Hubungan antara pengelolaan kelas dengan prestasi belajar siswa : studi korelasi pada sistem full day school di Madrasah Tsanawiyah Al-Kautsar Depok

91 

Full text

(1)

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh:

Abdul Muiz

106018200728

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN

JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)
(3)

Pendidikan, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Dosen Pembimbing. Bahrissalim, M.Ag.

Kata Kunci: Pengelolaan Kelas, Prestasi Belajar Siswa

Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimanakah pelaksanaan pengelolaan kelas yang dilakukan guru MTs Al-Kautsar pada kelas full day dan Bagaimana prestasi belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan sistem

full dayschool di MTs Al-Kautsar Depok serta apakah terdapat hubungan antara pengelolaan kelas dengan prestasi belajar siswa.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa full day MTs Al-Kautsar-Depok, sedangkan populasi terjangkau adalah siswa kelas VII dan VIII MTs Al-Kautsar Depok yang berjumlah 44 siswa. Sampel diambil menggunakan rumus yang dikembangkan oleh Isaac dan Michael dari jumlah populasi, sedangkan teknik pengambilannya menggunakan proporsional random sampling. Untuk mengumpulkan data digunakan teknik kuisioner, dokumentasi dan observasi. Kuisioner diberikan kepada siswa yang dijadikan responden dan teknik dokumentasi digunakan untuk memperoleh nilai prestasi belajar siswa. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis ”Product Moment”, uji signifikansi dan koefesiensi determinan.

Setelah dilakukan analisis data, maka diperoleh rhitung(0,444)>rtabel (0,304) pada taraf signifikansi 5%, sedangkan pada taraf signifikansi 1% rtabel = 0,393, menunjukkan bahwa rhitung>rtabel(0,444>0,393). Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengelolaan kelas dengan prestasi belajar siswa, dan kontribusi antara pengelolaan kelas terhadap prestasi belajar siswa pada penelitian ini sebesar 19,36% sedangkan sisanya 80,64% dari faktor lain.

Dari hasil penelitian ini penulis dapat memberikan saran yaitu kepala sekolah hendaknya memberikan pembinaan serta arahan tentang pengelolaan kelas yang telah dilakukan oleh guru dan guru MTs Al-Kautsar hendaknya mempertahankan dan meningkatkan penerapan pengelolaan kelas yang lebih efektif sehingga prestasi belajar siswa pada kelas full day bisa meningkat.

(4)

Puji syukur kehadirat Illahi rabb atas rahmat dan nikmat-Nya sehingga

penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam terlimpahkan kepada

Nabi besar Muhammad SAW serta pengikutnya sampai akhir zaman.

Alhamdulillah berkat ridho-Nya dan bantuan, bimbingan serta dorongan

dari berbagai pihak, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu,

sebagai ungkapan rasa hormat yang tulus, penulis menyampaikan ucapan terima

kasih kepada:

1. Bapak Prof. DR. Dede Rosyada, M.A sebagai Dekan Fakultas Ilmu

Tarbiyah dan Keguruan.

2. Bapak Rusydy Zakaria, M.Ed. M.Phill, sebagai Ketua Jurusan

Kependidikan Islam dan Bapak Drs. H. Muarif SAM, M.Pd sebagai

Kaprodi Manajemen Pendidikan sekaligus Dosen Penasehat

Akademik.

3. Bapak Bahrisalim, M.Ag sebagai Dosen Pembimbing skripsi yang

telah membimbing dan meluangkan waktu, tenaga dan fikiran di

sela-sela kesibukannya untuk memberikan bimbingan dan arahan kepada

penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

4. Kepala sekolah, dewan guru MTs Al-Kautsar yang telah menyediakan

waktu dan tempat untuk penelitian ini.

(5)

materil yang tak terhingga demi terselesaikannya skripsi ini.

6. Humaero, atas motivasi dan doanya yang membuat penulis untuk

segera menyelesaikan skripsi ini. Terimakasih pula atas kasih

sayangnya.

7. Sobat-sobatku, atas kebersamaan, support dan bantuannya demi

terselesaikan skripsi ini. Serta teman-teman di jurusan Kependidikan

Islam yang telah membantu, tidak dapat penulis sebutkan satu persatu,

terima kasih atas motivasinya untuk penulis.

Akhir kata, besar harapan penulis semoga skripsi ini memberikan manfaat

khususnya bagi penulis dan umumnya bagi siapa saja yang membaca.

Jakarta, 25 Juni 2010

Penulis

(6)

LEMBAR PERNYATAAN

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR BAGAN ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Identifikasi Masalah ... 5

C. Pembatasan Masalah ... 5

D. Rumusan Masalah ... 6

E. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN PERUMUSAN HIPOTESIS A. Prestasi Belajar Siswa ... 7

1. Definisi Prestasi Belajar ... 7

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar ... 8

3. Jenis dan Indikator Prestasi Belajar ... 10

(7)

3. Komponen-komponen Pengelolaan Kelas ... 18

4. Keterampilan Pengelolaan Kelas ... 18

5. Prinsip-prinsip Pengelolaan Kelas ... 19

6. Pengelolaan Kelas yang Efektif ... 20

7. Kegiatan Pengelolaan Kelas ... 21

8. Pengaturan Posisi Tempat Duduk ... 22

C. Kerangka Berpikir ... 26

D. Hipotesis ... 28

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tujuan Penelitian ... 29

B. Waktu dan Tempat Penelitian ... 29

C. Metode Penelitian ... 29

D. Populasi dan Sampel ... 30

E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ... 30

F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ... 32

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Data dan Analisis Data ... 37

1. Deskripsi Data ... 37

2. Analisis Data ... 45

B. Pengujian Hipotesis dan Interprestasi Data ... 50

(8)

DAFTAR PUSTAKA ... 55

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 58

(9)

3. Data statistik deskriptip pengelolaan kelas ... 37

4. Kategori data pengelolaan kelas ... 46

5. Skor angket skala pengelolaan kelas ... 45

6. Klasifikasi skor angket ... 46

7. Skor nilai prestasi belajar ... 47

8. Klasifikasi skor prestasi belajar siswa ... 48

9. Koefesiensi antara variabel X dengan variabel Y ... 48

10. Kisi-kisi instrument penelitian ... 59

11. Data responden kelas VII MTs Al-Kautsar Depok (full day) ... 65

12. Data responden kelas VIII MTs AL-Kautsar Depok (full day) ... 66

13. Keadaan guru dan tenaga kependidikan... 69

14. Keadaan siswa dan siswi MTs Al-Kautsar Depok ... 70

15. Keadaan sarana dan prasarana Al-Kautsar-Depok ... 70

16. Skor hasil angket ... 72

17. Distribusi frekuensi pengelolaan kelas (X) ... 74

18. Kategori penilaian pengelolaan kelas ... 75

19. Distribusi frekuensi prestasi belajar siswa (Y) ... 76

20. Kategori penilaian prestasi belajar siswa ... 77

(10)

3. Format U tertutup ... 23

4. Format lingkaran besar ... 24

5. Format lingkaran kecil ... 24

6. Format kotak besar ... 24

7. Format kotak kecil ... 25

8. Kerangka berfikir ... 27

9. Struktur organisasi Al-Kautsar-Depok ... 71

(11)

3. Surat bimbingan skripsi ... 62

4. Surat izin melakukan penelitian ... 63

5. Surat keterangan telah melakukan penelitian... 64

6. Data responden ... 65

7. Profil MTs Al-Kautsar-Depok ... 67

8. Daftar guru MTs Al-Kautsar-Depok ... 69

9. Daftar siswa-siswi, sarana dan prasarana MTs Al-Kautsar-Depok ... 70

10. Hasil skor angket ... 72

11. Proses pengolahan data ... 74

12. Dokumentasi-dokumentasi ... 79

(12)

x

3. Histogram prestasi belajar siswa ... 77

4. Proses penyebaran angket ... 79

5. Pengelolaan kelas: dinamika kelompok siswi ... 80

6. Pengelolaan kelas: dinamika kelompok siswa ... 81

(13)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dari waktu ke waktu makin pesat. Arus globalisasi semakin hebat. Akibat dari fenomena ini, maka muncul persaingan dalam berbagai bidang kehidupan, diantaranya bidang pendidikan. Untuk menghadapi tantangan berat ini dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas, salah satu cara yang ditempuh adalah melalui peningkatan mutu pendidikan.

Namun pendidikan di Indonesia saat ini tidak lepas dari berbagai permasalahan, diantaranya masih minimnya sarana-prasarana sekolah, rendahnya kualitas guru, kesempatan pemerataan pendidikan, relevansi pendidikan dengan kebutuhan, mahalnya biaya pendidikan hingga menurunnya mutu pendidikan. Hal ini dibuktikan dengan adanya penurunan angka kelulusan yang cukup signifikan dari tingkat kelulusan 99,51% pada tahun 2008 menurun hingga 93,74% tahun 2009 dan 89,88% tahun 2010.1

Pemerintah telah berusaha melakukan perbaikan-perbaikan agar mutu pendidikan meningkat, diantaranya dengan perbaikan kurikulum, penataran bagi guru-guru, pemyempurnaan buku-buku pelajaran dan penambahan alat peraga. Namun demikian mutu yang dicapai belum seperti apa yang

       1

Kemendiknas, “Statistika hasil ujian nasional,” artikel online diakses pada tanggal 25 Juni 2010 dari http://edukasi.kompas.com.

(14)

diharapkan. Perbaikan yang telah dilakukan pemerintah tidak ada artinya jika tanpa dukungan dari guru, orang tua siswa, siswa dan masyarakat yang turut serta dalam meningkatkan mutu pendidikan.

Berbicara tentang mutu pendidikan tidak akan lepas dari kegiatan belajar. Hasil kegiatan belajar yang diharapkan adalah prestasi belajar yang baik. Prestasi belajar merupakan hasil belajar yang dicapai setelah melalui proses kegiatan belajar mengajar. Prestasi belajar dapat ditunjukkan melalui nilai yang diberikan oleh seorang guru dari jumlah bidang studi yang telah dipelajari oleh peserta didik.

Setiap orang pasti mendambakan prestasi belajar yang tinggi, baik orang tua, siswa dan lebih-lebih bagi guru. Untuk mencapai prestasi belajar yang optimal tidak lepas dari kondisi-kondisi di mana kemungkinan siswa dapat belajar dengan efektif dan dapat mengembangkan daya eksplorasinya baik fisik maupun psikis.

Memperoleh prestasi belajar yang baik tidaklah mudah, banyak faktor yang mempengaruhi. diantara faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah: faktor internal, yaitu faktor yang timbul dari dalam diri anak itu sendiri, seperti kesehatan, mental, tingkat kecerdasan, minat dan sebagainya. Faktor itu berwujud juga sebagai kebutuhan dari anak serta faktor eksternal, yaitu faktor yang datang dari luar diri anak, seperti kebersihan rumah, udara, iklim sekolah, keluarga, masyarakat, teman, guru, media, sarana dan prasarana belajar. Diantara beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa terdapat faktor utama yang sangat berpengaruh dalam keberhasilan pembelajaran dan berdampak pada prestasi belajar siswa yaitu keberadaan guru. Mengingat keberadaan guru dalam proses kegiatan belajar mengajar sangat berpengaruh, maka sudah semestinya profesionalisme guru harus diperhatikan.

(15)

“Sebagai manajer guru bertanggung jawab memelihara lingkungan fisik kelasnya agar senantiasa menyenangkan untuk belajar dan mengarahkan atau membimbing proses-proses intelektual dan sosial di dalam kelas.”2

Untuk mewujudkan hal tersebut, perlu diciptakan suasana kelas yang mendukung proses belajar mengajar yang dapat membantu efektivitas proses belajar mengajar yaitu: Pertama, perlu diketahui secara tepat faktor-faktor yang dapat menunjang terciptanya kondisi yang menguntungkan dalam proses belajar-mengajar, kedua, dikenal masalah-masalah yang diperkirakan dan biasanya timbul dan dapat merusak iklim belajar-mengajar, ketiga,

dikuasainya berbagai pendekatan dalam pengelolaan kelas dan diketahui pula kapan dan untuk masalah mana suatu pendekatan digunakan.3

Oleh karenanya pengelolaan kelas merupakan kegiatan yang diperlukan agar peserta didik merasa aman, nyaman dan senang berada di sekolah dan tentunya akan memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar yang akan dicapai oleh siswa.

Pada kenyataanya, berdasarkan hasil survei pendahuluan yang telah peneliti lakukan di MTs Al-Kautsar Depok, terlihat bahwa Madrasah ini menerapkan manajemen madrasah dengan dua sistem yaitu sistem reguler dan

full day, sistem reguler merupakan sistem pembelajaran siswa di sekolah dari jam 07.00 sampai 13.00 layaknya sekolah umum biasa, sedangkan sistem full day school, merupakan sistem pembelajaran selama sehari penuh yaitu dari jam 07.00 sampai 14.00 WIB. Dengan sistem full day, maka diberlakukan penambahan jam pelajaran agar siswa mendalami sebuah mata pelajaran dengan jatah waktu yang proporsional selama sehari penuh, agar siswa full day mampu meningkatkan prestasinya dibanding prestasi belajar siswa reguler yang selama ini dicapai masih tergolong cukup, selain itu juga agar madrasah tetap eksis dan bila mungkin menyaingi atau bahkan mengungguli sekolah-sekolah umum. Namun, terlihat dari hasil lulusan siswa full day tahun

       2

Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2007), Edisi. XIV, h. 10.

3

(16)

pelajar

(17)

B. Identifikasi Masalah.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka terdapat beberapa masalah yang dapat diidentifikasi, antara lain:

1. Bagaimana minat belajar siswa yang mengikuti pembelajaran sistem

full day di MTs Al-Kautsar?

2. Bagaimana pelaksanaan pengelolaan kelas yang dilakukan guru pada kelas full day di MTs Al-Kautsar Depok?

3. Bagaimana tingkat kecerdasan masing-masing siswa full day di MTs Al-Kautsar-Depok?

4. Bagaimana motivasi belajar siswa yang mengikuti pembelajaran dengan sistem full day school di MTs Al-Kautsar-Depok?

5. Bagaimana metode mengajar yang digunakan guru pada kelas full day

di MTs Al-Kautsar Depok? C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas maka masalah yang dibatasi yaitu:

1. Pengelolaan kelas

Pengelolaan kelas yaitu segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar-mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat mendorong siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuannya, sedangkan yang dimaksud pengelolaan kelas di sini adalah keterampilan guru dalam menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya ketika terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar.

2. Prestasi belajar siswa

(18)

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, identifikasi dan batasan masalah di atas, maka permasalahan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana pelaksanaan pengelolaan kelas yang dilakukan guru pada kelas full day di Madrasah Tsanawiyah Al-Kautsar Depok?

2. Bagaimana prestasi belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan sistem full dayschool di MTs Al-Kautsar Depok?

3. Apakah terdapat hubungan antara pengelolaan kelas dengan prestasi belajar siswa?

E. Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian ini, penulis mengharapkan bermanfaat:

1. Bagi penulis, diharapkan dapat menambah wawasan pengetahuan penulis dalam mengetahui pelaksanaan pengelolaan kelas.

2. Bagi sekolah, diharapkan dapat menjadi bahan masukan untuk pelaksanaan pengelolaan kelas pada siswa full day yang akan datang di sekolah tersebut.

(19)

BAB II

LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

A. Prestasi Belajar.

1. Definisi Prestasi Belajar

Istilah prestasi belajar terdiri dari dua suku kata, yaitu prestasi dan belajar. Istilah prestasi di dalam Kamus Ilmiah Populer didefinisikan sebagai “hasil yang telah dicapai.”1 Sedangkan yang dimaksud dengan belajar yaitu “berusaha, berlatih untuk mendapat pengetahuan.”2

Prestasi belajar menurut Nana Syaodih Sukmadinata yaitu “hasil/prestasi belajar merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang”.3

Sedangkan Menurut A. Tabrani Rusyan, "prestasi belajar merupakan hasil yang dicapai oleh seorang siswa setelah ia melakukan kegiatan belajar mengajar tertentu atau setelah ia menerima pengajaran dari seorang guru pada suatu saat."4

       1

Burhani MS dan Hasbi Lawrens, Kamus Ilmiah Populer, (Jombang: Lintas Media, t.th), h. 543

2

Desi Anwar, Kamus…, h. 79 3

Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2007), Cet. IV, h. 102.

4

Tabrani Rusyan, Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2000), h. 65.

(20)

Winkel mengemukakan bahwa “prestasi belajar merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang, dapat diartikan bahwa prestasi belajar merupakan hasil maksimum yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha belajar.”

Sunarto berpendapat bahwa prestasi belajar merupakan “hasil dari pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrumen tes yang relevan.”5

Berdasarkan uraian-uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah tingkat keberhasilan yang dicapai dari suatu kegiatan atau usaha yang dapat memberikan kepuasan emosional, dan dapat diukur dengan alat atau tes tertentu.

Dalam dunia pendidikan, bentuk penilaian dari suatu prestasi biasanya dapat dilihat atau dinyatakan dalam bentuk simbol huruf atau angka-angka. Jadi, prestasi belajar adalah hasil yang diraih oleh peserta didik dari aktivitas belajarnya yang ditempuh untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dapat diwujudkan dengan adanya perubahan sikap dan tingkah laku dan pada umumnya dinyatakan dalam bentuk simbol huruf atau angka-angka.

Prestasi belajar yang didapatkan oleh seorang siswa bersifat sementara, kadang kala dalam suatu tahapan belajar, siswa yang berhasil secara gemilang dalam belajar, sering pula dijumpai adanya siswa yang gagal. Seperti angka raport rendah, tidak naik kelas, tidak lulus ujian akhir dan sebagainya.

Adapun dalam penelitian ini yang dimaksud prestasi belajar adalah hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar mengajar, yang dapat diwujudkan dengan nilai hasil belajar (raport).

       5

(21)

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Menurut Abu Ahmadi proses dan hasil/prestasi belajar dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor ekternal yang dapat dijabarkan lebih lanjut sebagai berikut:

a. Faktor yang berasal dari dalam diri siswa (internal), diantaranya meliputi:

1) Minat

Merupakan kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenai beberapa kegiatan.

2) Intelegensi/kecerdasan

Intelegensi merupakan suatu kemampuan belajar disertai kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya.

3) Bakat

Merupakan kemampuan tertentu yang telah dimiliki seseorang sebagai kecakapan pembawaan.

4) Motivasi

Motivasi dalam belajar merupakan faktor penting karena hal tersebut merupakan keadaan yang mendorong keadaan siswa untuk melakukan belajar. Persoalan mengenai motivasi belajar adalah bagaimana cara mengatur agar motivasi dapat ditingkatkan.

5) Kemampuan-kemanpuan kognitif

Tidak dapat diingkari bahwa sampai sekarang pengukuran kognitif masih diutamakan untuk menentukan keberhasilan belajar seseorang. Sedangkan aspek efektif dan psikomotorik lebih bersipat pelengkap dalam menentukan derajat keberhasilan belajar anak di sekolah.

(22)

program/bahan pengajaran, sarana prasarana, guru (tenaga pengajar).6

Dari penjabaran tentang faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat dikelompokan menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang timbul dari dalam diri anak didik tersebut sedangkan faktor eksternal faktor yang disebabkan oleh stimuli eksternal terhadap anak didik sehingga anak didik tersebut terpengaruh atau terkondisikan oleh faktor eksternal tersebut.

3. Jenis dan Indikator Prestasi Belajar

Prestasi belajar pada dasarnya adalah hasil akhir yang diharapkan dapat dicapai setelah seseorang belajar. Menurut Ahmad Tafsir hasil/prestasi belajar terbagi menjadi dua standar, yaitu standar absolut dan standar relatif. Standar absolut digunakan untuk menyatakan tingkat penguasaan bahan pengajaran atau tujuan pengajaran oleh siswa sedangkan standar relatif menggambarkan kemampuan siswa dibandingkan dengan siswa lain dalam kelompoknya.7

Sementara Good dan Brophy menyatakan bahwa prestasi belajar siswa tampak pada penguasaan pola tanggapan baru terhadap lingkungannya yang berupa keterampilan (skill), kebiasaan (habit), sikap dan pendirian (attitude), kemampuan (ability), pengetahuan (knowledge), pemahaman (understanding), emosi (emosional), apresiasi (appreciation), jasmani dan etika atau budi pekerti, serta hubungan sosial.8

Adapun menurut Benjamin S. Bloom dan Rathwohl, sebagaimana yang dikutip oleh Yatim Riyanto, bahwa hasil belajar diklasifikasikan ke

      

6 

Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetya, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: Pustaka Setia, 2005), Cet. II, h. 103-111.

7

Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), Cet. IX, h. 78-79

8

(23)

dalam tiga ranah yaitu: ranah kognitif (cognitive domain), ranah psikomotor (psychomotor domain) dan ranah afektif (affective domain).9

Bertolak dari beberapa pendapat tersebut di atas, penulis lebih cenderung kepada pendapat Benjamin S. Bloom. Kecenderungan ini didasarkan pada alasan bahwa ketiga ranah yang diajukan lebih terukur, dalam artian bahwa untuk mengetahui prestasi belajar yang dimaksudkan mudah dan dapat dilaksanakan, khususnya pada pembelajaran yang bersifat formal.

Berdasarkan hal tersebut, maka penulis berkesimpulan bahwa jenis prestasi belajar itu meliputi 3 (tiga) ranah atau aspek, yaitu: 1) ranah kognitif (cognitive domain), 2) ranah afektif (affective domain), dan 3) ranah psikomotor (psychomotor domain).

Untuk mengungkap hasil belajar atau prestasi belajar pada ketiga ranah tersebut di atas diperlukan patokan-patokan atau indikator-indikator sebagai petunjuk bahwa seseorang telah berhasil meraih prestasi pada tingkat tertentu dari ketiga ranah tersebut. Dalam hal ini Muhibbin Syah mengemukakan bahwa: “Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa adalah mengetahui garis-garis besar indikator (penunjuk adanya prestasi tertentu) dikaitkan dengan jenis prestasi yang hendak diungkapkan atau diukur.”10

Pengetahuan dan pemahaman yang mendalam mengenai indikator-indikator prestasi belajar sangat diperlukan ketika seseorang akan menggunakan alat dan kiat evaluasi. Menurut Muhibbin Syah, urgensi pengetahuan dan pemahaman yang mendalam mengenai jenis-jenis prestasi belajar dan indikator-indikatornya adalah bahwa pemilihan dan pengunaan alat evaluasi akan menjadi lebih tepat, reliabel, dan valid.

       9

Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran: Sebagai Referensi bagi Pendidik dalam Implementasi Pembelajaran yang Efektif dan Berkualitas, (Jakarta: Kencana, 2009), Cet. I, h. 17-18.

10

(24)

B. Pengelolaan Kelas

1. Pengertian Pengelolaan Kelas

Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur anak didik dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Juga hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan anak didik dan anak didik dengan anak didik, merupakan syarat keberhasilan pengelolaan kelas. “Pengelolaan kelas yang efektif merupakan syarat mutlak bagi terjadinya proses belajar-mengajar yang efektif.”11 Maka dari itu penting sekali bagi seorang guru memiliki kemampuan menciptakan kondisi belajar mengajar yang baik dan untuk mencapai tingkat efektivitas yang optimal dalam kegiatan instruksional, kemampuan mengelola kelas merupakan salah satu faktor yang juga harus dikuasai oleh seorang guru, disamping faktor-faktor lainnya. Kemampuan tersebut yang kemudian disebut dengan kemampuan pengelolaan kelas.

Banyak hal yang harus dikelola guru dalam menciptakan suasana kelas yang dapat menunjang keberhasilan belajar mengajar. Keberhasilan mengajar seorang guru tidak hanya berkaitan langsung dengan proses belajar mengajar, misalnya tujuan yang jelas, menguasai materi, pemilihan metode yang tepat, penggunaan sarana dan evaluasi yang tepat. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah keberhasilan guru dalam mencegah timbulnya perilaku subjek didik yang mengganggu jalannya proses belajar mengajar, mencegah timbulnya ketidaktertiban, sehingga proses pembelajaran dalam kelas dapat berjalan secara optimal untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.12

Melihat betapa pentingnya pengelolaan kelas, maka akan dikemukakan beberapa pengertian pengelolaan kelas menurut pendapat

       11

Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), Cet. III, h. 173.

12

(25)

para ahli. Secara etimologi pengeloaan kelas dapat diartikan secara terpisah, yaitu kata pengelolaan dan kata kelas.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah pengelolaan diartikan sebagai "proses, cara, perbuatan mengelola.”13 Sedangkan yang dimaksud dengan kelas adalah "tingkatan, ruang tempat belajar di sekolah.”14 Hamalik mengartikan kelas sebagai “sekelompok orang yang melakukan kegiatan belajar mengajar bersama yang mendapatkan pengajaran dari guru.” Sementara menurut Suharsimi Arikunto, kelas merupakan “sekelompok siswa, pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama.”15

Kelas bukanlah sekedar ruangan dengan segala isinya yang bersifat statis dan fasif, namun kelas juga merupakan sarana berinteraksi antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru. Ciri utama kelas adalah pada aktivitasnya. Untuk dapat menjalankan aktivitas pembelajaran yang dinamis perlu adanya suatu kegiatan pengelolaan kelas yang baik dan terencana, dengan kata lain pengelolaan kelas diterjemahkan secara singkat sebagai suatu proses penyelenggaraan atau pengurusan ruang di mana dilakukan kegiatan belajar mengajar, dan untuk lebih jelasnya berikut pengertian pengelolaan kelas yang dikemukakan oleh para ahli.

Menurut Iskandar, “pengelolaan kelas merupakan kegiatan yang terencana dan sengaja dilakukan oleh guru dengan tujuan menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal, sehingga diharapkan proses belajar mengajar dapat berjalan secara efektif dan efesien, sehingga tercapai tujuan pembelajaran.”16

Ade Rukmana dan Asep Suryana menyatakan bahwa pengelolaan kelas adalah “segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana

       13

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, “Kamus Besar Bahasa Indonesia,” kamus online diakses pada 05 Maret 2010 dari http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php.

14

Desi Anwar, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Surabaya: Amelia, 2002),h. 230. 15

Martinis Yamin, Manajemen Pembelajaran Kelas: Strategi Meningkatkan Mutu Pembelajaran, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2009), Cet. I, h. 34

16

(26)

belajar-mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan.”17

Definisi pengelolaan kelas yang dikemukakan oleh iskandar dan Ade Rukmana di atas, keduanya lebih menitikberatkan kepada penciptaan suasana belajar yang efektif. Hal ini dikarenakan belajar tanpa suasana yang efektif dan mendorong siswa untuk belajar, sehingga akan menjadikan siswa merasa terpaksa untuk belajar di dalam kelas.

Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, pengelolaan kelas adalah “keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar-mengajar.”18 “Pengelolaan kelas adalah salah satu tugas guru yang tidak pernah ditinggalkan.”19

Utsman menyatakan bahwa “Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar.”20

Sedangkan menurut Wina Sanjaya, pengelolaan kelas adalah: “Keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya manakala terjadinya hal-hal yang dapat menggangu suasana pembelajaran.”21

Pandangan mengenai pengelolaan kelas sebagaimana dikemukakan di atas intinya memiliki karakteristik yang sama, yaitu bahwa pengelolaan kelas merupakan sebuah upaya yang real untuk mewujudkan suatu kondisi proses atau kegiatan belajar mengajar yang efektif. Dengan pengelolaan kelas yang baik diharapkan dapat mendukung terciptanya tujuan pembelajaran di mana proses tersebut memberikan pengaruh positif secara

       17

Ade Rukmana dan Asep Suryana, Pengelolaan kelas, (Bandung: UPI Press, 2006), h. 29.

18

Syaiful Bahri Djamarah, Strategi…, h. 173. 19

Syaiful Bahri Djamarah, Strategi…, h. 174. 20

Moh Uzer Usman, Menjadi…, h. 97. 21

Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi.

(27)

langsung menunjang terselenggaranya proses belajar-mengajar di kelas serta mengembalikannya jika terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar seperti siswa mengantuk, malas mengerjakan tugas dan melanggar peraturan kelas.

Carrie Rothstein Fisch and Elise Trumbull berpendapat “Classroom Management -the set of strategies that teachers and students use to ensure a productive, harmonious learning environment to prevent disruptions in

the learning process.”22 (Pengelolaan Kelas merupakan suatu strategi yang dirancang oleh guru agar siswa dapat belajar dengan produktif, tercipta lingkungan belajar yang harmonis untuk mencegah terjadinya gangguan pada proses belajar).

Dalam buku Classroom Management: Model, Application and Cases, M Lee Manning dan Katherine mengemukakan bahwa:

Classroom management: strategies for assuring physical and psychological safety in the classroom, techniques for changing student misbehavior and for teacher self discipline; methods of assuring an orderly progression of events during the school day; and instructional techniques that contribute to student positive behaviors.23

Konsep yang dikemukakan M Lee Manning dan Katherine berkenaan dengan pengelolaan kelas tampaknya lebih komprehensif dibandingkan dengan apa yang telah dikemukakan oleh Carrie Rothstein Fisch and Elise Trumbull. Hal ini dapat dilihat dari luasnya cakupan konsep penegelolaan kelas yang dikemukakan, yaitu tidak hanya menyangkut pengendalian prilaku melainkan juga berhubungan dengan teknik dan strategi secara sistematis dimulai dari fisik dan psikis siswa, merubah tingkahlaku siswa yag buruk, metode mengembangkan kemampuan siswa, penciptaan disiplin, penataan kelas dan penciptaan

      

22 

Rothstein Fisch Carrie and Trumbull Elise. Managing Diverse Classrooms: How to Build on Students' Cultural Strengths. (Alexandria: Association for Supervision and Curriculum Development, 2008). h. 2.

23

(28)

iklim kelas yang kondusif untuk kegiatan pembelajaran, sehingga siswa berkembang secara positif.

Berdasarkan berbagai definisi pengelolaan kelas di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pengelolaan kelas merupakan suatu usaha sadar untuk mengatur kegiatan proses belajar dan mengajar secara sistematis. Usaha sadar itu mengarah pada penyiapan bahan belajar, mewujudkan situasi atau kondisi proses belajar-mengajar dan pengaturan waktu, sehingga proses belajar-mengajar berjalan dengan baik dan tujuan kurikulum dapat tercapai.

Pengelolaan kelas merupakan suatu usaha menyiapkan kondisi yang optimal agar proses atau kegiatan belajar-mengajar dapat berlangsung secara lancar atau dapat dikatakan bahwa pengelolaan kelas merupakan usaha sadar untuk mengatur kegiatan proses belajar mengajar secara sistematis. Usaha sadar dalam pengelolaan kelas mengarah pada dua elemen yaitu fisik dan non fisik, pengelolaan material meyangkut komponen fisik di kelas, seperti pengaturan ruang kelas, posisi bangku dan kursi, lemari, alat dan media pembelajaran serta komponen fisik lainnya. Pengelolaan material menyangkut komponen nonfisik seperti pengelolaan siswa, kondisi sosio emosional dan bentuk-bentuk hubungan kemanusiaan yang diperankan di kelas sebagai anggota kelas.

Pengelolaan kelas bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, terlebih lagi belum adanya satupun pendekatan belajar yang dikatakan paling baik untuk mengatasi masalah-masalah yang ada di kelas.

(29)

bahwa seorang guru kelas menempati posisi serta peranan yang cukup penting bagi pengelolaan kelas.

2. Tujuan Pengelolaan Kelas.

Menurut Usman pengelolaan kelas mempunyai dua tujuan yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.

a. Tujuan umum pengelolaan kelas adalah menyediakan dan menggunakan fasilitas belajar untuk bermacam-macam kegiatan belajar-mengajar agar mencapai hasil yang baik.

b. Tujuan khususnya adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa bekerja dan belajar, serta membantu siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan.24

Sedangkan menurut Dirjen Dikdasmen yang menjadi tujuan pengelolaan kelas adalah:

a. Mewujudkan situasi dan kondisi belajar, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuannya semaksimal mungkin.

b. Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran.

c. Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional, dan intelektual siswa dalam kelas. d. Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang

sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.25

Tujuan pengelolaan kelas pada hakikatnya telah terkandung pada tujuan pendidikan dan secara umum tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional dan intelektual dalam kelas.26 Sehingga subjek didik terhindar dari permasalahan mengganggu seperti siswa mengantuk, enggan mengerjakan tugas, terlambat masuk kelas, mengajukan pertanyaan aneh, menggangu teman lain, tempat duduk banyak kutu busuk, ruang kelas kotor.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah menyediakan, menciptakan dan memelihara kondisi yang optimal

      

(30)

di dalam kelas sehingga siswa dapat belajar dan bekerja dengan baik. Selain itu juga guru dapat mengembangkan dan menggunakan alat bantu belajar yang digunakan dalam proses belajar-mengajar sehingga dapat membantu siswa dalam mencapai hasil belajar yang diinginkan.

3. Komponen-komponen Pengelolaan Kelas

Untuk mendukung terjadinya proses pembelajaran, maka unsur-unsur pengelolaan meliputi dua tindakan yaitu:

a. Tindakan Preventif

Preventif yaitu upaya sedini mungkin yang dilakukan oleh guru untuk mencegah terjadinya gangguan dalam pembelajaran, berupa: 1) Tanggap/peka yaitu kemampuan guru merespon terhadap perilaku

atau aktifitas yang dianggap akan mengganggu pembelajaran. 2) Perhatian, selalu mencurahkan perhatian pada berbagai aktivitas,

lingkungan maupun segala sesuatu yang muncul. b. Tindakan Refresif

Tindakan refresif merupakan kemampuan guru untuk mengatasi, mencari dan menemukan solusi yang tepat untuk memecahkan masalah yang terjadi dalam lingkungan pembelajaran.

1) Memodifikasi tingkah laku, yaitu bahwa tingkah laku dapat diamati

2) Pengelolaan kelompok, yaitu untuk menangani permasalahan hendaknya dilakukan secara kolaborasi dan mengikutsertakan berbagai komponen atau unsur yang terkait

3) Diagnosis yaitu suatu keterampilan untuk mencari unsur-unsur yang akan menjadi penyebab gangguan maupun unsur-unsur yang akan menjadi kekuatan bagi peningkatan proses pembelajaran 4) Peran guru, yaitu mendorong siswa mengembangkan tanggung

jawab individu terhadap lingkungannya, membangun pemahaman siswa agar mengerti dan menyesuaikan tingkah lakunya dengan tata tertib kelas, dan menimbulkan rasa berkewajiban melibatkan diri dalam tugas serta tingkah laku yang sesuai dengan aktivitas kelas.27

4. Keterampilan Mengelola Kelas

Keberhasilan mengajar seorang guru tidak hanya berkaitan langsung dengan proses belajar-mengajar, misalnya tujuan yang jelas, menguasai materi, pemilihan metode yang tepat, penggunaan sarana, dan evaluasi

       27 

(31)

yang tepat. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah keterampilan guru dalam mengelola kelasnya.

Keterampilan mengelola kelas itu terbagi menjadi dua bagian, yaitu keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal dan keterampilan yang berhubungan dengan pengembalian kondisi belajar yang optimal.

a. Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal, meliputi:

1) Menunjukkan sikap Tanggap 2) Mencurahkan Perhatian 3) Menyiagakan siswa

4) Menuntut tanggung jawab siswa

5) Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas 6) Memberikan teguran

7) Memberi penguatan

b. Keterampilan yang berhubungan dengan pengembalian kondisi belajar yang optimal, meliputi:

1) Memperbaiki tingkah laku 2) Pengelolaan kelompok

3) Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.28

5. Prinsip-prinsip Pengelolaan Kelas

Dalam rangka memperkecil masalah gangguan dalam kelas, prinsip-prinsip pengeloaan kelas dapat dipergunakan. Maka sangat penting bagi guru untuk mengetahui dan menguasai prinsip-prisnip pengelolaan kelas yang akan dikemukakan berikut ini:

a. Kehangatan dan Keantusiasan

Kehangatan dan keantusiasan guru dapat memudahkan terciptanya iklim kelas yang menyenangkan.

b. Tantangan

Penggunaan kata-kata, tindakan, cara kerja atau bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah anak didik untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang.

       28 

Isjoni, dkk, Pembelajaran Visioner: Perpaduan Indonesia-Malaysia, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), Cet. I, h. 91-105

(32)

c. Bervariasi

Penggunaan alat atau media, alat bantu, gaya mengajar guru, pola interaksi guru yang bervariasi merupakan kunci tercapainya pengelolaan kelas yang efektif dan menghindari kejenuhan

d. Keluwesan

Keluwesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan anak didik serta menciptakan iklim belajar mengajar yang efektif.

e. Penekanan pada hal-hal positif

Penekanan pada hal yang positif yaitu penekanan yang dilakukan guru terhadap tingkah laku anak didik yang positif dari pada mengomeli tingkah laku yang negatif.

f. Penanaman disiplin diri

Guru sebaiknya selalu mendorong anak didik untuk melaksanakan disiplin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengenai pengendalian diri dan pelaksanaan tanggung jawab.29

6. Pengelolaan Kelas yang Efektif.

Untuk dapat menciptakan suatu kondisi belajar yang kondusif sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik, maka diperlukan pengelolaan kelas yang efektif.

Menurut Syaiful Bahri, untuk mengelola kelas secara baik sebagaimana dikutip dari pendapat Made Pidarta perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a. Kelas adalah kelompok kerja yang diorganisasi untuk tujuan tertentu, yang dilengkapi oleh tugas-tugas dan diarahkan oleh guru.

b. Dalam situasi kelas, guru bukan tutor untuk satu anak pada waktu tertentu, tetapi bagi semua anak atau kelompok.

c. Kelompok mempunyai prilaku sendiri yang berbeda dengan prilaku masing-masing individu dalam kelompok itu. Kelompok mempengaruhi individu-individu dalam hal bagaimana mereka memandang dirinya masing-masing dan bagaimana belajar.

d. Kelompok kelas menyisipkan pengaruhnya kepada anggota-anggota. Pengaruh yang jelek dapat dibatasi oleh usaha guru dalam membimbing mereka di kelas di kala belajar.

e. Praktik guru waktu belajar cenderung terpusat pada hubungan guru dan siswa. Makin meningkat keterampilan guru mengelola secara kelompok, makin puas anggota-anggota di dalam kelas.

f. Struktur kelompok, pola komunikasi, dan kesatuan kelompok ditentukan oleh cara mengelola, baik untuk mereka yang tertarik pada

       29 

(33)

sekolah maupun bagi mereka yang apatis, masa bodoh atau bermusuhan.30

Ditambahkannya lagi, bahwa untuk membuat iklim kelas yang sehat dan efektif, sebagai berikut:

a. Bila situasi kelas memungkinkan siswa belajar secara maksimal, fungsi kelompok harus diminimalkan.

b. Manajemen kelas harus memberi fasilitas untuk mengembangkan kesatuan dan kerjasama.

c. Anggota-anggota kelompok harus diberi kesempatan berpartisipasi dalam pengembilan keputusan yang memberi efek kepada hubungan dan kondisi belajar/kerja.

d. Anggota-anggota kelompok harus dibimbing dalam menyelesaikan kebimbangan, ketegangan dan perasaan tertekan.

e. Perlu diciptakan persahabatan dan kepercayaan yang kuat antar siswa.31

Bila begitu pengelolaan kelas yang efektif sering melibatkan dan memperhatikan isyarat siswa; memfasilitasi transisi yang efektif antara tahapan yang berbeda antar kelas, pengaturan dan memelihara catatan murid yang baik, dan tentu saja, mengembangkan dan menggunakan strategi pengajaran yang kuat. Sehingga dengan menggunakan pengelolaan kelas yang efektif, dapat membantu siswa merasa nyaman, aman, dihormati, menantang, dan mengarah ke pemberdayaan siswa.32

7. Kegiatan Pengelolaan Kelas.

Kegiatan pengelolaan kelas meliputi dua kegiatan yang secara garis besar terdiri dari:

a. Pengaturan siswa

Pengaturan siswa adalah bagaimana mengatur dan menempatkan siswa dalam kelas sesuai dengan potensi intelektual dan perkembangan emosionalnya. Siswa diberikan kesempatan untuk memperoleh posisi dalam belajar yang sesuai dengan minat dan keinginannya.

b. Pengaturan Fasilitas

Pengaturan fasilitas adalah kegiatan yang harus dilakukan siswa, sehingga seluruh siswa terfasilitasi dalam aktifitasnya di dalam kelas. Pengaturan fisik kelas diarahkan untuk meningkatkan efektifitas

       30 

Syaiful Bahri Djamarah, Strategi…, h. 214-215 31 

Syaiful Bahri Djamarah, Strategi…, h. 215 32

(34)

belajar siswa sehingga siswa merasa senang, nyaman, aman dan belajar dengan baik.33

Untuk lebih jelasnya, pengaturan siswa dan fasilitas kelas dapat dilihat dalam bagan seperti di bawah ini:

Bagan 2.1

Kegiatan Pengelolaan Kelas

Kegiatan Pengelolaan Kelas

Mengatur Orang (kondisi emosional) • Tingkah laku

• Kedisiplinan • Minat/perhatian • Gairah Belajar • Dinamika kelompok

Mengatur fasilitas belajar-mengajar (kondisi fisik)

• Ventilasi • Pencahayaan • Kenyamanan • Letak duduk • Penempatan siswa

8. Pengaturan Posisi Tempat Duduk

Pengaturan posisi tempat duduk siswa di kelas tidaklah netral. Pengaturan sangat berpengaruh bagi siswa, interaksi antar mereka dan interaksi dengan guru. Hal ini berarti bahwa pengaturan posisi tempat duduk siswa memberi dampak dalam proses pembelajaran.

Format posisi tempat duduk siswa sebaiknya dibuat luwes sehingga dapat diubah sesuai dengan kebutuhan dan persyaratan pembelajaran. Artinya tempat duduk siswa dapat dibentuk sesuai dengan rancangan pembelajaran dan jenis teknik pengajaran yang dipilih guru. Apabila guru memilih teknik diskusi, sejumlah format tempat duduk siswa dapat dikembangkan, antara lain format tapal kuda atau format U (bagan 2.2), format U tertutup (bagan 2.3), lingkaran besar (bagan 2.4), lingkaran kecil (bagan 2.5), kotak besar (bagan 2.6), dan kotak kecil (bagan 2.7), harus kita akui bahwa ragam rancangan format posisi tempat duduk siswa dapat membuahkan hasil positif, diantaranya:

       33

(35)

a. Kebosanan dan kondisi sehari-hari dapat diperkecil peluangnya. Dengan demikian kehidupan kelas dapat menjadi lebih dinamis dan bergairah.

b. Keakraban antarsiswa dapat ditumbuhkembangkan. Nilai keakraban tersebut akan memunculkan semangat kerjasama yang positif tidak saja antara guru dan murid, tetapi juga di antara murid.

c. Guru akan lebih mudah mengenali kelebihan dan kelemahan setiap siswa apabila ia sering membagi kelas dalam kelompok kecil dan selanjutnya menyatu secara bergilir dengan kelompok kecil tersebut. d. Dinamika dan kehidupan kelas akan lebih mudah terbentuk. Kelas

yang dinamis cenderung kooperatif, terbuka, dan lebih mudah membangkitkan penalaran

e. Karena peran aktif siswa secara kuantitatif dan kualitatif cenderung meningkat, maka daya serap siswa menjadi lebih besar.

f. Penggunaan ragam format tempat duduk siswa di kelas mendorong siswa saling mengetahui sifat masing-masing, dan dengan demikian proses sosialisasi akan terbentuk secara alamiah.

g. Cakrawala pandang siswa lebih luas, serta arah pandang siswa bersifat ganda dan menyebar.34

Bagan 2.2 Format U terbuka

Bagan 2.3

Format U Tertutup

M

Radno Harsanto, Pengelolaan…, h. 62-66.

(36)

Bagan 2.4

Format Lingkaran Besar

M Format Lingkaran kecil

M Format Kotak Besar

(37)

Bagan 2.7 Format Kotak Kecil

M

Dalam memilih desain penataan tempat duduk perlu memperhatikan jumlah siswa dalam satu kelas yang akan disesuaikan pula dengan metode yang akan digunakan.

Hal yang tidak boleh dilupakan bahwa dalam penataan tempat duduk siswa tersebut guru tidak hanya menyesuaikan dengan metode pembelajaran yang digunakan saja, tetapi seorang guru perlu mempertimbangkan karakteristik individu siswa, baik dilihat dari aspek kecerdasan, psikologis, dan biologis siswa itu sendiri.35 Hal ini penting karena guru perlu menyusun atau menata tempat duduk yang dapat memberikan suasana yang nyaman bagi para siswa.

Menurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono melihat siswa sebagai individu dengan segala perbedaan dan persamaannya yang pada intinya mencakup ketiga aspek di atas. Persamaan dan perbedaan dimaksud adalah:

a. Persamaan dan perbedaan dalam kecerdasan (inteligensi). b. Persamaan dan perbedaan dalam kecakapan

c. Persamaan dan perbedaan dalam hasil belajar d. Persamaan dan perbedaan dalam bakat e. Persamaan dan perbedaan dalam sikap

       35

(38)

f. Persamaan dan perbedaan dalam kebiasaan

g. Persamaan dan perbedaan dalam pengetahuan/pengalaman h. Persamaan dan perbedaan dalam ciri-ciri jasmaniah

i. Persamaan dan perbedaan dalam minat j. Persamaan dan perbedaan dalam cita-cita k. Persamaan dan perbedaan dalam kebutuhan l. Persamaan dan perbedaan dalam kepribadian

m. Persamaan dan perbedaan dalam pola-pola dan tempo perkembangan n. Persamaan dan perbedaan dalam latar belakang lingkungan.36

Berbagai persamaan dan perbedaan kepribadian siswa di atas, sangat berguna dalam membantu usaha pengaturan siswa di kelas. Terutama berhubungan dengan masalah bagaimana pola pengelompokan siswa dan penataan tempat duduk dengan metode belajar kelompok guna menciptakan lingkungan belajar aktif dan kreatif, sehingga kegiatan belajar yang penuh kesenangan dan bergairah dapat terlaksana.

Penempatan siswa kiranya harus mempertimbangan pula pada aspek biologis seperti, postur tubuh siswa, dimana menempatkan siswa yang mempunyai tubuh tinggi dan atau rendah serta bagaimana menempatkan siswa yang mempunyai kelainan dalam arti secara psikologis, misalnya siswa yang hiper aktif, suka melamun, dll.

C. Kerangka Berfikir

Terdapat dua hal yang turut menentukan bahwa kelas yang dikelola dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa yaitu pengaturan kelas dan pengajaran itu sendiri.

Pengelolaan kelas dengan segala kelebihannya yaitu dapat menumbuhkan motivasi intrinstik yang dapat memberikan dorongan terhadap minat siswa untuk mempelajari konsep yang diberikan melalui berbagai pengalaman, kejadian, fakta dan fenomena yang dialaminya sendiri, sehingga dapat memberikan suatu hasil yang diharapkan dan yang lebih penting adalah siswa memproleh prestasi belajar yang lebih baik.

      

36 Syaiful Bahri Djamarah,

Strategi…, h. 207

(39)

Kerangka berfikir ini dapat dilihat pada bagan di bawah ini:

•Gairah belajar

•Dinamika Prestasi Belajar Siswa

Motivasi Belajar Siswa

Pengelolaan Kelas

(40)

positif kepada prestasi belajar siswa, biak itu kognitif, afektif dan psikomotorik.

D. Hipotesis

Berdasarkan landasan teori dan kerangka berfikir di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

“Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara pengelolaan kelas dengan prestasi belajar siswa.”

(41)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN A. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah

1. Untuk mengetahui pelaksanaan pengelolaan kelas yang dilakukan guru pada kelas full day di Madrasah Tsanawiyah Al-Kautsar Depok.

2. Untuk mengetahui prestasi belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan sistem full day di MTs Al-Kautsar.

3. Untuk mengetahui hubungan antara pengelolaan kelas dengan prestasi belajar siswa.

B. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Mei 2010 dan mengambil tempat di MTs Al-Kautsar-Depok yang terletak di Jalan Barito Raya Kec. Sukmajaya Depok Timur.

C. Metode Penelitian

Metode penelitian yang penulis gunakan adalah metode deskriptif yaitu penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan keadaan atau status fenomena, untuk memperoleh data yang obyektif maka digunakan beberapa penelitian:

1. Penelitian kepustakaan (Library Research) yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, membaca dan menganalisa buku yang ada relevansinya dengan masalah yang dibahas di dalam skripsi ini.

(42)

2. Penelitian lapangan (Field Research) yaitu penelitian untuk memperoleh data-data lapangan.

D. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh siswa full day MTs Al-Kautsar Depok sedangkan populasi terjangkau adalah seluruh siswa full day kelas VII dan VIII MTs Al-Kautsar Depok yang berjumlah 44 siswa dengan rincian kelas VII sebanyak 24 siswa dan kelas VIII sebanyak 20 siswa.

Untuk menentukan jumlah sampel, penulis menggunakan rumus yang dikembangkan oleh Isaac dan Michael yaitu dengan rumus:1

s =

λ

. . .

λ

. .

Keterangan: λ2

dengan dk = 1, taraf kesalahan 5%

P = Q = 0,5 d = 0,005

s = jumlah sampel

Pada penelitian ini ditetapkan taraf kesalahan sebesar 5%, maka perhitungan besarnya sampel adalah sebagai berikut:

s =

,

, , ,

, , ,

s =

, ,

,

s = 43.9508/44

Dengan demikian penulis dalam penelitian ini mengambil sampel 44 siswa (Seluruh siswa full day kelas VII dan VIII MTs Al-Kautsar Depok).

E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 1. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mengumpulkan data-data yang diperoleh dalam penelitian, maka penulis menggunakan teknik penelitian yaitu:

       1

(43)

a. Kuesioner (Angket).

Angket disebarkan kepada siswa kelas VII dan VIII full day yang menjadi responden dalam penelitian ini.

b. Dokumentasi

Yaitu dengan cara mengambil data nilai raport yang diambil dari ujian akhir semester tahun pelajaran 2009-2010

2. Instrumen Pengumpulan Data

Penelitian ini secara pokok melibatkan dua macam data, yaitu data yang berkenaan dengan Pengelolaan Kelas (X) dan berkenaan dengan Prestasi Belajar Siswa (Y).

Data penelitian untuk variabel pengelolaan kelas diperoleh melalui kuesioner atau angket yang disebarkan kepada respoden penelitian. Angket tersebut terdiri dari 25 pertanyaan mengenai pengelolaan kelas yang meliputi penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal, pengembalian kondisi belajar yang optimal, sedangkan data penelitian mengenai prestasi belajar diperoleh melalui dokumentasi data nilai ujian akhir semester (UAS) genap yang diambil dari ujian akhir semester genap tahun pelajaran 2009-2010.

Untuk menentukan skoring hasil penelitian, penulis memberikan empat alternatif jawaban dengan menggunakan Skala Likert. Alternatif jawaban yang dipergunakan adalah sebagai berikut:2

Seluruhnya : mempunyai bobot nilai 4 Sebagian besar : mempunyai bobot nilai 3 Sebagian kecil : mempunyai bobot nilai 2 Tidak satupun : mempunyai bobot nilai 1

       2

(44)

Tabel 3.1

Kisi-kisi Instrumen Penelitian

Variabel Teknik Dimensi Indikator Item

Pengelolaan kondisi belajar yang optimal

1. Mengatur tempat duduk dan tata ruang yang sesuai dengan strategi yang digunakan

1-2

2. Menentukan alokasi penggunaan waktu belajar-mengajar

3-4

3. Menentukan cara mengorganisasi siswa agar terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar

5-6

4. Menunjukkan sikap

tanggap,

7-8

5. Interaksi yang baik dengan siswa,

13-14

6. Membagi perhatian, 7. Memusatkan perhatian

kelompok,

8. Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas, 9. Menegur, kondisi belajar yang optimal

1. Memodifikasi tingkah laku

17-19

2. Pengelolaan kelompok 3. Menemukan dan

memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah

20-23 24-25

 

F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data.

(45)

1. Skoring: mengklasifikasikan jawaban-jawaban dari responden ke dalam kategori-kategori, klasifikasi dilakukan dengan cara memberi tanda atau skor berbentuk angka pada masing-masing jawaban.

2. Tabulating: Membuat tabel-tabel untuk memasukkan jawaban-jawaban

responden yang kemudian dicari prosentasinya untuk dianalisa.3

Setelah data-data diolah langkah selanjutnya adalah menganalisis data. Teknik analisis data dimaksud penulis berusaha untuk memberikan uraian mengenai hasil penelitian tentang ada atau tidaknya hubungan antara pengelolaan kelas dengan prestasi belajar siswa. Penulis dalam hal ini menggunakan teknik analisis data sebagai berikut:

1. Deskriptif Persentase

Deskriptif persentase dimaksudkan untuk mendeskripsikan hasil penelitian menurut persentase responden atas setiap pertanyaan atau jawaban dari setiap aspek yang ditanyakan. Rumus yang digunakan ialah:

Dp = x 100%

Keterangan:

Dp = Deskriptif persentase

n = Skor empiris (skor yang diperoleh) N = Skor ideal

Adapun untuk dapat mengelompokkan skor ke dalam tiga kategori kelompok, yaitu kategori kelompok baik (atas), kategori kelompok sedang (tengah), dan ketegori kelompok kurang (bawah), maka perlu diketahui mean dan standar deviasi dari skor tersebut, dengan menggunakan patokan sebagai berikut:4

       3

Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan: Kompetensi dan Praktiknya, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), Cet. VII, h. 84-85.

4

(46)

Kategori Kelompok Baik

M + 1 SD

Kategori Kelompok Sedang

M - 1 SD

Kategori Kelompok Kurang

2. Analisis Korelasi

Untuk menganalisis kedua variable digunakan teknik analisis korelasi bivariat dengan rumus product moment dari Karl Pearson, uji signifikansi dan koefesiensi determinan. Secara rinci dijabarkan sebagai berikut:

a. Uji Korelasi

Untuk mengetahui tingkat korelasi antara pengelolaan kelas dengan prestasi belajar, akan menggunakan rumus korelasi Product

Moment, yaitu salah satu teknik mencari korelasi antara dua

variabel dengan rumus sebagai berikut:5

r

xy

∑ ∑ ∑

(∑ ) (∑ ) n ∑y2 y 2

Keterangan:

rxy = Angka indeks korelasi “r” product moment

n = Number of cases

∑xy = Jumlah hasil perkalian antara sektor x dan sektor y

∑x = Jumlah seluruh sektor x

∑y = Jumlah seluruh sektor y

Analisis Product Moment dimaksudkan untuk mencari titik nilai korelasi antara variable X dan Y serta untuk mengetahui apakah hubungannya erat, cukup atau lemah.

3. Interpretasi Data

Cara memberikan interpretasi data terhadap angka indeks korelasi

“r” Product Moment yang telah diperoleh dari hasil perhitungan untuk

       5

(47)

dapat memberikan interpretasi, maka dalam hal ini ada 2 macam cara yang dapat ditempuh dalam menginterpretasikan data yang diperoleh, sebagaimana Anas Sudijono dalam bukunya yang berjudul “Pengantar

Statistik Pendidikan,” yaitu:

a. Memberikan interpretasi terhadap angka indeks korelasi

product moment secara kasar (sederhana). Pada umumnya

dipergunakan pedoman sebagai berikut:6 Tabel 3.2

Nilai “r” Product Moment Besarnya “r” Product

Moment

Interpretasi

0,00 – 0,20 Antara Variabel X dan Variabel Y memang terdapat korelasi, akan tetapi korelasi itu

sangat lemah atau sangat rendah sehingga

korelasi itu diabaikan (dianggap tidak ada

korelasi)

0,20 – 0,40 Antara Variabel X dan Variabel Y terdapat korelasi yang lemah atau rendah

0,40 – 0,70 Antara Variabel X dan Variabel Y terdapat korelasi yang sedang atau cukup

0,70 – 0,90 Antara Variabel X dan Variabel Y terdapat korelasi yang kuat dan tinggi

0,90 – 1,00 Antara Variabel X dan Variabel Y terdapat korelasi sangat kuat atau sangat tinggi

b. Memberikan interpretasi terhadap angka indeks korelasi

product moment, dengan cara berkorelasi pada tabel nilai “r”

product moment. Maka dengan cara ini langkah secara berurut

adalah sebagai berikut:

1) Merumuskan (membuat) hipotesis alternatif (Ha) dan hipotesis nihil (Ho)

       6

(48)

       

Ha : Terdapat korelasi positif dan signifikan antara variable X dan Y

Ho : Tidak terdapat korelasi positif dan signifikan antara variable X dan Y

2) Menguji kebenaran atau kepalsuan dari hipotesis yang telah diajukan di atas tadi (maksudnya yang benar Ha atau Ho?) dengan jalan membandingkan besarnya “r” yang telah diperoleh dalam proses perhitungan atau “r” observasi (ro) dengan besarnya “r” yang tercantum dalam tabel nilai “r”

product moment (rt), dengan terlebih dahulu mencari

derajat bebasnya (db) atau degree of freedom-nya (df) menggunakan rumus sebagai berikut:

df = N – nr

df : degree of freedom

N : number of cases

nr : banyaknya variabel yang dikorelasikan

3) Untuk mengetahui besarnya kontribusi variabel X terhadap variabel Y dilakukan dengan cara menentukan koefisien determinasi dengan rumus:7

KD = rxy2 x 100%

Keterangan:

KD = Kontribusi Variabel X terhadap Variabel Y

r2 = Koefisien Korelasi antara variabel X terhadap Variabel Y

  7

(49)

BAB IV

HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Data dan Analisis Data

1. Deskripsi Data

Hasil penelitian ini adalah hasil dari angket tentang pengelolaan kelas yang dilakukan guru pada kelas full day, untuk mengetahui pelaksanaan pengelolaan kelas mereka, angket diberikan kepada siswa kelas VII dan VIII yang menjadi responden.

Dari isian angket siswa yang berjumlah 44 orang tersebut setelah dianalisis diperoleh data nilai pengelolaan kelas paling tinggi adalah 151, paling rendah 104 dan nilai rata-rata keterampilan pengelolaan kelas adalah 123,88. Berikut ini adalah tabel yang memuat statistik diskriptif data pengelolaan kelas hasil penelitan.

Tabel 4.1

Data statistik deskriptif pengelolaan kelas

Pengelolaan kelas

Jumlah 3097 Minimal 99 Maksimal 150

Mean 123,88 Median 122

Modus 121

Standar deviasi 11,702

(50)

Berdasarkan hasil perhitungan di atas dapat diperoleh jumlah skor pengelolaan kelas guru dari hasil angket yang mencapai 3097 dengan nilai tertinggi 150, terendah 99 dan rata-rata 123,88. Hasil perhitungan lengkap analisis deskriptif persentase pengelolaan kelas dapat dilihat dalam lampiran.

Berdasarkan hasil analisis deskriptif persentase diketahui kategori nilai pengelolaan kelas dan frekuensi masing-masing kategori seperti yang ditunjukkan dalam tabel 4.2 sebagai berikut.

Tabel 4.2

Kategori data pengelolaan kelas

No Interval kelas Interval persentase Kategori 1 138 – 150 80% – 100% Sangat baik

2 125 – 137 60% – 79% Baik

3 112 – 124 40% – 69% Sedang

4 99 – 111 20% – 39% Kurang

Berdasarkan tabel 4.1 berikut dapat diketahui bahwa interval kelas antara 138 – 150 dalam kategori sangat baik, 125 – 137 kategori baik, 112 – 124 kategori sedang sedangkan 99 – 111 dalam kategori kurang.

Dimensi pengelolaan kelas yang pertama adalah penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal. Terdapat 10 indikator diantaranya: mengatur tempat duduk dan tata ruang yang sesuai dengan strategi yang digunakan, menentukan alokasi penggunaan waktu belajar-mengajar, menentukan cara mengorganisasi siswa agar terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar, menunjukkan sikap tanggap, interaksi yang baik dengan siswa, membagi perhatian, memusatkan perhatian kelompok, memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas dan memberi teguran.

(51)

responden menjawab seluruhnya sedangkan yang menjawab tidak satupun sebanyak 2 orang. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh skor 121 pada item penataan ruang kelas dan dalam kategori baik.

Dilihat dari jawaban responden (no 2) tentang pengaturan tempat duduk siswa, 22 responden menjawab bahwa sebagian besar guru melakukan pengaturan tempat duduk siswa, 9 responden menjawab seluruhnya, 8 responden menjawab sebagian kecil sedangkan yang menjawab tidak satupun sebanyak 5 orang. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh skor 123 dalam item pengaturan tempat duduk siswa dan dalam kategori baik.

Dari kedua indikator di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa pengelolaan kelas yang dilakukan guru pada kelas full day pada indikator pengaturan tempat duduk dan ruang kelas disesuaikan dengan strategi yang digunakan dalam kategori baik.

Dilihat dari jawaban responden (no 3) tentang guru membuka pelajaran dengan membahas materi terdahulu dan menyampaikan kisi-kisi materi yang akan dipelajari, 20 responden menjawab bahwa sebagian kecil guru membuka pelajaran dengan membahas materi terdahulu dan menyampaikan kisi-kisi materi yang akan diberikan, 18 menjawab sebagian besar, 4 responden menjawab seluruhnya sedangkan yang memilih jawaban tidak satupun sebanyak 2 orang. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh skor 112 dalam item membuka pelajaran dengan membahas materi terdahulu dan menyampaikan kisi-kisi materi yang akan dipelajari dan dalam kategori sedang atau cukup.

(52)

Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh skor 136 dalam hal guru memberi penjelasan tentang materi inti dengan cara yang jelas dan mudah dimengerti setiap siswa dan dalam kategori baik.

Dilihat dari jawaban responden (no 5) dalam hal guru membentuk kelompok-kelompok kerja yang tepat, yaitu dengan mengelompokkan siswa yang pintar dengan yang memiliki kepintaran sedang, dan dengan siswa yang kurang pintar. 22 responden menjawab bahwa sebagian besar guru membentuk kelompok-kelompok kerja yang tepat, yaitu dengan mengelompokkan siswa yang pintar dengan yang memiliki kepintaran sedang, dan dengan siswa yang kurang pintar, 15 menjawab seluruhnya, 5 responden menjawab sebagian kecil sedangkan yang memilih jawaban tidak satupun sebanyak 2 orang. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh skor 138 dalam hal guru membentuk kelompok-kelompok kerja yang tepat dan dalam kategori sangat baik.

Dilihat jawaban responden (no 6) tentang guru mengkoordinasi kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh siswa, 21 responden menjawab bahwa seluruh guru mengkoordinasi kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh siswa, 15 responden menjawab sebagian besar, 5 responden menjawab sebagian kecil sedangkan yang menjawab tidak satupun sebanyak 3 orang. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh skor 142 dalam hal mengkoordinasi kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh siswa dan dalam kategori sangat baik.

(53)

Dilihat dari jawaban responden (no 8) dalam hal guru memperhatikan setiap kebutuhan siswa dan perilaku siswa di kelas, 16 responden menjawab bahwa sebagian kecil guru memperhatikan setiap kebutuhan siswa dan perilaku siswa di kelas, 13 menjawab sebagian besar, 11 responden menjawab seluruhnya sedangkan yang memilih jawaban tidak satupun sebanyak 4 orang. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh skor 119 dan dalam kategori sedang.

Dilihat dari jawaban responden (no 9) dalam hal guru membagi perhatian, 12 responden menjawab bahwa tidak satupun, 12 menjawab seluruhnya, 11 responden menjawab sebagian besar sedangkan yang memilih jawaban sebagian kecil sebanyak 9 orang. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh skor 111 dan dalam kategori kurang.

Dilihat dari jawaban responden (no 10) dalam hal guru memberikan penjelasan kepada satu kelompok kerja siswa sambil memimpin kelompok kerja siswa yang lain. 16 responden menjawab bahwa sebagian kecil guru melakukan hal tersebut, 12 menjawab seluruhnya, 13 responden menjawab sebagian besar sedangkan yang memilih jawaban tidak satupun sebanyak 3 orang. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh skor 122 dan dalam kategori sedang.

Dilihat dari jawaban responden (no 11) tentang guru memusatkan perhatian kelompok, 23 responden menjawab bahwa sebagian besar guru memusatkan perhatian kelompok, 15 responden menjawab seluruhnya, 3 responden menjawab sebagian kecil sedangkan yang menjawab tidak satupun sebanyak 3 orang. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh skor 138 dalam hal memusatkan perhatian kelompok dan dalam kategori sangat baik.

(54)

jawaban tidak satupun sebanyak 2 orang. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh skor 123 dalam hal membimbing siswa agar dapat bekerjasama dalam kelompok kerja untuk mengerjakan tugas sekolah. dan dalam kategori baik.

Dilihat dari jawaban responden (no 13) tentang guru menunjukkan keramahan dan kepekaan terhadap kebutuhan siswa, diperoleh rata-rata responden menyatakan bahwa tidak satupun guru yang menunjukkan keramahan terhadap siswa. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh skor 112 dan dalam kategori sedang.

Dilihat dari jawaban responden (no 14) dalam hal guru mendengarkan keluhan dan pertanyaan siswa dengan baik. 13 responden menjawab bahwa sebagian kecil guru, 16 menjawab sebagian besar, 11 responden menjawab seluruhnya sedangkan yang memilih jawaban tidak satupun sebanyak 4 orang. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh skor 122 dan dalam kategori sedang.

Dilihat dari jawaban responden (no 15) dalam hal guru memberitahui kepada siswa tujuan instruksional sehingga siswa siap menerima materi dan tahu apa yang harus dikuasainya. 14 responden menjawab bahwa seluruh guru memberitahu kepada siswa tujuan instruksional sehingga siswa siap menerima materi dan tahu apa yang harus dikuasainya, 16 menjawab sebagian besar, 12 responden menjawab sebagian kecil sedangkan yang memilih jawaban tidak satupun sebanyak 2 orang. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh skor 130 dan dalam kategori baik.

(55)

tidak satupun sebanyak 4 orang. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh skor 120 dan dalam kategori sedang.

Berdasarkan perhitungan di atas pada dimensi penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal, yang terdapat pada item no 1 sampai 16, diperoleh jumlah skor 1990 dengan rata-rata 124,38, dari perhitungan ini diketahui bahwa rata-rata pengelolaan kelas guru pada dimensi penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal dalam kategori sedang atau cukup.

Dimensi pengelolaan kelas yang kedua adalah pengembalian kondisi belajar yang optimal. Terdapat 3 indikator diantaranya: Memodifikasi tingkah laku, pengelolaan kelompok, menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.

Dilihat dari jawaban responden (no 17) dalam hal guru Memodifikasi tingkah laku. 18 responden menjawab bahwa sebagian besar guru mengenali masalah yang dihadapi siswa dan membantu menyelesaikan masalah tersebut, 12 menjawab sebagian kecil, 10 responden menjawab seluruhnya sedangkan yang memilih jawaban tidak satupun sebanyak 4 orang. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh skor 126 dalam hal guru mengenali masalah yang dihadapi siswa dan membantu menyelesaikan masalah tersebut dan dalam kategori baik.

Dilihat dari jawaban responden (no 18) tentang guru memperbaiki perilaku siswa yang menyimpang dari aturan kelas atau aturan sekolah, diperoleh rata-rata responden menyatakan bahwa tidak satupun. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh skor 108 dan dalam kategori kurang.

Gambar

Tabel 3.1
Tabel 3 1 . View in document p.44
Tabel 3.2 Nilai “r” Product Moment
Tabel 3 2 Nilai r Product Moment . View in document p.47
Tabel 4.2 Kategori data pengelolaan kelas
Tabel 4 2 Kategori data pengelolaan kelas . View in document p.50
Tabel 4.3 Skor Angket Skala Pengelolaan Kelas
Tabel 4 3 Skor Angket Skala Pengelolaan Kelas . View in document p.57
Tabel 4.4 Klasifikasi Skor Angket
Tabel 4 4 Klasifikasi Skor Angket . View in document p.58
Tabel 4.5 Prestasi Belajar (variable Y)
Tabel 4 5 Prestasi Belajar variable Y . View in document p.59
Tabel 4.7
Tabel 4 7 . View in document p.60
Tabel 4.6 Klasifikasi Skor Prestasi Belajar
Tabel 4 6 Klasifikasi Skor Prestasi Belajar . View in document p.60
Gambar 1: Proses penyebaran angket
Gambar 1 Proses penyebaran angket . View in document p.89
Gambar 2: Dinamika kelompok pada siswi kelas full day
Gambar 2 Dinamika kelompok pada siswi kelas full day . View in document p.90
Gambar 4: pengelolaan kelas: membimbing siswa untuk bekerjasama dalam kelompok kerja
Gambar 4 pengelolaan kelas membimbing siswa untuk bekerjasama dalam kelompok kerja . View in document p.91

Referensi

Memperbarui...

Download now (91 pages)