Feedback

Karakteristik Sepsis Neonatorum di Unit Perinatologi RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2012-2013

 3  101  51

dokumen informasi

KARAKTERISTIK SEPSIS NEONATORUM DI UNIT PERINATOLOGI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2012-2013 KARYA TULIS ILMIAH Karya Tulis Ilmiah Ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Kelulusan Sarjana Kedokteran Oleh : AULIA BARIZON 110100313 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2014 Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara KATA PENGANTAR Alhamdulillahirabbila’lamiin, puji syukur kepada Allah SWT yang senantiasa memberikan nikmat, terutama nikmat kemudahan sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah (KTI) dengan judul “Karakteristik Sepsis Neonatorum di Unit Perinatologi RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 20122013”, sebagai tahapan akhir pembelajaran dalam program studi Strata I Pendidikan Dokter Universitas Sumatera Utara. Terima kasih banyak kepada orang tua penulis, Ayahanda tercinta Isral Lubis, Ibunda tercinta Margawati dan adinda tersayang Sripi Mahalya atas dukungannya baik berupa dukungan kasih sayang, dan do’a, sehingga penulis dapat memperoleh pendidikan di FK USU dan bisa menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana Kedokteran. Selain itu, penulis juga ingin mengucapkan terima kasih banyak dan penghargaan yang tinggi kepada pihak-pihak yang telah mendukung dan memberikan bantuan, antara lain: 1. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD-KGEH atas izin penelitian yang diberikan. 2. Dosen Pembimbing dr. Rasyidah, SpA yang telah banyak meluangkan waktu dan tenaga, serta memberikan arahan dan dukungan moral dalam proses bimbingan KTI ini. 3. Dosen Penguji dr. Hemma Yulfi DAP&E M. Med. Ed dan dr. Bambang Prayugo, SpB yang telah membantu mengkoreksi, menyempurnakan, menguji, dan menilai KTI ini. 4. Kepada RSUP H. Adam Malik Medan khususnya bagian perinatologi dan bagian rekam medik pasien yang telah memberikan izin tempat penelitian. 5. Kepada bapak kost DR. Kintoko Rohadi yang tidak pernah lelah memberikan pengarahan serta nasihat-nasihat sehingga selesainya KTI ini. Universitas Sumatera Utara 6. Sahabat penulis yang telah membantu dan memberi berbagai dukungan selama penyusunan KTI ini, Fadhil Afif, M. Harmen Reza, Aditya Prakoso, Fawzan Mohammad, Feisal Jabbar, Tario Karrier Harsyanda, Ahmad Syahril Anwar, M. Nevino Fachry, Abdurrahman Huzaifi, Roni Abimanyu, Mutamamin Ula, M.Archie Amanta, Riza Andhika, M.Faried, M. Fiqih Hilman, Mohammad Alghazali, Wahyu Medsa, Muhammad Iqbal, M. Ikhsan Chaniago, Rizaniami, Nadhira Lesarina, Aisha Citra Nissa, Ressa Hana, Zarin Safanah, Eka Aprilia Lubis, Astrini Aslam, Azkia Yolanda, Tentoro UTD dan teman-teman lain yang tidak dapat saya sebutkan semua. 7. Teman satu kelompok penelitian penulis, Hendriawan Putra yang telah bersama-sama berjuang dan saling memberikan semangat dalam penyelesaian KTI ini. Akhirnya, penulis mengharapkan masukan dan saran demi perbaikan dan penyempurnaan penelitian ini dan juga untuk menambah ilmu dan pengetahuan penulis untuk masa yang akan datang. Medan, 8 Desember 2014 Penulis (Aulia Barizon) 110100313 Universitas Sumatera Utara DAFTAR ISI Halaman LEMBAR PENGESAHAN . ABTRAK . ABSTRACT . KATA PENGANTAR. DAFTAR ISI . DAFTAR GAMBAR . DAFTAR TABEL. DAFTAR LAMPIRAN . DAFTAR SINGKATAN . i ii iii iv v viii ix x xi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang . 1.2. Rumusan Masalah . 1.3. Tujuan Penelitian . 1.3.1. Tujuan Umum . 1.3.2. Tujuan Khusus . 1.4. Manfaat Penelitian . BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Sepsis Neonatorum . 2.2. Etiologi . 2.3. Klasifikasi . 2.4. Faktor Risiko . 2.5. Patofisiologi . 2.6. Diagnosis . 2.6.1. Gejala Klinis . 2.6.2. Pemeriksaan Penunjang . 2.6.3. Kriteria Penegakan Diagnosis . 2.7. Penatalaksanaan . 2.7.1. Pemilihan antibiotik untuk sepsis awitan dini . 2.7.2. Pemilihan antibiotik untuk sepsis awitan lambat . 2.7.3. Terapi Suportif (adjuvant) . 1 2 2 2 2 3 4 4 5 5 6 8 8 8 9 10 11 11 11 Universitas Sumatera Utara BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL 3.1. Kerangka Konsep . 3.2. Definisi Operasional. 12 12 BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Jenis Penelitian. 4.2. Waktu dan Tempat Penelitian . 4.3. Populasi dan Sampel. 4.3.1. Kriteria Inklusi . 4.3.2 Kriteria Eklusi . 4.4. Teknik Pengumpulan Data . 4.5. Pengolahan dan Analisa Data . 15 15 15 15 16 16 16 BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1. Hasil Penelitian . 5.1.1. Deskripsi Lokasi dan Sampel Penelitian . 5.1.2. Deskripsi Karakteristik Sepsis Neonatorum Berdasarkan Karakteristik Bayi. 5.1.2. Deskripsi Karakteristik Sepsis Neonatorum Berdasarkan Karakteristik Ibu . 5.2. Pembahasan. 17 17 18 20 21 BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan. 6.2. Saran . DAFTAR PUSTAKA . LAMPIRAN 24 24 25 Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.1. Karakteritik penderita sepsis neonatorum . 12 Universitas Sumatera Utara DAFTAR TABEL Halaman Tabel 2.1. Tabel 5.1. Tabel 5.2. Tabel 5.3. Tabel 5.4. Tabel 5.5. Kriteria diagnosis sepsi pada neonatus . Distribusi frekuensi sepsis neonatorum berdasarkan umur bayi, jenis kelamin bayi dan berat badan lahir bayi . Distribusi frekuensi sepsis neonatorum berdasarkan angka kematian . Distribusi frekuensi sepsis neonatorum berdasarkan penyakit penyerta bayi . Distribusi frekuensi sepsis neonatorum berdasarkan umur kehamilan ibu. Distribusi frekuensi sepsis neonatorum berdasarkan riwayat persalinan ibu . 10 18 19 19 20 20 Universitas Sumatera Utara DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Daftar Riwayat Hidup Lampiran 2.1 : Surat Izin Penelitian Lampiran 2.2. : Surat Izin Penelitian Lampiran 3 : Lok Book Bimbingan Skripsi Lampiran 4 : Ethical Clereance Lampiran 5 : Hasil Analisis Data Lampiran 6 : Master Data Universitas Sumatera Utara BBL BBLR CRP DJJ GM-CSF IFN IL ISK IVIG KID KPD LPS PAF Riskesdas RSCM SIRS SNAD SNAL TNF TORCH TT DAFTAR SINGKATAN : Berat Badan Lahir : Berat Badan Lahir Rendah : C-Reactive Protein : Denyut Jantung Janin : Granulocyte-Macrophage Colony Stimulating Factor : Interferon : Interleukin : Infeksi Saluran Kemih : Intravenous Immunoglobulin : Kardiovaskular Diseminata : Ketuban Pecah Dini : Lipopolisakarida : Platelet Activating Factor : Riset kesehatan dasar : Rumah Sakit Cipto Mangoenkoesoemo : Systemic Inflammatory Response Syndrome : Sepsis Neonatorum Awitan Dini : Sepsis Neonatorum Awitan Lambat : Tumor Necrosis Factor : Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes : Transfusi Tukar Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sepsis adalah keadaan klinis yang diawali oleh timbulnya SIRS (Systemic Inflammatory Response Syndrome) disertai dengan bukti adanya infeksi (biakan positif terhadap organisme dari tempat yang seharusnya tidak ditemukan kuman patogen) (Guntur AH et al, 2009). Sepsis dapat menjadi suatu penyakit yang berat dan menyebabkan peningkatkan morbiditas dan mortalitas. Sepsis pada neonatus merupakan sindrom klinik penyebab penyakit sistemik yang disebabkan oleh bakterimia pada bulan pertama kehidupan (Gomella et al, 2009). Sepsis neonatorum dibagi menjadi sepsis neonatorum awitan dini (SNAD) dan sepsis neonatorum awitan lambat (SNAL). SNAD timbul dalam 72 jam pertama kehidupan dan ditularkan perinatal dari ibunya, sedangkan SNAL timbul setelah 72 jam dan didapatkan pascanatal dari lingkungan, biasanya sering ditemukan pada bayi yang dirawat di ruang intensif, berat badan lahir (BBL), nutrisi parenteral yang berlarut-larut, infeksi dari alat perawatan bayi, infeksi nosokomial atau infeksi silang dari bayi lain atau dari tenaga medis yang merawat (Aminullah A et al, 2010). Berhubungan dengan proses persalinan bahwa insiden sepsis neonatorum lebih banyak pada kasus bayi yang lahir melalui seksio sesarea dibandingkan dengan lahir secara spontan. Penelitian sebelumnya di RS. Dr Soetomo, bahwa bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) memiliki risiko sepsis 2.75 kali lebih tinggi. Sedangkan pada persalinan prematur juga berisiko 4 kali lebih tinggi dibandingkan bayi-bayi yang lahir cukup bulan dan bayi yang lahir dengan seksio sesarea mempunyai risiko terjadi sepsis 1.89 kali lebih tinggi daripada yang tidak melakukan seksio sesarea (Utomo MT et al, 2010). Sepsis neonatorum merupakan salah satu penyebab tersering kematian pada neonatus (Willar K et al, 2010). Insiden dari sepsis neonatorum bervariasi dari 1-4/1000 kelahiran pada negara maju dan 10-50/1000 kelahiran di negara berkembang. Laporan WHO yang dikutip dari State of world’s mother 2007 Universitas Sumatera Utara dilaporkan bahwa 36% kematian neonatus disebabkan oleh penyakit infeksi, diantaranya sepsis, pneumonia, tetanus, dan diare. WHO juga melaporkan case fatality rate yang tinggi (40%) pada kasus sepsis neonatus (Putra PJ et al, 2012). Insiden tingkat kejadian sepsis neonatorum di beberapa rumah sakit rujukan di Indonesia sekitar 8.7-30.29% dengan angka kematian 11.56-49.9% (Utomo MT et al, 2010). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Nasional 2007 melaporkan bahwa kematian neonatal dini (0-7 hari) sebesar 78.5% dari seluruh kematian neonatal, sebagian besar disebabkan karena gangguan pernapasan, prematuritas, dan juga sepsis. Kematian neonatal lanjut (8-28 hari) sebanyak 20% disebabkan oleh sepsis (Departemen Kesehatan RI, 2007). Banyaknya kasus sepsis neonatorum yang terjadi di Sumatera Utara, khususnya di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan yang merupakan rumah sakit rujukan terbesar di Sumatera Utara menjadi dasar penulis untuk meneliti karateristik sepsis neonatorum di unit perinatologi RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2012-2013. 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : Bagaimana karakteristik sepsis neonatorum yang terjadi di unit Perinatologi RSUP H. Adam Malik tahun 2012-2013 ? 1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Mencari karakteristik sepsis neonatorum di unit perinatologi RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2012-2013. 1.3.2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui karakteristik sepsis neonatorum berdasarkan, umur bayi, jenis kelamin bayi, berat badan lahir bayi dan penyakit bayi. b. Untuk mengetahui angka kematian dari sepsis neonatorum pada tahun 2012-2013. Universitas Sumatera Utara c. Untuk mengetahui karakteristik sepsis neonatorum berdasarkan usia kehamilan ibu dan riwayat persalinan ibu. 1.4. Manfaat Penelitian a. Sebagai bahan masukan bagi pihak RSUP H. Adam Malik Medan dalam upaya perencanaan pencegahan sepsis neonatorum dengan pengenalan secara dini faktor risiko dan karakteristik bayi. b. Sebagai bahan masukan bagi peneliti lain yang ingin melakukan/ melanjutkan penelitian tentang sepsis neonatorum. Universitas Sumatera Utara BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Sepsis Neonatorum Sepsis neonatorum adalah suatu gejala klinis dengan mikroorganisme positif yang didapat dari spesimen steril seperti darah, cairan serebrospinal, dan urin yang di ambil dengan cara steril pada satu bulan pertama kehidupan (Thaver D et al, 2009). Infeksi merupakan penyebab paling umum kematian pada bayi yang berumur kurang dari empat minggu (Qazi SA et al, 2009). Diperkirakan empat juta neonatus meninggal, 99% dari kematian ini terjadi di negara berkembang dengan mayoritas di minggu pertama kehidupan (Thaver D et al, 2009). Dimana angka kejadian sepsis neonatorum di negara berkembang cukup tinggi (1,8–18/1000 kelahiran hidup), sedangkan di negara maju (1–5/1000 kelahiran). Secara khusus angka kematian neonatus di Asia Tenggara adalah 39 per 1000 kelahiran hidup (Depkes, 2007). Di Indonesia menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2002 bahwa angka kelahiran bayi di Indonesia diperkirakan mencapai 4,6 juta jiwa per tahun, dengan angka kematian bayi (Infant Mortality Rate) sebesar 48/1000 kelahiran hidup. Di RSUP Dr. Kariadi Semarang angka kejadian sepsis pada neonatus pada tahun 2004 adalah sebesar 33.1% dengan angka kematian 20.3%, di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta tahun 2005 sekitar 13.68% terjadi sepsis dari seluruh kelahiran hidup dengan angka kematian mencapai 14.18%. Sedangkan di RSUD dr H Abdul Moeloek Lampung, angka kejadian sepsis pada tahun 2009 adalah sebesar 30.1% dengan angka kematian 40% (Apriliana E et al, 2013). 2.2. Etiologi Pada Negara berkembang, E. coli, Klebsiella sp. dan S. aureus merupakan patogen penyebab sepsis neonatorum awitan dini tersering, dimana S. aureus, Streptococcus pneumonia dan Streptococcus pyogenes menjadi patogen penyebab sepsis neonatorum awitan lambat tersering (Khan, 2012). Universitas Sumatera Utara Di Indonesia sendiri, menurut data RSCM/FKUI pada tahun 1975-1980 Salmonella sp, Klebsiella sp. Tahun 1985-1990 Pseudomonas Sp, Klebsiella Sp, E. Coli. Tahun 1995-2003 Acinetobacter Sp, Enterobacter Sp, Pseudomonas Sp, Serratia Sp, E. Coli (Aminullah et al, 2010). 2.3. Klasifikasi Berdasarkan waktu terjadinya, sepsis neonatorum dapat diklasifikasikan menjadi dua bentuk yaitu sepsis neonatorum awitan dini (early-onset neonatal sepsis) dan sepsis neonatorum awitan lambat (late-onset neonatal sepsis) (Anderson-Berry, 2014). Sepsis neonatorum awitan dini (SNAD) merupakan infeksi perinatal yang terjadi segera dalam periode pascanatal (kurang dari 72 jam) dan biasanya diperoleh pada saat proses kelahiran atau in utero. Infeksi terjadi secara vertikal karena penyakit ibu atau infeksi yang diderita ibu selama persalinan atau kelahiran bayi. Incidence rate sepsis neonatorum awitan dini adalah 3.5 kasus per 1.000 kelahiran hidup dan 15-50% pasien tersebut meninggal (Depkes RI, 2008). Sepsis neonatorum awitan lambat (SNAL) terjadi disebabkan kuman yang berasal dari lingkungan di sekitar bayi setelah 72 jam kelahiran. Proses infeksi semacam ini disebut juga infeksi dengan transmisi horizontal dan termasuk didalamnya infeksi karena kuman nasokomial (Aminullah, 2010). 2.4. Faktor Risiko Risiko dari sepsis neonatorum bersifat multifaktorial dan berhubungan dengan belum matangnya sistem humoral, fagosit dan imunitas seluler (biasanya terjadi pada bayi prematur dan berat bayi lahir rendah), hipoksia, asidosis dan gangguan metabolisme. Insiden sepsis neonatorum juga dipengaruhi oleh proses persalinan, usia kehamilan, jenis kelamin (laki-laki 4 kali lebih mudah terinfeksi dari pada perempuan), dan standar perawatan bayi (Kardana IM, 2011). Faktor resiko sepsis meliputi faktor resiko mayor yaitu ketuban pecah dini (KPD) > 18 jam, ibu demam intrapartum > 38 0C, karioamionitis, ketuban berbau, denyut jantung janin (DJJ) > 160 X/ menit. Faktor resiko minor terdiri dari KPD > 12 jam, demam intrapartum > 37.5 0C, skor apgar rendah (menit 1 skor < 5 menit dan menit 5 skor < 7), BBLR (< 2500 gram), sampel hasil dekstruksi sebanyak 3 - 5 tetes dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan 3 tetes larutan asam perklorat 0,1N akan terbentuk endapan putih jika terdapat kalium (Vogel, 1979). Uji kristal kalium dengan asam pikrat 1% b/v Larutan zat diteteskan 1 - 2 tetes pada object glass kemudian ditetesi dengan larutan asam pikrat 1% b/v, dibiarkan ± 5 menit lalu diamati dibawah mikroskop. Jika terdapat kalium, akan terlihat kristal berbentuk jarum–jarum besar (Vogel, 1979). 3.6.5.3 Natrium Uji kristal natrium dengan asam pikrat 1% b/v Larutan zat diteteskan 1 - 2 tetes pada object glass kemudian ditetesi dengan larutan asam pikrat 1% b/v, dibiarkan ± 5 menit lalu diamati di bawah mikroskop. Jika terdapat natrium, akan terlihat kristal berbentuk jarum halus tersusun di pinggir (Vogel, 1979). 3.6.6 Analisis Kuantitatif 3.6.6.1 Kalsium Pembuatan kurva kalibrasi kalsium Larutan baku kalsium (1000 µg/mL) sebanyak 5 mL dimasukkan kedalam labu tentukur 50 mL lalu diencerkan dengan akua demineralisata hingga garis tanda. Dari larutan tersebut (100 µg/mL) dipipet masing-masing 1,0 mL; 2,0 mL; 21 3,0 mL; 4,0 mL; dan 5,0 mL dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 mL dan diencerkan dengan akua demineralisata hingga garis tanda sehingga diperoleh larutan dengan konsentrasi 2 µg/mL; 4 µg/mL; 6 µg/mL; 8 µg/mL; dan 10 µg/mL, lalu dilakukan pengukuran pada panjang gelombang 422,7 nm dengan tipe nyala udara-asetilen. Penetapan kadar kalsium dalam daun bangun-bangun segar Larutan sampel hasil destruksi dipipet sebanyak 0,1 mL dimasukkan ke dalam labu tentukur 25 mL dan dicukupkan dengan akua demineralisata hingga garis tanda (Faktor pengenceran = 25/0,1 = 250 kali). Lalu diukur absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometer serapan atom pada panjang gelombang 422,7 nm dengan tipe nyala udara-asetilen. Nilai absorbansi yang diperoleh harus berada dalam rentang kurva kalibrasi larutan baku kalsium. Konsentrasi kalsium dalam sampel dihitung berdasarkan persamaan garis regresi dari kurva kalibrasi. Penetapan kadar kalsium dalam daun bangun-bangun direbus Larutan sampel hasil destruksi dipipet sebanyak 0,25 mL dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 mL dan dicukupkan dengan akua demineralisata hingga garis tanda (Faktor pengenceran = 50/0,25 = 200 kali). Lalu diukur absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometer serapan atom pada panjang gelombang 422,7 nm dengan tipe nyala udara-asetilen. Nilai absorbansi yang diperoleh harus berada dalam rentang kurva kalibrasi larutan baku kalsium. Konsentrasi kalsium dalam sampel dihitung berdasarkan persamaan garis regresi dari kurva kalibrasi. 22 3.6.6.2 Kalium Pembuatan kurva kalibrasi kalium Larutan baku kalium (1000 µg/mL) sebanyak 5 mL dimasukkan kedalam labu tentukur 50 mL lalu diencerkan dengan akua demineralisata hingga garis tanda. Dari larutan tersebut (100 µg/mL) dipipet masing-masing 1,0 mL; 2,0 mL; 3,0 mL; 4,0 mL; dan 5,0 mL dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 mL dan diencerkan dengan akua demineralisata hingga garis tanda sehingga diperoleh larutan dengan konsentrasi 2,0 µg/mL; 4,0 µg/mL; 6,0 µg/mL; 8,0 µg/mL; dan 10,0 µg/mL, lalu dilakukan pengukuran pada panjang gelombang 766,5 nm dengan tipe nyala udara-asetilen. Penetapan kadar kalium dalam daun bangun-bangun segar Larutan sampel hasil dekstruksi dipipet sebanyak 0,1 mL dimasukkan ke dalam labu tentukur 25 mL dan diencerkan dengan akua demineralisata hingga garis tanda (Faktor pengenceran = 25/0,1 = 250 kali). Larutan diukur absorbansinya dengan spektrofotometer serapan atom pada panjang gelombang 766,5 nm dengan tipe nyala udara-asetilen. Nilai absorbansi yang diperoleh harus berada dalam rentang kurva kalibrasi larutan baku kalium. Konsentrasi kalium dalam sampel dihitung berdasarkan persamaan garis regresi dari kurva kalibrasi. Penetapan kadar kalium dalam daun bangun-bangun direbus Larutan sampel hasil dekstruksi dipipet sebanyak 0,25 mL dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 mL dan diencerkan dengan akua demineralisata hingga garis tanda (Faktor pengenceran = 50/0,25 = 200 kali). Larutan diukur absorbansinya dengan spektrofotometer serapan atom pada panjang gelombang 766,5 nm dengan tipe nyala udara-asetilen. Nilai absorbansi yang diperoleh harus 23 berada dalam rentang kurva kalibrasi larutan baku kalium. Konsentrasi kalium dalam sampel dihitung berdasarkan persamaan garis regresi dari kurva kalibrasi. 3.6.6.3 Natrium Pembuatan kurva kalibrasi natrium Larutan baku natrium (1000 µg/mL) sebanyak 0,5 mL dimasukkan kedalam labu tentukur 50 mL lalu diencerkan dengan akua demineralisata hingga garis tanda. Dari larutan tersebut (10 µg/mL) dipipet masing-masing 1,0 mL; 2,0 mL; 3,0 mL; 4,0 mL; dan 5,0 mL dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 mL dan diencerkan dengan akua demineralisata hingga garis tanda sehingga diperoleh larutan dengan konsentrasi 0,2 µg/mL; 0,4 µg/mL; 0,6 µg/mL; 0,8 µg/mL; dan 1 µg/mL, lalu dilakukan pengukuran pada panjang gelombang 589,0 nm dengan tipe nyala udara-asetilen. Penetapan kadar natrium dalam daun bangun-bangun segar Larutan sampel hasil dekstruksi dipipet sebanyak 1,0 mL dimasukkan ke dalam labu tentukur 25 mL dan diencerkan dengan akua demineralisata hingga garis tanda (faktor pengenceran = 25/1 = 25 kali). Larutan diukur absorbansinya dengan spektrofotometer serapan atom pada panjang gelombang 589,0 nm dengan tipe nyala udara-asetilen. Nilai absorbansi yang diperoleh harus berada dalam rentang kurva kalibrasi larutan baku natrium. Konsentrasi natrium dalam sampel dihitung berdasarkan persamaan garis regresi dari kurva kalibrasi. Penetapan kadar natrium dalam daun bangun-bangun direbus Larutan sampel hasil dekstruksi dipipet sebanyak 1,0 mL dimasukkan ke dalam labu tentukur 25 mL dan diencerkan dengan akua demineralisata hingga garis tanda (faktor pengenceran = 25/1 = 25 kali). Larutan diukur absorbansinya 24 dengan spektrofotometer serapan atom pada panjang gelombang 589,0 nm dengan tipe nyala udara-asetilen. Nilai absorbansi yang diperoleh harus berada dalam rentang kurva kalibrasi larutan baku natrium. Konsentrasi natrium dalam sampel dihitung berdasarkan persamaan garis regresi dari kurva kalibrasi. Menurut Gandjar dan Rohman (2007), kadar logam kalsium, kalium dan natrium dalam sampel dapat dihitung dengan cara sebagai berikut: Kadar Logam (µg/g) = Konsentrasi (µg/mL) x Volume (mL) x Faktor pengenceran Berat Sampel (g) 3.6.7 Analisis Data Secara Statistik 3.6.7.1 Penolakan Hasil Pengamatan Kadar kalsium, kalium dan natrium yang diperoleh dari hasil pengukuran masing-masing larutan sampel dianalisis dengan metode standar deviasi. Menurut Sudjana (2005), standar deviasi dapat dihitung dengan rumus: ∑ (Xi - X)2 SD = n -1 Keterangan: Xi = Kadar sampel X = Kadar rata-rata sampel n = Jumlah pengulangan Untuk mencari t hitung digunakan rumus: Xi − X t hitung = SD / n dan untuk menentukan kadar mineral di dalam sampel dengan interval kepercayaan 99%, α = 0.01, dk = n-1, dapat digunakan rumus: Kadar Mineral : µ = � ± (t(α/2, dk) x SD / √n ) 25 Keterangan: � = Kadar rata-rata sampel SD = Standar Deviasi dk = Derajat kebebasan (dk = n-1) α = Interval kepercayaan n = Jumlah pengulangan 3.6.7.2 Pengujian Beda Nilai Rata-Rata Antar Sampel Menurut Sudjana (2005), sampel yang dibandingkan adalah independen dan jumlah pengamatan masing-masing lebih kecil dari 30 dan variansi (σ) tidak diketahui sehingga dilakukan uji F untuk mengetahui apakah variansi kedua populasi sama (σ1 = σ2) atau berbeda (σ1 ≠ σ2) dengan menggunakan rumus di bawah ini: Fo = S12 S 2 2 Keterangan : F0 = Beda nilai yang dihitung S1 = Standar deviasi terbesar S2 = Standar deviasi terkecil Apabila dari hasilnya diperoleh Fo tidak melewati nilai kritis F maka dilanjutkan uji dengan distribusi t dengan rumus : (X1 – X2) to = Sp √1/n1 + 1/n2 Keterangan : ��1� = kadar rata-rata sampel 1 ��2� = kadar rata-rata sampel 2 = Simpangan baku 1 = Jumlah pengulangan sampel 1 2 = Jumlah pengulangan sampel 2 26 jika Fo melewati nilai kritis F, dilanjutkan uji dengan distribusi t dengan rumus : to = Keterangan : ��1�= kadar rata-rata sampel 1 (X1 – X2) √S12/n1 + S22/n2 1 = Standar deviasi sampel 1 ��2� = kadar rata-rata sampel 2 2 = Standar deviasi sampel 2 1 = Jumlah pengulangan sampel 1 2 = Jumlah pengulangan sampel 2 Kedua sampel dinyatakan berbeda apabila yang diperoleh melewati nilai kritis, t, dan sebaliknya. 3.6.8 Penentuan Batas Deteksi dan Batas Kuantitasi Batas deteksi merupakan jumlah terkecil analit dalam sampel yang dapat dideteksi yang masih memberikan respon signifikan. Sedangkan batas kuantitasi merupakan kuantitas terkecil analit dalam sampel yang masih dapat memenuhi kriteria cermat dan seksama (Harmita, 2004). Menurut Harmita (2004), batas deteksi dan batas kuantitasi dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: Simpangan Baku ( SY X ) Batas deteksi (LOD) ∑ (Y − Yi)2 = yang lebih lanjut dengan jangka waktu yang lebih lama agar hasil yang didapatkan lebih representative dalam menggambarkan mortalitas. Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA Angus, D.C., and Wax, R.S., 2001. Epidemiology of Sepsis: An Update. Critical Care Medicine. 29 (7): 109-116. Buisson, B., Meshaka, P., Pinton, P., Vallet, B., 2004. A Reappraisal of The Epidemiology and Outcome of Severe Sepsis in French Intensive Care Unit. Intensive Care Medicine. 30 (4): 580-588. Chen, K., and Pohan, H.T., 2009. Penatalaksanaan Syok Septik. In: Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, M., Setiati, S., ed. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 5th ed. Jakarta: Interna Publishing, 252-256. Cheng, et al., 2007. Epidemiology of severe sepsis in critically ill surgical patients in ten university hospitals in China. Crit Care Med. 35 : 2538–2546. Dasenbrook, E., and Merlo, C., 2008. Critical Care. In: Le, T., Hong, P.C., and Baudendistel, T.E., ed. First Aid for The Internal Medicine Boards. 2nd ed. USA: Mc Graw Hill, 157-159. Finfer, S., Bellomo, R., Lipman, J., French, C., Dobb, G., Myburgh, J., 2004. Adult-Population Incidence of Severe Sepsis in Australian and New Zealand Intensive Care Unit. Intensive Care Medicine. 30 (4): 589-596. Gao, F., Melody. T., Daniels, F.D., Giles, S., Fox, S., 2005. The impact of compliance with 6-hour and 24-hour sepsis bundles on hospital mortality in patients with severe sepsis: a prospective observational study. Critical Care. 9(6): R764–R770. Gossman, W.G., and Plantz, S.H., 2008. Pearls of Wisdom Emergency Medicine Oral Board Review. 5th ed. USA: Mc Graw Hill. Universitas Sumatera Utara Irawan et al., 2012. Profil Penderita Sepsis Akibat Bakteri Penghasil ESBL. J Peny Dalam. 13 : 63-68 Kumar et al., 2011. Nationwide Trends of Severe Sepsis in the 21st Century (20002007). Chest Journal. 140 (5): 1232-1242. LaRosa, S.P., 2010. Sepsis. In: Gordon, S., ed. Current Clinical Medicine. 2nd ed. Philadelphia: Saunders Elsevier, 720-725. Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2010. Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Pelayanan Intensive Care Unit (ICU) di Rumah Sakit. Available from: http://www.perdici.org/wp-content/uploads/Pedoman-ICU.pdf [Accessed 13 April 2013 ]. Moss, P.J., Langmead, L., Preston, S.L., Hinds, C.J., Watson, D., Pearse, R.M., 2012. Kumar and Clark’s Clinical Medicine. 8th ed. Spanyol: Saunders Elsevier. Munford, R.S., 2008. Severe Sepsis and Septic Shock. In: Fauci et al., ed. Harrison,s Principles of Internal Medicine. 17th ed. USA: Mc Graw Hill, 1695-1702. Opal, S.M., 2012. Septicemia. In: Ferri et al., ed. Ferri’s Clinical Advisor 2012: 5 Books in 1. Philadelphia: Elsevier Mosby, 924-925. Peters, S.G., 2008. Critical Care Medicine. In: Habermann, T.M., and Ghosh, A.K., ed. Mayo Clinic Internal Medicine Concise Textbook. Canada: Mayo Clinic, 129-146. Russell, J.A., 2012. Shock Syndromes Related to Sepsis. In: Goldman, L., and Universitas Sumatera Utara Schaffer, A.I., ed. Goldman’s Cecil Medicine. 24th ed. Philadelphia: Elsevier Saunders, 658-665. Saadat, S., 2008. Deja Review Internal Medicine. USA: Mc Graw Hill. Shapiro, N.I., Zimmer, G.D., and Barkin, A.Z., 2010. Sepsis Syndromes. In: Marx et al., ed. Rosen’s Emergency Medicine Concepts and Clinical Practice. 7th ed. Philadelphia: Mosby Elsevier, 1869-1879. Shen, H.N., Lu, C.L., Yang, H.H., 2010. Epidemiologic Trend of Severe Sepsis in Taiwan from 1997 Through 2006. Chest Journal. 138 (2): 298-304. Singer, M., and Webb, A.R., 2005. Oxford Handbook of Critical Care. 2nd ed. USA: Oxford University Press. Suharto, Nasronudin, Kuntaman, 2007. Penyakit Infeksi di Indonesia Solusi Kini dan Mendatang. Surabaya: Airlangga University Press. Weber, R., and Fontana, A., 2007. Fever. In: Siegenthaler, W., ed. Differential Diagnosis in Internal Medicine from Symptom to Diagnosis. Stuttgart: Thieme, 106-203. Wichmann, M.W., Inthorn, D., Andress, H.J., Schildberg, F.W., 2000. Incidence and Mortality of Severe Sepsis in Surgical Intensive Care Patients: The Influence of Patient Gender on Disease Process and Outcome. Intensive Care Medicine 26: 167-172. Widodo, D., 2004. The clinical, laboratory, and microbiological profile of patients with sepsis at the Internal Medicine Inpatient Unit of Dr. Cipto Mangunkusumo National General Hospital, Jakarta. Med J Indones 13: 9095. Universitas Sumatera Utara Lampiran 1 DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama NIM Tempat/Tanggal Lahir Agama Alamat Nama Ayah Nama Ibu : Jessica Patricia Pangaribuan : 100100357 : Medan, 2 Juni 1993 : Kristen Protestan : Jl. Hang Tuah No.17, Medan : Leonard Pangaribuan : Asrida Siahaan Riwayat Pendidikan : 1. SD Immanuel Medan (1998) 2. SMP Santo Thomas 1 Medan (2004) 3. SMA Santo Thomas 1 Medan (2007) 4. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (2010-Sekarang) Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN 2 Output SPSS A. Deskripsi Krakteristik Responden Universitas Sumatera Utara Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN 4 Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN 5 DATA INDUK Responden 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Jenis Kelamin Usia Hasil Kultur perempuan 56 Acinetobacter baumanni perempuan 65 Staphylococcus aureus perempuan 49 Streptococcus pneumoniae perempuan 56 Klebsiella pneumoniae perempuan 61 Kultur negatif laki-laki 61 Pseudomonas aeruginosa perempuan 34 Kultur negatif laki-laki 61 Escherichia coli perempuan 22 Kultur negatif perempuan 39 Enterococcus faecium laki-laki 45 Acinetobacter baumanni perempuan 37 Pseudomonas aeruginosa laki-laki 56 Klebsiella pneumoniae laki-laki 33 Staphylococcus haemolyticus perempuan 42 Escherichia coli perempuan 57 Streptococcus pneumoniae laki-laki 19 Staphylococcus aureus laki-laki 58 Escherichia coli perempuan 75 Klebsiella pneumoniae laki-laki 38 Kultur negatif perempuan 26 Staphylococcus aureus perempuan 26 Pseudomonas aeruginosa Mortalitas Meninggal >48 jam Meninggal >48 jam Meninggal >48 jam Meninggal >48 jam Meninggal 48 jam Meninggal 48 jam Meninggal 48 jam Meninggal >48 jam Meninggal >48 jam Meninggal >48 jam Pulang Meninggal >48 jam Meninggal >48 jam Pulang Pulang Meninggal >48 jam Meninggal 48 jam 66-75 29 laki-laki 38 Acinetobacter baumanni Meninggal >48 jam 36-45 30 laki-laki 35 Streptococcus pneumoniae Meninggal >48 jam 26-35 31 laki-laki 30 Acinetobacter baumanni Pulang 26-35 32 perempuan 47 Kultur negatif Pulang 46-55 33 perempuan 60 Kultur negatif Pulang 56-65 34 perempuan 51 Kultur negatif Meninggal 48 jam 56-65 36 perempuan 54 Staphylococcus aureus Pulang 46-55 37 perempuan 30 Kultur negatif Meninggal >48 jam 26-35 38 perempuan 28 Streptococcus pneumoniae Pulang 26-35 39 perempuan 36 Clostridium Tetani Meninggal 48 jam 36-45 43 perempuan 42 Streptococcus pneumoniae Pulang 36-45 44 perempuan 30 Acinetobacter baumanni Pulang 26-35 45 perempuan 30 Escherichia coli Meninggal >48 jam 26-35 46 perempuan 29 Kultur negatif Meninggal
Karakteristik Sepsis Neonatorum di Unit Perinatologi RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2012-2013
RECENT ACTIVITIES

Penulis

Bergabung : 2016-09-17

Dokumen serupa

Upload teratas

Karakteristik Sepsis Neonatorum di Unit Perinatologi RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2012-2013

Bebas