisikan tentang kewajiban-kewajiban manusia kepada Allah. Kewajiban manusia kepada Allah adalah merupakan rangkaian hak dan kewajiban manusia dalam hidupnya sebagai sesuatu yang

  6

  eksistensial. Dalam kehidupannya manusia mempunyai pola hubungan dan ketergantungan, yang memunculkan hak dan kewajiban. Hubungan manusia dengan Allah adalah hubungan antara Khaliq dengan makhluknya, dalam kehidupan ketergantungan paling pokok manusia adalah kepada Allah Tuhan semesta alam. Esensi dari kehidupan beragama adalah meyakini dan mempercayai adanya dzat yang maha kuasa, yang maha segala-galanya, di sanalah semua mempunyai pola ketergantungan. Maka dari itu hanya kepada

  7 Allah manusia menyembah dan memohon pertolongan. Mentauhidkan Allah

  adalah meyakinkan dengan akhlak sosial adalah kewajiban terhadap sesama manusia sedangkan akhlak terhadap alam adalah kewajiban manusia terhadap alam sekitarnya. Secara spesifik kewajiban terhadap diri sendiri adalah pengembangan dan pemeliharaan seluruh potensi yang dimiliki manusia baik 5 DR. Abdullah Nashihin Ulwan, Pendidikan Anak dalam Islam, (Jakarta: Pustaka Amani 1995 Jakarta, hal, 16. 6 7 DR. Abdullah Nashihin Ulwan, Pendidikan Anak dalam Islam..., hal. 16 Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam, ( Jakarta : Pustaka Al- Husna , 1987), jasmani atau rohani. Setiap unsur mempunyai hak, yang satu dengan yang lain mempunyai kewajiban yang harus ditunaikan bagi pemenuhan hak masing- masing. Sehingga keseluruhan manusia mempunyai kewajiban terhadap

  8

  keseluruhan kemanusiaannya. Dengan demikian unsur jasmani dan rohani adalah merupakan bagian yang integral yang tidak dapat dipisahkan dan mempunyai kewajiban terhadap kemanusiaannya sendiri.. Kewajiban manusia terhadap diri sendiri secara fisik adalah pemenuhan kebutuhan primer seperti sandang, pangan dan papan. Kewajiban terhadap kebutuhan rohani adalah dengan pembinaan rasio, rasa dan karsa. Akhlak sosial berisikan tentang kewajiban manusia sebagai pribadi dengan manusia lain. Kewajiban sosial antara lain adalah tolong menolong dalam kebaikan, adanya saling pengertian

  9

  dan saling menghormati. Dengan demikian pendidikan akhlak sosial ini diharapkan membuat anak menjadi peka perasaannya atau dengan kata lain mempunyai kecerdasan perasaan. Akhlak manusia terhadap alam adalah pendayagunaan alam semesta secara bijak. Dengan akal pikiran yang dimiliki oleh manusia sudah seharusnya mampu menjaga amanat Allah, yaitu pemanfaatan alam secara proporsional. Pemanfaatan alam tidak hanya bersifat eksploitatif, namun juga dimanfaatkan sebagai bahan pengambilan pelajaran

  10 untuk mendekati Allah dalam rangka membina keserasian antar makhluk.

  Dengan demikian hubungan manusia dengan alam harus diserati sikap rendah hati. Pendidikan akhlak individual berdampak kepada sampainya pemahaman anak terhadap dirinya dan potensi-potensi yang dimilikinya, sehingga 8 9 Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam..., hal. 371 10 Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam..., hal. 371 DR. Abdullah Nashihin Ulwan, Pendidikan Anak dalam Islam, (Jakarta: Penerbit mempunyai rasa tanggung jawab untuk mengembangkannya. Pendidikan akhlak sosial dalam diri anak akan mampu mengasah perasaan (roso pangroso) dengan memahami hak dan kewajibannya terhadap lingkungan komunalnya, serta mampu beradaptasi dalam rangka mewujudkan eksistensi dirinya dalam pola pergaulan yang menyenangkan dan bermanfaat. Kemampuan memahami diri sendiri dengan mengembangkan potensi-potensinya,serta pengetahuan tentang lingkungan komunalnya sehingga tercipta pola kehidupan bersama

  11 yang harmonis adalah sebagai tanda sehatnya mental seorang anak.

  Penanaman akhlak individual dan sosial ini mampu membuka kalbu akan pentingnya keharmonisan hidup baik mikro kosmos ataupun makro kosmos.

  Internalisasi nilai-nilai akhlak terhadap alam sekitar, akan berdampak terhadap kesadaran anak akan pentingnya menjaga keharmonisan alam demi kesejahteraan seluruh makhluk. Melalui internalisasi akhlak terhadap alam ini diharapkan juga dapat menghantarkan anak kepada penguasa tunggal alam

  12

  semesta , yaitu Allah C.

  

Analisis penulis tentang ayat-ayat yang berhubungan dengan kesehatan

mental dan pembentukan akhlak anak dalm perspektif al- Qur’an.

  Kita sering melihat atau bahkan mengalami sendiri, saat mengalami berbagai cobaan hidup, biasanya banyak orang yang mengalami ketegangan, kekecewaan/frustasi, atau konflik-konflik, baik konflik yang muncul secara intern yaitu dalam diri sendiri maupun konflik antar manusia. Bila hal ini terjadi secara terus menerus tanpa penyelesaian yang optimal maka akhirnya 11 12 DR. Abdullah Nashihin Ulwan, Pendidikan Anak dalam Islam..., hal, 12. tidak mustahil akan muncul suatu gangguan mental, terutama bagi orang-orang yang mempunyai potensi/ kecenderungan untuk timbulnya gangguan mental.

  Penyakit mental atau gangguan mental secara umum merupakan ketidakmampuan seseorang untuk mengadakan adaptasi (penyesuaian) terhadap lingkungan. Biasanya ditandai dengan munculnya ketakutan, kecemasan banyak kesulitan dan konflik baik dalam dirinya maupun konflik

  13 dengan orang lain.

  Selalu iri hati, dengki, curiga yang berlebihan, rasa marah yang meledak (mudah emosional) dan ketegangan batin. Sakit mental umumnya merupakan bentuk pada ketenangan batin dan ketenteraman hati. Untuk membentuk kesehatan mental yang baik, ternyata sarana utamanya, terdapat pada keluarga. Karena keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memberikan fondasi primer bagi perkembangan anak. Pola Tingkah Laku pikiran dan cara mengekpresikan diri pada ayah dan ibu dapat mencetak pola yang hampir sama pada anggota-anggota keluarga lainnya. Maka interaksi di dalam keluarga sangat besar pengaruhnya pada proses pembentukan Tingkah

  14 Laku, dan sikap anggota keluarga terutama bagi anak-anak.

  Anak-anak akan meledak-ledak pula. Bahkan bagi anak-anak tertentu akan diekspresikan berupa agresivitas tetapi ada juga yang ditekan/ditahan ke

  15 dalam diri sehingga anak terlihat seperti gejala depresi (tertekan).

  13 Drs. A. F Jalani, Penyucian Jiwa (Tazkiyat al- nafs) (Jakarta: Penerbit Hamzah, 1997), h, 2. 14 Dra . Hj Mufidah ch, M.Ag, Psikologi Islam Berwaweasan Gender, (Jogjakarta: Penerbit UIN Malang Press, 20080, hal. 6. 15

  Inilah yang mengindikasikan adanya ketidaksehatan mental pada anak- anak. Kehidupan keluarga memainkan peran penting dalam membentuk

  16 kepribadian anak untuk menggapai keseimbangan batin dan sehat mental.

  16

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Setelah mempelajari dan menganalisa faktor-faktor penyebab adanya

  gangguan Kesehatan Mental pada anak, untuk membentuk kesehatan mental yang baik sarananya terdapat pada keluarga dan tentunya dengan penanaman nilai iman dan islam di dalamnya, karena keluarga memberikan dukungan moril yang sangat besar bahkan sangat berpengaruh pada perkembangan anak., kehidupan keluarga memainkan peran penting dalam membentuk kepribadian anak untuk menggapai keseimbangan batin dan sehat mental, ajaran islam memeliki hubungan yang erat dan mendalam dengan jiwa atau kesehatan mental dalam pendidikan akhlak.

  Didalam al- Qur’an juga dibahas tentang jiwa (Kesehatan Mental) di antaranya terdapat dalam Q.S Ali- Imran 164, Q.S As-Syams 6-10, Q.S

  Yunus 57, Q.S Luqman 12-19. Yang secara garis besar ayat-ayatnya membahas tentang kesehatan jiwa, pendidikan pengajaran seorang ayah terhadap anaknya,penanaman aqidah ,dam lain-lain.

  Gangguan mental pada anak dapat merugikan perkembangan masa depan anak dan di sinilah peran orang tua dalam mengatasi gangguan tersebut, karena jika tidak segera di atas gangguan tersebut akan menjadikan akhlak atau kepribadiannya sulit untuk di sembuhkan.

B. Saran

  Berdasarkan kesimpulan di atas maka selanjutnya dapat penulis kemukakan beberapa saran yaitu: pertama, alam upaya mengatasi gangguan kesehatan mental pada anak , maka orang tua semaksimal mungkin berupaya menanamkan nilai-nilai agama kepada anak dengan menanamkan nilai-nilai keimanan, ibadah, dan akhlak kepada anak, menciptakan komunikasi yang hangat antara orang tua dan anak, memberikan pola asuh yang benar dan memberikan keteladanan yang baik kepada anak, kedua, penulis mengharapkan skripsi ini bermanfaat untuk menjadi masukan terutama bagi para orang tua, dan pihak-pihak yang berkepentingan.

  

DAFTAR PUSTAKA

Abd. Al Baqiy, Muhammad Fu'ad. Mu'jam Mufahras li Alfazh al Quran al-Karim.

  Beirut: Dar al-Fikr, 1981 Al-Ashfahanny, al-Raghib. Mu'jam Mufradat Alfazh al-Quran. Beirut, Libanon: Dar al-Fikr, t.t.

  Aqqad, Abbas Mahmud, al-Insan fi al-Quran al-Karim. Kairo: Dar al-Islam, 1973 Asy'ari, Musa. Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam al-Quran. Yokyakarta:

  LESFI, 1992 Asyarie, Sukmadjaja dan Yusuf, Rosy. Indeks al-Quran. Bandung: Pustaka, 1996 Bahreisy Salim dan Bahreisy said. Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier Jilid 8.

  Surabaya: Bina Ilmu.1993 _________________________. Terjemah Singkat Ibnu Katsier Jilid 4. Surabaya:

  Bina Ilmu. 1988 _________________________. Terjemah Singkat Ibnu Katsier Jilid 5. Surabaya:

  Bina Ilmu. 1988 _________________________. Terjemah Singkat Ibnu Ktasier Jilid 6. Surabaya:

  Bina Ilmu. 1990 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1998

  Drewer, James. Kamus Psikologi. Penerjemah Nancy Simanjutak. Jakarta: Bina Aksara, 1998 al-Ghazali. Mi'raj al-Salikin. al-Qohirah: al-Tsaqafah al-Islamiyah, 1964

  Hady, Samsul. Islam Spriritual. Malang: UIN Malang Press. 2007

  

=1196:4-kasus-kekerasan-terhadap-anak-anak&catid=160:info&Itemid=200

  Ibn Manzhur, Lisan al-Arabi, Kairo: Dar al-MA'arif, t.t.

  Jaelani, A.F. Penyucian Jiwa dan Kesehatan Mental (Tazkiyat al-Nafs). Jakarta: Amzah. 2000

  Kuntowijoyo, Mukjizat Sabar, Bandung: Mizania Pustaka, 2009 Mubarok, Ahmad. Psikologi Qur'ani. Jakarta: Pustaka Fidaus, 2001 ______________, Jiwa dalam al-Quran. Jakarta: Paramadina, 2000 ______________, Psikologi Keluarga. Jakarta: PT. Bina Rena Pariwara bekerjasama dengan The International Institute of Islamaic Thiugt

  Indonesia, 2005 Mufidah. Psikologi Keluarga Islam Berwawasan Gender.yogyakarta: Uin

  Malang. 2008 Munawwir, Ahmad Warson. Kamus al-Munawwir. Surabaya: Pustaka Progresif. 2002 Muthahari, Murtadha. Perspektif al-Quran tentang Manusia dan Agama. Terj. Bandung: Mizan, 1994

  _______________, Membumikan al-Quran, Bandung: Mizan. 1995 _______________, Jiwa dalam Pandangan Para Filosof Muslim. Penerjemah

  Gazi Saloom, Bandung: Pustaka Hidayah. 2002 Nasution, Harun. Akal dan Wahyu dalam Islam. Jakarta: UI Press. 1985 Pulungan, Syahid Mu'ammar. Manusia dalam al-Quran. Surabaya: PT. Bina Ilmu. t.t. Purwanto, Yadi dan Mulyono, Rachmat. Psikologi Marah. Bandung: Reflika

  Aditama. 2006 Sa’adi. Nilai Kesehatan Mental Islam Dalam Kebatinan. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan diklat Kementrian Agama RI.

  2010 al-Shabuniy, Muhammad Ali. Mukhtashar Tafsir Ibn Katsir. Beirut: Dar al- Quran. 1981

  Shaleh, Abdul Rahman dan Wahab, Muhbib Abdul. Psikologi Suatu Pengantar:

  Dalam Perspektif Islam. Jakarta: Kencana. 2005

  Shihab, M. Quraish. Wawasan al-Quran: Tafsir Maudhu'I Atas Berbagai

  Persoalaan Umat. Bandung: Mizan, 1995 Sobur, Alex. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia, 2003 Syukur, Amin. Zuhud di Abad Modern. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2000 Tafsir Alqur’an Tematik, Kesehatan Dalam Prespektif al-Qur’an. Jakarta: Lajnah

  Pentasihan Mushaf al- Qur’an. 1990 Ulwan, Abdullah Nashih. Pendidikan Anak dalam Islam. Jakarta: Pustaka Amani.

  1995 Yunus, Mahmud. Kamus Arab-Indonesia. Jakarta: Karya Agung. 1990

Dokumen baru