Gambaran Bakteri Yang Terdapat Di Toilet Umum Di Dua Pusat Perbelanjaan Modern Di Kota Medan dan Pola Kepekaan Terhadap Antibiotik

 0  31  72

dokumen informasi

GAMBARAN BAKTERI YANG TERDAPAT DI TOILET UMUM DI DUA PUSAT PERBELANJAAN MODERN DI KOTA MEDAN DAN POLA KEPEKAAN TERHADAP ANTIBIOTIK OLEH: RIO TRY SAPUTRA 110100079 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2014 Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Toilet umum menunjukkan situasi yang lebih memungkinkan untuk terdapatnya berbagai macam mikroba sehingga kecenderungan untuk menularkan kepada orang lain lebih tinggi. Banyak sekali mikroorganisme yang terdapat di masing-masing tempat di toilet seperti di gagang pintu, wastafel, dll salah satunya adalah bakteri. Tujuan penelitian ini adalah melihat apa saja bakteri yang ada di toilet umum di dua pusat perbelanjaan modern di kota Medan serta kepekaannya terhadap antibiotik. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, dengan melakukan pengamatan terhadap bakteri di laboratorium Mikrobiologi FK USU. Pengambilan sampel yang dilakukan adalah sebanyak 40. Hasil penelitian menunjukkan terdapat sebanyak 32(80%) bakteri gram negatif dan 8(20%) bakteri gram positif. Dari seluruh isolat yang berjumlah 40, terdapat 8 jenis bakteri, yaitu K.pneumoniae (35%), K.oxytoca (20%),E. coli (12,5%), Proteus spp. (10%), Bacillus subtilis (7,5%), S. epidermidis (7,5%), S. aureus (5%), dan, Pseudomonas spp. (2,5%). Uji sensitivitas menggunakan masing-masing 14 antibiotik. Jumlah bakteri yang dilakukan uji kepekaan adalah 7 bakteri masingmasing satu bakteri mewakili tiap spesies. Bakteri gram negatif yang diujikan memiliki rata-rata persentase 74,3% dari seluruh antibiotik. (n=5). Sementara bakteri gram positif yang diujikan sensitif terhadap 64,3% antibiotik. (n=5). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa dalam tempat-tempat bersih sekalipun masih terdapat bakteri walaupun secara kasat mata kelihatan bersih. Untuk itu teruslah menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat mulai dari cuci tangan yang baik dan benar agar dapat terhindar dari kuman-kuman yang dapat menyebabkan penyakit. Kata kunci: mikroba, toilet umum, gram positif/negatif, sensitivitas. Universitas Sumatera Utara ABSTRACT Public restroom shows the situation is more likely to have various kinds of microbesthat the tendency to pass on to others was higher. Lots of microorganisms contained in each place in the toilet like door handles, sinks, etc. One of the microorganism is a bacteria. The purpose of this study is to see what bacteria is in the public restroom of two modern shopping center in Medan and sensitivity to antibiotics. This is a descriptive study, identifying the bacteria in the laboratory of Microbiology USU School of Medicine. There are total 40 sampels in this study. The results showed there were 32 (80%) gram-negative bacteria and 8 (20%) grampositive bacteria. From all isolates there are 8 types of bacteria, they are K.pneumoniae (35%), K.oxytoca (20%), E. coli (12.5%), Proteus spp. (10%), Bacillus subtilis (7.5%), S. epidermidis (7.5%), S. aureus (5%), and, Pseudomonas spp. (2.5%). There are 14 antibiotics used in this setting for 7 bacterias from each of bacteria represented one of each species. Negative-gram bacterias has mean of percentage of 74,3% of all antibiotics. While positive-gram bacterias sensitive to 64,3% of all antibiotics The conclusion from this study is that there is still bacteria live everywhere though that places has a clean appearance. Thus, continue to apply a clean and healthy living behaviors ranging from hand washing in a good way in order to avoid germs that can cause illness. Keywords: Microbial, public restroom, gram-positive, gram-negative, sensitivity. Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkatNya saya dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah yang berjudul “Gambaran Bakteri Yang Terdapat Di Toilet Umum Di Dua Pusat Perbelanjaan Modern Di Kota Medan dan Pola Kepekaan Terhadap Antibiotik” ini. Penulisan karya tulis ilmiah ini bertujuan sebagai syarat untuk mendapatkan gelar sarjana di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Saya menyadari bahwa penyelesaian karya tulis ilmiah ini juga tidak luput dari dukungan dan bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan rasa hormat saya mengucapkan terima kasih kepada: 1. Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD-KGEH, selaku dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara 2. dr. Rina Yunita, Sp.MK, selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, nasehat, waktu, tenaga, dan pikiran dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini sehingga saya dapat menyelesaikannya tepat pada waktunya. 3. dr. Isma Aprita, Sp.KK dan dr. Edhie Djohan Utama, Sp.MK, selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan kritik dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini. 4. Orang tua saya yang telah memberikan kasih sayang dan dukungan dalam proses pembuatan karya tulis ilmiah ini. 5. Mirza Hasibuan, selaku laboran mikrobiologi FK USU yang telah banyak membantu saya dalam melakukan penelitian di laboratorium. 6. Sebastian Amadeuz Esipindow Sipayung, teman saya yang telah membantu dalam pengumpulan data di lapangan. Universitas Sumatera Utara Demikian karya tulis ini dibuat dengan berbagai kekurangan yang pastinya saya harapkan kepada pembaca untuk memberikan kritik dan saran untuk kebaikan peneliti dalam pembuatan karya tulis maupun penelitian dikemudian hari. Akhirnya atas perhatian anda, saya mengucapkan terima kasih. Medan, 11 Desember 2014 Peneliti Rio Try Saputra NIM. 110100079 Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman Persetujuan . i Abstrak. ii Abstract. iii Kata Pengantar. iv Daftar isi. vi Daftar Tabel. ix Daftar Gambar . x Daftar Singkatan. xi BAB 1 PENDAHULUAN . 1 1.1.Latar Belakang. 1 1.2.Rumusan Masalah. 4 1.3.Tujuan Penelitian . 4 1.3.1 Tujuan Umum . 4 1.3.2 Tujuan Khusus . 4 1.4.Manfaat Penelitian . 4 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA . 5 2.1. Bakteri . 5 2.1.1 Pengertian . 5 2.1.2 Klasifikasi . 5 2.1.3 Nutrisi, Pertumbuhan dan Metabolisme Bakteri. 6 2.1.3.1 Kebutuhan Nutrisi. 6 2.1.3.2 Kebutuhan Lingkungan. 8 Universitas Sumatera Utara 2.1.4 Bakteri yang Ditularkan Melalui Fekal Oral . 9 2.2. Perwarnaan Gram dan Kultur Bakteri. 15 2.3. Uji Sensitivitas Antibiotik . 18 2.4. Kebiasaan Mencuci Tangan . 20 BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL . 22 3.1. Kerangka Konsep. 22 3.2. Definisi Operasional . 22 BAB 4 METODE PENELITIAN . 24 4.1. Jenis Penelitian . 24 4.2. Waktu dan Tempat Penelitian. 24 4.3. Populasi dan Sampel . 24 4.3.1 Populasi . 24 4.3.2 Sampel . 24 4.4. Teknik Pengumpulan Data . 25 4.5. Pengolahan dan Analisis Data . 25 BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN. 26 5.1. Hasil Penelitian . 26 5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian . 26 5.1.2. Hasil Pemeriksaan Laboratorium. 26 5.2. Pembahasan . 33 BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN. 38 6.1. Kesimpulan. 38 6.2. Saran. 39 Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA. 40 LAMPIRAN . 44 Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL 1. Tabel 5.1 Hasil Pewarnaan Gram . 27 2. Tabel.5.2 Persentase Jumlah Bakteri dari 40 isolat . 28 3. Tabel 5.3 Persentase Bakteri Berdasarkan Lokasi di Toilet . 28 4. Tabel 5.4 Hasil Uji Sensitivitas Bakteri Gram Negatif. 30 5. Tabel 5.5 Hasil Uji Sensitivitas Bakteri Gram Positif . 31 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR 1. Gambar 2.2.1 Macam media agar . 17 2. Gambar 2.3.1 Gradient diffusion test . 19 3. Gambar 2.3.2 Disc diffusion test (MHA). 20 4. Gambar 2.4.1 Paduan Mencuci Tangan WHO . 21 5. Gambar 5.1 Penanaman pada McConkey . 32 6. Gambar 5.2 Penanaman pada agar darah . 32 7. Gambar 5.3 Hasil pewarnaan gram. 32 8. Gambar 5.4 Reaksi biokimia(RBK) . 32 9. Gambar 5.5 Hasil penanaman RBK . 32 10. Gambar 5.6 Reaksi gula-gula Pseudomonas spp. 32 11. Gambar 5.7.Koloni pada MSA . 32 12. Gambar 5.8 Tes sensitivitas pada MHA. 32 Universitas Sumatera Utara CDC EMB ESBL MSA MHA MRSA MRCoNS RBK WHO DAFTAR SINGKATAN : Central for Disease Control and Prevention : Eosin Methylen Blue : Extended Spectrum Beta Lactamase : Mannitol Salt Agar : Mueller Hinton Agar : Methicillin Resistance Staphylococcus aureus : Methicillin Resistance Coagulase-Negative Staphyloccous : Reaksi Biokimia : World Health Organization Universitas Sumatera Utara ABSTRAK Toilet umum menunjukkan situasi yang lebih memungkinkan untuk terdapatnya berbagai macam mikroba sehingga kecenderungan untuk menularkan kepada orang lain lebih tinggi. Banyak sekali mikroorganisme yang terdapat di masing-masing tempat di toilet seperti di gagang pintu, wastafel, dll salah satunya adalah bakteri. Tujuan penelitian ini adalah melihat apa saja bakteri yang ada di toilet umum di dua pusat perbelanjaan modern di kota Medan serta kepekaannya terhadap antibiotik. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, dengan melakukan pengamatan terhadap bakteri di laboratorium Mikrobiologi FK USU. Pengambilan sampel yang dilakukan adalah sebanyak 40. Hasil penelitian menunjukkan terdapat sebanyak 32(80%) bakteri gram negatif dan 8(20%) bakteri gram positif. Dari seluruh isolat yang berjumlah 40, terdapat 8 jenis bakteri, yaitu K.pneumoniae (35%), K.oxytoca (20%),E. coli (12,5%), Proteus spp. (10%), Bacillus subtilis (7,5%), S. epidermidis (7,5%), S. aureus (5%), dan, Pseudomonas spp. (2,5%). Uji sensitivitas menggunakan masing-masing 14 antibiotik. Jumlah bakteri yang dilakukan uji kepekaan adalah 7 bakteri masingmasing satu bakteri mewakili tiap spesies. Bakteri gram negatif yang diujikan memiliki rata-rata persentase 74,3% dari seluruh antibiotik. (n=5). Sementara bakteri gram positif yang diujikan sensitif terhadap 64,3% antibiotik. (n=5). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa dalam tempat-tempat bersih sekalipun masih terdapat bakteri walaupun secara kasat mata kelihatan bersih. Untuk itu teruslah menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat mulai dari cuci tangan yang baik dan benar agar dapat terhindar dari kuman-kuman yang dapat menyebabkan penyakit. Kata kunci: mikroba, toilet umum, gram positif/negatif, sensitivitas. Universitas Sumatera Utara ABSTRACT Public restroom shows the situation is more likely to have various kinds of microbesthat the tendency to pass on to others was higher. Lots of microorganisms contained in each place in the toilet like door handles, sinks, etc. One of the microorganism is a bacteria. The purpose of this study is to see what bacteria is in the public restroom of two modern shopping center in Medan and sensitivity to antibiotics. This is a descriptive study, identifying the bacteria in the laboratory of Microbiology USU School of Medicine. There are total 40 sampels in this study. The results showed there were 32 (80%) gram-negative bacteria and 8 (20%) grampositive bacteria. From all isolates there are 8 types of bacteria, they are K.pneumoniae (35%), K.oxytoca (20%), E. coli (12.5%), Proteus spp. (10%), Bacillus subtilis (7.5%), S. epidermidis (7.5%), S. aureus (5%), and, Pseudomonas spp. (2.5%). There are 14 antibiotics used in this setting for 7 bacterias from each of bacteria represented one of each species. Negative-gram bacterias has mean of percentage of 74,3% of all antibiotics. While positive-gram bacterias sensitive to 64,3% of all antibiotics The conclusion from this study is that there is still bacteria live everywhere though that places has a clean appearance. Thus, continue to apply a clean and healthy living behaviors ranging from hand washing in a good way in order to avoid germs that can cause illness. Keywords: Microbial, public restroom, gram-positive, gram-negative, sensitivity. Universitas Sumatera Utara BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peningkatan kepadatan populasi penduduk di dunia membuat kecenderungan terjadinya penularan penyakit dari satu orang atau kelompok ke orang atau kelompok lain semakin meningkat. Penularan penyakit bisa terjadi melalui berbagai cara antara lain melalui udara, makanan, minuman, tangan yg dimasukkan kedalam mulut atau menyentuh makanan (Sherifa M. M. Sabra, 2013), jarum suntik, transfusi darah, hewan dll. Bagian-bagian tubuh tempat masuknya bakteri penyebab penyakit juga bermacam-macam seperti melalui selaput lendir tubuh(misalnya mulut mata, luka, kelamin) maupun melalui pembuluh darah secara langsung seperti pada penyuntikan. Tidak hanya itu pemakaian barang milik penderita ataupun menyentuh barang yang sebelumnya dipegang oleh penderita juga bisa menjadikan kita terkena penyakit yang dideritanya jika penyakit tersebut berpotensi menular, apalagi dengan keberagaman latar belakang manusia dari berbagai kalangan juga meningkatkan kemungkinan akan berbagai bentuk penyakit yang bisa kita dapatkan dari orang lain. Sampai saat ini orang-orang telah banyak mengenal berbagai macam penularan penyakit serta kiat-kiat mengatasi penularan penyakit. Namun dalam beberapa hal mungkin tidak terduga oleh masyarakat yaitu ada beberapa lokasi atau tempat di mana penularan penyakit kadang terabaikan oleh mereka. Misalnya adalah lingkungan dalam rumah atau bisa juga public restroom atau yang biasa kita kenal dengan toilet (Gilberto,et al., 2011). Toilet merupakan salah satu tempat yang dapat menyebabkan terjadinya penyebaran penyakit karena dalam penggunaannya yang berhubungan dengan Universitas Sumatera Utara di mana pada konsentrasi tersebut sudah dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Semakin tinggi nilai dari MIC maka kemungkinan bakteri tersebut telah mengalami resistansi ( Joyner, 2007). Universitas Sumatera Utara 20 2.4.1. Mekanisme Resistansi Bakteri Terhadap Antibiotik Terdapat berbagai mekanisme yang menyebabkan mikroorganisme mengalami resistansi : a. Mikroorganisme menghasilkan enzim yang menghancurkan obat aktif. Contohnya adalah Stafilokokus yang mengalami resistan pada bakteri penghasil enzim β-Laktamase yang dihasilkan oleh bakteri gram negatif. b. Mikroorganisme mengubah target molekul. Sebuah obat antimikroba mengenali dan berikatan pada target molekul yang spesifik. Perubahan sedikit pada target yang berasal dari mutasi dapat mencegah obat berikatan. c. Penurunan ambilan obat. Protein porin yang berada di membran luar dari bakteri gram negatif secara selektif memperbolehkan molekul hidrofobik untuk memasuki sel. Perubahan pada protein ini dapat mengubah permeabilitas dan mencegah beberapa obat memasuki sel. d. Penurunan eliminasi obat. Sistem yang digunakan oleh bakteri untuk transpor bahan yang telah rusak dikenal sebagai efflux pump. Perubahan yang mengakibatkan peningkatan kerja dari pompa ini dapat menyebabkan peningkatan tingkat eliminasi dari sebuah organisme pada obat, sehingga mengakibatkan bakteri dapat bertahan pada konsentrasi tinggi dari obat (Nester et al, 2004). 2.4.2. Uji Resistansi Terdapat dua uji standar yang sering digunakan untuk menentukan level resistansi bakteri pada yaitu (Kayser, 2005) : A. Dilution Test Faktor dua seri pengenceran agen secara geometris disediakan pada media nutrisi, diinokulasikan dengan organisme yang akan diuji dan diinkubasikan kemudian konsentrasi terendah yang menghambat pertumbuhan ditentukan. Pada agar dilution test piringan nutrien agar yang mengandung antibiotik diinokulasikan dengan organisme yang akan diuji. Universitas Sumatera Utara 21 B. Agar Diffusion Test Pada tes ini dilakukan inokulasi yang difus pada agar nutrien dengan organisme yang akan diuji. Kemudian disk/cakram ataupun kertas filter yang mengandung agen antimikroba diletakkan pada agar kemudian diinkubasikan. Zona inhibisi di sekitar disk memberikan informasi resistansi dari organisme tersebut. Hal ini sangat mungkin karena terdapat hubungan antara log2 MIC dan diameter zona inhibisi. Gambar 2.4. Contoh Agar Diffusion Test terlihat adanya Zona inhibisi di sekitar disk (Kayser, 2005) Universitas Sumatera Utara 22 BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1. Kerangka Konsep URIN PASIEN SUSPEK ISK Bakteriuria (-) Bakteriuria (+) IDENTIFIKASI BAKTERI POLA KEPEKAAN Gambar 3.1. Kerangka Konsep Universitas Sumatera Utara 23 3.2. Definisi Operasional Tabel 3.1. Definisi Operasional Variabel Urin pasien Suspek ISK Definisi Operasional Urin pasien dengan diagnosis secara klinis adalah ISK Cara Ukur Identifikasi Bakteri Pola Kepekaan Mengetahui Sebaran bakteri-bakteri penyebab ISK pada u Kemampuan suatu anti bakteri dalam menghambat pertumbuhan bakteri dengan mengukur diameter zona hambat dan disesuaikan dengan tabel CLSI Kultur Identifikasi Agar Diffusion Test Alat ukur Skala Ukur Nominal Metode Nominal Konvension al Jangka Sorong Nominal Hasil Ukur Bakteri Penyebab ISK Bakteri Mengalami perubahan pola kepekaan atau tidak yang disesuaikan dengan tabel CLSI Universitas Sumatera Utara 24 BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan desain cross sectional atau potong lintang untuk mengetahui bakteri penyebab infeksi saluran kemih dan pola kepekaannya pada urin pasien suspek ISK. 4.2. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus – September 2014, bertempat di Laboratorium Mikrobiologi RSUP Haji Adam Malik dan Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran USU Medan. 4.3. Populasi dan Sampel Penelitian 4.3.1. Populasi Penelitian Populasi pada penelitian ini adalah seluruh urin pasien dengan diagnosis sementaranya adalah infeksi saluran kemih yang dilakukan pemeriksaan urin di Laboratorium Mikrobiologi RSUP Haji Adam Malik Medan. 4.3.2. Sampel Penelitian Sampel pada penelitian ini adalah seluruh pasien dengan diagnosis sementara infeksi saluran kemih di RSUP Haji Adam Malik Medan, yang telah memenuhi kriteria inklusi. Adapun kriteria inklusi dan eksklusi pada penelitian ini adalah : Kriteria Inklusi : 1. Pasien dengan diagnosis klinisnya adalah infeksi saluran kemih 2. Pasien yang menjalani pemeriksaan urin di laboratorium mikrobiologi RSUP Haji Adam Malik Medan Kriteria Eksklusi : 1. Form pasien tidak lengkap. Universitas Sumatera Utara 25 Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode consecutive sampling di mana semua subjek yang datang secara berurutan dan memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan ke dalam penelitian sampai jumlah subyek yang diperlukan terpenuhi. Adapun jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini dihitung menggunakan rumus estimasi proporsi suatu populasi (Sastroasmoro, 2013) : Dengan : = 2 2 n : Jumlah sampel minimum 2 : Nilai distribusi normal pada tabel Z dengan nilai α tertentu p : Proporsi di populasi q : 1- p d : Perbedaan hasil klinis ( effect size) Pada penelitian ini tingkat kepercayaan yang dikehendaki adalah 95% dengan nilai α adalah 5% sehingga diperoleh nilai nilai Zα sebesar 1,96. Nilai P yang digunakan adalah 0,5 maka nilai q adalah 1-0,5 yaitu 0,5. Nilai d pada penelitian ini digunakan 15%. Maka jumlah sampel yang diperlukan sesuai rumus di atas adalah = 2 2 = 1,96 × 1,96 × 0,5 × 0,5 = 42,6 0,15 × 0,15 Maka jumlah sampel yang digunakan adalah 42,6, angka tersebut kemudian dibulatkan menjadi 45 sampel urin. Universitas Sumatera Utara 26 4.4. Teknik Pengambilan Data Pada penelitian ini menggunakan data primer berupa urin pasien suspek ISK yang didapatkan dari Instalasi Klinik Mikrobiologi RSUP Haji Adam Malik Medan. Sampel segera dibawa dalam wadah khusus ke laboratorium mikrobiologi FK USU di mana kemudian langsung dilakukan uji identifikasi dan uji pola kepekaannya terhadap beberapa antibiotika. 4.5. Alat dan Bahan 4.5.1. Alat a. Inkubator b. Lampu Spritus c. Oase (Sengkelit) d. Tabung Kultur e. Jangka Sorong f. Rak Tabung Reaksi g. Tabung Reaksi h. Spidol i. Pinset 4.5.2. Bahan a. Mid Portion Urine atau Urin Kateter b. Gentian Violet c. Safranin d. Alkohol 96% e. Aquadest f. Media Gula Gula g. Agar Darah (Blood Agar) h. Urea Broth i. Media Katalase j. Meuller Hinton Agar (MHA) k. Cakram Antibiotik i). Tazobactam ii). Cefuroxime Universitas Sumatera Utara 27 iii). Cefepime iv). Amikacin v). Piperacillin vi). Ampicillin vii). Kanamicin vii). Chloramphenicol ix). Tetracyclin x). Ceftazidime xi). Ceftriaxone xii). Cotrimoxazole xiii). Meropenem xvi). Cefotaxime xv). Erithromicin xvi). Ciprofloxacin xvii). Norfloxacin xviii).Ofloxacin xix). Klindamicin xx). Gentamicin l. Reagens dan media untuk identifikasi metode uji biokimia: TSI Agar, uji Indol, Methyl-red, uji sitrat, Voges-Proskauer, uji motilitas dan uji fermentasi karbohidrat. 4.6. Prosedur dan Teknik Penelitian 4.6.1. Persiapan Sampel Urin dari pasien suspek ISK yang diambil merupakan urin porsi tengah (mid portion urine) maupun urin kateter. Kemudian urin tersebut ditanam di media pembiakan pada agar darah (blood agar) kemudian setelah bakteri tersebut ditanam dilakukan penghitungan jumlah koloni bakteri tersebut. Apabila ≥105CFU/ml maka sampel tersebut disebut sebagai bakteriuria bermakna yang kemudian akan dilakukan uji identifikasi bakteri. Universitas Sumatera Utara 28 4.6.2. Uji Identifikasi Bakteri Bakteri yang telah ditanam pada media biakan kemudian akan dilakukan pewarnaan gram untuk menentukan bakteri tersebut merupakan bakteri gram negatif atau positif. Kemudian bakteri tersebut dilakukan pemeriksaan biokimia berupa uji seperti : media gula gula, TSI agar, Uji Urease, Methyl Red, Voges Proskaeur (VP), Uji Katalase, Uji Indol, Uji Citrat, dan Uji Motilitas. 4.6.3. Pola Kepekaan Adapun prosedur yang digunakan pada uji kepekaan pada penelitian ini adalah : a. Ambil koloni bakteri yang akan diujikan kepekaannya dan disuspensikan ke dalam NaCl fisiologis dalam tabung reaksi. b. Kekeruhan bakteri pada tabung tadi disesuaikan dengan standar McFarland 0,5 c. Kemudian kapas lidi steril dicelupkan ke dalam medium cair yang berisi bakteri tersebut d. Dengan gerakan menekan dan memutar, kapas lidi tersebut diusapkan pada dinding tabung e. Kapas lidi tersebut kemudian diusapkan pada permukaan lempeng agar Mueller Hinton dan disebarkan secara merata pada permukaan agar tersebut kemudian hal tersebut dilakukan pada arah yang lain sehingga tidak ada zona yang kosong dan betul-betul rupture of membrane – a clinical study. J Obstet Gynecol India 1996; 46: 63-8. 18. Lodfors. Risk factors for prelabour rupture of membranes at or near term in an urban Swedish population. J perinatal med 2000; 28: 491-6. 19. Alexander JM, Mercer BM, Miodovnik M, Thurnau GR, Goldenburg RL, Das AF, dkk. The impact of digital cervical examination on expectantly managed preterm rupture of membranes. Am J Obstet Gynecol 2000; 183: 1003-7. 20. Hyagriv N, Simhan, Canavan TP. Preterm premature of membranes: diagnosis, evaluation and management strategies. BJOG 2005; 112: 32- 7. 21. Park JS, Lee SE, Norwitz ER. Non invasive testing for rupture of the fetal membranes. Touch Briefing US obsgyn 2007:13-6. 22. Cuningham GF, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap III LC, Hauth JC, Wenstrom KD. Preterm birth. Dalam: Cuningham GF, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap III LC, Hauth JC, Wenstrom KD, penyunting. Williams Obstetric. Edisi ke 21. Philadelphia: Mc Graw Hills 2001: 690-727. 23. Davies NJ, Martindale E, Heddad NG. Cervical ripening with oral PGE2 tablets and the effects of the latent period in patients with PROM at term. J Obstet Gynecol 1991; 11: 405-8. 24. Mercer BM, Miodovnik M, Thurnau GR, Goldenberg RL, Das AF, Ramsey RD, dkk. Antibiotic therapy for reduction of infant morbidity after premature rupture of membrane. A randomized controlled trial. JAMA 1997; 278: 98995 25. Fontenot T, Lewis DF. Tocolytic therapy with preterm premature rupture of membranes. Clin Perinatol 2001; 28: 787-96. 26. Rotschild A, Ling EW, Puterman ML, Farquharson D. Neonatal outcome after prolonged preterm rupture of the membranes. Am J Obs Gyn 1990; 162: 46-52. Gottlieb Sidabutar : Pola Pertumbuhan Bakteri Dan Uji Kepekaan Antibiotik Dari Isolat Usap Vagina Pada , 2008 USU e-Repository © 2008 27. Schucker JL, Mercer BM. Midtrimester premature rupture of the membranes. Semin Perinatol 1996; 20: 389-400. 28. Smith CV, Greenspoon J, Phelan JP, Platt LD. Clinical utility of the nonstress test in the conservative management of women with preterm spontaneous premature rupture of the membranes. J Reprod Med 1987; 32: 1-4. 29. Ehernberg HM, Mercer BM. Antibiotics and the management of preterm premature rupture of the fetal membranes. Clin Perinatol 2001; 28: 807-11 30. Mercer BM. Preterm premature rupture of the membranes. ObstetGynecol 2003; 101: 178-93. 31. Naef RW III, Allbert JR, Ross EL, Weber BM, Martin RW, Morrison JC. Premature rupture of membranes at 34 to 37 weeks’ gestation: aggressive versus conservative management. Am J Obstet Gynecol 1998; 178: 126-30. 32. Lieman JM, Brumfield CG, Carlo W, Ramsey PS. Preterm premature rupture of membranes: is there an optimal gestational age for delivery? Obstet Gynecol 2005; 105: 12-7. 33. Yudin MH, Money, DM. Screening and management of bacterial vaginosis in pregnancy. JOGC 2008; 211: 702-6. 34. Chang JC, Hsu TY, Hsieh CH, Hsu YR, Tai MC, Chen LF. Vaginal and cervical pH measurements in normal pregnancy and preterm labor. J Matern Fetal Invest 1997; 7: 193-6. 35. Mumtaz S, Mumtaz A, Aftab I, Akhtar N, Hassan M, Hamid A. Aerobic vaginal pathogens and their sensitivity pattern. J Ayub Coll Abottabad 2008; 20(1): 113- 7. 36. Shulman ST. Pengenalan penyakit infeksi. Shulman ST, Phair JP, Sommers HM, penyunting. The biologic and clinical basis of infectious diseases. Edisi ke 4. Philadelphia: WB Saunders 1994: 1-15. 37. Brooks GF, Butel JS, Morse SA. Pathogenesis of bacterial infection. Dalam: Brooks GF, Butel JS, Morse SA, penyunting. Medical Microbiology. Edisi ke 22. Philadelphia: Mc Graw Hills 2001:205-22. 38. Goldenberg RL, Hauth JC, Andrews WW. Intrauterine infection and preterm delivery. New Eng J Med 2000; 342: 1500-6. 39. Mercer B.M.Preterm Premature rupture of the membranes: Current approaches to evaluation and management . J Obstet Gynecol Clin N Am 2005; 32: 411-28. Gottlieb Sidabutar : Pola Pertumbuhan Bakteri Dan Uji Kepekaan Antibiotik Dari Isolat Usap Vagina Pada , 2008 USU e-Repository © 2008 40. M. Doyle, S.O. Brien and R. Johanson. Consultant management policies for spontaneous preterm and term rupture of membranes before onset of labour; Result of nationwide postal survey. J Obstet Gynecol 1993: 13(5): 315-9. 41. Spinillo A., Nicolas, Piazzi G., Ghazal K. Colonal L, Baltaro S. Epidemiological correlates of preterm rupture of membranes. Int. J Gynecol Obstet 1994; 47: 7-15. 42. Yang LC, Taylor DR, Kaufman HH, Hume R, Calhoun B. Maternal and fetal outcomes of spontaneous preterm rupture of membranes. JAOA 2004; 104(12): 537-42 43. Amon E, Lewis SV, Sibai BM, Villar MA, Arheart KL. Ampicillin prophylaxis in preterm premature rupture of the membranes: a prospective, randomized study. Am J Obstet Gynecol 1988; 159: 539-43. 44. Song GA, Han MS. Effect of antenatal corticosteroid and antibiotics in pregnancies complicated by premature rupture of membrane between 24 and 28 weeks of gestation. J Korean Med Sci 2005; 20: 88-92. 45. Principles of antimicrobial therapy. Diunduh http://pharmacy.rutgers.edu/lcr/pdfs/Pharm%20Micro%2004/liu2-3. dari: 46. Edwards RK, Locksmith GJ, Duff P. Expanded- spectrum antibiotics with preterm premature rupture of membranes. Obstet Gynecol 2006; 96: 60-4. 47. Lumbanraja H. Pola bakteri penyebab infeksi nosokomial pada ruang operasi dan luka operasi penderita infeksi paska seksio sesarea elektif di RSUP H. Adam Malik dan RSUD Dr. Pirngadi medan. Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara RSUP H. Adam Malik- RSUD Dr. Pirngadi Medan 2007. 48. Madiyono B, Moeslichan S, Sastroasmoro S, Budiman I, Purwanto H. Perkiraan besar sampel. Dalam: Sastroasmoro S, Ismael S, penyunting. Dasar- dasar metodologi penelitian klinis edisi ke 3. Jakarta: Sagung Seto; 2008.h 314. 49. Karat C, Madhivanan P, Krupp K, Poornima S, Jayanti NV, Suguna JS, Mathai E. The clinical and microbiological correlates of premature rupture of membranes. Indian J of Medical microbiology 2006; 24(4): 283-5. 50. Mikamo H, Sato Y, K. Kawazoe, Y.X. Hua, T. Tamaya. Bacterial isolates from patients with preterm labor with and without preterm rupture of the fetal membranes. Infect Dis Obstet Gynecol 1999 ; 7: 190-4. Gottlieb Sidabutar : Pola Pertumbuhan Bakteri Dan Uji Kepekaan Antibiotik Dari Isolat Usap Vagina Pada , 2008 USU e-Repository © 2008 51. Lewis DF, Major CA, Towers CV, Asrat T, Harding JA, Grite TJ. Effects of digital vaginal examinations on latency period in preterm premature rupture of membranes. Obstet Gynecol 1992; 80(4): 630-4. 52. Jenniges K, Evans L. Premature rupture of the membranes with routine cervical exams. J Nurse Midwifery 1990; 35(1): 46-9. 53. Asrat T, Lewis DF, Garite TJ, Major CA, Nageotte MP, Towers CV, Montgomery DM, Dorchester WA. Rate of recurrence of preterm premature rupture of membranes in consecutive pregnancies. Am J Obstet Gynecol 1991; 165: 1111-5. 54. Hadley CB, Main DM, Gabbe SG. Risk factors for preterm premature rupture of the fetal membranes. Am J Perinatol. 1990; 7(4): 374-9. 55. Doddy DR, Patterson MQ, Voiqt LF, Mueller BA. Risk factors for the recurrence of premature rupture of the membranes. Paediatr Perinat Epidemiol. 1997; 11: 96-106. 56. Romem Y, Sires C, Artal R. Effects of seminal ejaculate on the biomechanical properties of chorioamniotic membranes. J Reprod Med 1989; 34(3): 221-4. 57. Naeye RL, Peters RC. Causes and consequences of premature rupture of fetal membranes. Lancet 1980; 1: 192-4. 58. Mills JL, Harlap S, Harley EE. Should coitus late in pregnancy be discouraged?. Lancet 1981; 18: 136-8. 59. Riss P, Bartl W, Nikorovics F. [Coitus during pregnancy, vaginal flora and fetal outcome]. Wien Med Wochenschr 1982; 132(20): 495-8. 60. Ekwo EE, Gosselink CA, Woolson R, Moawad A, Long CR. Coitus late in pregnancy: risk of preterm rupture of amniotic sac membranes. Am J Obstet Gynecol 1993; 168: 22-31. 61. Harger JH, Hsing AW, Tuomala RE, Gibbs RS, Mead PB, Eschenbach DA, Knox GE, Polk BF. Risk factors for preterm premature rupture of fetal membranes: a multicenter case-control study. Am J Obstet Gynecol 1990; 163: 130-7. 62. Kyrklund-Blomberg NB, Granath F, Cnattingius S. Maternal smoking and causes of very preterm birth. Acta Obstet Gynecol Scand 2005; 84(6): 5727. 63. Blok R, Klejewski A, Szumała-Kakol A. The role of lower genital tract infection in PROM. Ginekol Pol 1997; 68(10): 449-58. 64. Lewis JF, Johnson P, Miller P. Evaluation of amniotic fluid for aerobic and anaerobic bacteria. Am J Clin Pathol 1976; 65(1): 58-63. Gottlieb Sidabutar : Pola Pertumbuhan Bakteri Dan Uji Kepekaan Antibiotik Dari Isolat Usap Vagina Pada , 2008 USU e-Repository © 2008 65. Ziaei S, Sadrkhanlu M, Moeini A, Faghihzadeh S. Effect of bacterial vaginosis on premature rupture of membrane and related complications in pregnant women with a gestational age of 37- 42 weeks. Gynecol & Obstet Invest 2006; 61: 135-8. Gottlieb Sidabutar : Pola Pertumbuhan Bakteri Dan Uji Kepekaan Antibiotik Dari Isolat Usap Vagina Pada , 2008 USU e-Repository © 2008
Gambaran Bakteri Yang Terdapat Di Toilet Umum Di Dua Pusat Perbelanjaan Modern Di Kota Medan dan Pola Kepekaan Terhadap Antibiotik Gambaran Bakteri Yang Terdapat Di Toilet Umum Di Dua Pusat Perbelanjaan Modern Di Kota Medan Dan Pola Kepekaan Terhadap Antibiotik
1 / 72

Gambaran Bakteri Yang Terdapat Di Toilet Umum Di Dua Pusat Perbelanjaan Modern Di Kota Medan dan Pola Kepekaan Terhadap Antibiotik

Bebas