The masculinity analysis of main character in simone film

Gratis

0
14
0
2 years ago
Preview
Full text
lain isi, ketepatan waktu, pemanfaatan teknologi dan user support (Verawaty, 2014). Penelitian ini dihipotesiskan adanya perbedaan kualitas pengungkapan laporan keuangan antara pemerintah kabupaten dan kota dikarenakan pemerintah kota lebih disorot dibandingkan kabupaten. Metode Penelitian Jenis dan Sumber Data Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah pemerintah daerah di Jawa Timur dengan membagi menjadi dua sampel yaitu pemerintah kabupaten dan kota yang terdiri dari 29 kabupaten dan 9 kota. Metode Analisis Data Penelitian ini dilakukan dengan berdasarkan pada hypothetic-deductive methode yaitu cara analisis dari kesimpulan umum yang diuraikan menjadi contoh-contoh kongkrit atau fakta-fakta untuk menjelaskan kesimpulan. Menurut Sekaran (2006), penelitian dengan menggunakan metode ini melibatkan tujuh tahap, yaitu observasi, pengumpulan data awal, perumusan teori, perumusan hipotesis, pengumpulan data statistik, analisis data, dan deduksi. Menggunakan operasional variabel menggunakan indeks aksesibilitas yang dikembangkan oleh Cheng et al. Tabel 1 Indeks Aksesibilitas Po Kompo in nen Keterangan Variab Keteran el gan aksesib ilitas A Isi/ Komponen Financ Conten informasi ial t keuangan Highli seperti ghts Menyaji kan summar y Mita, Analisis Komparasi Internet Financial Local Government. laporan B financia dan neraca, rugi l cepat laba, arus stateme diakses kas, nts perubahan dalam an posisi bentuk waktu keuangan tabel serta laporan ringkas keberlanjutan atau yang perusahaan. uraian waktu, maka Prior sebelum Informasi ringkas semakin Years) nya keuangan dan tinggi sebagai yang mudah indeksnya. pemban diungkapkan diakses dalam bentuk html Financ ial memiliki skor Menyaji Ketepat ketika Data IFLGR website tahun juga perusahaan sebelu menyaji menyajikan mnya kan informasi (Data laporan tepat for ding E kan Up IFLGR Date untuk tahun en dibandingkan berjalan Laporan dalam format (misal Keuang pdf, disajika an yang informasi n lengkap dalam bentuk perseme dan html ster biar kompre selalu hensif update Hyper Bentuk dan Text HTML tepat Marku memilik waktu) tinggi ent karena lebih memudahkan penggunaan C tahun kompon yang Statem D informasi untuk mengakses informasi keuangan tersebut menjadi lebih cepat. p i skor Pemanf komponen ini Analys yang aatan terkait is age tinggi Teknol dengan Tools Menyed iakan analysis (HTM dibandi pemanfaatan tools L) ngkan teknologi (contoh Forma dalam yang nya, t format dapat Excel pdf disediakan Tabel karena oleh Sumbu informa laporan cetak Putar si lebih serta (Excel’s mudah Artikel Ilmiah Mahasiswa 2016 F Langu ogi tidak media Mita, Analisis Komparasi Internet Financial Local Government. penggunaan Pivot media Table)). teknologi XBRL) User Indeks Mesin Mesin Pivot Suppor website Pencari pencari multimedia, Table t perusahaan di analysis tools yaitu semakin dalam (contohnya salah tinggi Excel’s Pivot satu perusahaan bisa Table), fitur- fitur mengimplem digunak fitur lanjutan Micros entasikan an seperti oft secara untuk implementasi Excel optimal mencari Agen Cerdas yang semua sarana laporan (Intelligent mampu dalam keuanga Agent) mencipt website n atau eXtensible akan Business sebuah Reporting H I jika perusahaan situs Halam Menyed seperti: media tabel an iakan pencarian dan Language interakti Tautan tautan navigasi (XBRL). f (search yang Fitur navigation menam di tools) (seperti pilkan dalam FAQ, tautan ringkasa situsnya ke data J halaman beranda, peta dalam website, dan jumlah mesin besar. pencari). Menyed Lanjut iakan an fiturfitur lanjutan (seperti implem entasi Intellig ent Agent atau Artikel Ilmiah Mahasiswa 2016 IFLGR dapat n G ke and Freque ntly Menyed iakan Asked fasilitas Questi tanya on jawab (FAQ) atau dan email/ Inform telepon asi pengelo Kontak la Uji hipotesis pada penelitian ini menggunakan Mann Whitney Test untuk membandingkan komponen isi/konten, ketepatan waktu, pemanfaatan teknologi, dan user support antara pemerintah kota dan kabupaten setelah dilakukan observasi pada setiap website resmi pemerintah kota maupun kabupaten berdasarkan poin variabel indeks aksesibilitas. Perincian terpapar di bawah ini: Mita, Analisis Komparasi Internet Financial Local Government. Poin A. 1 poin jika website resmi pemerintah daerah atau kota muncul di halaman pertama pencarian Google atau Yahoo dengan mengetikkan nama kota atau daerah. Poin B. +1 poin jika website menyediakan lebih dari satu berkas lengkap dengan dokumen dari laporan keuangan. Poin C. +1 poin jika laporan keuangan berupa HyperText Markup Language (HTML). Poin D. +1 poin jika website resmi menyediakan informasi keuangan tahun sebelumnya. Poin E. +1 jika website tidak sampai memperkenankan kita mengklik lebih dari tiga kali klik untuk sampai pada laporan sebelumnya sebagai pembanding. Ini menandakan bahwa pengunjung website dipermudah untuk mengakses. Poin F. +1 poin jika website resmi menyediakan informasi untuk mendapatkan atau mengakses salinan dari laporan keuangan pemerintah kota atau kabupaten. Poin G. +1 poin jika berkas individu yang menyediakan laporan cetak ukurannya kurang dari 3MB. Poin H. +1 poin jika mempunyai mesin pencari untuk menemukan konten yang dibutuhkan ataupun laporan keuangan pemerintah daerah. Poin I. +1 poin jika website resmi pemerintah daerah atau kota memiliki link laporan keuangan pada beranda situs. Poin J. +1 poin jika website resmi menyediakan detail kontak yang bisa dihubungi baik itu alamat, nomor telepon dan ataupun alamat email. Hasil Penelitian Berdasarkan observasi e-government pemerintah daerah di Jawa Timur maka didapatlah hasil: Tabel 2 Rekapitulasi Objek Penelitian Artikel Ilmiah Mahasiswa 2016 Keterangan Jumlah Kabupaten 29 Kota 9 Jumlah Sampel 38 Kabupaten 19 Kota 9 Menerapkan IFLGR 28 Kabupaten 10 Kota 0 Tidak menerapkan IFLGR 10 Kabupaten 10 Kota 0 Mempunyai website tetapi 10 tidak menerapkan IFLGR Kabupaten 13 Kota 3 Mempunyai website tetapi 16 tidak update Kabupaten 0 Kota 0 Tidak mempunyai website 0 Sumber: Data Sekunder yang telah diolah, 2015 Berdasarkan analisis statistik deskriptif didapat hasil: Tabel 3 Analisis Statistik Deskriptif Variabel Isi/Konten Ketepatan Waktu Teknologi User Support Total a. Kelompok Sampel Kabupaten Kota Kabupaten Kota Kabupaten Kota Kabupaten Kota Kabupaten Kota N Mean 29 9 1,72 2,11 29 0,62 9 29 9 1,11 0,45 0,67 29 1,97 9 29 29 2,33 4,76 6,22 Uji Mann Whitney Dalam penelitian ini ada satu hipotesis yang akan diuji. Pengujian hipotesis ini menggunakan Program SPSS Versi 22. Pada penelitian ini menggunakan statistik non parametik. Hipotesis akan diuji dengan menggunakan Uji Mann Whitney. Uji Mann Whitney adalah uji data nonparametik yang digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan respon dari dua kelompok data yang saling independen yaitu dalam penelitian ini Kabupaten dan Kota (Mann and Whitney, 1947). Berikut hasil pengujian statistik uji Mann Mita, Analisis Komparasi Internet Financial Local Government. Whitney untuk membandingkan komponen isi/konten, ketepatan waktu, teknologi, dan user support antar kedua kelompok sampel yaitu Kabupaten dan Pemerintah kota yang kemudian ditarik kesimpulan untuk pengujian hasil hipotesis. Tingkat probabilitas signifikansi variabel independen 0,05 (5%). Hasil uji Mann Whitney untuk keempat komponen berdasarkan indeks aksesibilitas yang dikembangkan oleh Cheng et al.: Tabel 4 Ranks Conten t Kelompok _Sampel Kabupaten Kota Total Timeli ness Kabupaten Kota Total Techno logy Kabupaten Kota Total User_S upport Kabupaten Kota Total N 2 9 9 3 8 2 9 9 3 8 2 9 9 3 8 2 9 9 3 8 Mean Rank Sum of Ranks 18,10 525,00 24,00 216,00 18,36 532,50 23,17 208,50 18,52 537,00 22,67 204,00 18,81 545,50 21,72 195,50 Pembahasan Berdasarkan output rank untuk komponen isi/konten, dihasilkan nilai mean untuk Pemerintah kota lebih besar dari Kabupaten yaitu 24,00 lebih besar daripada 18,10. Pengujian Mann Whitney untuk output Test Statisticsa, nilai statistik uji Z yaitu -1,525 dan nilai Sig.2-tailed adalah 0,127 lebih besar daripada 0,05. Hal ini menunjukkan hasil uji tidak mencolok secara statistik atau dengan demikian tidak ada perbedaan pengungkapan informasi pada website yang dimiliki antara Kabupaten dengan format dan kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan Pemerintah kota untuk komponen isi/konten. Output rank untuk komponen ketepatan waktu yang dijelaskan dalam pencapaian struktur modal optimum. Berdasarkan hasil penelitian ini menjelaskan bahwa ada sepuluh garis dimana pada titik perpotongan antara sepuluh garis alternatif struktur modal terdapat lima garis yang mempunyai titik penting dalam menentukan struktur modal optimum yaitu terdapat pada lima rasio yaitu 20%, 30%, 50%, 80% dan 95%. Struktur modal optimum untuk periode yang akan datang bergantung dengan besarnya tingkat EBBWT dan EPS, sehingga EBBWT dan EPS yang diperoleh pada periode yang akan datang menentukan struktur modal optimum yang akan datang . Hasil yang diperoleh menjelaskan bahwa apabila EBBWT yang akan datang terjadi pada saat EBBWT Rp 0,- sampai dengan sebelum titik potong pada EBBWT Rp 1.154.633.074.465,- maka perusahaan lebih baik menggunakan struktur modal dengan rasio wadiah 20%, karena pada rasio ini dengan tingkat EBBWT di bawah titik potong pada EBBWT Rp 1.154.633.074.465,penggunaan rasio wadiah 20% yang dapat menaikkan EPS. Apabila EBBWT yang akan datang terjadi pada setelah titik potong EBBWT Rp 1.154.633.074.465,- sampai pada titik potong EBBWT Rp 1.201.109.320.508,- maka perusahaan lebih baik menggunakan struktur modal optimum dengan rasio wadiah 30%, karena apabila perusahaan memaksakan untuk menggunakan rasio wadiah 20% pada tingkat EBBWT ini maka kemungkinan EPS yang diperoleh semakin kecil sehingga tidak dapat menaikkan EPS, dan hal Artikel Ilmiah Mahasiswa 2016 5 ini akan berakibat pada EPS yang diperoleh pada tingkat EBBWT ini menjadi tidak maksimum. Apabila EBBWT yang akan datang setelah titik potong pada EBBWT Rp 1.201.109.320.508,- hingga pada titik potong Rp 1.410.124.451.818,- maka perusahaan lebih baik menggunakan struktur modal optimum pada rasio wadiah 50%karena pada rasio wadiah 50% ini memiliki potensi untuk menaikkan EPS pada tingkat EBBWT ini, sehingga apabila perusahaan memilih untuk menggunakan rasio wadiah lain atau rasio wadiah selain tingkat rasio wadiah 50% maka akan berdampak pada EPS yang diperoleh semakin kecil. Apabila EBBWT yang akan datang terjadi setelah titik potong pada EBBWT Rp 1.410.124.451.818,hingga pada titik potong EBBWT Rp 1.432.911.399.091,maka perusahaan lebih baik menggunakan struktur modal pada rasio wadiah 80%, apabila perusahaan memaksakan menggunakan rasio wadiah 95% dengan tingkat EBBWT Rp 1.410.124.451.818,- hingga pada titik potong EBBWT Rp 1.432.911.399.091,- maka penggunaan utang lebih tinggi sehingga hal ini akan berdampak pada EPS yang diperoleh pada tingkat EBBWT ini menjadi tidak maksimum. Apabila EBBWT yang akan datang terjadi setelah titik potong EBBWT Rp 1.432.911.399.091,- maka perusahaan lebih baik menggunakan struktur modal pada rasio wadiah 95%, karena apabila perusahaan memaksakan untuk menggunakan wadiah diatas 95% pada tingkat EBBWT ini maka penggunaan utang akan melebihi batas maksimum, sehingga perusahaan memiliki potensi tidak memiliki kemampuan memberikan bonus wadiah dan tentunya akan menurunkan nilai EPS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada rasio wadiah 20%, 30%, 50%, 80% dan 95% memiliki potensi untuk menaikkan EPS, tetapi apabila penggunaan wadiah dilakukan melebihi sampai batas maksimum rasio wadiah 95% maka perusahaan tidak mampu memberikan bonus wadiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur modal yang akan datang berubah-ubah karena struktur modal yang akan datang tergantung dengan kondisi EBBWT dan EPS. Secara teoritis hasil ini dapat diterima karena pada prinsipnya tingkat profitabilitas mencerminkan keadaan EBBWT, semakin tinggi EBBWT yang diperoleh maka profitabilitas yang diperoleh juga tinggi, begitu pula dengan rasio wadiah yang tinggi dapat mencerminkan tingkat EPS yang diperoleh juga akan semakin tinggi. Secara praktikal dari hasil perhitungan menunjukkan bahwa hasil penentuan struktur modal optimum ini cukup masuk akal karena pada dasarnya kondisi EBBWT dan EPS dapat menentukan keoptimalan struktur modal untuk masa yang akan datang, dimana apabila kondisi EBBWT yang akan datang semakin tinggi maka nilai EPS yang diharapkan juga akan semakin tinggi, begitu pula dengan rasio wadiah yang semakin tinggi. Tingkat EBBWT menentukan seberapa besar bonus wadiah yang akan diberikan yang tentunya mempertimbangkan rasio wadiah yang digunakan. Sehingga kemungkinan tingkat EBBWT untuk masa yang akan datang menjadi acuan dalam menentukan struktur modal optimum. Berdasarkan hasil yang diperoleh, maka PT. Bank Syariah Mandiri dapat mengambil tindakan keputusan struktur modal untuk masa yang akan datang dengan mempertimbangkan Alfiah et al., Analisis Komposisi Struktur Modal Pada PT Bank Syariah Mandiri tingkat EBBWT yang dicapai oleh perusahaan untuk menentukan struktur modal optimum, karena dengan pertimbangan tingkat EBBWT perusahaan dapat memperkirakan akan menggunakan rasio wadiah yang dapat menaikkan EPS sehingga dapat menguntungkan perusahaan. Kesimpulan dan Keterbatasan 6 EBBWT ini struktur modal yang paling baik digunakan adalah struktur modal dengan rasio 95% karena apabila perusahaan memaksakan mengunakan rasio wadiah diatas 95% maka perusahaan tidak mampu memberikan bonus wadiah disebabkan karena tingginya rasio wadiah dan kemampuan kondisi EBBWT. Karena pada penelitian ini rasio wadiah maksimal berada pada rasio wadiah 95%. Kesimpulan Keterbatasan Struktur modal yang optimum bergantung pada besarnya prediksi tingkat EBBWT (Earnings Before Bonus Wadiah and Taxes) untuk masa yang akan datang. Apabila EBBWT yang akan datang berada pada rentang EBBWT Rp 0,hingga sampai dengan titik potong EBBWT Rp 1.154.633.074.465,- maka struktur modal yang optimum adalah rasio wadiah 20%, karena struktur modal pada rasio 20% dapat menghasilkan EPS (Earnings Per Share) yang paling tinggi daripada alternatif rasio wadiah yang lain. Apabila perusahaan menggunakan rasio wadiah lebih dari 20% maka akan menyebabkan menurunnya tingkat EPS sehingga EPS yang diterima akan semakin kecil. Terdapat beberapa keterbatasan dalam penelitian ini yaitu penelitian ini menggunakan pendekatan EBBWT-EPS dan juga penentuan tingkat bonus wadiah. Penelitian ini menunjukkan bahwa EBBWT merupakan fungsi dari EPS. Untuk memproyeksikan EBBWT dengan menghitung ratarata tingkat pertumbuhan EBBWT, sehingga apabila EBBWT berubah maka nilai EPS juga akan berubah dan akan menyebabkan perubahan pada struktur modal optimum. Pada penentuan tingkat bonus wadiah dalam penelitian ini menggunakan perhitungan rata-rata tingkat bonus wadiah. Hal ini dikhawatirkan dapat mempengaruhi penentuan beban bonus wadiah dan perolehan EPS karena penentuan tingkat bonus wadiah didasarkan oleh kebijakan perusahaan. Apabila EBBWT yang akan datang berada di atas Rp 1.154.633.074.465,- hingga sampai pada titik potong Rp 1.201.109.320.508 struktur modal yang optimum berada pada struktur modal dengan rasio wadiah 30%, karena pada rasio wadiah 30% dapat menghasilkan nilai EPS yang lebih tinggi daripada rasio wadiah lainnya. Namun apabila perusahaan menggunakan rasio wadiah lebih dari 30% maka akan menurunkan nilai EPS atau EPS yang diterima akan semakin kecil, dan perusahaan tidak mampu untuk memberikan bonus wadiah karena laba sebelum pajak semakin menurun sehingga perusahaan berisiko untuk tidak mampu memberikan bonus wadiah. Apabila EBBWT yang akan datang rentang pada titik potong antara EBBWT Rp Rp 1.201.109.320.508,- hingga EBBWT dibawah titik potong pada tingkat EBBWT Rp 1.410.124.451.818,- maka struktur modal yang optimum berada pada struktur modal dengan rasio wadiah 50%, karena pada rasio wadiah 50% dapat menghasilkan nilai EPS yang lebih tinggi daripada rasio wadiah lainnya. Namun apabila perusahaan memaksakan untuk menggunakan rasio wadiah diatas 50% pada tingkat EBBWT ini maka kemungkinan besar akan menurunkan nilai EPS dan laba sebelum pajak akan semakin menurun. Apabila EBBWT yang akan datang terjadi setelah titik potong pada EBBWT Rp 1.410.124.451.818,- hingga pada titik potong EBBWT Rp 1.432.911.399.091,- maka struktur modal optimum berada pada rasio wadiah 80%, karena pada rasio ini nilai EPS yang diperoleh lebih tinggi dari EPS yang diperoleh dari rasio lainnya. Apabila pada tingkat EBBWT ini perusahaan memaksakan untuk menggunakan rasio wadiah selain 80% maka akan berisiko pada menurunnya tingkat EPS . EBBWT yang akan datang terjadi setelah titik potong EBBWT Rp 1.432.911.399.091,- maka struktur modal optimum pada rasio 95%, karena pada kondisi EBBWT ini EPS yang diperoleh pada rasio ini lebih besar dari EPS yang diperoleh rasio wadiah lainnya, sehingga pada tingkat Artikel Ilmiah Mahasiswa 2016 Daftar Pustaka Brigham dan Weston. 2006. Manajemen Keuangan. Buku 2.Jakarta : Salemba Empat. Darmawan Sjahrial. 2007. Manajemen Keuangan. Edisi Pertama. Jakarta : Mitra Wacana Media. Moeljadi. 2006. Manajemen Keuangan. Jilid 1. Malang, Jawa Timur : Bayumedia Publishing . Ridwan Sundjaja dan Inge Barlian. 2003. Manajemen Keuangan. Edisi 4. Jilid 2. Jakarta : Literata Lintas Media. Weston dan Copeland. 1997. Manajemen Keuangan. Jilid 2.Jakarta : Binarupa Aksara.

Dokumen baru