DESKRIPSI LATAR DAN FUNGSINYA DALAM NOVEL CINTA DI DALAM GELAS KARYA ANDREA HIRATA DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)

Gratis

2
30
72
2 years ago
Preview
Full text
ABSTRAK DESKRIPSI LATAR DAN FUNGSINYA DALAM NOVEL CINTA DI DALAM GELAS KARYA ANDREA HIRATA DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) Oleh RIA ANGGRAENI Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimanakah deskripsi latar dan fungsinya dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata dan implikasinya pada pembelajaran sastra di SMA. Tujuan penelitian ini untuk memerikan deskripsi latar dan fungsinya dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata dan implikasinya pada pembelajaran sastra di SMA. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian adalah novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah analisis teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa deskripsi latar dengan pendekatan realistis menggunakan diksi dan bahasa kiasan berdasarkan beberapa kategori. Kategori yang dimaksud meliputi (1) pemahaman denotasi dan konotasi, (2) penggunaan Ria Anggraeni kata abstrak dan kata konkret, (3) penggunaan kata umum dan khusus, (4) penggunaan kata popular dan kajian, (5) penggunaan kata yang mengalami perubahan makna, (6) penggunaan kata serapan dari bahasa asing dan daerah, dan (7) penggunaan personifikasi. Deskripsi latar dengan pendekatan impresionistis menggunakan diksi dan bahasa kiasan berdasarkan beberapa kategori. Kategori yang dimaksud meliputi (1) pemahaman denotasi dan konotasi, (2) penggunaan kata abstrak dan kata konkret, (3) penggunaan kata umum dan khusus, (4) penggunaan kata popular dan kajian, (5) penggunaan kata serapan dari bahasa asing dan daerah, (6) penggunaan personifikasi, dan (7) penggunaan simile. Deskripsi latar dengan pendekatan menurut sikap penulis menggunakan diksi dan bahasa kiasan berdasarkan kategori (1) penggunaan kata abstrak dan kata konkret, (2) penggunaan kata umum dan khusus, (3) penggunaan kata yang mengalami perubahan makna, (4) penggunaan personifikasi, dan (5) penggunaan simile. Deskripsi latar dalam novel Cinta di Dalam Gelas ini juga berfungsi sebagai metafora dan atmosfer. Implikasi hasil penelitian terhadap pembelajaran sastra di SMA dapat berupa rancangan skenario pembelajaran menganalisis deskripsi latar dalam cuplikan novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata. Novel Cinta di Dalam Gelas layak dijadikan bahan ajar dalam pembelajaran sastra di SMA karena sudah memenuhi kriteria dalam pemilihan bahan ajar ditinjau dari (1) aspek kebahasaan, (2) aspek psikologis, dan (3) aspek latar belakang kebudayaan. Kata kunci : bahan ajar, novel, deskripsi latar. DESKRIPSI LATAR DAN FUNGSINYA DALAM NOVEL CINTA DI DALAM GELAS KARYA ANDREA HIRATA DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) (Skripsi) Oleh RIA ANGGRAENI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2014 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1. Cover Novel Cinta di Dalam Gelas Karya Andrea Hirata ....................... 170 2. Biografi Andrea Hirata .............................................................................. 171 3. Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) Mata Pelajaran Bahasa Indonesia pada Tingkat SMA Kelas XI Kurikulum 2013 ............ 177 4. Bahan Ajar Pembelajaran Mengidentifikasi Deskripsi Latar dalam Cuplikan Novel Cinta di Dalam Gelas Karya Andrea Hirata ........ 180 5. Korpus Data Pendekatan Realistis ............................................................ 189 6. Korpus Data Pendekatan Impresionistis ................................................... 200 7. Korpus Data Pendekatan Menurut Sikap Penulis ..................................... 215 8. Korpus Data Fungsi Deskripsi Latar sebagai Metafora dan Atmosfer ..... 220 DAFTAR TABEL Tabel Halaman 2.1 Tabel Indikator Deskripsi Latar ..................................................................... 38 2.2 Tabel Indikator Pemilihan Bahan Ajar Pembelajaran Sastra di SMA ........... 46 MOTO “… Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri .…” (Q.S Ar-Ra’d : 11) “Sesungguhnya sesudah kesulitaan itu ada kemudahan.” (Q.S. Al-Insyirah: 5) “Orang-orang yang sukses telah belajar membuat diri mereka melakukan hal yang harus dikerjakan ketika hal itu memang harus dikerjakan, entah mereka menyukainya atau tidak.” (Aldous Huxley) PERSEMBAHAN Terutama segala sembah sujud syukur Alhamdulillah kepada Allah subhanahuwataala atas taburan cinta dan kasih sayang-Nya. Yang telah membekaliku dengan kekuatan, ilmu, serta kemudahan hingga akhirnya skripsi yang sederhana ini dapat diselesaikan dengan baik. Kupersembahkan karya sederhana ini kepada orang-orang yang sangat kukasihi dan kusayangi. 1. Sebagai tanda bakti, hormat, dan rasa terima kasih yang tiada terhingga kupersembahkan karya kecil ini untuk kedua orang tuaku tercinta, Ibunda Musriyanti dan Ayahanda Suiswanto yang telah memberikan segala kasih sayang, mendidikku dengan penuh cinta, selalu memberiku dukungan, motivasi, dan mendoakanku dengan ketulusan hati untuk keberhasilanku menggapai cita-cita serta selalu menanti keberhasilanku. 2. Adikku Endah Kumala Sari tiada yang paling mengharukan saat bersama. Meski pun kita sering bertengkar tapi hal itu lah yang selalu menjadi warna yang tak akan bisa tergantikan. Terima kasih atas doa dan bantuannya selama ini, hanya karya kecil ini yang dapat kupersembahkan. 3. Keluarga besarku yang selalu menanti keberhasilanku. 4. Bapak dan Ibu dosen serta staf Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan almamater tercinta yang mendewasakanku dalam berpikir, bertutur, dan bertindak serta memberikan pengalaman yang tak terlupakan. RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Pagelaran pada 28 Mei 1993 dengan nama Ria Anggraeni. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara, putri dari pasangan Suiswanto dan Musriyanti. Pendidikan yang telah ditempuh penulis adalah Sekolah Dasar Negeri 1 Campang kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus diselesaikan pada tahun 2004. Pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Mathla’ul Anwar Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus diselesaikan pada tahun 2007. Pendidikan di Madrasah Aliyah Mathla’ul Anwar Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus diselesaikan pada tahun 2010. Pada tahun 2010 penulis terdaftar sebagai mahasiswa pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung melalui Jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Penulis pernah melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Gunung Agung kecamatan Gunung Agung Kabupaten Tulang Bawang Barat dan pernah melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMA Negeri 1 Gunung Agung Tulang Bawang Barat tahun 2013. SANWACANA Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rab semesta alam, puji syukur atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya. Shalawat dan salam kepada nabi Murabbi terbaik umat Islam yakni Nabi Muhammad SAW., keluarga, sahabat, para tabiin dan orang-orang yang senantiasa mengikuti ajaran dan sunnahnya. Atas izin Allah penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Deskripsi Latar dan Fungsinya dalam Novel Cinta Di Dalam Gelas Karya Andrea Hirata dan implikasinya pada pembelajaran sastra di Sekolah Menengah Atas (SMA)” sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar sarjana pendidikan Universitas Lampung. Penulis telah banyak menerima bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak dalam penyusunan skripsi ini. Oleh sebab itu, dengan segala kerendahan hati, sebagai rasa hormat, penulis menyampaikan terima kasih kepada 1. Drs. Kahfie Nazaruddin, M.Hum., selaku pembimbing I dan pembimbing akademik sekaligus juga ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, penulis ucapkan banyak terima kasih selama ini telah membimbing serta membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini dengan penuh kesabaran memberikan motivasi, saran, dan nasihat yang amat berharga bagi penulis. xii 2. Drs. Ali Mustafa, M.Pd., selaku pembimbing II atas, terima kasih kesediaannya untuk memberikan bimbingan, saran, dan kritik dalam proses penyusunan skripsi. 3. Dr. Munaris, M.Pd., selaku dosen penguji yang telah memberi saran dan kritik yang sangat bermanfaat. 4. Dr. Muhammad Fuad, M.Hum., selaku ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Universitas Lampung. 5. Dr. Bujang Rahman, M.Si. selaku Dekan FKIP Universitas Lampung. 6. Seluruh dosen dan staf di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Universitas Lampung yang telah membekali penulis dengan ilmu pengetahuan yang berguna. 7. Teruntuk ayahanda Suiswanto dan ibunda Musriyanti serta adikku Endah Kumala Sari yang senantiasa memberikan doa, dukungan, kesabaran, dan kasih sayangnya yang tidak pernah berhenti untuk penulis. 8. Seseorang yang mengasihiku Safrudin, S.Pd. yang senantiasa menemaniku dalam suka dan duka memberiku semangat, dukungan, doa, serta menanti keberhasilanku. 9. Guru-guru SD, MTs, dan MA yang telah tulus ikhlas memberikan berbagai ilmu pengetahuan serta nasihat-nasihat yang sangat berguna bagi penulis. Tanpa bekal berbagai ilmu pengetahuan dari Bapak dan Ibu penulis tidak sampai keperguruan tinggi ini. 10. Rekan-rekan angkatan 2010, Zusi Ardiana, Eka Rahmatul Fitriyani, Dona Ratnasari, Yuni Setiawati, Ade Anggraini K.D., Kalisa Eviyana, Sukesi Hermansyah, Novala Rokhmatarofi, Siti Andaria, Devita Sari, Mutiara xiii Dini, Arifah Nur Isnaini, Nuraini, Juwiza Andriani, Andika Putri, Janatun Naim, Rengga Pinaris, Teguh, Arifal Paslah, Ramanda Saputra, dan lainlain yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, terima kasih atas persahabatan dan kebersamaan yang kalian berikan selama ini. 11. Semua teman-teman seperjuangan FKIP Batrasia 2010, adik-adik dan kakak-kakak tingkat. 12. Teman-teman KKN dan PPL di SMA Negeri Gunung Agung Tulang Bawang Barat, Diana Novratilova, Didi Rahmadi, Nia Wahyuningtiyas, Ruly Mardani, Wayan Adnyana, Wirawan Dwi Admanto, Yudi Setiawan dan Zulkarnain. 13. Teman-teman Asrama Maria 2, Ana, Mala, Wulan, Novel, Wiwin, Dewi, Okta, Yuyun, Lili, Eli, Lidia, Pia, Vera, Tika, dan Dewi. Terima kasih atas dukungan kalian. 14. Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu, tetapi yakinlah selalu ada ruang di hatiku untuk mengingat jasa-jasa kalian. Semoga Allah subhanahuwata’ala membalas setiap kebaikan yang kita lakukan dengan kebaikan yang berlipat. Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat untuk kemajuan pendidikan khususnya Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Bandarlampung, Desember 2014 Penulis, Ria Anggraeni 1 BAB I PENDAHULUAN Dalam bab pendahuluan ini akan diberikan gambaran mengenai latar belakang penelitian. Ruang lingkup penelitian dibatasi pada unsur intrinsik novel, khususnya latar dan objek penelitian atau data penelitian ini berupa deskripsi latar. Adapun yang dibahas pada bab pendahuluan ini adalah latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan ruang lingkup penelitian. Berikut ini penjelasan mengenai hal-hal tersebut. 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak akan pernah terlepas dari bahasa. Hal ini disebabkan bahasa selalu digunakan manusia berdasarkan kebutuhannya, yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri, alat berkomunikasi, alat integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat melakukan kontrol sosial. Bahasa sebagai media komunikasi sangat dinamis dalam mengikuti perkembangan zaman, hal ini ditunjukan bahwa bahasa dapat berubah-ubah mengikuti waktu dan kemauan masyarakat. Pada dasarnya bahasa sebagai alat komunikasi terdiri atas bahasa lisan dan bahasa tulisan. Bahasa lisan merupakan bahasa yang diucapkan secara langsung oleh alat ucap manusia untuk 2 berkomunikasi dengan sesama. Sedangkan bahasa tulisan merupakan bahasa yang menggunakan media lain untuk berkomunikasi dengan sesama manusia. Bahasa juga sangat erat kaitannya dengan sastra karena bahasa merupakan unsur penting dalam dunia sastra. Bahasa digunakan sastrawan sebagai media untuk menyampaikan ide atau gagasannya kepada masyarakat luas. Dalam dunia sastra, bahasa dapat dikatakan sebagai “jembatan” yang menghubungkan sastrawan dan masyarakat luas. Salah satunya menggunakan deskripsi atau pemerian yang memberikan perincian dari sebuah objek agar pembaca dapat membayangkan sesuatu yang digambarkan oleh seorang penulis. Deskripsi atau pemerian merupakan sebuah bentuk tulisan yang bertalian dengan usaha penulis untuk memberikan perincian-perincian tentang objek yang sedang dibicarakan. Dalam deskripsi, penulis memindahkan kesan-kesannya, memindahkan hasil pengamatan dan perasaannya kepada para pembaca; ia menyampaikan sifat dan semua perincian wujud yang dapat ditemukan pada objek tersebut. Sasaran yang ingin dicapai oleh seorang penulis deskriptif adalah menciptakan atau memungkinkan terciptanya imajinasi pada para pembaca, seolah-olah mereka melihat sendiri objek tadi secara keseluruhan sebagai yang dialami secara fisik oleh penulisnya (Keraf, 1982: 93). Bila ditinjau dari tujuan dan maksud, deskripsi mempunyai pertalian dengan narasi. Tetapi sebagai alat, deskripsi mempunyai hubungan pula dengan ketiga bentuk retorika yang lain. Eksposisi, argumentasi, dan narasi dapat berdiri sendiri sebagai sebuah bentuk tulisan yang bulat dan komplit; sebaliknya deskripsi(sugestif) tidak dapat berdiri sendiri. Deskripsi hanya bisa menjadi alat bantu bagi pemaparan (eksposisi), pengisahan (narasi), dan argumentasi. Ia hanya 3 merupakan bagian yang kecil yang dipergunakan oleh ketiga bentuk tulisan lainnya untuk lebih mengkonkritkan pokok pembicaraan (Keraf, 1982: 98). Bila kita perhatikan deskripsi lebih sering muncul bersamaan dengan narasi, dibandingkan dengan bentuk-bentuk tulisan lainnya. Dalam narasi baik cerita fiksi maupun nonfiksi, deskripsi digunakan untuk menyiapkan dasar atau melatar belakangi sebuh peristiwa dan adegan-adegan yang timbul dalam sebuah rangkaian suatu cerita. Dengan adanya latar belakang ini mempengaruhi pula hati serta perasaan dan suasana di sekitarnya. Sebuah tulisan berbentuk narasi seperti, novel (narasi fiksi) tidak akan pernah terlepas dari sebuah unsur latar yang dideskripsikan oleh penulisnya. Latar merupakan salah satu poin penting dalam unsur intrinsik yang memiliki pengaruh kuat terhadap jalannya cerita. Kekuatan deskripsi latar dalam sebuah novel mampu membuat novel menjadi lebih hidup. Itulah sebabnya dalam narasi penulis selalu menyertakan deskripsi-deskripsi latar secara cermat dan menarik, baik secara khusus dalam sebuah alenia, baik dijalinkan dengan jalannya pengisahan itu sendiri. Seorang penulis yang baik tidak akan pernah merasa puas dengan pernyataanpernyataan yang bersifat umum. Oleh sebab itu, deskripsi menghendaki sebuah objek pengamatan tepat dan cermat. Bahkan dalam membuat deskripsi atas sebuah objek yang fantastis, penulis harus menyajikan perincian-perincian sedemikian rupa dengan mempergunakan pengalaman-pengalaman faktual sehingga tampak bahwa obyek fantastis tadi benar-benar hidup dan nyata. Jadi, dalam menggarap atau membuat deskripsi yang baik, dibutuhkan dua hal yang 4 sangat penting pertama, kesanggupan berbahasa dari seorang penulis, yang kaya akan sebuah nuasa dan bentuk; kedua, kecermatan pengamatan dan ketelitian penyelidikan. Andrea Hirata adalah seorang novelis muda yang baru menapaki dunia sastra di Indonesia, ia telah berhasil merebut perhatian para penikmat sastra di Indonesia. Andrea Hirata lahir di Belitung, Bangka Belitung pada tanggal 24 Oktober 1982. Andrea Hirata telah menghasilkan tetralogi novel, yaitu Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov. Selain tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata juga menghasilkan karya lain, yaitu Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas yang terbit tahun 2010. Novelnya yang berjudul Cinta di Dalam Gelas mengisahkan sebuah perjuangan seorang perempuan yang telah tertindas oleh kaum laki-laki (suaminya), yang direpresentasikan oleh pengarang pada sosok Enong atau Maryamah dan permainan catur. Sebagai sosok yang lahir dan tumbuh di Belitung, maka tak heran jika Andrea Hirata mengetahui persis gambaran Pulau Balitung baik secara geografi, ekonomi maupun sosial. Hal ini berhubungan erat dengan kemampuannya mendeskripsikan Pulau Balitung sebagai latar dalam novel Cinta di Dalam Gelas. Dalam novel tersebut, Andrea Hirata mampu membuat para pembacanya seolah ikut bermain dan menikmati segala realitas hidup yang dialami tokoh-tokoh Cinta di Dalam Gelas. Kalimat demi kalimat saling mengait menggambarkan dengan detail dan ‟hidup‟ kondisi sosial masyarakat Pulau Belitung. Hal ini menunjukan kemampuan Andrea Hirata dalam mendeskripsikan objek-objek dalam karyanya. Andrea Hirata mampu menyajikan realita menjadi sebuah cerita yang menarik 5 yang dibalut dengan metafora dan deskripsi yang kuat, seperti film ketika memotret lanskap dan budaya. Berdasarkan penjelasan di atas, peneliti tertarik menjadikan novel Cinta di Dalam Gelas sebagai objek penelitian dengan meneliti deskripsi pada unsur latar dalam novel tersebut dan implikasinya pada pembelajaran sastra di SMA. Ruang lingkup penelitian peneliti batasi pada unsur latar. Latar yang disebut juga sebagai landasan tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Nurgiyantoro, 1994: 216). Latar terdiri dari 3 (tiga) unsur yaitu tempat, waktu, dan lingkungan sosial-budaya. Kehadiran ketiga unsur tersebut saling mengait, saling mempengaruhi dan tidak sendiri-sendiri walaupun secara teoritis memang dapat dipisahkan dan diidentifikasi secara terpisah (Nurgiyantoro, 1994: 249-250). Latar berhubungan langsung serta memengaruhi pengaluran dan penokohan sehingga posisi latar novel menjadi penting. Dalam sebuah novel kita juga dihadapkan dengan dunia yang sudah dilengkapi dengan tokoh penghuni dan permasalahannya. Namun, hal ini kurang lengkap, sebab tokoh dan segala pengalamannya itu memerlukan rung lingkup, tempat dan waktu. Sebagai mana halnya dengan kehidupan manusia dalam dunia nyata, fiksi selain membutuhkan tokoh, cerita, dan plot juga membutuhkan latar. Hal ini karena keberadaan dan karakter seorang tokoh tidak akan pernah terlepas dari latar atau waktu dan tempat tokoh bertindak. Latar merupakan tumpuan yang konkret dan sangat jelas suatu kejadian yang terdiri dari unsur tempat, waktu, dan lingkungan sosial budaya si tokoh dalam 6 sebuah novel. Latar tempat adalah gelanggang berlangsungnya peristiwa-peristiwa latar waktu berhubungan dengan masalah “kapan” terjadinya sebuah peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi dan latar sosial menyarankan hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat setempat yang diciptakan dalam novel. Dengan penggambaran latar yang sedemikian rupa, maka latar mampu membangkitkan image dalam benak pembaca mengenai peristiwa tertentu atau kisah-kisah dalam sebuah novel. Dengan demikian, deskripsi latar dalam sebuah novel begitu penting untuk membuat novel memiliki identitas peristiwa yang jelas dan terlihat nyata. Hal ini menjadikan novel Cinta di Dalam Gelas memiliki keunikan sendiri karena berlatar Pulau Belitung yang jarang digunakan oleh penulis lainnya. Selain itu, Andrea Hirata sebagai pengarang novel Cinta di Dalam Gelas merupakan “putra daerah” asli Melayu dari Pulau Balitung sehingga mampu menyajikan dengan ril gambaran Pulau Belitung sebagai latar dalam novel Cinta di Dalam Gelas. Berkaitan dengan pembelajaran sastra di SMA, salah satu karya sastra yang diajarkan di SMA adalah novel. Karya sastra yang akan digunakan sebagai bahan ajar unsur-unsur intrinsik harus melalui proses pemilihan. Hal itu disebabkan semakin meningkatnya perkembangan karya sastra yakni semakin banyak karya sastra dengan kisah atau cerita yang beragam. Perlu diingat bahwa tidak semua karya sastra, khususnya novel baik untuk dibaca. Hal itu disebabkan tidak semua novel mengandung nilai pendidikan, agama, moral, sosial, dan budaya. Karyakarya sastra yang akan digunakan sebagai bahan ajar unsur-unsur intrinsik harus memiliki manfaat, misalnya manfaat bagi pendidikan, seperti membantu meningkatkan keterampilan berbahasa dan lain-lain. 7 Kajian yang dilakukan oleh peneliti ini sejalan dengan Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia di tingkat SMA. Kompetensi Inti (KI) terdiri atas empat kompetensi. Keempat kompetensi tersebut yaitu (1) kompetensi yang berkenaan dengan sikap keagamaan (Kompetensi Inti 1), (2) kompetensi yang berkenaan dengan sikap sosial (Kompetensi Inti 2), (3) kompetensi yang berkenaan dengan pengetahuan (Kompetensi Inti 3), dan (4) kompetensi yang berkenaan dengan penerapan pengetahuan (Kompetensi Inti 4). Keempat kompetensi tersebut menjadi acuan dari Kompetensi Dasar (KD) dan harus dikembangkan dalam setiap peristiwa pembelajaran secara integratif. Kompetensi Inti 1 dan 2 dikembangkan secara tidak langsung, yakni pada waktu peserta didik belajar tentang Kompetensi Inti 3 dan 4. Pada Kompetensi Inti 3 dan 4, Kompetensi Dasar terbagi atas dua aspek, yaitu (1) kemampuan berbahasa dan (2) kemampuan bersastra. Adapun Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) Kelas XI pada Silabus Kurikulum 2013 di tingkat SMA yang berkaitan dengan kajian yang dilakukan oleh peneliti yaitu Kompetensi Inti 3 Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban, terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah dan Kompetensi Dasar (Kemampuan Bersastra) 3.9 Menganalisis pelaku, peristiwa, dan latar dalam novel yang dibaca. Dalam penelitian ini, peneliti memusatkan pada salah satu unsur intrinsik saja, yaitu deskrisi latar. 8 Berdasarkan dengan tujuan penelitian ini, yaitu memerikan deskripsi latar dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata, peneliti berharap peserta didik mampu memahami wacana deskripsi dalam novel, khususnya pada unsur latar. Novel Cinta di Dalam Gelas sebagai sebuah fenomena di kalangan pembaca sastra (novel) Indonesia telah dikenal dengan kentalnya deskripsi yang dibuat oleh sang penulis, salah satunya yaitu deskripsi sebagai latar. Tak salah rasanya jika saya sebagai peneliti tertarik untuk menjadikan novel ini sebagai objek penelitian yang nantinya dapat dijadikan novel rujukan bagi para guru dan siswa untuk menambah wawasannya dan meningkatkan kemapuannya dalam memahami wacana deskripsi pada unsur latar sebuah novel. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah utama dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah deskripsi latar dan fungsinya dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata dan implikasinya pada pembelajaran sastra di SMA?”. Adapun rincian masalah utama tersebut sebagai berikut. 1. Bagaimanakah deskripsi latar dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata? Berdasarkan rumusan masalah poin satu (1) di atas, masalah tersebut dapat diperinci lagi menjadi pertanyaan penelitian sebagai berikut. i. Bagaimanakah pendekatan dalam deskripsi latar pada novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata? ii. Bagaimana diksi dan kiasan dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata, sebagai deskripsi latar? 9 iii. Bagaimanakah unsur-unsur latar yang terdapat dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata? 2. Bagaimanakah fungsi latar sebagai metafora dan atmosfer dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata? 3. Bagaimanakah implikasi novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata pada pembelajaran sastra di SMA? 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan utama penelitian ini adalah memerikan deskripsi latar dan fungsinya dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata dan implikasinya pada pembelajaran sastra di SMA. Adapun rincian dari tujuan utama penelitian ini adalah. 1. Memerikan deskripsi latar dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata. i. Memerikan pendekatan dalam deskripsi latar yang terdapat pada novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata. ii. Memerikan diksi dan kiasan dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata, sebagai deskripsi latar. iii. Memerikan unsur-unsur latar yang terdapat dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata. 2. Memerikan fungsi latar sebagai metafora dan atmosfer dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata. 3. Memerikan implikasi novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata pada pembelajaran sastra di SMA. 10 1.4 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat secara teoretis dan praktis. 1.4.1 Manfaat Teoretis Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi penelitian di bidang kesastraan, serta bermanfaat terhadap perkembangan ilmu bahasa dalam kajian unsur intrinsik novel khususnya pada bidang deskripsi unsur latar dalam karya sastra. 1.4.2 Manfaat Praktis Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan referensi yang sangat bermanfaat untuk berbagai kepentingan, khususnya di bidang analisis unsur intrinsik novel, dan diharapkan dapat membantu peneliti-peneliti lain dalam usahanya menambah wawasan yang berkaitan dengan analisis unsur intrinsik novel. Selanjutnya bagi guru Bahasa Indonesia, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu tambahan bahan pembelajaran menganalisis unsur intrinsik dalam karya sastra khususnya novel. 1.5 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan ruang lingkup sebagai berikut. 1. Sumber data penelitian ini dibatasi pada unsur intrinsik novel khususnya deskripsi latar dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata. 2. Data penelitian ini adalah deskripsi latar yang terdapat dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata. 11 BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini akan disajikan teori-teori yang digunakan peneliti dalam memerikan deskripsi latar dan fungsinya dalam novel Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata dan implikasinya pada pembelajaran sastra di Sekolah Menengah Atas (SMA). Teori tersebut berkenaan dengan pengertian novel, deskripsi, definisi deskripsi latar, pendekatan dalam deskripsi, diksi dan kiasan, pengertian latar, unsur-unsur latar, fungsi latar serta pembelajaran sastra (novel) di Sekolah Menengah Atas (SMA). Mengenai teori-teori tersebut akan peneliti jelaskan sebagai berikut. 2.1 Pengertian Novel Sastra adalah suatu seni yang dibuat atau diciptakan berdasarkan pada standar bahasa kesusastraan. Standar bahasa kesusastraan yang dimaksudkan tersebut yaitu penggunaan atau pengungkapan kata-kata yang indah dan imajinatif. Kesusastraan sendiri adalah karya seni yang pengungkapannya baik dan diwujudkan dengan bahasa yang baik. Sastra menggunakan bahasa sebagai medium dan mempunyai efek positif terhadap kehidupan manusia agar mudah dimengerti oleh masyarakat. 12 Dalam dunia kesastraan kita mengenal prosa sebagai salah satu genre sastra di samping genre-genre yang lain. Untuk mempertegas keberadaan genre prosa, kita sering dipertentangkan dengan genre puisi, hal ini disebabkan bahasa yang digunakan oleh keduanya hampir sama, namun dengan mudah dapat dikenali dari konvensi penulisnya (Nurgiantoro, 1994: 1). Prosa dalam dunia kesusastraan juga disebut fiksi, teks naratif atau wacana naratif, hal ini dikarenakan fiksi merupakan sebuah karya naratif yang tidak menyarankan kebenarannya dalam sejarah (Abram dalam Nurgiantoro, 1994: 2). Istilah fiksi ini sering digunakan sebagai pertentangan realitas yaitu sesuatu yang ada dan benar terjadi di kehidupan nyata sehingga kebenarannya pun dapat dibuktikan dengan data empiris. Ada atau tidaknya bukti dalam sebuah karya sastra dapat kita buktikan secara empiris inilah antara lain yang membedakan karya fiksi dan karya nonfiksi. Tokoh, pristiwa dan tempat dalam karya fiksi bersifat imajinatif sedangkan dalam karya nonfiksi bersifat faktual. Novel (Inggris: novel) berasal dari bahasa Itali novella berarti „sebuah barang baru yang kecil‟, yang kemudian diartikan sebagai „cerita pendek dalam bentuk prosa‟ (Abrams dalam Nurgiantoro, 1994: 9). Dewasa ini istilah novella dan novelle mengandung pengertian yang sama dengan istilah Indonesia novelet (Inggris: novelette), yang berarti sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cakupan, tidak terlalu panjang namun juga tidak terlalu pendek (Nurgiantoro, 1994: 9-10). Dilihat dari segi panjangnya cerita, novel lebih panjang dari pada novelet. Oleh karena itu, novel dapat mengemukakan sesuatu secara bebas, menyajikan sesuatu secara lebih banyak, lebih rinci, lebih detil, dan lebih banyak melibatkan berbagai 13 permasalahan yang lebih kompleks (Nurgiantoro, 1994: 11). Novel adalah suatu cerita fiktif dalam menceritakan para tokoh, gerak, serta kesederhanaan hidup yang nyata yang representatif dalam alur atau keadaan yang agak kacau atau kusut (Tarigan, 1985: 164). Virginia Wolf mengatakan bahwa “sebuah roman atau novel terutama sekali sebuah eksplorasi atau suatu kronik penghidupan; merenungkan dan melukiskan dalam bentuk yang tertentu, pengaruh, ikatan, hasil, kehancuran atau tercapainya gerak- gerik manusia” (Lubis dalam Tarigan, 1985: 164). Novel adalah “sebuah roman, pelaku-pelaku dengan waktu muda, mereka menjadi tua, mereka bergerak dari sebuah adegan ke sebuah adegan yang lain, dari suatu tempat ke tempat yang lain” ( H.E. Batos dalam Tarigan, 1985: 164). Novel adalah hasil kesusastraan yang berbentuk prosa yang menceritakan suatu kejadian luar biasa dan dari kejadian itu lahirlah satu konflik suatu pertikaian yang merubah nasib mereka (Lubis, 1994: 161). Novel adalah cerita dan cerita digemari manusia, dengan bahasa yang denotatif kepadatan makna gandanya sedikit, jadi novel mudah dimengerti, dibaca dan dicerna (Sumarjo, 1999: 11). Berdasarkan pada uraian di atas dapat disimpulkan bahwa novel adalah sebuah karya sastra berbentuk prosa fiksi, yang menceritakan kehidupan prilaku dari lahir hingga wafat dan mengambarkan kejadian atau peristiwa yang terjadi secara kompleks dengan memuat unsur tema, amanat, penokohan, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa, dan mengandung nilai-nilai kehidupan. 14 2.2 Deskripsi Teks deskripsi merupakan hasil pengamatan serta kesan-kesan penulis tentang objek suatu pengamatan. Dengan demikian, adanya deskripsi maka seorang pembaca dapat membayangkan sesuatu yang digambarkan, gambaran ini dapat berupa sesuatu yang nyata atau fiksi. Deskripsi sering dikaitkan dengan wacana naratif dan dalam sebuah wacana naratif sering terdapat deskripsi tempat, orang, benda ataupun suasana. Oleh karena itu, adanya deskripsi maka pembaca lebih mampu membayangkan apa yang diceritakan dan imajinasi pembaca akan menjadi lebih hidup. Demikian pula dalam teks argumentasi, teks eksplikatif, dan instruktif sering digunakan deskripsi cara untuk menjelaskan sesuatu. Deskripsi adalah suatu wacana yang mengemukakan representasi atau gambaran tentang suatu atau seseorang, yang biasanya ditampilkan secara rinci (Zaimar, 2009: 35). Kata deskripsi berasal dari kata Latin describere yang berarti menulis tentang, atau membeberkan sesuatu hal. Sebaliknya kata deskripsi dapat diterjemahkan menjadi pemeriaan, yang berasal dari kata peri-memerikan yang berarti „melukiskan sesuatu hal‟ (Keraf, 1982: 93). Dalam deskripsi penulis memindahkan kesan-kesannya, memindahkan hasil pengamatan dan perasaannya kepada para pembaca, ia menyampaikan sifat dan semua perincian wujud yang dapat ditemukan pada obyek tersebut. Sasaran yang ingin dicapai oleh seorang penulis deskripsi adalah menciptakan atau memungkinkan terciptanya daya khayal (imaginasi) pada para pembaca, seolaholah mereka melihat sendiri obyek tadi secara keseluruhan sebagai yang dialami secara fisik oleh penulisnya (Keraf, 1982: 93). 15 Bila seseorang mengatakan bahwa pohon itu sangat rindang, maka pernyataan itu menjelaskan pada kita bahwa indra pengelihatannya mencerap pohon itu dengan sifat atau ciri-ciri khusus yang biasa disebut „rindang‟. Demikian pula halnya dengan pernyataan-pernyataan seperti musik itu sangat merdu. Bunga itu semerbak baunya, kopi itu terlalu pahit, atau kursi itu terlalu kasap. Pernyataanpernyataan itu berturut-turut mengungkapkan kepada kita betapa cerapan indra pendengar, indra penciuman, indra perasa, dan indra peraba. Walaupun pernyataan itu sudah dapat dinamakan deskripsi, namun deskripsi yang masih bersifat kasar dan terlalu umum. Dikatakan kasar dan umum karena belum sanggup menciptakan sugesti dan interpretasi dalam diri tiap pembaca tentang ciri-ciri, sifat, atau hakekat dari objek yang dideskripsikan itu. Mengapa pohon itu disebut „rindang‟? betapa taraf kerindangan pohon itu? Berapa jumlah cabangcabangnya, dan berapa panjang daun-daunnya? Bagaimana pula peranan dedaunan yang terdapat pada pohon itu, sehingga seluruhnya dapat menciptakan sebatang pohon yang „rindang‟? (Keraf, 1982: 95-96). Seorang penulis yang baik tidak akan merasa puas dengan pernyataan-pernyataan yang bersifat umum. Sebab itu deskripsi menghendaki sebuah objek pengamatan yang cermat dan tepat. Bahkan dalam membuat deskripsi atas sebuah objek yang fantastis, penulis harus menyajikan perincian-perincian sedemikian rupa dengan mempergunakan pengalaman-pengalaman faktualnya sehingga tampak bahwa objek fantastis tadi benar-benar hidup dan ada. Dapat disimpulkan dalam menggarap sebuah deskripsi yang baik dituntut dua hal, Pertama, kesanggupan berbahasa dari seorang penulis yang kaya akan nuansa dan 16 bentuk. Kedua, kecermatan pengamatan dan ketelitian penyelidikan. Dengan kedua persyaratan tersebut seorang penulis sanggup menggambarkan objeknya dalam rangkaian kata-kata yang penuh arti dan tenaga sehingga mereka yang membaca gambaran tersebut dapat menerimanya seolah-olah mereka menyaksikannya. Semi (1993: 42) menyatakan beberapa ciri tanda penulisan atau karangan deskripsi, sebagai berikut. a. Deskripsi lebih berupaya memperlihatkan detail atau perincian tentang objek. b. Deskripsi lebih bersifat memberi pengaruh sensitivitas. c. Deskripsi disampaikan dengan gaya memikat dan dengan pilihan kata (diksi) yang menggugah. d. Deskripsi lebih banyak memaparkan tentang sesuatu yang dapat didengar, dilihat, dan dirasakan sehingga objek pada umumnya benda, alam, warna, dan manusia. e. Organisasi penyampaian lebih banyak menggunakan susunan paparan terhadap suatu detail. Pilihan kata yang tepat dapat melahirkan gambaran yang hidup dan segar di dalam imajinasi pembaca. Perbedaan-perbedaan yang sangat kecil dan halus dari apa yang dilihatnya dengan mata, harus diwakili oleh kata-kata yang khusus. Meskipun demikian semua perbedaan yang mendetail yang dicerapnya melalui pancaindranya itu harus bersama-sama membentuk kesatuan yang kompak tentang objek tadi (Keraf, 1982: 97). 17 Bila ditinjau dari tujuan dan maksud, deskripsi mempunyai pertalian dengan narasi, tetapi sebagai alat, deskripsi mempunyai hubungan pula dengan ketiga bentuk retorika yang lain. Eksposisi, argumentasi, dan narasi dapat berdiri sendiri sebagai sebuah bentuk tulisan yang bulat dan komplet; sebaliknya deskripsi (sugestif) tidak dapat berdiri sendiri. Deskripsi hanya bisa menjadi alat bantu bagi pemaparan (eksposisi), pengisahan (narasi), dan argumentasi. Ia hanya merupakan bagian yang kecil yang dipergunakan oleh ketiga bentuk tulisan lainnya untuk lebih mengkonkretkan pokok pembicaraan (Keraf, 1982: 98). Bila diperhatikan frekuensi munculnya deskripsi, maka lebih sering ia muncul bersama-sama narasi, daripada dengan bentuk-bentuk tulisan lainnya. Dalam narasi, rekaan atau bukan rekaan (fiksi dan non fiksi), deskripsi dipakai untuk menyiapkan dasar atau latar belakang dari peristiwa-peristiwa, adegan-adegan yang timbul dalam kerangka jalannya cerita. Latar belakang ini dapat memengaruhi pula perasaan hati seseorang dan suasana sekitarnya. 2.3 Deskripsi Latar Kata deskripsi berasal dari kata Latin describere yang berarti menulis tentang, atau membeberkan sesuatu hal. Sebaliknya kata deskripsi dapat diterjemahkan menjadi pemeriaan, yang berasal dari kata peri-memerikan yang berarti „melukiskan sesuatu hal‟ (Keraf, 1982: 93). Dalam deskripsi penulis memindahkan kesan-kesannya, memindahkan hasil pengamatan dan perasaannya kepada para pembaca, ia menyampaikan sifat dan semua perincian wujud yang dapat ditemukan pada obyek tersebut. Sasaran yang ingin dicapai oleh seorang penulis deskripsi adalah menciptakan atau memungkinkan terciptanya daya 18 khayal (imaginasi) pada para pembaca, seolah-olah mereka melihat sendiri obyek tadi secara keseluruhan sebagai yang dialami secara fisik oleh penulisnya (Keraf, 1982: 93). Latar atau setting yang disebut juga sebagai landas, tumpu, yang menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams dalam Nurgiantoro, 1994: 216). Berdasarkan kedua pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa deskripsi latar merupakan pemindahan kesan-kesan, hasil pengamatan dan perasaan mengenai latar atau landasan tumpu yang menyaran pada pengertian tempat hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya sebuah peristiwa yang digambarkan seorang penulis sebuah cerita dalam suatu wacana atau cerita. Ia menyampaikan sifat dan semua perincian wujud yang dapat ditemukan pada latar tersebut agar tercipta daya khayal (imajinasi) pada para pembaca. Dalam sebuah deskripsi latar diharapkan pembaca dapat membayangkan seolah-olah mereka dapat melihat sendiri latar yang secara keseluruhan dapat dilihat oleh penulis deskripsi tersebut. Hal ini didukung oleh Nurgiantoro (1994: 243-144) mengemukakan sebagai berikut. “Deskripsi latar berupa jalan beraspal yang licin, sibuk, penuh kendaraan yang ke sana ke mari, suara bising mesin dan klakson, ditambah pengapnya udara bau bensin, adalah mencerminkan suasana kehidupan perkotaan. Dalam latar yang bersuasana seperti itulah cerita (akan) berlangsung. Deskripsi latar yang berupa rumah tua, terpencil, tak terawatt, digelapkan oleh rimbunnya pepohonan, diselingi suara-suara jangkrik, mencerminkan suasana misteri yang menakutkan. Dengan membaca deskripsi latar yang menyaran pada suasana tertentu, membaca akan dapat memperkirakan suasana dan arah cerita yang ditemui.” 19 2.4 Pendekatan dalam Deskripsi Setiap tulisan dengan mempergunakan corak deskripsi, harus mempunyai tujuan tertentu. Dalam seluruh tulisan itu, semua daya upaya dapat dipergunakan semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan karangan itu, atau secara efektif menyampaikan amanat yang terkandung dalam karangan itu. Upaya yang pertama-tama dapat dipergunakan adalah cara penyusunan detail-detail dari obyek itu. Selain cara penyusunan isi, penulis juga harus memperlihatkan pula sebuah segi lain yaitu pendekatan (approach), yaitu bagaimana caranya penulis meneropong atau melihat barang atau hal yang akan dituliskan itu. Sikap mana yang diambilnya agar dapat menggambarkan obyeknya itu secara tepat sehingga maksudnya itu dapat dicapai (Keraf, 1982: 104). 2.4.1 Pendekatan Realistis Cara pertama yang bisa dipergunakan adalah pendekatan secara realistis. Dalam pendekatan yang realistis penulis berusaha agar deskripsi yang dibuatnya terhadap obyek yang diamatinya itu, harus dapat dilukiskan seobyektif-obyektifnya, sesuai dengan keadaan yang nyata yang dapat dilihatnya. Perincian-perincian, perbandingan antara satu bagian dengan bagian yang lain, harus dipaparkan sedemikian rupa sehingga tampak seperti dipotret. Pendekatan yang realistis dapat disamakan dengan kerjanya sebuah alat kamera yang diharapkan sebuah obyek, dan berusaha untuk mengambil gambar dari obyek tadi sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Kamera itu tidak memberikan penilaian mana yang penting dan mana yang kurang penting, tetapi apa saja yang berada di depan lensanya seluruhnya direkam dalam gambar yang dibuatnya. Satu-satunya unsur subyektif 20 yang terdapat pada gambar sebuah foto adalah pilihan tempat oleh juru kamera, serta penggunaan bayangan, dan cahaya dalam kameranya. Semua segi yang lain tetap seperti keadaan yang sebenarnya ( Keraf, 1982: 104). Penggunaan pendekatan yang realistis, tidak perlu berarti bahwa deskripsi itu akan kehilangan segi-segi sugestifnya. Kesan dan sugesti harus secara tepat menjadi dasar dari deskripsi, dan pengarang tidak boleh dibawa hanyut oleh arus emosinya. Sebaliknya, sebuah deskripsi yang fiktif dapat pula mempergunakan sebuah pendekatan yang realistis. Persoalan realistis atau tidak, sama sekali tidak tergantung dari fiktif atau tidak fiktifnya objek deskripsi (Keraf, 1982: 106). Berikut adalah contoh kutipan deskripsi yang menggunakan pendekatan realistis. “Sinar matahari menyorot pada lengannya yang coklat, sedang topi pandannya membentuk bayangan lonjong pada mukanya, dan menjatuhkan diri dengan kumis jarang. Ia duduk bersandar pada tembok toko, dan di depannya di atas tampak teronggok salak dan jambu batu. Sebuah koyak besar menganga pada pada daerah lutut dan sebuah koyak lagi membuat gelambir pada ujung celananya. Kain sarungnya yang hitam kusam terlempang pada bahu. Setengah mengantuk ia melihat lalu-lintas trotoir dan jalan raya. Di sebelah-menyebelahnya berderet pedagang kelontong kain jadi, dan di seberang jalan di muka warung dan toko bertebar pedagang buah, yang kalau dia bandingkan dengan dagangannya sendiri ia merasa kecil. Karena dagangan mereka bernas-bernas, ranum-ranum, berseri dan besar-besar. Sedangkan dagangannyakusam kuyu dan kecil-kecil. Ia tersentak bangun dari kantuk ketika mendengar debum pintu mobil yang ditutup persis di depannya. Seorang nyonya necis yang bersanggul besar sedang melangkah meninggalkan mobil itu dan langak-longok untuk menyeberang. Sampai di seberang ia membungkuk di muka dagangan papaya yang ditempeli etiket dari kertas merah. Nampak ia menawar-nawar sekejap, lalu membuka dompet, dan seorang laki-laki yang rupanya sopirnya menyambut dua buah papaya yang diulurkan pedagang. Sekarang si nyonya beringsut dan membungkuk di muka dagangan duku dan pisang. Nampak ia menawar sekejap pula, dan ia si pedagang menimbang.” (“Menerobos Kebalauan”, Wildan Jatim, Kompas , 29 Desember 1970 dalam Keraf, 1982: 106107) 21 Persoalan deskripsi hanya dapat dihubungkan dengan persoalan apakah deskripsi detail-detail itu secara objektif atau tidak, dengan tidak mempersoalkan apakah objeknya itu faktual atau tidak, apakah semua yang ada dihadapannya dilukiskan secara lengkap atau tidak (Keraf, 1982: 107). 2.4.2 Pendekatan Impresionistis Cara pendekatan yang kedua adalah pendekatan secara impresionis yaitu semacam pendekatan yang berusaha menggambarkan sesuatu secara objektif. Apa yang dimaksud subjektif sama sekali tidak berarti bahwa pengarang itu membuat seenaknya terhadap detail-detail yang dicerapnya (Keraf, 1982: 108). Dalam deskripsi yang sujektif, penulis lebih menonjolkan pilihannya dan interpretasinya. Sebab itu disamping memilih sudut atau titik yang paling baik untuk menangkapi objeknya, penulis harus mengadakan seleksi yang cermat atas bagian-bagian yang diperlukan, kemudian berusaha memberikan cahaya, bayangan, dan warna sesuai dengan apa yang diinterpretasikannya. Walaupun dikatakan bahwa ia mendeskripsikan kesan umum tentang benda itu, ia masih harus bertolak dari keadaan yang nyata, dari kenyataan-kenyataan yang diseleksi secara cermat (Keraf, 1982: 109). Berikut adalah contoh kutipan deskripsi yang menggunakan pendekatan impresionistis. “Kenapa aku terharu melihat wajahnya yang keriput. Banyak wajah keriput seperti itu, tapi tidak banyak menggugah emosiku. Tapi kali ini wanita tua itu benar-benar membuatkan simpati dan ingin sekali berbuat sesuatu untuknya. Lalu bagaimana? Ia kelihatan tidak membutuhkan apa-apa kecuali kulit mukanyaa yang berkerut-kerut menimbulkan rasa haru yang manis. 22 Aku mendekat dan mencoba tersenyum kepadanya. Tapi sekali ia tak butuh kebaikan hati seseorang. Ia hanya melihat kepadaku dengan tatap kosong tanpa merobah posisi maupun perubahan pada wajahnya. Aku tidak putus asa. Kuperhatikan terus. Ia seorang perempuan sekitar 70 tahun umurnya. Gemuk dan berkulit bersih. Berpakaian rapih dan tampak terpelihara dengan baik. Lalu apa kerjanya di tempat seperti ini. Sendirian lagi. Ketika aku melihat kakinya, tersenyum. Sandal yang dipakai berlain-lain. Sebelah kiri sandal lelaki dan sebelah kanan sandal perempuan . dan anehnya masih baru keluaran Bata. Mencuri pikirku. Tidak mungkin.ia terlalu tua untuk hal-hal seperti itu. Dan aku tersenyum kecut ketika melihat sandal jepitku yang sering tertinggal bila melewati tanah becek. Dan tiba-tiba seperti mendapat tegoran,nenek itu melihat ke kakinya. Lalu, seperti mendapat hadiah ulang tahun, beliau melonjak-lonjak kegirangan.” (“Orang Tua”, Zulidahlan, Kompas, 12-1-1971 dalam Keraf, 1982:109) Fakta-fakta yang dipilih oleh penulis harus dipertalikan dengan efek yang ingin dipertalikan. Pembaca harus disiapkan untuk menciptakan sebuah kesan yang menonjol, suatu sikap tunggal dan sebuah perasaan khusus. Singkatnya, walaupun deskripsi dia atas bertolak dari kenyataan (relitas), tetapi realitas-realitas itu sudah dijalin dan diikat dengan pandangan-pandangan yang subjektif dari penulisnya. Detail-detail yang tidak ada hubungannya dengan pokok persoalan akan mengganggu konsentrasi pembaca, karena detail-detail semacam itu akan membantu pembaca menuju kepada efek yang ingin ditimbulkannya. Sebab itu, semua hal yang kiranya dapat menimbulkan pertentangan atau berlawanan dengan efek yang tunggal tadi harus dilenyapkan, harus diabaikan (Keraf, 1982: 110). 2.4.3 Pendekatan Menurut Sikap Penulis Cara pendekatan yang ketiga yang dapat dipergunakan adalah bagaimana sikap penulis terhadap obyek yang dideskripsikan itu. Penulis dapat mengambil salah satu sikap : masa bodoh, bersungguh-sungguh dan cermat, mengambil sikap seenaknya, atau mengambil sikap bersifat irasionis. 23 Semua sikap ini bertalian dengan tujuan yang akan dicapainya, serta sifat obyek dan orang yang mendengar atau membaca deskripsinya. Dalam menguraikan sebuah persoalan, penulis mungkin mengharapkan agar pembaca merasa tidak puas terhadap suatu keadaan atau tindakan, atau penulis menginginkan agar pembaca juga harus merasakan persoalan yang tengah dibahas merupakan masalah yang sangat gawat dan serius. Penulis dapat juga membayangkan bahwa akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan sehingga para pembaca dari mula sudah disiapkan dengan sebuah perasaan yang kurang enak, suatu perasaan yang suram tentang masalah yang dihadapinya. Sikap yang diambil seorang penulis banyak sedikitnya akan dipengaruhi oleh suasana yang terdapat pada saat itu. Tiap tulisan atau pokok pembicaraan selalu timbul dalam situasi yang khusus. Situasi tadi akan memungkinkan penulis atau pembicara menentukan sikap mana yang harus diambilnya agar tujuannya dapat tercapai (Keraf, 1982: 111). Berikut adalah contoh kutipan deskripsi yang menggunakan pendekatan menurut sikap penulis. “Demikianlah pagi tadiaku harus menjalankan pemeriksaan dan perawatan yang terakhir. Baru saja aku masuk ruangan pemeriksaan, terlihhat olehku bahwa orang yang harus kurawat itu tak lain tak bukan dari makhluk yang ku lihat di Pasar Baru minggu yang lalu. Aku agak terperanjat. Tapi sebagai kewajiban aku harus melakukannya. Aku pandang dia lama-lama. Sekarang ia payah betul, terlentang-lentang di atas meja periksa dengan mulut terbuka hidung menonjol ke atas. Selagi ia sengsara terlunta-lunta ia tak berguna bagi masyrakat, bahkan hanya sebagai gangguan dan rintangan bagi keindahan alam yang sudah mewah, sebagai noda di tengah kepermainan bayangan keduniaan. Tapi rupanya, setelah ia berguna. Kebetulan pula berguna bagiky sebagai bahan pengetahuan yang akan berguna pula bagi peri kemanusiaan di belakang hari. Siapakah yang akan menyangka, bahwa makhluk yang telah tak tentu bentuknya ini mempunyai nilai sebagai manusia selama hidupnya, setelah kurus kering begini, masih sanggup juga memberikan bakti kepada manusia. Juga kepada si kaya-raya, si hartawan yang 24 sewaktu-waktu terpaksa juga meminta pertolongan dokter, yang mendapat pengetahuan berkat mayat, si nista tadi. Tapi hal ini tak akan pernah terkhayalkan oleh mereka, bahkan terpikirkan sedikit juga. Sebagai biasa kami harus memeriksa laporan-laporan tentang riwayat penyakit si sakit ini dulu.ternyata di sana di lampirkan bahwa makhluk ini didapati di bawah jembatan jalan Nusantara oleh polisi dalam keadaan sakit keras. Dalam keadaan pingsan ia dibawa ke rumah sakit. Jadi asal-usulnya, serta riwayat penyakitnya tak mungkin kami nyatakan.” (“Diagnosa”, Kamal Mahmud, GTA Jld. 2.hal. dalam Keraf, 1982: 114-115) 2.5 Diksi dan Kiasan Bila dalam pendekatan dipersoalkan bagaimana penulis melihat dan meneropong persoalan yang tengah digarapnya, sikap mana yang harus diambilnya dalam menghadapi hadirinnya atau bagaimana mengolah materinya, maka diksi (pilihan kata) dan bahasa kiasan merupakan jawaban atas pertanyaan alat manakah yang paling baik untuk membuat deskripsi itu. Setiap orang menginginkan agar materi yang dilukiskannya dengan kata-kata harus bisa dirasakan hidup, harus memiliki tenaga untuk menciptakan daya imaginasi pada setiap pembaca atau pendengar (Keraf, 1982: 115-116). Deskripsi yang segar dan hidup, yaitu deskripsi yang dapat membuka imajinasi dan menimbulkan kesan yang mendalam, hanya bisa dicapai dengan memperlihatkan semua hal itu bersama-sama, memerhatikan perpaduan yang harmonis antara metode, pendekatan, sikap, pilihan kata, dan bahasa kiasan (Keraf, 1982: 116). 2.5.1 Diksi Penempatan kata-kata yang digunakan oleh seorang penulis dalam karangannya dilakukan tidak secara asal atau sembarangan, tetapi dipilih dan dipilah agar informasi yang ingin disampaikan lebih mengena atau tepat sasaran. Banyak kata yang dimiliki oleh

Dokumen baru

Tags

Dokumen yang terkait

NILAI MORAL DALAM NOVEL PESANTREN IMPIAN KARYA ASMA NADIA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH
27
252
121
KONFLIK DALAM NOVEL 5 CM KARYA DONNY DHIRGANTORO DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
9
122
151
CIRI-CIRI TOKOH DALAM NOVEL EDENSOR KARYA ANDREA HIRATA DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SMA
2
33
14
KONFLIK DALAM NOVEL DAUN PUN BERZIKIR KARYA TAUFIQURRAHMAN AL AZIZY DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
14
137
51
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER NOVEL PADANG BULAN KARYA ANDREA HIRATA DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
3
47
21
PENANDA KOHESI SUBSTITUSI DALAM NOVEL RONGGENG DUKUH PARUK KARYA AHMAD TOHARI DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
0
32
311
KONFLIK DALAM NOVEL 5 CM KARYA DONNY DHIRGANTORO DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
25
597
37
RELASI DALAM WACANA KUMPULAN CERPEN DI ATAS SAJADAH CINTA KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY DAN IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA
1
42
62
DEIKSIS PADA NOVEL 99 CAHAYA DI LANGIT EROPA KARYA HANUM SALSABIELA RAIS DAN RANGGA ALMAHENDRA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
0
28
73
DEIKSIS PADA NOVEL 99 CAHAYA DI LANGIT EROPA KARYA HANUM SALSABIELA RAIS DAN RANGGA ALMAHENDRA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
4
30
148
DESKRIPSI LATAR DAN FUNGSINYA DALAM NOVEL CINTA DI DALAM GELAS KARYA ANDREA HIRATA DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
2
30
72
KONFLIK DALAM NOVEL PEREMPUAN PENUNGGANG HARIMAU KARYA MUHAMMAD HARYA RAMDHONI DAN PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS
6
27
69
TOKOH MELAYU DALAM NOVEL CINTA DI DALAM GELAS KARYA ANDREA HIRATA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA
3
36
81
GAYA BAHASA RETORIS DAN KIASAN DALAM NOVEL NEGERI DI UJUNG TANDUK KARYA TERE LIYE DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
21
166
81
NILAI MORAL DALAM NOVEL SANG PENCERAH KARYA AKMAL NASERY BASRAL DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS
21
114
79
Show more