Uji Aktivitas Sediaan Gel Yang Mengandung Ekstrak Etanol Daun Jambu Mete Terhadap Jamur Microsporum Canis Dan Trichophyton Sp

 5  121  66

dokumen informasi

UJI AKTIVITAS SEDIAAN GEL YANG MENGANDUNG EKSTRAK ETANOL DAUN JAMBU METE TERHADAP JAMUR Microsporum canis dan Trichophyton sp SKRIPSI Sumatera Utara OLEH: RIA AGUSTIN NIM 121524030 PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2015 1 UJI AKTIVITAS SEDIAAN GEL YANG MENGANDUNG EKSTRAK ETANOL DAUN JAMBU METE TERHADAP JAMUR Microsporum canis dan Trichophyton sp SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara OLEH: RIA AGUSTIN NIM 121524030 PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2015 2 PENGESAHAN SKRIPSI UJI AKTIVITAS SEDIAAN GEL YANG MENGANDUNG EKSTRAK ETANOL DAUN JAMBU METE TERHADAP JAMUR Microsporum canis dan Trichophyton sp OLEH: RIA AGUSTIN NIM 121524030 Dipertahankan di Hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara Pada Tanggal: 6 Februari 2015 Disetujui Oleh: Pembimbing I, Panitia Penguji: Dra. Erly Sitompul, M.Si., Apt. NIP 195006121980032001 Dr. Marline Nainggolan, M.S., Apt. NIP 195709091985112001 Pembimbing II, Dra. Erly Sitompul, M.Si., Apt. NIP 195006121980032001 Drs. Suryanto, M.Si., Apt. NIP 196106191991031001 Dra. Lely Sari Lubis, M.Si., Apt. NIP 195404121987012001 Dra. Anayanti Arianto, M.Si., Apt. NIP 195306251986012001 Medan, April 2015 Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara wakil Dekan I, Prof. Dr. Julia Reveny, M.Si., Apt. NIP 195807101986012001 3 KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini. Shalawat beriring salam penulis hadiahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW sebagai suri tauladan dalam kehidupan. Skripsi ini disusun untuk melengkapi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara dengan judul “Uji Aktivitas Sediaan Gel Yang Mengandung Ekstrak Etanol Daun Jambu Mete Terhadap Jamur Microsporum canis Dan Trichophytonn sp”. Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, Ibu Dra. Erly Sitompul, M.Si., Apt., dan Bapak Drs. Suryanto, M.Si., Apt., selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu, bimbingan dan nasehat selama penelitian sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. Marline Nainggolan, M.S., Apt., Ibu Dra. Lely Sari Lubis, M.Si., Apt., dan Ibu Dra. Anayanti Arianto, M.Si., Apt., selaku dosen penguji yang telah memberikan saran, arahan, kritik dan masukan kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak Prof. Dr. Hakim Bangun Apt., selaku penasehat akademik yang telah memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis serta Bapak dan Ibu staf pengajar Fakultas Farmasi USU yang telah mendidik penulis selama masa perkuliahan. Ucapan terima kasih penulis kepada Ibu kepala Laboratorium Mikrobiologi dan Bapak kepala 4i Laboratorium Farmasi Fisik yang telah memberikan bantuan dan fasilitas selama penulis melakukan penelitian. Ucapan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Ayahanda tercinta Masrin Hutajulu dan Ibunda tercinta Sumiati serta ucapan terima kasih penulis kepada Kakanda tercinta Vivit Saputri Amd., dan Rizky Fajli. Semoga Allah SWT memberikan balasan yang berlipat ganda dan pahala yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini. Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak guna perbaikan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan khususnya di bidang Farmasi. Medan, April 2015 Penulis, Ria Agustin 121524030 i5i UJI AKTIVITAS SEDIAAN GEL YANG MENGANDUNG EKSTRAK ETANOL DAUN JAMBU METE TERHADAP JAMUR Microsporum canis dan Trichophyton sp ABSTRAK Penyakit kulit akibat jamur merupakan penyakit kulit yang sering muncul di Indonesia. Jamur yang menyebabkan penyakit kulit yaitu jamur Microsporum canis dan Trichophyton sp. Daun jambu mete (Anacardium occidentale L.) mengandung fenol yang dapat dimanfaatkan sebagai antijamur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antijamur sediaan gel yang mengandung ekstrak etanol daun jambu mete terhadap jamur Microsporum canis dan Trichophyton sp. Metode penelitian yang dilakukan meliputi pembuatan ekstrak daun jambu mete dengan cara maserasi, uji aktivitas antijamur ekstrak etanol daun jambu mete, formulasi sediaan gel ekstrak etanol daun jambu mete dibuat dengan konsentrasi 10% (FI), 12,5% (FII), dan 15% (FIII). Selanjutnya dilakukan evaluasi stabilitas fisik sediaan (bentuk, warna, bau, homogenitas, pH, viskositas) selama 12 minggu, uji iritasi dan uji aktivitas antijamur terhadap jamur Microsporum canis dan Trichophyton sp dengan metode difusi agar menggunakan pencadang kertas. Hasil uji aktivitas antijamur dari ekstrak etanol daun jambu mete yang efektif pada konsentrasi 100 mg/ml menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun jambu mete memiliki zona hambat sebesar 15,1 ± 0,10 mm terhadap jamur Microsporum canis dan 14,6 ± 0,2 mm terhadap jamur Trichophyton sp. Hasil uji stabilitas fisik sediaan menunjukkan sediaan stabil dan tidak mengiritasi kulit. Hasil uji aktivitas antijamur dari sediaan gel yang mengandung ekstrak etanol daun jambu mete dengan formula FI, FII, dan FIII masing-masing adalah 15,4 ± 0,15 mm, 17,0 ± 0,2 mm, dan 18,3 ± 0,06 mm terhadap jamur Microsporum canis dan 15,2 ± 0,21 mm, 16,5 ± 0,06 mm, dan 17,8 ± 0,15 mm terhadap jamur Trichophyton sp. Kata kunci: Antijamur, Daun jambu mete, Gel, Microsporum canis, Trichophyton i6ii TEST ACTIVITIES OF GEL CONTAINING ETHANOL EXTRACT OF CASHEW LEAVES ON Microsporum canis and Trichophyton sp ABSTRACT Skin diseases due to the fungus is a skin diseases often found in Indonesia. Fungus that cause skin diseases such as Microsporum canis and Trichophyton. Cashew leaves (Anacardium occidentale L.) contains phenols which phenol can be used as an antifungal. The purpose of this study was to determine the antifungal activity of gel containing ethanol extract of cashew leaves against Microsporum canis and Trichophyton. Research methods included preparation of ethanol extract of cashew leaves by maceration, antifungal activity test of ethanol extract of cashew leaves, gel preparations of cashew leaves extract were formulated by using of 10% (FI), 12.5% (FII), and 15% (FIII) concentrations of extract. Further evaluation preparations (shape, color, and smell of preparations, homogeneous, pH, viscosity) during 12 weeks, irritation test, and antifungal activity test of gel containing ethanol extract of chasew leaves against Microsporum canis and Trichophyton sp by agar diffusion method using disc paper. The antifungal activity tested of extract at concentration of 100 mg/ml showed inhibitory zone diameter of 15.1 ± 0,10 mm for Microsporum canis and 14.6 ± 0,2 mm for Trichophyton sp. Evaluation results preparations physically stable and does not irritate the skin. The antifungal activity testing of gel preparation of cashew leaves ethanol extract formulas FI, FII, and FIII each formula is 15.4 ± 0,15 mm, 17.0 ± 0,2 mm, and 18.3 ± 0,06 mm for Microsporum canis and 15.2 ± 0,21 mm, 16.5 ± 0,06 mm, and 17.8 ± 0,15 mm for Trichophyton sp. Keywords: Antifungal, Cashew leaves, Gel, Microsporum canis, Trichophyton i7v DAFTAR ISI Halaman JUDUL . LEMBAR PENGESAHAN . KATA PENGANTAR . ABSTRAK . ABSTRACT . DAFTAR ISI . DAFTAR TABEL . DAFTAR LAMPIRAN . BAB I PENDAHULUAN . 1.1 Latar Belakang . 1.2 Perumusan Masalah . 1.3 Hipotesis . 1.4 Tujuan Penelitian . 1.5 Manfaat Penelitian . BAB II TINJAUAN PUSTAKA . 2.1 Uraian Tumbuhan . 2.1.1 Sistematika tumbuhan . 2.1.2 Nama daerah . 2.1.3 Morfologi tumbuhan . 2.1.4 Kandungan kimia tumbuhan . 2.1.5 Penggunaan tumbuhan . 2.2 Ekstraksi . i iii iv vi vii viii xii xv 1 1 3 4 4 4 5 5 5 5 6 6 7 7 8v 2.2.1 Metode ekstraksi . 2.3 Gel . 2.3.1 Keuntungan gel . 2.3.2 Komponen gel . 2.3.2.1 Aqupec HV-505 . 2.3.2.2 Trietanolamin . 2.3.2.3 Gliserin . 2.3.2.4 Propilen glikol . 2.3.2.5 Metil paraben . 2.4 Jamur . 2.4.1 Uraian jamur . 2.4.2 Reproduksi jamur . 2.4.3 Sistematika Microsporum canis . 2.4.4 Sistematika Trichophyton sp . 2.5 Media Pertumbuhan Mikroorganisme . 2.6 Uji Aktivitas Antimikroba . BAB III METODE PENELITIAN . 3.1 Alat . 3.2 Bahan . 3.3 Pengumpulan Sampel . 3.3.1 Pengolahan sampel . 3.4 Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Jambu Mete . . 3.5 Sterilisasi Alat dan Bahan . 3.6 Pembuatan Media Untuk Jamur Uji . 8 9 9 10 10 10 10 10 11 11 11 12 13 13 14 15 16 16 17 17 17 18 18 18 v9i 3.6.1 Potato Dextrose Agar (PDA) . 3.6.2 Larutan NaCl 0,9% . 18 19 3.6.3 Pembuatan agar miring . 3.7 Pembuatan Stok Kultur Jamur . 3.7.1 Pembuatan stok kultur jamur Microsporum canis . 19 19 19 3.7.2 Pembuatan stok kultur jamur Trichophyton sp . 3.8 Pembuatan Inokulum Jamur . 3.8.1 Pembuatan inokulum jamur Microsporum canis . 3.8.2 Pembuatan inokulum jamur Trichophyton sp . 3.9 Pembuatan Larutan Uji Ekstrak Etanol Daun Jambu Mete Dengan Berbagai Konsentrasi . . 20 20 20 20 20 3.10 Pengujian Ekstrak Terhadap Aktivitas Antijamur . 3.10.1 Jamur Microsporum canis . 3.10.2 Jamur Trichophyton sp . 3.11 Pembuatan Formula Sediaan Gel . 3.11.1 Pembuatan basis gel . 3.11.2 Komposisi formula . 3.11.3 Cara pembuatan sediaan . 3.12 Evaluasi Sediaan . 3.12.1 Pemeriksaan stabilitas fisik sediaan . 3.12.2 Penentuan homogenitas sediaan . 3.12.3 Penentuan pH sediaan . 3.12.4 Pemeriksaan viskositas sediaan . 21 21 21 22 22 23 23 23 24 24 24 25 3.12.5 Uji iritasi terhadap kulit sukarelawan . 25 v1ii0 3.13 Uji Aktivitas Antijamur Sediaan Gel Ekstrak Etanol Daun Jambu Mete . 3.13.1 Jamur Microsporum canis . 3.13.2 Jamur Trichophyton sp . BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN . 4.1 Hasil Ekstraksi Daun Jambu Mete . 4.2 Hasil Uji Aktivitas Antijamur Ekstrak Etanol Daun Jambu Mete . 4.3 Hasil Evaluasi Sediaan . 4.3.1 Pemeriksaan stabilitas fisik sediaan . 4.3.2 Pengamatan homogenitas sediaan gel ekstrak etanol daun jambu mete . 4.3.3 Pengamatan pH sediaan gel ekstrak etanol daun jambu mete . 4.3.4 Pemeriksaan viskositas sediaan gel ekstrak etanol daun jambu mete . 4.3.5 Uji iritasi sediaan gel ekstrak etanol daun jambu mete . 4.3.6 Uji aktivitas antijamur sediaan gel ekstrak etanol daun jambu mete . . BAB V KESIMPULAN DAN SARAN . 5.1 Kesimpulan . 5.2 Saran . DAFTAR PUSTAKA . LAMPIRAN . 26 26 26 27 27 27 28 28 29 30 31 32 33 34 34 34 35 38 v1i1ii DAFTAR TABEL Tabel Halaman 3.1 Komposisi formula gel ekstrak etanol daun jambu mete . 23 4.1 Hasil uji aktivitas antijamur ekstrak etanol daun jambu mete . 27 4.2 Data pengamatan perubahan bentuk, warna dan bau sediaan gel ekstrak etanol daun jambu mete . 29 4.3 Data pengamatan homogenitas sediaan gel ekstrak etanol daun jambu mete . 30 4.4 Data pengamatan pH sediaan gel ekstrak etanol daun jambu mete . 30 4.5 Data pemeriksaan viskositas sediaan gel ekstrak etanol daun jambu mete . 31 4.6 Data hasil uji iritasi sediaan gel ekstrak etanol daun jambu mete . 32 4.7 Hasil uji aktivitas antibakteri sediaan gel ekstrak etanol daun jambu mete terhadap jamur Microsporum canis dan Trichophyton sp . 33 1ix2 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1 Hasil identifikasi tumbuhan . 2 Gambar tumbuhan jambu mete . 3 Gambar sediaan gel ekstrak etanol daun jambu mete pada awal minggu . 4 Gambar sediaan gel ekstrak etanol daun jambu mete pada minggu ke-12 . 5 Gambar hasil uji homogenitas . 6 Gambar hasil uji aktivitas ekstrak etanol daun jambu mete terhadap jamur Microsporum canis dan Trichophyton sp . 7 Hasil pengukuran diameter daerah hambatan oleh ekstrak etanol daun jambu mete . 8 Gambar hasil uji aktivitas gel ekstrak etanol daun jambu mete terhadap jamur Microsporum canis . 9 Hasil pengukuran diameter daerah hambatan oleh gel ekstrak etanol daun jambu mete terhadap jamur Microsporum canis . 10 Gambar hasil uji aktivitas gel ekstrak etanol daun jambu mete higroskopis, dan pH 10,5. Kelarutannya yaitu mudah larut dalam air, metanol, dan aseton. Trietanolamin digunakan sebagai bahan pengemulsi dengan konsentrasi 2% - 4%, menambah kebasaan, dan sebagai humektan (Rowe, dkk., 2009). 2.3.2.3 Gliserin Gliserin pada umumnya digunakan sebagai humektan dan emolien. Gliserin memiliki ciri-ciri: larutan jernih, tidak bewarna, tidak berbau, kental, mempunyai rasa manis. Gliserin digunakan sebagai pembawa gel 5 – 15%, sebagai humektan < 30% (Rowe, dkk., 2009). 2.3.2.4 Propilen glikol Propilen glikol banyak digunakan sebagai pelarut dan pembawa dalam pembuatan sediaan farmasi. Propilen glikol merupakan cairan jernih, tidak 10 berwarna, manis, kental dan hampir tidak berbau. Propilen glikol larut dalam gliserin, air, alkohol, aseton, klorofom. Propilen glikol digunakan sebagai humektan ≈15% (Rowe, dkk., 2009). 2.3.2.5 Metil paraben Metil paraben berbentuk kristal tidak berwarna atau serbuk kristal putih; tidak berbau dan berasa sedikit terbakar. Kelarutannya yaitu sukar larut dalam air, dalam benzen dan dalam karbon tetraklorida; mudah larut dalam etanol dan dalam eter; larut dalam air 80°C. Penggunaan dalam sediaan topikal sebanyak 0,02% 0,3% sebagai antimikroba, efektif pada pH 4 - 8 (Rowe, dkk., 2009). 2.4 Jamur 2.4.1 Uraian jamur Jamur merupakan suatu mikroorganisme eukariotik yang mempunyai ciriciri spesifik yaitu mempunyai inti sel, memproduksi spora, tidak mempunyai klorofil, dapat berkembang biak secara seksual dan aseksual, beberapa jamur mempunyai bagian-bagian tubuh berbentuk filamen-filamen dan sebagian lagi bersifat uniseluler (Fardiaz, 1992). Jamur memerlukan kondisi kelembapan yang tinggi, persediaan bahan organik dan oksigen untuk pertumbuhannya. Semua fungi memperoleh zat gizi organiknya dengan absorpsi. Jamur mendapat zat gizinya dari berbagai sumber. Sebagian besar jamur adalah parasit yaitu mendapatkan nutrisi dengan menyerap zat gizi dari badan pejamu hidup, sebagian jamur adalah saprofit yaitu mendapatkan nutrisi dengan menyerap zat gizi dari materi organik mati, dan ada jamur yang mutualis yaitu dapat menyerap zat gizi dari pejamu, tetapi juga menguntungkan pejamu (Bresnick, 2003). 11 Lingkungan yang hangat dan lembab mempercepat pertumbuhan jamur. Jamur tumbuh dengan baik pada kondisi lingkungan yang mengandung banyak gula dengan tekanan osmotik tinggi dan kondisi asam yang tidak menguntungkan bagi pertumbuhan bakteri. Jamur tumbuh dalam kisaran temperatur yang luas, dengan temperatur optimal berkisar antara 22–30oC. Spesies jamur patogenik mempunyai temperatur pertumbuhan optimal lebih tinggi, yaitu berkisar antara 30–37oC. Beberapa jamur mampu hidup pada temperatur 0oC sehingga menyebabkan kerusakan produk yang disimpan pada penyimpanan dingin (Pratiwi, 2008). 2.4.2 Reproduksi jamur Jamur terdiri dari thallus yang tersusun dari filamen bercabang yang disebut hifa dan kumpulan dari hifa disebut miselium. Hifa tumbuh dari spora yang melakukan germinasi membentuk suatu tuba germ yang akan tumbuh terus membentuk filament yang panjang dan bercabang, kemudian seterusnya akan membentuk masa hifa yang disebut miselium (Pratiwi, 2008). Jamur bereproduksi baik secara aseksual dengan pembelahan, pembentukan tunas atau spora, maupun secara seksual dengan peleburan inti dari kedua induknya. Pada pembelahan, sel akan membagi diri membentuk dua sel yang sama besar, sedangkan pada pertunasan (budding), sel anak tumbuh dari penonjolan kecil pada sel induk. Spora jamur dibentuk dari hifa udara atau hifa aerial hypae, dan spora jamur dapat berupa spora seksual ataupun spora aseksual. Spora aseksual dibentuk oleh hifa dari satu individu jamur. Bila spora aseksual bergerminasi, spora tersebut akan menjadi jamur yang secara genetik identik 12 dengan induknya. Spora seksual dihasilkan dari dua inti dengan tipe seks yang berlawanan dari satu spesies jamur yang sama (Pratiwi, 2008). 2.4.3 Sistematika Microsporum canis Sistematika Microsporum canis menurut Berman (2012): Filum : Ascomycota Kelas : Euteromycota Ordo : Onygenales Famili : Arthrodermataceae Genus : Microsporum Jenis : Microsporum canis Microsporum canis memiliki makrokonidia yang besar dan berdinding kasar. Spesies ini membentuk banyak makrokonidia yang terdiri dari 8-15 sel, berdinding tebal dan sering kali mempunyai ujung-ujung yang melengkung atau kail berduri. Microsporum canis merupakan penyebab penyakit Tinea kapitis. (Jawetz, dkk., 2007). 2.4.4 Sistematika Trichophyton sp Sistematika Trichophyton sp menurut Berman (2012): Filum : Ascomycota Kelas : Euteromycota Ordo : Onygenales Famili : Arthrodermataceae Genus : Trichophyton Spesies : Trichophyton sp 13 Trichophyton sp memiliki makronidia yang berdinding halus dan mikronidia yang berkarakteristik. Trichophyton sp dapat menginfeksi rambut, kulit, dan kuku. Penyakit yang disebabkan Trichophyton sp antara lain Tinea pedis yang berlokasi di antara jari-jari kaki, Tinea cruris yang berlokasi di lipatan paha, Tinea barbae yang berlokasi di rambut janggut, dan Tinea unguium yang berlokasi di kuku tangan maupun kaki (Jawetz, dkk., 2007). 2.5 Media Pertumbuhan Organisme Pembiakan mikroorganisme dalam laboratorium memerlukan media yang berisi zat hara serta lingkungan pertumbuhan yang sesuai bagi mikroorganisme. Menurut Lay (1996), media biakan dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori, yaitu: a. Secara kimiawi, media biakan dibagi menjadi: 1. Media sintetik yaitu media yang kandungan dan isi bahan yang ditambahkan diketahui secara terperinci. Contoh: glukosa, kalium fosfat, magnesium fosfat dan magnesium sulfat. 2. Media non-sintetik yaitu media yang menggunakan bahan yang terdapat di alam, bahan-bahan ini biasanya tidak diketahui kandungan kimia secara rinci. Contohnya: ekstrak daging, pepton dan kaldu daging. b. Berdasarkan kegunaannya, dapat dibedakan menjadi: 1. Media selektif adalah media biakan yang mengandung paling sedikit satu bahan yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang tidak diinginkan dan membolehkan perkembangbiakan mikroorganisme tertentu yang ingin diisolasi. Contohnya: Manitol salt agar, Potato dextrose agar dan Sabouraud agar. 14 2. Media diferensial adalah media yang digunakan untuk membedakan kelompok mikroorganisme tertentu yang tumbuh pada media biakan. Bila mikroorganisme tumbuh pada media diferensial, maka dapat dibedakan kelompok mikroorganisme berdasarkan perubahan pada media biakan atau penampilan koloninya. Contohnya: Blue Lactose agar. 2.6 Uji Aktivitas Antimikroba Pengukuran aktivitas antimikroba dapat dilakukan dengan metode difusi atau dengan metode dilusi. a. Cara difusi Metode yang digunakan adalah cakram kertas, silinder gelas/logam dan pencetak lubang yang diletakkan pada media agar padat yang telah dicampurkan dengan mikroba uji dan zat yang bersifat antimikroba diteteskan ke dalam pencadang kemudian diinkubasi pada suhu 37oC selama 18 – 24 jam. Selanjutnya diamati adanya area (zona) jernih di sekitar pencadang yang menunjukkan tidak adanya pertumbuhan mikroba (Dzen, dkk., 2003). b. Cara dilusi Metode ini digunakan untuk menentukan Kadar Hambat Minimum (KHM) dan Kadar Bunuh Minimum (KBM) dari zat antimikroba. Metode ini menggunakan satu seri tabung reaksi yang diisi media cair dan sejumlah mikroba uji. Tabung diuji dengan zat antimikroba yang telah diencerkan secara serial. Seri tabung diinkubasi pada suhu ± 37oC selama 18 – 24 jam dan diamati terjadinya kekeruhan pada tabung. Selanjutnya biakan dari semua tabung yang jernih diinokulasikan pada media agar padat, diinkubasikan pada suhu ± 36oC selama 18-24 jam. Lalu diamati ada tidaknya mikroba yang tumbuh (Dzen, dkk., 2003). 15 BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi dan Laboratorium Farmasi Fisik Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara, Medan. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimental, meliputi penyiapan bahan dan pembuatan ekstrak etanol secara maserasi, pengujian aktivitas antijamur ekstrak etanol daun jambu mete terhadap jamur Microsporum canis dan Trichophyton sp dengan metode difusi agar menggunakan pencadang kertas, pembuatan sediaan gel serta evaluasi formula yang meliputi: pemeriksaan stabilitas fisik sediaan, uji iritasi sediaan, dan pengujian aktivitas antijamur sediaan gel terhadap jamur Microsporum canis dan Trichophyton sp dengan metode difusi agar menggunakan pencadang kertas. Parameter yang dilihat untuk pemeriksaan stabilitas fisik gel meliputi: bentuk, bau, warna, homogenitas, pH, viskositas. Parameter untuk aktivitas antijamur yang diukur adalah zona hambatan pertumbuhan jamur oleh gel ekstrak etanol daun jambu mete terhadap jamur Microsporum canis dan Trichophyton sp. 3.1 Alat Alat-alat yang digunakan adalah: spektrofotometer Visible (Dynamika Halo Vis-10), Laminar airflow cabinet (Astec HLF 1200 L), oven (Gallenkomp), autoklaf (Fison), inkubator (Memmert), lemari pendingin (Toshiba), neraca analitik ( Metler AE 200), pH meter (Hanna Sari Larut Etanol Simplisia Daun Afrika % Kadar sari larut etanol = Berat cawan sari  berat cawan kosong  100 100% Berat sampel 20 No Berat sampel (g) 1 5,0001 2 5,0005 3 5,0008 Berat cawan kosong (g) 45,0862 43,2813 45,1771 Berat cawan sari (g) 45,2301 43,3552 45,3261 1. % Kadar sari I = 45,2301 45,0862  100 100%  14,389% 5,0001 20 2. % Kadar sari II = 45,3552  43,2813  100 100%  15,388% 5,0005 20 3. % Kadar sari III = 45,3261 45,1771 100 100%  14,897% 5,0008 20 % Kadar sari larut etanol rata-rata = 14,389%  15,388%  14,897%  14,89% 3 Universitas Sumatera Utara Lampiran 8. Perhitungan Penetapan Kadar Abu Total Simplisia Daun Afrika % Kadar abu total = Berat abu 100% Berat sampel No Berat sampel (g) 1 2,0150 2 2,0412 3 2,0211 Berat abu (g) 0,1870 0,2155 0,1899 1. % Kadar abu total I = 0,1870 100%  9,285% 2,0150 2. % Kadar abu total II = 0,2155 100%  10,557% 2,0412 3. % Kadar abu total III = 0,1899 100%  9,395% 2,0211 % Kadar abu total rata-rata = 9,285%  10,557%  9,395%  9,75% 3 Universitas Sumatera Utara Lampiran 9. Perhitungan Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam Simplisia Daun Afrika % Kadar abu tidak larut asam = Berat abu 100% Berat sampel No Berat sampel (g) 1 2,0150 2 2,0412 3 2,0211 Berat abu (g) 0,0137 0,0153 0,0138 1. % Kadar abu yang tidak larut asam I = 0,0137 100%  0,679% 2,0150 2. % Kadar abu yang tidak larut asam II = 0,0153 100%  0,749% 2,0412 3. % Kadar abu yang tidak larut asam III = 0,0138 100%  0,687% 2,0211 % Kadar abu yang tidak larut asam rata-rata = 0,679%  0,749%  0,687%  0,71% 3 Universitas Sumatera Utara Lampiran 10. Gambar Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Terhadap Bakteri Propionibacterium acne D A B Keterangan: A = Ekstrak Etanol Daun Afrika 50 mg/ml B = Ekstrak Etanol Daun Afrika 60 mg/ml C = Ekstrak Etanol Daun Afrika 70 mg/ml D = Etanol 96%(Blanko) C B C A Keterangan: A = Ekstrak Etanol Daun Afrika 80 mg/ml B = Ekstrak Etanol Daun Afrika 90 mg/ml C = Ekstrak Etanol Daun Afrika 100 mg/ml Universitas Sumatera Utara Lampiran 11. Gambar Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis A B C Keterangan: A = Ekstrak Etanol Daun Afrika 50 mg/ml B = Ekstrak Etanol Daun Afrika 60 mg/ml C = Ekstrak Etanol Daun Afrika 70 mg/ml D = Etanol 96%(Blanko) D B C A Keterangan: A = Ekstrak Etanol Daun Afrika 80 mg/ml B = Ekstrak Etanol Daun Afrika 90 mg/ml C = Ekstrak Etanol Daun Afrika 100 mg/ml Universitas Sumatera Utara Lampiran 12.Hasil Pengukuran Diameter Daerah Hambatan Oleh Ekstrak Etanol Daun Afrika Konsentrasi (mg/ml) Diameter daerah hambatan (mm) Propionibacterium acne Staphylococcus epidermidis D1 D2 D3 D* D1 D2 D3 D* 100 19,70 19,60 19,50 19,60 22,1 22,2 21,0 22,10 90 16,90 17,00 17,10 17,00 18,9 18,7 18,5 18,70 80 15,30 15,30 15,50 15,37 16,7 16,9 16,5 16,70 70 14,60 14,50 14,00 14,37 15,00 15,90 15,80 15,57 60 13,40 13,70 12,90 13,33 14,00 14,10 14,00 14,03 50 9,60 9,70 9,90 9,73 12,30 12,40 12,80 12,50 Blanko - - - - - - - - Universitas Sumatera Utara Lampiran 13. Gambar Sediaan Krim Ekstrak Etanol Daun Afrika A BC D E F A BC DE F Keterangan: A = Krim tanpa ekstrak etanol daun Afrika (kontrol) B = Krim dengan konsentrasi ekstrak etanol daun Afrika 6% C = Krim dengan konsentrasi ekstrak etanol daun Afrika 7% D = Krim dengan konsentrasi ekstrak etanol daun Afrika 8% E = Krim dengan konsentrasi ekstrak etanol daun Afrika 9% F = Krim dengan konsentrasi ekstrak etanol daun Afrika 10% Universitas Sumatera Utara Lampiran 14. Gambar Hasil Pemeriksaan Homogenitas Krim Ekstrak Etanol Daun Afrika a b c d  e f Keterangan: a = Krim tanpa ekstrak etanol daun Afrika (kontrol) b = Krim dengan konsentrasi ekstrak etanol daun Afrika 6% c = Krim dengan konsentrasi ekstrak etanol daun Afrika 7% d = Krim dengan konsentrasi ekstrak etanol daun Afrika 8% e = Krim dengan konsentrasi ekstrak etanol daun Afrika 9% f = Krim dengan konsentrasi ekstrak etanol daun Afrika 10% Universitas Sumatera Utara Lampiran 15. Gambar Hasil Penentuan Tipe Emulsi Krim Ekstrak Etanol Daun Afrika a  b  c  d  e  f  Keterangan: a = Krim tanpa ekstrak etanol daun Afrika (kontrol) b = Krim dengan konsentrasi ekstrak etanol daun Afrika 6% c = Krim dengan konsentrasi ekstrak etanol daun Afrika 7% d = Krim dengan konsentrasi ekstrak etanol daun Afrika 8% e = Krim dengan konsentrasi ekstrak etanol daun Afrika 9% f = Krim dengan konsentrasi ekstrak etanol daun Afrika 10% Universitas Sumatera Utara Lampiran 16. Hasil Pengukuran Viskositas Krim Ekstrak Etanol Daun Afrika Viskositas Formula Minggu ke-0 Minggu ke-4 I II II Rata-rata I II II Rata-rata F1 50 49,5 50 49,83 50 50 49,5 49,83 F2 25 26 26,5 25,83 25,5 26 26 25,83 F3 25 23 23,5 23,83 24,5 23 23 23,5 F4 23 22,5 23 22,83 23 22,5 22,5 22,67 F5 21 20 20,5 20,50 21 20,5 20 20,5 F6 19 19 19 19,16 19 19 18,5 19 Viskositas Formula Minggu ke-8 Minggu ke-12 I II II Rata-rata I II II Rata-rata F1 50 49 50 49,67 50 50 49 49,67 F2 25 26 26 25,67 25 25 26 25,33 F3 23,5 23 23,5 23,33 23 23 24 23,33 F4 23 23 22 22,67 22,5 22,5 22,5 22,5 F5 21 20 20 20,33 20,5 20,5 20 20 F6 19 18,5 18,5 18,67 19,0 18,5 18,5 18,33 Universitas Sumatera Utara Lampiran 17. Gambar Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Krim Terhadap Bakteri Propionibacterium acne Minggu Ke-0 A D C  B Keterangan: A = Krim Ekstrak Etanol Daun Afrika 6% B = Krim Ekstrak Etanol Daun Afrika 7% C = Krim Ekstrak Etanol Daun Afrika 8% D = Basis Krim A C B Keterangan: A = Krim Ekstrak Etanol Daun Afrika 9% B = Krim Ekstrak Etanol Daun Afrika 10% C = Pembanding (ERYMEDR) Universitas Sumatera Utara Lampiran 18. Gambar Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Krim Terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis Minggu Ke-0 A D C B Keterangan: A = Krim Ekstrak Etanol Daun Afrika 6% B = Krim Ekstrak Etanol Daun Afrika 7% C = Krim Ekstrak Etanol Daun Afrika 8% D = Basis Krim A C B Keterangan: A = Krim Ekstrak Etanol Daun Afrika 9% B = Krim Ekstrak Etanol Daun Afrika 10% C = Pembanding (ERYMEDR) Universitas Sumatera Utara Lampiran 19. Gambar Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Krim Terhadap Bakteri Propionibacterium acne Minggu Ke-12 A C B D Keterangan: A = Krim Ekstrak Etanol Daun Afrika 6% B = Krim Ekstrak Etanol Daun Afrika 7% C = Krim Ekstrak Etanol Daun Afrika 8% D = Basis Krim A C B Keterangan: A = Krim Ekstrak Etanol Daun Afrika 9% B = Krim Ekstrak Etanol Daun Afrika 10% C = Pembanding (ERYMEDR) Universitas Sumatera Utara Lampiran 20. Gambar Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Krim Terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis Minggu Ke-12 A C B D Keterangan: A = Krim Ekstrak Etanol Daun Afrika 6% B = Krim Ekstrak Etanol Daun Afrika 7% C = Krim Ekstrak Etanol Daun Afrika 8% D = Basis Krim A B Keterangan: A = Krim Ekstrak Etanol Daun Afrika 9% B = Krim Ekstrak Etanol Daun Afrika 10% C = Pembanding (ERYMEDR) C Universitas Sumatera Utara Lampiran 21. Hasil Pengukuran Diameter Daerah Hambatan Oleh Krim Ekstrak Etanol Daun Afrika Minggu Ke-0 Konsentrasi (%) Diameter daerah hambatan (mm) Propionibacterium acne Staphylococcus epidermidis D1 D2 D3 D* D1 D2 D3 D* 10 22,00 21,80 21,50 21,77 24,50 24,20 23,90 24,20 9 18,30 18,10 18,60 18,33 20,10 19,80 20,30 20,07 8 17,00 16,80 16,85 16,88 17,90 17,70 17,80 17,80 7 16,15 15,90 15,55 15,87 17,00 16,90 16,75 16,88 6 14,75 14,20 14,35 14,43 15,76 15,35 15,55 15,55 Pembanding 32,30 32.90 32,50 32,57 32,10 33,00 32,40 32,50 Universitas Sumatera Utara Lampiran 22. Hasil Pengukuran Diameter Daerah Hambatan Oleh Krim Ekstrak Etanol Daun Afrika Minggu Ke-12 Konsentrasi (%) Diameter daerah hambatan (mm) Propionibacterium acne Staphylococcus epidermidis D1 D2 D3 D* D1 D2 D3 D* 10 21,80 21,55 21,45 21,60 23,40 23,90 24,10 23,80 9 18,20 18,00 18,10 18,10 19,10 19,70 19,95 19,58 8 16,60 16,35 17,00 16,65 17,35 17,80 17,55 17,57 7 15,40 15,80 15,35 15,52 16,15 16,10 16,50 16,25 6 14,10 14,30 14,10 14,17 15,20 15,35 15,00 15,18 Pembanding 32,80 32,10 32,40 32,43 32,10 33,00 32,40 32,50 Universitas Sumatera Utara Lampiran 23. Perbandingan Hasil Pengukuran Diameter Daerah Hambatan Ekstrak Etanol Daun Afrika dengan Sediaan Krim Ekstrak Etanol Daun Afrika Diameter daerah hambatan (mm)* Konsentrasi (mg/ml) Propionibacterium acne Krim Ekstrak Minggu Minggu Ke-0 Ke-12 Staphylococcus epidermidis Krim Ekstrak Minggu Minggu Ke-0 Ke-12 5% 9,73 - - 12,50 - - 6% 13,33 14,43 14,17 14,03 15,55 15,18 7% 14,37 15,87 15,52 15,57 16,88 16,25 8% 15,37 16,88 16,65 16,70 17,80 17,57 9% 17,00 18,33 18,10 18,70 20,07 19,58 10% 19,60 21,77 21,60 22,10 24,20 23,80 Blanko - - - - -- Universitas Sumatera Utara
Uji Aktivitas Sediaan Gel Yang Mengandung Ekstrak Etanol Daun Jambu Mete Terhadap Jamur Microsporum Canis Dan Trichophyton Sp Uji Aktivitas Sediaan Gel Yang Mengandung Ekstrak Etanol Daun Jambu Mete Terhadap Jamur Microsporum Canis Dan Trichophyton Sp
1 / 66

Uji Aktivitas Sediaan Gel Yang Mengandung Ekstrak Etanol Daun Jambu Mete Terhadap Jamur Microsporum Canis Dan Trichophyton Sp

Bebas